كتاب قواعد العقائد

الفصل الرابع من قواعد العقائد

الفصل الرابع من قواعد العقائد

الفصل الرابع من قواعد العقائد

Fasal Keempat dari Kaidah-Kaidah Akidah (Qawa'id Al-'Aqa'id)

في الإيمان والإسلام وما بينهما من الاتصال وما يتطرق إليه من الزيادة والنقصان ووجه استثناء السلف فيه وفيه ثلاث مسائل

Mengenai Iman dan Islam, hubungan keterkaitan antara keduanya, hal-hal yang berkaitan dengan bertambah dan berkurangnya iman, serta bentuk pengecualian (istitsna') yang dilakukan para ulama Salaf di dalamnya; dan di dalamnya terdapat tiga permasalahan.

مسألة اختلفوا في أن الإسلام هو الإيمان أو غيره وإن كان غيره فهل هو منفصل عنه يوجد دونه أو مرتبط به يلازمه فقيل إنهما شيء واحد وقيل إنهما شيئان لا يتواصلان وقيل إنهما شيئان ولكن يرتبط أحدهما بالآخر

Permasalahan Pertama: Para ulama berselisih pendapat tentang apakah Islam itu sama dengan Iman ataukah sesuatu yang berbeda. Jika berbeda, apakah Islam itu terpisah dari Iman sehingga bisa ada tanpanya, ataukah terikat dengannya dan senantiasa menyertainya? Ada yang berpendapat bahwa keduanya adalah satu hal yang sama. Ada yang berpendapat bahwa keduanya adalah dua hal yang tidak saling terhubung. Dan ada pula yang berpendapat bahwa keduanya adalah dua hal yang berbeda, namun salah satunya terikat dengan yang lain.

وقد أورد أبو طالب المكي في هذا كلاماً شديد الاضطراب كثير التطويل فلنهجم الآن على التصريح بالحق من غير تعريج على نقل ما لا تحصيل له فنقول في هذا ثلاثة مباحث بحث عن موجب اللفظين في اللغة وبحث عن المراد بهما في إطلاق الشرع وبحث عن حكمهما في الدنيا والآخرة والبحث الأول لغوي والثاني تفسيري والثالث فقهي شرعي

Abu Talib al-Makki telah mengemukakan pembahasan mengenai hal ini dengan penjelasan yang sangat kacau dan amat panjang lebar. Oleh karena itu, mari kita langsung menegaskan kebenaran tanpa perlu berbelit-belit mengutip hal-hal yang tidak berfaedah. Kami katakan: dalam hal ini terdapat tiga pembahasan; pembahasan tentang tuntutan kedua lafaz secara etimologi (bahasa), pembahasan tentang apa yang dimaksud oleh keduanya dalam penggunaan syariat, dan pembahasan tentang hukum keduanya di dunia dan di akhirat. Pembahasan pertama bersifat kebahasaan (linguistik), kedua bersifat penafsiran (eksegetis), dan ketiga bersifat fiqih syari.

البحث الأول في موجب اللغة والحق فيه أن الإيمان عبارة عن التصديق قال الله تعالى وما أنت بمؤمن لنا أي بمصدق والإسلام عبارة عن التسليم والاستسلام بالإذعان والانقياد وترك التمرد والإباء والعناد وللتصديق محل خاص وهو القلب واللسان ترجمان

Pembahasan Pertama: Tentang tuntutan secara kebahasaan. Kebenaran dalam hal ini adalah bahwa Iman merupakan ungkapan dari tasdiq (pembenaran hati). Allah Ta'ala berfirman: "Dan engkau sekali-kali tidak akan percaya (bi-mu'minin) kepada kami" (QS. Yusuf: 17), yakni tidak membenarkan (mu-shaddiq). Sedangkan Islam merupakan ungkapan dari taslim (penyerahan diri) dan istislam (ketundukan) dengan penuh kepatuhan, ketaatan, serta meninggalkan pembangkangan, keengganan, dan penentangan. Pembenaran (tasdiq) memiliki tempat khusus, yaitu Hati, sedangkan lisan adalah juru bicaranya.

وأما التسليم فإنه عام في القلب واللسان والجوارح فإن كل تصديق بالقلب فهو تسليم وترك الإباء والجحود وكذلك الاعتراف باللسان وكذلك الطاعة والانقياد بالجوارح

Adapun penyerahan diri (taslim), ia bersifat umum mencakup Hati, lisan, dan anggota badan. Sebab, setiap pembenaran dengan Hati adalah bentuk penyerahan diri serta penanggalan dari sikap enggan dan penolakan. Demikian pula pengakuan dengan lisan, serta ketaatan dan kepatuhan dengan anggota badan.

فموجب اللغة أن الإسلام أعم والإيمان أخص فكان الإيمان عبارة عن أشرف أجزاء الإسلام فإذن كل تصديق تسليم وليس كل تسليم تصديقاً

Dengan demikian, tuntutan bahasa menunjukkan bahwa Islam bersifat lebih umum dan Iman bersifat lebih khusus. Iman merupakan ungkapan dari bagian Islam yang paling mulia. Oleh karena itu, setiap pembenaran (tasdiq) adalah penyerahan diri (taslim), namun tidak setiap penyerahan diri adalah pembenaran.

البحث الثاني عن إطلاق الشرع والحق فيه أن الشرع قد ورد باستعمالهما على سبيل الترادف والتوارد وورد على سبيل الاختلاف وورد على سبيل التداخل أما الترادف ففيقوله تعالى فأخرجنا من كان فيها من المؤمنين فما وجدنا فيها غير بيت من المسلمين ولم يكن بالاتفاق إلا بيت واحد وقال تعالى يا قوم إن كنتم آمنتم بالله فعليه توكلوا إن كنتم مسلمين وَقَالَ ﷺ بُنِيَ الْإِسْلَامُ على خمس

Pembahasan Kedua: Mengenai penggunaannya menurut syariat. Kebenaran dalam hal ini adalah bahwa syariat kadang menggunakannya secara sinonim (taraduf) dan bergantian, kadang secara berbeda (ikhtilaf), dan kadang secara saling tumpang tindih (tadakhul). Adapun penggunaannya secara sinonim seperti dalam firman Allah Ta'ala: "Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri itu. Dan Kami tidak mendapati di dalamnya melainkan satu rumah dari orang-orang Muslim." (QS. Adz-Dzariyat: 35-36); padahal menurut kesepakatan ulama, yang ada di sana hanyalah satu rumah saja. Allah Ta'ala juga berfirman: "Wahai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakallah kepada-Nya, jika kamu benar-benar orang Muslim." (QS. Yunus: 84). Dan Rasulullah ﷺ bersabda: "Islam dibangun di atas lima perkara…"

وَسُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مرة عن الإيمان فأجاب بهذه الخمس وأما الاختلاف فقوله تعالى ﴿قالت الأعراب آمنا قل لم تؤمنوا ولكن قولوا أسلمنا﴾ ومعناه استسلمنا في الظاهر فأراد بالإيمان ههنا التصديق بالقلب فقط وبالإسلام الاستسلام ظاهراً باللسان والجوارح وفي حديث جبرائيل ﵇ لما سأله عن الإيمان فقال أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر وبالبعث بعد الموت وبالحساب وبالقدر خيره وشره فقال فما الإسلام فأجاب بذكر الخصال الخمس فعبر بالإسلام عن تسليم الظاهر بالقول والعمل

Dan Rasulullah ﷺ pernah ditanya tentang Iman, lalu beliau menjawab dengan lima rukun ini. Adapun penggunaannya secara berbeda (ikhtilaf), sebagaimana firman-Nya Ta'ala: "Orang-orang Arab Badui berkata, 'Kami telah beriman.' Katakanlah, 'Kamu belum beriman, tetapi katakanlah kami telah tunduk (ber-Islam)'" (QS. Al-Hujurat: 14); maknanya adalah kami berserah diri secara lahiriah. Maksud Iman di sini adalah pembenaran dengan Hati saja, sedangkan Islam adalah ketundukan lahiriah dengan lisan dan anggota badan. Begitu pula dalam hadis Malaikat Jibril 'alaihis salam ketika bertanya kepada beliau tentang Iman, beliau menjawab: "Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, kebangkitan setelah kematian, hisab, serta qadar yang baik dan yang buruk." Jibril bertanya: "Lalu apakah Islam itu?" Beliau menjawab dengan menyebutkan lima rukun, sehingga beliau mengekspresikan Islam sebagai penyerahan diri secara lahiriah melalui ucapan dan perbuatan.

وفي الحديث عن سعد أنه ﷺ أعطى رجلاً عطاء ولم يعط الآخر فقال له سعد يا رسول الله تركت فلاناً لم تعطه وهو مؤمن فقال ﷺ أو مسلم فأعاد عليه فأعاد رسول الله ﷺ حديث سعد أعطى رجلاً عطاء ولم يعط الآخر فقال له سعد يا رسول الله تركت فلاناً لم تعطه وهو مؤمن فقال أو مسلم الحديث أخرجاه بنحوه // وأما التداخل فما روى أيضا أنه

Dan dalam hadis dari Sa'ad bahwa Rasulullah ﷺ memberikan suatu pemberian kepada seseorang dan tidak memberikannya kepada orang yang lain. Sa'ad berkata kepada beliau: "Wahai Rasulullah, mengapa engkau tidak memberi si Fulan, padahal dia adalah seorang mukmin?" Maka Nabi ﷺ bersabda: "Atau seorang Muslim?" Sa'ad mengulangi perkataannya, lalu Rasulullah ﷺ mengulangi jawabannya: "Atau seorang Muslim?" —hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dengan redaksi senada—. Adapun mengenai saling tumpang tindih (tadakhul), adalah sebagaimana yang juga diriwayatkan bahwa…

سئل فقيل أي الأعمال أفضل فقال ﷺ الإسلام فقال أي الإسلام أفضل فقال ﷺ الإيمان وهذا دليل على الاختلاف وعلى التداخل وهو أوفق الاستعمالات في اللغة لأن الإيمان عمل من الأعمال وهو أفضلها والإسلام هو تسليم إما بالقلب وإما باللسان وإما بالجوارح وأفضلها الذي بالقلب وهو التصديق الذي يسمى إيماناً والاستعمال لهما على سبيل الاختلاف وعلى سبيل التداخل وعلى سبيل الترادف كله غير خارج عن طريق التجوز في اللغة

Beliau ditanya: "Amal apakah yang paling utama?" Beliau ﷺ menjawab: "Islam." Ditanyakan lagi: "Islam manakah yang paling utama?" Beliau ﷺ menjawab: "Iman." Ini adalah dalil atas perbedaan (ikhtilaf) sekaligus saling tumpang tindih (tadakhul), dan ini merupakan penggunaan yang paling sesuai secara bahasa. Karena Iman adalah salah satu dari amal perbuatan dan merupakan yang paling utama, sedangkan Islam adalah penyerahan diri baik dengan Hati, lisan, maupun anggota badan. Yang paling utama di antaranya adalah yang ada di Hati, yaitu pembenaran (tasdiq) yang dinamakan Iman. Penggunaan keduanya secara berbeda, tumpang tindih, maupun sinonim, semuanya tidak keluar dari metode kiasan (tajawuz) dalam bahasa.

أما الاختلاف فهو أن يجعل الإيمان عبارة عن التصديق بالقلب فقط وهو موافق للغة والإسلام عبارة عن التسليم ظاهراً وهو أيضاً موافق للغة فإن التسليم ببعض محال التسليم ينطلق عليه اسم التسليم فليس من شرط حصول الاسم عموم المعنى لكل محل يمكن أن يوجد المعنى فيه فإن من لمس غيره ببعض بدنه يسمى لامساً وإن لم يستغرق جميع بدنه فإطلاق اسم الإسلام على التسليم الظاهر عند عدم تسليم الباطن مطابق للسان وعلى هذا الوجه جرى قوله تعالى ﴿قالت الأعراب آمنا قل لم تؤمنوا ولكن قولوا أسلمنا﴾ وقوله ﷺ في حديث سعد أو مسلم لأنه فضل أحدهما على الآخر ويريد بالاختلاف تفاضل المسميين

Adapun segi perbedaan (ikhtilaf) adalah dengan menjadikan Iman sebagai ungkapan untuk pembenaran dengan Hati saja, dan ini sesuai dengan bahasa; serta menjadikan Islam sebagai ungkapan penyerahan diri secara lahiriah, dan ini pun sesuai dengan bahasa. Sebab, penyerahan diri pada sebagian anggota penyerahan diri sudah dapat dinamakan penyerahan diri (taslim). Syarat perolehan nama tersebut tidak mengharuskan keumuman makna pada setiap tempat yang memungkinkan adanya makna tersebut. Barangsiapa menyentuh orang lain dengan sebagian tubuhnya, dia sudah dinamakan orang yang menyentuh, meskipun tidak mencakup seluruh tubuhnya. Maka pengeluaran nama Islam atas penyerahan diri lahiriah ketika tidak ada penyerahan diri batiniah adalah sesuai dengan ketentuan bahasa. Atas dasar inilah firman Allah Ta'ala berlaku: "Orang-orang Arab Badui berkata, 'Kami telah beriman.' Katakanlah, 'Kamu belum beriman, tetapi katakanlah kami telah tunduk (ber-Islam)'" (QS. Al-Hujurat: 14), dan sabda Nabi ﷺ dalam hadis Sa'ad: "Atau seorang Muslim?", karena beliau mengutamakan salah satunya atas yang lain, dan dengan perbedaan ini beliau menghendaki adanya keunggulan tingkatan antara dua hal yang dinamai tersebut.

وأما التداخل فموافق أيضاً للغة في خصوص الإيمان وهو أن يجعل الإسلام عبارة عن التسليم بالقلب والقول والعمل جميعاً والإيمان عبارة عن بعض ما دخل في الإسلام وهو التصديق بالقلب وهو الذي عنيناه بالتداخل وهو موافق للغة في خصوص الإيمان وعموم الإسلام للكل وعلى هذا خرج قوله ﴿الإيمان﴾ في جواب قول السائل أي الإسلام أفضل لأنه جعل الإيمان خصوصاً من الإسلام فأدخله فيه وأما استعماله فيه على سبيل الترادف بأن يجعل الإسلام عبارة عن التسليم بالقلب والظاهر جميعاً فإن كل ذلك تسليم وكذا الإيمان ويكون التصرف في الإيمان على الخصوص بتعميمه وإدخال الظاهر في معناه وهو جائز لأن تسليم الظاهر بالقول والعمل ثمرة تصديق الباطن ونتيجته وقد يطلق اسم الشجر ويراد به الشجر مع ثمره على سبيل التسامح فيصير بهذا القدر من التعميم مرادفاً لاسم الإسلام ومطابقاً له فلا يزيد عليه ولا ينقص وعليه خرج قوله ﴿فما وجدنا فيها غير بيت من المسلمين﴾

Adapun mengenai saling tumpang tindih (tadakhul), hal ini juga sesuai dengan bahasa dalam hal kekhususan Iman; yaitu menjadikan Islam sebagai ungkapan untuk penyerahan diri dengan Hati, ucapan, dan perbuatan sekaligus, sedangkan Iman merupakan ungkapan dari sebagian apa yang masuk ke dalam Islam, yaitu pembenaran (tasdiq) dengan Hati. Inilah yang kami maksud dengan saling tumpang tindih, dan ini sesuai dengan bahasa dalam hal kekhususan Iman serta keumuman Islam mencakup seluruhnya. Atas dasar inilah sabda beliau: "(Yakni) Iman" dipahami sebagai jawaban atas pertanyaan: "Islam manakah yang paling utama?", karena beliau menjadikan Iman sebagai bagian khusus dari Islam lalu memasukkannya ke dalamnya. Adapun penggunaannya secara sinonim (taraduf) adalah dengan menjadikan Islam sebagai ungkapan penyerahan diri dengan Hati dan lahiriah secara keseluruhan, karena seluruhnya adalah penyerahan diri (taslim), demikian pula halnya dengan Iman. Pengalihan makna Iman secara khusus dilakukan dengan memperluas maknanya dan memasukkan aspek lahiriah ke dalam pengertiannya, dan hal ini diperbolehkan karena penyerahan diri secara lahiriah melalui ucapan dan perbuatan merupakan buah dan hasil dari pembenaran batiniah. Terkadang nama "pohon" disebutkan namun yang dimaksud adalah pohon beserta buahnya secara kelonggaran bahasa (tasamuh). Maka dengan tingkat perluasan makna ini, ia menjadi sinonim dengan nama Islam dan serasi dengannya, tidak bertambah dan tidak berkurang. Atas dasar inilah firman-Nya dipahami: "Dan Kami tidak mendapati di dalamnya melainkan satu rumah dari orang-orang Muslim." (QS. Adz-Dzariyat: 36).

البحث الثالث عن الحكم الشرعي

Pembahasan Ketiga: Mengenai Hukum Syar'i.

والإسلام والإيمان حكمان أخروي ودنيوي

Islam dan Iman memiliki dua dimensi hukum: hukum akhirat dan hukum dunia.

أما الأخروي فهو الإخراج من النار ومنع التخليد إذ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يخرج من النار من كان في قلبه مثقال ذرة من إيمان وقد اختلفوا في أن هذا الحكم على ماذا يترتب وعبروا عنه بأن الإيمان ماذا هو فمن قائل إنه مجرد العقد ومن قائل يقول إنه عقد بالقلب وشهادة باللسان ومن قائل يزيد ثالثاً وهو العمل بالأركان ونحن نكشف الغطاء عنه ونقول من جمع بين هذه الثلاثة فلا خلاف في أن مستقره الجنة وهذه درجة

Adapun hukum akhirat adalah pengeluaran dari neraka dan pencegahan dari kekekalan di dalamnya, sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda: "Akan keluar dari neraka orang yang di dalam hatinya terdapat iman seberat zarrah." Para ulama berselisih pendapat mengenai atas dasar apa hukum ini ditetapkan, dan mereka mengekspresikannya dengan pertanyaan tentang apa hakikat Iman itu. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa Iman adalah sebatas ikatan keyakinan ('aqad), ada yang berpendapat bahwa Iman adalah ikatan Hati dan kesaksian dengan lisan, dan ada pula yang menambahkan unsur ketiga, yaitu beramal dengan rukun-rukun (anggota badan). Kami akan menyikapkan tabirnya dan katakan: Barangsiapa menghimpun ketiga hal ini, maka tidak ada perselisihan pendapat bahwa tempat kembalikannya adalah surga, dan ini adalah satu tingkatan.

الدرجة الثانية أن يوجد اثنان وبعض الثالث وهو القول والعقد وبعض الأعمال ولكن ارتكب صاحبه كبيرة أو بعض الكبائر فعند هذا قالت المعتزلة خرج بهذا عن الإيمان ولم يدخل في الكفر بل اسمه فاسق وهو على منزلة بين المنزلتين وهو مخلد في النار وهذا باطل كما سنذكره

Tingkatan Kedua: Adanya dua perkara ditambah sebagian perkara ketiga, yaitu ucapan lisan, ikatan keyakinan Hati, dan sebagian amal perbuatan, namun pelakunya melakukan dosa besar atau sebagian dari dosa-dosa besar. Dalam kondisi ini, kaum Mu'tazilah berpendapat bahwa dengan hal itu ia telah keluar dari Iman dan belum masuk ke dalam kekufuran, melainkan namanya adalah orang fasik (fasiq) yang berada di satu posisi di antara dua posisi (manzilah bainal manzilatain), dan ia kekal di dalam neraka. Pendapat ini batil sebagaimana akan kami sebutkan nanti.

الدرجة الثالثة أن يوجد التصديق بالقلب والشهادة باللسان دون الأعمال بالجوارح وقد

Tingkatan Ketiga: Adanya pembenaran (tasdiq) dengan Hati dan kesaksian (syahadah) dengan lisan tanpa adanya amal perbuatan dengan anggota badan. Dan sungguh…

اختلفوا في حكمه فقال أبو طالب المكي العمل بالجوارح من الإيمان ولا يتم دونه وادعى الإجماع فيه واستدل بأدلة تشعر بنقيض غرضه كقوله تعالى ﴿الذين آمنوا وعملوا الصالحات﴾ إذ هذا يدل على أن العمل وراء الإيمان لا من نفس الإيمان وإلا فيكون العمل في حكم المعاد والعجب أنه ادعى الإجماع في هذا وهو مع ذلك ينقل قوله ﷺ لا يكفر أحد إلا بعد جحوده لما أقر به وينكر على المعتزلة قولهم بالتخليد في النار بسبب الكبائر والقائل بهذا قائل بنفس مذهب المعتزلة إذ يقال له من صدق بقلبه وشهد بلسانه ومات في الحال فهل هو في الجنة فلا بد أن يقول نعم وفيه حكم بوجود الإيمان دون العمل فنزيد ونقول لو بقي حياً حتى دخل عليه وقت صلاة واحدة فتركها ثم مات أو زنى ثم مات فهل يخلد في النار فإن قال نعم فهو مراد المعتزلة وإن قال لا فهو تصريح بأن العمل ليس ركناً من نفس الإيمان ولا شرطاً في وجوده ولا في استحقاق الجنة به وإن قال أردت به أن يعيش مدة طويلة ولا يصلي ولا يقدم على شيء من الأعمال الشرعية فنقول فما ضبط تلك المدة وما عدد تلك الطاعات التي بتركها يبطل الإيمان وما عدد الكبائر التي بارتكابها يبطل الإيمان وهذا لا يمكن التحكم بتقديره ولم يصر إليه صائر أصلاً

Para ulama berselisih tentang hukumnya. Abu Talib al-Makki berkata: "Amal anggota badan termasuk bagian dari Iman dan Iman tidak sempurna tanpanya." Ia mengklaim adanya ijmak dalam hal ini dan berdalil dengan dalil-dalil yang justru mengindikasikan kebalikan dari tujuannya, seperti firman Allah Ta'ala: "Orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan" (QS. Al-Baqarah: 25). Sebab, ayat ini menunjukkan bahwa amal berada di luar pengertian Iman, bukan dari substansi Iman itu sendiri; jika tidak demikian, niscaya pengulangan kata amal akan menjadi pengulangan yang sia-sia. Yang mengherankan adalah ia mengklaim ijmak dalam hal ini, padahal di saat bersamaan ia mengutip sabda Nabi ﷺ: "Seseorang tidak dikafirkan melainkan setelah ia mengingkari apa yang telah diakuinya," dan ia menolak pendapat kaum Mu'tazilah mengenai kekekalan di neraka disebabkan dosa-dosa besar. Padahal orang yang berpendapat seperti ini pada hakikatnya sependapat dengan mazhab Mu'tazilah. Sebab dikatakan kepadanya: Barangsiapa membenarkan dengan Hatinya dan bersaksi dengan lisannya lalu langsung meninggal dunia pada saat itu juga, apakah ia berada di surga? Maka ia pasti menjawab "ya", dan di dalamnya terdapat penetapan hukum adanya Iman tanpa amal perbuatan. Lalu kami tambahkan dan katakan: Seandainya ia tetap hidup hingga masuk satu waktu salat lalu meninggalkannya kemudian meninggal dunia, atau ia berzina kemudian meninggal dunia, apakah ia kekal di dalam neraka? Jika ia menjawab "ya", maka itulah yang dimaksud oleh kaum Mu'tazilah. Jika ia menjawab "tidak", maka itu merupakan penegasan bahwa amal bukanlah rukun dari substansi Iman, bukan pula syarat keberadaannya, dan bukan syarat untuk berhak mendapatkan surga dengannya. Jika ia berkata: "Maksudku adalah jika ia hidup dalam jangka waktu yang lama tanpa salat dan tidak melakukan satu pun amal syariat," maka kami katakan: Berapakah batasan jangka waktu tersebut, berapa jumlah ketaatan yang jika ditinggalkan dapat membatalkan Iman, dan berapa jumlah dosa besar yang jika dilakukan dapat membatalkan Iman? Hal ini tidak mungkin ditentukan secara rekaan semata dan tidak pernah ada seorang jua yang berpendapat demikian.

الدرجة الرابعة أن يوجد التصديق بالقلب قبل أن ينطق باللسان أو يشتغل بالأعمال ومات فهل نقول مات مؤمناً بينه وبين الله تعالى وهذا مما اختلف فيه ومن شرط القول لتمام الإيمان يقول هذا مات قبل الإيمان وهو فاسد إذ قال ﷺ يخرج من النار من كان في قلبه مثقال ذرة من الإيمان وهذا قلبه طافح بالإيمان فكيف يخلد في النار ولم يشترط في حديث جبريل ﵇ للإيمان إلا التصديق بالله تعالى وملائكته وكتبه واليوم الآخر كما سبق

Tingkatan Keempat: Adanya pembenaran (tasdiq) dengan Hati sebelum ia sempat mengucapkan dengan lisan atau disibukkan dengan amal perbuatan lalu ia meninggal dunia. Apakah kita katakan ia meninggal sebagai seorang mukmin di antara dirinya dan Allah Ta'ala? Hal ini termasuk perkara yang diperselisihkan. Barangsiapa menyyaratkan ucapan lisan untuk kesempurnaan Iman, ia akan berkata: "Orang ini meninggal sebelum beriman." Pendapat ini rusak (batil), sebab Nabi ﷺ bersabda: "Akan keluar dari neraka orang yang di dalam hatinya terdapat iman seberat zarrah," sedangkan orang ini Hatinya melimpah dengan Iman, maka bagaimana mungkin ia kekal di neraka? Padahal dalam hadis Jibril 'alaihis salam tidak disyaratkan untuk Iman melainkan pembenaran (tasdiq) kepada Allah Ta'ala, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan hari akhir sebagaimana telah berlalu.

الدرجة الخامسة أن يصدق بالقلب ويساعده من العمر مهلة النطق بكلمتي الشهادة وعلم وجوبها ولكنه لم ينطق بها فيحتمل أن يجعل امتناعه عن النطق كامتناعه عن الصلاة ونقول هو مؤمن غير مخلد في النار والإيمان هو التصديق المحض واللسان ترجمان الإيمان فلا بد أن يكون الإيمان موجوداً بتمامه قبل اللسان حتى يترجمه اللسان وهذا هو الأظهر إذ لا مستند إلا اتباع موجب الألفاظ ووضع اللسان أن الإيمان هو عبارة عن التصديق بالقلب

Tingkatan Kelima: Ia membenarkan dengan Hati dan usianya masih memiliki kelonggaran waktu untuk mengucapkan dua kalimat syahadat serta ia mengetahui kewajibannya, namun ia tidak mengucapkannya. Maka ada kemungkinan keengganannya untuk mengucapkan syahadat dijadikan seperti keengganannya untuk melaksanakan salat, dan kami katakan: Ia adalah seorang mukmin yang tidak kekal di dalam neraka. Sebab Iman adalah pembenaran murni (at-tasdiq al-mahdh), sedangkan lisan hanyalah juru bicara Iman. Maka Iman haruslah ada secara sempurna sebelum lisan, sehingga lisan dapat menjadi juru bicaranya. Inilah pendapat yang lebih kuat (azh-zhar), sebab tidak ada sandaran selain mengikuti tuntutan lafaz dan penetapan bahasa bahwa Iman merupakan ungkapan dari pembenaran dengan Hati.

وقد قال ﷺ يخرج من كان في قلبه مثقال ذرة ولا ينعدم الإيمان من القلب بالسكوت عن النطق الواجب كما لا ينعدم بالسكوت عن الفعل الواجب وقال قائلون القول ركن إذ ليس كلمتا الشهادة إخباراً عن القلب بل هو إنشاء عقد آخر وابتداء شهادة والتزام والأول أظهر وقد غلا في هذا طائفة المرجئة فقالوا هذا لا يدخل النار أصلاً وقالوا إن المؤمن وإن عصى فلا يدخل النار وسنبطل ذلك عليهم

Dan Rasulullah ﷺ sungguh telah bersabda: "Akan keluar (dari neraka) orang yang di dalam hatinya terdapat imannya seberat zarrah…" Dan keimanan tidaklah sirna dari hati hanya karena diam dari pengucapan lisan yang wajib, sebagaimana tidak sirna akibat diam dari perbuatan yang wajib. Sebagian golongan berpendapat bahwa pengucapan (syahadat) adalah rukun, karena dua kalimat syahadat bukanlah sekadar pemberitahuan tentang apa yang ada di dalam hati, melainkan pembentukan ikatan akad yang baru, permulaan kesaksian, dan komitmen. Namun pendapat pertama lebih jelas (kuat). Dalam hal ini, kelompok Murji'ah telah berlebih-lebihan (ekstrem) dengan mengatakan: "Orang ini tidak akan masuk neraka sama sekali." Mereka berkata: "Sesungguhnya seorang mukmin, meskipun ia bermaksiat, tidak akan masuk neraka." Dan kami akan membatalkan pendapat mereka tersebut.

الدرجة السادسة ان يقول بلسانه لا إله إلا الله محمد رسول الله ولكن لم يصدق بقلبه فلا نشك في أن هذا في حكم الآخرة من الكفار وأنه مخلد في النار ولا نشك في أنه في حكم الدنيا للذي يتعلق بالأئمة والولاة من المسلمين لأن قلبه لا يطلع عليه وعلينا أن نظن به أنه ما قاله بلسانه إلا وهو منطو عليه في قلبه وإنما نشك في أمر ثالث وهو الحكم الدنيوي فيما بينه وبين الله تعالى

Tingkatan keenam: Seseorang mengucapkan dengan lisannya 'Laa ilaaha illallah Muhammad Rasulullah', namun hatinya tidak membenarkan. Maka kami tidak ragu bahwa dalam hukum akhirat ia termasuk golongan orang-orang kafir dan kekal di dalam neraka. Kami pun tidak ragu bahwa dalam hukum duniawi—yang berkaitan dengan para imam dan penguasa kaum muslimin—ia dihukumi sebagai muslim, karena hatinya tidak ada yang dapat mengetahuinya, dan kita wajib berbaik sangka bahwa tidaklah ia mengucapkannya dengan lisan melainkan ia juga menyimpannya di dalam hatinya. Namun, kami hanya ragu pada hal ketiga, yaitu hukum duniawi dalam hubungan antara dirinya dengan Allah Ta'ala.

وذلك بأن يموت له في الحال قريب مسلم ثم يصدق بعد ذلك بقلبه ثم يستفتي ويقول كنت غير مصدق بالقلب حالة الموت والميراث الآن في يدي فهل يحل لي بيني وبين الله تعالى أو نكح مسلمة ثم صدق بقلبه هل تلزمه إعادة النكاح هذا محل نظر فيحتمل أن يقال أحكام الدنيا منوطة بالقول الظاهر ظاهراً وباطناً ويحتمل أن يقال تناط بالظاهر في حق غيره لأن باطنه غير ظاهر لغيره وباطنه ظاهر له في نفسه بينه وبين الله تعالى والأظهر والعلم عند الله

Hal itu seperti ketika kerabatnya yang muslim meninggal dunia pada saat itu, kemudian setelah itu ia baru membenarkan dalam hatinya, lalu ia meminta fatwa dan berkata: "Aku tidak membenarkan dengan hati saat kematian terjadi, dan kini harta warisan ada di tanganku, apakah harta itu halal bagiku secara batin antara aku dan Allah Ta'ala?" Atau ia telah menikahi wanita muslimah lalu kemudian baru membenarkan dengan hatinya, apakah ia wajib mengulangi nikahnya? Ini adalah tempat pertimbangan (ijtihad). Ada kemungkinan dikatakan bahwa hukum-hukum duniawi digantungkan pada ucapan lahiriah, baik secara lahir maupun batin. Dan ada kemungkinan dikatakan bahwa itu digantungkan pada lahiriah dalam hak orang lain, sebab batinnya tidak tampak bagi orang lain, sedangkan batinnya itu tampak bagi dirinya sendiri antara dia dan Allah Ta'ala. Dan yang lebih jelas (kuat)—dan ilmu hanya milik Allah—

تعالى أنه لا يحل له ذلك الميراث ويلزمه إعادة النكاح ولذلك كان حذيفة ﵁ لا يحضر جنازة من يموت من المنافقين وعمر ﵁ كان يراعي ذلك منه فلا يحضر إذا لم يحضر حذيفة ﵁ والصلاة فعل ظاهر في الدنيا وإن كانت من العبادات

Ta'ala, adalah bahwa harta warisan itu tidak halal baginya dan ia wajib mengulangi nikahnya. Oleh karena itulah Hudzaifah ﵁ dahulu tidak menghadiri jenazah orang yang meninggal dari kalangan munafik, dan Umar ﵁ senantiasa memperhatikan sikap Hudzaifah tersebut, sehingga ia tidak hadir jika Hudzaifah ﵁ tidak hadir. Padahal shalat jenazah adalah perbuatan lahiriah di dunia, meskipun termasuk bagian dari ibadah.

والتوقي عن الحرام أيضاً من جملة ما يجب لله كالصلاة لقوله ﷺ طلب الحلال فريضة بعد فريضة وليس هذا مناقضاً لقولنا إن الإرث حكم الإسلام وهو الاستسلام بل الاستسلام التام هو ما يشمل الظاهر والباطن وهذه مباحث فقهية ظنية تبنى على ظواهر الألفاظ والعمومات والأقيسة فلا ينبغي أن يظن القاصر في العلوم أن المطلوب فيه القطع من حيث جرت العادة بإيراده في فن الكلام الذي يطلب فيه القطع فما أفلح من نظر إلى العادات والمراسم في العلوم

Memelihara diri dari hal yang haram juga termasuk perkara yang wajib bagi Allah sebagaimana shalat, berdasarkan sabda Nabi ﷺ: "Mencari yang halal adalah kewajiban setelah kewajiban." Dan ini tidaklah bertentangan dengan ucapan kami bahwa hak waris adalah hukum Islam, yaitu kepasrahan (islaam). Bahkan kepasrahan yang sempurna adalah apa yang mencakup lahir dan batin. Pembahasan-pembahasan ini merupakan pembahasan fiqhiyyah yang bersifat zhanni (persangkaan kuat) yang dibangun di atas dhawahir al-alfadz (makna-makna lahiriah lafal), teks-teks umum ('umumat), dan analogi-analogi (aqyisah). Maka tidak sewajarnya bagi orang yang dangkal ilmunya mengira bahwa yang dituntut di dalamnya adalah kepastian (qath'i) hanya karena tradisi mencantumkannya dalam disiplin ilmu Kalam yang menuntut kepastian. Tidak akan beruntung orang yang hanya memandang tradisi dan formalitas pembagian dalam disiplin ilmu.

فإن قلت فما شبهة المعتزلة والمرجئة وما حجة بطلان قولهم فأقول شبهتهم عمومات القرآن أما المرجئة فقالوا لا يدخل المؤمن النار وإن أتى بكل المعاصي لقوله ﷿ ﴿فمن يؤمن بربه فلا يخاف بخساً ولا رهقاً﴾ ولقوله ﷾ ﴿والذين آمنوا بالله ورسله أولئك هم الصديقون﴾ الآية ولقوله تعالى كلما ألقى فيها فوج سألهم خزنتها إلى قوله فكذبنا وقلنا ما نزل الله من شيء فقوله ﴿كلما ألقى فيها فوج﴾ عام فينبغي أن يكون من ألقي في النار مكذباً ولقوله تعالى ﴿لا يصلاها إلا الأشقى الذي كذب وتولى﴾ وهذا حصر وإثبات ونفي ولقوله تعالى ﴿من جاء بالحسنة فله خير منها وهم من فزع يومئذ آمنون﴾ فالإيمان رأس الحسنات ولقوله تعالى ﴿والله يحب المحسنين﴾ وقال تعالى ﴿إنا لا نضيع أجر من أحسن عملاً﴾ ولا حجة لهم في ذلك فإنه حيث ذكر الإيمان في هذه الآيات أريد به الإيمان مع العمل إذ بينا أن الإيمان قد يطلق ويراد به الإسلام وهو الموافقة بالقلب والقول والعمل ودليل هذا التأويل أخبار كثيرة في معاقبة العاصين ومقادير العقاب وقوله ﷺ يخرج من النار من كان في قلبه مثقال ذرة من إيمان فكيف يخرج إذا لم يدخل ومن القرآن قوله تعالى ﴿إن الله لا يغفر أن يشرك به ويغفر ما دون ذلك لمن يشاء﴾ والاستثناء بالمشيئة يدل على الانقسام وقوله تعالى ﴿ومن يعص الله ورسوله فإن له نار جهنم خالدين فيها﴾ وتخصيصه بالكفر تحكم وقوله تعالى ﴿ألا إن الظالمين في عذاب مقيم﴾ وقال تعالى ﴿ومن جاء بالسيئة فكبت وجوههم في النار﴾ فهذه العمومات في معارضة عموماتهم ولا بد من تسليط التخصص والتأويل على الجانبين لأن الأخبار مصرحة بأن العصاة يعذبون بل قوله تعالى وإن منكم إلا واردها كالصريح في أن ذلك لا بد منه للكل إذ لا يخلو مؤمن عن ذنب يرتكبه وقوله تعالى لا يصلاها إلا الأشقى الذي كذب وتولى أراد به من جماعة مخصوصين أو أراد بالأشقى شخصاً معيناً أيضاً وقوله تعالى كلما ألقى فيها فوج سألهم خزنتها أي فوج من الكفار وتخصيص العمومات قريب

Jika engkau bertanya: "Lantas apakah syubhat (argumen semu) kaum Mu'tazilah dan Murji'ah, dan apa dalil atas batalnya pendapat mereka?" Maka aku katakan: Syubhat mereka adalah keumuman teks-teks Al-Qur'an. Adapun kaum Murji'ah, mereka berpendapat bahwa seorang mukmin tidak akan masuk neraka meskipun ia melakukan seluruh kemaksiatan, berdasarkan firman Allah ﷿: "Maka barangsiapa beriman kepada Tuhannya, ia tidak perlu takut akan pengurangan pahala dan tidak (pula) akan penambahan dosa" (QS. Al-Jinn: 13), dan firman-Nya ﷾: "Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka itulah orang-orang yang shiddiq (tulus/benar)" (QS. Al-Hadid: 19), serta firman-Nya Ta'ala: "Setiap kali ada sekumpulan (orang-orang kafir) dilemparkan ke dalamnya, penjaga-penjaga (neraka) bertanya kepada mereka…" sampai firman-Nya: "Lalu kami mendustakan dan kami katakan: Allah tidak menurunkan sesuatu pun" (QS. Al-Mulk: 8-9). Maka firman-Nya "Setiap kali ada sekumpulan dilemparkan ke dalamnya" bersifat umum, sehingga seharusnya orang yang dilemparkan ke neraka adalah orang yang mendustakan. Juga berdasarkan firman-Nya Ta'ala: "Tidak ada yang masuk ke dalamnya melainkan orang yang paling celaka, yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman)" (QS. Al-Lail: 15-16), dan ini adalah bentuk pembatasan (hashr), penetapan, dan penafian. Juga firman-Nya Ta'ala: "Barangsiapa membawa kebaikan, maka baginya (pahala) yang lebih baik daripadanya, sedang mereka merasa aman dari kejutan yang dahsyat pada hari itu" (QS. An-Naml: 89), sedangkan iman adalah puncak kebaikan. Serta firman-Nya Ta'ala: "Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan" (QS. Ali 'Imran: 134), dan firman-Nya Ta'ala: "Sungguh, Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat kebaikan" (QS. Al-Kahf: 30). Namun tidak ada dalil bagi mereka dalam hal itu, sebab ketika iman disebutkan dalam ayat-ayat ini, yang dimaksudkan adalah iman beserta amal perbuatan. Karena kami telah menjelaskan bahwa kata 'iman' terkadang dimaknai sebagai 'Islam', yaitu kesesuaian antara hati, ucapan, dan perbuatan. Dalil atas takwil ini adalah banyak riwayat hadis tentang hukuman bagi pelaku maksiat dan kadar hukumannya, serta sabda Nabi ﷺ: "Akan keluar dari neraka orang yang di dalam hatinya terdapat iman seberat zarrah." Lantas bagaimana mungkin ia keluar jika ia tidak pernah masuk? Dari Al-Qur'an sendiri ada firman-Nya Ta'ala: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki" (QS. An-Nisa': 48). Pengecualian dengan kehendak (masyi'ah) menunjukkan adanya pembagian. Juga firman-Nya Ta'ala: "Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya baginya neraka Jahanam, mereka kekal di dalamnya" (QS. Al-Jinn: 23), dan mengkhususkan kemaksiatan di sini hanya pada kekafiran adalah sikap sewenang-wenang (tahakkum). Dan firman-Nya Ta'ala: "Ingatlah, sesungguhnya orang-orang yang zalim itu berada dalam azab yang kekal" (QS. Asy-Syura: 45), serta firman-Nya Ta'ala: "Dan barangsiapa membawa kejahatan, maka disungkurkanlah muka mereka ke dalam neraka" (QS. An-Naml: 90). Maka keumuman ayat-ayat ini menentang keumuman ayat-ayat mereka, dan sudah seharusnyalah diberlakukan pengkhususan (takhshish) dan penafsiran (takwil) pada kedua belah pihak. Sebab hadis-hadis telah menegaskan bahwa para pelaku maksiat akan diazab. Bahkan firman-Nya Ta'ala: "Dan tidak ada seorang pun darimu, melainkan mendatangi neraka itu" (QS. Maryam: 71) seolah-olah tegas menyatakan bahwa hal itu pasti terjadi pada semua orang, sebab tidak ada seorang mukmin pun yang terbebas dari dosa yang dilakukannya. Dan firman-Nya Ta'ala: "Tidak ada yang masuk ke dalamnya melainkan orang yang paling celaka, yang mendustakan dan berpaling" dimaksudkan untuk kelompok tertentu, atau yang dimaksud dengan 'orang yang paling celaka' adalah individu tertentu pula. Adapun firman-Nya Ta'ala: "Setiap kali ada sekumpulan dilemparkan ke dalamnya penjaga-penjaga bertanya kepada mereka", maksudnya adalah sekumpulan dari kalangan orang-orang kafir. Dan pengkhususan atas dalil-dalil umum ini adalah hal yang wajar dan dekat.

ومن هذه الآية وقع للأشعري وطائفة من المتكلمين إنكار صيغ العموم وأن هذه الألفاظ يتوقف فيها إلى ظهور قرينة تدل على معناها

Berdasarkan ayat ini, Imam al-Asy'ari dan sekelompok ahli kalam berpendapat menolak keabsahan bentuk-bentuk lafal umum (shighagh al-'umum), dan berpandangan bahwa lafal-lafal tersebut harus ditangguhkan (tawaqquf) pemahamannya sampai muncul petunjuk (qarinah) yang menjelaskan maknanya.

وأما المعتزلة فشبهتهم قَوْلُهُ تَعَالَى وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وعمل صالحاً ثم اهتدى وَقَوْلِهِ تَعَالَى وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إلا الذين آمنوا وعملوا الصالحات وقوله تعالى وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا كَانَ عَلَى رَبِّكَ حتماً مقضياً ﴿ثم قال﴾ ثم ننجي الذين اتقوا وقوله تعالى ومن يعص الله ورسوله فإن له نار جهنم وكل آية ذكر الله ﷿ العمل الصالح فيها مقروناً بالإيمان وقوله تعالى ومن يقتل مؤمناً متعمداً فجزاؤه جهنم خالداً فيها وهذه العمومات أيضاً مخصوصة بدليل قوله تعالى

Adapun kaum Mu'tazilah, syubhat mereka adalah firman Allah Ta'ala: "Dan sungguh, Aku Maha Pengampun bagi siapa yang bertobat, beriman, dan beramal saleh, kemudian tetap jujur dalam petunjuk" (QS. Thaha: 82); dan firman-Nya Ta'ala: "Demi masa, sungguh manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan…" (QS. Al-'Ashr: 1-3); serta firman-Nya Ta'ala: "Dan tidak ada seorang pun darimu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kepastian yang sudah ditetapkan", kemudian Dia berfirman: "Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa" (QS. Maryam: 71-72); dan firman-Nya Ta'ala: "Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya baginya neraka Jahanam" (QS. Al-Jinn: 23), serta setiap ayat di mana Allah ﷿ menyebutkan amal saleh beriringan dengan iman; juga firman-Nya Ta'ala: "Dan barangsiapa membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahanam, ia kekal di dalamnya" (QS. An-Nisa': 93). Namun keumuman ayat-ayat ini juga dikhususkan (dibatasi) berdasarkan dalil firman Allah Ta'ala:

ويغفر ما دون ذلك لمن يشاء فينبغي أن تبقى له مشيئة في مغفرة ما سوى الشرك

"…dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki" (QS. An-Nisa': 48). Maka sudah sepatutnya tetap ada kehendak (masyi'ah) bagi-Nya dalam mengampuni dosa-dosa selain syirik.

وكذلك قوله ﷺ يخرج من النار من كان في قلبه مثقال ذرة من إيمان وقوله تعالى إنا لا نضيع أجر من أحسن عملاً وقوله تعالى إن الله لا يضيع أجر المحسنين فكيف يضيع أجر أصل الإيمان وجميع الطاعات بمعصية واحدة وقوله تعالى ومن يقتل مؤمناً متعمداً أي لإيمانه وقد ورد على مثل هذا السبب

Demikian pula sabda Nabi ﷺ: "Akan keluar dari neraka orang yang di dalam hatinya terdapat iman seberat zarrah." Serta firman-Nya Ta'ala: "Sungguh, Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat kebaikan" (QS. Al-Kahf: 30), dan firman-Nya Ta'ala: "Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik" (QS. At-Tawbah: 120). Maka bagaimana mungkin pahala pokok keimanan dan seluruh ketaatan gugur begitu saja disebabkan oleh satu kemaksiatan? Sedangkan firman-Nya Ta'ala: "Dan barangsiapa membunuh seorang mukmin dengan sengaja" maksudnya adalah membunuh karena keimanannya, karena ayat tersebut diturunkan berdasarkan sebab semisal itu.

فإن قلت فقد مال الاختيار إلى أن الإيمان حاصل دون العمل

Jika engkau berkata: "Sungguh pendapat yang terpilih cenderung menyatakan bahwa iman itu telah terwujud tanpa amal perbuatan (sebagai rukun dasarnya),"

وقد اشتهر عن السلف قولهم الإيمان عقد وقول وعمل فما معناه قلنا لا يبعد أن يعد العمل من الإيمان لأنه مكمل له ومتمم كما يقال الرأس واليدان من الإنسان ومعلوم أنه يخرج عن كونه إنساناً بعدم الرأس ولا يخرج عنه بكونه مقطوع اليد وكذلك يقال التسبيحات والتكبيرات من الصلاة وإن كانت لا تبطل بفقدها فالتصديق بالقلب من الإيمان كالرأس من وجود الإنسان إذ ينعدم بعدمه وبقية الطاعات كالأطراف بعضها أعلى من بعض وَقَدْ قَالَ ﷺ لَا يزني الزاني حين يزني وهو مؤمن والصحابة ﵃ ما اعتقدوا مذهب المعتزلة في الخروج عن الإيمان بالزنا ولكن معناه غير مؤمن حقاً إيماناً تاماً كاملاً كما يقال للعاجز المقطوع الأطراف هذا ليس بإنسان أي ليس له الكمال الذي هو وراء حقيقة الإنسانية

"…padahal telah masyhur dari para Ulama Salaf ucapan mereka: 'Iman adalah ikatan batin, ucapan lisan, dan perbuatan anggota badan'; lalu apa maknanya?" Kami jawab: Tidaklah mustahil amal perbuatan dihitung sebagai bagian dari iman karena ia merupakan penyempurna dan pelengkap baginya, sebagaimana dikatakan: "Kepala dan kedua tangan adalah bagian dari manusia." Padahal sudah dimaklumi bahwa seseorang keluar dari hakikat sebagai manusia jika kehilangan kepala, namun tidak keluar dari hakikat manusia jika hanya terpotong tangannya. Begitu pula dikatakan: "Bacaan tasbih dan takbir adalah bagian dari shalat", meskipun shalat tidak batal dengan ketiadaannya. Maka pembenaran di dalam hati (at-tasdiq bil-qalb) kedudukannya dalam iman seperti kepala bagi keberadaan manusia, sebab iman akan sirna jika ia tidak ada. Sedangkan ketaatan-ketaatan lainnya bagaikan anggota badan yang sebagiannya lebih tinggi derajatnya dari sebagian yang lain. Sungguh Rasulullah ﷺ telah bersabda: "Tidaklah seorang pezina berzina ketika ia berzina dalam keadaan beriman." Namun para sahabat ﵃ tidak meyakini mazhab Mu'tazilah bahwa pezina itu keluar dari keimanan, melainkan maknanya adalah ia bukan mukmin yang sejati, yaitu bukan iman yang sempurna. Sebagaimana dikatakan kepada orang lumpuh yang terpotong anggota badannya: "Orang ini bukan manusia", artinya ia tidak memiliki kesempurnaan yang berada di balik hakikat keinsanian.

مسألة فإن قلت فقد اتفق السلف على أن الإيمان يزيد وينقص يزيد بالطاعة وينقص بالمعصية فإذا كان التصديق هو الإيمان فلا يتصور فيه زيادة ولا نقصان فأقول السلف هم الشهود العدول وما لأحد عن قولهم عدول فما ذكروه حق وإنما الشأن في فهمه وفيه دليل على أن العمل ليس من أجزاء الإيمان وأركان وجوده بل هو مزيد عليه يزيد به والزائد موجود والناقص موجود والشيء لا يزيد بذاته فلا يجوز أن يقال الإنسان يزيد برأسه بل يقال يزيد بلحيته وسمنه ولا يجوز أن يقال الصلاة تزيد بالركوع والسجود بل تزيد بالآداب والسنن فهذا تصريح بأن الإيمان له وجود ثم بعد الوجود يختلف حاله بالزيادة والنقصان

Masalah: Jika engkau berkata: "Para Ulama Salaf telah sepakat bahwa iman itu bertambah dan berkurang; bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Jika pembenaran hati (at-tasdiq) itu adalah iman itu sendiri, maka tidak terbayangkan padanya adanya pertambahan dan pengurangan." Maka aku katakan: Para Salaf adalah saksi-saksi yang adil, dan tidak ada seorang pun yang boleh berpaling dari perkataan mereka. Apa yang mereka sebutkan adalah kebenaran, hanya saja persoalannya terletak pada pemahamannya. Dalam hal ini terdapat dalil bahwa amal perbuatan bukanlah bagian dari zat iman dan rukun keberadaannya, melainkan sesuatu yang ditambahkan padanya yang membuatnya bertambah. Yang bertambah itu ada dan yang berkurang itu ada, sedangkan sesuatu tidak bertambah dengan zatnya sendiri. Maka tidak boleh dikatakan: "Manusia bertambah dengan kepalanya", melainkan dikatakan: "Ia bertambah dengan janggutnya dan kegemukannya." Dan tidak boleh dikatakan: "Shalat bertambah dengan rukun ruku' dan sujud", melainkan dikatakan: "Bertambah dengan adab-adab dan sunnah-sunnahnya." Ini adalah penjelasan tegas bahwa iman memiliki keberadaan pokok, kemudian setelah keberadaan itu, keadaannya berbeda-beda dengan adanya pertambahan dan pengurangan.

فإن قلت فالإشكال قائم في أن التصديق كيف يزيد وينقص وهو خصلة واحدة فأقول إذا تركنا المداهنة ولم نكترث بتشغيب من تشغب وكشفنا الغطاء ارتفع الإشكال فنقول الإيمان اسم مشترك يطلق من ثلاثة أوجه الأول أنه أنه يطلق للتصديق بالقلب على سبيل الاعتقاد والتقليد من غير كشف وانشراح صدر وهو إيمان العوام بل إيمان الخلق كلهم إلا الخواص وهذا الاعتقاد عقدة عن القلب تارة تشتد وتقوى وتارة تضعف وتسترخي كالعقدة على الخيط مثلاً ولا تستبعد هذا واعتبره باليهودي وصلابته في عقيدته التي لا يمكن نزوعه عنها بتخويف وتحذير ولا بتخييل ووعظ ولا تحقيق وبرهان وكذلك النصراني والمبتدعة وفيهم من يمكن تشكيكه بأدنى كلام ويمكن استنزاله عن اعتقاده بأدنى استمالة أو تخويف مع أنه غير شاك في عقده كالأول ولكنهما متفاوتان في شدة التصميم

Jika engkau bertanya: "Lantas kekeliruan (kekusutan pemahaman) masih tetap ada tentang bagaimana pembenaran (tasdiq) dapat bertambah dan berkurang padahal ia adalah satu perihal saja?" Maka aku katakan: Apabila kita meninggalkan sikap bermanis-manis kata (kompromistis) dan tidak mempedulikan keonjatan orang yang hendak mengacaukan, serta kita singkapkan tabirnya, niscaya kekeliruan tersebut akan sirna. Kami katakan: Iman adalah kata yang bersekutu (ism musytarak/homonim) yang diucapkan atas tiga segi. Pertama: Kata itu diucapkan untuk pembenaran di dalam hati (at-tasdiq bil-qalb) atas jalan keyakinan (i'tiqad) dan taqlid tanpa adanya penyingkapan hakikat (kasyaf) dan kelapangan dada. Ini adalah keimanan orang awam, bahkan keimanan seluruh makhluk kecuali kaum khawas (orang-orang khusus/sufi). Keyakinan ini merupakan ikatan (simpul) pada hati yang terkadang menguat dan mengencang, dan terkadang melemah dan mengendur, bagaikan simpul pada seutas tali. Janganlah engkau menganggap asing hal ini, dan ambillah iktibar dari orang Yahudi serta keteguhan keyakinannya yang tidak mungkin dihilangkan dengan ancaman dan peringatan, tidak pula dengan pembayangan, pengajaran, maupun pembuktian dan argumen rasional. Demikian pula orang Nasrani dan ahli bid'ah. Di antara mereka ada yang dapat diragukan hanya dengan ucapan yang paling ringan, dan dapat digoyahkan keyakinannya dengan bujukan atau ancaman paling minimal, padahal ia tadinya tidak meragukan simpul keyakinannya sebagaimana orang pertama, akan tetapi keduanya berbeda dalam tingkat keteguhan tekadnya.

وهذا موجود في الاعتقاد الحق أيضاً والعمل يؤثر في نماء هذا التصميم وزيادته كما يؤثر سقي الماء في نماء الأشجار ولذلك قال الله تعالى فزادتهم إيماناً وقال تعالى ليزدادوا إيماناً مع إيمانهم وقال ﷺ فيما يروى في بعض الأخبار الإيمان يزيد وينقص وذلك بتأثير الطاعات في القلب وهذا لا يدركه إلا من راقب أحوال نفسه في أوقات المواظبة على العبادة والتجرد لها بحضور القلب مع أوقات الفتور وإدراك التفاوت في السكون إلى عقائد الإيمان في هذه الأحوال حتى يزيد عقده استعصاء على من يريد حله بالتشكيك بل من يعتقد في اليتيم معنى الرحمة إذا عمل بموجب اعتقاده فمسح رأسه وتلطف به أدرك

Hal ini juga terdapat dalam keyakinan yang benar. Dan amal perbuatan berpengaruh dalam pertumbuhan dan pertambahan keteguhan tekad ini, sebagaimana siraman air berpengaruh pada pertumbuhan pepohonan. Oleh karena itu Allah Ta'ala berfirman: "Maka ayat-ayat itu menambah iman mereka" (QS. At-Tawbah: 124), dan firman-Nya Ta'ala: "…supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada)" (QS. Al-Fath: 4). Dan Nabi ﷺ bersabda sebagaimana diriwayatkan dalam sebagian hadis: "Iman itu bertambah dan berkurang." Hal itu terjadi melalui pengaruh ketaatan terhadap hati. Dan hal ini tidak dapat dirasakan kecuali oleh orang yang mengamati keadaan dirinya sendiri pada saat-saat bersungguh-sungguh dalam beribadah dan memfokuskan diri padanya dengan kehadiran hati (hudhurul qalb), dibandingkan dengan saat-saat mengalami kelemahan (futur), serta menyadari perbedaan ketenangan jiwa pada akidah-akidah keimanan dalam keadaan-keadaan tersebut, hingga ikatan keyakinannya menjadi semakin kuat menolak siapapun yang ingin merusaknya dengan meragukan. Bahkan barangsiapa yang meyakini nilai kasih sayang terhadap anak yatim, jika ia beramal sesuai dengan tuntutan keyakinannya lalu mengusap kepalanya dan bersikap lembut kepadanya, ia akan merasakan…

من باطنه تأكيد الرحمة وتضاعفها بسبب العمل وكذلك معتقد التواضع إذا عمل بموجبه عملاً مقبلاً أو ساجداً لغيره أحس من قلبه بالتواضع عند إقدامه على الخدمة

…dari dalam batinnya penguatan rasa kasih sayang tersebut dan pelipatgandaannya disebabkan oleh perbuatan itu. Demikian pula orang yang meyakini sifat tawaduk (rendah hati), apabila ia beramal sesuai tuntutan keyakinannya dengan melakukan perbuatan yang tunduk atau bersujud untuk selain-Nya (dalam konteks kerendahan hati kepada sesama/perkhidmatan), maka ia akan merasakan dari hatinya timbulnya rasa tawaduk ketika ia melangkah untuk melayani.

وهكذا جميع صفات القلب تصدر منها أعمال الجوارح ثم يعود أثر الأعمال عليها فيؤكدها ويزيدها وسيأتي هذا في ربع المنجيات والمهلكات عند بيان وجه تعلق الباطن بالظاهر والأعمال بالعقائد والقلوب فإن ذلك من جنس تعلق الملك بالملكوت وأعني بالملك عالم الشهادة المدرك بالحواس وبالملكوت عالم الغيب المدرك بنور البصيرة والقلب من عالم الملكوت والأعضاء وأعمالها من عالم الملك

Begitulah seluruh sifat-sifat hati: darinya terpancar perbuatan-perbuatan anggota badan, kemudian kesan dari perbuatan-perbuatan tersebut kembali memantul kepada hati sehingga menguatkan dan menambahnya. Penjelasan mengenai hal ini akan hadir dalam Bagian Hal-Hal yang Menyelamatkan (Rub' al-Munjiyat) dan Hal-Hal yang Membinasakan (Rub' al-Muhlikat) saat menerangkan bentuk keterkaitan antara batin dengan lahir, serta antara perbuatan dengan akidah dan hati. Sebab, hal itu merupakan bagian dari keterkaitan alam Mulk (kerajaan fisik) dengan alam Malakut (kerajaan spiritual). Yang aku maksud dengan al-Mulk adalah alam kesaksian (nyata) yang tertangkap oleh indra, sedangkan al-Malakut adalah alam gaib yang tertangkap oleh cahaya bashirah (mata hati). Dan hati itu berasal dari alam Malakut, sedangkan anggota badan beserta perbuatannya berasal dari alam Mulk.

ولطف الارتباط ودقته بين العالمين انتهى إلى حد ظن بعض الناس اتحاد أحدهما بالآخر وظن آخرون أنه لا عالم إلا عالم الشهادة وهو هذه الأجسام المحسوسة

Kehalusan dan ketelitian hubungan antara kedua alam ini telah mencapai suatu tingkatan di mana sebagian orang mengira menyatunya salah satu dari keduanya dengan yang lain, dan orang-orang lain mengira bahwa tidak ada alam melainkan alam kesaksian (indrawi) saja, yaitu benda-benda yang terindra ini.

ومن أدرك الأمرين وأدرك تعددهما ثم ارتباطهما عبر عنه فقال

Barangsiapa yang memahami kedua hal tersebut dan memahami keberagaman keduanya lalu keterkaitannya, maka ia mengutarakannya dengan bersyair:

رق الزجاج ورقت الخمر … وتشابها فتشاكل الأمر

"Kaca begitu bening dan khamar pun begitu jernih … Keduanya saling menyerupai hingga perkara menjadi samar (apakah itu kaca ataukah khamar)."

فكأنما خمر ولا قدح … وكأنما قدح ولا خمر

Seakan-akan ada khamar tanpa cawan… dan seakan-akan ada cawan tanpa khamar.

ولنرجع إلى المقصود فإن هذا العلم خارج عن علم المعاملة ولكن بين العلمين أيضاً اتصال وارتباط فلذلك ترى علوم المكاشفة تتسلق كل ساعة على علوم المعاملة إلى أن تنكشف عنها بالتكليف فهذا وجه زيادة الإيمان بالطاعة بموجب هذا الإطلاق ولهذا قال علي كرم الله وجهه إن الإيمان ليبدو لمعة بيضاء فإذا عمل العبد الصالحات نمت فزادت حتى يبيض القلب كله وإن النفاق ليبدو نكتة سوداء فإذا انتهك الحرمات نمت وزادت حتى يسود القلب كله فيطبع عليه فذلك هو الختم وتلا قوله تعالى كلا بل ران على قلوبهم الآية

Mari kita kembali kepada maksud utama. Sesungguhnya ilmu ini berada di luar lingkup ilmu muamalah, namun antara kedua ilmu tersebut terdapat keterkaitan dan hubungan. Oleh karena itu, engkau melihat ilmu-ilmu mukasyafah senantiasa menaiki ilmu-ilmu muamalah hingga tersingkap darinya melalui beban syariat (taklif). Inilah segi bertambahnya iman dengan ketaatan menurut penjelmaan istilah ini. Oleh sebab itulah Ali karramallahu wajhah berkata: "Sesungguhnya iman itu tampak sebagai kilauan putih. Apabila seorang hamba melakukan amal-amal saleh, kilauan itu tumbuh dan bertambah hingga seluruh hati menjadi putih. Dan sesungguhnya kemunafikan itu tampak sebagai titik hitam. Apabila seseorang melanggar larangan-larangan Allah, titik itu tumbuh dan bertambah hingga seluruh hati menjadi hitam, lalu dikunci mati. Itulah penguncian (khatam)." Kemudian beliau membaca firman Allah Ta'ala: "Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka."

الإطلاق الثاني أن يراد به التصديق والعمل جميعاً كما قال ﷺ الإيمان بضع وسبعون باباً وقال ﷺ لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ وإذا دخل العمل في مقتضى لفظ الإيمان لم تخف زيادته ونقصانه وهل يؤثر ذلك في زيادة الإيمان الذي هو مجرد التصديق هذا فيه نظر وقد أشرنا إلى أنه يؤثر فيه

Penggunaan istilah kedua: Bahwa yang dimaksud dengan iman adalah pembenaran (tasdiq) sekaligus amal perbuatan, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ, "Iman itu memiliki tujuh puluh sekian cabang," dan sabda beliau ﷺ, "Tidaklah seorang pezina berzina ketika ia berzina dalam keadaan beriman." Apabila amal perbuatan telah masuk ke dalam cakupan makna kata iman, maka bertambah dan berkurangnya iman tidak lagi samar. Namun, apakah hal tersebut berpengaruh pada bertambahnya iman yang bermakna murni pembenaran (tasdiq)? Hal ini memerlukan pengkajian mendalam, dan kami telah mengisyaratkan bahwa hal itu memang berpengaruh padanya.

الإطلاق الثالث أن يراد به التصديق اليقيني على سبيل الكشف وانشراح الصدر والمشاهدة بنور البصيرة وهذا أبعد الأقسام عن قبول الزيادة ولكني أقول الأمر اليقيني الذي لا شك فيه تختلف طمأنينة النفس إليه فليس طمأنينة النفس إلى أن الاثنين أكثر من الواحد كطمأنينتها إلى أن العالم مصنوع حادث وإن كان لا شك في واحد منهما فإن اليقينيات تختلف في درجات الإيضاح ودرجات طمأنينة النفس إليها وقد تعرضنا لهذا في فصل اليقين من كتاب العلم في باب علامات علماء الآخرة فلا حاجة إلى الإعادة

Penggunaan istilah ketiga: Bahwa yang dimaksud dengannya adalah pembenaran yang meyakinkan (tasdiq yaqini) melalui jalan penyingkapan rahasia spiritual (kasyf), kelapangan dada (insyirah ash-shadr), dan penyaksian batin (musyahadah) dengan cahaya mata hati (nurus bashirah). Bagian ini adalah yang paling jauh dari menerima penambahan. Akan tetapi aku katakan: Hal yang diyakini yang tiada keraguan padanya tetap berbeda ketenangan jiwa terhadapnya. Ketenangan jiwa terhadap kenyataan bahwa angka dua lebih banyak daripada angka satu tidaklah sama seperti ketenangannya terhadap kenyataan bahwa alam ini diciptakan dan baru (hadits), meskipun tidak ada keraguan pada salah satu dari keduanya. Sebab, hal-hal yang diyakini itu berbeda-beda dalam tingkatan kejelasan dan tingkatan ketenangan jiwa terhadapnya. Kami telah membahas hal ini pada pasal "Yakin" dalam Kitab Al-'Ilm pada bab Tanda-tanda Ulama Akhirat, sehingga tidak perlu diulangi lagi.

وقد ظهر في جميع الإطلاقات أن ما قالوه من زيادة الإيمان ونقصانه حق وكيف وفي الأخبار أنه يخرج من النار من كان في قلبه مثقال ذرة من إيمان وفي بعض المواضع في خبر آخر مثقال دينار فأي معنى لاختلاف مقاديره إن كان ما في القلب لا يتفاوت

Telah jelas dalam seluruh penggunaan istilah tersebut bahwa apa yang mereka katakan mengenai bertambah dan berkurangnya iman adalah benar. Bagaimana tidak, sedangkan dalam riwayat-riwayat hadis disebutkan bahwa akan dikeluarkan dari neraka orang yang di dalam hatinya terdapat iman seberat zarrah, dan di sebagian tempat pada riwayat lain disebutkan seberat dinar. Maka apa makna dari perbedaan kadar-kadar tersebut jika apa yang ada di dalam hati itu tidak berbeda-beda?

مسألة فإن قلت ما وجه قول السلف أنا مؤمن إن شاء الله والاستثناء شك والشك في الإيمان كفر وقد كانوا كلهم يمتنعون عن جزم الجواب بالإيمان ويحترزون عنه

Masalah: Jika engkau bertanya, "Apakah alasan ucapan ulama Salaf: 'Aku beriman, insya Allah' (jika Allah menghendaki), padahal pengecualian (istisna') menunjukkan keraguan, dan ragu dalam beriman adalah kekufuran, sedangkan mereka semua enggan memberikan jawaban tegas tentang keimanan mereka dan menjauhinya?"

فقال سفيان الثوري ﵀ من قال أنا مؤمن عند الله فهو من الكذابين ومن قال أنا مؤمن حقاً فهو بدعة فكيف يكون كاذباً وهو يعلم أنه مؤمن في نفسه ومن كان مؤمناً في نفسه كان مؤمناً عند الله كما أن من كان طويلاً وسخياً في نفسه وعلم ذلك كان كذلك عند الله وكذا من

Sufyan ats-Tsauri رحمة الله عليه berkata: "Barang siapa berkata: 'Aku seorang mukmin di sisi Allah', maka ia termasuk golongan pembohong. Dan barang siapa berkata: 'Aku seorang mukmin yang sejati', maka itu adalah bidah." Maka bagaimana mungkin ia dikatakan pembohong padahal ia mengetahui bahwa dirinya beriman pada hakikat dirinya? Dan barang siapa beriman pada hakikat dirinya, maka ia beriman di sisi Allah, sebagaimana orang yang tinggi fisiknya atau dermawan pada dirinya dan ia mengetahui hal itu, maka ia juga demikian di sisi Allah. Demikian pula orang yang…

كان مسروراً أو حزيناً أو سميعاً أو بصيراً ولو قيل للإنسان هل أنت حيوان لم يحسن أن يقول أنا حيوان إن شاء الله

…merasa gembira, sedih, mendengar, atau melihat. Dan seandainya dikatakan kepada seseorang: "Apakah engkau seekor hewan (makhluk bernyawa)?" Maka tidaklah patut baginya menjawab: "Aku adalah hewan, insya Allah."

ولما قال سفيان ذلك قيل له فماذا نقول قال قولوا آمنا بالله وما أنزل إلينا وأي فرق بين أن يقول آمنا بالله وما أنزل إلينا وبين أن يقول أنا مؤمن وقيل للحسن أمؤمن أنت فقال إن شاء الله فقيل له لم تستثني يا أبا سعيد في الإيمان فقال أخاف أن أقول نعم فيقول الله سبحانه كذبت يا حسن فتحق علي الكلمة

Ketika Sufyan mengatakan hal tersebut, ditanyakan kepadanya, "Lalu apa yang harus kami katakan?" Beliau menjawab, "Katakanlah: 'Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami'." Lantas apa bedanya antara seseorang yang mengatakan "Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami" dengan orang yang mengatakan "Aku seorang mukmin"? Dan ditanyakan kepada Al-Hasan Al-Bashri, "Apakah engkau seorang mukmin?" Beliau menjawab, "Insya Allah." Lalu ditanyakan kepadanya, "Mengapa engkau mengucap insya Allah, wahai Abu Sa'id, dalam hal keimanan?" Beliau menjawab, "Aku takut jika aku menjawab 'ya', lalu Allah Subhānahu wa Ta'ālā berfirman: 'Engkau dusta, wahai Hasan,' sehingga ketetapan azab pasti jatuh atas diriku."

وكان يقول ما يؤمنني أن يكون الله سبحانه قد اطلع علي في بعض ما يكره فمقتني وقال اذهب لا قبلت لك عملاً فأنا أعمل في غير معمل

Beliau juga kerap berkata: "Apa yang membuatku merasa aman bahwa Allah Subhānahu wa Ta'ālā telah melihatku melakukan sebagian apa yang Dia benci, lalu Dia memurkaiku dan berfirman: 'Pergilah, Aku tidak menerima satu pun amalmu', sehingga aku beramal tanpa ada tempat penerimaan (sia-sia)?"

وقال إبراهيم بن أدهم إذا قيل لك أمؤمن أنت فقل لا إله إلا الله وقال مرة قل أنا لا أشك في الإيمان وسؤالك إياي بدعة

Ibrahim bin Adham berkata: "Jika dikatakan kepadamu: 'Apakah engkau seorang mukmin?', maka katakanlah: 'Lā ilāha illallāh'." Dan pada kesempatan lain beliau berkata: "Katakanlah: 'Aku tidak ragu dalam keimanan, dan pertanyaanmu kepadaku adalah bidah'."

وقيل لعلقمة أمؤمن أنت قال أرجو إن شاء الله

Ditanyakan kepada 'Alqamah, "Apakah engkau seorang mukmin?" Beliau menjawab, "Aku berharap, insya Allah."

وقال الثوري نحن مؤمنون بالله وملائكته وكتبه ورسله وما ندري ما نحن عند الله تعالى فما معنى هذه الاستثناءات فالجواب أن هذا الاستثناء صحيح وله أربعة أوجه وجهان مستندان إلى الشك لا في أصل الإيمان ولكن في خاتمته أو كماله ووجهان لا يستندان إلى الشك

Ats-Tsauri berkata: "Kami beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya, namun kami tidak tahu bagaimana keadaan kami di sisi Allah Ta'ala." Lantas apa makna dari pengecualian-pengecualian (istisna') ini? Jawabannya adalah bahwa pengecualian ini sah dan memiliki empat segi (alasan): dua segi bersumber dari keraguan—bukan pada pokok keimanan, melainkan pada kesudahan (khotimah) atau kesempurnaannya—dan dua segi lainnya tidak bersumber dari keraguan.

الوجه الأول الذي لا يستند إلى معارضة الشك الاحتراز من الجزم خيفة ما فيه من تزكية النفس قال الله تعالى فلا تزكوا أنفسكم ﴿وقال﴾ ألم تر إلى الذين يزكون أنفسهم وقال تعالى انظر كيف يفترون على الله الكذب وقيل لحكيم ما الصدق القبيح فقال ثناء المرء على نفسه

Segi pertama yang tidak bersumber dari pertentangan keraguan adalah sebagai bentuk kehati-hatian dari bersikap memastikan (mengklaim mutlak) karena takut akan adanya penyucian diri (tazkiyatun nafs) di dalamnya. Allah Ta'ala berfirman: "Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci," dan Dia berfirman: "Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang menganggap dirinya suci?" serta firman-Nya Ta'ala: "Perhatikanlah bagaimana mereka mengada-adakan kedustaan terhadap Allah." Dan ditanyakan kepada seorang ahli hikmah: "Apakah kebenaran yang buruk itu?" Ia menjawab: "Pujian seseorang terhadap dirinya sendiri."

والإيمان من أعلى صفات المجد والجزم تزكية مطلقة وصيغة الاستثناء كأنها ثقل من عرف التزكية كما يقال للإنسان أنت طبيب أو فقيه أو مفسر فيقول نعم إن شاء الله لا في معرض التشكيك ولكن لإخراج نفسه عن تزكية نفسه فالصيغة صيغة الترديد والتضعيف لنفس الخبر ومعناه التضعيف اللازم من لوازم الخبر وهو التزكية

Padahal iman adalah termasuk sifat kemuliaan yang paling tinggi, dan pengakuan secara pasti merupakan bentuk penyucian diri secara mutlak. Adapun redaksi pengecualian (istisna') seolah-olah menjadi beban berat bagi orang yang menyadari keburukan penyucian diri; sebagaimana dikatakan kepada seseorang: "Apakah engkau seorang dokter, ahli fikih, atau ahli tafsir?" Lalu ia menjawab: "Ya, insya Allah," bukan dalam rangka meragukan keahliannya, melainkan untuk menghindarkan dirinya dari menyucikan diri sendiri. Maka ungkapan tersebut beredaksi keraguan dan pelemahan terhadap berita itu sendiri, dan maknanya adalah pelemahan atas konsekuensi dari berita tersebut, yaitu penyucian diri.

وبهذا التأويل لو سئل عن وصف ذم لم يحسن الاستثناء

Dengan penakwilan ini, seandainya seseorang ditanya tentang sifat celaan, maka tidaklah patut menggunakan pengecualian (istisna').

الوجه الثاني التأدب بذكر الله تعالى في كل حال وإحالة الأمور كلها إلى مشيئة الله سبحانه فقد أدب الله سبحانه نبيه ﷺ فقال تعالى ولا تقولن لشيء إني فاعل ذلك غداً إلا أن يشاء الله ثم لم يقتصر على ذلك فيما لا يشك فيه بل قال تعالى لتدخلن المسجد الحرام إن شاء الله آمنين محلقين رءؤسكم ومقصرين وكان الله سبحانه عالماً بأنهم يدخلون لا محالة وأنه شاءه ولكن المقصود تعليمه ذلك فتأدب رسول الله ﷺ في ما كان يخبر عنه معلوماً كان أو مشكوكاً حتى قال ﷺ لما دخل المقابر السلام عليكم دار قوم مؤمنين وإنا إن شاء الله بكم لاحقون واللحوق بهم غير مشكوك فيه ولكن مقتضى الأدب ذكر الله تعالى وربط الأمور به

Segi kedua adalah beradab dengan menyebut nama Allah Ta'ala dalam setiap keadaan dan mengembalikan seluruh perkara kepada kehendak (masyi'ah) Allah Subhānahu wa Ta'ālā. Allah Subhānahu wa Ta'ālā telah mendidik Nabi-Nya ﷺ, di mana Allah Ta'ala berfirman: "Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu: 'Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi,' kecuali (dengan menyebut): 'Insya Allah'." Kemudian Allah tidak membatasinya hanya pada hal yang diragukan, bahkan Dia berfirman: "Sungguh kamu pasti akan memasuki Masjidilharam, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepalamu dan memendekkannya," padahal Allah Subhānahu wa Ta'ālā mengetahui bahwa mereka pasti akan memasukinya dan Dia telah menghendakinya, tetapi maksudnya adalah mengajarinya adab tersebut. Maka Rasulullah ﷺ beradab dalam apa yang beliau kabarkan, baik itu sesuatu yang pasti maupun yang diragukan, hingga beliau ﷺ bersabda ketika memasuki pekuburan: "Keselamatan atas kamu wahai penghuni tempat kaum mukminin, dan sesungguhnya kami insya Allah akan menyusul kalian." Padahal menyusul mereka adalah hal yang tidak diragukan lagi, tetapi tuntutan adab adalah mengingat Allah Ta'ala dan mengaitkan segala perkara kepada-Nya.

وهذه الصيغة دالة عليه حتى صار بعرف الاستعمال عبارة عن إظهار الرغبة والتمني فإذا قيل لك إن فلاناً يموت سريعاً فتقول إن شاء الله فيفهم منه رغبتك لا تشككك وإذا قيل لك فلان سيزول مرضه ويصح فتقول إن شاء الله بمعنى الرغبة فقد صارت الكلمة معدولة عن معنى التشكيك إلى معنى الرغبة وكذلك العدول إلى معنى التأدب لذكر الله تعالى كيف كان الأمر

Redaksi ini menunjukkan hal tersebut, sehingga dalam kebiasaan penggunaan ia menjadi ungkapan untuk menunjukkan harapan dan keinginan. Apabila dikatakan kepadamu: "Sesungguhnya si Fulan akan segera meninggal," lalu engkau menjawab: "Insya Allah," maka yang dipahami darinya adalah harapanmu, bukan keraguanmu. Dan jika dikatakan kepadamu: "Penyakit si Fulan akan hilang dan ia akan sembuh," lalu engkau menjawab: "Insya Allah," dengan makna harapan. Dengan demikian, kalimat tersebut telah dipalingkan dari makna keraguan menuju makna harapan. Begitu pula pemalingan menuju makna beradab dengan menyebut nama Allah Ta'ala dalam keadaan apa pun.

الوجه الثالث مستنده الشك ومعناه أنا مؤمن حقاً إن شاء الله إذ قال الله تعالى لقوم مخصوصين بأعيانهم أولئك هم المؤمنون حقاً فانقسموا إلى قسمين ويرجع هذا إلى الشك في كمال الإيمان لا في أصله وكل إنسان شاك في كمال إيمانه وذلك ليس بكفر

Segi ketiga bersumber dari keraguan, dan maknanya adalah: "Aku seorang mukmin sejati, insya Allah," sebab Allah Ta'ala berfirman tentang sekelompok orang tertentu secara khusus: "Mereka itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya," sehingga manusia terbagi menjadi dua kelompok. Hal ini kembali pada keraguan terhadap kesempurnaan iman, bukan pada pokok keimanan. Dan setiap manusia ragu akan kesempurnaan imannya, dan hal yang demikian bukanlah kekufuran.

والشك في كمال الإيمان حق من وجهين أحدهما من حيث إن النفاق يزيل كمال الإيمان وهو خفي لا تتحقق البراءة منه

Keraguan terhadap kesempurnaan iman adalah hal yang benar ditinjau dari dua segi: salah satunya dari sudut pandang bahwa kemunafikan itu menghilangkan kesempurnaan iman, sedangkan kemunafikan itu bersifat tersamar sehingga terbebas darinya tidak dapat dipastikan secara mutlak.

والثاني أنه يكمل بأعمال الطاعات ولا يدري وجودها على الكمال أما العمل فقد قال الله تَعَالَى إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سبيل الله أولئك هم الصادقون ﴿فيكون﴾

Sebab kedua: Bahwa iman menjadi sempurna dengan amal-amal ketaatan, sedangkan seseorang tidak mengetahui secara pasti keberadaan amal-amal tersebut dalam keadaan sempurna. Adapun mengenai amal, Allah Ta'ala telah berfirman: "Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar." (QS. Al-Hujurat: 15). Maka (terdapat…

الشك في هذا الصدق وكذلك قال الله تعالى ولكن البر من آمن بالله واليوم الآخر والملائكة والكتاب والنبيين فشرط عشرين وصفاً كالوفاء بالعهد والصبر على الشدائد

…keraguan) dalam kebenaran (kejujuran) iman ini. Demikian pula Allah Ta'ala berfirman: "Akan tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhirat, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi…" (QS. Al-Baqarah: 177), di mana Dia mensyaratkan dua puluh sifat, seperti menepati janji dan bersabar dalam kesempitan.

ثم قال تعالى أولئك الذين صدقوا وقد قال تَعَالَى يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أوتوا العلم درجات وقال تعالى لا يستوي منكم من أنفق من قبل الفتح وقاتل الآية وقد قال تعالى هم درجات عند الله وقال ﷺ الإيمان عريان ولباسه التقوى الحديث وقال ﷺ الإيمان بضع وسبعون باباً أدناها إماطة الأذى عن الطريق فهذا ما يدل على ارتباط كمال الإيمان بالأعمال وأما ارتباطه بالبراءة عن النفاق والشرك الخفي فقوله ﷺ أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فيه فهو منافق خالص وإن صام وصلى وزعم أنه مؤمن مَنْ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وإذا اؤتمن خان وإذا خاصم فجر وفي بعض الروايات وإذا عاهد غدر وفي حديث أبي سعيد الخدري القلوب أربعة قلب أجرد وفيه سراج يزهر فذلك قلب المؤمن وقلب مصفح فيه إيمان ونفاق فمثل الإيمان فيه كمثل البقلة يمدها الماء العذب ومثل النفاق فيه كمثل القرحة يمدها القيح والصديد فأي المادتين غلب عليه حكم له بها وفي لفظ آخر غلبت عليه ذهبت به وقال ﵇ أكثر منافقي هذه الأمة قراؤها وفي حديث الشرك أخفى في أمتى من دبيب النمل على الصفا وقال حذيفة ﵁ كان الرجل يتكلم بالكلمة عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ يصير بها منافقاً إلى أن يموت وإني لأسمعها من أحدكم في اليوم عشر مرات وقال بعض العلماء أقرب الناس من النفاق من يرى أنه بريء من النفاق

Kemudian Allah Ta'ala berfirman: "Mereka itulah orang-orang yang benar." (QS. Al-Baqarah: 177). Dan Allah Ta'ala berfirman: "Niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat." (QS. Al-Mujadilah: 11). Dan Dia berfirman: "Tidak sama di antara kamu orang yang menginfakkan (hartanya) sebelum kemenangan dan berperang…" (QS. Al-Hadid: 10). Dan Allah Ta'ala berfirman: "Mereka itu bertingkat-tingkat derajatnya di sisi Allah." (QS. Ali 'Imran: 163). Dan Rasulullah ﷺ bersabda: "Iman itu bertelanjang dan pakaiannya adalah ketakwaan…" (al-hadits). Dan beliau ﷺ bersabda: "Iman itu ada tujuh puluh sekian cabang, yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan." Maka hal ini menunjukkan terikatnya kesempurnaan iman dengan amal perbuatan. Adapun keterikatannya dengan kebebasan dari kemunafikan dan syirik samar (khafi), maka berdasarkan sabda beliau ﷺ: "Ada empat perkara yang barangsiapa pada dirinya terdapat keempat hal itu, maka ia adalah seorang munafik murni, meskipun ia berpuasa, shalat, dan mengaku beriman: apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia menyalahi, apabila dipercaya ia berkhianat, dan apabila berselisih ia berbuat curang." Dalam sebagian riwayat: "dan apabila berjanji ia melanggar." Dalam hadits Abu Sa'id al-Khudri: "Hati itu ada empat: hati yang bersih (ajrad) yang di dalamnya terdapat pelita yang bersinar, itulah hatinya orang mukmin; dan hati yang tertutup (terbungkus) yang di dalamnya terdapat iman dan kemunafikan. Perumpamaan iman di dalamnya bagaikan sayuran yang disiram air tawar, sedangkan perumpamaan kemunafikan di dalamnya bagaikan bisul yang disiram nanah dan darah. Maka bahan mana yang lebih dominan padanya, dialah yang dihukumi baginya." Dalam lafaz lain: "mana yang lebih dominan, maka dialah yang membawanya." Dan beliau ﵇ bersabda: "Sebagian besar orang munafik dari umat ini adalah para pembacanya (al-Qurra')." Dan dalam hadits lain: "Syirik itu lebih samar di kalangan umatku daripada langkah semut di atas batu licin." Huzaifah ﵁ berkata: "Dahulu seseorang mengucapkan satu kalimat pada zaman Rasulullah ﷺ lalu ia menjadi munafik karenanya sampai ia mati, sedangkan sungguh aku mendengar kalimat itu dari salah seorang di antara kalian sepuluh kali dalam sehari." Dan sebagian ulama berkata: "Orang yang paling dekat dengan kemunafikan adalah orang yang memandang dirinya terbebas dari kemunafikan."

وقال حذيفة المنافقون اليوم أكثر منهم على عهد النبي ﷺ فكانوا إذ ذاك يخفونه وهم اليوم يظهرونه وهذا النفاق يضاد صدق الإيمان وكماله وهو خفي وأبعد الناس منه من يتخوفه وأقربهم منه من يرى أنه بريء منه

Dan Huzaifah berkata: "Orang-orang munafik hari ini lebih banyak daripada pada zaman Nabi ﷺ. Dahulu mereka menyembunyikannya, sedangkan hari ini mereka menampakkannya." Kemunafikan ini bertentangan dengan kebenaran (kejujuran) iman dan kesempurnaannya, dan sifatnya amat samar. Orang yang paling jauh darinya adalah orang yang takut kepadanya, sedangkan orang yang paling dekat darinya adalah orang yang menganggap dirinya terbebas darinya.

فقد قيل للحسن البصري يقولون أن لا نفاق اليوم فقال يا أخي لو هلك المنافقون لاستوحشتم في الطريق

Pernah dikatakan kepada Al-Hasan Al-Basri: "Orang-orang mengatakan bahwa tidak ada lagi kemunafikan hari ini." Maka beliau menjawab: "Wahai saudaraku, seandainya orang-orang munafik itu binasa (lenyap), niscaya kalian akan merasa kesepian di jalanan."

وقال هو أو غيره لو نبتت للمنافقين أذناب ما قدرنا أن نطأ على الأرض بأقدامنا وسمع ابن عمر ﵁ رجلاً يتعرض للحجاج فقال أرأيت لو كان حاضراً يسمع أكنت تتكلم فيه فقال لا فقال كنا نعد هذا نفاقاً عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَقَالَ ﷺ مَنْ كَانَ ذا لسانين في الدنيا جعله الله ذا لسانين في الآخرة وقال أيضاً ﷺ شر الناس ذو الوجهين الذي يأتي هؤلاء بوجه ويأتي هؤلاء بوجه وقيل للحسن إن قوماً يقولون إنا لا نخاف النفاق فقال والله لأن أكون أعلم أني بريء من النفاق أحب إلي من تلاع الأرض ذهباً

Beliau (Al-Hasan) atau ulama lainnya juga berkata: "Seandainya tumbuh ekor pada diri orang-orang munafik, niscaya kita tidak akan sanggup menginjakkan kaki kita di atas tanah." Dan Ibnu Umar ﵁ pernah mendengar seorang laki-laki mencela Al-Hajjaj, lalu beliau bertanya: "Bagaimana pendapatmu jika Al-Hajjaj ada di sini mendengarmu, apakah engkau akan membicarakannya?" Laki-laki itu menjawab: "Tidak." Ibnu Umar berkata: "Dahulu pada zaman Rasulullah ﷺ kami menganggap hal seperti ini sebagai kemunafikan." Dan Nabi ﷺ bersabda: "Barangsiapa bermuka dua (berlidah dua) di dunia, niscaya Allah akan menjadikannya mempunyai dua lidah dari api pada hari kiamat." Dan beliau ﷺ juga bersabda: "Manusia yang paling buruk adalah orang yang bermuka dua, yang datang kepada kelompok ini dengan satu wajah dan datang kepada kelompok itu dengan wajah yang lain." Dan dikatakan kepada Al-Hasan bahwa ada suatu kaum yang berkata: "Kami tidak takut akan kemunafikan." Beliau berkata: "Demi Allah, sungguh sekiranya aku mengetahui bahwa diriku terbebas dari kemunafikan, itu lebih aku cintai daripada emas sepenuh bukit-bukit di bumi."

وقال الحسن إن من النفاق اختلاف اللسان والقلب والسر والعلانية والمدخل والمخرج

Al-Hasan juga berkata: "Sesungguhnya di antara bentuk kemunafikan adalah adanya perselisihan (perbedaan) antara lisan dan hati, antara batin dan lahiriah, serta antara sikap ketika masuk dan ketika keluar."

وقال رجل لحذيفة ﵁ إني أخاف أن أكون منافقاً فقال لو كنت منافقاً ما خفت النفاق إن المنافق قد أمن النفاق

Seseorang berkata kepada Huzaifah ﵁: "Sesungguhnya aku takut kalau diriku seorang munafik." Maka Huzaifah menjawab: "Seandainya engkau seorang munafik, niscaya engkau tidak akan takut pada kemunafikan, karena sesungguhnya orang munafik itu merasa aman dari kemunafikan."

وقال ابن أبي مليكة أدركت

Ibnu Abi Mulaikah berkata: "Aku sempat mendapati…"

ثلاثين ومائة وفي رواية خمسين ومائة من أصحاب النبي ﷺ كلهم يخافون النفاق

…seratus tiga puluh—dan dalam satu riwayat: seratus lima puluh—dari sahabat Nabi ﷺ, mereka semua takut akan kemunafikan.

وروي أن رسول الله ﷺ كان جالساً في جماعة من أصحابه فذكروا رجلاً وأكثروا الثناء عليه فبيناهم كذلك إذ طلع عليهم الرجل ووجهه يقطر ماء من أثر الوضوء وقد علق نعله بيده وبين عينيه أثر السجود فقالوا يا رسول الله هذا هو الرجل الذي وصفناه فقال ﷺ أرى على وجهه سفعة من الشيطان فجاء الرجل حتى سلم وجلس مع القوم فقال النبي ﷺ نشدتك الله هل حدثت نفسك حين أشرفت على القوم أنه ليس فيهم خير منك فقال اللهم نعم فقال ﷺ في دعائه اللهم إني أستغفرك لما علمت ولما لم أعلم فقيل له أتخاف يا رسول الله فقال وما يؤمنني والقلوب بين إصبعين من أصابع الرحمن يقلبها كيف يشاء وقد قال سبحانه ﴿وبدا لهم من الله ما لم يكونوا يحتسبون﴾ قيل في التفسير عملوا أعمالاً ظنوا أنها حسنات فكانت في كفة السيئات

Diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah duduk di tengah sekumpulan sahabatnya, lalu mereka menyebutkan seorang laki-laki dan sangat banyak memujinya. Ketika mereka sedang demikian, tiba-tiba laki-laki itu muncul di hadapan mereka dengan wajah yang meneteskan air bekas wudhu, menenteng sandalnya dengan tangannya, dan di antara kedua matanya terdapat bekas sujud. Para sahabat berkata: "Wahai Rasulullah, inilah orang yang kami ceritakan tadi." Maka beliau ﷺ bersabda: "Aku melihat pada wajahnya ada rona kegelapan dari setan." Lalu laki-laki itu datang, mengucapkan salam, dan duduk bersama kaum tersebut. Nabi ﷺ bersabda: "Aku bersumpah demi Allah kepadamu, apakah engkau membatin ketika mendatangi kaum ini bahwa tidak ada seorang pun di antara mereka yang lebih baik darimu?" Laki-laki itu menjawab: "Ya Allah, benar." Maka beliau ﷺ berdoa: "Ya Allah, sesungguhnya aku memohon ampunan kepada-Mu atas apa yang aku ketahui dan apa yang tidak aku ketahui." Dikatakan kepada beliau: "Apakah engkau juga merasa takut, wahai Rasulullah?" Beliau bersabda: "Apa yang membuatku merasa aman, padahal hati berada di antara dua jari dari jari-jari Ar-Rahman, Dia membolak-balikkannya sebagaimana yang Dia kehendaki?" Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman: "Dan jelaslah bagi mereka dari Allah apa yang dahulu tidak mereka perhitungkan." (QS. Az-Zumar: 47). Dikatakan dalam tafsirnya: mereka melakukan amal-amal yang mereka kira sebagai kebaikan, tetapi ternyata berada di daun timbangan keburukan.

وقال سري السقطي لو أن إنساناً دخل بستاناً فيه من جميع الأشجار عليها من جميع الطيور فخاطبه كل طير منها بلغة فقال السلام عليك يا ولي الله فسكنت نفسه إلى ذلك كان أسيراً في يديها فهذه الأخبار والآثار تعرفك خطر الأمر بسبب دقائق النفاق والشرك الخفي وأنه لا يؤمن منه حتى كَانَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ ﵁ يسأل حذيفة عن نفسه وأنه هل ذكر في المنافقين وقال أبو سليمان الداراني سمعت من بعض الأمراء شيئاً فأردت أن أنكره فخفت أن يأمر بقتلي ولم أخف من الموت ولكن خشيت أن يعرض لقلبي التزين للخلق عند خروج روحي فكففت

Sari As-Saqati berkata: "Seandainya seorang manusia masuk ke dalam sebuah kebun yang di dalamnya terdapat berbagai jenis pohon yang dihinggapi berbagai jenis burung, lalu setiap burung itu menyapanya dengan bahasanya dan berkata: 'Keselamatan atasmu, wahai wali Allah', lalu jiwanya merasa tenang dengan ucapan itu, niscaya ia telah menjadi tawanan di tangan jiwanya." Maka riwayat-riwayat dan atsar-atsar ini memberi tahumu tentang besarnya bahaya urusan ini yang disebabkan oleh kehalusan-kehalusan kemunafikan dan syirik samar (khafi), serta bahwasanya tiada seorang pun yang merasa aman darinya, hingga Umar bin Al-Khattab ﵁ pun pernah bertanya kepada Huzaifah tentang dirinya sendiri, apakah ia termasuk yang disebutkan di antara orang-orang munafik. Abu Sulaiman Ad-Darani berkata: "Aku mendengar sesuatu dari sebagian penguasa, lalu aku ingin mengingkarinya. Namun aku takut ia akan memerintahkan untuk membunuhku. Aku tidak takut pada kematian, tetapi aku khawatir hatiku terlintas perasaan ingin memperindah diri di hadapan makhluk saat nyawaku keluar, maka aku pun menahan diri."

وهذا من النفاق الذي يضاد حقيقة الإيمان وصدقه وكماله وصفاءه لا أصله

Dan ini termasuk bentuk kemunafikan yang bertentangan dengan hakikat iman, kejujurannya, kesempurnaannya, dan kesuciannya, bukan bertentangan dengan pokok imannya.

فالنفاق نفاقان أحدهما يخرج من الدين ويلحق بالكافرين ويسلك في زمرة المخلدين في النار

Sebab kemunafikan itu ada dua jenis: salah satunya mengeluarkan seseorang dari agama, menggolongkannya ke dalam kelompok orang-orang kafir, dan memasukkannya ke dalam golongan orang-orang yang kekal di dalam neraka.

والثاني يفضي بصاحبه إلى النار مدة أو ينقص من درجات عليين ويحط من رتبة الصديقين وذلك مشكوك فيه ولذلك حسن الاستثناء فيه

Dan jenis yang kedua membawa pelakunya ke dalam neraka untuk sementara waktu, atau mengurangi derajatnya di 'Illiyyin serta menurunkan dari tingkatan para shiddiqin. Dan hal itu mengandung keraguan (apakah selamat atau tidak), oleh karena itu dianjurkan untuk mengucapkan pengecualian (istitsna': insya Allah) padanya.

وأصل هذا النفاق تفاوت بين السر والعلانية والأمن من مكر الله والعجب وأمور أخر لا يخلو عنها إلا الصديقون

Pangkal dari kemunafikan ini adalah adanya perbedaan antara batin dan lahiriah, merasa aman dari makar (siksa) Allah, sifat 'ujub (bangga diri), serta hal-hal lain yang tidak terbebas darinya kecuali para shiddiqin.

الوجه الرابع وهو أيضاً مستند إلى الشك وذلك من خوف الخاتمة فإنه لا يدري أيسلم له الإيمان عند الموت أم لا فإن ختم له بالكفر حبط عمله السابق لأنه موقوف على سلامة الآخر ولو سئل الصائم ضحوة النهار عن صحة صومه فقال أنا صائم قطعاً فلو أفطر في أثناء نهاره بعد ذلك لتبين كذبه إذ كانت الصحة موقوفة على التمام إلى غروب الشمس من آخر النهار

Sebab keempat: Ia juga bersandar pada keraguan, yaitu karena rasa takut akan akhir kehidupan (khusnul/su'ul khatimah). Sebab sesungguhnya seseorang tidak mengetahui apakah imannya akan tetap selamat saat kematian menjemput atau tidak. Apabila kehidupannya ditutup dengan kekufuran, maka gugurlah amal perbuatannya yang terdahulu, karena keabsahannya bergantung pada keselamatan di akhir hayat. Seandainya seorang yang berpuasa ditanya pada waktu dhuha tentang keabsahan puasanya, lalu ia menjawab: "Aku berpuasa secara pasti," kemudian ia berbuka (membatalkan puasa) di tengah hari setelah itu, maka terbuktilah kedustaan ucapannya, sebab keabsahan puasa itu bergantung pada kesempurnaannya hingga terbenamnya matahari di akhir siang.

وكما أن النهار ميقات تمام الصوم فالعمر ميقات تمام صحة الإيمان ووصفه بالصحة قبل آخره بناء على الاستصحاب وهو مشكوك فيه والعاقبة مخوفة وللها كان بكاء أكثر الخائفين لأجل أنها ثمرة القضية السابقة والمشيئة الأزلية التي لا تظهر إلا بظهور المقضي به ولا مطلع عليه لأحد من البشر فخوف الخاتمة كخوف السابقة وربما يظهر في الحال ما سبقت الكلمة بنقيضه فمن الذي يدري أنه من الذين سبقت لهم من الله الحسنى وقيل في معنى قوله تعالى ﴿وجاءت سكرة الموت بالحق﴾ أي بالسابقة يعني أظهرتها

Sebagaimana siang hari merupakan batas waktu bagi kesempurnaan puasa, maka umur merupakan batas waktu bagi kesempurnaan keabsahan iman. Menyebut iman itu sah sebelum berakhirnya umur adalah berpatokan pada kelangsungan hukum asal (istishhab), padahal hal itu diragukan dan kesudahan (akibat akhir) itu menakutkan. Oleh karena itulah, tangisan sebagian besar orang-orang yang takut kepada Allah adalah karena kesudahan itu merupakan buah dari ketetapan terdahulu (takdir azali) dan kehendak azali yang tidak akan tampak kecuali dengan munculnya apa yang telah ditetapkan, dan tidak ada seorang manusia pun yang dapat mengetahuinya. Maka ketakutan terhadap akhir kehidupan sama seperti ketakutan terhadap ketetapan yang lalu. Kadang-kadang pada saat ini tampak sesuatu yang bertentangan dengan apa yang telah ditetapkan sebelumnya. Maka siapakah yang mengetahui bahwa dirinya termasuk orang-orang yang telah mendapatkan kebaikan dari Allah sejak azali? Dan dikatakan dalam makna firman-Nya Ta'ala: "Dan datanglah sakaratul maut dengan membawa kebenaran" (QS. Qaf: 19), yaitu dengan membawa (menampakkan) ketetapan yang lalu.

وقال بعض السلف إنما يوزن من الأعمال خواتيمها

Sebagian ulama salaf berkata: "Sesungguhnya amal-amal perbuatan itu ditimbang berdasarkan penutupnya (akhir hayatnya)."

وكان أبو الدرداء ﵁ يحلف بالله ما من أحد يأمن أن يسلب إيمانه إلا سلبه

Dahulu Abu Ad-Darda' ﵁ bersumpah demi Allah: "Tidak ada seorang pun yang merasa aman imannya akan dicabut melainkan iman itu akan dicabut darinya."

وقيل من الذنوب ذنوب عقوبتها سوء الخاتمة نعوذ بالله من ذلك

Dan dikatakan bahwa di antara dosa-dosa ada dosa yang hukumannya adalah su'ul khatimah (akhir kehidupan yang buruk); kita berlindung kepada Allah dari hal yang demikian.

وقيل هي عقوبات دعوى الولاية والكرامة بالافتراء

Dikatakan pula bahwa itu adalah hukuman atas pengakuan kedudukan kewalian (wilayah) dan karomah secara dusta (iftira').

وقال بعض العارفين لو عرضت علي الشهادة عند باب الدار والموت على التوحيد

Sebagian orang yang 'arif (mengenal Allah) berkata: "Seandainya ditawarkan kepadaku antara mati syahid di depan pintu rumah dan mati dalam keadaan tauhid…

عند باب الحجرة لاخترت الموت على التوحيد عند باب الحجرة لأني لا أدري ما يعرض لقلبي من التغيير عن التوحيد إلى باب الدار وقال بعضهم لو عرفت واحداً بالتوحيد خمسين سنة ثم حال بيني وبينه سارية ومات لم أحكم أنه مات على التوحيد

…di pintu kamar, niscaya aku akan memilih mati dalam tauhid di pintu kamar. Karena aku tidak tahu perubahan apa yang akan menimpa hatiku dari tauhid hingga aku sampai di depan pintu rumah." Sebagian dari mereka juga berkata: "Seandainya aku mengenal seseorang berada dalam tauhid selama lima puluh tahun, kemudian ada tiang yang menghalangiku dengannya lalu dia meninggal, aku tidak berani memastikan bahwa dia meninggal dalam keadaan tauhid."

وفي الحديث من قال أنا مؤمن فهو كافر ومن قال أنا عالم فهو جاهل وقيل في قوله تعالى وتمت كلمات ربك صدقاً وعدلاً صدقاً لمن مات على الإيمان وعدلاً لمن مات على الشرك وقد قال تعالى ﴿ولله عاقبة الأمور﴾ فمهما كان الشك بهذه المثابة كان الاستثناء واجباً لأن الإيمان عبارة عما يفيد الجنة كما أن الصوم عبارة عما يبرىء الذمة

Dalam sebuah hadis disebutkan: "Barangsiapa berkata: 'Aku seorang mukmin', maka dia seorang kafir. Dan barangsiapa berkata: 'Aku seorang alim (berilmu)', maka dia seorang jahil (bodoh)." Dan dikatakan mengenai firman Allah Ta'ala: "Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Qur'an) sebagai kalimat yang benar dan adil" (QS. Al-An'am: 115), yaitu "benar" bagi orang yang meninggal dalam keimanan, dan "adil" bagi orang yang meninggal dalam kesyirikan. Sungguh Allah Ta'ala telah berfirman: "Dan milik Allah-lah kesudahan segala urusan" (QS. Al-Hajj: 41). Maka selama keraguan (kekhawatiran akan akhir hayat) berada dalam kadar seperti ini, pengecualian (istitsna', mengucapkan 'Insya Allah') menjadi wajib; karena iman adalah ungkapan tentang sesuatu yang membuahkan surga, sebagaimana puasa adalah ungkapan tentang sesuatu yang membebaskan tanggung jawab kewajiban.

وما فسد قبل الغروب لا يبرىء الذمة فيخرج عن كونه صوماً فكذلك الإيمان بل لا يبعد أن يسأل عن الصوم الماضي الذي لا يشك فيه بعد الفراغ منه فيقال أصمت بالأمس فيقول نعم إن شاء الله تعالى إذ الصوم الحقيقي هو المقبول والمقبول غائب عنه لا يطلع عليه إلا الله تعالى فمن هذا حسن الاستثناء في جميع أعمال البر ويكون ذلك شكا في القبول إذ يمنع من القبول بعد جريان ظاهر شروط الصحة أسباب خفيفة لا يطلع عليها إلا رب الأرباب ﷻ فيحسن الشك فيه

Dan apa yang rusak sebelum terbenam matahari tidaklah membebaskan tanggung jawab kewajiban, sehingga ia keluar dari statusnya sebagai puasa. Demikian pula halnya dengan iman. Bahkan tidak mustahil jika seseorang ditanya tentang puasa yang lalu—yang tidak diragukan keberadaannya setelah selesai darinya—lalu dikatakan: "Apakah engkau berpuasa kemarin?", dia menjawab: "Ya, insya Allah Ta'ala." Sebab, puasa yang hakiki adalah puasa yang diterima (maqbul), sedangkan diterimanya puasa itu adalah hal yang gaib baginya yang tidak diketahui melainkan oleh Allah Ta'ala semata. Dari sudut pandang inilah, dianggap baik melakukan istitsna' (pengecualian) dalam seluruh amal kebajikan, yang mana hal itu merupakan keraguan terhadap penerimaan amal; sebab yang menghalangi penerimaan amal setelah berjalannya syarat-syarat sah secara lahiriah adalah sebab-sebab samar yang tidak diketahui melainkan oleh Rabb semesta alam ﷻ, maka dipandang baik meragukan penerimaan hal tersebut.

فهذه وجوه حسن الاستثناء في الجواب عن الإيمان وهي آخر ما نختم به كتاب قواعد العقائد

Inilah segi-segi kebaikan melakukan istitsna' dalam menjawab tentang keimanan, dan ini adalah bagian terakhir yang kami gunakan untuk mengakhiri Kitab Qawa'id al-'Aqa'id (Kaidah-Kaidah Akidah).

تم الكتاب بحمد الله تعالى وصلى الله عليه وسلم على سيدنا محمد وعلى كل عبد مصطفى

Telah selesai kitab ini dengan memuji Allah Ta'ala. Semoga shalawat dan salam Allah tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad dan kepada setiap hamba-Nya yang terpilih (musthafa).