(التوابع وإعرابها)

(عطف البيان)

(عطف البيان)

عطفُ البيانِ هو تابعٌ جامدٌ، يُشبهُ النّعتَ في كونه يكشفُ عن المراد كما يكشفُ النّعتُ. ويُنزّلُ من المتبوع مَنزلةَ الكلمةِ الموضّحة لكلمةٍ غريبةٍ قبلها، كقول الراجز "أقسمَ باللهِ أبو حَفصٍ عُمَر". (فعمر عطف بيان على "أبو حفص"، ذُكر لتوضيحه والكشف عن المراد به، وهو تفسير له وبيان، وأراد به سيدنا عمر بن الخطاب، ﵁ . وفائدته إيضاحُ متبوعهِ، إن كان المتبوعُ معرفةً، كالمثال السابق، وتخصيصه إن كان نكرةً، نحو "اشتريتُ حُلِيّاً سِواراً". ومنه قولهُ تعالى "أو كفّارةٌ طَعامُ مَساكينَ". ويجبُ أن يُطابقَ متبوعَهُ في الإعرابِ والإفرادِ والتّثنيةِ والجمع والتّذكير والتأنيث والتعريفِ والتنكير. ومن عطفِ البيان ما يقعُ بعد "أَيْ وأنْ" التّفسيريتينِ. غيرَ أنَّ "أَيْ" تُفسّرُ بها المُفرداتُ والجُمَلُ، و"أَنْ" لا يفسَّر بها إلا الجُمل المشتملةُ على معنى القول دونَ أحرفهِ. تقول "رأيتُ ليثاً، أي أَسداً" و"أشرتُ إليهِ، أي اذهبْ". وتقولُ "كتبتُ إليهِ، أنْ عَجَّلْ بالحضور. وإذا تضمّنتْ "إذا" معنى "أي" التفسيريَّةِ، كانت حرفَ تفسيرٍ مثلها،

*'Athaf Bayan* adalah pengikut (*tabi'*) yang berbentuk *jamid* (statis/bukan turunan), yang menyerupai *na'at* (sifat) dalam hal menyingkap maksud pembicaraan sebagaimana *na'at* menyingkapnya. Ia diposisikan terhadap kata yang diikuti (*matbu'*) laksana kata penjelas bagi kata asing sebelumnya, seperti perkataan penyair rajaz: "أقسمَ باللهِ أبو حَفصٍ عُمَر" (Telah bersumpah demi Allah Abu Hafsh, yaitu Umar). (Maka kata "عمر" [*'Umar*] adalah *'athaf bayan* bagi "أبو حفص" [*Abu Hafsh*], disebutkan untuk memperjelas dan menyingkap maksud darinya, yang berfungsi sebagai tafsir dan penjelasan baginya; dan yang dimaksud dengannya adalah Sayyidina Umar bin al-Khaththab—semoga Allah meridhainya). Faedahnya adalah memperjelas kata yang diikutinya (*matbu'*) jika *matbu'*-nya berbentuk *ma'rifat* (definit), sebagaimana contoh di atas; dan mengkhususkannya (*takhshish*) jika *matbu'*-nya berbentuk *nakirah* (indefinit), seperti: "اشتريتُ حُلِيّاً سِواراً" (Aku telah membeli perhiasan, yaitu gelang). Di antaranya adalah firman Allah Ta'ala: "أو كفّارةٌ طَعامُ مَساكينَ" (Atau membayar kafarat dengan memberi makan orang-orang miskin). *'Athaf bayan* wajib menyesuaikan dengan *matbu'*-nya dalam hal *i'rab*, bentuk tunggal (*ifrad*), ganda (*tatsniyah*), jamak, maskulin (*tadzkir*), feminin (*ta'nits*), makrifat (*ta'rif*), dan nakirah (*tankir*). Di antara bentuk *'athaf bayan* adalah kata yang terletak setelah "أَيْ" (*ay*) dan "أَنْ" (*an*) yang berfungsi sebagai penjelas (*tafsiriyyah*). Hanya saja, "أَيْ" digunakan untuk menjelaskan kata tunggal (*mufradat*) maupun kalimat (*jumal*), sedangkan "أَنْ" tidak digunakan untuk menjelaskan kecuali *jumlah* yang mengandung makna ucapan tanpa menggunakan huruf-huruf ucapan tersebut. Anda mengucapkan: "رأيتُ ليثاً، أي أَسداً" (Aku melihat singa, yaitu singa) dan "أشرتُ إليهِ، أي اذهبْ" (Aku memberi isyarat kepadanya, yaitu pergilah). Serta Anda mengucapkan: "كتبتُ إليهِ، أنْ عَجَّلْ بالحضور" (Aku menulis surat kepadanya, yaitu segerakanlah kehadiranmu). Apabila kata "إِذَا" (*idza*) mengandung makna "أَيْ" penjelas, maka ia berstatus sebagai *huruf tafsir* (huruf penjelas) sepertinya,

نحو "تقولُ امتطيتُ الفرسَ إذا ركبتَه". وسيأتي لهذا البحث فضلُ بيانٍ في باب الحروف. أَحكامٌ تَتَعَلَّقُ بِعَطْفِ البَيَان ١- يجبُ أن يكون عطفُ البيان أوضح من متبوعهِ وأشهر، وإلا فهو بدلٌ نحو "جاءَ هذا الرجل"، فالرجلُ. بدلٌ من اسم الإشارة، وليس عطفَ بيان، لأنَّ اسمَ الإشارةِ أوضح من المعرَّف بأل. وأجازَ بعضُ النّحويين أن يكونَ عطفَ بيان، لأنهم لا يشترطون فيه أن يكون أوضعَ من المتبوع. وما هو بالرأي السديد، لأنه إنما يُؤتى به للبيان والمبيِّنُ يجبُ أن يكونَ أوضحَ من المُبيَّن. ٢- الفرقُ بين البدلِ وعطف البيان أنَّ البدلَ يكونُ هو المقصودَ بالحكم دُون المُبدلِ منه. وأمّا عطفُ البيان فليس هو المقصودَ، بل إنَّ المقصود بالحُكم هو المتبوعُ، وإنما جيءَ بالتابع (أي عطف البيان) تَوضيحاً له وكشفاً عن المراد منه. ٣- كلُّ ما جازَ أن يكونَ عَطفَ بيانٍ جازَ أن يكونَ بدلَ الكلِّ من الكلِّ، إذا لم يُمكن الاستغناءُ عنه أو عن متبوعهِ، فيجبُ حينئذٍ أن يكون عطفَ بيان. فمثالُ عدمِ جواز الاستغناء عن التابع قولكَ "فاطمةُ جاء حسينٌ أخوها"، لأنكَ لو حذفتَ "أخوها" من الكلام لفسد التركيبُ. ومثالُ عدَم جواز الاستغناءِ عن المتبوعِ قولُ الشاعر [من الوافر] أَنا بانُ التَّارِكِ الْبَكْرِيِّ بِشْرٍ … عَلَيْهِ الطَّيْرُ تَرْقُبُهُ وقُوعا فبشر عطفُ بيانٍ على "البكري"، لا بدلٌ منه، لأنكَ لو حذفت

seperti: تَقُولُ امْتَطَيْتُ الْفَرَسَ إِذَا رَكِبْتَهُ (Kamu mengucapkan 'aku menunggangi kuda' apabila kamu mengendarainya). Penjelasan lebih lanjut mengenai pembahasan ini akan datang pada bab *huruf-huruf*. **Hukum-Hukum yang Berkaitan dengan *Athaf Bayan*** 1- Wajib bagi *athaf bayan* (kata pengikut yang memperjelas) untuk lebih jelas dan lebih masyhur daripada kata yang diikutinya (*matbu'*), jika tidak demikian maka ia adalah *badal* (kata pengganti), seperti: جَاءَ هَذَا الرَّجُلُ (Telah datang lelaki ini). Maka lafal الرَّجُلُ adalah *badal* dari *isim isyarah* (kata tunjuk), dan bukan *athaf bayan*, karena *isim isyarah* lebih jelas daripada kata yang didefinisikan dengan *al*. Sebagian ulama nahwu membolehkan ia menjadi *athaf bayan* karena mereka tidak mensyaratkan padanya untuk lebih jelas daripada kata yang diikutinya. Namun ini bukanlah pendapat yang kuat, karena ia didatangkan semata-mata untuk memperjelas, sedangkan penjelas (*al-mubayyin*) wajib lebih jelas daripada yang dijelaskan (*al-mubayyan*). 2- Perbedaan antara *badal* dan *athaf bayan* adalah bahwa *badal* merupakan kata yang dimaksudkan secara langsung oleh hukum tanpa menyertakan *mubdal minhu* (kata yang digantikan). Adapun *athaf bayan*, ia bukanlah kata yang dimaksudkan secara langsung, melainkan yang dimaksudkan oleh hukum adalah kata yang diikutinya (*matbu'*), dan didatangkannya kata pengikut (*tabi'*, yaitu *athaf bayan*) hanyalah sebagai penjelas baginya dan penyingkap maksud darinya. 3- Setiap kata yang boleh menjadi *athaf bayan* boleh juga menjadi *badal kull min al-kull* (pengganti menyeluruh), kecuali jika tidak mungkin mengabaikan kata tersebut atau kata yang diikutinya, maka pada saat itu ia wajib menjadi *athaf bayan*. Contoh ketidakbolehan mengabaikan kata pengikut (*tabi'*) adalah ucapan Anda: فَاطِمَةُ جَاءَ حُسَيْنٌ أَخُوهَا (Fatimah, telah datang Husain saudaranya), karena jika Anda membuang lafal "أَخُوهَا" dari kalimat, niscaya susunan kalimatnya akan rusak. Dan contoh ketidakbolehan mengabaikan kata yang diikuti (*matbu'*) adalah perkataan penyair [dari bahar Wafir]: أَنَا ابْنُ التَّارِكِ الْبَكْرِيِّ بِشْرٍ … عَلَيْهِ الطَّيْرُ تَرْقُبُهُ وُقُوعاً (Aku adalah putra dari orang yang meninggalkan Al-Bakri, yaitu Bisyr, yang dikelilingi burung-burung yang mengawasinya untuk hinggap). Maka lafal بِشْرٍ adalah *athaf bayan* bagi "الْبَكْرِيِّ", bukan *badal* darinya, karena jika Anda membuangnya…

المتبوعَ، وهو "البكري" لوجب أن تضيفَ "التّارك" إلى "بشر"، وهو ممتنعٌ، لأنّ إضافةَ ما فيه "ألْ" إذا كان ليس مُثنى أو مجموعاً جمعَ مذكرٍ سالماً، إلى ما كان مُجرَّداً عنها غيرُ جائزة، كما علمتَ في مبحث الإضافة. ومن ذلك قول الآخر [من الطويل] أَيا أَخَوَيْنا، عَبْدَ شَمْسٍ ونَوْفَلاً … أُعِيذُ كُما بِاللهِ أَنْ تُحْدِثا حَربا فعبدَ شمس معطوفٌ على "أخوينا" عطفَ بيان، و"نوفلاً" معطوف بالواو على "عبد شمس"، فهو مثله عطف بيان. ولا تجوزُ البدليَّةُ هنا، لأنه لا يُستغنى عن المتبوع، إذ لا يصحُّ أن يقال "أيا عبدَ شمسٍ ونوفلاً"، بل يجبُ أن يقال "ونوفلُ" بالنباءِ على الضم، لأن المنادى إذا عُطف عليه اسمٌ مُجرَّد من "ألْ" والإضافة، وجبَ بناؤه، لأنك إن ناديتَهُ كان كذلك، نحو "يا نوفلُ". كما عرفتَ ذلك في مبحث "أحكام توابع المنادى". ومن ذلكَ أن تقول "يا زيدُ الحارث". فالحارث عطفُ بيان على "زيد". ولا يجوز أن يكون بدلاً منه، لأنك لو حذفتَ المتبوع، وأحللتَ التابعَ محلَّهُ، لقلتَ "يا الحارثُ". وذلك لا يجوز، لأنَّ "يا" و"أل" لا يجتمعان إلا في لفظ الجلالة. ٤- يكونُ عطفُ البيان جملةً، كقوله تعالى ﴿فَوَسوسَ إليه الشيطانُ

yang diikuti (*al-matbu'*), yaitu kata "الْبَكْرِيِّ", niscaya Anda wajib me-*idhafah*-kan kata "التَّارِكِ" kepada "بِشْرٍ". Hal ini dilarang, karena me-*idhafah*-kan kata yang disertai "أَلْ"—apabila ia bukan berupa bentuk dualis [*mutsanna*] atau jamak mudzakkar salim—kepada kata yang sunyi darinya hukumnya tidak diperbolehkan, sebagaimana yang telah Anda ketahui dalam pembahasan *idhafah*. Di antara contoh hal tersebut adalah perkataan penyair lainnya: "أَيَا أَخَوَيْنَا عَبْدَ شَمْسٍ وَنَوْفَلًا … أُعِيذُكُمَا بِاللَّهِ أَنْ تُحْدِثَا حَرْبًا" (Wahai dua saudara kami, Abdu Syams dan Naufal… aku melindungi kalian berdua dengan nama Allah dari menyulut peperangan). Kata "عَبْدَ شَمْسٍ" di-*athaf*-kan kepada "أَخَوَيْنَا" sebagai *'athaf bayan*, sedangkan "نَوْفَلًا" di-*athaf*-kan dengan huruf *wawu* kepada "عَبْدَ شَمْسٍ", sehingga ia pun berkedudukan sebagai *'athaf bayan* sepertinya. Dan tidak diperbolehkan menjadikannya sebagai *badal* di sini, karena kata yang diikuti (*al-matbu'*) tidak dapat diabaikan keberadaannya. Sebab tidak sah sekiranya diucapkan "أَيَا عَبْدَ شَمْسٍ وَنَوْفَلًا", melainkan wajib diucapkan "وَنَوْفَلُ" dengan di-*mabni*-kan di atas harakat dhammad. Hal itu karena *munada* (kata yang dipanggil) apabila di-*athaf*-kan kepadanya isim yang sunyi dari "أَلْ" dan *idhafah*, maka ia wajib di-*mabni*-kan, karena sekiranya Anda memanggilnya secara langsung niscaya keadaannya akan seperti itu, seperti "يَا نَوْفَلُ", sebagaimana yang telah Anda ketahui dalam pembahasan "Hukum-Hukum Pengikut Munada". Di antara contoh lainnya adalah ucapan Anda: "يَا زَيْدُ الْحَارِثُ". Kata "الْحَارِثُ" berkedudukan sebagai *'athaf bayan* bagi "زَيْدُ". Dan ia tidak boleh berkedudukan sebagai *badal* darinya, karena sekiranya Anda membuang kata yang diikuti (*al-matbu'*) dan menempatkan kata pengikut (*at-tabi'*) di posisinya, niscaya Anda akan mengucapkan "يَا الْحَارِثُ". Hal itu tidak diperbolehkan, karena huruf panggilan "يَا" dan "أَلْ" tidak dapat berkumpul bersama kecuali pada lafal jalalah (*lafzh al-jalalah* [Allah]). 4. *'Athaf bayan* dapat berupa kalimat (*jumlah*), seperti firman Allah Ta'ala: "فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ" (Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya)

قال يا آدمُ هل أدُلُّك على شجرةِ الخُلدِ ومُلكٍ لا يَبلَى﴾ ، فجملةُ "قال يا آدمُ هل أدُلُّك" عطفُ بيان على جملة "فوسوَس إليه الشيطان". وقد منعَ النُّحاة عطفَ البيانِ في الجُمل، وجعلوه من باب البدل. وأثبتهُ علماء المعاني، وهو الحقُّ. ومنه قولهُ تعالى أيضاً ﴿ونُودُوا أن تِلكُمُ الجنةُ﴾ ، فجملة "أن تلكُمُ الجنةُ" عطف بيانٍ على جملة "نُودوا".

قال يا آدمُ هل أدُلُّك على شجرةِ الخُلدِ ومُلكٍ لا يَبلَى﴾ (*Qala ya Adamu hal adulluka 'ala syajaratil-khuldi wa mulkin la yabla*), maka *jumlah* "قال يا آدمُ هل أدُلُّك" (*Qala ya Adamu hal adulluka*) berkedudukan sebagai *'athaf bayan* (penjelas) bagi *jumlah* "فوسوَس إليه الشيطان" (*Fawaswasa ilaihi asy-syaithan*). Para ahli *Nahwu* melarang keberadaan *'athaf bayan* pada *jumlah* (kalimat) dan mengategorikannya ke dalam bab *badal*. Namun para ulama *Ma'ani* (balaghah) menetapkannya, dan itulah pendapat yang benar. Di antaranya juga firman-Nya Ta'ala: ﴿ونُودُوا أن تِلكُمُ الجنةُ﴾ (*Wa nuduu an tilkumul-jannah*), maka *jumlah* "أن تلكُمُ الجنةُ" (*An tilkumul-jannah*) berkedudukan sebagai *'athaf bayan* terhadap *jumlah* "نُودوا" (*Nuduu*).