الباب السابع في العقل وشرفه وحقيقته وأقسامه

بيان تفاوت النفوس في العقل

بيان تفاوت النفوس في العقل

بيان تفاوت النفوس في العقل

Penjelasan tentang Perbedaan Jiwa-Jiwa dalam hal Akal

قد اختلف الناس في تفاوت العقل ولا معنى للاشتغال بنقل كلام من قل تحصيله بل الأولى والأهم المبادرة إلى التصريح بالحق

Para ulama telah berselisih pendapat mengenai perbedaan tingkatan akal. Tidak ada gunanya sibuk mengutip ucapan orang yang sedikit pengetahuannya, melainkan yang lebih utama dan penting adalah bersegera menyuarakan kebenaran secara tegas.

والحق الصريح فيه أن يقال إن التفاوت يتطرق إلى الأقسام الأربعة سوى القسم الثاني وهو العلم الضروري بجواز الجائزات واستحالة المستحيلات

Kebenaran yang tegas dalam masalah ini adalah dengan mengatakan bahwa perbedaan tingkatan terjadi pada keempat bagian tersebut kecuali bagian kedua, yaitu pengetahuan dharuri (aksiomatis) tentang kebolehan hal-hal yang mungkin dan kemustahilan hal-hal yang mustahil.

فإن من عرف أن الاثنين أكثر من الواحد عرف أيضاً استحالة كون الجسم في مكانين وكون الشيء الواحد قديماً حادثاً وكذا سائر النظائر وكل ما يدركه إدراكاً محققاً من غير شك وأما الأقسام الثلاثة فالتفاوت يتطرق إليها أما القسم الرابع وهو استيلاء القوة على قمع الشهوات فلا يخفى تفاوت الناس فيه بل لا يخفى تفاوت أحوال الشخص الواحد فيه وهذا التفاوت يكون تارة لتفاوت الشهوة إذ قد يقدر العاقل ترك بعض الشهوات دون بعض ولكن غير مقصور عليه

Sebab barangsiapa yang mengetahui bahwa angka dua lebih banyak daripada satu, ia juga mengetahui kemustahilan satu benda berada di dua tempat sekaligus, atau satu hal yang sama bersifat qadim (tanpa permulaan) sekaligus hadits (baru diciptakan), begitu pula contoh-contoh lainnya dan segala hal yang ia pahami secara pasti tanpa keraguan. Adapun tiga bagian lainnya, maka perbedaan tingkatan terjadi padanya. Mengenai bagian keempat, yaitu penguasaan daya akal untuk menekan syahwat, tidak tersembunyi lagi perbedaan manusia di dalamnya, bahkan tidak tersembunyi perbedaan kondisi pada satu individu yang sama. Perbedaan ini terkadang disebabkan oleh tingkatan syahwat itu sendiri, sebab seorang yang berakal kadang mampu meninggalkan sebagian syahwat namun tidak pada sebagian yang lain, akan tetapi hal ini tidak terbatas pada faktor itu saja.

فإن الشاب قد يعجز عن ترك الزنا وإذا كبر وتم عقله قدر عليه وشهوة الرياء والرياسة تزداد قوة بالكبر لا ضعفاً وقد يكون سببه التفاوت في العلم المعرف لغائلة تلك الشهوة ولهذا يقدر الطبيب على الاحتماء عن بعض الأطعمة المضرة وقدم من يساويه في العقل على ذلك

Sesungguhnya seorang pemuda terkadang tidak mampu meninggalkan zina, namun ketika ia menua dan akalnya telah sempurna, ia menjadi mampu menahannya; sedangkan syahwat riya' dan kepemimpinan justru semakin kuat seiring bertambahnya usia, bukan semakin lemah. Terkadang penyebabnya adalah perbedaan dalam ilmu pengetahuan yang mengenalkan bahaya syahwat tersebut. Oleh karena itu, seorang dokter mampu menjaga diri dari beberapa makanan yang berbahaya, sementara orang yang setara akalnya tidak mampu melakukan itu

إذا لم يكن طبيباً وإن كان يعتقد على الجملة فيه مضرة لكن إذا كان علم الطبيب أتم كان خوفه أشد فيكون الخوف جنداً للعقل وعدة له في قمع الشهوات وكسرها

apabila ia bukan seorang dokter, meskipun secara umum ia meyakini adanya bahaya padanya. Akan tetapi, ketika ilmu dokter tersebut lebih sempurna, rasa takutnya menjadi lebih kuat, sehingga rasa takut itu menjadi tentara bagi akal dan bekal baginya dalam menundukkan serta mematahkan syahwat.

وكذلك يكون العالم أقدر على ترك المعاصي من الجاهل لقوة علمه بضرر المعاصي وأعني به العالم الحقيقي دون أرباب الطيالسة وأصحاب الهذيان

Demikian pula seorang 'alim (orang yang berilmu) lebih mampu meninggalkan kemaksiatan daripada orang yang jahil (awam), karena kuatnya pengetahuannya tentang bahaya maksiat. Yang aku maksud dengan 'alim di sini adalah 'alim yang hakiki, bukan para pemilik jubah kebesaran (yang hanya mengejar simbol) dan orang-orang yang hanya pandai membual.

فإن كان التفاوت من جهة الشهوة لم يرجع إلى تفاوت العقل وإن كان من جهة العلم فقد سمينا هذا الضرب من العلم عقلاً أيضاً فإنه يقوي غريزة العقل فيكون التفاوت فيما رجعت التسمية إليه وقد يكون بمجرد التفاوت في غريزة العقل فإنها إذا قويت كان قمعها للشهوة لا محالة أشد

Maka jika perbedaan itu ditinjau dari segi syahwat, hal itu tidak kembali pada perbedaan akal. Namun jika dari segi ilmu, sungguh kami telah menamai jenis ilmu ini sebagai akal pula, sebab ia memperkuat insting (gharizah) akal, sehingga perbedaan itu terjadi pada hal yang dinamai tersebut. Terkadang pula perbedaan itu murni karena perbedaan pada naluri (gharizah) akal itu sendiri, sebab apabila naluri akal itu kuat, maka penundukkannya terhadap syahwat niscaya akan jauh lebih keras.

وأما القسم الثالث وهو علوم التجارب فتفاوت الناس فيها لا ينكر فإنهم يتفاوتون بكثرة الإصابة وسرعة الإدراك ويكون سببه إما تفاوتاً في الغريزة وإما تفاوتاً في الممارسة فأما الأول وهو الأصل أعني الغريزة فالتفاوت فيه لا سبيل إلى جحده فإنه مثل نور يشرق على النفس ويطلع صبحه ومبادىء إشراقه عند سن التمييز ثم لا يزال ينمو ويزداد نمواً خفي التدريج إلى أن يتكامل بقرب الأربعين سنة ومثاله نور الصبح فإن أوائله تخفى خفاء يشق إدراكه ثم يتدرج إلى الزيادة إلى أن يكمل بطلوع قرص الشمس

Adapun bagian ketiga, yaitu ilmu-ilmu pengalaman (eksperimental), maka perbedaan manusia padanya tidak dapat dipungkiri. Sebab manusia berbeda-beda dalam ketepatan analisis dan kecepatan pemahaman. Penyebabnya adalah adakalanya perbedaan pada naluri (potensi dasar) dan adakalanya perbedaan dalam pengalaman (praktik). Adapun yang pertama—yang merupakan pangkalnya, yaitu naluri—maka perbedaan padanya tidak ada jalan untuk diingkari. Sebab ia bagaikan cahaya yang menyinari jiwa dan fajar penerangnya terbit, serta permulaan sinarannya bermula pada usia tamyiz, kemudian terus tumbuh dan bertambah secara samar dan bertahap hingga menjadi sempurna mendekati usia empat puluh tahun. Perumpamaannya seperti cahaya subuh yang permulaannya samar hingga sulit disadari, kemudian bertahap bertambah terang sampai sempurna dengan terbitnya piringan matahari.

وتفاوت نور البصيرة كتفاوت نور البصر والفرق مدرك بين الأعمش وبين حاد البصر بل سنة الله ﷿ جارية في جميع خلقه بالتدريج في الإيجاد حتى إن غريزة الشهوة لا تظهر في الصبي عند البلوغ دفعة وبغتة بل تظهر شيئاً فشيئاً على التدريج وكذلك جميع القوى والصفات ومن أنكر تفاوت الناس في هذه الغريزة فكأنه منخلع عن ربقة العقل ومن ظن أن عقل النبي ﷺ مثل عقل آحاد السوادية وأجلاف البوادي فهو أخس في نفسه من آحاد السوادية وكيف ينكر تفاوت الغريزة ولولاه لما اختلف الناس في فهم العلوم ولما انقسموا إلى بليد لا يفهم بالتفهيم إلا بعد تعب طويل من المعلم وإلى ذكي يفهم بأدنى رمز وإشارة وإلى كامل تنبعث من نفسه حقائق الأمور بدون التعليم كما قال تعالى يكاد زيتها يضيء ولو لم تمسسه نار نور على نور وذلك مثل الأنبياء ﵈ إذ يتضح لهم في بواطنهم أمور غامضة من غير تعلم وسماع ويعبر عن ذلك بالإلهام وعن مثله عبر النبي ﷺ حيث قال إن روح القدس نفث في روعي أحبب من أحببت فإنك مفارقه وعش ما شئت فإنك ميت واعمل ما شئت فإنك مجزي به وهذا النمط من تعريف الملائكة للأنبياء يخالف الوحي الصريح الذي هو سماع الصوت بحاسة الأذن ومشاهدة الملك بحاسة البصر ولذلك أخبر عن هذا بالنفث في الروع ودرجات الوحي كثيرة والخوض فيها لا يليق بعلم المعاملة بل هو من علم المكاشفة

Perbedaan cahaya basirah (mata hati) itu seperti perbedaan cahaya basar (mata lahiriah), dan perbedaannya nyata antara orang yang kabur penglihatannya dengan orang yang tajam penglihatannya. Bahkan sunnatullah Azza wa Jalla berlaku pada seluruh ciptaan-Nya secara bertahap dalam penciptaan, hingga naluri syahwat pun tidak muncul pada anak kecil ketika baligh secara sekaligus dan mendadak, melainkan muncul sedikit demi sedikit secara bertahap. Demikian pula seluruh potensi dan sifat. Barangsiapa yang mengingkari perbedaan manusia dalam naluri dasar ini, maka ia seolah-olah telah lepas dari ikatan akal. Barangsiapa menyangka bahwa akal Nabi ﷺ sama seperti akal orang awam dari jelata atau orang-orang kasar di pedalaman, maka ia sendiri lebih hina daripada orang jelata tersebut. Bagaimana mungkin perbedaan naluri ini diingkari? Jikalau bukan karena hal itu, niscaya manusia tidak akan berbeda dalam memahami ilmu dan tidak akan terbagi menjadi orang yang bebal yang tidak dapat paham walau dijelaskan melainkan setelah usaha keras pendidik, orang yang cerdas yang paham hanya dengan lambang dan isyarat sekilas, serta orang yang sempurna yang dari jiwanya memancar hakikat segala perkara tanpa melalui proses belajar, sebagaimana firman Allah Ta'ala, "Minyaknya saja hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya." Perumpamaan itu seperti para nabi 'alaihimus salam, di mana perkara-perkara rumit menjadi jelas dalam batin mereka tanpa belajar dan mendengar. Hal ini diungkapkan dengan istilah ilham, dan hal semisal ini pula yang diungkapkan oleh Nabi ﷺ tatkala bersabda, "Sesungguhnya Malaikat Jibril (Ruhul Qudus) membisikkan ke dalam hatiku: Cintailah siapa saja yang engkau cintai, sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya; hiduplah sesukamu, sesungguhnya engkau akan mati; dan berbuatlah sesukamu, sesungguhnya engkau akan diberi balasan atasnya." Pola pemberitahuan malaikat kepada para nabi ini berbeda dengan wahyu sharih (jelas) yang berupa pendengaran suara melalui indra telinga dan penyaksian malaikat melalui indra penglihatan, oleh sebab itulah hal ini diungkapkan dengan 'pembisikan ke dalam hati' (naftsu fi ar-rau'). Tingkatan wahyu itu sangat banyak, dan mendalaminya tidaklah layak bagi ilmu muamalah, melainkan termasuk bagian dari ilmu mukasyafah.

ولا تظنن أن معرفة درجات الوحي تستدعي منصب الوحي إذ لا يبعد أن يعرف الطبيب المريض درجات الصحة ويعلم العالم الفاسق درجات العدالة وإن كان خالياً عنها فالعلم شيء ووجود المعلوم شيء آخر فلا كل من عرف النبوة والولاية كان نبياً ولا ولياً ولا كل من عرف التقوى والورع ودقائقه كان تقياً

Dan janganlah sekali-kali engkau mengira bahwa mengetahui tingkatan-tingkatan wahyu itu menuntut derajat kewahyuan (kenabian). Sebab, bukanlah hal yang mustahil jika seorang dokter yang sedang sakit mengetahui tingkatan-tingkatan kesehatan, atau seorang alim yang fasik mengetahui tingkatan-tingkatan keadilan meskipun ia sendiri tidak memilikinya. Karena ilmu adalah satu hal, sedangkan keberadaan hal yang diketahui (objek ilmu) adalah hal yang lain. Maka, tidak setiap orang yang mengetahui kenabian (nubuwwah) dan kewalian (wilayah) itu menjadi seorang nabi atau wali, dan tidak pula setiap orang yang mengetahui ketakwaan, kewara'an, serta kelembutan-kelembutannya itu menjadi seorang yang bertakwa.

وانقسام الناس إلى من يتنبه من نفسه ويفهم وإلى من لا يفهم إلا بتنبيه وتعليم وإلى من لا ينفعه التعليم أيضاً ولا التنبيه كانقسام الأرض إلى ما يجتمع فيه الماء فيقوى فيتفجر بنفسه عيوناً وإلى ما يحتاج إلى الحفر ليخرج إلى القنوات وإلى ما لا ينفع فيه الحفر وهو اليابس وذلك لاختلاف جواهر الأرض في صفاتها فكذلك اختلاف النفوس في غريزة العقل

Pembagian manusia—antara orang yang dapat terperingat (tersadar) dari dirinya sendiri lalu paham, orang yang tidak bisa paham kecuali dengan peringatan dan pengajaran, serta orang yang tidak lagi bermanfaat baginya pengajaran maupun peringatan—adalah seperti pembagian tanah/bumi: ada tanah yang di dalamnya berkumpul air lalu menguat hingga memancar menjadi mata air dengan sendirinya, ada tanah yang membutuhkan penggalian agar airnya mengalir ke saluran-saluran, dan ada tanah yang tidak berguna padanya penggalian yaitu tanah yang gersang. Hal itu disebabkan oleh perbedaan substansi tanah dalam sifat-sifatnya. Demikian pulalah perbedaan jiwa manusia dalam potensi insting akal (gharizah al-'aql).

ويدل على تفاوت العقل من جهة النقل ما روي أن عبد الله بن سلام ﵁ سأل النبي ﷺ في حديث طويل في آخره وصف عظم العرش وأن الملائكة قالت يا ربنا هل خلقت شيئاً أعظم من العرش

Dan hal yang menunjukkan perbedaan (tingkatan) akal dari segi dalil naqli (riwayat) adalah apa yang diriwayatkan bahwa Abdullah bin Salam radhiyallahu 'anhu bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sebuah hadis yang panjang, yang pada bagian darinya digambarkan keagungan 'Arsy, dan bahwa para malaikat bertanya: 'Wahai Tuhan kami, apakah Engkau menciptakan sesuatu yang lebih besar dari 'Arsy?'

قال نعم العقل قالوا وما بلغ من قدره قال هيهات لا يحاط بعلمه هل لكم علم بعدد الرمل قالوا لا قال الله ﷿ فإني خلقت العقل أصنافاً شتى كعدد الرمل فمن الناس من أعطي حبة ومنهم من أعطي حبتين ومنهم من أعطي الثلاث والأربع ومنهم من أعطي فرقاً ومنهم من أعطي وسقاً ومنهم من أعطي أكثر من ذلك

Beliau bersabda, 'Ya, yaitu akal.' Mereka bertanya, 'Sampai manakah keagungan kadar nilainya?' Beliau bersabda, 'Sungguh jauh, tidak dapat diliputi oleh pengetahuan. Apakah kalian mengetahui jumlah pasir?' Mereka menjawab, 'Tidak.' Allah Azza wa Jalla berfirman: 'Maka sesungguhnya Aku menciptakan akal bermacam-macam jenisnya sebanyak jumlah pasir. Di antara manusia ada yang diberi satu butir, ada yang diberi dua butir, ada yang diberi tiga dan empat butir, ada yang diberi satu faraq (takaran), ada yang diberi satu wasaq, dan ada pula yang diberi lebih dari itu.'

فإن قلت فما بال أقوام من المتصوفة يذمون العقل بالمعقول فاعلم أن السبب فيه أن الناس نقلوا اسم العقل المعقول إلى المجادلة والمناظرة بالمناقضات والإلزامات وهو صنعة الكلام فلم يقدروا على أن يقرروا عندهم أنكم أخطأتم في التسمية إذ كان لا ينمحي عن قلوبهم بعد تداول الألسنة به ورسوخه في القلوب فذموا العقل والمعقول وهو المسمى به عندهم

Jika engkau bertanya: 'Lantas bagaimana halnya dengan sebagian kaum sufi yang mencela akal dan hal yang dapat dinalar (ma'qul)?' Maka ketahuilah bahwa penyebabnya adalah karena manusia telah mengalihkan nama 'akal' dan 'ma'qul' kepada perdebatan (jidal) dan diskusi (munatsarah) dengan pertentangan serta pemaksaan argumen (ilzamat), yaitu keahlian ilmu kalam. Kaum sufi tersebut tidak mampu menegaskan kepada mereka bahwa 'kalian telah salah dalam penamaan ini', karena nama itu tidak lagi dapat terhapus dari hati mereka setelah lidah-lidah terbiasa mengucapkannya dan ia telah tertancap kuat dalam hati. Maka mereka (kaum sufi) mencela istilah 'akal' dan 'ma'qul' sebagaimana yang dimaksudkan menurut pemaknaan istilah oleh kelompok tersebut.

فأما نور البصيرة التي بها يعرف الله تعالى ويعرف صدق رسله فكيف يتصور ذمه وقد أثنى الله تعالى عليه وإن ذم فما الذي بعده يحمد فإن كان المحمود هو الشرع فبم علم صحة الشرع فإن علم بالعقل المذموم الذي لا يوثق به فيكون الشرع أيضاً مذموماً ولا يلتفت إلى من يقول إنه يدرك بعين اليقين ونور الإيمان لا بالعقل فإنا نريد بالعقل ما يريده بعين اليقين ونور الإيمان وهي الصفة الباطنة التي يتميز بها الآدمي عن البهائم حتى أدرك بها حقائق الأمور وأكثر هذه التخبيطات إنما ثارت من جهل أقوام طلبوا الحقائق من الألفاظ فتخبطوا فيها لتخبط اصطلاحات الناس في الألفاظ فهذا القدر كاف في بيان العقل والله أعلم

Adapun cahaya mata hati (nur al-bashirah) yang dengannya Allah Ta'ala dikenal dan kebenaran para rasul-Nya diketahui, maka bagaimana mungkin dapat dibayangkan celaan terhadapnya, padahal Allah Ta'ala telah memujinya? Jika ia dicela, lantas apakah lagi yang setelahnya dapat dipuji? Jika yang dipuji itu adalah syariat, maka dengan apa kebenaran syariat itu diketahui? Jika diketahui dengan akal yang dicela dan tidak dapat dipercaya itu, niscaya syariat pun menjadi ikut dicela. Janganlah dihiraukan orang yang mengatakan bahwa syariat itu dipahami dengan 'ainul yaqin dan cahaya iman, bukan dengan akal. Sebab, yang kami maksud dengan akal adalah apa yang ia maksudkan dengan 'ainul yaqin dan cahaya iman, yaitu sifat batin yang dengannya manusia terbedakan dari hewan hingga ia dapat menangkap hakikat segala perkara. Kebanyakan dari kekacauan pemikiran ini muncul akibat kebodohan kaum yang mencari hakikat dari lafaz-lafaz, sehingga mereka terombang-ambing di dalamnya akibat kekacauan istilah-istilah manusia dalam penamaan lafaz. Maka kadar sekian ini cukuplah dalam menjelaskan tentang akal. Wallahu a'lam (Dan Allah lebih mengetahui).

تم كتاب العلم بحمد الله تعالى ومنه وصلى الله على سيدنا محمد وعلى كل عبد مصطفى من أهل الأرض والسماء

Telah selesai Kitab Ilmu dengan pujian kepada Allah Ta'ala dan karunia-Nya. Semoga shalawat Allah tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad dan kepada setiap hamba pilihan dari penduduk bumi dan langit.