الباب السابع في العقل وشرفه وحقيقته وأقسامه

بيان حقيقة العقل وأقسامه

بيان حقيقة العقل وأقسامه

بيان حقيقة العقل وأقسامه

Penjelasan Hakikat Akal dan Pembagiannya

اعلم أن الناس اختلفوا في حد العقل وحقيقته وذهل الأكثرون عن كون هذا الاسم مطلقاً على معان مختلفة فصار ذلك سبب اختلافهم

Ketahuilah bahwa manusia berbeda pendapat dalam definisi akal dan hakikatnya. Kebanyakan orang lalai dari kenyataan bahwa nama (istilah) ini diucapkan secara bersekutu (musytarak/polisemi) atas makna-makna yang berbeda, sehingga hal itulah yang menjadi sebab perselisihan mereka.

والحق الكاشف للغطاء فيه أن العقل اسم يطلق بالاشتراك على أربعة معان كما يطلق اسم العين مثلاً على معان عدة وما يجري هذا المجرى فلا ينبغي أن يطلب لجميع أقسامه حد واحد بل يفرد كل قسم بالكشف عنه فالأول الوصف الذي يفارق الإنسان به سائر البهائم وهو الذي استعد به لقبول العلوم النظرية وتدبير الصناعات الخفية الفكرية وهو الذي أراده الحارث بن أسد المحاسبي حيث قال في حد العقل إنه غريزة يتهيأ بها إدراك العلوم النظرية وكأنه نور يقذف في القلب به يستعد لإدراك الأشياء ولم ينصف من أنكر هذا ورد العقل إلى مجرد العلوم الضرورية فإن الغافل عن العلوم والنائم يسميان عاقلين باعتبار وجود هذه الغريزة فيهما مع فقد العلوم وكما أن الحياة غريزة بها يتهيأ الجسم للحركات الاختيارية والإدراكات الحسية فكذلك العقل غريزة بها تتهيأ بعض الحيوانات للعلوم النظرية ولو جاز أن يسوى بين الإنسان والحمار في الغريزة والإدراكات الحسية

Kebenaran yang menyingkap tirai padanya adalah bahwa akal merupakan nama yang diucapkan secara bersekutu (musytarak) atas empat makna, sebagaimana nama "mata" (al-'ain) misalnya diucapkan atas beberapa makna. Dan apa yang berlaku menurut jalan ini tidak sepatutnya dituntut satu definisi saja bagi seluruh bagiannya, melainkan tiap-tiap bagian disendirikan dengan penyingkapan atasnya. Makna pertama: Sifat yang dengannya manusia membedakan diri dari seluruh binatang ternak; yaitu sifat yang dengannya ia bersiap untuk menerima ilmu-ilmu teoritis (nazhariyyah) dan mengatur keahlian-keahlian tersembunyi yang bersifat pemikiran. Sifat inilah yang dimaksudkan oleh Al-Harits bin Asad Al-Muhasibi tatkala ia berkata dalam definisi akal: "Bahwa akal adalah naluri (insting/potensi bawaan) yang dengannya seseorang bersiap untuk menangkap ilmu-ilmu teoritis." Dan seakan-akan akal adalah cahaya yang dilontarkan ke dalam hati, yang dengannya seseorang bersiap untuk menangkap segala sesuatu. Dan tidaklah berbuat adil orang yang mengingkari hal ini lalu mengembalikan akal hanya pada sekadar ilmu-ilmu dharuri (pengetahuan aksiomatis dasar). Sebab, orang yang lalai dari ilmu-ilmu tersebut dan orang yang tidur tetap dinamakan orang yang berakal dengan meninjau keberadaan naluri ini pada diri keduanya meskipun sedang ketiadaan (kehilangan kesadaran akan) ilmu-ilmu itu. Sebagaimana halnya kehidupan adalah naluri bawaan yang dengannya tubuh bersiap untuk gerakan-gerakan sukarela dan persepsi-persepsi indrawi, maka demikian pula akal adalah naluri bawaan yang dengannya sebagian hewan bersiap untuk ilmu-ilmu teoritis, seandainya boleh disamakan antara manusia dan keledai dalam hal naluri bawaan dan persepsi-persepsi indrawi.

فيقال لا فرق بينهما إلا أن الله تعالى بحكم إجراء العادة يخلق في الإنسان علوماً وليس يخلقها في الحمار والبهائم لجاز أن يسوي بين الحمار والجماد في الحياة ويقال لا فرق ألا إن الله ﷿ يخلق في الحمار حركات مخصوصة بحكم إجراء العادة

Maka dapat dikatakan: "Tidak ada perbedaan di antara keduanya, melainkan bahwa Allah Ta'ala berdasar hukum kebiasaan (sunnatullah) menciptakan ilmu-ilmu pada diri manusia dan tidak menciptakannya pada keledai serta binatang ternak." Jika demikian, tentu boleh juga untuk menyamakan antara keledai dan benda mati dalam hal kehidupan, lalu dikatakan: "Tidak ada perbedaan, hanya saja Allah Azza wa Jalla menciptakan gerakan-gerakan khusus pada keledai berdasarkan hukum kebiasaan."

فإنه لو قدر الحمار جماداً ميتاً لوجب القول بأن كل حركة تشاهد منه فالله ﷾ قادر على خلقها فيه على الترتيب المشاهد

Sebab, sekiranya keledai itu diandaikan sebagai benda mati yang tidak bernyawa, niscaya wajib untuk dikatakan bahwa setiap gerakan yang disaksikan darinya adalah diciptakan oleh Allah Azza wa Jalla padanya menurut urutan yang disaksikan itu.

وكما وجب أن يقال لم يكن مفارقته للجماد في الحركات إلا بغريزة اختصت به عبر عنها بالحياة فكذا مفارقة الإنسان البهيمة في إدراك العلوم النظرية بغريزة يعبر عنها بالعقل وهو كالمرآة التي تفارق غيرها من الأجسام في حكاية الصور والألوان بصفة اختصت بها وهي الصقالة

Sebagaimana wajib dikatakan bahwa perbedaannya dari benda mati dalam hal gerakan-gerakan tidak lain karena adanya suatu potensi pembawaan (gharizah) yang khusus baginya yang diistilahkan dengan kehidupan, maka demikian pula perbedaan manusia dari binatang dalam mempresepsi ilmu-ilmu teoritis (al-'ulum an-nazhariyyah) adalah karena suatu potensi bawaan yang diistilahkan dengan akal. Akal itu bagaikan cermin yang membedakan dirinya dari benda-benda lain dalam memantulkan gambar dan warna melalui sifat khusus yang dimilikinya, yaitu kebeningannya (as-shaqalah).

وكذلك العين تفارق الجبهة في صفات وهيئات بها استعدت للرؤية فنسبة هذه الغريزة إلى العلوم كنسبة العين إلى الرؤية ونسبة القرآن والشرع إلى هذه الغريزة في سياقها إلى انكشاف العلوم لها كنسبة نور الشمس إلى البصر فهكذا ينبغي أن تفهم هذه الغريزة

Demikian pula mata membedakan dirinya dari dahi dalam sifat-sifat dan bentuk-bentuk yang dengannya ia siap untuk melihat. Maka nisbah potensi bawaan ini terhadap ilmu-ilmu adalah seperti nisbah mata terhadap penglihatan, dan nisbah Al-Qur'an serta Syariat terhadap potensi bawaan ini dalam membimbingnya hingga tersingkapnya ilmu-ilmu baginya adalah seperti nisbah cahaya matahari terhadap indra penglihatan. Demikianlah hendaknya potensi bawaan (akal) ini dipahami.

الثاني هي العلوم التي تخرج إلى الوجود في ذات الطفل المميز بجواز الجائزات واستحالة المستحيلات كالعلم بأن الاثنين أكثر من الواحد وأن الشخص الواحد لا يكون في مكانين في وقت واحد وهو الذي عناه بعض المتكلمين حيث قال في حد العقل إنه بعض العلوم الضرورية كالعلم بجواز الجائزات واستحالة المستحيلات وهو أيضاً صحيح في نفسه لأن هذه العلوم موجودة وتسميتها عقلاً ظاهر وإنما الفاسد أن تنكر تلك الغريزة ويقال لا موجود إلا هذه العلوم

Kedua, ilmu-ilmu yang muncul ke dalam wujud pada diri anak yang sudah mumayyiz berupa pengetahuan tentang kebolehan hal-hal yang mungkin (al-ja'izat) dan kemustahilan hal-hal yang mustahil (al-mustahilat), seperti pengetahuan bahwa angka dua lebih banyak dari angka satu, dan bahwa seseorang tidak mungkin berada di dua tempat pada waktu yang bersamaan. Inilah yang dimaksud oleh sebagian ahli kalam (mutakallimin) ketika mendefinisikan akal bahwa akal adalah sebagian ilmu-ilmu aksiomatis (al-'ulum ad-dharuriyyah), seperti pengetahuan tentang kebolehan hal yang mungkin dan kemustahilan hal yang mustahil. Definisi ini pun benar pada dirinya sendiri, karena ilmu-ilmu ini memang ada dan penamaannya sebagai akal adalah hal yang jelas. Yang keliru hanyalah jika potensi bawaan (al-gharizah) tersebut diingkari dan dikatakan bahwa tidak ada yang wujud selain ilmu-ilmu ini.

الثالث علوم تستفاد من التجارب بمجاري الأحوال فإن من حنكته التجارب وهذبته المذاهب يقال إنه عاقل في العادة ومن لا يتصف بهذه الصفة فيقال

Ketiga, ilmu-ilmu yang diperoleh dari pengalaman-pengalaman seiring jalannya keadaan. Orang yang telah matang oleh pengalaman dan terdidik oleh berbagai perjalanan hidup, secara umum dinamakan orang yang berakal (berpikiran matang). Adapun orang yang tidak memiliki sifat ini, maka dikatakan kepadanya…

إنه غبي غمر جاهل فهذا نوع آخر من العلوم يسمى عقلاً

…bahwa ia adalah orang yang bodoh, kurang pengalaman, dan jahil. Maka ini adalah jenis lain dari ilmu yang juga dinamakan akal.

الرابع أن تنتهي قوة تلك الغريزة إلى أن يعرف عواقب الأمور ويقمع الشهوة الداعية إلى اللذة العاجلة ويقهرها فإذا حصلت هذه القوة سمى صاحبها عاقلاً من حيث إن إقدامه وإحجامه بحسب ما يقتضيه النظر في العواقب لا بحكم الشهوة العاجلة وهذه أيضاً من خواص الإنسان التي بها يتميز عن سائر الحيوان فالأول هو الأس والسنخ والمنبع

Keempat, puncaknya kekuatan potensi bawaan tersebut hingga ia mampu mengetahui akibat dari segala urusan, menekan syahwat yang mengajak kepada kenikmatan sesaat, serta menundukkannya. Apabila kekuatan ini telah terwujud, maka pemiliknya dinamakan orang yang berakal, ditinjau dari kenyataan bahwa tindakan maju atau mundurnya (bertindak atau menahan diri) adalah berdasarkan pertimbangan terhadap akibat masa depan, bukan berdasarkan dorongan syahwat sesaat. Ini juga termasuk keistimewaan manusia yang membedakannya dari seluruh hewan. Maka jenis yang pertama adalah asas, pangkal, dan sumbernya.

والثاني هو الفرع الأقرب إليه

Yang kedua adalah cabang yang paling dekat dengannya.

والثالث فرع الأول والثاني إذ بقوة الغريزة والعلوم الضرورية تستفاد علوم التجارب

Yang ketiga adalah cabang dari jenis pertama dan kedua, sebab dengan kekuatan potensi bawaan dan ilmu-ilmu aksiomatis (al-'ulum ad-dharuriyyah), ilmu-ilmu pengalaman dapat diperoleh.

والرابع هو الثمرة الأخيرة وهو الغاية القصوى فالأولان بالطبع والأخيران بالاكتساب

Dan yang keempat adalah buah yang terakhir serta tujuan yang paling utama. Dua jenis yang pertama bersifat pembawaan alami (bi at-thab'), sedangkan dua jenis yang terakhir diperoleh melalui usaha (bi al-iktisab).

ولذلك قال علي كرم الله وجهه

Oleh karena itu, Ali karramallahu wajhah berkata:

رأيت العقل عقلين … فمطبوع ومسموع

"Aku melihat akal itu ada dua perkara… akal pembawaan (muthbu') dan akal pendengaran/usaha (masmu')."

ولا ينفع مسموع … إذا لم يك مطبوع

"Dan tidaklah berguna akal pendengaran/usaha… jika tidak terdapat akal pembawaan."

كما لا تنفع الشمس … وضوء العين ممنوع

"Sebagaimana tidak berguna sinar matahari… apabila cahaya mata terhalangi."

والأول هو المراد بقوله ﷺ ما خلق الله ﷿ خلقاً أكرم عليه من العقل والأخير هو المراد بقوله ﷺ إذا تقرب الناس بأبواب البر والأعمال الصالحة فتقرب أنت بعقلك وهو المراد بقول رسول الله ﷺ لأبي الدرداء ﵁ ازدد عقلاً تزدد من ربك قرباً فقال بأبي أنت وأمي وكيف لي بذلك فقال اجتنب محارم الله تعالى وأد فرائض الله سبحانه تكن عاقلاً واعمل بالصالحات من الأعمال تزدد في عاجل الدنيا رفعة وكرامة وتنل في آجل العقبى بها من ربك ﷿ القرب والعز وعن سعيد بن المسيب أن عمر وأبي بن كعب وأبا هريرة ﵃ دخلوا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فقال يا رسول الله من أعلم الناس فقال ﷺ العاقل قالوا فمن أعبد الناس قال العاقل قالوا فمن أفضل الناس قال العاقل قالوا اليس العاقل من تمت مروءته وظهرت فصاحته وجادت كفه وعظمت منزلته فقال ﷺ ﴿وإن كل ذلك لما متاع الحياة الدنيا والآخرة عند ربك للمتقين﴾ إن العاقل هو المتقي وإن كان في الدنيا خسيساً ذليلاً قال ﷺ في حديث آخر إنما العاقل من آمن بالله وصدق رسله وعمل بطاعته ويشبه أن يكون أصل الاسم في أصل اللغة لتلك الغريزة وكذلك في الاستعمال وإنما أطلق على العلوم من حيث إنها ثمرتها كما يعرف الشيء بثمرته فيقال العلم هو الخشية والعالم من يخشى الله تعالى

Yang pertama (akal pembawaan) adalah yang dimaksud oleh sabda Rasulullah ﷺ: "Tidak ada ciptaan yang diciptakan Allah Azza wa Jalla yang lebih mulia di sisi-Nya daripada akal." Sedangkan yang terakhir (akal usaha/akibat) adalah yang dimaksud oleh sabda beliau ﷺ: "Jika orang-orang mendekatkan diri (kepada Allah) dengan berbagai pintu kebajikan dan amal saleh, maka mendekatlah engkau dengan akalmu." Ini juga yang dimaksud oleh sabda Rasulullah ﷺ kepada Abu ad-Darda radhiyallahu 'anhu: "Tambahlah akalmu, niscaya bertambah pula kedekatanmu dari Rabbmu." Abu ad-Darda bertanya: "Demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, bagaimana aku dapat melakukan hal itu?" Beliau bersabda: "Jauhilah hal-hal yang diharamkan Allah Ta'ala dan tunaikanlah kewajiban-kewajiban dari Allah Subhanahu, niscaya engkau menjadi orang yang berakal. Dan amalkanlah kebajikan-kebajikan, niscaya engkau bertambah keluhuran dan kemuliaan di dunia yang sekejap ini, serta memperoleh kedekatan dan kemuliaan di akhirat nanti dari Rabbmu Azza wa Jalla." Diriwayatkan dari Sa'id bin al-Musayyib bahwa Umar, Ubay bin Ka'b, dan Abu Hurairah radhiyallahu 'anhum masuk menemui Rasulullah ﷺ lalu bertanya: "Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berilmu?" Beliau ﷺ menjawab: "Orang yang berakal." Mereka bertanya: "Siapakah manusia yang paling taat beribadah?" Beliau menjawab: "Orang yang berakal." Mereka bertanya lagi: "Siapakah manusia yang paling utama?" Beliau menjawab: "Orang yang berakal." Mereka berkata: "Bukankah orang yang berakal itu adalah orang yang sempurna keluhuran budinya (muru'ah), tampak kefasihannya, dermawan tangannya, dan agung kedudukannya?" Maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Dan semuanya itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia, sedangkan kehidupan akhirat di sisi Rabbmu adalah bagi orang-orang yang bertakwa (QS. Az-Zukhruf: 35). Sesungguhnya orang yang berakal adalah orang yang bertakwa, meskipun di dunia ia dianggap hina dan rendah." Beliau ﷺ juga bersabda dalam hadis lain: "Sesungguhnya orang yang berakal hanyalah orang yang beriman kepada Allah, membenarkan para rasul-Nya, dan beramal dalam ketaatan kepada-Nya." Dan tampaknya, asal penamaan ini dalam bahasa asli adalah untuk potensi bawaan (al-gharizah) tersebut, begitu pula dalam penggunaannya. Penggunaan istilah akal untuk ilmu-ilmu hanyalah ditinjau dari kedudukannya sebagai buah darinya, sebagaimana sesuatu terkadang dikenali melalui buahnya, sehingga dikatakan: "Ilmu itu adalah rasa takut (al-khasyah), dan orang yang berilmu (al-'alim) adalah orang yang takut kepada Allah Ta'ala."

فإن الخشية ثمرة العلم فتكون كالمجاز لغير تلك الغريزة ولكن ليس الغرض البحث عن اللغة

Sebab, rasa takut (al-khasyah) merupakan buah dari ilmu, sehingga penamaan tersebut berbentuk kiasan (majaz) jika ditujukan kepada selain potensi bawaan (al-gharizah) itu. Akan tetapi, tujuan di sini bukanlah membahas tentang kebahasaan.

والمقصود أن هذه الأقسام الأربعة موجودة والاسم يطلق على جميعها ولا خلاف في وجود جميعها إلا في القسم الأول والصحيح وجودها بل هي الأصل

Maksudnya adalah bahwa keempat bagian ini memang ada, dan nama "akal" dimutlakkan atas semuanya. Tidak ada perselisihan tentang keberadaan seluruh bagian ini kecuali pada bagian yang pertama. Namun yang benar, bagian pertama itu ada, bahkan dialah yang menjadi landasan utamanya.

وهذه العلوم كأنها مضمنة في تلك الغريزة بالفطرة ولكن تظهر في الوجود إذا جرى سبب يخرجها إلى الوجود حتى كأن هذه العلوم ليست بشيء وارد عليها من خارج وكأنها كانت مستكنة فيها فظهرت ومثاله الماء في الأرض فإنه يظهر بحفر البئر ويجتمع ويتميز بالحس لا بأن يساق إليها شيء جديد وكذلك الدهن في اللوز وماء الورد في الورد ولذلك قال تعالى وإذ أخذ ربك من بني آدم من ظهورهم ذريتهم وأشهدهم على أنفسهم

Ilmu-ilmu ini seolah-olah telah terkandung di dalam potensi bawaan (al-gharizah) tersebut secara fitrah, namun baru tampak dalam wujud nyata apabila terdapat sebab yang mengeluarkannya ke dalam wujud. Seakan-akan ilmu-ilmu ini bukanlah sesuatu yang datang dari luar, melainkan telah tersembunyi di dalamnya lalu menjadi tampak. Perumpamaannya adalah seperti air di dalam tanah yang muncul dengan digalinya sumur, lalu berkumpul dan terindai oleh indra, bukan karena dialirkan padanya sesuatu yang baru. Demikian pula halnya minyak dalam kacang amandel dan air mawar di dalam bunga mawar. Oleh karena itu, Allah Ta'ala berfirman: "Dan (ingatlah) ketika Rabbmu mengeluarkan dari sulbi anak-cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka…"

ألست بربكم قالوا بلى فالمراد به إقرار نفوسهم لا إقرار الألسنة فإنهم انقسموا في إقرار الألسنة حيث وجدت الألسنة والأشخاص إلى مقر وإلى جاحد ولذلك قال تعالى ولئن سألتهم من خلقهم ليقولن الله معناه إن اعتبرت أحوالهم شهدت بذلك نفوسهم وبواطنهم فطرة الله التي فطر الناس عليها أي كل آدمي فطر على الإيمان بالله ﷿ بل على معرفة الأشياء على ما هي عليه أعني أنها كالمضمنة فيها لقرب استعدادها للإدراك

"…'Bukankah Aku ini Rabbmu?' Mereka menjawab: 'Benar (Engkau Rabb kami)'" (QS. Al-A'raf: 172). Yang dimaksud dengannya adalah pengakuan jiwa mereka, bukan pengakuan lisan. Sebab, dalam hal pengakuan lisan ketika lisan dan jasad wujud, manusia terbagi menjadi orang yang mengakui dan orang yang mengingkari. Oleh karena itu, Allah Ta'ala berfirman: "Dan sungguh, jika engkau bertanya kepada mereka: 'Siapakah yang menciptakan mereka?', niscaya mereka berkata: 'Allah'" (QS. Az-Zukhruf: 87), artinya: jika engkau mencermati kondisi mereka, jiwa dan batin mereka bersaksi akan hal itu. "(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu" (QS. Ar-Rum: 30), yaitu bahwa setiap manusia diciptakan atas fitrah beriman kepada Allah Azza wa Jalla, bahkan atas pengetahuan tentang segala sesuatu sebagaimana hakikatnya; maksudnya pengetahuan itu seolah-olah terkandung di dalam diri mereka karena dekatnya kesiapan mereka untuk mempresepkannya.

ثم لما كان الإيمان مركوزا في النفوس بالفطرة انقسم الناس إلى قسمين إلى من أعرض فنسي وهم الكفار وإلى من أجال خاطره فتذكر فكان كمن حمل شهادة فنسيها بغفلة ثم تذكرها

Kemudian, karena iman itu terpatri dalam jiwa secara fitrah, manusia terbagi menjadi dua golongan: golongan yang berpaling lalu lupa—mereka itulah orang-orang kafir—dan golongan yang menggerakkan hatinya lalu teringat, maka ia seperti orang yang membawa suatu kesaksian lalu melupakannya karena kelalaian, kemudian ia mengingatnya kembali.

ولذلك قال ﷿ لعلهم يتذكرون وليتذكر أولوا الألباب واذكروا نعمة الله عليكم وميثاقه الذي واثقكم به ولقد يسرنا القرآن للذكر فهل من مدكر وتسمية هذا النمط تذكراً ليس ببعيد فكأن التذكر ضربان أحدهما

Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla berfirman, "Agar mereka mengambil pelajaran (mengingat)", "Dan agar orang-orang yang berakal sehat mengambil pelajaran", "Dan ingatlah nikmat Allah atasmu dan perjanjian-Nya yang telah diikat-Nya denganmu", dan "Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur'an untuk peringatan (diingat), maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?" Penamaan pola ini sebagai 'tadzakkur' (mengingat/mengambil pelajaran) bukanlah hal yang jauh dari kebenaran. Seolah-olah mengingat itu ada dua macam: salah satunya adalah

أن يذكر صورة كانت حاضرة الوجود في قلبه لكن غابت بعد الوجود الآخر

Mengingat suatu gambaran yang dahulu pernah hadir dalam hatinya, namun kemudian gaib (hilang) setelah keberadaannya yang lain.

والآخر أن يذكر صورة كانت مضمنة فيه بالفطرة

Dan yang lainnya adalah mengingat suatu gambaran yang telah tersimpan di dalamnya secara fitrah.

وهذه حقائق ظاهرة للناظر بنور البصيرة ثقيلة على من يستروجه السماع والتقليد دون الكشف والعيان

Hakikat-hakikat ini tampak nyata bagi orang yang memandang dengan cahaya basirah (mata hati), namun terasa berat bagi orang yang hanya merasa nyaman dengan sekadar mendengar dan bertaklid tanpa melalui kasyaf (penyingkapan batin) dan pencerahan langsung ('iyan).

ولذلك تراه يتخبط في مثل هذه الآيات ويتعسف وفي تأويل التذكر بإقرار النفوس أنواعاً من التعسفات ويتخايل إليه في الأخبار والآيات ضروب من المناقضات وربما يغلب ذلك عليه حتى ينظر إليها بعين الاستحقار ويعتقد فيها التهافت

Oleh karena itu, engkau melihat orang semacam itu kebingungan menghadapi ayat-ayat seperti ini dan bersikap memaksakan diri. Dalam menafsirkan 'tadzakkur' sebagai pengakuan jiwa, ia melakukan berbagai bentuk pemaksaan penafsiran. Terbayang olehnya dalam khabar (hadis) dan ayat-ayat berbagai bentuk pertentangan, bahkan hal itu terkadang menguasai dirinya hingga ia memandangnya dengan pandangan meremehkan dan menganggapnya saling bertolak belakang.

ومثاله مثال الأعمى الذي يدخل داراً فيعثر فيها بالأواني المصفوفة في الدار فيقول ما لهذه الأواني لا ترفع من الطريق وترد إلى مواضعها فيقال له إنها في مواضعها وإنما الخلل في بصرك

Perumpamaannya seperti orang buta yang memasuki sebuah rumah, lalu ia tersandung bejana-bejana yang tersusun rapi di rumah tersebut. Ia pun berkata, "Mengapa bejana-bejana ini tidak disingkirkan dari jalan dan dikembalikan ke tempatnya?" Maka dikatakan kepadanya, "Sesungguhnya bejana-bejana itu sudah berada di tempatnya, cacatnya ada pada penglihatanmu."

فكذلك خلل البصيرة يجري مجراه وأطم منه وأعظم إذ النفس كالفارس والبدن كالفرس وعمى الفارس أضر من عمى الفرس ولمشابهة بصيرة الباطن لبصيرة الظاهر قال الله تعالى ما كذب الفؤاد ما رأى وقال تعالى وكذلك نرى إبراهيم ملكوت السموات والأرض الآية وسمي ضده عمى فقال تعالى فإنها لا تعمى الأبصار ولكن تعمي القلوب التي في الصدور وقال تعالى ومن كان في هذه أعمى فهو في الآخرة أعمى وأضل سبيلاً وهذه الأمور التي كشفت للأنبياء بعضها كان بالبصر وبعضها كان بالبصيرة وسمي الكل رؤية

Demikian pula cacat pada basirah (mata hati) berlaku seperti itu, bahkan lebih dahsyat dan lebih besar. Sebab, jiwa itu bagaikan penunggang kuda dan badan bagaikan kudanya, dan kebutaan penunggang kuda tentu lebih berbahaya daripada kebutaan kudanya. Karena adanya keserupaan antara basirah batin dan penglihatan lahiriah, Allah Ta'ala berfirman, "Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya," dan Allah Ta'ala berfirman, "Dan demikianlah Kami memperlihatkan kepada Ibrahim kekuasaan (Kami yang agung) di langit dan di bumi…" sampai akhir ayat. Kebalikannya dinamakan kebutaan, sebagaimana firman Allah Ta'ala, "Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada." Dan Allah Ta'ala berfirman, "Dan barangsiapa yang di dunia ini buta, niscaya di akhirat (pun) ia akan buta dan semakin tersesat dari jalan (yang benar)." Hal-hal yang disingkapkan (dikasyfkan) kepada para nabi ini sebagiannya terjadi dengan mata lahir (basar) dan sebagiannya lagi dengan mata hati (basirah), dan semuanya dinamakan rukyah (penglihatan).

وبالجملة من لم تكن بصيرته الباطنة ثاقبة لم يعلق به من الدين إلا قشوره وأمثلته دون لبابه وحقائقه

Singkatnya, barangsiapa yang basirah batinnya tidak tajam, tidak ada yang melekat padanya dari agama ini melainkan hanya kulit luar dan perumpamaannya saja, bukan inti (lubab) dan hakikatnya.

فهذه أقسام ما ينطلق اسم العقل عليها

Inilah bagian-bagian yang padanya istilah 'akal' diterapkan.