الباب الأول في فضل العلم والتعليم والتعلم وشواهده من النقل والعقل

فضيلة التعليم

فضيلة التعليم

فَضِيلَةُ التَّعْلِيمِ

Keutamaan Mengajar

أَمَّا الْآيَاتُ فَقَوْلُهُ ﷿ ﴿وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ﴾ وَالْمُرَادُ هُوَ التَّعْلِيمُ وَالْإِرْشَادُ

Adapun dalil-dalil dari ayat Al-Qur'an adalah firman Allah Azza wa Jalla: "…dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya." (QS. At-Taubah: 122). Maksud dari ayat ini adalah pengajaran dan bimbingan (irsyad).

وَقَوْلُهُ تَعَالَى وَإِذْ أخذ الله ميثاق الذين أوتوا الكتاب ليبيننه للناس ولا يكتمونه وَهُوَ إِيجَابٌ لِلتَّعْلِيمِ

Dan firman Allah Ta'ala: "Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi Kitab: 'Hendaklah kamu benar-benar menerangkannya (isi Kitab itu) kepada manusia dan janganlah kamu menyembunyikannya.'" (QS. Ali 'Imran: 187). Ayat ini merupakan penegasan kewajiban untuk mengajar.

وَقَوْلُهُ تَعَالَى ﴿وَإِنَّ فَرِيقًا منهم ليكتمون الحق وهم يعلمون﴾ وَهُوَ تَحْرِيمٌ لِلْكِتْمَانِ كَمَا قَالَ تَعَالَى فِي الشهادة ﴿ومن يكتمها فإنه آثم قلبه﴾ وقال ﷺ ما آتى الله عالماً علماً إلا وأخذ عليه من الميثاق ما أخذ على النبيين أن يبينوه للناس ولا يكتموه وَقَالَ تَعَالَى ﴿وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إلى الله وعمل صالحاً﴾ وَقَالَ تَعَالَى ﴿ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ والموعظة الحسنة﴾ وقال تعالى ﴿ويعلمهم الكتاب والحكمة﴾ وَأَمَّا الْأَخْبَارُ فَقَوْلُهُ ﷺ لما بعث معاذاً ﵁ إِلَى الْيَمَنِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا // حديث قال لمعاذ حين بعثه إِلَى الْيَمَنِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلًا واحداً خير لك الحديث أخرجه أحمد من حديث معاذ وفي الصحيحين من حديث سهل ابن سعد أنه قال ذلك لعلي

Dan firman Allah Ta'ala: "Dan sesungguhnya sebagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahuinya." (QS. Al-Baqarah: 146). Ini merupakan pengharaman terhadap tindakan menyembunyikan ilmu, sebagaimana firman-Nya Ta'ala mengenai kesaksian: "Dan barangsiapa menyembunyikannya, maka sungguh ia adalah orang yang berdosa hatinya." (QS. Al-Baqarah: 283). Dan Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidaklah Allah memberikan suatu ilmu kepada seorang alim melainkan Dia telah mengambil janji darinya sebagaimana janji yang diambil dari para nabi, yaitu agar mereka menerangkannya kepada manusia dan tidak menyembunyikannya." Allah Ta'ala juga berfirman: "Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan?" (QS. Fussilat: 33). Dan firman-Nya Ta'ala: "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik." (QS. An-Nahl: 125). Dan firman-Nya Ta'ala: "Dan mengajar mereka Al-Kitab dan Hikmah." (QS. Al-Baqarah: 129). Adapun dari al-akhbar (hadis-hadis), yaitu sabda Rasulullah ﷺ ketika mengutus Mu'adz radhiyallahu 'anhu ke Yemen: "Sungguh, jika Allah memberi petunjuk kepada seorang saja melalui perantaraanmu, itu adalah lebih baik bagimu daripada dunia beserta isinya." // Hadis: Beliau bersabda kepada Mu'adz saat mengutusnya ke Yemen: "Sungguh jika Allah memberi petunjuk kepada seorang saja…" al-hadis. Diriwayatkan oleh Ahmad dari hadis Mu'adz, dan dalam Ash-Shahihain dari hadis Sahl bin Sa'd bahwa beliau menyampaikan hal itu kepada 'Ali.

وقال ﷺ من تعلم باباً من العلم ليعلم الناس أعطي ثواب سبعين صديقاً وقال عيسى ﷺ من علم وعمل وعلم فذلك يدعى عظيماً في ملكوت السموات

Dan Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa mempelajari satu bab dari ilmu untuk diajarkan kepada manusia, niscaya ia diberi pahala tujuh puluh orang shiddiq." Dan Nabi Isa 'alaihissalam berkata: "Barangsiapa belajar, beramal, dan mengajar, maka ia dipanggil sebagai orang yang agung di kerajaan langit (malakut langit)."

وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إذا كان يوم القيامة يقول الله سبحانه للعابدين والمجاهدين ادخلوا الجنة فيقول العلماء بفضل علمنا تعبدوا وجاهدوا فيقول الله ﷿ أنتم عندي كبعض ملائكتي اشفعوا تشفعوا فيشفعون ثم يدخلون الجنة وهذا إنما يكون بالعلم المتعدى بالتعليم لا العلم اللازم الذي لا يتعدى

Rasulullah ﷺ bersabda: "Apabila hari kiamat telah tiba, Allah Subhanahu berfirman kepada para ahli ibadah dan mujahid: 'Masuklah kalian ke dalam surga!' Maka para ulama berkata: 'Berkat keutamaan ilmu kamilah mereka beribadah dan berjihad.' Lalu Allah Azza wa Jalla berfirman: 'Kalian di sisi-Ku bagaikan sebagian malaikat-Ku, berilah syafaat niscaya syafaat kalian dikabulkan!' Maka mereka pun memberi syafaat, lalu mereka masuk ke dalam surga." Kedudukan ini hanya didapatkan dengan ilmu yang kemanfaatannya meluas (muta'addi) melalui pengajaran, bukan ilmu yang bersifat terbatas (lazim) yang tidak meluas manfaatnya.

وَقَالَ ﷺ إِنَّ اللَّهَ ﷿ لا ينتزع العلم انتزاعاً من الناس بعد أن يؤتيهم إياه ولكن يذهب بذهاب العلماء فكلما ذهب عالم ذهب بما معه من العلم حتى إذا لم يبق إلا رؤساء جهالاً إن سئلوا أفتوا بغير علم فيضلون ويضلون وَقَالَ ﷺ مَنْ عَلِمَ عِلْمًا فَكَتَمَهُ أَلْجَمَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ وَقَالَ ﷺ نعم العطية ونعم الهدية كلمة حكمة تسمعها فتطوي عليها ثم تحملها إلى أخ لك مسلم تعلمه إياها تعدل عبادة سنة وقال ﷺ الدنيا ملعونة ملعون ما فيها إلا ذكر الله سبحانه وما والاه أو معلماً أو متعلماً وَقَالَ ﷺ إِنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ سَمَوَاتِهِ وَأَرْضِهِ حَتَّى النَّمْلَةَ في جحرها حتى الْحُوتَ فِي الْبَحْرِ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الخير وقال ﷺ ما أفاد المسلم أخاه فائدة أفضل من حديث حسن بلغه فبلغه وقال ﷺ كلمة من الخير يسمعها المؤمن فيعلمها ويعمل بها خير له من عبادة سنة وخرج رسول الله ﷺ ذات يوم فرأى مجلسين أحدهما يدعون الله ﷿ ويرغبون إليه والثاني يعلمون الناس فقال أما هؤلاء فيسألون الله تعالى فإن شاء أعطاهم وإن شاء منعهم وأما هؤلاء فيعلمون الناس وإنما بعثت معلماً ثم عدل إليهم وجلس معهم وقال ﷺ مثل ما بعثني الله ﷿ به من الهدى والعلم كمثل الغيث الكثير أصاب أرضاً فكانت منها بقعة قبلت الماء فأنبتت الكلأ والعشب الكثير وكانت منها بقعة أمسكت الماء فنفع الله ﷿ بها الناس فشربوا منها وسقوا وزرعوا وكانت منها طائفة قيعان لا تمسك ماء ولا تنبت كلأ اه فالأول ذكره مثلاً للمنتفع بعلمه والثاني ذكره مثلاً للنافع والثالث للمحروم منهما

Dan Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak mencabut ilmu secara sekaligus dari manusia setelah Dia memberikannya kepada mereka, melainkan ilmu itu lenyap dengan wafatnya para ulama. Setiap kali seorang alim wafat, lenyap pulalah ilmu yang ada padanya, hingga ketika tidak tersisa lagi kecuali pemimpin-pemimpin yang jahil; jika mereka ditanya, mereka memberi fatwa tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan." Dan Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa mengetahui suatu ilmu lalu menyembunyikannya, niscaya Allah akan mengekangnya pada hari kiamat dengan kekang dari api neraka." Dan Rasulullah ﷺ bersabda: "Sebaik-baik pemberian dan sebaik-baik hadiah adalah kalimat hikmah yang engkau dengar lalu engkau simpan dalam hatimu, kemudian engkau sampaikan kepada saudaramu sesama muslim untuk engkau ajarkan kepadanya; hal itu setara dengan ibadah satu tahun." Dan Rasulullah ﷺ bersabda: "Dunia itu terlaknat dan terlaknat pula apa yang ada di dalamnya, kecuali zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan apa yang mengiringinya, atau seorang pengajar, atau seorang penuntut ilmu." Dan Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala, para malaikat-Nya, serta penghuni langit dan bumi-Nya, hingga semut di dalam lubangnya dan ikan paus di lautan, benar-benar bershalawat (mendoakan kebaikan) atas orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia." Dan Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidak ada faedah yang diberikan seorang muslim kepada saudaranya yang lebih utama daripada hadis yang baik yang sampai kepadanya lalu ia menyampaikannya." Dan Rasulullah ﷺ bersabda: "Satu kalimat kebaikan yang didengar oleh seorang mukmin lalu ia mempelajarinya dan mengamalkannya adalah lebih baik baginya daripada ibadah satu tahun." Pada suatu hari Rasulullah ﷺ keluar lalu melihat dua majelis; yang satu berdoa kepada Allah Azza wa Jalla dan berharap kepada-Nya, sedangkan yang kedua mengajarkan ilmu kepada manusia. Maka beliau bersabda: "Adapun mereka itu memohon kepada Allah Ta'ala; jika Dia berkehendak Dia memberi mereka dan jika Dia berkehendak Dia menahannya. Sedangkan mereka ini mengajarkan manusia, dan sesungguhnya aku diutus sebagai seorang pengajar." Kemudian beliau beralih menuju mereka dan duduk bersama mereka. Dan Rasulullah ﷺ bersabda: "Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah Azza wa Jalla utus aku dengannya adalah seperti hujan lebat yang menyiram bumi. Di antaranya ada bagian tanah subur yang menyerap air lalu menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rumput yang banyak. Di antaranya ada pula bagian tanah keras yang menahan air sehingga Allah memberi manfaat dengannya kepada manusia; mereka minum darinya, memberi minum (ternak), dan bercocok tanam. Dan di antaranya ada kelompok tanah datar (tandus) yang tidak menahan air dan tidak menumbuhkan rumput…" Golongan pertama beliau sebutkan sebagai perumpamaan bagi orang yang mengambil manfaat dari ilmunya, yang kedua sebagai perumpamaan bagi orang yang memberi manfaat kepada orang lain, dan yang ketiga bagi orang yang terhalang dari kedua kebaikan tersebut.

وَقَالَ ﷺ إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ علم ينتفع به الحديث وَقَالَ ﷺ الدَّالُّ عَلَى الْخَيْرِ كَفَاعِلِهِ وَقَالَ ﷺ لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ أَتَاهُ الله ﷿ حكمة فهو يقضي بها ويعلمها الناس ورجل أَتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الخير وقال ﷺ على خلفائي رحمة الله قِيلَ وَمَنْ خُلَفَاؤُكَ قَالَ الَّذِينَ يُحْيُونَ سُنَّتِي ويعلمونها عباد الله وأما الآثار فقد قال عمر ﵁ من حدث حديثاً فعمل به فله مثل أجر من عمل ذلك العمل

Dan Rasulullah ﷺ bersabda: "Apabila anak Adam meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: ilmu yang dimanfaatkan…" al-hadis. Dan Rasulullah ﷺ bersabda: "Orang yang menunjukkan kepada kebaikan adalah seperti orang yang melakukannya." Dan Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidak boleh ada dengki (ghibthah) kecuali dalam dua hal: seseorang yang diberi hikmah oleh Allah Azza wa Jalla lalu ia memutuskan perkara dengannya dan mengajarkannya kepada manusia, dan seseorang yang diberi harta oleh Allah lalu ia menguasakannya untuk dibelanjakan di jalan kebaikan." Dan Rasulullah ﷺ bersabda: "Semoga rahmat Allah tercurah atas para penggantiku (khalifahku)." Ditanyakan: "Siapakah para penggantimu?" Beliau menjawab: "Orang-orang yang menghidupkan sunnahku dan mengajarkannya kepada hamba-hamba Allah." Adapun dari atsar, Umar radhiyallahu 'anhu berkata: "Barangsiapa menyampaikan suatu hadis lalu hadis itu diamalkan, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengamalkan amalan tersebut."

وقال ابن عباس ﵄ معلم الناس الخير يستغفر له كل شيء حتى الحوت في البحر

Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata: "Orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia akan dimohonkan ampunan baginya oleh segala sesuatu, hingga ikan paus di lautan."

وقال بعض العلماء العالم يدخل فيما بين الله وبين خلقه فلينظر كيف يدخل

Sebagian ulama berkata: "Seorang alim bertindak sebagai perantara antara Allah dan makhluk-Nya, maka hendaklah ia memperhatikan bagaimana ia menempatkan dirinya saat bertindak sebagai perantara tersebut."

وروي أن سفيان الثوري ﵀ قدم عسقلان فمكث لا يسأله إنسان فقال اكروا لي لأخرج من هذا البلد هذا بلد يموت فيه العلم

Diriwayatkan bahwasanya Sufyan Ats-Tsauri رحمة الله عليه datang ke Asqalan, lalu beliau tinggal beberapa lama tanpa ada seorang pun yang bertanya kepadanya (tentang ilmu). Maka beliau berkata: "Sewakanlah kendaraan untukku agar aku keluar dari negeri ini, karena ini adalah negeri tempat matinya ilmu."

وإنما قال ذلك حرصاً على فضيلة التعليم واستبقاء العلم به وقال عطاء ﵁ دخلت على سعيد بن المسيب وهو يبكي فقلت ما يبكيك قال ليس أحد يسألني عن شيء وقال بعضهم العلماء سرج الأزمنة كل واحد مصباح زمانه يستضيء به أهل عصره

Beliau mengatakan demikian semata-mata karena dorongan semangat untuk meraih keutamaan mengajar serta menjaga kelestarian ilmu dengannya. Atha' radhiyallahu 'anhu berkata: "Aku mendatangi Sa'id bin Al-Musayyib dan beliau sedang menangis. Lalu aku bertanya: 'Apakah yang membuatmu menangis?' Beliau menjawab: 'Tidak ada seorang pun yang menanyakan sesuatu kepadaku.'" Dan sebagian ulama berkata: "Para ulama adalah pelita zaman; masing-masing dari mereka adalah pelita pada zamannya yang menjadi penerang bagi masyarakat pada masanya."

وَقَالَ الحسن ﵀ لَوْلَا الْعُلَمَاءُ لَصَارَ الناس مثل البهائم أي أنهم بالتعليم يخرجون الناس من حد البهيمية إلى حد الإنسانية

Al-Hasan رحمة الله عليه berkata: "Seandainya bukan karena para ulama, niscaya manusia akan menjadi seperti binatang ternak." Maksudnya, melalui pengajaranlah para ulama mengeluarkan manusia dari batas kebinatangan menuju derajat kemanusiaan.

وقال عكرمة إن لهذا العلم ثمناً قيل وما هو قال أن تضعه فيمن يحسن حمله ولا يضيعه

Ikrimah berkata: "Sesungguhnya ilmu ini memiliki harga." Ditanyakan: "Apakah harganya?" Beliau menjawab: "Hendaklah engkau mengajarkannya kepada orang yang mampu membawanya dengan baik dan tidak menyia-nyiakannya."

وقال يحيى بن معاذ العلماء أرحم بأمة محمد ﷺ من آبائهم وأمهاتهم قيل وكيف ذلك قال لأن آباءهم وأمهاتهم يحفظونهم من نار الدنيا وهم يحفظونهم من نار الآخرة

Yahya bin Mu'adh berkata, "Para ulama lebih menyayangi umat Muhammad ﷺ daripada ayah dan ibu mereka sendiri." Ditanyakan kepadanya, "Bagaimana bisa demikian?" Beliau menjawab, "Karena ayah dan ibu mereka menjaga mereka dari api dunia, sedangkan para ulama menjaga mereka dari api akhirat."

وقيل أول العلم الصمت ثم الاستماع ثم الحفظ ثم العمل ثم نشره

Dikatakan pula, "Awal dari ilmu adalah diam, kemudian mendengarkan, lalu menghafal (memelihara), kemudian mengamalkan, lalu menyebarkannya."

وقيل علم علمك من يجهل وتعلم ممن يعلم ما تجهل فإنك إذا فعلت ذلك علمت ما جهلت وحفظت ما علمت

Dikatakan pula, "Ajarkanlah ilmumu kepada orang yang tidak tahu, dan belajarlah dari orang yang tahu tentang apa yang tidak kamu ketahui. Jika kamu melakukan hal itu, kamu akan mengetahui apa yang tadinya tidak kamu ketahui dan menjaga apa yang telah kamu ketahui."

وقال معاذ بن جبل في التعليم والتعلم ورأيته أيضاً مرفوعاً تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ فَإِنَّ تَعَلُّمَهُ لِلَّهِ خَشْيَةٌ وَطَلَبَهُ عِبَادَةٌ وَمُدَارَسَتَهُ تَسْبِيحٌ وَالْبَحْثَ عَنْهُ جِهَادٌ وَتَعْلِيمَهُ مَنْ لَا يَعْلَمُهُ صَدَقَةٌ وَبَذْلَهُ لِأَهْلِهِ قُرْبَةٌ وَهُوَ الْأَنِيسُ فِي الْوَحْدَةِ وَالصَّاحِبُ فِي الْخَلْوَةِ والدليل على الدين والمصبر على السراء والضراء والوزير عند الأخلاء والقريب عند الغرباء ومنار سبيل الجنة يَرْفَعُ اللَّهُ بِهِ أَقْوَامًا فَيَجْعَلُهُمْ فِي الْخَيْرِ قَادَةً سَادَةً هُدَاةً يُقْتَدَى بِهِمْ أَدِلَّةً فِي الخير تقتص آثارهم وترمق أفعالهم وترغب الملائكة في خلتهم وبأجنحتها تمسحهم وكل رطب ويابس لهم يستغفر حتى حيتان البحر وهوامه وسباع البر وأنعامه والسماء ونجومها لأن العلم حياة القلوب من العمى ونور الأبصار من الظلم وقوة الأبدان من الضعف يبلغ به العبد مَنَازِلَ الْأَبْرَارِ وَالدَّرَجَاتِ الْعُلَى وَالتَّفَكُّرُ فِيهِ يُعْدَلُ بِالصِّيَامِ وَمُدَارَسَتُهُ بِالْقِيَامِ بِهِ يُطَاعُ اللَّهُ ﷿ وبه يعبد وبه يوحد وبه يمجد وَبِهِ يُتَوَرَّعُ وَبِهِ تُوصَلُ الْأَرْحَامُ وَبِهِ يُعْرَفُ الحلال والحرام وَهُوَ إِمَامٌ وَالْعَمَلُ تَابِعُهُ يُلْهَمُهُ السُّعَدَاءُ وَيُحْرَمُهُ الأشقياء نسأل الله تعالى حسن التوفيق

Mu'adh bin Jabal berkata mengenai pengajaran dan menuntut ilmu—dan aku juga melihat riwayat ini diriwayatkan secara marfu' (sampai kepada Nabi ﷺ): "Pelajarilah ilmu, karena memelajarinya karena Allah adalah khasyyah (rasa takut yang dilandasi keagungan Allah), menuntutnya adalah ibadah, mengulangnya (mudarasah) adalah tasbih, mengkajinya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang tidak tahu adalah sedekah, serta mencurahkannya kepada ahlinya adalah qurbah (pendekatan diri kepada Allah). Ilmu adalah teman setia dalam kesendirian, sahabat dalam berkhalwat, penunjuk jalan agama, pendorong kesabaran dalam suka dan duka, pendamping di antara para sahabat, kerabat di tengah orang-orang asing, dan menara jalan menuju surga. Allah meninggikan derajat kaum-kaum dengannya, lalu menjadikan mereka sebagai pemimpin, pemuka, dan petunjuk dalam kebaikan yang diteladani, serta penunjuk jalan kebaikan yang jejaknya diikuti dan perbuatannya diamati. Para malaikat merindukan persahabatan dengan mereka dan mengusapkan sayap-sayapnya kepada mereka. Segala yang basah dan kering memohonkan ampunan bagi mereka, hingga ikan-ikan di laut beserta hewan melatanya, binatang buas di darat beserta hewan ternaknya, serta langit dan bintang-bintangnya. Sebab, ilmu adalah kehidupan hati dari kebutaan, cahaya penglihatan dari kegelapan, dan kekuatan badan dari kelemahan. Dengan ilmu, seorang hamba mencapai kedudukan orang-orang yang berbakti (al-abrar) dan derajat yang tinggi. Merenungkannya setara dengan berpuasa, dan mengulangnya setara dengan shalat malam (qiyamul lail). Melalui ilmu Allah Azza wa Jalla ditaati, disembah, ditauhidkan, diagungkan, dijadikan sarana bersikap wara', menyambung tali silaturahmi, serta mengenali yang halal dan yang haram. Ilmu adalah imam (pemimpin) dan amal adalah pengikutnya; ilmu diilhamkan kepada orang-orang yang bahagia dan diharamkan bagi orang-orang yang celaka. Kita memohon kepada Allah Ta'ala taufik yang baik."