بيان ما بدل من ألفاظ العلوم
بيان ما بدل من ألفاظ العلوم
Penjelasan Mengenai Istilah-Istilah Ilmu yang Telah Mengalami Pergeseran Makna.
اعلم أن منشأ التباس العلوم المذمومة بالعلوم الشرعية تحريف الأسامي المحمودة وتبديلها ونقلها بالأغراض
Ketahuilah bahwa sumber kekeliruan dan ketiadaan kejelasan antara ilmu-ilmu yang tercela dengan ilmu-ilmu syariat adalah pergeseran (penyimpangan) nama-nama yang dipuji, pengubahannya, serta pemindahannya demi tujuan-tujuan yang rusak kepada makna-makna yang berbeda dari apa yang dikehendaki oleh Salafus Shalih dan generasi pertama (generasi sahabat).
الفاسدة إلى معان غير ما أراده السلف الصالح والقرن الأول وهي خمسة ألفاظ الفقه والعلم والتوحيد والتذكير والحكمة فهذه أسام محمودة والمتصفون بها أرباب المناصب في الدين ولكنها نقلت الآن إلى معان مذمومة فصارت القلوب تنفر عن مذمة من يتصف بمعانيها لشيوع إطلاق هذه الأسامي عليهم
Istilah tersebut ada lima: Al-Fiqh (Fiqih), Al-'Ilm (Ilmu), At-Tauhid (Tauhid), At-Tadzkir (Peringatan/Nasihat), dan Al-Hikmah (Hikmah). Ini adalah nama-nama yang terpuji, dan orang-orang yang bersifat dengannya adalah pemilik kedudukan-kedudukan tinggi dalam agama. Akan tetapi, istilah-istilah ini sekarang telah dipindahkan kepada makna-makna yang tercela, sehingga hati menjadi enggan untuk mencela orang yang bersifat dengan makna-makna baru tersebut karena telah populernya penggunaan nama-nama terpuji ini atas mereka.
اللفظ الأول الفقه فقد تصرفوا فيه بالتخصيص لا بالنقل والتحويل إذا خصصوه بمعرفة الفروع الغريبة في الفتاوي والوقوف على دقائق عللها واستكثار الكلام فيها وحفظ المقالات المتعلقة بها فمن كان أشد تعمقاً فيها وأكثر اشتغالاً بها يقال هو الأفقه ولقد كان اسم الفقه في العصر الأول مطلقاً على علم طريق الآخرة ومعرفة دقائق آفات النفوس ومفسدات الأعمال وقوة الإحاطة بحقارة الدنيا وشدة التطلع إلى نعيم الآخرة واستيلاء الخوف على القلب ويدلك عليه قوله ﷿ ﴿لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إليهم﴾ وما يحصل به الإنذار والتخويف هو هذا الفقه دون تفريعات الطلاق والعتاق واللعان والسلم والإجارة فذلك لا يحصل به إنذار ولا تخويف بل التجرد له على الدوام يقسي القلب وينزع الخشية منه كما نشاهد الآن من المتجردين له
Istilah pertama: Al-Fiqh (Fiqih). Mereka telah memperlakukannya dengan cara penyempitan (pengkhususan), bukan pemindahan total; di mana mereka mengkhususkannya pada pengetahuan tentang cabang-cabang hukum (furu') yang aneh dalam fatwa-fatwa, meneliti detail-detail 'illat-nya, memperbanyak perdebatan di dalamnya, serta menghafal pendapat-pendapat yang berkaitan dengannya. Maka barang siapa yang paling mendalam padanya dan paling sibuk dengannya, dikatakanlah bahwa dia adalah "yang paling faqih" (al-afqah). Padahal sesungguhnya nama Fiqih pada masa generasi pertama diterapkan secara mutlak untuk ilmu tentang jalan menuju akhirat, pengetahuan tentang kehalusan penyakit-penyakit jiwa (afat an-nufs) dan perusak-perusak amal, kekuatan pemahaman atas kehinaan dunia, tingginya kerinduan pada kenikmatan akhirat, serta dominasi rasa takut (khauf) atas hati. Hal itu ditunjukkan kepadamu oleh firman Allah 'Azza wa Jalla: "Untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya" [QS. At-Taubah: 122]. Dan apa yang dapat menghasilkan peringatan dan rasa takut itu adalah Fiqih dalam arti (ruhani) ini, bukan cabang-cabang hukum talak, pembebasan budak, li'an, salam (jual beli pesanan), dan ijarah (sewa-menyewa). Sebab hal-hal tersebut tidak menghasilkan peringatan maupun rasa takut, bahkan menyibukkan diri padanya secara terus-menerus justru mengeras hati dan mencabut rasa takut (khasyyah) darinya, sebagaimana yang kita saksikan saat ini dari orang-orang yang meluangkan seluruh waktunya untuk itu.
وقال تعالى ﴿لهم قلوب لا يفقهون بها﴾ وأراد به معاني الإيمان دون الفتاوى ولعمري إن الفقه والفهم في اللغة اسمان بمعنى واحد وإنما يتكلم في عادة الاستعمال به قديماً وحديثاً
Dan Allah Ta'ala berfirman: "Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (tidak berfiqih dengannya)" [QS. Al-A'raf: 179], dan yang dimaksudkan dengannya adalah makna-makna keimanan, bukan persoalan fatwa hukum. Demi umurku, sesungguhnya fiqih dan pemahaman (al-fahmu) secara bahasa adalah dua nama dengan satu makna, dan hal itu hanya digunakan dalam kebiasaan pemakaian kata secara terdahulu maupun belakangan.
قال تعالى ﴿لأنتم أشد رهبة في صدورهم من الله﴾ الآية فأحال قلة خوفهم من الله واستعظامهم سطوة الخلق على قلة الفقه فانظر إن كان ذلك نتيجة عدم الحفظ لتفريعات الفتاوى أو هو نتيجة عدم ما ذكرناه من العلوم
Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya kamu dalam dada mereka lebih ditakuti daripada Allah…" hingga akhir ayat [QS. Al-Hasyr: 13]. Maka Allah mengembalikan sebab minimnya rasa takut mereka kepada Allah dan pengagungan mereka terhadap kekuasaan makhluk kepada minimnya fiqih (pemahaman batin). Maka perhatikanlah, apakah hal itu merupakan akibat dari ketidakhafalan terhadap rincian cabang-cabang fatwa, ataukah akibat dari ketiadaan ilmu-ilmu (ruhani) yang telah kami sebutkan?
وقال ﷺ علماء فقهاء للذين وفدوا عليه وسئل سعد بن إبراهيم الزهري ﵀ أي أهل المدينة أفقه فقال أتقاهم لله تعالى فكأنه أشار إلى ثمرة الفقه والتقوى ثمرة العلم الباطني دون الفتاوى والأقضية
Dan Rasulullah ﷺ bersabda kepada rombongan utusan yang datang kepada beliau, "Mereka adalah orang-orang alim lagi faki (paham agama)." Sa'd bin Ibrahim Az-Zuhri rahimahullah pernah ditanya, "Siapakah penduduk Madinah yang paling faki?" Beliau menjawab, "Orang yang paling bertakwa kepada Allah Ta'ala di antara mereka." Seakan-akan beliau mengisyaratkan kepada buah dari fikih, sedangkan takwa adalah buah dari ilmu batiniah, bukan sekadar fatwa-fatwa dan putusan-putusan hukum peradilan.
وقال ﷺ ألا أنبئكم بالفقيه كل الفقيه قالوا بلى قال من لم يقنط الناس من رحمة الله ولم يؤمنهم من مكر الله ولم يؤيسهم من روح الله ولم يدع القرآن رغبة عنه إلى ما سواه ولما روى أنس بن مالك قوله ﷺ لأن أقعد مع قوم يذكرون الله تعالى من غدوة إلى طلوع الشمس أحب إلي من أن أعتق أربع رقاب قال فالتفت إلى زيد الرقاشي وزياد النميري وقال لم تكن مجالس الذكر مثل مجالسكم هذه يقص أحدكم وعظه على أصحابه ويسرد الحديث سرداً إنما كنا نقعد فنذكر الإيمان ونتدبر القرآن ونتفقه في الدين ونعد نعم الله علينا تفقهاً فسمي تدبر القرآن وعد النعم تفقهاً
Dan Rasulullah ﷺ bersabda, "Maukah kalian aku beritahukan tentang seorang yang benar-benar faki?" Para sahabat menjawab, "Tentu, wahai Rasulullah." Beliau bersabda, "Yaitu orang yang tidak membuat manusia berputus asa dari rahmat Allah, tidak membuat mereka merasa aman dari makar (ancaman azab) Allah, tidak membuat mereka putus asa dari karunia Allah, dan tidak meninggalkan Al-Qur'an karena berpaling menyukai yang selainnya." Ketika Anas bin Malik merawikan sabda Nabi ﷺ: "Sungguh, aku duduk bersama kaum yang berzikir mengingat Allah Ta'ala dari pagi hari hingga terbit matahari lebih aku cintai daripada memerdekakan empat orang budak," Anas berpaling kepada Zaid Ar-Raqasyi dan Ziyad An-Numairi seraya berkata, "Majelis-majelis zikir (di zaman Nabi) bukanlah seperti majelis-majelis kalian ini, yang mana salah seorang dari kalian menyampaikan nasihatnya kepada sahabat-sahabatnya dan menyampaikan hadis secara beruntun begitu saja. Kami dulu duduk lalu saling mengingatkan tentang iman, merenungkan (tadabur) Al-Qur'an, mendalami agama (tafaqquh fidding), dan membilang-bilang nikmat Allah kepada kami sebagai bentuk tafaqquh (pemahaman agama)." Maka penamaan merenungkan Al-Qur'an dan membilang-bilang nikmat itu disebut sebagai *tafaqquh* (pemahaman agama/berfikih).
قال ﷺ لا يفقه العبد كل الفقه حتى يمقت الناس في ذات الله وحتى يرى القرآن وجوهاً كثيرة وروى أيضاً موقوفاً على أبي الدرداء ﵁ مع قوله ثم يقبل على نفسه فيكون لها أشد مقتاً وقد سأل فرقد السبخي الحسن عن الشيء فأجابه فقال إن الفقهاء يخالفونك فقال الحسن ﵀ ثكلتك أمك فريقد وهل رأيت فقيهاً بعينك إنما الفقيه الزاهد في الدنيا الراغب في الآخرة البصير بدينه المداوم على عبادة ربه الورع الكاف نفسه عن أعراض المسلمين العفيف عن أموالهم الناصح لجماعتهم ولم يقل في جميع في ذلك الحافظ لفروع الفتاوى ولست أقول إن اسم الفقه لم يكن متناولاً للفتاوى في الأحكام الظاهرة ولكن كان بطريق
Rasulullah ﷺ bersabda, "Seorang hamba tidaklah memahami agama (faki) dengan kefakihan yang sempurna hingga ia membenci (kemaksiatan) manusia demi Zat Allah, dan hingga ia melihat Al-Qur'an memiliki banyak dimensi makna." Diriwayatkan juga secara *mauquf* dari Abu ad-Darda' radhiyallahu 'anhu dengan tambahan perkataannya: "Kemudian ia menghadapkan pandangannya kepada dirinya sendiri, lalu ia menjadi lebih benci lagi terhadap cela (hawa nafsu) dirinya sendiri." Farqad As-Sabakhi pernah bertanya kepada Al-Hasan Al-Bashri tentang suatu masalah, lalu Al-Hasan menjawabnya. Farqad berkata, "Sesungguhnya para ahli fikih (fuqaha) menyelisihi pendapatmu." Al-Hasan rahimahullah menjawab, "Celaka engkau, wahai Farqad! Apakah engkau pernah melihat seorang *faqih* (ahli fikih sejati) dengan mata kepalamu sendiri? Sesungguhnya *faqih* itu hanyalah orang yang zuhud terhadap dunia, merindukan akhirat, memiliki bashirah (mata hati yang tajam) dalam agamanya, tekun beribadah kepada Tuhannya, bersikap wara', menahan dirinya dari merusak kehormatan kaum muslimin, menjaga diri (afif) dari harta mereka, dan selalu menghendaki kebaikan bagi jamaah mereka." Beliau tidak mengatakan dalam semua deskripsi itu "orang yang menghafal rincian cabang-cabang fatwa". Dan aku tidak mengatakan bahwa istilah fikih itu sama sekali tidak mencakup fatwa-fatwa hukum lahiriah, melainkan cakupan itu terjadi melalui…
العموم والشمول أو بطريق الاستتباع فكان إطلاقهم له على علم الآخرة أكثر
…jalur keumuman dan keseluruhan, atau melalui jalur pengikutan (konsekuensi logis). Oleh karena itu, penggunaan istilah tersebut oleh mereka (generasi awal) untuk ilmu akhirat jauh lebih dominan.
فبان من هذا التخصيص تلبيس بعث الناس على التجرد له والإعراض عن علم الآخرة وأحكام القلوب ووجدوا على ذلك معيناً من الطبع فإن علم الباطن غامض والعمل به عسير والتوصل به إلى طلب الولاية والقضاء والجاه والمال متعذر فوجد الشيطان مجالاً لتحسين ذلك في القلوب بواسطة تخصيص اسم الفقه الذي هو اسم محمود في الشرع
Maka dari pengkhususan (penyempitan makna) ini, tampaklah suatu kekeliruan yang mendorong manusia untuk hanya mendedikasikan diri pada fikih lahiriah semata dan berpaling dari ilmu akhirat serta hukum-hukum hati. Mereka mendapatkan dorongan untuk itu dari tabiat dasar manusia; sebab ilmu batin itu samar, mengamalkannya sulit, dan menggunakannya untuk meraih jabatan kepemimpinan, peradilan, kedudukan, serta harta adalah hal yang sulit dicapai. Maka setan menemukan celah untuk mengindahkan perbuatan tersebut di dalam hati manusia melalui pengkhususan nama "fikih", yang mana ia sebenarnya merupakan nama yang terpuji dalam syariat.
اللفظ الثاني العلم وقد كان يطلق ذلك على العلم بالله تعالى وبآياته وبأفعاله في عباده وخلقه حتى أنه لما مات عمر ﵁ قال ابن مسعود ﵀ لقد مات تسعة أعشار العلم فعرفه بالألف واللام ثم فسره العلم بالله ﷾ وقد تصرفوا فيه أيضاً بالتخصيص حتى شهروه في الأكثر بمن يشتغل بالمناظرة مع الخصوم في المسائل الفقهية وغيرها فيقال هو العالم على الحقيقة وهو الفحل في العلم ومن لا يمارس ذلك ولا يشتغل به يعد من جملة الضعفاء ولا يعدونه في زمرة أهل العلم
Kata kedua adalah *Al-Ilm* (Ilmu). Dahulu istilah ini dimutlakkan untuk ilmu tentang Allah Ta'ala, ayat-ayat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya terhadap hamba-hamba dan makhluk-Nya. Hingga ketika Umar radhiyallahu 'anhu wafat, Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata, "Sungguh telah wafat sembilan persepuluh ilmu." Beliau menyatakannya dengan kata sandang makrifat (ilmu secara mutlak), lalu menjelaskannya: "Yaitu ilmu tentang Allah 'Azza wa Jalla." Namun, orang-orang telah mengubah penggunaannya juga melalui penyempitan makna, hingga mereka mempopulerkannya pada umumnya bagi orang yang sibuk berdebat (*bermunazarah*) dengan penentang dalam masalah-masalah fikih dan selainnya. Maka dikatakanlah: "Dialah orang alim yang sejati, dan dialah pakar ulung dalam ilmu." Sedangkan orang yang tidak mempraktikkan hal itu dan tidak memikirkannya dianggap termasuk golongan orang-orang yang lemah, serta tidak mereka masukkan ke dalam rombongan ahli ilmu.
وهذا أيضاً تصرف بالتخصيص ولكن ما ورد من فضائل العلم والعلماء أكثره في العلماء بالله تعالى وبأحكامه وبأفعاله وصفاته
Ini juga merupakan pergeseran makna melalui pengkhususan. Padahal, keutamaan-keutamaan tentang ilmu dan para ulama yang terdapat dalam dalil-dalil sebagian besarnya ditujukan kepada para ulama yang mengenali Allah Ta'ala, hukum-hukum-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, serta sifat-sifat-Nya.
وقد صار الآن مطلقاً على من لا يحيط من علوم الشرع بشيء سوى رسوم جدلية في مسائل خلافية فيعد بذلك من فحول العلماء مع جهله بالتفسير والأخبار وعلم المذهب وغيره وصار ذلك سبباً مهلكاً لخلق كثير من أهل الطلب للعلم
Kini, istilah itu telah diidentikkan secara mutlak dengan orang yang tidak menguasai ilmu syariat sedikit pun selain formalitas perdebatan dalam masalah-masalah perselisihan (*khilafiyah*). Dengan demikian, ia dianggap sebagai pakar ulama, padahal ia bodoh dalam hal tafsir, hadis-hadis, ilmu mazhab, dan selainnya. Hal ini telah menjadi penyebab kebinasaan bagi banyak penuntut ilmu.
اللفظ الثالث التوحيد وقد جعل الآن عبارة عن صناعة الكلام ومعرفة طريق المجادلة والإحاطة بطرق مناقضات الخصوم والقدرة على التشدق فيها بتكثير الأسئلة وإثارة الشبهات وتأليف الإلزامات حتى لقب طوائف منهم أنفسهم بأهل العدل والتوحيد وسمى المتكلمون العلماء بالتوحيد مع أن جميع ما هو خاصة هذه الصناعة لم يكن يعرف منها شيء في العصر الأول بل كان يشتد منهم النكير على من كان يفتح باباً من الجدل والمماراة فأما ما يشتمل عليه القرآن من الأدلة الظاهرة التي تسبق الأذهان إلى قبولها في أول السماع فلقد كان ذلك معلوماً للكل وكان العلم بالقرآن هو العلم كله وكان التوحيد عندهم عبارة عن أمر آخر لا يفهمه أكثر المتكلمين وإن فهموه لم يتصفوا به وهو أن يرى الأمور كلها من الله ﷿ رؤية تقطع التفاته عن الأسباب والوسائط فلا يرى الخير والشر كله إلا منه ﷻ فهذا مقام شريف إحدى ثمراته التوكل كما سيأتي بيانه في كتاب التوكل
Kata ketiga adalah *Tauhid*. Sekarang istilah ini telah dijadikan ungkapan untuk keahlian ilmu kalam (teologi dialektis), pengetahuan tentang tata cara perdebatan, pemahaman mendalam tentang sengketa kontradiksi lawan, serta kemampuan untuk bersilat kata dengannya melalui penumpukan pertanyaan, memicu syubhat, dan menyusun sanggahan-sanggahan yang mengunci; hingga sebagian kelompok dari mereka menamai diri mereka sebagai "Ahlul 'Adli wat-Tauhid" (Ahli Keadilan dan Tauhid), dan para ahli kalam menamai diri mereka sebagai para ulama tauhid. Padahal seluruh hal yang menjadi kekhasan disiplin ilmu ini sama sekali tidak dikenal sedikit pun pada masa awal (generasi Salaf). Bahkan terdapat penolakan yang keras dari mereka terhadap orang yang membuka pintu perdebatan dan percekcokan. Adapun dalil-dalil yang nyata yang terkandung dalam Al-Qur'an, yang mana akal langsung dapat menerimanya pada pendengaran pertama, hal itu telah diketahui oleh semuanya, dan ilmu tentang Al-Qur'an itulah sejatinya ilmu seluruhnya. Tauhid menurut para Salaf adalah ungkapan dari hal lain yang tidak dipahami oleh kebanyakan ahli kalam; dan jikalau mereka memahaminya, mereka tidak terhiasi dengannya. Yaitu memandang seluruh urusan berasal dari Allah 'Azza wa Jalla dengan pandangan yang memutuskan ketergantungannya pada sebab-sebab dan perantara-perantara, sehingga ia tidak melihat kebaikan dan keburukan secara keseluruhan kecuali dari-Nya Jalla Jalaluh. Ini adalah maqam (kedudukan spiritual) yang mulia, yang salah satu buahnya adalah tawakal, sebagaimana akan dijelaskan dalam Kitab Tawakal.
ومن ثمراته أيضاً ترك شكاية الخلق وترك الغضب عليهم والرضا والتسليم لحكم الله تعالى
Dan di antara buahnya juga adalah meninggalkan keluh kesah kepada makhluk, tidak marah kepada mereka, serta bersikap rida dan pasrah (*taslim*) terhadap ketetapan Allah Ta'ala.
وكانت إحدى ثمراته قول أبي بكر الصديق ﵁ لما قيل له في مرضه أنطلب لك طبيباً فقال الطبيب أمرضني وقول آخر لما مرض فقيل له ماذا قال لك الطبيب في مرضك فقال قال لي إني فعال لما أريد
Dan salah satu buah darinya adalah ucapan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu ketika dikatakan kepadanya saat beliau sakit, "Haruskah kami memanggilkan tabib untukmu?" Beliau menjawab, "Tabib itulah yang telah membuatku sakit." Dan ucapan sahabat yang lain ketika ia sakit lalu ditanya, "Apa yang dikatakan tabib kepadamu tentang penyakitmu?" Beliau menjawab, "Dia (Allah Sang Tabib Hakiki) berkata kepadaku: 'Sesungguhnya Aku Maha Melakukan apa yang Aku kehendaki'."
وسيأتي في كتاب التوكل وكتاب التوحيد شواهد ذلك
Dan akan datang penjelasan serta bukti-bukti mengenai hal tersebut dalam Kitab Tawakal dan Kitab Tauhid.
والتوحيد جو هو نفيس وله قشران أحدهما أبعد عن اللب من الآخر فخصص الناس الاسم بالقشر وبصنعة الحراسة للقشر وأهملوا اللب بالكلية فالقشر الأول هو أن تقول بلسانك لا إله إلا الله وهذا يسمى توحيداً مناقضاً للتثليث الذي صرح به النصارى ولكنه قد يصدر من المنافق الذي يخالف سره جهره
Tauhid itu ibarat permata yang sangat berharga, dan ia memiliki dua lapisan kulit; salah satunya lebih jauh dari inti (*lubb*) dibanding yang lain. Namun orang-orang telah mengkhususkan nama tauhid hanya untuk lapisan kulitnya saja dan keahlian menjaga kulit tersebut, serta mengabaikan intinya secara keseluruhan. Kulit pertama adalah engkau mengucapkan dengan lisanmu *Laa ilaha illallah* (tiada tuhan selain Allah). Ini dinamakan tauhid yang berlawanan dengan trinitas yang ditegaskan oleh kaum Nasrani, akan tetapi ucapan ini terkadang keluar pula dari orang munafik yang batinnya menyelisihi keterangannya yang nyata.
والقشر الثاني أن لا يكون في القلب مخالفة وإنكار لمفهوم هذا القول بل يشتمل ظاهر القلب على اعتقاده وكذلك التصديق به وهو توحيد عوام الخلق والمتكلمون كما سبق حراس هذا القشر عن تشويش المبتدعة
Kulit kedua adalah tidak ada dalam hati penolakan atau pengingkaran terhadap makna ucapan ini, melainkan bagian luar hati memuat keyakinan dan pembenaran terhadapnya. Ini adalah tauhid orang awam. Sedangkan para ahli kalam, sebagaimana telah disebutkan, adalah penjaga kulit ini dari kekacauan yang ditimbulkan oleh para pembuat bid'ah.
والثالث وهو اللباب أن يرى الأمور كلها من الله تعالى رؤية تقطع التفاته عن الوسائط وأن يعبده عبادة يفرده بها فلا يعبد غيره ويخرج عن هذا التوحيد اتباع الهوى فكل متبع هواه فقد اتخذ هواه معبوده
Tingkatan ketiga yang merupakan inti (*lubbab*) adalah memandang bahwa segala urusan berasal dari Allah Ta'ala dengan penyaksian yang memutuskan ketergantungannya pada perantara-perantara, dan menyembah-Nya dengan pengabdian yang mengesakan-Nya semata sehingga ia tidak menyembah selain-Nya. Dan keluar dari tauhid ini orang yang mengikuti hawa nafsu; sebab barang siapa yang mengikuti hawa nafsunya, maka sungguh ia telah menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya.
قال الله تعالى ﴿أفرأيت من اتخذ إلهه هواه﴾ وقال ﷺ أبغض إله عبد في الأرض
Allah Ta'ala berfirman, "Maka pernahkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?" (QS. Al-Jatsiyah: 23). Dan Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesembahan yang paling dibenci yang disembah di muka bumi di sisi Allah Ta'ala adalah hawa nafsu."
عند الله تعالى هو الهوى وعلى التحقيق من تأمل عرف أن عابد الصنم ليس يعبد الصنم وإنما يعبد هواه إذ نفسه مائلة إلى دين آبائه فيتبع ذلك الميل وميل النفس إلى المألوفات أحد المعاني التي يعبر عنها بالهوى ويخرج من هذا التوحيد التسخط على الخلق والالتفات إليهم فإن من يرى الكل من الله ﷿ كيف يتسخط على غيره فلقد كان التوحيد عبارة عن هذا المقام وهو مقام الصديقين فانظر إلى ماذا حول وبأي قشر قنع منه وكيف اتخذوا هذا معتصماً في التمدح والتفاخر بما اسمه محمود مع الإفلاس عن المعنى الذي يستحق الحمد الحقيقي وذلك كإفلاس من يصبح بكرة ويتوجه إلى القبلة ويقول وجهت وجهي للذي فطر السموات والأرض حنيفاً وهو أول كذب يفاتح الله به كل يوم إن لم يكن وجه قلبه متوجهاً إلى الله تعالى على الخصوص فإنه إن أراد بالوجه وجه الظاهر فما وجهه إلا إلى الكعبة وما صرفه إلا عن سائر الجهات والكعبة ليست جهة للذي فطر السموات والأرض حتى يكون المتوجه إليها متوجهاً إليه تعالى عن أن تحده الجهات والأقطار
Dan secara hakiki, barang siapa yang merenungkannya niscaya tahu bahwa penyembah berhala pada hakikatnya tidaklah menyembah berhala itu sendiri, melainkan ia menyembah hawa nafsunya. Karena jiwanya cenderung kepada agama nenek moyangnya, lalu ia mengikuti kecenderungan tersebut. Dan kecenderungan jiwa kepada hal-hal yang terbiasa adalah salah satu makna yang diungkaikan dengan hawa nafsu. Keluar pula dari tauhid ini sikap mendongkol (marah) kepada makhluk dan berpaling memfokuskan perhatian kepada mereka. Sebab barang siapa yang melihat segalanya dari Allah 'Azza wa Jalla, bagaimana mungkin ia akan mendongkol kepada selain-Nya? Sungguh, tauhid dahulu merupakan ungkapan bagi maqam ini, yang mana ia adalah maqam para *shiddiqin* (orang-orang yang jujur imannya). Maka lihatlah, ke mana makna ini telah dialihkan, dengan lapisan kulit yang mana mereka telah merasa puas dengannya, dan bagaimana mereka menjadikan hal itu sebagai pegangan untuk memuji diri dan berbangga-bangga dengan sesuatu yang namanya terpuji padahal bangkrut dari makna yang berhak mendapat pujian sejati! Hal itu seperti kebangkrutan orang yang bangun di pagi hari, menghadap ke kiblat dan berkata, "Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan lurus," padahal itu adalah kebohongan pertama yang ia buka di hadapan Allah setiap hari jika wajah hatinya tidak benar-benar dihadapkan secara khusus kepada Allah Ta'ala. Sebab jika yang ia maksud dengan "wajah" adalah wajah lahiriah, maka wajahnya hanyalah menghadap ke Ka'bah dan berpaling dari arah lainnya; sedangkan Ka'bah bukanlah arah bagi (Zat) yang menciptakan langit dan bumi, sehingga orang yang menghadap kepadanya dianggap menghadap kepada Allah—Maha Suci Allah dari dibatasi oleh arah dan penjuru!
وإن أراد به وجه القلب وهو المطلوب المتعبد به فكيف يصدق في قوله وقلبه متردد في أوطاره وحاجاته الدنيوية ومتصرف في طلب الحيل في جمع الأموال والجاه واستكثار الأسباب ومتوجه بالكلية إليها فمتى وجه وجهه للذي فطر السموات والأرض وهذه الكلمة خبر عن حقيقة التوحيد فالموحد هو الذي لا يرى إلا الواحد ولا يوجه وجهه إلا إليه وهو امتثال قوله تعالى ﴿قل الله ثم ذرهم في خوضهم يلعبون﴾ وليس المراد به القول باللسان فإنما اللسان ترجمان يصدق مرة ويكذب أخرى
Dan jika yang ia maksudkan adalah wajah hati—dan itulah yang dituntut serta diibadahi dengannya—maka bagaimana mungkin ia jujur dalam ucapannya sedangkan hatinya bolak-balik dalam keinginan-keinginan dan kebutuhan-kebutuhan dunianya, sibuk mencari tipu daya untuk mengumpulkan harta dan kedudukan serta memperbanyak sarana-sarana duniawi, dan menghadap sepenuhnya kepada itu semua? Kapan ia pernah menghadapkan wajahnya kepada (Zat) yang menciptakan langit dan bumi? Kalimat ini adalah pemberitahuan tentang hakikat tauhid. Maka *Muwahhid* (orang yang bertauhid sejati) adalah orang yang tidak melihat kecuali Yang Maha Esa dan tidak menghadapkan wajahnya kecuali kepada-Nya; dan ini adalah pengamalan firman Allah Ta'ala, "Katakanlah: 'Allah', kemudian biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatan mereka." (QS. Al-An'am: 91). Dan tidaklah yang dimaksud dengannya sekadar ucapan lisan, karena lisan hanyalah penerjemah yang terkadang jujur dan terkadang berdusta.
وإنما موقع نظر الله تعالى المترجم عنه هو القلب وهو معدن التوحيد ومنبعه
Sungguh, tempat pandangan Allah Ta'ala yang diterjemahkan (oleh lisan) itu adalah hati, dan hati itulah tambang serta sumber dari tauhid.
اللفظ الرابع الذكر والتذكير فقد قَالَ اللَّهُ تَعَالَى ﴿وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ المؤمنين﴾ وقد ورد في الثناء على مجالس الذكر أخبار كثيرة كقوله ﷺ إذا مررتم برياض الجنة فارتعوا قيل وما رياض الجنة قال مجالس الذكر وفي الحديث إن لله تعالى ملائكة سياحين في الدنيا سوى ملائكة الخلق إذا رأوا مجالس الذكر ينادي بعضهم بعضا ألا هلموا إلى بغيتكم فيأتونهم ويحفون بهم ويستمعون ألا فاذكروا الله وذكروا أنفسكم فنقل ذلك إلى ما ترى أكثر الوعاظ في هذا الزمان يواظبون عليه وهو القصص والأشعار والشطح والطامات أما القصص فهي بدعة وقد ورد نهي السلف عن الجلوس إلى القصاص وقالوا لم يكن ذلك في زمن رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وَلَا في زمن أبي بكر ولا عمر ﵄ حتى ظهرت الفتنة وظهر القصاص وروي أن ابن عمر ﵄ خرج من المسجد فقال ما أخرجني إلا القاص ولولاه لما خرجت
Kata keempat adalah *Adz-Dzikr* (Zikir) dan *At-Tadzkir* (Peringatan). Sungguh Allah Ta'ala berfirman, "Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman." (QS. Adz-Dzariyat: 55). Dan telah terdapat banyak riwayat yang memuji majelis-majelis zikir, seperti sabda Nabi ﷺ, "Apabila kalian melewati taman-taman surga, maka nikmatilah." Dikatakan, "Apakah taman-taman surga itu?" Beliau bersabda, "Majelis-majelis zikir." Dan dalam hadis disebutkan: "Sesungguhnya Allah Ta'ala memiliki malaikat-malaikat yang berkeliling di bumi selain malaikat pencatat amal makhluk. Apabila mereka melihat majelis-majelis zikir, sebagian mereka memanggil sebagian yang lain: 'Kemarilah menuju apa yang kalian cari!' Maka mereka mendatangi mereka, mengelilingi mereka, dan mendengarkan. Ketahuilah, berzikirlah kepada Allah dan ingatkanlah diri kalian!" Namun, makna ini kemudian dialihkan kepada apa yang engkau lihat dilakukan secara rutin oleh kebanyakan penceramah (*wu'azh*) pada zaman ini, yaitu kisah-kisah penggugah, syair-syair, *syathah* (ucapan ekstatik yang melampaui batas), dan *thammat* (perkataan yang membingungkan/mengada-ada). Adapun cerita-cerita penggugah tanpa dasar itu adalah bid'ah, dan telah ada larangan dari ulama Salaf untuk duduk di majelis para pembuat cerita (*qusshash*). Mereka berkata, "Hal itu tidak ada pada zaman Rasulullah ﷺ, tidak pula pada zaman Abu Bakar dan Umar radhiyallahu 'anhuma, hingga muncullah fitnah dan bermunculan para pembuat cerita." Diriwayatkan bahwa Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma keluar dari masjid seraya berkata, "Tidak ada yang membuatku keluar melainkan pembuat cerita itu; jikalau bukan karena dia, niscaya aku tidak keluar."
وقال ضمرة قلت لسفيان الثوري نستقبل القاص بوجوهنا فقال ولوا البدع ظهوركم وقال ابن عون دخلت على ابن سيرين فقال ما كان اليوم من خبر فقلت نهى الأمير القصاص أن يقصوا فقال وفق للصواب
Dhumrah berkata, "Aku bertanya kepada Sufyan ats-Tsauri, 'Apakah kami perlu menghadapkan wajah kami kepada pencerita kisah (qash)?' Beliau menjawab, 'Palingkanlah punggungmu dari kebid'ahan!' Ibnu 'Aun berkata, 'Aku menemui Ibnu Sirin, lalu beliau bertanya, 'Kabar apa yang ada hari ini?' Aku menjawab, 'Amir telah melarang para pencerita kisah untuk menyampaikan kisahnya.' Ibnu Sirin pun berkata, 'Dia telah diberi taufik menuju kebenaran.'"
ودخل الأعمش جامع البصرة فرأى قاصاً يقص ويقول حدثنا الأعمش فتوسط الحلقة وجعل ينتف شعر إبطه فقال القاص يا شيخ ألا تستحي فقال لم أنا في سنة وأنت في كذب أنا الأعمش وما حدثتك وقال أحمد أكثر الناس كذباً القصاص والسؤال
Al-A'masy masuk ke Masjid Jami' Bashrah, lalu melihat seorang pencerita kisah sedang berceramah seraya berkata, "Al-A'masy menceritakan kepada kami…" Maka Al-A'masy menengahi halaqah tersebut dan mulai mencabuti bulu ketiaknya. Pencerita kisah itu berkata, "Wahai Syekh, apakah engkau tidak malu?" Al-A'masy menjawab, "Mengapa? Aku sedang menjalankan sunnah, sedangkan engkau sedang berbuat dusta. Akulah Al-A'masy, dan aku tidak pernah menceritakan hal itu kepadamu." Ahmad (bin Hanbal) berkata, "Manusia yang paling banyak berdusta adalah para pencerita kisah (qusshas) dan para peminta-minta."
وأخرج علي ﵁ القصاص من مسجد جامع البصرة
Ali radhiyallahu 'anhu pernah mengusir para pencerita kisah dari Masjid Jami' Bashrah.
فلما سمع كلام الحسن البصري لم يخرجه إذا كان يتكلم في علم الآخرة والتفكير بالموت والتنبيه على عيوب النفس وآفات الأعمال وخواطر الشيطان ووجه الحذر منها ويذكر بآلاء الله ونعمائه وتقصير العبد في شكره ويعرف حقارة الدنيا وعيوبها وتصرمها ونكث عهدها وخطر الآخرة وأهوالها فهذا هو التذكير المحمود شرعاً الذي روى الحث عليه في حديث أبي ذر ﵁ حيث قال حضور مجلس ذكر أفضل من صلاة ألف ركعة وحضور مجلس علم أفضل من عيادة ألف مريض وحضور مجلس علم أفضل من شهود ألف جنازة فقيل يا رسول الله ومن قراءة القرآن قال وهل تنفع قراءة القرآن إلا بالعلم وقال عطاء ﵀ مجلس ذكر يكفر سبعين مجلساً من مجالس اللهو فقد اتخذ المزخرفون هذه الأحاديث حجة على تزكية أنفسهم ونقلوا اسم التذكير إلى خرافاتهم وذهلوا عن طريق الذكر المحمود واشتغلوا بالقصص التي تتطرق إليها الاختلافات والزيادة والنقص وتخرج عن القصص الواردة في القرآن وتزيد عليها فإن من القصص ما ينفع سماعه ومنها ما يضر وإن كان صدقاً
Namun, ketika beliau mendengarkan perkataan Al-Hasan al-Bashri, beliau tidak mengusirnya, karena Al-Hasan al-Bashri berbicara tentang ilmu akhirat, merenungkan kematian, mengingatkan bahaya cela-cela jiwa, kebinasaan amal, lintasan-lintasan bisikan syaitan serta cara mewaspadainya. Beliau juga mengingatkan karunia dan nikmat-nikmat Allah, kelalaian hamba dalam bersyukur, mengenalkan kehinaan dunia, keaibannya, sifatnya yang fana dan suka memungkiri janji, serta dahsyatnya perkara akhirat beserta kehororannya. Inilah bentuk peringatan (tadzkir) yang terpuji secara syariat, yang diriwayatkan anjurannya dalam hadis Abu Dzarr radhiyallahu 'anhu di mana beliau bersabda, "Menghadiri majelis zikir lebih utama daripada shalat seribu rakaat, menghadiri majelis ilmu lebih utama daripada menjenguk seribu orang sakit, dan menghadiri majelis ilmu lebih utama daripada mengantar seribu jenazah." Ditanyakan, "Wahai Rasulullah, juga dari membaca Al-Qur'an?" Beliau menjawab, "Apakah membaca Al-Qur'an bermanfaat kecuali dengan ilmu?" Athâ' rahmatullah 'alaihi berkata, "Satu majelis zikir menghapus dosa tujuh puluh majelis kelalaian." Namun, para pembuat keindahan semu menjadikan hadis-hadis ini sebagai hujjah untuk menyucikan diri mereka sendiri. Mereka mengalihkan istilah tadzkir (peringatan) kepada khurafat-khurafat mereka, melupakan jalan zikir yang terpuji, serta disibukkan dengan kisah-kisah yang rentan dengan perselisihan, penambahan, dan pengurangan, serta keluar dari kisah-kisah yang termaktub dalam Al-Qur'an dan menambah-nambahinya. Padahal di antara kisah-kisah itu ada yang bermanfaat mendengarnya, dan ada pula yang memudaratkan meskipun kisah itu benar.
ومن فتح ذلك الباب على نفسه اختلط عليه الصدق بالكذب والنافع بالضار فمن هذا نهي عنه ولذلك قال أحمد بن حنبل رحمة الله ما أحوج الناس إلى قاص صادق فإن كانت القصة من قصص الأنبياء ﵈ فيما يتعلق بأمور دينهم وكان القاص صادقاً صحيح الرواية فلست أرى بها بأساً فليحذر الكذب وحكايات أحوال تومىء إلى هفوات أو مساهلات يقصر فهم العوام عن درك معانيها أو عن كونها هفوة نادرة مردفة بتفكيرات متداركة بحسنات تغطي عليها فإن العامي يعتصم بذلك في مساهلاته وهفواته ويمهد لنفسه عذراً فيه ويحتج بأنه حكى كيت وكيت عن بعض المشايخ وبعض الأكابر فكلنا بصدد المعاصي فلا غرو إن عصيت الله تعالى فقد عصاه من هو أكبر مني ويفيده ذلك جراءة على الله تعالى من حيث لا يدري فبعد الاحتراز عن هذين المحذورين فلا بأس به وعند ذلك يرجع إلى القصص المحمودة وإلى ما يشتمل عليه القرآن ويصح في الكتب الصحيحة من الأخبار ومن الناس من يستجيز وضع الحكايات المرغبة في الطاعات ويزعم أن قصده فيها دعوة الخلق إلى الحق فهذه من نزعات الشيطان فإن في الصدق مندوحة عن الكذب وفيما ذكر الله تعالى ورسوله ﷺ غنية عن الاختراع في الوعظ كيف وقد كره تكلف السجع وعد ذلك من التصنع
Barangsiapa membuka pintu tersebut bagi dirinya, niscaya akan bercampur aduk baginya antara kejujuran dan kedustaan, serta yang bermanfaat dan yang memudaratkan. Karena alasan inilah hal itu dilarang. Oleh sebab itu Ahmad bin Hanbal rahmatullah 'alaihi berkata, "Betapa butuhnya manusia kepada pencerita kisah yang jujur." Apabila kisah tersebut termasuk kisah para nabi 'alaihimussalam dalam hal yang berkaitan dengan urusan agama mereka, dan pencerita kisahnya adalah seorang yang jujur serta shahih riwayatnya, maka aku tidak memandangnya bermasalah. Namun hendaknya ia mewaspadai dusta dan penuturan kisah-kisah keadaan (ahwâl) yang mengisyaratkan kekhilafan atau pemudahan-pemudahan yang pemahaman orang awam tidak mampu menggapai maknanya, atau tidak memahami bahwa itu hanyalah kekhilafan langka yang diiringi oleh perenungan dan disusul oleh kebaikan-kebaikan yang menutupinya. Sebab, orang awam akan berpegang teguh dengannya dalam pemudahan dan kekhilafan mereka sendiri, lalu menyiapkan alasan bagi dirinya seraya berhujjah bahwa telah diriwayatkan begini dan begitu dari sebagian gurunya dan sebagian tokoh besar, dengan anggapan: "Kita semua berpotensi melakukan maksiat, maka tidak heran jika aku bermaksiat kepada Allah Ta'ala, karena orang yang lebih besar dariku pun pernah bermaksiat kepada-Nya." Hal itu membuahkan keberanian membangkang kepada Allah Ta'ala tanpa ia sadari. Maka setelah menjaga diri dari kedua hal yang terlarang ini, tidak ada masalah dengannya. Ketika itulah ia kembali kepada kisah-kisah yang terpuji dan apa yang tercakup dalam Al-Qur'an serta riwayat-riwayat yang shahih dalam kitab-kitab shahih. Di antara manusia ada yang membolehkan membuat-buat kisah rekaan untuk mengobarkan semangat ketaatan dan mengklaim bahwa maksudnya adalah mengajak makhluk menuju Al-Haq (Kebenaran). Ini termasuk dari bisikan syaitan. Sesungguhnya dalam kejujuran terdapat kelapangan dari kedustaan, dan dalam apa yang telah disebutkan oleh Allah Ta'ala dan Rasul-Nya صلى الله عليه وسلم terdapat kecukupan dari rekaan dalam berkhotbah/memberi nasihat. Bagaimana mungkin tidak, sedangkan memaksakan rima sajak (saja') saja dibenci dan dianggap sebagai bentuk sikap dibuat-buat (tashannu').
قال سعد بن أبي وقاص ﵁ لابنه عمر وقد سمعه يسجع هذا الذي يبغضك إلي لا قضيت حاجتك أبداً حتى تتوب وقد كان جاءه في حاجة وقد قال ﷺ لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ رواحة في سجع من ثلاث كلمات إياك والسجع يا ابن رواحة فكأن السجع المحذور المتكلف ما زاد على كلمتين ولذلك لما قال الرجل في دية الجنين كيف ندى من لا شرب ولا أكل ولا صاح ولا استهل ومثل ذلك يطل فقال النبي ﷺ أسجع كسجع الأعراب
Sa'ad bin Abi Waqqas radhiyallahu 'anhu berkata kepada putranya, Umar, ketika mendengar beliau bersajak, "Hal inilah yang membuatku benci kepadamu. Keperluanmu tidak akan pernah kupenuhi sampai engkau bertaubat." Padahal saat itu ia datang kepadanya untuk suatu keperluan. Dan Nabi صلى الله عليه وسلم pernah bersabda kepada Abdullah bin Rawahah mengenai sajak tiga kata, "Jauhilah olehmu bersajak, wahai Ibnu Rawahah!" Seolah-olah sajak yang dilarang dan dipaksakan itu adalah yang melebihi dua kata. Oleh karena itu, ketika seseorang berkata mengenai diat janin, "Bagaimana kita harus membayar diat untuk janin yang tidak minum, tidak makan, tidak berteriak, dan tidak menangis saat lahir, dan yang seperti itu dibiarkan batal begitu saja?" Maka Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda, "Apakah engkau bersajak seperti sajak orang-orang Arab Badui?"
وأما الأشعار فتكثيرها في المواعظ مذموم
Adapun syair-syair, memperbanyaknya dalam ceramah-nasihat adalah hal yang tercela.
قال الله تعالى ﴿والشعراء يتبعهم الغاوون ألم تر أنهم في كل واد يهيمون﴾ وقال تعالى ﴿وما علمناه الشعر وما ينبغي له﴾ وأكثر ما اعتاده الوعاظ من الأشعار ما يتعلق بالتواصف في العشق وجمال المعشوق وروح الوصال وألم الفراق والمجلس لا يحوي إلا أجلاف العوام وبواطنهم مشحونة بالشهوات وقلوبهم غير منفكة عن الالتفات إلى الصور المليحة فلا تحرك الأشعار من قلوبهم إلا ما هو مستكن
Allah Ta'ala berfirman, "Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah engkau melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah?" (QS. Asy-Syu'ara': 224-225). Dan Allah Ta'ala berfirman, "Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya." (QS. Yasin: 69). Sebagian besar syair yang biasa digunakan para penceramah adalah yang berkaitan dengan penggambaran kerinduan cinta, keindahan kekasih, kenikmatan pertemuan, dan kepedihan perpisahan. Padahal majelis tersebut hanya berisi orang-orang awam yang kasar, batin mereka dipenuhi hawa nafsu, dan hati mereka tidak terlepas dari berpaling pada rupa-rupa yang indah. Maka syair-syair itu tidak menggerakkan dari hati mereka melainkan apa yang telah tersembunyi…
فيها فتشتعل فيها نيران الشهوات فيزعقون ويتواجدون وأكثر ذلك أو كله يرجع إلى نوع فساد فلا ينبغي أن يستعمل من الشعر إلا ما فيه موعظة أو حكمة على سبيل استشهاد واستئناس
…di dalamnya, sehingga menyalakan api syahwat dalam diri mereka, lalu mereka berteriak-teriak dan berpura-pura merasakan wajad (ekstasi spiritual). Sebagian besar atau seluruh hal itu kembali kepada jenis kerusakan. Maka tidak sepatutnya menggunakan syair kecuali yang mengandung nasihat atau hikmah sebagai sarana penguat argumentasi dan penyemangat.
وقد قال ﷺ إن من الشعر لحكمة ولو حوى المجلس الخواص الذين وقع الاطلاع على استغراق قلوبهم بحب الله تعالى ولم يكن معهم غيرهم فإن أولئك لا يضر معهم الشعر الذي يشير ظاهره إلى الخلق فإن المستمع ينزل كل ما يسمعه على ما يستولي على قلبه كما سيأتي تحقيق ذلك في كتاب السماع ولذلك كان الجنيد ﵀ يتكلم على بضعة عشر رجلاً فإن كثروا لم يتكلم وما تم أهل مجلسه قط عشرين
Dan sungguh Nabi صلى الله عليه وسلم telah bersabda, "Sesungguhnya sebagian dari syair itu mengandung hikmah." Seandainya majelis tersebut hanya berisi orang-orang khusus (al-khawaash) yang telah diketahui bahwa hati mereka tenggelam dalam kecintaan kepada Allah Ta'ala, dan tidak ada orang lain bersama mereka, maka syair yang zahirnya mengisyaratkan kepada makhluk tidak memudaratkan bagi mereka. Sebab pendengar (dari kalangan khawas) akan membawa setiap apa yang didengarnya kepada apa yang menguasai hatinya, sebagaimana penjelasan hakikatnya akan datang dalam Kitab As-Sama'. Oleh karena itu, Al-Junaid rahmatullah 'alaihi dahulu hanya berbicara di hadapan belasan orang; jika jumlah mereka bertambah banyak, beliau tidak berbicara, dan jamaah majelisnya tidak pernah genap mencapai dua puluh orang.
وحضر جماعة باب دار ابن سالم فقيل له تكلم فقد حضر أصحابك فقال لا ما هؤلاء أصحابي إنما هم أصحاب المجلس إن أصحابي هم الخواص وأما الشطح فنعني به صنفين من الكلام أحدثه بعض الصوفية
Sekelompok orang berkumpul di depan pintu rumah Ibnu Salim, lalu dikatakan kepadanya, "Bicaralah, sungguh sahabat-sahabatmu telah hadir." Beliau menjawab, "Bukan, mereka bukan sahabat-sahabatku, mereka hanyalah hadirin majelis. Sahabat-sahabatku hanyalah orang-orang khusus (al-khawaash)." Adapun syathah (ungkapan-ungkapan ekstatis/rancu), yang kami maksud dengannya adalah dua jenis perkataan yang diada-adakan oleh sebagian kaum Sufi.
أحدهما الدعاوي الطويلة العريضة في العشق مع الله تعالى والوصال المغني عن الأعمال الظاهرة حتى ينتهي قوم إلى دعوى الاتحاد وارتفاع الحجاب والمشاهدة بالرؤية والمشافهة بالخطاب فيقولون قيل لنا كذا وقلنا كذا ويتشبهون فيه بالحسين بن منصور الحلاج الذي صلب لأجل إطلاقه كلمات من هذا الجنس ويستشهدون بقوله أنا الحق وبما حكي عن أبي يزيد البسطامي أنه قال سبحاني سبحاني وهذا فن من الكلام عظيم ضرره في العوام حتى ترك جماعة من أهل الفلاحة فلاحتهم وأظهروا مثل هذه الدعاوي فإن هذا الكلام يستلذه الطبع إذ فيه البطالة من الأعمال مع تزكية النفس بدرك المقامات والأحوال فلا تعجز الأغبياء عن دعوى ذلك لأنفسهم ولا عن تلقف كلمات مخبطة مزخرفة ومهما أنكر عليهم ذلك لم يعجزوا عن أن يقولوا هذا إنكار مصدره العلم والجدال والعلم حجاب والجدل عمل النفس وهذا الحديث لا يلوح إلا من الباطن بمكاشفة نور الحق فهذا ومثله مما قد استطار في البلاد شرره وعظم في العوام ضرره حتى من نطق بشيء منه فقتله أفضل في دين الله من إحياء عشرة وأما أبو يزيد البسطامي ﵀ فلا يصح عنه ما يحكى وإن سمع ذلك منه فلعله كان يحكيه عن الله ﷿ في كلام يردده في نفسه كما لو سمع وهو يقول ﴿إنني أنا الله لا إله إلا أنا فاعبدني﴾ فإنه ما كان ينبغي أن يفهم منه ذلك إلا على سبيل الحكاية
Jenis pertama: klaim-klaim muluk tentang kerinduan cinta ('isyq) bersama Allah Ta'ala dan penyatuan (wishaal) yang membuat tidak memerlukan lagi amal-amal lahiriah, hingga suatu kaum sampai pada klaim ittihad (penyatuan wujud), terangkatnya tabir (irtifa' al-hijab), menyaksikan dengan penglihatan (mushahadah), dan berbicara langsung (mushafahah), lalu mereka berkata, "Dikatakan kepada kami begini dan kami katakan begini." Dalam hal itu mereka menyerupakan diri dengan Al-Husain bin Manshur Al-Hallaj yang disalib karena mengucapkan kalimat-kalimat sejenis ini, dan mereka berhujjah dengan perkataannya "Aku adalah Al-Haq", serta apa yang diriwayatkan dari Abu Yazid Al-Busthami bahwa beliau berkata "Maha Suci Aku, Maha Suci Aku". Ini adalah jenis perkataan yang sangat besar bahayanya bagi orang awam, hingga sekelompok petani meninggalkan pertanian mereka dan menampilkan klaim-klaim semacam ini. Sebab perkataan ini disukai oleh watak dasar manusia, karena di dalamnya terdapat pengangguran dari amal beserta penyucian diri dengan merasa telah mencapai maqamat (kedudukan kerohanian) dan ahwal (kondisi spiritual). Maka orang-orang bodoh tidak akan sukar mengklaim hal itu untuk diri mereka sendiri dan memungut kata-kata kacau yang dihias-hias. Kapan pun hal itu diingkari atas mereka, mereka tidak akan kesulitan untuk menjawab, "Pengingkaran ini bersumber dari ilmu formal dan perdebatan, sedangkan ilmu itu adalah hijab dan perdebatan adalah amalan nafsu, sementara pembicaraan ini tidak muncul melainkan dari batin melalui mukasyafah cahaya Al-Haq (Allah)." Hal ini dan yang seumpamanya telah menyebar kejahatannya di berbagai negeri dan membesar bahayanya bagi orang awam, hingga barangsiapa yang mengucapkan sesuatu dari hal itu, maka membunuhnya lebih utama dalam agama Allah daripada menghidupkan sepuluh orang. Adapun Abu Yazid Al-Busthami rahmatullah 'alaihi, tidak shahih riwayat yang dikisahkan darinya itu; jikalau hal itu terdengar darinya, boleh jadi beliau sedang menirukan (hikayat) firman Allah Azza wa Jalla dalam kalimat yang beliau ulang-ulang dalam dirinya, sebagaimana jika beliau terdengar mengucapkan, "Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku" (QS. Thaha: 14), yang mana tidak sepatutnya dipahami darinya melainkan sebagai bentuk penuturan ulang (hikayat).
الصنف الثاني من الشطح كلمات غير مفهومة لها ظواهر رائقة وفيها عبارات هائلة وليس وراءها طائل إما أن تكون غير مفهومة عند قائلها بل يصدرها عن خبط في عقله وتشويش في خياله لقلة إحاطته بمعنى كلام قرع سمعه وهذا هو الأكثر
Jenis kedua dari syathah: kata-kata yang tidak dipahami tetapi memiliki makna lahiriah yang indah dan mengandung ungkapan-ungkapan dahsyat, padahal di baliknya tidak ada faedahnya sama sekali. Bisa jadi kata-kata itu tidak dipahami oleh penuturnya sendiri, melainkan diucapkannya dari kekacauan akalnya dan kerancuan imajinasinya karena kurangnya pemahaman terhadap makna perkataan yang pernah didengarnya, dan inilah yang paling sering terjadi.
وإما أن تكون مفهومة له ولكنه لا يقدر على تفهيمها وإيرادها بعبارة تدل على ضميره لقلة ممارسته للعلم وعدم تعلمه طريق التعبير عن المعاني بالألفاظ الرشيقة ولا فائدة لهذا الجنس من الكلام إلا أنه يشوش القلوب ويدهش العقول ويحير الأذهان أو يحمل على أن يفهم منها معاني ما أريدت بها ويكون فهم كل واحد على مقتضى هواه وطبعه
Atau bisa jadi perkataan itu dipahami olehnya, namun ia tidak mampu memahamkannya kepada orang lain dan menyampaikannya dengan ungkapan yang menunjukkan isi hatinya karena kurangnya penguasaan ilmu dan tidak mempelajari cara mengekspresikan makna dengan lafaz-lafaz yang tepat. Tidak ada manfaat dari jenis perkataan ini selain membingungkan hati, mencengangkan akal, dan mengacaukan pikiran, atau mendorong untuk dipahami dengannya makna-makna yang tidak dimaksudkan, sehingga pemahaman setiap orang sesuai dengan hawa nafsu dan wataknya masing-masing.
وقد قال ﷺ ما حدث أحدكم قوماً بحديث لا يفقهونه إلا كان فتنة عليهم وقال ﷺ كلموا الناس بما يعرفون ودعوا ما ينكرون أتريدون أن يكذب الله ورسوله وهذا فيما يفهمه صاحبه ولا يبلغه عقل المستمع فكيف فيما لا يفهمه قائله
Sungguh Rasulullah صلى الله عليه وسلم telah bersabda, "Tidaklah salah seorang dari kalian menyampaikan suatu perkataan kepada suatu kaum yang tidak dapat dipahami oleh akal mereka melainkan perkataan itu menjadi fitnah bagi mereka." Beliau صلى الله عليه وسلم juga bersabda, "Berbicara kepada manusia sesuai dengan apa yang mereka ketahui dan tinggalkan apa yang mereka ingkari, apakah kalian ingin Allah dan Rasul-Nya didustakan?" Hal ini berlaku pada perkara yang dipahami oleh penuturnya tetapi tidak terjangkau oleh akal pendengarnya, maka bagaimanakah dengan perkara yang tidak dipahami oleh penuturnya sendiri?
فإن كان يفهمه القائل دون المستمع فلا يحل ذكره
Jika penuturnya memahaminya tetapi pendengarnya tidak memahaminya, maka tidak halal untuk menyebutkannya.
وقال عيسى
Dan Isa 'alaihissalam berkata:
عليه السلام لا تضعوا الحكمة عند غير أهلها فتظلموها ولا تمنعوها أهلها فتظلموهم كونوا كالطبيب الرفيق يضع الدواء في موضع الداء
"Janganlah kalian menempatkan hikmah pada yang bukan ahlinya, sehingga kalian menzhalimi hikmah itu; dan jangan pula kalian menghalanginya dari ahlinya, sehingga kalian menzhalimi mereka. Jadilah kalian seperti dokter yang lembut, yang menempatkan obat pada tempat penyakit."
وفي لفظ آخر من وضع الحكمة في غير أهلها فقد جهل ومن منعها أهلها فقد ظلم إن للحكمة حقاً وإن لها أهلاً فأعط كل ذي حق حقه
Dalam redaksi lain dikatakannya: "Barangsiapa menempatkan hikmah bukan pada ahlinya, maka sungguh ia telah berbuat jahil; dan barangsiapa menghalanginya dari ahlinya, maka sungguh ia telah berbuat zhalim. Sesungguhnya hikmah memiliki hak dan memiliki ahli, maka berikanlah kepada setiap pemilik hak akan haknya."
وأما الطامات فيدخلها ما ذكرناه في الشطح وأمر آخر يخصها وهو صرف ألفاظ الشرع عن ظواهرها المفهومة إلى أمور باطنة لا يسبق منها إلى الأفهام فائدة كدأب الباطنية في التأويلات فهذا أيضاً حرام وضرره عظيم فإن الألفاظ إذا صرفت عن مقتضى ظواهرها بغير اعتصام فيه بنقل عن صاحب الشرع ومن غير ضرورة تدعو إليه من دليل العقل اقتضى ذلك بطلان الثقة بالألفاظ وسقط به منفعة كلام الله تعالى وكلام رسوله ﷺ فإن ما يسبق منه إلى الفهم لا يوثق به والباطن لا ضبط له بل تتعارض فيه الخواطر ويمكن تنزيله على وجوه شتى وهذا أيضاً من البدع الشائعة العظيمة الضرر وإنما قصد أصحابها الإغراب لأن النفوس مائلة إلى الغريب ومستلذة له وبهذا الطريق توصل الباطنية إلى هدم جميع الشريعة بتأويل ظواهرها وتنزيلها على رأيهم كما حكيناه من مذاهبهم في كتاب المستظهر المصنف في الرد على الباطنية
Adapun thaammat (ungkapan-ungkapan alegoris yang melampaui batas/dibuat-buat), maka mencakup apa yang telah kami sebutkan dalam hal syathah ditambah satu perkara lain yang khusus baginya, yaitu memalingkan lafaz-lafaz syariat dari makna zahirnya yang dipahami menuju perkara-perkara batin yang tidak memberikan faedah awal bagi pemahaman, sebagaimana kebiasaan kaum Batiniah dalam melakukan takwil-takwil. Hal ini juga haram dan sangat besar bahayanya. Sebab, apabila lafaz-lafaz dipalingkan dari tuntutan maknanya yang zahir tanpa berpegang pada riwayat dari Pemilik Syariat (Nabi) dan tanpa adanya darurat yang menuntutnya dari dalil akal, hal itu akan mengakibatkan gugurnya kepercayaan terhadap lafaz-lafaz tersebut dan hilangnya manfaat dari kalam Allah Ta'ala serta kalam Rasul-Nya صلى الله عليه وسلم. Sebab apa yang pertama kali ditangkap oleh pemahaman tidak lagi dipercayai, sementara makna batin tidak memiliki batasan yang terukur, bahkan benturan pemikiran dapat terjadi di dalamnya dan dapat ditafsirkan ke berbagai arah. Ini juga termasuk bid'ah yang meluas dan sangat besar bahayanya. Pembuatnya hanya bermaksud mencari sensasi keanehan, karena jiwa manusia cenderung menyukai hal-hal yang aneh dan merasa lezat dengannya. Melalui jalan inilah kaum Batiniah sampai pada upaya meruntuhkan seluruh syariat dengan menakwilkan makna-makna zahirnya dan membawanya sesuai dengan pandangan mereka sendiri, sebagaimana telah kami ceritakan tentang mazhab-mazhab mereka dalam kitab Al-Mustazhhiri yang disusun untuk membantah kaum Batiniah.
ومثال تأويل أهل الطامات قول بعضهم في تأويل قوله تعالى ﴿اذهب إلى فرعون إنه طغى﴾ أنه إشارة إلى قلبه وقال هو المراد بفرعون وهو الطاغي على كل إنسان
Contoh ta'wil dari ahli thāmmat (kaum ekstrimis yang mengabaikan syariat) adalah ucapan sebagian mereka dalam menafsirkan firman Allah Ta'ala: 'Pergilah kepada Firaun, sesungguhnya dia telah melampaui batas' (QS. Thaha: 24), bahwasanya ini adalah isyarat kepada hati. Dia berkata: 'Hati itulah yang dimaksud dengan Firaun, dan dialah yang melampaui batas pada diri setiap manusia.'
وفي قوله تعالى ﴿وأن ألق عصاك﴾ أي ما يتوكأ عليه ويعتمده مما سوى الله ﷿ فينبغي أن يلقيه
Dan pada firman Allah Ta'ala: 'Dan lemparkanlah tongkatmu' (QS. Al-Qashash: 31), yaitu apa saja yang dijadikan sandaran dan pegangan selain Allah Azza wa Jalla, maka hendaknya ia melemparkannya.
وفي قوله ﷺ تسحروا فإن في السحور بركة أراد به الاستغفار في الأسحار وأمثال ذلك حتى يحرفون القرآن من أوله إلى آخره عن ظاهره وعن تفسيره المنقول عن ابن عباس وسائر العلماء وبعض هذه التأويلات يعلم بطلانها قطعاً كتنزيل فرعون على القلب فإن فرعون شخص محسوس تواتر إلينا النقل بوجوده ودعوة موسى له وكأبي جهل وأبي لهب وغيرهما من الكفار وليس من جنس الشياطين والملائكة مما لم يدرك بالحس حتى يتطرق التأويل إلى ألفاظه وكذا حمل السحور على الاستغفار فإنه كان ﷺ يتناول الطعام ويقول تسحرو وهلموا إلى الغذاء المبارك فهذه أمور يدرك بالتواتر والحس بطلانها نقلاً وبعضها يعلم بغالب الظن وذلك في أمور لا يتعلق بها الإحساس فكل ذلك حرام وضلالة وإفساد للدين على الخلق ولم ينقل شيء من ذلك عن الصحابة ولا عن التابعين ولا عن الحسن البصري مع إكبابه على دعوة الخلق ووعظهم فلا يظهر لقوله ﷺ من فسر القرآن برأيه فليتبوأ مقعده من النار معنى إلا هذا النمط وهو أن يكون غرضه ورأيه تقرير أمر وتحقيقه فيستجر شهادة القرآن إليه ويحمله عليه من غير أن يشهد لتنزيله عليه دلالة لفظية لغوية أو نقلية ولا ينبغي أن يفهم منه أنه يجب أن لا يفسر القرآن بالاستنباط والفكر فإن من الآيات ما نقل فيها عن الصحابة والمفسرين خمسة معان وستة وسبعة
Dan pada sabda Nabi ﷺ: 'Makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya pada sahur itu terdapat keberkahan,' mereka mengartikannya sebagai istigfar pada waktu sahur, dan contoh-contoh lain yang sejenis, hingga mereka menyelewengkan Al-Qur'an dari awal hingga akhirnya dari makna lahiriahnya dan dari tafsirnya yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas serta seluruh ulama. Sebagian dari ta'wil-ta'wil ini dapat diketahui kebatilannya secara pasti, seperti menerapkan Firaun kepada hati; sebab Firaun adalah sosok pribadi yang nyata terindra yang penukilan keberadaannya serta seruan Nabi Musa kepadanya telah sampai kepada kita secara mutawatir, sebagaimana Abu Jahal, Abu Lahab, dan para kafir lainnya, dan bukan dari jenis setan atau malaikat yang tidak terjangkau oleh pancaindra sehingga lafaznya bisa dita'wilkan. Demikian pula memalingkan makna sahur kepada istigfar, padahal Rasulullah ﷺ sendiri memakan makanan sahur dan bersabda: 'Makan sahurlah dan marilah menuju santapan yang diberkahi.' Maka ini adalah hal-hal yang kebatilannya diketahui secara penukilan yang mutawatir dan pancaindra. Sebagian ta'wil lainnya diketahui kebatilannya dengan persangkaan yang kuat (ghalabatuzh-zhann), yaitu dalam hal-hal yang tidak berkaitan dengan indra. Maka semua penafsiran semacam itu adalah haram, kesesatan, dan pengrusakan agama bagi makhluk. Tidak ada satu pun hal tersebut yang diriwayatkan dari para sahabat, tidak pula dari para tabi'in, dan tidak pula dari Al-Hasan Al-Bashri padahal beliau sangat tekun dalam berdakwah dan menasihati manusia. Maka tidak ada makna yang tampak bagi sabda Nabi ﷺ: 'Barang siapa yang menafsirkan Al-Qur'an dengan pendapatnya sendiri, maka hendaklah ia bersiap mengambil tempat duduknya di neraka,' melainkan pola seperti ini; yaitu tujuannya dan pandangannya adalah untuk menetapkan dan membenarkan suatu perkara, lalu ia menyeret kesaksian Al-Qur'an kepadanya dan memaksakannya tanpa adanya petunjuk lafaz secara kebahasaan (lughawiyyah) maupun penukilan riwayat (naqliyyah) yang mendukung penerapannya. Dan tidak boleh dipahami dari hadis tersebut bahwa Al-Qur'an tidak boleh ditafsirkan dengan istinbāṭ (penggalian hukum) dan pemikiran, karena di antara ayat-ayat Al-Qur'an ada yang diriwayatkan dari para sahabat dan ahli tafsir memiliki lima, enam, hingga tujuh makna.
ونعلم أن جميعها غير مسموع من النبي ﷺ فإنها قد تكون متنافية لا تقبل الجمع فيكون ذلك مستنبطاً بحسن الفهم وطول الفكر ولهذا قال ﷺ لابن عباس ﵁ اللهم فقهه في الدين وعلمه التأويل
Dan kita tahu bahwa tidak semuanya didengar langsung dari Nabi ﷺ, sebab makna-makna tersebut terkadang saling berlawanan dan tidak dapat dikompromikan, sehingga hal itu merupakan hasil istinbāṭ melalui pemahaman yang baik dan perenungan yang mendalam. Oleh karena itulah Nabi ﷺ mendoakan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma: 'Ya Allah, pahamkanlah ia dalam agama dan ajarkanlah kepadanya ta'wīl (tafsir Al-Qur'an).'
ومن يستجيز من أهل الطامات مثل هذه التأويلات مع علمه بأنها غير مرادة بالألفاظ ويزعم أنه يقصد بها دعوة الخلق إلى الخالق يضاهي من يستجيز الاختراع والوضع عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ لما هو في نفسه حق ولكن لم ينطق به الشرع كمن يضع في كل مسألة يراها حقاً حديثاً عن النبي ﷺ فذلك ظلم وضلال ودخول في الوعيد المفهوم من قوله ﷺ من كذب علي متعمداً فليتبوأ مقعده من النار بل الشر في تأويل هذه الألفاظ أطم وأعظم لأنها مبدلة للثقة بالألفاظ وقاطعة طريق الاستفادة والفهم من القرآن بالكلية فقد عرفت كيف صرف الشيطان دواعي الخلق عن العلوم المحمودة إلى المذمومة فكل ذلك من تلبيس علماء السوء بتبديل الأسامي فإن اتبعت هؤلاء اعتماداً على الاسم المشهور من غير التفات إلى ما عرف في العصر الأول كنت كمن طلب الشرف بالحكمة باتباع من يسمى حكيماً فإن اسم الحكيم صار يطلق على الطبيب والشاعر والمنجم في هذا العصر وذلك بالغفلة عن تبديل الألفاظ اللفظ الخامس وهو الحكمة فإن اسم الحكيم صار يطلق على الطبيب والشاعر والمنجم حتى على الذي يدحرج القرعة على أكف السوادية في شوارع الطرق
Barang siapa dari kalangan ahli thāmmat yang membolehkan ta'wil-ta'wil semacam ini padahal ia mengetahui bahwa makna tersebut tidak dimaksudkan oleh lafaz-lafaznya, seraya mengklaim bahwa ia bertujuan menyeru makhluk kepada Sang Pencipta, maka ia serupa dengan orang yang membolehkan mereka-reka dan memalsukan hadis atas nama Rasulullah ﷺ demi hal yang pada hakikatnya benar tetapi tidak diucapkan oleh syariat, seperti orang yang memalsukan hadis dari Nabi ﷺ untuk setiap masalah yang ia pandang benar. Hal itu merupakan kezaliman, kesesatan, dan termasuk ke dalam ancaman yang dipahami dari sabda Nabi ﷺ: 'Barang siapa yang sengaja berdusta atas namaku, maka hendaklah ia bersiap mengambil tempat duduknya di neraka.' Bahkan, bahaya dalam mena'wilkan lafaz-lafaz ini jauh lebih besar dan dahsyat, karena hal itu merusak kepercayaan terhadap lafaz dan memutus jalan pengambilan faedah serta pemahaman dari Al-Qur'an secara keseluruhan. Maka engkau telah mengetahui bagaimana setan memalingkan dorongan manusia dari ilmu-ilmu yang terpuji menuju ilmu-ilmu yang tercela. Semua itu merupakan bagian dari kebatilan (talbīs) ulama buruk ('ulamā' us-sū') dengan mengubah istilah-istilah. Jika engkau mengikuti mereka karena bersandar pada nama yang masyhur tanpa menoleh kepada apa yang dikenal pada masa generasi awal (al-'ashr al-awwal), maka engkau seperti orang yang mencari kemuliaan dengan hikmah melalui pengikutan kepada orang yang dinamai ḥakīm (orang bijak), padahal nama ḥakīm pada masa ini telah disematkan kepada dokter, penyair, dan astrolog/peramal. Hal itu disebabkan oleh kelalaian terhadap perubahan istilah. Lafaz yang kelima adalah al-ḥikmah (hikmah), sebab nama ḥakīm kini disematkan kepada dokter, penyair, astrolog, bahkan kepada tukang ramal yang memutar undian di atas telapak tangan rakyat awam di jalan-jalan.
والحكمة هي التي أثنى الله ﷿ عليها فقال تعالى ﴿يؤتى الحكمة من يشاء ومن يؤت الحكمة فقد أوتى خيرا كثيرا﴾ وقال ﷺ كلمة من الحكمة يتعلمها الرجل خير له من الدنيا وما فيها فانظر ما الذي كانت الحكمة عبارة عنه وإلى ماذا نقل وقس به بقية الألفاظ واحترز عن الاغترار بتلبيسات علماء السوء فإن شرهم على الدين أعظم من شر الشياطين إذ الشيطان بواسطتهم يتدرج إلى انتزاع الدين من قلوب الخلق ولهذا لما سئل رسول الله ﷺ عن شر الخلق أبى وقال اللهم اغفر حتى كرروا عليه فقال هم علماء السوء فقد عرفت العلم المحمود والمذموم ومثار الالتباس وإليك الخيرة في أن تنظر لنفسك فتقتدي بالسلف أو تتدلى بحبل الغرور وتتشبه بالخلف فكل ما ارتضاه السلف من العلوم قد اندرس وما أكب الناس عليه فأكثره مبتدع ومحدث وقد صح قول رسول الله ﷺ بدأ الإسلام غريبا وسيعود غريباً كما بدأ فطوبى للغرباء فقيل ومن الغرباء قال الذين يصلحون ما أفسده الناس من سنتي والذين يحيون ما أماتوه من سنتي وفي آخر هم المتمسكون بما أنتم عليه اليوم وفي حديث آخر الغرباء ناس قليل صالحون بين ناس كثير ومن يبغضهم في الخلق أكثر ممن يحبهم وقد صارت تلك العلوم غريبة بحيث يمقت ذاكرها ولذلك قال الثوري ﵀ إذا رأيت العالم كثير الأصدقاء فاعلم أنه مخلط لأنه إن نطق بالحق أبغضوه
Padahal hikmah adalah hal yang dipuji oleh Allah Azza wa Jalla, sebagaimana firman-Nya: 'Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang diberi hikmah, sungguh ia telah diberi kebaikan yang banyak' (QS. Al-Baqarah: 269). Dan Nabi ﷺ bersabda: 'Satu kalimat dari hikmah yang dipelajari seseorang adalah lebih baik baginya daripada dunia dan seisinya.' Maka perhatikanlah, apakah hakikat makna hikmah pada mulanya dan ke mana maknanya telah dipindahkan, lalu kiaslah sisa lafaz-lafaz lainnya padanya. Berhati-hatilah agar tidak tertipu oleh kecurangan ulama buruk ('ulamā' us-sū'), karena kejahatan mereka terhadap agama lebih besar daripada kejahatan setan. Sebab melalui perantara mereka, setan berangsur-angsur mencabut agama dari hati manusia. Oleh karena itu, ketika Rasulullah ﷺ ditanya tentang seburuk-buruk makhluk, beliau enggan menjawab dan berdoa: 'Ya Allah, berilah ampunan,' hingga mereka mengulang-ulangi pertanyaan tersebut, lalu beliau bersabda: 'Mereka adalah ulama buruk.' Engkau kini telah mengetahui ilmu yang terpuji dan ilmu yang tercela serta pemicu kekeliruan itu. Pilihan ada di tanganmu untuk menilai dirimu sendiri: apakah engkau akan meneladani ulama Salaf, atau engkau menjatuhkan diri dengan tali tipu daya dan menyerupai kaum Khalaf. Semua ilmu yang diridhai oleh ulama Salaf telah musnah, sedangkan ilmu yang tekun dipelajari manusia saat ini sebagian besarnya adalah hal baru dan bid'ah. Dan telah sahih sabda Rasulullah ﷺ: 'Islam bermula dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana mulanya, maka beruntunglah orang-orang yang asing (al-ghurabā').' Lalu ditanyakan: 'Siapakah orang-orang yang asing itu?' Beliau menjawab: 'Orang-orang yang memperbaiki apa yang telah dirusak oleh manusia dari sunnahku dan orang-orang yang menghidupkan apa yang telah dimatikan oleh manusia dari sunnahku.' Dalam riwayat lain: 'Mereka adalah orang-orang yang berpegang teguh pada apa yang kalian jalani hari ini.' Dan dalam hadis lain: 'Orang-orang yang asing adalah sedikit orang saleh di antara banyak manusia, dan orang yang membenci mereka di antara makhluk lebih banyak daripada yang menyukai mereka.' Kini ilmu-ilmu tersebut telah menjadi asing, hingga orang yang menyebutkannya dibenci. Oleh sebab itu Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata: 'Jika engkau melihat seorang alim memiliki banyak teman, maka ketahuilah bahwa ia adalah orang yang mencampuradukkan (kebenaran dengan kebatilan), karena jika ia menyuarakan kebenaran, tentu orang-orang akan membencinya.'