فضيلة الأوراد وبيان أن المواظبة عليها هي الطريق إلى الله تعالى
فضيلة الأوراد وبيان أن المواظبة عليها هي الطريق إلى الله تعالى
Keutamaan Wirid-Wirid dan Penjelasan Bahwa Istikamah Menjalankannya Adalah Jalan Menuju Allah Ta'ala.
اعلم أن الناظرين بنور البصيرة علموا أنه لا نجاة إلا في لقاء الله تعالى وأنه لا سبيل إلى اللقاء إلا بأن يموت العبد محباً لله تعالى وعارفاً بالله سبحانه
Ketahuilah bahwa orang-orang yang memandang dengan cahaya mata hati (nurul bashirah) meyakini bahwa tidak ada keselamatan melainkan dalam pertemuan dengan Allah Ta'ala, dan tidak ada jalan menuju pertemuan tersebut kecuali seorang hamba wafat dalam keadaan mencintai Allah Ta'ala dan mengenal (ma'rifah) Allah Subhanah.
وأن المحبة والأنس لا تحصل إلا من دوام ذكر المحبوب والمواظبة عليه وأن المعرفة به لا تحصل إلا بدوام الفكر فيه وفي صفاته وأفعاله وليس في الوجود سوى الله تعالى وأفعاله ولن يتيسر دوام الذكر والفكر إلا بوداع الدنيا وشهواتها والاجتزاء منها بقدر البلغة والضرورة وكل ذلك لا يتم إلا باستغراق أوقات الليل والنهار في وظائف الأذكار والأفكار والنفس لما جبلت عليه من السآمة والملال لا تصبر على فن واحد من الأسباب المعينة على الذكر والفكر بل إذا ردت إلى نمط واحد أظهرت الملال والاستثقال وأن الله تعالى لا يمل حتى تملوا فمن ضرورة اللطف بها أن تروح بالتنقل من فن إلى فن ومن نوع إلى نوع بحسب كل وقت لتغزر بالانتقال لذتها وتعظم باللذة رغبتها وتدوم بدوام الرغبة مواظبتها فلذلك تقسم الأوراد قسمة مختلفة فالذكر والفكر ينبغي أن يستغرقا جميع الأوقات أو أكثرها فإن النفس بطبعها مائلة إلى ملاذ الدنيا فإن صرف العبد شطر أوقاته إلى تدبيرات الدنيا وشهواتها المباحة مثلاً والشطر الآخر إلى العبادات رجح جانب الميل إلى الدنيا لموافقتها الطبع إذ يكون الوقت متساوياً فأنى يتقاومان والطبع لأحدهما مرجح إذ الظاهر والباطن يتساعدان على أمور الدنيا ويصفو في طلبها القلب ويتجرد وأما الرد إلى العبادات فمتكلف ولا يسلم إخلاص القلب فيه وحضوره إلا في بعض الأوقات فمن أراد أن يدخل الجنة بغير حساب فليستغرق أوقاته في الطاعة ومن أراد أن تترجح كفة حسناته وتثقل موازين خيراته فليستوعب في الطاعة أكثر أوقاته فإن خلط عملاً صالحاً وآخر سيئاً فأمره مخطر ولكن الرجاء غير منقطع والعفو من كرم الله منتظر فعسى الله تعالى أن يغفر له بجوده وكرمه فهذا ما انكشف للناظرين بنور البصيرة فإن لم تكن من أهله فانظر إلى خطاب الله تعالى لرسوله واقتبسه بنور الإيمان فقد قال الله تعالى لأقرب عباده إليه وأرفعهم درجة لديه ﴿إن لك في النهار سبحاً طويلاً واذكر اسم ربك وتبتل إليه تبتيلاً﴾ وقال تعالى ﴿واذكر اسم ربك بكرة وأصيلاً ومن الليل فاسجد له وسبحه ليلاً طويلاً﴾ وقال تعالى ﴿وسبح بحمد ربك قبل طلوع الشمس وقبل الغروب ومن الليل فسبحه وأدبار السجود﴾ وقال سبحانه ﴿وسبح بحمد ربك حين تقوم ومن الليل فسبحه وإدبار النجوم﴾ وقال تعالى ﴿إن ناشئة الليل هي أشد وطأ وأقوم قيلاً﴾ وقال تعالى ﴿ومن آناء الليل فسبح وأطراف النهار لعلك ترضى﴾ وقال ﷿ ﴿وأقم الصلاة طرفي النهار وزلفاً من الليل أن الحسنات يذهبن السيئات﴾ ثم انظر كيف وصف الفائزين من عباده وبماذا وصفهم فقال تَعَالَى ﴿أَمْ مَنْ هُوَ قَانِتٌ﴾
Dan bahwasanya rasa cinta (mahabbah) serta keintiman spiritual (uns) tidak akan diperoleh melainkan dengan terus-menerus mengingat (zikir) Yang Dicintai dan melanggengkannya; dan bahwasanya ma'rifah kepada-Nya tidak akan diperoleh kecuali dengan terus-menerus bertafakur tentang-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya. Padahal tidak ada di alam wujud ini melainkan Allah Ta'ala dan perbuatan-perbuatan-Nya. Kelanggengan zikir dan tafakur tidak akan mudah dicapai kecuali dengan perpisahan dari dunia dan syahwatnya serta merasa cukup dari dunia sekadar bekal sekadarnya dan darurat semata. Semua itu tidak akan sempurna melainkan dengan mencurahkan seluruh waktu malam dan siang dalam tugas-tugas zikir dan tafakur. Namun jiwa (nafs), lantaran watak dasarnya yang mudah bosan dan jemu, tidak akan sabar hanya pada satu jenis sarana penunjang zikir dan tafakur; bahkan jika dikembalikan ke satu pola saja, ia akan memperlihatkan kebosanan dan keberatan. Dan sesungguhnya Allah Ta'ala tidak akan bosan sampai kalian sendiri yang merasa bosan. Maka, termasuk dari keharusan bersikap lembut kepada jiwa adalah dengan mengistirahatkannya melalui perpindahan dari satu jenis ibadah ke jenis ibadah lain dan dari satu bentuk ke bentuk lain sesuai dengan masing-masing waktu, agar kelezatannya menjadi bertambah dengan perpindahan tersebut, keinginannya menjadi makin besar karena adanya kelezatan itu, dan keistikamahannya terus berlanjut seiring berlanjutnya keinginan tersebut. Oleh karena itulah wirid-wirid dibagi dengan pembagian yang beragam. Maka zikir dan tafakur hendaknya menghabiskan seluruh waktu atau sebagian besarnya. Karena jiwa menurut wataknya cenderung pada kelezatan dunia. Jika seorang hamba mengorientasikan separuh waktunya untuk urusan-urusan dunia dan syahwatnya yang mubah—misalnya—dan separuh lainnya untuk ibadah, niscaya sisi kecenderungan pada dunia akan lebih unggul karena sesuai dengan watak dasar; jika waktunya seimbang, bagaimana mungkin keduanya seimbang sementara watak memihak pada salah satunya? Sebab lahiriah dan batiniah saling menopang untuk urusan dunia, serta hati menjadi jernih dan fokus dalam mencarinya. Adapun beralih pada ibadah sering kali memerlukan pemaksaan diri (takalluf) dan tidak selamat ikhlasnya hati serta kesadarannya (hudhur) melainkan pada sebagian waktu saja. Maka barang siapa yang ingin masuk surga tanpa hisab, hendaknya ia menghabiskan seluruh waktunya dalam ketaatan. Dan barang siapa yang ingin timbangan kebaikannya lebih berat dan mizan kebajikannya berbobot, hendaknya ia mengalokasikan sebagian besar waktunya dalam ketaatan. Namun jika ia mencampuradukkan amal saleh dengan amal buruk, maka urusannya berada dalam bahaya, meski harapan tidaklah terputus dan ampunan dari kemurahan Allah tetap dinantikan, semoga Allah Ta'ala mengampuninya dengan kelapangan kedermawanan dan kemurahan-Nya. Inilah apa yang tersingkap bagi orang-orang yang melihat dengan cahaya mata hati. Jika engkau bukan dari golongan mereka, maka lihatlah pada firman Allah Ta'ala kepada Rasul-Nya dan petiklah dengan cahaya iman. Allah Ta'ala telah berfirman kepada hamba-Nya yang paling dekat dan paling tinggi derajatnya di sisi-Nya: "Sesungguhnya bagimu di siang hari terdapat kesibukan yang panjang. Dan sebutlah nama Tuhanmu serta beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan." Dan Allah Ta'ala berfirman: "Dan sebutlah nama Tuhanmu pada waktu pagi dan petang. Dan pada sebagian dari malam, maka bersujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari." Dan Allah Ta'ala berfirman: "Dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di malam hari dan setiap selesai sujud." Dan Allah Subhanah berfirman: "Dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika engkau bangun berdiri, dan bertasbihlah kepada-Nya pada sebagian malam hari dan waktu terbenamnya bintang-bintang." Dan Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan." Dan Allah Ta'ala berfirman: "Dan bertasbihlah pada waktu-waktu di malam hari dan pada ujung-ujung siang hari, supaya engkau merasa rida." Dan Allah Azza wa Jalla berfirman: "Dan dirikanlah salat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian-bagian awal malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk." Kemudian lihatlah bagaimana Allah menggambarkan hamba-hamba-Nya yang beruntung dan dengan apa Dia sifatkan mereka, maka Allah Ta'ala berfirman: "Apakah orang yang beribadah…"
﴿آناء الليل ساجداً وقائماً يحذر الآخرة ويرجو رحمة ربه قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يعلمون﴾ وقال تَعَالَى ﴿تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خوفاً وطمعاً﴾ وقال ﷿ ﴿وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا﴾ وقال ﷿ ﴿كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ وَبِالْأَسْحَارِ هم يستغفرون﴾ وقال ﷿ ﴿فسبحان الله حين تمسون وحين تصبحون﴾ وقال تَعَالَى ﴿وَلَا تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ والعشي يريدون وجهه﴾ فهذا كله يبين لك أن الطريق إلى تعالى مراقبة الأوقات وعمارتها بالأوراد على سبيل الدوام
"…di waktu-waktu malam dengan bersujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: 'Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?'" Dan Allah Ta'ala berfirman: "Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap." Dan Allah Azza wa Jalla berfirman: "Dan orang-orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka." Dan Allah Azza wa Jalla berfirman: "Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; dan pada akhir-akhir malam mereka memohon ampunan." Dan Allah Azza wa Jalla berfirman: "Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari dan waktu kamu berada di subuh hari." Dan Allah Ta'ala berfirman: "Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sedangkan mereka menghendaki keridaan-Nya." Maka semua ini menjelaskan kepadamu bahwa jalan menuju Allah Ta'ala adalah dengan menjaga waktu-waktu dan memakmurkannya dengan wirid-wirid secara terus-menerus (dawaam).
ولذلك قال ﷺ أحب عباد الله إلى الله الذين يراعون الشمس والقمر والأظلة لذكر الله تعالى وقد قال تعالى ﴿الشمس والقمر بحسبان﴾ وقال تعالى ﴿ألم تر إلى ربك كيف مد الظل ولو شاء لجعله ساكناً ثم جعلنا الشمس عليه دليلاً ثم قبضناه إلينا قبضاً يسيراً﴾ وقال تعالى ﴿والقمر قدرناه منازل﴾ وقال تعالى ﴿وهو الذي جعل لكم النجوم لتهتدوا بها في ظلمات البر والبحر﴾ فلا تظنن أن المقصود من سير الشمس والقمر بحسبان منظوم مرتب ومن خلق الظل والنور والنجوم أن يستعان بها على أمور الدنيا بل لتعرف بها مقادير الأوقات فتشتغل فيها بالطاعات والتجارة للدار الآخرة يدلك عليه قوله تعالى ﴿وهو الذي جعل الليل والنهار خلفة لمن أراد أن يذكر أو أراد شكوراً﴾ أي يخلف أحدهما الآخر ليتدارك في أحدهما ما فات في الآخر وبين أن ذلك للذكر والشكر لا غير وقال تعالى ﴿وجعلنا الليل والنهار آيتين فمحونا آية الليل وجعلنا آية النهار مبصرة لتبتغوا فضلاً من ربكم ولتعلموا عدد السنين والحساب﴾ وإنما الفضل المبتغى هو الثواب والمغفرة ونسأل الله حسن التوفيق لما يرضيه
Oleh karena itu Rasulullah ﷺ bersabda: "Hamba-hamba Allah yang paling dicintai oleh Allah adalah mereka yang memperhatikan matahari, bulan, dan bayang-bayang untuk zikir kepada Allah Ta'ala." Dan sungguh Allah Ta'ala berfirman: "Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan." Dan Allah Ta'ala berfirman: "Apakah engkau tidak memperhatikan (kekuasaan) Tuhanmu, bagaimana Dia memanjangkan bayang-bayang; dan jikalau Dia menghendaki niscaya Dia menjadikannya tenang, kemudian Kami jadikan matahari sebagai petunjuk atasnya, kemudian Kami menarik bayang-bayang itu kepada Kami dengan tarikan yang perlahan-lahan." Dan Allah Ta'ala berfirman: "Dan telah Kami tetapkan bagi bulan tempat-tempat peredaran." Dan Allah Ta'ala berfirman: "Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut." Maka jangan sekali-kali engkau mengira bahwa maksud dari peredaran matahari dan bulan menurut perhitungan yang teratur rapi, serta penciptaan bayangan, cahaya, dan bintang-bintang adalah sekadar untuk dijadikan sarana pembantu dalam urusan-urusan dunia; melainkan agar dengannya diketahui kadar-kadar waktu sehingga engkau menyibukkan diri di dalamnya dengan ketaatan-ketaatan dan perniagaan untuk negeri akhirat. Hal ini ditunjukkan oleh firman-Nya Ta'ala: "Dan Dialah yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau yang ingin bersyukur," yaitu salah satunya menggantikan yang lain agar seseorang dapat menyusul pada salah satunya apa yang terluput di waktu yang lain, dan Dia menjelaskan bahwa hal itu adalah untuk zikir dan syukur, tidak untuk yang lain. Dan Allah Ta'ala berfirman: "Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari karunia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan." Dan sesungguhnya karunia yang dicari itu adalah pahala dan ampunan. Kami memohon kepada Allah sebaik-baik taufik menuju apa yang diridai-Nya.
بيان أعداد الأوراد وترتيبها
Penjelasan Mengenai Jumlah Wirid dan Pembagian Urutannya.
اعلم أن أوراد النهار سبعة فما بين طلوع الصبح إلى طلوع قرص الشمس ورد وما بين طلوع الشمس إلى الزوال وردان وما بين الزوال إلى وقت العصر وردان وما بين العصر إلى المغرب وردان والليل ينقسم إلى أربعة أوراد وردان من المغرب إلى وقت نوم الناس ووردان من النصف الأخير من الليل إلى طلوع الفجر فلنذكر فضيلة كل ورد ووظيفته وما يتعلق به
Ketahuilah bahwa wirid-wirid di siang hari ada tujuh: antara terbitnya fajar hingga terbitnya lingkaran matahari adalah satu wirid; antara terbitnya matahari hingga waktu tergelincirnya matahari (zawal) adalah dua wirid; antara waktu zawal hingga waktu asar adalah dua wirid; dan antara waktu asar hingga magrib adalah dua wirid. Sedangkan malam hari terbagi menjadi empat wirid: dua wirid dari magrib hingga waktu tidurnya manusia; dan dua wirid dari paruh terakhir malam hingga terbitnya fajar. Maka marilah kita sebutkan keutamaan setiap wirid, tugas amalan di dalamnya, dan hal-hal yang berkaitan dengannya.
فالورد الأول ما بين طلوع الصبح إلى طلوع الشمس وهو وقت شريف ويدل على شرفه وفضله إقسام الله تعالى به إذ قال ﴿والصبح إذا تنفس﴾ وقدحه به إذ قال ﴿فالق الإصباح﴾ وقال تعالى ﴿قل أعوذ برب الفلق﴾ وإظهاره القدرة بقبض الظل فيه إذ قال تعالى ﴿ثم قبضناه إلينا قبضاً يسيراً﴾ وهو وقت قبض ظل الليل ببسط نور الشمس وإرشاده الناس إلى التسبيح فيه بقوله تعالى ﴿فسبحان الله حين تمسون وحين تصبحون﴾ وبقوله تعالى فسبح بحمد ربك قبل طلوع الشمس وقبل غروبها وقوله ﷿ ﴿ومن آناء الليل فسبح وأطراف النهار لعلك ترضى﴾ وقوله تعالى ﴿واذكر اسم ربك بكرة وأصيلاً﴾
Wird yang pertama adalah antara terbit fajar (subuh) hingga terbit matahari. Ini adalah waktu yang sangat mulia. Kemuliaan dan keutamaannya ditunjukkan oleh sumpah Allah Ta'ala dengannya melalui firman-Nya: "Demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing" (QS. At-Takwir: 18), dan sanjungan-Nya dengannya melalui firman-Nya: "Dia menyibak kegelapan pagi" (QS. Al-An'am: 96), serta firman Allah Ta'ala: "Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh (falaq)" (QS. Al-Falaq: 1). Begitu pula penampakan kekuasaan-Nya dengan menarik bayang-bayang padanya melalui firman-Nya: "Kemudian Kami menarik bayang-bayang itu kepada Kami dengan tarikan yang perlahan-lahan" (QS. Al-Furqan: 46), yaitu waktu ditariknya bayang-bayang malam dengan dibentangkannya cahaya matahari; serta bimbingan-Nya kepada manusia untuk bertasbih padanya melalui firman-Nya Ta'ala: "Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari dan waktu kamu berada di subuh hari" (QS. Ar-Rum: 17), dan firman-Nya Ta'ala: "Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya" (QS. Taha: 130), serta firman-Nya Azza wa Jalla: "Dan bertasbihlah kamu di malam hari dan di waktu-waktu siang, supaya kamu merasa senang" (QS. Taha: 130), dan firman-Nya Ta'ala: "Dan sebutlah nama Tuhanmu pada waktu pagi dan petang" (QS. Al-Insan: 25).
فأما ترتيبه فليأخذ من وقت انتباهه من النوم فإذا انتبه فينبغي أن يبتدىء بذكر الله تعالى فيقول الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وإليه النشور إلى آخر الأدعية والآيات التي ذكرناها في دعاء الاستيقاظ من كتاب الدعوات
Adapun urutan amalnya, hendaknya dimulai sejak ia terbangun dari tidur. Apabila ia terbangun, sepatutnya ia memulai dengan berzikir kepada Allah Ta'ala dengan mengucapkan: "Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan hanya kepada-Nya tempat kembali" (Alhamdu lillāhillażī aḥyānā ba'da mā amātanā wa ilaihin-nusyūr), hingga akhir doa-doa dan ayat-ayat yang telah kami sebutkan dalam bagian doa bangun tidur pada Kitab Doa-doa (Kitab ad-Da'awat).
وليلبس ثوبه وهو في الدعاء وينوي به ستر عورته امتثالاً لأمر الله تعالى واستعانة به على عبادته من غير قصد رياء ولا رعونة ثم يتوجه إلى بيت الماء إن كان به حاجة إلى بيت الماء ويدخل أولاً رجله اليسرى ويدعو بالأدعية التي ذكرناها فيه في كتاب الطهارة عند الدخول والخروج ثم يستاك على السنة كما سبق ويتوضأ مراعياً لجميع السنن والأدعية التي ذكرناها في الطهارة فإنا إنما قدمنا آحاد العبادات لكي نذكر في هذا الكتاب وجه التركيب والترتيب فقط فإذا فرغ من الوضوء صلى ركعتي الفجر أعني السنة في منزله كذلك كان يفعل رسول الله ﷺ ويقرأ بعد الركعتين سواء أداهما في البيت أو المسجد الدعاء الذي رواه ابن عباس ﵄ ويقول اللهم إني أسألك رحمة من عندك تهدي بها قلبي إلا آخر الدعاء ثم يخرج من البيت متوجهاً إلى المسجد ولا ينسى دعاء الخروج إلى المسجد لا يسعى إلى الصلاة سعياً بل يمشي وعليه السكينة والوقار كما ورد به الخبر ولا يشبك بين أصابعه ويدخل المسجد ويقدم رجله اليمنى ويدعو بالدعاء المأثور لدخول المسجد ثم يطلب من المسجد الصف الأول إن وجد متسعاً ولا يتخطى رقاب الناس ولا يزاحم كما سبق ذكره في كتاب الجمعة ثم يصلي ركعتي الفجر إن لم يكن صلاهما في البيت ويشتغل بالدعاء المذكور بعدهما وإن كان قد صلى ركعتي الفجر صلى ركعتي التحية وجلس منتظراً للجماعة والأحب التغليس بالجماعة فقد كان ﷺ يغلس بالصبح ولا ينبغي أن يدع الجماعة في الصلاة عامة وفي الصبح والعشاء خاصة فلهما زيادة فضل
Hendaknya ia mengenakan pakaiannya seraya berdoa, dengan niat menutupi auratnya demi mematuhi perintah Allah Ta'ala dan memohon pertolongan-Nya untuk beribadah kepada-Nya, tanpa ada maksud riya' (pamer) maupun kesombongan. Kemudian ia menuju ke kamar mandi jika memang ada hajat. Ia melangkahkan kaki kirinya terlebih dahulu dan membaca doa-doa yang telah kami sebutkan dalam Kitab Bersuci (Kitab at-Thaharah) ketika masuk dan keluar. Lalu ia bersiwak sesuai sunnah sebagaimana dijelaskan sebelumnya, kemudian berwudu dengan memelihara seluruh sunnah dan doa-doa yang telah kami sebutkan dalam Kitab Bersuci. Sebab, kami mendahulukan rincian ibadah-ibadah tersebut agar dalam kitab ini kami tinggal menjelaskan tata cara penggabungan dan urutannya saja. Setelah selesai berwudu, ia melaksanakan shalat dua rakaat Fajar—yaitu shalat sunnah Fajar—di rumahnya, sebagaimana yang biasa dilakukan oleh Rasulullah ﷺ. Setelah dua rakaat tersebut, baik ia melaksanakannya di rumah maupun di masjid, ia membaca doa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma: "Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu rahmat dari sisi-Mu yang dengannya Engkau memberi petunjuk kepada hatiku…" hingga akhir doa. Kemudian ia keluar dari rumah menuju masjid dan tidak melupakan doa keluar menuju masjid. Ia tidak boleh bergegas lari menuju shalat, melainkan berjalan dengan tenang dan penuh khidmat (sakīnah wa waqār) sebagaimana tercantum dalam riwayat hadis, serta tidak menyilangkan jari-jemarinya. Ia masuk ke masjid dengan mendahulukan kaki kanannya dan membaca doa yang ma'tsur untuk masuk masjid. Selanjutnya ia mencari shaf pertama di masjid jika mendapati kelapangan, tidak melangkahi pundak-pundak jamaah, dan tidak berdesak-desakan sebagaimana telah dijelaskan dalam Kitab Shalat Jumat. Kemudian ia shalat dua rakaat Fajar jika belum melaksanakannya di rumah, lalu disibukkan dengan doa yang disebutkan setelahnya. Namun jika ia sudah shalat dua rakaat Fajar (di rumah), ia melaksanakan shalat dua rakaat Tahiyyatul Masjid, lalu duduk menunggu shalat berjamaah. Yang lebih disukai adalah menyegerakan shalat Subuh di awal waktu (taghlīs), sebab Rasulullah ﷺ biasa melaksanakan shalat Subuh di awal waktu saat hari masih gelap. Tidak sepatutnya ia meninggalkan shalat berjamaah secara umum, dan khususnya pada shalat Subuh dan Isya, karena keduanya memiliki keutamaan yang lebih.
فقد روى أنس بن مالك ﵁ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ أنه قال في صلاة الصبح من توضأ ثم توجه إلى المسجد ليصلي فيه الصلاة كان له بكل خطوة حسنة ومحي عنه سيئة والحسنة بعشر أمثالها فإذا صلى ثم انصراف عند طلوع الشمس كتب له بكل شعرة في جسده حسنة وانقلب بحجة مبرورة فإن جلس حتى يركع الضحى كتب له بكل ركعة ألفا ألف حسنة ومن صلى العتمة فله مثل ذلك وانقلب بعمرة مبرورة وكان من عادة السلف دخول المسجد قبل طلوع الفجر
Sungguh, Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu meriwayatkan dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda tentang shalat Subuh: "Barangsiapa berwudu kemudian berangkat ke masjid untuk melaksanakan shalat di dalamnya, maka baginya pada setiap langkah dicatat satu kebaikan dan dihapuskan satu keburukan, sedang satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipatnya. Apabila ia telah shalat kemudian beranjak ketika terbit matahari, dicatat baginya pada setiap helai rambut di tubuhnya satu kebaikan dan ia kembali membawa pahala haji yang mabrur. Jika ia duduk (di masjid) hingga shalat Dhuha, dicatat baginya pada setiap rakaat dua juta kebaikan. Dan barangsiapa shalat 'Atmah (Isya), maka baginya pahala yang serupa dan ia kembali membawa pahala umrah yang mabrur." Adalah termasuk kebiasaan para ulama Salaf memasuki masjid sebelum terbitnya fajar.
قال رجل من التابعين دخلت المسجد قبل طلوع الفجر فلقيت أبا هريرة قد سبقني فقال لي يا ابن أخي لأي شيء خرجت من منزلك في هذه الساعة فقلت لصلاة الغداة فقال أبشر فإنا كنا نعد خروجنا وقعودنا في المسجد في هذه الساعة بمنزلة غزوة في سبيل الله تعالى أو قال مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وعن علي ﵁ أن النبي ﷺ طرقه وفاطمة ﵄ وهما نائمان فقال ألا تصليان قال علي فقلت يا رسول الله إنما أنفسنا بيد الله تعالى فإذا شاء أن يبعثها بعثها فانصرف ﷺ فسمعته وهو منصرف يضرب فخذه ويقول وكان الإنسان أكثر شيء جدلاً ثم ينبغي أن يشتغل بعد ركعتي الفجر ودعائه بالاستغفار والتسبيح إلى أن تقام الصلاة فيقول أستغفر الله الذي لا إله إلا هو الحي القيوم وأتوب إليه سبعين مرة
Seorang laki-laki dari kalangan Tabi'in bercerita: "Aku masuk ke masjid sebelum terbit fajar, lalu aku bertemu Abu Hurairah yang telah mendahuluiku. Beliau berkata kepadaku: 'Wahai putra saudaraku, untuk apa engkau keluar dari rumahmu pada jam seperti ini?' Aku menjawab: 'Untuk shalat Subuh.' Maka beliau berkata: 'Bergembiralah, sebab dahulu kami menganggap keluarnya kami dan duduknya kami di masjid pada jam seperti ini setara dengan perang di jalan Allah Ta'ala—atau beliau berkata: bersama Rasulullah ﷺ'." Diriwayatkan dari Ali radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi ﷺ mendatangi beliau dan Fathimah radhiyallahu 'anha di malam hari ketika keduanya sedang tidur, lalu beliau bersabda: "Tidakkah kalian berdua bangun untuk shalat?" Ali berkata: Aku menjawab: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya jiwa kami berada di tangan Allah. Jika Dia menghendaki untuk membangunkannya, niscaya Dia membangunkannya." Maka Rasulullah ﷺ berpaling seraya menepuk pahanya dan bersabda: "Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah" (QS. Al-Kahf: 54). Selanjutnya, sepatutnya seseorang disibukkan setelah dua rakaat Fajar dan doanya dengan beristigfar dan bertasbih sampai ikamah shalat dikumandangkan, yaitu dengan mengucapkan: "Aku memohon ampun kepada Allah yang tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahahidup lagi Maha Berdiri Sendiri, dan aku bertobat kepada-Nya" (Astaghfirullāhallażī lā ilāha illā huwal-ḥayyul-qayyūmu wa atūbu ilaih) sebanyak tujuh puluh kali.
وسبحان اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ والله أكبر مائة مرة ثم يصلي الفريضة مراعياً جميع ما ذكرناه من الآداب الباطنة والظاهرة في الصلاة والقدوة فإذا فرغ منها قعد في المسجد إلى طلوع الشمس في ذكر الله تعالى كما سنرتبه فقد قال ﷺ لأن أقعد في مجلسي أذكر الله تعالى فيه من صلاة الغداة إلى طلوع الشمس أحب إلي من أن أعتق أربع رقاب وروي أنه ﷺ كان إذا صلى الغداة قعد في مصلاه حتى تطلع الشمس وفي بعضها ويصلي ركعتين أي بعد الطلوع وقد ورد في فضل ذلك ما لا يحصى وروى الحسن أن رسول الله ﷺ كان فيما يذكره من رحمة ربه يقول إنه قال يا ابن آدم اذكرني بعد صلاة الفجر ساعة وبعد صلاة العصر ساعة أكفك ما بينهما وإذا ظهر فضل ذلك فليقعد ولا يتكلم إلى طلوع الشمس بل ينبغي أن تكون وظيفته إلى الطلوع أربعة أنواع أدعية وأذكار ويكررها في سبحة وقراءة قرآن وتفكر
Dan mengucapkan: "Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar" (Subḥānallāhi wal-ḥamdu lillāhi wa lā ilāha illallāhu wallāhu akbar) sebanyak seratus kali. Kemudian ia melaksanakan shalat fardu dengan memelihara seluruh adab batin dan lahir dalam shalat serta bermakmum yang telah kami sebutkan. Apabila telah selesai shalat, ia tetap duduk di masjid sampai terbit matahari seraya berzikir kepada Allah Ta'ala sebagaimana yang akan kami susun urutannya. Sungguh, Nabi ﷺ telah bersabda: "Sungguh, aku duduk di tempat dudukku berzikir kepada Allah Ta'ala di dalamnya sejak shalat Subuh hingga terbit matahari lebih aku cintai daripada memerdekakan empat orang budak." Diriwayatkan pula bahwa Nabi ﷺ apabila telah shalat Subuh, beliau duduk di tempat shalatnya sampai matahari terbit, dan dalam sebagian riwayat ditambahkan: "Lalu beliau shalat dua rakaat"—yaitu setelah terbitnya matahari—dan telah diriwayatkan mengenai keutamaan hal tersebut pahala yang tak terhitung banyaknya. Al-Hasan meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ dalam apa yang beliau sebutkan tentang rahmat Tuhannya bersabda, bahwa Allah berfirman: "Wahai anak Adam, sebutlah (ingatlah) Aku setelah shalat Subuh selama satu jam dan setelah shalat Asar selama satu jam, niscaya Aku mencukupimu di antara keduanya." Jika keutamaan hal tersebut telah jelas, hendaknya ia duduk dan tidak berbicara hingga terbit matahari. Bahkan sepatutnya amalan/rutinitasnya (wadhīfah) hingga terbit matahari terdiri dari empat jenis: doa-doa, zikir-zikir yang ia ulang-ulang dengan tasbih, pembacaan Al-Qur'an, dan tafakur (perenungan batin).
أما الأدعية فكلما يفرغ من صلاته فليبدأ وليقل اللهم صلي على محمد وعلى آل محمد وسلم اللهم أنت السلام ومنك السلام وإليك يعود السلام حينا ربنا بالسلام وأدخلنا دار السلام تباركت يا ذا الجلال والإكرام ثم يفتتح الدعاء بما كان يفتتح به رَسُولَ اللَّهِ ﷺ وَهُوَ قوله سبحان ربي العلي الأعلى الوهاب لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ له له الملك وله الحمد يحيي ويميت وهو حي لا يموت بيده الخير وهو على كل شيء قدير لا إله إلا الله أهل النعمة والفضل والثناء الحسن لا إله إلا الله ولا نعبد إلا إياه مخلصين له الدين ولو كره الكافرون ثم يبدأ بالأدعية التي أوردناها في الباب الثالث والرابع من كتاب الأدعية فيدعو بجميعها إن قدر عليه أو يحفظ من جملتها ما يراه أوفق بحاله وأرق لقلبه وأخف على لسانه
Adapun doa-doa, maka setiap kali selesai dari shalatnya, hendaknya ia memulai dengan mengucapkan: "Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada Muhammad dan keluarga Muhammad. Ya Allah, Engkaulah Keselamatan (As-Salam), dari-Mu keselamatan, dan kepada-Mu kembali keselamatan. Hidupkanlah kami, wahai Tuhan kami, dengan keselamatan, dan masukkanlah kami ke dalam Negeri Keselamatan (Surga). Maha Suci Engkau, wahai Dzat Yang Maha Memiliki Keagungan dan Kemuliaan." Kemudian ia membuka doa sebagaimana Rasulullah ﷺ membukanya, yaitu ucapan beliau: "Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi, Maha Mengatasi, lagi Maha Pemberi. Tidak ada tuhan selain Allah Semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan milik-Nya segala pujian. Dia yang menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Hidup tidak akan mati. Di tangan-Nya segala kebaikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada tuhan selain Allah, Dzat pemilik nikmat, karunia, dan sanjungan yang baik. Tidak ada tuhan selain Allah, dan kami tidak menyembah kecuali hanya kepada-Nya dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, walaupun orang-orang kafir tidak menyukainya." Kemudian ia mulai membaca doa-doa yang telah kami cantumkan dalam bab ketiga dan keempat dari Kitab Doa-doa. Ia berdoa dengan seluruhnya jika mampu, atau menghafal dari antaranya apa yang ia pandang paling sesuai dengan keadaannya, paling melembutkan hatinya, dan paling ringan di lidahnya.
وأما الأذكار المكررة فهي كلمات ورد في تكرارها فضائل لم نطول بإيرادها وأقل ما ينبغي أن يكرر كل واحد منها ثلاثاً أو سبعاً وأكثره مائة أو سبعون وأوسطه عشر فليكررها بقدر فراغه وسعة وقته وفضل الأكثر أكثروالأوسط الأقصد أن يكررها عشر مرات فهو أجدر بأن يدوم عليه خير الأمور أدومها وإن قل وكل وظيفة لا يمكن المواظبة على كثيرها فقليلها مع المداومة أفضل وأشد تأثيراً في القلب مع كثيرها مع الفترة ومثال القليل الدائم كقطرات ماء تتقاطر على الأرض على التوالي فتحدث فيها حفيرة ولو وقع ذلك على الحجر ومثال الكثير المتفرق ماء يصب دفعة أو دفعات متفرقة متباعدة الأوقات فلا يبين لها أثر ظاهر وهذه الكلمات عشرة الأولى قوله لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ له له الملك وله الحمد يحيي ويميت وهو حي لا يموت بيده الخير وهو على كل شيء قدير
Adapun zikir-zikir yang diulang-ulang, yaitu kalimat-kalimat yang memiliki keutamaan dalam pengulangannya yang tidak kami perpanjang dengan mengutipnya. Minimal yang sepatutnya diulang dari masing-masing kalimat adalah tiga atau tujuh kali, maksimalnya seratus atau tujuh puluh kali, dan pertengahannya sepuluh kali. Maka hendaknya ia mengulangnya sesuai kadar kelapangan dan kecukupan waktunya. Keutamaan yang lebih banyak tentu lebih besar, namun yang sedang dan paling moderat adalah mengulangnya sebanyak sepuluh kali; hal itu lebih layak untuk dijaga kelestariannya (istiqamah), sebab sebaik-baik perkara adalah yang paling langgeng meskipun sedikit. Setiap amalan rutinitas yang tidak memungkinkan untuk dirutinkan dalam jumlah banyak, maka jumlah yang sedikit namun konsisten (kontinu) adalah lebih utama dan lebih kuat pengaruhnya bagi hati dibanding jumlah banyak tetapi diselingi kebosanan/kerenggangan (fatrah). Perumpamaan yang sedikit tetapi kontinu bagaikan tetesan-tetesan air yang menetes ke tanah secara terus-menerus sehingga membuat lubang padanya, meskipun tetesan itu jatuh di atas batu. Sedangkan perumpamaan yang banyak tetapi terputus-putus bagaikan air yang dituangkan sekaligus atau beberapa kali dalam tenggat waktu yang berjauhan, sehingga tidak menampakkan bekas yang nyata. Kalimat-kalimat ini ada sepuluh. Yang pertama adalah ucapannya: "Lā ilāha illallāhu waḥdahū lā syarīka lah, lahul-mulku wa lahul-ḥamdu yuḥyī wa yumītu wa huwa ḥayyun lā yamūtu biyadihil-khairu wa huwa 'alā kulli syai'in qadīr" (Tidak ada tuhan selain Allah Semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan milik-Nya segala pujian. Dia yang menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Hidup tidak mati. Di tangan-Nya segala kebaikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu).
الثانية قوله سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا الله والله أكبر ولا حول ولا قوة إلا بالله
Yang kedua adalah ucapannya: "Subḥānallāhi wal-ḥamdu lillāhi wa lā ilāha illallāhu wallāhu akbaru wa lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh" (Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada tuhan selain Allah, Allah Maha Besar, dan tidak ada daya maupun kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).
العلي العظيم الثالثة قوله سبوح قدوس رب الملائكة والروح الرابعة قوله سبحان الله العظيم وبحمده الخامسة قوله أستغفر الله العظيم الذي لا إله إلا هو الحي القيوم وأسأله التوبة السادسة قوله اللهم لا مانع لما أعطيت ولا معطي لما منعت ولا ينفع ذا الجد منك الجد السابعة قوله لا إله إلا الله الملك الحق المبين الثامنة قوله بسم الله الذي لا يضر مع اسمه شيء في الأرض ولا في السماء وهو السميع العليم التاسعة اللهم صل على محمد عبدك ونبيك ورسولك النبي الأمي وعلى آله وصحبه وسلم العاشرة قوله أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ رب أعوذ بك من همزات الشياطين وأعوذ بك رب أن يحضرون فهذه العشر كلمات إذا كرر كل واحدة عشر مرات حصل له مائة مرة فهو أفضل من أن يكرر ذكراً واحداً مائة مرة لأن لكل واحدة من هؤلاء الكلمات فضلاً على حياله وللقلب بكل واحد نوع تنبه وتلذذ وللنفس في الانتقال من كلمة إلى كلمة نوع استراحة وأمن من الملل
"Al-'Aliyyil-'Azhīm" (Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung). Yang ketiga adalah ucapannya: "Subbūḥun Quddūsun Rabbul-malā'ikati war-Rūḥ" (Maha Suci, Maha Kudus, Tuhan para malaikat dan Ruh/Jibril). Yang keempat adalah ucapannya: "Subḥānallāhil-'Azhīmi wa biḥamdih" (Maha Suci Allah Yang Maha Agung dan dengan memuji-Nya). Yang kelima adalah ucapannya: "Astaghfirullāhal-'Azhīmallażī lā ilāha illā huwal-Ḥayyul-Qayyūmu wa as'aluhut-taubah" (Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung, yang tidak ada tuhan selain Dia Yang Mahahidup lagi Maha Berdiri Sendiri, dan aku memohon tobat kepada-Nya). Yang keenam adalah ucapannya: "Allāhumma lā māni'a limā a'ṭaita wa lā mu'ṭiya limā mana'ta wa lā yanfa'u żal-jaddi minkal-jadd" (Ya Allah, tidak ada yang dapat menghalangi apa yang Engkau berikan, dan tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau halangi, serta tidak berguna kekayaan/kemuliaan bagi pemiliknya untuk menghindar dari kemurkaan-Mu). Yang ketujuh adalah ucapannya: "Lā ilāha illallāhul-Malikul-Ḥaqqul-Mubīn" (Tidak ada tuhan selain Allah, Raja Yang Maha Benar lagi Maha Nyata). Yang kedelapan adalah ucapannya: "Bismillāhillażī lā yaḍurru ma'asmihī syai'un fil-arḍi wa lā fis-samā'i wa huwas-Samī'ul-'Alīm" (Dengan nama Allah yang bersama nama-Nya tidak ada sesuatupun yang dapat mendatangkan bahaya di bumi maupun di langit, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui). Yang kesembilan: "Allāhumma ṣalli 'alā Muḥammadin 'abdika wa nabiyyika wa rasūlikan-Nabiyyil-Ummiyyi wa 'alā ālihī wa ṣaḥbihī wa sallim" (Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada Muhammad, hamba-Mu, nabi-Mu, dan rasul-Mu, Nabi yang ummi, serta kepada keluarga dan para sahabatnya). Yang kesepuluh adalah ucapannya: "A'ūżu billāhis-Samī'il-'Alīmi minasy-syaitānir-rajīm, Rabbi a'ūżu bika min hamazātisy-syayāṭīni wa a'ūżu bika Rabbi ay yaḥḍurūn" (Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari godaan setan yang terkutuk. Ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan, dan aku berlindung kepada-Mu wahai Tuhanku agar mereka tidak mendekatiku). Maka sepuluh kalimat ini, apabila ia mengulang masing-masing sebanyak sepuluh kali, ia akan memperoleh seratus kali bacaan. Hal itu lebih utama daripada mengulang satu zikir saja sebanyak seratus kali, karena setiap kalimat dari sepuluh kalimat ini memiliki keutamaan tersendiri. Hati pun memperoleh jenis kesadaran dan kelezatan dari setiap kalimat tersebut, serta jiwa mendapatkan jenis peristirahatan dan keamanan dari kejenuhan saat berpindah dari satu kalimat ke kalimat lainnya.
فأما القراءة فيستحب له قراءة جملة من الآيات
Adapun pembacaan Al-Qur'an, disunnahkan baginya membaca sejumlah ayat.
وردت الأخبار بفضلها وهو أن يقرأ سورة الحمد وآية الكرسي وخاتمة البقرة من قوله آمن الرسول وشهد الله وقل اللهم مالك الملك الآيتين وقوله تعالى ﴿لقد جاءكم رسول من أنفسكم﴾ إلى آخرها وقوله تعالى ﴿لقد صدق الله رسوله الرؤيا بالحق﴾ إلى آخرها وقوله سبحانه الحمد لله الذي لم يتخذ ولداً الآية وخمس آيات من أول الحديد وثلاثاً من آخر سورة الحشر وإن قرأ المسبعات العشر التي أهداها الخضر ﵇ إلى إبراهيم التيمي ﵀ ووصاه أن يقولها غدوة وعشية فقد استكمل الفضل وجمع له ذلك فضيلة جملة الأدعية المذكورة
Telah ada riwayat-riwayat tentang keutamaannya, yaitu ia membaca Surah Al-Fatihah (Surat al-Hamd), Ayat Kursi, penutup Surah Al-Baqarah mulai dari firman-Nya: "Āmanar-rasūlu…", ayat "Syahidallāhu…", dan "Qulillāhumma mālikal-mulk…" (dua ayat), firman Allah Ta'ala: "Laqad jā'akum rasūlum min anfusikum…" hingga akhir surah, firman Allah Ta'ala: "Laqad ṣadaqallāhu rasūlahur-ru'yā bil-ḥaqq…" hingga akhir surah, firman-Nya Subhanah: "Al-ḥamdu lillāhillażī lam yattakhiż waladan…" (ayat terakhir Surah Al-Isra'), lima ayat dari awal Surah Al-Hadid, dan tiga ayat dari akhir Surah Al-Hasyr. Jika ia membaca Al-Musabbi'āt al-'Asyr (sepuluh bacaan yang dibaca tujuh kali) yang dihadiahkan oleh Nabi Khadhir 'alaihis-salām kepada Ibrahim at-Taimi rahmatullāhi 'alaih dan beliau wasiatkan agar dibaca pada pagi dan petang hari, maka ia telah menyempurnakan keutamaan dan terhimpun baginya keutamaan seluruh doa yang telah disebutkan.
فقد روي عن كرز بن وبرة ﵀ وكان من الأبدال قال أتاني أخ لي من أهل الشام فأهدى لي هدية وقال يا كرز اقبل مني هذه الهدية فإنها نعمت الهدية فقلت يا أخي ومن أهدى لك هذه الهدية قال أعطانيها إبراهيم التيمي قلت أفلم تسأل إبراهيم من أعطاه إياها قال كنت جالساً في فناء الكعبة وأنا في التهليل والتسبيح والتحميد والتمجيد فجاءني رجل فسلم علي وجلس عن يميني فلم أر في زماني أحسن منه وجهاً ولا أحسن منه ثياباً ولا أشد بياضاً ولا أطيب ريحاً منه فقلت يا عبد الله من أنت ومن أين جئت فقال أنا الخضر فقلت في أي شيء جئتني فقال جئتك للسلام عليك وحباً لك في الله وعندي هدية أريد أن أهديها لك فقلت ما هي قال أن تقول
Diriwayatkan dari Kurz bin Wabarah rahmatullāhi 'alaih—dan ia termasuk dari golongan Wali Abdal—ia berkata: "Seorang saudaraku dari penduduk Syam mendatangi aku dan memberikan sebuah hadiah kepadaku. Ia berkata: 'Wahai Kurz, terimalah hadiah ini dariku, karena sungguh ini adalah sebaik-baik hadiah.' Aku bertanya: 'Wahai saudaraku, siapakah yang memberikan hadiah ini kepadamu?' Ia menjawab: 'Ibrahim at-Taimi yang memberikannya kepadaku.' Aku bertanya: 'Tidakkah engkau bertanya kepada Ibrahim siapa yang memberikannya kepadanya?' Ia menceritakan (kata Ibrahim): 'Dahulu aku sedang duduk di halaman Ka'bah seraya bertahlil, bertasbih, bertahmid, dan bertamjid. Tiba-tiba datanglah seorang laki-laki mengucapkan salam kepadaku dan duduk di sebelah kananku. Aku tidak pernah melihat di zamanku seseorang yang lebih tampan wajahnya, lebih bagus pakaiannya, lebih putih (bersih), dan lebih harum aromanya daripada dia. Aku bertanya: "Wahai hamba Allah, siapakah engkau dan dari manakah engkau datang?" Ia menjawab: "Aku adalah Khadhir." Aku bertanya: "Untuk urusan apa engkau mendatangiku?" Ia menjawab: "Aku datang kepadamu untuk mengucapkan salam kepadamu dan karena mencintaimu karena Allah. Aku memiliki sebuah hadiah yang ingin kuhadiahkan kepadamu." Aku bertanya: "Apakah itu?" Ia berkata: "Hendaknya engkau membaca…'
قبل طلوع الشمس وقبل انبساطها على الأرض وقبل الغروب سورة الحمد وقل أعوذ برب الناس وقل أعوذ برب الفلق وقل هو الله أحد وقل يا أيها الكافرون وآية الكرسي كل واحدة سبع مرات وتقول سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا الله والله أكبر سبعاً وتصلي على النبي ﷺ سبعاً وتستغفر لنفسك ولوالديك والمؤمنين وللمؤمنات سبعاً وتقول اللهم افعل بي وبهم عاجلاً وآجلاً في الدين والدنيا والآخرة ما أنت له أهل ولا تفعل بنا يا مولانا ما نحن له أهل إنك غفور حليم جواد كريم رءوف رحيم سبع مرات وانظر أن لا تدع ذلك غدوة وعشية فقلت أحب أن تخبرني من أعطاك هذه العطية العظيمة فقال أعطانيها محمد ﷺ فقلت أخبرني بثواب ذلك فقال إذا لقيت محمداً ﷺ فاسأله عن ثوابه فإنه يخبرك بذلك فذكر إبراهيم التيمي أنه رأى ذات يوم في منامه كأن الملائكة جاءته فاحتملته حتى أدخلوه الجنة فرأى ما فيها ووصف أموراً عظيمة مما رآه في الجنة قال فسألت الملائكة فقلت لمن هذا فقالوا للذي يعمل مثل عملك وذكر أنه أكل من ثمرها وسقوه من شرابها قال قال فأتاني النبي ﷺ ومعه سبعون نبياً وسبعون صفاً من الملائكة كل صف مثل ما بين المشرق والمغرب فسلم علي وأخذ بيدي فقلت يا رسول الله الخضر أخبرني أنه سمع منك هذا الحديث فقال صدق الخضر صدق الخضر وكل ما يحكيه فهو حق وهو عالم أهل الأرض وهو رئيس الأبدال وهو من جنود الله تعالى في الأرض فقلت يا رسول الله فمن فعل هذا أو عمله ولم ير مثل الذي رأيت في منامي هل يعطى شيئاً مما أعطيته فقال والذي بعثني بالحق نبياً إنه ليعطى العامل بهذا وإن لم يرني ولم ير الجنة إنه ليغفر له جميع الكبائر التي عملها ويرفع الله تعالى عنه غضبه ومقته ويأمر صاحب الشمال أن لا يكتب عليه خطيئة من السيئات إلى سنة والذي بعثني بالحق نبياً ما يعمل بهذا إلا من خلقه الله سعيداً ولا يتركه إلا من خلقه الله شقياً وكان إبراهيم التيمي يمكث أربعة أشهر لم يطعم ولم يشرب فلعله كان بعد هذه الرؤيا فهذه وظيفة القراءة فإن أضاف إليها شيئاً مما انتهى إليه ورده من القرآن أو اقتصر عليه فهو حسن فإن القرآن جامع لفضل الذكر والفكر والدعاء مهما كان بتدبر كما ذكرنا فضله وآدابه في باب التلاوة وأما الأفكار فليكن ذلك إحدى وظائفه وسيأتي تفصيل ما يتفكر فيه وكيفيته في كتاب التفكر من ربع المنجيات ولكن مجامعة ترجع إلى فنين أحدهما أن يتفكر فيما ينفعه من المعاملة بأن يحاسب نفسه فيما سبق من تقصيره ويرتب وظائفه في يومه الذي بين يديه ويدبر في دفع الصوارف والعوائق الشاغلة له عن الخير ويتذكر تقصيره وما يتطرق إليه الخلل من أعماله ليصلحه ويحضر في قلبه النيات الصالحة من أعماله في نفسه وفي معاملته للمسلمين والفن الثاني فيما ينفعه في علم المكاشفة وذلك بأن يتفكر مرة في نعم الله تعالى وتواتر آلاته الظاهرة والباطنة لتزيد معرفته بها ويكثر شكره عليها أو في عقوباته ونقماته لتزيد معرفته بقدرة الإله واستغنائه ويزيد خوفه منها ولكل واحد من هذه الأمور شعب كثيرة يتسع التفكر فيها على بعض الخلق دون البعض وإنما نستقضي ذلك في كتاب التفكر ومهما تيسر الفكر فهو أشرف العبادات إذ فيه معنى الذكر لله تعالى وزيادة أمرين أحدهما زيادة المعرفة إذ الفكر مفتاح المعرفة والكشف والثاني زيادة المحبة إذ لا يحب القلب إلا من اعتقد تعظيمه ولا تنكشف عظمة الله سبحانه وجلاله إلا بمعرفة صفاته ومعرفة قدرته وعجائب أفعاله فيحصل من الفكر المعرفة ومن المعرفة التعظيم ومن التعظيم المحبة والذكر أيضاً يورث الأنس وهو نوع من المحبة ولكن المحبة التي سببها المعرفة
'…sebelum terbit matahari dan sebelum ia membentang di bumi, serta sebelum terbenam matahari: Surah Al-Fatihah, Qul A'ūżu bi Rabbin-Nās, Qul A'ūżu bi Rabbil-Falaq, Qul Huwallāhu Aḥad, Qul Yā Ayyuhal-Kāfirūn, dan Ayat Kursi—masing-masing sebanyak tujuh kali; lalu engkau membaca: Subḥānallāhi wal-ḥamdu lillāhi wa lā ilāha illallāhu wallāhu akbar tujuh kali; bershalawat kepada Nabi ﷺ tujuh kali; memohon ampunan (istigfar) untuk dirimu, kedua orang tuamu, serta kaum mukminin dan mukminat tujuh kali; lalu membaca: Allāhummaf'al bī wa bihim 'ājilan wa ājilan fid-dīni wad-dun-yā wal-ākhirati mā anta lahū ahlun, wa lā taf'al binā yā maulānā mā naḥnu lahū ahlun, innaka ghafūrun ḥalīmun jawādun karīmun ra'ūfun raḥīm (Ya Allah, perakukanlah terhadapku dan mereka, secara menyegerakan maupun menangguhkan, dalam urusan agama, dunia, dan akhirat, apa yang pantas dengan keagungan-Mu; dan janganlah Engkau perakukan terhadap kami, wahai Pelindung kami, apa yang sepantasnya bagi keadaan kami; sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Maha Penyantun, Maha Pemurah, Maha Mulia, Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang) sebanyak tujuh kali. Dan perhatikanlah agar engkau tidak meninggalkannya di waktu pagi dan petang.' Maka aku (Ibrahim) berkata: 'Aku ingin engkau memberitahuku, siapa yang memberimu pemberian yang agung ini?' Beliau (Khadhir) menjawab: 'Muhammad ﷺ yang memberikannya kepadaku.' Aku berkata: 'Beritahukanlah kepadaku pahalanya.' Beliau menjawab: 'Jika engkau bertemu Muhammad ﷺ, tanyakanlah kepada beliau tentang pahalanya, niscaya beliau akan memberitahumu.' Maka Ibrahim at-Taimi menyebutkan bahwa pada suatu hari ia bermimpi seakan-akan para malaikat datang kepadanya lalu membawanya hingga memasukkannya ke dalam Surga. Ia melihat apa yang ada di dalamnya dan menggambarkan perkara-perkara agung yang dilihatnya di Surga. Ia berkata: Aku bertanya kepada para malaikat: 'Untuk siapakah ini?' Mereka menjawab: 'Untuk orang yang beramal seperti amalanmu.' Dan ia menyebutkan bahwa ia memakan buah-buahannya dan mereka memberinya minum dari minumannya. Ia melanjutkan: Maka Nabi ﷺ mendatangi aku bersama tujuh puluh nabi dan tujuh puluh shaf malaikat, yang setiap shafnya seperti jarak antara timur dan barat. Beliau mengucapkan salam kepadaku dan memegang tanganku. Aku berkata: 'Wahai Rasulullah, Khadhir memberitahuku bahwa ia mendengar hadis ini dari Anda.' Beliau bersabda: 'Khadhir benar, Khadhir benar! Setiap apa yang diceritakannya adalah hak (benar). Dia adalah orang alim penduduk bumi, pemimpin para Wali Abdal, dan termasuk dari prajurit-prajurit Allah Ta'ala di bumi.' Aku bertanya: 'Wahai Rasulullah, barangsiapa yang mengamalkan atau melakukan ini namun ia tidak melihat seperti apa yang aku lihat dalam mimpiku, apakah ia diberi sesuatu dari apa yang diberikan kepadaku?' Beliau bersabda: 'Demi Dzat yang mengutusku dengan kebenaran sebagai Nabi, sungguh ia benar-benar diberikan kepada orang yang mengamalkannya meskipun ia tidak melihatku dan tidak melihat Surga. Sungguh diampuni baginya seluruh dosa besar yang telah dilakukannya, Allah Ta'ala mengangkat murka dan kebencian-Nya darinya, serta memerintahkan Malaikat di sebelah kiri untuk tidak mencatat padanya satu keburukan pun dari dosa-dosanya hingga satu tahun. Demi Dzat yang mengutusku dengan kebenaran sebagai Nabi, tidak ada yang mengamalkan ini melainkan orang yang telah diciptakan Allah sebagai orang yang bahagia (sa'īd), dan tidak ada yang meninggalkannya melainkan orang yang telah diciptakan Allah sebagai orang yang celaka (syaqī).' Ibrahim at-Taimi pernah bertahan selama empat bulan tanpa makan dan minum, boleh jadi hal itu terjadi setelah mimpi ini. Inilah wadhīfah (tata cara/rutinitas) pembacaan Al-Qur'an. Jika seseorang menambahkan padanya sesuatu dari bagian Al-Qur'an yang menjadi wirid rutinnya atau mencukupkan padanya, maka itu adalah hal yang baik. Sebab Al-Qur'an menghimpun keutamaan zikir, pikir (renungan), dan doa selama dibaca dengan tadabbur (penghayatan), sebagaimana telah kami sebutkan keutamaan dan adab-adabnya dalam bab Pembacaan Al-Qur'an. Adapun al-afkār (pikiran/renungan batin), hendaknya itu menjadi salah satu wadhīfah-nya. Rincian hal-hal yang direnungkan dan tata caranya akan dijelaskan nanti dalam Kitab At-Tafakkur dari seperempat bagian Al-Munjiyaat (hal-hal yang menyelamatkan). Namun secara garis besar, perenungan itu kembali kepada dua disiplin: Pertama, merenungkan apa yang bermanfaat baginya dalam ilmu muamalah (pengamalan lahir-batin), yaitu dengan mengoreksi diri (muhasabah) atas kelalaian di masa lalu, mengatur wadhīfah-nya di hari yang sedang dihadapinya, dan merencanakan penolakan terhadap pemaling dan penghalang yang menyibakkannya dari kebaikan; serta mengingat kelalaiannya dan cacat yang menyusup ke dalam amal-amalnya agar ia dapat memperbaikinya, seraya menghadirkan niat-niat yang shalih dalam amal-amalnya untuk dirinya sendiri maupun dalam bermuamalah dengan sesama Muslim. Disiplin kedua, merenungkan apa yang bermanfaat baginya dalam ilmu mukasyafah (penyingkapan rahasia keilahian), yaitu dengan merenungkan sekali waktu nikmat-nikmat Allah Ta'ala dan berturut-turutnya instrumen karunia-Nya yang lahir maupun batin agar bertambah ma'rifat-nya terhadap nikmat tersebut dan makin banyak syukurnya atasnya; atau merenungkan siksaan dan hukuman-Nya agar bertambah ma'rifat-nya akan kekuasaan Ilahi dan ketidakbutuhan-Nya (al-istighnā'), serta bertambah pula rasa takutnya (khauf) dari-Nya. Setiap dari perkara-perkara ini memiliki cabang yang sangat banyak yang kapasitas penjelajahannya luas bagi sebagian makhluk dan terbatas bagi sebagian yang lain. Kami akan menuntaskannya secara rinci dalam Kitab At-Tafakkur. Manakala berpikir (tafakur) itu mudah dilakukan, ia merupakan ibadah yang paling mulia, karena di dalamnya terkandung makna zikir kepada Allah Ta'ala disertai tambahan dua hal: Pertama, bertambahnya ma'rifat (pengenalan spiritual), sebab pikir adalah kunci ma'rifat dan kasyaf (penyingkapan). Kedua, bertambahnya mahabbah (cinta Ilahi), sebab hati tidak akan mencintai kecuali kepada Dzat yang diyakini keagungan-Nya. Dan tidak akan tersingkap keagungan Allah Subhānahu serta keperkasaan-Nya melainkan dengan mengenali sifat-sifat-Nya, kekuasaan-Nya, serta keajaiban perbuatan-Nya. Maka dari tafakur diperoleh ma'rifat, dari ma'rifat diperoleh pengagungan (ta'zhīm), dan dari pengagungan diperoleh mahabbah. Zikir pun mewariskan rasa intim (uns), yang merupakan sejenis mahabbah; akan tetapi mahabbah yang bersumber dari ma'rifat…
أقوى وأثبت وأعظم ونسبة محبة العارف إلى أنس الذاكر من غير تمام الاستبصار كنسبة عشق من شاهد جمال شخص بالعين واطلع على حسن أخلاقه وأفعاله وفضائله وخصاله الحميدة بالتجربة إلى أنس من كرر على سمعه وصف شخص غائب عن عينه بالحسن في الخلق والخلق مطلقاً من غير تفصيل وجوه الحسن فيهما فليس محبته له كمحبة المشاهد وليس الخبر كالمعاينة فالعباد المواظبون على ذكر الله بالقلب واللسان الذين يصدقون بما جاءت به الرسل بالإيمان التقليدي ليس معهم من محاسن صفات الله تعالى إلا أمور جميلة اعتقدوها بتصديق عن وصفها لهم والعارفون هم الذين شاهدوا ذلك الجلال والجمال بعين البصيرة الباطنة التي هي أقوى من البصر الظاهر لأن أحداً لم يحط بكنه جلاله وجماله فإن ذلك غير مقدور لأحد من الخلق ولكن كل واحد شاهد بقدر ما رفع له من الحجاب ولا نهاية لجمال حضرة الربوبية ولا لحجبها وإنما عدد حجبها التي استحقت أن تسمى نوراً وكاد يظن الواصل إليها أنه قد تم وصوله إلى الأصل سبعون حجاباً
…adalah jauh lebih kuat, lebih kokoh, dan lebih agung. Nisbah (perbandingan) mahabbah seorang arif (al-'ārif) dibanding rasa intim (uns) seorang pemzikir (al-żākir) tanpa kesempurnaan mata hati (istibṣār) bagaikan perbandingan kasmaran orang yang menyaksikan keindahan paras seseorang secara langsung dengan matanya serta mengetahui kebaikan akhlak, perbuatan, keutamaan, dan sifat-sifat terpujinya melalui pengalaman nyata, dibanding rasa senang orang yang hanya mendengar pengulangan sifat-sifat seseorang yang gaib dari pandangannya tentang kebaikan rupa dan akhlak secara mutlak tanpa rincian sisi-sisi keindahannya. Maka cintanya tidaklah seperti cinta orang yang menyaksikan langsung, dan tidaklah kabar itu sama dengan menyaksikan sendiri (walaisal-khabaru kal-mu'āyanah). Hamba-hamba yang senantiasa melanggengkan zikir kepada Allah dengan hati dan lisan, yang membenarkan apa yang dibawa oleh para rasul dengan iman taqlid, tidaklah memiliki keindahan sifat-sifat Allah Ta'ala melainkan perkara-perkara indah yang mereka yakini dengan pembenaran atas perincian sifat-Nya. Sedangkan para arifin (orang-orang yang memiliki ma'rifat) adalah mereka yang menyaksikan keagungan dan keindahan tersebut dengan mata bashirah batin (mata hati), yang jauh lebih kuat daripada penglihatan lahiriah. Sebab, tidak seorang pun yang sanggup meliputi hakikat keagungan dan keindahan-Nya, karena hal itu di luar batas kemampuan makhluk mana pun; namun setiap orang menyaksikan sesuai kadar disingkapkannya tirai (hijab) baginya. Dan tidak ada batas akhir bagi keindahan Kehadiran Ketuhanan (Ḥaḍrat ar-Rubūbiyyah) dan tidak pula bagi hijab-hijab-Nya. Sungguh, jumlah hijab yang berhak dinamakan cahaya (nūr), yang sampai-sampai orang yang mencapainya mengira bahwa ia telah sampai pada Hakikat Asal, ada tujuh puluh hijab.
قال ﷺ إن لله سبعين حجاباً من نور لو كشفها لأحرقت سبحات وجهه كل ما أدرك بصره وتلك الحجب أيضاً مترتبة وتلك الأنوار متفاوتة في الرتب تفاوت الشمس والقمر والكواكب ويبدو في الأول أصغرها ثم ما يليه وعليه أول بعض الصوفية درجات ما كان يظهر لإبراهيم الخليل ﷺ في ترقيه وقال ﴿فلما جن عليه الليل﴾ أي أظلم عليه الأمر ﴿رأى كوكباً﴾ أي وصل إلى حجاب من حجب النور فعبر عنه بالكوكب وما أريد به هذه الأجسام المضيئة فإن آحاد العوام لا يخفى عليهم أن الربوبية لا تليق بالأجسام بل يدركون ذلك بأوائل نظرهم فما لا يضلل العوام لا يضلل الخليل ﵇ والحجب المسماة أنواراً ما أريد بها الضوء المحسوس بالبصر بل أريد بها ما أريد بقوله تعالى الله نور السموات والأرض مثل نوره كمشكاة فيها مصباح الآية ولنتجاوز هذه المعاني فإنها خارجة عن علم المعاملة ولا يوصل إلى حقائقها إلا الكشف التابع للفكر الصافي وقل من ينفتح له بابه والمتيسر على جماهير الخلائق الفكر فيما يفيد في علم المعاملة وذلك أيضاً مما تغزر فائدته ويعظم نفعه فهذه الوظائف الأربعة أعني الدعاء والذكر والقراءة والفكر ينبغي أن تكون وظيفة المريد بعد صلاة الصبح بل في كل ورد بعد الفراغ من وظيفة الصلاة فليس بعد الصلاة وظيفة سوى هذه الأربع ويقوى على ذلك بأن يأخذ سلاحه ومجنته والصوم هو الجنة التي تضيق مجاري الشيطان المعادي الصارف له على سبيل الرشاد وليس بعد طلوع الصبح صلاة سوى ركعتي الفجر وفرض الصبح إلى طلوع الشمس وكان رسول الله ﷺ وأصحابه ﵃ يشتغلون في هذا الوقت بالأذكار وهو الأولى إلى أن يغلبه النوم قبل الفرض ولم يندفع إلا بالصلاة فلو صلى لذلك فلا بأس به
Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Allah memiliki tujuh puluh hijab dari cahaya; seandainya Dia menyingkapnya, niscaya keagungan wajah-Nya akan membakar seluruh apa yang dicapai oleh penglihatan-Nya." Hijab-hijab tersebut juga bertingkat-tingkat dan cahaya-cahaya itu berbeda-beda derajatnya sebagaimana perbedaan matahari, bulan, dan bintang-bintang. Pada mulanya tampak yang paling kecil darinya, kemudian yang menyertainya. Atas dasar inilah sebagian kaum Sufi menakwilkan derajat-derajat apa yang tampak bagi Ibrahim al-Khalil ﷺ dalam proses pendakian spiritualnya (taraqqī). Firman-Nya: "Ketika malam telah menjadi gelap atasnya" (QS. Al-An'am: 76)—yaitu tatkala perkara itu menjadi samar baginya—"ia melihat sebuah bintang", artinya ia sampai pada salah satu hijab dari hijab-hijab cahaya, lalu ia mengelukannya dengan istilah bintang. Dan tidaklah dimaksudkan dengan itu benda-benda langit yang bercahaya ini, sebab rakyat awam pun tidak samar bagi mereka bahwa Ketuhanan (Rubūbiyyah) tidak layak bagi jasad/benda; bahkan mereka menyadari hal itu pada pandangan awal mereka. Maka apa yang tidak menyesatkan orang awam tentu tidak akan menyesatkan Al-Khalil 'alaihis-salām. Hijab-hijab yang dinamakan cahaya tersebut tidaklah dimaksudkan sebagai sinar yang diindra oleh penglihatan mata, melainkan yang dimaksudkan adalah sebagaimana firman Allah Ta'ala: "Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita…" (QS. An-Nur: 35). Namun mari kita lewati makna-makna ini, karena hal itu di luar cakupan ilmu muamalah, dan tidak akan sampai pada hakikat-hakikatnya melainkan lewat kasyaf (penyingkapan batin) yang mengikuti pemikiran yang jernih; dan betapa sedikit orang yang dibukakan pintunya. Adapun yang mudah bagi mayoritas makhluk adalah berpikir tentang apa yang berguna dalam ilmu muamalah, dan itu pun termasuk perkara yang sangat berlimpah faedahnya dan agung manfaatnya. Maka empat wadhīfah ini—yaitu doa, zikir, pembacaan Al-Qur'an, dan tafakur—sepatutnya menjadi wadhīfah seorang murid (penempuh jalan spiritual) setelah shalat Subuh, bahkan dalam setiap wird setelah selesai dari wadhīfah shalat. Sebab tidak ada wadhīfah setelah shalat selain empat hal ini. Ia dapat memperkuat diri untuk itu dengan mengambil senjata dan perisainya; dan puasa adalah perisai (jannah) yang menyempitkan jalan-jalan setan yang memusuhinya dan memalingkannya dari jalan petunjuk. Tidak ada shalat setelah terbit fajar selain dua rakaat Fajar dan fardu Subuh hingga terbit matahari. Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya radhiyallahu 'anhum biasa disibukkan pada waktu ini dengan zikir-zikir, dan itulah yang lebih utama, kecuali jika rasa kantuk mengalahkannya sebelum shalat fardu dan tidak dapat dihalau kecuali dengan shalat, maka jika ia shalat karena alasan itu, tidaklah mengapa.
الورد الثاني ما بين طلوع الشمس إلى ضحوة النهار وأعني بالضحوة منتصف ما بين طلوع الشمس إلى الزوال وذلك بمضي ثلاث ساعات من النهار إذا فرض النهار اثنتي عشرة ساعة وهو الربع وفي هذا الربع من النهار وظيفتان زائدتان إحداهما صلاة الضحى وقد ذكرناها في كتاب الصلاة وأن الأولى أن يصلي ركعتين عند الإشراق وذلك إذا انبسطت الشمس وارتفعت قدر نصف رمح ويصلي أربعاً أو ستاً أو ثمانياً إذا رمضت الفصال وضحيت الأقدام بحر الشمس فوقت الركعتين هو الذي أراد الله تعالى بقوله ﴿يسبحن بالعشي والإشراق﴾ فإنه وقت إشراق الشمس وهو ظهور تمام نورها بارتفاعها عن موازات البخارات والغبارات التي على وجه الأرض
Wird yang kedua adalah antara terbit matahari hingga waktu Dhuha pertengahan siang (ḍaḥwatan-nahār). Yang aku maksud dengan ḍaḥwah adalah pertengahan antara terbit matahari hingga tergelincirnya matahari (zawal), yaitu dengan berlalunya tiga jam dari siang hari jika siang diandaikan dua belas jam, dan ini adalah seperempat bagian hari. Dalam seperempat siang ini terdapat dua wadhīfah tambahan. Salah satunya adalah shalat Dhuha, yang telah kami sebutkan dalam Kitab Shalat, dan bahwasanya yang lebih utama adalah shalat dua rakaat pada saat Isyraq, yaitu ketika matahari telah membentang dan meninggi sekadar setengah tombak; lalu ia shalat empat, enam, atau delapan rakaat ketika anak-anak unta merasakan kepanasan (ramaḍat al-fiṣāl) dan telapak kaki merasakan panasnya matahari. Maka waktu dua rakaat tersebut adalah yang dimaksudkan oleh Allah Ta'ala melalui firman-Nya: "Mereka bertasbih di waktu petang dan pagi (isyraq)" (QS. Sad: 18), sebab itu adalah waktu Isyraq (memancarnya) matahari, yaitu tampaknya kesempurnaan cahayanya karena telah meninggi dari kesejajaran uap-uap dan debu-debu yang berada di permukaan bumi.
فإنها تمنع إشرافها التام ووقت الركعات الأربع هو الضحى الأعلى الذي أقسم الله تعالى به فقال ﴿والضحى والليل إذا سجى﴾ وخرج رسول الله ﷺ على أصحابه وهم يصلون عند الإشراق فنادى بأعلى صوته ألا إن صلاة الأوابين إذا رمضت الفصال فلذلك نقول إذا كان يقتصر على مرة واحدة في الصلاة فهذا الوقت أفضل لصلاة الضحى وإن كان أصل الفضل يحصل بالصلاة بين طرفي وقتي الكراهة وهو ما بين ارتفاع الشمس بطلوع نصف رمح بالتقريب إلى ما قبل الزوال في ساعة الاستواء واسم الضحى ينطلق على الكل وكأن ركعتي الإشراق تقع في مبتدأ وقت الإذن في الصلاة وانقضاء الكراهة إذ قال ﷺ إن الشمس تطلع ومعها قرن الشيطان فإذا ارتفعت فارقها فأقل ارتفاعها أن ترتفع عن بخارات الأرض وغبارها وهذا يراعى بالتقريب
Sebab hal itu (uap dan debu) menghalangi pancaran sinarnya yang sempurna. Sedangkan waktu empat rakaat adalah waktu Dhuha yang utama (al-ḍuḥā al-a'lā) yang dengannya Allah Ta'ala bersumpah melalui firman-Nya: "Demi waktu dhuha, dan demi malam apabila telah sunyi" (QS. Ad-Duha: 1-2). Rasulullah ﷺ pernah keluar menemui para sahabatnya tatkala mereka sedang shalat di waktu Isyraq, lalu beliau menyeru dengan suara paling lantang: "Ketahuilah, sesungguhnya shalat orang-orang yang kembali bertobat (al-awwābīn) adalah ketika anak-anak unta merasakan kepanasan!" Oleh karena itu kami katakan: jika seseorang hanya mencukupkan diri pada satu kali pelaksanaan shalat, maka waktu inilah yang paling utama untuk shalat Dhuha, meskipun pada dasarnya keutamaan tetap diperoleh dengan shalat di antara dua ujung waktu makruh, yaitu antara meningginya matahari seukuran setengah tombak secara perkiraan hingga sebelum tergelincirnya matahari pada saat istiwa' (matahari tepat di tengah). Nama "Dhuha" mencakup seluruh rentang waktu tersebut. Seakan-akan dua rakaat Isyraq jatuh pada awal waktu diizinkannya shalat dan berakhirnya waktu makruh, sebab Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya matahari terbit bersamaan dengan tanduk setan; apabila matahari telah meninggi, ia berpisah darinya." Maka batas minimal meningginya adalah terangkatnya matahari dari uap dan debu bumi, dan hal ini diperhatikan secara pendekatan (perkiraan).
الوظيفة الثانية في هذا الوقت الخيرات المتعلقة بالناس التي جرت بها العادات بكرة من عيادة مريض وتشييع جنازة ومعاونة على بر وتقوى وحضور مجلس علم وما يجري مجراه من قضاء حاجة لمسلم وغيرها فإن لم يكن شيء من ذلك عاد إلى الوظائف الأربع التي قدمناها من الأدعية والذكر والقراءة والفكر والصلوات المتطوع بها إن شاء فإنها مكروهة بعد صلاة الصبح وليست مكروهة الآن فتصير الصلاة قسماً خامساً من جملة وظائف هذا الوقت لمن أراده أما بعد فريضة الصبح فتكره كل صلاة لا سبب لها وبعد الصبح الأحب أن يقتصر على ركعتي الفجر وتحية المسجد ولا يشتغل بالصلاة بل بالأذكار والقراءة والدعاء والفكر
Wadhīfah kedua pada waktu ini adalah amal-amal kebaikan yang berkaitan dengan sesama manusia yang biasa dilakukan di pagi hari, seperti menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, tolong-menolong dalam kebajikan dan takwa, menghadiri majelis ilmu, serta hal-hal serupa berupa menunaikan hajat seorang Muslim dan selainnya. Jika tidak ada satu pun dari hal-hal tersebut, ia kembali pada empat wadhīfah yang telah kami kemukakan sebelumnya, yaitu doa, zikir, pembacaan Al-Qur'an, dan tafakur, serta shalat-shalat sunnah mutlak jika ia menghendaki. Sebab shalat sunnah mutlak itu makruh dilakukan setelah shalat Subuh, dan tidak lagi makruh pada waktu sekarang ini. Maka shalat menjadi bagian kelima dari keseluruhan wadhīfah waktu ini bagi orang yang menginginkannya. Adapun setelah shalat fardu Subuh, dimakruhkan setiap shalat yang tidak memiliki sebab. Dan setelah Subuh, yang lebih disukai adalah mencukupkan diri pada dua rakaat Fajar dan Tahiyyatul Masjid, serta tidak disibukkan dengan shalat (sunnah mutlak), melainkan dengan zikir-zikir, pembacaan Al-Qur'an, doa, dan tafakur.
الورد الثالث من ضحوة النهار إلى الزوال ونعني بالضحوة المنتصف وما قبله بقليل وإن كان بعد كل ثلاث ساعات أمر بصلاة فإذا انقضى ثلاث ساعات بعد الطلوع فعندها وقبل مضيها صلاة الضحى فإذا مضت ثلاث ساعات أخرى فالظهر فإذا مضت ثلاث ساعات أخرى فالعصر فإذا مضت ثلاث أخرى فالمغرب ومنزلة الضحى بين الزوال والطلوع كمنزلة العصر بين الزوال والغروب إلا أن الضحى لم تفرض لأنه وقت انكباب الناس على أشغالهم فخفف عنهم الوظيفة الرابعة في هذا الوقت الأقسام الأربعة وزيد أمران أحدهما الاشتغال بالكسب وتدبير المعيشة وحضور السوق فإن كان تاجراً فينبغي أن يتجر بصدق وأمانة وإن كان صاحب صناعة فبنصح وشفقة ولا ينسى ذكر الله تعالى في جميع أشغاله ويقتصر من الكسب على قدر حاجته ليومه مهما قدر على أن يكتسب في كل يوم لقوته فإذا حصل كفاية يومه فليرجع إلى بيت ربه وليتزود لآخرته فإن الحاجة إلى زاد الآخرة أشد والتمتع به أدوم فاشتغاله بكسبه أهم من طلب الزيادة على حاجة الوقت فقد قيل لا يوجد المؤمن إلا في ثلاث مواطن مسجد يعمره أو بيت يستره أو حاجة لا بد له منها وقل من يعرف القدر فيما لا بد منه بل أكثر الناس يقدرون فيما عنه بد أنه لا بد لهم منه وذلك لأن الشيطان يعدهم الفقر ويأمرهم بالفحشاء فيصغون إليه ويجمعون ما لا يأكلون خيفة الفقر والله يعدهم مغفرة منه وفضلاً فيعرضون عنه ولا يرغبون فيه الأمر الثاني القيلولة وهي سنة يستعان بها على قيام الليل كما أن التسحر سنة يستعان به على صيام النهار فإن كان لا يقوم بالليل لكن لو لم ينم لم يشتغل بخير وربما خالط أهل الغفلة وتحدث معهم فالنوم أحب له إذا كان لا ينبعث نشاطه للرجوع إلى الأذكار والوظائف المذكورة إذ في النوم الصمت والسلامة وقد قال بعضهم يأتي على الناس زمان الصمت والنوم فيه أفضل أعمالهم وكم من عابد أحسن أحواله النوم وذلك إذا كان يرائي بعبادته ولا يخلص فيها فكيف بالغافل
Wird yang ketiga adalah dari pertengahan pagi (ḍaḥwah) hingga tergelincirnya matahari (zawal). Yang kami maksud dengan ḍaḥwah di sini adalah pertengahan siang dan sedikit sebelumnya. Meskipun setelah setiap tiga jam ada perintah shalat—sebab jika berlalu tiga jam setelah terbit matahari, maka di saat itu dan sebelum berlalunya waktu tersebut ada shalat Dhuha; jika berlalu tiga jam berikutnya ada shalat Zuhur; jika berlalu tiga jam berikutnya ada shalat Asar; dan jika berlalu tiga jam berikutnya ada shalat Maghrib. Kedudukan Dhuha di antara tergelincirnya matahari dan terbitnya bagaikan kedudukan Asar di antara tergelincirnya matahari dan terbenamnya, hanya saja Dhuha tidak difardukan karena itu merupakan waktu orang-orang bergegas pada kesibukan mereka, sehingga diringankan dari mereka. Wadhīfah pada waktu ini mencakup empat bagian yang lalu dan ditambahkan dua perkara: Pertama, disibukkan dengan mencari nafkah (kasb), mengurus penghidupan, dan menghadiri pasar. Jika ia seorang pedagang, hendaknya ia berdagang dengan jujur dan amanah; jika ia seorang pengrajin/pekerja, hendaknya dengan kelurusan niat (nushḥ) dan rasa kasih sayang. Janganlah ia melupakan zikir kepada Allah Ta'ala dalam seluruh kesibukannya, dan hendaknya ia membatasi pencarian nafkah sebatas kadar kebutuhannya untuk hari itu selagi ia mampu mencari nafkah setiap hari untuk makanan pokoknya. Apabila telah memperoleh kecukupan harinya, hendaknya ia kembali ke rumah Tuhannya dan berbekal untuk akhiratnya, karena kebutuhan kepada bekal akhirat jauh lebih mendesak dan kenikmatan dengannya jauh lebih kekal. Maka menyibukkan diri mengurus kebutuhan harinya adalah lebih penting daripada mencari tambahan di atas kebutuhan waktu tersebut. Sungguh telah dikatakan: "Seorang mukmin tidak ditemukan melainkan di tiga tempat: masjid yang ia makmurkan, rumah yang menutupinya, atau hajat mendesak yang tak boleh tidak baginya." Dan sedikit sekali orang yang mengetahui kadar dari apa yang "tak boleh tidak" (kebutuhan pokok), bahkan kebanyakan manusia menganggap perkara yang sebenarnya tidak mendesak sebagai hal yang tak boleh tidak bagi mereka. Hal itu karena setan menjanjikan kemiskinan kepada mereka dan menyuruh mereka berbuat keji, lalu mereka mendengarkannya dan mengumpulkan apa yang tidak mereka makan karena takut miskin, padahal Allah menjanjikan kepada mereka ampunan dari-Nya dan karunia, namun mereka berpaling dari-Nya dan tidak menyukainya. Perkara kedua, Qailūlah (tidur siang sejenak). Ia merupakan sunnah yang membantu pelaksanaan shalat malam (qiyāmullail), sebagaimana sahur merupakan sunnah yang membantu pelaksanaan puasa siang hari. Apabila seseorang tidak bangun malam, namun seandainya ia tidak tidur ia tidak akan disibukkan dengan kebaikan dan justru kerap bergaul dengan orang-orang yang lalai serta berbincang-bincang dengan mereka, maka tidur lebih disukai baginya jika semangatnya tidak bangkit untuk kembali pada zikir-zikir dan wadhīfah yang disebutkan. Sebab dalam tidur terdapat ketenangan (kelisuan dari dosa) dan keselamatan. Sebagian ulama berkata: "Akan datang kepada manusia suatu zaman di mana diam dan tidur pada masa itu merupakan sebaik-baik amal mereka." Betapa banyak ahli ibadah yang keadaan terbaiknya adalah tidur, yaitu apabila ia bersikap riya' dalam ibadahnya dan tidak ikhlas di dalamnya, maka betapa lagi dengan orang yang lalai!
الفاسق قال سفيان الثوري ﵀ كان يعجبهم إذا تفرغوا أن يناموا طلباً للسلامة فإذا كان نومه على قصد طلب السلامة ونية قيام الليل كان نومه قربة ولكن ينبغي أن يتنبه قبل الزوال بقدر الاستعداد للصلاة بالوضوء وحضور المسجد قبل دخول وقت الصلاة فإن ذلك من فضائل الأعمال وإن لم ينم ولم يشتغل بالكسب واشتغل بالصلاة والذكر فهو أفضل أعمال النهار لأنه وقت غفلة الناس عن الله ﷿ واشتغالهم بهموم الدنيا فالقلب المتفرغ لخدمة ربه عند إعراض العبيد عن بابه جدير بأن يزكيه الله تعالى ويصطفيه لقربه ومعرفته وفضل ذلك كفضل إحياء الليل فإن الليل وقت الغفلة بالنوم وهذا وقت الغفلة باتباع الهوى والاشتغال بهموم الدنيا وأحد معنى قوله تعالى ﴿وهو الذي جعل الليل والنهار خلفة لمن أراد أن يذكر﴾ أي يخلف أحدهما الآخر في الفضل والثاني أنه يخلفه فيتدارك فيه ما فات في أحدهما
Orang fasik. Sufyan ats-Tsauri r.a. berkata, "Mereka (para salaf) menyukai apabila memiliki waktu luang untuk tidur demi mencari keselamatan." Maka, jika tidurnya bertujuan mencari keselamatan dan berniat untuk bangun malam (qiyamul lail), tidurnya itu menjadi bentuk *qurbah* (pendekatan diri kepada Allah). Namun, hendaknya ia terbangun sebelum tergelincirnya matahari (zawal) sekadar cukup untuk bersiap-siap shalat dengan berwudhu dan menghadiri masjid sebelum masuk waktu shalat, sebab hal itu termasuk keutamaan amal. Jika ia tidak tidur dan tidak sibuk mencari nafkah, melainkan sibuk dengan shalat dan zikir, maka itu adalah amal siang hari yang paling utama; karena waktu tersebut merupakan saat kelalaian manusia dari Allah Azza wa Jalla dan kesibukan mereka dengan urusan dunia. Hati yang dikosongkan untuk berkhidmat kepada Tuhannya di saat hamba-hamba berpaling dari pintu-Nya, sungguh layak disucikan oleh Allah Ta'ala dan dipilih untuk kedekatan serta ma'rifat-Nya. Keutamaan hal itu seperti keutamaan menghidupkan malam (ihya'ul lail), sebab malam adalah waktu kelalaian karena tidur, sedangkan waktu ini (siang) adalah waktu kelalaian karena menuruti hawa nafsu dan kesibukan dengan urusan dunia. Salah satu makna firman-Nya Ta'ala, "Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang bergantian bagi orang yang ingin mengambil pelajaran" (QS. Al-Furqan: 62), yaitu salah satunya menggantikan yang lain dalam keutamaan. Makna kedua adalah ia menggantikannya, sehingga seseorang dapat mengejar di waktu tersebut apa yang terlewat pada waktu lainnya.
الورد الرابع ما بين الزوال إلى الفراغ من صلاة الظهر وراتبته وهذا أقصر أوراد النهار وأفضلها فإذا كان قد توضأ قبل الزوال وحضر المسجد فمهما زالت الشمس وابتدأ المؤذن الأذان فليصبر إلى الفراغ من جواب أذانه ثم ليقم إلى إحياء ما بين الأذان والإقامة فهو وقت الإظهار الذي أراده الله تعالى بقوله ﴿وحين تظهرون﴾ وليصل في هذا الوقت أربع ركعات لا يفصل بينهن بتسليمة واحدة وهذه الصلاة وحدها من بين سائر صلوات النهار نقل بعض العلماء أنه يصليها بتسليمة واحدة ولكن طعن في تلك الرواية ومذهب الشافعي ﵁ أنه يصلي مثنى مثنى كسائر النوافل ويفصل بتسليمة وهو الذي صحت به الأخبار وليطول هذه الركعات إذ فيها تفتح أبواب السماء كما أوردنا الخبر فيه في باب صلاة التطوع وليقرأ فيها سورة البقرة أو سورة من المئين أو أربعاً من المثاني فهذه ساعات يستجاب فيها الدعاء وأحب رسول الله ﷺ أن يرتفع له فيها عمل ثم يصلي الظهر بجماعة بعد أربع ركعات طويلة كما سبق أو قصيرة لا ينبغي أن يدعها ثم ليصل بعد الظهر ركعتين ثم أربعاً فقد كره ابن مسعود أن تتبع الفريضة بمثلها من غير فاصل ويستحب أن يقرأ في هذه النافلة آية الكرسي وآخر سورة البقرة والآيات التي أوردناها في الورد الأول ليكون ذلك جامعاً له بين الدعاء والذكر والقراءة والصلاة والتحميد والتسبيح مع شرف الوقت
Wirid Keempat: Waktu antara tergelincirnya matahari (zawal) hingga selesainya shalat Dzuhur beserta shalat sunnah rawatibnya. Ini adalah wirid siang yang paling singkat namun paling utama. Jika ia telah berwudhu sebelum *zawal* dan hadir di masjid, maka ketika matahari tergelincir dan muadzin mulai mengumandangkan azan, hendaknya ia bersabar hingga selesai menjawab azannya. Kemudian hendaklah ia berdiri untuk menghidupkan waktu antara azan dan iqamah; karena itu adalah waktu *izhar* (siang benderang) yang dimaksudkan oleh Allah Ta'ala dalam firman-Nya, "Dan pada waktu kamu berada di petang hari (dzuhur)" (QS. Ar-Rum: 18). Hendaklah ia shalat pada waktu ini empat rakaat tanpa dipisah dengan satu salam. Shalat ini secara khusus di antara seluruh shalat siang hari, sebagian ulama meriwayatkan bahwa beliau memisahkan shalat tersebut dengan satu salam, tetapi riwayat itu dikritik. Mazhab Syafi'i r.a. berpendapat bahwa ia dikerjakan dua rakaat dua rakaat sebagaimana shalat-shalat sunnah lainnya dan dipisah dengan salam, dan dialah yang shahih menurut riwayat-riwayat berita. Hendaklah ia memanjangkan rakaat-rakaat ini, karena pada waktu tersebut dibuka pintu-pintu langit sebagaimana telah kami cantumkan hadisnya dalam bab shalat sunnah (tathawwu'). Hendaklah ia membaca di dalamnya surah Al-Baqarah, atau salah satu surah dari kelompok *Al-Mi'in* (surah yang terdiri dari seratusan ayat), atau empat surah dari kelompok *Al-Matsani*. Ini adalah saat-saat dikabulkannya doa, dan Rasulullah ﷺ menyukai agar amal beliau diangkat pada waktu tersebut. Kemudian ia shalat Dzuhur berjamaah setelah empat rakaat yang panjang sebagaimana telah lalu, atau yang pendek yang tidak sepatutnya ia tinggalkan. Setelah Dzuhur, hendaknya ia shalat dua rakaat, kemudian empat rakaat. Ibnu Mas'ud benci jika shalat fardhu diiringi shalat serupa tanpa adanya jeda. Disunnahkan membaca dalam shalat sunnah ini Ayat Kursi, akhir surah Al-Baqarah, dan ayat-ayat yang telah kami sebutkan pada Wirid Pertama, agar mengumpulkan baginya antara doa, zikir, bacaan Al-Qur'an, shalat, tahmid, dan tasbih beserta kemuliaan waktu tersebut.
الورد الخامس ما بعد ذلك إلى العصر ويستحب فيه العكوف في المسجد مشتغلاً بالذكر والصلاة أو فنون الخير ويكون في انتظار الصلاة معتكفاً فمن فضائل الأعمال انتظار الصلاة بعد الصلاة وكان ذلك سنة السلف كان الداخل يدخل المسجد بين الظهر والعصر فيسمع للمصلين دوياً كدوي النحل من التلاوة فإن كان بيته أسلم لدينه وأجمع لهمه فالبيت أفضل في حقه فإحياء هذا الورد وهو أيضاً وقت غفلة الناس كإحياء الورد الثالث في الفضل وفي هذا الوقت يكره النوم لمن نام قبل الزوال إذ يكره نومتان بالنهار قال بعض العلماء ثلاث يمقت الله عليها الضحك بغير عجب والأكل من غير جوع والنوم بالنهار من غير سهر بالليل والحد في النوم أن الليل والنهار أربع وعشرون ساعة فالاعتدال في نومه ثمان ساعات في الليل والنهار جميعاً فإن نام هذا القدر بالليل فلا معنى للنوم بالنهار وإن نقص منه مقداراً استوفاه بالنهار فحسب ابن آدم إن عاش ستين سنة أن ينقص من عمره عشرون سنة ومهما نام ثمان ساعات وهو الثلث فقد نقص من عمره الثلث ولكن لما كان النوم غذاء الروح كما أن الطعام غذاء الأبدان
Wirid Kelima: Waktu setelah itu hingga Ashar. Disunnahkan padanya beritikaf di masjid dengan sibuk berzikir, shalat, atau berbagai kebaikan, serta berada dalam kondisi menunggu shalat sambil beritikaf. Termasuk amal-amal yang paling utama adalah menunggu shalat setelah shalat. Hal itu merupakan sunnah para salaf; dahulu seseorang masuk ke masjid antara Dzuhur dan Ashar lalu mendengar dari orang-orang yang shalat dengungan tilawah seperti dengungan lebah. Namun jika rumahnya lebih selamat bagi agamanya dan lebih menyatukan kedamaian pikirannya, maka rumah lebih utama baginya. Menghidupkan wirid ini—yang juga merupakan waktu kelalaian manusia—sama keutamaannya dengan menghidupkan Wirid Ketiga. Pada waktu ini dimakruhkan tidur bagi orang yang tidur sebelum *zawal*, karena dimakruhkan tidur dua kali di siang hari. Sebagian ulama berkata, "Tiga hal yang dibenci Allah: tertawa tanpa keheranan, makan tanpa rasa lapar, dan tidur di siang hari tanpa begadang (ibadah) di malam hari." Batas standar tidur adalah bahwa malam dan siang terdiri dari dua puluh empat jam, maka kadar pertengahan (sedang) dalam tidurnya adalah delapan jam untuk malam dan siang sekaligus. Jika ia telah tidur sejumlah ini di malam hari, tidak ada maknanya tidur di siang hari. Jika tidurnya di malam hari berkurang, ia boleh menyempurnakannya di siang hari sekadar kekurangannya. Cukuplah bagi anak Adam, jika ia hidup enam puluh tahun, bahwa umurnya berkurang dua puluh tahun (untuk tidur). Apabila ia tidur delapan jam—yaitu sepertiga umur—maka sesungguhnya sepertiga umurnya telah berkurang. Namun karena tidur adalah makanan bagi roh sebagaimana makanan adalah asupan bagi jasad…
وكما أن العلم والذكر غذاء القلب لم يمكن قطعه عنه وقدر الاعتدال هذا والنقصان منه ربما يفضي إلى اضطراب البدن إلا من يتعود السهر تدريجاً فقد يمرن نفسه عليه من غير اضطراب وهذا الورد من أطول الأوراد وأمتعها للعباد وهو أحد والآصال التي ذكرها الله تعالى إذ قال ولله يسجد من في السموات والأرض طوعاً وكرهاً وظلالهم بالغدو والآصال وإذا سجد لله ﷿ الجمادات فكيف يجوز أن يغفل العبد العاقل عن أنواع العبادات
…dan sebagaimana ilmu serta zikir adalah makanan bagi hati, maka tidak mungkin memutuskannya secara total darinya. Ukuran sedang ini dan menguranginya terkadang menyebabkan gangguan pada tubuh, kecuali bagi orang yang terbiasa begadang secara bertahap, maka ia dapat melatih dirinya tanpa mengalami gangguan. Wirid ini termasuk wirid yang paling panjang dan paling menyenangkan bagi para hamba, dan ia adalah salah satu dari waktu *al-ashal* (petang) yang disebutkan oleh Allah Ta'ala tatkala berfirman, "Hanya kepada Allah-lah sujud segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa, dan (juga) bayang-bayang mereka pada waktu pagi dan petang hari (al-ghuduww wal-ashal)" (QS. Ar-Ra'd: 15). Apabila benda-benda mati saja bersujud kepada Allah Azza wa Jalla, maka bagaimana mungkin diperbolehkan bagi seorang hamba yang berakal untuk lalai dari berbagai bentuk ibadah?
الورد السادس إذا دخل وقت العصر دخل وقت الورد السادس وهو الذي أقسم الله تعالى به فقال تعالى ﴿والعصر﴾ هذا أحد معنيي الآية وهو المراد بالآصال في أحد التفسيرين وهو العشي المذكور في قوله ﴿وعشياً﴾ وفي قوله ﴿بالعشي والإشراق﴾ وليس في هذا الورد صلاة إلا أربع ركعات بين الأذان والإقامة كما سبق في الظهر ثم يصلي الفرض ويشتغل بالأقسام الأربعة المذكورة في الورد الأول إلى أن ترتفع الشمس إلى رءوس الحيطان وتصفر والأفضل فيه إذ منع عن الصلاة تلاوة القرآن بتدبر وتفهم إذ يجمع ذلك بين الذكر والدعاء والفكر فيندرج في هذا القسم أكثر مقاصد الأقسام الثلاثة
Wirid Keenam: Ketika masuk waktu Ashar, masuklah waktu Wirid Keenam, yaitu waktu yang Allah Ta'ala bersumpah dengannya melalui firman-Nya Ta'ala, "Demi masa (Al-'Ashr)" (QS. Al-'Ashr: 1). Ini adalah salah satu dari dua makna ayat tersebut, dan itulah yang dimaksud dengan *al-ashal* dalam salah satu dari dua penafsiran, yaitu *al-'asyiy* (waktu petang) yang disebutkan dalam firman-Nya, "dan pada waktu petang" (QS. Ar-Rum: 18) dan dalam firman-Nya, "pada waktu petang dan pagi" (QS. Shad: 18). Dalam wirid ini tidak ada shalat kecuali empat rakaat antara azan dan iqamah sebagaimana yang telah berlalu pada Dzuhur. Kemudian ia mengerjakan shalat fardhu dan menyibukkan diri dengan empat bagian yang telah disebutkan pada Wirid Pertama hingga matahari meninggi di atas permukaan tembok dan menguning. Yang paling utama di dalamnya—ketika dilarang shalat—adalah membaca Al-Qur'an dengan tadabbur dan pemahaman, karena hal itu menggabungkan zikir, doa, dan tafakur, sehingga tercakup dalam bagian ini sebagian besar maksud dari ketiga bagian lainnya.
الورد السابع إذا اصفرت الشمس بأن تقرب من الأرض بحيث يغطي نورها العبارات والبخارات التي على وجه الأرض ويرى صفرة في ضوئها دخل وقت هذا الورد وهو مثل الورد الأول من طلوع الفجر إلى طلوع الشمس لأنه قبل الغروب كما أن ذلك قبل الطلوع وهو المراد بقوله تعالى ﴿فسبحان الله حين تمسون وحين تصبحون﴾ وهذا هو الطرف الثاني المراد بقوله تعالى ﴿فسبح وأطراف النهار﴾ قال الحسن كانوا أشد تعظيماً للعشي منهم لأول النهار وقال بعض السلف كانوا يجعلون أول النهار للدنيا وآخره للآخرة فيستحب في هذا الوقت التسبيح والاستغفار خاصة وسائر ما ذكرناه في الورد الأول مثل أن يقول أستغفر الله الذي لا إله إلا هو الحي القيوم وأسأله التوبة وسبحان الله العظيم وبحمده مأخوذ من قوله تعالى ﴿واستغفر لذنبك وسبح بحمد ربك بالعشي والإبكار﴾ والاستغفار على الأسماء التي في القرآن أحب كقوله أستغفر الله إنه كان غفاراً أستغفر الله إنه كان تواباً رب اغفر وارحم وأنت خير الراحمين فاغفر لنا وارحمنا وأنت خير الراحمين فاغفر لنا وارحمنا وأنت خير الغافرين ويستحب أن يقرأ قبل غروب الشمس والشمس وضحاها والليل إذا يغشى والمعوذتين ولتغرب الشمس عليه وهو في الاستغفار فإذا سمع الأذان قال اللهم هذا إقبال ليلك وإدبار نهارك وأصوات دعاتك كما سبق ثم يجيب المؤذن ويشتغل بصلاة المغرب وبالغروب قد انتهت أوراد النهار فينبغي أن يلاحظ العبد أحواله ويحاسب نفسه فقد انقضى من طريقه مرحلة فإن ساوى يومه أمسه فيكون مغبوناً وإن كان شراً منه فيكون معلونا فَقَدْ قَالَ ﷺ لَا بورك لي في يوم لا أزداد فيه خيراً فإن رأى نفسه متوفراً على الخير جميع نهاره مترفهاً عن التجشم كانت بشارة فليشكر الله تعالى على توفيقه وتسديده إياه لطريقه وإن تكن الأخرى فالليل خلفه النهار فليعزم على تلافي ما سبق من تفريطه فإن الحسنات يذهبن السيئات وليشكر الله تعالى على صحة جسمه وبقاء بقية من عمره طول ليله ليشتغل بتدارك تقصيره وليحضر في قلبه أن نهار العمر له آخر تغرب فيه شمس الحياة فلا يكون لها بعدها طلوع وعند ذلك يغلق باب التدارك والاعتذار فليس العمر إلا أياماً معدودة تنقضي لا محالة جملتها بانقضاء آحادها
Wirid Ketujuh: Ketika matahari telah menguning, yaitu ketika ia mendekati bumi hingga cahayanya tertutup oleh debu dan uap yang ada di permukaan bumi dan terlihat warna kuning pada cahayanya, masuklah waktu wirid ini. Wirid ini seperti Wirid Pertama dari terbit fajar hingga terbit matahari, karena ini berada sebelum terbenam matahari sebagaimana yang itu berada sebelum terbitnya. Itulah yang dimaksud dengan firman Allah Ta'ala, "Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari dan waktu kamu berada di subuh hari" (QS. Ar-Rum: 17). Ini adalah ujung kedua yang dimaksud dalam firman-Nya Ta'ala, "Maka bertasbihlah… dan di waktu-waktu ujung hari" (QS. Taha: 130). Al-Hasan berkata, "Mereka (para salaf) lebih mengagungkan waktu petang daripada awal siang." Sebagian salaf berkata, "Mereka menjadikan awal siang untuk dunia dan akhirnya untuk akhirat." Maka disunnahkan pada waktu ini secara khusus membaca tasbih dan istighfar, serta seluruh apa yang telah kami sebutkan pada Wirid Pertama, seperti mengucapkan: "Aku memohon ampun kepada Allah Yang tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri, dan aku memohon taubat kepada-Nya," dan "Maha Suci Allah Yang Maha Agung dan dengan memuji-Nya," yang diambil dari firman-Nya Ta'ala, "Dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi" (QS. Ghafir: 55). Istighfar dengan lafaz-lafaz yang ada dalam Al-Qur'an lebih disukai, seperti firman-Nya: "Aku memohon ampun kepada Allah, sesungguhnya Dia Maha Pengampun," "Aku memohon ampun kepada Allah, sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat," "Ya Tuhanku, ampunilah dan kerahmatilah, dan Engkau adalah Sebaik-baik Pemberi rahmat," "Maka ampunilah kami dan kerahmatilah kami, dan Engkau adalah Sebaik-baik Pemberi rahmat," "Maka ampunilah kami dan kerahmatilah kami, dan Engkau adalah Sebaik-baik Pemberi ampunan." Disunnahkan pula membaca sebelum terbenam matahari surah *Wasy-syamsi wa dhuhaha*, *Wal-laili idza yaghsya*, dan *Al-Mu'awwidzatain* (Surah Al-Falaq dan An-Nas). Hendaknya matahari terbenam padanya sementara ia dalam keadaan beristighfar. Apabila mendengar azan, hendaknya ia mengucapkan: "Ya Allah, ini adalah kedatangan malam-Mu, kepergian siang-Mu, dan suara para penyeru-Mu…" sebagaimana yang telah lalu, kemudian menjawab muadzin dan sibuk dengan shalat Maghrib. Dengan terbenamnya matahari, berakhir pulalah wirid-wirid siang hari. Maka sepatutnya seorang hamba memperhatikan keadaan dirinya dan mengintrospeksi (muhasabah) dirinya, sebab telah berlalu satu tahapan dari perjalanannya. Jika harinya sama dengan hari kemarinya, maka ia termasuk orang yang rugi (*maghbun*); dan jika harinya lebih buruk dari harinya yang lalu, maka ia terlaknat (*mal'un*). Sungguh Nabi ﷺ telah bersabda, "Tidak diberkahi bagiku pada suatu hari yang di dalamnya aku tidak bertambah kebaikan." Jika ia melihat dirinya tekun melakukan kebaikan sepanjang siangnya dan terbebas dari kesulitan yang berat, maka itu adalah kabar gembira, hendaklah ia bersyukur kepada Allah Ta'ala atas taufik-Nya dan kelurusan jalan yang diberikan-Nya. Namun jika yang terjadi adalah sebaliknya, maka malam berada di belakang siang, hendaklah ia berazam untuk mengejar kelalaian yang telah lalu, sebab kebaikan-kebaikan dapat menghapuskan keburukan-keburukan. Hendaklah ia bersyukur kepada Allah Ta'ala atas kesehatan jasmaninya dan tersisanya sisa umur sepanjang malamnya agar ia sibuk menutupi kekurangannya. Hendaklah ia menghadirkan dalam hatinya bahwa siang umur itu memiliki akhir di mana matahari kehidupan akan terbenam dan tidak akan ada terbit lagi setelahnya. Pada saat itulah pintu untuk mengejar dan meminta maaf ditutup. Maka umur itu tiada lain hanyalah hari-hari yang terhitung, yang pasti akan berakhir keseluruhannya seiring dengan berakhirnya bagian demi bagiannya.
بيان أوراد الليل وهي خمسة
Penjelasan tentang wirid-wirid malam hari, yaitu ada lima.
الأول إذا غربت الشمس صلى المغرب واشتغل بإحياء ما بين العشاءين فآخر هذا الورد عند غيبوبة الشفق أعني الحمرة التي بغيبوبتها يدخل وقت العتمة وقد أقسم الله تعالى به فقال ﴿فلا أقسم بالشفق﴾ والصلاة فيه هي ناشئة الليل لأنه أول نشوء ساعاته وهو آن من الآناء المذكورة في قوله تعالى ﴿ومن آناء الليل فسبح﴾ وهي صلاة الأوابين وهي المراد بقوله تعالى ﴿تتجافى جنوبهم عن المضاجع﴾ روي ذلك عن الحسن وأسنده ابن أبي زياد إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ أنه سئل عن هذه الآية فقال ﷺ الصلاة بين العشاءين ثم قال ﷺ عليكم بالصلاة بين العشاءين فإنها تذهب بملاغات النهار وتهذب آخره والملاغات جمع ملغاة من اللغو وسئل أنس ﵀ عمن ينام بين العشاءين فقال لا تفعل فإنها الساعة المعنية بقوله تعالى ﴿تتجافى جنوبهم عن المضاجع﴾ وسيأتي فضل إحياء ما بين العشاءين في الباب الثاني وترتيب هذا الورد أن يصلي بعد المغرب ركعتين أولاً يقرأ فيهما قل يا أيها الكافرون وقل هو الله أحد ويصليهما عقيب المغرب من غير تخلل كلام ولا شغل ثم يصلي أربعاً يطيلها ثم يصلي إلى غيبوبة الشفق ما تيسر له وإن كان المسجد قريباً من المنزل فلا بأس أن يصليها في بيته إن لم يكن عزمه العكوف في المسجد وإن عزم على العكوف في انتظار العتمة فهو الأفضل إذا كان آمناً من التصنع والرياء
Pertama: Apabila matahari terbenam, ia melaksanakan shalat Maghrib dan menyibukkan diri untuk menghidupkan waktu antara Maghrib dan Isya (antara dua Isya). Akhir dari wirid ini adalah ketika hilang *syafaq*, yaitu warna kemerahan yang dengan hilangnya warna tersebut masuklah waktu Isya (*at'amah*). Sungguh Allah Ta'ala telah bersumpah dengannya melalui firman-Nya, "Maka Aku bersumpah demi cahaya merah di waktu senja" (QS. Al-Inshiqaq: 16). Shalat pada waktu ini adalah *Nasyi'atul Lail* (permulaan malam) karena ia merupakan awal dari jam-jam malam yang timbul, dan ia adalah salah satu saat dari saat-saat yang disebutkan dalam firman-Nya Ta'ala, "Dan di antara saat-saat malam maka bertasbihlah" (QS. Taha: 130). Ia juga shalat *Al-Awwabin* (orang-orang yang kembali kepada Allah), dan itulah yang dimaksud dengan firman-Nya Ta'ala, "Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya" (QS. As-Sajdah: 16). Hal itu diriwayatkan dari Al-Hasan, dan Ibnu Abi Ziyad menyandarkannya kepada Rasulullah ﷺ bahwa beliau ditanya tentang ayat ini, maka beliau ﷺ bersabda, "Yaitu shalat antara dua Isya (Maghrib dan Isya)." Kemudian beliau ﷺ bersabda, "Hendaklah kalian mengerjakan shalat antara Maghrib dan Isya, karena shalat tersebut menghilangkan sia-sia (laghw) siang hari dan membersihkan bagian akhirnya." *Al-Malaghat* adalah bentuk jamak dari *malghah* yang berasal dari kata *al-laghw* (kesia-siaan). Anas r.a. ditanya tentang orang yang tidur antara Maghrib dan Isya, maka beliau berkata, "Jangan lakukan itu, karena waktu tersebut adalah saat yang dimaksudkan oleh firman-Nya Ta'ala, 'Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya'." Keutamaan menghidupkan waktu antara dua Isya ini akan dijelaskan pada Bab Kedua. Urutan wirid ini adalah: ia shalat dua rakaat terlebih dahulu setelah Maghrib dengan membaca *Qul ya ayyuhal kafirun* dan *Qul huwallahu ahad*, yang dikerjakan langsung setelah Maghrib tanpa diselingi pembicaraan maupun kesibukan lain; kemudian ia shalat empat rakaat dengan memanjanginya, lalu ia shalat hingga hilangnya *syafaq* sekadarnya. Jika masjid dekat dari rumah, tidak mengapa ia shalat di rumahnya apabila ia tidak berazam untuk beritikaf di masjid. Namun jika ia berazam untuk beritikaf sambil menunggu shalat Isya, maka itu lebih utama selama ia aman dari berpura-pura (*tashannu'*) dan riya.
والورد الثاني يدخل بدخول وقت العشاء الآخرة إلى حد نومة الناس وهو أول استحكام الظلام وقد أقسم الله تعالى به إذ قال ﴿والليل وما وسق﴾ أي وما جمع من ظلمته وقال ﴿إلى غسق الليل﴾ فهناك يغسق الليل وتستوسق ظلمته وترتيب هذا الورد بمراءة ثلاثة أمور الأول أن يصلي سوى فرض العشاء عشر ركعات أربعاً قبل الفرض إحياء لما بين الأذانين وستاً بعد الفرض ركعتين ثم أربعاً ويقرأ فيها من القرآن الآيات المخصوصة كآخر البقرة وآية الكرسي وأول الحديد وآخر الحشر وغيرها والثاني أن يصلي ثلاث عشرة ركعة آخرهن الوتر فإنه أكثر مَا رُوِيَ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ صلى بها من الليل والأكياس يأخذون أوقاتهم من أول الليل والأقوياء من آخره والحزم التقديم فإنه ربما لا يستيقظ أو يثقل عليه القيام إلا إذا صار ذلك عادة له فآخر الليل أفضل ثم ليقرأ في هذه الصلاة قدر ثلثمائة آية من السور المخصوصة التي كان النبي ﷺ يكثر قراءتها مثل يس وسجدة لقمان وسورة الدخان وتبارك الملك والزمر والواقعة فإن لم يصل فلا يدع قراءة هذه السور أو بعضها
Wirid Kedua: Masuk dengan masuknya waktu shalat Isya akhir hingga batas tidurnya manusia. Ini adalah awal menguatnya kegelapan, dan Allah Ta'ala telah bersumpah dengannya tatkala berfirman, "Dan demi malam dan apa yang dikumpulkannya" (QS. Al-Inshiqaq: 17), yaitu kegelapan yang dikumpulkannya, serta firman-Nya, "sampai gelap malam" (QS. Al-Isra': 78); pada saat itulah malam menjadi gelap gulita dan kegelapannya semakin sempurna. Tata cara wirid ini adalah dengan memperhatikan tiga hal: Pertama, hendaklah ia shalat di luar shalat fardhu Isya sebanyak sepuluh rakaat: empat rakaat sebelum fardhu sebagai bentuk menghidupkan waktu antara dua azan (azan dan iqamah), serta enam rakaat setelah fardhu: dua rakaat kemudian empat rakaat, dengan membaca ayat-ayat Al-Qur'an yang khusus di dalamnya seperti akhir Al-Baqarah, Ayat Kursi, awal Al-Hadid, akhir Al-Hasyr, dan selainnya. Kedua, hendaklah ia shalat tiga belas rakaat yang diakhiri dengan shalat Witir, karena itulah rakaat terbanyak yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau mengerjakannya di malam hari. Orang-orang yang cerdas mengambil waktu mereka dari awal malam, sedangkan orang-orang yang kuat mengambilnya dari akhir malam. Yang lebih berhati-hati adalah mendahulukannya (di awal malam), sebab terkadang seseorang tidak terbangun atau berat baginya untuk bangun malam, kecuali jika hal itu sudah menjadi kebiasaannya, maka akhir malam adalah yang paling utama. Kemudian hendaklah ia membaca dalam shalat ini sekitar tiga ratus ayat dari surah-surah khusus yang sering dibaca oleh Nabi ﷺ seperti surah Yasin, Sajdah Luqman, Ad-Dukhan, Tabarakal-Mulk, Az-Zumar, dan Al-Waqi'ah. Jika ia tidak shalat, maka janganlah meninggalkan membaca surah-surah ini atau sebagian darinya…
قبل النوم فقد روي في ثلاث أحاديث ما كان يقرؤه رسول الله ﷺ في كل ليلة أشهرها السجدة وتبارك الملك والزمر والواقعة وفي رواية الزمر وبني إسرائيل وكان العلماء يجعلونها ستاً فيزيدون سبح اسم ربك الأعلى إذ في الخبر أنه ﷺ كان يحب سبح اسم ربك الأعلى وكان يقرأ في ثلاث ركعات الوتر ثلاث سور سبح اسم ربك الأعلى وقل يا أيها الكافرون والإخلاص فإذا فرغ قال سبحان الملك القدوس ثلاث مرات
…sebelum tidur. Sungguh telah diriwayatkan dalam tiga hadis mengenai apa yang biasa dibaca oleh Rasulullah ﷺ pada setiap malam; yang paling masyhur darinya adalah surah As-Sajdah, Tabarakal-Mulk, Az-Zumar, dan Al-Waqi'ah. Dalam suatu riwayat disebutkan surah Az-Zumar dan Bani Isra'il (Al-Isra'). Para ulama menjadikannya enam surah dengan menambahkan *Sabbihisma rabbikal-a'la*, sebab dalam riwayat disebutkan bahwa beliau ﷺ menyukai *Sabbihisma rabbikal-a'la*. Beliau biasa membaca pada tiga rakaat Witir tiga surah: *Sabbihisma rabbikal-a'la*, *Qul ya ayyuhal-kafirun*, dan Al-Ikhlas. Setelah selesai, beliau mengucapkan *Subhanal-malikil-quddus* sebanyak tiga kali.
الثالث الوتر وليوتر قبل النوم إن لم يكن عادته القيام قال أبو هريرة ﵁ أَوْصَانِي رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أن لا أنام إلا على وتر وإن كان معتاداً صلاة الليل فالتأخير أفضل قال ﷺ صلاة الليل مثنى مثنى فإذا خفت الصبح فأوتر بركعة وقالت عائشة ﵂ أوتر رسول الله ﷺ أول الليل وأوسطه وآخره وانتهى وتره إلى السحر وقال علي ﵁ الوتر على ثلاثة أنحاء إن شئت أوترت أول الليل ثم صليت ركعتين ركعتين يعني أنه يصير وتراً بما مضى وإن شئت أوترت بركعة فإذا استيقظت شفعت إليها أخرى ثم أوترت من آخر الليل وإن شئت أخرت الوتر ليكون آخر صلاتك هذا ما روي عنه والطريق الأول والثالث لا بأس به وأما نقض الوتر فقد صح فيه نهي فلا ينبغي أن ينقض وروي مطلقاً أنه ﷺ قال لا وتران في ليلة ولمن يتردد في استيقاظه تلطف استحسنه بعض العلماء وهو أن يصلي بعد الوتر ركعتين جالساً على فراشه عند النوم كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يزحف إلى فراشه ويصليهما ويقرأ فيهما إذا زلزلت وألهاكم لما فيهما من التحذير والوعيد وفي رواية قل يا أيها الكافرون لما فيها من التبرئة وإفراد العبادة لله تعالى فقيل إن استيقظ قامتا مقام ركعة واحدة وكان له أن يوتر بواحدة في آخر صلاة الليل وكأنه صار ما مضى شفعا بهما وحسن استئناف الوتر واستحسن هذا أبو طالب المكي وقال فيه ثلاثة أعمال قصر الأمل وتحصيل الوتر والوتر آخر الليل وهو كما
Ketiga: Shalat Witir. Hendaklah ia berwitir sebelum tidur jika bangun malam bukan kebiasaannya. Abu Hurairah r.a. berkata, "Rasulullah ﷺ berwasiat kepadaku agar aku tidak tidur melainkan setelah berwitir." Namun jika ia terbiasa shalat malam, maka mengakhirkannya adalah lebih utama. Beliau ﷺ bersabda, "Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat, dan jika kamu khawatir subuh tiba, maka berwitirlah satu rakaat." Aisyah r.a. berkata, "Rasulullah ﷺ berwitir di awal malam, pertengahannya, dan akhirnya, dan berakhir witir beliau pada waktu sahur." Ali r.a. berkata, "Witir itu ada tiga cara: jika engkau mau, engkau berwitir di awal malam kemudian shalat dua rakaat dua rakaat—artinya shalat itu menjadi ganjil dengan apa yang telah lalu; jika engkau mau, engkau berwitir satu rakaat, lalu ketika engkau bangun engkau genapkan dengan rakaat lain kemudian berwitir di akhir malam; dan jika engkau mau, engkau mengakhirkan Witir agar menjadi akhir shalatmu." Ini adalah apa yang diriwayatkan dari beliau. Cara pertama dan ketiga tidak mengapa. Adapun membatalkan Witir (*naqdhul-witr*), sungguh terdapat larangan yang shahih mengenainya, maka tidak sepatutnya dibatalkan. Diriwayatkan secara mutlak bahwa beliau ﷺ bersabda, "Tidak ada dua Witir dalam satu malam." Bagi orang yang ragu akan bangunnya, ada suatu keringanan halus yang dianggap baik oleh sebagian ulama, yaitu ia shalat dua rakaat setelah Witir sambil duduk di tempat tidurnya saat hendak tidur. Adalah Rasulullah ﷺ merangkak ke tempat tidurnya dan melakukan shalat dua rakaat tersebut dengan membaca padanya *Idza zulzilat* dan *Alhakumut-takatsur* karena mengandung peringatan dan ancaman; dan dalam satu riwayat membaca *Qul ya ayyuhal-kafirun* karena mengandung pelepasan diri dari syirik serta mengesakan ibadah untuk Allah Ta'ala. Dikatakan bahwa jika ia bangun, kedua rakaat itu berkedudukan sebagai satu rakaat, sehingga ia boleh berwitir dengan satu rakaat di akhir shalat malam, seakan-akan apa yang lalu digenapkan oleh keduanya dan bagus baginya memulai Witir kembali. Abu Talib Al-Makki menganggap baik hal ini dan berkata mengenai hal ini ada tiga amal: memendekkan angan-angan, mendapatkan Witir, dan Witir di akhir malam. Hal itu adalah sebagaimana…
ذكره لكن ربما يخطر أنهما لو شفعتا ما مضى لكان كذلك وإن لم يستيقظ وأبطل وتره الأول فكونه شافعاً إن استيقظ غير مشفع إن نام فبه نظر إلا أن يصح من رسول الله ﷺ إيتاره قبلهما وإعادته الوتر فيفهم منه أن الركعتين شفع بصورتهما وتر بمعناهما فيحسب وتراً إن لم يستيقظ وشفعا إن استيقط
…yang beliau sebutkan. Namun terkadang terlintas bahwa sekiranya kedua rakaat itu menggenapkan apa yang telah lalu, niscaya demikian pula halnya meskipun ia tidak bangun dan membatalkan Witir pertamanya. Maka keadaannya sebagai penggenap jika ia bangun dan bukan penggenap jika ia tidur mengandung keraguan (*fiihi nazhar*), kecuali jika shahih dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau berwitir sebelum keduanya dan mengulangi Witirnya, sehingga dapat difahami darinya bahwa dua rakaat tersebut adalah genap secara bentuk (*shuratan*) dan ganjil secara makna (*ma'nan*), sehingga dihitung sebagai Witir jika ia tidak bangun dan sebagai genap jika ia bangun.
ثم يستحب بعد التسليم من الوتر أن يقول سبحان الملك القدوس رب الملائكة والروح جللت السموات والأرض بالعظمة والجبروت وتعززت بالقدرة وقهرت العباد بالموت روي أنه ﷺ ما مات حتى كان أكثر صلاته جالساً إلا المكتوبة وقد قال للقاعد نصف أجر القائم وللنائم نصف أجر القاعد وذلك يدل على صحة النافلة دائماً
Kemudian disunnahkan setelah salam dari Witir mengucapkan: "Maha Suci Penguasa Yang Maha Kudus, Tuhan para malaikat dan Ruh. Engkau mengagungkan langit dan bumi dengan keagungan dan kekuasaan mutlak (*jabarut*), Engkau Maha Perkasa dengan kekuasaan (*qudrah*), dan Engkau menundukkan hamba-hamba dengan kematian." Diriwayatkan bahwa beliau ﷺ tidak wafat hingga sebagian besar shalat (sunnah) beliau dilakukan sambil duduk kecuali shalat fardhu. Sungguh beliau telah bersabda, "Bagi orang yang duduk mendapat separuh pahala orang yang berdiri, dan bagi orang yang berbaring mendapat separuh pahala orang yang duduk." Hal itu menunjukkan keabsahan shalat sunnah (sambil duduk/berbaring) dalam segala kondisi.
الورد الثالث النوم ولا بأس أن يعد ذلك في الأوراد فإنه إذا روعيت آدابه احتسب عبادة فقد قيل إن للعبد إذا نام على طهارة وذكر الله تعالى يكتب مصلياً حتى يستيقظ ويدخل في شعاره ملك فإن تحرك في نومه فذكر الله تعالى دعا له الملك واستغفر له الله وفي الخبر إذا نام على طهارة رفع روحه إلى العرش هو ضعيف حديث نوم العالم عبادة ونفسه تسبيح قلت المعروف فيه الصائم دون العالم وقد تقدم في الصوم حديث قال معاذ لأبي موسى كيف تصنع في قيام الليل فقال أقوم الليل أجمع لا أنام منه شيئاً وأتفوق القرآن تفوقاً قال معاذ لكني أنام ثم أقوم واحتسب في نومتي ما أحتسب في قومتي فذكر ذلك للنبي ﷺ فقال معاذ أفقه منك متفق عليه بنحوه من حديث أبي سعيد وليس فيه أنهما ذكرا ذلك للنبي ﷺ ولا قوله معاذ أفقه منك وإنما زاد فيه الطبراني فكان معاذ أفضل منه حديث إذا نام العبد على طهارة عرج بروحه إلى العرش فكانت رؤياه صادقة الحديث تقدم حديث أنه كان يستاك في كل ليلة مراراً عند كل نومة وعند التنبه منها تقدم في الطهارة حديث من أتى فراشه وهو ينوي أن يقوم يصلي من الليل فغلبته عيناه حتى يصبح كتب له ما نوى وكان نومه صدقة من الله عليه أخرجه النسائي وابن ماجه من حديث أبي الدرداء الثَّالِثُ أَنْ لَا يَبِيتَ مَنْ لَهُ وَصِيَّةٌ إِلَّا وَوَصِيَّتُهُ مَكْتُوبَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ فَإِنَّهُ لَا يأمن
Wirid Ketiga: Tidur. Tidak mengapa memasukkannya ke dalam bagian wirid, sebab jika adab-adabnya dipelihara, ia bernilai ibadah. Dikatakan bahwa seorang hamba apabila tidur dalam keadaan suci dan berzikir kepada Allah Ta'ala, ia dicatat sebagai orang yang shalat hingga ia bangun, dan malaikat masuk ke dalam pakaiannya; jika ia bergerak dalam tidurnya lalu mengingat Allah Ta'ala, malaikat mendoakannya dan memohonkan ampunan baginya kepada Allah. Dalam sebuah riwayat: "Apabila ia tidur dalam keadaan suci, rohnya diangkat ke Arsy." Hadis ini dha'if. Adapun hadis "Tidurnya orang alim adalah ibadah dan nafasnya adalah tasbih," aku katakan: yang terkenal padanya adalah orang yang berpuasa, bukan orang alim, dan telah lalu dalam bab Puasa. Hadis: Mu'adz berkata kepada Abu Musa, "Bagaimana yang engkau lakukan dalam shalat malam?" Ia menjawab, "Aku shalat sepanjang malam tanpa tidur sedikit pun dan aku membaca Al-Qur'an secara bertahap." Mu'adz berkata, "Adapun aku, aku tidur kemudian aku bangun, dan aku mengharapkan pahala dalam tidurku sebagaimana aku mengharapkan pahala dalam bangun malamku." Lalu hal itu diceritakan kepada Nabi ﷺ, maka beliau bersabda, "Mu'adz lebih paham fiqih darimu." Muttafaq 'alaih dengan makna serupa dari hadis Abu Sa'id, namun di dalamnya tidak disebutkan bahwa keduanya menceritakan hal itu kepada Nabi ﷺ, tidak pula sabda beliau "Mu'adz lebih paham fiqih darimu", melainkan At-Thabarani menambahkan di dalamnya: "Maka Mu'adz lebih utama darinya." Hadis: "Apabila seorang hamba tidur dalam keadaan suci, rohnya dinaikkan ke Arsy sehingga mimpinya menjadi benar…" Hadis ini telah lalu. Hadis bahwa beliau bersiwak setiap malam beberapa kali saat hendak tidur dan saat terbangun telah lalu dalam bab Thaharah. Hadis: "Barangsiapa mendatangi tempat tidurnya sementara ia berniat untuk bangun shalat malam, lalu matanya mengalahkannya (tertidur) hingga subuh, dicatat baginya apa yang ia niatkan dan tidurnya menjadi sedekah baginya dari Allah," diriwayatkan oleh An-Nasa'i dan Ibnu Majah dari hadis Abu Darda'. Ketiga: Hendaklah orang yang memiliki wasiat tidak melewati malam melainkan wasiatnya telah tertulis di sisi kepalanya, sebab ia tidak merasa aman dari…
القبض في النوم فإن من مات من غير وصية لم يؤذن له في الكلام بالبرزخ إلى يوم القيامة يتزاوره الأموات ويتحدثون وهو لا يتكلم فيقول بعضهم لبعض هذا المسكين مات من غير وصية وذلك مستحب خوف موت الفجأة وموت الفجأة تخفيف إلا لمن ليس مستعداً للموت بكونه مثقل الظهر بالمظالم الرَّابِعُ أَنْ يَنَامَ تَائِبًا مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ سَلِيمَ الْقَلْبِ لِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ لَا يُحَدِّثَ نَفْسَهُ بِظُلْمِ أَحَدٍ وَلَا يَعْزِمَ عَلَى مَعْصِيَةٍ إِنِ استيقظ قال ﷺ من أوى إلى فراشه لا ينوي ظلم أحد ولا يحقد على أحد غفر له ما اجترم الخامس أن لا يتنعم بتمهيد الفرش الناعمة بل يترك ذلك أو يقتصد فيه كان بعض السلف يكره التمهيد للنوم ويرى ذلك تكلفاً وكان أهل الصفة لا يجعلون بينهم وبين التراب حاجزاً ويقولون منها خلقنا وإليها نرد وكانوا يرون ذلك أرق لقلوبهم وأجدر بتواضع نفوسهم فمن لم تسمح بذلك نفسه فليقتصد السَّادِسُ أَنْ لَا يَنَامَ مَا لَمْ يَغْلِبْهُ النَّوْمُ وَلَا يَتَكَلَّفَ اسْتِجْلَابَهُ إِلَّا إِذَا قَصَدَ بِهِ الِاسْتِعَانَةَ عَلَى الْقِيَامِ فِي آخِرِ اللَّيْلِ فقد كان نومهم غلبة وأكلهم فاقة وكلامهم ضرورة ولذلك وصفوا بأنهم كانوا قليلاً من الليل ما يهجعون وإن غلبة النوم عن الصلاة والذكر وصار لا يدري ما يقول فلينم حتى يعقل ما يقول وكان ابن عباس ﵁ يكره النوم قاعداً وفي الخبر لا تكابدوا الليل وَقِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ إن فلانة تصلي بالليل فإذا غلبها النوم تعلقت بحبل فنهى عن ذلك وقال ليصل أحدكم من الليل ما تيسر له فإذا غلبه النوم فليرقد وقال ﷺ تكلفوا من العمل ما تطيقون فإن الله لن يمل حتى تملوا وقال ﷺ خير هذا الذين أيسره وقيل له ﷺ إن فلانا يصلي فلا ينام ويصوم فلا يفطر فقال لكني أصلي وأنام وأصوم وأفطر هذه سنتي فمن رغب عنها فليس مني وقال ﷺ لا تشادوا هذا الدين فإنه متين فمن يشاده يغلبه فلا تبغض إلى نفسك عبادة الله السابع أن ينام مستقبل القبلة والاستقبال على ضربين أحدهما استقبال المحتضر وهو المستلقي على قفاه فاستقباله أن يكون وجهه وأخمصاه إلى القبلة والثاني استقبال اللحد وهو أن ينام على جنب بأن يكون وجهه إليها مع قبالة بدنه إذا نام على شقه الأيمن الثامن الدعاء عند النوم فيقول باسمك ربي وضعت جنبي وباسمك أرفعه إلى آخر الدعوات المأثورة التي أوردناها في كتاب الدعوات ويستحب أن يقرأ الآيات المخصوصة مثل آية الكرسي وآخر البقرة وغيرهما وقوله تعالى وإلهكم إله واحد لا إله إلا هو إلى قوله لقوم يعقلون يقال إن من قرأها عند النوم حفظ الله عليه القرآن فلم ينسه ويقرأ من سورة الأعراف هذه الآية إن ربكم الله الذي خلق السموات والأرض في ستة أيام إلى قوله
…pencabutan nyawa saat tidur. Sesungguhnya barangsiapa yang meninggal tanpa wasiat, tidak diizinkan baginya untuk berbicara di alam barzakh hingga hari kiamat; orang-orang mati saling mengunjungi dan berbincang, sedangkan ia tidak dapat berbicara. Maka sebagian mereka berkata kepada yang lain, "Orang miskin ini meninggal tanpa wasiat." Hal itu disunnahkan karena takut akan mati mendadak (*mautul-faj'ah*), sedangkan mati mendadak adalah keringanan kecuali bagi orang yang tidak bersiap-siap menghadapi kematian karena punggungnya dibebani oleh kedzaliman-kedzaliman. Keempat: Hendaklah ia tidur dalam keadaan bertaubat dari setiap dosa, dengan hati yang selamat bersih terhadap seluruh kaum muslimin, tidak meniatkan dalam dirinya untuk menzalimi seorang pun, dan tidak berazam untuk bermaksiat jika ia bangun. Nabi ﷺ bersabda, "Barangsiapa mendatangi tempat tidurnya tanpa berniat menzalimi seorang pun dan tidak berbuat dengki kepada seorang pun, diampuni baginya apa yang telah diperbuatnya." Kelima: Hendaklah ia tidak bermewah-mewah dengan menggelar kasur yang empuk, melainkan meninggalkannya atau bersikap bersahaja padanya. Sebagian salaf membenci menggelar kasur empuk untuk tidur dan menganggapnya sebagai bentuk pemaksaan diri (*takalluf*). Para *Ahlu As-Suffah* tidak menjadikan penghalang antara mereka dengan tanah, dan mereka berkata, "Dari tanahlah kita diciptakan dan kepadanya kita dikembalikan." Mereka melihat bahwa hal itu lebih melembutkan hati mereka dan lebih layak bagi ketundukan jiwa mereka. Barangsiapa yang jiwanya belum dapat merelakan hal itu, hendaklah ia bersikap hemat/sedang. Keenam: Hendaklah ia tidak tidur selama tidur belum mengalahkannya, dan tidak memaksakan diri memancing tidur kecuali apabila bertujuan dengannya untuk membantu bangun di akhir malam. Adalah tidur mereka (para salaf) karena ketidaksengajaan (terkalahkan kantuk), makan mereka karena lapar, dan bicara mereka karena darurat. Oleh karena itu mereka disifati bahwa mereka "sedikit sekali tidur di waktu malam" (QS. Az-Zariyat: 17). Apabila rasa kantuk mengalahkannya dari shalat dan zikir sehingga ia tidak sadar apa yang diucapkannya, hendaknya ia tidur hingga ia memahami apa yang diucapkannya. Ibnu Abbas r.a. membenci tidur dalam keadaan duduk. Dalam sebuah hadis: "Janganlah kalian memaksakan diri menghadapi malam." Dan dikatakan kepada Rasulullah ﷺ, "Sesungguhnya Si Fulanah shalat di malam hari, dan apabila kantuk mengalahkannya ia berpegangan pada tali." Maka beliau melarang hal itu dan bersabda, "Hendaklah salah seorang dari kalian shalat malam sekadarnya, dan apabila kantuk mengalahkannya hendaklah ia tidur." Beliau ﷺ juga bersabda, "Bebanilah diri kalian dengan amal yang sanggup kalian jalani, karena sesungguhnya Allah tidak akan bosan hingga kalian bosan." Beliau ﷺ juga bersabda, "Sebaik-baik agama ini adalah yang paling mudahnya." Dikatakan kepada beliau ﷺ, "Sesungguhnya Si Fulan shalat dan tidak tidur, serta berpuasa dan tidak berbuka." Maka beliau bersabda, "Tetapi aku shalat dan tidur, serta berpuasa dan berbuka. Ini adalah sunnahku, barangsiapa yang benci kepada sunnahku maka ia bukan dari golonganku." Beliau ﷺ bersabda, "Janganlah kalian bersikap keras terhadap agama ini, karena sesungguhnya agama ini kokoh; barangsiapa yang bersikap keras terhadapnya, agama akan mengalahkannya. Maka janganlah membuat dirimu benci pada ibadah kepada Allah." Ketujuh: Hendaklah ia tidur menghadap kiblat. Menghadap kiblat ada dua macam: Pertama, menghadapnya orang yang sakaratul maut, yaitu terlentang di atas punggungnya; cara menghadapnya adalah wajah dan kedua telapak kakinya diarahkan ke kiblat. Kedua, menghadapnya liang lahad, yaitu tidur miring dengan wajah dan bagian depan tubuhnya menghadap ke arah kiblat jika ia tidur pada lambung kanannya. Kedelapan: Berdoa saat tidur, yaitu mengucapkan: "Bismika Rabbi wadha'tu jambii wa bismika arfa'uhu…" hingga akhir doa-doa mayshur yang telah kami sebutkan dalam Kitab Ad-Da'awat. Disunnahkan membaca ayat-ayat khusus seperti Ayat Kursi, akhir Al-Baqarah, dan selainnya, serta firman-Nya Ta'ala: "Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada tuhan selain Dia…" hingga firman-Nya "…bagi kaum yang mengerti" (QS. Al-Baqarah: 163-164). Dikatakan bahwa barangsiapa membacanya ketika tidur, Allah akan memelihara Al-Qur'an baginya sehingga ia tidak melupakannya. Juga membaca dari surah Al-A'raf ayat ini: "Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa…" hingga firman-Nya "…dekat kepada orang-orang yang berbuat baik" (QS. Al-A'raf: 54-56), serta akhir Bani Isra'il (Al-Isra'): "Katakanlah: Serulah Allah…" dua ayat (QS. Al-Isra': 110-111); karena sesungguhnya malaikat masuk ke dalam pakaiannya yang diwakilkan untuk menjaganya dan memohonkan ampunan baginya. Ia juga membaca Al-Mu'awwidzatain (Al-Falaq dan An-Nas), lalu meniupkannya pada kedua tangannya dan mengusapkannya ke wajah serta seluruh tubuhnya. Demikianlah diriwayatkan dari perbuatan Rasulullah ﷺ. Hendaklah ia juga membaca sepuluh ayat dari awal surah Al-Kahfi dan sepuluh ayat dari akhirnya, dan ayat-ayat ini adalah untuk membantu bangun shalat malam. Ali Karamallahu Wajjhah berkata, "Aku tidak melihat seorang laki-laki yang sempurna akalnya tidur sebelum membaca dua ayat dari akhir surah Al-Baqarah." Hendaklah ia mengucapkan dua puluh lima kali: *Subhanallah walhamdulillah wa laa ilaha illallah wallahu akbar*, sehingga jumlah total kalimat yang empat ini menjadi seratus kali. Kesembilan: Hendaklah ia mengingat saat hendak tidur bahwa tidur adalah sejenis kematian dan terbangun adalah sejenis kebangkitan (*ba'ts*). Allah Ta'ala berfirman, "Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di dalam tidurnya" (QS. Az-Zumar: 42), dan Dia berfirman, "Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari" (QS. Al-An'am: 60), maka Allah menamakannya sebagai penwafatan (*tawaffi*). Sebagaimana orang yang terbangun tersingkap baginya penyaksian-penyaksian yang tidak sesuai dengan keadaannya saat tidur, begitu pula orang yang dibangkitkan akan melihat apa yang belum pernah terlintas dalam hatinya dan belum pernah disaksikan oleh inderanya. Perumpamaan tidur di antara kehidupan dan kematian seperti perumpamaan alam barzakh di antara dunia dan akhirat. Luqman berkata kepada putranya, "Wahai putraku, jika engkau ragu tentang kematian, maka janganlah engkau tidur; sebagaimana engkau tidur, demikian pula engkau akan mati. Dan jika engkau ragu tentang kebangkitan, maka janganlah engkau terbangun; sebagaimana engkau terbangun setelah tidurmu, demikian pula engkau akan dibangkitkan setelah matimu." Ka'b Al-Ahbar berkata, "Apabila engkau tidur, miringlah pada lambung kananmu dan hadapkan wajahmu ke kiblat, karena sesungguhnya itu adalah penwafatan." Aisyah r.a. berkata bahwa perkataan terakhir Rasulullah ﷺ saat hendak tidur sementara beliau meletakkan pipinya di atas tangan kanannya dan beliau menyadari bahwa beliau bisa saja mati pada malam itu adalah: "Ya Allah, Tuhan langit yang tujuh dan Tuhan Arsy yang agung, Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu serta Pemiliknya…" doanya hingga akhir sebagaimana telah kami sebutkan dalam Kitab Ad-Da'awat. Maka wajib bagi seorang hamba untuk memeriksa tiga hal saat hendak tidur: atas dasar apa ia tidur, apa yang dominan dalam hatinya, apakah cinta kepada Allah Ta'ala dan cinta bertemu dengan-Nya, ataukah cinta kepada dunia. Hendaklah ia meyakini dengan pasti bahwa ia diwafatkan atas apa yang dominan padanya, dan dibangkitkan atas apa ia diwafatkan dengannya; sebab seseorang akan bersama dengan siapa yang dicintainya dan apa yang dicintainya.
قريب من المحسنين وآخر بني آسرائيل قل ادعوا الله الآيتين فإنه يدخل في شعاره ملك يوكل بحفظه فيستغفر له ويقرأ المعوذتين وَيَنْفُثُ بِهِنَّ فِي يَدَيْهِ وَيَمْسَحُ بِهِمَا وَجْهَهُ وسائر جسده كذلك روي من فَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وليقرأ عشراً من أول الكهف وعشراً من آخرها وهذه الآي للاستيقاظ لقيام الليل وكان علي كرم الله وجهه يقول ما أرى أن رجلاً مستكملاً عقله ينام قبل أن يقرأ الآيتين من آخر سورة البقرة وليقل خمساً وعشرين مرة سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا الله والله أكبر ليكون مجموع هذه الكلمات الأربع مائة مرة التَّاسِعُ أَنْ يَتَذَكَّرَ عِنْدَ النَّوْمِ أَنَّ النَّوْمَ نوع وفاة والتيقظ نوع بعث قال الله تعالى الله يتوفى الأنفس حين موتها والتي لم تمت في منامها ﴿وقال﴾ وهو الذي يتوفاكم بالليل فسماه توفياً وكما أن المستيقظ تنكشف له مشاهدات لا تناسب أحواله في النوم فكذلك المبعوث يرى ما لم يخطر قط بباله ولا شاهده حسه ومثل النوم بين الحياة والموت مثل البزخ بين الدنيا والآخرة وقال لقمان لابنه يا بني إن كنت تشك في الموت فلا تنم فكما أنك تنام كذلك تموت وإن كنت تشك في البعث فلا تنتبه فكما أنك تنتبه بعد نومك فكذلك تبعث بعد موتك وقال كعب الأحبار إذا نمت فاضطجع على شقك الأيمن واستقبل القبلة بوجهك فإنها وفاة وقالت عائشة ﵂ كان رسول الله ﷺ آخر ما يقول حين ينام وهو واضع خده على يده اليمنى وهو يرى أنه ميت في ليلته تلك اللهم رب السموات السبع ورب العرش العظيم ربنا ورب كل شيء ومليكه الدعاء إلى آخره كما ذكرناه في كتاب الدعوات فحق على العبد أن يفتش عن ثلاثة عند نومه أنه على ماذا ينام وما الغالب عليه حب الله تعالى وحب لقائه أو حب الدنيا وَلْيَتَحَقَّقْ أَنَّهُ يُتَوَفَّى عَلَى مَا هُوَ الْغَالِبُ عليه ويحشر على ما يتوفى عليه فإن المرء مع من أحب ومع ما أحب
Kesepuluh: Berdoa ketika terbangun. Hendaknya ia mengucapkan dalam setiap kali terbangun dan berbolak-baliknya badan tatkala terjaga apa yang biasa diucapkan oleh Rasulullah ﷺ: "Tidak ada tuhan selain Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa, Tuhan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun." Hendaklah ia bersungguh-sungguh agar hal terakhir yang melintas di hatinya ketika hendak tidur adalah zikir kepada Allah Ta'ala, dan hal pertama yang masuk ke hatinya saat terbangun adalah zikir kepada Allah Ta'ala; sebab itulah tanda kecintaan. Tidak ada yang melekat pada hati pada kedua kondisi ini melainkan apa yang mendominasinya. Maka hendaklah ia menguji hatinya dengannya, sebab itu adalah tanda yang menyingkapkan isi batin hati. Disunnahkan zikir-zikir ini hanyalah untuk menarik hati menuju zikir kepada Allah Ta'ala. Apabila ia terbangun untuk berdiri (shalat), hendaknya ia mengucapkan: "Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami dan kepada-Nya tempat kembali…" hingga akhir doa-doa terbangun yang telah kami sebutkan.
العاشر الدعاء عن التنبه فليقل في تيقظاته وتقلباته مهما تنبه ما كان يقوله رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لَا إله إلا الله الواحد القهار رب السموات والأرض وما بينهما العزيز الغفار وليجتهد أن يكون آخر ما يجري على قلبه عند النوم ذكر الله تعالى وأول ما يرد على قلبه عند التيقظ ذكر الله تعالى فهو علامة الحب ولا يلازم القلب في هاتين الحالتين إلا ما هو الغالب عليه فليجرب قلبه به فهو علامة الحب فإنها علامة تكشف من باطن القلب وإنما استحبت هذه الأذكار لتستجر القلب إلى ذكر الله تعالى فإذا استيقظ ليقوم قال الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وإليه النشور إلى آخر ما أوردناه من أدعية التيقظ
Wirid Keempat: Masuk dengan berlalu separuh malam yang pertama hingga tersisa sepertiga malam yang akhir (seperenam malam), dan pada saat itulah hamba berdiri untuk tahajud. Nama *Tahajud* secara khusus digunakan untuk shalat setelah *hujud* dan *huju'*, yaitu tidur. Ini adalah pertengahan malam dan serupa dengan wirid setelah *zawal* yang berada di pertengahan siang. Allah Ta'ala bersumpah dengannya tatkala berfirman, "Dan demi malam apabila telah sunyi (saja)" (QS. Ad-Duha: 2), yaitu apabila telah tenang, dan ketenangannya adalah kedamaiannya pada waktu ini; maka tidak ada mata yang tersisa melainkan tidur, kecuali Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri Yang tidak mengantuk dan tidak tidur. Dikatakan pula: *idza sajaa* berarti apabila membentang dan panjang, dan dikatakan pula: apabila menjadi gelap. Rasulullah ﷺ ditanya: "Malam manakah yang paling didengar (doa padanya)?" Beliau menjawab: "Pertengahan malam." Dan Daud a.s. berkata: "Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku ingin beribadah kepada-Mu, maka waktu manakah yang paling utama?" Lalu Allah Ta'ala mewahyukan kepadanya: "Wahai Daud, janganlah engkau berdiri di awal malam dan jangan pula di akhirnya, sebab barangsiapa yang berdiri…
الورد الرابع يدخل بمضي النصف الأول من الليل إلى أن يبقى من الليل سدسه وعند ذلك يقوم العبد للتهجد فاسم التهجد يختص بما بعد الهجود والهجوع وهو النوم وهذا وسط الليل ويشبه الورد الذي بعد الزوال وهو وسط النهار وبه أقسم الله تعالى فقال والليل إذا سجى أي إذا سكن وسكونه هدوه في هذا الوقت فلا تبقى عين إلا نائمة سوى الحي القيوم الذي لا تأخذه سنة ولا نوم وقيل إذا سجى إذا امتد وطال وقيل إذا أظلم وَسُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أي الليل أسمع فقال جوف الليل وقال داود ﷺ إلهي إني أحب أن أتعبد لك فأي وقت أفضل فأوحى الله تعالى إليه يا داود لا تقم أول الليل ولا آخره فإن من قام
Wirid keempat dimulai sejak berlalu separuh pertama malam hingga tersisa seperenam malam. Pada waktu itulah seorang hamba bangkit untuk tahajud. Nama tahajud ini khusus untuk ibadah yang dilakukan setelah hujud dan huju', yaitu tidur. Ini adalah pertengahan malam dan menyerupai wirid setelah gelincir matahari (zawal) yang merupakan pertengahan siang. Dengan waktu inilah Allah Ta'ala bersumpah dalam firman-Nya: "Demi malam apabila telah sunyi" (wal-laili idza sajaa), yaitu apabila telah tenang. Ketenangannya adalah kesunyiannya pada waktu ini, sehingga tidak ada mata yang tersisa melainkan tertidur, kecuali Yang Mahahidup lagi Maha Berdiri Sendiri (Al-Hayy Al-Qayyum) yang tidak mengantuk dan tidak tidur. Dikatakan pula makna idza sajaa adalah apabila membentang dan memanjang, serta ada yang mengatakan apabila telah gelap. Rasulullah ﷺ pernah ditanya: "Waktu malam manakah yang paling didengar (doa di dalamnya)?" Beliau menjawab: "Di tengah malam." Nabi Daud 'Alaihissalam pernah berdoa: "Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku ingin beribadah kepada-Mu, maka waktu manakah yang paling utama?" Lalu Allah Ta'ala mewahyukan kepadanya: "Wahai Daud, janganlah engkau bangun di awal malam dan jangan pula di akhir malam, karena barang siapa yang bangun…"
أوله نام آخره ومن قام آخره لم يقم أوله ولكن قم وسط الليل حتى تخلو بي وأخلو بك وارفع إلي جوائجك وَسُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أي الليل أفضل فقال نصف الليل الغابر يعني الباقي وفي آخر الليل وردت الأخبار باهتزاز العرش وانتشار الرياح من جنات عدن ومن نزول الجبار تعالى إلى سماء الدنيا وغير ذلك من الأخبار وترتيب هذا الورد أنه بعد الفراغ من الأدعية التي للاستيقاظ يتوضأ وضوءاً كما سبق بسننه وآدابه وأدعيته ثم يتوجه إلى مصلاه ويقوم مستقبلا القبلة ويقول اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ الله بكرة وأصيلاً ثم يسبح عشراً وليحمد الله عشراً ويهلل عشراً وليقل الله أكبر ذو الملكوت والجبروت والكبرياء والعظمة والجلال والقدرة وليقل هذه الكلمات فإنها مأثورة عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ في قيامه للتهجد اللهم لك الحمد أنت نور السموات والأرض ولك الحمد أنت بهاء السموات والأرض ولك الحمد أنت رب السموات والأرض ولك الحمد أنت قيوم السموات والأرض ومن فيهن ومن عليهن أنت الحق ومنك الحق ولقاؤك حق والجنة حق والنار حق والنشور حق والنبيون حق ومحمد ﷺ حق اللهم لك أسلمت وبك آمنت وعليك توكلت وإليك أنبت وبك خاصمت وإليك حاكمت فاغفر لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وما أعلنت وأسرفت أنت المقدم وأنت المؤخر لا إله إلا أنت اللهم آت نفسي تقواها وزكها أنت خير من زكاها أنت وليها ومولاها اللهم اهدني لأحسن الأعمال لا يهدي لأحسنها إلا أنت واصرف عني سيئها لا يصرف عني سيئها إلا أنت أسألك مسألة البائس المسكين وأدعوك دعاء المفتقر الذليل فلا تجعلني بدعائك رب شقياً وكن بي رءوفاً رحيماً يا خير المسئولين وأكرم المعطين وَقَالَتْ عَائِشَةُ ﵂ كَانَ ﷺ إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ افْتَتَحَ صَلَاتَهُ قَالَ اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرِيلَ وَمِيكَائِيلَ وإسرافيل فاطر السموات وَالْأَرْضِ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ إِنَّكَ تَهْدِي من تشاء إلى صراط مستقيما ثُمَّ يَفْتَتِحُ الصَّلَاةَ وَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ ثُمَّ يُصَلِّي مَثْنَى مَثْنَى مَا تَيَسَّرَ لَهُ وَيَخْتِمُ بِالْوِتْرِ إِنْ لَمْ يَكُنْ قَدْ صَلَّى الْوِتْرَ ويستحب أن يفصل بين الصلاتين عند تسليمه بمائة تسبيحة ليستريح ويزيد نشاطه للصلاة وقد صح في صلاة رسول الله ﷺ بالليل أنه صلى أولاً ركعتين خفيفتين ثم ركعتين طويلتين ثم ركعتين دون اللتين قبلهما ثم لم يزل يقصر بالتدريج إلى ثلاث عشرة
"…siapa yang bangun di awal malam akan tidur di akhir malamnya, dan siapa yang bangun di akhir malam tidak dapat bangun di awal malamnya. Namun bangunlah di pertengahan malam agar engkau berkhalwat (berdua-duaan) dengan-Ku dan Aku berkhalwat denganku, serta sampaikanlah kebutuhan-kebutuhanmu kepada-Ku." Rasulullah ﷺ pernah ditanya: "Malam manakah yang paling utama?" Beliau menjawab: "Separuh malam yang tersisa (yakni bagian malam yang masih tersisa)." Dan pada akhir malam terdapat riwayat-riwayat tentang bergetarnya 'Arsy, berhembusnya angin dari surga 'Adn, turunnya Allah Yang Mahaperkasa ke langit dunia, serta riwayat-riwayat lainnya. Adapun tata urutan wirid ini adalah: setelah selesai membaca doa-doa bangun tidur, ia berwudhu dengan sempurna beserta sunnah-sunnah, adab-adab, dan doa-doanya sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya. Kemudian ia menuju tempat shalatnya dan berdiri menghadap kiblat seraya mengucapkan: "Allah Maha Besar sebesar-besarnya, segala puji bagi Allah sebanyak-banyaknya, dan Maha Suci Allah pada waktu pagi dan petang." Kemudian ia bertasbih sepuluh kali, bertahmid sepuluh kali, bertahlil sepuluh kali, dan mengucapkan: "Allah Maha Besar, Pemilik Kerajaan Langit (Malakut), Keperkasaan (Jabarut), Kebesaran, Keagungan, Kemuliaan, dan Kekuasaan." Hendaklah ia mengucapkan kalimat-kalimat ini, karena sesungguhnya kalimat-kalimat ini ma'tsur (diriwayatkan) dari Rasulullah ﷺ ketika beliau bangun untuk shalat tahajud: "Ya Allah, bagi-Mu segala puji, Engkaulah Cahaya langit dan bumi. Bagi-Mu segala puji, Engkaulah Keindahan langit dan bumi. Bagi-Mu segala puji, Engkaulah Pemelihara langit dan bumi. Bagi-Mu segala puji, Engkaulah Pengatur langit dan bumi beserta siapa yang ada di dalamnya dan siapa yang ada di atasnya. Engkau Mahabenar, janji-Mu adalah benar, pertemuan dengan-Mu adalah benar, surga itu benar, neraka itu benar, hari kebangkitan itu benar, para nabi itu benar, dan Nabi Muhammad ﷺ adalah benar. Ya Allah, hanya kepada-Mu aku berserah diri, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku bertawakal, kepada-Mu aku kembali (bertaubat), dengan pembelaan-Mu aku berdebat, dan kepada-Mu aku memohon keputusan. Maka ampunilah dosa-dosaku yang telah lalu dan yang akan datang, yang aku sembunyikan dan yang aku nyatakan, serta apa yang aku lakukan secara berlebihan. Engkaulah Yang Mendahulukan dan Engkaulah Yang Mengakhirkan, tidak ada tuhan selain Engkau. Ya Allah, berikanlah kepada jiwaku ketakwaannya, dan sucikanlah ia, Engkaulah sebaik-baik Yang Mensucikannya, Engkaulah Pelindung dan Pemiliknya. Ya Allah, tunjukilah aku kepada amal-amal yang paling baik, tidak ada yang dapat menunjuki kepada yang paling baik melainkan Engkau, dan palingkanlah dariku keburukannya, tidak ada yang dapat memalingkan dariku keburukannya melainkan Engkau. Aku memohon kepada-Mu seperti permohonan orang yang sengsara dan miskin, dan aku berdoa kepada-Mu seperti doa orang yang fakir dan hina. Maka janganlah Engkau jadikan aku kecewa karena berdoa kepada-Mu, wahai Tuhanku, dan jadilah Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepadaku, wahai Sebaik-baik Tempat Memohon dan Sebaik-baik Pemberi." Aisyah ﵂ berkata: Rasulullah ﷺ apabila bangun di malam hari membuka shalatnya dengan berdoa: "Ya Allah, Tuhan Jibril, Mikail, dan Israfil, Pencipta langit dan bumi, Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Engkaulah yang memutuskan di antara hamba-hamba-Mu tentang apa yang mereka perselisihkan. Tunjukilah aku kepada kebenaran dalam apa yang diperselisihkan itu dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau memberi petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki ke jalan yang lurus." Kemudian ia memulai shalat dan mengerjakan dua rakaat yang ringan, lalu shalat dua rakaat dua rakaat sesuai kemampuannya, dan mengakhirinya dengan shalat witir jika ia belum mengerjakan shalat witir. Disunnahkan untuk memisahkan antara dua shalat ketika salamnya dengan membaca seratus kali tasbih agar ia dapat beristirahat dan menambah semangatnya untuk shalat. Dan telah sahih mengenai shalat malam Rasulullah ﷺ bahwa beliau pertama-tama shalat dua rakaat yang ringan, kemudian dua rakaat yang panjang, lalu dua rakaat yang lebih pendek dari dua rakaat sebelumnya, kemudian beliau terus memperpendeknya secara bertahap hingga mencapai tiga belas rakaat.
ركعة وسئلت عائشة ﵂ أكان رسول الله ﷺ يجهر في قيام الليل أم يسر فقالت ربما جهر وربما أسر وقال ﷺ صلاة الليل مثنى مثنى فإذا خفت الصبح فأوتر بركعة وقال صلاة المغرب أوترت صلاة النهار فأوتروا صلاة الليل وأكثر ما صح عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ في قيام الليل ثلاث عشرة ركعة ويقرأ في هذه الركعات من ورده من القرآن أو من السور المخصوصة ما خف عليه وهو في حكم هذا الورد قريب من السدس الأخير من الليل
…rakaat. Aisyah r.a. ditanya: "Apakah Rasulullah ﷺ mengeraskan suara (jaher) dalam shalat malam atau menyamarkannya (israr)?" Beliau menjawab: "Kadang-kadang beliau mengeraskan dan kadang-kadang beliau menyamarkan." Nabi ﷺ bersabda: "Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat, maka apabila engkau khawatir subuh tiba, berwitirlah satu rakaat." Beliau juga bersabda: "Shalat Maghrib telah mengganjilkan shalat siang hari, maka ganjilkanlah (berwitirlah) shalat malam hari." Rakaat terbanyak yang shahih dari Rasulullah ﷺ dalam shalat malam adalah tiga belas rakaat. Ia membaca dalam rakaat-rakaat ini dari wirid Al-Qur'annya atau dari surah-surah khusus apa yang ringan baginya. Dan ia dalam hukum wirid ini berada dekat dengan seperenam malam yang terakhir.
الورد الخامس السدس الأخير من الليل وهو وقت السحر فإن الله تعالى قال ﴿وبالأسحار هم يستغفرون﴾ قيل يصلون لما فيها من الاستغفار وهو مقارب للفجر الذي هو وقت انصراف ملائكة الليل وإقبال ملائكة النهار وقد أمر بهذا الورد سلمان أخاه أبا الدرداء ﵄ ليلة زاره في حديث طويل قال في آخره فلما كان الليل ذهب أبو الدرداء ليقوم فقال له سلمان نم فنام ثم ذهب ليقوم فقال له نم فنام فلما كان عند الصبح قال له سلمان قم الآن فقاما فصليا فقال إن لنفسك عليك حقاً وإن لضيفك عليك حقاً وإن لأهلك عليك حقاً فأعط كل ذي حق حقه وذلك أن امرأة أبي الدرداء أخبرت سلمان أنه لا ينام الليل قال فأتيا النبي ﷺ فذكرا ذلك له فقال صدق سلمان وهذا هو الورد الخامس وفيه يستحب السحور وذلك عند خوف طلوع الفجر والوظيفة في هذين الوردين الصلاة فإذا طلع الفجر انقضت أوراد الليل ودخلت أوراد النهار فيقوم ويصلي ركعتي الفجر وهو المراد بقوله تعالى ومن الليل فسبحه وأدبار النجوم ثم يقرأ شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ والملائكة إلى آخرها ثم يقول وأنا أشهد بما شهد الله به لنفسه وشهدت به ملائكته وأولو العلم من خلقه وأستودع الله هذه الشهادة وهي لي عند الله تعالى وديعة وأسأله حفظها حتى يتوفاني عليها اللهم احطط عني بها وزراً واجعلها لي عندك ذخراً واحفظها علي وتوفني عليها حتى ألقاك بها غير مبدل تبديلاً فهذا ترتيب الأوراد للعباد وقد كانوا يستحبون أن يجمعوا مع ذلك في كل يوم بين أربعة أمور صوم وصدقة وإن قلت وعيادة مريض وشهود جنازة ففي الخبر من جمع بين هذه الأربع في يوم غفر له وفي رواية دخل الجنة فإن أنفق بعضها وعجز عن الآخر كان له أجر الجميع بحسب نيته وكانوا يكرهون أن ينقضي اليوم ولم يتصدقوا فيه بصدقة ولو بتمرة أو بصلة أو كسرة خبز لقوله ﷺ الرجل فِي ظِلِّ صَدَقَتِهِ حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ ولقوله ﷺ اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بشق تمرة ودفعت عائشة ﵂ إلى سائل عنبة واحدة فأخذها فنظر من كان عندها بعضهم إلى بعض فقالت ما لكم إن فيها لمثاقيل ذر كثير وكانوا لا يستحبون رد السائل إذ كان من أخلاق رسول الله ﷺ ذلك
Wirid kelima: Seperenam malam yang terakhir, yaitu waktu sahur. Allah Ta'ala berfirman, 'Dan pada akhir-akhir malam mereka memohon ampunan (istighfar).' Ada yang berpendapat maknanya 'mereka shalat', karena di dalamnya terdapat istighfar. Waktu ini mendekati terbitnya fajar, yang merupakan waktu berpisahnya malaikat malam dan datangnya malaikat siang. Wirid ini telah diperintahkan oleh Salman kepada saudaranya, Abu ad-Darda' radhiyallahu 'anhuma, pada malam ia mengunjunginya dalam sebuah hadis yang panjang. Di akhir hadis disebutkan: Ketika malam tiba, Abu ad-Darda' bangun untuk shalat malam, maka Salman berkata kepadanya, 'Tidurlah!' Lalu ia pun tidur. Kemudian ia bangun lagi untuk shalat, Salman berkata lagi, 'Tidurlah!' Maka ia pun tidur. Ketika mendekati subuh, Salman berkata kepadanya, 'Bangunlah sekarang!' Lalu keduanya bangun dan shalat. Kemudian Salman berkata, 'Sesungguhnya bagi dirimu ada hak atasmu, bagi tamumu ada hak atasmu, dan bagi keluargamu ada hak atasmu. Maka berikanlah kepada setiap yang memiliki hak haknya.' Hal itu karena istri Abu ad-Darda' memberitahukan kepada Salman bahwa Abu ad-Darda' tidak tidur di malam hari. Lalu keduanya mendatangi Nabi صلى الله عليه وسلم dan menceritakan hal itu kepada Beliau, maka Beliau bersabda, 'Salman benar.' Ini adalah wirid kelima. Di dalamnya disunnahkan bersahur, yaitu ketika khawatir terbitnya fajar. Tugas (wirid) pada kedua wirid malam ini adalah shalat. Apabila fajar telah terbit, berakhirlah wirid-wirid malam dan masuklah wirid-wirid siang. Maka ia bangun dan ruku' (shalat) dua rakaat fajar (sunnah subuh). Inilah yang dimaksud dengan firman Allah Ta'ala, 'Dan pada sebagian malam bertasbihlah kepada-Nya dan ketika terbenamnya bintang-bintang.' Kemudian ia membaca: 'Syahidallahu annahu laa ilaha illa huwa wal-malaikatu…' hingga akhir ayat. Lalu ia mengucapkan: 'Dan aku bersaksi sebagaimana Allah bersaksi atas diri-Nya sendiri, serta disaksikan oleh para malaikat-Nya dan orang-orang yang berilmu dari makhluk-Nya. Aku menitipkan kesaksian ini kepada Allah, dan ia adalah titipan bagiku di sisi Allah Ta'ala. Aku memohon kepada-Nya untuk menjaganya hingga Dia mewafatkanku di atas kesaksian ini. Ya Allah, hapuskanlah dariku dengannya beban dosa, jadikanlah ia bagiku simpanan pahala di sisi-Mu, jagalah ia untukku, dan wafatkanlah aku di atasnya hingga aku menemui-Mu dengannya tanpa mengubah dan merubahnya sama sekali.' Inilah urutan wirid bagi para hamba. Dahulu para ulama/salaf menyukai untuk mengumpulkan bersama itu setiap harinya empat hal: puasa, sedekah meskipun sedikit, menjenguk orang sakit, dan mengiringi jenazah. Dalam sebuah riwayat disebutkan: 'Barangsiapa mengumpulkan empat hal ini dalam sehari, niscaya diampuni dosanya.' Dan dalam riwayat lain: 'Ia akan masuk surga.' Jika ia menafkahkan sebagian darinya dan tidak mampu melakukan yang lain, maka ia mendapat pahala semuanya sesuai dengan niatnya. Dahulu mereka membenci jika suatu hari berlalu tanpa mereka bersedekah sedikit pun di dalamnya, meskipun hanya dengan sebutir kurma, seunggun bawang, atau sepotong roti. Hal ini berdasarkan sabda Beliau صلى الله عليه وسلم: 'Seseorang berada di bawah naungan sedekahnya hingga dihakimi di antara manusia,' dan berdasarkan sabda Beliau صلى الله عليه وسلم: 'Peliharalah dirimu dari api neraka walaupun dengan separuh buah kurma.' Aisyah radhiyallahu 'anha pernah memberikan sebutir buah anggur kepada seorang peminta-minta. Orang-orang yang ada di sisinya pun saling memandang (heran), maka Aisyah berkata, 'Mengapa kalian heran? Sesungguhnya di dalam sebutir anggur ini terdapat banyak timbangan sebesar zarrah.' Dahulu mereka tidak menyukai menolak peminta-minta, karena termasuk dari akhlak Rasulullah صلى الله عليه وسلم…
ما سأله أحد شيئاً فقال لا ولكنه إن لم يقدر عليه سكت وفي الخبر يصبح ابن آدم وعلى كل سلامى من جسده صدقة يعني المفصل وفي جسده ثلثمائة وستون مفصلاً فأمرك بالمعروف صدقة ونهيك عن المنكر صدقة وحملك عن الضعيف صدقة وهدايتك إلى الطريق صدقة وإماطتك الأذى صدقة حتى ذكر التسبيح والتهليل ثم قال وركعتا الضحى تأتي على ذلك كله أو تجمعن لك ذلك كله
…bahwa tidak pernah ada seorang pun yang meminta sesuatu kepada Beliau lalu Beliau menjawab 'tidak'. Namun jika Beliau tidak sanggup meenuhinya, Beliau diam. Dalam hadis disebutkan: 'Pada setiap pagi, atas setiap persendian (sulaama) dari tubuh anak Adam terdapat kewajiban sedekah,' yaitu persendian, dan pada tubuhnya terdapat tiga ratus enam puluh persendian. 'Maka amar ma'ruf-mu adalah sedekah, nahi munkar-mu adalah sedekah, engkau membawakan beban orang yang lemah adalah sedekah, petunjukmu ke jalan yang benar adalah sedekah, dan engkau menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah,' hingga Beliau menyebutkan tasbih dan tahlil, lalu bersabda: 'Dan dua rakaat shalat Dhuha mencukupi semua itu,' atau 'mengumpulkan seluruh pahala itu bagimu.'
بيان اختلاف الأوراد باختلاف الأحوال
Penjelasan Perbedaan Wirid Berdasarkan Perbedaan Kondisi
اعلم أن المريد لحرث الآخرة السالك لطريقها لا يخلو عن ستة أحوال فإنه إما عابد وإما عالم وإما متعلم وإما وال وإما محترف وإما موحد مستغرق بالواحد الصمد عن غيره الأول العابد وهو المتجرد لِلْعِبَادَةِ الَّذِي لَا شُغْلَ لَهُ غَيْرُهَا أَصْلًا ولو ترك العبادة لجلس بطالاً فترتيب أوراده ما ذكرناه نعم لا يبعد أن تختلف وظائفه بأن يستغرق أكثر أوقاته إما في الصلاة أو القراءة أو في التسبيحات فقد كان في الصحابة ﵃ من ورده في اليوم اثنا عشر ألف تسبيحة وكان فيهم من ورده ثلاثون ألفاً وكان فيهم من ورده ثلثمائة ركعة إلى ستمائة وإلى ألف ركعة وأقل ما نقل في أورادهم من الصلاة مائة ركعة في اليوم والليلة وكان بعضهم أكثر ورده القرآن وكان يختم الواحد منهم في اليوم مرة وروى مرتين عن بعضهم وكان بعضهم يقضي اليوم أو الليل في التفكر في آية واحدة يرددها وكان كرز بن وبرة مقيماً بمكة فكان يطوف في كل يوم سبعين أسبوعاً وفي كل ليلة سبعين أسبوعاً وكان مع ذلك يختم القرآن في اليوم والليلة مرتين فحسب ذلك فكان عشرة فراسخ ويكون مع كل أسبوع ركعتان فهو مائتان وثمانون ركعة وختمتان وعشرة فراسخ فإن قلت فما الأولى أن يصرف إليه أكثر الأوقات من هذه الأوراد فاعلم أن قراءة القرآن في الصلاة قائماً مع التدبر يجمع الجميع ولكن ربما تعسر المواظبة عليه فالأفضل يختلف باختلاف حال الشخص ومقصود الأوراد تزكية القلب وتطهيره وتحليته بذكر الله تعالى وإيناسه به فلينظر المريد إلى قلبه فما يراه أشد تأثيراً فيه فليواظب عليه فإذا أحس بملالة منه فلينتقل إلى غيره ولذلك نرى الأصوب لأكثر الخلق توزيع هذه الخيرات المختلفة على الأوقات كما سبق والانتقال فيها من نوع إلى نوع لأن الملال هو الغالب على الطبع وأحوال الشخص الواحد في ذلك أيضاً تختلف ولكن إذا فهم فقه الأوراد وسرها فليتبع المعنى فإن سمع تسبيحة مثلاً وأحس لها بوقع قلبه فليواظب على تكرارها ما دام يجد لها وقعاً وقد روي عن إبراهيم بن أدهم عن بعض الأبدال أنه قام ذات ليلة يصلي على شاطىء البحر فسمع صوتاً عالياً بالتسبيح ولم ير أحداً فقال من أنت أسمع صوتك ولا أرى شخصك فقال أنا ملك من الملائكة موكل بهذا البحر أسبح الله تعالى بهذا التسبيح منذ خلقت قلت فما اسمك قال مهلهيائيل قلت فما ثواب من قاله قال من قاله مائة مرة لم يمت حتى يرى مقعده من الجنة أو يرى له والتسبيح هو قوله سبحان الله العلي الديان سبحان الله الشديد الأركان سبحان من يذهب بالليل ويأتي بالنهار سبحان من لا يشغله شأن عن شأن سبحان الله الحنان المنان سبحان الله المسبح في كل مكان فهذا وأمثاله إذا سمعه المريد ووجد له في قلبه وقعا فليلازمه وأياً ما وجد القلب عنده وفتح له فيه خير فليواظب عليه الثاني الْعَالِمُ الَّذِي يَنْفَعُ النَّاسَ بِعِلْمِهِ فِي فَتْوَى أَوْ تَدْرِيسٍ أَوْ تَصْنِيفٍ فَتَرْتِيبُهُ الْأَوْرَادَ يُخَالِفُ تَرْتِيبَ الْعَابِدِ فَإِنَّهُ يَحْتَاجُ إِلَى الْمُطَالَعَةِ لِلْكُتُبِ وَإِلَى التَّصْنِيفِ وَالْإِفَادَةِ وَيَحْتَاجُ إِلَى مُدَّةٍ لَهَا لَا مَحَالَةَ فَإِنْ أَمْكَنَهُ اسْتِغْرَاقُ الْأَوْقَاتِ فِيهِ فهو أفضل ما يشتغل
Ketahuilah bahwa penuntut ladang akhirat dan penempuh jalannya tidak lepas dari enam keadaan: adakalanya ia seorang 'abid (ahli ibadah), seorang 'alim (orang berilmu/pengajar), seorang muta'allim (penuntut ilmu), seorang wali (penguasa/pejabat), seorang muhtarif (pekerja/kasib), atau seorang muwahhid (orang yang mentauhidkan Allah) yang tenggelam bersama Yang Maha Esa lagi Maha Membutuhkan Segala Sesuatu dari selain-Nya. Yang pertama: Seorang 'Abid (Ahli Ibadah). Yaitu orang yang memfokuskan diri sepenuhnya untuk beribadah dan tidak memiliki kesibukan lain selain ibadah. Seandainya ia meninggalkan ibadah, ia akan duduk menganggur. Maka susunan wiridnya adalah sebagaimana yang telah kami sebutkan. Ya, tidak mustahil amalan tugasnya berbeda-beda dengan cara menghabiskan sebagian besar waktunya baik dalam shalat, membaca Al-Qur'an, atau dalam tasbih. Sungguh di antara para sahabat radhiyallahu 'anhum ada yang wirid harian membaca tasbih sebanyak dua belas ribu kali, ada yang tiga puluh ribu kali, dan ada yang shalat tiga ratus rakaat hingga enam ratus sampai seribu rakaat. Jumlah shalat paling sedikit yang diriwayatkan dari wirid mereka adalah seratus rakaat dalam sehari semalam. Sebagian mereka menjadikan wirid utamanya adalah Al-Qur'an; ada yang mengkhatamkan sekali dalam sehari, dan diriwayatkan dua kali dari sebagian mereka. Sebagian mereka menghabiskan waktu sehari atau semalam untuk merenungkan (tafakkur) satu ayat yang diulang-ulanginya. Kuraiz bin Wabrah pernah bermukim di Mekkah, ia bertawaf setiap hari sebanyak tujuh puluh putaran (minggu/usbu') dan setiap malam tujuh puluh putaran, di samping itu ia mengkhatamkan Al-Qur'an dua kali dalam sehari semalam. Jika dihitung, jarak thawaf itu mencapai sepuluh farsakh, dan setiap usbu' (7 putaran) diiringi shalat dua rakaat, sehingga berjumlah dua ratus delapan puluh rakaat, dua kali khatam, dan berjalan sepuluh farsakh. Jika engkau bertanya: 'Manakah yang lebih utama untuk menghabiskan sebagian besar waktu dari wirid-wirid ini?' Maka ketahuilah bahwa membaca Al-Qur'an dalam shalat sambil berdiri disertai tadabbur (perenungan) dapat menghimpun semuanya. Namun terkadang sulit untuk merajinkannya secara terus-menerus. Maka yang paling utama itu berbeda-beda sesuai perbedaan kondisi seseorang. Maksud dari wirid adalah penyucian hati (tazkiyatul qalb), pembersihannya, serta menghiasinya dengan zikir kepada Allah Ta'ala dan merasa tenang bersama-Nya. Hendaklah penuntut jalan akhirat (murid) melihat kepada hatinya; apa yang dirasakannya memberikan pengaruh paling kuat pada hatinya, hendaknya ia merajinkannya. Apabila ia merasakan kebosanan padanya, hendaknya ia berpindah ke amalan yang lain. Oleh karena itu, kami memandang yang paling tepat bagi mayoritas manusia adalah membagi berbagai kebaikan yang beraneka ragam ini pada waktu-waktu tertentu sebagaimana telah berlalu, dan berpindah dari satu jenis ke jenis lain, karena kebosanan adalah hal yang umumnya mendominasi tabiat manusia. Kondisi satu orang dalam hal itu juga berbeda-beda. Namun, jika ia memahami pemahaman mendalam (fiqih) tentang wirid dan rahasianya, hendaknya ia mengikuti maknanya. Jika ia mendengar satu tasbih misalnya dan merasakan getarannya di dalam hatinya, hendaknya ia terus mengulangnya selama ia mendapati getaran itu padanya. Diriwayatkan dari Ibrahim bin Adham dari sebagian Wali Abdal bahwa pada suatu malam ia berdiri shalat di tepi laut, lalu ia mendengar suara yang keras bertasbih tanpa melihat seorang pun. Ia bertanya, 'Siapakah engkau? Aku mendengar suaramu tetapi tidak melihat sosokmu.' Ia menjawab, 'Aku adalah malaikat dari malaikat-malaikat yang ditugaskan menjaga laut ini. Aku bertasbih kepada Allah Ta'ala dengan tasbih ini sejak aku diciptakan.' Aku bertanya, 'Apakah namamu?' Ia menjawab, 'Muhalhaiail.' Aku bertanya, 'Apakah pahala bagi orang yang mengucapkannya?' Ia menjawab, 'Barangsiapa mengucapkannya seratus kali, ia tidak akan mati hingga melihat tempat duduknya di surga atau diperlihatkan padanya.' Tasbih itu adalah ucapannya: 'Subhanallahil-'Aliyyid-Dayyan, Subhanallahisy-Syadidil-Arkan, Subhanallahi Man Yadzhabu bil-Laili wa Ya'ti bin-Nahar, Subhanallahi Man La Yasyghaluhu Sya'nun 'an Sya'n, Subhanallahil-Hannanil-Mannan, Subhanallahil-Musabbihi fi Kulli Makan' (Maha Suci Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Membalas, Maha Suci Allah Yang Maha Kokoh Tiang-tiang-Nya, Maha Suci Allah Yang Menghilangkan Malam dan Mendatangkan Siang, Maha Suci Allah Yang Tidak Disibukkan oleh Suatu Urusan dari Urusan yang Lain, Maha Suci Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Memberi Anugerah, Maha Suci Allah Yang Disucikan di Setiap Tempat). Kalimat ini dan yang seumpamanya, jika didengar oleh seorang murid dan ia mendapati getarannya di dalam hati, hendaknya ia menekuninya. Mana saja yang didapati oleh hati dan dibukakan kebaikan baginya di situ, hendaknya ia terus-menerus mengamalkannya. Yang kedua: Seorang 'Alim (Orang Berilmu) yang memberikan manfaat kepada manusia dengan ilmunya melalui fatwa, pengajaran, atau penyusunan buku (tasnif). Urutan wiridnya berbeda dengan urutan wirid seorang 'abid, karena ia membutuhkan waktu untuk menelaah kitab-kitab, menyusun buku, dan memberi faedah ilmu, yang mana hal itu pasti memerlukan tenggat waktu. Jika memungkinkan baginya untuk menghabiskan waktunya dalam hal tersebut, maka itu adalah hal paling utama yang ia sibukkan…
بِهِ بَعْدَ الْمَكْتُوبَاتِ وَرَوَاتِبِهَا وَيَدُلُّ عَلَى ذَلِكَ جميع مَا ذَكَرْنَاهُ فِي فَضِيلَةِ التَّعْلِيمِ وَالتَّعَلُّمِ فِي كِتَابِ الْعِلْمِ وَكَيْفَ لَا يَكُونُ كَذَلِكَ وَفِي الْعِلْمِ الْمُوَاظَبَةُ عَلَى ذِكْرِ اللَّهِ تَعَالَى وَتَأَمُّلُ مَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى وَقَالَ رَسُولُهُ وَفِيهِ مَنْفَعَةُ الْخَلْقِ وَهِدَايَتُهُمْ إِلَى طَرِيقِ الْآخِرَةِ وَرُبَّ مَسْأَلَةٍ وَاحِدَةٍ يَتَعَلَّمُهَا الْمُتَعَلِّمُ فَيُصْلِحُ بِهَا عِبَادَةَ عُمْرِهِ وَلَوْ لَمْ يَتَعَلَّمْهَا لَكَانَ سَعْيُهُ ضَائِعًا وإنما نعني بالعلم المقدم على العبادة العلم الذي يرغب الناس في الآخرة ويزهدهم في الدنيا أو العلم الذي يعينهم على سلوك طريق الآخرة إذا تعلموه على قصد الاستعانة به على السلوك دون العلوم التي تزيد بها الرغبة في المال والجاه وقبول الخلق والأولى بالعالم أن يقسم أوقاته أيضاً فإن استغراق الأوقات في ترتيب العلم لا يحتمله الطبع فينبغي أن يخصص ما بعد الصبح إلى طلوع الشمس بالأذكار والأوراد كما ذكرناه في الورد الأول وبعد الطلوع إلى ضحوة النهار في الإفادة والتعليم إن كان عنده من يستفيد علماً لأجل الآخرة وإن لم يكن فيصرفه إلى الفكر ويتفكر فيما يشكل عليه من علوم الدين فإن صفاء القلب بعد الفراغ من الذكر وقبل الاشتغال بهموم الدنيا يعين على التفطن للمشكلات ومن ضحوة النهار إلى العصر للتصنيف والمطالعة لا يتركها إلا في وقت أكل وطهارة ومكتوبة وقيلولة خفيفة إن طال النهار ومن العصر إلى الاصفرار يشتغل بسماع ما يقرأ بين يديه من تفسير أو حديث أو علم نافع ومن الاصفرار إلى الغروب يشتغل بالذكر والاستغفار والتسبيح فيكون ورده الأول قبل طلوع الشمس في عمل اللسان وورده الثاني في عمل القلب بالفكر إلى الضحوة وورده الثالث إلى العصر في عمل العين واليد بالمطالعة والكتابة وورده الرابع بعد العصر في عمل السمع ليروح فيه العين واليد فإن المطالعة والكتابة بعد العصر ربما أضرا بالعين وعند الاصفرار يعود إلى ذكر اللسان فلا يخلو جزء من النهار عن عمل له بالجوارح مع حضور القلب في الجميع وأما الليل فأحسن قسم فيه قسمة الشافعي ﵁ إذ كان يقسم الليل ثلاثة أجزاء ثلثاً للمطالعة وترتيب العلم وهو الأول وثلثاً للصلاة وهو الوسط وثلثاً للنوم وهو الأخير وهذا يتيسر في ليالي الشتاء والصيف ربما لا يحتمل ذلك إلا إذا كان أكثر النوم بالنهار فهذا ما نستحبه من ترتيب أوراد العالم الثالث المتعلم والاشتغال بالتعلم أفضل من الاشتغال بالأذكار والنوافل فحكمه حكم العالم في ترتيب الأوراد ولكن يشتغل بالاستفادة حيث يشتغل العالم بالإفادة وبالتعليق والنسخ حيث يشتغل العالم بالتصنيف ويرتب أوقاته كما ذكرنا وكل ما ذكرناه في فضيلة التعلم والعلم من كتاب العلم يدل على أن ذلك أفضل بل إن لم يكن متعلماً على معنى أنه يعلق ويحصل ليصير عالماً بل كان من العوام فحضوره مجالس الذكر والوعظ والعلم أفضل من اشتغاله بالأوراد التي ذكرناها بعد الصبح وبعد الطلوع وفي سائر الأوقات ففي حديث أبي ذر ﵁ أن حضور مجلس ذكر أفضل من صلاة ألف ركعة وشهود ألف جنازة وعيادة ألف مريض وقال ﷺ إذا رأيتم رياض الجنة فارتعوا فيها فقيل يا رسول الله وما رياض الجنة قال حلق الذكر وقال كعب الأحبار ﵁ لو أن ثواب مجالس العلماء بدا للناس لاقتتلوا عليه حتى يترك كل ذي إمارة إمارته وكل ذي سوق سوقه وقال عمر بن الخطاب ﵁ أن الرجل ليخرج من منزله وعليه من الذنوب مثل جبال تهامة فإذا سمع العالم خاف واسترجع عن ذنوبه وانصرف إلى منزله وليس عليه ذنب فلا تفارقوا مجالس العلماء فإن الله ﷿ لم يخلق على وجه الأرض تربة أكرم من مجالس العلماء وقال رجل للحسن ﵀ أشكو إليك قساوة قلبي فقال أدنه من مجالس الذكر
…setelah shalat-shalat fardhu dan sunnah rawatibnya. Hal ini ditunjukkan oleh seluruh apa yang telah kami sebutkan tentang keutamaan mengajar dan belajar dalam Kitab Ilmu. Bagaimana tidak demikian, padahal di dalam ilmu terdapat konsistensi mengingat Allah Ta'ala dan merenungkan apa yang difirmankan Allah Ta'ala dan bersabda Rasul-Nya. Di dalamnya juga terdapat kemanfaatan bagi makhluk dan petunjuk bagi mereka menuju jalan akhirat. Betapa banyak satu masalah yang dipelajari oleh seorang penuntut ilmu lalu dengannya ia memperbaiki ibadah seumur hidupnya, yang seandainya tidak ia pelajari, niscaya usahanya akan sia-sia. Yang kami maksud dengan ilmu yang didahulukan atas ibadah adalah ilmu yang membuat manusia merindukan akhirat dan bersikap zuhud terhadap dunia, atau ilmu yang membantu mereka menempuh jalan akhirat jika mereka mempelajarinya dengan maksud memohon bantuan padanya untuk menempuh jalan spiritual (suluk), bukan ilmu-ilmu yang menambah kerinduan terhadap harta, kedudukan, dan penerimaan manusia. Yang paling utama bagi seorang 'alim adalah membagi waktu-waktunya juga, karena menghabiskan seluruh waktu dalam susunan ilmu tidak akan sanggup ditanggung oleh tabiat manusia. Maka sepatutnya ia mengkhususkan waktu setelah subuh hingga terbit matahari untuk zikir dan wirid sebagaimana kami sebutkan pada Wirid Pertama. Setelah terbit matahari hingga waktu dhuha untuk memberi manfaat dan mengajar jika di sisinya ada orang yang mengambil faedah ilmu demi akhirat. Jika tidak ada, hendaknya ia mengalihkannya untuk berfikir (tafakkur) dan merenungkan masalah-masalah agama yang rumit baginya; karena kesucian hati setelah selesai dari zikir dan sebelum disibukkan oleh kecemasan duniawi membantu untuk memahami masalah-masalah yang rumit. Dari waktu dhuha hingga Asar untuk menyusun kitab dan menelaah, yang tidak ia tinggalkan kecuali pada waktu makan, bersuci, shalat fardhu, dan tidur siang sejenak (qailulah) jika siang terasa panjang. Dari Asar hingga waktu kekuning-kuningan matahari (isfirar) ia disibukkan dengan mendengarkan apa yang dibacakan di hadapannya berupa tafsir, hadis, atau ilmu yang bermanfaat. Dari waktu isfirar hingga terbenam matahari ia sibuk dengan zikir, istighfar, dan tasbih. Dengan demikian, wirid pertamanya sebelum terbit matahari adalah amalan lidah; wirid keduanya adalah amalan hati dengan tafakkur hingga dhuha; wirid ketiganya hingga Asar adalah amalan mata dan tangan dengan menelaah dan menulis; dan wirid kempatnya setelah Asar adalah amalan pendengaran untuk mengistirahatkan mata dan tangan, karena menelaah dan menulis setelah Asar terkadang merusak mata. Ketika matahari menguning, ia kembali kepada zikir lidah. Maka tidak ada satu bagian pun dari siang yang kosong dari amalan anggota tubuhnya disertai kehadiran hati pada semuanya. Adapun malam hari, pembagian terbaik di dalamnya adalah pembagian Imam Asy-Syafi'i radhiyallahu 'anhu, di mana beliau membagi malam menjadi tiga bagian: sepertiga untuk menelaah dan menyusun ilmu yaitu sepertiga pertama, sepertiga untuk shalat yaitu sepertiga tengah, dan sepertiga untuk tidur yaitu sepertiga terakhir. Ini mudah dilakukan pada malam-malam musim dingin, sedangkan pada musim panas terkadang tidak mampu menanggung hal itu kecuali jika sebagian besar tidurnya dilakukan di siang hari. Inilah susunan wirid yang kami sunnahkan bagi seorang 'alim. Yang ketiga: Seorang Muta'allim (Penuntut Ilmu). Kesibukan dengan belajar lebih utama daripada kesibukan dengan zikir-zikir dan shalat-shalat sunnah. Hukumnya sama seperti hukum seorang 'alim dalam susunan wirid, tetapi ia disibukkan dengan mengambil faedah ilmu di waktu orang 'alim disibukkan dengan memberi faedah (mengajar), dan dengan mencatat serta menyalin di waktu orang 'alim disibukkan dengan menyusun kitab. Ia menyusun waktu-waktunya sebagaimana yang telah kami sebutkan. Segala hal yang telah kami sebutkan tentang keutamaan belajar dan ilmu dalam Kitab Ilmu menunjukkan bahwa hal itu lebih utama. Bahkan, jika ia bukan seorang penuntut ilmu dalam artian mencatat dan mengumpulkan ilmu untuk menjadi seorang 'alim, melainkan termasuk orang awam, maka kehadirannya di majelis-majelis zikir, nasihat, dan ilmu adalah lebih utama daripada kesibukannya dengan wirid-wirid yang kami sebutkan setelah subuh, setelah terbit matahari, dan pada waktu-waktu lainnya. Dalam hadis Abu Dzar radhiyallahu 'anhu disebutkan bahwa menghadiri majelis zikir lebih utama daripada shalat seribu rakaat, mengiringi seribu jenazah, dan menjenguk seribu orang sakit. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: 'Jika kalian melewati taman-taman surga, maka bermanja-manjalah (singgahlah) di dalamnya.' Dikatakan: 'Wahai Rasulullah, apakah taman-taman surga itu?' Beliau bersabda: 'Halaqah-halaqah zikir.' Ka'ab al-Ahbar radhiyallahu 'anhu berkata: 'Seandainya pahala majelis-majelis para ulama tampak bagi manusia, niscaya mereka akan saling berperang memperebutkannya hingga setiap orang yang memiliki kepemimpinan meninggalkan kepemimpinannya dan setiap pedagang di pasar meninggalkan pasarnya.' Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu berkata: 'Sungguh seseorang keluar dari rumahnya dengan membawa dosa sebesar gunung-gunung Tihamah, lalu ketika ia mendengar ucapan orang 'alim ia menjadi takut dan bertobat dari dosa-dosanya serta kembali ke rumahnya dalam keadaan tidak memikul dosa. Maka janganlah kalian berpisah dari majelis-majelis para ulama, karena Allah 'Azza wa Jalla tidak menciptakan di permukaan bumi tanah yang lebih mulia daripada majelis para ulama.' Seorang laki-laki berkata kepada al-Hasan rahimahullah: 'Aku mengadukan kepadamu tentang kerasnya hatiku.' Maka beliau berkata: 'Mendekatlah engkau ke majelis-majelis zikir.'
ورأى عمار الزاهدي مسكينة الطفاوية في المنام وكانت من المواظبات على حلق الذكر فقال مرحباً يا مسكينة فقالت هيهات هيهات ذهبت المسكنة وجاء الغنى فقال هيه فقالت ما تسأل عمن أبيح لها الجنة بحذافيراها قال وبم ذلك قالت بمجالسة أهل الذكر وعلى الجملة فما ينحل عن القلب من عقد حب الدنيا بقول واعظ حسن الكلام زكي السيرة أشرف وأنفع من ركعات كثيرة مع اشتمال القلب على حب الدنيا الرابع الْمُحْتَرِفُ الَّذِي يَحْتَاجُ إِلَى الْكَسْبِ لِعِيَالِهِ فَلَيْسَ لَهُ أَنْ يُضَيِّعَ الْعِيَالَ وَيَسْتَغْرِقَ الْأَوْقَاتَ فِي الْعِبَادَاتِ بَلْ وِرْدُهُ فِي وَقْتِ الصِّنَاعَةِ حُضُورُ السُّوقِ وَالِاشْتِغَالُ بِالْكَسْبِ وَلَكِنْ يَنْبَغِي أَنْ لَا ينسى ذكر الله تعالى في صناعته بل يواظب على التسبيحات الأذكار وقراءة القرآن فإن ذلك يمكن أن يجمع إلى العمل وإنما لا يتيسر مع العمل الصلاة إلا أن يكون ناظوراً فإنه لا يعجز عن إقامة أوراد الصلاة معه ثم مهما فرغ من كفايته ينبغي أن يعود إلى ترتيب الأوراد وإن داوم على الكسب وتصدق بما فضل عن حاجته فهو أفضل من سائر الأوراد التي ذكرناها لأن العبادات المتعدية فائدتها أنفع من اللازمة والصدقة والكسب على هذه النية عبادة له في نفسه تقربه إلى الله تعالى ثم يحصل به فائدة للغير وتتجذب إليه بركات دعوات المسلمين ويتضاعف به الأجر الخامس الوالي مثل الإمام والقاضي والمتولي في أمور المسلمين فقيامه بحاجات المسلمين وأغراضهم على وفق الشرع وقصد الإخلاص أفضل من الأوراد المذكورة فحقه أن يشتغل بحقوق الناس نهاراً ويقتصر على المكتوبة ويقيم الأوراد المذكورة بالليل كما كان عمر ﵁ يفعله إذ قال مالي وللنوم فلو نمت بالنهار ضيعت المسلمين ولو نمت بالليل ضيعت نفسي وقد فهمت بما ذكرناه أنه يقدم على العبادات البدنية أمران أحدهما العلم والآخر الرفق بالمسلمين لأن كل واحد من العلم وفعل المعروف عمل في نفسه وعبادة تفضل سائر العبادات يتعدى فائدته وانتشار جدواه فكانا مقدمين عليه السادس الموحد المستغرق بالواحد الصمد الذي أصبح وهمومه هم واحد فلا يحب إلا الله تعالى ولا يخاف إلا منه ولا يتوقع الرزق من غيره ولا ينظر في شيء إلا ويرى الله تعالى فيه فمن ارتفعت رتبته إلى هذه الدرجة لم يفتقر إلى تنويع الأوراد واختلافها بل كان ورده بعد المكتوبات واحد وهو حضور القلب مع الله تعالى في كل حال فلا يخطر بقلوبهم أمر ولا يقرع سمعهم قارع ولا يلوح لأبصارهم لائح إلا كان لهم فيه عبرة وفكر ومزيد فلا محرك لهم ولا مسكن إلا الله تعالى فهؤلاء جميع أحوالهم تصلح أن تكون سببا لازيادهم فلا تتميز عندهم عبادة عن عبادة وهم الذين فروا إلى الله ﷿ كما قال تعالى لعلكم تذكرون ففروا إلى الله وتحقق فيهم قوله تعالى وإذ اعتزلتموهم وما يعبدون إلا الله فأووا إلى الكهف ينشر لكم ربكم من رحمته وإليه الإشارة بقوله إني ذاهب إلى ربي سيهدين وهذه منتهى درجات الصديقين ولا وصول إليها إلا بعد ترتيب الأوراد والمواظبة عليها دهراً طويلاً فلا ينبغي أن يغتر المريد بما سمعه من ذلك فيدعيه لنفسه ويفتر عن وظائف عبادته فذلك علامته أن لا يهجس في قلبه وسواس ولا يخطر في قلبه معصية ولا ترعجه هواجم الأهوال ولا تستفزه عظائم الأشغال وأنى ترزق هذه الرتبة لكل أحد فيتعين على الكافة ترتيب الأوراد كما ذكرناه وجميع ما ذكرناه طرق إلى الله تعالى قال تعالى قل كل يعمل على شاكلته فربكم أعلم بمن هو أهدى سبيلاً فكلهم مهتدون وبعضهم أهدى من بعض وفي الخبر الإيمان ثلاث وثلاثون وثلثمائة طريقة من لقي الله تعالى بالشهادة على طريق منها دخل الجنة وقال بعض العلماء الإيمان ثلثمائة وثلاثة عشر خلقا
Ammar az-Zahidi bermimpi melihat Miskinah ath-Thafawiyyah—ia termasuk orang yang tekun menghadiri halaqah-halaqah zikir—lalu Ammar berkata, 'Selamat datang, wahai Miskinah!' Ia menjawab, 'Mustahil, telah hilang kemiskinan dan telah datang kekayaan!' Ammar bertanya, 'Bagaimana bisa?' Ia menjawab, 'Jangan tanyakan tentang orang yang dihalalkan baginya surga secara keseluruhan!' Ammar bertanya, 'Dengan sebab apa itu?' Ia menjawab, 'Dengan duduk bersama ahli zikir.' Secara umum, terurainya simpul-simpul kecintaan dunia dari hati melalui ucapan seorang penasihat yang baik tutur katanya lagi suci perjalanan hidupnya adalah lebih mulia dan lebih bermanfaat daripada rakaat-rakaat shalat yang banyak tetapi hati masih diselimuti kecintaan kepada dunia. Yang keempat: Seorang Muhtarif (Pekerja/Pencari Nafkah) yang membutuhkan mata pencaharian untuk keluarganya. Tidak boleh baginya menelantarkan keluarga dan menghabiskan waktu dalam ibadah-ibadah sunnah. Sebaliknya, wiridnya pada waktu bekerja adalah hadir di pasar dan sibuk mencari nafkah. Namun, hendaknya ia tidak melupakan zikir kepada Allah Ta'ala dalam pekerjaannya, melainkan tekun membaca tasbih, zikir, dan Al-Qur'an, karena hal itu memungkinkan digabungkan dengan pekerjaan. Hanyasanya yang tidak memungkinkan bersama pekerjaan adalah shalat, kecuali jika ia seorang pengawas (nazhur) yang tidak lemah untuk menegakkan wirid-wirid shalat bersamanya. Kemudian, kapan saja ia selesai dari pemenuhan kecukupannya, hendaklah ia kembali kepada susunan wirid. Apabila ia terus mencari nafkah dan bersedekah dengan kelebihan dari kebutuhannya, maka itu lebih utama daripada wirid-wirid lainnya yang kami sebutkan, karena ibadah yang kemanfaatannya meluas (muta'addi) lebih bermanfaat daripada ibadah yang terbatas pada diri sendiri (lazim). Sedekah dan mencari nafkah dengan niat ini merupakan ibadah bagi dirinya sendiri yang mendekatkannya kepada Allah Ta'ala, kemudian dengannya diperoleh faedah bagi orang lain serta mengalir kepadanya keberkahan doa-doa kaum muslimin sehingga pahalanya berlipat ganda. Yang kelima: Seorang Wali (Penguasa/Pejabat) seperti imam, hakim, dan pengurus urusan kaum muslimin. Maka penegakannya terhadap kebutuhan-kebutuhan kaum muslimin dan tujuan-tujuan mereka yang sesuai dengan syariat disertai niat ikhlas adalah lebih utama daripada wirid-wirid tersebut. Maka haknya adalah sibuk dengan hak-hak manusia di siang hari, membatasi diri pada shalat fardhu, dan menegakkan wirid-wirid tersebut di malam hari sebagaimana yang dilakukan oleh Umar radhiyallahu 'anhu ketika beliau berkata: 'Bagaimana aku bisa tidur? Jika aku tidur di siang hari aku menelantarkan kaum muslimin, dan jika aku tidur di malam hari aku menelantarkan diriku sendiri.' Engkau telah memahami dari apa yang kami sebutkan bahwa ada dua hal yang didahulukan atas ibadah-ibadah fisik: salah satunya adalah ilmu dan yang lainnya adalah bersikap lembut/membantu kaum muslimin; karena masing-masing dari ilmu dan perbuatan ma'ruf adalah amal pada dirinya sendiri dan ibadah yang melebihi ibadah-ibadah lainnya yang kemanfaatan dan penyebaran hasilnya meluas, maka keduanya didahulukan atas ibadah fisik. Yang keenam: Seorang Muwahhid (Orang yang Mentauhidkan Allah) yang tenggelam bersama Yang Maha Esa lagi Maha Membutuhkan Segala Sesuatu, yang di pagi harinya cita-citanya hanyalah satu cita-cita: ia tidak mencintai kecuali Allah Ta'ala, tidak takut kecuali kepada-Nya, tidak mengharapkan rezeki dari selain-Nya, dan tidak memandang sesuatu pun melainkan melihat Allah Ta'ala di dalamnya. Barangsiapa yang derajatnya naik ke tingkat ini, ia tidak membutuhkan variasi wirid dan perbedaannya, melainkan wiridnya setelah shalat-shalat fardhu adalah satu, yaitu kehadiran hati bersama Allah Ta'ala dalam setiap keadaan. Maka tidak terlintas dalam hati mereka suatu urusan, tidak mengetuk pendengaran mereka suatu pengetuk, dan tidak tampak pada pandangan mereka suatu yang tampak melainkan menjadi ikhtibar (pelajaran), pemikiran, dan tambahan keimanan bagi mereka. Tidak ada yang menggerakkan dan menenangkan mereka kecuali Allah Ta'ala. Mereka inilah yang seluruh keadaannya patut menjadi sebab bagi bertambahnya keimanan mereka, dan tidak terbedakan bagi mereka satu ibadah dari ibadah lainnya. Merekalah orang-orang yang lari menuju Allah 'Azza wa Jalla sebagaimana firman-Nya Ta'ala: 'Agar kalian ingat, maka berlarilah menuju Allah.' Dan terwujud pada mereka firman-Nya Ta'ala: 'Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu.' Dan kepadanya diisyaratkan oleh firman-Nya: 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, Yang akan memberi petunjuk kepadaku.' Ini adalah tingkatan tertinggi para Shiddiqin, dan tidak ada jalan mencapainya kecuali setelah menyusun wirid dan menekuninya dalam kurun waktu yang panjang. Maka tidak sepatutnya seorang murid terperdaya dengan apa yang didengarnya tentang hal itu lalu mengklaimnya untuk dirinya sendiri dan menjadi kendur dari tugas-tugas ibadahnya. Tanda hal itu (pada tingkatan ini) adalah tidak terlintas dalam hatinya bisikan waswas, tidak terbesit dalam hatinya kemaksiatan, tidak digoyahkan oleh kedatangan huru-hara, dan tidak disimpangkan oleh kesibukan-kesibukan besar. Manalah mungkin tingkatan ini dianugerahkan kepada setiap orang? Maka menjadi kewajiban bagi semua orang untuk mengatur wirid sebagaimana yang telah kami sebutkan. Seluruh yang kami sebutkan adalah jalan-jalan menuju Allah Ta'ala. Allah Ta'ala berfirman: 'Katakanlah: Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.' Maka mereka semua mendapat petunjuk, dan sebagian mereka lebih mendapat petunjuk dari sebagian yang lain. Dalam hadis disebutkan: 'Iman itu ada tiga ratus tiga puluh tiga jalan. Barangsiapa menemui Allah Ta'ala dengan bersaksi atas salah satu jalan darinya, niscaya ia masuk surga.' Sebagian ulama berkata: 'Iman itu ada tiga ratus tiga belas akhlak…'
بعدد الرسل فكل مؤمن على خلق منها فهو سألك الطريق إلى الله
…sebanyak jumlah para rasul. Maka setiap orang beriman yang berada di atas satu akhlak darinya adalah orang yang menempuh jalan menuju Allah.
فإذن الناس وإن اختلفت طرقهم في العبادة فكلهم على الصواب أولئك الذين يدعون يبتغون إلى ربهم الوسيلة أيهم أقرب وإنما يتفاوتون في درجات القرب لا في أصله وأقربهم إلى الله تعالى أعرفهم به وأعرفهم به لا بد وأن يكون أعبدهم له فمن عرفه لم يعبد غيره والأصل في الأوراد في حق كل صنف من الناس المداومة فإن المراد منه تغيير الصفات الباطنة وآحاد الأعمال يقل آثارها بل لا يحس بآثارها وإنما يترتب الأثر على المجموع فإذا لم يعقب العمل الواحد أثراً محسوساً ولم يردف بثان وثالث على القرب انمحى الأثر الأول وكان كالفقيه يريد أن يكون فقيه النفس فإنه لا يصير فقيه النفس إلا بتكرار كثير فلو بالغ ليلة في التكرار وترك شهراً أو أسبوعاً ثم عاد وبالغ ليلة لم يؤثر هذا فيه ولو وزع ذلك القدر على الليالي المتواصلة لأثر فيه ولهذا السر قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أحب الأعمال إلى الله أدومها وإن قل وسئلت عائشة ﵂ عن عمل رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَقَالَتْ كان عمله ديمة وكان إذا عمل عملاً أثبته ولذلك قال ﷺ من عوده الله عبادة فتركها ملالة مقته الله وهذا كان السبب في صلاته بعد العصر تداركاً لما فاته من ركعتين شغله عنهما الوفد ثم لم يزل بعد ذلك يصليهما بعد العصر ولكن في منزله لا في المسجد كيلا يقتدى به روته عائشة وأم سلمة ﵄ فإن قلت فهل لغيره أن يقتدي به في ذلك مع أن الوقت وقت كراهية فاعلم أن المعاني الثلاثة التي ذكرناها في الكراهية من الاحتراز عن التشبه بعبدة الشمس أو السجود وقت ظهور قرن الشيطان أو الاستراحة عن العبادة حذراً من الملال لا يتحقق في حقه فلا يقاس عليه في ذلك غيره ويشهد لذلك فعله في المنزل حتى لا يقتدى به ﷺ
Maka dengan demikian manusia, meskipun jalan-jalan mereka dalam beribadah berbeda-beda, semuanya berada di atas kebenaran. Merekalah orang-orang yang menyeru dan mencari jalan mendekatkan diri kepada Tuhan mereka, siapakah di antara mereka yang lebih dekat. Hanyasanya mereka berbeda-beda dalam derajat kedekatan, bukan pada asal kedekatan itu sendiri. Orang yang paling dekat kepada Allah Ta'ala adalah orang yang paling kenal (ma'rifah) kepada-Nya, dan orang yang paling kenal kepada-Nya pasti merupakan orang yang paling beribadah kepada-Nya; karena barangsiapa mengenal-Nya, ia tidak akan menyembah selain-Nya. Prinsip dasar dalam wirid bagi setiap kelompok manusia adalah ketekunan (kontinuitas). Sebab yang dimaksud darinya adalah mengubah sifat-sifat batin. Amal-amal yang dilakukan sekali-kali sedikit pengaruhnya, bahkan tidak terasa pengaruhnya, hanyasanya pengaruh itu terwujud dari akumulasi keseluruhan. Apabila satu amal tidak diiringi dengan pengaruh yang terasa dan tidak disambung dengan amal kedua dan ketiga dalam waktu dekat, niscaya pengaruh pertama akan terhapus. Hal itu seperti seorang faqih yang ingin menjadi faqih secara jiwa; ia tidak akan menjadi faqih secara jiwa kecuali dengan pengulangan yang banyak. Seandainya ia bersungguh-sungguh dalam satu malam mengulang pelajaran lalu meninggalkannya selama sebulan atau seminggu, kemudian kembali dan bersungguh-sungguh semalam, hal ini tidak akan memberi pengaruh padanya. Namun seandainya ia membagi kadar tersebut pada malam-malam yang bersambung, niscaya hal itu memberi pengaruh padanya. Karena rahasia inilah Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: 'Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling berkelanjutan (istiqamah) meskipun sedikit.' Aisyah radhiyallahu 'anha ditanya tentang amalan Rasulullah صلى الله عليه وسلم, maka beliau menjawab: 'Amalan Beliau adalah terus-menerus (daimah). Dan apabila Beliau melakukan suatu amalan, Beliau mengukuhkannya.' Oleh karena itu Beliau صلى الله عليه وسلم bersabda: 'Barangsiapa yang dibiasakan oleh Allah suatu ibadah lalu ia meninggalkannya karena bosan, niscaya Allah membencinya.' Hal inilah yang menjadi sebab shalat Beliau setelah Asar untuk mengqadha dua rakaat yang Beliau terhalang darinya karena kesibukan melayani utusan, kemudian setelah itu Beliau tidak pernah meninggalkannya shalat dua rakaat setelah Asar, tetapi di rumah Beliau bukan di masjid agar tidak diikiuti oleh orang lain, sebagaimana diriwayatkan oleh Aisyah dan Ummu Salamah radhiyallahu 'anhuma. Jika engkau bertanya: 'Apakah selain Beliau boleh mengikutinya dalam hal itu, padahal waktu tersebut adalah waktu makruh?' Maka ketahuilah bahwa tiga makna yang telah kami sebutkan dalam makruhnya shalat—yaitu menjaga diri dari menyerupai penyembah matahari, atau sujud pada saat terbitnya tanduk setan, atau mengistirahatkan diri dari ibadah karena khawatir bosan—tidak terwujud pada diri Beliau, maka selain Beliau tidak dapat diqiyaskan kepada Beliau dalam hal itu. Hal ini disaksikan oleh perbuatan Beliau di rumah agar Beliau tidak diikuti صلى الله عليه وسلم.