الفصل الثالث في القابض وأسباب استحقاقه ووظائف قبضه

بيان وظائف القابض وهي خمسة

بيان وظائف القابض وهي خمسة

بيان وظائف القابض وهي خمسة

Penjelasan Tugas-Tugas Spiritual Penerima Zakat (Al-Qabidh), yaitu Ada Lima Tugas

الأولى أن يعلم إن الله ﷿ أوجب صرف الزكاة إليه ليكفي همه ويجعل همومه هماً واحداً فقد تعبد الله ﷿ الخلق بأن يكون همهم واحداً وهو الله سبحانه واليوم الآخر وهو المعني بقوله تعالى ﴿وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون﴾ ولكن لما اقتضت الحكمة أن يسلط على العبد الشهوات والحاجات وهي تفرق همه

Tugas Pertama: Hendaknya ia menyadari bahwa Allah Azza wa Jalla mewajibkan penyaluran zakat kepadanya adalah untuk mencukupi kesulitannya (kerisauannya) dan menjadikan segenap kerisauannya menjadi satu kerisauan saja. Sungguh, Allah Azza wa Jalla telah memperhambakan segenap makhluk agar cita-cita dan kerisauan mereka hanya satu, yaitu Allah Subhanahu dan hari akhirat. Hal inilah yang dimaksudkan oleh firman Allah Ta'ala: 'Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku' (QS. Az-Zariyat: 56). Namun, ketika hikmah Allah menghendaki dijatuhkannya dorongan syahwat dan berbagai kebutuhan kepada diri hamba, yang mana hal itu mencerai-beraikan kerisauan pikirannya…

اقتضى الكرم إفاضة نعمة تكفي الحاجات فأكثر الأموال وصبها في أيدي عباده لتكون آلة لهم في دفع حاجاتهم ووسيلة لتفرغهم لطاعاتهم فمنهم من أكثر ماله فتنة وبلية فأقحمه في الخطر ومنهم من أحبه فحماه عن الدنيا كما يحمي المشفق مريضه فزوى عنه فضولها وساق إليه قدر حاجته على يد الأغنياء ليكون سهل الكسب والتعب في الجمع والحفظ عليهم وفائدته تنصب إلى الفقراء فيتجردون لعبادة الله والاستعداد لما بعد الموت فلا تصرفهم عنها فضول الدنيا ولا تشغلهم عن التأهب الفاقة وهذا منتهى النعمة فحق الفقير أن يعرف قدر نعمة الفقر ويتحقق أن فضل الله عليه فيما زواه عنه أكثر من فضله فيما أعطاه كما سيأتي في كتاب الفقر تحقيقه وبيانه إن شاء الله تعالى فليأخذ ما يأخذه من الله سبحانه رزقاً له وعوناً له على الطاعة ولتكن نيته فيه أن يتقوى به على طاعة الله فإن لم يقدر عليه فليصرفه إلى ما أباحه الله ﷿ فإن استعان به على معصية الله كَانَ كَافِرًا لِأَنْعُمِ اللَّهِ ﷿ مُسْتَحِقًّا لِلْبُعْدِ وَالْمَقْتِ مِنَ اللَّهِ سُبْحَانَهُ

… maka kemurahan-Nya menghendaki dicurahkannya nikmat yang dapat mencukupi kebutuhan-kebutuhan tersebut. Dia memperbanyak harta dan mengalirkannya ke tangan para hamba-Nya agar menjadi sarana bagi mereka untuk menolak kebutuhan hidup dan jalan untuk melapangkan waktu bagi ketaatan mereka. Di antara mereka ada yang diperbanyak hartanya sebagai fitnah dan ujian sehingga menjerumuskannya ke dalam bahaya; dan di antara mereka ada yang dicintai-Nya, lalu Dia melindunginya dari kemewahan dunia sebagaimana seorang yang penuh kasih melindungi orang sakitnya, sehingga Dia menghindarkan darinya kelebihan-kelebihan dunia dan mengalirkan kadar kebutuhannya melalui tangan orang-orang kaya. Hal ini agar usaha serta kepayahan dalam mengumpulkan dan menjaga harta ditanggung oleh orang-orang kaya, sementara manfaatnya dicurahkan kepada para fuqara, sehingga mereka dapat fokus secara murni untuk beribadah kepada Allah dan bersiap menghadapi kehidupan setelah kematian, di mana mereka tidak dipalingkan darinya oleh kelebihan harta dunia dan tidak pula disibukkan dari persiapan itu oleh kepapaan. Ini adalah puncak kenikmatan. Maka merupakan kewajiban orang fakir untuk menyadari kadar nikmat kemiskinan dan meyakini secara haqqul yaqin bahwa karunia Allah atas dirinya pada apa yang dipalingkan darinya adalah jauh lebih besar daripada karunia-Nya pada apa yang diberikan-Nya, sebagaimana kelak akan hadir pembahasan dan penjelasannya secara mendalam dalam Kitab Al-Faqr (Kitab Kemiskinan), insya Allah Ta'ala. Oleh karena itu, hendaknya ia mengambil apa yang diterimanya sebagai rezeki dari Allah Subhanahu dan pertolongan bagi dirinya untuk menaati-Nya. Hendaknya niatnya dalam menerima harta tersebut adalah untuk memperkuat diri dalam ketaatan kepada Allah. Jika ia belum mampu mencapai tingkatan niat tertinggi itu, hendaklah ia menyalurkannya pada hal-hal yang diperbolehkan oleh Allah Azza wa Jalla. Jika ia menggunakannya untuk bermaksiat kepada Allah, maka ia telah mengingkari nikmat-nikmat Allah Azza wa Jalla dan berhak mendapatkan kejauhan serta kemurkaan dari Allah Subhanahu.

الثَّانِيَةُ أَنْ يَشْكُرَ الْمُعْطِيَ وَيَدْعُوَ لَهُ وَيُثْنِيَ عَلَيْهِ وَيَكُونَ شكره ودعاؤه بحيث لا يخرجه عَنْ كَوْنِهِ وَاسِطَةً وَلَكِنَّهُ طَرِيقُ وُصُولِ نِعْمَةِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ إِلَيْهِ وَلِلطَّرِيقِ حَقٌّ مِنْ حَيْثُ جَعَلَهُ اللَّهُ طَرِيقًا وَوَاسِطَةً وَذَلِكَ لَا يُنَافِي رُؤْيَةَ النِّعْمَةِ مِنَ اللَّهِ سُبْحَانَهُ فَقَدْ قَالَ ﷺ مَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللَّهَ وَقَدْ أَثْنَى اللَّهُ ﷿ عَلَى عِبَادِهِ فِي مَوَاضِعَ عَلَى أعمالهم وهو خالقها وفاطر القدرة عليها نَحْوَ قَوْلِهِ تَعَالَى ﴿نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ﴾ إلى غير ذلك

Tugas Kedua: Hendaknya ia berterima kasih kepada pemberi zakat, mendoakannya, dan memujinya, di mana rasa terima kasih dan doanya tersebut tidak sampai mengeluarkannya dari pandangan bahwa orang tersebut hanyalah perantara dan jalan sampainya nikmat Allah Subhanahu kepadanya. Jalur perantara memiliki hak sebab Allah telah menjadikannya sebagai jalan dan perantara, dan hal itu sama sekali tidak menafikan pandangan bahwa hakikat nikmat itu berasal dari Allah Subhanahu. Rasulullah ﷺ telah bersabda: 'Barangsiapa yang tidak berterima kasih kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah.' Sungguh, Allah Azza wa Jalla pun telah memuji hamba-hamba-Nya di berbagai tempat atas amal perbuatan mereka, padahal Dialah Pencipta amal tersebut dan Pencipta kemampuan atasnya, seperti firman-Nya Ta'ala: '(Dia adalah) sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kembali kepada Allah)' (QS. Sad: 30), dan ayat-ayat lainnya.

وليقل القابض في دعائه طهر الله قلبك في قلوب الأبرار وزكى عملك في عمل الأخيار وصلى على روحك في أرواح الشهداء وَقَدْ قَالَ ﷺ مَنْ أَسْدَى إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِيعُوا فادعوا له حتى تعلموا أنكم قَدْ كَافَأْتُمُوهُ وَمِنْ تَمَامِ الشُّكْرِ أَنْ يَسْتُرَ عُيُوبَ الْعَطَاءِ إِنْ كَانَ فِيهِ عَيْبٌ وَلَا يُحَقِّرَهُ وَلَا يَذُمَّهُ وَلَا يُعَيِّرَهُ بِالْمَنْعِ إِذَا منع ويفخم عند نَفْسَهُ وَعِنْدَ النَّاسِ صَنِيعَهُ

Hendaknya si penerima zakat mengucapkan dalam doanya: 'Semoga Allah menyucikan hatimu di tengah hati orang-orang yang berbakti, membersihkan amalmu di tengah amal orang-orang pilihan, dan melimpahkan rahmat (salawat) atas rohmu di tengah roh para syuhada.' Sungguh Rasulullah ﷺ telah bersabda: 'Barangsiapa berbuat kebaikan kepadamu, maka balaslah dia. Jika kamu tidak sanggup membalasnya, maka doakanlah dia hingga kamu merasa telah membalasnya.' Dan termasuk kesempurnaan rasa terima kasih adalah menutup cacat dari pemberian tersebut jika memang ada cacat padanya, tidak meremehkannya, tidak mencelanya, tidak mencibirnya dengan penolakan jika ia ditolak, serta mengagungkan kebaikan orang tersebut baik di dalam dirinya maupun di hadapan manusia.

فَوَظِيفَةُ الْمُعْطِي الِاسْتِصْغَارُ وَوَظِيفَةُ الْقَابِضِ تَقَلُّدُ الْمِنَّةِ وَالِاسْتِعْظَامِ وَعَلَى كُلِّ عبد القيام بحقه وذلك لا تناقض فيه إذ موجبات التصغير والتعظيم تتعارض

Maka tugas pemberi zakat adalah menganggap kecil pemberiannya, sedangkan tugas penerima zakat adalah merasa berutang budi dan menganggap besar pemberian tersebut. Setiap hamba wajib menunaikan haknya masing-masing. Hal itu tidaklah kontradiktif, sebab faktor-faktor yang menuntut anggapan kecil dan anggapan besar tersebut memang saling berhadapan (sesuai posisi masing-masing).

والنافع للمعطي ملاحظة أسباب التصغير ويضره خلافه والآخذ بالعكس منه وَكُلُّ ذَلِكَ لَا يُنَاقِضُ رُؤْيَةَ النِّعْمَةِ مِنَ اللَّهِ ﷿ فَإِنَّ مَنْ لَا يَرَى الْوَاسِطَةَ وَاسِطَةً فَقَدْ جَهِلَ وَإِنَّمَا الْمُنْكَرُ أَنْ يَرَى الْوَاسِطَةَ أَصْلًا

Hal yang bermanfaat bagi orang yang memberi adalah memperhatikan sebab-sebab menganggap kecil pemberiannya, dan kebalikannya akan membahayakannya. Sedangkan bagi penerima, berlaku hal yang sebaliknya. Semua itu tidak bertentangan dengan melihat nikmat itu berasal dari Allah Azza wa Jalla. Sebab, siapa yang tidak melihat perantara sebagai perantara, sungguh ia telah bodoh; yang ditolak (tercela) hanyalah jika ia menganggap perantara tersebut sebagai sumber utama.

الثَّالِثَةُ أَنْ يَنْظُرَ فِيمَا يأخذه فإن لم يكن من حل تورع عنه ﴿ومن يتق الله يجعل له مخرجاً ويرزقه من حيث لا يحتسب﴾ ولن يعدم المتورع عن الحرام فتوحاً من الحلال فلا يأخذ من أموال الأتراك والجنود وعمال السلاطين ومن أَكْثَرُ كَسْبِهِ مِنَ الْحَرَامِ إِلَّا إِذَا ضَاقَ الأمر عليه وكان ما يسلم إليه لَا يَعْرِفُ لَهُ مَالِكًا مُعَيَّنًا فَلَهُ أَنْ يَأْخُذَ بِقَدْرِ الْحَاجَةِ فَإِنَّ فَتْوَى الشَّرْعِ فِي مثل هذا أن يتصدق به على ما سيأتي بيانه في كتاب الحلال والحرام وذلك إذا عجز عن الحلال فإذا أخذ لم يكن أخذه أخذ زكاة إذ لا يقع زكاة عن مؤديه وهو حرام

Ketiga: Hendaklah ia memperhatikan apa yang diambilnya. Jika bukan dari jalan yang halal, hendaklah ia bersikap warak darinya: "Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya" (QS. At-Talaq: 2-3). Orang yang warak dari hal yang haram tidak akan pernah kehilangan jalan pembuka menuju hal yang halal. Karena itu, janganlah ia mengambil dari harta bangsa Turki, para prajurit, para penguasa (pejabat sultan), dan orang yang mayoritas pencahariannya dari yang haram, kecuali jika keadaan sangat mendesak baginya dan harta yang diserahkan kepadanya itu tidak diketahui pemilik tertentunya, maka ia boleh mengambil sekadar kebutuhan. Sebab, fatwa syariat dalam masalah seperti ini adalah agar harta tersebut disedekahkan sebagaimana akan dijelaskan dalam "Kitab Halal dan Haram", yaitu apabila ia telah tidak mampu mendapatkan yang halal. Apabila ia mengambilnya, pengambilannya itu tidak berkedudukan sebagai pengambilan zakat, sebab tidak sah dianggap zakat dari orang yang menunaikannya sementara harta itu haram.

الرَّابِعَةُ أَنْ يَتَوَقَّى مَوَاقِعَ الرِّيبَةِ وَالِاشْتِبَاهِ فِي مِقْدَارِ مَا يَأْخُذُهُ فَلَا يَأْخُذُ إِلَّا الْمِقْدَارَ الْمُبَاحَ وَلَا يَأْخُذُ إِلَّا إِذَا تَحَقَّقَ أَنَّهُ موصوف بصفة الاستحققا فإن كان يأخذه بالكتابة والغرامة فلا يزيد على مقدار الدين وإن كان يأخذ بالعمل فلا يزيد على أجرة المثل وإن أعطى زيادة أبى وامتنع إذ ليس المال للمعطي حتى يتبرع به وإن كان مسافراً لم يزد على الزاد وكراء الدابة إلى مقصده وإن كان غازياً لم يأخذ إلا ما يحتاج إليه للغزو خاصة من خيل وسلاح ونفقة

Keempat: Hendaklah ia menjaga diri dari tempat-tempat keraguan dan kesamaran (syubhat) mengenai kadar yang diambilnya. Maka, janganlah ia mengambil kecuali kadar yang diperbolehkan, dan janganlah mengambil melainkan setelah dipastikan bahwa dirinya memang memiliki sifat berhak (memenuhi kriteria penerima). Jika ia mengambil karena status mukatab (budak yang menebus diri) atau garim (orang yang berutang), janganlah melebihkan dari kadar utangnya. Jika ia mengambil karena tugas atau pekerjaan (sebagai amil), janganlah melebihkan dari upah yang sepadan (ujrah al-mitsl). Jika diberi tambahan, hendaklah ia menolak dan enggan menerimanya, sebab harta itu bukan milik si pemberi sehingga ia boleh menyedekahkannya secara sukarela. Jika ia seorang musafir (ibnu sabil), janganlah melebihkan dari bekal dan sewa kendaraan hingga ke tempat tujuannya. Dan jika ia seorang yang berperang (fi sabilillah), janganlah mengambil melainkan apa yang ia perlukan khusus untuk berperang saja, berupa kuda, senjata, dan nafkah.

وتقدير ذلك بالاجتهاد وليس له حد وكذا زاد السفر والورع ترك ما يريبه إلى ما لا يريبه

Penetapan kadar hal tersebut adalah dengan ijtihad dan tidak memiliki batasan pasti, demikian pula bekal perjalanan. Sedangkan sikap warak adalah meninggalkan apa yang meragukannya menuju apa yang tidak meragukannya.

وإن أخذ بالمسكنة فلينظر أولاالى أثاث بيته وثيابه

Jika ia mengambil karena alasan kemiskinan (miskin), hendaklah ia terlebih dahulu melihat perabot rumah tangga dan pakaiannya,

وكتبه هل فيها ما يستغنى عنه بعينه أو يستغنى عن نفاسته فيمكن أن يبدل بما يكفي ويفضل بعض قيمته وكل ذلك إلى اجتهاده وفيه طرف ظاهر يتحقق معه أنه مستحق وطرف آخر مقابل يتحقق معه أنه غير مستحق وبينهما أوساط مشتبهة ومن حام حول الحمى يوشك أن يقع فيه والاعتماد في هذا على قول الآخذ ظاهراً وللمحتاج في تقدير الحاجات مقامات في التضييق والتوسيع ولا تحصر مراتبه وميل الورع إلى التضييق وميل المتساهل إلى التوسيع حتى يرى نفسه محتاجاً إلى فنون من التوسع وهو ممقوت في الشرع

serta kitab-kitabnya; apakah di antaranya ada yang sebenarnya tidak ia butuhkan lagi barangnya, atau tidak ia butuhkan keindahannya (nilainya yang mahal), sehingga memungkinkan untuk diganti dengan yang cukup dan tersisa sebagian harganya. Semua itu diserahkan kepada ijtihadnya. Dalam masalah ini terdapat batas yang jelas yang dengannya dapat dipastikan bahwa ia berhak, dan batas lain yang berlawanan yang dengannya dapat dipastikan bahwa ia tidak berhak, serta di antara keduanya terdapat wilayah tengah yang samar (syubhat). Barangsiapa berkeliaran di sekitar larangan, dikhawatirkan akan terperosok ke dalamnya. Pegangan dalam hal ini secara lahiriah adalah ucapan si penerima. Bagi orang yang membutuhkan, dalam menakar kebutuhan-kebutuhan terdapat beberapa tingkatan antara memperketat dan mempermudah (memperluas), dan tingkatan-tingkatan tersebut tidak terbatas. Kecenderungan sikap warak adalah memperketat, sedangkan kecenderungan orang yang meremehkan adalah memperluas, sampai-sampai ia menganggap dirinya membutuhkan berbagai macam kemewahan, padahal hal itu dibenci dalam syariat.

ثُمَّ إِذَا تَحَقَّقَتْ حَاجَتُهُ فَلَا يَأْخُذَنَّ مَالًا كَثِيرًا بَلْ مَا يُتَمِّمُ كِفَايَتَهُ مِنْ وَقْتِ أَخْذِهِ إِلَى سَنَةٍ

Kemudian, apabila kebutuhannya telah terbukti nyata, jangan sekali-kali ia mengambil harta yang banyak, melainkan sebatas apa yang menyempurnakan kecukupannya dari waktu ia mengambilnya hingga satu tahun.

فَهَذَا أَقْصَى مَا يُرَخَّصُ فيه من حيث أن السنة إذا تكررت تكررت أسباب الدخل ومن حَيْثُ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ ادخر لعياله قوت سنة فهذا أقرب ما يحد به حد الفقير والمسكين ولو اقتصر على حاجة شهره أو حاجة يومه فهو أقرب للتقوى

Inilah batas maksimal yang diberi keringanan, ditinjau dari kenyataan bahwa apabila tahun berulang, maka sebab-sebab penghasilan pun berulang; dan ditinjau dari bahwasanya Rasulullah ﷺ pernah menyimpan makanan pokok untuk keluarganya selama satu tahun. Maka ini adalah batasan paling dekat untuk mendefinisikan batasan fakir dan miskin. Namun, jika ia mencukupkan diri pada kebutuhan satu bulannya atau kebutuhan satu harinya, maka itu lebih dekat kepada ketakwaan.

ومذاهب العلماء في قدر المأخوذ بحكم الزكاة والصدقة مختلفة فمن مبالغ في التقليل إلى حد أوجب الاقتصار على قدر قوت يومه وليلته وتمسكوا بما روى سهل بن الحنظلية أنه ﷺ نهى عن السؤال مع الغنى فسئل عن غناه فقال ﷺ غداؤه وعشاؤه وقال آخرون يأخذ إلى حد الغنى

Pendapat para ulama mengenai kadar yang boleh diambil atas nama zakat dan sedekah itu berbeda-beda. Di antara mereka ada yang sangat membatasi hingga mewajibkan untuk mencukupkan diri hanya sebatas makanan pokok sehari semalam; mereka berpegang pada riwayat Sahl bin al-Hanzhaliyah bahwa Rasulullah ﷺ melarang meminta-minta bersamaan dengan kecukupan (kekayaan). Lalu beliau ditanya tentang ukuran kecukupannya, maka beliau ﷺ bersabda: "Makan siang dan makan malamnya." Sementara ulama lain berpendapat: Ia boleh mengambil hingga batas kaya.

حد الغنى نصاب الزكاة إذ لم يوجب الله تعالى الزكاة إلا على الأغنياء فقالوا له أن يأخذ بنفسه ولكل واحد من عياله نصاب زكاة وقال آخرون حد الغنى خمسون درهماً أو قيمتها من الذهب لما روى ابن مسعود أنه ﷺ قال من سال وله مال يغنيه جاء يوم القيامة وفي وجهه خموش فسئل وما غناه قال خمسون درهماً أو قيمتها من الذهب وقيل راويه ليس بقوي وقال قوم أربعون لما رواه عطاء بن يسار منقطعاً أنه ﷺ قال من سال وله أوقية فقد ألحف في السؤال وبالغ آخرون في التوسيع فقالوا له أَنْ يَأْخُذَ مِقْدَارَ مَا يَشْتَرِي بِهِ ضَيْعَةً فيستغني به طول عمره أو يهيىء بضاعة ليتجر بها ويستغني بها طول عمره لِأَنَّ هَذَا هُوَ الْغِنَى وَقَدْ قَالَ عمر ﵁ إِذَا أَعْطَيْتُمْ فَأَغْنُوا حَتَّى ذَهَبَ قَوْمٌ إِلَى أَنَّ مَنِ افْتَقَرَ فَلَهُ أَنْ يَأْخُذَ بِقَدْرِ مَا يَعُودُ بِهِ إِلَى مثل حاله ولو عشرة آلاف درهم إلا إذا خرج عن حد الاعتدال

Batas kaya adalah nisab zakat, sebab Allah Ta'ala tidak mewajibkan zakat melainkan atas orang-orang kaya. Maka mereka berkata bahwa ia boleh mengambil satu nisab zakat untuk dirinya dan satu nisab untuk masing-masing tanggungannya. Ulama lain berkata bahwa batas kaya adalah lima puluh dirham atau senilainya dalam emas, berdasarkan riwayat Ibnu Mas'ud bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa meminta-minta padahal ia memiliki harta yang mencukupinya, ia akan datang pada hari kiamat dengan luka cakar di wajahnya." Lalu beliau ditanya: "Apakah ukuran kecukupannya?" Beliau bersabda: "Lima puluh dirham atau senilainya dalam emas." Dikatakan bahwa perawinya tidak kuat. Segolongan ulama berkata empat puluh dirham, berdasarkan riwayat Atha' bin Yasar secara munqathi' (terputus sanadnya) bahwa beliau ﷺ bersabda: "Barangsiapa meminta-minta padahal ia memiliki satu uqiyah, sungguh ia telah mendesak dalam meminta." Sementara ulama lain sangat meluaskan, mereka berkata: Ia boleh mengambil kadar harta yang cukup untuk membeli tanah perkebunan sehingga ia menjadi kaya sepanjang hidupnya, atau menyiapkan modal usaha untuk berdagang sehingga ia merasa cukup sepanjang hidupnya, karena inilah kecukupan (kekayaan) yang sesungguhnya. Umar radhiyallahu 'anhu telah berkata: "Jika kalian memberi, maka buatlah mereka kaya." Bahkan suatu kaum berpendapat bahwa barangsiapa menjadi miskin, ia boleh mengambil sekadar apa yang dapat mengembalikan keadaannya seperti semula, meskipun sepuluh ribu dirham, kecuali jika hal itu melampaui batas kewajaran.

ولما شغل أبو طلحة ببستانه عن الصلاة قال جعلته صدقة

Dan ketika Abu Thalhah disibukkan oleh kebunnya hingga terganggu dari shalat, ia berkata: "Aku menjadikannya sebagai sedekah."

فقال ﷺ اجْعَلْهُ فِي قَرَابَتِكَ فهو خير لك فأعطاه حسان وأبا قتادة

Maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Jadikanlah (berikanlah) ia kepada kerabatmu, itu lebih baik bagimu." Lalu ia membagikannya kepada Hassan dan Abu Qatadah.

فَحَائِطٌ مِنْ نَخْلٍ لِرَجُلَيْنِ كَثِيرٌ مُغْنٍ وأعطى عمر ﵁ أعرابياً ناقة معها ظئر لها فهذا ما حكي فيه فأما التقليل إلى قوت اليوم أو الأوقية فذلك ورد في كراهية السؤال والتردد على الأبواب وذلك مستنكر وله حكم آخر بل التجويز إلى أن يشتري ضيعة فيستغني بها أقرب إلى الاحتمال وهو أيضاً مائل إلى الإسراف

Kebun kurma bagi dua orang adalah jumlah yang banyak dan mencukupi. Dan Umar radhiyallahu 'anhu pernah memberikan kepada seorang Arab Badui seekor unta betina beserta anak unta susuannya. Maka inilah hal-hal yang diriwayatkan dalam masalah ini. Adapun membatasi hingga makanan sehari atau satu uqiyah, hal itu disampaikan dalam konteks dibencinya meminta-minta dan mendatangi pintu-pintu rumah, dan hal tersebut memang tercela serta memiliki hukum tersendiri. Sebaliknya, pembolehan hingga membeli kebun perkebunan agar menjadi kaya dengannya adalah lebih masuk akal, tetapi itu juga cenderung kepada sikap berlebih-lebihan (israf).

والأقرب إلى الاعتدال كفاية سنة فما وراءه فيه خطر وفيما دونه تضييق

Yang paling mendekati sikap pertengahan adalah kecukupan untuk satu tahun. Maka apa yang melebihi dari itu mengandung bahaya, sedangkan yang di bawah itu mengandung kesempitan.

وهذه الأمور إذا لم يكن فيها تقدير جزم بالتوقيف فليس للمجتهد إلا الحكم بما يقع

Hal-hal ini, apabila tidak terdapat penetapan kadar yang pasti berdasarkan dalil tauqifi (nash yang tegas), maka tidak ada bagi seorang mujtahid kecuali menetapkan hukum sesuai dengan apa yang tampak baginya.

له ثم يقال للورع استفت قلبك وإن أفتوك وأفتوك كما قاله ﷺ إذ الإثم حزاز القلوب فإذا وجد القابض في نفسه شيئاً مما يأخذه فليتق الله فيه ولا يترخص تعللا بالفتوى من

Kemudian dikatakan kepada orang yang bersikap warak: Mintalah fatwa kepada hatimu meskipun orang-orang telah memberimu fatwa dan terus memberimu fatwa, sebagaimana bersabda Rasulullah ﷺ, karena dosa itu adalah apa yang mengganjal dalam hati. Maka apabila orang yang mengambil (penerima) merasakan ada ganjalan dalam dirinya terhadap apa yang ia ambil, hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam hal itu, dan janganlah mengambil keringanan (rukhshah) dengan berdalih pada fatwa dari

علماء الظاهر فإن لفتواهم قيوداً ومطلقات من الضرورات وفيها تخمينات واقتحام شبهات

ulama lahir (ulama fiqih lahiriah), karena fatwa mereka memiliki batasan-batasan terikat dan mutlak yang lahir dari kondisi darurat, serta di dalamnya terdapat persangkaan-persangkaan dan penerobosan hal-hal syubhat.

والتوقي من الشبهات من شيم ذوي الدين وعادات السالكين لطريق الآخرة

Sedangkan menjaga diri dari hal-hal yang syubhat adalah bagian dari perangai orang-orang yang beragama dan kebiasaan para penempuh jalan menuju akhirat.

الخامسة أن يسأل صاحب المال عن قدر الواجب عليه فإن كان ما يعطيه فوق الثمن فلا يأخذه منه فإنه لا يستحق مع شريكه إلا الثمن فلينقص من الثمن مقدار ما يصرف إلى اثنين من صنفه وهذا السؤال واجب على أكثر الخلق فإنهم لا يراعون هذه القسمة إما لجهل وإما لتساهل وإنما يجوز ترك السؤل عن مثل هذه الأمور إذا لم يغلب على الظن احتمال التحريم وسيأتي ذكر مظان السؤال ودرجة الاحتمال في كتاب الحلال والحرام إن شاء الله تعالى

Kelima: Hendaklah ia bertanya kepada pemilik harta mengenai kadar kewajiban atas dirinya. Jika apa yang ia berikan melebihi seperdelapan (al-tsumun), hendaklah ia tidak mengambilnya dari pemilik harta tersebut, sebab ia bersama mitranya (sesama golongan penerima) hanya berhak mendapatkan seperdelapan. Maka hendaklah ia mengurangi dari seperdelapan itu sejumlah apa yang disalurkan kepada dua orang lain dari golongannya. Pertanyaan ini hukumnya wajib bagi kebanyakan manusia, karena mereka tidak memperhatikan pembagian ini, baik disebabkan kebodohan maupun karena meremehkan. Dan hanyalah boleh meninggalkan pertanyaan mengenai hal-hal seperti ini apabila tidak dominan dalam dugaan adanya kemungkinan keharaman. Keterangan mengenai tempat-tempat yang patut dipertanyakan serta tingkatan kemungkinannya akan dijelaskan dalam "Kitab Halal dan Haram", insya Allah Ta'ala.