بيان اشتراط الخشوع وحضور القلب
بيان اشْتِرَاطُ الْخُشُوعِ وَحُضُورِ الْقَلْبِ
Penjelasan Mengenai Syarat Khusyuk dan Kehadiran Hati
اعْلَمْ أَنَّ أَدِلَّةَ ذلك كثيرة فمن ذلك قوله تعالى أقم الصلاة لذكري وَظَاهِرُ الْأَمْرِ الْوُجُوبُ وَالْغَفْلَةُ تُضَادُّ الذِّكْرَ فَمَنْ غَفَلَ فِي جَمِيعِ صَلَاتِهِ كَيْفَ يَكُونُ مُقِيمًا لِلصَّلَاةِ لِذِكْرِهِ وَقَوْلُهُ تَعَالَى وَلَا تَكُنْ مِنَ الغافلين نهي وظاهره التحريم وقوله ﷿ حتى تعلموا ما تقولون تَعْلِيلٌ لِنَهْيِ السَّكْرَانِ وَهُوَ مُطَّرِدٌ فِي الْغَافِلِ الْمُسْتَغْرِقِ الْهَمَّ بِالْوَسْوَاسِ وَأَفْكَارِ الدُّنْيَا وَقَوْلُهُ ﷺ إِنَّمَا الصَّلَاةُ تَمَسْكُنٌ وَتَوَاضُعٌ حَصْرٌ بِالْأَلِفِ وَاللَّامِ وَكَلِمَةِ إِنَّمَا لِلتَّحْقِيقِ وَالتَّوْكِيدِ وقد فهم الفقهاء من قوله ﷺ إنما الشفعة فيما لم يقصر الحصر والإثبات والنفي وَقَوْلُهُ ﷺ مَنْ لَمْ تَنْهَهُ صَلَاتُهُ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ لَمْ يَزْدَدْ مِنَ اللَّهِ إِلَّا بُعْدًا وَصَلَاةُ الْغَافِلِ لَا تَمْنَعُ مِنَ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَقَالَ ﷺ كَمْ مِنْ قَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صَلَاتِهِ التَّعَبُ وَالنَّصَبُ وَمَا أَرَادَ بِهِ إِلَّا الْغَافِلَ وَقَالَ ﷺ لَيْسَ لِلْعَبْدِ مِنْ صَلَاتِهِ إِلَّا مَا عَقَلَ مِنْهَا وَالتَّحْقِيقُ فِيهِ أَنَّ الْمُصَلِّيَ مُنَاجٍ رَبَّهُ ﷿ كَمَا وَرَدَ بِهِ الْخَبَرُ وَالْكَلَامُ مَعَ الغفلة ليس بمناجاة ألبتة وبيانه أن الزكاة إن غفل الإنسان عنها مثلاً فهي في نفسها مخالفة للشهوة شديدة على النفس وكذا الصوم قاهر للقوى كاسر لسطوة الهوى الذي هو آلة للشيطان عدو الله فلا يبعد أن يحصل منها مقصود مع الغفلة وكذلك الحج أفعاله شاقة شديدة وفيه من المجاهدة ما يحصل به
Ketahuilah bahwa dalil-dalil mengenai hal itu sangat banyak. Di antaranya adalah firman Allah Ta'ala: 'Dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku' (QS. Taha: 14). Secara lahiriah perintah menunjukkan kewajiban, sedangkan kelalaian berlawanan dengan ingat (dzikir). Maka barang siapa yang lalai dalam seluruh shalatnya, bagaimana mungkin ia dikatakan mendirikan shalat untuk mengingat-Nya? Dan firman Allah Ta'ala: 'Dan janganlah engkau termasuk orang-orang yang lalai' (QS. Al-A'raf: 205) merupakan bentuk larangan yang secara lahiriah menunjukkan keharaman. Serta firman Allah Azza wa Jalla: 'Sampai kamu mengerti apa yang kamu ucapkan' (QS. An-Nisa': 43), ini merupakan bentuk alih alasan (ta'lil) atas larangan bagi orang yang mabuk, dan hukum ini berlaku secara mutlak bagi orang lalai yang pikirannya tenggelam dalam bisikan-bisikan keliru (waswas) dan pikiran duniawi. Sabda Rasulullah ﷺ: 'Shalat itu tidak lain adalah kerendahan diri (tamasuk) dan ketundukan (tawadhu')', mengandung pembatasan (hashr) dengan alif-lam dan kata 'innama' untuk penegasan dan penguatan. Para ahli fiqih telah memahami adanya unsur penegasan, penetapan, dan peniadaan dari sabda beliau ﷺ: 'Sesungguhnya syuf'ah itu hanya berlaku pada harta yang belum dibagi.' Juga sabda beliau ﷺ: 'Barang siapa yang shalatnya tidak mencegahnya dari perbuatan keji dan mungkar, maka tidak bertambah baginya dari Allah kecuali makin jauh.' Padahal shalatnya orang yang lalai tidak mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Beliau ﷺ juga bersabda: 'Berapa banyak orang yang mendirikan shalat, bagian yang ia dapatkan dari shalatnya hanyalah keletihan dan kepayahan.' Dan tidaklah yang beliau maksudkan melainkan orang yang lalai. Beliau ﷺ juga bersabda: 'Seorang hamba tidak mendapatkan bagian dari shalatnya melainkan apa yang ia sadari darinya.' Hakikat penjelasannya adalah bahwa orang yang shalat itu sedang bermunajat kepada Rabb-nya Azza wa Jalla sebagaimana disebutkan dalam riwayat, dan pembicaraan yang disertai kelalaian sama sekali bukanlah munajat. Penjelasannya: Jika seseorang lalai dalam menunaikan zakat misalnya, zakat itu sendiri secara intrinsik menentang hawa nafsu dan berat bagi jiwa. Demikian pula puasa, ia menundukkan kekuatan fisik dan menghancurkan dominasi hawa nafsu yang menjadi alat bagi syaitan musuh Allah, maka tidak mustahil maksud ibadah tersebut tetap tercapai meskipun disertai kelalaian. Begitu pula haji, amalan-amalannya berat dan membutuhkan perjuangan batin (mujahadah) yang darinya timbul
الإيلام كان القلب حاضراً مع أفعاله أو لم يكن أما الصلاة فليس فيها إلا ذكر وقراءة وركوع وسجود وقيام وقعود فأما الذكر فإنه مجاورة ومناجاة مع الله ﷿ فأما أن يكون المقصود منه كونه خطاباً ومحاورة أو المقصود منه الحروف والأصوات امتحانا للسان بالعمل كما تمتحن المعدة والفرج بالإمساك في الصوم وكما يمتحن البدن بمشاق الحج ويمتحن بمشقة إخراج الزكاة واقتطاع المال المعشوق
kesusahan fisik, baik hatinya hadir bersama amalan-amalan tersebut maupun tidak. Adapun shalat, tidak ada di dalamnya melainkan dzikir, bacaan Al-Qur'an, ruku', sujud, berdiri, dan duduk. Mengenai dzikir, ia adalah bentuk kedekatan dan munajat kepada Allah Azza wa Jalla. Maka, apakah maksud darinya adalah sebuah percakapan dan perbincangan batin, ataukah maksudnya sekadar susunan huruf dan suara sebagai bentuk ujian bagi lidah dengan suatu amalan, sebagaimana lambung dan kemaluan diuji dengan menahan diri saat berpuasa, sebagaimana tubuh diuji dengan kepayahan haji, serta diuji dengan beratnya mengeluarkan zakat dan memisahkan diri dari harta yang dicintai?
ولا شك أن هذا القسم باطل فإن تحريك اللسان بالهذيان ما أخفه على الغافل فليس فيه امتحان من حيث أنه عمل بل المقصود الحروف من حيث أنه نطق ولا يكون نطقاً إلا إذا أعرب عما في الضمير ولا يكون معرباً إلا بحضور القلب فأي سؤال في قوله اهدنا الصراط المستقيم إذا كان القلب غافلاً وإذا لم يقصد كونه تضرعاً ودعاء فأي مشقة في تحريك اللسان به مع الغفلة لا سيما بعد الاعتياد هذا حكم الأذكار بل أقول لو حَلَفَ الْإِنْسَانُ وَقَالَ لَأَشْكُرَنَّ فُلَانًا وَأُثْنِي عَلَيْهِ وَأَسْأَلُهُ حَاجَةً ثُمَّ جَرَتِ الْأَلْفَاظُ الدَّالَّةُ عَلَى هَذِهِ الْمَعَانِي عَلَى لِسَانِهِ فِي النَّوْمِ لَمْ يَبَرَّ فِي يَمِينِهِ وَلَوْ جَرَتْ عَلَى لِسَانِهِ فِي ظُلْمَةٍ وَذَلِكَ الْإِنْسَانُ حَاضِرٌ وَهُوَ لَا يَعْرِفُ حُضُورَهُ وَلَا يَرَاهُ لَا يَصِيرُ بَارًّا فِي يَمِينِهِ إِذْ لَا يَكُونُ كَلَامُهُ خِطَابًا وَنُطْقًا مَعَهُ مَا لَمْ يَكُنْ هُوَ حَاضِرًا فِي قَلْبِهِ فَلَوْ كَانَتْ تَجْرِي هَذِهِ الْكَلِمَاتُ عَلَى لِسَانِهِ وَهُوَ حَاضِرٌ إِلَّا أَنَّهُ فِي بَيَاضِ النَّهَارِ غَافِلٌ لِكَوْنِهِ مُسْتَغْرِقَ الْهَمِّ بِفِكْرٍ من الأفكار ولم يكن له قصد توجيه الْخِطَابُ إِلَيْهِ عِنْدَ نُطْقِهِ لَمْ يَصِرْ بَارًّا في يمينه
Tidak diragukan lagi bahwa kemungkinan kedua ini batil, sebab menggerakkan lidah dengan celotehan tanpa arti betapa ringannya bagi orang yang lalai. Tidak ada bentuk ujian padanya ditinjau dari segi bahwa ia adalah sebuah amalan fisik, melainkan yang dimaksud dari huruf-huruf itu ditinjau dari segi bahwa ia adalah ungkapan perkataan (nuthq). Dan tidaklah sesuatu dinamakan perkataan kecuali jika ia mengungkapkan apa yang ada di dalam batin, dan tidaklah ia dapat mengungkapkan batin kecuali dengan kehadiran hati. Maka permohonan apa yang ada dalam ucapan: 'Tunjukilah kami jalan yang lurus' jika hatinya lalai? Dan jika tidak dimaksudkan sebagai sikap merendah dan berdoa, maka kepayahan apa dalam menggerakkan lidah dengannya saat lalai, terlebih lagi setelah menjadi kebiasaan? Inilah hukum dzikir. Bahkan aku katakan: Seandainya seseorang bersumpah dengan berkata: 'Sungguh aku akan berterima kasih kepada si Fulan, memujinya, dan memohon suatu hajat kepadanya', kemudian lafal-lafal yang menunjukkan makna-makna ini terucap oleh lidahnya di saat tidur, maka ia belum memenuhi sumpahnya. Dan seandainya terucap oleh lidahnya dalam kegelapan sementara orang itu hadir di hadapannya padahal ia tidak mengetahui keberadaannya dan tidak melihatnya, ia pun tidak dianggap memenuhi sumpahnya, karena perkataannya tidak menjadi bentuk sapaan (khitab) dan percakapan kepadanya selama orang tersebut tidak hadir dalam hatinya. Maka seandainya kata-kata ini terucap oleh lidahnya sementara orang itu hadir, namun di siang bolong ia lalai karena pikirannya tenggelam dalam suatu pemikiran dan ia tidak bermaksud mengarahkan sapaannya kepada orang tersebut saat mengucapkannya, ia juga tidak dianggap memenuhi sumpahnya.
ولا شك أَنَّ الْمَقْصُودَ مِنَ الْقِرَاءَةِ وَالْأَذْكَارِ الْحَمْدُ وَالثَّنَاءُ وَالتَّضَرُّعُ وَالدُّعَاءُ وَالْمُخَاطَبُ هُوَ اللَّهُ ﷿ وقلبه بِحِجَابِ الْغَفْلَةِ مَحْجُوبٌ عَنْهُ فَلَا يَرَاهُ وَلَا يشاهده بل هو غافل عن المخاطب ولسانه يَتَحَرَّكُ بِحُكْمِ الْعَادَةِ فَمَا أَبْعَدَ هَذَا عَنِ الْمَقْصُودِ بِالصَّلَاةِ الَّتِي شُرِعَتْ لِتَصْقِيلِ الْقَلْبِ وَتَجْدِيدِ ذِكْرِ اللَّهِ ﷿ وَرُسُوخِ عَقْدِ الْإِيمَانِ به هذا حكم القراءة والذكر
Tidak diragukan lagi bahwa maksud dari bacaan Al-Qur'an dan dzikir-dzikir adalah pujian, sanjungan, permohonan dengan merendah diri, dan doa, sedangkan Dzat yang disapa adalah Allah Azza wa Jalla. Sementara itu, hatinya terhalang dari-Nya oleh tirai kelalaian sehingga ia tidak melihat-Nya dan tidak menyaksikan-Nya, bahkan ia lalai terhadap Dzat yang disapa, sedangkan lidahnya bergerak karena dorongan kebiasaan semata. Betapa jauhnya hal ini dari tujuan shalat yang disyariatkan untuk memurnikan hati, memperbarui ingatan kepada Allah Azza wa Jalla, serta memantapkan ikatan iman kepada-Nya. Inilah hukum bacaan dan dzikir.
وبالجملة فهذه الخاصية لا سبيل إلى إنكارها في النطق وتمييزها عن الفعل
Kesimpulannya, keistimewaan ini tidak dapat dimungkiri keberadaannya pada pengucapan kata dan perbedaannya dari sekadar perbuatan fisik.
وأما الركوع والسجود فالمقصود بهما التعظيم قطعاً ولو جاز أن يكون معظماً لله ﷿ بفعله وهو غافل عنه لجاز أن يكون معظماً لصنم موضوع بين يديه وهو غافل عنه أو يكون معظماً للحائط الذي بين يديه وهو غافل عنه وإذا خرج عن كونه تعظيماً لم يبق إلا مجرد حركة الظهر والرأس وليس فيه من المشقة ما يقصد الامتحان به ثم يجعله عماد الدين والفاصل بين الكفر والإسلام ويقدم على الحج وسائر العبادات ويجب القتل بسبب تركه على الخصوص وما أرى أن هذه العظمة كلها للصلاة من حيث أعمالها الظاهرة إلا أن يضاف إليها مقصود المناجاة فإن ذلك يتقدم على الصوم والزكاة والحج وغيره بل الضحايا والقرابين التي هي مجاهدة للنفس بتنقيص المال قال الله تعالى لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يناله التقوى منكم أي الصفة التي استولت على القلب حتى حملته على امتثال الأوامر هي المطلوبة فكيف الأمر في الصلاة ولا أرب في أفعالها فهذا ما يدل من حيث المعنى على اشتراط حضور القلب
Adapun ruku' dan sujud, maka maksud dari keduanya pasti untuk pengagungan (ta'dzim). Seandainya seseorang dapat dianggap mengagungkan Allah Azza wa Jalla dengan perbuatannya sementara ia lalai dari-Nya, niscaya boleh saja ia dianggap mengagungkan berhala yang diletakkan di hadapannya padahal ia lalai darinya, atau mengagungkan dinding di hadapannya padahal ia lalai darinya. Dan apabila perbuatan itu keluar dari hakikat pengagungan, tidak ada yang tersisa melainkan sekadar gerakan punggung dan kepala, padahal di dalamnya tidak ada kepayahan yang dimaksudkan sebagai bentuk ujian dengannya, yang kemudian menjadikannya sebagai tiang agama dan pemisah antara kekufuran dan keislaman, serta didahulukan atas haji dan ibadah-ibadah lainnya, dan diwajibkan hukuman mati secara khusus karena meninggalkannya. Dan aku tidak melihat bahwa seluruh keagungan shalat ini ditinjau dari amalan-amalan lahiriahnya semata, melainkan karena ditambahkan padanya maksud bermunajat. Karena itulah shalat didahulukan atas puasa, zakat, haji, dan lainnya, bahkan atas kurban-kurban yang merupakan pembuktian kesungguhan jiwa (mujahadah) dengan mengurangkan harta. Allah Ta'ala berfirman: 'Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya' (QS. Al-Hajj: 37), artinya sifat yang menguasai hati hingga mendorongnya untuk mematuhi perintah-perintah dialah yang dituntut. Maka bagaimana halnya dengan shalat yang tidak ada tujuan tersendiri pada gerakan-gerakan fisiknya semata? Inilah hal yang menunjukkan secara makna tentang disyaratkannya kehadiran hati.
فإن قلت إن حكمت ببطلان الصلاة وجعلت حضور القلب شرطاً في صحتها خالفت إجماع الفقهاء فإنهم لم يشترطوا إلا حضور القلب عند التكبير فاعلم أنه قد تقدم في كتاب العلم أن الفقهاء لا يتصرفون في الباطن ولا يشقون عن القلوب ولا في طريق الآخرة بل يبنون أحكام الدين على ظاهر أعمال الجوارح وظاهر الأعمال كاف لسقوط القتل وتعزير السلطان فأما أنه ينفع في الآخرة فليس هذا من حدود الفقه على أنه لا يمكن أن يدعى الإجماع
Jika engkau berkata: 'Jika engkau menghukumi batalnya shalat dan menjadikan kehadiran hati sebagai syarat keabsahannya, berarti engkau menyelisihi kesepakatan (ijma') para ahli fiqih, karena mereka tidak mensyaratkan kecuali kehadiran hati saat takbir (takbiratul ihram).' Maka ketahuilah bahwa telah dijelaskan sebelumnya dalam Kitab Ilmu bahwa para ahli fiqih tidak mengurusi wilayah batin, tidak membedah isi hati, dan tidak pula mengurusi jalan akhirat. Melainkan mereka membangun hukum-hukum agama atas amalan-amalan anggota tubuh yang lahiriah. Amalan lahiriah tersebut cukuplah untuk menggugurkan hukuman mati dan hukuman takzir dari penguasa. Adapun mengenai apakah hal itu berguna di akhirat, maka ini bukanlah termasuk dalam batas kewenangan fiqih, di samping bahwa tidak mungkin untuk mengklaim adanya ijma' dalam hal ini.
فقد نقل عن بشر بن الحارث فيما رواه عنه أبو طالب المكي عن سفيان الثوري أنه قال من لم يخشع فسدت صلاته وروي عن الحسن أنه قال كُلُّ صَلَاةٍ لَا يَحْضُرُ فِيهَا الْقَلْبُ فَهِيَ إلى العقوبة أسرع
Diriwayatkan dari Bisyr bin al-Harits, sebagaimana diriwayatkan darinya oleh Abu Thalib al-Makki, dari Sufyan ats-Tsauri bahwa ia berkata, "Barang siapa tidak khusyuk, maka shalatnya rusak." Dan diriwayatkan dari al-Hasan al-Bashri bahwa ia berkata, "Setiap shalat yang tidak dihadiri oleh hati, maka shalat itu lebih cepat membawanya menuju hukuman."
وعن معاذ بن جبل من عرف من على يمينه وشماله متعمداً وهو في الصلاة فلا صلاة له
Diriwayatkan dari Mu'adz bin Jabal, "Barang siapa mengenali dengan sengaja siapa yang berada di sebelah kanan dan kirinya padahal ia sedang shalat, maka tidak ada kesempurnaan shalat baginya."
وروي أيضاً مسنداً قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Diriwayatkan pula secara musnad bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إن العبد ليصلي الصلاة لا يكتب له سدسها ولا عشرها وإنما يكتب للعبد من صلاته ما عقل منها وهذا لو نقل عن غيره لجعل مذهباً فكيف لا يتمسك به وقال عبد الواحد بن زيد أجمعت العلماء على أنه لَيْسَ لِلْعَبْدِ مِنْ صَلَاتِهِ إِلَّا مَا عَقَلَ منها فجعله إجماعاً وما نقل من هذا الجنس عن الفقهاء المتورعين وعن علماء الآخرة أكثر من أن يحصى
"Sesungguhnya seorang hamba benar-benar melaksanakan shalat, namun tidak dicatat baginya pahala seperenamnya dan tidak pula sepersepuluhnya. Hanyasanya yang dicatat bagi seorang hamba dari shalatnya adalah apa yang ia pahami dari shalatnya." Hadis ini, seandainya diriwayatkan dari selain beliau, niscaya akan dijadikan sebuah pendirian mazhab, maka bagaimana mungkin tidak berpegang teguh dengannya? Abdul Wahid bin Zaid berkata, "Para ulama telah sepakat bahwa tidak ada bagian bagi seorang hamba dari shalatnya melainkan apa yang ia pahami darinya." Beliau menjadikannya sebagai kesepakatan ijma'. Dan riwayat sejenis ini yang dinukil dari para ahli fiqih yang wara' serta para ulama akhirat amat sangat banyak hingga tak terhitung.
والحق الرجوع إلى أدلة الشرع والأخبار والآثار ظاهرة في هذا الشرط إلا أن مقام الفتوى في التكليف الظاهر يتقدر بقدر قصور الخلق
Dan yang benar adalah kembali kepada dalil-dalil syariat. Riwayat-riwayat hadis dan atsar sangat jelas menunjukkan syarat ini. Hanya saja, kedudukan fatwa dalam kewajiban lahiriah diukur sesuai dengan tingkat keterbatasan manusia.
فلا يمكن أن يشترط على الناس إحضار القلب في جميع الصلاة فإن ذلك يعجز عنه كل البشر إلا الأقلين وإذا لم يمكن اشتراط الاستيعاب للضرورة فلا مرد له إلا أن يشترط منه ما يطلق عليه الاسم ولو في اللحظة الواحدة وأولى اللحظات به لحظة التكبير فاقتصرنا على التكليف بذلك
Sebab tidak mungkin mensyaratkan kepada manusia untuk menghadirkan hati di sepanjang shalat, karena hal itu tidak mampu dilakukan oleh seluruh manusia melainkan amat sedikit. Apabila tidak memungkinkan mensyaratkan liputan penuh hadirnya hati di seluruh shalat karena adanya darurat, maka tidak ada pilihan selain mensyaratkan sekadar apa yang memenuhi sebutan 'hadir hati', meskipun hanya dalam satu saat saja. Dan saat yang paling utama untuk itu adalah saat takbir. Maka kami membatasi beban kewajiban lahiriah pada saat itu saja.
ونحن مع ذلك نرجو أن لا يكون حال الغافل في جميع صلاته مثل حال التارك بالكلية
Namun demikian, kami berharap keadaan orang yang lalai dalam seluruh shalatnya tidaklah sama dengan keadaan orang yang meninggalkan shalat secara keseluruhan.
فإنه على الجملة أقدم على العمل ظاهراً وأحضر القلب لحظة
Sebab bagaimanapun juga, secara umum ia telah melangkah mengerjakan amalan tersebut secara lahiriah dan sempat menghadirkan hatinya walau sekejap.
وكيف لا والذي صلى مع الحدث ناسياً صلاته باطلة عند الله تعالى ولكن له أجر ما يحسب فعله وعلى قدر قصوره وعذره ومع هذا الرجاء فيخشى أن يكون حاله أشد من حال التارك وكيف لا والذي يحضر الخدمة ويتهاون بالحضرة ويتكلم بكلام الغافل المستحقر أشد حالاً من الذي يعرض عن الخدمة وإذا تعارض أسباب الخوف والرجاء وصار الأمر مخطرا في نفسه فإليك الخيرة بعده في الاحتياط والتساهل
Bagaimana tidak demikian? Seseorang yang shalat dalam keadaan berhadas karena lupa, shalatnya batal di sisi Allah Ta'ala, tetapi ia tetap memperoleh pahala atas anggapan baik dalam perbuatannya, sesuai kadar keterbatasan dan uzurnya. Meskipun ada harapan (raja') ini, namun tetap dikhawatirkan keadaannya bisa lebih buruk daripada keadaan orang yang meninggalkan shalat. Bagaimana tidak? Orang yang menghadiri pengabdian tetapi meremehkan tatap muka di hadapan Raja serta mengucapkan perkataan orang lalai yang meremehkan, sungguh keadaannya lebih buruk daripada orang yang berpaling dari pengabdian sama sekali. Apabila sebab-sebab rasa takut (khauf) dan harapan (raja') saling bertentangan serta perkaranya menjadi sangat berisiko, maka hak memilih selanjutnya ada padamu antara mengambil jalan kehati-hatian (ithiyath) atau bersikap mempermudah (tasahul).
ومع هذا فلا مطمع في مخالفة الفقهاء فيما أفتوا به من الصحة مع الغفلة فإن ذلك من ضرورة الفتوى كما سبق التنبيه عليه وَمَنْ عَرَفَ سِرَّ الصَّلَاةِ عَلِمَ أَنَّ الْغَفْلَةَ تضادها
Kendati demikian, tidak ada alasan untuk menyelisihi para ahli fiqih mengenai apa yang telah mereka fatwakan tentang keabsahan shalat beserta kelalaian, karena hal itu termasuk keniscayaan fatwa sebagaimana telah diperingatkan sebelumnya. Dan barang siapa mengenali rahasia shalat, niscaya ia mengetahui bahwa kelalaian itu bertentangan dengan hakikat shalat.
ولكن قد ذكرنا في باب الفرق بين العلم الباطن والظاهر في كتاب قواعد العقائد أن قصور الخلق أحد الأسباب المانعة عن التصريح بكل ما ينكشف من أسرار الشرع
Namun telah kami sebutkan dalam bab perbedaan antara ilmu batin dan ilmu lahir pada Kitab Qawa'id al-'Aqa'id (Kaidah-Kaidah Akidah), bahwa keterbatasan manusia merupakan salah satu sebab yang menghalangi dari menyatakannya secara terang-terangan semua rahasia syariat yang tersingkap.
فلنقتصر على هذا القدر من البحث فإن فيه مقنعاً للمريد الطالب لطريق الآخرة
Maka cukuplah kita membatasi pada kadar pembahasan ini, karena padanya terdapat kecukupan bagi seorang murid yang menuntut jalan akhirat.
وأما المجادل المشغب فلسنا نقصد مخاطبته الآن وحاصل الكلام أن حضور القلب هو روح الصلاة وأن أقل ما يبقى به رمق الروح الحضور عند التكبير
Adapun orang yang suka mendebat dan membuat kekacauan, kita tidak bermaksud untuk berbicara dengannya saat ini. Kesimpulan dari pembahasan ini adalah bahwa kehadiran hati (hudhurul qalb) merupakan ruh shalat, dan kadar minimal yang menyisa dengannya sisa-sisa kehidupan ruh adalah kehadiran hati ketika takbir.
فالنقصان منه هلاك وبقدر الزيادة عليه تنبسط الروح في أجزاء الصلاة
Maka berkurangnya kehadiran hati dari kadar itu adalah kebinasaan, dan sebanding dengan bertambahnya kehadiran hati melebihi kadar itu, ruh akan meluas menyelimuti bagian-bagian shalat.
وكم من حي لا حراك به قريب من ميت فصلاة الغافل في جميعها إلا عند التكبير كمثل حي لا حراك به نسأل الله حسن العون
Betapa banyak orang hidup yang tidak bergeming, yang keadaannya dekat dengan orang mati. Maka shalatnya orang yang lalai pada seluruh bagiannya kecuali saat takbir, adalah seperti orang hidup yang tidak bergeming sama sekali. Kita memohon kepada Allah sebaik-baik pertolongan.