الفصل الثاني في وجه التدريج إلى الإرشاد وترتيب درجات الاعتقاد
الفصل الثاني في وجه التدريج إلى الإرشاد وترتيب درجات الاعتقاد
Pasal Kedua: Mengenai Metode Bertahap dalam Bimbingan dan Urutan Tingkatan Akidah
اعلم أن ما ذكرناه في ترجمة العقيدة ينبغي أن يقدم إلى الصبي في أول نشوه ليحفظه حفظاً ثم لا يزال ينكشف له معناه في كبره شيئاً فشيئاً فابتداؤه الحفظ ثم الفهم ثم الاعتقاد والإيقان والتصديق به وذلك مما يحصل في الصبي بغير برهان
Ketahuilah bahwasanya apa yang telah kami sebutkan dalam pemaparan akidah ini seyogianya diajarkan kepada anak kecil pada awal masa pertumbuhannya agar ia menghafalnya dengan hafalan yang kuat. Kemudian maknanya akan senantiasa tersingkap baginya secara bertahap saat ia dewasa. Maka permulaannya adalah hafalan, kemudian pemahaman, lalu keyakinan, pemantapan hati, dan pembenaran terhadapnya. Hal itu merupakan sesuatu yang terwujud pada diri anak kecil tanpa membutuhkan dalil pembuktian (burhan).
فمن فضل الله سبحانه على قلب الإنسان أن شرحه في أول نشوه للإيمان من غير حاجة إلى حجة وبرهان وكيف ينكر ذلك وجميع عقائد العوام مباديها التلقين المجرد والتقليد المحض نعم يكون الاعتقاد الحاصل بمجرد التقليد غير خال عن نوع من الضعف في الابتداء على معنى أنه يقبل الإزالة بنقيضه لو ألقى إليه فلا بد من تقويته وإثباته في نفس الصبي والعامي حتى يترسخ ولا يتزلزل
Maka di antara karunia Allah Subhanahu wa Ta'ala atas hati manusia adalah Dia melapangkannya pada awal pertumbuhannya untuk menerima iman tanpa membutuhkan argumentasi (hujjah) dan pembuktian (burhan). Bagaimana hal itu bisa dimungkiri, padahal seluruh iktikad orang-orang awam bermula dari sekadar pembimbingan (talqin) dan peniruan (taqlid) murni? Memang benar, iktikad yang diperoleh sekadar melalui taqlid tidak lepas dari sejenis kelemahan pada permulaannya, dalam artian ia rawan goyah dan sirna oleh kebalikannya jika disampaikan kepadanya. Oleh karena itu, iktikad tersebut harus diperkuat dan dikukuhkan di dalam jiwa anak-anak maupun orang awam hingga tertanam kuat dan tidak guncang.
وليس الطريق في تقويته وإثباته إن يعلم صنعة الجدل والكلام بل يشتغل بتلاوة القرآن وتفسيره وقراءة الحديث ومعانيه
Jalan untuk memperkuat dan mengukuhkannya bukanlah dengan mengajarkan seni debat (jadal) dan ilmu kalam, melainkan dengan menyibukkan diri membaca Al-Qur'an beserta tafsirnya, serta membaca hadis beserta makna-maknanya.
ويشتغل بوظائف العبادات فلا يزال اعتقاده يزداد رسوخاً بما يقرع سمعه من أدلة القرآن وحججه وبما يرد عليه من شواهد الأحاديث وفوائدها وبما يسطع عليه من أنوار العبادات ووظائفها وبما يسري إليه من مشاهدة الصالحين ومجالستهم وسيماهم وسماعهم وهيآتهم في الخضوع لله ﷿ والخوف منه والاستكانة له فيكون أول التلقين كإلقاء بذر في الصدر وتكون هذه الأسباب كالسقي والتربية له حتى ينمو ذلك البذر يقوى ويرتفع شجرة طيبة راسخة أصلها ثابت وفرعها في السماء
Juga menyibukkan diri dengan amalan-amalan ibadah, sehingga iktikadnya senantiasa bertambah kokoh melalui dalil-dalil dan hujjah Al-Qur'an yang mengetuk pendengarannya, bukti-bukti serta faedah hadis yang sampai kepadanya, pancaran cahaya ibadah beserta perincian tugas-tugasnya yang menyinari jiwanya, serta pengaruh dari menyaksikan orang-orang saleh, duduk bersama mereka, melihat raut muka, tutur kata, dan adab mereka dalam ketundukan, rasa takut (khauf), dan kerendahan hati kepada Allah Azza wa Jalla. Dengan demikian, pengajaran awal itu bagaikan menabur benih di dalam dada, sedangkan sarana-sarana ini bagaikan penyiraman dan pemeliharaan baginya hingga benih tersebut tumbuh, menguat, dan menjulang menjadi pohon yang baik lagi kokoh, akarnya menghujam teguh dan cabangnya menjulang ke langit.
وينبغي أن يحرس سمعه من الجدل والكلام غاية الحراسة فإن ما يشوشه الجدل أكثر مما يمهده وما يفسده أكثر مما يصلحه بل تقويته بالجدل تضاهي ضرب الشجرة بالمدقة من الحديد رجاء تقويتها بأن تكثر أجزاؤها وربما يفتتها ذلك ويفسدها وهو الأغلب
Dan hendaknya pendengarannya dijaga dengan sejaga-jaganya dari debat (jadal) dan ilmu kalam; karena kekacauan yang ditimbulkan oleh debat lebih banyak daripada ketenangan yang dihasilkannya, dan kerusakannya lebih besar daripada perbaikannya. Bahkan, memperkuat akidah dengan debat itu menyerupai memukul pohon dengan penumbuk besi dengan harapan mengukuhkannya agar bagian-bagiannya bertambah banyak, padahal hal itu kerap kali meremukkan dan merusaknya, dan itulah yang paling sering terjadi.
والمشاهدة تكفيك في هذا بياناً فناهيك بالعيان برهاناً
Pengamatan langsung cukuplah bagimu sebagai penjelasan dalam hal ini, dan cukuplah kesaksian mata sebagai pembuktian.
فقس عقيدة أهل الصلاح والتقى من عوام الناس بعقيدة المتكلمين والمجادلين فترى اعتقاد العامي في الثبات كالطود الشامخ لا تحركه الدواهي والصواعق وعقيدة المتكلم الحارس اعتقاده بتقسيمات الجدل كخيط مرسل في الهواء تفيئه الرياح مرة هكذا ومرة هكذا إلا من سمع منهم دليل الاعتقاد فتلقفه تقليداً كما تلقف نفس الاعتقاد تقليداً إذ لا فرق في التقليد بين تعليم الدليل أو تعلم المدلول فتلقين الدليل شيء والاستدلال بالنظر شيء آخر بعيد عنه
Maka bandingkanlah akidah ahli kebaikan dan ketakwaan dari kalangan awam dengan akidah para ahli kalam dan ahli debat. Engkau akan melihat iktikad orang awam dalam keteguhannya bagaikan gunung yang menjulang tinggi, tidak tergoyahkan oleh malapetaka maupun petir. Sementara akidah mutakallim (ahli kalam) yang mengawal iktikadnya dengan pembagian-pembagian debat bagaikan seutas benang terlepas di udara yang diombang-ambingkan angin sebentar ke sini dan sebentar ke sana; kecuali ahli kalam yang mendengarkan dalil iktikad lalu menangkapnya secara taqlid sebagaimana ia menangkap iktikad itu sendiri secara taqlid. Sebab tidak ada bedanya dalam taqlid antara mempelajari dalil atau mempelajari yang didalili (madlul). Maka dibimbingkan (ditalqinkan) suatu dalil adalah satu hal, sedangkan bernalar untuk menarik kesimpulan dalil (istidlal bin-nazhar) adalah hal lain yang jauh darinya.
ثم الصبي إذا وقع نشوه على هذه العقيدة إن اشتغل بكسب الدنيا لم ينفتح له غيرها ولكنه يسلم في الآخرة باعتقاد أهل الحق إذ لم يكلف الشرع أجلاف العرب أكثر من التصديق الجازم بظاهر هذه العقائد فأما البحث والتفتيش وتكلف نظم الأدلة فلم يكلفوه أصلاً
Kemudian, anak kecil itu apabila tumbuh dewasa di atas akidah ini, jika ia disibukkan dengan mencari penghidupan dunia, maka tidak akan terbuka baginya selain akidah tersebut. Akan tetapi, ia selamat di akhirat dengan iktikad ahli kebenaran (Ahlul Haq), karena syariat tidak membebani orang-orang Arab dusun yang keras melebihi pembenaran yang pasti (tashdiq jazim) terhadap zahir akidah-akidah ini. Adapun penyelidikan, pengujian, dan pemaksaan diri menyusun dalil-dalil, sama sekali tidak pernah dibebankan kepada mereka.
وإن أراد أن يكون من سالكي طريق الآخرة وساعده التوفيق حتى اشتغل بالعمل ولازم التقوى ونهى النفس عن الهوى واشتغل بالرياضة والمجاهدة انفتحت له أبواب من الهداية تكشف عن حقائق هذه العقيدة بنور إلهي يقذف في قلبه بسبب المجاهدة تحقيقاً لوعده ﷿ إذ قال والذين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا وإن الله لمع المحسنين وهو الجوهر النفيس الذي هو غاية إيمان الصديقين والمقربين وإليه الإشارة بالسر الذي وقر في صدر أبي بكر الصديق ﵁ حيث فضل به الخلق
Namun, jika ia ingin menjadi salah seorang penempuh jalan akhirat (salik) dan dibantu oleh taufik Allah hingga ia menyibukkan diri dengan amal, melazimi ketakwaan, mencegah diri dari hawa nafsu, serta menyibukkan diri dengan latihan spiritual (riyadhah) dan perjuangan batin (mujahadah), maka akan terbuka baginya pintu-pintu hidayah yang menyingkapkan hakikat-hakikat akidah ini melalui cahaya ilahi yang dicampakkan ke dalam hatinya berkat mujahadah tersebut, sebagai penggenapan atas janji Allah Azza wa Jalla ketika berfirman: 'Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.' (QS. Al-Ankabut: 69). Dan inilah permata indah yang menjadi puncak iman para shiddiqin dan muqarrabin, dan kepadanyalah isyarat rahasia (sirr) yang terpatri di dalam dada Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu, yang dengannya beliau mengungguli seluruh makhluk.
وانكشاف ذلك السر بل تلك الأسرار له درجات بحسب درجات المجاهدة ودرجات الباطن في النظافة والطهارة عما سوى الله تعالى وفي الاستضاءة بنور اليقين وذلك كتفاوت الخلق في اسرار الطب والفقه وسائر العلوم إذ يختلف ذلك باختلاف الاجتهاد واختلاف الفطرة في الذكاء والفطنة وكما لا تنحصر تلك الدرجات فكذلك هذه مسألة فإن قلت تعلم الجدل والكلام مذموم كتعلم النجوم أو هو
Tersingkapnya rahasia itu, bahkan rahasia-rahasia tersebut, memiliki tingkatan-tingkatan sesuai dengan tingkatan mujahadah dan tingkatan kebersihan serta kesucian batin dari selain Allah Ta'ala, juga dalam memperoleh penerangan dari cahaya keyakinan (yakin). Hal itu seperti perbedaan manusia dalam rahasia-rahasia ilmu kedokteran, fiqih, dan ilmu-ilmu lainnya, karena hal tersebut berbeda-beda seiring perbedaan ijtihad serta perbedaan kecerdasan dan ketajaman pemikiran bawaan (fithrah). Sebagaimana tingkatan-tingkatan itu tidak terbatas, begitu pula halnya dengan tingkatan ini. Sebuah permasalahan: Jika engkau bertanya, apakah mempelajari debat dan ilmu kalam itu dicela sebagaimana mempelajari ilmu nujum (astrologi), ataukah ia
مباح أو مندوب إليه فاعلم أن للناس في هذا غلواً وإسرافاً في أطراف فمن قائل إنه بدعة أو حرام وأن العبد إن لقي الله ﷿ بكل ذنب سوى الشرك خير له من أن يلقاه بالكلام ومن قائل إنه واجب وفرض إما على الكفاية أو على الأعيان وأنه أفضل الأعمال وأعلى القربات فإنه تحقيق لعلم التوحيد ونضال عن دين الله تعالى
diberbolehkan (mubah) atau dianjurkan (mandub)? Maka ketahuilah bahwa manusia dalam hal ini memiliki sikap berlebihan dan ekstrem di berbagai sisi. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa ilmu kalam adalah bid'ah atau haram, dan bahwa jika seorang hamba menghadap Allah Azza wa Jalla dengan membawa setiap dosa selain syirik, itu lebih baik baginya daripada menghadap-Nya dengan membawa ilmu kalam. Ada pula yang berpendapat bahwa ilmu kalam itu wajib dan fardu, baik fardu kifayah maupun fardu 'ain, serta merupakan amal yang paling utama dan sarana mendekatkan diri (qurbah) yang paling tinggi, karena ia merupakan pengukuhan ilmu tauhid dan perjuangan membela agama Allah Ta'ala.
وإلى التحريم ذهب الشافعي ومالك وأحمد بن حنبل وسفيان وجميع أهل الحديث من السلف
Dan kepada pendapat yang mengharamkan inilah Imam Asy-Syafi'i, Malik, Ahmad bin Hanbal, Sufyan, dan seluruh ahli hadis dari kalangan ulama Salaf cenderung.
قال ابن عبد الأعلى ﵀ سمعت الشافعي ﵁ يوم ناظر حفصاً الفرد وكان من متكلمي المعتزلة يقول لأن يلقى الله ﷿ العبد بكل ذنب ما خلا الشرك بالله خير من أن يلقاه بشيء من علم الكلام ولقد سمعت من حفص كلاماً لا أقدر أن أحكيه وقال أيضاً قد اطلعت من أهل الكلام على شيء ما ظننته قط ولأن يبتلى العبد بكل ما نهى الله عنه ما عدا الشرك خير له من أن ينظر في الكلام
Ibnu Abdil A'la رحمة الله عليه berkata: Saya mendengar Asy-Syafi'i رضي الله عنه pada hari beliau berdebat dengan Hafs al-Fard—seorang mutakallim (ahli kalam) dari kalangan Mu'tazilah—berkata: 'Sungguh, jika seorang hamba menghadap Allah Azza wa Jalla dengan membawa seluruh dosa selain syirik kepada Allah, itu lebih baik baginya daripada menghadap-Nya membawa sesuatu dari ilmu kalam. Dan sungguh saya telah mendengar perkataan dari Hafs yang saya tidak sanggup menceritakannya kembali.' Beliau juga berkata: 'Saya telah mendapati dari ahli kalam sesuatu yang tidak pernah saya duga sama sekali. Sungguh, jika seorang hamba diuji dengan melakukan seluruh apa yang dilarang oleh Allah selain syirik, itu lebih baik baginya daripada mempelajari ilmu kalam.'
وحكى الكرابيسي أن الشافعي ﵁ سئل عن شيء من الكلام فغضب وقال سل عن هذا حفصاً الفرد وأصحابه أخزاهم الله ولما مرض الشافعي ﵁ دخل عليه حفص الفرد فقال له من أنا فقال حفص الفرد لا حفظك الله ولا رعاك حتى تتوب مما أنت فيه
Al-Karabisi meriwayatkan bahwa Imam Asy-Syafi'i رضي الله عنه pernah ditanya tentang suatu perkara ilmu kalam, maka beliau marah seraya berkata: 'Tanyakan hal ini kepada Hafs al-Fard dan teman-temannya, semoga Allah menghinakan mereka!' Dan ketika Asy-Syafi'i رضي الله عنه sakit, Hafs al-Fard menjenguknya dan bertanya kepada beliau: 'Siapakah saya?' Beliau menjawab: 'Engkau adalah Hafs al-Fard, semoga Allah tidak menjaga dan tidak melindungimu hingga engkau bertobat dari paham yang engkau anut.'
وقال أيضاً لو علم الناس ما في الكلام من الأهواء لفروا منه فرارهم من الأسد وقال أيضاً إذا سمعت الرجل يقول الاسم هو المسمى أو غير المسمى فاشهد بأنه من أهل الكلام ولا دين له
Beliau juga berkata: 'Seandainya manusia mengetahui hawa nafsu yang ada di dalam ilmu kalam, niscaya mereka akan lari darinya sebagaimana lari dari singa.' Beliau juga berkata: 'Jika engkau mendengar seorang laki-laki berkata: Nama (al-Ism) itu adalah yang dinamai (al-Musamma) atau bukan yang dinamai, maka persaksikanlah bahwa ia termasuk ahli kalam dan tidak memiliki agama (yang lurus).'
قال الزعفراني قال الشافعي حكمي في أصحاب الكلام أن يضربوا بالجريد ويطاف بهم في القبائل والعشائر ويقال هذا جزاء من ترك الكتاب والسنة وأخذ في الكلام وقال أحمد بن حنبل لا يفلح صاحب الكلام أبدا ولا تكاد ترى أحداً نظر في الكلام إلا وفي قلبه دغل وبالغ في ذمه حتى هجر الحارث المحاسبي مع زهده وورعه بسبب تصنيفه كتاباً في الرد على المبتدعة وقال له ويحك ألست تحكي بدعتهم أولاً ثم ترد عليهم ألست تحمل الناس بتصنيفك على مطالعة البدعة والتفكر في تلك الشبهات فيدعوهم ذلك إلى الرأي والبحث وقال أحمد ﵀ علماء الكلام زنادقة
Az-Za'farani berkata bahwa Asy-Syafi'i berkata: 'Hukumanku bagi para ahli kalam adalah dipukul dengan pelepah kurma dan diarak keliling di tengah suku-suku dan kabilah-kabilah, lalu diumumkan: Inilah balasan bagi orang yang meninggalkan Al-Kitab dan As-Sunnah lalu mendalami ilmu kalam.' Ahmad bin Hanbal juga berkata: 'Ahli kalam tidak akan beruntung selamanya, dan hampir tidak engkau lihat seorang pun yang mendalami ilmu kalam melainkan di dalam hatinya terdapat penyimpangan (kesesatan).' Beliau sangat keras dalam mencelanya hingga beliau mendiamkan (jauh dari) Al-Harits al-Muhasibi—padahal beliau dikenal dengan kezuhudan dan kewara'annya—disebabkan menyusun buku bantahan terhadap ahli bid'ah. Ahmad berkata kepadanya: 'Celaka engkau! Bukankah engkau memaparkan bid'ah mereka terlebih dahulu baru kemudian membantahnya? Bukankah dengan karanganmu itu engkau mendorong orang-orang untuk membaca bid'ah dan memikirkan syubhat-syubhat tersebut, sehingga hal itu mengajak mereka pada pemikiran rasional semata dan perdebatan?' Ahmad رحمة الله عليه juga berkata: 'Para ulama kalam adalah orang-orang zindik.'
وقال مالك ﵀ أرأيت إن جاءه من هو أجدل منه أيدع دينه كل يوم لدين جديد يعني أن أقوال المتجادلين تتفاوت
Imam Malik رحمة الله عليه berkata: 'Bagaimana pendapatmu jika datang kepada seseorang orang lain yang lebih jago berdebat darinya, apakah ia harus meninggalkan agamanya setiap hari demi agama yang baru?' Maksud beliau adalah bahwa ucapan para ahli debat itu selalu berubah-ubah.
وقال مالك ﵀ أيضاً لا تجوز شهادة أهل البدع والأهواء فقال بعض أصحابه في تأويله أنه أراد بأهل الأهواء أهل الكلام على أي مذهب كانوا
Imam Malik رحمة الله عليه juga berkata: 'Tidak boleh kesaksian dari ahli bid'ah dan pengikut hawa nafsu.' Sebagian sahabat beliau menafsirkan bahwa yang beliau maksud dengan 'pengikut hawa nafsu' adalah ahli kalam, dari mazhab apa pun mereka berasal.
وقال أبو يوسف من طلب العلم بالكلام تزندق
Abu Yusuf berkata: 'Barang siapa menuntut ilmu dengan ilmu kalam, niscaya ia menjadi zindik.'
وقال الحسن لا تجادلوا أهل الأهواء ولا تجالسوهم ولا تسمعوا منهم وقد اتفق أهل الحديث من السلف على هذا
Al-Hasan (Al-Bashri) berkata: 'Janganlah kalian berdebat dengan pengikut hawa nafsu, jangan duduk bersama mereka, dan jangan mendengarkan perkataan dari mereka.' Dan para ahli hadis dari kalangan ulama Salaf telah sepakat atas hal ini.
ولا ينحصر ما نقل عنهم من التشديدات فيه وقالوا ما سكت عنه الصحابة مع أنهم أعرف بالحقائق وأفصح بترتيب الألفاظ من غيرهم إلا لعلمهم بما يتولد منه من الشر
Dan tidak terhitung banyaknya celaan keras yang diriwayatkan dari mereka mengenai hal ini. Mereka berkata: 'Tidaklah para sahabat berdiam diri darinya—padahal mereka lebih mengetahui hakikat-hakikat kebenaran dan lebih fasih dalam menyusun kata-kata dibanding selain mereka—melainkan karena pengetahuan mereka tentang keburukan yang akan ditimbulkan darinya.'
ولذلك قال النبي ﷺ هلك المتنطعون هلك المتنطعون هلك المتنطعون أي المتعمقون في البحث والاستقصاء
Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ bersabda, "Binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan (al-mutanaththi'un)! Binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan! Binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan!" Maksudnya adalah orang-orang yang terlalu mendalam dan berlebihan dalam penyelidikan serta pembuktian detail.
واحتجوا أيضاً بأن ذلك لو كان من الدين لكان ذلك أهم ما يأمر به رسول الله ﷺ ويعلم طريقه ويثني عليه وعلى أربابه فقد علمهم الاستنجاء وندبهم إلى علم الفرائض وأثنى عليهم ونهاهم عن الكلام في القدر وقال أمسكوا عن القدر
Mereka juga berhujah bahwa sekiranya hal itu termasuk bagian dari agama, niscaya itu adalah perkara paling penting yang diperintahkan oleh Rasulullah ﷺ, diajarkan tata caranya, serta dipuji dirinya dan para ahlinya. Padahal beliau telah mengajarkan tata cara beristinja', menganjurkan ilmu waris (fara'idh) serta memuji ahlinya, namun beliau melarang mereka berselisih (kalam) tentang takdir dan bersabda, "Menahan dirilah kalian dari membicarakan takdir."
وعلى هذا استمر الصحابة ﵃ فالزيادة على الأستاذ طغيان وظلم
Dan atas dasar inilah para Sahabat ﵃ melangkah secara berlanjut. Maka melampaui batas yang digariskan oleh sang guru (yakni Nabi dan para Sahabat) merupakan bentuk penyimpangan dan kezaliman.
وهم الأستاذون والقدوة ونحن الأتباع والتلامذة
Merekalah para guru utama dan teladan, sedangkan kita adalah para pengikut dan murid.
وأما الفرقة الأخرى فاحتجوا بأن قالوا إن المحذور من الكلام إن كان هو لفظ الجوهر والعرض وهذه الاصطلاحات الغريبة التي لم تعهدها الصحابة
Adapun kelompok lainnya berhujah dengan mengatakan: "Jika hal yang dikhawatirkan dari ilmu Kalam itu adalah sebatas penggunaan istilah jauhar (substansi), 'aradh (aksiden), dan istilah-istilah asing yang belum dikenal oleh para Sahabat ﵃,"
رضي الله عنهم فالأمر فيه قريب إذا ما من علم إلا وقد أحدث فيه اصطلاحات لأجل التفهيم كالحديث والتفسير والفقه ولو عرض عليهم عبارة النقض والكسر والتركيب والتعدية وفساد الوضع إلى جميع الأسئلة التي تورد على القياس لما كانوا يفقهونه
"maka perkaranya sangat sepele. Sebab tidak ada satu cabang ilmu pun melainkan telah dimunculkan istilah-istilah baru di dalamnya demi mempermudah pemahaman, seperti dalam ilmu Hadis, Tafsir, dan Fiqih. Sekiranya disodorkan kepada mereka (para Sahabat) ungkapan al-naqdh (pembatalan), al-kasr (pematahan), al-tarkib (penggabungan), al-ta'diyah (penyeberangan alasan), fasad al-wadh' (kerusakan kedudukan), hingga seluruh pertanyaan yang diajukan dalam analogi (qiyas), tentu mereka tidak akan memahaminya."
فإحداث عبارة للدلالة بها على مقصود صحيح كإحداث آنية على هيئة جديدة لاستعمالها في مباح وإن كان المحذور هو المعنى فنحن لا نعني به إلا معرفة الدليل على حدوث العالم ووحدانية الخالق وصفاته كما جاء في الشرع فمن أين تحرم معرفة الله تعالى بالدليل وإن كان المحذور هو التشعب والتعصب والعداوة والبغضاء وما يفضي إليه الكلام فذلك محرم ويجب الاحتراز عنه كما أن الكبر والعجب والرياء وطلب الرياسة مما يفضي إليه علم الحديث والتفسير والفقه وهو محرم يجب الاحتراز عنه ولكن لا يمنع من العلم لأجل أدائه إليه وكيف يكون ذكر الحجة والمطالبة بها والبحث عنها محظوراً وقد قال الله تعالى قل هاتوا برهانكم وقال ﷿ ليهلك من هلك عن بينة ويحيا من حي عن بينة وقال تعالى هل عندكم من سلطان بهذا أي حجة وبرهان وقال تعالى قل فلله الحجة البالغة وقال تعالى ألم تر إلى الذي حاج إبراهيم في ربه إلى قوله فبهت الذي كفر إذ ذكر سبحانه احتجاج إبراهيم ومجادلته وإفحامه خصمه في معرض الثناء عليه وقال ﷿ وتلك حجتنا آتيناها إبراهيم على قومه وقال تعالى قالوا يا نوح قد جادلتنا فأكثرت جدالنا وقال تعالى في قصة فرعون وما رب العالمين إلى قوله أولوا جئتك بشيء مبين وعلى الجملة فالقرآن من أوله إلى آخره محاجة مع الكفار فعمدة أدلة المتكلمين في التوحيد قوله تعالى ﴿لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا﴾ وفي النبوة ﴿وإن كنتم في ريب مما نزلنا على عبدنا فأتوا بسورة من مثله﴾ وفي البعث ﴿قل يحييها الذي أنشأها أول مرة﴾ إلى غير ذلك من الآيات والأدلة
Maka membuat istilah baru untuk menunjukkan maksud yang benar adalah seperti membuat wadah dengan bentuk baru untuk digunakan dalam hal yang mubah. Dan jika yang dikhawatirkan adalah dari segi maknanya, maka yang kami maksudkan dengannya hanyalah mengetahui dalil atas kebaharuan alam (huduts al-'alam), keesaan Sang Pencipta, serta sifat-sifat-Nya sebagaimana dijelaskan dalam syariat. Lantas dari mana hukumnya haram mengenal Allah Ta'ala melalui dalil? Dan jika yang dikhawatirkan adalah timbulnya perpecahan, fanatisme, permusuhan, kebencian, dan dampak buruk lain dari ilmu Kalam, maka hal itu memang haram dan wajib dihindari; sebagaimana kesombongan, ujub, riya, dan ambisi kekuasaan merupakan hal-hal yang dapat dipicu oleh ilmu Hadis, Tafsir, dan Fiqih, yang kesemuanya haram dan wajib dihindari, namun ilmu-ilmu tersebut tidak dilarang hanya karena berpotensi membawa ke sana. Bagaimana mungkin menyebutkan hujah, menuntutnya, dan mencarinya dilarang, padahal Allah Ta'ala telah berfirman, 'Katakanlah: Tunjukkanlah bukti kebenaranmu!' dan Dia Yang Mahagagah lagi Mahaagung berfirman, 'agar orang yang binasa itu binasa dengan bukti yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidup dengan bukti yang nyata,' dan Allah Ta'ala berfirman, 'Apakah kamu mempunyai alasan (sulthan) tentang ini?' yaitu hujah dan bukti, serta firman-Nya, 'Katakanlah: Allah mempunyai hujah yang jelas lagi kuat,' dan firman-Nya, 'Tidakkah kamu memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya…' hingga firman-Nya, 'maka bungkamlah orang kafir itu.' Di mana Allah Maha Suci menyebutkan pemaparan dalil Ibrahim, perdebatan, dan kehebatannya dalam membungkam lawannya sebagai bentuk pujian baginya, dan Dia Yang Mahagagah lagi Mahaagung berfirman, 'Dan itulah hujah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya,' serta firman-Nya, 'Mereka berkata: Wahai Nuh, sungguh kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami,' serta firman-Nya dalam kisah Fir'aun, 'Apakah Tuhan semesta alam itu?' sampai firman-Nya, 'Apakah (engkau akan melakukan itu) kendati aku membawa kepadamu sesuatu (bukti) yang nyata?' Walhasil, Al-Qur'an dari awal hingga akhirnya memuat perdebatan (muhajjah) menghadapi orang-orang kafir. Maka landasan utama dalil para ahli Kalam dalam tauhid adalah firman-Nya Ta'ala, 'Sekiranya pada keduanya (langit dan bumi) ada tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya telah binasa,' dan dalam kenabian, 'Dan jika kamu meragukan apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami, maka buatlah satu surah yang semisal dengannya,' dan dalam kebangkitan, 'Katakanlah: Dia akan dihidupkan oleh (Tuhan) yang menciptakannya pertama kali,' serta ayat-ayat dan dalil-dalil lainnya.
ولم تزل الرسل صلوات الله عليهم يحاجون المنكرين ويجادلونهم قال تعالى ﴿وجادلهم بالتي هي أحسن﴾ فالصحابة ﵃ أيضاً كانوا يحاجون المنكرين ويجادلون ولكن عند الحاجة
Para rasul—sholawat Allah atas mereka—sentiasa berhujah dan berdebat melawan orang-orang yang ingkar. Allah Ta'ala berfirman, "Dan debatlah mereka dengan cara yang terbaik." Maka para Sahabat ﵃ pun demikian, mereka berhujah dan berdebat menghadapi orang-orang yang ingkar, tetapi hal itu dilakukan hanya ketika ada kebutuhan ('inda al-hajah).
وكانت الحاجة إليه قليلة في زمانهم وأول من سن دعوة المبتدعة بالمجادلة إلى الحق علي ابن أبي طالب ﵁ إذ بعث ابن عباس ﵄ إلى الخوارج فكلمهم فقال ما تنقمون على إمامكم قالوا قاتل ولم يسب ولم يغنم فقال ذلك في قتال الكفار أرأيتم لو سببت عائشة ﵂ في سهم أحدكم أكنتم تستحلون منها ما تستحلون من ملككم وهي أمكم في نص الكتاب فقالوا لا فرجع منهم إلى الطاعة بمجادلته ألفان
Kebutuhan terhadap perdebatan pada zaman mereka sangat sedikit. Dan orang pertama yang meneladankan dakwah mengajak ahli bid'ah kembali kepada kebenaran dengan perdebatan adalah Ali bin Abi Thalib ﵁, ketika beliau mengutus Ibnu Abbas ﵄ kepada kaum Khawarij. Ibnu Abbas berbicara kepada mereka dan bertanya, "Apa yang kalian cela dari imam kalian?" Mereka menjawab, "Beliau berperang tetapi tidak menawan dan tidak mengambil rampasan perang." Ibnu Abbas berkata, "Hal itu berlaku pada peperangan melawan orang kafir. Bagaimana pendapat kalian jika Aisyah ﵂ masuk dalam bagian tawanan salah seorang dari kalian, apakah kalian akan menghalalkan perlakuan atasnya sebagaimana menghalalkan budak wanita kalian, padahal beliau adalah ibu kalian menurut nas Al-Kitab?" Mereka menjawab, "Tidak." Maka berkat perdebatan beliau, dua ribu orang dari mereka kembali pada ketaatan.
وروي أن الحسن ناظر قدرياً فرجع عن القدر
Diriwayatkan pula bahwa Al-Hasan (Al-Bashri) pernah berdebat dengan seorang pengikut paham Qadariyyah, lalu orang tersebut bertaubat dan keluar dari paham Qadariyyah.
وناظر علي بن أبي طالب كرم الله وجهه رجلاً من القدرية
Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah juga pernah bermunazharah (berdebat secara akademis) dengan seorang pengikut aliran Qadariyyah.
وناظر عبد الله بن مسعود ﵁ يزيد بن عميرة في الإيمان قال عبد الله لو قلت إني مؤمن لقلت إني في الجنة فقال له يزيد بن عميرة يا صاحب رسول الله هذه زلة منك وهل الإيمان إلا أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله والبعث والميزان وتقيم الصلاة والصوم والزكاة ولنا ذنوب لو نعلم أنها تغفر لنا لعلمنا أننا من أهل الجنة فمن أجل ذلك نقول إنا مؤمنون ولا نقول إنا من أهل الجنة
Abdullah bin Mas'ud ﵁ pun pernah berdebat dengan Yazid bin 'Umairah mengenai hakikat iman. Abdullah berkata, "Seandainya aku mengatakan 'Aku adalah orang beriman', tentu aku akan mengatakan 'Aku pasti masuk surga'." Yazid bin 'Umairah berkata kepadanya, "Wahai Sahabat Rasulullah, ini merupakan kekhilafan darimu. Bukankah iman itu adalah engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari kebangkitan, dan timbangan amal, serta engkau mendirikan shalat, menunaikan puasa, dan zakat? Kita memiliki dosa-dosa yang sekiranya kita tahu dosa itu diampuni, tentu kita tahu bahwa kita penghuni surga. Oleh karena itulah kita katakan 'Kami adalah orang-orang beriman', namun kita tidak mengatakan 'Kami pasti penghuni surga'."
فقال ابن مسعود صدقت والله إنها مني زلة فينبغي أن يقال كان خوضهم فيه قليلاً لا كثيراً وقصيراً لا طويلاً وعند الحاجة لا بطريق التصنيف والتدريس واتخاذه صناعة فيقال أما قلة خوضهم فيه فإنه كان لقلة الحاجة إذا لم تكن البدعة تظهر في ذلك الزمان وأما القصر فقد كان الغاية إفحام الخصم واعترافه وانكشاف الحق وإزالة الشبهة فلو طال إشكال الخصم أو لجاجه لطال لا محالة إلزامهم
Ibnu Mas'ud lalu berkata, "Engkau benar, demi Allah, ini adalah kekhilafan dariku." Maka seyogianya dikatakan bahwa keterlibatan mereka (para Sahabat) di dalam ilmu tersebut adalah sedikit bukan banyak, singkat bukan panjang, dilakukan ketika ada kebutuhan bukan dengan cara menyusun kitab (tashnif), mengajar (tadris), serta menjadikannya sebagai keahlian profesi. Dikatakan pula: Adapun sedikitnya keterlibatan mereka di dalamnya adalah karena minimnya kebutuhan, sebab bid'ah belum tampak pada masa itu. Sedangkan sifatnya yang singkat, karena tujuannya hanyalah membungkam penentang, mendapatkan pengakuannya, menyingkap kebenaran, dan menghilangkan syubhat. Seandainya ketidakjelasan penentang atau kekeraskepalaannya berlangsung lama, niscaya pembuktian hujah mereka pun akan memanjang.
وما كانوا يقدرون قدر الحاجة بميزان ولا مكيال بعد الشروع فيها وأما عدم تصديهم للتدريس والتصنيف فيه فهكذا كان دأبهم في الفقه والتفسير والحديث أيضاً فإن جاز تصنيف الفقه ووضع الصور النادرة التي لا تتفق إلا على الندور إما إدخار اليوم وقوعها وإن كان نادراً أو تشحيذاً للخواطر فنحن أيضاً نرتب طرق
Dan mereka tidak mengukur kadar kebutuhan itu dengan timbangan maupun takaran setelah mulai memasukinya. Adapun ketidaktertarikan mereka untuk mengajar dan menyusun kitab tentangnya, maka demikian pulalah kebiasaan mereka dalam ilmu Fiqih, Tafsir, dan Hadis. Jika dibolehkan menyusun kitab Fiqih dan merumuskan masalah-masalah langka yang jarang sekali terjadi—baik sebagai simpanan untuk hari terjadinya meskipun langka, maupun untuk mengasah ketajaman berpikir—maka kami pun menyusun metode-metode
المجادلة لتوقع وقوع الحاجة بثوران شبهة أو هيجان مبتدع أو لتشحيذ الخاطر أو لادخار الحجة حتى لا يعجز عنها عند الحاجة على البديهة والارتجال كمن يعد السلاح قبل القتال ليوم القتال فهذا ما يمكن أن يذكر للفريقين
perdebatan guna mengantisipasi timbulnya kebutuhan akibat munculnya syubhat atau amukan ahli bid'ah, atau untuk mengasah daya pikir, serta menyimpan argumentasi agar tidak gagap menyajikannya secara spontan saat dibutuhkan; sebagaimana orang yang mempersiapkan senjata sebelum pertempuran demi menghadapi hari peperangan. Inilah pandangan yang dapat dikemukakan bagi kedua belah pihak.
فإن قلت فما المختار عندك فيه فاعلم أن الحق فيه أن إطلاق القول بذمه في كل حال أو بحمده في كل حال خطأ بل لا بد فيه من تفصيل
Jika engkau bertanya, "Lantas apakah pendapat yang terpilih menurutmu dalam masalah ini?" Maka ketahuilah bahwa kebenaran di dalamnya adalah: memutlakkan pendapat dengan mencelanya dalam setiap keadaan atau memujinya dalam setiap keadaan merupakan suatu kekeliruan, melainkan harus ada perincian (tafshil).
فاعلم أولاً أن الشيء قد يحرم لذاته كالخمر والميتة وأعني بقولي لذاته أن علة تحريمه وصف في ذاته وهو الإسكار والموت
Ketahuilah terlebih dahulu bahwa sesuatu itu terkadang diharamkan karena zatnya (li-dzatihi), seperti khamar dan bangkai. Maksud perkataanku "karena zatnya" adalah bahwa 'illat (sebab) keharamannya merupakan sifat yang ada pada zatnya itu sendiri, yaitu memabukkan dan status kematian (tanpa disembelih).
وهذا إذا سئلنا عنه أطلقنا القول بأنه حرام ولا يلتفت إلى إباحة الميتة عند الاضطرار وإباحة تجرع الخمر إذا غص الإنسان بلقمة ولم يجد ما يسيغها سوى الخمر وإلى ما يحرم لغيره كالبيع على بيع أخيك المسلم في وقت الخيار والبيع وقت النداء وكأكل الطين فإنه يحرم لما فيه من الإضرار وهذا ينقسم إلى ما يضر قليله وكثيره فيطلق القول عليه بأنه حرام كالسم الذي يقتل قليله وكثيره وإلى ما يضر عند الكثرة فيطلق القول عليه بالإباحة كالعسل فإن كثيره يضر بالمحرور وكأكل الطين
Dan jika kita ditanya mengenai hal ini, kita memutlakkan pernyataan bahwa hukumnya haram, tanpa memandang kebolehan bangkai saat darurat atau kebolehan menelan seteguk khamar jika seseorang tersedak sesuapan makanan dan tidak menemukan penawar selain khamar. Dan (kategori lainnya adalah) apa yang diharamkan karena faktor luar (li-ghairihi), seperti menjual atas jualan saudaramu sesama muslim pada masa khiyar, jual beli pada saat azan (Jumat), serta memakan tanah (tanah liat) karena haram disebabkan adanya bahaya (idhrar). Ini terbagi menjadi: apa yang membahayakan baik sedikit maupun banyaknya, maka dimutlakkan hukum haram atasnya seperti racun yang membunuh baik dalam kadar sedikit maupun banyak; dan apa yang membahayakan hanya pada kadar yang banyak, maka dimutlakkan hukum mubah atasnya seperti madu, karena mengonsumsinya secara berlebihan dapat membahayakan orang yang bertemperamen panas (mahrur), sebagaimana halnya memakan tanah.
وكأن إطلاق التحريم على الطين والخمر والتحليل على العسل التفات إلى أغلب الأحوال فإن تصدى شيء تقابلت فيه الأحوال فالأولى والأبعد عن الالتباس أن يفصل فنعود إلى علم الكلام ونقول إن فيه منفعة وفيه مضرة فهو باعتبار منفعته في وقت الانتفاع حلال أو مندوب إليه أو واجب كما يقتضيه الحال وهو باعتبار مضرته في وقت الاستضرار ومحله حرام أما مضرته فإثارة الشبهات وتحريك العقائد وإزالتها عن الجزم والتصميم فذلك مما يحصل في الابتداء ورجوعها بالدليل مشكوك فيه ويختلف فيه الإشخاص فهذا ضرره في الاعتقاد الحق
Penetapan hukum haram secara mutlak atas tanah dan khamar serta hukum halal atas madu seolah-olah mempertimbangkan kondisi yang paling dominan. Maka jika ada sesuatu yang kondisi-kondisinya saling berhadapan, yang paling utama dan paling jauh dari kesamaran adalah dengan meperincinya. Kita kembali kepada ilmu Kalam dan kita katakan: Sesungguhnya di dalamnya terdapat manfaat dan mudarat. Maka ditinjau dari manfaatnya pada saat dibutuhkan, hukumnya bisa halal, dianjurkan (mandub), atau wajib sesuai dengan tuntutan keadaan. Dan ditinjau dari bahayanya pada saat menimbulkan kemudaratan dan pada tempatnya, hukumnya haram. Adapun bahayanya adalah menimbulkan syubhat, menggoyahkan ikatan akidah, dan mencabutnya dari keyakinan yang mantap serta bulat. Hal itu merupakan sesuatu yang terjadi pada permulaan, sedangkan kembalinya akidah melalui dalil masih diragukan dan berbeda-beda pada setiap individu. Inilah bahayanya terhadap akidah yang benar.
وله ضرر آخر في تأكيد اعتقاد المبدعة للبدعة وتثبيته في صدورهم بحيث تنبعث دواعيهم ويشتد حرصهم على الإصرار عليه ولكن هذا الضرر بواسطة التعب الذي يثور من الجدل ولذلك ترى المبتدع العامي يمكن أن يزول اعتقاده باللطف في أسرع زمان إلا إذا كان نشؤه في بلد يظهر فيها الجدل والتعصب فإنه لو اجتمع عليه الأولون والآخرون لم يقدروا على نزع البدعة من صدره بل الهوى والتعصب وبغض خصوم المجادلين وفرقة المخالفين يستولي على قلبه ويمنعه من إدراك الحق حتى لو قيل له هل تريد أن يكشف الله تعالى لك الغطاء ويعرفك بالعيان أن الحق مع خصمك لكره ذلك خيفة من أن يفرح به خصمه وهذا هو الداء العضال الذي استطار في البلاد والعباد وهو نوع فساد أثاره المجادلون بالتعصب فهذا ضرره
Ilmu Kalam juga memiliki bahaya lain, yaitu mengukuhkan ikatan keyakinan ahli bid'ah terhadap kebid'ahannya dan menetapkannya di dalam dada mereka, sedemikian rupa hingga memicu dorongan internal mereka serta memperhebat kesenangan mereka untuk terus berada di atasnya. Namun bahaya ini timbul melalui perantara emosi/kekecewaan (ta'ab) yang timbul dari perdebatan. Oleh karena itu, engkau melihat seorang pengikut bid'ah dari kalangan awam masih mungkin dihilangkan keyakinannya dengan kelembutan dalam waktu yang sangat singkat, kecuali jika ia tumbuh di negeri yang marak perdebatan dan fanatisme. Sebab jika seluruh generasi terdahulu dan kemudian berkumpul menghadapinya, mereka tidak akan mampu mencabut bid'ah itu dari dadanya. Bahkan hawa nafsu, fanatisme, kebencian terhadap lawan debat, dan perselisihan dengan pihak yang berseberangan akan menguasai hatinya serta menghalanginya dari memahami kebenaran; hingga seandainya dikatakan kepadanya, "Apakah engkau ingin Allah Ta'ala menyingkapkan tabir bagimu dan memberitahukan kepadamu secara kasatmata bahwa kebenaran ada pada lawanmu?", tentu ia akan membencinya karena takut lawannya merasa gembira. Inilah penyakit kronis yang menyebar luas di berbagai negeri dan hamba-hamba Allah, yaitu sejenis kerusakan yang dipicu oleh para pendebat dengan fanatisme mereka. Inilah bahayanya.
وأما منفعته فقد يظن أن فائدته كشف الحقائق ومعرفتها على ما هي عليه وهيهات فليس في الكلام وفاء بهذا المطلب الشريف ولعل التخبيط والتضليل فيه أكثر من الكشف والتعريف وهذا إذا سمعته من محدث أو حشوي ربما خطر ببالك أن الناس أعداء ما جهلوا فاسمع هذا ممن خبر الكلام ثم قلاه بعد حقيقة الخبرة وبعد التغلغل فيه إلى منتهى درجة المتكلمين وجاوز ذلك إلى التعمق في علوم أخر تناسب نوع الكلام وتحقق أن الطريق إلى حقائق المعرفة من هذا الوجه مسدود
Adapun manfaatnya (ilmu Kalam), mungkin ada yang menduga bahwa faedahnya adalah menyingkap hakikat-hakikat dan mengetahuinya sebagaimana adanya. Sungguh jauh dari itu! Ilmu Kalam tidak mampu memenuhi tuntutan yang mulia ini. Bahkan, kekacauan dan penyesatan di dalamnya boleh jadi lebih banyak daripada penyingkapan (kasyf) dan pengenalan (ta'rif). Jika Anda mendengar hal ini dari seorang ahli hadis atau kelompok Hasywiyyah, mungkin terlintas dalam benak Anda bahwa "manusia adalah musuh bagi apa yang tidak mereka ketahui." Maka dengarkanlah hal ini dari orang yang telah mendalami ilmu Kalam lalu meninggalkannya setelah benar-benar berpengalaman dan setelah menyelam hingga ke puncak derajat para Mutakallimin (ahli Kalam), lalu melampauinya dengan mendalami ilmu-ilmu lain yang sejenis dengan Kalam, dan meyakini secara pasti bahwa jalan menuju hakikat Ma'rifat melalui jalur ini telah tertutup.
ولعمري لا ينفك الكلام عن كشف وتعريف وإيضاح لبعض الأمور ولكن على الندور في أمور جلية تكاد تفهم قبل التعمق في صنعة الكلام بل منفعته شيء واحد وهو حراسة العقيدة التي ترجمناها على العوام وحفظها عن تشويشات المبتدعة بأنواع الجدل فإن العامي ضعيف يستفزه جدل المبتدع وإن كان فاسداً ومعارضة الفاسد بالفاسد تدفعه
Demi umurku, ilmu Kalam memang tidak lepas dari penyingkapan, pengenalan, dan penjelasan terhadap beberapa perkara, namun hal itu sangat jarang dan hanya pada perkara-perkara yang sudah jelas yang hampir dapat dipahami sebelum mendalami seni ilmu Kalam. Sebaliknya, manfaatnya hanya satu hal, yaitu menjaga akidah yang telah kami paparkan kepada orang awam dan melindunginya dari kekacauan pemikiran para ahli bid'ah melalui berbagai metode perdebatan (jidal). Sebab, orang awam itu lemah, ia dapat tergoyahkan oleh perdebatan ahli bid'ah meskipun argumen itu batil, padahal sanggahan yang batil terhadap hal yang batil sekalipun dapat menolaknya.
والناس متعبدون بهذه العقيدة التي قدمناها إذ ورد الشرع بها لما فيها من صلاح دينهم ودنياهم وأجمع السلف الصالح عليها والعلماء يتعبدون بحفظها على العوام من تلبيسات المبتدعة كما تعبد السلاطين بحفظ أموالهم عن تهجمات الظلمة والغصاب وإذا وقعت الإحاطة بضرره ومنفعته فينبغي أن يكون كالطبيب الحاذق في استعمال الدواء الخطر إذ لا يضعه إلا في موضعه وذلك في وقت الحاجة وعلى قدر الحاجة
Manusia dituntut untuk beribadah dan berpegang teguh pada akidah yang telah kami uraikan ini, karena syariat telah membawanya disebabkan di dalamnya terdapat kebaikan agama dan dunia mereka, serta telah disepakati oleh para Salafush-Shalih. Sementara para ulama dituntut untuk memelihara akidah tersebut bagi orang awam dari kerancuan (talbis) para ahli bid'ah, sebagaimana para penguasa dituntut untuk menjaga harta benda masyarakat dari kezaliman para perampas dan penindas. Apabila bahaya dan manfaat ilmu Kalam telah dipahami secara menyeluruh, hendaknya ia digunakan bagaikan dokter yang ahli dalam menerapkan obat yang berbahaya, di mana ia tidak memberikannya melainkan pada tempatnya, yaitu pada saat dibutuhkan dan sesuai dengan kadar kebutuhannya.
وتفصيله أن العوام المشتغلين بالحرف والصناعات يجب أن يتركوا على سلامة عقائدهم
Rinciannya adalah bahwa masyarakat awam yang sibuk dengan mata pencaharian dan kerajinan tangan wajib dibiarkan berada dalam keselamatan akidah mereka,
التي اعتقدوها مهما تلقنوا الاعتقاد الحق الذي ذكرناه فإن تعليمهم الكلام ضرر محض في حقهم إذ ربما يثير لهم شكاً ويزلزل عليهم الاعتقاد ولا يمكن القيام بعد ذلك بالإصلاح
yang telah mereka yakini selama mereka dibimbing dengan keyakinan yang benar yang telah kami sebutkan. Sebab, mengajarkan ilmu Kalam kepada mereka adalah bahaya murni bagi mereka, karena hal itu dapat menimbulkan keraguan dan mengguncang ikatan akidah mereka, sedang setelah itu belum tentu dapat diperbaiki kembali.
وأما العامي المعتقد للبدعة فينبغي أن يدعى إلى الحق بالتلطف لا بالتعصب وبالكلام اللطيف المقنع للنفس المؤثر في القلب القريب من سياق أدلة القرآن والحديث الممزوج بفن من الوعظ والتحذير فإن ذلك أنفع من الجدال الموضوع على شرط المتكلمين إذ العامي إذا سمع ذلك اعتقد أنه نوع صنعة من الجدل تعلمها المتكلم ليستدرج الناس إلى اعتقاده فإن عجز عن الجواب قدر أن المجادلين من أهل مذهبه أيضاً يقدرون على دفعه
Adapun orang awam yang terlanjur meyakini kebid'ahan, hendaknya ia diajak menuju kebenaran dengan lemah lembut, bukan dengan kefanatikan, serta dengan tutur kata yang halus, memuaskan jiwa, menyentuh hati, dan dekat dengan alur dalil-dalil Al-Qur'an dan Hadis yang dipadukan dengan seni nasihat dan peringatan. Hal itu jauh lebih bermanfaat daripada perdebatan yang disusun berdasarkan kriteria para ahli Kalam. Sebab, jika orang awam mendengar perdebatan filosofis tersebut, ia akan menganggapnya sebagai sekadar keahlian berdebat yang dipelajari sang Mutakallim untuk menggiring manusia pada keyakinannya; dan jika ia tidak mampu menjawabnya, ia akan berasumsi bahwa para pembela dari kelompoknya pasti sanggup menyanggahnya.
فالجدل مع هذا ومع الأول حرام وكذلك مع من وقع في شك إذ يجب إزالته باللطف والوعظ والأدلة القريبة المقبولة البعيدة عن تعمق الكلام
Maka berdebat (jidal) dengan orang seperti ini maupun orang awam pertama hukumnya haram. Begitu pula dengan orang yang jatuh ke dalam keraguan, sebab keraguan itu harus dihilangkan dengan kelembutan, nasihat, dan dalil-dalil yang dekat serta mudah diterima tanpa perlu mendalami kerumitan ilmu Kalam.
واستقصاء الجدل إنما ينفع في موضع واحد وهو أن يفرض عامي اعتقد البدعة بنوع جدل سمعه فيقابل ذلك الجدل بمثله فيعود إلى اعتقاد الحق وذلك فيمن ظهر له من الأنس بالمجادلة ما يمنعه عن القناعة بالمواعظ والتحذيرات العامية فقد انتهى هذا إلى حالة لا يشفيه منها إلا دواء الجدل فجاز أن يلقى إليه
Dan mendalami perdebatan hanya bermanfaat pada satu kondisi, yaitu jika diandaikan ada seorang awam yang meyakini kebid'ahan akibat perdebatan tertentu yang didengarnya, maka perdebatan tersebut dilawan dengan perdebatan sepadan hingga ia kembali kepada akidah yang benar. Hal ini berlaku bagi orang yang tampak sangat terbiasa dengan perdebatan sehingga enggan puas dengan nasihat dan peringatan umum. Orang demikian telah sampai pada kondisi yang tidak dapat disembuhkan melainkan dengan obat perdebatan, maka boleh diberikan kepadanya.
وأما في بلاد تقل فيها البدعة ولا تختلف فيها المذاهب فيقتصر فيها على ترجمة الاعتقاد الذي ذكرناه ولا يتعرض للأدلة ويتربص وقوع شبهة فإن وقعت ذكر بقدر الحاجة فإن كانت البدعة شائعة وكان يخاف على الصبيان أن يخدعوا فلا بأس أن يعلموا القدر الذي أودعناه كتاب الرسالة القدسية ليكون ذلك سبباً لدفع تأثير مجادلات المبتدعة إن وقعت إليهم وهذا مقدار مختصر وقد أودعناه هذا الكتاب لاختصاره فإن كان فيه ذكاء وتنبه بذكائه لموضع سؤال أو ثارت في نفسه شبهة فقد بدت العلة المحذورة وظهر الداء فلا بأس أن يرقى منه إلى القدر الذي ذكرناه في كتاب الاقتصاد في الاعتقاد وهو قدر خمسين ورقة وليس فيه خروج عن النظر في قواعد العقائد إلى غير ذلك من مباحث المتكلمين
Adapun di negeri-negeri yang kebid'ahannya sedikit dan tidak banyak perselisihan mazhab, maka cukuplah memaparkan pokok-pokok akidah yang telah kami sebutkan tanpa perlu menguraikan dalil-dalil perdebatan, serta menunggu hingga muncul keraguan. Jika timbul keraguan, barulah dijelaskan secukupnya. Namun jika kebid'ahan telah merajalela dan dikhawatirkan anak-anak akan terpedaya, tidak mengapa mengajari mereka kadar yang telah kami cantumkan dalam kitab Ar-Risalah Al-Qudsiyyah, agar hal itu menjadi sarana penolak pengaruh debat para ahli bid'ah jika sampai kepada mereka. Ini adalah kadar yang ringkas yang telah kami masukkan dalam kitab ini karena ringkasnya. Jika anak tersebut cerdas dan kecerdasannya membuatnya kritis terhadap suatu masalah atau muncul syubhat dalam dirinya, maka bahaya yang dikhawatirkan telah tampak dan penyakitnya telah muncul. Saat itu, tidak mengapa menaikkan tingkatannya ke kadar yang kami sebutkan dalam kitab Al-Iqtishad fil I'tiqad, yaitu sekitar lima puluh lembar, yang di dalamnya tidak keluar dari pembahasan kaidah-kaidah akidah menuju pembahasan ahli Kalam lainnya.
فإن اقنعه ذلك كف عنه وإن لم يقنعه ذلك فقد صارت العلة مزمنة والداء غالباً والمرض سارياً فليتلطف به الطبيب بقدر إمكانه وينتظر قضاء الله تعالى فيه إلى أن ينكشف له الحق بتنبيه من الله سبحانه أو يستمر على الشك والشبهة إلى ما قدر له فالقدر الذي يحويه ذلك الكتاب وجنسه من المصنفات هو الذي يرجى نفعه
Jika kadar tersebut telah memuaskannya, maka hentikanlah pengajaran Kalam kepadanya. Namun jika belum memuaskannya, berarti penyakitnya telah kronis, penderitaannya telah parah, dan wabahnya telah menjalar. Maka hendaknya sang dokter (ulama) memperlakukannya dengan penuh kelembutan sejauh kemampuannya, seraya menunggu ketetapan Allah Ta'ala padanya hingga kebenaran tersingkap baginya melalui ilham dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, atau ia terus berada dalam keraguan dan syubhat sesuai dengan apa yang telah ditakdirkan baginya. Maka kadar yang dikandung oleh kitab tersebut dan karya sejenisnya dialah yang diharapkan manfaatnya.
فأما الخارج منه فقسمان أحدهما بحث عن غير قواعد العقائد كالبحث عن الاعتمادات وعن الأكوان وعن الإدراكات وعن الخوض في الرؤية هل لها ضد يسمى المنع أو العمى وإن كان فذلك واحد هو منع عن جميع ما لا يرى أو ثبت لكل مرئي يمكن رؤيته منع بحسب عدده إلى غير ذلك من الترهات المضلات
Adapun pembahasan di luar kadar tersebut terbagi menjadi dua bagian: Pertama, pembahasan di luar kaidah-kaidah akidah, seperti pembahasan tentang i'timad (daya pendorong), akwan (eksistensi materi/aksiden), idrakat (proses persepsi), dan perdebatan mendalam mengenai rukyah (melihat Allah)—apakah memiliki lawan yang disebut penghalang (al-man') atau kebutaan, dan jika ada, apakah itu satu penghalang untuk semua yang tidak terlihat ataukah ada penghalang pada setiap objek yang mungkin dilihat sesuai jumlahnya, serta berbagai omong kosong yang menyesatkan lainnya.
والقسم الثاني زيادة تقرير لتلك الأدلة في غير تلك القواعد وزيادة أسئلة وأجوبة وذلك أيضاً استقصاء لا يزيد إلا ضلالاً وجهلاً في حق من لم يقنعه ذلك القدر فرب كلام يزيده الإطناب والتقرير غموضاً
Bagian kedua adalah penambahan pemantapan terhadap dalil-dalil tersebut di luar kaidah-kaidah utama, serta penambahan pertanyaan dan jawaban yang mendalam. Hal ini juga merupakan pendalaman yang tidak akan menambah selain kesesatan dan kebodohan bagi orang yang tidak merasa puas dengan kadar tadi; sebab betapa banyak ucapan yang justru semakin kabur akibat penjabaran yang bertele-tele dan penegasan yang berlebihan.
ولو قال قائل البحث عن حكم الإدراكات والاعتمادات فيه فائدة تشحيذ الخواطر
Dan jika ada yang berkata: "Pembahasan mengenai hukum persepsi (idrakat) dan daya pendorong (i'timad) memiliki faedah untuk mengasah nalar,"
والخاطر آلة الدين كالسيف آلة الجهاد فلا بأس بتشحيذه كان كقوله لعب الشطرنج يشحذ الخاطر فهو من الدين أيضاً وذلك هوس فإن الخاطر يتشحذ بسائر علوم الشرع ولا يخاف فيها مضرة فقد عرفت بهذا القدر المذموم والقدر المحمود من الكلام والحال التي يذم فيها والحال التي يحمد فيها والشخص الذي ينتفع به والشخص الذي لا ينتفع به
"…sedangkan nalar adalah instrumen agama sebagaimana pedang adalah instrumen jihad, maka tidak mengapa mengasahnya," maka perumpamaan ini sama seperti ucapan seseorang bahwa bermain catur mengasah nalar sehingga ia termasuk bagian dari agama pula. Ucapan demikian adalah suatu omong kosong semata, sebab nalar dapat diasah melalui seluruh ilmu syariat lainnya tanpa mengkhawatirkan timbulnya bahaya. Dengan uraian ini, engkau telah mengetahui kadar yang tercela dan kadar yang terpuji dari ilmu Kalam, kondisi yang membuatnya tercela dan kondisi yang membuatnya terpuji, serta orang yang dapat mengambil manfaat dengannya dan orang yang tidak dapat mengambil manfaat darinya.
فإن قلت مهما اعترفت بالحاجة إليه في دفع المبتدعة والآن قد ثارت البدع وعمت البلوى وأرهقت الحاجة فلا بد أن يصير القيام بهذا العلم من فروض الكفايات كالقيام بحراسة الأموال وسائر الحقوق كالقضاء والولاية وغيرهما وما لم يشتغل العلماء بنشر ذلك والتدريس فيه والبحث عنه لا يدوم ولو ترك بالكلية لاندرس وليس في مجرد الطباع كفاية لحل شبه المبتدعة ما لم
Jika engkau bertanya: "Selama engkau mengakui perlunya ilmu Kalam untuk menolak para ahli bid'ah, sedangkan sekarang bid'ah telah merebak, cobaan telah merata, dan kebutuhan semakin mendesak, maka menegakkan ilmu ini tentu menjadi bagian dari fardu kifayah, sebagaimana menjaga harta benda dan hak-hak lainnya seperti peradilan, pemerintahan, dan selainnya. Selama para ulama tidak sibuk menyebarkan, mengajarkan, dan mengkajinya, ilmu ini tidak akan bertahan; dan jika ditinggalkan secara total, ilmu ini akan sirna. Padahal watak alami saja tidaklah cukup untuk memecahkan keraguan para ahli bid'ah selama…"
يتعلم فينبغي أن يكون التدريس فيه والبحث عنه أيضاً من فروض الكفايات بخلاف زمن الصحابة ﵃ فإن الحاجة ما كانت ماسة إليه
"…ia tidak dipelajari. Oleh karena itu, pengajaran dan pengkajian ilmu Kalam hendaknya juga menjadi bagian dari fardu kifayah, berbeda dengan zaman para Sahabat r.a. di mana kebutuhan terhadapnya belum mendesak."
فاعلم أن الحق أنه لا بد في كل بلد من قائم بهذا العلم مستقل يدفع شبه المبتدعة التي ثارت في تلك البلدة وذلك يدوم بالتعليم ولكن ليس من الصواب تدريسه على العموم كتدريس الفقه والتفسير فإن هذا مثل الدواء والفقه مثل الغذاء وضرر الغذاء لا يحذر وضرر الدواء محذور لما ذكرنا فيه من أنواع الضرر
Maka ketahuilah, kebenarannya adalah bahwa memang harus ada di setiap negeri seorang ulama yang menguasai ilmu ini secara mandiri guna menolak keraguan para ahli bid'ah yang muncul di negeri tersebut, dan hal itu dapat berlanjut melalui pengajaran. Akan tetapi, tidaklah tepat mengajarkannya secara umum sebagaimana pengajaran fiqih dan tafsir. Sebab, ilmu Kalam ini bagaikan obat, sedangkan fiqih bagaikan makanan. Bahaya makanan tidaklah dikhawatirkan, sedangkan bahaya obat patut diwaspadai karena berbagai jenis bahaya yang telah kami sebutkan padanya.
فالعالم الذي ينبغي أن يخصص بتعليم هذا العلم من فيه ثلاث خصال إحداها التجرد للعلم والحرص عليه فإن المحترف يمنعه الشغل عن الاستتمام وإزالة الشكوك إذا عرضت
Maka ulama yang hendaknya dikhususkan untuk mempelajari ilmu ini adalah orang yang memiliki tiga kriteria: Pertama, mendedikasikan diri sepenuhnya untuk ilmu dan berhasrat tinggi terhadapnya, karena orang yang disibukkan oleh pekerjaan duniawi akan terhalang dari menuntaskan pemahaman dan menghilangkan keraguan ketika keraguan itu datang.
الثانية الذكاء والفطنة والفصاحة فإن البليد لا ينتفع بفهمه والفدم لا ينتفع بحجاجه فيخاف عليه من ضرر الكلام ولا يرجى فيه نفعه
Kedua, memiliki kecerdasan, ketajaman berpikir, dan kelancaran berbicara (kefasihan). Sebab, orang yang bebal tidak akan memetik manfaat dari pemahamannya, dan orang yang kaku tidak akan memberi manfaat dengan argumentasinya, sehingga dikhawatirkan terkena bahaya ilmu Kalam dan tidak diharapkan manfaat darinya.
الثالثة أن يكون في طبعه الصلاح والديانة والتقوى ولا تكون الشهوات غالبة عليه فإن الفاسق بأدنى شبهة ينخلع عن الدين فإن ذلك يحل عنه الحجر ويرفع للسد الذي بينه وبين الملاذ فلا يحرص على إزالة الشبهة بل يغتنمها ليتخلص من أعباء التكليف فيكون ما يفسده مثل هذا المتعلم أكثر مما يصلحه
Ketiga, dalam watak dirinya terdapat kesalehan, ketaatan beragama, dan ketakwaan, serta tidak dikuasai oleh hawa nafsu. Sebab, orang fasik dengan keraguan paling ringan sekalipun dapat terlepas dari ikatan agama, karena hal itu akan melepaskan kekangan dari dirinya dan merubuhkan benteng yang membatasi dirinya dengan kelezatan duniawi. Akibatnya, ia tidak berhasrat menghilangkan syubhat tersebut, melainkan justru memanfaatkannya untuk membebaskan diri dari beban kewajiban syariat (taklif). Maka apa yang dirusak oleh murid seperti ini jauh lebih banyak daripada apa yang diperbaikinya.
وإذا عرفت هذه الانقسامات اتضح لك أن هذه الحجة المحمودة في الكلام إنما هي من جنس حجج القرآن من الكلمات اللطيفة المؤثرة في القلوب المقنعة للنفوس دون التغلغل في التقسيمات والتدقيقات التي لا يفهمها أكثر الناس وإذا فهموها اعتقدوا أنها شعوذة وصناعة تعلمها صاحبها للتلبيس فإذا قابله مثله في الصنعة قاومه
Apabila engkau telah mengetahui pembagian-pembagian ini, maka menjadi jelas bagimu bahwa argumen yang terpuji dalam ilmu kalam ini sesungguhnya sejenis dengan argumen-argumen Al-Qur'an, yaitu berupa kalimat-kalimat yang lembut, menyentuh hati, dan meyakinkan jiwa, tanpa mendalam-dalamkan pembagian dan ketelitian rinci yang tidak dipahami oleh mayoritas manusia. Dan jika mereka memahaminya, mereka mengira bahwa itu adalah trik sulap atau keahlian yang dipelajari pemiliknya untuk merancukan kebenaran (talbis); sehingga apabila ia berhadapan dengan orang yang setara dalam keahlian tersebut, orang itu akan membalasnya.
وعرفت أن الشافعي وكافة السلف إنما منعوا عن الخوض فيه والتجرد له لما فيه من الضرر الذي نبهنا عليه
Dan engkau mengetahui bahwa Imam Asy-Syafi'i serta seluruh Ulama Salaf melarang dari mendalami dan mencurahkan diri sepenuhnya untuk ilmu kalam hanyalah karena bahaya yang terkandung di dalamnya, sebagaimana yang telah kami ingatkan.
وأن ما نقل عن ابن عباس ﵄ من مناظرة الخوارج وما نقل عن علي ﵁ من المناظرة في القدر وغيره كان من الكلام الجلي الظاهر وفي محل الحاجة وذلك محمود في كل حال
Dan bahwasanya apa yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berupa perdebatan dengan kaum Khawarij, serta apa yang diriwayatkan dari Ali radhiyallahu 'anhu berupa perdebatan tentang takdir dan selainnya, adalah termasuk perkataan yang jelas, nyata, dan pada saat dibutuhkan; dan hal demikian adalah terpuji dalam setiap keadaan.
نعم قد تختلف الأعصار في كثرة الحاجة وقلتها فلا يبعد أن يختلف الحكم لذلك فهذا حكم العقيدة التي تعبد الخلق بها وحكم طريق النضال عنها وحفظها فأما إزالة الشبهة وكشف الحقائق ومعرفة الأشياء على ما هي عليه وإدراك الأسرار التي يترجمها ظاهر ألفاظ هذه العقيدة فلا مفتاح له إلا المجاهدة وقمع الشهوات والإقبال بالكلية على الله تعالى وملازمة الفكر الصافي عن شوائب المجادلات وهي رحمة من الله ﷿ تفيض على من يتعرض لنفحاتها بقدر الرزق وبحسب التعرض وبحسب قبول المحل وطهارة القلب وذلك البحر الذي لا يدرك غوره ولا يبلغ ساحله
Benar, zaman dapat berbeda dalam hal banyak atau sedikitnya kebutuhan (terhadap perdebatan itu), maka tidak mustahil hukumnya pun berbeda karena hal tersebut. Maka inilah hukum akidah yang dengannya para hamba diperintahkan untuk beribadah, serta hukum cara membela dan menjaganya. Adapun menghilangkan syubhat, menyingkap hakikat-hakikat, mengetahui segala sesuatu sebagaimana adanya, dan memahami rahasia-rahasia yang diterjemahkan oleh lafaz-lafaz lahiriah akidah ini, tidak ada kuncinya kecuali mujahadah, menekan hawa nafsu, menghadap sepenuhnya kepada Allah Ta'ala, serta melazimkan tafakur yang bersih dari kerancuan perdebatan. Hal itu merupakan rahmat dari Allah 'Azza wa Jalla yang melimpah kepada siapa saja yang membuka diri bagi hembusan-hembusan rahmat-Nya, sesuai kadar rezeki, kadar usaha, kesiapan tempat (jiwa), dan kesucian hati. Dan itulah lautan yang tidak terduga kedalamannya serta tidak tertembus pantainya.
مسألة فإن قلت هذا الكلام يشير إلى أن هذه العلوم لها ظواهر وأسرار وبعضها جلي يبدو أولاً وبعضها خفي يتضح بالمجاهدة والرياضة والطلب الحثيث والفكر الصافي والسر الخالي عن كل شيء من أشغال الدنيا سوى المطلوب وهذا يكاد يكون مخالفاً للشرع إذ ليس للشرع ظاهر وباطن وسر وعلن بل الظاهر والباطن والسر والعلن واحد فيه فاعلم أن انقسام هذه العلوم إلى خفية وجلية لا ينكرها ذو بصيرة وإنما ينكرها القاصرون الذي تلقفوا في أوائل الصبا شيئاً وجمدوا عليه فلم يكن لهم ترق إلى شأو العلاء ومقامات العلماء والأولياء وذلك ظاهر من أدلة الشرع قال ﷺ إن للقرآن ظاهراً وباطنا وحدا ومطلعا وقال علي ﵁ وأشار إلى صدره إن ههنا علوماً جمة لو وجدت لها حملة
Masalah: Jika engkau berkata, 'Perkataan ini mengisyaratkan bahwa ilmu-ilmu ini memiliki aspek lahiriah dan rahasia-rahasia (batiniah); sebagiannya jelas yang tampak di awal, dan sebagiannya tersembunyi yang menjadi jelas melalui mujahadah, riyadhah, pencarian yang bersungguh-sungguh, tafakur yang murni, serta rahasia hati yang bersih dari segala kesibukan dunia selain dari apa yang dicari. Hal ini hampir bertentangan dengan syariat, sebab syariat tidak memiliki lahir dan batin, rahasia dan terang-terangan, melainkan yang lahir dan batin serta yang rahasia dan terang-terangan adalah satu padanya.' Maka ketahuilah, bahwa pembagian ilmu-ilmu ini menjadi tersembunyi (khafi) dan jelas (jali) tidaklah diingkari oleh orang yang memiliki basyirah (pandangan mata hati). Yang mengingkarinya hanyalah orang-orang yang picik, yang mengambil sedikit hal pada masa kanak-kanak lalu bersikap kaku di atasnya, sehingga mereka tidak memiliki peningkatan menuju derajat kegaiban yang tinggi serta maqamat para ulama dan wali. Hal itu sangat jelas dari dalil-dalil syariat. Rasulullah ﷺ bersabda, 'Sesungguhnya Al-Qur'an memiliki zahir (lahiriah), batin (batiniah), hadd (batasan), dan mathla' (puncak pemahaman).' Dan Ali radhiyallahu 'anhu berkata seraya menunjuk ke dadanya, 'Sesungguhnya di sini terdapat ilmu yang sangat banyak, sekiranya aku menemukan para pembawa (penampung)nya.'
وقال ﷺ نحن معاشر الأنبياء أمرنا أن نكلم الناس على قدر عقولهم وقال ﷺ ما حدث أحد قوماً بحديث لم تبلغه عقولهم إلا كان فتنة عليهم وقال الله تعالى ﴿وتلك الأمثال نضربها للناس وما يعقلها إلا العالمون﴾ وقال
Dan Rasulullah ﷺ bersabda, 'Kami para nabi diperintahkan untuk berbicara kepada manusia sesuai kadar akal (pemahaman) mereka.' Beliau ﷺ juga bersabda, 'Tidaklah seseorang menyampaikan suatu perkataan kepada suatu kaum yang tidak terjangkau oleh akal mereka, melainkan hal itu akan menjadi fitnah bagi mereka.' Dan Allah Ta'ala berfirman, 'Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tidak ada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.' (QS. Al-'Ankabut: 43). Dan Beliau bersabda,
صلى الله عليه وسلم إن من العلم كهيئة المكنون لا يعلمه إلا العالمون بالله تعالى الحديث إلى آخره كما أوردناه في كتاب العلم
shallallahu 'alaihi wa sallam, 'Sesungguhnya di antara ilmu ada yang bagaikan perhiasan yang tersembunyi, tidak ada yang mengetahuinya kecuali orang-orang yang berilmu tentang Allah Ta'ala…' hingga akhir hadis sebagaimana telah kami paparkan dalam Kitab Ilmu.
وقال ﷺ لو تعلمون ما أعلم لضحكتم قليلاً ولبكيتم كثيراً فليت شعري إن لم يكن ذلك سراً منع من إفشائه لقصور الأفهام عن إدراكه أو لمعنى آخر فلم لم يذكره لهم ولا شك أنهم كانوا يصدقونه لو ذكره لهم وقال ابن عباس ﵄ في قوله ﷿ الله الذي خلق سبع سموات ومن الأرض مثلهن يتنزل الأمر بينهن لو ذكرت تفسيره لرجمتموني
Dan Rasulullah ﷺ bersabda, 'Sekiranya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.' Sungguh, sekiranya hal itu bukan merupakan rahasia yang dicegah dari penyebarannya karena keterbatasan pemahaman untuk menangkapnya atau karena alasan lain, lalu mengapa Beliau tidak menyebutkannya kepada mereka? Padahal tidak diragukan lagi bahwa mereka pasti akan membenarkan Beliau sekiranya Beliau menyebutkannya kepada mereka. Dan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata mengenai firman Allah 'Azza wa Jalla, 'Allah yang menciptakan tujuh langit dan dari (ciptaan) bumi juga serupa. Perintah-Nya berlaku di antara keduanya…' (QS. At-Thalaq: 12), 'Sekiranya aku sebutkan tafsirnya kepada kalian, niscaya kalian akan merajamku,'
وفي لفظ آخر لقلتم إنه كافر وقال أبو هريرة ﵁ حفظت من رسول الله ﷺ وعاءين أما أحدهما فبثثته وأما الآخر لو بثثته لقطع هذا الحلقوم
dan dalam lafaz yang lain, 'niscaya kalian akan mengatakan bahwa dia (Ibnu Abbas) adalah orang kafir.' Dan Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata, 'Aku menghafal dari Rasulullah ﷺ dua wadah (ilmu). Adapun salah satunya telah aku sebarkan, sedangkan yang satunya lagi, sekiranya aku sebarkan, niscaya tenggorokan ini akan dipotong.'
وقال ﷺ ما فضلكم أبو بكر بكثرة صيام ولا صلاة ولكن بسر وقر في صدره ﵁ ولا شك في أن ذلك السر كان متعلقاً بقواعد الدين غير خارج منها وما كان من قواعد الدين لم يكن خافياً بظواهره على غيره وقال سهل التستري ﵁ للعالم ثلاثة علوم علم ظاهر يبذله لأهل الظاهر وعلم باطن لا يسعه إظهاره إلا لأهله وعلم هو بينه وبين الله تعالى لا يظهره لأحد
Dan Rasulullah ﷺ bersabda, 'Abu Bakar tidaklah mengungguli kalian karena banyaknya puasa atau shalat, melainkan karena suatu rahasia yang terpatri di dalam dadanya (radhiyallahu 'anhu).' Dan tidak diragukan lagi bahwa rahasia tersebut berkaitan dengan kaidah-kaidah agama, tidak keluar darinya, sedangkan aspek lahiriah dari kaidah-kaidah agama itu tidaklah tersembunyi bagi orang lain. Dan Sahl At-Tustari radhiyallahu 'anhu berkata, 'Bagi orang yang berilmu ada tiga macam ilmu: ilmu lahiriah yang ia bagikan kepada ahli lahiriah, ilmu batiniah yang tidak lapang baginya untuk menampakkannya kecuali kepada ahlinya, serta ilmu yang ada di antara dirinya dengan Allah Ta'ala yang tidak ia tampakkan kepada seorang pun.'
وقال بعض العارفين إفشاء سر الربوبية كفر
Dan sebagian orang-orang arif (al-'arifin) berkata, 'Membocorkan rahasia ketuhanan (sirr ar-rububiyyah) adalah kekufuran.'
وقال بعضهم للربوبية سر لو أظهر لبطلت النبوة وللنبوة سر لو كشف لبطل العلم وللعلماء بالله سر لو أظهروه لبطلت الأحكام وهذا القائل إن لم يرد بذلك بطلان النبوة في حق الضعفاء لقصور فهمهم فما ذكره ليس بحق بل الصحيح أنه لا تناقص فيه وأن الكامل من لا يطفي نور معرفته نور ورعه وملاك الورع النبوة
Dan sebagian mereka berkata, 'Bagi ketuhanan (rububiyyah) ada rahasia yang sekiranya ditampakkan niscaya batal lah kenabian; bagi kenabian ada rahasia yang sekiranya disingkapkan niscaya batal lah ilmu; dan bagi para ulama billah ada rahasia yang sekiranya mereka tampakkan niscaya batal lah hukum-hukum.' Namun penutur ini, jika tidak bermaksud dengannya adalah batalnya kenabian dalam hak orang-orang yang lemah karena keterbatasan pemahaman mereka, maka apa yang ia sebutkan itu tidaklah benar. Bahkan yang benar adalah tidak ada kontradiksi di dalamnya, dan bahwasanya orang yang sempurna adalah orang yang cahaya ma'rifatnya tidak memadamkan cahaya wara'-nya, sedangkan pilar utama dari wara' adalah kenabian.
مسألة فإن قلت هذه الآيات والأخبار يتطرق إليها تأويلات فبين لنا كيفية اختلاف الظاهر والباطن فإن الباطن إن كان مناقضاً للظاهر ففيه إبطال الشرع وهو قول من قال إن الحقيقة خلاف الشريعة وهو كفر لأن الشريعة عبارة عن الظاهر والحقيقة عبارة عن الباطن وإن كان لا يناقضه ولا يخالفه فهو هو فيزول به الانقسام ولا يكون للشرع سر لا يفشى بل يكون الخفي والجلي واحد فاعلم أن هذا السؤال يحرك خطباً عظيماً وينجر إلى علوم المكاشفة ويخرج عن مقصود علم المعاملة وهو غرض هذه الكتب فإن العقائد التي ذكرناها من أعمال القلوب وقد تعبدنا بتلقينها بالقبول والتصديق بعقد القلب عليها لا بأن يتوصل إلى أن ينكشف لنا حقائقها فإن ذلك لم يكلف به كافة الخلق ولولا أنه من الأعمال لما أوردناه في هذا الكتاب ولولا أنه عمل ظاهر القلب لا عمل باطنه لما أوردناه في الشطر الأول من الكتاب وإنما الكشف الحقيقي هو صفة سر القلب وباطنه ولكن إذا انجر الكلام إلى تحريك خيال في مناقضة الظاهر للباطن فلا بد من كلام وجيز في حله
Masalah: Jika engkau berkata, 'Ayat-ayat dan hadis-hadis ini dapat terbuka bagi berbagai penakwilan, maka jelaskanlah kepada kami bagaimana bentuk perbedaan antara yang lahiriah (zahir) dan batiniah (batin)? Sebab jika yang batin itu bertentangan dengan yang lahir, maka di dalamnya terdapat pembatalan terhadap syariat, dan itu merupakan pendapat orang yang mengatakan bahwa hakikat berseberangan dengan syariat—yang mana hal itu adalah kekufuran, karena syariat adalah ungkapan dari yang lahir sedangkan hakikat adalah ungkapan dari yang batin. Namun jika yang batin itu tidak bertentangan dan tidak menyelisihi yang lahir, maka keduanya adalah hal yang sama, sehingga hilanglah pembagian itu dan syariat tidak lagi memiliki rahasia yang tidak disebarkan, melainkan yang tersembunyi dan yang jelas adalah sama.' Maka ketahuilah, bahwa pertanyaan ini membangkitkan persoalan yang sangat besar, menyeret ke dalam ilmu mukasyafah, dan keluar dari maksud ilmu mu'amalah yang menjadi tujuan dari kitab-kitab ini. Sebab akidah-akidah yang telah kami sebutkan termasuk dari amalan-amalan hati, dan kita telah diperintahkan untuk menuntutnya dengan penerimaan serta pembenaran melalui ikatan hati padanya, bukan dengan cara sampai tersingkap bagi kita hakikat-hakikatnya, karena hal itu tidak dibebankan kepada seluruh hamba. Sekiranya itu bukan bagian dari amalan, niscaya kami tidak mencantumkannya dalam kitab ini; dan sekiranya itu bukan amalan lahiriah hati dan bukan amalan batinnya, niscaya kami tidak mencantumkannya dalam bagian pertama dari kitab ini. Sesungguhnya penyingkapan (kasyf) yang hakiki adalah sifat dari rahasia hati dan batinnya. Akan tetapi, apabila pembicaraan menyeret kepada pembangkitan prasangka tentang pertentangan antara lahiriah dan batiniah, maka harus ada penjelasan ringkas untuk mengurainya.
فمن قال إن الحقيقة تخالف الشريعة أو الباطن يناقض الظاهر فهو إلى الكفر أقرب منه إلى الإيمان بل الأسرار التي يختص بها المقربون بدركها ولا يشاركهم الأكثرون في علمها ويمتنعون عن إفشائها إليهم ترجع إلى خمسة أقسام القسم الأول أن يكون الشيء في نفسه دقيقاً تكل أكثر الأفهام عن دركه فيختص بدركه الخواص وعليهم أن لا يفشوه إلى غير أهله فيصير ذلك فتنة عليهم حيث تقصر أفهامهم عن الدرك
Maka barangsiapa mengatakan bahwa hakikat menyelisihi syariat atau batin bertentangan dengan lahiriah, maka ia lebih dekat kepada kekufuran daripada keimanan. Sebaliknya, rahasia-rahasia yang dikhususkan bagi orang-orang terdekat (al-muqarrabun) dalam memahaminya, yang tidak diserupai oleh mayoritas orang dalam pengetahuannya, serta mereka menahan diri untuk tidak membocorkannya kepada mereka, bermuara pada lima bagian: Bagian Pertama, bahwa sesuatu itu pada dirinya sendiri sangat halus/rumit sehingga kebanyakan akal tumpul untuk mencapainya; maka pencapaiannya khusus bagi orang-orang khusus (al-khawash), dan mereka wajib tidak membocorkannya kepada yang bukan ahlinya sehingga hal itu tidak menjadi fitnah bagi mereka disebabkan tumpulnya pemahaman mereka dari mencapainya.
وإخفاء سر الروح وكف رسول الله ﷺ عن بيانه من هذا القسم فإن حقيقته بما تكل الأفهام عن دركه وتقصر الأوهام عن تصور كنهه
Penyembunyian rahasia tentang ruh dan tertahannya Rasulullah ﷺ dari menjelaskannya adalah termasuk bagian ini, karena hakikatnya termasuk hal yang mana pemahaman tumpul untuk mencapainya dan prasangka-prasangka terbatas untuk membayangkan hakikat sebenarnya.
ولا تظنن أن ذلك لم يكن مكشوفاً لرسول الله ﷺ فإن من لم يعرف الروح فكأنه لم يعرف نفسه ومن لم يعرف نفسه
Dan janganlah engkau mengira bahwa hal itu tidak terungkap bagi Rasulullah ﷺ, karena barangsiapa tidak mengenal ruh maka seolah-olah ia tidak mengenal dirinya sendiri, dan barangsiapa tidak mengenal dirinya sendiri,
فكيف يعرف ربه سبحانه ولا يبعد أن يكون ذلك مكشوفاً لبعض الأولياء والعلماء وإن لم يكونوا أنبياء ولكنهم يتأدبون بآداب الشرع فيسكتون عما سكت عنه بل في صفات الله ﷿ من الخفايا ما تقصر أفهام الجماهير عن دركه ولم يذكر رسول الله ﷺ منها إلا الظواهر للأفهام من العلم والقدرة وغيرهما حتى فهمها الخلق بنوع مناسبة توهموها إلى علمهم وقدرتهم إذ كان لهم من الأوصاف ما يسمى علماً وقدرة فيتوهمون ذلك بنوع مقايسة
maka bagaimana ia dapat mengenal Tuhannya Subhanah? Dan tidaklah mustahil jika hal tersebut terungkap bagi sebagian para wali dan ulama meskipun mereka bukan para nabi, namun mereka beradab dengan adab-adab syariat sehingga mereka berdiam diri dari apa yang didiamkan oleh syariat. Bahkan, dalam sifat-sifat Allah 'Azza wa Jalla terdapat kelembutan-kelembutan yang pemahaman orang banyak terbatas untuk menggapainya, dan Rasulullah ﷺ tidak menyebutkan darinya kecuali hal-hal yang tampak jelas bagi pemahaman seperti ilmu, kekuasaan (qudrah), dan selain keduanya, sehingga makhluk memahaminya dengan sejenis persesuaian yang mereka bayangkan dengan ilmu dan kekuasaan mereka, karena mereka memiliki sifat-sifat yang dinamakan ilmu dan kekuasaan, lalu mereka membayangkannya melalui sejenis kiasan (pengoperan pemahaman).
ولو ذكر من صفاته ما ليس للخلق مما يناسبه بعض المناسبة شيء لم يفهموه بل لذة الجماع إذا ذكرت للصبي أو العنين لم يفهمها إلا بمناسبة إلى لذة المطعوم الذي يدركه ولا يكون ذلك فهماً على التحقيق
Dan sekiranya Beliau menyebutkan sifat-sifat Allah yang tidak dimiliki oleh makhluk serta tidak ada yang menyerupainya sedikit pun, niscaya mereka tidak akan memahaminya. Bahkan, kenikmatan bersetubuh jika disebutkan kepada anak kecil atau orang yang mengalami impotensi ('anin), ia tidak akan memahaminya kecuali dengan menganalogikannya kepada kenikmatan makanan yang ia rasakan, dan hal itu bukanlah pemahaman yang hakiki.
والمخالفة بين علم الله تعالى وقدرته وعلم الخلق وقدرتهم أكثر من المخالفة بين لذة الجماع والأكل
Padahal perbedaan antara ilmu Allah Ta'ala dan kekuasaan-Nya dengan ilmu makhluk dan kekuasaan mereka jauh lebih besar daripada perbedaan antara nikmatnya bersetubuh dan makan.
وبالجملة فلا يدرك الإنسان إلا نفسه وصفات نفسه مما هي حاضرة له في الحال أو مما كانت له من قبل ثم بالمقايسة إليه يفهم ذلك لغيره ثم قد يصدق بأن بينهما تفاوتاً في الشرف والكمال فليس في قوة البشر إلا أن يثبت لله تعالى ما هو ثابت لنفسه من الفعل والعلم والقدرة وغيرها من الصفات مع التصديق بأن ذلك أكمل وأشرف فيكون معظم تحريمه على صفات نفسه لا على ما اختص الرب تعالى به من الجلال
Ringkasnya, manusia tidak dapat memahami kecuali dirinya sendiri dan sifat-sifat dirinya sendiri dari apa yang hadir baginya saat ini atau dari apa yang ada padanya sebelumnya, kemudian dengan menganalogikan kepadanya ia memahami hal itu bagi orang lain; lalu terkadang ia membenarkan bahwa di antara keduanya terdapat perbedaan dalam keagungan dan kesempurnaan. Maka tidak ada dalam kemampuan manusia kecuali menetapkan bagi Allah Ta'ala apa yang tetap bagi dirinya sendiri berupa perbuatan, ilmu, kekuasaan, dan sifat-sifat lainnya, disertai pembenaran bahwa sifat Allah itu lebih sempurna dan lebih agung; sehingga sebagian besar pembatasannya kembali kepada sifat-sifat dirinya sendiri, bukan kepada keagungan yang khusus dimiliki oleh Rabb Ta'ala.
وَلِذَلِكَ قَالَ ﷺ لَا أحصي ثناء عليك أنت كما أثنيت على نفسك وليس المعنى أني أعجز عن التعبير عما أدركته بل هو اعتراف بالقصور عن إدراك كنه جلاله
Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ bersabda, "Aku tidak mampu menghitung pujian bagi-Mu, sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri." Maknanya bukanlah beliau tidak mampu mengungkapkan apa yang telah beliau pahami, melainkan sebuah pengakuan atas keterbatasan dalam menggapai hakikat keagungan-Nya.
ولذلك قال بعضهم ما عرف الله بالحقيقة سوى الله ﷿
Karena itu pula, sebagian ulama berkata, "Tidak ada yang mengenali Allah dengan kebenaran hakiki selain Allah Azza wa Jalla sendiri."
وقال الصديق ﵁ الحمد لله الذي لم يجعل للخلق سبيلاً إلى معرفته إلا بالعجز عن معرفته
Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu berkata, "Segala puji bagi Allah yang tidak menjadikan bagi makhluk jalan menuju Ma'rifat (mengenal)-Nya melainkan melalui kesadaran akan ketidakmampuan untuk mengenal-Nya."
ولنقبض عنان الكلام عن هذا النمط ولنرجع إلى الغرض وهو أن أحد الأقسام ما تكل الأفهام عن إدراكه ومن جملته الروح ومن جملته بعض صفات الله تعالى
Hendaklah kita menahan kendali pembicaraan dari corak ini dan kembali kepada maksud utama, yaitu bahwa salah satu bagian dari rahasia adalah apa yang pemahaman manusia lemah untuk menggapainya, di antaranya adalah masalah ruh dan sebagian dari sifat-sifat Allah Ta'ala.
ولعل الإشارة إلى مثله في قوله ﷺ إن لله ﷾ سبعين حجاباً من نور لو كشفها لأحرقت سبحات وجهه كل من أدركه بصره
Boleh jadi isyarat kepada hal semisal itu terdapat dalam sabda Rasulullah ﷺ, "Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memiliki tujuh puluh hijab dari cahaya. Seandainya Dia menyibakkannya, niscaya keagungan Dzat-Nya akan membakar siapa saja yang terjangkau oleh pandangan-Nya."
القسم الثاني من الخفيات التي تمتنع الأنبياء والصديقون عن ذكرها ما هو مفهوم في نفسه لا يكل الفهم عنه لكن ذكره يضر بأكثر المستمعين ولا يضر بالأنبياء والصديقين
Bagian kedua dari hal-hal samar yang enggan disebutkan oleh para nabi dan shiddiqin adalah sesuatu yang pada dasarnya dapat dipahami secara mandiri dan akal tidak lemah darinya, namun menyebutkannya justru membahayakan mayoritas pendengar, meskipun tidak membahayakan para nabi dan shiddiqin.
وسر القدر الذي منع أهل العلم من إفشائه من هذا القسم فلا يبعد أن يكون ذكر بعض الحقائق مضراً ببعض الخلق كما يضر نور الشمس بأبصار الخفافيش وكما تضر رياح الورد بالجعل وكيف يبعد هذا وقولنا إن الكفر والزنا والمعاصي والشرور كله بقضاء الله تعالى وإرادته ومشيئته حق في نفسه وقد أضر سماعه بقوله إذ أوهم ذلك عندهم أنه دلالة على السفه ونقيض الحكمة والرضا بالقبيح والظلم وقد ألحد ابن الراوندي وطائفة من المخذولين بمثل ذلك
Rahasia takdir (sirr al-qadar) yang dipegang oleh para ahli ilmu agar tidak disebarluaskan termasuk dalam bagian ini. Maka tidaklah mustahil jika penyebutan sebagian hakikat justru membahayakan sebagian makhluk, sebagaimana cahaya matahari membahayakan penglihatan kelelawar dan sebagaimana aroma mawar membahayakan kumbang kotoran. Bagaimana hal ini dianggap mustahil, padahal ucapan kita bahwa "Kekufuran, perzinahan, kemaksiatan, dan keburukan seluruhnya terjadi atas ketetapan (qadha'), kehendak (iradah), dan kemauan (masyi'ah) Allah Ta'ala" adalah benar pada dirinya sendiri, namun mendengarnya secara mentah-mentah justru membahayakan sebagian orang? Sebab hal itu menimbulkan prasangka pada diri mereka bahwa hal tersebut menunjukkan kebodohan, bertentangan dengan hikmah, serta bermakna keridhaan terhadap keburukan dan kezaliman. Sungguh Ibnu ar-Rawandi beserta sekelompok orang yang tertipu telah menjadi zindiq karena hal semacam itu.
وكذلك سر القدر لو أفشي لأوهم عند أكثر الخلق عجزاً إذ تقصر أفهامهم عن إدراك ما يزيل ذلك الوهم عنهم ولو قال قائل إن القيامة لو ذكر ميقاتها وأنها بعد ألف سنة أو أكثر أو أقل لكان مفهوماً ولكن لم يذكر لمصلحة العباد وخوفاً من الضرر فلعل المدة إليها بعيدة فيطول الأمد وإذا استبطأت النفوس وقت العقاب قل اكتراثها ولعلها كانت قريبة في علم الله سبحانه ولو ذكرت لعظم الخوف وأعرض الناس عن الأعمال وخربت الدنيا فهذا المعنى لو اتجه وصح فيكون مثالا لهذا القسم
Demikian pula rahasia takdir, seandainya dibeberkan, niscaya akan mengesankan kelemahan bagi mayoritas makhluk, karena pemahaman mereka tidak mampu menggapai hal yang dapat menghilangkan prasangka tersebut. Seandainya seseorang berkata: "Seandainya waktu terjadinya kiamat disebutkan—misalnya setelah seribu tahun, atau lebih, atau kurang—niscaya hal itu dapat dipahami, namun tidak disebutkan demi kemaslahatan para hamba dan karena kekhawatiran timbulnya bahaya." Sebab boleh jadi rentang waktunya masih jauh sehingga masa penantian terasa panjang, dan ketika jiwa-jiwa merasa hukuman itu masih lama, perhatian mereka pun berkurang. Atau boleh jadi waktunya sudah dekat dalam ilmu Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan seandainya disebutkan, niscaya rasa takut akan menjadi terlampau besar sehingga manusia berpaling dari beramal dan dunia menjadi hancur. Maka makna ini, jika tepat dan benar, menjadi sebuah contoh bagi bagian ini.
القسم الثالث أن يكون الشيء بحيث لو ذكر صريحاً لفهم ولم يكن فيه ضرر ولكن يكنى عنه على سبيل الاستعارة والرمز ليكون وقعه في قلب المستمع أغلب وله مصلحة في أن يعظم وقت ذلك الأمر في قلبه كما لو قال قائل رأيت فلاناً يقلد الدر في أعناق الخنازير فكنى به عن إفشاء العلم وبث الحكمة إلى غير أهلها فالمستمع قد يسبق إلى فهمه ظاهر اللفظ والمحقق إذا نظر وعلم أن ذلك الإنسان لم يكن معه در ولا كان في موضعه خنزير تفطن لدرك السر والباطن فيتفاوت الناس في ذلك ومن هذا قال الشاعر
Bagian ketiga adalah sesuatu yang seandainya disebutkan secara eksplisit niscaya akan dipahami dan tidak menimbulkan bahaya, namun ia diungkapkan secara kiasan (metafora) dan lambang agar pengaruhnya di dalam hati pendengar lebih kuat, serta terdapat kemaslahatan agar perkara tersebut diagungkan di dalam hatinya pada saat itu. Sebagaimana jika seseorang berkata: "Aku melihat si Fulan mengalungkan mutiara pada leher babi-babi," yang merupakan kiasan bagi tindakan menyebarkan ilmu dan membagikan hikmah kepada yang bukan ahlinya. Pendengar awam mungkin secara mendadak memahami makna lahiriah lafaz tersebut, sedangkan peneliti yang cermat, ketika memperhatikan dan mengetahui bahwa orang tersebut tidak membawa mutiara dan di tempatnya pun tidak ada babi, akan menyadari dan menangkap rahasia serta makna batinnya. Maka tingkat pemahaman manusia dalam hal ini berbeda-beda. Karena hal inilah seorang penyair berkata:
رجلان خياط وآخر حائك … متقابلان على السماك الأعزل
"Dua pria, seorang penjahit dan seorang penenun … saling berhadapan di atas bintang Simak al-A'zal."
لا زال ينسج ذاك خرقة مدبر … ويخيط صاحبه ثياب المقبل
"Yang satu tak henti menenun kain bagi orang yang bernasib malang … sedang temannya menjahit pakaian bagi orang yang beruntung."
فإنه عبر عن سبب سماوي في الإقبال والإدبار برجلين صانعين وهذا النوع يرجع إلى التعبير عن المعنى بالصورة التي تتضمن عين المعنى أو مثله ومنه قوله ﷺ إن المسجد لينزوي من النخامة كما تنزوي الجلدة على النار وأنت ترى أن ساحة المسجد لا تنقبض بالنخامة ومعناه أن روح المسجد كونه معظما ورمى النخامة فهو تحقير له فيضاد معنى المسجدية مضادة النار لاتصال أجزاء الجلدة وكذلك قوله ﷺ أَمَا يَخْشَى الَّذِي يَرْفَعُ رَأْسَهُ قَبْلَ الْإِمَامِ أن يحول رأسه رأس حمار وذلك من حيث الصورة لم يكن قط ولا يكون ولكن من حيث المعنى هو كائن إذ رأس الحمار لم يكن بحقيقته لكونه وشكله بل بخاصيته وهي البلادة والحمق ومن رفع رأسه قبل الإمام فقد صار رأسه رأس حمار في معنى البلادة والحمق وهو المقصود دون الشكل الذي هو قالب المعنى
Sebab penyair tersebut mengibaratkan sebab langit (takdir) dalam keberuntungan dan kemalangan dengan dua orang pengrajin. Jenis ini kembali pada pengungkapan makna melalui bentuk gambaran yang memuat hakikat makna tersebut atau pemisalannya. Di antaranya adalah sabda Rasulullah ﷺ, "Sesungguhnya masjid itu benar-benar mengerut akibat dahak sebagaimana kulit mengerut di atas api." Padahal engkau melihat bahwa halaman masjid tidaklah menyusut karena dahak. Maknanya adalah bahwa ruh dari masjid itu adalah keadaannya yang diagungkan, sedangkan membuang dahak di dalamnya merupakan perbuatan merendahkan, sehingga hal itu bertentangan dengan makna kemasjidan sebagaimana api bertentangan dengan keutuhan bagian-bagian kulit. Demikian pula sabda beliau ﷺ, "Tidakkah takut orang yang mengangkat kepalanya sebelum imam bahwa Allah akan mengubah kepalanya menjadi kepala keledai?" Hal itu secara bentuk fisik tidak pernah terjadi dan tidak akan terjadi, namun secara makna hal itu benar-benar terjadi. Sebab hakikat kepala keledai bukan terletak pada wujud dan bentuknya semata, melainkan pada karakteristik khasnya, yaitu kedunguan dan kebodohan. Barang siapa yang mengangkat kepalanya sebelum imam, maka kepalanya telah menjadi kepala keledai dalam arti kedunguan dan kebodohan, dan itulah yang dimaksudkan, bukan bentuk fisik yang merupakan wadah lahiriah bagi makna tersebut.
إذ من غاية الحمق أن يجمع بين الاقتداء وبين التقدم فإنهما متناقضان
Sebab termasuk puncak kebodohan adalah menggabungkan antara iktida' (mengikuti imam) dan at-taqaddum (mendahului imam), karena keduanya saling bertolak belakang.
وإنما يعرف أن هذا السر على خلاف الظاهر إما بدليل عقلي أو شرعي أما العقلي فأن يكون حمله على الظاهر غير ممكن كقوله ﷺ قلب المؤمن بين إصبعين من أصابع الرحمن إذ لو فتشنا عن قلوب المؤمنين لم نجد فيها أصابع فعلم أنها كناية عن القدرة التي هي سر الأصابع وروحها الخفي وكنى بالأصابع عن القدرة لأن ذلك أعظم وقعاً في تفهم تمام الاقتدار
Diketahuinya bahwa rahasia ini berbeda dari makna lahiriahnya adalah melalui dalil akal atau dalil syariat. Adapun dalil akal, yaitu jika membawa maknanya pada teks lahiriah adalah hal yang tidak memungkinkan, seperti sabda Nabi ﷺ, "Hati seorang mukmin berada di antara dua jemari dari jemari ar-Rahman." Sebab jika kita memeriksa hati para mukmin, kita tidak akan menemukan jemari di dalamnya. Maka diketahuilah bahwa itu adalah kiasan bagi kekuasaan (Qudrah) yang merupakan rahasia jemari dan ruhnya yang tersembunyi. Penggunaan kiasan jemari untuk kekuasaan adalah karena hal itu memberikan kesan yang lebih kuat dalam memahamkan kesempurnaan kekuasaan.
ومن هذا القبيل في كنايته عن الاقتدار قوله تعالى إنما قولنا لشيء إذا أردناه أن نقول له كن فيكون فإن ظاهره ممتنع إذ قوله كن إن كان خطاباً للشيء قبل وجوده فهو محال إذا المعدوم لا يفهم الخطاب حتى يمثل وإن كان بعد الوجود فهو مستغن عن التكوين
Dan termasuk dalam jenis ini—dalam hal kiasan bagi Mahakuasa—adalah firman Allah Ta'ala, "Sesungguhnya firman Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: 'Jadilah!' maka jadilah ia." Maka makna lahiriahnya secara harfiah tidaklah mungkin, sebab ucapan-Nya "Kun" (Jadilah!), jika itu berupa khitab (seruan) kepada sesuatu sebelum wujudnya, maka hal itu mustahil karena sesuatu yang tiada (ma'dum) tidak paham seruan hingga bisa mematuhinya; dan jika seruan itu setelah wujudnya, maka ia tidak memerlukan penciptaan lagi.
ولكن لما كانت هذه الكناية أوقع في النفوس في تفهيم غاية الاقتدار عدل إليها وأما المدرك بالشرع فهو أن يكون إجراؤه على الظاهر ممكنا ولكنه يروى أنه أريد به غير الظاهر كما ورد في تفسير قوله تعالى أنزل من السماء ماء فسالت أودية بقدرها الآية وأن معنى الماء ههنا هو القرآن ومعنى الأودية هي القلوب وأن بعضها احتملت شيئاً كثيراً وبعضها قليلاً وبعضها لم يحتمل
Namun karena kiasan ini lebih berkesan di dalam jiwa dalam memahamkan puncak kekuasaan, maka berpalinglah pengungkapan kepadanya. Adapun hal yang diketahui melalui syariat, yaitu jika memberlakukan makna lahiriahnya adalah hal yang memungkinkan, namun diriwayatkan bahwa yang dimaksudkan adalah selain makna lahiriah tersebut. Sebagaimana diriwayatkan dalam tafsir firman Allah Ta'ala, "Allah telah menurunkan air dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya…", bahwa makna "air" di sini adalah Al-Qur'an dan makna "lembah-lembah" adalah hati, di mana sebagian hati memuat sangat banyak, sebagian memuat sedikit, dan sebagian lagi tidak memuat sama sekali.
والزبد مثل الكفر والنفاق فإنه وإن ظهر وطفا على رأس الماء فإنه لا يثبت والهداية التي تنفع الناس تمكث
Dan "buih" adalah perumpamaan bagi kekufuran dan kemenafikan; sebab meskipun ia tampak dan terapung di atas permukaan air, ia tidak akan bertahan lama, sedangkan petunjuk yang bermanfaat bagi manusia akan tetap tinggal.
وفي هذا القسم تعمق جماعة فأولوا ما ورد في الآخرة من الميزان والصراط وغيرهما وهو بدعة إذ لم ينقل ذلك بطريق الرواية وإجراؤه على الظاهر غير محال فيجب إجراؤه على الظاهر
Mengenai bagian ini, sekelompok orang telah berlebih-lebihan sehingga mereka menakwilkan hal-hal yang berkaitan dengan akhirat seperti timbangan (mizan), jembatan (shirat), dan lainnya. Hal itu merupakan bid'ah, sebab penakwilan tersebut tidak diriwayatkan melalui jalur riwayat, sementara memberlakukan perkaranya pada makna lahiriah bukanlah hal yang mustahil, sehingga wajib memberlakukannya sesuai makna lahiriah.
القسم الرابع أن يدرك الإنسان الشيء جملة ثم يدركه تفصيلاً بالتحقيق والذوق بأن يصير حالاً ملابساً له فيتفاوت العلمان ويكون الأول كالقشر والثاني كاللباب والأول كالظاهر والثاني كالباطن
Bagian keempat adalah seseorang memahami sesuatu secara garis besar terlebih dahulu, kemudian memahaminya secara terperinci melalui pembuktian hakiki (tahqiq) dan rasa spiritual (dzauq), dengan cara hal itu menjadi kondisi kejiwaan (hal) yang menyatu dengannya. Maka kedua tingkat pengetahuan itu berbeda, yang pertama bagaikan kulit luar dan yang kedua bagaikan inti, yang pertama bagaikan lahiriah dan yang kedua bagaikan batiniah.
وذلك كما يتمثل للإنسان في عينه شخص في الظلمة أو على البعد فيحصل له نوع علم فإذا رآه بالقرب أو بعد زوال الظلام أدرك تفرقة بينهما ولا يكون الأخير ضد الأول بل هو استكمال له
Hal itu sebagaimana terbayang bagi seseorang sosok tubuh dalam kegelapan atau dari kejauhan, sehingga timbullah padanya sejenis pengetahuan. Namun ketika ia melihatnya dari dekat atau setelah kegelapan sirna, ia menyadari perbedaan antara keduanya, dan pengetahuan yang terakhir ini bukanlah lawan dari yang pertama, melainkan penyempurna baginya.
فكذلك العلم والإيمان والتصديق إذ قد يصدق الإنسان بوجود العشق والمرض والموت قبل وقوعه ولكن تحققه به عند الوقوع أكمل من تحققه قبل الوقوع بل للإنسان في الشهوة والعشق وسائر الأحوال ثلاثة أحوال متفاوتة وإدراكات متباينة
Demikian pula halnya dengan ilmu, iman, dan pembenaran (tashdiq). Seseorang bisa saja membenarkan keberadaan rasa cinta ('isyq), penyakit, dan kematian sebelum hal itu terjadi, tetapi pemahaman nyata (tahaqquq) yang dialaminya ketika hal itu benar-benar terjadi adalah lebih sempurna dibandingkan pemahamannya sebelum terjadi. Bahkan bagi manusia, dalam hal syahwat, cinta, dan seluruh keadaan jiwa (ahwal) lainnya, terdapat tiga tingkatan keadaan yang berbeda-beda dan persepsi (idrak) yang bertingkat-tingkat.
الأول تصديقه بوجوده قبل وقوعه
Pertama, pembenaran dirinya akan keberadaannya sebelum hal itu terjadi.
والثاني عند وقوعه
Kedua, saat hal itu sedang terjadi.
والثالث بعد تصرفه
Dan ketiga, setelah hal itu berlalu (selesai).
فإن تحققك بالجوع بعد زواله يخالف التحقيق قبل الزوال وكذلك من علوم الدين ما يصير ذوقاً فيكمل فيكون ذلك كالباطن بالإضافة إلى ما قبل ذلك ففرق بين علم المريض بالصحة وبين علم الصحيح بها
Sebab, penghayatanmu (tahaqquq) tentang rasa lapar setelah ia hilang berbeda dengan penghayatan sebelum hilangnya. Demikian pula dalam ilmu-ilmu agama, ada hal yang menjadi rasa spiritual (dzawq) sehingga menjadi sempurna, dan hal itu berkedudukan seperti dimensi batin jika dibandingkan dengan keadaan sebelumnya. Maka ada perbedaan antara pengetahuan orang sakit tentang kesehatan dan pengetahuan orang yang sehat tentang kesehatan itu sendiri.
ففي هذه الأقسام الأربعة تتفاوت الخلق وليس في شيء منها باطن يناقض الظاهر بل يتممه ويكمله كما يتمم اللب القشر والسلام
Maka dalam empat pembagian ini, tingkat keadaan manusia berbeda-beda. Tidak ada satu pun di antaranya makna batin yang bertentangan dengan lahiriahnya, melainkan justru menyempurnakan dan melengkapinya, sebagaimana isi buah menyempurnakan kulitnya. Wassalam.
الخامس أن يعبر بلسان المقال عن لسان الحال فالقاصر الفهم يقف على الظاهر ويعتقده نطقاً والبصير بالحقائق يدرك السر فيه وهذا كقول القائل قال الجدار للوتد لم تشقني قال سل من يدقني فلم يتركني ورائي الحجر الذي ورائي فهذا تعبير عن لسان الحال بلسان المقال ومن هذا قوله تعالى ثم استوى إلى السماء وهي دخان فقال لها وللأرض ائتيا طوعاً أو كرهاً قالتا أتينا طائعين فالبليد يفتقر في فهمه إلى أن يقدر لهما حياة وعقلاً وفهماً للخطاب وخطاباً هو صوت وحرف تسمعه السماء والأرض فتجيبان بحرف وصوت وتقولان أتينا طائعين والبصير يعلم أن ذلك لسان الحال وأنه إنباء عن كونهما مسخرتين بالضرورة ومضطرتين إلى التسخير
Kelima, mengungkapkan bahasa kondisi batin (lisan al-hal) melalui bahasa ucapan (lisan al-maqal). Orang yang dangkal pemahamannya akan terhenti pada tekstual lahiriah dan meyakininya sebagai tuturan kata secara riil, sedangkan orang yang memiliki mata hati (bashirah) terhadap hakikat-hakikat akan memahami rahasia di baliknya. Hal ini seperti ucapan seseorang: "Dinding berkata kepada pasak, 'Mengapa engkau membelahku?' Pasak menjawab, 'Tanyakanlah kepada orang yang memukulku, sebab batu yang ada di belakangku tidak membiarkanku.'" Ini adalah pengungkapan bahasa kondisi batin melalui bahasa ucapan. Dan di antara contohnya adalah firman Allah Ta'ala, "Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: 'Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.' Keduanya menjawab: 'Kami datang dengan suka hati.'" Orang yang dungu dalam pemahamannya perlu mengandaikan bahwa langit dan bumi memiliki kehidupan, akal, serta pemahaman terhadap khitab (seruan), dan seruan itu berupa suara serta huruf yang didengar oleh langit dan bumi, lalu keduanya menjawab dengan huruf dan suara seraya berkata, "Kami datang dengan suka hati." Sementara orang yang mempunyai bashirah mengetahui bahwa hal itu adalah lisan al-hal (bahasa keadaan), dan merupakan pemberitaan bahwa keduanya tunduk secara pasti dan terpaksa menuruti penundukan tersebut.
ومن هذا قوله تعالى وإن من شيء إلا يسبح بحمده فالبليد يفتقر فيه إلى أن يقدر للجمادات حياة وعقلاً ونطقاً بصوت وحرف حتى يقول سبحان الله ليتحقق تسبيحه
Termasuk dalam hal ini adalah firman Allah Ta'ala, "Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya." Orang yang dungu memahaminya dengan harus mengandaikan bahwa benda-benda mati memiliki kehidupan, akal, serta ucapan bersuara dan berhuruf sehingga dapat mengucapkan "Subhanallah" agar tasbihnya menjadi nyata.
والبصير يعلم أنه ما أريد به نطق اللسان بل كونه مسبحاً بوجوده ومقدساً بذاته وشاهداً بوحدانية الله سبحانه كما يقال
Sedangkan orang yang ber-bashirah mengetahui bahwa yang dimaksud bukanlah ucapan lidah, melainkan keberadaannya yang bertasbih melalui kewujudannya, mensucikan Allah dengan zatnya, serta menjadi saksi atas keesaan Allah Subhanahu wa Ta'ala, sebagaimana dikatakan dalam bait syair:
وفي كل شيء له آية … تدل على أنه الواحد
"Dan pada segala sesuatu terdapat tanda bagi-Nya… yang menunjukkan bahwa Dia adalah Yang Maha Esa."
وكما يقال هذه الصنعة المحكمة تشهد لصانعها بحسن التدبير وكمال العلم لا بمعنى أنها تقول أشهد بالقول ولكن بالذات والحال
Sebagaimana pula dikatakan, "Karya yang sangat indah dan teratur ini bersaksi bagi pembuatnya akan kebaikan pengaturan dan kesempurnaan ilmunya," bukan dalam arti karya itu mengucapkan "Aku bersaksi" dengan kata-kata, melainkan melalui esensi zat dan kondisi keadaannya.
وكذلك ما من شيء إلا وهو محتاج في نفسه إلى موجد يوجده ويبقيه ويديم أوصافه ويردده في أطواره فهو بحاجته يشهد لخالقه بالتقديس يدرك شهادته ذوو البصائر دون الجامدين على الظواهر
Demikian pula, tidak ada satu pun dari segala sesuatu melainkan ia butuh pada dirinya sendiri kepada Sang Pencipta yang mewujudkannya, mengekalkannya, melestarikan sifat-sifatnya, dan membolak-balikkannya dalam fase-fase perkembangannya. Maka melalui ketergantungannya itulah ia bersaksi bagi Penciptanya dengan penyucian. Kesaksian ini hanya dapat ditangkap oleh orang-orang yang memiliki bashirah, bukan oleh orang-orang yang kaku pada makna lahiriah belaka.
ولذلك قال تعالى ولكن لا تفقهون تسبيحهم وأما القاصرون فلا يفقهون أصلاً وأما المقربون والعلماء الراسخون فلا يفقهون كنهه وكماله إذ لكل شيء شهادات شتى على تقديس الله سبحانه وتسبيحه ويدرك كل واحد بقدر عقله وبصيرته وتعداد تلك الشهادات لا يليق بعلم المعاملة
Oleh karena itu Allah Ta'ala berfirman, "Tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka." Adapun orang-orang yang dangkal pemahamannya tidak mengerti sama sekali, sedangkan orang-orang yang mendekatkan diri kepada Allah (al-muqarrabun) dan para ulama yang mendalam ilmunya (al-rasikhun) tidak mengerti hakikat terdalam dan kesempurnaannya secara menyeluruh, sebab setiap sesuatu memiliki berbagai macam kesaksian atas penyucian dan tasbih kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan masing-masing menangkapnya sesuai kadar akal dan bashirah-nya. Adapun merincikan kesaksian-kesaksian tersebut tidaklah sesuai dengan cakupan ilmu muamalah.
فهذا الفن أيضاً مما يتفاوت أرباب الظواهر وأرباب البصائر في علمه وتظهر به مفارقة الباطن للظاهر
Maka disiplin ilmu ini juga termasuk hal yang di dalamnya terdapat perbedaan derajat pengetahuan antara golongan ahli lahiriah dan golongan ahli bashirah, serta melaluinya tampak jelas perbedaan antara dimensi batin dan lahiriah.
وفي هذا المقام لأرباب المقامات إسراف واقتصاد فمن مسرف في رفع الظواهر انتهى إلى تغيير جميع الظواهر والبراهين أو أكثرها حتى حملوا قوله تعالى وتكلمنا أيديهم وتشهد أرجلهم وقوله تعالى وقالوا لجلودهم لم شهدتم علينا قالوا أنطقنا الله الذي أنطق كل شيء وكذلك المخاطبات التي تجري من منكر ونكير وفي الميزان والصراط والحساب ومناظرات أهل النار وأهل الجنة في قولهم أفيضوا علينا من الماء أو مما رزقكم الله زعموا أن ذلك كله بلسان الحال
Pada derajat (maqam) ini, orang-orang yang berkedudukan spiritual memiliki sikap yang melampaui batas (israf) dan sikap pertengahan (iqtishad). Di antara orang yang berlebihan dalam mengesampingkan makna lahiriah, mereka sampai pada tahap mengubah seluruh teks lahiriah dan dalil-dalil atau sebagian besarnya, hingga mereka membawa makna firman Allah Ta'ala, "Dan tangan mereka berkata kepada Kami dan kaki mereka bersaksi," serta firman-Nya, "Dan mereka berkata kepada kulit mereka: 'Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?' Kulit mereka menjawab: 'Allah yang telah menjadikan segala sesuatu dapat berkata telah menjadikan kami dapat berkata,'" demikian pula percakapan yang terjadi dengan Mungkar dan Nakir, perkara Timbangan (Mizan), Jembatan (Shirath), Perhitungan (Hisab), serta dialog penghuni neraka dan penghuni surga dalam ucapan mereka: "Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah direzekikan Allah kepadamu," mereka menganggap bahwa semua itu hanya berupa bahasa kondisi batin (lisan al-hal).
وغلا آخرون في حسم الباب منهم أحمد بن حنبل ﵁ حتى منع تأويل قوله كن فيكون وزعموا أن ذلك خطاب بحرف وصوت يوجد من الله تعالى في كل لحظة بعدد كون مكون حتى سمعت بعض أصحابه يقول إنه حسم باب التأويل إلا لثلاثة ألفاظ قوله
Sementara kelompok lain bersikap ekstrem dalam menutup rapat pintu takwil, di antaranya Imam Ahmad bin Hanbal radhiyallahu 'anhu, hingga beliau melarang takwil terhadap firman-Nya, "Jadilah, maka jadilah ia" (Kun fayakun), dan mereka menganggap bahwa hal itu adalah firman dengan huruf dan suara yang terwujud dari Allah Ta'ala pada setiap saat sebanyak jumlah setiap entitas yang diciptakan. Sampai-sampai aku mendengar sebagian pengikutnya berkata bahwa beliau menutup rapat pintu takwil kecuali untuk tiga lafaz, yaitu sabda Rasulullah:
صلى الله عليه وسلم الحجر الأسود يمين الله في أرضه وقوله ﷺ قلب المؤمنين بين إصبعين من أصابع الرحمن وقوله ﷺ إني لأجد نفس الرحمن من جانب اليمين ومال إلى حسم الباب أرباب الظواهر
Shallallahu 'alaihi wa sallam: "Hajar Aswad adalah tangan kanan Allah di bumi-Nya," dan sabda beliau shallallahu 'alaihi wa sallam: "Hati orang mukmin berada di antara dua jari dari jari-jari Ar-Rahman," serta sabda beliau shallallahu 'alaihi wa sallam: "Sesungguhnya aku merasakan nafas Ar-Rahman dari arah Yaman." Dan cenderung untuk menutup pintu takwil ini adalah para ahli lahiriah.
والظن بأحمد بن حنبل ﵁ أنه علم أن الاستواء ليس هو الاستقرار والنزول ليس هو الانتقال ولكنه منع من التأويل حسماً للباب ورعاية لصلاح الخلق
Prasangka baik terhadap Imam Ahmad bin Hanbal radhiyallahu 'anhu adalah bahwa beliau sejatinya mengetahui bahwa 'Istiwa' bukanlah bersemayam secara fisik (al-istaqrar) dan 'Nuzul' bukanlah berpindah tempat (al-intiqal), tetapi beliau melarang takwil demi menutup pintu bahaya fitnah dan demi menjaga kemaslahatan umat.
فإنه إذا فتح الباب اتسع الخرق وخرج الأمر عن الضبط وجاوز حد الاقتصاد إذ حد ما جاوز الاقتصاد لا ينضبط فلا بأس بهذا الزجر ويشهد له سيرة السلف فإنهم كانوا يقولون أمروها كما جاءت حتى قال مالك ﵀ لما سئل عن الاستواء الاستواء معلوم والكيفية مجهولة والإيمان به واجب والسؤال عنه بدعة
Sebab jika pintu takwil dibuka, maka celah kerusakan akan semakin lebar, perkara akan keluar dari kendali, dan melampaui batas pertengahan (iqtishad). Sebab, apa yang telah melampaui batas moderasi tidak akan lagi teratur. Maka tidak mengapa adanya ketegasan larangan ini, dan hal itu didukung oleh rekam jejak para Salaf, di mana mereka dahulu berkata, "Biarkanlah ia berlalu sebagaimana datangnya," hingga Imam Malik rahmatullah 'alaih ketika ditanya tentang istiwa', beliau menjawab: "Istiwa' itu sudah dimaklumi maknanya, caranya tidak diketahui, beriman kepadanya adalah wajib, dan mempertanyakannya adalah bid'ah."
وذهبت طائفة إلى الاقتصاد وفتحوا باب التأويل في كل ما يتعلق بصفات الله سبحانه وتركوا ما يتعلق بالآخرة على ظواهرها ومنعوا التأويل فيه وهم الأشعرية
Dan sekelompok lain mengambil jalan pertengahan (iqtishad); mereka membuka pintu takwil pada segala hal yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta'ala, namun membiarkan hal-hal yang berkaitan dengan keakhiratan tetap pada makna lahiriahnya serta melarang takwil padanya; mereka adalah mazhab Al-Asy'ariyyah.
وزاد المعتزلة عليهم حتى أولوا من صفاته تعالى الرؤية وأولوا كونه سميعاً بصيراً وأولوا المعراج وزعموا أنه لم يكن بالجسد وأولوا عذاب القبر والميزان والصراط وجملة من أحكام الآخرة ولكن أقروا بحشر الأجساد وبالجنة واشتمالها على المأكولات والمشمومات والمنكوحات والملاذ المحسوسة وبالنار واشتمالها على جسم محسوس يحرق بحرق الجلود ويذيب الشحوم
Kaum Mu'tazilah melangkah lebih jauh dari mereka, hingga mereka menta'wilkan rukyatullah (melihat Allah) di antara sifat-sifat Allah Ta'ala, menta'wilkan keadaan-Nya yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat, menta'wilkan Mi'raj dan mendakwa bahwa itu tidak terjadi dengan jasad, serta menta'wilkan azab kubur, Mizan (timbangan), Shirath (jembatan), dan sejumlah hukum akhirat. Namun, mereka tetap mengakui kebangkitan jasad-jasad, keberadaan surga beserta segala apa yang ada di dalamnya berupa makanan, wewangian, pasangan, dan kenikmatan-kenikmatan inderawi, serta keberadaan neraka dan keterlibatannya dengan jasad inderawi yang membakar dengan membakar kulit dan melelehkan lemak.
ومن ترقيهم إلى هذا الحد زاد الفلاسفة فأولوا كل ما ورد في الآخرة وردوه إلى آلام عقلية وروحانية ولذات عقلية وأنكروا حشر الأجساد وقالوا ببقاء النفوس وأنها تكون إما معذبة وإما منعمة بعذاب ونعيم لا يدرك بالحس وهؤلاء هم المسرفون
Dan melebihi batas penakwilan ini, kaum filsuf melangkah lebih jauh lagi; mereka menta'wilkan segala hal yang berkaitan dengan akhirat dan mengembalikannya pada penderitaan rasional dan spiritual serta kenikmatan rasional. Mereka mengingkari kebangkitan jasad-jasad dan berpendapat tentang keabadian jiwa, bahwa jiwa tersebut kelak akan diazab atau diberi kenikmatan dengan azab dan nikmat yang tidak dapat dijangkau oleh indera. Mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.
وحد الاقتصاد بين هذا الانحلال كله وبين جمود الحنابلة دقيق غامض لا يطلع عليه إلا الموفقون الذين يدركون الأمور بنور إلهي لا بالسماع ثم إذا انكشفت لهم أسرار الأمور على ما هي عليه نظروا إلى السمع والألفاظ الواردة فما وافق ما شاهدوه بنور اليقين قرروه وما خالف أولوه
Batas sikap pertengahan (iqtishad) antara seluruh bentuk kelonggaran ta'wil ini dengan kekakuan (jumud) kaum Hanabilah adalah sesuatu yang sangat halus dan samar, yang tidak dapat disingkap kecuali oleh orang-orang yang diberi taufik—yaitu mereka yang memahami perkara-perkara dengan nur ilahi (cahaya ketuhanan), bukan semata-mata dengan pendengaran (sama' / dalil tekstual). Kemudian, apabila rahasia-rahasia perkara telah tersingkap bagi mereka sebagaimana hakikatnya, mereka melihat kepada dalil-dalil sam'iyyat dan lafaz-lafaz yang datang. Apa yang sesuai dengan apa yang mereka saksikan melalui nurul yaqin (cahaya keyakinan), mereka tetapkan; dan apa yang menyelisihi, mereka ta'wilkan.
فأما من يأخذ معرفة هذه الأمور من السمع المجرد فلا يستقر له فيها قدم ولا يتعين له موقف
Adapun orang yang mengambil pengetahuan tentang perkara-perkara ini hanya dari pendengaran semata (as-sam'u al-mujarrad / teks semata), maka kakinya tidak akan pernah tegak mantap padanya dan pendiriannya tidak akan pernah menentu.
والألبق بالمقتصر على السمع المجرد مقام أحمد بن حنبل رحمة الله
Dan maqam yang paling layak bagi orang yang membatasi diri pada pendengaran semata (as-sam'u al-mujarrad) adalah maqam Ahmad bin Hanbal rahimahullah.
والآن فكشف الغطاء عن حد الاقتصاد في هذه الأمور داخل في علم المكاشفة والقول فيه يطول فلا نخوض فيه والغرض بيان موافقة الباطن الظاهر وأنه غير مخالف له فقد انكشف بهذه الأقسام الخمسة أمور كثيرة
Dan sekarang, menyibak tabir tentang batas pertengahan (hadd al-iqtishad) dalam perkara-perkara ini termasuk dalam ranah ilmu mukasyafah (ilmu penyingkapan rahasia batin) dan pembahasannya akan sangat panjang, sehingga kami tidak akan masuk mendalaminya. Adapun tujuan di sini adalah menjelaskan kesesuaian antara batin dan lahir, serta bahwa batin itu tidak bertentangan dengannya. Sungguh, melalui lima pembagian ini telah tersingkap banyak perkara.
وإذا رأينا أن نقتصر بكافة العوام على ترجمة العقيدة التي حررناها وأنهم لا يكلفون غير ذلك في الدرجة الأولى إلا إذا كان خوف تشويش لشيوع البدعة فيرقى في الدرجة الثانية إلى عقيدة فيها لوامع من الأدلة مختصرة من غير تعمق
Apabila kami memandang untuk membatasi seluruh orang awam pada penerjemahan (penyusunan) akidah yang telah kami rumuskan, dan bahwa mereka tidak dibebani kewajiban selain itu pada tingkat pertama—kecuali jika ada kekhawatiran timbulnya kerancuan akibat meluasnya kebid'ahan—maka ditingkatkan pada tingkat kedua menuju akidah yang memuat kilatan-kilatan dalil yang ringkas tanpa pembahasan yang terlalu mendalam.
فلنورد في هذا الكتاب تلك اللوامع ولنقتصر فيها على ما حررناه لأهل القدس وسميناه الرسالة القدسية في قواعد العقائد وهي مودعة في هذا الفصل الثالث من هذا الكتاب
Maka hendaklah kami kemukakan dalam kitab ini kilatan-kilatan dalil tersebut, dan hendaklah kami membatasi diri padanya sebagaimana yang telah kami susun untuk penduduk Al-Quds, yang kami namai Ar-Risalah Al-Qudsiyyah fi Qawa'id Al-'Aqa'id (Risalah Al-Quds tentang Kaidah-Kaidah Akidah), dan risalah ini ditempatkan pada pasal ketiga dari kitab ini.