باب آداب قضاء الحاجة
باب آداب قضاء الحاجة
Bab Adab Buang Hajat.
يَنْبَغِي أَنْ يَبْعُدَ عَنْ أَعْيُنِ النَّاظِرِينَ فِي الصَّحْرَاءِ وَأَنْ يَسْتَتِرَ بِشَيْءٍ إِنْ وَجَدَهُ وَأَنْ لا يكشف عورته قبل الانتهاء
Hendaknya seseorang menjauh dari pandangan mata orang-orang ketika berada di tanah lapang (padang pasir), menutup diri dengan sesuatu jika menemukannya, dan tidak membuka auratnya sebelum sampai…
إلى موضع الجلوس وأن لا يستقبل الشمس والقمر وأن لا يستقبل القبلة ولا يستدبرها إلا إذا كان في بناء والعدول أيضاً عنها في البناء أحب وإن استتر في الصحراء براحلته جاز وكذلك بذيله وَأَنْ يَتَّقِيَ الْجُلُوسَ فِي مُتَحَدَّثِ النَّاسِ وَأَنْ لا يبول في الماء الراكد ولا تحت الشجرة المثمرة ولا في الجحر وأن يتقي الموضع الصلب ومهاب الرِّيَاحِ فِي الْبَوْلِ اسْتِنْزَاهًا مِنْ رَشَاشِهِ وَأَنْ يتكىء فِي جُلُوسِهِ عَلَى الرِّجْلِ الْيُسْرَى وَإِنْ كَانَ فِي بُنْيَانٍ يُقَدِّمُ الرِّجْلَ الْيُسْرَى فِي الدُّخُولِ واليمنى في الخروج ولا يبول قائماً
…ke tempat duduknya. Hendaknya ia tidak menghadap ke arah matahari dan bulan, serta tidak menghadap atau membelakangi kiblat kecuali jika berada di dalam bangunan; namun menghindar dari kiblat di dalam bangunan pun lebih disukai. Jika ia menutup diri di tanah lapang menggunakan hewan tunggangannya maka boleh, demikian pula dengan ujung pakaiannya. Hendaknya ia menghindari duduk di tempat berkumpulnya orang-orang untuk berbincang-bincang, tidak kencing di air yang tenang, tidak di bawah pohon yang sedang berbuah, tidak di dalam lubang tanah, serta menghindari tempat yang keras dan arah hembusan angin ketika kencing demi menjaga diri dari cipratannya. Hendaknya ia bertumpu pada kaki kirinya saat duduk, dan jika berada di dalam bangunan, ia mendahulukan kaki kiri saat masuk dan kaki kanan saat keluar, serta tidak kencing sambil berdiri.
قالت عائشة ﵂ من حدثكم أن النبي ﷺ كان يبول قائماً فلا تصدقوه وقال عمر ﵁ رآني رسول الله ﷺ وأنا أبول قائماً فقال يا عمر لا تبل قائماً قال عمر فما بلت قائماً بعد وفيه رخصة إذ روى حذيفة ﵁ أنه ﵊ بال قائماً فأتيته بوضوء فتوضأ ومسح على خفيه ولا يبول في المغتسل قال ﷺ عامة الوسواس منه وقال ابن المبارك قد وسع في البول في المغتسل إذا جرى الماء عليه ذكره الترمذي وقال ﵊ لا يبولن أحدكم في مستحمه ثم يتوضأ فيه فإن عامة الوسواس منه وقال ابن المبارك إن كان الماء جارياً فلا باس به وَلَا يَسْتَصْحِبَ شَيْئًا عَلَيْهِ اسْمُ اللَّهِ تَعَالَى أو رسوله ﷺ ولا يدخل بيت الماء حاسر الرأس
Aisyah radhiyallahu 'anha berkata, "Barang siapa menceritakan kepada kalian bahwa Nabi ﷺ kencing sambil berdiri, maka janganlah kalian mempercayainya." Dan Umar radhiyallahu 'anhu berkata, "Rasulullah ﷺ melihatku sedang kencing berdiri, lalu beliau bersabda, 'Wahai Umar, janganlah engkau kencing berdiri!' Maka Umar berkata: Aku tidak pernah lagi kencing berdiri setelah itu." Namun dalam hal ini terdapat kemurahan (rukhsah), sebab Hudzaifah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Nabi 'alaihissalam pernah kencing berdiri, lalu aku membawakan air wudu kepada beliau, maka beliau berwudu dan mengusap kedua khufnya. Dan janganlah seseorang kencing di tempat mandi; Nabi ﷺ bersabda, "Umumnya penyakit waswas timbul darinya." Ibnul Mubarak berkata, "Telah diberi kelonggaran kencing di tempat mandi apabila air mengalir di atasnya." Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi. Dan Nabi 'alaihissalam bersabda, "Jangan sekali-kali salah seorang di antara kalian kencing di tempat mandinya kemudian ia berwudu di situ, karena umumnya penyakit waswas berasal dari hal itu." Ibnul Mubarak berkata, "Jika airnya mengalir maka tidak mengapa." Serta janganlah membawa sesuatu yang memuat nama Allah Ta'ala atau nama Rasul-Nya ﷺ, dan jangan memasuki kamar mandi (toilet) dengan kepala terbuka tanpa penutup.
وَأَنْ يَقُولَ عِنْدَ الدُّخُولِ بِسْمِ اللَّهِ أَعُوذُ بالله من الرجس النجس الخبيث المخبث الشيطان الرجيم وَعِنْدَ الْخُرُوجِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنِّي ما يؤذيني وأبقى علي ما ينفعني ويكون ذلك خارجاً عن بيت الماء وأن يعد النبل قبل الجلوس وأن لا يستنجي بالماء في موضع الحاجة وأن يستبرىء من البول بالتنحنح والنثر ثلاثاً وإمرار اليد على أسفل القضيب وَلَا يُكْثِرُ التَّفَكُّرَ فِي الِاسْتِبْرَاءِ فَيَتَوَسْوَسَ وَيَشُقَّ عَلَيْهِ الْأَمْرُ وَمَا يُحِسُّ بِهِ مِنْ بَلَلٍ فليقدر أنه بقية الماء
Dan hendaknya ia membaca ketika hendak masuk: "Bismillah, a'udzu billahi minar-rijsin-najisil-khabitsil-mukbitsish-shaythanir-rajim" (Dengan nama Allah, aku berlindung kepada Allah dari kotoran yang najis, yang buruk lagi menyesatkan, yaitu setan yang terkutuk). Dan ketika keluar membaca: "Alhamdulillahilladzi adzhaba 'anni ma yu'dzini wa abqa 'alayya ma yanfa'uni" (Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan dariku apa yang menyakitikanku dan menyisakan padaku apa yang bermanfaat bagiku), dan bacaan ini diucapkan di luar toilet. Hendaknya ia menyiapkan batu ganjal (nabl) sebelum duduk, tidak beristinja dengan air di tempat buang hajat tersebut, serta melakukan istibra' (penuntasan sisa kencing) dari air seni dengan berdehem, mengibaskan perlahan (nathr) tiga kali, dan mengurutkan tangan di bagian bawah kemaluan. Serta tidak boleh terlalu berlebihan memikirkan hal istibra' ini sehingga memicu waswas dan memberatkan dirinya; adapun rasa basah yang ia rasakan, hendaknya ia anggap sebagai sisa air bersuci.
فإن كان يؤذيه ذلك فليرش عليه الماء حتى يقوى في نفسه ذلك ولا يتسلط عليه الشيطان بالوسواس
Apabila hal tersebut mengganggunya, hendaknya ia percikkan air pada bagian itu hingga jiwanya merasa yakin dan setan tidak menguasainya dengan penyakit waswas.
وفي الخبر أنه ﷺ فعله أعني رش الْمَاءِ وَقَدْ كَانَ أَخَفُّهُمُ اسْتِبْرَاءً أَفْقَهُهُمْ فَتَدُلُّ الوسوسة فيه على قلة الفقه
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ melakukan hal itu, yaitu memercikkan air. Dahulu, orang yang paling ringan (tidak berlebihan) dalam melakukan istibra' adalah orang yang paling paham agama (afqah) di antara mereka. Oleh karena itu, munculnya keraguan (waswas) dalam masalah ini menunjukkan kurangnya pemahaman agama (fiqih).
وفي حديث سلمان ﵁ علمنا رسول الله ﷺ كل شيء حتى الخراءة فأمرنا أن لا نستنجي بعظم ولاروث ونهانا أن نستقبل القبلة بغائط أو بول وقال رجل لبعض الصحابة من الأعراب وقد خاصمه لا أحسبك تحسن الخراء قال بلى وأبيك إني لأحسنها وإني بها لحاذق أبعد الأثر وأعد المدر وأستقبل الشيح وأستدبر الريح وأقعي إقعاء الظبي وأجفل إجفال النعام الشيح نبت طيب الرائحة بالبادية والإقعاء ههنا أن يستوفز على صدور قدميه والإجفال أن يرفع عجزه
Dalam hadis Salman ﵁: "Rasulullah ﷺ telah mengajarkan kepada kami segala sesuatu hingga tata cara buang hajat (al-khira'ah). Beliau memerintahkan kami agar tidak beristinja dengan tulang maupun kotoran hewan yang mengering, dan melarang kami menghadap kiblat saat buang air besar atau buang air kecil." Seorang laki-laki Arab Badui pernah berkata kepada salah seorang sahabat saat berselisih dengannya, "Aku kira engkau tidak paham tata cara buang hajat yang benar." Sahabat itu menjawab, "Tentu saja, demi ayahmu! Sungguh aku sangat menguasainya dan mahir dalam hal itu: aku menjauhkan bekas kotoran, menyiapkan batu (madar), menghadap tumbuhan syih, membelakangi arah angin, bertengkurap/berjongkok seperti jongkoknya kijang, dan mengangkat pinggul seperti mengangkatnya burung unta." (Syih adalah tumbuhan beraroma harum di padang pasir. Al-Iq'a' di sini bermakna bertumpu pada bagian depan telapak kaki, sedangkan al-ijfal bermakna mengangkat bagian pinggul/pantat).
وَمِنَ الرُّخْصَةِ أَنْ يَبُولَ الْإِنْسَانُ قَرِيبًا مِنْ صَاحِبِهِ مُسْتَتِرًا عَنْهُ فَعَلَ ذَلِكَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مع شدة حيائه ليبين للناس ذلك
Di antara bentuk keringanan (rukhsah) adalah seseorang boleh buang air kecil di dekat temannya dengan tetap tertutup/terhalang darinya. Rasulullah ﷺ pernah melakukan hal itu—meski beliau sangat pemalu—guna menjelaskan kebolehannya kepada manusia.