فصل في الشهادات
فصل في الشهادات
Fasal tentang Kesaksian-kesaksian (Asy-Syahadat)
الشهادة لرمضان رجل ولزنا أربعة ولمال وما قصد به مال كبيع ورهن رجلان أو رجل وامرأتان أو رجل ويمين.
Kesaksian untuk bulan Ramadan (cukup) satu orang laki-laki, untuk perzinaan empat orang (laki-laki), dan untuk harta serta hal yang bertujuan harta seperti jual beli dan gadai (cukup) dua orang laki-laki, atau satu orang laki-laki dan dua orang perempuan, atau satu orang laki-laki dan sumpah (penggugat).
فصل في الشهادات
Fasal tentang Kesaksian-kesaksian
جمع شهادة وهي إخبار الشخص بحق على غيره١ بلفظ خاص الشهادة لرمضان أي لثبوته بالنسبة للصوم فقط
Merupakan bentuk jamak dari 'syahadah', yaitu pemberitahuan seseorang tentang hak atas orang lain dengan lafal yang khusus. 'Kesaksian untuk Ramadan', maksudnya untuk menetapkan masuknya bulan Ramadan khusus berkenaan dengan puasa saja,
رجل واحد لا امرأة وخنثى.
(cukup) satu orang laki-laki, tidak diterima kesaksian perempuan maupun khunsa.
ولزنا ولواط أربعة من الرجال يشهدون أنهم رأوه أدخل مكلفا مختارا حشفته في فرجها بالزنا.
Dan untuk perzinaan serta liwat (homoseksual) (dibutuhkan) empat orang laki-laki yang bersaksi bahwa mereka melihat seorang mukalaf yang sukarela memasukkan hasyafah (kepala kemaluan)-nya ke dalam kemaluannya secara zina.
قال شيخنا: والذي يتجه أنه لا يشترط ذكر زمان ومكان إلا ن ذكره أحدهم فيجب سؤال الباقين لاحتمال وقوع تناقض يسقط الشهادة ولا ذكر رأينا كالمرود في المكحلة بل يسن ويكفي للإقرار به اثنان كغيره. ولمال عينا كان أو دينا أو منفعة وما قصد به مال من عقد مالي أو حق مالي كبيع وحوالة وضمان ووقف وقرض وإبراء ورهن وصلح وخيار وأجل رجلان أو رجل وامرأتان أو رجل ويمين ولا يثبت شيء بامرأتين ويمين.
Guru kami berkata: Pendapat yang kuat adalah bahwa tidak disyaratkan menyebutkan waktu dan tempat kecuali jika salah satu dari mereka menyebutkannya, maka wajib menanyakan kepada saksi yang tersisa karena adanya kemungkinan kontradiksi yang menggugurkan kesaksian. Juga tidak disyaratkan menyebutkan 'kami melihatnya seperti celak di dalam tempat celak', melainkan hukumnya sunnah, dan untuk pengakuan perzinaan cukup dua orang saksi seperti hal lainnya. Dan untuk (pembuktian) harta, baik berupa benda konkret, utang, maupun manfaat, serta hal yang bertujuan harta dari akad keuangan atau hak keuangan seperti jual beli, hiwalah, dhaman (penjaminan), wakaf, pinjaman (qardh), pembebasan utang (ibra'), gadai, perdamaian (sulh), hak pilih (khiyar), dan penangguhan waktu (ajal), (dibutuhkan saksi) dua orang laki-laki, atau satu orang laki-laki dan dua orang perempuan, atau satu orang laki-laki beserta sumpah (penggugat). Dan tidak bisa terbukti sesuatu pun dengan dua orang perempuan dan sumpah.
ولغير ذلك ولما يظهر للرجال غالبا كنكاح وطلاق وعتق رجلان ولما يظهر للنساء كولادة وحيض أربع أو رجلان أو رجل وامرأتان,
Dan untuk selain hal tersebut serta hal-hal yang umumnya tampak oleh laki-laki seperti nikah, talak, dan memerdekakan budak (dibutuhkan) dua orang laki-laki. Dan untuk hal-hal yang umumnya tampak oleh perempuan seperti kelahiran dan haid (dibutuhkan) empat orang perempuan, atau dua orang laki-laki, atau satu orang laki-laki dan dua orang perempuan,
ولغير ذلك أي ما ليس بمال ولا يقصد منه مال من عقوبة لله تعالى كحد شرب وسرقة أو لآدمي كقود وحد قدف ومنع إرث بأن ادعى بقية الورثة على الزوجة أن الزوج خالعها حتى لا ترث منه ولما يظهر للرجال غالبا كنكاح ورجعة١ وطلاق منجز أو معلق وفسخ نكاح وبلوغ وعتق وموت وإعسار وقراض ووكالة وكفالة وشركة ووديعة ووصاية وردة وانقضاء عدة بأشهر ورؤية هلال غير رمضان وشهادة على شهادة وإقرار بما لا يثبت إلا برجلين رجلان لا رجل وامرأتان لما روى مالك عن الزهري: مضت السنة من رسول الله ص أنه لا يجوز شهادة النساء في الحدود ولا في النكاح ولا في الطلاق وقيس بالمذكورات غيرها مما يشاركها في المعنى.
‘Dan untuk selain hal tersebut’, yaitu apa yang bukan berupa harta dan tidak bertujuan harta, baik berupa hukuman (had) hak Allah Ta'ala seperti had minum khamar dan mencuri, atau hak manusia seperti qisas, had tuduhan zina (qadzaf), dan penghalangan waris seperti jika sisa ahli waris mengklaim terhadap istri bahwa sang suami telah melakukan khuluk darinya agar ia tidak mendapat warisan dari suami; dan untuk hal-hal yang umumnya tampak oleh laki-laki seperti nikah, rujuk, talak baik yang langsung maupun yang digantungkan (mu'allaq), fasakh nikah, baligh, memerdekakan budak, kematian, kepailitan (i'sar), qiradh (bagi hasil), wakalah (perwakilan), kafalah (penjaminan diri), syirkah (kemitraan), titipan (wadi'ah), wasiat (wushayyah), murtad, habisnya masa iddah dengan hitungan bulan, melihat hilal selain bulan Ramadan, kesaksian atas kesaksian (syahadah 'ala syahadah), dan pengakuan atas hal yang tidak terbukti kecuali dengan dua laki-laki, maka (dibutuhkan) dua orang laki-laki, bukan satu orang laki-laki dan dua perempuan. Hal ini berdasarkan riwayat Malik dari az-Zuhri: 'Telah berlaku sunnah dari Rasulullah SAW bahwa tidak boleh kesaksian wanita dalam hukum had, nikah, dan talak.' Dan diqiyaskan dengan hal-hal yang disebutkan tersebut hal lainnya yang searti darinya.
ولما يظهر للنساء غالبا كولادة وحيض وبكارة وثيوبة ورضاع وعيب امرأة تحت ثيابها أربع من النساء أو رجلان أو رجل وامرأتان لما روى ابن أبي شيبة عن الزهري: مضت السنة بأنه يجوز شهادة النساء فيما لا يطلع عليه غيرهن من ولادة النساء وعيوبهن وقيس بذلك غيره.
‘Dan untuk hal-hal yang umumnya tampak oleh perempuan’ seperti kelahiran, haid, keperawanan, janda (tsiyubah), persusuan (radha'), dan cacat wanita di balik pakaiannya, (dibutuhkan) empat orang perempuan, atau dua orang laki-laki, atau satu orang laki-laki dan dua orang perempuan. Berdasarkan riwayat Ibn Abi Syaibah dari az-Zuhri: 'Telah berlaku sunnah bahwa boleh kesaksian wanita dalam hal yang tidak diketahui oleh selain mereka berupa kelahiran wanita dan cacat-cacat mereka.' Dan diqiyaskan dengan hal tersebut hal lainnya.
وشرط في شاهد تكليف وحرية ومروءة وعدالة
Dan disyaratkan pada diri seorang saksi: taklif (berakal dan baligh), merdeka, muru'ah (harga diri), dan adil.
ولا يثبت ذلك برجل ويمين.
Dan hal tersebut tidak terbukti dengan satu orang laki-laki dan sumpah.
وسئل بعض أصحابنا عما إذا شهد رجلان أن فلانا بلغ عمره ست عشرة سنة فشهدت أربع نسوة أن فلانة يتيمة ولدت شهر مولده أو قبله أو بعده بشهر مثلا فهل يجوز تزويجها اعتمادا على قولهن أو لا يجوز إلا بعد ثبوت بلوغ نفسها برجلين فأجاب نفعنا الله به: نعم يثبت ضمنا بلوغ من شهدن بولادتها كما يثبت النسب ضمنا بشهادة النساء بالولادة فيجوز تزويجها بإذنها للحكم ببلوغها شرعا انتهى.
Sebagian ulama mazhab kami pernah ditanya mengenai masalah: jika dua orang laki-laki bersaksi bahwa si Fulan usianya telah mencapai 16 tahun, lalu empat orang perempuan bersaksi bahwa si Fulanah yang yatim lahir pada bulan kelahirannya (si Fulan), atau sebulan sebelumnya, atau sebulan sesudahnya misalnya; apakah boleh menikahkannya dengan bersandar pada ucapan para wanita tersebut, ataukah tidak boleh kecuali setelah terbukti kebalighan dirinya sendiri dengan dua saksi laki-laki? Maka beliau menjawab (semoga Allah memberikan manfaat kepada kita melalui beliau): Ya, terbukti secara tersirat (dhimnan) kebalighan wanita yang mereka saksikan kelahirannya sebagaimana terbuktinya nasab secara tersirat dengan kesaksian para perempuan atas kelahiran. Maka boleh menikahkannya dengan izinnya karena telah dihukumi baligh secara syar'i. Selesai.
فرع: لو أقامت شاهدا بإقرار زوجها بالدخول كفى حلفها معه ويثبت المهر أو أقامه هو على إقرارها به لم يكف الحلف معه لان قصده ثبوت العدة والرجعة وليسا بمال.
Cabang masalah: Jika seorang istri mengajukan satu orang saksi atas pengakuan suaminya mengenai dukhul (persetubuhan), maka cukup baginya bersumpah bersama saksi tersebut dan mas kawin menjadi tetap baginya. Namun jika suami yang mengajukan saksi atas pengakuan istri mengenai hal itu, maka tidak cukup bersumpah bersamanya, karena tujuan suami adalah menetapkan 'iddah dan rujuk, sementara keduanya bukanlah harta.
وشرط في شاهد تكليف وحرية ومروءة وعدالة وتيقظ فلا تقبل من صبي ومجنون ولا ممن به رق لنقصه ولا من غير ذي مروءة لانه لا حياء له ومن لا حياء له يقول ما شاء وهي توقى الأدناس عرفا فيسقطها الأكل والشرب في السوق والمشي فيه كاشفا رأسه أو بدنه لغير سوقي وقبلة الحلية بحضرة الناس وإكثار ما يضحك بينهم أو لعب شطرنج أو رقص بخلاف قليل الثلاثة ولا من فاسق واختار
Dan disyaratkan pada diri seorang saksi: taklif, merdeka, muru'ah, adil, dan kewaspadaan (tiyaqudh). Maka kesaksian tidak diterima dari anak kecil, orang gila, orang yang memiliki status perbudakan karena kekurangannya, dan orang yang tidak memiliki muru'ah karena ia tidak memiliki rasa malu, sedang orang yang tidak memiliki rasa malu akan berkata sekehendaknya. Muru'ah adalah menjaga diri dari hal-hal yang dianggap kotor menurut urf (kebiasaan masyarakat). Maka muru'ah gugur akibat makan dan minum di pasar, berjalan di pasar dengan membuka kepala atau badannya bagi orang yang bukan pedagang pasar, mencium istrinya di hadapan orang banyak, sering melakukan hal yang memancing tawa di antara mereka, bermain catur, atau menari; berbeda jika ketiga hal terakhir ini dilakukan sedikit. Kesaksian juga tidak diterima dari orang fasik. Dan (pengarang) memilih
باجتناب كبيرة وإصرار على صغيرة,
dengan menjauhi dosa besar dan tidak terus-menerus melakukan dosa kecil,
جمع منهم الأذرعي والغزي وآخرون قول بعض المالكية إذا فقدت العدالة وعم الفسق قضى الحاكم
Al-Adzra'i, Al-Ghazzi, dan ulama lainnya memilih pendapat sebagian ulama Malikiyyah bahwa apabila sifat 'adalah (ketakwaan/keadilan) telah hilang dan kefasikan merajalela, maka hakim memutuskan hukum…
بشهادة الأمثل فالأمثل للضرورة.
…dengan kesaksian orang yang paling baik (yang paling mendekati sifat 'adalah), lalu orang terbaik berikutnya karena kondisi darurat.
والعدالة تتحقق باجتناب كل كبيرة من أنواع الكبائر كالقتل والزنا والقذف به وأكل الربا ومال اليتيم واليمين الغموس وشهادة الزور وبخس الكيل أو الوزن وقطع الرحم والفرار من الزحف بلا عذر وعقوق الوالدين.
Sifat 'adalah terwujud dengan menjauhi setiap dosa besar dari jenis-jenis dosa besar, seperti membunuh, berzina, menuduh zina (qadzaf), memakan riba, memakan harta anak yatim, sumpah palsu (al-yamīn al-ghamūs), kesaksian palsu, mengurangi takaran atau timbangan, memutuskan tali silaturahmi, lari dari medan perang tanpa uzur, dan durhaka kepada kedua orang tua.
وغصب قدر ربع دينار وتفويت مكتوبة وتأخير زكاة عدوانا ونميمة وغيرها من كل جريمة تؤذن بقلة اكتراث مرتكبها بالدين ورقة الديانة.
Serta mengghasab harta senilai seperempat dinar, membiarkan salat fardu terlewat, mengundur-undur zakat secara sengaja (zalim), adu domba (namimah), dan kejahatan lainnya yang menunjukkan kurangnya kepedulian pelakunya terhadap agama dan tipisnya ketaatan.
واجتناب إصرار على صغيرة أو صغائر بأن لا تغلب طاعاته صغائره فمتى ارتكب كبيرة بطلت عدالته مطلقا أو صغيرة أو صغائر داوم عليها أولا خلافا لمن فرق فإن غلبت طاعته صغائره فهو عدل ومتى استويا أو غلبت صغائره طاعاته فهو فاسق.
Juga menjauhi sikap terus-menerus melakukan dosa kecil atau dosa-dosa kecil, yaitu dengan tidak membiarkan ketaatan-ketaatannya lebih mendominasi ketimbang dosa-dosa kecilnya. Maka kapan saja seseorang melakukan dosa besar, gugurlah sifat 'adalah-nya secara mutlak, atau melakukan dosa kecil/dosa-dosa kecil yang ia lakukan terus-menerus atau tidak (berbeda dengan pendapat yang membedakannya). Jika ketaatannya mengalahkan dosa-dosa kecilnya, maka ia adalah seorang yang 'adil; dan jika keduanya seimbang atau dosa kecilnya mengalahkan ketaatannya, maka ia adalah orang yang fasik.
والصغيرة كنظر الأجنبية ولمسها ووطئ رجعية وهجر المسلم فوق ثلاث وبيع خمر ولبس رجل ثوب حرير وكذب لا حد فيه ولعن ولو لبهيمة أو كافر وبيع معيب لا ذكر عيب وبيع رقيق مسلم لكافر ومحاذاة قاضي الحاجة الكعبة بفرجه وكشف العورة في الخلوة عبثا ولعب بنرد لحصة النهي عنه وغيبة وسكوت عليها.
Dosa kecil itu seperti memandang wanita ajnabi (bukan mahram), menyentuhnya, menggauli istri yang ditalak raj'i (sebelum dirujuk), mendiamkan sesama muslim lebih dari tiga hari, menjual khamar, laki-laki mengenakan pakaian sutra, berdusta yang tidak sampai dikenai hukuman had, mengutuk meskipun terhadap hewan atau orang kafir, menjual barang cacat tanpa menyebutkan cacatnya, menjual budak muslim kepada orang kafir, menyebelahkan kemaluan ke arah kiblat saat buang hajat, membuka aurat saat sendirian tanpa ada keperluan (main-main), bermain dadu karena adanya larangan khusus tentangnya, serta ghibah dan berdiam diri mendengarkannya.
ونقل بعضهم الإجماع على أنها كبيرة لما فيها من الوعيد الشديد محمول على غيبة أهل العلم وحملة القرآن لعموم البلوى بها وهي ذكرك ولو بنحو
Sebagian ulama menukil adanya konsensus (ijmak) bahwa ghibah adalah dosa besar karena ancaman keras di dalamnya; namun hal ini dipahami khusus untuk ghibah terhadap ahli ilmu dan para penghafal Al-Qur'an, mengingat maraknya ghibah (secara umum). Ghibah itu sendiri adalah engkau menyebutkan (orang lain), meskipun dengan…
وعدم تهمة فترد لرقيقه ولبعضه لا عليه,
dan tidak adanya prasangka kecenderungan (tuhmah); maka kesaksian ditolak jika membela budaknya dan membela bagian dari dirinya (kerabat dekatnya), tetapi tidak ditolak jika kesaksian itu memberatkannya (atas dirinya),
إشارة غيرك المحصور المعين ولو عند بعض المخاطبين بما يكره عرفا.
isyarat, tentang orang lain tertentu yang terbatas, walaupun hanya di hadapan sebagian lawan bicara, dengan sesuatu yang dibenci menurut urf (kebiasaan).
واللعب بالشطرنج بكسر أوله وفتحه معجما ومهملا مكروه إن لم يكن فيه شرط مال من الجانبين أو أحدهما أو تفويت صلاة ولو بنسيان بالاشتغال به أو لعب مع معتقد تحريمه وإلا فحرام ويحمل ما جاء في ذمه من الأحاديث والآثار على ما ذكر وتسقط مروءة من يداومه فترد شهادته وهو حرام عند الأئمة الثلاثة مطلقا.
Bermain catur (dengan kasrah atau fathah pada huruf pertamanya, menggunakan titik atau tidak) hukumnya makruh jika tidak disertai taruhan harta dari kedua belah pihak atau salah satunya, atau tidak sampai melewatan salat meskipun karena lupa akibat sibuk bermain, atau tidak bermain dengan orang yang meyakini keharamannya; jika tidak demikian, maka hukumnya haram. Hadis-hadis dan atsar yang mencelanya dipahami untuk kondisi-kondisi tersebut. Wibawa (murū'ah) orang yang membiasakannya akan gugur sehingga kesaksiannya ditolak, dan bermain catur hukumnya haram secara mutlak menurut tiga imam mazhab.
ولا تقبل الشهادة من مغفل ومختل نظر ولا أصم في مسموع ولا أعمى في مبصر كما يأتي.
Tidak diterima kesaksian dari orang yang lalai/pelupa, orang yang terganggu pikirannya, orang tuli dalam hal yang didengar, dan orang buta dalam hal yang dilihat, sebagaimana akan dijelaskan kemudian.
ومن التيقظ ضبط ألفاظ المشهود عليه بحروفها من غير زيادة فيها ولا نقص.
Termasuk bentuk kewaspadaan/ketelitian (tayaqquzh) adalah menghafal lafal-lafal pihak yang disaksikan persis sesuai huruf-hurufnya tanpa ada penambahan maupun pengurangan.
قال شيخنا: ومن ثم لا تجوز الشهادة بالمعنى نعم: لا يبعد جواز التعبير بأحد الرديفين عن الآخر حيث لا إبهام.
Guru kami berkata: Oleh karena itu, tidak boleh bersaksi dengan makna saja. Ya, tidak jauh dari kebenaran bahwa boleh menggunakan salah satu kata sinonim untuk menggantikan yang lain sepanjang tidak ada kesamaran.
وشرط في الشاهد أيضا عدم تهمة بجر نفع إليه أو إلى من لا تقبل شهادته له أو دفع ضر عنه بها.
Disyaratkan pula pada diri saksi tidak adanya tuduhan kecenderungan (tuhmah) berupa menarik manfaat untuk dirinya sendiri atau untuk orang yang kesaksiannya tidak diterima bagi orang tersebut, atau menolak bahaya dari dirinya dengan kesaksian itu.
فترد الشهادة لرقيقه ولو مكاتبا ولغريم له مات وإن لم تستغرق تركته الديون بخلاف شهادته لغريمه الموسر وكذا المعسر قبل موته فتقبل لهما.
Maka ditolak kesaksian seseorang untuk budaknya meskipun budak mukatab, dan untuk orang yang berutang kepadanya yang telah meninggal dunia meskipun harta peninggalannya tidak habis oleh utang-utang. Berbeda halnya dengan kesaksian untuk orang berutang kepadanya yang mampu (mūsir), demikian pula yang kesulitan (mu'sir) sebelum meninggalnya, maka kesaksian untuk keduanya diterima.
وترد لبعضه من أصل وإن علا أو فرع له وإن سفل.
Ditolak pula kesaksian untuk bagian dari dirinya (kerabat dekatnya), baik itu dari jalur asal (orang tua/leluhur) ke atas maupun cabang (anak/keturunan) ke bawah.
لا ترد الشهادة عليه أي لا على أحدهما بشيء إذ لا تهمة.
Kesaksian tidak ditolak jika kesaksian itu memberatkannya (yakni memberatkan salah satu dari kerabatnya) dalam hal apa pun, karena tidak ada tuduhan kecenderungan membela (tuhmah).
وبما هو محل تصرفه ومن عدو,
Serta pada apa yang menjadi wewenang pengelolaannya (tasharruf-nya), dan kesaksian dari seorang musuh…
ولا على أبيه بطلاق ضرة أمه طلاقا بائنا وأمه تحته أما رجعي فتقبل قطعا هذا كله في شهادة حسبة أو بعد دعوى الضرة فإن ادعاه الأب لعدم نفقة لم تقبل شهادته للتهمة وكذا لو ادعته أمه.
Dan tidak pula (diterima kesaksian seorang anak) atas ayahnya mengenai talak ba'in terhadap madu (istri lain dari) ibunya sedangkan ibunya masih dalam ikatan pernikahan dengannya. Adapun jika talak raj'i, maka kesaksiannya diterima secara pasti. Ini semua berlaku dalam kesaksian hisbah atau setelah adanya gugatan dari madu ibunya. Jika sang ayah mendakwakannya karena tidak adanya nafkah, maka kesaksian sang anak tidak diterima karena adanya tuduhan kecenderungan (tuhmah), begitu pula jika ibunya yang mendakwakannya.
قال ابن الصلاح: لو ادعى الفرع على آخر بدين لموكله فأنكر فشهد به أبو الوكيل قبل وإن كان فيه تصديق ابنه.
Ibnu ash-Shalah berkata: Jika seorang cabang (anak) mendakwa orang lain atas utang milik muwakkil-nya (orang yang memberi kuasa), lalu tergugat mengingkari, kemudian ayah dari wakil tersebut bersaksi atas utang itu, maka kesaksiannya diterima meskipun di dalamnya terdapat pembenaran terhadap anaknya.
وتقبل شهادة كل من الزوجين والأخوين والصديقين للآخر.
Dan diterima kesaksian masing-masing dari pasangan suami istri, dua orang bersaudara, dan dua orang sahabat untuk satu sama lain.
وترد الشهادة بما هو محل تصرفه كأن وكل أو أوصى فيه لأنه يثبت بشهادته ولاية له على المشهود به نعم: لو شهد به بعد عزله ولم يكن خاصم قبله قبلت.
Dan ditolak kesaksian mengenai perkara yang menjadi cakupan wewenang tindakannya, seperti jika ia diwakilkan atau diberi wasiat dalam perkara tersebut, karena dengan kesaksiannya ia menetapkan wilayah (kekuasaan/wewenang) bagi dirinya atas barang yang disaksikan. Ya, jika ia bersaksi setelah dirinya diberhentikan (di-azal) dan ia belum pernah bersengketa sebelumnya, maka kesaksiannya diterima.
وكذا لا تقبل شهادة وديع لمودعه ومرتهن لراهنه لتهمة بقاء يدهما أما ما ليس وكيلا أو وصيا فيه فتقبل.
Demikian pula tidak diterima kesaksian penerima titipan (wadi') untuk penitipnya (mudi') dan penerima gadai (murtahin) untuk penggadainya (rahin) karena adanya prasangka (tuhmah) atas tetap beradanya penguasaan (yad) keduanya. Adapun dalam perkara yang mana ia bukan sebagai wakil atau washi (penerima wasiat) padanya, maka kesaksiannya diterima.
ومن حيل شهادة الوكيل ما لو باع فأنكر المشتري الثمن أو اشترى فادعى أجنبي بالمبيع فله أن يشهد لموكله بأن له عليه كذا أو بأن هذا ملكه إن جاز له أن يشهد به للبائع ولا يذكر أنه وكيل وصوب الأذرعي حله باطنا لان فيه توصلا للحق بطريق مباح وكذا لا تقبل ببراءة من ضمنه الشاهد أو أصله أو فرعه أو عبده لأنه يدفع به الغرم عن نفسه أو عمن لا تقبل شهادة له.
Di antara siasat (jalan keluar) kesaksian seorang wakil adalah ketika ia menjual barang lalu pembeli mengingkari harganya, atau ia membeli barang lalu ada orang lain (orang asing) yang mendakwa barang yang dijual tersebut, maka ia boleh bersaksi untuk muwakkil-nya bahwa ia berhak atas pembeli sekian, atau bahwa barang ini adalah miliknya jika ia boleh bersaksi dengan hal itu untuk penjual, tanpa menyebutkan bahwa ia adalah seorang wakil. Al-Adzra'i membenarkan kehalalan hal tersebut secara batin karena di dalamnya terdapat upaya mencapai hak melalui cara yang diperbolehkan. Demikian pula tidak diterima kesaksian untuk pembebasan orang yang ditanggung oleh saksi, atau atas leluhurnya (asal), keturunannya (cabang), atau hamba sahayanya, karena dengan hal itu ia menolak kerugian dari dirinya sendiri atau dari orang yang kesaksian untuknya tidak diterima.
وترد الشهادة من عدو على عدوه عداوة دنيوية لا له وهو من يحزن بفرحه وعكسه فلو عادى من يريد أن يشهد عليه وبالغ في
Dan ditolak kesaksian dari musuh terhadap musuhnya karena permusuhan duniawi, bukan kesaksian yang menguntungkannya. Musuh adalah orang yang merasa sedih dengan kegembiraannya dan sebaliknya. Maka jika seseorang memusuhi orang yang ingin ia saksikan dan ia berlebihan dalam…
٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠
……………………………
خصومته فلم يجبه قبلت شهادته عليه.
perselisihannya namun pihak lawan tidak menanggapinya, maka kesaksiannya terhadap orang tersebut diterima.
تنبيه: قال شيخنا ظاهر كلامه قبولها من ولد العدو ويوجه بأنه لا يلزم من عداوة الأب عداوة الابن.
Peringatan: Guru kami berkata bahwa secara lahiriah perkataannya menunjukkan diterimanya kesaksian dari anak musuh, dan dinalarkan bahwa permusuhan ayah tidak serta-merta berkonsekuensi pada permusuhan sang anak.
فائدة: حاصل كلام الروضة وأصلها أن من قذف آخر لا تقبل شهادة كل منهما على الآخر وإن لم يطلب المقذوف حده وكذا من ادعى على آخر أنه قطع عليه الطريق وأخذ ماله فلا تقبل شهادة أحدهما على الآخر.
Faedah: Kesimpulan pernyataan al-Raudhah dan kitab asalnya bahwa barangsiapa menuduh orang lain berzina (qadzaf), maka kesaksian masing-masing dari keduanya terhadap yang lain tidak diterima meskipun orang yang dituduh tidak menuntut hukuman hadd-nya. Demikian pula barangsiapa mendakwa orang lain telah menghadangnya di jalan (perampokan) dan mengambil hartanya, maka kesaksian salah satu dari keduanya terhadap yang lain tidak diterima.
قال شيخنا: يؤخذ من ذلك أن كل من نسب آخر إلى فسق اقتضى وقوع عداوة بينهما فلا تقبل الشهادة من أحدهما على الآخر نعم يتردد النظر فيمن اغتاب آخر بمفسق يجوز له غيبته به وإن أثبت السبب المجوز لذلك.
Guru kami berkata: Ditarik pemahaman dari hal itu bahwa setiap orang yang menisbahkan orang lain kepada kefasikan yang menuntut timbulnya permusuhan di antara keduanya, maka kesaksian dari salah satu terhadap yang lain tidak diterima. Ya, ada keraguan pandangan mengenai orang yang menggunjing (ghibah) orang lain dengan perbuatan fasik yang mana ghibah tersebut diperbolehkan baginya, meskipun ia membuktikan sebab yang membolehkan hal itu.
فرع: تقبل شهادة كل مبتدع لا نكفره ببدعته وإن سب الصحابة رضوان الله عليهم كما في الروضة
Cabang: Diterima kesaksian setiap ahli bid'ah yang tidak kita kafirkan karena kebid'ahannya, meskipun ia mencaci para sahabat radhiyallahu 'anhum sebagaimana terdapat dalam al-Raudhah.
وادعى السبكي والأذرعي أنه غلط.
Dan As-Subki serta Al-Adzra'i mengklaim bahwa hal itu adalah kekeliruan.
ومبادر إلا في حق مؤكد لله كطلاق وعتق
Dan (ditolak kesaksian) orang yang mendahului (memberikan kesaksian sebelum diminta), kecuali dalam hak yang ditekankan bagi Allah seperti talak dan pemerdekaan budak.
وترد من مبادر بشهادته قبل أن يسألها بعد الدعوى لأنه متهم نعم لو أعادها في المجلس ولو بعد الاستشهاد قبلت إلا في شهادة حسبة وهي ما قصد بها وجه الله فتقبل قبل الاستشهاد ولو بلا دعوى.
Dan ditolak kesaksian dari orang yang mendahului dengan kesaksiannya sebelum ia dimintai kesaksian setelah adanya gugatan, karena ia tertuduh. Ya, jika ia mengulanginya di majelis sidang walaupun setelah dimintai kesaksian, maka kesaksiannya diterima. Kecuali dalam kesaksian hisbah, yaitu kesaksian yang dimaksudkan semata-mata mengharapkan keridaan Allah, maka kesaksian itu diterima sebelum dimintai kesaksian dan meskipun tanpa adanya gugatan.
في حق مؤكد لله تعالى وهو ما لا يتأثر برضا الآدمي كطلاق رجعي أو بائن.
Dalam hak yang ditekankan bagi Allah Ta'ala, yaitu perkara yang tidak terpengaruh oleh keridaan manusia seperti talak raj'i atau ba'in.
وعتق واستيلاد ونسب وعفو عن قود وبقاء عدة وانقضائها وبلوغ وإسلام وكفر ووصية ووقف لنحو جهة عامة وحق لمسجد وترك صلاة وصوم وزكاة بأن يشهد بتركها وتحريم رضاع ومصاهرة.
Dan pemerdekaan budak, ummul walad (istilad), nasab, pemaafan dari qisas (qawad), masih berjalannya masa iddah dan berakhirnya masa iddah, baligh, keislaman, kekafiran, wasiat, wakaf untuk pihak/kepentingan umum, hak masjid, serta meninggalkan shalat, puasa, dan zakat—dengan persaksian atas ditinggalkannya hal-hal tersebut—serta pengharaman karena penyusuan (radha') dan semenda (mushaharah).
تنبيه: إنما تسمع شهادة الحسبة عند الحاجة إليها فلو شهد اثنان أن فلانا أعتق عبده أو أنه أخو فلانة من الرضاع لم يكف حتى يقولا أنه يسترقه أو أنه يريد نكاحها.
Peringatan: Kesaksian hisbah (kesaksian tanpa adanya tuntutan) hanya didengar ketika dibutuhkan. Maka jika dua orang bersaksi bahwa si Fulan telah memerdekakan budaknya atau bahwa si Fulan adalah saudara sesusuan dari si Fulanah, hal itu belum cukup sampai keduanya menyatakan bahwa si Fulan memperbudaknya kembali atau si Fulan hendak menikahinya.
وخرج بقولي في حق لله تعالى حق الآدمي كقود وحد قذف وبيع فلا تقبل فيه شهادة الحسبة وتقبل في حد الزنا وقطع الطريق والسرقة.
Terkecuali dari perkataanku "pada hak Allah Ta'ala" adalah hak manusia, seperti qisas (qawad), had qadzaf (tuduhan zina), dan jual beli, maka kesaksian hisbah tidak diterima padanya. Namun kesaksian hisbah diterima dalam had zina, penyamunan, dan pencurian.
وتقبل من فاسق بعد توبة وهي: ندم بإقلاع وعزم أن لا يعود وخروج عن ظلامة آدمي,
Dan (kesaksian) diterima dari seorang yang fasik setelah bertobat, yaitu: penyesalan yang disertai pelepasan (diri dari dosa), tekad untuk tidak mengulanginya lagi, dan penyelesaian dari kezaliman terhadap manusia,
وتقبل الشهادة من فاسق بعد توبة حاصلة قبل الغرغرة وطلوع الشمس من مغربها وهي ندم على معصية من حيث أنها معصية لا لخوف عقاب ولو اطلع عليه أو لغرامة مال.
Dan kesaksian diterima dari orang fasik setelah tobat yang terjadi sebelum nyawa di kerongkongan (ghargharah) dan sebelum terbitnya matahari dari barat. Tobat tersebut adalah penyesalan atas kemaksiatan dari segi bahwa itu adalah kemaksiatan, bukan karena takut hukuman meskipun hal itu diketahui atau karena denda harta.
بـ شرط إقلاع عنها حالا إن كان متلبسا أو مصرا على معاودتها ومن الإقلاع رد المغصوب.
Dengan syarat melepas (meninggalkan) dosa tersebut seketika jika ia sedang melakukannya atau bersikeras untuk mengulanginya, dan di antara bentuk pelepasan tersebut adalah mengembalikan barang yang dighashab (diambil secara zalim).
وعزم أن لا يعود إليها ما عاش.
Dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi selama ia hidup.
وخروج عن ظلامة آدمي من مال أو غيره فيؤدي الزكاة لمستحقيها ويرد المغصوب إن بقي وبدله إن تلف لمستحقه ويمكن مستحق القود وحد القذف من الاستيفاء أو يبرئه منه المستحق للخبر الصحيح [البخاري رقم: ٦٥٣٤] : "من كانت لأخيه عنده مظلمة في عرض أو مال فليستحله اليوم قبل أن لا يكون دينار ولا درهم فإن كان له عمل يؤخذ منه بقدر مظلمته وإلا أخذ من سيئات صاحبه فحمل عليه" وشمل العمل الصوم كما صرح به حديث مسلم [رقم: ٢٥٨١] خلافا لمن استثناه فإذا تعذر رد الظلامة على المالك أو وارثه سلمها لقاض ثقة فإن تعذر صرفها فيما شاء من المصالح عند انقطاع خبره بنية الغرم له إذا وجده فإن أعسر عزم على الأداء إذا أيسر فإن مات قبله انقطع الطلب عنه في الآخرة إن لم يعص بالتزامه فالمرجو من فضل الله الواسع تعويض المستحق.
Dan membebaskan diri dari kezaliman terhadap manusia baik berupa harta maupun selainnya, yaitu dengan menunaikan zakat kepada yang berhak, mengembalikan barang ghashab jika masih ada atau penggantinya jika sudah rusak kepada pemiliknya, membiarkan orang yang berhak atas qisas dan had qadzaf untuk menuntut balasan atau orang yang berhak membebaskannya, berdasarkan hadis sahih [Al-Bukhari no: 6534]: "Barang siapa memiliki kezaliman terhadap saudaranya, baik pada kehormatan maupun harta, hendaklah ia meminta dihalalkan hari ini sebelum tidak ada lagi dinar dan dirham. Jika ia memiliki amal saleh, maka diambil dari amalnya sekadar kezalimannya, dan jika ia tidak memiliki amal saleh, maka diambil dari keburukan saudaranya lalu ditimpakan kepadanya." Amal ini mencakup puasa sebagaimana dijelaskan oleh hadis Muslim [no: 2581], berbeda dengan ulama yang mengecualikannya. Jika sulit mengembalikan barang kezaliman kepada pemiliknya atau ahli warisnya, ia menyerahkannya kepada hakim yang terpercaya. Jika hal itu sulit, ia menyalurkannya ke dalam kemaslahatan apa saja yang ia kehendaki ketika berita tentang pemiliknya telah terputus, dengan niat membayar ganti rugi kepadanya jika ia menemukannya. Jika ia berada dalam kesulitan ekonomi, ia bertekad untuk membayarnya jika sudah mampu. Jika ia meninggal sebelum itu, tuntutan kepadanya terputus di akhirat jika ia tidak bermaksiat dalam kewajibannya, maka yang diharapkan dari karunia Allah yang luas adalah penggantian bagi orang yang berhak tersebut.
واستبراء سنة.
Dan masa pengujian (istibra') selama satu tahun.
ويشترط أيضا في صحة التوبة عن إخراج صلاة أو صوم أو وقتهما قضاؤهما وإن كثر وعن القذف أن يقول القاذف قذفي باطل وأنا نادم عليه ولا أعود إليه وعن الغيبة أن يستحلها من المغتاب إن بلغته ولم يتعذر بموت أو غيبة طويلة وإلا كفى الندم والاستغفار له كالحاسد.
Disyaratkan pula untuk sahnya tobat dari mengeluarkan shalat atau puasa dari waktunya adalah mengada keduanya meskipun banyak; dari menuduh zina (qadzaf) hendaknya penuduh berkata: "Tuduhanku batil, aku menyesal atasnya, dan aku tidak akan mengulanginya"; dan dari ghibah (menggunjing) hendaknya ia meminta kehalalan dari orang yang digunjing jika ghibah itu sampai kepadanya dan tidak terhalang oleh kematian atau gaibnya orang tersebut dalam waktu lama, jika tidak maka cukup penyesalan dan memohonkan ampunan baginya, sebagaimana halnya orang yang dengki (hasad).
واشترط جمع متقدمون أنه لا بد في التوبة من كل معصية من الاستغفار أيضا واعتمده البلقيني.
Sekelompok ulama terdahulu menyaratkan bahwa dalam tobat dari setiap kemaksiatan harus disertai istigfar (memohon ampunan) pula, dan pandangan ini dipegang oleh Al-Bulqini.
وقال بعضهم يتوقف في التوبة في الزنا على استحلال زوج المزني بها إن لم يخف فتنة وإلا فليتضرع إلى الله تعالى في إرضائه عنه.
Sebagian ulama berkata: Tobat dari zina bergantung pada meminta kehalalan dari suami wanita yang dizinai jika tidak dikhawatirkan timbul fitnah, namun jika dikhawatirkan fitnah, hendaklah ia merendahkan diri (berdoa) kepada Allah Ta'ala agar merelakan suami tersebut darinya.
وجعل بعضهم الزنا مما ليس فيه حق آدمي فلا يحتاج فيه إلى الاستحلال والأوجه الأول.
Sebagian ulama menjadikan zina sebagai perkara yang tidak ada hak manusia di dalamnya, sehingga tidak memerlukan permintaan kehalalan; namun pendapat yang lebih kuat adalah pendapat pertama.
ويسن للزاني ككل مرتكب معصية الستر على نفسه بأن لا يظهرها ليحد أو يعزر لا أن يتحدث بها تفكها أو مجاهرة فإن هذا حرام قطعا وكذا يسن لمن أقر بشيء من ذلك الرجوع عن إقراره به.
Disunnahkan bagi pezina sebagaimana setiap pelaku kemaksiatan untuk menutupi aib dirinya dengan tidak menampakkannya agar dijatuhi had atau ta'zir, bukan membicarakannya untuk lelucon atau secara terang-terangan (mujaharah), karena hal ini haram secara pasti. Demikian pula disunnahkan bagi orang yang telah mengakui hal tersebut untuk mencabut pengakuannya.
قال شيخنا: من مات وله دين لم يستوفه ورثته يكون هو المطالب في الآخرة على الأصح.
Syaikh kami berkata: Barang siapa meninggal dunia dan ia memiliki piutang yang belum ditagih oleh ahli warisnya, maka dialah yang menuntut di akhirat menurut pendapat yang lebih sahih.
وبعد استبراء سنة من حين توبة فاسق ظهر فسقه لأنها قلبية وهو متهم لقبول شهادتهم وعود ولايته فاعتبر ذلك لتقوي دعواه وإنما
Dan setelah pengujian (istibra') selama satu tahun sejak saat tobatnya orang fasik yang kejelakannya/kefasikannya nyata, karena tobat berada di dalam hati sedangkan ia tertuduh demi diterimanya kesaksian mereka dan kembalinya perwaliannya, maka hal itu dipertimbangkan agar dakwaannya menjadi kuat; dan sesungguhnya
وشرط لشهادة بفعل كزنا إبصار وبقول كعقد هو وسمع,
Dan disyaratkan untuk kesaksian atas perbuatan seperti zina adanya penglihatan, dan atas perkataan seperti akad adanya penglihatan dan pendengaran,
قدرها الأكثرون بسنة لان الفصول الأربعة في تهييج النفوس بشواتها أثرا بينا فإذا مضت وهو على حاله أشعر بذلك بحسن سريرته.
Sebagian besar ulama mengukurnya dengan masa satu tahun, karena empat musim memiliki pengaruh yang nyata dalam membangkitkan syahwat jiwa. Maka jika satu tahun telah berlalu dan ia tetap dalam keadaannya (yang baik), hal itu menunjukkan kebaikan hatinya (keikhlasan batinnya).
وكذا لا بد في التوبة من خارم المروءة [من] الاستبراء١ كما ذكره الأصحاب.
Demikian pula, dalam bertobat dari perbuatan yang merusak kehormatan diri (kharm al-muru'ah), harus ada pembersihan diri (istibra'), sebagaimana yang disebutkan oleh para ashab (sahabat Madzhab Shafi'i).
فروع: لا يقدح في الشهادة جهله بفروض نحو الصلاة والوضوء اللذين يؤديهما.
Cabang masalah: Ketidaktahuannya tentang fardu-fardu ibadah seperti shalat dan wudhu yang dilakukannya tidak merusak kesaksiannya.
ولا توقفه في المشهود به إن عاد وجزم به فيعيد الشهادة.
Begitu pula (tidak merusak kesaksian) keraguannya tentang perkara yang disaksikan, jika ia kemudian yakin kembali dan memastikannya, maka ia mengulangi kesaksiannya.
ولا قوله لا شهادة لي في هذا إن قال نسيت أو أمكن حدوث المشهود به بعد قوله وقد اشتهرت ديانته ولا يلزم القاضي استفساره إن اشتهر ضبطه وديانته بل يسن كتفرقة الشهود وإلا لزم الاستفسار.
Dan tidak pula merusak kesaksian ucapannya, "Saya tidak memiliki kesaksian dalam hal ini," jika ia berkata "Saya lupa" atau dimungkinkan perkara yang disaksikan itu terjadi setelah ucapannya tersebut, padahal ia telah terkenal keagamaannya/keshalehannya. Hakim tidak wajib memintanya penjelasan jika ia terkenal ketelitian dan keshalehannya, melainkan disunnahkan sebagaimana memisahkan para saksi; tetapi jika tidak terkenal demikian, hakim wajib meminta penjelasan.
وشرط لشهادة بفعل كزنا وغصب ورضاع وولادة إبصار له مع فاعله فلا يكفي فيه السماع من الغير ويجوز تعمد نظر فرج الزانيين لتحمل شهادة وكذا امرأة تلد لأجلها.
Disyaratkan untuk kesaksian atas suatu perbuatan—seperti zina, ghasab, persusuan (radha'), dan kelahiran—melihat perbuatan tersebut beserta pelakunya. Oleh karena itu, tidak cukup hanya mendengar dari orang lain. Dan diperbolehkan sengaja melihat kemaluan dua orang yang berzina untuk menanggung kesaksian (tahammul asy-syahadah), begitu pula terhadap wanita yang melahirkan demi kepentingan kesaksian tersebut.
ولشهادة بقول كعقد وفسخ وإقرار هو أي إبصار وسمع لقائله
Dan untuk kesaksian atas suatu ucapan—seperti akad, pembatalan (faskh), dan pengakuan (iqrar)—yaitu penglihatan dan pendengaran terhadap penuturnya
وله بلا معارض شهادة على نسب وعتق ونكاح وملك بتسامع من جمع يؤمن كذبهم,
Seseorang boleh, tanpa adanya penentang, bersaksi atas nasab, kemerdekaan budak, pernikahan, dan kepemilikan berdasarkan berita berantai (tasamu') dari sekumpulan orang yang terjamin dari kedustaan,
حال صدوره فلا يقبل فيه أصم لا يسمع شيئا ولا أعمى في مرئي لانسداد طرق التمييز مع اشتباه الأصوات ولا يكفي سماع شاهد من وراء حجاب وإن علم صوته لان ما أمكن إدراكه بإحدى الحواس لا يجوز أن يعمل فيه بغلبة ظن لجواز اشتباه الأصوات.
pada saat terjadinya ucapan tersebut. Maka dalam hal ucapan, tidak diterima orang tuli yang tidak mendengar sama sekali, dan tidak pula orang buta dalam hal yang bersifat visual, karena tertutupnya cara membedakannya beserta adanya kesamaran suara. Tidak cukup pula pendengaran saksi dari balik tirai (hijab) meskipun ia mengenali suaranya; karena hal yang mungkin dijangkau dengan salah satu indra tidak boleh didasarkan pada prasangka kuat (ghalabat zhann), mengingat adanya kemungkinan kesamaran suara.
قال شيخنا: نعم لو علمه ببيت وحده وعلم أن الصوت ممن في البيت جاز اعتماد صوته وإن لم يره وكذا لو علم اثنين ببيت لا ثالث لهما وسمعهما يتعاقدان وعلم الموجب منهما من القابل لعلمه بمالك المبيع أو نحو ذلك فله الشهادة بما سمعه منهما انتهى.
Syaikh kita berkata: Ya, jika ia mengetahui seseorang berada di dalam rumah sendirian dan ia tahu bahwa suara itu berasal dari orang yang ada di dalam rumah, maka boleh berpegang pada suaranya meskipun tidak melihatnya. Begitu pula jika ia mengetahui ada dua orang di dalam rumah tanpa ada orang ketiga, lalu mendengar keduanya saling berakad dan mengetahui mana yang mengucapkan ijab dan mana yang kabul karena pengetahuannya tentang pemilik barang dagangan atau semacamnya, maka ia boleh bersaksi atas apa yang didengarnya dari keduanya. Selesai.
ولا يصح تحمل شهادة على منتقبة اعتمادا على صوتها كما لا يتحمل بصير في ظلمة اعتمادا عليه لاشتباه الأصوات نعم لو سمعها فتعلق بها إلى القاضي وشهد عليها جاز كالأعمى بشرط أن تكشف نقابها ليعرف القاضي صورتها.
Dan tidak sah menanggung kesaksian atas wanita bercadar dengan hanya mengandalkan suaranya, sebagaimana orang yang melihat tidak sah menanggung kesaksian dalam kegelapan dengan hanya mengandalkan suara karena adanya kesamaran suara. Namun, jika ia mendengarnya lalu memegangnya hingga membawanya ke hakim dan bersaksi atasnya, maka hal itu boleh seperti halnya orang buta, dengan syarat wanita tersebut membuka cadarnya agar hakim dapat mengenali wajahnya.
وقال جمع لا ينعقد نكاح منقبة إلا إن عرفها الشاهدان اسما ونسبا وصورة.
Sekelompok ulama berkata: Nikah wanita bercadar tidak sah kecuali jika kedua saksi mengenalnya secara nama, nasab, dan rupa (wajah).
وله أي للشخص بلا معارض شهادة على نسب ولو من أم أو قبيلة وعتق ووقف وموت ونكاح وملك بتسامع أي استفاضة من جمع يؤمن كذبهم أي تواطؤهم عليه لكثرتهم فيقع العلم أو الظن القوي بخبرهم ولا يشترط حريتهم ولا ذكورتهم ولا يكفي أن يقول
Dan bagi seseorang, tanpa adanya penentang, boleh bersaksi atas nasab—meskipun dari pihak ibu atau suku—kemerdekaan budak, wakaf, kematian, pernikahan, dan kepemilikan berdasarkan tasamu' (yaitu beritanya meluas/istifadhah) dari sekumpulan orang yang terjamin dari kedustaan mereka (maksudnya persekongkolan mereka untuk berbohong) karena jumlah mereka yang banyak, sehingga timbul keyakinan atau prasangka kuat dengan berita mereka. Tidak disyaratkan kemerdekaan mereka dan tidak pula kelaki-lakian mereka. Dan tidak cukup jika saksi hanya mengatakan:
وعلى ملك به أو بيد وتصرف تصرف ملاك مدة طويلة.
dan atas kepemilikan dengannya (tasamu') atau dengan penguasaan fisik (yad) dan tindakan hukum sebagaimana penguasaan pemilik dalam jangka waktu yang lama.
سمعت الناس يقولون كذا بل يقول أشهد أنه ابنه مثلا.
"Saya mendengar orang-orang berkata demikian," melainkan ia harus berkata, "Saya bersaksi bahwa dia adalah anaknya," misalnya.
وله الشهادة بلا معارض على ملك به أي بالتسامع ممن ذكر أو بيد وتصرف تصرف ملاك كالسكنى والبناء والبيع والرهن والإجارة مدة طويلة عرفا فلا تكفي الشهادة بمجرد اليد لأنها لا تستلزمه ولا بمجرد التصرف لأنه قد يكون بنيابة ولا تصرف بمدة قصيرة نعم إن انضم للتصرف استفاضة أن الملك له جازت الشهادة به وإن قصرت المدة ولا يكفي قول الشاهد رأيت ذلك سنين واستثنوا من ذلك الرقيق فلا تجوز الشهادة بمجرد اليد والتصرف في المدة الطويلة إلا إن انضم لذلك السماع من ذي اليد أنه له كما في الروضة للاحتياط في الحرية وكثرة استخدام الأحرار واستصحاب لما سبق من نحو إرث وشراء وإن احتمل زواله للحاجة الداعية إلى ذلك ولان الأصل بقاء الملك.
Dan baginya boleh bersaksi tanpa ada penentang atas kepemilikan dengannya—maksudnya dengan tasamu' dari orang yang telah disebutkan—atau dengan penguasaan fisik dan tindakan sebagaimana pemiliknya, seperti menempati, membangun, menjual, meragadaikan, dan menyewakan dalam jangka waktu yang lama secara urf (kebiasaan). Maka tidak cukup kesaksian hanya dengan penguasaan fisik semata karena hal itu tidak niscaya menunjukkan kepemilikan, tidak pula hanya tindakan semata karena bisa jadi dilakukan atas nama perwakilan, dan tidak pula tindakan dalam jangka waktu singkat. Ya, jika tindakan tersebut disertai dengan tersiarnya berita (istifadhah) bahwa kepemilikan itu miliknya, maka kesaksian tersebut boleh meskipun waktunya singkat. Tidak cukup ucapan saksi "Saya melihat hal itu bertahun-tahun". Mereka mengecualikan budak dari hal itu, sehingga tidak boleh bersaksi hanya dengan penguasaan fisik dan tindakan dalam jangka waktu lama kecuali jika disertai pendengaran dari pemegang bahwa budak itu miliknya, sebagaimana dalam kitab ar-Raudhah, demi berhati-hati dalam hal kemerdekaan, banyaknya mempekerjakan orang merdeka, dan memberlakukan hukum asal (istishhab) terhadap hal yang lalu seperti warisan dan pembelian meskipun ada kemungkinan hilangnya hal tersebut, karena adanya kebutuhan yang mendorong ke arah itu, dan karena hukum asalnya adalah tetapnya kepemilikan.
وشرط ابن أبي الدم في الشهادة بالتسامع أن لا يصرح بأن مستنده الاستفاضة ومثلها الاستصحاب ثم اختار وتبعه السبكي وغيره أنه إن ذكره تقوية لعلمه بأن جزم بالشهادة ثم قال مستندي الاستفاضة أو الاستصحاب سمعت شهادته وإلا كأن قال شهدت بالاستفاضة بكذا فلا خلافا للرافعي.
Ibnu Abid Dam mensyaratkan dalam kesaksian berdasarkan tasamu' agar saksi tidak menegaskan secara terang-terangan bahwa landasannya adalah istifadhah (berita meluas), begitu pula istishhab. Kemudian beliau memilih pendapat—yang diikuti oleh as-Subki dan lainnya—bahwa jika ia menyebutkannya sebagai penguat pengetahuannya, dengan cara ia memantapkan kesaksiannya lalu berkata "Landasanku adalah istifadhah atau istishhab", maka kesaksiannya didengar. Jika tidak demikian, seperti ia berkata "Saya bersaksi dengan istifadhah atas ini", maka tidak diterima kesaksiannya, berbeda dengan pendapat ar-Rafi'i.
واحترز بقولي بلا معارض عما إذا كان في النسب مثلا طعن من بعض الناس لم تجز الشهادة بالتسامع لوجود معارض.
Dan dikecualikan dengan perkataanku "tanpa adanya penentang" dari keadaan apabila dalam nasab tersebut terdapat celaan/sanggahan dari sebagian orang, maka kesaksian berdasarkan tasamu' tidak boleh karena adanya penentang.
وتقبل شهادة على شهادة في غير عقوبة لله بتعسر أداء أصل واسترعائه,
Kesaksian atas kesaksian (syahadah 'ala syahadah) diterima dalam perkara selain hukuman (had) karena hak Allah, dengan syarat adanya kesulitan bagi saksi asal untuk menyampaikan kesaksiannya dan adanya permintaan dari saksi asal untuk disaksikan kesaksiannya (istira'i).
تنبيه: يتعين على المؤدي لفظ أشهد فلا يكفي مرادفه كأعلم لأنه أبلغ في الظهور ولو عرف الشاهد السبب كالإقرار هل له أن يشهد بالاستحقاق؟ وجهان أشهرهما لا كما نقله ابن الرفعة عن ابن أبي الدم.
Peringatan: Wajib bagi saksi pengganti (mu'addi) menggunakan lafaz "asyhadu" (aku bersaksi), sehingga tidak cukup dengan sinonimnya seperti "a'lamu" (aku mengetahui), karena lafaz tersebut lebih tegas. Jika saksi mengetahui sebabnya, seperti adanya pengakuan (iqrar), apakah ia boleh bersaksi atas hak kepemilikan tersebut? Ada dua pendapat (wajah), yang paling terkenal di antaranya adalah tidak boleh, sebagaimana dikutip oleh Ibn Ar-Rif'ah dari Ibn Abid Dam.
وقال ابن الصباغ كغيره تسمع وهو مقتضى كلام الشيخين.
Ibn As-Sabbagh, seperti ulama lainnya, berkata: Kesaksian tersebut didengar (diterima), dan ini merupakan konsekuensi dari perkataan Asy-Syaikhani (An-Nawawi dan Ar-Rafi'i).
وتقبل شهادة على شهادة مقبول شهادته في غير عقوبة لله تعالى مالا كان أو غيره كعقد وفسخ وإقرار وطلاق ورجعة ورضاع وهلال رمضان ووقف على مسجد أو جهة عامة وقود وقذف بخلاف عقوبة لله تعالى كحد زنا وشرب وسرقة.
Kesaksian atas kesaksian orang yang diterima kesaksiannya itu sah/diterima dalam perkara selain hukuman (had) karena hak Allah Ta'ala, baik berupa harta maupun bukan harta, seperti akad, pembatalan (faskh), pengakuan (iqrar), talak, rujuk, persusuan (radha'), hilal Ramadan, wakaf untuk masjid atau kepentingan umum, qishash (qawad), dan tuduhan zina (qadzaf); berbeda dengan hukuman karena hak Allah Ta'ala, seperti had zina, minum khamar, dan pencurian.
وإنما يجوز التحمل بـ شروط١ تعسر أداء أصل بغيبة فوق مسافة العدوى أو خوف حبس من غريم وهو معسر أو مرض يشق معه حضوره وكذا بتعذره بموت أو جنون.
Pengambilan kesaksian (tahammul) hanya diperbolehkan dengan syarat-syarat: [1] Adanya kesulitan bagi saksi asal untuk menyampaikan kesaksiannya karena kegaibannya (ketidakhadirannya) melebihi jarak masafatul adwi (jarak pemanggilan/kebutuhan), atau takut dipenjara oleh penagih utang padahal ia dalam keadaan sulit, atau sakit yang memberatkannya untuk hadir; demikian pula jika terhalang secara mutlak karena kematian atau kegilaan.
وبـ استرعائه أي الأصل أي التماسه منه رعاية شهادته وضبطها حتى يؤديها عنه لان الشهادة على الشهادة نيابة فاعتبر فيها إذن المنوب عنه أو ما يقوم مقامه.
Dan [2] Dengan adanya istira'i dari saksi asal, yaitu permohonan darinya kepada saksi cabang untuk menjaga kesaksiannya dan mencatatnya hingga saksi cabang menyampaikannya atas namanya; karena kesaksian atas kesaksian merupakan perwakilan (niyabah), maka disyaratkan izin dari pihak yang diwakili atau hal yang menggantikan posisinya.
فيقول أنا شاهد بكذا وأشهدك على شهادتي وتبيين فرع جهة تحمل وتسميته إياه.
Maka saksi asal berkata: "Aku adalah saksi atas demikian, dan aku memintamu bersaksi atas kesaksianku." Serta [3] Saksi cabang menjelaskan cara/proses penerimaan kesaksian (tahammul) dan [4] Menyebutkan nama saksi asal tersebut.
فيقول أنا شاهد بكذا فلا يكفي أنا عالم به وأشهدك أو أشهدتك أو أشهد على شهادتي به فلو أهمل الأصل لفظ الشهادة فقال أخبرك أو أعلمك بكذا فلا يكفي كما لا يكفي ذلك في أداء الشهادة عند القاضي ولا يكفي في التحمل سماع قوله لفلان على فلان كذا أو عندي شهادة بكذا.
Maka saksi asal berkata: "Aku adalah saksi atas demikian", maka tidak cukup dengan ucapan "Aku mengetahui hal itu", dan "Aku meminta bersaksi" atau "Aku telah menjadikanmu saksi" atau "Saksikanlah atas kesaksianku ini." Jika saksi asal mengabaikan lafaz kesaksian lalu berkata: "Aku memberi tahumu" atau "Aku mengabarkanmu hal demikian", maka itu tidak cukup, sebagaimana hal itu juga tidak cukup dalam penyampaian kesaksian di hadapan hakim. Begitu pula tidak cukup dalam penerimaan kesaksian hanya sekadar mendengar perkataannya: "Si Fulan punya hak atas si Fulan demikian" atau "Aku punya kesaksian tentang demikian."
وبـ تبيين فرع عند الأداء جهة تحمل كأشهد أن فلانا شهد بكذا وأشهدني على شهادته أو سمعته يشهد به عند قاض فإذا لم يبين جهة التحمل ووثق الحاكم بعلمه لم يحب البيان فيكفي أشهد على شهادة فلان بكذا لحصول الغرض وبتسميته أي الفرع إياه أي الأصل تسمية تميزه وإن كان عدلا لتعرف عدالته فإن لم يسمه لم يكف لان الحاكم قد يعرف جرحه لو سماه.
Dan dengan [3] Penjelasan saksi cabang saat penyampaian kesaksian mengenai cara penerimaan kesaksiannya, seperti perkataannya: "Aku bersaksi bahwa si Fulan telah bersaksi demikian dan ia telah memintaku bersaksi atas kesaksiannya," atau "Aku mendengarnya bersaksi tentang hal itu di hadapan hakim." Apabila ia tidak menjelaskan cara penerimaannya namun hakim percaya akan pengetahuannya, maka penjelasan tersebut tidak wajib, sehingga cukup dengan ucapan "Aku bersaksi atas kesaksian si Fulan tentang hal ini" karena tujuan telah tercapai. Dan [4] Dengan penyebutan nama saksi asal oleh saksi cabang dengan penyebutan yang membedakannya meskipun saksi asal itu adil, agar sifat keadilannya diketahui. Jika saksi cabang tidak menyebutkan namanya, maka tidak cukup, karena hakim mungkin mengetahui ketidakadilannya (jarh) jika ia menyebutkan namanya.
وفي وجوب تسمية قاض شهد عليه وجهان وصوب الأذرعي الوجوب في هذه الأزمنة لما غلب على القضاة من الجهل والفسق ولو حدث بالأصل عداوة أو فسق لم يشهد الفرع فلو زالت هذه الموانع احتيج إلى تحمل جديد.
Mengenai kewajiban menyebutkan nama hakim yang disaksikan atasnya ada dua pendapat (wajah), dan Al-Adzra'i membenarkan kewajiban tersebut pada zaman sekarang karena dominannya kebodohan dan kefasikan pada para hakim. Jika pada saksi asal timbul permusuhan atau kefasikan, maka saksi cabang tidak boleh bersaksi. Apabila penghalang-penghalang ini hilang, maka diperlukan pengambilan kesaksian (tahammul) yang baru.
فرع: لا يصح تحمل النسوة ولو على مثلهن في نحو ولادة لان الشهادة مما يطلع عليه الرجال غالبا.
Cabang masalah: Tidak sah pengambilan kesaksian (tahammul) oleh kaum wanita, meskipun atas sesama wanita dalam perkara seperti kelahiran, karena kesaksian pada umumnya termasuk perkara yang dapat diketahui oleh laki-laki.
ويكفي فرعان لأصلين.
Cukup dua saksi cabang untuk dua saksi asal.
ويكفي فرعان لأصلين أي لكل منهما فلا يشترط لكل منهما فرعان ولا تكفي شهادة واحد على هذا وواحد على آخر ولا واحد على واحد في هلال رمضان.
Dan cukup dua saksi cabang untuk dua saksi asal, yaitu bagi masing-masing dari keduanya. Maka tidak disyaratkan dua saksi cabang untuk setiap satu saksi asal. Tidak cukup pula kesaksian satu saksi cabang atas saksi asal ini dan satu saksi cabang atas saksi asal lainnya, tidak cukup pula satu saksi cabang atas satu saksi asal dalam hal hilal Ramadan.
فرع [في رجوع الشهود عن شهادتهم] : لو رجعوا عن الشهادة قبل الحكم منع الحكم أو بعده لم ينقض ولو شهدوا بطلاق بائن أو رضاع محرم وفرق القاضي بين الزوجين فرجعوا عن شهادتهم دام الفراق لان قولهما في الرجوع محتمل والقضاء لا يرد بمحتمل.
Cabang masalah [tentang pencabutan kesaksian oleh para saksi]: Jika para saksi mencabut kesaksiannya sebelum keputusan hukum dijatuhkan, maka hal itu menghalangi penjatuhan hukum; atau jika setelahnya, maka keputusan hukum tidak dibatalkan. Sekiranya mereka bersaksi tentang talak ba'in atau persusuan yang mengharamkan lalu hakim memisahkan pasangan suami istri tersebut, kemudian para saksi mencabut kesaksian mereka, maka perpisahan tersebut tetap berlaku, karena ucapan mereka dalam pencabutan tersebut mengandung kemungkinan (muhtamal), sedangkan keputusan hukum tidak dapat dibatalkan dengan hal yang masih muhtamal.
ويجب على الشهود حيث لم يصدقهم الزوج مهر مثل ولو قبل وطئ أو بعد إبراء الزوجة زوجها عن المهر لأنه بدل البضع الذي فوتوه عليه بالشهادة إلا أن ثبت أن لا نكاح بينهما بنحو رضاع فلا غرم إذ لم يفوتوا شيئا.
Dan wajib bagi para saksi—sekiranya suami tidak membenarkan mereka—untuk membayar mahar mitsil, meskipun sebelum terjadi persetubuhan (wathi) atau setelah istri membebaskan suaminya dari mahar; karena mahar mitsil tersebut adalah pengganti kemaluan yang telah mereka hilangkan dari suami akibat kesaksian tersebut, kecuali jika terbukti bahwa memang tidak ada pernikahan di antara keduanya karena faktor seperti persusuan, maka tidak ada ganti rugi (gharamah) karena mereka tidak menghilangkan apa pun.
ولو رجع شهود مال غرموا للمحكوم عليه البدل بعد غرمه لا قبله وإن قالوا أخطأنا موزعا عليهم بالسوية.
Dan jika para saksi dalam perkara harta mencabut kesaksiannya, mereka wajib membayar ganti rugi berupa pengganti (badal) kepada pihak yang dihukumi kerugian setelah ia mengalami kerugian tersebut, bukan sebelumnya, meskipun para saksi berkata "Kami telah keliru", dengan ditanggung secara merata di antara mereka.
تتمة: قال شيخ مشايخنا زكريا كالغزي في تلفيق الشهادة لو شهد واحد بإقراره بأنه وكله في كذا وآخر بأنه أذن له في التصرف فيه أو فوضه إليه لفقت الشهادتان لان النقل بالمعنى كالنقل باللفظ وبخلاف ما لو شهد
Pelengkap: Guru dari guru-guru kami, Zakariyya (Al-Anshari), sebagaimana Al-Ghazzi, berkata mengenai penggabungan (talfiq) kesaksian: Jika salah satu saksi bersaksi atas pengakuannya bahwa ia telah mewakilankannya dalam perkara ini, dan saksi lainnya bersaksi bahwa ia telah mengizinkannya bertindak (tasarruf) padanya atau menyerahkannya kepadanya, maka kedua kesaksian tersebut dapat digabungkan; karena penyampaian secara makna seperti penyampaian secara lafaz. Berbeda halnya jika bersaksi…
واحد بأنه قال وكلتك في كذا وآخر قال بأنه قال:
Satu saksi bersaksi bahwa ia berkata: "Aku mewakilkan kepadamu dalam hal ini," dan saksi lainnya bersaksi bahwa ia berkata:
٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠
……………………………
فوضته إليك أو شهد واحد باستيفاء الدين والآخر بالإبراء منه فلا يلفقان انتهى.
"Aku menyerahkannya kepadamu", atau satu saksi bersaksi tentang pelunasan utang dan saksi lainnya bersaksi tentang pembebasan darinya, maka kedua kesaksian tersebut tidak dapat digabungkan. Selesai.
قال شيخ مشايخنا أحمد المزجد: لو شهد واحد ببيع والآخر بإقرار به أو واحد بملك ما ادعاه وآخر بإقرار الداخل به لم تلفق شهادتهما فلو رجع أحدهما وشهد كالآخر قبل لأنه يجوز أن يحضر الأمرين.
Syaikh dari para guru kami, Ahmad Al-Muzjadd, berkata: Jika satu saksi bersaksi atas jual beli dan saksi lainnya bersaksi atas pengakuan (iqrar) jual beli tersebut, atau satu saksi bersaksi atas kepemilikan barang yang didakwakan dan saksi lainnya bersaksi atas pengakuan pihak yang menguasai barang tersebut, maka kesaksian keduanya tidak dapat digabungkan. Namun jika salah satu dari mereka mencabut kesaksiannya lalu bersaksi seperti saksi lainnya, maka kesaksiannya diterima karena ia mungkin saja menyaksikan kedua peristiwa tersebut.
ومن ادعى ألفين وأطلق فشهد له واحد وأطلق وآخر أنه من قرض ثبت أو فشهد له واحد بألف ثمن مبيع وآخر بألف قرضا لم تلفق وله الحلف مع كل منهما ولو شهد واحد بالإقرار وآخر بالاستفاضة حيث تقبل لفقا انتهى.
Barangsiapa mendakwa piutang dua ribu secara mutlak, lalu satu saksi bersaksi secara mutlak dan saksi lain bersaksi bahwa itu berasal dari pinjaman (qardh), maka dakwaan tersebut terbukti. Namun jika satu saksi bersaksi atas satu ribu sebagai harga barang yang dijual dan saksi lainnya bersaksi atas satu ribu sebagai pinjaman, maka keduanya tidak dapat digabungkan, dan penggugat berhak bersumpah bersama masing-masing saksi. Apabila satu saksi bersaksi atas pengakuan dan saksi lainnya atas ketenaran kabar (istifadhah) dalam hal yang menerima kesaksian istifadhah, maka keduanya dapat digabungkan. Selesai.
وسئل الشيخ عطية المكي نفعنا الله به عن رجلين سمع أحدهما تطليق شخص ثلاثا والآخر الإقرار به فهل يلفقان أو لا فأجاب بأنه يجب على سامعي الطلاق والإقرار به أن يشهدا عليه بالطلاق الثلاث بتا ولا يتعرضا لإنشاء ولا إقرار وليس هذا من تلفيق الشهادة من كل وجه بل صورة إنشاء الطلاق والإقرار به واحدة في الجملة والحكم يثبت بذلك كيف كان وللقاضي بل عليه سماعها انتهى.
Syaikh Athiyyah Al-Makki—semoga Allah memberi kita manfaat melalui beliau—ditanya tentang dua orang pria yang mana salah satunya mendengar seseorang menjatuhkan talak tiga dan yang lainnya mendengar pengakuannya, apakah keduanya dapat digabungkan atau tidak? Beliau menjawab bahwa wajib bagi pendengar talak dan pendengar pengakuannya untuk bersaksi atas penjatuhan talak tiga secara pasti tanpa perlu membedakan antara penjatuhan (insya') atau pengakuan (iqrar). Ini bukan termasuk penggabungan kesaksian dari segala sisi, melainkan bentuk penjatuhan talak dan pengakuannya secara garis besar adalah sama, serta hukum tetap berlaku dengan hal tersebut bagaimana pun keadaannya. Hakim berhak, bahkan wajib, mendengarkan kesaksian tersebut. Selesai.
خاتمة في الأيمان
Penutup tentang Sumpah
لا ينعقد اليمن إلا باسم خاص بالله تعالى أو صفة من صفاته: كوالله والرحمن والإله ورب العالمين
Sumpah tidak dianggap sah kecuali dengan menggunakan nama khusus milik Allah Ta'ala atau salah satu sifat-Nya, seperti: Wallahi (demi Allah), Ar-Rahman, Al-Ilah, dan Rabbil 'Alamin,
وخالق الخلق ولو قال وكلام الله,
dan Khaliqil Khalq (Pencipta makhluk). Dan jika ia berkata: "Demi Kalam Allah",
٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠
……………………………
أو وكتاب الله أو وقرآن الله أو والتوراة أو والإنجيل فيمين وكذا والمصحف إن لم ينو بالمصحف الورق والجلد وإن قال وربي وكان عرفهم تسمية السيد ربا فكناية وإلا فيمين ظاهرا إن لم يرد غير الله.
atau "Demi Kitabullah", atau "Demi Quran Allah", atau "Demi Taurat", atau "Demi Injil", maka itu adalah sumpah. Demikian pula "Demi Mushaf", jika ia tidak bermaksud menyebut kertas dan jilidnya. Jika ia berkata "Demi Tuhanku" sementara dalam tradisi ('urf) mereka kata 'rabb' biasa digunakan untuk menyebut tuan/pemilik, maka itu menjadi kiasan (kinayah); jika tidak, maka secara lahiriah itu adalah sumpah selama ia tidak menghendaki selain Allah.
ولا ينعقد بمخلوق كالنبي والكعبة للنهي الصحيح عن الحلف بالآباء وللأمر بالحلف بالله.
Sumpah tidak sah jika menggunakan nama makhluk seperti Nabi dan Ka'bah, berdasarkan larangan yang sahih bersumpah atas nama nenek moyang dan adanya perintah untuk bersumpah hanya dengan nama Allah.
وروى الحاكم [مستدرك الحاكم ١/١٨, ٥٢, ٤/٢٩٧] خبرا: "من حلف بغير الله فقد كفر" وحملوه على ما إذا قصد تعظيمه كتعظيم الله تعالى فإن لم يقصد ذلك أثم عند أكثر العلماء أي تبعا لنص الشافعي الصريح فيه كذا قاله بعض شراح المنهاج والذي في شرح مسلم [الحديث رقم: ١٦٤٦] عن أكثر الأصحاب الكراهة وهو المعتد وإن كان الدليل ظاهرا في الإثم.
Al-Hakim meriwayatkan sebuah hadis: "Barangsiapa bersumpah dengan selain Allah, maka ia telah kafir." Para ulama memaknai hadis ini apabila seseorang bermaksud mengagungkan makhluk tersebut sebagaimana mengagungkan Allah Ta'ala. Jika ia tidak bermaksud demikian, maka ia berdosa menurut mayoritas ulama, yaitu mengikut pada penegasan eksplisit Imam Asy-Syafi'i dalam hal tersebut, sebagaimana disampaikan sebagian pensyarah Al-Minhaj. Namun pendapat yang terdapat dalam Syarh Muslim dari mayoritas Ashab adalah hukum makruh, dan itulah pendapat yang dijadikan pegangan meskipun dalil secara lahiriah menunjukkan dosa.
قال بعضهم وهو الذي ينبغي العمل به في غالب الأعصار لقصد غالبهم به إعظام المخلوق به ومضاهاته لله تعالى الله عن ذلك علوا كبيرا.
Sebagian ulama berkata: Pendapat (yang mengharamkan/berdosa) itulah yang sepatutnya diamalkan pada kebanyakan zaman, karena niat mayoritas orang saat bersumpah dengannya adalah untuk mengagungkan makhluk tersebut dan menyamakannya dengan Allah Ta'ala—Maha Suci Allah dari hal itu dengan keagungan yang mahabesar.
وإذا حلف بما ينعقد به اليمين ثم قال لم أرد به اليمين لم يقبل ولو قال بعد يمينه إن شاء الله وقصد اللفظ والاستثناء قبل فراغ اليمين واتصل الاستثناء بها لم تنعقد اليمين فلا حنث ولا كفارة وإن لم يتلفظ بالاستثناء بل نواه لم يندفع الحنث ولا الكفارة ظاهرا بل يدين.
Apabila seseorang bersumpah dengan lafal yang menjadikan sumpah itu sah lalu ia berkata: "Aku tidak bermaksud bersumpah," maka ucapannya tidak dapat diterima. Jika ia berkata setelah sumpahnya: "Insya Allah" dengan maksud mengucapkan pengecualian (istitsna') sebelum selesai bersumpah dan pengecualian itu bersambung langsung dengan lafal sumpahnya, maka sumpahnya tidak terikat sehingga tidak ada pelanggaran sumpah (hinats) dan tidak ada kafarat. Namun jika ia tidak mengucapkan pengecualian tersebut melainkan hanya berniat dalam hati, maka pelanggaran sumpah dan kewajiban kafarat tidak gugur secara lahiriah (hukum pengadilan), melainkan dikembalikan pada urusan agamanya (antara dia dan Allah).
٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠
……………………………
ولو قال لغيره أقسمت عليك بالله أو أسألك بالله لتفعلن كذا وأراد يمين نفسه فيمين ومتى لم يقصد يمين نفسه بل الشفاعة أو يمين المخاطب أو أطلق فلا تنعقد لأنه لم يحلف هو ولا المخاطب.
Jika seseorang berkata kepada orang lain: "Aku memohon kepadamu demi Allah" atau "Aku meminta kepadamu demi Allah agar engkau melakukan demikian", dan ia bermaksud menjadikan ucapan itu sebagai sumpah atas dirinya sendiri, maka itu adalah sumpah. Namun apabila ia tidak bermaksud menjadikan sumpah atas dirinya melainkan sebagai permohonan pertolongan (syafa'at) atau meminta orang lain bersumpah, atau ia mengucapkannya secara mutlak, maka sumpah itu tidak sah karena baik dirinya maupun orang yang diajak bicara tidak melakukan sumpah.
ويكره رد السائل بالله تعالى أو بوجهه في غير المكروه وكذا السؤال بذلك.
Dimakruhkan menolak orang yang meminta dengan menyebut nama Allah Ta'ala atau dengan wajah-Nya dalam hal yang tidak dimakruhkan, demikian pula dimakruhkan meminta dengan menyebut hal tersebut.
ولو قال إن فعلت كذا فأنا يهودي أو نصراني فليس بيمين لانتفاء اسم الله أو صفته ولا كفارة وإن حنث نعم يحرم ذلك كغيره ولا يكفر بل إن قصد تبعيد نفسه عن المحلوف أو أطلق حرم١ ويلزمه التوبة فإن علق أو أراد الرضا بذلك إن فعل كفر حالا وحيث لم يكفر سن له أن يستغفر الله تعالى ويقول لا إله إلا الله محمد رسول الله وأوجب صاحب الاستقصاء ذلك.
Seandainya seseorang berkata, "Jika aku melakukan begini maka aku seorang Yahudi atau Nasrani," maka itu bukanlah sumpah karena tidak adanya nama Allah atau sifat-Nya, dan tidak ada kafarat sekalipun ia melanggarnya. Ya, hal itu diharamkan seperti halnya larangan lainnya, dan ia tidak menjadi kafir; melainkan jika ia bermaksud menjauhkan dirinya dari hal yang disumpahkan atau ia meluncurkan ucapan itu begitu saja, hukumnya haram dan ia wajib bertobat. Namun jika ia menggantungkan kekafiran atau menghendaki keridaan atas kekafiran jika melakukannya, maka ia menjadi kafir seketika. Sekiranya ia tidak menjadi kafir, disunnahkan baginya untuk memohon ampun kepada Allah Ta'ala dan mengucapkan "Laa ilaaha illallaah Muhammadur Rasulullah", dan penyusun kitab Al-Istiqsha' mewajibkan hal tersebut.
ومن سبق لسانه إلى لفظ اليمين بلا قصد كلا والله وبلا والله في نحو غضب أو صلة كلام لم ينعقد.
Barang siapa yang lidahnya terlanjur mengucapkan lafaz sumpah tanpa niat, seperti "Tidak, demi Allah" dan "Ya, demi Allah" dalam keadaan marah atau sekadar penyambung kata, maka sumpahnya tidak sah.
والحلف مكروه إلا في بيعة الجهاد والحث على الخير والصادق في الدعوى.
Bersumpah itu hukumnya makruh kecuali dalam baiat jihad, dorongan untuk kebaikan, dan orang yang benar dalam gugatannya.
ولو حلف في ترك واجب أو فعل حرام عصى ولزمه حنث
Jika seseorang bersumpah untuk meninggalkan kewajiban atau melakukan keharaman, maka ia telah bermaksiat dan wajib melanggarnya
٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠
…
وكفارة أو ترك مستحب أو فعل مكروه سن حنثه وعليه كفارة أو على ترك مباح أو فعله كدخول دار وأكل طعام كلا آكله أنا فالأفضل ترك الحنث إبقاء لتعظيم الاسم.
serta wajib membayar kafarat. Atau jika bersumpah untuk meninggalkan hal yang sunnah atau melakukan hal yang makruh, maka disunnahkan baginya melanggar sumpah itu dan wajib membayar kafarat. Atau jika bersumpah atas meninggalkan hal yang mubah atau melakukannya, seperti memasuki rumah atau memakan makanan seperti "Aku tidak akan memakannya", maka yang lebih utama adalah tidak melanggar sumpah demi menjaga pengagungan terhadap nama Allah.
فرع: يسن تغليظ يمين من المدعي والمدعى عليه وإن لم يطلبه الخصم في نكاح وطلاق ورجعة وعتق
Cabang masalah: Disunnahkan memperberat (taghlizh) sumpah penggugat dan tergugat meskipun lawan tidak memintanya, dalam kasus nikah, talak, rujuk, pemerdekaan budak,
ووكالة وفي مال بلغ عشرين دينارا١ لا فيما دون ذلك لأنه حقير في نظر الشرع نعم لو رآه الحاكم لنحو جراءة الحالف فعله والتغليظ يكون بالزمان وهو بعد العصر وعصر الجمعة أولى وبالمكان وهو للمسلمين عند المنبر وصعودهما عليه أولى وبزيادة الأسماء والصفات.
perwakilan (wakalah), serta dalam harta yang mencapai dua puluh dinar, bukan pada jumlah yang kurang dari itu karena dinilai kecil dalam pandangan syariat. Ya, seandainya hakim memandangnya perlu karena misalnya keberanian orang yang bersumpah untuk berbohong, maka hakim boleh melakukannya. Penguatan sumpah ini dilakukan dengan waktu, yaitu setelah ashar—dan ashar hari Jumat lebih utama—, dengan tempat, yaitu bagi umat Islam di dekat mimbar—dan menaiki mimbar lebih utama—, serta dengan penambahan nama-nama dan sifat-sifat Allah.
ويسن أن يقرأ على الحالف آية آل عمران: ﴿إِنَّ الَّذِينَ يَشْتَرُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَأَيْمَانِهِمْ ثَمَناً قَلِيلاً﴾ [٣ سورة آل عمران الآية: ٧٧] وأن يوضع المصحف في حجره ولو اقتصر على قوله والله كفى.
Dan disunnahkan untuk membacakan kepada orang yang bersumpah ayat dari surah Ali 'Imran: "Sesungguhnya orang-orang yang memperjualbelikan janji Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang murah…" [Surah Ali 'Imran: 77], serta meletakkan mushaf di pangkuannya. Namun seandainya ia mencukupkan dengan ucapannya "Wallahi" (Demi Allah), maka itu sudah cukup.
ويعتبر في الحلف نية الحاكم المستحلف فلا يدفع إثم اليمين الفاجرة بنحو تورية كاستثناء لا يسمعه الحاكم إن لم يظلمه خصمه كما بحثه البلقيني أما من ظلمه خصمه في نفس الأمر كأن ادعى على معسر فيحلف لا تستحق علي شيئا أي تسليمه الآن فتنفعه
Dan dalam sumpah, yang diperhitungkan adalah niat hakim yang meminta sumpah. Maka dosa sumpah palsu tidak dapat dihindarkan dengan cara tauriyah (pengalihan makna), seperti pengecualian (istisna') yang tidak didengar oleh hakim, jika lawannya tidak menzaliminya sebagaimana dibahas oleh Al-Bulqini. Adapun orang yang dizalimi oleh lawannya dalam kenyataan sebenarnya, seperti seorang yang tidak mampu digugat, lalu ia bersumpah "Engkau tidak berhak menuntut apa pun dariku" dengan maksud "penyerahannya sekarang", maka hal itu bermanfaat baginya
٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠
…
التورية والتأويل لان خصمه ظالم إن علم أو مخطئ إن جهل فلو حلف إنسان ابتداء أو حلفه غير الحاكم اعتبر نية الحالف ونفعته التورية وإن كانت حراما حيث يبطل بها حق المستحق.
yaitu tauriyah dan penakwilan tersebut, karena lawannya adalah orang yang zalim jika ia tahu atau keliru jika ia tidak tahu. Seandainya seseorang bersumpah atas inisiatif sendiri atau diminta bersumpah oleh selain hakim, maka yang diperhitungkan adalah niat orang yang bersumpah, dan tauriyah itu bermanfaat baginya meskipun hukumnya haram apabila dengan itu hak orang yang berhak menjadi batal.
واليمين يقطع الخصومة حالا لا الحق فلا تبرأ ذمته إن كان كاذبا فلو حلفه ثم أقام بينة بما ادعاه حكم بها كما لو أقر الخصم بعد حلفه والنكول أن يقول أنا ناكل أو يقول له القاضي احلف فيقول لا أحلف.
Sumpah itu memutus perselisihan seketika, bukan memutus hak yang sebenarnya, sehingga tanggung jawabnya tidak bebas jika ia berdusta. Maka seandainya ia menyumpahinya kemudian ia mengajukan bukti atas apa yang digugatnya, hakim akan memutuskan berdasarkan bukti tersebut, sebagaimana jika lawan mengakui tuduhan setelah bersumpah. Sedangkan nukul (menolak bersumpah) adalah ia mengatakan "Aku menolak bersumpah" atau hakim berkata kepadanya "Bersumpahlah," lalu ia menjawab "Aku tidak mau bersumpah."
واليمين المردودة وهي يمين المدعي بعد النكول كإقرار المدعى عليه لا كالبينة فلو أقام المدعى عليه بعدها بينة بأداء أو إبراء لم تسمع لتكذيبه لها بإقراره.
Sumpah yang dikembalikan (al-yamin al-mardudah)—yaitu sumpah penggugat setelah tergugat menolak bersumpah—kedudukannya seperti pengakuan (iqrar) tergugat, bukan seperti bukti (bayyinah). Oleh karena itu, jika tergugat setelah itu mengajukan bukti tentang pemenuhan pembayaran atau pembebasan utang, buktinya tidak didengar karena ia telah mendustakannya dengan pengakuannya sendiri.
وقال الشيخان في محل تسمع وصحح الأسنوي الأول والبلقيني الثاني وقال شيخنا والمتجه الأول.
Dua Syaikh (Al-Nawawi dan Al-Rafi'i) berkata di tempat lain bahwa bukti tersebut didengar. Al-Asnawi membenarkan pendapat pertama dan Al-Bulqini membenarkan pendapat kedua, sedangkan Guru kami berkata: Yang kuat adalah pendapat pertama.
فرع [في بيان صفة كفارة اليمين] : يتخير في كفارة اليمين بين عتق رقبة كاملة مؤمنة بلا عيب يخل بالعمل أو الكسب ولو نحو غائب علمت حياته أو إطعام عشرة مساكين كل مسكين مد١ حب من غالب قوت البلد أو كسوتهم بما يسمى كسوة كقميص أو إزار أو مقنعة أو منديل يحمل في اليد أو الكم لا خف فإن عجز عن الثلاثة لزمه صوم ثلاثة أيام ولا يجب تتابعها خلافا لكثيرين.
Cabang masalah [tentang penjelasan bentuk kafarat sumpah]: Seseorang diberi pilihan dalam kafarat sumpah antara memerdekakan seorang budak beriman yang sempurna tanpa cacat yang mengganggu kerja atau mata pencaharian, meskipun misalnya budak yang tidak ada di tempat yang diketahui masih hidup; atau memberi makan sepuluh orang miskin, masing-masing miskin satu mud biji-bijian dari makanan pokok daerah setempat; atau memberi mereka pakaian dengan barang yang biasa disebut pakaian seperti gamis, kain sarung, kerudung, atau sapu tangan yang dibawa di tangan atau lengan baju, bukan sepatu khuf. Jika ia tidak mampu melakukan ketiga pilihan tersebut, maka ia wajib berpuasa tiga hari, dan tidak diwajibkan berturut-turut, berbeda dengan pendapat banyak ulama.