كتاب أحكام الحدود

• شروط الإحصان

• شروط الإحصان

شروط الإحصان

Syarat-Syarat Ihshan

(وشرائط الإحصان أربع): الأول والثاني (البلوغ، والعقل)؛ فلا حدَّ على صبي ومجنون، بل يؤدبان بما يزجرهما عن الوقوع في الزنا. (و) الثالث (الحرية)؛ فلا يكون الرقيق والمبعض والمكاتب وأم الولد محصنا وإن وطىء كل منهم في نكاح صحيح. (و) الرابع (وجود الوطء) من مسلم أو ذمي (في نكاح صحيح). وفي بعض النسخ «في النكاح الصحيح». وأراد بالوطء تغييب الحشفة أو قدرها من مقطوعها بقُبل. وخرج بالصحيح الوطءُ في نكاح فاسد؛ فلا يحصل به التحصين.

(Dan Syarat-syarat Ihshan terdiri dari empat perkara): Syarat Pertama dan Kedua adalah (Balig dan Berakal (Waras)); dengan demikian tiada hukuman had bagi pelaku yang masih kecil (anak-anak) maupun seorang yang gila (sakit kejiwaannya), melainkan keduanya sekadar diberi takzir (peringatan disiplin moral) untuk mencekik hawa nafsunya sehingga kapok/tercegah tidak jatuh (ke ranah asusila) lagi. (Dan) Syarat Ketiga (Status Kemerdekaan/Bukan budak); lantaran itu Budak biasa (Raqiq), budak muba'adh (yang separuh badannya merdeka), budak mukatab, hingga budak ummu walad tidak pernah menyandang martabat Muhshan (dan mustahil di-rajam) meskipun faktanya semua barisan kasta perbudakan tersebut mutlak menggauli pasangannya pada lingkaran perkawinan yang berstatus suci dan sah. (Dan) Syarat Keempat yakni (Pernah menggauli pasangannya (Wathi')) baik pelakunya mualaf (ber-Dien Islam) maupun kafir dzimmi (Dalam ranah institusi perkawinan/Akad Nikah yang Sahih). Dan pada sejumlah naskah turunan disebutkan 'fi al-Nikah al-Shahih'. Dan ia bermaksud menyasarkan diksi penetrasi 'Wathi' (menjimak) dengan standar ukuran menenggelamkan bagian mahkota kemaluannya (Hasyafah) ataupun batas anatomi serupa dari yang telah buntung penisnya ke rongga liang Qubul (Vagina/Kemaluan istri). Dan penekanan 'Sahih (resmi)' menegaskan untuk mencoret penetrasi akibat kumpul kebo atas relasi jalinan ikatan akad Nikah yang rusak/batal tak sah (Fasid); lantaran perkawinan gelap fasid sama sekali tak menetaskan label keistimewaan (ihshan) (bagi pelakunya).

(والعبد والأمة حدُّهما نصف حد الحر)؛ فيُحدُّ كل منهما خمسين جلدة، ويغرب نصف عام. ولو قال المصنف: «ومن فيه رِقٌّ حده…إلخ» كان أولى، ليعم المكاتب والمبعض وأم الولد.

(Dan adapun sanksi bagi hamba laki-laki (Abd) maupun budak perempuan (Amah) takarannya hanya menanggung separuh (setengah) sanksi deraan Manusia Merdeka); Maka setiap masing-masing mereka berdua mutlak dicambuk dengan jumlah lima puluh pukulan kulit, lalu (hanya) dibuang/diasingkan (taghrib) (ke pelosok terpencil) selama rentang separuh tahun belaka. Apabila seumpama Mushannif membunyikan redaksi berbunyi: 'Dan barangsiapa yang pada jasadnya menempel sifat Perbudakan (Riq), maka hukumannya adalah…', niscaya redaksi usulan tersebut jauh lebih istimewa serta universal menyasar para komplotan (kategori) Budak Mukatab, Budak Muba'adh (separuh merdeka), dan golongan budak Ummu Walad.