باب الزكاة

فصل في أداء الزكاة

فصل في أداء الزكاة

فصل في أداء الزكاة

Fasal tentang Pelaksanaan (Pembayaran) Zakat

يجب أداءها فورا بتمكن بحضور مال ومستحقيها وحلول دين مع قدرة,

Wajib menunaikannya secara seketika (fauran) saat ada kemampu-laksanaan (tamakkun), dengan hadirnya harta, keberadaan para penerimanya, serta jatuh temponya piutang disertai kemampuan (untuk menagihnya).

فصل في أداء الزكاة

Fasal tentang Pelaksanaan (Pembayaran) Zakat

يجب أداءها أي الزكاة وإن كان عليه دين مستغرق حال لله أو لآدمي فلا يمنع الدين وجوب الزكاة في الأظهر.

Wajib menunaikannya, yaitu zakat, meskipun ia memiliki utang yang menghabiskan seluruh hartanya dan telah jatuh tempo, baik utang kepada Allah maupun kepada manusia; maka utang tidak menghalangi kewajiban zakat menurut pendapat yang lebih jelas (al-azhhar).

فورا ولو في مال صبي ومجنون حاجة المستحقين إليها.

Secara seketika (fauran), meskipun dalam harta anak kecil dan orang gila, karena mendesaknya kebutuhan para penerima zakat terhadapnya.

بتمكن من الأداء فإن أخر أثم وضمن إن تلف بعده نعم إن أخر لانتظار قريب أو جار أو أحوج أو أصلح لم يأثم لكنه يضمنه إن تلف كمن أتلفه أو قصر في دفع متلف عنه كأن وضعه في غير حرزه بعد الحول وقبل التمكن.

Dengan syarat adanya kemampuan untuk menunaikan. Jika ia mengakhirkannya, ia berdosa dan menanggung ganti rugi jika harta tersebut rusak setelahnya. Ya, jika ia mengakhirkannya demi menunggu kerabat, tetangga, orang yang lebih membutuhkan, atau orang yang lebih saleh, maka ia tidak berdosa, namun ia tetap menanggung ganti rugi jika harta itu rusak, seperti orang yang merusaknya atau lalai dalam mencegah hal yang merusaknya, misalnya menaruhnya di tempat yang tidak aman setelah genap satu tahun (haul) dan sebelum adanya kemampuan menunaikannya.

ويحصل التمكن بحضور مال غائب سائر أو قار بمحل عسر الوصول إليه فإن لم يحضر لم يلزمه الأداء من محل

Kemampuan menunaikan itu terwujud dengan hadirnya harta yang hilang/jauh yang bergerak atau berada di tempat yang sulit dijangkau; jika harta tersebut belum hadir, maka ia tidak wajib menunaikannya dari tempat

آخر وإن جوزنا نقل الزكاة.

lain, meskipun kita membolehkan pemindahan (naql) zakat.

وحضور مستحقيها أي الزكاة أو بعضهم فهو متمكن بالنسبة لحصته حتى لو تلفت ضمنها ومع فراغ من مهم ديني أو دنيوي كأكل وحمام.

Dan keberadaan para penerimanya, yaitu penerima zakat atau sebagian dari mereka, maka ia dianggap mampu menunaikan seproporsi bagian mereka, sehingga jika harta itu rusak, ia menanggung ganti ruginya; serta setelah selesainya dari urusan penting keagamaan atau keduniaan seperti makan dan mandi.

وحلول دين من نقد أو عرض تجارة مع قدرة على استيفائه بأن كان على ملئ حاضر باذل أو جاحد عليه بينة أو يعلمه القاضي أو قدر

Dan jatuh temponya piutang berupa mata uang atau barang dagangan disertai kemampuan untuk menagihnya, yaitu jika piutang itu berada pada orang kaya yang hadir dan mau membayar, atau orang yang mengingkari namun ada bukti (bayyinah) atasnya atau hakim mengetahuinya, atau ia mampu

ولو أصدقها نصاب نقد زكته.

Dan jika ia (suami) memberikannya mahar berupa satu nisab uang tunai, maka ia (istri) wajib menzakatinya.

هو على خلاصه فيجب إخراج الزكاة في الحال وإن لم يقبضه لأنه قادر على قبضه.

Hal itu (berlaku) jika uang tersebut dapat ia ambil (pelunasannya mudah), maka wajib mengeluarkan zakat seketika itu juga meskipun ia belum menerimanya, karena ia mampu untuk menerimanya.

أما إذا تعذر استيفاؤه بإعسار أو مطل أو غيبة أو جحود ولا بينة فكمغصوب فلا يلزمه الإخراج إلا إن قبضه.

Adapun jika sulit untuk melunasinya karena kesulitan ekonomi (utang/pemberi mahar), penundaan, ketidakhadiran, atau pengingkaran tanpa adanya bukti, maka statusnya seperti harta yang dighasab (disita secara zalim), sehingga ia tidak wajib mengeluarkan zakat melainkan setelah menerimanya.

وتجب الزكاة في مغصوب وضال لكن لا يجب دفعها إلا بعد تمكن بعوده إليه.

Dan zakat tetap wajib pada harta yang dighasab dan harta yang hilang, akan tetapi tidak wajib membayarnya melainkan setelah ada kemampuan dengan kembalinya harta tersebut kepadanya.

ولو أصدقها نصاب نقد وإن كان في الذمة أو سائمة معينة زكته وجوبا إذا تم حول من الإصداق وإن لم تقبضه ولا وطئها لكن يشترط إن كان النقد في الذمة إمكان قبضه بكونه موسرا حاضرا.

Dan jika ia (suami) memberikannya mahar berupa satu nisab uang tunai meskipun berupa tanggungan (utang), atau berupa hewan ternak yang ditentukan, maka ia (istri) wajib menzakatinya apabila telah genap satu haul sejak penentuan mahar, meskipun ia belum menerimanya dan belum dijima' (digauli). Namun disyaratkan jika uang tunai tersebut berada dalam tanggungan (utang), harus memungkinkan untuk diterima, yaitu dengan keadaan suami yang mampu (berkecukupan) dan berada di tempat (hadir).

تنبيه: الأظهر أن الزكاة تتعلق بالمال تعلق شركة وفي قول قديم اختاره الريمي: لأنها تتعلق بالذمة لا بالعين.

Peringatan: Pendapat al-Azhhar (yang paling jelas) bahwa zakat itu berkaitan dengan harta secara keterkaitan persekutuan (syirkah). Dan menurut pendapat qadim yang dipilih oleh Ar-Raimi: bahwasanya zakat berkaitan dengan tanggungan (dhimmah), bukan dengan wujud benda ('ain).

فعلى الأول أن المستحق للزكاة شريك بقدر الواجب وذلك لأنه لو امتنع من إخراجها أخذها الإمام منه قهرا كما يقسم المال المشترك قهرا إذا امتنع بعض الشركاء من قسمته ولم يفرقوا في الشركة بين العين والدين فلا يجوز لربه أن يدعي ملك جميعه بل إنه يستحق قبضه ولو قال: بعد حول إن أبرأتني من صداقك فأنت طالق فأبرأته منه لم تطلق لأنه لم يبرأ من جميعه بل مما عدا قدر الزكاة فطريقها أن يعطيها ثم تبرئه.

Maka berdasarkan pendapat pertama, sesungguhnya penerima zakat (mustahiq) adalah sekutu (pemilik bersama) seukuran kewajiban zakat tersebut. Hal itu karena jika pemilik harta enggan mengeluarkannya, maka pemerintah (imam) mengambilnya secara paksa sebagaimana harta serikat dibagi secara paksa jika sebagian sekutu enggan membaginya, dan para ulama tidak membedakan dalam hal persekutuan antara harta berupa fisik ('ain) maupun piutang (dain). Maka tidak boleh bagi pemilik harta mengklaim kepemilikan atas seluruhnya, melainkan ia berhak menerimanya. Dan seandainya suami berkata setelah berlalu satu haul: 'Jika engkau membebaskanku dari maharmu maka engkau tertalak,' lalu istri membebaskannya dari mahar tersebut, maka istri tidak tertalak, karena suami tidak bebas dari seluruh mahar melainkan dari selain kadar zakatnya. Maka solusinya adalah suami menyerahkan (kadar zakat) kepadanya lalu istri membebaskannya.

ويبطل البيع والرهن في قدر الزكاة فقط فإن فعل أحدهما بالنصاب أو ببعضه

Dan batal jual beli serta gadai pada kadar zakat saja. Maka jika ia melakukan salah satu dari keduanya terhadap nisab atau sebagiannya

وشرط له: ١- نية كهذا زكاة أو صدقة مفروضة

Dan disyaratkan baginya: 1- Niat, seperti: 'Ini adalah zakat' atau 'sedekah yang difardukan'.

بعد الحول صح لا في قدر الزكاة كسائر الأموال المشتركة على الأظهر نعم يصح في قدرها في مال التجارة لا الهبة في قدرها فيه.

setelah berlalu satu haul adalah sah (pada porsi miliknya), tidak sah pada porsi kadar zakatnya sebagaimana harta persekutuan lainnya menurut pendapat al-Azhhar. Ya, sah pada kadar zakat pada harta perdagangan (tijarah), namun tidak sah hibah pada kadar zakat padanya.

فرع: تقدم الزكاة ونحوها من تركة مديون ضاقت عن وفاء ما عليه من حقوقه الآدمي وحقوق الله

Cabang masalah: Didahulukan pembayaran zakat dan sejenisnya dari harta peninggalan orang yang berutang yang tidak mencukupi untuk melunasi kewajiban-kewajiban yang menimpanya, baik hak sesama manusia maupun hak-hak Allah,

كالكفارة والحج والنذر والزكاة كما إذا اجتمعتا على حي لم يحجر عليه ولو اجتمعت فيها حقوق الله

seperti kafarat, haji, nazar, dan zakat, sebagaimana jika hak-hak tersebut berkumpul pada orang hidup yang tidak dikenai mahjur 'alaih (pembatasan tindakan hukum). Dan seandainya yang berkumpul padanya hanya hak-hak Allah saja,

فقط قدمت الزكاة إن تعلقت بالعين بأن بقي النصاب وإلا بأن تلف بعد الوجوب والتمكن استوت مع غيرها فيوزع عليها.

maka zakat didahulukan jika berkaitan dengan fisik benda ('ain), yaitu jika nisabnya masih ada. Jika tidak, yaitu apabila barangnya rusak setelah wajib dan adanya kemampuan (menunaikan), maka zakat berkedudukan sejajar dengan (hak Allah) lainnya, sehingga pembagian dilakukan secara proporsional.

وشرط له أي أداء الزكاة شرطان.

Dan bagi penyerahan zakat itu ada dua syarat.

١- أحدهما: نية بقلب لا نطق كهذا زكاة مالي ولو بدون فرض إذ لا تكون إلا فرضا.

1- Salah satunya: Niat dengan hati, bukan pengucapan lisan, seperti 'Ini adalah zakat hartaku' meskipun tanpa kata 'fardhu', karena zakat tidaklah ada melainkan hukumnya fardhu.

أو صدقة مفروضة أو هذا زكاة مالي المفروضة.

Atau 'sedekah yang difardukan' atau 'Ini adalah zakat hartaku yang difardukan'.

ولا يكفي: هذا فرض مالي لصدقه بالكفارة والنذر.

Dan tidak cukup (berniat): 'Ini adalah kewajiban hartaku', karena kalimat tersebut juga bisa berlaku untuk kafarat dan nazar.

ولا يجب تعيين المال المخرج عنه في النية.

Dan tidak wajib menentukan harta yang dikeluarkan zakatnya di dalam niat.

ولو عين لم يقع عن غيره وإن بان المعين تالفا لأنه لم ينو ذلك الغير ومن ثم لو نوى إن كان تالفا فعن غيره فبان تالفا وقع عن غيره بخلاف ما لو قال: هذه زكاة مالي الغائب إن كان باقيا أو صدقة لعدم الجزم بقصد الفرض.

Jika ia menentukan harta tertentu untuk zakat, maka zakat tersebut tidak sah untuk harta yang lain, meskipun harta yang ditentukan itu ternyata sudah rusak (binasa), karena ia tidak berniat untuk harta yang lain tersebut. Oleh sebab itu, jika ia berniat: "Jika harta itu sudah rusak, maka zakat ini untuk harta yang lain," lalu ternyata harta tersebut memang rusak, maka zakat itu sah untuk harta yang lain tersebut. Berbeda halnya jika ia berkata: "Ini adalah zakat hartaku yang gaib (tidak ada di tempat) jika ia masih ada, atau ini adalah sedekah (jika tidak ada)," karena tidak ada kepastian (jazm) dalam maksud menunaikan kewajiban.

لا مقارنتها للدفع بل تكفي عند عزل أو إعطاء وكيل أو بعد أحدهما وقبل التفرقة,

Tidak disyaratkan niat itu menyertai saat penyerahan (kepada penerima), melainkan cukup ketika memisahkan zakat, atau saat menyerahkan kepada wakil, atau setelah salah satu dari keduanya dan sebelum pembagian.

وإذا قال فإن كان تالفا فصدقة فبان تالفا وقع صدقة أو باقيا وقع زكاة.

Dan apabila ia berkata: "Jika harta itu rusak, maka ini adalah sedekah," lalu ternyata harta itu memang rusak, maka jadilah sedekah (sunnah). Namun jika ternyata masih utuh/ada, maka jadilah zakat (wajib).

ولو كان عليه زكاة وشك في إخراجها فأخرج شيئا ونوى: إن كان علي شيء من الزكاة فهذا عنه وإلا فتطوع فإن بان عليه زكاة أجزأه عنها وإلا وقع له تطوعا كما أفتى به شيخنا.

Seandainya seseorang menanggung kewajiban zakat dan ia ragu apakah sudah mengeluarkannya atau belum, lalu ia mengeluarkan sesuatu dan berniat: "Jika aku masih menanggung zakat, maka ini adalah pembayaran zakat itu, dan jika tidak, maka ini adalah sedekah sunnah," maka jika ternyata ia masih menanggung kewajiban zakat, hal itu mencukupinya sebagai zakat. Namun jika tidak, maka bernilai sebagai sedekah sunnah baginya, sebagaimana difatwakan oleh guru kami.

ولا يجزئ عن الزكاة قطعا إعطاء المال للمستحقين بلا نية.

Dan secara pasti tidak sah sebagai zakat jika memberikan harta kepada para mustahik tanpa niat.

لا مقارنتها أي النية للدفع فلا يشترط ذلك بل تكفي النية قبل الأداء إن وجدت عند عزل قدر الزكاة عن المال أو إعطاء وكيل أو إمام والأفضل لهما أن ينويا أيضا عند التفرقة.

(Tidak disyaratkan) menyertai-nya, yaitu niat saat penyerahan. Maka hal itu tidak disyaratkan, melainkan cukup niat sebelum penyerahan jika niat tersebut ada saat memisahkan kadar zakat dari harta, atau saat menyerahkan kepada wakil atau imam. Dan yang paling utama bagi keduanya (wakil atau imam) adalah berniat juga ketika membagikannya.

أو وجدت بعد أحدهما أي بعد عزل قدر الزكاة أو التوكيل.

Atau niat tersebut ada setelah salah satu dari keduanya, yaitu setelah memisahkan kadar zakat atau setelah mewakilkan.

وقبل التفرقة لعسر اقترانها بأداء كل مستحق.

Dan sebelum pembagian (distribusi), karena sulitnya menyertakan niat pada saat penyerahan kepada setiap mustahik.

ولو قال لغيره: تصدق بهذا ثم نوى الزكاة قبل تصدقه بذلك أجزأه عن الزكاة.

Seandainya seseorang berkata kepada orang lain: "Sedekahkanlah ini," kemudian (pemilik harta) berniat zakat sebelum orang lain tersebut menyedekahkannya, maka itu mencukupi (sah) sebagai zakat.

ولو قال لآخر: اقبض ديني من فلان وهو لك زكاة لم يكف حتى ينوي هو بعد قبضه ثم يأذن له في أخذها وأفتى بعضهم أن التوكيل المطلق في إخراجها يستلزم التوكيل في نيتها.

Seandainya ia berkata kepada orang lain: "Tagihlah piutangku dari si Fulan dan itu menjadi zakat untukmu," maka hal itu tidak mencukupi (tidak sah) sampai pemilik harta berniat setelah orang tersebut menagihnya/menerimanya, kemudian pemilik memberi izin kepadanya untuk mengambilya. Sebagian ulama berfatwa bahwa perwakilan (wakalah) secara mutlak dalam mengeluarkan zakat menghendaki juga perwakilan dalam niatnya.

قال شيخنا: وفيه نظر بل المتجه أنه لا بد من نية المالك أو تفويضها للوكيل.

Guru kami berkata: Pandangan ini perlu ditinjau kembali, melainkan pendapat yang kuat adalah harus ada niat dari pemilik harta atau pendelegasian niat kepada wakil.

وجاز لكل إخراج زكاة المشترك بغير إذن الآخر وتوكيل كافر وصبي في إعطائها لمعين وتعجيلها قبل حول

Dan boleh bagi masing-masing (dari dua orang yang berserikat) mengeluarkan zakat harta berserikat tanpa izin yang lain, dan boleh mewakilkan orang kafir serta anak kecil untuk menyerahkan zakat kepada penerima yang ditentukan (tertentu), serta menyegerakan zakat sebelum genap satu tahun (haul).

وقال المتولي وغيره: يتعين نية الوكيل إذا وقع الفرض بماله بأن قال له موكله أد زكاتي من مالك لينصرف فعله عنه وقوله له ذلك متضمن للإذن له في النية.

Al-Mutawalli dan ulama lainnya berkata: Niat wakil menjadi wajib apabila kewajiban (zakat) tersebut ditunaikan menggunakan hartanya sendiri, dengan gambaran orang yang mewakilkan berkata kepadanya: "Bayarkan zakatku dari hartamu," agar perbuatannya itu terlaksana atas nama orang yang mewakilkan, dan perkataannya tersebut sudah mencakup izin baginya untuk berniat.

وقال القفال: لو قال لغيره أقرضني خمسة أؤدها عن زكاتي ففعل صح.

Al-Qaffal berkata: Jika seseorang berkata kepada orang lain: "Pinjami aku lima (dirham/dinar) agar aku bayarkan sebagai zakatku," lalu ia melakukannya, maka hukumnya sah.

قال شيخنا: وهو مبني على رأيه بجواز اتحاد القابض والمقبض.

Guru kami berkata: Pendapat ini didasarkan atas pandangan beliau tentang bolehnya penyatuan pihak yang menyerahkan dan pihak yang menerima.

وجاز لكل من الشريكين إخراج زكاة المال المشترك بغير إذن الشريك الآخر كما قاله الجرجاني وأقره غيره لأذن الشرع فيه.

Dan boleh bagi masing-masing dari dua orang yang berserikat untuk mengeluarkan zakat harta berserikat tanpa izin dari sekutunya yang lain, sebagaimana dikatakan oleh Al-Jurjani dan disetujui oleh yang lainnya, karena adanya izin dari syariat mengenai hal itu.

وتكفي نية الدافع منهما عن نية الآخر على الأوجه.

Dan menurut pendapat yang lebih kuat, niat dari salah satu pihak yang menyerahkan zakat tersebut sudah mencukupi tanpa niat dari pihak yang lain.

وجاز توكيل كافر وصبي في إعطائها المعين أي إن عين المدفوع إليه لا مطلقا ولا تفويض النية إليهما لعدم الأهلية.

Dan boleh mewakilkan orang kafir dan anak kecil untuk menyerahkan zakat kepada penerima yang ditentukan, yaitu jika orang yang diberi zakat itu ditentukan secara spesifik, bukan secara mutlak dan tidak boleh mendelegasikan niat kepada keduanya karena tidak adanya kelayakan.

وجاز توكيل غيرهما في الإعطاء والنية معا.

Dan boleh mewakilkan selain keduanya (pemilik dan wali) dalam penyerahan dan niat sekaligus.

وتجب نية الولي في مال الصبي والمجنون فإن صرف الولي الزكاة بلا نية ضمنها لتقصيره ولو دفعها المزكي للإمام بلا نية ولا إذن منه له فيها لم تجزئه نيته نعم تجزئ نية الإمام عند أخذها قهرا من الممتنع وإن لم ينو صاحب المال.

Dan wajib niat wali dalam harta anak kecil dan orang gila. Jika wali menyalurkan zakat tanpa niat, maka ia menanggung ganti rugi (dhaman) karena keteledorannya. Dan seandainya muzakki menyerahkannya kepada imam tanpa niat dan tanpa izin dari muzakki kepada imam untuk berniat atas nama muzakki, maka niat imam tidak mencukupinya. Ya, niat imam memadai ketika mengambil zakat secara paksa dari orang yang enggan menyalurkannya, meskipun pemilik harta tidak berniat.

وجاز للمالك دون الولي تعجيلها أي الزكاة قبل تمام حول

Dan boleh bagi pemilik harta, bukan wali, untuk menyegerakan pembayaran zakat sebelum genap satu haul,

لا تعجيلها لعامين وحرم تأخيرها وضمن إن تلف بعد تمكن.

tidak menyegerakannya untuk dua tahun, dan haram menundanya serta ia menanggung ganti rugi jika harta itu rusak setelah adanya kemampuan untuk menunaikannya.

٢- وإعطاؤها لمستحقيها.

2- Dan menyerahkannya kepada yang berhak menerimanya (mustahik).

لا قبل تمام نصاب في غير التجارة.

Tidak boleh disegerakan sebelum genap satu nisab pada selain harta perdagangan.

ولا تعجيلها لعامين في الأصح.

Dan tidak boleh menyegerakannya untuk dua tahun menurut pendapat yang lebih shahih (al-ashah).

وله تعجيل الفطرة من أول رمضان.

Dan ia boleh menyegerakan zakat fitrah sejak awal bulan Ramadan.

أما في مال التجارة فيجزئ التعجيل وإن لم يملك نصابا وينوي عند التعجيل كهذه زكاتي المعجلة.

Adapun pada harta perdagangan, sah menyegerakannya meskipun belum mencapai satu nisab, dan ia berniat ketika menyegerakannya seperti: "Ini adalah zakatku yang disegerakan."

وحرم تأخيرها أي الزكاة بعد تمام الحول والتمكن.

Dan haram menunda pembayaran zakat setelah genap haul dan adanya kemampuan (untuk menyerahkannya).

وضمن إن تلف بعد تمكن بحضور المال والمستحق أو أتلفه بعد حول ولو قبل التمكن كما مر بيانه.

Dan ia menanggung ganti rugi jika harta itu rusak setelah adanya kemampuan dengan hadirnya harta dan mustahik, atau ia merusaknya setelah genap haul walaupun sebelum ada kemampuan, sebagaimana penjelasan yang telah lalu.

٢- وثانيهما: إعطاؤها لمستحقيها أي الزكاة يعني من وجد من الأصناف الثمانية المذكورة في آية: ﴿إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ﴾ [٩ سورة التوبة الآية: ٦٠] والفقير: من ليس له مال ولا كسب لائق يقع موقعا من كفايته وكفاية ممونه ولا يمنع الفقر مسكنه وثيابه ولو للتجمل في بعض أيام السنة وكتب يحتاجها وعبده الذي يحتاج إليه للخدمة وماله الغائب بمرحلتين أو الحاضر وقد حيل بينه وبينه والدين المؤجل والكسب الذي لا يليق به.

2- Dan yang kedua: menyerahkannya kepada yang berhak menerimanya, yaitu zakat, maksudnya siapa saja yang ditemukan dari delapan golongan yang disebutkan dalam ayat: {Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang yang berutang, untuk jalan Allah, dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan} [QS. At-Taubah: 60]. Dan orang fakir adalah: orang yang tidak memiliki harta dan tidak pula pekerjaan yang layak yang dapat memenuhi sebagian kecukupannya dan kecukupan orang yang ditanggungnya. Dan tidak menghalangi status kefakirannya: tempat tinggalnya, pakaiannya meskipun untuk berhias pada sebagian hari dalam setahun, buku-buku yang dibutuhkannya, hamba sahayanya yang dibutuhkannya untuk melayani, hartanya yang berada sejauh dua marhalah atau yang ada tetapi terhalang darinya, utang yang ditangguhkan, serta pekerjaan yang tidak layak baginya.

وأفتى بعضهم أن حلي المرأة اللائق بها المحتاجة للتزين به عادة

Dan sebagian ulama berfatwa bahwa perhiasan wanita yang layak baginya yang dibutuhkannya untuk berhias secara kebiasaan…

٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠

……………………………

لا يمنع فقرها وصوبه شيخنا.

…tidak menghalangi status kefakirannya, dan hal ini dibenarkan oleh guru kami.

والمسكين: من قدر على مال أو كسب يقع موقعا من حاجته ولا يكفيه كمن يحتاج لعشرة وعنده ثمانية ولا

Dan orang miskin adalah: orang yang mampu memperoleh harta atau pekerjaan yang memenuhi sebagian dari kebutuhannya tetapi tidak mencukupinya, seperti orang yang membutuhkan sepuluh dan ia memiliki delapan, dan tidak…

يكفيه الكفاية السابقة وإن ملك أكثر من نصاب حتى أن للإمام أن يأخذ زكاته ويدفعها إليه فيعطى كل منهما إن تعود تجارة رأس مال يكفيه ربحه غالبا أو حرفة آلتها ومن لم يحسن حرفة ولا تجارة يعطى كفاية العمر الغالب.

…mencukupinya dengan kecukupan sebagaimana dijelaskan sebelumnya, meskipun ia memiliki lebih dari satu nisab, sehingga imam boleh mengambil zakat darinya lalu menyerahkannya kembali kepadanya. Masing-masing dari keduanya diberikan—jika ia terbiasa berdagang—modal usaha yang keuntungannya umumnya mencukupinya, atau jika ia memiliki keahlian (keterampilan), diberikan alat-alatnya. Dan barangsiapa yang tidak pandai dalam keahlian maupun perdagangan, ia diberi kecukupan untuk estimasi sisa usianya (umur yang umum).

وصدق مدعي فقر ومسكنة وعجز عن كسب ولو قويا جلدا بلا يمين لا مدعي تلف مال عرف بلا بينة.

Dan dibenarkan orang yang mengaku fakir, miskin, dan tidak mampu bekerja meskipun ia kuat lagi kekar tanpa perlu bersumpah; tidak demikian halnya orang yang mengaku hartanya rusak yang telah diketahui (sebelumnya) tanpa adanya bukti (bayyinah).

والعامل كساع: وهو من يبعثه الإمام لأخذ الزكاة وقاسم وحاشر لا قاض.

Amil zakat seperti petugas pemungut (sa'i): yaitu orang yang diutus oleh imam (pemerintah) untuk memungut zakat, pembagi, dan pengumpul (wajib zakat/mustahiq), bukan qadhi (hakim).

والمؤلفة: من أسلم ونيته ضعيفة أو له شرف يتوقع بإعطائه إسلام غيره.

Muallaf: yaitu orang yang baru masuk Islam dan niatnya (imannya) masih lemah, atau orang yang memiliki kedudukan terhormat yang dengan memberinya zakat diharapkan keislaman orang lain.

والرقاب: المكاتبون كتابة صحيحة فيعطى المكاتب أو سيده بإذنه دينه إن عجز عن الوفاء وإن كان

Riqab: yaitu budak-budak mukatab yang melakukan akad mukatabah secara sah. Maka budak mukatab atau tuannya dengan izinnya diberi bagian sebesar utang mukatabahnya jika ia tidak mampu melunasinya, meskipun ia…

كسوبا لا من زكاة سيده لبقائه على ملكه.

seorang yang mampu bekerja/berpenghasilan, tetapi tidak diberikan dari zakat tuannya sendiri karena ia masih tetap berada dalam kepemilikannya.

والغارم: من استدان لنفسه لغير معصية فيعطي له إن عجز عن وفاء الدين وإن كان كسوبا إذ الكسب لا يدفع حاجته لوفائه إن حل الدين ثم إن لم يكن معه شيء أعطي الكل وإلا فإن كان بحيث لو قضى دينه مما معه تمسكن ترك له مما معه ما يكفيه أي العمر

Gharim (orang yang berutang): yaitu orang yang berutang untuk kepentingan dirinya sendiri bukan untuk kemaksiatan. Maka ia diberi zakat jika tidak mampu melunasi utangnya, meskipun ia seorang yang mampu bekerja/berpenghasilan, karena penghasilan tersebut tidak cukup untuk memenuhi kebutuhannya dalam melunasi utang ketika utang tersebut jatuh tempo. Kemudian, jika ia tidak memiliki harta sama sekali, ia diberi seluruh jumlah utangnya. Namun jika ia memiliki harta yang apabila ia gunakan untuk melunasi utangnya ia akan menjadi miskin, maka harta tersebut disisakan baginya sekadar apa yang mencukupinya, yaitu untuk usia…

٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠

……………………………

الغالب كما استظهره شيخنا وأعطي ما يقضي به باقي دينه أو لإصلاح ذات البين فيعطى ما استدانه لذلك ولو غنيا أما إذا لم يستدن بل أعطي ذلك من ماله فإنه لا يعظاه.

pada umumnya sebagaimana yang dipertimbangkan oleh Guru kami, dan ia diberi bagian zakat yang dapat melunasi sisa utangnya. Atau (berutang) untuk mendamaikan perselisihan di antara dua pihak (islaah dzaat al-bain), maka ia diberi sebesar utang yang ia tanggung untuk itu meskipun ia orang kaya. Adapun jika ia tidak berutang melainkan memberikan hal itu dari hartanya sendiri, maka ia tidak diberi bagian zakat.

ويعطى المستدين لمصلحة عامة كقري ضيف وفك أسير وعمارة نحو مسجد وإن غنيا.

Dan zakat diberikan kepada orang yang berutang demi kemaslahatan umum, seperti untuk menjamu tamu, membebaskan tawanan, dan pembangunan seumpama masjid, meskipun ia orang kaya.

أو للضمان فإن كان الضامن والأصيل معسرين أعطي الضامن وفاءه أو الأصيل موسرا دون الضامن أعطي إن ضمن بلا إذن أو عكسه أعطي الأصيل لا الضامن.

Atau (berutang) untuk penjaminan (dhaman). Jika penjamin (dhamin) dan penanggung utang asli (ashil) keduanya dalam keadaan tidak mampu, maka penjamin diberi bagian zakat untuk melunasinya. Jika penanggung asli orang mampu sedangkan penjamin tidak mampu, maka penjamin diberi jika ia menjamin tanpa izin. Sebaliknya (penjamin mampu sedangkan penanggung asli tidak mampu), maka penanggung asli yang diberi bagian zakat, bukan penjamin.

وإذا وفى من سهم الغارم لم يرجع على الأصيل وإن ضمن بإذنه.

Apabila ia melunasi utang dari bagian gharim, maka ia tidak boleh menuntut balik kepada penanggung asli, meskipun ia menjamin atas izinnya.

ولا يصرف من الزكاة شيء لكفن ميت أو بناء مسجد.

Dan tidak boleh disalurkan sedikit pun dari zakat untuk kain kafan jenazah atau pembangunan masjid.

ويصدق مدعي كتابة أو غرم بإخبار عدل وتصديق سيد أو رب دين أو اشتهار حال بين الناس.

Pengakuan orang yang mengaku berstatus mukatab atau berutang dibenarkan dengan kesaksian seorang yang adil, pembenaran dari tuan (bagi mukatab) atau pemilik utang, atau dengan mashurnya keadaan tersebut di kalangan masyarakat.

فرع: من دفع زكاته لمدينه بشرط أن يردها له عن دينه لم يجز ولا يصح قضاء الدين بها.

Cabang masalah: Barang siapa menyerahkan zakatnya kepada orang yang berutang kepadanya dengan syarat bahwa orang tersebut mengembalikannya sebagai pelunasan utangnya, maka hal itu tidak boleh dan tidak sah pelunasan utang dengannya.

فإن نويا ذلك بلا شرط جاز وصح وكذا إن وعده المدين بلا شرط فلا يلزمه الوفاء بالوعد.

Namun jika keduanya berniat demikian tanpa adanya syarat, maka boleh dan sah. Demikian pula jika orang yang berutang berjanji kepadanya tanpa syarat, maka ia tidak wajib menepati janji tersebut.

ولو قال لغريمه: جعلت ما عليك زكاة لم يجزئ على الأوجه إلا إن قبضه ثم رده إليه.

Seandainya ia berkata kepada orang yang berutang kepadanya: "Aku jadikan utangmu padaku sebagai zakat," maka itu tidak memadai (tidak sah) menurut pendapat yang paling kuat, kecuali jika ia menerima/memegang zakat tersebut terlebih dahulu kemudian mengembalikannya kepadanya.

ولو قال: اكتل من طعامي عندك كذا ونوى به الزكاة ففعل

Dan seandainya ia berkata: "Takarlah dari makananku yang ada di tempatmu sekian," dan ia berniat zakat dengannya lalu orang itu melakukannya…

٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠

…………………………….

فهل يجزئ؟ وجهان وظاهر كلام شيخنا ترجيح عدم الإجزاء.

Maka apakah hal itu memadai? Ada dua pendapat (wajhan), dan zahir dari perkataan Guru kami menunggulkan pendapat yang menyatakan tidak memadai (tidak sah).

وسبيل الله: وهو القائم بالجهاد متطوعا ولو غنيا.

Dan fi sabilillah (di jalan Allah): yaitu orang yang berperang (berjihad) secara sukarela (bukan tentara tetap/bergaji), meskipun ia seorang yang kaya.

ويعطى المجاهد النفقة والكسوة له ولعياله ذهابا وإيابا وثمن آلة الحرب.

Dan pejuang tersebut diberi biaya nafkah dan pakaian untuk dirinya dan keluarganya yang menjadi tanggungannya, baik saat pergi maupun pulang, serta harga/biaya peralatan perang.

وابن السبيل: وهو مسافر مجتاز ببلد الزكاة أو منشئ سفر مباح منها ولو لنزهة أو كان كسوبا بخلاف المسافر لمعصية إلا إن تاب.

Dan ibnu sabil (musafir): yaitu musafir yang melintasi daerah zakat atau orang yang hendak memulai perjalanan yang mubah dari daerah tersebut, meskipun hanya untuk berkreasi (rekreasi) atau sekalipun ia seorang yang mampu bekerja/berpenghasilan; berbeda dengan orang yang melakukan perjalanan untuk kemaksiatan, kecuali jika ia telah bertobat.

والمسافر لغير مقصد صحيح كالهائم.

Demikian pula musafir yang tidak memiliki tujuan yang sah, seperti orang yang luntang-lantung tanpa tujuan yang jelas.

ويعطى كفايته وكفاية من معه من ممونه أي جميعها نفقة وكسوة ذهابا وإيابا إن لم يكن له بطريقه أو مقصده مال.

Ia diberi kecukupan baginya dan kecukupan orang-orang yang bersama dengannya dari tanggungannya, yaitu seluruh kebutuhan nafkah dan pakaian untuk perjalanan pergi dan pulang, jika ia tidak memiliki harta di perjalanan maupun di tempat tujuannya.

ويصدق في دعوى السفر وكذا في دعوى الغزو بلا يمين ويسترد منه ما أخذه إن لم يخرج.

Pengakuannya mengenai perjalanan (musafir) dan begitu pula pengakuannya mengenai rencana berperang dibenarkan tanpa perlu bersumpah, namun harta yang telah diambilnya ditarik kembali jika ternyata ia tidak jadi berangkat.

ولا يعطى أحد بوصفين نعم إن أخذ فقير بالغرم فأعطاه غريمه أعطي بالفقر لأنه الآن محتاج.

Seseorang tidak boleh diberi zakat atas dasar dua sifat (dua golongan sekaligus). Namun, jika seorang yang fakir menerima zakat atas nama orang yang berutang (gharim) lalu ia menyerahkannya kepada penagih utangnya, maka ia boleh diberi zakat atas nama orang fakir karena ia sekarang membutuhkannya.

تنبيه: [من حكم استيعاب الأصناف والتسوية بينهم وما يتبع ذلك] ولو فرق المالك الزكاة سقط سهم العامل ثم إن انحصر المستحقون ووفى بهم المال لزم تعميمهم وإلا لم يجب ولم يندب لكن يلزمه إعطاء ثلاثة من كل صنف وإن لم يكونوا بالبلد وقت

Peringatan: [Hukum meratakan seluruh golongan penerima zakat dan menyamakan bagian di antara mereka serta hal-hal yang mengikutinya] Dan jika pemilik harta membagikan zakatnya sendiri, maka gugurlah bagian amil. Kemudian, jika orang-orang yang berhak terbatas jumlahnya dan harta zakat mencukupi untuk mereka semua, maka wajib meratakan pembagian kepada mereka. Jika tidak mencukupi, maka tidak wajib dan tidak disunnahkan meratakannya, tetapi ia wajib memberikan zakat kepada tiga orang dari setiap golongan (asnaf), meskipun mereka tidak berada di daerah tersebut pada waktu…

٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠

……………………………..

الوجوب ومن المتوطنين أولى ولو أعطى اثنين من كل صنف والثالث موجود لزمه أقل متمول غرما له من ماله ولو فقد بعض الثلاثة رد حصته على باقي صنفه إن احتاجه وإلا فعلى باقي الأصناف.

…wajibnya zakat, dan penduduk setempat lebih utama. Jika ia memberikan zakat hanya kepada dua orang dari setiap golongan padahal orang ketiga ada, maka ia wajib mengganti dari hartanya sendiri senilai harta minimal yang bernilai sebagai ganti rugi bagi orang ketiga tersebut. Apabila sebagian dari tiga orang tersebut tidak ada, maka bagiannya dikembalikan kepada anggota lain dari golongannya jika golongan tersebut membutuhkannya; jika tidak, maka diberikan kepada golongan yang lain.

ويلزم التسوية بين الأصناف وإن كانت حاجة بعضهم أشد لا التسوية بين آحاد الصنف بل تندب.

Dan wajib menyamakan pembagian di antara golongan-golongan (asnaf), meskipun kebutuhan sebagian golongan lebih mendesak. Namun tidak diwajibkan menyamakan pembagian di antara individu-individu dalam satu golongan, melainkan hukumnya sunnah.

واختار جماعة من أئمتنا جواز صرف الفطرة إلى ثلاثة مساكين أو غيرهم من المستحقين ولو كان كل صنف أو بعض الأصناف وقت الوجوب محصورا في ثلاثة فأقل استحقوها في الأولى وما يخص المحصورين في الثانية من وقت الوجوب فلا يضر حدوث غنى أو موت أحدهم بل حقه باق بحاله فيدفع نصيب الميت لوارثه وإن كان هو المزكي ولا يشاركهم قادم عليهم ولا غائب عنهم وقت الوجوب فإن زادوا على ثلاثة لم يملكوا إلا بالقسمة.

Sebagian kelompok ulama dari mazhab kami memilih pendapat tentang bolehnya menyalurkan zakat fitrah hanya kepada tiga orang miskin atau golongan berhak lainnya. Dan sekiranya setiap golongan atau sebagian golongan pada saat wajibnya zakat terbatas pada tiga orang atau kurang, maka mereka berhak menerimanya pada masalah pertama, dan bagian yang menjadi hak mereka yang terbatas pada masalah kedua berlaku sejak waktu wajibnya zakat, sehingga terjadinya kekayaan baru atau kematian salah seorang dari mereka tidak merugikan haknya; bahkan haknya tetap seperti semula, sehingga bagian almarhum diserahkan kepada ahli warisnya meskipun ahli waris itu adalah orang yang mengeluarkan zakat sendiri. Dan orang yang baru datang bergabung bersama mereka atau orang yang tidak hadir saat waktu wajib zakat tidak berhak mendapatkan bagian bersama mereka. Namun jika jumlah mereka lebih dari tiga orang, mereka tidak memilikinya kecuali dengan pembagian.

ولا يجوز لمالك نقل الزكاة عن بلد المال ولو إلى مسافة قريبة ولا تجزئ ولا دفع القيمة في غير مال التجارة ولا دفع عينه فيه.

Pemilik harta tidak boleh memindahkan zakat dari negeri (daerah) tempat harta itu berada, meskipun ke jarak yang dekat, dan zakatnya tidak sah. Demikian pula tidak sah membayar dengan nilai harga (qimah) pada selain harta perdagangan, dan tidak sah pula membayar dengan barang fisiknya pada harta perdagangan.

ونقل عن عمر وابن عباس وحذيفة ﵃ جواز صرف الزكاة إلى صنف واحد وبه قال أبو حنيفة ويجوز عنده نقل الزكاة مع الكراهة ودفع قيمتها وعين مال التجارة.

Diriwayatkan dari Umar, Ibn Abbas, dan Hudhaifah radhiyallahu 'anhum tentang bolehnya menyalurkan zakat hanya kepada satu golongan saja, dan pendapat ini juga dipegang oleh Abu Hanifah. Menurut beliau (Abu Hanifah), boleh memindahkan zakat meskipun makruh, serta boleh membayar dengan nilai harganya maupun dengan barang fisik dari harta perdagangan itu sendiri.

ولو أعطاها لكافر أو من به رق أو هاشمي أو مطلبي أو غني أو مكفي بنفقة قريب لم يجزئ.

Jika seseorang memberikan zakatnya kepada orang kafir, budak, keturunan Bani Hashim, keturunan Bani Muththalib, orang kaya, atau orang yang kebutuhan hidupnya telah dicukupi oleh nafkah kerabatnya, maka zakat tersebut tidak sah.

ولو أعطاها أي الزكاة ولو الفطرة لكافر أو من به رق ولو مبعضا غير مكاتب أو هاشمي أو

Dan sekiranya ia memberikan zakatnya, yakni zakat harta maupun zakat fitrah, kepada seorang kafir atau seorang budak meskipun budak muba'ad (sebagian merdeka) yang bukan mukatab, atau kepada keturunan Bani Hashim, atau…

مطلبي أو مولى لهما لم يقع عن الزكاة لان شرط الآخذ: الإسلام وتمام الحرية وعدم كونه هاشميا ولا مطلبيا وإن انقطع عنهم خمس الخمس لخبر: إن هذه الصدقات أي الزكوات إنما هي أوساخ الناس وإنها لا تحل لمحمد ولا لآله.

…keturunan Bani Muththalib, atau bekas budak (mawla) dari keduanya, maka pembayarannya tidak sah sebagai zakat. Karena syarat penerima zakat adalah: beragama Islam, merdeka seutuhnya, serta bukan keturunan Hashim dan bukan pula Muththalib, meskipun bagian seperlima dari seperlima (khumus al-khumus) bagi mereka telah terputus (tidak diterima lagi), berdasarkan hadis: 'Sesungguhnya sedekah-sedekah ini (yakni zakat) adalah kotoran harta manusia, dan ia tidak halal bagi Muhammad maupun bagi keluarga beliau.'

قال شيخنا: وكالزكاة: كل واجب كالنذر والكفارة بخلاف التطوع والهدية.

Guru kami (Syaikh Ibn Hajar al-Haitami) berkata: 'Disamakan dengan zakat yaitu setiap kewajiban seperti nazar dan kafarat, berbeda halnya dengan sedekah sunnah dan hadiah.'

أو غني وهو من له كفاية العمر الغالب على الأصح.

Atau orang kaya, yaitu orang yang memiliki kecukupan untuk sisa umur yang umum (rata-rata) menurut pendapat yang paling sahih.

وقيل: من له كفاية سنة أو الكسب الحلال اللائق.

Dan ada yang berpendapat: orang yang memiliki kecukupan selama satu tahun atau pekerjaan halal yang layak.

أو مكفي بنفقة قريب من أصل أو فرع أو زوج بخلاف المكفي بنفقة متبرع.

Atau orang yang tercukupi dengan nafkah kerabat, baik leluhur (asal), keturunan (cabang), atau suami, berbeda halnya dengan orang yang tercukupi dengan nafkah dari pemberi sukarela.

لم يجزئ ذلك عن الزكاة ولا تتأدى بذلك إن كان الدافع المالك وإن ظن استحقاقهم.

Maka hal itu tidak mencukupi (tidak sah) sebagai zakat dan zakat tidak terbayarkan dengannya jika yang menyerahkan adalah pemilik harta, meskipun ia mengira mereka berhak memilikinya/menerimanya.

ثم إن كان الدافع يظن الاستحقاق الإمام: برئ المالك ولا يضمن الإمام بل يسترد المدفوع وما استرده صرفه للمستحقين.

Kemudian jika yang menyerahkan zakat dengan mengira keberhakan penerimanya adalah seorang imam (pemerintah): maka pemilik harta terbebas dari kewajiban dan imam tidak menanggung ganti rugi, melainkan ia menarik kembali apa yang telah diberikan, lalu zakat yang berhasil ditarik kembali itu disalurkan kepada orang-orang yang berhak.

أما من لم يكتف بالنفقة الواجبة له من زوج أو قريب فيعطيه المنفق

Adapun orang yang nafkah wajib dari suami atau kerabatnya tidak mencukupinya, maka orang yang memberi nafkah tersebut…

٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠

…………………………….

وغيره حتى بالفقر ويجوز للمكفي بها الأخذ بغير المسكنة والفقر إن وجد فيه حتى ممن تلزمه نفقته.

…maupun orang lain boleh memberinya zakat, bahkan atas nama fakir. Dan boleh bagi orang yang telah tercukupi nafkahnya untuk mengambil zakat atas nama selain kemiskinan dan kefakiran jika kriteria itu ada pada dirinya, bahkan pengambilan itu boleh dari orang yang wajib menafkahinya.

ويندب للزوجة إعطاء زوجها من زكاتها حتى بالفقر والمسكنة وإن أنفقها عليها.

Dan disunnahkan bagi seorang istri memberikan zakatnya kepada suaminya, bahkan atas nama kefakiran dan kemiskinan, meskipun suami tersebut menafkahkan kembali harta zakat itu kepadanya.

قال شيخنا: والذي يظهر أن قريبه الموسر لو امتنع من الإنفاق عليه وعجز عنه بالحاكم أعطي حينئذ لتحقق فقره أو مسكنته الآن.

Syaikh kita berkata: Dan yang jelas bahwa jika kerabatnya yang berkecukupan enggan memberi nafkah kepadanya dan ia tidak mampu menuntutnya melalui hakim, maka ia boleh diberi zakat pada saat itu karena telah nyata kefakiran atau kemiskinannya sekarang.

فائدة: أفتى النووي في بالغ تاركا للصلاة كسلا أنه لا يقبضها له إلا وليه أي كصبي ومجنون فلا تعطى له وإن غاب وليه خلافا لمن زعمه: بخلاف ما لو طرأ تركه لها أو تبذيره ولم يحجر عليه: فإنه يقبضها.

Faidah: An-Nawawi berfatwa mengenai orang baligh yang meninggalkan shalat karena malas, bahwa zakat tidak boleh diterima langsung olehnya melainkan oleh walinya, yaitu sebagaimana anak kecil dan orang gila, sehingga zakat tidak diserahkan kepadanya meskipun walinya tidak ada, berbeda dengan pendapat pihak yang menyelisihinya. Berbeda halnya jika perbuatan meninggalkan shalat atau pemborosan itu baru terjadi kemudian dan ia belum di bawah pengampuan (mahjur 'alaih), maka ia boleh menerima zakat tersebut sendiri.

ويجوز دفعها لفاسق إلا إن علم أنه يستعين بها على معصية فيحرم وإن أجزأ.

Dan boleh menyerahkan zakat kepada orang fasik, kecuali jika diketahui bahwa ia akan menggunakannya untuk membantu maksiat, maka hukumnya haram meskipun zakatnya sah.

تتمة في قسمة الغنيمة ما أخذناه من أهل حرب قهرا: فهو غنيمة وإلا فهو فئ.

Pelengkap tentang pembagian ghanimah: Apa yang kita ambil dari kafir harbi secara paksa (melalui perang) adalah ghanimah, sedangkan jika tidak demikian (tanpa perang), maka itu adalah fai'.

ومن الأول: ما أخذناه من دارهم اختلاسا أو سرقة على الأصح خلافا للغزالي وإمامه: حيث قالا إنه مختص بالآخذ بلا تخميس.

Termasuk bagian yang pertama (ghanimah): Apa yang kita ambil dari daerah mereka secara sembunyi-sembunyi atau curian menurut pendapat yang lebih sahih, berbeda dengan pendapat Al-Ghazali dan imammnya (Imam Al-Haramain) yang menyatakan bahwa harta tersebut khusus milik pengambilnya tanpa pembagian seperlima (takhmis).

وادعى ابن الرفعة الإجماع عليه.

Dan Ibn al-Rif'ah mengklaim adanya konsensus (ijma') atas hal itu.

ومن الثاني: جزية وعشر تجارة وتركة مرتد

Termasuk bagian yang kedua (fai'): jizyah, cukai perdagangan (sepuluh persen), dan harta peninggalan orang murtad…

٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠

…………………………….

ويبدأ في الغنيمة بالسلب للقاتل المسلم بلا تخميس وهو ملبوس القتيل وسلاحه ومركوبه وكذا سوار ومنطقة وخاتم وطوق وبالمؤن: كأجرة حمال ثم يخمس باقيها فأربعة أخماسها ولو عقارا لمن حضر الوقعة وإن لم

Pembagian ghanimah dimulai dengan salab (perlengkapan musuh terbunuh) bagi pembunuh yang muslim tanpa dikeluarkan seperlima, yaitu pakaian yang dikenakan musuh yang terbunuh, senjatanya, dan tunggangannya, begitu pula gelang, sabuk, cincin, serta kalung; lalu dikeluarkan untuk biaya-biaya operasional, seperti upah pengangkut barang. Kemudian sisa ghanimah dikeluarkan seperlimanya, dan empat perlima sisanya—meskipun berupa barang tidak bergerak—diberikan kepada orang yang menghadiri pertempuran meskipun tidak…

يقاتل فما أحد أولى به من أحد.

…berperang, maka tidak ada seorang pun yang lebih berhak atas harta itu daripada yang lain.

لا لمن لحقهم بعد انقضائها ولو قبل جمع المال.

Tidak pula bagi orang yang menyusul mereka setelah pertempuran usai, meskipun sebelum pengumpulan harta.

ولا لمن مات في أثناء القتال قبل الحيازة على المذهب.

Dan tidak pula bagi orang yang gugur di tengah-tengah peperangan sebelum penguasaan (harta ghanimah) menurut pendapat mu'tamad (al-madzhab).

وأربعة أخماس الفيء للمرصدين للجهاد.

Dan empat perlima harta fai' adalah untuk pasukan yang siaga untuk berjihad.

وخمسهما يخمس: سهم للمصالح: كسد ثغر وعمارة حصن ومسجد وأرزاق القضاة والمشتغلين بعلوم الشرع وآلاتها ولو مبتدئين وحفاظ القرآن والأئمة والمؤذنين ويعطى هؤلاء مع الغنى ما رآه الإمام.

Dan seperlima dari keduanya (fai' dan ghanimah) dibagi lima: satu bagian untuk kemaslahatan umum, seperti menjaga perbatasan, pembangunan benteng dan masjid, gaji para hakim, orang-orang yang sibuk dengan ilmu-ilmu syariat beserta sarana-sarananya meskipun masih pemula, para penghafal Al-Qur'an, para imam, dan para muazin. Mereka ini diberi bagian sesuai pandangan imam meskipun dalam keadaan kaya.

ويجب تقديم الأهم مما ذكر وأهمها: الأول ولو منع هؤلاء حقوقهم من بيت المال وأعطي أحدهم منه شيئا: جاز له الأخذ ما لم يزد على كفايته على المعتمد.

Wajib mendahulukan hal yang paling penting dari yang telah disebutkan, dan yang paling penting adalah yang pertama. Apabila hak-hak mereka ditahan dari baitulmal lalu salah seorang dari mereka diberi sesuatu darinya, maka boleh baginya mengambilnya selama tidak melebihi kecukupannya menurut pendapat yang mu'tamad.

وسهم للهاشمي والمطلبي: للذكر منهما مثل حظ الأنثيين ولو أغنياء وسهم للفقراء اليتامى وسهم للمسكين وسهم لابن السبيل الفقير ويجب تعميم الأصناف الأربعة بالعطاء حاضرهم وغائبهم عن المحل.

Satu bagian untuk Bani Hasyim dan Bani Muthallib: di mana laki-laki dari mereka mendapat bagian seperti bagian dua perempuan meskipun mereka kaya. Satu bagian untuk anak-anak yatim yang fakir, satu bagian untuk orang miskin, dan satu bagian untuk ibnu sabil yang fakir. Wajib meratakan pemberian kepada empat golongan ini, baik yang hadir maupun yang tidak hadir di tempat tersebut.

ويسن صدقة تطوع

Dan disunnahkan sedekah sunnah (sadaqah tathawwu').

نعم يجوز التفاوت بين آحاد الصنف غير ذوي القربى لا بين الأصناف ولو قل الحاصل بحيث لو عم لم يسد مسدا: خص به الأحوج ولا يعم للضرورة ولو فقد بعضهم: وزع سهمه على الباقين.

Ya, boleh membedakan jumlah pemberian antar-individu dalam satu golongan selain kerabat Nabi (Bani Hasyim dan Muthallib), bukan antar-golongan. Apabila hasil (harta) sedikit sekiranya jika diratakan tidak akan mencukupi kebutuhan, maka dikhususkan bagi yang paling membutuhkan dan tidak diratakan karena darurat. Jika salah satu golongan tidak ada, maka bagiannya dibagikan kepada golongan sisanya.

ويجوز عند الأئمة الثلاثة صرف جميع خمس الفيء إلى المصالح.

Dan boleh menurut tiga imam mazhab menyalurkan seluruh seperlima harta fai' untuk kemaslahatan umum.

ولا يصح شرط الإمام: من أخذ شيئا فهو له وفي قول: يصح وعليه الأئمة الثلاثة وعند أبي حنيفة ومالك: يجوز للإمام أن يفضل بعضا.

Tidak sah syarat dari imam: 'Barang siapa yang mengambil sesuatu, maka itu menjadi miliknya.' Namun dalam satu pendapat (qaul): hukumnya sah, dan inilah pendapat tiga imam mazhab. Menurut Abu Hanifah dan Malik: imam boleh mengistimewakan (memberi lebih kepada) sebagian prajurit.

فرع [في بيان حكم الغنيمة قبل القسمة] لو حصل لأحد من الغانمين شيء مما غنموا قبل التخميس والقسمة الشرعية: لا يجوز التصرف فيه لأنه مشترك بينهم وبين أهل الخمس والشريك لا يجوز له التصرف في المشترك بغير إذن شريكه.

Cabang masalah [Penjelasan hukum ghanimah sebelum pembagian]: Jika salah seorang dari orang-orang yang berperang memperoleh sesuatu dari ghanimah sebelum pengeluaran seperlima (takhmiis) dan pembagian secara syar'i, maka tidak boleh bertindak/ber-tasharruf atas barang tersebut, karena barang itu milik bersama antara mereka dan penerima seperlima. Dan seorang sekutu tidak boleh bertindak atas harta milik bersama tanpa izin sekutunya.

ويسن صدقة تطوع لآية: ﴿مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضاً حَسَناً﴾ [٢ سورة القرة الآية: ٢٤٥] وللأحاديث الكثيرة الشهيرة وقد تجب: كأن يجد مضطرا ومعه ما يطعمه فاضلا عنه.

Disunnahkan sedekah sunnah karena ayat: 'Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik…' [QS. Al-Baqarah: 245], serta berdasarkan hadis-hadis yang banyak dan masyhur. Dan terkadang sedekah menjadi wajib, seperti ketika seseorang mendapati orang yang terdesak (sangat kelaparan) sedangkan ia memiliki makanan melebihi kebutuhannya.

ويكره برديء وليس منه: التصدق بالفلوس والثوب الخلق ونحوهما بل ينبغي أن لا يأنف من التصدق بالقليل.

Dimakruhkan bersedekah dengan barang yang buruk. Tidak termasuk barang buruk yaitu bersedekah dengan uang logam (fulus), pakaian usang, dan sejenisnya; bahkan hendaknya seseorang tidak enggan bersedekah walaupun sedikit.

كل يوم بما تيسر سرا وبرمضان ولقريب

Setiap hari dengan apa yang dimudahkan, secara rahasia (sembunyi-sembunyi), pada bulan Ramadan, dan kepada kerabat dekat.

والتصدق بالماء أفضل: حيث كثر الاحتياج إليه وإلا فالطعام.

Bersedekah air adalah yang paling utama jika kebutuhan terhadapnya sangat tinggi, namun jika tidak demikian, maka sedekah makanan yang lebih utama.

ولو تعارض الصدقة حالا والوقف فإن كان الوقت وقت حاجة وشدة: فالأول أولى وإلا فالثاني لكثرة جدواه قاله ابن عبد السلام وتبعه الزركشي.

Jika terjadi pertentangan antara sedekah secara langsung (seketika) dan wakaf, maka apabila dalam kondisi butuh dan gawat, bersedekah secara langsung lebih utama; namun jika tidak, maka wakaf lebih utama karena manfaatnya yang besar dan berkelanjutan. Pendapat ini disampaikan oleh Ibn 'Abdissalam dan diikuti oleh Az-Zarkasyi.

وأطلق ابن الرفعة ترجيح الأول لأنه قطع حظه من المتصدق به حالا.

Sedangkan Ibn Ar-Rif'ah memutlakkan keunggulan yang pertama (sedekah langsung), karena seseorang secara langsung melepaskan bagian/hak miliknya dari barang yang disedekahkan saat itu juga.

وينبغي للراغب في الخير أن لا يخلي كل يوم من الأيام من الصدقة بما تيسر وإن قل.

Hendaknya orang yang mendambakan kebaikan tidak mengosongkan setiap harinya dari bersedekah dengan apa yang dimudahkan baginya, meskipun sedikit.

وإعطاؤها سرا أفضل منه جهرا.

Memberikannya secara sembunyi-sembunyi itu lebih utama daripada secara terang-terangan.

أما الزكاة: فإظهارها أفضل إجماعا.

Adapun zakat, maka menampakkannya (membayarnya secara terang-terangan) lebih utama berdasarkan ijmak.

وإعطاؤها برمضان: أي فيه لا سيما في عشره الأواخر أفضل ويتأكد أيضا: في سائر الأزمنة والأمكنة الفاضلة: كعشر ذي الحجة والعيدين والجمعة وكمكة والمدينة.

Memberikannya pada bulan Ramadan—maksudnya di dalamnya, terlebih lagi pada sepuluh hari terakhirnya—adalah lebih utama. Dan ditekankan pula pada seluruh waktu dan tempat yang utama, seperti sepuluh hari pertama Zulhijah, dua hari raya, hari Jumat, serta seperti di Makkah dan Madinah.

وإعطاؤها لقريب لا تلزمه نفقته أولى١ الأقرب فالأقرب من المحارم ثم الزوج أو الزوجة ثم غير المحرم والرحم من جهة الأب ومن جهة إلام سواء ثم محرم الرضاع ثم المصاهرة أفضل.

Memberikannya kepada kerabat yang tidak wajib dinafkahi adalah lebih utama; diutamakan yang paling dekat lalu yang terdekat berikutnya dari kerabat mahram, kemudian suami atau istri, kemudian kerabat yang bukan mahram, dan hubungan kekerabatan dari pihak ayah maupun ibu adalah sama, kemudian mahram persusuan, lalu mahram karena perkawinan (mushaharah) itu lebih utama.

وجار أفضل لا بما يحتاجه.

Dan kepada tetangga itu lebih utama, bukan dengan barang yang dia sendiri butuhkan.

وصرفها بعد القريب إلى جار أفضل منه لغيره فعلم أن القريب البعيد الدار في البلد: أفضل من الجار الأجنبي.

Menyalurkannya setelah kerabat kepada tetangga adalah lebih utama daripada menyalurkannya kepada selain tetangga. Dari situ dapat diketahui bahwa kerabat yang rumahnya jauh tetapi masih berada di dalam satu negeri adalah lebih utama daripada tetangga yang tidak ada hubungan kekerabatan (orang lain).

لا يسن التصدق بما يحتاجه بل يحرم بما يحتاج إليه: لنفقة ومؤنة من تلزمه نفقته يومه وليلته أو لوفاء دينه ولو مؤجلا وإن لم يطلب منه ما لم يغلب على ظنه حصوله من جهة أخرى ظاهرة لان الواجب لا يجوز تركه لسنة وحيث حرمت الصدقة بشيء لم يملكه المتصدق عليه على ما أفتى به شيخنا المحقق ابن زياد رحمه الله تعالى لكن الذي جزم به شيخنا في شرح المنهاج أنه يملكه.

Tidak disunahkan bersedekah dengan barang yang ia butuhkan, bahkan haram bersedekah dengan barang yang ia butuhkan untuk nafkah dan biaya hidup orang yang wajib ia nafkahkan pada hari dan malamnya, atau untuk melunasi utangnya meskipun belum jatuh tempo dan meskipun belum ditagih darinya, selama ia tidak berprasangka kuat akan memperolehnya dari sumber lain yang jelas. Karena sesuatu yang wajib tidak boleh ditinggalkan demi hal yang sunah. Dan ketika sedekah dengan sesuatu itu haram, maka barang tersebut tidak dimiliki oleh penerima sedekah menurut fatwa guru kami Al-Muhaqqiq Ibn Ziyad rahimahullah Ta'ala, akan tetapi pendapat yang ditegaskan oleh guru kami di dalam Syarh Al-Minhaj adalah bahwa penerima tetap memilikinya.

والمن بالصدقة حرام محبط للأجر كالأذى.

Mengungkit-ungkit sedekah itu haram dan menggugurkan pahala, sebagaimana menyakiti perasaan.

فائدة: قال في المجموع: يكره الأخذ ممن بيده حلال وحرام كالسلطان الجائز وتختلف الكراهة بقلة الشبهة وكثرتها ولا يحرم إلا إن تيقن أن هذا من الحرام وقول الغزالي: يحرم الأخذ ممن أكثر ماله حرام وكذا معاملته: شاذ.

Faedah: Penulis berkata dalam Al-Majmu': Makruh mengambil pemberian dari orang yang di tangannya terdapat harta halal dan haram, seperti penguasa yang zalim. Tingkat kemakruhan ini berbeda-beda sesuai dengan sedikit atau banyaknya syubhat, dan tidak menjadi haram kecuali jika dipastikan bahwa barang ini berasal dari harta yang haram. Adapun pendapat Al-Ghazali yang menyatakan haram mengambil dari orang yang mayoritas hartanya haram begitu pula bertransaksi dengannya, adalah pendapat yang syadz (menyendiri/menyimpang).