(البدل)
البَدَلُ هو التّابعُ المقصودُ بالحُكمِ بلا واسطةٍ بينهُ وبينَ متبوعهِ نحو "واضعُ النحوِ الإمامُ عليٌّ". (فعليٌّ تابع للامام في إعرابه. وهو المقصود بحكم نسبة وضع النحو اليه. والإمام انما ذكر توطئة وتمهيداً له، ليستفاد بمجموعهما فضلُ توكيد وبيان، لا يكون في ذرك أحدهما دون الآخر. فالإمام غير مقصود بالذات،
*Al-Badal* (kata pengganti) adalah pengikut (*at-tabi'*) yang dimaksudkan dalam suatu hukum tanpa adanya perantara (*wasithah*) antara dirinya dengan kata yang diikutinya (*al-matbu'*), seperti: *"Wadhi'u an-nahwi al-Imamu 'Aliyyun"* (Penyusun ilmu nahwu adalah Imam Ali). (Maka kata *'Aliyyun* adalah pengikut bagi kata *al-Imam* dalam i'rabnya. Dialah yang dimaksudkan dengan hukum penisbatan penyusunan ilmu nahwu kepadanya. Sedangkan kata *al-Imam* disebutkan semata-mata sebagai pengantar dan pembuka baginya, agar dari gabungan keduanya diperoleh faedah penegasan (*taukid*) dan penjelasan (*bayan*) yang tidak akan diperoleh jika hanya menyebutkan salah satunya saja tanpa yang lain. Dengan demikian, kata *al-Imam* bukanlah tujuan utama secara zatnya…)
لأنك لو حذفته لاستقلّ "عليٌّ" بالذكر منفرداً، فلو قلت "واضع النحو عليٌّ"، كان كلاماً مستقلاً. ولا واسطة بين التابع والمتبوع. أما ان كان التابع مقصوداً بالحكم، بواسطة حرف من أحرف العطف، فلا يكون بدلاً بل هو معطوف، نحو "جاء علي وخالد" وقد خرج عن هذا التعريف النعت والتوكيد أيضاً، لأنهما غير مقصودين بالذات وانما المقصود هو المنعوت والمؤكد) . وفي البدل مبحثهان ١- أَقْسامُ الْبَدَل البَدلُ أربعةُ أقسامٍ البدلُ المطابِقُ (ويُسمّى أيضاً بَدَلَ الكُل من الكل) ، وبَدلُ البعضِ من الكلِّ، وبدلُ الاشتمالِ، والبدلُ المُبايِنُ. فالبدلُ المُطابقُ (أو بَدَلُ الكل من الكُلِّ) هو بَدَلُ الشيءِ مِمّا كان طَبقَ معناهُ، كقولهِ تعالى ﴿إهدنِا الصراطَ المستقيمَ، صِراطَ الذينَ أنعمت عليهم﴾ . فالصراطُ المُستقيم وصِراطُ المُنعَمِ عليهم مُتطابقانِ معنًى، لأنهما، كلَيهما، بدلانِ على معنًى واحدٍ. وبدلُ البعضِ من الكُل هو بدل الجزء من كُلِّهِ، قليلاً كان ذلكَ الزءُ، أو مُساوياً للنّصفِ، أو أكثرَ منهُ، نحو " جاءتِ القبيلةُ رُبعُها. أو نصفُها، أو ثُلُثاها"، ونحو "الكلمةُ ثلاثة أقسامٍ اسمٌ وفعلٌ وحرف"، ونحو "جاءَ التلاميذُ عشرونَ منهم". وبدلُ الاشتمالِ هو بدلُ الشيءِ مِمّا يشتملُ عليه، على شرط أن لا يكونَ جزءاً منه، نحو "نفعني المُعلِّمُ عِلمُهُ. أحببتُ خالداً شجاعتَهُ. أُعجِبتُ بعليٍّ خُلقهِ الكريمِ". فالمعلِّمُ يشتملُ على العلم، وخالدٌ يشتملُ على
…karena sekiranya engkau membuangnya, niscaya kata *"'Aliyyun"* akan berdiri sendiri secara mandiri dalam penyebutan. Jika engkau mengucapkan: *"Wadhi'u an-nahwi 'Aliyyun"*, maka kalimat tersebut menjadi kalimat yang mandiri. Dan tidak ada perantara antara pengikut (*at-tabi'*) dengan kata yang diikutinya (*al-matbu'*). Adapun jika pengikut tersebut dimaksudkan dalam suatu hukum dengan perantara salah satu huruf *'athaf* (kata hubung), maka ia tidak berstatus sebagai *badal*, melainkan sebagai *ma'thuf* (kata yang disambungkan), seperti: *"Ja'a 'Aliyyun wa Khalidun"* (Ali dan Khalid telah datang). Dan telah keluar pula dari definisi ini kata sifat (*an-na't*) dan penegas (*at-taukid*), karena keduanya bukan merupakan tujuan utama secara zatnya, melainkan yang menjadi tujuan utama adalah kata yang disafati (*al-man'ut*) dan kata yang ditegaskan (*al-mu'akkad*). Dalam pembahasan *badal* terdapat dua pembahasan: 1- Pembagian *Badal*: *Badal* terbagi menjadi empat bagian: *badal muthabiq* (yang disebut juga dengan *badal al-kull min al-kull* [pengganti keseluruhan dari keseluruhan]), *badal al-ba'dh min al-kull* (pengganti sebagian dari keseluruhan), *badal al-isytimal* (pengganti cakupan), dan *badal al-mubayin* (pengganti yang berbeda). *Badal muthabiq* (atau *badal al-kull min al-kull*) adalah penggantian sesuatu dengan sesuatu yang sama persis maknanya, seperti firman Allah Ta'ala: *"Ihdina ash-shiratha al-mustaqima, shiratha alladzina an'amta 'alaihim"* (Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya). Maka kata *ash-shirath al-mustaqim* dan *shirath al-mun'am 'alaihim* adalah dua hal yang sama persis secara makna, karena keduanya menunjukkan satu makna yang sama. *Badal al-ba'dh min al-kull* adalah penggantian sebagian dari keseluruhannya, baik bagian tersebut berjumlah sedikit, setengahnya, maupun lebih banyak darinya, seperti: *"Ja'ati al-qabilatu rub'uha, au nishfuha, au tsulutsaha"* (Kabilah itu telah datang seperempatnya, atau setengahnya, atau dua pertiganya), *"Al-kalimatu tsalatsatu aqsamin: ismun wa fi'lun wa harfun"* (Kata itu ada tiga macam: isim, fi'il, dan huruf), dan *"Ja'a at-talamidzu 'asyruna minhum"* (Para murid telah datang, dua puluh orang di antara mereka). *Badal al-isytimal* adalah penggantian sesuatu dengan apa yang dicakup oleh sesuatu tersebut, dengan syarat ia bukan merupakan bagian fisik darinya, seperti: *"Nafa'ani al-mu'allimu 'ilmuhu"* (Guru itu telah memberi manfaat kepadaku ilmunya), *"Ahbabtu Khalidan syaja'atahu"* (Aku menyukai Khalid keberaniannya), dan *"U'jibtu bi-'Aliyyin khuluqihi al-karimi"* (Aku kagum kepada Ali akhlaknya yang mulia). Maka guru tersebut mencakup ilmu, dan Khalid mencakup…
الشجاعة، وعليٌّ يشتملُ على الخُلُق. وكلٌّ من العلم والشجاعة والخُلق، ليس جزءاً مِمّن يشتملُ عليه. ولا بُدَّ لبدلِ البعضِ وبدلِ الاشتمالِ من ضميرٍ يربطُهما بالبدل، مذكوراً، كان، كقوله تعالى ﴿ثمَّ عَمُوا وصَمُّوا، كثيرٌ منهم﴾ ، وقولهِ ﴿يَسألونكَ عن الشّهرِ الحرامِ. قِتالٍ فيه﴾ ، أو مُقدَّراً، كقوله سبحانهُ ﴿وللهِ على النّاس حِجُّ البيت من استطاعَ إليه سبيلاً﴾ ، وقولهِ ﴿قُتِلَ أصحابُ الأخدودِ، النّارِ ذاتِ الوَقود﴾ . والبَدَلُ المباينُ هو بدلُ الشيءِ مِمّا يُباينُهُ، بحيثُ لا يكون مطابقاً لهُ، ولا بعضاً منه، ولا يكونُ المُبدَلُ منه مُشتملاً عليه. وهو ثلاثةُ أنواعٍ بدَلُ الغَلَطِ، وبَدلُ النسيان، وبدلُ الاضراب. فبَدَلُ الغلطِ ما ذكرَ ليكونَ بدلاً من اللفظ الذي سبقَ إليه اللسانُ، فذكرَ غلطاً، نحو "جاءَ المعلِّمُ، التلميذُ"، أردتَ أن تذكرَ التلميذ، فسبقَ لسانُكَ، فذكرتَ المعلمَ غلطاً، فتَذكَّرتَ غَلَطَكَ، فأبدلتَ منه التلميذَ.
"…keberanian, dan Ali mencakup akhlak. Masing-masing dari ilmu, keberanian, and akhlak bukanlah bagian fisik dari orang yang mencakupnya. Dan harus ada pada *badal ba'dh min al-kull* (pengganti sebagian dari keseluruhan) dan *badal isytimal* (pengganti cakupan) sebuah *dhamir* (kata ganti) yang menghubungkan keduanya dengan *mubdal minhu* (kata yang digantikan), baik *dhamir* tersebut tampak (*madzkur*), seperti firman Allah Ta'ala: ﴿ثمَّ عَمُوا وصَمُّوا، كثيرٌ منهم﴾ (Kemudian mereka buta dan tuli, banyak di antara mereka), dan firman-Nya: ﴿يَسألونكَ عن الشّهرِ الحرامِ. قِتالٍ فيه﴾ (Mereka bertanya kepadamu tentang bulan haram, yaitu berperang di dalamnya). Ataupun *dhamir* tersebut diperkirakan (*muqaddar*), seperti firman Allah Subhanahu: ﴿وللهِ على النّاس حِجُّ البيت من استطاعَ إليه سبيلاً﴾ (Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah), dan firman-Nya: ﴿قُتِلَ أصحابُ الأخدودِ، النّارِ ذاتِ الوَقود﴾ (Binasalah orang-orang yang membuat parit, yaitu api yang mempunyai bahan bakar). Dan *badal mubayin* (pengganti yang berbeda) adalah pengganti suatu perkara dari perkara lain yang berbeda dengannya, sekiranya ia tidak cocok dengannya, bukan bagian darinya, dan *mubdal minhu* tidak mencakupnya. Ia terbagi menjadi tiga macam, yaitu: *badal al-ghalath* (pengganti karena salah ucap), *badal an-nisyan* (pengganti karena lupa), dan *badal al-idhrab* (pengganti karena meralat). *Badal al-ghalath* adalah kata yang disebutkan untuk menjadi pengganti dari lafal yang terlanjur diucapkan oleh lidah secara salah, seperti: "جاءَ المعلِّمُ، التلميذُ" (*ja'a al-mu'allimu, at-tilmidzu* – Telah datang guru, eh murid). Anda sebenarnya ingin menyebutkan "murid", namun lidah Anda terlanjur menyebutkan "guru" secara salah, kemudian Anda menyadari kesalahan Anda, lalu Anda menggantinya dengan kata "murid".
وبدلُ النسيان ما ذُكرَ ليكونَ بدلاً من لفظٍ تَبيَّنَ لكَ بعدَ ذكرهِ فسادُ قصدهِ، نحو "سافرَ عليٌّ إلى دِمَشقَ، بَعلبكَّ"، توهمتَ أنه سافرَ إلى دمشقَ، فأدرككَ فسادُ رأيك، فأبدلتَ بعلبكَّ من دمشقَ. فبدلُ الغلطِ يتعلَّقُ باللسانِ، وبدلُ النسيانِ يَتعلَّق بالجَنان. وبَدلُ الاضراب ما كان في جملةٍ، قصدُ كلٍّ من البلد والمُبدَل منه فيها صحيحٌ، غيرَ أنَّ المتكلم عدلَ عن قصد المُبدَلِ منه إلى قصدِ البدل، نحو "خُذِ القلمَ، الوَرَقةَ"، أمرتَهُ بأخذ القلم، ثم أضربتَ عن الأمر بأخذهِ إلى أمرهِ بأخذ الورقة، وجعلتَ الأوَّل في حكم المترُوك. والبَدَلُ المُباينُ بأقسامهِ لا يقعُ في كلامِ البُلغَاءِ. والبليغُ إن وقع في شيءٍ منها، أتى بين البدل والمبدَل منه بكلمةِ "بَلْ"، دلالةً على غلطهِ أو نسيانهِ أو إِضرابه. ٢- أَحكامٌ تَتَعَلَّقُ بالْبَدَل ١- ليسَ بمشروطٍ أن يتطابَقَ البدلُ والمُبدَل منه تعريفاً وتنكيراً. بل لكَ أن تُبدِلَ أيَّ النوعينِ شئتَ من الآخر، قال تعالى ﴿إلى صراط مُستقيم، صراطِ الله﴾ ، فأبدلَ "صراط الله"، وهو معرفةٌ، من "صراطٍ مُستقيم"، وهو نكرة، وقالَ "لنفسعاً بالناصيةِ، ناصيةٍ كاذبةٍ خاطئةٍ"، فأبدلَ "ناصية"، وهي نكرةٌ، منَ "الناصية"، وهي معرفةٌ. غيرَ أنه لا يَحسُنُ إِبدالُ النكرة من المعرفة إلا إذا كانت موصوفةً كما رأيتَ في الآية الثانية. ٢- يُبدَلُ الظاهرُ من الظاهرِ، كما تقدَّمَ. ولا يُبدَلُ المُضمَر من المُضمَر. وأما مثلُ "قُمتَ أنتَ. ومررتُ بكَ أنت"، فهو توكيد كما تقدَّم.
*Badal nisyan* (pengganti karena lupa) adalah kata yang disebutkan untuk menjadi pengganti dari lafal yang kejelasannya tampak bagimu setelah diucapkan bahwa maksud pertamanya salah, seperti *Safara 'Aliyun ila Dimasqha, Ba'labakka* (Ali bepergian ke Damaskus, Baalbek). Engkau mengira ia bepergian ke Damaskus, lalu engkau menyadari kekeliruan prasangkamu, maka engkau mengganti Damaskus dengan Baalbek. Perbedaannya, *badal ghalath* (pengganti karena tersalah ucap) berkaitan dengan lisan, sedangkan *badal nisyan* berkaitan dengan hati/pikiran. Adapun *badal idhrab* (pengganti karena pengalihan) adalah *badal* dalam kalimat yang maksud dari *badal* maupun *mubdal minhu*-nya sama-sama benar, hanya saja pembicara berpaling dari maksud *mubdal minhu* menuju maksud *badal*, seperti *Khudzi al-qalama, al-waraqata* (Ambillah pena itu, kertas itu!). Engkau memerintahkannya mengambil pena, lalu engkau berpaling (*idhrab*) dari perintah mengambil pena menuju perintah mengambil kertas, dan menjadikan kata pertama dalam hukum ditiadakan/ditinggalkan. *Badal mubayin* dengan seluruh bagiannya tidak terjadi dalam tutur kata ahli balagah (*al-bulagha'*). Seseorang yang beraliran balagah, jika terjatuh pada salah satu dari hal tersebut, akan mendatangkan kata *bal* (بَلْ – bahkan/melainkan) di antara *badal* dan *mubdal minhu* sebagai petunjuk atas tersalahnya, lupanya, atau pengalihannya (*idhrab*). 2. Hukum-hukum yang Berkaitan dengan *Badal* 1. Tidak disyaratkan harus ada kesesuaian (*tathabuq*) antara *badal* dan *mubdal minhu* dalam hal *ta'rif* (*ma'rifat*) dan *tankir* (*nakirah*). Bahkan engkau boleh mengganti jenis yang manapun yang engkau kehendaki dari jenis yang lain. Allah Ta'ala berfirman: *'ila shirathin mustaqimin, shirathillahi'* (QS. Asy-Syura: 52-53); Allah menggantikan *shirathillahi* yang berbentuk *ma'rifat* dari *shirathin mustaqimin* yang berbentuk *nakirah*. Dan Allah berfirman: *'la nasfa'an bi an-nashiyati, nashiyatin kadzibatin khathi'atin'* (QS. Al-'Alaq: 15-16); Allah menggantikan *nashiyatin* yang berbentuk *nakirah* dari *an-nashiyati* yang berbentuk *ma'rifat*. Hanya saja tidak dianggap baik mengganti *nakirah* dari *ma'rifat* kecuali apabila *nakirah* tersebut disifati (*maushufah*), sebagaimana yang engkau lihat pada ayat kedua. 2. *Isim dhahir* digantikan (*ibdal*) dari *isim dhahir*, sebagaimana telah lalu. Dan tidak dibentuk *badal* dari *dhamir* (*mudhmar*) kepada *dhamir*. Adapun bentuk seperti *Qumta anta* dan *Marartu bika anta*, maka bentuk tersebut adalah *taukid* (penguat) sebagaimana telah dibahas.
ولا يُبدلُ المضمرُ من الظاهر على الصحيح. قال ابنُ هشام وأمّا قولهم "رأيتُ زيداً أياهُ"، فمِنْ وضعِ النحويينَ، وليس بمسموع. ويجوز إبدالُ الظاهر من ضميرِ الغائبِ كقولهِ تعالى ﴿وأسَرُّوا النّجوى، الذينَ ظلموا﴾ فأبدلَ "الذينَ" من "الواو"، التي هي ضميرُ الفاعلِ. ومن ضمير المخاطبِ والمتكّلم، على شرط أن يكونَ بدلَ بعضٍ من كلٍّ، أو بدلَ اشتمالٍ، فالأول كقوله تعالى ﴿لَقد كانَ لكم في رسول الله أسوةٌ حسنةٌ، لِمَنْ كان يَرجو اللهَ واليومَ الآخرَ﴾ فأبدلَ الجارَّ والمجرورَ، وهما "لِمن" من الجارّ والمجرورِ المُضمر وهما "لكم" وهو بدلُ بعضٍ من كلٍّ، لأنَّ الأسوةَ الحسنةَ في رسولِ اللهِ ليست لكلِّ المخاطبين، بل هيَ لمن كان يرجو اللهَ واليومَ الآخرَ منهم. والثاني كقولك "أعجبتني، علمُكَ"، فعلمُك بدلٌ من "التاءِ"، التي هي ضميرُ الفاعل، وهو بدلُ اشتمال، ومنه قول الشاعر [من الطويل] بَلَغْنا السَّماءَ مَجْدُنا وسَناوُّنا … وإِنَّا لَنَرْجُو فَوْقَ ذلِكَ مَظْهرا فأبدلَ "مجدنا" من "نا"، التي هي ضمير الفاعلِ، وهو بدلُ اشتمال أيضاً. ٣- يُبدَلُ كلٌّ من الاسمِ والفعلِ والجملة من مثله. فإبدالُ الاسمِ من الاسمِ قد تقدَّم. وإبدالُ الفعل من الفعل كقوله تعالى ﴿ومَنْ يفعلْ ذلكَ يَلق أثاماً، يُضاعفْ له العذابُ﴾ ، أبدل "يُضاعف" من "يلقَ". وإبدالُ الجملة من الجملة كقوله تعالى ﴿أمَدَّكم بما تَعلمونَ، أمدَّكم
"Dan tidak boleh me-*badal*-kan (menggantikan) *dhamir* (kata ganti) dari *isim zhahir* (kata benda tampak) menurut pendapat yang shahih. Ibnu Hisyam berkata: 'Adapun ucapan mereka `رأيتُ زيداً أياهُ` (Aku melihat Zaid, yaitu dia), maka itu adalah buatan para ulama Nahwu dan tidak pernah didengar dari orang Arab asli'. Dan diperbolehkan me-*badal*-kan *isim zhahir* dari *dhamir gha'ib* (kata ganti orang ketiga), seperti firman Allah Ta'ala: `وأسَرُّوا النّجوى، الذينَ ظلموا` (Dan mereka merahasiakan pembicaraan mereka, yaitu orang-orang yang zalim itu), di mana Dia me-*badal*-kan kata `الذينَ` dari huruf *wawu* yang merupakan *dhamir fa'il* (kata ganti subjek). Dan diperbolehkan pula dari *dhamir mukhatab* (orang kedua) dan *mutakallim* (orang pertama) dengan syarat berupa *badal ba'dh min kul* (pengganti sebagian dari keseluruhan) atau *badal isytimal* (pengganti yang mengandung cakupan sifat). Contoh yang pertama seperti firman Allah Ta'ala: `لَقد كانَ لكم في رسول الله أسوةٌ حسنةٌ، لِمَنْ كان يَرجو اللهَ واليومَ الآخرَ` (Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat), di mana Dia me-*badal*-kan *jar wa majrur* yaitu `لِمن` dari *jar wa majrur* yang berupa *dhamir* yaitu `لكم`, dan ini merupakan *badal ba'dh min kul*, karena suri teladan yang baik pada diri Rasulullah bukanlah bagi seluruh orang yang diseru (*mukhatab*), melainkan khusus bagi orang-orang yang mengharap Allah dan hari akhir di antara mereka. Contoh yang kedua seperti ucapan Anda: `أعجبتني، علمُكَ` (Kamu mengagumkanku, yaitu ilmumu), maka kata `علمُk` adalah *badal* dari huruf *ta'* yang merupakan *dhamir fa'il*, dan ia merupakan *badal isytimal*. Di antaranya adalah perkataan penyair [dari bahar Thawil]: `بَلَغْنا السَّماءَ مَجْدُنا وسَناوُّنا … وإِنَّا لَنَرْجُو فَوْقَ ذلِكَ مَظْهرا` (Kemuliaan dan keluhuran kami telah mencapai langit, dan sesungguhnya kami mengharapkan kedudukan yang lebih tinggi dari itu), di mana ia me-*badal*-kan kata `مجدنا` dari *dhamir* `نا` yang merupakan *dhamir fa'il*, dan ini juga merupakan *badal isytimal*. 3- Masing-masing dari *isim*, *fi'il*, dan *jumlah* dapat di-*badal*-kan dari yang sejenis dengannya. Adapun me-*badal*-kan *isim* dari *isim* telah dijelaskan sebelumnya. Sedangkan me-*badal*-kan *fi'il* dari *fi'il* adalah seperti firman Allah Ta'ala: `ومَنْ يفعلْ ذلكَ يَلق أثاماً، يُضاعفْ له العذابُ` (Dan barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat pembalasan dosa, yaitu akan dilipatgandakan azab untuknya), di mana Dia me-*badal*-kan kata `يُضاعف` dari `يَلقَ`. Dan me-*badal*-kan *jumlah* dari *jumlah* adalah seperti firman Allah Ta'ala: `أَمَدَّكم بما تَعلمونَ، أَمَدَّكم…`"
بأنعامٍ وبنينَ﴾ ، فأبدل جملة "أمدَّكم بأنعامٍ وبَنينَ" من جملة "أمدَّكم بما تَعلمون". وقد تُبدَلُ الجملةُ من المُفرَدِ، كقول الشاعر [من الطويل] إِلى اللهِ أَشْكُو بِالْمَدينَةِ حاجةً … وبالشَّامِ أُخْرى، كَيْفَ يَلْتَقِيانِ؟! أبدلَ "كيفَ يَلتقيانِ" من حاجةٍ وأخرى، والتقديرُ الإعرابيُّ "أشكون هاتينِ الحاجتينِ، تَعذُّرَ التقائهما". والتقديرُ المعنويُّ "أشكو إلى الله تَعَذُّرَ التقاءِ هاتينِ الحاجتينِ". ٤- إذا أُبدِلَ اسمٌ من اسم استفهام، أو اسم شرط، وجب ذكرُ همزةِ الاستفهام، أو "إن" الشرطيّةِ معَ البدلِ، فالأولُ نحو "كم مالُكَ؟ أعشرونَ أم ثلاثون؟. من جاءَك؟ أعليٌّ أم خالد؟. ما صنعتَ؟ أخيراً أم شرًّا؟ ". والثاني نحو "مَنْ يَجتهدْ، إنْ عليٌّ، وإن خالدٌ، فأكرمهُ. ما تَصنعْ، إنْ خيراً، وإنْ شرًّا، تُجزَ بهِ. حيثما تنتظرني، إنْ في المدرسة، وإن في الدَّار أُوافِك".
"…`بأنعامٍ وبنينَ` (…dengan binatang-binatang ternak dan anak-anak laki-laki), di mana Dia me-*badal*-kan *jumlah* `أمدَّكم بأنعامٍ وبَنينَ` dari *jumlah* `أمدَّكم بما تَعلمون`. Terkadang *jumlah* di-*badal*-kan dari kata tunggal (*mufrad*), seperti perkataan penyair [dari bahar Thawil]: `إِلى اللهِ أَشْكُو بِالْمَدينَةِ حاجةً … وبالشَّامِ أُخْرى، كَيْفَ يَلْتَقِيانِ؟!` (Kepada Allah aku mengadukan suatu kebutuhan di Madinah, dan kebutuhan lain di Syam; bagaimana keduanya bisa bertemu?!). Ia me-*badal*-kan *jumlah* `كيفَ يَلتقيانِ` dari kata `حاجةً` dan `أخرى`. Takdir secara *i'rab* adalah "Aku mengadukan kedua kebutuhan ini, yaitu kemustahilan bertemunya kedua hal tersebut". Dan takdir secara makna adalah "Aku mengadukan kepada Allah tentang kemustahilan bertemunya kedua kebutuhan ini". 4. Apabila suatu *isim* di-*badal*-kan dari *isim istifham* (kata tanya) atau *isim syarath* (kata syarat), maka wajib menyebutkan *hamzah istifham* (hamzah tanya) atau `إِنْ` *syarthiyyah* bersama dengan *badal* tersebut. Contoh yang pertama seperti: `كم مالُكَ؟ أعشرونَ أم ثلاثون؟` (Berapa hartamu? Apakah dua puluh atau tiga puluh?), `من جاءَك؟ أعليٌّ أم خالد؟` (Siapa yang mendatangimu? Apakah Ali atau Khalid?), dan `ما صنعتَ؟ أخيراً أم شرًّا؟` (Apa yang telah kamu perbuat? Apakah kebaikan atau keburukan?). Contoh yang kedua seperti: `مَنْ يَجتهدْ، إنْ عليٌّ، وإنْ خالدٌ، فأكرمهُ` (Barang siapa yang bersungguh-sungguh, jika ia adalah Ali atau jika ia adalah Khalid, maka muliakanlah dia), `ما تَصنعْ، إنْ خيراً، وإنْ شرًّا، تُجزَ بهِ` (Apa pun yang kamu perbuat, jika itu kebaikan atau jika itu keburukan, kamu akan dibalas dengannya), dan `حيثما تنتظرني, إنْ في المدرسة، وإنْ في الدَّار أُوافِك` (Di mana pun kamu menungguku, baik di sekolah maupun di rumah, aku akan mendatangimu)."