الباب الثاني في العلم المحمود والمذموم وأقسامهما وأحكامهما
الباب الثاني في العلم المحمود والمذموم وأقسامهما وأحكامهما
Bab Kedua: Tentang Ilmu yang Terpuji dan yang Tercela, Pembagiannya, serta Hukum-hukumnya.
وفيه بيان ما هو فرض عين وما هو فرض كفاية وبيان أن موقع الكلام والفقه من علم الدين إلى أي حد هو وتفضيل علم الآخرة
Di dalamnya terdapat penjelasan mengenai apa yang tergolong fardhu ain dan fardhu kifayah, penjelasan tentang sejauh mana kedudukan ilmu kalam dan fiqih di dalam ilmu agama, serta keutamaan ilmu akhirat.
بَيَانُ الْعِلْمِ الَّذِي هُوَ فَرْضُ عَيْنٍ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ طَلَبُ العلم فريضة على كل مسلم وقال أيضاً ﷺ اطلبوا العلم ولو بالصين واختلف الناس في العلم الذي هو فرض على كل مسلم فتفرقوا فيه أكثر من عشرين فرقة ولا نطيل بنقل التفصيل ولكن حاصله أن كل فريق نزل الوجوب على العلم الذي هو بصدده فقال المتكلمون هو علم الكلام إذ به يدرك التوحيد ويعلم به ذات الله سبحانه وصفاته وقال الفقهاء هو علم الفقه إذ به تعرف الْعِبَادَاتُ وَالْحَلَالُ وَالْحَرَامُ وَمَا يُحَرَّمُ مِنَ الْمُعَامَلَاتِ وما يحل وعنوا به ما يحتاج إليه الآحاد دون الوقائع النادرة وقال المفسرون والمحدثون هو علم الكتاب والسنة إذ بهما يتوصل إلى العلوم كلها
Penjelasan tentang ilmu yang hukumnya fardhu ain. Rasulullah ﷺ bersabda: "Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim." Beliau ﷺ juga bersabda: "Tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina." Manusia berbeda pendapat mengenai ilmu yang diwajibkan atas setiap muslim, hingga mereka terpecah menjadi lebih dari dua puluh golongan. Kami tidak akan memperpanjang dengan menukil rinciannya, namun kesimpulannya adalah bahwa setiap kelompok membawa kewajiban tersebut pada ilmu yang mereka tekuni. Ahli kalam (Mutakallimun) berkata: Ilmu itu adalah ilmu kalam, karena dengannyalah ketauhidan dipahami serta zat dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta'ala diketahui. Para ahli fiqih (Fuqaha) berkata: Ilmu itu adalah ilmu fiqih, karena dengannyalah ibadah, hal yang halal dan haram, serta muamalah yang diharamkan dan yang dihalalkan dapat diketahui; dan yang mereka maksud adalah apa yang dibutuhkan oleh setiap individu, bukan kasus-kasus yang langka. Adapun para ahli tafsir dan ahli hadis berkata: Ilmu itu adalah ilmu Al-Kitab (Al-Qur'an) dan As-Sunnah, karena dengan keduanyalah seluruh ilmu dapat dicapai.
وقال المتصوفة المراد به هذا العلم فقال بعضهم هو علم العبد بحاله ومقامه من الله ﷿
Kaum Sufi berkata bahwa yang dimaksud dengannya adalah ilmu batin (tasawuf). Sebagian dari mereka berkata: Ilmu itu adalah pengetahuan seorang hamba tentang keadaan spiritualnya (hal) dan kedudukannya (maqam) di sisi Allah Azza wa Jalla.
وقال بعضهم هو العلم بالإخلاص وآفات النفوس وتمييز لمة الملك من لمة الشيطان
Sebagian lagi berkata: Ilmu itu adalah pengetahuan tentang keikhlasan, cacat-cacat jiwa (afatul nufus), serta pembedaan antara bisikan malaikat (lammah al-malak) dan bisikan setan (lammah asy-syaithan).
وقال بعضهم هو علم الباطن وذلك يجب على أقوام مخصوصين هم أهل ذلك وصرفوا اللفظ عن عمومه
Dan sebagian lain berkata: Ilmu itu adalah ilmu batin, dan hal tersebut wajib bagi kelompok-kelompok tertentu yang merupakan ahlinya, sehingga mereka memalingkan lafal hadis tersebut dari keumumannya.
وقال أبو طالب المكي هو العلم بما يتضمنه الحديث الذي فيه مباني الإسلام وهو قوله ﷺ بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ إلى آخر الحديث لأن الواجب هذه الخمس فيجب العلم بكيفية العمل فيها وبكيفية الوجوب
Abu Talib Al-Makki berkata: Ilmu tersebut adalah pengetahuan tentang apa yang dikandung oleh hadis yang memuat rukun-rukun Islam, yaitu sabda Nabi ﷺ: "Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah…" hingga akhir hadis. Sebab yang wajib adalah lima hal ini, maka wajib hukumnya mengetahui tata cara pengamalannya dan bentuk kewajibannya.
والذي ينبغي أن يقطع به المحصل ولا يستريب فيه ما سنذكره وهو أن العلم كما قدمناه في خطبة الكتاب ينقسم إلى علم معاملة وعلم مكاشفة وليس المراد بهذا العلم إلا علم المعاملة والمعاملة التي كلف العبد العاقل البالغ العمل بها ثلاثة اعتقاد وفعل وترك فإذا بلغ الرجل العاقل بالاحتلام أو السن ضحوة نهار مثلاً فأول واجب عليه تعلم كلمتي الشهادة وفهم معناهما وهو قول لا إله إلا الله محمد رسول الله وليس يجب عليه أن يحصل كشف ذلك لنفسه بالنظر والبحث وتحرير الأدلة بل يكفيه أن يصدق به ويعتقده جزماً من غير اختلاج ريب واضطراب نفس وذلك قد يحصل بمجرد التقليد والسماع من غير بحث ولا برهان إذ اكتفى رسول الله ﷺ من أجلاف العرب بالتصديق والإقرار من غير تعلم دليل
Adapun yang seyogianya diyakini secara pasti oleh seorang yang mencari kebenaran tanpa ada keraguan padanya adalah apa yang akan kami sebutkan, yaitu bahwa ilmu—sebagaimana telah kami kemukakan dalam mukadimah kitab ini—terbagi menjadi ilmu muamalah dan ilmu mukasyafah (penyingkapan rahasia ilahi). Dan tidaklah yang dimaksud dengan ilmu (fardhu ain) ini melainkan ilmu muamalah. Sedangkan muamalah yang dibebankan kepada hamba yang berakal lagi balig untuk diamalkan ada tiga: akidah (i'tiqad), perbuatan (fi'il), dan pembiaran/pembebasan (tark). Apabila seorang laki-laki yang berakal telah mencapai usia balig melalui mimpi basah atau umur, misalnya pada waktu duha, maka kewajiban pertama baginya adalah mempelajari dua kalimat syahadat serta memahami maknanya, yaitu ucapan "Laa ilaha illallah, Muhammad Rasulullah". Tidaklah wajib baginya untuk menyingkap hal itu bagi dirinya sendiri melalui penalaran, penelitian, dan penyusunan dalil-dalil; melainkan cukuplah baginya membenarkannya dan meyakininya secara pasti tanpa ada keraguan dan kegoncangan jiwa. Dan hal tersebut terkadang dapat dicapai hanya dengan taklid dan mendengar tanpa penelitian maupun bukti rasional, sebab Rasulullah ﷺ telah mencukupkan dari orang-orang Arab Badui hanya dengan pembenaran dan pengakuan tanpa mempelajari dalil.
فإذا فعل ذلك فقد أدى واجب الوقت وكان العلم الذي هو فرض عين عليه في الوقت تعلم الكلمتين وفهمهما وليس يلزمه أمر وراء هذا في الوقت بدليل أنه لو مات عقيب ذلك مات مطيعاً لله ﷿ غير عاص له وإنما يجب غير ذلك بعوارض تعرض وليس ذلك ضرورياً في حق كل شخص بل يتصور الانفكاك وتلك العوارض إما أن تكون في الفعل وإما في الترك وإما في الاعتقاد
Apabila ia telah melakukan hal tersebut, maka ia telah menunaikan kewajiban pada waktu itu, dan ilmu yang menjadi fardhu ain baginya saat itu adalah mempelajari dua kalimat syahadat serta memahaminya. Tidak ada kewajiban baginya melebihi hal ini pada waktu tersebut, dengan dalil bahwa seandainya ia meninggal dunia sesaat setelah itu, maka ia meninggal dalam keadaan taat kepada Allah Azza wa Jalla dan tidak bermaksiat kepada-Nya. Kewajiban selain itu baru menjadi wajib karena adanya kondisi-kondisi baru ('awaridh) yang muncul, dan hal itu tidaklah mutlak bagi setiap orang, bahkan mungkin saja terbebas darinya. Kondisi-kondisi baru tersebut bisa berada pada perbuatan, pembiaran (larangan), atau pada akidah.
أما الفعل فبأن يعيش من ضحوة نهاره إلى وقت الظهر فيتجدد عليه بدخول وقت الظهر تعلم الطهارة والصلاة فإن كان صحيحاً وكان بحيث لو صبر إلى وقت زوال الشمس لم يتمكن من تمام التعلم والعمل في الوقت بل يخرج الوقت لو اشتغل بالتعلم فلا يبعد أن يقال الظاهر بقاؤه فيجب عليه تقديم التعلم على الوقت
Adapun terkait perbuatan, contohnya adalah jika ia hidup dari waktu duha hingga masuk waktu zuhur, maka dengan masuknya waktu zuhur, timbullah kewajiban baru baginya untuk mempelajari bersuci (thaharah) dan shalat. Jika ia dalam keadaan sehat dan sekiranya apabila ia menunda hingga waktu tergelincirnya matahari (masuk zuhur) ia tidak akan sempat menyelesaikan belajar dan melaksanakannya di dalam waktunya—bahkan waktu akan habis jika ia baru sibuk belajar saat itu—maka tidak jauh dari kebenaran jika dikatakan: tampaknya ia diperkirakan akan tetap hidup, sehingga wajib baginya mendahulukan belajar sebelum masuknya waktu shalat.
ويحتمل أن يقال وجوب العلم الذي هو شرط العمل بعد وجوب العمل فلا يجب قبل الزوال وهكذا في بقية الصلوات فإن عاش إلى رمضان تجدد بسببه وجوب تعلم الصوم وهو أن وقته من الصبح إلى غروب الشمس وأن الواجب فيه النية والإمساك عن الأكل والشرب والوقاع وأن ذلك يتمادى إلى رؤية الهلال أو شاهدين فإن تجدد له مال أو كان له مال عند بلوغه لزمه تعلم ما يجب عليه من الزكاة ولكن لا يلزمه في الحال إنما يلزمه عند
Dan dimungkinkan pula untuk dikatakan bahwa kewajiban ilmu yang merupakan syarat perbuatan itu timbul setelah timbulnya kewajiban perbuatan itu sendiri, sehingga tidak wajib sebelum tergelincirnya matahari. Demikian pula pada shalat-shalat sisanya. Jika ia hidup sampai bulan Ramadan, timbullah kewajiban baru baginya untuk mempelajari puasa, yaitu bahwa waktunya mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari, dan bahwa yang wajib di dalamnya adalah niat serta menahan diri dari makan, minum, dan jima', serta hal itu berlanjut hingga terlihatnya hilal atau kesaksian dua orang saksi. Apabila ia memperoleh harta baru atau ia sudah memiliki harta ketika balig, wajib baginya mempelajari apa yang wajib ia keluarkan dari zakat, namun tidak wajib secara seketika melainkan wajib ketika…
تمام الحول من وقت الإسلام فإن لم يملك إلا الإبل لم يلزمه إلا تعلم زكاة الإبل وكذلك في سائر الأصناف فإذا دخل في أشهر الحج فلا يلزمه المبادرة إلى علم الحج مع أن فعله على التراخي فلا يكون تعلمه على الفور ولكن ينبغي لعلماء الإسلام أن ينبهوه على أن الحج فرض على التراخي على كل من ملك الزاد والراحلة إذا كان هو مالكاً حتى ربما يرى الحزم لنفسه في المبادرة فعند ذلك إذا عزم عليه لزمه تعلم كيفية الحج ولم يلزمه إلا تعلم أركانه وواجباته دون نوافله فإن فعل ذلك نفل فعلمه أيضاً نفل فلا يكون تعلمه فرض عين وفي تحريم السكوت عن التنبيه على وجوب أصل الحج في الحال نظر يليق بالفقه وهكذا التدريج في علم سائر الأفعال التي هي فرض عين
…sempurnanya haul (satu tahun) sejak waktu keislamannya. Jika ia hanya memiliki unta, maka ia hanya wajib mempelajari zakat unta, demikian pula pada jenis harta lainnya. Apabila telah masuk bulan-bulan haji, ia tidak diwajibkan bersegera mempelajari ilmu haji karena pelaksanaannya bersifat longgar ('ala at-tarakhkhi), sehingga mempelajarinya pun tidak bersifat serta-merta ('ala al-faur). Namun, hendaknya para ulama Islam mengingatkannya bahwa haji adalah fardhu yang pelaksanaannya bisa ditunda bagi siapa saja yang memiliki bekal dan kendaraan jika ia memang memilikinya, sehingga mungkin saja ia memandang tindakan bijak baginya adalah bersegera; maka saat ia telah bertekad bulat, wajib baginya mempelajari tata cara haji, dan tidak wajib baginya kecuali mempelajari rukun-rukun dan kewajiban-kewajibannya saja, bukan amalan-amalan sunnahnya. Sebab jika pelaksanaan sunnah itu bernilai sunnah, maka mempelajarinya pun bernilai sunnah sehingga mempelajarinya tidak menjadi fardhu ain. Adapun mengenai keharaman berdiam diri dari mengingatkan kewajiban pokok haji secara seketika, terdapat pembahasan mendalam yang sesuai dengan bidang fiqih. Demikianlah pentahapan dalam mempelajari seluruh perbuatan yang hukumnya fardhu ain.
وأما التروك فيجب تعلم علم ذلك بحسب ما يتجدد من الحال وذلك يختلف بحال الشخص إذ لا يجب على الأبكم تعلم ما يحرم من الكلام ولا على الأعمى تعلم ما يحرم من النظر ولا على البدوي تعلم ما يحرم الجلوس فيه من المساكن فذلك أيضاً واجب بحسب ما يقتضيه الحال فما يعلم أنه ينفك عنه لا يجب تعلمه وما هو ملابس له يجب تنبيهه عليه كما لو كان عند الإسلام لابساً للحرير أو جالساً في الغصب أو ناظراً إلى غير ذي محرم فيجب تعريفه بذلك وما ليس ملابساً له ولكنه بصدد التعرض له على القرب كالأكل والشرب فيجب تعليمه حتى إذا كان في بلد يتعاطى فيه شرب الخمر وأكل لحم الخنزير فيجب تعليمه ذلك وتنبيهه عليه وما وجب تعليمه وجب عليه تعلمه
Adapun mengenai pembiaran/larangan (teruk), maka wajib mempelajari ilmunya sesuai dengan keadaan yang baru terjadi, dan hal itu berbeda-beda sesuai dengan kondisi setiap pribadi. Sebab tidaklah wajib atas orang bisu mempelajari apa yang diharamkan dari ucapan, tidak wajib atas orang buta mempelajari apa yang diharamkan dari pandangan, dan tidak wajib pula atas orang Badui mempelajari tempat tinggal yang diharamkan untuk diduduki. Maka hal itu juga wajib sesuai dengan tuntutan keadaan. Apa yang diketahui bahwa seseorang terbebas darinya tidaklah wajib dipelajari, sedangkan apa yang sedang dilakukannya wajib untuk diperingatkan kepadanya, sebagaimana jika ketika masuk Islam ia sedang mengenakan pakaian sutra, duduk di tempat hasil ghasab (perampasan), atau memandang wanita yang bukan mahramnya, maka wajib memberitahukannya tentang hal tersebut. Dan apa yang tidak sedang dilakukannya namun ada kemungkinan besar akan dihadapinya dalam waktu dekat, seperti makan dan minum, maka wajib mengajarkannya; bahkan jika ia berada di suatu negeri yang biasa meminum khamar dan memakan daging babi, maka wajib mengajarkannya hal itu dan mengingatkannya. Dan apa yang wajib diajarkan darinya, wajib pula baginya untuk mempelajarinya.
وأما الاعتقادات وأعمال القلوب فيجب علمها بحسب الخواطر فإن خطر له شك في المعاني التي تدل عليها كلمتا الشهادة فيجب عليه تعلم ما يتوصل به إلى إزالة الشك
Adapun mengenai iktikad (keyakinan) dan amalan-amalan hati, maka wajib mempelajarinya sesuai dengan bisikan-bisikan pikiran (khawatir) yang muncul. Jika timbul keraguan dalam pikirannya mengenai makna-makna yang ditunjukkan oleh dua kalimat syahadat, maka wajib baginya mempelajari apa yang dapat mengantarkan pada hilangnya keraguan tersebut.
فإن لم يخطر له ذلك ومات قبل أن يعتقد أن كلام الله سبحانه قديم وأنه مرئي وأنه ليس محلاً للحوادث إلى غير ذلك مما يذكر في المعتقدات فقد مات على الإسلام إجماعاً ولكن هذه الخواطر الموجبة للاعتقادات بعضها يخطر بالطبع وبعضها يخطر بالسماع من أهل البلد فإن كان في بلد شاع فيه الكلام وتناطق الناس بالبدع فينبغي أن يصان في أول بلوغه عنها بتلقين الحق فإنه لو ألقى إليه الباطل لوجبت إزالته عن قلبه وربما عسر ذلك كما أنه لو كان هذا المسلم تاجراً وقد شاع في البلد معاملة الربا وجب عليه تعلم الحذر من الربا وهذا هو الحق في العلم الذي هو فرض عين ومعناه العلم بكيفية العمل الواجب فمن علم العلم الواجب ووقت وجوبه فقد علم العلم الذي هو فرض عين وما ذكره الصوفية من فهم خواطر العدو ولمة الملك حق أيضاً ولكن في حق من يتصدى له فإذا كان الغالب أن الإنسان لا ينفك عن دواعي الشر والرياء والحسد فيلزمه أن يتعلم من علم ربع المهلكات ما يرى نفسه محتاجاً إليه وكيف لا يجب عليه وقد قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ شُحٌّ مُطَاعٌ وَهَوًى مُتَّبَعٌ وَإِعْجَابُ المرء بنفسه ولا ينفك عنها بشر وبقية ما سنذكره من مذمومات أحوال القلب كالكبر والعجب وأخواتها تتبع هذه الثلاث المهلكات وإزالتها فرض عين ولا يمكن إزالتها إلا بمعرفة حدودها ومعرفة أسبابها ومعرفة علاماتها ومعرفة علاجها فإن من لا يعرف الشر يقع فيه والعلاج هو مقابلة السبب بضده وكيف يمكن دون معرفة السبب والمسبب وأكثر ما ذكرناه في ربع المهلكات من فروض الأعيان وقد تركها الناس كافة اشتغالاً بما لا يعنى
Namun jika bisikan keraguan itu tidak terlintas dalam pikirannya dan ia meninggal sebelum meyakini bahwa kalam Allah Subhanahu wa Ta'ala itu qadim (tanpa permulaan), bahwa Dia dapat dilihat (di akhirat), bahwa Dia bukan tempat bagi hal-hal baru (hadits), dan hal-hal lain yang disebutkan dalam ilmu akidah, maka ia telah meninggal dalam keadaan Islam berdasarkan ijmak. Akan tetapi, bisikan-bisikan pikiran yang menuntut keyakinan ini sebagiannya timbul secara alami dan sebagiannya timbul dari mendengar ucapan penduduk negeri. Jika ia berada di negeri yang di dalamnya ilmu kalam telah tersebar luas dan orang-orang memperbincangkan bid'ah, maka seyogianya ia dijaga di awal balignya dari bid'ah tersebut dengan mentalqinkan kebenaran. Sebab jika kebatilan telah terpatri dalam hatinya, maka wajib untuk menghilangkannya dari hatinya dan hal itu terkadang sulit. Sebagaimana halnya jika muslim ini seorang pedagang sedangkan di negeri itu telah marak muamalah riba, maka wajib baginya mempelajari cara berhati-hati dari riba. Inilah kebenaran mengenai ilmu yang hukumnya fardhu ain, yang maknanya adalah pengetahuan tentang tata cara pengamalan kewajiban; maka barang siapa yang mengetahui ilmu yang wajib beserta waktu kewajibannya, sungguh ia telah mengetahui ilmu yang hukumnya fardhu ain. Apa yang disebutkan oleh para Sufi tentang memahami bisikan musuh (setan) dan bisikan malaikat juga merupakan kebenaran, tetapi berlaku bagi orang yang menghadapinya. Apabila pada umumnya manusia tidak terlepas dari dorongan kejahatan, riya, dan hasad, maka wajib baginya mempelajari dari ilmu Rubu' Al-Muhlikat (Seperempat Bagian Hal-Hal yang Membinasakan) apa yang ia pandang dibutuhkannya. Bagaimana mungkin hal itu tidak wajib atasnya padahal Rasulullah ﷺ telah bersabda: "Tiga hal yang membinasakan: kikir yang dituruti, hawa nafsu yang diikuti, dan rasa ujub seseorang terhadap dirinya sendiri", dan tidak ada manusia yang terbebas darinya. Sisa dari keadaan hati yang tercela yang akan kami sebutkan—seperti takabur, ujub, dan saudara-saudaranya—mengikuti tiga hal yang membinasakan ini. Menghilangkannya adalah fardhu ain, dan tidak mungkin menghilangkannya kecuali dengan mengetahui batasan-batasannya, mengetahui sebab-sebabnya, mengetahui tanda-tandanya, serta mengetahui cara pengobatannya. Sebab barang siapa tidak mengenal kejahatan, ia akan terjerumus ke dalamnya, sedangkan pengobatan adalah dengan menandingi sebab dengan lawannya; dan bagaimana mungkin hal itu dilakukan tanpa mengetahui sebab dan akibat? Sebagian besar dari apa yang kami sebutkan dalam Rubu' Al-Muhlikat termasuk fardhu ain, namun seluruh manusia telah meninggalkannya karena sibuk dengan apa yang tidak berguna bagi mereka.
ومما لا ينبغي أن يبادر في إلقائه إليه إذا لم يكن قد انتقل عن ملة إلى ملة أخرى الإيمان بالجنة والنار والحشر والنشر حتى يؤمن به ويصدق وهو من تتمة كلمتي الشهادة فإنه بعد التصديق بكونه ﵇ رسولا
Dan di antara hal yang tidak sepatutnya segera disampaikan kepadanya—jika ia tidak berpindah dari satu agama ke agama lain—adalah keimanan kepada surga, neraka, hari kebangkitan (al-hasyr), dan pembalasan (an-nasyr), sampai ia beriman dengannya dan membenarkannya, yang mana itu merupakan penyempurna dari dua kalimat syahadat. Karena sesungguhnya, setelah membenarkan bahwa beliau 'alaihissalam adalah seorang Rasul…
ينبغي أن يفهم الرسالة التي هو مبلغها وهو أن من أطاع الله ورسوله فله الجنة ومن عصاهما فله النار فإذا انتبهت لهذا التدريج علمت أن المذهب الحق هو هذا وتحققت أن كل عبد هو في مجاري أحواله في يومه وليلته لا يخلو من وقائع في عبادته ومعاملاته عن تجدد لوازم عليه فيلزمه السؤال عن كل ما يقع له من النوادر ويلزمه المبادرة إلى تعلم ما يتوقع وقوعه على القرب غالباً فإذا تبين أنه ﵊ إنما أراد بالعلم المعرف بالألف واللام فِي قَوْلِهِ ﷺ طَلَبُ العلم فريضة على كل مسلم علم العمل الذي هو مشهور الوجوب على المسلمين لا غير فقد اتضح وجه التدريج ووقت وجوبه والله أعلم
…sepatutnya ia memahami risalah yang dibawanya, yaitu bahwasanya barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya maka baginya surga, dan barang siapa mendurhakai keduanya maka baginya neraka. Jika engkau memperhatikan tahapan (tadrij) ini, niscaya engkau mengetahui bahwa mazhab (jalan) yang benar adalah ini, dan engkau meyakini bahwa setiap hamba dalam perjalanan keadaannya di siang dan malam hari tidak lepas dari peristiwa-peristiwa dalam ibadah dan muamalahnya yang menuntut kewajiban-kewajiban baru baginya. Maka wajib baginya bertanya tentang setiap hal langka yang terjadi padanya, dan wajib baginya bersegera mempelajari apa yang diperkirakan akan terjadi dalam waktu dekat pada umumnya. Dengan demikian, apabila telah jelas bahwa beliau 'alaihissalam hanyalah menghendaki 'ilmu' yang diawali dengan alif dan lam (makrifat) dalam sabda Rasulullah SAW: 'Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim', adalah ilmu tentang amalan yang telah masyhur kewajibannya atas umat Islam, tidak yang lain, maka jelaslah bentuk tahapan tersebut dan waktu kewajibannya. Wallahu a'lam.