القسم الثالث من النظافة التنظيف عن الفضلات الظاهرة

النوع الثاني فيما يحدث في البدن من الأجزاء

النوع الثاني فيما يحدث في البدن من الأجزاء

النَّوْعُ الثَّانِي فِيمَا يَحْدُثُ فِي الْبَدَنِ مِنَ الْأَجْزَاءِ

Jenis Kedua: Tentang Bagian-Bagian yang Tumbuh pada Tubuh.

وَهِيَ ثَمَانِيَةٌ

Dan hal itu ada delapan perkara:

الْأَوَّلُ شَعْرُ الرَّأْسِ وَلَا بَأْسَ بِحْلَقِهِ لِمَنْ أَرَادَ التَّنْظِيفَ وَلَا بِأْسَ بتركه لمن يدهنه ويرجله إلا إذا تركه قزعاً أي قطعاً وهو دأب أهل الشطارة أو أرسل الذوائب على هيئة أهل الشرف حيث صار ذلك شعاراً لهم فإنه إذا لم يكن شريفاً كان ذلك تلبيساً

Pertama: Rambut kepala. Tidak mengapa mencukurnya bagi siapa yang ingin menjaga kebersihan, dan tidak mengapa membiarkannya tumbuh bagi orang yang meminyaki dan menyisirnya; kecuali jika membiarkannya secara qaza' (mencukur sebagian dan membiarkan sebagian) yang merupakan kebiasaan orang-orang pemberontak/jalanan, atau menjulurkan kepangan rambut (dzu'a-ib) meniru gaya para bangsawan/syarif yang telah menjadi ciri khas mereka; sebab jika ia bukan seorang bangsawan, perbuatan tersebut merupakan pemalsuan identitas (talbis).

الثاني شعر الشارب وقد قال ﷺ قصوا الشارب وفي لفظ آخر جزوا الشوارب وفي لفظ آخر حفوا الشوارب وأعفوا اللحى أي اجعلوها حفاف الشفة أي حولها وحفاف الشيء حوله ومنه ﴿وترى الملائكة حافين من حول العرش﴾ وفي لفظ آخر احفوا وهذا يشعر بالاستئصال وقوله حفوا يدل على ما دون ذلك

Kedua: Kumis. Rasulullah ﷺ telah bersabda, "Pendekkanlah kumis." Dalam lafaz lain: "Potonglah kumis." Dan dalam lafaz lain: "Rapikanlah (tipiskanlah) kumis dan biarkanlah jenggot tumbuh lebat." Maksudnya, jadikanlah kumis itu berada di sekeliling bibir, karena kata 'hifaf' sesuatu artinya adalah sekelilingnya, sebagaimana firman Allah: "Dan engkau akan melihat malaikat-malaikat melingkar di sekeliling 'Arsy." Dan dalam lafaz lain: "Ahfuu" (habiskanlah kumis), yang mengisyaratkan pemangkasan hingga habis, sedangkan sabda beliau "haffuu" menunjukkan arti kurang dari itu.

وقال الله ﷿ أن يسئلكموها فيحفكم تبخلوا أي يستقصى عليكم وأما الحلق فلم يرد

Dan Allah Azza wa Jalla berfirman: "Jika Dia meminta harta itu kepadamu lalu mendesakmu (memintanya hingga habis), niscaya kamu akan kikir," artinya meminta hingga tuntas. Adapun mencukur habis kumis secara total (al-halq), maka hal itu tidak diriwayatkan dari Nabi.

والإحفاء القريب من الحلق نقل عن الصحابة نظر بعض التابعين إلى رجل أحفى شاربه فقال ذكرتني أصحاب رسول الله ﷺ

Namun menipiskan kumis hingga mendekati gundul (ihfa') telah diriwayatkan dari para Sahabat. Seorang Tabi'in pernah melihat seorang laki-laki yang sangat menipiskan kumisnya lalu ia berkata, "Engkau telah mengingatkanku pada para Sahabat Rasulullah ﷺ."

وقال المغيرة بن شعبة نظر إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وقد طال شاربي فقال تعال فقصه لي على سواك ولا بأس بترك سباليه وهما طرفا الشارب فعل ذلك عمر وغيره لأن ذلك لا يستر الفم ولا يبقى فيه غمر الطعام إذ لا يصل إليه وقوله ﷺ اعفوا اللحى أي كثروها وفي الخبر إن اليهود يعفون شواربهم

Al-Mughirah bin Syu'bah berkata bahwa Rasulullah ﷺ melihat kepadaku ketika kumisku telah panjang, lalu beliau bersabda, "Kemarilah, aku akan memotongnya untukmu di atas siwak." Dan tidak mengapa membiarkan kedua sabal (yaitu kedua ujung kumis yang memanjang ke samping), sebagaimana pernah dilakukan oleh Umar dan yang lainnya, karena hal itu tidak menutupi mulut dan tidak menyisakan bau amis atau sisa makanan sebab makanan tidak mengenainya. Dan sabda beliau ﷺ "A'ful liha" artinya biarkanlah jenggot tebal. Serta terdapat dalam riwayat bahwa kaum Yahudi justru memelihara (membiarkan panjang) kumis mereka.

ويقصون لحاهم فخالفوهم وكره بعض العلماء الحلق ورآه بدعة

dan mereka memotong pendek jenggot mereka, maka selisihilah mereka." Sebagian ulama memakruhkan mencukur habis jenggot dan memandangnya sebagai perkara bid'ah.

الثالث شعر الإبط ويستحب نتفه في كل أربعين يوماً مرة وذلك سهل على من تعود نتفه في الابتداء فأما من تعود الحلق فيكفيه الحلق إذ في النتف تعذيب وإيلام والمقصود النظافة وأن لا يجتمع الوسخ في خللها ويحصل ذلك بالحلق

Ketiga: Bulu ketiak. Disunnahkan mencabutnya sekali setiap empat puluh hari, dan hal itu mudah bagi orang yang terbiasa mencabutnya sejak awal. Adapun bagi orang yang terbiasa mencukurnya, maka cukuplah baginya mencukurnya, karena dalam mencabut terdapat unsur menyiksa dan menyakitkan. Sedangkan tujuan utamanya adalah kebersihan dan agar kotoran tidak mengumpul di sela-selanya, dan hal tersebut sudah tercapai dengan mencukur.

الرابع شعر العانة ويستحب إزالة ذلك إما بالحلق أو بالنورة ولا ينبغي أن تتأخر عن أربعين يوماً

Keempat: Bulu kemaluan. Disunnahkan mengelungkannya (menghilangkannya), baik dengan cara mencukur maupun menggunakan kapur pembersih bulu (nurah). Dan tidak sepantasnya pembersihan tersebut ditunda melebihi empat puluh hari.

الْخَامِسُ الْأَظْفَارُ وَتَقْلِيمُهَا مُسْتَحَبٌّ لِشَنَاعَةِ صُورَتِهَا إِذَا طالت ولما يجتمع فيها من الوسخ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يا أبا هريرة أقلم أظفارك فإن الشيطان يقعد على ما طال منها ولو كان تحت الظفر وسخ فلا يمنع ذلك صحة الوضوء لأنه لا يمنع وصول الماءولأنه يتساهل فيه للحاجة لا سيما في أظفار الرجل وفي الأوساخ التي تجتمع على البراجم وظهور الأرجل والأيدي من العرب وأهل السواد وكان رسول الله ﷺ يأمرهم بالقلم وينكر عليهم ما يرى تحت أظفارهم من الأوساخ ولم يأمرهم بإعادة الصلاة ولو أمر به لكان فيه فائدة أخرى وهو التغليظ والزجر عن ذلك

Kelima: Kuku. Memotong kuku disunnahkan karena buruknya rupa kuku jika dibiarkan panjang dan karena kotoran yang berkumpul di bawahnya. Rasulullah ﷺ bersabda, "Wahai Abu Hurairah, potonglah kuku-kukumu, karena sesungguhnya setan duduk di atas kuku yang panjang." Sekiranya terdapat kotoran di bawah kuku, hal itu tidak menghalangi keabsahan wudhu karena tidak menghalangi sampainya air, serta karena adanya toleransi padanya disebabkan kebutuhan, terutama pada kuku kaki dan kotoran yang berkumpul pada lekukan sendi-sendi jari (barajim) serta punggung kaki dan tangan bagi kalangan Arab dusun maupun penduduk pedesaan. Rasulullah ﷺ biasa memerintahkan mereka untuk memotong kuku dan mengingkari kotoran yang beliau lihat di bawah kuku mereka, namun beliau tidak memerintahkan mereka untuk mengulangi shalat. Sekiranya beliau memerintahkannya, niscaya di dalamnya terdapat faedah lain, yaitu penegasan hukum dan celaan keras terhadap hal tersebut.

ولم أر في الكتب خبراً مروياً في ترتيب قلم الأظفار ولكن سمعت أنه ﷺ بدأ بمسبحته اليمنى وختم بإبهامه اليمنى وابتدأ في اليسرى بالخنصر إلى الإبهام ولما تأملت في هذا خطر لي من المعنى ما يدل على أن الرواية فيه صحيحة إذ مثل هذا المعنى لا ينكشف ابتداء إلا بنور النبوة وأما العالم ذو البصيرة فغايته أن يستنبطه من العقل بعد نقل الفعل إليه

Aku tidak menemukan dalam kitab-kitab suatu riwayat hadis tentang urutan memotong kuku, namun aku mendengar bahwa Rasulullah ﷺ memulainya dari jari telunjuk tangan kanan dan mengakhirinya dengan ibu jari tangan kanan, sedangkan pada tangan kiri beliau memulainya dari jari kelingking hingga ibu jari. Ketika aku merenungkan hal ini, terlintas dalam pikiranku suatu makna yang menunjukkan bahwa riwayat tersebut shahih, sebab makna seperti ini tidak akan tersingkap sejak awal melainkan dengan cahaya kenabian. Adapun seorang alim yang memiliki mata hati (bashirah), puncak kemampuannya hanyalah mengistinbath maknanya melalui akal setelah perbuatan tersebut diriwayatkan kepadanya.

فالذي لاح لي فيه والعلم عند الله سبحانه أنه لا بد من قلم أظفار اليد والرجل واليد أشرف من الرجل فيبدأ بها ثم اليمنى أشرف من اليسرى فيبدأ بها ثم على اليمنى خمسة أصابع والمسبحة أشرفها إذ هي المشيرة في كلمتي الشهادة من جملة الأصابع ثم بعدها ينبغي أن يبتدىء بما على يمينها إذ الشرع يستحب إدارة الطهور وغيره على اليمين وإن وضعت ظهر الكف على الأرض فالإبهام هو اليمين وإن وضعت بطن الكف فالوسطى هي اليمنى واليد إذا تركت بطبعها كان الكف مائلاً إلى جهة الأرض إذ جهة حركة اليمين إلى اليسار واستتمام الحركة إلى اليسار يجعل ظهر الكف عالياً فما يقتضيه الطبع أولى ثم إذا وضعت الكف على الكف صارت الأصابع في حكم حلقة دائرة فيقتضي ترتيب الدور الذهاب عن يمين المسبحة إلى أن يعود إلى المسبحة فتقع البداءة بخنصر اليسرى والختم بإبهامها ويبقى إبهام اليمنى فيختم به التقليم

Maka hal yang tersingkap bagiku—dan ilmu itu ada pada Allah Subhanahu wa Ta'ala—adalah bahwa memotong kuku tangan dan kaki adalah suatu keharusan, sedangkan tangan lebih mulia daripada kaki maka dimulailah darinya. Kemudian tangan kanan lebih mulia daripada tangan kiri maka dimulailah darinya. Selanjutnya, pada tangan kanan terdapat lima jari, dan jari telunjuk (musabbihah) adalah yang paling mulia di antara seluruh jari karena ia yang memberi isyarat saat mengucapkan dua kalimat syahadat. Setelah telunjuk, hendaknya dimulai dengan jari yang ada di sebelah kanannya, karena syariat menyukai perputaran bersuci dan lainnya ke arah kanan. Jika engkau meletakkan punggung telapak tangan di atas tanah, maka ibu jari berada di sebelah kanan; namun jika engkau meletakkan telapak tangan menghadap tanah, maka jari tengah yang berada di sebelah kanan. Tangan jika dibiarkan secara alaminya, telapak tangan akan cenderung menghadap ke arah tanah, karena arah gerakan tangan kanan adalah ke kiri, dan menyempurnakan gerakan ke arah kiri menjadikan punggung telapak tangan di atas, sehingga apa yang dituntut oleh watak alami adalah yang utama. Kemudian, jika telapak tangan ditungkupkan di atas telapak tangan lainnya, jari-jari itu menjadi seperti lingkaran yang berputar, sehingga urutan perputarannya menuntut pergerakan dari sebelah kanan jari telunjuk hingga kembali lagi ke jari telunjuk. Maka dimulailah dari jari kelingking tangan kiri dan diakhiri pada ibu jarinya, sehingga tersisa ibu jari tangan kanan yang menjadi penutup pemotongan kuku.

وإنما قدرت الكف موضوعة على الكف حتى تصير الأصابع كأشخاص في حلقة ليظهر ترتيبها

Sesungguhnya aku mengandaikan telapak tangan diletakkan di atas telapak tangan agar jari-jari tersebut menjadi seperti individu-individu dalam satu lingkaran sehingga tampak urutannya.

وتقدير ذلك أولى من تقدير وضع الكف على ظهر الكف أو وضع ظهر الكف على ظهر الكف فإن ذلك لا يقتضيه الطبع

Pengandaian demikian lebih utama daripada pengandaian meletakkan telapak tangan di atas punggung telapak tangan atau meletakkan punggung telapak tangan di atas punggung telapak tangan, sebab hal itu tidak sesuai dengan watak alami.

وأما أصابع الرجل فالأولى عندي إن لم يثبت فيها نقل أن يبدأ بخنصر اليمنى ويختم بخنصر اليسرى كما في التخليل فإن المعاني التي ذكرها في اليد لا تتجه ههنا إذ لا مسبحة في الرجل

Adapun jari-jari kaki, maka yang paling utama menurutku—jika tidak ada riwayat yang shahih di dalamnya—adalah memulainya dari jari kelingking kaki kanan dan mengakhirinya pada jari kelingking kaki kiri, sebagaimana dalam menyela-nyela jari saat berwudhu; karena makna-makna yang telah disebutkan pada tangan tidak berlaku di sini, sebab tidak ada jari telunjuk penunjuk syahadat pada kaki.

وهذه الأصابع في حكم صف واحد ثابت على الأرض فيبدأ من جانب اليمنى فإن تقديرها حلقة بوضع الأخمص على الأخمص يأباه الطبع بخلاف اليدين

Jari-jari kaki ini berkedudukan seperti satu barisan yang tetap di atas tanah, sehingga dimulai dari sisi sebelah kanan. Pengandaian bentuk lingkaran dengan menempelkan lekuk telapak kaki pada lekuk telapak kaki lainnya ditolak oleh watak alami, berbeda halnya dengan kedua tangan.

وهذه الدقائق في الترتيب تنكشف بنور النبوة في لحظة واحدة وإنما يطول التعب علينا

Rincian-rincian kelembutan dalam urutan ini tersingkap dengan cahaya kenabian dalam sekejap mata, sementara kepayahan kita membutuhkan waktu yang panjang.

ثم لو سئلنا ابتداء عن الترتيب في ذلك ربما لم يخطر لنا

Kemudian sekiranya kita ditanya sejak awal mengenai urutan dalam hal tersebut, boleh jadi hal itu tidak pernah terlintas dalam pikiran kita.

وإذا ذكرنا فعله ﷺ

Namun apabila disebutkan kepada kita perbuatan Nabi ﷺ…

وترتيبه ربما تيسر لنا مما عاينه ﷺ بشهادة الحكم وتنبيهه على المعنى استنباط المعنى ولا تظنن أن أفعاله ﷺ في جميع حركاته كانت خارجة عن وزن وقانون وترتيب بل جميع الأمور الاختيارية التي ذكرناها يتردد فيها الفاعل بين قسمين أو أقسام كان لا يقدم على واحد معين بالاتفاق بل بمعنى يقتضي الإقدام والتقديم فإن الاسترسال مهملاً كما يتفق سجية البهائم وضبط الحركات بموازين المعاني سجية أولياء الله تعالى

…serta urutannya, boleh jadi dipermudah bagi kita untuk mengistinbath maknanya dari apa yang disaksikan oleh beliau ﷺ melalui persaksian hikmah dan peringatannya terhadap makna tersebut. Jangan sekali-kali engkau mengira bahwa perbuatan-perbuatan Nabi ﷺ dalam seluruh gerak-geriknya keluar dari timbangan, kaidah, dan urutan. Sebaliknya, seluruh perkara ikhtiyariyah (pilihan) yang kami sebutkan—di mana pelakunya berkisar antara dua pilihan atau beberapa pilihan—beliau tidak mendahulukan sesuatu tertentu secara kebetulan semata, melainkan karena suatu makna yang menuntut pemenuhan dan pendahuluan itu. Sebab, bertindak tanpa aturan dan dibiarkan begitu saja secara kebetulan adalah tabiat binatang, sedangkan mengendalikan gerak-gerik dengan timbangan makna-makna spiritual adalah tabiat para kekasih Allah (wali-wali-Nya) Ta'ala.

وكلما كانت حركات الإنسان وخطراته إلى الضبط أقرب وعن الإهمال وتركه سدى أبعد كانت مرتبته إلى رتبة الأنبياء والأولياء أكثر وكان قربه من الله ﷿ أظهر إذ القريب من النبي ﷺ هو القريب من الله ﷿ والقريب من الله لا بد أن يكون قريباً فالقريب من القريب قريب بالإضافة إلى غيره فنعوذ بالله أن يكون زمام حركاتنا وسكناتنا في يد الشيطان بواسطة الهوى

Semakin dekat gerak-gerik dan terlintasnya pikiran seorang manusia pada keteraturan dan semakin jauh dari kelalaian serta kesia-siaan, maka derajatnya akan semakin dekat dengan derajat para nabi dan wali, serta keddekatannya dengan Allah Azza wa Jalla akan semakin nyata. Karena orang yang dekat dengan Nabi ﷺ adalah orang yang dekat dengan Allah Azza wa Jalla, dan orang yang dekat dengan Allah pasti menjadi dekat; maka orang yang dekat dengan yang dekat adalah dekat bila dibandingkan dengan yang lainnya. Kita berlindung kepada Allah dari keadaan di mana kendali gerak dan diam kita berada di tangan setan melalui perantara hawa nafsu.

واعتبر في ضبط الحركات باكتحاله ﷺ فإنه كان يكتحل في عينه اليمنى ثلاثا وفي اليسرى اثنين فيبدأ باليمنى لشرفها

Dan ambillah iktibar (pelajaran) dalam keteraturan gerak dari cara bercelak Rasulullah ﷺ, karena beliau biasa bercelak pada mata kanannya sebanyak tiga kali dan pada mata kirinya dua kali, dengan memulainya dari mata kanan karena kemuliaannya.

وتفاوته بين العينين لتكون الجملة وتراً فإن للوتر فضلاً عن الزوج فإن الله سبحانه وتر يحب الوتر فلا ينبغي أن يخلو فعل العبد من مناسبة لوصف من أوصاف الله تعالى

Adapun perbedaan bilangan antara kedua mata tersebut adalah agar jumlah keseluruhannya ganjil (witir), sebab bilangan ganjil memiliki keutamaan atas bilangan genap. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala itu ganjil (Maha Esa) dan menyukai yang ganjil. Maka tidak sepantasnya perbuatan seorang hamba kosong dari kesesuaian dengan salah satu sifat dari sifat-sifat Allah Ta'ala.

ولذلك استحب الإيتار في الاستجمار

Oleh karena itulah disunnahkan mengganjilkan bilangan dalam istijmar (bersuci dengan batu).

وإنما لم يقتصر على الثلاث وهو وتر لأن اليسرى لا يخصها إلا واحدة والغالب أن الواحدة لا تستوعب أصول الأجفان بالكحل وإنما خصص اليمين بالثلاث لأن التفضيل لا بد منه للإيتار واليمين أفضل فهي بالزيادة أحق

Adapun mengapa beliau tidak mencukupkan pada tiga usapan (secara keseluruhan)—yang juga merupakan bilangan ganjil—adalah karena hal itu akan membuat mata kiri hanya mendapatkan satu usapan, sedangkan umumnya satu usapan tidak dapat meratakan celak pada pangkal kelopak mata. Beliau mengkhususkan mata kanan dengan tiga usapan karena pengutamaan itu harus ada untuk mencapai bilangan ganjil, dan mata kanan lebih utama maka ia lebih berhak mendapatkan tambahan.

فإن قلت فلم اقتصر على اثنين لليسرى وهي زوج فالجواب أن ذلك ضرورة إذ لو جعل لكل واحدة وتر لكان المجموع زوجاً إذ الوتر مع الوتر زوج ورعايته الإيتار في مجموع الفعل وهو في حكم الخصلة الواحدة أحب من رعايته في الآحاد

Jika engkau bertanya: Mengapa beliau mencukupkan dua usapan untuk mata kiri padahal itu bilangan genap? Jawabannya adalah bahwa hal itu merupakan suatu keharusan (dharurat), sebab sekiranya beliau menjadikan bilangan ganjil bagi masing-masing mata, niscaya jumlah keseluruhannya menjadi genap, karena ganjil ditambah ganjil adalah genap. Dan menjaga bilangan ganjil pada keseluruhan perbuatan—yang mana ia berkedudukan sebagai satu amalan tunggal—lebih disukai daripada menjaganya pada masing-masing bagian secara terpisah.

ولذلك أيضاً وجه وهو أن يكتحل في كل واحدة ثلاثاً على قياس الوضوء وقد نقل ذلك في الصحيح وهو الأولى

Hal tersebut juga memiliki alasan, yaitu memakai celak pada masing-masing mata sebanyak tiga kali, diqiaskan dengan wudhu. Hal ini diriwayatkan dalam kitab Shahih dan itu yang lebih utama.

ولو ذهبت أستقصي دقائق ما راعاه ﷺ في حركاته لطال الأمر فقس بما سمعته ما لم تسمعه

Seandainya aku hendak menelusuri secara terperinci kelembutan-kelembutan yang dijaga oleh Rasulullah ﷺ dalam setiap gerak-geriknya, niscaya pembahasan ini akan menjadi sangat panjang. Maka analogikanlah (qiaskanlah) apa yang belum engkau dengar berdasarkan apa yang telah engkau dengar.

واعلم أن العالم لا يكون وارثاً للنبي ﷺ إلا إذا اطلع على جميع معاني الشريعة حتى لا يكون بينه وبين النبي ﷺ إلا درجة واحدة وهي درجة النبوة وهي الدرجة الفارقة بين الوارث والموروث إذ الموروث هو الذي حصل المال له واشتغل بتحصيله واقتدر عليه والوارث هو الذي لم يحصل ولم يقدر عليه ولكن انتقل إليه وتلقاه منه بعد حصوله له فأمثال هذه المعاني مع سهولة أمرها بالإضافة إلى الأغوار والأسرار لا يستقل بدركها ابتداء إلا الأنبياء ولا يستقل باستنباطها تلقياً بعد تنبيه الأنبياء عليها إلا العلماء الذين هم ورثة الأنبياء ﵈

Ketahuilah bahwa seorang ulama tidak akan menjadi pewaris Nabi ﷺ kecuali jika ia telah menyingkap seluruh makna Syariat, hingga tidak ada lagi di antara dirinya dan Nabi ﷺ melainkan satu derajat saja, yaitu derajat kenabian (nubuwwah). Derajat itulah yang membedakan antara pewaris (warits) dan yang diwarisi (mawruth). Sebab, yang diwarisi adalah sosok yang telah memperoleh harta (keilmuan), berupaya mendapatkannya, dan menguasainya; sedangkan pewaris adalah sosok yang belum memilikinya dan tidak sanggup mengupayakannya sendiri, melainkan harta itu berpindah kepadanya dan ia menerimanya setelah pemiliknya mendapatkannya. Makna-makna seperti ini, meskipun tampak sederhana jika dibandingkan dengan kedalaman rahasia-rahasia spiritual, tidak akan sanggup dipahami sejak awal kecuali oleh para nabi, dan tidak akan sanggup diistinbatkan melalui penerimaan setelah peringatan para nabi kecuali oleh para ulama yang merupakan pewaris para nabi 'alaihimussalam.

السَّادِسُ وَالسَّابِعُ زِيَادَةُ السُّرَّةِ وَقُلْفَةُ الْحَشَفَةِ أَمَّا السُّرَّةُ فَتُقْطَعُ فِي أَوَّلِ الْوِلَادَةِ وَأَمَّا التَّطْهِيرُ بالختان فعادة اليهود في اليوم السابع من الولادة ومخالفتهم بالتأخير إلى أن يثغر الولد أحب وأبعد عن الخطر قال ﷺ الختان سنة للرجال ومكرمة للنساء وينبغي أن لا يبالغ في خفض المرأة قال ﷺ لأم عطية وكانت تخفض يا أم عطية أشمي ولا تنهكي فإنه أسرى للوجه وأحظى عند الزوج أي أكثر لماء الوجه ودمه وأحسن في جماعها فانظر إلى جزالة لفظه ﷺ في الكناية وإلى إشراق نور النبوة من مصالح الآخرة التي هي أهم مقاصد النبوة إلى

Yang keenam dan ketujuh: sisa tali pusar dan kulup kepala zakar (khitan). Adapun tali pusar, maka dipotong pada awal kelahiran. Sedangkan penyucian dengan khitan, kebiasaan kaum Yahudi adalah pada hari ketujuh kelahiran. Namun menyelisihi mereka dengan mengundurkannya hingga anak itu berganti gigi (yutsghara al-walad) adalah lebih disukai dan lebih jauh dari bahaya. Rasulullah ﷺ bersabda: "Khitan itu sunnah bagi laki-laki dan kemuliaan bagi wanita." Dan hendaknya tidak berlebihan dalam memotong bagian wanita (khitan wanita). Beliau ﷺ bersabda kepada Ummu 'Athiyyah—yang dahulu mengkhitan wanita: "Wahai Ummu 'Athiyyah, potonglah sedikit dan jangan berlebihan, karena hal itu lebih mencerahkan wajah dan lebih menyenangkan bagi suami." Maksudnya, lebih menambah kesegaran dan rona wajah serta lebih baik dalam bersetubuh (jima'). Maka perhatikanlah indahnya penyampaian beliau ﷺ dalam gaya bahasa kiasan (kinayah), serta pancaran cahaya kenabian dari kemaslahatan akhirat—yang merupakan tujuan utama kenabian—hingga…

مصالح الدنيا حتى انكشف له وهو أمي من هذا الأمر النازل قدره ما لو وقعت الغفلة عنه خيف ضرره فسبحان من أرسله رحمة للعالمين ليجمع لهم بيمن بعثته مصالح الدنيا والدين ﷺ

…kemaslahatan dunia, sehingga tersingkap baginya—padahal beliau seorang yang ummi—perkara yang tampak remeh ini, yang seandainya dilalaikan dikhawatirkan timbul bahayanya. Maka Maha Suci Zat yang mengutusnya sebagai rahmat bagi semesta alam, agar Dia menghimpun bagi mereka kemaslahatan dunia dan agama melalui keberkahan kerasulannya ﷺ.

الثامنة ما طال من اللحية وإنما أخرناها لنلحق بها ما في اللحية من السنن والبدع إذ هذا أقرب موضع يليق به ذكرها وقد اختلفوا فيما طال منها فقيل إن قبض الرجل على لحيته وأخذ ما فضل عن القبضة فلا بأس فقد فعله ابن عمر وجماعة من التابعين واستحسنه الشعبي وابن سيرين وكرهه الحسن وقتادة وقالا تركها عافية أحب لقوله ﷺ اعفوا اللحى وَالْأَمْرُ فِي هَذَا قَرِيبٌ إِنْ لَمْ يَنْتَهِ إلى تقصيص اللحية وتدويرها من الجوانب فإن الطول المفرط قد يشوه الخلقة ويطلق ألسنة المغتابين بالنبذ إِلَيْهِ فَلَا بَأْسَ بِالِاحْتِرَازِ عَنْهُ عَلَى هَذِهِ النية

Yang kedelapan: bagian janggut yang memanjang. Kami mengakhirkannya agar kami dapat menyertakan darinya hukum-hukum sunnah dan bid'ah terkait janggut, karena ini adalah tempat yang paling tepat untuk menyebutkannya. Para ulama telah berbeda pendapat mengenai janggut yang memanjang. Ada yang berpendapat: Jika seseorang menggenggam janggutnya dan memotong bagian yang melebihi genggaman tangan, maka hal itu tidak mengapa. Hal ini telah dilakukan oleh Ibnu Umar dan sekelompok Tabi'in, serta dianggap baik oleh Asy-Sya'bi dan Ibnu Sirin. Namun Al-Hasan dan Qatadah membencinya, dan berpendapat membiarkannya tumbuh utuh lebih disukai berdasarkan sabda Nabi ﷺ: "Biarkanlah janggut memanjang." Perkara dalam hal ini cukup kelonggarannya selama tidak sampai merapikan janggut secara berlebihan dan membulatkannya dari sisi-sisi samping. Sebab, panjang yang berlebihan dapat merusak rupa dan memicu lidah para pemfitnah untuk mencelanya. Maka tidak mengapa membentengi diri dari hal tersebut dengan niat ini.

وقال النخعي عجبت لرجل عاقل طويل اللحية كيف لا يأخذ من لحيته ويجعلها بين لحيتين فإن التوسط في كل شيء حسن ولذلك قيل كلما طالت اللحية تشمر العقل

An-Nakha'i berkata: "Aku heran kepada seorang pria berakal yang berjanggut panjang, mengapa ia tidak memotong janggutnya dan menjadikannya sedang di antara dua ukuran janggut? Sebab, sikap pertengahan dalam segala hal adalah baik." Oleh karena itu dikatakan: "Setiap kali janggut semakin memanjang, akal akan semakin menyusut (kurang)."

فصل وَفِي اللِّحْيَةِ عَشْرُ خِصَالٍ مَكْرُوهَةٍ وَبَعْضُهَا أَشَدُّ كَرَاهَةً مِنْ بَعْضٍ خِضَابُهَا

Fasal: Mengenai janggut terdapat sepuluh perkara yang dimakruhkan, dan sebagiannya lebih keras makruhnya daripada sebagian yang lain: Mewarnainya…

بِالسَّوَادِ وَتَبْيِيضُهَا بِالْكِبْرِيتِ ونتفها ونتف الشيب منها والنقصان منها والزيادة وَتَسْرِيحُهَا تَصَنُّعًا لِأَجْلِ الرِّيَاءِ وَتَرْكُهَا شَعِثَةً إِظْهَارًا للزهد والنظر إلى سوادها عجباً بالشباب وَإِلَى بَيَاضِهَا تَكَبُّرًا بِعُلُوِّ السِّنِّ وَخِضَابُهَا بِالْحُمْرَةِ والصفرة من غير نية تشبهاً بالصالحين

…dengan warna hitam, memutihkannya dengan belerang (kibrit), mencabutnya, mencabut uban darinya, menguranginya (memotongnya secara tidak proporsional), memanjangkannya berlebihan, menyisirnya secara berlebih-lebihan untuk tujuan riya, membiarkannya kusut terurai untuk menunjukkan kezuhudan, memandang kehitamannya dengan rasa ujub akan kemudaan, memandang keputihannya dengan kesombongan karena tingginya usia, serta mewarnainya dengan warna merah atau kuning tanpa niat yang benar (hanya) demi menyerupai orang-orang saleh.

أما الأول وهو الخضاب بالسواد فهو منهي عنه لقوله ﷺ خير شبابكم من تشبه بشيوخكم وشر شيوخكم من تشبه بشبابكم والمراد بالتشبه بالشيوخ في الوقار لا في تبييض الشعر ونهى عن الخضاب بالسواد وقال هو خضاب أهل النار وفي لفظ آخر الخضاب بالسواد خضاب الكفار وتزوج رجل عَلَى عَهْدِ عمر ﵁ وَكَانَ يخضب بالسواد فنصل خضابه وظهرت شيبته فرفعه أهل المرأة إلى عمر ﵁ فرد نكاحه وأوجعه ضرباً وقال غررت القوم بالشباب ولبست عليهم شيبتك ويقال أول من خضب بالسواد فرعون لعنه الله وعن ابن عباس ﵄ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قال يكون في آخر الزمان قوم يخضبون بالسواد كحواصل الحمام لا يريحون رائحة الجنة

Adapun yang pertama, yaitu mewarnai janggut dengan warna hitam, hukumnya dilarang berdasarkan sabda Nabi ﷺ: "Sebaik-baik pemuda kalian adalah yang menyerupai pemuda dari kalangan orang tua kalian (dalam hal kewibawaan), dan seburuk-buruk orang tua kalian adalah yang menyerupai pemuda kalian." Yang dimaksud dengan menyerupai orang tua adalah dalam hal ketenangan dan kewibawaan (waqar), bukan dalam hal memutihkan rambut. Beliau juga melarang mewarnai dengan warna hitam dan bersabda: "Itu adalah seburuk-buruk pewarna penghuni neraka." Dalam lafaz lain: "Mewarnai dengan warna hitam adalah pewarna orang-orang kafir." Pernah ada seorang pria berperkara di zaman Umar ﵁ yang mana ia mewarnai janggutnya dengan warna hitam. Lalu lunturlah pewarnanya dan nampaklah ubannya, maka keluarga wanita yang dinikahinya mengadukannya kepada Umar ﵁. Umar pun membatalkan pernikahan tersebut, memukulnya hingga kesakitan, dan berkata: "Engkau telah menipu kaum itu dengan kepura-puraan muda dan menyembunyikan ubanmu dari mereka." Dan dikatakan bahwa orang pertama yang mewarnai janggut dengan warna hitam adalah Firaun—semoga Allah melaknatinya. Dari Ibnu Abbas ﵄, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: "Akan ada di akhir zaman suatu kaum yang mewarnai janggut mereka dengan warna hitam seperti tembolok burung merpati; mereka tidak akan mencium aroma surga."

الثاني الخضاب بالصفرة والحمرة وهو جائز تلبيساً للشيب على الكفار في الغزو والجهاد فإن لم يكن على هذه النية بل للتشبه بأهل الدين فهو مذموم وقد قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ الصفرة خضاب المسلمين والحمرة خضاب المؤمنين وكانوا يخضبون بالحناء للحمرة وبالخلوق والكتم للصفرة وخضب بعض العلماء بالسواد لأجل الغزو وذلك لا بأس به إذا صحت النية ولم يكن فيه هوى وشهوة

Yang kedua: Mewarnai janggut dengan warna kuning dan merah. Hal ini diperbolehkan untuk menyamarkan uban dari pandangan orang-orang kafir dalam peperangan dan jihad. Namun jika bukan dengan niat ini, melainkan sekadar untuk menyerupai ahli agama (tanpa keikhlasan), maka hal itu tercela. Rasulullah ﷺ telah bersabda: "Warna kuning adalah pewarna kaum muslimin, dan warna merah adalah pewarna kaum mukminin." Dahulu mereka mewarnai janggut dengan inai (hinna') untuk warna merah, serta dengan khaluq dan katam untuk warna kuning. Sebagian ulama juga mewarnai janggut dengan warna hitam demi peperangan, dan hal itu tidak mengapa apabila niatnya benar serta tidak dilandasi hawa nafsu dan syahwat.

الثالث تبييضها بالكبريت اسْتِعْجَالًا لِإِظْهَارِ عُلُوِّ السِّنِّ تَوَصُّلًا إِلَى التَّوْقِيرِ وقبول الشهادة والتصديق بالرواية عن الشيوخ وَتَرَفُّعًا عَنِ الشَّبَابِ وَإِظْهَارًا لِكَثْرَةِ الْعِلْمِ ظَنًّا بِأَنَّ كَثْرَةَ الْأَيَّامِ تُعْطِيهِ فَضْلًا وَهَيْهَاتَ فَلَا يزيد كبر السن للجاهل إِلَّا جَهْلًا فَالْعِلْمُ ثَمَرَةُ الْعَقْلِ وَهِيَ غَرِيزَةٌ وَلَا يُؤَثِّرُ الشَّيْبُ فِيهَا وَمَنْ كَانَتْ غَرِيزَتُهُ الْحُمْقَ فَطُولُ الْمُدَّةِ يُؤَكِّدُ حَمَاقَتَهُ وَقَدْ كَانَ الشيوخ يقدمون الشباب

Yang ketiga: Memutihkannya dengan belerang (kibrit) karena terburu-buru ingin menampakkan tingginya usia demi memperoleh penghormatan, diterimanya kesaksian, dibenarkannya riwayat dari para syekh, bersikap tinggi hati terhadap para pemuda, serta menampakkan banyaknya ilmu karena mengira bahwa bertambahnya hari akan memberikan keutamaan. Mustahil demikian! Bertambahnya usia bagi orang yang bodoh tidaklah menambah selain kebodohan. Sebab ilmu adalah buah dari akal, dan akal adalah potensi ketetapan jiwa (garizah) yang tidak dipengaruhi oleh uban. Siapa yang potensi dasarnya adalah kebodohan, maka panjangnya kurun waktu justru mempertegas kebodohannya. Padahal dahulu para sesepuh (syekh) mendahulukan para pemuda…

بِالْعِلْمِ

…karena keilmuan.

كَانَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ ﵁ يُقَدِّمُ ابْنَ عَبَّاسٍ وَهُوَ حَدِيثُ السِّنِّ عَلَى أَكَابِرِ الصَّحَابَةِ وَيَسْأَلُهُ دُونَهُمْ

Umar bin al-Khattab ﵁ dahulu mendahulukan Ibnu Abbas ﵄ yang usianya masih sangat muda melebihi para pembesar sahabat, dan bertanya kepadanya tanpa bertanya kepada mereka.

وَقَالَ ابْنُ عباس ﵄ ما آتى الله ﷿ عبداً عِلْمًا إِلَّا شَابًّا وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي الشَّبَابِ ثُمَّ تَلَا قَوْلَهُ ﷿ ﴿قَالُوا سَمِعْنَا فتى يذكرهم يقال له إبراهيم﴾ وَقَوْلَهُ تَعَالَى ﴿إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هدى﴾ وقوله تعالى ﴿وآتيناه الحكم صبياً﴾ وكان أنس ﵁ يقول قبض رسول الله ﷺ وليس في رأسه ولحيته عشرون شعرة بيضاء فقيل له يا أبا حمزة فقد أسن فقال لم يشنه الله بالشيب فقيل أهو شين فقال كلكم يكرهه ويقال إن يحيى بن أكثم ولي القضاء وهو ابن إحدى وعشرين سنة فقال له رجل في مجلسه يريد أن يخجله بصغر سنه كم سن القاضي أيده الله فقال مثل سن عتاب بن أسيد حين ولاه رسول الله ﷺ إمارة مكة وقضاءها فأفحمه وروي عن مالك ﵀ أنه قال قرأت في بعض الكتب لا تغرنكم اللحى فإن التيس له لحية وقال أبو عمرو بن العلاء إذا رأيت الرجل طويل القامة صغير الهامة عريض اللحية فاقض عليه بالحمق ولو كان أمية بن عبد شمس وَقَالَ أَيُّوبُ السِّخْتِيَانِيُّ أَدْرَكْتُ الشَّيْخَ ابْنَ ثَمَانِينَ سنة يتبع الغلام يتعلم منه

Ibnu Abbas ﵄ berkata: "Tidaklah Allah ﷿ menganugerahkan ilmu kepada seorang hamba melainkan ketika ia masih muda, dan segala kebaikan itu ada pada masa muda." Kemudian beliau membaca firman Allah ﷿: "Mereka berkata: 'Kami mendengar seorang pemuda yang mencela berhala-berhala mereka, yang bernama Ibrahim.'" (QS. Al-Anbiya': 60), dan firman-Nya Ta'ala: "Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka." (QS. Al-Kahf: 13), serta firman-Nya Ta'ala: "Dan Kami berikan kepadanya hikmah (pemahaman hukum) selagi ia masih kanak-kanak." (QS. Maryam: 12). Anas ﵁ pernah berkata: "Rasulullah ﷺ wafat dan tidak ada di kepala serta janggut beliau dua puluh helai uban pun." Lalu dikatakan kepadanya: "Wahai Abu Hamzah, padahal beliau telah berusia lanjut?" Anas menjawab: "Allah tidak pernah mencacat beliau dengan uban." Dikatakan: "Apakah uban itu suatu cacat?" Beliau menjawab: "Kalian semua membencinya." Dan diceritakan bahwa Yahya bin Aktsam menjabat sebagai qadhi (hakim) pada usia 21 tahun. Seorang pria di majelisnya berkata untuk mempermalukannya karena usianya yang masih muda: "Berapa usia sang Qadhi—semoga Allah menguatkannya?" Maka beliau menjawab: "Sama seperti usia 'Attab bin Asid ketika Rasulullah ﷺ mengangkatnya sebagai gubernur Makkah dan hakimnya." Pria itu pun bungkam. Diriwayatkan dari Malik ﵀ bahwa beliau berkata: "Aku membaca dalam sebagian kitab: 'Janganlah kalian tertipu oleh janggut, sebab kambing jantan pun memiliki janggut.'" Abu 'Amr bin al-'Ala' berkata: "Jika engkau melihat seorang pria berperawakan tinggi, berkepala kecil, dan berjanggut lebar, maka hukumilah ia sebagai orang bodoh, meskipun ia Umayyah bin Abd Syams." Ayyub As-Sikhtiyani berkata: "Aku mendapati seorang syekh berusia 80 tahun mengikuti seorang anak muda untuk belajar darinya."

وقال علي بن الحسين من سبق فيه العلم قبلك فهو إمامك فيه وإن كان أصغر سناً منك وَقِيلَ لِأَبِي عَمْرِو بْنِ الْعَلَاءِ أَيَحْسُنُ مِنَ الشَّيْخِ أَنْ يَتَعَلَّمَ مِنَ الصَّغِيرِ فَقَالَ إِنْ كَانَ الْجَهْلُ يُقَبَّحُ بِهِ فَالتَّعَلُّمُ يُحَسَّنُ بِهِ وقال يحيى بن معين لأحمد بن حنبل وقد رآه يمشي خلف بغلة الشافعي يا أبا عبد الله تركت حديث سفيان بعلوه وتمشي خلف بغلة هذا الفتى وتسمع منه فقال له أحمد لو عرفت لكنت تمشي من الجانب الآخر إن علم سفيان إن فاتني بعلو أدركته بنزول وإن عقل هذا الشاب إن فاتني لم أدركه بعلو ولا نزول

Ali bin al-Husain berkata: "Siapa yang mendahuluimu dalam menguasai suatu ilmu, maka dialah imammu dalam ilmu tersebut, meskipun ia lebih muda usianya darimu." Dikatakan kepada Abu 'Amr bin al-'Ala': "Apakah pantas bagi seorang tua belajar dari anak kecil?" Beliau menjawab: "Jika kebodohan itu dinilai buruk bagi dirinya, maka belajar justru dinilai baik baginya." Yahya bin Ma'in berkata kepada Ahmad bin Hanbal ketika melihat beliau berjalan di belakang bagal (keledai) Asy-Syafi'i: "Wahai Abu Abdillah, engkau meninggalkan hadis Sufyan dengan sanadnya yang tinggi ('uluw), lalu engkau berjalan di belakang bagal pemuda ini dan mendengarkan ilmu darinya?" Ahmad menjawab: "Jika engkau memahaminya, niscaya engkau akan berjalan di sisi sebelahnya. Ilmu Sufyan jika luput dariku dengan sanad tinggi, aku bisa mendapatkannya dengan sanad rendah (nuzul). Namun akal pemuda ini, jika luput dariku, aku tidak akan bisa mendapatkannya baik dengan sanad tinggi maupun rendah."

الرابع نتف بياضها استنكافاً من الشيب وقد نهى ﵇ عن نتف الشيب وقال هو نور المؤمن وهو في معنى الخضاب بالسواد وعلة الكراهية ما سبق والشيب نور الله تعالى والرغبة عنه رغبة عن النور

Yang keempat: Mencabut ubannya karena enggan dan benci pada uban. Padahal Rasulullah ﵇ telah melarang mencabut uban dan bersabda: "Ia adalah cahaya bagi seorang mukmin." Maknanya senada dengan mewarnai dengan warna hitam, dan alasan kemakruhannya adalah sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Uban adalah cahaya dari Allah Ta'ala, dan membencinya berarti membenci cahaya tersebut.

الخامس نتفها أو نتف بعضها بحكم العبث والهوس وذلك مكروه ومشوه للخلقة ونتف الفنيكين بدعة وهما جانبا العنفقة

Yang kelima: Mencabut janggut atau mencabut sebagian darinya secara sia-sia dan kebiasaan buruk. Hal itu dimakruhkan serta merusak rupa. Adapun mencabut al-fanikain adalah bid'ah, yaitu rambut di kedua sisi anfaqah (rambut antara bibir bawah dan dagu).

شهد عند عمر بن عبد العزيز رجل كان ينتف فنيكيه فرد شهادته ورد عمر بن الخطاب ﵁ وابن أبي ليلى قاضي المدينة شهادة من كان ينتف لحيته وأما نتفها في أول النبات تشبهاً بالمرد فمن المنكرات الكبار فإن اللحية زينة الرجال فإن لله سبحانه ملائكة يقسمون والذي زين بني آدم باللحى وهو من تمام الخلق وبها يتميز الرجال عن النساء وقيل في غريب التأويل اللحية هي المراد بقوله تعالى ﴿يزيد في الخلق ما يشاء﴾ قال أصحاب الأحنف بن قيس وددنا أن نشتري للأحنف لحية ولو بعشرين ألفاً وقال شريح القاضي وددت أن لي لحية ولو بعشرة آلاف وكيف تكره اللحية وفيها تعظيم الرجل والنظر إليه بعين العلم والوقار والرفع في المجالس وإقبال الوجوه إليه والتقديم على الجماعة ووقاية العرض فإن من يشتم يعرض باللحية إن كان للمشتوم لحية وقد قيل إن أهل الجنة مرد إلا هارون أخا موسى صلى الله عليهما وسلم فإن له لحية إلى سرته تخصيصاً له وتفضيلاً

Seseorang yang biasa mencabut kedua sisi rambut dagunya memberikan kesaksian di hadapan Umar bin Abdul Aziz, maka beliau menolak kesaksiannya. Umar bin al-Khattab ﵁ dan Ibnu Abi Laila (hakim Madinah) juga menolak kesaksian orang yang biasa mencabut janggutnya. Adapun mencabut janggut pada awal permulaan tumbuhnya karena ingin menyerupai pemuda yang belum tumbuh kumis/janggutnya (murdi), maka itu termasuk kemungkaran yang besar. Sebab janggut adalah perhiasan para pria. Sesungguhnya Allah Subhanah memiliki malaikat-malaikat yang bersumpah: "Demi Zat yang menghiasi putra-putra Adam dengan janggut." Janggut adalah bagian dari kesempurnaan ciptaan, dan dengannya pria terbedakan dari wanita. Dikatakan dalam penafsiran yang asing (gharib) bahwa janggut adalah apa yang dimaksud dalam firman Allah Ta'ala: "Dia menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang Dia kehendaki." (QS. Fathir: 1). Sahabat-sahabat Ahnaf bin Qais berkata: "Kami ingin membeli janggut untuk Ahnaf meskipun dengan harga dua puluh ribu." Qadhi Syuraih berkata: "Aku ingin memiliki janggut meskipun harus membayar sepuluh ribu." Bagaimana mungkin janggut dibenci, padahal padanya terdapat keagungan seorang pria, dipandangnya ia dengan pandangan keilmuan dan kewibawaan, ditinggikannya posisi dalam majelis-majelis, dihadapkannya wajah-wajah kepadanya, didahulukannya ia atas jamaah, serta terjaganya kehormatan? Sebab orang yang mencela biasanya menyindir janggut jika yang dicela memiliki janggut. Dikatakan bahwa penghuni surga itu tidak memiliki janggut (murd), kecuali Harun saudara Musa 'alaihimassalam, karena beliau memiliki janggut hingga ke pusatnya sebagai keistimewaan dan keutamaan baginya.

السادس تقصيصها كالتعبية طاقة على طاقة

Yang keenam: Menggunting dan merapikannya secara berlebihan seperti menyusun lapisan demi lapisan.

للتزين للنساء والتصنع قال كعب يكون في آخر الزمان أقوام يقصون لحاهم كذنب الحمامة ويعرقبون نعالهم كالمناجل أولئك لا خلاق لهم

hanya untuk berhias demi wanita dan bersikap dibuat-buat. Ka'ab berkata, 'Akan ada di akhir zaman suatu kaum yang memotong janggut mereka hingga seperti ekor burung merpati dan melengkungkan bagian belakang sandal mereka seperti sabit; mereka itu tidak mendapat bagian kebaikan sedikit pun (di akhirat).'

السابع الزيادة فيها وهو أن يزيد في شعر العارضين من الصدغين وهو من شعر الرأس حتى يجاوز عظم اللحى وينتهي إلى نصف الخد وذلك يباين هيئة أهل الصلاح

Ketujuh: Menambahkannya (janggut), yaitu membiarkan tumbuh rambut cambang dari kedua pelipis—yang sebenarnya termasuk bagian dari rambut kepala—hingga melewati tulang rahang dan berakhir di pertengahan pipi. Hal demikian bertentangan dengan haiah (penampilan) orang-orang saleh.

الثامن تسريحها لأجل الناس قال بشر في اللحية شركان تسريحها لأجل الناس وتركها متفتلة لإظهار الزهد

Kedelapan: Menyisirnya demi pandangan manusia. Bishr berkata, 'Pada janggut terdapat dua bentuk kemusyrikan (riya'): menyisirnya demi manusia dan membiarkannya kusut terurai untuk menampakkan kezuhudan.'

التاسع والعاشر النظر في سوادها أو في بياضها بعين العجب وذلك مذموم في جميع أجزاء البدن بل في جميع الأخلاق والأفعال على ما سيأتي بيانه فهذا ما أردنا أن نذكره من أنواع التزين والنظافة وقد حصل من ثلاثة أحاديث من سنن الجسد اثنتا عشرة خصلة خمس منها في الرأس وهي فرق شعر الرأس والمضمضة والاستنشاق وقص الشارب والسواك وثلاثة في اليد والرجل وهي القلم وغسل البراجم وتنظيف الرواجب وأربعة في الجسد وهي نتف الإبط والاستحداد والختان والاستنجاء بالماء فقد وردت الأخبار بمجموع ذلك وإذا كان غرض هذا الكتاب التعرض للطهارة الظاهرة دون الباطنة فلنتقصر على هذا وليتحقق أن فضلات الباطن وأوساخه التي يجب التنظيف منها أكثر من أن تحصى وسيأتي تفصيلها في ربع المهلكات مع تعريف الطرق في إزالتها وتطهير القلب منها إن شاء الله ﷿

Kesembilan dan kesepuluh: Memandang warna hitamnya atau putihnya dengan pandangan 'ujub (rasa bangga diri). Hal tersebut tercela pada seluruh anggota tubuh, bahkan pada seluruh akhlak dan perbuatan sebagaimana rincian yang akan datang. Inilah hal-hal yang ingin kami sebutkan mengenai jenis-jenis perhiasan dan kebersihan. Dari tiga hadis tentang sunnah-sunnah fisik, terhimpun dua belas perkara: lima di bagian kepala, yaitu membelah rambut kepala, berkumur-kumur, memasukkan air ke hidung (istinsyaq), memotong kumis, dan bersiwak; tiga di tangan dan kaki, yaitu memotong kuku, mencuci ruas-ruas jemari (barajim), dan membersihkan selakangan jemari (rawajib); serta empat di badan, yaitu mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan (istihdad), khitan, dan beristinja dengan air. Sungguh riwayat-riwayat telah menyebutkan keseluruhan perkara tersebut. Dikarenakan tujuan kitab ini adalah membahas bersuci secara lahiriah dan bukan batiniah, maka cukuplah kami batasi sampai di sini. Ketahuilah dengan yakin bahwa kotoran dan noda batin yang wajib dibersihkan jauh lebih banyak daripada yang dapat dihitung, dan rinciannya akan hadir dalam Seperempat Al-Muhlikat (Perkara-perkara yang Membinasakan) beserta pengenalan cara-cara untuk menghilangkan dan menyucikan hati darinya, insya Allah 'Azza wa Jalla.

تم كتاب أسرار الطهارة بحمد الله تعالى وعونه

Telah selesai Kitab Asrar al-Thaharah (Rahasia-Rahasia Bersuci) dengan puji bagi Allah Ta'ala dan pertolongan-Nya.

ويتلوه إن شاء الله تعالى كتاب أسرار الصلاة والحمد لله وحده وصلى الله على سيدنا محمد وعلى كل عبد مصطفى

Dan akan menyusul setelahnya, insya Allah Ta'ala, Kitab Asrar al-Shalah (Rahasia-Rahasia Shalat). Segala puji bagi Allah semata, dan semoga shalawat Allah tercurahkan kepada junjungan kita Muhammad serta kepada setiap hamba yang terpilih.