بيان الدواء النافع في حضور القلب
بَيَانُ الدَّوَاءِ النَّافِعِ فِي حُضُورِ الْقَلْبِ
Penjelasan Obat yang Manjur untuk Memelihara Kehadiran Hati
اعْلَمْ أَنَّ الْمُؤْمِنَ لَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ مُعَظِّمًا لِلَّهِ ﷿ وَخَائِفًا مِنْهُ وَرَاجِيًا لَهُ ومستحيياً مِنْ تَقْصِيرِهِ فَلَا يَنْفَكُّ عَنْ هَذِهِ الْأَحْوَالِ بَعْدَ إِيمَانِهِ وَإِنْ كَانَتْ قُوَّتُهَا بِقَدْرِ قُوَّةِ يَقِينِهِ فَانْفِكَاكُهُ عَنْهَا فِي الصَّلَاةِ لَا سَبَبَ لَهُ إِلَّا تَفَرُّقُ الْفِكْرِ وَتَقْسِيمُ الْخَاطِرِ وَغَيْبَةُ الْقَلْبِ عَنِ الْمُنَاجَاةِ وَالْغَفْلَةُ عَنِ الصَّلَاةِ
Ketahuilah bahwa seorang mukmin pasti mengagungkan Allah Azza wa Jalla, takut kepada-Nya, berharap kepada-Nya, dan merasa malu atas kelalaiannya. Ia tidak akan terlepas dari kondisi-kondisi spiritual (ahwal) ini setelah beriman, meskipun kekuatannya sebanding dengan kekuatan keyakinannya. Maka, terlepasnya ia dari kondisi tersebut di dalam shalat tidak lain disebabkan oleh terpecahnya pikiran, terbaginya bisikan hati (khathir), hilangnya kesadaran hati dari bermunajat, dan kelalaian dari shalat.
وَلَا يلهي عَنِ الصَّلَاةِ إِلَّا الْخَوَاطِرُ الْوَارِدَةُ الشَّاغِلَةُ فَالدَّوَاءُ فِي إِحْضَارِ الْقَلْبِ هُوَ دَفْعُ تِلْكَ الْخَوَاطِرِ وَلَا يُدْفَعُ الشَّيْءُ إِلَّا بِدَفْعِ سَبَبِهِ فَلْتَعْلَمْ سَبَبَهُ
Tidak ada yang memalingkan dari shalat melainkan lintasan-lintasan pikiran (khawatir) yang datang dan mengganggu. Maka obat untuk menghadirkan hati adalah menolak lintasan-lintasan pikiran tersebut. Dan tidaklah sesuatu dapat ditolak melainkan dengan menghilangkan penyebabnya, maka ketahuilah penyebabnya!
وَسَبَبُ مَوَارِدِ الْخَوَاطِرِ إِمَّا أَنْ يَكُونَ أمراً خارجاً أو أمراً في ذاته بَاطِنًا
Penyebab datangnya lintasan-lintasan pikiran itu bisa berupa perkara eksternal (lahiriah) atau perkara internal (batiniah) dalam diri sendiri.
أَمَّا الْخَارِجُ فَمَا يَقْرَعُ السَّمْعَ أَوْ يَظْهَرُ لِلْبَصَرِ فَإِنَّ ذَلِكَ قَدْ يَخْتَطِفُ الْهَمَّ حتى يتبعه ويتصرف فِيهِ ثُمَّ تَنْجَرُّ مِنْهُ الْفِكْرَةُ إِلَى غَيْرِهِ ويتسلسل ويكون الإبصار سبباً للافتكار ثم تصير بعض تلك الأفكار سبباً للبعض
Adapun faktor eksternal adalah apa yang tertangkap oleh pendengaran atau tampak oleh penglihatan. Sebab hal itu dapat merampas perhatian hingga hati mengikutinya dan disibukkan dengannya. Kemudian pikiran terseret dari satu hal ke hal lainnya secara berantai; penglihatan menjadi penyebab munculnya pemikiran, lalu sebagian pemikiran itu menjadi pemicu bagi pemikiran yang lain.
وَمَنْ قَوِيَتْ نِيَّتُهُ وَعَلَتْ هِمَّتُهُ لَمْ يُلْهِهِ مَا جَرَى عَلَى حَوَاسِّهِ وَلَكِنَّ الضَّعِيفَ لَا بُدَّ وَأَنْ يَتَفَرَّقَ بِهِ فِكْرُهُ
Barang siapa kuat niatnya dan tinggi tekadnya (himmah), niscaya apa yang ditangkap oleh indranya tidak akan melalaikannya. Akan tetapi, orang yang lemah pasti pikirannya akan terpecah darinya.
وَعِلَاجُهُ قَطْعُ هذه الأسباب بأن يغض بصره أو يصلي في بيت مظلم أَوْ لَا يَتْرُكَ بَيْنَ يَدَيْهِ مَا يَشْغَلُ حِسَّهُ وَيَقْرُبَ مِنْ حَائِطٍ عِنْدَ صَلَاتِهِ حَتَّى لَا تَتَّسِعَ مَسَافَةُ بَصَرِهِ وَيَحْتَرِزَ مِنَ الصَّلَاةِ على الشوارع
Obatnya adalah memutus sebab-sebab ini, yaitu dengan menundukkan pandangan, shalat di dalam kamar yang gelap, tidak membiarkan di hadapannya sesuatu yang mengganggu indranya, mendekat ke dinding saat shalat agar jarak pandangnya tidak meluas, serta menjaga diri dari mengerjakan shalat di jalan-jalan umum,
وَفِي الْمَوَاضِعِ الْمَنْقُوشَةِ الْمَصْنُوعَةِ وَعَلَى الْفُرُشِ الْمَصْبُوغَةِ
di tempat-tempat yang terukir dan dihias, serta di atas hamparan permadani yang berwarna-warni.
ولذلك كان المتعبدون يتعبدون في بيت صغير مظلم سعته قدر السجود ليكون ذلك أجمع للهم
Oleh karena itulah, para ahli ibadah dahulu beribadah di dalam ruangan kecil yang gelap, yang ukurannya hanya seluas tempat sujud, agar hal itu lebih menghimpun konsentrasi (himmah).
والأقوياء منهم كانوا يحضرون المساجد ويغضون البصر ولا يجاوزون به موضع السجود ويرون كمال الصلاة في أن لا يعرفوا من على يمينهم وشمالهم
Sedangkan orang-orang yang kuat di antara mereka menghadiri masjid-masjid sambil menundukkan pandangan dan tidak melampaui tempat sujudnya. Mereka memandang kesempurnaan shalat terletak pada ketidaktahuan mereka tentang siapa yang ada di sebelah kanan dan kiri mereka.
وكان ابن عمر ﵄ لا يدع في موضع الصلاة مصحفاً ولا سيفاً إلا نزعه ولا كتاباً إلا محاه
Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma tidak pernah membiarkan di tempat shalatnya ada mushaf ataupun pedang melainkan ia menyingkirkannya, dan tidak pula tulisan melainkan ia menghapusnya.
وَأَمَّا الْأَسْبَابُ الْبَاطِنَةُ فَهِيَ أَشَدُّ فَإِنَّ مَنْ تشعبت به الهموم في أودية الدنيا لا يَنْحَصِرْ فِكْرُهُ فِي فَنٍّ وَاحِدٍ بَلْ لَا يزال يطير من جانب إلى جانب وغض البصر لا يغنيه فإن ما وقع في القلب من قبل كاف للشغل فَهَذَا طَرِيقُهُ أَنْ يَرُدَّ النَّفْسَ قَهْرًا إِلَى فَهْمِ مَا يَقْرَؤُهُ فِي الصَّلَاةِ وَيُشْغِلَهَا بِهِ عَنْ غَيْرِهِ وَيُعِينُهُ عَلَى ذَلِكَ أَنْ يَسْتَعِدَّ له قبل التحريم بأن يحدد عَلَى نَفْسِهِ ذِكْرَ الْآخِرَةِ وَمَوْقِفَ الْمُنَاجَاةِ وَخَطَرَ الْمَقَامِ بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَهُوَ الْمُطَلِّعُ وَيُفْرِغَ قَلْبَهُ قَبْلَ التَّحْرِيمِ بِالصَّلَاةِ عَمَّا يُهِمُّهُ فَلَا يَتْرُكُ لِنَفْسِهِ شُغْلًا يَلْتَفِتُ إِلَيْهِ خَاطِرُهُ
Adapun sebab-sebab batiniah, maka itu jauh lebih berat. Karena barang siapa yang kegelisahan dan urusannya terpecah-pecah di lembah-lembah dunia, pikirannya tidak akan terbatas pada satu bidang saja, melainkan akan terus terbang dari satu sisi ke sisi lain. Menundukkan pandangan tidak lagi mencukupi baginya, sebab apa yang telah tertanam di dalam hati sebelumnya sudah cukup untuk menyibukkannya. Cara mengatasi hal ini adalah dengan memaksa jiwa untuk memahami apa yang dibacanya dalam shalat dan menyibukkannya dengan bacaan tersebut dari hal lainnya. Hal ini dibantu dengan bersiap diri sebelum takbiratul ihram (tahrim), yaitu dengan memperbarui dalam dirinya ingatan akan akhirat, keadaan bermunajat, dan keagungan berdiri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala Yang Maha Melihat, serta mengosongkan hatinya sebelum takbiratul ihram dari hal-hal yang menyita perhatiannya, sehingga tidak menyisakan kesibukan apa pun yang membuat hatinya berpaling.
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لعثمان بن أبي شيبة إني نسيت أن أقول لك أن تخمر القدر الذي في البيت فإنه لا ينبغي أن يكون في البيت شيء يشغل الناس عن صلاتهم فهذا طريق تسكين الأفكار
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada Utsman bin Abi Syaibah, "Sesungguhnya aku lupa menyuruhmu agar menutup periuk yang ada di dalam rumah, karena sesungguhnya tidak sepatutnya di dalam rumah ada sesuatu yang mengganggu orang-orang dari shalat mereka." Inilah cara untuk menenangkan pikiran.
فإن كان لا يسكن هوائج أَفْكَارِهِ بِهَذَا الدَّوَاءِ الْمُسَكِّنِ فَلَا يُنْجِيهِ إِلَّا الْمُسَهِّلُ الَّذِي يَقْمَعُ مَادَّةَ الدَّاءِ مِنْ أَعْمَاقِ الْعُرُوقِ وَهُوَ أَنْ يَنْظُرَ فِي الْأُمُورِ الصَّارِفَةِ الشاغلة عَنْ إِحْضَارِ الْقَلْبِ وَلَا شَكَّ أَنَّهَا تَعُودُ إلى مهماته وأنها إنما صارت مهمات لشهواته فَيُعَاقِبُ نَفْسَهُ بِالنُّزُوعِ عَنْ تِلْكَ الشَّهَوَاتِ وَقَطْعِ تلك العلائق فكل ما يشغله عن صلاته فهو ضد دينه وجند إبليس عدوه فإمساكه أضر عليه من إخراجه فيتخلص منه بإخراجه كَمَا رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ لَمَّا لَبِسَ الْخَمِيصَةَ الَّتِي أَتَاهُ بِهَا أبو جهم وَعَلَيْهَا عَلَمٌ وَصَلَّى بِهَا نَزَعَهَا بَعْدَ صَلَاتِهِ وَقَالَ ﷺ اذْهَبُوا بِهَا إِلَى أبي جهم فَإِنَّهَا أَلْهَتْنِي آنِفًا عن صلاتي وائتوني بأنبجانية أبي جهم
Jika gejolak pikirannya tidak juga tenang dengan obat penenang ini, maka tidak ada yang dapat menyelamatkannya kecuali pembersih akar penyakit yang mencabut materi penyakit dari kedalaman urat-uratnya. Yaitu dengan melihat perkara-perkara yang memalingkan dan menyibukkannya dari menghadirkan hati. Tidak diragukan lagi bahwa perkara-perkara itu bermuara pada hal-hal yang penting baginya, dan hal itu menjadi penting baginya tidak lain karena syahwatnya. Maka ia harus menghukum dirinya dengan mencabut syahwat-syahwat tersebut dan memutus keterikatan-keterikatan itu. Setiap hal yang menyibukkannya dari shalat adalah musuh agamanya dan tentara iblis, musuhnya. Menyimpannya lebih berbahaya baginya daripada mengeluarkannya, maka ia membebaskan diri darinya dengan membuangnya, sebagaimana diriwayatkan bahwa ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengenakan pakaian bergambar (khamisah) yang dibawakan oleh Abu Jahm lalu beliau shalat dengannya, beliau menanggalkannya seusai shalat dan bersabda, "Bawalah baju ini kembali kepada Abu Jahm, karena sungguh baju ini baru saja melalaikanku dari shalatku, dan bawakanlah kepadaku baju kurung tebal (anbijaniyyah) milik Abu Jahm!"
وأمر رسول الله ﷺ بتجديد شراك نعله ثم نظر إليه في صلاته إذ كان جديداً فأمر أن ينزع منها ويرد الشراك الخلق
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah memerintahkan untuk memperbarui tali sandal beliau, lalu beliau memandangnya dalam shalat karena tali itu masih baru. Maka beliau memerintahkan agar tali baru itu dicabut dari sandalnya dan dikembalikan tali sandal yang lama.
وكان ﷺ قد احتذى نعلاً فأعجبه حسنها فسجد وقال تواضعت لربي ﷿ كي لا يمقتني ثم خرج بها فدفعها إلى أول سائل لقيه ثم أمر علياً ﵁ أن يشتري له نعلين سبتيتين جرداوين فلبسهما
Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam pernah memakai sandal baru yang keindahannya membuat beliau kagum, lalu beliau bersujud dan bersabda, "Aku bertawaduk kepada Tuhanku Azza wa Jalla agar Dia tidak membenciku." Kemudian beliau keluar dengan mengenakan sandal itu dan memberikannya kepada peminta-minta pertama yang beliau temui. Setelah itu beliau memerintahkan Ali radhiyallahu 'anhu untuk membelikan dua sandal dari kulit tanpa bulu (sabtiyyatain) yang polos, lalu beliau mengenakannya.
وكان ﷺ في يده خاتم من ذهب قبل التحريم وكان على المنبر فرماه وقال شغلني هذا نظرة إليه ونظرة إليكم وروي أن أبا طلحة صلى في حائط وفيه شجر فأعجبه دبسي طار في الشجر يلتمس مخرجاً فأتبعه بصره ساعة ثم لم يدركم صلى فذكر لرسول الله ﷺ ما أصابه من الفتنة ثم قال يا رسول الله هو صدقة فضعه حيث شئت
Pernah pula di tangan beliau shallallahu 'alaihi wa sallam ada cincin emas sebelum diharamkan. Saat beliau berada di atas mimbar, beliau melemparkannya seraya bersabda, "Cincin ini telah memalingkanku; sesekali aku memandangnya dan sesekali memandang kalian." Diriwayatkan juga bahwa Abu Thalhah pernah shalat di kebunnya yang rindang dengan pepohonan. Lalu ia terpesona oleh seekor burung tekukur (dubsi) yang terbang di antara pepohonan mencari jalan keluar. Pandangannya mengikuti burung itu sejenak, hingga ia tidak tahu berapa rakaat ia telah shalat. Kemudian ia menceritakan ujian (fitnah) yang menimpanya itu kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu berkata, "Wahai Rasulullah, kebun itu adalah sedekah, maka pergunakanlah sesuai kehendakmu!"
وعن رجل آخر أنه صلى في حائط له والنخل مطوقة بثمرها فنظر إليها فأعجبته ولم يدر كم صلى فذكر ذلك لعثمان ﵁ وقال هو صدقة فاجعله في سبيل الله ﷿
Dari pria lainnya, diriwayatkan bahwa ia shalat di kebun miliknya tatkala pohon-pohon kurma sedang sarat dengan buahnya. Ia memandangnya dan merasa kagum, hingga ia tidak tahu berapa rakaat ia telah shalat. Ia pun menceritakan hal itu kepada Utsman radhiyallahu 'anhu dan berkata, "Kebun ini adalah sedekah, maka jadikanlah ia di jalan Allah Azza wa Jalla."
فباعه عثمان بخمسين ألفاً
Maka Utsman membelinya seharga lima puluh ribu (dirham).
فكانوا يفعلون ذلك قطعاً لمادة الفكر وكفارة لما جرى من نقصان الصلاة وهذا هو الدواء القاطع لمادة العلة ولا يغني غيره
Dahulu mereka melakukan hal itu untuk memutus akar pikiran (gangguan) dan sebagai kafarat atas kekurangan yang terjadi dalam shalat. Inilah obat penawar yang memutus akar penyakit tersebut, dan tidak ada yang dapat menggantikannya.
فأما ما ذكرناه من التلطف بالتسكين والرد إلى فهم الذكر فذلك ينفع في الشهوات الضعيفة والهمم التي لا تشغل إلا حواشي القلب
Adapun apa yang telah kami sebutkan berupa sikap lemah lembut dengan menenangkan (pikiran) dan mengembalikannya pada pemahaman zikir, maka hal itu berguna untuk syahwat (keinginan) yang lemah dan hasrat-hasrat yang hanya menyibukkan bagian luar (tepi) hati.
فأما الشهوة القوية المرهقة فلا ينفع فيها التسكين بل لا تزال تجاذبها وتجاذبك ثم تغلبك وتنقضي جميع صلاتك في شغل المجاذبة
Sedangkan syahwat yang kuat dan amat mendesak, tidaklah berguna padanya sekadar usaha menenangkan. Bahkan, syahwat itu akan terus menarikmu dan engkau pun menariknya, lalu ia mengalahkanmu, hingga seluruh shalatmu habis dalam kesibukan tarik-menarik tersebut.
ومثاله رجل تحت شجرة أراد أن يصفو له فكره وكانت أصوات العصافير تشوش عليه فلم يزل يطيرها بخشبة في يده ويعود إلى فكره فتعود العصافير فيعود إلى التنفير بالخشبة فقيل له إن هذا أسير السواني ولا ينقطع فإن أردت الخلاص فاقطع الشجرة
Permisalannya adalah seorang laki-laki di bawah pohon yang ingin menjernihkan pikirannya, namun suara burung-burung pipit mengganggunya. Ia pun terus mengusirnya dengan kayu di tangannya lalu kembali memusatkan pikiran, tetapi burung-burung itu datang lagi, dan ia pun kembali mengusirnya dengan kayu. Lalu dikatakan kepadanya, 'Sungguh ini adalah usaha yang tak kunjung usai dan tidak akan pernah terputus. Jika engkau ingin terbebas, maka tebanglah pohon itu!'
فكذلك شجرة الشهوات إذا تشعبت وتفرعت أغصانها انجذبت إليها الأفكار انجذاب العصافير إلى الأشجار وانجذاب الذباب إلى الأقذار والشغل يطول في دفعها فإن الذباب كلما ذب آب ولأجله سمي ذباباً
Demikian pula pohon syahwat, apabila telah bercabang-cabang dan beranting-ranting, maka pikiran-pikiran akan tertarik kepadanya sebagaimana burung pipit tertarik pada pepohonan dan lalat tertarik pada kotoran. Usaha untuk mengusirnya akan memakan waktu lama, sebab lalat itu setiap kali diusir (dzubba) ia akan kembali (āba), dan karena itulah ia dinamakan lalat (dzubāb).
فكذلك الخواطر وهذه الشهوات كثيرة وقلما يخلو العبد عنها ويجمعها أصل واحد وهو حب الدنيا وذلك رأس كل خطيئة وأساس كل نقصان ومنبع كل فساد
Begitu pula halnya dengan bisikan-bisikan hati (lintasan pikiran) dan syahwat-syahwat ini, jumlahnya sangat banyak dan jarang sekali seorang hamba terbebas darinya. Semuanya terhimpun dalam satu pangkal, yaitu cinta dunia (hubbud-dunya). Dan itu adalah puncak dari segala kesalahan, dasar dari setiap kekurangan, serta sumber dari segala kerusakan.
ومن انطوى باطنه على حب الدنيا حتى مال إلى شيء منها لا ليتزود منها ولا ليستعين بها على الآخرة فلا يطمعن في أن تصفو له لذة المناجاة في الصلاة
Barang siapa yang batinnya dipenuhi oleh cinta dunia hingga ia condong pada sebagian darinya bukan untuk menjadikannya bekal atau meminta bantuan dengannya demi akhirat, maka janganlah sekali-kali ia berharap dapat merasakan murninya kelezatan bermunajat dalam shalat.
فإن من فرح بالدنيا لا يفرح بالله سبحانه وبمناجاته
Sebab, barang siapa yang bergembira dengan dunia, ia tidak akan bergembira dengan Allah Maha Suci Dia dan tidak pula dengan bermunajat kepada-Nya.
وهمة الرجل مع قرة عينه فإن كانت قرة عينه في الدنيا انصرف لا محالة إليها همه ولكن مع هذا فلا ينبغي أن يترك المجاهدة ورد القلب إلى الصلاة وتقليل الأسباب الشاغلة فهذا هو الدواء المر ولمرارته استبشعته الطباع وبقيت العلة مزمنة وصار الداء عضالاً حتى إن الأكابر اجتهدوا أن يصلوا ركعتين لا يحدثوا أنفسهم فيها بأمور الدنيا فعجزوا عن ذلك فإذن لا مطمع فيه لأمثالنا وليته سلم لنا من الصلاة شطرها أو ثلثها من الوسواس لنكون ممن خلط عملاً صالحاً وآخر سيئاً
Hasrat seseorang itu sejalan dengan penyejuk jiwanya (qurratu 'ain). Jika penyejuk jiwanya ada pada dunia, maka secara pasti hasratnya akan berpaling kepadanya. Namun demikian, tidak sepatutnya ia meninggalkan mujahadah (perjuangan jiwa), mengembalikan hati ke dalam shalat, dan mengurangi sebab-sebab yang menyibukkan. Inilah obat yang pahit; dan karena kepahitannya, watak manusia merasa enggan darinya sehingga penyakit tersebut tetap menahun dan menjadi penyakit yang kronis. Bahkan para ulama besar telah berusaha keras untuk shalat dua rakaat tanpa membisikkan jiwa mereka dengan urusan-urusan duniawi, namun mereka tidak sanggup. Maka jika demikian, tidak ada harapan bagi orang-orang seperti kita untuk mencapainya. Dan aduhai, sekiranya selamat bagi kita setengah atau sepertiga dari shalat kita dari was-was, agar kita termasuk orang-orang yang mencampuradukkan amal saleh dengan amal buruk lainnya.
وعلى الجملة فهمة الدنيا وهمة الآخرة في القلب مثل الماء الذي يصب في قدح مملوء بخل فبقدر ما ندخل فيه من الماء يخرج منه من الخل لا محالة ولا يجتمعان
Kesimpulannya, hasrat duniawi dan hasrat ukhrawi di dalam hati bagaikan air yang dituangkan ke dalam cangkir yang penuh berisi cuka; seukuran air yang kita masukkan ke dalamnya, pasti sebesar itu pula cuka yang akan keluar darinya, dan keduanya tidak akan pernah menyatu.