الباب الرابع في سبب إقبال الخلق على علم الخلاف وتفصيل آفات المناظرة والجدل وشروط إباحتها

بيان التلبيس في تشبيه هذه المناظرات بمشاورات الصحابة ومفاوضات السلف

بيان التلبيس في تشبيه هذه المناظرات بمشاورات الصحابة ومفاوضات السلف

بيان التلبيس في تشبيه هذه المناظرات بمشاورات الصحابة ومفاوضات السلف

Penjelasan tentang Penyamaran (Rancunya Pemahaman) dalam Menyerupakan Munazharah-Munazharah Ini dengan Musyawarah Para Sahabat dan Diskusi-Diskusi Generasi Salaf

أعلم أن هؤلاء قد يستدرجون الناس إلى ذلك بأن غرضنا من المناظرات المباحثة عن الحق ليتضح فإن الحق مطلوب والتعاون على النظر في العلم وتوارد الخواطر مفيد ومؤثر هكذا كان عادة الصحابة ﵃ في مشاوراتهم كتشاورهم في مسألة الجد والأخوة وحد شرب الخمر ووجوب الغرم على الإمام إذا أخطأ كما تقل من إجهاض المرأة جنينها خوفاً من عمر ﵁ وكما نقل من مسائل الفرائض وغيرها وما نقل عن الشافعي وأحمد ومحمد بن الحسن ومالك وأبي يوسف وغيرهم من العلماء رحمهم الله تعالى

Ketahuilah bahwa mereka kadang-kadang memperdaya manusia menuju hal tersebut dengan berdalih: 'Tujuan kami dari munazharah adalah membahas kebenaran agar menjadi jelas, sebab kebenaran itu dicari. Saling membantu dalam mengkaji ilmu dan perjumpaan berbagai pemikiran itu bermanfaat dan berpengaruh. Begitulah kebiasaan para Sahabat ﵃ dalam musyawarah-musyawarah mereka, seperti musyawarah mereka dalam masalah hak waris kakek bersama saudara-saudara kandung, hukuman (hadd) minum khamar, dan kewajiban ganti rugi atas imam apabila ia bersalah, sebagaimana diriwayatkan tentang gugurnya janin seorang wanita karena takut kepada Umar ﵁, serta sebagaimana diriwayatkan dari masalah-masalah faraidh dan lainnya, dan apa yang diriwayatkan dari Asy-Syafi'i, Ahmad, Muhammad bin al-Hasan, Malik, Abu Yusuf, dan para ulama lainnya—semoga Allah merahmati mereka semua.'

ويطلعك على هذا التلبيس ما أذكره وهو أن التعاون على طلب الحق من الدين ولكن له شروط وعلامات ثمان الأول أن لا يشتغل به وهو من

Dan apa yang akan aku sebutkan ini akan menyikapkan penyamaran (rancunya pemahaman) tersebut bagimu, yaitu bahwa saling membantu dalam mencari kebenaran memang bagian dari agama, akan tetapi ia memiliki delapan syarat dan tanda. Syarat pertama: hendaknya seseorang tidak menyibukkan diri dengannya—padahal ia termasuk…

فروض الكفايات من لم يتفرغ من فروض الأعيان ومن عليه فرض عين فاشتغل بفرض كفاية وزعم أن مقصده الحق فهو كذاب

… fardhu kifayah—sementara ia belum selesai/bebas dari fardhu 'ain. Barang siapa yang masih menanggung kewajiban fardhu 'ain lalu ia sibuk dengan fardhu kifayah dan mengklaim bahwa tujuannya adalah kebenaran, maka ia adalah seorang pembohong.

ومثاله من يترك الصلاة في نفسه ويتجرد في تحصيل الثياب ونسجها ويقول عرضي أستر عورة من يصلي عرياناً ولا يجد ثوباً فإن ذلك ربما يتفق ووقوعه ممكن كما يزعم الفقيه أن وقوع النوادر التي عنها البحث في الخلاف ممكن

Perumpamaannya adalah seperti orang yang meninggalkan shalat pada dirinya sendiri, lalu ia mendedikasikan diri untuk membuat dan menenun pakaian seraya berkata: 'Maksudku adalah menutupi aurat orang yang shalat dalam keadaan telanjang dan tidak menemukan pakaian.' Sebab hal itu mungkin saja terjadi secara kebetulan dan kemunculannya pun dimungkinkan, sebagaimana anggapan ahli fiqih bahwa terjadinya masalah-masalah langka yang menjadi pembahasan dalam bidang khilafiyah itu dimungkinkan.

والمشتغلون بالمناظرة مهملون لأمور هي فرض عين بالاتفاق ومن توجه عليه رد وديعة في الحال فقام وأحرم بالصلاة التي هي أقرب القربات إلى الله تعالى عصى به فلا يكفي في كون الشخص مطيعاً كون فعله من جنس الطاعات ما لم يراع فيه الوقت والشروط والترتيب

Orang-orang yang sibuk dengan munazharah telah mengabaikan hal-hal yang berstatus fardhu 'ain berdasarkan kesepakatan ulama. Barang siapa yang berkewajiban mengembalikan barang titipan (wadi'ah) saat itu juga, lalu ia berdiri dan takbiratul ihram untuk shalat—yang merupakan sedekat-dekatnya bentuk pendekatan diri kepada Allah Ta'ala—maka ia telah bermaksiat dengannya. Maka tidak cukup bagi seseorang untuk dikategorikan taat sekadar karena perbuatannya berasal dari jenis ketaatan, selama ia tidak memperhatikan waktu, syarat-syarat, dan urutan tata tertibnya.

الثاني أن لا يرى فرض كفاية أهم من المناظرة فإن رأى ما هو أهم وفعل غيره عصى بفعله وكان مثاله مثال من يرى جماعة من العطاش أشرفوا على الهلاك وقد أهملهم الناس وهو قادر على إحيائهم بأن يسقيهم الماء فاشتغل بتعلم الحجامة وزعم أنه من فروض الكفايات ولو خلا البلد عنها لهلك الناس وإذا قيل له في البلد جماعة من الحجامين وفيهم غنية فيقول هذا لا يخرج هذا الفعل عن كونه فرض كفاية

Syarat kedua: hendaknya ia tidak melihat ada fardhu kifayah lain yang lebih penting daripada munazharah. Jika ia melihat ada yang lebih penting lalu ia justru mengerjakan yang lain, maka ia telah bermaksiat dengan perbuatannya itu. Perumpamaannya seperti orang yang melihat sekelompok orang yang kehausan hampir binasa sementara orang-orang mengabaikan mereka, padahal ia mampu menyelamatkan nyawa mereka dengan memberi mereka minum air, tetapi ia malah sibuk mempelajari bekam seraya mengklaim bahwa bekam termasuk fardhu kifayah dan seandainya suatu negeri kosong dari juru bekam niscaya masyarakat akan binasa. Lalu jika dikatakan kepadanya: 'Di negeri ini sudah ada sekelompok juru bekam dan keberadaan mereka sudah mencukupi,' maka ia menjawab: 'Hal ini tidak mengeluarkan perbuatan tersebut dari statusnya sebagai fardhu kifayah.'

فحال من يفعل هذا ويهمل الاشتغال بالواقعة الملمة بجماعة العطاش من المسلمين كحال المشتغل بالمناظرة وفي البلد فروض كفايات مهملة لا قائم بها فأما الفتوى فقد قام بها جماعة ولا يخلو بلد من جملة الفروض المهملة ولا يلتفت الفقهاء إليها وأقربها الطب إذ لا يوجد في أكثر البلاد طبيب مسلم يجوز اعتماد شهادته فيما يعول فيه على قول الطبيب شرعاً ولا يرغب أحد من الفقهاء في الاشتغال به وكذا الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر فهو من فروض الكفايات وربما يكون المناظر في مجلس مناظرته مشاهداً للحرير ملبوساً ومفروشاً وهو ساكت ويناظر في مسألة لا يتفق وقوعها قط وإن وقعت قام بها جماعة من الفقهاء ثم يزعم أنه يريد أن يتقرب إلى الله تعالى بفروض الكفايات

Maka keadaan orang yang melakukan ini dan mengabaikan kesibukan dengan peristiwa mendesak yang menimpa sekelompok orang muslim yang kehausan adalah seperti keadaan orang yang sibuk dengan munazharah padahal di negeri itu terdapat fardhu-fardhu kifayah yang terabaikan tanpa ada yang melaksanakannya. Adapun fatwa, sungguh sekelompok orang telah melaksanakannya. Tidak ada satu negeri pun melainkan memiliki sejumlah fardhu kifayah yang terabaikan, sementara para ahli fiqih tidak berpaling kepadanya. Yang paling dekat di antaranya adalah ilmu kedokteran, karena di sebagian besar negeri tidak ditemukan seorang dokter muslim yang boleh diandalkan kesaksiannya dalam hal-hal yang secara syariat bergantung pada perkataan dokter, namun tidak ada seorang pun dari para ahli fiqih yang berminat menyibukkan diri dengannya. Demikian pula amar makruf nahi mungkar, ia termasuk fardhu kifayah. Boleh jadi seorang penyaing (munazhir) di majelis diskusinya menyaksikan sutra dipakai dan dijadikan alas tidur sementara ia diam saja, tetapi ia justru berdebat tentang masalah yang tidak pernah terjadi sama sekali, dan kalaupun terjadi, sekelompok ahli fiqih pasti sudah melaksanakannya; kemudian ia mengklaim bahwa ia ingin mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala melalui fardhu-fardhu kifayah.

وقد روى أنس ﵁ أنه قيل يا رسول الله متى يترك الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر فقال ﵇ إذا ظهرت المداهنة في خياركم والفاحشة في شراركم وتحول الملك في صغاركم والفقه في أراذلكم

Anas ra. meriwayatkan bahwa pernah ditanyakan kepada Rasulullah ﷺ, "Wahai Rasulullah, bilakah amar makruf nahi mungkar ditinggalkan?" Beliau ﷺ menjawab, "Apabila telah tampak sikap bermuka dua (penjilatan) pada orang-orang terbaik di antara kalian, perbuatan keji pada orang-orang terburuk di antara kalian, kekuasaan berpindah kepada orang-orang kecil (tidak berhak) di antara kalian, dan pemahaman agama (fiqih) berada pada orang-orang yang paling hina di antara kalian."

الثالث أن يكون المناظر مجتهداً يفتي برأيه لا بمذهب الشافعي وأبي حنيفة وغيرهما حتى إذا ظهر له الحق من مذهب أبي حنيفة ترك ما يوافق رأي الشافعي وأفتى بما ظهر له كما كان يفعله الصحابة ﵃ والأئمة

Syarat ketiga, hendaknya orang yang berdebat itu seorang mujtahid yang berfatwa berdasarkan ijtihad pendapatnya sendiri, bukan mengekor pada mazhab Asy-Syafi'i, Abu Hanifah, maupun selain keduanya. Sehingga apabila kebenaran baginya tampak pada mazhab Abu Hanifah, ia meninggalkan apa yang sesuai dengan pendapat Asy-Syafi'i dan berfatwa dengan apa yang tampak jelas baginya, sebagaimana yang dahulu dilakukan oleh para sahabat ra. dan para imam.

فأما من ليس له رتبة الاجتهاد وهو حكم كل أهل العصر وإنما يفتي فيما يسأل عنه ناقلاً عن مذهب صاحبه فلو ظهر له ضعف مذهبه لم يجز له أن يتركه فأي فائدة له في المناظرة ومذهبه معلوم وليس له الفتوى بغيره وما يشكل عليه يلزمه أن يقول لعل عند صاحب مذهبي جواباً عن هذا فإني لست مستقلاً بالاجتهاد في أصل الشرع ولو كانت مباحثته عن المسائل التي فيها وجهان أو قولان لصاحبه لكان أشبه فإنه ربما يفتي بأحدهما فيستفيد من البحث ميلاً إلى أحد الجانبين ولا يرى المناظرات جارية فيها قط بل ربما ترك المسألة التي فيها وجهان أو قولان وطلب مسألة يكون الخلاف فيها مبتوتاً

Adapun orang yang tidak memiliki derajat ijtihad—dan ini merupakan hukum bagi seluruh penduduk zaman ini—yang hanya berfatwa tentang apa yang ditanyakan kepadanya dengan menukil dari mazhab imamnya, maka sekiranya tampak baginya kelemahan mazhabnya, ia tidak boleh meninggalkannya. Lalu apa manfaat debat baginya padahal mazhabnya sudah maklum dan ia tidak berhak berfatwa dengan selainnya? Terhadap apa yang samar baginya, ia wajib berkata, "Mungkin imam mazhabku memiliki jawaban atas hal ini, karena aku tidak mandiri dalam berijtihad pada pokok Syariat." Seandainya pembahasannya mengenai masalah-masalah yang di dalamnya terdapat dua rincian pendapat (wajah) atau dua qaul dari imamnya, tentu itu lebih masuk akal, karena terkadang ia berfatwa dengan salah satunya sehingga ia mengambil manfaat dari kajian berupa kecenderungan pada salah satu sisi. Namun kita tidak melihat perdebatan berjalan pada hal tersebut sama sekali, bahkan terkadang ia meninggalkan masalah yang memiliki dua wajah atau dua qaul lalu mencari masalah yang perbedaan pendapat di dalamnya sudah pasti dan tajam.

الرابع أن لا يناظر إلا في مسألة واقعة أو قريبة الوقوع غالباً فإن الصحابة ﵃ ما تشاوروا إلا فيما تجدد من الوقائع أو ما يغلب وقوعه كالفرائض ولا نرى المناظرين يهتمون بانتقاد المسائل التي تعم البلوى بالفتوى فيها بل يطلبون الطبوليات التي تسمع فيتسع مجال الجدل فيها كيفما كان الأمر

Syarat keempat, hendaknya ia tidak berdebat kecuali dalam masalah yang benar-benar terjadi atau umumnya hampir terjadi. Sebab para sahabat ra. tidaklah bermusyawarah melainkan pada peristiwa-peristiwa hukum yang baru terjadi atau yang umumnya sering terjadi seperti masalah waris (faraidh). Namun kita tidak melihat para ahli debat saat ini menaruh perhatian untuk menguji masalah-masalah yang menjadi kebutuhan umum (umumul balwa) dalam fatwa, melainkan mereka mencari masalah-masalah yang populer dan riuh diperbincangkan agar didengar, sehingga ruang perdebatan di dalamnya menjadi luas bagaimanapun keadaannya.

وربما يتركون ما يكثر وقوعه ويقولون هذه مسألة خبرية أو هي من الزوايا وليست من الطبوليات فمن العجائب أن يكون المطلب هو الحق ثم يتركون المسألة لأنها خبرية ومدرك الحق فيها هو الإخبار أو لأنها ليست من الطبول فلا نطول فيها الكلام

Dan terkadang mereka meninggalkan hal-hal yang sering terjadi seraya berkata, "Ini adalah masalah khabariyyah (berdasarkan dalil riwayat semata)" atau "Ini termasuk masalah sudut/pinggiran dan bukan masalah yang ramai." Sungguh amat mengherankan jika yang dicari adalah kebenaran, namun mereka meninggalkan suatu masalah hanya karena bersifat khabariyyah—padahal landasan kebenaran di dalamnya adalah kabar riwayat—atau karena ia bukan masalah yang populer, sehingga kita tidak perlu memperpanjang pembicaraan padanya.

والمقصود في الحق أن يقصر الكلام ويبلغ الغاية على القرب لا أن يطول

Padahal maksud dalam mencari kebenaran adalah hendaknya pembicaraan itu dipersingkat dan mencapai tujuan dengan cepat, bukan diperpanjang.

الخامس أن تكون المناظرة في الخلوة أحب إليه وأهم من المحافل وبين أظهر الأكابر والسلاطين فإن الخلوة أجمع للفهم وأحرى بصفاء الذهن والفكر ودرك الحق وفي حضور الجمع ما يحرك دواعي الرياء ويوجب الحرص على نصرة كل واحد نفسه محقاً كان أو مبطلاً وأنت تعلم أن حرصهم على المحافل والمجامع ليس لله وأن الواحد منهم يخلو بصاحبه مدة طويلة فلا يكلمه وربما يقترح عليه فلا يجيب وإذا ظهر مقدم أو انتظم مجمع لم يغادر في قوس الاحتيال منزعاً حتى يكون هو المتخصص بالكلام

Syarat kelima, hendaknya diskusi dalam kesendirian (khalawat) lebih ia sukai dan lebih penting baginya daripada di majelis-majelis ramai serta di hadapan para tokoh besar dan penguasa. Sebab kesendirian itu lebih menghimpun pemahaman, lebih menunjang jernihnya benak dan pikiran serta pencapaian kebenaran. Sementara kehadiran khalayak ramai dapat menggerakkan dorongan riya' dan menuntut keinginan kuat bagi setiap orang untuk membela dirinya sendiri, baik ia di pihak yang benar maupun yang batil. Engkau tahu bahwa semangat mereka pada majelis-majelis ramai itu bukanlah karena Allah; sungguh seseorang dari mereka dapat berduaan dengan temannya dalam waktu yang lama namun ia tidak mengajak bicaranya, bahkan mungkin temannya mengajukan usul lalu ia tidak menjawabnya, tetapi apabila muncul seorang penguasa atau terbentuk suatu majelis ramai, ia tidak meninggalkan satu pun cara dan tipu daya melainkan ia tempuh agar dialah yang menjadi pembicara utama.

السادس أن يكون في طلب الحق كناشد ضالة لا يفرق بين أن تظهر الضالة على يده أو على يد من يعاونه ويرى رفيقه معيناً لا خصماً ويشكره إذا عرفه الخطأ وأظهر له الحق كما لو أخذ طريقاً في طلب ضالته فنبهه صاحبه على ضالته في طريق آخر فإنه كان يشكره ولا يذمه ويكرمه ويفرح به فهكذا كانت مشاورات الصحابة ﵃ حتى أن امرأة ردت على عمر ﵁ ونبهته على الحق وهو في خطبته على ملأ من الناس فقال أصابت امرأة وأخطأ رجل

Syarat keenam, hendaknya dalam mencari kebenaran ia seperti orang yang mencari barangnya yang hilang; ia tidak membedakan apakah barang hilang itu ditemukan melalui tangannya sendiri atau melalui tangan orang yang membantunya. Ia memandang rekannya sebagai penolong, bukan sebagai musuh, dan ia berterima kasih kepadanya apabila rekannya memberitahukan kekeliruannya dan menampakkan kebenaran baginya. Sebagaimana jika seseorang menempuh suatu jalan untuk mencari barangnya yang hilang, lalu temannya memberitahunya bahwa barang itu berada di jalan yang lain, niscaya ia akan berterima kasih kepadanya, tidak mencelanya, memuliakannya, dan bergembira dengannya. Demikianlah dahulu musyawarah para sahabat ra., hingga seorang wanita pernah menyanggah Umar ra. dan mengingatkannya pada kebenaran ketika beliau sedang berkhotbah di hadapan khalayak ramai, lalu Umar berkata, "Wanita ini benar dan laki-laki ini (Umar) keliru."

وسأل رجل علياً ﵁ فأجابه فقال ليس كذلك يا أمير المؤمنين ولكن كذا كذا فقال أصبت وأخطأت وفوق كل ذي علم عليم

Seseorang pernah bertanya kepada Ali ra., lalu beliau menjawabnya. Orang itu berkata, "Tidak demikian wahai Amirul Mukminin, melainkan begini dan begitu." Maka Ali berkata, "Engkau benar dan aku keliru, dan di atas setiap orang yang berilmu ada yang lebih mengetahui."

واستدرك ابن مسعود على أبي موسى الأشعري ﵄ فقال أبو موسى لا تسألوني عن شيء وهذا الحبر بين أظهركم

Ibn Mas'ud ra. pernah mengoreksi Abu Musa Al-Asy'ari ra., maka Abu Musa berkata, "Janganlah kalian bertanya kepadaku tentang sesuatu selama ulama besar ini ada di tengah-tengah kalian."

وذلك لما سئل أبو موسى عن رجل قاتل في سبيل الله فقتل فقال هو في الجنة وكان أمير الكوفة فقام ابن مسعود فقال أعده على الأمير فلعله لم يفهم فأعادوا عليه فأعاد الجواب فقال ابن مسعود وأنا أقول إن قتل فأصاب الحق فهو في الجنة فقال أبو موسى الحق ما قال وهكذا يكون إنصاف طلب الحق ولو ذكر مثل هذا الآن لأقل فقيه لأنكره واستبعده وقال لا يحتاج إلى أن يقال أصاب الحق فإن ذلك معلوم لكل أحد

Hal itu terjadi ketika Abu Musa ditanya tentang seseorang yang berperang di jalan Allah lalu terbunuh, beliau menjawab, "Ia di dalam surga." Saat itu beliau adalah gubernur Kufah. Maka Ibn Mas'ud berdiri dan berkata, "Ulangi pertanyaan itu kepada Amir, mungkin ia belum paham." Mereka pun mengulangi pertanyaan kepadanya, dan beliau mengulangi jawabannya. Lalu Ibn Mas'ud berkata, "Sedangkan aku berpendapat: jika ia terbunuh dan ia menepati kebenaran, maka ia di dalam surga." Maka Abu Musa berkata, "Kebenaran adalah apa yang ia katakan." Demikianlah keadilan (sikap insaf) dalam mencari kebenaran. Seandainya hal seperti ini disebutkan sekarang kepada ahli fiqih yang paling rendah sekalipun, niscaya ia akan mengingkarinya dan menganggapnya aneh seraya berkata, "Tidak perlu dikatakan 'menepati kebenaran', karena hal itu sudah diketahui oleh setiap orang."

فانظر إلى مناظري زمانك اليوم كيف يسود وجه أحدهم إذا اتضح الحق على لسان خصمه وكيف يخجل به وكيف يجهد في مجاحدته بأقصى قدرته وكيف يذم من أفحمه طول عمره ثم لا يستحي من تشبيه نفسه بالصحابة ﵃ في تعاونهم على النظر في الحق السابع أن لا يمنع معينه في النظر من الانتقال من دليل إلى دليل ومن إشكال إلى إشكال فهكذا كانت مناظرات السلف ويخرج من كلامه جميع دقائق الجدل المبتدعة فيما له وعليه كقوله هذا لا يلزمني ذكره وهذا يناقض كلامك الأول فلا يقبل منك فإن الرجوع إلى الحق مناقض للباطل ويجب قبوله

Maka lihatlah para ahli debat di zamanmu hari ini! Betapa menjadi muram wajah salah seorang dari mereka jika kebenaran menjadi jelas melalui lisan lawannya, betapa ia merasa malu dengannya, betapa ia bersungguh-sungguh membantahnya dengan segenap kemampuannya, dan betapa ia mencela orang yang mengalahkannya seumur hidupnya! Kemudian ia tidak malu menyejajarkan dirinya dengan para sahabat ra. dalam hal saling membantu mengkaji kebenaran! Syarat ketujuh, hendaknya ia tidak melarang rekannya dalam mengkaji untuk berpindah dari satu dalil ke dalil lain, atau dari satu kemusykilan ke kemusykilan lain, sebab demikianlah dahulu debat para ulama Salaf. Dan hendaknya ia mengeluarkan dari pembicaraannya seluruh kehalusan seni debat (jadal) bid'ah yang membela atau menyudutkannya, seperti ucapannya, "Aku tidak wajib menyebutkan hal ini," atau "Ini bertentangan dengan ucapanmu yang pertama maka tidak diterima darimu." Padahal kembali kepada kebenaran itu memang bertentangan dengan kebatilan dan wajib diterima.

وأنت ترى أن جميع المجالس تنقضي في المدافعات والمجادلات حتى يقيس المستدل على أصل بعلة يظنها فيقال له ما الدليل على أن الحكم في الأصل معلل بهذه العلة فيقول هذا ما ظهر لي فإن ظهر لك ما هو أوضح منه وأولى فاذكره حتى أنظر فيه

Dan engkau melihat bahwa seluruh majelis habis dalam penolakan dan perdebatan kusir, hingga seorang yang mengemukakan dalil (mustadil) mengqiaskan sesuatu pada suatu pokok (ashl) berdasarkan 'illat yang ia duga, lalu dikatakan kepadanya, "Apa dalil bahwa hukum pada ashl tersebut di'illati dengan 'illat ini?" Maka ia menjawab, "Inilah yang tampak bagiku. Jika tampak bagimu apa yang lebih jelas dan lebih utama darinya, maka sebutkanlah agar aku dapat mengkajinya."

فيصر المعترض ويقول فيه معان سوى ما ذكرته وقد عرفتها ولا أذكرها إذ لا يلزمني ذكرها ويقول المستدل عليك إيراد ما تدعيه وراء هذا ويصر المعترض على أنه لا يلزمه ويتوخى مجالس المناظرة بهذا الجنس من السؤال وأمثاله ولا يعرف هذا المسكين أن قوله إني أعرفه ولا أذكره إذ لا يلزمني كذب على الشرع فإنه إن كان لا يعرف معناه وإنما يدعيه ليعجز خصمه فهو فاسق كذاب عصى الله تعالى وتعرض لسخطه بدعواه معرفة هو خال عنها وإن كان صادقاً فقد فسق بإخفائه ما عرفه من أمر الشرع

Namun sang penyanggah (mu'taridh) tetap bertahan dan berkata, "Di dalamnya terdapat makna-makna lain selain yang engkau sebutkan, dan aku telah mengetahuinya namun tidak akan kusebutkan karena tidak wajib bagiku menyatakannya." Lalu sang penalar berkata, "Engkau harus mengemukakan apa yang engkau klaim selain ini." Sang penyanggah tetap ngotot bahwa itu tidak wajib baginya, dan ia sengaja mengisi majelis-majelis perdebatan dengan jenis pertanyaan seperti ini dan seumpamanya. Orang miskin (malang) ini tidak menyadari bahwa ucapannya: "Sesungguhnya aku mengetahuinya tetapi tidak kusebutkan karena tidak wajib bagiku" adalah kedustaan atas nama Syariat. Sebab jika ia sebenarnya tidak mengetahui maknanya dan hanya mengklaimnya agar dapat mematikan argumen lawannya, maka ia adalah seorang fasik pendusta yang telah bermaksiat kepada Allah Ta'ala serta menantang kemurkaan-Nya dengan mengklaim pengetahuan yang tidak ia miliki. Dan jika ia jujur (memang tahu), maka ia telah berbuat fasik karena menyembunyikan apa yang telah ia ketahui dari perkara Syariat.

وقد سأله أخوه المسلم ليفهمه وينظر فيه فإن كان قوياً رجع إليه وإن كان ضعيفاً أظهر له ضعفه وأخرجه عن ظلمة الجهل إلى نور العلم

Padahal saudaranya sesama muslim telah memintanya agar ia dapat memahaminya dan mengkajinya; jika pendapat itu kuat, ia akan kembali kepadanya, dan jika lemah, ia akan memperlihatkan kelemahannya serta mengeluarkannya dari kegelapan kebodohan menuju cahaya ilmu.

ولا خلاف أن إظهار

Dan tidak ada perselisihan bahwa menampakkan…

ما علم من علوم الدين بعد السؤال عنه واجب لازم فمعنى قوله لا يلزمني أي في شرع الجدل الذي أبدعناه بحكم التشهي والرغبة في طريق الاحتيال والمصارعة بالكلام لا يلزمني وإلا فهو لازم بالشرع فإنه بامتناعه عن الذكر إما كاذب وإما فاسق فتفحص عن مشاورات الصحابة ومفاوضات السلف ﵃ هل سمعت فيها ما يضاهي هذا الجنس وهل منع أحد من الانتقال من دليل إلى دليل ومن قياس إلى أثر ومن خبر إلى آية بل جميع مناظراتهم من هذا الجنس إذ كانوا يذكرون كل ما يخطر لهم كما يخطر وكانوا ينظرون فيه

…apa yang diketahui dari ilmu-ilmu agama setelah ditanyakan adalah kewajiban yang pasti. Maka makna dari ucapannya "tidak wajib bagiku" adalah: tidak wajib menurut hukum debat (syar'ul jadal) yang kita buat-buat berdasarkan hawa nafsu dan dorongan tipu daya serta adu silat kata-kata; jika tidak demikian, maka itu adalah wajib menurut Syariat. Sebab dengan keengganannya untuk menyebutkan, ia berada di antara menjadi pendusta atau orang fasik. Maka selidikilah musyawarah para sahabat dan diskusi para ulama Salaf ra., apakah engkau pernah mendengar hal yang menyerupai jenis ini? Dan apakah ada seseorang yang melarang berpindah dari satu dalil ke dalil lain, dari kias ke atsar, atau dari khabar ke ayat Al-Qur'an? Bahkan seluruh perdebatan mereka adalah dari jenis ini, di mana mereka menyebutkan setiap apa yang terlintas di benak mereka sebagaimana terlintasnya, lalu mereka mengkajinya.

الثامن أن يناظر من يتوقع الاستفادة منه ممن هو مشتغل بالعلم

Syarat kedelapan, hendaknya ia berdebat dengan orang yang diharapkan dapat diambil manfaat darinya, yaitu dari kalangan orang yang sungguh-sungguh sibuk dengan ilmu.

والغالب أنهم يحترزون من مناظرة الفحول والأكابر خوفاً من ظهور الحق على ألسنتهم فيرغبون فيمن دونهم طمعاً في ترويج الباطل عليهم ووراء هذه شروط دقيقة كثيرة ولكن في هذه الشروط الثمانية ما يهديك إلى من يناظر لله ومن يناظر لعلة

Namun umumnya mereka menghindar dari berdebat dengan para pakar dan ulama besar karena takut kebenaran akan tampak melalui lisan tokoh-tokoh tersebut, sehingga mereka lebih menyukai berdebat dengan orang yang berada di bawah mereka demi ketamakan untuk melariskan kebatilan atas mereka. Di balik syarat-syarat ini masih banyak syarat-syarat mendalam lainnya, tetapi dalam delapan syarat ini terdapat hal yang dapat memberi petunjuk kepadamu untuk membedakan siapa yang berdebat karena Allah dan siapa yang berdebat karena ada cacat niat (penyakit hati).

واعلم بالجملة أن من لا يناظر الشيطان وهو مستول على قلبه وهو أعدى عدو له ولا يزال يدعوه إلى هلاكه ثم يشتغل بمناظرة غيره في المسائل التي المجتهد فيها مصيب أو مساهم للمصيب في الأجر فهو ضحكة الشيطان وعبرة للمخلصين ولذلك شمت الشيطان به لما غمسه فيه من ظلمات الآفات التي نعددها ونذكر تفاصيلها فنسأل الله حسن العون والتوفيق

Ketahuilah secara umum bahwa barang siapa tidak memerangi setan padahal setan telah menguasai hatinya dan ia adalah musuh yang paling memusuhinya serta tak henti-hentinya menyerunya menuju kebinasaan, lalu ia justru sibuk berdebat dengan orang lain dalam masalah-masalah yang di dalamnya seorang mujtahid itu bernilai benar atau mendapat bagian pahala seperti orang yang benar, maka ia adalah bahan tertawaan setan dan iktibar bagi orang-orang yang ikhlas. Oleh karena itu, setan bergembira atas kemalangannya saat menenggelamkannya ke dalam kegelapan bencana (penyakit hati) yang kami hitung dan kami sebutkan rinciannya. Maka kami memohon kepada Allah sebaik-baik pertolongan dan taufik.