باب الحج والعمرة

فصل في محرمات الإحرام

فصل في محرمات الإحرام

فصل في محرمات الإحرام

Pasal Mengenai Hal-Hal yang Diharamkan Saat Ihram

يحرم بإحرام: وطء وقبلة واستمناء بيد ونكاح وتطيب,

Diharamkan sebab ihram: jima' (hubungan intim), mencium, onani dengan tangan, menikah/menikahkan, dan memakai wewangian,

فصل في محرمات الإحرام

Pasal Mengenai Hal-Hal yang Diharamkan Saat Ihram

يحرم بإحرام على رجل وأنثى وطئ لآية: ﴿فَلا رَفَثَ﴾ [٢ سورة البقرة الآية: ١٩٧] أي لا ترفثوا.

Diharamkan sebab ihram bagi laki-laki maupun perempuan: jima' (bersetubuh), berdasarkan firman Allah: "Maka tidak boleh rafats…" [QS. Al-Baqarah: 197], maksudnya janganlah kalian melakukan rafats.

والرفث مفسر بالوطء. ويفسد به الحج والعمرة.

Dan rafats ditafsirkan sebagai jima'. Dengan jima' tersebut, haji dan umrah menjadi batal.

وقبلة ومباشرة بشهوة واستمناء بيد بخلاف الإنزال بنظر أو فكر١.

Dan mencium, bersentuhan kulit dengan syahwat, serta onani dengan tangan; berbeda halnya dengan keluar mani akibat memandang atau berangan-angan.

ونكاح لخبر مسلم [رقم: ١٤٠٩] : "لا ينكح المحرم ولا ينكح".

Dan akad nikah (menikah/menikahkan), berdasarkan hadits riwayat Muslim [no. 1409]: "Orang yang sedang ihram tidak boleh menikah dan tidak boleh menikahkan."

وتطيب في بدن أو ثوب بما يسمى طيبا كمسك وعنبر وكافور حي

Dan memakai wewangian pada badan atau pakaian dengan sesuatu yang dinamakan wewangian, seperti kasturi, ambar, dan kapur barus murni,

ودهن شعر وإزالته وقلم ويحرم ستر رجل بعض رأس بما يعد ساترا ولبسه محيطا بلا عذر,

dan meminyaki rambut, menghilangkan rambut, serta memotong kuku. Dan diharamkan bagi laki-laki menutup sebagian kepala dengan sesuatu yang dianggap penutup dan mengenakan pakaian yang membentuk/melingkupi anggota tubuh tanpa udzur,

أو ميت وورد ومائه ولو بشد نحو مسك بطرف ثوبه أو بجعله في جيبه.

Atau (wewangian yang diambil dari tanaman yang) mati (seperti kayu gaharu), bunga mawar, dan air mawarnya, meskipun dengan cara mengikat seumpama kasturi di ujung bajunya atau meletakkannya di dalam kantongnya.

ولو خفيت رائحة الطيب كالكاذي والفاغية وهي تمر الحناء فإن كان بحيث لو أصابه الماء فاحت حرم وإلا فلا.

Dan jika aroma wewangian tersebut samar, seperti kadzi (bunga pandan laut) dan faghiah (yaitu bunga pacar), maka jika kondisinya sekiranya terkena air aromanya menyebar maka haram, jika tidak demikian maka tidak haram.

ودهن بفتح أوله شعر رأس أو لحية بدهن ولو غير مطيب كزيت وسمن.

Dan meminyaki (duhn) rambut kepala atau janggut dengan minyak, meskipun bukan minyak wangi seperti minyak zaitun dan minyak samin.

وإزالته أي الشعر ولو واحدة من رأسه أو لحيته أو بدنه نعم إن احتاج إلى حلق شعر بكثرة قمل أو جراحة فلا حرمة وعليه الفدية فلو نبت شعر بعينه أو غطاها فأزال ذلك فلا حرمة ولا فدية.

Dan menghilangkan rambut, yakni walau satu helai dari kepala, janggut, atau badannya. Ya, jika ia membutuhkan untuk mencukur rambut karena banyaknya kutu atau luka, maka tidak ada keharaman baginya namun wajib membayar fidyah. Dan jika tumbuh rambut di matanya atau menutupi matanya lalu ia menghilangkannya, maka tidak haram dan tidak ada fidyah.

وقلم لظفر ولو بعضه من يد أو رجل نعم له قطع ما انكسر من ظفره إن تأذى به ولو أدنى تأذ.

Dan memotong kuku, meskipun hanya sebagian kuku tangan atau kaki. Ya, ia boleh memotong bagian kukunya yang patah/pecah jika ia merasa terganggu dengannya walau sedikit.

ويحرم ستر رجل لا امرأة بعض رأس بما يعد ساترا عرقا من مخيط أو غير كقلنسوة وخرقة إما ما لا يعد ساترا كخيط رقيق وتوسد نحو عمامة ووضع يد لم يقصد بها الستر فلا يحرم بخلاف ما إذا قصده على نزاع فيه وكحمل نحو زنبيل لم يقصد به ذلك أيضا واستظلال بمحمل وإن مس رأسه.

Dan haram bagi laki-laki, bukan perempuan, menutupi sebagian kepala dengan sesuatu yang secara umum dianggap sebagai penutup, baik berupa pakaian berjahit atau lainnya seperti peci dan kain sarung/ragam. Adapun sesuatu yang tidak dianggap penutup seperti benang tipis, berbantal serban, dan meletakkan tangan yang tidak bermaksud menutupi, maka tidak haram, berbeda jika ia bermaksud menutupi (ada perbedaan pendapat padanya). Demikian pula membawa seumpama keranjang yang tidak bermaksud menutupi kepala dengannya, dan berteduh dengan sekedup/tandu meskipun menyentuh kepalanya.

ولبسه أي الرجل مخيطا بخياطة: كقميص وقباء أو نسج أو عقد في سائر بدنه بلا عذر فلا يحرم على الرجل ستر رأس لعذر كحر وبرد.

Dan (haram bagi) laki-laki memakai pakaian berjahit karena jahitan: seperti kemeja dan jubah, atau karena tenunan, atau simpul di seluruh badannya tanpa uzur. Maka tidak haram bagi laki-laki menutupi kepala karena uzur seperti panas dan dingin.

وستر امرأة لا رجل بعض وجه وفدية ما يحرم ذبح شاة أو تصدق بثلاثة آصع لستة أو صوم ثلاثة.

Dan (haram bagi) wanita, bukan laki-laki, menutupi sebagian wajah. Dan fidyah dari larangan yang diharamkan adalah menyembelih seekor kambing, atau bersedekah tiga sha' untuk enam orang, atau berpuasa tiga hari.

ويظهر ضبطه هنا بما لا يطيق الصبر عليه وإن لم يبح التيمم فيحل مع الفدية قياسا على وجوبها في الحلق مع العذر.

Dan tampak batasan di sini adalah apa yang tidak sanggup ia bersabar atasnya meskipun tidak membolehkan tayamum, maka dihalalkan (menutupnya) bersama kewajiban fidyah sebagai kias atas wajibnya fidyah pada mencukur rambut saat ada uzur.

ولا لبس مخيط إن لم يجد غيره ولا قدر على تحصيله ولو بنحو استعارة بخلاف الهبة لعظم المنة فيحل ستر العورة بالمخيط بلا فدية.

Dan tidak diharamkan memakai pakaian berjahit jika ia tidak menemukan yang lain dan tidak mampu mengusahakannya walau dengan meminjam—berbeda halnya dengan hibah karena besarnya beban budi—maka boleh menutupi aurat dengan pakaian berjahit tanpa fidyah.

ولبسه في باقي بدنه لحاجة نحو حر وبرد مع فدية.

Dan memakainya pada sisa badannya karena kebutuhan seperti panas dan dingin, disertai kewajiban fidyah.

ويحل الارتداء والالتحاف بالقميص والقباء وعقد الإزار وشد خيط عليه ليثبت: لا وضع طوق القباء على رقبته وإن لم يدخل يده.

Dan dihalalkan memakai rida' (selendang) dan berselimut dengan kemeja dan jubah, serta mengikat kain ihram dan mengikatkan tali padanya agar tetap kukuh; tidak boleh meletakkan kerah jubah di lehernya meskipun tidak memasukkan tangannya.

ويحرم ستر امرأة لا رجل بعض وجه بما يعد ساترا.

Dan haram bagi wanita, bukan laki-laki, menutupi sebagian wajah dengan sesuatu yang dianggap penutup.

وفدية ارتكاب واحد م ما يحرم بالإحرام غير الجماع ذبح شاة مجزئة في الأضحية وهي جذعة ضأن أو ثنية معز أو تصدق بثلاثة آصع لستة من مساكين الحرم الشاملين للفقراء لكل واحد نصف صاع١ أو صوم ثلاثة أيام.

Dan fidyah karena melakukan salah satu dari hal-hal yang diharamkan sebab ihram selain jima' adalah menyembelih seekor kambing yang sah untuk kurban, yaitu domba berumur satu tahun (jadza'ah) atau kambing kacang berumur dua tahun (tsaniyyah), atau bersedekah tiga sha' kepada enam orang miskin di Tanah Haram—termasuk di dalamnya para fakir—masing-masing mendapat setengah sha', atau berpuasa tiga hari.

فمرتكب المحرم مخير في الفدية بين الثلاثة المذكورة.

Maka orang yang melakukan larangan boleh memilih (takhyir) dalam fidyah di antara tiga pilihan yang disebutkan tersebut.

فرع لو فعل شيئا من المحرمات ناسيا أو جاهلا بتحريمه وجبت

Cabang masalah: Jika seseorang melakukan salah satu larangan karena lupa atau tidak tahu akan keharamannya, wajib

ودم ترك مأمور ذبح فصوم ثلاثة وقبل نحر وسبعة بوطئه ويجب على مفسد نسك بوطء بدنة

Dan dam karena meninggalkan perbuatan yang diperintahkan adalah menyembelih (kambing), jika tidak mampu maka berpuasa tiga hari sebelum Hari Nahar dan tujuh hari (setelah kembali). Dan wajib bagi orang yang merusak ibadah haji/umrahnya dengan jima' untuk menyembelih seekor unta (badanah)

الفدية إن كان إتلافا كحلق شعر وقلم ظفر وقتل صيد.

membayar fidyah jika hal itu merupakan bentuk merusak/menghilangkan (itlaf), seperti mencukur rambut, memotong kuku, dan membunuh hewan buruan.

ولا تجب إن كان تمتعا كلبس وتطيب.

Dan fidyah tidak wajib secara berurutan (pilihan/takhyir) jika pelanggaran itu berupa menikmati kesenangan (tamattu'), seperti memakai pakaian berjahit dan memakai wewangian.

والواجب في إزالة ثلاث شعرات أو أظفار ولا اتحاد زمان ومكان عرفا فدية كاملة وفي واحدة: مد١ طعام.

Kewajiban dalam menghilangkan tiga helai rambut atau tiga kuku—yang tidak bersatu waktu dan tempatnya menurut kebiasaan ('urf)—adalah satu fidyah sempurna. Adapun pada satu helai rambut atau kuku: wajib satu mud makanan.

وفي اثنتين مدان.

Dan pada dua helai rambut atau kuku: dua mud.

ودم ترك مأمور كإحرام من الميقات ومبيت بمزدلفة ومنى ورمي الأحجار وطواف الوداع كدم التمتع والقران ذبح أي ذبح شاة تجزئ أضحية في الحرم.

Dam (denda) karena meninggalkan perintah wajib ibadah haji, seperti berihram dari miqat, bermalam (mabit) di Muzdalifah dan Mina, melempar jumrah, dan tawaf wada', adalah seperti dam Tamattu' dan Qiran, yaitu menyembelih seekor kambing yang sah dijadikan kurban di Tanah Haram.

فـ الواجب على العاجز عن الذبح فيه ولو لغيبة ماله وإن وجد من يقرضه أو وجده بأكثر من ثمن المثل صوم أيام ثلاثة فورا بعد إحرام وقبل يوم نحر ولو مسافرا فلا يجوز تأخير شيء منها عنه لأنها تصير قضاء.

Maka kewajiban bagi orang yang tidak mampu menyembelih di Tanah Haram—meskipun karena hartanya tidak ada di tempat (gaib), walaupun ia menemukan orang yang mau memberi pinjaman atau menemukan hewan kurban dengan harga melebihi harga standar (thaman al-mithl)—adalah berpuasa tiga hari seketika (segera) setelah berihram dan sebelum hari Nahar (10 Zulhijah), meskipun ia seorang musafir. Maka tidak boleh mengakhirkan sesuatu pun dari puasa tersebut dari hari Nahar karena puasa tersebut akan menjadi qada.

ولا تقديمه على الإحرام بالحج الآية.

Dan tidak boleh mendahulukannya sebelum ihram haji berdasarkan ayat Al-Qur'an.

ويلزمه أيضا صوم سبعة بوطنه أي إذا رجع إلى أهله.

Dan ia juga wajib berpuasa tujuh hari di tanah airnya, yaitu apabila ia telah kembali kepada keluarganya.

ويسن تواليها كالثلاثة قال تعالى: ﴿فمن لم يجد فصيام ثلاثة أيام في الحج وسبعة إذا رجعتم﴾ [٢ سورة البقرة الآية: ١٩٦] .

Disunnahkan mengerjakannya secara berturut-turut sebagaimana puasa yang tiga hari. Allah Ta'ala berfirman: "Maka barang siapa tidak menemukan (hewan kurban), hendaklah ia berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari apabila kamu telah kembali." [QS. Al-Baqarah: 196].

ويجب على مفسد نسك من حج وعمرة بوطء: بدنة بصفة الأضحية,

Dan wajib bagi orang yang merusak ibadah (nusuk) haji atau umrahnya dengan melakukan bersetubuh (jima'): menyembelih seekor unta (badanah) yang memenuhi kriteria hewan kurban,

وقضاء فورا.

dan mengqadanya secara langsung (segera),

وإن كان النسك نفلا.

meskipun ibadahnya tersebut merupakan ibadah sunnah.

والبدنة المرادة الواحد من الإبل ذكرا كان أو أنثى فإن عجز عن البدنة فبقرة فإن عجز عنها فسبع شياه ثم يقوم البدنة ويتصدق بقيمتها طعاما ثم يصوم عن كل مد يوما ولا يجب شيء على المرأة بل تأثم.

Badanah yang dimaksud adalah satu ekor unta, baik jantan maupun betina. Jika ia tidak mampu menyembelih badanah, maka diganti dengan seekor sapi. Jika tidak mampu, maka tujuh ekor kambing. Kemudian jika tidak mampu juga, badanah tersebut ditaksir nilainya lalu ia bersedekah dengan harga tersebut dalam bentuk makanan, kemudian berpuasa satu hari untuk setiap mud makanan. Dan tidak ada kewajiban fidyah apa pun atas wanita (istri), namun ia berdosa.

وعلم من قولي بمسد نسك: أنه يبطل بوطء ومع ذلك يجب مضي في فاسدة.

Dapat diketahui dari perkataan saya "orang yang merusak ibadah": bahwa ibadah tersebut menjadi batal sebab jima', namun demikian ia tetap wajib meneruskan ibadah yang rusak tersebut.

وقضاء فورا وإن كان نسكه نفلا لأنه وإن كان وقته موسعا تضيق عليه بالشروع فيه والنفل من ذلك يصير بالشروع فيه فرضا: أي واجب الإتمام كالفرض بخلاف غيره من النفل.

Dan wajib mengqadanya secara langsung (segera) meskipun ibadahnya berupa ibadah sunnah. Karena meskipun waktunya terbilang luas (muwassa'), waktunya menjadi sempit baginya dengan memulainya. Ibadah sunnah jenis ini menjadi fardu saat dimulai, yaitu wajib disempurnakan seperti halnya fardu, berbeda dengan ibadah sunnah lainnya.

تتمة يسن لقاصد مكة وللحاج آكد أن يهدي شيئا من النعم يسوقه من بلده وإلا فيشتريه من الطريق ثم من مكة ثم من عرفة ثم من منى وكونه سمينا حسنا ولا يجب إلا بالنذر.

Penyempurna: Disunnahkan bagi orang yang menuju Makkah—dan lebih ditekankan bagi orang yang berhaji—untuk membawa kurban (hadyu) berupa hewan ternak yang digiring dari negerinya; jika tidak, ia membelinya di perjalanan, lalu dari Makkah, kemudian dari Arafah, lalu dari Mina, serta disunnahkan hewan tersebut gemuk dan bagus. Hal ini tidak wajib kecuali jika dinazarkan.

مهمات [في بيان جمل من المسائل كالأضحية والعقيقة والصيد والذبائح وغير ذلك] : يسن متأكدا لحر قادر تضحية بذبح جذع ضأن له

Hal-Hal Penting [Penjelasan mengenai sejumlah masalah seperti kurban, akikah, perburuan, sembelihan, dan selainnya]: Sangat disunnahkan (sunnah muakkad) bagi orang merdeka yang mampu untuk berkurban dengan menyembelih جذع (jaza'ah/domba muda) dari jenis domba yang telah berumur

٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠

……………………………

سنة أو سقط سنه ولو قبل تمامها أو ثني معز أو بقر لهما سنتان أو إبل له خمس سنين بنية أضحية عند ذبح أو تعيين.

satu tahun atau telah tanggal giginya meskipun sebelum genap satu tahun, atau ثني (thaniyyah) dari jenis kambing kacang atau sapi yang telah berusia dua tahun, atau unta yang telah berusia lima tahun, disertai niat berkurban saat menyembelih atau saat menentukan (menunjuk) hewan kurban tersebut.

وهي أفضل من الصدقة.

Dan kurban itu lebih utama daripada sedekah.

ووقتها من ارتفاع شمس نحر إلى آخر أيام التشريق.

Waktunya mulai dari terbitnya matahari pada hari Nahar (10 Dzulhijjah) setinggi tombak hingga akhir hari-hari Tasyrik.

ويجزئ سبع بقر أو إبل عن واحد.

Dan sepertujuh dari sapi atau unta sudah mencukupi untuk satu orang.

ولا يجزئ عجفاء ومقطوعة بعض ذنب أو أذن أبين وإن قل وذات عرج وعور ومرض بين ولا يضر شق أذن أو خرقها.

Tidak mencukupi (hewan kurban yang) sangat kurus, dipotong sebagian ekor atau telinganya secara terpisah meskipun sedikit, pincang, buta sebelah, dan sakit yang jelas. Namun tidak memudaratkan (tetap sah) telinga yang terbelah atau terlubangi.

والمعتمد عدم إجزاء التضحية بالحامل خلافا لما صححه ابن الرفعة.

Pendapat yang mu'tamad adalah tidak sah berkurban dengan hewan yang sedang hamil, berbeda dengan pendapat yang dishahihkan oleh Ibnur Rif'ah.

ولو نذر التضحية بمعيبة أو صغيرة أو قال: جعلتها أضحية فإنه يلزم ذبحها ولا تجزئ أضحية وإن اختص ذبحها بوقت الأضحية وجرت مجراها في الصرف.

Sekiranya seseorang bernazar untuk berkurban dengan hewan yang cacat atau belum cukup umur, atau ia berkata: 'Aku jadikan hewan ini sebagai kurban', maka ia wajib menyembelihnya namun tidak mencukupi sebagai kurban (syar'i), sekalipun penyembelihannya khusus pada waktu kurban dan alokasi penyalurannya berlaku seperti hewan kurban.

ويحرم الأكل من أضحية أو هدي وجبا بنذره.

Haram memakan daging dari kurban atau hadyu yang wajib karena nazarnya.

ويجب التصدق ولو على فقير واحد بشيء نيئا ولو يسيرا من المتطوع بها والأفضل: التصدق بكله إلا لقما يتبرك بأكلها وأن تكون من الكبد وأن لا يأكل فوق ثلاث والتصدق بجلدها وله إطعام أغنياء لا تمليكهم.

Wajib mensedekahkan daging kurban sunnah dalam keadaan mentah meskipun hanya kepada satu orang fakir walaupun sedikit. Yang lebih utama adalah mensedekahkan seluruhnya kecuali beberapa suap yang dimakan untuk mengambil keberkahan, disukai dari bagian hati, dan tidak memakan lebih dari tiga suap, serta mensedekahkan kulitnya. Dan boleh memberi makan kepada orang-orang kaya, bukan memberikan kepemilikan (tamlik) kepada mereka.

ويسن أن يذبح الرجل بنفسه وأن يشهدها من وكل به وكره

Disunnahkan bagi laki-laki untuk menyembelih sendiri kurbannya dan menyaksikannya bagi orang yang mewakilkan, dan dimakruhkan

٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠

……………………………

لمريدها إزالة نحو شعر في عشر ذي الحجة وأيام التشريق حتى يضحي.

bagi orang yang hendak berkurban memotong semisal rambut pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah dan hari-hari Tasyrik sampai ia berkurban.

ويندب لمن تلزمه نفقة فرعه: أن يعق عنه من وضع إلى بلوغ وهي كضحية ولا يكسر عظم والتصدق بمطبوخ يبعثه إلى الفقراء: أحب من ندائهم إليها ومن التصدق نيئا وأن يذبح سابع ولادته ويسمى فيه وإن مات قبله بل يسن تسمية سقط بلغ زمن نفخ الروح.

Disunnahkan bagi orang yang menanggung nafkah keturunannya untuk mengaqiqahinya sejak dilahirkan hingga baligh. Aqiqah itu seperti kurban (persyaratannya), dan tulang-tulangnya tidak dipecahkan. Mensedekahkan daging yang sudah dimasak dengan mengantarkannya kepada fakir miskin lebih disukai daripada mengundang mereka untuk menyantapnya dan daripada mensedekahkannya dalam keadaan mentah. Hendaknya disembelih pada hari ketujuh kelahirannya dan diberi nama pada hari itu meskipun ia meninggal sebelum hari ketujuh, bahkan disunnahkan memberi nama bayi gugur (keguguran) yang sudah mencapai masa ditiupkannya ruh.

وأفضل الأسماء: عبد الله وعبد الرحمن ولا يكره اسم نبي أو ملك بل جاء في التسمية بمحمد فضائل علية.

Nama yang paling utama adalah Abdullah dan Abdurrahman. Tidak dimakruhkan memberi nama dengan nama nabi atau malaikat, bahkan telah ada riwayat mengenai keutamaan-keutamaan yang tinggi dalam memberi nama Muhammad.

ويحرم التسمية بملك الملوك وقاضي القضاة وحاكم الحكام.

Haram memberi nama dengan Malikul Muluk (Raja segala raja), Qadhil Qudhat (Hakim segala hakim), dan Hakimul Hukkam.

وكذا عبد النبي وجار الله والتكني بأبي القاسم.

Demikian pula nama 'Abdul Nabi (hamba Nabi), Jarullah (tetangga Allah), dan menggunakan kunyah 'Abu Al-Qasim'.

وسن أن يحلق رأسه ولو أنثى في السابع ويتصدق بزنته ذهبا أو فضة وأن يؤذن ويقرأ سورة الإخلاص وآية: ﴿وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ﴾ [٣ سورة آل عمران الآية: ٣٦] بتأنيث الضمير ولو في الذكر في أذنه اليمنى ويقام في اليسرى عقب الوضع وأن يحنكه رجل فامرأة من أهل الخير بتمر فحلو لم تمسه النار حين يولد ويقرأ عندها وهي تطلق آية الكرسي [٢ سورة البقرة الآية: ٢٥٥] و ﴿إن ربكم الله﴾ [٧ سورة الأعراف الآية: ٥٤] الآية والمعوذتان والإكثار من دعاء الكرب [راجع الأذكار للنووي, الأرقام: ٦٦٣- ٦٧٢] .

Disunnahkan mencukur rambut kepalanya, meskipun perempuan, pada hari ketujuh dan mensedekahkan perak atau emas seberat timbangan rambut tersebut. Disunnahkan pula mengumandangkan azan dan membaca surah Al-Ikhlas serta ayat: ﴿وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ﴾ [Surah Ali 'Imran: 36] dengan kata ganti feminin (mu'annats) meskipun pada bayi laki-laki di telinga kanannya, dan diiqamahi pada telinga kirinya sesaat setelah dilahirkan. Dan hendaknya ia ditahnik oleh seorang laki-laki, jika tidak ada maka perempuan dari kalangan orang-orang saleh dengan kurma, atau makanan manis yang tidak tersentuh api saat ia lahir. Serta dibacakan di dekat ibu yang sedang kesakitan hendak melahirkan: Ayat Kursi [Surah Al-Baqarah: 255], ayat ﴿إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ﴾ [Surah Al-A'raf: 54], Al-Mu'awwidzatain (Surah Al-Falaq dan An-Nas), serta memperbanyak doa saat tertimpa kesulitan [lihat Al-Adzkar karya An-Nawawi, nomor: 663-672].

قال شيخنا: أما قراءة سورة الأنعام إلى: ﴿رَطْبٍ وَلا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ﴾ [٦ سورة الأنعام الآيات: ١- ٥٩] يوم يعق عن المولود فمن

Guru kami berkata: Adapun membaca surah Al-An'am sampai ayat: ﴿رَطْبٍ وَلا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ﴾ [Surah Al-An'am: 1-59] pada hari dilakukannya aqiqah untuk bayi, maka termasuk

٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠

……………………………

مبتدعات العوام الجهلة فينبغي الانكفاف عنها وتحذير الناس منها ما أمكن انتهى.

merupakan bid'ah-bid'ah dari orang-orang awam yang bodoh, maka hendaknya menahan diri darinya dan memperingatkan manusia darinya semampu mungkin. Selesai.

فرع يسن لكل أحد الادهان غبا والاكتحال بالإثمد وترا عند نومه وخضب شيب رأسه ولحيته: بحمرة أو صفرة.

Cabang masalah: Disunnahkan bagi setiap orang meminyaki rambut secara berselang-seling (tidak setiap hari), bercelak dengan ismid secara ganjil ketika hendak tidur, dan mewarnai uban di kepala serta jenggotnya dengan warna merah atau kuning.

ويحرم حلق لحية وخضب يدي الرجل ورجليه بحناء خلافا لجمع فيهما.

Dan diharamkan mencukur jenggot serta mewarnai kedua tangan dan kedua kaki laki-laki dengan pacar (hinna'), berbeda dengan pendapat sekelompok ulama mengenai keduanya.

وبحث الأذرعي كراهة حلق ما فوق الحلقوم من الشعر وقال غيره إنه مباح.

Al-Adzra'i berpendapat makruh hukumnya mencukur rambut yang berada di atas halkum (jakun), sedangkan ulama lainnya mengatakan bahwa hal itu mubah (boleh).

ويسن الخضب للمفترشة ويكره للخلية.

Dan disunnahkan mewarnai (dengan pacar) bagi wanita yang bersuami, serta dimakruhkan bagi wanita yang tidak bersuami.

ويحرم وشر الأسنان ووصل الشعر بشعر نجس أو شعر آدمي وربطه به لا بخيوط الحرير أو الصوف ويستحب أن يكف الصبيان أول ساعة من الليل وأن يغطي الأواني ولو بنحو عود يعرض عليها وأن يغلق الأبواب مسميا الله فيهما وأن يطفئ المصابيح عند النوم.

Dan diharamkan mengikir gigi, menyambung rambut dengan rambut najis atau rambut manusia serta mengikatnya dengannya, bukan dengan benang sutra atau wol. Disunnahkan menahan anak-anak pada awal waktu malam, menutupi bejana-bejana meskipun hanya dengan melangkangkan sepotong kayu di atasnya, menutup pintu-pintu seraya menyebut nama Allah pada keduanya (menutup bejana dan pintu), serta memadamkan lampu-lampu ketika hendak tidur.

واعلم أن ذبح الحيوان البري المقدور عليه بقطع كل حلقوم وهو مخرج النفس وكل مريء وهو مجرى الطعام تحت الحلقوم بكل محدد يجرح غير عظم وسن وظفر كحديد وقصب وزجاج وذهب وفضة.

Ketahuilah bahwa penyembelihan hewan darat yang mampu dikuasai adalah dengan memotong seluruh hulqūm (saluran pernapasan) dan seluruh marī' (saluran makanan) di bawah hulqūm, menggunakan setiap benda tajam yang dapat melukai selain tulang, gigi, dan kuku, seperti besi, bambu, kaca, emas, dan perak.

٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠

……………………………..

فيحرم ما مات بثقل ما أصابه من محدد أو غيره كبندقة وإن أنهر الدم وأبان الرأس أو ذبح بكال لا يقطع إلا بقوة الذابح فلذا ينبغي الإسراع بقطع الحلقوم بحيث لا ينتهي إلى حركة المذبوح قبل تمام القطع.

Maka diharamkan hewan yang mati karena beratnya beban sesuatu yang menimpanya, baik benda tajam maupun selainnya seperti peluru/kerikil (bunduqah), meskipun mengalirkan darah dan memisahkan kepala; atau hewan yang disembelih dengan alat tumpul yang tidak dapat memotong kecuali dengan kekuatan orang yang menyembelih. Oleh karena itu, hendaknya menyegerakan pemotongan hulqūm sekira tidak sampai pada gerakan hewan yang disembelih (harakat al-madhbuh) sebelum pemotongan sempurna.

ويحل الجنين بذبح أمه إن مات في بطنها أو خرج في حركة مذبوح ومات حالا.

Dan halal janin dengan disembelih induknya, jika ia mati di dalam perut induknya atau keluar dalam keadaan bergerak seperti gerakan hewan yang disembelih lalu mati seketika.

أما غير المقدور عليه بطيرانه أو شدة عدوه وحشيا كان أو إنسيا كجمل أو جدي نفر شاردا ولم يتيسر لحوقه حالا وإن كان لو صبر سكن وقدر عليه وإن لم يخف عليه نحو سارق فيحل بالجرح المزهق بنحو سهم أو سيف في أي محل كان ثم إن أدركه وبه حياة مستقرة ذبحه فإن تعذر ذبحه من غير تقصير منه حتى مات كأن اشتغل بتوجيهه للقبلة أو سل السكين فمات قبل الإمكان حل وإلا كأن لم يكن معه سكين أو علق في الغمد بحيث تعسر إخراجه فلا.

Adapun hewan yang tidak mampu dikuasai karena terbangnya atau larinya yang kencang, baik berupa hewan liar maupun hewan jinak seperti unta atau anak kambing yang kabur liar dan tidak memungkinkan untuk mengejarnya seketika—meskipun jika ditunggu ia akan tenang dan dapat dikuasai, serta tidak dikhawatirkan dicuri oleh pencuri—maka ia halal dengan luka yang mematikan menggunakan semisal anak panah atau pedang di bagian mana saja. Kemudian jika ia mendapatinya masih memiliki hayat mustaqirrah (tanda kehidupan stabil), ia wajib menyembelihnya. Jika penyembelihan tersebut menyulitkan tanpa adanya kelalaian darinya hingga hewan itu mati, seperti ia sibuk menghadapkannya ke kiblat atau mencabut pisau lalu hewan itu mati sebelum memungkinkan untuk disembelih, maka hukumnya halal. Jika tidak demikian (ada kelalaian), seperti ia tidak membawa pisau atau pisaunya tersangkut di sarungnya sekira sulit dikeluarkan, maka hukumnya tidak halal.

ويحرم قطعا رمي الصيد بالبندق المعتاد الآن وهو ما يصنع بالحديد ويرمى بالنار لأنه محرق مذفف سريعا غالبا.

Dan diharamkan secara pasti memanah/menembak hewan buruan dengan peluru (bunduq) yang biasa digunakan sekarang, yaitu yang terbuat dari besi dan ditembakkan dengan api (senjata api), karena sifatnya membakar dan membunuh dengan sangat cepat pada umumnya.

قال شيخنا: نعم إن علم حاذق أنه إنما يصيب نحو جناح كبير: فيشقه فقط احتمل الجواز.

Syaikh kita berkata: Ya, jika seorang ahli mengetahui bahwa tembakan itu hanya akan mengenai semisal sayap besar lalu membelahnya saja, maka dimungkinkan hukumnya boleh.

والرمي بالبندق المعتاد قديما وهو ما يصنع من الطين جائز على المعتمد خلافا لبعض المحقين.

Sedangkan melempar dengan peluru (bunduq) yang biasa digunakan pada zaman dahulu, yaitu yang terbuat dari tanah liat, hukumnya boleh menurut pendapat yang mu'tamad (dapat dijadikan pegangan), berbeda dengan pendapat sebagian ulama peneliti (muhaqqiqin).

وشرط الذابح أن يكون مسلما أوكتابيا ينكح.

Syarat orang yang menyembelih adalah hendaknya ia seorang muslim atau ahli kitab yang boleh dinikahi.

٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠

……………………………..

ويسن أن يقطع الود جين وهما عرقا صفحتي عنق وأن يحد شفرته ويوجه ذبيحته لقبلة وأن يكون الذابح رجلا عاقلا فامرأة فصبيا ويقول ندبا عند الذبح وكذا عند رمي الصيد ولو سمكا وإرسال الجارحة: بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل وسلم على سيدنا محمد.

Dan disunnahkan memotong wadajain (dua urat leher) yaitu dua urat di kedua sisi leher, mengasah pisau/bilahnya, menghadapkan sembelihannya ke kiblat, dan hendaknya orang yang menyembelih adalah laki-laki berakal, kemudian wanita, kemudian anak-anak. Serta disunnahkan mengucapkan ketika menyembelih—demikian pula ketika memanah buruan meskipun berupa ikan, dan ketika melepaskan hewan pemburu—: 'Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm, Allāhumma ṣalli wa sallim 'alā sayyidinā Muḥammad'.

ويشترط في الذبيح غير المريض شيئان.

Dan disyaratkan pada hewan yang disembelih yang tidak sakit ada dua hal.

أحدهما: أن يكون فيه حياة مستقرة أول ذبحه ولو ظنا بنحو شدة حركة بعده ولو وحدها على المعتمد وانفجار دم وتدفقه إذا غلب على الظن بقاؤها فيهما فإن شك في استقرارها لفقد العلامات حرم.

Salah satu dari keduanya: hendaknya hewan tersebut memiliki kehidupan yang stabil (hayat mustaqirrah) pada awal penyembelihannya, meskipun berdasarkan dugaan kuat (zhann) seperti pergerakan yang kuat setelah penyembelihان—meskipun hanya pergerakan itu sendiri menurut pendapat yang diandalkan—serta memancarnya dan mengalirnya darah apabila diduga kuat keberadaan hayat mustaqirrah pada keduanya. Namun jika diragukan kestabilan kehidupannya karena tidak adanya tanda-tanda tersebut, maka hukumnya haram.

ولو جرح حيوان أو سقط عليه نحو سيف أو عضه نحو هرة فإن بقيت فيه حياة مستقرة فذبحه حل.

Jika seekor hewan terluka, tertimpa sejenis pedang, atau digigit sejenis kucing, lalu masih tersisa padanya hayat mustaqirrah kemudian ia menyembelihnya, maka hukumnya halal.

وإن تيقن هلاكه بعد ساعة١ وإلا لم يحل كما لو قطع بعد رفع السكين ولو لعذر ما بقي بعد انتهائها إلى حركة مذبوح.

Meskipun diyakini kebinasaannya (kematiannya) setelah beberapa saat. Jika tidak (tidak tersisa hayat mustaqirrah), maka tidak halal, sebagaimana jika seseorang memotong bagian yang tersisa setelah mengangkat pisau—meskipun karena suatu uzur—setelah hewan tersebut hanya sampai pada batas gerakan hewan tersembelih (harakah madhbuh).

قال شيخنا في شرح المنهاج: وفي كلام بعضهم أنه لو رفع يده لنحو اضطرابه فأعادها فورا وأتم الذبح حل وقول بعضهم: لو رفع يده ثم أعادها لم يحل مفرع على عدم الحياة المستقرة عند إعادتها أو محمول على ما إذا لم يعدها على الفور ويؤيده إفتاء غير

Guru kami (Ibn Hajar al-Haitami) berkata dalam Syarh al-Minhaj: 'Dalam perkataan sebagian ulama disebutkan bahwa jika ia mengangkat tangannya karena pergerakan hewan lalu mengembalikannya seketika dan menyempurnakan penyembelihan, maka hukumnya halal. Sedangkan perkataan sebagian mereka bahwa jika ia mengangkat tangannya kemudian mengembalikannya maka tidak halal, itu dicabangkan dari kondisi tidak adanya hayat mustaqirrah ketika mengembalikannya, atau dipahami jika ia tidak mengembalikannya seketika. Hal ini didukung oleh fatwa lebih dari…

٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠

……………………………

واحد فيما لو انفلتت شفرته فردها حالا أنه يحل انتهى.

…satu ulama mengenai masalah jika pisaunya terlepas lalu ia mengembalikannya seketika bahwa hukumnya halal. Selesai.'

ولو انتهى لحركة مذبوح بمرض وإن كان سببه أكل نبات مضر كفى ذبحه في آخر رمقه إذ لم يوجد ما يحال عليه الهلاك من جرح أو نحوه فإن وجد كأن أكل نباتا يؤدي إلى الهلاك اشترط فيه وجود الحياة المستقرة فيه عند ابتداء الذبح ولو بالظن بالعلامة المذكورة بعده.

Jika kondisi hewan sudah mencapai gerakan hewan tersembelih (harakah madhbuh) karena sakit, meskipun penyebabnya adalah memakan tumbuhan berbahaya, maka cukuplah menyembelihnya pada sisa hembusan nafas terakhirnya, karena tidak ditemukan hal yang menyebabkan kebinasaan seperti luka atau sejenisnya. Namun jika ditemukan hal tersebut, seperti ia memakan tumbuhan yang pasti membawa kematian, maka disyaratkan adanya hayat mustaqirrah pada awal penyembelihan, meskipun dengan dugaannya melalui tanda yang disebutkan setelahnya.

فائدة من ذبح تقريا لله تعالى لدفع شر الجن عنه لم يحرم أو بقصدهم حرم.

Fa'idah: Barangsiapa menyembelih hewan sebagai bentuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah Ta'ala demi menolak kejahatan jin darinya, maka tidak haram. Namun jika dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada jin, maka hukumnya haram.

وثانيهما: كونه مأكولا وهو من الحيوان البري: الأنعام والخيل وبقر وحش وحماره وظبي وضبع وضب وأرنب وثعلب وسنجاب وكل لقاط للحب لا أسد وقرد وصقر وطاووس وحدأة وبوم ودرة وكذا غراب أسود ورمادي اللون خلافا لبعضهم ويكره جلالة ولو من غير نعم كدجاج إن وجد فيها ريح النجاسة.

Yang kedua dari keduanya: hendaknya hewan tersebut termasuk hewan yang boleh dimakan. Dari jenis hewan darat yaitu: hewan ternak (al-an'am), kuda, sapi liar, keledai liar, rusa, hiena (dhabu'), dhab (biawak gurun), kelinci, rubah, tupai, dan setiap burung pematuk biji-bijian; bukan singa, kera, burung elang (saqr), burung merak, burung elang pemangsa (hida'ah), burung hantu, burung kakatua/nuri, dan demikian pula burung gagak hitam serta gagak abu-abu—berbeda dengan pendapat sebagian ulama. Dan dimakruhkan memakan jallalah (hewan pemakan najis) meskipun bukan dari jenis hewan ternak seperti ayam, jika ditemukan bau najis padanya.

ويحل أكل بيض غير المأكول خلافا لجمع.

Dan halal memakan telur dari hewan yang tidak boleh dimakan dagingnya, berbeda menurut segolongan ulama.

ويحرم من الحيوان البحري: ضفدع وتمساح وسلحفاة وسرطان لا قرش ودنليس على الأصح فيهما.

Dan diharamkan dari jenis hewan laut: katak, buaya, penyu/kura-kura, dan kepiting; tidak diharamkan hiu dan danlis (sejenis kerang) menurut pendapat yang lebih sahih pada keduanya.

قال في المجموع: الصحيح المعتمد أن جميع ما في البحر يحل ميتته إلا الضفدع.

Imam an-Nawawi berkata dalam al-Majmu': 'Pendapat yang sahih dan diandalkan adalah bahwa semua bangkai hewan laut hukumnya halal kecuali katak.'

٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠

……………………………..

ويؤيده نقل ابن الصباغ عن الأصحاب حل جميع ما فيه إلا الضفدع.

Hal itu didukung oleh penukilan Ibn ash-Shabbagh dari para ash-hab (ulama mazhab Syafi'i) mengenai kehalalan semua hewan yang ada di laut kecuali katak.

ويحل أكل ميتة الجراد والسمك إلا ما تغير في جوف غيره ولو في صورة كلب أو خنزير.

Dan halal memakan bangkai belalang dan ikan, kecuali apa yang telah berubah di dalam perut hewan lain, meskipun hewan laut itu berbentuk anjing atau babi.

ويسن ذبح كبيرهما الذي يطول بقاؤه ويكره ذبح صغيرهما وأكل مشوي سمك قبل تطييب جوفه وما أنتن منه كاللحم وقلي حي في دهن مغلي.

Disunnahkan menyembelih ikan atau belalang yang berukuran besar yang membutuhkan waktu lama untuk mati, dan dimakruhkan menyembelih yang berukuran kecil, memakan ikan bakar sebelum membersihkan bagian dalam perutnya, memakan ikan yang sudah membusuk sebagaimana halnya daging, serta menggoreng ikan yang masih hidup di dalam minyak mendidih.

وحل أكل دود نحو الفاكهة حيا كان أو ميتا بشرط أن لا ينفرد عنه وإلا لم يحل أكله ولو معه كنمل السمن لعدم تولده منه على ما قاله الرداد خلافا لبعض أصحابنا.

Dan halal memakan ulat semisal ulat buah, baik dalam keadaan hidup maupun mati, dengan syarat ulat tersebut tidak terpisah darinya. Jika terpisah, maka tidak halal memakannya meskipun dimakan bersamanya, sebagaimana semut pada minyak samin, karena tidak terlahir darinya menurut apa yang dikatakan oleh ar-Raddad, berbeda dengan pendapat sebagian ash-hab kita.

ويحرم كل جماد مضر لبدن أو عقل كحجر وتراب وسم وإن قل إلا لمن لا يضره ومسكر ككثير أفيون وحشيش وبنج.

Dan diharamkan setiap benda padat yang membahayakan tubuh atau akal, seperti batu, tanah, dan racun meskipun sedikit—kecuali bagi orang yang tidak membahayakannya—serta zat yang memabukkan seperti candu/opium, ganja, dan pembius dalam jumlah banyak.

فائدة أفضل المكاسب الزراعة ثم الصناعة ثم التجارة.

Catatan: Usaha yang paling utama adalah pertanian, kemudian pertukangan, lalu perdagangan.

قال جمع: هي أفضلها.

Sebagian ulama berkata: Perdagangan adalah yang paling utama.

ولا تحرم معاملة من أكثر ماله حرام ولا الأكل منها كما صححه في المجموع.

Tidak haram bermuamalah dengan orang yang mayoritas hartanya haram, dan tidak haram pula memakannya sebagaimana disahihkan dalam al-Majmu'.

وأنكر النووي قول الغزالي بالحرمة مع أنه تبعه في شرح مسلم.

Imam an-Nawawi mengingkari pendapat al-Ghazali yang mengharamkan hal itu, meskipun beliau mengikutinya dalam Syarh Muslim.

ولو عم الحرام الأرض جاز أن يستعمل منه ما تمس حاجته إليه دون

Seandainya keharaman merata di bumi, maka boleh menggunakannya sebatas kebutuhan mendesaknya saja, tanpa

النذر: التزام مكلف قربة لم تتعين

Nazar adalah: Komitmen seorang mukalaf untuk menjalankan ibadah yang belum ditentukan hukum wajibnya,

ما زاد هذا إن توقع معرفة أربابه وإلا صار لبيت المال فيأخذ منه بقدر ما يستحقه فيه كما قاله شيخنا.

melebihi kebutuhan ini jika diharapkan masih bisa diketahui para pemiliknya. Jika tidak, maka harta itu menjadi milik Baitul Mal, sehingga ia mengambil darinya seukuran hak yang menjadi bagiannya di situ, sebagaimana dikatakan oleh guru kami.

فرع نذكر فيه ما يجب على المكلف بالنذر وهو قربة على ما اقتضاه كلام الشيخين وعليه كثيرون

Cabang masalah: Kami menyebutkan di dalamnya mengenai apa yang wajib atas mukalaf disebabkan nazar. Nazar sendiri merupakan suatu bentuk ibadah (qurbah) sebagaimana konsekuensi dari perkataan Asy-Syaikhain (An-Nawawi dan Ar-Rafi'i), dan inilah pendapat yang dipegang oleh banyak ulama.

بل بالغ بعضهم فقال: دل على ندبه الكتاب والسنة والإجماع والقياس وقيل مكروه للنهي عنه.

Bahkan sebagian dari mereka berlebihan lalu berkata: Al-Kitab, As-Sunnah, ijmak, dan kias menunjukkan kesunahannya. Dikatakan pula bahwa nazar hukumnya makruh karena adanya larangan atasnya.

وحمل الأكثرون النهي على نذر اللجاج فإنه تعليق قربة بفعل شيء أو تركه كإن دخلت الدار أو إن لم أخرج منها فلله علي صوم أو صدقة بكذا فيتخير من دخلها أو لم يخرج بين ما التزمه وكفارة يمين.

Mayoritas ulama membawakan larangan tersebut pada nazar al-lajaj (nazar emosional/perdebatan), yaitu menggantungkan suatu ibadah dengan melakukan sesuatu atau meninggalkannya, seperti: "Jika aku masuk rumah ini" atau "Jika aku tidak keluar darinya, maka wajib karena Allah atas saya puasa atau sedekah sekian." Maka orang yang memasukinya atau tidak keluar darinya boleh memilih antara menunaikan apa yang ia wajibkan atas dirinya atau membayar kafarat sumpah.

ولا يتعين الملتزم ولو حجا والفرع: ما اندرج تحت أصل كلي.

Dan apa yang diwajibkan tidak menjadi tertentu meskipun berupa ibadah haji. Dan al-far'u (cabang) adalah: apa yang tercakup di bawah kaidah umum.

النذر: التزام مسلم مكلف رشيد: قربة لم تتعين نفلا كانت أو فرض كفاية كإدامة وتر وعيادة مريض وزيادة رجل قبرا وتزوج حيث سن خلافا لجمع وصوم أيام البيض والاثنين فلو وقعت في أيام التشريق أو الحيض أو النفاس أو المرض لم يجب القضاء وكصلاة جنازة وتجهيز ميت ولو نذر صوم يوم بعينه لم يصم قبله فإن فعل أثم كتقديم الصلاة على وقتها المعين ولا يجوز تأخيره عنه كهي بلا عذر فإن فعل صح وكان قضاء ولو نذر صوم يوم خميس ولم يعين كفاه أي خميس ولو نذر صلاة: فيجب ركعتان بقيام قادر.

Nazar adalah: Komitmen seorang muslim, mukalaf, lagi rasyd (dewasa dan pandai) untuk menunaikan suatu ibadah yang belum ditentukan (wajibnya secara pribadi), baik berupa ibadah sunah maupun fardu kifayah, seperti merutinkan salat witir, menjenguk orang sakit, ziarah kubur bagi laki-laki, menikah pada kondisi disunahkan—berbeda dengan pendapat sekelompok ulama—dan puasa Ayyamul Bidh serta hari Senin; maka jika jatuh pada hari Tasyrik, masa haid, nifas, atau sakit, tidak wajib mengqada. Juga seperti salat jenazah dan mengurus jenazah. Seandainya ia bernazar puasa pada hari tertentu, ia tidak boleh berpuasa sebelumnya; jika ia melakukannya maka ia berdosa sebagaimana memajukan salat dari waktu tertentunya, dan tidak boleh mengundurkannya dari hari itu sebagaimana salat tanpa uzur; jika ia melakukannya maka sah dan berstatus qada. Seandainya ia bernazar puasa pada hari Kamis tanpa menentukan Kamis yang mana, maka cukup baginya hari Kamis mana saja. Seandainya ia bernazar salat, maka wajib melakukan dua rakaat dengan berdiri bagi yang mampu.

أو صوما: فصوم يوم أو صوم أيام فثلاثة أو صدقة فمتمول ويجب صرفه لحر

Atau bernazar puasa (secara mutlak), maka wajib puasa satu hari. Atau puasa beberapa hari, maka wajib tiga hari. Atau bernazar sedekah (secara mutlak), maka wajib sesuatu yang bernilai harta. Dan wajib menyalurkannya kepada orang merdeka

بلفظ منجز ك: لله علي كذا أو علي كذا أو نذرت كذا أو معلق,

dengan lafaz munjaz (langsung tanpa syarat) seperti: "Karena Allah wajib atas saya begini", atau "Wajib atas saya begini", atau "Saya bernazar begini", atau dengan lafaz mu'allaq (digantungkan pada syarat),

مسكين ما لم يعين شخصا أو أهل بلد وإلا تعين صرفه له ولا يتعين لصوم وصلاة مكان عينه ولا لصدقة زمان عينه.

yang miskin selama ia tidak menentukan seseorang tertentu atau penduduk suatu negeri tertentu; jika ia menentukannya, maka wajib menyalurkan kepadanya. Dan tempat yang ditentukannya tidak menjadi tertentu untuk puasa dan salat, begitu pula waktu yang ditentukannya tidak menjadi tertentu untuk sedekah.

وخرج بالمسلم المكلف: الكافر والصبي والمجنون فلا يصح نذرهم كنذر السفيه وقيل يصح من الكافر.

Dikecualikan dengan syarat "muslim" dan "mukalaf": orang kafir, anak kecil, dan orang gila, maka tidak sah nazar mereka sebagaimana tidak sahnya nazar orang safih (pemboros/kurang akal). Dan dikatakan sah dari orang kafir.

وبالقربة: المعصية كصوم أيام التشريق وصلاة لا سبب لها في وقت مكروه فلا ينعقدان وكالمعصية: المكروه كالصلاة عند القبر والنذر لأحد أبويه أو أولاده فقط وكذا المباح: كلله علي أن آكل أو أنام وإن قصد تقوية على العبادة أو النشاط لها.

Dikecualikan dengan syarat "qurbah" (ibadah): perbuatan maksiat seperti puasa hari-hari Tasyrik dan salat tanpa sebab pada waktu yang dimakruhkan, maka keduanya tidak sah (tidak menjadi nazar). Dan disamakan dengan maksiat adalah perbuatan makruh, seperti salat di samping kubur dan bernazar hanya untuk salah satu dari kedua orang tuanya atau anak-anaknya saja. Begitu pula hal yang mubah, seperti: "Karena Allah wajib atas saya untuk makan atau tidur", meskipun ia berniat untuk menguatkan diri dalam beribadah atau bersemangat untuknya.

ولا كفارة في المباح على الأصح.

Dan tidak ada kafarat dalam nazar hal mubah menurut pendapat yang lebih sahih.

وبلم تتعين: ما تعين عليه من فعل واجب عيني كمكتوبة وأداء ربع عشر مال تجارة وكترك محرم.

Dan dengan perkataan 'yang belum menjadi kewajiban tertentu': yaitu kewajiban individu (fardhu 'ain) yang telah ditentukan atas dirinya seperti shalat fardhu lima waktu, menunaikan zakat perdagangan sebesar seperempat dari sepersepuluh (2,5%), dan meninggalkan hal yang diharamkan.

وإنما ينعقد النذر من المكلف بلفظ منجز بأن يلتزم قربة به من غير تعليق بشيء وهذا نذر تبرر كلله على كذا من صلاة أو صوم أو نسك أو صدقة أو قراء أو اعتكاف أو علي كذا وإن لم يقل لله.

Nazar hanya menjadi sah dari seorang mukallaf dengan lafaz munjaz (tanpa syarat), yaitu ia mewajibkan atas dirinya suatu ibadah mendekatkan diri (qurbah) tanpa mengaitkannya dengan sesuatu. Ini adalah nazar tabarrur (kebaikan), seperti ucapan: 'Demi Allah wajib bagiku ini' berupa shalat, puasa, ibadah haji/umrah, sedekah, membaca Al-Qur'an, atau iktikaf; atau ucapan: 'Wajib bagiku demikian', meskipun ia tidak mengatakan 'karena Allah'.

أو نذرت كذا وإن لم يذكر معها لله على المعتمد الذي صرح به البغوي وغيره من اضطراب طويل.

Atau ucapan: 'Aku bernazar demikian', meskipun ia tidak menyebutkan kata 'karena Allah' bersamanya, menurut pendapat yang kuat (mu'tamad) yang ditegaskan oleh Al-Baghawi dan ulama lainnya setelah adanya ikhtilaf yang panjang.

أو بلفظ معلق ويسمى نذر مجازاة وهو أن يلتزم قربة في مقابلة ما يرغب في حصوله من حدوث

Atau dengan lafaz mu'allaq (dikaitkan dengan syarat) dan dinamakan nazar mujazah (balasan), yaitu mewajibkan suatu ibadah sebagai imbalan dari apa yang ingin ia dapatkan berupa hadirnya…

نعمة أو اندفاع نقمة ك: إن

… kenikmatan atau terhindarnya suatu musibah, seperti ucapan: 'Jika…'

ك: إن شفاني الله أو سلمني الله فعلى كذا فيلزم ما التزمه حالا في منجز وعند وجود صفة في معلق.

seperti ucapan: 'Jika Allah menyembuhkanku atau menyelamatkanku, maka wajib bagiku melakukan demikian'. Maka apa yang diwajibkannya menjadi mengikat secara seketika pada nazar munjaz, dan ketika terwujudnya syarat pada nazar mu'allaq.

شفاني الله أو سلمني الله فعلى كذا أو ألزمت نفسي أو واجب على كذا.

'… Allah menyembuhkanku atau menyelamatkanku, maka wajib bagiku melakukan demikian', atau 'Aku mewajibkan diriku…', atau 'Wajib atas diriku demikian'.

وخرج بلفظ النية فلا يصح بمجرد النية كسائر العقود إلا باللفظ وقيل يصح بالنية وحدها.

Dan dikecualikan dengan ucapan 'lafaz' yaitu niat semata, maka nazar tidak sah hanya dengan niat sebagaimana akad-akad lainnya kecuali dengan lafaz. Namun ada pendapat yang mengatakan sah dengan niat saja.

فيلزم عليه ما التزمه حالا في منجز وعند وجود صفة في معلق.

Maka hal yang diwajibkannya itu mengikat dirinya secara seketika pada nazar munjaz, dan ketika terwujudnya syarat pada nazar mu'allaq.

وظاهر كلامهم أنه يلزمه الفور بأدائه عقب وجود المعلق عليه خلافا لقضية كلام ابن عبد السلام.

Zahir dari ucapan para ulama menunjukkan bahwa ia wajib segera (faur) menunaikannya sesaat setelah terwujudnya hal yang disyaratkan, berbeda dengan konsekuensi perkataan Ibn 'Abd al-Salam.

ولا يشترط قبول المنذور له في قسمي النذر ولا القبض بل يشترط عدم رده.

Tidak disyaratkan adanya penerimaan dari penerima nazar pada kedua jenis nazar tersebut dan tidak pula disyaratkan serah terima (qabdh), melainkan hanya disyaratkan tidak adanya penolakan dari penerima nazar.

ويصح النذر بما في ذمة المدين ولو مجهولا فيبرأ حالا وإن لم يقبل خلافا للجلال البلقيني ولو نذر لغير أحد أصليه أو فروعه من ورثته بماله قبل مرض موته بيوم ملكه كله من غير مشارك لزوال ملكه عنه ولا يجوز للأصل الرجوع فيه وينعقد معلقا في نحو: إذا مرضت فهو نذر قبل مرضي بيوم وله التصرف قبل حصول المعلق عليه ويلغو قوله: متى حصل لي الأمر الفلاني أجئ لك بكذا ما لم يقترن به لفظ التزام أو نذر.

Dan sah bernazar dengan piutang yang ada pada tanggungan debitur meskipun nilainya belum diketahui, sehingga debitur tersebut bebas dari utang seketika meskipun ia tidak menyatakan menerima, berbeda dengan pendapat Al-Jalal Al-Bulqini. Apabila seseorang bernazar memberikan seluruh hartanya kepada ahli warisnya selain dari jalur atas (orang tua) atau jalur bawah (anak) sehari sebelum ia menderita sakit yang membawa kematian, maka penerima tersebut memiliki seluruh harta itu tanpa ada pembanding/pembagi lainnya karena telah lepas kepemilikan dari si bernazar, serta tidak boleh bagi orang tua untuk menarik kembali (hibah/nazar) tersebut. Nazar juga sah secara mu'allaq dalam contoh ucapan: 'Jika aku sakit, maka ini menjadi nazar sehari sebelum sakitku', dan ia tetap boleh melakukan transaksi terhadap harta itu sebelum terwujudnya syarat. Dan dianggap sia-sia ucapan seseorang: 'Apabila hal fulan terjadi padaku, aku akan membawakanmu ini', selama tidak disertai lafaz komitmen (iltizam) atau nazar.

وأفتى جمع فيمن أراد أن يتبايعا فاتفقا على أن ينذر كل للآخر

Sekelompok ulama memberi fatwa tentang dua orang yang hendak melakukan jual beli lalu sepakat bahwa masing-masing dari mereka bernazar untuk yang lain…

٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠

بمتاعه ففعلا صح.

… dengan barang miliknya, lalu mereka berdua melakukannya, maka hukumnya sah.

وإن زاد المبتدئ: إن نذرت لي بمتاعك.

Meskipun pihak yang memulai menambahkan ucapan: 'Jika engkau bernazar memberikan barangmu untukku'.

وكثيرا ما يفعل ذلك فيما لا يصح بيعه ويصح نذره.

Hal demikian sering kali dilakukan pada barang yang tidak sah untuk diperjualbelikan tetapi sah untuk dinazarkan.

ويصح إبراء المنذور له الناذر عما في ذمته.

Dan sah hukumnya bagi penerima nazar untuk membebaskan orang yang bernazar dari kewajiban yang ada dalam tanggungannya.

قال القاضي: ولا يشترط معرفة الناذر ما نذر به كخمس ما يخرج له مع معشر وككل ولد أو ثمرة يخرج من أمتي أو شجرتي هذه.

Al-Qadhi berkata: Dan tidak disyaratkan orang yang bernazar mengetahui apa yang ia nazarkan, seperti seperlima dari apa yang dihasilkan baginya beserta sepersepuluh (zakat), dan seperti setiap anak atau buah yang keluar dari hamba sahaya perempuan atau pohonku ini.

وذكر أيضا أنه لا زكاة في الخمس المنذور.

Beliau juga menyebutkan bahwa tidak ada kewajiban zakat pada seperlima yang dinazarkan tersebut.

وقال غيره: محله إن نذر قبل الاشتداد.

Dan ulama selainnya berkata: Ketentuan hukum ini berlaku jika ia bernazar sebelum biji-bijian atau buah tersebut mengeras (matang).

ويصح النذر للجنين كالوصية له بل أولى لا للميت إلا لقبر الشيخ الفلاني وأراد به قربة ثم: كإسراج ينتفع١ به أو اطرد عرف فيحمل النذر له على ذلك ويقع لبعض العوام: جعلت هذا للنبي ص فيصح كما بحث لأنه اشتهر في عرفهم للنذر ويصرف لمصالح الحجرة النبوية.

Sah bernazar untuk janin sebagaimana sahnya wasiat kepadanya, bahkan nazar ini lebih utama; tidak sah nazar untuk orang mati, kecuali (nazar) untuk makam Syekh Fulan dan yang dimaksud adalah melakukan kebaikan di sana, seperti penerangan lampu yang memberi manfaat dengannya atau jika telah berlaku tradisi ('urf), maka nazar kepadanya diarahkan pada hal tersebut. Dan terjadi pada ucapan sebagian orang awam: "Aku jadikan ini untuk Nabi SAW", maka hukumnya sah sebagaimana dibahas oleh ulama, karena hal itu telah masyhur dalam 'urf mereka sebagai nazar dan dialokasikan untuk kemaslahatan Kamar (Hujrah) Nabawiyah.

قال السبكي: والأقرب عندي في الكعبة والحجرة الشريفة والمساجد الثلاثة أن من خرج من ماله عن شيء لها واقتضى العرف

As-Subki berkata: Pendapat yang lebih kuat menurutku mengenai Ka'bah, Hujrah Syarifah, dan tiga masjid (Masjidil Haram, Nabawi, Al-Aqsa) adalah bahwa barangsiapa yang mengeluarkan sebagian hartanya untuk tempat-tempat tersebut dan tradisi ('urf) menghendaki…

٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠

……………………………..

صرفه في جهة من جهاتها: صرف إليها واختصت به. انتهى.

…pengalokasiannya pada salah satu peruntukannya, maka harta itu dialokasikan ke sana dan menjadi kekhususannya. Selesai.

قال شيخنا: فإن لم يقتض العرف شيئا فالذي يتجه أنه يرجع في تعيين المصرف لرأي ناظرها.

Syaikh kami berkata: Jika 'urf tidak menentukan sesuatu pun, maka pendapat yang kuat adalah dikembalikan kepada pandangan pengelolanya (nazhir) dalam menentukan alokasi penerimanya.

قال: وظاهر أن الحكم كذلك في النذر لمسجد غيرها انتهى.

Beliau berkata: Dan jelas bahwa hukumnya demikian pula dalam nazar untuk masjid selain ketiga masjid tersebut. Selesai.

وأفتى بعضهم في إن قضى الله حاجتي فعلي للكعبة كذا بأنه غيرها انتهى يتعين لمصالحها ولا يصرف لفقراء الحرم كما دل عليه كلام المهذب وصرح به جمع متأخرون.

Sebagian ulama berfatwa mengenai ucapan seseorang "Jika Allah mengabulkan hajatku maka wajib bagiku untuk Ka'bah sekian", bahwa nazar tersebut tertentu untuk kemaslahatannya dan tidak dialokasikan kepada fakir miskin Tanah Haram, sebagaimana ditunjukkan oleh redaksi al-Muhadzdzab dan ditegaskan oleh sekumpulan ulama muta'akhirin.

ولو نذر شيئا للكعبة ونوى صرفه لقربة معينة كالإسراج تعين صرفه فيها إن احتيج لذلك وإلا بيع وصرف لمصالحها كما استظهره شيخنا.

Jika seseorang bernazar sesuatu untuk Ka'bah dan berniat mengalokasikannya untuk bentuk ketaatan tertentu seperti penerangan, maka wajib dialokasikan ke sana jika memang dibutuhkan. Jika tidak dibutuhkan, maka barang itu dijual dan hasilnya dialokasikan untuk kemaslahatan Ka'bah sebagaimana yang dikuatkan oleh Syaikh kami.

ولو نذر إسراج نحو شمع أو زيت بمسجد صح إن كان ثم من ينتفع به ولو على ندور وإلا فلا.

Jika seseorang bernazar menyalakan sejenis lilin atau minyak di masjid, maka hukumnya sah jika di sana ada orang yang memanfaatkannya meskipun jarang, dan jika tidak ada yang memanfaatkannya maka tidak sah.

ولو نذر إهداء منقول إلى مكة لزمه نقله والتصدق بعينه على فقراء الحرم ما لم يعين قربة أخرى كتطييب الكعبة فيصرفه إليها.

Jika seseorang bernazar menghadiahkan barang bergerak ke Makkah, maka ia wajib membawanya dan bersedekah dengan wujud barang tersebut kepada fakir miskin Tanah Haram, selama ia tidak menentukan ketaatan lain seperti memberi wewangian pada Ka'bah, maka ia mengalokasikannya ke situ.

وعلى الناذر مؤنة إيصال الهدي إلى الحرم فإن كان معسرا باع بعضه لنقل الباقي فإن تعسر نقله كعقار أو حجر رحى باعه ولو بغير إذن حاكم ونقل ثمنه وتصدق به على فقراء الحرم.

Orang yang bernazar wajib menanggung biaya pengiriman barang hadiah tersebut ke Tanah Haram. Jika ia orang yang kurang mampu, ia boleh menjual sebagian barang itu untuk biaya pengangkutan sisanya. Jika pengangkutannya sulit seperti barang tak bergerak (tanah/bangunan) atau batu kilangan, maka ia menjualnya—meskipun tanpa izin hakim—dan membawa uang hasilnya lalu menyedekahkannya kepada fakir miskin Tanah Haram.

وهل له إمساكه بقيمته أو لا؟ وجهان.

Apakah ia boleh menahan barang tersebut dengan mengganti nilainya (harganya) atau tidak? Ada dua pendapat (wajhan).

ولو نذر الصلاة في أحد المساجد الثلاثة أجزأ بعضها عن بعض

Dan jika seseorang bernazar shalat di salah satu dari tiga masjid (Masjidil Haram, Nabawi, Al-Aqsa), maka pelaksanaan di sebagian tempat tersebut cukup untuk menggantikan yang lainnya,

٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠

……………………………..

كالاعتكاف.

sebagaimana dalam hukum itikaf.

ولا يجزئ ألف صلاة في غير مسجد المدينة عن صلاة نذرها فيه كعكسه.

Dan seribu kali shalat di selain Masjid Madinah (Masjid Nabawi) tidak cukup untuk menggantikan shalat yang dinadzarkan di dalamnya, begitu pula sebaliknya.

كما لا يجزئ قراءة الإخلاص عن ثلث القرآن المنذور.

Sebagaimana tidak cukup membaca surat Al-Ikhlas untuk menggantikan sepertiga Al-Qur'an yang dinadzarkan.

ومن نذر إتيان سائر المساجد وصلاة التطوع فيه صلى حيث شاء ولو في بيته.

Barangsiapa bernadzar untuk mendatangi masjid-masjid lainnya dan melakukan shalat sunnah di dalamnya, maka ia boleh shalat di mana saja yang ia kehendaki, meskipun di rumahnya.

ولو نذر التصدق بدرهم لم يجزئ عنه جنس آخر.

Jika seseorang bernadzar untuk bersedekah dengan satu dirham, maka tidak mencukupi jika digantikan dengan jenis barang yang lain.

ولو نذر التصدق بمال بعينه زال عن ملكه فلو قال: علي أن أتصدق بعشرين دينارا وعينها على فلان أو إن شفي مريضي فعلي ذلك: ملكها وإن لم يقبضها ولا قبلها بل وإن رد فله التصرف فيها.

Jika seseorang bernadzar untuk bersedekah dengan harta tertentu, maka harta tersebut lepas dari kepemilikannya. Jika ia berkata: 'Wajib bagiku bersedekah dua puluh dinar ini kepada si Fulan,' atau 'Jika orang sakitku sembuh maka wajib bagiku hal itu,' maka si Fulan memilikinya meskipun ia belum menerimanya dan belum mengabulkannya, bahkan meskipun ia menolaknya, maka ia tetap berhak mentasarrufkannya.

وينعقد حول زكاتها من حين النذر وكذا إن لم يعينها ولم يردها المنذور له فتصير دينا له عليه ويثبت لها أحكام الديون من زكاة وغيرها.

Haul zakat harta tersebut mulai dihitung sejak saat nadzar. Demikian pula jika ia tidak menentukannya dan penerima nadzar tidak menolaknya, maka harta itu menjadi utang yang menanggungnya untuk penerima tersebut, dan berlaku padanya hukum-hukum utang seperti zakat dan lainnya.

ولو تلف المعين لم يضمنه إلا أن قصر على ما استظهره شيخنا.

Jika barang yang ditentukan itu rusak, ia tidak wajib menggantinya kecuali jika ia ceroboh/lalai, sebagaimana yang dikuatkan oleh guru kami.

ولو نذر أن يعمر مسجدا معينا أو في موضع معين لم يجز له أن يعمر غيره بدلا عنه ولا في موضع آخر كما لو نذر التصدق بدرهم فضة لم يجز التصدق بدله بدينار لاختلاف الأغراض.

Jika seseorang bernadzar untuk memakmurkan masjid tertentu atau di lokasi tertentu, maka tidak boleh baginya memakmurkan masjid lain sebagai gantinya dan tidak boleh pula di lokasi lain, sebagaimana jika ia bernadzar bersedekah dengan satu dirham perak, tidak boleh bersedekah gantinya berupa satu dinar karena perbedaan tujuan.

٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠

…………………………..

تتمة [في بيان حكم نذر المقترض لمقرضه] اختلف جمع من مشايخ شيوخنا في نذر مقترض مالا معينا لمقرضه ما دام دينه في ذمته فقال بعضهم لا يصح لأنه على هذا الوجه الخاص غير قربة بل يتوصل به إلى ربا النسيئة.

Pelengkap [Penjelasan hukum nadzar orang yang meminjam kepada yang memberi pinjaman]: Sejumlah guru dari guru-guru kami berselisih pendapat mengenai nadzar orang yang meminjam harta tertentu kepada yang memberi pinjaman selama utang masih berada dalam tanggungannya. Sebagian mereka berpendapat: Tidak sah, karena dengan cara khusus ini tidak termasuk ibadah (qurbah), melainkan sarana menuju riba nasi'ah.

وقال بعضهم يصح لأنه في مقابلة حدوث نعمة ربح القرض إن اتجر به أو فيه اندفاع نقمة المطالبة إن احتاج لبقائه في ذمته لإعسار أو إنفاق ولأنه يسن للمقترض أن يرد زيادة عما اقترضه فإذا التزمها بنذر انعقد ولزمته فهو حينئذ مكافأة إحسان لا وصلة للربا إذ هو لا يكون إلا في عقد كبيع ومن ثم لو شرط عليه النذر في عقد القرض كان ربا.

Sebagian lain berpendapat: Sah, karena hal itu sebagai imbalan atas timbulnya kenikmatan berupa keuntungan pinjaman jika ia memperdagangkannya, atau di dalamnya terdapat penolakan atas kesulitan penagihan jika ia membutuhkan tetapnya utang dalam tanggungannya karena kesulitan ekonomi atau nafkah; dan juga karena disunnahkan bagi peminjam untuk mengembalikan lebih dari yang ia pinjam, maka jika ia mewajibkannya dengan nadzar, nadzar tersebut sah dan mengikatnya. Dengan demikian, hal itu merupakan balasan atas kebaikan, bukan perantara riba, karena riba tidak terjadi kecuali dalam akad seperti jual beli. Oleh karena itu, sekiranya nadzar disyaratkan kepadanya dalam akad pinjaman, maka hal itu menjadi riba.

وقال شيخ مشايخنا العلامة المحقق الطنبداوي فيما إذا نذر المديون للدائن منفعة الأرض المرهونة مدة بقاء الدين في ذمته: والذي رأيته لمتأخري أصحابنا اليمنيين ما هو صريح في الصحة وممن أفتى بذلك شيخ الإسلام محمد بن حسين القماط والعلامة الحسين بن عبد الرحمن الأهدل.

Guru dari guru-guru kami, Al-Allamah Al-Muhaqqiq At-Tunbudawi berkata mengenai kasus jika orang yang berutang bernadzar memberikan manfaat tanah yang digadaikan kepada penagih utang selama utang berada dalam tanggungannya: 'Apa yang saya lihat dari ulama muta'akhirin madzhab kami yang berbangsa Yaman adalah teks yang tegas menyatakan sahnya. Di antara ulama yang berfatwa demikian adalah Syaikhul Islam Muhammad bin Husain Al-Qammath dan Al-Allamah Al-Husain bin Abdurrahman Al-Ahdal.'