كتاب أسرار الصلاة ومهماتها

الباب السادس في مسائل متفرقة تعم بها البلوى ويحتاج المريد إلى معرفتها

الباب السادس في مسائل متفرقة تعم بها البلوى ويحتاج المريد إلى معرفتها

Beranda كتاب إحياء علوم الدين ربع العبادات كتاب أسرار الصلاة ومهماتها الباب السادس في مسائل متفرقة تعم بها البلوى ويحتاج المريد إلى معرفتها

الباب السادس في مسائل متفرقة تعم بها البلوى ويحتاج المريد إلى معرفتها

Bab Keenam: Mengenai Berbagai Masalah Terpisah yang Sering Terjadi (Umum Menimpa Masyarakat) dan Perlu Diketahui oleh Seorang Murid (Salik).

فأما المسائل التي تقع نادرة فقد استقصيناها في كتب الفقه

Adapun masalah-masalah yang jarang terjadi, sungguh telah kami uraikan secara mendalam dalam kitab-kitab Fiqih.

مَسْأَلَةٌ الْفِعْلُ الْقَلِيلُ وَإِنْ كَانَ لَا يُبْطِلُ الصَّلَاةَ فَهُوَ مَكْرُوهٌ إِلَّا لِحَاجَةٍ وَذَلِكَ فِي دفع المار وقتل العقرب التي تخاف ويمكن قتلها بضربة أو ضربتين فإذا صارت ثلاثة فقد كثرت وبطلت الصلاة وكذلك القملة والبرغوث مهما تأذى بهما كان له دفعهما وكذلك حاجته إلى الحك الذي يشوش عليه الخشوع

Masalah: Gerakan yang sedikit, meskipun tidak membatalkan shalat, hukumnya makruh kecuali karena ada hajat (kebutuhan). Hal itu seperti mencegah orang yang hendak melintas di depan orang yang shalat dan membunuh kalajengking yang ditakuti serta memungkinkan untuk dibunuh dengan satu atau dua pukulan. Apabila gerakan mencapai tiga kali berturut-turut, maka terhitung banyak dan membatalkan shalat. Demikian pula kutu kepala dan pinjal, selama mengganggu, ia boleh menyingkirkannya. Begitu pula kebutuhannya untuk menggaruk yang dapat mengganggu kekhusyukannya.

كان معاذ يأخذ القملة والبرغوث في الصلاة

Sahabat Mu'adz pernah mengambil kutu kepala dan pinjal saat sedang shalat.

وابن عمر كان يقتل القملة في الصلاة حتى يظهر الدم على يده

Dan Ibnu Umar pernah membunuh kutu kepala di dalam shalat hingga berbekas darah di tangannya.

وقال النخعي يأخذها ويوهنها ولا شيء عليه إن قتلها

An-Nakha'i berkata, "Ia boleh mengambil dan melemahkannya, dan tidak ada dosa baginya jika ia membunuhnya."

وقال ابن المسيب يأخذها ويخدرها ثم يطرحها

Ibnu al-Musayyib berkata, "Ia boleh mengambilnya, membuatnya lemas, lalu membuangnya."

وقال مجاهد الأحب إلى أن يدعها إلا أن تؤذيه فتشغله عن صلاته فيوهنها قدر ما لا تؤذي ثم يلقيها

Mujahid berkata, "Yang paling aku sukai adalah ia membiarkannya, kecuali jika kutu itu mengganggunya sehingga mengalihkan perhatian dari shalatnya. Dalam keadaan demikian, ia boleh melemahkannya sekadar agar tidak lagi mengganggu, lalu membuangnya."

وهذه رخصة وإلا فالكمال الاحتراز عن الفعل وإن قل

Dan ini merupakan suatu keringanan (rukhshah); jika tidak demikian, maka kesempurnaan (dalam shalat) adalah menghindarkan diri dari melakukan gerakan sekecil apa pun.

ولذلك كان بعضهم لا يطرد الذباب وقال لا أعود نفسي ذلك فأفسد على صلاتي

Oleh karena itu, sebagian ulama tidak mengusir lalat dan berkata, "Aku tidak ingin membiasakan diriku dengan hal itu sehingga dapat merusak shalatku."

وقد سمعت أن الفساق بين يدي

Dan aku telah mendengar bahwa orang-orang fasik ketika berada di hadapan…

الملوك يصبرون على أذى كثير ولا يتحركون

…para raja, mereka sanggup bersabar menghadapi banyak gangguan dan tidak bergerak.

وَمَهْمَا تَثَاءَبَ فَلَا بَأْسَ أَنْ يَضَعَ يَدَهُ على فيه وهو الأولى

Dan apabila seseorang menguap, maka tidak mengapa baginya meletakkan tangan di atas mulutnya, dan hal itu adalah yang lebih utama.

وَإِنْ عَطَسَ حَمِدَ اللَّهَ ﷿ فِي نفسه ولا يُحَرِّكْ لِسَانَهُ

Apabila ia bersin, hendaklah ia memuji Allah Azza wa Jalla di dalam hatinya tanpa menggerakkan lidahnya.

وَإِنْ تَجَشَّأَ فَيَنْبَغِي أَنْ لَا يرفع رأسه إلى السماء وإن سقط رداؤه فلا ينبغي أن يسويه وكذلك أطراف عمامته فكل ذلك مكروه إلا لضرورة

Jika ia bersendawa, hendaknya ia tidak mengangkat kepalanya ke langit. Apabila selendangnya jatuh, hendaknya ia tidak merapikannya, demikian pula dengan ujung serbannya; sebab semua itu makruh hukumnya kecuali karena ada hajat yang mendesak (darurat).

مسألة الصلاة في النعلين جائزة وإن كان نزع النعلين سهلاً وليست الرخصة في الخف لعسر النزع بل هذه النجاسة معفو عنها

Masalah: Shalat dengan mengenakan kedua alas kaki (sandal atau sepatu) adalah boleh meskipun melepasnya mudah. Keringanan (rukhshah) pada sepatu (khuff) bukanlah karena sulitnya melepasnya, melainkan karena najis semacam ini termasuk yang dimaafkan (ma'fu 'anhu).

وفي معناها المداس صلى رسول الله ﷺ في نعليه ثم نزع فنزع الناس نعالهم فقال لم خلعتم نعالكم قالوا رأيناك خلعت فخلعنا قال ﷺ أن جبرائيل ﵇ أتاني فأخبرني أن بهما خبثاً فإذا أراد أحدكم المسجد فليقلب نعليه ولينظر فيهما فإن رأى خبثاً فليمسحه بالأرض وليصل فيهما وقال بعضهم الصلاة في النعلين أفضل لأنه ﷺ قال لم خلعتم نعالكم وهذه مبالغة فإنه ﷺ سألهم ليبين لهم سبب خلعه إذ علم أنهم خلعوا على موافقته

Termasuk dalam maknanya adalah sepatu kulit (madas). Rasulullah ﷺ pernah shalat dengan mengenakan kedua alas kakinya, kemudian beliau melepasnya, maka orang-orang pun ikut melepas alas kaki mereka. Beliau bersabda, "Mengapa kalian melepas alas kaki kalian?" Mereka menjawab, "Kami melihat engkau melepasnya, maka kami pun melepasnya." Beliau ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Jibril 'Alaihissalam telah datang kepadaku dan memberitahukan bahwa pada keduanya terdapat kotoran (najis). Apabila salah seorang dari kalian hendak menuju masjid, hendaklah ia membalikkan kedua alas kakinya dan memeriksanya. Jika ia melihat kotoran, hendaklah ia mengusapkannya ke tanah dan shalat dengan mengenakannya." Sebagian ulama berpendapat bahwa shalat dengan mengenakan kedua alas kaki itu lebih utama karena sabda beliau ﷺ, "Mengapa kalian melepas alas kaki kalian?" Namun pendapat ini berlebihan (mubalaghah), sebab beliau ﷺ menanyakan hal itu untuk menjelaskan alasan beliau melepasnya, ketika beliau mengetahui bahwa mereka melepasnya semata-mata karena mengikuti beliau.

وقد روى عبد الله بن السائب أن النبي ﷺ خلع نعليه فإذن قد فعل كليهما فمن خلع فلا ينبغي أن يضعهما عن يمينه ويساره فيضيق الموضع ويقطع الصف بل يضعهما بين يديه ولا يتركهما وراءه فيكون قلبه ملتفتاً إليهما

Diriwayatkan dari Abdullah bin As-Sa'ib bahwa Nabi ﷺ pernah melepas kedua alas kakinya. Dengan demikian, beliau telah melakukan kedua-duanya. Maka barang siapa yang melepas alas kakinya, hendaknya ia tidak meletakkannya di sebelah kanan maupun kirinya sehingga menyempitkan tempat dan memutus shaf, melainkan meletakkannya di hadapannya dan tidak meninggalkannya di belakangnya agar hatinya tidak berpaling (terdistraksi) kepadanya.

ولعل من رأى الصلاة فيهما أفضل راعي هذا المعنى وهو التفات القلب إليهما

Mungkin ulama yang berpendapat bahwa shalat dengan mengenakan alas kaki itu lebih utama memperhatikan makna ini, yaitu berpalingnya (terdistraksinya) hati kepada kedua alas kaki tersebut.

روى أبو هريرة ﵁ أن النبي ﷺ قال إذا صلى أحدكم فليجعل نعليه بين رجليه وقال أبو هريرة لغيره اجعلهما بين رجليك ولا تؤذ بهما مسلماً

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Apabila salah seorang dari kalian shalat, hendaknya ia meletakkan kedua alas kakinya di antara kedua kakinya." Abu Hurairah juga berkata kepada orang lain, "Jadikanlah keduanya di antara kedua kakimu dan janganlah engkau mengganggu seorang muslim pun dengan keduanya."

ووضعهما رسول الله ﷺ على يساره وكان إماماً فللإمام أن يفعل ذلك إذ لا يقف أحد على يساره

Dan Rasulullah ﷺ pernah meletakkannya di sebelah kirinya ketika beliau menjadi imam. Maka bagi seorang imam dibolehkan melakukan hal itu, karena tidak ada seorang pun yang berdiri di sebelah kirinya.

والأولى أن لا يضعهما بين قدميه فتشغلانه ولكن قدام قدميه ولعله المراد بالحديث

Yang lebih utama adalah tidak meletakkannya tepat di antara kedua kakinya sehingga mengganggu konsentrasinya, melainkan di depan kedua kakinya, dan boleh jadi itulah yang dimaksud oleh hadis tersebut.

وقد قال جبير بن مطعم وضع الرجل نعليه بين قدميه بدعة

Jubair bin Muth'im telah berkata, "Seseorang yang meletakkan kedua alas kakinya di antara kedua kakinya adalah perbuatan bid'ah."

مسألة إذا بزق في صلاته لم تبطل صلاته لأنه فعل قليل

Masalah: Apabila seseorang meludah di dalam shalatnya, maka shalatnya tidak batal karena hal itu merupakan gerakan yang sedikit.

وما لا يحصل به صوت لا يعد كلاماً وليس على شكل حروف الكلام إلا أنه مكروه فينبغي أن يحترز منه إلا كما أَذِنَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فيه إذ روى بعض الصحابة أن رسول الله ﷺ رأى في القبلة نخامة فغضب غضباً شديداً ثم حكها بعرجون كان في يده وقال ائتوني بعبير فلطخ أثرها بزعفران ثم التفت إلينا وقال أيكم يحب أن يبزق في وجهه فقلنا لا أحد قال فإن أحدكم إذا دخل في الصلاة فإن الله ﷿ بينه وبين القبلة وفي لفظ آخر واجهه الله تعالى فلا يبزقن أحدكم تلقاء وجهه ولا عن يمينه ولكن عن شماله أو تحت قدمه اليسرى فإن بدرته بادرة فليبصق في ثوبه وليقل به هكذا ودلك بعضه ببعض

Dan apa saja yang tidak menimbulkan suara tidak dianggap sebagai perkataan, serta tidak menyerupai susunan huruf-huruf ucapan, hanya saja hukumnya makruh sehingga hendaknya dihindari, kecuali sebatas apa yang diizinkan oleh Rasulullah ﷺ. Diriwayatkan oleh sebagian sahabat bahwa Rasulullah ﷺ melihat dahak di arah kiblat, maka beliau sangat marah, lalu mengeriknya dengan pelepah kurma yang ada di tangannya dan bersabda, "Bawakan aku minyak wangi (abir)." Kemudian bekasnya dilumuri dengan za'faran, lalu beliau berpaling kepada kami dan bersabda, "Siapakah di antara kalian yang suka diludahi wajahnya?" Kami menjawab, "Tidak ada seorang pun." Beliau bersabda, "Sesungguhnya apabila salah seorang dari kalian masuk ke dalam shalat, maka Allah Azza wa Jalla berada di antara dirinya dan kiblat"—dalam lafaz lain: "Allah Ta'ala menghadap kepadanya"—"maka jangan sekali-kali salah seorang dari kalian meludah ke arah depannya dan jangan pula ke arah kanannya, melainkan ke arah kirinya atau di bawah kaki kirinya. Jika dahak itu keluar secara tiba-tiba, hendaklah ia meludah pada pakaiannya dan melakukan begini," lalu beliau menggosokkan sebagian pakaian itu dengan bagian lainnya.

مسألة لوقوف المقتدى سنة وفرض أما السنة فأن يَقِفَ الْوَاحِدُ عَنْ يَمِينِ الْإِمَامِ مُتَأَخِّرًا عَنْهُ قَلِيلًا وَالْمَرْأَةُ الْوَاحِدَةُ تَقِفُ خَلْفَ الْإِمَامِ فَإِنْ وقفت بجنب الإمام لم يضر ذلك ولكن خالفت السنة

Masalah: Posisi berdiri makmum memiliki aturan sunnah dan fardhu. Adapun sunnahnya adalah seorang makmum tunggal berdiri di sebelah kanan imam agak sedikit ke belakang, sedangkan seorang wanita tunggal berdiri di belakang imam. Jika wanita itu berdiri di samping imam, hal tersebut tidak membatalkan shalat, namun ia telah menyelisihi sunnah.

فإن كان معها رجل

Jika bersamanya ada seorang laki-laki…

وَقَفَ الرَّجُلُ عَنْ يَمِينِ الْإِمَامِ وَهِيَ خَلْفَ الرجل

…maka laki-laki tersebut berdiri di sebelah kanan imam dan wanita itu berdiri di belakang laki-laki tersebut.

ولا يقف أحد خلف الصف منفرداً بل يدخل في الصف أو يجر إلى نفسه واحداً من الصف

Dan janganlah seseorang berdiri sendirian di belakang shaf, melainkan hendaknya ia masuk ke dalam shaf atau menarik seorang makmum dari shaf ke arah dirinya.

فإن وقف منفرداً صحت صلاته مع الكراهية

Jika ia tetap berdiri sendirian, shalatnya sah namun makruh.

وأما الفرض

Adapun yang menjadi kewajiban (syarat sah berjemaah)

فاتصال الصف وهو أن يكون بين المقتدي والإمام رابطة جامعة فإنهما في جماعة فإن كانا في مسجد كفى ذلك جامعاً لأنه بنى له فلا يحتاج إلى اتصال صف بل إلى أن يعرف أفعال الإمام صلى أبو هريرة ﵁ على ظهر المسجد بصلاة الإمام

adalah bersambungnya shaf, yaitu adanya ikatan yang menyatukan antara makmum (muktadi) dan imam, karena keduanya berada dalam satu jemaah. Jika keduanya berada di dalam masjid, maka hal itu sudah cukup sebagai pemersatu karena bangunan itu memang didirikan untuk shalat, sehingga tidak disyaratkan bersambungnya shaf secara utuh, melainkan cukup dengan mengetahui gerakan-gerakan imam. Abu Hurairah ﵁ pernah shalat di atap masjid dengan mengikut shalatnya imam.

وإذا كان الماموم على فناء المسجد في طريق أو صحراء مشتركة وليس بينهما اختلاف بناء مفرق فيكفي القرب بقدر غلوة سهم وكفى بها رابطة إذ يصل فعل أحدهما إلى الآخر

Apabila makmum berada di pelataran masjid, di jalan, atau di padang terbuka yang terhubung tanpa adanya pemisah bangunan di antara mereka, maka cukuplah jarak yang dekat sekira sejauh lemparan anak panah. Jarak tersebut sudah cukup sebagai penghubung karena gerakan salah satu dari mereka dapat sampai (diketahui) oleh yang lain.

وإنما يشترط إذا وقف في صحن دار على يمين المسجد أو يساره وبابها لاطىء في المسجد فالشرط أن يمد صف المسجد في دهليزها من غير انقطاع إلى الصحن

Syarat (persambungan shaf) baru diwajibkan apabila makmum berdiri di halaman rumah yang berada di sebelah kanan atau kiri masjid dan pintunya terbuka langsung ke arah masjid. Dalam kondisi ini, syaratnya adalah shaf masjid harus memanjang melalui lorong rumah tersebut tanpa terputus hingga sampai ke halaman.

ثم تصح صلاة من في ذلك الصف ومن خلفه دون من تقدم عليه وهكذا حكم الأبنية المختلفة فأما البناء الواحد والعرصة الواحدة فكالصحراء

Dengan demikian, sah shalat orang yang berada pada shaf tersebut dan orang-orang di belakangnya, tetapi tidak sah bagi orang yang berdiri mendahuluinya. Demikian pula hukum untuk bangunan yang terpisah-pisah. Adapun untuk satu bangunan atau satu halaman yang sama, hukumnya seperti padang terbuka.

مَسْأَلَةٌ الْمَسْبُوقُ إِذَا أَدْرَكَ آخِرَ صَلَاةِ الْإِمَامِ فَهُوَ أَوَّلُ صَلَاتِهِ فَلْيُوَافِقِ الْإِمَامَ وَلْيَبْنِ عَلَيْهِ وَلْيَقْنُتْ فِي الصُّبْحِ فِي آخِرِ صَلَاةِ نَفْسِهِ

MASALAH: Makmum masbuk yang mendapati bagian akhir dari shalat imam, maka rakaat tersebut merupakan bagian awal dari shalatnya sendiri. Hendaknya ia menyesuaikan diri dengan gerakan imam dan menyempurnakan sisa shalatnya setelah itu, serta membaca doa qunut pada shalat Subuh di akhir shalatnya sendiri,

وَإِنْ قَنَتَ مَعَ الْإِمَامِ وَإِنْ أَدْرَكَ مَعَ الْإِمَامِ بَعْضَ الْقِيَامِ فَلَا يَشْتَغِلْ بِالدُّعَاءِ وَلْيَبْدَأْ بِالْفَاتِحَةِ وَلْيُخَفِّفْهَا

meskipun ia telah berqunut bersama imam. Jika ia mendapati sebagian berdiri (qiyam) bersama imam, hendaknya ia tidak disibukkan dengan membaca doa (iftitah), melainkan langsung membaca Surah Al-Fatihah dan mempecepat bacaannya.

فَإِنْ رَكَعَ الْإِمَامُ قَبْلَ تَمَامِهَا وقدر على لحوقه في اعتداله من الرُّكُوعِ فَلْيُتِمَّ

Jika imam ruku' sebelum ia menyelesaikan bacaan Al-Fatihah, dan ia diperkirakan mampu menyusul imam saat i'tidal dari ruku', hendaknya ia menyempurnakan Al-Fatihahnya.

فَإِنْ عَجَزَ وَافَقَ الْإِمَامَ وَرَكَعَ وَكَانَ لِبَعْضِ الْفَاتِحَةِ حُكْمُ جَمِيعِهَا فَتَسْقُطُ عَنْهُ بِالسَّبْقِ

Namun jika ia tidak mampu menyusulnya, hendaknya ia segera mengikuti imam untuk ruku'. Sebagian Al-Fatihah yang sempat dibacanya hukumnya sama seperti membacanya secara utuh, sehingga sisa bacaannya gugur baginya karena keterdahuluan imam.

وَإِنْ رَكَعَ الْإِمَامُ وَهُوَ فِي السُّورَةِ فَلْيَقْطَعْهَا

Jika imam ruku' sewaktu makmum masih membaca surah (setelah Al-Fatihah), hendaknya ia memutuskan bacaan surah tersebut (dan langsung ruku').

وَإِنْ أَدْرَكَ الْإِمَامَ فِي السُّجُودِ أَوِ التَّشَهُّدِ كَبَّرَ لِلْإِحْرَامِ ثُمَّ جَلَسَ وَلَمْ يُكَبِّرْ بِخِلَافِ مَا إِذَا أَدْرَكَهُ فِي الرُّكُوعِ فَإِنَّهُ يُكَبِّرُ ثَانِيًا فِي الْهُوِيِّ لِأَنَّ ذَلِكَ انْتِقَالٌ محسوب له

Jika ia mendapati imam sedang sujud atau tasyahhud, hendaknya ia bertakbir untuk ihram (takbiratul ihram) lalu langsung duduk tanpa bertakbir lagi. Hal ini berbeda jika ia mendapati imam sedang ruku', di mana ia bertakbir untuk kedua kalinya saat membungkuk turun, karena perpindahan tersebut dihitung sebagai bagian rakaat baginya.

والتكبيرات للانتقالات الأصلية في الصلاة لا للعوارض بسبب القدوة

Sebab takbir-takbir perpindahan (takbir intiqal) diperuntukkan bagi perpindahan pokok dalam rukun shalat, bukan karena kondisi susulan akibat mengikut imam.

ولا يكون مدركا الركعة مَا لَمْ يَطَمَئِنَّ رَاكِعًا فِي الرُّكُوعِ وَالْإِمَامُ بَعْدُ فِي حَدِّ الرَّاكِعِينَ

Seseorang tidak dianggap mendapati satu rakaat selama ia belum mencapai tuma'ninah dalam ruku' selagi imam masih berada dalam batas posisi ruku'.

فَإِنْ لَمْ يُتِمَّ طُمَأْنِينَتَهُ إِلَّا بَعْدَ مُجَاوَزَةِ الْإِمَامِ حَدَّ الرَّاكِعِينَ فاتته تلك الركعة

Jika ia belum menyempurnakan tuma'ninahnya melainkan setelah imam melewati batas posisi ruku', maka terluputlah rakaat tersebut darinya.

مسألة من فاتته صلاة الظُّهْرُ إِلَى وَقْتِ الْعَصْرِ فَلْيُصَلِّ الظُّهْرَ أَوَّلًا ثم العصر فإن ابتدأ بالعصر أجزأه ولكن ترك الأولى واقتحم شبهة الخلاف

MASALAH: Barang siapa yang terluput shalat Dzuhur hingga masuk waktu Ashar, hendaknya ia mengerjakan shalat Dzuhur terlebih dahulu baru kemudian shalat Ashar. Jika ia memulai dengan shalat Ashar, hal itu mencukupi (sah) baginya, tetapi ia telah meninggalkan yang lebih utama dan masuk ke dalam keraguan perbedaan pendapat ulama (syubhat al-khilaf).

فإن وجد إماماً فَلْيُصَلِّ الْعَصْرَ ثُمَّ لِيُصَلِّ الظُّهْرَ بَعْدَهُ فَإِنَّ الجماعة بالأداء أولى

Namun jika ia mendapati jemaah yang sedang shalat, hendaknya ia shalat Ashar terlebih dahulu (bersama jemaah) lalu mengerjakan shalat Dzuhur setelahnya, karena menunaikan shalat berjemaah secara tepat waktu (ada') itu lebih utama.

فإن صلى منفرداً في أول الوقت ثم أدرك جماعة صلى في الجماعة ونوى صلاة الوقت والله يحتسب أيهما شاء

Jika seseorang telah shalat sendirian di awal waktu kemudian ia mendapati jemaah, hendaknya ia ikut shalat bersama jemaah tersebut dengan berniat shalat fardhu pada waktunya, dan Allah akan memperhitung bentuk shalat mana saja yang Dia kehendaki.

فإن نوى فائتة أو تطوعا جاز

Dan apabila ia berniat mengqadha shalat yang terluput atau berniat shalat sunnah, maka hal itu diperbolehkan.

وإن كان قد صلى في الجماعة فأدرك جماعة أخرى فلينو الفائتة أو النافلة فإعادة المؤداة بالجماعة مرة أخرى لا وجه له وإنما احتمل ذلك لدرك فضيلة الجماعة

Jika seseorang telah melaksanakan shalat secara berjamaah lalu mendapati jamaah lain, hendaklah ia berniat mengqadha shalat yang terlewat atau shalat sunnah. Sebab mengulang shalat yang telah ditunaikan secara berjamaah untuk kedua kalinya tidak memiliki alasan yang kuat, dan hal itu hanya diperbolehkan semata-mata demi meraih keutamaan berjamaah.

مَسْأَلَةٌ مَنْ صَلَّى ثُمَّ رَأَى عَلَى ثَوْبِهِ نَجَاسَةً فَالْأَحَبُّ قَضَاءُ الصَّلَاةِ وَلَا يَلْزَمُهُ

Masalah: Barang siapa shalat lalu melihat najis pada pakaiannya, maka yang lebih disukai (mustahab) adalah mengulang shalat tersebut, meskipun hal itu tidak wajib baginya.

وَلَوْ رَأَى النَّجَاسَةَ فِي أَثْنَاءِ الصَّلَاةِ رَمَى بِالثَّوْبِ وأتم والأحب الاستئناف

Jika ia melihat najis di tengah-tengah shalat, hendaklah ia membuang pakaian tersebut dan menyempurnakan shalatnya, tetapi yang lebih disukai adalah mengulang shalat dari awal.

وأصل هذا قصة خلع النعلين حين أخبر جبرائيل ﵇ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ بأن عليهما نجاسة فإنه ﷺ لَمْ يَسْتَأْنِفِ الصَّلَاةَ

Dasar dari hal ini adalah kisah dilepasnya kedua sandal ketika Malaikat Jibril 'alaihis salam memberitahu Rasulullah ﷺ bahwa pada keduanya terdapat najis, dan beliau ﷺ tidak mengulang shalatnya dari awal.

مَسْأَلَةٌ مَنْ تَرَكَ التَّشَهُّدَ الأول أو القنوت أو ترك الصَّلَاةَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ في التشهد الأول أو فعل فعلاً سهواً وكانت تبطل الصلاة بتعمده أو شك فلا يَدْرِ أَصَلَّى ثَلَاثًا أَوْ أَرْبَعًا أَخَذَ بِالْيَقِينِ وَسَجَدَ سَجْدَتَيِ السَّهْوِ قَبْلَ السَّلَامِ

Masalah: Barang siapa meninggalkan tasyahhud awal atau qunut, atau meninggalkan shalawat kepada Rasulullah ﷺ pada tasyahhud awal, atau melakukan suatu perbuatan karena lupa yang sekiranya jika dilakukan secara sengaja akan membatalkan shalat, atau ia ragu hingga tidak tahu apakah telah shalat tiga atau empat rakaat, maka hendaklah ia berpegang pada apa yang diyakini (jumlah rakaat terkecil) dan melakukan sujud sahwi dua kali sebelum salam.

فَإِنْ نَسِيَ فبعد السلام مهما تذكر على القرب

Jika ia lupa (melakukan sujud sahwi sebelum salam), maka ia melakukannya setelah salam selama ia ingat dalam jeda waktu yang singkat.

فإن سجد بعد السلام وبعد أن أحدث بطلت صلاته

Namun jika ia bersujud setelah salam dan setelah ia berhadats, maka batallah shalatnya.

فإنه لما دخل في السجود كأنه جعل سلامه نسياناً في غير محله فلا يحصل التحلل به وعاد إلى الصلاة فلذلك يستأنف السلام بعد السجود

Sebab ketika ia masuk ke dalam sujud (sahwi), seolah-olah ia telah menjadikan salamnya terjadi karena lupa di luar tempatnya, sehingga belum terjadi pelepasan diri (tahallul) darinya dan ia kembali ke dalam shalat. Oleh karena itu, ia harus mengulang salam setelah sujud tersebut.

فإن تذكر سجود السهو بعد خروجه من المسجد أو بعد طول الفصل فقد فات

Jika ia baru teringat sujud sahwi setelah keluar dari masjid atau setelah berlalu jeda waktu yang lama, maka kesempatan sujud sahwi tersebut telah gugur.

مَسْأَلَةٌ الْوَسْوَسَةُ فِي نِيَّةِ الصَّلَاةِ سَبَبُهَا خَبَلٌ فِي الْعَقْلِ أَوْ جَهْلٌ بِالشَّرْعِ لِأَنَّ امْتِثَالَ أَمْرِ اللَّهِ ﷿ مِثْلُ

Masalah: Keraguan (waswas) dalam niat shalat disebabkan oleh kekacauan pada akal atau kebodohan terhadap syariat. Sebab mematuhi perintah Allah 'Azza wa Jalla itu seperti…

امْتِثَالِ أَمْرِ غَيْرِهِ وَتَعْظِيمَهُ كَتَعْظِيمِ غَيْرِهِ فِي حَقِّ الْقَصْدِ

…mematuhi perintah selain-Nya, dan mengagungkan-Nya seperti mengagungkan selain-Nya dalam hal maksud dan tujuan.

وَمَنْ دَخَلَ عَلَيْهِ عَالِمٌ فَقَامَ لَهُ فَلَوْ قَالَ نَوَيْتُ أَنْ أَنْتَصِبَ قَائِمًا تعظيماً لدخول زيد الفاضل لأجل فضله مقبلاً عليه بوجهي كان سفهاً في عقله بل كما يَرَاهُ وَيَعْلَمُ فَضْلَهُ تَنْبَعِثُ دَاعِيَةُ التَّعْظِيمِ فَتُقِيمُهُ وَيَكُونُ مُعَظِّمًا إِلَّا إِذَا قَامَ لِشُغْلٍ آخَرَ أَوْ فِي غَفْلَةٍ

Barang siapa yang didatangi oleh seorang alim lalu ia berdiri menyambutnya, sekiranya ia berucap: 'Aku berniat berdiri tegak untuk mengagungkan kedatangan Zaid yang mulia karena keutamaannya seraya menghadapkan wajahku kepadanya,' niscaya hal itu merupakan kebodohan dalam akalnya. Melainkan, seketika ia melihatnya dan mengetahui keutamaannya, bergeloralah dorongan pengagungan yang menyebabkannya berdiri dan jadilah ia seorang yang mengagungkan, kecuali jika ia berdiri untuk urusan lain atau dalam keadaan lalai.

وَاشْتِرَاطَ كَوْنِ الصَّلَاةِ ظُهْرًا أَدَاءَ فَرْضًا فِي كَوْنِهِ امْتِثَالًا كَاشْتِرَاطِ كَوْنِ الْقِيَامِ مَقْرُونًا بِالدُّخُولِ مَعَ الْإِقْبَالِ بِالْوَجْهِ عَلَى الدَّاخِلِ وَانْتِفَاءِ بَاعِثٍ آخَرَ سِوَاهُ

Adapun syarat bahwa shalat tersebut harus shalat Zhuhur, dilakukan tepat pada waktunya (ada'), dan bernilai fardhu agar terhitung sebagai bentuk kepatuhan, adalah seperti syarat berdirinya seseorang harus bersamaan dengan masuknya orang yang dihormati, disertai penghadapan wajah kepadanya, serta ketiadaan dorongan pendorong lain selain itu…

وَقَصَدَ التَّعْظِيمَ بِهِ لِيَكُونَ تَعْظِيمًا

…dan ia bermaksud mengagungkannya melalui perbuatan itu agar benar-benar bernilai sebagai suatu pengagungan.

فَإِنَّهُ لَوْ قَامَ مُدْبِرًا عَنْهُ أَوْ صَبَرَ فَقَامَ بَعْدَ ذَلِكَ بِمُدَّةٍ لَمْ يَكُنْ مُعَظِّمًا

Sebab jika ia berdiri membelakanginya, atau menunda lalu baru berdiri beberapa saat setelahnya, niscaya ia tidak dianggap sedang mengagungkan.

ثُمَّ هَذِهِ الصِّفَاتُ لَا بُدَّ وَأَنْ تَكُونَ مَعْلُومَةً وَأَنْ تَكُونَ مَقْصُودَةً ثُمَّ لَا يَطُولُ حُضُورُهَا فِي النَّفْسِ فِي لَحْظَةٍ وَاحِدَةٍ وَإِنَّمَا يَطُولُ نَظْمُ الْأَلْفَاظِ الدَّالَّةِ عَلَيْهَا إِمَّا تَلَفُّظًا بِاللِّسَانِ وَإِمَّا تَفَكُّرًا بِالْقَلْبِ

Kemudian, sifat-sifat (ketentuan niat) ini haruslah diketahui dan dimaksudkan. Kehadirannya di dalam jiwa dalam sekejap tidaklah memakan waktu lama; yang memakan waktu lama hanyalah merangkai lafaz-lafaz yang menunjukkannya, baik dengan mengucapkannya melalui lisan maupun membayangkannya di dalam hati.

فَمَنْ لَمْ يَفْهَمْ نِيَّةَ الصَّلَاةِ عَلَى هَذَا الْوَجْهِ فَكَأَنَّهُ لَمْ يَفْهَمِ النِّيَّةَ

Maka barang siapa yang tidak memahami niat shalat dengan cara seperti ini, seolah-olah ia belum memahami hakikat niat.

فَلَيْسَ فِيهِ إِلَّا أَنَّكَ دُعِيتَ إِلَى أَنْ تُصَلِّيَ فِي وقت فأجبت وقمت فالوسوسة محض الجهل

Perihal niat tidak lain hanyalah bahwa engkau dipanggil untuk shalat pada suatu waktu, lalu engkau menyambutnya dan bangkit berdiri. Maka timbulnya keraguan (waswas) adalah murni akibat kebodohan.

فإن هذه القصود وهذه العلوم تجتمع في النفس في حالة واحدة ولا تكون مفصلة الآحاد في الذهن بحيث تطالعها النفس وتتأملها

Sebab maksud-maksud dan pengetahuan-pengetahuan ini berkumpul dalam jiwa pada satu keadaan sekaligus, tidaklah berupa rincian satuan-satuan dalam benak yang harus ditelaah dan direnungkan satu per satu oleh jiwa.

وفرق بين حضور الشيء في النفس وبين تفصيله بالفكر

Dan terdapat perbedaan antara hadirnya sesuatu secara spontan dalam jiwa dengan perinciannya melalui pemikiran.

والحضور مضاد للعزوب والغفلة وإن لم يكن مفصلاً

Kehadiran hati itu berlawanan dengan kelengahan dan kelalaian, meskipun tidak dihadirkan secara terperinci.

فإن من علم الحادث مثلاً فيعلمه بعلم واحد في حالة واحدة وهذا العلم يتضمن علوماً هي حاضرة وإن لم تكن مفصلة فإن من علم الحادث فقد علم الموجود والمعدوم والتقدم والتأخر والزمان وأن التقدم للعدم وأن التأخر للوجود فهذه العلوم منطوية تحت العلم بالحادث بدليل أن العالم بالحادث إذا لم يعلم غيره لو قيل له هل علمت التقدم فقط أو التأخر أو العدم أو تقدم العدم أو تأخر الوجود أو الزمان المنقسم إلى المتقدم والمتأخر فقال ما عرفته قط كان كاذباً وكان قوله مناقضاً لقوله إني أعلم الحادث

Sebab, barangsiapa mengetahui perkara baru (hadis) misalnya, ia mengetahuinya dengan satu pengetahuan dalam satu keadaan. Pengetahuan ini mencakup ilmu-ilmu yang hadir di dalamnya meskipun tidak terperinci. Barangsiapa mengetahui perkara baru, sesungguhnya ia telah mengetahui yang ada, yang tiada, keterdahuluan, keterkemudian, dan waktu, serta tahu bahwa keterdahuluan milik ketiadaan dan keterkemudian milik keberadaan. Ilmu-ilmu ini terliput di bawah pengetahuan tentang perkara baru, dengan bukti bahwa jika orang yang mengetahui perkara baru tersebut ditanya—ketika ia tidak mengetahui hal lain—: 'Apakah engkau mengetahui keterdahuluan saja, atau keterkemudian, atau ketiadaan, atau mendahuluinya ketiadaan, atau menyusulnya keberadaan, atau waktu yang terbagi menjadi terdahulu dan terkemudian?' Lalu ia menjawab: 'Aku tidak pernah mengetahuinya sama sekali,' niscaya ia telah berbohong dan ucapannya membatalkan pernyataannya sendiri bahwa ia mengetahui perkara yang baru.

ومن الجهل بهذه الدقيقة يثور الوسواس فإن الموسوس يكلف نفسه أن يحضر في قلبه الظهرية والأدائية والفرضية في حالة واحدة مفصلة بألفاظها وهو يطالعها وذلك محال

Dari ketidaktahuan terhadap kelembutan rahasia inilah timbul keraguan (waswas). Orang yang tertimpa waswas membebani dirinya untuk menghadirkan dalam hatinya status shalat Zhuhur, pelaksanaan tunai (ada'), dan kewajiban (fardhu) dalam satu keadaan secara terperinci beserta lafaz-lafaznya sembari terus mengamatinya, padahal hal demikian itu adalah mustahil.

ولو كلف نفسه ذلك في القيام لأجل العالم لتعذر عليه

Seandainya ia membebani dirinya dengan hal semacam itu ketika berdiri untuk menghormati seorang alim, niscaya ia akan kesulitan melakukannya.

فبهذه المعرفة يندفع الوسواس وهو أن امتثال أمر الله سبحانه في النية كامتثال أمر غيره ثم أزيد على سبيل التسهيل والترخص

Maka dengan pemahaman ini, sirnalah keraguan (waswas), yaitu bahwa mematuhi perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam niat itu seperti halnya mematuhi perintah selain-Nya. Kemudian aku tambahkan jalan kemudahan dan keringanan.

وأقول لو لم يفهم الموسوس النية إلا بإحضار هذه الأمور مفصلة ولم يمثل في نفسه الامتثال دفعة واحدة وأحضر جملة ذلك في أثناء التكبير من أوله إلى آخره بحيث لا يفرغ من التكبير إلا وقد حصلت النية كفاه ذلك ولا نكلفه أن يقرن الجميع بأول التكبير أو آخره فإن ذلك تكليف شطط

Dan aku katakan: Seandainya orang yang tertimpa waswas tidak dapat memahami niat kecuali dengan menghadirkan hal-hal tersebut secara terperinci, dan tidak bisa menghadirkan ketaatan itu seketika secara utuh, lalu ia menghadirkan keseluruhannya di tengah-tengah takbir dari awal hingga akhirnya, sehingga tidaklah ia selesai dari takbir melainkan niat telah berhasil terwujud, maka hal itu sudah cukup baginya. Kita tidak membebaninya untuk menyandingkan seluruhnya secara bersamaan di awal takbir atau di akhirnya, karena hal itu merupakan pembebanan yang melampaui batas.

ولو كان مأموراً به لوقع للأولين سؤال عنه ولوسوس واحد من الصحابة في النية فعدم وقوع ذلك دليل على أن الأمر على التساهل فكيفما تيسرت النية للموسوس ينبغي أن يقنع به حتى يتعود ذلك وتفارقه الوسوسة ولا يطالب نفسه بتحقيق ذلك فإن التحقيق يزيد في الوسوسة

Seandainya hal itu diperintahkan, tentulah orang-orang terdahulu pernah mempertanyakannya, dan tentu ada di antara para Sahabat yang tertimpa waswas dalam niat. Tidak terjadinya hal tersebut menjadi bukti bahwa perkara ini berlandaskan pada kemudahan. Maka bagaimanapun cara yang paling mudah bagi orang yang terkena waswas dalam berniat, hendaknya ia merasa puas dengannya hingga ia terbiasa dan waswas itu meninggalkannya, serta janganlah ia menuntut dirinya untuk meneliti ketepatan niat secara berlebihan, sebab ketelitian berlebihan itu justru akan menambah waswas.

وقد ذكرنا في الفتاوي وجوهاً من التحقيق في تحقيق العلوم

Kami telah menyebutkan di dalam kitab al-Fatawa berbagai segi penelitian mendalam mengenai hakikat ilmu-ilmu.

والقصود المتعلقة بالنية تفتقر العلماء إلى معرفتها أما العامة فربما ضرها سماعها ويهيج عليها الوسواس فلذلك تركناها

Adapun maksud-maksud yang berkaitan dengan niat, para ulama memang butuh untuk mengetahuinya. Sementara bagi orang awam, mendengar hal itu bisa jadi justru membahayakan mereka dan memicu timbulnya waswas, maka dari itu kami meninggalkannya.

مسألة ينبغي أن لا يَتَقَدَّمَ الْمَأْمُومُ عَلَى الْإِمَامِ فِي الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ وَالرَّفْعِ مِنْهُمَا وَلَا فِي سَائِرِ الْأَعْمَالِ وَلَا يَنْبَغِي أَنْ يُسَاوِيَهُ بَلْ يَتْبَعُهُ وَيَقْفُو أَثَرَهُ فهذا معنى الاقتداء فإن ساواه عمداً لم تبطل صلاته كما لو وقف بجنيه غير متأخر عنه

Masalah: Hendaknya seorang makmum tidak mendahului imam dalam rukuk, sujud, bangkit dari keduanya, dan seluruh gerakan shalat lainnya, serta tidak sepatutnya ia menyamai gerakan imam, melainkan harus mengikutinya dan berjalan di belakang jejaknya. Inilah hakikat bermakmum (iqtida'). Jika ia menyamai gerakan imam secara sengaja, shalatnya tidak batal, sebagaimana seandainya ia berdiri di samping imam tanpa agak ke belakang darinya.

فَإِنْ تَقَدَّمَ عَلَيْهِ فَفِي بُطْلَانِ صَلَاتِهِ خِلَافٌ ولا يبعد أن يقضي بالبطلان تشبيهاً بما لو تقدم في الموقف على الإمام بل هذا أولى لأن الجماعة اقتداء في الفعل لا في الموقف فالتبعية في الفعل أهم

Namun jika ia mendahului imam, maka terdapat perbedaan pendapat (khilaf) mengenai batalnya shalat. Tidak jauh dari kebenaran jika dihukumi batal, mengibaratkan pada kondisi seandainya ia mendahului imam dalam posisi berdiri. Bahkan hal ini lebih utama (membatalkan), karena shalat berjamaah adalah mengikut dalam perbuatan bukan sekadar tempat berdiri, sehingga mengikut dalam perbuatan itu jauh lebih penting.

وإنما شرط ترك التقدم في الموقف تسهيلاً للمتابعة في الفعل وتحصيلاً لصورة التبعية إذ اللائق بالمقتدى به أن يتقدم فالتقدم عليه في الفعل لا وجه له إلا أن يكون سهواً

Adapun disyaratkannya tidak mendahului dalam posisi berdiri semata-mata demi memudahkan keterikatan dalam gerakan perbuatan serta mewujudkan bentuk mengikut (keterikatan), sebab yang selayaknya bagi panutan (imam) adalah berada di depan. Maka mendahului imam dalam gerakan perbuatan tidak memiliki alasan sama sekali, kecuali jika terjadi karena tidak sengaja (lupa).

ولذلك شَدَّدَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ النكير فيه فقال أما يخشى

Oleh karena itulah Rasulullah ﷺ sangat keras mengingkarinya, seraya bersabda: 'Apakah tidak takut…'

الَّذِي يَرْفَعُ رَأْسَهُ قَبْلَ الْإِمَامِ أَنْ يُحَوِّلَ الله رأسه رأس حمار وأما التاخر عنه بركن واحد فلا يبطل الصلاة وذلك بأن يعتدل الإمام عن ركوعه وهو بعد لم يركع ولكن التأخر إلى هذا الحد مكروه فإن وضع الإمام جبهته على الأرض وهو بعد لم ينته إلى حد الراكعين بطلت صلاته

'…orang yang mengangkat kepalanya sebelum imam, bahwa Allah akan mengubah kepalanya menjadi kepala keledai?' Adapun tertinggal dari imam sebanyak satu rukun tidaklah membatalkan shalat, yaitu seperti saat imam bangun i'tidal dari rukuknya sedangkan makmum belum rukuk; namun tertinggal hingga batas ini hukumnya makruh. Dan jika imam telah meletakkan dahinya ke tanah (sujud) sementara makmum belum lagi mencapai batas posisi rukuk, maka batallah shalat makmum tersebut.

وكذا إن وضع الإمام جبهته للسجود الثاني وهو بعد لم يسجد السجود الأول

Demikian pula jika imam telah meletakkan dahinya untuk sujud kedua, sementara ia belum melakukan sujud pertama.

مَسْأَلَةٌ حَقٌّ عَلَى مَنْ حَضَرَ الصَّلَاةَ إِذَا رَأَى مِنْ غَيْرِهِ إِسَاءَةً فِي صَلَاتِهِ أَنْ يُغَيِّرَهُ وَيُنْكِرَ عَلَيْهِ

Masalah: Adalah kewajiban bagi orang yang menghadiri shalat, apabila melihat kekeliruan dalam shalat orang lain, untuk mengubahnya dan mengingkarinya.

وَإِنْ صَدَرَ مِنْ جَاهِلٍ رَفِقَ بِالْجَاهِلِ وَعَلَّمَهُ

Jika kekeliruan itu timbul dari orang yang awam (bodoh), hendaknya ia bersikap lemah lembut kepadanya dan mengajarinya.

فَمِنْ ذَلِكَ الْأَمْرُ بِتَسْوِيَةِ الصُّفُوفِ وَمَنْعُ الْمُنْفَرِدِ بِالْوُقُوفِ خَارِجَ الصَّفِّ وَالْإِنْكَارُ عَلَى مَنْ يَرْفَعُ رَأْسَهُ قَبْلَ الْإِمَامِ إِلَى غير ذلك من الأمور

Di antara bentuk perbuatan itu adalah memerintahkan pelurusan shaf, melarang orang yang berdiri sendirian di luar shaf, serta menegur orang yang mengangkat kepalanya sebelum imam, dan hal-hal semacamnya.

فقد قال ﷺ ويل للعالم من الجاهل حيث لا يعلمه وقال ابن مسعود ﵁ من رأى من يسيء صلاته فلم ينهه فهو شريكه في وزرها

Sungguh Rasulullah ﷺ telah bersabda: 'Celakalah orang yang berilmu akibat orang awam tatkala ia tidak mau mengajarinya.' Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu juga berkata: 'Barangsiapa melihat orang yang shalatnya buruk lalu tidak melarangnya, maka ia menjadi sekutunya dalam dosa perbuatan tersebut.'

وعن بلال بن سعد أنه قال الخطيئة إذا أخفيت لم تضر إلا صاحبها فإذا أظهرت فلم تغير أضرت بالعامة

Diriwayatkan dari Bilal bin Sa'ad bahwasanya beliau berkata: 'Kesalahan itu jika tersembunyi tidaklah memudaratkan melainkan bagi pelakunya saja. Namun jika diperlihatkan lalu tidak diubah, niscaya akan membahayakan masyarakat luas.'

وجاء في الحديث أن بلالاً كان يسوي الصفوف ويضرب عراقيبهم بالدرة وَعَنْ عمر ﵁ قَالَ تَفَقَّدُوا إِخْوَانَكُمْ فِي الصَّلَاةِ فَإِذَا فَقَدْتُمُوهُمْ فَإِنْ كَانُوا مَرْضَى فَعُودُوهُمْ وَإِنْ كَانُوا أَصِحَّاءَ فَعَاتِبُوهُمْ

Dan disebutkan dalam hadis bahwa Bilal biasa meluruskan shaf-shaf dan memukul tumit-tumit mereka dengan cambuk. Dari Umar radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Carilah keberadaan saudara-saudara kalian dalam shalat. Jika kalian tidak menemukan mereka, maka jika mereka sakit besuklah mereka, dan jika mereka sehat berilah teguran kepada mereka."

وَالْعِتَابُ إِنْكَارٌ عَلَى مَنْ تَرَكَ الْجَمَاعَةَ وَلَا يَنْبَغِي أَنْ يُتَسَاهَلَ فِيهِ

Teguran ini merupakan bentuk pengingkaran terhadap orang yang meninggalkan shalat berjamaah, dan hal tersebut tidak sepatutnya disepelekan.

وَقَدْ كَانَ الْأَوَّلُونَ يُبَالِغُونَ فيه حتى كان بعضهم يحمل الجنازة إلى بعض من تخلف عن الجماعة إشارة إلى أن الميت هو الذي يتأخر عن الجماعة دون الحي

Dahulu para pendahulu (generasi salaf) sangat bersungguh-sungguh dalam hal ini, hingga sebagian dari mereka membawa keranda jenazah kepada orang yang tertinggal dari shalat berjamaah, sebagai isyarat bahwa orang yang mati itulah yang terlambat dari berjamaah, bukan orang yang hidup.

ومن دخل المسجد ينبغي أن يقصد يمين الصف ولذلك تزاحم الناس عليه في زمن رَسُولِ اللَّهِ ﷺ حَتَّى قيل له تعطلت الميسرة فقال ﷺ من عمر ميسرة المسجد كان له كفلان من الأجر ومهما وجد غلاماً في الصف ولم يجد لنفسه مكاناً فله أن يخرجه إلى خلف ويدخل فيه أعني إذا لم يكن بالغاً وهذا ما أردنا أن نذكره من المسائل التي تعم بها البلوى

Barangsiapa memasuki masjid, hendaklah ia menuju ke sebelah kanan shaf. Oleh karena itu, orang-orang saling berdesakan di sebelah kanan pada zaman Rasulullah ﷺ hingga dikatakan kepada beliau bahwa shaf bagian kiri menjadi kosong. Maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa memakmurkan shaf sebelah kiri masjid, maka baginya dua bagian pahala." Dan apabila seseorang menemukan seorang anak kecil di shaf dan ia tidak mendapatkan tempat untuk dirinya sendiri, maka ia berhak memindahkannya ke belakang dan memasuki shaf tersebut—maksud saya jika anak itu belum baligh. Inilah hal-hal yang ingin kami sebutkan dari masalah-masalah yang umum terjadi.

وسيأتي أحكام الصلوات المتفرقة في كتاب الأوراد إن شاء الله تعالى

Hukum-hukum mengenai shalat-shalat yang terpisah akan dijelaskan kelak dalam Kitab Al-Awrad (Wirid-Wirid), insya Allah Ta'ala.