الباب الثالث في الشروط الباطنة من أعمال القلب

بيان المعاني الباطنة التي تتم بها حياة الصلاة

بيان المعاني الباطنة التي تتم بها حياة الصلاة

بيان المعاني الباطنة التي تتم بها حياة الصلاة

Penjelasan tentang Makna-Makna Batin yang Mengesempurnakan Kehidupan Shalat

إعلم أن هذه المعاني تكثر العبارات عنها ولكن يجمعها ست جمل وهي حُضُورُ الْقَلْبِ وَالتَّفَهُّمُ وَالتَّعْظِيمُ وَالْهَيْبَةُ وَالرَّجَاءُ وَالْحَيَاءُ

Ketahuilah bahwa makna-makna ini memiliki banyak ungkapan, namun semuanya terhimpun dalam enam poin pokok, yaitu: hadirnya hati (hudhurul qalb), pemahaman (attafahhum), pengagungan (atta'dhim), rasa segan penuh keagungan (al-haibah), harapan (ar-raja'), dan rasa malu (al-haya').

فَلْنَذْكُرْ تَفَاصِيلَهَا ثُمَّ أَسْبَابَهَا ثُمَّ الْعِلَاجَ فِي اكْتِسَابِهَا

Maka hendaklah kita sebutkan rinciannya, kemudian sebab-sebabnya, lalu terapi dalam mengusahakannya.

أَمَّا التَّفَاصِيلُ فَالْأَوَّلُ حُضُورُ الْقَلْبِ وَنَعْنِي بِهِ أَنْ يَفْرَغَ الْقَلْبُ عَنْ غَيْرِ مَا هُوَ مُلَابِسٌ لَهُ وَمُتَكَلِّمٌ بِهِ فَيَكُونُ الْعِلْمُ بِالْفِعْلِ وَالْقَوْلِ مَقْرُونًا بِهِمَا وَلَا يَكُونُ الْفِكْرُ جائلاً في غيرهما ومهما انصرف في الفكر عن غير ما هو فيه وكان في قلبه ذكر لما هو فيه ولم يكن فيه غفلة عن كل شيء فقد حصل حضور القلب ولكن التفهم لمعنى الكلام أمر وراء حضور القلب فربما يكون القلب حاضراً مع اللفظ ولا يكون حاضراً مع معنى اللفظ فاشتمال القلب على العلم بمعنى اللفظ هو الذي أردناه بالتفهم

Adapun rinciannya: Yang pertama adalah hadirnya hati (hudhurul qalb). Yang kami maksud darinya adalah agar hati kosong dari selain apa yang sedang ia jalani dan apa yang sedang ia ucapkan, sehingga pengetahuan tentang perbuatan dan perkataan itu menyertai keduanya, dan pikiran tidak berkelana pada selain keduanya. Apabila pikiran berpaling dari selain apa yang sedang ia jalani, dan di dalam hatinya ada kesadaran atas apa yang sedang ia lakukan tanpa ada kelalaian dari segala sesuatu, maka sungguh hadirnya hati telah terwujud. Akan tetapi, pemahaman (attafahhum) terhadap makna perkataan adalah perkara lain di balik sekadar hadirnya hati; sebab bisa jadi hati hadir bersama lafal namun tidak hadir bersama makna dari lafal tersebut. Maka terliputinya hati oleh pengetahuan akan makna lafal itulah yang kami maksud dengan pemahaman.

وهذا مقام يتفاوت الناس فيه إذ ليس يشترك الناس في تفهم المعاني للقرآن والتسبيحات

Dan ini merupakan tingkatan (maqam) yang manusia berbeda-beda di dalamnya, sebab manusia tidaklah sama dalam memahami makna-makna Al-Qur'an dan bacaan-bacaan tasbih.

وَكَمْ مِنْ مَعَانٍ لَطِيفَةٍ يَفْهَمُهَا الْمُصَلِّي فِي أثناء الصلاة ولم يكن قد خطر بقلبه ذلك قبله ومن هذا الوجه كانت الصلاة ناهية عن الفحشاء والمنكر فإنها تفهم أموراً تلك الأمور تمنع عن الفحشاء لا محالة

Betapa banyak makna yang halus dipahami oleh orang yang shalat di tengah-tengah shalatnya, yang mana hal itu belum pernah terlintas di hatinya sebelum itu. Dari sisi inilah shalat berdaya mencegah dari perbuatan keji dan munkar; sebab shalat memberikan pemahaman tentang berbagai hal yang niscaya mencegah dari perbuatan keji tersebut.

وأما التعظيم فهو أمر وراء حضور القلب والفهم إذ الرجل يخاطب عبده بكلام هو حاضر القلب

Adapun Ta'dzim (pengagungan), ia adalah sesuatu di luar kehadiran hati (khudurul qalb) dan pemahaman. Sebab, seorang majikan bisa saja berbicara kepada hambanya dengan perkataan yang hatinya hadir padanya…

فيه ومتفهم لمعناه ولا يكون معظماً له فالتعظيم زائد عليهما

…dan ia memahami maknanya, tetapi ia tidak mengagungkannya. Maka Ta'dzim adalah hal yang bernilai tambah melebihi keduanya (kehadiran hati dan pemahaman).

وأما الهيبة فزائدة على التعظيم بل هي عبارة عن خوف منشؤه التعظيم لأن من لا يخاف لا يسمى هائباً والمخافة من العقرب وسوء خلق العبد وما يجري مجراه من الأسباب الخسيسة لا تسمى مهابة بل الخوف من السلطان المعظم يسمى مهابة والهيبة خوف مصدرها الإجلال

Adapun Haibah (rasa segan/gentar), ia bernilai tambah melebihi Ta'dzim; bahkan ia merupakan ungkapan dari rasa takut yang bersumber dari pengagungan. Sebab, barangsiapa yang tidak takut tidaklah dinamai bersikap haibah. Rasa takut kepada kalajengking, akhlak hamba yang buruk, dan sebab-sebab hina semacamnya tidaklah dinamai haibah; melainkan takut kepada penguasa yang diagungkan itulah yang dinamai haibah. Jadi, haibah adalah rasa takut yang bersumber dari ijlal (penghormatan dan pengagungan).

وأما الرجا فلا شك أنه زائد فكم من معظم ملكاً من الملوك يهابه أو يخاف سطوته ولكن لا يرجو مثوبته

Adapun Raja' (pengharapan), maka tidak diragukan lagi bahwa ia bernilai tambah. Betapa banyak orang yang mengagungkan seorang raja dari kalangan para raja, merasa segan kepadanya atau takut akan kekuasaannya, namun ia tidak mengharapkan ganjaran pahalanya.

والعبد ينبغي أن يكون راجياً بصلاته ثواب الله ﷿ كما أنه خائف بتقصيره عقاب الله ﷿ وأما الحياء فهو زائد على الجملة لأن مستنده استشعار تقصير وتوهم ذنب ويتصور التعظيم والخوف والرجاء من غير حياء حيث لا يكون توهم تقصير وارتكاب ذَنْبٍ

Dan seorang hamba sepatutnya mengharapkan pahala Allah Azza wa Jalla melalui shalatnya, sebagaimana ia takut akan siksa Allah Azza wa Jalla akibat kelalaiannya. Adapun Haya' (rasa malu), ia bernilai tambah atas keseluruhan makna tersebut, karena landasannya adalah menyadari kekurangan (ketidaksempurnaan) dan merasa telah berbuat dosa. Seseorang bisa saja membayangkan Ta'dzim, Khauf, dan Raja' tanpa adanya rasa malu, yaitu ketika tidak ada persangkaan akan kelalaian maupun perbuatan dosa.

وَأَمَّا أَسْبَابُ هَذِهِ الْمَعَانِي السِّتَّةِ فَاعْلَمْ أَنَّ حُضُورَ الْقَلْبِ سَبَبُهُ الْهِمَّةُ فَإِنَّ قَلْبَكَ تَابِعٌ لِهِمَّتِكَ فَلَا يَحْضُرُ إِلَّا فِيمَا يُهِمُّكَ

Adapun sebab-sebab dari keenam makna ini, maka ketahuilah bahwa hadirnya hati (khudurul qalb) disebabkan oleh kesungguhan tekad (himmah). Sesungguhnya hatimu mengikuti himmah-mu; ia tidak akan hadir kecuali pada hal-hal yang menjadi perhatian utamamu.

وَمَهْمَا أَهَمَّكَ أَمْرٌ حَضَرَ الْقَلْبُ فِيهِ شَاءَ أَمْ أَبَى فَهُوَ مَجْبُولٌ عَلَى ذَلِكَ وَمُسَخَّرٌ فِيهِ

Setiap kali suatu perkara menjadi penting bagimu, maka hati akan hadir di dalamnya, baik ia mau ataupun tidak; karena hati memang diciptakan secara alami dan ditundukkan untuk hal itu.

وَالْقَلْبُ إِذَا لَمْ يَحْضُرْ فِي الصَّلَاةِ لَمْ يَكُنْ مُتَعَطِّلًا بَلْ جَائِلًا فِيمَا الْهِمَّةُ مَصْرُوفَةٌ إِلَيْهِ مِنْ أُمُورِ الدُّنْيَا فَلَا حِيلَةَ وَلَا عِلَاجَ لِإِحْضَارِ الْقَلْبِ إِلَّا بِصَرْفِ الْهِمَّةِ إِلَى الصَّلَاةِ وَالْهِمَّةُ لَا تَنْصَرِفُ إِلَيْهَا مَا لَمْ يَتَبَيَّنْ أَنَّ الْغَرَضَ الْمَطْلُوبَ مَنُوطٌ بِهَا وَذَلِكَ هُوَ الْإِيمَانُ وَالتَّصْدِيقُ بِأَنَّ الْآخِرَةَ خَيْرٌ وأبقى وأن الصلاة وسيلة إليها فإذا أضيف هذا إلى حقيقة العلم بحقارة الدنيا ومهماتها حصل من مجموعها حضور القلب في الصلاة وبمثل هذه العلة يحضر قلبك إذا حضرت بين يدي بعض الأكابر ممن لا يقدر على مضرتك ومنفعتك فإذا كان لا يحضر عند المناجاة مع ملك الملوك الذي بيده الملك والملكوت والنفع والضر فلا تظنن أن له سبباً سوى ضعف الإيمان فاجتهد الآن في تقوية الإيمان وطريقه يستقصى في غير هذا الموضع وَأَمَّا التَّفَهُّمُ فَسَبَبُهُ بَعْدَ حُضُورِ الْقَلْبِ إِدْمَانُ الْفِكْرِ وَصَرْفُ الذِّهْنِ إِلَى إِدْرَاكِ الْمَعْنَى وَعِلَاجُهُ ما هو علاج إحضار القلب مَعَ الْإِقْبَالِ عَلَى الْفِكْرِ وَالتَّشَمُّرِ لِدَفْعِ الْخَوَاطِرِ

Hati, apabila tidak hadir di dalam shalat, tidaklah menganggur, melainkan sedang mengembara pada hal-hal duniawi yang menjadi tumpuan himmah-nya. Maka tidak ada kiat dan obat untuk menghadirkan hati selain dengan memalingkan himmah (fokus perhatian) kepada shalat. Dan himmah tidak akan berpaling kepadanya selama belum jelas bahwa tujuan yang dicari itu bergantung pada shalat. Hal itu adalah iman dan pembenaran bahwa akhirat itu lebih baik dan lebih kekal, serta bahwa shalat adalah perantara menuju kepadanya. Apabila hal ini ditambahkan pada hakikat pengetahuan tentang kehinaan dunia dan segala urusannya, maka dari gabungan seluruhnya akan terwujud kehadiran hati dalam shalat. Dengan alasan serupa, hatimu hadir tatkala engkau berdiri di hadapan sebagian tokoh agung yang tidak memiliki kuasa untuk memberi mudarat maupun manfaat bagimu. Maka jika hatimu tidak hadir saat bermunajat kepada Raja Segala Raja—yang di tangan-Nya terdapat kerajaan, kekuasaan, manfaat, dan mudarat—janganlah engkau mengira ada sebab lain selain dari lemahnya iman. Oleh karena itu, bersungguh-sungguhlah sekarang dalam menguatkan iman, dan jalannya akan dikupas secara mendalam di tempat lain selain dari bab ini. Adapun Tafahhum (pemahaman makna), sebabnya setelah kehadiran hati adalah membiasakan berpikir mendalam (idmanul fikr) dan memalingkan benak untuk menangkap makna. Obatnya sama seperti obat menghadirkan hati, disertai penyerahan diri pada permenungan dan kesiapsiagaan untuk menolak lintasan-lintasan pikiran (khawatir).

وعلاج دفع الخواطر الشاغلة قَطْعُ مَوَادِّهَا أَعْنِي النُّزُوعَ عَنْ تِلْكَ الْأَسْبَابِ التي تنجذب الخواطر إليها وما لم تنقطع تلك المواد لا تنصرف عنها الخواطر فمن أحب شيئاً أكثر ذكره فذكر المحبوب يهجم على القلب بضرورة لذلك ترى أن من أحب غير الله لا تصفو له صلاة عن الخواطر

Obat untuk menolak lintasan-lintasan pikiran yang mengganggu adalah dengan memutus sumber-sumbernya, yaitu mencabut diri dari sebab-sebab yang menarik lintasan pikiran tersebut kepadanya. Selama sumber-sumber itu belum terputus, lintasan pikiran tidak akan berpaling darinya. Barangsiapa mencintai sesuatu, ia niscaya akan sering mengingatnya, sehingga ingatan kepada yang dicintai akan menyerbu ke dalam hati secara tak terhindarkan. Oleh karena itu, engkau melihat orang yang mencintai selain Allah, shalatnya tidak akan murni bersih dari gangguan lintasan pikiran.

وأما التعظيم فهي حالة للقلب تتولد من معرفتين إحداهما معرفة جلال اللَّهِ ﷿ وَعَظَمَتُهُ وَهُوَ مِنْ أُصُولِ الإيمان فإن من لا يعتقد عظمته لا تذعن النفس لتعظيمه

Adapun Ta'dzim (pengagungan), ia adalah suatu keadaan hati yang terpancar dari dua ma'rifah (pengetahuan). Salah satunya adalah ma'rifah tentang keagungan Allah Azza wa Jalla dan kebesaran-Nya, dan ini termasuk dari pokok-pokok iman; sebab barangsiapa yang tidak meyakini keagungan-Nya, jiwanya tidak akan tunduk untuk mengagungkan-Nya.

الثَّانِيَةُ مَعْرِفَةُ حَقَارَةِ النَّفْسِ وَخِسَّتِهَا وَكَوْنِهَا عَبْدًا مُسَخَّرًا مَرْبُوبًا حَتَّى يَتَوَلَّدَ مِنَ الْمَعْرِفَتَيْنِ الِاسْتِكَانَةُ وَالِانْكِسَارُ وَالْخُشُوعُ لِلَّهِ سُبْحَانَهُ فَيُعَبَّرُ عَنْهُ بِالتَّعْظِيمِ وما لم تمتزج معرفة حقارة النفس بمعرفة جلال الله لا تنتظم حالة التعظيم والخشوع فإن المستغني عن غيره الآمن على نفسه يجوز أن يعرف من غيره صفات العظمة ولا يكون الخشوع والتعظيم حاله لأن القرينة الأخرى وهي معرفة حقارة النفس وحاجتها لم تقترن إليه وَأَمَّا الْهَيْبَةُ وَالْخَوْفُ فَحَالَةٌ لِلنَّفْسِ تَتَوَلَّدُ مِنَ الْمَعْرِفَةِ بِقُدْرَةِ اللَّهِ وَسَطْوَتِهِ وَنُفُوذِ مَشِيئَتِهِ فِيهِ مَعَ قِلَّةِ الْمُبَالَاةِ بِهِ وَأَنَّهُ لَوْ أَهْلَكَ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ لَمْ يَنْقُصْ مِنْ مُلْكِهِ ذَرَّةٌ هذا مع مطالعة ما يجري على الأنبياء والأولياء من المصائب وأنواع البلاء مع القدرة على الدفع على خلاف ما يشاهد من ملوك الأرض

Yang kedua adalah ma'rifah tentang kehinaan diri (nafsu) dan kerendahannya, serta keberadaannya sebagai hamba yang ditundukkan lagi diatur; sehingga terpancar dari kedua ma'rifah tersebut rasa rendah diri (istikanah), kehancuran hati (inkisar), dan kekhusyukan kepada Allah Subhanahu, yang kemudian diungkapkan dengan Ta'dzim. Selama ma'rifah akan kehinaan diri tidak berpadu dengan ma'rifah akan keagungan Allah, keadaan Ta'dzim dan Khusyuk tidak akan tercipta secara utuh. Sebab, orang yang merasa berkecukupan dari yang lain dan merasa aman atas dirinya, bisa saja ia mengetahui sifat-sifat keagungan pada orang lain, namun khusyuk dan pengagungan tidak menjadi keadaannya, karena pasangan yang satunya lagi—yaitu ma'rifah akan kehinaan diri dan kebutuhannya—belum tertaut padanya. Adapun Haibah (rasa gentar) dan Khauf (rasa takut), ia adalah keadaan jiwa yang timbul dari ma'rifah akan kekuasaan Allah, kepatutan hukuman-Nya, dan berlakunya kehendak-Nya atas dirinya, disertai kesadaran bahwa Allah tidak bergantung padanya; sekiranya Dia membinasakan orang-orang terdahulu dan yang kemudian, tidak akan berkurang kerajaan-Nya walau seberat zarrah. Hal ini ditambah dengan meneliti apa yang menimpa para nabi dan wali berupa musibah dan aneka ragam cobaan padahal Dia kuasa menolaknya, berbeda dengan apa yang disaksikan pada raja-raja bumi.

وبالجملة كلما زاد العلم بالله زادت الخشية والهيبة وسيأتي أسباب ذلك في كتاب الخوف من ربع المنجيات وَأَمَّا الرَّجَاءُ فَسَبَبُهُ مَعْرِفَةُ لُطْفِ اللَّهِ ﷿ وَكَرَمِهِ وَعَمِيمِ إِنْعَامِهِ وَلَطَائِفِ صُنْعِهِ وَمَعْرِفَةُ صِدْقِهِ فِي وَعْدِهِ الْجَنَّةَ بِالصَّلَاةِ فَإِذَا حَصَلَ الْيَقِينُ بِوَعْدِهِ وَالْمَعْرِفَةُ بِلُطْفِهِ انْبَعَثَ مِنْ مَجْمُوعِهِمَا الرَّجَاءُ لَا مَحَالَةَ وَأَمَّا الْحَيَاءُ فَبِاسْتِشْعَارِهِ التَّقْصِيرَ في العبادة وعلمه بالعجز عن القيام بعظيم حَقِّ اللَّهِ ﷿ وَيُقَوِّي ذَلِكَ بِالْمَعْرِفَةِ بعيوب النفس وآفاتها وقلة إخلاصها وخبث دخلتها وَمَيْلِهَا إِلَى الْحَظِّ الْعَاجِلِ فِي جَمِيعِ أَفْعَالِهَا مَعَ الْعِلْمِ بِعَظِيمِ مَا يَقْتَضِيهِ جَلَالُ اللَّهِ ﷿ وَالْعِلْمِ

Singkatnya, setiap kali ilmu (pengetahuan) tentang Allah bertambah, bertambah pulalah rasa takut (khasyyah) dan gentar (haibah) kepada-Nya. Sebab-sebab hal ini akan dijelaskan nanti dalam Kitab Al-Khauf (Rasa Takut) pada Rubu' Al-Munjiyat. Adapun Raja' (pengharapan), sebabnya adalah pengetahuan tentang kelembutan Allah Azza wa Jalla, kemurahan-Nya, keumuman nikmat-Nya, kehalusan ciptaan-Nya, serta pengetahuan akan kebenaran janji-Nya berupa surga bagi yang mendirikan shalat. Apabila keyakinan akan janji-Nya dan pengetahuan akan kelembutan-Nya telah terwujud, maka dari perpaduan keduanya niscaya akan bangkitlah sifat Raja'. Adapun Haya' (rasa malu), ia timbul karena menyadari ketidaksempurnaannya dalam beribadah dan pengetahuannya akan kelemahan diri untuk memenuhi hak Allah Azza wa Jalla yang sangat agung. Hal itu diperkuat dengan ma'rifah tentang cacat-cacat diri, penyakit-penyakitnya, minimnya keikhlasan, keburukan niat tersembunyinya, serta kecenderungannya pada bagian keduniaan yang segera dalam seluruh perbuatannya, beserta pengetahuan akan besarnya tuntutan keagungan Allah Azza wa Jalla, dan pengetahuan…

بِأَنَّهُ مُطَّلِعٌ عَلَى السِّرِّ وَخَطِرَاتِ الْقَلْبِ وَإِنْ دَقَّتْ وَخَفِيَتْ وَهَذِهِ الْمَعَارِفُ إِذَا حَصَلَتْ يَقِينًا انْبَعَثَ مِنْهَا بِالضَّرُورَةِ حَالَةٌ تُسَمَّى الْحَيَاءَ فَهَذِهِ أَسْبَابُ هَذِهِ الصِّفَاتِ وَكُلُّ مَا طُلِبَ تَحْصِيلُهُ فَعِلَاجُهُ إِحْضَارُ سَبَبِهِ فَفِي مَعْرِفَةِ السَّبَبِ مَعْرِفَةُ الْعِلَاجِ

…bahwa Dia Mahamengetahui rahasia dan lintasan-lintasan hati sekecil dan tersembunyi apa pun itu. Apabila pengetahuan-pengetahuan ini diperoleh secara yakin, niscaya akan terpancar darinya suatu keadaan yang dinamai Haya' (rasa malu). Inilah sebab-sebab dari sifat-sifat tersebut. Dan setiap hal yang dituntut untuk dicapai, obat penyembuhannya adalah dengan menghadirkan sebabnya; maka dalam mengenali sebab terdapat pengetahuan tentang obat penyembuhnya.

وَرَابِطَةُ جَمِيعِ هَذِهِ الْأَسْبَابِ الْإِيمَانُ

Dan pengikat dari seluruh sebab-sebab ini adalah iman…

وَالْيَقِينُ أعني به هذه المعارف التي ذكرناها ومعنى كونها يقيناً انتفاء الشك واستيلاؤها على القلب كما سبق في بيان اليقين من كتاب العلم وبقدر اليقين يخشع القلب ولذلك قالت عائشة ﵂ كان رسول الله ﷺ يحدثنا ونحدثه فإذا حضرت الصلاة كأنه لم يعرفنا ولم نعرفه وقد روي أن الله سبحانه أوحى إلى موسى ﵇ يا موسى إذا ذكرتني فاذكرني وأنت تنتفض أعضاؤك وكن عند ذكري خاشعاً مطمئناً وإذا ذكرتني فاجعل لسانك من وراء قلبك وإذا قمت بين يدي فقم قيام العبد الذليل وناجني بقلب وجل ولسان صادق وروي أن الله تعالى أوحى إليه قل لعصاة أمتك لا يذكروني فإني آليت على نفسي أن من ذكرني ذكرته فإذا ذكروني ذكرتهم باللعنة هذا في عاص غير غافل في ذكره فكيف إذا اجتمعت الغفلة والعصيان وباختلاف المعاني التي ذكرناها في القلوب انقسم الناس إلى غافل يتمم صلاته ولم يحضر قلبه في لحظة منها وإلى من يتمم ولم يغب قلبه في لحظة بل ربما كان مستوعب الهم بها بحيث لا يحس بما يجري بين يديه

…serta yaqin (keyakinan)—yang saya maksud dengannya adalah ma'rifah-ma'rifah yang telah kami sebutkan ini. Makna dari keberadaannya sebagai keyakinan adalah sirnanya keraguan dan menguasainya hal tersebut atas hati, sebagaimana telah dijelaskan dalam pemaparan tentang Yaqin pada Kitab Al-'Ilm. Seberapa besar kadar keyakinan, sebesar itu pulalah hati akan khusyuk. Oleh karena itu, Sayyidatinā 'Aisyah radhiyallāhu 'anhā berkata: 'Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam pernah berbincang-bincang dengan kami dan kami pun berbincang-bincang dengan beliau. Namun apabila waktu shalat telah tiba, seolah-olah beliau tidak mengenali kami dan kami pun tidak mengenali beliau.' Sungguh telah diriwayatkan bahwa Allah Subhanahu berwahyu kepada Nabi Musa 'alaihissalām: 'Wahai Musa, apabila engkau mengingat-Ku, maka ingatlah Aku dalam keadaan anggota tubuhmu gemetar, dan jadilah engkau saat mengingat-Ku dalam keadaan khusyuk lagi tenang. Apabila engkau mengingat-Ku, jadikanlah lidahmu berada di belakang hatimu. Dan jika engkau berdiri di hadapan-Ku, berdirilah seperti berdirinya hamba yang hina, serta bermunajatlah kepada-Ku dengan hati yang takut dan lidah yang jujur.' Diriwayatkan pula bahwa Allah Ta'ala berwahyu kepadanya: 'Katakanlah kepada para pemaksiat dari umatmu agar mereka tidak mengingat-Ku; sebab Aku telah bersumpah atas diri-Ku bahwa barangsiapa mengingat-Ku, Aku akan mengingatnya. Maka apabila mereka mengingat-Ku, Aku mengingat mereka dengan laknat.' Ini adalah ancaman bagi pelaku maksiat yang tidak lalai dalam ingatnya, maka bagaimana lagi jika kelalaian dan kemaksiatan itu berkumpul? Dengan berbedanya makna-makna yang telah kami sebutkan ini di dalam hati, manusia terbagi menjadi: orang lalai yang menyempurnakan shalatnya padahal hatinya tidak hadir sekejap pun di dalamnya; dan orang yang menyempurnakan shalatnya sementara hatinya tidak pernah absen sekejap pun, bahkan terkadang seluruh himmah-nya terserap oleh shalat sehingga ia tidak merasakan apa yang terjadi di hadapannya.

ولذلك لم يحس مسلم بن يسار بسقوط الاسطوانة في المسجد اجتمع الناس عليها

Oleh karena itulah, Muslim bin Yasar tidak merasakan robohnya tiang di dalam masjid yang membuat orang-orang berkerumun mendatanginya.

وبعضهم كان يحضر الجماعة مدة ولم يعرف قط من على يمينه ويساره

Dan sebagian dari mereka menghadiri shalat berjamaah dalam waktu yang lama, namun tidak pernah mengetahui sama sekali siapa yang ada di sebelah kanan dan kirinya.

ووجيب قلب إبراهيم صلوات الله عليه وسلامه كان يسمع على ميلين

Bahkan gemuruh detak hati Nabi Ibrahim shalawatullāhi 'alaihi wa salāmuhu dapat terdengar dari jarak sejauh dua mil.

وجماعة كانت تصفر وجوههم وترتعد فرائصهم

Dan terdapat sekelompok orang dari kaum shalihin yang wajah-wajah mereka menjadi pucat pasi dan tubuh mereka gemetar hebat ketika berdiri untuk shalat.

وكل ذلك غير مستبعد فإن أضعافه مشاهد في همم أهل الدنيا وخوف ملوك الدنيا مع عجزهم وضعفهم وخساسة الحظوظ الحاصلة منهم حتى يدخل الواحد على ملك أو وزير ويحدثه بمهمته ثم يخرج ولو سئل عمن حواليه أو عن ثوب الملك لكان لا يقدر على الإخبار عنه لاشتغال همه به عن ثوبه وعن الحاضرين حواليه ولكل درجات مما عملوا فحظ كل واحد من صلاته بقدر خوفه وخشوعه وتعظيمه فإن موضع نظر الله سبحانه القلوب دون ظاهر الحركات

Semua hal itu bukanlah sesuatu yang mustahil, sebab kelipatannya dapat disaksikan pada hasrat para pemburu dunia dan rasa takut mereka kepada raja-raja dunia—padahal raja-raja itu memiliki kelemahan, kekurangan, dan keutamaan yang hina—hingga seseorang masuk menemui raja atau menteri, membicarakan urusan pentingnya, lalu keluar. Jika ia ditanya tentang orang-orang di sekitarnya atau tentang pakaian sang raja, niscaya ia tidak mampu memberitahukannya karena perhatiannya begitu tercurah kepada sang raja hingga mengabaikan pakaian dan orang-orang di sekelilingnya. Dan bagi masing-masing ada tingkatan-tingkatan sesuai dengan apa yang mereka kerjakan. Maka bahagian setiap orang dari shalatnya adalah sebanding dengan kadar rasa takut, kekhusyukan, dan keagungan (Allah) dalam hatinya, karena sesungguhnya tempat pandangan Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah hati, bukan lahiriah gerakan-gerakan.

ولذلك قال بعض الصحابة ﵃ يحشر الناس يوم القيامة على مثال هيئتهم في الصلاة من الطمأنينة والهدوء ومن وجود النعيم بها واللذة ولقد صدق فإنه يحشر كل على ما مات عليه ويموت على ما عاش عليه ويراعى في ذلك حال قلبه لا حال شخصه فمن صفات القلوب تصاغ الصور في الدار الآخرة وَلَا يَنْجُو إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سليم نسأل الله حسن التوفيق بلطفه وكرمه

Oleh karena itu, sebagian Sahabat radhiyallahu 'anhum berkata, "Manusia akan dihimpun pada hari kiamat sesuai dengan gambaran keadaan mereka dalam shalat; baik berupa ketenangan, ketenteraman, serta kenikmatan dan kelezatan yang dirasakan di dalamnya." Sungguh ia benar, karena setiap orang akan dihimpun sesuai keadaan saat ia wafat, dan ia wafat sesuai keadaan saat ia hidup. Yang diperhitungkan dalam hal itu adalah kondisi hatinya, bukan bentuk fisiknya. Sebab dari sifat-sifat hatilah rupa-rupa dibentuk di akhirat kelak; "Dan tidak akan selamat melainkan orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat (bersih)." Kami memohon kepada Allah kebaikan taufik dengan kelembutan dan kemurahan-Nya.