باب آداب قضاء الحاجة

كيفية الوضوء

كيفية الوضوء

كيفية الوضوء

Tata Cara Berwudu

إذا فرغ من الاستنجاء اشتغل بالوضوء فلم ير رسول الله ﷺ قط خارجاً من الغائط إلا توضأ ويبتدىء بالسواك فقد قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إن أفواهكم طرق القرآن فطيبوها بالسواك فينبغي أن ينوي عند السواك تطهير فمه لقراءة القرآن وذكر الله تعالى في الصلاة وقال ﷺ صلاة على أثر سواك أفضل من خمس وسبعين صلاة بغير سواك ﴿حديث﴾ صلاة على أثر سواك أفضل من خمس وسبعين صلاة بغير سواك رواه أبو نعيم في كتاب السواك من حديث ابن عمر بإسناد ضعيف ورواه أبو داود والحاكم وصححه والبيهقي وضعفه من حديث عائشة وضعفه بلفظ من سبعين صلاة حديث لولا أن أشق على أمتي لأمرتهم بالسواك عند كل صلاة متفق عليه من حديث أبي هريرة حديث ما لي أراكم تدخلون علي قلحاً استاكوا أخرجه البزار والبيهقي من حديث العباس بن عبد المطلب وأبو داود والبغوي من حديث تمام بن العباس والبيهقي من حديث عبد الله بن عباس وهو مضطرب حديث كان يستاك من الليل مرارا أخرجه مسلم من حديث ابن عباس حديث ابن عباس لم يزل يأمرنا رسول الله ﷺ بالسواك حتى ظننا أنه سينزل عليه فيه شيء رواه أحمد // وقال ﵇ عليكم بالسواك فإنه

Apabila telah selesai dari beristinja, ia hendaknya segera berwudu. Rasulullah ﷺ tidak pernah terlihat keluar dari buang hajat melainkan langsung berwudu. Ia memulainya dengan bersiwak, sebab Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya mulut-mulut kalian adalah jalan-jalan tempat dilaluinya Al-Qur'an, maka harumkanlah mulut kalian dengan bersiwak." Oleh karena itu, hendaknya saat bersiwak ia berniat menyucikan mulutnya untuk membaca Al-Qur'an dan berzikir kepada Allah Ta'ala di dalam shalat. Beliau ﷺ juga bersabda, "Shalat setelah bersiwak lebih utama daripada tujuh puluh lima kali shalat tanpa bersiwak." [Takhrij Hadis: Hadis 'Shalat setelah bersiwak lebih utama dari 75 shalat tanpa bersiwak' diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dalam Kitab As-Siwak dari hadis Ibn Umar dengan sanad dha'if; diriwayatkan pula oleh Abu Dawud, al-Hakim yang mensahihkannya, dan al-Baihaqi yang mendha'ifkannya dari hadis Aisyah dengan lafaz 'tujuh puluh shalat'. Hadis 'Seandainya tidak memberatkan umatku…' muttafaq 'alaih dari Abu Hurairah. Hadis 'Mengapa aku melihat kalian menemuiku dalam keadaan gigi kuning (kotor)…' dikeluarkan oleh al-Bazzar dan al-Baihaqi dari al-Abbas bin Abdul Mutthalib, Abu Dawud dan al-Baghawi dari Tamam bin al-Abbas, serta al-Baihaqi dari Abdullah bin Abbas dan sanadnya mudhtarib. Hadis 'Beliau biasa bersiwak di malam hari berkali-kali' dikeluarkan oleh Muslim dari Ibn Abbas. Hadis Ibn Abbas 'Rasulullah ﷺ senantiasa memerintahkan kami bersiwak hingga kami menduga…' diriwayatkan oleh Ahmad]. Dan Nabi ﷺ bersabda: "Hendaklah kalian bersiwak, karena sesungguhnya siwak itu…"

مطهرة للفم ومرضاة للرب وقال علي بن أبي طالب كرم الله وجهه السواك يزيد في الحفظ ويذهب البلغم وكان أصحاب النبي ﷺ يروحون والسواك على آذانهم

…pembersih bagi mulut dan penyabab keridaan dari Tuhan." Ali bin Abi Thalib karramallāhu wajhah berkata, "Siwak itu menambah daya ingat dan menghilangkan dahak." Dahulu, para sahabat Nabi ﷺ biasa berulang-alik sementara siwak terselip di telinga mereka.

وكيفيته أن يستاك بخشب الأراك أو غيره من قضبان الأشجار مما يخشن ويزيل القلح ويستاك عرضاً وطولاً وإن اقتصر فعرضاً

Cara bersiwak adalah menggunakan kayu siwak (arak) atau dahan-dahan pohon lainnya yang memiliki tekstur kasar sehingga dapat mengikis kotoran gigi (qalah). Ia bersiwak secara melintang (horisontal) dan membujur (vertikal), namun jika hendak mencukupkan diri, hendaklah secara melintang.

ويستحب السواك عند كل صلاة وعند كل وضوء وإن لم يصل عقيبه وعند تغير النكهة بالنوم أو طول الأزم أو كل ما تكره رائحته ثم عند الفراغ من السواك يجلس للوضوء مستقبل القبلة ويقول بسم الله الرحمن الرحيم قال ﷺ لا وضوء لمن لم يسم الله تعالى أي لا وضوء كامل

Disunnahkan bersiwak pada setiap hendak shalat, setiap akan berwudu meskipun tidak langsung shalat setelahnya, dan ketika terjadinya perubahan bau mulut akibat tidur, diam yang lama (thul al-azm), atau segala sesuatu yang baunya tidak disukai. Kemudian setelah selesai bersiwak, ia duduk untuk berwudu dengan menghadap kiblat lalu membaca Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm. Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidak ada wudu bagi orang yang tidak menyebut nama Allah Ta'ala," maksudnya adalah tidak sempurna wudunya.

ويقول عند ذلك أعوذ بك من همزات الشياطين وأعوذ بك رب أن يحضرون ثم يغسل يديه ثلاثا قبل أن يدخلهما الإناء ويقول اللهم إني أسألك اليمن والبركة وأعوذ بك من الشؤم والهلكة ثم ينوي رفع الحدث أو استباحة الصلاة ويستديم النية إلى غسل الوجه فإن نسيها عند الوجه لم يجزه ثم يأخذ غرفة لفيه بيمينه فيتمضمض بها ثلاثاً ويغرغر بأن يرد الماء إلى الغلصمة إلا أن يكون صائماً فيرفق ويقول اللهم أعني على تلاوة كتابك وكثرة الذكر لك ثُمَّ يَأْخُذُ غُرْفَةً لِأَنْفِهِ وَيَسْتَنْشِقُ ثَلَاثًا وَيُصْعِدُ الْمَاءَ بِالنَّفَسِ إِلَى خَيَاشِيمِهِ وَيَسْتَنْثِرُ مَا فِيهَا ويقول في الاستنشاق اللهم أوجد لي رائحة الجنة وأنت عني راض وفي الاستنثار اللهم إني أعوذ بك من روائح النار ومن سوء الدار لأن الاستنشاق إيصال والاستنثار إزالة ثم يغرف غرفة لوجهه فيغسله من مبدإ سَطْحِ الْجَبْهَةِ إِلَى مُنْتَهَى مَا يُقْبِلُ مِنَ الذَّقَنِ فِي الطُّولِ وَمِنَ الْأُذُنِ إِلَى الْأُذُنِ في العرض ولا يدخل في حد الوجه النزعتان اللتان على طرفي الجبينين فهما من الرأس ويوصل الماء إلى موضع التحذيف وهو ما يعتاد النساء تنحية الشعر عنه وهو القدر الذي يقع في جانب الوجه مهما وضع طرف الخيط على رأس الأذن والطرف الثاني على زاوية الجبين ويوصل الماء إلى منابت الشعور الأربعة الحاجبان والشاربان والعذاران والأهداب لأنها خفيفة في الغالب

Ia juga membaca saat itu: "Aku berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan, dan aku berlindung kepada-Mu wahai Tuhanku agar mereka tidak mendekatiku." Kemudian ia membasuh kedua tangannya tiga kali sebelum memasukannya ke dalam bejana seraya berdoa: "Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keberuntungan dan keberkahan, dan aku berlindung kepada-Mu dari kesialan dan kebinasaan." Lalu ia berniat mengangkat hadas (raf'ul-ḥadats) atau membolehkan shalat (istibāḥatuṣ-ṣalāh), dan ia melanjutkan niat tersebut sampai membasuh wajah; jika ia lupa niat saat membasuh wajah, maka wudunya tidak sah. Kemudian ia mengambil seceduk air dengan tangan kanannya untuk mulutnya lalu berkumur-kumur (maḍmaḍah) tiga kali dan melakukan ghargharah (memutar air hingga ke pangkal tenggorokan), kecuali jika ia sedang berpuasa maka hendaklah ia berlembut-lembut, seraya berdoa: "Ya Allah, bantulah aku untuk membaca kitab-Mu dan memperbanyak zikir kepada-Mu." Kemudian ia mengambil seceduk air untuk hidungnya lalu menghirupnya (istinsyāq) tiga kali dengan menarik air melalui napas hingga ke pangkal hidung (khayāsyīm), lalu menyemburkannya (istintsār). Saat menghirup air ia berdoa: "Ya Allah, berikanlah aku wewangian surga dalam keadaan Engkau rida kepadaku," dan saat menyemburkan air ia berdoa: "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari bau-bau api neraka dan dari buruknya tempat kembali," sebab istinsyāq adalah memasukkan dan istintsār adalah mengeluarkan. Kemudian ia mengambil seceduk air untuk wajahnya lalu membasuh wajah dari batas tumbuhnya rambut dahi hingga ujung dagu secara membujur (vertikal), dan dari telinga ke telinga secara melintang (horisontal). Tidak termasuk batas wajah adalah dua lekukan dahi (al-naz'atān) yang berada di kedua sisi dahi, sebab keduanya termasuk bagian kepala. Dan ia menyampaikan air ke tempat taḥżīf (yaitu bagian rambut samping yang biasa disingkap oleh wanita, yakni ukuran yang berada di sisi wajah ketika ujung benang diletakkan di atas daun telinga dan ujung lainnya di sudut dahi). Ia juga menyampaikan air ke tempat tumbuhnya empat jenis rambut: kedua alis, kumis, 'ażārān (cambang), dan bulu mata, karena rambut-ramput tersebut umumnya tipis.

والعذاران هما ما يوازيان الأذنين من مبدإ اللحية

Al-'Ażārān (cambang) adalah rambut yang sejajar dengan kedua telinga, dihitung dari pangkal jenggot.

ويجب إيصال الماء إلى منابت اللحية الخفيفة أعني ما يقبل من الوجه وأما الكثيفة فلا وحكم العنفقة حكم اللحية في الكثافة والخفة ثم يفعل ذلك ثلاثاً ويفيض الماء على ظاهر ما استرسل من اللحية وَيُدْخِلُ الْأَصَابِعَ فِي مَحَاجِرِ الْعَيْنَيْنِ وَمَوْضِعِ الرَّمَصِ ومجتمع الكحل وينقيهما

Wajib menyampaikan air hingga ke tempat tumbuhnya jenggot yang tipis, yaitu bagian yang menghadap ke wajah. Adapun jenggot yang tebal, tidak wajib (sampai ke kulitnya). Hukum 'anfaqah (bulu di bawah bibir bawah) sama dengan hukum jenggot dalam hal tebal dan tipisnya. Kemudian ia membasuh wajah sebanyak tiga kali dan meratakan air pada bagian luar jenggot yang terurai. Ia juga memasukkan jari-jemarinya ke dalam rongga kelopak mata, tempat kotoran mata (ramas), dan sudut tempat berkumpulnya celak, serta membersihkannya.

فقد روي أنه ﷺ فعل ذلك ويأمل عند ذلك خروج الخطايا من عينيه وكذلك عند كل عضو ويقول عنده اللهم بيض وجهي بنورك يوم تبيض وجوه أوليائك ولا تسود وجهي بظلماتك يوم تسود وجوه أعدائك ويخلل اللحية الكثيفة عند غسل الوجه فإنه مستحب ثُمَّ يَغْسِلُ يَدَيْهِ إِلَى مَرْفِقَيْهِ ثَلَاثًا وَيُحَرِّكُ الخاتم ويطيل الغرة ويرفع الماء إلى أعلى العضد فإنهم يحشرون يوم القيامة غراً محجلين من آثار الوضوء كذلك ورد الخبر

Diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ melakukan hal tersebut. Ia hendaknya meyakini dan mengharapkan keluarnya dosa-dosa dari kedua matanya pada saat itu, begitu pula pada setiap anggota wudu lainnya. Saat membasuh wajah ia berdoa: "Ya Allah, putihkanlah wajahku dengan cahaya-Mu pada hari di mana wajah para kekasih-Mu menjadi putih berseri, dan janganlah Engkau hitamkan wajahku dengan kegelapan-Mu pada hari di mana wajah musuh-musuh-Mu menjadi hitam." Ia juga menyela-nyela (takhlīl) jenggot yang tebal saat membasuh wajah karena hal itu hukumnya sunnah. Kemudian ia membasuh kedua tangannya beserta kedua sikunya sebanyak tiga kali, menggerakkan cincinnya, memperpanjang basuhan cahaya (ithālatul-ghurrah), serta menaikkan air hingga ke atas lengan atas ('aḍud). Sebab, umat ini akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan bercahaya pada wajah dan anggota tubuhnya (ghurran muḥajjalīn) karena bekas-bekas wudu, sebagaimana disebutkan dalam riwayat.

قال ﷺ من استطاع أن

Rasulullah ﷺ bersabda, "Barang siapa di antara kalian yang mampu untuk…"

يطيل غرته فليفعل وروي أن الحلية تبلغ مواضع الوضوء ويبدأ باليمنى ويقول اللهم أعطني كتابي بيميني وحاسبني حساباً يسيراً ويقول عند غسل الشمال اللهم إني أعوذ بك أن تعطيني كتابي بشمالي أو من وراء ظهري ثُمَّ يَسْتَوْعِبُ رَأْسَهُ بِالْمَسْحِ بِأَنْ يَبُلَّ يَدَيْهِ ويلصق رءوس أصابع يديه اليمنى باليسرى ويضعهما على مقدمة الرأس ويمدهما إلى القفا ثم يردهما إلى المقدمة وهذه مسحة واحدة يفعل ذلك ثلاثا ويقول اللهم اغشني برحمتك وأنزل علي من بركاتك وأظلني تحت ظل عرشك يوم لا ظل إلا ظلك ثُمَّ يَمْسَحُ أُذُنَيْهِ ظَاهِرَهُمَا وَبَاطِنَهُمَا بِمَاءٍ جَدِيدٍ بأن يدخل مسبحتيه في صماخي أذنيه ويدير إبهاميه على ظاهر أذنيه ثم يضع الكف على الأذنين استظهاراً ويكرره ثلاثاً ويقول اللهم اجعلني من الذين يستمعون القول فيتبعون أحسنه اللهم اسمعني منادي الجنة مع الأبرار ثم يمسح رقبته بماء جديد لقوله ﷺ مسح الرقبة أمان من الغل يوم القيامة ويقول اللهم فك رقبتي من النار وأعوذ بك من السلاسل والأغلال ثم يغسل رجله اليمنى ثلاثاً ويخلل باليد اليسرى من أسفل أصابع الرجل اليمنى ويبدأ بالخنصر من الرجل اليمنى ويختم بالخنصر من الرجل اليسرى ويقول اللهم ثبت قدمي على الصراط المستقيم يوم تزل الأقدام في النار ويقول عند غسل اليسرى أعوذ بك أن تزل قدمي عن الصراط يوم تزل فيه أقدام المنافقين ويرفع الماء إلى أنصاف الساقين

…memperpanjang cahayanya (ghurrah), maka hendaklah ia melakukannya." Diriwayatkan pula bahwa perhiasan di surga akan mencapai tempat-tempat yang terjangkau oleh wudu. Ia memulainya dari tangan kanan seraya berdoa: "Ya Allah, berikanlah kitab catatanku dari sebelah kananku dan hisablah aku dengan hisab yang ringan." Dan ia berdoa saat membasuh tangan kiri: "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari Engkau berikan kitab catatanku dari sebelah kiriku atau dari belakang punggungku." Kemudian ia mengusap seluruh kepalanya (isti'āb ar-ra's) dengan cara membasahi kedua tangannya, mempertemukan ujung-ujung jari tangan kanan dan kirinya, meletakkannya di bagian depan kepala lalu menjalankannya hingga ke tengkuk, kemudian mengembalikannya lagi ke bagian depan; ini dihitung satu kali usapan, dan ia melakukannya tiga kali seraya berdoa: "Ya Allah, liputilah aku dengan rahmat-Mu, turunkanlah kepadaku keberkahan-Mu, dan naungilah aku di bawah naungan 'Arsy-Mu pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Mu." Kemudian ia mengusap kedua telinganya, baik bagian luar maupun dalamnya, dengan air yang baru, yaitu dengan memasukkan kedua jari telunjuknya ke dalam lubang telinganya dan memutarkan kedua ibu jarinya pada bagian luar daun telinganya, lalu menempelkan kedua telapak tangannya pada kedua telinga untuk menyempurnakan usapan. Ia mengulangnya tiga kali seraya berdoa: "Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik darinya. Ya Allah, perdegarkanlah kepadaku seruan pemanggil surga bersama orang-orang yang berbakti." Kemudian ia mengusap lehernya dengan air baru berdasarkan sabda Nabi ﷺ: "Mengusap leher adalah pengaman dari belenggu pada hari kiamat," seraya berdoa: "Ya Allah, bebaskanlah leherku dari api neraka, dan aku berlindung kepada-Mu dari rantai-rantai dan belenggu-belenggu." Kemudian ia membasuh kaki kanannya sebanyak tiga kali dan menyela-nyela jari kaki dengan tangan kiri dari arah bawah jari-jari kaki kanan, dimulai dari kelingking kaki kanan dan diakhiri dengan kelingking kaki kiri, seraya berdoa: "Ya Allah, teguhkanlah kakiku di atas shirat yang lurus pada hari tergelincirnya kaki-kaki ke dalam neraka." Dan saat membasuh kaki kiri ia berdoa: "Aku berlindung kepada-Mu dari tergelincirnya kakiku dari atas shirat pada hari tergelincirnya kaki-kaki orang munafik." Ia menaikkan basuhan air hingga ke pertengahan betis.

فَإِذَا فَرَغَ رَفَعَ رَأَسَهُ إِلَى السَّمَاءِ وَقَالَ أشهد أن لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ له وأشهد أن محمداً عبده ورسوله سبحانك اللهم وبحمدك لا إله إلا أنت عملت سوءاً وظلمت نفسي أستغفرك اللهم وأتوب إليك فاغفر لي وتب على إنك أنت التواب الرحيم اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ واجعلني من عبادك الصالحين واجعلني عبداً صبوراً شكوراً واجعلني أذكرك كثيراً وأسبحك بكرة وأصيلاً يقال إن من قال هذا بعد الوضوء ختم على وضوئه بخاتم ورفع له تحت العرش فلم يزل يسبح الله تعالى ويقدسه ويكتب له ثواب ذلك إلى يوم القيامة

Ketika telah selesai, hendaknya ia menengadahkan kepalanya ke langit seraya mengucap: 'Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Mahasuci Engkau, ya Allah, dan dengan memuji-Mu, tiada Tuhan selain Engkau. Aku telah berbuat keburukan dan menganiaya diriku sendiri, aku memohon ampunan-Mu, ya Allah, dan bertobat kepada-Mu. Maka ampunilah aku dan terimalah tobatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertobat, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mensucikan diri, jadikanlah aku termasuk hamba-hamba-Mu yang saleh, jadikanlah aku hamba yang sabar dan pandai bersyukur, serta jadikanlah aku orang yang banyak mengingat-Mu dan bertasbih kepada-Mu di waktu pagi dan petang.' Dikatakan bahwa barang siapa mengucapkan ini setelah berwudu, maka wudunya dimeterai dengan stempel dan diangkat ke bawah Arasy, lalu wudu itu senantiasa bertasbih dan menyucikan Allah Ta'ala, serta dicatat baginya pahala atas hal itu hingga hari kiamat.

ويكره في الوضوء أمور منها أن يزيد على الثلاث فمن زاد فقد ظلم وأن يسرف في الماء توضأ ﵇ ثلاثاً وقال من زاد فقد ظلم وأساء وَقَالَ سَيَكُونُ قَوْمٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَعْتَدُونَ في الدعاء والطهور ويقال من وَهْنِ عِلْمِ الرَّجُلِ وُلُوعُهُ بِالْمَاءِ فِي الطَّهُورِ وقال إبراهيم بن أدهم يقال إن أول ما يبتدىء الوسواس من قبل الطهور وقال الحسن إن شيطاناً يضحك بالناس في الوضوء يقال له الولهان

Dimakruhkan dalam berwudu beberapa hal, di antaranya: membasuh melebihi tiga kali, sebab barang siapa yang menambahnya maka ia telah berbuat zalim; dan berlebihan (boros) dalam menggunakan air. Nabi ﷺ pernah berwudu masing-masing tiga kali lalu bersabda: 'Barang siapa yang menambah atas ini, sungguh ia telah berbuat zalim dan berbuat buruk.' Beliau juga bersabda: 'Akan ada suatu kaum dari umat ini yang melampaui batas dalam berdoa dan bersuci.' Dan dikatakan: 'Termasuk dari lemahnya ilmu seseorang adalah kegemarannya yang berlebihan terhadap air dalam bersuci.' Ibrahim bin Adham berkata: 'Dikatakan bahwa awal mula bisikan waswas itu timbul dari segi bersuci.' Al-Hasan berkata: 'Sesungguhnya ada setan yang menertawakan manusia saat berwudu, yang dinamakan al-Walhan.'

وَيُكْرَهُ أَنْ يَنْفُضَ الْيَدَ فَيَرُشَّ الْمَاءَ وَأَنْ يتكلم في أثناء الوضوء وأن يلطم وجهه بالماءلطما

Dan dimakruhkan mengibaskan tangan sehingga memercikkan air, berbicara di sela-sela wudu, serta menampar (menepuk keras) wajah dengan air.

وكره قوم التنشيف وقالوا الوضوء يوزن قاله سعيد بن المسيب والزهري لكن روى معاذ ﵁ أنه ﵇ مسح وجهه بطرف ثوبه وروت عائشة ﵂ أنه ﷺ كانت له منشفة ولكن طعن في هذه الرواية عن عائشة

Sebagian ulama memakruhkan mengeringkan anggota wudu dengan kain (mengelap), dan mereka berkata: 'Air wudu itu akan ditimbang.' Hal ini dikemukakan oleh Sa'id bin al-Musayyib dan az-Zuhri. Namun, Mu'adz r.a. meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ mengusap wajahnya dengan ujung pakaiannya, dan Aisyah r.a. meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ memiliki kain handuk khusus, meskipun riwayat dari Aisyah ini mendapat kritikan.

ويكره أن يتوضأ من إناء صفر وأن يتوضأ بالماء المشمس وذلك من جهة الطب

Dan dimakruhkan berwudu menggunakan wadah dari kuningan serta berwudu dengan air yang dipanaskan oleh terik matahari (musyammas), dan hal itu ditinjau dari sudut pandang medis.

وقد روي عن ابن عمر وأبي هريرة ﵄ كراهية إناء الصفر وقال بعضهم أخرجت لشعبة ماء في إناء صفر فأبى أن يتوضأ منه

Sungguh telah diriwayatkan dari Ibn Umar dan Abu Hurairah r.a. mengenai kemakruhan wadah dari kuningan. Sebagian ulama bercerita: 'Aku membawakan air untuk Syu'bah dalam wadah kuningan, lalu ia enggan untuk berwudu darinya.'

ونقل كراهية

Dan diriwayatkan mengenai kemakruhan

ذلك عن ابن عمر وأبي هريرة ﵄

hal tersebut dari Ibn Umar dan Abu Hurairah r.a.

ومهما فَرَغَ مِنْ وُضُوئِهِ وَأَقْبَلَ عَلَى الصَّلَاةِ فَيَنْبَغِي أَنْ يَخْطِرَ بِبَالِهِ أَنَّهُ طَهُرَ ظَاهِرُهُ وَهُوَ موضع نظر الخلق أَنْ يَسْتَحِيَ مِنْ مُنَاجَاةِ اللَّهِ تَعَالَى مِنْ غير تطهير قلبه وهو موضع نظر الرب سبحانه

Setiap kali seseorang selesai dari wudunya dan hendak menghadap shalat, maka hendaknya terlintas dalam benaknya bahwa ia baru mensucikan lahiriahnya—yang merupakan tempat pandangan makhluk—dan hendaknya ia merasa malu untuk bermunajat kepada Allah Ta'ala tanpa mensucikan hatinya, yang merupakan tempat pandangan Tuhan Yang Mahasuci.

وليحقق طَهَارَةَ الْقَلْبِ بِالتَّوْبَةِ

Serta hendaknya ia mewujudkan kesucian hati dengan bertobat,

وَالْخُلُوِّ عَنِ الْأَخْلَاقِ الْمَذْمُومَةِ والتخلق بالأخلاق الحميدة أولى

mengosongkannya dari akhlak yang tercela, dan berhias dengan akhlak yang terpuji adalah yang lebih utama.

وأن من يقتصر على طهارة الظاهر كمن يَدْعُوَ مَلِكًا إِلَى بَيْتِهِ فَتَرَكَهُ مَشْحُونًا بِالْقَاذُورَاتِ وَاشْتَغَلَ بِتَجْصِيصٍ ظَاهِرِ الْبَابِ الْبَرَّانِيِّ مِنَ الدَّارِ

Dan bahwasanya orang yang hanya mencukupkan diri pada bersuci secara lahiriah, seperti halnya seseorang yang mengundang seorang raja ke rumahnya, tetapi ia membiarkan bagian dalam rumahnya sarat dengan kotoran dan ia justru sibuk melabur (mengecat) bagian luar pintu gerbang rumahnya saja.

وما أجدر مثل هذا الرجل بالتعرض للمقت والبوار والله ﷾ أعلم

Betapa layak orang seperti ini mendapatkan kemurkaan dan kebinasaan. Wallahu 'Azza wa Jalla A'lam (Dan Allah Yang Mahagagah lagi Mahagung lebih mengetahui).