القسم الثالث من النظافة التنظيف عن الفضلات الظاهرة

النوع الأول الأوساخ والرطوبات المترشحة

النوع الأول الأوساخ والرطوبات المترشحة

النَّوْعُ الْأَوَّلُ الْأَوْسَاخُ وَالرُّطُوبَاتُ الْمُتَرَشِّحَةُ

Jenis Pertama: Kotoran-Kotoran dan Kelembapan yang Rembes (Keluar dari Tubuh).

وَهِيَ ثَمَانِيَةٌ

Jenis ini ada delapan macam.

الْأَوَّلُ مَا يَجْتَمِعُ فِي شَعْرِ الرَّأْسِ مِنَ الدَّرَنِ وَالْقَمْلِ فَالتَّنْظِيفُ عَنْهُ مُسْتَحَبٌّ بِالْغَسْلِ وَالتَّرْجِيلِ وَالتَّدْهِينِ إِزَالَةً لِلشَّعَثِ عَنْهُ وَكَانَ ﷺ يَدَّهِنُ الشعر ويرجله غباً ويأمر به ويقول ﷺ ادهنوا غبا وَقَالَ ﷺ مَنْ كَانَ له شعرة فليكرمها أي ليصنها عن الأوساخ ودخل عليه رجل ثائر الرأس أشعث اللحية فقال أما كان لهذا دهن يسكن به شعره ثم قال يدخل أحدكم كأنه شيطان

Pertama: Kotoran dan kutu yang berkumpul di rambut kepala. Membersihkannya hukumnya mustahab (dianjurkan) dengan cara mencuci, menyisir, dan memberi minyak rambut guna menghilangkan kekusutan padanya. Rasulullah ﷺ biasa meminyaki rambut dan menyisirnya secara berselang-seling (tidak setiap hari) serta memerintahkan hal tersebut. Beliau ﷺ bersabda: "Meminyakilah kalian secara berselang-seling." Dan Beliau ﷺ bersabda: "Barang siapa memiliki rambut, hendaknya ia memuliakannya," yaitu memeliharanya dari kotoran. Suatu ketika seorang laki-laki masuk menemui Beliau dengan rambut kepala yang terurai acak-acakan dan jenggot yang kusut, maka Beliau bersabda: "Apakah orang ini tidak memiliki minyak untuk merapikan rambutnya?" Kemudian Beliau bersabda: "Salah seorang dari kalian masuk seolah-olah ia adalah setan."

الثَّانِي مَا يَجْتَمِعُ مِنَ الْوَسَخِ فِي مَعَاطِفِ الْأُذُنِ وَالْمَسْحُ يُزِيلُ مَا يَظْهَرُ مِنْهُ وَمَا يجتمع في قعر الصماخ فَيَنْبَغِي أَنْ يُنَظَّفَ بِرِفْقٍ عِنْدَ الْخُرُوجِ مِنَ الحمام فإن كثرة ذلك ربما تضر بالسمع

Kedua: Kotoran yang berkumpul di lekukan-lekukan telinga. Mengusap telinga dapat menghilangkan bagian yang tampak darinya, sedangkan kotoran yang berkumpul di dasar lubang telinga hendaknya dibersihkan dengan lembut sewaktu selesai mandi, karena terlalu sering atau berlebihan membersihkannya terkadang dapat merusak pendengaran.

الثالث ما يجتمع في داخل الأنف من الرطوبات المنعقدة الملتصقة بجوانبه ويزيلها بِالِاسْتِنْشَاقِ وَالِاسْتِنْثَارِ

Ketiga: Kelembapan yang mengeras dan menempel di dinding dalam hidung. Hal itu dapat dihilangkan dengan cara istinshaq (menghirup air ke dalam hidung) dan istinthsar (menyemburkan air keluar dari hidung).

الرَّابِعُ مَا يَجْتَمِعُ عَلَى الْأَسْنَانِ وطرف اللسان من القلح فيزيله السواك والمضمضة وقد ذكرناهما

Keempat: Plak atau karang gigi yang berkumpul pada gigi dan ujung lidah. Hal itu dihilangkan dengan bersiwak dan berkumur-kumur (madhmadhah), dan keduanya telah kami sebutkan sebelumnya.

الْخَامِسُ مَا يَجْتَمِعُ فِي اللِّحْيَةِ مِنَ الْوَسَخِ وَالْقَمْلِ إِذَا لَمْ يُتَعَهَّدْ وَيُسْتَحَبُّ إِزَالَةُ ذَلِكَ بالغسل والتسريح بالمشط

Kelima: Kotoran dan kutu yang berkumpul pada jenggot jika tidak dirawat. Disunnahkan untuk menghilangkannya dengan cara mencuci dan menyisirnya dengan sisir.

وفي الخبر المشهور أنه ﷺ كان لا يفارقه المشط والمدرى والمرآة في سفر ولا حضر وهي سنة العرب وفي خبر غريب أنه ﷺ كان يسرح لحيته في اليوم مرتين وكان ﷺ كث اللحية وكذلك كان أبو بكر وكان عثمان طويل اللحية رقيقها وكان على عريض اللحية قد ملأت ما بين منكبيه

Dalam riwayat yang masyhur disebutkan bahwa Nabi ﷺ tidak pernah berpisah dari sisir, pasak penata rambut (midra), dan cermin, baik dalam perjalanan (safar) maupun saat berada di kediaman (hadhar); dan hal itu merupakan tradisi orang Arab. Dalam riwayat yang tergolong gharib disebutkan bahwa Beliau ﷺ menyisir jenggotnya dua kali sehari. Beliau ﷺ berjenggot tebal, begitu pula Abu Bakar ﵂. Sedangkan Utsman ﵂ berjenggot panjang lagi halus, dan Ali ﵂ berjenggot lebar hingga memenuhi ruang di antara kedua pundaknya.

وفي حديث أغرب منه قالت عائشة ﵂ اجتمع قوم بباب رسول الله ﷺ فخرج إليهم فرأيته يطلع في الحب يسوي من رأسه ولحيته فقلت أوتفعل ذلك يا رسول الله فقال نعم إن الله يحب من عبده أن يتجمل لإخوانه إذا خرج إليهم والجاهل ربما يظن أن ذلك من حب التزين للناس قياساً على أخلاق غيره وتشبيهاً للملائكة بالحدادين وهيهات فقد كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مأموراً بالدعوة وكان من وظائفه أن يسعى في تعظيم أمر نفسه في قلوبهم كيلا تزدريه نفوسهم ويحسن صورته في أعينهم كيلا تستصغره أعينهم فينفرهم ذلك ويتعلق المنافقون بذلك في تنفيرهم

Dalam hadis yang lebih gharib lagi, Aisyah ﵂ meriwayatkan: Suatu kaum berkumpul di depan pintu Rasulullah ﷺ, lalu Beliau hendak keluar menemui mereka. Aku melihat Beliau mengaca pada bejana air untuk merapikan rambut dan jenggot Beliau. Aku pun bertanya: "Apakah Engkau melakukan hal itu wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Ya, sesungguhnya Allah menyukai hamba-Nya yang memperindah diri untuk saudara-saudaranya apabila ia keluar menemui mereka." Orang yang jahil (bodoh) terkadang menyangka bahwa hal itu termasuk bentuk gemar berhias untuk manusia, karena mengkiaskannya dengan akhlak orang lain dan menyerupakan malaikat dengan pandai besi. Padahal sungguh jauh dari hal itu! Sungguh Rasulullah ﷺ diperintahkan untuk berdakwah, dan termasuk tugas Beliau adalah berikhtiar mengagungkan kedudukan dirinya di dalam hati mereka agar jiwa mereka tidak memandangnya hina, serta memperelok penampilannya di mata mereka agar pandangan mereka tidak meremehkannya sehingga hal itu membuat mereka lari, dan membuat kaum munafik memanfaatkan hal tersebut untuk menjauhkan orang-orang.

وهذا القصد واجب على كل عالم تصدي لدعوة الخلق إلى الله ﷿ وهو أن يراعي من ظاهره ما لا يوجب نفرة الناس عنه

Niat ini hukumnya wajib bagi setiap orang berilmu (alim) yang mengemban tugas mengajak makhluk kepada Allah Azza wa Jalla, yaitu dengan memperhatikan penampilan lahiriahnya sedemikian rupa agar tidak menimbulkan rasa enggan atau lari dari orang-orang terhadap dirinya.

والاعتماد في مثل هذه الأمور على النية فإنها أعمال في أنفسها تكتسب الأوصاف من المقصود فالتزين

Patokan utama dalam perkara-perkara semacam ini bergantung pada niat. Sebab, perbuatan-perbuatan itu sendiri memperoleh sifat dan hukumnya berdasarkan tujuannya. Oleh karena itu, berhias…

على هذا القصد محبوب وَتَرْكُ الشَّعَثِ فِي اللِّحْيَةِ إِظْهَارًا لِلزُّهْدِ وَقِلَّةِ الْمُبَالَاةِ بِالنَّفْسِ مَحْذُورٌ وَتَرْكُهُ شَغْلًا بِمَا هُوَ أَهَمُّ مِنْهُ مَحْبُوبٌ

…dengan niat seperti ini adalah hal yang dicintai (dianjurkan). Sementara membiarkan janggut kusut berantakan demi memperlihatkan kezuhudan dan kekurangpedulian terhadap diri sendiri merupakan hal yang diwaspadai (dilarang). Adapun meninggalkannya (tidak sempat merapikannya) karena disibukkan oleh perkara yang lebih penting dari itu, adalah hal yang dicintai (dimaklumi).

وَهَذِهِ أَحْوَالٌ بَاطِنَةٌ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ اللَّهِ ﷿

Dan ini semua merupakan keadaan-keadaan batin antara seorang hamba dengan Allah Azza wa Jalla.

وَالنَّاقِدُ بَصِيرٌ والتلبيس غير رائج عليه بحال وكم من جاهل يتعاطى هذه الأمور التفاتاً إلى الخلق وهو يلبس على نفسه وعلى غيره ويزعم أن قصده الخير فترى جماعة من العلماء يلبسون الثياب الفاخرة ويزعمون أن قصدهم إرغام المبتدعة والمجادلين والتقرب إلى الله تعالى به

Sebab, Sang Maha Menilai (Allah) Maha Melihat lagi Maha Jeli, dan kepalsuan (talbis) sama sekali tidak akan samar bagi-Nya. Betapa banyak orang bodoh yang melakukan hal-hal ini karena berorientasi kepada makhluk, sementara ia mengelabui dirinya sendiri dan orang lain seraya mengklaim bahwa tujuannya adalah kebaikan. Maka engkau melihat sekelompok ulama mengenakan pakaian yang mewah dan mengklaim bahwa tujuan mereka adalah untuk menyudutkan para ahli bid'ah dan ahli debat serta mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala dengannya.

وهذا أمر ينكشف يوم تبلى السرائر ويوم يبعثر ما في القبور ويحصل ما في الصدور فعند ذلك تتميز السبيكة الخالصة من البهرجة فنعوذ بالله من الخزي يوم العرض الأكبر

Hal ini merupakan perkara yang akan terkuak pada hari ketika segala rahasia diuji, pada hari ketika apa yang ada di dalam kubur dibangkitkan, dan apa yang ada di dalam dada dilahirkan. Pada saat itulah batangan emas murni akan terpisahkan dari yang palsu bersepuh. Maka kita berlindung kepada Allah dari kehinaan pada hari menghadap (pemeriksaan) yang mahabesar.

السَّادِسُ وَسَخُ الْبَرَاجِمِ وَهِيَ مَعَاطِفُ ظُهُورِ الْأَنَامِلِ كَانَتِ الْعَرَبُ لَا تُكْثِرُ غَسْلَ ذَلِكَ لِتَرْكِهَا غَسْلَ الْيَدِ عَقِيبَ الطَّعَامِ فَيَجْتَمِعُ فِي تِلْكَ الغضون وسخ فأمرهم رسول الله ﷺ بِغَسْلِ الْبَرَاجِمِ

Keenam: Kotoran pada barajim (kerutan sendi-sendi jari). Barajim adalah lekukan pada punggung ruas jari jemari. Dahulu bangsa Arab tidak sering membasuhnya karena mereka tidak mencuci tangan seusai makan, sehingga kotoran menumpuk di lipatan-lipatan tersebut. Maka Rasulullah ﷺ memerintahkan mereka untuk membasuh barajim.

السَّابِعُ تَنْظِيفُ الرَّوَاجِبِ أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ العرب بتنظيفها وهي رءوس الأنامل وما تحت الأظفار مِنَ الْوَسَخِ لِأَنَّهَا كَانَتْ لَا يَحْضُرُهَا الْمِقْرَاضُ في كل وقت فتجتمع فيها أوساخ فوقت لهم رسول الله ﷺ قلم الأظفار ونتف الإبط وحلق العانة أربعين يوماً لكنه أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بتنظيف ما تحت الأظفار وجاء في الأثر أن النبي ﷺ استبطأ الوحي فلما هبط عليه جبريل ﵇ قال له كيف ننزل عليكم وأنتم لا تغسلون براجمكم ولا تنظفون رواجبكم وقلحاً لا تستاكون مر أمتك بذلك والاف وسخ الظفر والتف وسخ الأذن وقوله ﷿ ﴿فلا تقل لهما أف﴾ تعبهما أي بما تحت الظفر من الوسخ وقيل لا تتأذ بهما كما تتأذى بما تحت الظفر

Ketujuh: Membersihkan rawajib. Rasulullah ﷺ memerintahkan orang-orang Arab untuk membersihkannya. Rawajib adalah bagian ujung jemari dan kotoran yang ada di bawah kuku. Hal itu karena dahulu pemotong kuku tidak selalu tersedia setiap saat, sehingga kotoran menumpuk padanya. Maka Rasulullah ﷺ memberi batas waktu bagi mereka untuk memotong kuku, mencabut bulu ketiak, dan mencukur bulu kemaluan selama empat puluh hari. Namun Rasulullah ﷺ memerintahkan untuk membersihkan bagian bawah kuku. Diriwayatkan dalam sebuah riwayat bahwa Nabi ﷺ merasakan wahyu lambat turun, maka ketika Jibril 'alaihissalam turun kepada beliau, ia berkata: 'Bagaimana kami bisa turun kepada kalian sementara kalian tidak membasuh barajim kalian, tidak membersihkan rawajib kalian, dan gigi kalian kuning karena tidak bersiwak? Perintahkan umatmu untuk melakukan hal itu!' Uff adalah kotoran kuku, dan tuff adalah kotoran telinga. Firman Allah Azza wa Jalla, 'Maka janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan uff' bermakna menganggap keduanya kotor seperti halnya kotoran di bawah kuku. Dikatakan pula bermakna: janganlah engkau merasa terganggu oleh keduanya sebagaimana engkau merasa terganggu oleh kotoran di bawah kuku.

الثَّامِنُ الدَّرَنُ الَّذِي يَجْتَمِعُ عَلَى جَمِيعِ الْبَدَنِ بِرَشْحِ الْعَرَقِ وَغُبَارِ الطَّرِيقِ وَذَلِكَ يُزِيلُهُ الْحَمَّامُ ولا بَأْسَ بِدُخُولِ الْحَمَّامِ دَخَلَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ حَمَّامَاتِ الشَّامِ وَقَالَ بَعْضُهُمْ نِعْمَ الْبَيْتُ بَيْتُ الْحَمَّامِ يُطَهِّرُ الْبَدَنَ وَيُذَكِّرُ النَّارَ رُوِيَ ذَلِكَ عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ وَأَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ ﵄

Kedelapan: Daki yang terkumpul di seluruh tubuh akibat keluarnya keringat dan debu jalanan. Hal itu dapat dihilangkan dengan mandi di pemandian umum (hammam). Tidak mengapa memasuki tempat pemandian umum; para sahabat Rasulullah ﷺ pun pernah memasuki tempat-tempat pemandian umum di Syam. Sebagian mereka berkata: 'Sebaik-baik tempat adalah rumah pemandian umum (hammam), ia membersihkan badan dan mengingatkan akan neraka.' Hal tersebut diriwayatkan dari Abu Darda' dan Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu 'anhuma.

وَقَالَ بَعْضُهُمْ بِئْسَ الْبَيْتُ بَيْتُ الْحَمَّامِ يُبْدِي الْعَوْرَةَ وَيُذْهِبُ الْحَيَاءَ فَهَذَا تَعَرُّضٌ لِآفَتِهِ وَذَاكَ تَعَرُّضٌ لِفَائِدَتِهِ وَلَا بِأْسَ بِطَلَبِ فَائِدَتِهِ عِنْدَ الِاحْتِرَازِ مِنْ آفَتِهِ

Namun sebagian sahabat lainnya berkata: 'Seburuk-buruk tempat adalah rumah pemandian umum (hammam), ia menyingkap aurat dan menghilangkan rasa malu.' Yang terakhir ini menyoroti bahayanya, sedangkan yang pertama menyoroti manfaatnya. Dan tidak mengapa mencari manfaatnya selama berhati-hati dan menjaga diri dari kemudaratannya.

وَلَكِنْ عَلَى دَاخِلِ الْحَمَّامِ وَظَائِفُ مِنَ السُّنَنِ وَالْوَاجِبَاتِ فَعَلَيْهِ وَاجِبَانِ فِي عَوْرَتِهِ وَوَاجِبَانِ فِي عَوْرَةِ غَيْرِهِ

Namun demikian, bagi orang yang memasuki tempat pemandian umum ada tugas-tugas berupa amalan sunnah dan kewajiban. Ia memiliki dua kewajiban terkait aurat dirinya sendiri dan dua kewajiban terkait aurat orang lain.

أَمَّا الْوَاجِبَانِ فِي عَوْرَتِهِ فَهُوَ أَنْ يَصُونَهَا عَنْ نَظَرِ الْغَيْرِ ويصونها عَنْ مَسِّ الْغَيْرِ فَلَا يَتَعَاطَى أَمْرَهَا وَإِزَالَةَ وَسَخِهَا إِلَّا بِيَدِهِ وَيَمْنَعُ الدَّلَّاكَ مِنْ مَسِّ الفخذ وما بين السرة إلى العانة وفي إباحة مس ما ليس بسوءة لإزالة الوسخ احتمال ولكن الأقيس التحريم إذألحق مس السوأتين في التحريم بالنظر فكذلك ينبغي أن تكون بقية العورة أعني الفخذين

Adapun dua kewajiban berkenaan dengan aurat dirinya sendiri adalah: menjaga auratnya dari pandangan orang lain dan menjaganya dari sentuhan orang lain. Maka janganlah menyerahkan urusan pembersihan aurat dan kotorannya melainkan dengan tangannya sendiri, serta melarang tukang gosok (dallak) dari menyentuh paha dan area antara pusar hingga bulu kemaluan. Adapun kebolehan menyentuh bagian yang bukan kemaluan utama untuk menghilangkan kotoran memang memiliki beberapa kemungkinan pendapat, namun yang lebih qiyas (sesuai hukum analogi) adalah diharamkan. Sebab jika menyentuh dua kemaluan diharamkan sebagaimana memandangnya, maka demikian pula mestinya bagian aurat lainnya, yakni kedua paha.

وَالْوَاجِبَانِ فِي عَوْرَةِ الْغَيْرِ أَنْ يَغُضَّ بَصَرَ نَفْسِهِ عَنْهَا وَأَنْ يَنْهَى عَنْ كَشْفِهَا لِأَنَّ النهي عن المنكر وَاجِبٌ وَعَلَيْهِ ذِكْرُ ذَلِكَ وَلَيْسَ عَلَيْهِ الْقَبُولُ ولا يسقط عنه وجوب الذكر إلا لخوف ضرب أو شتم أو ما يجري عليه مما هو حرام في نفسه فليس عليه أن ينكر حراماً يرهق المنكر عليه إلى مباشرة حرام آخر

Adapun dua kewajiban berkenaan dengan aurat orang lain adalah: menundukkan pandangannya sendiri darinya dan melarang orang lain dari menyingkapnya. Sebab, nahi munkar (melarang kemungkaran) adalah wajib, dan ia berkewajiban mengingatkannya, sedangkan diterima atau tidaknya penerimaan bukan tanggung jawabnya. Kewajiban mengingatkan itu tidak gugur darinya kecuali karena takut akan pukulan, caci maki, atau tindakan balasan lain yang pada dasarnya haram. Maka ia tidak wajib mengingatkan suatu keharaman jika hal itu justru mendorong timbulnya keharaman lain yang menimpa dirinya.

فأما قوله أعلم أن ذلك لا يفيد ولا يعمل به فهذا

Adapun perkataannya, 'Aku tahu bahwa teguran itu tidak akan bermanfaat dan tidak akan digubris,' maka hal ini…

لا يكون عذراً بل لا بد من الذكر فلا يخلو قلب عن التأثر من سماع الإنكار واستشعار الاحتراز عند التعبير بالمعاصي وذلك يؤثر في تقبيح الأمر في عينه وتنفير نفسه فلا يجوز تركه ولمثل هذا صار الحزم ترك دخول الحمام في هذه الأوقات إذ لا تخلو عن عورات مكشوفة لا سيما ما تحت السرة إلى ما فوق العانة إذ الناس لا يعدونها عورة وقد ألحقها الشرع بالعورة وجعلها كالحريم لها ولهذا يستحب تخلية الحمام

…tidak dapat dijadikan alasan. Bahkan ia tetap harus mengingatkan, sebab tidak ada satu hati pun yang sama sekali luput dari pengaruh saat mendengar teguran dan merasakan dorongan berhati-hati ketika perbuatan maksiat disebut secara jelas. Hal itu berdampak memperburuk hal tersebut dalam pandangannya serta menimbulkan keengganan dalam jiwanya, sehingga teguran tidak boleh ditinggalkan. Karena hal semacam inilah, tindakan yang paling bijak adalah tidak memasuki tempat pemandian umum pada masa-masa ini, sebab hampir tidak pernah sepi dari aurat yang terbuka, khususnya area di bawah pusar hingga di atas kemaluan, mengingat orang-orang tidak menganggapnya sebagai aurat padahal syariat telah mengategorikannya sebagai aurat dan menjadikannya seperti wilayah batasan baginya. Oleh sebab itulah, dianjurkan untuk mengosongkan tempat pemandian umum (menyewanya secara privat).

وقال بشر بن الحرث ما أعنف رجلاً لا يملك إلا درهماً دفعه ليخلي له الحمام

Bishr bin al-Harits berkata: 'Betapa hebatnya seseorang yang hanya memiliki satu dirham, lalu ia menyerahkannya agar tempat pemandian umum itu dikosongkan khusus untuk dirinya.'

ورؤي ابن عمر ﵄ في الحمام ووجهه إلى الحائط وقد عصب عينيه بعصابة وقال بعضهم لا بأس بدخول الحمام ولكن بإزارين إزار للعورة وإزار للرأس يتقنع به ويحفظ عينيه وأما السنن فعشرة فالأول النِّيَّةُ وَهُوَ أَنْ لَا يَدْخُلَ لِعَاجِلِ دُنْيَا وَلَا عَابِثًا لِأَجْلِ هَوًى بَلْ يَقْصِدُ بِهِ التنظف المحبوب تزيناً للصلاة ثم يعطي الحمامي الأجرة قبل الدخول فإن ما يستوفيه مجهول وكذا ما ينتظره الحمامي فتسليم الأجرة قبل الدخول دفع للجهالة من أحد العوضين وتطييب لنفسه ثم يقدم رجله اليسرى عند الدخول ويقول بسم الله الرحمن الرحيم أعوذ بالله من الرجس النجس الخبيث المخبث الشيطان الرجيم ثم يدخل وقت الخلوة أو يتكلف تخلية الحمام فإنه إن لم يكن في الحمام إلا أهل الدين والمحتاطين للعورات فالنظر إلى الأبدان مكشوفة فيه شائبة من قلة الحياء وهو مذكر للنظر في العورات ثم لا يخلو الإنسان في الحركات عن انكشاف العورات بانعطاف في أطراف الإزار فيقع البصر على العورة من حيث لا يدري ولأجله عصب ابن عمر ﵄ عينيه ويغسل الجناحين عِنْدَ الدُّخُولِ وَلَا يُعَجِّلُ بِدُخُولِ الْبَيْتِ الْحَارِّ حَتَّى يَعْرَقَ فِي الْأَوَّلِ وَأَنْ لَا يُكْثِرَ صَبَّ الْمَاءِ بَلْ يَقْتَصِرُ عَلَى قَدْرِ الْحَاجَةِ فَإِنَّهُ الْمَأْذُونُ فِيهِ بِقَرِينَةِ الْحَالِ وَالزِّيَادَةُ عَلَيْهِ لَوْ عَلِمَهُ الْحَمَّامِيُّ لَكَرِهَهُ لَا سِيَّمَا الْمَاءُ الحار فله مئونة وفيه تعب وأن يتذكر حر النار بحرارة الْحَمَّامِ وَيُقَدِّرَ نَفْسَهُ مَحْبُوسًا فِي الْبَيْتِ الْحَارِّ سَاعَةً وَيَقِيسُهُ إِلَى جَهَنَّمَ فَإِنَّهُ أَشْبَهُ بَيْتٍ بِجَهَنَّمَ النَّارُ مِنْ تَحْتٍ وَالظَّلَامُ مِنْ فَوْقٍ نعوذ بالله من ذلك بل العاقل لا يغفل عن ذكر الآخرة في لحظة فإنها مصيره ومستقره فيكون له في كل ما يراه من ماء أو نار أو غيرهما عبرة وموعظة فإن المرء ينظر بحسب همته

Ibn Umar radhiyallahu 'anhuma pernah terlihat di pemandian umum dalam keadaan wajahnya menghadap ke dinding dan kedua matanya dibalut dengan kain pembalut. Sebagian ulama berkata: 'Tidak mengapa memasuki tempat pemandian umum, tetapi hendaklah menggunakan dua kain sarung; satu sarung untuk menutup aurat dan satu sarung untuk kepala guna kerudung pelindung serta menjaga pandangan matanya.' Adapun sunnah-sunnahnya ada sepuluh: Pertama: Niat, yaitu tidak memasukinya demi kepentingan duniawi sesaat atau sekadar main-main karena menuruti hawa nafsu, melainkan berniat untuk bersuci yang dicintai (dianjurkan) dalam rangka berhias untuk shalat. Kemudian ia memberikan upah kepada pengelola pemandian sebelum masuk, karena kadar air yang akan ia pergunakan itu belum pasti (matsjul), begitu pula kadar yang diharapkan pengelola pemandian. Maka menyerahkan upah sebelum masuk adalah untuk menghilangkan ketidakjelasan (jahalah) pada salah satu dari dua imbalan serta menyenangkan hatinya. Kemudian ia mendahulukan kaki kirinya saat masuk dan mengucapkan: 'Bismillahir-rahmanir-rahim, a'udzu billahi minar-rijsin-najisil-khabitsil-mukhbitsisy-syaithanir-rajim' (Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, aku berlindung kepada Allah dari kotoran yang najis, yang jahat lagi menyesatkan, yaitu setan yang terkutuk). Kemudian ia masuk pada waktu sepi atau berupaya mengosongkan tempat pemandian itu. Sebab, sekalipun di dalam pemandian itu tidak ada siapapun kecuali orang-orang beragama yang sangat berhati-hati dalam menjaga aurat, memandang tubuh-tubuh yang terbuka tetap mengandung sedikit cacat berupa berkurangnya rasa malu dan dapat mengarahkan ingatan untuk memandang aurat. Ditambah lagi seseorang dalam gerakannya tidak luput dari tersingkapnya aurat akibat terlipatnya ujung-ujung sarung, sehingga mata dapat menatap aurat tanpa disadari; karena itulah Ibn Umar radhiyallahu 'anhuma membalut kedua matanya. Dan ia membasuh kedua ketiaknya saat masuk, serta tidak terburu-buru masuk ke ruangan yang panas sampai ia berkeringat di ruangan pertama. Ia juga tidak boleh mengucurkan air secara berlebihan, melainkan mencukupkan diri sesuai kadar kebutuhan, karena itulah yang diizinkan berdasarkan qarinah (indikasi) keadaan. Menggunakan air secara berlebihan, sekiranya diketahui oleh pengelola pemandian tentu akan ia benci, lebih-lebih air panas yang membutuhkan biaya dan kerja keras. Serta ia hendaklah mengingat panasnya api neraka melalui panasnya pemandian umum, membayangkan dirinya terkurung di ruangan panas itu sesaat, lalu mengomparasikannya dengan neraka Jahanam. Sebab, rumah pemandian adalah bangunan yang paling mirip dengan neraka Jahanam; apinya dari bawah dan kegelapan dari atas—kita berlindung kepada Allah dari hal tersebut. Bahkan orang yang berakal tidak akan lalai mengingat akhirat sekejap pun, sebab akhirat adalah tempat kembali dan perhentian abadi baginya. Maka pada setiap apa yang dilihatnya, baik berupa air, api, maupun lainnya, menjadi iktibar (pelajaran) dan nasihat baginya. Sebab, seseorang dipengaruhi oleh arah cita-cita (himmah)-nya.

فإذا دخل بزاز ونجار وبناء وحائك داراً معمورة مفروشة فإذا تفقدتهم رأيت البزاز ينظر إلى الفرش يتأمل قيمتها والحائك ينظر إلى الثياب يتأمل نسجها والنجار ينظر إلى السقف يتأمل كيفية تركيبها والبناء ينظر إلى الحيطان يتأمل كيفية إحكامها واستقامتها

Apabila seorang penjual kain, tukang kayu, tukang bangunan, dan penenun memasuki sebuah rumah megah yang lengkap dengan perabotannya, jika engkau mengamati mereka, engkau akan melihat penjual kain menatap karpet-karpet memperkirakan harganya, penenun menatap pakaian memperhatikan tenunannya, tukang kayu menatap langit-langit memperhatikan cara konstruksinya, dan tukang bangunan menatap dinding-dinding memperhatikan kekokohan dan kelurusannya.

فكذلك سالك طريق الآخرة لا يرى من الأشياء شيئاً إلا ويكون له موعظة وذكرى للآخرة بل لا ينظر إلى شيء إلا ويفتح الله ﷿ له طريق عبرة فإن نظر إلى سواد تذكر ظلمة اللحد وإن نظر إلى حية تذكر أفاعي جهنم وإن نظر إلى صورة قبيحة شنيعة تذكر منكراً ونكيراً والزبانية وإن سمع صوتاً هائلاً تذكر نفخة الصور وإن رأى شيئاً حسناً تذكر نعيم الجنة وإن سمع كلمة رد أو قبول في سوق أو دار تذكر ما ينكشف من آخر أمره بعد الحساب من الرد والقبول وما أجدر أن يكون هذا هو الغالب على قلب العاقل إلا لا يصرفه عنه إلا مهمات الدنيا فإذا نسب مدة المقام في الدنيا إلى مدة المقام في الآخرة استحقرها إن لم يكن ممن أغفل قلبه وأعميت بصيرته

Begitu pula penempuh jalan akhirat (salik), tidaklah ia melihat sesuatu pun melainkan menjadi nasihat dan ingatan akan akhirat baginya. Bahkan tidaklah ia memandang sesuatu melainkan Allah Azza wa Jalla membukakan baginya jalan iktibar (pelajaran spiritual). Jika ia melihat kegelapan, ia teringat akan kegelapan liang kubur; jika melihat ular, ia teringat ular-ular Jahanam; jika melihat rupa yang buruk dan mengerikan, ia teringat Munkar, Nakir, dan malaikat Zabaniyah; jika mendengar suara yang dahsyat, ia teringat tiupan sangkakala; jika melihat sesuatu yang indah, ia teringat kenikmatan surga; dan jika mendengar perkataan penolakan atau penerimaan di pasar atau di rumah, ia teringat akan kesudahan urusannya setelah perhitungan amal (hisab), apakah ia akan ditolak atau diterima. Alangkah patutnya hal ini menjadi aspek yang dominan pada hati orang yang berakal, yang tidak dapat dipalingkan darinya kecuali oleh urusan-urusan duniawi yang mendesak. Apabila ia membandingkan durasi tinggal di dunia dengan durasi tinggal di akhirat, niscaya ia akan menganggapnya sangat remeh, selama ia bukan termasuk orang yang hatinya dilalaikan dan mata batin (bashirah)-nya dibutakan.

ومن السنن أن لا يسلم عند الدخول وإن سلم عليه لم يجب بلفظ السلام بل يسكت إن أجاب غيره وإن أحب قال عافاك الله وَلَا بَأْسَ بِأَنْ يُصَافِحَ الدَّاخِلَ وَيَقُولَ عَافَاكَ الله لابتداء الكلام

Di antara kesunnahannya adalah tidak mengucapkan salam ketika masuk. Jika ada yang mengucapkan salam kepadanya, ia tidak menjawab dengan lafal salam, melainkan diam jika sudah ada orang lain yang menjawabnya. Namun jika ia berkenan, ia boleh mengucapkan 'Aafakallah' (Semoga Allah menyembuhkan/menyelamatkanmu). Dan tidak mengapa berjabat tangan dengan orang yang baru masuk serta mengucapkan 'Aafakallah' sebagai kalimat pembuka percakapan.

ثم لا يكثر الكلام في الحمام ولا يقرأ القرآن إلا سراً ولا بأس بإظهار الاستعاذة من الشيطان ويكره دخول الحمام بين العشاءين وقريباً من الغروب فإن ذلك وقت انتشار الشياطين ولا بأس أن يدلكه غيره فقد نقل ذلك عن يوسف بن أسباط أوصى بأن يغسله إنسان لم يكن من أصحابه وقال إنه دلكني في الحمام مرة فأردت أن أكافئه بما يفرح به وإنه

Kemudian, hendaknya ia tidak banyak berbicara di tempat pemandian umum (hammam), dan tidak membaca Al-Qur'an kecuali secara sirr (perlahan/dalam hati). Tidak mengapa menampakkan bacaan istia'dzah (memohon perlindungan) dari setan. Dimakruhkan memasuki tempat pemandian di antara dua waktu Isya (antara Maghrib dan Isya) dan menjelang terbenamnya matahari, karena saat itu adalah waktu berkeliarannya para setan. Tidak mengapa jika orang lain memijat atau menggosok badannya, sebagaimana diriwayatkan dari Yusuf bin Asbat bahwasanya beliau berwasiat agar ia dimandikan oleh seseorang yang bukan dari sahabat-sahabatnya, dan beliau berkata: "Sesungguhnya ia pernah menggosok badanku di tempat pemandian suatu kali, maka aku ingin membalas kebaikannya dengan sesuatu yang membuatnya bahagia, dan sesungguhnya

ليفرح بذلك

ia sungguh akan merasa bahagia dengan hal tersebut."

ويدل على جوازه ما روى بعض الصحابة أن رسول الله ﷺ نزل منزلاً في بعض أسفاره فنام على بطنه وعبد أسود يغمز ظهره فقلت ما هذا يا رسول الله فقال إن الناقة تقحمت بي ثُمَّ مَهْمَا فَرَغَ مِنَ الْحَمَّامِ شَكَرَ اللَّهَ ﷿ على هذه النعمة

Dan yang menunjukkan kebolehannya adalah apa yang diriwayatkan oleh sebagian Sahabat bahwa Rasulullah ﷺ pernah singgah di suatu tempat dalam salah satu perjalanannya, lalu beliau tidur menelungkup sementara seorang budak hitam memijat punggung beliau. Aku bertanya, "Apakah ini, wahai Rasulullah?" Beliau bersabda, "Sesungguhnya unta itu telah menjatuhkan/menghempaskan aku." Kemudian, apabila ia telah selesai dari pemandian, hendaklah ia bersyukur kepada Allah Azza wa Jalla atas nikmat ini,

فقد قيل الماء الحار في الشتاء من النعيم الذي يسأل عنه

karena telah dikatakan bahwa air hangat di musim dingin termasuk di antara kenikmatan yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya.

وقال ابن عمر ﵄ الحمام من النعيم الذي أحدثوه

Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma berkata, "Tempat pemandian hangat (hammam) adalah bagian dari kenikmatan yang baru mereka adakan."

هذا من جهة الشرع

Ini adalah tinjauan dari segi syariat.

أما من جهة الطب فقد قيل الحمام بعد النورة أمان من الجذام وقيل النورة في كل شهر مرة تطفىء المرة الصفراء وتنقي اللون وتزيد في الجماع

Adapun dari segi medis, sungguh telah dikatakan bahwa mandi setelah menggunakan ramuan pembersih bulu (nurah) adalah perlindungan dari penyakit kusta (lepra). Dikatakan pula bahwa menggunakan nurah sekali dalam sebulan dapat meredakan empedu kuning (al-mirrah ash-safra'), membersihkan warna kulit, dan meningkatkan jima' (hubungan suami istri).

وقيل بولة في الحمام قائماً في الشتاء أنفع من شربة دواء

Dan dikatakan bahwa buang air kecil di tempat pemandian secara berdiri pada musim dingin lebih bermanfaat daripada meminum obat.

وقيل نومة في الصيف بعد الحمام تعدل شربة دواء

Dan dikatakan bahwa tidur di musim panas setelah dari tempat pemandian setara dengan meminum obat.

وغسل القدمين بماء بارد بعد الخروج من الحمام أمان من النقرس

Serta membasuh kedua kaki dengan air dingin setelah keluar dari tempat pemandian merupakan pencegah dari penyakit asam urat (niqris).

ويكره صَبُّ الْمَاءِ الْبَارِدِ عَلَى الرَّأْسِ عِنْدَ الْخُرُوجِ وكذا شربه هذا حكم الرجال وأما النساء فَقَدْ قَالَ ﷺ لَا يحل للرجل أن يدخل حليلته الحمام وفي البيت مستحم والمشهور أنه حرام على الرجال دخول الحمام إلا بمئزر وحرام على المرأة دخول الحمام إلا نفساء أو مريضة

Dan dimakruhkan menyiramkan air dingin ke kepala saat keluar, demikian pula meminumnya. Ini adalah hukum bagi laki-laki. Adapun bagi wanita, Rasulullah ﷺ telah bersabda, "Tidak halal bagi seorang laki-laki memasukkan istrinya ke tempat pemandian umum (hammam), padahal di rumah terdapat tempat mandi." Dan pandangan yang masyhur bahwasanya haram bagi laki-laki memasuki tempat pemandian umum kecuali dengan memakai kain sarung penutup aurat (mi'zar), dan haram bagi wanita memasuki tempat pemandian umum kecuali jika ia dalam keadaan nifas atau sakit.

ودخلت عائشة ﵂ حماماً من سقم بها

Dan Aisyah radhiyallahu 'anha pernah memasuki tempat pemandian umum karena penyakit yang dideritanya.

فإن دخلت لضرورة فلا تدخل إلا بمئزر سابغ ويكره للرجل أن يعطيها أجرة الحمام فيكون معيناً لها على المكروه

Apabila seorang wanita memasukinya karena darurat, hendaklah ia tidak masuk kecuali dengan kain penutup (mi'zar) yang sempurna. Dan dimakruhkan bagi seorang suami memberikan biaya pemandian umum kepadanya, karena berarti ia membantu istrinya dalam hal yang dimakruhkan.