الباب الثالث في الشروط الباطنة من أعمال القلب

حكايات وأخبار في صلاة الخاشعين رضي الله عنهم

حكايات وأخبار في صلاة الخاشعين رضي الله عنهم

حكايات وأخبار في صلاة الخاشعين ﵃

Kisah-Kisah dan Riwayat tentang Shalat Orang-Orang yang Khusyu' (Semoga Allah Meridhai Mereka)

اعلم أن الخشوع ثمرة الإيمان ونتيجة اليقين الحاصل بجلال الله ﷿ ومن رزق ذلك فإنه يكون خاشعاً في الصلاة وفي غير الصلاة بل في خلوته وفي بيت المال عند الحاجة فإن موجب الخشوع معرفته اطلاع الله تعالى على العبد ومعرفة جلاله ومعرفة تقصير العبد فمن هذه المعارف يتولد الخشوع وليست مختصة بالصلاة ولذلك روي عن بعضهم أنه لم يرفع رأسه إلى السماء أربعين سنة حياء من الله سبحانه وخشوعاً له وكان الربيع بن خيثم من شدة غضه لبصره وإطراقه يظن بعض الناس أنه أعمى وكان يختلف إلى منزل ابن مسعود عشرين سنة فإذا رأته جاريته قالت لابن مسعود صديقك الأعمى قد جاء فكان يضحك ابن مسعود من قولها وكان إذا دق الباب تخرج الجارية إليه فتراه مطرقاً غاضاً بصره وكان ابن مسعود إذا نظر إليه يقول وبشر المخبتين أما والله لو رآك محمد ﷺ لفرح بك وفي لفظ آخر لأحبك وفي لفظ آخر لضحك ومشى ذات يوم مع ابن مسعود في الحدادين فلما نظر إلى الأكوار تنفخ وإلى النار تلتهب صعق وسقط مغشيا عليه وقعد ابن مسعود عند رأسه إلى وقت الصلاة فلم يفق فحمله على ظهره إلى منزله فلم يزل مغشياً عليه إلى مثل الساعة التي صعق فيها ففاتته خمس صلوات وابن مسعود عند رأسه يقول هذا والله هو الخوف

Ketahuilah bahwa kekhusyu'an adalah buah dari iman dan hasil dari keyakinan (yaqin) yang diperoleh melalui kemuliaan Allah Azza wa Jalla. Barangsiapa dikaruniai hal itu, maka ia akan menjadi orang yang khusyu' dalam shalat maupun di luar shalat, bahkan dalam kesendiriannya (khalwah) dan di tempat perbendaharaan harta ketika membutuhkan. Sebab, pendorong kekhusyu'an adalah pengetahuan hamba akan pengawasan (iththila') Allah Ta'ala terhadapnya, pengetahuan akan keagungan-Nya, serta pengetahuan akan kekurangan diri hamba. Dari ma'rifat-ma'rifat inilah lahir kekhusyu'an, dan ia tidak hanya khusus dalam shalat. Oleh karena itu, diriwayatkan dari sebagian mereka bahwa ia tidak pernah mengangkat kepalanya ke langit selama empat puluh tahun karena rasa malu kepada Allah Maha Suci dan tunduk khusyu' kepada-Nya. Ar-Rabi' bin Khutsaim, karena begitu menundukkan pandangannya dan menundukkan kepalanya, sampai sebagian orang menyangkanya buta. Ia sering berkunjung ke rumah Ibn Mas'ud selama dua puluh tahun, sehingga apabila budak wanitanya melihatnya, ia berkata kepada Ibn Mas'ud: "Temanmu yang buta telah datang." Maka Ibn Mas'ud tertawa mendengar ucapannya. Apabila ia mengetuk pintu, budak wanita itu keluar menemuinya dan melihatnya sedang menundukkan kepala serta menundukkan pandangannya. Apabila Ibn Mas'ud memandangnya, beliau berkata: "Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)" [QS. Al-Hajj: 34]. Demi Allah, seandainya Muhammad ﷺ melihatmu, niscaya beliau akan gembira denganmu (dalam riwayat lain: niscaya beliau mencintaimu, dan dalam riwayat lain: niscaya beliau tersenyum). Pada suatu hari, ia berjalan bersama Ibn Mas'ud di lingkungan para pandai besi. Ketika ia melihat ubub (alat peniup api) ditiup dan api berkobar-kobar, ia pingsan dan tersungkur tak sadarkan diri. Ibn Mas'ud duduk di sisi kepalanya hingga waktu shalat tiba, namun ia belum sadar, lalu Ibn Mas'ud menggendongnya di atas punggungnya ke rumahnya. Ia terus pingsan hingga jam yang sama di hari berikutnya saat ia pingsan, sehingga ia terlewat lima waktu shalat, sementara Ibn Mas'ud berada di sisi kepalanya seraya berkata: "Demi Allah, inilah yang dinamakan rasa takut (khauf) yang sejati."

وكان الربيع يقول ما دخلت في صلاة قط فأهمني فيها إلا ما أقول وما يقال لي وكان عامر بن عبد الله من خاشعي المصلين وكان إذا صلى ربما ضربت ابنته بالدف وتحدث النساء بما يردن في البيت ولم يكن يسمع ذلك ولا يعقله وقيل له ذات يوم هل تحدثك نفسك في الصلاة بشيء قال نعم بوقوفي بين يدي الله ﷿ ومنصرفي إحدى الدارين قيل فهل تجد شيئاً مما نجد من أمور الدنيا فقال لأن تختلف الأسنة في أحب إلي من أن أجد في صلاتي ما تجدون وكان يقول لو كشف الغطاء ما ازددت يقيناً

Ar-Rabi' pernah berkata: "Aku tidak pernah masuk ke dalam shalat sekali pun lalu ada hal yang merisaukan hatiku di dalamnya selain apa yang aku ucapkan dan apa yang diucapkan kepadaku." Amir bin Abdillah adalah termasuk orang yang sangat khusyu' dalam shalatnya. Apabila ia shalat, terkadang anak perempuannya memukul rebana dan wanita-wanita berbicara tentang apa yang mereka inginkan di dalam rumah, namun ia tidak mendengarnya dan tidak menyadarinya. Ditanyakan kepadanya pada suatu hari: "Apakah batinmu membicarakan sesuatu di dalam shalat?" Ia menjawab: "Ya, tentang berdiriku di hadapan Allah Azza wa Jalla dan tempat kembalikukah ke salah satu dari dua negeri (surga atau neraka)." Ditanyakan: "Apakah engkau merasakan sesuatu dari apa yang kami rasakan dari urusan-urusan dunia?" Ia menjawab: "Sungguh, ditusuk-tusuk oleh mata tombak di tubuhku lebih aku sukai daripada aku merasakan dalam shalatku apa yang kalian rasakan." Dan ia biasa berkata: "Seandainya tabir (ghitha') dibuka, niscaya tidak bertambah keyakinanku (karena sudah mencapai puncak keyakinan)."

وقد كان مسلم بن يسار منهم وقد نقلنا أنه لم يشعر بسقوط اسطوانة في المسجد وهو في الصلاة

Muslim bin Yasar juga termasuk di antara mereka; telah kami riwayatkan bahwa ia tidak menyadari robohnya sebuah tiang di dalam masjid padahal ia sedang mendirikan shalat.

وتأكل طرف من أطراف بعضهم واحتيج فيه إلى القطع فلم يمكن منه فقيل إنه في الصلاة لا يحس بما يجري عليه فقطع وهو في الصلاة

Bagian dari anggota tubuh salah seorang dari mereka ada yang membusuk sehingga perlu dipotong, namun hal itu tidak memungkinkan dilakukan (karena rasa sakit). Maka dikatakan bahwa ia di dalam shalat tidak merasakan apa yang terjadi padanya, lalu anggota tubuh itu dipotong tatkala ia sedang melaksanakan shalat.

وقال بعضهم الصلاة من الآخرة فإذا دخلت فيها

Sebagian dari mereka berkata: "Shalat itu bagian dari akhirat, maka apabila engkau memasukinya,

خرجت من الدنيا وقيل لآخر هل تحدث نفسك بشيء من الدنيا في الصلاة فقال لا في الصلاة ولا في غيرها

engkau telah keluar dari dunia." Dan ditanyakan kepada yang lain: "Apakah engkau mendapati hatimu membicarakan sesuatu dari urusan dunia dalam shalat?" Ia menjawab: "Tidak dalam shalat dan tidak pula di luar shalat."

وسئل بعضهم هل تذكر في الصلاة شيئاً فقال وهل شيء أحب إلي من الصلاة فأذكره فيها وكان أبو الدرداء ﵁ يقول من فقه الرجل أن يبدأ بحاجته قبل دخوله في الصلاة ليدخل في الصلاة وقلبه فارغ

Sebagian dari mereka ditanya: "Apakah engkau mengingat sesuatu di dalam shalat?" Ia menjawab: "Apakah ada sesuatu yang lebih aku cintai daripada shalat sehingga aku mengingatnya di dalam shalat?" Abu ad-Darda' radhiyallahu 'anhu pernah berkata: "Di antara kefaqihan seseorang adalah ia menyelesaikan hajatnya terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam shalat, agar ia masuk ke dalam shalat sementara hatinya dalam keadaan kosong (dari kesibukan dunia)."

وكان بعضهم يخفف الصلاة خيفة الوسواس وروي أن عمار بن ياسر صلى صلاة فأخفها فقيل له خففت يا أبا اليقظان فقال هل رأيتموني نقصت من حدودها شيئاً قالوا لا قال إني بادرت سهو الشيطان أن رسول الله ﷺ قال إن العبد ليصلي الصلاة لا يكتب له نصفها ولا ثلثها ولا ربعها ولا خمسها ولا سدسها ولا عشرها وكان يقول إنما يكتب للعبد من صلاته ما عقل منها ويقال إن طلحة والزبير وطائفة من الصحابة ﵃ كانوا أخف الناس صلاة وقالوا نبادر بها وسوسة الشيطان

Sebagian dari mereka ada yang mempercepat shalatnya karena takut akan bisikan/waswas (syaitan). Diriwayatkan bahwa Ammar bin Yasir melaksanakan suatu shalat lalu ia mempercepatnya. Ditanyakan kepadanya: "Engkau mempercepatnya, wahai Abu al-Yaqdzan?" Ia menjawab: "Apakah kalian melihat aku mengurangi sesuatu dari batasan-batasannya (rukun/syaratnya)?" Mereka menjawab: "Tidak." Ia berkata: "Sesungguhnya aku mendahului kelalaian dari syaitan, karena Rasulullah ﷺ bersabda: Sesungguhnya seorang hamba mendirikan shalat namun tidak dicatat baginya setengahnya, tidak sepertiganya, tidak seperempatnya, tidak seperlimanya, tidak seperenamnya, dan tidak pula sepersepuluhnya. Beliau juga bersabda: Hanyalah dicatat bagi hamba dari shalatnya apa yang dipahami (dihadirkan hatinya) darinya." Dan dikatakan bahwa Talhah, az-Zubair, serta sekelompok sahabat radhiyallahu 'anhum adalah orang yang paling cepat shalatnya, dan mereka berkata: "Kami mendahului bisikan syaitan dengannya."

وروي أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ ﵁ قال على المنبر إن الرجل ليشيب عارضاه في الإسلام وما أكمل لله تعالى صلاة قيل وكيف ذلك قال لا يتم خشوعها وتواضعها وإقباله على الله ﷿ فيها وسئل أبو العالية عن قوله تعالى الذين هم عن صلاتهم ساهون قال هو الذي يسهو في صلاته فلا يدري على كم ينصرف أعلى شفع أم على وتر وقال الحسن هو الذي يسهو عن وقت الصلاة حتى تخرج وقال بعضهم هو الذي إن صلاها في أول الوقت لم يفرح وإن أخرها عن الوقت لم يحزن فلا يرى تعجيلها خيرا ولا تأخيرا إثماً واعلم أن الصلاة قد يحسب بعضها ويكتب بعضها دون بعض كما دلت الأخبار عليه وإن كان الفقيه يقول إن الصلاة في الصحة لا تتجزأ ولكن ذلك له معنى آخر ذكرناه وهذا المعنى دلت عليه الأحاديث إذ ورد جبر نقصان الفرائض بالنوافل وفي الخبر قال عيسى ﵇ يقول الله تعالى بالفرائض نجا مني عبدي وبالنوافل تقرب إلى عبدي وقال النَّبِيِّ ﷺ قَالَ اللَّهُ تعالى لا ينجو مني عبدي إلا بأداء ما افترضته عليه وَرُوِيَ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ صلى صلاة فترك من قراءتها آية فلما انفتل قال ماذا قرأت فسكت القوم فسأل أبي بن كعب ﵁ فقال قرأت سورة كذا وتركت آية كذا فما ندري أنسخت أم رفعت فقال أنت لها يا أبي ثم أقبل على الآخرين فقال ما بال أقوام يحضرون صلاتهم ويتمون صفوفهم ونبيهم بين أيديهم لا يدرون ما يتلو عليهم من كتاب ربهم ألا إن بني إسرائيل كذا فعلوا فأوحى الله ﷿ إلى نبيهم أن قل لقومك تحضروني أبدانكم وتعطوني ألسنتكم وتغيبون عني بقلوبكم باطل ما تذهبون إليه وهذا يدل على أن استماع ما يقرأ الإمام وفهمه يدل على قراءة السور بنفسه وقال بعضهم إن الرجل يسجد السجدة عنده أنه تقرب بها إلى الله ﷿ ولو قسمت ذنوبه في سجدته على أهل مدينته لهلكوا قيل وكيف يكون ذلك قال يكون ساجداً عند الله وقلبه مصغ إلى هوى ومشاهد لباطل قد استولى عليه

Diriwayatkan bahwa Umar bin al-Khatthab radhiyallahu 'anhu berkata di atas mimbar: "Sesungguhnya seseorang bisa saja beruban kedua cambangnya dalam Islam, namun ia belum pernah menyempurnakan satu shalat pun karena Allah Ta'ala." Ditanyakan: "Bagaimana hal itu bisa terjadi?" Beliau menjawab: "Ia tidak menyempurnakan kekhusyu'annya, ketundukannya, dan keberhadapan hatinya (iqbal) kepada Allah Azza wa Jalla di dalamnya." Abul 'Aliyah ditanya mengenai firman Allah Ta'ala: "(yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya" [QS. Al-Ma'un: 5], ia berkata: "Yaitu orang yang lalai dalam shalatnya sehingga ia tidak tahu atas bilangan berapa ia berpindah (selesai shalat), apakah atas rakaat genap ataukah ganjil." Al-Hasan berkata: "Yaitu orang yang lalai dari waktu shalat hingga waktunya keluar." Sebagian ulama berkata: "Yaitu orang yang jika melaksanakannya di awal waktu ia tidak bergembira, dan jika mengakhirkannya dari waktunya ia tidak bersedih; ia tidak memandang menyegerakannya sebagai kebaikan dan tidak memandang mengenthalkannya sebagai dosa." Ketahuilah bahwa shalat itu terkadang dihitung sebagiannya dan dicatat pahalanya sebagian saja tanpa sebagian yang lain, sebagaimana ditunjukkan oleh riwayat-riwayat, meskipun ahli Fiqih mengatakan bahwa shalat dalam hal keabsahannya tidak dapat dibagi-bagi (la tatajazza'). Namun hal itu (makna fiqih) memiliki dimensi lain yang telah kami sebutkan. Sedangkan makna ini (makna batin) ditunjukkan oleh hadis-hadis, sebagaimana terdapat keterangan tentang penutupan kekurangan shalat fardhu dengan shalat sunnah. Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa Nabi Isa alaihissalam berkata: Allah Ta'ala berfirman: "Dengan amalan-amalan fardhu hamba-Ku selamat dari murka-Ku, dan dengan amalan-amalan sunnah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku." Nabi ﷺ juga bersabda: Allah Ta'ala berfirman: "Tidaklah hamba-Ku selamat dari murka-Ku melainkan dengan menunaikan apa yang telah Aku fardhukan atasnya." Dan diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ pernah mendirikan suatu shalat lalu beliau melewatkan satu ayat dalam bacaannya. Ketika beliau selesai shalat, beliau bersabda: "Apa yang tadi aku baca?" Orang-orang pun diam. Lalu beliau bertanya kepada Ubay bin Ka'ab radhiyallahu 'anhu, maka Ubay berkata: "Engkau membaca surah ini dan melewatkan ayat ini, sehingga kami tidak tahu apakah ayat tersebut dinasakh atau diangkat." Maka Nabi bersabda: "Engkaulah ahlinya, wahai Ubay!" Kemudian beliau menghadap kepada jamaah lainnya dan bersabda: "Mengapa ada kaum yang menghadiri shalat mereka dan menyempurnakan shaf-shaf mereka sementara Nabi mereka ada di hadapan mereka, namun mereka tidak tahu apa yang dibacakan atas mereka dari Kitab Tuhan mereka? Ketahuilah bahwa Bani Israil melakukan hal seperti itu, lalu Allah Azza wa Jalla mewahyukan kepada nabi mereka: Katakanlah kepada kaummu: Kalian menghadirkan tubuh kalian kepada-Ku dan menyerahkan lidah kalian kepada-Ku, tetapi kalian gaib (lalai) dari-Ku dengan hati kalian. Kebatilanlah apa yang kalian tuju itu." Hal ini menunjukkan bahwa mendengarkan apa yang dibaca imam dan memahaminya berada pada kedudukan membaca surah itu sendiri. Sebagian ulama berkata: "Sesungguhnya seorang laki-laki melakukan satu sujud yang menurut anggapannya ia telah mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla dengannya, padahal seandainya dosa-dosanya dalam sujud itu dibagikan kepada penduduk kotanya, niscaya mereka akan binasa." Ditanyakan: "Bagaimana hal itu terjadi?" Ia menjawab: "Ia sujud di hadapan Allah sementara hatinya mendengarkan hawa nafsu dan menyaksikan kebatilan yang telah menguasai dirinya."

فهذه صفة الخاشعين

Maka inilah sifat orang-orang yang khusyu'.

فدلت هذه الحكايات والأخبار مع ما سبق على أن الأصل في الصلاة الخشوع وحضور القلب وأن مجرد الحركات مع الغفلة قليل الجدوى في المعاد والله أعلم

Kisah-kisah dan riwayat-riwayat ini, bersama apa yang telah lalu, menunjukkan bahwa asas utama dalam shalat adalah kekhusyukan dan kehadiran hati (hudhurul qalb), serta bahwasanya gerakan semata yang disertai kelalaian sedikit sekali manfaatnya di akhirat kelak. Wallahu a'lam.

نسأل الله حسن التوفيق

Kita memohon kepada Allah sebaik-baik taufik.