الباب الثالث فيما يعده العامة من العلوم المحمودة وليس منها

بيان القدر المحمود من العلوم المحمودة

بيان القدر المحمود من العلوم المحمودة

بيان القدر المحمود من العلوم المحمودة

Penjelasan Kadar yang Terpuji dari Ilmu-Ilmu yang Terpuji

اعلم أن العلم بهذا الاعتبار ثلاثة أقسام قسم هو مذموم قليله وكثيره وقسم هو محمود قليله وكثيره وكلما كان أكثر كان أحسن وأفضل وقسم يحمد منه مقدار الكفاية ولا يحمد الفاضل عليه والاستقصاء فيه وهو مثل

Ketahuilah bahwa ilmu ditinjau dari segi ini terbagi menjadi tiga kategori: pertama, kategori yang tercela baik sedikit maupun banyaknya; kedua, kategori yang terpuji baik sedikit maupun banyaknya, dan semakin banyak maka semakin baik dan utama; ketiga, kategori yang dipuji sebatas kadar kecukupan (mikdār al-kifāyah), sedangkan mendalaminya secara berlebihan dan mengelaborasi hingga tuntas tidaklah dipuji. Kategori ini seperti

أحوال البدن فإن منها ما يحمد قليله وكثيره كالصحة والجمال ومنها ما يذم قليله وكثيره كالقبح وسوء الخلق ومنها ما يحمد الاقتصاد فيه كبذل المال فإن التبذير لا يحمد فيه وهو بذل وكالشجاعة فإن التهور لا يحمد فيها وإن كان من جنس الشجاعة فكذلك العلم

kondisi tubuh manusia; di antaranya ada yang dipuji baik sedikit maupun banyaknya seperti kesehatan dan ketampanan/kecantikan; di antaranya ada yang dicela baik sedikit maupun banyaknya seperti keburukan rupa dan keburukan akhlak; dan di antaranya ada yang dipuji jika bersikap pertengahan (al-iqtiṣād), seperti mendermakan harta, karena sikap boros (at-tabżīr) tidak dipuji padahal ia termasuk kedermawanan, dan seperti keberanian (asy-syajā'ah), karena nekat (at-tahawwur) tidak dipuji padahal ia sejenis dengan keberanian. Demikian pulalah halnya dengan ilmu.

فالقسم المذموم منه قليله وكثيره هو ما لا فائدة فيه في دين ولا دنيا إذ فيه ضرر يغلب نفعه كعلم السحر والطلسمات والنجوم فبعضه لا فائدة فيه أصلاً وصرف العمر الذي هو أنفس ما يملكه الإنسان إليه إضاعة وإضاعة النفيس مذمومة

Adapun kategori yang tercela baik sedikit maupun banyaknya adalah ilmu yang tidak memiliki faedah untuk agama maupun dunia, sebab di dalamnya terdapat kemudaratan yang melebihi manfaatnya, seperti ilmu sihir, jimat/jampi-jampi (at-thalasmat), dan astrologi/perbintangan (an-nujūm). Sebagian dari ilmu tersebut sama sekali tidak ada faedahnya, dan menghabiskan umur—yang merupakan hal paling berharga yang dimiliki manusia—untuk itu adalah suatu kesia-siaan, sedangkan menyia-nyiakan hal yang berharga adalah tindakan tercela.

ومنه ما فيه ضرر يزيد على ما يظن أنه يحصل به من قضاء وطر في الدنيا فإن ذلك لا يعتد به بالإضافة إلى الضرر الحاصل عنه

Di antaranya pula terdapat ilmu yang kemudaratannya lebih besar daripada pemenuhan hajat duniawi yang dikira bisa diperoleh melaluinya, sebab hal itu tidak ada artinya jika dibandingkan dengan kemudaratan yang ditimbulkannya.

وأما القسم المحمود إلى أقصى غايات الاستقصاء فهو العلم بالله تعالى وبصفاته وأفعاله وسنته في خلقه وحكمته في ترتيب الآخرة على الدنيا فإن هذا علم مطلوب لذاته وللتوصل به إلى سعادة الآخرة وبذل المقدور فيه إلى أقصى الجهد قصور عن حد الواجب فإنه البحر الذي لا يدرك غوره وإنما يحوم الحائمون على سواحله وأطرافه بقدر ما يسر لهم وما خاض أطرافه إلا الأنبياء والأولياء والراسخون في العلم على اختلاف درجاتهم بحسب اختلاف قوتهم وتفاوت تقدير الله تعالى في حقهم وهذا هو العلم المكنون الذي لا يسطر في الكتب ويعين على التنبه له التعلم ومشاهدة أحوال علماء الآخرة كما سيأتي علامتهم هذا في أول الأمر ويعين عليه في الآخرة المجاهدة والرياضة وتصفية القلب وتفريغه عن علائق الدنيا والتشبه فيها بالأنبياء والأولياء ليتضح منه لكل ساع إلى طلبه بقدر الرزق لا بقدر الجهد ولكن لا غنى فيه عن الاجتهاد فالمجاهدة مفتاح الهداية لا مفتاح لها سواها وأما العلوم التي لا يحمد منها إلا مقدار مخصوص فهي العلوم التي أوردناها في فروض الكفايات فإن في كل علم منها اقتصاراً وهو الأقل واقتصاداً وهو الوسط واستقصاء وراء ذلك الاقتصاد لا مرد له إلى آخر العمر فكن أحد رجلين إما مشغولاً بنفسك وإما متفرغاً لغيرك بعد الفراغ من نفسك وإياك أن تشتغل بما يصلح غيرك قبل إصلاح نفسك فإن كنت المشغول بنفسك فلا تشتغل إلا بالعلم الذي هو فرض عليك بحسب ما يقتضيه حالك وما يتعلق منه بالأعمال الظاهرة من تعلم الصلاة والطهارة والصوم وإنما الأهم الذي أهمله الكل علم صفات القلب وما يحمد منها وما يذم إذ لا ينفك بشر عن الصفات المذمومة مثل الحرص والحسد والرياء والكبر والعجب وأخواتها وجميع ذلك مهلكات وإهمالها من الواجبات مع أن الاشتغال بالأعمال الظاهرة يضاهي الاشتغال بطلاء ظاهر البدن عند التأذي بالجرب والدماميل والتهاون بإخراج المادة بالفصد والإسهال وحشوية العلماء يشيرون بالأعمال الظاهرة كما يشير الطرقية من الأطباء بطلاء ظاهر البدن وعلماء الآخرة لا يشيرون إلا بتطهير الباطن وقطع مواد الشر بإفساد منابتها وقلع مغارسها من القلب وإنما فزع الأكثرون إلى الأعمال الظاهرة عن تطهير القلوب لسهولة أعمال الجوارح واستصعاب أعمال القلوب كما يفزع إلى طلاء الظاهر من يستصعب شرب الأدوية المرة فلا يزال يتعب في الطلاء ويزيد في المواد وتتضاعف به الأمراض فإن كنت مريداً للآخرة وطالباً للنجاة وهارباً من الهلاك الأبدي فاشتغل بعلم العلل الباطنة وعلاجها على ما فصلناه في ربع المهلكات ثم ينجر بك ذلك إلى المقامات المحمودة المذكورة في ربع المنجيات لا محالة فإن القلب إذا فرغ من المذموم امتلأ بالمحمود والأرض إذا نقيت من الحشيش نبت فيها أصناف الزرع والرياحين وإن لم تفرغ من ذلك لم تنبت ذاك فلا تشتغل بفروض الكفاية لا سيما وفي زمرة الخلق من قد قام بها فإن مهلك نفسه فيما به صلاح غيره سفيه فما أشد حماقة من دخلت الأفاعي والعقارب تحت ثيابه وهمت بقتله وهو يطلب مذبة يدفع بها الذباب عن غيره ممن لا يغنيه ولا ينجيه مما يلاقيه من تلك الحيات والعقارب إذا همت به

Adapun kategori yang terpuji hingga batas pendalaman yang paling maksimal adalah ilmu tentang Allah Ta'ala, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, sunnah-Nya pada ciptaan-Nya, serta hikmah-Nya dalam menjadikan akhirat sebagai balasan bagi dunia. Ilmu ini dicari karena zatnya sendiri dan sebagai sarana untuk mencapai kebahagiaan akhirat. Mengerahkan segenap kemampuan untuk menuntutnya hingga batas usaha maksimal masih dianggap kurang dari batas kewajiban yang sebenarnya, karena ilmu ini bagaikan lautan yang tak terukur kedalamannya, dan manusia hanya sanggup mengitari pesisir dan tepiannya sesuai kemudahan yang diberikan kepada mereka. Tidak ada yang menyelami tepiannya melainkan para nabi, para wali, dan orang-orang yang mendalam ilmunya (ar-rāsikhūna fil-'ilm) sesuai perbedaan tingkatan mereka berdasarkan kekuatan serta takdir Allah Ta'ala bagi mereka. Inilah ilmu yang tersimpan (al-'ilm al-maknūn) yang tidak tertulis di dalam buku-buku. Hal yang membantu menyadarinya pada permulaan adalah belajar dan mengamati kondisi para ulama akhirat—seagaimana akan dijelaskan tanda-tanda mereka kelak—dan hal yang membantu mencapainya pada tahap berikutnya adalah mujāhadah (kesungguhan jiwa), riyāḍah (olahraga jiwa/latihan spiritual), menyucikan hati serta mengosongkannya dari keterikatan dunia, dan meneladani para nabi serta para wali di dalamnya, agar ilmu tersebut menjadi jelas bagi setiap orang yang berjuang mencarinya sesuai dengan kadar rezeki (karunia), bukan semata-mata kadar usaha. Namun, kesungguhan (ijtihād) tetap tidak bisa ditinggalkan, karena mujāhadah adalah kunci petunjuk (hidāyah) dan tidak ada kunci lain selainnya. Adapun ilmu-ilmu yang tidak dipuji melainkan hanya pada kadar tertentu saja adalah ilmu-ilmu yang telah kami sebutkan dalam kategori fardhu kifayah. Sesungguhnya pada setiap ilmu tersebut terdapat tingkat kecukupan serba terbatas (iqtiṣār) yaitu tingkat paling dasar, tingkat pertengahan (iqtiṣād), dan tingkat pendalaman mendalam (istiqṣā') di luar tingkat pertengahan yang tidak ada batas akhirnya hingga akhir hayat. Maka jadilah salah satu dari dua tipe manusia: adakala engkau sibuk dengan perbaikan dirimu sendiri, atau engkau berkhidmat untuk orang lain setelah selesai memperbaiki dirimu. Jangan sekali-kali sibuk memperbaiki orang lain sebelum engkau memperbaiki dirimu sendiri! Jika engkau orang yang sedang sibuk dengan dirimu, maka janganlah sibuk kecuali dengan ilmu yang hukumnya fardhu 'ain bagimu sesuai tuntutan keadaanmu, yakni mengenai amalan-amalan lahiriah seperti belajar shalat, bersuci (thaḥārah), dan puasa. Namun hal yang paling penting yang justru diabaikan oleh semua orang adalah ilmu tentang sifat-sifat hati, mana yang terpuji dan mana yang tercela, sebab tidak ada manusia yang terbebas dari sifat-sifat tercela seperti ketamakan (ḥirṣ), dengki (ḥasad), riya (riyā'), sombong (kibr), kagum pada diri sendiri ('ujub), dan sejenisnya. Semua itu adalah hal-hal yang membinasakan (muhlikāt), dan mengabaikannya adalah kelalaian dari kewajiban. Padahal, hanya sibuk dengan amalan lahiriah itu ibarat sibuk melumuri bagian luar tubuh saat menderita penyakit kudis dan bisul tetapi meremehkan pengeluaran zat penyakit dari dalam tubuh melalui bekam (faṣad) atau pencahar. Para ulama tekstualis (ḥasawiyyah) hanya menyarankan amalan-amalan lahiriah sebagaimana para tabib jalanan hanya menyarankan obat luar bagi tubuh, sedangkan para ulama akhirat tidak menyarankan kecuali pembersihan batin dan memutus akar-akar kejahatan dengan merusak tempat tumbuhnya dan mencabut tancapannya dari hati. Sebagian besar orang melarikan diri pada amalan lahiriah ketimbang menyucikan hati hanyalah karena ringannya amalan anggota badan dan beratnya amalan hati, sebagaimana orang yang merasa berat meminum obat yang pahit akan melarikan diri pada penggunaan obat luar; akibatnya ia terus-menerus lelah mengoleskan obat luar sementara zat penyakitnya makin bertambah dan penyakitnya makin berlipat ganda. Jika engkau menginginkan akhirat, mencari keselamatan, dan lari dari kebinasaan abadi, maka sibuklah dengan ilmu tentang penyakit-penyakit batin dan pengobatannya sebagaimana telah kami rincikan dalam Seperempat Bagian Yang Membinasakan (Rub'ul Muhlikāt). Hal itu kelak pasti akan membawamu menuju maqam-maqam yang terpuji yang disebutkan dalam Seperempat Bagian Yang Menyelamatkan (Rub'ul Munjiyāt). Sebab jika hati telah kosong dari sifat tercela, ia akan terisi dengan sifat terpuji, sebagaimana tanah yang telah dibersihkan dari rumput liar akan tumbuh di atasnya berbagai jenis tanaman dan bunga-bungaan; namun jika belum dibersihkan dari hal itu, ia tidak akan menumbuhkannya. Maka janganlah sibuk dengan fardhu kifayah, terlebih lagi jika di tengah kelompok masyarakat sudah ada orang yang melaksanakannya. Sebab orang yang membinasakan dirinya demi kebaikan orang lain adalah orang yang bodoh. Betapa dungunya orang yang kalajengking dan ular telah masuk ke dalam pakaiannya dan hendak membunuhnya, sedangkan ia malah mencari kipas untuk mengusir lalat dari orang lain, yang mana hal itu tidak berguna baginya dan tidak menyelematkannya dari patukan ular dan kalajengking tersebut ketika menyerangnya!

وإن تفرغت من نفسك وتطهيرها وقدرت على ترك ظاهر الإثم وباطنه وصار ذلك ديدناً

Dan jika engkau telah selesai dari urusan menyucikan dirimu, sanggup meninggalkan dosa lahir maupun batin, serta hal itu telah menjadi kebiasaan

لك وعادة متيسرة فيك وما أبعد ذلك منك فاشتغل بفروض الكفايات وراع التدريج فيها فابتدىء بكتاب الله تعالى ثم بِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ ثم بعلم التفسير وسائر علوم القرآن من علم الناسخ والمنسوخ والمفصول والموصول والمحكم والمتشابه وكذلك في السنة ثم اشتغل بالفروع وهو علم المذهب من علم الفقه دون الخلاف ثم بأصول الفقه وهكذا إلى بقية العلوم على ما يتسع له العمر ويساعد فيه الوقت ولا تستغرق عمرك في فن واحد منها طلباً للاستقصاء فإن العلم كثير والعمر قصير وهذه العلوم آلات ومقدمات وليست مطلوبة لعينها بل لغيرها وكل ما يطلب لغيره فلا ينبغي أن ينسى فيه المطلوب ويستكثر منه فاقتصر من شائع علم اللغة على ما تفهم منه كلام العرب وتنطق به ومن غريبه على غريب القرآن وغريب الحديث ودع التعمق فيه واقتصر من النحو على ما يتعلق بالكتاب والسنة فما من علم إلا وله اقتصار واقتصاد واستقصاء

yang mudah bagimu—dan betapa jauhnya pencapaian itu darimu!—maka sibuklah dengan fardhu-fardhu kifayah dan perhatikanlah tahapan (tadrīj) di dalamnya: mulailah dengan Kitabullah Ta'ala, kemudian Sunnah Rasulullah ﷺ, lalu ilmu tafsir dan seluruh ilmu Al-Qur'an seperti ilmu nāsikh-mansūkh, mafṣūl-mauṣūl, serta muḥkam-mutasyābih. Demikian pula dalam Sunnah, kemudian sibuklah dengan cabang-cabang (furū'), yaitu ilmu mazhab dari ilmu fiqih tanpa masuk ke dalam perselisihan (khilāf), lalu ushul fiqih, dan demikian seterusnya pada ilmu-ilmu lainnya sesuai dengan kelapangan umur dan ketersediaan waktu. Janganlah engkau habiskan seluruh umurmu pada satu disiplin ilmu saja demi mengejar pendalaman mendalam (istiqṣā'), karena ilmu itu sangat banyak sedangkan umur sangat singkat. Ilmu-ilmu ini hanyalah alat dan sarana perantara, tidak dituntut karena zatnya sendiri melainkan karena yang lainnya; dan segala sesuatu yang dituntut karena yang lainnya maka tidak sewajarnya hal yang menjadi tujuan utama justru dilupakan dan alatnya diperbanyak secara berlebihan. Cukupkanlah dari ilmu bahasa yang umum sebatas apa yang membuatmu memahami firman/ucapan Arab dan dapat engkau tuturkan, dan dari kata-kata asing (gharīb) sebatas gharīb Al-Qur'an dan gharīb Hadis saja, serta tinggalkanlah pendalaman yang berlebihan di dalamnya. Cukupkanlah dari ilmu nahwu sebatas apa yang berkaitan dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Sebab tidak ada satu pun disiplin ilmu melainkan memiliki tingkat serba terbatas (iqtiṣār), pertengahan (iqtiṣād), dan pendalaman mendalam (istiqṣā').

ونحن نشير إليها في الحديث والتفسير والفقه والكلام لتقيس بها غيرها فالاقتصار في التفسير ما يبلغ ضعف القرآن في المقدار كما صنفه علي الواحدي النيسابوري وهو الوجيز والاقتصاد ما يبلغ ثلاثة أضعاف القرآن كما صنفه من الوسيط فيه وما وراء ذلك استقصاء مستغنى عنه فلا مرد له إلى انتهاء العمر

Dan kami akan memberikan isyarat padanya dalam bidang hadis, tafsir, fiqih, dan ilmu kalam agar engkau dapat mengkiaskan ilmu-ilmu lainnya padanya. Tingkat iqtiṣār (dasar) dalam tafsir adalah yang ukurannya mencapai dua kali lipat Al-Qur'an sebagaimana yang disusun oleh Ali Al-Wahidi An-Naisaburi yaitu kitab Al-Wajīz. Tingkat iqtiṣād (pertengahan) adalah yang mencapai tiga kali lipat Al-Qur'an sebagaimana yang ia susun dalam kitab Al-Wasīṭ. Sedangkan tingkatan di luar itu adalah istiqṣā' (pendalaman mendalam) yang tidak begitu dibutuhkan dan tidak ada batasnya hingga akhir hayat.

وأما الحديث فالاقتصار فيه تحصيل ما في الصحيحين بتصحيح نسخة على رجل خبير بعلم متن الحديث

Adapun dalam ilmu hadis, tingkat iqtiṣār adalah menguasai apa yang terdapat dalam Aṣ-Ṣaḥīḥain (Shahih Bukhari dan Shahih Muslim) dengan mengoreksi keabsahan manuskripnya kepada seorang ahli yang berpengalaman dalam ilmu matan hadis.

وأما حفظ أسامي الرجال فقد كفيت فيه بما تحمله عنك من قبلك ولك أن تعول على كتبهم وليس يلزمك حفظ متون الصحيحين ولكن تحصله تحصيلاً تقدر منه على طلب ما تحتاج إليه عند الحاجة وأما الاقتصاد فيه فأن تضيف إليهما ما خرج عنهما مما ورد في المسندات الصحيحة

Adapun menghafalkan nama-nama perawi (rijāl), engkau telah dicukupkan oleh beban yang telah ditanggung oleh para ulama sebelummu, dan engkau boleh bersandar pada buku-buku karya mereka. Engkau juga tidak diwajibkan menghafal seluruh matan Aṣ-Ṣaḥīḥain, melainkan menguasainya sedemikian rupa sehingga engkau mampu mencari apa yang engkau butuhkan saat diperlukan. Adapun tingkat iqtiṣād (pertengahan) di dalamnya adalah dengan menambahkan riwayat-riwayat di luar Aṣ-Ṣaḥīḥain yang terdapat dalam kitab-kitab musnad yang sahih.

وأما الاستقصاء فما وراء ذلك إلى استيعاب كل ما نقل من الضعيف والقوي والصحيح والسقيم مع معرفة الطرق الكثيرة في النقل ومعرفة أحوال الرجال وأسمائهم وأوصافهم

Adapun tingkat istiqṣā' (pendalaman mendalam) adalah tingkatan di luar itu, yaitu merangkum seluruh riwayat yang dinukil, baik yang lemah (ḍa'īf), kuat (qawiy), sahih (ṣaḥīḥ), maupun cacat (saqīm), beserta pengetahuan tentang jalur-jalur penukilan (ṭuruq) yang banyak, serta pengetahuan tentang kondisi para perawi, nama-nama, dan sifat-sifat mereka.

وأما الفقه فالاقتصار فيه على ما يحويه مختصر المزني ﵀ وهو الذي رتبناه في خلاصة المختصر والاقتصاد فيه ما يبلغ ثلاثة أمثاله وهو القدر الذي أوردناه في الوسيط من المذهب والاستقصاء ما أوردناه في البسيط إلى ما وراء ذلك من المطولات

Adapun dalam fiqih, tingkat iqtiṣār adalah membatasi diri pada apa yang dimuat dalam Mukhtaṣar Al-Muzani rahimahullah, dan itulah yang kami susun kembali dalam kitab Khulāṣat Al-Mukhtaṣar. Tingkat iqtiṣād adalah yang ukurannya tiga kali lipat darinya, yaitu kadar yang kami tuangkan dalam kitab Al-Wasīṭ min Al-Mażhab. Sedangkan tingkat istiqṣā' adalah apa yang kami sajikan dalam kitab Al-Basīṭ hingga kitab-kitab panjang (al-muṭawwalāt) di luar itu.

وأما الكلام فمقصوده حماية المعتقدات التي نقلها أهل السنة من السلف الصالح لا غير وما وراء ذلك طلب لكشف حقائق الأمور من غير طريقتها ومقصود حفظ السنة تحصيل رتبة الاقتصار منه بمعتقد مختصر وهو القدر الذي أوردناه في كتاب قواعد العقائد من جملة هذا الكتاب والاقتصاد فيه ما يبلغ قدر مائة ورقة وهو الذي أوردناه في كتاب الاقتصاد في الاعتقاد ويحتاج إليه لمناظرة مبتدع ومعارضة بدعته بما يفسدها وينزعها عن قلب العامي وذلك لا ينفع إلا مع العوام قبل اشتداد تعصبهم وأما المبتدع بعد أن يعلم من الجدل ولو شيئاً يسيراً فقلما ينفع معه الكلام فإنك إن أفحمته لم يترك مذهبه وأحال بالقصور على نفسه وقدر أن عند غيره جواباً ما وهو عاجز عنه وإنما أنت ملبس عليه بقوة المجادلة

Adapun ilmu kalam, maksud pertamanya hanyalah untuk menjaga akidah-akidah yang diriwayatkan oleh Ahli Sunnah dari para Salafus Shalih, tidak lebih. Hal di luar itu merupakan upaya menyingkap hakikat segala sesuatu bukan dari jalurnya yang semestinya. Tujuan menjaga Sunnah dapat dicapai pada tingkat iqtiṣār (dasar) dengan akidah yang ringkas, yaitu kadar yang kami tuangkan dalam bab Qawā'id Al-'Aqā'id dari bagian kitab (Iḥyā') ini. Adapun tingkat iqtiṣād di dalamnya adalah hingga kadar sekitar seratus lembar, yaitu yang kami tuangkan dalam kitab Al-Iqtiṣād fil-I'tiqād, yang mana hal itu dibutuhkan untuk mendebat pelaku bid'ah (mubtadi') dan menolak bid'ahnya dengan argumen yang membatalkannya serta mencabutnya dari hati orang awam. Hal itu pun hanya berguna bagi orang awam sebelum fanatisme mereka menguat. Adapun pelaku bid'ah yang telah mempelajari ilmu debat (jadal) meskipun hanya sedikit, maka sangat jarang ilmu kalam berguna baginya; sebab jika engkau bungkam dia, ia tetap tidak akan meninggalkan mazhabnya, melainkan mengembalikan kekurangan itu pada dirinya sendiri dan mengira bahwa orang lain memiliki jawaban yang ia sendiri tidak sanggup menyampaikannya, serta menganggap engkau hanya mengelirukannya dengan kekuatan perdebatan.

وأما العامي إذا صرف عن الحق بنوع جدل يمكن أن يرد إليه بمثله قبل أن يشتد التعصب للأهواء فإذا اشتد تعصبهم وقع اليأس منهم إذ التعصب سبب يرسخ العقائد في النفوس وهو من آفات علماء السوء فإنهم يبالغون في التعصب للحق وينظرون إلى المخالفين بعين الازدراء والاستحقار فتنبعث منهم الدعوى بالمكافأة والمقابلة والمعاملة وتتوفر بواعثهم على طلب نصرة الباطل ويقوى غرضهم في التمسك بما نسبوا إليه ولو جاءوا من جانب اللطف والرحمة والنصح في الخلوة لا في معرض التعصب والتحقير لا نجحوا فيه ولكن لما كان الجاه لا يقوم إلا بالاستتباع ولا يستميل الأتباع مثل التعصب واللعن والشتم للخصوم اتخذوا التعصب عادتهم وآلتهم وسموه ذباً عن الدين ونضالاً عن المسلمين وفيه على التحقيق هلاك الخلق ورسوخ البدعة

Adapun orang awam, apabila ia dipalingkan dari kebenaran melalui sejenis perdebatan, masih memungkinkan untuk dikembalikan kepada kebenaran dengan perdebatan serupa sebelum fanatisme terhadap hawa nafsu menguat pada dirinya. Namun jika fanatisme mereka telah menguat, timbullah keputusasaan terhadap mereka, karena fanatisme merupakan penyebab tertanam kuatnya akidah-akidah di dalam jiwa. Fanatisme ini termasuk di antara petaka ulama su' (ulama jahat), karena mereka berlebih-lebihan dalam berfanatisme terhadap kebenaran dan memandang orang-orang yang berbeda pendapat dengan pandangan hina dan rendah. Akibatnya, timbullah dari pihak lawan dorongan untuk membalas, menandingi, dan memperlakukan secara serupa, sehingga makin kuatlah motivasi mereka untuk memenangkan kebatilan dan makin kokoh tujuan mereka untuk berpegang teguh pada apa yang dinisbahkan kepada mereka. Seandainya para ulama itu mendatangi mereka dari sisi kelembutan, kasih sayang, dan nasihat secara tersembunyi (dalam kesendirian), bukan dalam bentuk fanatisme dan penghinaan, niscaya mereka akan berhasil. Akan tetapi, karena kedudukan tidak akan tegak melainkan dengan memiliki pengikut, dan tidak ada yang lebih bisa menarik simpati pengikut daripada fanatisme, melaknat, serta mencela lawan, maka mereka menjadikan fanatisme sebagai kebiasaan dan sarana mereka, lalu menamakannya sebagai bentuk pembelaan terhadap agama dan perjuangan bagi kaum muslimin. Padahal, secara hakiki, di dalamnya terdapat kebinasaan makhluk dan tertanam kuatnya bidah…

في النفوس

… di dalam jiwa.

وأما الخلافيات التي أحدثت في هذه الأعصار المتأخرة وأبدع فيها من التحريرات والتصنيفات والمجادلات ما لم يعهد مثلها في السلف فإياك وأن تحوم حولها واجتنبها اجتناب السم القاتل فإنها الداء العضال وهو الذي رد الفقهاء كلهم إلى طلب المنافسة والمباهاة على ما سيأتيك تفصيل غوائلها وآفاتها

Adapun masalah-masalah khilafiyah yang diada-adakan pada zaman-zaman belakangan ini, yang di dalamnya diciptakan berbagai kajian mendalam, penyusunan kitab, dan perdebatan yang belum pernah dikenal sepadannya pada masa generasi Salaf, maka waspadalah jangan sampai engkau mengelilinginya (mendekatinya). Jauhilah ia sebagaimana menjauhi racun yang mematikan, karena sesungguhnya hal itu merupakan penyakit kronis yang parah, yang menyeret seluruh ahli fiqih kepada pencarian persaingan dan megah-megahan, sebagaimana akan datang kepadamu perincian kebahayaan dan petakanya.

وهذا الكلام ربما يسمع من قائله فيقال الناس أعداء ما جهلوا فلا تظن ذلك فعلى الخبير سقطت

Perkataan ini mungkin saja didengar dari orang yang mengucapkannya lalu dikatakan (kepadanya): 'Manusia itu adalah musuh dari apa yang tidak mereka ketahui.' Maka janganlah engkau menduga demikian, karena sesungguhnya engkau telah berhadapan dengan orang yang sangat ahli dan berpengalaman.

فاقبل هذه النصيحة ممن ضيع العمر فيه زماناً وزاد فيه على الأولين تصنيفاً وتحقيقاً وجدلاً وبياناً ثم ألهمه الله رشده وأطلعه على عيبه فهجره واشتغل بنفسه فلا يغرنك قول من يقول الفتوى عماد الشرع ولا يعرف علله إلا بعلم الخلاف فإن علل المذهب مذكورة في المذهب والزيادة عليها مجادلات لم يعرفها الأولون ولا الصحابة وكانوا أعلم بعلل الفتاوى من غيرهم بل هي مع أنها غير مفيدة في علم المذهب ضارة مفسدة لذوق الفقه فإن الذي يشهد له حدس المفتي إذا صح ذوقه في الفقه لا يمكن تمشيته على شروط الجدل في أكثر الأمر فمن ألف طبعه رسوم الجدل أذعن ذهنه لمقتضيات الجدل وجبن عن الإذعان لذوق الفقه وإنما يشتغل به من يشتغل لطلب الصيت والجاه ويتعلل بأنه يطلب علل المذهب وقد ينقضي عليه العمر ولا تنصرف همته إلى علم المذهب فكن من شياطين الجن في أمان واحترز من شياطين الإنس فإنهم أراحوا شياطين الجن من التعب في الإغواء والإضلال وبالجملة فالمرضي عند العقلاء أن تقدر نفسك في العالم وحدك مع الله وبين يديك الموت والعرض والحساب والجنة والنار وتأمل فيما يعنيك مما بين يديك ودع عنك ما سواه والسلام

Maka terimalah nasihat ini dari orang yang telah menghabiskan sebagian umurnya dalam bidang tersebut untuk sekian lama, serta melebihi orang-orang terdahulu dalam hal penyusunan karya, penulisan kritis, perdebatan, dan penjelasan dengannya; kemudian Allah mengilhamkan bimbingan-Nya kepadanya dan memperlihatkan cela/kekurangan bidang tersebut kepadanya, sehingga ia meninggalkannya dan sibuk memperbaiki dirinya sendiri. Maka jangan sekali-kali engkau terperdaya oleh perkataan orang yang mengatakan: 'Fatwa adalah tiang syariat dan tidak akan diketahui illat-illat hukumnya kecuali dengan ilmu khilaf.' Sebab illat-illat mazhab telah disebutkan di dalam mazhab itu sendiri, dan tambahan di atasnya hanyalah perdebatan yang tidak dikenal oleh orang-orang terdahulu maupun para Sahabat, padahal mereka lebih mengetahui tentang illat-illat fatwa daripada orang lain. Bahkan, di samping tidak bermanfaat dalam ilmu mazhab, hal itu justru berbahaya dan merusak kepekaan spiritual fiqih (dzauq al-fiqh). Sebab, apa yang disaksikan oleh intuisi seorang mufti apabila dzauq fiqihnya benar, dalam banyak hal tidak mungkin dijalankan menurut syarat-syarat perdebatan (jadal). Maka barang siapa tabiatnya terbiasa dengan kaidah-kaidah jadal, pikirannya akan tunduk pada tuntutan-tuntutan jadal dan enggan tunduk pada dzauq al-fiqh. Dan sesungguhnya orang yang sibuk dengannya hanyalah orang yang mencari ketenaran dan kedudukan, dengan beralasan bahwa ia sedang mencari illat-illat mazhab; padahal bisa jadi umurnya habis sementara tekadnya tidak pernah beralih pada ilmu mazhab yang sebenarnya. Maka beradalah engkau dalam keadaan aman dari setan-setan jin, dan berhati-hatilah terhadap setan-setan manusia, karena mereka telah mengistirahatkan setan-setan jin dari kepayahan dalam menggodai dan menyesatkan. Kesimpulannya, apa yang disukai oleh orang-orang berakal adalah engkau menganggap dirimu di dunia ini seolah-olah sendirian bersama Allah, sementara di hadapanmu ada kematian, pemaparan amal, hisab, surga, dan neraka. Maka renungkanlah apa yang penting bagimu dari apa yang ada di hadapanmu, dan tinggalkanlah selain itu. Wassalam.

وقد رأى بعض الشيوخ بعض العلماء في المنام فقال له ما خبر تلك العلوم التي كنت تجادل فيها وتناظر عليها فبسط يده ونفخ فيها وقال طاحت كلها هباء منثوراً وما انتفعت إلا بركعتين خلصتا لي في جوف الليل

Sungguh, sebagian guru (guru tasawuf) pernah bermimpi melihat seorang ulama dalam tidurnya, lalu berkata kepadanya: 'Bagaimana kabar ilmu-ilmu yang dahulu engkau perdebatkan dan engkau jadikan bahan diskusi itu?' Maka ulama tersebut membentangkan tangannya dan meniupnya seraya berkata: 'Semuanya hancur musnah bagaikan debu yang beterbangan, dan aku tidak mendapatkan manfaat darinya melainkan hanya dari dua rakaat yang ikhlas aku lakukan di larut malam.'

وفي الحديث ما ضل قوم بعد هدى كانوا عليه إلا أوتوا الجدل ثم قرأ ما ضربوه لك إلا جدلاً بل هم قوم خصمون وفي الحديث في معنى قوله تعالى ﴿فأما الذين في قلوبهم زيغ﴾ الآية هم أهل الجدل الذين عناهم الله بقوله تعالى فاحذرهم وقال بعض السلف يكون في آخر الزمان قوم يغلق عليهم باب العمل ويفتح لهم باب الجدل

Dalam hadis disebutkan: 'Tidaklah suatu kaum tersesat setelah petunjuk yang mereka berada di atasnya, melainkan karena mereka diberi (kesukaan) berdebat.' Kemudian beliau membaca ayat: 'Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.' (QS. Az-Zukhruf: 58). Dan dalam hadis mengenai makna firman Allah Ta'ala: 'Adapun orang-orang yang dalam hatinya cenderung kepada kesesatan…' (QS. Ali 'Imran: 7), mereka itu adalah ahli jadal (orang-orang yang suka berdebat) yang dimaksudkan Allah Ta'ala dalam firman-Nya: 'Maka waspadalah terhadap mereka.' Dan sebagian ulama Salaf berkata: 'Pada akhir zaman kelak akan ada suatu kaum yang ditutup bagi mereka pintu amal dan dibuka bagi mereka pintu jadal (perdebatan).'

وفي بعض الأخبار إنكم في زمان ألهمتم فيه العمل وسيأتي قوم يلهمون الجدل وفي الخبر المشهور أبغض الخلق إلى الله تعالى الألد الخصم وفي الخبر ما أتى قوم المنطق إلا منعوا العمل والله أعلم

Dalam sebagian riwayat (atsar) disebutkan: 'Sesungguhnya kalian berada di suatu zaman yang di dalamnya kalian diilhami untuk beramal, dan akan datang suatu kaum yang diilhami untuk berdebat.' Dalam riwayat yang masyhur disebutkan: 'Orang yang paling dimurkai Allah Ta'ala adalah orang yang paling keras penentangannya lagi suka bertengkar.' Dan dalam riwayat lain: 'Tidaklah suatu kaum mendatangi (terlalu sibuk dengan) ilmu logika/perdebatan melainkan mereka dihalangi dari beramal.' Wallahu a'lam.