كتاب إحياء علوم الدين

مقدمة

مقدمة

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

أحمد الله أولاً حمداً كثيرا متواليا وإن كان يتضاءل دون حق جلاله حمد الحامدين وأصلي واسلم على رسله ثانياً صلاة تستغرق مع سيد البشر سائر المرسلين وأستخيره تعالى ثالثاً فيما انبعث عزمي من تحرير كتاب في إحياء علوم الدين وأنتدب لقطع تعجبك رابعاً أيها العاذل المتغالي في العذل من بين زمرة الجاحدين المسرف في التقريع

Pertama, aku memuji Allah dengan pujian yang banyak dan berkesinambungan, meskipun pujian orang-orang yang memuji tetap kerdil di hadapan keagungan hak-Nya. Kedua, aku berselawat dan bersalam atas para rasul-Nya, dengan selawat yang mencakup pemimpin umat manusia beserta seluruh rasul. Ketiga, aku memohon petunjuk kebaikan (istikharah) kepada Allah Ta'ala mengenai tekadku untuk menyusun sebuah kitab tentang menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama (Ihya 'Ulumiddin). Keempat, aku tampil untuk menghilangkan rasa heranmu, wahai orang yang mencela secara berlebihan di antara kelompok orang-orang yang ingkar, serta terlampau melampaui batas dalam mencaci…

والإنكار من بين طبقات المنكرين الغافلين فلقد حل عن لساني عقدة الصمت وطوقني عهدة الكلام وقلادة النطق ما أنت مثابر عليه من العمى عن جلية الحق مع اللجاج في نصرة الباطل وتحسين الجهل والتشغيب على من آثر النزوع قليلاً عن مراسم الخلق ومال ميلاً يسيراً عن ملازمة الرسم إلى العمل بمقتضى العلم طمعاً في نيل ما تعبده الله تعالى به من تزكية النفس وإصلاح القلب وتداركاً لبعض ما فرط من إضاعة العمر يائساً عن تمام حاجتك في الحيرة وانحيازاً عن غمار من قال فيهم صاحب الشرع صلوات الله عليه وسلامه أشد الناس عذاباً يوم القيامة عالم لم ينفعه الله سبحانه بعلمه ولعمري إنه لا سبب لإصرارك على التكبر إلا الداء الذي عم الجم الغفير بل شمل الجماهير من القصور عن ملاحظة ذروة هذا الأمر والجهل بأن الأمر إد والخطب جد والآخرة مقبلة والدنيا مدبرة والأجل قريب والسفر بعيد والزاد طفيف والخطر عظيم والطريق سد وما سوى الخالص لوجه الله من العلم والعمل عند الناقد البصير رد وسلوك طريق الآخرة مع كثرة الغوائل من غير دليل ولا رفيق متعب ومكد فأدله الطريق هم العلماء الذين هم ورثة الأنبياء وقد شغر منهم الزمان ولم يبق إلا المترسمون وقد استحوذ على أكثرهم الشيطان واستغواهم الطغيان وأصبح كل واحد بعاجل حظه مشغوفاً فصار يرى المعروف منكراً والمنكر معروفاً حتى ظل علم الدين مندرساً ومنار الهدى في أقطار الأرض منطمساً ولقد خيلوا إلى الخلق أن لا علم إلا فتوى حكومة تستعين به القضاة على فصل الخصام عند تهاوش الطغام أو جدل يتدرع به طالب المباهاة إلى الغلبة والإفحام أو سجع مزخرف يتوسل به الواعظ إلى استدراج العوام إذ لم يروا ما سوى هذه الثلاثة مصيدة للحرام وشبكة للحطام

…dan mengingkari di antara tingkatan orang-orang yang ingkar dan lalai. Sungguh, kekelaman yang membuat bisu lidahku telah terlepas, dan kewajiban untuk berbicara serta kalung ucapan telah melingkari leherku disebabkan oleh kebutaanmu yang terus-menerus terhadap kebenaran yang nyata, beserta kegigihanmu dalam membela kebatilan, memperindah kebodohan, dan membuat kerusuhan terhadap orang yang memilih untuk sedikit berpaling dari kebiasaan awam, serta cenderung sedikit dari sekadar formalitas menuju amalan yang sesuai dengan tuntutan ilmu—karena mendambakan apa yang diibadahkan Allah Ta'ala kepadanya berupa penyucian jiwa (tazkiyatun nafs), perbaikan hati (ishlahul qalb), dan membenahi sebagian dari umur yang telah sia-sia, seraya berputus asa dari terpenuhinya kebingunganmu, serta menjauh dari kerumunan orang yang difirmankan oleh Pembawa Syariat (shalawat dan salam Allah atasnya): 'Manusia yang paling keras azabnya pada hari kiamat adalah seorang alim yang ilmunya tidak diberi kemanfaatan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.' Demi umurku, tidak ada sebab bagi kegigihanmu dalam kesombongan melainkan penyakit yang telah merata pada sebagian besar orang, bahkan mencakup khalayak ramai, yaitu keterbatasan dari melihat puncak perkara ini, serta kebodohan bahwa perkara ini sangat dahsyat, urusannya sangat serious, akhirat makin mendekat, dunia makin membelakangi, ajal sudah dekat, perjalanan sangat jauh, bekal amat sedikit, bahayanya sangat besar, dan jalan terhalang. Apa pun selain yang ikhlas karena Wajah Allah, baik berupa ilmu maupun amal, di hadapan Penilai Yang Maha Melihat adalah tertolak. Menempuh jalan akhirat di tengah banyaknya bahaya tanpa penunjuk jalan dan teman adalah hal yang melelahkan dan menguras tenaga. Maka, para penunjuk jalan itu adalah para ulama yang merupakan ahli waris para nabi. Namun, zaman kini telah kosong dari mereka, dan tidak tersisa melainkan orang-orang yang sekadar bergaya ulama; mayoritas mereka telah dikuasai oleh setan dan disesatkan oleh kesewenang-wenangan, hingga masing-masing dari mereka terbuai oleh keuntungan duniawi yang menyegerakan, sehingga mereka memandang yang makruf sebagai kemungkaran dan kemungkaran sebagai kemakrufan. Akibatnya, ilmu agama menjadi terhapus, dan menara petunjuk di berbagai penjuru bumi menjadi padam. Mereka telah memberi kesan ilusi kepada makhluk seolah-olah tidak ada ilmu melainkan fatwa pemerintahan yang digunakan oleh para hakim untuk memutus perselisihan ketika rakyat jelata saling bertengkar, atau perdebatan yang dijadikan perisai oleh pencari kemegahan untuk mencapai kemenangan dan membungkam lawan, atau sajak-sajak indah berhias yang dijadikan sarana oleh penceramah untuk memikat rakyat awam; karena mereka tidak melihat selain tiga hal ini melainkan sebagai perangkap untuk hal yang haram dan jaring untuk harta duniawi yang fana.

فأما علم طريق الآخرة وما درج عليه السلف الصالح مما سماه الله سبحانه في كتابه فقهاً وحكمة وعلماً وضياء ونوراً وهداية ورشداً فقد أصبح من بين الخلق مطوياً وصار نسياً منسياً

Adapun ilmu tentang jalan akhirat dan apa yang dipegang teguh oleh para Salafush-Shalih—yang dinamakan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Kitab-Nya sebagai fikih (pemahaman mendalam), hikmah, ilmu, cahaya, sinar, petunjuk, dan bimbingan—kini telah terlipat di antara para makhluk dan menjadi sesuatu yang dilupakan sama sekali.

ولما كان هذا ثلماً في الدين ملماً وخطباً مدلهماً رأيت الاشتغال بتحرير هذا الكتاب مهماً إحياء لعلوم الدين وكشفاً عن مناهج الأئمة المتقدمين وإيضاحاً لمباهي العلوم النافعة عند التبيين والسلف الصالحين

Ketika hal ini merupakan celah besar yang menimpa agama dan bencana yang amat gelap, maka aku memandang bahwa menyibukkan diri untuk menyusun kitab ini adalah perkara yang sangat penting, demi menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama (Ihya 'Ulumiddin), menyingkap jalan-jalan para imam terdahulu, serta menjelaskan keindahan ilmu-ilmu yang bermanfaat di sisi para nabi dan Salafush-Shalih.

وقد أسسته على أربعة أرباع وهي ربع العبادات وربع العادات وربع المهلكات وربع المنجيات

Dan sungguh aku mendasarkan (kitab ini) di atas empat bagian (rubu'), yaitu: Bagian Ibadah (Rubu' al-'Ibadat), Bagian Adat Kebiasaan (Rubu' al-'Adat), Bagian Hal-hal yang Membinasakan (Rubu' al-Muhlikat), dan Bagian Hal-hal yang Menyelamatkan (Rubu' al-Munjiyat).

وصدرت الجملة بكتاب العلم لأنه غاية المهم لأكشف أولاً عن العلم الذي تعبد الله على لسان رسوله ﷺ الأعيان بطلبه إذ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ طلب العلم فريضة على كل مسلم وأميز فيه العلم النافع من الضار إذ قال ﷺ نعوذ بالله من علم لا ينفع وأحقق ميل أهل العصر عن شاكلة الصواب وانخداعهم بلامع السراب واقتناعهم من العلوم بالقشر عن اللباب

Aku mengawali keseluruhan kitab ini dengan 'Kitab Ilmu' karena ia merupakan hal yang paling penting, agar aku menyingkap terlebih dahulu tentang ilmu yang diwajibkan oleh Allah melalui lisan Rasul-Nya ﷺ kepada setiap individu (fardhu 'ain) untuk menuntutnya, sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda: 'Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.' Serta agar aku membedakan di dalamnya antara ilmu yang bermanfaat dan yang memudaratkan, sebagaimana beliau ﷺ bersabda: 'Kami berlindung kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat.' Dan agar aku menegaskan penyimpangan masyarakat zaman ini dari kebenaran yang lurus, terpedayanya mereka oleh fatamorgana yang berkilau, serta kepuasan mereka terhadap ilmu sekadar kulitnya saja tanpa intinya.

ويشتمل ربع العبادات على عشرة كتب كتاب العلم وكتاب قواعد العقائد وكتاب أسرار الطهارة وكتاب أسرار الصلاة وكتاب أسرار الزكاة وكتاب أسرار الصيام وكتاب أسرار الحج وكتاب آداب تلاوة القرآن وكتاب الأذكار والدعوات وكتاب ترتيب الأوراد في الأوقات

Bagian Ibadah (Rubu' al-'Ibadat) mencakup sepuluh kitab: Kitab Ilmu, Kitab Kaidah-Kaidah Akidah, Kitab Rahasia-Rahasia Bersuci (Thaharah), Kitab Rahasia-Rahasia Shalat, Kitab Rahasia-Rahasia Zakat, Kitab Rahasia-Rahasia Puasa, Kitab Rahasia-Rahasia Haji, Kitab Adab Membaca Al-Qur'an, Kitab Zikir dan Doa, serta Kitab Urutan Wirid pada Waktu-Waktunya.

وأما ربع العادات فيشتمل على عشرة كتب كتاب آداب الأكل وكتاب آداب النكاح وكتاب أحكام الكسب وكتاب الحلال والحرام وكتاب آداب الصحبة والمعاشرة مع أصناف الخلق وكتاب العزلة وكتاب آداب السفر وكتاب السماع والوجد وكتاب الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر وكتاب آداب المعيشة وأخلاق النبوة

Adapun Bagian Adat Kebiasaan (Rubu' al-'Adat) mencakup sepuluh kitab: Kitab Adab Makan, Kitab Adab Pernikahan, Kitab Hukum-Hukum Perolehan Harta (Kasb), Kitab Halal dan Haram, Kitab Adab Persahabatan dan Bergaul dengan Berbagai Kelompok Manusia, Kitab Menyendiri ('Uzlah), Kitab Adab Bepergian (Safar), Kitab Mendengarkan Musik Spiritual (Sama') dan Gelora Jiwa (Wajd), Kitab Amar Makruf Nahi Mungkar, serta Kitab Adab Kehidupan dan Akhlak Kenabian.

وأما ربع المهلكات فيشتمل على عشرة كتب كتاب شرح عجائب القلب وكتاب رياضة النفس وكتاب آفات الشهوتين شهوة البطن وشهوة الفرج وكتاب آفات اللسان وكتاب آفات الغضب والحقد والحسد وكتاب ذم الدنيا وكتاب ذم المال والبخل وكتاب ذم الجاه والرياء وكتاب ذم الكبر والعجب وكتاب ذم الغرور

Adapun Bagian Hal-Hal yang Membinasakan (Rubu' al-Muhlikat) mencakup sepuluh kitab: Kitab Penjelasan Keajaiban Hati, Kitab Olah Jiwa (Riyadhatun Nafs), Kitab Bahaya Dua Syahwat (Syahwat Perut dan Syahwat Kemaluan), Kitab Bahaya Lisan, Kitab Bahaya Marah, Kedengkian, dan Hasad, Kitab Celaan terhadap Dunia, Kitab Celaan terhadap Harta dan Kikir, Kitab Celaan terhadap Kedudukan (Jah) dan Riya, Kitab Celaan terhadap Kesombongan (Kibr) dan Bangga Diri ('Ujub), serta Kitab Celaan terhadap Tertipu Diri (Ghurur).

وأما ربع المنجيات فيشتمل على عشرة كتب كتاب التوبة وكتاب الصبر والشكر وكتاب الخوف والرجاء وكتاب الفقر والزهد وكتاب التوحيد والتوكل وكتاب المحبة والشوق والأنس والرضا وكتاب النية والصدق والإخلاص وكتاب المراقبة والمحاسبة وكتاب التفكر وكتاب ذكر الموت

Adapun Bagian Hal-Hal yang Menyelamatkan (Rubu' al-Munjiyat) mencakup sepuluh kitab: Kitab Taubat, Kitab Sabar dan Syukur, Kitab Rasa Takut (Khauf) dan Harapan (Raja'), Kitab Kefakiran dan Zuhud, Kitab Tauhid dan Tawakal, Kitab Cinta (Mahabbah), Kerinduan (Syauq), Keakraban (Uns), dan Kerelaan (Ridha), Kitab Niat, Kejujuran (Shidq), dan Keikhlasan, Kitab Muraqabah (Penjagaan Diri) dan Muhasabah (Introspeksi Diri), Kitab Tafakur, serta Kitab Mengingat Kematian.

فأما ربع العبادات فأذكر فيه خفايا آدابها ودقائق سننها وأسرار معانيها ما يضطر العالم العامل إليه بل لا يكون من علماء الآخرة من لا يطلع عليه وأكثر ذلك مما أهمل في فن الفقهيات

Adapun Bagian Ibadah, maka aku menyebutkan di dalamnya kelembutan-kelembutan adabnya, kedalaman sunnah-sunnahnya, dan rahasia-rahasia maknanya yang sangat dibutuhkan oleh orang alim yang mengamalkan ilmunya, bahkan tidaklah termasuk ulama akhirat orang yang tidak mencermatinya; dan sebagian besar dari hal itu telah diabaikan dalam disiplin ilmu fikih lahiriah.

وأما ربع العادات فأذكر فيه أسرار المعاملات الجارية بين الخلق وأغوارها ودقائق سننها وخفايا الورع في مجاريها وهي مما لا يستغني عنها متدين

Adapun Bagian Adat Kebiasaan, maka aku menyebutkan di dalamnya rahasia-rahasia hubungan (muamalah) yang berlaku di antara sesama makhluk, kedalaman-kedalamannya, kelembutan sunnah-sunnahnya, serta kehalusan sikap wara' (kehati-hatian dari haram) dalam perjalanannya; dan hal itu merupakan sesuatu yang tidak dapat ditinggalkan oleh orang yang taat beragama.

وأما ربع المهلكات فأذكر فيه كل خلق مذموم ورد القرآن بإماطته وتزكية النفس عنه وتطهير القلب منه وأذكر من كل واحد من تلك الأخلاق حده وحقيقته ثم أذكر سببه الذي منه يتولد ثم الآفات التي عليها تترتب ثم العلامات التي بها تتعرف ثم طرق المعالجة التي بها منها يتخلص كل ذلك مقروناً بشواهد الآيات والأخبار والآثار

Adapun Bagian Hal-Hal yang Membinasakan, maka aku menyebutkan di dalamnya setiap akhlak tercela yang terdapat dalam Al-Qur'an perintah untuk menyingkirkannya, menyucikan jiwa darinya, dan membersihkan hati darinya. Aku menyebutkan batasan dan hakikat dari masing-masing akhlak tercela tersebut, kemudian menyebutkan sebab terlahirnya, bahaya-bahaya yang ditimbulkannya, tanda-tanda untuk mengenalnya, serta metode pengobatan untuk melepaskan diri darinya; semua itu disertai dengan dalil-dalil Al-Qur'an, hadis-hadis, dan atsar para sahabat/salaf.

وأما ربع المنجيات فأذكر فيه كل خلق محمود وخصلة مرغوب فيها من خصال المقربين والصديقين التي بها يتقرب العبد من رب العالمين وأذكر في كل خصلة حدها وحقيقتها وسببها الذي به تجتلب وثمرتها التي منها تستفاد وعلامتها التي بها تتعرف وفضيلتها التي لأجلها فيها يرغب مع ما ورد فيها من شواهد الشرع والعقل ولقد صنف الناس في بعض هذه المعاني كتباً ولكن يتميز هذا الكتاب عنها بخمسة أمور

Adapun Bagian Hal-Hal yang Menyelamatkan, maka aku menyebutkan di dalamnya setiap akhlak yang terpuji dan sifat yang didambakan dari sifat-sifat Muqarrabin (orang-orang yang dekat dengan Allah) dan Shiddiqin (orang-orang yang jujur imannya), yang dengannya seorang hamba mendekatkan diri kepada Tuhan semesta alam. Aku menyebutkan batasan dan hakikat setiap sifat tersebut, sebab yang menariknya, buah yang dipetik darinya, tanda untuk mengenalnya, serta keutamaannya yang menjadikannya didambakan, beserta dalil-dalil syariat dan akal yang berkenaan dengannya. Sungguh orang-orang telah menyusun kitab-kitab tentang sebagian makna ini, namun kitab ini memiliki keistimewaan dibanding yang lain dalam lima perkara:

الأول حل ما عقدوه وكشف ما أجملوه

Pertama: Mengurai apa yang mereka rumitkan dan menyingkap apa yang mereka ringkas.

الثاني ترتيب ما بددوه ونظم ما فرقوه

Kedua: Mengurutkan apa yang mereka serakkan dan menyusun apa yang mereka pisahkan.

الثالث إيجاز ما طولوه وضبط ما قرروه

Ketiga: Meringkas apa yang mereka panjang-lebarkan dan merapikan apa yang mereka tetapkan.

الرابع حذف ما كرروه وإثبات ما حرروه

Keempat: Menghapus apa yang mereka ulang-ulang dan menetapkan apa yang telah mereka teliti secara mendalam.

الخامس تحقيق أمور غامضة اعتاصت على الأفهام لم يتعرض لها في الكتب أصلاً إذ الكل وإن تواردوا على منهج واحد فلا مستنكر أن يتفرد كل واحد من السالكين بالتنبيه لأمر يخصه ويغفل عنه رفقاؤه أو لا يغفل عن التنبيه ولكن يسهو عن إيراده في الكتب أو لا يسهو ولكن يصرفه عن كشف الغطاء عنه صارف فهذه خواص هذا الكتاب مع كونه حاوياً لمجامع هذه العلوم

Kelima: Mengkaji secara mendalam perkara-perkara rumit yang sulit dipahami yang sama sekali belum dibahas dalam kitab-kitab lain. Sebab, meskipun semua orang berada pada jalan yang satu, tidaklah mustahil jika setiap penempuh jalan (salik) memiliki keunikan tersendiri dalam menyadari suatu hal yang khusus baginya dan terlewat dari rekan-rekannya, atau ia tidak terlewat untuk menyadarinya namun lupa untuk mencantumkannya dalam kitab, atau tidak lupa namun ada halangan yang memalingkannya dari menyingkap tirai hal tersebut. Maka inilah keistimewaan-keistimewaan kitab ini, di samping keberadaannya yang menghimpun seluruh cakupan ilmu-ilmu ini.

وإنما حملني على تأسيس هذا الكتاب على أربعة أرباع أمران أحدهما وهو الباعث الأصلي أن هذا الترتيب في التحقيق والتفهيم كالضرورة لأن العلم الذي يتوجه به إلى الآخرة ينقسم إلى علم المعاملة وعلم المكاشفة وأعني

Adapun hal yang mendorong saya untuk menyusun kitab ini menjadi empat bagian utama (empat seperempat) ada dua perkara. Salah satunya, yang merupakan dorongan utama, adalah bahwa sistematika penulisan ini merupakan suatu keniscayaan demi mewujudkan penelitian mendalam dan pemahaman yang jelas. Sebab, ilmu yang ditujukan untuk keselamatan akhirat itu terbagi menjadi Ilmu Muamalah dan Ilmu Mukasyafah. Yang saya maksud

بعلم المكاشفة ما يطلب منه كشف المعلوم فقط وأعني بعلم المعاملة ما يطلب منه مع الكشف العمل به والمقصود من هذا الكتاب علم المعاملة فقط دون علم المكاشفة التي لا رخصة في إيداعها الكتب وإن كانت هي غاية مقصد الطالبين ومطمع نظر الصديقين وعلم المعاملة طريق إليه ولكن لم يتكلم الأنبياء صلوات الله عليهم مع الخلق إلا في علم الطريق والإرشاد إليه

dengan Ilmu Mukasyafah adalah ilmu yang dituntut darinya tersingkapnya objek pengetahuan belaka. Sedangkan yang saya maksud dengan Ilmu Muamalah adalah ilmu yang dituntut darinya pengamalan di samping penyingkapan tersebut. Dan maksud utama dari kitab ini hanyalah Ilmu Muamalah semata, bukan Ilmu Mukasyafah—ilmu yang tidak diperkenankan untuk dibukukan secara terbuka, meskipun ia merupakan puncak tujuan para penuntut hakikat dan dambaan pandangan para shiddiqin (orang-orang yang jujur imannya). Ilmu Muamalah adalah jalan menuju ke sana. Namun demikian, para nabi shalawatullah 'alaihim tidaklah berbicara kepada manusia melainkan tentang ilmu jalan ini serta penunjuk arah kepadanya.

وأما علم المكاشفة فلم يتكلموا فيه إلا بالرمز والإيماء على سبيل التمثيل والإجمال علماً منهم بقصور أفهام الخلق عن الاحتمال والعلماء ورثة الأنبياء فما لهم سبيل إلى العدول عن نهج التأسي والاقتداء ثم إن علم المعاملة ينقسم إلى علم ظاهر أعني العلم بأعمال الجوارح وإلى علم باطن أعني العلم بأعمال القلوب والجاري على الجوارح إما عادة وإما عبادة والوارد على القلوب التي هي بحكم الاحتجاب عن الحواس من عالم الملكوت إما محمود وإما مذموم فبالواجب انقسم هذا العلم إلى شطرين ظاهر وباطن والشطر الظاهر المتعلق بالجوارح انقسم إلى عادة وعبادة والشطر الباطن المتعلق بأحوال القلب وأخلاق النفس انقسم إلى مذموم ومحمود فكان المجموع أربعة أقسام ولا يشذ نظر في علم المعاملة عن هذه الأقسام

Adapun Ilmu Mukasyafah, mereka tidak membicarakannya kecuali dengan lambang (ramz) dan isyarat melalui perumpamaan serta secara garis besar, karena pengetahuan mereka akan keterbatasan pemahaman manusia untuk menanggungnya. Para ulama adalah pewaris para nabi, maka tiada jalan bagi mereka untuk berpaling dari meneladani dan mengikuti jejak para nabi. Kemudian, Ilmu Muamalah terbagi menjadi ilmu lahiriah—yaitu ilmu tentang amalan anggota badan—dan ilmu batiniah—yaitu ilmu tentang amalan hati. Amalan yang berlaku pada anggota badan bisa berupa kebiasaan (adat) atau ibadah. Sedangkan apa yang terpancar pada hati—yang karena terhijab dari indra tergolong dari alam Malakut—bisa berupa hal yang terpuji (mahmudah) atau tercela (madzmumah). Maka secara niscaya ilmu ini terbagi menjadi dua bagian: lahir dan batin. Bagian lahir yang berkaitan dengan anggota badan terbagi menjadi adat dan ibadah; sedangkan bagian batin yang berkaitan dengan keadaan-keadaan hati (ahwal al-qalb) dan akhlak jiwa terbagi menjadi hal yang tercela dan terpuji. Dengan demikian, keseluruhannya menjadi empat bagian, dan tidak ada satu pun pembahasan dalam Ilmu Muamalah yang keluar dari bagian-bagian ini.

الباعث الثاني

Faktor Dorongan Kedua

أني رأيت الرغبة من طلبة العلم صادقة في الفقه الذي صلح عند من لا يخاف الله ﷾ المتدرع به إلى المباهاة والاستظهار بجاهه ومنزلته في المنافسات وهو مرتب على أربعة أرباع والمتزيي بزي المحبوب محبوب فلم أبعد أن يكون تصوير الكتاب بصورة الفقه تلطفاً في استدراج القلوب ولهذا تلطف بعض من رام استمالة قلوب الرؤساء إلى الطب فوضعه على هيئة تقويم النجوم موضوعاً في الجداول والرقوم وسماه تقويم الصحة ليكون أنسهم بذلك الجنس جاذباً لهم إلى المطالعة والتلطف في اجتذاب القلوب إلى العلم الذي يفيد حياة الأبد أهم من التلطف في اجتذابها إلى الطب الذي لا يفيد إلا صحة الجسد فثمرة هذا العلم طب القلوب والأرواح المتوصل به إلى حياة تدوم أبد الآباد فأين منه الطب الذي يعالج به الأجساد وهي معرضة بالضرورة للفساد في أقرب الآماد فنسأل الله سبحانه التوفيق للرشاد والسداد إنه كريم جواد

Bahwasanya saya melihat hasrat para penuntut ilmu sangat besar terhadap ilmu fiqih, yang mana ilmu ini telah dimanfaatkan oleh orang yang tidak takut kepada Allah Azza wa Jalla sebagai sarana untuk berbangga diri dan menampakkan kedudukan serta martabat dalam perdebatan. Dan Fiqih itu disusun dalam empat bagian (empat seperempat). Barangsiapa mengenakan pakaian orang yang dicintai, niscaya dia akan dicintai. Oleh karena itu, tidaklah jauh kemungkinan bahwa penyusunan kitab ini dalam bentuk sistematika Fiqih merupakan suatu kelembutan pendekatan untuk memikat hati. Oleh sebab inilah, sebagian orang yang berupaya menarik perhatian para penguasa kepada ilmu kedokteran menyusunnya dalam bentuk penanggalan astronomi (taqwim al-nujum) yang dituangkan dalam tabel-tabel dan angka-angka, lalu menamakannya Taqwim as-Sihhah, agar kebiasaan mereka dengan jenis susunan tersebut dapat menarik mereka untuk membacanya. Maka bersikap lembut dalam menarik hati menuju ilmu yang memberikan manfaat bagi kehidupan abadi tentulah lebih penting daripada bersikap lembut dalam menariknya menuju ilmu kedokteran yang hanya memberi manfaat bagi kesehatan jasad semata. Buah dari ilmu ini adalah pengobatan hati dan jiwa, yang menyampaikannya pada kehidupan abadi selamanya. Sungguh jauh berbedanya hal itu dengan ilmu kedokteran yang hanya mengobati jasad, padahal jasad pasti akan mengalami kehancuran dalam waktu yang sangat dekat. Maka kami memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala petunjuk menuju kebenaran dan kelurusan, sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Dermawan.