• أنواع الدية
أنواع الدية
Macam-Macam Diyat
﴿فصل﴾ في بيان الدية. وهي المال الواجب بالجناية على حُرٍّ في نفس أو طرف. (والدية على ضربين: مغلظة، ومخففة)، لا ثلاث لها؛ (فالمغلظة) بسبب قتل الذكر الحر المسلم عمدا (مائة من الإبل) والمائة مثلثة: (ثلاثون حِقَّةً، وثلاثون جذعة)، وسبق معناهما في كتاب الزكاة، (وأربعون خَلِفة) بفتح الخاء المعجمة وكسر اللام وبالفاء، وفسرها المصنف بقوله: (في بطونها أولادها). والمعنى أن الأربعين حوامل، ويثبت حملها بقول أهل الخبرة بالإبل.
(Pasal) menerangkan tentang Diyat. Diyat adalah harta yang wajib dibayarkan karena tindak pidana (jinayah) terhadap orang merdeka (Al-Hurr), baik pada nyawanya maupun pada anggota tubuhnya. (Dan Diyat terbagi menjadi dua macam: Diyat yang diperberat (Mughallazhah) dan Diyat yang diringankan (Mukhaffafah)), dan tidak ada macam yang ketiga. (Maka adapun Diyat Mughallazhah) yang diwajibkan sebab pembunuhan sengaja (Amd) terhadap laki-laki muslim merdeka adalah (seratus ekor unta). Dan seratus unta tersebut terbagi ke dalam tiga jenis (mutsallatsah): (Tiga puluh ekor unta Hiqqah, dan tiga puluh ekor unta Jadz'ah), dan makna keduanya telah dibahas pada Kitab Zakat, (Serta empat puluh ekor unta Khalifah) dengan men-fathah-kan huruf kha bertitik dan meng-kasrah-kan huruf lam lalu huruf fa. Dan Mushannif menafsirkannya melalui sabdanya: (Yaitu unta yang di dalam perutnya terdapat janin (sedang bunting)). Maknanya, keempat puluh ekor unta tersebut dalam keadaan mengandung/hamil, dan kehamilannya ditetapkan bersandar pada persaksian orang-orang yang ahli dalam urusan unta.
(والمخففة) بسب قتل الذكر الحر المسلم (مائة من الإبل) والمائة مخمسة: (عشرون حقة، وعشرون جذعة، وعشرون بنت لبون، وعشرون ابن لبون، وعشرون بنت مخاض). ومتى وجبت الإبل على قاتل أو عاقلة أخدت من إبل من وجبت عليه، وإن لم يكن له إبل فتؤخذ من غالب إبل بلدة بلدي أو قبيلة بدوي؛ فإن لم يكن في البلدة أو القبيلة إبلٌ فتؤخذ من غالب إبل أقرب البلاد أو القبائل إلى موضع المؤدي.
(Sedangkan Diyat Mukhaffafah) yang diwajibkan sebab pembunuhan (tersalah) terhadap laki-laki muslim merdeka adalah (seratus ekor unta). Dan seratus unta tersebut dibagi ke dalam lima jenis (mukhammasah): (Dua puluh ekor unta Hiqqah, dua puluh ekor unta Jadz'ah, dua puluh ekor unta Bintu Labun, dua puluh ekor unta Ibnu Labun, dan dua puluh ekor unta Bintu Makhadh). Dan kapan pun kewajiban menyerahkan unta jatuh atas diri pembunuh maupun keluarga aqilahnya, maka unta tersebut diambil dari populasi unta milik orang yang dikenai kewajiban tersebut. Dan seandainya ia tidak memiliki unta, maka diambilkan dari kualifikasi unta yang menjadi mayoritas di kota setempat, atau dari kabilah pedalaman (badui). Lantas jika di kota atau kabilah tersebut sama sekali tidak terdapat unta, maka diambilkan dari jenis mayoritas unta di negeri atau kabilah terdekat menuju tempat domisili pihak yang wajib membayarnya.
(فإن عدمت الإبل انتقل إلى قيمتها). وفي نسخة أخرى فإن أعوزت الإبل انتقل إلى قيمتها. هذا ما في القول الجديد وهو الصحيح، (وقيل) في القديم (ينتقل إلى ألف دينار) في حق أهل الذهب، (أو) ينتقل إلى (اثني عشر ألف درهم) في حق أهل الفضة، وسواء فيما ذكر الدية المغلظة والمخففة؛
(Maka apabila keberadaan unta tidak ditemukan (sulit didapat), kewajiban tersebut beralih kepada nilai nominal (qimah) unta tersebut). Dan dalam salinan naskah lain tertulis "apabila unta tidak tersedia, beralih pada nilainya". Inilah yang menjadi ketetapan dalam Qaul Jadid (pendapat baru Imam Syafi'i), dan ini adalah pendapat yang sahih. (Sedangkan dikatakan (Qaul/pendapat lain)) di dalam Qaul Qadim (pendapat lama Imam Syafi'i) (Kewajiban beralih kepada pembayaran seribu Dinar) bagi penduduk pengguna (mata uang) emas, (atau) beralih kepada (pembayaran dua belas ribu Dirham) bagi penduduk pengguna perak. Dan nominal pergantian tersebut berlaku setara tanpa perbedaan, baik itu untuk diyat mughallazhah maupun mukhaffafah;
(وإن غلظت) على القديم (زيد عليها الثلث) أي قدره؛ ففي الدنانير ألف وثلثمائة وثلاثة وثلاثون دينارا وثلث دينار، وفي الفضة ستة عشر ألف درهم.
(Dan seandainya diyat tersebut diperberat (tagihannya)) menurut Qaul Qadim (maka ditambah dengan tagihan sepertiga dari nominal dasarnya) yakni sepertiga nilainya; sehingga dalam takaran Dinar menjadi seribu tiga ratus tiga puluh tiga sepertiga (1333,33) Dinar, dan dalam takaran Perak menjadi enam belas ribu (16000) Dirham.
(وتغلظ دية الخطأ في ثلاثة مواضع): أحدها (إذا قتل في الحرم) أي حرم مكة. أما القتل في حرام المدينة أو القتل في حال الإحرام فلا تغليظ فيه على الأصح. والثاني مذكور في قول المصنف: (أو قتل في الأشهر الحرم) أي ذي القعدة وذي الحجة والمحرم ورجب. والثالث مذكور في قوله: (أو قتل) قريبا له (ذا رحم مَحْرم) بسكون المهملة؛ فإن لم يكن الرحم محرما له كبنت العم فلا تغليظ في قتلها.
(Dan diyat pembunuhan tersalah (khatha') menjadi diperberat (mughallazhah) di dalam tiga kondisi tempat/waktu): Salah satunya adalah (Apabila tindak pembunuhan terjadi di wilayah Tanah Haram) yakni tanah suci Mekah. Adapun pembunuhan yang terjadi di tanah haram Madinah maupun pembunuhan dalam keadaan berihram, maka tidak ada pemberatan diyat atasnya menurut pendapat yang lebih sahih (Al-Ashah). Kondisi kedua disebutkan dalam sabda Mushannif: (Atau pembunuhan terjadi pada Bulan-Bulan Haram) yakni Dzulkaidah, Dzulhijah, Muharam, dan Rajab. Serta kondisi yang ketiga disebutkan dalam pernyataannya: (Atau jika seseorang membunuh) kerabatnya sendiri (yang masih memiliki ikatan nasab mahram) dengan mensukunkan huruf ha tanpa titik; Maka seandainya kerabat yang dibunuh bukanlah mahram baginya semisal anak perempuan pamannya (sepupu), maka tidak ada pemberatan (diyat) dalam pembunuhannya.
(ودية المرأة) والحنثى المشكل (على النصف من دية الرجل) نفسا وجرحا؛ ففي دية حرة مسلمة في قتل عمد أو شبه عمد خمسون من الإبل: خمسة عشر حِقَّة، وخمسة عشر جَذعة، وعشرون خَلِفة إبلا حوامل. وفي قتل خطأ عشر بنات مخاض، وعشر بنات لبون، وعشر بني لبون، وعشر حقاق، وعشر جذاع. (ودية اليهودي والنصراني) والمستأمن والمعاهد (ثلث دية المسلم) نفسا وجرحا. (وأما المجوسي ففيه ثلثا عشر دية المسلم) وأخصر منه ثلث خمس دية المسلم.
(Dan Diyat bagi seorang perempuan) serta Khuntsa Musykil (bernilai separuh (setengah) dari diyat seorang laki-laki) baik berkenaan dengan diyat nyawa maupun diyat anggota tubuh (luka). Maka dalam kasus terbunuhnya seorang wanita muslimah merdeka karena pembunuhan sengaja ('Amd) atau semi-sengaja (Syibhul 'Amd), wajib membayarkan lima puluh ekor unta: Lima belas ekor Hiqqah, lima belas ekor Jadz'ah, dan dua puluh ekor Khalifah (unta hamil). Dan dalam pembunuhan tersalah (Khatha'), diyatnya adalah sepuluh Bintu Makhadh, sepuluh Bintu Labun, sepuluh Ibnu Labun, sepuluh Hiqqah, dan sepuluh Jadz'ah. (Sedangkan Diyat bagi seorang penganut Yahudi dan Nasrani) serta orang kafir Musta'man dan Mu'ahad (adalah sepertiga dari Diyat seorang Muslim) baik diyat nyawa maupun luka. (Adapun bagi orang Majusi, maka padanya berlaku dua pertiga dari sepersepuluh diyat Muslim), dan dengan redaksi yang lebih ringkas adalah seperlima dari diyat Muslim.
(وتكمل دية النفس). وسبق أنها مائة من الإبل (في قطع) كل من (اليدين، والرجلين) فيجب في كل يد أو رجل خمسون من الإبل، وفي قطعها مائة من الإبل، (و) تكمل الدية في قطع (الأنف) أي في قطع ما لاَن منه، وهو المارن. وفي قطع كل من طرفيه والحاجز ثلث دية. (و) تكمل الدية في قطع (الأذنين) أو قلعهما بغير إيضاح؛ فإن حصل مع قلعهما إيضاحٌ وجب أرشه. وفي كل أذن نصف دية، ولا فرق فيما ذكر بين أذن السميع وغيره. ولو أيبس الأذنين بجناية عليهما ففيها دية، (والعينين) وفي كل منها نصف دية، وسواء في ذلك عينٌ أحْوَلُ أو أَعْوَر أو أعمَش، (و) في (الجفون الأربعة) في كل جفن منها ربع دية، (واللسان) الناطق سليم الذوق ولو كان اللسانُ لِأَلثغَ وأرت، (والشفتين) وفي قطع إحداهما نصف دية، (وذهاب الكلام) كله، وفي ذهاب بعضه بقسطه من الدية. والحروف التي توزع الدية عليها ثمانية وعشرون حرفا في لغة العرب، (وذهاب البصر) أي إذهابه من العينين. أما إذهابه من إحداهما ففيه نصف دية، ولا فرقَ في العين بين صغيرةٍ وكبيرة، وعين شيخٍ وطفل، (وذهاب السمع) من الأذنين. وإن نقص من أذن واحدة سدت. وضبط منتهى سماع الأخرى. ووجب قسط التفاوت، وأخذ بنسبته من تلك الدية، (وذهاب الشم) من المَنخَرين. وإن نقص الشم وضبط قدره وجب قسطه من الدية، وإلا فحكومة، (وذهاب العقل). فإن زال بجرح على الرأس له أرش مقدر أو حكومة وجبت الدية مع الأرش، (والذكر) السليم ولو ذكر صغير وشيخ وعنين. وقطع الحشفة كالذكر؛ ففي قطعها وحدَها دية، (والأنثيين) أي البيضتين ولو من عَنِين ومجبوب. وفي قطع إحداهما نصف دية.
(Dan Diyat Nyawa diwajibkan secara utuh/sempurna). Dan telah berlalu penjelasannya bahwa diyat nyawa bernilai seratus ekor unta, (pada kasus pemotongan) atas setiap-setiap (dua belah tangan/lengan, dan dua belah tungkai kaki). Maka pada pemotongan setiap satu tangan atau satu kaki wajib dibayarkan lima puluh ekor unta, dan pemotongan keduanya secara tuntas diwajibkan seratus ekor unta. (Dan) diyat juga diwajibkan sempurna pada kasus pemotongan (Hidung) yakni pada bagian lunak dari hidung yang disebut al-Maran. Adapun pemotongan pada setiap ujung sisi cupingnya serta tulang rawan pembatasnya dikenakan sepertiga diyat. (Dan) Diyat sempurna juga diwajibkan atas pemotongan (Dua helai daun Telinga) atau pencabutan keduanya selama tidak menimbulkan luka yang menyingkap tulang (Mudhihah); Lantas jika bersamaan dengan pencabutannya menimbulkan mudhihah, maka wajib menambahkan pembayaran kompensasi (arsy) dari lukanya. Pada setiap satu daun telinga bernilai separuh diyat. Dan dalam hukum ini, tidak ada perbedaan antara telinga orang yang pendengarannya normal maupun selainnya. Seandainya (pelaku) merusak kedua telinga hingga menjadi kering/mati saraf akibat tindakannya, maka pada hal itu dikenai satu diyat utuh. (Dan pada kedua Bola Mata) setiap satunya bernilai separuh diyat, terlepas apakah mata tersebut juling (ahwal), buta sebelah (a'war), ataupun menderita mata rabun (a'masy). (Dan) pada pemotongan (Keempat Kelopak Mata) setiap kelopaknya diwajibkan seperempat diyat. (Dan pada Lidah) yang fasih berbicara serta indra perasanya normal sekalipun lidah tersebut cadel (altsagh) atau gagap (aratt). (Dan pada Dua Bibir) dan untuk pemotongan salah satunya dikenai separuh diyat. (Dan hilangnya fungsi Berbicara) secara total, namun jika hanya sebagian fungsi bicara yang hilang maka diukur persentase proporsional dari diyatnya. Dan huruf alfabetis yang membagi takaran nilai diyat ini merujuk kepada dua puluh delapan huruf dalam bahasa Arab. (Dan hilangnya fungsi Penglihatan) yakni meniadakan penglihatan dari kedua mata; adapun bilamana hanya membutakan satu mata maka berlaku separuh diyat, dan tidak ada pembedaan status mata antara yang kecil maupun yang besar, mata lansia maupun mata bayi. (Dan hilangnya fungsi Pendengaran) dari kedua belah telinga. Apabila pendengaran cacat (berkurang) pada salah satu telinga, maka telinga tersebut disumbat, lantas dilakukan pengujian/pengukuran jarak maksimal pendengaran telinga sebelahnya (yang normal), lalu diwajibkan membayar selisih kekurangannya tersebut, dan diambil pembayarannya menurut rasio kerusakannya dari nominal diyat secara menyeluruh. (Dan hilangnya fungsi Penciuman) dari kedua lubang hidung; Jika fungsi penciuman cacat dan mampu diukur kadar penurunannya, maka wajib membayar porsi diyat yang setara, jika tidak mampu diukur maka berlaku hukum kompensasi peradilan (Hukumah). (Dan hilangnya fungsi Akal). Maka apabila hilangnya akal akibat luka sobekan di area kepala (yang sejatinya telah memiliki takaran arsy yang spesifik) ataupun arsy dari hukumah, maka Diyat atas akal tetap wajib dibayarkan bersamaan dengan pembayaran arsy luka kepalanya. (Dan penis/Kalam) yang organ fisiknya sehat sekalipun ia milik anak kecil, lansia, maupun orang yang impoten ('innin). Dan hukum pemotongan kepala penis (hasyafah) sama dengan memotong penisnya secara utuh; maka dengan sekadar memotong hasyafahnya, wajib dikenakan pembayaran Diyat utuh. (Dan Dua Buah Zakar/Testis) yakni al-baidhatain (biji pelir) walaupun organ tersebut milik pria impoten atau pria yang penisnya telah terpotong (majbub). Dan pada pemotongan satu buah zakar dikenai separuh diyat.
(وفي الموضحة) من الذكر الحر المسلم، (و) في (السن) منه (خمس من الإبل، وفي) إذهاب (كل عضو لا منفعة فيه حكومة). وهي جزء من الدية نسبته إلى دية النفس نسبة نقصها أي الجناية من قيمة المجني عليه لو كان رقيقا بصفاته التي هو عليها؛ فلو كانت قيمة المجني عليه بلا جناية على يده مثلا عشرة، وبدونها تسعة فالنقص عشر. فيجب عشر دية النفس.
(Dan pada kasus luka Mudhihah) yang terjadi pada seorang laki-laki muslim merdeka, (dan) pada kasus (Tanggalnya Gigi) miliknya, dikenai kompensasi (lima ekor unta. Dan dalam) pencabutan/penghilangan fungsi (setiap anggota tubuh yang tidak memiliki fungsi manfaat, maka padanya ditetapkan Hukumah (Kompensasi keadilan hakim)). Hukumah merupakan suatu bagian persentase dari nominal Diyat, yang rasio penurunannya (sebab luka/jinayah) disejajarkan/dibandingkan kepada diyat jiwa secara utuh seakan-akan tubuh korban (setelah cacat) diestimasi nilainya seperti nilai jual seorang hamba sahaya dengan kualifikasi tersebut. Umpamanya jika nilai harga tubuh korban (sebagai budak) yang utuh tanpa luka di lengannya adalah sepuluh keping (dinar), kemudian setelah diestimasi (ternyata ia cacat/tangannya rusak) nilainya anjlok menjadi sembilan, maka defisit nilainya ialah sepersepuluh. Oleh karena itu diwajibkan baginya untuk menanggung pembayaran kompensasi sebesar sepersepuluh dari besaran Diyat jiwa seutuhnya.
(ودية العبد) المعصوم (قيمته)، والأمة كذلك ولو زادت قيمة كل منهما على دية الحر. ولو قطع ذكر عبد وأنثياه وجبت قيمتان في الأظهر. (ودية الجنين الحر) المسلم تبعا لأحد أبويه إن كانت أمه معصومة حال الجناية (غرة) أي نسمة من الرقيق (عبد أو أمة) سليم من عيب مبيع. ويشترط بلوغ الغرة نصف عشر الدية. فإن فقدت الغرة وجب بدلها، وهو خمسة أبعرة. وتجب الغرة على عاقلة الجاني. (ودية الجنين الرقيق عشر قيمة أمه) يوم الجناية عليها ويكون ما وجب لسيدها ويجب في الجنين اليهودي أو النصراني غرة كثلث غرة مسلم، وهو بعير وثلثا بعير.
(Adapun Diyat bagi seorang Budak (Abd)) yang terjaga darahnya (Ma'shum) adalah (diukur senilai dengan harga budak tersebut), dan berlaku hukum yang sama untuk budak perempuan (Amah), terlepas sekiranya valuasi harga dari masing-masing keduanya melampaui besaran Diyat manusia merdeka sekalipun. Seandainya penis seorang hamba dan dua buah zakarnya dipotong seluruhnya, maka diwajibkan ganti rugi sebesar dua kali lipat harga budak tersebut menurut pendapat Al-Azhhar. (Serta Diyat bagi janin dari keturunan manusia merdeka) lagi muslim, yang bersandar (mengikuti status) kepada salah satu dari kedua orang tuanya (asalkan ibunya merupakan sosok wanita yang ma'shum/terjaga ketika tindak kejahatan berlangsung), adalah (membayar tebusan Ghurrah) yakni dengan membebaskan jiwa seorang hamba sahaya (baik ia budak laki-laki ataupun perempuan) yang terbebas dari kecacatan selayaknya syarat barang jualan. Dan disyaratkan nominal Ghurrah tersebut harus mencapai estimasi ukuran separuh dari sepersepuluh Diyat sempurna. Maka seandainya sosok Ghurrah tersebut tidak bisa dihadirkan, diwajibkan membayar tebusan setara, yakni lima ekor unta. Dan kewajiban membayar Ghurrah dibebankan ke atas konsorsium kerabat aqilah pelaku jinayah. (Adapun Diyat untuk janin milik budak adalah sepersepuluh dari harga Ibunya) yang dinilai pada hari terjadinya tindak kriminal atas ibunya, dan aset Diyat ini sah menjadi hak milik Tuan dari ibunya. Dan atas kematian janin Yahudi maupun Nasrani wajib dibayarkan Ghurrah sepertiga dari nominal Ghurrah muslim, yakni setara dengan satu ekor unta ditambah dua pertiga ekor unta.