كتاب قواعد العقائد

الفصل الثالث من كتاب قواعد العقائد في لوامع الأدلة للعقيدة التي ترجمناها بالقدس

الفصل الثالث من كتاب قواعد العقائد في لوامع الأدلة للعقيدة التي ترجمناها بالقدس

Beranda كتاب إحياء علوم الدين ربع العبادات كتاب قواعد العقائد الفصل الثالث من كتاب قواعد العقائد في لوامع الأدلة للعقيدة التي ترجمناها بالقدس

الفصل الثالث من كتاب قواعد العقائد في لوامع الأدلة للعقيدة التي ترجمناها بالقدس

Pasal Ketiga dari Kitab Qawa'id Al-'Aqa'id (Kaidah-Kaidah Akidah) tentang Kilatan-Kilatan Dalil bagi Akidah yang Kami Beri Judul Al-Qudsiyyah.

فنقول بسم الله الرحمن الرحيم

Maka kami katakan: Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

الحمد لله الذي ميز عصابة السنة بأنوار اليقين وآثر رهط الحق بالهداية إلى دعائم الدين وجنبهم زيغ الزائغين وضلال الملحدين ووفقهم للاقتداء بسيد المرسلين وسددهم للتأسي بصحبة الأكرمين ويسر لهم اقتفاء آثار السلف

Segala puji bagi Allah yang telah membedakan golongan Ahlus Sunnah dengan cahaya keyakinan (anwar al-yaqin), mengistimewakan kelompok kebenaran dengan petunjuk menuju tiang-tiang agama, menjauhkan mereka dari penyimpangan orang-orang yang menyimpang dan kesesatan orang-orang mulhid, memberi taufik kepada mereka untuk meneladani Pemimpin para Rasul, membimbing mereka untuk mencontoh para sahabatnya yang mulia, serta memudahkan bagi mereka untuk mengikuti jejak Salafus Shalih (para pendahulu yang saleh).

الصالحين حتى اعتصموا من مقتضيات العقول بالحبل المتين ومن سير الأولين وعقائدهم بالمنهج المبين فجمعوا بالقول بين نتائج العقول وقضايا الشرع المنقول وتحققوا أن النطق بما تعبدوا به من قول لا إله إلا الله محمد رسول الله ليس له طائل ولا محصول إن لم تتحقق الإحاطة بما تدور عليه هذه الشهادة من الأقطاب والأصول وعرفوا أن كلمتي الشهادة على إيجازها تتضمن إثبات ذات الإله وإثبات صفاته وإثبات أفعاله وإثبات صدق الرسول وعلموا أن بناء الإيمان على هذه الأركان وهي أربعة ويدور كل ركن منها على عشرة أصول

Hingga mereka berpegang teguh pada tali yang kokoh dari konsekuensi akal murni, dan berpegang pada jalan yang terang dari perjalanan hidup serta akidah orang-orang terdahulu. Maka mereka memadukan dalam ucapan antara kesimpulan-kesimpulan akal dan ketetapan-ketetapan syariat yang diriwayatkan (al-manqul). Mereka menyadari sepenuhnya bahwa pengucapan apa yang diibadahi dengannya berupa kalimat 'Laa ilaaha illallah Muhammadun Rasulullah' tidak memiliki faidah maupun hasil jika tidak disertai penguasaan yang menyeluruh terhadap poros-poros dan pokok-pokok tempat berputarnya syahadat ini. Mereka pun mengetahui bahwa dua kalimat syahadat, meskipun singkat, memuat penetapan (itsbat) Dzat Ilahi, penetapan sifat-sifat-Nya, penetapan perbuatan-perbuatan-Nya, serta penetapan kebenaran Rasul. Dan mereka memahami bahwa bangunan iman didirikan di atas rukun-rukun ini, yaitu empat rukun, di mana setiap rukunnya berputar pada sepuluh pokok (ushul).

الركن الأول في معرفة ذات الله تعالى ومداره على عشرة أصول وهي العلم بوجود الله تعالى وقدمه وبقائه وأنه ليس بجوهر ولا جسم ولا عرض وأنه سبحانه ليس مختصاً بجهة ولا مستقراً على مكان وأنه يرى وأنه واحد

Rukun Pertama: Mengenai Ma'rifat (pengenalan) Dzat Allah Ta'ala, dan porosnya berputar pada sepuluh pokok, yaitu: ilmu tentang keberadaan Allah Ta'ala, keazalian-Nya (qidam), keabadian-Nya (baqa'), bahwa Dia bukan substansi (jauhar), bukan fisik (jism), dan bukan sifat aksidental ('aradh); bahwa Dia Subhaanahu tidak terikat pada suatu arah dan tidak bertempat di suatu lokasi; bahwa Dia dapat dilihat (di akhirat); serta bahwa Dia adalah Maha Esa (Wahid).

الركن الثاني في صفاته ويشتمل على عشرة أصول وهو العلم بكونه حياً عالماً قادراً مريداً سميعاً بصيراً متكلماً منزهاً عن حلول الحوادث وأنه قديم الكلام والعلم والإرادة

Rukun Kedua: Mengenai Sifat-sifat-Nya, dan mencakup sepuluh pokok, yaitu: ilmu tentang keberadaan-Nya yang Maha Hidup (Hayy), Maha Mengetahui ('Alim), Maha Kuasa (Qadir), Maha Berkehendak (Murid), Maha Mendengar (Sami'), Maha Melihat (Bashir), Maha Berfirman (Mutakallim); Maha Suci dari tempat bertempatnya hal-hal yang baru (hulul al-hawadits); serta bahwa Kalam, Ilmu, dan Kehendak-Nya adalah azali (qadim).

الركن الثالث في أفعاله تعالى ومداره على عشرة أصول وهي أن أفعال العباد مخلوقة لله تعالى وأنها مكتسبة للعباد وأنها مرادة لله تعالى وأنه متفضل بالخلق والاختراع وأن له تعالى تكليف ما لا يطاق وأن له إيلام البريء ولا يجب عليه رعاية الأصلح وأنه لا واجب إلا بالشرع وأن بعثة الأنبياء جائزة وأن نبوة نبينا محمد ﷺ ثابتة مؤيدة بالمعجزة

Rukun Ketiga: Mengenai Perbuatan-perbuatan Allah Ta'ala, dan porosnya berputar pada sepuluh pokok, yaitu: bahwa perbuatan para hamba adalah ciptaan Allah Ta'ala; bahwa perbuatan tersebut diusahakan (kasb) oleh para hamba; bahwa perbuatan itu dikehendaki oleh Allah Ta'ala; bahwa Dia memberikan karunia dengan menciptakan dan mengadakan; bahwa Allah Ta'ala berhak memberikan beban kewajiban yang tidak sanggup dipikul (taklif ma la yutaq); bahwa Dia berhak menimpakan rasa sakit pada orang yang tidak berdosa; bahwa tidak wajib bagi-Nya menjaga hal yang paling maslahat (ri'ayat al-ashlah); bahwa tidak ada kewajiban hukum kecuali dengan syariat; bahwa pengutusan para nabi adalah hal yang jaiz (mungkin secara rasional); serta bahwa kenabian Nabi kita Muhammad ﷺ adalah tetap dan dikuatkan dengan mukjizat.

الركن الرابع في السمعيات ومداره على عشرة أصول وهي إثبات الحشر والنشر وسؤال منكر ونكير وعذاب القبر والميزان والصراط وخلق الجنة والنار وأحكام الإمامة وأن فضل الصحابة على حسب ترتيبهم وشروط الإمامة فأما الركن الأول من أركان الإيمان في معرفة ذات الله ﷾ وأن الله تعالى واحد ومداره على عشرة أصول

Rukun Keempat: Mengenai Sam'iyyat (hal-hal yang diketahui melalui khabar/wahyu), dan porosnya berputar pada sepuluh pokok, yaitu: penetapan kebangkitan dan pengumpulan jasad (haysr dan nasyr), pertanyaan Munkar dan Nakir, azab kubur, Mizan (timbangan), Shirath (jembatan), penciptaan surga dan neraka, hukum-hukum kepemimpinan (imamah), bahwa keutamaan para sahabat adalah sesuai dengan urutan kekhalifahan mereka, serta syarat-syarat imamah. Adapun rukun pertama dari rukun-rukun iman dalam ma'rifat Dzat Allah 'Azza wa Jalla dan bahwa Allah Ta'ala adalah Esa, porosnya berputar pada sepuluh pokok:

الأصل الأول معرفة وجوده تعالى وأول ما يستضاء به من الأنوار ويسلك من طريق الاعتبار ما أرشد إليه القرآن فليس بعد بيان الله سبحانه بيان وقد قال تعالى ألم نجعل الأرض مهاداً والجبال أوتاداً وخلقناكم أزواجاً وجعلنا نومكم سباتاً وجعلنا الليل لباساً وجعلنا النهار معاشاً وبنينا فوقكم سبعاً شداداً وجعلنا سراجاً وهاجاً وأنزلنا من المعصرات ماء ثجاجاً لنخرج به حباً ونباتاً وجنات ألفافاً وقال تعالى إن في خلق السموات والأرض واختلاف الليل والنهار والفلك التي تجري في البحر بما ينفع الناس وما أنزل الله من السماء من ماء فأحيا به الأرض بعد موتها وبث فيها من كل دابة وتصريف الرياح والسحاب المسخر بين السماء والأرض لآيات لقوم يعقلون وقال تعالى ألم تروا كيف خلق الله سبع سموات طباقاً وجعل القمر فيهن نوراً وجعل الشمس سراجاً والله أنبتكم من الأرض نباتاً ثم يعيدكم فيها ويخرجكم إخراجاً وقال تعالى أفرأيتم ما تمنون أأنتم تخلقونه أم نحن الخالقون إلى قوله للمقوين فليس يخفي على من معه أدنى مسكة من عقل إذا تأمل بأدنى فكرة مضمون هذه الآيات وأدار نظره على عجائب خلق الله في الأرض والسموات وبدائع فطرة الحيوان والنبات أن هذا الأمر العجيب والترتيب المحكم لا يستغني عن صانع يدبره وفاعل يحكمه ويقدره بل تكاد فطرة النفوس تشهد بكونها مقهورة تحت تسخيره ومصرفة بمقتضى تدبيره

Pokok Pertama: Mengenali keberadaan Allah Ta'ala (ma'rifat wujudih). Dan hal paling pertama yang dijadikan lentera penerang berupa cahaya-cahaya dan ditempuh dari jalan perenungan (i'tibar) adalah apa yang dipandu oleh Al-Qur'an, sebab tidak ada penjelasan setelah penjelasan Allah Subhaanahu. Allah Ta'ala berfirman: "Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan, dan gunung-gunung sebagai pasak? Dan Kami ciptakan kamu berpasang-pasangan, dan Kami jadikan tidurmu untuk beristirahat, dan Kami jadikan malam sebagai pakaian, dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan, dan Kami bangun di atasmu tujuh (langit) yang kokoh, dan Kami jadikan pelita yang terang benderang (matahari), dan Kami turunkan dari awan air yang tercurah lebat, agar Kami tumbuhkan dengannya biji-bijian, tanaman-tanaman, dan kebun-kebun yang lebat?" Dan Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan." Dan Allah Ta'ala berfirman: "Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat? Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan meletakkan matahari sebagai pelita? Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya, kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalamnya dan mengeluarkan kamu (pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya." Dan Allah Ta'ala berfirman: "Maka adakah kamu perhatikan tentang (benih manusia) yang kamu pancarkan? Kamukah yang menciptakannya, ataukah Kami penciptanya?" hingga firman-Nya: "…bagi orang-orang yang musafir di padang pasir." Maka tidak samar lagi bagi siapa saja yang memiliki sedikit pun akal pikiran, apabila ia merenungkan kandungan ayat-ayat ini dengan pemikiran yang sederhana, serta mengedarkan pandangannya pada keajaiban ciptaan Allah di bumi dan langit serta keindahan fitrah hewan dan tumbuh-tumbuhan, bahwa perkara yang menakjubkan dan tatanan yang sangat kokoh ini tidak akan pernah lepas dari Sang Pencipta (Shani') yang mengatur-Nya, serta Pelaku (Fa'il) yang menyempurnakan dan menentukan ukuran-Nya. Bahkan fitrah setiap jiwa hampir bersaksi bahwa dirinya tunduk di bawah kekuasaan-Nya dan digerakkan sesuai dengan tuntutan pengaturan-Nya.

ولذلك قال الله تعالى أفي الله شك فاطر السموات والأرض ولهذا بعث الأنبياء صلوات الله عليهم لدعوة الخلق إلى التوحيد ليقولوا لا إله إلا الله وما أمروا أن يقولوا لنا إله وللعالم إله

Oleh karena itu Allah Ta'ala berfirman: "Apakah ada keraguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi?" Dan karena alasan inilah para nabi—shalawatullah 'alaihim—diutus untuk menyeru makhluk kepada tauhid, agar mereka mengucapkan: "Tidak ada tuhan selain Allah," dan mereka tidak diperintahkan untuk sekadar mengucapkan: "Kita memiliki Tuhan dan alam semesta memiliki Tuhan."

فإن ذلك كان مجبولاً في فطرة عقولهم من مبدأ نشؤهم وفي عنفوان شبابهم

Sebab hal tersebut telah terpatri (majbul) dalam fitrah akal mereka sejak awal pertumbuhan mereka dan pada masa puncak kesempurnaan pemuda mereka.

ولذلك قال ﷿ ولئن سألتهم من خلق السموات والأرض ليقولن الله وقال تعالى فأقم وجهك للدين حنيفاً فطرة الله التي

Oleh karena itu Allah 'Azza wa Jalla berfirman: "Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: 'Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?' Niscaya mereka akan menjawab: 'Allah'." Dan Allah Ta'ala berfirman: "Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang…"

فطر الناس عليها لا تبديل لخلق الله ذلك الدين القيم فإذاً في فطرة الإنسان وشواهد القرآن ما يغني عن إقامة البرهان

Allah telah menciptakan manusia di atas fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus. Maka dari itu, dalam fitrah manusia dan bukti-bukti Al-Qur'an telah mencukupi sehingga tidak memerlukan lagi penegakan argumen rasional (burhan).

ولكنا على سبيل الاستظهار والاقتداء بالعلماء النظار نقول من بدائة العقول أن الحادث لا يستغني في حدوثه عن سبب يحدثه والعالم حادث فإذاً لا يستغني في حدوثه عن سبب

Akan tetapi, sebagai bentuk pemantapan dan demi meneladani para ulama ahli nalar (al-ulama' an-nuzzar), kami katakan berdasarkan keniscayaan akal (badai'ah al-'uqul) bahwa setiap yang baru (hadits) tidak akan lepas dari sebab yang membaharuinya dalam kemunculannya, sedangkan alam ini adalah baru; maka alam tidak akan lepas dari sebab yang membaharuinya.

أما قولنا أن الحادث لا يستغني في حدوثه عن سبب فجلي فإن كل حادث مختص بوقت يجوز في العقل تقدير تقديمه وتأخيره فاختصاصه بوقته دون ما قبله وما بعده يفتقر بالضرورة إلى المخصص وأما قولنا العالم حادث فبرهانه أن أجسام العالم لا تخلو عن الحركة والسكون وهما حادثان وما لا يخلو عن الحوادث فهو حادث

Adapun pernyataan kami bahwa setiap yang baru tidak lepas dari sebab dalam kemunculannya adalah hal yang sangat jelas. Sebab, setiap yang baru itu terikat dengan waktu tertentu yang secara akal memungkinkan untuk dimajukan atau dimundurkan. Maka, pengkhususan keberadaannya pada waktunya—bukan sebelum atau sesudahnya—secara dharuri (pasti) membutuhkan Sang Pengkhusus (al-Mukhasshis). Adapun pernyataan kami bahwa alam ini baru, maka dalilnya adalah bahwa substansi-substansi fisik (ajsam) alam tidak terlepas dari gerak dan diam, sementara gerak dan diam itu sendiri adalah baru, dan apa saja yang tidak terlepas dari hal-hal yang baru maka ia adalah baru.

ففي هذا البرهان ثلاث دعاوى الأولى قولنا إن الأجسام لا تخلو عن الحركة والسكون وهذه مدركة بالبديهة والاضطرار فلا يحتاج فيها إلى تأمل وافتكار فإن من عقل جسماً لا ساكناً ولا متحركاً كان لمتن الجهل راكباً وعن نهج العقل ناكباً

Maka dalam pembuktian (burhan) ini terdapat tiga klaim. Pertama, pernyataan kami bahwa benda-benda fisik tidak terlepas dari gerak dan diam; hal ini dapat dipahami secara aksiomatis (badihah) dan pasti (idhthirar), sehingga tidak membutuhkan perenungan dan pemikiran mendalam. Sebab, siapa saja yang membayangkan suatu benda fisik yang tidak diam dan tidak pula bergerak, sungguh ia telah menunggangi kebodohan yang nyata dan menyimpang dari jalan akal.

الثانية قولنا إنهما حادثان ويدل على ذلك تعاقبهما ووجود البعض منهما بعد البعض وذلك مشاهد في جميع الأجسام ما شوهد منها وما لم يشاهد فما من ساكن إلا والعقل قاض بجواز حركته وما من متحرك إلا والعقل قاض بجواز سكونه فالطارىء منهما حادث لطريانه والسابق حادث لعدمه لأنه لو ثبت قدمه لاستحال عدمه على ما سيأتي بيانه وبرهانه في إثبات بقاء الصانع تعالى وتقدس

Kedua, pernyataan kami bahwa gerak dan diam itu adalah baru. Hal ini ditunjukkan oleh silih bergantinya keduanya dan terwujudnya sebagian dari keduanya setelah sebagian yang lain. Hal itu disaksikan pada seluruh benda fisik, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat. Sebab, tidak ada satu pun yang diam melainkan akal memutuskan bolehnya ia bergerak, dan tidak ada satu pun yang bergerak melainkan akal memutuskan bolehnya ia diam. Maka, yang datang kemudian dari keduanya adalah baru karena kebaharuannya, sedangkan yang terdahulu juga baru karena ketiadaannya; sebab sekiranya keadaannya terdahulu itu Qadim (tanpa permulaan), tentulah mustahil ia menjadi tiada, sebagaimana penjelasan dan pembuktiannya akan datang dalam penetapan kekekalan Sang Pencipta Maha Luhur dan Maha Suci.

الثالثة قولنا ما لايخلو عن الحوادث فهو حادث وبرهانه أنه لو لم يكن كذلك لكان قبل كل حادث حوادث لا أول لها ولو لم تنقض تلك الحوادث بجملتها لا تنتهي النوبة إلى وجود الحادث الحاضر في الحال وانقضاء ما لا نهاية له محال ولأنه لو كان للفلك دورات لا نهاية لها لكان لا يخلو عددها عن أن تكون شفعاً أو وتراً أو شفعاً ووتراً جميعاً أو لا شفعاً ولا وتراً ومحال أن يكون شفعاً ووتراً جميعاً أو لا شفعاً ولا وتراً

Ketiga, pernyataan kami bahwa apa saja yang tidak terlepas dari hal-hal yang baru maka ia adalah baru. Pembuktiannya adalah sekiranya tidak demikian, niscaya sebelum setiap hal baru terdapat hal-hal baru tanpa permulaan. Dan jika hal-hal baru itu tidak berakhir secara keseluruhan, niscaya tidak akan sampai giliran bagi terwujudnya hal baru yang ada pada saat ini, padahal berakhirnya sesuatu yang tidak bertepi adalah mustahil. Juga karena jika cakrawala (falak) memiliki putaran-putaran yang tak terhingga, tentu jumlahnya tidak terlepas dari genap, ganjil, genap dan ganjil sekaligus, atau tidak genap dan tidak ganjil; dan mustahil jumlahnya genap dan ganjil sekaligus, atau tidak genap dan tidak ganjil.

فإن ذلك جمع بين النفي والإثبات إذ في إثبات أحدهما نفي الآخر وفي نفي أحدهما إثبات الآخر

Sebab, hal itu menggabungkan antara peniadaan (nafi) dan penetapan (itsbat), karena dalam menetapkan salah satunya terdapat peniadaan bagi yang lain, dan dalam meniadakan salah satunya terdapat penetapan bagi yang lain.

ومحال أن يكون شفعاً لأن الشفع يصير وتراً بزيادة واحد

Dan mustahil jumlah tersebut genap, sebab bilangan genap menjadi ganjil dengan penambahan angka satu.

وكيف يعوز ما لا نهاية له واحد ومحال أن يكون وتراً إذ الوتر يصير شفعاً بواحد فكيف يعوزها واحد مع أنه لا نهاية لأعدادها

Bagaimana mungkin sesuatu yang tak berhingga bisa kekurangan angka satu? Dan mustahil pula jumlahnya ganjil, karena bilangan ganjil menjadi genap dengan penambahan angka satu, maka bagaimana mungkin ia kekurangan angka satu padahal jumlah angkanya tidak bertepi?

ومحال أن يكون لا شفعاً ولا وتراً إذ له نهاية

Serta mustahil pula tidak genap dan tidak ganjil, karena yang demikian pasti memiliki batas akhir.

فتحصل من هذا أن العالم لا يخلو عن الحوادث وما لا يخلو عن الحوادث فهو إذن حادث

Maka tersimpul dari hal ini bahwa alam tidak terlepas dari hal-hal yang baru, dan apa saja yang tidak terlepas dari hal-hal yang baru, maka ia dengan demikian adalah baru.

وإذا ثبت حدوثه كان افتقاره إلى المحدث من المدركات بالضرورة

Apabila kebaharuan alam telah terbukti, maka keterbutuhannya kepada Sang Pencipta (Muhdits) termasuk hal yang dapat dipahami secara aksiomatis (dharuri).

الأصل الثاني العلم بأن الله تعالى قديم لم يزل أزلي ليس لوجوده أول بل هو أول كل شيء وقبل كل ميت وحي

Prinsip Kedua: Pengetahuan bahwa Allah Ta'ala adalah Maha Qadim (Maha Terdahulu), senantiasa ada, Maha Azali, tidak ada awal bagi keberadaan-Nya; bahkan Dia adalah Yang Awal dari segala sesuatu, serta sebelum setiap yang mati dan yang hidup.

وبرهانه أنه لو كان حادثاً ولم يكن قديماً لافتقر هو أيضاً إلى محدث وافتقر محدثه إلى محدث وتسلسل ذلك إلى ما لا نهاية وما تسلسل لم يتحصل أو ينتهي إلى محدث قديم هو الأول وذلك هو المطلوب الذي سميناه صانع العالم ومبدئه وبارئه ومحدثه ومبدعه الأصل الثالث العلم بأنه تعالى مع كونه أزلياً أبدياً ليس لوجوده آخر فهو الأول والآخر والظاهر والباطن لأن ما ثبت قدمه استحال عدمه وبرهانه أنه لو انعدم لكان لا يخلو إما أن ينعدم بنفسه أو بمعدم يضاده ولو جاز أن ينعدم شيء يتصور دوامه لجاز أن يوجد شيء يتصور عدمه بنفسه فكما يحتاج طريان الوجود إلى سبب فكذلك يحتاج طريان العدم إلى سبب

Pembuktiannya adalah sekiranya Dia baru (hadits) dan tidak Qadim, tentulah Dia juga membutuhkan Pencipta (muhdits), dan Pencipta-Nya pun akan membutuhkan Pencipta lain, sehingga terjadi mata rantai tanpa akhir (tasalsul). Dan apa yang bertasalsul tidak akan pernah terwujud, hingga berakhir pada Pencipta Yang Qadim, yaitu Yang Pertama. Dan itulah yang dicari, yang kami sebut sebagai Pencipta alam (Shani' al-'Alam), Asal-usulnya, Maha Penciptanya, Yang Membaharuinya, dan Yang Mengadakannya. Prinsip Ketiga: Pengetahuan bahwa Allah Ta'ala di samping Azali, Dia juga Abadi, tidak ada akhir bagi keberadaan-Nya. Maka Dia adalah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin. Karena apa yang telah terbukti keqadiman-Nya, mustahil menjadi tiada. Pembuktiannya adalah sekiranya Dia menjadi tiada, tentulah tidak terlepas dari: apakah Dia menjadi tiada dengan diri-Nya sendiri, atau oleh peniada yang menentang-Nya. Sekiranya boleh sesuatu yang dibayangkan kelestariannya menjadi tiada dengan sendirinya, niscaya boleh pula sesuatu yang dibayangkan ketiadaannya menjadi ada dengan sendirinya. Sebagaimana datangnya keberadaan membutuhkan sebab, demikian pula datangnya ketiadaan membutuhkan sebab.

وباطل أن ينعدم بمعدم يضاده لأن ذلك المعدم لو كان قديماً لما تصور الوجود معه

Dan batil (tidak mungkin) jika Dia menjadi tiada karena peniada yang menentang-Nya, sebab sekiranya peniada itu Qadim, niscaya tidak akan terbayangkan adanya keberadaan bersama dengannya.

وقد ظهر بالأصلين السابقين وجوده وقدمه فكيف كان وجوده في القدم ومعه ضده فإن كان الضد المعدم حادثاً كان محالاً إذ ليس الحادث في مضادته للقديم حتى يقطع وجوده بأولى من القديم في مضادته للحادث حتى يدفع وجوده بل الدفع أهون من القطع والقديم أقوى وأولى من الحادث

Padahal telah jelas pada dua prinsip sebelumnya keberadaan dan keqadiman-Nya; maka bagaimana mungkin keberadaan-Nya ada pada keazalian padahal beserta-Nya ada lawan penentang-Nya? Jika lawan peniada itu baru (hadits), maka hal itu mustahil; sebab tidaklah yang baru dalam pertentangannya terhadap Yang Qadim hingga dapat memutuskan keberadaan-Nya lebih utama daripada Yang Qadim dalam pertentangan-Nya terhadap yang baru hingga dapat menolak keberadaannya. Bahkan menolak keberadaan itu lebih mudah daripada memutuskannya, dan Yang Qadim itu lebih kuat serta lebih utama daripada yang baru.

الأصل الرابع العلم بأنه تعالى ليس بجوهر يتحيز بل يتعالى ويتقدس عن مناسبة الحيز

Prinsip Keempat: Pengetahuan bahwa Allah Ta'ala bukanlah substansi (jauhar) yang mengambil tempat (mutahayyiz), melainkan Maha Luhur dan Maha Suci dari hubungan dengan ruang atau tempat (hayyiz).

وبرهانه أن كل جوهر متحيز فهو مختص بحيزه ولا يخلو من أن يكون ساكناً فيه أو متحركاً عنه فلا يخلو عن الحركة أو السكون

Pembuktiannya adalah bahwa setiap substansi yang mengambil tempat pasti terikat dengan tempatnya, dan tidak terlepas dari keadaan diam di tempat itu atau bergerak meninggalkannya, sehingga ia tidak terlepas dari gerak atau diam.

وهما حادثان وما لا يخلو عن الحوادث فهو حادث

Padahal gerak dan diam itu adalah baru (hadits), dan apa saja yang tidak terlepas dari hal-hal yang baru maka ia adalah baru.

ولو تصور جوهر متحيز قديم لكان يعقل قدم جواهر العالم فإن سماه مسم جوهراً ولم يرد به المتحيز كان مخطئاً من حيث اللفظ لا من حيث المعنى

Dan sekiranya terbayang adanya substansi mengambil tempat yang Qadim, niscaya dapat pula dinalarkan keqadiman substansi-substansi alam. Namun jika seseorang menamai-Nya substansi (jauhar) tanpa bermaksud bahwa Dia mengambil tempat, maka ia keliru dari segi lafal, bukan dari segi makna.

الأصل الخامس العلم بأنه تعالى ليس بجسم مؤلف من جواهر إذ الجسم عبارة عن المؤلف من الجواهر وإذا بطل كونه جوهراً مخصوصاً بحيز بطل كونه جسماً لأن كل جسم مختص بحيز ومركب من جوهر فالجوهر يستحيل خلوه عن الافتراق والاجتماع والحركة والسكون والهيئة والمقدار وهذه سمات الحدوث

Landasan kelima: Mengetahui bahwa Allah Ta'ala bukanlah jasad (materi) yang tersusun dari jawhar (substansi), karena jasad adalah sebutan bagi sesuatu yang tersusun dari jawhar-jawhar. Ketika telah batal keadaan-Nya sebagai jawhar yang terikat oleh ruang/tempat (hayyiz), maka batal pulalah keadaan-Nya sebagai jasad. Sebab, setiap jasad pasti terikat oleh ruang dan tersusun dari jawhar. Sedangkan jawhar mustahil terbebas dari perpisahan, pertemuan, gerak, diam, bentuk, dan ukuran; dan semua ini merupakan ciri-ciri kebaharuan (haduts).

ولو جاز أن يعتقد أن صانع العالم جسم لجاز أن يعتقد الإلهية للشمس والقمر أو لشيء آخر من أقسام الأجسام

Seandainya boleh meyakini bahwa Pencipta alam adalah sebuah jasad, niscaya boleh pula meyakini ketuhanan matahari, bulan, atau benda-benda lain dari jenis jasad.

فإن تجاسر متجاسر على تسميته تعالى جسماً من غير إرادة التأليف من الجواهر كان ذلك غلطاً في الاسم مع الإصابة في نفي معنى الجسم

Jika ada orang yang nekat menamai Allah Ta'ala sebagai jasad tanpa bermaksud bahwa Dia tersusun dari jawhar, maka hal itu merupakan kesalahan dalam penggunaan nama, meskipun benar dalam meniadakan makna jasad.

الأصل السادس العلم بأنه تعالى ليس بعرض قائم بجسم أو حال في محل لأن العرض ما يحل في الجسم فكل جسم فهو حادث لا محالة ويكون محدثه موجوداً قبله فكيف يكون حالاً في الجسم وقد كان موجوداً في الأزل وحده وما معه غيره ثم أحدث الأجسام والأعراض بعده ولأنه عالم قادر مريد خالق كما سيأتي بيانه وهذه الأوصاف تستحيل على الأعراض بل لا تعقل إلا لموجود قائم بنفسه مستقل بذاته

Landasan keenam: Mengetahui bahwa Allah Ta'ala bukanlah 'aradh (sifat/aksiden) yang menempel pada jasad atau bertempat pada suatu tempat. Sebab 'aradh adalah sesuatu yang menempel pada jasad, sedangkan setiap jasad pasti baharu (hadits) dan penciptanya pasti ada sebelum jasad tersebut. Maka bagaimana mungkin Dia bertempat pada jasad padahal Dia telah ada sejak azali sendirian dan tidak ada sesuatu pun bersama-Nya, kemudian Dia menciptakan jasad-jasad dan 'aradh-'aradh setelah itu? Serta karena Dia Maha Mengetahui, Maha Kuasa, Maha Berkehendak, dan Maha Pencipta sebagaimana akan dijelaskan; sedangkan sifat-sifat ini mustahil ada pada 'aradh, bahkan tidak dapat dipahami kecuali bagi wujud yang berdiri sendiri (qa'im binafsih) dan mandiri dengan zat-Nya.

وقد تحصل من هذه الأصول أنه موجود قائم بنفسه ليس بجوهر ولا جسم ولا عرض

Dari landasan-landasan ini disimpulkan bahwa Dia adalah Wujud yang berdiri sendiri (qa'im binafsih), bukan jawhar (substansi), bukan jasad (materi), dan bukan pula 'aradh (aksiden).

وأن العالم كله جواهر وأعراض وأجسام فإذا لا يشبه شيئاً ولا يشبهه شيء بل هو الحي القيوم الذي ليس كمثله شيء وأنى يشبه المخلوق خالقه والمقدور مقدره والمصور مصوره

Dan bahwa seluruh alam ini adalah jawhar, 'aradh, dan jasad. Dengan demikian, Dia tidak menyerupai sesuatu pun dan tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya. Bahkan Dialah Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri (Al-Hayy Al-Qayyum) yang tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Bagaimana mungkin makhluk menyerupai Penciptanya, yang ditakdirkan menyerupai Penakdirnya, dan yang dibentuk menyerupai Pembentuknya?

والأجسام والأعراض كلها من خلقه وصنعه فاستحال القضاء عليها بمماثلته ومشابهته

Seluruh jasad dan 'aradh adalah ciptaan dan buatan-Nya, maka mustahil menetapkan sifat serupa atau sama bagi-Nya dengan ciptaan tersebut.

الأصل السابع العلم بأن الله تعالى منزه الذات عن الاختصاص بالجهات فإن الجهة إما فوق وإما أسفل وإما يمين وإما شمال أو قدام أو خلف وهذه الجهات هو الذي خلقها وأحدثها بواسطة خلق الإنسان إذ خلق له طرفين أحدهما يعتمد على الأرض ويسمى رجلاً والآخر يقابله ويسمى رأساً

Landasan ketujuh: Mengetahui bahwa Zat Allah Ta'ala Mahasuci dari terikat oleh arah-arah. Karena arah itu adakalanya di atas, di bawah, di kanan, di kiri, di depan, atau di belakang. Arah-arah inilah yang diciptakan dan diadakan oleh Allah melalui penciptaan manusia, yaitu ketika Dia menciptakan bagi manusia dua ujung: salah satunya bertumpu pada bumi yang dinamakan kaki, dan yang lainnya berhadapan dengannya yang dinamakan kepala.

فحدث اسم الفوق لما يلي جهة الرأس واسم السفل لما يلي جهة الرجل حتى إن النملة التي تدب منكسة تحت السقف تنقلب جهة الفوق في حقها تحتاً وإن كان في حقنا فوقاً

Maka muncullah istilah "atas" untuk apa yang berdekatan dengan arah kepala, dan istilah "bawah" untuk apa yang berdekatan dengan arah kaki. Hingga semut yang merayap terbalik di bawah langit-langit, arah atas baginya menjadi bawah, meskipun menurut kita itu adalah atas.

وخلق للإنسان اليدين وإحداهما أقوى من الأخرى في الغالب فحدث اسم اليمين للأقوى واسم الشمال لما يقابله وتسمى الجهة التي تلي اليمين يميناً والأخرى شمالاً وخلق له جانبين يبصر من أحدهما ويتحرك إليه فحدث اسم القدام للجهة التي يتقدم إليها بالحركة واسم الخلف لما يقابلها فالجهات حادثة بحدوث الإنسان ولو لم يخلق الإنسان بهذه الخلقة بل خلق مستديراً كالكرة لم يكن لهذه الجهات وجود ألبتة

Dan Dia menciptakan dua tangan bagi manusia, yang salah satunya umumnya lebih kuat dari yang lain, maka muncullah istilah "kanan" untuk yang lebih kuat dan istilah "kiri" untuk yang sebaliknya, serta arah yang berdekatan dengan kanan disebut kanan dan yang lain disebut kiri. Dia juga menciptakan dua sisi bagi manusia, yang satu di antaranya digunakan untuk melihat dan bergerak menujunya, maka muncullah istilah "depan" untuk arah yang dituju oleh geraknya dan istilah "belakang" untuk arah sebaliknya. Jadi, arah-arah itu baharu seiring dengan diciptakannya manusia. Seandainya manusia tidak diciptakan dengan bentuk seperti ini, melainkan diciptakan bulat seperti bola, niscaya arah-arah ini tidak akan ada sama sekali.

فكيف كان في الأزل مختصاً بجهة والجهة حادثة وكيف صار مختصاً بجهة بعد أن لم يكن له أبأن خلق العالم فوقه ويتعالى عن أن يكون له فوق إذ تعالى أن يكون له رأس والفوق عبارة عما يكون جهة الرأس أو خلق العالم تحته فتعالى عن أن يكون له تحت إذ تعالى عن أن يكون له رجل والتحت عبارة عما يلي جهة الرجل وكل ذلك مما يستحيل في العقل ولأن المعقول من كونه مختصاً بجهة أنه مختص بحيز اختصاص الجواهر أو مختص بالجواهر اختصاص العرض وقد ظهر استحالة كونه جوهراً أو عرضاً فاستحال كونه مختصاً بالجهة وإن أريد بالجهة غير هذين المعنيين كان غلطاً في الاسم مع المساعدة على المعنى ولأنه لو كان فوق العالم لكان محاذياً له وكل محاذ لجسم فإما أن يكون مثله أو أصغر منه أو أكبر وكل ذلك تقدير محوج بالضرورة إلى مقدر ويتعالى عنه الخالق الواحد المدبر فأما رفع الأيدي عند السؤال إلى جهة السماء فهو لأنها قبلة الدعاء

Maka bagaimana mungkin Dia pada masa azali terikat oleh suatu arah padahal arah itu baru ada (hadits)? Dan bagaimana mungkin Dia menjadi terikat oleh suatu arah setelah sebelumnya tidak? Apakah dengan diciptakannya alam di bawah-Nya, padahal Maha Suci Allah dari memiliki bagian atas karena Maha Suci Dia dari memiliki kepala, sedangkan "atas" adalah ungkapan bagi apa yang berada di arah kepala? Atau apakah diciptakan alam di atas-Nya sehingga Dia berada di bawahnya, padahal Maha Suci Dia dari memiliki bagian bawah karena Maha Suci Dia dari memiliki kaki, sedangkan "bawah" adalah ungkapan bagi apa yang berdekatan dengan arah kaki? Semua itu mustahil menurut akal. Lagipula, yang dipahami dari keadaan terikat oleh arah adalah terikat oleh ruang sebagaimana terikatnya jawhar, atau terikat pada jawhar sebagaimana terikatnya 'aradh. Dan telah jelas mustahilnya Keberadaan-Nya sebagai jawhar maupun 'aradh, maka mustahil pula Dia terikat oleh arah. Jika yang dimaksud dengan arah adalah selain kedua makna ini, maka itu adalah kesalahan dalam sebutan dengan tetap sepakat pada makna. Juga seandainya Dia berada di atas alam, tentulah Dia sejajar dengannya; dan setiap yang sejajar dengan suatu jasad, pasti adakalanya sama ukurannya, lebih kecil, atau lebih besar; dan semua itu merupakan penentuan ukuran yang secara darurat membutuhkan Penentu Ukuran (Muqaddir), padahal Maha Suci Sang Pencipta Yang Maha Esa lagi Maha Mengatur dari hal tersebut. Adapun mengangkat kedua tangan ke arah langit saat memohon (berdoa), hal itu dikarenakan langit adalah kiblat doa.

وفيه أيضاً إشارة إلى ما هو وصف للمدعو من الجلال والكبرياء تنبيهاً بقصد جهة العلو على صفة المجد والعلاء فإنه تعالى فوق كل موجود بالقهر والاستيلاء

Di dalamnya juga terdapat isyarat kepada sifat Yang Diberi Doa, yaitu Keagungan (Al-Jalal) dan Kebesaran (Al-Kibriya'), sebagai peringatan dengan menuju arah ketinggian kepada sifat Kemuliaan dan Keluhuran. Sebab Allah Ta'ala berada di atas segala yang ada dengan kekuasaan (qahr) dan penguasaan (istila').

الأصل

Landasan

الثامن العلم بأنه تعالى مستو على عرشه بالمعنى الذي أراد الله تعالى بالاستواء وهو الذي لا ينافي وصف الكبرياء ولا يتطرق إليه سمات الحدوث والفناء وهو الذي أريد بالاستواء إلى السماء حيث قال في القرآن ثم استوى إلى السماء وهي دخان وليس ذلك إلا بطريق القهر والاستيلاء كما قال الشاعر

Kedelapan: Mengetahui bahwa Allah Ta'ala bersemayam (istawa) di atas 'Arasy-Nya sesuai dengan makna yang dikehendaki oleh Allah Ta'ala tentang istiwa', yaitu makna yang tidak bertentangan dengan sifat Kebesaran (Kibriya') dan tidak terjamah oleh ciri-ciri kebaharuan (haduts) serta kefanaan. Makna itulah yang dimaksud dengan istiwa' ke langit ketika Allah berfirman dalam Al-Qur'an: "Kemudian Dia menuju (istawa) ke langit dan langit itu masih berupa asap." Hal itu tidak lain melainkan dengan jalan kekuasaan (qahr) dan penguasaan (istila'), sebagaimana dikatakan oleh penyair:

قد استوى بشر على العراق … من غير سيف ودم مهراق

"Sungguh Bisyr telah menguasai (istawa) Irak… tanpa pedang dan darah yang tertumpah."

واضطر أهل الحق إلى هذا التأويل كما التأويل كما اضطر أهل الباطن إلى تأويل قوله تعالى وهو معكم أينما كنتم إذ حمل ذلك بالاتفاق على الإحاطة والعلم وحمل قوله ﷺ قلب المؤمن بين إصبعين من أصابع الرحمن على القدرة والقوة وحمل قوله ﷺ الحجر الأسود يمين الله في أرضه على التشريف والإكرام لأنه لو ترك على ظاهره للزم منه المحال فكذا الاستواء لو ترك على الاستقرار والتمكن لزم منه كون المتمكن جسماً مماساً للعرش إما مثله أو أكبر منه أو أصغر وذلك محال وما يؤدي إلى المحال فهو محال

Para pengusung kebenaran (ahlul haq) terpaksa melakukan takwil ini sebagaimana ahli batin terpaksa menakwilkan firman Allah Ta'ala: "Dan Dia bersamamu di mana saja kamu berada," yang mana hal itu secara sepakat dimaknai sebagai pengawasan (ihathah) dan ilmu. Juga memaknai sabda Nabi ﷺ: "Hati seorang mukmin berada di antara dua jemari dari jemari Ar-Rahman," sebagai kekuasaan dan kekuatan; serta memaknai sabda Nabi ﷺ: "Hajar Aswad adalah tangan kanan Allah di bumi-Nya," sebagai pemuliaan dan penghormatan. Karena seandainya dibiarkan pada makna zahirnya, niscaya akan menimbulkan kemustahilan. Demikian pula istiwa', seandainya dibiarkan pada makna menetap dan bertempat, niscaya konsekuensinya adalah yang bertempat itu berupa jasad yang menyentuh 'Arasy, adakalanya sama dengannya, lebih besar, atau lebih kecil, dan itu semua adalah mustahil; sedang apa yang membawa kepada kemustahilan maka hukumnya adalah mustahil.

الأصل التاسع العلم بأنه تعالى مع كونه منزهاً عن الصورة والمقدار مقدساً عن الجهات والأقطار مرئي بالأعين والأبصار في الدار الآخرة دار القرار لقوله تعالى وجوه يومئذ ناضرة إلى ربها ناظرة ولا يرى في الدنيا تصديقاً لقوله ﷿ لا تدركه الأبصار وهو يدرك الأبصار ولقوله تعالى في خطاب موسى ﵇ لن تراني وليت شعري كيف عرف المعتزل من صفات رب الأرباب ما جهله موسى ﵇ وكيف سأل موسى ﵇ الرؤية مع كونها محالاً ولعل الجهل بذوي البدع والأهواء من الجهلة الأغبياء أولى من الجهل بالأنبياء صلوات الله عليهم وأما وجه إجراء آية الرؤية على الظاهر فهو أنه غير مؤد إلى المحال فإن الرؤية نوع كشف وعلم إلا أنه أتم وأوضح من العلم فإذا جاز تعلق العلم به وليس في جهة جاز تعلق الرؤية به وليس بجهة وكما يجوز أن يرى الله تعالى الخلق وليس في مقابلتهم جاز أن يراه الخلق من غير مقابلة وكما جاز أن يعلم من غير كيفية وصورة جاز أن يرى كذلك

Landasan kesembilan: Mengetahui bahwa Allah Ta'ala, meskipun Mahasuci dari bentuk dan ukuran serta Mahasuci dari arah dan penjuru, dapat dilihat dengan mata kepala dan penglihatan di negeri akhirat (negeri ketetapan). Hal ini berdasarkan firman Allah Ta'ala: "Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri, kepada Tuhannyalah mereka melihat." Namun Dia tidak dapat dilihat di dunia sebagai pembenaran atas firman-Nya Azza wa Jalla: "Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu," dan firman Allah Ta'ala dalam khitab-Nya kepada Musa a.s.: "Engkau tidak akan sanggup melihat-Ku." Duhai, betapa heran aku, bagaimana ahli Mu'tazilah dapat mengetahui sifat-sifat Tuhan sekalian tuhan yang tidak diketahui oleh Musa a.s.? Dan bagaimana mungkin Musa a.s. memohon rukyah (melihat Allah) seandainya hal itu mustahil? Tentu menyematkan kebodohan kepada para ahli bidah dan pengikut hawa nafsu dari kalangan orang-orang dungu adalah lebih utama daripada menyematkannya kepada para nabi صلوات الله عليهم. Adapun segi penerapan ayat rukyah sesuai zahirnya adalah karena hal itu tidak membawa kepada kemustahilan. Sebab rukyah (penglihatan) merupakan sejenis pengsingkapan (kasyf) dan ilmu, hanya saja ia lebih sempurna dan lebih jelas daripada ilmu semata. Jika ilmu boleh terhubung dengan Allah padahal Dia tidak berada di suatu arah, maka rukyah pun boleh terhubung dengan Allah padahal Dia tidak berada di suatu arah. Sebagaimana Allah Ta'ala boleh melihat makhluk padahal Dia tidak berhadapan dengan mereka, maka boleh pula makhluk melihat-Nya tanpa saling berhadapan. Dan sebagaimana Dia boleh diketahui tanpa bentuk dan bagaimananya (kaifiyyah), maka boleh pula Dia dilihat secara demikian.

الأصل العاشر العلم بأن الله ﷿ واحد لا شريك له فرد لا ند له انفرد بالخلق والإبداع واستند بالإيجاد والاختراع لا مثل له يساهمه ويساويه ولا ضد له فينازعه ويناويه وبرهانه قوله تعالى لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا وبيانه أنه لو كانا اثنين وأراد أحدهما أمراً فالثاني إن كان مضطراً إلى مساعدته كان هذا الثاني مقهوراً عاجزاً ولم يكن إلهاً قادراً وإن كان قادراً على مخالفته ومدافعته كان الثاني قوياً قاهراً والأول ضعيفاً قاصراً ولم يكن إلهاً قادراً الركن الثاني العلم بصفات الله تعالى ومداره على عشرة أصول

Landasan kesepuluh: Mengetahui bahwa Allah Azza wa Jalla Maha Esa tiada sekutu bagi-Nya, Tunggal tiada tandingan bagi-Nya, Maha Sendiri dalam mencipta dan mengkreasi, serta berdiri sendiri dalam mewujudkan dan menciptakan hal baru. Tiada yang serupa dengan-Nya yang menyamai dan setara dengan-Nya, dan tiada penentang bagi-Nya yang menentang dan memusuhi-Nya. Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala: "Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah binasa." Penjelasannya: Seandainya ada dua tuhan dan salah satunya menghendaki suatu perkara, maka tuhan kedua jika terpaksa membantunya, berarti tuhan kedua ini terkalahkan lagi lemah dan bukan tuhan yang mahakuasa. Namun jika tuhan kedua mampu menyelisihi dan menentangnya, berarti tuhan kedua itu kuat lagi menang, sedangkan tuhan pertama lemah lagi serba kurang dan bukan tuhan yang mahakuasa. Rukun Kedua: Mengetahui Sifat-sifat Allah Ta'ala dan pembahasannya berkisar pada sepuluh landasan.

الأصل الأول العلم بأن صانع العالم قادر وأنه تعالى في قوله وهو على كل شيء قدير صادق لأن العالم محكم في صنعته مرتب في خلقته ومن رأى ثوباً من ديباج حسن النسج والتأليف متناسب التطريز والتطريف ثم توهم صدور نسجه عن ميت لا استطاعة له أو عن إنسان لا قدرة له كان منخلعاً عن غريزة العقل ومنخرطاً في سلك أهل الغباوة والجهل

Landasan pertama: Mengetahui bahwa Pencipta alam ini Maha Kuasa, dan bahwa Allah Ta'ala adalah benar dalam firman-Nya: "Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu." Sebab alam ini begitu kokoh dalam buatannya dan teratur dalam ciptaan-Nya. Barang siapa melihat sehelai pakaian dari kain sutra yang indah tenunan dan susunannya, serasi sulaman dan pinggirannya, kemudian mengira tenunan itu lahir dari sesosok mayat yang tidak memiliki kemampuan atau dari manusia yang tidak memiliki daya, maka orang tersebut telah lepas dari naluri akal sehat dan tergolong dalam deretan orang-orang yang dungu dan bodoh.

الأصل الثاني العلم بأنه تعالى عالم بجميع الموجودات ومحيط بكل المخلوقات لَا يَعْزُبُ عَنْ عِلْمِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ فِي الأرض ولا في السماء صادق في قوله وهو بكل شيء عليم ومرشد إلى صدقه بقوله تعالى ألا يعلم من خلق وهو اللطيف الخبير أرشدك إلى الاستدلال بالخلق على العلم بأنك لا تستريب في دلالة الخلق اللطيف والصنع المزين بالترتيب ولو في الشيء الحقير الضعيف على علم الصانع بكيفية الترتيب والترصيف فما ذكره الله سبحانه هو المنتهى في الهداية والتعريف

Landasan kedua: Mengetahui bahwa Allah Ta'ala Maha Mengetahui seluruh wujud dan Maha Meliputi segala ciptaan, "Tidak ada yang tersembunyi dari pengetahuan-Nya seberat zarrah pun, baik di bumi maupun di langit." Dia Mahabenar dalam firman-Nya: "Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu," serta membimbing kepada kebenaran-Nya dengan firman Allah Ta'ala: "Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan)? Dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui." Dia membimbingmu untuk berdalil dengan penciptaan atas adanya pengetahuan, karena engkau tidak akan meragukan petunjuk dari ciptaan yang halus dan buatan yang dihiasi keteraturan—meskipun pada benda yang hina dan lemah—atas pengetahuan Sang Pencipta tentang cara penataan dan penyusunannya. Maka apa yang disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala merupakan puncak dalam petunjuk dan pengenalan.

الأصل الثالث العلم بكونه ﷿ حيا فإن من ثبت

Landasan Ketiga: Menerangkan pengetahuan bahwa Allah 'Azza wa Jalla Maha Hidup. Sebab, barangsiapa yang telah terbukti

علمه وقدرته ثبت بالضرورة حياته ولو تصور قادر وعالم فاعل مدبر دون أن يكون حيا لجاز أن يشك في حياة الحيوانات عند ترددها في الحركات والسكنات بل في حياة أرباب الحرف والصناعات وذلك انغماس في غمرة الجهالات والضلالات

ilmu dan kekuasaan-Nya, secara aksiomatis (daruri) terbukti pula kehidupan-Nya. Seandainya dapat dibayangkan adanya zat yang mahakuasa, maha mengetahui, maha berbuat, dan maha mengatur tanpa berada dalam keadaan hidup, niscaya patut diragukan pula kehidupan hewan-hewan saat mereka bergerak dan berdiam diri, bahkan diragukan pula kehidupan para pengrajin dan pelaku industri. Hal semacam itu merupakan kejeratannya dalam kubangan kebodohan dan kesesatan yang amat dalam.

الأصل الرابع العلم بكونه تعالى مريداً لأفعاله فلا موجود إلا وهو مستند إلى مشيئته وصادر عن إرادته فهو المبدىء المعيد والفعال لما يريد وكيف لا يكون مريداً وكل فعل صدر منه أمكن أن يصدر منه ضده وما لا ضد له أمكن أن يصدر منه ذلك بعينه قبله أو بعده

Landasan Keempat: Menerangkan pengetahuan bahwa Allah Ta'ala Maha Berkehendak (Iradah) atas perbuatan-perbuatan-Nya. Maka tidak ada suatu wujud pun melainkan bersandar pada kehendak-Nya (masyi'ah) dan bersumber dari iradah-Nya. Dia-lah Yang Maha Memulai, Yang Maha Mengembalikan, dan Maha Melaksanakan apa yang Dia kehendaki. Bagaimana mungkin Dia tidak memiliki iradah, padahal setiap perbuatan yang terbit dari-Nya memuat kemungkinan untuk terbit kebalikannya, dan apa yang tidak memiliki kebalikan memuat kemungkinan untuk terbit hal itu sendiri lebih awal atau lebih lambat?

والقدرة تناسب الضدين والوقتين مناسبة واحدة فلا بد من إرادة صارفة للقدرة إلى أحد المقدورين

Padahal kekuasaan (qudrah) memiliki nisbah yang sama terhadap dua hal yang berlawanan maupun terhadap dua waktu yang berbeda. Oleh karena itu, harus ada kehendak (iradah) yang memalingkan dan menetapkan kekuasaan itu kepada salah satu dari dua hal yang dikuasai tersebut.

ولو أغنى العلم عن الإرادة في تخصيص المعلوم حتى يقال إنما وجد في الوقت الذي سبق بوجوده لجاز أن يغني عن القدرة حتى يقال وجد بغير قدرة لأنه سبق العلم بوجوده فيه

Seandainya ilmu sudah cukup tanpa memerlukan iradah dalam menentukan kekhususan objek ilmu (maklum), hingga dikatakan bahwa ia terwujud pada waktu tertentu semata-mata karena telah didahului pengetahuan akan wujudnya pada waktu itu, niscaya ilmu juga cukup tanpa memerlukan qudrah, hingga dikatakan bahwa ia terwujud tanpa qudrah hanya karena telah didahului ilmu tentang wujudnya pada waktu tersebut.

الأصل الخامس العلم بأنه تعالى سميع بصير لا يعزب عن رؤيته هواجس الضمير وخفايا الوهم والتفكير ولا يشذ عن سمعه صوت دبيب النملة السوداء في الليلة الظلماء على الصخرة الصماء وكيف لا يكون سميعاً بصيراً والسمع والبصر كمال لا محالة وليس بنقص فكيف يكون المخلوق أكمل من الخالق والمصنوع أسنى وأتم من الصانع وكيف تعتدل القسمة مهما وقع النقص في جهته والكمال في خلقه وصنعته أو كيف تستقيم حجة إبراهيم ﷺ على أبيه إذ كان يعبد الأصنام جهلاً وغياً فقال له لم تعبد ما لا يسمع ولا يبصر ولا يغني عنك شيئاً ولو انقلب ذلك عليه في معبوده لأضحت حجته داحضة ودلالته ساقطة ولم يصدق قوله تعالى وتلك حجتنا آتيناها إبراهيم على قومه وكما عقل كونه فاعلاً بلا جارحة وعالماً بلا قلب ودماغ فليعقل كونه بصيراً بلا حدقة وسميعاً بلا اذن إذ لا فرق بينهما

Landasan Kelima: Menerangkan pengetahuan bahwa Allah Ta'ala Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Tidak ada yang luput dari penglihatan-Nya, baik berupa bisikan hati nurani maupun rahasia ilusi dan pikiran. Tidak ada pula yang terlepas dari pendengaran-Nya, sekalipun suara langkah kaki semut hitam di atas batu pejal yang kelam pada malam yang pekat. Bagaimana mungkin Dia tidak Maha Mendengar dan Maha Melihat, padahal pendengaran dan penglihatan secara pasti merupakan suatu kesempurnaan dan bukanlah suatu kekurangan? Bagaimana mungkin makhluk lebih sempurna daripada Sang Pencipta, atau hasil ciptaan lebih agung dan lebih sempurna daripada Pembuatnya? Dan bagaimana pembagian ini dapat adil jika kekurangan dinisbahkan kepada-Nya sedangkan kesempurnaan ada pada makhluk dan ciptaan-Nya? Atau bagaimana argumentasi Nabi Ibrahim 'alaihissalam terhadap ayahnya dapat lurus ketika ayahnya menyembah berhala karena kebodohan dan kesesatan, lalu Ibrahim berkata kepadanya: "Mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu sedikit pun?" Seandainya hal itu berbalik kepada Tuhan yang disembah oleh Ibrahim, niscaya hujah-Nya menjadi gugur, dalil-Nya jatuh, dan tidak benarlah firman Allah Ta'ala: "Dan itulah hujah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya." Dan sebagaimana dapat dipahami secara rasional bahwa Dia adalah Pelaku tanpa organ tubuh dan Maha Mengetahui tanpa hati maupun otak, maka hendaklah dipahami pula secara rasional bahwa Dia Maha Melihat tanpa biji mata dan Maha Mendengar tanpa telinga, sebab tidak ada perbedaan di antara keduanya.

الأصل السادس أنه ﷾ متكلم بكلام وهو وصف قائم بذاته ليس بصوت ولا حرف بل لا يشبه كلامه كلام غيره كما لا يشبه وجوده وجود غيره

Landasan Keenam: Bahwa Allah 'Azza wa Jalla Maha Berfirman dengan Kalam, yang merupakan sifat yang berdiri pada Zat-Nya, bukan berupa suara dan bukan pula huruf. Bahkan Kalam-Nya tidak menyerupai firman/perkataan selain-Nya sebagaimana Wujud-Nya tidak menyerupai wujud selain-Nya.

والكلام بالحقيقة كلام النفس وإنما الأصوات قطعت حروفاً للدلالات كما يدل عليها تارة بالحركات والإشارات وكيف التبس هذا على طائفة من الأغبياء ولم يلتبس على جهلة الشعراء حيث قال قائلهم

Kalam yang hakiki pada hakikatnya adalah ucapan batin (kalam an-nafs), sedangkan suara-suara hanyalah terputus-putus menjadi huruf-huruf sebagai penunjuk (dalalat), sebagaimana terkadang ditunjukkan melalui gerakan dan isyarat. Lantas bagaimana hal ini menjadi samar bagi sekelompok orang bodoh, padahal tidak samar bagi penyair awam sekalipun saat salah seorang dari mereka berkata:

إن الكلام لفي الفؤاد وإنما … جعل اللسان على الفؤاد دليلا

"Sesungguhnya perkataan itu benar-benar berada di dalam hati… Dan lidah dijadikan hanyalah sebagai petunjuk atas apa yang ada di dalam hati."

ومن لم يعقله عقله ولا نهاه نهاه عن أن يقول لساني حادث ولكن ما يحدث فيه بقدرتي الحادثة قديم فاقطع عن عقلة طمعك وكف عن خطابه لسانك

Barangsiapa yang akalnya tidak dapat memahami hal ini, dan kecerdasannya tidak mencegahnya dari mengatakan: "Lidahku adalah baru (hadits), namun apa yang terwujud padanya melalui kekuasaanku yang baru ini adalah qadim (terdahulu tanpa awal)," maka putuskanlah harapanmu terhadap akalnya dan tahanlah lisanmu dari berbicara dengannya.

ومن لم يفهم أن القديم عبارة عما ليس قبله شيء

Dan barangsiapa yang tidak memahami bahwa al-Qadim adalah ungkapan bagi sesuatu yang tidak didahului oleh apa pun,

وأن الباء قبل السين في قولك بسم الله فلا يكون السين المتأخر عن الباء قديماً فنزه عن الالتفات إليه قلبك فلله سبحانه سر في إبعاد بعض العباد ومن يضلل الله فما له من هاد ومن استبعد أن يسمع موسى ﵇ في الدنيا كلاماً ليس بصوت ولا حرف فليستنكر أن يرى في الآخرة موجوداً ليس بجسم ولا لون وإن عقل أن يرى ما ليس بلون ولا جسم ولا قدر ولا كمية وهو إلى الآن لم ير غيره فليعقل في حاسة السمع ما عقله في حاسة البصر

serta bahwa huruf ba' mendahului huruf sin dalam ucapanmu Bismillah, sehingga huruf sin yang datang setelah ba' tidak mungkin bersifat qadim, maka sucikanlah hatimu dari berpaling kepadanya. Sebab bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala terdapat hikmah rahasia dalam menjauhkan sebagian hamba, dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun yang dapat memberinya petunjuk. Dan barangsiapa menganggap mustahil bagi Nabi Musa 'alaihissalam di dunia untuk mendengar Kalam yang bukan berupa suara dan bukan pula huruf, maka hendaklah ia juga menganggap mustahil untuk melihat suatu Wujud di akhirat yang bukan berupa tubuh (jisim) dan bukan pula warna. Jika ia dapat memahami secara rasional kemungkinan melihat sesuatu yang bukan warna, bukan tubuh, bukan ukuran, dan bukan kuantitas—padahal hingga kini ia belum pernah melihat selain itu—maka hendaklah ia memahami pada indra pendengaran sebagaimana yang ia pahami pada indra penglihatan.

وإن عقل على أن يكون له علم واحد هو علم بجميع الموجودات فليعقل صفة واحدة للذات هو كلام بجميع ما دل عليه من العبارات

Jika ia dapat memahami secara rasional bahwa Allah memiliki satu Ilmu tunggal yang meliputi seluruh wujud, maka hendaklah ia memahami pula satu Sifat tunggal bagi Zat-Nya, yaitu Kalam yang mencakup seluruh apa yang ditunjukkan oleh beraneka ungkapan kata.

وإن عقل كون السموات السبع وكون الجنة والنار مكتوبة في ورقة صغيرة ومحفوظة في مقدار ذرة من القلب وأن كل ذلك مرئي في مقدار عدسة من الحدقة من غير أن تحل ذات السموات والأرض والجنة والنار في الحدقة والقلب والورقة فليعقل كون الكلام مقروءاً بالألسنة محفوظاً في القلوب مكتوباً في المصاحف من غير حلول ذات الكلام فيها إذ لو حلت بكتاب الله ذات الكلام في الورق لحل ذات الله تعالى بكتابة اسمه في الورق وحلت ذات النار بكتابه اسمها في الورق ولاحترق

Jika ia dapat memahami secara rasional bahwa langit yang tujuh serta surga dan neraka dapat tertulis di atas selembar kertas kecil, dihafal dalam seukuran zarrah dari hati, dan bahwa seluruhnya dapat terlihat dalam ukuran kornea mata tanpa harus zat langit, bumi, surga, dan neraka itu bertempat (hulul) di dalam kornea mata, hati, maupun kertas tersebut, maka hendaklah ia memahami pula bahwa Kalam Allah itu dibaca dengan lisan, dihafalkan di dalam hati, dan dituliskan dalam mushaf-mushaf tanpa bertempatnya (hulul) Zat Kalam itu di dalamnya. Sebab, seandainya dengan penulisan Kitabullah Zat Kalam itu bertempat di kertas, niscaya Zat Allah Ta'ala pun akan bertempat di kertas saat nama-Nya dituliskan, dan zat api pun akan bertempat di kertas saat namanya dituliskan hingga kertas itu terbakar.

الأصل السابع أن الكلام القائم بنفسه قديم وكذا جميع صفاته إذ يستحيل أن يكون محلاً

Landasan Ketujuh: Bahwa Kalam yang berdiri pada Zat-Nya adalah bersifat qadim (azali), demikian pula seluruh sifat-sifat-Nya, sebab mustahil Allah menjadi tempat (mahall)

للحوادث داخلاً تحت التغير بل يجب للصفات من نعوت القدم ما يجب للذات فلا تعتريه التغيرات ولا تحله الحادثات بل لم يزل في قدمه موصوفاً بمحامد الصفات ولا يزل في أبده كذلك منزهاً عن تغير الحالات لأن ما كان محل الحوادث لا يخلو عنها وما لا يخلو عن الحوادث فهو حادث

bagi hal-hal yang baru (hawadits) atau tunduk di bawah perubahan. Bahkan wajib bagi sifat-sifat-Nya memiliki sifat keazalian (qidam) sebagaimana wajibnya hal itu bagi Zat-Nya. Maka Dia tidak tertimpa perubahan-perubahan dan tidak dihinggapi oleh hal-hal yang baru. Sebaliknya, Dia senantiasa dalam keazalian-Nya disifati dengan sifat-sifat terpuji, dan senantiasa pula dalam keabadian-Nya berada demikian, suci dari perubahan keadaan. Sebab, segala sesuatu yang menjadi tempat bagi hal-hal yang baru tidak akan lepas darinya, dan apa saja yang tidak lepas dari hal-hal yang baru, maka ia adalah baru (hadits).

وإنما ثبت نعت الحدوث للأجسام من حيث تعرضها للتغير وتقلب الأوصاف فكيف يكون خالقها مشاركاً لها في قبول التغير وينبني على هذا أن كلامه قديم قائم بذاته وإنما الحادث هي الأصوات الدالة عليه وكما عقل قيام طلب التعلم وإرادته بذات الوالد للولد قبل أن يخلق ولده حتى إذا خلق ولده وعقل وخلق الله له علماً متعلقاً بما في قلب أبيه من الطلب صار مأموراً بذلك الطلب الذي قام بذات أبيه ودام وجوده إلى وقت معرفة ولده له فليعقل قيام الطلب الذي دل عليه قوله ﷿ اخلع نعليك بذات الله ومصير موسى ﵇ مخاطباً به بعد وجوده إذ خلقت له معرفة بذلك الطلب وسمع لذلك الكلام القديم

Sifat kebaharuan (huduts) hanya terbukti bagi fisik-fisik (ajsam) sejauh ia mengalami perubahan dan pergantian sifat. Maka bagaimana mungkin Penciptanya bersekutu dengannya dalam menerima perubahan? Atas dasar inilah terbangun pemahaman bahwa Kalam-Nya adalah azali (qadim) lagi berdiri pada Zat-Nya, sedangkan yang baru (hadits) hanyalah suara-suara yang menunjukinya. Sebagaimana dapat dipahami secara rasional berdirinya tuntutan pembelajaran dan kehendak akan hal itu pada zat seorang ayah bagi anaknya sebelum anak itu diciptakan, sehingga ketika anaknya diciptakan, berakal, dan Allah menciptakan baginya pengetahuan yang berkaitan dengan tuntutan di dalam hati ayahnya, ia menjadi diperintah (ma'mur) oleh tuntutan yang telah berdiri pada zat ayahnya dan terus ada hingga waktu anaknya mengetahuinya, maka hendaklah dipahami pula berdirinya tuntutan yang ditunjukkan oleh firman Allah 'Azza wa Jalla: "Tanggalkanlah kedua terompahmu" pada Zat Allah, serta kondisi Nabi Musa 'alaihissalam yang menjadi diajak bicara dengannya setelah wujudnya, yaitu ketika diciptakan baginya pengetahuan tentang tuntutan tersebut dan ia mendengar Kalam yang qadim itu.

الأصل الثامن أن علمه قديم فلم يزل عالماً بذاته وصفاته وما يحدثه من مخلوقاته

Landasan Kedelapan: Bahwa Ilmu-Nya bersifat qadim (azali). Maka Dia senantiasa Maha Mengetahui tentang Zat-Nya, sifat-sifat-Nya, dan apa yang diciptakan-Nya dari makhluk-makhluk-Nya.

ومهما حدثت المخلوقات لم يحدث له علم بها بل حصلت مكشوفة له بالعلم الأزلي إذ لو خلق لنا علم به بقدوم زيد عند طلوع الشمس ودام ذلك العلم تقديراً حتى طلعت الشمس لكان قدوم زيد عند طلوع الشمس معلوماً لنا بذلك العلم من غير تجدد علم آخر

Dan kapan pun makhluk-makhluk itu tercipta, tidaklah terbit pengetahuan baru bagi-Nya tentang hal itu, melainkan segalanya telah tersingkap bagi-Nya dengan Ilmu-Nya yang azali. Sebab, andaikan diciptakan bagi kita suatu pengetahuan tentang kedatangan Zaid saat terbit matahari, dan pengetahuan itu diandaikan terus bertahan hingga terbit matahari, niscaya kedatangan Zaid saat terbit matahari itu sudah kita ketahui dengan pengetahuan tersebut tanpa perlu adanya pengetahuan baru yang muncul.

فهكذا ينبغي أن يفهم قدم علم الله تعالى

Maka seperti inilah semestinya dipahami keazalian (qidam) Ilmu Allah Ta'ala.

الأصل التاسع أن إرادته قديمة وهي في القدم تعلقت بإحداث الحوادث في أوقاتها اللائقة بها على وفق سبق العلم الأزلي إذ لو كانت حادثة لصار محل الحوادث ولو حدثت في غير ذاته لم يكن هو مريداً لها كما لا تكون أنت متحركاً بحركة ليست في ذاتك وكيفما قدرت فيفتقر حدوثها إلى إرادة أخرى وكذلك الإرادة الأخرى تفتقر إلى أخرى ويتسلسل الأمر إلى غير نهاية ولو جاز أن يحدث إرادة بغير إرادة لجاز أن يحدث العالم بغير إرادة

Prinsip Kesembilan: Bahwa kehendak (Iradah) Allah adalah qadim (azali). Kehendak tersebut sejak azali berkaitan (ta'alluq) dengan pembentukan hal-hal yang baru (hadits) pada waktu-waktu yang sesuai baginya, sejalan dengan ilmu-Nya yang mendahului sejak azali. Sebab, seandainya kehendak itu baharu (hadits), niscaya Dzat-Nya menjadi tempat bagi hal-hal yang baharu. Dan jika kehendak itu tercipta pada selain Dzat-Nya, tentu Dia bukanlah Dzat yang berkehendak atasnya, sebagaimana engkau tidak dapat dikatakan bergerak dengan gerakan yang tidak berada pada dirimu. Bagaimanapun engkau mengandaikannya, kemunculan kehendak baru itu pasti membutuhkan kehendak yang lain, dan kehendak yang lain itu pun membutuhkan kehendak lainnya lagi, sehingga terjadi rantai tanpa akhir (tasalsul). Dan jikalau boleh tercipta suatu kehendak tanpa adanya kehendak lain, niscaya boleh pula alam semesta ini tercipta tanpa adanya kehendak.

الأصل العاشر أن الله تعالى عالم بعلم حي بحياة قادر بقدرة ومريد بإرادة ومتكلم بكلام وسميع بسمع وبصير ببصر وله هذه الأوصاف من هذه الصفات القديمة

Prinsip Kesepuluh: Bahwa Allah Ta'ala Maha Mengetahui dengan sifat Ilmu, Maha Hidup dengan sifat Hayat, Maha Kuasa dengan sifat Qudrah, Maha Berkehendak dengan sifat Iradah, Maha Berbicara dengan sifat Kalam, Maha Mendengar dengan sifat Sama', dan Maha Melihat dengan sifat Bashar; dan Dia memiliki sifat-sifat ini dari sifat-sifat-Nya yang qadim (azali).

وقول القائل عالم بلا علم كقوله غني بلا مال وعلم بلا عالم وعالم بلا معلوم فإن العلم والمعلوم والعالم متلازمة كالقتل والمقتول والقاتل وكما لا يتصور قاتل بلا قتل ولا قتيل ولا يتصور قتيل بلا قاتل ولا قتل كذلك لا يتصور عالم بلا علم ولا علم بلا معلوم ولا معلوم بلا عالم بل هذه الثلاثة متلازمة في العقل لا ينفك بعض منها عن البعض فمن جوز انفكاك العالم عن العلم فليجوز انفكاكه عن المعلوم وانفكاك العلم عن العالم إذ لا فرق بين هذه الأوصاف الركن الثالث العلم بأفعال الله تعالى ومداره على عشرة أصول

Perkataan seseorang bahwa Dia 'Maha Mengetahui tanpa sifat Ilmu' adalah seperti perkataan 'ia kaya tanpa harta', 'ilmu tanpa ada yang mengetahui', atau 'ada yang mengetahui tanpa ada yang diketahui'. Sebab, ilmu, yang diketahui (ma'lum), dan yang mengetahui ('alim) saling berkaitan secara keniscayaan, seperti halnya pembunuhan, yang terbunuh, dan pembunuh. Sebagaimana tidak dapat dibayangkan adanya pembunuh tanpa tindakan pembunuhan dan tanpa yang terbunuh, dan tidak dapat dibayangkan adanya yang terbunuh tanpa pembunuh dan tindakan pembunuhan, demikian pula tidak dapat dibayangkan adanya yang mengetahui tanpa sifat ilmu, ilmu tanpa ada yang diketahui, maupun yang diketahui tanpa ada yang mengetahui. Bahkan ketiganya saling berkaitan erat dalam akal pikiran dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Maka barang siapa membolehkan terpisahnya yang mengetahui ('alim) dari sifat ilmu, hendaknya ia membolehkan pula terpisahnya ia dari yang diketahui (ma'lum) dan terpisahnya ilmu dari yang mengetahui, sebab tidak ada perbedaan di antara sifat-sifat ini. Rukun Ketiga: Pengetahuan tentang Perbuatan-Perbuatan (Af'al) Allah Ta'ala, dan pembahasannya berkisar pada sepuluh prinsip.

الأصل الأول العلم بأن كل حادث في العالم فهو فعله وخلقه واختراعه لا خالق له سواه ولا محدث له إلا إياه

Prinsip Pertama: Pengetahuan bahwa setiap hal yang baharu (hadits) di alam semesta ini adalah perbuatan-Nya, ciptaan-Nya, dan adaan-Nya; tidak ada pencipta baginya selain Dia, dan tidak ada yang mewujudkannya kecuali hanya Dia.

خلق الخلق وصنعهم وأوجد قدرتهم وحركتهم فجميع أفعال عبادة مخلوقة له ومتعلقة بقدرته تصديقاً له في قوله تعالى الله خالق كل شيء وفي قوله تعالى والله خلقكم وما تعملون وفي قوله تعالى وأسروا قولكم أو اجهروا به إنه عليم بذات الصدور ألا يعلم من خلق وهو اللطيف الخبير أمر العباد بالتحرز في أقوالهم وأفعالهم وإسرارهم وإضمارهم لعلمه بموارد أفعالهم

Dia menciptakan makhluk dan memperbuat mereka, serta mewujudkan kemampuan (kodrat) dan gerak mereka. Maka seluruh perbuatan hamba-Nya adalah ciptaan-Nya dan berkaitan dengan kekuasaan-Nya, membenarkan firman Allah Ta'ala: 'Allah adalah Pencipta segala sesuatu' (QS. Az-Zumar: 62), dan firman-Nya: 'Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu' (QS. As-Saffat: 96), serta firman-Nya: 'Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati. Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan)? Dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui' (QS. Al-Mulk: 13-14). Dia memerintahkan para hamba untuk berhati-hati dalam perkataan, perbuatan, rahasia, dan niat hati mereka, karena pengetahuan-Nya meliputi segala muara perbuatan mereka.

واستدل على العلم بالخلق وكيف لا يكون خالقاً لفعل العبد وقدرته تامة لا قصور فيها وهي متعلقة بحركة أبدان العباد والحركات متماثلة وتعلق القدرة بها لذاتها فما الذي يقصر تعلقها عن بعض الحركات دون البعض مع تماثلها أو كيف يكون الحيوان مستبداً بالاختراع ويصدر من العنكبوت والنحل وسائر الحيوانات من لطائف الصناعات ما يتحير فيه عقول ذوي الألباب فكيف انفردت هي باختراعها دون رب الأرباب وهي غير عالمة بتفصيل ما يصدر منها من الاكتساب هيهات هيهات ذلت المخلوقات وتفرد بالملك والملكوت

Dan Dia berdalil atas pengetahuan-Nya melalui penciptaan. Bagaimana mungkin Dia bukan Pencipta bagi perbuatan hamba, padahal kekuasaan-Nya sempurna tanpa kekurangan sedikit pun dan kekuasaan itu berkaitan dengan gerakan tubuh para hamba? Gerakan-gerakan itu serupa satu sama lain dan keterkaitan kekuasaan dengannya adalah karena zat gerakan itu sendiri, maka apa yang menghalangi keterkaitan kekuasaan-Nya dari sebagian gerakan dan bukan sebagian lainnya padahal semuanya serupa? Atau bagaimana mungkin seekor hewan berkuasa mandiri dalam menciptakan hal baru, sementara dari laba-laba, lebah, dan seluruh hewan lainnya dapat lahir keindahan karya yang menakjubkan akal orang-orang yang berakal? Bagaimana mungkin hewan-hewan itu sanggup sendirian mencitakannya tanpa Tuhan segala tuhan, padahal hewan-hewan itu tidak mengetahui secara rinci apa yang lahir dari usaha (kasb) mereka? Sungguh jauh dari hal itu! Seluruh makhluk tunduk terhina, dan hanya Dialah yang Maha Sendiri memegang kerajaan lahir (mulk) dan kerajaan batin (malakut),

جبار الأرض والسموات

Penguasa Yang Maha Perkasa atas bumi dan langit.

الأصل الثاني أن انفراد الله سبحانه باختراع حركات العباد لا يخرجها عن كونها مقدورة للعباد على سبيل الاكتساب بل الله تعالى خلق القدرة والمقدور جميعاً وخلق الاختيار والمختار جميعاً

Prinsip Kedua: Bahwa kemandirian Allah Maha Suci dalam menciptakan gerakan para hamba tidak mengeluarkan gerakan tersebut dari keberadaannya sebagai hal yang diusahakan (maqdur) oleh para hamba melalui jalan usaha (kasb/iktisab). Bahkan Allah Ta'ala menciptakan daya (qudrah) dan hal yang dikenai daya (maqdur) secara bersamaan, serta menciptakan pilihan (ikhtiyar) dan hal yang dipilih (mukhtar) secara bersamaan.

فأما القدرة فوصف للعبد وخلق للرب سبحانه وليست بكسب له

Adapun daya (qudrah) itu adalah sifat bagi hamba dan ciptaan bagi Tuhan Maha Suci, serta bukan merupakan hasil usaha (kasb) bagi hamba.

وأما الحركة فخلق للرب تعالى ووصف للعبد وكسب له فإنها خلقت مقدورة بقدرة هي وصفه وكانت للحركة نسبة إلى صفة أخرى تسمى قدرة فتسمى باعتبار تلك النسبة كسباً وكيف تكون جبراً محضاً وهو بالضرورة يدرك التفرقة بين الحركة المقدورة والرعدة الضرورية أو كيف يكون خلقاً للعبد وهو لا يحيط علماً بتفاصيل أجزاء الحركات المكتسبة وأعدادها وإذا بطل الطرفان لم يبق إلا الاقتصاد في الاعتقاد وهو أنها مقدورة بقدرة الله تعالى اختراعاً وبقدرة العبد على وجه آخر من التعليق يعبر عنه بالاكتساب

Adapun gerakan, maka ia adalah ciptaan bagi Tuhan Ta'ala, sifat bagi hamba, dan usaha (kasb) baginya. Sebab gerakan itu diciptakan sebagai hal yang mampu dilakukan dengan daya yang menjadi sifat hamba. Gerakan itu memiliki nisbah (hubungan) dengan sifat lain yang dinamakan daya (qudrah), sehingga dengan mempertimbangkan nisbah tersebut ia dinamakan 'kasb' (usaha). Bagaimana mungkin hal itu menjadi paksaan murni (jabr mahdh), sedangkan secara darurat manusia menyadari perbedaan antara gerakan yang disengaja dan gemetar yang terpaksa? Atau bagaimana mungkin gerakan itu menjadi ciptaan hamba, padahal ia tidak meliputi pengetahuan secara rinci tentang bagian-bagian gerakan yang diusahakannya beserta jumlahnya? Apabila kedua pandangan ekstrim tersebut batal, maka tidak ada yang tersisa kecuali pandangan moderat (al-iqtishad) dalam berakidah, yaitu bahwa gerakan itu diusahakan dengan daya Allah Ta'ala secara penciptaan (ikhtira'), dan dengan daya hamba menurut bentuk hubungan lain yang diungkapkan dengan istilah 'iktisab' (usaha).

وليس من ضرورة تعلق القدرة بالمقدور أن يكون بالاختراع فقط إذ قدره الله تعالى في الأزل قد كانت متعلقة بالعالم ولم يكن الاختراع حاصلاً بها وهي عند الاختراع متعلقة به نوعاً آخر من التعلق فيه يظهر أن تعلق القدرة ليس مخصوصاً بحصول المقدور بها

Bukanlah suatu keharusan bahwa keterkaitan kekuasaan (qudrah) dengan hal yang dikuasai (maqdur) itu hanya terjadi melalui penciptaan (ikhtira') semata. Sebab kekuasaan Allah Ta'ala pada masa azali telah berkaitan dengan alam semesta padahal penciptaan itu sendiri belum terjadi dengannya, dan ketika penciptaan terjadi, kekuasaan tersebut berkaitan dengannya melalui bentuk keterkaitan yang lain. Dari sini tampak jelas bahwa keterkaitan kekuasaan tidak khusus hanya pada terwujudnya hal yang dikuasai dengannya.

الأصل الثالث أن فعل العبد وإن كان كسباً للعبد فلا يخرج عن كونه مراداً لله سبحانه

Prinsip Ketiga: Bahwa perbuatan hamba, meskipun merupakan usaha (kasb) bagi hamba, tidaklah keluar dari keberadaannya sebagai hal yang dikehendaki (murad) oleh Allah Maha Suci.

فلا يجري في الملك والملكوت طرفة عين ولا لفتة خاطر ولا فلتة ناظر إلا بقضاء الله وقدرته وبإرادته ومشيئته

Maka tidak terjadi di alam fisik (mulk) maupun alam gaib (malakut) sekedip mata pun, selintas pikiran, atau sekilas pandangan, melainkan dengan ketetapan (qadha') Allah, kekuasaan-Nya, kehendak-Nya (iradah), dan keinginan-Nya (masyi'ah).

ومنه الشر والخير والنفع والضر والإسلام والكفر والعرفان والنكر والفوز والخسران والغواية والرشد والطاعة والعصيان والشرك والإيمان لا راد لقضائه ولا معقب لحكمه يضل من يشاء ويهدي من يشاء لا يسئل عما يفعل وهم يسألون ويدل عليه من النقل قول الأمة قاطبة ما شَاءَ كَانَ وَمَا لَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ وقول الله ﷿ أن لو يشاء الله لهدى الناس جميعاً وقوله تعالى ولو شئنا لآتينا كل نفس هداها ويدل عليه من جهة العقل أن المعاصي والجرائم إن كان الله يكرهها ولا يريدها وإنما هي جارية على وفق إرادة العدو إبليس لعنه الله مع أنه عدو لله سبحانه والجاري على وفق إرادة العدو أكثر من الجاري على وفق إرادته تعالى فليت شعري كيف يستجيز المسلم أن يرد ملك الجبار ذي الجلال والإكرام إلى رتبة لو ردت إليها رياسة زعيم ضيعة لاستنكف منها إذ لو كان ما يستمر لعدو الزعيم في القرية أكثر مما يستقيم له لاستنكف من زعامته وتبرأ عن ولايته

Termasuk di dalamnya keburukan dan kebaikan, manfaat dan bahaya, Islam dan kufur, pengakuan dan pengingkaran, keberuntungan dan kerugian, kesesatan dan petunjuk, ketaatan dan kemaksiatan, serta syirik dan iman. Tidak ada yang sanggup menolak ketetapan-Nya, dan tidak ada yang sanggup mengubah hukum-Nya. Dia menyesatkan siapa saja yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Dia tidak ditanya tentang apa yang Dia perbuat, melainkan merekalah yang akan ditanya. Petunjuk dari dalil naqli mengenai hal ini adalah ucapan seluruh umat: 'Apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi, dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan pernah terjadi', firman Allah 'Azza wa Jalla: 'Bahwa sekiranya Allah menghendaki, niscaya Allah telah memberi petunjuk kepada manusia semuanya' (QS. Ar-Ra'd: 31), dan firman Allah Ta'ala: 'Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami akan berikan kepada tiap-tiap jiwa petunjuknya' (QS. As-Sajdah: 13). Sementara dalil akal menunjukkan bahwa jika kemaksiatan dan kejahatan itu dibenci oleh Allah dan tidak dikehendaki oleh-Nya, melainkan hanya terjadi sejalan dengan kehendak musuh-Nya, yaitu Iblis -semoga laknat Allah atasnya- padahal ia adalah musuh Allah Maha Suci, sementara yang terjadi sejalan dengan kehendak musuh itu justru lebih banyak daripada yang terjadi sejalan dengan kehendak Allah Ta'ala, maka aduhai, bagaimana mungkin seorang muslim membenarkan dirinya merendahkan kekuasaan Sang Maha Perkasa Pemilik Keagungan dan Kemuliaan ke tingkat yang sekiranya kepemimpinan seorang kepala desa diturunkan ke tingkat itu tentu ia akan menolaknya dengan jijik? Sebab, jika hal-hal yang berlaku bagi musuh sang kepala desa di desa tersebut lebih banyak daripada apa yang berjalan sesuai keinginannya, niscaya ia akan menolak kepemimpinannya dan berlepas diri dari kekuasaannya.

والمعصية هي الغالبة على الخلق وكل ذلك جار عند المبتدعة على خلاف إرادة الحق تعالى وهذا غاية الضعف والعجز تعالى رب الأرباب عن قول الظالمين علواً كبيراً

Sedangkan kemaksiatan adalah hal yang mendominasi pada diri makhluk. Dan menurut kaum ahli bid'ah, semua itu terjadi bertentangan dengan kehendak Al-Haq (Allah) Ta'ala. Ini adalah puncak kelemahan dan ketidakmampuan. Maha Suci Tuhan segala tuhan dari apa yang dikatakan oleh orang-orang zalim dengan kesucian yang sebesar-besarnya.

ثم مهما ظهر أن أفعال العباد مخلوقة لله صح أنها مرادة له

Kemudian, apabila telah jelas bahwa perbuatan para hamba adalah ciptaan Allah, maka benarlah bahwa perbuatan tersebut dikehendaki oleh-Nya.

فإن قيل فكيف ينهى عما يريد ويأمر بما لا يريد قلنا الأمر غير الإرادة

Jika ditanyakan: 'Lantas bagaimana Dia melarang dari apa yang Dia kehendaki dan memerintahkan apa yang tidak Dia kehendaki?' Kami menjawab: Perintah (amr) itu berbeda dengan Kehendak (iradah).

ولذلك إذا ضرب السيد عبده فعاتبه السلطان عليه فاعتذر بتمرد عبده عليه فكذبه السلطان فأراد إظهار حجته بأن يأمر العبد بفعل ويخالفه بين يديه فقال له أسرج هذه الدابة بمشهد من السلطان فهو يأمره بما لايريد امتثاله ولو لم يكن آمراً لما كان عذره عند السلطان ممهداً ولو كان مريداً لامتثاله لكان مريداً لهلاك نفسه وهو محال

Oleh karena itu, ketika seorang tuan memukul hambanya, lalu penguasa menegurnya atas tindakan itu, sang tuan berdalih atas pembangkangan hambanya terhadapnya namun penguasa tidak mempercayainya. Sang tuan pun ingin membuktikan alasannya dengan cara memerintahkan sang hamba melakukan sesuatu dan sang hamba akan membangkang di hadapan penguasa. Maka ia berkata kepada hambanya: 'Pelanailah hewan tunggangan ini!' di hadapan penguasa. Dalam hal ini, sang tuan memerintahkan sesuatu yang sebenarnya tidak ia kehendaki kepatuhannya. Sebab jika ia tidak memerintahkan, alasannya di hadapan penguasa tidak akan terbukti, dan seandainya ia menghendaki kepatuhan sang hamba, berarti ia menghendaki kehancuran dirinya sendiri, dan hal itu adalah mustahil.

الأصل الرابع أن الله تعالى متفضل بالخلق والاختراع ومتطول بتكليف العباد ولم يكن الخلق والتكليف واجباً عليه

Prinsip Keempat: Bahwa Allah Ta'ala Maha Melimpahkan Karunia dengan menciptakan dan mewujudkan, serta Maha Memberi Keutamaan dengan membebankan syariat (taklif) kepada para hamba; dan penciptaan serta pembebanan syariat itu bukanlah hal yang wajib bagi-Nya.

وقالت المعتزلة وجب عليه ذلك لما فيه من مصلحة العباد وهو محال إذ هو الموجب والآمر والناهي وكيف يتهدف لإيجاب أو يتعرض للزوم وخطاب والمراد بالواجب أحد أمرين إما الفعل الذي في تركه ضرر إما آجل كما يقال يجب على العبد أن يطيع الله حتى لا يعذبه في الآخرة بالنار أو ضرر عاجل كما يقال يجب على العطشان أن يشرب حتى لا يموت

Kaum Mu'tazilah berkata: 'Hal itu wajib bagi Allah karena di dalamnya terdapat kemaslahatan bagi para hamba.' Hal tersebut adalah mustahil, karena Dialah Yang Mewajibkan, Yang Memerintah, dan Yang Melarang. Bagaimana mungkin Dia menjadi sasaran kewajiban atau terikat oleh keharusan dan tuntunan? Yang dimaksud dengan 'wajib' adalah salah satu dari dua hal: baik tindakan yang jika ditinggalkan membawa kemudaratan yang bersifat menunda (akhirat)—sebagaimana dikatakan: wajib bagi hamba untuk menaati Allah agar Dia tidak mengazabnya di akhirat dengan neraka—maupun kemudaratan yang bersifat langsung (duniawi)—sebagaimana dikatakan: wajib bagi orang yang haus untuk minum agar ia tidak mati.

وإما أن يراد به الذي يؤدي عدمه إلى محال كما يقال وجود المعلوم واجب إذ عدمه يؤدي إلى محال وهو أن يصير العلم جهلاً فإن أراد الخصم بأن الخلق واجب على الله بالمعنى الأول

Atau yang dimaksud dengannya adalah sesuatu yang ketiadaannya mengakibatkan kemustahilan, sebagaimana dikatakan bahwa keberadaan apa yang diketahui (al-ma'lum) itu wajib, sebab ketiadaannya mengakibatkan kemustahilan, yaitu berubahnya ilmu (pengetahuan) menjadi kebodohan. Maka, jika lawan bicara menghendaki bahwa penciptaan itu wajib atas Allah dalam pengertian yang pertama,

فقد عرضه للضرر وإن أراد به المعنى الثاني فهو مسلم إذ بعد سبق العلم لا بد من وجود المعلوم وإن أراد به معنى ثالثاً فهو غير مفهوم

maka sungguh ia telah menganggap Allah terdedah pada kemudaratan. Namun jika ia menghendaki makna yang kedua, maka hal itu dapat diterima, sebab setelah didahului oleh ilmu Allah, keberadaan al-ma'lum (hal yang diketahui) pasti terjadi. Dan jika ia menghendaki makna yang ketiga, maka hal itu tidak dapat dipahami.

وقوله يجب لمصلحة عباده كلام فاسد فإنه إذا لم يتضرر بترك مصلحة العباد لم يكن للوجوب في حقه معنى

Dan perkataannya bahwa penciptaan itu wajib demi kemaslahatan hamba-hamba-Nya merupakan perkataan yang batil. Sebab, apabila Allah tidak tertimpa kemudaratan dengan meninggalkan kemaslahatan para hamba, maka tidak ada arti bagi kewajiban pada hak-Nya.

ثم إن مصلحة العباد في أن يخلقهم في الجنة فأما أن يخلقهم في دار البلايا ويعرضهم للخطايا ثم يهدفهم لخطر العقاب وهول العرض والحساب فما في ذلك غبطة عند ذوي الألباب

Lagipula, kemaslahatan para hamba sesungguhnya terletak pada penciptaan mereka langsung di dalam surga. Adapun menciptakan mereka di negeri penuh ujian (dunia), membiarkan mereka terdedah pada dosa-dosa, lalu menghadapkan mereka pada risiko siksa serta keharuan hari penampakan amal dan hisab, maka hal demikian sama sekali bukan suatu kebahagiaan menurut orang-orang yang berakal.

الأصل الخامس أنه يجوز على الله سبحانه أن يكلف الخلق ما لا يطيقونه خلافاً للمعتزلة ولو لم يجز ذلك لاستحال سؤال دفعه وقد سألوا ذلك فقالوا ربنا ولا تحملنا ما لا طاقة لنا به ولأن الله تعالى أخبر نبيه ﷺ بأن أبا جهل لا يصدقه ثم أمره بأن يأمره بأن يصدقه في جميع أقواله وكان من جملة أقواله أنه لا يصدقه فكيف يصدقه في أنه لا يصدقه وهل هذا إلا محال وجوده

Prinsip Kelima: Bahwa boleh bagi Allah Subḥānahu untuk membebani (taklif) makhluk dengan apa yang tidak mereka sanggupi, berbeda dengan pendapat kaum Mu'tazilah. Seandainya hal itu tidak boleh, niscaya mustahil memohon untuk menghindarkannya, padahal para hamba telah memohon hal itu dengan berdoa: "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami pikul." Serta karena Allah Ta'ala telah memberitahukan kepada Nabi-Nya ﷺ bahwa Abu Jahal tidak akan membenarkan (beriman pada) beliau, kemudian Allah memerintahkan Nabi untuk memerintahkan Abu Jahal agar membenarkannya dalam segala perkataannya; sedangkan di antara perkataan Nabi adalah bahwa Abu Jahal tidak akan membenarkannya. Lantas bagaimana mungkin Abu Jahal membenarkannya dalam hal bahwa dia tidak akan membenarkannya? Bukankah ini suatu hal yang mustahil keberadaannya?

الأصل السادس أن لله ﷿ إيلام الخلق وتعذيبهم من غير جرم سابق ومن غير ثواب لاحق خلافاً للمعتزلة لأنه متصرف في ملكه ولا يتصور أن يعدو تصرفه ملكه والظلم هو عبارة عن التصرف في ملك الغير بغير إذنه وهو محال على الله تعالى فإنه لا يصادف لغيره ملكاً حتى يكون تصرفه فيه ظلماً ويدل على جواز ذلك وجوده فإن ذبح البهائم إيلام لها وما صب عليها من أنواع العذاب من جهة الآدميين لم يتقدمها جريمة

Prinsip Keenam: Bahwa Allah 'Azza wa Jalla berhak menimbulkan rasa sakit pada makhluk dan mengazab mereka tanpa didahului dosa dan tanpa disusul balasan pahala, berbeda dengan pendapat kaum Mu'tazilah. Sebab Dia bertindak penuh dalam kerajaan-Nya sendiri, dan tidak dapat dibayangkan tindakan-Nya melampaui milik-Nya. Sedangkan kezaliman adalah ungkapan dari tindakan mengelola milik pihak lain tanpa izinnya, dan hal itu mustahil bagi Allah Ta'ala, karena Dia tidak pernah mendapati milik bagi selain-Nya sehingga tindakan-Nya di dalamnya menjadi suatu kezaliman. Keberadaan hal tersebut membuktikan kebolehannya; sebab menyembelih hewan ternak merupakan pemberian rasa sakit padanya, serta berbagai jenis penderitaan yang ditumpahkan oleh manusia kepadanya tidaklah didahului oleh suatu kejahatan atau dosa.

فإن قيل إن الله تعالى يحشرها ويجازيها على قدر ما قاسته من الآلام ويجب ذلك على الله سبحانه فقول من زعم أنه يجب على الله إحياء كل نملة وطئت وكل بقة عركت حتى يثيبها على آلامها فقد خرج عن الشرع والعقل إذ يقال وصف الثواب والحشر بكونه واجباً عليه إن كان المراد به أن يتضرر بتركه فهو محال وإن أريد به غيره فقد سبق أنه غير مفهوم إذ خرج عن المعاني المذكورة للواجب

Jika dikatakan: Sesungguhnya Allah Ta'ala akan menghimpun hewan-hewan tersebut dan membalasnya sepadan dengan rasa sakit yang mereka derita, dan hal itu wajib atas Allah Subḥānahu; maka pendapat orang yang mengklaim bahwa wajib atas Allah menghidupkan kembali setiap semut yang terinjak dan setiap pijat yang dipencet agar Dia memberi pahala atas rasa sakitnya, sungguh telah keluar dari syariat dan akal. Sebab dikatakan: penyifatan pahala dan pengumpulan (himpunan) sebagai hal yang wajib atas Allah, jika yang dimaksud adalah bahwa Allah akan tertimpa mudarat jika meninggalkannya, maka itu mustahil; dan jika yang dimaksud adalah selain itu, maka telah dijelaskan sebelumnya bahwa hal tersebut tidak dapat dipahami karena keluar dari makna-makna "wajib" yang telah disebutkan.

الأصل السابع أنه تعالى يفعل بعباده ما يشاء فلا يجب عليه رعاية الأصلح لعباده لما ذكرناه من أنه لا يجب عليه سبحانه شيء بل لا يعقل في حقه الوجوب فإنه لا يسأل عما يفعل وهم يسألون وليت شعري بما يجيب المعتزلي في قوله إن الأصلح واجب عليه في مسألة نعرضها عليه وهو أن يفرض مناظرة في الآخرة بين صبي وبين بالغ ماتا مسلمين فإن الله سبحانه يزيد في درجات البالغ ويفضله على الصبي لأنه تعب بالإيمان والطاعات بعد البلوغ ويجب عليه ذلك عند المعتزلي فلو قال الصبي يا رب لم رفعت منزلته علي فيقول لأنه بلغ واجتهد في الطاعات ويقول الصبي أنت أمتني في الصبا فكان يجب عليك أن تديم حياتي حتى أبلغ فأجتهد فقد عدلت عن العدل في التفضل عليه بطول العمر له دوني فلم فضلته فيقول الله تعالى لأني علمت أنك لو بلغت لأشركت أو عصيت فكان الأصلح لك الموت في الصبا هذا عذر المعتزلي عن الله ﷿ وعند هذا ينادى الكفار من دركات لظى ويقولون يا رب أما علمت أننا إذا بلغنا أشركنا فهلا أمتنا في الصبا فإنا رضينا بما دون منزلة الصبي المسلم فبماذا يجاب عن ذلك وهل يجب عند هذا إلا القطع بأن الأمور الإلهية تتعالى بحكم الجلال عن أن توزن بميزان أهل الاعتزال

Prinsip Ketujuh: Bahwa Allah Ta'ala berbuat pada hamba-hamba-Nya sekehendak-Nya, maka tidak wajib atas-Nya menjaga hal yang paling maslahat (al-aslah) bagi para hamba-Nya, berdasarkan apa yang telah kami sebutkan bahwa tidak ada sesuatu pun yang wajib atas Allah Subḥānahu, bahkan konsep kewajiban tidak masuk akal pada hak-Nya, karena "Dia tidak ditanya tentang apa yang Dia perbuat, melainkan merekalah yang akan ditanya." Duhai, dengan apakah orang Mu'tazilah akan menjawab perkataannya bahwa "yang paling maslahat itu wajib atas Allah" dalam sebuah masalah yang kami ajukan kepadanya? Yaitu diandaikan adanya perdebatan di akhirat antara seorang anak kecil dan seorang dewasa yang keduanya mati dalam keadaan muslim. Allah Subḥānahu menaikkan derajat orang dewasa tersebut dan mengutamakannya atas si anak kecil karena ia telah bersusah payah dalam keimanan dan ketaatan setelah balig, dan hal itu wajib dilakukan oleh Allah menurut kaum Mu'tazilah. Maka jika si anak kecil berkata: "Wahai Tuhanku, mengapa Engkau tinggikan derajatnya di atas derajatku?" Allah berfirman: "Karena dia mencapai usia balig dan bersungguh-sungguh dalam ketaatan." Si anak kecil berkata: "Engkau yang mematikan aku pada masa kanak-kanak, padahal seharusnya Engkau melanjutkan hidupku hingga aku balig lalu bersungguh-sungguh; sungguh Engkau telah berpaling dari keadilan dalam memberikan karunia berupa umur panjang kepadanya, bukan kepadaku. Mengapa Engkau mengutamakannya?" Maka Allah Ta'ala berfirman: "Karena Aku tahu seandainya engkau mencapai usia balig niscaya engkau mempersekutukan-Ku atau berbuat maksiat, maka yang paling maslahat bagimu adalah mati di masa kanak-kanak." Ini adalah dalih kaum Mu'tazilah atas nama Allah 'Azza wa Jalla. Ketika itu, menyerulah orang-orang kafir dari kerak neraka Laza seraya berkata: "Wahai Tuhan kami, bukankah Engkau mengetahui bahwa jika kami balig kami akan mempersekutukan-Mu, lantas mengapa Engkau tidak mematikan kami sewaktu kecil? Sungguh kami ridha dengan derajat di bawah derajat anak kecil yang muslim." Maka dengan apakah hal ini akan dijawab? Dan bukankah dalam hal ini tidak ada pilihan selain meyakini secara pasti bahwa urusan-urusan ketuhanan itu maha luhur dengan keagungan-Nya dari ditimbang dengan timbangan kaum Mu'tazilah?

فإن قيل مهما قدر على رعاية الأصلح للعباد ثم سلط عليهم أسباب العذاب كان ذلك قبحاً لا يليق بالحكمة قلنا القبح ما لا يوافق الغرض حتى إنه قد يكون الشيء قبيحاً عند شخص حسناً عند غيره إذا وافق غرض أحدهما دون الآخر حتى يستقبح قتل الشخص أولياؤه ويستحسنه أعداؤه

Jika dikatakan: "Apabila Allah mampu menjaga yang paling maslahat bagi para hamba lalu Dia justru menguasakan atas mereka sebab-sebab azab, maka hal itu adalah suatu keburukan yang tidak layak bagi hikmah." Kami jawab: Keburukan adalah apa yang tidak sesuai dengan tujuan (garadh), sehingga suatu hal bisa jadi buruk menurut seseorang namun baik menurut orang lain jika sesuai dengan tujuan salah satu dari mereka dan bukan yang lain; hingga pembunuhan seseorang dianggap buruk oleh para walinya (keluarganya), namun dianggap baik oleh musuh-musuhnya.

فإن أريد بالقبيح ما لا يوافق غرض الباري سبحانه فهو محال إذ لا غرض له فلا يتصور منه قبح كما لا يتصور منه ظلم إذ لا يتصور منه التصرف في ملك الغير

Maka jika yang dimaksud dengan "buruk" adalah apa yang tidak sesuai dengan tujuan Sang Pencipta Subḥānahu, maka hal itu mustahil sebab Dia tidak memiliki tujuan, sehingga tidak dapat dibayangkan timbulnya keburukan dari-Nya, sebagaimana tidak dapat dibayangkan timbulnya kezaliman dari-Nya karena tidak dapat dibayangkan tindakan-Nya mengelola milik pihak lain.

وإن أريد بالقبيح ما لا يوافق غرض الغير فلم قلتم إن ذلك عليه محال وهل هذا إلا مجرد تشه يشهد بخلافه ما قد فرضناه من مخاصمة أهل النار ثم الحكيم معناه العالم بحقائق الأشياء القادر على إحكام فعلها على وفق إرادته وهذا من أين يوجب رعاية

Dan jika yang dimaksud dengan "buruk" adalah apa yang tidak sesuai dengan tujuan selain-Nya, maka atas dasar apa kalian mengatakan bahwa hal itu mustahil bagi-Nya? Bukankah ini sekadar pengikutan hawa nafsu yang dipersaksikan kebalikannya oleh apa yang telah kami andaikan berupa perdebatan penghuni neraka? Kemudian, "Maha Bijaksana" (Al-Hakim) itu maknanya adalah Yang Maha Mengetahui hakikat segala sesuatu lagi Maha Kuasa untuk mengukuhkan perbuatan-Nya sesuai dengan kehendak-Nya; lantas dari mana hal ini mewajibkan pemeliharaan…

الأصلح وأما الحكيم منا يراعي الأصلح نظراً لنفسه ليستفيد به في الدنيا ثناء وفي الآخرة ثواباً أو يدفع به عن نفسه آفة

terhadap yang paling maslahat (al-aslah)? Adapun orang yang bijaksana di antara kita, ia menjaga yang paling maslahat demi mempertimbangkan dirinya sendiri, agar dengannya ia memperoleh pujian di dunia dan pahala di akhirat, atau untuk menolak bahaya dari dirinya sendiri.

وكل ذلك محال على الله ﷾

Dan semua hal itu adalah mustahil atas Allah 'Azza wa Jalla.

الأصل الثامن أن معرفة الله سبحانه وطاعته واجبة بإيجاب الله تعالى وشرعه لا بالعقل خلافاً للمعتزلة لأن العقل وإن أوجب الطاعة فلا يخلو إما أن يوجبها لغير فائدة وهو محال فإن العقل لا يوجب العبث وإما أن يوجبها لفائدة وغرض وذلك لا يخلو إما أن يرجع إلى المعبود وذلك محال في حقه تعالى فإنه يتقدس عن الأغراض والفوائد بل الكفر والإيمان والطاعة والعصيان في حقه تعالى سيان وإما أن يرجع ذلك إلى عرض العبد وهو أيضاً محال لأنه لا غرض له في الحال بل يتعب به وينصرف عن الشهوات لسببه وليس في المآل إلا الثواب والعقاب

Prinsip Kedelapan: Bahwa ma'rifat (mengenal) Allah Subḥānahu dan taat kepada-Nya adalah wajib berdasarkan ketetapan Allah Ta'ala dan syariat-Nya, bukan berdasarkan akal, berbeda dengan pendapat kaum Mu'tazilah. Sebab akal, sekiranya ia mewajibkan ketaatan, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: adakalanya ia mewajibkannya tanpa faedah, dan itu mustahil karena akal tidak mewajibkan hal yang sia-sia; atau ia mewajibkannya demi suatu faedah dan tujuan. Hal itu pun tidak lepas dari kemungkinan: adakalanya kembali kepada Sang Sembahan, dan itu mustahil pada hak Allah Ta'ala karena Dia Maha Suci dari tujuan-tujuan dan faedah-faedah, bahkan kekufuran dan keimanan serta ketaatan dan kemaksiatan di sisi Allah Ta'ala adalah sama saja; atau adakalanya kembali kepada kepentingan hamba, dan itu pun mustahil karena si hamba tidak memiliki kepentingan di masa kini (dunia), bahkan ia justru merasa lelah dengannya dan berpaling dari syahwat karenanya, sementara di masa depan (akhirat) tidak ada selain pahala dan siksa.

ومن أين يعلم أن الله تعالى يثيب على المعصية والطاعة ولا يعاقب عليهما مع أن الطاعة والمعصية في حقه يتساويان إذ ليس له إلى أحدهما ميل ولا به لأحدهما اختصاص وإنما عرف تمييز ذلك بالشرع ولقد زل من أخذ هذا من المقايسة بين الخالق والمخلوق حيث يفرق بين الشكر والكفران لما له من الارتياح والاهتزاز والتلذذ بأحدهما دون الآخر

Lantas dari mana dapat diketahui bahwa Allah Ta'ala memberi pahala atas ketaatan dan kemaksiatan serta tidak mengazab atas keduanya, padahal ketaatan dan kemaksiatan pada hak-Nya adalah sama saja, karena Dia tidak memiliki kecenderungan pada salah satunya dan tidak pula pengkhususan pada salah satunya? Penentuan perbedaan hal itu hanya diketahui melalui syariat. Dan sungguh telah tergelincir orang yang mengambil hal ini dari pengiasan (analogi) antara Sang Pencipta dan makhluk, di mana makhluk membedakan antara rasa syukur dan ingkar karena adanya perasaan senang, terpesona, dan kenikmatan pada salah satunya dan bukan pada yang lain.

فإن قيل فإذا لم يجب النظر والمعرفة إلا بالشرع والشرع لا يستقر ما لم ينظر المكلف فيه فإذا قال المكلف للنبي إن العقل ليس يوجب على النظر والشرع لا يثبت عندي إلا بالنظر ولست أقدم على النظر أدى ذلك إلى إفحام الرسول ﷺ قلنا هذا يضاهي قول القائل للواقف في موضع من المواضع إن وراءك سبعاً ضارياً فإن لم تبرح عن المكان قتلك وإن التفت وراءك ونظرت عرفت صدقي فيقول الواقف لا يثبت صدقك ما لم ألتفت ورائي ولا ألتفت ورائي ولا أنظر ما لم يثبت صدقك فيدل هذا على حماقة هذا القائل وتهدفه للهلاك ولا ضرر فيه على الهادي المرشد فكذلك النبي ﷺ يقول إن وراءكم الموت ودونه السباع الضارية والنيران المحرقة إن لم تأخذوا منها حذركم وتعرفوا لي صدقي بالالتفات إلى معجزتي وإلا هلكتم فمن التفت عرف واحترز ونجا ومن لم يلتفت وأصر هلك وتردى ولا ضرر على إن هلك الناس كلهم أجمعون وإنما على البلاغ المبين فالشرع يعرف وجود السباع الضارية بعد الموت والعقل يفيد فهم كلامه والإحاطة بإمكان ما يقوله في المستقبل

Jika dikatakan: "Jika penalaran (al-nazhar) dan ma'rifat tidak wajib kecuali berdasarkan syariat, sedangkan syariat belum kukuh selama mukalaf belum melakukan penalaran padanya, maka apabila seorang mukalaf berkata kepada Nabi: 'Akal tidak mewajibkan aku melakukan penalaran, sedangkan syariat belum terbukti di sisiku kecuali melalui penalaran, dan aku tidak akan memulai penalaran', maka hal itu akan mengakibatkan terbungkamnya Rasul ﷺ." Kami jawab: Ini menyerupai perkataan seseorang kepada orang yang berdiri di suatu tempat: "Di belakangmu ada binatang buas yang ganas; jika engkau tidak beranjak dari tempat itu ia akan membunuhmu, dan jika engkau menoleh ke belakang serta melihat, engkau akan mengetahui kebenaranku." Lalu orang yang berdiri itu berkata: "Kebenaranmu belum terbukti selama aku belum menoleh ke belakang, dan aku tidak akan menoleh ke belakang serta tidak akan melihat selama kebenaranmu belum terbukti." Hal ini menunjukkan kebodohan orang yang berkata demikian dan tindakannya yang menyongsong kebinasaan, tanpa ada mudarat sedikit pun bagi sang petunjuk/pembimbing. Demikian pula Nabi ﷺ bersabda: "Di belakang kalian ada kematian, dan sebelum itu ada binatang-binatang buas yang ganas serta api yang membakar jika kalian tidak berhati-hati darinya dan tidak mengenali kebenaranku dengan menoleh kepada mukjizatku, niscaya kalian binasa." Maka barang siapa yang menoleh, ia akan mengetahui, berhati-hati, dan selamat; sedangkan barang siapa yang tidak menoleh dan tetap membangkang, ia akan binasa dan jatuh ke dalam kehancuran. Dan tidak ada mudarat atas Nabi sekiranya seluruh manusia binasa semuanya, sebab kewajibannya hanyalah menyampaikan risalah secara jelas. Maka syariat memberitahukan keberadaan binatang-binatang buas yang ganas setelah kematian, sedangkan akal berguna untuk memahami perkataannya dan mencakup kemungkinan terjadinya apa yang beliau katakan di masa depan.

والطبع يستحث على الحذر من الضرر ومعنى كون الشيء واجباً أن في تركه ضرراً ومعنى كون الشرع موجباً أنه معرف للضرر المتوقع فإن العقل لا يهدي إلى التهدف للضرر بعد الموت عند اتباع الشهوات فهذا معنى الشرع والعقل وتأثيرهما في تقدير الواجب ولولا خوف العقاب على ترك ما أمر به لم يكن الوجوب ثابتاً إذ لا معنى للواجب إلا ما يرتبط بتركه ضرر في الآخرة

Sedangkan tabiat (fitrah) mendorong untuk berhati-hati dari kemudaratan. Makna sesuatu itu "wajib" adalah bahwa dalam meninggalkannya terdapat kemudaratan, dan makna bahwa syariat itu "mewajibkan" adalah bahwa syariat memberitahukan kemudaratan yang diantisipasi. Sebab, akal tidak dapat memberi petunjuk akan terjerumusnya seseorang pada kemudaratan setelah kematian tatkala memperturutkan syahwat. Maka inilah makna syariat dan akal serta pengaruh keduanya dalam menentukan hal yang wajib. Seandainya bukan karena rasa takut akan siksa atas penelantaran apa yang diperintahkan, niscaya kewajiban itu tidak akan tetap (berlaku), sebab tidak ada arti bagi "wajib" melainkan sesuatu yang jika ditinggalkan terikat dengan kemudaratan di akhirat.

الأصل التاسع أنه ليس يستحيل بعثه الأنبياء ﵈ خلافاً للبراهمة حيث قالوا لا فائدة في بعثتهم إذ في العقل مندوحة عنهم لأن العقل لا يهدي إلى الأفعال المنجية في الآخرة كما لا يهدي إلى الأدوية المفيدة للصحة فحاجة الخلق إلى الأنبياء كحاجتهم إلى الأطباء ولكن يعرف صدق الطبيب بالتجربة ويعرف صدق النبي بالمعجزة

Prinsip Kesembilan: Bahwa mengutus para nabi 'Alaihimussalām bukanlah hal yang mustahil, berbeda dengan pendapat kaum Brahmana ketika mereka mengatakan bahwa tidak ada faedah dalam pengutusan mereka, sebab akal sudah cukup tanpa mereka. Hal itu karena akal tidak dapat memberi petunjuk kepada amal-amal yang menyelamatkan di akhirat, sebagaimana akal tidak dapat memberi petunjuk kepada obat-obatan yang berguna bagi kesehatan. Maka kebutuhan manusia kepada para nabi adalah seperti kebutuhan mereka kepada para dokter; namun kebenaran dokter diketahui melalui pengalaman, sedangkan kebenaran nabi diketahui melalui mukjizat.

الأصل العاشر أن الله سبحانه قد أرسل محمداً ﷺ خاتماً للنبيين وناسخاً لما قبله من شرائع اليهود والنصارى والصابئين وأيده بالمعجزات الظاهرة والآيات الباهرة كانشقاق القمر وتسبيح الحصى وإنطاق العجماء وما تفجر من بين أصابعه من الماء

Prinsip Kesepuluh: Bahwa Allah Subḥānahu telah mengutus Nabi Muhammad ﷺ sebagai penutup para nabi dan penghapus syariat-syariat sebelumnya dari kaum Yahudi, Nasrani, dan Shabi'in; serta menguatkannya dengan mukjizat-mukjizat yang nyata dan tanda-tanda yang cemerlang, seperti terbelahnya bulan, bertasbihnya batu-batu kerikil, bertuturnya hewan ternak, dan memancarnya air dari celah-celah jemarinya.

ومن آياته الظاهرة التي تحدى بها مع كافة العرب القرآن العظيم

Dan di antara tanda-tanda (mukjizat)-Nya yang nyata yang dengannya beliau menantang seluruh bangsa Arab adalah Al-Qur'an yang Agung.

فإنهم مع تمييزهم بالفصاحة والبلاغة تهدفوا لسبه ونهيه وقتله وإخراجه كما أخبر الله ﷿ عنهم ولم يقدروا على معارضته بمثل القرآن إذ لم يكن في قدرة البشر الجمع بين جزالة القرآن ونظمه هذا مع ما فيه من أخبار الأولين مع كونه أمياً غير ممارس للكتب والإنباء عن الغيب في أمور تحقق صدقه فيها في الاستقبال كقوله تعالى لتدخلن المسجد الحرام إن شاء الله آمنين محلقين رؤوسكم ومقصرين وكقوله ألم غلبت الروم في أدنى الأرض وهم من بعد غلبهم سيغلبون في بضع سنين ووجه دلالة المعجزة على صدق الرسل أن كل ما عجز عنه البشر لم يكن إلا فعلاً لله تعالى

Meskipun mereka memiliki keistimewaan dalam kefasihan (fasahat) dan keindahan bahasa (balagah), mereka meletakkan sasaran untuk mencaci, melarang, membunuh, dan mengusirnya, sebagaimana yang diberitahukan Allah Azza wa Jalla tentang mereka. Namun mereka tidak mampu untuk menandinginya dengan yang serupa dengan Al-Qur'an, sebab tidak ada dalam kemampuan manusia untuk memadukan antara keindahan lafaz Al-Qur'an dan keserasian susunannya. Hal ini disertai pula dengan apa yang terkandung di dalamnya berupa berita-berita umat terdahulu—padahal beliau seorang yang ummi (tidak bisa membaca dan menulis) yang tidak pernah mempelajari kitab-kitab—serta pemberitahuan tentang hal-hal gaib dalam urusan-urusan yang kebenarannya terbukti di masa mendatang. Seperti firman Allah Ta'ala: "Sungguh kamu pasti akan memasuki Masjidilharam, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan memendekkannya…" serta firman-Nya: "Alif Lam Mim. Telah dikalahkan bangsa Rumawi, di negeri yang terdekat dan mereka setelah kekalahannya itu akan menang, dalam beberapa tahun lagi…" Dan segi penunjukan mukjizat atas kebenaran para rasul adalah bahwa setiap apa yang tidak mampu dilakukan oleh manusia, tidak lain merupakan perbuatan Allah Ta'ala semata.

فمهما كان مقروناً بتحدي النبي ﷺ ينزل منزلة قوله صدقت وذلك مثل القائل بين يدي ٢ الملك المدعي على رعيته أنه رسول الملك إليهم فإنه مهما قال لذلك إن كنت صادقاً فقم على سريرك ثلاثاً واقعد على خلاف عادتك ففعل الملك ذلك حصل للحاضرين علم ضروري بأن ذلك نازل منزلة قوله صدقت الركن الرابع في السمعيات وتصديقه ﷺ فيما أخبر عنه ومداره على عشرة أصول

Maka kapan pun hal itu disertai dengan tantangan (tahaddi) Nabi ﷺ, hal itu menempati kedudukan firman-Nya: "Engkau benar." Hal itu bagaikan seorang yang berkata di hadapan raja, yang mengaku kepada rakyatnya bahwa ia adalah utusan raja kepada mereka. Lalu ia berkata kepada raja tersebut: "Jika engkau membenarkan aku, maka berdirilah di atas singgasanamu tiga kali dan duduklah tidak seperti kebiasaanmu." Apabila raja melakukan hal itu, maka timbullah pengetahuan yang dharuri (pasti) bagi orang-orang yang hadir bahwa perbuatan raja itu menempati kedudukan ucapannya: "Engkau benar." Rukun Keempat: Mengenai As-Sam'iyyat (hal-hal yang diterima melalui pendengaran wahyu) dan membenarkan beliau ﷺ dalam apa yang beliau beritahukan, dan porosnya berputar pada sepuluh pokok.

الأصل الأول الحشر والنشر وقد ورد بهما الشرع وهو حق والتصديق بهما واجب لأنه في العقل ممكن ومعناه الإعادة بعد الإفناء وذلك مقدور لله تعالى كابتداء الإنشاء قال الله تعالى قال من يحيي العظام وهي رميم قل يحييها الذي أنشأها أول مرة فاستدل بالابتداء على الإعادة وقال ﷿ ما خلقكم ولا بعثكم إلا كنفس واحدة والإعادة ابتداء ثان فهو ممكن كالابتداء الأول

Pokok Pertama: Al-Hasyr (Pengumpulan) dan An-Nasyr (Pembangkitan). Syariat telah menjelaskan keduanya dan hal itu adalah haq (benar), serta membenarkannya adalah wajib karena secara akal itu adalah hal yang mungkin (ja'iz). Maknanya adalah pengembalian penciptaan setelah pemusnahan, dan hal itu berada dalam kekuasaan Allah Ta'ala sebagaimana penciptaan pertama kali. Allah Ta'ala berfirman: "Dia berkata: 'Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belalang yang telah hancur luluh?' Katakanlah: 'Yang akan menghidupkannya ialah Tuhan yang menciptakannya pertama kali.'" Maka Allah berdalil dengan penciptaan awal atas pengembalian penciptaan. Dan Allah Azza wa Jalla berfirman: "Penciptaan dan pembangkitan kamu (bagi Allah) hanyalah seperti (penciptaan dan pembangkitan) satu jiwa saja." Pengembalian ciptaan adalah penciptaan kedua, maka ia mungkin sebagaimana penciptaan yang pertama.

الأصل الثاني سؤال منكر ونكير وقد وردت به الأخبار فيجب التصديق به لأنه ممكن إذ ليس يستدعي إلا إعادة الحياة إلى جزء من الأجزاء الذي به فهم الخطاب وذلك ممكن في نفسه ولا يدفع ذلك ما يشاهد من سكون أجزاء الميت وعدم سماعنا للسؤال له فإن النائم ساكن بظاهره ويدرك بباطنه من الآلام واللذات ما يحس بتأثيره عند التنبه وَقَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يسمع كلام جبريل ﵇ ويشاهده ومن حوله لا يسمعونه ولا يرونه ولا يحيطون بشيء من علمه إلا بما شاء فإذا لم يخلق لهم السمع والرؤية لم يدركوه

Pokok Kedua: Pertanyaan Munkar dan Nakir. Riwayat-riwayat telah menceritakannya, maka wajib membenarkannya karena hal itu mungkin terjadi. Sebab, hal itu tidak menuntut melainkan pengembalian kehidupan pada sebagian anggota tubuh yang dengannya terdapat pemahaman terhadap pembicaraan (khitab), dan hal itu secara zatnya adalah mungkin. Apa yang disaksikan berupa diamnya anggota tubuh mayit dan ketidakterdengaran kita terhadap pertanyaan kepadanya tidaklah menolak kemungkinan tersebut. Sebab orang yang tidur terlihat tenang secara lahiriah, namun ia merasakan berbagai rasa sakit dan kenikmatan dalam batinnya yang bekas pengaruhnya terasa ketika ia bangun. Rasulullah ﷺ pernah mendengar perkataan Jibril 'alaihissalam dan melihatnya, sementara orang-orang di sekeliling beliau tidak mendengar dan tidak melihatnya, serta tidak mengetahui sedikit pun dari ilmunya melainkan apa yang Dia kehendaki. Jika Allah tidak menciptakan pendengaran dan penglihatan bagi mereka, maka mereka tidak akan dapat mempersepsikannya.

الأصل الثالث عذاب القبر وقد ورد الشرع به قال الله تعالى النار يعرضون عليها غدواً وعشياً ويوم تقوم الساعة أدخلوا آل فرعون أشد العذاب واشتهر عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ والسلف الصالح الاستعاذة من عذاب القبر وهو ممكن فيجب التصديق به ولا يمنع من التصديق به تفرق أجزاء الميت في بطون السباع وحواصل الطيور فإن المدرك لألم العذاب من الحيوان أجزاء مخصوصة يقدر الله تعالى على إعادة الإدراك إليها

Pokok Ketiga: Azab kubur. Syariat telah menetapkannya. Allah Ta'ala berfirman: "Kepada mereka diperlihatkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat (dikatakan kepada malaikat): 'Masukkanlah Firaun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras.'" Diriwayatkan secara masyhur dari Rasulullah ﷺ dan para Salaf yang saleh mengenai permohonan perlindungan dari azab kubur. Hal ini mungkin terjadi secara akal, maka wajib membenarkannya. Terpecah-belahnya bagian-bagian tubuh mayit di dalam perut binatang buas dan tembolok burung tidak menghalangi untuk membenarkannya, karena bagian makhluk hidup yang merasakan pedihnya azab adalah bagian-bagian tertentu saja yang Allah Ta'ala kuasa untuk mengembalikan kemampuan merasa (persepsi) kepadanya.

الأصل الرابع الميزان وهو حق قَالَ اللَّهُ تَعَالَى وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ القيامة وقال تعالى فمن ثقلت موازينه فأولئك هم المفلحون ومن خفت موازينه الآية ووجهها أن الله تعالى يحدث في صحائف الأعمال وزناً بحسب درجات الأعمال عند الله تعالى فتصير مقادير أعمال العباد معلومة

Pokok Keempat: Al-Mizan (Timbangan), dan ia adalah haq (benar). Allah Ta'ala berfirman: "Kami akan memasang timbangan-timbangan yang adil pada hari Kiamat…" Dan Allah Ta'ala berfirman: "Barang siapa yang berat timbangan (kebaikan)-nya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barang siapa yang ringan timbangan (kebaikan)-nya…" hingga akhir ayat. Adapun bentuk penjelasannya adalah bahwa Allah Ta'ala menciptakan bobot pada lembaran-lembaran catatan amal sesuai dengan derajat amalan tersebut di sisi Allah Ta'ala, sehingga kadar amalan para hamba menjadi diketahui…

للعباد حتى يظهر لهم العدل في العقاب أو الفضل في العفو وتضعيف الثواب

…oleh para hamba, hingga tampak jelas bagi mereka keadilan dalam siksaan, atau karunia dalam pengampunan dan pelipatgandaan pahala.

الأصل الخامس الصراط وهو جسر ممدود على متن جهنم أرق من الشعرة وأحد من السيف قال الله تعالى فاهدوهم إلى صراط الجحيم وقفوهم إنهم مسئولون وهذا ممكن فيجب التصديق به فإن القادر على أن يطير الطير في الهواء قادر على أن يسير الإنسان على الصراط

Pokok Kelima: As-Shirath (jembatan), yaitu jembatan yang terbentang di atas punggung neraka Jahannam, lebih halus dari sehelai rambut dan lebih tajam dari pedang. Allah Ta'ala berfirman: "Maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka Jahim. Dan tahanlah mereka (di tempat penghentian) karena sesungguhnya mereka akan ditanya." Ini adalah hal yang mungkin terjadi, maka wajib membenarkannya. Sebab Zat Yang Mahakuasa menerbangkan burung di udara Mahakuasa pula untuk menjalankan manusia di atas Shirath.

الأصل السادس أن الجنة والنار مخلوقتان قَالَ اللَّهُ تَعَالَى وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ ربكم وجنة عرضها السموات والأرض أعدت للمتقين فقوله تعالى أعدت دليل على أنها مخلوقة فيجب إجراؤه على الظاهر إذ لا استحالة فيه ولا يقال لا فائدة في خلقهما قبل يوم الجزاء لأن الله تعالى لا يسأل عما يفعل وهم يسألون

Pokok Keenam: Bahwa Surga dan Neraka telah diciptakan. Allah Ta'ala berfirman: "Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa." Maka firman-Nya Ta'ala "disediakan" (u'iddat) merupakan dalil bahwa surga itu telah diciptakan. Maka wajib memahaminya sesuai makna lahiriahnya karena tidak ada kemustahilan padanya. Dan tidak boleh dikatakan: "Tidak ada faedahnya menciptakan keduanya sebelum Hari Pembalasan," karena Allah Ta'ala tidak ditanya tentang apa yang Dia perbuat, melainkan merekalah yang akan ditanya.

الأصل السابع أن الإمام الحق بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ أبو بكر ثم عمر ثم عثمان ثم علي ﵃ ولم يكن نص رسول الله ﷺ على إمام أصلاً إذ لو كان لكان أولى بالظهور من نصبه آحاد الولاة والأمراء على الجنود في البلاد ولم يخف ذلك فكيف خفي هذا وإن ظهر فكيف اندرس حتى لم ينقل إلينا فلم يكن أبو بكر إماماً إلا بالاختيار والبيعة وأما تقدير النص على غيره فهو نسبة للصحابة كلهم إلى مخالفة رسول الله ﷺ وخرق الإجماع وذلك مما لا يستجرىء على اختراعه إلا الروافض واعتاد أهل السنة تزكية جميع الصحابة والثناء عليهم كما أثنى الله ﷾ ورسوله ﷺ

Pokok Ketujuh: Bahwa Imam (pemimpin) yang hak setelah Rasulullah ﷺ adalah Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman, kemudian Ali radhiyallahu 'anhum. Tidak ada nash (ketetapan eksplisit) sama sekali dari Rasulullah ﷺ tentang seorang imam tertentu. Sebab jika ada, tentulah itu lebih layak untuk tampak jelas daripada pengangkatan individu-individu wali dan amir pasukan di berbagai wilayah, yang mana hal itu tidak tersembunyi. Lalu bagaimana mungkin yang ini tersembunyi? Dan jika itu tampak, bagaimana bisa hilang terhapus hingga tidak sampai kepada kita? Maka Abu Bakar tidaklah menjadi imam melainkan melalui ikhtiyar (pemilihan) dan ikrar baiat. Adapun mengandaikan adanya nash untuk selain beliau, itu merupakan penisbatan kepada seluruh sahabat bahwa mereka menyelisahi Rasulullah ﷺ dan merusak ijma' (kesepakatan). Hal demikian tidak ada yang berani merekayasanya kecuali kaum Rafidhah. Sedangkan Ahlus Sunnah terbiasa mensucikan (menyebut kebaikan) seluruh sahabat dan memuji mereka sebagaimana Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya ﷺ memuji mereka.

وما جرى بين معاوية وعلي ﵄ كان مبنياً على الاجتهاد لا منازعة من معاوية في الإمامة إذ ظن علي ﵁ أن تسليم قتلة عثمان مع كثرة عشائرهم واختلاطهم بالعسكر يؤدي إلى اضطراب أمر الإمامة في بدايتها فرأى التأخير أصوب وظن معاوية أن تأخير أمرهم مع عظم جنايتهم يوجب الإغراء بالأئمة ويعرض الدماء للسفك

Dan apa yang terjadi antara Mu'awiyah dan Ali radhiyallahu 'anhuma adalah berlandaskan pada ijtihad, bukan karena penentangan Mu'awiyah terhadap kekhalifahan/keimaman. Sebab Ali radhiyallahu 'anhu berpandangan bahwa menyerahkan para pembunuh Utsman—di tengah banyaknya suku mereka dan terbaurnya mereka dengan pasukan—akan menyebabkan kekacauan urusan keimaman di permulaannya, sehingga beliau memandang penundaan adalah hal yang lebih tepat. Sementara Mu'awiyah berpandangan bahwa menunda urusan mereka di samping besarnya kejahatan mereka akan memicu keberanian untuk melawan para imam dan mengancam pertumpahan darah.

وقد قال أفاضل العلماء كل مجتهد مصيب

Para ulama terkemuka telah berkata: "Setiap mujtahid adalah benar."

وقال قائلون المصيب واحد ولم يذهب إلى تخطئة على ذو تحصيل أصلاً

Dan ulama lainnya berpendapat: "Yang benar hanya satu," namun tidak ada seorang pun berilmu yang menyalahkan Ali sama sekali.

الأصل الثامن أن فضل الصحابة ﵃ على ترتيبهم في الخلافة إذ حقيقة الفضل ما هو فضل عند الله ﷿ وذلك لا يطلع عليه إلا رسول الله ﷺ

Pokok Kedelapan: Bahwa keutamaan para sahabat radhiyallahu 'anhum berurut sesuai urutan kekhalifahan mereka. Sebab hakikat keutamaan adalah apa yang bernilai utama di sisi Allah Azza wa Jalla, dan hal itu tidak ada yang mengetahuinya melainkan Rasulullah ﷺ.

وقد ورد في الثناء على جميعهم آيات وأخبار كثيرة وإنما يدرك دقائق الفضل والترتيب فيه المشاهدون للوحي والتنزيل بقرائن الأحوال ودقائق التفصيل فلولا فهمهم ذلك لما رتبوا الأمر كذلك إذ كانوا لا تأخذهم في الله لومة لائم ولا يصرفهم عن الحق صارف

Telah terdapat banyak ayat dan riwayat yang memuji mereka semua. Kelembutan keutamaan dan urutan di dalamnya hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang menyaksikan turunnya wahyu dan Al-Qur'an melalui indikasi-indikasi keadaan dan rincian yang mendalam. Seandainya bukan karena pemahaman mereka tentang hal itu, tentu mereka tidak akan mengurutkan urusan kekhalifahan seperti itu, sebab mereka adalah orang-orang yang tidak takut kepada celaan orang yang mencela demi membela Allah, dan tidak ada yang dapat memalingkan mereka dari kebenaran.

الأصل التاسع أن شرائط الإمامة بعد الإسلام والتكليف خمسة الذكورة والورع والعلم والكفاية ونسبة قريش لقوله ﷺ الأئمة من قريش وإذا اجتمع عدد من الموصوفين بهذه الصفات فالإمام من انعقدت له البيعة من أكثر الخلق والمخالف للأكثر باغ يجب رده إلى الانقياد إلى الحق

Pokok Kesembilan: Bahwa syarat-syarat kepemimpinan (imamah) setelah Islam dan mukallaf ada lima: laki-laki, wara' (kesalehan), ilmu, kecukupan/kemampuan (kifayah), dan nasab Quraisy berdasarkan sabda Nabi ﷺ: "Para imam itu dari kaum Quraisy." Apabila berkumpul sejumlah orang yang memiliki sifat-sifat ini, maka imam yang sah adalah orang yang baiatnya disepakati oleh mayoritas manusia. Dan orang yang menyelisahi mayoritas adalah pembangkang (bughat) yang wajib dikembalikan agar tunduk kepada kebenaran.

الأصل العاشر أنه لو تعذر وجود الورع والعلم فيمن يتصدى للإمامة وكان في صرفه إثارة فتنة لا تطاق حكمنا بانعقاد إمامته لأنا بين أن نحرك فتنة بالاستبدال فما يلقى المسلمون فيه من الضرر يزيد على ما يفوتهم من نقصان هذه الشروط التي أثبتت لمزية المصلحة فلا يهدم أصل المصلحة شغفاً بمزاياها كالذي يبني قصراً ويهدم مصراً وبين أن نحكم بخلو البلاد عن الإمام وبفساد الأقضية وذلك محال

Pokok Kesepuluh: Bahwa seandainya sulit/mustahil menemukan wara' dan ilmu pada diri orang yang mengemban kepemimpinan, dan jika mencopotnya akan memicu fitnah yang tak tertanggungkan, maka kita menetapkan keabsahan keimamannya. Karena kita dihadapkan pada dua pilihan: merangsang timbulnya fitnah dengan menggantinya—sehingga kemudaratan yang menimpa kaum muslimin akan lebih besar daripada hilangnya keutamaan syarat-syarat tersebut yang ditetapkan demi menyempurnakan kemaslahatan, dan tidak boleh menghancurkan pokok kemaslahatan demi mengejar keutamaan pelengkapnya seperti orang yang membangun istana namun merobohkan satu kota—atau kita menetapkan kosongnya negeri dari kepemimpinan serta rusaknya hukum-hukum peradilan, dan itu adalah hal yang mustahil.

ونحن نقضي بنفوذ قضاء أهل البغي في بلادهم لمسيس حاجتهم فكيف لا نقضي بصحة الإمامة عند الحاجة والضرورة فهذه الأركان الأربعة الحاوية للأصول الأربعين هي قواعد العقائد فمن اعتقدها كان موافقاً لأهل السنة ومبايناً لرهط البدعة

Dan kita menetapkan berlakunya keputusan hukum dari para pembangkang (ahlul-baghyi) di wilayah mereka karena sangat mendesaknya kebutuhan, maka bagaimana mungkin kita tidak menetapkan keabsahan keimaman ketika ada kebutuhan dan darurat? Maka rukun-rukun yang empat ini, yang mencakup empat puluh pokok (ushul), adalah kaidah-kaidah akidah (Qawa'id al-'Aqa'id). Barang siapa memercayainya, maka ia sejalan dengan Ahlus Sunnah dan berseberangan dengan golongan ahli bid'ah.

فالله تعالى يسددنا بتوفيقه ويهدينا إلى الحق وتحقيقه بمنه وسعة جوده وفضله وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وكل عبد مصطفى

Maka semoga Allah Ta'ala membimbing kita dengan taufik-Nya dan menunjuki kita kepada kebenaran serta merealisasikannya dengan anugerah-Nya, keluasan kedermawanan-Nya, dan karunia-Nya. Semoga salawat Allah tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad, kepada keluarganya, dan setiap hamba yang terpilih.