كتاب العلم

الباب الثالث فيما يعده العامة من العلوم المحمودة وليس منها

الباب الثالث فيما يعده العامة من العلوم المحمودة وليس منها

Beranda كتاب إحياء علوم الدين ربع العبادات كتاب العلم الباب الثالث فيما يعده العامة من العلوم المحمودة وليس منها

الباب الثالث فيما يعده العامة من العلوم المحمودة وليس منها

Bab Ketiga: Tentang Ilmu-Ilmu yang Dianggap Terpuji oleh Orang Awam Padahal Bukan Bagian Darinya.

وفيه بيان الوجه الذي قد يكون به بعض العلوم مذموماً وبيان تبديل أسامي العلوم وهو الفقه والعلم والتوحيد والتذكير والحكمة وبيان القدر المحمود من العلوم الشرعية والقدر المذموم منها

Di dalamnya terdapat penjelasan mengenai sisi atau alasan di mana sebagian ilmu dapat menjadi tercela, penjelasan tentang pergeseran istilah-istilah ilmu—yaitu Fiqih, Ilmu, Tauhid, Tadzkir (peringatan), dan Hikmah—serta penjelasan tentang kadar ilmu syariat yang dipuji dan kadar yang dicela darinya.

بيان علة ذم العلم المذموم لعلك تقول العلم هو معرفة الشيء على ما هو به وهو من صفات الله تعالى فكيف يكون الشيء علماً ويكون مع كونه علماً مذموماً فاعلم أن العلم لا يذم لعينه وإنما يذم في حق العباد لأحد أسباب ثلاثة

Penjelasan mengenai 'illat (alasan) dicelanya ilmu yang tercela. Mungkin engkau akan berkata, "Ilmu adalah pengetahuan tentang sesuatu sebagaimana hakikatnya, dan ilmu merupakan salah satu sifat Allah Ta'ala. Lantas bagaimana mungkin sesuatu itu adalah ilmu namun sekaligus menjadi tercela?" Ketahuilah bahwa ilmu tidak dicela karena zatnya sendiri, melainkan dicela dalam hak para hamba karena salah satu dari tiga sebab:

الأول أن يكون مؤدياً إلى ضرر ما إما لصاحبه أو لغيره كما يذم علم السحر والطلسمات وهو حق إذ شهد القرآن له وأنه سبب يتوصل به إلى التفرقة بين الزوجين وقد سحر رسول الله ﷺ ومرض بسببه حتى أخبره جبريل ﵇ بذلك وأخرج السحر من تحت حجر في قعر بئر وهو نوع يستفاد من العلم بخواص الجواهر وبأمور حسابية في مطالع النجوم فيتخذ من تلك الجواهر هيكل على صورة الشخص المسحور ويرصد به وقت مخصوص من المطالع وتقرن به كلمات يتلفظ بها من الكفر والفحش المخالف للشرع ويتوصل بسببها إلى الاستعانة بالشياطين ويحصل من مجموع ذلك بحكم إجراء الله تعالى العادة أحوال غريبة في الشخص المسحور ومعرفة هذه الأسباب من حيث إنها معرفة ليست بمذمومة ولكنها ليست تصلح إلا للإضرار بالخلق والوسيلة إلى الشر شر فكان ذلك هو السبب في كونه علماً مذموماً بل من اتبع ولياً من أولياء الله ليقتله وقد اختفى منه في موضع حريز إذا سأل الظالم عن محله لم يجز تنبيهه عليه بل وجب الكذب فيه وذكر موضعه إرشاد وإفادة علم بالشيء على ما هو عليه ولكنه مذموم لأدائه إلى الضرر

Pertama, ilmu tersebut membawa pada suatu kemudaratan, baik bagi pemiliknya maupun bagi orang lain. Sebagaimana dicelanya ilmu sihir dan jimat-jimat (talismans). Hal ini adalah kenyataan (hakiki) karena Al-Qur'an telah menyatakannya dan bahwa ia merupakan sarana yang digunakan untuk memisahkan antara suami dan istri. Rasulullah ﷺ pun pernah disihir dan jatuh sakit karenanya, hingga Jibril 'alaihis salam memberitahukan hal itu kepada beliau, lalu sihir tersebut dikeluarkan dari bawah batu di dasar sumur. Sihir adalah sejenis pengetahuan yang diperoleh dari ilmu tentang khasiat materi-materi tertentu dan perhitungan matematis pada tempat-tempat terbitnya bintang. Dari materi-materi tersebut dibentuklah sebuah patung yang menyerupai rupa orang yang disihir, lalu ditunggu waktu tertentu dari terbitnya bintang, dan disertai dengan kata-kata berupa kekufuran serta kekejian yang menyelisihi syariat, yang dengannya digunakan untuk meminta bantuan kepada setan. Dari gabungan seluruh hal tersebut—berdasarkan ketetapan sunnatullah (hukum kebiasaan Allah Ta'ala)—terjadilah keadaan-keadaan aneh pada diri orang yang disihir. Pengetahuan tentang sebab-sebab ini, ditinjau dari posisinya sebagai sebuah pengetahuan, tidaklah tercela. Akan tetapi, ilmu ini tidak layak melainkan hanya untuk memudaratkan makhluk, sedangkan perantara menuju keburukan adalah keburukan itu sendiri. Maka itulah sebabnya ilmu ini menjadi ilmu yang tercela. Bahkan, barang siapa yang membuntuti salah seorang wali dari wali-wali Allah untuk membunuhnya, sedangkan wali tersebut bersembunyi di tempat yang aman, apabila orang zalim itu menanyakan keberadaannya, maka tidak boleh menunjukkannya; bahkan wajib berbohong dalam hal tersebut. Menyebutkan keberadaannya memang sebuah bimbingan dan pemberian pengetahuan tentang sesuatu sebagaimana adanya, namun hal itu tercela karena membawa kepada kemudaratan.

الثاني أن يكون مضراً بصاحبه في غالب الأمر كعلم النجوم فإنه في نفسه غير مذموم لذاته إذ هو قسمان قسم حسابي وقد نطق القرآن بأن مسير الشمس والقمر محسوب إذ قال ﷿ ﴿الشمس والقمر بحسبان﴾ وقال ﷿ ﴿والقمر قدرناه منازل حتى عاد كالعرجون القديم﴾ والثاني الأحكام وحاصله يرجع إلى الاستدلال على الحوادث بالأسباب وهو يضاهي استدلال الطبيب بالنبض على ما سيحدث من المرض وهو معرفة لمجاري سنة الله تعالى وعادته في خلقه ولكن قد ذمه الشرع

Kedua, ilmu yang dapat memudaratkan pemiliknya secara umum, seperti ilmu nujum (astrologi). Sebab, ilmu ini pada hakikatnya tidak tercela pada zatnya sendiri, karena terbagi menjadi dua bagian: Pertama, bagian perhitungan (astronomi), dan Al-Qur'an telah menegaskan bahwa peredaran matahari dan bulan itu terhitung, sebagaimana firman-Nya 'Azza wa Jalla: "Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan" [QS. Ar-Rahman: 5], dan firman-Nya 'Azza wa Jalla: "Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua" [QS. Yasin: 39]. Bagian kedua adalah hukum-hukum (peramalan/astrologi), yang pada intinya kembali kepada penyimpulan atas kejadian-kejadian (peristiwa) melalui sebab-sebabnya. Hal ini serupa dengan penyimpulan seorang dokter melalui denyut nadi mengenai penyakit yang bakal terjadi, dan itu merupakan pengetahuan tentang jalannya sunnatullah dan kebiasaan-Nya pada makhluk-Nya. Akan tetapi, syariat telah mencelanya.

قال ﷺ إذا ذكر القدر فأمسكوا وإذا ذكرت النجوم فأمسكوا وإذا ذكر أصحابي فأمسكوا

Rasulullah ﷺ bersabda: "Apabila takdir disebut maka menahan dirilah kalian (jangan berlebihan membicarakannya), apabila bintang-bintang (nujum) disebut maka menahan dirilah kalian, dan apabila sahabat-sahabatku disebut maka menahan dirilah kalian."

وقال ﷺ أخاف على أمتي بعدي ثلاثاً حيف الأئمة والإيمان بالنجوم والتكذيب بالقدر

Dan Rasulullah ﷺ bersabda: "Aku mengkhawatirkan tiga hal atas umatku sepenuhku: kezaliman para pemimpin, pembenaran (kepercayaan) terhadap ilmu nujum, dan pendustaan terhadap takdir."

وقال عمر بن الخطاب ﵁ تعلموا من النجوم ما تهتدون به في البر والبحر ثم أمسكوا وإنما زجر عنه من ثلاثة أوجه أحدها أنه مضر بأكثر الخلق فإنه إذا ألقي إليهم أن هذه الآثار تحدث عقيب سير الكواكب وقع في نفوسهم أن الكواكب هي المؤثرة وأنها الآلهة المدبرة لأنها جواهر شريفة سماوية ويعظم وقعها في القلوب فيبقى القلب ملتفتاً إليها ويرى الخير والشر محذوراً أو مرجوا من جهتها

Dan Umar bin al-Khattab radhiyallahu 'anhu berkata: "Pelajarilah oleh kalian tentang bintang-bintang sekadar apa yang dapat menjadi petunjuk jalan bagi kalian di darat dan di laut, kemudian tahanlah diri kalian (dari mempelajari lebih jauh)." Larangan terhadap ilmu ini sesungguhnya dari tiga sisi. Pertama, bahwa ilmu ini memudaratkan mayoritas makhluk; sebab apabila ditanamkan kepada mereka bahwa dampak-dampak ini terjadi mengiringi peredaran bintang-bintang, terlintaslah dalam jiwa mereka bahwa bintang-bintang itulah yang memberikan pengaruh (efek) dan bahwa bintang-bintang itu adalah tuhan-tuhan yang mengatur, karena bintang-bintang itu merupakan substansi langit yang mulia. Maka besar pengaruhnya di dalam hati, sehingga hati senantiasa berpaling kepadanya dan memandang kebaikan serta keburukan sebagai hal yang ditakuti atau diharapkan dari arah bintang-bintang tersebut.

وينمحي ذكر الله سبحانه عن القلب فإنه الضعيف يقصر نظره على الوسائط والعالم الراسخ هو الذي يطلع على أن الشمس والقمر والنجوم مسخرات بأمره ﷾ ومثال نظر الضعيف إلى حصول ضوء الشمس عقيب طلوع الشمس مثال النملة لو خلق لها عقل وكانت على سطح قرطاس وهي تنظر إلى سواد الخط يتجدد فتعتقد أنه فعل القلم ولا تترقى في نظرها إلى مشاهدة الأصابع ثم منها إلى اليد ثم منها إلى الإرادة المحركة اليد ثم منها إلى الكاتب القادر المريد ثم منه إلى خالق اليد والقدرة والإرادة فأكثر نظر الخلق مقصور على الأسباب القريبة السافلة مقطوع من الترقي إلى مسبب الأسباب فهذا أحد أسباب النهي عن النجوم

Sehingga terhapuslah pengingatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dari dalam hati. Sebab, orang yang lemah pandangan batinnya hanya menatap perantara-perantara (wasithah), sedangkan orang berilmu yang mendalam (al-'alim ar-rasikh) adalah orang yang mengetahui bahwa matahari, bulan, dan bintang-bintang tunduk di bawah perintah-Nya 'Azza wa Jalla. Perumpamaan pandangan orang yang lemah terhadap timbulnya sinar matahari setelah terbitnya matahari adalah seperti perumpamaan seekor semut—seandainya diciptakan akal baginya—yang berada di atas lembaran kertas, dan ia melihat hitamnya tulisan yang baru tergores, lalu ia meyakini bahwa itu adalah perbuatan pena. Ia tidak mampu meningkatkan pandangannya untuk menyaksikan jari-jemari, lalu dari jari-jemari menuju tangan, dari tangan menuju kehendak (iradah) yang menggerakkan tangan, dari kehendak menuju sang penulis yang berkuasa lagi berkehendak, dan dari sang penulis menuju Sang Pencipta tangan, kuasa, dan kehendak itu. Maka mayoritas pandangan makhluk hanya terbatas pada sebab-sebab dekat yang rendah, terputus dari peningkatan menuju Sang Pencipta Segala Sebab (Musabbibal Asbab). Inilah salah satu alasan pelarangan ilmu nujum.

وثانيها أن أحكام النجوم تخمين محض ليس يدرك في حق آحاد الأشخاص لا يقيناً ولا ظناً فالحكم به حكم يجهل فيكون ذمه على هذا من حيث أنه جهل لا من حيث إنه علم فلقد كان ذلك معجزة لإدريس ﵇ فيما يحكى وقد اندرس وانمحى ذلك العلم وانمحق وما يتفق من إصابة المنجم على ندور فهو اتفاق لأنه قد يطلع على بعض الأسباب ولا يحصل المسبب عقيبها إلا بعد شروط كثيرة ليس في قدرة البشر الاطلاع على حقائقها فإن اتفق أن قدر الله تعالى بقية الأسباب وقعت الإصابة وإن لم يقدر أخطأ ويكون ذلك كتخمين الإنسان في أن السماء تمطر اليوم مهما رأى الغيم يجتمع وينبعث من الجبال فيتحرك ظنه بذلك وربما يحمى النهار بالشمس ويذهب الغيم وربما يكون بخلافه ومجرد الغيم ليس كافياً في مجيء المطر وبقية الأسباب لا تدرى وكذلك تخمين الملاح أن السفينة تسلم اعتماداً على ما ألفه من العادة في الرياح ولتلك الرياح أسباب خفية هو لا يطلع عليها فتارة يصيب في تخمينه وتارة يخطىء ولهذه العلة يمنع القول عن النجوم أيضا

Sisi kedua, bahwa hukum-hukum peramalan bintang (astrologi) adalah murni rekaan atau dugaan (takhmin) yang tidak dapat dicapai kebenarannya pada tiap-tiap individu, baik secara yakin maupun dugaan kuat (zhann). Maka memutuskan hukum dengannya adalah memutuskan berdasarkan kebodohan. Dengan demikian, pencelaannya dari sisi ini adalah karena ia merupakan kebodohan, bukan karena ia sebagai sebuah ilmu. Dahulu hal itu merupakan mukjizat bagi Nabi Idris 'alaihis salam menurut apa yang diceritakan, namun ilmu tersebut telah lenyap, terhapus, dan musnah. Adapun ketepatan peramal bintang yang sesekali terjadi secara langka, itu hanyalah kebetulan belaka (ittifaq); karena ia mungkin mengetahui sebagian sebab, sedangkan akibat (musabbab) tidak akan terjadi mengiringinya melainkan setelah terpenuhinya banyak syarat yang tidak ada dalam kemampuan manusia untuk mengetahui hakikat-hakikatnya. Jika kebetulan Allah Ta'ala mentakdirkan sisa sebab-sebab lainnya, maka terjadilah ketepatan itu; dan jika Dia tidak mentakdirkan, maka peramalan itu salah. Hal ini seperti dugaan manusia bahwa langit akan turun hujan hari ini tatkala ia melihat awan berkumpul dan bertiup dari pegunungan, sehingga dugaannya tergerak oleh hal itu, padahal bisa jadi siang hari menjadi panas oleh terik matahari dan awan pun lenyap, atau bisa jadi terjadi sebaliknya. Sekadar keberadaan awan tidaklah cukup untuk mendatangkan hujan, sementara sisa sebab-sebab lainnya tidak diketahui. Demikian pula dugaan seorang nakhoda bahwa kapal akan selamat dengan bersandar pada kebiasaan angin yang dikenalnya, padahal angin tersebut memiliki sebab-sebab tersembunyi yang tidak diketahuinya; sehingga terkadang dugaannya tepat dan terkadang keliru. Karena alasan inilah, pembicaraan mengenai ilmu nujum juga dilarang.

وثالثها أنه لا فائدة فيه فأقل أحواله أنه خوض في فضول لا يغني وتضييع العمر الذي هو أنفس بضاعة الإنسان في غير فائدة وذلك غاية الخسران فقد مر رسول الله ﷺ برجل والناس مجتمعون عليه فقال ما هذا فقالوا رجل علامة فقال بماذا قالوا بالشعر وأنساب العرب فقال علم لا ينفع وجهل لا يضر وقال ﷺ إنما العلم آية محكمة أو سنة قائمة أو فريضة عادلة فإذن الخوض في النجوم وما يشبهه اقتحام خطر وخوض في جهالة من غير فائدة فإن ما قدر كائن والاحتراز منه غير ممكن بخلاف الطب فإن الحاجة ماسة إليه وأكثر أدلته بما يطلع عليه وبخلاف التعبير وإن كان تخميناً لأنه جزء من ستة وأربعين جزءاً من النبوة ولا خطر فيه

Sisi ketiga, bahwa tidak ada manfaat di dalamnya. Keadaan paling ringannya adalah ia merupakan pembicaraan mendalam tentang hal sia-sia yang tidak berguna, serta penghamburan umur—yang merupakan modal manusia paling berharga—dalam hal yang tidak bermanfaat; dan itu adalah puncak kerugian. Sungguh Rasulullah ﷺ pernah melewati seorang laki-laki yang sedang dikerumuni orang banyak, lalu beliau bertanya: "Apakah ini?" Mereka menjawab, "Seorang yang sangat alim ('allamah)." Beliau bertanya: "Dalam hal apa?" Mereka menjawab, "Dalam hal syair dan silsilah nasab orang Arab." Maka beliau bersabda: "Itu adalah ilmu yang tidak memberi manfaat dan kebodohan dengannya tidak memberi mudarat." Dan beliau ﷺ bersabda: "Sesungguhnya ilmu itu hanyalah ayat yang muhkam (jelas petunjuknya), atau sunnah yang tegak (berlaku), atau kewajiban yang adil." Maka, mendalami ilmu nujum dan yang menyerupainya adalah tindakan menerjang bahaya dan menceburkan diri dalam kebodohan tanpa ada manfaatnya. Sebab, apa yang telah ditakdirkan pasti akan terjadi, dan membentengi diri darinya adalah hal yang tidak mungkin. Berbeda halnya dengan ilmu kedokteran, karena kebutuhan terhadapnya sangat mendesak dan sebagian besar dalil-dalilnya didasarkan pada hal-hal yang dapat diamati. Berbeda pula dengan ilmu takbir mimpi, meskipun berupa dugaan, karena ia merupakan satu dari empat puluh enam bagian dari kenabian dan tidak mengandung bahaya.

السبب الثالث الخوض في علم لا يستفيد الخائض فيه فائدة علم فهو مذموم في حقه كتعلم دقيق العلوم قبل جليلها وخفيها قبل جليها وكالبحث عن الأسرار الإلهية إذ يطلع الفلاسفة والمتكلمون إليها ولم يستقلوا بها ولم يستقل بها وبالوقوف على طرق بعضها إلا الأنبياء والأولياء فيجب كف الناس عن البحث عنها وردهم إلى ما نطق به الشرع ففي ذلك مقنع للموفق فكم من شخص خاض في العلوم واستضر بها ولو لم يخض فيها لكان حاله أحسن في الدين مما صار إليه ولا ينكر كون العلم ضاراً لبعض الناس كما يضر لحم الطير وأنواع الحلوى اللطيفة بالصبي الرضيع بل رب شخص ينفعه الجهل ببعض الأمور فلقد حكي أن بعض الناس شكا إلى طبيب عقم امرأته وأنها لا تلد فجس الطبيب نبضها وقال لا حاجة لك إلى دواء الولادة فإنك ستموتين إلى

Sebab ketiga, mendalami suatu ilmu yang mana orang yang mendalaminya tidak memperoleh manfaat ilmu dengannya, maka ilmu tersebut tercela baginya. Seperti mempelajari ilmu-ilmu yang rumit sebelum mempelajari ilmu-ilmu yang mendasar, atau yang samar sebelum yang jelas; dan seperti membahas rahasia-rahasia ketuhanan (al-asrar al-ilahiyyah) di mana para filsuf dan ahli kalam mencoba menelitinya namun tidak sanggup menguasainya. Tidak ada yang sanggup menguasainya dan mengetahui jalan sebagian rahasia tersebut kecuali para nabi dan para wali. Maka wajib menahan manusia dari membahasnya dan mengembalikan mereka kepada apa yang dinyatakan oleh syariat, karena dalam hal itu terdapat kecukupan bagi orang yang diberi taufik. Betapa banyak orang yang menyelami ilmu-ilmu lalu mendapat kemudaratan darinya, padahal seandainya ia tidak menyelaminya, niscaya keadaannya dalam agama akan jauh lebih baik daripada apa yang dialaminya. Tidak dipungkiri bahwa suatu ilmu bisa memudaratkan sebagian orang, sebagaimana daging burung dan aneka manisan yang lezat dapat memudaratkan bayi yang masih menyusu. Bahkan boleh jadi seseorang justru mendapat manfaat dari ketidaktahuannya tentang sebagian perkara. Sungguh diceritakan bahwa seorang laki-laki mengadukan kepada dokter tentang kemandulan istrinya yang tidak bisa melahirkan. Dokter itu lalu memegang denyut nadinya dan berkata, "Engkau tidak membutuhkan obat kehamilan, karena engkau akan mati dalam waktu…"

أربعين يوماً وقد دل النبض عليه فاستشعرت المرأة الخوف العظيم وتنغص عليها عيشها وأخرجت أموالها وفرقتها وأوصت وبقيت لا تأكل ولا تشرب حتى انقضت المدة فلم تمت فجاء زوجها إلى الطبيب وقال له لم تمت فقال الطبيب قد علمت ذلك فجامعها الآن فإنها تلد فقال كيف ذاك قال رأيتها سمينة وقد انعقد الشحم على فم رحمها فعلمت أنها لا تهزل إلا بخوف الموت فخوفتها بذلك حتى هزلت وزال المانع من الولادة فهذا ينبهك على استشعار خطر بعض العلوم ويفهمك معنى قوله ﷺ نعوذ بالله من علم لا ينفع فاعتبر بهذه الحكاية ولا تكن بحاثاً عن علوم ذمها الشرع وزجر عنها ولازم الاقتداء بالصحابة ﵃ واقتصر على اتباع السنة فالسلامة في الاتباع والخطر في البحث عن الأشياء والاستقلال ولا تكثر اللجج برأيك ومعقولك ودليلك وبرهانك وزعمك أني أبحث عن الأشياء لأعرفها على ما هي عليه فأي ضرر في التفكر في العلم فإن ما يعود عليك من ضرره أكثر وكم من شيء تطلع عليه فيضرك اطلاعك عليه ضرراً يكاد يهلكك في الآخرة إن لم يتداركك الله برحمته

"…empat puluh hari, dan denyut nadi ini telah menunjukkannya." Maka wanita itu merasakan ketakutan yang luar biasa dan kehidupannya menjadi muram. Ia mengeluarkan harta miliknya lalu membagikannya, serta berwasiat. Ia tetap tidak makan dan tidak minum hingga berlalunya jangka waktu tersebut, namun ia tidak mati. Maka suaminya mendatangi dokter tersebut dan berkata kepadanya, "Ia tidak mati." Dokter itu menjawab, "Aku sudah mengetahui hal itu. Menggaulilah dia sekarang, niscaya dia akan melahirkan." Suaminya bertanya, "Bagaimana bisa demikian?" Dokter itu menjawab, "Aku melihatnya sangat gemuk dan lemak telah menutupi mulut rahimnya, maka aku tahu dia tidak akan kurus kecuali dengan rasa takut akan kematian. Maka aku menakut-nakutinya dengan hal itu hingga dia kurus dan hilanglah penghalang kehamilan tersebut." Maka kisah ini menyadarkanmu untuk merasakan bahaya sebagian ilmu, dan memahamkanmu makna sabda Nabi ﷺ: "Kami berlindung kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat." Maka ambillah pelajaran dari kisah ini, dan janganlah engkau menjadi seorang yang suka menyelidiki ilmu-ilmu yang dicela oleh syariat dan dilarang darinya. Lazimkanlah meneladani para Sahabat radhiyallahu 'anhum, serta batasilah diri pada mengikuti Sunnah (ittiba'). Sebab keselamatan terletak pada ittiba', sedangkan bahaya ada pada penyelidikan perkara-perkara (secara liar) dan bersikap independen (sok mandiri dengan akal). Janganlah banyak memperpanjang perdebatan dengan pendapatmu, nalarmu, dalilmu, bukti rasionalmu, serta anggapanmu bahwa "Aku meneliti perkara-perkara ini agar aku mengetahuinya sesuai hakikatnya, lantas apa kemudaratan dalam memikirkan ilmu?" Karena sesungguhnya apa yang kembali kepadamu dari mudaratnya justru lebih banyak. Betapa banyak hal yang jika engkau mengetahuinya, maka pengetahuanmu itu justru memudaratkanmu dengan kemudaratan yang hampir membinasakanmu di akhirat jika Allah tidak menolongmu dengan rahmat-Nya.

واعلم أنه كما يطلع الطبيب الحاذق على أسرار في المعالجات يستبعدها من لا يعرفها فكذلك الأنبياء أطباء القلوب والعلماء بأسباب الحياة الأخروية فلا تتحكم على سننهم بمعقولك فتهلك فكم من شخص يصيبه عارض في أصبعه فيقتضي عقله أن يطليه حتى ينبهه الطبيب الحاذق أن علاجه أن بطلى الكف من الجانب الآخر من البدن فيستبعد ذلك غاية الاستبعاد من حيث لا يعلم كيفية انشعاب الأعصاب ومنابتها ووجه التفافها على البدن فهكذا الأمر في طريق الآخرة وفي دقائق سنن الشرع وآدابه وفي عقائده التي تعبد الناس بها أسرار ولطائف ليست في سعة العقل وقوته الإحاطة بها كما أن في خواص الأحجار أموراً عجائب غاب عن أهل الصنعة علمها حتى لم يقدر أحد على أن يعرف السبب الذي به يجذب المغناطيس الحديد فالعجائب والغرائب في العقائد والأعمال وإفادتها لصفاء القلوب ونقائها وطهارتها وتزكيتها وإصلاحها للترقي إلى جوار الله تعالى وتعرضها لنفحات فضله أكثر وأعظم مما في الأدوية والعقاقير وكما أن العقول تقصر عن إدراك منافع الأدوية مع أن التجربة سبيل إليها فالعقول تقصر عن إدراك ما ينفع في حياة الآخرة مع أن التجربة غير متطرقة إليها وإنما كانت التجربة تتطرق إليها لو رجع إلينا بعض الأموات فأخبرنا عن الأعمال المقبولة النافعة المقربة إلى الله تعالى زلفى وعن الأعمال المبعدة عنه وكذا عن العقائد وذلك مما لا يطمع فيه فيكفيك من منفعة العقل أن يهديك إلى صدق النبي ﷺ ويفهمك موارد إشاراته فاعزل العقل بعد ذلك عن التصرف ولازم الاتباع فلا تسلم إلا به والسلام ولذلك قال ﷺ إن من العلم جهلاً وإن من القول عياً ومعلوم أن العلم لا يكون جهلاً ولكنه يؤثر تأثير الجهل في الإضرار وقال أيضاً ﷺ قليل من التوفيق خير من كثير من العلم وقال عيسى ﵇ ما أكثر الشجر وليس كلها بمثمر وليس كلها بطيب وما أكثر العلوم وليس كلها بنافع

Ketahuilah bahwa sebagaimana seorang dokter yang ahli mengetahui rahasia-rahasia dalam pengobatan yang dianggap mustahil oleh orang yang tidak mengetahuinya, demikian pula para nabi adalah dokter-dokter hati dan orang-orang yang mengetahui sebab-sebab kehidupan akhirat. Maka janganlah engkau menghakimi sunnah-sunnah (jalan) mereka dengan nalarmu sehingga engkau binasa. Betapa banyak orang yang tertimpa masalah pada jarinya, lalu akalnya menghendaki untuk membaluri jari itu saja, hingga dokter yang mahir menyadarkannya bahwa obatnya adalah dengan membaluri telapak tangan di bagian tubuh yang lain. Maka ia menganggap hal itu sangat mustahil, karena ia tidak mengetahui bagaimana percabangan saraf, pangkal-pangkalnya, dan cara lilitannya pada tubuh. Demikian pulalah halnya dalam jalan menuju akhirat, serta dalam kelembutan sunnah-sunnah syariat dan adab-adabnya, dan dalam akidah-akidahnya yang mana manusia dituntut beribadah dengannya; di situ terdapat rahasia-rahasia dan kehalusan-kehalusan yang berada di luar kapasitas akal dan kekuatannya untuk melingkupinya. Sebagaimana dalam khasiat batu-batuan terdapat hal-hal ajaib yang tidak diketahui oleh ahli kerajinan sekalipun, hingga tidak ada seorang pun yang sanggup mengetahui sebab yang membuat magnet menarik besi. Maka keajaiban dan keanehan dalam akidah dan amal—serta faedahnya bagi kebeningan hati, kejernihannya, kesuciannya, penyuciannya (tazkiyah), dan perbaikannya untuk naik ke hadirat Allah Ta'ala serta keterpaparannya pada hembusan-hembusan karunia-Nya—adalah jauh lebih banyak dan lebih agung daripada apa yang ada dalam obat-obatan dan racikan medis. Sebagaimana akal terbukti lemah untuk menggapai manfaat-manfaat obat padahal eksperimen (pengalaman) adalah jalan menuju ke sana, maka akal lebih lemah lagi untuk menggapai apa yang bermanfaat dalam kehidupan akhirat, padahal eksperimen tidak mungkin bisa diterapkan di sana. Eksperimen baru mungkin diterapkan sekiranya sebagian orang mati kembali kepada kita lalu memberitahukan tentang amal-amal yang diterima dan bermanfaat yang mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala setinggi-tingginya, serta tentang amal-amal yang menjauhkan dari-Nya, demikian pula tentang akidah-akidah; dan hal itu adalah sesuatu yang tidak mungkin diharapkan. Maka cukuplah bagimu dari manfaat akal adalah ia menuntunmu pada kebenaran Nabi ﷺ dan memahamkanmu maksud dari isyarat-isyarat beliau. Setelah itu, istirahatkanlah akal dari bertindak sendiri dan lazimkanlah mengikuti (ittiba'), sebab engkau tidak akan selamat melainkan dengannya; wassalam. Oleh karena itulah Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya di antara ilmu ada yang merupakan kebodohan, dan di antara perkataan ada yang merupakan gagap (kebingungan)." Telah maklum bahwa ilmu tidaklah menjadi kebodohan, namun ia memberikan dampak seperti dampak kebodohan dalam hal membawa kemudaratan. Beliau ﷺ juga bersabda: "Sedikit dari taufik adalah lebih baik daripada banyak dari ilmu." Dan Isa 'alaihis salam berkata: "Betapa banyaknya pepohonan, namun tidak semuanya berbuah dan tidak semuanya harum; dan betapa banyaknya ilmu, namun tidak semuanya bermanfaat."