كتاب أسرار الطهارة
كتاب أسرار الطهارة وهو الكتاب الثالث من ربع العبادات بسم الله
Kitab Rahasia-Rahasia Thaharah (Bersuci), yaitu kitab ketiga dari Seperempat Ibadah. Dengan nama Allah
الرحمن الرحيم
Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
الحمد لله الذي تلطف بعباده فتعبدهم بالنظافة وأفاض على قلوبهم تزكية لسرائرهم أنواره وألطافه وأعد لظواهرهم تطهيراً لها الماء المخصوص بالرقة واللطافة وصلى الله على النبي محمد المستغرق بنور الهدى أطراف العالم وأكنافه وعلى آله الطيبين الطاهرين صلاة تنجينا بركاتها يوم المخافة وتنتصب جنة بيننا وبين كل آفة
Segala puji bagi Allah yang telah bersikap lemah lembut kepada hamba-hamba-Nya, lalu memerintahkan mereka beribadah dengan kebersihan, serta melimpahkan cahaya dan kelembutan-Nya ke dalam hati mereka untuk menyucikan batin (sarair) mereka, dan menyediakan air yang memiliki kelembutan dan kehalusan khusus bagi lahiriah mereka demi menyucikannya. Semoga shalawat Allah tercurahkan kepada Nabi Muhammad yang cahaya petunjuknya meliputi segala penjuru dan pelosok dunia, serta kepada keluarganya yang baik dan suci, dengan shalawat yang keberkahannya menyelamatkan kita pada hari ketakutan (Kiamat) dan menjadi perisai yang membentang antara kita dan segala petaka.
أما بعد
Amma ba'du (Adapun setelah itu),
فقد قال النبي ﷺ بنى الدين على النظافة وَقَالَ ﷺ مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطهور وقال الله تَعَالَى ﴿فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا وَاللَّهُ يحب المطهرين﴾ وقال النبي ﷺ الطَّهُورُ نِصْفُ الْإِيمَانِ وقال الله تَعَالَى ﴿مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حرج ولكن يريد ليطهركم﴾ فتفطن ذَوُو الْبَصَائِرِ بِهَذِهِ الظَّوَاهِرِ أَنَّ أَهَمَّ الْأُمُورِ تَطْهِيرُ السَّرَائِرِ إِذْ يَبْعُدُ أَنْ يَكُونَ الْمُرَادُ بِقَوْلِهِ ﷺ الطَّهُورُ نِصْفُ الْإِيمَانِ عِمَارَةُ الظَّاهِرِ بِالتَّنْظِيفِ بِإِفَاضَةِ الْمَاءِ وَإِلْقَائِهِ وَتَخْرِيبِ الْبَاطِنِ وَإِبْقَائِهِ مَشْحُونًا بِالْأَخْبَاثِ وَالْأَقْذَارِ هَيْهَاتَ
Sungguh Nabi ﷺ telah bersabda: "Agama didirikan di atas kebersihan." Dan Nabi ﷺ bersabda: "Kunci shalat adalah bersuci (thaharah)." Allah Ta'ala berfirman: "Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih." (QS. At-Taubah: 108). Nabi ﷺ juga bersabda: "Bersuci adalah separuh dari iman." Dan Allah Ta'ala berfirman: "Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu…" (QS. Al-Ma'idah: 6). Maka orang-orang yang memiliki mata hati (dzawul basha'ir) memahami melalui dalil-dalil lahiriah ini bahwa perkara yang paling penting adalah menyucikan batin (sarair). Sebab, sangat jauh dari kemungkinan bahwa yang dimaksud oleh sabda Nabi ﷺ "Bersuci adalah separuh dari iman" sekadar memakmurkan lahiriah dengan pembersihan melalui curahan dan siraman air, sementara membiarkan batin rusak dan penuh dengan kotoran serta kenajisan. Sungguh amat jauh!
هَيْهَاتَ وَالطِّهَارَةُ لَهَا أَرْبَعُ مَرَاتِبَ
Sungguh amat jauh! Dan thaharah (bersuci) itu memiliki empat tingkatan:
الْمَرْتَبَةُ الْأُولَى تَطْهِيرُ الظَّاهِرِ عَنِ الْأَحْدَاثِ وَعَنِ الْأَخْبَاثِ وَالْفَضَلَاتِ
Tingkatan pertama: Menyucikan lahiriah dari hadas-hadas, najis-najis (akhbats), dan kotoran sisa (fadhalat).
الْمَرْتَبَةُ الثَّانِيَةُ تَطْهِيرُ الْجَوَارِحِ عَنِ الْجَرَائِمِ وَالْآثَامِ
Tingkatan kedua: Menyucikan anggota tubuh (jawarih) dari kejahatan dan dosa-dosa.
الْمَرْتَبَةُ الثَّالِثَةُ تَطْهِيرُ الْقَلْبِ عَنِ الْأَخْلَاقِ الْمَذْمُومَةِ وَالرَّذَائِلِ الْمَمْقُوتَةِ
Tingkatan ketiga: Menyucikan hati (qalb) dari akhlak-akhlak tercela (al-akhlaq al-madzmumah) dan kerendahan-kerendahan yang dibenci (ar-radza'il al-mamqutah).
الْمَرْتَبَةُ الرَّابِعَةُ تَطْهِيرُ السِّرِّ عَمَّا سوى الله تعالى وهي طهارة الأنبياء صلوات الله عليهم والصديقين والطهارة في كل رتبة نصف العمل الذي فيها فإن الغاية القصوى في عمل السر أن ينكشف له جلال الله تعالى وعظمته ولن تحل معرفة الله تعالى بالحقيقة في السر ما لم يرتحل ما سوى الله تعالى عنه
Tingkatan keempat: Menyucikan rahasia batin yang terdalam (sirr) dari segala sesuatu selain Allah Ta'ala. Ini adalah thaharah para Nabi—shalawat Allah atas mereka—dan para shiddiqin. Dan thaharah pada setiap tingkatan merupakan separuh dari amalan yang ada di dalamnya. Sebab tujuan tertinggi dari amalan sirr adalah tersingkapnya keagungan dan kebesaran Allah Ta'ala baginya; dan ma'rifatullah (mengenal Allah) secara hakiki tidak akan bertempat di dalam sirr selama segala sesuatu selain Allah belum beranjak darinya.
ولذلك قال الله ﷿ ﴿قل الله ثم ذرهم في خوضهم يلعبون﴾ لأنهما لا يجتمعان في قلب وما جعل الله لرجل من قلبين في جوفه وأما عمل القلب فالغاية القصوى عمارته بالأخلاق المحمودة والعقائد المشروعة ولن يتصف بها ما لم ينظف عن نقائضها من العقائد الفاسدة والرذائل الممقوتة فتطهيره أحد الشطرين وهو الشطر الأول الذي هو شرط في الثاني فكان الطهور شطر الإيمان بهذا المعنى وكذلك تطهير الجوارح عن المناهي أحد الشطرين وهو الشطر الأول الذي هو شرط في الثاني فتطهيره أحد الشطرين وهو الشطر الأول وعمارتها بالطاعات الشطر الثاني فهذه مقامات الإيمان ولكل مقام طبقة وَلَنْ يَنَالَ الْعَبْدُ الطَّبَقَةَ الْعَالِيَةَ إِلَّا أَنْ يُجَاوِزَ الطَّبَقَةَ السَّافِلَةَ فَلَا يَصِلُ إِلَى طِهَارَةِ السِّرِّ عَنِ الصِّفَاتِ الْمَذْمُومَةِ وَعِمَارَتِهِ بِالْمَحْمُودَةِ مَا لَمْ يَفْرَغْ مِنْ طِهَارَةِ الْقَلْبِ عَنِ الْخُلُقِ المذموم وعمارته بِالْخُلُقِ الْمَحْمُودِ وَلَنْ يَصِلَ إِلَى ذَلِكَ مَنْ لم يفرغ عن طِهَارَةِ الْجَوَارِحِ عَنِ الْمَنَاهِي وَعِمَارَتِهَا بِالطَّاعَاتِ وَكُلَّمَا عز المطلوب وشرف صعب مسلكه وطال طريقه وَكَثُرَتْ عَقَبَاتُهُ فَلَا تَظُنُّ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ يدرك وينال بالهوينى نَعَمْ مَنْ عَمِيَتْ بَصِيرَتُهُ عَنْ تَفَاوُتِ هَذِهِ الطَّبَقَاتِ لَمْ يَفْهَمْ مِنْ مَرَاتِبِ الطَّهَارَةِ إِلَّا الدَّرَجَةَ الْأَخِيرَةَ الَّتِي هِيَ كَالْقِشْرَةِ الْأَخِيرَةِ الظَّاهِرَةِ بِالْإِضَافَةِ إِلَى اللُّبِّ الْمَطْلُوبِ فَصَارَ يُمْعِنُ فِيهَا ويستقصى في مجاريها وَيَسْتَوْعِبُ جَمِيعَ أَوْقَاتِهِ فِي الِاسْتِنْجَاءِ وَغَسْلِ الثِّيَابِ وَتَنْظِيفِ الظَّاهِرِ وَطَلَبِ الْمِيَاهِ الْجَارِيَةِ الْكَثِيرَةِ ظَنًّا منه بحكم الوسوسة وتخيل الْعَقْلِ أَنَّ الطَّهَارَةَ الْمَطْلُوبَةَ الشَّرِيفَةَ هِيَ هَذِهِ فَقَطْ وَجَهَالَةً بِسِيرَةِ الْأَوَّلِينَ وَاسْتِغْرَاقِهِمْ جَمِيعَ الْهَمِّ وَالْفِكَرِ فِي تَطْهِيرِ الْقَلْبِ وَتَسَاهُلِهِمْ فِي أَمْرِ الظَّاهِرِ حَتَّى إِنَّ عُمَرَ ﵁ مَعَ عُلُوِّ مَنْصِبِهِ تَوَضَّأَ مِنْ مَاءٍ فِي جرة نصرانية وحتى إنهم ما كانوا يغسلون اليد من الدسومات والأطعمة بل كانوا يمسحون أصابعهم بأخمص أقدامهم وعدوا الأشنان من البدع المحدثة وَلَقَدْ كَانُوا يُصَلُّونَ عَلَى الْأَرْضِ فِي الْمَسَاجِدِ ويمشون حفاة في الطرقات ومن كان لا يجعل بينه وبين الأرض حاجزاً في مضجعه كان من أكابرهم وكانوا يقتصرون على الحجارة في الاستنجاء
Oleh karena itu, Allah ﷻ berfirman: "Katakanlah: 'Allah', kemudian biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatan mereka" (QS. Al-An'am: 91); sebab keduanya (Allah dan selain-Nya) tidak akan menyatu dalam satu hati, dan Allah tidak pernah menjadikan bagi seseorang dua hati dalam rongga dadanya (QS. Al-Ahzab: 4). Adapun amalan hati, tujuan tertingginya adalah memakmurkannya dengan akhlak-akhlak terpuji dan akidah-akidah yang disyariatkan; dan hati tidak akan bisa tersifati dengannya sebelum dibersihkan dari lawan-lawannya yang berupa akidah yang rusak dan kerendahan-kerendahan yang dibenci. Maka menyucikan hati merupakan salah satu dari dua bagian, yaitu bagian pertama yang menjadi syarat bagi bagian kedua; maka thaharah adalah separuh dari iman dengan makna ini. Demikian pula menyucikan anggota tubuh dari hal-hal yang dilarang merupakan salah satu dari dua bagian, yaitu bagian pertama yang menjadi syarat bagi bagian kedua; maka menyucikannya adalah bagian pertama dan memakmurkannya dengan ketaatan adalah bagian yang kedua. Inilah maqam-maqam (kedudukan-kedudukan) iman, dan setiap maqam memiliki tingkatannya. Seorang hamba tidak akan pernah mencapai tingkatan yang tinggi sebelum ia melampaui tingkatan yang lebih rendah. Maka ia tidak akan sampai pada kesucian sirr dari sifat-sifat tercela dan memakmurkannya dengan sifat-sifat terpuji sebelum ia selesai dari menyucikan hati dari akhlak tercela dan memakmurkannya dengan akhlak terpuji. Dan tidak akan sampai pada hal itu orang yang belum selesai menyucikan anggota tubuhnya dari larangan-larangan dan memakmurkannya dengan ketaatan. Semakin mulia dan agung yang dicari, semakin sulit jalannya, semakin panjang menempuhnya, dan semakin banyak rintangannya. Maka janganlah engkau mengira bahwa perkara ini dapat dicapai dan diperoleh dengan mudah. Ya, barangsiapa yang mata hatinya (bashirah) buta dari perbedaan tingkatan-tingkatan ini, dia tidak akan memahami tingkatan thaharah melainkan derajat yang paling akhir—yang posisinya seperti kulit luar jika dibandingkan dengan isi (lubb) yang dicari. Maka dia menjadi berlebih-lebihan di dalamnya, melampaui batas dalam penerapannya, dan menghabiskan seluruh waktunya untuk beristinja, mencuci pakaian, membersihkan lahiriah, serta mencari air mengalir yang melimpah; hal itu karena prasangka dari bisikan waswas dan khayalan akal bahwa thaharah yang dituntut dan mulia hanyalah ini saja, serta karena kebodohan akan perjalanan hidup orang-orang terdahulu (salaf) dan tenggelamnya seluruh perhatian serta pikiran mereka dalam menyucikan hati, sementara mereka bersikap mempermudah dalam urusan lahiriah. Sampai-sampai Umar ﵁, dengan kedudukan beliau yang sangat tinggi, pernah berwudhu dari air dalam wadah kepunyaan wanita Nasrani; bahkan mereka dahulu tidak membasuh tangan dari bekas lemak makanan, melainkan mengusapkan jari-jemari mereka pada lekuk telapak kaki mereka, dan mereka menganggap penggunaan pembersih (usynan) sebagai bid'ah yang baru diadakan. Sungguh mereka dahulu shalat langsung di atas tanah di masjid-masjid, berjalan tanpa alas kaki di jalanan, dan orang yang tidak membuat penghalang antara dirinya dan tanah di tempat tidurnya termasuk tokoh utama di antara mereka, serta mereka mencukupkan diri hanya dengan batu dalam beristinja.
وقال أبو هريرة وغيره من أهل الصفة كنا نأكل الشواء فتقام الصلاة فندخل أصابعنا في الحصى ثم نفركها بالتراب ونكبر وقال عمر ﵁ ما كنا نعرف الأشنان في عصر رسول الله ﷺ وإنما كانت مناديلنا بطون أرجلنا كنا إذا أكلنا الغمر مسحنا بها ويقال أول ما ظهر من البدع بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ أربع المناخل والأشنان والموائد والشبع
Abu Hurairah dan yang lainnya dari kalangan Ahlus Shuffah berkata: "Kami pernah memakan daging panggang, lalu shalat ditegakkan, maka kami memasukkan jari-jemari kami ke dalam kerikil kemudian menggosokkannya dengan debu/tanah dan bertakbir." Dan Umar ﵁ berkata: "Kami tidak mengenal pembersih (usynan) pada zaman Rasulullah ﷺ, dan sapu tangan kami hanyalah telapak kaki kami; apabila kami memakan makanan yang berlemak (al-ghamr), kami mengusapkannya padanya." Dan dikatakan: Hal pertama yang muncul dari bid'ah setelah Rasulullah ﷺ ada empat: ayakan tepung, pembersih (usynan), meja makan, dan kenyang (kekenyangan).
فكانت عنايتهم كلها بنظافة الباطن حتى قال بعضهم الصلاة في النعلين أفضل لأن رسول الله ﷺ لما نزع نعليه في صلاته بإخبار جبريل ﵇ له أن بهما نجاسة وخلع الناس نعالهم قال ﷺ لم خلعتم نعالكم وقال النخعي في الذين يخلعون نعالهم وددت لو أن محتاجاً جاء إليها فأخذها منكراً لخلع النعال
Maka seluruh perhatian mereka (para Salaf) tertuju pada kebersihan batin, hingga sebagian dari mereka berkata, "Shalat dengan memakai kedua alas kaki (sandal/sepatu) itu lebih utama." Sebab, ketika Rasulullah ﷺ melepas kedua sandalnya dalam shalat karena Jibril 'alaihissalam memberitahu beliau bahwa pada keduanya terdapat najis, lalu orang-orang ikut melepas sandal-sandal mereka, beliau ﷺ bersabda, "Mengapa kalian melepas sandal kalian?" An-Nakha'i juga berkata tentang orang-orang yang melepas sandal-sandal mereka (saat shalat), "Aku berharap ada orang yang membutuhkan datang lalu mengambil sandal-sandal itu, sebagai bentuk ingkar (ketidaksukaan) terhadap tindakan melepas sandal tersebut."
فهكذا كان تساهلهم في هذه الأمور بل كانوا يمشون في طين الشوارع حفاة ويجلسون عليها ويصلون
Demikianlah kelapangan sikap mereka dalam urusan-urusan ini. Bahkan, mereka biasa berjalan di lumpur jalanan dengan bertelanjang kaki, duduk di atasnya, dan melaksanakan shalat…
في المساجد على الأرض ويأكلون من دقيق البر والشعير وهو يداس بالدواب وتبول عليه ولا يحترزون من عرق الإبل والخيل مع كثرة تمرغها في النجاسات ولم ينقل قط عَنْ أَحَدٍ مِنْهُمْ سُؤَالٌ فِي دَقَائِقِ النَّجَاسَاتِ فهكذا كان تساهلهم فيها
…di masjid-masjid langsung di atas tanah. Mereka juga memakan tepung gandum dan jelai yang diinjak-injak oleh hewan ternak dan dikencingi olehnya, serta mereka tidak terlalu berlebihan menjaga diri dari keringat unta dan kuda meskipun hewan-hewan itu sering berguling-guling di atas najis. Dan tidak pernah diriwayatkan dari seorang pun di antara mereka pertanyaan tentang kerincian-kerincian najis yang samar. Demikianlah kelapangan sikap mereka dalam hal tersebut.
وقد انتهت النوبة الآن إلى طائفة يسمون الرعونة نظافة فيقولون هي مبنى الدين فَأَكْثَرُ أَوْقَاتِهِمْ فِي تَزْيِينِهِمُ الظَّوَاهِرَ كَفِعْلِ الْمَاشِطَةِ بعروسها والباطن خَرَابٌ مَشْحُونٌ بِخَبَائِثِ الْكِبْرِ وَالْعُجْبِ وَالْجَهْلِ وَالرِّيَاءِ وَالنِّفَاقِ وَلَا يَسْتَنْكِرُونَ ذَلِكَ وَلَا يَتَعَجَّبُونَ مِنْهُ وَلَوِ اقْتَصَرَ مُقْتَصِرٌ عَلَى الِاسْتِنْجَاءِ بِالْحَجَرِ أَوْ مشى على الأرض حافياً أو صلى على الأرض أو على بواري المسجد من غيرسجادة مفروشة أو مشى على الفرش من غير غلاف للقدم من أدم أو توضأ من آنية عجوز أو رجل غير متقشف أقاموا عليه القيامة وشدوا عليه النكير ولقيوه بالقذر وأخرجوه من زمرتهم واستنكفوا عن مؤاكلته ومخالطته
Namun kini giliran itu telah sampai kepada sekelompok orang yang menamai kebodohan berlebih-lebihan sebagai kebersihan, lalu mereka mengatakan bahwa kebersihan (zahir) itu adalah fondasi agama. Sebagian besar waktu mereka dihabiskan untuk menghias hal-hal lahiriah, seperti perbuatan juru hias terhadap pengantin wanita, sedangkan batin mereka hancur, dipenuhi keburukan takabur, ujub, kebodohan, riya, dan nifak. Mereka tidak mengingkari hal itu dan tidak merasa heran dengannya. Seandainya seseorang mencukupkan diri dengan beristinja menggunakan batu, berjalan di atas tanah bertelanjang kaki, shalat di atas tanah atau di atas tikar jalinan kurma di masjid tanpa sajadah terhampar, atau berjalan di atas permadani tanpa pembungkus kaki dari kulit, atau berwudhu dari bejana milik wanita tua atau laki-laki yang tidak berlebihan bersuci, niscaya mereka akan membuat kegemparan atas orang itu, mengkritiknya dengan keras, menganggapnya kotor, mengeluarkannya dari kelompok mereka, serta enggan makan dan bergaul bersamanya.
فسموا البذاذة التي هي من الإيمان قذارة والرعونة نظافة فَانْظُرْ كَيْفَ صَارَ الْمُنْكَرُ مَعْرُوفًا وَالْمَعْرُوفُ مُنْكَرًا وَكَيْفَ انْدَرَسَ مِنَ الدِّينِ رَسْمُهُ كَمَا انْدَرَسَ حقيقته وعلمه
Maka mereka menamai kesederhanaan (al-badhadhah)—yang sebenarnya bagian dari iman—sebagai kekotoran, dan menamai kebodohan berlebih-lebihan sebagai kebersihan. Maka lihatlah bagaimana yang mungkar telah menjadi ma'ruf dan yang ma'ruf menjadi mungkar! Dan bagaimana lambang-lambang agama ini telah terhapus sebagaimana telah terhapusnya hakikat dan ilmunya!
فإن قلت أفتقول إن هذه العادات التي أحدثها الصوفية في هيئاتهم ونظافتهم من المحظورات أو المنكرات فأقول حاش لله أن أطلق القول فيه من غير تفصيل ولكني أقول إن هذا التنظيف والتكلف وإعداد الأواني والآلات واستعمال غلاف القدم والإزار المقنع به لدفع الغبار وغير ذلك من هذه الأسباب إن وقع النظر إلى ذاتها على سبيل التجرد فهي من المباحات وقد يقترن بها أحوال ونيات تلحقها تارة بالمعروفات وتارة بالمنكرات فأما كونها مباحة في نفسها فلا يخفى أن صاحبها متصرف بها في ماله وبدنه وثيابه فيفعل بها ما يريد إذا لم يكن فيه إضاعة وإسراف وأما مصيرها منكراً فبأن يجعل ذلك أصل الدين ويفسر به قوله ﷺ بنى الدين على النظافة حتى ينكر به على من يتساهل فيه الأولين أو يكون القصد به تزيين الظاهر للخلق وتحسين موقع نظرهم فإن ذلك هو الرياء المحظور فيصير منكراً بهذين الاعتبارين أما كونه معروفاً فبأن يكون القصد منه الخير دون التزين وأن لا ينكر على من ترك ذلك ولا يؤخر بسببه الصلاة عن أوائل الأوقات ولا يشتغل به عن عمل هو أفضل منه أو عن علم أو غيره فإذا لم يقترن به شيء من ذلك فهو مباح يمكن أن يجعل قربة بالنية ولكن لا يتيسر ذلك إلا للبطالين الذين لو لم يشتغلوا بصرف الأوقات فيه لاشتغلوا بنوم أو حديث فيما لا يعني فيصير شغلهم به أولى لأن الاشتغال بالطهارات يجدد ذكر الله تعالى وذكر العبادات فلا بأس به إذا لم يخرج إلى منكر أو إسراف
Jika engkau bertanya, "Apakah engkau berpendapat bahwa kebiasaan-kebiasaan yang diada-adakan oleh kaum Sufi dalam penampilan dan kebersihan mereka ini termasuk perkara yang dilarang atau dimungkari?" Maka aku katakan: Maha suci Allah, aku tidak akan menggeneralisasi hukum dalam hal ini tanpa perincian. Namun aku katakan: Bahwa pembersihan, pemaksaan diri, penyediaan bejana-bejana dan peralatan, penggunaan pembungkus kaki, kain penutup kepala untuk menolak debu, dan sebab-sebab lainnya ini, jika ditinjau pada zatnya secara terpisah, maka ia termasuk perkara yang mubah. Dan terkadang perkara tersebut disertai dengan kondisi dan niat yang menyebabkannya tergolong sebagai kebaikan (ma'ruf) di satu waktu, dan kemungkaran di waktu lain. Adapun keberadaannya sebagai hal yang mubah pada dirinya sendiri, tidaklah samar bahwa pemiliknya berhak mengelola harta, tubuh, dan pakaiannya, lalu ia berbuat padanya apa yang ia kehendaki selama tidak ada unsur penghamburan dan israf (berlebih-lebihan). Adapun kemunculannya menjadi hal yang mungkar adalah bila hal itu dijadikan sebagai pokok agama dan digunakan untuk menafsirkan sabda Nabi ﷺ "Agama dibangun di atas kebersihan", hingga dengannya ia mengingkari orang-orang yang bersikap kelapangan sebagaimana generasi awal (para sahabat), atau bila tujuannya adalah memperindah hal lahiriah demi makhluk dan memperbagus pandangan mereka, karena hal itu merupakan riya yang dilarang, sehingga menjadi mungkar berdasarkan kedua pertimbangan ini. Sedangkan keberadaannya sebagai ma'ruf (kebaikan) adalah bila tujuannya untuk kebaikan dan bukan untuk berhias, serta tidak mengkritik orang yang meninggalkannya, tidak mengakhirkan shalat dari awal waktunya karenanya, dan tidak menyibukkan diri dengannya dari amal yang lebih utama atau dari ilmu dan selainnya. Apabila tidak disertai oleh hal-hal tersebut, maka ia adalah perkara mubah yang memungkinkan untuk dijadikan bentuk mendekatkan diri kepada Allah (qurbah) melalui niat. Akan tetapi, hal itu tidak mudah tercapai kecuali bagi orang-orang yang menganggur, yang mana seandainya mereka tidak menyibukkan diri menghabiskan waktu dengannya, niscaya mereka akan sibuk dengan tidur atau pembicaraan yang tidak berguna. Maka kesibukan mereka dengannya menjadi lebih utama, karena menyibukkan diri dengan bersuci itu memperbarui zikir kepada Allah Ta'ala dan mengingat ibadah, sehingga tidak mengapa dengannya selama tidak keluar menuju kemungkaran atau sikap israf.
وأما أهل العلم والعمل فلا ينبغي أن يصرفوا من أوقاتهم إليه إلا قدر الحاجة فالزيادة عليه منكر في حقهم وتضييع العمر الذي هو أنفس الجواهر وأعزها في حق من قدر على الانتفاع به
Adapun para ahli ilmu dan ahli amal (ahli ibadah), tidak sepantasnya mereka menghabiskan waktu mereka untuk hal itu kecuali sekadar kebutuhan. Maka menambahi dari sekadar kebutuhan itu adalah kemungkaran bagi mereka, dan merupakan pengabaian terhadap umur—yang merupakan permata paling berharga dan paling mulia—bagi orang yang mampu memanfaatkannya.
ولا يتعجب من ذلك فإن حسنات الأبرار سيئات المقربين
Dan janganlah heran akan hal itu, karena sesungguhnya kebaikan orang-orang yang berbakti (al-abrar) adalah keburukan bagi orang-orang yang didekatkan kepada Allah (al-muqarrabun).
ولا ينبغي للبطال أن يترك النظافة وينكر على المتصوفة ويزعم أنه يتشبه بالصحابة إذ التشبه بهم في أن لا يتفرغ إلا لما هو أهم منه كما قيل لداود الطائي لم لا تسرح لحيتك قال إني إذن لفارغ
Dan tidak sepantasnya pula bagi orang yang menganggur untuk meninggalkan kebersihan lalu mengkritik kaum Sufi seraya mengklaim bahwa dirinya meniru para Sahabat. Sebab, meniru para Sahabat itu terletak pada sikap tidak meluangkan waktu kecuali untuk perkara yang lebih penting dari itu, sebagaimana pernah dikatakan kepada Dawud ath-Tha'i, "Mengapa engkau tidak menyisir janggutmu?" Beliau menjawab, "Jika demikian, berarti aku adalah orang yang menganggur."
فلهذا لا أرى للعالم ولا للمتعلم ولا للعامل أن يضيع وقته في غسل الثياب إحترازاً من أن يلبس الثياب المقصورة وتوهماً بالقصار تقصيراً في الغسل فقد كانوا في العصر الأول يصلون في الفراء المدبوغة ولم يعلم منهم من فرق بين المقصورة والمدبوغة في الطهارة والنجاسة بل كانوا يجتنبون النجاسة إذا شاهدوها ولا يدققون نظرهم في استنباط الاحتمالات الدقيقة بل كانوا يتأملون في دقائق الرياء والظلم حتى قال سفيان الثوري لرفيق له كان يمشي معه فنظر إلى باب دار مرفوع معمور لا تفعل ذلك فإن الناس لو لم ينظروا إليه لكان صاحبه لا يتعاطى هذا الإسراف
Oleh karena itu, aku berpandangan tidak sepantasnya bagi seorang alim, pemelajar (penuntut ilmu), maupun ahli amal untuk membuang waktunya dalam mencuci pakaian demi menjaga diri dari memakai pakaian yang dicuci tukang penatu, lantaran prasangka bahwa tukang penatu itu lalai dalam pencucian. Padahal sungguh, para generasi awal (salaf) dahulu shalat dengan memakai pakaian kulit berbulu yang disamak, dan tidak diketahui ada seorang pun dari mereka yang membedakan antara pakaian hasil penatu dan kulit samakan dalam hal kesucian dan kenajisan. Bahkan mereka hanya menjauhi najis apabila melihatnya secara langsung, dan tidak mendalam-dalamkan pandangan dalam menggali kemungkinan-kemungkinan najis yang rumit. Sebaliknya, mereka justru merenungkan kehalusan-kehalusan riya dan kedzaliman, hingga Sufyan ats-Tsauri pernah berkata kepada temannya yang berjalan bersamanya ketika temannya itu menatap ke pintu sebuah rumah yang tinggi dan megah dibangun: "Jangan lakukan itu! Karena seandainya orang-orang tidak memandangnya, niscaya pemiliknya tidak akan melakukan pemborosan ini."
فالناظر إليه معين له على الإسراف
"Maka orang yang memandangnya ikut membantu pemiliknya dalam melakukan pemborosan (israf)."
فكانوا يعدون جمام الذهن لاستنباط مثل هذه الدقائق لا في احتمالات النجاسة
Maka mereka menyiapkan kesegaran pikiran untuk menggali kerincian-kerincian (batin) seperti ini, bukan untuk kemungkinan-kemungkinan najis (zahir).
فلو وجد العالم عامياً
Seandainya seorang alim menemukan orang awam…
يتعاطى له غسل الثياب محتاطاً فهو أفضل فإنه بالإضافة إلى التساهل خير
…yang bersedia mencucikan pakaian untuknya secara berhati-hati, maka itu lebih utama, karena dibandingkan dengan sikap meremehkan, hal itu adalah suatu kebaikan.
وذلك العامي ينتفع بتعاطيه إذ يشغل نفسه الأمارة بالسوء بعمل المباح في نفسه فيمتنع عليه المعاصي في تلك الحال
Dan orang awam tersebut mendapat manfaat dari pekerjaannya itu, sebab ia menyibukkan nafsunya yang selalu menyuruh kepada keburukan (al-ammaratu bis-su') dengan perbuatan yang pada dasarnya mubah, sehingga terhalanglah kemaksiatan darinya pada saat itu.
والنفس إن لم تشغل بشيء شغلت صاحبها وإذا قصد به التقرب إلى العالم صار ذلك عنده من أفضل القربات
Sebab nafsu itu, jika tidak disibukkan dengan sesuatu, ia akan menyibukkan pemiliknya (dengan keburukan). Dan jika dengan perbuatan itu ia bermaksud mendekatkan diri kepada sang alim, maka hal itu menjadi salah satu bentuk mendekatkan diri (qurbah) yang paling utama baginya.
فوقت العالم أشرف من أن يصرفه إلى مثله فيبقى محفوظاً عليه وأشرف وقت العامي أن يشتغل بمثله فيتوفر الخير عليه من الجوانب كلها
Maka waktu seorang alim terlalu mulia untuk dihabiskan pada hal semisal itu, sehingga waktunya tetap terjaga untuk dirinya; sedangkan waktu paling mulia bagi seorang awam adalah bila disibukkan dengan hal semisal itu, sehingga melimpahlah kebaikan kepadanya dari segala sisi.
وليتفطن بهذا المثل لنظائره من الأعمال وترتيب فضائلها ووجه تقديم البعض منها على بعض فتدقيق الحساب في حفظ لحظات العمر بصرفها إلى الأفضل أهم من التدقيق في أمور الدنيا بحذافيرها
Hendaklah seseorang memahami melalui perumpamaan ini terhadap amalan-amalan serupa lainnya, urutan keutamaannya, serta alasan mendahulukan sebagian dari yang lain. Maka memperhitungkan secara cermat penjagaan detik-detik umur dengan mengarahkannya kepada yang paling utama adalah lebih penting daripada cermat dalam urusan dunia secara keseluruhan.
وإذا عرفت هذه المقدمة واستبنت أن الطهارة لها أربع مراتب
Apabila engkau telah mengetahui mukadimah ini dan telah jelas bagimu bahwa bersuci (ath-thaharah) itu memiliki empat tingkatan,
فاعلم أنا في هذا الكتاب لسنا نتكلم إلا في المرتبة الرابعة وهي نظافة الظاهر لأنا في الشطر الأول من الكتاب لا نتعرض قصداً إلا للظواهر
maka ketahuilah bahwa dalam kitab ini kita tidak berbicara melainkan pada tingkatan yang keempat, yaitu kebersihan lahiriah; karena pada bagian pertama dari kitab ini, kita sengaja tidak membahas kecuali hal-hal lahiriah semata.
فَنَقُولُ طَهَارَةُ الظَّاهِرِ ثَلَاثَةُ أَقْسَامٍ طَهَارَةٌ عَنِ الْخَبَثِ وَطَهَارَةٌ عَنِ الْحَدَثِ وَطَهَارَةٌ عَنْ فَضَلَاتِ البدن وهي التي تحصل بالقلم والاستحداد واستعمال النورة والختان وغيره
Maka kami katakan: Bersuci lahiriah terbagi menjadi tiga bagian, yaitu bersuci dari khabats (najis), bersuci dari hadas, dan bersuci dari sisa-sisa kotoran tubuh (fadhalaat al-badan), yaitu bersuci yang dilakukan dengan memotong kuku, mencukur bulu kemaluan, menggunakan obat pembersih bulu, khitan, dan sejenisnya.