٤- الجمل التي لا محل لها من الإعراب
الجملُ التي لا محلَّ لها من الإعراب تسعٌ ١- الابتدائيةُ، وهي التي تكونُ في مُفتَتحِ الكلامِ، كقوله تعالى ﴿إنا أعطيناك الكوثرَ﴾ ، وقولهِ ﴿اللهُ نور السَّمواتِ والأرض﴾ . ٢- الاستئنافيّةُ، وهي التي تقعُ في أثناءِ الكلامِ، منقطعةً عمّا قبلَها، لاستئنافِ كلامٍ جديدٍ، كقوله تعالى ﴿خلق السَّمواتِ والأرضَ بالحقِّ، تعالى عمَّا يُشركونَ﴾ . وقد تقترنَ بالفاءِ أو الواو الاستئنافيَّتين. فالأولُ كقوله تعالى ﴿فلمَّا آتاهما صالحاً جعلا لهُ شركاءَ فيما آتاهما، فتعالى الله عمّا يُشركون﴾ . والثاني كقولهِ ﴿قالت ربِّ إني وضعتُها أُنثى، والله أعلمُ بما وضعتْ، وليس الذكر كالأنثى﴾ . ٣- التَّعليليَّة، وهي التي تقعُ في اثناءش الكلامِ تعليلاً لِما قبلَها، كقوله تعالى ﴿وصلِّ عليهم، إنَّ صلاتَكَ سَكنٌ لهم﴾ . وقد تقترنُ بفاءِ التَّعليل، نحو "تمسَّك بالفضيلةِ، فإنها زينةُ العُقلاءِ". ٤- الاعتراضيّةُ، وهي التي تَعترضُ بين شيئينِ مُتلازمين، لإفادة الكلام تَقويةً وتسديداً وتحسيناً، كالمبتدأ والخبر، والفعلِ ومرفوعهِ، والفعلِ ومنصوبهِ، والشرطٍ والجوابِ، والحالِ وصاحبها، والصفةِ والموصوفِ، وحرفِ الجر ومُتعلِّقه والقسمِ وجوابهِ. فالأول كقول الشاعر [من الطويل] وَفِيَهِنَّ، وَالأَيامُ يَعْثُرْنَ بِالْفَتَى … نَوادِبُ لا يَمْلَلْنَهُ، ونَوائحُ
Jumlah (kalimat) yang tidak memiliki kedudukan dalam *i'rab* (perubahan harakat akhir) ada sembilan: 1. *Al-Ibtida'iyyah* (kalimat pembuka), yaitu kalimat yang berada di awal pembicaraan, seperti firman Allah Ta'ala: ﴿إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ﴾ (Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak) dan firman-Nya: ﴿اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ﴾ (Allah adalah cahaya langit dan bumi). 2. *Al-Isti'nafiyyah* (kalimat permulaan baru), yaitu kalimat yang terletak di tengah-tengah pembicaraan, terputus dari kalimat sebelumnya untuk memulai pembicaraan baru, seperti firman Allah Ta'ala: ﴿خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ ۚ تَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ﴾ (Dia menciptakan langit dan bumi dengan kebenaran. Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan). Terkadang kalimat ini disertai dengan huruf *fa'* atau *wawu* *isti'nafiyyah*. Contoh yang pertama adalah firman Allah Ta'ala: ﴿فَلَمَّا آتَاهُمَا صَالِحًا جَعَلَا لَهُ شُرَكَاءَ فِيمَا آتَاهُمَا ۚ فَتَعَالَى اللَّهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ﴾ (Maka setelah Allah memberi kepada keduanya seorang anak yang sempurna, maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya kepada keduanya. Maka Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan). Contoh yang kedua adalah firman-Nya: ﴿قَالَتْ رَبِّ إِنِّي وَضَعْتُهَا أُنثَىٰ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنثَىٰ﴾ (Dia berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya; dan anak laki-laki tidaklah sama dengan anak perempuan"). 3. *At-Ta'liliyyah* (kalimat kausalitas/alasan), yaitu kalimat yang terletak di tengah pembicaraan sebagai alasan (*ta'lil*) bagi kalimat sebelumnya, seperti firman Allah Ta'ala: ﴿وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ﴾ (Dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu [menjadi] ketenteraman jiwa bagi mereka). Terkadang kalimat ini disertai dengan *fa' ta'lil* (fa' penunjuk alasan), seperti: "تمسَّك بالفضيلةِ، فإنها زينةُ العُقلاءِ" (Berpegangteguhlah pada keutamaan, karena sesungguhnya ia adalah perhiasan bagi orang-orang yang berakal). 4. *Al-I'tiradhiyyah* (kalimat sisipan/parentetis), yaitu kalimat yang menyela di antara dua hal yang saling berkaitan erat (*mutalazimain*), untuk memberikan penguatan, ketepatan, dan keindahan pada pembicaraan. Seperti di antara *mubtada'* (subjek) dan *khabar* (predikat), *fi'il* (kata kerja) dan *marfu'* (subjek/pelaku)-nya, *fi'il* dan *manshub* (objek)-nya, *syarat* dan *jawab*, *hal* (keterangan keadaan) dan *shahib al-hal* (pemilik keadaan), *sifat* dan *maushuf* (yang disifati), *huruf jar* dan *muta'allaq* (hal yang berkaitan dengannya), serta *qasam* (sumpah) dan *jawab qasam*. Contoh yang pertama adalah perkataan penyair [dari bahar *Thawil*]: وَفِيَهِنَّ، وَالأَيامُ يَعْثُرْنَ بِالْفَتَى … نَوادِبُ لا يَمْلَلْنَهُ، ونَوائحُ (Dan di dalam diri mereka—sementara hari-hari terus membuat pemuda tersandung—terdapat wanita-wanita peratap yang tidak pernah bosan meratapinya, dan wanita-wanita yang menangisinya).
والثاني كقول الآخر [من الطويل] وَقَدْ أَدْرَكَتْني، وَالحَوادِثُ جَمَّةٌ … أَسِنَّةُ قَوْمٍ لا ضِعافٍ، وَلا عُزْل والثالثُ كقولِ غيره [من الرجز] وَبُدِّلَتْ، وَالدَّهْرُ ذُو تَبَدُّلِ … هَيْفاً دَبُوراً بِالصَّبا، وَالشَّمْأَلِ والرابعُ، كقولهِ تعالى ﴿فإن لم تفعلوا، ولن تفعلوا، فاتَّقُوا النارَ التي وَقُودُها الناسُ والحجارةُ﴾ . والخامس، نحو "سعيتُ، وربَّ الكعبةِ، مجتهداً". والسادسُ، كقوله تعالى ﴿وانَّهُ لَقَسمٌ، لو تعلمونَ عظيم﴾ . والسابعُ، نحو "اعتصِمْ، اصلحكَ اللهُ، بالفضيلة". والثامن كقول الشاعر [من الطويل] لَعَمْري، ومَا عَمْري عَلَيَّ بِهَيِّنٍ … لَقَدْ نَطَقَتْ بُطْلاً عَلَيَّ الأَقارِعُ ٥- الواقعة صِلةً للموصولِ الاسميّ، كقوله تعالى ﴿قد أفلحَ من تَزَكَّى﴾ ، أو الحرفيِّ، كقولهِ ﴿نخشى أن تُصيبنا دائرةٌ﴾ . والمراد بالموصولِ الحرفيِّ الحرفُ المصدريُّ، وهو يُؤوَّلُ وما بعدَه بمصدرٍ وهو ستةُ أحرفٍ "أنْ وأنَّ وكيْ وما ولوْ وهمزة التسوية". وقد سبقَ الكلامُ عليه في أقسام الفاعل"، وفي "حروف المعاني". ٦- التّفسيريةُ، كقوله تعالى " ﴿وأَسرُّوا النّجوَى﴾ ، ﴿الذين ظلموا﴾ ، ﴿هل هذا إلا بشرٌ مثلُكمْ﴾ " وقولهِ ﴿هل ادُلُّكم على تجارةٍ تُنجيكم من عذابٍ
Dan yang kedua adalah seperti ucapan penyair lain [dari bahar *Thawil*]: "وَقَدْ أَدْرَكَتْنِي، وَالْحَوَادِثُ جَمَّةٌ … أَسِنَّةُ قَوْمٍ لَا ضِعَافٍ، وَلَا عُزْلِ" (Dan sungguh telah mengenaku—sementara peristiwa-peristiwa itu sangat banyak—ujung tombak suatu kaum yang tidak lemah dan tidak pula tak bersenjata). Yang ketiga seperti ucapan penyair lainnya [dari bahar *Rajaz*]: "وَبُدِّلَتْ، وَالدَّهْرُ ذُو تَبَدُّلِ … هَيْفاً دَبُوراً بِالصَّبَا، وَالشَّمْأَلِ" (Dan ia telah digantikan—sementara waktu itu terus berubah—dengan angin panas yang bertiup dari barat, menggantikan angin timur dan angin utara). Yang keempat seperti firman Allah Ta'ala: ﴿فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ﴾ (Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) — dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya) — peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu). Yang kelima seperti: "سَعَيْتُ، وَرَبِّ الْكَعْبَةِ، مُجْتَهِداً" (Aku telah berusaha—demi Tuhan Ka'bah—dengan sungguh-sungguh). Yang keenam seperti firman Allah Ta'ala: ﴿وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ﴾ (Dan sesungguhnya sumpah itu, jikalau kamu mengetahui, adalah sumpah yang besar). Yang ketujuh seperti: "اعْتَصِمْ، أَصْلَحَكَ اللَّهُ، بِالْفَضِيلَةِ" (Berpegangteguhlah kamu—semoga Allah memperbaiki dirimu—pada keutamaan). Dan yang kedelapan seperti ucapan penyair [dari bahar *Thawil*]: "لَعَمْرِي، وَمَا عَمْرِي عَلَيَّ بِهَيِّنٍ … لَقَدْ نَطَقَتْ بُطْلاً عَلَيَّ الْأَقَارِعُ" (Demi umurku—dan umurku bukanlah hal yang remeh bagiku—sungguh kabilah Al-Aqaari' telah mengucapkan kebohongan terhadapku). 5. Kalimat yang berkedudukan sebagai *shilah* (penjelas) bagi *isim mawshul* (kata penghubung nominal), seperti firman Allah Ta'ala: ﴿قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى﴾ (Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri), atau *mawshul harfi* (kata penghubung partikel), seperti firman-Nya: ﴿نَخْشَى أَنْ تُصِيبَنَا دَائِرَةٌ﴾ (Kami takut akan ditimpa bencana). Yang dimaksud dengan *mawshul harfi* adalah *huruf mashdariyyah* (partikel pembentuk nomina abstrak), yang mana partikel tersebut beserta kata setelahnya ditakwilkan (*yu'awwal*) menjadi *mashdar*. Jumlahnya ada enam huruf, yaitu: "أَنْ" (*an*), "أَنَّ" (*anna*), "كَيْ" (*kay*), "مَا" (*ma*), "لَوْ" (*law*), dan *hamzah at-taswiyah* (hamzah penyetaraan). Pembahasan mengenai hal ini telah berlalu pada bab "Macam-macam *Fa'il*" dan bab "*Huruf al-Ma'ani*". 6. Kalimat *Tafsiyyah* (kalimat penjelas), seperti firman Allah Ta'ala: ﴿وَأَسَرُّوا النَّجْوَى الَّذِينَ ظَلَمُوا هَلْ هَذَا إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ﴾ (Dan orang-orang yang zalim itu merahasiakan pembicaraan mereka: "Orang ini tidak lain hanyalah seorang manusia (biasa) seperti kamu"), dan firman-Nya: ﴿هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ﴾ (Maukah Aku tunjukkan kepadamu suatu perdagangan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih).
أليمٍ، تُؤمِنونَ بالله ورسوله﴾ . والتّفسيريّةُ ثلاثةُ أقسامٍ مجرَّدةٌ من حرف التفسيرِ، كما رأيتَ، ومقورنةٌ بأي، نحو "أشرتُ إليه، أي أذهبْ"، ومقورنةٌ بأنْ، نحو "كتبتُ إليهِ أن وافِنا"، ومنه قولهُ تعالى ﴿فأوحينا إليه أن اصنَعِ الفُلكَ﴾ . ٧- الواقعةُ جواباً للقسمِ، كقوله تعالى ﴿والقرآنِ الحكيمِ انّكَ لَمِنَ المُرْسَلين﴾ ، وقولهِ ﴿تاللهِ لأكيدَنَّ أصنامَكم﴾ . ٨- الواقعةُ جواباً لشرطٍ غيرِ جازمٍ "كإذا ولو ولوا"، كقوله تعالى ﴿إذا جاءَ نصرُ اللهِ والفتحُ، ورأيتَ الناسَ يَدخلون في دينِ اللهِ أفواجاً، فسَبِّحْ بِحَمْدِ ربك﴾ ، وقوله ﴿لو أنزلنا هذا القرآن على جبلٍ، لَرأَيتهُ خاشعاً مُتصدِّعاً من خشيةِ اللهِ﴾ وقولهِ ﴿ولولا دَفعُ اللهِ الناسَ بعضَهم ببعضٍ، لَفَسدتِ الأرضُ﴾ . ٩- التابعةُ لجملةٍ لا محلَّ لها من الإعراب، نحو "إذا نَهضَتِ الأمةُ، بَلغت من المجد الغايةَ، وادركت من السُّؤْدَدِ النهايةَ".
"…`أليمٍ، تُؤمِنونَ بالله ورسوله` (…pedih, kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya). Dan *jumlah tafsiriyyah* (kalimat penjelas) itu ada tiga macam: (1) yang sunyi dari *huruf tafsir* (kata penjelas), sebagaimana yang telah Anda lihat; (2) yang disertai dengan `أَيْ` (yaitu/artinya), seperti `أشرتُ إليه، أي أذهبْ` (Aku memberi isyarat kepadanya, yaitu pergilah); dan (3) yang disertai dengan `أَنْ` (bahwa/yaitu), seperti `كتبتُ إليهِ أن وافِنا` (Aku menulis surat kepadanya agar ia mendatangi kami), dan di antaranya adalah firman Allah Ta'ala: `فأوحينا إليه أن اصنَعِ الفُلكَ` (Maka Kami wahyukan kepadanya: 'Buatlah kapal itu'). 7. Kalimat yang berkedudukan sebagai *jawab al-qasam* (jawaban atas sumpah), seperti firman Allah Ta'ala: `والقرآنِ الحكيمِ إنّكَ لَمِنَ المُرْسَلين` (Demi Al-Qur'an yang penuh hikmah, sesungguhnya kamu salah seorang dari rasul-rasul), dan firman-Nya: `تاللهِ لأكيدَنَّ أصنامَكم` (Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu). 8. Kalimat yang berkedudukan sebagai *jawab* bagi *syarat ghairu jazim* (kata syarat yang tidak men-jazim-kan fi'il), seperti `إِذَا` (apabila), `لَوْ` (sekiranya), dan `لَوْلَا` (seandainya tidak), seperti firman Allah Ta'ala: `إذا جاءَ نصرُ اللهِ والفتحُ، ورأيتَ الناسَ يَدخلون في دينِ اللهِ أفواجاً، فسَبِّحْ بِحَمْدِ ربك` (Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu), dan firman-Nya: `لو أنزلنا هذا القرآن على جبلٍ، لَرأَيتهُ خاشعاً مُتصدِّعاً من خشيةِ اللهِ` (Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutan kepada Allah), dan firman-Nya: `ولولا دَفعُ اللهِ الناسَ بعضَهم ببعضٍ، لَفَسدتِ الأرضُ` (Seandainya Allah tidak menolak sebagian manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini). 9. Kalimat yang mengikuti (*tabi'*) pada kalimat yang tidak memiliki kedudukan dalam *i'rab* (analisis gramatikal), seperti `إذا نَهضَتِ الأمةُ، بَلغت من المجد الغايةَ، وادركت من السُّؤْدَدِ النهايةَ` (Apabila suatu umat bangkit, ia akan mencapai puncak kemuliaan, dan meraih ujung kepemimpinan)."