كتاب العلم

الباب الرابع في سبب إقبال الخلق على علم الخلاف وتفصيل آفات المناظرة والجدل وشروط إباحتها

الباب الرابع في سبب إقبال الخلق على علم الخلاف وتفصيل آفات المناظرة والجدل وشروط إباحتها

Beranda كتاب إحياء علوم الدين ربع العبادات كتاب العلم الباب الرابع في سبب إقبال الخلق على علم الخلاف وتفصيل آفات المناظرة والجدل وشروط إباحتها

الباب الرابع في سبب إقبال الخلق على علم الخلاف وتفصيل آفات المناظرة والجدل وشروط إباحتها

Bab Keempat: Tentang Sebab Berbondong-bondongnya Manusia Kepada Ilmu Khilaf, Perincian Bahaya-Bahaya Munazharah dan Jadal, Serta Syarat-Syarat Diperbolehkannya.

اعلم أن الخلافة بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ تولاها الخلفاء الراشدون المهديون وكانوا أئمة علماء بالله تعالى فقهاء في أحكامه وكانوا مستقلين بالفتاوى في الأقضية فكانوا لا يستعينون بالفقهاء إلا نادراً في وقائع لا يستغنى فيها عن المشاورة فتفرغ العلماء لعلم الآخرة وتجردوا لها وكانوا يتدافعون الفتاوى وما يتعلق بأحكام الخلق من الدنيا وأقبلوا على الله تعالى بكنه اجتهادهم كما نقل من سيرهم فلما أفضت الخلافة بعدهم إلى أقوام تولوها

Ketahuilah bahwa khilafah setelah Rasulullah ﷺ dipegang oleh Al-Khulafa'ur Rasyidun al-Mahdiyyun (para khalifah yang mendapat petunjuk). Mereka adalah para imam yang alim tentang Allah Ta'ala, faqih (paham) dalam hukum-hukum-Nya, serta mandiri dalam memberikan fatwa pada berbagai putusan hukum. Mereka tidak meminta bantuan para ahli fiqih kecuali jarang sekali, yaitu dalam kasus-kasus yang tidak bisa tidak memerlukan musyawarah. Oleh karena itu, para ulama berfokus (tafarrugh) untuk ilmu akhirat dan memurnikan diri dengannya. Mereka saling menolak pemberian fatwa dan urusan yang berkaitan dengan hukum-hukum manusia duniawi, serta menghadap kepada Allah Ta'ala dengan sepenuh kesungguhan ikhtiar mereka sebagaimana diriwayatkan dalam riwayat hidup mereka. Namun ketika kepemimpinan (khilafah) setelah mereka beralih kepada kaum yang memegangnya…

بغير استحقاق ولا استقلال بعلم الفتاوى والأحكام اضطروا إلى الاستعانة بالفقهاء وإلى استصحابهم في جميع أحوالهم لاستفتائهم في مجاري أحكامهم وكان قد بقي من علماء التابعين من هو مستمر على الطراز الأول وملازم صفو الدين ومواظب على سمت علماء السلف فكانوا إذا طلبوا هربوا وأعرضوا فاضطر الخلفاء إلى الإلحاح في طلبهم لتولية القضاء والحكومات فرأى أهل تلك الأعصار عز العلماء وإقبال الأئمة والولاة عليهم مع إعراضهم عنهم فاشرأبوا لطلب العلم توصلاً إلى نيل العز ودرك الجاه من قبل الولاة فأكبوا على علم الفتاوى وعرضوا أنفسهم على الولاة وتعرفوا إليهم وطلبوا الولايات والصلات منهم فمنهم من حرم ومنهم من أنجح والمنجح لم يخل من ذل الطلب ومهانة الابتذال فأصبح الفقهاء بعد أن كانوا مطلوبين طالبين وبعد أن كانوا أعزة بالإعراض عن السلاطين أذلة بالإقبال عليهم إلا من وفقه الله تعالى في كل عصر من علماء دين الله وقد كان أكثر الإقبال في تلك الأعصار على علم الفتاوى والأقضية لشدة الحاجة إليها في الولايات والحكومات ثم ظهر بعدهم من الصدور والأمراء من يسمع مقالات الناس في قواعد العقائد ومالت نفسه إلى سماع الحجج فيها فعلمت رغبته إلى المناظرة والمجادلة في الكلام فأكب الناس على علم الكلام وأكثروا فيه التصانيف ورتبوا فيه طرق المجادلات واستخرجوا فنون المناقضات في المقالات وزعموا أن غرضهم الذب عن دين الله والنضال عن السنة وقمع المبتدعة كما زعم من قبلهم أن غرضهم بالاشتغال بالفتاوى الدين وتقلد أحكام المسلمين إشفاقاً على خلق الله ونصيحة لهم

…tanpa kelayakan dan tanpa kemandirian dalam ilmu fatwa dan hukum-hukum, mereka terpaksa meminta bantuan para ahli fiqih dan mendampingkan mereka dalam segala keadaan untuk meminta fatwa bagi pelaksanaan hukum-hukum mereka. Kala itu, masih tersisa dari ulama generasi Tabi'in orang-orang yang terus berada di atas garis generasi pertama, senantiasa menjaga kemurnian agama, dan tekun di atas akhlak ulama Salaf. Maka ketika mereka dicari (untuk dijadikan pejabat), mereka lari dan berpaling. Akibatnya para khalifah terpaksa mendesak dalam mencari mereka untuk menduduki jabatan qadhi (hakim) dan pemerintahan. Maka orang-orang pada zaman itu melihat kemuliaan para ulama dan minat para pemimpin serta penguasa kepada mereka padahal para ulama itu berpaling dari penguasa. Maka bergelolaklah keinginan manusia untuk menuntut ilmu sebagai sarana meraih kemuliaan dan kedudukan di sisi para penguasa. Lalu mereka menekuni ilmu fatwa, menawarkan diri kepada penguasa, memperkenalkan diri kepada mereka, serta meminta jabatan dan pemberian dari mereka. Di antara mereka ada yang terhalang (tidak mendapatkannya) dan ada yang berhasil. Orang yang berhasil pun tidak lepas dari kehinaan meminta-minta dan kerendahan sikap menghambakan diri. Maka jadilah para ahli fiqih—setelah sebelumnya mereka yang dicari—menjadi orang-orang yang mencari-cari; dan setelah sebelumnya mereka mulia karena berpaling dari para penguasa, menjadi hina karena mendekati mereka, kecuali orang yang diberi taufik oleh Allah Ta'ala pada setiap zaman dari kalangan ulama agama Allah. Pada masa-masa itu, minat terbanyak adalah pada ilmu fatwa dan peradilan karena sangat dibutuhkannya ilmu tersebut dalam pemerintahan dan peradilan. Kemudian setelah mereka, muncullah dari kalangan pejabat dan amir (penguasa) orang yang mendengarkan pendapat-pendapat manusia tentang kaidah-kaidah akidah dan jiwanya cenderung untuk mendengar argumen-argumen di dalamnya. Ketika minat penguasa tersebut diketahui tertuju pada munazharah (diskusi) dan jadal (perdebatan) dalam ilmu Kalam, maka manusia pun menekuni ilmu Kalam, memperbanyak penyusunan kitab di dalamnya, menyusun metode-metode perdebatan, serta mengeluarkan berbagai macam sanggahan terhadap pendapat-pendapat lawan. Mereka mengklaim bahwa tujuan mereka adalah membela agama Allah, memperjuangkan Sunnah, dan menumpas ahli bidah, sebagaimana orang-orang sebelum mereka mengklaim bahwa tujuan mereka sibuk dengan fatwa adalah demi agama dan memegang hukum-hukum kaum muslimin karena kasihan kepada makhluk Allah dan sebagai nasihat bagi mereka.

ثم ظهر بعد ذلك من الصدور من لم يستصوب الخوض في الكلام وفتح باب المناظرة فيه لما كان قد تولد من فتح بابه من التعصبات الفاحشة والخصومات الفاشية المفضية إلى إهراق الدماء وتخريب البلاد ومالت نفسه إلى المناظرة في الفقه وبيان الأولى من مذهب الشافعي وأبي حنيفة ﵄ على الخصوص فترك الناس الكلام وفنون العلم وانثالوا على المسائل الخلافية بين الشافعي وأبي حنيفة على الخصوص وتساهلوا في الخلاف مع مالك وسفيان وأحمد رحمهم الله تعالى وغيرهم وزعموا أن غرضهم استنباط دقائق الشرع وتقرير علل المذهب وتمهيد أصول الفتاوى وأكثروا فيها التصانيف والاستنباطات ورتبوا فيها أنواع المجادلات والتصنيفات وهم مستمرون عليه إلى الآن ولسنا ندري ما الذي يحدث الله فيما بعدنا من الأعصار فهذا هو الباعث على الإكباب على الخلافيات والمناظرات لا غير ولو مالت نفوس أرباب الدنيا إلى الخلاف مع إمام آخر من الأئمة أو إلى علم آخر من العلوم لمالوا أيضاً معهم ولم يسكنوا عن التعلل بأن ما اشتغلوا به هو علم الدين وأن لا مطلب لهم سوى التقرب إلى رب العالمين

Kemudian setelah itu muncullah para tokoh penguasa yang tidak memandang baik pembicaraan mendalam (penyelidikan) dalam ilmu Kalam dan pembukaan pintu munazharah di dalamnya, karena dampak dari dibukanya pintu tersebut berupa timbulnya fanatisme yang sangat keji dan permusuhan yang meluas yang berujung pada pertumpahan darah dan kehancuran negeri. Jiwa penguasa tersebut justru cenderung pada munazharah dalam bidang fiqih dan penjelasan pendapat mana yang lebih unggul antara mazhab Asy-Syafi'i dan Abu Hanifah—semoga Allah merahmati keduanya—secara khusus. Maka manusia pun meninggalkan ilmu Kalam dan cabang-cabang ilmu lainnya, lalu berbondong-bondong menuju masalah-masalah khilafiyah antara Asy-Syafi'i dan Abu Hanifah secara khusus, serta meremehkan perbedaan pendapat dengan Malik, Sufyan, dan Ahmad—semoga Allah merahmati mereka—dan selain mereka. Mereka mengklaim bahwa tujuan mereka adalah menggali kelembutan-kelembutan syariat, menetapkan illat-illat mazhab, dan memantapkan pokok-pokok fatwa. Mereka memperbanyak karya tulis dan penggalian hukum di dalamnya, serta menyusun berbagai bentuk perdebatan dan karangan. Mereka terus berlangsung di atas hal tersebut hingga sekarang, dan kita tidak tahu apa yang akan diciptakan Allah pada zaman-zaman setelah kita kelak. Inilah pendorong utama yang menyebabkan manusia menekuni masalah-masalah khilafiyah dan munazharah, bukan yang lain. Seandainya jiwa para pemburu dunia itu cenderung kepada khilafiyah dengan imam lain dari kalangan para imam, atau kepada ilmu lain dari cabang-cabang ilmu, niscaya manusia akan cenderung pula bersama mereka, dan mereka tidak akan berhenti berdalih bahwa apa yang mereka sibukkan itu adalah ilmu agama dan tidak ada yang mereka cari selain mendekatkan diri kepada Tuhan semesta alam.