الركن الثاني من أركان الشكر

بيان حقيقة النعمة وأقسامها

بيان حقيقة النعمة وأقسامها

بيان حقيقة النعمة وأقسامها

Penjelasan tentang Hakikat Nikmat dan Pembagian-Pembagiannya

اعلم أن كل خير ولذة وسعادة بل كل مطلوب ومؤثر فإنه يسمى نعمة ولكن النعمة بالحقيقة هي السعادة الأخروية وتسمية ما سواها نعمة وسعادة إما غلط وإما مجاز كتسمية السعادة الدنيوية التي لا تعين على الآخرة نعمة فإن ذلك غلط محض وقد يكون اسم النعمة للشى صدقاً ولكن يكون إطلاقه على السعادة الأخروية أصدق فكل سبب يوصل إلى سعادة الآخرة ويعين عليها إما بوسطة واحدة أو بوسائط فإن تسمية نعمة صحيحة وصدق لأجل أنه يفضي إلى النعمة الحقيقية

Ketahuilah bahwa setiap kebaikan, kelezatan, dan kebahagiaan, bahkan setiap hal yang dicari dan diinginkan, dinamakan nikmat. Namun, nikmat yang hakiki pada hakikatnya adalah kebahagiaan akhirat. Penamaan selainnya sebagai nikmat dan kebahagiaan adakalanya merupakan suatu kekeliruan (salah kaprah) atau sebuah majas. Seperti menamai kebahagiaan duniawi yang tidak membantu menuju akhirat sebagai "nikmat", maka hal itu adalah kekeliruan murni. Kadang penamaan nikmat pada sesuatu itu benar, tetapi penyebutannya pada kebahagiaan akhirat adalah lebih benar. Maka setiap sebab yang menyampaikan kepada kebahagiaan akhirat dan membantunya, baik melalui satu perantara maupun beberapa perantara, penamaannya sebagai nikmat adalah sah dan benar, karena ia mengantarkan kepada nikmat yang hakiki.

والأسباب المعينة واللذات المسماة نعمة نشرحها بتقسيمات القسمة الأولى أن الأمور كلها بالإضافة إلينا تنقسم إلى ما هو نافع في الدنيا والآخرة جميعاً كالعلم وحسن الخلق وإلى ما هو ضار فيهما جميعاً كالجهل وسوء الخلق وإلى ما ينفع في الحال المضر في المآل كالتلذذ باتباع الشهوة وإلى ما يضر في الحال ويؤلم ولكن ينفع في المآل كقمع الشهوات ومخالفة النفس فالنافع في الحال والمآل هو النعمة تحقيقاً كالعلم وحسن الخلق والضار فيهما هو البلاء تحقيقاً وهو ضدهما والنافع في الحال في المآل بلاء محض عند ذوي البصائر وتظنه الجهال نعمة ومثاله الجائع إذا وجد عسلاً فيه سم فإنه يعده نعمة إن كان جاهلاً وإذا علمه علم أن ذلك بلاء سيق إليه والضار في الحال النافع في المآل نعمة عند ذوي الألباب بلاء عند الجهال ومثاله الدواء البشع في الحال مذاقه إلا أنه شاف من الأمراض والأسقام وجالب للصحة والسلامة فالصبي الجاهل إذا كلف شربه ظنه بلاء والعاقل يعده نعمة ويتقلد المنة ممن يهديه إليه ويقربه منه ويهيىء له أسبابه فلذلك تمنع الأم ولدها من الحجامة والأب يدعوه إليها فإن الأب لكمال عقله يلمح العاقبة والأم لفرط حبها وقصورها تلحظ الحال والصبي لجهله يتقلد منة من أمه دون أبيه

Sebab-sebab yang membantu serta kelezatan-kelezatan yang dinamakan nikmat ini akan kami jelaskan melalui beberapa pembagian: Pembagian pertama: Bahwa seluruh perkara jika dinisbahkan kepada kita terbagi menjadi: 1. Sesuatu yang bermanfaat di dunia dan akhirat secara bersamaan, seperti ilmu dan akhlak yang baik. 2. Sesuatu yang memudaratkan pada keduanya secara bersamaan, seperti kebodohan dan akhlak yang buruk. 3. Sesuatu yang bermanfaat pada saat ini (seketika) tetapi memudaratkan di masa depan (kesudahan), seperti berlezat-lezat dengan memperturutkan hawa nafsu. 4. Sesuatu yang memudaratkan pada saat ini dan menyakitkan, tetapi bermanfaat di masa depan, seperti menundukkan hawa nafsu dan menyelisihi keinginan jiwa. Maka yang bermanfaat pada saat ini dan kesudahan itulah nikmat secara hakiki, seperti ilmu dan akhlak yang baik. Dan yang memudaratkan pada keduanya adalah musibah secara hakiki, yaitu kebalikan dari keduanya. Adapun yang bermanfaat pada saat ini namun memudaratkan di masa depan adalah bencana murni menurut orang-orang yang memiliki mata hati (ashhabul bashair), meskipun disangka nikmat oleh orang-orang bodoh. Perumpamaannya adalah orang lapar yang menemukan madu yang mengandung racun; ia menganggapnya sebagai nikmat jika ia bodoh, namun jika ia mengetahuinya, ia sadar bahwa itu adalah bencana yang diumpankan kepadanya. Adapun yang memudaratkan pada saat ini namun bermanfaat di masa depan adalah nikmat menurut orang-orang yang berakal (dzawil albab), dan bencana menurut orang-orang bodoh. Contohnya adalah obat yang rasanya buruk dan pahit di lidah pada saat ini, namun menyembuhkan penyakit dan duka serta mendatangkan kesehatan dan keselamatan. Anak kecil yang bodoh jika dipaksa meminumnya akan menganggapnya sebagai bencana, sedangkan orang berakal menganggapnya sebagai nikmat dan merasa berutang budi kepada orang yang menghadiahkannya, mendekatkannya kepadanya, dan menyiapkan sarana baginya. Oleh karena itu, seorang ibu melarang anaknya dari bekam, sedangkan sang ayah justru menyuruhnya. Sebab sang ayah, karena kesempurnaan akalnya, memandang pada kesudahan, sedangkan sang ibu, karena berlebihannya rasa kasih dan keterbatasan akalnya, hanya memandang keadaan saat ini. Dan si anak karena kebodohannya merasa berutang budi kepada ibunya, bukan kepada ayahnya…

ويأنس إليها وإلى شفقتها ويقدر الآب عدو له ولو عقل لعلم أن الأم عدواً باطناً فى سورة صديق لأن منعها إياه من الحجامة يسوقه إلى أمراض وآلام أشد من الحجامة ولكن الصديق الجاهل شر من العدو العاقل وكل إنسان فإنه صديق نفسه ولكنه صديق جاهل فلذلك تعمل به مالا يعمل به العدو

…ia merasa nyaman kepada ibunya dan kasih sayangnya, serta menganggap ayahnya sebagai musuhnya. Seandainya ia berakal, niscaya ia tahu bahwa ibunya adalah musuh batin dalam rupa seorang sahabat, karena larangan sang ibu darinya untuk berbekam mengarahkannya pada penyakit dan rasa sakit yang lebih berat daripada bekam. Namun, teman yang bodoh itu lebih buruk daripada musuh yang berakal. Dan setiap manusia adalah teman bagi dirinya sendiri, namun ia adalah teman yang bodoh; oleh karena itu, ia memperlakukan dirinya dengan perlakuan yang bahkan tidak dilakukan oleh musuhnya.

قسمة ثانية اعلم أن كل الأسباب الدنيوية مختلطة قد امتزج خيرها بشرها فقلما يصفو خيرها كالمال والأهل والولد والأقارب والجاه وسائر الأسباب ولكن تنقسم إلى ما نفعه أكثر من ضره كقدر الكفاية من المال والجاه وسائر الأسباب وإلى ما ضره أكثر من نفعه في حق أكثر الأشخاص كالمال الكثير والجاه الواسع وإلى ما يكافىء ضرور نفعه وهذه أمور تختلف بالأشخاص فرب إنسان صالح ينتفع بالمال الصالح وإن كثر فينفقه في سبيل الله ويصرفه إلى الخيرات فهو مع هذه التوفيق نعمة في حقه ورب إنسان يستضر بالقليل أيضاً إذ لا يزال مستصغراً له شاكياً من ربه طالباً للزيادة عليه فيكون ذلك مع هذا الخذلان بلاء في حقه

Pembagian kedua: Ketahuilah bahwa seluruh sebab duniawi itu bercampur, kebaikannya telah terbaur dengan keburukannya, sehingga jarang sekali kebaikannya itu murni, seperti harta, keluarga, anak, kerabat, kedudukan (jah), dan sebab-sebab lainnya. Namun, hal itu terbagi menjadi: 1. Sesuatu yang manfaatnya lebih banyak daripada mudaratnya, seperti kadar kecukupan (kifayah) dari harta, kedudukan, dan sebab-sebab lainnya. 2. Sesuatu yang mudaratnya lebih banyak daripada manfaatnya bagi kebanyakan orang, seperti harta yang melimpah dan kedudukan yang luas. 3. Sesuatu yang mudaratnya seimbang dengan manfaatnya. Hal-hal ini berbeda-beda tergantung individunya. Betapa banyak orang saleh yang memanfaatkan harta yang baik meskipun banyak, lalu menginfakkannya di jalan Allah dan menyalurkannya untuk kebaikan-kebaikan, maka harta itu bersama petunjuk (taufik) ini menjadi nikmat baginya. Dan betapa banyak orang yang terpukul (mendapat mudarat) oleh harta yang sedikit pula, karena ia senantiasa menganggapnya remeh, mengeluhkan Rabbnya, dan menuntut tambahnya harta itu, maka hal tersebut bersama penelantaran (khidzlan) ini menjadi bencana baginya.

قسمة ثالثة اعلم أن الخيرات باعتبار آخر تنقسم إلى ما هو مؤثر لذاته لا لغيره وإلى مؤثر لغيره وإلى مؤثر لذاته ولغيره فالأول ما يؤثر لذاته لا لغيره كلذة النظر إلى وجه الله تعالى وسعادة لقائه وبالجملة سعادة الأخرى التي لا انقضاء لها فإنها لا تطلب ليتوصل بها إلى غاية أخرى مقصودة وراءها بل تطلب لذاتها الثاني ما يقصد لغيره ولا غرض أصلاً في ذاته كالدراهم والدنانير فإن الحاجة لو كانت لا تنقضى بها فكانت هي والحصباء بمثابة واحدة ولكن لما كانت وسيلة إلى اللذات سريعة الإيصال إليها صارت عند الجهال محبوبة في نفسها حتى يجمعوها ويكنزوها ويتصارفوا عليها بالربا ويظنون أنها مقصودة ومثال هؤلاء مثال من يحب شخصاً فيحب بسببه رسوله الذي يجمع بينه وبينه ثم ينسى في محبة الرسول محبة الأصل فيعرض عنه طول عمره ولا يزال مشغولاً بتعهد الرسول ومراعاته وتفقده وهو غاية الجهل والضلال الثالث ما يقصد لذاته ولغيره كالصحة والسلامة فإنها تقصد ليقدر بسببها على الذكر والفكر الموصلين إلى لقاء الله تعالى أو ليتوصل بها إلى استيفاء لذات الدنيا وتقصد أيضاً لذاتها فإن الإنسان وإن استغنى عن الشيء الذي تراد سلامة الرجل لأجله فيريد أيضاً سلامة الرجل من حيث إنها سلامة فإذن المؤثر لذاته فقط هو الخير والنعمة تحقيقاً وما يؤثر لذاته ولغيره أيضاً فهو نعمة ولكن دون الأول فأما مالا يؤثر إلا لغيره كالنقدين فلا يوصفان أنفسهما من حيث إنهما جوهران بأنهما نعمة بل من حيث هما وسيلتان فيكونان نعمة في حق من يقصد أمر ليس يمكنه أن يتوصل إليه إلا بهما فلو كان مقصده العلم والعبادة ومعه الكفاية التي هي ضرورة حياته استوى عند الذهب والمدر فكان وجودهما وعدمهما عنده بمثابة واحدة بل ربما شغله وجودهما عن الفكر والعبادة فيكونان بلاء في حقه ولا يكونان نعمة

Pembagian ketiga: Ketahuilah bahwa kebaikan-kebaikan dengan pertimbangan lain terbagi menjadi: 1. Sesuatu yang diinginkan (dipilih) karena zatnya sendiri, bukan karena yang lain. 2. Sesuatu yang diinginkan karena yang lain. 3. Sesuatu yang diinginkan karena zatnya sendiri sekaligus karena yang lain. Jenis pertama: Yang diinginkan karena zatnya sendiri bukan karena yang lain, seperti kelezatan memandang wajah Allah Ta'ala dan kebahagiaan berjumpa dengan-Nya, serta secara umum kebahagiaan akhirat yang tiada habisnya. Kebahagiaan tersebut tidak dicari untuk dijadikan perantara menuju tujuan lain di baliknya, melainkan dicari karena zatnya sendiri. Jenis kedua: Yang dimaksudkan untuk selainnya dan sama sekali tidak ada tujuan pada zatnya sendiri, seperti dirham dan dinar. Seandainya kebutuhan tidak dapat dipenuhi dengannya, niscaya keduanya bernilai sama seperti kerikil. Namun ketika keduanya menjadi sarana menuju kelezatan yang menyampaikannya secara cepat, keduanya menjadi dicintai pada diri keduanya sendiri di mata orang-orang bodoh, sampai-sampai mereka mengumpulkannya, menimbunnya, dan melakukan transaksi riba dengannya, serta menyangka bahwa uang itu sendiri yang menjadi tujuan. Perumpamaan mereka seperti orang yang mencintai seseorang, lalu ia juga mencintai utusan orang tersebut yang mempertemukan di antara keduanya, namun kemudian ia lupa akan cintanya pada orang yang utama karena terlalu mencintai sang utusan, sehingga ia berpaling darinya seumur hidupnya dan terus-menerus sibuk mengurus, menjaga, serta memperhatikan sang utusan; dan ini merupakan puncak kebodohan dan kesesatan. Jenis ketiga: Yang dimaksudkan karena zatnya sendiri dan juga karena yang lain, seperti kesehatan dan keselamatan. Kesehatan dicari agar seseorang mampu melakukan zikir dan tafakur yang menyampaikan kepada pertemuan dengan Allah Ta'ala, atau untuk menyampaikan pada pemenuhan kelezatan duniawi. Ia juga dicari karena zatnya sendiri, sebab manusia, sekalipun tidak membutuhkan hal yang menjadi tujuan keselamatan kaki, ia tetap menginginkan keselamatan kaki dari segi keselamatan itu sendiri. Oleh karena itu, yang dicari karena zatnya saja secara hakiki adalah kebaikan dan nikmat. Dan yang dicari karena zatnya sekaligus karena yang lain juga merupakan nikmat, tetapi kedudukannya di bawah yang pertama. Adapun yang tidak dicari kecuali karena yang lain, seperti dua mata uang (emas dan perak/dinar dan dirham), keduanya tidak disifati pada diri keduanya sendiri dari segi substansinya sebagai nikmat, melainkan dari segi keduanya sebagai sarana. Maka keduanya menjadi nikmat bagi orang yang meniatkan suatu hal yang tidak mungkin dicapai kecuali dengan keduanya. Seandainya tujuannya adalah ilmu dan ibadah, sedangkan padanya telah ada kecukupan yang menjadi darurat hidupnya, niscaya emas dan batu kering sama saja baginya; keberadaan dan ketiadaan keduanya berada pada tingkatan yang sama. Bahkan terkadang keberadaan keduanya justru melalaikannya dari tafakur dan ibadah, sehingga keduanya menjadi bencana baginya dan bukan menjadi nikmat.

قسمة رابعة اعلم أن الخيرات باعتبار آخر تنقسم إلى نافع ولذيذ وجميل فاللذيذ هو الذي تدرك راحته في الحال والنافع هو الذي يفيد في المآل والجميل هو الذي يستحسن في سائر الأحوال والشرور أيضاً تنقسم إلى ضار وقبيح ومؤلم وكل واحد من القسمين ضربان مطلق ومقيد فالمطلق هو الذي اجتمع فيه الأوصاف الثلاثة أما في الخير فكالعلم والحكمة فإنها نافعة وجميلة ولذيذة عند أهل العلم والحكمة وأما في الشر فكالجهل فإنه ضار وقبيح ومؤلم وإنما يحس الجاهل بألم جهله إذا عرف أنه جاهل وذلك بأن يرى غيره عالماً ويرى نفسه جاهلاً فيدرك ألم النقص فتنبعث منه شهوة العلم اللذيذة ثم قد يمنع الحسد والكبر والشهوات البدنية عن التعلم فيتجاذبه متضادان فيعظم ألمه فإنه إن ترك التعلم تألم بالجهل ودرك النقصان وإن اشتغل بالتعلم تألم بترك الشهوات أو بترك

Pembagian keempat: Ketahuilah bahwa kebaikan-kebaikan dengan pertimbangan lain terbagi menjadi yang bermanfaat (nafi'), yang lezat (ladzidz), dan yang indah (jamil). Yang lezat adalah yang kenikmatannya dapat dirasakan seketika (pada saat ini), yang bermanfaat adalah yang memberikan kegunaan pada kesudahannya (masa depan), dan yang indah adalah yang dianggap baik dalam segala kondisi. Kejahatan (keburukan) juga terbagi menjadi yang memudaratkan (darr), yang buruk (qabih), dan yang menyakitkan (mulim). Masing-masing dari kedua bagian ini ada dua jenis: mutlak (mutlaq) dan terikat (muqayyad). Jenis mutlak adalah yang menghimpun ketiga sifat tersebut. Adapun dalam kebaikan, contohnya adalah ilmu dan hikmah; sebab keduanya bermanfaat, indah, dan lezat menurut para ahli ilmu dan hikmah. Adapun dalam keburukan, contohnya adalah kebodohan; sebab ia memudaratkan, buruk, dan menyakitkan. Sungguh, orang bodoh baru merasakan sakitnya kebodohan apabila ia mengetahui bahwa dirinya bodoh, yaitu ketika ia melihat orang lain berilmu sementara melihat dirinya bodoh, sehingga ia merasakan sakitnya kekurangan. Dari situ bergejolaklah keinginan akan ilmu yang lezat. Kemudian terkadang rasa dengki, kesombongan, dan syahwat jasmani menghalanginya dari belajar, sehingga dua hal yang berlawanan saling menariknya dan makin besarlah rasa sakitnya. Jika ia meninggalkan belajar, ia merasa sakit dengan kebodohan dan rasa kekurangan; dan jika ia sibuk belajar, ia merasa sakit karena meninggalkan syahwat atau meninggalkan…

الكبر وذل التعلم ومثل هذا الشخص لا يزال في عذاب دائم لا محالة الضرب الثاني المقيد وهو الذي جمع بعض هذه الأوصاف دون بعض فرب نافع مؤلم كقطع الإصبع المتآكلة والسلعة الخارجة من البدن ورب نافع قبيح كالحمق فإنه بالإضافة إلى بعض الأحوال نافع فقد قيل استراح من لا عقل له فإنه لا يتهم بالعاقبة فيستريح في الحال إلى أن يحين وقت هلاكه ورب نافع من وجه ضار من وجه كإلقاء المال في البحر عند خوف الغرق فإنه ضار للمال نافع للنفس في نجاتها

…kesombongan serta kehinaan belajar. Orang yang seperti ini niscaya akan berada dalam siksaan yang terus-menerus. Jenis kedua: Muqayyad (terikat), yaitu yang menghimpun sebagian dari sifat-sifat ini saja tanpa yang lainnya. Betapa banyak hal yang bermanfaat namun menyakitkan, seperti memotong jari yang membusuk (gangrena) dan benjolan tumor yang keluar dari tubuh. Betapa banyak hal yang bermanfaat namun buruk, seperti kedunguan; sebab jika dikaitkan dengan sebagian kondisi ia bermanfaat, sebagaimana dikatakan: "Telah beristirahat orang yang tidak memiliki akal", karena ia tidak memedulikan kesudahan akibat, sehingga ia beristirahat pada saat ini hingga tiba waktu kebinasaannya. Dan betapa banyak hal yang bermanfaat dari satu sisi namun memudaratkan dari sisi lain, seperti membuang harta ke laut saat takut tenggelam; sebab hal itu memudaratkan bagi harta namun bermanfaat bagi jiwa dalam keselamatannya.

والنافع قسمان ضروري كالإيمان وحسن الخلق في الإيصال إلى سعادة الآخرة وأعني بهما العلم والعمل إذ لا يقوم مقامهما البتة غيرهما وإلى ما لا يكون ضروريا كالسكنجبين مثلاً في تسكين الصفراء فإنه قد يمكن تسكينها أيضاً بما يقوم مقامه

Sesuatu yang bermanfaat itu ada dua macam: 1. Darurat (dharuri), seperti iman dan akhlak yang baik dalam mengantarkan kepada kebahagiaan akhirat; yang saya maksudkan dari keduanya adalah ilmu dan amal, karena sama sekali tidak ada yang dapat menggantikan kedudukan keduanya. 2. Tidak darurat, seperti sikanjabin (minuman ramuan cuka madu) misalnya dalam meredakan cairan empedu kuning (safra'), sebab mungkin juga meredakannya dengan sesuatu lain yang menggantikan posisinya.

قسمة خامسة اعلم أن النعمة يعبر بها عن كل لذيذ واللذات بالإضافة إلى الإنسان من حيث اختصاصه بها أو مشاركته لغيره ثلاثة أنواع عقلية وبدنية مشتركة مع بعض الحيوانات وبدنية مشتركة مع جميع الحيوانات أما العقلية فكلذة العلم والحكمة إذ ليس يستلذها السمع والبصر والشم والذوق ولا البطن ولا الفرج وإنما يستلذها القلب لاختصاصه بصفة يعبر عنها بالعقل وهذه أقل اللذات وجوداً وهي أشرفها أما قلتها فلأن العلم لا يستلذه إلا عالم والحكمة لا يستلذها إلا حكيم وما أقل أهل العلم والحكمة وما أكثر المتسمين باسمهم والمترسمين برسومهم وأما شرفها فلأنها لازمة لا تزول أبداً لا في الدنيا ولا في الآخرة ودائمة لا تمل فالطعام يشبع منه فيمل وشهوة الوقاع يفرغ منها فتستثقل والعلم والحكمة قط لا يتصور أن تمل وتستثقل ومن قدر على الشريف الباقي أبد الآباد إذا رضي بالخسيس الفاني في أقرب الآماد فهو مصاب في عقله محروم لشقاوته وإدباره وأقل أمر فيه أن العلم والعقل لا يحتاج إلى أعوان وحفظة بخلاف المال إذ العلم يحرسك وأنت تحرس المال والعلم يزيد بالإنفاق والمال ينقص بالإنفاق والمال يسرق والولاية يعزل عنها والعلم لا تمتد إليه أيدي السراق بالأخذ ولا أيدي السلاطين بالعزل فيكون صاحبه في روح الأمن أبداً وصاحب المال والجاه في كرب الخوف أبداً ثم العلم نافع ولذيذ وجميل في كل حال أبداً والمال تارة يجذب إلى الهلاك وتارة يجذب إلى النجاة ولذلك ذم الله تعالى المال في القرآن في مواضع وإن سماه خيراً في مواضع وأما قصور أكثر الخلق عن إدراك لذة العلم فإما لعدم الذوق فمن لم يذق لم يعرف ولم يشتق إذ الشوق تبع الذوق وإما لفساد أمزجتهم ومرض قلوبهم بسبب إتباع الشهوات كالمريض الذي لا يدرك حلاوة العسل ويراه مراً وإما لقصور فطنتهم إذ لم تخلق لهم بعد الصفة التي بها يستلذ العلم كالطفل الرضيع الذي لا يدرك لذة العسل والطيور السمان ولا يستلذ إلا اللبن وذلك لا يدل على أنها ليست لذيذة ولا استطابته اللبن تدل على أنه ألذ الأشياء فالقاصرون عزدرك لذة العلم والحكمة ثلاثة إما من لم يحي باطنه كالطفل وإما من مات بعد الحياة بإتباع الشهوات وإما من مرض بسبب إتباع الشهوات وقوله تعالى ﴿في قلوبهم مرض﴾ إشارة إلى مرض العقول وقوله ﷿ ﴿لينذر من كان حياً﴾ إشارة إلى من لم يحى حياة باطنة وكل حي بالبدن ميت بالقلب فهو عند الله من الموتى وإن كان عند الجهال من الأحياء ولذلك كان الشهداء أحياء عند ربهم يرزقون فرحين وإن كانوا موتى بالأبدان الثانية لذة يشارك الإنسان فيها بعض الحيوانات كلذة الرياسة والغلبة والاستيلاء وذلك موجود في الأسد والنمر وبعض الحيوانات الثالثة ما يشارك فيها سائر الحيوانات كلذة البطن والفرج وهذه أكثرها وجوداً وهي أخسها ولذلك اشترك فيها كل ودرج حتى الديدان والحشرات ومن جاوز هذه الرتبة تشبثت به لذة الغلبة وهو

Pembagian kelima: Ketahuilah bahwa nikmat diekspresikan untuk menyebut setiap yang lezat. Kelezatan jika dikaitkan dengan manusia dari segi kekhususannya atau keikutsertaannya bersama yang lain ada tiga jenis: 1. Akliyah (kelezatan rasional dan spiritual). 2. Badaniyah yang berserikat dengan sebagian hewan. 3. Badaniyah yang berserikat dengan seluruh hewan. Adapun kelezatan akliyah, seperti kelezatan ilmu dan hikmah; sebab ia tidak dirasakan lezat oleh pendengaran, penglihatan, penciuman, pengecap, perut, maupun kemaluan, melainkan dirasakan lezat oleh hati karena kekhususannya dengan suatu sifat yang diekspresikan sebagai akal. Ini adalah kelezatan yang paling sedikit keberadaannya, namun ia adalah yang paling mulia. Adapun sedikitnya keberadaannya karena ilmu tidak dirasakan lezat kecuali oleh orang yang berilmu, dan hikmah tidak dirasakan lezat kecuali oleh ahli hikmah. Betapa sedikitnya ahli ilmu dan hikmah, dan betapa banyaknya orang yang menyandang nama mereka serta bergaya dengan atribut mereka. Kemuliaannya juga karena ia melekat dan tidak akan pernah sirna, baik di dunia maupun di akhirat, serta kekal tanpa menimbulkan rasa jenuh. Makanan jika dimakan sampai kenyang akan menimbulkan kejenuhan, dan syahwat senggama jika telah usai akan terasa berat. Sedangkan ilmu dan hikmah selamanya tidak mungkin menimbulkan kejenuhan dan terasa berat. Barang siapa yang mampu meraih yang mulia dan kekal selama-lamanya, namun ia ridha dengan yang hina dan fana dalam jangka waktu terdekat, maka ia telah tertimpa musibah pada akalnya dan terhalang karena kesengsaraan serta keburukan nasibnya. Sekurang-kurangnya hal pada ilmu adalah bahwa ilmu dan akal tidak membutuhkan pembantu dan penjaga, berbeda dengan harta; sebab ilmu menjagamu sedangkan engkau menjaga harta. Ilmu bertambah dengan diinfakkan (diajarkan/diberikan), sedangkan harta berkurang dengan diinfakkan. Harta dapat dicuri dan kekuasaan dapat dicopot, sedangkan ilmu tidak dapat dijangkau oleh tangan para pencuri untuk diambil, tidak pula oleh tangan para penguasa untuk dicopot; sehingga pemilik ilmu berada dalam ketenangan rasa aman selamanya, sedangkan pemilik harta dan kedudukan berada dalam duka kecemasan selamanya. Kemudian ilmu itu bermanfaat, lezat, dan indah dalam setiap keadaan selamanya, sementara harta terkadang menarik pada kebinasaan dan terkadang menarik pada keselamatan. Oleh karena itu, Allah Ta'ala mencela harta di dalam Al-Qur'an pada beberapa tempat, meskipun Dia juga menamainya sebagai kebaikan (khair) pada tempat lainnya. Adapun keterbatasan kebanyakan makhluk dari meraih kelezatan ilmu, hal itu adakalanya karena ketiadaan rasa (dzauq), sebab barang siapa yang tidak merasakan maka ia tidak akan mengetahui dan tidak akan rindu, karena kerinduan mengikuti rasa. Adakalanya karena rusaknya temperamen (kondisi jiwa) mereka dan sakitnya hati mereka akibat memperturutkan hawa nafsu, seperti orang sakit yang tidak merasakan manisnya madu dan menganggapnya pahit. Dan adakalanya karena keterbatasan pemahaman mereka, sebab belum diciptakan pada diri mereka sifat yang dengannya ilmu dirasakan lezat, seperti anak menyusu yang tidak merasakan lezatnya madu dan daging burung yang gemuk, dan tidak merasakan lezat kecuali susu. Hal itu tidak menunjukkan bahwa madu itu tidak lezat, dan anggapan enaknya susu padanya tidak menunjukkan bahwa susu adalah segala sesuatu yang paling lezat. Maka orang-orang yang terbatas dari meraih kelezatan ilmu dan hikmah ada tiga golongan: 1. Orang yang batinnya belum hidup, seperti anak kecil. 2. Orang yang mati setelah hidup karena memperturutkan hawa nafsu. 3. Orang yang sakit karena memperturutkan hawa nafsu. Firman Allah Ta'ala: "Di dalam hati mereka ada penyakit" (QS. Al-Baqarah: 10) mengisyaratkan pada penyakit akal. Dan firman-Nya Azza wa Jalla: "Agar dia memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup" (QS. Yasin: 70) mengisyaratkan pada orang yang batinnya hidup. Setiap orang yang hidup jasadnya namun mati hatinya, maka menurut Allah ia termasuk orang-orang mati, meskipun menurut orang-orang bodoh ia termasuk orang-orang hidup. Oleh karena itu, para syuhada itu hidup di sisi Rabb mereka dengan mendapat rezeki serta bersuka cita, meskipun mereka telah mati jasadnya. Jenis kedua: Kelezatan yang padanya manusia berserikat dengan sebagian hewan, seperti kelezatan kepemimpinan, kemenangan, dan kekuasaan; hal itu terdapat pada singa, macan tutul, dan sebagian hewan. Jenis ketiga: Kelezatan yang padanya manusia berserikat dengan seluruh hewan, seperti kelezatan perut dan kemaluan. Ini adalah kelezatan yang paling banyak keberadaannya dan paling hina; oleh karena itu seluruh makhluk berserikat padanya hingga cacing dan serangga. Barang siapa yang melampaui tingkatan ini, ia akan terikat oleh kelezatan kemenangan, dan itu…

أشدها التصاقاً بالمتغافلين فإن جاوز ذلك ارتقى إلى الثالثة فصار أغلب اللذات عليه لذة العلم والحكمة لا سيما لذة معرفة الله تعالى ومعرفة صفاته وأفعاله وهذه رتبة الصديقين ولا ينال تمامها إلا بخروج استيلاء حب الرياسة من القلب وآخر ما يخرج من رءوس الصديقين حب الرياسة وأما شره البطن والفرج فكسره مما يقوى عليه الصالحون وشهوة الرياسة لا يقوى على كسرها إلا الصديقون فأما قمعها بالكلية حتى لا يقع بها الإحساس على الدوام وفي اختلاف الأحوال فيشبه أن يكون خارجاً عن مقدور البشر نعم تغلب لذة معرفة الله تعالى في أحوال لا يقع معها الإحساس بلذة الرياسة والغلبة ولكن ذلك لا يدوم طول العمر بل تعتريه الفترات فتعود إلى الصفات البشرية فتكون موجودة ولكن تكون مقهورة لا تقوى على حمل النفس على العدول عن العدل وعند هذا تنقسم القلوب إلى أربعة أقسام قلب لا يحب إلا الله تعالى ولا يستريح إلا بزيادة المعرفة به والفكر فيه وقلب لا يدري ما لذة المعرفة وما معنى الأنس بالله وإنما لذته بالجاه والرياسة والمال وسائر الشهوات البدنية وقلب أغلب أحواله الأنس بالله سبحانه والتلذذ بمعرفته والفكر فيه ولكن قد يعتريه في بعض الأحوال الرجوع إلى أوصاف البشرية وقلب أغلب أحواله التلذذ بالصفات البشرية ويعتريه في بعض الأحوال تلذذ بالعلم والمعرفة أما الأول فإن كان ممكناً في الوجود فهو في غاية البعد وأما الثاني فالدنيا طافحة به وأما الثالث والرابع فموجودان ولكن على غاية الندور ولا يتصور أن يكون ذلك نادراً شاذاً وهو مع الندور يتفاوت في القلة والكثرة وإنما تكون كثرته في الأعصار القريبة من أعصار الأنبياء ﵈ فلا يزال يزداد العهد طولاً وتزداد مثل هذه القلوب قلة إلى أن تقرب الساعة ويقضي الله أمراً كان مفعولا وإنما وجب أن يكون هذا نادراً لأنه مبادي ملك الآخرة والملك عزيز والملوك لا يكثرون فكما لا يكون الفائق في الملك والجمال إلا نادراً وأكثر الناس من دونهم فكذا في ملك الآخرة فإن الدنيا مرآة الآخرة فإنها عبارة عن عالم الشهادة والآخرة عبارة عن عالم الغيب وعالم الشهادة تابع لعالم الغيب كما أن الصورة في المرآة تابعة لصورة الناظر في المرآة والصورة في المرآة وإن كانت هي الثانية في رتبة الوجود فإنها أولى في حق رؤيتك فإنك لا ترى نفسك وترى صورتك في المرآة أولاً فتعرف بها صورتك التي هي قائمة بك ثانياً على سبيل المحاكاة فالقلب التابع في الوجود متبوعاً في حق المعرفة والقلب المتأخر متقدماً وهذا نوع من الانعكاس ولكن الانعكاس والانتكاس ضرورة هذا العالم فكذلك عالم الملك والشهادة محاكٍ لعالم الغيب والملكوت فمن الناس من يسر له نظر الاعتبار فلا ينظر في شيء من عالم الملك إلا ويعبر به إلى عالم الملكوت فيسمى عبوره عبرة وقد أمر الحق به فقال ﴿فاعتبروا يا أولي الأبصار﴾ ومنهم من عميت بصيرته فلم يعتبر فاحتبس في عالم الملك والشهادة وستنفتح إلى حبسه أبواب جهنم وهذا الحبس مملوء ناراً من شأنها أن تطلع على الأفئدة إلا أن بينه وبين إدراك المها حجاباً فإذا رفع ذلك الحجاب بالموت أدرك وعن هذا أظهر الله تعالى الحق على لسان قوم استنطقهم بالحق فقالوا الجنة والنار مخلوقتان ولكن الجحيم تدرك مرة بإدراك يسمى علم اليقين ومرة بإدراك آخر يسمى عين اليقين وعين اليقين لا يكون إلا في الآخرة وعلم اليقين قد يكون في الدنيا ولكن للذين قد وفوا حظهم من نور اليقين فلذلك قال الله تعالى ﴿كلا لو تعلمون علم اليقين لترون الجحيم﴾ أي في الدنيا ﴿ثم لترونها عين اليقين﴾ أي في الآخرة فإذن قد ظهر أن القلب الصالح لملك الآخرة لا يكون إلا عزيزاً كالشخص الصالح لملك الدنيا

…merupakan hal yang paling kuat melekat pada orang-orang yang lalai. Jika ia melampaui hal itu, ia akan naik ke tingkatan ketiga, sehingga kelezatan yang paling dominan baginya adalah kelezatan ilmu dan hikmah, terutama kelezatan ma'rifatullah (mengenal Allah Ta'ala) serta mengenal sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya. Ini adalah tingkatan para Shiddiqin (orang-orang yang sangat jujur imannya). Kesempurnaannya tidak akan diraih kecuali dengan keluarnya dominasi cinta kepemimpinan dari dalam hati. Dan hal terakhir yang keluar dari kepala para Shiddiqin adalah cinta kepemimpinan (hubbur ri'asah). Adapun kerakusan perut dan kemaluan, menundukkannya termasuk hal yang sanggup dilakukan oleh orang-orang saleh, sedangkan syahwat kepemimpinan tidak ada yang sanggup menundukkannya kecuali para Shiddiqin. Adapun membasminya secara total sehingga tidak pernah ada persepsi tentangnya secara terus-menerus dalam berbagai kondisi, hal itu tampaknya di luar batas kemampuan manusia. Ya, kelezatan ma'rifatullah memang mengalahkan pada sebagian kondisi yang mana tidak ada persepsi tentang kelezatan kepemimpinan dan kemenangan, namun hal itu tidak berlangsung sepanjang umur, melainkan diselingi oleh masa-masa luang (futur) sehingga kembali pada sifat-sifat kemanusiaan. Sifat-sifat tersebut tetap ada namun dalam keadaan terkalahkan, tidak mampu mendorong jiwa untuk menyimpang dari keadilan. Pada saat ini, hati terbagi menjadi empat jenis: 1. Hati yang tidak mencintai kecuali Allah Ta'ala, dan tidak merasa tenang kecuali dengan bertambahnya ma'rifat kepada-Nya serta tafakur tentang-Nya. 2. Hati yang tidak mengetahui apa itu kelezatan ma'rifat dan apa makna keintiman (uns) dengan Allah, melainkan kelezatannya hanyalah dengan kedudukan, kepemimpinan, harta, dan seluruh syahwat jasmani. 3. Hati yang sebagian besar keadaannya adalah keintiman dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala, berlezat-lezat dengan ma'rifat kepada-Nya dan tafakur tentang-Nya, namun terkadang dalam beberapa kondisi ia kembali pada sifat-sifat kemanusiaan. 4. Hati yang sebagian besar keadaannya adalah berlezat-lezat dengan sifat-sifat kemanusiaan, namun terkadang dalam beberapa kondisi ia merasakan kelezatan ilmu dan ma'rifat. Adapun jenis pertama, jika hal itu mungkin ada dalam kenyataan, maka ia berada pada puncak kejauhan (sangat langka). Jenis kedua, dunia penuh dengannya. Sedangkan jenis ketiga dan keempat, keduanya ada tetapi sangat langka. Tidak dapat dibayangkan bahwa hal itu menjadi tidak langka; dan di samping kelangkaannya, ia memiliki tingkatan sedikit dan banyaknya. Kebanyakan jumlahnya berada pada zaman-zaman yang dekat dengan zaman para nabi alaihimussalam. Kemudian rentang waktu semakin panjang dan hati yang seperti ini semakin sedikit sampai mendekati hari kiamat dan Allah memutuskan suatu perkara yang harus terjadi. Diwajibkan hal ini menjadi langka karena ia merupakan permulaan dari kerajaan akhirat, dan kerajaan itu adalah hal yang langka (agung) serta para raja tidaklah banyak. Sebagaimana tidak ada orang yang unggul dalam kekuasaan dan ketampanan kecuali langka dan kebanyakan manusia berada di bawah mereka, demikian pula dalam kerajaan akhirat. Sebab dunia adalah cermin akhirat; dunia adalah sebutan bagi alam syahadah (nyata) sedang akhirat adalah sebutan bagi alam gaib. Alam syahadah mengikuti alam gaib sebagaimana bayangan di cermin mengikuti bentuk orang yang melihat ke cermin. Bayangan di cermin, meskipun ia adalah yang kedua dalam tingkatan keberadaan, ia adalah yang pertama dalam hal penglihatanmu; sebab engkau tidak melihat dirimu sendiri melainkan melihat bayanganmu di cermin terlebih dahulu, lalu melaluinya engkau mengetahui bentuk dirimu yang berdiri padamu pada urutan kedua secara peniruan. Maka hati yang mengikut dalam keberadaan menjadi yang diikuti dalam hal ma'rifat, dan hati yang di belakang menjadi yang di depan. Ini adalah sejenis pembalikan (in'ikas), tetapi pembalikan ini merupakan keniscayaan alam ini. Demikian pula alam mulk dan syahadah meniru alam gaib dan malakut. Maka di antara manusia ada orang yang dimudahkan baginya pandangan iktibar (pelajaran), sehingga ia tidak memandang sesuatu pun di alam mulk melainkan melintasinya menuju alam malakut; perlintasannya ini dinamakan 'ibrah (pelajaran). Dan sungguh Al-Haqq (Allah) telah memerintahkannya seraya berfirman: "Maka ambillah pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai pandangan!" (QS. Al-Hasyr: 2). Dan di antara mereka ada yang buta mata hatinya sehingga tidak dapat mengambil pelajaran, lalu ia terkurung di alam mulk dan syahadah, dan kelak pintu-pintu jahanam akan dibuka menuju kurungannya. Kurungan ini penuh dengan api yang menyala-nyala sampai ke hati, hanya saja antara dirinya dan persepsi tentang rasa sakitnya terdapat penghalang (hijab). Apabila hijab itu diangkat dengan kematian, ia akan merasakannya. Dari sinilah Allah Ta'ala menampakkan kebenaran melalui lisan kaum yang dijadikan-Nya berbicara dengan kebenaran, lalu mereka berkata: "Surga dan neraka itu diciptakan." Namun neraka Jahim itu terkadang dijangkau dengan persepsi yang dinamakan 'ilmul yaqin, dan terkadang dengan persepsi lain yang dinamakan 'ainul yaqin. 'Ainul yaqin tidak terjadi kecuali di akhirat, sedangkan 'ilmul yaqin bisa terjadi di dunia, tetapi bagi orang-orang yang telah memenuhi bagian mereka dari cahaya keyakinan. Oleh karena itu Allah Ta'ala berfirman: "Sekali-kali tidak! Sekiranya kamu mengetahui dengan ilmu yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahim" (QS. At-Takatsur: 5-6), maksudnya di dunia. "Kemudian kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin" (QS. At-Takatsur: 7), maksudnya di akhirat. Maka telah jelas bahwa hati yang layak bagi kerajaan akhirat itu tidak ada kecuali sangat langka, sebagaimana orang yang layak bagi kerajaan dunia.

قسمة سادسة حاوية لمجامع النعم اعلم أن النعم تنقسم إلى ما هي غاية مطلوبة لذاتها وإلى ما هي مطلوبة لأجل

Pembagian keenam yang mencakup muara segala nikmat: Ketahuilah bahwa nikmat-nikmat itu terbagi menjadi apa yang merupakan tujuan (ghayah) yang dicari karena zatnya sendiri, dan apa yang dicari demi…

الغاية أم الغاية فإنها سعادة الآخرة ويرجع حاصلها إلى أربعة أمور بقاء لا فناء له وسرور لا غم فيه وعلم لا جهل معه وغنى لا فقر بعده وهي النعمة الحقيقية وَلِذَلِكَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لا عيش إلا عيش الآخرة وقال ذلك في الشدة تسلية النفس وذلك في وقت حفر الخندق في شدة الضر وقال ذلك مرة في السرور منعاً للنفس من الركون إلى سرور الدنيا وذلك عند إحداق الناس به في حجة الوداع حديث قوله في حجة الوداع لا عيش إلا عيشة الآخرة رواه الشافعي مرسلا والحاكم متصلا وصححه وتقدم في الحج وقال رجل اللهم إني أسألك تمام النعمة فقال النبي ﷺ وهل تعلم ما تمام النعمة قال لا قال تمام النعمة دخول الجنة حديث قال رجل اللهم إني أسألك تمام النعمة الحديث أما الوسائل فتنقسم إلى الأقرب الأخص كفضائل النفس وإلى ما يليه في القرب كفضائل البدن وهو الثاني وإلى ما يليه في القرب ويجاوز إلى غير البدن كالأسباب المطيفة بالبدن من المال والأهل والعشيرة وإلى ما يجمع بين هذه الأسباب الخارجة عن النفس وبين الحاصلة للنفس كالتوفيق والهداية فهي إذن أربعة أنواع النوع الأول وهو الأخص الفضائل النفسية ويرجع حاصلها مع انشعاب أطرافها إلى الإيمان وحسن الخلق وينقسم الإيمان إلى علم المكاشفة وهو العلم بالله تعالى وصفاته وملائكته ورسله وإلى علوم المعاملة وحسن الخلق ينقسم إلى قسمين ترك مقتضى الشهوات والغضب واسمه العفة ومراعاة العدل في الكف عن مقتضى الشهوات والإقدام حتى لا يمتنع أصلاً ولا يقدم كيف شاء بل يكون إقدامه وإحجامه بالميزان العدل الذي أنزله الله تعالى على لسان رسوله ﷺ إذ قال الله تعالى إن لا تطغوا في الميزان وأقيموا الوزن بالقسط ولا تخسروا الميزان فمن خصي نفسه ليزيل شهوة النكاح أو ترك النكاح مع القدرة والأمن من الآفات أو ترك الأكل حتى ضعف عن العبادة والذكر والفكر فقد أخسر الميزان ومن انهمك في شهوة البطن والفرج فقد طغى في الميزان وإنما العدل أن يخلو وزنه وتقديره عن الطغيان والخسران فتعتدل به كفتا الميزان فإذن الفضائل الخاصة بالنفس المقربة إلى الله تعالى أربعة علم مكاشفة وعلم معاملة وعفة وعدالة ولا يتم هذا في غالب الأمر إلا بالنوع الثاني وهو الفضائل البدنية وهي أربعة الصحة والقوة والجمال وطول العمر ولا تتهيأ هذه الأمور الأربعة إلا بالنوع الثالث وهي النعم الخارجة المطيفة بالبدن وهي أربعة المال والأهل والجاه وكرم العشيرة ولا ينتفع بشيء من هذه الأسباب الخارجة والبدنية إلا بالنوع الرابع وهي الأسباب التي تجمع بينها وبين ما يناسب الفضائل النفسية الداخلة وهي أربعة هداية الله ورشده وتسديده وتأييده فمجموع هذه النعم ستة عشر إذا قسمناها إلى أربعة وقسمنا كل واحدة من الأربعة إلى أربعة وهذه الجملة يحتاج البعض منها إلى البعض إما حاجة ضرورية أو نافعة أم الحاجة الضرورية فكحاجة سعادة الآخرة إلى الإيمان وحسن الخلق إذ لا سبيل إلى الوصول إلى سعادة الآخرة البتة إلا بهما فليس للإنسان إلا ما سعى وليس لأحد في الآخرة إلا ما تزود من الدنيا فكذلك حاجة الفضائل النفسية التي تكسب هذه العلوم وتهذب الأخلاق إلى صحة البدن ضروري وأما الحاجة النافعة على الجملة فكحاجة هذه النعم النفسية والبدنية إلى النعم الخارجة مثل المال والعز والأهل فإن ذلك لو عدم ربما تطرق الخلل إلى بعض النعم الداخلة

…tujuan tersebut. Adapun tujuan itu sendiri adalah kebahagiaan akhirat, yang kesimpulannya kembali pada empat hal: 1. Keabadian tanpa ada kebinasaan padanya. 2. Kegembiraan tanpa ada kesedihan di dalamnya. 3. Ilmu tanpa ada kebodohan bersamanya. 4. Kecukupan (kekayaan) tanpa ada kefakiran setelahnya. Itulah nikmat yang hakiki. Oleh karena itu Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidak ada kehidupan melainkan kehidupan akhirat." Beliau mengucapkan hal itu dalam keadaan kesukaran untuk menghibur jiwa, yaitu pada waktu penggalian Parit (Khandaq) dalam kesulitan yang amat sangat. Dan Beliau mengucapkan hal itu pula sekali waktu dalam keadaan gembira untuk mencegah jiwa dari bersandar pada kegembiraan dunia, yaitu ketika orang-orang mengelilinginya pada Haji Wada'. (Hadis ucapan Beliau pada Haji Wada' "Tidak ada kehidupan melainkan kehidupan akhirat" diriwayatkan oleh Asy-Syafi'i secara mursal dan Al-Hakim secara bersambung dan ia mensahihkannya, serta telah berlalu di bab Haji). Seorang laki-laki pernah berdoa: "Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kesempurnaan nikmat." Maka Nabi ﷺ bersabda: "Apakah engkau tahu apa kesempurnaan nikmat itu?" Ia menjawab: "Tidak." Beliau bersabda: "Kesempurnaan nikmat adalah masuk ke dalam surga." (Hadis seorang laki-laki berdoa: "Ya Allah aku memohon kepada-Mu kesempurnaan nikmat…" al-hadits). Adapun sarana-sarana (wasail), ia terbagi menjadi: 1. Yang paling dekat dan paling khusus, yaitu keutamaan-keutamaan jiwa (fadhailun nafs). 2. Yang menyertainya dalam kedekatan, yaitu keutamaan-keutamaan jasad/badan (fadhailul badan), dan ini adalah yang kedua. 3. Yang menyertainya dalam kedekatan namun melampaui hingga keluar jasad, seperti sebab-sebab yang mengelilingi jasad dari harta, keluarga, dan kerabat. 4. Yang menghimpun antara sebab-sebab luar yang terpisah dari jiwa ini dengan sebab-sebab yang terwujud bagi jiwa, seperti taufik dan hidayah. Maka sarana-sarana itu ada empat jenis: Jenis pertama (yang paling khusus): Keutamaan-keutamaan jiwa. Kesimpulannya, beserta kecabangan ujung-ujungnya, kembali pada iman dan akhlak yang baik. Iman terbagi menjadi 'ilmul mukasyafah (ilmu pembukaan tabir), yaitu ilmu tentang Allah Ta'ala, sifat-sifat-Nya, malaikat-malaikat-Nya, dan rasul-rasul-Nya; serta ilmu-ilmu muamalah. Akhlak yang baik terbagi menjadi dua bagian: meninggalkan tuntutan syahwat dan amarah yang dinamakan 'iffah (kesucian diri), dan menjaga keadilan dalam menahan diri dari tuntutan syahwat serta melangkah maju sehingga tidak berhenti sama sekali dan tidak pula melangkah sekehendak hatinya, melainkan langkah dan penahanannya berada pada timbangan keadilan yang diturunkan Allah Ta'ala melalui lisan Rasul-Nya ﷺ, di mana Allah Ta'ala berfirman: "Supaya kamu jangan melampaui batas dalam timbangan. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi timbangan itu" (QS. Ar-Rahman: 8-9). Barang siapa mencibir/kebiri dirinya untuk menghilangkan syahwat nikah, atau meninggalkan nikah padahal mampu dan aman dari bahaya, atau meninggalkan makan hingga lemah dari ibadah, zikir, dan tafakur, maka sungguh ia telah mengurangi timbangan. Dan barang siapa tenggelam dalam syahwat perut dan kemaluan, maka sungguh ia telah melampaui batas dalam timbangan. Keadilan hanyalah jika penimbangan dan takdirnya bersih dari melampaui batas dan mengurangi, sehingga kedua daun timbangan menjadi seimbang. Maka keutamaan-keutamaan yang khusus bagi jiwa yang mendekatkan kepada Allah Ta'ala ada empat: ilmu mukasyafah, ilmu muamalah, 'iffah (kesucian diri), dan 'adalah (keadilan). Hal ini pada umumnya tidak akan sempurna kecuali dengan jenis kedua, yaitu keutamaan-keutamaan jasmani/badan, yaitu ada empat: kesehatan, kekuatan, ketampanan/keindahan, dan umur yang panjang. Keempat hal ini tidak akan terwujud kecuali dengan jenis ketiga, yaitu nikmat-nikmat luar yang mengelilingi badan, yaitu ada empat: harta, keluarga, kedudukan (jah), dan kemuliaan kerabat. Dan tidak ada yang dapat dimanfaatkan dari sebab-sebab luar dan jasmani ini kecuali dengan jenis keempat, yaitu sebab-sebab yang menghimpun di antara hal itu dengan apa yang sesuai dengan keutamaan jiwa bagian dalam, yaitu ada empat: hidayah Allah, petunjuk-Nya (rusyd), bimbingan-Nya (tasdid), dan penguatan-Nya (ta'yid). Maka jumlah nikmat-nikmat ini ada enam belas jika kita membaginya menjadi empat dan membagi setiap satu dari yang empat itu menjadi empat. Keseluruhan ini, sebagian di antaranya membutuhkan sebagian yang lain, baik kebutuhan yang sifatnya darurat maupun bermanfaat. Adapun kebutuhan yang bersifat darurat, seperti kebutuhan kebahagiaan akhirat kepada iman dan akhlak yang baik; sebab sama sekali tidak ada jalan untuk sampai pada kebahagiaan akhirat kecuali dengan keduanya. Tidak ada bagi manusia kecuali apa yang telah diusahakannya, dan tidak ada bagi seseorang di akhirat kecuali apa yang dibekalinya dari dunia. Demikian pula kebutuhan keutamaan-keutamaan jiwa yang mengusahakan ilmu-ilmu ini dan mendidik akhlak kepada kesehatan badan adalah bersifat darurat. Adapun kebutuhan yang bermanfaat secara umum, seperti kebutuhan nikmat-nikmat jiwa dan badan ini kepada nikmat-nikmat luar seperti harta, kemuliaan, dan keluarga; sebab jika hal itu tidak ada, terkadang cacat akan merembet pada sebagian nikmat bagian dalam.

فإن قلت فما وجه الحاجة لطريق الآخرة إلى النعم الخارجة من المال والأهل والجاه والعشيرة فاعلم أن هذه الأسباب جارية مجرى الجناح المبلغ والآلة المسهلة للمقصود أما المال فالفقير في طلب العلم والكمال وليس

Jika engkau bertanya: "Apakah bentuk kebutuhan jalan akhirat terhadap nikmat-nikmat luar berupa harta, keluarga, kedudukan, dan kerabat?" Maka ketahuilah bahwa sebab-sebab ini berkedudukan seperti sayap yang menyampaikan dan alat yang mempermudah tujuan. Adapun harta, maka orang fakir dalam menuntut ilmu dan kesempurnaan yang tidak…

له كفاية كساع إلى الهيجا بغير سلاح وكبازي يروم الصيد بلا جناح ولذلك قال ﷺ نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ للرجل الصالح وقال ﷺ نعم العون على تقوى الله المال ٢ وكيف لا ومن عدم المال صار مستغرق الأوقات في طلب الأقوات وفي تهيئة اللباس والمسكن وضرورات المعيشة ثم يتعرض لأنواع من الأذى تشغله عن الذكر والفكر ولا تندفع إلا بسلاح المال ثم ذلك يحرم عن فضيلة الحج والزكاة والصدقات وإفاضة الخيرات

…memiliki kecukupan adalah seperti orang yang berlari ke medan perang tanpa senjata, dan seperti burung elang yang hendak berburu tanpa sayap. Oleh karena itu Rasulullah ﷺ bersabda: "Sebaik-baik harta yang saleh (baik) adalah untuk laki-laki yang saleh." Dan Beliau ﷺ bersabda: "Sebaik-baik penolong untuk bertakwa kepada Allah adalah harta." Bagaimana tidak, barang siapa tidak memiliki harta, seluruh waktunya akan habis untuk mencari makanan pokok, menyiapkan pakaian, tempat tinggal, dan kebutuhan dasar hidup. Kemudian ia akan terpapar berbagai gangguan yang melalaikannya dari zikir dan tafakur, padahal gangguan tersebut tidak dapat tertolak kecuali dengan senjata harta. Kemudian hal itu juga menghalanginya dari keutamaan haji, zakat, sedekah, dan melimpahkan kebaikan-kebaikan.

وقال بعض الحكماء وقد قيل له ما النعيم فقال الغنى فإني رأيت الفقير لا عيش له قيل زدنا قال الأمن فإني رأيت الخائف لا عيش له قيل زدنا قال العافية فإني رأيت المريض لا عيش له قيل زدنا قال الشباب فإني رأيت الهرم لا عيش له وكأن ما ذكره إشارة إلى نعيم الدنيا ولكن من حيث إنه معين على الآخرة فهو نعمة ولذلك قال ﷺ من أصبح معافى بدنه آمِنًا فِي سِرْبِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حيزت له الدنيا بحذافيرها وقال ﷺ في الولد إذا مات العبد انقطع عمله إلا في ثلاث ولد صالح يدعو له الحديث حديث إذا مات العبد انقطع عمله إلا من ثلاث الحديث أخرجه مسلم من حديث أبي هريرة وتقدم في النكاح وقد ذكرنا فوائد الأهل والولد في كناب النكاح وأما الأقارب

Sebagian hukama (orang bijak) pernah ditanya: "Apakah nikmat itu?" Ia menjawab: "Kekayaan, sebab aku melihat orang fakir tidak memiliki kenikmatan hidup." Ditanyakan kepadanya: "Tambahkan lagi untuk kami!" Ia menjawab: "Rasa aman, sebab aku melihat orang yang takut tidak memiliki kenikmatan hidup." Ditanyakan kepadanya: "Tambahkan lagi untuk kami!" Ia menjawab: "Kesehatan ('afiyah), sebab aku melihat orang sakit tidak memiliki kenikmatan hidup." Ditanyakan kepadanya: "Tambahkan lagi untuk kami!" Ia menjawab: "Masa muda, sebab aku melihat orang yang tua renta tidak memiliki kenikmatan hidup." Seakan-akan apa yang disebutkan olehnya adalah isyarat pada kenikmatan dunia, namun dari segi bahwa ia membantu menuju akhirat, maka ia merupakan nikmat. Oleh karena itu Rasulullah ﷺ bersabda: "Barang siapa di antara kamu memasuki pagi hari dalam keadaan sehat badannya, aman pada kelompoknya/dirinya, dan memiliki makanan pokok untuk hari itu, maka seolah-olah dunia telah dikumpulkan baginya beserta seluruh isinya." Dan Rasulullah ﷺ bersabda tentang anak: "Apabila seorang hamba meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: anak saleh yang mendoakannya…" (Al-Hadits, diriwayatkan oleh Muslim dari hadis Abu Hurairah dan telah berlalu di kitab Nikah). Dan telah kami sebutkan manfaat-manfaat keluarga dan anak dalam Kitab Nikah. Adapun para kerabat…

فهما كثر أولاد الرجل وأقاربه كانوا له مثل الأعين والأيدي فيتيسر له بسببهم من الأمور الدنيوية المهمة في دينه ما لمو انفرد به لطال شغله وكل ما يفرغ قلبك من ضرورات الدنيا فهو معين لك على الدين فهو إذن نعمة وأما العز والجاه فبه يدفع الإنسان عن نفسه الذل والضيم ولا يستغني عنه مسلم فإنه لا ينفك عن عدو يؤذيه وظالم يشوش عليه علمه وعمله وفراغه ويشغل قلبه وقلبه رأس ماله وإنما تندفع هذه الشواغل بالعز والجاه ولذلك قيل الدين والسلطان توأمان قال تَعَالَى ﴿وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لفسدت الأرض﴾ ولا معنى للجاه إلا ملك القلوب كما لا معنى للغنى إلا ملك الدراهم ومن ملك الدراهم تسخرت له أرباب القلوب لدفع الأذى عنه فكما يحتاج إلى سقف يدفع عنه المطر وجبة تدفع عنه البرد وكلب يدفع الذئب عن ماشيته فيحتاج أيضاً إلى من يدفع الشر به عن نفسه وعلى هذا القصد كان الأنبياء الذين لا ملك لهم ولا سلطنة يراعون السلاطين ويطلبون عندهم الجاه وكذلك علماء الدين لا على القصد التناول من خزائنهم والاستئثار والاستكثار في الدنيا بمتابعتهم ولا تظن أن نعمة الله تعالى على ﷺ حيث نصره وأكمل دينه وأظهره على جميع أعدائه ومكن في القلوب حبه حتى اتسع به عزه وجاهه كانت أقل من نعمته عليه حيث كان يؤذي ويضرب حتى افتقر إلى الهرب والهجرة // حديث ما ناله ﷺ من الأذى ونحوه حتى افتقر إلى الهرب والهجرة رواه البخاري ومسلم من حديث عائشة أَنَّهَا قَالَتْ لِلنَّبِيِّ ﷺ هل أتى عليك يوم أشد من يوم أحد قال لقد لقيت من قومك وكان أشد ما لقيت يوم العقبة إذ عرضت نفسي على ابن عبد ياليل الحديث وللترمذي وصححه وابن ماجة من حديث أنس لقد أخفت في الله وما يخاف أحد ولقد أوذيت في الله ولقد أذيت في الله وما يؤذى أحد ولقد إتى علي ثلاثون من بين يوم وليلة ومالي ولبلال طعام يأكله ذو كبد إلا شئ إبط بلال قال الترمذي معنى هذا حين خرج النبي ﷺ هاربا من مكة ومعه بلال وللبخاري عن عروة قال سألت عبد الله بن عمرو عن أشد ما صنع المشركون برسول الله ﷺ قال رأيت عقبة بن أبي معيط جاء إلى النبي ﷺ وهو يصلى فوضع رداءه في عنقه فخنقه خنقاً شديداً فجاء أبو بكر فدفعه عنه الحديث وللبزار وأبي يعلى من حديث أنس قال لقد ضربوا رَسُولِ اللَّهِ ﷺ حَتَّى غشي عليه فقام أبو بكر فجعل ينادي ويلكم أتقتلون رجلاً أن يقول ربي الله وإسناده صحيح على شرط مسلم

…maka semakin banyak anak dan kerabat seorang laki-laki, mereka menjadi baginya seperti mata dan tangan; sehingga dengan sebab mereka, urusan-urusan duniawi yang penting bagi agamanya menjadi mudah baginya, yang seandainya ia menyendiri niscaya akan panjang kesibukannya. Dan setiap hal yang menenangkan hatimu dari keterdesakan dunia, maka ia membantu bagimu atas agama; oleh karena itu ia adalah nikmat. Adapun kemuliaan dan kedudukan (jah), dengannya manusia dapat menolak kehinaan dan kezaliman dari dirinya, dan seorang muslim tidak dapat terlepas darinya; sebab ia tidak pernah lepas dari musuh yang menyakitinya dan orang zalim yang mengacaukan ilmu, amal, dan waktu luangnya serta menyibukkan hatinya, padahal hatinya adalah modal utamanya. Gangguan-gangguan ini hanya dapat tertolak dengan kemuliaan dan kedudukan. Oleh karena itu dikatakan: "Agama dan kekuasaan adalah saudara kembar." Allah Ta'ala berfirman: "Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, niscaya rusaklah bumi ini" (QS. Al-Baqarah: 251). Tidak ada makna bagi kedudukan (jah) selain menguasai hati (memenangi simpati manusia), sebagaimana tidak ada makna bagi kekayaan selain menguasai dirham. Barang siapa menguasai dirham, pemilik-pemilik hati akan tunduk padanya untuk menolak gangguan darinya. Sebagaimana ia membutuhkan atap yang menolak hujan darinya, jubah yang menolak dingin darinya, dan anjing yang menolak serigala dari hewan ternaknya, maka ia juga membutuhkan orang yang dengannya ia dapat menolak kejahatan dari dirinya. Atas maksud inilah para nabi yang tidak memiliki kerajaan dan kekuasaan tetap memperhatikan para sultan dan mencari kedudukan di sisi mereka; demikian pula para ulama agama, bukan dengan maksud untuk mengambil harta dari perbendaharaan mereka, mementingkan diri sendiri, dan memperbanyak harta di dunia dengan mengikuti mereka. Dan janganlah engkau mengira bahwa nikmat Allah Ta'ala kepada Nabi ﷺ ketika Dia menolongnya, menyempurnakan agamanya, memenangkannya atas seluruh musuh-musuhnya, dan memantapkan rasa cinta kepadanya di dalam hati manusia hingga kemuliaan dan kedudukannya menjadi luas dengannya, adalah lebih sedikit daripada nikmat-Nya kepadanya tatkala Beliau disakiti dan dipukul hingga membutuhkan pelarian dan hijrah… (Hadis tentang apa yang menimpa Beliau ﷺ berupa gangguan dan sejenisnya hingga membutuhkan pelarian dan hijrah diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari hadis Aisyah radhiyallahu 'anha bahwa ia berkata kepada Nabi ﷺ: "Apakah pernah datang kepadamu suatu hari yang lebih berat daripada hari Uhud?" Beliau bersabda: "Sungguh aku telah mengalami gangguan dari kaummu, dan hal terberat yang kualami dari mereka adalah pada hari 'Aqabah tatkala aku menawarkan diriku kepada Ibnu 'Abdi Yalil…" Al-Hadits. Dan bagi At-Tirmidzi -ia mensahihkannya- serta Ibnu Majah dari hadis Anas: "Sungguh aku telah ditakut-takuti di jalan Allah padahal tidak ada seorang pun yang ditakuti, dan sungguh aku telah disakiti di jalan Allah padahal tidak ada seorang pun yang disakiti…" Al-Hadits. At-Tirmidzi berkata: Makna hal ini adalah tatkala Nabi ﷺ keluar melarikan diri dari Mekkah bersama Bilal. Dan bagi Al-Bukhari dari 'Urwah ia berkata: Aku bertanya kepada Abdullah bin 'Amr tentang hal paling keras yang dilakukan kaum musyrikin kepada Rasulullah ﷺ, ia berkata: Aku melihat Uqbah bin Abi Mu'aith datang kepada Nabi ﷺ tatkala Beliau sedang shalat, lalu ia meletakkan pakaiannya di leher Beliau dan mencekiknya dengan cekikan yang keras, lalu Abu Bakar datang dan membuangnya dari Beliau… Al-Hadits. Dan bagi Al-Bazzar serta Abu Ya'la dari hadis Anas ia berkata: Sungguh mereka memukul Rasulullah ﷺ hingga Beliau pingsan, lalu Abu Bakar berdiri seraya berseru: "Celaka kalian! Apakah kalian akan membunuh seorang laki-laki hanya karena ia mengatakan: Rabbku adalah Allah?" Dan sanadnya sahih sesuai syarat Muslim).

فإن قلت كرم العشيرة وشرف الأهل هو من النعم أم لا فأقول نعم ولذلك قال ﷺ الأئمة من قريش ولذلك كان ﷺ من أكرم الناس أرومة في نسب آدم ﵇ حديث كان ﷺ من أكرم الناس أرومة الأرومة الأصل هذا معلوم فروى مسلم من حديث واثلة بن الأسقى مرفوع إن الله اصطفى كنانة من ولد إسماعيل واصطفى قريشا من كنانة واصطفى من قريش بني هاشم واصطفاني من بني هاشم وفي رواية الترمذي إن الله اصطفى من ولد إبراهيم إسماعيل وله من حديث العباس وحسنه وابن عباس والمطلب ابن ربيعة وصححه والمطلب بن أبي وداعة وحسنه إن الله خلق الخلق فجعلني من خير وفي حديث ابن عباس ما بالوا أقوام يبتذلون أصل فوالله لأنا أفضلهم أصلا وخيرهم موضعا وقال ﷺ تخيروا لنطفكم الأكفاء حديث اطلبوا الخير عند حسان الوجوه أخرجه أبو يعلي من رواية اسماعيل بن عياش عن خيرة بنت محمد بن ثابت بن سباع عن أمها عائشة وخيرة وأمها لا أعرف حالهما ورواه ابن حبان من وجه آخر في الضعفاء والبيهقي في الشعب من حديث ابن عمر وله طرق كلها ضعيفة // وقال عمر

Jika engkau bertanya: "Apakah kemuliaan kerabat dan keluhuran keluarga termasuk dari nikmat atau bukan?" Maka aku katakan: Ya. Oleh karena itu Nabi ﷺ bersabda: "Para pemimpin itu dari Quraisy." Dan oleh karena itulah Beliau ﷺ merupakan manusia yang paling mulia nasabnya dalam garis keturunan Adam alaihissalam. (Hadis "Beliau ﷺ merupakan manusia yang paling mulia nasabnya" – arumah bermakna asal-usul/nasab – ini telah dimaklumi. Muslim meredaksikan dari hadis Watsilah bin Al-Asqa' secara marfu': "Sesungguhnya Allah memilih Kinanah dari keturunan Ismail, memilih Quraisy dari Kinanah, memilih Bani Hasyim dari Quraisy, dan memilihku dari Bani Hasyim." Dan dalam riwayat At-Tirmidzi: "Sesungguhnya Allah memilih Ismail dari anak Ibrahim…" Dan baginya dari hadis Al-Abbas -ia menghasankannya-, Ibnu Abbas, Al-Muththalib bin Rabi'ah -ia mensahihkannya-, dan Al-Muththalib bin Abi Wada'ah -ia menghasankannya-: "Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk lalu menjadikan aku dari yang terbaik…". Dan dalam hadis Ibnu Abbas: "Mengapa ada kaum yang menghinakan nasabku? Demi Allah, sungguh aku adalah yang paling utama nasabnya di antara mereka dan yang paling baik kedudukannya." Dan Beliau ﷺ bersabda: "Pilihlah tempat yang setara bagi benih kalian." Hadis "Carilah kebaikan pada orang-orang yang berwajah tampan/baik" dikeluarkan oleh Abu Ya'la dari riwayat Ismail bin Ayyasy dari Khairah binti Muhammad bin Tsabit bin Siba' dari ibunya Aisyah; Khairah dan ibunya tidak kuketahui keadaan keduanya. Dan diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dari jalur lain dalam Adh-Dhu'afa' dan Al-Baihaqi dalam Asy-Syu'ab dari hadis Ibnu Umar, dan ia memiliki jalur-jalur yang semuanya dha'if). Dan Umar radhiyallahu 'anhu berkata…

رضي الله تعالى عنه إذا بعثتم رسولاً فاطلبوه حسن الوجه حسن الاسم وقال الفقهاء إذا تساوت درجات المصلين فأحسنهم وجهاً أولاهم بالإمامة وقال تعالى ممتناً بذلك ﴿وزاده بسطة في العلم والجسم﴾ ولسنا نعني بالجمال ما يحرك الشهوة فإن ذلك أنوثة وإنما نعني به ارتفاع القامة على الاستقامة مع الاعتدال في اللحم وتناسب الأعضاء وتناصف خلقة الوجه بحيث لا تنبو الطباع عن النظر إليه

…radhiyallahu 'anhu: "Jika kalian mengutus seorang utusan, maka carilah yang berwajah elok dan bernama baik." Dan para ahli fiqih berkata: "Apabila tingkatan para jamaah shalat itu setara, maka yang paling elok wajahnya adalah yang paling berhak menjadi imam." Dan Allah Ta'ala berfirman seraya memberi anugerah dengan hal itu: "Dan Allah menganugerahkan kelebihan ilmu dan fisik kepadanya" (QS. Al-Baqarah: 247). Dan tidaklah kami maksudkan dengan keindahan (ketampanan) itu sesuatu yang membangkitkan syahwat, karena hal itu adalah sifat kewanitaan; melainkan yang kami maksudkan dengannya adalah postur tubuh yang tegak lurus disertai proporsionalnya daging, keserasian anggota badan, dan simetrisnya perawakan wajah, sekira tabiat tidak merasa enggan untuk memandangnya.

فإن قلت فقد أدخلت المال والجاه والنسب والأهل والولد في حيز النعم وقد ذم الله تعالى المال والجاه وكذا رسول ﷺ حديث ذم المال والجاه أخرجه الترمذي من حديث كعب بن مالك ما ذئبان جائعان أرسلا في غنم بأفسد لها من حب المال والشرف لدينه وقد تقدم في ذم المال والبخل // وكذا العلماء قال تعالى ﴿إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ﴾ وقال ﷿ ﴿إنما أموالكم وأولادكم فتنة﴾ وقال علي كرم الله وجهه في ذم النسب الناس أبناء ما يحسنون وقيمة كل امرىء ما يحسنه وقيل المرء بنفسه لا بأبيه فما معنى كونها نعمة مع كونها مذمومة شرعاً فاعلم أن من يأخذ العلوم من الألفاظ المنقولة المؤولة والعمومات المخصصة كان الضلال عليه أغلب ما لم يهتد بنور الله تعالى إلى إدراك العلوم على ما هي عليه ثم ينزل النقل على وفق ما ظهر له منها بالتأويل مرة وبالتخصيص أخرى فهذه نعم معينة على أمر الآخرة لا سبيل إلى جحدها إلا أن فيها فتنا ومخاوف فمثال المال مثال الحية التي فيها ترياق نافع وسم نافع فإن أصابها المعزم الذي يعرف وجه الاحتراز عن سمها وطريق استخراج ترياقها النافع كانت نعمة وإن أصابها السوادي الغر فهي عليه بلاء وهلاك وهو مثل البحر الذي تحته أصناف الجواهر واللآلئ فمن ظفر بالبحر فإن كان عالماً بالسباحة وطريق الغوص وطريق الاحتراز عن مهلكات البحر فقد ظفر بنعمه وإن خاضه جاهلاً بذلك فقد هلك فلذلك مدح الله تعالى المال وسماه خيرا ومدحه رسول ﷺ وقال نعم العون على تقوى الله تعالى المال وكذلك مدح الجاه والعز إذ من الله تعالى على رسوله ﷺ بأن أظهره على الدين كله وحببه في قلوب الخلق وهو المعني بالجاه ولكن المنقول في مدحهما قليل والمنقول في ذم المال والجاه كثير وحيث ذم الرياء فهو ذم الجاه إذ الرياء مقصوده اجتلاب القلوب ومعنى الجاه ملك القلوب وإنما كثر هذا وقل ذاك لأن الناس أكثرهم جهال بطريق الرقية لحية المال وطريق الغوص في بحر الجاه فوجب تحذيرهم فإنهم يهلكون بسم المال قبل الوصول إلى ترياقه ويهلكهم تمساح بحر الجاه قبل العثور على جواهره ولو كانا في أعيانهما مذمومين بالإضافة إلى كل أحد لما تصور أن ينضاف إلى النبوة الملك كما كان لرسولنا ﷺ ولا أن ينضاف إليها الغنى كما كان لسليمان ﵇ فالناس كلهم صبيان والأموال حيات والأنبياء والعارفون معزمون فقد يضر الصبي مالا يضر المعزم نعم المعزم لو كان له ولد يريد بقاءه وصلاحه وقد وجد حية وعلم أنه لو أخذها لأجل ترياقها لاقتدى به ولده وأخذ الحية إذا رآها ليلعب بها فيهلك فله غرض في الترياق وله غرض في حفظ الولد فواجب عليه أن يزن غرضه في الترياق بغرضه في حفظ الولد فإذا كان يقدر على الصبر عن الترياق ولا يستضر به ضرراً كثيراً ولو أخذها لأخذها الصبي ويعظم ضرره بهلاكهم فواجب عليه أن يهرب عن الحية إذا رآها ويشير على الصبي بالهرب ويقبح صورتها في عينه ويعرفه أن فيها سماً قاتلاً لا ينجو منه أحد ولا يحدثه أصلاً بما فيها من نفع الترياق فإن ذلك ربما يغره فيقدم عليه من غير تمام المعرفة وكذلك الغواص إذا علم أنه لو غاص في البحر بمرأى من ولده لاتبعه وهلك

Jika engkau bertanya: "Sungguh engkau telah memasukkan harta, kedudukan, nasab, keluarga, dan anak ke dalam lingkup nikmat-nikmat, padahal Allah Ta'ala telah mencela harta dan kedudukan, demikian pula Rasul-Nya ﷺ…" (Hadis celaan terhadap harta dan kedudukan dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dari hadis Ka'b bin Malik: "Dua serigala lapar yang dilepaskan di tengah kawanan domba tidak lebih merusak baginya daripada ketamakan seseorang terhadap harta dan kedudukan bagi agamanya," dan telah berlalu pada bab Celaan Terhadap Harta dan Kebanyakan… Demikian pula para ulama). …Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka" (QS. At-Taghabun: 14). Dan Dia Azza wa Jalla berfirman: "Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (fitnah)" (QS. At-Taghabun: 15). Dan Ali karramallahu wajhah berkata dalam celaan terhadap nasab: "Manusia adalah anak-anak dari apa yang mereka perbaiki (kuasai/lakukan dengan baik), dan nilai setiap orang adalah apa yang diperbaikinya," serta dikatakan: "Seseorang itu dinilai dengan dirinya sendiri, bukan dengan ayahnya." Maka apakah makna keberadaannya sebagai nikmat padahal ia dicela secara syariat? Ketahuilah bahwa barang siapa mengambil ilmu-ilmu dari lafaz-lafaz yang dinukilkan yang diakui secara tekstual, dan keumuman-keumuman yang dikhususkan, niscaya kesesatan akan lebih menguasainya selama ia belum mendapat petunjuk dengan cahaya Allah Ta'ala untuk memahami ilmu-ilmu sesuai dengan hakikat keberadaannya, kemudian menetapkan dalil nakli sesuai dengan apa yang tampak baginya melalui takwil pada satu waktu dan pengkhususan (takhshish) pada waktu lain. Maka ini adalah nikmat-nikmat yang membantu atas urusan akhirat, tidak ada jalan untuk mengingkarinya, hanya saja padanya terdapat fitnah-fitnah dan bahaya-bahaya. Perumpamaan harta adalah seperti ular yang padanya terdapat penawar yang bermanfaat sekaligus racun yang mematikan. Jika ia ditemukan oleh penawan ular (pawang) yang mengetahui tata cara menjaga diri dari racunnya dan jalan mengeluarkan penawarnya yang bermanfaat, maka ia menjadi nikmat. Namun jika ia ditemukan oleh orang awam yang lugu, maka ia menjadi bencana dan kebinasaan baginya. Harta itu juga seperti laut yang di bawahnya terdapat berbagai jenis permata dan mutiara. Barang siapa menemukan laut, jika ia seorang yang pandai berenang, tahu cara menyelam, dan cara menjaga diri dari pembinasa-pembinasa laut, maka ia telah memperoleh nikmat-nikmatnya. Namun jika ia mengarunginya dalam keadaan bodoh tentang hal itu, niscaya ia membinasakan dirinya. Oleh karena itulah Allah Ta'ala memuji harta dan menamainya sebagai kebaikan (khair), dan Rasul-Nya ﷺ memujinya seraya bersabda: "Sebaik-baik penolong untuk bertakwa kepada Allah adalah harta." Demikian pula Beliau memuji kedudukan dan kemuliaan tatkala Allah Ta'ala menganugerahkan kepada Rasul-Nya ﷺ dengan memenangkannya atas seluruh agama dan menanamkan rasa cinta kepadanya di dalam hati manusia, dan itulah yang dimaksud dengan kedudukan (jah). Namun penukilan dalam memuji keduanya itu sedikit, sedangkan penukilan dalam mencela harta dan kedudukan itu banyak. Dan di mana pun riya dicela, maka ia merupakan celaan terhadap kedudukan; sebab riya tujuannya adalah memikat hati, dan makna kedudukan adalah menguasai hati. Banyaknya celaan ini dan sedikitnya pujian tersebut adalah karena manusia kebanyakan dari mereka bodoh tentang tata cara penawanan bagi ular harta dan tata cara penyelaman di laut kedudukan. Maka diwajibkan memperingatkan mereka, sebab mereka akan binasa oleh racun harta sebelum sampai pada penawarnya, dan mereka akan dibinasakan oleh buaya laut kedudukan sebelum menemukan permata-permatanya. Seandainya keduanya pada zat masing-masing dicela jika dikaitkan dengan setiap orang, niscaya tidak dapat dibayangkan bergabungnya kekuasaan pada kenabian sebagaimana yang ada pada Nabi kita ﷺ, tidak pula bergabungnya kekayaan padanya sebagaimana yang ada pada Sulaiman alaihissalam. Maka manusia semuanya adalah anak-anak kecil, harta-harta adalah ular-ular, sedangkan para nabi dan arifin (orang-orang yang mengenal Allah) adalah para pawang. Sungguh hal yang memudaratkan anak kecil terkadang tidak memudaratkan sang pawang. Ya, sang pawang sendiri seandainya ia memiliki anak yang ia inginkan kelestarian dan kebaikannya, lalu ia menemukan ular dan mengetahui bahwa jika ia mengambilnya demi penawarnya niscaya anaknya akan menirunya dan mengambil ular tersebut jika melihatnya untuk dibuat mainan sehingga ia binasa; maka sang pawang memiliki tujuan pada penawar dan memiliki tujuan pula dalam menjaga anaknya. Diwajibkan atasnya untuk menimbang tujuannya pada penawar dengan tujuannya dalam menjaga anak. Apabila ia mampu bersabar dari penawar tersebut dan tidak terpukul oleh mudarat yang besar darinya, sementara jika ia mengambilnya niscaya si anak akan mengambilnya sehingga membesar mudaratnya dengan kebinasaan mereka, maka diwajibkan atasnya untuk lari dari ular itu jika melihatnya, dan mengisyaratkan kepada si anak untuk lari serta memburukkan rupanya di mata si anak, serta memberitahukannya bahwa pada ular itu terdapat racun pembunuh yang tidak ada seorang pun selamat darinya, dan tidak menceritakan kepadanya sama sekali tentang manfaat penawar yang ada padanya; sebab hal itu terkadang menipunya sehingga ia nekat mengambilnya tanpa kesempurnaan pengetahuan. Demikian pula penyelam, apabila ia mengetahui bahwa jika ia menyelam di laut dengan terlihat oleh anaknya niscaya anaknya akan mengikutinya dan binasa…

فواجب عليه أن يحذر الصبي ساحل البحر والنهر فإن كان لا ينزجر الصبي بمجرد الزجر مهما رأى والده يحوم حول الساحل فواجب عليه أن يبعد من الساحل مع الصبي ولا يقرب منه بين يديه فكذلك الأمة في حجر الأنبياء ﵈ كالصبيان الأغبياء ولذلك قَالَ ﷺ إِنَّمَا أَنَا لكم مثل الوالد لولده وقال ﷺ إنما تتهافتون على النار تهافت الفراش وأنا آخذ بحجزكم وحظهم الأوفر في حفظ أولادهم عن المهالك فإنهم لم يبعثوا إلا لذلك وليس لهم في المال حظ إلا بقدر القوت فلا جرم اقتصروا على قدر القوت وما فضل فلم يمسكون بل أنفقوه فإن الإنفاق فيه الترياق وفي الإمساك السم ولو فتح للناس باب كسب المال ورغبوا فيه لمالوا إلى سم الإمساك ورغبوا عن ترياق الإنفاق فلذلك قبحت الأموال والمعنى به تقبيح إمساكها والحرص عليها للاستكثار منها والتوسع في نعيمها بما يوجب الركون إلى الدنيا ولذتها فأما أخذها بقدر الكفاية وصرف الفاضل إلى الخيرات فليس بمذموم وحق كل مسافر أن لا يحمل إلا بقدر زاده في السفر إذا صمم العزم على أن يختص بما يحمله فأما إذا سمحت نفسه بإطعام الطعام وتوسيع الزاد على الرفقاء فلا بأس بالاستكثار وقوله ﵊ ليكن بلاغ أحدكم من الدنيا كزاد الراكب معناه لأنفسكم خاصة ولا فقد كان فيمن يروي هذا الحديث ويعمل به من يأخذ مائة ألف درهم في موضع واحد ويفرقها في موضعه وإلا يمسك منها حبة ولما ذكر رسول الله ﷺ أن الأغنياء يدخلون الجنة بشدة استأذنه عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ ﵁ في أن يخرج عن جميع ما يملكه فأذن له فنزل جبريل ﵇ وقال مره بأن يطعم المسكين ويكسو العاري ويقري الضيف الحديث فإذن النعم الدنيوية مشوبة قد امتزج دواؤها بدائها ومرجوها بمخوفها ونفعها بضرها فمن وثق ببصيرته وكمال معرفته فله أن يقرب منها متقياً داءها ومستخرجاً دواءها ومن لا يثق بها فالبعد البعد والفرار الفرار عن مظان الأخطار فلا تعدل بالسلامة شيئاً في حق هؤلاء وهم الخلق كلهم إلا من عصمه الله تعالى وهداه لطريقه

Maka wajib bagi seorang ayah untuk memperingatkan anak kecil dari bahaya tepi laut dan sungai. Jika anak kecil itu tidak bisa dicegah hanya dengan gertakan verbal selama ia masih melihat ayahnya berputar-putar di sekitar tepi pantai/sungai, maka wajib bagi si ayah untuk menjauh dari tepi pantai itu bersama anaknya dan tidak mendekatinya di hadapannya. Demikian pula umat manusia di bawah pengasuhan para nabi 'alaihimus salam bagaikan anak-anak kecil yang belum mengerti. Oleh karena itu, Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya posisiku bagi kalian tidak lain bagaikan seorang ayah bagi anaknya." Beliau ﷺ juga bersabda: "Sesungguhnya kalian berebut jatuh ke dalam neraka bagaikan laron-laron yang berebut jatuh ke dalam api, sedangkan aku memegang sabuk pinggang kalian." Bagian terbesar mereka dalam menjaga anak-anak mereka adalah memalingkannya dari kebinasaan, sebab para nabi tidak diutus melainkan untuk tujuan tersebut. Mereka tidak memiliki bagian pada harta benda melainkan sekadar makanan pokok (serba cukup). Oleh karena itu, mereka mencukupkan diri hanya sebatas kadar makanan pokok; adapun kelebihannya, mereka tidak menahannya melainkan menginfakkannya. Sebab, di dalam infak terdapat penawar (penawar racun dunia) dan di dalam penahanan harta terdapat racun. Seandainya pintu mencari harta dibuka lebar bagi manusia dan mereka didorong padanya, niscaya mereka akan cenderung kepada racun penahanan harta dan benci terhadap penawar infak. Oleh sebab itulah harta dicela, dan yang dimaksudkan di sini adalah celaan terhadap tindakan menahan harta, tamak untuk memperbanyaknya, serta bermewah-mewah dalam kenikmatannya yang memicu ketergantungan pada dunia dan kelezatannya. Adapun mengambil harta sekadar kecukupan dan menyalurkan kelebihannya untuk berbagai kebaikan, maka itu sama sekali tidak tercela. Sudah menjadi hak setiap musafir untuk tidak membawa bekal melainkan seukuran bekal perjalanannya jika ia telah memantapkan azam untuk mengkhususkan bekal itu bagi dirinya sendiri. Namun, jika jiwanya dermawan untuk memberi makan dan meluaskan bekal bagi teman-teman perjalanannya, maka tidak mengapa memperbanyak bekal. Sabda Nabi ﷺ: "Hendaklah kecukupan salah seorang dari kalian dari dunia ini seperti bekal seorang penunggang kuda (musafir)", maknanya adalah untuk diri kalian sendiri secara khusus. Sebab, di antara orang yang meriwayatkan hadis ini dan mengamalkannya, ada yang mengambil seratus ribu dirham di satu tempat lalu membagikannya saat itu juga tanpa menahan satu biji pun darinya. Ketika Rasulullah ﷺ menyebutkan bahwa orang-orang kaya akan masuk surga melalui pemeriksaan yang sangat ketat dan berat, Abdurrahman bin Auf ﵁ meminta izin kepada beliau untuk melepaskan seluruh harta yang dimilikinya. Maka Nabi mengizinkannya, lalu Malaikat Jibril ﵇ turun dan berkata: "Perintahkan ia untuk memberi makan orang miskin, memberi pakaian orang yang telanjang, dan memuliakan tamu…" (hingga akhir hadis). Dengan demikian, nikmat-nikmat duniawi itu telah bercampur aduk; obatnya telah berbaur dengan penyakitnya, harapannya dengan kekhawatirannya, dan manfaatnya dengan bahayanya. Barang siapa yang meyakini mata hati (basirah) dan kesempurnaan makrifatnya, maka ia boleh mendekatinya seraya bertakwa (menjaga diri) dari penyakitnya dan mengeluarkan obatnya. Dan barang siapa yang tidak percaya diri akan hal itu, maka hendaklah menjauh sejauh-jaujnya dan berlari secepat-cepatnya dari tempat-tempat bahaya. Sebab, engkau tidak dapat menandingi keselamatan dengan sesuatu apa pun bagi mereka—yaitu seluruh makhluk, kecuali orang yang dipelihara oleh Allah Ta'ala dan diberi petunjuk menuju jalan-Nya.

فإن قلت فما معنى النعم التوفيقية الراجحة إلى الهداية والرشد والتأييد والتسديد فاعلم أن التوفيق لا يستغني عنه أحد وهو عبارة عن التأليف والتلفيق بين إرادة العبد وبين قضاء الله وقدره وهذا يشمل الخير والشر وما هو سعادة وما هو شقاوة ولكن جرت العادة بتخصيص اسم التوفيق بما يوافق السعادة من جملة قضاء الله تعالى وقدره كما أن الإلحاد عبارة عن الميل فخصص بمن مال إلى الباطل عن الحق وكذا الارتداد ولا خفاء بالحاجة إلى التوفيق ولذلك قيل

Jika engkau bertanya: "Maka apakah arti nikmat-nikmat taufik (penyesuaian ilahi) yang bersumber pada petunjuk (hidayah), bimbingan (rusyd), penguatan (ta'yid), dan pengarahan pada kebenaran (tasdid)?" Maka ketahuilah bahwa taufik adalah sesuatu yang tidak bisa ditinggalkan oleh siapa pun. Taufik merupakan penyesuaian dan penggabungan antara kehendak hamba dengan qada dan qadar Allah. Ini mencakup kebaikan dan keburukan, apa yang menjadi kebahagiaan dan apa yang menjadi kesengsaraan. Akan tetapi, telah berlaku kebiasaan penggunaan istilah 'taufik' khusus untuk apa yang sesuai dengan kebahagiaan (keselamatan akhirat) dari keseluruhan qada dan qadar Allah Ta'ala. Sebagaimana istilah 'ilhad' (penyimpangan) secara bahasa berarti penyimpangan, lalu dikhususkan bagi orang yang menyimpang kepada kebatilan dari kebenaran; demikian pula istilah 'irtidad' (murtad). Tidak diragukan lagi betapa besarnya kebutuhan kepada taufik, oleh karena itu dikatakan dalam syair:

إذا لم يكن عون من الله للفتى … فأكثر ما يجني عليه اجتهاده

"Jika pertolongan dari Allah tidak menyertai seorang pemuda… Maka perkara paling banyak yang mendatangkan celaka atasnya adalah ijtihad (kerja keras)-nya sendiri."

فأما الهداية فلا سبيل لأحد إلى طلب السعادة إلا بها لأن داعية الإنسان قد تكون مائلة إلى ما فيه صلاح آخرته

Adapun hidayah (petunjuk), maka tidak ada jalan bagi siapa pun untuk menuntut kebahagiaan kecuali dengannya. Sebab, dorongan kehendak manusia terkadang memang cenderung kepada apa yang di dalamnya terdapat kebaikan akhiratnya,

ولكن إذا لم يعلم ما فيه صلاح آخرته حتى يظن الفساد صلاحاً فمن أين ينفعه مجرد الإرادة فلا فائدة في الإرادة والقدرة والأسباب إلا بعد الهداية ولذلك قال تعالى ﴿ربنا الذي أعطى كل شيء خلقه ثم هدى﴾ وقال تَعَالَى وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زكى منكم أحد أبداً ولكن الله يزكي من يشاء وَقَالَ ﷺ مَا مِنْ أحد يدخل الجنة إلا برحمة الله تعالى أي بهدايته فقيل وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ وَلَا أنا وللهداية ثلاث منازل ﴿الأولى﴾ معرفة طريق الخير والشر المشار إليه بقوله تعالى ﴿وهديناه النجدين﴾ وقد أنعم الله تعالى به على كافة عباده بعضه بالعقل وبعضه على لسان الرسل ولذلك قال تعالى ﴿وأما ثمود فهديناهم فاستحبوا العمى على الهدى﴾ فأسباب الهدى هي الكتاب والرسل وبصائر العقول وهي مبذولة ولا يمنع منها إلا الحسد والكبر وحب الدنيا والأسباب التي تعمي القلوب وإن كانت لا تعمى الأبصار قال تعالى ﴿فإنها لا تعمى الأبصار ولكن تعمى القلوب التي في الصدور﴾ ومن جملة المعميات الإلف والعادة وحب استصحابهما وعنه العبارة بقوله تعالى ﴿إنا وجدنا آباءنا على أمة﴾ الآية وعن الكبر والحسد العبارة بقوله تعالى ﴿وقالوا لولا نزل هذا القرآن على رجل من القريتين عظيم﴾ وقوله تعالى ﴿أبشرا منا واحداً نتبعه﴾ فهذه المعميات هي التي منعت الاهتداء والهداية الثانية وراء هذه الهداية العامة وهي التي يمد الله تعالى بها العبد حالاً بعد حال وهي ثمرة المجاهدة حيث قال تعالى ﴿والذين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا﴾ وهو المراد بقوله تعالى ﴿والذين اهتدوا زادهم هدى﴾ والهداية الثالثة وراء الثانية وهو النور الذي يشرق في عالم النبوة والولاية بعد كمال المجاهدة فيهتدي بها إلا ما لا يهتدى إليه بالعقل الذي يحصل به التكليف وإمكان تعلم العلوم وهو الهوى المطلق وما عداه حجاب له ومقدمات وهو الذي شرفه الله تعالى بتخصيص الإضافة إليه وإن كان الكل من جهته تعالى فقال تعالى ﴿قل إنّ هدى الله هو الهدى﴾ وهو المسمى حياة في قوله تعالى ﴿أو من كان ميتاً فأحييناه وجعلنا له نوراً يمشي به في الناس﴾ والمعنى بقوله تعالى ﴿أفمن شرح الله صدره للإسلام فهو على نور من ربه﴾ وأما الرشد فنعني به العناية الإلهية التي تعين الإنسان عند توجهه إلى مقاصده فتقوبه على ما فيه صلاحه وتفتره عما فيه فساده ويكون ذلك من الباطن كما قال تعالى ﴿ولقد آتينا إبراهيم رشده من قبل وكنا به عالمين﴾ فالرشد عبارة عن هداية باعثة إلى جهة السعادة محركة إليها فالصبي إذا بلغ خبيراً بحفظ المال وطرق التجارة والاستنماء ولكنه مع ذلك يبذر ولا يريد الاستنماء لا يسمى رشيداً لا لعدم هدايته بل لقصور هدايته عن تحريك داعيته فكم من شخص يقدم على ما يعلم أنه يضره فقد أعطي الهداية وميز بها عن الجاهل الذي لا يدري أنه يضره ولكن ما أعطى الرشد فالرشد بهذا الاعتبار أكمل من مجرد الهداية إلى وجوه الأعمال وهي نعمة عظيمة وأما التسديد فهو توجيه حركاته إلى صوب المطلوب وتيسرها عليه ليشتد في صوب الصواب في أسرع وقت فإن الهداية بمجردها لا تكفي بل لا بد من هداية محركة للداعية وهي الرشد والرشد لا يكفي بل لا بد من تيسر الحركات بمساعدة الأعضاء والآلات حتى يتم المراد مما انبعثت الداعية إليه فالهداية محض التعريف والرشد هو تنبيه الداعية لتستقيظ وتتحرك والتسديد إعانة ونصرة بتحريك الأعضاء في صوب السداد وأما التأييد فكأنه جامع للكل وهو عبارة عن تقوية أمره بالبصيرة من داخل وتقوية البطش ومساعدة الأسباب من خارج وهو المراد بقوله ﷿ ﴿إذ أيدتك بروح القدس﴾ وتقرب منه العصمة وهى

namun jika ia tidak mengetahui apa yang di dalamnya terdapat kebaikan akhiratnya sehingga ia mengira kebinasaan sebagai kebaikan, maka dari mana sebatas kehendak semata dapat memberinya manfaat? Jadi, tidak ada gunanya kehendak, kemampuan, dan berbagai sebab/sarana kecuali setelah adanya petunjuk (hidayah). Oleh karena itu Allah Ta'ala berfirman: "Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk." (QS. Thaha: 50). Dan Allah Ta'ala berfirman: "Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu yang bersih (dari dosa) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya." (QS. An-Nur: 21). Dan Nabi ﷺ bersabda: "Tidak ada seorang pun yang masuk surga melainkan dengan rahmat Allah Ta'ala"—yakni dengan hidayah-Nya. Lalu ditanyakan: "Apakah tidak juga engkau, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Tidak juga aku." Hidayah itu memiliki tiga tingkatan: (Tingkatan Pertama) Makrifat tentang jalan kebaikan dan keburukan, sebagaimana diisyaratkan dalam firman Allah Ta'ala: "Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebaikan dan keburukan)." (QS. Al-Balad: 10). Allah Ta'ala telah mengaruniakan nikmat ini kepada seluruh hamba-Nya; sebagiannya melalui akal dan sebagiannya melalui lisan para rasul. Oleh karena itu Allah Ta'ala berfirman: "Dan adapun kaum Tsamud, maka mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai kebutaan daripada petunjuk itu." (QS. Fussilat: 17). Maka sebab-sebab petunjuk itu adalah Al-Kitab, para rasul, dan mata hati akal (basirah), yang semuanya telah dibentangkan dan tidak ada yang menghalanginya melainkan kedengkian, kesombongan, kecintaan pada dunia, serta sebab-sebab yang membutakan hati, meskipun mata lahiriah tidak buta. Allah Ta'ala berfirman: "Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada." (QS. Al-Hajj: 46). Di antara hal-hal yang membutakan adalah rasa terikat dan kebiasaan serta kecintaan untuk terus mempertahankannya, yang diungkapkan dalam firman Allah Ta'ala: "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama…" (QS. Az-Zukhruf: 22). Sedangkan kesombongan dan dengki diungkapkan dalam firman Allah Ta'ala: "Dan mereka berkata: 'Mengapa Al-Qur'an ini tidak diturunkan kepada seorang yang besar (bergengsi) dari salah satu dua negeri ini?'" (QS. Az-Zukhruf: 31) dan firman-Nya: "Apakah kita akan mengikuti seorang manusia (biasa) di antara kita?" (QS. Al-Qamar: 24). Maka faktor-faktor pembuta inilah yang menghalangi keterpetunjukan. (Hidayah Kedua) Berada di balik hidayah umum ini, yaitu hidayah yang dengannya Allah membimbing hamba keadaan demi keadaan, dan ia merupakan buah dari mujahadah (perjuangan batin). Allah Ta'ala berfirman: "Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami." (QS. Al-Ankabut: 69). Ini pula yang dimaksudkan dalam firman-Nya: "Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka." (QS. Muhammad: 17). (Hidayah Ketiga) Berada di balik hidayah kedua, yaitu cahaya yang menyinar di alam kenabian dan kewalian setelah sempurnanya mujahadah, sehingga dengan cahaya itu seseorang mendapat petunjuk kepada hal-hal yang tidak dapat dicapai oleh akal biasa yang menjadi sarana taklif (beban syariat) dan kemungkinan mempelajari ilmu pengetahuan. Hidayah ketiga ini adalah petunjuk mutlak, sedangkan selainnya hanyalah penghalang baginya atau sekadar mukadimah. Hidayah inilah yang dimuliakan oleh Allah Ta'ala dengan mengkhususkan penyandaran kepada diri-Nya, meskipun semuanya pada hakikatnya berasal dari sisi Allah Ta'ala. Allah berfirman: "Katakanlah: 'Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya).'" (QS. Al-Baqarah: 120). Petunjuk inilah yang dinamakan 'kehidupan' dalam firman Allah Ta'ala: "Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia…" (QS. Al-An'am: 122). Dan inilah yang dimaksudkan dalam firman Allah Ta'ala: "Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah dadanya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang hatinya membatu)?" (QS. Az-Zumar: 22). Adapun Rusyd (bimbingan), yang kami maksudkan dengannya adalah pemeliharaan ilahi (inayah ilahiyyah) yang membantu manusia ketika ia mengarahkan tujuan-tujuannya, sehingga pemeliharaan itu menguatkannya pada apa yang menjadi kebaikannya dan melemahkannya dari apa yang menjadi kerusakannya. Hal itu terjadi dari alam batin sebagaimana firman Allah Ta'ala: "Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim bimbingannya (rusyd) sebelum itu, dan adalah Kami mengetahui tentang dia." (QS. Al-Anbiya: 51). Maka 'rusyd' adalah ungkapan tentang petunjuk yang membangkitkan dan menggerakkan menuju arah kebahagiaan. Seorang anak kecil apabila telah balig dan memiliki pengetahuan tentang cara menjaga harta, jalan-jalan berniaga, dan pengembangannya, namun di samping itu ia tetap menghambur-hamburkan harta dan tidak berniat mengembangkannya, maka ia tidak dinamakan 'rasyid' (orang yang berakal sehat/terbimbing), bukan karena ketiadaan petunjuk padanya, melainkan karena keterbatasan petunjuknya dalam menggerakkan dorongan kehendaknya. Betapa banyak orang yang nekat melakukan hal yang ia ketahui akan memudaratkannya; ia telah diberi hidayah dan dengannya ia dibedakan dari orang bodoh yang tidak tahu bahwa hal itu memudaratkannya, tetapi ia tidak diberi 'rusyd'. Dengan pertimbangan ini, rusyd lebih sempurna daripada sekadar hidayah menuju bentuk-bentuk amal, dan ia merupakan nikmat yang sangat besar. Adapun Tasdid (pengarahan tepat), yaitu mengarahkan gerak-geriknya tepat menuju sasaran yang dituju serta memudahkannya baginya agar ia melaju menuju kebenaran dalam waktu yang paling cepat. Sebab, petunjuk semata tidaklah cukup, melainkan harus ada petunjuk yang menggerakkan dorongan kehendak yaitu rusyd. Dan rusyd pun tidak cukup, melainkan harus ada kemudahan gerak-gerik dengan bantuan anggota badan dan sarana-sarana hingga tercapai tujuan yang dikehendaki oleh kehendak tersebut. Maka hidayah adalah murni pengenalan (pengetahuan), rusyd adalah menggugah kehendak agar terbangun dan bergerak, sedangkan tasdid adalah pertolongan dan bantuan dengan menggerakkan anggota badan tepat menuju kebenaran. Adapun Ta'yid (penguatan), seolah-olah ia merangkum semuanya; ia merupakan ungkapan tentang penguatan perkaranya dengan mata hati (basirah) dari dalam, penguatan daya tahan, dan bantuan sebab-sebab dari luar. Itulah yang dimaksud dalam firman Allah ﷿: "(Ingatlah) ketika Aku menguatkanmu dengan Ruhul Kudus." (QS. Al-Ma'idah: 110). Dan dekat dengannya adalah sifat 'Ismah (pemeliharaan dosa), yaitu

عبارة عن وجود إلهي يسبح في الباطن يقوى به الإنسان على تحري الخير وتجنب الشر يصير كمانع من باطنه غير محسوس وإياه عنى بقوله تعالى ﴿ولقد همّت به وهم بها لولا أن رأى برهان ربه﴾ فهذه هي مجامع النعم ولن تثبت إلا بما يخوله الله من الفهم الصافي الثاقب والسمع الواعي والقلب البصير المراعي المتواضع والمعلم الناصح والمال الزائد على ما يقصر عن المهمات بقلته القاصر عما يشغل عن الدين بكثرته والعز الذي يصونه عن سفه السفهاء وظلم الأعداء ويستدعي كل واحد من هذه الأسباب الستة عشر أسباباً وتستدعي تلك الأسباب أسباباً إلى أن تنتهي بالآخرة إلى دليل المتحيرين وملجأ المضطرين وذلك رب الأرباب ومسبب الأسباب وإذا كانت تلك الأسباب طويلة لا يحتمل مثل هذا الكتاب استقصاءها فلنذكر منها أنموذجاً ليعلم به معنى قوله تعالى ﴿وإن تعدوا نعمة الله لا تحصوها﴾ وبالله التوفيق

ungkapan tentang keberadaan ilahi yang bersemayam di batin, yang dengannya manusia menjadi kuat untuk mencari kebaikan dan menjauhi keburukan, hingga menjadi seperti penghalang dari batinnya yang tidak teraba oleh indra. Hal inilah yang dimaksudkan Allah Ta'ala dalam firman-Nya: "Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Zulaikha, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya." (QS. Yusuf: 24). Maka inilah muara dari segala nikmat, dan nikmat-nikmat ini tidak akan kokoh melainkan dengan apa yang dikaruniakan Allah berupa pemahaman yang jernih lagi tajam, pendengaran yang penuh perhatian, hati yang penuh basirah, mawas diri lagi tawaduk, pengajar yang tulus menasihati, harta yang melebihi kebutuhan pokok namun tidak berlebihan hingga menyibukkan dari agama karena terlalu banyaknya, serta kemuliaan yang memeliharanya dari kebodohan orang-orang bodoh dan kezaliman musuh-musuh. Masing-masing dari enam belas sebab ini membutuhkan sebab-sebab lain, dan sebab-sebab itu membutuhkan sebab-sebab yang lain lagi hingga berujung pada akhirnya kepada Petunjuk orang-orang yang bingung dan Tempat Berlindung orang-orang yang terdesak, yaitu Rabb dari segala rabb dan Penyebab segala sebab (Musabbibal Asbab). Mengingat rentetan sebab-sebab itu sangat panjang dan kitab seperti ini tidak mampu menampung penelusurannya secara mendalam, maka marilah kita sebutkan sebuah sampel dengannya dapat diketahui makna firman Allah Ta'ala: "Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya." (QS. An-Nahl: 18). Dan hanya bagi Allah-lah segala taufik.

بيان وجه الأنموذج في كثرة نعم الله تعالى وتسلسلها وخروجها عن الحصر

Penjelasan Mengenai Sampel tentang Melimpahnya Nikmat-Nikmat Allah Ta'ala, Berkelanjutannya, serta Luputnya dari Batas Hitungan

والإحصاء

dan Pencacahan

اعلم أنّا جمعنا النعم في ستة عشر ضرباً وجعلنا صحة البدن نعمة من النعم الواقعة في الرتبة المتأخرة فهذه النعمة الواحدة لو أردنا أن نستقصي الأسباب التي بها تمت هذه النعمة لم نقدر عليها ولكن الأكل أحد أسباب الصحة فلنذكر نبذة من جملة الأسباب التي بها تتم نعمة الأكل فلا يخفى أن الأكل فعل وكل فعل من هذا النوع فهو حركة وكل حركة لا بد لها من جسم متحرك هو آلتها ولا بد لها من قدرة على الحركة ولا بد من إرادة للحركة ولا بد من علم بالمراد وإدراك له ولا بد للأكل من مأكول ولا بد للمأكول من أصل منه يحصل ولا بد له من صانع يصلحه فلنذكر أسباب الإدراك ثم أسباب الإرادات ثم أسباب القدرة ثم أسباب المأكول على سبيل التلويح لا على سبيل الاستقصاء

Ketahuilah bahwa kami telah mengumpulkan nikmat-nikmat dalam enam belas jenis, dan kami menjadikan kesehatan badan sebagai salah satu nikmat yang berada pada tingkatan akhir. Satu nikmat ini saja, seandainya kita hendak menelusuri seluruh sebab yang dengannya nikmat ini menjadi sempurna, niscaya kita tidak akan sanggup melakukannya. Namun, makan adalah salah satu sebab kesehatan, maka marilah kita sebutkan sekelumit dari keseluruhan sebab yang dengannya nikmat makan itu menjadi sempurna. Tidak tersembunyi lagi bahwa makan adalah sebuah perbuatan, dan setiap perbuatan dari jenis ini adalah gerakan. Setiap gerakan pasti membutuhkan tubuh yang bergerak sebagai alatnya, membutuhkan kemampuan (kodrat) untuk bergerak, membutuhkan kehendak (iradah) untuk bergerak, dan membutuhkan pengetahuan serta pengindraan terhadap apa yang dituju. Makan juga memerlukan makanan yang dimakan, makanan itu memerlukan asal darimana ia diperoleh, serta memerlukan pembuat yang mengolahnya. Maka marilah kita sebutkan sebab-sebab pengindraan (persepsi), kemudian sebab-sebab kehendak, kemudian sebab-sebab kemampuan, lalu sebab-sebab makanan, secara isyarat ringkas bukan secara penelusuran mendalam.