(النعت)
النّعتُ (ويُسمّى الصَّفَةَ أَيضاً) هو ما يُذكرُ بعدَ اسمٍ ليُبيَّنَ بعض أَحوالهِ
*Na'at* (yang disebut juga *shifah* [kata sifat]) adalah kata yang disebutkan setelah suatu *isim* untuk menjelaskan sebagian dari kondisi/keadaannya.
أَو أَحوال ما يَتعلَّقُ به. فالأوَّلُ نحو "جاءَ التلميذُ المجتهدُ"، والثاني نحو "جاءَ الرجلُ المجتهدُ غلامُهُ". (فالصفة في المثال الأول بينت حال الموصوف نفسه. وفي المثال الثاني لم تبين حال الموصوف، وهو الرجل، وإنما بينت ما يتعلق به، وهو الغلام) . وفائدةُ النَّعتِ التَّفرقةُ بينَ المشتركينَ في الاسم. ثمَّ إن كان الموصوفُ معرفةً ففائدةُ النّعتِ التَّوضيح. وإن كانَ نكرةً ففائدتهُ التّخصيصُ. (فان قلت "جاء عليّ المجتهد" فقد أوضحت من هو الجائي من بين المشتركين في هذا الاسم. وإن قلت "صاحب رجلاً عاقلاً"، فقد خصصت هذا الرجل من بين المشاركين له في صفة الرجولية) . وفي هذا المبحث خمسةُ مباحثَ ١- شَرْطُ النَّعْتِ الأصلُ في النعتِ أن يكونَ اسماً مُشتقاً، كاسم الفاعل واسمِ المفعول والصفةِ المُشبّهة واسم التّفضيل. نحو "جاء التلميذُ المجتهدُ. أكرِمْ خالداً المحبوبَ. هذا رجلٌ حسنٌ خُلقُهُ. سعيدٌ تلميذٌ أعقلُ من غيره". وقد يكونُ جملةً فعليّةً، أو جملةً اسميةً على ما سيأتي. وقد يكون اسماً جامداً مُؤوَّلاً بمشتقٍّ. وذلك في تسعِ صُوَرٍ ١- المصدرُ، نحو "هو رجلٌ ثِقةٌ"، أي موثوقٌ بهِ، و"أنتَ رجلٌ عَدلٌ"، أي عادلٌ.
…atau keadaan-keadaan dari hal yang berkaitan dengannya. Jenis pertama seperti: "جاءَ التلميذُ المجتهدُ" (Telah datang murid yang bersungguh-sungguh itu), dan jenis kedua seperti: "جاءَ الرجلُ المجتهدُ غلامُهُ" (Telah datang laki-laki yang anak buahnya bersungguh-sungguh). (Sifat pada contoh pertama menjelaskan keadaan dari kata yang disifati [*maushuf*] itu sendiri. Sedangkan pada contoh kedua, ia tidak menjelaskan keadaan kata yang disifati, yaitu laki-laki tersebut, melainkan menjelaskan keadaan hal yang berkaitan dengannya, yaitu anak buahnya). Faedah dari *na't* (sifat) adalah membedakan di antara kata-kata yang berserikat dalam satu nama. Kemudian, jika *maushuf* berupa *isim ma'rifat* (kata tentu), maka faedah *na't* adalah memperjelas (*al-tawdhih*). Dan jika ia berupa *isim nakirah* (kata umum), maka faedahnya adalah mengkhususkan (*al-takhshish*). (Jika Anda mengucapkan: "جاء عليّ المجتهد" [Telah datang Ali yang bersungguh-sungguh], maka Anda telah memperjelas siapakah orang yang datang di antara orang-orang yang berserikat dalam nama ini. Dan jika Anda mengucapkan: "صاحب رجلاً عاقلاً" [Bertemanlah dengan laki-laki yang berakal], maka Anda telah mengkhususkan laki-laki ini di antara orang-orang yang berserikat dengannya dalam sifat kelaki-lakian). Dalam pembahasan ini terdapat lima sub-pembahasan: **1. Syarat *Na't*** Hukum asal pada *na't* adalah berupa *isim musytanq* (kata turunan), seperti *isim fa'il* (partisip aktif), *isim maf'ul* (partisip pasif), *sifat musyabbahah* (sifat yang menyerupai partisip), dan *isim tafdhil* (kata komparatif). Seperti: "جاء التلميذُ المجتهدُ" (Telah datang murid yang bersungguh-sungguh), "أكرِمْ خالداً المحبوبَ" (Muliakanlah Khalid yang dicintai), "هذا رجلٌ حسنٌ خُلقُهُ" (Ini adalah laki-laki yang baik akhlaknya), dan "سعيدٌ تلميذٌ أعقلُ من غيره" (Said adalah murid yang lebih berakal daripada yang lain). Terkadang *na't* berupa *jumlah fi'liyyah* (klausa verbal) atau *jumlah ismiyyah* (klausa nominal) sebagaimana penjelasan yang akan datang. Terkadang pula ia berupa *isim jamid* (kata dasar/bukan turunan) yang ditakwilkan dengan kata turunan (*musytanq*). Hal itu terdapat dalam sembilan bentuk: (1) *Mashdar*, seperti: "هو رجلٌ ثِقةٌ" (Dia adalah laki-laki yang tepercaya), yaitu yang dipercayai (*mawtsuqun bihi*), dan "أنتَ رجلٌ عَدلٌ" (Kamu adalah laki-laki yang adil), yaitu yang bersikap adil (*'adilun*).
٢- اسمُ الاشارةِ، نحو "أكرِمْ عليّاً هذا"، أي المشارُ إليه. ٣- "ذُو"، التي بمعنى صاحب، و"ذات"، التي بمعنى صاحبة، نحو "جاءَ رجلٌ ذُو علمٍ، وامرأةٌ ذاتُ فَضلٍ، أي صاحبُ علمٍ، وصاحبة فضلٍ. ٤- الاسمُ الموصولُ المقترنُ بألْ، نحو "جاءَ الرجلُ الذي اجتهدَ"، أي المجتهدُ. ٥- ما دلَّ على عَدَد المنعوتِ، نحو "جاءَ رجالٌ أربعةُ"، أي مَعْدُودُونَ بهذا العَدَد. ٦- الاسمُ الذي لحقتهُ ياءُ النسبة، نحو "رأيتُ رجلاً دِمَشقيّاً، منسوباً إلى دِمَشق. ٧- ما دلَّ على تشبيهٍ، نحو "رأيتُ رجلاً أسداً، أي شجاعاً، و"فلانٌ رجلٌ ثَعلبٌ"، أي محتالٌ. والثعلبُ يُوصفُ بالاحتيالِ. ٨- "ما" النكرةُ التي يُرادُ بها الابهامُ، نحو "أُكرِمُ رجلاً ما" أي رجلاً مُطلقاً غيرَ مُقيّدٍ بصفةٍ ما. وقد يُرادُ بها معَ الابهامِ التهويلُ، ومنهُ المثلُ "لأمرٍ ماجَدَعَ قَصيرٌ أنفَهُ"، أي لأمرٍ عظيمٍ. ٩- كَلِمتا "كلٍّ وأيٍّ"، الدَّالتينِ على استكمال الموصوفِ للصفةِ، نحو "أنتَ رجلٌ كلُّ الرجلِ"، أي الكاملُ في الرُّجوليّةِ، و"جاءَني رجلٌ أيُّ رجلٍ"، أي كاملٌ في الرجوليّةِ. ويقال أيضاً "جاءَني رجلٌ أيُّما رجلٍ"، بزيادةِ "ما".
2. *Isim isyarah* (kata tunjuk), seperti: أَكْرِمْ عَلِيّاً هَذَا (Muliakanlah Ali ini!), yaitu "yang ditunjuk ini". 3. Kata ذُو yang bermakna "pemilik" (maskulin) dan ذَاتُ yang bermakna "pemilik" (feminin), seperti: جَاءَ رَجُلٌ ذُو عِلْمٍ، وَامْرَأَةٌ ذَاتُ فَضْلٍ (Telah datang seorang laki-laki pemilik ilmu [yang berilmu] dan seorang perempuan pemilik keutamaan [yang utama]). 4. *Isim maushul* (kata penghubung) yang disertai *alif lam* (أَلْ), seperti: جَاءَ الرَّجُلُ الَّذِي اجْتَهَدَ (Telah datang laki-laki yang bersungguh-sungguh itu), yaitu "yang bersungguh-sungguh". 5. Kata yang menunjukkan jumlah dari kata yang disifati (*al-man'ut*), seperti: جَاءَ رِجَالٌ أَرْبَعَةٌ (Telah datang empat orang laki-laki), yaitu "yang dihitung dengan jumlah ini". 6. *Isim* yang bersambung dengan *ya' nisbah* (ya penunjuk asal/relasi), seperti: رَأَيْتُ رَجُلاً دِمَشْقِيّاً (Aku melihat seorang laki-laki asal Damaskus), yaitu "yang dinisbahkan kepada kota Damaskus". 7. Kata yang menunjukkan penyerupaan (*tasybih*), seperti: رَأَيْتُ رَجُلاً أَسَداً (Aku melihat seorang laki-laki singa), yaitu "yang pemberani", dan فُلَانٌ رَجُلٌ ثَعْلَبٌ (Fulan adalah laki-laki rubah), yaitu "yang cerdik/licik", karena rubah disifati dengan kelicikan. 8. Kata مَا *nakirah* (indefinit) yang dimaksudkan untuk menyamarkan (*al-ibham*), seperti: أُكْرِمُ رَجُلاً مَا (Aku memuliakan seorang laki-laki mana saja), yaitu laki-laki secara mutlak tanpa dibatasi oleh sifat tertentu. Terkadang di samping penyamaran, ia juga dimaksudkan untuk menunjukkan kengerian/keagungan (*al-tahwil*), di antaranya adalah peribahasa: لِأَمْرٍ مَا جَدَعَ قَصِيرٌ أَنْفَهُ (Karena suatu urusan besar, Qashir memotong hidungnya sendiri), yaitu "karena urusan yang sangat besar". 9. Dua kata كُلٌّ dan أَيٌّ yang menunjukkan sempurnanya sifat pada diri yang disifati (*al-maushuf*), seperti: أَنْتَ رَجُلٌ كُلُّ الرَّجُلِ (Kamu adalah laki-laki yang sejati), yaitu "yang sempurna dalam sifat kelaki-lakiannya", dan جَاءَنِي رَجُلٌ أَيُّ رَجُلٍ (Telah datang kepadaku seorang laki-laki yang sejati), yaitu "yang sempurna dalam sifat kelaki-lakiannya". Diucapkan juga: جَاءَنِي رَجُلٌ أَيُّمَا رَجُلٍ, dengan menambahkan kata مَا.
٢- النَّعْتُ الحَقيقِيُّ وَالنَّعْتُ السَّبَبِيُّ ينقسمُ النعتُ إلى حقيقيٍّ وسببيٍّ. فالحقيقيُّ ما يُبيِّنُ صفةً من صفاتِ مَتبوعهِ، نحو "جاءَ خالدٌ الأديبُ". والسَّببيُّ ما يُبيِّنُ صفةً من صفاتِ ما لهُ تَعلقٌ بمتبوعهِ وارتباطٌ به نحو "جاءَ الرجلُ الحسنُ خطُّهُ". (فالأديب بين صفة مبتوعه، وهو خالد. أما الحسن فلم يبين صفة الرجل، إذ ليس القصد وصفة بالحسن، وإنما بين صفة الخط الذي له ارتباط بالرجل، لأنه صاحبه المنسوب إليه) . والنعتُ يجبُ أن يَتْبعَ منعوتَهُ في الاعراب والافرادِ والتَّثنية والجمعِ والتذكيرِ والتأنيث والتعريفِ والتنكير. إلا إذا كان النَّعتُ سببيّاً غيرَ مُتحمّلٍ لضميرٍ المنعوتِ، فيَتبعُهُ حينئذٍ وجوباً في الاعراب والتعريف والتنكير فقط. ويراعَى في تأنيثهِ وتذكيره ما بعدَهُ. ويكونُ مُفرَداً دائماً. فتقولُ في النَّعت الحقيقي "جاءَ الرجلُ العاقلُ. رأيتُ الرجلَ العاقلَ. مررتُ بالرجلِ العاقلِ. جاءَت فاطمةُ العاقلةُ. رأيت فاطمةَ العاقلةَ. مررت بفاطمةَ العاقلةِ. جاءَ الرجلانِ العاقلانِ. رأَيتُ الرجلين العاقلين. جاءَ الرجالُ العُقلاءُ. رأيتُ الرجالَ العُقلاءَ. مررتُ بالرجالِ العقلاءِ. جاءَت الفاطماتُ العاقلاتُ. رأيت الفاطماتِ العاقلاتِ. مررتُ بالفاطماتِ العاقلاتِ". وتقولُ في النعتِ السّببيِّ، الذي لم يَتحمّل ضميرَ المنعوت "جاءَ الرجلُ الكريمُ أَبوه، والرجلانِ الكريمُ أَبوهما، والرجالُ الكريمُ أَبوهم، والرجلُ الكريمة أُمُّهُ. والرجلانِ الكريمةُ أُمُّهما، والرجالُ الكريمةُ. أُمُّهم،
2. *Na'at Haqiqi* (Sifat Hakiki) dan *Na'at Sababi* (Sifat Kausal/Hubungan): *Na'at* (kata sifat) terbagi menjadi *haqiqi* dan *sababi*. *Na'at haqiqi* adalah kata sifat yang menjelaskan salah satu sifat dari kata yang diikutinya (*matbu'*), seperti "جاءَ خالدٌ الأديبُ" (Telah datang Khalid yang sastrawan itu). *Na'at sababi* adalah kata sifat yang menjelaskan salah satu sifat dari kata yang memiliki keterkaitan dan hubungan dengan kata yang diikutinya (*matbu'*), seperti "جاءَ الرجلُ الحسنُ خطُّهُ" (Telah datang laki-laki yang bagus tulisannya). (Kata *al-adib* menjelaskan sifat dari kata yang diikutinya, yaitu Khalid. Adapun kata *al-hasan* tidak menjelaskan sifat dari laki-laki tersebut, karena tujuannya bukan menyifati laki-laki itu dengan kebagusan, melainkan menjelaskan sifat tulisan yang memiliki hubungan dengan laki-laki tersebut, karena ia adalah pemilik tulisan yang dinisbatkan kepadanya). *Na'at* wajib mengikuti *man'ut*-nya (kata yang disifati) dalam hal *i'rab* (perubahan harakat akhir), *ifrad* (tunggal), *tatsniyah* (dual), *jamak*, *tadzkiyr* (maskulin), *ta'nits* (feminin), *ta'rif* (definit/*ma'rifat*), dan *tankir* (indefinit/*nakirah*). Kecuali jika *na'at* tersebut berupa *na'at sababi* yang tidak mengandung *dhamir* (kata ganti) yang kembali kepada *man'ut*, maka pada saat itu ia hanya wajib mengikuti *man'ut*-nya dalam hal *i'rab*, *ta'rif*, dan *tankir* saja. Sedangkan dalam hal feminin (*ta'nits*) dan maskulin (*tadzkiyr*)-nya, ia menyesuaikan dengan kata setelahnya, dan bentuknya selalu tunggal (*mufrad*). Maka Anda mengucapkan pada *na'at haqiqi*: "جاءَ الرجلُ العاقلُ" (Telah datang laki-laki yang berakal), "رأيتُ الرجلَ العاقلَ" (Aku melihat laki-laki yang berakal), "مررتُ بالرجلِ العاقلِ" (Aku berpapasan dengan laki-laki yang berakal), "جاءَت فاطمةُ العاقلةُ" (Telah datang Fatimah yang berakal), "رأيت فاطمةَ العاقلةَ" (Aku melihat Fatimah yang berakal), "مررت بفاطمةَ العاقلةِ" (Aku berpapasan dengan Fatimah yang berakal), "جاءَ الرجلانِ العاقلانِ" (Telah datang dua laki-laki yang berakal), "رأَيتُ…" (Aku melihat dua laki-laki yang berakal), "جاءَ الرجالُ العُقلاءُ" (Telah datang laki-laki [banyak] yang berakal), "رأيتُ الرجالَ العُقلاءَ" (Aku melihat laki-laki [banyak] yang berakal), "مررتُ بالرجالِ العقلاءِ" (Aku berpapasan dengan laki-laki [banyak] yang berakal), "جاءَت الفاطماتُ العاقلاتُ" (Telah datang para Fatimah yang berakal), "رأيت الفاطماتِ العاقلاتِ" (Aku melihat para Fatimah yang berakal), "مررتُ بالفاطماتِ العاقلاتِ" (Aku berpapasan dengan para Fatimah yang berakal). Dan Anda mengucapkan pada *na'at sababi* yang tidak mengandung *dhamir* dari *man'ut*: "جاءَ الرجلُ الكريمُ أَبوه" (Telah datang laki-laki yang mulia ayahnya), "والرجلانِ الكريمُ أَبوهما" (dan dua laki-laki yang mulia ayah keduanya), "والرجالُ الكريمُ أَبوهم" (dan laki-laki [banyak] yang mulia ayah mereka), "والرجلُ الكريمة أُمُّهُ" (dan laki-laki yang mulia ibunya), "والرجلانِ الكريمةُ أُمُّهما" (dan dua laki-laki yang mulia ibu keduanya), "والرجالُ الكريمةُ أُمُّهم" (dan laki-laki [banyak] yang mulia ibu mereka)…
والمرأةُ الكريمُ أبوها، والمرأتانِ الكريمُ أَبوهما، والنساءُ الكريمُ أبوهنَّ، والمرأَة الكريمةُ أُمُّها، والمرأَتانِ الكريمةُ أُمُّهما، والنساءُ الكريمةُ أُمُّهنَّ". أَمَّا النّعتُ السبَبيُّ، الذي يَتحمّلُ ضميرَ المنعوتِ، فيطابقُ منعوتَهُ إفراداً وتثنيةً وجمعاً وتذكيراً وتأنيثاً، كما يُطابقهُ إعراباً وتعريفاً وتنكيراً، فتقولُ "جاءَ الرجلانِ الكريما الأبِ، والمرأتانِ الكريمتا الأبِ، والرجالُ الكرامُ الأبِ، والنساءُ الكريماتُ الأبِ". واعلم أنهُ يُستثنى من ذلكَ أربعةُ أشياء ١- الصفاتُ التي على وزنِ "فَعُول" – بمعنى "فاعل" نحو "صَبُورٍ وغَيورٍ وفَخُورٍ وشكُورٍ"، أو على وزن "فَعِيل" – بمعنى "مفعول" – نحو "جريح وقَتيل وخَضيبٍ"، أو على وزن "مفعالٍ"، نحو "مِهذار ومِكسال ومِبسامٍ"، أو على وزن "مِفعيلٍ" نحو "مِعطيرٍ ومِسكينٍ"، أو على وزن "مِفعَلٍ"، نحو "مِغشَمٍ ومِدعسٍ ومِهذَرٍ". فهذه الأوزان الخمسةُ يَستوي في الوصفِ بها المذكرُ والمؤنثُ، فتقولُ "رجلٌ غيورٌ، وامرأةٌ غيورٌ، ورجلٌ جريحٌ، وارمأة جريح" الخ. ٢- المصدرُ الموصوفُ به، فغنه يبقى بصورةٍ واحدةٍ للمفردِ والمثنّى والجمع والمذكّرِ والمؤنث، فتقولُ "رجلٌ عدلٌ، وامرأة عدلٌ. ورجلانِ عَدلٌ. وامرأتانِ عدلٌ. ورجالٌ عَدلٌ. ونساءٌ عَدلٌ". ٣- ما كان نعتاً لجمعِ ما لا يَعقلُ، فإنهُ يجوز فيه وجهان أن يُعاملَ مُعاملةَ الجمعِ، وأن يُعامَلَ مُعاملةَ المفردِ المؤنث، فتقولُ "عندي خيولٌ
"…dan wanita yang mulia ayahnya, dan dua wanita yang mulia ayah keduanya, dan para wanita yang mulia ayah mereka, dan wanita yang mulia ibunya, dan dua wanita yang mulia ibu keduanya, dan para wanita yang mulia ibu mereka." Adapun *na'at sababi* (sifat yang menjelaskan keterkaitan dengan isim setelahnya) yang memuat *dhamir* dari *man'ut* (yang disifati), maka ia menyesuaikan dengan *man'ut*-nya dalam hal tunggal (*ifrad*), ganda (*tatsniyah*), jamak (*jamak*), maskulin (*tadzki r*), dan feminin (*ta'nits*), sebagaimana ia juga menyesuaikan dalam hal *i'rab*, kejelasan (*ta'rif*), dan ketidakjelasan (*tankir*). Maka Anda mengucapkan: "جاءَ الرَّجُلانِ الكَرِيما الأَبِ، والمَرْأَتانِ الكَرِيمَتا الأَبِ، والرِّجالُ الكِرامُ الأَبِ، والنِّساءُ الكَرِيماتُ الأَبِ" (*Ja'a ar-rajulani al-karima al-abi, wal-mar'atani al-karimata al-abi, war-rijalu al-kiramu al-abi, wan-nisau al-karimatu al-abi*). Dan ketahuilah bahwa dikecualikan dari hal tersebut empat perkara: (1) Sifat-sifat yang mengikuti wazan "فَعُول" (*fa'ul*) yang bermakna "فاعل" (*fa'il* [pelaku]), seperti: "صَبُورٍ" (*shaburin*), "غَيُورٍ" (*ghayurin*), "فَخُورٍ" (*fakhurin*), dan "شَكُورٍ" (*syakurin*); atau mengikuti wazan "فَعِيل" (*fa'il*) yang bermakna "مفعول" (*maf'ul* [penderita]), seperti: "جَرِيحٍ" (*jarihin*), "قَتِيلٍ" (*qatilin*), dan "خَضِيبٍ" (*khadhibin*); atau mengikuti wazan "مِfْعال" (*mif'al*), seperti: "مِهْذارٍ" (*mihdharin*), "مِكْسالٍ" (*miksalin*), dan "مِبْسامٍ" (*mibsamin*); atau mengikuti wazan "مِفْعِيل" (*mif'il*), seperti: "مِعْطِيرٍ" (*mi'thirin*) dan "مِسْكِينٍ" (*miskinin*); atau mengikuti wazan "مِفْعَل" (*mif'al*), seperti: "مِغْشَمٍ" (*mighsyamin*), "مِدْعَسٍ" (*mid'asin*), dan "مِهْذَرٍ" (*mihdharin*). Kelima wazan ini sama penggunaannya dalam pensifatan baik untuk maskulin maupun feminin, maka Anda mengucapkan: "رَجُلٌ غَيُورٌ، وامْرَأَةٌ غَيُورٌ، ورَجُلٌ جَرِيحٌ، وامْرَأَةٌ جَرِيحٌ" (*rajulun ghayurun, wamra'atun ghayurun, wa rajulun jarihun, wamra'atun jarihun*), dan seterusnya. (2) *Mashdar* yang dijadikan sebagai sifat (*na'at*), maka sesungguhnya ia tetap pada satu bentuk saja baik untuk tunggal, ganda, jamak, maskulin, maupun feminin. Maka Anda mengucapkan: "رَجُلٌ عَدْلٌ، وامْرَأَةٌ عَدْلٌ، ورَجُلانِ عَدْلٌ، وامْرَأَتانِ عَدْلٌ، ورِجالٌ عَدْلٌ، ونِساءٌ عَدْلٌ" (*rajulun 'adlun, wamra'atun 'adlun, wa rajulani 'adlun, wamra'atani 'adlun, wa rijalun 'adlun, wa nisa'un 'adlun*). (3) Kata yang menjadi sifat bagi jamak dari sesuatu yang tidak berakal (*jam'u ma la ya'qilu*), maka sesungguhnya diperbolehkan padanya dua wajah: diperlakukan sebagaimana jamak, atau diperlakukan sebagaimana tunggal feminin (*mufrad muannats*). Maka Anda mengucapkan: "عِنْدِي خُيُولٌ…" (*'indi khuyulun…*).
سابقاتٌ، وخيولٌ سابقة". وقد يوصفُ الجمعُ العاقلُ، إن لم يكن جمعٌ مُذكرٍ سالماً، بصفة المفردة المؤنثة كالأمم الغابرة. ٤- ما كان نعتاً لاسمِ الجمع، فيجوزُ فيه الإفرادُ، باعتبارِ لفظِ المنعوتِ والجمعُ، باعتبارِ معناهُ، فتقولُ "إنَّ بَني فلان قومٌ صالحٌ وقومٌ صالحون". ٣- النَّعْتُ المُفْرَدُ والجُمْلَةُ وشِبْهُ الجُمْلَة ينقسم النّعتُ أيضاً إلى ثلاثةِ أقسامٍ مُفرَدٍ وجملةٍ وشِبهِ جُملة. فالمفردُ ما كانَ غيرَ جملةٍ ولا شِبهَها، وإن كان مُثنًى أو جمعاً، نحو "جاءَ الرجلُ العاقلُ، والرجلان العاقلانِ، والرجالُ العُقلاءُ". والنّعتُ الجملةُ أن تقعَ الجملةُ الفعليّةُ أو الاسميّة منعوتاً بها، نحو "جاءَ رجلٌ يَحملُ كتاباً" و"جاءَ رجلٌ أبوهُ كريمٌ". ولا تقعُ الجملةُ نعتاً للمعرفة، وإنما تقعُ نعتاً للنكرةِ كما رأيتَ. فإن وقعت بعد المعرفة كانت في موضع الحال منها، نحو "جاءَ عليٌّ يحملُ كتاباً". إلاّ إذا وقعت بعد المعرَّفِ بأل الجنسيّةِ، فيصح أن تُجعَلَ نعتاً له، باعتبار المعنى، لأنهُ في المعنى نكرةٌ، وأن تُجعل حالاً منهُ، باعتبار اللفظ، لأنهُ مُعرَّفٌ لفظاً بألْ، نحو "لا تُخالطِ الرجلَ يَعملُ عملَ السُّفهاءِ"، ومنه قولُ الشاعر [من الكامل] وَلَقَدْ أَمُرُّ عَلَى اللَّئيمِ يَسُبُّني … فَمَضَيْتُ ثُمَّتَ قُلْتُ لا يَعنيني وقولِ الآخر [من الطويل] وَإني لَتَعروني لِذِكْراكِ هَزَّةٌ … كمَا انْتَفَضَ العُصفورُ بَلَّلَهُ القَطْرُ
… "سابقاتٌ" (yang mendahului), dan "خيولٌ سابقة" (kuda-kuda yang mendahului). Terkadang jamak berakal, jika bukan berupa jamak mudzakkar salim, disifati dengan sifat tunggal feminin (*mufradah muannatsah*), seperti "الأمم الغابرة" (umat-umat terdahulu). 4. Kata yang menjadi *na'at* (sifat) bagi *isim jamak* (kata kolektif), maka boleh dalam bentuk tunggal (*ifrad*) dengan mempertimbangkan lafal dari *man'ut* (kata yang disifati), dan boleh pula dalam bentuk jamak dengan mempertimbangkan maknanya. Maka Anda mengucapkan: "إنَّ بَني فلان قومٌ صالحٌ وقومٌ صالحون" (Sesungguhnya keturunan fulan adalah kaum yang saleh / kaum-kaum yang saleh). 3. *Na'at Mufrad*, *Jumlah*, dan *Syibh al-Jumlah*: *Na'at* juga terbagi menjadi tiga macam: *mufrad* (tunggal), *jumlah* (kalimat), dan *syibh al-jumlah* (serupa kalimat). *Na'at mufrad* adalah kata yang bukan berupa kalimat (*jumlah*) maupun yang serupa dengannya, meskipun ia berupa bentuk dual (*mutsanna*) atau jamak, seperti: "جاءَ الرجلُ العاقلُ" (Telah datang laki-laki yang berakal itu), "والرجلان العاقلانِ" (dan dua laki-laki yang berakal itu), dan "والرجالُ العُقلاءُ" (dan laki-laki yang berakal banyak itu). *Na'at jumlah* adalah apabila kalimat verbal (*jumlah fi'liyyah*) atau kalimat nominal (*jumlah ismiyyah*) berkedudukan sebagai sifat bagi suatu kata, seperti: "جاءَ رجلٌ يَحملُ كتاباً" (Telah datang seorang laki-laki yang membawa buku) dan "جاءَ رجلٌ أبوهُ كريمٌ" (Telah datang seorang laki-laki yang ayahnya mulia). Kalimat (*jumlah*) tidak dapat berkedudukan sebagai *na'at* bagi kata *ma'rifat*, melainkan ia hanya berkedudukan sebagai *na'at* bagi kata *nakirah* sebagaimana yang telah Anda lihat. Jika ia terletak setelah kata *ma'rifat*, maka ia menempati posisi *hal* darinya, seperti: "جاءَ عليٌّ يحملُ كتاباً" (Telah datang Ali dalam keadaan membawa buku). Kecuali jika ia terletak setelah kata yang diidentifikasi dengan *al* jenis (*al-jinsiyyah*), maka sah untuk menjadikannya sebagai *na'at* baginya dengan mempertimbangkan maknanya, karena secara makna ia adalah *nakirah*; dan sah pula menjadikannya sebagai *hal* darinya dengan mempertimbangkan lafalnya, karena secara lafal ia diidentifikasi dengan *al*, seperti: "لا تُخالطِ الرجلَ يَعملُ عملَ السُّفهاءِ" (Janganlah engkau bergaul dengan laki-laki yang melakukan perbuatan orang-orang bodoh). Di antaranya adalah ucapan penyair [dari bahar Kamil]: *Dan sungguh aku melewati orang yang hina yang mencelaku… maka aku berlalu kemudian aku berkata: ia tidak bermaksud kepadaku.* Dan ucapan penyair lainnya [dari bahar Thawil]: *Dan sesungguhnya benar-benar merasukiku karena mengingatmu suatu getaran… sebagaimana bergetarnya burung pipit yang dibasahi oleh tetesan hujan.*
(فليس القصد رجلاً مخصوصاً، ولا لئيماً مخصوصاً، ولا عصفوراً، مخصوصاً، لأنك ان قلت "لا تخالط رجلاً يعمل عمل السفهاء. لقد أمرّ على لئيم يسبني. كما انتفض عصفورٌ بلله القطر" صح) . ومثلُ المعرَّفِ بألِ الجنسيّةِ ما أُضيفَ إلى المُعرَّف بِها، كقولِ الشاعر [من الكامل] وَتُضِيءُ في وَجْهِ الظَّلاَمِ مُنيرَةً … كَجُمانَةِ الْبَحْرِيِّ سُلَّ نِظامُها أي كجُمانة بحرِيٍّ سُل نظامها. وشرطُ الجملةِ النعتيّة (كالجملة الحاليّة والجملة الواقعةِ خبراً) أن تكونَ جملةً خبريَّةً (أي غيرَ طلبيّة) ، وان تشتملَ على ضمير يَربِطُها بالمنعوت، سواءُ أكان الضميرُ مذكوراً نحو "جاءَني رجلٌ يَحملُهُ غلامُهُ"، أم مستتراً، نحو "جاءَ رجلٌ يحملُ عَصاً، أو مُقدَّراً، كقولهِ تعالى ﴿واتَّقوا يوماً لا تُجزَى نفسٌ عن نفسٍ شيئاً﴾ ، والتقديرُ "لا تُجزَى فيه". (ولا يقال "جاءَ رجل أكرمهُ" على أن جملة "أكرمْه" نعت لرجل. ولا يقال "جاء رجلٌ هل رأيت مثله، أو ليته كريم" لأن الجملة هنا طلبية. وما ورد من ذلك فهو على حذف النعت؛ كقوله "جاءوا بمذقٍ هل رأيت الذئب قط". والتقدير "جاءوا بمذقٍ مقولٍ فيه هل رأيت الذئب". والمذق بفتح الميم وسكون الذال اللبن المخلوط بالماء فيشابه لونُه لونَ الذئب) . والنعتُ الشبيهُ بالجملة أن يقعَ الظرفُ أو الجارُّ والمجرورُ في موضع النعت، كما يَقَعانِ في موضع الخبر والحال، على ما تَقدَّمَ، نحو "في الدار رجلٌ أمامَ الكُرسيّ"، "ورأيتُ رجلاً على حصانهِ". والنعتُ في الحقيقة
(Maka tujuannya bukanlah laki-laki tertentu, bukan orang kikir tertentu, dan bukan pula burung pipit tertentu, karena jika Anda mengucapkan: "لا تخالط رجلاً يعمل عمل السفهاء. لقد أمرّ على لئيم يسبني. كما انتفض عصفورٌ بلله القطر" [Janganlah kamu bergaul dengan laki-laki yang melakukan perbuatan orang-orang bodoh. Sungguh aku melewati orang kikir yang mencaciku. Sebagaimana bergetarnya burung pipit yang dibasahi oleh tetesan air hujan], maka hal itu adalah benar). Dan yang serupa dengan kata yang didefinisikan dengan *al* jenis (*al-jinsiyyah*) adalah kata yang di-*idhafah*-kan kepada kata yang didefinisikan dengannya, seperti perkataan penyair [dari bahar *Kamil*]: *Wa tudhī'u fī wajhi azh-zhalāmi munīratan… Ka-jumānati al-bahriyyi sulla nizhāmuhā* (Dan ia menyinari di tengah kegelapan dengan terangnya… bagaikan mutiara penyelam yang terlepas dari untaiannya). Artinya bagaikan mutiara seorang penyelam (*bahriyyin*) yang terlepas untaiannya. Syarat *jumlah na'tiyyah* (kalimat yang berfungsi sebagai sifat)—sebagaimana *jumlah haliyyah* (kalimat keterangan keadaan) dan *jumlah* yang berkedudukan sebagai *khabar*—adalah harus berupa *jumlah khabariyyah* (kalimat berita, yaitu bukan kalimat tuntutan/*thalabiyyah*), dan harus mengandung *dhamir* (kata ganti) yang mengikatnya dengan *man'ut* (kata yang disifati), baik *dhamir* tersebut tampak (*madzkur*), seperti "جاءَني رجلٌ يَحملُهُ غلامُهُ" (Telah datang kepadaku seorang laki-laki yang digendong oleh budaknya), tersembunyi (*mustatir*), seperti "جاءَ رجلٌ يحملُ عَصاً" (Telah datang seorang laki-laki yang membawa tongkat), maupun diperkirakan (*muqaddar*), seperti firman Allah Ta'ala: ﴿واتَّقوا يوماً لا تُجزَى نفسٌ عن نفسٍ شيئاً﴾ (Dan jagalah dirimu dari hari yang pada hari itu seseorang tidak dapat membela orang lain sedikit pun), yang perkiraannya adalah "لا تُجزَى فيه" (tidak dibalas di dalamnya). (Dan tidak boleh diucapkan "جاءَ رجل أكرمهُ" [Telah datang seorang laki-laki, muliakanlah dia!] dengan mengasumsikan bahwa kalimat "أكرمْه" adalah *na'at* bagi kata "رجل". Tidak boleh pula diucapkan "جاء رجلٌ هل رأيت مثله" [Telah datang seorang laki-laki, apakah kamu melihat yang sepertinya?] atau "ليته كريم" [sekiranya dia dermawan], karena kalimat di sini berbentuk tuntutan/*thalabiyyah*. Adapun kalimat yang diriwayatkan seperti itu, maka ia mengandung *na'at* yang dibuang; seperti perkataan mereka: "جاءوا بمذقٍ هل رأيت الذئب قط" [Mereka datang dengan membawa susu bercampur air, apakah kamu pernah melihat serigala?]. Perkiraannya adalah "جاءوا بمذقٍ مقولٍ فيه هل رأيت الذئب" [Mereka datang dengan membawa susu bercampur air yang dikatakan tentangnya: Apakah kamu pernah melihat serigala?]. Kata "المذق" dengan fathah pada huruf mim dan sukun pada huruf dzal berarti susu yang dicampur dengan air, sehingga warnanya menyerupai warna serigala). Adapun *na'at* yang menyerupai kalimat (*syabih bil-jumlah*) adalah apabila *zharaf* atau *jar wa majrur* terletak pada posisi *na'at*, sebagaimana keduanya terletak pada posisi *khabar* dan *hal*, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, seperti "في الدار رجلٌ أمامَ الكُرسيّ" (Di dalam rumah ada seorang laki-laki di depan kursi) dan "رأيتُ رجلاً على حصانهِ" (Aku melihat seorang laki-laki di atas kudanya). Dan *na'at* pada hakikatnya…
إنما هو مُتعلِّقُ الظرفِ أو حرفِ الجرّ المحذوفُ. (والأصل في الدار رجل كائن، أو موجود، أمام الكرسي. رأيت رجلاً كائناً، أو موجوداً، على حصانه) . واعلم أنه إذا نُعتَ بمفردٍ وظرفٍ ومجرور وجملةٍ، فالغالب تَأخيرُ الجملة، كقولهِ تعالى "وقالَ رجلٌ من آلِ فرعون يَكتُمُ إيمانَهُ" وقد تُقدَّمُ الجملة، كقولهِ سبحانهُ "فسوفَ يأتي اللهُ بقومٍ يُحبّهم ويُحبُّونهُ، أذلَّةٍ على المؤمنينَ، أعزَّةٍ على الكافرين". ٤- النَّعْتُ الْمَقْطوع قد يُقطعُ النعت، عن كونهِ تابعاً لِما قبلهُ في الإعراب، إلى كونه خبراً لمبتدأ محذوف، أو مفعولاً به لفعل محذوف. والغالبُ أن يُفعلَ ذلك بالنعت الذي يُؤتى به لمجرَّدِ المدح، أو الذَّمِّ، أو التَّرحُّمِ، نحو "الحمدُ للهِ العظيمُ، أو العظيمَ". ومنهُ قولهُ تعالى ﴿وامرَأتُهُ حَمّالةَ الحطب﴾ . وتقولُ "أحسنتُ إلى فلانٍ المِسكينُ، أو المسكينَ". وقد يُقطَعُ غيرُهُ مما لم يُؤتَ بهِ لذلك، نحو "مررتُ بخالد النجارُ أو النجارَ". وتقديرُ الفعل، إن نصبتَ، وأَمدَحُ، فيما أريدَ به المدحُ، "وأَذمُّ"، فيما
…sesungguhnya ia berkaitan dengan *zharaf* atau *huruf jar* yang dibuang. (Asal kalimatnya adalah: "في الدار رجل كائن، أو موجود" [Di dalam rumah ada seorang laki-laki yang berada/ada], "أمام الكرسي" [di depan kursi]. "رأيت رجلاً كائناً، أو موجوداً، على حصانه" [Aku melihat seorang laki-laki yang berada di atas kudanya]). Ketahuilah bahwa apabila suatu kata disifati (*nu'ita*) dengan *mufrad* (kata tunggal), *zharaf*, *majrur*, dan *jumlah* (kalimat), maka yang paling sering terjadi adalah mengakhirkan bentuk *jumlah*, seperti firman Allah Ta'ala: "وقالَ رجلٌ من آلِ فرعون يَكتُمُ إيمانَهُ" (Dan berkatalah seorang laki-laki dari keluarga Fir'aun yang menyembunyikan imannya). Namun terkadang bentuk *jumlah* didahulukan, seperti firman-Nya yang Mahasuci: "فسوفَ يأتي اللهُ بقومٍ يُحبّهم ويُحبُّونهُ، أذلَّةٍ على المؤمنينَ، أعزَّةٍ على الكافرين" (Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang dicintai-Nya dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir). 4. *An-Na'at al-Maqthu'* (Sifat yang Terputus Hubungan I'rabnya): Terkadang *na'at* (kata sifat) diputus hubungannya dari mengikuti kata sebelumnya (*man'ut*) dalam hal *i'rab*, dialihkan menjadi *khabar* bagi *mubtada'* yang dibuang, atau menjadi *maf'ul bih* bagi *fi'il* yang dibuang. Hal ini paling sering dilakukan pada *na'at* yang didatangkan murni untuk tujuan pujian (*madh*), celaan (*dzamm*), atau belas kasihan (*tarahhum*), seperti "الحمدُ للهِ العظيمُ" (Segala puji bagi Allah Yang Maha Agung – dengan *dhammah* sebagai *khabar*) atau "العظيمَ" (dengan *fathah* sebagai *maf'ul bih*). Di antaranya adalah firman Allah Ta'ala: ﴿وامرَأتُهُ حَمّالةَ الحطب﴾ (Dan istrinya pembawa kayu bakar). Dan Anda mengucapkan: "أحسنتُ إلى فلانٍ المِسكينُ" atau "المسكينَ" (Aku berbuat baik kepada si fulan yang miskin itu). Terkadang diputus pula selain jenis tersebut yang tidak didatangkan untuk tujuan di atas, seperti "مررتُ بخالد النجارُ" atau "النجارَ" (Aku berpapasan dengan Khalid sang tukang kayu). Takdir kata kerja (*fi'il*) jika Anda men-*nasab*-kannya adalah "أَمدَحُ" (aku memuji) pada kalimat yang dimaksudkan untuk memuji, dan "أَذمُّ" (aku mencela) pada kalimat yang…
أُريدَ به الذمُّ، و"أَرحَمُ"، فيما أُريدَ به التُّرحُّمُ، و"أَعني" فيما لم يُرَد به مدحٌ ولا ذمٌّ ولا ترحُّمٌ. وحذفُ المبتدأ والفعل، في المقطوع المراد به المدحُ أو الذمُّ أو الترحم، واجبٌ، فلا يجوزُ إظهارُهما. ولا يُقطَعُ النعتُ عن المنعوت إلا بشرط أن لا يكونَ مُتمّماً لمعناهُ، بحيثُ يستقلُّ الموصوف عن الصفة. فإن كانت الصفة مُتمّمةً معنى الموصوف، بحيثُ لا يَتَّضِحُ إلاّ بها، لم يَجُز قطعُهُ عنها، نحو "مررتُ بسليمٍ التاجرِ"، إذا كان سليم لا يُعرَفُ إلا بذكر صفته. وإذا تكرّرتِ الصفاتُ، فإن كان الموصوفُ لا يتعيَّنُ إلاّ بها كلّها، وجبَ إتباعها كلّها له، نحو "مررتُ بخالدٍ الكاتبش الشاعرِ الخطيبِ"، إذا كان هذا الموصوف (وهو خالدٌ) يُشاركهُ في اسمه ثلاثةٌ أحدهم كاتبٌ شاعر، وثانيهم كاتبٌ خطيب. وثالثهم شاعر خطيب. وإن تعيّنَ ببعضها دونَ بعضٍ وجبَ إتباعُ ما يَتعَيَّن بهِ، وجاز فيما عداهُ الإتباعُ والقطعُ. وإن تكرَّرَ النّعتُ، الذي لمجرَّد المدح أو الذمِّ أو الترحُّم، فالأوْلى إما قطعُ الصفاِ كلّها، وإما إتباعها كلّها. وكذا إن تكرَّرَ ولم يكن للمدح أو الَّم. غيرَ أن الاتباع في هذا أولى على كل حال، سواءٌ أتكرَّرت الصفةُ أم لم تكرَّر. ٥- تَتمَّةٌ ١- الاسمُ العلمُ لا يكونُ صفةً، وإنما يكونُ موصوفاً. ويُوصفُ بأربعةِ أَشياءَ بالمعرَفِ بألْ، نحو "جاءَ خليلٌ المجتهدُ" وبالمضاف إلى معرفةٍ،
…yang dimaksudkan dengannya adalah celaan (*adz-dzamm*), dan kata "أَرْحَمُ" (*arhamu*) pada apa yang dimaksudkan dengannya adalah belas kasihan (*at-tarahhum*), serta kata "أَعْنِي" (*a'ni*) pada apa yang tidak dimaksudkan dengannya pujian, celaan, maupun belas kasihan. Dan pembuangan *mubtada'* serta *fi'il* pada *na'at maqthu'* (sifat yang terputus dari i'rab yang disifati) yang dimaksudkan untuk pujian, celaan, atau belas kasihan adalah wajib, sehingga tidak diperbolehkan menampakkan keduanya. Dan tidak boleh memutuskan *na'at* (sifat) dari *man'ut* (yang disifati) kecuali dengan syarat bahwa sifat tersebut bukan merupakan penyempurna maknanya, sekiranya kata yang disifati dapat berdiri sendiri tanpa sifat tersebut. Jika sifat tersebut merupakan penyempurna makna dari kata yang disifati, sekiranya ia tidak menjadi jelas kecuali dengannya, maka tidak diperbolehkan memutus sifat darinya, seperti: "مررتُ بسليمٍ التاجرِ" (*marartu bi Salimin at-tajiri* – aku melewati Salim sang pedagang), apabila Salim tidak dikenal kecuali dengan menyebutkan sifatnya tersebut. Dan apabila sifat-sifat tersebut berulang, maka jika kata yang disifati tidak dapat ditentukan kecuali dengan menyebutkan seluruh sifat tersebut, maka wajib menyelaraskan *i'rab* (*itba'*) seluruh sifat tersebut kepadanya, seperti: "مررتُ بخالدٍ الكاتبِ الشاعرِ الخطيبِ" (*marartu bi Khalidin al-katibi asy-sya'iri al-khatibi* – aku melewati Khalid sang penulis, penyair, lagi orator), apabila orang yang disifati ini (yaitu Khalid) memiliki kesamaan nama dengan tiga orang lainnya, yang mana salah satunya adalah penulis lagi penyair, yang kedua adalah penulis lagi orator, dan yang ketiga adalah penyair lagi orator. Namun jika ia sudah dapat ditentukan dengan sebagian sifat saja tanpa sebagian yang lain, maka wajib menyelaraskan sifat yang menjadikannya jelas tersebut, dan diperbolehkan pada sifat selainnya untuk diselaraskan (*itba'*) atau diputuskan (*qath'*). Dan jika *na'at* yang hanya berfungsi untuk pujian, celaan, atau belas kasihan itu berulang, maka yang lebih utama adalah memutuskan seluruh sifat tersebut, atau menyelaraskan seluruhnya. Demikian pula jika ia berulang namun bukan untuk pujian atau celaan. Hanya saja, menyelaraskan (*itba'*) dalam hal ini adalah lebih utama dalam setiap keadaan, baik sifat tersebut berulang maupun tidak. **5. Penyempurna** 1. *Isim 'alam* (nama diri) tidak dapat menjadi *sifat*, melainkan ia hanya menjadi *maushuf* (yang disifati). Dan ia dapat disifati dengan empat hal: dengan kata yang di-makrifat-kan dengan *al*, seperti: "جاءَ خليلٌ المجتهدُ" (*ja'a Khalilun al-mujtahidu*), dan dengan kata yang di-*idhafah*-kan kepada *isim ma'rifat*…
نحو "جاءَ علي صديقُ خالدٍ"، وباسمِ الاشارةِ، نحو "أُكرِمُ علياً هذا"، وبالاسم الموصولِ المُصدَّرِ بأل، نحو "جاءَ عليٌّ الذي اجتهد". ٢- المعرَّف بألْ يُوصفُ بما فيه "أَلْ"، وبالمضاف إلى ما فيه "أَلْ"، نحو "جاءَ الغلامُ المجتهدُ" و"جاءَ الرجلُ صديقُ القومِ". ٣- المضافُ إلى العَلمِ يُوصفُ بما يُوصفُ به العلَمُ، نحو "جاءَ تِلميذُ عليٍّ المجتهدُ. جاءَ تِلميذُ عليٍّ صديقُ خالدٍ. جاءَ تلميذ عليٍّ هذا. جاء تلميذُ عليٍّ الذي اجتهدَ". ٤- اسمُ الاشارة و"أيُّ" يُوصفانِ بما فيه "ألْ" مثلُ "جاءَ هذا الرجل"، ونحو "يا أيُّها الانسانُ". وتوصفُ "أَيُّ" أَيضاً باسم الاشارةِ، نحو "يا أَيُّها الرَّجلُ". ٥- قال الجمهورُ من حقِّ الموصوفِ أن يكون أخصَّ من الصفة وأعرفَ منها أو مساوياً لها. لذلك امتنعَ وصفُ المعرَّف بألْ باسم الاشارة وبالمضاف إلى ما كان مُعرَّفاً بغيرِ "أَلْ". فإن جاءَ بعده معرفةٌ غيرُ هذين فليست نعتاً له، بل هي بدل منه أو عطفُ بيانٍ، نحو "جاءَ الرجلُ هذا، أو الذين كان عندنا، أو صديق علي، أَو صديقُنا". والصحيحُ أَنه يجوزُ أَن يُنعَتَ الأعمُّ بالأخصّ، كما يجوزُ العكسُ، فتوصفُ كلُّ معرفةٍ بكلّ معرفة، كما تُوصفُ كلُّ نكرةٍ بكل نكرة. ٦- حقُّ الصفةِ أَن تَصحَبَ الموصوفَ. وقد يُحذَفُ الموصوف إذا ظهرَ أَمرُهُ ظُهوراً يُستغنى معه عن ذكره. فحينئذٍ تقومُ الصفةُ مَقامَهُ كقوله تعالى
…seperti: "جاءَ علي صديقُ خالدٍ" (Telah datang Ali, sahabat Khalid), dengan *isim isyarah* (kata tunjuk) seperti: "أُكرِمُ علياً هذا" (Aku memuliakan Ali ini), dan dengan *isim maushul* (kata penghubung) yang diawali dengan *al*, seperti: "جاءَ عليٌّ الذي اجتهد" (Telah datang Ali yang telah bersungguh-sungguh). 2. Kata yang diidentifikasi dengan *al* (*al-mu'arraf bi al*) disifati dengan kata yang mengandung *al*, dan dengan kata yang di-*idhafah*-kan kepada kata yang mengandung *al*, seperti: "جاءَ الغلامُ المجتهدُ" (Telah datang anak laki-laki yang rajin itu) dan "جاءَ الرجلُ صديقُ القومِ" (Telah datang laki-laki sahabat kaum itu). 3. Kata yang di-*idhafah*-kan kepada *alam* (nama diri) disifati dengan apa saja yang dapat menyifati *alam*, seperti: "جاءَ تِلميذُ عليٍّ المجتهدُ" (Telah datang murid Ali yang rajin itu), "جاءَ تِلميذُ عليٍّ صديقُ خالدٍ" (Telah datang murid Ali sahabat Khalid), "جاءَ تلميذ عليٍّ هذا" (Telah datang murid Ali ini), dan "جاء تلميذُ عليٍّ الذي اجتهدَ" (Telah datang murid Ali yang telah bersungguh-sungguh). 4. *Isim isyarah* dan kata "أَيُ" disifati dengan kata yang mengandung *al*, seperti: "جاءَ هذا الرجل" (Telah datang laki-laki ini) dan seperti: "يا أيُّها الانسانُ" (Wahai manusia!). Kata "أَيُّ" juga disifati dengan *isim isyarah*, seperti: "يا أَيُّها الرَّجلُ" (Wahai laki-laki ini!). 5. Mayoritas ulama Nahwu berpendapat bahwa hak dari *maushuf* (kata yang disifati) adalah harus lebih khusus daripada sifatnya, lebih dikenal (*a'raf*) darinya, atau setara dengannya. Oleh karena itu, terlarang menyifati kata yang mengandung *al* dengan *isim isyarah* maupun dengan kata yang di-*idhafah*-kan kepada kata yang diidentifikasi dengan selain *al*. Jika setelahnya datang kata *ma'rifat* selain kedua hal ini, maka ia bukanlah *na'at* baginya, melainkan berstatus sebagai *badal* (pengganti) atau *'athaf bayan* (penjelas), seperti: "جاءَ الرجلُ هذا", atau "الذي كان عندنا" (yang tadinya berada di sisi kami), atau "صديق علي" (sahabat Ali), atau "صديقُنا" (sahabat kami). Namun yang sahih adalah diperbolehkan menyifati kata yang lebih umum dengan kata yang lebih khusus, sebagaimana diperbolehkan pula sebaliknya. Maka setiap kata *ma'rifat* dapat disifati dengan setiap kata *ma'rifat*, sebagaimana setiap kata *nakirah* dapat disifati dengan setiap kata *nakirah*. 6. Hak dari sifat adalah harus menyertai *maushuf*-nya. Namun, terkadang *maushuf* dihapus apabila keadaannya telah sangat jelas sehingga tidak perlu lagi menyebutkannya. Pada saat itulah sifat menempati kedudukannya, seperti firman Allah Ta'ala:
﴿أَنِ اعمَلْ سابغاتٍ﴾ ، أَي "دُروعاً سابغاتٍ"، ونحو "نحنُ فريقانِ منّا ظَعَنَ ومنا أَقامَ"، والتقدير "منا فريقٌ ظعنَ، ومنّا فريقٌ أَقامَ". ومنه قولهُ تعالى أَيضاً ﴿وعندهم قاصراتُ الطرفِ عينٌ﴾ ، والتقديرُ "نساءٌ قاصراتُ الطّرفِ"، وقولُ الشاعر [من الوافر] أَنا ابْنُ جَلاَ وَطَلاَّعُ الثَّنَايا … مَتى أَضَعِ الْعِمامَةَ تَعرِفوني والتقدير "أَنا ابنُ رجلٍ جلاَ"، أَي جلا الأمور بأعماله وكشفها. وقد تُحذَفُ الصفةُ، إن كانت معلومةً، كقوله تعالى ﴿يأخذُ كلَّ سفينة غَصباً﴾ ، والتقدير ﴿يأخذُ كلَّ سفينةٍ صالحةٍ﴾ . ٧- إذا تكرَّرت الصفاتُ، وكانت واحدةً، يُستغنى بالتثنية أو الجمع عن التفريق، نحو "جاءَ عليٌّ وخالدٌ الشاعرانِ، أو عليٌّ وخالدٌ وسعيدٌ الشعراءُ، أو الرجلان الفاضلان. أَو الرجالُ الفضَلاءُ". وان اختلفت وجبَ التفريقُ فيها بالعطفِ بالواو، نحو "جاءَني رجلانِ كاتبٌ وشاعرٌ، أَو رجالٌ كاتب وشاعرٌ وفقيهٌ". ٨- الأصلُ في الصفة أَن تكونَ لبيانِ الموصوفِ. وقد تكونُ لمجرَّدِ الثناءِ والتعظيمِ، كالصفاتِ الجاريةِ على اللهِ سبحانهُ، أو لمجرَّد الذّم والتّحقيرِ نحو "أعوذُ باللهِ من الشيطانِ الرجيمِ" أو للتأكيدِ نحو "أمسِ الدابرُ لا يعودُ"، ومنه قولهُ تعالى ﴿فإذا نُفِخَ في الصور نَفخةٌ واحدةٌ﴾ .
"…firman Allah Ta'ala: ﴿أَنِ اعمَلْ سابغاتٍ﴾ (Buatlah baju besi yang besar-besar), yaitu: دُروعاً سابغاتٍ (baju-baju besi yang besar-besar). Contoh lainnya: نحنُ فريقانِ منّا ظَعَنَ ومنا أَقامَ (Kami adalah dua kelompok, di antara kami ada yang pergi dan di antara kami ada yang menetap), dengan takdir kalimat: 'منا فريقٌ ظعنَ، ومنّا فريقٌ أَقامَ' (di antara kami ada satu kelompok yang pergi, dan di antara kami ada satu kelompok yang menetap). Di antaranya pula firman Allah Ta'ala: ﴿وعندهم قاصراتُ الطرفِ عينٌ﴾ (Dan di sisi mereka ada bidadari-bidadari yang membatasi pandangannya dan bermata indah), dengan takdir kalimat: 'نساءٌ قاصراتُ الطّرفِ' (wanita-wanita yang membatasi pandangannya). Serta ucapan penyair [dari bahar Wafir]: أَنا ابْنُ جَلاَ وَطَلاَّعُ الثَّنَايا … مَتى أَضَعِ الْعِمامَةَ تَعرِفوني (Aku adalah putra dari orang yang terkenal dan pemberani yang menempuh perkara-perkara sulit, kapan pun aku mengenakan sorban, kalian akan mengenaliku). Dan takdir kalimatnya adalah: 'أَنا ابنُ رجلٍ جلاَ' (Aku adalah putra dari seorang laki-laki yang terkenal), yaitu orang yang menyingkap perkara-perkara dengan amal perbuatannya dan menjelaskannya. Dan terkadang kata sifat (*shifat*) dibuang apabila sudah diketahui maknanya, seperti firman Allah Ta'ala: ﴿يأخذُ كلَّ سفينة غَصباً﴾ (Dia merampas setiap bahtera dengan paksa), dengan takdir kalimat: ﴿يأخذُ كلَّ سفينةٍ صالحةٍ﴾ (Dia merampas setiap bahtera yang layak/bagus). 7. Apabila kata sifat (*shifat*) berulang sedangkan kata yang disifati (*maushuf*) adalah satu, maka cukup menggunakan bentuk dualis (*tatsniyah*) atau jamak (*jama'*) tanpa perlu memisahkannya, seperti: جاءَ عليٌّ وخالدٌ الشاعرانِ (Ali dan Khalid, kedua penyair itu, telah datang), atau: عليٌّ وخالدٌ وسعيدٌ الشعراءُ (Ali, Khalid, dan Said, para penyair itu, telah datang), atau: الرجلان الفاضلان (dua laki-laki yang utama itu), atau: الرجالُ الفضَلاءُ (para laki-laki yang utama itu). Namun jika sifat-sifat tersebut berbeda, maka wajib memisahkannya dengan menggunakan huruf *athaf* berupa *wawu*, seperti: جاءَني رجلانِ كاتبٌ وشاعرٌ (Telah datang kepadaku dua orang laki-laki, yang satu penulis dan yang satu penyair), atau: رجالٌ كاتبٌ وشاعرٌ وفقيهٌ (para laki-laki, yang satu penulis, yang satu penyair, dan yang satu ahli fikih). 8. Pada dasarnya, kata sifat (*shifat*) berfungsi untuk menjelaskan kata yang disifati (*maushuf*). Namun terkadang ia didatangkan hanya untuk pujian dan pengagungan (*tsana' wa ta'zhim*), seperti sifat-sifat yang disematkan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala; atau hanya untuk celaan dan penghinaan (*dzamm wa tahqir*), seperti: أعوذُ باللهِ من الشيطانِ الرجيمِ (Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk); atau untuk penegasan (*taukid*), seperti: أمسِ الدابرُ لا يعودُ (Hari kemarin yang telah lalu tidak akan kembali), dan di antaranya adalah firman Allah Ta'ala: ﴿فإذا نُفِخَ في الصور نَفخةٌ واحدةٌ﴾ (Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiupan)."