الفصل الأول في ترجمة عقيدة أهل السنة في كلمتي الشهادة التي هي أحد مباني الإسلام
الفصل الأول في ترجمة عَقِيدَةِ أَهْلِ السُّنَّةِ فِي كَلِمَتَيِ الشَّهَادَةِ الَّتِي هي أحد مباني الإسلام
Pasal Pertama: Penjelasan Akidah Ahlussunnah tentang Dua Kalimat Syahadat yang Merupakan Salah Satu Pondasi Islam.
فنقول وبالله التوفيق الحمد لله المبدىء المعيد الفعال لما يريد ذي العرش المجيد والبطش الشديد الهادي صفوة العبيد إلى المنهج الرشيد والمسلك السديد المنعم عليهم بعد شهادة التوحيد بحراسة عقائدهم عن ظلمات التشكيك والترديد السالك بهم إلى اتباع رسوله المصطفى واقتفاء آثار صحبه الأكرمين المكرمين بالتأييد والتسديد المتجلي لهم في ذاته وأفعاله بمحاسن أوصافه التي لا يدركها إلا من ألقى السمع وهو شهيد المعرف إياهم أنه في ذاته واحد لا شريك له فرد لا مثيل له صمد لا ضد له منفرد لا ند له وأنه واحد قديم لا أول له أزلي لا بداية لَهُ مُسْتَمِرُّ الْوُجُودِ لَا آخِرَ لَهُ أَبَدِيٌّ لا نهاية له قيوم لا انقطاع لَهُ دَائِمٌ لَا انْصِرَامَ لَهُ لَمْ يَزَلْ ولا يزال موصوفاً بنعوت الجلال
Maka kami katakan—dengan taufik dari Allah: Segala puji bagi Allah, Yang Maha Memulai lagi Maha Mengembalikan, Maha Melakukan apa yang Dia kehendaki, Pemilik 'Arsy yang mahamulia dan siksaan yang sangat keras, Yang Menunjukkan hamba-hamba pilihan-Nya menuju jalan yang lurus dan metode yang benar, Yang Melimpahkan nikmat kepada mereka—setelah bersaksi atas keesaan-Nya—dengan menjaga akidah-akidah mereka dari kegelapan keraguan dan kebimbangan, Yang Membimbing mereka untuk mengikuti Rasul-Nya yang terpilih (al-Musthafa) dan meneladani jejak para sahabatnya yang mulia yang dikaruniai pertolongan dan kelurusan, Yang Menampakkan Diri kepada mereka dalam Zat dan perbuatan-Nya melalui keindahan sifat-sifat-Nya yang tidak dapat dipahami kecuali oleh orang yang menggunakan pendengarannya sedang dia menyaksikannya, Yang Memperkenalkan kepada mereka bahwa Dia dalam Zat-Nya adalah Maha Tunggal tiada sekutu bagi-Nya, Maha Esa tiada yang menyerupai-Nya, Tempat bergantung (ash-Shamad) tiada lawan bagi-Nya, Maha Sendiri tiada tandingan bagi-Nya; dan bahwasanya Dia Maha Esa, Maha Qadim tanpa permulaan awal, Maha Azali tanpa ada awal keberadaan, terus-menerus wujud-Nya tanpa ada akhir, Maha Abadi tanpa penghabisan, Maha Qayyum (berdiri sendiri) tanpa terputus, Maha Langgeng tanpa terhenti, Dia senantiasa dan akan terus terbilang dengan sifat-sifat Keagungan (Jalal).
لَا يُقْضَى عَلَيْهِ بِالِانْقِضَاءِ وَالِانْفِصَالِ بِتَصَرُّمِ الْآبَادِ وانقراض الآجال بن هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شيء عليم
Dia tidak dapat dihakimi oleh kepunahan dan perpisahan seiring berlalunya zaman dan berakhirnya ajal, melainkan Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zhahir, dan Yang Batin, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.
التنزيه وأنه ليس بجسم مصور ولا جوهر محدود مقدر وأنه لا يماثل والأجسام ولا في التقدير ولا في قبول الانقسام وأنه ليس بجوهر ولا تحله الجواهر ولا بعرض ولا تحله الأعراض بل لا يماثل موجوداً ولا يماثله موجود ليس كمثله شيء ولا هو مثل شيء
Penyucian (Tanzih): Dan bahwasanya Dia bukanlah tubuh (jisim) yang dibentuk, bukan pula substansi (jauhar) yang terbatas dan berukuran; bahwasanya Dia tidak menyerupai benda-benda materi baik dalam hal ukuran maupun dalam menerima pembagian; bahwasanya Dia bukanlah jauhar dan tidak pula ditempati oleh jauhar-jauhar, serta bukan 'aradh (sifat fisik yang baru) dan tidak pula ditempati oleh 'aradh-'aradh; bahkan Dia tidak menyerupai sesuatu pun yang wujud dan tidak ada sesuatu yang wujud pun yang menyerupai-Nya, tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia pun tidak serupa dengan sesuatu apa pun.
وأنه لا يحده المقدار ولا تحويه الأقطار وَلَا تُحِيطُ بِهِ الْجِهَاتُ وَلَا تَكْتَنِفُهُ الْأَرَضُونَ ولا السموات
Dan bahwasanya Dia tidak dibatasi oleh ukuran, tidak diliputi oleh penjuru-penjuru ruang, tidak dilingkupi oleh arah-arah, serta tidak diliputi oleh bumi maupun langit.
وَأَنَّهُ مُسْتَوٍ عَلَى الْعَرْشِ عَلَى الْوَجْهِ الَّذِي قاله وبالمعنى الذي أراده استواء منزهاً عن المماسة والاستقرار والتمكن والحلول والانتقال لا يحمله العرش بل العرش وحملته محمولون بلطف قدرته ومقهورون في قبضته
Dan bahwasanya Dia bersemayam (istawa) di atas 'Arsy dengan cara yang Dia firmankan dan dengan makna yang Dia kehendaki, yaitu bersemayam yang terbebas dari persentuhan, bertempat tinggal, menetap, menyatu (hulul), maupun berpindah; 'Arsy tidaklah menopang-Nya, melainkan 'Arsy dan para malaikat pemikulnya itu ditopang oleh kelembutan kekuasaan-Nya dan tunduk di dalam genggaman-Nya.
وَهُوَ فَوْقَ الْعَرْشِ وَالسَّمَاءِ وَفَوْقَ كُلِّ شَيْءٍ إِلَى تُخُومِ الثَّرَى فَوْقِيَّةً لَا تَزِيدُهُ قُرْبًا إِلَى الْعَرْشِ وَالسَّمَاءِ كَمَا لَا تَزِيدُهُ بُعْدًا عَنِ الْأَرْضِ وَالثَّرَى بَلْ هُوَ رَفِيعُ الدَّرَجَاتِ عَنِ الْعَرْشِ وَالسَّمَاءِ كَمَا أَنَّهُ رَفِيعُ الدَّرَجَاتِ عَنِ الْأَرْضِ وَالثَّرَى
Dan bahwasanya Dia berada di atas 'Arsy, di atas langit, dan di atas segala sesuatu hingga ke batas dasar bumi; suatu kedudukan di atas (fawqiyyah) yang tidak menambah kedekatan-Nya kepada 'Arsy dan langit, sebagaimana tidak menambah kejauhan-Nya dari bumi dan dasar tanah. Melainkan Dia Maha Tinggi derajat-Nya dari 'Arsy dan langit, sebagaimana Dia Maha Tinggi derajat-Nya dari bumi dan dasar tanah.
وَهُوَ مَعَ ذَلِكَ قَرِيبٌ مِنْ كُلِّ مَوْجُودٍ وَهُوَ أَقْرَبُ إِلَى الْعَبْدِ من حبل الوريد وهو على كل شيء شهيد إِذْ لَا يُمَاثِلُ قُرْبُهُ قُرْبَ الْأَجْسَامِ كَمَا لَا تُمَاثِلُ ذَاتُهُ ذَاتَ الْأَجْسَامِ وَأَنَّهُ لَا يَحُلُّ فِي شَيْءٍ وَلَا يَحُلُّ فِيهِ شَيْءٌ تَعَالَى عَنْ أَنْ يَحْوِيَهُ مَكَانٌ كَمَا تَقَدَّسَ عَنْ أَنْ يَحُدَّهُ زَمَانٌ بَلْ كَانَ قَبْلَ أَنْ خَلَقَ الزَّمَانَ وَالْمَكَانَ وَهُوَ الْآنَ عَلَى ما عليه كان
Dan Dia beserta itu semua adalah dekat dengan segala yang wujud, dan Dia lebih dekat kepada hamba-Nya daripada urat lehernya sendiri, serta Dia menjadi saksi atas segala sesuatu. Sebab, kedekatan-Nya tidaklah menyerupai kedekatan benda-benda materi, sebagaimana Zat-Nya tidak menyerupai zat benda-benda materi. Dan bahwasanya Dia tidak bertempat (hulul) pada sesuatu pun dan tidak ada sesuatu pun yang bertempat pada-Nya; Maha Suci Dia dari diliputi oleh tempat, sebagaimana Maha Suci Dia dari dibatasi oleh waktu. Bahkan Dia telah ada sebelum Dia menciptakan waktu dan tempat, dan Dia sekarang tetap berada sebagaimana keadaan-Nya semula.
وأنه بائن عن خلقه بصفاته ليس في ذاته سواه ولا في سواه ذاته وأنه مقدس عن التغير والانتقال لا تحله الحوادث ولا تعتريه العوارض بل لا يزال في نعوت جلاله منزهاً عن الزوال وفي صفات كماله مستغنياً عن زيادة الاستكمال
Dan bahwasanya Dia terpisah dari makhluk-Nya dengan sifat-sifat-Nya; tidak ada dalam Zat-Nya selain Diri-Nya, dan tidak ada di dalam selain Diri-Nya Zat-Nya. Bahwasanya Dia Mahasuci dari perubahan dan perpindahan; tidak ada hal-hal baru (hadits) yang bertempat pada-Nya, dan tidak pula dihinggapi oleh sifat-sifat baru yang datang dan pergi ('awaridh). Melainkan Dia senantiasa dalam sifat-sifat keagungan-Nya terbebas dari kepunahan, dan dalam sifat-sifat kesempurnaan-Nya tidak membutuhkan tambahan penyempurnaan.
وَأَنَّهُ فِي ذَاتِهِ مَعْلُومُ الْوُجُودِ بِالْعُقُولِ مَرْئِيُّ الذات بالأبصار نعمة منه ولطفاً بالأبرار في دار القرار وَإِتْمَامًا مِنْهُ لِلنَّعِيمِ بِالنَّظَرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيمِ
Dan bahwasanya Dia dalam Zat-Nya dapat diketahui keberadaan-Nya oleh akal, serta dapat dilihat Zat-Nya oleh mata telanjang sebagai nikmat dan kelembutan dari-Nya bagi orang-orang yang berbakti di negeri keabadian (surga), serta sebagai penyempurna kenikmatan dari-Nya dengan memandang kepada Wajah-Nya yang Mahamulia.
الحياة والقدرة وَأَنَّهُ تَعَالَى حَيٌّ قَادِرٌ جَبَّارٌ قَاهِرٌ لَا يَعْتَرِيهِ قُصُورٌ وَلَا عَجْزٌ وَلَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ وَلَا يُعَارِضُهُ فَنَاءٌ وَلَا مَوْتٌ وأنه ذو الملك والملكوت والعزة والجبروت له السلطان والقهر والخلق والأمر والسموات مطويات بيمينه والخلائق مقهورون في قبضته
Kehidupan dan Keharusan Kuasa (Al-Hayat wal-Qudrah). Bahwa Dia Maha Tinggi, Mahahidup, Mahakuasa, Maha Pemaksa, Maha Menundukkan; tidak ditimpa oleh kekurangan maupun kelemahan, tidak diliputi oleh kantuk maupun tidur, serta tidak dihinggapi oleh kebinasaan maupun kematian. Bahwasanya Dia adalah Pemilik kerajaan alam nyata (Al-Mulk) dan kerajaan alam gaib (Al-Malakut), serta Pemilik keagungan dan kekuasaan mutlak (Al-Jabarut). Milik-Nya lah kekuasaan, penundukan, penciptaan, dan segala urusan. Seluruh langit tergulung di tangan kanan-Nya, dan seluruh makhluk tunduk terkuasai dalam genggaman-Nya.
وَأَنَّهُ الْمُنْفَرِدُ بِالْخَلْقِ وَالِاخْتِرَاعِ الْمُتَوَحِّدُ بِالْإِيجَادِ وَالْإِبْدَاعِ خلق الخلق وأعمالهم وقدر أرزاقهم وآجالهم لا يشذ عن قبضته مقدور ولا يعزب عن قدرته تصاريف الأمور لا تحصى مقدوراته ولا تتباهى معلوماته
Bahwasanya Dia Maha Esa dalam menciptakan dan mengadakan dari ketiadaan, Maha Tunggal dalam mewujudkan dan memperindah ciptaan. Dia menciptakan makhluk beserta amal perbuatan mereka, serta menentukan rezeki dan ajal mereka. Tidak ada satu pun yang berada dalam kuasa-Nya yang lepas dari genggaman-Nya, dan tidak ada pengoperasian segala urusan yang luput dari kekuasaan-Nya. Sesuatu yang berada dalam kekuasaan-Nya tidak terhitung banyaknya, dan objek-objek pengetahuan-Nya tidak terbatas.
العلم وَأَنَّهُ عَالِمٌ بِجَمِيعِ الْمَعْلُومَاتِ مُحِيطٌ بِمَا يَجْرِي من تخوم الأرضين إلى أعلى السموات وأنه عالم لَا يَعْزُبُ عَنْ عِلْمِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ بَلْ يَعْلَمُ دَبِيبَ النَّمْلَةِ السَّوْدَاءِ عَلَى الصَّخْرَةِ الصَّمَّاءِ فِي اللَّيْلَةِ الظَّلْمَاءِ وَيُدْرِكُ حَرَكَةَ الذَّرِّ فِي جَوِّ الْهَوَاءِ وَيَعْلَمُ السِّرَّ وَأَخْفَى وَيَطَّلِعُ عَلَى هَوَاجِسِ الضَّمَائِرِ وَحَرَكَاتِ الْخَوَاطِرِ وَخَفِيَّاتِ السَّرَائِرِ بِعِلْمٍ قَدِيمٍ أَزَلِيٍّ لَمْ يَزَلْ مَوْصُوفًا بِهِ فِي أَزَلِ الْآزَالِ لا بعلم متجدد حاصل في ذاته بالحلول والانتقال
Ilmu (Al-'Ilm). Bahwa Dia Maha Mengetahui segala objek pengetahuan, Maha Meliputi segala yang terjadi dari batas terdalam bumi hingga puncak tertinggi langit. Bahwasanya Dia Maha Mengetahui, tidak ada yang luput dari pengetahuan-Nya seberat zarrah pun di bumi maupun di langit. Bahkan Dia mengetahui bisikan langkah semut hitam di atas batu hitam yang pejal pada malam yang gelap gulita; Dia mengetahui pergerakan debu halus di angkasa; Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi; Dia menyingkap gejolak dalam sanubari, lintasan-lintasan fikiran (khawatir), dan rahasia-rahasia hati yang paling tersembunyi, dengan ilmu-Nya yang qadim (tanpa permulaan) lagi azali, yang Dia senantiasa bersifat dengannya sejak azali tanpa akhir; bukan dengan ilmu baru yang timbul pada zat-Nya melalui persemayaman (hulul) atau perpindahan (intiqal).
الإرادة وأنه تعالى مريد لِلْكَائِنَاتِ مُدَبِّرٌ لِلْحَادِثَاتِ فَلَا يَجْرِي فِي الْمُلْكِ والملكوت قليل أو كثير صغير أو كبير خير أو شر نفع أو ضر إيمان أو كفر عرفان أو نكر فوز أو خسران زيادة أو نقصان طاعة أو عصيان إِلَّا بِقَضَائِهِ وَقَدَرِهِ وَحِكْمَتِهِ وَمَشِيئَتِهِ
Kehendak (Al-Iradah). Bahwa Dia Maha Tinggi menghendaki seluruh yang ada, Maha Mengatur segala peristiwa yang baru. Maka tidak berlangsung di alam nyata maupun alam gaib perkara yang sedikit maupun banyak, kecil maupun besar, kebaikan maupun keburukan, manfaat maupun kemudaratan, iman maupun kekufuran, pengakuan maupun pengingkaran, keberuntungan maupun kerugian, penambahan maupun pengurangan, ketaatan maupun kemaksiatan, melainkan dengan qadha, qadar, hikmah, dan kehendak-Nya (masyi'ah).
فَمَا شَاءَ كَانَ وَمَا لَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ لَا يخرج عن مشيئته لفتة ناظر ولا فلتة خاطر بل هو المبدىء المعيد الفعال لما يريد لا راد لأمره ولا معقب لقضائه ولا مهرب لعبد عن معصيته إلا بتوفيقه ورحمته
Maka apa yang Dia kehendaki pasti terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan pernah terjadi. Tidak keluar dari kehendak-Nya kerlingan mata memandang dan tidak pula lintasan pikiran yang sekilas. Sebaliknya, Dialah yang Maha Memulai, Maha Mengembalikan, Maha Melakukan apa yang Dia kehendaki. Tidak ada yang mampu menolak perintah-Nya, tidak ada yang dapat mengubah qadha-Nya, dan tidak ada tempat lari bagi seorang hamba dari kemaksiatan melainkan dengan taufik dan rahmat-Nya.
ولا قوة له على طاعته إلا بمشيئته وإرادته فلو اجتمع الإنس والجن والملائكة والشياطين على أن يحركوا في العالم ذرة أو يسكنوها دون إرادته ومشيئته لعجزوا عن ذلك
Dan tidak ada kekuatan bagi hamba untuk menaati-Nya kecuali dengan kehendak dan iradah-Nya. Seandainya manusia, jin, malaikat, dan setan berkumpul untuk menggerakkan satu zarrah pun di alam semesta ini atau menghentikannya tanpa iradah dan kehendak-Nya, niscaya mereka pasti lemah dan tidak sanggup melakukannya.
وأن إرادته قائمة بذاته في جملة صفاته لم يزل كذلك موصوفاً بها
Bahwa kehendak-Nya berdiri pada zat-Nya di antara keseluruhan sifat-sifat-Nya, Dia senantiasa bersifat dengannya sejak azali.
مريداً في أزله لوجود الأشياء في أوقاتها التي قدرها فوجدت في أوقاتها كما أراده في أزله من غير تقدم ولا تأخر بل وقعت على وفق علمه وإرادته من غير تبدل ولا تغير
Dia telah menghendaki sejak keazalian-Nya bagi terwujudnya segala sesuatu pada waktu-waktu yang telah Dia takdirkan. Maka segala sesuatu itu terwujud pada waktunya sebagaimana yang telah Dia kehendaki sejak azali tanpa mendahului dan tanpa mengundur, melainkan terjadi persis sesuai dengan ilmu dan iradah-Nya tanpa pergantian maupun perubahan.
دبر الأمور لا بترتيب أفكار ولا تربص زمان فلذلك لم يشغله شأن عن شأن
Dia mengatur segala urusan bukan dengan merangkai pemikiran dan bukan dengan menantikan perputaran waktu, oleh karena itu tidak ada satu urusan pun yang menyibukkan-Nya dari urusan yang lain.
السمع والبصر وأنه تعالى سميع بصير يسمع ويرى ولا يعرب عَنْ سَمْعِهِ مَسْمُوعٌ وَإِنْ خَفِيَ
Pendengaran dan Penglihatan (As-Sam'u wal-Bashar). Bahwa Dia Maha Tinggi, Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Dia mendengar dan melihat, dan tidak ada sesuatu yang dapat didengar luput dari pendengaran-Nya meskipun amat tersembunyi.
وَلَا يَغِيبُ عَنْ رُؤْيَتِهِ مَرْئِيٌّ وَإِنْ دَقَّ
Dan tidak ada sesuatu yang dapat dilihat samar dari penglihatan-Nya meskipun amat halus.
وَلَا يَحْجُبُ سمعه بعد ولا يدفع رؤيته ظلام
Jarak yang jauh tidak menghalangi pendengaran-Nya, dan kegelapan tidak menutupi penglihatan-Nya.
يرى من غير حدقة وأجفان ويسمع من غير أصمخة وآذان كما يعلم بغير قلب ويبطش بغير جارحة ويخلق بغير آلة إذ لا تشبه صفاته صفات الخلق كما لا تشبه ذاته ذوات الخلق
Dia melihat tanpa manik mata dan kelopak mata, mendengar tanpa lubang telinga dan daun telinga, sebagaimana Dia mengetahui tanpa organ hati, bertindak tanpa anggota badan, dan menciptakan tanpa alat bantu; karena sifat-sifat-Nya tidak menyerupai sifat-sifat makhluk, sebagaimana zat-Nya tidak menyerupai zat-zat makhluk.
الكلام وأنه تعالى متكلم آمرناه واعد متوعد بكلام أزلي قديم قائم بذاته لا يشبه كلام الخلق فليس بصوت يحدث من انسلال هواه أو اصطكاك أجرام ولا بحرف ينقطع بإطباق شفة أو تحريك لسان
Kalam (Berfirman). Bahwa Dia Maha Tinggi Maha Berfirman, Maha Memerintah, Maha Melarang, Maha Menjanjikan pahala, dan Maha Mengancam dengan siksa, dengan Kalam yang azali, qadim, dan berdiri pada zat-Nya. Kalam-Nya tidak menyerupai perkataan makhluk; tidak berupa suara yang timbul dari hembusan udara atau benturan benda-benda, dan tidak pula berupa huruf yang terputus dengan katupan bibir atau gerak lidah.
وَأَنَّ الْقُرْآنَ وَالتَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ وَالزَّبُورَ كُتُبُهُ الْمُنَزَّلَةُ على رسله ﵈
Bahwasanya Al-Qur'an, Taurat, Injil, dan Zabur adalah kitab-kitab-Nya yang diturunkan kepada para rasul-Nya—semoga salawat dan salam tercurah kepada mereka.
وأن القرآن مقروء بالألسنة مكتوب في المصاحف محفوظ في القلوب وأنه مع ذلك قديم قائم بذات الله تعالى لا يقبل الانفصال والافتراق بالانتقال إلى القلوب والأوراق وأن موسى ﷺ سمع كلام الله بغير صوت ولا حرف كما يرى الأبرار ذات الله تعالى في الآخرة من غير جوهر ولا عرض
Bahwa Al-Qur'an dibaca dengan lidah, tertulis dalam mushaf-mushaf, dan dihafalkan di dalam hati; namun demikian, ia bersifat qadim lagi berdiri pada Zat Allah Ta'ala, tidak menerima pemisahan dan perpecahan dengan perpindahan ke dalam hati maupun lembaran-lembaran kertas. Dan bahwasanya Nabi Musa a.s. mendengar Kalam Allah tanpa suara dan tanpa huruf, sebagaimana orang-orang yang berbakti (al-abrar) akan melihat Zat Allah Ta'ala di akhirat kelak tanpa berupa substansi (jauhar) dan tanpa sifat aksidental ('aradh).
وإذا كانت له هذه الصفات كان حياً عالماً قادراً مريداً سميعاً بصيراً متكلماً بالحياة والقدرة والعلم والإرادة والسمع والبصر والكلام لا بمجرد الذات
Apabila Dia memiliki sifat-sifat ini, maka Dia Maha Hidup, Maha Mengetahui, Maha Kuasa, Maha Menghendaki, Maha Mendengar, Maha Melihat, dan Maha Berfirman dengan Sifat Hayat, Qudrah, 'Ilmu, Iradah, Sam'u, Bashar, dan Kalam-Nya, bukan semata-mata dengan Zat-Nya saja.
الأفعال وَأَنَّهُ ﷾ لَا مَوْجُودَ سِوَاهُ إِلَّا وَهُوَ حَادِثٌ بِفِعْلِهِ وَفَائِضٌ مِنْ عَدْلِهِ عَلَى أَحْسَنِ الْوُجُوهِ وَأَكْمَلِهَا وَأَتَمِّهَا وَأَعْدَلِهَا وَأَنَّهُ حَكِيمٌ في أفعاله عادل في أقضيته لا يقاس عدله بعدل العباد إذ العبد يتصور منه الظلم بتصرفه في ملك غيره
Perbuatan-perbuatan (Al-Af'al). Bahwa Dia Azza wa Jalla, tidak ada wujud selain diri-Nya melainkan ia adalah perkara baru (hadits) yang tercipta melalui perbuatan-Nya, melimpah dari keadilan-Nya dengan cara yang paling baik, paling sempurna, paling utuh, dan paling adil. Dan bahwasanya Dia Mahabijaksana dalam perbuatan-Nya, Maha Adil dalam segala ketetapan-Nya. Keadilan-Nya tidak dapat diukur dengan keadilan para hamba, sebab hamba mungkin berbuat zalim karena mengelola milik orang lain,
ولا يتصور الظلم من الله تعالى فإنه لا يصادف لغيره ملكاً حتى يكون تصرفه فيه ظلماً فَكُلُّ مَا سِوَاهُ مِنْ إِنْسٍ وَجِنٍّ وَمَلَكٍ وشيطان وسماء وارض وحيوان ونبات وجماد وجوهر وعرض وَمُدْرَكٍ وَمَحْسُوسٍ حَادِثٌ اخْتَرَعَهُ بِقُدْرَتِهِ بَعْدَ الْعَدَمِ اخْتِرَاعًا وَأَنْشَأَهُ إِنْشَاءً بَعْدَ أَنْ لَمْ يَكُنْ شيئاً إذ كان مَوْجُودًا وَحْدَهُ وَلَمْ يَكُنْ مَعَهُ غَيْرُهُ فَأَحْدَثَ الْخَلْقَ بَعْدَ ذَلِكَ إِظْهَارًا لِقُدْرَتِهِ وَتَحْقِيقًا لِمَا سَبَقَ مِنْ إِرَادَتِهِ وَلِمَا حَقَّ فِي الْأَزَلِ مِنْ كَلِمَتِهِ لَا لِافْتِقَارِهِ إِلَيْهِ وَحَاجَتِهِ
sedangkan kezaliman sama sekali tidak dapat dibayangkan berasal dari Allah Ta'ala, sebab Dia tidak pernah menjumpai kepemilikan selain milik-Nya sehingga tindakan-Nya terhadapnya dianggap sebagai kezaliman. Maka segala sesuatu selain-Nya, baik manusia, jin, malaikat, setan, langit, bumi, hewan, tumbuhan, benda mati, substansi (jauhar), sifat aksidental ('aradh), hal yang tersadari, maupun hal yang terindera, adalah perkara baru yang Dia ciptakan dengan kuasa-Nya dari ketiadaan secara mutlak dan Dia adakan sesudah sebelumnya tidak ada sesuatu pun. Sebab Dia Maha Wujud seorang diri dan tidak ada sesuatu pun bersama-Nya, lalu Dia menciptakan makhluk setelah itu sebagai manifestasi kuasa-Nya, perwujudan iradah-Nya yang telah lalu, serta pemenuhan bagi firman-Nya yang tetap sejak azali, bukan karena ketergantungan atau kebutuhan-Nya kepada makhluk tersebut.
وَأَنَّهُ متفضل بالخلق والاختراع والتكليف لا عن وجوب وَمُتَطَوِّلٌ بِالْإِنْعَامِ وَالْإِصْلَاحِ لَا عَنْ لُزُومٍ فَلَهُ الفضل والإحسان والنعمة والامتنان إذ كان قادراً على أن يصب على عباده أنواع العذاب ويبتليهم بضروب الآلام والأوصاب ولو فعل ذلك لكان منه عدلاً ولم يكن منه قبيحاً ولا ظلماً
Bahwasanya Dia Maha Memberi karunia dengan menciptakan, mengadakan, dan memberi beban syariat (taklif) bukan karena kewajiban; Dia Maha Melimpahkan nikmat dan kemaslahatan bukan karena keharusan. Maka hanya milik-Nya semata segala karunia, kebaikan, nikmat, dan anugerah. Sebab, Dia Mahakuasa untuk menumpahkan berbagai ragam azab kepada hamba-hamba-Nya dan menguji mereka dengan bermacam rasa sakit dan penderitaan; seandainya Dia melakukan hal itu, niscaya tindakan tersebut merupakan bentuk keadilan dari-Nya dan bukan merupakan keburukan ataupun kezaliman.
وأنه ﷿ يثبت عِبَادَهُ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى الطَّاعَاتِ بِحُكْمِ الْكَرَمِ وَالْوَعْدِ لا بحكم الاستحقاق واللزوم لَهُ إِذْ لَا يَجِبُ عَلَيْهِ لِأَحَدٍ فِعْلٌ وَلَا يُتَصَوَّرُ مِنْهُ ظُلْمٌ وَلَا يَجِبُ لِأَحَدٍ عليه حق
Dan bahwasanya Dia ‘Azza wa Jalla meneguhkan hamba-hamba-Nya yang beriman di atas ketaatan berdasarkan karunia dan janji-Nya, bukan karena kelayakan (hak hamba) atau keharusan bagi-Nya. Sebab, tidak ada satu perbuatan pun yang wajib bagi Allah terhadap siapa pun, tidak dapat dibayangkan adanya kezaliman dari-Nya, dan tidak ada hak bagi siapa pun yang wajib ditunaikan oleh-Nya.
وأن حقه في الطاعات وجب عَلَى الْخَلْقِ بِإِيجَابِهِ عَلَى أَلْسِنَةِ أَنْبِيَائِهِ ﵈ لَا بِمُجَرَّدِ الْعَقْلِ وَلَكِنَّهُ بَعَثَ الرُّسُلَ وَأَظْهَرَ صِدْقَهُمْ بِالْمُعْجِزَاتِ الظَّاهِرَةِ فَبَلَّغُوا أَمْرَهُ وَنَهْيَهُ ووعده ووعيده فوجب على الخلق تصديقهم فيما جاءوا به
Dan bahwasanya hak-Nya atas ketaatan menjadi wajib bagi makhluk karena diwajibkan oleh-Nya melalui lisan para nabi-Nya ‘alaihimussalam, bukan semata-mata dengan akal. Akan tetapi, Dia mengutus para rasul dan menampakkan kebenaran mereka melalui mukjizat-mukjizat yang nyata, lalu mereka menyampaikan perintah, larangan, janji pahala, dan ancaman-Nya. Maka wajib bagi makhluk untuk membenarkan apa yang mereka bawa.
معنى الكلمة الثانية وهي الشهادة للرسل بالرسالة وَأَنَّهُ بَعَثَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الْقُرَشِيَّ مُحَمَّدًا ﷺ بِرِسَالَتِهِ إِلَى كَافَّةِ الْعَرَبِ والعجم والجن والإنس فنسخ بشريعته الشرائع إلا ما قرره منها
Makna kalimat kedua, yaitu kesaksian atas kerasulan para rasul: Bahwasanya Dia telah mengutus Nabi yang ummi dari suku Quraisy, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dengan risalah-Nya kepada seluruh bangsa Arab, non-Arab, jin, dan manusia. Lalu Dia menghapus syariat-syariat sebelumnya dengan syariat beliau, kecuali apa yang tetap ditegaskan darinya.
وفضله على سائر الأنبياء وجعله سيد البشر
Dan Dia mengutamakannya atas seluruh nabi serta menjadikannya sebagai junjungan umat manusia.
ومنع كمال الإيمان بشهادة التوحيد وهو قول لا إله إلا الله ما لم تقترن بها شهادة الرسول وهو قولك محمد رسول الله وَأَلْزَمَ الْخَلْقَ تَصْدِيقَهُ فِي جَمِيعِ مَا أَخْبَرَ عنه من أمور الدنيا والآخرة
Dan Dia menolak kesempurnaan iman dengan kesaksian tauhid semata—yaitu ucapan "Laa ilaaha illallah"—selama tidak bergandengan dengan kesaksian kepada Rasul—yaitu ucapanmu "Muhammadur Rasulullah". Serta Dia mewajibkan seluruh makhluk untuk membenarkannya dalam segala hal yang beliau kabarkan tentang urusan dunia dan akhirat.
وأنه لا يتقبل
Dan bahwasanya Dia tidak menerima…
إيمان عبد حتى يؤمن بما أخبر به بعد الموت وأوله سؤال منكر ونكير وهما شخصان مهيبان هائلان يقعدان العبد في قبره سوياً ذا روح وجسد فيسألانه عن التوحيد والرسالة ويقولان له من ربك وما دينك ومن نبيك وهما فتانا القبر وسؤالهما أول فتنة بعد الموت
…iman seorang hamba hingga ia beriman kepada apa yang dikabarkan oleh beliau tentang hal-hal setelah kematian; yang diawali dengan pertanyaan Munkar dan Nakir. Keduanya adalah dua sosok yang sangat berwibawa dan menakutkan, yang mendudukkan hamba di dalam kuburnya secara utuh beserta ruh dan jasadnya, lalu menanyakan kepadanya tentang tauhid dan risalah. Keduanya berkata kepadanya: "Siapa Rabbmu? Apa agamamu? Dan siapa nabimu?" Keduanya adalah penguji kubur, dan pertanyaan keduanya merupakan ujian pertama setelah kematian.
وأن يؤمن بعذاب القبر وأنه حق وحكمه عدل على الجسم والروح على ما يشاء
Dan hendaknya ia beriman kepada azab kubur, bahwasanya azab kubur itu nyata (haq) dan ketetapan hukum-Nya adalah adil atas jasad dan ruh sesuai dengan apa yang Dia kehendaki.
وأن يؤمن بالميزان ذي الكفتين واللسان وصفته في العظم أنه مثل طبقات السموات والأرض توزن الأعمال بقدرة الله تعالى والصنج يومئذ مثاقيل الذر والخردل تحقيقا لتمام العدل وتوضح صحائف الحسنات في صورة حسنة في كفة النور فيثقل بها الميزان على قدر درجاتها عند الله بفضل الله وتطرح صحائف السيئات في صورة قبيحة في كفة الظلمة فيخف بها الميزان بعدل الله
Dan hendaknya ia beriman kepada Mizan (timbangan) yang memiliki dua daun timbangan dan jarum petunjuk. Sifat kebesarannya adalah seluas lapisan langit dan bumi; padanya ditimbang amal-amal perbuatan dengan kekuasaan Allah Ta'ala, dan anak timbangan pada hari itu seukuran biji zarrah dan biji sawi demi mewujudkan keadilan yang sempurna. Lembaran-lembaran kebaikan diletakkan dalam wujud yang indah pada daun timbangan cahaya, sehingga memberatkan timbangan sesuai tingkatan derajatnya di sisi Allah dengan karunia-Nya. Sedangkan lembaran-lembaran keburukan dilemparkan dalam wujud yang buruk pada daun timbangan kegelapan, sehingga meringankan timbangan dengan keadilan-Nya.
وأن يؤمن بأن الصراط حق وهو جسر ممدود على متن جهنم أحد من السيف وأدق من الشعرة تزل عليه أقدام الكافرين بحكم الله سبحانه فتهوي بهم إلى النار وتثبت عليه أقدام المؤمنين بفضل الله فيساقون إلى دار القرار
Dan hendaknya ia beriman bahwa Ash-Shirath (titian) itu benar adanya; yaitu jembatan yang terbentang di atas punggung neraka Jahanam, lebih tajam dari pedang dan lebih halus dari sehelai rambut. Tergelincir di atasnya kaki orang-orang kafir atas ketetapan Allah Subhaanahu, lalu melempar mereka ke dalam neraka, sedangkan kaki orang-orang beriman diteguhkan di atasnya dengan karunia Allah, lalu mereka dituntun menuju ke tempat kediaman yang kekal (surga).
وأن يؤمن بالحوض المورود حوض محمد ﷺ يشرب منه المؤمنون قبل دخول الجنة وبعد جواز الصراط من شرب منه شربة لم يظمأ بعدها أبداً عرضه مسيرة شهر ماؤه أشد بياضاً من اللبن وأحلى من العسل حوله أباريق عددها بعدد نجوم السماء حديث فيه ميزابان يصبان من الكوثر أخرجه مسلم من حديث ثوبان يغت فيه ميزابان يمدانه من الجنة أحدهما من ذهب والآخر من ورق //
Dan hendaknya ia beriman kepada telaga yang didatangi (Al-Haudh Al-Mawrud), yaitu telaga Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Orang-orang beriman akan meminum air darinya sebelum masuk surga dan setelah melintasi Shirath. Barang siapa meminum darinya sekali teguk, ia tidak akan merasa haus selamanya. Luasnya sejauh perjalanan satu bulan, airnya lebih putih daripada susu dan lebih manis daripada madu, di sekelilingnya terdapat teko-teko yang jumlahnya sebanyak bintang-bintang di langit. Terdapat hadis padanya: dua pancuran mengalir darinya dari telaga Al-Kautsar (Diriwayatkan oleh Muslim dari hadis Tsauban: Dua pancuran mengalir melimpah ke dalamnya menyuplai dari surga, salah satunya dari emas dan yang lainnya dari perak).
وأن يؤمن بالحساب وتفاوت الناس فيه إلى مناقش في الحساب وإلى مسامح فيه وإلى من يدخل
Dan hendaknya ia beriman kepada hisab (perhitungan amal) serta perbedaan manusia di dalamnya: di antara mereka ada yang diperiksa hisabnya secara teliti (munaqasyah), ada yang dimudahkan hisabnya, dan ada yang masuk…
الجنة بغير حساب وهم المقربون فيسأل الله تعالى من شاء من الأنبياء عن تبليغ الرسالة ومن شاء من الكفار عن تكذيب المرسلين ويسأل المبتدعة عن السنة ويسأل المسلمين عن الأعمال
…surga tanpa hisab, mereka adalah orang-orang yang didekatkan (al-muqarrabun). Lalu Allah Ta'ala menanyakan kepada siapa yang Dia kehendaki dari para nabi tentang penyampaian risalah, kepada siapa yang Dia kehendaki dari orang-orang kafir tentang pendustaan terhadap para rasul, menanyakan pelaku bid'ah tentang sunnah, dan menanyakan orang-orang muslim tentang amal perbuatan.
وأن يؤمن بإخراج الموحدين من النار بعد الانتقام حتى لا يبقى في جهنم موحد بفضل الله تعالى فلا يخلد في النار موحد
Dan hendaknya ia beriman tentang dikeluarkannya orang-orang ahli tauhid dari neraka setelah pembalasan dosa, hingga tidak tersisa seorang ahli tauhid pun di dalam neraka Jahanam dengan karunia Allah Ta'ala, maka tidak ada ahli tauhid yang kekal di dalam neraka.
وأن يؤمن بشفاعة الأنبياء ثم العلماء ثم الشهداء ثم سائر المؤمنين على حسب جاهه ومنزلته عند الله تعالى ومن بقي من المؤمنين ولم يكن له شفيع أخرج بفضل الله ﷿ فلا يخلد في النار مؤمن بل يخرج منها من كان في قلبه مثقال ذرة من الإيمان
Dan hendaknya ia beriman kepada syafaat para nabi, kemudian para ulama, kemudian para syuhada, lalu seluruh orang mukmin sesuai dengan kedudukan dan kemuliaannya di sisi Allah Ta'ala. Dan barang siapa dari orang-orang mukmin yang tersisa serta tidak memiliki pemberi syafaat, maka ia dikeluarkan dengan karunia Allah ‘Azza wa Jalla. Maka tidak ada orang mukmin yang kekal di neraka, melainkan akan dikeluarkan darinya orang yang di dalam hatinya terdapat iman seberat zarrah.
وأن يعتقد فضل الصحابة ﵃ وترتيبهم وأن أفضل الناس بعد النبي ﷺ أبو بكر ثم عمر ثم عثمان ثم علي ﵃
Dan hendaknya ia meyakini keutamaan para sahabat radhiyallahu 'anhum dan tingkatan kedudukan mereka, serta bahwasanya manusia paling utama setelah Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam adalah Abu Bakar, kemudian 'Umar, kemudian 'Utsman, kemudian 'Ali radhiyallahu 'anhum.
وأن يحسن الظن بجميع الصحابة ويثني عليهم كما أثنى الله ﷿ ورسوله ﷺ عليهم أجمعين فكل ذلك مما وردت به الأخبار وشهدت به الآثار فمن اعتقد جميع ذلك موقناً به كان من أهل الحق وعصابة السنة وفارق رهط الضلال وحزب البدعة
Dan hendaknya ia berprasangka baik (husnudzon) kepada seluruh sahabat serta memuji mereka sebagaimana Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu 'Alaihi wa Sallam memuji mereka semuanya. Maka seluruh hal tersebut merupakan perkara yang terdapat dalam riwayat-riwayat hadis dan disaksikan oleh atsar. Barang siapa meyakini seluruh hal ini dengan penuh keyakinan, maka ia termasuk golongan kebenaran (ahlul haq) dan kelompok sunnah ('ishabatus sunnah), serta terpisah dari golongan kesesatan dan kelompok bid'ah.
فنسأل الله كمال اليقين وحسن الثبات في الدين لنا ولكافة المسلمين برحمته إنه أرحم الراحمين وصلى الله على سيدنا محمد وعلى كل عبد مصطفى
Maka kami memohon kepada Allah kesempurnaan keyakinan dan kebaikan keteguhan dalam agama bagi kami dan bagi seluruh umat Islam dengan rahmat-Nya; sesungguhnya Dia Maha Penyayang di antara para penyayang. Dan semoga selawat serta salam Allah tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad dan kepada setiap hamba yang terpilih.