(المعرب والمبني من الأسماء)
الأسماء كلُّها مُعربةٌ إلاّ قليلاً منها. ويُعرَبُ الاسمُ إذا سلمَ من شَبَهِ الحرفِ. ويُبنى إذا أَشبهَه في الوضعِ أو المعنى، أو الافتقارِ، أو الاستعمال. فالشبَهُ على أربعةِ أضرُبٍ الأولُ الشبَهُ الوضعيُّ. بأن يكونَ الإسمُ موضوعاً على حرفٍ واحدٍ، كالتاء من "كتبتُ"، أو على حرفين، كنا من "كتبنا". (فالضمائر بنيت لأنها أشبهت الحرف في الوضع، لأن أكثرها موضوع على حرف أو حرفين. وما كان منها موضوعاً على أكثر، فإنما بني حملا على أخواته، وذلك لأن أقل ما يبنى منه الاسم ثلاثة أَحرف، فما ورد من الأسماء على أقل من ذلك، كان مبنياً لشبهه الحرف في الوضع. وأما نحو "يد ودم"، فهو معرب. لأنه في الأصل ثلاثة أحرف. "دمَو ويديْ") .
Semua *isim* (kata benda) adalah *mu'rab* kecuali sebagian kecil saja. *Isim* di-*i'rab* apabila terbebas dari penyerupaan dengan *huruf*. Dan ia di-*mabni*-kan apabila menyerupai *huruf* dalam hal peletakan (*wadha'*), makna (*ma'na*), ketergantungan (*iftiqar*), atau penggunaan (*isti'mal*). Penyerupaan tersebut terbagi menjadi empat macam: Pertama, penyerupaan dari segi peletakan (*asy-syabah al-wadha'i*), yaitu dengan keadaan *isim* tersebut diletakkan (diciptakan) hanya dengan satu huruf, seperti huruf *ta'* pada kata *katabtu* (كتبتُ), atau dengan dua huruf, seperti kata *na* pada kata *katabna* (كتبنا). (Maka kata ganti [*dhamir*] di-*mabni*-kan karena menyerupai *huruf* dalam hal peletakan kata, sebab sebagian besarnya diletakkan dengan satu atau dua huruf. Adapun *dhamir* yang diletakkan dengan lebih dari dua huruf, ia di-*mabni*-kan karena disamakan dengan sesamanya. Hal itu karena batas minimal penyusunan kata untuk *isim* adalah tiga huruf, sehingga *isim* yang datang dengan jumlah kurang dari itu dihukumkan *mabni* karena keserupaannya dengan *huruf* dalam hal peletakan kata. Adapun kata seperti *yadun* [tangan] dan *damun* [darah], keduanya adalah *mu'rab*, karena pada asalnya terdiri dari tiga huruf, yaitu *damawun* [دمَو] dan *yadayun* [يديْ]).
الثاني الشبَهُ المعنوي. بأن يُشبِهَ الإسمُ الحرفَ في معناه. وهو قسمانِ أحدُهما ما أشبهَ حرفاً موجوداً، كأسماءِ الشرط وأسماءِ الاستفهام. والآخرُ ما أشبهَ حرفاً غيرَ موجودٍ، حقهُ أن يوضعَ فلم يُوضع، كأسماءِ الإشارة. (فهذه الأسماء بنيت لتضمنها معاني الحروف، لأن ما تحمله من المعنى حقه أَن يؤدى بالحرف. فأسماء الشرط أشبهت حرف الشرط، وهو "إن" وأسماء الإستفهام أشبهت حرف الإستفهام، وهو الهمزة، وأَسماء الإشارة أشبهت حرفاً غير موجود. فبنيت لتضمنها معنى حرف كان ينبغي أن يوضع فلم يضعوه. وذلك لأن الإشارة، من المعاني التي حقها أن تؤدى بالحرف، غير انهم لم يضعوا حرفاً للاشارة، كما وضعوا للتمني "ليت"، وللترجي "لعل"، وللاستفهام "الهمزة وهل"، وللشرط "إن". الثالثُ الشبَه الافتقاريُّ الملازِمُ بأن يحتاجَ إلى ما بعدَهُ احتياجاً دائماً، ليُتَمَّمَ معناه. وذلك كالأسماء الموصولةِ وبعضِ الظروف الملازمةِ للاضافة إِلى الجملةِ. (فالأسماء الموصولة بنيت لافتقارها في جميع أحوالها إلى الصلة التي تتمم معناها، كما يفتقر الحرف إلى ما بعده ليظهر معناه، والظروف الملازمة للاضافة إلى الجملة، كحيث وإذا ومنذ الظرفيتين، إنما بنيت لافتقارها إلى جملة تضاف اليها افتقار الحرف إلى ما بعده) . الرابعُ الشبَهُ الاستعماليُّ. وهو نوعان نوعٌ يشبهُ الحرف العاملَ في الاستعمال، كأسماء الأفعالِ، فهي تُستعملُ مُؤَثرةً غيرَ متأثرة، لأنها تعملُ عمَل الفعلِ "ولا يعملُ فيها غيرُها، فهي كحروف الجرّ وغيرها من الحروف العواملُ تُؤثرُ في غيرها ولا يُؤثرُ غيرُها فيها. ونوعٌ يُشبهُ الحرفَ العاطل،
Kedua: *Syabah Ma'nawi* (keserupaan secara makna), yaitu *isim* menyerupai *huruf* dalam maknanya. Ini terbagi menjadi dua bagian: salah satunya adalah yang menyerupai *huruf* yang ada dalam kenyataan, seperti *isim-isim syarat* (*asma' asy-syarth*) dan *isim-isim tanya* (*asma' al-istifham*). Dan yang lainnya adalah yang menyerupai *huruf* yang tidak ada dalam kenyataan, yang mana seharusnya ia diletakkan namun tidak diletakkan, seperti *isim-isim isyarah* (kata tunjuk). (Maka *isim-isim* ini dihukumi *mabni* karena mengandung makna-makna *huruf*, sebab makna yang dikandungnya seharusnya disampaikan dengan *huruf*. *Isim-isim syarat* menyerupai *huruf syarat*, yaitu "إنْ" (jika), *isim-isim tanya* menyerupai *huruf tanya*, yaitu *hamzah*, dan *isim-isim isyarah* menyerupai *huruf* yang tidak ada dalam kenyataan. Maka ia dihukumi *mabni* karena mengandung makna *huruf* yang seharusnya diletakkan namun mereka tidak meletakkannya. Hal itu karena penunjukan (*isyarah*) termasuk makna yang seharusnya disampaikan dengan *huruf*, hanya saja mereka tidak meletakkan satu *huruf* pun untuk penunjukan, sebagaimana mereka meletakkan kata "لَيْتَ" untuk pengandaian (*tamanni*), "لَعَلَّ" untuk harapan (*tarajji*), *hamzah* dan "هَلْ" untuk pertanyaan (*istifham*), serta "إنْ" untuk syarat). Ketiga: *Syabah Iftiqari* (keserupaan dalam hal ketergantungan/kebutuhan) yang bersifat melekat, yaitu kata tersebut membutuhkan kata setelahnya secara terus-menerus untuk menyempurnakan maknanya. Hal itu seperti *isim-isim maushul* (kata penghubung) dan sebagian *zharaf* (keterangan tempat/waktu) yang wajib di-mudhaf-kan kepada *jumlah* (kalimat). (Maka *isim-isim maushul* dihukumi *mabni* karena kebutuhannya dalam setiap keadaan kepada *shilah* (kalimat penjelas) yang menyempurnakan maknanya, sebagaimana *huruf* membutuhkan kata setelahnya agar maknanya tampak jelas. Dan *zharaf-zharaf* yang wajib di-mudhaf-kan kepada *jumlah*, seperti *haitsu*, *idza*, dan *mundzu* yang berfungsi sebagai keterangan waktu/tempat, hanyalah dihukumi *mabni* karena kebutuhannya kepada *jumlah* yang di-mudhaf-kan kepadanya, sebagaimana kebutuhan *huruf* kepada kata setelahnya). Keempat: *Syabah Isti'mali* (keserupaan dalam hal penggunaan). Ini terbagi menjadi dua jenis: jenis yang menyerupai *huruf 'amil* (huruf yang memengaruhi harakat kata lain) dalam penggunaannya, seperti *isim-isim fi'il* (*asma' al-af'al*). Kata-kata tersebut digunakan dalam keadaan memengaruhi kata lain namun tidak dipengaruhi oleh kata lain, karena ia beramal seperti amalan *fi'il* sementara tidak ada amil lain yang beramal padanya. Maka ia seperti *huruf jarr* dan huruf-huruf amil lainnya yang memengaruhi kata lain namun tidak dipengaruhi oleh kata lain. Dan jenis yang menyerupai *huruf 'athil* (huruf yang tidak memengaruhi harakat kata lain)…
(أَي غيرَ العاملَ) في الاستعمالِ، من حيثُ إنهُ مِثْلُه لا يؤثرُ ولا يَتأثرُ، كأسماء الأصواتِ، فهي كحرفي الاستفهامِ وحروفِ التنبيهِ والتحضيض وغيرِها من الحروفِ العواطل، لا تعمل في غيرها، ولا يعمل غيرها فيها.
(Yaitu bukan *'amil* [faktor yang mempengaruhi]) dalam penggunaan, dari sekira ia sama seperti huruf yang tidak mempengaruhi dan tidak dipengaruhi, seperti *isim-isim asywat* (kata peniru bunyi). Maka ia seperti dua *huruf istifham* (huruf tanya), *huruf-huruf tanbih* (huruf peringatan), *tahdhidh* (anjuran keras), dan huruf-huruf lainnya yang tidak berfungsi (*al-huruf al-'awathil*), ia tidak beramal pada kata lain, dan kata lain pun tidak beramal padanya.