وَأما النّسخ فَمَعْنَاه لُغَة الْإِزَالَة وَقيل مَعْنَاهُ النَّقْل من قَوْلهم نسخت مَا فِي هَذَا الْكتاب أَي نقلته وَحده هُوَ الْخطاب الدَّال على رفع الحكم الثَّابِت بِالْخِطَابِ الْمُتَقَدّم على وَجه لولاه لَكَانَ ثَابتا مَعَ تراخيه عَنهُ وَيجوز نسخ الرَّسْم وَبَقَاء الحكم وَنسخ الحكم وَبَقَاء الرَّسْم والنسخ إِلَى بدل وَإِلَى غير بدل وَإِلَى مَا هُوَ أغْلظ وَإِلَى مَا هُوَ أخف وَيجوز نسخ الْكتاب بِالْكتاب وَنسخ السّنة بِالْكتاب وَنسخ السّنة بِالسنةِ وَيجوز نسخ الْمُتَوَاتر بالمتواتر مِنْهُمَا وَنسخ الْآحَاد بالآحاد وبالمتواتر وَلَا يجوز نسخ الْمُتَوَاتر بالآحاد تَنْبِيه فِي التَّعَارُض إِذا تعَارض نطقان فَلَا يَخْلُو إِمَّا أَن يَكُونَا عَاميْنِ أَو خاصين أَو أَحدهمَا عَاما وَالْآخر خَاصّا أَو كل وَاحِد مِنْهُمَا عَاما من وَجه وخاصا من وَجه فَإِن كَانَا عَاميْنِ فَإِن أمكن الْجمع بَينهمَا جمع وَإِن لم يُمكن الْجمع بَينهمَا يتَوَقَّف فيهمَا إِن لم يعلم التَّارِيخ فَإِن علم التَّارِيخ ينْسَخ الْمُتَقَدّم بالمتأخر وَكَذَا إِذا كَانَا خاصين وَإِن كَانَ أَحدهمَا عَاما وَالْآخر خَاصّا فيخصص الْعَام بالخاص وَإِن كَانَ أَحدهمَا عَاما من وَجه وخاصا من وَجه فيخص عُمُوم كل وَاحِد مِنْهُمَا بِخُصُوص الآخر ٩ –
Adapun nasakh, maka maknanya secara bahasa adalah menghilangkan (izalah), dan dikatakan pula maknanya adalah memindahkan (naql), dari ucapan mereka: "Aku menyalin (nasakh-tu) apa yang ada di dalam kitab ini," yakni aku memindahkannya. Batasannya (definisinya) adalah seruan (khitab) yang menunjukkan atas terangkatnya hukum yang telah tetap dengan seruan yang mendahuluinya, dengan cara yang seandainya seruan (nasakh) itu tidak ada, niscaya hukum tersebut akan tetap ada, bersamaan dengan datangnya seruan (nasakh) yang lebih akhir darinya. Dan diperbolehkan nasakh tulisan (rasm) sedangkan hukumnya tetap ada, nasakh hukum sedangkan tulisannya tetap ada. Nasakh menuju pada pengganti, nasakh menuju tanpa pengganti. Nasakh menuju hukum yang lebih berat, dan nasakh menuju hukum yang lebih ringan. Dan diperbolehkan menasakh Kitab dengan Kitab, menasakh Sunah dengan Kitab, dan menasakh Sunah dengan Sunah. Dan diperbolehkan menasakh yang mutawatir dengan yang mutawatir dari keduanya, menasakh yang ahad dengan yang ahad dan dengan yang mutawatir, namun tidak diperbolehkan menasakh yang mutawatir dengan yang ahad. [Peringatan dalam Pertentangan:] Apabila dua ucapan (nuthq) saling bertentangan (ta'arudh), maka kemungkinannya adalah keduanya berbentuk am (umum), atau keduanya berbentuk khas (khusus), atau salah satunya am dan yang lainnya khas, atau masing-masing dari keduanya am dari satu sisi dan khas dari sisi lain. Maka jika keduanya berbentuk am: apabila memungkinkan untuk digabungkan di antara keduanya, maka digabungkan; dan jika tidak memungkinkan untuk digabungkan, maka di-tawaqquf-kan (ditangguhkan) pada keduanya jika sejarah (waktu) turunnya tidak diketahui. Namun jika sejarahnya diketahui, maka yang terdahulu dinasakh oleh yang datang kemudian. Demikian pula jika keduanya berbentuk khas. Dan jika salah satunya berbentuk am dan yang lain khas, maka yang am ditakhshish (dikhususkan) oleh yang khas. Dan jika salah satunya am dari satu sisi dan khas dari sisi lain, maka keumuman dari masing-masing keduanya ditakhshish oleh kekhususan dari yang lain.