(التوكيد)
التَّوكيدُ (أو التأكيدُ) تكريرٌ يُرادُ به تثبيتُ أمرِ المُكرَّر في نفس السامعِ، نحو "جاءَ عليٌّ نفسُهُ"، ونحو "جاءَ عليٌّ عليٌّ".
*Taukid* (atau *ta'kid* [penegasan/penguat]) adalah pengulangan yang dimaksudkan untuk menetapkan perkara yang diulang di dalam jiwa pendengar, seperti: "جاءَ عَلِيٌّ نَفْسُهُ" (*ja'a 'Aliyyun nafsuhu* – Ali telah datang, dirinya sendiri), dan seperti: "جاءَ عَلِيٌّ عَلِيٌّ" (*ja'a 'Aliyyun 'Aliyyun* – Ali telah datang, Ali).
وفي التّوكيدِ ثلاثةُ مباحث ١- التَّوْكيدُ اللَّفْظيُّ التّوكيدُ قسمانِ لفظيٌّ ومعنويٌّ. فاللفظي يكونُ بإعادةِ المُؤكّدِ بلفظهِ أو بمرادفه، سواءٌ أكان اسماً ظاهراً، أم ضميراً، أم فعلاً، أم حرفاً، أم جملةً. فالظاهرُ نحو "جاءَ عليٌّ عليٌّ". والضمير نحو "جئتَ أنتَ. وقُمنا نحنُ". ومنه قوله تعالى ﴿يا آدمُ اسكُنْ أنتَ وزَوجُكَ الجنّةَ﴾ والفعلُ نحو "جاءَ جاءَ عليٌّ". والحرفُ نحو "لا، لا أبوحُ بالسرّ. والجملةُ نحو "جاءَ عليٌّ، جاءَ عليٌّ، وعليٌّ مجتهدٌ، عليّلإ مجتهدٌ". والمرادفُ نحو "أتى جاءَ عليٌّ". وفائدةُ التوكيدِ اللفظيِّ تقريرُ المؤكدِ في نفسِ السامعِ وتمكينُهُ في قلبِهِ، وإزالةُ ما في نفسهِ من الشُّبهة فيه. (فانك ان قلت "جاءَ علي"، فان اعتقدَ المخاطب أن الجائي هو لا غيره ادميت بذلك وأن أنكرَ، أو ظهرت عليه دلائل الانكار، كرّرت لفظ "علي" دفعاً لإنكاره، أو ازالة للشبهة التي عرضت له. وان قلت "جاءَ علي، جاء علي"، فانما تقول ذلك اذا أنكر السامع مجيئه، أو لاحت عليه شبهةٌ فيه، فتثبت ذلك في قلبه وتُميط عنه الشبهة) . ٢- التَّوْكيدُ الْمَعنَوِيُّ التّوكيدُ المعنوي يكونُ بذكرِ "النّفسِ أو العينِ أو جميع أو عامّةٍ أو كلاَ أو كلتا، على شرطِ أن تُضاف هذه المؤكّداتُ إلى ضميرٍ يُناسِبُ المؤكّدَ،
Dan di dalam pembahasan *taukid* (penguat) terdapat tiga pembahasan: **1. Taukid Lafzhi** *Taukid* terbagi menjadi dua bagian: *lafzhi* (secara lafal) dan *ma'nawi* (secara makna). *Taukid lafzhi* terjadi dengan cara mengulang kata yang dikuatkan (*mu'akkad*) dengan lafalnya sendiri atau dengan sinonimnya, baik kata tersebut berupa *isim zhahir* (kata benda tampak), *dhamir* (kata ganti), *fi'il* (kata kerja), *huruf*, maupun *jumlah* (kalimat). Contoh *isim zhahir* adalah seperti: "جاءَ عليٌّ عليٌّ" (*ja'a 'Aliyyun 'Aliyyun* – telah datang Ali, Ali). Contoh *dhamir* adalah seperti: "جئتَ أنتَ" (*ji'ta anta* – engkau telah datang, engkau) dan "قُمنا نحنُ" (*qumna nahnu* – kami telah berdiri, kami). Di antaranya adalah firman Allah Ta'ala: ﴿يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ﴾ (Wahai Adam, tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga). Contoh *fi'il* adalah seperti: "جاءَ جاءَ عليٌّ" (*ja'a ja'a 'Aliyyun*). Contoh *huruf* adalah seperti: "لا، لا أبوحُ بالسرّ" (*la, la abuhu bis sirri* – tidak, tidak akan kubocorkan rahasia ini). Contoh *jumlah* adalah seperti: "جاءَ عليٌّ، جاءَ عليٌّ" (*ja'a 'Aliyyun, ja'a 'Aliyyun*) dan "عليٌّ مجتهدٌ، عليٌّ مجتهدٌ" (*'Aliyyun mujtahidun, 'Aliyyun mujtahidun*). Dan contoh sinonim (*muradif*) adalah seperti: "أتى جاءَ عليٌّ" (*ata ja'a 'Aliyyun* – telah datang, telah datang Ali). Dan faidah dari *taukid lafzhi* adalah untuk menetapkan kata yang dikuatkan di dalam jiwa pendengar, memantapkannya di dalam hatinya, serta menghilangkan keraguan yang ada di dalam dirinya mengenai hal tersebut. (Sesungguhnya jika Anda mengucapkan "جاءَ علي" [Telah datang Ali], maka jika lawan bicara meyakini bahwa yang datang adalah dia dan bukan orang lain, Anda telah mencukupkan dengan hal itu. Namun jika ia mengingkari, atau tampak padanya tanda-tandanya pengingkaran, Anda mengulang lafal "علي" untuk menolak pengingkarannya, atau menghilangkan keraguan yang menimpanya. Dan jika Anda mengucapkan "جاءَ علي، جاء علي", sesungguhnya Anda mengucapkan hal itu apabila pendengar mengingkari kedatangannya, atau tampak keraguan padanya mengenai hal itu, maka Anda menetapkan hal tersebut di dalam hatinya dan melenyapkan keraguan darinya). **2. Taukid Ma'nawi** *Taukid ma'nawi* terjadi dengan menyebutkan kata "النَّفْس" (*an-nafs* – diri), "العَيْن" (*al-'ain* – diri/zat), "جَمِيع" (*jami'* – seluruh), "عَامَّة" (*'ammah* – umum/seluruh), "كِلَا" (*kila* – kedua [untuk mudzakkar]), atau "كِلْتَا" (*kilta* – kedua [untuk muannats]), dengan syarat bahwa kata-kata penguat (*mu'akkidat*) ini di-*idhafah*-kan kepada *dhamir* yang sesuai dengan kata yang dikuatkan (*mu'akkad*)…
نحو "جاءَ الرجلُ عينُه، والرجلانِ أنفُسهُما. رأيتُ القومَ كلّهم. أحسنتُ إلى فُقراءِ القريةِ عامَّتِهم. جاءَ الرجلانِ كلاهما، والمرأتانِ كلتاهما". وفائدةُ التوكيدِ بالنفس والعينِ رفعُ احتمالِ أن يكون في الكلام مجازٌ أو سهوٌ أو نسيانٌ. (فان قلت "جاء الأميرُ" فربما يتوهم السامع أن اسناد المجيء إليه، هو على سبيل التجوّز أو النسيان أو السهو، فتؤكده بذكر النفس أو العين، رفعاً لهذا الاحتمال، فيعتقد السامع حينئذ أن الجائي هو لا جيشه ولا خدمه ولا حاشيته ولا شيء من الأشياء المتعلقة به) . وفائدةُ التوكيد بكلٍّ وجميعٍ وعامَّةٍ الدلالةُ على الاحاطة والشُّمول. (فاذا قلت "جاء القوم"، فربما يتوهم السامع أن بعضهم قد جاء، والبعض الآخر قد تخلّف عن المجيء. فتقول "جاء القوم كلهم"، دفعاً لهذا التوهم. لذلك لا يقال "جاء علي كله"، لأنه لا يتجزأ. فاذا قلت "اشتريت الفر كله" صح، لأنه يتجزأ من حيث المبيع) . وفائدةُ التوكيد بكِلا وكِلتا اثباتُ الحُكم للاثنين المُؤكّدينِ معاً. (فاذا قلت "جاء الرجلان"، وأنكر السامع أن الحكم ثابت للاثنين معاً، أو توهم ذلك، فتقول "جاء الرجلان كلاهما"، دفعاً لإنكاره، أو دفعاً لتوهمه أن الجائي أحدهما لا كلاهما. لذلك يمتنع أن يقال "اختصم الرجلان كلاهما، وتعاهد سليم وخالد كلاهما"، بل يجب أن تحذف كلمة "كلاهما"، لأن فعل المخاصمة والمعاهدة لا يقع إلا من اثنين فأكثر، فلا حاجة الى توكيد ذلك، لأنّ السامع لا يعتقد ولا يتوهم أنه حاصل من أحدهما دون الآخر) .
…seperti: "جاءَ الرجلُ عينُه، والرجلانِ أنفُسهُما. رأيتُ القومَ كلّهم. أحسنتُ إلى فُقراءِ القريةِ عامَّتِهم. جاءَ الرجلانِ كلاهما، والمرأتانِ كلتاهما" (Telah datang laki-laki itu sendiri, dan dua orang laki-laki itu diri mereka sendiri. Aku telah melihat kaum itu seluruhnya. Aku telah berbuat baik kepada orang-orang fakir di desa itu seluruhnya. Telah datang dua orang laki-laki itu keduanya, dan dua orang perempuan itu keduanya). Dan faidah dari *taukid* dengan kata *an-nafs* dan *al-'ain* adalah untuk menghilangkan kemungkinan adanya majas (kiasan), kekeliruan, atau kelupaan di dalam pembicaraan. (Jika Anda mengucapkan "جاء الأميرُ" [Telah datang sang amir], maka barangkali pendengar menduga bahwa penyandaran kedatangan kepadanya adalah sebagai bentuk kiasan, kelupaan, atau kekeliruan. Maka Anda menguatkannya dengan menyebutkan kata *an-nafs* atau *al-'ain* untuk menghilangkan kemungkinan ini, sehingga pendengar meyakini pada saat itu bahwa yang datang adalah dia sendiri, bukan utusannya, bukan pelayannya, bukan pengawalnya, dan bukan pula sesuatu yang berkaitan dengannya). Dan faidah dari *taukid* dengan kata *kull*, *jami'*, dan *'ammah* adalah untuk menunjukkan cakupan yang menyeluruh (*al-ihathah wa asy-syumul*). (Maka apabila Anda mengucapkan "جاء القوم" [Telah datang kaum itu], barangkali pendengar menduga bahwa sebagian dari mereka telah datang, sedangkan sebagian yang lain tidak datang. Maka Anda mengucapkan "جاء القوم كلهم" [Telah datang kaum itu seluruhnya] untuk menolak dugaan ini. Oleh karena itu, tidak boleh diucapkan "جاء علي كله" [Telah datang Ali seluruhnya], karena ia tidak dapat dibagi-bagi. Namun jika Anda mengucapkan "اشتريت العبد كله" [Aku membeli budak itu seluruhnya], maka hal itu sah, karena ia dapat dibagi-bagi dari segi kepemilikan barang dagangan). Dan faidah dari *taukid* dengan kata *kila* dan *kilta* adalah untuk menetapkan hukum bagi dua hal yang dikuatkan secara bersama-sama. (Maka apabila Anda mengucapkan "جاء الرجلان" [Telah datang dua orang laki-laki itu], sedangkan pendengar mengingkari bahwa hukum tersebut berlaku untuk keduanya secara bersama-sama, atau ia menduga demikian, maka Anda mengucapkan "جاء الرجلان كلاهما" [Telah datang dua orang laki-laki itu keduanya] untuk menolak pengingkarannya, atau menolak dugaannya bahwa yang datang adalah salah satu dari keduanya saja bukan kedua-duanya. Oleh karena itu, dilarang mengucapkan "اختصم الرجلان كلاهما" [Dua orang laki-laki itu keduanya saling bertengkar] dan "تعاهد سليم وخالد كلاهما" [Salim dan Khalid keduanya saling berjanji], melainkan wajib membuang kata "كلاهما", karena perbuatan bertengkar dan berjanji tidak akan terjadi kecuali dari dua orang atau lebih, sehingga tidak perlu menguatkan hal itu, karena pendengar tidak akan meyakini atau menduga bahwa perbuatan tersebut terjadi dari salah satu pihak saja tanpa pihak yang lain).
٣- تتِمَّةٌ ١- إذا أُريدَ تقوية التوكيدِ يُؤتى بعدَ كلمة "كله" بكلمة "أجمع"، وبعدَ كلمةِ "كلها" بكلمة "جمعاء"، وبعدَ كلمة "كلهم" بكلمة "أجمعينَ"، وبعدَ كلمة "كلهنَّ" بكلمة "جُمَع"، تقولُ "جاءَ الصفُّ كلُّهُ أجمعُ" و"جاءَت القبيلةُ كلُّها جمعاءُ"، قال تعالى ﴿فسجدَ الملائكةُ كلُّهُم أجمعونَ﴾ وتقولُ "جاءَ النساءُ كلُّهنَّ جُمَعُ". وقد يُؤكدُ بأجمعَ وجمعاءَ وأجمعينَ وجُمَعَ، وإن لم يَتقدَّمهنَّ لفظ "كلّ" ومنه قوله تعالى ﴿لأغوينَّهُم أجمعينَ﴾ . ٢- لا يجوزُ تثنيةُ "أجمع وجمعاءَ"، استغناءً عن ذلك بِلَفظيْ "كِلا وكلتا" فيقالُ "جاءا جمعانِ" ولا "جاءَتا جمعاوانِ" كما استَغنوا بتثنيةِ "سِيٍّ" عن تثنية "سواءٍ"، فقالوا "زيدٌ وعمرٌو سِيّانِ في الفضيلة"، ولم يقولوا "سواءَانِ". ٣- لا يجوزُ توكيدُ النكرة، إلا إذا كان توكيدُها مفيداً، بحيثُ تكونَ النكرةُ المؤكَّدةَ محدودةً، والتوكيدُ من ألفاظ الإحاطة والشُّمول نحو "اعتكفتُ أُسبوعاً كلَّهُ". ولا يقالُ "صُمتُ دهراًَ كلَّهُ"، ولا "سِرتُ شهراً نفسَهُ"، لأنّ الأول مُبهَمٌ، والثاني مؤكدٌ بما لا يفيدُ الشُّمولَ. ٤- إذا أُريدَ توكيدُ الضميرِ المرفوعِ، المُتَّصلِ أو المستتر، بالنفس أو العين؛ وجبَ توكيدُهُ أوَّلاً بالضميرِ المنفصلِ، نحو "جئتُ أنا نفسي. ذهبوا هم أنفسُهم. عليٌّ سافرَ نفسُهُ". أما إن كان الضميرُ منصوباً أو مجروراً، فلا يجبُ فيه ذلكَ، نحو "أكرمتُهم أنفسَهم، ومررتُ بهم أَنفسِهم". "وكذا إن كان التوكيدُ غيرَ النّفس والعين"، نحو "قاموا كلُّهم. وسافرنا كلُّنا".
3- **Suplemen (Penutup)** 1- Jika dikehendaki untuk memperkuat penegasan (*taukid*), maka didatangkan setelah kata "كلّه" kata "أجمع", setelah kata "كلّها" kata "جمعاء", setelah kata "كلّهم" kata "أجمعينَ", dan setelah kata "كلّهنَّ" kata "جُمَع". Anda mengucapkan: "جاءَ الصفُّ كلُّهُ أجمعُ" (Telah datang seluruh kelas semuanya), "جاءَت القبيلةُ كلُّها جمعاءُ" (Telah datang seluruh kabilah semuanya), sebagaimana firman Allah Ta'ala: ﴿فسجدَ الملائكةُ كلُّهُم أجمعونَ﴾ (Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama), dan Anda mengucapkan: "جاءَ النساءُ كلُّهنَّ جُمَعُ" (Telah datang para wanita seluruhnya semuanya). Terkadang dikuatkan dengan kata "أجمع", "جمعاء", "أجمعين", dan "جُمَع", meskipun tidak didahului oleh lafal "كلّ", di antaranya adalah firman Allah Ta'ala: ﴿لأغوينَّهُم أجمعينَ﴾ (Pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya). 2- Tidak diperbolehkan membuat bentuk dual (*tatsniyah*) dari kata "أجمع" dan "جمعاء", karena telah dicukupkan dari hal tersebut dengan menggunakan dua lafal "كِلا" (keduanya – maskulin) dan "كلتا" (keduanya – feminin). Maka tidak diucapkan "جاءا جمعانِ" dan tidak pula "جاءَتا جمعاوانِ", sebagaimana mereka mencukupkan diri dengan bentuk dual dari kata "سِيّ" daripada bentuk dual dari kata "سواء", sehingga mereka mengucapkan: "زيدٌ وعمرٌو سِيّانِ في الفضيلة" (Zaid dan Umar keduanya sama dalam keutamaan), dan mereka tidak mengucapkan "سواءَانِ". 3- Tidak diperbolehkan menegaskan (*taukid*) kata *nakirah* (indefinit), kecuali jika penegasannya memberikan faedah, sekiranya kata *nakirah* yang dikuatkan tersebut bersifat terbatas (*mahdudah*), dan kata *taukid*-nya termasuk lafal yang menunjukkan cakupan menyeluruh (*ihathah* dan *syumul*), seperti "اعتكفتُ أُسبوعاً كلَّهُ" (Aku telah iktikaf selama satu minggu penuh). Dan tidak boleh diucapkan "صُمتُ دهراًَ كلَّهُ" (Aku telah berpuasa sepanjang masa seluruhnya), tidak pula "سِرتُ شهراً نفسَهُ" (Aku telah berjalan selama sebulan dirinya sendiri), karena contoh pertama bersifat samar (*mubham*), dan contoh kedua dikuatkan dengan kata yang tidak menunjukkan cakupan menyeluruh (*syumul*). 4- Jika dikehendaki untuk menegaskan *dhamir marfu'* (kata ganti subjek) yang bersambung (*muttashil*) atau tersembunyi (*mustatir*) dengan menggunakan kata "النفس" (diri) atau "العين" (mata/diri); maka wajib menegaskannya terlebih dahulu dengan *dhamir munfashil* (kata ganti terpisah), seperti "جئتُ أنا نفسي" (Aku sendiri telah datang), "ذهبوا هم أنفسُهم" (Mereka sendiri telah pergi), dan "عليٌّ سافرَ نفسُهُ" (Ali sendiri telah bepergian). Adapun jika *dhamir*-nya berkedudukan *manshub* (objek) atau *majrur* (genitif), maka hal itu tidak wajib, seperti "أكرمتُهم أنفسَهم" (Aku memuliakan mereka sendiri) dan "مررتُ بهم أَنفسِهم" (Aku berpapasan dengan mereka sendiri). Demikian pula jika penegasnya menggunakan selain kata "النفس" dan "العين", seperti "قاموا كلُّهم" (Mereka semua telah berdiri) dan "سافرنا كلُّنا" (Kami semua telah bepergian).
٥- الضميرُ المرفوعُ المنفصلُ يُؤكد به كل ضميرٍ مُتّصل، مرفوعاً كان، نحو "قمتَ أنت"، أَو منصوباً، نحو "أَكرمتكَ أَنتَ"، أَو مجروراً، نحو "مررتُ بكَ أنتَ". ويكون في محلِّ رفع، إن أُكِّدَ به الضميرُ المرفوعُ، وفي محلِّ نصبٍ، إن أُكِّدَ به الضميرُ المنصوب، وفي محلِّ جرٍّ، إن أُكِّدَ به الضميرُ المجرورُ. ٦- يُؤكدُ المُظهَرُ بمثلهِ، لا بالضمير، فيقال "جاءَ عليٌّ نفسُهُ". ولا يُقالُ "جاءَ عليُّ هوُ". والمُضمَرُ يُؤكدُ بمثله وبالمُظهَر أيضاً. فالأوَّلُ نحو "جئتَ أنتَ نَفسُكَ"، والثاني نحو "أحسنتُ إليهم أنفسِهم". ٧- إن كان المؤكَّدُ بالنَّفسِ أو العين مجموعاً جمعتَهما، فتقولُ "جاءَ التلاميذُ أَنفسُهم، أَو أَعينُهم". وإن كان مثنًّى فالأحسنُ أن تجمعهما، نحو "جاءَ الرجلانِ أَنفسُهما، أَو أَعينهما". وقد يجوزُ أَن يُثنيَّا تَبعاً لِلَفظِ المؤكدِ، فتقولُ "جاءَ الرَّجلانِ نَفساهما أو عيناهما" وهذا أُسلوبٌ ضعيفٌ في العربيّة. ٨- يجوزُ أَن تُجرَّ "النفسُ" أَو "العينُ" بالباءِ الزائدةِ، نحو "جاءَ عليٌّ بنفسهِ". والأصلُ "جاءَ عليٌّ نفسُهُ"، فتكونُ "النفس" مجرورة لفظاً بالباءِ الزائدة، مرفوعةً محلاً، لأنها توكيد للمرفوع، وهو "عليٌّ".
5. *Dhamir marfu' munfashil* (kata ganti terpisah yang berkedudukan rafa') digunakan untuk menguatkan (*taukid*) setiap *dhamir muttashil* (kata ganti bersambung), baik yang berkedudukan *rafa'*, seperti: "قمتَ أنت" (*Kamu telah berdiri*), *nasab*, seperti: "أَكرمتكَ أَنتَ" (*Aku telah memuliakanmu*), maupun *jar*, seperti: "مررتُ بكَ أنتَ" (*Aku telah berpapasan denganmu*). Kedudukannya adalah *fii mahalli raf'in* (berada di posisi rafa') jika digunakan untuk menguatkan *dhamir marfu'*, *fii mahalli nasbin* jika menguatkan *dhamir manshub*, and *fii mahalli jarrin* jika menguatkan *dhamir majrur*. 6. *Isim muzhhar* (kata benda yang tampak/jelas) dikuatkan dengan kata yang sejenis dengannya, bukan dengan *dhamir*. Maka diucapkan: "جاءَ عليٌّ نفسُهُ" (*Ali sendiri telah datang*), dan tidak boleh diucapkan: "جاءَ عليٌّ هوَ". Adapun *dhamir* (*mudhmar*) dikuatkan dengan kata yang sejenis dengannya dan juga dengan *isim muzhhar*. Contoh yang pertama adalah: "جئتَ أنتَ نَفسُكَ" (*Kamu sendiri telah datang*), dan contoh yang kedua: "أحسنتُ إليهم أنفسِهم" (*Aku telah berbuat baik kepada mereka sendiri*). 7. Jika kata yang dikuatkan (*mu'akkad*) dengan kata "النفس" (*an-nafs*) atau "العين" (*al-'ayn*) berbentuk jamak, maka Anda menjamakkan kedua kata penguat tersebut. Maka Anda mengucapkan: "جاءَ التلاميذُ أَنفسُهم، أَو أَعينُهم" (*Para murid itu sendiri telah datang*). Dan jika kata yang dikuatkan berbentuk dualis (*mutsanna*), maka yang lebih baik adalah menjamakkan kedua kata penguat tersebut, seperti: "جاءَ الرجلانِ أَنفسُهما، أَو أَعينهما" (*Kedua lelaki itu sendiri telah datang*). Terkadang diperbolehkan juga membuat keduanya berbentuk dualis mengikuti lafaz kata yang dikuatkan, sehingga Anda mengucapkan: "جاءَ الرَّجلانِ نَفساهما أو عيناهما" (*Kedua lelaki itu sendiri telah datang*), namun gaya bahasa ini dinilai lemah dalam bahasa Arab. 8. Diperbolehkan men-*jar*-kan kata "النفس" atau "العين" dengan huruf *ba'* tambahan (*za'idah*), seperti: "جاءَ عليٌّ بنفسهِ" (*Ali sendiri telah datang*). Asal kalimatnya adalah: "جاءَ عليٌّ نفسُهُ", sehingga kata "النفس" di-*jar*-kan secara lafaz (*majrur lafghan*) dengan *ba'* tambahan, namun berkedudukan *rafa'* secara posisi (*marfu' mahallan*) karena ia merupakan *taukid* bagi kata yang di-*rafa'*-kan, yaitu "عليٌّ".