أما الواجبات الظاهرة فستة
أَمَّا الْوَاجِبَاتُ الظَّاهِرَةُ فَسِتَّةٌ
Adapun kewajiban-kewajiban yang lahiriah itu ada enam:
الْأَوَّلُ مُرَاقَبَةُ أَوَّلِ شَهْرِ رَمَضَانَ وَذَلِكَ بِرُؤْيَةِ الْهِلَالِ فَإِنْ غَمَّ فَاسْتِكْمَالُ ثَلَاثِينَ يَوْمًا مِنْ شَعْبَانَ
Yang pertama: Mengamati awal bulan Ramadan, yaitu dengan rukyatul hilal (melihat bulan sabit). Jika tertutup awan (gham), maka dengan menyempurnakan bilangan bulan Sya'ban menjadi tiga puluh hari.
وَنَعْنِي بِالرُّؤْيَةِ الْعِلْمَ وَيَحْصُلُ ذلك بقول عَدْلٍ وَاحِدٍ وَلَا يَثْبُتُ هِلَالُ شَوَّالَ إِلَّا بِقَوْلِ عَدْلَيْنِ احْتِيَاطًا لِلْعِبَادَةِ
Yang kami maksud dengan penglihatan (rukyat) di sini adalah pengetahuan, dan hal itu dapat diperoleh melalui kesaksian satu orang yang adil. Namun hilal Syawal tidak dapat ditetapkan kecuali dengan kesaksian dua orang yang adil, sebagai bentuk kehati-hatian (احتياط) dalam ibadah.
وَمَنْ سَمِعَ عَدْلًا وَوَثَقَ بِقَوْلِهِ وَغَلَبَ عَلَى ظَنِّهِ صِدْقُهُ لَزِمَهُ الصوم وإن لم يقض القاضي به فليتبع كل عبد في عبادته موجب ظنه وإذا رؤي الهلال ببلدة ولم ير بأخرى وكان بينهما أقل من مرحلتين وجب الصوم على الكل وإن كان أكثر كان لكل بلدة حكمها ولا يتعدى الوجوب
Barang siapa mendengar kesaksian dari seorang yang adil lalu ia mempercayai perkataannya dan persangkaan kuatnya meyakini kebenarannya, maka ia wajib berpuasa meskipun hakim (kadi) belum menetapkannya. Hendaklah setiap hamba dalam ibadahnya mengikuti konsekuensi dari persangkaan kuatnya. Apabila hilal terlihat di suatu negeri tetapi tidak terlihat di negeri lain, sementara jarak antara keduanya kurang dari dua marhalah, maka wajib berpuasa bagi seluruh penduduk kedua negeri tersebut. Namun jika jaraknya lebih dari itu, maka masing-masing negeri memiliki hukumnya sendiri dan kewajiban tersebut tidak meluas.
الثَّانِي النِّيَّةُ وَلَا بُدَّ لِكُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ نية مبيتة معينة جازمة فلو نوى أن يصوم شهر رمضان دفعة واحدة لم يكفه وهو الذي عنينا بقولنا كل ليلة ولو نوى بالنهار لم يجزه صوم رمضان ولا صوم الفرض إلا التطوع وهو الذي عنينا بقولنا مبيتة ولو نوى الصوم مطلقاً أو الفرض مطلقاً لم يجزه حتى ينوي فريضة الله ﷿ صوم رمضان ولو نوى ليلة الشك أن يصوم غداً إن كان من رمضان لم يجزه فإنها ليست جازمة إلا أن تستند نيته إلى قول شاهد عدل واحتمال غلط العدل أو كذبه لايبطل الجزم أو يستند إلى استصحاب حال كالشك في الليلة الأخيرة من رمضان فذلك لا يمنع جزم النية أو يستند إلى اجتهاد كالمحبوس في المطمورة إذا غلب على ظنه دخول رمضان باجتهاده فشكه لا يمنعه من النية
Yang kedua: Niat. Harus ada niat pada setiap malam yang diinapkan (mubayyatah), ditentukan (mu'ayyanah), dan mantap (jazimah). Jika seseorang berniat untuk berpuasa sebulan penuh Ramadan sekaligus satu kali niat, maka hal itu tidak mencukupinya, dan itulah yang kami maksud dengan perkataan kami "setiap malam". Jika ia berniat di siang hari, maka tidak sah puasa Ramadan maupun puasa fardu lainnya, kecuali puasa sunnah (tathawwu'), dan itulah yang kami maksud dengan perkataan kami "diinapkan". Jika ia berniat puasa secara mutlak atau berniat fardu secara mutlak, maka tidak sah sampai ia berniat menunaikan kewajiban Allah Azza wa Jalla berupa puasa Ramadan. Jika ia berniat pada malam syak (ragu-ragu) bahwa ia akan berpuasa esok hari "jika besok termasuk Ramadan", maka tidak sah karena niat tersebut tidak mantap, kecuali jika niatnya bersandar pada ucapan saksi yang adil—karena kemungkinan salah atau bohongnya saksi yang adil tidak membatalkan kemantapan niat—atau bersandar pada prinsip istishhabul hal (melestarikan hukum asal), seperti keraguan pada malam terakhir Ramadan, maka hal itu tidak menghalangi kemantapan niat, atau bersandar pada ijtihad, seperti orang yang dipenjara di ruang bawah tanah jika prasangka kuatnya menuntun pada masuknya bulan Ramadan melalui ijtihadnya, maka keraguannya tidak menghalanginya untuk berniat.
ومهما كان شاكاً ليلة الشك لم ينفعه جزمه النية باللسان فإن النية محلها القلب
Apabila seseorang ragu-ragu pada malam syak, tidak ada gunanya ia menegaskan kemantapan niat dengan lisan, karena sesungguhnya tempat niat adalah di dalam hati.
ولا يتصور فيه جزم القصد مع الشك كما لو قال في وسط رمضان أصوم غداً إن كان من رمضان فإن ذلك لايضره لأنه ترديد لفظ ومحل النية لا يتصور فيه تردد بل هو قاطع بأنه من رمضان ومن نوى ليلاً ثم أكل لم تفسد نيته ولو نوت امرأة في الحيض ثم طهرت قبل الفجر صح صومها
Dan tidak dapat dibayangkan adanya kemantapan maksud beserta keraguan. Berbeda halnya jika ia mengucapkan di pertengahan Ramadan, "Aku akan berpuasa esok hari jika esok termasuk Ramadan," maka hal tersebut tidak membahayakannya (niatnya tetap sah) karena itu hanyalah keraguan secara lafal, sedangkan tempat niat tidak dapat dibayangkan adanya keraguan, melainkan hatinya meyakini pasti bahwa esok adalah bulan Ramadan. Dan barang siapa yang berniat pada malam hari kemudian ia makan, maka niatnya tidak batal. Dan sekiranya seorang wanita yang sedang haid berniat puasa lalu ia suci sebelum fajar, maka puasanya sah.
الثَّالِثُ الْإِمْسَاكُ عَنْ إِيصَالِ شَيْءٍ إِلَى الْجَوْفِ عَمْدًا مَعَ ذِكْرِ الصَّوْمِ فَيَفْسُدُ صَوْمُهُ بِالْأَكْلِ وَالشُّرْبِ وَالسُّعُوطِ وَالْحُقْنَةِ
Yang ketiga: Menahan diri dari memasukkan sesuatu ke dalam rongga tubuh (jauf) secara sengaja serta dalam keadaan ingat sedang berpuasa. Maka batal puasanya sebab makan, minum, memasukkan obat lewat hidung (su'uth), dan suntikan/enema (huqnah).
وَلَا يَفْسُدُ بِالْفَصْدِ وَالْحِجَامَةِ
Dan tidak batal puasanya karena pemotongan pembuluh darah (fasd) dan bekam (hijamah).
والاكتحال وإدخال الميل في الأذن والإحليل إلا أن يقطر فيه ما يبلغ المثانة وَمَا يَصِلُ بِغَيْرِ قَصْدٍ مِنْ غُبَارِ الطَّرِيقِ أَوْ ذُبَابَةٍ تَسْبِقُ إِلَى جَوْفِهِ أَوْ مَا يَسْبِقُ إِلَى جَوْفِهِ فِي الْمَضْمَضَةِ فَلَا يُفْطِرُ إِلَّا إِذَا بَالَغَ فِي الْمَضْمَضَةِ فَيُفْطِرُ لِأَنَّهُ مُقَصِّرٌ وَهُوَ الَّذِي أَرَدْنَا بِقَوْلِنَا عَمْدًا فَأَمَّا ذِكْرُ الصَّوْمِ فَأَرَدْنَا بِهِ الِاحْتِرَازَ عَنِ النَّاسِي فإنه لايفطر
Juga tidak batal karena memakai celak, memasukkan alat ke dalam telinga, dan saluran kencing kecuali jika ia meneteskan sesuatu ke dalamnya yang mencapai kandung kemih. Sesuatu yang masuk tanpa disengaja seperti debu jalanan, lalat yang meluncur ke dalam rongga tubuhnya, atau air yang terlanjur tertelan saat berkumur-kumur, maka hal itu tidak membatalkan puasa, kecuali jika ia berlebih-lebihan (mubalaghah) saat berkumur-kumur maka batal puasanya karena ia lalai/ceroboh. Hal itulah yang kami maksud dengan perkataan kami "secara sengaja". Adapun perkataan kami "dalam keadaan ingat sedang berpuasa", yang kami maksudkan dengannya adalah untuk mengecualikan orang yang lupa, karena sesungguhnya orang yang lupa tidak batal puasanya.
أما من أكل عامداً في طرفي النهار ثم ظهر له أنه أكل نهاراً بالتحقيق فعليه القضاء وإن بقي على حكم ظنه واجتهاده فلا قضاء عليه ولا ينبغي أن يأكل في طرفي النهار إلا بنظر واجتهاد
Adapun orang yang makan secara sengaja di kedua ujung siang (waktu sahur atau berbuka) kemudian ternyata secara pasti baginya bahwa ia telah makan di siang hari, maka ia wajib mengada (qadha). Namun jika ia tetap berada di bawah hukum prasangkanya dan ijtihadnya, maka tidak ada qadha baginya. Dan tidak sepatutnya seseorang makan di kedua ujung siang kecuali dengan pengamatan dan ijtihad.
الرابع الإمساك عن الجماع وحده مغيب الحشفة وإن جَامَعَ نَاسِيًا لَمْ يُفْطِرْ وَإِنْ جَامَعَ لَيْلًا أو احتلم فأصبح جنباً لم يفطر وإن طلع الفجر وهو مخالط أهله فنزع في الحال صح صومه فإن صبر فسد ولزمته الكفارة
Yang keempat: Menahan diri dari bersetubuh (jimak), dan batasannya adalah terbenamnya kepala zakar (hasyafah). Jika ia bersetubuh dalam keadaan lupa, maka tidak membatalkan puasa. Dan jika ia bersetubuh pada malam hari atau bermimpi basah lalu mendapati subuh dalam keadaan junub, maka tidak batal puasanya. Dan jika fajar terbit sedangkan ia sedang berhubungan dengan istrinya lalu ia segera mencabutnya seketika itu juga, maka sah puasanya. Namun jika ia menahannya (melanjutkannya), maka batal puasanya dan ia dikenakan kafarat.
الْخَامِسُ الْإِمْسَاكُ عَنِ الِاسْتِمْنَاءِ وَهُوَ إِخْرَاجُ الْمَنِيِّ قَصْدًا بِجِمَاعٍ أَوْ بِغَيْرِ جِمَاعٍ فَإِنَّ ذَلِكَ يُفْطِرُ وَلَا يُفْطِرُ بِقُبْلَةِ زَوْجَتِهِ وَلَا بِمُضَاجَعَتِهَا مَا لَمْ يُنْزِلْ لَكِنْ يُكْرَهُ ذَلِكَ إِلَّا أَنْ يَكُونَ شَيْخًا أَوْ مَالِكًا لِإِرْبِهِ فَلَا بأس بالتقبيل وتركه أولى
Yang kelima: Menahan diri dari istimna', yaitu mengeluarkan mani secara sengaja baik dengan bersetubuh maupun tanpa bersetubuh, karena hal itu membatalkan puasa. Dan tidak batal puasa dengan mencium istrinya atau tidur berbaring bersamanya selama tidak keluar mani, tetapi hal itu dimakruhkan, kecuali jika ia seorang yang sudah tua atau sanggup menguasai hasrat biologisnya, maka tidak mengapa menciumnya, meskipun meninggalkannya adalah lebih utama.
وإذا كان يخاف من التقبيل أن ينزل فقبل وسبق المني أفطر لتقصيره
Dan apabila ia khawatir bahwa mencium akan menyebabkan keluar mani, lalu ia tetap menciumnya dan terlanjur keluar mani, maka batal puasanya karena kelalaiannya.
السَّادِسُ الْإِمْسَاكُ عَنْ إِخْرَاجِ الْقَيْءِ فَالِاسْتِقَاءُ يُفْسِدُ الصَّوْمَ وَإِنْ ذَرَعَهُ الْقَيْءُ لَمْ يَفْسُدْ صَوْمُهُ وَإِذَا ابْتَلَعَ نُخَامَةً مِنْ حَلْقِهِ أَوْ صَدْرِهِ لَمْ يَفْسُدْ صَوْمُهُ رُخْصَةً لِعُمُومِ الْبَلْوَى بِهِ إِلَّا أَنْ يَبْتَلِعَهُ بَعْدَ وُصُولِهِ إِلَى فِيهِ فَإِنَّهُ يُفْطِرُ عِنْدَ ذَلِكَ
Yang keenam: Menahan diri dari sengaja mengeluarkan muntah. Sebab sengaja muntah (istiqa'ah) membatalkan puasa. Namun jika ia dikalahkan oleh muntah (keluar tanpa disengaja), maka puasanya tidak batal. Apabila seseorang menelan dahak dari tenggorokan atau dadanya, puasanya tidak batal sebagai rukhshah (keringanan) karena hal tersebut umum terjadi (umum al-balwa), kecuali jika ia menelannya setelah sampai ke dalam mulutnya, maka hal itu membatalkan puasa pada kondisi demikian.