(مجرورات الأسماء)

(حروف الجر)

(حروف الجر)

حروفُ الجرِّ عشرون حرفاً، وهي "الباء ومِن وإلى وعن وعلى وفي والكافُ واللاَّمُ وواوُ القَسَمِ وتاؤهُ ومُذْ ومُنذُ ورُبَّ وحتى وخَلا وَعدَا وحاشا وكي ومتى – لي لُغَةِ هُذَيل – ولَعَلَّ في لغة عُقَيل". وهذهِ الحروف منها ما يختصّ بالدخولِ على الاسمِ الظاهر، وهو "رُبَّ ومُذْ ومُنذُ وحتى والكافُ وواوُ القسمِ وتاؤهُ ومتى". ومنها ما يدخلُ على الظاهر والمَضمَر، وهي البواقي.

*Huruf jarr* (huruf yang me-jarr-kan kata setelahnya) berjumlah dua puluh huruf, yaitu: *al-ba'*, *min*, *ila*, *'an*, *'ala*, *fi*, *al-kaf*, *al-lam*, *wawu al-qasam* (wawu sumpah), *ta' al-qasam* (ta' sumpah), *mudz*, *mundzu*, *rubba*, *hatta*, *khala*, *'ada*, *hasya*, *kay*, *mata* (menurut dialek suku Hudzail), dan *la'alla* (menurut dialek suku 'Uqail). Huruf-huruf ini ada yang khusus masuk pada *isim zhahir* (kata benda tampak) saja, yaitu: *rubba*, *mudz*, *mundzu*, *hatta*, *al-kaf*, *wawu al-qasam*, *ta' al-qasam*, dan *mata*. Dan di antaranya ada yang dapat masuk pada *isim zhahir* maupun *dhamir* (kata ganti), yaitu huruf-huruf yang tersisa.

واعلم أنَّ من حروفِ الجرِّ ما لفظُهُ مُشترَكٌ بينَ الحرفيّةِ والاسميّة، وهو خمسةٌ "الكافُ وعن وعلى ومُذْ ومُنذُ". ومنها ما لفظُهُ مُشتركٌ بينَ الحرفيّة والفعليّةِ، وهو "خلا وعدا وحاشا". ومنها ما هو ملازم للحرفيّة، وهو ما بقي. وسيأتي بَيانُ ذلك في مواضعهِ. وسُمّيت حروف الجرّ، لأنها تَجرُّ معنى الفعل قبلَها إلى الاسم بعدَها، أو لأنها تجرُّ ما بعدَها من الأسماءِ، أي تَخفِضُه. وتسمّى "حروفَ الخفض" أيضاً، لذلك. وتُسمّى أيضاً "حروف الإضافة"، لأنها تُضيفُ معانيَ الأفعال قبلها إلى الأسماء بعدها. وذلك أنَّ من الأفعال ما لا يَقوَى على الوصول إلى المفعول به، فَقوَّوه بهذه الحروف، نحو "عجبتُ من خالدٍ، ومررتُ بسعيدٍ". ولو قلتَ "عجبتُ خالداً. ومررتُ سعيداً"، لم يُجُز، لضعف الفعل اللازم وقُصورهِ عن الوصول إلى المفعول به، إلا أن يَستعينَ بحروف الإضافة. وفي هذا المبحث تسعةُ مَباحث. ١- شرْحُ حُرُوفِ الجَرِّ ١- الباءُ الباءُ لها ثلاثةَ عشرَ معنًى ١- الإلصاقُ وهو المعنى الأصليُّ لها. وهذا المعنى لا يُفارقُها في جميع معانيها. ولهذا اقتصرَ عليه سِيبويهِ. والإلصاقُ إمّا حقيقيّ، نحو "أمسكتُ بيدِكَ. ومسحتُ رأسي بيدي"، وإمّا مجازيٌّ، نحو "مررتُ بدارِكَ، أو بكَ"، أي بمكانٍ يَقرُبُ منها أو منكَ.

Ketahuilah bahwa di antara *huruf jar* ada yang lafalnya bersekutu (*musytarak*) antara kedudukan sebagai *huruf* dan *isim*, yaitu ada lima: "الكاف" (kaf), "عن" ('an), "على" ('ala), "مذ" (mudz), dan "منذ" (mundzu). Dan di antaranya ada yang lafalnya bersekutu antara kedudukan sebagai *huruf* dan *fi'il*, yaitu: "خلا" (khala), "عدا" ('ada), dan "حاشا" (hasya). Dan di antaranya ada yang senantiasa berkedudukan sebagai *huruf*, yaitu huruf-huruf yang tersisa. Penjelasan mengenai hal itu akan datang pada tempatnya masing-masing. Dan dinamakan *huruf jar* karena ia men-*jar*-kan (menarik) makna *fi'il* sebelumnya kepada *isim* setelahnya, atau karena ia men-*jar*-kan (mengasrahkan) *isim-isim* setelahnya, yaitu men-*khafadh*-kannya. Karena itu, ia dinamakan juga "*huruf al-khafadh*". Ia juga dinamakan "*huruf al-idhafah*" (huruf penyandaran), karena ia menyandarkan makna *fi'il-fi'il* sebelumnya kepada *isim-isim* setelahnya. Hal itu karena di antara *fi'il* ada yang tidak kuat untuk sampai kepada *maf'ul bih*, maka mereka memperkuatnya dengan *huruf-huruf* ini, seperti: عَجِبْتُ مِنْ خَالِدٍ (Aku heran kepada Khalid) dan مَرَرْتُ بِسَعِيدٍ (Aku berpapasan dengan Said). Seandainya Anda mengucapkan "عَجِبْتُ خَالِداً" atau "مَرَرْتُ سَعِيداً", maka hal itu tidak diperbolehkan karena lemahnya *fi'il lazim* (kata kerja intransitif) dan ketidakmampuannya untuk sampai kepada *maf'ul bih*, kecuali jika ia meminta bantuan kepada *huruf-huruf idhafah*. Dalam pembahasan ini terdapat sembilan sub-pembahasan: **1- Penjelasan *Huruf-Huruf Jar*** **1- Huruf *Ba'*** Huruf *ba'* memiliki tiga belas makna: 1- *Al-Ilshaq* (penempelan/keterikatan), yang merupakan makna aslinya. Makna ini tidak pernah terpisah darinya dalam semua maknanya. Oleh karena itu, Sibawayh mencukupkan diri dengannya. *Al-Ilshaq* adakalanya bersifat hakiki, seperti: أَمْسَكْتُ بِيَدِكَ (Aku memegang tanganmu) dan مَسَحْتُ رَأْسِي بِيَدِي (Aku mengusap kepalaku dengan tanganku). Dan adakalanya bersifat majazi (kiasan), seperti: مَرَرْتُ بِدَارِكَ، أَوْ بِكَ (Aku melewati rumahmu, atau melewati dirimu), yaitu di tempat yang dekat dengannya atau denganmu.

٢- الاستعانةُ، وهي الداخلةُ على المستعانِ به – أي الواسطة التي بها حصلَ الفعلُ – نحو "كتبتُ بالقلم. وبَرَيتُ القلمَ بالسكينِ". ونحو "بدأتُ عملي باسمِ الله، فنجحتُ بتوفيقهِ". ٣- السّببيةُ والتَّعليلُ، وهي الداخلةُ على سبب الفعل وعِلَّتهِ التي من أجلها حصلَ، نحو "ماتَ بالجوعِ"، ونحو "عُرِفنا بفلانِ". ومنه قولهُ تعالى ﴿فَكُلاُّ أخَذْنا بذنبه﴾ ، وقولهُ ﴿فبِما نقضِهم ميثاقَهمْ لَعنّاهم﴾ . ٤- التّعديةُ، وتُسمّى باءَ النّقلِ، فهي كالهمزةِ في تصييرها الفعلَ اللازمَ مُتعدِّياً، فيصيرُ بذلك الفاعلُ مفعولاً، كقوله تعالى ﴿ذهبَ الله بِنُورهم﴾ ، أي أذهبهُ، وقولهُ ﴿وآتيناهُ من الكُنوزِ ما إنَّ مَفاتِحَهُ لتَنُوءُ بالعُصبة أُولي القوّة﴾ ، أي لَتُنيءُ العُصبةَ وتُثقلُها. وهذا كما تقول "ناءَ به الحملُ، بمعنى أثقلهُ". ومن باءِ التّعدية قولهُ تعالى ﴿سُبحانَ الذي أسرَى بعبدهِ ليلاً من المسجد الحرام إلى المسجد الأقصى﴾ . أي سيّرهُ ليلاً.

2. *Al-Isti'anah* (memohon bantuan), yaitu huruf jar yang masuk pada *al-musta'an bihi* (alat yang digunakan untuk meminta bantuan—yaitu perantara yang dengannya suatu pekerjaan terjadi)—seperti: "كتبتُ بالقلم. وبَرَيتُ القلمَ بالسكينِ" (*katabtu bi al-qalami, wa baraitu al-qalama bi as-sikkini* – Aku menulis dengan pena, dan aku meraut pena dengan pisau), dan seperti: "بدأتُ عملي باسمِ الله، فنجحتُ بتوفيقهِ" (*bada'tu 'amali bi ismi Allahi, fa najahutu bi taufiqihi* – Aku memulai pekerjaanku dengan nama Allah, lalu aku berhasil dengan taufik-Nya). 3. *As-Sababiyyah* (sebab) dan *at-Ta'lil* (alasan), yaitu huruf jar yang masuk pada sebab terjadinya perbuatan dan alasan yang karenanya perbuatan itu terjadi, seperti: "ماتَ بالجوعِ" (*mata bi al-ju'i* – Ia mati karena kelaparan), dan seperti: "عُرِفنا بفلانِ" (*'urifna bi fulanin* – Kami dikenal karena si fulan). Di antaranya adalah firman Allah Ta'ala: ﴿فَكُلاُّ أخَذْنا بذنبه﴾ (Maka masing-masing Kami siksa karena dosa-dosanya), dan firman-Nya: ﴿فبِما نقضِهم ميثاقَهمْ لَعنّاهم﴾ (Maka karena mereka melanggar janjinya, Kami melaknat mereka). 4. *At-Ta'diyah* (penransitifan), dan disebut juga *ba' an-naql* (huruf ba' pemindah), fungsinya seperti *hamzah* dalam mengubah *fi'il lazim* (kata kerja intransitif) menjadi *muta'addi* (transitif), sehingga dengan demikian *fa'il* (pelaku) berubah menjadi *maf'ul* (objek), seperti firman Allah Ta'ala: ﴿ذهبَ الله بِنُورهم﴾ (Allah menghilangkan cahaya mereka), yaitu *adzhabahu* (menghilangkannya), dan firman-Nya: ﴿وآتيناهُ من الكُنوزِ ما إنَّ مَفاتِحَهُ لتَنُوءُ بالعُصبة أُولي القوّة﴾ (Dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat), yaitu *latuni'u al-'ushbata* (sungguh memberatkan sejumlah orang tersebut). Hal ini sebagaimana ucapan Anda: "ناءَ به الحملُ" (*na'a bihi al-himlu*), yang bermakna "أثقلهُ" (beban itu memberatkannya). Di antara *ba' at-ta'diyah* adalah firman Allah Ta'ala: ﴿سُبحانَ الذي أسرَى بعبدهِ ليلاً من المسجد الحرام إلى المسجد الأقصى﴾ (Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa), yaitu *sayyarahu lailan* (memperjalankannya pada malam hari).

٥- القسمُ، وهي أصلُ أحرُفهِ. ويجوز ذكرُ فعلِ القسمِ معها؛ نحو "أُقسم بالله". ويجوزُ حذفُهُ، نحو "باللهِ لأجتهدَنَّ". وتدخلُ على الظاهرِ، كما رأيتَ، وعلى المُضَمرِ، نحو "بكَ لأفعلنَّ". ٦- العَوَضُ، وتسمى باءَ المقابلةِ أيضاً، وهي التي تَدُلُّ على تعويض شيءٍ من شيءٍ في مُقابلةِ شيءٍ آخرَ، نحو "بِعتُكَ هذا بهذا. وخُذِ الدارَ بالفرسِ". ٧- البدَلُ، وهي التي تدلَّ على اختيار أحدِ الشيئينِ على الآخرِ، بلا عِوَضٍ ولا مقابلةٍ، كحديث "ما يَسُرُّني بها حُمْرُ النّعَم"، وقولِ بعضهم "ما يَسُرُّني أني شَهِدتُ بَدْراً بالعقبة" أي بَدَلها، وقول الشاعر [من البسيط] فَلَيْتَ لِي بِهِمِ قَوْماً إذا رَكِبُوا … شَنُّوا الإِغارةَ فُرْساناً ورُكْبانا ٨- الظرفيّةُ – أي معنى (في) – كقوله تعالى ﴿لَقَد نَصرَكمُ اللهُ بِبَدْرٍ. وما كنتَ بجانبِ الغربي. نجّيناهم بِسَحر. وإنَّكم لَتَمُرون عليهم مصبِحينَ وباللّيلِ﴾ . ٩- المصاحبةُ، أي معنى "معَ"، نحو "بعتُكَ الفَرَسَ بسرجهِ،

5. *Al-Qasam* (sumpah), dan ia merupakan induk dari huruf-huruf sumpah. Diperbolehkan menyebutkan kata kerja sumpah (*fi'il al-qasam*) bersamanya, seperti: "أُقسم بالله" (*uqsimu bi Allahi* – Aku bersumpah demi Allah). Diperbolehkan pula menghapusnya, seperti: "باللهِ لأجتهدَنَّ" (*bi Allahi la-ajtahidanna* – Demi Allah, aku sungguh-sungguh akan bersungguh-sungguh). Huruf ini dapat masuk pada kata yang tampak (*zhahir*), sebagaimana yang telah Anda lihat, dan pada kata ganti (*mudhmar*), seperti: "بكَ لأفعلنَّ" (*bika la-af'alanna* – Demi Engkau, aku sungguh akan melakukannya). 6. *Al-'Awadh* (ganti rugi), dan disebut juga *ba' al-muqabalah* (huruf ba' timbal balik), yaitu huruf yang menunjukkan penggantian sesuatu dengan sesuatu yang lain sebagai imbalan atas sesuatu tersebut, seperti: "بِعتُكَ هذا بهذا" (*bi'tuka hadza bi hadza* – Aku menjual ini kepadamu dengan imbalan ini), dan "خُذِ الدارَ بالفرسِ" (*khudzi ad-dara bi al-farasi* – Ambillah rumah ini dengan imbalan kuda tersebut). 7. *Al-Badal* (pengganti), yaitu huruf yang menunjukkan pemilihan salah satu dari dua hal atas yang lainnya, tanpa adanya ganti rugi (*'awadh*) maupun timbal balik (*muqabalah*), seperti dalam hadis: "ما يَسُرُّني بها حُمْرُ النّعَم" (Tidak ada yang lebih menyenangkanku sebagai ganti darinya selain unta-unta merah), dan ucapan sebagian dari mereka: "ما يَسُرُّني أني شَهِدتُ بَدْراً بالعقبة" (Tidak ada yang menyenangkanku bahwa aku menghadiri perang Badar sebagai ganti dari baiat Aqabah), yaitu *badalaha* (sebagai gantinya), dan ucapan penyair [dari bahar *Basith*]: *Fa laita li bihim qauman idza rakibu… syannu al-igharata fursanan wa rukbana* (Maka duhai, sekiranya aku memiliki sebagai ganti dari mereka suatu kaum yang apabila mereka berkendara… mereka melancarkan serangan dengan menunggang kuda maupun berjalan kaki). 8. *Al-Zharfiyyah* (keterangan tempat/waktu)—yaitu bermakna *fi* (di/di dalam)—seperti firman Allah Ta'ala: ﴿لَقَد نَصرَكمُ اللهُ بِبَدْرٍ﴾ (Sungguh Allah telah menolong kamu di Badar), ﴿وما كنتَ بجانبِ الغربي﴾ (Dan kamu tidak berada di sebelah barat), ﴿نجّيناهم بِسَحر﴾ (Kami menyelamatkan mereka di waktu sebelum fajar), dan ﴿وإنَّكم لَتَمُرون عليهم مصبِحينَ وباللّيلِ﴾ (Dan sesungguhnya kamu melewati mereka di waktu pagi dan di waktu malam). 9. *Al-Mushahabah* (kebersamaan), yaitu bermakna *ma'a* (bersama), seperti: "بعتُكَ الفَرَسَ بسرجهِ" (*bi'tuka al-farasa bi sarjihi* – Aku menjual kuda itu kepadamu bersama pelananya).

والدارَ بأثاثها"، ومنه قولهُ تعالى "إهبِطْ بسلام". ١٠- معنى "مِن" التَّبعيضيّةِ، كقولهِ تعالى "عَيناً يشربُ بها عبادُ اللهِ"، أي منها. ١١- معنى "عن"، كقولهِ تعالى ﴿فاسأل به خبيراً﴾ ، أي عنهُ، وقولهِ ﴿سأل سائلٌ بعذابٍ واقعٍ﴾ ، وقوله ﴿يَسعى نورُهم بينَ أيديهم وبأيمانِهم﴾ . ١٢- الاستعلاءُ، أي معنى "على" كقوله تعالى "ومن أهلِ الكتابِ مَن إن تَأمَنهُ بِقِنطارٍ يُؤدَّهِ إليكَ"، إي على قنطار، وقولِ الشاعر [من الطويل] أَرَبٌّ يَبُولُ الثُّعلُبانُ بِرَأْسِهِ … لَقَدْ ذَلَّ مَنْ بالتْ عَلَيْهِ الثَّعالِبُ ١٣- التأكيدُ، وهي الزائدةُ لفظاً، أي في الإعراب، نحو "بِحَسبِكَ ما فعلتَ"، أي حَسبُك ما فعلتَ. ومنهُ قوله تعالى ﴿وكفى باللهِ شهيداً﴾ ، وقولهُ ﴿أَلم يعلم بأنَّ اللهَ يرى﴾ ، وقولهُ ﴿ولا تُلقوا بأيديكم إلى التّهلُكة﴾ ، وقولهُ ﴿أَليس الله بأحكمِ الحاكمين؟﴾ وسيأتي لهذه الباء فضلُ شرح. ٢- مِنْ مِنْ لها ثمانيةُ مَعانٍ ١- الابتداءُ، أَي ابتداءُ الغايةِ المكانيّةِ أو الزمانيّةِ. فالأول كقوله

Dan rumah beserta perabotannya (*wa al-dara bi atsatsiha*), dan di antaranya adalah firman Allah Ta'ala: "اهْبِطْ بِسَلَامٍ" (Turunlah dengan selamat). 10. Membawa makna "مِنْ" (*min*) yang menunjukkan arti sebagian (*at-tab'idhiyyah*), seperti firman Allah Ta'ala: ﴿عَيْناً يَشْرَبُ بِهَا عِبَادُ اللَّهِ﴾ (Maka mata air yang diminum oleh hamba-hamba Allah), yaitu bermakna: "مِنْهَا" (darinya). 11. Membawa makna "عَنْ" (*'an*), seperti firman Allah Ta'ala: ﴿فَاسْأَلْ بِهِ خَبِيراً﴾ (Maka tanyakanlah kepadanya [tentang Allah] kepada yang lebih mengetahui), yaitu bermakna: "عَنْهُ" (tentangnya), dan firman-Nya: ﴿سَأَلَ سَائِلٌ بِعَذَابٍ وَاقِعٍ﴾ (Seorang peminta telah meminta azab yang pasti terjadi), serta firman-Nya: ﴿يَسْعَى نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ﴾ (Cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka). 12. Menunjukkan arti di atas (*al-isti'la'*), yaitu membawa makna "عَلَى" (*'ala*), seperti firman Allah Ta'ala: ﴿وَمِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ إِنْ تَأْمَنْهُ بِقِنْطَارٍ يُؤَدِّهِ إِلَيْكَ﴾ (Di antara Ahli Kitab ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu), yaitu bermakna: "عَلَى قِنْطَارٍ" (atas harta yang banyak). Dan seperti ucapan penyair [dari bahar *Thawil*]: "أَرَبٌّ يَبُولُ الثُّعْلُبَانُ بِرَأْسِهِ … لَقَدْ ذَلَّ مَنْ بَالَتْ عَلَيْهِ الثَّعَالِبُ" (Apakah pantas tuhan dikencingi kepalanya oleh seekor rubah? Sungguh sangat hina orang yang dikencingi oleh rubah-rubah). 13. Penegasan (*at-ta'kid*), yaitu huruf tambahan (*al-za'idah*) secara lafal, yakni dalam kedudukan *i'rab*, seperti: "بِحَسْبِكَ مَا فَعَلْتَ" (Cukuplah bagimu apa yang telah kamu lakukan), yaitu bermakna: "حَسْبُكَ مَا فَعَلْتَ". Di antaranya adalah firman Allah Ta'ala: ﴿وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيداً﴾ (Dan cukuplah Allah sebagai saksi), firman-Nya: ﴿أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَى﴾ (Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat?), firman-Nya: ﴿وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ﴾ (Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan), dan firman-Nya: ﴿أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ﴾ (Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?). Penjelasan lebih mendalam mengenai huruf *ba'* ini akan disajikan nanti. 2. "مِنْ" (*Min*): Huruf "مِنْ" memiliki delapan makna: 1. Permulaan (*al-ibtida'*), yaitu permulaan batas (*ibtida' al-ghayah*) tempat maupun waktu. Contoh yang pertama adalah seperti ucapan…

ِ تعالى ﴿سبحانَ الذي أسرى بعبدهِ ليلاً من المسجد الحرامِ إلى المسجد الأقصى﴾ . والثاني كقوله ﴿لَمَسجدٌ أُسسَ على التّقوى من أوَّلِ يوم أَحَقُّ أَن تقومَ فيهِ﴾ . وتَرِدُ أَيضاً لابتداء الغاية في الأحداث والأشخاص. فالأول كقولك "عَجبتُ من إقدامك على هذا العمل"، والثاني كقولك "رأيتُ من زهير ما أُحبُّ". ٢- التّبعيضُ، أي معنى "بعض"، كقولهِ تعالى ﴿لن تنالوا البرَّ حتى تُنفقوا ممّا تُحبُّونَ﴾ أي بعضَهُ، وقولهِ "منهم من كلّمَ اللهَ"، أَب بعضُهم. وعلامتُها أَن يَخلُفَها لَفظُ "بعضٍ". ٣- البيانُ، أي بيانُ الجنس، كقوله تعالى ﴿واجتنبوا الرجسَ من الأوثانِ﴾ . قولهِ ﴿يُحَلَّونَ فيها من أَساورَ من ذهبٍ﴾ . وعلامتُها أَن يصحَّ الإخبارُ بما بعدَها عمّا قبلها، فتقول الرجس هي الأوثانُ، والأساورُ هي ذهب. واعلم أَن "من" البيانيّةَ ومجرورَها في موضعِ الحال مما قبلَها، إن كان معرفةً، كالآية الأولى، وفي موضع النّعتِ له إن كان نكرة، كالآية الثانية. وكثيراً ما تَقَعُ "من البيانيّةُ" هذهِ بعد "ما ومهما"، كقوله تعالى ﴿ما يَفتَحِ اللهُ للناسِ من رحمةٍ فلا مُمسِكَ لها﴾ ، وقولهِ ﴿ما ننْسَخْ من آيةٍ﴾ ، وقولهِ ﴿مهما تأتِنا به من آية﴾ . ٤- التأكيدُ، وهي الزائدة لفظاً، أي في الإعراب، كقوله تعالى ﴿ما جاءنا من بشيرٍ﴾ ، وقوله ﴿هل تحس منهم من أحد﴾ وقوله ﴿هل من خالق غير الله﴾ [فاطر: ٣] . وسيأتي لـ "مِنْ" هذه فضلُ شرح ٥- البدل: كقوله تعالى ﴿أرضيتم بالحياة الدنيا من الآخرة﴾ أي

Ta'ala: ﴿سبحانَ الذي أسرى بعبدهِ ليلاً من المسجد الحرامِ إلى المسجد الأقصى﴾ (Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha). Dan yang kedua seperti firman-Nya: ﴿لَمَسجدٌ أُسسَ على التّقوى من أوَّلِ يوم أَحَقُّ أَن تقومَ فيهِ﴾ (Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya). Ia juga datang untuk menunjukkan permulaan batas (*ibtida' al-ghayah*) pada peristiwa dan tokoh. Yang pertama seperti ucapan Anda: "عَجبتُ من إقدامك على هذا العمل" (*'ajibtu min iqdamika 'ala hadzal-'amali* – aku heran atas keberanianmu melakukan pekerjaan ini), dan yang kedua seperti ucapan Anda: "رأيتُ من زهير ما أُحبُّ" (*ra'aytu min Zuhairin ma uhibbu* – aku melihat dari Zuhair apa yang aku sukai). 2- *At-Tab'idh* (menunjukkan arti sebagian), yaitu bermakna "بعض" (*ba'dh*), seperti firman-Nya Ta'ala: ﴿لن تنالوا البرَّ حتى تُنفقوا ممّا تُحبُّونَ﴾ (Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan yang sempurna, sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai), yaitu sebagian darinya, dan firman-Nya: "منهم من كلّمَ اللهَ" (di antara mereka ada yang Allah berfirman langsung kepadanya), yaitu sebagian dari mereka. Dan tandanya adalah kata tersebut dapat digantikan oleh lafal "بعض" (*ba'dh*). 3- *Al-Bayan* (penjelasan), yaitu menjelaskan jenis (*bayan al-jins*), seperti firman-Nya Ta'ala: ﴿واجتنبوا الرجسَ من الأوثانِ﴾ (maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu) dan firman-Nya: ﴿يُحَلَّونَ فيها من أَساورَ من ذهبٍ﴾ (mereka diberi perhiasan gelang emas di dalamnya). Dan tandanya adalah sah mengabarkan kata setelahnya tentang kata sebelum kata tersebut, sehingga Anda dapat mengucapkan: 'najis itu adalah berhala-berhala', dan 'gelang-gelang itu adalah emas'. Ketahuilah bahwa "من" (*min*) *al-Bayaniyyah* beserta kata yang di-jarr-kan olehnya (*majrur*-nya) berada pada posisi *hal* dari kata sebelumnya jika kata sebelumnya berupa kata *ma'rifat*, seperti pada ayat pertama. Dan berada pada posisi *na'at* (sifat) baginya jika kata sebelumnya berupa kata *nakirah*, seperti pada ayat kedua. Dan sering kali "من" *al-Bayaniyyah* ini terletak setelah kata "ما" (*ma*) dan "مهما" (*mahma*), seperti firman-Nya Ta'ala: ﴿ما يَفتَحِ اللهُ للناسِ من رحمةٍ فلا مُمسِكَ لها﴾ (Apa saja yang Allah bukakan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya), firman-Nya: ﴿ما ننْسَخْ من آيةٍ﴾ (Ayat mana saja yang Kami nasakhkan), dan firman-Nya: ﴿مهما تأتِنا به من آية﴾ (Bagaimanapun kamu mendatangkan keterangan kepada kami). 4- *At-Taukid* (penegasan), yaitu huruf tambahan secara lafal (*zaidah lafghan*), yakni dalam hal i'rab, seperti firman-Nya Ta'ala: ﴿ما جاءنا من بشيرٍ﴾ (tidak datang kepada kami seorang pembawa kabar gembira pun), firman-Nya: ﴿هل تحس منهم من أحد﴾ (adakah kamu melihat seorang pun dari mereka), dan firman-Nya: ﴿هل من خالق غير الله﴾ (Adakah pencipta selain Allah?) [Fathir: 3]. Penjelasan lebih lanjut mengenai "مِنْ" (*min*) ini akan disajikan nanti. 5- *Al-Badal* (pengganti): seperti firman-Nya Ta'ala: ﴿أرضيتم بالحياة الدنيا من الآخرة﴾ (Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti…

بدلها وقولهِ ﴿لجعَلَ منكم ملائكةً في الأرضِ يَخلُفون﴾ أي "بَدَلكم"، وقولهِ ﴿لن تُغنيَ عنهم أموالُهم ولا أولادُهم من الله شيئاً﴾ ، أي بَدَلَ الله، والمعنى بَدَلَ طاعتهِ أو رحمتهِ. وقد تقدَّم معنى البدل في الكلام على الباءِ. ٦- الظَّرفيّة، أَي معنى (في) ، كقوله سبحانهُ ﴿ماذا خَلقوا من الأرض﴾ ، أي فيها، وقولهِ ﴿إذا نُوديَ للصّلاة من يومِ الجمعة﴾ ، أي في يومها. ٧- السّببيّةُ والتّعليلُ، كقوله تعالى ﴿مِمّل خطيئاتِهم أُغرِقوا﴾ ، قال الشاعر [من البسيط] يُغْضِي حَياءً، وَبُغْضَى مِنْ مَهابَتهِ … فَما يُكَلَّمَ إِلاَّ حِينَ يَبْتَسِم ٨- معنى "عن"، كقولهِ تعالى: ﴿فَوَيْلٌ لِّلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِّن ذِكْرِ الله﴾ [الزمر: ٢٢] ، وقولهِ: ﴿يا ويلنا قَدْ كُنَّا فِي غَفْلَةٍ مِّنْ هذا﴾ [الأنبياء: ٩٧] . ٣- إِلى إلى لها ثلاثة معانٍ ١- الانتهاءُ، أي انتهاءُ الغايةِ الزمانيّة أو المكانيّة. فالأولُ كقولهِ تعالى ﴿ثُمَّ أَتِمُّوا الصيامَ إلى الليل﴾ ، والثاني كقولهِ ﴿من المسجد الحرام إلى المسجد الأقصى﴾ . وترِدُ أيضاً لانتهاء الغاية في الأشخاص والأحداث. فالأولُ نحو "

…sebagai gantinya, dan firman-Nya: ﴿لجعَلَ منكم ملائكةً في الأرضِ يَخلُفون﴾ (Niscaya Kami jadikan sebagai ganti kamu malaikat-malaikat di bumi yang turun-temurun), yaitu *badalakum* (sebagai ganti kalian), dan firman-Nya: ﴿لن تُغنيَ عنهم أموالُهم ولا أولادُهم من الله شيئاً﴾ (Harta benda dan anak-anak mereka tidak akan berguna sedikit pun bagi mereka sebagai ganti dari Allah), yaitu sebagai ganti dari Allah, dan maknanya adalah sebagai ganti dari ketaatan kepada-Nya atau rahmat-Nya. Makna *al-badal* telah dijelaskan sebelumnya dalam pembahasan mengenai huruf *al-ba'*. 6. *Al-Zharfiyyah* (keterangan tempat/waktu), yaitu bermakna *fi* (di/di dalam), seperti firman-Nya yang Mahasuci: ﴿ماذا خَلقوا من الأرض﴾ (Apakah yang telah mereka ciptakan di bumi?), yaitu *fiha* (di dalamnya), dan firman-Nya: ﴿إذا نُوديَ للصّلاة من يومِ الجمعة﴾ (Apabila diseru untuk menunaikan salat pada hari Jumat), yaitu *fi yaumiha* (pada harinya). 7. *As-Sababiyyah* (sebab) dan *at-Ta'lil* (alasan), seperti firman Allah Ta'ala: ﴿مِمّل خطيئاتِهم أُغرِقوا﴾ (Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan). Penyair berkata [dari bahar *Basith*]: *Yughdhi haya'an, wa yughdha min mahabatihi… fa ma yukallamu illa hina yabtasimu* (Ia menundukkan pandangan karena malu, dan orang lain menundukkan pandangan karena segan kepadanya… maka ia tidak diajak bicara kecuali ketika ia tersenyum). 8. Bermakna *'an* (dari/tentang), seperti firman Allah Ta'ala: ﴿فَوَيْلٌ لِّلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِّن ذِكْرِ الله﴾ [Al-Zumar: 22] (Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang hatinya membatu dari mengingat Allah), dan firman-Nya: ﴿يا ويلنا قَدْ كُنَّا فِي غَفْلَةٍ مِّنْ هذا﴾ [Al-Anbiya': 97] (Aduhai celaka kami, sesungguhnya kami adalah dalam kelalaian tentang ini). 3. **Ila (إِلى)** Huruf *ila* memiliki tiga makna: 1. *Al-Intiha'* (kesudahan), yaitu batas akhir tujuan waktu (*al-ghayah az-zamaniyyah*) atau tempat (*al-ghayah al-makaniyyah*). Contoh yang pertama (waktu) adalah seperti firman Allah Ta'ala: ﴿ثُمَّ أَتِمُّوا الصيامَ إلى الليل﴾ (Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam). Contoh yang kedua (tempat) adalah seperti firman-Nya: ﴿من المسجد الحرام إلى المسجد الأقصى﴾ (Dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa). Terkadang ia juga datang untuk menunjukkan batas akhir tujuan pada orang (*al-asykhash*) dan peristiwa (*al-ahdats*). Contoh yang pertama (orang) adalah seperti…

جئتُ إليك"، والثاني نحو "صِلْ بالتّقوى إلى رضا الله". ومعنى كونها للانتهاءِ أنها تكونُ منتهًى لابتداء الغاية. أمّا ما بعدَها فجائزٌ أن يكون داخلاً جُزءٌ منه أو كلُّهُ فيما قبلَها، وجائزٌ أن يكونَ غيرَ داخل. فإذا قلتَ "سرتُ من بيروتَ إلى دمَشقَ"، فجائزٌ أن تكون قد دخلتَها، وجائزٌ أنك لم تدخلها، لأنَّ النهايةَ تشملُ أولَ الحدّ وآخرَهُ. وإنما تمتنعُ مجاوزتُهُ. ومن دخول ما بعدَها فيما قبلَها قولهُ تعالى ﴿إذا قُمتُم إلى الصَّلاة فاغسِلوا وُجوهكُم وأيديَكُم إلى المَرافِق﴾ . فالمَرافق داخلةٌ في مفهوم الغسل. ومن عدم دُخولهِ قولهُ ﷿ ﴿ثمَّ أَتِمُّوا الصيامَ إلى الليل﴾ . فالجزءُ من الليل غيرُ داخلٍ في مفهوم الصيام. وقالت الشيعةُ الجعفريةُ إنه داخل. والآية – بظاهرها – مُحتملة للأمرينِ. فإن كان هناك قرينةٌ تدلُّ على دخول ما بعدَها فيما قبلَها، دخل، أو على عدم دخوله لم يدخل. فإن لم تكن قرينةٌ تدلُّ على دخوله أو خورجهِ، فإن كان من جنس ما قبلها جاز أن يدخل وأن لا يدخل، نحو "سرتُ في النهار إلى العصر" وإلا فالكثير الغالبُ أنه لا يدخل. نحو "سرتُ في النهار إلى الليل". وقال قوم يدخل مطلقاً، سواءٌ أكان من الجنس أم لا. وقال قومٌ لا يدخل مطلقاً. والحقّ ما ذكرناه. ٢- المصاحبةُ، أي معنى "معَ" كقوله تعالى ﴿قال مَن أنصاري إلى الله؟﴾ أي معهُ، وقولهُ ﴿ولا تأكلوا أموالَهم إلى أموالكم﴾ ، ومنهُ قولهم "الذَّوْدُ إلى الذَّوْدِ إبلٌ"، وتقولُ "فلانٌ حليمٌ إلى أدبٍ وعلمٍ". ٣- معنى "عند"، وتُسَمّى المُبَيّنَة، لأنها تُبينُ أن مصحوبها فاعلٌ لما

…*Ji'tu ilaika* (Aku datang kepadamu), dan contoh kedua seperti "*Shil bit-taqwa ila ridhallahi*" (Sambunglah dengan ketakwaan hingga menuju keridhaan Allah). Makna fungsinya untuk *intiha'* (pengakhiran) adalah bahwa ia menjadi batas akhir bagi *ibtida' al-ghayah* (permulaan batas). Adapun kata setelahnya, boleh jadi sebagian atau seluruhnya masuk dalam cakupan hukum kata sebelumnya, dan boleh jadi tidak masuk. Apabila Anda katakan "*Sirtu min Bairuta ila Dimasyqa*" (Aku berjalan dari Beirut ke Damaskus), boleh jadi Anda telah memasukinya dan boleh jadi Anda belum memasukinya, karena batas akhir mencakup awal batas dan akhirnya. Yang dilarang hanyalah melampauinya. Di antara contoh masuknya kata setelahnya dalam cakupan kata sebelumnya adalah firman Allah Ta'ala: ﴿إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ﴾. Maka siku-siku (*al-marafiq*) masuk dalam konsep basuhan. Dan di antara contoh tidak masuknya adalah firman-Nya yang Mahasuci: ﴿ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ﴾. Maka bagian dari malam tidak masuk dalam konsep puasa. Kaum Syiah Ja'fariyyah berpendapat bahwa ia masuk. Dan ayat tersebut—secara tekstualnya—mengandung kemungkinan kedua hal itu. Jika terdapat petunjuk (*qarinah*) yang menunjukkan masuknya kata setelahnya dalam kata sebelumnya, maka ia masuk; atau petunjuk tidak masuknya, maka ia tidak masuk. Jika tidak ada petunjuk yang menunjukkan masuk atau keluarnya, maka jika kata setelahnya sejenis dengan kata sebelumnya, diperbolehkan masuk dan tidak masuk, seperti "*Sirtu fin-nahari ila al-'ashri*". Jika tidak sejenis, maka yang dominan dan terbanyak adalah tidak masuk, seperti "*Sirtu fin-nahari ila al-laili*". Suatu kaum berpendapat masuk secara mutlak, baik sejenis maupun tidak. Dan kaum lain berpendapat tidak masuk secara mutlak. Namun yang benar adalah apa yang telah kami sebutkan. 2- *Al-Mushahabah* (Penyertaan), yaitu bermakna "*ma'a*" (beserta/bersama), seperti firman Allah Ta'ala: ﴿قَالَ مَنْ أَنصَارِي إِلَى اللَّهِ﴾ artinya bersama Allah, dan firman-Nya: ﴿وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَهُمْ إِلَى أَمْوَالِكُمْ﴾. Di antaranya ucapan mereka "*Adz-Dzaudu ila adz-dzaudi ibilun*", dan Anda katakan "*Fulanun halimun ila adabin wa 'ilmin*". 3- Makna "*'inda*" (di sisi/dalam pandangan), dan dinamakan *Al-Mubayyinah* (penjelas), karena menjelaskan bahwa kata yang bersamanya adalah *fa'il* bagi…

قبلها. وهي التي تقعُ بعدَ ما يفيدُ حُباً أو بُغضاً من فعل تعجّبٍ أو اسمِ تفضيلٍ، كقوله تعالى "قال رب السّجنُ أحَب إليَّ مِمّا يدعونني إليه" [يوسف: ٣٣] ، أي أحبُّ عندي. فالمُتكلم هو المُحِبُّ. وقولِ الشاعر [من الكامل] أَمْ لا سَبيلَ إلى الشَّباب، وذِكْرُهُ … أَشهى إِلَيَّ مِنَ الرَّحيقِ السَّلْسَلِ ٤- حَتَّى حتى للانتهاء كإلى، كقوله تعالى ﴿سلامٌ هيَ حتى مَطلَعِ الفجر﴾ . وقد يدخلُ ما بعدَها فيما قبلها، نحو "بَذَلتُ ما لي في سبيل أُمَّتي، حتى آخر دِرهمٍ عندي". وقد يكون غيرَ داخلٍ، كقوله تعالى ﴿كلوا واشربوا حتى يَتبيّن لكمُ الخيطُ الأبيضُ من الخيط الأسود من الفجر﴾ ، فالصائم لا يُباحُ له الأكلُ متى بدا الفجر. ويَزعُمُ بعضُ النحاةِ أنّ ما بعدَ "حتى" داخلٌ فيما قبلها على كل حال. ويَزعُمُ بعضهم أنه ليس بداخلٍ على كل حال. والحقُّ أنه يدخلُ، إن كان جزءًا مما قبلها، نحو "سِرتُ هذا النهارَ حتى العصرِ"، ومنه قولهم "أكلتُ السمكة حتى رأسِها". وإن لم يكن جزءًا ممّا قبلها لم يدخلْ، نحو "قرأتُ الليلةَ حتى الصَّباحِ" ومنه قولهُ تعالى ﴿سلامٌ هيَ حتى مَطلَعِ الفجر﴾ . واعلم أن هذا الخلافَ إنما هو في "حتى" الخافضة. وأما "حتى"العاطفة، فلا خلاف في أن ما بعدَها يجبُ أن يدخلَ في حكم ما قبلها، كما ستعلم ذلك في مبحث أحرف العطف. والفرق بينَ غلى وحتى أنَّ "إلى" تجرُّ ما كان أخراً لِما قبله، أو مُتّصلاً

sebelumnya. Yaitu yang terletak setelah kata yang menunjukkan makna cinta atau benci, baik berupa *fi'il ta'ajjub* maupun *isim tafdhil*, seperti firman Allah Ta'ala: ﴿قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ﴾ [Yusuf: 33] (Yusuf berkata: Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada apa yang mereka serukan kepadaku), yaitu lebih aku sukai di sisiku, maka pembicara adalah orang yang menyukai. Dan perkataan penyair [dari bahar Kamil]: أَمْ لَا سَبِيلَ إِلَى الشَّبَابِ، وَذِكْرُهُ … أَشْهَى إِلَيَّ مِنَ الرَّحِيقِ السَّلْسَلِ (Ataukah tidak ada jalan menuju masa muda, padahal mengingatnya lebih aku sukai daripada khamar yang murni?). **4- Huruf *Hatta*** Huruf *hatta* berfungsi untuk menunjukkan batas akhir (*al-intiha'*) seperti halnya *ila*, seperti firman Allah Ta'ala: ﴿سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ﴾ (Sejahtera [malam itu] sampai terbit fajar). Dan terkadang kata setelahnya masuk ke dalam cakupan hukum kata sebelumnya, seperti: بَذَلْتُ مَالِي فِي Sَبِيلِ أُمَّتِي، حَتَّى آخِرِ دِرْهَمٍ عِنْدِي (Aku mendermakan hartaku di jalan umatku, hingga dirham terakhir yang aku miliki). Dan terkadang ia tidak masuk, seperti firman Allah Ta'ala: ﴿كُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ﴾ (Makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar). Maka orang yang berpuasa tidak diperbolehkan makan ketika fajar telah tampak. Sebagian ulama nahwu menduga bahwa kata setelah "حَتَّى" masuk ke dalam cakupan kata sebelumnya dalam setiap keadaan. Dan sebagian mereka menduga bahwa ia tidak masuk dalam setiap keadaan. Pendapat yang benar adalah ia masuk jika ia merupakan bagian dari kata sebelumnya, seperti: سِرْتُ هَذَا النَّهَارَ حَتَّى الْعَصْرِ (Aku berjalan siang ini hingga waktu asar), dan di antaranya adalah ucapan mereka: أَكْتُبُ السَّمَكَةَ حَتَّى رَأْسِهَا (Aku memakan ikan itu hingga kepalanya). Dan jika ia bukan merupakan bagian dari kata sebelumnya, maka ia tidak masuk, seperti: قَرَأْتُ اللَّيْلَةَ حَتَّى الصَّبَاحِ (Aku membaca malam ini hingga pagi hari), dan di antaranya adalah firman Allah Ta'ala: ﴿سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ﴾. Ketahuilah bahwa perbedaan pendapat ini hanyalah terjadi pada "حَتَّى" yang men-*jar*-kan (*al-khafidhhah*). Adapun "حَتَّى" yang berfungsi sebagai *athaf* (kata hubung), maka tidak ada perbedaan pendapat bahwa kata setelahnya wajib masuk ke dalam hukum kata sebelumnya, sebagaimana yang akan Anda ketahui dalam pembahasan *huruf-huruf athaf*. Perbedaan antara *ila* dan *hatta* adalah bahwa "إِلَى" men-*jar*-kan kata yang menjadi akhir bagi kata sebelumnya, atau yang bersambung

بآخره، وما لم يكن آخراً ولا متصلاً به. فالأولُ نحو "سرتُ ليلةَ أمسِ إلى آخرها" والثاني نحو "سهرتُ اليلةَ إلى الفجر"، والثالثُ نحو "سرتُ النهارَ إلى العصر". ولا تجرُّ "حتى" إلا ما كان آخراً لِما قبلها، أو متّصلاً بآخره، فالأول نحو "سرتُ ليلةَ امسِ حتى آخرِها"، والثاني كقوله تعالى ﴿سلامٌ هيَ حتى مَطلَعِ الفجر﴾ . ولا تجرُّ، ما لم يكن آخراً ولا متصلاً به، فلا يقال "سرتُ الليلةَ حتى نصفها". وقد تكونُ حتى للتَّعليل بمعنى اللام، نحو ﴿إتَّقِ اللهَ حتى تفوزَ برضاهُ﴾ ، أي لتفوز. ٥- عَنْ عن لها ستة معانٍ ١- المجاوزةُ والبُغدُ، وهذا أصلُها، نحو "سرتُ عن البلدِ. رَغِبتُ عن الأمر. رَمَيت السهمَ عن القوس". ٢- معنى "بَعد"، نحو عن قريبٍ أزُورُكَ"، قال تعالى ﴿عمّا قليلٍ لَتُصبحُنَّ نادمين﴾ ، وقال ﴿لَتركبُنَّ طَبَقاً عن طبَقٍ﴾ ، أي حالاً بعدَ حالٍ. ٣- معنى "على" كقولهِ تعالى "ومَن يَبخَلْ فإنما بَبخَلُ عن نفسه"،أي عليها، ومنه قول الشاعر [من البسيط] لاَهِ ابنُ عَمِّكَ! لاَ أُفْضِلْتَ في حَسَبٍ … عَنِّي. وَلا أَنتَ دَيَّاني فَتَخُزُوني

…dengan bagian akhirnya, dan apa yang bukan merupakan bagian akhir serta tidak bersambung dengannya. Contoh yang pertama adalah: "سرتُ ليلةَ أمسِ إلى آخرها" (*Aku berjalan tadi malam hingga bagian akhirnya*), contoh yang kedua: "سهرتُ الليلةَ إلى الفجر" (*Aku terjaga malam ini hingga fajar*), dan contoh yang ketiga: "سرتُ النهارَ إلى العصر" (*Aku berjalan di siang hari hingga ashar*). Huruf "حتى" (*hatta*) tidak men-*jar*-kan kecuali pada kata yang merupakan bagian akhir dari hal sebelumnya, atau bersambung dengan bagian akhirnya. Contoh yang pertama adalah: "سرتُ ليلةَ أمسِ حتى آخرِها" (*Aku berjalan tadi malam hingga bagian akhirnya*), dan contoh yang kedua adalah firman Allah Ta'ala: {سلامٌ هيَ حتى مَطلَعِ الفجر} (*Kesejahteraan saja pada malam itu sampai terbit fajar*). Dan ia tidak men-*jar*-kan kata yang bukan merupakan bagian akhir serta tidak bersambung dengannya, sehingga tidak boleh diucapkan: "سرتُ الليلةَ حتى نصفها" (*Aku berjalan malam ini hingga pertengahannya*). Terkadang "حتى" berfungsi untuk menunjukkan alasan (*ta'lil*) yang bermakna huruf *lam*, seperti: {إتَّقِ اللهَ حتى تفوزَ برضاهُ} (*Bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung mendapatkan rida-Nya*), yaitu: "لتفوز" (*agar kamu beruntung*). 5. *'An* (عَنْ) Huruf *'An* memiliki enam makna: 1. *Al-Mujawazah wa al-Bu'd* (melewati dan menjauh), dan ini adalah makna asalnya, seperti: "سرتُ عن البلدِ" (*Aku berjalan menjauhi negeri itu*), "رَغِبتُ عن الأمر" (*Aku membenci perkara itu*), dan "رَمَيت السهمَ عن القوس" (*Aku melepaskan anak panah dari busurnya*). 2. Makna "بَعد" (*setelah*), seperti: "عن قريبٍ أزُورُكَ" (*Dalam waktu dekat [setelah waktu yang singkat] aku akan mengunjungimu*). Allah Ta'ala berfirman: {عمّا قليلٍ لَتُصبحُنَّ نادمين} (*Dalam sedikit waktu lagi niscaya mereka akan menjadi orang-orang yang menyesal*), dan berfirman: {لَتركبُنَّ طَبَقاً عن طبَقٍ} (*sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat*), yaitu suatu keadaan setelah keadaan yang lain. 3. Makna "على" (*di atas/atas*), seperti firman Allah Ta'ala: {ومَن يَبخَلْ فإنما يَبخَلُ عن نفسه} (*Dan siapa yang kikir maka sesungguhnya dia kikir terhadap dirinya sendiri*), yaitu: "عليها" (*atas dirinya sendiri*). Di antaranya adalah perkataan penyair [dari bahar *Basith*]: "لاَهِ ابنُ عَمِّكَ! لاَ أُفْضِلْتَ في حَسَبٍ … عَنِّي. وَلا أَنتَ دَيَّاني فَتَخُزُوني" (Demi Allah, wahai putra pamanmu! Kamu tidaklah dilebihkan dalam hal kemuliaan keturunan di atasku, dan kamu bukanlah penguasa atasku yang dapat menundukkanku).

٤- التَّعليلُ، كقولهِ سبحانه ﴿وما نحنُ بتاركي آلهتِنا عن قولك﴾ ، أي من أجل قولك، وقولهِ ﴿وما كان استغفارُ إبراهيمَ لأبيهِ إلا عن مَوعِدةٍ وعَدَها إيّاهُ﴾ . ٥- معنى "مِن" كقوله سبحانه: ﴿وَهُوَ الذي يَقْبَلُ التوبة عَنْ عِبَادِهِ﴾ [الشورى: ٢٥] ، وقولهِ: ﴿أولئك الذين نَتَقَبَّلُ عَنْهُمْ أَحْسَنَ مَا عَمِلُواْ﴾ [الأحقاف: ١٦] ، أَي: منهم. ٦- معنى البَدَل كقولهِ تعالى ﴿واتَّقوا يوماً لا تجزي نَفسٌ عن نَفسٍ شيئاً﴾ ، أَي بَدل نفس، وكحديثِ "صومي عن أُمك"، وتقولُ "قُمْ عني بهذا الأمر"، أَي بَدَلي. واعلم أنَّ "عن" قد تكونُ اسماً بمعنى "جانِبٍ"، وذلك إذا سُبقت بِمن، كقول الشاعر [من الكامل] فَلَقَدْ أَراني لِلرِّماحِ دَريئَةً … مِنْ عَنْ يَميني تارَةً وِشمالي وقول الآخر [من الطويل] وَقُلْتُ اجعَلي ضَوْءَ الفَراقِدِ كُلِّها … يَميناً. وَمَهْوى النَّجْمِ مِنْ عَنْ شِمالِكِ ٦- عَلَى على لها ثمانيةُ مَعانٍ ١- الاستعلاءُ، حقيقةً كان، كقولهِ تعالى ﴿وعليها وعلى الفُلكِ

4- **Al-Ta'lil** (menunjukkan alasan), seperti firman-Nya yang Mahasuci: ﴿وما نحنُ بتاركي آلهتِنا عن قولك﴾ (Dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan tuhan-tuhan kami karena perkataanmu), artinya karena perkataanmu, dan firman-Nya: ﴿وما كان استغفارُ إبراهيمَ لأبيهِ إلا عن مَوعِدةٍ وعَدَها إيّاهُ﴾ (Dan permintaan ampun dari Ibrahim untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya). 5- **Bermakna "مِن"** (dari), seperti firman-Nya yang Mahasuci: ﴿وَهُوَ الذي يَقْبَلُ التوبة عَنْ عِبَادِهِ﴾ [الشورى: ٢٥] (Dan Dialah yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya), dan firman-Nya: ﴿أولئك الذين نَتَقَبَّلُ عَنْهُمْ أَحْسَنَ مَا عَمِلُواْ﴾ [الأحقاف: ١٦] (Mereka itulah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan), artinya dari mereka. 6- **Bermakna Al-Badal** (pengganti), seperti firman Allah Ta'ala: ﴿واتَّقوا يوماً لا تجزي نَفسٌ عن نَفسٍ شيئاً﴾ (Dan jagalah dirimu dari hari [kiamat] yang pada hari itu seseorang tidak dapat membela orang lain sedikit pun), artinya sebagai pengganti orang lain, dan sebagaimana hadis: "صومي عن أُمك" (Berpuasalah untuk ibumu), dan Anda mengucapkan: "قُمْ عني بهذا الأمر" (Lakukanlah urusan ini untukku), artinya sebagai penggantiku. Ketahuilah bahwa "عن" terkadang berupa *isim* yang bermakna "sisi/arah" (*janib*), yaitu jika didahului oleh "مِن", seperti perkataan penyair [dari bahar *Kamil*]: *Fa-laqad arānī lir-rimāhi darī'atan… Min 'an yamīnī tāratan wa syimālī* (Sungguh aku melihat diriku menjadi sasaran tombak… dari arah kananku sekali waktu dan dari arah kiriku). Dan perkataan penyair lainnya [dari bahar *Thawil*]: *Wa qultu ij'alī dhaw'a al-farāqidi kullihā… Yamīnan. Wa mahwā an-najmi min 'an syimālik-i* (Dan aku berkata: Jadikanlah cahaya bintang-bintang kutub seluruhnya… di sebelah kananmu, dan tempat terbenamnya bintang dari arah kirimu). 6- **عَلَى** ( 'Ala) Kata "على" memiliki delapan makna: 1- **Al-Isti'la'** (menunjukkan posisi di atas), baik secara hakiki, seperti firman Allah Ta'ala: ﴿وعليها وعلى الفُلكِ…﴾

تُحمَلونَ﴾ ، أو مجازاً، كقولهِ ﴿وفَضّلناهم بعضَهم على بعض﴾ ، ونحو "لفلانٍ عليَّ دَينٌ". والاستعلاءُ أصلُ معناها. ٢- معنى "في"، كقوله تعالى "ودخلَ المدينةَ على حين غَفلةٍ من أهلها" [القصص: ١٥] أي في حين غفلة. ٣- معنى "عن"، كقول الشاعر: [من الوافر] إذا رَضِيَتْ عَلَيَّ بَنُو قُشَيْرٍ … لَعَمْرُ اللهِ أَعْجَبَني رِضَاها أي إذا رضِيت عني. ٤- معنى اللام، التي للتعليل، كقوله تعالى ﴿ولتُكَبّروا اللهَ على ما هداكم﴾ ، أي "لهِدايتهِ إيّاكم"، وقولِ الشاعر [من الطويل] عَلامَ تَقولُ الرُّمْحُ يُثْقِلُ عاتِقي … إِذا أَنا لَمْ أَطعنْ، إذا الخَيْلُ كَرَّتِ أي لِمَ تقول؟ ٥- معنى "مَعَ"، كقولهِ تعالى ﴿وآتَى المالض على حُبّهِ﴾ ، أي معَ حُبهِ، وقولهِ ﴿وإنَّ رَبَّكَ لَذُو مَغفرةٍ للناسِ على ظُلمهم﴾ ، مع ظُلمهم. ٦- معنى "من"، كقولهِ سبحانَهُ ﴿إذا اكتالوا على الناسِ يَستَوفونَ﴾ أي اكتالوا منهم. ٧- معنى الباءِ، كقولهِ تعالى ﴿حَقيقٌ عليَّ أن لا أقولَ إلاّ الحق﴾ ، أي حقيقٌ بي، ونحو "رمَيتُ على القوس"، أي رميتُ مستعيناً بها، ونحو "اركبْ على اسمِ الله"، أي مستعيناً به.

﴿تُحمَلونَ﴾ (…di atasnya dan di atas bahtera-bahtera itu kamu diangkut), maupun secara majasi (kiasan), seperti firman-Nya: ﴿وفَضّلناهم بعضَهم على بعض﴾ (Dan Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain), dan seperti "لفلانٍ عليَّ دَينٌ" (Si fulan memiliki piutang atas diriku). Makna *al-isti'la'* adalah makna dasar dari kata ini. 2- **Bermakna "في"** (di dalam), seperti firman Allah Ta'ala: "ودخلَ المدينةَ على حين غَفلةٍ من أهلها" [القصص: ١٥] (Dan dia masuk ke kota ketika penduduknya sedang lengah), artinya di dalam waktu kelengahan. 3- **Bermakna "عن"** (dari), seperti perkataan penyair [dari bahar *Wafir*]: *Idzā radhiyat 'alayya banū Qusyairin… La-'amru Allāhi a'jabanī ridhāhā* (Jika Bani Qusyair rida kepadaku… demi Allah, keridaan mereka sungguh mengagumkanku), artinya jika mereka rida dariku. 4- **Bermakna Lam al-Ta'lil** (lam yang menunjukkan alasan), seperti firman Allah Ta'ala: ﴿ولتُكَبّروا اللهَ على ما هداكم﴾ (Dan agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu), artinya karena petunjuk-Nya kepada kalian, dan perkataan penyair [dari bahar *Thawil*]: *'Alāma taqūlu ar-rumhu yutsqilu 'ātifqī… Idzā anā lam ath'an, idzā al-khailu karrati* (Atas dasar apa kamu mengatakan bahwa tombak itu memberatkan pundakku… jika aku tidak menikamkannya ketika pasukan berkuda menyerang?), artinya mengapa kamu berkata demikian? 5- **Bermakna "مَعَ"** (bersama/beserta), seperti firman Allah Ta'ala: ﴿وآتَى المالَ على حُبّهِ﴾ (Dan memberikan harta yang dicintainya), artinya beserta kecintaannya terhadap harta itu, dan firman-Nya: ﴿وإنَّ رَبَّكَ لَذُو مَغفرةٍ للناسِ على ظُلمهم﴾ (Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar memiliki ampunan bagi manusia atas kezaliman mereka), artinya beserta kezaliman mereka. 6- **Bermakna "مِن"** (dari), seperti firman-Nya yang Mahasuci: ﴿إذا اكتالوا على الناسِ يَستَوفونَ﴾ (Apabila mereka menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi), artinya mereka menakar dari mereka. 7- **Bermakna Huruf Ba'**, seperti firman Allah Ta'ala: ﴿حَقيقٌ عليَّ أن لا أقولَ إلاّ الحق﴾ (Aku wajib tidak mengatakan sesuatu terhadap Allah, kecuali yang hak), artinya wajib bagiku, dan seperti "رمَيتُ على القوس" (Aku memanah dengan busur), artinya aku memanah dengan meminta bantuan busur tersebut, dan seperti "اركبْ على اسمِ الله" (Naiklah dengan menyebut nama Allah), artinya dengan meminta pertolongan-Nya.

٨- الاستدراكُ، كقولكَ "فلانٌ لا يدخلُ الجنةَ لِسوءِ صنيعهِ، على أنهُ لا يَيأسُ من رحمة اللهِ"، أي لكنَّهُ لا ييأسُ. ومنه قولُ الشاعر [من الطويل] بِكُلِّ تَداوَينا. فَلَمْ يَشْفِ ما بِنا … عَلى أَنَّ قُرْبَ الدَّارِ خَيْرٌ مِنَ الْبُعْدِ عَلى أَنَّ قُرْبَ الدَّارِ لَيْسَ بِنافعٍ … إِذا كانَ مَنْ تَهْواهُ لَيْسَ بِذي وُدِّ وقولُ الآخر [من الطويل] فَوَاللهِ لا أَنسى قَتيلاً رُزِئتُهُ … بِجانِبِ قَوْسى ما بَقيتُ عَلى الأَرضِ عَلى أنَّها تَعْفو الْكُلومُ، وإِنَّما … نُوَكَّلُ بالأَدنى، وَإِنْ جَلَّ ما يَمْضِي وإذا كانت للاستدراك، كانت كحرف الجر الشبيهِ بالزائد، غيرَ متعلقة بشيءٍ، على ما جنحَ إليه بعضُ المحقّقينَ. واعلم أنَّ "على" قد تكونُ اسماً للاستعلاء بمعنى "فَوْق"، وذلك إذا سُبِقتْ بِمِنْ كقوله [من الطويل]

8- **Al-Istidrak** (mengoreksi/menyusul ucapan sebelumnya), seperti ucapan Anda: "فلانٌ لا يدخلُ الجنةَ لِسوءِ صنيعهِ، على أنهُ لا يَيأسُ من رحمة اللهِ" (Si fulan tidak masuk surga karena keburukan perbuatannya, namun demikian ia tidak berputus asa dari rahmat Allah), artinya akan tetapi ia tidak berputus asa. Di antaranya adalah perkataan penyair [dari bahar *Thawil*]: *Bi-kullin tadāwainā. Fa-lam yasyfi mā binā… 'Alā anna qurba ad-dāri khairun mina al-bu'di* (Dengan segala cara kami berobat, namun tidak menyembuhkan apa yang ada pada kami… meskipun dekatnya rumah itu lebih baik daripada jauhnya). *'Alā anna qurba ad-dāri laisa bi-nāfi'in… Idzā kāna man tahwāhu laisa bi-dzī wuddi* (Meskipun dekatnya rumah itu tidaklah bermanfaat… jika orang yang kamu cintai tidak memiliki rasa kasih). Dan perkataan penyair lainnya [dari bahar *Thawil*]: *Fa-wallāhi lā ansā qatīlan ruz'tuhū… Bi-jānibi qausā mā baqītu 'alā al-ardhi* (Maka demi Allah, aku tidak akan melupakan orang terbunuh yang membuatku berduka… di sisi Qausa selama aku masih hidup di bumi). *'Alā annahā ta'fū al-kulūmu, wa innamā… Nuwakkalu bil-adnā, wa in jalla mā yamdhī* (Meskipun luka-luka itu akan sembuh, namun sesungguhnya… kita diserahkan pada hal yang paling dekat, walaupun apa yang telah berlalu itu sangat besar). Jika ia berfungsi sebagai *al-istidrak*, maka ia berkedudukan seperti *huruf jer syabih bil-za'id* (huruf jer yang menyerupai tambahan), tidak berkaitan (*muta'alliq*) dengan apa pun, berdasarkan pendapat yang cenderung dipilih oleh sebagian ulama peneliti (*muhaqqiqin*). Ketahuilah bahwa "على" terkadang berupa *isim* untuk menunjukkan posisi di atas yang bermakna "فَوْق" (di atas), yaitu jika didahului oleh "مِنْ", seperti perkataan penyair [dari bahar *Thawil*]:

"غَدَتْ مِنْ عَلَيْهِ … بَعْدَ ما تَمَّ ظِمْؤُها" أي من فوقه، وتقولُ "سقطَ من على الجبل". ٧- في في لها سبعةُ مَعانٍ ١- الظرفيّةُ، حقيقيّةً كانت، نحو "الماءُ في الكوز. سرتُ في النّهار". وقد اجتمعت الظرفيّتانِ الزمانيّة والمكانيّةُ في قولهِ تعالى ﴿غُلبتِ الرُّومُ في أَدنى الأرض. وهم مِن بَعْدِ غَلَبِهمَ سَيَغلِبونَ في بِضعِ سنينَ﴾ ، أَو مجازيَّةً، كقوله سبحانه ﴿ولَكُم في رسول اللهِ أُسوةٌ حسنةٌ﴾ ، وقولهِ ﴿ولَكُم في القصاصِ حياةٌ﴾ . ٢- السببيّة والتّعليلُ، كقولهِ تعالى ﴿لَمَسّكم فيما أَفضتُم فيه عذابٌ عظيم﴾ أي بسبب ما أَفضتم فيه. ومنه الحديثُ "دخلتِ امرأَةٌ النارَ في هِرَّةٍ حَبَستها" أي بسبب هِرَّةٍ. ٣- معنى "معَ" كقولهِ تعالى ﴿قال ادخلوا في أمَمٍ قد خَلَت من قبلكم﴾ أي مَعَهم. ٤- الاستعلاءُ – بمعنى "عَلى" – كقولهِ تعالى ﴿لأصلبنّكُم في جُذوعِ النّخلِ﴾ ، أي عليها. ٥- المُقايَسةُ – وهيَ الواقعةُ بينَ مفضولٍ سابقٍ وفاضلٍ لاحقٍ، كقولهِ تعالى ﴿فما مَتاعُ الدنيا في الآخرةِ إلا قليلٌ﴾ ، أي بالقياس على الآخرة والنسبة إليها. ٦- معنى الباءِ، التي للالصاقِ، كقول الشاعر [من الطويل]

"غَدَتْ مِنْ عَلَيْهِ … بَعْدَ ما تَمَّ ظِمْؤُها" (Ia berangkat dari bagian atasnya… setelah genap dahaganya), yakni dari atasnya (*min fauqihi*), dan Anda katakan: *سقطَ من على الجبل* (*saqatha min 'ala al-jabali* – Ia jatuh dari atas gunung). 7- *فِي* (*Fi*) *في* (*fi*) memiliki tujuh makna: 1- *Adh-Dharfiyyah* (wadah/penampung), baik secara hakiki (*haqiqiyyah*), seperti: *الماءُ في الكوز* (*al-maa'u fi al-kuuzi* – Air itu ada di dalam cangkir) dan *سرتُ في النّهار* (*sirtu fi an-nahaari* – Aku berjalan di waktu siang). Kedua jenis *dharfiyyah* (زمانية / waktu dan مكانية / tempat) ini berkumpul dalam firman Allah Ta'ala: ﴿غُلبتِ الرُّومُ في أَدنى الأرض. وهم مِن بَعْدِ غَلَبِهمَ سَيَغلِبونَ في بِضعِ سنينَ﴾ (Bangsa Rum telah dikalahkan di negeri yang terdekat dan mereka setelah kekalahannya itu akan menang dalam beberapa tahun lagi). Atau secara kiasan (*majaaziyyah*), seperti firman Allah yang Mahasuci: ﴿ولَكُم في رسول اللهِ أُسوةٌ حسنةٌ﴾ (Sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik) dan firman-Nya: ﴿ولَكُم في القصاصِ حياةٌ﴾ (Dan bagi kalian dalam hukum qishas itu ada kehidupan). 2- *As-Sababiyyah wa at-Ta'lil* (sebab dan pengalasan), sebagaimana firman Allah Ta'ala: ﴿لَمَسّكم فيما أَفضتُم فيه عذابٌ عظيم﴾ (Niscaya kamu ditimpa azab yang besar disebabkan oleh pembicaraan yang kamu satukan padanya). Di antaranya pula hadis: *دخلتِ امرأَةٌ النارَ في هِرَّةٍ حَبَستها* ("Seorang wanita masuk neraka disebabkan seekor kucing yang dikurungnya"). 3- Bermakna *مَعَ* (*ma'a* – bersama), sebagaimana firman Allah Ta'ala: ﴿قال ادخلوا في أمَمٍ قد خَلَت من قبلكم﴾ (Allah berfirman: Masuklah kamu bersama umat-umat yang telah berlalu sebelum kamu). 4- *Al-Isti'la'* (keatas) — yakni bermakna *عَلى* (*'ala*) —, sebagaimana firman Allah Ta'ala: ﴿لأصلبنّكُم في جُذوعِ النّخلِ﴾ (Sungguh aku akan menyalib kamu pada pangkal pohon kurma), yakni di atasnya. 5- *Al-Muqaayasah* (komparasi/perbandingan) — yaitu yang terletak di antara hal kurang utama yang terdahulu (*mafdhul*) dan hal utama yang menyusul (*faadhil*) —, sebagaimana firman Allah Ta'ala: ﴿فما مَتاعُ الدنيا في الآخرةِ إلا قليلٌ﴾ (Padahal kenikmatan hidup di dunia ini dibandingkan dengan kehidupan akhirat hanyalah sedikit). 6- Bermakna huruf *baa'* yang berfungsi *ilshaq* (penelempelan/penempelan dekat), sebagaimana ucapan penyair:

ويَرْكَبُ يَوْمَ الرَّوْعِ مِنَّا فَوارِسٌ … بَصيرُونَ في طَعْنِ الأَباهِرِ والْكُلى أي بصيرونَ بطعنِ الأباهر. ٧- معنى "إلى" كقولهِ تعالى ﴿فَرَدُّوا أيديَهم في أفواههم﴾ . ٨- الكاف الكافُ لها أَربعةُ معانٍ ١- التشبيهُ، وهو الأصلُ فيها، نحو "عليٌّ كالأسد". ٢- التّعليلُ، كقوله تعالى ﴿واذكرُوهُ كما هداكم﴾ ، أَي لهدايتهِ إيّاكم. وجعلوا منه قوله تعالى ﴿وَيْ كأنّهُ لا يُفلحُ الكافرون!﴾ . أَي أعجبُ أَو تَعجّبْ لعَدم فلاحهم. فالكافُ حرف جر بمعنى اللام، وأنَّ هي الناصبةُ الرافعة. ٣- معنى "على" نحو "كُنْ كما أَنتَ"، أَي كُن ثابتاً على ما أنت عليه. ٤- التّوكيدُ – وهي الزائدةُ في الإعراب – كقولهِ تعالى ﴿ليس كمِثلهِ شيءٌ﴾ ، أي ليس مِثلهُ شيءٌ، وقولِ الرَّاجز يَصفُ خيلاً ضوامرَ "لَواحِقُ الأقرابِ، فيها كالمقَق". واعلم أَنَّ الكاف قد تأتي اسماً بمعنى "مِثلٍ"، كقول الشاعر [من البسيط]

"وَيَرْكَبُ يَوْمَ الرَّوْعِ مِنَّا فَوَارِسٌ … بَصِيرُونَ فِي طَعْنِ الْأَبَاهِرِ وَالْكُلَى" (Dan pada hari pertempuran yang menakutkan, para penunggang kuda dari kalangan kami menunggangi kudanya, mereka adalah orang-orang yang ahli dalam menusuk pembuluh nadi punggung dan ginjal). Yaitu bermakna: "بَصِيرُونَ بِطَعْنِ الْأَبَاهِرِ" (ahli dalam menusuk pembuluh nadi punggung). 7. Membawa makna "إِلَى" (*ila*), seperti firman Allah Ta'ala: ﴿فَرَدُّوا أَيْدِيَهُمْ فِي أَفْوَاهِهِمْ﴾ (Lalu mereka menutupkan tangannya ke mulutnya). 8. Huruf *Kaf* (*Al-Kaf*): Huruf *Kaf* memiliki empat makna: 1. Penyerupaan (*at-tasybih*), dan ini adalah makna asalnya, seperti: "عَلِيٌّ كَالْأَسَدِ" (Ali seperti singa). 2. Alasan (*at-ta'lil*), seperti firman Allah Ta'ala: ﴿وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ﴾ (Dan sebutlah nama Allah sebagaimana Dia telah memberi petunjuk kepadamu), yaitu karena petunjuk-Nya kepada kalian. Para ulama juga memasukkan firman Allah Ta'ala ke dalam makna ini: ﴿وَيْكَأَنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ﴾ (Aduhai, benarlah tidak beruntung orang-orang yang kafir itu!), yaitu bermakna: "Aku heran atau heranlah atas ketidakberuntungan mereka". Maka huruf *Kaf* di sini adalah *huruf jar* yang bermakna *lam*, sedangkan "أَنَّ" (*anna*) adalah partikel penashab dan perafa' (*an-nashibah ar-rafi'ah*). 3. Membawa makna "عَلَى" (*'ala*), seperti: "كُنْ كَمَا أَنْتَ" (Jadilah kamu sebagaimana keadaanmu), yaitu jadilah kamu orang yang tetap teguh di atas keadaanmu sekarang. 4. Penegasan (*at-taukid*)—yaitu huruf tambahan (*al-za'idah*) dalam kedudukan *i'rab*—seperti firman Allah Ta'ala: ﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ﴾ (Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia), yaitu bermakna: "لَيْسَ مِثْلَهُ شَيْءٌ". Dan seperti ucapan penyair *rajaz* yang menyifati kuda-kuda yang ramping: "لَوَاحِقُ الْأَقْرَابِ، فِيهَا كَالْمَقَقِ" (Kuda-kuda yang ramping perutnya, padanya terdapat sifat tinggi yang sangat). Ketahuilah bahwa huruf *Kaf* terkadang datang sebagai *isim* yang bermakna "مِثْل" (*mitsl* – seperti), sebagaimana ucapan penyair [dari bahar *Basith*]:

أَتَنتَهونَ؟ وَلَنْ يَنْهى ذّوي شَطَطٍ … كَالطَّعْنِ يَذْهَبُ فيهِ الزَّيتُ والفُتُلُ وقول الراجز [من الرجز] "يّضْحَكْنَ عَنْ أسنان كَالبَرَدِ المُنْهَمِّ" ومنهُ قول المُتنبي [من الطويل] وَما قَتَلَ الأَحرارَ كَالْعَفْوِ عَيْنُهمْ … ومَنْ لَكَ بالحُرِّ الَّذِي يَحْفَظُ الْيَدا ومن العلماءِ من خصَّ ورودَ اسماً بضرورة الشعر. ومنهم من أَجازهُ في الشعر والنثرِ، كالأخفش وأبي علي الفارسي وابن مالكٍ وغيرهم. ويشهدُ لهم قولهُ تعالى، عن لسان المسيح، ﵇، في سُورة آل عمرانَ ﴿أني أخلُقُ لَكم من الطّين كهيئةِ الطير، فأنفُخُ فيه فيكونُ طيراً بإذنِ اللهِ﴾ أي مثلَ هيئةِ الطير. فالكاف اسمٌ بمعنى "مثل"، وهي في محلّ نصبٍ على أنها مفعولٌ به لأخلُقُ. والضميرُ في "فيه" يعود على هذه الكاف الاسميّة، لأنَّ مدلولها مُذكَّرٌ وهو "مِثل". ولو لم تُجعل الكاف هنا بمعنى "مِثل"…. الضميرُ بلا مرجع، لأنهُ لا يجوزُ أن يعود إلى "الطير"، لأن النفخ ليس في الطير نفسه، وإنما هو فيما يُشبهُهُ، ولا على هيئة، لأنها مؤنثة. وقد

Apakah kalian akan berhenti? Dan tidak ada yang dapat menghentikan orang-orang yang melampaui batas… seperti tikaman yang menembus minyak dan sumbu di dalamnya. Dan bait penyair *rajaz* [dari bahar *rajaz*]: *"Yaḍḥakna 'an asnānin kal-baradi al-munhammi"* ("Mereka tersenyum memperlihatkan gigi-gigi seperti hujan es yang mencair"). Di antaranya pula ucapan Al-Mutanabbi [dari bahar *ṭawīl*]: *Wa mā qatala al-aḥrāra kal-'afwi 'ainuhum… wa man laka bil-ḥurri allażī yaḥfaẓu al-yadā* ("Dan tidak ada yang menundukkan orang-orang merdeka sebagaimana dimaafkan dirinya secara langsung… dan siapakah bagimu orang merdeka yang senantiasa menjaga budi baik?"). Sebagian ulama mengkhususkan kedatangan huruf *kāf* sebagai *isim* hanya pada darurat syi'ir (*ḍarūrat asy-syi'r*). Namun sebagian ulama lain membolehkannya baik dalam syi'ir maupun prosa (*natsr*), seperti Al-Akhfasy, Abu 'Ali Al-Farisi, Ibn Malik, dan lainnya. Hal ini dikuatkan oleh firman Allah Ta'ala melalui lisan Nabi Isa 'Alaihissalam dalam Surah Ali 'Imran: ﴿أَنِّي أَخْلُقُ لَكُمْ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ فَأَنْفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِ اللهِ﴾ (*Annī akhluqu lakum mina aṭ-ṭīni ka-hai'ati aṭ-ṭairi fa-anfukhu fīhi fa-yakūnu ṭairan bi-iżnillāh* – "Sesungguhnya aku membuatkan untukmu dari tanah berbentuk seperti burung, lalu aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan izin Allah"), yaitu: *mitsla hai'ati aṭ-ṭair* (seperti bentuk burung). Maka huruf *kāf* di sini adalah *isim* yang bermakna *"mitsl"* (seperti), dan ia berada *fī maḥalli naṣb* (dalam kedudukan naṣab) sebagai *maf'ūl bih* bagi kata *akhluqu*. Kata ganti (*ḍamīr*) pada kata *"fīhi"* kembali kepada *kāf ismīyah* ini, karena acuannya bersifat *mużakkar* yaitu kata *"mitsl"*. Sekiranya *kāf* di sini tidak dijadikan bermakna *"mitsl"*, niscaya kata ganti tersebut tidak memiliki acuan rujukan (*marji'*), karena tidak boleh kembali kepada kata *"aṭ-ṭair"* disebabkan peniupan bukan pada burung itu sendiri melainkan pada sesuatu yang menyerupainya, dan tidak pula kepada kata *"hai'ah"* karena ia bersifat *mu'annats*. Dan sungguh…

أعاد الضمير على الهيئة، في سورة المائدة، وهو قولهُ تعالى ﴿وإذْ تَخلُقُ من الطين كهيئة الطير بإذني، فتنفخُ فيها فتكونُ طيراً بإذني﴾ . ٩- اللاَّم اللامُ لها خمسةَ عشرَ معنى ١- الملِكُ – وهي الداخلة بين ذاتينِ، ومصحوبُها يَملِكُ – كقوله تعالى ﴿للهِ ما في السَّمواتِ والأرضِ﴾ ، ونحو "الدارُ لسعيدٍ". ٢- الاختصاصُ، وتُسمَّى لامَ الاختصاصِ، ولامَ الاستحقاقِ – وهي الداخلة بين معنًى وذات – نحو "الحمدُ للهِ" والنجاحُ للعاملين, ومنه قولهم "الفصاحةُ لِقُرَيشٍ، والصبّاحةُ لِبَني هاشمٍ". ٣- شِبهُ المِلك. وتُسمّى لامَ النسبة – وهي الدَّاخلة بينَ ذاتينِ، ومصحوبُها لا يملِكُ – نحو "اللجامُ للفرَس". ٤- التّبيينُ، وتُسمّى "اللاّمَ المُبيّنة"، لأنها تُبيِّنُ "أن مصحوبَها مفعولٌ لما قبلَها"، من فعل تعَجُّبٍ أو اسمِ تفضيل، نحو "خالدٌ أحب لي من سعيدٍ. ما أحبّني للعلم!. ما أحملَ عليّاً للمصائب! ". فما بعدَ اللام هو المفعول به. وإنما تقول "خالدٌ أحب لي من سعيد"، إذا كان هو المُحبَّ وأنت المحبوب. فإذا أردت العكسَ قلت "خالدٌ أحبُّ إليَّ من سعيد"، كما قال تعالى ﴿ربِّ السجنُ أحبُّ إليَّ﴾ وقد سبقَ هذا في "إلى". ٥- التّعليلُ والسببيَّةُ، كقوله تعالى ﴿إنَّا أنزلنا إليكَ الكتابَ بالحقِّ لتحكُمَ بينَ الناسِ بما أراكَ الله﴾ ، وقولِ الشاعر [من الطويل] وإِنِّي لَتَعْروني لِذِكْراكِ هزَّةٌ … كما انْتَفَضَ الْعُصْفورُ بَلَّلَهُ القَطْرُ

…kembalinya kata ganti (*dhamir*) kepada bentuk (*al-hai'ah*) dalam Surah Al-Ma'idah, yaitu firman Allah Ta'ala: "وإذْ تَخلُقُ من الطين كهيئة الطير بإذني، فتنفخُ فيها فتكونُ طيراً بإذني" (Dan ketika kamu membuat dari tanah berbentuk seperti burung dengan izin-Ku, kemudian kamu meniupnya, lalu menjadi burung dengan izin-Ku). **9. Huruf *Lam*** Huruf *lam* (اللام) memiliki lima belas makna: (1) Kepemilikan (*al-milk*)—yaitu *lam* yang masuk di antara dua zat, di mana kata yang disertai *lam* tersebut bertindak sebagai pemilik—seperti firman Allah Ta'ala: "للهِ ما في السَّمواتِ والأرضِ" (Milik Allah-lah apa yang ada di langit dan di bumi), dan seperti: "الدارُ لسعيدٍ" (Rumah itu milik Sa'id). (2) Pengkhususan (*al-ikhtishash*), disebut juga *lam al-ikhtishash* atau *lam al-istihqaq* (kelayakan)—yaitu *lam* yang masuk di antara makna (abstrak) dan zat—seperti: "الحمدُ للهِ" (Segala puji bagi Allah) dan "النجاحُ للعاملين" (Kesuksesan bagi orang-orang yang bekerja). Di antaranya adalah ucapan mereka: "الفصاحةُ لِقُرَيشٍ، والصبّاحةُ لِبَني هاشمٍ" (Kefasihan itu khusus bagi suku Quraisy, dan ketampanan/kecantikan itu khusus bagi Bani Hasyim). (3) Menyerupai kepemilikan (*syibh al-milk*), disebut juga *lam al-nisbah* (penisbatan)—yaitu *lam* yang masuk di antara dua zat, di mana kata yang disertai *lam* tersebut tidak memiliki kemampuan untuk memiliki—seperti: "اللجامُ للفرَس" (Tali kekang itu untuk kuda). (4) Penjelasan (*al-tabyin*), disebut juga *lam al-mubayyinah* (lam penjelas), karena ia menjelaskan "bahwa kata yang disertai *lam* tersebut berkedudukan sebagai *maf'ul* (objek) bagi kata sebelumnya", baik berupa *fi'il ta'ajjub* (kata kerja kekaguman) maupun *isim tafdhil* (kata komparatif), seperti: "خالدٌ أحب لي من سعيدٍ" (Khalid lebih mencintaiku daripada Sa'id), "ما أحبّني للعلم!" (Alangkah cintanya aku pada ilmu!), dan "ما أحملَ عليّاً للمصائب!" (Alangkah sabarnya Ali menghadapi musibah!). Kata setelah *lam* tersebut berkedudukan sebagai *maf'ul bih*. Anda mengucapkan "خالدٌ أحب لي من سعيد" jika dialah yang mencintai dan Anda yang dicintai. Namun, jika Anda menghendaki makna sebaliknya, Anda mengucapkan: "خالدٌ أحبُّ إليَّ من سعيد" (Khalid lebih aku cintai daripada Sa'id), sebagaimana firman Allah Ta'ala: "ربِّ السجنُ أحبُّ إليَّ" (Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai). Pembahasan ini telah berlalu pada bagian huruf "إلى" (*ila*). (5) Alasan (*al-ta'lil*) dan sebab (*al-sababiyyah*), seperti firman Allah Ta'ala: "إنَّا أنزلنا إليكَ الكتابَ بالحقِّ لتحكُمَ بينَ الناسِ بما أراكَ الله" (Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu), dan perkataan penyair [dari bahar *thawil*]: "Dan sesungguhnya benar-benar menyerangku karena mengingatmu suatu kegoncangan… sebagaimana bergetarnya burung pipit yang dibasahi oleh rintik hujan."

ومنهُ اللامُ الثانيةُ في قولكَ "يالَلنَّاسِ لِلمظلوم! ". ٦- التوكيدُ – وهي الزائدة في الإعراب لمُجرَّد توكيد الكلام – كقول الشاعر [من الكامل] وَمَلَكْتَ ما بَيْنَ الْعِراقِ ويَثْرِبٍ … مُلْكاً أَجارَ لُمسْلِمٍ ومُعاهِدِ ونحو "يا بُؤسَ لِلحرب! ". ومنهُ لامُ المُستغاث، نحو "يا لَلفضيلة! " ويه لا تَتعلَّق بشيءٍ، لأنَّ زيادتها لمجرَّد التوكيد. ٧- التّقويةُ – وهيَ التي يُجاءُ بها زائدةً لتقويةِ عاملٍ ضَعُف بالتأخيرِ، بكونه غيرَ فعلٍ. فالأول كقولهِ تعالى ﴿الذينَ هم لربهم يَرهبُون﴾ وقوله ﴿إن كنتم للرُّؤْيا تَعبُرونَ﴾ . والثاني كقوله سبحانه ﴿مُصَدِّقاً لِما مَعَهمْ﴾ وقولهِ ﴿فعّالٌ لِما يُريدُ﴾ . وهي – معَ كونها زائدةً – مُتعلّقةٌ بالعامل الذي قوَّتهُ، لأنها – مع زيادتها – أفادته التَّقوية، فليست زائدةً مَحضة. وقيل هي كالزائدة المحضة، فلا تتعلَّق بشيء. ٨- انتهاءُ الغاية – أي معنى "إلى" – كقوله سبحانه ﴿كلٌّ يجري لأجل مُسمًّى﴾ ، أي إليه، وقولهِ ﴿ولو رُدُّوا لعادوا لِما نُهُوا عنه﴾ ، وقولهِ ﴿بأنّ ربكَ أوحى لها﴾ . ٩- الاستغاثةُ وتُستعمَلُ مفتوحةً معَ المستغاث، ومكسورةً معَ المُستغاثِ لهُ، نحو "يا لَخالِدٍ لِبَكر! ". ١٠- التعجبُ وتُستعملُ مفتوحةً بعد "يا" في نداءِ المُتعجَّب منه،

…dan di antaranya adalah huruf *lam* kedua dalam ucapan Anda: يَا لَلنَّاسِ لِلْمَظْلُومِ (Wahai manusia, tolonglah orang yang dizalimi!). 6. *Al-Taukid* (penguat) — yaitu huruf tambahan (*za'idah*) dalam *i'rab* semata-mata untuk menguatkan pembicaraan — seperti perkataan penyair [bahr Kamil]: *Wa-malakta mā bayna al-‘Irāqi wa-Yathriba… mulkan ajāra li-muslimin wa-mu‘āhadi* (Dan kamu telah menguasai wilayah antara Irak dan Yatsrib… dengan kekuasaan yang melindungi orang muslim dan orang yang terikat perjanjian). Dan seperti ucapan: يَا بُؤْسَ لِلْحَرْبِ (Aduhai celakanya perang!). Di antaranya adalah huruf *lam* pada kata yang dimintai pertolongan (*al-mustaghath*), seperti: يَا لَلْفَضِيلَةِ (Wahai keutamaan!). Huruf *lam* ini tidak berkaitan (*ta'alluq*) dengan apa pun, karena penambahannya semata-mata untuk penguat (*taukid*). 7. *Al-Taqwiyah* (penguat amil) — yaitu huruf yang didatangkan sebagai tambahan untuk menguatkan *'amil* (faktor yang memengaruhi i'rab) yang melemah karena diakhirkan atau karena ia bukan berupa *fi'il*. Contoh pertama (karena diakhirkan) adalah firman Allah Ta'ala: الَّذِينَ هُمْ لِرَبِّهِمْ يَرْهَبُونَ (Orang-orang yang takut kepada Tuhannya) dan firman-Nya: إِنْ كُنْتُمْ لِلرُّؤْيَا تَعْبُرُونَ (Jika kamu dapat menakwilkan mimpi). Contoh kedua (karena bukan fi'il) adalah firman Allah Ta'ala: مُصَدِّقاً لِمَا مَعَهُمْ (Yang membenarkan apa yang ada pada mereka) dan firman-Nya: فَعَّALUN LIMA YURID (Maha Kuasa berbuat apa yang Dia kehendaki). Huruf *lam* ini — meskipun berstatus tambahan — tetap berkaitan (*muta'alliqah*) dengan *'amil* yang dikuatkannya, karena di samping statusnya sebagai tambahan, ia memberikan faedah penguatan bagi *'amil* tersebut, sehingga ia bukan tambahan murni. Ada pula pendapat yang menyatakan bahwa ia seperti tambahan murni sehingga tidak berkaitan dengan apa pun. 8. *Intiha' al-Ghayah* (batas akhir tujuan) — yaitu bermakna إِلَى (ke/hingga) — seperti firman Allah Ta'ala: كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمَّىً (Masing-masing beredar sampai waktu yang ditentukan), yaitu إِلَيْهِ (kepadanya), firman-Nya: وَلَوْ رُدُّوا لَعَادُوا لِمَا نُهُوا عَنْهُ (Sekiranya mereka dikembalikan, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka dilarang darinya), dan firman-Nya: بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَى لَهَا (Karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan kepadanya). 9. *Al-Istighatsah* (meminta pertolongan) — huruf *lam* ini digunakan dengan harakat fathah bersama kata yang dimintai pertolongan (*al-mustaghath*), dan dengan harakat kasrah bersama kata yang dibela (*al-mustaghath lahu*), seperti: يَا لَخَالِدٍ لِبَكْرٍ (Wahai Khalid, tolonglah Bakr!). 10. *Al-Ta'ajjub* (kekaguman) — huruf *lam* ini digunakan dengan harakat fathah setelah kata يَا dalam panggilan terhadap sesuatu yang dikagumi (*al-muta'ajjab minhu*)…

نحو "يا لَلفرَحِ! "، ومنهُ قول الشاعر [امرئ القيس – من الطويل] فَيا لَكَ مِنْ لَيْلٍ! كأنَّ نُجُومَهُ … بِكُلِّ مُغارِ الْفَتْل شُدَّتْ بِيَذْبُلِ وتُستعملُ في غير النداءِ مكسورةٌ، نحو "للهِ دَرُّهُ رجلاً! "، ونحو "للهِ ما يفعلُ الجهلُ بالأممِ! ". ١١- الصّيرورةُ (وتُسمَّى لامَ العاقبةِ ولامَ المآلِ أيضاً) وهي التي تدلُّ على أنَّ ما بعدَها يكونُ عاقبةً لِمَا قبلها ونتيجةً له، عِلةَّةً في حصوله. وتخالفُ لامَ التَّعليل في أنّ ما قبلها لم يكن لأجل ما بعدها، ومنه قوله تعالى ﴿فالتقطهُ آلُ فِرعونَ ليكونَ لهم عدواً وحَزَناً﴾ ، فَهُم لم يلتقطوهُ لذلك، وإنما التقطوهُ فكانتِ العاقبةُ ذلك. قال الشاعر [من الوافر] لِدُوا لِلْمَوْتِ، وَابنُوا لِلْخرابِ … فَكُلُّكُمء يَصيرُ إِلى الذَّهابِ فالإنسان لا يَلِدُ للموت، ولا يبني للخراب، وإنما تكونُ العاقبةُ كذلك. ١٢- الاستعلاءُ – أي معنى "على" – إما حقيقةً كقوله تعالى ﴿يَخِرُّونَ للأذقانِ سُجَّداً﴾ ، وقولِ الشاعر [من الطويل] ضَمَمْتُ إِليهِ بالسِّنانِ قميصَهُ … فَخَرَّ صَريعاً لِلْيَدَيْنِ ولِلفَم

…seperti contoh: "يا لَلفرَحِ!" (*Ya lal-farahi!* – "Aduhai alangkah gembiranya!"). Di antaranya adalah perkataan penyair [Imru' al-Qais – dari bahar *Thawil*]: "فَيا لَكَ مِنْ لَيْلٍ! كأنَّ نُجُومَهُ … بِكُلِّ مُغارِ الْفَتْل شُدَّتْ بِيَذْبُلِ" (*Fa-ya laka min lailin! Ka-anna nujumahu… bi-kulli mugharin-fatli syuddat bi-Yadbulin* – "Aduhai alangkah panjangnya malam ini! Seolah-olah bintang-intangnya diikat dengan tali yang sangat kuat pada gunung Yadbul"). Dan ia digunakan pada selain panggilan (*nida'*) dalam keadaan dibaca kasrah, seperti contoh: "للهِ دَرُّهُ رجلاً!" (*Lillahi darruhu rajulan!* – "Hanya milik Allah-lah kebaikannya sebagai seorang lelaki!"), dan seperti: "للهِ ما يفعلُ الجهلُ بالأممِ!" (*Lillahi ma yaf'alul-jahlu bil-umami!* – "Hanya milik Allah-lah apa yang diperbuat oleh kebodohan terhadap umat-umat!"). 11. **As-Shairurah (Perubahan Keadaan):** (Disebut juga *Lam al-'Aqibah* [lam akibat] dan *Lam al-Ma'al* [lam tempat kembali]). Yaitu huruf *lam* yang menunjukkan bahwa apa yang berada setelahnya merupakan akibat dan hasil dari apa yang berada sebelumnya, bukan sebagai alasan (*'illah*) terjadinya hal tersebut. Ia berbeda dengan *Lam at-Ta'lil* (lam alasan) dari sisi bahwa apa yang berada sebelumnya tidak terjadi demi apa yang berada setelahnya. Di antaranya adalah firman Allah Ta'ala: ﴿فالتقطهُ آلُ فِرعونَ ليكونَ لهم عدواً وحَزَناً﴾ (*Faltaqathahu alu Fir'awna liyakuna lahum 'aduwwan wa hazanan* – "Maka dia dipungut oleh keluarga Firaun agar dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka"). Mereka tidak memungutnya untuk tujuan tersebut, melainkan mereka memungutnya lalu akibatnya menjadi demikian. Penyair berkata [dari bahar *Wafir*]: "لِدُوا لِلْمَوْتِ، وَابنُوا لِلْخرابِ … فَكُلُّكُمء يَصيرُ إِلى الذَّهابِ" (*Lidu lil-mauti, wabnu lil-kharabi… fa-kullukum yasiru iladz-dzahabi* – "Melahirkanlah kalian untuk kematian, dan membangunlah kalian untuk kehancuran, karena kalian semua pasti akan pergi"). Manusia tidak melahirkan anak untuk kematian, tidak pula membangun bangunan untuk kehancuran, melainkan akibat akhirnya lah yang akan menjadi demikian. 12. **Al-Isti'la' (Menunjukkan Ketinggian):** Yaitu bermakna "على" (*'ala* – di atas), baik secara hakiki, sebagaimana firman Allah Ta'ala: ﴿يَخِرُّونَ للأذقانِ سُجَّداً﴾ (*Yakhirruna lil-adzqani sujjadan* – "Mereka menyungkurkan wajah mereka sambil bersujud"), maupun perkataan penyair [dari bahar *Thawil*]: "ضَمَمْتُ إِليهِ بالسِّنانِ قميصَهُ … فَخَرَّ صَريعاً لِلْيَدَيْنِ ولِلفَم" (*Dhamamtu ilaihi bis-sinani qamishahu… fa-kharra shari'an lil-yadaini wa lil-fami* – "Aku merapatkan baju besinya kepadanya dengan ujung tombak, lalu ia pun tersungkur roboh di atas kedua tangan dan mulutnya").

وإمّا مجازاً كقوله تعالى ﴿إن أسأتُم فَلَها﴾ ، أي فعليها إساءتُها، كما قال في آية أخرى ﴿وإن أسأتُم فعليها﴾ . ١٣- الوقتُ (وتُسمَّى لامَ الوقت ولامَ التاريخ) نحو "هذا الغلامُ لِسنةٍ"، أي مرَّت عليه سَنةٌ. وهي عندَ الإطلاق تدلُّ على الوقت الحاضر، نحو "كتبتُهُ لِغُرَّةِ شهر كذا"، أي عند غُرّتِهِ، أو في غُرَّتهِ. وعندَ القرينة تدلُّ على المُضيِّ أو الاستقبال، فتكونُ بمعنى "قبَلٍ" أو "بَعدٍ"، فالأولُ كقولك "كتبتُهُ لستٍّ بَقينَ من شهر كذا"، أي قبلها، والثاني كقولك "كتبتُهُ لخمسٍ خَلَوْن من شهر كذا"، أي بعدها. ومنهُ قولهُ تعالى ﴿أقمِ الصّلاةَ لِدلوكِ الشمس﴾ ، أي بعدَ دلُوكها. ومنه حديثُ "صُوموا لِرُؤيتهِ وأفطِروا لِرؤيته"، أي بعد رؤيته. ١٤- معنى "معَ"، كقول الشاعر [من الطويل] فَلَمَّا تَفَرَّقْنا كأَنِّي ومالِكاً … – لِطولِ اجتماعٍ – لم نَبِتْ ليْلَةً مَعا ١٥- معنى "في"، كقوله تعالى ﴿ويَضَعُ الموازينَ القسطَ ليومِ القِيامة﴾ ، أي فيها، وقولهِ ﴿لا يُجلّيها لوقتها إلاّ هُو﴾ ، أي في وقتها. ومنه قولهم "مضى لسبيله"، أي في سبيلهِ. ١٠ و١١- الواوُ والتَّاءُ والواوُ والتاءُ تكونان للقسم، كقوله تعالى ﴿والفجرِ وليالٍ عَشرٍ﴾ ، وقولهِ ﴿تاللهِ لأكيدَنَّ أصنامَكم﴾ . والتاءُ لا تدخُلُ إلا على لفظ الجلالة. والواوُ تدخلُ على كل مقسم به.

… dan adakalanya secara majas (*majazan*), seperti firman Allah Ta'ala: "إن أسأتُم فَلَها" (Jika kamu berbuat jahat, maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri), yaitu: maka kejahatan itu akan kembali menimpa dirinya sendiri, sebagaimana Dia berfirman dalam ayat yang lain: "وإن أسأتُم فعليها" (Dan jika kamu berbuat jahat, maka kejahatan itu akan kembali menimpa dirimu sendiri). 13. Waktu (dan dinamakan *Lam al-Waqt* [Lam penunjuk waktu] atau *Lam al-Tarikh* [Lam penunjuk tanggal]), seperti: "هذا الغلامُ لِسنةٍ" (Anak ini berumur satu tahun), yaitu telah berlalu atasnya satu tahun. Lam ini ketika digunakan secara mutlak menunjukkan waktu sekarang, seperti: "كتبتُهُ لِغُرَّةِ شهر كذا" (Aku menulisnya pada awal bulan ini), yaitu di awal bulan tersebut atau pada awal bulannya. Dan ketika terdapat petunjuk (*qarinah*), ia menunjukkan masa lampau atau masa depan, sehingga ia bermakna "sebelum" (*qabla*) atau "sesudah" (*ba'da*). Contoh pertama seperti ucapanmu: "كتبتُهُ لستٍّ بَقينَ من شهر كذا" (Aku menulisnya ketika tersisa enam hari dari bulan ini), yaitu sebelum tersisa enam hari. Contoh kedua seperti ucapanmu: "كتبتُهُ لخمسٍ خَلَوْن من شهر كذا" (Aku menulisnya setelah berlalu lima hari dari bulan ini), yaitu sesudahnya. Di antaranya adalah firman Allah Ta'ala: "أقمِ الصّلاةَ لِدلوكِ الشمس" (Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir), yaitu setelah tergelincirnya matahari. Di antaranya pula adalah hadis: "صُوموا لِرُؤيتهِ وأفطِروا لِرؤيته" (Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah kalian karena melihat hilal), yaitu setelah melihatnya. 14. Bermakna "bersama" (*ma'a*), seperti perkataan penyair [dari bahar Thawil]: "فَلَمَّا تَفَرَّقْنا كأَنِّي ومالِكاً … – لِطولِ اجتماعٍ – لم نَبِتْ ليْلَةً مَعا" (Maka ketika kami berpisah, seolah-olah aku dan Malik—karena lamanya kebersamaan kami—tidak pernah bermalam bersama walau satu malam pun). 15. Bermakna "di dalam" (*fi*), seperti firman Allah Ta'ala: "ويَضَعُ الموازينَ القسطَ ليومِ القِيامة" (Dan Kami akan memasang timbangan yang adil pada hari Kiamat), yaitu di dalamnya (pada hari Kiamat). Dan firman-Nya: "لا يُجلّيها لوقتها إلاّ هُو" (Tidak ada yang dapat menyatakan waktu kedatangannya selain Dia), yaitu pada waktunya. Di antaranya pula adalah ucapan mereka: "مضى لسبيله" (Ia telah pergi menempuh jalannya), yaitu di jalannya (*fi sabilihi*). 10 dan 11. Huruf *Wawu* dan *Ta'* Huruf *wawu* dan *ta'* digunakan untuk sumpah (*al-qasam*), seperti firman Allah Ta'ala: "والفجرِ وليالٍ عَشرٍ" (Demi fajar, dan malam yang sepuluh), dan firman-Nya: "تاللهِ لأكيدَنَّ أصنامَكم" (Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu). Huruf *ta'* tidak masuk kecuali pada lafal jalalah (*lafzh al-jalalah* [nama Allah]), sedangkan huruf *wawu* dapat masuk pada setiap hal yang dijadikan sumpah (*muqsam bih*).

١٢ و١٣- مُذ ومُنْذُ مُذْ ومُنذُ تكونان حرفيْ جَرّ بمعنى "منْ"، لابتداءِ الغاية، إن كان الزمانُ ماضياً، نحو "ما رأيتكَ مُذْ أو منذُ يومِ الجمعة"، وبمعنى "في"، التي للظرفيّة، إن كان الزمان حاضراً، نحو "ما رأيتهُ مُنذُ يومنا أو شهرِنا" أي فيهما. وحينئذٍ تُفيدان استغراقَ المدَّة، وبمعنى "من وإلى" معاً، إذا كان مجرورهما نكرةً معدودةً لفظاً أو معنى. فالأول نحو "ما رأيتكَ مُذ ثلاثةِ أيام"، أي من بَدئها إلى نهايتها. والثاني نحو "ما رأيتكَ مذ أمدٍ، أو مُنذُ دَهرٍ". فالأمدُ والدهرُ كِلاهما مُتعدِّدٌ معنًى، لأنه يقالْ لكل جزءٍ منها أمدٌ ودهرٌ. لهذا لا يقالُ "ما رأيتُهُ مُنذ يومٍ أو شهرٍ"، بمعنى ما رأيتهُ من بدئهما إلى نهايتهما، لأنهما نكرتانِ غيرَ معدودتينِ، لأنهُ لا يقالُ الجزءِ اليومِ يومٌ، ولا لجزءِ الشهر شهرٌ. واعلم أَنهُ يشترطُ في مجرورهما أن يكون ماضياً أو حاضراً، كما رأيتَ. ويشترطُ في الفعل قبلَهما أن يكون ماضياً منفيّاً، فلا يقالُ "رأيتهُ منذُ يومِ الخميس"، أَو ماضياً فيه معنى التَّطاوُلِ والامتدادِ، نحو "سِرتُ مُذْ طلوعِ الشمسِ". وتكونُ "مُذ ومُنذُ" ظرفينِ منصوبينِ مَحلاً، فَيُرفعُ ما بعدَهما. ويُشترَطُ فيهما أَيضاً ما اشتُرطَ فيهما وهما حرفان. وقد سبقَ الكلامُ عليهما في المفعول فيهِ، عندَ الكلامِ على شرحِ الظروف المبنية فراجعهُ. ومُذ أصلُها "منذُ" فَخُفّفت، بدليل رجوعهم إلى ضم الذَّال عند ملاقاتها ساكناً، نحو "انتظرتكَ مذُ الصباح". ومُنذُ أصلُها "من" الجارَّةُ و"إذ" الظرفيّة، فَجُعلتا كلمةً واحدةً. ولذا كسرت مِيمُها – في بعض اللُّغات – باعتبار الأصل.

12 dan 13. *Mudz* (مُذْ) dan *Mundzu* (مُنْذُ): *Mudz* dan *mundzu* dapat berfungsi sebagai dua *huruf jar* yang bermakna "منْ" (sejak) untuk menunjukkan permulaan batas (*ibtida' al-ghayah*) jika waktunya telah lampau, seperti "ما رأيتكَ مُذْ أو منذُ يومِ الجمعة" (Aku tidak melihatmu sejak hari Jumat). Dan bermakna "في" (pada/di dalam) yang menunjukkan keterangan tempat/waktu (*zharfiyyah*) jika waktunya adalah masa sekarang, seperti "ما رأيتهُ مُنذُ يومنا أو شهرِنا" (Aku tidak melihatnya pada hari kita atau bulan kita ini), yaitu di dalamnya. Pada saat itu, keduanya menunjukkan makna cakupan seluruh durasi (*istighraq al-muddah*). Keduanya juga dapat bermakna "من" (dari) dan "إلى" (sampai) secara bersama-sama apabila kata yang di-*jar*-kan oleh keduanya berupa kata *nakirah* yang terhitung secara lafal maupun makna. Contoh pertama adalah seperti "ما رأيتكَ مُذ ثلاثةِ أيام" (Aku tidak melihatmu selama tiga hari), yaitu dari permulaannya hingga akhirnya. Contoh kedua adalah seperti "ما رأيتكَ مذ أمدٍ، أو مُنذُ دَهرٍ" (Aku tidak melihatmu sejak beberapa waktu yang lalu atau sejak masa yang lama). Kata *amad* (waktu) dan *dahr* (masa) keduanya bermakna jamak/terhitung secara makna, karena setiap bagian darinya dapat disebut sebagai *amad* dan *dahr*. Oleh karena itu, tidak boleh diucapkan "ما رأيتُهُ مُنذ يومٍ أو شهرٍ" dengan makna aku tidak melihatnya dari awal hari/bulan hingga akhirnya, karena keduanya adalah kata *nakirah* yang tidak terhitung, sebab bagian dari hari tidak disebut hari, dan bagian dari bulan tidak disebut bulan. Ketahuilah bahwa disyaratkan pada kata yang di-*jar*-kan oleh keduanya harus berupa waktu lampau atau sekarang, sebagaimana yang telah Anda lihat. Dan disyaratkan pada *fi'il* sebelum keduanya harus berupa *fi'il madhi* yang dinafikan (negatif), sehingga tidak boleh diucapkan "رأيتهُ sejak hari Kamis", atau berupa *fi'il madhi* yang mengandung makna durasi yang panjang dan membentang, seperti "سِرتُ مُذْ طلوعِ الشمسِ" (Aku berjalan sejak terbitnya matahari). Kata "مُذ" dan "مُنذُ" juga dapat berkedudukan sebagai dua *zharaf* yang di-*nasab*-kan secara tempat (*manshuban mahallan*), sehingga kata setelah keduanya di-*rafa'*-kan. Pada kondisi ini, disyaratkan pula pada keduanya apa yang disyaratkan ketika keduanya berfungsi sebagai huruf. Pembahasan mengenai keduanya telah berlalu pada bab *Maf'ul Fih* saat menjelaskan tentang *zharaf-zharaf* yang berstatus *mabni*, maka rujuklah kembali ke sana. Kata "مُذ" asalnya adalah "منذُ" lalu diringankan (*khuffifat*), dengan bukti kembalinya orang Arab untuk men-*dhammah*-kan huruf *dzal* ketika bertemu dengan huruf yang sukun, seperti "انتظرتكَ مذُ الصباح" (Aku menunggumu sejak pagi). Sedangkan "مُنذُ" asalnya adalah gabungan dari *huruf jar* "من" dan *zharaf* "إذ", lalu dijadikan satu kata tunggal. Oleh karena itu, huruf *mim*-nya dibaca kasrah dalam sebagian dialek karena memperhatikan asal katanya.

١٤- رُبَّ رُبَّ تكونُ للتّقليلِ وللتّكثير، والقرينةُ هي التي تُعيّنُ المرادَ. فمن التقليل قولُ الشاعر [من الطويل] أَلا رُبَّ مَوْلودٍ، وَلَيْسَ لَهُ أَبٌ … وذي وَلَدٍ لَمْ يَلْدَهُ أَبَوانٍ يُريدُ بالأول عيسى، وبالثاني آدمَ، ﵉. ومن التكثيرِ حديثُ "يا رُب كاسِيةٍ في الدنيا عاريةٌ يومَ القيامةِ"، وقولُ بعضِ العرب عند انقضاءِ رَمضانَ "يا رُبَّ صائمهِ لن يَصومَهُ ويا رُبَّ قائمهِ لن يَقومهُ". واعلم أنهُ يُقالُ "رُبَّ ورُبَّةَ ورُبّما ورُبَّتما". والتاءُ زائدة لتأنيث الكلمة، و"ما" زائدةٌ للتوكيد. وهي كافةٌ لها عن العمل. وقد تُخَفّفُ الباءُ. ومنه قوله تعالى ﴿رُبَما يَودُّ الذين كفروا لو كانوا مُسلمينَ﴾ . ولا تَجُرُّ "رُبَّ" إلا النكرات، فلا تُباشِرُ المعارفَ. وأمّا قولهُ "يا رُبَّ صائمهِ، ويا رُبَّ قائمهِ" المتقدَّمُ، فإضافة صائم وقائم إلى الضمير لم تُفدهما التعريفَ، لأنَّ إضافةَ الوصف إلى معمولهِ غير محضةٍ، فهي لا تُفيدُ تعريفَ المضاف ولا تخصيصَهُ، لأنها على نيّة الانفصال، ألا ترى أنك تقول "يا رُبَّ صائم فيه، ويا ربَّ قائم فيه".

14- *Rubba* (رُبَّ): Kata *rubba* digunakan untuk menunjukkan arti sedikit (*taqlil*) maupun arti banyak (*taktsir*), dan konteks kalimat (*qarinah*) dialah yang menentukan maksudnya. Contoh penggunaan untuk arti sedikit adalah perkataan penyair [dari bahar Thawil]: "أَلا رُبَّ مَوْلودٍ، وَلَيْسَ لَهُ أَبٌ … وذي وَلَدٍ لَمْ يَلْدَهُ أَبَوانٍ" (Ingatlah, betapa sedikit anak yang lahir tanpa memiliki ayah… dan orang tua yang tidak dilahirkan oleh kedua orang tua). Penyair bermaksud merujuk kepada Nabi Isa dengan ungkapan pertama, dan Nabi Adam dengan ungkapan kedua—semoga keselamatan tercurah atas keduanya. Sedangkan contoh penggunaan untuk arti banyak adalah hadits: "يا رُب كاسِيةٍ في الدنيا عاريةٌ يومَ القيامةِ" (Betapa banyak wanita yang berpakaian di dunia namun telanjang di hari kiamat), serta perkataan sebagian orang Arab ketika berlalunya bulan Ramadan: "يا رُبَّ صائمهِ لن يَصومَهُ ويا رُبَّ قائمهِ لن يَقومهُ" (Betapa banyak orang yang berpuasa di dalamnya tidak akan berpuasa lagi [karena wafat], dan betapa banyak orang yang mendirikan shalat malam di dalamnya tidak akan mendirikannya lagi). Ketahuilah bahwa kata ini dapat diucapkan dalam bentuk: "رُبَّ" (*rubba*), "رُبَّةَ" (*rubbata*), "رُبّما" (*rubbama*), dan "رُبَّتما" (*rubbatama*). Huruf Ta' di sini adalah huruf tambahan untuk menakniskan (memfeminkan) kata, sedangkan "ما" (*ma*) adalah huruf tambahan untuk penguat (*taukid*) yang sekaligus berfungsi mencegahnya dari beramal (*kaffah*). Terkadang huruf Ba' dibaca ringan (*takhfif*), di antaranya adalah firman Allah Ta'ala: ﴿رُبَما يَودُّ الذين كفروا لو كانوا مُسلمينَ﴾ (Orang-orang yang kafir itu sering kali [nanti di akhirat] menginginkan, sekiranya mereka dahulu [di dunia] menjadi orang-orang muslim). Kata *rubba* tidak men-*jar*-kan kecuali *isim-isim* *nakirah* (indefinit), sehingga ia tidak bersanding langsung dengan *isim-isim* *ma'rifat* (definit). Adapun perkataan yang telah disebutkan sebelumnya: "يا رُبَّ صائمهِ، ويا رُبَّ قائمهِ", maka penyandaran (*idhafah*) kata "صائم" (*shaim*) dan "قائم" (*qa'im*) kepada *dhamir* (kata ganti) tidak memberikan status makrifat kepada keduanya. Hal itu karena penyandaran kata sifat (*washf*) kepada *ma'mul*-nya berstatus *idhafah ghairu mahdhah* (penyandaran tidak murni), sehingga ia tidak memberikan faedah makrifat maupun pengkhususan (*takhshish*) pada kata yang disandarkan (*mudhaf*), sebab ia berada dalam niat keterpisahan (*niyyatul-infishal*). Bukankah Anda melihat bahwa Anda dapat mengucapkan: "يا رُبَّ صائم فيه، ويا ربَّ قائم فيه" (Wahai, betapa banyak orang yang berpuasa di dalamnya, dan betapa banyak orang yang mendirikan shalat di dalamnya).

والأكثر أن تكون هذه النكرة موصوفة بمفردٍ أو جملة. فالأول نحو "رُبَّ رجلٍ كريمٍ لقيته". والثاني نحو "رُبَّ رجلٍ يفعل الخيرَ أكرمته". وقد تكونُ غيرَ موصوفة، نحو "رُبَّ كريم جبانٌ". وقد تُجُرُّ ضميراً مُنكَّراً مُميّزاً بنكرةٍ. ولا يكونُ هذا الضميرُ إلا مُفرداً مُذَكَّراً. أما مُميّزُهُ فيكونُ على حسب مُراد المتكلم مفرداً أو مُثَنَّى أو جمعاً أو مذكراً أو مؤنثاً، تقول "رُبّهُ رجلاً. رُبّهُ رَجلَينِ. رُبّهُ رجالاً. رُبّهُ امرأةً. رُبَّهُ امرأتينِ. رُبّهُ نساءً". قال الشاعر [من الخفيف] رُبَّهُ فِتَيَةً دَعَوْتُ إلى ما … يُورِثُ الْحَمَدَ دائباً، فأَجابُوا وسيأتي الكلامُ على محل مجرور "رُبَّ" من الإعراب، في الكلام على موضع المجرور بحرف الجر. ١٥ و١٦ و١٧- خَلاَ وَعَدا وحَاشا خَلا وعدا وحاشا تكون أَحرف جرٍّ للاستثناء، إذا لم يتقدَّمهنَّ "ما". وقد سبق الكلام عليهنَّ في مبحث الاستثناء. فراجعه. ١٨- كَيْ كي حرفُ جرَّ للتعليل بمعنى اللام. وإنما تَجُرُّ "ما" الاستفهامية، نحو "كيْمَهْ؟ "، نقولُ "كيمَ فعلتَ هذا؟ "، كما تقولُ "لمَ فعلته؟ ". والأكثرُ استعمالُ "لمهْ؟ " وتُحذَفُ أَلِفُ "ما" بعدَها كما تُحذَفُ بعدَ كلِّ جارٍّ، نحو "مِمّهْ وعَلامهْ وإلامَهْ". وإذا وقَفُوا ألحقوا بها هاء

Dan yang paling sering adalah kata *nakirah* ini disifati dengan kata tunggal (*mufrad*) atau kalimat (*jumlah*). Contoh yang pertama adalah seperti: *rubba rajulin karîmin laqîtuhu* (banyak/sedikit pria mulia yang aku temui). Contoh yang kedua adalah seperti: *rubba rajulin yaf'alu al-khaira akramtuhu* (banyak/sedikit pria yang berbuat kebaikan yang aku muliakan). Terkadang ia tidak disifati, seperti: *rubba karîmin jabânun* (banyak/sedikit orang mulia yang penakut). Terkadang kata *rubba* me-*jar*-kan *dhamir* yang disamarkan (*dhamîr munakkar*) yang dijelaskan (*mumayyaz*) dengan kata *nakirah*. *Dhamir* ini tidak boleh berupa kata kecuali tunggal maskulin (*mufrad mudzakkar*). Adapun kata penjelasnya (*mumayyiz*) disesuaikan dengan maksud pembicara, baik tunggal, ganda, jamak, maskulin, maupun feminin. Anda mengucapkan: *rubbahu rajulan* (banyak/sedikit pria), *rubbahu rajulaini*, *rubbahu rijâlan*, *rubbahu imra'atan*, *rubbahu imra'ataini*, dan *rubbahu nisâ'an*. Penyair berkata [dari bahar khafif]: *Rubbahu fityatan da'autu ilâ mâ… yûritsu al-hamda dâ'iban fa-ajâbû* (Banyak/sedikit pemuda yang aku seru kepada perkara yang mendatangkan pujian abadi, lalu mereka menyambutnya). Pembahasan mengenai kedudukan *i'rab* bagi kata yang di-*jar*-kan dengan *rubba* akan datang pada pembahasan mengenai kedudukan kata yang di-*jar*-kan dengan huruf jar. 15, 16, dan 17. **Khalâ, 'Adâ, dan Hâsyâ:** Kata *khalâ*, *'adâ*, dan *hâsyâ* berstatus sebagai *huruf jar* untuk pengecualian (*isti'tsnâ'*) jika tidak didahului oleh kata *mâ*. Pembahasan mengenai ketiganya telah berlalu pada pembahasan tentang pengecualian, maka rujuklah kembali. 18. **Kay (كَيْ):** Kata *kay* adalah *huruf jar* untuk memberikan alasan (*ta'lîl*) yang bermakna huruf *lâm*. Ia hanya me-*jar*-kan kata *mâ* tanya (*mâ al-istifhâmiyyah*), seperti *kaimah?* (untuk apa?). Kita mengucapkan: *kaima fa'alta hâdzâ?* (untuk apa kamu melakukan ini?), sebagaimana Anda mengucapkan: *lima fa'altahu?* (mengapa kamu melakukannya?). Yang paling sering digunakan adalah *limah?* (mengapa?). Huruf alif pada kata *mâ* dibuang setelahnya sebagaimana dibuang setelah setiap huruf jar, seperti *mimmah?* (dari apa?), *'alâmah?* (atas apa?), dan *ilâmah?* (sampai kapan?). Dan jika mereka berhenti (*waqaf*), mereka menyertainya dengan huruf *hâ'*

السكت، كما رأيتَ. وإذا وصلوا حذفوها، لعدم الحاجة إليها في الوصل. وقد تَجرُّ المصدرَ المؤوّلَ بما المصدرية كقول الشاعر [من الطويل] إِذا أَنتَ لَم تَنْفَعْ فَضُرَّ، فإنَّما … يُرادُ الْفَتَى كيْما يَضُرُّ وَيَنْفَعُ (فكي حرف جر. وما مصدرية، فما بعدها في تأويل مصدر مجرور بكي. أي يراد الفتى للضر والنفع. ويجوز أن تكون "كي" هنا هي المصدرية الناصبة للمضارع. فما. بعدها. زائدة كافةٌ لها عن العمل) . ١٩- مَتَى مَتى تكونُ حرفَ جرٍّ – بمعنى "مِنْ" – في لُغةِ "هُذَيلٍ"، ومنهُ قولهُ [من الطويل] شَرِبْنَ بِماءٍ البَحْرِ، ثُمَّ تَرَفَّعْتْ … مَتَى لُجَج خُضْرٍ لَهُنَّ نَئيجُ ٢٠- لعَلَّ لَعَلَّ تكونُ حرفَ جرٍّ في لغة "عُقَيلٍ" وهي مبنيّةٌ على الفتح أو الكسر، قال الشاعر [من الطويل] فَقُلْتُ ادْعُ أُخرَى وارفَعِ الصَّوْتَ جَهْرَةً … لَعَلَّ أَبي المِغْوارِ منْكَ قَريبُ وقد يُقال فيها "عَلَّ" بحذف لامِها الأولى. وهي حرفُ جرّ شبيهٌ بالزائد، فلا تتعلَّقُ بشيءٍ. ومجرورها في موضع

…*sakt* (ha' pemberhenti), sebagaimana yang telah Anda lihat. Dan jika mereka menyambungkannya (*washal*), mereka membuangnya karena tidak adanya kebutuhan terhadap huruf tersebut dalam keadaan *washal*. Terkadang ia me-*jar*-kan *mashdar mu'awwal* (frasa kata benda bentukan) dengan perantara *ma mashdariyyah*, sebagaimana perkataan penyair [dari bahar Thawil]: إِذَا أَنْتَ لَمْ تَنْفَعْ فَضُرَّ فَإِنَّمَا … يُرَادُ الفَتَى كَيْ مَا يَضُرُّ وَيَنْفَعُ (Jika kamu tidak bisa memberi manfaat maka berilah mudarat, karena sesungguhnya seorang pemuda itu diinginkan agar ia memberi mudarat dan manfaat). (Maka "كَيْ" adalah huruf *jar*, dan "مَا" adalah *mashdariyyah*, sehingga kalimat setelahnya ditakwilkan sebagai *mashdar* yang di-*jar*-kan oleh "كَيْ", yaitu: diinginkan seorang pemuda untuk memberi mudarat dan manfaat. Diperbolehkan juga menjadikan "كَيْ" di sini sebagai *mashdariyyah* yang me-*nasab*-kan *fi'il mudhari'*, sedangkan huruf "مَا" setelahnya adalah huruf tambahan [*za'idah*] yang mencegahnya dari beramal). 19. *Mata* (مَتَى): Kata "مَتَى" berstatus sebagai huruf *jar* yang bermakna "مِنْ" (dari) dalam dialek suku Hudzail. Di antaranya adalah perkataan penyair [dari bahar Thawil]: شَرِبْنَ بِمَاءِ البَحْرِ ثُمَّ تَرَفَّعَتْ … مَتَى لُجَجٍ خُضْرٍ لَهُنَّ نَئِيجُ (Mereka minum dari air laut, kemudian mereka naik dari ombak-ombak hijau yang memiliki suara gemuruh). 20. *La'alla* (لَعَلَّ): Kata "لَعَلَّ" berstatus sebagai huruf *jar* dalam dialek suku 'Uqail, dan ia di-mabni-kan atas harakat fathah atau kasrah. Penyair berkata [dari bahar Thawil]: فَقُلْتُ ادْعُ أُخْرَى وَارْفَعِ الصَّوْتَ جَهْرَةً … لَعَلَّ أَبِي Mِغْوَارِ مِنْكَ قَرِيبُ (Maka aku berkata: Serulah yang lain dan keraskanlah suaramu dengan lantang, semoga bapak al-Mighwar dekat darimu). Terkadang diucapkan "عَلَّ" dengan membuang huruf lam yang pertama. Ia merupakan huruf *jar* yang menyerupai huruf tambahan (*syabih bi al-za'id*), sehingga ia tidak berkaitan (*muta'alliq*) dengan sesuatu pun, dan kata yang di-*jar*-kan olehnya menempati posisi…

رفعٍ على أَنه مبتدأ. خبرهُ ما بعدَه. وهي عندَ غير "عُقَيل" ناصبةٌ للاسم رافعةٌ للخبر، كما تقدَّم. ٢- مَا الزَّائدَةُ بعْدَ الجارِّ قد تُزادُ "ما" بعدَ "من وعن والباء"، فلا تَكفُّهنَّ عن العمل، كقوله تعالى ﴿مِمّا خَطيئاتهم أُغرِقوا﴾ ، وقولهِ ﴿عَمّا قَليلٍ ليُصبحنَّ نادمينَ﴾ ، وقولهِ ﴿فَبما رَحمةٍ من الله لِنتَ لَهُم﴾ . وقد تُزادُ بعدَ "رُبَّ والكافِ" فيبقى ما بعدَهما مجروراً، وذلك قليلٌ، كقول الشاعر [من الخفيف] رُبَّما ضَرْبَةٍ بِسَيْفٍ صَقيلٍ … بَيْنَ بُصْرى وَطَعْنَةٍ نَجْلاءُ وقولِ غيره [من الطويل] وَنَنْصُرُ مَوْلانا، ونَعْلَمُ أَنَّهُ … كمَا النَّاسِ، مَجْرومٌ عَلَيْهِ وجارِمُ

kondisi *rafa'* atas dasar bahwa ia adalah *mubtada'*, dan *khabar*-nya adalah kata setelahnya. Dan kata tersebut menurut selain suku 'Uqail bertindak me-*nashab*-kan *isim* dan me-*rafa'*-kan *khabar*, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. 2- *ما* (*Maa*) Tambahan Setelah *Huruf Jarr* Terkadang kata *ما* (*maa*) ditambahkan setelah kata *مِنْ* (*min*), *عَنْ* (*'an*), dan *بَاء* (*baa'*), namun keberadaannya tidak menghalangi huruf-huruf tersebut dari beramal (*lam takuffahunna 'an al-'amal*), sebagaimana firman Allah Ta me-Ta'ala: ﴿مِمّا خَطيئاتهم أُغرِقوا﴾ (Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan), firman-Nya: ﴿عَمّا قَليلٍ ليُصبحنَّ نادمينَ﴾ (Dalam waktu yang tidak lama lagi niscaya mereka akan menjadi orang-orang yang menyesal), dan firman-Nya: ﴿فَبما رَحمةٍ من الله لِنتَ لَهُم﴾ (Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka). Terkadang kata *ما* (*maa*) ditambahkan pula setelah kata *رُبَّ* (*rubba*) dan *كاف* (*kaaf*), sehingga kata setelah keduanya tetap di-*jarr*-kan, namun hal itu sedikit terjadi, sebagaimana ucapan penyair: *رُبَّما ضَرْبَةٍ بِسَيْفٍ صَقيلٍ … بَيْنَ بُصْرى وَطَعْنَةٍ نَجْلاءُ* (Betapa banyak tebasan dengan pedang yang mengkilap di antara Busra dan tusukan yang mengucurkan darah). Dan ucapan penyair lainnya: *وَنَنْصُرُ مَوْلانا، ونَعْلَمُ أَنَّهُ … كمَا النَّاسِ، مَجْرومٌ عَلَيْهِ وجارِمُ* (Dan kami menolong pemimpin kami, dan kami mengetahui bahwasanya ia sebagaimana manusia pada umumnya, ada yang dizalimi atasnya dan ada yang bertindak zalim).

وإنما وجبَ أَن تكونا هنا عاملتينِ، غيرَ مكفوفتينِ، لأنهما لم تُباشِرا الجملة، وإنما باشرتا الاسم. والاكثرُ أن تُكُفّهما "ما" عن العملِ، فيدخلانش حينئذٍ على الجُمَلِ الاسميّة والفعليّة كقول الشاعر [من الطويل] أَخٌ ماجِدٌ لَمْ يُخْزِني يَومَ مَشْهَدٍ … كمَا سَيْفُ عَمْرٍ ولَمْ تَخُنْهُ مَضارِبُهْ وقولِ الآخر [من المديد] رُبَّما أَوْفَيتُ في عَلَمٍ … تَرْفَعَنْ ثَوْبي شَمَالاتُ والغالب على "رُبَّ" المكفوفةِ أَن تدخلَ على فعلٍ ماضٍ، كهذا البيت. وقد تدخلُ على فعلٍ مضارع، بشرط أن يكونَ مُتَحققَ الوقوع، فيُنزّلُ منزلة الماضي للقطع بحصولهِ، كقولهِ تعالى ﴿رُبَما يَودُّ الذينَ كفروا لو كانوا مُسلمينَ﴾ . ونَدَرَ دخولها على الجملة الاسميّة، كقول الشاعر [من الخفيف] رُبَّما الْجَامِلُ المُؤَبَّلُ فيهِمْ … وعَناجيجُ بَيْنَهُنَّ المِهارُ ٣- واوُ رُبَّ وفاؤُها قد تُحذَف "ربَّ"، ويبقى عملُها بعد الواو كثيراً، وبعد الفاء قليلاً، كقول الشاعر وهو امرئ القيس: [من الطويل]

Hanyalah wajib bagi keduanya di sini untuk beramal (*'amilah*) dan tidak terhalang (*ghairu makfufataini*), karena keduanya tidak langsung menyertai kalimat (*jumlah*), melainkan langsung menyertai *isim*. Namun yang paling sering adalah huruf *ma* menghalangi keduanya dari beramal (*takuffuhuma*), sehingga pada saat itu keduanya masuk pada kalimat nominal (*jumlah ismiyyah*) dan kalimat verbal (*jumlah fi'liyyah*), seperti perkataan penyair [dari bahar *thawil*]: "Seorang saudara yang mulia tidak mempermalukanku pada hari pertemuan… sebagaimana pedang 'Amr yang bagian tajamnya tidak pernah mengkhianatinya." Dan perkataan penyair lainnya [dari bahar *madid*]: "Betapa sering aku mendaki gunung yang tinggi, sementara angin utara menerbangkan pakaianku." Yang paling sering terjadi pada kata *rubba* yang terhalang dari beramal (*al-makfufah*) adalah masuk pada *fi'il madhi* (kata kerja masa lampau), seperti bait ini. Terkadang ia juga masuk pada *fi'il mudhari'*, dengan syarat kejadiannya pasti terjadi, sehingga diposisikan seperti *fi'il madhi* karena kepastian terjadinya, seperti firman Allah Ta'ala: *Rubama yawaddu alladzina kafaru lau kanu muslimina* (رُبَما يَودُّ الذينَ كفروا لو كانوا مُسلمينَ – Orang-orang yang kafir itu sering kali menginginkan kiranya mereka dahulu menjadi orang-orang muslim). Dan jarang sekali ia masuk pada *jumlah ismiyyah*, seperti perkataan penyair [dari bahar *khafif*]: "Betapa sering kawanan unta yang banyak ada pada mereka, dan kuda-kuda mulia yang di antaranya terdapat anak-anak kuda." **3. *Wawu Rubba* dan *Fa'-nya*** Huruf *rubba* terkadang dibuang, namun amalnya tetap berlaku setelah huruf *wawu* secara banyak, dan setelah huruf *fa'* secara sedikit, seperti perkataan penyair Imru' al-Qais [dari bahar *thawil*]:

وَلَيْلٍ كَمَوْجِ الْبَحْرِ، أَرْخى سُدُولَهُ … عَلَيَّ. بِأَنْواعِ الهُمومِ، لِيَبتَلي وقولهِ [من الطويل] فَمِثْلِكِ حُبْلى قَدْ طَرَقْتُ وَمُرْضِعٍ … فَألْهيْتُها عَنْ ذي تَمائِمَ مُحْوِلِ ٤- حَذْفُ حَرْفِ الجَرِّ قِياساً يُحذَفُ حرفُ الجَرِّ قِياساً في ستَّة مواضع ١- قبلَ أنْ، كقوله تعالى ﴿وعَجِبوا أن جاءَهم مُنذرٌ منهم﴾ ، أي لأنْ جاءهم، وقولهِ ﴿أوَ عَجِبتُمْ أنْ جاءكم ذِكرٌ من ربكم على رجلٍ منكم﴾ ، وقولِ الشاعر [من البسيط] اللهُ يَعْلَمُ أَنَّا لا نُحِبُّكُمُ … وَلا نَلومُكُمُ أَن لا تُحِبُّونا أي على أن لا تُحبُّونا. ٢- قبلَ أنَّ، كقولهِ تعالى ﴿شهِدَ اللهُ انهُ لا إِله إلا هو﴾ ، أي شَهِدَ بأنهُ. واعلم أنهُ إنما يجوزُ حذفُ الجارِّ قبلَ "أن وأنَّ"، إن يُؤمَنِ اللَّبسُ بحذفهِ. فإن لم يُؤمَن لم يَجز حذفهُ، فلا يقالُ "رغِبتُ أن أفعلَ"،

"وَلَيْلٍ كَمَوْجِ الْبَحْرِ، أَرْخى سُدُولَهُ … عَلَيَّ. بِأَنْواعِ الهُمومِ، لِيَبتَلي" (*Wa lailin ka-mawji al-bahri, arkha sudulahu… 'alayya bi-anwa'il-humumi liyabtali* – "Dan malam yang bagaikan gelombang lautan, ia melabuhkan tirainya atasku dengan berbagai macam kesedihan untuk mengujiku"). Dan perkatanya [dari bahar *Thawil*]: "فَمِثْلِكِ حُبْلى قَدْ طَرَقْتُ وَمُرْضِعٍ … فَألْهيْتُها عَنْ ذي تَمائِمَ مُحْوِلِ" (*Fa-mitsliki hubla qad tharaqtu wa murdhi'in… fa-alhaytuha 'an dzi tama'ima muhwili* – "Dan wanita hamil yang sepertimu telah kudatangi di malam hari, begitu pula wanita yang menyusui, lalu aku melalaikannya dari anaknya yang mengenakan kalung jimat yang telah berumur satu tahun"). **4. Penghapusan Huruf Jar Secara Qiyas (Analogi Kaidah):** *Huruf jar* dihapus secara analogi kaidah (*qiyasan*) pada enam tempat: 1. Sebelum kata "أَنْ" (*an*), sebagaimana firman Allah Ta'ala: ﴿وعَجِبوا أن جاءَهم مُنذرٌ منهم﴾ (*Wa 'ajibu an ja'ahum mundzirun minhum* – "Dan mereka heran karena mereka didatangi oleh seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka"), artinya: *li-an ja'ahum* (karena didatangi). Dan firman-Nya: ﴿أوَ عَجِبتُمْ أنْ جاءكم ذِكرٌ من ربكم على رجلٍ منكم﴾ (*A-wa 'ajibtum an ja'akum dzikrun min rabbikum 'ala rajulin minkum* – "Apakah kamu heran bahwa telah datang kepadamu peringatan dari Tuhanmu melalui seorang laki-laki dari kalanganmu"). Serta perkataan penyair [dari bahar *Basith*]: "اللهُ يَعْلَمُ أَنَّا لا نُحِبُّكُمُ … وَلا نَلومُكُمُ أَن لا تُحِبُّونا" (*Allahu ya'lamu anna la nuhibbukum… wa la nalumukum an la tuhibbuna* – "Allah mengetahui bahwa kami tidak menyukai kalian, dan kami tidak mencela kalian karena kalian tidak menyukai kami"), artinya: *'ala alla tuhibbuna* (atas ketidaksukaan kalian kepada kami). 2. Sebelum kata "أَنَّ" (*anna*), sebagaimana firman Allah Ta'ala: ﴿شهِدَ اللهُ انهُ لا إِله إلا هو﴾ (*Syahidallahu annahu la ilaha illa huwa* – "Allah menyatakan bahwasanya tidak ada tuhan selain Dia"), artinya: *syahida bi-annahu* (menyatakan dengan bahwasanya). Ketahuilah bahwa sesungguhnya diperbolehkan menghapus *huruf jar* sebelum "أَنْ" (*an*) dan "أَنَّ" (*anna*) apabila aman dari kesamaran (*umina al-labsu*) akibat penghapusan tersebut. Namun jika tidak aman dari kesamaran, maka tidak diperbolehkan menghapusnya. Maka tidak boleh diucapkan: "رغِبتُ أن أفعلَ" (*Raghibtu an af'ala* – "Aku ingin melakukannya" atau "Aku benci melakukannya", karena kata *raghiba* bisa bermakna menyukai jika diikuti *fi* dan bermakna membenci jika diikuti *'an*).

لإشكالِ المراد بعدَ الحذفِ، فلا يَفهمُ السامعُ ماذا أردتَ أرَغبَتك في الفعلِ، أم رغبَتَكَ عنه؟ فيجبُ ذكرُ الحرف ليتعيَّن المرادُ، إلا إذا كان الإبهامُ مقصوداً من السامع. ٣- قبلَ "كي" الناصبةِ للمضارع، كقولهِ تعالى ﴿فرَددناهُ إلى أمهِ كي تَقرَّ عينُها﴾ ، أي لكي تَقرَّ. واعلم أن المصدرَ المؤوَّل بعد "أنْ وأنَّ وكيْ" في موضع جرَّ بالحرف المحذوف، على الأصحَّ. وقال بعض العلماءِ هو في موضعِ النصب بنزعِ الخافض. ٤- قبلَ لفظِ الجلالة في القسم، نحو "اللهِ لأخدمنَّ الأمةَ خدمةً صادقةً"، أي والله. ٥- قبلَ مُميّز "كم" الاستفهامية، إذا دخل عليها حرفُ الجرِّ، نحو "بكم درهم اشتريتَ هذا الكتابَ؟ " أي بكم من درهم؟ والفصيحُ نصبُهُ، كما تقدَّم في باب التمييز، نحو "بكم درهماً اشتريته؟ ". ٦- بعدَ كلامٍ مُشتملٍ على حرف جرّ مثله، وذلك في خمس صُوَر الأولى بعد جوابِ استفهامٍ، تقول "مِمَّنْ أخذتَ الكتاب؟ "، فيقالُ لك "خالدٍ"، أي من خالد. الثانية بعد همزةِ الاستفهام، تقولُ "مررتُ بخالدٍ"، فيقالُ "أخالدِ ابنِ سعيدٍ؟ " أي أبخالدِ بنِ سعيد؟. الثالثة بعدَ "إن" الشرطّيةِ، تقولُ "إذهبْ بِمنْ شئتَ، إنْ خليلٍ،

karena samarnya maksud setelah penghapusan, sehingga pendengar tidak memahami apa yang Anda kehendaki: apakah Anda bermaksud menyukai perbuatan itu atau membencinya? Maka wajib menyebutkan *huruf jar* agar maksud menjadi jelas, kecuali jika kesamaran tersebut memang sengaja ditujukan kepada pendengar. 3. Sebelum kata *kay* yang me-*nashab*-kan *fi'il mudhāri'*, seperti firman-Nya Ta'ala: ﴿فرردناه إلى أمه كي تقر عينها﴾ (Maka Kami kembalikan dia kepada ibunya agar senang hatinya), yakni *likai taqarra*. Ketahuilah bahwa *mashdar mu'awwal* setelah *an*, *anna*, dan *kay* berada pada posisi *jar* oleh *huruf jar* yang dihapus, menurut pendapat yang paling sahih. Sebagian ulama berpendapat ia berada pada posisi *nashab* dengan dicabutnya *khāfidsh* (*naz' al-khāfidsh*). 4. Sebelum lafal *Jalālah* (Allah) dalam sumpah, contohnya: *"Allāhi la-akhdimanna al-ummata khidmatan shādiqatan"* (Demi Allah, sungguh aku akan mengabdi kepada umat dengan pengabdian yang tulus), yakni *Wallāhi*. 5. Sebelum *tamyīz* dari *kam al-istifhāmiyyah* (kata tanya 'berapa'), apabila *huruf jar* masuk kepadanya, contohnya: *"Bikam dirhamin isytaraita hādzāl-kitāb?"* (Dengan berapa dirham engkau membeli buku ini?), yakni *bikam min dirhamin*. Namun yang fasih adalah me-*nashab*-kannya sebagaimana telah lalu pada bab *tamyīz*, contohnya: *"Bikam dirhaman isytaraitah?"*. 6. Setelah kalam yang mencakup *huruf jar* serupa, yaitu pada lima bentuk: Pertama: Setelah jawaban atas pertanyaan. Anda katakan: *"Mimman akhadztal-kitāb?"* (Dari siapa engkau mengambil buku itu?), lalu dikatakan kepada Anda: *"Khālidin"*, yakni *min Khālidin*. Kedua: Setelah *hamzah al-istifhām* (kata tanya 'apakah'). Anda katakan: *"Marartu bi-Khālidin"* (Aku berpapasan dengan Khalid), lalu dikatakan: *"A-Khālidi ibni Sa'īd?"*, yakni *a-bi-Khālidi ibni Sa'īd?*. Ketiga: Setelah *in syarthiyyah* (syarat). Anda katakan: *"Idzhab biman syi'ta, in Khalīlin…"*

وإنْ حسَنٍ" أي إن بخليلٍ، وإن بحسنٍ. الرابعةُ بعدَ "هَلاَ"، تقولُ "تصدَّقتُ بدرهمٍ"، فيقالُ "هَلاّ دينار"، أي هلاّ تَصدَّقتَ بدينار. الخامسة بعد حرف عطفٍ مَتْلُوٍّ بما يصحُّ أن يكونَ جملةً، لو ذُكرَ الحرفُ المحذوفُ، كقولك "لخالدٍ دارٌ، وسعيدٍ بُستانٌ"، أي ولسعيد بستانٌ، وقولِ الشاعر [من الرجز] ما لِمحُبٍّ جَلَدٍ أَنْ يَهْجُرا … وَلا حَبيبٍ رَأْفةٌ فَيَجْبُرَا وقولِ الآخر [من البسيط] أَخْلِقْ بِذي الصَّبْرِ أَنْ يَحْظى بِحاجتِهِ … ومُدْمِنِ الْقَرْعِ لِلأَبوابِ أَنْ يَلِجا أي وبِمُدمنِ القرع. ومنهُ قولهُ تعالى ﴿وفي خَلقكم وما يَبُثُّ من دآبَّةٍ آياتٌ لقومٍ يُوقنونَ، واختلافِ الليلِ والنهار وما أنزلَ اللهُ من السماءِ من رزقٍ، فأحيا به الأرضَ بعد موتها، وتصريفِ الرِّياح، آياتٌ لقومٍ يعقلون﴾ . ٥- حَذْفُ حَرْفِ الجَرِّ سَمَاعاً قد يُحذَف الجَرِّ سَمَاعاً، فينتصبُ المجرورُ بعدَ حذفهِ تشبيهاً لهُ بالمفعول به. ويُسمى أيضاً المنصوب على نزعِ الخافض، أي الاسمَ

dan *'wa in hasanin'*, maksudnya *'wa in bi-khalilin, wa in bi-hasanin'* (dan jika dengan seorang kekasih, dan jika dengan orang baik). Keempat: Setelah *"halla"* (mengapa tidak/hendaknya), Anda katakan: *"Tashaddaqtu bi-dirhamin"* (Aku bersedekah dengan satu dirham), lalu direspon: *"Halla dinarin"*, maksudnya *"Halla tashaddaqta bi-dinarin"* (Mengapa engkau tidak bersedekah dengan satu dinar?). Kelima: Setelah *huruf 'athaf* yang diikuti oleh kata yang sah untuk menjadi *jumlah* (kalimat) seandainya *huruf* yang dibuang itu disebutkan, seperti perkataan Anda: *"Li-Khalidin daarun, wa Sa'idin bustaanun"* (Milik Khalid sebuah rumah, dan milik Sa'id sebuah kebun), maksudnya *"wa li-Sa'idin bustaanun"*. Juga perkataan penyair [dari bahar *Rajaz*]: *Maa li-muhibbin jaladin an yahjura … wa laa habiibin ra'fatun fa-yajbura* Dan perkataan penyair lainnya [dari bahar *Basit*]: *Akhliq bi-dzi ash-shabri an yahzha bi-haajatihi … wa mudmini al-qar'i lil-abwaabi an yalija* Maksudnya *"wa bi-mudmini al-qar'i"*. Di antaranya juga firman Allah Ta'ala: ﴿*Wa fii khalqikum wa maa yabutstsu min daabbatin aayaatun li-qaumin yuuqinuun. Wakh-tilaafi al-layli wan-nahaari wa maa anzalallahu mina as-samaa'i min rizqin fa-ahyaa bihi al-ardha ba'da mawtihaa wa tashriifi ar-riyaahi aayaatun li-qaumin ya'qiluun*﴾ (Dan pada penciptaan dirimu dan pada makhluk bergerak yang bernyawa yang bertebaran terdapat tanda-tanda bagi kaum yang meyakini. Dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkan-Nya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada berkisarnya angin terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berakal). 5- Pembuangan Huruf *Jar* secara *Sama'i* (*Hadzf Huruf al-Jar Sama'an*) Terkadang *huruf jar* dibuang secara *sama'i* (berdasarkan pendengaran/transmisi lisan dari masyarakat Arab), sehingga *isim* yang *majrur* di-*nashab*-kan setelah pembuangannya karena diserupakan dengan *maf'ul bih*. Ini juga disebut sebagai *al-manshub 'ala naz'i al-khafidz*, yaitu *isim* yang…

الذي نُصبَ بسبب حذفِ حرفِ الجرِّ، كقولهِ تعالى ﴿ألا إنَّ ثمودَ كفروا ربَّهم﴾ ، أي بربهم، وقولهِ ﴿واختارَ موسى قومَهُ أربعينَ رجلاً﴾ أي من قومه، وقولِ الشاعر [من الوافر] تَمُرُّونَ الدِّيارَ وَلَمْ تَعُوجُوا … كَلامُكُمُ عَلَيَّ إذاً حَرامُ أي تَمُرُّونَ بالديار، وقولِ الآخر [من البسيط] أَمَرْتُكَ الخَيْرَ فافْعَلْ مَا أُمرْتَ بهِ … فَقَدْ تَرْكْتُكَ ذا مَالٍ وَذا نَشَبِ أي أمرتُك بالخير، وقولِ غيرهِ [من البسيط] أَسْتَغْفِرُ اللهَ ذَنباً لَسْتُ مُحْصِيَهُ … رَبَّ الْعِبادِ، إِلَيهِ الْوَجْهُ والعَمَلُ أي أستغفرُ اللهَ من ذنب. ويُسمّى هذا الصنيعُ بالحذف والإيصال، أي حذفِ الجارَّ وإيصالِ الفعل غلى المفعول بنفسهِ بلا واسطة. وقال قومٌ إنهُ قياسي. والجمهورُ على انهُ سماعيٌّ. ونَدَرَ بقاءُ الاسمِ مجروراً بعد حذف الجارِّ، في غير مواضع حذفهِ قياساً. ومن ذلك قولُ بعضِ العربِ، وقد سُئلَ "كيف أصبحتَ؟ " فقال "خيرٍ، إن شاءَ اللهُ"، أي "على خير"، وقولُ الشاعر [من الطويل] إذا قيلَ أَيُّ النَّاسِ شَرٌّ قَبيلَةً … أَشارَتْ كُلَيْبٍ بالأَكُفِّ الأَصابِعُ أي إلى كليب. ومثلُ هذا شُذوذٌ لا يُلتفتُ إليه.

(…yang di-*nashab*-kan karena pembuangan *huruf jar*), seperti firman Allah Ta'ala: ﴿ألا إنَّ ثمودَ كفروا ربَّهم﴾ (*alā inna tsamūda kafarū rabbahum* – Ketahuilah sesungguhnya kaum Tsamud itu kufur kepada Tuhan mereka), maksudnya adalah *bi rabbihim*. Dan firman-Nya: ﴿واختارَ موسى قومَهُ أربعينَ رجلاً﴾ (*wakhtāra mūsā qaumahu arba'īna rajulan* – Dan Musa memilih dari kaumnya tujuh puluh orang laki-laki), maksudnya adalah *min qaumihi*. Dan perkataan penyair: *Tamurrūna ad-diyāra wa lam ta'ūjū… kalāmukum 'alayya idzan harāmu* (Kalian melewati negeri-negeri itu tanpa singgah… maka pembicaraan kalian kepadaku adalah haram). Maksudnya adalah *bi ad-diyār*. Dan perkataan yang lain: *Amartuka al-khaira faf'al mā umirta bihi… faqad taraktuka dzā mālin wa dzā nasyabi* (Aku memerintahkanmu pada kebaikan, maka lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu… karena sungguh aku telah meninggalkanmu dalam keadaan memiliki harta dan kekayaan). Maksudnya adalah *bi al-khair*. Dan perkataan lainnya: *Astaghfiru Allāha dzanban lastu muhshiyahu… rabba al-'ibādi, ilaihi al-wajhu wa al-'amalu* (Aku memohon ampun kepada Allah dari dosa yang tidak dapat kuhitung… Tuhan para hamba, kepada-Nya wajah dan amal tertuju). Maksudnya adalah *min dzanbin*. Perbuatan ini dinamakan dengan *al-hadzf wa al-īshāl* (penghapusan dan penyambungan), yaitu menghapus huruf *jārr* (preposisi) dan menyambungkan *fi'il* langsung kepada *maf'ul* (objek) dengan sendirinya tanpa perantara. Sebagian kaum berpendapat bahwa hal ini bersifat *qiyāsī* (memiliki pola baku). Namun mayoritas ulama berpendapat bahwa hal ini bersifat *samā'ī* (berdasarkan pendengaran dari orang Arab asli). Sangat jarang ditemukan *isim* tetap dalam keadaan *majrūr* setelah dihapusnya huruf *jārr*, di luar tempat-tempat penghapusannya yang bersifat *qiyāsī*. Di antaranya adalah perkataan sebagian orang Arab ketika ditanya: "Bagaimana keadaanmu pagi ini?", lalu ia menjawab: "*Khairin, in syā'a Allāh*" (Baik, insya Allah), maksudnya adalah *'alā khairin*. Dan perkataan penyair: *Idzā qīla ayyu an-nāsi syarrun qabīlatan… asyārat Kulaibin bi al-akuffi al-ashābi'u* (Jika dikatakan kabilah mana yang paling buruk… maka jari-jemari tangan akan menunjuk kepada Kulaib). Maksudnya adalah *ilā Kulaibin*. Hal seperti ini adalah *syudzūdz* (penyimpangan) yang tidak perlu diperhatikan.

٦- أَقسامُ حَرفِ الجَرِّ حرفُ الجرَّ على ثلاثة أقسام أصليٍّ وزائدٍ وشبيه بالزائد. فالأصليُّ ما يحتاجُ غلى مُتعلَّق. وهو لا يُستغنى عنه معنًى ولا إعراباً، نحو "كتبتُ بالقلم". والزائدُ ما يُستغنى عنه إعراباً، ولا يحتاجُ إلى مُتعلّق. ولا يُستغنى عنه معنًى، لأنهُ إنما جيءَ به لتوكيد مضمونِ الكلام، نحو "ما جاءَنا من أحدٍ" ونحو "ليسَ سعيدٌ بمسافرٍ". والشِّبيهُ بالزائدِ ما لا يُمكن الاستغناءُ عنهُ لفظاً ولا معنى، غيرَ أنهُ لا يحتاجُ إلى مُتعلّق. وهو خمسةُ أحرفٍ "رُبَّ وخَلاَ وعدا وحاشا ولَعَلَّ". (وسمي شبيهاً بالزائد لأنه لا يحتاج إلى متعلّق. وهو أيضاً شبيهٌ بالأصلي من حيث أنه لا يستغنى عنه لفظاً ولا معنى. والقول بالزائد هو من باب الاكتفاء، على حد قوله تعالى ﴿سرابيل تقيكم الحرّ﴾ ، أي وتقيكم البرد أيضاً) . ٧- مَواضِعُ زِيادَةِ الجارِّ لا يُزادُ من حروفِ الجرّ إلا "من والباءُ والكافُ واللام". وزيادتها إنما هي في الإعراب، وليستْ في المعنى، لأنها إنما يُؤتى بها للتَّوكيدِ. أمّا الكافُ، فزيادتها قليلةٌ جداً. وقد سُمعت زيادتها في خبر "ليس"، كقوله تعالى ﴿ليسَ كمثلهِ شيءٌ﴾ ، أي "ليس مثلَه

**6. Pembagian Huruf Jar** Huruf jar terbagi menjadi tiga macam: asli (*ashli*), tambahan (*za'id*), dan menyerupai tambahan (*syabih biz-za'id*). Huruf jar asli (*al-ashli*) adalah huruf jar yang membutuhkan keterikatan (*muta'allaq*). Ia tidak dapat diabaikan baik secara makna maupun *i'rab*, seperti: *Katabtu bil-qalami* (كتبتُ بالقلم – Aku menulis dengan pena). Huruf jar tambahan (*az-za'id*) adalah huruf jar yang dapat diabaikan secara *i'rab* dan tidak membutuhkan *muta'allaq*. Namun ia tidak dapat diabaikan secara makna, karena ia didatangkan untuk menegaskan kandungan kalimat, seperti: *Ma ja'ana min ahadin* (ما جاءَنا من أحدٍ – Tidak ada seorang pun yang datang kepada kami) dan *Laisa Sa'idun bi-musafirin* (ليسَ سعيدٌ بمسافرٍ – Said bukanlah orang yang bepergian). Huruf jar yang menyerupai tambahan (*asy-syabih biz-za'id*) adalah huruf jar yang tidak mungkin diabaikan baik secara lafal maupun makna, hanya saja ia tidak membutuhkan *muta'allaq*. Huruf ini ada lima, yaitu: *rubba* (رُبَّ), *khala* (خَلاَ), *'ada* (عدا), *hasya* (حاشا), dan *la'alla* (لَعَلَّ). (Dinamakan menyerupai tambahan karena ia tidak membutuhkan *muta'allaq*. Ia juga menyerupai huruf jar asli dari segi tidak dapat diabaikan baik secara lafal maupun makna. Pendapat yang menyatakan tambahan di sini adalah dari bab *al-iktifa'* [pencukupan], senada dengan firman Allah Ta'ala: *sarabila taqikumul-harra* [pakaian yang memeliharamu dari panas], yang artinya 'dan memeliharamu dari dingin juga'). **7. Tempat-Tempat Penambahan Huruf Jar** Huruf jar tidak ditambahkan kecuali empat huruf saja, yaitu: *min* (من), *al-ba'* (الباء), *al-kaf* (الكاف), dan *al-lam* (اللام). Penambahan huruf-huruf ini hanyalah terjadi dalam *i'rab*, bukan dalam makna, karena ia didatangkan semata-mata untuk penegasan (*taukid*). Adapun huruf *kaf*, penambahannya sangat sedikit sekali. Penambahannya pernah terdengar pada *khabar* dari kata *laisa*, seperti firman Allah Ta'ala: *Laisa ka-mitslihi syai'un* (ليسَ كمثلهِ شيءٌ), yang artinya 'tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya'…

شيءٌ"، وفي المبتدأ، كقول الراجل "لَواحِق الأقرابِ فيها كالمَقَقْ". وزيادتها سماعيّة. وأمّا اللامُ فتُزادُ سماعاً بينَ الفعل ومفعوله. وزيادتها في ذلك رديئةٌ. قال الشاعر [من الكامل] وَمَلَكْتَ ما بَيْنَ الْعِراقِ ويَثْرِبٍ … مُلْكاً أَجارَ لِمُسْلِمٍ وَمُعاهِدِ أي أجار مسلماً ومعاهداً. وتُزادُ قياساً في مفعولٍ تأخَّرَ عنه فِعلُهُ تقويةً للفعل المتأخر لضَعفهِ بالتأخُّر، كقولهِ تعالى ﴿الذينَ هم لربهم يَرهبون﴾ ، أي ربهم يَرهبون، وفي مفعول المشتقِّ من الفعل تقويةً لهُ أيضاً، لأنَّ عملَهُ فَرعٌ عن عملِ فعلهِ المشتقَّ هو منه، كقوله تعالى ﴿مُصَدِّقاً لِما مَعَهم﴾ ، أي مصدقاً لما معهم، وقولهِ ﴿فَعَالٌ لما يُريد﴾ ، أي فَعّالٌ ما يريد وقد سبق الكلام عليها. وأمّا "مِن" فلا تُزادُ إلا في الفاعل والمفعول به والمبتدأ، بشرط أن تُسبَقَ بنفيٍ أو نهي أو استفهامٍ بهَلْ، وأن يكون مجرروها نكرةً. وزيادتها فيهنَّ قياسيّةٌ. ولم يشترط الأخفش تَقدُّمَ نفي أو شبههِ، وجعل من ذلك قولهُ تعالى ﴿ويكفّر عنكم من سيئاتكم﴾ ، وقولهُ ﴿فَكلُوا مِمّا أمسكنَ عليكم﴾ . و"من" في هاتين الآيتين تحتملُ معنى التبعيض أيضاً. وبذلك قال جمهور النُّحاة. وأقوى من هذا الاستشهاد الاستدلالُ بقوله تعالى

…sesuatu), dan pada *mubtada'*, seperti ucapan penyair *rajaz*: "لَواحِق الأقرابِ فيها كالمَقَقْ" (*lawahiqu al-aqrabi fiha ka al-maqaqi*). Penambahannya di sini bersifat *sama'iyyah* (berdasarkan transmisi lisan dari orang Arab asli). Adapun huruf *al-lam* (اللام), ia ditambahkan secara *sama'i* di antara *fi'il* (kata kerja) dan *maf'ul*-nya (objek). Penambahannya dalam hal tersebut dinilai buruk (*radi'ah*). Penyair berkata [dari bahar *Kamil*]: *Wa malakta ma baina al-'iraqi wa yatsriba… mulkan ajara li-muslimin wa mu'ahadi* (Dan engkau telah menguasai wilayah antara Irak dan Yatsrib… dengan kekuasaan yang melindungi orang muslim dan orang yang terikat perjanjian). Yaitu: *ajara musliman wa mu'ahadan* (melindungi orang muslim dan orang yang terikat perjanjian). Huruf ini ditambahkan secara *qiyasi* (berdasarkan kaidah analogis) pada *maf'ul* yang posisinya diakhirkan dari *fi'il*-nya, guna memperkuat *fi'il* yang diakhirkan tersebut karena ia melemah akibat posisinya yang di belakang, seperti firman Allah Ta'ala: ﴿الذينَ هم لربهم يَرهبون﴾ (Mereka yang takut kepada Tuhannya), yaitu *rabbahum yarhabun* (kepada Tuhannya mereka takut). Ia juga ditambahkan pada *maf'ul* dari kata bentukan (*musytaq*) dari *fi'il* guna memperkuatnya juga, karena pengamalannya merupakan cabang dari pengamalan *fi'il* asalnya, seperti firman Allah Ta'ala: ﴿مُصَدِّقاً لِما مَعَهم﴾ (Yang membenarkan apa yang ada pada mereka), yaitu *mushaddiqan ma ma'ahum*, dan firman-Nya: ﴿فَعَالٌ لما يُريد﴾ (Maha Kuasa berbuat apa yang Dia kehendaki), yaitu *fa'alun ma yurid*, dan pembahasan mengenai hal ini telah berlalu. Adapun huruf *min* (مِنْ), ia tidak ditambahkan kecuali pada *fa'il* (pelaku), *maf'ul bih* (objek), dan *mubtada'*, dengan syarat didahului oleh *nafi* (penafian), *nahyi* (larangan), atau *istifham* (pertanyaan) dengan menggunakan kata *hal* (هل), serta kata yang dimajrurkannya harus berupa *nakirah* (kata umum). Penambahannya pada posisi-posisi tersebut bersifat *qiyasiyyah* (sesuai kaidah standar). Al-Akhfasy tidak mensyaratkan harus didahului oleh *nafi* atau yang menyerupainya, dan ia menjadikan di antara contohnya adalah firman Allah Ta'ala: ﴿ويكفّر عنكم من سيئاتكم﴾ (Dan Dia menghapus dari kalian sebagian kesalahan-kesalahan kalian), dan firman-Nya: ﴿فَكلُوا مِمّا أمسكنَ عليكم﴾ (Maka makanlah dari apa yang mereka tangkap untuk kalian). Huruf *min* pada kedua ayat ini juga mengandung makna *tab'idh* (menunjukkan sebagian). Demikianlah pendapat mayoritas ulama *Nahwu*. Dan argumen yang lebih kuat dari pendalilan ini adalah merujuk pada firman Allah Ta'ala…

﴿ويُنَزِّلُ من السماء، من جبال فيها، من بَرَدٍ﴾ . فمن في قوله "من برد" لا ريب في زيادتها، وإن قالوا إنها تحتمل غيرَ ذلك، لأنَّ المعنى أن يُنزَّل بَرَداً من جبالٍ في السماءِ. فزيادتها في الفاعل، كقوله تعالى ﴿ما جاءَنا من بشير﴾ . وزيادتها في المفعول، كقوله ﴿تَحِسُّ منهم من أحد﴾ . وزيادتها في المبتدأ، كقوله ﴿هل من خالقٍ غيرُ اللهِ يَرزُقُكم!﴾ . وأما الباءُ فهي أكثر أخواتها زيادةً. وهي تزادُ في الإثباتِ والنفي. وتزاد في خمسةِ مواضعَ ١- في فاعل "كفى"، كقوله تعالى ﴿وكفى بالله وليّاً، وكفى بالله نصيراً﴾ . ٢- في المفعول به، سماعاً نحو "أخذتُ بزمامِ الفَرَس"، ومنه قولهُ تعالى ﴿ولا تُلقوا بأيديكم إلى التّهلُكةِ﴾ ، وقولهُ ﴿وهُزِّي إليكِ بِجِذعِ النَّخلة﴾ ، وقوله ﴿ومَنْ يُرِدْ فيه بإِلحادٍ﴾ ، وقولُهُ ﴿فَطفِقَ مَسحاً بالسُّوقِ والأعناقِ﴾ . ومنهُ زيادتُها في مفعولِ "كفى" المُتعدَّيةِ إلى واحدٍ، كحديثِ "كفى بالمرءِ إثماً أن يُحدِّثَ بكلِّ ما سَمِعَ". وتُزادُ في مفعولِ "عَرَف وعَلِمَ – التي بمعناها – ودَرَى وجَهِلَ وسَمِعَ وأحسَّ".

﴿ويُنَزِّلُ من السماء، من جبال فيها، من بَرَدٍ﴾ (*Wa yunazzilu minas-sama'i min jibalin fiha min barad*). Kata *min* pada firman-Nya "من برد" (*min barad*) tidak diragukan lagi merupakan *za'idah* (tambahan), meskipun ada ulama yang mengatakan mengandung kemungkinan lain, sebab maknanya adalah "Allah menurunkan hujan es dari gunung-gunung di langit". Penambahannya (*za'idah*) pada posisi *fa'il*, seperti firman Allah Ta'ala: ﴿ما جاءَنا من بشير﴾ (*Ma ja'ana min basyir*). Penambahannya pada posisi *maf'ul*, seperti firman-Nya: ﴿تَحِسُّ منهم من أحد﴾ (*Tuhissu minhum min ahad*). Penambahannya pada posisi *mubtada'*, seperti firman-Nya: ﴿هل من خالقٍ غيرُ اللهِ يَرزُقُكم!﴾ (*Hal min khaliqin ghairullahi yarzuqukum*). Adapun *Baa'* (الباء), ia merupakan *huruf jar* yang paling banyak menjadi *za'idah* dibanding saudara-saudaranya. Ia ditambahkan dalam kalimat positif (*itsbat*) maupun negatif (*nafi*). Dan ia ditambahkan pada lima tempat: 1- Pada *fa'il* dari kata *kafa* (كفى), seperti firman Allah Ta'ala: ﴿وكفى بالله وليّاً، وكفى بالله نصيراً﴾ (*Wa kafa billahi waliyya, wa kafa billahi nashira*). 2- Pada *maf'ul bih*, secara *sama'i*, seperti: "أخذتُ بزمامِ الفَرَس" (*Akhadztu bizimamil-faras*), dan di antaranya firman Allah Ta'ala: ﴿ولا تُلقوا بأيديكم إلى التّهلُكةِ﴾ (*Wa la tulqu bi-aidikum ilat-tahlukah*), firman-Nya: ﴿وهُزِّي إليكِ بِجِذعِ النَّخلة﴾ (*Wa huzzi ilaiki bijidz'in-nakhlah*), firman-Nya: ﴿ومَنْ يُرِدْ فيه بإِلحادٍ﴾ (*Wa man yurid fihi bi-ilhad*), serta firman-Nya: ﴿فَطفِقَ مَسحاً بالسُّوقِ والأعناقِ﴾ (*Fa thafiqa mashan bis-suqi wal-a'naq*). Di antaranya pula penambahannya pada *maf'ul* dari *kafa* yang *muta'addi* (transitif) ke satu *maf'ul*, seperti hadis: "كفى بالمرءِ إثماً أن يُحدِّثَ بكلِّ ما سَمِعَ" (*Kafa bil-mar'i itsman an yuhadditsa bikulli ma sami'a*). Ia juga ditambahkan pada *maf'ul* dari kata *'arafa*, *'alima* (dan yang bermakna dengannya), *dara*, *jahila*, *sami'a*, dan *ahassa*.

ومعنى زيادتها في المفعول به سَماعاً أنها لا تُزادُ إلا في مفعول الأفعال التي سُمعت زيادتها في مفاعيلها، فلا يُقاسُ عليها غيرها من الأفعال. وأمّا ما وَرَد، فلك أن تَزيدَ الباءَ في مفعوله في كل تركيب. ٣- في المبتدأ، إذا كان لفظَ "حَسْب" نحو "بِحَسبِكَ درهمٌ"، أو كان بعدَ لفظِ "ناهيكَ"، نحو "ناهيكَ بخالدٍ شجاعاً"، أو كان بعدَ "إذا الفُجائيّةِ، نحو "خرجتُ فإذا بالأستاذِ"، أو بعدَ "كيفَ"، نحو "كيفَ بِكَ، أو بخليل، إذا كان كذا وكذا؟ ". ٤- ي الحال المنفيّ عاملَها. وزيادتها فيها سَماعيّةٌ، كقولِ الشاعر [من الوافر] فَما رَجعَتْ بِخائِبَةٍ رِكابٌ … حَكيمُ بْنُ المسيِّبِ مُنْتَهاها وقولِ الآخر [من البسيط] كائِنْ دُعيتُ إلى بَأْساءَ داهِمَةٍ … فَما انبَعَثْتُ بِمَزءُودٍ وَلا وَكَلِ وجعلَ بعضهُم زيادَتها فيها مَقيسةً، والذوقُ العربيُّ لا يأبى زيادَتها فيها. ٥- في خبر "ليسَ وما" كثيراً، وزيادتها هنا قياسيّةٌ. فالأولُ كقوله تعالى ﴿أَليسَ اللهُ بِكافٍ عبدَه﴾ ، وقولهِ ﴿أَليسَ اللهُ بأحكمِ الحاكمين﴾ . والثاني كقوله سبحانهُ ﴿وما رَبُّكَ بِظلاّمٍ للعبيد﴾ ، وقولهِ ﴿وما اللهُ بغافلٍ عمّا تعملونَ﴾ . وإنما دخلت الباءُ في خبر "إنَّ" في قوله تعالى ﴿أَوَ لَمْ يَرَوا أنَّ اللهَ

…dan makna penambahannya pada *maf'ul bih* (objek penderita) secara *sama'i* (berdasarkan riwayat lisan yang didengar) adalah bahwa ia tidak ditambahkan kecuali pada objek dari kata kerja yang memang telah didengar penambahannya pada objek-objek tersebut, sehingga tidak boleh dianalogikan (*qiyas*) pada kata kerja lainnya. Adapun mengenai apa yang telah diriwayatkan, maka Anda diperbolehkan menambahkan huruf *ba'* pada objeknya dalam setiap susunan kalimat. 3. Pada *mubtada'* (subjek), apabila berupa lafal حَسْبُ, seperti: بِحَسْبِكَ دِرْهَمٌ (Cukuplah bagimu satu dirham). Atau terletak setelah lafal نَاهِيكَ, seperti: نَاهِيكَ بِخَالِدٍ شُجَاعاً (Cukuplah bagimu Khalid sebagai orang yang pemberani). Atau terletak setelah إِذَا *al-fujaiyyah* (idza penunjuk tiba-tiba), seperti: خَرَجْتُ فَإِذَا بِالأُسْتَاذِ (Aku keluar, tiba-tiba ada guru). Atau terletak setelah كَيْفَ, seperti: كَيْفَ بِكَ [atau بِخَلِيلٍ] إِذَا كَانَ كَذَا وَكَذَا؟ (Bagaimana keadaanmu [atau keadaan Khalil] jika terjadi begini dan begitu?). 4. Pada *hal* (keterangan keadaan) yang dinegatifkan *'amil*-nya. Penambahannya di sini bersifat *sama'i*, seperti perkataan penyair [bahr Wafir]: *Fa-mā raja‘at bi-khā’ibatin rikābun… Ḥakīmu bnu al-Musayyibi muntahāhā* (Maka rombongan kafilah itu tidak kembali dengan sia-sia… karena Hakim bin al-Musayyib adalah tujuan akhir mereka). Dan perkataan penyair lainnya [bahr Basit]: *Ka-ayyin du‘ītu ilā ba’sā’a dāhimatin… fa-mā imba‘athtu bi-maz’ūdin wa-lā wakali* (Betapa sering aku diseru menghadapi kesulitan yang datang tiba-tiba… namun aku tidak bangkit dalam keadaan takut maupun lemah). Sebagian ulama menjadikan penambahannya pada *hal* ini sebagai hal yang dapat dianalogikan (*maqisah*), dan cita rasa bahasa Arab (*al-dzawq al-'arabi*) tidak menolak penambahannya di sana. 5. Pada *khabar* (predikat) dari لَيْسَ dan مَا secara sering, dan penambahannya di sini bersifat analogis (*qiyasi*). Contoh pertama (pada khabar لَيْسَ) adalah firman Allah Ta'ala: أَلَيْسَ اللهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ (Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-Nya?) dan firman-Nya: أَلَيْسَ اللهُ بِأَحْكَمِ الحَاكِمِينَ (Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?). Contoh kedua (pada khabar مَا) adalah firman Allah Ta'ala: وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ (Dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hamba-Nya) dan firman-Nya: وَمَا اللهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ (Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan). Hanyalah huruf *ba'* masuk ke dalam *khabar* dari أَنَّ pada firman Allah Ta'ala: أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللهَ…

الذي خَلَقَ السّمواتِ والأرضَ، ولم يَعيَ بخلقهنَّ، بقادرٍ على أنْ يُحييَ المَوتى، بَلَى، إنهُ على كلِّ شيءٍ قديرٌ﴾ ، لأنه في معنى "أَوَلَيسَ" بدليلِ أَنهُ مُصَرحٌ بهِ في قولهِ ﷿ ﴿أَوَلَيس الذي خلقَ السمواتِ والأرضَ بقادرٍ على أن يَخلُقَ مِثلَهم، بَلَى، وهو الخلاّقُ العليمَ﴾ [يس: ٨١] . فائدتان ١- قد يَتوهَّمُ الشاعرُ أنه زاد الباء في خبر "ليس" أو خبرِ "ما" العاملةِ عملَها، فيعطفُ عليه بالجرِّ تَوَهُّماً، وحقُّهُ أن ينصبَهُ، كقوله [من الطويل] بَدا لِيَ أَني لَسْتُ مُدْرِكَ ما مَضَى … وَلا سابقٍ شَيْئاً، إذا كانَ جَائِيا وقولِ الآخر [من الطويل] أَحَقًّا، عِبادَ اللهِ، أَنْ لَسْتُ صاعِداً … وَلا هابِطاً إِلاَّ عَلَيَّ رَقيبُ وَلا سالِكٍ وَحْدي، وَلا في جَماعَةٍ … مِنَ النَّاسِ، إِلاَّ قيلَ أَنتَ مُريبُ! وقولِ غيره [من الطويل] مَشَائيمُ لَيْسُوا مُصْلِحينَ عَشيرَةً … وَلا ناعِبٍ إِلاَّ بِبَيْنٍ غُرابُها فالخفضُ في "سابق وسالك وناعب" على تَوهم وجود الباءِ في "مدرك

"Bukankah Allah yang menciptakan langit dan bumi dan Dia tidak merasa lelah karena menciptakannya, Mahakuasa untuk menghidupkan orang-orang mati? Ya, sungguh Dia Mahakuasa atas segala sesuatu" (*a-wa-laisa alladzî khalaqa as-samâwâti wa-al-ardha… bi-qâdirin 'alâ an yuhyiya al-mautâ, balâ innihi 'alâ kulli syai'in qadîr*), karena ia bermakna *a-wa-laisa* (bukankah), dengan dalil bahwa hal itu dinyatakan secara jelas dalam firman-Nya Jalla wa 'Ala: "Dan bukankah Allah yang menciptakan langit dan bumi itu Mahakuasa menciptakan yang serupa dengan mereka? Ya, dan Dia Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui" (*a-wa-laisa alladzî khalaqa as-samâwâti wa-al-ardha bi-qâdirin 'alâ an yakhluqa mitslahum, balâ wa-huwa al-khallâqu al-'alîm*). **Dua Faedah:** 1. Terkadang seorang penyair menduga bahwa ia telah menambahkan huruf *bâ'* pada *khabar laisa* atau *khabar mâ* yang beramal seperti *laisa*, sehingga ia meng-athaf-kan kata kepadanya dengan harakat *jar* karena dugaan tersebut, padahal haknya adalah me-*nasab*-kannya, seperti perkataan penyair [dari bahar thawil]: *Badâ lî annî lastu mudrika mâ madhâ… wa-lâ sâbiqin syai'an idzâ kâna jâ'iyâ* (Tampak jelas bagiku bahwa aku tidak akan dapat mengejar apa yang telah berlalu… dan tidak akan dapat mendahului sesuatu yang akan datang). Dan perkataan penyair yang lain [dari bahar thawil]: *A-haqqan, 'ibâda Allâhi, an lastu shâ'idan… wa-lâ hâbithan illâ 'alayya raqîbu* *Wa-lâ sâlikin wahdî wa-lâ fî jamâ'atin… mina an-nâsi illâ qîla anta murîbu!* (Apakah benar, wahai hamba-hamba Allah, bahwa aku tidak mendaki… dan tidak pula turun melainkan ada pengawas atasku? Dan aku tidak berjalan sendirian maupun bersama sekelompok orang… melainkan dikatakan, "Kamu mencurigakan!"). Dan perkataan penyair lainnya [dari bahar thawil]: *Masyâ'îmu laisû mushlihîna 'asyrîratan… wa-lâ nâ'ibin illâ bi-bainin ghurâbuhâ* (Orang-orang pembawa sial yang tidak memperbaiki kaumnya… dan tidak ada burung gagak yang berbunyi melainkan sebagai pertanda perpisahan). Maka harakat *jar* (*khafdh*) pada kata *sâbiqin*, *sâlikin*, dan *nâ'ibin* didasarkan pada dugaan adanya huruf *bâ'* pada kata *mudrika*

وصاعد ومصلحين". والجرُّ على التوهم سماعي لا يُقاس عليه. ٢- وقد يُجرُّ ما حقهُ الرفعُ أو النصبُ، لمجاورتهِ المجرورَ، كقولهم "هذا جُحرُ ضَبٍّ خَرِبٍ"، ومنه قولُ امرئ القيس [من الطويل] كَأَنَّ ثَبيراً، في عَرانِينِ وَبْلِهِ … كَبيرُ أُناسٍ في بِجادٍ مُزَمَّلِ ويُسمّى الجرَّ بالمُجاورة. وهو سَماعيٌّ أيضاً. ٨- مُتَعَلَّقُ حَرْفِ الجَرِّ الأَصلِيِّ مُتعلًَّقُ حرفِ الجرِّ الأصليِّ هو ما كانَ مُرتبطاً به من فعلٍ أو شَبهِهِ أو معناهُ. فالفعلُ نحو "وقفتُ على المِنبرِ". وشِبهُ الفعلِ، نحو "أَنا كاتبٌ بالقلم". ومعنى الفعل نحو "أُفٍّ للكُسالى". وقد يَتعلَّقُ باسمٍ مُؤوَّلٍ بما يُشبهُ الفعلَ، كقولهِ تعالى ﴿وهو اللهُ في السّموات وفي الأرض﴾ ، فحرفُ الجرِّ متعلقٌ بلفظ الجلاة لأنه مُؤوَّلٌ بالمعبود، أي وهو المعبودُ في السموات وفي الأرض، أو وهو المُسمّى بهذا الاسم فيهما. ومثلُ ذلك أَن تقولَ "أَنتَ عبدُ اللهِ في كلِّ مكان" و"خالدٌ لَيثٌ في كل موقعةٍ". ومن ذلك قول الشاعر [من الطويل]

…dan *sha'idan* serta *mushlihina*. Dan pembacaan *jar* atas dasar dugaan (*al-jar 'ala at-tawahhum*) bersifat *sama'iy* yang tidak dapat di-kias-kan. 2- Terkadang di-*jar*-kan kata yang haknya adalah di-*rafa'*-kan atau di-*nashab*-kan, disebabkan karena letaknya yang berdampingan dengan kata yang berharakat *jar* (*majrur*), seperti ucapan mereka: *"Hadza juhru dhabbin kharibin"* (Ini adalah lubang biawak yang runtuh). Di antaranya adalah ucapan Imru' al-Qais [dari bahar *Thawil*]: *"Ka-anna Tsabiran, fi 'aranini wablihi… kabiru unasin fi bijadin muzammali"* (Seolah-olah gunung Tsabir, di tengah derasnya guyuran hujan, bagaikan seorang tokoh masyarakat yang berselimut kain wol bergaris). Hal ini dinamakan dengan *al-jar bi al-mujawarah* (jar karena berdampingan), dan ia juga bersifat *sama'iy*. 8- *Muta'allaq* (Keterikatan) Huruf *Jar* yang Asli: *Muta'allaq* bagi huruf *jar* yang asli adalah kata yang berkaitan dengannya, baik berupa kata kerja (*fi'il*), yang menyerupai kata kerja (*syibhuhu*), maupun makna kata kerja (*ma'nahu*). Contoh kata kerja adalah: *"Waqaftu 'ala al-minbari"* (Aku telah berdiri di atas mimbar). Contoh yang menyerupai kata kerja adalah: *"Ana katibun bi al-qalami"* (Aku sedang menulis dengan pena). Dan contoh makna kata kerja adalah: *"Uffin li al-kusala"* (Ah bagi orang-orang yang malas!). Terkadang ia berkaitan dengan *isim* yang di-takwil-kan dengan kata yang menyerupai kata kerja, seperti firman Allah Ta'ala: *"Wa huwa Allahu fi as-samawati wa fi al-ardhi"* (Dan Dialah Allah di langit dan di bumi). Maka huruf *jar* di sini berkaitan dengan lafal jalalah (*Allahu*) karena ia di-takwil-kan dengan makna sembahan (*al-ma'bud*), yaitu: "Dan Dialah sembahan di langit dan di bumi," atau "Dialah yang dinamai dengan nama ini pada keduanya." Contoh sejenis adalah ucapanmu: *"Anta 'abdu Allahi fi kulli makanin"* (Engkau adalah hamba Allah di setiap tempat) dan *"Khalidun laitsun fi kulli mauqi'atin"* (Khalid bagaikan singa di setiap medan pertempuran). Di antaranya adalah ucapan penyair [dari bahar *Thawil*]: …

وَإن لِساني شُهْدَةٌ يُشْفى بِها … وَهُوَّ عَلى مَنْ صَبَّهُ اللهُ عَلْقَمُ فحرفُ الجرّ "على" متعلق بعلقم، لأنه بمعنى "مُرّ"، وأراد به أَنه صعب أو شديد، وقولُ الآخر [من مخلع البسيط] ما أُمُّكَ اجتاحَت الْمَنايا … كَلُّ فُؤَادٍ عَلَيْكَ أُمُّ فحرف الجر متعلق بأم، لأنها بمعنى "مُشفِق". وقد يَتعلقُ بما يُشيرُ إلى معنى الفعلِ، كأداةِ النفي، كقوله تعالى ﴿ما أَنتَ بنعمةِ ربكَ بمجنونٍ﴾ . فحرفُ الجر في "بنعمة" مُتعلقٌ بما، لأنهُ بمعنى "انتفى". وقد يُحذَفُ المتعلَّقُ. وذلك على ضربين جائزٍ وواجبٍ. فالجائزُ أَن يكون كوناً خاصاً، بشرطِ أن لا يضيعَ الفهم بحذفه، نحو "بالله"، جواباً لمن قال لك "بِمَن تَستعينُ؟ ". والواجبُ أَن يكون كوناً عاماً، نحو "العلمُ في الصُّدورِ. الكتابُ لخليلْ, نظرتُ نورَ القمر في الماءِ. مررت برجلٍ في الطريق".

*Wa-inna lisânî syuhdatun yusyfâ bihâ… wa-huwa 'alâ man shabbahu Allâhu 'alqamu* (Dan sesungguhnya lidahku adalah madu yang menyembuhkan… namun ia bagi orang yang ditimpakan kemurkaan Allah oleh-Nya adalah empedu yang pahit). Maka *huruf jar* *'alâ* (عَلَى) berkaitan (*muta'alliq*) dengan kata *'alqam*, karena ia bermakna "pahit", dan yang dimaksudkan adalah bahwa ia sulit atau keras. Dan perkataan penyair yang lain [dari bahar mukhla' al-basith]: *Mâ ummuka ijtâhati al-manâyâ… kullu fu'âdin 'alaika ummu* (Bukan ibumu saja yang direnggut oleh kematian… setiap hati yang menyayangimu adalah ibu bagimu). Maka *huruf jar* berkaitan dengan kata *umm*, karena ia bermakna "yang menyayangi (*musyfiq*)". Terkadang ia berkaitan dengan kata yang mengisyaratkan makna kata kerja, seperti piranti penafi (*adât an-nafi*), sebagaimana firman Allah Ta'ala: "Kamu dengan karunia Tuhanmu sekali-kali bukanlah orang gila" (*mâ anta bi-ni'mati rabbika bi-majnûnin*). Maka *huruf jar* pada kata *bi-ni'mati* berkaitan dengan kata *mâ*, karena ia bermakna "ditiadakan (*intafâ*)". Terkadang kata yang berkaitan (*al-muta'allaq*) dibuang. Hal ini terbagi menjadi dua macam: diperbolehkan (*jâ'iz*) dan wajib (*wâjib*). * **Yang diperbolehkan:** Jika berupa keberadaan yang khusus (*kaun khâsh*), dengan syarat tidak merusak pemahaman akibat pembuangannya, seperti ucapan *billâhi* (kepada Allah), sebagai jawaban bagi orang yang bertanya kepadamu: "Kepada siapa kamu memohon pertolongan?". * **Yang wajib:** Jika berupa keberadaan yang umum (*kaun 'âmm*), seperti: *al-'ilmu fî ash-shudûri* (ilmu itu di dalam dada), *al-kitâbu li-Khalîlin* (buku itu milik Khalil), *nazhartu nûra al-qamari fî al-mâ'i* (aku melihat cahaya rembulan di dalam air), dan *marartu bi-rajulin fî ath-tharîqi* (aku berpapasan dengan seorang pria di jalan).

٩- محَلُّ الْمَجُرورِ مِنَ الإِعرابِ حكمُ المجرور بحرف جرّ زائدٍ أَنهُ مرفوعُ المحلِّ أَو منصوبهُ، حَسبَ ما يَطلبهُ العاملُ قبلهُ. (فيكون مرفوع الموضع على أنه فاعل في نحو "ما جاءنا من أحد". والأصل ما جاءنا أحدٌ. وعلى أنه نائب فاعل في نحو "ما قيل من شيء". والأصل ما قيل شيءٌ. وعلى أنه مبتدأ في نحو "بحسبك الله"؛ والأصل حسبُك الله. ويكون منصوب الموضع على أنه مفعول به في نحو "ما رأيت من أحد"، والأصل: ما رأيت أحداً. وعلى أنه مفعول مطلق في نحو: "ما سعى فلان من سعي يُحمد عليه". والأصل: ما سعى سعياً يُحمد عليه. وعلى أنه خَبر "ليس" في نحو ﴿أليس الله بأحكم الحاكمين﴾ . والأصل أليس الله أحكم الحاكمين) . أمَّا المجرورُ بحرفِ جرٍّ شبيهٍ بالزائد، فإن كان الجارُّ "خَلا وعَدا وحاشا"، فهو منصوب محلاً على الاستثناءِ. وإن كان الجارُّ "ربَّ" فهوَ مرفوعٌ محلاً على الابتداءِ، نحو "رُبَّ غَنيٍّ اليومَ فقيرٌ غداً. رُبَّ رجلٍ كريمٍ أكرمتُهُ". إلاّ إذا كان بعدها فعلٌ مُتعدٍّ لم يَأخذ مفعولهُ، فهو منصوبٌ محلاًّ على أَنهُ مفعولٌ به للفعل بعدَهُ، نحو "ربَّ رجلٍ كريمٍ أَكرمتُ". فإن كان بعدَها فعلٌ لازم، أَو فعلٌ متعدّ ناصبٌ للضمير العائدِ على مجرورها فهو مبتدأ، والجملةُ بعدَهُ خبرهُ، نحو "رُبَّ عاملٍ مجتهدٍ نَجَحَ. ربَّ تلميذٍ مجتهدٍ أكرمتُهُ". وأمّا المجرورُ بحرفِ جَرّ أصليّ فهو مرفوعٌ محلاًّ، إن ناب عن الفاعل بعد حذفهِ، نحو "يؤخذُ بِيَدِ العاثرِ. جيءَ بالمُجرم الفارِّ" أو كان في موضع خبرِ المبتدأ، أو خبرِ "إنَّ" أو إحدى أخواتها، أَو خبر "لا" النافية

9. Kedudukan *I'rab* bagi Kata yang Di-*jar*-kan (*Mahall al-Majrur min al-I'rab*): Hukum kata yang di-*jar*-kan dengan huruf jar tambahan (*za'id*) adalah berkedudukan *marfu' mahall* (rafa' secara tempat) atau *manshub mahall* (nashab secara tempat), sesuai dengan apa yang dituntut oleh *'amil* sebelum huruf jar tersebut. (Maka ia berkedudukan *marfu' mahall* sebagai *fa'il* pada contoh seperti: "ما جاءنا من أحد" [*ma ja'ana min ahadin*], yang asalnya adalah *ma ja'ana ahadun*. Dan sebagai *na'ib al-fa'il* pada contoh seperti: "ما قيل من شيء" [*ma qila min syai'in*], yang asalnya adalah *ma qila syai'un*. Serta sebagai *mubtada'* pada contoh seperti: "بحسبك الله" [*bi-hasbika Allahu*], yang asalnya adalah *hasbuka Allahu*. Dan ia berkedudukan *manshub mahall* sebagai *maf'ul bih* pada contoh seperti: "ما رأيت من أحد" [*ma ra'aitu min ahadin*], yang asalnya adalah *ma ra'aitu ahadan*. Dan sebagai *maf'ul muthlaq* pada contoh seperti: "ما سعى فلان من سعي يُحمد عليه" [*ma sa'a fulanun min sa'yin yuhmadu 'alaihi*], yang asalnya adalah *ma sa'a sa'yan yuhmadu 'alaihi*. Serta sebagai *khabar* bagi *laisa* pada contoh seperti: ﴿أليس الله بأحكم الحاكمين﴾ [*alaisa Allahu bi-ahkami al-hakimina*], yang asalnya adalah *alaisa Allahu ahkama al-hakimina*). Adapun kata yang di-*jar*-kan dengan huruf jar yang menyerupai tambahan (*syabih bi al-za'id*), jika huruf jar-nya berupa *khala*, *'ada*, dan *hasya*, maka ia berkedudukan *manshub mahall* atas dasar *istitsna'* (pengecualian). Dan jika huruf jar-nya berupa *rubba*, maka ia berkedudukan *marfu' mahall* sebagai *mubtada'*, seperti: "رُبَّ غَنيٍّ اليومَ فقيرٌ غداً. رُبَّ رجلٍ كريمٍ أكرمتُهُ" (*rubba ghaniyyin al-yauma faqirun ghadan. rubba rajulin karimin akramtuhu*). Kecuali jika setelahnya terdapat *fi'il muta'addi* (kata kerja transitif) yang belum mengambil *maf'ul bih*-nya, maka ia berkedudukan *manshub mahall* sebagai *maf'ul bih* bagi *fi'il* setelahnya, seperti: "ربَّ رجلٍ كريمٍ أَكرمتُ" (*rubba rajulin karimin akramtu*). Namun jika setelahnya berupa *fi'il lazim* (kata kerja intransitif), atau *fi'il muta'addi* yang menashabkan *dhamir* yang kembali kepada kata yang di-*jar*-kan tersebut, maka ia berkedudukan sebagai *mubtada'*, dan kalimat setelahnya menjadi *khabar*-nya, seperti: "رُبَّ عاملٍ مجتهدٍ نَجَحَ. ربَّ تلميذٍ مجتهدٍ أكرمتُهُ" (*rubba 'amilin mujtahidin najaha. rubba tilmidzin mujtahidin akramtuhu*). Adapun kata yang di-*jar*-kan dengan huruf jar asli, maka ia berkedudukan *marfu' mahall* jika ia menggantikan *fa'il* setelah dihapus, seperti: "يؤخذُ بِيَدِ العاثرِ. جيءَ بالمُجرم الفارِّ" (*yu'khadzu bi-yadi al-'atsiri. ji'a bi al-mujrimi al-farri*), atau berada pada posisi *khabar mubtada'*, atau *khabar inna* atau salah satu saudaranya, atau *khabar la* nafiah…

للجنسِ، نحو "العلمُ كالنور. إن الفَلاَحَ في العمل الصالحِ لا حَسَبَ كحُسنِ الخُلُقِ". وهو منصوب محلاًّ على أَنهُ مفعولٌ فيه، إن كان ظرفاً، نحو "جلستُ في الدار. سرتُ في الليل". وعلى أنه مفعولٌ لأجله غيرُ صريحٍ، إن كان الجارّ حرفاً يُفيد التّعليلَ والسببيّة، نحو "سافرتُ للعلم، ونَصِبتُ من أَجلهِ، واغتربتُ فيه". وعلى أنه مفعولُ مُطلَق، إن ناب عن المصدر، نحو "جرى الفرسُ كالرِّيح". وعلى أنه خبرٌ للفعل الناقص، إن كان في موضع خبرهِ. نحو "كنت في دِمَشقَ". وإن وقعَ تابعاً لِمَا قبلهُ كان محلُّهُ من الإعراب على حسَب متبوعهِ، نحو "هذا عالمٌ من أَهل مِصرَ. رأَيتُ عالماً من أَهل مَصر. أَخذتُ عن عالمٍ من أَهل مَصر". فإن لم يكن، أي المجرور، شيئاً ممّا تقدَّمَ كان في محلِّ نصبٍ على أنهُ مفعولٌ به غيرُ صريحٍ، نحو "مررتُ بالقومِ، وَقفتُ على المِنبر. سافرتُ من بيروت إلى دِمشقَ".

untuk jenis (*lil-jins*), seperti: الْعِلْمُ كَالنُّورِ (Ilmu itu seperti cahaya) dan إِنَّ الْفَلَاحَ فِي الْعَمَلِ الصَّالِحِ لَا حَسَبَ كَحُسْنِ الْخُلُقِ (Sesungguhnya keberuntungan itu ada pada amal saleh, tidak ada kehormatan keturunan yang seperti kebaikan akhlak). Dan ia *manshub* secara *mahal* sebagai *maf'ul fih* (keterangan tempat/waktu) jika berupa *zharaf*, seperti: جَلَسْتُ فِي الدَّارِ (Aku duduk di dalam rumah) dan سِرْتُ فِي اللَّيْلِ (Aku berjalan di malam hari). Dan sebagai *maf'ul li-ajlih* (keterangan alasan) yang tidak sharih (tidak langsung) jika huruf *jar*-nya menunjukkan makna alasan (*ta'lil*) dan sebab, seperti: سَافَرْتُ لِلْعِلْمِ (Aku bepergian untuk menuntut ilmu), نَصِبْتُ مِنْ أَجْلِهِ (Aku bersusah payah karenanya), dan اغْتَرَبْتُ فِيهِ (Aku merantau demi hal itu). Dan sebagai *maf'ul muthlaq* jika ia menggantikan kedudukan *masdar*, seperti: جَرَى الْفَرَسُ كَالرِّيحِ (Kuda itu berlari kencang laksana angin). Dan sebagai *khabar* bagi *fi'il naqish* (kata kerja bantu/kurang) jika ia berada pada posisi *khabar*-nya, seperti: كُنْتُ فِي دِمَشْقَ (Aku dahulu berada di Damaskus). Dan jika ia terletak sebagai *tabi'* (pengikut) bagi kata sebelumnya, maka posisinya dalam *i'rab* adalah mengikuti kata yang diikutinya (*matbu'*), seperti: هَذَا عَالِمٌ مِنْ أَهْلِ مِصْرَ (Ini adalah seorang ulama dari penduduk Mesir), رَأَيْتُ عَالِماً مِنْ أَهْلِ مِصْرَ (Aku melihat seorang ulama dari penduduk Mesir), dan أَخَذْتُ عَنْ عَالِمٍ مِنْ أَهْلِ مِصْرَ (Aku mengambil ilmu dari seorang ulama dari penduduk Mesir). Jika kata yang di-*jar*-kan (*al-majrur*) tersebut bukan dari hal-hal yang telah disebutkan sebelumnya, maka ia berada pada posisi *nashab* sebagai *maf'ul bih* yang tidak sharih, seperti: مَرَرْتُ بِالْقَوْمِ (Aku berpapasan dengan kaum itu), وَقَفْتُ عَلَى الْمِنْبَرِ (Aku berdiri di atas mimbar), dan سَافَرْتُ مِنْ بَيْرُوتَ إِلَى دِمَشْقَ (Aku bepergian dari Beirut ke Damaskus).