باب الصوم

مدخل

مدخل

مدخل

Pengantar

باب الصوم

Bab Puasa

يجب صوم رمضان

Wajib berpuasa Ramadan

باب الصوم

Bab Puasa

وهو لغة: الإمساك وشرعا: إمساك عن مفطر بشروطه الآتية.

Secara bahasa, puasa berarti menahan (al-imsyak), sedangkan secara syariat berarti menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa dengan syarat-syarat yang akan dijelaskan.

وفرض في شعبان في السنة الثانية من الهجرة وهو من خصائصنا ومن المعلوم من الدين بالضرورة.

Puasa diwajibkan pada bulan Sya'ban tahun kedua Hijriah, dan ia termasuk kekhususan umat ini serta merupakan bagian dari agama yang diketahui secara pasti (al-ma'lum min ad-din bidh-dharurah).

يجب صوم شهر رمضان إجماعا بكمال شعبان ثلاثين يوما أو رؤية عدل واحد ولو مستورا هلاله بعد الغروب إذا شهد بها عند القاضي ولو مع إطباق غيم بلفظ: أشهد أني رأيت الهلال أو أنه هل.

Puasa bulan Ramadan hukumnya wajib berdasarkan ijmak dengan menyempurnakan bulan Sya'ban menjadi tiga puluh hari, atau dengan ru'yatul hilal (melihat hilal) oleh satu orang yang adil meskipun mastur (tidak diketahui secara pasti sifat adilnya di luar) setelah terbenam matahari, apabila ia bersaksi tentang hal tersebut di hadapan hakim (qadhi), meskipun langit tertutup awan tebal, dengan lafaz: "Aku bersaksi bahwa aku telah melihat hilal" atau "bahwa hilal telah terbit".

ولا يكفي: قوله: أشهد أن غدا من رمضان ولا يقبل على شهادته إلا بشهادة عدلين.

Dan tidak cukup perkataannya: "Aku bersaksi bahwa besok adalah bagian dari Ramadan". Dan tidak diterima kesaksian atas kesaksiannya kecuali dengan kesaksian dua orang adil.

وبثبوت رؤية هلال رمضان عند القاضي بشهادة عدل بين يديه كما مر ومع قوله ثبت عندي: يجب الصوم على جميع أهل البلد المرئي فيه.

Dengan tetapnya ru'yat hilal Ramadan di hadapan hakim melalui kesaksian satu orang adil di hadapannya sebagaimana telah berlalu, disertai ucapannya "telah tetap bagiku", maka wajib berpuasa bagi seluruh penduduk negeri tempat hilal tersebut terlihat.

وكالثبوت عند القاضي: الخبر المتواتر برؤيته ولو من كفار لإفادته العلم الضروري وظن دخوله بالأمارة الظاهرة التي لا تتخلف عادة: كرؤية القناديل المعلقة بالمنائر.

Dan seperti halnya penetapan di hadapan hakim, (begitu pula) berita mutawatir tentang terlihatnya hilal, meskipun dari orang-orang kafir, karena memberi faedah pengetahuan yang pasti (ilm dharuri), serta adanya dugaan kuat (zhan) masuknya bulan Ramadan dengan tanda yang jelas yang biasanya tidak meleset, seperti melihat lampu-lampu yang digantung pada menara-menara.

ويلزم الفاسق والعبد والأنثى: العمل برؤية نفسه وكذا من اعتقد صدق نحو فاسق ومراهق في أخباره برؤية نفسه أو ثبوتها في بلد متحد

Wajib bagi orang fasik, budak, dan wanita untuk mengamalkan ru'yat (penglihatan) dirinya sendiri. Demikian pula bagi orang yang meyakini kebenaran berita seperti orang fasik dan anak yang mendekati baligh (murahiq) dalam perihal penglihatan dirinya sendiri atau penetapannya di negeri yang sama…

٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠

……………………………..

مطلعه: سواء أول رمضان وآخره على الأصح.

…tempat terbitnya (matla'-nya); baik pada awal Ramadan maupun akhirnya menurut pendapat yang lebih sahih (al-asah).

والمعتمد: أن له بل عليه اعتماد العلامات بدخول شوال إذا حصل له اعتقاد جازم بصدقها كما أفتى به شيخانا: ابن زياد وحجر كجمع محققين.

Pendapat yang menjadi pegangan (al-mu'tamad) adalah bahwa ia boleh, bahkan wajib, berpegang pada tanda-tanda masuknya bulan Syawal jika ia memperoleh keyakinan mantap atas kebenarannya, sebagaimana difatwakan oleh kedua guru kami: Ibn Ziyad dan (Ibn) Hajar, serta sekumpulan ulama peneliti (muhaqqiqin).

وإذا صاموا ولو برؤية عدل أفطروا بعد ثلاثين وإن لم يروا الهلال ولم يكن غيم لكمال العدة بحجة شرعية.

Dan apabila mereka berpuasa meskipun berdasarkan ru'yat satu orang adil, mereka boleh berbuka (berhari raya) setelah genap tiga puluh hari walaupun mereka tidak melihat hilal dan tidak ada awan mendung, karena telah sempurnanya hitungan berdasarkan hujjah syari.

ولو صام بقول من يثق ثم لم ير الهلال بعد ثلاثين مع الصحو: لم يجز له الفطر ولو رجع الشاهد بعد شروعهم في الصوم: لم يجز لهم الفطر وإذا ثبت رؤيته ببلد لزم حكمه البلد القريب دون البعيد ويثبت البعد باختلاف المطالع على الأصح والمراد باختلافها: أن يتباعد المحلان بحيث لو رؤي في أحدهما: لم ير في الآخر غالبا قاله في الأنوار.

Jikalau seseorang berpuasa karena perkataan orang yang dipercayainya, lalu hilal tidak terlihat setelah tiga puluh hari padahal cuaca cerah, maka ia tidak boleh berbuka. Dan jika saksi menarik kembali kesaksiannya setelah mereka mulai berpuasa, mereka tidak boleh berbuka. Apabila ru'yat hilal telah tetap di suatu negeri, maka hukumnya berlaku bagi negeri yang dekat, bukan negeri yang jauh. Kejauhan ini ditetapkan berdasarkan perbedaan matla' (tempat terbit hilal) menurut pendapat yang lebih sahih. Dan yang dimaksud dengan perbedaan matla' adalah berjauhan kedua tempat tersebut sedemikian rupa sehingga jika terlihat di salah satunya, biasanya tidak terlihat di tempat lainnya; demikian disebutkan dalam kitab Al-Anwar.

وقال التاج التبريزي وأقره غيره: لا يمكن اختلافها في أقل من أربعة وعشرين فرسخا.

Tajut Tabrizi berkata dan disetujui oleh selainnya: Tidak mungkin terjadi perbedaan matla' pada jarak kurang dari dua puluh empat farsakh.

ونبه السبكي وتبعه غيره: على أنه يلزم من الرؤية في البلد الغربي من غير عكس إذ الليل يدخل في البلاد الشرقية قبل.

As-Subki mengingatkan dan diikuti oleh ulama lainnya: Bahwa ru'yat di negeri sebelah barat mengharuskan (berlaku juga bagi negeri sebelah timur) tanpa berlaku sebaliknya, karena malam masuk di negeri-negeri sebelah timur lebih dahulu.

وقضية كلامهم أنه متى رؤي في شرقي: لزم كل غربي بالنسبة إليه العمل بتلك الرؤية وإن اختلفت المطالع.

Konsekuensi dari perkataan mereka adalah bahwa kapan saja hilal terlihat di negeri sebelah timur, maka wajib bagi setiap negeri sebelah barat dibandingkannya untuk mengamalkan ru'yat tersebut, meskipun matla'-nya berbeda.

على مكلف مطيق له وفرضه نية لكل يوم وشرط لفرضه تبييت

…atas mukalaf yang mampu melaksanakannya. Dan fardu puasa adalah niat untuk setiap hari, dan disyaratkan untuk puasa fardu adanya tabyiit (menginapkan niat di malam hari).

وإنما يجب صوم رمضان على كل مكلف أي بالغ عاقل مطيق له أي للصوم حسا وشرعا فلا يجب على صبي ومجنون ولا على من لا يطيقه لكبر أو مرض لا يرجى برؤه ويلزمه مد لكل يوم: ولا على حائض ونفساء لأنهما لا تطيقان شرعا.

Dan puasa Ramadan hanya wajib atas setiap orang mukalaf, yaitu orang yang baligh, berakal, dan mampu melaksanakannya, yakni mampu berpuasa secara fisik (hissan) dan syarak (syar'an). Maka tidak wajib atas anak kecil dan orang gila, tidak wajib pula atas orang yang tidak mampu berpuasa karena usia tua atau sakit yang tidak diharapkan kesembuhannya, dan ia wajib membayar satu mud untuk setiap harinya; serta tidak wajib atas wanita yang haid dan nifas karena keduanya tidak mampu secara syarak.

وفرضه أي الصوم نية بالقلب ولا يشترط التلفظ بها بل يندب.

Dan fardunya puasa adalah niat dalam hati, dan tidak disyaratkan melafazkannya, melainkan hukumnya sunah.

ولا يجزئ عنها التسحر وإن قصد به التقوي على الصوم ولا الامتناع من تناول مفطر خوف الفجر ما لم يخطر بباله الصوم بالصفات التي يجب التعرض له في النية.

Bersahur tidak dapat menggantikan niat, meskipun dengan bersahur itu ia bermaksud menguatkan diri untuk berpuasa. Begitu pula menahan diri dari menyantap hal yang membatalkan puasa karena takut terbit fajar, selama tidak terlintas dalam hatinya puasa dengan sifat-sifat yang wajib disebutkan dalam niat.

لكل يوم: فلو نوى أول ليلة رمضان صوم جميعه: لم يكف لغير اليوم الأول.

…untuk setiap hari. Maka jika ia berniat pada malam pertama Ramadan untuk berpuasa sebulan penuh, niat tersebut tidak cukup selain untuk hari yang pertama saja.

قال شيخنا: لكن ينبغي ذلك ليحصل له صوم اليوم الذي نسي النية فيه عند مالك.

Syekh kami berkata: "Namun, hal itu dianjurkan agar ia memperoleh (keabsahan) puasa pada hari yang ia lupa berniat padanya menurut Imam Malik."

كما تسن له أول اليوم الذي نسيها فيه ليحصل له صومه عند أبي حنيفة وواضح أن محله: إن قلد وإلا كان متلبسا بعبادة فاسدة في اعتقاده.

Sebagaimana disunnahkan baginya (berniat) di awal hari yang ia lupa berniat padanya agar ia memperoleh puasa tersebut menurut Imam Abu Hanifah. Jelas bahwa tempatnya adalah jika ia bertaklid, jika tidak, maka ia melakukan ibadah yang batal menurut keyakinannya (iktikadnya).

وشرط لفرضه أي الصوم ولو نذرا أو كفارة أو صوم استسقاء أمر به الإمام.

Dan disyaratkan bagi puasa fardunya —yaitu puasa (wajib)— meskipun berupa nazar, kafarat, atau puasa istisqa yang diperintahkan oleh imam (pemimpin):

تبييت أي إيقاع النية ليلا: أي فيما غروب الشمس وطلوع الفجر ولو في صوم المميز.

Tabyit (تبييت), yaitu berniat di malam hari: yakni antara terbenamnya matahari hingga terbitnya fajar, meskipun dalam puasa seorang anak mumayyiz.

وتعيين,

Dan ta'yin (penentuan niat),

قال شيخنا: ولو شك هل وقعت نيته قبل الفجر أو بعده؟ لم تصح لان الأصل عدم وقوعها ليلا إذ الأصل في كل حادث تقديره بأقرب زمن بخلاف ما لو نوى ثم شك: هل طلع الفجر أو لا؟ لان الأصل عدم طلوعه للأصل المذكور أيضا انتهى.

Syekh kami berkata: "Seandainya seseorang ragu apakah niatnya terjadi sebelum fajar atau setelahnya, maka puasanya tidak sah karena hukum asalnya adalah belum terjadinya niat di malam hari, sebab hukum asal setiap peristiwa yang baru ditentukan pada waktu yang paling dekat dengannya. Berbeda halnya jika ia berniat lalu ragu: apakah fajar telah terbit atau belum? Karena hukum asalnya adalah belum terbitnya fajar berdasarkan kaidah asal tersebut juga." Selesai.

ولا يبطلها نحو أكل وجماع بعدها وقبل الفجر نعم لو قطعها قبله احتاج لتجديدها قطعا.

Niat tersebut tidak batal dengan perbuatan seperti makan dan jima' yang dilakukan setelahnya dan sebelum fajar. Ya, seandainya ia memutuskan niatnya sebelum fajar, maka ia pasti membutuhkan untuk memperbaruinya.

وتعيين لمنوي في الفرض كرمضان أو نذر أو كفارة بأن ينوي كل ليلة أنه صائم غدا عن رمضان أو النذر أو الكفارة وإن لم يعين سببها.

Dan ta'yin (menentukan jenis puasa) yang diniatkan dalam puasa fardu, seperti Ramadan, nazar, atau kafarat, yaitu dengan berniat pada setiap malam bahwa ia berpuasa esok hari dari Ramadan, nazar, atau kafarat, meskipun ia tidak menentukan sebab (nazar/kafarat) tersebut.

فلو نوى الصوم عن فرضه أو فرض وقته: لم يكف نعم من عليه قضاء رمضانين أو نذر أو كفار من جهات مختلفة: لم يشترط التعيين لاتحاد الجنس واحترز باشتراط التبييت في الفرض عن النفل فتصح فيه ولو مؤقتا النية قبل الزوال: للخبر الصحيح [مسلم رقم: ١١٥٤, أبو داود رقم: ٢٤٥٥, الترمذي رقم: ٧٣٣, النسائي رقم: ٢٣٢٢- ٢٣٠٠] وبالتعيين فيه النفل أيضا فيصح ولو مؤقتا بنية مطلقة كما اعتمده غير واحد.

Seandainya ia berniat puasa dari fardunya atau fardu waktunya, maka hal itu tidak mencukupi. Ya, barang siapa memiliki kewajiban mengada (qadha) dua Ramadan, atau nazar, atau kafarat dari berbagai sebab yang berbeda, tidak disyaratkan menentukan rinciannya karena menyatunya jenis puasa tersebut. Dengan mensyaratkan tabyit pada puasa fardu, dikecualikan puasa sunnah (nawafil), maka sah dalam puasa sunnah—meskipun puasa sunnah yang memiliki waktu tertentu (mu'aqqat)—niat yang dilakukan sebelum tergelincirnya matahari (zawal) berdasarkan hadis sahih [Muslim no: 1154, Abu Dawud no: 2455, At-Tirmidzi no: 733, An-Nasa'i no: 2322-2300]. Dan dengan mensyaratkan ta'yin padanya, dikecualikan pula puasa sunnah, maka sah puasa sunnah (meskipun mu'aqqat) dengan niat mutlak sebagaimana diandalkan oleh banyak ulama.

نعم بحث في المجموع اشتراط التعيين في الرواتب كعرفة وما معها فلا يحصل غيرها معها وإن نوى بل مقتضى القياس كما قال الأسنوي أن نيتهما مبطلة كما لو نوى الظهر وسنته أو سنة الظهر

Ya, Imam An-Nawawi dalam al-Majmu' membicarakan tentang disyaratkannya ta'yin pada puasa-puasa rawatib (sunnah berkala) seperti Arafah dan puasa yang menyertainya, sehingga puasa lain tidak bisa didapatkan bersamanya meskipun diniatkan. Bahkan konsekuensi kias sebagaimana dikatakan Al-Asnawi adalah bahwa berniat keduanya sekaligus membatalkan (keduanya), sebagaimana seandainya seseorang berniat shalat Dzuhur beserta sunnahnya atau sunnah Dzuhur

وأكملها نويت صوم غد عن أداء فرض رمضان هذه السنة لله تعالى ويفطر عامد عالم

Dan niat yang paling sempurna adalah: "Nawaitu shauma ghadin 'an ada'i fardi ramadhana hadhihis-sanati lillahi ta'ala" (Aku berniat puasa esok hari untuk menunaikan fardu Ramadan tahun ini karena Allah Ta'ala). Dan orang yang membatalkan puasa dengan sengaja serta tahu…

وسنة العصر.

dan sunnah Asar.

فأقل النية المجزئة: نويت صوم رمضان ولو بدون الفرض على المعتمد كما صححه في المجموع تبعا للأكثرين لان صوم رمضان من البالغ لا يقع إلا فرضا ومقتضى كلام الروضة والمنهاج وجوبه أو بلا غد كما قال الشيخان.

Maka niat paling minimal yang mencukupi adalah: "Nawaitu shauma ramadhana" (Aku berniat puasa Ramadan), meskipun tanpa menyebutkan kata "fardun" menurut pendapat yang mu'tamad (dipegang teguh), sebagaimana disahihkan dalam al-Majmu' mengikuti mayoritas ulama, karena puasa Ramadan dari orang dewasa yang balig tidak jatuh melainkan sebagai fardu. Namun konsekuensi dari perkataan ar-Raudhah dan al-Minhaj adalah wajib menyebutkannya, atau tanpa menyebut kata "ghadin" (esok hari) sebagaimana dikatakan oleh Asy-Syaikhani (Ar-Rafi'i dan An-Nawawi).

لان لفظ الغد اشتهر في كلامهم في تفسير التعيين وهو في الحقيقة ليس من حد التعيين فلا يجب التعرض له بخصوصه بل يكفي دخوله في صوم الشهر المنوي لحصول التعيين حينئذ لكن قضية كلام شيخنا كالمزجد: وجوبه.

Karena lafaz "ghad" (esok hari) telah masyhur dalam perkataan mereka saat menjelaskan ta'yin, sementara secara hakikat lafaz tersebut bukanlah dari batasan ta'yin, sehingga tidak wajib secara khusus menyebutkannya. Bahkan cukuplah masuknya hari esok itu dalam puasa bulan yang diniatkan karena ta'yin sudah tercapai saat itu. Akan tetapi, konsekuensi dari perkataan Syekh kami seperti Al-Mazjad adalah kewajibannya.

وأكملها أي النية: نويت صوم غد عن أداء فرض رمضان بالجر لإضافته لما بعده هذه السنة لله تعالى لصحة النية حينئذ اتفاقا.

Dan niat yang paling sempurna: "Nawaitu shauma ghadin 'an ada'i fardi ramadhana" —dengan kasrah (jar) karena diidhafatkan kepada kata setelahnya— "hadhihis-sanati lillahi ta'ala", karena sahnya niat pada kondisi tersebut disepakati ulama (ittifaq).

وبحث الأذرعي أنه لو كان عليه مثل الأداء كقضاء رمضان قبله: لزمه التعرض للأداء أو تعيين١ السنة.

Dan Al-Adzra'i mengkaji bahwa seandainya seseorang menanggung puasa yang serupa dengan adaa' (tunaian), seperti qadha Ramadan sebelumnya, maka ia wajib menyebutkan kata ada' atau menentukan tahunnya.

ويفطر عامد لأناس للصوم وإن كثر منه نحو جماع وأكل.

Dan batal puasanya orang yang sengaja —bukan orang yang lupa akan puasanya— meskipun banyak perbuatan pembatal dari dirinya, seperti jima' dan makan.

عالم لا جاهل بأن ما تعاطاه مفطر لقرب إسلامه أو نشئه ببادية

(Dan ia adalah orang yang) mengetahui (keharamannya), bukan orang yang bodoh (tidak tahu) bahwa apa yang dilakukannya membatalkan puasa, disebabkan karena baru masuk Islam atau tumbuh di daerah pedalaman (yang jauh dari ulama)…

مختار بجماع واستمناء لا بضم بحائل واستقاءة لا بقلع نخامة,

(Atas kemauan sendiri) sebab bersenggama dan istimna (mengeluarkan mani), bukan sebab memeluk dengan penghalang, dan sebab sengaja muntah, bukan sebab mengeluarkan dahak,

بعيدة عمن يعرف ذلك.

yang jauh dari orang yang mengetahui hal tersebut.

مختار لا مكره لم يحصل منه قصد ولا فكر ولا تلذذ بجماع وإن لم ينزل واستمناء ولو بيده أو بيد حليلته أو بلمس لما ينقض لمسه بلا حائل.

(Atas kemauan sendiri) bukan orang yang dipaksa yang tidak ada maksud, pikiran, maupun kenikmatan darinya; (batal) sebab bersenggama meskipun tidak keluar mani, dan istimna (mengeluarkan mani) meskipun dengan tangannya sendiri, tangan istrinya, atau dengan menyentuh bagian yang membatalkan wudhu jika disentuh tanpa penghalang.

لا بـ قبلة وضم لامرأة بحائل: أي معه وإن تكرر بشهوة أو كان الحائل رقيقا فلو ضم امرأة أو قبلها بلا ملامسة بدن بلا بحائل بينهما فأنزل: لم يفطر لانتفاء المباشرة كالاحتلام والإنزال بنظر وفكر ولو لمس محرما أو شعر امرأة فأنزل: لم يفطر لعدم النقض به.

Tidak (batal) dengan mencium dan memeluk wanita dengan adanya penghalang: yaitu bersamanya, meskipun berulang kali dengan syahwat atau penghalangnya tipis. Jika seseorang memeluk wanita atau menciumnya tanpa persentuhan kulit (yaitu ada penghalang di antara keduanya) lalu keluar mani, puasanya tidak batal karena tidak adanya kontak langsung (mubasyarah), seperti halnya mimpi basah, atau keluarnya mani karena memandang dan berpikir. Jika ia menyentuh mahramnya atau rambut wanita lalu keluar mani, ia tidak batal puasa karena hal itu tidak membatalkan wudhu.

ولا يفطر بخروج مذي خلافا للمالكية.

Dan puasa tidak batal dengan keluarnya madzi, berbeda dengan pendapat mazhab Maliki.

واستقاءة أي استدعاء قئ وإن لم يعد منه شيء لجوفه: بأن تقيأ منكسا أو عاد بغير اختياره فهو مفطر لعينه. أما إذا غلبه ولم يعد منه أو من ريقه المتنجس به شيء إلى جوفه بعد وصوله لحد الظاهر أو عاد بغير اختياره: فلا يفطر به للخبر الصحيح بذلك [الترمذي رقم: ٧٢٠, أبو داود رقم: ٢٣٨٠, ابن ماجه رقم: ١٦٧٦, مسند أحمد رقم: ١٠٠٨٥, الدارمي رقم: ١٧٢٩] .

Dan (batal sebab) sengaja muntah, yaitu memancing muntah meskipun tidak ada sesuatu darinya yang kembali ke rongga dalamnya: seperti muntah sambil menunduk atau ada yang kembali tanpa kesengajaannya, maka hal itu membatalkan puasa karena perbuatan muntah itu sendiri. Adapun jika muntah itu tak tertahankan dan tidak ada sesuatu darinya atau dari air liurnya yang terkena najis olehnya yang kembali ke rongga dalamnya setelah mencapai batas luar, atau kembali tanpa kesengajaannya: maka tidak membatalkan puasa berdasarkan hadis sahih tentang hal itu.

لا بقلع نخامة من الباطن أو الدماغ إلى الظاهر فلا يفطر به إن

Tidak (batal) dengan mengeluarkan dahak dari rongga dalam atau otak ke bagian luar, maka tidak membatalkan puasa jika

وبدخول عين جوفا,

Dan sebab masuknya suatu benda ke dalam rongga,

لقطها لتكرر الحاجة إليه أما لو ابتلعها مع القدرة على لفظها بعد وصولها لحد الظاهر وهو مخرج الحاء المهملة فيفطر قطعا.

ia meludahkannya karena berulangnya kebutuhan akan hal itu. Adapun jika ia menelannya padahal mampu meludahkannya setelah dahak tersebut mencapai batas luar—yaitu tempat keluar huruf Ha (ح) tanpa titik—maka ia pasti batal puasanya.

ولو دخلت ذبابة جوفه: أفطر بإخراجها مطلقا وجاز له إن ضره بقاؤها مع القضاء: كما أفتى به شيخنا.

Jika seekor lalat masuk ke dalam rongga dalamnya, ia membatalkan puasa dengan mengeluarkannya secara mutlak, dan boleh baginya mengeluarkannya jika keberadaan lalat itu memudaratkannya beserta kewajiban mengada (qadha), sebagaimana difatwakan oleh guru kami.

ويفطر بدخول عين وإن قلت إلى ما يسمى جوفا: أي جوف من مر: كباطن أذن وإحليل وهو مخرج بول ولبن وإن لم يجاوز الحشفة أو الحلمة.

Dan puasa menjadi batal dengan masuknya suatu benda, meskipun sedikit, ke dalam sesuatu yang dinamakan rongga (jauf): yaitu rongga dari orang yang telah disebutkan: seperti bagian dalam telinga dan saluran kemaluan (ihlil)—yaitu saluran air seni dan susu—meskipun tidak melewati kepala zakar (hasyafah) atau puting susu.

ووصول أصبع المستنجية إلى وراء ما يظهر من فرجها عند جلوسها على قدميها: مفطر وكذا وصول بعض الأنملة إلى المسربة كذا أطلقه القاضي وقيده السبكي بما إذا وصل شيء منها إلى المحل المجوف منها بخلاف أولها المنطبق فإنه لا يسمى جوفا.

Dan sampainya jari wanita yang beristinja ke balik bagian yang tampak dari kemaluannya saat ia duduk di atas kedua kakinya adalah membatalkan puasa. Demikian pula sampainya sebagian ujung jari (anmulah) ke lubang dubur (masrubah). Demikianlah Al-Qadhi memutlakkannya, sedangkan Al-Subki membatasinya jika ada bagian jari yang sampai ke bagian yang berongga darinya, berbeda dengan bagian depannya yang tertutup rapat, karena itu tidak dinamakan rongga.

وألحق به أول الإحليل الذي يظهر عند تحريكه بل أولى.

Dan dianalogikan dengannya adalah bagian awal saluran kemaluan (ihlil) yang tampak ketika digerakkan, bahkan ini lebih utama.

قال ولده: وقول القاضي: الاحتياط أن يتغوط بالليل: مراده أن إيقاعه فيه خير منه في النهار لئلا يصل شيء إلى جوف مسربته لا أنه يؤمر بتأخيره إلى الليل لان أحدا لا يؤمر بمضرة في بدنه.

Putranya berkata: Perkataan Al-Qadhi: 'Kehati-hatian adalah buang air besar pada malam hari,' maksudnya adalah melakukannya di malam hari lebih baik daripada siang hari agar tidak ada sesuatu yang masuk ke rongga duburnya, bukan berarti ia diperintahkan untuk menundanya hingga malam hari, karena tidak seorang pun diperintahkan untuk membahayakan fisiknya.

ولو خرجت مقعدة مبسور: لم يفطر بعودها وكذا إن أعادها بأصبعه لاضطراره إليه.

Jika bagian dalam dubur penderita ambeien (mabsur) keluar, ia tidak batal puasa dengan kembalinya bagian tersebut; demikian pula jika ia memasukkannya kembali dengan jarinya karena darurat.

ومنه يؤخذ كما قال شيخنا أنه لو اضطر لدخول الإصبع إلى الباطن لم يفطر وإلا أفطر وصول الإصبع إليه.

Dan darinya diambil kesimpulan—sebagaimana dikatakan guru kami—bahwa jika ia terpaksa memasukkan jari ke bagian dalam, puasanya tidak batal. Jika tidak darurat, maka masuknya jari ke bagian dalam itu membatalkan puasa.

ولا بريق طاهر صرف من معدنه,

Dan tidak (batal) sebab air liur yang suci yang murni dari muaranya,

وخرج بالعين: الأثر كوصول الطعم بالذوق إلى حلقه.

Dikecualikan dengan kata "benda ('ain)": bekas (atsar), seperti sampainya rasa ke tenggorokan karena mencicipi makanan.

وخرج بمن مر أي العامد العالم المختار الناسي للصوم والجاهل المعذور بتحريم إيصال شيء إلى الباطن وبكونه مفطرا والمكره فلا يفطر كل منهم بدخول عين جوفه وإن كثر أكله.

Dan dikecualikan dari orang yang telah disebutkan—yaitu orang yang sengaja, tahu, dan atas kehendak sendiri: orang yang lupa akan puasanya, orang bodoh yang diuzurkan terkait keharaman memasukkan sesuatu ke rongga dalam dan bahwa hal itu membatalkan, serta orang yang dipaksa. Maka tidak batal puasa masing-masing dari mereka dengan masuknya suatu benda ke dalam rongganya, meskipun yang ia makan banyak.

ولو ظن أن أكله ناسيا مفطر فأكل جاهلا بوجوب الإمساك: أفطر.

Seandainya seseorang mengira bahwa makannya dalam keadaan lupa itu membatalkan puasa, lalu ia makan lagi karena tidak tahu akan kewajiban menahan diri (imsak), maka puasanya batal.

ولو تعمد فتح فمه في الماء فدخل جوفه أو وضعه فيه فسبقه أفطر.

Seandainya ia sengaja membuka mulutnya di dalam air lalu air masuk ke rongganya, atau ia meletakkan mulutnya di dalam air lalu air mendahului masuk tanpa sengaja, maka puasanya batal.

أو وضع في فيه شيئا عمدا وابتلعه ناسيا فلا.

Atau jika ia memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya secara sengaja lalu menelannya dalam keadaan lupa, maka tidak batal.

ولا يفطر بوصول شيء إلى باطن قصبة أنف حتى يجاوز منتهى الخيشوم وهو أقصى الأنف.

Dan tidak batal puasa dengan sampainya sesuatu ke bagian dalam rongga hidung hingga ia melewati ujung khaisyum, yaitu bagian terdalam hidung.

ولا يفطر بريق طاهر صرف أي خالص ابتلعه من معدنه وهو جميع الفم ولو بعد جمعه على الأصح وإن كان بنحو مصطكى أما لو ابتلع ريقا اجتمع بلا فعل فلا يضر قطعا.

Dan tidak batal puasa karena menelan ludah yang suci lagi murni (tidak tercampur) yang ia telan dari tempat asalnya, yaitu seluruh bagian mulut, meskipun setelah dikumpulkan menurut pendapat yang lebih sahih, sekalipun pengumpulan itu dengan perantara semacam getah mustaki. Adapun jika ia menelan ludah yang terkumpul tanpa perbuatannya (secara alami), maka hal itu pasti tidak membatalkan.

وخرج بالطاهر: المتنجس بنحو دم لثته فيفطر بابتلاعه وإن صفا ولم يبق فيه أثر مطلقا لأنه لما حرم ابتلاعه لتنجسه صار بمنزلة عين أجنبية.

Dikecualikan dengan kata "suci": ludah yang terkena najis seperti darah gusi, maka batal puasa dengan menelannya meskipun telah jernih dan tidak tersisa bekasnya sama sekali, karena ketika menelannya diharamkan disebabkan kenajisannya, maka statusnya menjadi seperti benda asing dari luar.

قال شيخنا: ويظهر العفو عمن ابتلي بدم لثته بحيث لا يمكنه الاحتراز عنه.

Guru kami berkata: Tampak jelas adanya pemaafan (ma'fu) bagi orang yang diuji dengan darah gusi sekiranya tidak memungkinkan baginya untuk menghindarinya.

وقال بعضهم: متى ابتلعه المبتلى به مع علمه به وليس له عنده بد فصومه صحيح.

Sebagian ulama berkata: Kapan saja orang yang tertimpa ujian tersebut menelannya disertai pengetahuannya tentang hal itu sementara ia tidak memiliki pilihan lain untuk menghindarinya, maka puasanya sah.

٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠

…………………………..

وبالصرف المختلط بطاهر آخر فيفطر من ابتلع ريقا متغيرا بحمرة نحو تنبل وإن تعسر إزالتها.

Dan dikecualikan dengan kata "murni": ludah yang bercampur dengan benda suci lainnya, maka batal puasa orang yang menelan ludah yang berubah karena warna merah seperti daun sirih, meskipun sulit untuk menghilangkannya.

أو بصبغ خيط فتله بفمه.

Atau karena pewarna benang yang ia pintal dengan mulutnya.

وبمن معدنه ما إذا خرج من الفم لا على لسانه ولو إلى ظاهر الشفة ثم رده بلسانه وابتلعه أو بل خيطا أو سواكا بريقه أو بماء فرده إلى فمه وعليه رطوبة تنفصل وابتلعها: فيفطر بخلاف ما لو لم يكن على الخيط ما ينفصل لقلته أو لعصره أو لجفافه فإنه لا يضر كأثر ماء المضمضة وإن أمكن مجه لعسر التحرز عنه فلا يكلف تنشيف الفم عنه.

Dan dikecualikan dengan kata "dari tempat asalnya": apabila ludah keluar dari mulut (bukan pada lidahnya) walaupun hanya ke bagian luar bibir kemudian ia menariknya kembali dengan lidahnya lalu menelannya, atau ia membasahi benang atau siwak dengan ludahnya atau dengan air lalu mengembalikannya ke mulutnya sedangkan padanya terdapat basahan yang dapat terpisah dan ia menelannya, maka puasanya batal. Berbeda halnya jika pada benang tersebut tidak ada basahan yang terpisah karena sedikitnya, karena telah diperas, atau karena telah kering, maka sesungguhnya hal itu tidak membatalkan, seperti halnya sisa air kumur-kumur meskipun memungkinkan untuk meludahkannya karena sulit menghindarinya, sehingga tidak diwajibkan mengeringkan mulut darinya.

فرع لو بقي طعام بين أسنانه فجرى به ريقه بطبعه لا بقصده: لم يفطر إن عجز عن تمييزه ومجه.

Cabang Masalah: Seandainya tersisa makanan di antara sela-sela giginya lalu terbawa oleh ludahnya secara alami tanpa kesengajaannya, maka tidak batal puasanya jika ia tidak mampu membedakannya dan meludahkannya.

وإن ترك التخلل ليلا مع علمه ببقائه وبجريان ريقه به نهارا لأنه إنما يخاطب بهما إن قدر عليهما حال الصوم لكن يتأكد التخلل بعد التسحر أما إذا لم يعجز أو ابتلعه قصدا: فإنه مفطر جزما.

Meskipun ia tidak membersihkan sela-sela gigi pada malam hari padahal mengetahui adanya sisa makanan dan akan mengalirnya ludah membawanya di siang hari, karena sesungguhnya ia hanya dituntut melakukan keduanya (membedakan dan meludahkan) jika ia mampu saat berpuasa. Akan tetapi, membersihkan sela-sela gigi sangat dianjurkan setelah santap sahur. Adapun jika ia tidak merasa lemah (mampu membuangnya) atau sengaja menelannya, maka hal itu membatalkan puasa secara pasti.

وقول بعضهم: يجب غسل الفم مما أكل ليلا وإلا أفطر: رده شيخنا.

Pendapat sebagian ulama yang menyatakan: "Wajib mencuci mulut dari sisa makanan yang dimakan pada malam hari, jika tidak maka batal puasanya," telah dibantah oleh guru kami.

ولا يفطر بسبق ماء جوف مغتسل عن جنابة بلا انغماس.

Dan tidak membatalkan puasa bila air mendahului masuk ke dalam rongga orang yang mandi janabah tanpa menyelam.

ولا يفطر بسبق ماء جوف مغتسل عن نحو جنابة كحيض ونفاس إذا كان الاغتسال بلا انغماس في الماء فلو غسل أذنيه في الجنابة فسبق الماء من إحداهما لجوفه: لم يفطر وإن أمكنه إمالة رأسه أو الغسل قبل الفجر.

Dan tidak batal puasa sebab terlanjurnya air masuk ke dalam rongga tubuh orang yang mandi janabah atau sejenisnya seperti mandi haid dan nifas, apabila mandi tersebut dilakukan tanpa menyelam ke dalam air. Maka jika ia membasuh kedua telinganya saat mandi janabah lalu air terlanjur masuk dari salah satunya ke rongga tubuhnya, puasanya tidak batal meskipun ia memungkinkan untuk memiringkan kepalanya atau mandi sebelum fajar.

كما إذا سبق الماء إلى الداخل للمبالغة في غسل الفم المتنجس لوجوبها: بخلاف ما إذا اغتسل منغمسا فسبق الماء إلى باطن الأذن أو الأنف فإنه يفطر ولو في الغسل الواجب لكراهة الانغماس: كسبق ماء المضمضة بالمبالغة إلى الجوف مع تذكره للصوم وعلمه بعدم مشروعيتها بخلافه بلا مبالغة.

Sebagaimana jika air terlanjur masuk ke dalam rongga karena sangat mendalam (mubalaghah) saat membasuh mulut yang terkena najis karena hukumnya wajib. Berbeda halnya jika ia mandi dengan cara menyelam lalu air terlanjur masuk ke bagian dalam telinga atau hidung, maka hal itu membatalkan puasa meskipun dalam mandi wajib karena makruhnya menyelam, seperti halnya terlanjurnya air berkumur karena mubalaghah ke dalam rongga tubuh dalam keadaan ingat sedang berpuasa dan tahu tidak disyariatkannya mubalaghah tersebut, berbeda jika tanpa mubalaghah.

وخرج بقولي عن نحو جنابة: الغسل المسنون١ وغسل التبرد فيفطر بسبق ماء فيه ولو بلا انغماس.

Dan dikecualikan dengan perkataanku "dari sejenis janabah": mandi yang disunnahkan dan mandi untuk menyegarkan badan (mandi dingin), maka puasa menjadi batal sebab terlanjurnya air di dalamnya meskipun tanpa menyelam.

فروع يجوز للصائم الإفطار بخبر عدل بالغروب وكذا بسماع أذانه ويحرم للشاك الأكل آخر النهار حتى يجتهد ويظن انقضاءه ومع ذلك الأحوط الصبر لليقين.

Cabang-cabang masalah: Boleh bagi orang yang berpuasa untuk berbuka dengan kabar dari seorang yang adil mengenai terbenamnya matahari, demikian pula dengan mendengar azannya. Dan diharamkan bagi orang yang ragu untuk makan di akhir siang sampai ia berijtihad dan menduga kuat telah berlalunya siang (masuk maghrib), dan meskipun demikian yang lebih berhati-hati adalah bersabar hingga yakin.

ويجوز الآكل إذا ظن بقاء الليل باجتهاد أو إخبار وكذا لو شك لأن الأصل بقاء الليل لكن يكره ولو أخبره عدل بطلوع الفجر

Dan boleh makan jika ia menduga masih berlanjutnya malam berdasarkan ijtihad atau kabar seseorang, begitu pula jika ia ragu, karena hukum asalnya adalah masih berlanjutnya malam, tetapi hukumnya makruh. Dan jika seorang yang adil mengabarkan padanya tentang terbitnya fajar…

يباح فطر بمرض مضر وفي سفر قصر ولخوف هلاك ويجب قضاء كرمضان,

Diperbolehkan tidak berpuasa karena sakit yang membahayakan, dalam perjalanan yang membolehkan qashar, dan karena takut binasa. Dan wajib mengqadha seperti puasa Ramadhan,

اعتمده وكذا فاسق ظن صدقه.

…maka ia berpegang padanya, begitu pula (kabar dari) orang fasik yang diduga kuat kebenarannya.

ولو أكل باجتهاد أولا وآخرا فبان أنه أكل نهارا بطل صومه إذ لا عبرة بالظن البين خطؤه فإن لم يبن شيء: صح.

Jika seseorang makan berdasarkan ijtihad baik pada awal (sebelum fajar) maupun akhir (sebelum maghrib), lalu terbukti bahwa ia makan pada siang hari, maka batal puasanya, karena prasangka yang terbukti jelas kesalahannya tidak diperhitungkan. Namun jika tidak terbukti apa-apa, maka puasanya sah.

ولو طلع الفجر وفي فمه طعام فلفظه قبل أن ينزل منه شيء لجوفه: صح صومه وكذا لو كان مجامعا عند ابتداء طلوع الفجر فنزع في الحال أي عقب طلوعه فلا يفطر وإن أنزل لان النزع ترك للجماع.

Dan jika fajar telah terbit sementara di dalam mulutnya ada makanan, lalu ia membuangnya sebelum ada sesuatu darinya yang masuk ke rongga tubuhnya, maka puasanya sah. Demikian pula jika ia sedang bersetubuh pada saat mulai terbitnya fajar, lalu ia langsung mencabutnya seketika itu juga (segera setelah terbitnya fajar), maka ia tidak batal puasanya meskipun mengeluarkan mani, karena mencabut itu merupakan tindakan menghentikan persetubuhan.

فإن لم ينزع حالا: لم ينعقد الصوم وعليه القضاء والكفارة.

Namun jika ia tidak segera mencabutnya, maka puasanya tidak sah dan ia wajib mengqadha serta membayar kaffarah.

ويباح فطر في صوم واجب بمرض مضر ضررا يبيح التيمم كأن خشي من الصوم بطء برء.

Dan diperbolehkan tidak berpuasa pada puasa wajib karena sakit yang membahayakan dengan bahaya yang membolehkan tayamum, seperti jika ia takut puasa dapat memperlambat kesembuhannya.

وفي سفر قصر١ دو باب الصوم ن قصير وسفر معصية.

Dan dalam perjalanan yang membolehkan qashar, bukan perjalanan pendek dan perjalanan maksiat.

وصوم المسافر بلا ضرر أحب من الفطر.

Dan puasa bagi musafir yang tanpa menimbulkan bahaya adalah lebih disukai (lebih utama) daripada tidak berpuasa.

ولخوف هلاك بالصوم من عطش أو جوع وإن كان صحيحا مقيما.

Dan karena takut binasa disebabkan puasa, baik karena haus maupun lapar, meskipun ia dalam keadaan sehat dan mukim.

وأفتى الأذرعي بأنه يلزم الحصادين أي ونحوهم تبييت النية كل ليلة ثم من لحقه منهم مشقة شديدة أفطر وإلا فلا.

Al-Adzra'i berfatwa bahwa para pekerja panen dan sejenisnya wajib menginapkan niat puasa setiap malam, kemudian barang siapa di antara mereka yang mengalami kepayahan yang berat boleh berbuka (tidak berpuasa), jika tidak mengalami kepayahan maka tidak boleh.

ويجب قضاء ما فات ولو بعذر من الصوم الواجب كرمضان ونذر

Dan wajib mengqadha puasa wajib yang terlewat meskipun karena uzur, seperti puasa Ramadhan dan nazar.

وإمساك فيه إن أفطر بغير عذر أو بغلط وعلى من أفسده بجماع كفارة معه,

Dan (wajib) menahan diri dari hal-hal yang membatalkan (imsak) pada hari itu jika ia berbuka tanpa uzur atau karena keliru. Dan bagi orang yang merusak puasanya dengan bersetubuh, wajib membayar kaffarah bersamaan dengan qadha,

وكفارة بمرض أو سفر أو ترك نية أو بحيض أو نفاس لا بجنون وسكر لم يتعد به.

…dan (gugur kewajiban) kaffarah disebabkan sakit, bepergian, meninggalkan niat, haid, atau nifas, bukan karena gila atau mabuk yang tidak sengaja.

وفي المجموع أن قضاء يوم الشك على الفور لوجوب إمساكه.

Dan di dalam kitab Al-Majmu' disebutkan bahwa mengada (qadha) puasa hari syak wajib dilakukan secara bersegera (fauri) karena kewajiban menahan diri (imsak) padanya.

ونظر فيه جمع بأن تارك النية يلزمه الإمساك مع أن قضاءه على التراخي قطعا.

Sekelompok ulama mengkritik hal tersebut dengan argumen bahwa orang yang meninggalkan niat tetap diwajibkan imsak, padahal qadha puasanya adalah secara perlahan/longgar (tarakhi) secara pasti.

ويجب إمساك عن مفطر فيه أي رمضان فقط دون نحو نذر وقضاء إن أفطر بغير عذر من مرض أو سفر أو بغلط كمن أكل ظانا بقاء الليل أو نسي تبييت النية أو أفطر يوم الشك وبان من رمضان لحرمة الوقت.

Dan wajib menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa padanya, yaitu bulan Ramadan saja—bukan pada puasa nazar atau qadha—apabila ia berbuka tanpa uzur seperti sakit atau safar, atau karena kekeliruan seperti orang yang makan karena mengira malam masih ada, atau lupa menginapkan niat (tabyit), atau berbuka pada hari syak lalu terbukti bahwa hari itu adalah bulan Ramadan, demi menghormati kemuliaan waktu.

وليس الممسك في صوم شرعي لكنه يثاب عليه فيأثم بجماع ولا كفارة وندب إمساك لمريض شفي ومسافر قدم أثناء النهار مفطرا وحائض طهرت أثناءه.

Dan orang yang menahan diri tersebut tidak berada dalam puasa syar'i, akan tetapi ia diberi pahala atas imsak tersebut, sehingga ia berdosa jika melakukan bersetubuh (jimak) namun tidak dikenai kafarat. Dan disunnahkan imsak bagi orang sakit yang telah sembuh, musafir yang tiba di siang hari dalam keadaan tidak berpuasa, dan wanita haid yang telah suci di tengah hari.

ويجب على من أفسده أي صوم رمضان بجماع أثم به لأجل الصوم لا باستمناء وأكل: كفارة متكررة بتكرر الإفساد وإن لم يكفر عن السابق معه أي مع قضاء ذلك الصوم.

Dan wajib bagi orang yang merusak puasa Ramadan dengan bersetubuh yang menjadikannya berdosa dikarenakan puasa—bukan karena masturbasi (istimna') atau makan—untuk membayar kafarat yang berulang seiring berulangnya pengrusakan, meskipun ia belum membayar kafarat untuk pelanggaran sebelumnya, beserta (qadha puasa tersebut).

والكفارة عتق رقبة مؤمنة فصوم شهرين مع التتابع إن عجز عنه فإطعام ستين مسكينا أو فقيرا إن عجز عن الصوم لهرم أو مرض بنية كفارة ويعطى لكل واحد مد١ من غالب القوت.

Kafarat tersebut adalah memerdekakan budak beriman; jika tidak mampu, maka berpuasa dua bulan berturut-turut; jika tidak mampu berpuasa karena usia tua atau sakit, maka memberi makan enam puluh orang miskin atau fakir dengan niat kafarat, dan diberikan kepada masing-masing orang satu mud dari makanan pokok setempat.

وعلى من أفطر لعذر لا يرجى زواله مد بلا قضاء وعلى مؤخر قضاء بلا عذر مد لكل سنة.

Dan bagi orang yang berbuka karena uzur yang tidak diharapkan kesembuhannya/hilangnya, wajib membayar satu mud tanpa qadha. Dan bagi orang yang menunda qadha tanpa uzur, wajib membayar satu mud untuk setiap tahunnya.

ولا يجوز صرف الكفارة لمن تلزمه مؤنته.

Dan tidak boleh menyalurkan kafarat kepada orang yang wajib dipenuhi nafkahnya.

ويجب على من أفطر في رمضان لعذر لا يرجى زواله ككبر ومرض لا يرجى برؤه: مد١ لكل يوم منه إن كان موسرا حينئذ بلا قضاء وإن قدر عليه بعد لأنه غير مخاطب بالصوم فالفدية في حقه واجبة ابتداء لا بدلا.

Dan wajib bagi orang yang tidak berpuasa pada bulan Ramadan karena uzur yang tidak diharapkan hilangnya, seperti usia tua dan penyakit yang tidak diharapkan kesembuhannya: membayar satu mud untuk setiap harinya jika ia mampu pada saat itu, tanpa qadha meskipun kelak ia mampu berpuasa, karena ia tidak terkena khithab (perintah) puasa, sehingga fidyah baginya adalah wajib sejak awal bukan sebagai pengganti.

ويجب المد مع القضاء على: حامل ومرضع أفطرتا للخوف على الولد.

Dan wajib membayar mud beserta qadha bagi: wanita hamil dan menyusui yang tidak berpuasa karena mengkhawatirkan anak/bayinya.

ويجب على مؤخر قضاء لشيء من رمضان حتى دخل رمضان آخر بلا عذر في التأخير: بأن خلا عن

Dan wajib bagi orang yang menunda qadha sesuatu dari Ramadan hingga masuk Ramadan berikutnya tanpa uzur dalam penundaan tersebut: yaitu jika ia bebas dari

السفر والمرض قدر ما عليه مد لكل سنة فيتكرر بتكرر السنين على المعتمد.

safar dan sakit seukuran kewajiban qadhanya: membayar satu mud untuk setiap tahun, sehingga berlipat ganda dengan berulangnya tahun menurut pendapat yang mu'tamad (dijadikan pegangan).

وخرج بقولي بلا عذر: ما إذا كان التأخير بعذر كأن استمر سفره أو مرضه أو إرضاعها إلى قابل فلا شيء عليه ما بقي العذر وإن استمر سنين.

Dan mengecualikan dengan perkataanku 'tanpa uzur': jika penundaan tersebut karena uzur, seperti safar, sakit, atau menyusui yang terus berlanjut hingga tahun berikutnya, maka tidak ada kewajiban (fidyah) atasnya selama uzur itu masih ada, meskipun berlanjut bertahun-tahun.

ومتى أخر قضاء رمضان مع تمكنه حتى دخل آخر فمات: أخرج من تركته لكل يوم مدان: مد للفوات ومد للتأخير إن لم يصم عنه قريبه أو مأذونه وإلا وجب مد واحد للتأخير.

Dan bilamana seseorang menunda qadha Ramadan padahal ia mampu hingga masuk Ramadan berikutnya lalu ia meninggal dunia: dikeluarkan dari harta peninggalannya (tirkah) dua mud untuk setiap hari: satu mud karena luputnya puasa dan satu mud karena penundaan, jika kerabatnya atau orang yang diizinkannya tidak berpuasa untuknya; jika dipuasakan, maka hanya wajib satu mud karena penundaan.

٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠

……………………………..

والجديد: عدم جواز الصوم عنه مطلقا بل يخرج من تركته لكل يوم مد طعام وكذا صوم النذر والكفارة. وذهب النووي كجمع محققين إلى تصحيح القديم القائل: بأنه لا يتعين الإطعام فيمن مات بل يجوز للولي أن يصوم عنه ثم إن خلف تركة وجب أحدهما وإلا ندب.

Menurut pendapat jadid (kaul baru): tidak boleh berpuasa untuk mayit secara mutlak, melainkan dikeluarkan dari harta peninggalannya satu mud makanan untuk setiap harinya, demikian pula puasa nazar dan kafarat. Namun An-Nawawi beserta sekelompok ulama muhaqqiqin membenarkan pendapat qadim (kaul lama) yang menyatakan: bahwa memberi makan tidaklah menjadi keharusan bagi orang yang meninggal dunia, melainkan wali boleh berpuasa untuknya. Kemudian jika ia meninggalkan harta peninggalan, maka salah satu dari keduanya wajib dilakukan; jika tidak meninggalkan harta, maka hal itu disunnahkan.

ومصرف الإمداد: فقير ومسكين وله صرف أمداد لواحد.

Dan alokasi (mustahiq) fidyah mud-mud tersebut adalah: orang fakir dan miskin, serta boleh menyerahkan beberapa mud kepada satu orang.

فائدة:من مات وعليه صلاة فلا قضاء ولا فدية وفي قول كجمع مجتهدين أنها تقضى عنه لخبر البخاري [رقم: ١٩٥٢, مسلم رقم: ١١٤٧, وهو في الصوم لا الصلاة] وغيره١ ومن ثم اختاره جمع من أئمتنا وفعل به السبكي عن بعض أقاربه [راجع الصفحة: ٣٨, ٤٣٣] ونقل ابن برهان عن القديم أنه يلزم الولي إن خلف تركه أن يصلي عنه كالصوم وفي وجه عليه كثيرون من أصحابنا أنه يطعم عن كل صلاة مدا.

Faedah: Barangsiapa meninggal dunia dan ia memiliki tanggungan shalat, maka tidak ada qadha dan tidak ada fidyah. Namun menurut satu pendapat sebagaimana sekelompok mujtahid bahwa shalat tersebut diqadhakan untuknya berdasarkan khabar Al-Bukhari [No. 1952, Muslim No. 1147, padahal hadis ini tentang puasa bukan shalat] dan lainnya; oleh karena itu sekelompok imam kita memilihnya, dan As-Subki mengamalkannya untuk sebagian kerabatnya [lihat halaman: 38, 433]. Ibn Burhan mengutip dari kaul qadim bahwa wali wajib—jika mayit meninggalkan harta peninggalan—untuk menshalatkannya sebagaimana puasa. Dan dalam satu wajh yang dianut banyak ulama mazhab kita, bahwasanya memberi makan satu mud untuk setiap shalat.

وقال المحب الطبري: يصل للميت كل عبادة تفعل عنه: واجبة أو مندوبة.

Al-Muhibb Ath-Thabari berkata: Sampai kepada mayit setiap ibadah yang dikerjakan atas namanya, baik yang wajib maupun yang sunnah.

وفي شرح المختار لمؤلفه: مذهب أهل السنة أن للإنسان أن

Dan dalam Syarah Al-Mukhtar karya penyusunnya: Madzhab Ahlus Sunnah berpandangan bahwa seseorang boleh

وسن تسحر وتعجيل فطر وبتمر فماء,

Dan disunnahkan bersahur, menyegerakan berbuka puasa, serta dengan kurma lalu air,

يجعل ثواب عمله وصلاته لغيره ويصله. [راجع الصفحات: ٣٧, ٤٣٣] .

menjadikan pahala amalnya dan shalatnya untuk orang lain, dan pahala tersebut sampai kepadanya. [Rujuk halaman: 37, 433].

وسن لصائم رمضان وغيره تسحر وتأخيره ما لم يقع في شك وكونه على تمر لخبر فيه [مسند أحمد رقم: ٢٠٩٩٦] ويحصل ولو بجرعة ماء.

Disunnahkan bagi orang yang berpuasa Ramadhan maupun puasa lainnya untuk bersahur dan mengakhirkannya selama tidak jatuh dalam keraguan, serta bersahur dengan kurma berdasarkan riwayat tentang hal tersebut [Musnad Ahmad No: 20996], dan sahur dianggap telah didapatkan meskipun hanya dengan seteguk air.

ويدخل وقته بنصف الليل.

Waktu sahur masuk sejak tengah malam.

وحكمته: التقوي أو مخالفة أهل الكتاب؟ وجهان.

Hikmahnya: apakah untuk memberi kekuatan (beribadah) atau menyelahi Ahlul Kitab? Ada dua pendapat (wajh).

وسن تطيب وقت سحر وسن تعجيل فطر إذا تيقن الغروب ويعرف في العمران والصحارى التي بها جبال بزوال الشعاع من أعالي الحيطان والجبال.

Disunnahkan memakai wewangian pada waktu sahur. Disunnahkan pula menyegerakan berbuka jika telah meyakini terbenamnya matahari; hal ini dapat diketahui di pemukiman dan padang pasir yang bergunung-gunung dengan hilangnya sinar matahari dari puncak-puncak dinding dan gunung.

وتقديمه على الصلاة إن لم يخش من تعجيله فوات الجماعة أو تكبيرة الإحرام.

Dan mendahulukan berbuka daripada shalat jika tidak dikhawatirkan luputnya shalat berjamaah atau takbiratul ihram karena menyegerakannya.

وكونه بتمر للأمر به والأكمل أن يكون بثلاث.

Dan hendaknya berbuka dengan kurma karena adanya perintah tentang hal itu, dan yang paling sempurna adalah dengan tiga butir kurma.

فإن لم يجده فعلى حسوات ماء ولو من زمزم.

Jika tidak menemukannya, maka dengan beberapa teguk air meskipun air Zamzam.

فلو تعارض التعجيل على الماء والتأخير على التمر قدم الأول فيما استظهره شيخنا.

Apabila bertentangan antara menyegerakan berbuka dengan air atau mengakhirkannya demi berbuka dengan kurma, maka didahulukan yang pertama menurut pendapat yang dikuatkan oleh guru kami.

وقال أيضا: يظهر في تمر قويت شبهته وماء حفت شبهته أن الماء أفضل.

Beliau juga berkata: Tampak jelas dalam kasus kurma yang syubhatnya kuat dan air yang syubhatnya samar, bahwa air lebih utama.

قال الشيخان: لا شيء أفضل بعد التمر غير الماء فقول الروياني:

Asy-Syaikhani (An-Nawawi dan Ar-Rafi'i) berkata: Tidak ada sesuatu yang lebih utama setelah kurma selain air. Maka perkataan Ar-Ruyani:

وغسل عن نحو جنابة قبل فجر وكف شهوة,

Dan mandi dari sejenis junub sebelum fajar, serta menahan syahwat,

الحلو أفضل من الماء ضعيف كقول الأذرعي: الزبيب أخو التمر وإنما ذكره لتيسره غالبا بالمدينة.

makanan manis lebih utama daripada air adalah pendapat yang lemah, sebagaimana pula pendapat Al-Adzra'i: kismis adalah saudara kurma, dan beliau (Nabi) menyebutkannya hanya karena kismis umumnya mudah didapatkan di Madinah.

ويسن أن يقول عقب الفطر: اللهم لك صمت وعلى رزقك أفطرت [أبو داود رقم: ٢٣٥٨] ويزيد من أفطر بالماء: ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله تعالى. [أبو داود رقم: ٢٣٥٧] .

Disunnahkan mengucapkan setelah berbuka: "Allahumma laka shumtu wa 'ala rizqika afthartu" (Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan dengan rezeki-Mu aku berbuka) [Abu Dawud No: 2358], dan orang yang berbuka dengan air menambahkan: "Dzahabadh-dhama'u wabtallatil-'uruuqu wa tsabatal-ajru insya Allah Ta'ala" (Rasa dahaga telah hilang, urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan, insya Allah Ta'ala) [Abu Dawud No: 2357].

وسن غسل عن نحو جنابة قبل فجر لئلا يصل الماء إلى باطن نحو أذنه أو دبره.

Disunnahkan mandi dari sejenis junub sebelum fajar agar air tidak masuk ke bagian dalam sejenis telinga atau duburnya.

قال شيخنا: وقضيته أن وصوله لذلك مفطر وليس عمومه مرادا كما هو ظاهر أخذا مما مر: إن سبق ماء نحو المضمضة المشروع أو غسل الفم المتنجس: لا يفطر لعذره فليحمل هذا على مبالغة منهي عنها.

Syaikh kita berkata: Konsekuensinya adalah bahwa masuknya air ke tempat tersebut membatalkan puasa. Namun keumumannya ini tidaklah dimaksudkan secara mutlak sebagaimana yang tampak, dengan mengambil pemahaman dari keterangan yang telah berlalu: bahwa jika air masuk tanpa sengaja akibat berkumur yang disyariatkan atau membasuh mulut yang terkena najis, maka tidak membatalkan puasa karena adanya uzur. Oleh karena itu, hal ini harus dibawakan pada kasus berlebihan dalam berkumur (mubalaghah) yang dilarang.

وسن كف نفس عن طعام فيه شبهة وشهوة مباحة من مسموع ومبصر ومس طيب وشمه ولو تعارضت كراهة مس الطيب للصائم ورد الطيب: فاجتناب المس أولى لان كراهته تؤدي إلى نقصان العبادة.

Disunnahkan menahan diri dari makanan yang syubhat dan dari kenikmatan syahwat yang mubah, baik berupa pendengaran, penglihatan, menyentuh wewangian, maupun menciumnya. Apabila terjadi pertentangan antara makruhnya menyentuh wewangian bagi orang yang berpuasa dan larangan menolak pemberian wewangian, maka menjauhi sentuhan lebih utama, karena makruhnya hal tersebut dapat mengurangi nilai ibadah.

قال في الحلية: الأولى للصائم ترك الاكتحال.

Penulis kitab Al-Hilyah berkata: Yang lebih utama bagi orang yang berpuasa adalah meninggalkan penggunaan celak.

ويكره سواك بعد الزوال وقت غروب وإن نام أو أكل كريها ناسيا.

Dimakruhkan bersiwak setelah tergelincir matahari hingga waktu terbenamnya, meskipun ia tidur atau memakan makanan yang berbau tidak sedap karena lupa.

وقال جمع: لم يكره بل يسن إن تغير الفم بنحو نوم.

Sebagian ulama berpendapat: Tidak dimakruhkan, bahkan disunnahkan jika bau mulut berubah karena tidur atau sejenisnya.

ومما يتأكد للصائم: كف اللسان عن كل محرم ككذب وغيبة

Di antara hal yang sangat ditekankan bagi orang yang berpuasa adalah menjaga lisan dari segala bentuk kemaksiatan yang diharamkan, seperti berdusta dan menggunjing (ghibah),

وبرمضان إكثار صدقة وتلاوة,

dan di bulan Ramadan ditekankan memperbanyak sedekah serta membaca Al-Qur'an,

ومشاتمة لأنه محبط للأجر كما صرحوا به ودلت عليه الأخبار الصحيحة ونص عليه الشافعي والأصحاب وأقرهم في المجموع وبه يرد بحث الأذرعي حصوله وعليه إثم معصيته.

dan saling mencaci-maki, karena hal itu menghapuskan pahala puasa sebagaimana yang dinyatakan secara jelas oleh para ulama dan ditunjukkan oleh riwayat-riwayat yang sahih serta ditegaskan oleh Imam Asy-Syafi'i dan para ashab (pengikut mazhab Syafi'i) yang disetujui oleh Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu'. Dengan ini, gugurlah pendapat Al-Adzra'i yang menyatakan bahwa pahala puasa tetap diperoleh namun ia berdosa atas maksiatnya.

وقال بعضهم: يبطل أصل صومه وهو قياس مذهب أحمد في الصلاة في المغصوب.

Sebagian ulama berkata: Batal hukum asal puasanya, dan ini diqiyaskan dengan mazhab Imam Ahmad mengenai shalat di tempat hasil rampasan (ghashab).

ولو شتمه أحد فليقل ولو في نفل إني صائم مرتين أو ثلاثا في نفسه تذكيرا لها وبلسانه: حيث لم يظن رياء فإن اقتصر على أحدهما: فالأولى بلسانه.

Jika seseorang mencacinya, hendaklah ia mengucapkan—walaupun dalam puasa sunnah—'Sesungguhnya aku sedang berpuasa' sebanyak dua atau tiga kali di dalam hatinya untuk mengingatkan dirinya sendiri, dan dengan lisannya sekiranya tidak dikhawatirkan timbul risia. Jika ia hanya membatasi pada salah satunya, maka yang lebih utama adalah dengan lisannya.

وسن مع التأكيد برمضان وعشره الأخير آكد إكثار صدقة وتوسعة على عيال وإحسان على الأقارب والجيران للاتباع وأن يفطر الصائمين أي يعشيهم إن قدر وإلا فعلى نحو شربة وإكثار تلاوة للقرآن في غير نحو الحش ولو نحو طريق وأفضل الأوقات للقراءة من النهار: بعد الصبح ومن الليل: في السحر.

Disunnahkan dengan sangat ditekankan pada bulan Ramadan—dan pada sepuluh hari terakhirnya lebih ditekankan lagi—memperbanyak sedekah, melapangkan nafkah keluarga, dan berbuat baik kepada kerabat serta tetangga demi mengikut sunnah Nabi (ittiba'); memberi makan berbuka bagi orang-orang yang berpuasa, yaitu memberi makan malam kepada mereka jika mampu, atau jika tidak mampu maka cukup dengan seteguk air; memperbanyak membaca Al-Qur'an di tempat yang bukan seperti WC dan tidak di tempat umum seperti jalanan; serta waktu paling utama untuk membaca Al-Qur'an pada siang hari adalah setelah subuh, dan pada malam hari adalah di waktu sahur.

فبين العشاءين وقراءة الليل أولى وينبغي أن يكون شأن القارئ: التدبر.

Lalu waktu di antara Maghrib dan Isya, dan membaca pada malam hari secara umum lebih utama. Hendaknya sikap seorang pembaca Al-Qur'an adalah merenungkan maknanya (tadabbur).

قال أبو الليث في البستان: ينبغي للقارئ أن يختم القرآن في السنة مرتين إن لم يقدر على الزيادة.

Abu Laits berkata dalam kitab Al-Bustan: Hendaknya seorang pembaca mengkhatamkan Al-Qur'an dalam setahun dua kali jika ia tidak mampu menambahnya.

وقال أبو حنيفة: من قرأ القرآن في كل سنة مرتين: فقد أدى حقه.

Abu Hanifah berkata: Barangsiapa membaca (mengkhatamkan) Al-Qur'an dalam setiap tahun dua kali, maka sungguh ia telah menunaikan haknya.

وقال أحمد: يكره تأخير ختمة أكثر من أربعين يوما بلا عذر,

Ahmad berkata: Dimakruhkan menunda khatam Al-Qur'an lebih dari empat puluh hari tanpa adanya uzur,

واعتكاف سيما عشر آخره.

dan beriktikaf, khususnya pada sepuluh hari terakhirnya.

لحديث ابن عمر١.

Berdasarkan hadis Ibnu Umar (1).

وإكثار عبادة واعتكاف للاتباع سيما بتشديد الياء وقد يخفف والأفصح جر ما بعدها وتقديم لا عليها.

Dan memperbanyak ibadah serta beriktikaf karena mengikut sunnah Nabi (ittiba'), khususnya (kata 'siyyama' dibaca dengan tasydid pada huruf ya', dan terkadang dibaca ringan, dan yang paling fasih adalah mengkasrahkan kata setelahnya serta mendahulukan 'la' di depannya).

وما زائدة وهي دالة على أن ما بعدها أولى بالحكم مما قبلها.

Dan kata 'ما' adalah tambahan (zā'idah), yang menunjukkan bahwa apa yang ada setelahnya lebih utama terhadap hukum daripada apa yang ada sebelumnya.

عشر آخره فيتأكد له إكثار الثلاثة المذكورة للاتباع.

Sepuluh hari terakhirnya, maka ditekankan baginya untuk memperbanyak tiga hal yang telah disebutkan demi mengikuti sunnah (ittiba').

ويسن أن يمكث معتكفا إلى صلاة العيد وأن يعتكف قبل دخول العشر ويتأكد إكثار العبادات المذكورة فيه رجاء مصادفة ليلة القدر أي الحكم والفصل٢ أو الشرف والعمل فيها خير من العمل في ألف شهر ليس فيها ليلة القدر وهي منحصرة عندنا فيه فأرجاها: أو تارة وأرجى أوتاره عند الشافعي: ليلة الحادي أو الثالث والعشرين واختار النووي وغيره انتقالها.

Disunnahkan untuk tetap beriktikaf hingga shalat Id dan beriktikaf sebelum masuknya sepuluh hari terakhir, serta ditekankan memperbanyak ibadah-ibadah yang disebutkan di dalamnya dengan harapan mendapati Lailatul Qadar, yaitu malam penetapan hukum dan keputusan, atau malam kemuliaan; dan beramal di dalamnya lebih baik daripada beramal selama seribu bulan yang tidak ada Lailatul Qadar di dalamnya. Lailatul Qadar menurut kami terbatas pada sepuluh hari terakhir tersebut, dan yang paling diharapkan dari malam-malam ganjilnya menurut Imam Asy-Syafi'i adalah malam ke-21 atau ke-23, sedangkan An-Nawawi dan yang lainnya memilih pendapat bahwa Lailatul Qadar itu berpindah-pindah.

وهي أفضل ليالي السنة وصح [البخاري رقم: ٢٠١٤, مسلم رقم: ٧٦٠] : "من قام ليلة القدر إيمانا" أي تصديقا بأنها حق وطاعة واحتسابا أي طلبا لرضا الله تعالى وثوابه غفر له ما تقدم من ذنبه وفي رواية: "وما تأخر".

Ia adalah malam paling utama dalam setahun. Dan telah shahih [Al-Bukhari No: 2014, Muslim No: 760]: "Barangsiapa mendirikan shalat pada Lailatul Qadar karena iman" yaitu membenarkan bahwa itu adalah kebenaran dan ketaatan, "dan ihtisab" yaitu mengharapkan keridhaan Allah Ta'ala dan pahala-Nya, "maka diampuni baginya dosa-dosanya yang telah lalu." Dan dalam satu riwayat: "dan yang akan datang".

وروى البيهقي خبر: "من صلى المغرب والعشاء في جماعة حتى

Diriwayatkan juga oleh Al-Baihaqi hadits: "Barangsiapa shalat Maghrib dan Isya secara berjamaah hingga…

٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠

……………………………..

ينقضي شهر رمضان: فقد أخذ من ليلة القدر بحظ وافر" [الدر المنثور تفسير سورة القدر] .

…berakhir bulan Ramadan, maka sungguh ia telah mengambil bagian yang melimpah dari Lailatul Qadar." [Ad-Durr Al-Mantsur, Tafsir Surah Al-Qadr].

وروى أيضا: "من شهد العشاء الأخيرة في جماعة من رمضان فقد أدرك ليلة القدر". [الدر المنثور تفسير سورة القدر] .

Diriwayatkan pula: "Barangsiapa menghadiri shalat Isya terakhir secara berjamaah di bulan Ramadan, maka ia telah mendapati Lailatul Qadar." [Ad-Durr Al-Mantsur, Tafsir Surah Al-Qadr].

وشذ من زعم أنها ليلة النصف من شعبان.

Dan menyimpang pendapat orang yang mengklaim bahwa Lailatul Qadar adalah malam pertengahan (Nisfu) Sya'ban.

تتمة [في بيان حكم الاعتكاف] يسن اعتكاف كل وقت وهو لبث فوق قدر طمأنينة الصلاة ولو مترددا في مسجد أو رحبته التي لم يتيقن حدوثها بعده وأنها غير مسجد بنية اعتكاف.

Pelengkap [Mengenai penjelasan hukum iktikaf]: Disunnahkan beriktikaf di setiap waktu, yaitu berdiam diri lebih dari durasi thuma'ninah shalat meskipun bolak-balik di dalam masjid atau halaman masjid yang tidak diyakini keberadaannya setelah masjid tersebut dan bahwasanya halaman itu bukan masjid, dengan niat iktikaf.

ولو خرج ولو لخلاء من لم يقدر الاعتكاف المندوب أو المنذور بمدة بلا عزم عود جدد النية وجوبا إن أراده وكذا إذا عاد بعد الخروج لغير نحو خلاء من قيده بها كيوم فلو خرج عازما لعود فعاد لم يجب تجديد النية.

Apabila orang yang tidak membatasi iktikaf sunnah atau iktikaf nadzarnya dengan jangka waktu tertentu keluar—meskipun untuk buang hajat—tanpa niat/kemauan untuk kembali, maka ia wajib memperbarui niat jika ingin melanjutkannya. Begitu pula jika orang yang membatasinya dengan jangka waktu (seperti sehari) kembali setelah keluar bukan untuk buang hajat. Maka jika ia keluar dengan niat untuk kembali lalu ia kembali, tidak wajib memperbarui niat.

ولا يضر الخروج في اعتكاف نوى تتابعه كأن نوى اعتكاف أسبوع أو شهر متتابع وخرج لقضاء حاجة ولو بلا شدتها وغسل جنابة وإزالة نجس وإن أمكنهما في المسجد لأنه أصون لمروءته ولحرمة المسجد أكل طعام لأنه يستحيا منه في المسجد وله الوضوء بعد قضاء الحاجة تبعا له لا الخروج له قصدا ولا لغسل مسنون ولا يضر بعد موضعها إلا أن يكون لذلك موضع أقرب منه أو يفحش البعد

Dan tidak merusak iktikaf keluar pada iktikaf yang diniatkan secara berturut-turut, seperti berniat iktikaf seminggu atau sebulan berturut-turut, lalu keluar untuk buang hajat meskipun tidak mendesak, mandi janabah, dan menghilangkan najis meskipun keduanya memungkinkan dilakukan di masjid, karena hal itu lebih menjaga kehormatan dirinya dan kesucian masjid, serta makan makanan karena hal itu memalukan dilakukan di masjid. Dan ia boleh berwudhu setelah buang hajat sebagai pengikutnya, bukan sengaja keluar khusus untuk wudhu ataupun mandi sunnah. Dan tidak merusak iktikaf jauhnya tempat buang hajat kecuali jika ada tempat yang lebih dekat darinya atau jaraknya sangat jauh…

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

……………………………..

فيضر مالم يكن الأقرب غير لائق به ولا يكلف المشي على غير سجيته.

…maka merusak iktikaf, selama tempat yang lebih dekat tersebut tidaklah tidak layak baginya. Dan ia tidak dituntut berjalan di luar kebiasaannya.

وله صلاة على جنازة إن لم ينتظر ويخرج جوازا في اعتكاف متتابع لما استثناه من غرض دنيوي: كلقاء أمير أو أخروي كوضوء وغسل مسنون وعيادة مريض وتعزية مصاب وزيارة قادم من سفر.

Dan ia boleh menshalati jenazah jika tidak menunggu, serta boleh keluar dalam iktikaf yang berturut-turut untuk hal yang telah ia kecualikan (saat berniat), baik berupa tujuan duniawi seperti menemui penguasa/pejabat, maupun tujuan ukhrawi seperti wudhu, mandi sunnah, menjenguk orang sakit, bertakziah kepada orang yang tertimpa musibah, dan mengunjungi orang yang baru datang dari bepergian.

ويبطل بجماع وإن استثناه أو كان في طريق قضاء الحاجة وإنزال مني بمباشرة بشهوة كقبلة.

Dan iktikaf batal karena jima' (hubungan suami istri) meskipun telah dikecualikan atau terjadi di jalan menuju buang hajat, serta karena keluar mani sebab bersentuhan dengan syahwat seperti mencium.

وللمعتكف الخروج من التطوع لنحو عيادة مريض.

Orang yang beriktikaf sunnah boleh keluar dari iktikafnya untuk hal-hal seperti menjenguk orang sakit.

وهل هو أفضل أو تركه أو سواء؟ وجوه والأوجه كما بحث البلقيني أن الخروج لعيادة نحو رحم وجار وصديق أفضل واختار ابن الصلاح الترك لأنه ص كان يعتكف ولم يخرج لذلك.

Apakah keluar tersebut lebih utama, atau meninggalkannya (tetap beriktikaf) yang lebih utama, ataukah keduanya sama saja? Ada beberapa pendapat, dan yang paling unggul sebagaimana dibahas oleh Al-Bulqini adalah bahwa keluar untuk menjenguk seperti kerabat, tetangga, dan sahabat adalah lebih utama. Namun Ibn Ash-Shalah memilih untuk meninggalkannya (tetap di masjid), karena Nabi saw. dahulu beriktikaf dan tidak keluar untuk hal tersebut.

مهمة قال في الأنوار: يبطل ثواب الاعتكاف بشتم أو غيبة أو أكل حرام.

Catatan penting: Penulis kitab al-Anwar berkata: Pahala itikaf menjadi batal karena mencaci, menggunjing (ghibah), atau memakan makanan yang haram.