بيان دقائق الآداب الباطنة في الزكاة
بيان دقائق الآداب الباطنة في الزكاة
Penjelasan Rincian Kehalusan Adab-Adab Batiniah dalam Zakat
اعلم أن على مريد طريق الآخرة بزكاته وظائف الوظيفة الأولى فهم وجوب الزكاة ومعناها ووجه الامتحان فيها وأنها لم جعلت من مباني الإسلام مع أنها تصرف مالي وليست من عبادة الأبدان وفيه ثلاث معان الْأَوَّلُ أَنَّ التَّلَفُّظَ بِكَلِمَتَيِ الشَّهَادَةِ الْتِزَامٌ لِلتَّوْحِيدِ وَشَهَادَةٌ بِإِفْرَادِ الْمَعْبُودِ وَشَرْطُ تَمَامِ الْوَفَاءِ بِهِ أَنْ لَا يُبْقَى لِلْمُوَحِّدِ مَحْبُوبٌ سِوَى الْوَاحِدِ الْفَرْدِ فَإِنَّ الْمَحَبَّةَ لَا تَقْبَلُ الشَّرِكَةَ وَالتَّوْحِيدُ بِاللِّسَانِ قَلِيلُ الْجَدْوَى وَإِنَّمَا يُمْتَحَنُ بِهِ دَرَجَةُ المحب بِمُفَارَقَةِ الْمَحْبُوبِ وَالْأَمْوَالُ مَحْبُوبَةٌ عِنْدَ الْخَلَائِقِ لِأَنَّهَا آلة تمتعهم بالدنيا وبسببها يأنسون بهذا العالم وينفرون عَنِ الْمَوْتِ مَعَ أَنَّ فِيهِ لِقَاءَ الْمَحْبُوبِ فَامْتُحِنُوا بِتَصْدِيقِ دَعْوَاهُمْ فِي الْمَحْبُوبِ وَاسْتَنْزَلُوا عَنِ الْمَالِ الَّذِي هُوَ مَرْمُوقُهُمْ وَمَعْشُوقُهُمْ وَلِذَلِكَ قَالَ
Ketahuilah bahwa bagi pencari jalan akhirat terdapat beberapa kewajiban batin (tugas) dalam zakatnya. Tugas pertama: memahami kewajiban zakat, maknanya, bentuk ujian di dalamnya, serta mengapa zakat dijadikan sebagai salah satu rukun Islam padahal zakat merupakan pengeluaran harta dan bukan ibadah badan. Dalam hal ini terdapat tiga makna: Pertama, bahwa mengucapkan dua kalimat syahadat merupakan komitmen terhadap tauhid dan persaksian atas keesaan Dzat yang disembah. Syarat kesempurnaan pemenuhannya adalah tidak ada lagi bagi seorang yang bertauhid (muwahhid) kekasih selain Dzat Yang Maha Esa lagi Maha Tunggal. Sebab, cinta tidak menerima persekutuan, dan tauhid dengan lisan semata sedikit manfaatnya. Derajat seorang pencinta hanyalah diuji dengan berpisah dari apa yang dicintainya. Harta benda adalah sesuatu yang dicintai oleh para makhluk karena harta merupakan alat untuk menikmati dunia, dan dengannya mereka merasa nyaman dengan alam ini serta enggan menghadapi kematian, padahal pada kematian itu terdapat pertemuan dengan Sang Kekasih. Maka mereka diuji untuk membuktikan kebenaran pengakuan cinta mereka kepada Sang Kekasih, dan diminta melepaskan harta yang menjadi pandangan dan pujaan mereka. Oleh karena itulah…
﴿اللَّهُ تَعَالَى﴾ إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أنفسهم وأموالهم بأن لهم الجنة وَذَلِكَ بِالْجِهَادِ وَهُوَ مُسَامَحَةٌ بِالْمُهْجَةِ شَوْقًا إِلَى لِقَاءِ اللَّهِ ﷿ وَالْمُسَامَحَةُ بِالْمَالِ أَهْوَنُ
Allah Ta'ala berfirman: 'Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.' Hal itu dilakukan melalui jihad yang merupakan kerelaan mengorbankan jiwa karena rindu untuk bertemu dengan Allah Azza wa Jalla, sedangkan kerelaan mengorbankan harta adalah hal yang lebih ringan.
وَلَمَّا فُهِمَ هَذَا الْمَعْنَى فِي بَذْلِ الْأَمْوَالِ انْقَسَمَ النَّاسُ إِلَى ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ قِسْمٌ صَدَقُوا التوحيد ووفوا بعهدهم وَنَزَلُوا عَنْ جَمِيعِ أَمْوَالِهِمْ فَلَمْ يَدَّخِرُوا دِينَارًا ولا درهماً فأبوا أن يتعرضوا لوجوب الزكاة عليهم حتى قيل لبعضهم كم يجب من الزكاة في مائتي درهم فقال أما على العوام بحكم الشرع فخمسة دراهم وأما نحن فيجب علينا بذل الجميع ولهذا تصدق أبو بكر ﵁ بجميع ماله وعمر ﵁ بشطر ماله فقال ﷺ ما أبقيت لأهلك فقال مثله وقال لأبي بكر ﵁ ما أبقيت لأهلك قال الله ورسوله فقال ﷺ بينكما ما بين كلمتيكما فالصديق وفي بتمام الصدق فلم يمسك سوى المحبوب عنده وهو الله ورسوله
Ketika makna ini dipahami dalam hal menginfakkan harta, manusia terbagi menjadi tiga tingkatan: Tingkatan pertama, orang-orang yang membenarkan tauhid secara jujur, memenuhi janji mereka, dan melepaskan seluruh harta benda mereka sehingga tidak menyimpan satu dinar maupun satu dirham pun. Mereka enggan untuk terkena kewajiban zakat (karena tidak menyimpan nisab), hingga dikatakan kepada sebagian mereka: 'Berapakah zakat yang wajib dikeluarkan dari dua ratus dirham?' Ia menjawab: 'Adapun bagi orang awam berdasarkan hukum syariat adalah lima dirham, namun bagi kami, wajib menginfakkan semuanya.' Oleh karena itulah Abu Bakar r.a. bersedekah dengan seluruh hartanya dan Umar r.a. dengan separuh hartanya. Maka Rasulullah s.a.w. bersabda (kepada Umar): 'Apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?' Umar menjawab: 'Sejumlah yang sama.' Dan beliau bersabda kepada Abu Bakar r.a.: 'Apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?' Abu Bakar menjawab: 'Allah dan Rasul-Nya.' Maka Rasulullah s.a.w. bersabda: 'Perbedaan antara kalian berdua adalah sebagaimana perbedaan antara kedua ucapan kalian.' Maka As-Siddiq telah memenuhi kebenaran tauhid secara sempurna; ia tidak menyisakan kecuali apa yang dicintainya, yaitu Allah dan Rasul-Nya.
القسم الثاني درجتهم دون درجة هذا وَهُمُ الْمُمْسِكُونَ أَمْوَالَهُمُ الْمُرَاقِبُونَ لِمَوَاقِيتِ الْحَاجَاتِ وَمَوَاسِمِ الْخَيْرَاتِ فَيَكُونُ قَصْدُهُمْ فِي الِادِّخَارِ الْإِنْفَاقَ عَلَى قَدْرِ الْحَاجَةِ دُونَ التَّنَعُّمِ وَصَرْفَ الْفَاضِلِ عَنِ الْحَاجَةِ إِلَى وُجُوهِ الْبِرِّ مَهْمَا ظَهَرَ وُجُوهُهَا وَهَؤُلَاءِ لَا يَقْتَصِرُونَ عَلَى مِقْدَارِ الزَّكَاةِ
Tingkatan kedua, derajat mereka di bawah derajat tingkatan pertama, yaitu orang-orang yang menahan harta mereka namun senantiasa mengamati waktu-waktu timbulnya kebutuhan dan musim-musim kebaikan. Tujuan mereka dalam menabung adalah menginfakkannya sesuai kadar kebutuhan tanpa bermewah-mewah, serta menyalurkan kelebihan dari kebutuhan tersebut ke dalam berbagai jalan kebajikan kapan saja tampak jalannya. Mereka ini tidak membatasi diri hanya pada kadar zakat saja.
وَقَدْ ذَهَبَ جَمَاعَةٌ مِنَ التَّابِعِينَ إِلَى أَنَّ فِي الْمَالِ حُقُوقًا سِوَى الزَّكَاةِ كالنخعي وَالشَّعْبِيِّ وعطاء ومجاهد قَالَ الشَّعْبِيُّ بَعْدَ أَنْ قِيلَ لَهُ هَلْ فِي الْمَالِ حَقٌّ سِوَى الزَّكَاةِ قَالَ نَعَمْ أَمَا سَمِعْتَ قَوْلَهُ ﷿ وَآتَى المال على حبه ذوي القربى الْآيَةَ وَاسْتَدَلُّوا بِقَوْلِهِ ﷿ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ ينفقون وبقوله تعالى وأنفقوا مما رزقناكم وزعموا أن ذلك غير منسوخ بآية الزكاة بل هو دَاخِلٌ فِي حَقِّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ وَمَعْنَاهُ أَنَّهُ يَجِبُ عَلَى الْمُوسِرِ مَهْمَا وَجَدَ مُحْتَاجًا أن يزيل حاجته فضلاً عن مال الزكاة والذي يصح في الفقه من هذا الباب أنه مهما أرهقته حاجته كانت إزالتها فرض كفاية إذ لا يجوز تضييع مسلم ولكن يحتمل أن يقال ليس على الموسر إلا تسليم ما يزيل الحاجة فرضا ولا يلزمه بذله بعد أن أسقط الزكاة عن نفسه ويحتمل أن يقال يلزمه بذله في الحال ولا يجوز له الاقتراض أي لا يجوز له تكليف الفقير قبول القرض وهذا مختلف فيه والاقتراض نزول إلى الدرجة الأخيرة من درجات العوام وهي درجة القسم الثالث الذين يقتصرون على أداء الواجب فلا يزيدون عليه ولا ينقصون عنه وَهِيَ أَقَلُّ الرُّتَبِ وَقَدِ اقْتَصَرَ جَمِيعُ الْعَوَامِّ عَلَيْهِ لِبُخْلِهِمْ بِالْمَالِ وَمَيْلِهِمْ إِلَيْهِ وَضَعْفِ حُبِّهِمْ للآخرة قال الله تعالى إن يسألكموها فيحفكم تبخلوا يحفكم أي يستقص عليكم فكم بين عبد اشترى منه ماله ونفسه بأن له الجنة وبين عبد لا يستقصي عليه لبخله فهذا أحد معاني أمر الله سبحانه عباده ببذل الأموال
Sungguh, sekelompok dari kalangan Tabiin berpendapat bahwa pada harta terdapat hak-hak lain selain zakat, seperti An-Nakha'i, Asy-Sya'bi, 'Atha', dan Mujahid. Asy-Sya'bi berkata ketika ditanyakan kepadanya: 'Apakah pada harta ada hak selain zakat?' Ia menjawab: 'Ya, tidakkah engkau mendengar firman Allah Azza wa Jalla: "Dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat…" (hingga akhir ayat)?' Mereka juga berdalil dengan firman-Nya Azza wa Jalla: 'Dan dari sebagian apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka, mereka menginfakkan,' serta firman-Nya Ta'ala: 'Dan infakkanlah dari sebagian apa yang telah Kami rezekikan kepadamu.' Mereka menganggap bahwa hal itu tidak dihapus (dinasakh) oleh ayat zakat, melainkan termasuk dalam hak seorang muslim atas muslim lainnya. Maknanya adalah bahwa wajib bagi orang yang berkecukupan, kapan saja menemukan orang yang membutuhkan, untuk menghilangkan kebutuhannya melebihi dari sekadar harta zakat. Adapun yang shahih dalam fiqih mengenai bab ini adalah bahwa kapan saja kebutuhan mendesak seseorang, maka menghilangkan kebutuhan tersebut adalah fardhu kifayah, sebab tidak boleh menelantarkan seorang muslim. Namun, ada kemungkinan dikatakan bahwa tidak ada kewajiban bagi orang yang berkecukupan selain menyerahkan apa yang menghilangkan kebutuhan itu secara fardhu, dan tidak wajib baginya memberikan melebihi itu setelah ia menunaikan zakatnya. Ada pula kemungkinan dikatakan bahwa ia wajib memberikannya saat itu juga dan tidak boleh memberikan pinjaman—artinya tidak boleh membebani si miskin untuk menerima pinjaman—dan hal ini diperselisihkan. Memberikan pinjaman merupakan penurunan ke tingkat paling bawah dari tingkatan orang awam, yaitu tingkatan kelompok ketiga: orang-orang yang membatasi diri hanya pada menunaikan kewajiban, tidak menambah darinya dan tidak mengurangi darinya. Ini adalah tingkatan paling rendah, dan seluruh orang awam membatasi diri padanya karena kebaktian (kebakhilan) mereka terhadap harta, kecenderungan mereka kepadanya, serta lemahnya kecintaan mereka kepada akhirat. Allah Ta'ala berfirman: 'Jika Dia meminta harta itu kepadamu lalu mendesakmu (menuntut seluruhnya), niscaya kamu akan kikir.' Maksudnya, menuntut seluruhnya dari kalian. Betapa jauh perbedaan antara hamba yang dibeli harta dan jiwanya dengan balasan surga, dan hamba yang tidak dituntut secara mendalam karena kekikirannya. Maka inilah salah satu makna perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada hamba-hamba-Nya untuk menginfakkan harta.
الْمَعْنَى الثَّانِي التَّطْهِيرُ مِنْ صِفَةِ الْبُخْلِ فَإِنَّهُ من المهلكات قال ﷺ ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ شُحٌّ مُطَاعٌ وَهَوًى مُتَّبَعٌ وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ وَقَالَ تَعَالَى وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ المفلحون وسيأتي في ربع المهلكات وجه كونه مهلكاً وكيفية التقصي منه وَإِنَّمَا تَزُولُ صِفَةُ الْبُخْلِ بِأَنْ تَتَعَوَّدَ بَذْلَ الْمَالِ فَحُبُّ الشَّيْءِ لَا يَنْقَطِعُ إِلَّا بِقَهْرِ النفس على مفارقته حتى يصير ذلك اعتياداً فالزكاة بِهَذَا الْمَعْنَى طُهْرَةٌ أَيْ تُطَهِّرُ صَاحِبَهَا عَنْ خَبَثِ الْبُخْلِ الْمُهْلِكِ وَإِنَّمَا طَهَارَتُهُ بِقَدْرِ بَذْلِهِ وَبِقَدْرِ فَرَحِهِ بِإِخْرَاجِهِ وَاسْتِبْشَارِهِ بِصَرْفِهِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى
Makna Kedua: Pembersihan dari sifat kikir (kebakhilan), sebab kikir termasuk perkara-perkara yang membinasakan (al-muhlikat). Rasulullah s.a.w. bersabda: 'Tiga hal yang membinasakan: kikir yang dituruti, hawa nafsu yang diikuti, dan rasa kagum seseorang terhadap dirinya sendiri.' Allah Ta'ala berfirman: 'Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.' Nanti pada Rubu' Al-Muhlikat (Bagian Perkara-perkara yang Membinasakan) akan dijelaskan alasan mengapa kikir itu membinasakan dan cara melepaskan diri darinya. Sifat kikir hanyalah akan hilang dengan membiasakan diri menginfakkan harta, sebab kecintaan terhadap sesuatu tidak akan terputus melainkan dengan menundukkan nafsu agar berpisah darinya hingga hal itu menjadi kebiasaan. Maka zakat dalam makna ini adalah penyucian, yaitu menyucikan pelakunya dari kotoran kikir yang membinasakan. Kesuciannya itu terwujud sesuai kadar pengeluarannya, kadar kegembiraannya saat mengeluarkannya, serta kebahagiaannya dalam menyalurkannya kepada Allah Ta'ala.
الْمَعْنَى الثَّالِثُ شُكْرُ النِّعْمَةِ فَإِنَّ لِلَّهِ ﷿ عَلَى عَبْدِهِ نِعْمَةً فِي نَفْسِهِ وفي ماله فَالْعِبَادَاتُ الْبَدَنِيَّةُ شُكْرٌ لِنِعْمَةِ الْبَدَنِ وَالْمَالِيَّةُ شُكْرٌ لِنِعْمَةِ الْمَالِ وَمَا أَخَسَّ مَنْ يَنْظُرُ إِلَى الْفَقِيرِ وَقَدْ ضُيِّقَ عَلَيْهِ الرِّزْقُ وَأُحْوِجَ إِلَيْهِ ثُمَّ لَا تَسْمَحُ نَفْسُهُ بِأَنْ يُؤَدِّيَ شُكْرَ اللَّهِ تَعَالَى عَلَى إِغْنَائِهِ عَنِ السُّؤَالِ وَإِحْوَاجِ غَيْرِهِ إِلَيْهِ بِرُبْعِ الْعُشْرِ أَوِ الْعُشْرِ مِنْ ماله
Makna Ketiga: Menunaikan syukur atas nikmat. Sebab Allah Azza wa Jalla memiliki nikmat atas hamba-Nya pada dirinya dan pada hartanya. Ibadah-ibadah badan merupakan rasa syukur atas nikmat badan, sedangkan ibadah harta merupakan rasa syukur atas nikmat harta. Betapa hina orang yang melihat kepada orang fakir yang disempitkan rezekinya dan dibuat membutuhkan kepadanya, kemudian hatinya tidak rela untuk menunaikan rasa syukur kepada Allah Ta'ala atas karunia-Nya yang membuatnya tidak perlu meminta-minta dan membuat orang lain membutuhkan dirinya, walau hanya dengan seperempat puluh (2,5%) atau seperpuluh (10%) dari hartanya.
الوظيفة الثانية في وقت الأداء ومن آداب ذوي الدين التَّعْجِيلُ عَنْ وَقْتِ الْوُجُوبِ إِظْهَارًا لِلرَّغْبَةِ فِي الِامْتِثَالِ بِإِيصَالِ السُّرُورِ إِلَى قُلُوبِ الْفُقَرَاءِ وَمُبَادَرَةً لعوائق الزمان أن تعوقه عَنِ الْخَيْرَاتِ وَعِلْمًا بِأَنَّ فِي التَّأْخِيرِ آفَاتٌ مَعَ مَا يَتَعَرَّضُ الْعَبْدُ لَهُ مِنَ الْعِصْيَانِ لَوْ أَخَّرَ عَنْ وَقْتِ الْوُجُوبِ
Tugas kedua: Mengenai waktu penunaian. Di antara adab orang-orang yang taat beragama adalah menyegerakan (penunaian zakat) sebelum waktu wajibnya tiba, sebagai wujud menampakkan kerinduan untuk menaati perintah dengan menyampaikan kegembiraan ke dalam hati orang-orang fakir, serta menyegerakan sebelum halangan-halangan zaman menghalanginya dari kebaikan, dan karena menyadari bahwa dalam penundaan terdapat bahaya-bahaya, di samping ancaman kemaksiatan yang dihadapi hamba jika ia menundanya dari waktu wajibnya.
وَمَهْمَا ظَهَرَتْ دَاعِيَةُ الْخَيْرِ مِنَ الْبَاطِنِ فَيَنْبَغِي أَنْ يَغْتَنِمَ فإن ذلك لمة الملك وَقَلْبُ الْمُؤْمِنِ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ فما أسرع تقلبه والشيطان يعد الفقر ويأمر بالفحشاء وَالْمُنْكَرُ وَلَهُ لِمَّةٌ عَقِيبَ لِمَّةِ الْمَلَكِ فَلْيَغْتَنِمِ الفرصة فيه وليعين لزكاتها إن كان يؤديها جميعاً شهراً معلوماً وليجتهد أن يكون من أفضل الأوقات ليكون ذلك سبباً لنماء قريته وتضاعف زكاته وذلك كشهر المحرم فإنه أول السنة وهو من الأشهر الحرم أو رمضان فقد كان ﷺ أجود الخلق وكان في رمضان كالريح المرسلة لا يمسك فيه شيئاً ولرمضان فضيلة ليلة القدر وأنه أنزل فيه القرآن
Kapan saja timbul dorongan kebaikan dari dalam batin, hendaknya ia mempergunakannya dengan sebaik-baiknya, sebab hal itu adalah bisikan (keberkahan) dari malaikat, sedangkan hati orang mukmin berada di antara dua jemari dari jemari Ar-Rahman; betapa cepat ia berbolak-balik. Sementara setan menakut-nakuti dengan kemiskinan dan menyuruh melakukan perbuatan keji serta mungkar, dan setan memiliki bisikan setelah bisikan malaikat. Maka hendaknya ia memanfaatkan kesempatan itu, serta menentukan satu bulan tertentu untuk zakatnya jika ia menunaikannya secara keseluruhan sekaligus. Hendaknya ia berusaha agar waktu tersebut termasuk waktu yang paling utama, supaya hal itu menjadi sebab bertambahnya kebaikannya dan berlipat ganda zakatnya, seperti bulan Muharram karena ia adalah awal tahun dan termasuk bulan-bulan haram; atau bulan Ramadan, sebab Rasulullah s.a.w. adalah manusia paling dermawan dan beliau di bulan Ramadan seperti angin yang berembus kencang, tidak menahan sesuatu pun. Ramadan juga memiliki keutamaan Lailatul Qadar dan bahwasanya Al-Qur'an diturunkan di dalamnya.
وكان مجاهد يقول لا تقولوا رمضان فإنه اسم من أسماء الله تعالى ولكن قولوا شهر رمضان
Mujahid pernah berkata: 'Janganlah kalian mengucapkan "Ramadan" (saja), sebab ia adalah salah satu dari nama-nama Allah Ta'ala, melainkan ucapkanlah "bulan Ramadan".'
وذو الحجة أيضاً من الشهور الكثيرة الفضل فإنه شهر حرام وفيه الحج الأكبر وفيه الأيام المعلومات وهي العشر الأول والأيام المعدودات وهي أيام التشريق وأفضل أيام شهر رمضان العشر الأواخر وأفضل أيام ذي الحجة العشر الأول
Bulan Dzulhijjah juga termasuk bulan-bulan yang sangat banyak keutamaannya, karena merupakan bulan haram, di dalamnya terdapat ibadah haji teragung (al-hajj al-akbar), serta terdapat al-ayyâm al-ma'lûmât (hari-hari yang telah ditentukan) yaitu sepuluh hari pertama, dan al-ayyâm al-ma'dûdât (hari-hari yang terhitung) yaitu hari-hari Tasyrik. Adapun hari-hari paling utama dalam bulan Ramadan adalah sepuluh hari terakhir, sedangkan hari-hari paling utama dalam bulan Dzulhijjah adalah sepuluh hari pertama.
الوظيفة الثَّالِثَةُ الْإِسْرَارُ فَإِنَّ ذَلِكَ أَبْعَدُ عَنِ الرِّيَاءِ والسمعة قَالَ ﷺ أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ جهد المقل إلى فقير في سر وقال بعض العلماء ثلاث من كنوز البر منها إخفاء الصدقة وقد روي أيضاً مسنداً
Tugas ketiga: Merahasiakan (pengeluaran zakat), sebab hal itu lebih jauh dari riya' (pamer) dan sum'ah (mencari popularitas). Rasulullah s.a.w. bersabda: 'Sedekah yang paling utama adalah kesungguhan (kemampuan) orang yang kekurangan kepada orang fakir secara rahasia.' Sebagian ulama berkata: 'Tiga hal termasuk simpanan kebaikan, di antaranya adalah menyembunyikan sedekah.' Hal ini juga diriwayatkan secara musnad (bersambung sanadnya kepada Nabi).
وقال ﷺ إن العبد ليعمل عملاً في السر فيكتبه الله له سراً فإن أظهره نقل من السر وكتب في العلانية فإن تحدث به نقل من السر والعلانية وكتب رياء وفي الحديث المشهور سبعة يظلهم الله يوم لا ظل إلا ظله أحدهم رجل تصدق بصدقة فلم تعلم شماله بما أعطت يمينه وفي الخبر صدقة السر تطفىء غضب الرب وقال تَعَالَى وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لكم وفائدة الإخفاء الخلاص من آفات الرياء والسمعة فَقَدْ قَالَ ﷺ لَا يقبل الله من مسمع ولا مراء ولا منان والمتحدث بصدقته يطلب السمعة والمعطي في ملأ من الناس يبغي الرياء والإخفاء والسكوت هو المخلص منه وَقَدْ بَالَغَ فِي فَضْلِ الْإِخْفَاءِ جَمَاعَةٌ حَتَّى اجْتَهَدُوا أَنْ لَا يَعْرِفَ الْقَابِضُ الْمُعْطِي فَكَانَ بعضهم يلقيه في يد أعمى وبعضهم يلقيه في طريق الفقير وفي موضع جلوسه حيث يراه ولا يرى المعطي وبعضهم كان يصره في ثوب الفقير وهو نائم وبعضهم كان يُوصِلُ إِلَى يَدِ الْفَقِيرِ عَلَى يَدِ غَيْرِهِ بِحَيْثُ لَا يَعْرِفُ الْمُعْطِيَ وَكَانَ يَسْتَكْتِمُ الْمُتَوَسِّطَ شَأْنَهُ وَيُوصِيهِ بِأَنْ لَا يُفْشِيهِ كُلُّ ذَلِكَ توصلاً إلى إطفاء غضب الرب سبحانه واحترازاً من الرياء والسمعة
Dan Rasulullah s.a.w. bersabda: 'Sesungguhnya seorang hamba melakukan suatu amalan secara rahasia, lalu Allah mencatatnya baginya sebagai rahasia. Jika ia menampakkannya, amalan itu dipindahkan dari amalan rahasia dan dicatat sebagai amalan terang-terangan. Jika ia menceritakannya, amalan itu dipindahkan dari amalan rahasia dan terang-terangan, lalu dicatat sebagai riya'.' Dalam hadis yang masyhur disebutkan: 'Tujuh golongan yang dinaungi Allah pada hari tiada naungan melainkan naungan-Nya, salah seorang di antara mereka adalah seseorang yang bersedekah dengan suatu sedekah lalu tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya.' Dalam sebuah riwayat: 'Sedekah secara rahasia memadamkan kemurkaan Tuhan.' Dan Allah Ta'ala berfirman: 'Dan jika kamu menyembunyikannya dan mengutakannya kepada orang-orang fakir, maka hal itu lebih baik bagimu.' Manfaat merahasiakan adalah selamat dari bahaya-bahaya riya' dan sum'ah. Rasulullah s.a.w. bersabda: 'Allah tidak menerima amalan dari orang yang mencari sum'ah, orang yang riya', dan orang yang menyebut-nyebut pemberian (mannan).' Orang yang menceritakan sedekahnya mencari sum'ah, sedang orang yang memberi di hadapan khalayak ramai menginginkan riya'; maka menyembunyikan dan berdiam diri adalah penyelamat darinya. Sungguh, sekelompok ulama sangat bersungguh-sungguh dalam keutamaan merahasiakan hingga mereka berupaya agar si penerima tidak mengenali si pemberi. Sebagian mereka meletakkannya di tangan orang buta, sebagian lagi meletakkannya di jalan orang fakir atau di tempat duduknya sekiranya si fakir melihatnya tanpa melihat pemberinya, sebagian lagi mengikatkannya pada pakaian orang fakir ketika ia sedang tidur, dan sebagian lagi menyampaikannya ke tangan orang fakir melalui perantara orang lain sekira si fakir tidak mengenal pemberinya serta meminta perantara itu merahasiakannya dan berpesan agar tidak menyebarkannya. Semua itu dilakukan demi memadamkan kemurkaan Tuhan Subhanah serta menjaga diri dari riya' dan sum'ah.
ومهما لم يتمكن إلا بأن يعرفه شخص واحد فتسليمه إلى وكيل ليسلم إلى المسكين والمسكين لا يعرف أولى إذ في معرفة المسكين الرياء والمنة جميعاً وليس في معرفة المتوسط إلا الرياء ومهما كانت الشهرة مقصودة له
Kapan saja ia tidak mampu (merahasiakannya secara mutlak) melainkan harus diketahui oleh satu orang, maka menyerahkannya kepada seorang wakil untuk disampaikan kepada orang miskin—tanpa si miskin mengetahuinya—adalah lebih utama. Sebab, pada pengetahuan orang miskin terdapat potensi riya' sekaligus menyebut-nyebut pemberian (mann), sedangkan pada pengetahuan perantara hanya terdapat potensi riya' saja. Dan apabila kepopuleran (kesohoran) menjadi tujuannya…
حبط عمله لأن الزكاة إزالة للبخل وتضعيف لحب المال وحب الجاه أشد استيلاء على النفس من حب المال وكل واحد منهما مهلك في الآخرة ولكن صفة البخل تنقلب في القبر في حكم المثال عقرباً لادغاً وصفة الرياء تقلب في القبر أفعى من الأفاعي وهو مأمور بتضعيفها أو قتلهما لدفع أذاهما أو تخفيف أذاهما فمهما قصد الرياء والسمعة فكأنه جعل بعض أطراف العقرب مقوياً للحية فبقدر ما ضعف من العقرب زاد في قوة الحية ولو ترك الأمر كما كان لكان الأمر أهون عليه
…maka gugurlah amalannya. Karena zakat dimaksudkan untuk menghilangkan kikir dan melemahkan kecintaan pada harta, padahal kecintaan pada kedudukan (jah) lebih menguasai jiwa daripada kecintaan pada harta, dan masing-masing dari keduanya membinasakan di akhirat. Namun, sifat kikir akan berubah di dalam kubur—secara pemisalan—menjadi kalajengking yang menyengat, sedangkan sifat riya' berubah di dalam kubur menjadi ular berbisa dari jenis ular-ular besar. Manusia diperintahkan untuk melemahkan keduanya atau membunuh keduanya demi menolak bahayanya atau meringankan gangguannya. Maka kapan saja ia berniat riya' dan sum'ah, seolah-olah ia menjadikan sebagian anggota tubuh kalajengking sebagai penguat bagi ular; sejauh mana ia melemahkan kalajengking, sejauh itu pula ia menambah kekuatan ular. Seandainya ia membiarkan perkaranya sebagaimana adanya, tentulah perkaranya akan lebih ringan baginya.
وقوة هذه الصفات التي بها قوتها العمل بمقتضاها وضعفت هذه الصفات بمجاهدتها ومخالفتها والعمل بخلاف مقتضاها فأي فائدة في أن يخالف دواعي البخل ويجيب دواعي الرياء فيضعف الأدنى ويقوي الأقوى وستأتي أسرار هذه المعاني في ربع المهلكات
Kekuatan sifat-sifat ini—yang darinya ia memperoleh kekuatannya—berasal dari mengamalkan tuntutannya, sedangkan kelemahannya terjadi melalui perjuangan menundukkannya (mujahadah), menyelisihinya, dan beramal bertentangan dengan tuntutannya. Lantas, apa gunanya seseorang menyelisihi dorongan sifat kikir namun menuruti dorongan riya', sehingga ia melemahkan sifat yang lebih rendah (kikir) dan justru memperkuat sifat yang lebih dominan/berbahaya (riya')? Rahasia dari makna-makna ini akan dijelaskan kelak pada Seperempat Bagian yang Membinasakan (Rub'u al-Muhlikat).
الوظيفة الرَّابِعَةُ أَنْ يَظْهَرَ حَيْثُ يَعْلَمُ أَنَّ فِي إِظْهَارِهِ تَرْغِيبًا لِلنَّاسِ فِي الِاقْتِدَاءِ وَيَحْرُسُ سِرَّهُ من داعية الرياء بالطريق الذي سنذكره في معالجة الرياء في كتاب الرياء فقد قال الله ﷿ إن تبدوا الصدقات فنعما هي وَذَلِكَ حَيْثُ يَقْتَضِي الْحَالُ الْإِبْدَاءَ إِمَّا لِلِاقْتِدَاءِ وَإِمَّا لِأَنَّ السَّائِلَ إِنَّمَا سَأَلَ عَلَى مَلَأٍ مِنَ النَّاسِ فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَتْرُكَ التَّصَدُّقَ خِيفَةً مِنَ الرِّيَاءِ فِي الْإِظْهَارِ بَلْ يَنْبَغِي أَنْ يَتَصَدَّقَ وَيَحْفَظَ سِرَّهُ عَنِ الرِّيَاءِ بِقَدْرِ الْإِمْكَانِ وَهَذَا لِأَنَّ فِي الْإِظْهَارِ مَحْذُورًا ثَالِثًا سِوَى الْمَنِّ وَالرِّيَاءِ وَهُوَ هَتْكُ سِتْرِ الْفَقِيرِ فَإِنَّهُ رُبَّمَا يَتَأَذَّى بِأَنْ يُرَى فِي صُورَةِ الْمُحْتَاجِ فَمَنْ أَظْهَرَ السُّؤَالَ فَهُوَ الَّذِي هَتَكَ سِتْرَ نَفْسِهِ فَلَا يُحْذَرُ هَذَا الْمَعْنَى فِي إظهاره وهو كإظهار الفسق على من تستر به فإنه محظور والتجسس فيه والاعتياد بذكره منهي عنه فأما من أظهره فإقامة الحد عليه إشاعة ولكن هو السبب فيها وبمثل هذا المعنى قال ﷺ من ألقى جلباب الحياء فلا غيبة له وَقَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سراً وعلانية نَدَبَ إِلَى الْعَلَانِيَةِ أَيْضًا لِمَا فِيهَا مِنْ فَائِدَةِ التَّرْغِيبِ فَلْيَكُنِ الْعَبْدُ دَقِيقَ التَّأَمُّلِ فِي وزن هذه الفائدة بالمحذور الذي فيه فإن ذلك يختلف بالأحوال والأشخاص فقد يكون الإعلان في بعض الأحوال لبعض الأشخاص أفضل وَمَنْ عَرَفَ الْفَوَائِدَ وَالْغَوَائِلَ وَلَمْ يَنْظُرْ بِعَيْنِ الشَّهْوَةِ اتَّضَحَ لَهُ الْأَوْلَى وَالْأَلْيَقَ بِكُلِّ حَالٍ
Tugas Keempat: Menampakkan sedekah ketika ia mengetahui bahwa menampakkannya dapat merangsang orang lain untuk meneladaninya, seraya tetap menjaga batinnya dari dorongan riya' dengan cara yang akan kami sebutkan dalam pembahasan terapi riya' pada Kitab Riya'. Allah 'Azza wa Jalla telah berfirman, "Jika kamu menampakkan sedekah-sedekahmu, maka itu adalah baik sekali." Hal itu berlaku apabila keadaan memang menuntut untuk menampakkannya, baik agar diteladani maupun karena orang yang meminta-minta mengajukan permohonannya di hadapan khalayak ramai. Maka tidak sepatutnya ia meninggalkan sedekah karena takut riya' dalam menampakkannya; sebaliknya, hendaklah ia bertindak memberikan sedekah dan menjaga rahasia batinnya dari riya' semampunya. Hal ini disebabkan karena menampakkan sedekah memiliki bahaya ketiga selain memamerkan kebaikan (al-mann) dan riya', yaitu menyingkap tirai (kekurangan) orang fakir. Sebab, boleh jadi ia merasa tersakiti jika terlihat dalam kondisi membutuhkan. Namun barang siapa yang terang-terangan meminta-minta, dialah yang telah menyingkap tirai dirinya sendiri, sehingga kekhawatiran semacam ini tidak berlaku lagi ketika menampakkan pemberian padanya. Ini menyerupai penyingkapan kefasikan orang yang menyembunyikannya, sebab hal itu terlarang, serta mencari-cari keburukannya (mata-mata) dan membicarakannya adalah hal yang dilarang. Adapun orang yang terang-terangan menampakkannya, maka penegakan hukuman atasnya memang menjadi publikasi, tetapi dialah yang menjadi penyebabnya. Berkenaan dengan makna inilah Rasulullah ﷺ bersabda, "Barang siapa melepas tirai malu, maka tidak ada ghibah baginya." Allah Ta'ala juga telah berfirman, "Dan mereka menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan." Dia juga menganjurkan untuk berinfak secara terang-terangan karena di dalamnya terdapat manfaat untuk memotivasi orang lain. Oleh karena itu, hendaklah seorang hamba mencermati dengan teliti penimbangan antara manfaat ini dan risiko bahaya di dalamnya, sebab hal tersebut berbeda-beda sesuai kondisi dan pribadi masing-masing. Terkadang menampakkannya pada sebagian kondisi bagi sebagian orang adalah lebih utama. Barang siapa memahami manfaat-manfaat dan bahaya-bahayanya serta tidak memandang dengan mata hawa nafsu, niscaya akan menjadi jelas baginya perkara yang paling utama dan paling layak dalam setiap keadaan.
الوظيفة الْخَامِسَةُ أَنْ لَا يُفْسِدَ صَدَقَتَهُ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى قَالَ اللَّهُ تَعَالَى لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ والأذى واختلفوا في حقيقة المن والأذى فقيل المن أن يذكرها والأذى أن يظهرها وقال سفيان من من فسدت صدقته فقيل له كيف المن فقال أن يذكره ويتحدث به وقيل المن أن يستخدمه بالعطاء والأذى أن يعيره بالفقر وقيل المن أن يتكبر عليه لأجل عطائه والأذى أن ينتهره أو يوبخه بالمسألة
Tugas Kelima: Tidak merusak sedekahnya dengan al-mann (menyebut-nyebut pemberian/membangkit-bangkit jasa) dan al-adza (menyakiti perasaan). Allah Ta'ala berfirman, "Janganlah kamu membatalkan sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima)." Para ulama berbeda pendapat mengenai hakikat al-mann dan al-adza. Ada yang berpendapat bahwa al-mann adalah menyebut-nyebut pemberian tersebut, sedangkan al-adza adalah menampakkannya kepada publik. Sufyan berkata, "Barang siapa yang melakukan al-mann, maka rusaklah sedekahnya." Lalu ditanyakan kepadanya, "Bagaimanakah al-mann itu?" Ia menjawab, "Yaitu ia menyebut-nyebutnya dan membicarakannya." Ada pula yang berpendapat bahwa al-mann adalah mempekerjakan/memanfaatkan si penerima karena pemberian itu, sedangkan al-adza adalah mencelanya dengan kemiskinannya. Dikatakan pula bahwa al-mann adalah bersikap sombong kepadanya karena pemberiannya, sedangkan al-adza adalah menghardiknya atau mencelanya karena ia meminta-minta.
وَقَدْ قَالَ ﷺ لَا يقبل الله صدقة منان وعندي أن المن له أصل ومغرس وهو من أحوال القلب وصفاته ثم يتفرع عليه أحوال ظاهرة على اللسان والجوارح فأصله أن يرى نفسه محسناً إليه وَمُنْعِمًا عَلَيْهِ وَحَقُّهُ أَنْ يَرَى الْفَقِيرَ مُحْسِنًا إِلَيْهِ بِقَبُولِ حَقِّ اللَّهِ ﷿ مِنْهُ الَّذِي هُوَ طُهْرَتُهُ وَنَجَاتُهُ مِنَ النَّارِ وَأَنَّهُ لو يَقْبَلْهُ لَبَقِيَ مُرْتَهِنًا بِهِ فَحَقُّهُ أَنْ يَتَقَلَّدَ منه الفقير إذ جعل كفه نائباً عن الله ﷿ في قبض حق الله ﷿
Rasulullah ﷺ sungguh telah bersabda, "Allah tidak menerima sedekah orang yang suka menyebut-nyebut pemberiannya (membangkit-bangkit jasa)." Menurut pandanganku, al-mann memiliki akar dan tempat tumbuh, yaitu berasal dari kondisi dan sifat-sifat hati (ahwal al-qalb), yang kemudian darinya bercabang menjadi kondisi-kondisi lahiriah pada lisan dan anggota badan. Akar dasarnya adalah ia menganggap dirinya telah berbuat baik dan memberi nikmat/kebaikan kepada si fakir. Padahal seharusnyalah ia memandang si fakir sebagai orang yang telah berbuat baik kepadanya dengan bersedia menerima hak Allah 'Azza wa Jalla darinya, yang merupakan pembersih jiwanya dan penyelamatnya dari siksa neraka. Jika sekiranya si fakir tidak mau menerimanya, niscaya ia akan tetap tersandera dengannya. Maka sudah sepatutnya ia merasa terutang budi kepada orang fakir tersebut, karena si fakir telah menjadikan telapak tangannya sebagai wakil Allah 'Azza wa Jalla dalam menerima hak Allah 'Azza wa Jalla.
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إن الصدقة تقع بيد الله ﷿ قبل أن تقع في يد السائل فليتحقق أنه مسلم إلى الله ﷿ حقه والفقير آخذ من الله تعالى رزقه بعد صيرورته إلى الله ﷿
Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya sedekah itu jatuh ke tangan Allah 'Azza wa Jalla sebelum jatuh ke tangan orang yang meminta." Maka hendaklah ia meyakini sepenuhnya bahwa ia sedang menyerahkan hak Allah 'Azza wa Jalla kepada-Nya, sedangkan orang fakir itu mengambil rezekinya dari Allah Ta'ala setelah hak tersebut berada dalam penyerahan kepada Allah 'Azza wa Jalla.
ولو كان عليه دين لإنسان فأحال به عبده أو خادمه الذي هو متكفل برزقه
Seandainya seseorang memiliki utang kepada orang lain, lalu ia mengalihkan pelunasannya melalui budaknya atau pelayannya yang rezekinya ditanggung oleh dirinya,
لكان اعتقاد مؤدى الدين كون القابض تحت منته سفهاً وجهلاً فإن المحسن إليه هو المتكفل برزقه
niscaya anggapan orang yang membayar utang tersebut bahwa si penerima berada di bawah utang budi kepadanya merupakan suatu kedunguan dan ketidaktahuan. Sebab, yang berbuat baik kepada si pelayan itu adalah pihak yang menanggung rezekinya.
أما هو فإنما يقضي الذي لزمه بشراء ما أحبه فهو ساع في حق نفسه فلم يمن به على غيره
Adapun dirinya, ia hanyalah melunasi kewajiban yang mengikat dirinya demi memperoleh apa yang disukainya. Maka ia sejatinya sedang berusaha untuk kepentingan dirinya sendiri, sehingga tidak sepatutnya ia membangkit-bangkitkan jasa atas orang lain.
ومهما عرف المعاني الثلاثة التي ذكرناها في فهم وجوب الزكاة أو أحدها لَمْ يَرَ نَفْسَهُ مُحْسِنًا إِلَّا إِلَى نَفْسِهِ إِمَّا بِبَذْلِ مَالِهِ إِظْهَارًا لِحُبِّ اللَّهِ تَعَالَى أَوْ تَطْهِيرًا لِنَفْسِهِ عَنْ رَذِيلَةِ الْبُخْلِ أَوْ شكراً على نعمة المال طلباً للمزيد
Dan manakala seseorang telah memahami ketiga makna yang kami sebutkan dalam hal memahami kewajiban zakat, atau salah satu darinya, niscaya ia tidak akan memandang dirinya telah berbuat baik melainkan kepada dirinya sendiri; baik dengan mengorbankan hartanya sebagai wujud menampakkan kecintaan kepada Allah Ta'ala, atau untuk menyucikan jiwanya dari cela keburukan sifat kikir, ataupun sebagai rasa syukur atas nikmat harta demi memohon tambahan nikmat.
وكيفما كان فلا معاملة بينه وبين الفقير حتى يرى نفسه محسناً إليه ومهما حصل هذا الجهل بأن رأى نفسه محسناً إليه تفرع منه على ظاهره ما ذكر في معنى المن وهو التحدث به وإظهاره وطلب المكافأة منه بالشكر والدعاء والخدمة والتوقير والتعظيم والقيام بالحقوق والتقديم في المجالس والمتابعة في الأمور فهذه كلها ثمرات المنة ومعنى المنة في الباطن ما ذكرناه
Bagaimanapun keadaannya, tidak ada hubungan transaksi langsung (utang piutang budi) antara dirinya dan si fakir hingga ia merasa berbuat baik kepadanya. Dan kapan pun kebodohan ini terjadi—yaitu ketika ia memandang dirinya telah berbuat baik kepada si fakir—maka akan bercabanglah dari kebodohan itu pada aspek lahiriahnya hal-hal yang telah disebutkan dalam makna al-mann (membangkit-bangkit jasa), yaitu membicarakannya, menampakkannya, serta menuntut balasan darinya berupa ucapan terima kasih, doa, pelayanan, rasa hormat, pengagungan, pemenuhan hak-hak, didahulukan di majelis-majelis, dan dituruti dalam berbagai urusan. Ini semua merupakan buah dari sikap membangkit-bangkitkan jasa, sedangkan hakikat al-mann di alam batin adalah sebagaimana yang telah kami jelaskan.
وأما الأذى فظاهره التوبيخ والتعيير وتخشين الكلام وتقطيب الوجه وهتك الستر بالإظهار وفنون الاستخفاف وباطنه وهو منبعه أمران أحدهما كراهيته لرفع اليد عن المال وشدة ذلك على نفسه فإن ذلك يضيق الخلق لا محالة
Adapun al-adza (perbuatan menyakiti perasaan), bentuk lahiriahnya adalah celaan, ejekan, perkataan yang kasar, bermuka masam, merusak kehormatan dengan mempublikasikan pemberian, serta pelbagai bentuk peremehan. Sedangkan aspek batinnya—yang menjadi sumbernya—terdiri dari dua hal: Pertama, keengganannya untuk melepaskan harta dari tangannya dan beratnya hal itu bagi jiwanya, karena hal tersebut tak pelak lagi akan menyempitkan kelapangan akhlaknya.
والثاني رؤيته أنه خير من الفقير وأن الفقير لسبب حاجته أخس منه وكلاهما منشؤه الجهل
Yang kedua adalah pandangannya bahwa dirinya lebih baik daripada si fakir, dan bahwa si fakir disebabkan oleh kebutuhannya berada pada derajat yang lebih rendah darinya. Kedua hal ini bersumber dari kebodohan.
أما كراهية تسليم المال فهو حمق لأن من كره بذل درهم في مقابلة ما يساوي ألفاً فهو شديد الحمق
Adapun ketidaksukaan untuk menyerahkan harta merupakan suatu ketungluan (kebodohan yang amat sangat), karena barang siapa yang enggan mengeluarkan satu dirham demi mendapatkan balasan yang senilai seribu dirham, maka ia adalah orang yang sangat dungu.
ومعلوم أنه يبذل المال لطلب رضا الله ﷿ والثواب في الدار الآخرة وذلك أشرف مما بذله أو يبذله لتطهير نفسه عن رذيلة البخل أو شكراً لطلب المزيد وكيفما فرض فالكراهة لا وجه لها
Padahal telah dimaklumi bahwa ia mengeluarkan harta demi mencari keridaan Allah 'Azza wa Jalla dan pahala di negeri akhirat, yang mana hal itu jauh lebih mulia daripada apa yang ia keluarkan; atau ia mengeluarkannya demi menyucikan jiwanya dari cela keburukan sifat kikir, atau sebagai wujud syukur untuk memohon tambahan nikmat. Maka bagaimana pun diandaikan, keengganan tersebut sama sekali tidak memiliki alasan yang sah.
وأما الثاني فهو أيضاً جَهْلٌ لِأَنَّهُ لَوْ عَرَفَ فَضْلَ الْفَقْرِ عَلَى الغنى وعرف خطر الأغنياء لما استحقر الفقير بل تبرك به وتمنى درجته فصلحاء الأغنياء يدخلون الجنة بعد الفقراء بخمسمائة عام ولذلك قال ﷺ هم الأخسرون ورب الكعبة فقال أبو ذر من هم قال هم الأكثرون أموالا الحديث ثم كيف يستحقر الفقير وقد جعله الله تعالى متجرة له إذ يكتسب المال بجهدك ويستكثر منه ويجتهد في حفظه بمقدار الحاجة وقد ألزم أن يسلم إلى الفقير قدر حاجته ويكف عنه الفاضل الذي يضره لو سلم إليه فالغني مستخدم للسعي في رزق الفقير ويتميز عليه بتقليد المظالم والتزام المشاق وحراسة الفضلات إلى أن يموت فيأكله أعداؤه فإن مهما انتقلت الكراهية وتبدلت بالسرور والفرح بتوفيق الله تعالى له أداء الواجب وتفضيله الفقير حتى يخلصه عن عهدته بقبوله منه انتفى الأذى والتوبيخ وتقطيب الوجه وتبدل بالاستبشار والثناء وقبول المنة فهذا منشأ المن والأذى
Adapun hal kedua (merasa lebih baik dari orang fakir), itu pun merupakan kebodohan. Sebab, seandainya ia mengetahui keutamaan kefakiran atas kekayaan dan mengetahui betapa besarnya bahaya orang-orang kaya, niscaya ia tidak akan meremehkan orang fakir, melainkan akan mengambil keberkahan darinya dan mendambakan derajatnya. Sebab, orang-orang kaya yang saleh sekalipun baru akan masuk surga lima ratus tahun setelah orang-orang fakir. Oleh karena itulah Rasulullah ﷺ bersabda, "Merekalah orang-orang yang paling rugi, demi Tuhan Pemilik Ka'bah!" Lalu Abu Dzar bertanya, "Siapakah mereka?" Beliau menjawab, "Orang-orang yang paling banyak hartanya…" (al-hadits). Kemudian, bagaimana mungkin ia meremehkan orang fakir padahal Allah Ta'ala telah menjadikannya sebagai tempat berniaga baginya? Di mana harta itu engkau usahakan dengan jerih payahmu, engkau perbanyak, dan engkau jaga sebatas kebutuhan; dan engkau telah diwajibkan untuk menyerahkan sekadar kebutuhan si fakir serta menahan kelebihannya yang justru akan membahayakan si fakir jika diserahkan padanya. Dengan demikian, orang kaya sejatinya difungsikan untuk berusaha mencari rezeki bagi si fakir, sementara ia dibebani dengan tanggung jawab atas potensi kezaliman, menanggung berbagai kesukaran, dan menjaga kelebihan harta hingga ia mati lalu harta itu dimakan oleh musuh-musuhnya. Maka, kapan pun ketidaksukaan itu beralih dan berganti menjadi rasa gembira dan suka cita atas taufik Allah Ta'ala dalam menunaikan kewajiban, serta atas keutamaan orang fakir yang membebaskan tanggung jawabnya dengan mau menerima pemberian darinya, niscaya sirnalah gangguan (al-adza), celaan, dan raut muka masam, lalu berganti dengan keceriaan, pujian, dan perasaan berutang budi. Inilah muara dari al-mann dan al-adza.
فإن قلت فرؤيته نفسه في درجة المحسن أمر غامض فهل من علامة يمتحن بها قلبه فيعرف بها أنه لم ير نفسه محسناً فاعلم أن له علامة دقيقة واضحة وهو أن يقدر أن الفقير لو جنى عليه جناية أو مالاً عدوا له عليه مثلاً هل كان يزيد في استنكاره واستبعاده له على استنكاره قبل التصدق فإن زاد لم تخل صدقته عن شائبة المنة لأنه توقع بسببه ما لم يكن يتوقع قبل ذلك
Jika engkau bertanya: "Pandangan seseorang bahwa dirinya berada pada derajat 'orang yang berbuat baik' merupakan perkara yang amat samar, maka adakah tanda yang dengannya ia dapat menguji hatinya sehingga ia mengetahui bahwa ia tidak memandang dirinya sebagai orang yang berbuat baik?" Ketahuilah bahwa hal itu memiliki tanda yang tersembunyi namun jelas, yaitu hendaklah ia mengandaikan: jika seandainya si fakir melakukan suatu kesalahan/kejahatan terhadap dirinya, atau misalnya memihak musuhnya, apakah kekecewaan dan penolakannya terhadap perbuatan si fakir itu akan bertambah melebihi kekecewaannya sebelum ia bersedekah padanya? Jika bertambah, maka sedekahnya tidak bersih dari noda al-mann (perasaan berjasa), karena ia mengharapkan dari si fakir sesuatu yang sebelumnya tidak ia harapkan.
فإن قلت فهذا أمر غامض ولا ينفك قلب أحد عنه فما دواؤه فاعلم أن له دواء باطناً ودواء ظاهراً أما الباطن فالمعرفة بالحقائق التي ذكرناها في فهم الوجوب وأن الفقير هو المحسن إليه في تطهيره بالقبول
Jika engkau bertanya: "Hal ini merupakan perkara yang amat samar dan tidak ada hati seorang pun yang dapat terbebas darinya, lalu apakah obatnya?" Ketahuilah bahwa hal ini memiliki obat batin dan obat lahir. Adapun obat batin adalah dengan mengenali hakikat-hakikat yang telah kami sebutkan dalam memahami kewajiban zakat, serta menyadari bahwa si fakirlah yang sebenarnya berbuat baik kepadanya dengan menyucikan jiwanya melalui penerimaan sedekah tersebut.
وأما الظاهر فالأعمال التي يتعاطاها متقلد المنة فإن الأفعال التي تصدر عن الأخلاق تصبغ القلب بالأخلاق كما سيأتي أسراره في الشطر الأخير من الكتاب ولهذا كان بعضهم يضع الصدقة بين يدي الفقير ويتمثل قائماً بين يديه حتى يسأله قبولها حتى يكون هو في صورة السائلين وهو يستشعر مع ذلك كراهية لو رده وكان بعضهم يبسط كفه ليأخذ الفقير من كفه وتكون يد الفقير هي العليا
Adapun obat lahiriah adalah amalan-amalan yang biasa dilakukan oleh orang yang merasa terutang budi. Sebab, perbuatan-perbuatan yang bersumber dari akhlak akan mewarnai hati dengan akhlak tersebut, sebagaimana rahasia-rahasianya akan dijelaskan pada bagian akhir kitab ini. Oleh karena inilah, sebagian ulama generasi salaf meletakkan sedekah di hadapan orang fakir lalu berdiri tegak di hadapannya hingga memohon agar si fakir berkenan menerimanya, sehingga dirinya berada dalam posisi seorang peminta-minta, seraya di dalam hatinya tetap menyertakan rasa khawatir seandainya si fakir menolaknya. Sebagian yang lain membentangkan telapak tangannya agar orang fakir mengambil dari telapak tangannya, sehingga tangan orang fakirlah yang berada di atas.
وكانت عائشة وأم سلمة ﵄ إذا أرسلتا معروفاً إلى فقير قالتا للرسول احفظ ما يدعو به ثم كانتا تردان عليه مثل قوله وتقولان هذا بذاك حتى تخلص لنا صدقتنا فكانوا لا يتوقعون الدعاء لأنه شبه المكافأة وكانوا يقابلون الدعاء
Dahulu 'Aisyah dan Umm Salamah radhiyallahu 'anhuma apabila mengutus seseorang untuk menyerahkan kebaikan/sedekah kepada orang fakir, keduanya berpesan kepada utusan tersebut: "Hafalkanlah doa apa yang diucapkannya!" Kemudian keduanya membalas doa si fakir itu dengan ucapan doa yang serupa, seraya berkata, "Doa ini untuk membalas doa itu, agar sedekah kita menjadi murni untuk kita." Dahulu mereka tidak mengharapkan doa dari penerima karena hal itu menyerupai imbalan balasan, dan mereka selalu membalas doa itu
بمثله وهكذا فعل عمر بن الخطاب وابنه عبد الله ﵄ وهكذا كان أرباب القلوب يداوون قلوبهم ولا دواء من حيث الظاهر إلا هذه الأعمال الدالة على التذلل والتواضع وقبول المنة ومن حيث الباطن المعارف التي ذكرناها هذا من حيث العمل وذلك من حيث العلم
dengan doa yang setimpal. Demikian pulalah yang dilakukan oleh 'Umar bin al-Khatthab dan putranya, 'Abdullah radhiyallahu 'anhuma. Begitulah para pemilik mata hati (arbab al-qulub) mengobati hati mereka. Tidak ada obat dari segi lahiriah selain perbuatan-perbuatan yang menunjukkan sikap merendahkan diri, ketawaduan, dan perasaan menerima kebaikan/utang budi dari si penerima; sedangkan dari segi batin adalah pengetahuannya (ilmu) tentang hakikat-hakikat yang telah kami sebutkan. Ini berlaku dari segi amal, dan itu berlaku dari segi ilmu.
ولا يعالج القلب إلا بمعجون العلم والعمل وهذه الشريطة من الزكوات تجري مجرى الخشوع من الصلاة وثبت ذلك بقوله ﷺ ليس للمرء من صلاته إلا ما عقل منها وهذا كقوله ﷺ لا يتقبل الله صدقة منان وكقوله ﷿ لا تبطلوا صدقاتكم بالمن والأذى وأما فتوى الفقيه بوقوعها موقعها وبراءة ذمته عنها دون هذا الشرط فحديث آخر وقد أشرنا إلى معناه في كتاب الصلاة
Dan hati tidak dapat diobati melainkan dengan ramuan ilmu dan amal. Syarat ini dalam zakat berkedudukan sebagaimana khusyuk dalam shalat. Hal itu ditetapkan oleh sabda Nabi ﷺ, "Seseorang tidak memperoleh pahala dari shalatnya melainkan apa yang ia pahami darinya." Ini senada dengan sabda beliau ﷺ, "Allah tidak menerima sedekah dari orang yang suka menyebut-nyebut pemberiannya (manan)," serta firman Allah ﷿, "Janganlah kamu membatalkan sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima)" (QS. Al-Baqarah: 264). Adapun fatwa ahli fiqih tentang sahnya zakat pada tempatnya dan terbebasnya kewajiban darinya tanpa syarat ini, maka itu adalah pembahasan lain, dan kami telah mengisyaratkan maknanya dalam Kitab Shalat.
الوظيفة السَّادِسَةُ أَنْ يَسْتَصْغِرَ الْعَطِيَّةَ فَإِنَّهُ إِنِ اسْتَعْظَمَهَا أُعْجِبَ بِهَا وَالْعُجْبُ مِنَ الْمُهْلِكَاتِ وَهُوَ مُحْبِطٌ للأعمال قال تعالى ويوم حنين إذا أعجبتكم كثرتكم فلم تغن عنكم شيئاً ويقال إن الطاعة كلما استصغرت عظمت عند الله ﷿
Tugas Keenam: Hendaklah ia menganggap kecil pemberiannya. Sebab, jika ia menganggapnya besar, ia akan merasa kagum pada dirinya sendiri ('ujub), sedangkan 'ujub termasuk hal-hal yang membinasakan dan menghapuskan pahala amal-amal. Allah Ta'ala berfirman, "Dan (ingatlah) perang Hunain, yaitu di waktu kamu merasa bangga karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun" (QS. At-Taubah: 25). Dan dikatakan, "Sesungguhnya ketaatan itu, semakin dianggap kecil (oleh pelakunya), semakin agung di sisi Allah ﷿."
والمعصية كلما استعظمت صغرت عند الله ﷿
Dan kemaksiatan itu, semakin dianggap besar (berat oleh pelakunya), semakin kecil di sisi Allah ﷿.
وقيل لا يتم المعروف إلا بثلاثة أمور تصغيره وتعجيله وستره وليس الاستعظام هو المن والأذى فإنه لو صرف ماله إلى عمارة مسجد أو رباط أمكن فيه الاستعظام ولا يمكن فيه المن والأذى بل العجب والاستعظام يجري في جميع العبادات ودواؤه علم وعمل
Dikatakan pula, "Kebaikan itu tidak sempurna melainkan dengan tiga perkara: menganggapnya kecil, menyegerakannya, dan merahasikannya." Menganggap besar suatu pemberian bukanlah al-mann (menyebut-nyebut pemberian) dan al-adza (menyakiti perasaan). Sebab, sekiranya seseorang menyalurkan hartanya untuk pembangunan masjid atau ribath (pos penjagaan/pesantren), bisa saja timbul rasa menganggap besar amalnya (isti'dham), namun tidak mungkin terjadi al-mann dan al-adza di sana. Akan tetapi, 'ujub dan isti'dham dapat terjadi dalam seluruh bentuk ibadah, dan obatnya adalah ilmu dan amal.
امام العلم فهو أن يعلم أن العشر أو ربع العشر قليل من كثير وأنه قد قنع لنفسه بأخس درجات البذل كما ذكرنا في فهم الوجوب فهو جدير بأن يستحيي منه فكيف يستعظمه وإن ارتقى إلى الدرجة العليا فبذل كل ماله أو أكثره فليتأمل أنه من أين له المال وإلى ماذا يصرفه فالمال لله ﷿ وله المنة عليه إذ أعطاه ووفقه لبذله فلم يستعظم في حق الله تعالى ما هو عين حق الله سبحانه وإن كان مقامه يقتضي أن ينظر إلى الآخرة وأنه يبذله للثواب فلم يستعظم بذل ما ينتظر عليه أضعافه
Adapun ilmu, hendaklah ia mengetahui bahwa seperpuluh atau seperempat puluh adalah jumlah yang sedikit dari yang banyak, dan bahwa ia telah merasa cukup bagi dirinya dengan tingkatan pengorbanan yang paling rendah sebagaimana telah kami sebutkan dalam pemahaman tentang kewajiban zakat. Maka sudah sepatutnya ia merasa malu karenanya, lalu bagaimana mungkin ia menganggapnya besar? Dan jika ia naik ke tingkatan yang lebih tinggi dengan menginfakkan seluruh hartanya atau sebagian besarnya, maka hendaklah ia merenungkan: dari manakah harta itu ia peroleh dan untuk apakah ia menafkahkannya? Harta itu pada hakikatnya milik Allah ﷿, dan milik-Nyalah karunia atas dirinya karena Dialah yang memberinya harta dan memberinya taufik untuk menginfakkannya. Maka bagaimana ia bisa menganggap besar sesuatu yang merupakan hak murni Allah Subhanahu wa Ta'ala? Dan jika maqam-nya menuntutnya untuk memandang ke akhirat dan bahwa ia menginfakkannya demi meraih pahala, maka bagaimana ia menganggap besar pengorbanan yang ia harapkan balasan berlipat ganda darinya?
وأما العمل فهو أن يعطيه عطاء الخجل من بخل بإمساك بقية ماله عن الله ﷿ فتكون هيئته الانكسار والحياء كهيئة من يطالب برد وديعة فيمسك بعضها ويرد البعض لأن المال كله لله ﷿ وبذل جميعه هو الأحب عند الله سبحانه وإنما لم يأمر به عبده لأنه يشق عليه بسبب بخله كما قال الله ﷿ فيحفكم تبخلوا
Adapun amal, hendaklah ia memberikannya seperti pemberian orang yang merasa malu atas kebakhilannya karena menahan sisa hartanya dari Allah ﷿. Maka sikap lahiriah dan batinnya adalah kehinaan diri (al-inkisar) dan rasa malu, seperti keadaan orang yang dituntut mengembalikan barang titipan (wadi'ah), lalu ia menahan sebagian dan mengembalikan sebagian lainnya. Karena seluruh harta itu milik Allah ﷿, dan menginfakkan semuanya adalah yang paling dicintai di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Hanya saja Dia tidak memerintahkan hal itu kepada hamba-Nya karena hal itu berat baginya akibat sifat bakhilnya, sebagaimana firman Allah ﷿, "Jika Dia meminta harta kepadamu lalu mendesakmu (supaya memberikan semuanya), niscaya kamu akan kikir" (QS. Muhammad: 37).
الوظيفة السَّابِعَةُ أَنْ يَنْتَقِيَ مِنْ مَالِهِ أَجْوَدَهُ وَأَحَبَّهُ إِلَيْهِ وَأَجَلَّهُ وَأَطْيَبَهُ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى طَيِّبٌ لا يقبل إلا طيباً وإذا كان المخرج من شبهة فربما لا يكون ملكاً له مطلقاً فلا يقع الموقع
Tugas Ketujuh: Hendaklah ia memilih dari hartanya yang paling berkualitas, yang paling dicintainya, yang paling mulia, dan yang paling baik (thayyib). Sebab, Allah Ta'ala itu Mahabaik dan tidak menerima melainkan yang baik. Apabila harta yang dikeluarkan berasal dari syubhat, maka bisa jadi harta itu tidak menjadi miliknya secara mutlak, sehingga tidak mengenai sasaran yang tepat.
وفي حديث أبان عن أنس بن مالك طوبى لعبد أنفق من مال اكتسبه من غير معصية وَإِذَا لَمْ يَكُنِ الْمُخْرَجُ مِنْ جِيدِ الْمَالِ فَهُوَ مِنْ سُوءِ الْأَدَبِ إِذْ قَدْ يُمْسِكُ الجيد لنفسه أو لعبده أو لأهله فَيَكُونُ قَدْ آثَرَ عَلَى اللَّهِ ﷿ غَيْرَهُ وَلَوْ فَعَلَ هَذَا بِضَيْفِهِ وَقَدَّمَ إِلَيْهِ أَرْدَأَ طَعَامٍ فِي بَيْتِهِ لَأُوغِرَ بِذَلِكَ صَدْرُهُ هذا إن كان نظره إلى الله ﷿ وإن كان نظره إلى نفسه وثوابه في الآخرة فليس بعاقل من يؤثر غيره على نفسه وليس له من ماله إلا ما تصدق به فأبقى أو اكل فأفني والذي يأكله قضاء وطر في الحال فليس من العقل قصر النظر على العاجلة وترك الادخار وَقَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فيه أي لا تأخذوه إِلَّا مَعَ كَرَاهِيَةٍ وَحَيَاءٍ وَهُوَ مَعْنَى الْإِغْمَاضِ فلا تؤثروا به ربكم
Dalam hadits Aban dari Anas bin Malik disebutkan: "Beruntunglah bagi seorang hamba yang menginfakkan harta yang ia usahakan tanpa kemaksiatan." Dan jika harta yang dikeluarkan bukan dari harta yang baik, maka hal itu termasuk buruk adab (su'ul adab). Sebab, ia mempertahankan yang baik untuk dirinya, hambanya, atau keluarganya, sehingga ia telah mengutamakan selain Allah ﷿ di atas Allah. Seandainya ia melakukan hal ini kepada tamunya dengan menyajikan makanan paling buruk yang ada di rumahnya, niscaya dada tamu itu akan merasa kesal. Ini jika pandangannya ditujukan kepada Allah ﷿. Namun jika pandangannya ditujukan kepada dirinya dan pahalanya di akhirat, maka bukanlah orang berakal yang mengutamakan orang lain atas dirinya sendiri. Padahal tidak ada baginya dari hartanya kecuali apa yang ia sedekahkan sehingga tetap abadi, atau apa yang ia makan lalu sirna. Apa yang ia makan hanyalah pemenuhan hasrat sesaat, maka bukanlah dari akal sehat jika membatasi pandangan hanya pada kehidupan duniawi yang sekejap dan meninggalkan tabungan akhirat. Allah Ta'ala telah berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Janganlah kamu memilih yang buruk untuk kamu infakkan, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya" (QS. Al-Baqarah: 267), yaitu kamu tidak akan mengambilnya kecuali dengan rasa tidak suka dan malu, dan itulah makna al-ighmadh (memicingkan mata). Maka janganlah kamu mengutamakan Tuhanmu dengan hal yang demikian.
وفي الخبر سبق درهم مائة ألف درهم
Dalam sebuah riwayat disebutkan: "Satu dirham dapat mengalahkan seratus ribu dirham."
وذلك بأن يخرجه الإنسان وهو من أحل ماله وأجوده فيصدر ذلك عن الرضا والفرح بالبذل وقد يخرج مائة ألف درهم مما يكره من ماله فيدل ذلك على أنه ليس يؤثر الله ﷿ بشيء مما يحبه
Hal itu terjadi ketika seseorang mengeluarkannya dari hartanya yang paling halal dan paling baik, yang bersumber dari kerelaan dan kegembiraan dalam menginfakkannya. Sementara itu, seseorang terkadang mengeluarkan seratus ribu dirham dari harta yang tidak disukainya, yang menunjukkan bahwa ia tidak mengutamakan Allah ﷿ dengan sesuatu yang dicintainya.
وبذلك ذم الله تعالى قوماً جعلوا لله ما يكرهون فقال تعالى ويجعلون لله ما يكرهون وتصف ألسنتهم الكذب أن لهم الحسنى لا وقف بعض القراء على النفي تكذيباً لهم ثم ابتدأ وقال جرم أن لهم النار أي كسب لهم جعلهم لله ما يكرهون النار
Dengan hal itulah Allah Ta'ala mencela suatu kaum yang menetapkan bagi Allah apa yang mereka sendiri tidak sukai. Allah Ta'ala berfirman: "Dan mereka menetapkan bagi Allah apa yang mereka sendiri tidak sukai, dan lidah mereka mengucapkan kedustaan, bahwa kesejahteraan adalah untuk mereka…" (QS. An-Nahl: 62). Sebagian ahli qira'ah berhenti (waqaf) pada kata negasi (laa) untuk mendustakan mereka, kemudian memulai kembali dengan membaca: "Jarama anna lahumun-naar" (Tidak diragukan lagi bahwa bagi merekalah neraka), yakni perbuatan mereka menetapkan bagi Allah apa yang mereka benci itu telah menghasilkan neraka bagi mereka.
الوظيفة الثامنة أن يطلب لصدقته مَنْ تَزْكُو بِهِ الصَّدَقَةُ وَلَا يَكْتَفِي بِأَنْ يَكُونَ مِنْ عُمُومِ الْأَصْنَافِ الثَّمَانِيَةِ فَإِنَّ فِي عمومهم خصوص صفات فليراع خصوص تلك الصفات وهي ستة
Tugas Kedelapan: Hendaklah ia mencari penerima sedekahnya orang yang dengannya sedekah itu menjadi bersih dan berkembang (tazku), serta tidak cukup hanya dengan masuk dalam keumuman delapan golongan (asnaf tsamaniyah). Sebab, dalam keumuman mereka terdapat sifat-sifat khusus. Maka hendaklah ia memperhatikan kekhususan sifat-sifat tersebut, yaitu ada enam perkara.
الأولى أن يطلب الأتقياء المعرضين عن الدينا المتجردين لتجارة الآخرة قال ﷺ لَا تَأْكُلْ إِلَّا طَعَامَ تَقِيٍّ وَلَا يَأْكُلْ طعامك إلا تقي وهذا لأن التقي يستعين به على التقوى فتكون شريكاً في طاعته بإعانتك إياه وقال ﷺ أطعموا طعامكم الأتقياء وأولوا معروفكم المؤمنين وفي لفظ آخر أضف بطعامك من تحبه في الله تعالى وكان بعض العلماء يؤثر بالطعام فقراء الصوفية دون غيرهم فقيل له لو عممت بمعروفك جميع الفقراء لكان أفضل فقال لا هؤلاء قوم همهم لله سبحانه فإذا طرقتهما فاقة تشتت هم أحدهم فلأن أرد همة واحد إلى الله ﷿ أحب إلي من أن أعطي ألفاً ممن همته الدنيا فذكر هذا الكلام للجنيد فاستحسنه وقال هذا ولي من أولياء الله تعالى وقال ما سمعت منذ زمان كلاماً أحسن من هذا ثم حكى أن هذا الرجل اختل حاله وهم بترك الحانوت فبعث إليه الجنيد مالاً وقال اجعله بضاعتك ولا تترك الحانوت فإن التجارة لا تضر مثلك وكان هذا الرجل بقالاً لا يأخذ من الفقراء ثمن ما يبتاعون منه
Sifat pertama: Hendaklah ia mencari orang-orang yang bertakwa, berpaling dari dunia, dan memfokuskan diri untuk perniagaan akhirat. Rasulullah ﷺ bersabda: "Janganlah engkau memakan melainkan makanan orang yang bertakwa, dan janganlah memakan makananmu melainkan orang yang bertakwa." Hal ini karena orang yang bertakwa menggunakan bantuan tersebut untuk ketakwaan, sehingga engkau menjadi sekutu dalam ketaatannya dengan bantuanmu kepadanya. Beliau ﷺ juga bersabda: "Berikanlah makananmu kepada orang-orang yang bertakwa, dan curahkanlah kebaikanmu kepada orang-orang beriman." Dalam lafaz lain: "Jamulah dengan makananmu orang yang engkau cintai karena Allah Ta'ala." Dahulu sebagian ulama mengutamakan makanan untuk fakir miskin dari kalangan sufi daripada yang lain. Lalu dikatakan kepadanya, "Seandainya engkau meratakan kebaikanmu kepada seluruh fakir miskin, tentu itu lebih utama." Ia menjawab, "Tidak, mereka adalah kaum yang cita-cita (kemauan keras) mereka hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta'ala. Jika kemiskinan menimpa mereka, cita-cita salah seorang dari mereka menjadi terpecah. Maka mengembalikan cita-cita satu orang kepada Allah ﷿ lebih aku sukai daripada memberi seribu orang yang cita-citanya adalah dunia." Ucapan ini disampaikan kepada Al-Junaid, lalu beliau menganggapnya sangat baik dan berkata, "Orang ini adalah seorang wali dari wali-wali Allah Ta'ala." Beliau juga berkata, "Aku belum pernah mendengar ucapan yang lebih indah dari ini sejak sekian lama." Kemudian diceritakan bahwa keadaan ekonomi orang tersebut memburuk dan ia berniat meninggalkan tokonya. Maka Al-Junaid mengirimkan sejumlah harta kepadanya seraya berkata, "Jadikanlah ini modal usahamu dan jangan tinggalkan tokomu, karena perdagangan tidak akan memudaratkan orang sepertimu." Orang tersebut adalah seorang pedagang kelontong yang tidak pernah mengambil pembayaran dari kaum fakir miskin atas apa yang mereka beli darinya.
الصفة الثَّانِيَةُ أَنْ يَكُونَ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ خَاصَّةً فَإِنَّ ذَلِكَ إِعَانَةٌ لَهُ عَلَى الْعِلْمِ وَالْعِلْمُ أَشْرَفُ الْعِبَادَاتِ مَهْمَا صَحَّتْ فِيهِ النِّيَّةُ
Sifat kedua: Hendaklah ia secara khusus berasal dari ahli ilmu (penuntut/pemilik ilmu agama), karena hal itu merupakan bantuan baginya untuk menuntut ilmu, sedangkan ilmu adalah ibadah yang paling mulia selama niatnya benar.
وَكَانَ ابْنُ الْمُبَارَكِ يُخَصِّصُ بِمَعْرُوفِهِ أَهْلَ الْعِلْمِ فَقِيلَ لَهُ لَوْ عَمَّمْتَ فَقَالَ إِنِّي لَا أَعْرِفُ بَعْدَ مَقَامِ النُّبُوَّةِ أَفْضَلَ مِنْ مَقَامِ الْعُلَمَاءِ فَإِذَا اشْتَغَلَ قَلْبُ أَحَدِهِمْ بِحَاجَتِهِ لَمْ يَتَفَرَّغْ لِلْعِلْمِ وَلَمْ يُقْبِلْ عَلَى التَّعَلُّمِ فَتَفْرِيغُهُمْ لِلْعِلْمِ أفضل
Dahulu Ibnul Mubarak mengkhususkan kebaikannya kepada ahli ilmu. Ketika dikatakan kepadanya, "Mengapa engkau tidak meratakannya?" Beliau menjawab, "Sesungguhnya aku tidak mengetahui setelah derajat kenabian yang lebih utama daripada derajat para ulama. Jika hati salah seorang dari mereka disibukkan oleh kebutuhannya, ia tidak akan memiliki waktu luang untuk ilmu dan tidak dapat fokus menuntut ilmu. Maka membebaskan waktu mereka untuk fokus pada ilmu adalah lebih utama."
الصفة الثَّالِثَةُ أَنْ يَكُونَ صَادِقًا فِي تَقْوَاهُ وَعِلْمِهِ بِالتَّوْحِيدِ
Sifat ketiga: Hendaklah ia jujur dan tulus dalam ketakwaannya serta pengetahuannya tentang tauhid.
وَتَوْحِيدُهُ أَنَّهُ إِذَا أَخَذَ الْعَطَاءَ حَمِدَ اللَّهَ ﷿ وَشَكَرَهُ وَرَأَى أَنَّ النِّعْمَةَ منه ولم ينظر إلى واسطة فهذا هو أشكر العباد لله سبحانه وهو أن يرى أن النعمة كلها منه
Dan tauhidnya adalah bahwa apabila ia menerima pemberian, ia memuji Allah ﷿ dan bersyukur kepada-Nya, serta memandang bahwa kenikmatan itu datang dari-Nya semata tanpa memandang kepada perantara. Maka orang inilah yang paling bersyukur di antara para hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, yaitu dengan memandang bahwa seluruh nikmat itu berasal dari-Nya.
وفي وصية لقمان لابنه لا تجعل بينك وبين الله منعماً واعدد نعمة غيره عليك مغرماً
Dalam wasiat Luqman kepada putranya disebutkan: "Janganlah engkau menjadikan antara dirimu dan Allah adanya pemberi nikmat yang lain, dan anggaplah nikmat selain-Nya atas dirimu sebagai sebuah beban/hutang yang menuntut pertanggungjawaban."
ومن شكر غير الله سبحانه فكأنه لم يعرف المنعم ولم يتيقن أن الواسطة مقهور مسخر بتسخير الله ﷿ إذ سلط الله تعالى عَلَيْهِ دَوَاعِيَ الْفِعْلِ وَيَسَّرَ لَهُ الْأَسْبَابَ فَأَعْطَى وهو مقهور ولو أراد تركه لم يقدر عليه بعد أن ألقى الله ﷿ في قلبه أن صلاح دينه ودنياه في فعله
Barang siapa yang bersyukur kepada selain Allah Subhanahu wa Ta'ala, maka seolah-olah ia belum mengenali Maha Pemberi Nikmat (Al-Mun'im) dan belum meyakini bahwa perantara itu berada dalam kekuasaan (maqhur) dan ditundukkan oleh penundukan Allah ﷿. Sebab, Allah Ta'ala menguasakan padanya pendorong-pendorong untuk bertindak dan memudahkan baginya sebab-sebab, sehingga ia memberi dalam keadaan dikuasai (oleh kehendak-Nya). Seandainya ia ingin meninggalkannya, ia tidak akan sanggup setelah Allah ﷿ mencampakkan ke dalam hatinya bahwa kemaslahatan agama dan dunianya ada pada perbuatannya tersebut.
فمهما قوي الباعث أوجب ذلك جزم الإرادة وانتهاض القدرة ولم يستطع العبد مخالفة الباعث القوي الذي لا تردد فيه والله ﷿ خالق للبواعث ومهيجها ومزيل للضعف والتردد عنها ومسخر القدرة للانتهاض بمقتضى البواعث فمن تيقن هذا لم يكن له نظر إلا إلى مسبب الأسباب وتيقن مثل هذا العبد أنفع للمعطي من ثناء غيره وشكره فذلك حركة لسان يقل في الأكثر جدواه وإعانة مثل هذا العبد الموحد لا تضيع وأما الذي يمدح بالعطاء ويدعو بالخير فسيذم بالمنع ويدعو بالشر عند الإيذاء وأحواله متفاوتة
Maka kapan pun dorongan itu kuat, hal itu mewajibkan kebulatan tekad (jazm al-iradah) dan bangkitnya kemampuan (intihadh al-qudrah), sehingga hamba tersebut tidak mampu menyelisihi dorongan kuat yang tidak ada keraguan padanya. Dan Allah ﷿ adalah Pencipta pendorong-pendorong tersebut, Penggeraknya, Penghilang kelemahan dan keraguan darinya, serta Penunduk kemampuan untuk bangkit sesuai tuntutan pendorong tersebut. Barang siapa yang meyakini hal ini, tidak ada lagi pandangannya melainkan kepada Maha Pencipta segala sebab (Musyabbib al-Asbab). Keyakinan hamba seperti ini lebih bermanfaat bagi pemberi daripada pujian dan ucapan terima kasih dari orang lain, sebab hal itu (pujian orang biasa) hanyalah gerakan lidah yang sering kali sedikit manfaatnya. Membantu hamba yang bertauhid seperti ini tidak akan sia-sia. Adapun orang yang memuji ketika diberi dan mendoakan kebaikan, kelak ia akan mencela ketika tidak diberi dan mendoakan keburukan ketika disakiti, dan keadaannya selalu berubah-ubah.
وقد روي أنه ﷺ بعث معروفاً إلى بعض الفقراء وقال للرسول احفظ ما يقول فلما أخذ قال الحمد لله الذي لا ينسى من ذكره ولا يضيع من شكره ثم قال اللهم إنك لم تنس فلاناً يعني نفسه فاجعل فلاناً لا ينساك يعني بفلان نفسه فأخبر رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بِذَلِكَ
Diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah mengutus Ma'ruf (seorang utusan) kepada salah seorang fakir, dan beliau bersabda kepada utusan tersebut, "Hafalkanlah apa yang ia ucapkan!" Ketika orang fakir itu menerima pemberian tersebut, ia berucap, "Segala puji bagi Allah yang tidak pernah melupakan orang yang mengingat-Nya, dan tidak akan menyia-nyiakan orang yang bersyukur kepada-Nya." Kemudian ia berdoa, "Ya Allah, sesungguhnya Engkau tidak melupakan si Fulan (yang dimaksud adalah dirinya sendiri), maka jadikanlah si Fulan tidak melupakan-Mu (yang dimaksud dengan si Fulan adalah dirinya sendiri)." Utusan itu pun memberitahukan hal tersebut kepada Rasulullah ﷺ.
فسر وقال ﷺ علمت أنه يقول ذلك فانظر كيف قصر التفاته على الله وحده وقال ﷺ لرجل تب فقال أتوب إلى الله وحده ولا أتوب إلى محمد فقال ﷺ عرف الحق لأهله ولما نزلت براءة عائشة ﵂ في قصة الإفك قال أبو بكر ﵁ قومي فقبلي رَأْسِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فقالت والله لا أفعل ولا أحمد إلا الله فقال ﷺ دعها يا أبا بكر وفي لفظ آخر أنها ﵂ قالت لأبي بكر ﵁ بحمد الله لا بحمدك ولا بحمد صاحبك فلم ينكر رسول الله ﷺ عليها ذلك مع أن الوحي وصل إليها على لسان رسول الله ﷺ
Maka beliau ﷺ merasa gembira dan bersabda, "Aku sudah tahu bahwa dia akan mengucapkan hal itu." Maka perhatikanlah bagaimana ia membatasi pandangan hatinya hanya kepada Allah semata. Bersabda pula Rasulullah ﷺ kepada seorang lelaki, "Bertaubatlah!" Lalu lelaki itu berkata, "Aku bertaubat kepada Allah semata dan aku tidak bertaubat kepada Muhammad." Maka beliau ﷺ bersabda, "Dia telah mengakui kebenaran bagi Pemiliknya." Dan ketika turun ayat yang membebaskan 'Aisyah radhiyallahu 'anha (dari tuduhan) dalam peristiwa Al-Ifk (berita bohong), Abu Bakar radhiyallahu 'anhu berkata (kepadanya), "Bangkitlah dan ciumlah kepala Rasulullah ﷺ!" Namun 'Aisyah berkata, "Demi Allah, aku tidak akan melakukannya dan aku tidak akan memuji melainkan hanya kepada Allah." Maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Biarkanlah dia, wahai Abu Bakar." Dalam redaksi lain disebutkan bahwa 'Aisyah radhiyallahu 'anha berkata kepada Abu Bakar radhiyallahu 'anhu, "(Aku bersyukur) dengan memuji Allah, bukan dengan memujimu dan tidak pula memuji sahabatmu (Nabi ﷺ)." Rasulullah ﷺ pun tidak mengingkari ucapan tersebut dari 'Aisyah, padahal wahyu tersebut sampai kepadanya melalui lisan Rasulullah ﷺ.
ورؤية الأشياء من غير الله سبحانه وصف الكافرين قال الله تعالى ﴿وإذا ذكر الله وحده اشمأزت قلوب الذين لا يؤمنون بالآخرة وإذا ذكر الذين من دونه إذا هم يستبشرون﴾ وَمَنْ لَمْ يَصْفُ بَاطِنُهُ عَنْ رُؤْيَةِ الْوَسَائِطِ إِلَّا مِنْ حَيْثُ أَنَّهُمْ وَسَائِطُ فَكَأَنَّهُ لَمْ ينفك عن الشرك الخفي سره
Memandang segala sesuatu berasal dari selain Allah Subhanahu wa Ta'ala merupakan sifat orang-orang kafir. Allah Ta'ala berfirman: "Dan apabila nama Allah saja yang disebut, kesal hati orang-orang yang tidak beriman kepada hari akhirat; tetapi apabila nama-nama sembahan selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka bergembira." (QS. Az-Zumar: 45). Barang siapa yang batinnya belum bersih dari memandang perantara-perantara kecuali sekadar kedudukan mereka sebagai perantara, maka seolah-olah rahasia batinnya belum terbebas dari syirik khafi (kemusyrikan yang tersembunyi).
فَلْيَتَّقِ اللَّهَ سُبْحَانَهُ فِي تَصْفِيَةِ تَوْحِيدِهِ عَنْ كدورات الشرك وشوائبه
Maka hendaknya seseorang bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam memurnikan tauhidnya dari kekeruhan syirik dan noda-nodanya.
الصفة الرابعة أن يكون مستتراً مُخْفِيًا حَاجَتَهُ لَا يُكْثِرُ الْبَثَّ وَالشَّكْوَى أَوْ يَكُونَ مِنْ أَهْلِ الْمُرُوءَةِ مِمَّنْ ذَهَبَتْ نِعْمَتُهُ وبقيت عادته فهو يتعيش في جلباب التجمل قَالَ اللَّهُ تَعَالَى ﴿يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ لَا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا﴾ أَيْ لَا يُلِحُّونَ فِي السُّؤَالِ لِأَنَّهُمْ أَغْنِيَاءُ بِيَقِينِهِمْ أَعِزَّةٌ بِصَبْرِهِمْ وَهَذَا يَنْبَغِي أَنْ يُطْلَبَ بالتفحص عن أهل الدين في كل محلة ويستكشف عن بواطن أحول أَهْلِ الْخَيْرِ وَالتَّجَمُّلِ فَثَوَابُ صَرْفِ الْمَعْرُوفِ إِلَيْهِمْ أضعاف ما يصرف إلى المجاهرين بالسؤال
Sifat keempat: Hendaknya ia seorang yang menjaga kehormatan diri dengan menyembunyikan kebutuhannya, tidak sering menyebarkan keluh kesah dan mengadu, atau ia termasuk golongan orang yang memiliki kehormatan diri (muru'ah) yang telah hilang kenikmatan hartanya namun tetap memelihara kebiasaan luhurnya, sehingga ia hidup dalam jubah kesabaran dan menjaga kesopanan (tajammul). Allah Ta'ala berfirman: "(Orang lain) yang tidak tahu, mengira bahwa mereka adalah orang-orang kaya karena mereka memelihara diri dari meminta-minta. Engkau (Muhammad) mengenal mereka dari tanda-tandanya, mereka tidak meminta kepada manusia secara mendesak." (QS. Al-Baqarah: 273), maksudnya mereka tidak mendesak dalam meminta karena mereka telah kaya dengan keyakinan mereka dan mulia dengan kesabaran mereka. Hal ini hendaknya dicari dengan meneliti ahli agama di setiap pemukiman dan menyelidiki kondisi batin dari ahli kebaikan yang senantiasa menjaga kehormatan diri. Maka pahala menyalurkan kebaikan kepada mereka berlipat ganda dibanding apa yang disalurkan kepada orang-orang yang meminta-minta secara terang-terangan.
الصفة الْخَامِسَةُ أَنْ يَكُونَ مُعِيلًا أَوْ مَحْبُوسًا بِمَرَضٍ أَوْ بِسَبَبٍ مِنَ الْأَسْبَابِ فَيُوجَدُ فِيهِ مَعْنَى قَوْلِهِ ﷿ ﴿لِلْفُقَرَاءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فِي سبيل الله﴾ أَيْ حُبِسُوا فِي طَرِيقِ الْآخِرَةِ بِعَيْلَةٍ أَوْ ضِيقِ مَعِيشَةٍ أَوْ إِصْلَاحِ قَلْبٍ ﴿لَا يَسْتَطِيعُونَ ضرباً في الأرض﴾ لأنهم مقصوصوا الجناح مقيدوا الْأَطْرَافِ
Sifat kelima: Hendaknya ia seorang yang memiliki banyak tanggungan keluarga, atau terhalang (terpenjara) oleh penyakit atau oleh salah satu sebab lain, sehingga terdapat padanya makna firman Allah Azza wa Jalla: "(Pemberian itu) bagi orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah" (QS. Al-Baqarah: 273), yakni mereka yang terhalang di jalan akhirat disebabkan tanggungan keluarga, kesempitan penghidupan, atau sibuk menata hati; "mereka tidak dapat berusaha di bumi", karena mereka seperti terpotong sayapnya dan terikat anggota tubuhnya.
فَبِهَذِهِ الْأَسْبَابِ كَانَ عمر ﵁ يُعْطِي أَهْلَ الْبَيْتِ الْقَطِيعَ مِنَ الْغَنَمِ الْعَشَرَةَ فَمَا فَوْقَهَا وَكَانَ ﷺ يعطي العطاء على مقدار العيلة وسأل عمر ﵁ عَنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ فقال كثرة العيال وقلة المال
Karena sebab-sebab inilah Umar radhiyallahu 'anhu memberikan kepada satu keluarga kawanan domba sebanyak sepuluh ekor atau lebih dari itu. Dan Rasulullah ﷺ juga memberikan pemberian sesuai dengan kadar tanggungan keluarga. Umar radhiyallahu 'anhu pernah ditanya tentang puncak cobaan (jahdul bala'), maka beliau menjawab, "Banyaknya tanggungan keluarga dan sedikitnya harta."
الصفة السَّادِسَةُ أَنْ يَكُونَ مِنَ الْأَقَارِبِ وَذَوِي الْأَرْحَامِ فَتَكُونُ صَدَقَةً وَصِلَةَ رَحِمٍ وَفِي صِلَةِ الرَّحِمِ مِنَ الثَّوَابِ مَا لَا يُحْصَى قَالَ علي ﵁ لَأَنْ أَصِلَ أَخًا مِنْ إِخْوَانِي بِدِرْهَمٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَتَصَدَّقَ بعشرين درهماً ولأن أصله بعشرين درهماً أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَتَصَدَّقَ بِمِائَةِ دِرْهَمٍ ولأن أصله بمائة درهم أحب إلي من أن أعتق رقبة
Sifat keenam: Hendaknya ia termasuk dari kalangan kerabat dan pemilik hubungan rahim (nasab), sehingga pemberian itu menjadi sedekah sekaligus silaturahmi. Dan dalam silaturahmi terdapat pahala yang tidak terhitung jumlahnya. Ali radhiyallahu 'anhu berkata, "Sungguh aku menyambung tali persaudaraan dengan salah seorang saudaraku dengan satu dirham lebih aku sukai daripada bersedekah dua puluh dirham. Dan aku menyambungnya dengan dua puluh dirham lebih aku sukai daripada bersedekah seratus dirham. Serta aku menyambungnya dengan seratus dirham lebih aku sukai daripada memerdekakan seorang budak."
والأصدقاء وإخوان الخير أيضا
Demikian pula para sahabat dan saudara-saudara dalam kebaikan,
يُقَدَّمُونَ عَلَى الْمَعَارِفِ كَمَا يَتَقَدَّمُ الْأَقَارِبُ عَلَى الأجانب فليراع هذه الدقائق فهذه هي الصِّفَاتُ الْمَطْلُوبَةُ وَفِي كُلِّ صِفَةٍ دَرَجَاتٌ فَيَنْبَغِي أَنْ يَطْلُبَ أَعْلَاهَا فَإِنْ وُجِدَ مَنْ جَمَعَ جُمْلَةً مِنْ هَذِهِ الصِّفَاتِ فَهِيَ الذَّخِيرَةُ الْكُبْرَى والغنيمة العظمى
mereka didahulukan atas kenalan biasa sebagaimana kerabat didahulukan atas orang lain (bukan kerabat). Maka hendaknya ia memperhatikan kelembutan-kelembutan (detail keutamaan) ini. Inilah sifat-sifat yang dituntut, dan pada setiap sifat terdapat tingkatan-tingkatan, maka sepantasnya ia mencari tingkatan yang paling tinggi. Apabila ditemukan orang yang mengumpulkan sekumpulan sifat-sifat ini, maka ia adalah simpanan berharga yang sangat besar dan keuntungan yang sangat agung.
ومهما اجتهد في ذلك وأصاب فله أجران وإن أخطأ فله أجر واحد فإن أحد أجريه في الحال تطهيره نفسه عن صفة البخل وتأكيد حب الله ﷿ في قلبه واجتهاده في طاعته وهذه الصفات هي التي تقوي في قلبه فتشوقه إلى لقاء الله ﷿ والأجر الثاني ما يعود إليه من فائدة دعوة الآخذ وهمته فإن قلوب الأبرار لها آثار في الحال والمآل فإن أصاب حصل الأجران وإن أخطأ حصل الأول دون الثاني فبهذا يضاعف أجر المصيب في الاجتهاد ههنا وفي سائر المواضع والله أعلم
Dan sejauh mana ia bersungguh-sungguh (berijtihad) dalam hal itu dan tepat sasaran, maka baginya dua pahala, dan jika ia keliru (salah sasaran), maka baginya satu pahala. Sebab salah satu dari dua pahalanya saat itu juga adalah penyucian dirinya dari sifat kikir, pengukuhan rasa cinta kepada Allah Azza wa Jalla di dalam hatinya, serta kesungguhannya dalam menaati-Nya. Sifat-sifat inilah yang semakin menguat di dalam hatinya sehingga menumbuhkan kerinduan untuk bertemu dengan Allah Azza wa Jalla. Adapun pahala yang kedua adalah apa yang kembali kepadanya berupa manfaat dari doa penerima dan cita-cita spiritualnya (himmah), karena hati orang-orang yang berbakti (al-abrar) memiliki pengaruh pada kondisi saat ini maupun masa depan. Apabila ijtihadnya tepat, ia mendapatkan kedua pahala tersebut; dan jika keliru, ia memperoleh pahala yang pertama tanpa yang kedua. Dengan inilah dilipatgandakan pahala orang yang benar dalam ijtihadnya di sini dan di seluruh tempat lainnya. Wallahu a'lam.