كتاب العلم

الباب الخامس في آداب المتعلم والمعلم

الباب الخامس في آداب المتعلم والمعلم

Beranda كتاب إحياء علوم الدين ربع العبادات كتاب العلم الباب الخامس في آداب المتعلم والمعلم

الباب الخامس في آداب المتعلم والمعلم أما المتعلم فآدابه ووظائفه

Bab Kelima: Tentang Adab Murid dan Guru. Adapun murid, adab dan tugas-tugasnya

الظاهرة كثيرة ولكن تنظم تفاريقها عشر جمل الوظيفة الأولى تقديم طهارة النفس عن رذائل الأخلاق ومذموم الأوصاف إذ العلم عبادة القلب وصلاة السر وقربة الباطن إلى الله تعالى وكما لا تصح الصلاة التي هي وظيفة الجوارح الظاهرة إلا بتطهير الظاهر عن الأحداث والأخباث فكذلك لا تصح عبادة الباطن وعمارة القلب بالعلم إلا بعد طهارته عن خبائث الأخلاق وأنجاس

lahiriah memang banyak, tetapi rinciannya yang terpisah-pisah terhimpun dalam sepuluh pokok tugas. Tugas pertama: Mendahulukan penyucian jiwa dari kerendahan akhlak dan sifat-sifat tercela. Sebab ilmu adalah ibadah hati, shalat rahasia (batin), dan sarana mendekatkan batin kepada Allah Ta'ala. Sebagaimana shalat—yang merupakan tugas anggota badan lahiriah—tidak sah melainkan dengan menyucikan lahir dari hadas dan najis, maka demikian pula ibadah batin dan pemakmuran hati dengan ilmu tidak sah melainkan setelah penyuciannya dari kebusukan akhlak dan kotoran-kotoran

الأوصاف

sifat-sifat cela.

قال ﷺ بنى الدين على النظافة وهو كذلك باطناً وظاهراً قال الله تعالى إنما المشركون نجس تنبيهاً للعقول على الطهارة والنجاسة غير مقصورة على الظواهر بالحس فالمشرك قد يكون نظيف الثوب مغسول البدن ولكنه نجس الجوهر أي باطنه ملطخ بالخبائث

Rasulullah ﷺ bersabda: "Agama dibangun di atas kebersihan." Dan demikian pula halnya, baik secara batin maupun lahir. Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis" (QS. At-Taubah: 28), sebagai peringatan bagi akal bahwa kesucian dan kenajisan tidak hanya terbatas pada hal-hal lahiriah yang terindera. Sebab, seorang musyrik terkadang pakaiannya bersih dan badannya terbasuh, namun substansinya najis, yaitu batinnya bergelimang dengan keburukan.

والنجاسة عبارة عما يجتنب ويطلب البعد منه وخبائث صفات الباطن أهم بالاجتناب فإنها مع خبثها في الحال مهلكات في المآل

Najis adalah sebutan untuk sesuatu yang wajib dijauhi dan dituntut untuk dihindari. Sedangkan sifat-sifat batin yang buruk lebih utama untuk dijauhi, karena di samping keji pada saat ini, ia juga membinasakan di akhirat kelak.

وَلِذَلِكَ قَالَ ﷺ لَا تدخل الملائكة بيتا فيه كلب والقلب بيت هو منزل الملائكة ومهبط أثرهم ومحل استقرارهم والصفات الرديئة مثل والغضب والشهوة والحقد والحسد والكبر والعجب وأخواتها كلاب نابحة فأنى تدخله الملائكة وهو مشحون بالكلاب ونور العلم لا يقذفه الله تعالى في القلب إلا بواسطة الملائكة وما كان لبشر أن يكلمه الله إلا وحياً أو من وراء حجاب أو يرسل رسولاً فيوحي بإذنه ما يشاء وهكذا ما يرسل من رحمة العلوم إلى القلوب إنما تتولاها الملائكة الموكلون بها وهم المقدسون المطهرون المبرءون عن الصفات المذمومات فلا يلاحظون إلا طيباً ولا يعمرون بما عندهم من خزائن رحمة الله إلا طيباً طاهراً

Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ bersabda: "Malaikat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat anjing." Padahal hati adalah rumah; ia adalah tempat persinggahan malaikat, tempat turunnya jejak rahmat mereka, dan tempat bersemayamnya mereka. Sementara sifat-sifat buruk seperti amarah, hawa nafsu, kedengkian, iri hati, kesombongan, ujub, dan sejenisnya adalah anjing-anjing yang menggonggong. Maka bagaimana mungkin malaikat memasukinya sedangkan hati itu dipenuhi oleh anjing-anjing? Padahal cahaya ilmu tidak dipancarkan Allah Ta'ala ke dalam hati melainkan melalui perantara malaikat. "Dan tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengannya melainkan dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki." (QS. Asy-Syura: 51). Demikian pula rahmat ilmu yang dikirimkan ke dalam hati, hanyasanya diselenggarakan oleh malaikat-malaikat yang ditugasi mengurusnya. Mereka adalah makhluk-makhluk yang suci, disucikan, dan dibebaskan dari sifat-sifat tercela; mereka tidak memandang melainkan kepada yang baik, dan tidak memakmurkan dengan khazanah rahmat Allah yang ada pada mereka melainkan pada tempat yang baik lagi suci.

ولست أقول المراد بلفظ البيت هو القلب وبالكلب هو الغضب والصفات المذمومة ولكني أقول هو تنبيه عليه وفرق بين تعبير الظواهر إلى البواطن وبين التنبيه للبواطن من ذكر الظواهر مع تقرير الظواهر ففارق الباطنية بهذه الدقيقة فإن هذه طريق الاعتبار وهو مسلك العلماء والأبرار إذ معنى الاعتبار أن يعبر ما ذكر إلى غيره فلا يقتصر عليه كما يرى العاقل مصيبة لغيره فيكون فيها له عبرة بأن يعبر منها إلى التنبه لكونه أيضاً عرضة للمصائب وكون الدنيا بصدد الانقلاب فعبوره من غيره إلى نفسه ومن نفسه إلى أصل الدنيا عبرة محمودة فاعبر أنت أيضاً من البيت الذي هو بناء الخلق إلى القلب الذي هو بيت من بناء الله تعالى ومن الكلب الذي ذم لصفته لا لصورته وهو ما فيه من سبعية ونجاسة إلى الروح الكلبية وهي السبعية

Aku tidak mengatakan bahwa yang dimaksud dengan lafaz "rumah" adalah "hati", dan dengan "anjing" adalah "amarah dan sifat-sifat tercela"; tetapi aku katakan bahwa itu adalah peringatan (isyarat) atasnya. Ada perbedaan antara mengubah makna lahiriah menjadi makna batiniah (ta'wil bathini) dengan memberikan peringatan bagi batin melalui penyebutan hal lahiriah seraya tetap menetapkan hukum lahiriahnya. Maka bedakanlah dengan kaum Batiniah melalui kelembutan makna ini. Sebab ini adalah jalan i'tibar (pengambilan iktibar), yang merupakan jalan para ulama dan orang-orang saleh (al-abrar). Makna i'tibar adalah menyeberangkan apa yang disebutkan kepada hal lain sehingga tidak hanya terbatas padanya. Sebagaimana seorang yang berakal melihat musibah pada orang lain, lalu hal itu menjadi iktibar baginya dengan menyeberang dari pengamatan itu menuju kesadaran bahwa dirinya juga rentan terkena musibah dan bahwa dunia ini senantiasa berbolak-balik. Penyeberangannya dari orang lain ke dirinya sendiri, dan dari dirinya ke hakikat dunia, merupakan iktibar yang terpuji. Maka menyeberanglah engkau pula dari "rumah" yang merupakan bangunan makhluk kepada "hati" yang merupakan rumah dari bangunan Allah Ta'ala; dan dari "anjing" yang dicela karena sifatnya bukan karena bentuk rupa fisiknya—yaitu sifat kebuasan dan kenajisan yang ada padanya—menuju jiwa yang berkarakter anjing, yaitu sifat kebuasan batin.

واعلم أن القلب المشحون بالغضب والشره إلى الدنيا والتكلب عليها والحرص على التمزيق لأعراض الناس كلب في المعنى وقلب في الصورة فنور البصيرة يلاحظ المعاني لا الصور

Ketahuilah bahwa hati yang dipenuhi dengan amarah, ketakserakahan terhadap dunia, perilaku bagai anjing dalam memburunya, serta ketamakan untuk mencabik-cabik kehormatan manusia, adalah anjing secara makna meskipun berbentuk hati secara rupa lahiriah. Dan cahaya mata hati (bashirah) melihat kepada makna-makna batiniah, bukan rupa-rupa lahiriah.

والصور في هذا العالم غالبة على المعاني والمعاني باطنة فيها

Bentuk-bentuk lahiriah di dunia ini mengalahkan makna-makna batiniah, sedangkan makna-makna batin itu tersembunyi di dalamnya.

وفي الآخرة تتبع الصور المعاني وتغلب المعاني

Adapun di akhirat kelak, bentuk-bentuk lahiriah akan mengikuti makna-makna batin, dan makna batinlah yang akan mendominasi.

فلذلك يحشر كل شخص على صورته المعنوية فيحشر الممزق لأعراض الناس كلباً ضارياً والشره إلى أموالهم ذئباً عادياً والمتكبر عليهم في صورة نمر وطالب الرياسة في صورة أسد وقد وردت بذلك الأخبار وشهد به الاعتبار عند ذوي البصائر والأبصار فإن قلت كم من طالب رديء الأخلاق حصل العلوم فهيهات ما أبعده عن العلم الحقيقي النافع في الآخرة الجالب للسعادة فإن من أوائل ذلك العلم أن يظهر له أن المعاصي سموم قاتلة مهلكة وهل رأيت من يتناول سماً مع علمه بكونه سماً قاتلاً إنما الذي تسمعه من المترسمين حديث يلفقونه بألسنتهم مرة ويرددونه بقلوبهم أخرى وليس ذلك من العلم في شيء

Oleh karena itu, setiap orang akan dihimpunkan (di Padang Mahsyar) sesuai dengan rupa maknawi (karakter batin)-nya. Orang yang suka merusak kehormatan orang lain akan dihimpunkan dalam wujud anjing galak; orang yang rakus terhadap harta manusia dihimpunkan dalam wujud serigala yang ganas; orang yang sombong terhadap mereka dihimpunkan dalam rupa macan tutul; dan pencari kedudukan/kekuasaan dihimpunkan dalam rupa singa. Riwayat-riwayat telah menyebutkan hal ini, dan ikhtibar (perenungan mendalam) pun menyaksikannya di kalangan orang-orang yang memiliki mata batin (bashirah) dan penglihatan. Jika engkau bertanya: "Berapa banyak penuntut ilmu yang berakhlak buruk tetapi berhasil memperoleh berbagai ilmu?" Sungguh amat jauh! Betapa jauhnya ia dari ilmu yang hakiki, yang bermanfaat di akhirat kelak serta membawa kebahagiaan. Sebab, di antara tingkatan awal ilmu tersebut adalah terungkapnya fakta baginya bahwa maksiat adalah racun-racun mematikan yang membinasakan. Pernahkah engkau melihat seseorang meminum racun padahal ia tahu bahwa itu adalah racun mematikan? Sungguh, apa yang engkau dengar dari orang-orang yang hanya berpenampilan ahli ilmu hanyalah tutur kata yang mereka reka-reka dengan lidah mereka pada suatu waktu dan mereka ulang-ulang dalam hati mereka pada waktu yang lain, dan hal itu sedikit pun tidak termasuk bagian dari ilmu.

قال ابن مسعود ﵁ ليس العلم بكثرة الرواية إنما العلم نور يقذف في القلب

Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata: "Ilmu itu bukanlah dengan banyaknya riwayat, melainkan ilmu adalah cahaya yang dihunjamkan ke dalam hati."

وقال بعضهم إنما العلم الخشية لقوله تَعَالَى إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ وكأنه أشار إلى أخص ثمرات العلم

Sebagian ulama berkata: "Sesungguhnya ilmu itu adalah rasa takut (kepada Allah)," berdasarkan firman Allah Ta'ala: "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama." (QS. Fatir: 28). Seolah-olah ia mengisyaratkan kepada buah ilmu yang paling khusus.

ولذلك قال بعض المحققين معنى قولهم تعلمنا العلم لغير الله فأبى العلم أن يكون إلا لله أن العلم أبى وامتنع علينا فلم تنكشف لنا حقيقته وإنما حصل لنا

Oleh karena itu, sebagian ulama muhaqqiqin (yang mendalami hakikat kebenaran) berkata bahwa makna ucapan mereka: "Kami menuntut ilmu bukan karena Allah, tetapi ilmu itu enggan kecuali hanya untuk Allah," adalah bahwa ilmu tersebut enggan dan membangkang kepada kami sehingga hakikatnya tidak tersingkap bagi kami, melainkan yang kami peroleh hanyalah…

حديثه وألفاظه فإن قلت أرى جماعة من العلماء والفقهاء المحققين برزوا في الفروع والأصول وعدوا من جملة الفحول وأخلاقهم ذميمة لم يتطهروا منها فيقال إذا عرفت مراتب العلوم وعرفت علم الآخرة استبان لك أن ما اشتغلوا به قليل الغناء من حيث كونه علماً وإنما غناؤه من حيث كونه عملاً لله تعالى إذا قصد به التقرب إلى الله تعالى وقد سبقت إلى هذا إشارة

…tutur kata dan lafaz-lafaznya semata. Jika engkau bertanya: "Aku melihat sekelompok ulama dan ahli fiqih terkemuka menonjol dalam ilmu furu' (cabang) dan ushul (pokok), serta digolongkan sebagai ulama-ulama mumpuni, padahal akhlak mereka tercela dan belum mensucikan diri darinya." Maka dijawab: Jika engkau telah mengetahui tingkatan-tingkatan ilmu dan mengenali ilmu akhirat, niscaya menjadi jelas bagimu bahwa apa yang mereka sibukkan itu kecil manfaatnya ditinjau dari kedudukannya sebagai ilmu. Manfaatnya hanyalah dari sudut pandang kedudukannya sebagai amal karena Allah Ta'ala jika dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala. Isyarat mengenai hal ini telah disebutkan sebelumnya.

وسيأتيك فيه مزيد بيان وإيضاح إن شاء الله تعالى

Dan kelak akan datang kepadamu penjelasan serta keterangan yang lebih rinci mengenai hal ini, insya Allah Ta'ala.

الوظيفة الثانية أن يقلل علائقه من الاشتغال بالدنيا ويبعد عن الأهل والوطن فإن العلائق شاغلة وصارفة ما جعل الله لرجل من قلبين في جوفه ومهما توزعت الفكرة قصرت عن درك الحقائق ولذلك قيل العلم لا يعطيك بعضه حتى تعطيك كلك فإذا أعطيته كلك فأنت من إعطائه إياك بعضه على خطر والفكرة المتوزعة على أمور متفرقة كجدول تفرق ماؤه فنشفت الأرض بعضه واختطف الهواء بعضه فلا يبقى منه ما يجتمع ويبلغ المزدرع

Tugas (adab) kedua: Hendaklah ia mengurangi keterikatannya dengan kesibukan duniawi serta menjauh dari keluarga dan tanah air; karena keterikatan-keterikatan tersebut dapat menyibukkan dan memalingkan konsentrasi. Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongga dadanya. Kapan pun pikiran terpecah-belah, ia akan terhalang dari menggapai hakikat-hakikat ilmu. Oleh karena itu dikatakan: "Ilmu tidak akan memberimu sebagian darinya sampai engkau menyerahkan seluruh dirimu kepadanya. Bahkan jika engkau telah menyerahkan seluruh dirimu kepadanya, engkau masih berada dalam kekhawatiran apakah ia akan memberikan sebagian darinya kepadamu atau tidak." Pikiran yang terbagi-bagi pada berbagai urusan yang bercerai-berai itu ibarat parit yang airnya terpecah; sebagian diserap oleh tanah dan sebagian lagi diuapkan oleh udara, sehingga tidak ada air yang tersisa untuk berkumpul dan sampai ke lahan pertanian.

الوظيفة الثالثة أن لا يتكبر على العلم ولا يتأمر على معلم بل يلقي إليه زمام أمره بالكلية في كل تفصيل ويذعن لنصيحته إذعان المريض الجاهل للطبيب المشفق الحاذق

Tugas (adab) ketiga: Hendaklah ia tidak bersikap sombong terhadap ilmu dan tidak bertindak memerintah terhadap guru, melainkan menyerahkan kendali urusannya secara penuh dalam setiap rinciannya kepada sang guru, serta tunduk kepada nasihatnya sebagaimana tunduknya seorang pasien yang awam kepada dokter yang penuh kasih sayang lagi mahir.

وينبغي أن يتواضع لمعلمه ويطلب الثواب والشرف بخدمته

Ia sepantasnya bersikap tawaduk kepada gurunya serta mencari pahala dan kemuliaan dengan berkhidmat kepadanya.

قال الشعبي صلى زيد بن ثابت على جنازة فقربت إليه بغلته ليركبها فجاء ابن عباس فأخذ بركابه فقال زيد خل عنه يا ابن عم رسول الله ﷺ فقال ابن عباس هكذا أمرنا أن نفعل بالعلماء والكبراء فقبل زيد بن ثابت يده وقال هكذا أمرنا أن نفعل بأهل بيت نبينا ﷺ وقال ﷺ ليس من أخلاق المؤمن التملق إلا في طلب العلم فلا ينبغي لطالب العلم أن يتكبر على المعلم ومن تكبره على المعلم أن يستنكف عن الاستفادة إلا من المرموقين المشهورين وهو عين الحماقة فإن العلم سبب النجاة والسعادة ومن يطلب مهرباً من سبع ضار يفترسه لم يفرق بين أن يرشده إلى الهرب مشهور أو خامل وضراوة سباع النار بالجهال بالله تعالى أشد من ضراوة كل سبع فالحكمة ضالة المؤمن يغتنمها حيث يظفر بها ويتقلد المنة لمن ساقها إليه كائناً من كان فلذلك قيل

Al-Sya'bi menceritakan: Zaid bin Tsabit memimpin shalat jenazah, lalu disodorkan bagal (peranakan kuda dan keledai) kepadanya untuk dikendarai. Ibnu Abbas datang lalu memegang pijakan kaki tunggangannya. Zaid berkata: "Biarkanlah, wahai putra paman Rasulullah ﷺ!" Ibnu Abbas menjawab: "Beginilah kami diperintahkan untuk memperlakukan para ulama dan tokoh-tokoh besar." Lalu Zaid bin Tsabit mencium tangan Ibnu Abbas seraya berkata: "Beginilah kami diperintahkan untuk memperlakukan ahli bait Nabi kami ﷺ." Dan Rasulullah ﷺ bersabda: "Bukanlah termasuk akhlak seorang mukmin berbuat bermuka-muka (menjilat) kecuali dalam menuntut ilmu." Maka tidak sepatutnya seorang penuntut ilmu bersikap sombong terhadap guru. Di antara bentuk kesombongannya terhadap guru adalah enggan mengambil faedah ilmu kecuali dari orang-orang terpandang dan masyhur; dan hal itu merupakan puncak kebodohan. Sebab, ilmu adalah jalan keselamatan dan kebahagiaan. Barang siapa mencari jalan lari dari binatang buas yang hendak menerkamnya, tentu ia tidak membedakan apakah yang menunjukkan jalan lari itu orang terkenal atau orang terasing. Padahal ketakutan dan keganasan binatang buas neraka terhadap orang-orang yang bodoh tentang Allah Ta'ala jauh lebih dahsyat daripada keganasan binatang buas mana pun. Maka hikmah adalah barang hilang milik orang mukmin; ia akan mengambilnya di mana pun ia menemukannya, dan ia akan berterima kasih serta merasa berutang budi kepada siapa pun yang menyampaikannya kepadanya, siapa pun orangnya. Oleh karena itulah dikatakan:

العلم حرب للفتى المتعالي … كالسيل حرب للمكان العالي

"Ilmu itu adalah musuh bagi pemuda yang bersikap tinggi (sombong), sebagaimana air bah adalah musuh bagi tempat yang tinggi."

فلا ينال العلم إلا بالتواضع وإلقاء السمع قال الله تعالى ﴿إن في ذلك لذكرى لمن كان له قلب أو ألقى السمع وهو شهيد﴾ ومعنى كونه ذا قلب أن يكون قابلاً للعلم فهماً ثم لا تعينه القدرة على الفهم حتى يلقي السمع وهو شهيد حاضر القلب ليستقيل كل ما ألقى إليه بحسن الإصغاء والضراعة والشكر والفرح وقبول المنة

Maka ilmu tidak akan diperoleh kecuali dengan kerendahan hati (tawadhu') dan mendengarkan dengan seksama. Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya." (QS. Qaf: 37). Makna mempunyai hati adalah ia memiliki kesiapan untuk menerima ilmu secara pemahaman. Kemudian kemampuan memahami saja tidak akan membantunya hingga ia mendengarkan dengan seksama sedang ia hadir hatinya (hadhirul qalb), agar ia dapat menerima segala apa yang disampaikan kepadanya dengan simakan yang baik, kerendahan diri, rasa syukur, kegembiraan, dan penerimaan atas karunia tersebut.

فليكن المتعلم لمعلمه كأرض دمثة نالت مطراً غزيراً فتشربت جميع أجزائها وأذعنت بالكلية لقبوله

Hendaklah penuntut ilmu terhadap gurunya seperti tanah yang gembur yang disiram hujan lebat, sehingga seluruh bagian tanah itu menyerap air tersebut dan tunduk sepenuhnya untuk mengeruk manfaat darinya.

ومهما أشار عليه المعلم بطريق في التعلم فليقلده وليدع رأيه فإن خطأ مرشده أنفع له من صوابه في نفسه إذ التجربة تطلع على دقائق يستغرب سماعها مع أنه يعظم نفعها فكم من مريض محرور يعالجة الطبيب في بعض أوقاته بالحرارة ليزيد في قوته إلى حد يحتمل صدمة العلاج فيعجب منه من لا خبرة له به وقد نبه الله تعالى بقصة الخضر وموسى ﵉ حيث قال الخضر ﴿إنك لن تستطيع معي صبراً وكيف تصبر على ما لم تحط به خبراً﴾ ثم شرط عليه السكوت والتسليم فقال ﴿فَإِنِ اتَّبَعْتَنِي فَلَا تَسْأَلْنِي عَنْ شَيْءٍ حَتَّى أحدث لك منه ذكراً﴾ ثم لم يصبر ولم يزل في مراودته إلى أن كان ذلك سبب الفراق بينهما

Kapan pun sang guru mengisyaratkan suatu metode dalam belajar kepadanya, hendaklah ia mengikutinya (bertaqlid kepadanya) dan meninggalkan pendapatnya sendiri. Sebab, kekeliruan pembimbingnya jauh lebih bermanfaat baginya daripada kebenaran pandangannya sendiri. Karena pengalaman itu dapat menyingkap hal-hal yang lembut dan tersembunyi yang terdengar asing saat didengar padahal amat besar manfaatnya. Betapa banyak penderita demam panas yang pada waktu-waktu tertentu diobati oleh dokter dengan kehangatan/panas pula guna menambah kekuatannya hingga mencapai batas yang sanggup menahan guncangan pengobatan, sehingga hal itu membuat heran orang yang tidak berpengalaman. Allah Ta'ala telah mengingatkan hal ini melalui kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa 'alaihimas salam, ketika Khidir berkata: "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?" (QS. Al-Kahfi: 67-68). Kemudian Khidir mensyaratkan kepadanya sikap diam dan berserah diri dengan berkata: "Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu." (QS. Al-Kahfi: 70). Namun Musa tidak dapat bersabar dan terus bertanya/berdiskusi dengannya hingga hal itu menjadi sebab perpisahan di antara keduanya.

وبالجملة كل متعلم استبقى لنفسه رأياً واختياراً

Walhasil, setiap penuntut ilmu yang masih menyisakan pendapat dan pilihan bagi dirinya sendiri…

دون اختيار المعلم فاحكم عليه بالإخفاق والخسران

…di luar pilihan gurunya, maka hukumilah ia dengan kegagalan dan kerugian.

فإن قلت فقد قال الله تَعَالَى ﴿فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تعلمون﴾ فالسؤال مأمور به فاعلم أنه كذلك ولكن فيما يأذن المعلم في السؤال عنه فإن السؤال عما لم تبلغ مرتبتك إلى فهمه مذموم ولذلك منع الخضر موسى ﵇ من السؤال أي دع السؤال قبل أوانه فالمعلم أعلم بما أنت أهل له وبأوان الكشف

Jika engkau bertanya: "Bukankah Allah Ta'ala telah berfirman: 'Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,' (QS. An-Nahl: 43), sehingga bertanya itu diperintahkan?" Ketahuilah bahwa memang demikian halnya, tetapi dalam perkara yang diizinkan oleh guru untuk ditanyakan. Sebab, bertanya tentang hal yang tingkatanmu belum mencapainya untuk dipahami adalah hal yang tercela. Oleh karena itulah Nabi Khidir melarang Nabi Musa 'alaihissalam untuk bertanya, artinya: tinggalkan pertanyaan sebelum tiba waktunya! Karena sang guru lebih mengetahui apa yang pantas bagimu dan kapan waktu terbukanya rahasia ilmu tersebut.

وما لم يدخل أوان الكشف في كل درجة من مراقي الدرجات لا يدخل أوان السؤال عنه

Selama belum masuk waktu terbukanya hakikat pada setiap tingkatan dari tangga-tangga tingkatan ilmu, maka belum masuk pula waktu untuk mempertanyakannya.

وقد قال علي ﵁ أن من حق العالم أن لا تكثر عليه بالسؤال ولا تعنته في الجواب ولا تلح عليه إذا كسل ولا تأخذ بثوبه إذا نهض ولا تفشي له سراً ولا تغتابن أحداً عنده ولا تطلبن عثرته وإن زل قبلت معذرته وعليك أن توقره وتعظمه لله تعالى ما دام يحفظ أمر الله تعالى ولا تجلس أمامه وإن كانت له حاجة سبقت القوم إلى خدمته

Ali ra. pernah berkata: "Sesungguhnya di antara hak seorang alim (guru) adalah hendaknya engkau tidak terlalu banyak mengajukan pertanyaan kepadanya, tidak menyulitkannya dalam menjawab, tidak mendesaknya ketika ia sedang lelah, tidak memegang pakaiannya ketika ia berdiri, tidak menyebarkan rahasianya, tidak menggunjing seseorang di hadapannya, dan tidak mencari-cari kesalahannya. Jika ia melakukan kekeliruan, hendaklah engkau menerima permohonan maafnya. Hendaklah engkau menghormati dan mengagungkannya karena Allah Ta'ala selama ia menjaga perintah Allah Ta'ala, jangan duduk di hadapannya, dan jika ia memiliki suatu keperluan, hendaknya engkau mendahului orang lain untuk melayaninya."

الوظيفة الرابعة أن يحترز الخائض في العلم في مبدإ الأمر عن الإضغاء إلى اختلاف الناس سواء كان ما خاض فيه من علوم الدنيا أو من علوم الآخرة فإن ذلك يدهش عقله ويحير ذهنه ويفتر رأيه ويؤيسه عن الإدراك والاطلاع بل ينبغي أن يتقن أولاً الطريق الحميدة الواحدة المرضية عند أستاذه ثم بعد ذلك يصغي إلى المذاهب والشبه

Tugas keempat: Hendaklah penuntut ilmu pada tahap awal menjaga diri dari mendengarkan silang pendapat (perbedaan pandangan) manusia, baik dalam ilmu-ilmu dunia maupun ilmu-ilmu akhirat. Sebab hal itu dapat membingungkan akalnya, mengacaukan pikirannya, melemahkan pandangannya, dan membuatnya putus asa dari menggapai pemahaman serta pengetahuan. Sebaliknya, hendaknya ia terlebih dahulu menguasai satu jalan terpuji yang diridhai di sisi gurunya, barulah setelah itu ia mendengarkan berbagai mazhab dan kesamaran (syubhat).

وإن لم يكن أستاذه مستقلاً باختيار رأي واحد وإنما عادته نقل المذاهب وما قيل فيها فليحذر منه فإن إضلاله أكثر من إرشاده فلا يصلح الأعمى لقود العميان وإرشادهم ومن هذا حاله يعد في عمى الحيرة وتيه الجهل ومنع المبتدىء عن الشبه يضاهي منع الحديث العهد بالإسلام عن مخالطة الكفار وندب القوى إلى النظر في الاختلافات يضاهي حث القوى على مخالطة الكفار ولهذا يمنع الجبان عن التهجم على صف الكفار ويندب الشجاع له

Jika gurunya tidak memiliki pendirian mandiri dalam memilih satu pendapat, melainkan kebiasaannya hanya mengutip berbagai mazhab dan pendapat-pendapat yang ada padanya, hendaklah ia berhati-hati darinya; karena penyesatannya lebih banyak daripada petunjuknya. Orang buta tidak layak menuntun dan memberi petunjuk kepada sesama orang buta, dan orang yang keadaannya demikian tergolong dalam dibutakan oleh kebingungan dan kesesatan kebodohan. Melarang penuntut ilmu pemula dari syubhat itu menyerupai melarang orang yang baru masuk Islam dari bergaul dengan orang-orang kafir. Sedangkan menganjurkan orang yang kuat untuk menelaah perbedaan pendapat menyerupai dorongan bagi orang yang kuat untuk bergaul dengan orang-orang kafir. Oleh karena itu, penakut dilarang menyerbu barisan musuh, sedangkan penyerbuan itu dianjurkan bagi penakut.

ومن الغفلة عن هذه الدقيقة ظن بعض الضعفاء أن الاقتداء بالأقوياء فيما ينقل عنهم من المساهلات جائز ولم يدر أن وظائف الأقوياء تخالف وظائف الضعفاء

Dan di antara bentuk kelalaian terhadap kelembutan (subtilitas) ini adalah dugaan sebagian orang-orang yang lemah bahwa meneladani orang-orang yang kuat dalam hal-hal kemudahan yang diriwayatkan dari mereka itu diperbolehkan, tanpa menyadari bahwa tugas-tugas orang yang kuat berbeda dengan tugas-tugas orang yang lemah.

وفي ذلك قال بعضهم من رآني في البداية صار صديقاً ومن رآني في النهاية صار زنديقاً إذ النهاية ترد الأعمال إلى الباطن وتسكن الجوارح إلا عن رواتب الفرائض فيتراءى للناظرين أنها بطالة وكسل وإهمال وهيهات فذلك مرابطة القلب في عين الشهود والحضور وملازمة الذكر الذي هو أفضل الأعمال على الدوام وتشبه الضعيف بالقوي فيما يرى من ظاهره أنه هفوة يضاهي اعتذار من يلقى نجاسة يسيرة في كوز ماء ويتعلل بأن أضعاف هذه النجاسة قد يلقى في البحر والبحر أعظم من الكوز فما جاز للبحر فهو للكوز أجوز

Mengenai hal itu, sebagian ulama berkata: "Barangsiapa melihatku pada tahap permulaan (al-bidayah), ia akan menjadi seorang shiddiq. Dan barangsiapa melihatku pada tahap puncak (al-nihayah), ia akan menjadi seorang zindiq." Sebab, tahap puncak itu mengembalikan amal-amal ke dalam batin dan menenangkan anggota tubuh kecuali dari kewajiban-kewajiban yang rutin, sehingga tampak bagi para pengamat seolah-olah itu adalah pengangguran, kemalasan, dan kelalaian. Padahal sungguh jauh berbeda! Hal itu sebenarnya adalah keterikatan hati (murabathatul qalb) dalam inti kesaksian (syuhud) dan kehadiran batin (hudhur), serta perkelanjutan dzikir yang merupakan amal paling utama secara terus-menerus. Penyerupaan orang yang lemah terhadap orang yang kuat dalam apa yang terlihat secara lahiriah sebagai bentuk kekhilafan serupa dengan dalih orang yang menjatuhkan sedikit najis ke dalam kendi air lalu beralasan bahwa najis yang berlipat ganda dari ini pernah dijatuhkan ke laut, sedangkan laut jauh lebih besar daripada kendi, maka apa yang boleh bagi laut tentu lebih boleh bagi kendi.

ولا يدري المسكين أن البحر بقوته يحيل النجاسة ماء فتنقلب عين النجاسة باستيلائه إلى صفته والقليل من النجاسة يغلب على الكوز ويحيله إلى صفته ولمثل هذا جوز للنبي ﷺ ما لم يجوز لغيره حتى أبيح له تسع نسوة إذ كان له من القوة ما يتعدى منه صفة العدل إلى نسائه وإن كثرن وأما غيره فلا يقدر على بعض العدل بل يتعدى ما بينهن من الضرار إليه حتى ينجر إلى معصية الله تعالى في طلبه رضاهن

Si malang itu tidak menyadari bahwa laut dengan kekuatannya mampu mengubah najis menjadi air, sehingga wujud najis itu berubah menjadi sifat laut karena keunggulannya. Sedangkan najis yang sedikit akan menguasai kendi dan mengubah air kendi menjadi sifat najis tersebut. Karena hal seperti inilah diperbolehkan bagi Nabi ﷺ apa yang tidak diperbolehkan bagi selain beliau, hingga dihalalkan bagi beliau sembilan istri. Sebab beliau memiliki kekuatan spiritual hingga sifat keadilan melimpah dari beliau kepada istri-istri beliau meskipun banyak. Adapun orang selain beliau tidak mampu mewujudkan sebagian keadilan tersebut, bahkan kemudaratan di antara para istri itu melimpah kepadanya hingga menyeretnya ke dalam maksiat kepada Allah Ta'ala demi mencari keridaan mereka.

فما أفلح من قاس الملائكة بالحدادين

Sungguh tidak beruntung orang yang mengkiaskan Malaikat dengan para pandai besi.

الوظيفة الخامسة أن لا يدع طالب العلم فناً من العلوم المحمودة ولا نوعاً من أنواعه إلا وينظر فيه نظراً يطلع به على مقصده وغايته ثم إن ساعده العمر طلب التبحر فيه وإلا اشتغل بالأهم منه واستوفاه وتطرف من البقية فإن العلوم متعاونة وبعضها مرتبط ببعض ويستفيد منه في الحال الانفكاك عن عداوة ذلك العلم بسبب

Tugas kelima: Hendaklah penuntut ilmu tidak meninggalkan satu pun cabang dari ilmu-ilmu yang terpuji dan tidak pula suatu jenis dari jenis-jenisnya melainkan ia menelaahnya dengan pandangan yang membuatnya mengetahui maksud dan tujuannya. Kemudian, jika usianya memungkinkan, ia menuntut untuk mendalaminya (bertabahhur). Jika tidak, ia sibuk dengan hal yang paling penting darinya dan menyempurnakannya, serta mengambil sebagian kecil dari selebihnya. Sebab ilmu-ilmu itu saling menopang dan sebagian terikat dengan sebagian yang lain. Ia juga memperoleh manfaat seketika yaitu terbebas dari memusuhi ilmu tersebut yang disebabkan oleh…

جهله فإن الناس أعداء ما جهلوا قال تعالى وإذا لم يهتدوا به فسيقولون هذا إفك قديم قال الشاعر

kebodohannya terhadapnya. Sebab manusia adalah musuh bagi apa yang tidak mereka ketahui. Allah Ta'ala berfirman: "Dan apabila mereka tidak mendapat petunjuk dengannya, maka mereka akan berkata: 'Ini adalah kedustaan yang lama.'" (QS. Al-Ahqaf: 11). Penyair berkata:

ومن يك ذا فم مر مريض … يجد مراً به الماء الزلالا

"Barangsiapa memiliki mulut yang pahit karena sakit … niscaya ia akan merasakan pahitnya air yang tawar dan jernih."

فالعلوم على درجاتها إما سالكة بالعبد إلى الله تعالى أو معينة على السلوك نوعاً من الإعانة ولها منازل مرتبة في القرب والبعد من المقصود والقوام بها حفظة كحفاظ الرباطات والثغور ولكل واحد رتبة وله بحسب درجته أجر في الآخرة إذا قصد به وجه الله تعالى

Maka ilmu-ilmu sesuai dengan tingkatannya, ada yang mengantarkan hamba berjalan menuju Allah Ta'ala, atau menolong dalam suluk dengan suatu bentuk pertolongan. Ilmu-ilmu tersebut memiliki kedudukan bertingkat dalam hal dekat dan jauhnya dari tujuan. Orang-orang yang menegakkannya adalah para penjaga sebagaimana para penjaga benteng pertahanan dan garis perbatasan. Bagi masing-masing ada derajat/tingkatan, dan sesuai dengan tingkatan tersebut ia memperoleh pahala di akhirat apabila ia berniat mencari keridaan Allah Ta melebihkan.

الوظيفة السادسة أن لا يخوض في فن من فنون العلم دفعة بل يراعي الترتيب ويبتدىء بالأهم فإن العمر إذا كان لا يتسع لجميع العلوم غالباً فالحزم أن يأخذ من كل شيء أحسنه ويكتفي منه بشمه ويصرف جمام قوته في الميسور من علمه إلى استكمال العلم الذي هو أشرف العلوم وهو علم الآخرة أعني قسمي المعاملة والمكاشفة فغاية المعاملة المكاشفة

Tugas keenam: Hendaklah ia tidak mendalami suatu cabang dari cabang-cabang ilmu sekaligus, melainkan memperhatikan urutannya dan memulai dengan hal yang paling penting. Sebab jika usia umumnya tidak cukup luas untuk menampung seluruh ilmu, maka tindakan yang bijaksana adalah mengambil yang terbaik dari setiap sesuatu dan merasa cukup dengan mencicipinya sekilas, lalu mencurahkan puncak kekuatannya pada ilmu yang dimudahkan baginya untuk menyempurnakan ilmu yang merupakan ilmu paling mulia, yaitu ilmu akhirat—maksud saya kedua bagiannya: ilmu muamalah dan ilmu mukasyafah. Sebab tujuan akhir dari muamalah adalah mukasyafah.

وغاية المكاشفة معرفة الله تعالى ولست أعني به الاعتقاد الذي يتلقفه العامي وراثة أو تلقفاً ولا طريق تحرير الكلام والمجادلة في تحصين الكلام عن مراوغات الخصوم كما هو غاية المتكلم بل ذلك نوع يقين هو ثمرة نور يقذفه الله تعالى في قلب عبد طهر بالمجاهدة باطنه عن الخبائث حتى ينتهي إلى رتبة إيمان أبي بكر ﵁ الذي لو وزن بإيمان العالمين لرجح كما شهد له به سيد البشر ﷺ فما عندي أن ما يعتقده العامي ويرتبه المتكلم الذي لا يزيد على العامي إلا في صنعة الكلام ولأجله سميت صناعته كلاماً وكان يعجز عنه عمر وعثمان وعلي وسائر الصحابة ﵃ حتى كان يفضلهم أبو بكر بالسر الذي وقر في صدره

Dan puncak dari mukasyafah adalah Ma'rifatullah (mengenal Allah Ta'ala). Yang aku maksudkan dengannya bukanlah iktikad (keyakinan) yang diterima oleh orang awam secara warisan atau hafalan semata, dan bukan pula cara penyusunan ilmu kalam dan perdebatan dalam membentengi argumentasi dari tipu daya lawan sebagaimana tujuan ahli kalam (mutakallim). Melainkan hal itu adalah sejenis keyakinan (yaqin) yang merupakan buah dari cahaya yang dipancarkan Allah Ta'ala ke dalam hati seorang hamba yang telah menyucikan batinnya dari kotoran-kotoran jiwa melalui mujahadah, hingga ia mencapai tingkatan iman Abu Bakar ra., yang seandainya ditimbang dengan iman seluruh alam niscaya iman beliau lebih berat, sebagaimana disaksikan oleh Pemimpin Manusia (Nabi Muhammad) ﷺ. Sungguh menurutku, bukanlah apa yang diyakini oleh orang awam dan disusun oleh ahli kalam—yang tidak memiliki kelebihan atas orang awam kecuali dalam seni mengolah kata (kalam), dan karena itulah keahliannya dinamakan ilmu kalam—sebab hal itu juga tidak mampu dilakukan oleh Umar, Utsman, Ali, dan seluruh sahabat ra., hingga Abu Bakar mengungguli mereka dengan rahasia yang terpatri di dalam dadanya.

والعجب ممن يسمع مثل هذه الأقوال من صاحب الشرع صلوات الله وسلامه عليه ثم يزدري ما يسمعه على وفقه ويزعم أنه من ترهات الصوفية وأن ذلك غير معقول فينبغي أن تتئد في هذا فعنده ضيعت رأس المال فكن حريصاً على معرفة ذلك السر الخارج عن بضاعة الفقهاء والمتكلمين ولا يرشدك إليه إلا حرصك في الطلب

Sungguh mengherankan orang yang mendengar perkataan-perkataan seperti ini dari Pemilik Syariat (Nabi Muhammad) shalawat dan salam Allah atasnya, kemudian ia memandang rendah apa yang didengarnya yang sejalan dengannya, seraya menganggap bahwa itu adalah omong kosong kaum Sufi dan bahwa hal itu tidak masuk akal. Maka hendaknya engkau berhati-hati dan perlahan dalam hal ini, sebab di sinilah engkau kehilangan modal utamamu. Hendaklah engkau sangat berhasrat untuk mengetahui rahasia tersebut yang berada di luar dagangan (jangkauan) para ahli fiqih dan ahli kalam, dan tidak ada yang dapat menuntunmu kepadanya kecuali kesungguhanmu dalam menuntutnya.

وعلى الجملة فأشرف العلوم وغايتها معرفة الله ﷿ وهو بحر لا يدرك منتهى غوره وأقصى درجات البشر فيه رتبة الأنبياء ثم الأولياء ثم الذين يلونهم

Kesimpulannya, ilmu yang paling mulia dan puncaknya adalah Ma'rifatullah Azza wa Jalla, dan ia merupakan samudra yang tidak dapat diduga kedalaman dasarnya. Derajat tertinggi manusia di dalamnya adalah tingkatan para nabi, kemudian para wali, lalu orang-orang yang mengiringi mereka.

وقد روي أنه رؤي صورة حكيمين من الحكماء المتقدمين في مسجد وفي يد أحدهما رقعة فيها إن أحسنت كل شيء فلا تظنن أنك أحسنت شيئاً حتى تعرف الله تعالى وتعلم أنه مسبب الأسباب وموجد الأشياء

Diriwayatkan bahwa pernah terlihat lukisan dua orang bijak dari kalangan ahli hikmah terdahulu di sebuah masjid, dan di tangan salah seorang dari mereka terdapat selembar kertas yang tertulis: "Jika engkau menguasai segala sesuatu, janganlah engkau mengira bahwa engkau telah menguasai sesuatu sebelum engkau mengenal Allah Ta'ala dan mengetahui bahwa Dia adalah Maha Penyebab segala sebab (Musabbibal Asbab) dan Maha Pencipta segala sesuatu."

وفي يد الآخر كنت قبل أن أعرف الله تعالى أشرب وأظمأ حتى إذا عرفته رويت بلا شرب

Dan di tangan yang lainnya tertulis: "Sebelum aku mengenal Allah Ta'ala, aku minum namun tetap dahaga, hingga ketika aku telah mengenal-Nya, aku merasa puas dan segar tanpa perlu minum."

الوظيفة السابعة أن لا يخوض في فن حتى يستوفي الفن الذي قبله فإن العلوم مرتبة ترتيباً ضرورياً وبعضها طريق إلى بعض والموفق من راعى ذلك الترتيب والتدريج

Tugas ketujuh: Hendaklah ia tidak mendalami suatu cabang ilmu hingga ia menyempurnakan ilmu yang sebelumnya. Sebab ilmu-ilmu itu tersusun menurut urutan yang niscaya, dan sebagiannya menjadi jalan menuju sebagian yang lain. Orang yang mendapat taufik adalah orang yang memperhatikan urutan dan tahapan bertahap tersebut.

قال الله تعالى ﴿الذين آتيناهم الكتاب يتلونه حق تلاوته﴾ أي لا يجاوزون فناً حتى يحكموه علماً وعملاً وليكن قصده في كل علم يتحراه الترقي إلى ما هو فوقه فينبغي ألا يحكم على علم بالفساد لوقوع الخلف بين أصحابه فيه ولا بخطأ واحد أو آحاد فيه ولا بمخالفتهم موجب علمهم بالعمل فترى جماعة تركوا النظر في العقليات والفقهيات متعللين فيها بأنها لو كان لها أصل لأدركه أربابها وقد مضى كشف هذه الشبه في كتاب معيار العلم وترى طائفة يعتقدون بطلان الطب لخطأ شاهدوه من طبيب وطائفة اعتقدوا صحة النجوم لصواب اتفق لواحد وطائفة اعتقدوا بطلانه لخطأ اتفق لآخر

Allah Ta'ala berfirman: "Orang-orang yang telah Kami berikan Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya…" (QS. Al-Baqarah: 121), artinya mereka tidak melompati satu cabang ilmu hingga mereka menguasainya secara ilmu dan amal. Hendaklah tujuannya dalam setiap ilmu yang ia tuntut adalah naik ke tingkatan yang lebih tinggi di atasnya. Oleh karena itu, tidak sepantasnya menilai suatu ilmu itu rusak hanya karena terjadinya perselisihan di antara para ahlinya, tidak pula karena kesalahan satu atau beberapa orang di dalamnya, dan tidak pula karena perbuatan mereka yang menyelisih tuntutan ilmu mereka. Maka engkau melihat sekelompok orang meninggalkan penelaahan dalam ilmu-ilmu rasional (aqliyyat) dan fiqih (fiqhiyyat) dengan beralasan bahwa seandainya ilmu itu memiliki landasan yang benar niscaya telah dipahami oleh para ahlinya—dan penjelasan mengenai syubhat ini telah berlalu dalam kitab Mi'yar al-Ilm. Engkau juga melihat sekelompok orang meyakini kebatilan ilmu kedokteran hanya karena kesalahan yang mereka lihat dari seorang dokter, sekelompok lain meyakini kebenaran ilmu nujum (astrologi) karena satu kebetulan yang benar pada seseorang, dan sekelompok lain meyakini kebatilannya karena kesalahan yang kebetulan terjadi pada orang lain.

والكل خطأ بل

Dan semuanya adalah kekeliruan, melainkan…

ينبغي أن يعرف الشيء في نفسه فلا كل علم يستقل بالإحاطة به كل شخص ولذلك قال علي ﵁ لا تعرف الحق بالرجال اعرف الحق تعرف أهله

Hendaknya seseorang mengenali segala sesuatu pada dirinya sendiri, karena tidak setiap ilmu dapat dikuasai secara menyeluruh oleh setiap orang. Oleh sebab itu, Ali r.a. berkata, "Janganlah engkau mengenali kebenaran melalui tokoh-tokohnya; kenalilah kebenaran itu sendiri, niscaya engkau akan mengenali siapa pengikutnya."

الوظيفة الثامنة أن يعرف السبب الذي به يدرك أشرف العلوم وأن ذلك يراد به شيئان أحدهما شرف الثمرة والثاني وثاقة الدليل وقوته وذلك كعلم الدين وعلم الطب فإن ثمرة أحدهما الحياة الأبدية وثمرة الآخر الحياة الفانية فيكون علم الدين أشرف

Tugas kedelapan: Hendaknya ia mengetahui sebab yang darinya dapat diketahui kemuliaan tingkatan ilmu-ilmu, dan bahwa kemuliaan itu dimaksudkan melalui dua hal: salah satunya adalah kemuliaan buahnya (hasilnya), dan yang kedua adalah kokoh serta kuatnya dalilnya. Contohnya seperti ilmu agama dan ilmu kedokteran; buah dari salah satunya adalah kehidupan abadi, sedangkan buah dari yang lain adalah kehidupan yang fana. Maka ilmu agama adalah yang lebih mulia.

ومثل علم الحساب وعلم النجوم فإن علم الحساب أشرف لوثاقة أدلته وقوتها وإن نسب الحساب إلى الطب كان الطب أشرف باعتبار ثمرته والحساب أشرف باعتبار أدلته وملاحظة الثمرة أولى ولذلك كان الطب أشرف وإن كان أكثره بالتخمين

Dan seperti ilmu berhitung (aritmatika) dan ilmu nujum (astronomi); ilmu berhitung lebih mulia karena kokoh dan kuatnya dalil-dalilnya. Jika ilmu berhitung dibandingkan dengan ilmu kedokteran, maka ilmu kedokteran lebih mulia ditinjau dari buahnya, sedangkan ilmu berhitung lebih mulia ditinjau dari dalil-dalilnya. Namun, memperhitungkan buah ilmu itu lebih utama, oleh karena itu ilmu kedokteran lebih mulia meskipun sebagian besarnya berdasarkan persangkaan (perkiraan).

وبهذا تبين أن أشرف العلوم العلم بالله ﷿ وملائكته وكتبه ورسله والعلم بالطريق الموصل إلى هذه العلوم فإياك أن ترغب إلا فيه وأن تحرص إلا عليه

Dengan demikian, menjadi jelaslah bahwa ilmu yang paling mulia adalah Ma'rifatullah (ilmu mengenal Allah Azza wa Jalla), malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya, serta ilmu tentang jalan yang menyampaikan kepada ilmu-ilmu ini. Maka hendaknya engkau tidak mendambakan kecuali ilmu tersebut dan tidak bersungguh-sungguh melainkan kepadanya.

الوظيفة التاسعة أن يكون قصد المتعلم في الحال تحلية باطنه وتجميله بالفضيلة وفي المآل القرب من الله سبحانه والترقي إلى جوار الملأ الأعلى من الملائكة والمقربين ولا يقصد به الرياسة والمال والجاه ومماراة السفهاء ومباهاة الأقران وإن كان هذا مقصده طلب لا محالة الأقرب إلى مقصوده وهو علم الآخرة ومع هذا فلا ينبغي له أن ينظر بعين الحقارة إلى سائر العلوم أعني علم الفتاوى وعلم النحو واللغة المتعلقين بالكتاب والسنة وغير ذلك مما أوردناه في المقدمات والمتممات من ضروب العلوم التي هي فرض كفاية ولا تفهمن من غلونا في الثناء على علم الآخرة تهجين هذه العلوم فالمتكفلون بالعلوم كالمتكفلين بالثغور والمرابطين بها والغزاة المجاهدين في سبيل الله فمنهم المقاتل ومنهم الردء ومنهم الذي يسقيهم الماء ومنهم الذي يحفظ دوابهم ويتعهدهم ولا ينفك أحد منهم عن أجر إذا كان قصده إعلاء كلمة الله تعالى دون حيازة الغنائم فكذلك العلماء قال اللَّهُ تَعَالَى ﴿يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ والذين أوتوا العلم درجات﴾ وقال تعالى ﴿هم درجات عند الله﴾ والفضيلة نسبية

Tugas kesembilan: Niat penuntut ilmu pada saat ini (di dunia) hendaknya adalah menghiasi dan memperindah batinnya dengan keutamaan, dan pada masa depan (di akhirat) adalah mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala serta naik ke tingkatan para Malaikat di al-Mala' al-A'la (alam tertinggi) dan orang-orang yang didekatkan (al-muqarrabun). Dan tidak bermaksud dengannya untuk meraih kepemimpinan, harta, kedudukan, membantah orang-orang bodoh, serta membanggakan diri di hadapan teman sejawat. Jika inilah tujuannya, pastilah ia menuntut apa yang paling dekat dengan tujuannya, yaitu ilmu akhirat. Walaupun demikian, tidak sepatutnya ia memandang dengan pandangan hina terhadap ilmu-ilmu lainnya, yaitu ilmu fatwa (fiqih), ilmu nahwu, dan bahasa yang berkaitan dengan Al-Kitab dan As-Sunnah, serta selainnya yang telah kami sebutkan dalam bagian pendahuluan dan pelengkap dari berbagai cabang ilmu yang hukumnya fardhu kifayah. Dan janganlah engkau memahami dari penekanan kami yang mendalam dalam memuji ilmu akhirat sebagai bentuk mencela ilmu-ilmu ini. Sebab orang-orang yang mengemban ilmu-ilmu tersebut seperti para penjaga benteng perbatasan, pasukan murabith yang berjaga, dan para pejuang yang berjihad di jalan Allah; di antara mereka ada yang berperang, ada yang menjadi penopang, ada yang memberi minum, dan ada yang menjaga hewan tunggangan serta merawatnya. Tidak ada seorang pun dari mereka yang terlepas dari pahala jika niatnya adalah meninggikan kalimat Allah Ta'ala, bukan untuk mengumpulkan harta rampasan perang. Demikian pula para ulama. Allah Ta'ala berfirman, "Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat." Dan Allah Ta'ala berfirman, "Masing-masing dari mereka memiliki derajat di sisi Allah." Dan keutamaan itu bersifat relatif.

واستحقارنا للصيارفة عند قياسهم بالملوك لا يدل على حقارتهم إذا قيسوا بالكناسين فلا تظن أن ما نزل عن الرتبة القصوى ساقط القدر بل الرتبة العليا للأنبياء ثم الأولياء ثم العلماء الراسخين في العلم ثم للصالحين على تفاوت درجاتهم وبالجملة ﴿فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يعمل مثقال ذرة شراً يره﴾ ومن قصد الله تعالى بالعلم أي علم كان نفعه ورفعه لا محالة

Sikap kita yang menganggap remeh para penukar uang ketika dibandingkan dengan para raja tidak menunjukkan kerendahan mereka jika dibandingkan dengan para pembersih jalan. Maka janganlah engkau mengira bahwa apa yang berada di bawah derajat tertinggi itu jatuh nilainya sama sekali. Melainkan derajat yang paling tinggi adalah milik para nabi, kemudian para wali, kemudian para ulama yang mendalam ilmunya (al-rasikhuna fil 'ilm), kemudian orang-orang saleh sesuai dengan tingkatan derajat mereka. Walhasil, "Barangsiapa mengerjakan kebaikan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula." Dan barangsiapa bermaksud meraih ridha Allah Ta'ala dengan ilmunya—ilmu apa pun itu—niscaya ilmu tersebut akan bermanfaat baginya dan melebihkan derajatnya tanpa keraguan.

الوظيفة العاشرة أن يعلم نسبة العلوم إلى المقصد كيما يؤثر الرفيع القريب على البعيد والمهم على غيره ومعنى المهم ما يهمك ولا يهمك إلا شأنك في الدنيا والآخرة

Tugas kesepuluh: Hendaknya ia mengetahui nisbah (hubungan) ilmu-ilmu tersebut terhadap tujuan utama, agar ia mengutamakan ilmu yang tinggi dan dekat dibanding yang jauh, serta ilmu yang penting dibanding ilmu lainnya. Makna "yang penting" adalah apa yang menjadi kepentingan dirimu, dan tidak ada yang menjadi kepentinganmu melainkan urusanmu di dunia dan akhirat.

وإذا لم يمكنك الجمع بين ملاذ الدنيا ونعيم الآخرة كما نطق به القرآن وشهد له من نور البصائر ما يجري مجرى العيان فالأهم ما يبقى أبد الآباد وعند ذلك تصير الدنيا منزلاً والبدن مركباً والأعمال سعياً إلى المقصد ولا مقصد إلا لقاء الله تعالى ففيه النعيم كله وإن كان لا يعرف في هذا العالم قدره إلا الأقلون

Apabila engkau tidak mampu menggabungkan antara kenikmatan duniawi dan kenikmatan akhirat—sebagaimana yang telah ditegaskan oleh Al-Qur'an dan disaksikan oleh cahaya mata hati (basirah) yang kedudukannya bagaikan pandangan mata telanjang—maka yang terpenting adalah apa yang kekal abadi selamanya. Pada saat itulah dunia menjadi sekadar tempat persinggahan, tubuh menjadi kendaraan, dan amal perbuatan menjadi usaha menuju tujuan akhir. Dan tidak ada tujuan akhir melainkan berjumpa dengan Allah Ta'ala; di dalamnya terdapat seluruh kenikmatan, walaupun di dunia ini tidak ada yang mengetahui nilainya kecuali sedikit orang.

والعلوم بالإضافة إلى سعادة لقاء الله سبحانه والنظر إلى وجهه الكريم أعني النظر الذي طلبه الأنبياء وفهموه دون ما سبق إلى فهم العوام والمتكلمين على ثلاث مراتب تفهمها بالموازنة بمثال وهو أن العبد الذي علق عتقه وتمكينه من الملك بالحج وقيل له إن حججت وأتممت وصلت إلى العتق والملك جميعاً وإن ابتدأت بطريق الحج والاستعداد له وعافك في الطريق مانع ضروري فلك العتق والخلاص من شقاء الرق فقط دون سعادة الملك فله ثلاثة أصناف من الشغل

Ilmu-ilmu, jika dinisbatkan dengan kebahagiaan berjumpa dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala dan memandang Wajah-Nya Yang Maha Mulia—yaitu pandangan (al-nazhar) yang dicari dan dipahami oleh para nabi, bukan seperti yang terlintas dalam pemahaman orang awam dan ahli kalam—terbagi menjadi tiga tingkatan. Engkau dapat memahaminya melalui perbandingan sebuah perumpamaan: yaitu seorang hamba sahaya yang kemerdekaannya dan kekuasaannya atas kerajaan digantungkan pada ibadah haji, dan dikatakan kepadanya, "Jika engkau berhaji dan menyempurnakannya, engkau akan memperoleh kemerdekaan sekaligus kekuasaan kerajaan. Namun jika engkau mulai menempuh jalan haji dan bersiap-siap untuknya, lalu engkau terhalang di jalan oleh suatu penghalang yang tak terelakkan, maka engkau memperoleh kemerdekaan dan terbebas dari kesengsaraan perbudakan saja, tanpa meraih kebahagiaan kekuasaan kerajaan." Maka hamba tersebut mempunyai tiga jenis kesibukan:

الأول تهيئة الأسباب بشراء الناقة وخرز الراوية وإعداد الزاد والراحلة

Pertama, mempersiapkan sarana dengan membeli unta betina, menjahit kantong air, serta menyiapkan bekal dan kendaraan.

والثاني السلوك ومفارقة الوطن بالتوجه إلى الكعبة منزلاً بعد منزل

Kedua, menempuh perjalanan (suluk) dan meninggalkan tanah air dengan menghadap ke Ka'bah dari satu persinggahan ke persinggahan berikutnya.

والثالث الاشتغال بأعمال الحج ركناً بعد ركن ثم بعد الفراغ والنزوع عن هيئة الإحرام وطواف الوداع استحق التعرض للملك والسلطنة وله في كل مقام منازل من أول إعداد الأسباب إلى آخره

Ketiga, sibuk mengerjakan amalan-amalan haji rukun demi rukun, kemudian setelah selesai, melepas pakaian ihram, dan melaksanakan tawaf wada', ia berhak mendapatkan kekuasaan dan kerajaan. Dan pada setiap tingkatan ia memiliki tempat-tempat persinggahan (manazil), dari awal persiapan sarana hingga akhirnya,

من أول سلوك البوادي إلى آخره ومن أول أركان الحج إلى آخره

dari awal menempuh padang pasir hingga akhirnya, dan dari awal rukun-rukun haji hingga akhirnya.

وليس قرب من ابتدأ بأركان الحج من السعادة كقرب من هو بعد في إعداد الزاد والراحلة ولا كقرب من ابتدأ بالسلوك بل هو أقرب منه فالعلوم أيضاً ثلاثة أقسام قسم يجري مجرى إعداد الزاد والراحلة وشراء الناقة وهو علم الطب والفقه وما يتعلق بمصالح البدن في الدنيا

Dekatnya orang yang mulai melaksanakan rukun-rukun haji dengan kebahagiaan tidaklah sama seperti dekatnya orang yang masih dalam tahap menyiapkan bekal dan kendaraan, dan tidak pula seperti dekatnya orang yang baru mulai menempuh perjalanan; melainkan ia jauh lebih dekat darinya. Begitu pula ilmu pengetahuan, terbagi menjadi tiga bagian: Bagian pertama, berkedudukan seperti persiapan bekal, kendaraan, dan pembelian unta betina, yaitu ilmu kedokteran, fiqih, dan apa saja yang berkaitan dengan kemaslahatan tubuh di dunia.

وقسم يجري مجرى سلوك البوادي وقطع العقبات وهو تطهير الباطن عن كدورات الصفات وطلوع تلك العقبات الشامخة التي عجز عنها الأولون والآخرون إلا الموفقين فهذا سلوك الطريق وتحصيل علمه كتحصيل علم جهات الطريق ومنازله وكما لا يغني علم المنازل وطرق البوادي دون سلوكها كذلك لا يغني علم تهذيب الأخلاق دون مباشرة التهذيب ولكن المباشرة دون العلم غير ممكن

Bagian kedua, berkedudukan seperti menempuh padang pasir dan melintasi rintangan-rintangan terjal, yaitu menyucikan batin dari keruhan sifat-sifat buruk dan mendaki rintangan-rintangan tinggi yang orang-orang terdahulu maupun belakangan tidak mampu melewatinya kecuali orang-orang yang diberi taufik. Ini adalah menempuh jalan (suluk al-thariq), dan mempelajari ilmunya bagaikan mempelajari arah jalan dan tempat-tempat persinggahannya. Sebagaimana pengetahuan tentang persinggahan dan jalan-jalan padang pasir tidaklah berguna tanpa menempuhnya secara langsung, demikian pula ilmu pembersihan akhlak tidak berguna tanpa praktik penyuciannya secara langsung, walaupun praktik langsung tanpa ilmu juga tidak memungkinkan.

وقسم ثالث يجري مجرى نفس الحج وأركانه وهو العلم بالله تعالى وصفاته وملائكته وأفعاله وجميع ما ذكرناه في تراجم المكاشفة وههنا نجاة وفوز بالسعادة والنجاة حاصلة لكل سالك للطريق إذا كان غرضه المقصد الحق وهو السلامة

Bagian ketiga, berkedudukan seperti pelaksanaan ibadah haji itu sendiri dan rukun-rukunnya, yaitu ilmu tentang Allah Ta'ala, sifat-sifat-Nya, malaikat-malaikat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, serta seluruh apa yang telah kami sebutkan dalam judul-judul Ilmu Mukasyafah. Di sinilah terdapat keselamatan dan kemenangan dengan kebahagiaan. Keselamatan akan diperoleh oleh setiap penempuh jalan (salik) apabila tujuannya adalah maksud yang hakiki, yaitu keselamatan.

وأما الفوز بالسعادة فلا يناله إلا العارفون بالله تعالى وهم المقربون المنعمون في جوار الله تعالى بالروح والريحان وجنة النعيم وأما الممنوعون دون ذروة الكمال فلهم النجاة والسلامة كما قال الله ﷿ ﴿فأما إن كان من المقربين فروح وريحان وجنة نعيم وأما إن كان من أصحاب اليمين فسلام لك من أصحاب اليمين﴾ وكل من لم يتوجه إلى المقصد ولم ينتهض له أو انتهض إلى جهته لا على قصد الامتثال والعبودية بل لغرض عاجل فهو من أصحاب الشمال ومن الضالين فله نزل من حميم وتصلية جحيم

Adapun kemenangan berupa kebahagiaan tertinggi tidak akan diraih kecuali oleh orang-orang yang mengenali Allah (al-'arifuna billah), yaitu mereka yang didekatkan (al-muqarrabun) yang diberi kenikmatan di sisi Allah Ta'ala berupa ketenteraman (ruh), rezeki yang baik (raihan), dan surga kenikmatan. Sedangkan orang-orang yang terhalang dari puncak kesempurnaan, bagi mereka adalah keselamatan dan kedamaian, sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla: "Adapun jika dia termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), maka dia memperoleh ketenteraman, rezeki yang baik, serta surga kenikmatan. Dan adapun jika dia termasuk golongan kanan, maka 'Selamat bagimu karena kamu dari golongan kanan'." Dan barangsiapa yang tidak menghadap kepada tujuan utama tersebut dan tidak bangkit menujunya, atau bangkit ke arahnya bukan atas dasar niat patuh dan penghambaan (ubudiyah) melainkan karena tujuan duniawi yang disegerakan, maka dia termasuk golongan kiri dan orang-orang yang sesat, maka baginya hidangan dari air yang mendidih dan dibakar di dalam neraka Jahim.

واعلم أن هذا هو حق اليقين عند العلماء الراسخين أعني أنهم أدركوه بمشاهدة من الباطن هي أقوى وأجلى من مشاهدة الأبصار وترقوا فيه عن حد التقليد لمجرد السماع وحالهم حال من أخبر فصدق ثم شاهد فحقق وحال غيرهم حال من قبل بحسن التصديق والإيمان ولم يحظ بالمشاهدة والعيان

Dan ketahuilah bahwa inilah haqqul yaqin di sisi para ulama yang mendalam ilmunya (al-rasikhuna fil 'ilm), yaitu bahwa mereka mencapainya melalui penyaksian batin (musyahadah al-batin) yang lebih kuat dan lebih jelas daripada penyaksian mata kepala, serta mereka naik melampaui batas taqlid yang hanya sekadar mendengar. Keadaan mereka bagaikan orang yang diberi tahu lalu membenarkan, kemudian menyaksikan sendiri lalu membuktikannya secara nyata. Sedangkan keadaan selain mereka bagaikan orang yang menerima dengan pembenaran dan iman yang baik, namun belum memperoleh penyaksian (musyahadah) dan penglihatan langsung ('iyan).

فالسعادة وراء علم المكاشفة وعلم المكاشفة وراء علم المعاملة التي هي سلوك طريق الآخرة وقطع عقبات الصفات

Maka kebahagiaan tertinggi berada di balik ilmu mukasyafah, dan ilmu mukasyafah berada di balik ilmu mu'amalah yang merupakan penempuhan jalan akhirat serta melintasi rintangan sifat-sifat cela.

وسلوك طريق محو الصفات المذمومة وراء علم الصفات وعلم طريق المعالجة وكيفية السلوك في ذلك وراء علم سلامة البدن ومساعدة أسباب الصحة

Dan menempuh jalan untuk menghapus sifat-sifat tercela berada di balik ilmu tentang sifat-sifat tersebut dan ilmu tentang metode penyembuhannya (al-mu'alajah), sedangkan tata cara menempuh hal itu berada di balik ilmu tentang keselamatan tubuh dan sarana pendukung kesehatan.

وسلامة البدن بالاجتماع والتظاهر والتعاون الذي يتوصل به إلى الملبس والمطعم والمسكن وهو منوط بالسلطان وقانونه في ضبط الناس على منهج العدل والسياسة في ناصية الفقيه

Keselamatan tubuh dicapai melalui kehidupan bermasyarakat, saling menolong, dan bekerja sama yang dengannya diperoleh pakaian, makanan, dan tempat tinggal. Hal ini terikat dengan pemerintah (sultan) dan perundang-undangannya dalam menertibkan manusia di atas jalan keadilan, serta siyasah (kebijakan pengelolaan) yang berada di bawah kendali ahli fiqih.

وأما أسباب الصحة ففي ناصية الطبيب ومن قال العلم علمان علم الأبدان وعلم الأديان وأشار به إلى الفقه أراد به العلوم الظاهرة الشائعة لا للعلوم العزيزة الباطنة

Adapun sebab-sebab kesehatan berada di bawah kendali dokter. Barang siapa yang mengatakan bahwa ilmu itu ada dua—ilmu jasad (kedokteran) dan ilmu agama—lalu ia mengisyaratkannya kepada fiqih, maka yang ia maksudkan adalah ilmu-ilmu lahiriah yang umum (populer), bukan ilmu-ilmu batiniah yang mulia dan agung.

فإن قلت لم شبهت علم الطب والفقه بإعداد الزاد والراحلة فاعلم أن الساعي إلى الله تعالى لينال قربه هو القلب دون البدن ولست أعني بالقلب اللحم المحسوس بل هو من أسرار الله ﷿ لا يدركه الحس ولطيفة من لطائفه تارة يعبر عنه بالروح وتارة بالنفس المطمئنة والشرع يعبر عنه بالقلب لأنه المطية الأولى لذلك السر وبواسطته صار جميع البدن مطية وآلة لتلك اللطيفة وكشف الغطاء عن ذلك السر من علم المكاشفة وهو مضنون به بل لا رخصة في ذكره وغاية المأذون فيه أن يقال هو جوهر نفيس ودر عزيز اشرف من هذه الأجرام المرئية وإنما هو أمر إلهي كما قال تعالى ويسئلونك عن الروح قل الروح من أمر ربي وكل المخلوقات منسوبة إلى الله تعالى ولكن نسبته أشرف من نسبة سائر أعضاء البدن فلله الخلق والأمر جميعاً والأمر أعلى من الخلق

Jika engkau bertanya, 'Mengapa engkau menyerupakan ilmu kedokteran dan fiqih dengan penyiapan bekal dan kendaraan (untuk perjalanan)?' Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya yang berjalan menuju Allah Ta'ala untuk meraih kedekatan dengan-Nya adalah hati, bukan jasad fisik. Yang aku maksud dengan hati bukanlah daging yang dapat diindra, melainkan salah satu dari rahasia-rahasia Allah Azza wa Jalla yang tidak dapat dijangkau oleh indra, dan salah satu dari kelembutan-kelembutan (latifah) ciptaan-Nya. Kadang-kadang ia diungkapkan dengan istilah ruh, dan kadang-kadang dengan jiwa yang tenang (nafs muthma'innah). Sedangkan syariat mengungkapkannya dengan istilah hati (qalb) karena ia adalah kendaraan utama bagi rahasia tersebut, dan dengan perantaraannya seluruh jasad menjadi kendaraan dan alat bagi latifah itu. Membuka tirai penutup dari rahasia tersebut termasuk bagian dari ilmu mukasyafah, dan hal itu sangat dirahasiakan, bahkan tidak ada izin untuk menyebutkannya. Batas maksimal yang diizinkan untuk dikatakan adalah bahwa ia merupakan esensi (jawhar) yang berharga dan mutiara mulia yang lebih agung daripada jasad-jasad fisik yang kasatmata ini; ia hanyalah urusan ketuhanan (amr ilahi), sebagaimana firman-Nya Ta'ala: 'Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, Ruh itu termasuk urusan Tuhanku.' Seluruh makhluk memang dinisbatkan kepada Allah Ta'ala, namun nisbat ruh adalah lebih mulia daripada nisbat seluruh anggota jasad lainnya. Bagi Allah-lah penciptaan (al-khalq) dan urusan (al-amr) semuanya, dan urusan (al-amr) itu lebih tinggi kedudukannya daripada penciptaan (al-khalq).

وهذه الجوهرة النفيسة الحاملة لأمانة الله تعالى المتقدمة بهذه الرتبة على السموات والأرضين والجبال إذ أبين أن يحملنها وأشفقن منها من عالم الأمر ولا يفهم من هذا أنه تعريض بقدمها فإن القائل بقدم الأرواح مغرور جاهل لا يدري ما يقول فلنقبض عنان البيان عن هذا الفن فهو وراء ما نحن بصدده

Esensi yang amat berharga ini, yang mengemban amanah Allah Ta'ala dan mendahului langit, bumi, serta gunung-gunung dengan derajat ini—ketika semuanya enggan untuk mengembannya dan merasa takut kepadanya—berasal dari alam urusan ketuhanan ('alam al-amr). Dan janganlah dipahami dari hal ini sebagai isyarat akan keqadiman-nya (tanpa awal mula), karena orang yang berpendapat tentang keqadiman ruh-ruh adalah orang yang tertipu lagi bodoh yang tidak menyadari apa yang diucapkannya. Maka marilah kita tahan kendali penjelasan dari cabang ilmu ini, karena ia berada di luar apa yang sedang kita bahas.

والمقصود أن هذه اللطيفة هي الساعية إلى قرب الرب لأنها من أمر الرب فمنه مصدرها وإليه

Maksud dasarnya adalah bahwa latifah (kelembutan spiritual) inilah yang berjalan menuju kedekatan dengan Tuhan, karena ia berasal dari urusan Tuhan; dari-Nya muasalnya dan kepada-Nya…

مرجعها وأما البدن فمطيتها التي تركبها وتسعى بواسطتها فالبدن لها في طريق الله تعالى كالناقة للبدن في طريق الحج وكالراوية الخازنة للماء الذي يفتقر إليه البدن فكل علم مقصده مصلحة البدن فهو من جملة مصالح المطية

…kembalinya. Adapun jasad adalah kendaraannya yang ditunggangi dan ia berjalan dengan perantaraannya. Maka jasad bagi latifah dalam jalan menuju Allah Ta'ala adalah bagaikan unta betina bagi jasad dalam perjalanan haji, dan bagaikan girbah (kantong kulit) penyimpan air yang dibutuhkan oleh jasad. Oleh karena itu, setiap ilmu yang tujuannya adalah kemaslahatan jasad, maka ia termasuk bagian dari kemaslahatan kendaraan semata.

ولا يخفى أن الطب كذلك فإنه قد يحتاج إليه في حفظ الصحة على البدن ولو كان الإنسان وحده لاحتاج إليه والفقه يفارقه في أنه لو كان الإنسان وحده ربما كان يستغني عنه ولكنه خلق على وجه لا يمكنه أن يعيش وحده إذ لا يستقل بالسعي وحده في تحصيل طعامه بالحراثة والزرع والخبز والطبخ وفي تحصيل الملبس والمسكن وفي إعداد آلات ذلك كله فاضطر إلى المخالطة والاستعانة

Tidak tersembunyi lagi bahwa ilmu kedokteran adalah demikian, karena sesungguhnya ia dibutuhkan untuk menjaga kesehatan jasad. Seandainya pun manusia hidup sendirian, ia tetap akan membutuhkannya. Adapun ilmu fiqih berbeda dengannya, sebab seandainya manusia hidup sendirian, boleh jadi ia tidak membutuhkannya. Akan tetapi, manusia diciptakan dalam keadaan tidak mungkin hidup sendirian, karena ia tidak mampu berusaha sendirian dalam memperoleh makanannya melalui membajak, menanam, membuat roti, dan memasak; begitu pula dalam memperoleh pakaian, tempat tinggal, serta mempersiapkan alat-alat untuk semua itu, sehingga ia terpaksa bermasyarakat dan saling meminta bantuan.

ومهما اختلط الناس وثارت شهواتهم تجاذبوا أسباب الشهوات وتنازعوا وتقاتلوا وحصل من قتالهم هلاكهم بسبب التنافس من خارج كما يحصل هلاكهم بسبب تضاد الأخلاط من داخل وبالطب يحفظ الاعتدال في الأخلاط المتنازعة من داخل وبالسياسة والعدل يحفظ الاعتدال في التنافس من خارج وعلم طريق اعتدال الأخلاط طب وعلم طريق اعتدال أحوال الناس في المعاملات والأفعال فقه

Manakala manusia saling berbaur dan syahwat mereka bergejolak, mereka akan saling memperebutkan sarana-sarana syahwat, berselisih, dan saling membunuh. Dari pertikaian itu terjadilah kebinasaan mereka akibat persaingan dari luar, sebagaimana timbulnya kebinasaan mereka akibat pertentangan unsur-unsur cairan tubuh (akhlat) dari dalam. Melalui ilmu kedokteran, keseimbangan unsur-unsur tubuh yang bergejolak dari dalam dapat dijaga, sedangkan melalui kepemimpinan (siyasah) dan keadilan, keseimbangan dalam persaingan dari luar dapat dipelihara. Maka ilmu tentang tata cara keseimbangan unsur tubuh adalah kedokteran, dan ilmu tentang tata cara keseimbangan keadaan manusia dalam muamalah dan perbuatan adalah fiqih.

وكل ذلك لحفظ البدن الذي هو مطية فالمتجرد لعلم الفقه أو الطب إذا لم يجاهد نفسه ولا يصلح قلبه كالمتجرد لشراء الناقة وعلفها وشراء الراوية وخرزها إذا لم يسلك بادية الحج

Semua itu adalah demi menjaga jasad yang merupakan kendaraan. Maka orang yang mencurahkan diri sepenuhnya hanya untuk ilmu fiqih atau kedokteran tanpa memujahekan (mendidik) nafsunya dan tanpa membenahi hatinya, adalah bagaikan orang yang mengkhususkan diri hanya untuk membeli unta betina, memberinya pakan, membeli kantong air, dan menjahitnya, namun ia tidak pernah menempuh padang pasir perjalanan haji.

والمستغرق عمره في دقائق الكلمات التي تجري في مجادلات الفقه كالمستغرق عمره في دقائق الأسباب التي بها تستحكم الخيوط التي تخرز بها الراوية للحج

Dan orang yang menghabiskan umurnya dalam kerumitan kata-kata yang berlangsung dalam perdebatan-perdebatan fiqih adalah bagaikan orang yang menghabiskan umurnya dalam merinci sebab-sebab untuk memperkuat benang-benang yang digunakan untuk menjahit kantong air perjalanan haji.

ونسبة هؤلاء من السالكين لطريق إصلاح القلب الموصل إلى علم المكاشفة كنسبة أولئك إلى سالكي طريق الحج أو ملابسي أركانه فتأمل هذا أولاً واقبل النصيحة مجاناً ممن قام عليه ذلك غالباً ولم يصل إليه إلا بعد جهد جهيد وجراءة تامة على مباينة الخلق العامة والخاصة في النزوع من تقليدهم بمجرد الشهوة فهذا القدر كاف في وظائف المتعلم

Nisbat kedudukan mereka dibanding para salik (penempuh jalan) penataan hati yang mengantarkan kepada ilmu mukasyafah, adalah bagaikan nisbat orang-orang tersebut dibanding para penempuh jalan haji atau orang-orang yang melakoni rukun-rukunnya. Maka renungkanlah hal ini terlebih dahulu, dan terimalah nasihat secara cuma-cuma ini dari orang yang sering kali mengalami hal itu dan tidak sampai pada kebenaran ini melainkan setelah perjuangan yang sangat berat serta keberanian penuh untuk menyelisihi kebiasaan khalayak umum maupun khusus dalam melepaskan diri dari taklid yang didasari semata-mata oleh hawa nafsu. Cukuplah kadar ini dalam menjelaskan tugas-tugas (etika) murid.