كيفية الاستنجاء
كَيْفِيَّةُ الِاسْتِنْجَاءِ
Tata Cara Beristinja
ثُمَّ يَسْتَنْجِي لِمَقْعَدَتِهِ بِثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ فإن أنقى وإلا استعمل رابعاً فإن أنقى وإلا استعمل خامساً لأن الإنقاء واجب والإيتار مستحب
Kemudian ia beristinja untuk duburnya dengan menggunakan tiga batu. Jika telah bersih, maka cukup; jika belum bersih, ia menggunakan batu keempat; jika belum bersih juga, ia menggunakan batu kelima. Sebab, menyucikan hingga bersih (inqa') hukumnya wajib, sedangkan mengganjilkan jumlah batu (itar) hukumnya sunnah (dianjurkan).
قال ﷺ من استجمر فليوتر ويأخذ الحجر بيساره ويضعه على مقدم المقعدة قبل موضع النجاسة ويمره بالمسح والإدارة إلى المؤخر ويأخذ الثاني ويضعه على المؤخر كذلك ويمره إلى المقدمة ويأخذ الثالث فيديره حول المسربة إدارة فإن عسرت الإدارة ومسح من المقدمة إلى المؤخرة أجزأه ثم يأخذ حجراً كبيراً بيمينه والقضيب بيساره ويمسح الحجر بقضيبه ويحرك اليسار فيمسح ثلاثاً في ثلاثة مواضع أوفى ثلاثة أحجار أو في ثلاثة مواضع من جدار إلى أن لا يرى الرطوبة في محل المسح فإن حصل ذلك بمرتين أتى بالثالثة ووجب ذلك إن أراد الاقتصار على الحجر وإن حصل بالرابعة استحب الخامسة للإيتار
Rasulullah ﷺ bersabda, "Barang siapa beristinja dengan batu (istijmar), hendaklah ia mengganjilkannya." Ia mengambil batu dengan tangan kirinya lalu meletakkannya pada bagian depan dubur sebelum tempat najis, lalu mengusapkannya sembari memutarnya ke arah belakang. Kemudian ia mengambil batu kedua dan meletakkannya di bagian belakang seperti tadi, lalu mengusapkannya ke arah depan. Lalu ia mengambil batu ketiga dan memutarkannya di sekeliling lubang dubur (masrabah). Apabila sulit memutarkannya, dan ia mengusap dari depan ke belakang, maka hal itu sudah mencukupi. Kemudian ia mengambil batu yang cukup besar dengan tangan kanannya dan memegang kemaluan dengan tangan kirinya, lalu mengusapkan kemaluannya pada batu tersebut dengan menggerakkan tangan kiri, diusapkan sebanyak tiga kali pada tiga bagian tempat, atau dengan tiga batu, atau pada tiga tempat di dinding, hingga tidak lagi terlihat kebasahan pada area yang diusap. Apabila kebersihan telah tercapai dengan dua kali usapan, ia tetap wajib melakukan usapan ketiga jika hanya membatasi diri pada penggunaan batu. Namun apabila kebersihan baru tercapai pada usapan keempat, disunnahkan menambah usapan kelima agar berbilangan ganjil.
ثم ينتقل من ذلك الموضع إلى موضع آخر ويستنجي بِالْمَاءِ بِأَنْ يَفِيضَهُ بِالْيُمْنَى عَلَى مَحَلِّ النَّجْوِ وَيُدَلِّكَ بِالْيُسْرَى حَتَّى لَا يُبْقَى أَثَرٌ يُدْرِكُهُ الكف بحس اللمس ويدرك الِاسْتِقْصَاءَ فِيهِ بِالتَّعَرُّضِ لِلْبَاطِنِ فَإِنَّ ذَلِكَ مَنْبَعُ الْوَسْوَاسِ وَلْيَعْلَمْ أَنَّ كُلَّ مَا لَا يَصِلُ إِلَيْهِ الْمَاءُ فَهُوَ بَاطِنٌ وَلَا يَثْبُتُ حُكْمُ النَّجَاسَةِ لِلْفَضَلَاتِ الْبَاطِنَةِ مَا لَمْ تَظْهَرْ وَكُلُّ مَا هُوَ ظَاهِرٌ وَثَبَتَ لَهُ حُكْمُ النَّجَاسَةِ فحد ظهوره أَنْ يَصِلَ الْمَاءُ إِلَيْهِ فَيُزِيلَهُ وَلَا مَعْنَى للوسواس
Kemudian ia berpindah dari tempat tersebut ke tempat lain dan beristinja dengan air, yaitu dengan menyiramkan air menggunakan tangan kanan ke tempat keluarnya kotoran dan menggosoknya dengan tangan kiri hingga tidak ada lagi bekas najis yang dapat dirasakan oleh telapak tangan melalui indra peraba. Namun, janganlah berlebihan (istiqsha') hingga menggosok bagian dalam, karena hal itu merupakan sumber keraguan (waswas). Hendaknya ia mengetahui bahwa segala bagian yang tidak terjangkau oleh air termasuk bagian dalam (bathin), dan hukum najis tidak berlaku bagi kotoran di bagian dalam selama belum keluar ke permukaan. Adapun segala sesuatu yang berada di bagian luar dan berlaku baginya hukum najis, batasan bagian luar tersebut adalah area yang dapat dijangkau oleh air lalu air menyucikannya; maka tidak ada alasan untuk menuruti keraguan (waswas).
ويقول عند الفراغ من الاستنجاء اللهم طهر قلبي من النفاق وحصن فرجي من الفواحش ويدلك يده بحائط أو بالأرض إزالة للرائحة إن بقيت
Ketika selesai beristinja, ia berdoa: "Ya Allah, sucikanlah hatiku dari kemunafikan dan bentengilah kemaluanku dari perbuatan-perbuatan keji" (Allāhumma ṭahhir qalbī minan-nifāqi wa ḥaṣṣin farjī minal-fawāḥisy). Setelah itu, ia menggosokkan tangannya ke dinding atau tanah untuk menghilangkan bau jika masih tersisa.
والجمع بين الماء والحجر مستحب فقد روي أنه لما نزل قوله تَعَالَى ﴿فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا وَاللَّهُ يحب المطهرين﴾ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لأهل قباء ما هذه الطهارة التي أثنى الله بها عليكم قالوا كنا نجمع بين الماء والحجر
Menggabungkan penggunaan air dan batu hukumnya disunnahkan. Diriwayatkan bahwa ketika turun firman Allah Ta'ala: "Di dalamnya ada orang-orang yang ingin menyucikan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang menyucikan diri" (QS. At-Taubah: 108), Rasulullah ﷺ bertanya kepada penduduk Quba', "Bersuci apakah yang membuat Allah memuji kalian ini?" Mereka menjawab, "Kami biasa menggabungkan penggunaan air dan batu."