كتاب آداب الكسب والمعاش
تم كتاب آداب النكاح بحمد الله ومنه وصلى الله على كل عبد مصطفى كتاب آداب الكسب والمعاش وهو الكتاب الثالث من ربع العادات من كتاب إحياء علوم الدين
Telah selesai Kitab Adab Pernikahan dengan pujian dan karunia Allah, semoga shalawat Allah tercurah kepada setiap hamba yang terpilih. [Berikutnya adalah] Kitab Adab Mencari Rezeki dan Penghidupan, yaitu kitab ketiga dari seperempat bagian Adat Kebiasaan dari kitab Ihya' Ulumuddin.
…
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
نحمد الله حمد موحد انمحق في توحيده ما سوى الواحد الحق وتلاشر
Kami memuji Allah dengan pujian seorang hamba yang bertauhid, yang dalam tauhidnya segala sesuatu selain Yang Maha Tunggal Lagi Mahabenar sirna dan lenyap.
ونمجده تمجيد من يصرح بأن كل شيء ما سوى الله باطل ولا يتحاشى
Dan kami mengagungkan-Nya dengan pengagungan orang yang menyatakan secara tegas tanpa ragu bahwa segala sesuatu selain Allah adalah batil.
وأن كل من في السموات والأرض لن يخلقوا ذبابا ولو اجتمعوا له ولا فراشا
Dan bahwasanya siapapun yang ada di langit dan di bumi tidak akan mampu menciptakan seekor lalat pun, meskipun mereka berkumpul untuk itu, dan tidak pula seekor kupu-kupu.
ونشكره إذ رفع السماء لعباده سقفاً مبنيا ومهد الأرض بساطا لهم وفراشا
Dan kami bersyukur kepada-Nya karena Dia telah meninggikan langit sebagai atap yang terbina bagi hamba-hamba-Nya, serta menghamparkan bumi sebagai bentangan dan peraduan bagi mereka.
وكور الليل على النهار فجعل الليل لباسا والنهار معاشا
Dan Dia menutupkan malam atas siang, lalu menjadikan malam sebagai penutup dan siang untuk mencari penghidupan.
لينتشروا في إبتغاء فضله وينتعشوا به عن ضراعة الحاجات انتعاشا ونصلي على رسوله الذي يصدر المؤمنون عن حوضه رواء بعد ورودهم عليه عطاشاً
Agar mereka bertebaran untuk mencari karunia-Nya dan terbebas dari kehinaan hajat kebutuhan secara sempurna. Dan kami memohonkan shalawat atas Rasul-Nya, yang orang-orang beriman kembali dari telaganya dalam keadaan segar bugar setelah mendatangi telaga tersebut dalam keadaan dahaga.
وعلى آله وأصحابه الذين لم يدعوا في نصرة دينه تشمراً وانكماشاً
Dan kepada keluarga serta para sahabatnya yang tidak pernah menyisakan kesungguhan dan pengerahan tenaga dalam membela agama-Nya,
وسلم تسليماً كثيراً
Serta berilah salam sejahtera yang sebanyak-banyaknya.
أما بعد فإن رب الأرباب ومسبب الأسباب
Amma ba'du, sesungguhnya Tuhan segala tuhan dan Pencipta segala sebab (Musabbibal Asbab),
جعل الآخرة دار الثواب والعقاب والدنيا دار التمحل والاضطراب
telah menjadikan akhirat sebagai negeri balasan pahala dan siksa, serta menjadikan dunia sebagai negeri jerih payah, dinamika pergerakan,
والتشمر والاكتساب
kesungguhan, dan pencarian nafkah.
وليس التشمر في الدنيا مقصوراً على المعاد دون المعاش بل المعاش ذريعة إلى المعاد ومعين عليه فالدنيا مزرعة الآخرة ومدرجة إليها
Kesungguhan di dunia tidaklah terbatas pada urusan akhirat (ma'ad) tanpa memikirkan penghidupan (ma'asy), melainkan penghidupan itu adalah perantara menuju akhirat dan penopang baginya. Maka dunia adalah ladang bagi akhirat dan jalan tangga menuju kepadanya.
والناس ثلاثة رجل شغله معاشه عن معاده فهو من الفائزين والأقرب إلى الاعتدال هو الثالث الذي شغله معاشه لمعاده فهو من المفتصدين
Dan manusia itu ada tiga golongan: pertama, orang yang disibukkan oleh akhiratnya dari penghidupannya, maka ia termasuk orang-orang yang beruntung; dan yang paling dekat dengan sikap pertengahan adalah golongan ketiga, yaitu orang yang disibukkan oleh penghidupannya demi akhiratnya, maka ia termasuk orang-orang yang bersikap pertengahan (muqtashid).
ولن ينال رتبة
Dan tidak akan pernah mencapai derajat
الاقتصاد من لم يلازم في طلب المعيشة منهج السداد ولن ينتهض من طلب الدنيا وسيلة إلى الآخرة وذريعة ما لم يتأدب في طلبها بآداب الشريعة وها نحن نورد آداب التجارات والصناعات وضروب الاكتسابات وسننها ونشرحها في خمسة أبواب
kesederhanaan (sikap pertengahan) siapa saja yang tidak berpegang teguh pada jalan kebenaran dalam mencari penghidupan. Dan tidak akan mampu bangkit orang yang menjadikan pencarian dunia sebagai sarana serta perantara menuju akhirat selama ia tidak beradab dalam mencarinya dengan adab-adab syariat. Di sini kami akan menguraikan adab-adab perdagangan, kerajinan/industri, serta berbagai bentuk usaha beserta sunnah-sunnahnya, dan kami menjelaskannya dalam lima bab.
الباب الأول فضل الكسب والحث عليه
Bab Pertama: Keutamaan Mencari Nafkah dan Anjuran Kepadanya.
الباب الثاني في علم صحيح البيع والشراء والمعاملات
Bab Kedua: Mengenai Ilmu Keabsahan Jual Beli dan Muamalah.
الباب الثالث في بيان العدل في المعاملة
Bab Ketiga: Menjelaskan Keadilan dalam Bermuamalah.
الباب الرابع في بيان الإحسان فيها
Bab Keempat: Menjelaskan Ihsan (Kebaikan Tambahan) dalam Bermuamalah.
الباب الخامس في شفقة التاجر على نفسه ودينه
Bab Kelima: Mengenai Kasih Sayang Pedagang terhadap Dirinya dan Agamanya.
الباب الأول في فَضْلُ الْكَسْبِ وَالْحَثِّ عَلَيْهِ
Bab Pertama: Keutamaan Mencari Nafkah (Kasab) dan Anjuran Kepadanya.
أَمَّا مِنَ الْكِتَابِ فقوله تعالى وجعلنا النهار معاشاً فَذَكَرَهُ فِي مَعْرِضِ الِامْتِنَانِ
Adapun dalil dari Al-Kitab (Al-Qur'an), yaitu firman Allah Ta'ala: 'Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan' (QS. An-Naba': 11). Maka Allah menyebutkannya dalam konteks penganugerahan nikmat.
وَقَالَ تَعَالَى وَجَعَلْنَا لكم فيها معايش قليلاً ما تشكرون فَجَعَلَهَا رَبُّكَ نِعْمَةً وَطَلَبَ الشُّكْرَ عَلَيْهَا
Dan Allah Ta'ala berfirman: 'Dan sungguh, Kami telah menempatkan kamu di bumi dan Kami sediakan bagimu di sana sumber-sumber penghidupan. Sedikit sekali kamu bersyukur' (QS. Al-A'raf: 10). Maka Tuhanmu menjadikannya sebagai nikmat dan menuntut rasa syukur atasnya.
وَقَالَ تعالى ليس عليكم جناح أن تبتغوا فضلا من ربكم وقال تعالى وآخرون يضربون في الأرض يبتغون من فضل الله وَقَالَ تَعَالَى فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فضل الله وأما الأخبار فَقَدْ قَالَ ﷺ مَنْ الذنوب ذنوب لا يكفرها إلا الهم في طلب المعيشة
Dan Allah Ta'ala berfirman: 'Tidak ada dosa bagimu mencari karunia dari Tuhanmu' (QS. Al-Baqarah: 198). Dan Dia berfirman: 'Dan yang lain berjalan di bumi mencari karunia Allah' (QS. Al-Muzzammil: 20). Serta Dia berfirman: 'Maka bertebaranlah kamu di bumi dan carilah karunia Allah' (QS. Al-Jumu'ah: 10). Adapun dari Al-Akhbar (Hadis), Rasulullah ﷺ bersabda: 'Di antara dosa-dosa terdapat dosa yang tidak dapat dihapuskan kecuali oleh rasa gundah (jerih payah) dalam mencari penghidupan.'
وقال ﷺ التاجر الصدوق يحشر يوم القيامة مع الصديقين والشهداء
Dan Rasulullah ﷺ bersabda: 'Pedagang yang jujur dan terpercaya kelak pada hari kiamat akan dikumpulkan bersama para shiddiqin dan para syuhada.'
وقال ﷺ من طلب الدنيا حلالا وتعففا عن المسئلة وسعياً على عياله وتعطفاً على جاره لقي الله ووجهه كالقمر ليلة البدر
Dan Rasulullah ﷺ bersabda: 'Barang siapa mencari dunia secara halal demi menjaga diri dari meminta-minta, bekerja untuk mencukupi keluarganya, serta mengasihi tetangganya, maka ia akan bertemu Allah dengan wajah yang berseri-seri bagaikan bulan purnama pada malam purnama.'
وَكَانَ ﷺ جَالِسًا مَعَ أَصْحَابِهِ ذَاتَ يَوْمٍ فَنَظَرُوا إِلَى شَابٍّ ذِي جَلَدٍ وَقُوَّةٍ وَقَدْ بَكَّرَ يَسْعَى فَقَالُوا وَيْحَ هَذَا لَوْ كَانَ شَبَابُهُ وَجَلَدُهُ فِي سَبِيلِ الله فَقَالَ ﷺ لَا تَقُولُوا هذا فإنه إن كان يسعى على نفسه ليكفها عن المسئلة ويغنيها عن الناس فهو في سبيل الله وإن كان يسعى على أبوين ضعيفين أو ذرية ضعاف ليغنيهم ويكفيهم فهو في سبيل الله وإن كان يسعى تفاخراً وتكاثراً فهو في سبيل الشيطان
Suatu hari Rasulullah ﷺ sedang duduk bersama para sahabatnya. Lalu mereka melihat seorang pemuda yang kuat dan tangguh bergegas pergi pagi-pagi untuk bekerja. Para sahabat berkata, "Alangkah eloknya jika masa muda dan kekuatannya ini digunakan di jalan Allah." Maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Janganlah kalian berkata demikian. Karena jika ia bekerja untuk dirinya sendiri demi menjaga diri dari meminta-minta dan agar tidak bergantung kepada manusia, maka ia berada di jalan Allah. Jika ia bekerja untuk kedua orang tuanya yang sudah lemah atau untuk anak keturunannya yang masih lemah demi mencukupi dan memenuhi kebutuhan mereka, maka ia berada di jalan Allah. Namun, jika ia bekerja demi bermewah-mewahan dan menumpuk harta, maka ia berada di jalan setan."
وَقَالَ ﷺ إِنَّ اللَّهَ يحب العبد يتخذ المهنة ليستغني بها عن الناس ويبغض العبد يتعلم العلم يتخذه مهنة
Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Allah menyukai hamba yang memiliki mata pencaharian demi menjaga kemandiriannya dari menggantungkan diri kepada manusia, dan Allah membenci hamba yang mempelajari ilmu lalu menggunakannya semata-mata sebagai mata pencaharian."
وفي الخبر إن الله تعالى يحب المؤمن المحترف
Dan dalam sebuah riwayat disebutkan, "Sesungguhnya Allah Ta'ala menyukai orang mukmin yang memiliki keterampilan bertekun dalam pekerjaannya."
وقال ﷺ أحل ما أكل الرجل من كسبه وكل بيع مبرور
Rasulullah ﷺ bersabda, "Makanan paling halal yang dimakan seseorang adalah dari hasil usahanya sendiri dan dari setiap jual beli yang mabrur (bersih dari penipuan dan keharaman)."
وفي خبر آخر أحل ما أكل العبد كسب يد الصانع إذا نصح
Dalam riwayat lain disebutkan, "Makanan paling halal yang dimakan seorang hamba adalah hasil kerja tangan seorang pekerja apabila ia tulus dan jujur."
وقال ﷺ عليكم بالتجارة فإن فيها تسعة أعشار الرزق
Rasulullah ﷺ bersabda, "Hendaklah kalian berdagang, karena sesungguhnya sembilan dari sepuluh bagian rezeki terdapat di dalamnya."
وروي أن عيسى ﵇ رأى رجلاً فقال ما تصنع قال أتعبد قال من يعولك قال أخي
Diriwayatkan bahwa Nabi Isa 'alaihis-salām melihat seorang laki-laki, lalu beliau bertanya, "Apa yang sedang engkau lakukan?" Orang itu menjawab, "Aku sibuk beribadah." Nabi Isa bertanya lagi, "Siapa yang menanggung kebutuhan hidupmu?" Ia menjawab, "Saudaraku."
قال أخوك أعبد منك
Nabi Isa berkata, "Saudaramu itu lebih tekun beribadah daripada dirimu."
وقال نبينا ﷺ إني لا أعلم شيئاً يقربكم من الجنة ويبعدكم من النار إلا أمرتكم به وإني لا أعلم شيئاً يبعدكم من الجنة ويقربكم من النار إلا نهيتكم عنه وإن الروح الأمين نفث في روعى إن نفساً لن تموت حتى تستوفي رزقها وإن أبطأ عنها فاتقوا الله وأجملوا في الطلب أمر بالإجمال في الطلب ولم يقل اتركوا الطلب ثم قال في آخره ولا يحملنكم استبطاء شيء من الرزق على أن تطلبوه بمعصية الله تعالى فإن الله لا ينال ما عنده بمعصيته
Nabi kita ﷺ bersabda, "Sesungguhnya aku tidak mengetahui sesuatu pun yang mendekatkan kalian ke surga dan menjauhkan kalian dari neraka melainkan telah aku perintahkan kepada kalian. Dan aku tidak mengetahui sesuatu pun yang menjauhkan kalian dari surga dan mendekatkan kalian ke neraka melainkan telah aku larang kalian darinya. Sesungguhnya Malaikat Jibril telah menghembuskan ke dalam batin jiwaku bahwa tidaklah satu jiwa akan mati sebelum menyempurnakan bagian rezekinya meskipun lambat datangnya. Maka bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah dalam mencari rezeki (ijmāl fit-ṭalab)." Beliau memerintahkan untuk memperbagus pencarian rezeki dan tidak mengatakan "tinggalkanlah pencarian itu." Kemudian di akhir sabdanya beliau melanjutkan, "Dan janganlah lambatnya rezeki mendorong kalian untuk mencarinya dengan jalan bermaksiat kepada Allah Ta'ala, karena sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah tidak akan dapat diraih dengan kemaksiatan kepada-Nya."
وقال ﷺ الأسواق موائد الله تعالى فمن أتاها أصاب منها
Rasulullah ﷺ bersabda, "Pasar-pasar adalah hidangan Allah Ta'ala. Barang siapa mendatanginya, ia akan mendapatkan bagian darinya."
وقال ﷺ لَأَنْ يَأْخُذَ أَحَدُكُمْ حَبْلَهُ فَيَحْتَطِبَ عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَأْتِيَ رَجُلًا أَعْطَاهُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ فَيَسْأَلَهُ له أعطاه أو منعه
Rasulullah ﷺ bersabda, "Sungguh, sekiranya salah seorang di antara kalian mengambil talinya lalu mencari kayu bakar dan memikulnya di atas punggungnya, itu jauh lebih baik daripada ia mendatangi seseorang yang telah Allah berikan karunia-Nya lalu meminta-minta kepadanya, baik orang itu memberinya atau menolaknya."
وقال من فتح على نفسه باباً من السؤال فتح الله عليه سبعين باباً من الفقر
Rasulullah ﷺ juga bersabda, "Barang siapa membuka satu pintu meminta-minta bagi dirinya, niscaya Allah akan membukakan baginya tujuh puluh pintu kefakiran."
وأما الآثار فقد قال لقمان الحكيم لابنه يا بني استغن بالكسب الحلال عن الفقر فإنه ما افتقر أحد قط إلا أصابه ثلاث خصال رقة في دينه وضعف في عقله وذهاب مروءته وأعظم من هذه الثلاث استخفاف الناس به
Adapun riwayat athar, Luqman al-Hakim telah berkata kepada putranya, "Wahai anakku, cukuplah dirimu dari kefakiran dengan usaha yang halal. Sebab tidaklah seseorang jatuh fakir melainkan ia akan ditimpa tiga perkara: kerapuhan dalam agamanya, kelemahan pada akalnya, dan hilangnya harga dirinya. Dan yang lebih besar dari ketiga hal tersebut adalah anggapan remeh orang-orang terhadap dirinya."
وَقَالَ عمر ﵁ لَا يَقْعُدُ أحدكم عن طلب الرزق يقول اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي فَقَدْ عَلِمْتُمْ أَنَّ السَّمَاءَ لَا تمطر ذهباً ولا فضة
Umar bin al-Khattab radhiyallāhu 'anhu berkata, "Janganlah sekali-kali salah seorang di antara kalian duduk berpangku tangan meninggalkan pencarian rezeki seraya berdoa, 'Ya Allah, berilah aku rezeki,' padahal kalian sungguh telah mengetahui bahwa langit tidak akan mencurahkan hujan emas maupun perak."
وكان زيد بن مسلمة يغرس في أرضه فقال له عمر ﵁ أصبت استغن عن الناس يكن أصون لدينك وأكرم لك عليهم كما قال صاحبكم أحيحة
Dahulu Zaid bin Maslamah sedang bercocok tanam di tanahnya, lalu Umar radhiyallāhu 'anhu berkata kepadanya, "Tindakanmu tepat! Mandirilah dan jangan bergantung kepada manusia, niscaya hal itu akan lebih menjaga agamamu dan lebih memuliakan dirimu di hadapan mereka, sebagaimana yang dikatakan oleh penyair kalian, Uhaihah:"
فلن أزال على الزوراء أغمرها … إن الكريم على الإخوان ذو المال
"Maka aku akan senantiasa mengolah tanah Az-Zaurā' ini… Karena sesungguhnya orang mulia di mata saudara-saudaranya adalah yang memiliki harta."
وَقَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ ﵁ إِنِّي لَأَكْرَهُ أَنْ أَرَى الرَّجُلَ فَارِغًا لَا فِي أمر دنياه ولا في أمر آخرته
Ibnu Mas'ud radhiyallāhu 'anhu berkata, "Sesungguhnya aku sangat benci melihat seseorang yang menganggur hampa; tidak sedang mengurusi urusan dunianya dan tidak pula urusan akhiratnya."
وسئل إبراهيم عن التاجر الصدوق أهو أحب إليك أم المتفرغ للعبادة قال التاجر الصدوق أحب إلي لأنه في جهاد يأتيه الشيطان من طريق المكيال والميزان ومن قبل الأخذ والعطاء فيجاهده وخالفه الحسن البصري في هذا
Ibrahim ditanya tentang pedagang yang jujur, "Manakah yang lebih engkau sukai, dia ataukah orang yang fokus mengkhususkan diri untuk beribadah?" Beliau menjawab, "Pedagang yang jujur lebih aku sukai, karena ia berada dalam perjuangan jihad; setan mendatangi dirinya melalui takaran, timbangan, serta proses mengambil dan memberi, namun ia terus memeranginya." Namun Al-Hasan al-Bashri berbeda pendapat dengannya dalam hal ini.
وقال عمر ﵁ ما من موضع يأتيني الموت فيه أحب إلي من موطن أتسوق فيه لأهلي أبيع وأشتري
Umar radhiyallāhu 'anhu berkata, "Tidak ada satu tempat pun yang lebih aku sukai ketika kematian menjemputku melebihi tempat saat aku sedang berikhtiar di pasar demi mencukupi keluargaku, di mana aku menjual dan membeli."
وقال الهيثم ربما يبلغني عن الرجل يقع في فأذكر استغنائي عنه فيهون ذلك علي
Al-Haitsam berkata, "Terkadang sampai berita kepadaku tentang seseorang yang mencelaku, namun ketika aku ingat bahwa aku tidak bergantung dan tidak membutuhkan bantuan finansial darinya, maka hal itu terasa ringan bagiku."
وقال أيوب كسب فيه شيء أحب إلي من سؤال الناس
Ayyub berkata, "Usaha (kasb) yang di dalamnya terdapat sesuatu (kesulitan atau kekurangan) lebih aku sukai daripada meminta-minta kepada manusia."
وجاءت ريح عاصفة في البحر فقال أهل السفينة لإبراهيم بن أدهم ﵀ وكان معهم فيها أما ترى هذه الشدة فقال ما هذه الشدة وإنما الشدة الحاجة إلى الناس
Dan angin kencang (badai) bertiup di laut, lalu para penumpang kapal berkata kepada Ibrahim bin Adham radhiyallahu 'anhu—yang saat itu berada bersama mereka di kapal tersebut—"Apakah engkau tidak melihat kesukaran ini?" Beliau menjawab, "Ini bukanlah kesukaran. Kesukaran yang sebenarnya hanyalah kebutuhan (ketergantungan) kepada manusia."
وقال أيوب قال لي أبو قلابة الزم السوق فإن الغنى من العافية يعني الغنى عن الناس
Ayyub berkata, "Abu Qilabah berkata kepadaku, 'Tetaplah engkau berada di pasar (bekerja), karena sesungguhnya kecukupan itu termasuk bagian dari keselamatan ('afiyah)'—yang dimaksud adalah kecukupan hingga tidak bergantung kepada manusia."
وقيل لأحمد ما تقول فيمن جلس في بيته
Dan ditanyakan kepada Imam Ahmad, "Apa pendapatmu tentang seseorang yang berdiam diri di rumahnya,
أَوْ مَسْجِدِهِ وَقَالَ لَا أَعْمَلُ شَيْئًا حَتَّى يَأْتِيَنِي رِزْقِي فَقَالَ أحمد هَذَا رَجُلٌ جَهِلَ الْعِلْمَ أَمَا سَمِعَ قَوْلَ النَّبِيِّ ﷺ إِنَّ اللَّهَ جَعَلَ رِزْقِي تَحْتَ ظل رمحي
atau di masjidnya seraya berkata, 'Aku tidak akan bekerja sedikit pun sampai rezekiku datang kepadaku'?" Maka Imam Ahmad menjawab, "Orang ini jahil (bodoh) terhadap ilmu. Tidakkah ia mendengar sabda Nabi ﷺ, 'Sesungguhnya Allah menjadikan rezekiku di bawah naungan tombakku'?
وقوله ﷺ حين ذكر الطير فقال تغذو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا
Dan sabda beliau ﷺ ketika menyebutkan tentang burung, di mana beliau bersabda, 'Ia pergi di pagi hari dalam keadaan perut lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang.'"
فَذَكَرَ أَنَّهَا تَغْدُو فِي طَلَبِ الرِّزْقِ وَكَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ يَتَّجِرُونَ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ويعملون في نخيلهم والقدوة بهم
Maka beliau menyebutkan bahwa burung itu pergi di pagi hari untuk mencari rezeki. Dan para sahabat Rasulullah ﷺ pun berdagang di darat maupun di laut serta bekerja di kebun kurma mereka, dan teladan yang patut diikuti adalah mereka.
وقال أبو قلابة لرجل لأن أراك تطلب معاشك أحب إلي من أن أراك في زاوية المسجد
Dan Abu Qilabah berkata kepada seorang laki-laki, "Sungguh, melihatmu mencari penghidupanmu lebih aku sukai daripada melihatmu duduk di sudut masjid."
وروي أن الأوزاعي لقي إبراهيم بن أدهم ﵏ وعلى عنقه حزمة حطب فقال له يا أبا إسحق إلى متى هذا إخوانك يكفونك فقال دعني عن هذا يا أبا عمرو فإنه بلغني أنه من وقف موقف مذلة في طلب الحلال وجبت له الجنة
Diriwayatkan bahwa Al-Auza'i bertemu dengan Ibrahim bin Adham radhiyallahu 'anhuma saat Ibrahim memikul seikat kayu bakar di atas pundaknya. Al-Auza'i berkata kepadanya, "Wahai Abu Ishaq, sampai kapan engkau begini? Saudara-saudaramu sanggup mencukupi kebutuhanmu." Ibrahim menjawab, "Biarkanlah aku dengan hal ini, wahai Abu 'Amr. Sebab telah sampai kepadaku kabar bahwa barangsiapa berdiri di tempat kehinaan (berpayah-payah) demi mencari yang halal, niscaya surga wajib baginya."
وقال أبو سليمان الداراني ليس العبادة عندنا أن تصف قدميك وغيرك يقوت لك ولكن ابدأ برغيفيك فأحرزهما ثم تعبد
Dan Abu Sulaiman Ad-Darani berkata, "Ibadah menurut kami bukanlah engkau menyejajarkan kedua kakimu (dalam shalat) sementara orang lain yang memberi makan kepadamu. Akan tetapi, mulailah dengan dua potong rotimu, amankan (usahakan) keduanya, kemudian beribadahlah."
وقال معاذ بن جبل ﵁ ينادي مناد يوم القيامة أين بغضاء الله في أرضه فيقوم سؤال المساجد فهذه مذمة الشرع للسؤال والاتكال على كفاية الأغيار
Dan Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu berkata, "Pada hari kiamat, seorang penyeru akan menyerukan, 'Di manakah orang-orang yang dibenci Allah di bumi-Nya?' Maka bangkitlah orang-orang yang meminta-minta di masjid-masjid." Ini adalah celaan syariat terhadap perbuatan meminta-minta dan bersandar pada kecukupan orang lain (aghyar).
وَمَنْ لَيْسَ لَهُ مَالٌ مَوْرُوثٌ فَلَا يُنْجِيهِ من ذلك إلا الكسب والتجارة
Dan barangsiapa tidak memiliki harta warisan, maka tidak ada yang dapat menyelamatkannya dari hal tersebut (kebergantungan) kecuali dengan bekerja (kasb) dan berdagang.
فإن قلت فقد قال ﷺ ما أوحي إلي أن أجمع المال وكن من التاجرين ولكن أوحي إلي أن سبح بحمد ربك وكن من الساجدين واعبد ربك حتى يأتيك اليقين
Jika engkau bertanya: Bukankah Rasulullah ﷺ telah bersabda, "Tidak diwahyukan kepadaku agar mengumpulkan harta dan menjadi bagian dari para pedagang, melainkan diwahyukan kepadaku: 'Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah engkau di antara orang-orang yang bersujud, dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan (ajal)'"?
وقيل لسلمان الفارسي أوصنا فقال من استطاع منكم أن يموت حاجاً أو غازياً أو عامراً لمسجد ربه فليفعل ولا يموتن تاجرا ولا خائناً فالجواب أن وجه الجمع بين هذه الأخبار تفصيل الأحوال فنقول لسنا نقول التجارة أفضل مطلقاً من كل شيء ولكن التجارة إما أن تطلب بها الكفاية أو الثروة أو الزيادة على الكفاية فإن طلب منها الزيادة على الكفاية لاستكثار المال وادخاره لا ليصرف إلى الخيرات والصدقات فهي مذمومة لأنه إقبال على الدنيا التي حبها رأس كل خطيئة فإن كان مع ذلك ظالماً خائناً فهو ظلم وفسق وهذا ما أراده سلمان بقوله لا تمت تاجراً ولا خائناً وأراد بالتاجر طالب الزيادة فأما إذا طلب بها الكفاية لنفسه وأولاده وكان يقدر على كفايتهم بالسؤال فالتجارة تعففاً عن السؤال أفضل وإن كان لا يحتاج إلى السؤال وكان يعطى عن غير سؤال فالكسب أفضل لأنه إنما يعطى لأنه سائل بلسان حاله ومناد بين الناس بفقره فالتعفف والتستر أوفى من البطالة بل من الاشتغال بالعبادات البدنية وترك الكسب أفضل لأربعة عابد بالعبادات البدنية أو رجل له سير بالباطن وعمل بالقلب في علوم الأحوال والمكاشفات أو عالم مُشْتَغِلٍ بِتَرْبِيَةِ عِلْمِ الظَّاهِرِ مِمَّا يَنْتَفِعُ النَّاسُ به في دينهم كالمفتي وَالْمُفَسِّرِ وَالْمُحَدِّثِ وَأَمْثَالِهِمْ أَوْ رَجُلٍ مُشْتَغِلٍ بِمَصَالِحِ المسلمين وقد تكفل بأمورهم كالسلطان والقاضي والشاهد فهؤلاء إذا كانوا يُكْفَوْنَ مِنَ الْأَمْوَالِ الْمُرْصَدَةِ لِلْمَصَالِحِ أَوِ الْأَوْقَافِ الْمُسْبَلَةِ عَلَى الْفُقَرَاءِ أَوِ الْعُلَمَاءِ
Dan dikatakan kepada Salman Al-Farisi, "Berilah kami wasiat!" Beliau menjawab, "Barangsiapa di antara kalian yang mampu meninggal dalam keadaan menunaikan haji, berperang (di jalan Allah), atau memakmurkan masjid Tuhannya, hendaklah ia melakukannya, dan janganlah sekali-kali meninggal sebagai pedagang atau pengkhianat." Maka jawabannya adalah: bahwa cara mengompromikan antara riwayat-riwayat ini adalah dengan merinci kondisi-kondisinya. Kami katakan: Kami tidak mengatakan bahwa perdagangan itu secara mutlak lebih utama dari segala sesuatu. Akan tetapi, berniaga itu adakalanya dimaksudkan untuk mencari kecukupan (kifayah), kekayaan, atau penambahan di atas kecukupan. Jika yang dicari darinya adalah penambahan di atas kecukupan semata-mata untuk memperbanyak harta dan menimbunnya, bukan untuk disalurkan kepada kebaikan dan sedekah, maka hal itu tercela, sebab itu merupakan kecenderungan pada dunia yang cintanya adalah pangkal segala kesalahan. Jika bersamaan dengan itu ia berlaku zalim dan khianat, maka itu adalah kezaliman dan kefasikan. Inilah yang dimaksud oleh Salman dengan perkataannya, "Janganlah engkau mati sebagai pedagang dan pengkhianat," dan yang beliau maksud dengan pedagang di sini adalah pencari penambahan harta. Adapun jika ia mencari kecukupan untuk dirinya dan anak-anaknya, sementara ia sanggup mencukupi mereka dengan meminta-minta, maka berdagang demi menjaga kehormatan diri ('affah) dari meminta-minta adalah lebih utama. Dan jika ia tidak perlu meminta-minta namun diberi tanpa meminta, maka bekerja (kasb) tetap lebih utama, sebab sesungguhnya ia diberi karena ia meminta melalui lisan keadaan (lisanul hal)-nya dan memproklamasikan kemiskinannya di tengah manusia. Maka menjaga kehormatan diri dan menutupi keadaan itu lebih sempurna daripada menganggur. Bahkan meninggalkan bekerja itu lebih utama hanya bagi empat golongan: (1) ahli ibadah yang sibuk dengan ibadah-ibadah fisik; (2) seseorang yang memiliki perjalanan batin (suluk) dan amalan hati dalam ilmu-ilmu ahwal (kondisi spiritual) dan mukasyafah (ketersingkapan rahasia gaib); (3) seorang alim yang sibuk membina ilmu lahiriah yang bermanfaat bagi manusia dalam agama mereka seperti mufti, mufasir, muhaddits, dan sejenisnya; atau (4) seseorang yang sibuk dengan kemaslahatan kaum muslimin serta menanggung urusan mereka seperti penguasa (sultan), hakim (qadhi), dan saksi. Golongan-golongan ini, apabila kebutuhan mereka telah dicukupi dari harta yang disediakan untuk kemaslahatan umum atau dari harta wakaf yang diperuntukkan bagi fakir miskin atau ulama,
فَإِقْبَالُهُمْ عَلَى مَا هُمْ فِيهِ أَفْضَلُ مِنِ اشْتِغَالِهِمْ بِالْكَسْبِ ولهذا أوحي إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ إن سبح بحمد ربك وكن من الساجدين ولم يوح إليه أن كن من التاجرين لأنه كان جامعاً لهذه المعاني الأربعة إلى زيادات لا يحيط بها الوصف وَلِهَذَا أَشَارَ الصَّحَابَةُ عَلَى أبي بكر ﵃ بِتَرْكِ التِّجَارَةِ لَمَّا وَلِيَ الْخِلَافَةَ إِذْ كَانَ ذَلِكَ يَشْغَلُهُ عَنِ الْمَصَالِحِ وَكَانَ يَأْخُذُ كِفَايَتَهُ مِنْ مَالِ الْمَصَالِحِ وَرَأَى ذَلِكَ أَوْلَى ثُمَّ لَمَّا تُوُفِّيَ أَوْصَى بِرَدِّهِ إِلَى بَيْتِ الْمَالِ وَلَكِنَّهُ رَآهُ فِي الِابْتِدَاءِ أَوْلَى ولهؤلاء الأربعة حالتان أخريان
maka kesibukan mereka pada apa yang sedang mereka jalani itu lebih utama daripada disibukkan dengan bekerja (kasb). Oleh karena itulah diwahyukan kepada Rasulullah ﷺ: "Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah engkau di antara orang-orang yang bersujud," dan tidak diwahyukan kepada beliau agar menjadi bagian dari para pedagang, karena beliau mengumpulkan keempat makna ini beserta keutamaan-keutamaan tambahan yang tidak dapat diliputi oleh sifat. Oleh sebab ini pula para sahabat menyarankan Abu Bakar radhiyallahu 'anhu untuk meninggalkan perdagangan ketika beliau menjabat sebagai khalifah, karena hal itu akan memalingkannya dari mengurus kemaslahatan umat. Beliau kemudian mengambil sekadar kecukupannya dari harta kemaslahatan (kas negara) dan memandangnya lebih utama. Kemudian tatkala beliau hendak wafat, beliau berwasiat untuk mengembalikan harta tersebut ke Baitul Mal, namun beliau memandangnya di awal sebagai hal yang lebih utama. Bagi keempat golongan ini, terdapat dua keadaan lainnya:
أحداهما
Salah satunya:
أن تكون كفايتهم عند ترك المكسب من أيدي الناس وما يتصدق به عليهم من زكاة أو صدقة من غير حاجة إلى سؤال فترك الكسب والاشتغال بما هم فيه أولى إذ فيه إعانة الناس على الخيرات وقبول منهم لما هو حق عليهم وأفضل لهم
Hendaknya kecukupan mereka ketika meninggalkan bekerja (kasb) berasal dari pemberian manusia dan apa yang disedekahkan kepada mereka berupa zakat atau sedekah tanpa perlu meminta-minta. Dalam keadaan demikian, meninggalkan bekerja dan menyibukkan diri dengan apa yang sedang mereka tekuni adalah lebih utama, sebab di dalamnya terdapat bantuan bagi manusia untuk melakukan kebaikan-kebaikan, serta penerimaan dari mereka atas apa yang menjadi hak (kewajiban) mereka dan lebih utama bagi mereka.
الحالة الثانية الحاجة إلى السؤال وهذا في محل النظر والتشديدات التي رويناها في السؤال وذمه تدل ظاهراً على أن التعفف عن السؤال أولى وإطلاق القول فيه من غير ملاحظة الأحوال والأشخاص عسير بل هو موكول إلى اجتهاد العبد ونظره لنفسه بأن يقابل ما يلقي في السؤال من المذلة وهتك المروءة والحاجة إلى التثقيل والإلحاح بما يحصل من اشتغاله بالعلم والعمل من الفائدة له ولغيره فرب شخصٍ تكثر فائدة الخلق وفائدته في اشتغاله بالعلم أو العمل ويهون عليه بأدنى تعريض في السؤال تحصيل الكفاية وربما يكون بالعكس وربما يتقابل المطلوب والمحذور فينبغي أن يستفتي المريد فيه قلبه وإن أفتاه المفتون فإن الفتاوى لا تحيط بتفاصيل الصور ودقائق الأحوال ولقد كان في السلف من له ثلثمائة وستون صديقا ينزل على كل واحد منهم ليلة ومنهم من له ثلاثون وكانوا يشتغلون بالعبادة لعملهم بأن المتكلفين بهم يتقلدون منة من قبولهم لمبراتهم فكان قبولهم لمبراتهم خيراً مضافاً لهم إلى عباداتهم فينبغي أن يدقق النظر في هذه الأمور فإن أجر الآخذ كأجر المعطي مهما كان الآخذ يستعين به على الدين والمعطي يعطيه عن طيب قلب
Keadaan kedua: perlunya meminta-minta. Ini merupakan tempat pertimbangan mendalam (ijtihad). Penjelasan-penjelasan tegas yang telah kami riwayatkan mengenai celaan meminta-minta secara lahiriah menunjukkan bahwa menjaga diri (ta'affuf) dari meminta-minta itu lebih utama. Menggeneralisasi hukum dalam hal ini tanpa memperhatikan kondisi-kondisi dan personalitas individu adalah hal yang sulit; bahkan hal itu diserahkan kepada ijtihad seorang hamba dan pengamatannya terhadap dirinya sendiri, yaitu dengan membandingkan antara kehinaan, jatuhnya harga diri (muru'ah), serta keharusan bersikap memberatkan dan mendesak yang dijumpai dalam meminta-minta, dengan manfaat yang diperoleh bagi dirinya dan orang lain dari kesibukannya dalam ilmu dan amal. Betapa banyak seseorang yang manfaat makhluk dan manfaat dirinya amat besar dalam kesibukannya menuntut ilmu atau beramal, dan terasa ringan baginya untuk memperoleh kecukupan cukup dengan sedikit isyarat dalam meminta; namun terkadang terjadi sebaliknya, atau terkadang antara hal yang dituntut dan yang dikhawatirkan saling berimbang. Maka hendaknya seorang murid (penempuh jalan batin) meminta fatwa kepada hatinya dalam hal ini meskipun para pemberi fatwa telah memfatwakannya, sebab fatwa-fatwa tidak dapat melingkupi rincian bentuk keadaan dan kehalusan kondisi batin. Sungguh, di antara ulama Salaf ada yang memiliki 360 orang sahabat di mana ia tinggal di rumah masing-masing dari mereka selama satu malam, dan di antara mereka ada yang memiliki 30 sahabat. Mereka menyibukkan diri dengan ibadah karena mereka mengetahui bahwa orang-orang yang menanggung kebutuhan mereka merasa mendapat kemuliaan dengan diterimanya kebaikan-kebaikan mereka. Maka penerimaan mereka terhadap kebaikan orang lain tersebut menjadi kebaikan tambahan bagi mereka di samping ibadah mereka. Oleh karena itu, hendaknya dicermati secara mendalam perkara-perkara ini, karena pahala orang yang mengambil sama dengan pahala orang yang memberi selama si penerima menggunakannya sebagai sarana penopang agama dan si pemberi memberikannya dengan kerelaan hati.
ومن اطلع على هذه المعاني أمكنه أن يتعرف حال نفسه ويستوضح من قلبه ما هو الأفضل له بالإضافة إلى حاله ووقته فهذه فضيلة الكسب وليكن العقد الذي به الاكتساب جامعاً لأربعة أمور الصحة والعدل والإحسان والشفقة على الدين
Barangsiapa yang memahami makna-makna ini, niscaya ia mampu mengenali keadaan dirinya dan meminta kejelasan dari hatinya tentang apa yang paling utama baginya disandarkan pada kondisi dan waktunya. Inilah keutamaan bekerja (kasb). Dan hendaknya akad yang digunakan untuk berikhtiar mencari penghidupan mengumpulkan empat perkara: keabsahan (shihhah), keadilan ('adl), kebajikan (ihsan), dan kasih sayang terhadap agama (as-syafaqah 'ala ad-din).
ونحن نعقد في كل واحد باباً ونبتدئ بذكر أسباب الصحة في الباب الثاني
Dan kami akan membuat satu bab tersendiri untuk masing-masing dari empat perkara tersebut, dan kami akan memulai dengan menyebutkan sebab-sebab keabsahan (syarat sah akad) pada bab kedua.
الباب الثاني في علم الكسب بطريق البيع والربا والسلم والإجارة والقراض
Bab Kedua: Menerangkan Ilmu Kasab (Usaha Pencarian Nafkah) Melalui Jual Beli, Riba, Salam (Jual Beli Pesanan), Ijarah (Sewa-Menyewa), dan Qiradh (Bagi Hasil),
والشركة وبيان شروط الشرع في صحة هذه التصرفات التي هي مدار المكاسب في الشرع
serta Syirkah (Kemitraan), dan Penjelasan tentang Syarat-Syarat Syariat mengenai Keabsahan Akad-Akad ini yang Menjadi Poros Usaha Pencarian Nafkah dalam Syariat.
اعلم أن تحصيل علم هذا الباب واجب على كل مسلم مكتسب لأن طلب العلم فريضة على كل مسلم وإنما هو طلب العلم المحتاج إليه والمكتسب يحتاج إلى علم الكسب ومهما حصل علم هذا الباب وقف على مفسدات المعاملة فيتقيها وما شذ عنه من الفروع المشكلة فيقع على سبب إشكالها فيتوقف فيها إلى أن يسأل فإنه إذا لم يعلم أسباب الفساد بعلم جملي فلا يدري متى يجب عليه التوقف والسؤال ولو قال لا أقدم العلم ولكني أصبر إلى أن تقع لي الواقعة فعندها أتعلم وأستفتي فيقال له وبم تعلم وقوع الواقعة مهما لم تعلم جمل مفسدات العقود فإنه يستمر في التصرفات ويظنها صحيحة مباحة فلا بد له من هذا القدر من علم التجارة ليتميز له المباح عن المحظور وموضع الإشكال عن موضع الوضوح ولذلك روي عن عمر ﵁ أنه كان يطوف السوق ويضرب بعض التجار بالدرة ويقول لا يبيع في سوقنا إلا من يفقه وإلا أكل الربا شاء أم أبى وعلم العقود كثير ولكن هذه العقود الستة لا تنفك المكاسب عنها وهي البيع والربا والسلم والإجارة والشركة والقراض فلنشرح شروطها العقد الأول البيع
Ketahuilah bahwa mempelajari ilmu dalam bab ini adalah wajib bagi setiap muslim yang bekerja/berusaha, karena menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim. Maksudnya adalah menuntut ilmu yang dibutuhkan; sedangkan orang yang bekerja membutuhkan ilmu tentang usaha pencarian nafkah. Apabila seseorang telah menguasai ilmu dalam bab ini, ia akan mengetahui hal-hal yang merusak muamalah sehingga ia dapat menghindarinya. Adapun cabang-cabang masalah yang rumit dan tidak terjangkau dengannya, ia dapat mengetahui penyebab kerumitannya sehingga ia bersikap hati-hati (tawaqquf) sampai ia bertanya (kepada ulama). Sebab, jika ia tidak mengetahui penyebab kerusakannya secara garis besar, ia tidak akan tahu kapan harus berhenti dan bertanya. Jika ia berkata, 'Aku tidak akan mendahulukan belajar ilmu, tetapi aku akan bersabar hingga terjadi suatu peristiwa, baru kemudian aku belajar dan meminta fatwa,' maka dikatakan kepadanya, 'Bagaimana engkau dapat mengetahui terjadinya peristiwa (cacat akad) tersebut selama engkau tidak mengetahui garis besar hal-hal yang merusak akad?' Akibatnya, ia akan terus melakukan transaksi dan menganggapnya sah serta mubah. Oleh karena itu, ia wajib memiliki kadar ilmu perdagangan ini agar dapat membedakan mana yang mubah dan mana yang terlarang, serta mana wilayah yang samar (isykal) dan mana yang jelas. Karena itulah diriwayatkan dari Umar radhiyallahu 'anhu bahwa beliau pernah berkeliling pasar dan memukul sebagian pedagang dengan cambuknya seraya berkata, 'Tidak boleh berjualan di pasar kami kecuali orang yang paham (fikih muamalah), jika tidak, ia akan memakan riba, baik ia mau maupun tidak.' Ilmu tentang akad amatlah banyak, namun enam jenis akad ini tidak pernah lepas dari pencarian nafkah, yaitu: Jual Beli, Riba, Salam, Ijarah, Syirkah, dan Qiradh. Maka mari kita jelaskan syarat-syaratnya. Akad Pertama: Jual Beli.
وقد أحله الله تعالى وله ثلاثة أركان العاقد والمعقود عليه واللفظ
Sungguh Allah Ta'ala telah menghalalkannya, dan jual beli ini memiliki tiga rukun: Pihak yang Berakad (Al-'Aqid), Objek Akad (Al-Ma'qud 'Alaih), dan Lafaz (Sighah).
الركن الأول العاقد ينبغي للتاجر أن لا يعامل بالبيع أربعة الصبي والمجنون والعبد والأعمى لأن الصبي غير مكلف وكذا المجنون وبيعهما باطل فلا يصح بيع الصبي وإن أذن له فيه الولي عند الشافعي وما أخذه منهما مضمون عليه لهما
Rukun Pertama: Pihak yang Berakad (Al-'Aqid). Hendaknya seorang pedagang tidak bertransaksi jual beli dengan empat golongan: anak kecil, orang gila, hamba sahaya, dan orang buta. Sebab, anak kecil bukanlah mukallaf, begitu pula orang gila, sehingga jual beli keduanya batal. Tidak sah jual beli anak kecil meskipun diizinkan oleh walinya menurut Imam al-Syafi'i. Apa saja yang ia ambil dari keduanya menjadi tanggungannya (harus diganti) untuk mereka berdua.
وما سلمه في المعاملة إليهما فضاع في أيديهما فهو المضيع له
Dan apa saja yang ia serahkan kepada keduanya dalam transaksi lalu lenyap di tangan mereka, maka dialah yang telah menyia-nyiakannya sendiri.
وأما العبد العاقل فلا يصح بيعه وشراؤه إلا بإذن سيده فعلى البقال والخباز والقصاب وغيرهم أن لا يعاملوا العبيد ما لم تأذن لهم السادة في معاملتهم وذلك بأن يسمعه صريحاً أو ينتشر في البلد أنه مأذون له في الشراء لسيده وفي البيع له فيعول على الاستفاضة أو على قول عدل يخبره بذلك فإن عامله بغير إذن السيد فعقده باطل وما أخذه منه مضمون عليه لسيده وما تسلمه إن ضاع في يد العبد لا يتعلق برقبته ولا يضمنه سيده بل ليس له إلا المطالبة إذا عتق
Adapun hamba sahaya yang berakal, tidak sah jual dan belinya kecuali dengan izin tuannya. Maka bagi penjual kelontong, pembuat roti, tukang jagal, dan selain mereka, tidak boleh bertransaksi dengan para hamba sahaya selama tuan-tuan mereka belum mengizinkan transaksi dengan mereka. Izin tersebut dapat diketahui dengan mendengarnya secara tegas (sharih) dari tuannya, atau berita itu telah tersebar luas di kota bahwa hamba sahaya itu diizinkan membeli dan menjual untuk tuannya, sehingga ia dapat berpegang pada berita yang terkemuka (istifadhah) atau berita dari seorang yang adil yang mengabarkannya. Jika ia bertransaksi dengannya tanpa izin tuannya, maka akadnya batal; apa yang ia ambil dari hamba sahaya itu menjadi tanggungannya untuk dikembalikan kepada tuannya; dan apa yang ia serahkan kepadanya, jika lenyap di tangan hamba sahaya tersebut, tidak berkaitan dengan fisiknya dan tidak ditanggung oleh tuannya, melainkan ia hanya berhak menagihnya kelak apabila hamba sahaya itu telah merdeka.
وأما الأعمى فإنه يبيع ويشتري ما لا يرى فلا يصح ذلك فليأمره بأن يوكل وكيلاً بصيراً ليشتري له أو يبيع فيصح توكيله ويصح بيع وكيله فإن عامله التاجر بنفسه فالمعاملة فاسدة وما أخذه منه مضمون عليه بقيمته وما سلمه إليه أيضاً مضمون له بقيمته
Adapun orang buta, sesungguhnya ia menjual dan membeli apa yang tidak dapat ia lihat, maka hal itu tidak sah. Hendaknya ia memerintahkannya untuk mewakilkan kepada seorang wakil yang dapat melihat agar membelikan atau menjualkan untuknya; maka perwakilannya sah dan jual beli wakilnya juga sah. Jika pedagang bertransaksi langsung dengan orang buta itu sendiri, maka transaksinya rusak (fasad), dan apa yang ia ambil darinya menjadi tanggungannya sebesar nilainya (qimah), serta apa yang ia serahkan kepadanya juga menjadi tanggungannya sebesar nilainya.
وأما الكافر فتجوز معاملته لكن لا يباع منه المصحف ولا العبد المسلم ولا يباع منه السلاح إن كان من أهل الحرب فإن فعل فهي معاملات مردودة وهو عاص بها ربه
Adapun orang kafir, boleh bertransaksi dengannya, namun tidak boleh menjual mushaf Al-Qur'an maupun hamba sahaya muslim kepadanya. Juga tidak boleh menjual senjata kepadanya jika ia termasuk kafir harbi. Jika ia tetap melakukannya, maka transaksi-transaksi tersebut tertolak (batal) dan ia bermaksiat kepada Tuhannya dengannya.
وأما الجندية من الأتراك والتركمانية والعرب والأكراد والسراق والخونة وأكلة الربا والظلمة وكل من أكثر ماله حرام فلا ينبغي أن يتملك مما في أيديهم شيئاً لأجل أنها حرام إلا إذا عرف شيئاً بعينه أنه حلال وسيأتي تفصيل ذلك في كتاب الحلال والحرام
Adapun para prajurit dari kalangan bangsa Turki, Turkmen, Arab, dan Kurdi, serta para pencuri, pengkhianat, pemakan riba, orang-orang zalim, dan setiap orang yang sebagian besar hartanya haram, maka tidak seyogianya mengambil kepemilikan dari apa yang ada di tangan mereka sedikit pun karena hal itu haram, kecuali jika ia mengetahui secara pasti bahwa benda tertentu itu halal. Penjelasan rinci mengenai hal ini akan hadir dalam Kitab Al-Halal wa Al-Haram.
الركن الثاني في المعقود عليه وهو المال المقصود نقله من أحد العاقدين إلى الآخر ثمناً كان أو مثمناً فيعتبر فيه ستة شروط
Rukun Kedua: Objek Akad (Al-Ma'qud 'Alaih), yaitu harta yang dimaksudkan untuk dipindahkan kepemilikannya dari salah satu pihak yang berakad kepada pihak lainnya, baik sebagai harga (tsaman) maupun barang yang dijual (matsman). Dalam hal ini disyaratkan enam syarat:
الأول أن لا يكون نجساً في عينه فلا يصح بيع كلب وخنزير ولا بيع زبل وعذرة ولا بيع العاج والأواني المتخذة منه فإن العظم ينجس بالموت ولا يطهر الفيل بالدبح ولا يطهر عظمه بالتذكية ولا يجوز بيع الخمر ولا بيع الودك النجس المستخرج من الحيوانات التي لا تؤكل وإن كان يصلح للاستصباح أو طلاء السفن ولا بأس ببيع الدهن الطاهر في عينه الذي نجس بوقوع نجاسة أو موت فأرة فيه فإنه يجوز الانتفاع به في غير الأكل وهو في عينه ليس بنجس وكذلك لا أرى بأساً ببيع بزر القز فإنه أصل حيوان ينتفع به تشبيهه بالبيض وهو أصل حيوان أولى من تشبيهه بالروث
Pertama: Benda tersebut tidak najis pada zatnya (najis 'aini). Maka tidak sah menjual anjing, babi, kotoran hewan, maupun kotoran manusia, dan tidak sah menjual gading gajah serta bejana-bejana yang terbuat darinya, karena tulang menjadi najis sebab kematian, sedang gajah tidak menjadi suci dengan disembelih dan tulangnya tidak suci dengan penyembelihan syar'i (tadzkiyah). Tidak boleh pula menjual khamar dan lemak najis yang dikeluarkan dari hewan-hewan yang tidak boleh dimakan, meskipun lemak tersebut dapat dimanfaatkan untuk penerangan (minyak lampu) atau melumuri perahu. Namun tidak mengapa menjual minyak yang pada zatnya suci tetapi terkena najis (mutanajjis) karena kejatuhan najis atau matinya tikus di dalamnya, sebab ia boleh dimanfaatkan untuk selain dimakan dan ia pada zatnya bukanlah najis. Demikian pula, aku memandang tidak mengapa menjual telur ulat sutra (bizr al-qazz), karena ia merupakan asal-usul hewan yang bermanfaat; menyerupakannya dengan telur—yang merupakan asal-usul hewan—adalah lebih tepat daripada menyerupakannya dengan kotoran.
ويجوز بيع فأرة المسك ويقضى بطهارتها إذا انفصلت من الظبية في حالة الحياة
Dan boleh menjual kantong minyak kasturi (fa'rat al-misk) serta dihukumi suci apabila terlepas dari kijang betina dalam keadaan hidup.
الثاني أن يكون منتفعاً به فلا يجوز بيع الحشرات ولا الفأرة ولا الحية ولا التفات إلى انتفاع المشعبذ بالحية وكذا لاالتفات إلى انتفاع أصحاب الحلق بإخراجها من السلة وعرضها على الناس ويجوز بيع الهرة والنحل وبيع الفهد والأسد وما يصلح لصيد أو ينتفع بجلده ويجوز بيع الفيل لأجل الحمل ويجوز بيع الطوطي وهي الببغاء والطاوس والطيور المليحة الصور وإن كانت لا تؤكل فإن التفرج بأصواتها والنظر إليها غرض مقصود مباح وإنما الكلب هو الذي لا يجوز أن يقتني إعجاباً بصورته لنهي رسول الله ﷺ عنه
Kedua: Benda tersebut bernilai manfaat. Maka tidak boleh menjual serangga, tikus, maupun ular. Tidak perlu dihiraukan manfaat ular bagi tukang sulap, sebagaimana tidak perlu dihiraukan pula manfaatnya bagi para pemain atraksi jalanan yang mengeluarkannya dari keranjang dan mempertunjukkannya kepada orang-orang. Boleh menjual kucing, lebah, macan tutul, singa, dan hewan apa saja yang layak untuk berburu atau dimanfaatkan kulitnya. Boleh pula menjual gajah untuk mengangkut beban, serta menjual burung beo (thuthi), burung merak, dan burung-burung yang elok rupanya meskipun tidak untuk dimakan; sebab menikmati suaranya dan memandangnya merupakan tujuan yang dimaksudkan lagi mubah. Hanya saja anjinglah yang tidak boleh dipelihara sekadar karena kagum pada bentuk rupanya, lantaran adanya larangan dari Rasulullah ﷺ tentang hal itu.
ولا يجوز بيع العود والصنج والمزامير والملاهي فإنه لا منفعة لها شرعاً وكذا بيع الصور المصنوعة من الطين كالحيوانات التي تباع في الأعياد للعب الصبيان فإن كسرها واجب شرعاً وصور الأشجار متسامح بها وأما الثياب والأطباق وعليها صور الحيوانات فيصح بيعها وكذا الستور وقد قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لعائشة ﵂ اتخذي منها نمارق
Dan tidak boleh menjual alat musik kayu (oud), simbal, seruling, dan alat-alat permainan musik lainnya, karena tidak ada manfaatnya secara syariat. Begitu pula penjualan patung-patung atau bentuk-bentuk yang terbuat dari tanah liat seperti bentuk hewan yang dijual pada hari-hari raya untuk mainan anak-anak, sebab menghancurkannya adalah wajib menurut syariat; sedangkan gambar pepohonan ditoleransi (diperbolehkan). Adapun pakaian dan nampan yang memuat gambar-gambar hewan, maka sah jual belinya, demikian pula tirai-tirai. Rasulullah ﷺ telah bersabda kepada 'Aisyah radhiyallahu 'anha, 'Jadikanlah darinya bantal-bantal senderan.'
ولا يجوز استعمالها منصوبة ويجوز موضوعة وإذا جاز الانتفاع من وجه صح البيع لذلك الوجه
Dan tidak boleh menggunakannya dalam keadaan terpasang (ditegakkan/digantungkan), namun boleh bila diletakkan di bawah (dijadikan bantal/alas). Apabila suatu benda boleh dimanfaatkan dari satu sisi, maka sah jual belinya untuk sisi manfaat tersebut.
الثالث أن يكون المتصرف فيه مملوكاً للعاقد أو مأذوناً من جهة المالك ولا يجوز أن يشتري من غير المالك انتظاراً للإذن من المالك بل لو رضي بعد ذلك وجب استئناف العقد ولا ينبغي أن يشتري من الزوجة مال
Ketiga: Benda yang ditransaksikan tersebut adalah milik pihak yang berakad atau mendapat izin dari pemiliknya. Tidak boleh membeli dari selain pemilik dengan menanti izin dari pemiliknya; bahkan seandainya pemiliknya meridhai setelah itu, akad tersebut tetap wajib diperbarui dari awal (isti'naf al-'aqd). Dan tidak seyogianya seseorang membeli harta suami dari pihak istri,
الزوج ولا من الزوج مال الزوجة ولا من الوالد مال الولد ولا من الولد مال الوالد
maupun harta istri dari pihak suami, atau harta anak dari pihak ayah, atau harta ayah dari pihak anak,
اعتماداً على أنه لو عرف لرضي فإنه إذا لم يكن الرضا متقدماً لم يصح البيع وأمثال ذلك مما يجري في الأسواق فواجب على العبد المتدين أن يحترز منه
dengan bersandar pada andaian bahwa jika pemiliknya mengetahui pasti ia akan ridha. Sebab, apabila keridhaan itu tidak mendahului (tidak ada sebelumnya), maka jual beli tersebut tidak sah. Hal-hal semacam inilah yang kerap terjadi di pasar-pasar, maka wajib bagi seorang hamba yang taat beragama untuk membentengi diri dan menjauhinya.
الرابع أن يكون المعقود عليه مقدوراً على تسليمه شرعاً وحساً فما لا يقدر على تسليمه حساً لا يصح بيعه كالآبق والسمك في الماء والجنين في البطن وعسب الفحل وكذلك بيع الصوف على ظهر الحيوان واللبن في الضرع لا يجوز فإنه يتعذر تسليمه لاختلاط غير المبيع بالمبيع والمعجوز عن تسليمه شرعاً كالمرهون والموقوف والمستولدة فلا يصح بيعها أيضاً وكذا بيع الأم دون الولد إذا كان الولد صغيرا وكذا بيع الولد دون الأم لأن تسليمه تفريق بينهما وحرام فلا يصح التفريق بينهما بالبيع
Keempat: Objek akad mampu diserahkan baik secara syariat maupun secara fisik. Maka apa yang tidak mampu diserahkan secara fisik tidak sah jual belinya, seperti budak yang kabur (abaq), ikan di dalam air, janin di dalam kandungan, dan sperma pejantan ('asb al-fahl). Demikian pula menjual bulu domba yang masih di atas punggung hewan dan susu yang masih di dalam kantong kelenjar susu adalah tidak boleh, karena sulit diserahkan akibat bercampurnya bagian yang tidak dijual dengan yang dijual. Adapun barang yang tidak mampu diserahkan secara syariat seperti barang jaminan (marhun), barang wakaf (mauquf), dan hamba sahaya perempuan yang telah melahirkan anak tuannya (mustawladah), maka tidak sah pula jual belinya. Demikian juga penjualan induk tanpa anaknya jika anaknya masih kecil, atau penjualan anak tanpa induknya, karena menyerahkannya berarti memisahkan antara keduanya dan itu haram, sehingga tidak sah memisahkan antara keduanya dengan jalan jual beli.
الخامس أن يكون المبيع معلوم العين والقدر والوصف أما العلم بالعين فبأن يشير إليه بعينه فلو قال بعتك شاة من هذا القطيع أي شاة أردت أو ثوباً من هذه الثياب التي بين يديك أو ذراعاً من هذا الكرباس وخذه من أي جانب شئت أو عشرة أذرع من هذه الأرض وخذه من أي طرف شئت فالبيع باطل وكل ذلك مما يعتاده المتساهلون في الدين إلا أن يبيع شائعاً مثل أن يبيع نصف الشيء أو عشره فإن ذلك جائز
Kelima: Barang yang dijual (al-mabi') harus diketahui wujud (zat), kadar (kuantitas), dan sifat (spesifikasinya). Adapun pengetahuan tentang wujud barang adalah dengan menunjuk langsung kepada zat barang tersebut. Apabila seseorang berkata, "Aku menjual kepadamu seekor domba dari kawanan domba ini, domba mana saja yang kamu kehendaki," atau "selembar pakaian dari pakaian-pakaian yang ada di hadapanmu ini," atau "satu hasta dari kain katun ini, dan ambillah dari sisi mana saja yang kamu mau," atau "sepuluh hasta dari tanah ini, dan ambillah dari bagian mana saja yang kamu mau," maka jual beli tersebut batal. Semua praktik semacam ini termasuk hal yang terbiasa dilakukan oleh orang-orang yang meremehkan urusan agama; kecuali jika ia menjual bagian yang tidak ditentukan secara khusus (kepemilikan berserikat/syā'i'), seperti menjual setengah atau sepersepuluh dari barang tersebut, maka hal itu hukumnya boleh.
وأما العلم بالقدر فإنما يحصل بالكيل أو الوزن أو النظر إليه فلو قال بعتك هذا الثوب بما باع به فلان ثوبه وهما لا يدريان ذلك فهو باطل ولو قال بعتك بزنة هذه الصنجة فهو باطل إذا لم تكن الصنجة معلومة ولو قال بعتك هذه الصبرة من الحنطة فهو باطل أو قال بعتك بهذه الصرة من الدراهم أو بهذه القطعة من الذهب وهو يراها
Adapun pengetahuan tentang kadar barang hanya diperoleh melalui takaran (kail), timbangan (wazan), atau penglihatan kasat mata. Jika ia berkata, "Aku menjual pakaian ini kepadamu dengan harga sebagaimana Fulan menjual pakaiannya," sementara keduanya tidak mengetahui harga tersebut, maka akadnya batal. Begitu pula jika ia berkata, "Aku menjual kepadamu seberat batu timbangan ini," maka akadnya batal apabila berat batu timbangan tersebut tidak diketahui. Demikian pula jika ia berkata, "Aku menjual gandum yang menumpuk ini kepadamu," atau berkata, "Aku menjual barang ini kepadamu dengan seikat dirham ini" atau "dengan potongan emas ini," sementara ia melihatnya secara langsung,
صح البيع وكان تخمينه بالنظر كافياً في معرفة المقدار
maka jual beli tersebut sah, dan taksirannya melalui penglihatan kasat mata sudah cukup dalam mengetahui kadar (kuantitasnya).
وأما العلم بالوصف فيحصل بالرؤية في الأعيان ولا يصح بيع الغائب إلا إذا سبقت رؤيته مذ مدة لا يغلب التغير فيها والوصف لا يقوم مقام العيان هذا أحد المذهبين ولا يجوز بيع الثوب في المنسج اعتماداً على الرقوم ولا بيع الحنطة في سنبلها ويجوز بيع الأرز في قشرته التي يدخر فيها وكذا بيع الجوز واللوز في القشرة السفلى ولا يجوز في القشرتين ويجوز بيع الباقلاء الرطب في قشرته للحاجة ويتسامح ببيع الفقاع لجريان عادة الأولين به ولكن نجعله إباحة بعوض فإن اشتراه ليبيعه فالقياس بطلانه لأنه ليس مستتراً ستر خلقة ولا يبعد أن يتسامح به إذ في إخراجه إفساده كالرمان وما يستر بستر خلق معه
Adapun pengetahuan tentang sifat barang diperoleh dengan cara melihat langsung pada barang tersebut. Tidak sah jual beli barang yang ghaib (tidak ada di tempat akad) kecuali apabila barang itu pernah dilihat sebelumnya dalam jangka waktu yang umumnya barang tersebut belum berubah. Menyebutkan sifat saja tidak dapat menggantikan kedudukan penglihatan kasat mata, ini menurut salah satu dari dua pendapat (dalam mazhab Syafi'i). Tidak boleh menjual kain yang masih berada di alat tenun dengan hanya mengandalkan pola/motifnya, tidak boleh pula menjual gandum yang masih di bulirnya. Namun, boleh menjual beras dalam kulit (gabah) yang menjadi tempat penyimpanannya, demikian pula menjual buah kenari dan almond dalam kulit bagian bawahnya, tetapi tidak boleh dalam kedua lapis kulitnya. Boleh juga menjual kacang babi (fava bean) yang masih basah dalam kulitnya karena adanya kebutuhan (ḥājah). Diberikan toleransi pula pada penjualan fuqqā' (sejenis minuman fermentasi) karena telah berlakunya kebiasaan orang-orang terdahulu, tetapi kita menjadikannya sebagai bentuk kebolehan pemanfaatan dengan imbalan (ibāḥah bi 'awaḍ). Apabila ia membelinya untuk dijual kembali, maka secara kias hukumnya batal karena barang itu tidak tersembunyi dengan pelindung alami bawaannya. Namun, tidak menutup kemungkinan untuk ditoleransi, sebab mengeluarkannya dari wadah tersebut akan merusaknya, sebagaimana halnya buah delima dan barang yang terbungkus oleh pelindung bawaan ciptaannya.
السادس أن يكون المبيع مقبوضاً إن كان قد استفاد ملكه بمعاوضة وهذا شرط خاص وَقَدْ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عن بيع ما لم يقبض
Keenam: Barang yang dijual harus sudah diterima/dikuasai (maqbūḍ) jika kepemilikannya diperoleh melalui akad pertukaran (mu'āwaḍah). Ini merupakan syarat khusus, dan sungguh Rasulullah ﷺ telah melarang menjual barang sebelum diterima (dikuasai).
ويستوي فيه العقار والمنقول فكل ما اشتراه أو باعه قبل القبض فبيعه باطل وقبض المنقول بالنقل وقبض العقار بالتخلية وقبض ما ابتاعه بشرط الكيل لا يتم إلا بأن يكتاله وأما بيع الميراث والوصية والوديعة وما لم يكن الملك حاصلاً فيه بمعاوضة فهو جائز قبل القبض
Dalam hal ini sama saja antara benda tidak bergerak (benda tetap/real estat) dan benda bergerak. Setiap barang yang dibeli atau dijual seseorang sebelum diterima/dikuasai, maka jual belinya batal. Penguasaan (serah terima) benda bergerak adalah dengan cara memindahkannya, penguasaan benda tidak bergerak adalah dengan pelepasan hak dan pengosongan (takhliah), sedangkan penguasaan barang yang dibeli dengan syarat takaran tidaklah sempurna kecuali dengan menakarnya. Adapun penjualan harta warisan, wasiat, titipan (wadī'ah), dan barang yang kepemilikannya tidak diperoleh melalui akad pertukaran, maka hukumnya boleh dijual sebelum diserahterimakan.
الركن الثالث لفظ العقد فلا بد من جريان إيجاب وقبول متصل به بلفظ دال على المقصود مفهم إما صريح أو كناية فلو قال أعطيتك هذا بذاك بدل قوله بعتك فقال قبلته جاز مهما قصدا به البيع لأنه قد يحتمل الإعارة إذا كان في ثوبين أو دابتين والنية تدفع الاحتمال والصريح أقطع للخصومة ولكن الكناية تفيد الملك أيضاً والحل فيما يختاره ولا ينبغي أن يقرر بالبيع شرطاً على خلاف مقتضى العقدة فلو شرط أن يزيد شيئاً آخر وأن يحمل المبيع إلى داره أو اشترى الحطب بشرط النقل إلى داره كل ذلك فاسد إلا إذا أفرد استئجاره على النقل بأجرة معلومة منفردة عن الشراء للمنقول ومهما لم يجر بينهما إلا المعاطاة بالفعل دون التلطف باللسان لم ينعقد البيع
Rukun Ketiga: Lafal akad (lafẓ al-'aqd). Maka harus ada ijab dan kabul yang tersambung dengannya, menggunakan lafal yang menunjukkan maksud serta dapat dipahami, baik berupa lafal yang tegas (ṣarīḥ) maupun sindiran/tersirat (kināyah). Jika seseorang berkata, "Aku berikan barang ini kepadamu dengan ini," sebagai pengganti ucapannya, "Aku menjual ini kepadamu," lalu pembeli menjawab, "Aku terima," maka hukumnya sah selama keduanya bermaksud melakukan jual beli. Sebab ucapan tersebut mengandung kemungkinan pinjam-meminjam (i'ārah) jika berupa dua pakaian atau dua hewan ternak, sedangkan niat dapat menghilangkan kemungkinan tersebut. Lafal yang tegas lebih bisa memutuskan perselisihan, tetapi lafal sindiran juga memberikan faedah kepemilikan dan kehalalan pada apa yang dipilihnya. Tidak sepatutnya dalam jual beli disyaratkan sesuatu yang menyalahi tuntutan akad. Jika disyaratkan untuk menambah sesuatu yang lain, atau menyyaratkan agar barang yang dijual diantarkan ke rumahnya, atau membeli kayu bakar dengan syarat diangkut ke rumahnya, maka semua syarat itu merusak akad (fāsid); kecuali jika ia memisahkan akad sewa-menyewa pengangkutan tersebut dengan upah yang jelas dan terpisah dari pembelian barang bergerak tersebut. Dan selama tidak terjadi di antara keduanya melainkan serah terima barang dan uang secara perbuatan semata (mu'āṭāh) tanpa diiringi kelembutan bahasa lisan, maka jual beli tersebut tidak sah
عند الشافعي أصلاً وانعقد عند أبي حنيفة إن كان في المحقرات ثم ضبط المحقرات عسير فإن رد الأمر إلى العادات فقد جاوز الناس المحقرات في المعاطاة إذ يتقدم الدلال إلى البزاز يأخذ منه ثوباً ديباجاً قيمته عشرة دنانير مثلاً ويحمله إلى المشتري ويعود إليه بأنه ارتضاه فيقول له خذ عشرة فيأخذ من صاحبه العشرة ويحملها ويسلمها إلى البزاز فيأخذها ويتصرف فيها ومشترى الثوب يقطعه ولم يجر بينهما إيجاب وقبول أصلاً وكذلك يجتمع المجهزون على حانوت البياع فيعرض متاعاً قيمته مائة دينار مثلاً فيمن يزيد فيقول أحدهم هذا علي بتسعين ويقول الآخر هذا علي بخمسة وتسعين ويقول الآخر هذا بمائة فيقال له زن فيزن ويسلم ويأخذ المتاع من غير إيجاب وقبول فقد استمرت به العادات وهذه من المعضلات التي ليست تقبل العلاج إذ الاحتمالات ثلاثة إما فتح باب المعاطاة مطلقاً في الحقير والنفيس وهو محال إذ فيه نقل الملك من غير لفظ دال عليه وقد أحل الله البيع والبيع اسم للإيجاب والقبول ولم يجر ولم ينطلق اسم البيع على مجرد فعل بتسليم وتسلم فبماذا يحكم بانتقال الملك من الجانبين لا سيما في الجواري والعبيد والعقارات والدواب النفيسة وما يكثر التنازع فيه إذ للمسلم أن يرجع ويقول قد ندمت وما بعته إذ لم يصدر مني إلا مجرد تسليم وذلك ليس ببيع
menurut Imam Asy-Syafi'i secara mutlak, namun sah menurut Abu Hanifah jika terjadi pada barang-barang yang bernilai remeh/kecil (al-muḥaqqarāt). Kemudian, menentukan batasan barang-barang remeh itu tergolong sulit. Jika urusan ini dikembalikan kepada adat kebiasaan, sungguh manusia telah melampaui batas barang remeh dalam praktik mu'āṭāh. Sebab seorang perantara (makelar) kerap mendatangi penjual kain, mengambil selembar kain sutera yang bernilai misalnya sepuluh dinar, membawanya kepada pembeli, lalu kembali kepada penjual seraya memberitahu bahwa pembeli menyukainya. Penjual berkata kepadanya, "Ambillah sepuluh dinar," maka ia mengambil sepuluh dinar dari pembeli, membawanya dan menyerahkannya kepada penjual kain. Penjual mengambilnya dan bertindak atas uang itu, sementara pembeli kain memotong kain tersebut, padahal di antara mereka berdua tidak terjadi ucapan ijab dan kabul sama sekali. Demikian pula para pemborong berkumpul di toko penjual, lalu ia menawarkan barang dagangan yang bernilai misalnya seratus dinar dalam sistem lelang. Salah seorang berkata, "Aku beli ini seharga sembilan puluh," yang lain berkata, "Aku beli seharga sembilan puluh lima," dan yang lain lagi berkata, "Aku beli seharga seratus." Lalu dikatakan kepadanya, "Timbanglah harganya," maka ia menimbang uangnya, menyerahkannya, dan mengambil barang tersebut tanpa adanya ucapan ijab dan kabul. Sungguh kebiasaan ini telah berlangsung terus-menerus, dan ini termasuk masalah rumit yang sulit diurai solusinya. Sebab terdapat tiga kemungkinan: Pertama, membuka pintu kebolehan mu'āṭāh secara mutlak, baik pada barang remeh maupun barang bernilai tinggi; dan ini mustahil, karena di dalamnya terdapat pemindahan kepemilikan tanpa lafal yang meunjukkannya. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli, dan jual beli adalah nama bagi ijab dan kabul yang tidak terjadi dalam kasus ini, serta nama jual beli tidak dapat disematkan hanya pada perbuatan menyerahkan dan menerima semata. Lantas dengan dasar apa diputuskan terjadinya perpindahan kepemilikan dari kedua belah pihak, terlebih lagi pada budak perempuan, budak laki-laki, benda tetap/real estat, hewan ternak berharga, dan hal-hal yang sering memicu perselisihan? Sebab orang yang menyerahkan berhak untuk menarik kembali seraya berkata, "Aku menyesal dan aku belum menjualnya, karena tidak ada yang bersumber dariku selain sekadar penyerahan, dan itu bukanlah jual beli."
الاحتمال الثاني أن نسد الباب بالكلية كما قال الشافعي ﵀ من بطلان العقد وفيه إشكال من وجهين
Kemungkinan kedua adalah kita menutup pintu tersebut secara keseluruhan sebagaimana pendapat Imam Asy-Syafi'i (semoga Allah merahmatinya) mengenai batalnya akad. Namun pada pendapat ini terdapat kemusykilan dari dua sisi:
أحدهما أنه يشبه أن يكون ذلك في المحقرات معتاداً في زمن الصحابة ولو كانوا يتكلفون الإيجاب والقبول من البقال والخباز والقصاب لثقل عليهم فعله ولنقل ذلك نقلا منتشرا ولكان يشتهر وقت الإعراض بالكلية عن تلك العادة فإن الأعصار في مثل هذا تتفاوت
Salah satunya, tampaknya praktik mu'āṭāh pada barang-barang yang remeh merupakan hal yang biasa dilakukan pada zaman para sahabat. Seandainya mereka memaksakan diri mengucapkan ijab dan kabul kepada tukang sayur, tukang roti, dan tukang jagal, niscaya perbuatan itu terasa berat bagi mereka dan tentu akan diriwayatkan dengan periwayatan yang meluas, serta akan menjadi terkenal pada saat timbul kepalingan secara total dari kebiasaan tersebut. Sebab, kebiasaan tiap zaman dalam hal seperti ini berbeda-beda.
والثاني أن الناس الآن قد انهمكوا فيه فلا يشتري الإنسان شيئاً من الأطعمة وغيرها إلى ويعلم أن البائع قد ملكه بالمعاطاة فأي فائدة في تلفظه بالعقد إذا كان الأمر كذلك
Sisi kedua adalah bahwa manusia saat ini telah tenggelam di dalamnya. Seseorang tidak membeli suatu makanan atau barang lainnya melainkan ia mengetahui bahwa penjual telah memilikinya melalui jalan mu'āṭāh. Lantas apa faedahnya ia mengucapkan lafal akad jika keadaannya demikian?
الاحتمال الثالث أن يفصل بين المحقرات وغيرها كما قاله أبو حنيفة ﵀ وعند ذلك يتعسر الضبط في المحقرات ويشكل وجه نقل الملك من غير لفظ يدل عليه وقد ذهب ابن سريج إلى تخريج قول للشافعي ﵀ على وفقه وهو أقرب الاحتمالات إلا الاعتدال فلا بأس لو ملنا إليه لمسيس الحاجات ولعموم ذلك بين الخلق ولما يغلب على الظن بأن ذلك كان معتاداً في الأعصار الأولى
Kemungkinan ketiga adalah membedakan antara barang-barang yang remeh dan barang-barang lainnya, sebagaimana dikemukakan oleh Abu Hanifah r.a. Namun pada kondisi itu, sukar menentukan batasan barang-barang remeh, dan timbul kemusykilan mengenai bentuk pemindahan kepemilikan tanpa lafal yang menunjukkannya. Ibnu Suraij telah berpendapat memunculkan (takhrij) suatu pendapat bagi Asy-Syafi'i r.a. yang sejalan dengannya. Kemungkinan ini merupakan yang paling mendekati sikap pertengahan, sehingga tidak mengapa jika kita mengarah kepadanya karena mendesaknya kebutuhan, meluasnya hal itu di antara manusia, serta kuatnya persangkaan (ẓan) bahwa hal tersebut merupakan kebiasaan yang berlaku pada zaman-zaman terdahulu.
فأما الجواب عن الإشكالين فهو أن نقول أما الضبط في الفصل بين المحقرات وغيرها فليس علينا تكلفة بالتقدير فإن ذلك غير ممكن بل له طرفان واضحان إذ لا يخفى أن شراء البقل وقليل من الفواكه والخبز واللحم من المعدود من الحقرات التي لا يعتاد فيها إلا المعاطاة وطالب الإيجاب والقبول فيه يعد مستقصياً ويستبرد تكليفه لذلك ويستثقل وينسب إلى أنه يقيم الوزن لأمر حقير ولى وجه له هذا طرف الحقارة والطرف الثاني الدواب والعبيد والعقارات والثياب النفيسة فذلك مما لا يستبعد تكلف الإيجاب والقبول فيها وبينهما أوساط متشابهة يشك فيها هي في محل الشبهة فحق ذي الدين أن يميل فيها إلى الاحتياط وجميع ضوابط الشرع فيما يعلم بالعادة كذلك ينقسم إلى أطراف واضحة وأوساط مشكلة
Adapun jawaban atas kedua kemusykilan tersebut adalah kita katakan: Mengenai penentuan batasan dalam memisahkan antara barang remeh dan selainnya, kita tidak dituntut untuk menetapkan kadar ukurannya secara pasti, karena hal itu memang tidak memungkinkan. Akan tetapi, ia memiliki dua ujung yang jelas: Tidak samar lagi bahwa membeli sayur-mayur, sedikit buah-buahan, roti, dan daging tergolong barang-barang remeh yang biasanya tidak berlaku di dalamnya kecuali mu'āṭāh. Orang yang menuntut ijab dan kabul di dalamnya dianggap berlebihan (sikap kaku), ditanggapi dingin tuntutannya, terasa berat, dan dinisbatkan kepada sikap mementingkan kadar perkara remeh yang tidak ada alasannya. Ini adalah batas keremehan. Sedangkan batas kedua adalah hewan ternak, budak, benda tidak bergerak/real estat, dan pakaian-pakaian mahal; yang mana memaksakan ijab dan kabul padanya bukanlah hal yang asing. Di antara kedua batas tersebut terdapat taraf pertengahan yang serupa dan samar, yang berada dalam wilayah syubhat. Maka hak seorang yang taat beragama adalah cenderung mengambil sikap berhati-hati (iḥtiyāṭ) padanya. Seluruh batasan syariat mengenai apa yang diketahui melalui adat kebiasaan adalah demikian: terbagi menjadi batas-batas yang jelas dan taraf pertengahan yang samar.
وأما الثاني وهو طلب سبب لنقل الملك فهو أن يجعل الفعل باليد أخذاً وتسليماً سبباً لعينه بل لدلالته وهذا الفعل قد دل على مقصود البيع دلالة مستمرة في العادة وانضم إليه مسيس الحاجة وعادة الأولين واطراد جميع العادات بقبول الهدايا من غير إيجاب وقبول مع التصرف فيها وأي فرق بين أن يكون فيه عوض أو لا يكون إذ الملك لا بد من نقله في الهبة أيضاً إلا أن العادة السالفة لم تفرق في الهدايا بين الحقير والنفيس بل كان طلب الإيجاب والقبول يستقبح فيه كيف كان وفي المبيع لم يستقبح في غير المحقرات هذا ما نراه أعدل الاحتمالات وحق الورع المتدين أن لا يدع الإيجاب والقبول للخروج عن شبهة الخلاف فلا ينبغي أن يمتنع من ذلك لأجل
Adapun yang kedua, yaitu tuntutan adanya sebab bagi pemindahan kepemilikan, maka perbuatan tangan berupa mengambil dan menyerahkan tidak dijadikan sebagai sebab karena wujud perbuatannya itu sendiri, melainkan karena indikasi (dalālah) yang dikandungnya. Perbuatan ini telah menunjukkan maksud jual beli dengan petunjuk yang berlaku secara konsisten menurut adat kebiasaan, diiringi oleh mendesaknya kebutuhan, kebiasaan orang-orang terdahulu, serta berlakunya seluruh kebiasaan berupa penerimaan hadiah tanpa ijab dan kabul beserta kebolehan bertindak atasnya. Lantas apa bedanya antara akad yang memiliki imbalan ('awaḍ) dan yang tidak? Sebab kepemilikan harus dipindahkan pula dalam hibah. Hanya saja kebiasaan masa lalu tidak membedakan dalam hal hadiah antara barang remeh dan barang bernilai tinggi, bahkan tuntutan ijab dan kabul di dalamnya dianggap buruk bagaimanapun keadaannya; sedangkan pada barang yang dijual, tuntutan itu tidak dianggap buruk selain pada barang-barang yang remeh. Inilah yang kami pandang sebagai kemungkinan yang paling adil. Namun, hakikat sikap wara' bagi orang yang taat beragama adalah tidak meninggalkan ijab dan kabul guna keluar dari kesamaran perselisihan pendapat (khilāf). Maka tidak sepatutnya seseorang enggan dari hal itu hanya karena alasan
أن البائع قد تملكه بغير إيجاب وقبول فإن ذلك لا يعرف تحقيقاً فربما اشتراه بقبول وإيجاب فإن كان حاضراً عند شرائه أو أقر البائع به فيمتنع منه وليشتر من غيره فإن كان الشيء محقراً وهو إليه محتاج فليتلفظ بالإيجاب والقبول فإنه يستفيد به قطع الخصومة في المستقبل معه إذ الرجوع من اللفظ الصريح غير ممكن ومن الفعل ممكن
bahwa penjual memilikinya tanpa ijab dan kabul, karena hal itu tidak diketahui secara pasti; boleh jadi ia membelinya dengan ijab dan kabul. Jika ia hadir saat pembelinya atau penjual mengakunya, hendaklah ia menahan diri darinya dan membeli dari orang lain. Apabila barang tersebut tergolong remeh dan ia membutuhkannya, hendaklah ia mengucapkan ijab dan kabul, sebab dengannya ia memperoleh faedah memutus perselisihan di masa depan bersamanya; mengingat pembatalan dari lafal yang tegas tidaklah memungkinkan, sedangkan dari perbuatan semata adalah memungkinkan.
فإن قلت فإن أمكن هذا فيما يشتريه فكيف يفعل إذا حضر في ضيافة أو على مائدة وهو يعلم أن أصحابها يكتفون بالمعاطاة في البيع والشراء أو سمع منهم ذلك أو رآه أيجب عليه الامتناع من الأكل فأقول يجب عليه الامتناع من الشراء إذا كان ذلك الشيء الذي اشتروه مقداراً نفيساً ولم يكن من المحقرات
Jika Anda bertanya: "Apabila hal ini memungkinkan pada barang yang dibelinya, lalu bagaimana ia bertindak jika ia menghadiri suatu perjamuan atau di hadapan meja makan, sementara ia mengetahui bahwa pemiliknya mencukupkan diri dengan mu'āṭāh dalam jual beli, atau ia mendengar hal itu dari mereka atau melihatnya, apakah wajib baginya menahan diri dari memakannya?" Maka aku katakan: Wajib baginya menahan diri dari membeli apabila barang yang mereka beli itu bernilai tinggi dan bukan termasuk barang-barang yang remeh.
وأما الأكل فلا يجب الامتناع منه فإني أقول إن ترددنا في جعل الفعل دلالة على نقل الملك فلا ينبغي أن لا نجعله دلالة على الإباحة فإن أمر الإباحة أوسع وأمر نقل الملك أضيق فكل مطعوم جرى فيه بيع معاطاة فتسليم البائع إذن في الأكل يعلم ذلك بقرينة الحال كإذن الحمامي في دخول الحمام والإذن في الإطعام لمن يريده المشتري فينزل منزلة ما لو قال أبحت لك أن تأكل هذا الطعام أو تطعم من أردت فإنه يحل له ولو صرح وقال كل هذا الطعام ثم أغرم لي عوضه لحل الأكل ويلزمه الضمان بعد الأكل هذا قياس الفقه عندي ولكنه بعد المعاطاة آكل ملكه ومتلفاً له فعليه الضمان وذلك في ذمته والثمن الذي سلمه إن كان مثل قيمته فقد ظفر المستحق بمثل حقه فله أن يتملكه مهما عجز عن مطالبة من عليه وإن كان قادراً على مطالبته فإنه لا يتملك ما ظفر به من ملكه لأنه ربما لا يرضى بتلك العين أن يصرفها إلى دينه فعليه المراجعة
Adapun memakannya, maka tidak wajib menahan diri darinya. Sebab aku katakan: Jika kita ragu dalam menjadikan perbuatan sebagai indikasi pemindahan kepemilikan, maka tidak sepatutnya kita tidak menjadikannya sebagai indikasi kebolehan (ibāḥah). Urusan kebolehan itu lebih luas, sedangkan urusan pemindahan kepemilikan lebih sempit. Setiap makanan yang di dalamnya terjadi jual beli mu'āṭāh, maka penyerahan dari penjual merupakan izin untuk memakannya, yang mana hal itu diketahui melalui indikasi keadaan (qarīnah al-ḥāl); seperti izin pengelola pemandian umum untuk memasuki pemandian, dan izin memberi makan kepada siapa saja yang dikehendaki oleh pembeli. Maka kedudukannya sama seperti jika penjual berkata, "Aku bolehkan kamu memakan makanan ini atau memberi makan siapa yang kamu kehendaki," maka halal baginya memakannya. Seandainya ia menegaskan seraya berkata, "Makanlah makanan ini lalu ganti rugilah harganya kepadaku," niscaya memakannya tetap halal dan ia wajib menanggung ganti rugi (ḍamān) setelah memakannya. Ini adalah kias fiqih menurutku. Akan tetapi, setelah terjadi mu'āṭāh, pembeli memakan barang miliknya sendiri dan merusaknya, maka ganti rugi menjadi kewajibannya dalam tanggungannya. Dan harga yang diserahkannya, jika nilainya setara dengan harga barang tersebut, maka orang yang berhak telah mendapatkan sesuatu yang setara dengan haknya, sehingga ia berhak memilikinya selama ia tidak mampu menuntut orang yang menanggungnya. Namun jika ia mampu menuntutnya, ia tidak boleh langsung memiliki apa yang ia dapatkan dari miliknya, sebab boleh jadi pemilik tidak ridha jika barang tersebut dialihkan untuk melunasi hutangnya, maka ia wajib mengonfirmasinya kembali.
وأما ههنا فقد عرف رضاه بقرينة الحال عند التسليم فلا يبعد أن يجعل الفعل دلالة على الرضاء بأن يستوفي دينه مما يسلم إليه فيأخذه بحقه لكن على كل الأحوال جانب البائع أغمض لأن ما أخذه قد يريد المالك ليتصرف فيه ولا يمكنه التملك إلا إذا أتلف عين طعامه في يد المشتري ثم ربما يفتقر إلى استئناف قصد التملك ثم يكون قد تملك بمجرد رضاً استفاده من الفعل دون القول
Adapun dalam masalah ini, kerelaannya telah diketahui melalui indikasi keadaan (qarīnah al-ḥāl) saat serah terima, maka tidak jauh kemungkinan untuk menjadikan perbuatan sebagai indikasi kerelaan agar ia melunasi hutangnya dari apa yang diserahkan kepadanya, sehingga ia mengambilnya sebagai haknya. Namun dalam segala kondisi, sisi penjual lebih samar; sebab apa yang diambilnya boleh jadi diinginkan oleh pemilik untuk bertindak atasnya, dan ia tidak mungkin memilikinya kecuali jika ia menghabiskan wujud makanannya di tangan pembeli, kemudian boleh jadi ia memerlukan niat baru untuk memilikinya, lalu ia menjadi pemilik hanya berdasarkan kerelaan yang diperoleh dari perbuatan tanpa ucapan.
وأما جانب المشتري للطعام وهو لا يريد إلا الأكل فهين فإن ذلك يباح بالإباحة المفهومة من قرينة الحال ولكن ربما يلزم من مشاورته أن الضيف يضمن ما أتلفه وإنما يسقط الضمان عنه إذا تملك البائع ما أخذه من المشتري فيسقط فيكون كالقاضي دينه والمتحمل عنه فهذا ما نراه في قاعدة المعاطاة على غموضها والعلم عند الله وهذه احتمالات وظنون رددناها ولا يمكن بناء الفتوى إلا على هذه الظنون وأما الورع فإنه ينبغي أن يستفتى قلبه ويتقي مواضع الشبه العقد الثاني عقد الربا
Adapun dari sisi pembeli makanan yang tidak menginginkan selain memakannya, maka urusannya ringan; sebab hal itu dibolehkan dengan kebolehan yang dipahami dari indikasi keadaan. Akan tetapi, boleh jadi dari pencermatan masalah ini konsekuensinya adalah bahwa tamu menanggung ganti rugi atas apa yang dihabiskannya, dan ganti rugi itu baru gugur darinya apabila penjual memiliki apa yang diambilnya dari pembeli sehingga gugurlah tanggungan tersebut, maka ia seperti orang yang melunasi hutangnya dan orang yang menanggungnya. Inilah apa yang kami pandang dalam kaidah mu'āṭāh beserta kerumitannya, dan ilmu yang hakiki ada di sisi Allah. Ini semua adalah berbagai kemungkinan dan persangkaan (ẓan) yang kami timbang kembali, dan tidak mungkin membangun fatwa melainkan di atas persangkaan-persangkaan ini. Adapun sikap wara' (kewiraian), maka sepantasnya seseorang meminta fatwa kepada hatinya dan bertakwa/menjauhi tempat-tempat yang mengandung syubhat. Akad Kedua: Akad Riba.
وقد حرمه الله تعالى وشدد الأمر فيه ويجب الاحتراز منه على الصيارفة المتعاملين على النقدين وعلى المتعاملين على الأطعمة إذ لا ربا إلا في نقد أو في طعام
Sungguh Allah Ta'ala telah mengharamkannya dan memperkeras urusannya. Wajib untuk membentengi diri darinya bagi para penukar uang (sayārifah) yang bertransaksi dengan dua mata uang (emas dan perak/naqdain), serta bagi orang-orang yang bertransaksi dalam bahan makanan; sebab tidak ada riba melainkan pada mata uang atau pada bahan makanan.
وعلى الصيرفي أن يحترز من النسيئة والفضل
Hendaknya seorang *shairafi* (penukar uang/bankir) mewaspadai *nasi'ah* (penundaan serah terima) dan *fadhl* (kelebihan/selisih timbangan).
أما النسيئة فأن لا يبيع شيئاً من جواهر النقدين بشيء من جواهر النقدين إلا يداً بيد وهو أن يجري التقابض في المجلس وهذا احتراز من النسيئة وتسليم الصيارفة الذهب إلى دار الضرب وشراء الدنانير المضروبة حرام من حيث النساء ومن حيث إن الغالب أن يجري فيه تفاضل إذ لا يرد المضروب بمثل وزنه
Adapun *nasi'ah*, hendaknya ia tidak menjual barang apa pun dari substansi dua mata uang utama (emas dan perak) dengan substansi dua mata uang utama lainnya melainkan secara tunai (*yadan bi yadin*), yaitu terjadi serah terima (*taqabudh*) secara langsung di majelis akad. Ini merupakan langkah preventif dari *nasi'ah*. Penyerahan emas oleh para penukar uang ke rumah cetak koin (*dar al-dharb*) dan pembelian dinar cetakan adalah haram dari segi *nasa'* (penundaan) dan dari segi bahwa umumnya terjadi *tafadhul* (selisih timbangan) di dalamnya, sebab koin cetakan tidak dikembalikan setara dengan timbangannya.
وأما الفضل فيحترز منه في ثلاثة أمور في بيع المكسر بالصحيح فلا تجوز المعاملة فيهما إلا مع المماثلة
Adapun *fadhl* (kelebihan), hendaknya diwaspadai dalam tiga hal: Pertama, dalam penjualan emas/perak yang pecah/rusak dengan yang utuh, maka transaksi pada keduanya tidak boleh kecuali dengan kesamaan kadar timbangan (*mumatsalah*).
وفي بيع الجيد بالرديء فلا ينبغي أن يشتري رديئاً بجيد دونه في الوزن أو يبيع رديئاً بجيد فوقه في الوزن أعني إذا باع الذهب بالذهب والفضة بالفضة فإن اختلف الجنسان فلا حرج في الفضل
Kedua, dalam penjualan barang berkualitas baik dengan barang berkualitas buruk. Maka tidak sepatutnya ia membeli barang yang buruk dengan barang yang baik yang timbangannya lebih rendah, atau menjual barang yang buruk dengan barang yang baik yang timbangannya lebih tinggi; maksudnya jika ia menjual emas dengan emas atau perak dengan perak. Namun apabila kedua jenisnya berbeda, maka tidak ada halangan jika terdapat kelebihan timbangan (*fadhl*).
والثالث في المركبات من الذهب والفضة كالدنانير المخلوطة من الذهب والفضة إن كان
Ketiga, pada benda-benda yang tersusun dari campuran emas dan perak, seperti dinar yang bercampur antara emas dan perak. Jika
مقدرا الذهب مجهولاً لم تصح المعاملة عليها أصلاً إلا إذا كان ذلك نقداً جارياً في البلد فإنا نرخص في المعاملة عليه إذا لم يقابل بالنقد وكذا الدراهم المغشوشة بالنحاس إن لم تكن رائجة في البلد لم تصح المعاملة عليها لأن المقصود منها النقرة وهي مجهولة وإن كان نقداً رائجاً في البلد رخصنا في المعاملة لأجل الحاجة وخروج النقرة عن أن يقصد استخراجها ولكن لا يقابل بالنقرة أصلاً وكذلك كل حلي مركب من ذهب وفضة فلا يجوز شراؤه لا بالذهب ولا بالفضة بل ينبغي أن يشتري بمتاع آخر إن كان قدر الذهب منه معلوماً إلا إذا كان مموهاً بالذهب تمويهاً لا يحصل منه ذهب مقصود عند العرض على النار فيجوز بيعها بمثلها من النقرة بما أريد من غير النقرة وكذلك لا يجوز للصيرفي أن يشتري قلادة فيها خرز وذهب بذهب ولا أن يبيعه بل بالفضة يداً بيد إن لم يكن فيها فضة ولا يجوز شراء ثوب منسوج بذهب يحصل منه ذهب مقصود عند العرض على النار بذهب ويجوز بالفضة غيرها وأما المتعاملون على الأطعمة فعليهم التقابض في المجلس اختلف جنس الطعام المبيع والمشترى أو لم يختلف فإن اتحد الجنس فعليهم التقابض ومراعاة المماثلة والمعتاد في هذا معاملة القصاب بأن يسلم إليه الغنم ويشتري بها اللحم نقداً أو نسيئة فهو حرام ومعاملة الخباز بأن يسلم إليه الحنطة ويشتري بها الخبز نسيئة أو نقداً فهو حرام ومعاملة العصار بإن يسلم إليه البزر والسمسم والزيتون ليأخذ منه الأدهان فهو حرام وكذا اللبان يعطي اللبن ليؤخذ منه الجبن والسمن والزبد وسائر أجراء اللبن فهو أيضاً حرام ولا يباع الطعام بغير جنسه من الطعام إلا نقداً وبجنسه إلا نقداً ومتماثلاً وكل ما يتخذ من الشيء المطعوم فلا يجوز أن يباع به متماثلاً ولا متفاضلاً فلا يباع بالحنطة دقيق وخبز وسويق ولا بالعنب والتمر دبس وخل وعصير ولا باللبن سمن وزبد ومخيض ومصل وجبن والمماثلة لا تفيد إذا لم يكن الطعام في حال كمال الادخار فلا يباع الرطب بالرطب والعنب بالعنب متفاضلاً ومتماثلاً فهذه جمل مقنعة في تعريف البيع والتنبيه على ما يشعر التاجر بمثارات الفساد حتى يستفتي فيها إذا تشكك والتبس عليه شيء منها وإذا لم يعرف هذا لم يتفطن لمواضع السؤال واقتحم الربا والحرام وهو لا يدري العقد الثالث السلم
kadar emasnya tidak diketahui, maka transaksi atasnya sama sekali tidak sah, kecuali jika barang tersebut merupakan mata uang yang berlaku umum di negeri itu; sungguh kami memberikan keringanan dalam bertransaksi dengannya apabila tidak ditukarkan secara langsung dengan mata uang murni. Demikian pula dirham yang bercampur tembaga; jika tidak berlaku umum di negeri itu, tidak sah bertransaksi dengannya karena yang dituju darinya adalah perak murninya (*nuqrah*), sementara kadarnya tidak diketahui. Apabila ia merupakan mata uang yang berlaku umum di negeri itu, kami beri keringanan dalam bertransaksi demi pemenuhan kebutuhan (*hajah*) dan karena perak murni tersebut tidak lagi menjadi tujuan utama untuk dipisahkan, namun tetap tidak boleh ditukarkan dengan perak murni sama sekali. Demikian juga setiap perhiasan yang terbuat dari campuran emas dan perak, tidak boleh dibeli baik dengan emas maupun perak, melainkan hendaknya dibeli dengan barang (*muta'*) lain jika kadar emasnya diketahui, kecuali jika hanya disepuh dengan emas secara tipis yang tidak menghasilkan emas signifikan saat dilebur di atas api, maka boleh menjualnya dengan sesamanya dari perak atau dengan selain perak sesukanya. Demikian pula tidak boleh bagi seorang *shairafi* membeli kalung yang padanya terdapat manik-manik dan emas dengan emas, dan tidak boleh menjualnya melainkan dengan perak secara tunai (*yadan bi yadin*) jika di dalamnya tidak mengandung perak. Dan tidak boleh membeli pakaian yang ditenun dengan benang emas—yang dapat menghasilkan emas signifikan jika dilebur di atas api—dengan emas, tetapi boleh dengan perak atau selainnya. Adapun orang-orang yang bertransaksi bahan makanan, mereka wajib melakukan serah terima di majelis akad (*taqabudh fi al-majlis*), baik jenis makanan yang dijual dan dibeli itu berbeda maupun tidak berbeda. Jika jenisnya sama, mereka wajib melakukan serah terima dan menjaga kesamaan kadar (*mumatsalah*). Kebiasaan yang terjadi dalam hal ini seperti transaksi dengan jagal (*qasshab*), yaitu menyerahkan kambing kepadanya untuk mengambil daging secara tunai maupun kredit, maka hukumnya haram. Transaksi dengan pembuat roti (*khabbaz*), yaitu menyerahkan gandum kepadanya untuk mengambil roti darinya secara kredit maupun tunai, hukumnya haram. Transaksi dengan pemerah minyak (*'ashshar*), yaitu menyerahkan biji-bijian, wijen, atau zaitun kepadanya untuk diambil minyaknya, hukumnya haram. Begitu pula pembuat produk susu (*labban*), diberikan susu kepadanya untuk diambil keju, minyak samin, mentega, dan olahan susu lainnya, itu juga haram. Makanan tidak boleh dijual dengan makanan jenis lain kecuali secara tunai, dan tidak boleh dengan jenis yang sama kecuali secara tunai dan sama kadarnya (*matamatsil*). Setiap produk yang diolah dari suatu bahan makanan tidak boleh dijual dengan bahan asalnya, baik secara setara maupun berbeda kadarnya. Maka gandum tidak boleh dijual dengan tepung, roti, atau *sawiq*; anggur dan kurma tidak boleh dijual dengan sirup/sari buah (*dibs*), cuka, atau jus; susu tidak boleh dijual dengan samin, mentega, susu asam (*makhidh*), air dadih (*mashl*), atau keju. Kesamaan kadar (*mumatsalah*) tidak dianggap sah jika makanan tersebut tidak dalam kondisi sempurna untuk disimpan (*kamal al-iddikhar*), maka kurma basah tidak boleh dijual dengan kurma basah, dan anggur segar dengan anggur segar, baik secara berbeda maupun sama kadarnya. Inilah kaidah-kaidah yang mencukupi dalam menjelaskan jual beli dan memberikan peringatan kepada pedagang tentang sumber-sumber kerusakan, agar ia dapat meminta fatwa ketika meragukan dan merasa samar akan sesuatu darinya. Jika ia tidak mengetahui hal ini, ia tidak akan menyadari poin-poin yang perlu ditanyakan, sehingga terperosok ke dalam riba dan keharaman tanpa ia sadari. Akad Ketiga: *Salam* (Jual Beli Pemesanan/Inden).
وليراع التاجر فيه عشرة شروط
Hendaknya pedagang memperhatikan sepuluh syarat dalam akad *salam*:
الأول أن يكون رأس المال معلوماً على مثله حتى لو تعذر تسليم المسلم فيه أمكن الرجوع إلى قيمة رأس المال فإن أسلم كفا من الدراهم جزافاً في كر حنطة لم يصح في أحد القولين
Pertama, modal (*ra's al-mal*) harus diketahui ukurannya berdasarkan padanannya, sehingga jika penyerahan barang yang dipesan (*muslam fih*) mengalami kendala, memungkinkan untuk kembali kepada nilai modal tersebut. Maka jika seseorang menyerahkan segenggam dirham secara taksiran (*juzāfan*) untuk pemesanan satu *kurr* gandum, hukumnya tidak sah menurut salah satu dari dua pendapat (*qaul*).
الثاني أن يسلم رأس المال في مجلس العقد قبل التفرق فلو تفرقا قبل القبض انفسخ السلم
Kedua, menyerahkan modal (*ra's al-mal*) secara langsung di majelis akad sebelum berpisah. Jika kedua belah pihak berpisah sebelum penyerahan modal (*qabdh*), maka akad *salam* dianggap batal.
الثالث أن يكون المسلم فيه مما يمكن تعريف أوصافه كالحبوب والحيوانات والمعادن والقطن والصوف والابريسم والألبان واللحوم ومتاع العطارين وأشباهها ولا يجوز في المعجونات والمركبات وما تختلف أجزاؤه كالقسي المنوعة والنبل المعمول والخفاف والنعال المختلفة أجزاؤها وصنعتها وجلود الحيوانات
Ketiga, barang yang dipesan (*muslam fih*) merupakan barang yang dapat dijelaskan kriteria sifatnya, seperti biji-bijian, hewan, barang tambang, kapas, wol, sutra, susu, daging, rempah-rempah peramu obat/parfum, dan sejenisnya. Dan tidak boleh dilakukan akad *salam* pada benda-benda adonan/pasta, benda komposit (campuran), serta benda yang komponennya bervariasi, seperti berbagai jenis busur panah, anak panah jadi, sepatu bot (*khuff*), sandal yang bagian-bagian serta pengerjaannya bervariasi, dan kulit hewan.
ويجوز السلم في الخبز
Dan diperbolehkan akad *salam* pada roti,
وما يتطرق إليه من اختلاف قدر الملح والماء بكثرة الطبخ وقلته يعفى عنه ويتسامح فيه
serta variasi yang terjadi pada kadar garam dan air akibat lama atau singkatnya proses memasak dimaafkan dan ditoleransi.
الرابع أن يستقصي وصف هذه الأمور القابلة للوصف حتى لا يبقى وصف تتفاوت به القيمة تفاوتاً لا يتغابن بمثله الناس إلا ذكره
Keempat, merinci secara cermat kriteria barang-barang yang dapat dideskripsikan ini, sehingga tidak ada satu pun kriteria yang dapat memengaruhi nilai harga secara signifikan—yang tidak biasa dimaklumi dalam tradisi masyarakat—melainkan ia harus menyebutkannya,
فإن ذلك الوصف هو القائم مقام الرؤية في البيع
karena penjelasan kriteria sifat tersebut berkedudukan menggantikan penglihatan langsung (*ru'yah*) dalam jual beli.
الخامس أن يجعل الأجل معلوماً إن كان مؤجلاً فلا يؤجل إلى الحصاد ولا إلى إدراك انثمار بل إلى الأشهر والأيام فإن الإدراك قد يتقدم وقد يتأخر
Kelima, menentukan jangka waktu (*ajal*) secara jelas jika akad dilakukan secara bertenggat. Maka tidak boleh ditangguhkan hingga masa panen atau pematangan buah, melainkan harus ditentukan berdasarkan bulan dan hari, sebab waktu pematangan buah bisa saja maju atau mundur.
السادس إن يكون المسلم فيه مما يقدر على تسليمه وقت المحل ويؤمن فيه وجوده غالباً
Keenam, barang yang dipesan (*muslam fih*) merupakan barang yang sanggup diserahkan pada saat jatuh tempo dan umumnya dapat dipastikan keberadaannya.
فلا ينبغي إن يسلم في العنب إلى أجل لا يدرك فيه
Maka tidak sepatutnya melakukan akad *salam* pada buah anggur hingga jangka waktu yang pada saat itu buah anggur belum musimnya.
وكذا سائر الفواكه فإن كان الغالب وجوده وجاء المحل وعجز عن التسليم بسبب آفة فله أن يمهله إن شاء أو يفسخ ويرجع في رأس المال
Demikian pula buah-buahan lainnya. Jika umumnya barang tersebut ada, namun ketika jatuh tempo ia tidak mampu menyerahkannya karena adanya kendala/hambatan (*'āfah*), maka pemesan berhak memberinya penangguhan jika berkenan, atau membatalkan akad (*faskh*) dan mengambil kembali modalnya
إن شاء
jika ia menghendaki.
السابع أن يذكر مكان التسليم فيما يختلف الغرض به كي لا يثير ذلك نزاعاً
Ketujuh, menyebutkan tempat penyerahan barang apabila perbedaan tempat dapat memengaruhi tujuan/biaya, agar hal tersebut tidak memicu perselisihan.
الثامن أن لا يعلقه بمعين فيقول من حنطة هذا الزرع أو ثمرة هذا البستان فإن ذلك يبطل كونه ديناً
Kedelapan, hendaknya tidak menggantungkan barang pesanan (salam) pada sesuatu yang tertentu, seperti perkataan: '(gandum ini) berasal dari hasil tanaman ini' atau 'buah dari kebun ini', karena hal tersebut membatalkan kedudukannya sebagai tanggungan (utang/dain).
نعم لو أضاف إلى ثمرة بلد أو قرية كبيرة لم يضر ذلك
Namun, jika ia menisbatkannya kepada buah dari suatu daerah atau desa yang besar, maka hal itu tidak merusak akad.
التاسع أن لا يسلم في شيء نفيس عزيز الوجود مثل درة موصوفة يعز وجود مثلها أو جارية حسناء معها ولدها أو غير ذلك مما لا يقدر عليه غالباً
Kesembilan, hendaknya tidak melakukan akad salam pada sesuatu yang sangat berharga dan langka keberadaannya, seperti mutiara yang disifati khusus yang sulit ditemukan tandingannya, atau hamba sahaya wanita yang cantik beserta anaknya, atau hal-hal lain yang pada umumnya tidak sanggup dihadirkan.
العاشر أن لا يسلم في طعام مهما كان رأس المال طعاماً سواء كان من جنسه أو لم يكن ولا يسلم في نقد إذا كان رأس المال نقداً وقد ذكرنا هذا في الربا العقد الرابع الإجارة
Kesepuluh, tidak boleh melakukan akad salam pada makanan apabila modalnya (pembayarannya) berupa makanan pula, baik yang sejenis maupun tidak sejenis. Juga tidak boleh melakukan akad salam pada uang jika modalnya berupa uang. Hal ini telah kami sebutkan dalam pembahasan riba. Akad Keempat: Ijarah (Sewa-Menyewa).
وله ركنان الأجرة والمنفعة فأما العاقد واللفظ فيعتبر فيه ما ذكرناه في البيع والأجرة كالثمن فينبغي أن يكون معلوماً وموصوفاً بكل ما شرطناه في المبيع إن كان عيناً فإن كان ديناً فينبغي أن يكون معلوم الصفة والقدر وليحترز فيه عن أمور جرت العادة بها وذلك مثل كراء الدار بعمارتها فذلك باطل إذ قدر العمارة مجهول
Ijarah memiliki dua rukun, yaitu uang sewa (ujrah) dan manfaat. Adapun pihak yang berakad ('aqid) dan lafal (shighah), maka yang diperhitungkan padanya adalah apa yang telah kami sebutkan dalam bab jual beli. Uang sewa itu seperti harga (dalam jual beli), maka hendaknya diketahui dan disifati dengan seluruh syarat yang kami tetapkan pada barang dagangan (mabi') jika berupa benda konkret ('ain). Jika berupa tanggungan (dain), maka hendaknya diketahui sifat dan ukurannya. Dan hendaknya dihindari hal-hal yang telah menjadi kebiasaan, seperti menyewakan rumah dengan kompensasi perbaikannya, karena hal itu batal sebab besarnya biaya perbaikan tidak diketahui (majhul).
ولو قدر دراهم وشرط على المكتري أن يصرفها إلى العمارة لم يجز لأن عمله في الصرف إلى العمارة مجهول
Seandainya ia menentukan nominal dirham tertentu dan mensyaratkan kepada penyewa untuk membelanjakannya bagi perbaikan rumah, maka itu tidak boleh, karena pekerjaannya dalam membelanjakan untuk perbaikan tersebut tidak pasti (samar).
ومنها استئجار السلاخ على أن يأخذ الجلد بعد السلخ واستئجار حمال الجيف بجلد الجيفة واستئجار الطحان بالنخالة أو بعض الدقيق فهو باطل وكذلك كل ما يتوقف حصوله وانفصاله على عمل الأجير فلا يجوز أن يجعل أجرة
Di antaranya pula adalah mengupah tukang jagal dengan imbalan kulit hewan setelah dikuliti, mengupah pengangkut bangkai dengan kulit bangkai tersebut, atau mengupah tukang giling dengan bekatul atau sebagian dari tepung hasil gilingan. Semua itu batal. Demikian pula setiap hal yang keberadaan dan pemisahannya bergantung pada pekerjaan pekerja tersebut, tidak boleh dijadikan sebagai upah.
ومنها أن يقدر في إجارة الدور والحوانيت مبلغ الأجر فلو قال لكل شهر دينار ولم يقدر أشهر الإجارة كانت المدة مجهولة ولم تنعقد الإجارة
Di antaranya pula, hendaknya menentukan jangka waktu dalam persewaan rumah dan toko. Jika ia berkata, 'Setiap bulan satu dinar,' tanpa menentukan jumlah bulan persewaannya, maka jangka waktunya menjadi tidak jelas (majhul) dan akad sewa tersebut tidak sah.
الركن الثاني المنفعة المقصودة بالإجارة وهي العمل وحده إن كان عمل مباح معلوم يلحق العامل فيه كلفة ويتطوع به الغير عن الغير فيجوز الاستئجار عليه وجملة فروع الباب تندرج تحت هذه الرابطة ولكنا لا نطول بشرحها فقد طولنا القول فيها في الفقهيات وإنما نشير إلى ما تعم به البلوى فليراع في العمل المستأجر عليه خمسة أمور
Rukun kedua adalah manfaat yang dituju dari persewaan, yaitu pekerjaan itu sendiri jika berupa pekerjaan mubah yang jelas (diketahui), yang menimbulkan kepayahan bagi pekerja, dan boleh diwakilkan oleh orang lain, maka boleh mengupah pekerjaan tersebut. Seluruh rincian cabang bab ini tercakup di bawah kaidah ini. Namun kami tidak memperpanjang penjelasannya karena telah kami uraikan secara rinci dalam kitab-kitab Fiqih. Kami hanya mengisyaratkan hal-hal yang sering terjadi. Maka hendaknya diperhatikan lima perkara pada pekerjaan yang diupahkan:
الأول أن يكون متقوما بأن يكون فيه كلفة وتعب
Pertama, hendaknya bernilai (mutaqawwam), yaitu mengandung usaha dan kepayahan.
فلو استأجر طعاماً ليزين به الدكان
Maka jika ia menyewa makanan hanya untuk menghias toko,
أو أشجاراً ليجفف عليها الثياب أو دراهم ليزين بها الدكان
atau menyewa pepohonan untuk mengeringkan pakaian, atau menyewa uang dirham untuk menghias toko,
لم يجز فإن هذه المنافع تجري مجرى حبة سمسم وحبة بر من الأعيان وذلك لا يجوز بيعه وهي كالنظر في مرآة الغير والشرب من بئره والاستظلال بجداره والاقتباس من ناره ولهذا لو استأجر بياعاً على أن يتكلم بكلمة يروج بها سلعته لم يجز
hal itu tidak boleh. Sebab manfaat-manfaat tersebut kedudukannya seperti sebutir wijen atau sebutir gandum dari benda konkret yang tidak boleh diperjualbelikan. Manfaat itu seperti melihat ke cermin orang lain, minum dari sumurnya, berteduh di bawah temboknya, atau mengambil nyala dari apinya. Oleh karena itu, seandainya seseorang mengupah penjual hanya untuk mengucapkan satu kalimat agar barang dagangannya laku, hal itu tidak boleh.
وما يأخذه البياعون عوضاً عن حشمتهم وجاههم وقبول قولهم في ترويج السلع فهو حرام إذ ليس يصدر منهم إلا كلمة لا تعب فيها ولا قيمة لها وإنما يحل لهم ذلك إذ تعبوا بكثرة التردد أو بكثرة الكلام في تأليف أمر المعاملة
Apa yang diambil oleh para perantara/penjual sebagai imbalan atas kedudukan, wibawa, dan penerimaan perkataan mereka dalam melariskan barang dagangan adalah haram, karena tidak ada yang keluar dari mereka kecuali ucapan tanpa kepayahan dan tidak bernilai. Imbalan itu baru halal bagi mereka apabila mereka telah bersusah payah dengan sering bolak-balik atau banyak berbicara dalam menyelaraskan urusan transaksi tersebut.
ثم لا يستحقون إلا أجرة المثل فأما ما تواطأ عليه الباعة فهو ظلم وليس مأخوذاً بالحق
Kemudian, mereka tidak berhak mendapat imbalan kecuali sebatas upah standar (ujrah al-mitsl). Adapun apa yang disepakati secara sepihak oleh para pedagang, maka itu adalah kezaliman dan bukan hak yang sah.
الثاني أن لا تتضمن الإجارة استيفاء عين مقصودة فلا يجوز إجارة الكرم لارتفاقه
Kedua, akad sewa tidak mencakup pengambilan benda fisik yang dituju secara langsung. Oleh karena itu, tidak boleh menyewa kebun anggur untuk diambil buahnya,
ولا إجارة المواشي للبنها
tidak boleh menyewa hewan ternak untuk diambil susunya,
ولا إجارة البساتين لثمارها
dan tidak boleh menyewa kebun-kebun untuk diambil buahnya.
ويجوز استئجار المرضعة ويكون اللبن تابعاً لأن إفراده غير ممكن
Namun dibolehkan mengupah ibu susuan, sedangkan ASI kedudukannya sebagai penyerta (mengikuti pekerjaan menyusui) karena memisahkannya secara tersendiri tidak memungkinkan.
وكذا يتسامح بحبر الورق وخيط الخياط
Demikian pula diberikan toleransi (dimaafkan) mengenai penggunaan tinta untuk kertas dan benang untuk penjahit.
لأنهما لا يقصدان على حيالهما
karena keduanya tidak dimaksudkan secara mandiri.
الثالث أن يكون العمل مقدورا على تسليمه حسا وشرعا
Ketiga, hendaknya pekerjaan tersebut sanggup diserahkan hasilnya, baik secara fisik maupun secara syariat.
فلا يصح استئجار الضعيف على عمل لا يقدر عليه
Maka tidak sah menyewa orang yang lemah untuk melakukan pekerjaan yang tidak sanggup ia laksanakan,
ولا استئجار الأخرس على التعليم ونحوه وما يحرم فعله فالشرع يمنع من تسليمه
tidak sah pula menyewa orang bisu untuk mengajar dan sejenisnya. Adapun pekerjaan yang diharamkan pelaksanaannya, maka syariat melarang penyerahannya,
كالاستئجار على قلع سن سليمة أو قطع عضو لا يرخص الشرع في قطعه أو استئجار الحائض على كنس المسجد
seperti menyewa jasa untuk mencabut gigi yang sehat, atau memotong anggota badan yang tidak diizinkan oleh syariat untuk dipotong, atau menyewa wanita yang sedang haid untuk menyapu masjid,
أو المعلم على تعليم السحر أو الفحش
atau menyewa pengajar untuk mengajarkan sihir atau kekejian,
أو استئجار زوجة الغير على الإرضاع دون إذن زوجها
atau menyewa istri orang lain untuk menyusui bayi tanpa izin suaminya,
أو استئجار المصور على تصوير الحيوانات
atau menyewa seniman untuk menggambar/membentuk makhluk bernyawa (hewan),
أو استئجار الصائغ على صيغة الأواني من الذهب والفضة فكل ذلك باطل
atau menyewa pengrajin untuk membuat bejana dari emas dan perak; maka semua akad tersebut adalah batil.
الرابع أن لا يكون العمل واجبا على الأجير
Keempat, hendaknya pekerjaan tersebut bukan merupakan kewajiban individual (fardhu 'ain) atas pekerja,
أو لا يكون بحيث لا تجري
atau bukan merupakan perkara yang tidak bisa berlaku
النيابة فيه عن المستأجر
perwakilan (penggantian) di dalamnya dari pihak penyewa.
فلا يجوز أخذ الأجرة على الجهاد ولا سائر العبادات التي لا نيابة فيها
Oleh karena itu, tidak boleh mengambil upah atas perbuatan jihad maupun seluruh ibadah lain yang tidak berlaku perwakilan di dalamnya,
إذ لا يقع ذلك عن المستأجر
sebab hal itu tidak terlaksana atas nama pihak penyewa.
ويجوز عن الحج وغسل الميت وحفر القبور ودفن الموتى وحمل الجنائز
Namun, dibolehkan mengambil upah untuk pelaksanaan haji, memandikan jenazah, menggali kubur, menguburkan jenazah, dan memikul keranda.
وفي أخذ الأجرة على إمامة صلاة التراويح وعلى الأذان وعلى التصدي للتدريس وإقراء القرآن خلاف
Mengenai hukum mengambil upah atas mengimami shalat Tarawih, mengumandangkan azan, serta mendedikasikan diri untuk mengajar dan mendiktekan Al-Qur'an terdapat perbedaan pendapat ulama (khilaf).
أما الاستئجار على تعليم مسئلة بعينها أو تعليم سورة بعينها لشخص معين فصحيح
Adapun menyewa jasa pengajar untuk mengajarkan suatu masalah tertentu atau surah tertentu kepada seseorang yang tertentu, maka hukum akadnya adalah sah.
الخامس أن يكون العمل والمنفعة معلوماً
Kelima, hendaknya bentuk pekerjaan dan manfaatnya diketahui secara jelas.
فالخياط يعرف عمله بالثوب
Maka tukang jahit dapat diketahui pekerjaannya melalui penentuan bahan pakaian (yang akan dijahit),
والمعلم يعرف عمله بتعيين السورة ومقدارها
sedangkan guru dapat diketahui pekerjaannya dengan menentukan surah beserta kadarnya.
وحمل الدواب يعرف بمقدار المحمول وبمقدار المسافة
Adapun sewa muatan hewan dapat diketahui dengan kadar (berat) beban yang diangkut dan jarak tempuhnya.
وكل ما يثير خصومة في العادة فلا يجوز إهماله
Segala hal yang secara adat kebiasaan dapat memicu perselisihan, tidak boleh diabaikan.
وتفصيل ذلك يطول
Penjelasan rinci mengenai hal tersebut sangatlah panjang.
وإنما ذكرنا هذا القدر ليعرف به جليات الأحكام ويتفطن به لمواقع الإشكال
Kami hanya menyebutkan kadar ini agar hukum-hukum yang jelas dapat diketahui, serta dapat dicermati letak-letak permasalahan yang samar.
فيسأل
Sehingga ia mau bertanya kepada ulama.
فإن الاستقصاء شأن المفتي لا شأن العوام العقد الخامس القراض
Sebab pembahasan mendalam secara terperinci adalah tugas seorang mufti, bukan tugas orang awam. Akad Kelima: Qiradh (Mudarabah).
وليراع فيه ثلاثة أركان
Hendaknya diperhatikan dalam akad qiradh ini tiga rukun.
الركن الأول رأس المال وشرطه أن يكون نقداً معلوماً مسلماً إلى العامل فلا يجوز القراض على الفلوس ولا على العروض فإن التجارة تضيق فيه
Rukun pertama: Modal (ra's al-mal). Syaratnya adalah berupa uang tunai, diketahui jumlahnya, dan diserahkan kepada pengelola ('amil). Maka tidak sah melakukan qiradh dengan mata uang tembaga (fulus) maupun barang dagangan ('arudh), karena hal itu dapat mempersempit ruang gerak perdagangan.
ولا يجوز على صرة من الدراهم لأن قدر الربح لا يتبين فيه ولو شرط مالك اليد لنفسه لم يجز لأن فيه تضييق طريق التجارة
Tidak boleh pula modal berupa sekantong dirham (yang belum diketahui pasti jumlahnya), karena kadar keuntungannya tidak dapat diketahui secara jelas. Seandainya pemilik modal mensyaratkan agar ia sendiri yang memegang/mengelola modal bersama pengelola, hal itu tidak boleh karena dapat mempersempit jalan perdagangan.
الركن الثاني الربح وليكن معلوماً بالجزئية بأن يشترط له الثلث أو النصف أو ما شاء فلو قال على أن لك من الربح مائة والباقي لي لم يجز إذ ربما لا يكون الربح أكثر من مائة فلا يجوز تقديره بمقدار معين بل بمقدار شائع
Rukun kedua: Keuntungan (ribh). Hendaknya keuntungan diketahui berdasarkan persentase bagian yang jelas, seperti mensyaratkan sepertiga, setengah, atau seberapa pun yang dikehendaki bagi pengelola. Jika pemilik modal berkata, 'Engkau mendapatkan seratus dari keuntungan ini dan sisanya untukku,' maka akad tersebut tidak sah; sebab boleh jadi keuntungannya tidak lebih dari seratus. Oleh karena itu, keuntungan tidak boleh ditentukan dengan kadar nominal tertentu, melainkan harus dengan bagian persentase yang nisbi (syai').
الثالث العمل الذي على العامل وشرطه أن يكون تجارة غير مضيقة عليه بتعيين وتأقيت فلو شرط أن يشتري بالمال ماشية ليطلب نسلها فيتقاسمان النسل أو حنطة فيخبزها ويتقاسمان الربح لم يصح لأن القراض مأذون فيه في التجارة وهو البيع والشراء وما يقع من ضرورتهما فقط وهذا حرف أعني الخبز ورعاية المواشي ولو ضيق عليه وشرط أن لا يشتري إلا من فلان أو لا يتجر إلا في الخز الأحمر أو شرط ما يضيق باب التجارة فسد العقد ثم مهما انعقد فالعامل وكيل فيتصرف بالغبطة تصرف الوكلاء ومهما أراد المالك الفسخ فله ذلك فإذا فسخ في حالة والمال كله فيها نقد لم يخف وجه القسمة وإن كان عروضاً ولا ربح فيه رد عليه ولم يكن للمالك تكليفه أن يرده إلى النقد لأن العقد قد انفسخ وهو لم يلتزم شيئاً وإن قال العامل أبيعه وأبي المالك فالمتبوع رأى المالك إلا إذا وجد العامل زبوناً يظهر بسببه ربح على رأس المال ومهما كان ربح فعلى العامل بيع مقدار رأس المال بجنس رأس المال لا بنقد آخر حتى يتميز الفاضل ربحاً فيشتركان فيه وليس عليهم بيع الفاضل على رأس المال ومهما كان رأس السنة فعليهم تعرف قيمة المال لأجل الزكاة فإذا كان قد ظهر من الربح شيء فالأقيس أن زكاة نصيب العامل على العامل وأنه يملك الربح بالظهور وليس للعامل أن يسافر بمال القراض دون إذن المالك فإن فعل صحت تصرفاته ولكنه إذا فعل ضمن الأعيان والأثمان جميعاً لأن عدوانه بالنقل يتعدى إلى ثمن المنقول وإن سافر بالإذن جاز ونفقة النقل وحفظ المال على مال القراض كما أن نفقة الوزن والكيل والحمل الذي لا يعتاد التاجر مثله على رأس المال فأما نشر الثوب وطيه والعمل اليسير المعتاد فليس له أن يبذل عليه أجرة
Rukun ketiga: Pekerjaan yang menjadi kewajiban pengelola ('amil). Syaratnya adalah berupa kegiatan perdagangan yang tidak dipersempit atas dirinya dengan penentuan barang atau pembatasan waktu secara berlebihan. Jika pemilik modal mensyaratkan agar ia membeli hewan ternak dengan modal tersebut untuk diambil keturunannya lalu mereka berdua membagi keturunannya, atau membeli gandum untuk dibuat roti lalu mereka membagi keuntungannya, maka akad tersebut tidak sah; sebab qiradh hanya diizinkan dalam kegiatan perdagangan, yaitu jual beli dan hal-hal yang menjadi keniscayaan dari keduanya saja, sedangkan membuat roti dan memelihara ternak adalah jenis profesi/kerajinan khusus. Seandainya pemilik modal mempersempitnya dengan mensyaratkan agar tidak membeli kecuali dari si Fulan saja, atau tidak berdagang kecuali pada kain sutra merah, atau mensyaratkan hal-hal yang mempersempit pintu perdagangan, maka rusaklah (batal) akad tersebut. Selanjutnya, ketika akad telah sah, pengelola berstatus sebagai wakil, sehingga ia bertindak demi kemaslahatan sebagaimana tindakan para wakil. Kapan saja pemilik modal hendak membatalkan akad (fasakh), ia berhak melakukannya. Jika ia membatalkannya dalam keadaan seluruh harta berupa uang tunai, maka cara pembagiannya tidaklah samar. Namun jika harta masih berupa barang dagangan dan belum ada keuntungan, maka barang itu dikembalikan kepada pemilik modal, dan pemilik modal tidak berhak menuntut pengelola untuk mengubahnya menjadi uang tunai, karena akad telah terputus dan ia tidak menanggung kewajiban apa pun. Jika pengelola berkata, 'Aku akan menjualnya,' sedangkan pemilik modal menolak, maka yang diikuti adalah pendapat pemilik modal, kecuali jika pengelola menemukan pembeli yang dapat memunculkan keuntungan di atas modal pokok. Apabila terdapat keuntungan, maka pengelola wajib menjual barang dagangan senilai modal pokok dengan jenis mata uang modal pokok tersebut, bukan dengan mata uang lain, hingga kelebihannya terpisah sebagai keuntungan lalu mereka berdua bersyirkah di dalamnya; dan mereka tidak diwajibkan menjual kelebihan keuntungan tersebut. Ketika mencapai genap satu tahun (haul), mereka wajib mengetahui nilai harta tersebut untuk keperluan zakat. Jika telah tampak keuntungan, maka menurut pendapat yang lebih kuat (al-aqyas), zakat bagian pengelola ditanggung oleh pengelola itu sendiri, dan ia telah memiliki keuntungan tersebut sejak ia tampak. Pengelola tidak berhak bepergian membawa harta qiradh tanpa izin pemilik modal. Jika ia tetap melakukannya, maka tindakan usahanya tetap sah, namun ia menanggung ganti rugi (dhaman) atas seluruh barang dan harga modal tersebut, karena pelanggarannya berupa membawa pergi harta itu menjangkau hingga harga barang yang dipindahkan. Jika ia bepergian dengan izin, maka boleh, dan biaya perjalanan serta penjagaan harta ditanggung oleh harta qiradh; sebagaimana biaya penimbangan, takaran, dan pengangkutan yang tidak biasa dilakukan oleh pedagang juga ditanggung oleh harta modal pokok. Adapun membentangkan kain, melipatnya, dan pekerjaan ringan yang biasa dilakukan, maka ia tidak boleh mengeluarkan upah dari harta modal untuk pekerjaan tersebut.
وعلى العامل نفقته وسكناه في البلد وليس عليه أجرة الحانوت
Biaya hidup dan tempat tinggal pengelola selama berada di dalam kota ditanggung oleh dirinya sendiri, namun ia tidak menanggung biaya sewa toko.
ومهما تجرد في السفر لمال القراض فنفقته في السفر على مال القراض فإذا رجع فعليه أن يرد بقايا آلات السفر من المطهرة والسفرة وغيرها
Setiap kali ia mengkhususkan diri melakukan perjalanan demi harta qiradh, maka nafkahnya selama perjalanan ditanggung oleh harta qiradh tersebut. Apabila ia telah kembali, ia wajib mengembalikan sisa perlengkapan perjalanan, seperti wadah air, tempat bekal, dan lain-lain.
العقد السادس الشركة
Akad Keenam: Syirkah (Perseroan).
وهي أربعة أنواع ثلاثة منها باطلة
Syirkah terdiri dari empat jenis, tiga di antaranya batal (tidak sah).
الأول شركة المفاوضة وهو أن يقولا تفاوضنا لنشترك في كل مالنا وعلينا ومالاهما ممتازان فهي باطلة
Pertama: Syirkah Mufawadhah, yaitu ketika keduanya berkata, 'Kita bersekutu untuk bersyarikat dalam segala harta milik kita dan segala tanggungan kita,' padahal harta masing-masing masih terpisah. Jenis syirkah ini batal.
الثاني شركة الأبدان وهو أن يتشارطا الاشتراك في أجرة العمل فهي باطلة
Kedua: Syirkah Abdan, yaitu keduanya saling mensyaratkan untuk bersekutu dalam membagi upah dari hasil kerja (tenaga) mereka. Jenis syirkah ini batal.
الثالث شركة الوجوه وهو أن يكون لأحدهما حشمة وقول مقبول فيكون من جهته التنفيل ومن جهة غيره العمل فهذا أيضاً باطل
Ketiga: Syirkah Wujuh, yaitu salah seorang dari keduanya memiliki kedudukan dan perkataan yang diterima sehingga dari pihaknya berupa pengaruh dan dari pihak lain berupa kerja. Jenis syirkah ini juga batal.
وإنما الصحيح العقد الرابع المسمى شركة العنان وهو أن يختلط مالاهما بحيث يتعذر التمييز بينهما إلا بقسمه ويأذن كل منهما لصاحبه في التصرف ثم حكمهما توزيع الربح والخسران على قدر المالين ولا يجوز أن يغير ذلك بالشرط ثم بالعزل يمتنع التصرف عن المعزول وبالقسمة ينفصل الملك عن الملك والصحيح أنه يجوز عقد الشركة على العروض المشتراة ولا يشترط النقد بخلاف القراض
Adapun yang sah hanyalah bentuk keempat yang dinamakan Syirkah 'Inan, yaitu harta keduanya dicampur sedemikian rupa sehingga sulit dibedakan satu sama lain kecuali dengan pembagian kembali, dan masing-masing memberikan izin kepada mitranya untuk mengelola harta tersebut. Kemudian hukum bagi keduanya adalah pembagian keuntungan dan kerugian disesuaikan berdasarkan kadar rasio modal masing-masing, dan hal itu tidak boleh diubah dengan syarat. Kemudian, dengan adanya pencabutan izin (azl), terhentilah hak pengelolaan bagi pihak yang dicabut izinnya; dan dengan pembagian (qismah), kepemilikan terpisah satu sama lain. Menurut pendapat yang sahih, akad syirkah boleh dilakukan atas barang dagangan yang dibeli dan tidak disyaratkan harus berupa uang tunai, berbeda halnya dengan qiradh.
فهذا القدر من علم الفقه يجب تعلمه على كل مكتسب وإلا اقتحم الحرام من حيث لا يدري
Kadar ilmu fiqih inilah yang wajib dipelajari oleh setiap orang yang mencari nafkah; jika tidak, niscaya ia akan terperosok ke dalam hal yang haram tanpa ia sadari.
وأما معاملة القصاب والخباز والبقال فلا يستغني عنها المكتسب وغير المكتسب والخلل فيها من ثلاثة وجوه من إهمال شروط البيع أو إهمال شروط السلم أو الاقتصار على المعاطاة إذ العادات جارية بكتبه الخطوط على هؤلاء بحاجات كل يوم ثم المحاسبة في كل مدة ثم التقويم بحسب ما يقع عليه التراضي وذلك مما نرى القضاء بإباحته للحاجة ويحمل تسليمهم على إباحة التناول مع انتظار العوض فيحل أكله ولكن يجب الضمان بأكله وتلزم قيمته يوم الإتلاف فتجتمع في الذمة تلك القيم فإذا وقع التراضي على مقدار ما فينبغي أن يلتمس منهم الإبراء المطلق لا تبقي عليه عهدة إن تطرق إليه تفاوت في التقويم فهذا ما تجب القناعة به فإن تكليف وزن الثمن لكل حاجة من الحوائج في كل يوم وكل ساعة تكليف شطط وكذا تكليف الإيجاب والقبول وتقدير ثمن كل قدر يسير منه فيه عسر وإذا كثر كل نوع سهل تقويمه والله الموفق
Adapun bermuamalah dengan tukang jagal (penjual daging), pembuat roti, dan pedagang kelontong, maka tidak dapat dihindari baik oleh orang yang bekerja maupun tidak bekerja. Cacat dalam muamalah ini timbul dari tiga sisi: mengabaikan syarat-syarat jual beli (ba'i), mengabaikan syarat-syarat pesanan (salam), atau sekadar mencukupkan diri dengan serah-terima tanpa akad (mu'athah). Hal ini karena kebiasaan yang berlaku adalah dengan mencatat kebutuhan harian pada mereka, kemudian dilakukan perhitungan berkala, lalu ditaksir harganya sesuai dengan kesepakatan bersama. Hal semacam ini kami pandang boleh secara hukum karena adanya kebutuhan mendesak (hajat). Penyerahan barang oleh mereka dipahami sebagai kebolehan mengambil dengan menanti pembayaran, sehingga makanan itu halal dimakan. Namun, tetap wajib menanggung (dhaman) akibat mengonsumsinya dan wajib membayar nilainya pada hari barang itu dihabiskan, sehingga nilai-nilai tersebut berkumpul menjadi tanggungan utang. Apabila telah tercapai kesepakatan mengenai jumlah tertentu, hendaknya ia meminta pembebasan utang secara mutlak (ibra' muthlaq) dari mereka agar tidak tersisa beban jika terjadi perbedaan dalam penaksiran harga. Inilah hal yang harus dicukupkan. Sebab, membebankan penimbangan uang pembayaran untuk setiap kebutuhan setiap hari dan setiap saat merupakan beban yang berlebihan (taklif syatath). Begitu pula membebankan ijab-qabul dan menentukan harga bagi setiap jumlah barang yang sedikit akan menimbulkan kesulitan ('usr). Apabila setiap jenis barang telah terkumpul banyak, maka menaksir harganya menjadi mudah. Wallahu al-muwaffiq (Allah adalah Penentu petunjuk).
الباب الثالث في بَيَانُ الْعَدْلِ وَاجْتِنَابُ الظُّلْمِ فِي الْمُعَامَلَةِ
Bab Ketiga: Menjelaskan tentang Keadilan dan Menjauhi Kezaliman dalam Bermuamalah.
اعْلَمْ أن المعاملة قد تجري على وجه يحكم المفتي بصحتها وانعقادها ولكنها تشتمل عَلَى ظُلْمٍ يَتَعَرَّضُ بِهِ الْمُعَامِلُ لِسُخْطِ اللَّهِ تعالى إذ ليس كل نهي يقتضي فساد العقد وَهَذَا الظُّلْمُ يَعْنِي بِهِ مَا اسْتَضَرَّ بِهِ الْغَيْرُ وَهُوَ مُنْقَسِمٌ إِلَى مَا يَعُمُّ ضَرَرُهُ وَإِلَى مَا يَخُصُّ الْمُعَامِلَ الْقِسْمُ الْأَوَّلُ فِيمَا يعم ضرره وهو أنواع
Ketahuilah bahwa suatu muamalah terkadang berlangsung dengan cara yang dinilai sah dan mengikat oleh seorang pemberi fatwa (mufti), namun muamalah tersebut mengandung kezaliman yang membuat orang yang melakukannya terancam kemurkaan Allah Ta'ala; karena tidak setiap larangan mengakibatkan batalnya akad (fasad al-'aqd). Yang dimaksud dengan kezaliman di sini adalah segala hal yang menimbulkan bahaya (dharar) bagi orang lain. Kezaliman ini terbagi menjadi dua: hal yang bahayanya berdampak umum, dan hal yang bahayanya khusus menimpa orang yang bermuamalah dengannya. Bagian pertama adalah hal yang bahayanya berdampak umum, dan ini terdiri dari beberapa jenis.
النوع الْأَوَّلُ الِاحْتِكَارُ فَبَائِعُ الطَّعَامِ يَدَّخِرُ الطَّعَامَ يَنْتَظِرُ بِهِ غَلَاءَ الْأَسْعَارِ وَهُوَ ظُلْمٌ عَامٌّ وَصَاحِبُهُ مذموم في الشرع
Jenis Pertama: Penimbunan barang (Ihtikar). Yaitu penjual makanan yang menyimpan bahan makanan untuk menunggu melonjaknya harga. Ini merupakan kezaliman yang berdampak umum, dan pelakunya dicela dalam syariat.
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ من احتكر الطعام أربعين يوماً ثم تصدق به لم تكن صدقته كفارة لاحتكاره
Rasulullah ﷺ bersabda, "Barangsiapa menimbun makanan selama empat puluh hari lalu ia bersedekah dengannya, maka sedekahnya itu tidak dapat menjadi penggugur dosa (kaffarah) atas penimbunan yang dilakukannya."
وروى ابن عمر عنه ﷺ أنه قال من احتكر الطعام أربعين يوما فقد برئ من الله وبرئ الله منه
Ibnu Umar meriwayatkan dari Beliau ﷺ bahwa Beliau bersabda, "Barangsiapa menimbun makanan selama empat puluh hari, maka ia telah lepas dari Allah dan Allah pun lepas darinya."
وقيل فكأنما قتل الناس جميعاً وعن علي ﵁ من احتكر الطعام أربعين يوما
Dan dikatakan, "Maka seolah-olah ia telah membunuh seluruh manusia." Diriwayatkan pula dari Ali ﵁, "Barangsiapa menimbun makanan selama empat puluh hari,
قسا قلبه
maka hatinya menjadi keras."
وعنه أيضاً أنه أحرق طعام محتكر بالنار
Diriwayatkan darinya (Ali) pula bahwa beliau pernah membakar makanan milik seorang penimbun barang dengan api.
وروي في فضل ترك الاحتكار عنه ﷺ من جلب طعاماً فباعه بسعر يومه فكأنما تصدق به وفي لفظ آخر فكأنما أعتق رقبة
Diriwayatkan mengenai keutamaan meninggalkan penimbunan barang dari Beliau ﷺ, "Barangsiapa mendatangkan makanan lalu menjualnya dengan harga pasar hari itu, maka seolah-olah ia telah bersedekah dengannya." Dalam redaksi lain, "maka seolah-olah ia telah memerdekakan seorang budak."
وقيل في قوله تعالى ﴿ومن يرد فيه بإلحاد بظلم نذقه من عذاب أليم﴾ إن الاحتكار من الظلم وداخل تحته في الوعيد
Dan dikatakan mengenai firman Allah Ta'ala, "Dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebagian siksa yang pedih," bahwa penimbunan barang termasuk kezaliman dan masuk ke dalam ancaman ayat tersebut.
وعن بعض السلف أنه كان بواسط فجهز سفينة حنطة إلى البصرة وكتب إلى وكيله بع هذا الطعام يوم يدخل البصرة ولا تؤخره إلى غد فوافق سعة في السعر فقال له التجار لو أخرته جمعة ربحت فيه أضعافه فأخره جمعة فربح فيه أمثاله وكتب إلى صاحبه بذلك فكتب إليه صاحب الطعام يا هذا إنا كنا قنعنا بربح يسير مع سلامة ديننا وإنك قد خالفت وما نحب أن نربح أضعافه بذهاب شيء من الدين فقد جنيت علينا جناية فإذا أتاك كتابي هذا فخذ المال كله فتصدق به على فقراء البصرة وليتني أنجو من إثم الاحتكار كفافاً لا علي ولا لي
Diriwayatkan dari sebagian ulama Salaf bahwa ia berada di Wasith, lalu ia menyiapkan sebuah kapal berisi gandum menuju Bashrah dan menulis surat kepada wakilnya, "Jual-lah makanan ini pada hari ia tiba di Bashrah, dan jangan menundanya hingga esok hari." Ketika tiba, pasar sedang melimpah harganya. Maka para pedagang berkata kepada sang wakil, "Seandainya engkau menundanya selama seminggu, niscaya engkau akan beruntung berlipat ganda." Maka sang wakil menundanya selama seminggu dan mendapatkan keuntungan berlipat ganda, lalu ia menuliskan hal itu kepada pemilik barang. Pemilik makanan itu kemudian membalas suratnya, "Wahai Fulan, sesungguhnya kami dahulu merasa cukup dengan keuntungan yang sedikit disertai keselamatan agama kami. Sungguh engkau telah menyalahi perintahku, dan kami tidak suka memperoleh keuntungan berlipat ganda dengan hilangnya sebagian agama. Engkau telah melakukan kecerobohan besar terhadap kami! Maka apabila suratku ini sampai kepadamu, ambillah seluruh harta itu dan sedekahkanlah kepada orang-orang fakir di Bashrah. Duhai sekiranya aku bisa selamat dari dosa penimbunan ini secara seimbang, tidak mendapat pahala dan tidak pula menanggung dosa."
واعلم أن النهي مطلق ويتعلق النظر به في الوقت والجنس أما الجنس فيطرد النهي في أجناس الأقوات أما ما ليس بقوت ولا هو معين على القوت كالأدوية والعقاقير والزعفران وأمثاله فلا يتعدى النهي إليه وإن كان مطعوما
Ketahuilah bahwa larangan ini bersifat mutlak, dan pembahasannya berkaitan dengan waktu dan jenis barang. Adapun jenis barang, maka larangan ini berlaku secara umum pada jenis-jenis makanan pokok (aqwat). Sedangkan barang yang bukan makanan pokok dan tidak pula membantu pembentukan makanan pokok, seperti obat-obatan, ramuan herbal, za'faran (saffron), dan sejenisnya, maka larangan tersebut tidak meluas kepadanya meskipun ia termasuk barang yang dikonsumsi.
وأما ما يعين على القوت كاللحم والفواكه وما يسد مسداً يغني عن القوت في بعض الأحوال وأن كان لا يمكن المداومة عليه فهذا في محل النظر فمن العلماء من طرد التحريم في السمن والعسل والشيرج والجبن والزيت وما يجري مجراه وأما الوقت فيحتمل أيضاً طرد النهي في جميع الأوقات وعليه تدل الحكاية التي ذكرنا في الطعام الذي صادف بالبصرة سعة في السعر ويحتمل أن يخصص بوقت قِلَّةِ الْأَطْعِمَةِ وَحَاجَةِ النَّاسِ إِلَيْهِ حَتَّى يَكُونَ في تأخير بيعه ضر ما فأما إِذَا اتَّسَعَتِ الْأَطْعِمَةُ وَكَثُرَتْ وَاسْتَغْنَى النَّاسُ عَنْهَا وَلَمْ يَرْغَبُوا فِيهَا إِلَّا بِقِيمَةٍ قَلِيلَةٍ فَانْتَظَرَ صَاحِبُ الطَّعَامِ ذَلِكَ وَلَمْ يَنْتَظِرْ قَحْطًا فَلَيْسَ في هذا إضرار
Adapun barang yang membantu makanan pokok, seperti daging dan buah-buahan, serta barang yang dapat menggantikan peran makanan pokok dalam sebagian keadaan—meskipun tidak dapat dikonsumsi secara terus-menerus—maka hal ini menjadi objek kajian (mahall an-nazhar). Di antara para ulama ada yang memberlakukan keharaman secara umum pada minyak samin, madu, minyak wijen (syairaj), keju, minyak zaitun, dan yang sejenis dengannya. Adapun mengenai waktu, terdapat kemungkinan bahwa larangan berlaku umum di semua waktu, sebagaimana ditunjukkan oleh kisah yang telah kami sebutkan tentang makanan yang mendapati kelimpahan di Bashrah. Namun ada pula kemungkinan dibatasi pada waktu kelangkaan makanan dan sangat dibutuhkannya oleh masyarakat, sehingga penundaan penjualannya dapat menimbulkan bahaya (dharar). Adapun jika bahan makanan melimpah, berjumlah banyak, masyarakat tidak terlalu membutuhkannya, dan tidak diminati kecuali dengan harga rendah, lalu pemilik makanan menunggunya tanpa menunggu terjadinya kelaparan (qaht), maka dalam hal ini tidak ada bahaya yang ditimbulkan.
وإذا كان الزمان زمان قحط كان في ادخار العسل والسمن والشيرج وأمثالها إضرار فينبغي أن يقضى بتحريمه ويعول في نفي التحريم وإثباته على الضرار فإنه مفهوم قطعاً من تخصيص الطعام وإذا لم يكن ضرار فلا يَخْلُو احْتِكَارُ الْأَقْوَاتِ عَنْ كَرَاهِيَةٍ فَإِنَّهُ يَنْتَظِرُ مَبَادِئَ الضِّرَارِ وَهُوَ ارْتِفَاعُ الْأَسْعَارِ وَانْتِظَارُ مَبَادِئِ الضِّرَارِ مَحْذُورٌ كَانْتِظَارِ عَيْنِ الضِّرَارِ وَلَكِنَّهُ دُونَهُ وَانْتِظَارُ عَيْنِ الضِّرَارِ أَيْضًا هُوَ دُونَ الْإِضْرَارِ فَبِقَدْرِ دَرَجَاتِ الْإِضْرَارِ تَتَفَاوَتُ دَرَجَاتُ الْكَرَاهِيَةِ وَالتَّحْرِيمِ
Jika zamannya adalah zaman kemarau atau kelaparan, maka menyimpan madu, minyak samin, minyak wijen, dan sejenisnya dapat menimbulkan bahaya, sehingga hendaknya dihukumi haram. Penentuan hukum haram atau tidaknya bersandar pada ada tidaknya kemudaratan (dharar), sebab hal itu terpahami secara pasti dari pengkhususan kata 'makanan'. Apabila tidak menimbulkan kemudaratan, maka penimbunan makanan pokok tidak lepas dari hukum makruh, karena ia sedang menunggu permulaan dampak kemudaratan, yaitu kenaikan harga. Menunggu permulaan dampak kemudaratan adalah hal yang terlarang sebagaimana menunggu kemudaratan itu sendiri, meskipun tingkatannya berada di bawahnya; dan menunggu kemudaratan itu sendiri juga berada di bawah tindakan menimbulkan kemudaratan secara langsung. Maka, setingkat dengan tingkatan dampak kemudaratan itu, berbedalah tingkatan antara makruh dan haram.
وبالجملة التجارة في الأقوات مما لا يستحب لأنه طلب ربح والأقوات أصول خلقت قواماً والربح من المزايا فينبغي أن يطلب الربح فيما خلق من جملة المزايا التي لا ضرورة للخلق إليها ولذلك أوصى بعض التابعين رجلاً وقال لا تسلم ولدك في بيعتين ولا في صنعتين بيع الطعام وبيع الأكفان فإنه يتمنى الغلاء وموت الناس
Secara umum, berdagang makanan pokok termasuk hal yang tidak disukai (la yustahabb), karena hal itu merupakan pencarian keuntungan (ribh), sedangkan makanan pokok adalah kebutuhan dasar yang diciptakan sebagai penopang kehidupan, sementara keuntungan adalah kelebihan (mazaya). Oleh karena itu, hendaknya keuntungan dicari pada barang-barang yang diciptakan sebagai kelebihan yang tidak menjadi kebutuhan mendesak bagi makhluk. Karena itulah sebagian Tabi'in berwasiat kepada seseorang dengan berkata, "Janganlah engkau menyerahkan anakmu pada dua jenis perdagangan dan dua jenis profesi: menjual makanan dan menjual kain kafan, karena penjualnya akan senantiasa berharap harga mahal dan kematian manusia."
والصنعتان أن يكون جزاراً فإنها صنعة تقسي القلب أو صواغاً فإنه يزخرف الدنيا بالذهب والفضة
"Adapun dua profesi tersebut adalah: menjadi tukang jagal (penjual daging), karena itu adalah pekerjaan yang mengeras hati; atau menjadi tukang emas (pengrajin emas/perak), karena ia memperindah dunia dengan emas dan perak."
النوع الثَّانِي تَرْوِيجُ الزَّيْفِ مِنَ الدَّرَاهِمِ فِي أَثْنَاءِ النَّقْدِ فَهُوَ ظُلْمٌ إِذْ يَسْتَضِرُّ بِهِ الْمُعَامِلُ إِنْ لَمْ يَعْرِفْ وَإِنْ عَرَفَ فَسَيُرَوِّجُهُ عَلَى غيره فكذلك الثالث والرابع ولا يزال يتردد في الأيدي ويعمم الضَّرَرُ وَيَتَّسِعُ الْفَسَادُ وَيَكُونُ وِزْرُ الْكُلِّ وَوَبَالُهُ راجعاً عليه فإنه هو الذي فتح هذا الباب قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ من سن سنة سيئةً فعمل بها من بعده كان عليه وزرها ومثل وزر مَنْ عَمِلَ بِهَا لَا يُنْقِصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شيئاً
Jenis Kedua: Mengedarkan dirham palsu (zaif) di tengah-tengah pembayaran, maka ini adalah kezaliman; karena orang yang bermuamalah dengannya akan dirugikan jika ia tidak mengetahuinya. Jika ia mengetahuinya, maka ia akan mengedarkannya pula kepada orang lain, demikian pula orang ketiga dan keempat. Uang itu akan terus berpindah tangan, sehingga bahayanya merata dan kerusakannya meluas, serta dosa dan akibat buruk dari semuanya akan kembali kepada orang pertama, karena dialah yang membuka pintu tersebut. Rasulullah ﷺ bersabda, "Barangsiapa membuat suatu sunnah (kebiasaan) yang buruk lalu diamalkan oleh orang-orang setelahnya, maka ia menanggung dosanya dan dosa orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun."
وقال بعضهم إنفاق درهم
Sebagian ulama berkata, "Membelanjakan satu dirham…
زَيْفٍ أَشَدُّ مِنْ سَرِقَةِ مِائَةِ دِرْهَمٍ لِأَنَّ السَّرِقَةَ مَعْصِيَةٌ وَاحِدَةٌ وَقَدْ تَمَّتْ وَانْقَطَعَتْ وَإِنْفَاقُ الزيف بدعة أظهرها في الدين وسنة سيئة يعمل بها من بعده فيكون عَلَيْهِ وِزْرُهَا بَعْدَ مَوْتِهِ إِلَى مِائَةِ سَنَةٍ أَوْ مِائَتَيْ سَنَةٍ إِلَى أَنْ يَفْنَى ذَلِكَ الدرهم ويكون عليه ما فسد من أموال الناس بسنته وَطُوبَى لِمَنْ إِذَا مَاتَ مَاتَتْ مَعَهُ ذُنُوبُهُ وَالْوَيْلُ الطَّوِيلُ لِمَنْ يَمُوتُ وَتَبْقَى ذُنُوبُهُ مِائَةَ سنة ومائتي سَنَةٍ أَوْ أَكْثَرَ يُعَذَّبُ بِهَا فِي قَبْرِهِ ويسئل عنها إلى آخر انقراضها وقال تعالى ﴿ونكتب ما قدموا وآثارهم﴾ أَيْ نَكْتُبُ أَيْضًا مَا أَخَّرُوهُ مِنْ آثَارِ أَعْمَالِهِمْ كَمَا نَكْتُبُ مَا قَدَّمُوهُ وَفِي مِثْلِهِ قَوْلُهُ تَعَالَى ﴿يُنَبَّأُ الْإِنْسَانُ يَوْمَئِذٍ بِمَا قَدَّمَ وأخر﴾ وَإِنَّمَا أَخَّرَ آثَارَ أَعْمَالِهِ مِنْ سُنَّةٍ سَيِّئَةٍ عمل بها غيره
…palsu itu lebih berat daripada mencuri seratus dirham. Karena mencuri adalah satu maksiat yang telah selesai dan terputus, sedangkan mengedarkan uang palsu adalah bid'ah (hal buruk) yang ditunjukkannya dalam agama dan tradisi buruk yang diamalkan oleh orang setelahnya. Maka ia akan menanggung dosanya setelah matinya hingga seratus atau dua ratus tahun sampai dirham itu musnah, serta ia menanggung kerusakan harta manusia akibat perbuatannya. Maka beruntunglah orang yang apabila ia mati, mati pulalah dosa-dosanya; dan kecelakaan yang panjang bagi orang yang mati namun dosa-dosanya tetap tersisa selama seratus tahun, dua ratus tahun, atau lebih, yang dengannya ia diadzab di dalam kuburnya dan ditanya tentangnya hingga habis dampaknya. Allah Ta'ala berfirman, 'Dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan,' yaitu Kami juga menuliskan dampak dari amal perbuatan yang mereka tinggalkan sebagaimana Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan sebelumnya. Mengenai hal seperti ini pula Allah Ta'ala berfirman, 'Pada hari itu diberitahukan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya.' Sesungguhnya yang ditinggalkan dari dampak amalnya itu adalah kebiasaan buruk yang diamalkan oleh orang lain."
وليعلم أن في الزيف خمسة أمور
Ketahuilah bahwa mengenai uang palsu (zaif) terdapat lima hal yang perlu diperhatikan:
الأول أَنَّهُ إِذَا رُدَّ عَلَيْهِ شَيْءٌ مِنْهُ فَيَنْبَغِي أَنْ يَطْرَحَهُ فِي بِئْرٍ بِحَيْثُ لَا تَمْتَدُّ إِلَيْهِ الْيَدُ وَإِيَّاهُ أَنْ يُرَوِّجَهُ فِي بَيْعٍ آخر
Pertama, apabila ada sebagian dari uang palsu itu yang dikembalikan kepadanya, hendaklah ia membuangnya ke dalam sumur sedemikian rupa sehingga tidak dapat terjangkau lagi oleh tangan, dan hendaknya ia benar-benar menjauhi tindakan mengedarkannya kembali dalam transaksi jual beli lainnya.
وإن أفسده بحيث لا يمكن التعامل به جاز
Dan jika ia merusaknya sekira-kira tidak dapat digunakan lagi dalam transaksi, maka hal itu diperbolehkan.
الثاني أنه يجب على التاجر تعلم النقد لا ليستقصي لنفسه ولكن لئلا يسلم إلى مسلم زَيْفًا وَهُوَ لَا يَدْرِي فَيَكُونَ آثِمًا بِتَقْصِيرِهِ في تعلم ذلك العلم
Kedua, wajib bagi seorang pedagang untuk mempelajari ilmu tentang keabsahan mata uang, bukan untuk menuntut hak secara berlebihan bagi dirinya sendiri, melainkan agar ia tidak menyerahkan uang palsu kepada seorang muslim tanpa ia sadari, yang mana hal itu menyebabkan ia berdosa karena kelalaiannya dalam mempelajari ilmu tersebut.
فكل علم عمل به يتم نصح المسلمين
Sebab setiap ilmu yang dengan mengamalkannya dapat menyempurnakan sikap tulus dan kebaikan bagi sesama muslim,
فيجب تحصيله ولمثل هذا كان السلف يتعلمون علامات النقد نظراً لدينهم لا لدنياهم
maka hukum menuntutnya adalah wajib. Oleh karena alasan semacam inilah para ulama Salaf mempelajari tanda-tanda keabsahan uang semata-mata demi memelihara agama mereka, bukan demi kepentingan duniawi mereka.
الثالث أنه إن سلم وعرف المعامل أنه زيف لم يخرج عن الإثم
Ketiga, jika ia menyerahkan uang palsu tersebut dan rekan transaksinya mengetahui bahwa itu palsu, ia tetap tidak terbebas dari dosa.
لأنه ليس يأخذه إلا ليروجه على غيره ولا يخبره ولو لم يعزم على ذلك لكان لا يرغب في أخذه أصلاً
Sebab, tidaklah rekan transaksinya itu menerimanya melainkan untuk mengedarkannya kembali kepada orang lain tanpa memberitahukannya. Seandainya ia tidak berniat demikian, niscaya ia tidak akan berkeinginan untuk menerimanya sama sekali.
فإنما يتخلص من إثم الضرر الذي يخص معامله فقط
Maka dengan demikian, ia hanya terbebas dari dosa bahaya (kemudaratan) yang khusus menimpa rekan transaksinya saja.
الرابع أن يأخذ الزيف ليعمل بقوله ﷺ رحم الله امرأً سهل البيع سهل الشراء سهل القضاء سهل الاقتضاء
Keempat, ia menerima uang palsu tersebut untuk mengamalkan sabda Rasulullah ﷺ: "Semoga Allah merahmati seseorang yang mempermudah dalam menjual, mempermudah dalam membeli, mempermudah dalam membayar utang, dan mempermudah dalam menagih utang."
فهو داخل في بركة هذا الدعاء إن عزم على طرحه في بئر
Maka ia termasuk ke dalam keberkahan doa ini apabila ia berniat untuk membuangnya ke dalam sumur.
وإن كان عازماً على أن يروجه في معاملة فهذا شر روجه الشيطان عليه في معرض الخير فلا يدخل تحت من تساهل في الاقتضاء
Namun jika ia berniat untuk mengedarkannya kembali dalam suatu transaksi, maka ini adalah keburukan yang dikemas oleh setan seolah-olah sebagai kebaikan, sehingga ia tidak termasuk dalam golongan orang yang mempermudah dalam menagih.
الخامس أن الزيف نعني به ما لا نقره فيه أصلاً بل هو مموه
Kelima, bahwa yang kami maksud dengan uang palsu (az-zaif) adalah mata uang yang sama sekali tidak mengandung kadar perak murni, melainkan hanya disepuh (dipalsu),
أو ما لا ذهب فيه أعني في الدنانير
atau mata uang yang tidak mengandung emas sama sekali—yakni pada dinar.
أما ما فيه نقرة فإن كان مخلوطاً بالنحاس وهو نقد البلد فقد اختلف العلماء في المعاملة عليه وجل رأينا الرخصة فيه إذا كان ذلك نقد البلد سواء علم مقدار النقرة أو لم يعلم وإن لم يكن هو نقد البلد لم يجز إلا إذا علم قدر النقرة فإن كَانَ فِي مَالِهِ قِطْعَةٌ نَقْرَتُهَا نَاقِصَةٌ عَنْ نَقْدِ الْبَلَدِ فَعَلَيْهِ أَنْ يُخْبِرَ بِهِ مُعَامِلَهُ وَأَنْ لَا يُعَامِلَ بِهِ إِلَّا مَنْ لَا يَسْتَحِلُّ التَّرْوِيجَ فِي جُمْلَةِ النَّقْدِ بِطَرِيقِ التَّلْبِيسِ فَأَمَّا مَنْ يَسْتَحِلُّ ذَلِكَ فَتَسْلِيمُهُ إِلَيْهِ تَسْلِيطٌ لَهُ عَلَى الْفَسَادِ فَهُوَ كَبَيْعِ الْعِنَبِ مِمَّنْ يَعْلَمُ أَنَّهُ يَتَّخِذُهُ خَمْرًا وَذَلِكَ مَحْظُورٌ وَإِعَانَةٌ عَلَى الشَّرِّ وَمُشَارَكَةٌ فِيهِ وَسُلُوكُ طَرِيقِ الْحَقِّ بِمِثَالِ هَذَا فِي التِّجَارَةِ أَشَدُّ مِنَ الْمُوَاظَبَةِ على نوافل العبادات والتخلي لها ولذلك قال بعضهم التاجر الصدوق أفضل عند الله من المتعبد وقد كان السلف يحتاطون في مثل ذلك حتى روي عن بعض الغزاة في سبيل الله أنه قال حملت على فرسي لأقتل علجاً فقصر بي فرسي فرجعت ثم دنا مني العلج فحملت ثانية فقصر فرسي فرجعت ثم حملت الثالثة فنفر مني فرسي وكنت لا أعتاد ذلك منه فرجعت حزيناً وجلست منكس الرأس منكسر القلب لما فاتني من العلج وما ظهر لي من خلق الفرس فوضعت رأسي على عمود الفسطاط وفرسي قائم فرأيت في النوم كأن الفرس يخاطبني ويقول لي بالله عليك أردت أن تأخذ على العلج ثلاث مرات وأنت بالأمس اشتريت لي علفاً ودفعت في ثمنه درهماً زائفاً لا يكون هذا أبداً
Adapun mata uang yang masih mengandung perak murni, jika ia dicampur dengan tembaga namun menjadi mata uang resmi di negeri tersebut, maka para ulama berbeda pendapat mengenai kebolehan bertransaksi dengannya. Pandangan kami yang terkuat memberi keringanan (rukhsah) jika hal itu merupakan mata uang resmi negeri tersebut, baik diketahui kadar perak murni di dalamnya maupun tidak. Namun jika bukan merupakan mata uang resmi negeri tersebut, maka tidak boleh kecuali jika diketahui kadar perak murninya. Jika di dalam hartanya terdapat sepotong mata uang yang kadar perak murninya kurang dari mata uang resmi negeri itu, maka ia wajib memberitahukannya kepada rekan transaksinya dan tidak bertransaksi dengannya kecuali kepada orang yang tidak menghalalkan pengedarannya di tengah-tengah mata uang umum dengan cara penipuan. Adapun menyerahkannya kepada orang yang menghalalkan hal itu, berarti memberinya wewenang untuk melakukan kerusakan; hal itu sama seperti menjual buah anggur kepada orang yang diketahui akan menjadikannya khamr, dan hukumnya terlarang karena termasuk membantu keburukan dan bersekutu di dalamnya. Menempuh jalan kebenaran dengan contoh seperti ini dalam perniagaan adalah lebih berat daripada menekuni ibadah-ibadah sunnah dan mengosongkan diri untuk fokus padanya. Oleh karena itu, sebagian ulama berkata: "Pedagang yang jujur lebih utama di sisi Allah daripada orang yang ahli ibadah." Para ulama Salaf sangat berhati-hati dalam hal semacam ini, hingga diriwayatkan dari seorang prajurit perang di jalan Allah bahwa ia berkata: "Aku memacu kudaku untuk membunuh seorang musuh kafir, tetapi kudaku melambat sehingga aku kembali. Kemudian musuh itu mendekatiku, maka aku memacunya untuk kedua kali, tetapi kudaku melambat lagi dan aku kembali. Kemudian aku memacunya untuk ketiga kali, tetapi kudaku malah lari ketakutan dariku, padahal aku tidak terbiasa melihat perbuatannya yang demikian. Aku pun kembali dengan sedih, duduk tertunduk dan hancur hati atas luputnya musuh dariku serta atas perangai buruk yang nampak dari kudaku. Lalu aku meletakkan kepalaku di tiang tenda sedangkan kudaku berdiri. Dalam tidur aku bermimpi seakan-akan kudaku berbicara kepadaku dan berkata: 'Demi Allah, engkau hendak menyerang musuh itu tiga kali, padahal kemarin engkau membelikan pakan untukku dan membayar harganya dengan satu dirham palsu? Sungguh, hal ini tidak akan pernah berhasil!'"
قال فانتبهت فزعاً فذهبت إلى العلاف وأبدلت ذلك الدرهم فهذا مثال ما يعم ضرره وليقس عليه أمثاله الْقِسْمُ الثَّانِي مَا يَخُصُّ ضَرَرُهُ الْمُعَامِلَ
Prajurit itu berkata: "Aku pun terbangun dalam keadaan terkejut, lalu aku mendatangi penjual pakan ternak dan mengganti dirham tersebut." Ini adalah contoh dari perkara yang bahayanya berdampak luas (umum), dan hendaknya kasus-kasus serupa diqiaskan dengannya. BAGIAN KEDUA: Perkara yang kemudaratannya khusus menimpa rekan transaksi.
فَكُلُّ مَا يَسْتَضِرُّ بِهِ الْمُعَامِلُ فَهُوَ ظُلْمٌ وَإِنَّمَا العدل لَا يَضُرَّ بِأَخِيهِ الْمُسْلِمِ وَالضَّابِطُ الْكُلِّيُّ فِيهِ أن لا يحب
Setiap hal yang mendatangkan kemudaratan bagi rekan transaksi adalah suatu kezaliman, sedangkan keadilan adalah tidak membahayakan saudaranya sesama muslim. Kaidah menyeluruh dalam hal ini adalah hendaknya seseorang tidak menyukai
لِأَخِيهِ إِلَّا مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ فَكُلُّ مَا لو عومل به شق عَلَيْهِ وَثَقُلَ عَلَى قَلْبِهِ فَيَنْبَغِي أَنْ لَا يُعَامِلَ غَيْرَهُ بِهِ بَلْ يَنْبَغِي أَنْ يَسْتَوِيَ عنده درهمه ودرهم غيره
bagi saudaranya melainkan apa yang ia sukai bagi dirinya sendiri. Maka segala sesuatu yang jika diperlakukan terhadap dirinya terasa berat dan menyusahkan hatinya, hendaknya ia tidak memperlakukan orang lain dengannya. Bahkan, sepatutnya dirham milik dirinya dan dirham milik orang lain bernilai sama di matanya.
قال بعضهم من باع أخاه شيئا بدرهم وليس يصلح له لو اشتراه لنفسه إلا بخمسة دوانق فإنه قد ترك النصح المأمور به في المعاملة ولم يحب لأخيه ما يحب لنفسه هذه جملته
Sebagian ulama berkata: "Barang siapa menjual sesuatu kepada saudaranya seharga satu dirham, padahal tidak layak baginya jika ia membelinya untuk dirinya sendiri melainkan seharga lima daniq (lima perenam dirham), maka sungguh ia telah meninggalkan sikap tulus yang diperintahkan dalam bertransaksi dan tidak menyukai bagi saudaranya apa yang ia sukai bagi dirinya sendiri." Inilah pokok pembahasannya secara umum.
فأما تفصيله ففي أربعة أمور
Adapun rincian penjelasannya terbagi dalam empat perkara:
أَنْ لَا يُثْنِيَ عَلَى السِّلْعَةِ بِمَا لَيْسَ فيها وأن لا يكتم من عيوبها وخفايا صفاتها شيئاً أصلاً وأن لا يكتم في وزنها ومقدارها شيئاً وأن لا يكتم من سعرها ما لو عرفه المعامل لامتنع عنه
Hendaknya seseorang tidak memuji barang dagangan dengan sifat yang tidak ada padanya, tidak menyembunyikan cacat dan kejanggalan sifat-sifatnya sedikit pun, tidak menyembunyikan timbangan serta ukurannya sedikit pun, dan tidak menyembunyikan harganya yang sekiranya jika pembeli/mitra transaksinya mengetahuinya, niscaya ia akan urung bertransaksi.
أما الأول فهو ترك الثناء فإن وصفه للسلعة إن كان بما ليس فيها فهو كَذِبٌ فَإِنْ قَبِلَ الْمُشْتَرِي ذَلِكَ فَهُوَ تَلْبِيسٌ وظلم مع كونه كذباً وَإِنْ لَمْ يَقْبَلْ فَهُوَ كَذِبٌ وَإِسْقَاطُ مُرُوءَةٍ إذ الكذب الذي لا يروج قد لا يقدح في ظاهر المروءة وإن أثنى على السلعة بما فيها فهو هذيان وتكلم بكلام لا يعنيه وهو محاسب على كل كلمة تصدر منه أنه لم تكلم بها
Adapun yang pertama adalah meninggalkan pujian (berlebihan terhadap barang dagangan). Sebab, jika ia menyifati barang tersebut dengan sesuatu yang tidak ada padanya, maka itu adalah kedustaan. Apabila pembeli memercayainya, maka hal itu merupakan penipuan (penyamaran) dan kezaliman di samping merupakan kedustaan. Namun jika pembeli tidak memercayainya, maka itu tetap kedustaan dan merusak kehormatan diri (muru'ah). Sebab, kedustaan yang tidak laku tetap dapat mencoreng lahiriah kehormatan diri. Sementara jika ia memuji barang tersebut dengan apa yang memang ada padanya, maka itu adalah omong kosong dan membicarakan hal yang tidak berguna baginya, padahal ia akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap kata yang diucapkannya, mengapa ia mengucapkannya.
قال الله تعالى ﴿مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عتيد﴾ إلا أن يثني على السلعة بما فيها مما لا يعرفه المشتري ما لم يذكره كما يصفه من خفى أخلاق العبيد والجواري والدواب فلا بأس بذكر القدر الموجود منه من غير مبالغة وإطناب وليكن قصده منه أن يعرفه أخوه المسلم فيرغب فيه وتنقضي بسببه حاجته ولا ينبغي أن يحلف عليه الْبَتَّةَ فَإِنَّهُ إِنْ كَانَ كَاذِبًا فَقَدْ جَاءَ باليمين الغموس وهي من الكبائر التي تذر الديار بلاقع وَإِنْ كَانَ صَادِقًا فَقَدْ جَعَلَ اللَّهَ تَعَالَى عُرْضَةً لِأَيْمَانِهِ وَقَدْ أَسَاءَ فِيهِ إِذِ الدُّنْيَا أَخَسُّ مِنْ أَنْ يَقْصِدَ تَرْوِيجَهَا بِذِكْرِ اسْمِ اللَّهِ مِنْ غَيْرِ ضَرُورَةٍ وَفِي الْخَبَرِ وَيْلٌ لِلتَّاجِرِ مِنْ بَلَى وَاللَّهِ وَلَا وَاللَّهِ وَوَيْلٌ للصانع من غد وبعد
Allah Ta'ala berfirman: "Tidak ada suatu kata pun yang diucapkannya melainkan di sisinya ada malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat)." [Q.S. Qaf: 18]. Kecuali jika ia memuji barang tersebut dengan sifat aktual yang tidak diketahui pembeli jika tidak diberitahukan, seperti menyebutkan kebiasaan terselubung dari budak laki-laki, budak perempuan, atau hewan ternak. Maka tidak mengapa menyebutkan kadar yang ada tanpa berlebihan dan terlampau panjang lebar. Dan hendaknya tujuannya adalah agar saudara sesama muslim mengetahuinya sehingga ia berminat darinya dan terpenuhi hajatnya. Sama sekali tidak sepatutnya ia bersumpah atas barang tersebut. Sebab, jika ia berdusta, berarti ia telah melakukan sumpah palsu (al-yamin al-ghamūs), yaitu termasuk dosa besar yang meninggalkan rumah-rumah dalam keadaan hancur lebur. Sedangkan jika ia jujur, sungguh ia telah menjadikan nama Allah Ta'ala sebagai sarana sumpah-sumpahnya, dan ia telah berbuat buruk dalam hal itu, sebab dunia terlalu hina untuk dijadikan alasan melariskan barang dengan menyebut nama Allah tanpa adanya darurat. Dalam sebuah riwayat disebutkan: "Celakalah pedagang karena ucapan 'Tidak, demi Allah' dan 'Ya, demi Allah', dan celakalah pengrajin karena ucapan 'Besok' dan 'Lusa'."
وَفِي الْخَبَرِ الْيَمِينُ الْكَاذِبَةُ مُنْفِقَةٌ لِلسِّلْعَةِ مُمْحِقَةٌ للبركة
Dalam riwayat hadis disebutkan: "Sumpah palsu itu memang melariskan barang dagangan, tetapi memusnahkan keberkahan."
وروى أبو هريرة ﵁ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أنه قال ثلاثة لا ينظر الله إليهم يوم القيامة عتل مستكبر ومنان بعطيته ومنفق سلعته بيمينه
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w., beliau bersabda: "Tiga golongan yang tidak akan dipandang oleh Allah pada hari kiamat: orang yang kasar lagi sombong, orang yang mengungkit-ungkit pemberiannya, dan orang yang melariskan barang dagangannya dengan sumpah."
فإذا كان الثناء على السلعة مع الصدق مكروهاً من حيث إنه فضول لا يزيد في الرزق فلا يخفى التغليظ في أمر اليمين وقد روي عن يونس بن عبيد وكان خزازاً أنه طلب منه خز للشراء فأخرج غلامه سقط الخز ونشره ونظر إليه وقال اللهم ارزقنا الجنة فقال لغلامه رده إلى موضعه ولم يبعه وخاف أن يكون ذلك تعريضاً بالثناء على السلعة فمثل هؤلاء الذين اتجروا في الدنيا ولم يضيعوا دينهم في تجاراتهم بل علموا أن ربح الآخرة أولى بالطلب من ربح الدنيا
Jika memuji barang dagangan—meskipun jujur—hukumnya makruh karena termasuk hal sia-sia (fadhūl) yang tidak menambah rezeki, maka tidak diragukan lagi kerasnya ancaman dalam urusan bersumpah. Diriwayatkan dari Yunus bin Ubaid—seorang pedagang kain sutra (khazz)—bahwa seseorang meminta kain sutra darinya untuk dibeli. Lalu pelayannya mengeluarkan himpunan kain sutra, membeberkannya, memandangnya, lalu berdoa, "Ya Allah, berilah kami rezeki surga." Maka Yunus berkata kepada pelayannya, "Kembalikan kain itu ke tempatnya!" dan ia tidak menjualnya, karena ia khawatir ucapan itu menjadi sindiran pujian terhadap barang tersebut. Orang-orang seperti merekalah yang berniaga di dunia tanpa mensia-siakan agama mereka dalam perniagaan, melainkan mereka menyadari bahwa keuntungan akhirat lebih utama untuk dicari daripada keuntungan dunia.
الثَّانِي أَنْ يُظْهِرَ جَمِيعَ عُيُوبِ الْمَبِيعِ خَفِيِّهَا وَجَلِيِّهَا وَلَا يَكْتُمُ مِنْهَا شَيْئًا فَذَلِكَ وَاجِبٌ فَإِنْ أَخْفَاهُ كَانَ ظَالِمًا غَاشًّا وَالْغِشُّ حَرَامٌ وَكَانَ تَارِكًا لِلنُّصْحِ فِي الْمُعَامَلَةِ وَالنُّصْحُ وَاجِبٌ وَمَهْمَا أَظْهَرَ أَحْسَنَ وَجْهَيِ الثَّوْبِ وَأَخْفَى الثَّانِيَ كَانَ غَاشًّا وَكَذَلِكَ إِذَا عَرَضَ الثِّيَابَ فِي الْمَوَاضِعِ الْمُظْلِمَةِ وَكَذَلِكَ إِذَا عَرَضَ أَحْسَنَ فَرْدَيِ الْخُفِّ أَوِ النَّعْلِ وَأَمْثَالِهِ وَيَدُلُّ عَلَى تَحْرِيمِ الغش ما روي أنه مر ﷺ برجل يبيع طعاماً فأعجبه فأدخل يده فيه فَرَأَى بَلَلًا فَقَالَ ﴿مَا هَذَا﴾ قَالَ أَصَابَتْهُ السَّمَاءُ فَقَالَ فَهَلَّا جَعَلْتَهُ فَوْقَ الطَّعَامِ حَتَّى يَرَاهُ النَّاسُ مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا
Yang kedua: Menjelaskan seluruh cacat pada barang yang dijual, baik yang tersembunyi maupun yang tampak, dan tidak menyembunyikan sesuatu pun darinya. Hal itu hukumnya wajib. Jika ia menyembunyikannya, maka ia menjadi orang yang zalim dan penipu (ghāsy), sedangkan penipuan (ghisy) hukumnya haram, serta ia telah meninggalkan nasihat (ketulusan) dalam bertransaksi, padahal nasihat itu wajib. Apabila ia memperlihatkan sisi pakaian yang lebih bagus dan menyembunyikan sisi lainnya, maka ia adalah penipu. Demikian pula jika ia memajang pakaian di tempat-tempat yang gelap, atau memperlihatkan bagian terbaik dari sepasang khuf (sepatu kulit) atau sandal dan sejenisnya. Hal yang menunjukkan diharamkannya penipuan adalah riwayat bahwa Rasulullah s.a.w. melewati seorang laki-laki yang menjual makanan, lalu makanan itu menarik perhatian beliau. Beliau lantas memasukkan tangannya ke dalamnya dan merasakan adanya kebasahan. Beliau bersabda, "Apa ini?" Orang itu menjawab, "Terkena air hujan, wahai Rasulullah." Beliau bersabda, "Mengapa tidak engkau letakkan di bagian atas makanan agar dapat dilihat oleh orang-orang? Barangsiapa yang menipu kami, maka ia bukan dari golongan kami."
وَيَدُلُّ عَلَى وُجُوبِ النُّصْحِ بِإِظْهَارِ الْعُيُوبِ مَا رُوِيَ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ لَمَّا بايع جريراً على الإسلام ذهب
Dan hal yang menunjukkan wajibnya memberi nasihat (ketulusan) dengan menjelaskan cacat-cacat barang adalah riwayat yang menyebutkan bahwa ketika Nabi s.a.w. membaiat Jarir atas agama Islam, Jarir hendak pergi,
لِيَنْصَرِفَ فَجَذَبَ ثَوْبَهُ وَاشْتَرَطَ عَلَيْهِ النُّصْحَ لِكُلِّ مُسْلِمٍ
lalu beliau memegang pakaiannya dan mensyaratkan kepadanya agar memberi nasihat (bersikap tulus) kepada setiap muslim.
فَكَانَ جرير إِذَا قَامَ إِلَى السِّلْعَةِ يَبِيعُهَا بَصَّرَ عُيُوبَهَا ثُمَّ خَيَّرَهُ وَقَالَ إِنْ شِئْتَ فَخُذْ وَإِنْ شِئْتَ فَاتْرُكْ فَقِيلَ لَهُ إِنَّكَ إِذَا فَعَلْتَ مِثْلَ هَذَا لَمْ يَنْفُذْ لَكَ بَيْعٌ فَقَالَ إِنَّا بَايَعْنَا رَسُولَ اللَّهِ ﷺ عَلَى النُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ
Maka Jarir apabila berdiri menjual suatu barang dagangan, ia memperlihatkan cacat-cacatnya, kemudian memberikan pilihan kepada pembeli seraya berkata, "Jika engkau mau, ambillah; dan jika engkau mau, tinggalkanlah." Lalu dikatakan kepadanya, "Sesungguhnya jika engkau melakukan hal seperti ini, jual belimu tidak akan pernah laku." Ia menjawab, "Sesungguhnya kami telah membaiat Rasulullah s.a.w. untuk bersikap tulus (nasihat) kepada setiap muslim."
وَكَانَ وَاثِلَةُ بْنُ الْأَسْقَعِ وَاقِفًا فَبَاعَ رَجُلٌ نَاقَةً لَهُ بِثَلَثِمِائَةِ دِرْهَمٍ فَغَفَلَ واثلة وَقَدْ ذَهَبَ الرَّجُلُ بِالنَّاقَةِ فَسَعَى وَرَاءَهُ وَجَعَلَ يَصِيحُ بِهِ يَا هَذَا أَشْتَرَيْتَهَا لِلَّحْمِ أَوْ لِلظَّهْرِ فَقَالَ بَلْ لِلظَّهْرِ فَقَالَ إِنَّ بِخُفِّهَا نَقْبًا قَدْ رَأَيْتُهُ وَإِنَّهَا لَا تُتَابِعُ السَّيْرَ فعاد فردها فنقصها البائع مائة درهم وقال لواثلة رَحِمَكَ اللَّهُ أَفْسَدْتَ عَلَيَّ بَيْعِي فَقَالَ إِنَّا بَايَعْنَا رَسُولَ اللَّهِ ﷺ عَلَى النُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ وَقَالَ سَمِعْتُ رسول الله ﷺ يقول لَا يَحِلُّ لِأَحَدٍ يَبِيعُ بَيْعًا إِلَّا أَنْ يُبَيِّنَ آفَتَهُ وَلَا يَحِلُّ لِمَنْ يَعْلَمُ ذَلِكَ إِلَّا تَبْيِينُهُ
Pernah pula Watsilah bin al-Asqa' berdiri menyaksikan seorang laki-laki menjual untanya seharga tiga ratus dirham. Saat itu Watsilah sempat lengah dan orang tersebut sudah membawa untanya pergi. Maka Watsilah berlari mengejarnya dan berseru, "Wahai Fulan, apakah engkau membelinya untuk diambil dagingnya atau untuk ditunggangi?" Pembeli itu menjawab, "Untuk ditunggangi." Watsilah berkata, "Sesungguhnya pada telapak kakinya ada lubang/cacat yang telah kulihat, dan ia tidak akan sanggup berjalan terus-menerus." Maka pembeli itu kembali dan mengembalikan untanya. Penjual lalu mengurangkan harganya seratus dirham dan berkata kepada Watsilah, "Semoga Allah merahmatimu, engkau telah merusak jual beliku!" Watsilah menjawab, "Sesungguhnya kami telah membaiat Rasulullah s.a.w. untuk bersikap tulus kepada setiap muslim." Dan ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: Tidak halal bagi seseorang menjual suatu barang melainkan ia harus menjelaskan cacatnya, dan tidak halal bagi siapa pun yang mengetahuinya melainkan harus menjelaskannya."
فَقَدْ فَهِمُوا مِنَ النُّصْحِ أَنْ لَا يَرْضَى لِأَخِيهِ إِلَّا مَا يَرْضَاهُ لِنَفْسِهِ وَلَمْ يَعْتَقِدُوا أَنَّ ذَلِكَ مِنَ الْفَضَائِلِ وَزِيَادَةِ الْمَقَامَاتِ بَلِ اعْتَقَدُوا أَنَّهُ مِنْ شُرُوطِ الْإِسْلَامِ الداخلة تحت بيعتهم وهذا أمر يشق على أكثر الخلق فلذلك يختارون التخلي للعبادة والاعتزال عن الناس لأن القيام بحقوق الله مع المخالطة والمعاملة مجاهدة لا يقوم بها إلا الصديقون ولن يتيسر ذلك على العبد إلا بأن يعتقد أَمْرَيْنِ
Sungguh, mereka memahami arti nasihat (ketulusan) sebagai tidak menyukai bagi saudaranya melainkan apa yang disukai untuk dirinya sendiri. Mereka tidak menganggap hal itu sekadar keutamaan ekstra atau tingkatan (maqāmāt) tambahan, melainkan meyakini bahwa itu adalah syarat keislaman yang termasuk dalam cakupan baiat mereka. Hal ini merupakan sesuatu yang berat bagi kebanyakan makhluk, sehingga mereka lebih memilih mengosongkan diri untuk beribadah dan mengasingkan diri (uzlah) dari manusia. Sebab, menunaikan hak-hak Allah dalam kondisi berbaur dan bertransaksi adalah bentuk kesungguhan perjuangan jiwa (mujāhadah) yang tidak sanggup dijalankan kecuali oleh para shiddīqīn. Dan hal itu tidak akan terasa mudah bagi seorang hamba melainkan dengan meyakini dua hal:
أَحَدُهُمَا أَنَّ تَلْبِيسَهُ الْعُيُوبَ وَتَرْوِيجَهُ السِّلَعَ لَا يَزِيدُ فِي رِزْقِهِ بَلْ يَمْحَقُهُ وَيَذْهَبُ ببركته وما يجمعه من مفرقات التلبيسات يهلكه الله دَفْعَةً وَاحِدَةً فَقَدْ حُكِيَ أَنَّ وَاحِدًا كَانَ له بقرة يحلبها ويخلط بلبنها الماء ويبيعه فَجَاءَ سَيْلٌ فَغَرَّقَ الْبَقَرَةَ فَقَالَ بَعْضُ أَوْلَادِهِ إِنَّ تِلْكَ الْمِيَاهَ الْمُتَفَرِّقَةَ الَّتِي صَبَبْنَاهَا فِي اللَّبَنِ اجْتَمَعَتْ دَفْعَةً وَاحِدَةً وَأَخَذَتِ الْبَقَرَةَ
Pertama, bahwa penyamaran cacat dan usahanya melariskan barang dagangan tidak akan menambah rezekinya, melainkan justru memusnahkannya dan melenyapkan keberkahannya. Apa yang dikumpulkannya dari sedikit demi sedikit hasil penipuan itu akan dihancurkan oleh Allah sekaligus dalam satu waktu. Dikisahkan bahwa ada seseorang yang memiliki seekor sapi perah; ia memerah susunya lalu mencampurnya dengan air kemudian menjualnya. Tiba-tiba datang banjir bandang yang menenggelamkan sapi tersebut. Maka sebagian anaknya berkata, "Sesungguhnya air yang terpisah-pisah yang dulu kita tuangkan ke dalam susu telah berkumpul sekaligus dalam satu waktu dan membawa pergi sapi itu."
كَيْفَ وَقَدْ قَالَ ﷺ الْبَيِّعَانِ إِذَا صَدَقَا وَنَصَحَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا وَإِذَا كَتَمَا وَكَذَبَا نُزِعَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا
Bagaimana tidak, padahal Nabi s.a.w. telah bersabda: "Dua orang yang bertransaksi jual beli, apabila keduanya jujur dan saling bersikap tulus (nasihat), niscaya diberkahi jual beli mereka. Namun jika keduanya menyembunyikan (cacat) dan berdusta, niscaya dicabut keberkahan jual beli mereka."
وَفِي الْحَدِيثِ يَدُ اللَّهِ عَلَى الشَّرِيكَيْنِ مَا لَمْ يَتَخَاوَنَا فَإِذَا تَخَاوَنَا رَفَعَ يَدَهُ عَنْهُمَا
Dan dalam hadis disebutkan: "Tangan (pertolongan dan keberkahan) Allah berada di atas dua orang yang bersyirkah selama keduanya tidak saling mengkhianati. Namun apabila keduanya saling mengkhianati, Allah mengangkat tangan-Nya dari mereka."
فَإِذًا لَا يَزِيدُ مَالٌ مِنْ خِيَانَةٍ كَمَا لَا ينقص من صدقة من لا يعرف الزيادة والنقصان إلا بالميزان لم يصدق بهذا الحديث
Maka dengan demikian, harta tidak akan bertambah karena pengkhianatan sebagaimana ia tidak akan berkurang karena sedekah. Barangsiapa yang tidak memahami penambahan dan pengurangan kecuali dengan timbangan materi, ia tidak akan mempercayai hadis ini.
ومن عرف أن الدرهم الواحد قد يبارك فيه حتى يكون سبباً لسعادة الإنسان في الدنيا والدين والآلاف المؤلفة قد ينزع الله البركة منها حتى تكون سبباً لهلاك مالكها بحيث يتمنى الإفلاس منها ويراه أصلح له في بعض أحواله فيعرف معنى قولنا إن الخيانة لا تزيد في المال والصدقة لا تنقص منه
Barangsiapa memahami bahwa satu dirham saja dapat diberkahi hingga menjadi sebab kebahagiaan seseorang di dunia dan dalam agamanya, sedangkan beribu-ribu dirham dapat dicabut keberkahannya oleh Allah hingga menjadi sebab kebinasaan pemiliknya—sehingga ia mengandai-andai bangkrut saja darinya dan memandangnya lebih baik baginya dalam sebagian kondisi—niscaya ia akan memahami makna ucapan kami bahwa pengkhianatan tidak menambah harta dan sedekah tidak menguranginya.
وَالْمَعْنَى الثَّانِي الَّذِي لَا بُدَّ مِنِ اعْتِقَادِهِ لِيَتِمَّ لَهُ النُّصْحُ وَيَتَيَسَّرَ عَلَيْهِ أَنْ يَعْلَمَ أَنَّ رِبْحَ الْآخِرَةِ وَغِنَاهَا خَيْرٌ مِنْ رِبْحِ الدُّنْيَا وَأَنَّ فَوَائِدَ أَمْوَالِ الدُّنْيَا تَنْقَضِي بِانْقِضَاءِ العمر وتبقى مظالمها وأوزارها فكيف يستجيز الْعَاقِلُ أَنْ يَسْتَبْدِلَ الَّذِي هُوَ أَدْنَى بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي سَلَامَةِ الدِّينِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لا تزال لا إله إلا الله تدفع عن الخلق سخط الله ما لم يؤثروا صفقة دنياهم على آخرتهم
Adapun makna kedua yang wajib diyakini agar nasihat (ketulusan) menjadi sempurna baginya dan terasa mudah baginya adalah hendaknya ia mengetahui bahwa keuntungan dan kekayaan akhirat lebih baik daripada keuntungan dunia, dan bahwa manfaat harta dunia akan sirna seiring berakhirnya usia, sementara kezaliman dan dosa-dosanya tetap menanggung. Maka bagaimana mungkin orang yang berakal membenarkan tindakan menukar yang lebih buruk dengan yang lebih baik? Padahal seluruh kebaikan itu terletak pada keselamatan agama. Rasulullah s.a.w. bersabda: "Kalimat Lā ilāha illallāh akan senantiasa menolak kemurkaan Allah dari makhluk selama mereka tidak mengutamakan transaksi dunia mereka di atas akhirat mereka."
وفي لفظ آخر ما لم يبالوا ما نقص من دنياهم بسلامة دينهم فإذا فعلوا ذلك وقالوا لا إله إلا الله قال الله تعالى كذبتم لستم بها صادقين وفي حديث آخر من قال لا إله إلا الله مخلصاً دخل الجنة
Dalam lafal yang lain: "…selama mereka tidak peduli dengan apa yang berkurang dari dunia mereka demi keselamatan agama mereka. Jika mereka melakukan hal itu (mengabaikan agama demi dunia) namun tetap mengucapkan Lā ilāha illallāh, maka Allah Ta'ala berfirman: Kamu berdusta, kamu tidak jujur dengannya." Dan dalam hadis yang lain: "Barangsiapa mengucapkan Lā ilāha illallāh dengan ikhlas, niscaya ia masuk surga."
قيل
Dikatakan:
وما إخلاصه قال
Dan apakah keikhlasannya? Beliau berkata:
أن يحرزه عما حرم الله
Hendaklah ia menjaganya dari apa yang diharamkan Allah.
وقال أيضاً
Beliau juga bersabda:
مَا آمَنَ بِالْقُرْآنِ مَنِ اسْتَحَلَّ مَحَارِمَهُ وَمَنْ علم
"Tidaklah beriman kepada Al-Qur'an orang yang menghalalkan apa yang diharamkannya." Dan barang siapa mengetahui
أَنَّ هَذِهِ الْأُمُورَ قَادِحَةٌ فِي إِيمَانِهِ وَأَنَّ إيمانه رأس ماله فِي الْآخِرَةِ لَمْ يُضَيِّعْ رَأْسَ مَالِهِ الْمُعَدَّ لِعُمْرٍ لَا آخِرَ لَهُ بِسَبَبِ رِبْحٍ يَنْتَفِعُ بِهِ أَيَّامًا مَعْدُودَةً
bahwa perkara-perkara ini mencederai imannya, dan bahwa imannya adalah modal utamanya di akhirat, niscaya ia tidak akan menyia-nyiakan modal utama yang dipersiapkan untuk kehidupan abadi tanpa akhir hanya demi keuntungan yang dinikmatinya selama beberapa hari yang terbatas.
وَعَنْ بَعْضِ التَّابِعِينَ أَنَّهُ قال لو دخلت الجامع ومع وَهُوَ غَاصٌّ بِأَهْلِهِ وَقِيلَ لِي مَنْ خَيْرُ هؤلاء لقلت من أنصحهم لهم فإذا قالوا هذا قلت هو خيرهم
Diriwayatkan dari sebagian Tabiin bahwa beliau berkata, "Seandainya aku masuk ke dalam masjid jami' saat dipenuhi oleh jemaahnya, lalu dikatakan kepadaku: Siapakah yang terbaik di antara mereka? Niscaya aku akan menjawab: Orang yang paling tulus menginginkan kebaikan bagi mereka. Jika mereka menunjuk seseorang, maka aku akan berkata: Dialah yang terbaik dari mereka."
ولو قيل لي من شرهم قلت من أغشهم لهم فإذا قيل هذا قلت هو شرهم
"Dan seandainya dikatakan kepadaku: Siapakah yang terburuk di antara mereka? Niscaya aku akan menjawab: Orang yang paling berbuat kecurangan terhadap mereka. Jika ditunjukkan seseorang, maka aku akan berkata: Dialah yang terburuk dari mereka."
وَالْغِشُّ حَرَامٌ فِي الْبُيُوعِ وَالصَّنَائِعِ جَمِيعًا وَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَتَهَاوَنَ الصَّانِعُ بِعَمَلِهِ عَلَى وَجْهٍ لَوْ عَامَلَهُ بِهِ غَيْرُهُ لَمَا ارْتَضَاهُ لِنَفْسِهِ بَلْ يَنْبَغِي أَنْ يُحْسِنَ الصَّنْعَةَ وَيُحْكِمَهَا ثُمَّ يُبَيِّنَ عَيْبَهَا إِنْ كَانَ فِيهَا عَيْبٌ فَبِذَلِكَ يتخلص
Kecurangan (penipuan) adalah haram dalam seluruh transaksi jual beli dan pengerjaan keahlian. Tidak sepantasnya seorang pengrajin meremehkan pekerjaannya dengan cara yang jika orang lain memperlakukannya demikian, ia sendiri tidak akan merelakannya. Sebaliknya, ia harus memperbagus dan memperkokoh pengerjaannya, kemudian menjelaskan cacatnya jika memang terdapat cacat. Dengan demikian, ia dapat terbebas dari dosa.
وسأل رجل حداء بن سالم فَقَالَ كَيْفَ لِي أَنْ أَسْلَمَ فِي بَيْعِ النِّعَالِ فَقَالَ اجْعَلِ الْوَجْهَيْنِ سَوَاءً وَلَا تُفَضِّلِ الْيُمْنَى عَلَى الْأُخْرَى وَجَوِّدِ الْحَشْوَ وَلْيَكُنْ شَيْئًا وَاحِدًا تَامًّا وَقَارِبْ بَيْنَ الْخُرُزِ وَلَا تطبق إحدى النعلين على الأخرى
Seseorang pernah bertanya kepada Hida' bin Salim, "Bagaimana caranya agar aku selamat dalam penjualan sandal?" Beliau menjawab, "Jadikanlah kedua sisi permukaannya sama, jangan melebihkan bagian kanan atas yang lain, baguskanlah bahan isiannya dan hendaknya seragam serta sempurna, rapatkan jahitannya, dan jangan menumpuk salah satu sandal di atas yang lainnya (untuk menyembunyikan cacat)."
ومن هذا الفن مَا سُئِلَ عَنْهُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ ﵀ مِنَ الرَّفْوِ بِحَيْثُ لَا يَتَبَيَّنُ قَالَ لَا يَجُوزُ لِمَنْ يَبِيعُهُ أَنْ يُخْفِيَهُ وَإِنَّمَا يحل للرفا إِذَا عَلِمَ أَنَّهُ يُظْهِرُهُ أَوْ أَنَّهُ لَا يريده لِلْبَيْعِ
Termasuk dalam jenis ini adalah pertanyaan yang diajukan kepada Ahmad bin Hanbal rahimahullah mengenai penambalan kain secara halus hingga tidak terlihat cacatnya. Beliau berkata, "Tidak boleh bagi orang yang menjualnya untuk menyembunyikannya. Hal itu hanya halal bagi penambal jika ia mengetahui bahwa penjual akan menunjukkannya atau bahwa ia tidak bermaksud menjualnya."
فَإِنْ قُلْتَ فَلَا تَتِمُّ الْمُعَامَلَةُ مَهْمَا وَجَبَ عَلَى الْإِنْسَانِ أَنْ يَذْكُرَ عُيُوبَ الْمَبِيعِ فَأَقُولُ لَيْسَ كَذَلِكَ إِذْ شَرْطُ التَّاجِرِ أَنْ لَا يَشْتَرِيَ لِلْبَيْعِ إِلَّا الْجِيِّدَ الَّذِي يَرْتَضِيهِ لنفسه لو أمسكه ثم يقنع في بيعه بربح يسير فيبارك الله له فيه ولا يحتاج إلى تلبيس وإنما تعذر هذا لأنهم لا يقنعون بالربح اليسير وليس يسلم الكثير إلا بتلبيس فَمَنْ تَعَوَّدَ هَذَا لَمْ يَشْتَرِ الْمَعِيبَ فَإِنْ وَقَعَ فِي يَدِهِ مَعِيبٌ نَادِرًا فَلْيَذْكُرْهُ وَلْيَقْنَعْ بِقِيمَتِهِ
Jika engkau bertanya, "Jika demikian, transaksi tidak akan pernah selesai bila setiap orang diwajibkan menyebutkan cacat barang dagangannya?" Maka aku katakan: Tidaklah demikian, sebab syarat seorang pedagang adalah tidak membeli untuk dijual kembali kecuali barang yang baik, yang ia relakan untuk dirinya sendiri seandainya ia menyimpannya. Kemudian ia merasa cukup dalam menjualnya dengan keuntungan yang sedikit, sehingga Allah memberkahinya dan ia tidak perlu melakukan penipuan. Kesulitan ini terjadi hanyalah karena mereka tidak merasa puas dengan keuntungan yang sedikit, sedangkan keuntungan yang banyak jarang selamat dari cela kecuali dengan penipuan. Maka barang siapa terbiasa dengan hal ini, ia tidak akan membeli barang yang cacat; dan jika sesekali jatuh ke tangannya barang yang cacat, hendaklah ia menyebutkannya dan merasa puas dengan harganya (yang disesuaikan).
بَاعَ ابْنُ سِيرِينَ شَاةً فَقَالَ لِلْمُشْتَرِي أَبْرَأُ إِلَيْكَ مِنْ عَيْبٍ فِيهَا أَنَّهَا تَقْلِبُ العلف برجلها
Ibnu Sirin pernah menjual seekor kambing, lalu beliau berkata kepada pembeli, "Aku menyatakan lepas tanggung jawab kepadamu dari cacat padanya, yaitu ia suka mengacak-acak pakan dengan kakinya."
وباع الحسن بن صالح جارية فقال للمشتري إنها تنخمت مرة عندنا دماً فهكذا كانت سيرة أهل الدين فمن لا يقدر عليه فليترك المعاملة أو ليوطن نفسه على عذاب الآخرة
Al-Hasan bin Salih pernah menjual seorang budak wanita, lalu beliau berkata kepada pembeli, "Ia pernah sekali mengeluarkan dahak berdarah di tempat kami." Demikianlah riwayat hidup orang-orang yang taat beragama. Maka barang siapa yang tidak sanggup melakukkannya, hendaklah ia meninggalkan perdagangan atau bersiap menanggung azab akhirat.
الثالث إلا يكتم في المقدار شيئاً وَذَلِكَ بِتَعْدِيلِ الْمِيزَانِ وَالِاحْتِيَاطِ فِيهِ وَفِي الْكَيْلِ فَيَنْبَغِي أَنْ يَكِيلَ كَمَا يَكْتَالُ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ ولا يخلص من هذا إلا بأن يرجع إِذَا أَعْطَى وَيَنْقُصَ إِذَا أَخَذَ إِذِ الْعَدْلُ الْحَقِيقِيُّ قَلَّمَا يُتَصَوَّرُ فَلْيُسْتَظْهَرْ بِظُهُورِ الزِّيَادَةِ وَالنُّقْصَانِ فَإِنَّ مَنِ اسْتَقْصَى حَقَّهُ بِكَمَالِهِ يُوشِكُ أَنْ يَتَعَدَّاهُ
Ketiga, tidak menyembunyikan sesuatu pun dalam hal takaran/ukuran, yaitu dengan menyelaraskan timbangan serta berhati-hati padanya dan pada takaran. Hendaklah ia menakar sebagaimana ia ingin ditakar. Allah Ta'ala berfirman: "Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi." Tidak ada yang dapat terbebas dari hal ini kecuali dengan memberi lebih ketika memberi dan mengurangi ketika menerima, sebab keadilan yang sejati jarang sekali dapat terwujud secara presisi. Maka hendaklah ia mengambil kehati-hatian dengan menampakkan kelebihan (saat memberi) dan pengurangan (saat menerima). Sebab barang siapa yang menuntut haknya secara sempurna hingga detail, dikhawatirkan ia akan melampaui batas.
وَكَانَ بَعْضُهُمْ يَقُولُ لَا أَشْتَرِي الْوَيْلَ من الله بحبة فكان إذا أخذ نقص نصف حبة وإذا أعطى زاد حبة وكان يقول ويل لمن باع بحبة جنة عرضها السموات والأرض وما أخسر من باع طوبى بويل
Sebagian ulama salaf pernah berkata, "Aku tidak akan membeli kecelakaan (azab) dari Allah hanya demi sebutir biji timbangan." Maka apabila menerima, ia menguranginya setengah biji, dan apabila memberi, ia menambahnya satu biji. Beliau juga berkata, "Sungguh celakalah orang yang menjual surga yang luasnya seluas langit dan bumi hanya demi sebutir biji timbangan, dan betapa rugi orang yang menjual kebahagiaan abadi (Thuba) dengan kecelakaan (Wail)."
وإنما بالغوا في الاحتراز من هذا وشبهه لأنها مظالم لا يمكن التوبة منها إذ لا يعرف أصحاب الحبات حتى يجمعهم ويؤدى حقوقهم ولذلك لما اشترى رسول الله ﷺ شيئا قال للوزان لما كان يزن ثمنه زن وأرجح
Mereka sangat bersungguh-sungguh dalam berhati-hati terhadap hal ini dan sejenisnya karena hal tersebut merupakan kedzaliman yang tidak memungkinkan untuk bertobat darinya, sebab pemilik biji-biji timbangan tersebut tidak diketahui lagi untuk dikumpulkan dan ditunaikan hak-haknya. Oleh karena itu, ketika Rasulullah ﷺ membeli sesuatu, beliau bersabda kepada penimbang harganya: "Timbanglah dan lebihkanlah."
ونظر فضيل إلى ابنه وهو يغسل دينارا يريد أن يصرفه ويزيل تكحيله وينقيه حتى لا يزيد وزنه بسبب ذلك فقال يا بني فعلك هذا أفضل من حجتين وعشرين عمرة
Fudhayl (bin 'Iyadh) pernah melihat putranya sedang mencuci sebuah dinar yang ingin ditukarkannya, ia membersihkan noda hitamnya dan menyucikannya agar beratnya tidak bertambah karena kotoran tersebut. Maka beliau berkata, "Wahai putraku, perbuatanmu ini lebih utama daripada dua kali haji dan dua puluh kali umrah."
وقال بعض السلف عجبت للتاجر والبائع كيف ينجو يزن ويحلف بالنهار وينام بالليل
Sebagian ulama Salaf berkata, "Aku heran pada pedagang dan penjual, bagaimana ia bisa selamat padahal ia menimbang dan bersumpah di siang hari lalu tidur di malam hari."
وقال سليمان ﵇ لابنه يا بني كما تدخل الحبة بين الحجرين كذلك تدخل الخطيئة بين المتبايعين
Nabi Sulaiman 'Alaihissalam berkata kepada putranya, "Wahai putraku, sebagaimana sebutir biji masuk di antara dua batu kilangan, demikian pulalah dosa masuk di antara dua orang yang bertransaksi jual beli."
وصلى بعض الصالحين على مخنث فقيل له إنه كان فاسقاً فسكت فأعيد عليه فقال كأنك قلت لي كان صاحب ميزانين يعطي بأحدهما ويأخذ بالأخر أشار به إلى أن فسقه مظلمة بينه وبين الله تعالى وهذا من مظالم العباد والمسامحة والعفو فيه أبعد والتشديد في أمر الميزان عظيم والخلاص منه يحصل بحبة ونصف حبة
Sebagian orang saleh pernah menshalati jenazah seorang pria yang bertingkah seperti wanita (mukhannats). Dikatakan kepadanya, "Sesungguhnya dia dulu seorang yang fasik." Beliau diam, lalu perkataan itu diulangi kepadanya, maka beliau berkata, "Seolah-olah engkau mengatakan kepadaku bahwa dia adalah pemilik dua timbangan, yang memberi dengan salah satunya dan mengambil dengan yang lainnya." Beliau mengisyaratkan bahwa kefasikannya adalah kedzaliman antara dirinya dengan Allah Ta'ala, sedangkan kecurangan timbangan adalah bagian dari kedzaliman antar sesama hamba yang pemaafannya lebih jauh (sulit). Penekanan dalam urusan timbangan sangatlah agung, dan keselamatan darinya bisa dicapai hanya dengan sebutir atau setengah biji timbangan.
وفي قراءة عبد الله بن مسعود ﵁ لا تطغوا في الميزان وأقيموا الوزن باللسان ولا تخسروا الميزان أي لسان الميزان فإن النقصان والرجحان
Dan dalam qira'ah Abdullah bin Mas'ud ra.: "Janganlah kamu melampaui batas dalam timbangan dan tegakkanlah timbangan itu dengan lidah (jarum timbangan) serta janganlah kamu mengurangi timbangan," yakni lidah jarum timbangan; karena pengurangan dan kelebihan…
يظهر بميله وبالجملة كل من ينتصف لنفسه من غيره ولو في كلمة ولا ينصف بمثل ما ينتصف فهو داخل تحت قوله تَعَالَى وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى الناس يستوفون الآيات فإن تحريم ذلك في المكيل ليس لكونه مكيلاً بل لكونه أمراً مقصوداً ترك العدل والنصفة فيه فهو جار في جميع الأعمال فصاحب الميزان في خطر الويل وكل مكلف فهو صاحب موازين في أفعاله وأقواله وخطراته فالويل له إن عدل عن العدل ومال عن الاستقامة ولولا تعذر هذا واستحالته لما ورد قوله تعالى وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا كَانَ عَلَى رَبِّكَ حتماً مقضياً فلا ينفك عبد ليس معصوماً عن الميل عن الاستقامة إلا أن درجات الميل تتفاوت تفاوتاً عظيماً فلذلك تتفاوت مدة مقامهم في النار إلى أوان الخلاص حتى لا يبقى بعضهم إلا بقدر تحلة القسم ويبقى بعضهم ألفاً وألوف سنين فنسأل الله تعالى أن يقربنا من الاستقامة والعدل فإن الاشتداد على متن الصراط المستقيم من غير ميل عنه غير مطموع فيه فإنه أدق من الشعرة وأحد من السيف ولولاه لكان المستقيم عليه لا يقدر على جواز الصراط الممدود على متن النار الذي من صفته أنه أدق من الشعرة وأحد من السيف وبقدر الاستقامة على هذا الصراط المستقيم يخف العبد يوم القيامة على الصراط وَكُلُّ مَنْ خَلَطَ بِالطَّعَامِ تُرَابًا أَوْ غَيْرَهُ ثم كاله فهو من المطففين في الكيل وكل قصاب وزن مع اللحم عظماً لم تجر العادة بمثله فَهُوَ مِنَ الْمُطَفِّفِينَ فِي الْوَزْنِ وَقِسْ عَلَى هَذَا سَائِرَ التَّقْدِيرَاتِ حَتَّى فِي الذَّرْعِ الَّذِي يَتَعَاطَاهُ الْبَزَّازُ فَإِنَّهُ إِذَا اشْتَرَى أَرْسَلَ الثَّوْبَ في وقت الذرع ولم يمده مداً وإذا بَاعَهُ مَدَّهُ فِي الذَّرْعِ لِيُظْهِرَ تَفَاوُتًا فِي الْقَدْرِ فَكُلُّ ذَلِكَ مِنَ التَّطْفِيفِ الْمُعَرِّضِ صَاحِبَهُ لِلْوَيْلِ
…terlihat dari condongnya jarum tersebut. Kesimpulannya, barang siapa yang menuntut haknya secara penuh dari orang lain meskipun dalam satu kalimat, namun tidak bersikap adil dengan memberikan hak orang lain sebagaimana ia menuntut haknya, maka ia masuk ke dalam firman Allah Ta'ala: "Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka meminta dipenuhi…" hingga akhir ayat. Keharaman hal tersebut pada barang takaran bukanlah semata-mata karena ia barang takaran, melainkan karena hal itu merupakan perkara yang dituju yang di dalamnya ditinggalkan keadilan dan sikap insaf (sikap adil). Maka aturan ini berlaku pada seluruh amal perbuatan. Pemilik timbangan berada dalam ancaman kecelakaan (Wail), dan setiap mukalaf adalah pemilik timbangan-timbangan dalam perbuatan, perkataan, dan bisikan hatinya. Maka kecelakaan baginya jika ia menyimpang dari keadilan dan berpaling dari keistiqamahan. Seandainya hal ini tidak sulit dan mustahil (terbebas sama sekali darinya), niscaya tidak akan ada firman Allah Ta'ala: "Dan tidak ada seorang pun darimu melainkan akan mendatanginya (neraka). Hal itu bagi Rabbmu adalah suatu kepastian yang telah ditetapkan." Maka tidak ada seorang hamba pun yang tidak ma'shum (terpelihara dari dosa) melainkan pasti pernah menyimpang dari keistiqamahan, hanya saja tingkatan penyimpangan itu sangat bervariasi. Oleh karena itu, lamanya keberadaan mereka di neraka berbeda-beda hingga datangnya waktu keselamatan; sampai-sampai sebagian mereka tidak menetap di sana melainkan hanya sekadar pemenuhan sumpah, sedang sebagian lainnya menetap selama seribu atau beribu-ribu tahun. Kita memohon kepada Allah Ta'ala agar mendekatkan kita pada keistiqamahan dan keadilan. Sebab, tegak kokoh di atas jalan yang lurus (shiratal mustaqim) tanpa ada penyimpangan sama sekali adalah hal yang tidak bisa diharapkan (karena sangat sulit), sebab ia lebih halus dari sehelai rambut dan lebih tajam dari pedang. Seandainya bukan karena keistiqamahan itu, niscaya orang yang lurus tidak akan mampu melintasi shirat yang dibentangkan di atas punggung neraka Jahannam, yang sifatnya lebih halus dari sehelai rambut dan lebih tajam dari pedang. Sejauh mana keistiqamahan seseorang di atas jalan yang lurus ini (di dunia), sejauh itu pula ringannya seorang hamba pada hari kiamat saat melintasi shirat. Setiap orang yang mencampur makanan dengan tanah atau lainnya kemudian menakarnya, maka ia termasuk orang yang curang dalam takaran (al-muthaffifin). Dan setiap tukang daging yang menimbang tulang bersama daging melebihi kebiasaan yang berlaku, maka ia termasuk orang yang curang dalam timbangan. Kiaslah seluruh ukuran atas hal ini, hingga pada pengukuran panjang kain (adz-dzar') yang dilakukan oleh penjual kain. Sebab jika ia membeli, ia mengulurkan kain saat mengukur tanpa menariknya kencang-kencang, dan jika ia menjual, ia menariknya kencang-kencang saat mengukur agar tampak perbedaan ukurannya. Semua itu termasuk kecurangan (tatjfif) yang memaparkan pelakunya pada ancaman kecelakaan (wail).
الرَّابِعُ أَنْ يَصْدُقَ فِي سِعْرِ الْوَقْتِ وَلَا يُخْفِيَ مِنْهُ شَيْئًا فَقَدْ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَنْ تَلَقِّي الرُّكْبَانِ
Keempat, hendaklah ia jujur mengenai harga pasar saat itu dan tidak menyembunyikan apa pun darinya. Rasulullah ﷺ telah melarang pencegatan pedagang sebelum sampai ke pasar (talaqqir rukban).
وَنَهَى عَنِ النَّجْشِ
Dan Beliau juga melarang rekayasa penawaran palsu (an-najsy).
أَمَّا تَلَقِّي الرُّكْبَانِ فَهُوَ أَنْ يَسْتَقْبِلَ الرُّفْقَةَ وَيَتَلَقَّى الْمَتَاعَ وَيَكْذِبَ فِي سِعْرِ الْبَلَدِ فَقَدْ قَالَ ﷺ لَا تَتَلَقَّوُا الرُّكْبَانَ وَمَنْ تَلَقَّاهَا فَصَاحِبُ السِّلْعَةِ بِالْخِيَارِ بَعْدَ أَنْ يَقْدَمَ السُّوقَ وهذا الشراء منعقد ولكنه إن ظهر كذبه ثبت للبائع الخيار وإن كان صادقاً ففي الخيار خلاف لتعارض عموم الخبر مع زوال التلبيس وَنَهَى أَيْضًا أَنْ يَبِيعَ حَاضِرٌ لِبَادٍ
Adapun talaqqir rukban (mencegat kafilah pedagang), yaitu menyongsong rombongan pedagang, menyambut barang dagangan mereka, dan berbohong mengenai harga yang berlaku di kota. Rasulullah ﷺ telah bersabda: "Janganlah kalian mencegat kafilah dagang! Barang siapa yang mencegatnya, maka pemilik barang memiliki hak khiyar (pilihan untuk membatalkan atau melanjutkan jual beli) setelah ia sampai di pasar." Jual beli seperti ini tetap sah (terikat secara akad), tetapi jika kebohongannya terbukti, maka hak khiyar ditetapkan bagi penjual. Namun jika ia berkata jujur, terdapat perbedaan pendapat mengenai hak khiyar tersebut karena bertentangannya keumuman hadis dengan hilangnya unsur penipuan (talbis). Beliau juga melarang orang kota menjualkan barang milik orang desa (bi'u hadhirin libadin).
وَهُوَ أَنْ يَقْدَمَ الْبَدَوِيُّ الْبَلَدَ وَمَعَهُ قُوتٌ يُرِيدُ أَنْ يَتَسَارَعَ إِلَى بَيْعِهِ فَيَقُولَ لَهُ الْحَضَرِيُّ اتْرُكْهُ عِنْدِي حَتَّى أُغَالِيَ فِي ثَمَنِهِ وَأَنْتَظِرَ ارتفاع سعره وهذا في القوت محرم وفي سائر السلع خلاف والأظهر تحريمه لعموم النهي ولأنه تأخير للتضييق على الناس على الجملة من غير فائدة للفضولي المضيق ونهى رسول الله ﷺ عن النَّجْشِ
Yaitu ketika orang desa (badawi) datang ke kota membawa bahan makanan (qut) dengan maksud untuk segera menjualnya, lalu orang kota (hadhari) berkata kepadanya: "Tinggalkan barang itu padaku agar aku bisa menaikkan harganya dan menunggu kenaikan harga pasar." Hal seperti ini pada bahan makanan hukumnya haram, sedangkan pada komoditas lainnya terdapat perbedaan pendapat; pendapat yang lebih kuat (al-azhhar) adalah haram karena keumuman larangan tersebut, serta karena tindakan itu menunda penjualannya yang dapat menyusahkan masyarakat secara umum tanpa ada manfaat bagi orang yang mencampuri dan menyusahkan tersebut. Rasulullah ﷺ juga melarang praktik najsy.
وَهُوَ أَنْ يَتَقَدَّمَ إِلَى الْبَائِعِ بَيْنَ يَدَيِ الرَّاغِبِ الْمُشْتَرِي وَيَطْلُبَ السِّلْعَةَ بِزِيَادَةٍ وَهُوَ لَا يُرِيدُهَا وَإِنَّمَا يُرِيدُ تَحْرِيكَ رَغْبَةِ الْمُشْتَرِي فيها فهذا إن لم تجر مواطأة مع البائع فهو فعل حرام من صاحبه والبيع منعقد وإن جرى مواطأةً ففي ثبوت الخيار خلاف والأولى إثبات الخيار لأنه تغرير بفعل يضاهي التغرير في المصراة وتلقي الركبان فَهَذِهِ الْمَنَاهِي تَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ لَا يَجُوزُ أَنْ يُلَبِّسَ عَلَى الْبَائِعِ وَالْمُشْتَرِي فِي سِعْرِ الْوَقْتِ وَيَكْتُمَ مِنْهُ أَمْرًا لَوْ عَلِمَهُ لَمَا أَقْدَمَ عَلَى الْعَقْدِ فَفِعْلُ هَذَا مِنَ الْغِشِّ الحرام المضاد للنصح الواجب فقد حكي عن رجل من التابعين أنه كان بالبصرة وله غلام بالسوس يجهز إليه السكر فكتب إليه غلامه إن قصب السكر قد أصابته آفة في هذه السنة فاشتر السكر قال فاشترى سكراً كثيراً فلما جاء وقته ربح فيه ثلاثين ألفاً فانصرف إلى منزله فأفكر
Yaitu seseorang mendatangi penjual di hadapan pembeli yang berminat, lalu ia menawar barang tersebut dengan harga lebih tinggi padahal ia tidak bermaksud membelinya, melainkan hanya ingin memicu keinginan pembeli tersebut. Tindakan ini, apabila tidak ada kesepakatan rahasia (muthawata'ah) dengan penjual, merupakan perbuatan haram bagi pelakunya, sedangkan jual belinya tetap sah. Namun jika ada kesepakatan rahasia, terdapat perbedaan pendapat mengenai penetapan hak khiyar; pendapat yang lebih utama adalah menetapkan hak khiyar, karena hal itu merupakan bentuk penipuan (taghrir) melalui tindakan yang serupa dengan penipuan pada jual beli musharrah (hewan yang diikat putingnya agar terlihat banyak susunya) dan talaqqir rukban. Larangan-larangan ini menunjukkan bahwa tidak boleh menyamarkan harga pasar yang berlaku kepada penjual maupun pembeli, atau menyembunyikan sesuatu darinya yang seandainya ia mengetahuinya niscaya ia tidak akan melakukan akad. Perbuatan semacam ini termasuk kecurangan (ghisy) yang haram, bertentangan dengan ketulusan nasihat (nushh) yang wajib. Diceritakan dari seorang tabi'in bahwa ia berada di Bashrah dan memiliki seorang pembantu di Sūs yang mengantarkan gula kepadanya. Pembantunya menulis surat kepadanya: "Sesungguhnya tanaman tebu tertimpa hama pada tahun ini, maka belilah gula." Maka ia pun membeli gula dalam jumlah banyak. Ketika saatnya tiba, ia mendapatkan keuntungan tiga puluh ribu dirham. Lalu ia pulang ke rumahnya dan merenung…
ليلته وقال ربحت ثلاثين ألفاً وخسرت نصح رجل من المسلمين فلما أصبح غدا إلى بائع السكر فدفع إليه ثلاثين ألفاً وقال بارك الله لك فيها فقال ومن أين صارت لي فقال إني كتمتك حقيقة الحال وكان السكر قد غلا في ذلك الوقت فقال رحمك الله قد أعلمتني الآن وقد طيبتها لك قال فرجع بها إلى منزله وتفكر وبات ساهراً وقال ما نصحته فلعله استحيا مني فتركها لي فبكر إليه من الغد وقال عافاك الله خذ مالك إليك فهو أطيب لقلبي فاخذ منه ثلاثين ألفاً
…sepanjang malam seraya berkata: "Aku telah beruntung tiga puluh ribu, tetapi aku kehilangan nasihat yang tulus untuk seorang muslim." Ketika pagi hari tiba, ia menemui penjual gula tersebut dan menyerahkan tiga puluh ribu dirham kepadanya seraya berkata: "Semoga Allah memberkahimu padanya." Penjual itu bertanya: "Atas dasar apa uang ini menjadi milikku?" Ia menjawab: "Aku telah menyembunyikan keadaan yang sebenarnya darimu, padahal gula telah melonjak harganya saat itu." Penjual berkata: "Semoga Allah merahmatimu, engkau telah memberitahuku sekarang dan aku telah merelakannya untukmu." Tabi'in itu pulang ke rumahnya dan merenung kembali hingga terjaga sepanjang malam seraya berkata: "Aku belum bersikap tulus kepadanya, bisa jadi ia merasa malu kepadaku sehingga merelakannya untukku." Maka keesokan paginya ia mendatangi penjual itu lagi dan berkata: "Semoga Allah menyembuhkanmu, ambillah kembali hartamu ini, karena itu lebih menentramkan hatiku." Maka penjual itu pun mengambil tiga puluh ribu dirham tersebut darinya.
فهذه الأخبار في المناهي والحكايات تدل على أَنَّهُ لَيْسَ لَهُ أَنْ يَغْتَنِمَ فُرْصَةً وَيَنْتَهِزَ غَفْلَةَ صَاحِبِ الْمَتَاعِ وَيُخْفِيَ مِنَ الْبَائِعِ غَلَاءَ السِّعْرِ أَوْ مِنَ الْمُشْتَرِي تَرَاجُعَ الْأَسْعَارِ فَإِنْ فَعَلَ ذَلِكَ كَانَ ظَالِمًا تَارِكًا لِلْعَدْلِ وَالنُّصْحِ لِلْمُسْلِمِينَ وَمَهْمَا بَاعَ مُرَابَحَةً بِأَنْ يَقُولَ بِعْتُ بِمَا قَامَ عَلَيَّ أَوْ بِمَا اشْتَرَيْتُهُ فَعَلَيْهِ أَنْ يَصْدُقَ ثُمَّ يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يُخْبِرَ بِمَا حَدَثَ بَعْدَ الْعَقْدِ مِنْ عَيْبٍ أَوْ نقصان ولو اشترى إلى أجل وجب ذكره ولو اشترى مسامحةً من صديقه أو ولده يجب ذكره
Riwayat-riwayat tentang larangan serta kisah-kisah ini menunjukkan bahwa seseorang tidak boleh memanfaatkan kesempatan dan mengeksploitasi kelalaian pemilik barang, dengan menyembunyikan tingginya harga dari penjual atau penurunan harga dari pembeli. Jika ia melakukan hal tersebut, maka ia tergolong orang yang zalim, meninggalkan keadilan dan nasihat yang tulus bagi kaum muslimin. Dan apabila ia menjual secara murabahah (penjualan dengan mengambil keuntungan tertentu dari harga modal) dengan mengatakan: "Aku menjual sesuai modal yang aku keluarkan" atau "sesuai harga saat aku membelinya," maka ia wajib jujur. Kemudian wajib pula baginya untuk memberitahukan apa yang terjadi setelah akad, berupa cacat ('aib) atau pengurangan. Begitu pula jika ia membelinya secara tangguh (kredit), wajib disebutkan; dan jika ia membelinya dengan harga keringanan dari sahabatnya atau anaknya, ia pun wajib menyebutkannya.
لأن المعامل يعول على عادته في الاستقصاء أنه لا يترك النظر لنفسه فإذا تركه بسبب من الأسباب فيجب إخباره إذ الاعتماد فيه على أمانته
Karena orang yang bertransaksi bersandar pada kebiasaannya dalam mencermati harga, bahwa ia tidak meninggalkan kepentingannya sendiri. Jika ia meninggalkannya karena suatu sebab tertentu, maka wajib memberitahukannya, sebab kepercayaannya bersandar pada kejujuran dan amanahnya.
الباب الرابع في الإحسان في المعاملة
Bab Keempat: Berbuat Ihsan dalam Bertransaksi.
وقد أَمَرَ اللَّهُ تَعَالَى بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ جَمِيعًا وَالْعَدْلُ سَبَبُ النَّجَاةِ فَقَطْ وَهُوَ يَجْرِي مِنَ التِّجَارَةِ مجرى رَأْسِ الْمَالِ
Allah Ta'ala telah memerintahkan keadilan dan ihsan secara bersamaan. Keadilan adalah sebab keselamatan semata, dan kedudukannya dalam perniagaan ibarat modal utama (ra'sul mal).
وَالْإِحْسَانُ سَبَبُ الْفَوْزِ وَنَيْلِ السَّعَادَةِ وَهُوَ يَجْرِي مِنَ التِّجَارَةِ مَجْرَى الرِّبْحِ وَلَا يعد من الغفلاء مَنْ قَنَعَ فِي مُعَامَلَاتِ الدُّنْيَا بِرَأْسِ مَالِهِ فكذا في معاملات الآخرة فلا يَنْبَغِي لِلْمُتَدَيِّنِ أَنْ يَقْتَصِرَ عَلَى الْعَدْلِ وَاجْتِنَابِ الظُّلْمِ وَيَدَعَ أَبْوَابَ الْإِحْسَانِ وَقَدْ قَالَ اللَّهُ وأحسن كما أحسن الله إليك وَقَالَ ﷿ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ والإحسان وقال سبحانه إن رحمت الله قريب من المحسنين ونعني بالإحسان فعل ما ينتفع به المعامل وهو غير واجب عليه ولكنه تفضل منه فإن الواجب يدخل في باب العدل وترك الظلم وقد ذكرناه وتنال رُتْبَةَ الْإِحْسَانِ بِوَاحِدٍ مِنْ سِتَّةِ أُمُورٍ
Sedangkan ihsan adalah sebab keberuntungan dan pencapaian kebahagiaan, dan kedudukannya dalam perniagaan ibarat keuntungan (ribh). Orang yang merasa cukup dengan modal utamanya saja dalam transaksi duniawi tidaklah dianggap sebagai orang yang lalai, begitu pula dalam transaksi akhirat. Maka tidak sepantasnya bagi orang yang taat beragama hanya mencukupkan diri pada keadilan dan menjauhi kezaliman, lalu meninggalkan pintu-pintu ihsan. Sungguh Allah telah berfirman: "Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu," dan Allah Azza wa Jalla berfirman: "Sesungguhnya Allah memerintahkan (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan (ihsan)," serta Dia Maha Suci berfirman: "Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik." Yang kami maksud dengan ihsan di sini adalah melakukan tindakan yang memberikan manfaat bagi rekan bertransaksi, yang mana hal itu tidaklah wajib baginya, melainkan merupakan karunia dan kemurahan hati dari dirinya. Sebab perkara yang wajib telah masuk dalam bab keadilan dan meninggalkan kezaliman, sebagaimana telah kami sebutkan. Derajat ihsan ini dapat dicapai melalui salah satu dari enam perkara.
الْأَوَّلُ فِي الْمُغَابَنَةِ فَيَنْبَغِي أَنْ لَا يَغِبْنَ صَاحِبَهُ بِمَا لَا يَتَغَابَنُ بِهِ فِي الْعَادَةِ فَأَمَّا أَصْلُ الْمُغَابَنَةِ فَمَأْذُونٌ فِيهِ لِأَنَّ الْبَيْعَ لِلرِّبْحِ ولا يمكن ذلك إلا بغبن ما ولكن يراعي فيه التقريب فإن بذل المشتري زيادة على الربح المعتاد إما لشدة رغبته أو لشدة حاجته في الحال إليه فينبغي أن يمتنع من قبوله فذلك من الإحسان
Yang pertama: Dalam hal mengambil keuntungan (al-mughabanah). Hendaklah seseorang tidak mengambil keuntungan berlebih (ghabn) dari rekannya melebihi batas kelaziman yang berlaku secara adat. Adapun pokok mengambil keuntungan (al-mughabanah) itu diperbolehkan, karena jual beli memang bertujuan untuk meraih keuntungan, dan hal itu tidak mungkin terjadi melainkan dengan adanya perbedaan taksiran harga (ghabn). Namun, hendaklah ia menjaga kewajaran untuk mendekati harga riil. Jika pembeli memberikan pembayaran melebihi keuntungan yang biasa, baik karena sangat menyukai barang tersebut atau karena sangat membutuhkannya saat itu, maka seyogianya ia menolak menerima kelebihan itu; dan tindakan demikian termasuk bagian dari ihsan.
ومهما لم يكن تلبيس لم يكن أخذ الزيادة ظلماً وقد ذهب بعض العلماء إلى أن الغبن بما يزيد على الثلث يوجب الخيار ولسنا نرى ذلك ولكن من الإحسان أن يحط ذلك الغبن
Selama tidak ada unsur penipuan (talbis), maka mengambil kelebihan harga tersebut bukanlah sebuah kezaliman. Sebagian ulama berpendapat bahwa kelebihan harga yang tidak wajar (ghabn) yang melebihi sepertiga dari harga wajar menetapkan adanya hak khiyar. Namun kami tidak sependapat dengan hal itu, meski demikian termasuk dari bentuk ihsan adalah mengurangi atau memotong kelebihan tersebut.
يروى أنه كان عند يونس بن عبيد حلل مختلفة الأثمان ضرب قيمة كل حلة منها أربعمائة وضرب كل حلة قيمتها مائتان فمر إلى الصلاة وخلف ابن أخيه في الدكان فجاء أعرابي وطلب حلة بأربعمائة فعرض عليه من حلل المائتين فاستحسنها ورضيها فاشتراها فمضى بها وهي على يديه فاستقبله يونس فعرف حلته فقال للأعرابي بكم اشتريت فقال بأربعمائة فقال لا تساوي أكثر من مائتين فارجع حتى تردها فقال هذه تساوي في بلدنا خمسمائة وأنا أرتضيها فقال له يونس انصرف فإن النصح في الدين خير من الدنيا بما فيها ثم رده إلى الدكان ورد عليه مائتي درهم وخاصم ابن أخيه في ذلك وقاتله وقال أما استحييت أما اتقيت الله تربح مثل الثمن وتترك النصح للمسلمين فقال والله ما أخذها إلا وهو راض بها
Diriwayatkan bahwa Yunus bin 'Ubaid memiliki pakaian-pakaian (hulah) dengan nilai yang berbeda-beda; jenis satu kelompok bernilai empat ratus dirham tiap potongnya, dan kelompok lain bernilai dua ratus dirham. Lalu ia pergi untuk shalat dan meninggalkan keponakannya di toko. Datanglah seorang Arab Badui meminta pakaian seharga empat ratus dirham, maka keponakannya menawarkan pakaian dari kelompok yang bernilai dua ratus dirham. Orang Badui itu menganggapnya bagus, merelakannya, dan membelinya, lalu pergi membawanya di tangannya. Yunus berpapasan dengannya dan mengenali pakaiannya, lalu berkata kepada orang Badui itu: "Berapa engkau membelinya?" Ia menjawab: "Empat ratus." Yunus berkata: "Pakaian ini nilainya tidak lebih dari dua ratus, kembalilah untuk mengembalikannya!" Orang Badui itu berkata: "Di negeriku pakaian ini bernilai lima ratus dan aku sudah ridha." Yunus berkata kepadanya: "Kembalilah, karena ketulusan nasihat dalam agama itu lebih baik daripada dunia beserta isinya." Kemudian Yunus membawanya kembali ke toko dan mengembalikan uang dua ratus dirham kepadanya. Yunus menegur keponakannya dengan keras dan memarahinya seraya berkata: "Apakah engkau tidak malu? Tidakkah engkau bertakwa kepada Allah, engkau mengambil keuntungan lipat dua dari harga barang dan meninggalkan sikap tulus (nushh) kepada sesama muslim?" Keponakannya menjawab: "Demi Allah, ia tidak mengambilnya melainkan dalam keadaan ridha."
قال فهلا رضيت له بما ترضاه لنفسك وهذا إن كان فيه إخفاء سعر وتلبيس فهو من
Yunus berkata: "Mengapa engkau tidak meridhainya mendapatkan apa yang engkau ridhai untuk dirimu sendiri?" Perbuatan ini jika di dalamnya terdapat penyembunyian harga pasar dan manipulasi (talbis), maka ia termasuk dari…
باب الظلم وقد سبق وفي الحديث غبن المسترسل حرام
…pintu kezaliman, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Dalam hadis disebutkan: "Memperdaya orang yang tidak tahu harga (mustarsil) adalah haram."
وكان الزبير بن عدي يقول أدركت ثمانية عشر من الصحابة ما منهم أحد يحسن يشتري لحماً بدرهم فغبن مثل هؤلاء المسترسلين ظلم إن كان من غير تلبيس فهو من ترك الإحسان وقلما يتم هذا إلا بنوع تلبيس وإخفاء سعر الوقت
Az-Zubair bin 'Adi pernah berkata: "Aku telah mendapati delapan belas sahabat Nabi, tidak seorang pun dari mereka yang pandai memilah atau menawar daging seharga satu dirham." Maka memperdaya orang-orang awam yang polos semacam ini (al-mustarsilin) adalah kezaliman jika diiringi penipuan; dan jika tanpa penipuan, maka itu termasuk meninggalkan sikap ihsan. Dan amat jarang hal ini terjadi melainkan dengan adanya bentuk manipulasi (talbis) dan penyembunyian harga yang berlaku saat itu.
وإنما الإحسان المحض ما نقل عن السري السقطي أنه اشترى كر لوز بستين ديناراً وكتب في روزنامجه ثلاثة دنانير ربحه وكأنه رأى أن يربح على العشرة نصف دينار فصار اللوز بتسعين فأتاه الدلال وطلب اللوز فقال خذه قال بكم فقال
Murni ihsan yang sejati adalah sebagaimana yang diriwayatkan dari As-Sari As-Saqathi, bahwasanya ia membeli satu kurr (takaran besar) kacang badam (luz) seharga enam puluh dinar, lalu ia menulis di buku catatannya keuntungannya tiga dinar—seakan-akan ia berpandangan mengambil keuntungan setengah dinar dari setiap sepuluh dinar. Kemudian harga kacang badam melonjak menjadi sembilan puluh dinar. Maka perantara dagang (makelar) mendatangi dan meminta kacang badam itu. As-Sari berkata: "Ambillah!" Makelar bertanya: "Berapa harganya?" As-Sari menjawab…
بثلاثة وستين فقال الدلال وكان من الصالحين فقد صار اللوز بتسعين فقال السري قد عقدت عقداً لا أحله لست أبيعه إلا بثلاثة وستين فقال الدلال وأنا عقدت بيني وبين الله أن لا أغش مسلماً لست آخذ منك إلا بتسعين
"…dengan harga enam puluh tiga." Maka perantara pedagang (makelar) itu—yang termasuk orang-orang saleh—berkata, "Sesungguhnya harga kacang badam ini telah naik menjadi sembilan puluh." Sari berkata, "Aku telah membuat kesepakatan yang tidak akan kubatalkan; aku tidak akan menjualnya kecuali dengan harga enam puluh tiga." Perantara itu membalas, "Dan aku pun telah berjanji antara diriku dengan Allah untuk tidak menipu seorang muslim pun; aku tidak akan mengambilya darimu kecuali dengan harga sembilan puluh."
قال فلا الدلال اشترى منه ولا السري باعه فهذا محض الإحسان من الجانبين فإنه مع العلم بحقيقة الحال
Dikatakan, maka perantara itu tidak jadi membelinya darinya dan Sari pun tidak menjualnya kepadanya. Ini adalah murni kebaikan (ihsan) dari kedua belah pihak, sebab hal itu dilakukan bersamaan dengan pengetahuan akan hakikat keadaan yang sebenarnya.
وروي عن محمد بن المنكدر أنه كان له شقق بعضها بخمسة وبعضها بعشرة فباع غلامه في غيبته شقة من الخمسيات بعشرة فلما عرف لم يزل يطلب ذلك الأعرابي المشتري طول النهار حتى وجده فقال له إن الغلام قد غلط فباعك ما يساوي خمسة بعشرة فقال يا هذا قد رضيت فقال وإن رضيت فإنا لا نرضى لك إلا ما نرضاه لأنفسنا فاختر إحدى ثلاث خصال إما أن تأخذ شقة من العشريات بدراهمك وإما أن نرد عليك خمسة وإما أن ترد شقتنا وتأخذ دراهمك فقال أعطني خمسة فرد عليه خمسة وانصرف الأعرابي يسأل ويقول من هذا الشيخ فقيل له هذا محمد بن المنكدر فقال لا إله إلا الله هذا الذي نستسقي به في البوادي إذا قحطنا
Diriwayatkan dari Muhammad bin al-Munkadir bahwa ia memiliki beberapa potong kain, sebagian berharga lima dirham dan sebagian berharga sepuluh dirham. Ketika ia tidak ada, pelayannya menjual salah satu kain yang berharga lima dirham seharga sepuluh dirham. Ketika ia mengetahuinya, ia terus mencari pembeli Arab Badui itu sepanjang hari hingga menemukannya. Ia berkata kepadanya, "Sesungguhnya pelayanku telah keliru, ia menjual kepadamu barang senilai lima dirham dengan harga sepuluh dirham." Orang Badui itu menjawab, "Wahai Fulan, aku telah ridha." Muhammad berkata, "Meskipun engkau ridha, kami tidak meridhai untukmu kecuali apa yang kami ridhai untuk diri kami sendiri. Maka pilihlah satu dari tiga hal: engkau mengambil kain yang berharga sepuluh dirham dengan uangmu, atau kami mengembalikan lima dirham kepadamu, atau engkau mengembalikan kain kami dan mengambil kembali uangmu." Orang Badui itu berkata, "Berikan lima dirham kepadaku." Maka ia mengembalikan lima dirham kepadanya. Orang Badui itu pun berlalu seraya bertanya-tanya, "Siapakah Syaikh ini?" Dikatakan kepadanya, "Ini adalah Muhammad bin al-Munkadir." Maka orang Badui itu berkata, "Laa ilaaha illallah, beliau inilah yang kami jadikan tawasul untuk memohon hujan di padang pasir ketika kami tertimpa kemarau."
فهذا إحسان في أن لا يربح على العشرة إلا نصفاً أو واحد على ما جرت به العادة في مثل ذلك المتاع في ذلك المكان وَمَنْ قَنِعَ بِرِبْحٍ قَلِيلٍ كَثُرَتْ مُعَامَلَاتُهُ وَاسْتَفَادَ مِنْ تَكَرُّرِهَا رِبْحًا كَثِيرًا وَبِهِ تَظْهَرُ الْبَرَكَةُ
Ini adalah sebuah bentuk kebaikan (ihsan) dalam hal tidak mengambil keuntungan melebihi setengah atau satu dirham atas setiap sepuluh dirham, sesuai dengan kebiasaan yang berlaku untuk barang semisal di tempat tersebut. Dan barang siapa merasa cukup (qana'ah) dengan keuntungan yang sedikit, maka transaksinya akan bertambah banyak, dan ia akan memperoleh keuntungan yang melimpah dari perulangannya, serta dengannya keberkahan akan tampak.
كان علي ﵁ يدور في سوق الكوفة بالدرة ويقول معاشر التجار خذوا الحق تسلموا لا تردوا قليل الربح فتحرموا كثيره
Adalah Ali radhiyallahu 'anhu biasa berkeliling di pasar Kufah dengan membawa cambuk kecil seraya berkata, "Wahai para pedagang, ambillah yang hak niscaya kalian selamat, dan janganlah kalian menolak keuntungan yang sedikit sehingga kalian terhalang dari mendapatkan keuntungan yang banyak."
قيل لعبد الرحمن بن عوف ﵁ ما سبب يسارك قال ثلاث ما رددت ربحاً قط ولا طلب مني حيوان فأخرت بيعه ولا بعت بنسيئة
Pernah ditanyakan kepada 'Abdurrahman bin 'Auf radhiyallahu 'anhu, "Apakah penyebab kelapangan rezekimu (kemudahan hartamu)?" Beliau menjawab, "Ada tiga hal: aku tidak pernah menolak keuntungan sedikit pun, tidak pernah menunda penjualan hewan yang diminta dariku, dan tidak pernah menjual secara kredit (menunda pembayaran)."
ويقال إنه باع ألف ناقة فما ربح إلا عقلها باع كل عقال بدرهم فربح فيها ألفاً وربح من نفقته عليها ليومه ألفاً
Dikatakan bahwa beliau pernah menjual seribu ekor unta, dan tidak mengambil keuntungan melainkan dari tali pengikatnya; beliau menjual setiap tali pengikat seharga satu dirham, sehingga beliau memperoleh keuntungan seribu dirham padanya, dan beliau juga menghemat biaya nafkah pemeliharaannya untuk hari itu sebesar seribu dirham.
الثَّانِي فِي احْتِمَالِ الْغَبْنِ وَالْمُشْتَرِي إِنِ اشْتَرَى طَعَامًا مِنْ ضَعِيفٍ أَوْ شَيْئًا مِنْ فَقِيرٍ فَلَا بَأْسَ أَنْ يَحْتَمِلَ الْغَبْنَ وَيَتَسَاهَلَ وَيَكُونَ به محسناً وداخلاً في قوله ﷺ رحم الله امرءا سهل البيع سهل الشراء فأما إذا اشترى من غني تاجر يطلب الربح زيادة على حاجته فاحتمال الغبن منه ليس مَحْمُودًا بَلْ هُوَ تَضْيِيعُ مَالٍ مِنْ غَيْرِ أجر ولا حمد فقد ورد في حديث من طريق أهل البيت المغبون في الشراء لا محمود ولا مأجور
Yang kedua: Dalam hal bersabar menanggung kerugian (ghabn). Apabila seorang pembeli membeli makanan dari orang yang lemah atau membeli sesuatu dari orang fakir, maka tidak mengapa ia menanggung kerugian (kemahalan harga) dan bersikap mempermudah, sehingga ia menjadi orang yang berbuat ihsan kepadanya dan termasuk dalam sabda Nabi ﷺ, "Allah merahmati seseorang yang mempermudah saat menjual, mempermudah saat membeli." Adapun jika ia membeli dari seorang pedagang kaya yang mencari keuntungan melebihi kebutuhannya, maka menanggung kerugian dari pedagang tersebut tidaklah terpuji, bahkan itu merupakan pemborosan harta tanpa pahala dan tanpa pujian. Sungguh telah diriwayatkan dalam sebuah hadis dari jalur Ahlul Bait, "Orang yang dirugikan (kemahalan) dalam pembelian tidaklah dipuji dan tidak pula diberi pahala."
وكان إياس ابن معاوية بن قرة قاضي البصرة وكان من عقلاء التابعين يقول لست بخب والخب لا يغبنني ولا يغبن ابن سيرين ولكن يغبن الحسن ويغبن أبي يعني معاوية بن قرة والكمال في أن لا يغبن ولا يغبن كما وصف بعضهم عمر
Adalah Iyas bin Mu'awiyah bin Qurrah, hakim negeri Bashrah yang termasuk jajaran Tabi'in yang sangat cerdas, pernah berkata, "Aku bukanlah penipu, dan penipu tidak dapat memperdayaku maupun memperdaya Ibn Sirin. Namun ia dapat memperdaya Al-Hasan dan memperdaya ayahku"—yaitu Mu'awiyah bin Qurrah. Dan kesempurnaan itu terletak pada tidak memperdaya/merugikan orang lain dan tidak pula dapat diperdaya/dirugikan, sebagaimana sebagian mereka menggambarkan Umar…
رضي الله عنه فقال كان أكرم من أن يخدع وأعقل من أن يخدع
…radhiyallahu 'anhu, maka beliau berkata, "Beliau (Umar) lebih mulia dari sekadar menipu, dan lebih berakal (cerdas) dari sekadar dapat ditipu."
وكان الحسن والحسين وغيرهما من خيار السلف يستقصون في الشراء ثم يهبون مع ذلك الجزيل من المال فقيل لبعضهم تستقصي في شرائك على اليسير ثم تهب الكثير ولا تبالي فَقَالَ إِنَّ الْوَاهِبَ يُعْطِي فَضْلَهُ وَإِنَّ الْمَغْبُونَ يغبن عقله
Adalah Al-Hasan, Al-Husain, dan selain keduanya dari kalangan generasi Salaf terbaik, bersikap teliti dan menawar dengan cermat dalam membeli, namun kemudian setelah itu mereka memberikan harta yang melimpah sebagai hadiah atau sedekah. Pernah ditanyakan kepada sebagian mereka, "Engkau menawar dan meneliti pembelianmu atas hal yang sedikit, namun engkau memberi dalam jumlah banyak dan tidak peduli?" Maka ia menjawab, "Sesungguhnya orang yang memberi itu memberikan kelebihan hartanya, sedangkan orang yang dirugikan (ditipu dalam jual beli) itu dirugikan akalnya."
وقال بعضهم إنما أغبن عقلي وبصري فلا أمكن الغابن منه وإذا وهبت أعطي لله ولا أستكثر منه شيئاً
Sebagian dari mereka berkata, "Sesungguhnya aku menjaga akal dan penglihatanku agar tidak dirugikan, sehingga aku tidak memberi kesempatan kepada orang yang ingin merugikanku/menipuku. Dan apabila aku memberi, aku memberinya karena Allah, dan aku tidak merasa banyak atas apa pun darinya."
الثَّالِثُ فِي اسْتِيفَاءِ الثَّمَنِ وَسَائِرِ الدُّيُونِ وَالْإِحْسَانِ فِيهِ مَرَّةً بِالْمُسَامَحَةِ وَحَطِّ الْبَعْضِ وَمَرَّةً بِالْإِمْهَالِ وَالتَّأْخِيرِ وَمَرَّةً بِالْمُسَاهَلَةِ فِي طَلَبِ جَوْدَةِ النَّقْدِ وكل ذلك مندوب إليه ومحثوث عليه قال النبي ﷺ رحم الله امرءا سهل البيع سهل الشراء سهل الاقتضاء فليغتنم دعاء الرسول ﷺ
Yang ketiga: Dalam hal menagih/menerima pembayaran harga dan seluruh piutang, serta berbuat ihsan di dalamnya; terkadang dengan memberi kelapangan dan memotong sebagian utang, terkadang dengan memberi penangguhan waktu dan penundaan, serta terkadang dengan bersikap mempermudah dalam menuntut kualitas mata uang. Semua itu disunnahkan dan sangat dianjurkan. Rasulullah ﷺ bersabda, "Semoga Allah merahmati seseorang yang mempermudah saat menjual, mempermudah saat membeli, dan mempermudah saat menagih utang." Maka hendaknya seseorang memanfaatkan doa Rasulullah ﷺ ini.
وقال ﷺ اسمح يسمح لك
Dan Rasulullah ﷺ bersabda, "Berilah kemudahan, niscaya engkau akan diberi kemudahan."
وقال ﷺ من أنظر معسراً أو ترك له حاسبه الله حساباً يسيراً وفي لفظ آخر أظله الله تحت ظل عرشه يوم لا ظل إلا ظله
Dan Rasulullah ﷺ bersabda, "Barang siapa memberi penangguhan waktu kepada orang yang kesulitan membayar utang atau membebaskannya, niscaya Allah akan menghisabnya dengan hisab yang mudah." Dalam lafaz lain: "Niscaya Allah akan menaunginya di bawah naungan Arsy-Nya pada hari tiada naungan selain naungan-Nya."
وذكر رسول الله ﷺ رجلاً كان مسرفاً على نفسه حوسب فلم يوجد له حسنة فقيل له هل عملت خيراً قط فقال لا إلا أني كنت رجلاً أداين الناس فأقول لفتياني
Dan Rasulullah ﷺ menceritakan tentang seorang laki-laki yang tadinya melampaui batas terhadap dirinya sendiri. Ketika dihisab, tidak ditemukan satu pun kebaikan padanya. Dikatakan kepadanya, "Apakah engkau pernah melakukan kebaikan walau sedikit?" Ia menjawab, "Tidak, hanya saja dahulu aku adalah seorang yang sering memberi utang kepada orang-orang, lalu aku berkata kepada para pelayanku…"
سامحوا الموسر وانظروا المعسر
"'Bermurah hatilah kepada orang yang mampu dan berilah penangguhan kepada orang yang kesulitan.'"
وفي لفظ آخر وتجاوزوا عن المعسر فقال الله تعالى نحن أحق بذلك منه فتجاوز الله عنه وغفر لَهُ وَقَالَ ﷺ مَنْ أَقْرَضَ دِينَارًا إِلَى أَجَلٍ فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ صَدَقَةٌ إِلَى أَجَلِهِ فَإِذَا حَلَّ الْأَجَلُ فَأَنْظَرَهُ بَعْدَهُ فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ مِثْلُ ذَلِكَ الدَّيْنِ صدقةً
Dalam lafaz lain: "'Dan maafkanlah (bebaskanlah utang) dari orang yang kesulitan.'" Maka Allah Ta'ala berfirman, "Kami lebih berhak atas sifat itu daripada dirinya," lalu Allah memaafkan dosa-dosanya dan mengampuninya. Dan Rasulullah ﷺ bersabda, "Barang siapa memberi pinjaman satu dinar hingga jangka waktu tertentu, maka baginya pahala sedekah pada setiap harinya hingga jatuh tempo. Dan apabila telah jatuh tempo lalu ia memberinya penangguhan setelahnya, maka baginya pahala sedekah setiap hari senilai piutangnya tersebut."
وقد كان من السلف من لا يحب أن يقضي غريمه الدين لأجل هذا الخبر حتى يكون كالمتصدق بجميعه في كل يوم
Dan dahulu di antara kalangan Salaf ada orang yang tidak suka jika orang yang berutang kepadanya segera melunasi utangnya karena alasan riwayat ini, agar ia senantiasa menjadi orang yang bersedekah dengan seluruh jumlah piutang tersebut pada setiap harinya.
وقال ﷺ رأيت على باب الجنة مكتوباً الصدقة بعشر أمثالها والقرض بثمان عشرة
Dan Rasulullah ﷺ bersabda, "Aku melihat di pintu surga tertulis: 'Sedekah dibalas dengan sepuluh kali lipatnya, sedangkan memberi pinjaman (utang) dibalas dengan delapan belas kali lipat.'"
فقيل في معناه إن الصدقة تقع في يد المحتاج وغير المحتاج ولا يحتمل ذل الاستقراض إلا محتاج
Maka dikatakan mengenai maknanya, "Sesungguhnya sedekah itu dapat jatuh ke tangan orang yang membutuhkan maupun yang tidak membutuhkan, sedangkan kehinaan meminjam utang tidak akan ditanggung kecuali oleh orang yang benar-benar membutuhkan."
وَنَظَرَ النَّبِيُّ ﷺ إِلَى رَجُلٍ يُلَازِمُ رَجُلًا بَدَيْنٍ فَأَوْمَأَ إِلَى صَاحِبِ الدين بيده أن ضَعِ الشَّطْرَ فَفَعَلَ فَقَالَ لِلْمَدْيُونِ قُمْ فَأَعْطِهِ
Nabi ﷺ pernah melihat seorang laki-laki yang terus-menerus menagih utang kepada laki-laki lain, maka beliau memberi isyarat dengan tangannya kepada pemilik piutang agar menggugurkan separuhnya. Orang itu pun melakukannya, lalu Nabi ﷺ bersabda kepada orang yang berutang, "Bangkitlah dan bayarkan kepadanya!"
وكل من باع شيئاً وترك ثمنه في الحال ولم يرهق إلى طلبه فهو في معنى المقرض
Barangsiapa menjual sesuatu lalu membiarkan (menangguhkan) harganya pada saat itu serta tidak mendesak untuk menagihnya, maka ia kedudukannya sama dengan orang yang memberi pinjaman (utang).
وروي أن الحسن البصري باع بغلة له بأربعمائة درهم فلما استوجب المال قال له المشتري اسمح يا أبا سعيد
Diriwayatkan bahwa Al-Hasan Al-Basri menjual bagalnya seharga empat ratus dirham. Ketika pembayaran telah menjadi kewajiban, pembeli berkata kepadanya, "Berikanlah kemudahan/kemurahan hati, wahai Abu Sa'id!"
قال قد أسقطت عنك مائة قال له فأحسن يا أبا سعيد فقال قد وهبت لك مائة أخرى فقبض من حقه مائتي درهم
Beliau berkata, "Aku telah menggugurkan seratus dirham untukmu." Pembeli itu berkata lagi, "Berbuat baiklah lagi, wahai Abu Sa'id!" Maka beliau berkata, "Aku hibahkan seratus dirham lagi untukmu." Lalu beliau hanya menerima dua ratus dirham dari haknya.
فقيل له يا أبا سعيد هذا نصف الثمن فقال هكذا يكون الإحسان وإلا فلا
Lalu dikatakan kepadanya, "Wahai Abu Sa'id, ini adalah separuh dari harga barang!" Beliau menjawab, "Begitulah seharusnya ihsan (kebaikan) itu, jika tidak demikian maka bukanlah ihsan."
وفي الخبر خذ حقك في كفاف وعفاف واف أو غير واف يحاسبك الله حساباً يسيرا
Dalam sebuah khabar (hadis) disebutkan: "Ambillah hakmu dengan cara yang mencukupi, menjaga kehormatan diri, baik secara sempurna maupun tidak sempurna, niscaya Allah akan menghisabmu dengan hisab yang ringan."
الرَّابِعُ فِي تَوْفِيَةِ الدَّيْنِ
Yang keempat: Dalam hal pelunasan utang.
وَمِنَ الْإِحْسَانِ فِيهِ حُسْنُ الْقَضَاءِ وَذَلِكَ بِأَنْ يَمْشِيَ إِلَى صَاحِبِ الْحَقِّ وَلَا يُكَلِّفَهُ أَنْ يَمْشِيَ إِلَيْهِ يَتَقَاضَاهُ فَقَدْ قَالَ ﷺ خَيْرُكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً
Dan di antara bentuk ihsan dalam pelunasan utang adalah kebaikan dalam membayar (husnul qadha'), yaitu dengan cara ia mendatangi pemilik hak (piutang) dan tidak membebaninya untuk datang menagihnya. Sungguh Rasulullah ﷺ telah bersabda, "Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik dalam melunasi utangnya."
وَمَهْمَا قَدَرَ عَلَى قَضَاءِ الدَّيْنِ فليبادر إليه ولو قبل وقته وليسلم أجود مما شرط عليه وأحسن وإن عجز فلينو قضاءه مهما قدر
Apabila seseorang mampu melunasi utangnya, hendaklah ia bersegera membayarnya meskipun sebelum jatuh tempo, dan hendaklah ia menyerahkan pembayaran yang lebih baik dan lebih utama dari apa yang disyaratkan kepadanya. Jika ia belum mampu, hendaklah ia berniat untuk melunasinya kapan pun ia mampu.
قال ﷺ من أدان ديناً وهو ينوي قضاءه وكل الله به ملائكة يحفظونه ويدعون له حتى يقضيه
Rasulullah ﷺ bersabda, "Barangsiapa mengambil utang sedangkan ia berniat untuk melunasinya, niscaya Allah menugaskan para malaikat untuk menjaganya dan mendoakannya hingga ia melunasinya."
وكان جماعة من السلف يستقرضون من غير حاجة لهذا الخبر ومهما كلمه صاحب الحق بكلام خشن فليحتمله وَلْيُقَابِلْهُ بِاللُّطْفِ اقْتِدَاءً بِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ إذ جاءه صاحب الدين عند حلول الأجل ولم يكن قد اتفق قضاؤه فجعل الرجل يشدد الكلام عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَهَمَّ بِهِ أَصْحَابُهُ فَقَالَ دَعُوهُ فَإِنَّ لِصَاحِبِ الحق مقالاً
Dahulu sekelompok ulama Salaf meminjam utang bukan karena butuh, melainkan demi mengejar keutamaan khabar (hadis) ini. Dan kapan pun pemilik hak (piutang) berbicara kepadanya dengan perkataan yang kasar, hendaklah ia bersabar dan membalasnya dengan kelembutan, karena meneladani Rasulullah ﷺ. Ketika pemilik piutang datang kepada beliau saat jatuh tempo dan pelunasannya belum siap, orang itu mulai berbicara dengan kasar kepada Rasulullah ﷺ. Para sahabat bermaksud bertindak terhadap orang tersebut, namun beliau bersabda, "Biarkanlah dia, sebab pemilik hak memiliki hak untuk berbicara."
ومهما دار الكلام بين المستقرض والمقرض فالإحسان أن يكون الميل الأكثر للمتوسطين إلى من عليه الدين فإن المقرض يقرض عن غنى والمستقرض يستقرض عن حاجة وكذلك ينبغي أن تكون الإعانة للمشتري أكثر فإن البائع راغب عن السلعة يبغي ترويجها والمشتري محتاج إليها هذا هو الأحسن إلا أن يتعدى من عليه الدين حده فعند ذلك نصرته في منعه عن تعد به وإعانة صاحبه إذ قال ﷺ انصر أخاك ظالماً أو مظلوماً فقيل كيف ننصره ظالماً فقال منعك إياه من الظلم نصرة له
Apabila terjadi perbincangan (perselisihan) antara orang yang berutang dan yang memberi utang, maka sikap ihsan bagi pihak penengah adalah lebih berpihak kepada orang yang berutang, karena yang memberi utang itu meminjamkan atas dasar kecukupan, sedangkan yang berutang meminjam karena kebutuhan. Demikian pula hendaknya bantuan kepada pembeli lebih banyak, sebab penjual ingin melepaskan dagangannya dan hendak melariskannya, sedangkan pembeli membutuhkannya. Inilah yang lebih utama, kecuali jika orang yang berutang melampaui batas, maka pertolongan baginya pada saat itu adalah dengan mencegahnya dari melampaui batas dan membantu pemilik piutang; sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda, "Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim atau yang dizalimi." Dikatakan kepada beliau, "Bagaimana kami menolongnya jika ia berbuat zalim?" Beliau bersabda, "Engkau mencegahnya dari kezaliman, itulah bentuk menolongnya."
الْخَامِسُ أَنْ يُقِيلَ مَنْ يَسْتَقِيلُهُ فَإِنَّهُ لَا يَسْتَقِيلُ إِلَّا مُتَنَدِّمٌ مُسْتَضِرٌّ بِالْبَيْعِ وَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَرْضَى لِنَفْسِهِ أَنْ يَكُونَ سَبَبَ اسْتِضْرَارِ أخيه قال ﷺ مَنْ أَقَالَ نَادِمًا صَفْقَتَهُ أَقَالَ اللَّهُ عَثْرَتَهُ يوم القيامة
Yang kelima: Hendaknya ia membatalkan transaksi (iqalah) bagi orang yang meminta pembatalan kepadanya. Sebab, tidaklah seseorang meminta pembatalan melainkan karena ia menyesal dan merasa dirugikan dengan jual beli tersebut, dan tidak seyogianya seseorang meredai dirinya menjadi penyebab kerugian saudaranya. Rasulullah ﷺ bersabda, "Barangsiapa membatalkan transaksi seorang yang menyesal, niscaya Allah akan mengampuni kekhilafannya pada hari kiamat."
أو كما قال
Atau sebagaimana yang beliau bersabda.
السَّادِسُ أَنْ يَقْصِدَ فِي مُعَامَلَتِهِ جَمَاعَةً مِنَ الْفُقَرَاءِ بِالنَّسِيئَةِ وَهُوَ فِي الْحَالِ عَازِمٌ عَلَى أن لا يطالبهم إن لم تظهر لهم ميسرة فقد كان في صالحي السلف من له دفتران للحساب أحدهما ترجمته مجهولة فيه أسماء من لا يعرفه من الضعفاء والفقراء وذلك أن الفقير كان يرى الطعام أو الفاكهة فيشتهيه فيقول أحتاج إلى خمسة أرطال مثلاً من هذا وليس معي ثمنه فكان يقول خذه واقض ثمنه عند الميسرة ولم يكن يعد هذا من الخيار بل عد من الخيار من لم يكن يثبت اسمه في الدفتر أصلاً ولا يجعله ديناً لكن يقول خُذْ مَا تُرِيدُ فَإِنْ يُسِّرَ لَكَ فَاقْضِ وَإِلَّا فَأَنْتَ فِي حِلٍّ مِنْهُ وَسَعَةٍ فَهَذِهِ طرق تجارات السلف وقد اندرست والقائم به محي لهذه السنة وبالجملة التجارة مَحَكُّ الرِّجَالِ وَبِهَا يُمْتَحَنُ دِينُ الرَّجُلِ وَوَرَعُهُ ولذلك قيل
Yang keenam: Hendaknya dalam bertransaksi ia berniat untuk memberi kredit (penangguhan pembayaran) kepada kelompok orang-orang fakir, sementara pada saat itu ia sudah berazam (berniat kuat) untuk tidak menagih mereka jika tidak tampak kelapangan pada diri mereka. Dahulu di antara ulama Salaf yang saleh ada yang memiliki dua buku catatan akun; salah satunya berniat samar/tanpa nama jelas, berisi nama-nama orang lemah dan fakir yang tidak ia kenal. Hal itu karena seorang yang fakir kadang melihat makanan atau buah-buahan lalu menginginkannya, lalu ia berkata, "Aku membutuhkan, misalnya, lima rithl dari ini namun aku tidak memiliki uangnya." Maka pedagang itu berkata, "Ambillah dan bayarlah harganya saat engkau memiliki kelapangan." Dan orang ini belum dianggap orang yang terbaik, melainkan yang dianggap terbaik adalah yang tidak mencatat namanya sama sekali dalam buku catatan dan tidak menjadikannya sebagai utang, melainkan berkata, "Ambillah apa yang engkau inginkan, jika ada kelapangan bagimu maka bayarlah, jika tidak maka engkau bebas dan dihalalkan darinya." Maka inilah jalan-jalan perniagaan kaum Salaf yang kini telah pupus, dan orang yang mengamalkannya adalah orang yang menghidupkan sunnah ini. Kesimpulannya, perniagaan adalah batu ujian bagi para lelaki, dan melaluinya agama serta ketaatan (wara') seseorang diuji. Oleh karena itu dikatakan:
لا يغرنك من المرء قميص رقعه … أو إزارا فوق كعب الساق منه رفعه
"Janganlah engkau tertipu oleh gamis seseorang yang ia tambal… Atau kain sarung yang ia singkapkan di atas mata kakinya…"
أو جبين لاح فيه أثر قد قلعه … ولدى الدرهم فانظر غيه أو ورعه
"Atau dahi yang tampak padanya bekas sujud yang pekat… Namun pada urusan dirham (uang), lihatlah kesesatannya atau sifat wara'-nya."
ولذلك قيل إذا أثنى على الرجل جيرانه في الحضر وأصحابه في السفر ومعاملوه في الأسواق فلا تشكوا في صلاحه
Oleh sebab itu dikatakan: "Apabila para tetangganya saat menetap, para sahabatnya saat bepergian, dan orang-orang yang bertransaksi dengannya di pasar-pasar memujinya, maka janganlah kalian meragukan kesalehannya."
وشهد عند عمر ﵁ شاهد فقال ائتني بمن يعرفك فأتاه برجل فأثنى عليه خيراً فقال عمر أنت
Seseorang pernah memberi kesaksian di hadapan 'Umar radhiyallahu 'anhu, lalu 'Umar berkata, "Bawakan kepadaku orang yang mengenali dirimu!" Maka ia membawa seorang laki-laki, lalu orang itu memujinya dengan kebaikan. 'Umar bertanya, "Apakah engkau…"
جاره الأدنى الذي يعرف مدخله ومخرجه قال لا فقال كنت رفيقه في السفر الذي يستدل به على مكارم الأخلاق فقال لا قال فعاملته بالدينار والدرهم الذي يستبين به ورع الرجل قال لا قال أظنك رأيته قائما في المسجد يهمهم بالقرآن يخفض رأسه طوراً ويرفعه أخرى قال نعم فقال اذهب فلست تعرفه
"…tetangga terdekatnya yang mengetahui keluar masuknya?" Ia menjawab, "Tidak." Umar bertanya lagi, "Apakah engkau pernah menjadi temannya dalam perjalanan (safar) yang dengannya dapat diketahui keluhuran akhlak seseorang?" Ia menjawab, "Tidak." Umar bertanya lagi, "Apakah engkau pernah bertransaksi dengannya menggunakan dinar dan dirham yang dengannya dapat terlihat sifat wara' seseorang?" Ia menjawab, "Tidak." Umar berkata, "Aku menduga engkau hanya pernah melihatnya berdiri di masjid, bergumam membaca Al-Qur'an, menundukkan kepalanya sesekali dan mengangguk-anggukkannya di saat lain?" Ia menjawab, "Ya." Umar berkata, "Pergilah, sesungguhnya engkau tidak mengenalnya."
وقال للرجل
Lalu Umar berkata kepada orang tersebut,
اذهب فائتني بمن يعرفك
"Pergilah dan bawa kemari orang yang benar-benar mengenalmu!"
الباب الخامس في شفقة التاجر على دينه فيما يخصه ويعم آخرته
Bab Kelima: Tentang Rasa Sayang Pedagang terhadap Agamanya dalam Hal yang Khusus Bagi Dirinya dan Meliputi Urusan Akhiratnya
ولا يَنْبَغِي لِلتَّاجِرِ أَنْ يَشْغَلَهُ مَعَاشُهُ عَنْ مَعَادِهِ فَيَكُونَ عُمْرُهُ ضَائِعًا وَصَفْقَتُهُ خَاسِرَةً وَمَا يَفُوتُهُ مِنَ الرِّبْحِ فِي الْآخِرَةِ لَا يَفِي بِهِ ما ينال في الدنيا فيكون اشْتَرَى الْحَيَاةَ الدُّنْيَا بِالْآخِرَةِ بَلِ الْعَاقِلُ يَنْبَغِي أَنْ يُشْفِقَ عَلَى نَفْسِهِ وَشَفَقَتُهُ عَلَى نَفْسِهِ يحفظ رَأْسِ مَالِهِ وَرَأْسُ مَالِهِ دِينُهُ وَتِجَارَتُهُ فِيهِ
Tidak sepatutnya bagi seorang pedagang membiarkan mata pencahariannya di dunia melalaikannya dari tempat kembalinya (akhirat), sehingga umurnya menjadi sia-sia dan transaksinya merugi. Keuntungan akhirat yang luput darinya tidak akan pernah sebanding dengan apa yang ia peroleh di dunia, sehingga ia tergolong orang yang membeli kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat. Sebaliknya, orang yang berakal hendaknya merasa kasihan terhadap dirinya sendiri. Bentuk kasih sayang terhadap dirinya adalah dengan menjaga modal utamanya, sedangkan modal utamanya adalah agamanya dan perniagaannya berada di dalam agama tersebut.
قال بعض السلف أولي الأشياء بالعاقل أحوجه إليه في العاجل وأحوج شيء إليه في العاجل أحمده عاقبة في الآجل
Sebagian ulama Salaf berkata, "Hal yang paling layak diperhatikan oleh orang yang berakal adalah apa yang paling ia butuhkan di dunia, dan hal yang paling ia butuhkan di dunia adalah apa yang paling terpuji akibatnya di akhirat."
وقال معاذ بن جبل ﵁ في وصيته إنه لا بد لك من نصيبك في الدنيا وأنت إلى نصيبك من الآخرة أحوج فابدأ بنصيبك من الآخرة فخذه فإنك ستمر على نصيبك من الدنيا فتنظمه
Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu berkata dalam wasiatnya, "Sesungguhnya engkau pasti membutuhkan bagianmu di dunia, namun engkau jauh lebih membutuhkan bagianmu di akhirat. Maka mulailah dengan mengambil bagianmu di akhirat dan peganglah itu, sebab engkau kelak pasti akan melewati bagian duniamu lalu menatanya."
قال الله تعالى ولا تنس نصيبك من الدنيا أي لا تنس في الدنيا نصيبك منها للآخرة فإنها مزرعة الآخرة وفيها تكتسب الحسنات
Allah Ta'ala berfirman, "Dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) dunia" (QS. Al-Qashas: 77), artinya: janganlah engkau melupakan bagianmu di dunia untuk kepentingan akhiratmu, karena dunia adalah ladang bercocok tanam demi akhirat dan di dunialah kebaikan-kebaikan diusahakan.
وإنما تتم شفقة التاجر عَلَى دِينِهِ بِمُرَاعَاةِ سَبْعَةِ أُمُورٍ
Rasa sayang seorang pedagang terhadap agamanya hanya dapat sempurna dengan memperhatikan tujuh perkara:
الْأَوَّلُ حُسْنُ النية والعقيدة فِي ابْتِدَاءِ التِّجَارَةِ فَلْيَنْوِ بِهَا الِاسْتِعْفَافَ عَنِ السُّؤَالِ وَكَفَّ الطَّمَعِ عَنِ النَّاسِ اسْتِغْنَاءً بِالْحَلَالِ عَنْهُمْ وَاسْتِعَانَةً بِمَا يَكْسِبُهُ عَلَى الدِّينِ وَقِيَامًا بِكِفَايَةِ الْعِيَالِ لِيَكُونَ مِنْ جُمْلَةِ الْمُجَاهِدِينَ بِهِ وَلْيَنْوِ النُّصْحَ لِلْمُسْلِمِينَ وَأَنْ يُحِبَّ لِسَائِرِ الْخَلْقِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ وَلْيَنْوِ اتِّبَاعَ طَرِيقِ الْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ فِي مُعَامَلَتِهِ كَمَا ذَكَرْنَاهُ وَلْيَنْوِ الْأَمْرَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيَ عَنِ الْمُنْكَرِ فِي كُلِّ مَا يراه في السوق فإذا أضمر هذه العقائد والنيات كَانَ عَامِلًا فِي طَرِيقِ الْآخِرَةِ فَإِنِ اسْتَفَادَ مَالًا فَهُوَ مَزِيدٌ وَإِنْ خَسِرَ فِي الدُّنْيَا رَبِحَ فِي الْآخِرَةِ
Pertama: Niat dan iktikad yang baik pada awal memulai perniagaan. Hendaknya ia berniat menjaga kehormatan diri dari meminta-minta, menahan sifat tamak terhadap milik orang lain karena merasa cukup dengan yang halal, memohon pertolongan dengan hasil usahanya untuk menjalankan agama, serta memenuhi kecukupan nafkah keluarga agar ia tergolong sebagai orang yang berjihad darinya. Hendaknya ia juga berniat memberi nasihat (kebaikan) kepada sesama muslim, menyukai bagi seluruh makhluk apa yang ia sukai bagi dirinya sendiri, berniat mengikuti jalan keadilan dan ihsan dalam bertransaksi sebagaimana yang telah kami jelaskan, serta berniat amar ma'ruf nahi munkar terhadap segala yang ia lihat di pasar. Apabila ia menyematkan niat dan iktikad ini di dalam hatinya, maka ia termasuk orang yang beramal di jalan akhirat. Jika ia mendapatkan keuntungan harta, maka itu adalah tambahan kebaikan, dan jika ia merugi di dunia, ia tetap beruntung di akhirat.
الثَّانِي أَنْ يَقْصِدَ الْقِيَامَ فِي صَنْعَتِهِ أَوْ تِجَارَتِهِ بِفَرْضٍ مِنْ فُرُوضِ الْكِفَايَاتِ فَإِنَّ الصِّنَاعَاتِ وَالتِّجَارَاتِ لَوْ تُرِكَتْ بَطَلَتِ الْمَعَايِشُ وَهَلَكَ أَكْثَرُ الْخَلْقِ
Kedua: Berniat menjalankan profesi atau perniagaannya sebagai bentuk pemenuhan salah satu dari fardhu kifayah. Sebab, seandainya berbagai bidang kerajinan/profesi dan perniagaan itu ditinggalkan, niscaya sarana-sarana kehidupan akan lumpuh dan mayoritas manusia akan binasa.
فَانْتِظَامُ أَمْرِ الْكُلِّ بتعاون الكل وتكفل كل فريق بعمل ولو أقبل كلهم على صنعة واحدة لتعطلت البواقي وهلكوا وعلى هذا حمل بعض الناس قوله ﷺ اختلاف أمتي رحمة
Keteraturan urusan seluruh manusia tercipta melalui kerja sama semua pihak dan kesediaan setiap kelompok menanggung suatu pekerjaan. Jika seluruh orang hanya menekuni satu bidang profesi saja, niscaya bidang-bidang lainnya akan terbengkalai dan mereka akan binasa. Berdasarkan pemahaman inilah sebagian ulama menafsirkan sabda Nabi ﷺ, "Perbedaan di antara umatku adalah rahmat,"
أي اختلاف همهم في الصناعات والحرف
yaitu perbedaan minat dan kecenderungan mereka dalam berbagai bidang profesi dan keterampilan.
وَمِنَ الصِّنَاعَاتِ مَا هِيَ مُهِمَّةٌ وَمِنْهَا مَا يستغنى عنها لرجوعها إلى طلب النعم وَالتَّزَيُّنِ فِي الدُّنْيَا فَلْيَشْتَغِلْ بِصِنَاعَةٍ مُهِمَّةٍ لِيَكُونَ في قيامه بِهَا كَافِيًا عَنِ الْمُسْلِمِينَ مُهِمًّا فِي الدِّينِ وليجتنب صناعة النقش والصياغة وتشييد البنيان بالجص وجميع ما تزخرف به الدنيا فكل ذلك كرهه ذوو الدين فأما عمل الملاهي والآلات التي يحرم استعمالها فاجتناب ذلك من قبيل ترك الظلم ومن جملة ذلك خياطة الخياط القباء من الإبر يسم للرجال وصياغة الصائغ مراكب الذهب أو خواتيم الذهب للرجال فكل ذلك من المعاصي والأجرة المأخوذة عليه حرام ولذلك أوجبنا الزكاة فيها وإن كنا لا نوجب الزكاة في الحلي لأنها إذا قصدت للرجال فهي محرمة وكونها مهيأة للنساء لا يلحقها بالحلي المباح ما لم يقصد ذلك بها فيكتسب حكمها من القصد
Di antara jenis industri dan profesi, ada yang sangat penting (vital), dan ada pula yang tidak terlalu dibutuhkan karena hanya berorientasi pada pencarian kemewahan dan perhiasan duniawi. Maka hendaknya ia menekuni profesi yang penting agar dengan menjalankannya ia dapat mencukupi kebutuhan kaum muslimin serta menjalankan hal penting dalam agama. Hendaknya ia menjauhi pekerjaan mengukir hiasan, pembuat perhiasan kemewahan, mendirikan bangunan dengan pelapis kapur/ornamen berlebihan, dan segala hal yang hanya memperindah dunia secara berlebihan, sebab semua itu dibenci oleh orang-orang yang taat beragama. Adapun membuat alat-alat kelalaian dan instrumen yang haram digunakan, menjauhinya adalah termasuk bagian dari meninggalkan kedzaliman. Termasuk dalam hal ini adalah penjahit yang menjahit jubah dari sutra murni untuk laki-laki, atau pengrajin yang membuat pelana/tali kendal bersepuh emas atau cincin emas untuk laki-laki. Semua itu merupakan kemaksiatan dan upah yang diterima darinya adalah haram. Oleh karena itulah kami mewajibkan zakat padanya meskipun kami tidak mewajibkan zakat pada perhiasan wanita yang murni, sebab jika diperuntukkan bagi laki-laki hukumnya haram, dan keberadaannya yang berpotensi digunakan wanita tidak serta merta menjadikannya tergolong perhiasan yang mubah selama tidak diniatkan demikian, karena hukumnya bergantung pada niat dan maksud pembuatannya.
وقد ذكرنا أن بيع الطعام وبيع الأكفان مكروه لأنه يوجب انتظار موت الناس وحاجتهم بغلاء السعر
Kami telah menyebutkan bahwa menjual bahan makanan utama dan kain kafan adalah makruh, karena hal itu berpotensi membuat seseorang berharap kematian manusia atau berharap timbulnya kesulitan akibat mahalnya harga.
ويكره أن يكون جزاراً لما فيه من قساوة القلب وأن يكون حجاماً أو كناساً لما فيه من مخامرة النجاسة وكذا الدباغ وما في معناه وكره ابن سيرين الدلالة وكره قتادة أجرة الدلال ولعل السبب فيه قلة استغناء الدلال عن الكذب والإفراط في الثناء على السلعة لترويجها ولأن العمل فيه لا يتقدر فقد يقل وقد يكثر ولا ينظر في مقدار الأجرة إلى عمله بل إلى قدر قيمة الثوب هذا هو العادة وهو ظلم بل ينبغي أن ينظر إلى قدر التعب وكرهوا شراء الحيوان للتجارة لأن المشتري يكره قضاء الله فيه وهو الموت الذي بصدده لا محالة وحلوله
Dimakruhkan pula menjadi tukang jagal karena dapat memicu kerasnya hati; menjadi tukang bekam atau tukang sapu/pembersih sampah karena bercampur langsung dengan najis, begitu pula penyamak kulit dan yang sejenisnya. Ibnu Sirin memakruhkan profesi perantara dagang (makelar/calo), dan Qatadah memakruhkan upah makelar. Sebabnya mungkin karena sulitnya seorang makelar dari berbohong dan berlebihan dalam memuji barang demi melariskan barang tersebut, serta karena kadar pekerjaannya tidak pasti—kadang sedikit dan kadang banyak—sedangkan besarnya upah menurut kebiasaan tidak dilihat dari kadar usahanya melainkan dari nilai barangnya, dan ini adalah suatu kedzaliman; sebaliknya, yang seharusnya dilihat adalah kadar kelelahan/usahanya. Para ulama juga memakruhkan membeli hewan untuk tujuan diperdagangkan kembali, karena sang pembeli kerap membenci takdir Allah padanya, yaitu kematian yang pasti akan menimpa hewan tersebut.
وقيل بع الحيوان واشتر الموتان وكرهوا الصرف لأن الاحتراز فيه عن دقائق الربا عسير ولأنه طلب لدقائق الصفات فيما لا يقصد أعيانها وإنما يقصد رواجها وقلما يتم للصيرفي ربح إلا باعتماد جهالة معامله بدقائق النقد فقلما يسلم الصيرفي وإن احتاط ويكره للصيرفي وغيره كسر الصحيح والدنانير إلا عند الشك في جودته أو عند ضرورة
Dikatakan, "Jual-lah hewan dan belilah barang mati (benda tidak bernyawa)." Para ulama juga memakruhkan profesi penukar uang (sharraf), sebab membentengi diri dari kerumitan riba dalam penukaran uang amatlah sulit, dan karena ia mencari keunggulan kualitas yang tersembunyi pada mata uang yang sebenarnya tidak ditujukan fisiknya melainkan daya edarnya. Hampir tidak pernah seorang penukar uang memperoleh keuntungan melainkan dengan memanfaatkan ketidaktahuan rekannya mengenai detail keabsahan/kualitas mata uang, sehingga jarang sekali penukar uang selamat (dari dosa) meskipun ia telah berhati-hati. Dimakruhkan pula bagi penukar uang dan yang lainnya memotong/memecah uang logam utuh dan dinar, kecuali apabila ragu akan kualitas keasliannya atau karena adanya darurat.
قال أحمد بن حنبل رحمة الله ورد نهي عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ
Ahmad bin Hanbal rahmatullah 'alaih berkata, "Telah terdapat larangan dari Rasulullah ﷺ…"
وعن أصحابه في الصياغة من الصحاح وأنا أكره الكسر وقال يشتري بالدنانير دراهم ثم يشتري بالدرهم ذهباً ويصوغه واستحبوا تجارة البز
"…dan dari para sahabat beliau tentang membuat perhiasan dari mata uang logam utuh, dan aku membenci tindakan memecah/merusaknya." Beliau berkata, "Hendaknya ia membeli dirham dengan dinar, lalu membeli emas dengan dirham tersebut kemudian menempahnya menjadi perhiasan." Para ulama menyukai perniagaan kain/pakaian (al-bazz).
قال سعيد بن المسيب ما من تجارة أحب إلي من البز ما لم يكن فيها أيمان
Said bin al-Musayyib berkata, "Tidak ada perdagangan yang lebih aku sukai daripada perdagangan kain, selama tidak diwarnai dengan sumpah-sumpah (palsu)."
وقد روي خير تجارتكم البز وخير صنائعكم الخرز
Dan sungguh telah diriwayatkan: "Sebaik-baik perdagangan kalian adalah menjual kain (pakaian), dan sebaik-baik mata pencaharian kalian adalah kerajinan tangan (sulaman/kulit)."
وفي حديث آخر لو اتجر أهل الجنة لاتجروا في البز ولو اتجر أهل النار لاتجروا في الصرف
Dan dalam hadis yang lain: "Seandainya penghuni surga berdagang, niscaya mereka berdagang kain. Dan seandainya penghuni neraka berdagang, niscaya mereka berdagang dalam penukaran uang (sarf)."
وقد كان غالب أعمال الأخيار من السلف عشر صنائع الخرز والتجارة والحمل والخياطة والحذو والقصارة وعمل الخفاف وعمل الحديد وعمل المغازل ومعالجة صيد البر والبحر والوراقة قال عبد الوهاب الوراق
Kebanyakan pekerjaan orang-orang saleh dari kalangan Salaf meliputi sepuluh mata pencaharian: kerajinan barang kulit/sulam, perdagangan, jasa angkut (kuli panggul), menjahit, membuat sepatu/sandal, pencucian/pemutihan kain (penatu), pembuatan sepatu kulit (khuff), pertukangan besi, pemintalan benang, mengelola perburuan darat dan laut, serta penyalinan kitab (waraqah). Abdul Wahhab Al-Warraq berkata:
قال لي أحمد بن حنبل ما صنعتك قلت الوراقة قال كسب طيب ولو كنت صانعاً بيدي لصنعت صنعتك ثم قال لي لا تكتب إلا مواسطة واستبق الحواشي وظهور الأجزاء
Ahmad bin Hanbal berkata kepadaku: "Apa pekerjaanmu?" Aku menjawab: "Menyalin kitab (waraqah)." Beliau berkata: "Pekerjaan yang baik. Seandainya aku bekerja dengan tanganku sendiri, niscaya aku akan melakukan pekerjaanmu." Kemudian beliau berkata kepadaku: "Janganlah engkau menulis kecuali pada bagian tengah (halaman), dan sisakanlah tepi-tepi kertas serta bagian luar jilid."
وأربعة من الصناع موسومون عند الناس بضعف الرأي الحاكة والقطانون والمغازليون والمعلمون
Dan empat kelompok pekerja yang diidentikkan oleh masyarakat dengan lemahnya pemikiran: para penenun, para pemproses kapas, para pemintal benang, dan para pengajar (anak-anak).
ولعل ذلك لأن أكثر مخالطتهم مع النساء والصبيان ومخالطة ضعفاء العقول تضعف العقل كما أن مخالطة العقلاء تزيد في العقل
Hal itu mungkin disebabkan karena kebanyakan interaksi mereka adalah dengan kaum wanita dan anak-anak. Berinteraksi dengan orang-orang yang lemah akalnya dapat melemahkan akal, sebagaimana berinteraksi dengan orang-orang yang berakal dapat menambah kecerdasan akal.
وعن مجاهد أن مريم ﵍ مرت في طلبها لعيسى ﵇ بحاكة فطلبت الطريق فأرشدوها غير الطريق فقالت اللهم انزع البركة من كسبهم وأمتهم فقراء وحقرهم في أعين الناس فاستجيب دعاؤها
Diriwayatkan dari Mujahid bahwa Maryam 'alaihassalam ketika mencari 'Isa 'alaihissalam pernah melewati para penenun, lalu beliau menanyakan arah jalan, namun mereka justru menunjukkan jalan yang salah. Maka Maryam berdoa: "Ya Allah, cabutlah keberkahan dari usaha mereka, matikanlah mereka dalam keadaan fakir, dan hinakanlah mereka di mata manusia." Maka doa beliau dikabulkan.
وكره السلف أخذ الأجرة على كل ما هو من قبيل العبادات وفروض الكفايات كغسل الموتى ودفنهم وكذا الأذان وصلاة التراويح وإن حكم بصحة الاستئجار عليه وكذا تعليم القرآن وتعليم علم الشرع فإن هذه أعمال حقها أن يتجر فيها للآخرة وأخذ الأجرة عليها استبدال بالدنيا عن الآخرة ولا يستحب ذلك
Kaum Salaf membenci pengambilan upah atas segala hal yang termasuk kategori ibadah dan fardhu kifayah, seperti memandikan jenazah dan menguburkannya, demikian pula azan dan shalat Tarawih—meskipun secara hukum fikih sah mengambil upah atasnya—serta mengajarkan Al-Qur'an dan ilmu syariat. Sebab, amal-amal ini semestinya diperdagangkan untuk akhirat, dan mengambil upah atasnya berarti menukar akhirat dengan dunia, dan hal itu tidak disukai (tidak dianjurkan).
الثالث أن يَمْنَعَهُ سُوقُ الدُّنْيَا عَنْ سُوقِ الْآخِرَةِ وَأَسْوَاقُ الْآخِرَةِ الْمَسَاجِدُ
Yang ketiga: Hendaknya pasar dunia tidak menghalanginya dari pasar akhirat. Dan pasar-pasar akhirat adalah masjid-masjid.
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وإقام الصلاة وإيتاء الزكاة وقال الله تعالى في بيوت أذن الله أن ترفع ويذكر فيها اسمه فينبغي أن يجعل أول النهار إلى وقت دخول السوق لآخرته فيلازم المسجد ويواظب على الأوراد
Allah Ta'ala berfirman: "Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat." Dan Allah Ta'ala berfirman: "Di rumah-rumah (masjid) yang telah diperintahkan Allah untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya." Oleh karena itu, hendaknya seseorang menjadikan awal harinya hingga waktu masuk pasar khusus untuk akhiratnya, dengan senantiasa berada di masjid dan merutinkan wirid-wirid.
كان عمر ﵁ يقول للتجار اجعلوا أول نهاركم لآخرتكم وما بعده لدنياكم
Umar radhiyallahu 'anhu pernah berkata kepada para pedagang: "Jadikanlah awal hari kalian untuk akhirat kalian, dan waktu setelahnya untuk dunia kalian."
وكان صالحو السلف يجعلون أول
Dan orang-orang saleh dari kalangan Salaf menjadikan awal…
النهار وآخره للآخرة والوسط للتجارة ولم يكن يبيع الهريسة والرءوس بكرة إلا الصبيان وأهل الذمة لأنهم كانوا في المساجد بعد
…hari dan akhirnya untuk akhirat, sedangkan pertengahannya untuk berdagang. Tidak ada yang menjual bubur Harisah dan olahan kepala (hewan) di pagi hari melainkan anak-anak dan ahli dzimmah, karena mereka (orang-orang saleh) masih berada di masjid-masjid.
وفي الخبر إن الملائكة إذا صعدت بصحيفة العبد وفيها في أول النهار وفي آخره ذكر الله وخير كفر الله عنهما ما بينهما من سيئ الأعمال
Dalam sebuah riwayat disebutkan: "Sesungguhnya para malaikat apabila naik membawa catatan amal seorang hamba yang di dalamnya terdapat dzikir kepada Allah dan kebaikan pada awal dan akhir harinya, niscaya Allah mengampuni dosa-dosa amalan buruk di antara keduanya."
وفي الخبر تلتقي ملائكة الليل والنهار عند طلوع الفجر وعند صلاة العصر فيقول الله تعالى وهو أعلم بهم كيف تركتم عبادي فيقولون تركناهم وهو يصلون وجئناهم وهم يصلون فيقول الله ﷾ أشهدكم أني قد غفرت لهم
Dan dalam riwayat lain: "Malaikat malam dan malaikat siang berkumpul pada waktu terbit fajar dan pada waktu shalat Ashar. Maka Allah Ta'ala berfirman—padahal Dia lebih mengetahui keadaan mereka—: 'Bagaimana kalian meninggalkan hamba-hamba-Ku?' Para malaikat menjawab: 'Kami meninggalkan mereka dalam keadaan shalat, dan kami mendatangi mereka juga dalam keadaan shalat.' Maka Allah 'Azza wa Jalla berfirman: 'Aku persaksikan kepada kalian bahwa Aku telah mengampuni mereka.'"
ثم مهما سمع الأذان في وسط النهار للأولى والعصر فينبغي أن لا يعرج على شغل وينزعج عن مكانه ويدع كل ما كان فيه فما يفوته من فضيلة التكبيرة الأولى مع الإمام في أول الوقت لا توازيها الدنيا بما فيها ومهما لم يحضر الجماعة عصى عند بعض العلماء
Kemudian, kapan pun ia mendengar azan di pertengahan hari untuk shalat Zuhur dan Ashar, hendaknya ia tidak berpaling pada suatu pekerjaan, melainkan segera bangkit dari tempatnya dan meninggalkan segala aktivitas yang sedang dilakukannya. Sebab, keutamaan takbir pertama bersama imam di awal waktu yang luput darinya tidak dapat tertandingi oleh dunia beserta seisinya. Dan apabila ia tidak menghadiri shalat berjamaah, ia dianggap bermaksiat menurut sebagian ulama.
وقد كان السلف يبتدرون عند الأذان ويخلون الأسواق للصبيان وأهل الذمة وكانوا يستأجرون بالقراريط لحفظ الحوانيت في أوقات الصلوات وكان ذلك معيشةً لهم
Dahulu kaum Salaf bersegera ketika mendengar azan dan mengosongkan pasar-pasar untuk anak-anak serta ahli dzimmah. Bahkan mereka menyewa penjaga dengan bayaran beberapa qirat untuk menjaga toko-toko pada waktu-waktu shalat, dan hal itu menjadi penghidupan bagi para penjaga tersebut.
وقد جاء في تفسير قوله تعالى ﴿لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ الله﴾ أنهم كانوا حدادين وخرازين فكان أحدهم إذا رفع المطرقة أو غرز الإشفى فسمع الأذان لم يخرج الإشفى من المغرز ولم يوقع المطرقة ورمى بها وقام إلى الصلاة
Dan sungguh telah disebutkan dalam tafsir firman Allah Ta'ala: "Tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah," bahwa mereka adalah para pandai besi dan pembuat sepatu/kerajinan kulit. Seseorang dari mereka apabila telah mengangkat palu atau menancapkan jarum sol, lalu mendengar azan, ia tidak lagi mencabut jarum sol itu dari tempat tancapannya dan tidak menghantamkan palunya, melainkan melemparnya lalu bangkit menunaikan shalat.
الرَّابِعُ أَنْ لَا يَقْتَصِرَ عَلَى هَذَا بَلْ يُلَازِمَ ذِكْرَ اللَّهِ سُبْحَانَهُ فِي السُّوقِ وَيَشْتَغِلَ بِالتَّهْلِيلِ وَالتَّسْبِيحِ فَذِكْرُ اللَّهِ فِي السُّوقِ بَيْنَ الغافلين أفضل
Yang keempat: Hendaknya ia tidak mencukupkan diri hanya dengan ini, melainkan senantiasa mengingat Allah Subhanahu wa Ta'ala di pasar dan sibuk dengan tahlil serta tasbih. Sebab, mengingat Allah di pasar di antara orang-orang yang lalai adalah lebih utama.
قال ﷺ ذاكر الله في الغافلين كالمقاتل خلف الفارين وكالحي بين الأموات وفي لفظ آخر كالشجرة الخضراء بين الهشيم وقال ﷺ من دخل السوق فقال لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ له الملك وله الحمد يحيي ويميت وهو حي لا يموت بيده الخير وهو على كل شيء قدير كتب الله له ألف ألف حسنة
Rasulullah ﷺ bersabda: "Orang yang mengingat Allah di tengah orang-orang yang lalai seperti orang yang berperang di belakang pasukan yang lari, dan seperti orang hidup di antara orang-orang mati." Dalam lafaz lain: "Seperti pohon yang hijau di antara rumput kering." Dan Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa masuk ke pasar lalu mengucapkan: 'Lā ilāha illallāhu waḥdahū lā syarīka lah, lahul-mulku wa lahul-ḥamdu yuḥyī wa yumītu wa huwa ḥayyun lā yamūtu biyadihil-khairu wa huwa 'alā kulli syai'in qadīr' (Tidak ada tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nya kerajaan dan milik-Nya segala pujian, Dia yang menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Hidup tidak pernah mati, di tangan-Nya lah segala kebaikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu), maka Allah mencatat baginya satu juta kebaikan."
وكان ابن عمر وسالم بن عبد الله ومحمد بن واسع وغيرهم يدخلون السوق قاصدين لنيل فضيلة هذا الذكر
Ibnu Umar, Salim bin Abdullah, Muhammad bin Wasi', dan selain mereka biasa memasuki pasar dengan maksud meraih keutamaan zikir ini.
وقال الحسن ذاكر الله في السوق يجيء يوم القيامة له ضوء كضوء القمر وبرهان كبرهان الشمس ومن استغفر الله في السوق غفر الله له بعدد أهلها
Al-Hasan berkata, "Orang yang berzikir kepada Allah di pasar kelak pada hari kiamat akan datang membawa cahaya seperti cahaya bulan dan bukti (cahaya) seperti bukti matahari. Dan barang siapa memohon ampunan (istighfar) kepada Allah di pasar, maka Allah mengampuninya sebanyak jumlah penghuni pasar tersebut."
وكان عمر ﵁ إذا دخل السوق قال اللهم إني أعوذ بك من الكفر والفسوق ومن شر ما أحاطت به السوق اللهم إني أعوذ بك من يمين فاجرة وصفقة خاسرة
Umar ra. apabila memasuki pasar berdoa, "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran, kefasikan, dan dari keburukan yang diliputi oleh pasar. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sumpah palsu dan transaksi yang merugi."
وقال أبو جعفر الفرغاني كنا يوماً عند الجنيد فجرى ذكر ناس يجلسون في المساجد ويتشبهون بالصوفية ويقصرون عما يجب عليهم من حق الجلوس ويعيبون من يدخل السوق فقال الجنيد كم ممن هو في السوق حكمه أن يدخل المسجد ويأخذ بإذن بعض من فيه فيخرجه ويجلس مكانه وإني لأعرف رجلا يدخل السوق ورده كل يوم ثلثمائة ركعة وثلاثون ألف تسبيحة
Abu Ja'far al-Farghani berkata: Suatu hari kami berada di sisi Al-Junaid, lalu diperbincangkan tentang sekelompok orang yang berdiam di masjid-masjid dan menyerupai kaum Sufi, namun mereka melalaikan kewajiban hak berdiam diri di dalamnya dan mencela orang yang memasuki pasar. Maka Al-Junaid berkata, "Betapa banyak orang di pasar yang sebenarnya berhak masuk ke masjid, lalu atas izin sebagian jamaah di dalamnya, ia mengeluarkan orang yang tidak berhak itu dan duduk di tempatnya. Sesungguhnya aku mengenal seorang laki-laki yang masuk ke pasar namun wirid harian-nya mencapai tiga ratus rakaat dan tiga puluh ribu kali tasbih."
قال فسبق إلى وهمي أنه يعني نفسه فهكذا كانت تجارة من يتجر لطلب الكفاية لا للتنعم في الدنيا فإن من يطلب الدنيا للاستعانة بها على الآخرة كيف يدع ربح الآخرة والسوق والمسجد والبيت له حكم واحد وإنما النجاة بالتقوى
Abu Ja'far berkata, "Maka terlintas dalam benakku bahwa yang beliau maksud adalah dirinya sendiri." Demikianlah perniagaan orang yang berniaga untuk mencari kecukupan, bukan untuk bergelimang kenikmatan duniawi. Karena orang yang mencari dunia demi menggunakannya sebagai sarana menuju akhirat, bagaimana mungkin ia akan meninggalkan keuntungan akhirat? Pasar, masjid, dan rumah baginya memiliki hukum yang sama, sebab keselamatan itu hanya dapat diraih dengan ketakwaan.
قال ﷺ اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كنت
Rasulullah ﷺ bersabda, "Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada."
فوظيفة التقوى لا تنقطع عن المتجردين للدين كيفما تقلبت بهم الأحوال وبه تكون حياتهم وعيشتهم إذ فيه يرون تجارتهم وربحهم وقد قيل من أحب الآخرة عاش ومن أحب الدنيا طاش والأحمق يغدو ويروح في لاش والعاقل عن عيوب نفسه فتاش
Maka kewajiban takwa tidak pernah terputus dari orang-orang yang mencurahkan diri untuk agama dalam segala keadaan mereka. Dengan takwa itulah hidup dan penghidupan mereka berlangsung, karena di dalamnya mereka melihat perniagaan dan keuntungan mereka yang sejati. Ada pepatah mengatakan, "Barang siapa mencintai akhirat ia akan hidup, barang siapa mencintai dunia ia akan celaka. Orang yang dungu pergi dan pulang demi hal yang sia-sia, sedangkan orang yang berakal senantiasa memeriksa aib-aib dirinya."
الْخَامِسُ أَنْ لَا يَكُونَ شَدِيدَ الْحِرْصِ عَلَى السُّوقِ وَالتِّجَارَةِ وَذَلِكَ بِأَنْ يَكُونَ أَوَّلَ دَاخِلٍ وآخر خارج وبأن يركب البحر في التجارة فهما مكروهان يقال إن من ركب البحر فقد استقصى في طلب الرزق
Yang kelima: Hendaknya tidak terlalu berambisi terhadap pasar dan perdagangan. Hal itu seperti menjadi orang yang pertama masuk dan terakhir keluar dari pasar, serta mengarungi lautan demi perdagangan; kedua hal tersebut makruh. Dikatakan, "Sesungguhnya orang yang mengarungi lautan berarti telah melampaui batas dalam mencari rezeki."
وفي الخبر لا يركب البحر إلا لحج أو عمرة أو غزو
Dalam sebuah riwayat disebutkan, "Janganlah seseorang mengarungi lautan melainkan untuk haji, umrah, atau berperang di jalan Allah."
وكان عبد الله بن عمرو بن العاص ﵄ يقول لا تكن أول داخل في السوق ولا آخر خارج منها فإن بها باض الشيطان وفرخ
Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash ra. berkata, "Janganlah engkau menjadi orang yang pertama masuk ke pasar dan jangan pula menjadi yang terakhir keluar darinya, karena di pasarlah setan bertelur dan menetas."
روي عن معاذ بن جبل وعبد الله بن عمر إن إبليس يقول لولده زلنبور سر بكتائبك فأت أصحاب الأسواق زين لهم الكذب والحلف والخديعة والمكر والخيانة وكن مع أول داخل وآخر خارج منها
Diriwayatkan dari Mu'adz bin Jabal dan Abdullah bin Umar bahwa Iblis berkata kepada anaknya, Zalanbur, "Berjalanlah dengan pasukanmu dan datangi para penghuni pasar! Hiasi dan indahkanlah bagi mereka kedustaan, sumpah palsu, penipuan, makar, serta pengkhianatan, dan jadilah engkau bersama orang pertama yang masuk serta orang terakhir yang keluar darinya."
وفي الخبر شر البقاع الأسواق وشر أهلها أولهم دخولاً وآخرهم خروجاً
Dalam riwayat hadis disebutkan, "Seburuk-buruk tempat adalah pasar, dan seburuk-buruk penghuninya adalah yang paling awal masuk dan yang paling akhir keluar darinya."
وتمام هذا الاحتراز أن يراقب وقت كفايته فإذا حصل كفاية وقته انصرف واشتغل بتجارة الآخرة هكذا كان صالحو السلف فقد كان منهم من إذا ربح دانقاً انصرف قناعة به
Kesempurnaan dari kehati-hatian ini adalah hendaknya seseorang memperhatikan kebutuhan kecukupannya. Apabila kecukupan pada waktunya telah terpenuhi, ia berpaling dan sibuk dengan perniagaan akhirat. Demikianlah keadaan ulama Salaf yang saleh, di antara mereka ada orang yang jika telah mendapatkan keuntungan satu danaq (seperenam dirham), ia langsung beranjak pergi karena merasa cukup dengannya.
وكان حماد بن سلمة يبيع الخز في سفط بين يديه فكان إذا ربح حبتين رفع سفطه وانصرف
Hammad bin Salamah dahulu menjual kain sutra di dalam wadah di hadapannya. Apabila ia telah memperoleh keuntungan dua habbah, ia mengangkat wadahnya lalu beranjak pergi.
وقال إبراهيم بن بشار قلت لإبراهيم بن أدهم ﵀ أمر اليوم أعمل في الطين فقال يا ابن بشار إنك طالب ومطلوب يطلبك من لا تفوته وتطلب ما قد كفيته أما رأيت حريصاً محروماً وضعيفاً مرزوقاً فقلت إن لي دانقاً عند البقال فقال عز علي بك تملك دانقاً وتطلب العمل وقد كان فيهم من ينصرف بعد الظهر ومنهم بعد العصر ومنهم من لا يعمل في الأسبوع إلا يوماً أو يومين وكانوا يكتفون به
Ibrahim bin Basyar berkata: Aku berkata kepada Ibrahim bin Adham rahimahullah, "Hari ini aku akan bekerja mengaduk tanah liat." Beliau berkata, "Wahai Ibnu Basyar, sesungguhnya engkau adalah pencari sekaligus yang dicari. Engkau dicari oleh Zat yang tidak akan dapat engkau hindari, dan engkau mencari apa yang telah dicukupkan untukmu. Tidakkah engkau melihat orang yang sangat berambisi namun terhalang rezekinya, dan orang yang lemah namun tetap diberi rezeki?" Aku menjawab, "Sesungguhnya aku masih memiliki satu danaq di pedagang kelontong." Beliau berkata, "Alangkah menyedihkan bagiku, engkau masih memiliki satu danaq tetapi engkau tetap mencari pekerjaan!" Dan dahulu di antara mereka ada yang menyudahi pekerjaannya setelah Zhuhur, ada yang setelah 'Ashar, dan ada pula yang tidak bekerja dalam sepekan melainkan satu atau dua hari saja, dan mereka merasa cukup dengannya.
السَّادِسُ أَنْ لَا يَقْتَصِرَ عَلَى اجْتِنَابِ الْحَرَامِ بل يتقي مواقع الشبهات ومظان الريب ولا ينظر إلى الفتاوى بل يستفتي قَلْبَهُ فَإِذَا وَجَدَ فِيهِ حَزَازَةً اجْتَنَبَهُ وَإِذَا حُمِلَ إِلَيْهِ سِلْعَةٌ رَابَهُ أَمْرُهَا سَأَلَ عَنْهَا حتى يعرف وإلا أكل الشبهة وقد حمل إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ لبن فقال من أين لكم هذا فقالوا من الشاة فقال ومن أين لكم هذه الشاة فقيل من موضع كذا فشرب منه ثم قال إنا معاشر الأنبياء أمرنا أن لا نأكل إلا طيباً ولا نعمل إلا صالحاً
Yang keenam: Hendaknya tidak membatasi diri hanya pada menjauhi hal yang haram, melainkan juga menjaga diri dari tempat-tempat syubhat dan area keraguan. Ia hendaknya tidak hanya berpatokan pada fatwa-fatwa kelonggaran fiqih, tetapi juga meminta fatwa kepada hatinya sendiri. Apabila ia mendapati ganjalan di hatinya, ia menjauhinya. Apabila dibawakan kepadanya suatu komoditas dagang yang meragukan, ia menanyakannya hingga jelas; jika tidak, ia akan memakan hal yang syubhat. Suatu ketika pernah dibawakan susu kepada Rasulullah ﷺ, lalu beliau bertanya, "Dari mana kalian mendapatkan susu ini?" Mereka menjawab, "Dari kambing." Beliau bertanya lagi, "Dari mana kalian mendapatkan kambing ini?" Lalu dijelaskan, "Dari tempat anu." Kemudian beliau meminumnya dan bersabda, "Sesungguhnya kami para nabi diperintahkan untuk tidak memakan kecuali yang halal lagi baik (thayyib) dan tidak beramal kecuali yang saleh."
وقال إن الله تعالى أمر المؤمنين بما أمر به المرسلين فقال ﴿يا أيها الذين آمنوا كلوا من طيبات ما رزقناكم﴾ أخرجه مسلم من حديث أبي هريرة حديث كان لا يسأل عن كل ما يحمل إليه رواه أحمد من حديث جابر أن رسول الله ﷺ وأصحابه مروا بامرأة فذبحت لهم شاة الحديث فأخذ رسول الله ﷺ لقمة فلم يستطع أن يسيغها فقال هذه شاة ذبحت بغير إذن أهلهاالحديث وله من حديث أبي هريرة كان إذا أتى بطعام من غير أهله سأل عنهالحديث وإسنادهما جيد وفي هذا أنه كان لا يسأل عما أتي به من عند أهله والله أعلم //
Dan beliau bersabda, "Sesungguhnya Allah Ta'ala memerintahkan orang-orang beriman sebagaimana Dia memerintahkan para Rasul," lalu beliau membaca ayat: ﴿Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu﴾ (Diriwayatkan oleh Muslim dari hadis Abu Hurairah). Adapun hadis bahwa Nabi ﷺ tidak menanyakan setiap makanan yang dibawakan kepadanya: Diriwayatkan oleh Ahmad dari hadis Jabir, bahwasanya Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya melewati seorang wanita, lalu wanita itu menyembelihkan seekor domba untuk mereka… (hingga akhir hadis). Kemudian Rasulullah ﷺ mengambil sesuap daging, namun beliau tidak sanggup menelannya, lalu beliau bersabda, "Ini adalah domba yang disembelih tanpa izin pemiliknya." Dan diriwayatkan oleh Ahmad pula dari hadis Abu Hurairah bahwa Nabi ﷺ apabila dibawakan makanan yang bukan berasal dari keluarganya, beliau menanyakannya… (hingga akhir hadis), dan sanad keduanya baik (jayyid). Di dalam hal ini terdapat petunjuk bahwa beliau tidak bertanya tentang apa yang dibawakan dari pihak keluarganya sendiri. Wallahu a'lam.
وإنما الواجب أن ينظر التاجر إلى من يعامله فكل مَنْسُوبٍ إِلَى ظُلْمٍ أَوْ خِيَانَةٍ أَوْ سَرِقَةٍ أو ربا فلا يعامله وكذا الأجناد والظلمة لا يعاملهم البتة ولا يعامل أصحابهم وأعوانهم لأنه معين بذلك على الظلم
Kewajiban seorang pedagang adalah memperhatikan dengan siapa ia bertransaksi. Setiap orang yang dinisbatkan kepada kezaliman, pengkhianatan, pencurian, atau riba, hendaklah ia tidak bertransaksi dengannya. Demikian pula para prajurit dan penguasa yang zalim, hendaklah ia sama sekali tidak bertransaksi dengan mereka, serta tidak bertransaksi dengan rekan-rekan dan pembantu mereka, sebab hal itu berarti membantu mereka dalam kezaliman.
وحكي عن رجل أنه تولى عمارة سور لثغر من الثغور
Diceritakan tentang seorang laki-laki bahwasanya ia mengurusi pembangunan benteng di salah satu kawasan perbatasan negara Islam (tsaghar).
قال فوقع في نفسي من ذلك شيء وإن كان ذلك العمل من الخيرات بل من فرائض الإسلام ولكن كان الأمير الذي تولى في محلته من الظلمة
Laki-laki itu berkata, "Maka terlintas ganjalan di dalam hatiku mengenai hal tersebut, meskipun pekerjaan itu termasuk amal kebaikan, bahkan termasuk di antara kewajiban-kewajiban Islam. Akan tetapi, amir (penguasa) yang memegang kekuasaan di daerahnya adalah termasuk orang yang zalim."
قال فسألت سفيان رضي الله
Perawi berkata, "Maka aku bertanya kepada Sufyan radhiyallahu…
عنه فقال لا تكن عوناً لهم على قليل ولا كثير فقلت هذا سور في سبيل الله للمسلمين فقال نعم ولكن أقل ما يدخل عليك أن تحب بقاءهم ليوفوك أجرك فتكون قد أحببت بقاء من يعصي الله
…'anhu, lalu beliau menjawab, 'Janganlah engkau menjadi penolong bagi mereka (orang-orang zalim) dalam perkara kecil maupun besar.' Aku berkata, 'Tetapi ini adalah benteng pertahanan di jalan Allah bagi kaum muslimin.' Beliau menjawab, 'Benar, namun hal minimal yang akan merusak hatimu adalah engkau menginginkan keberlangsungan hidup mereka agar mereka melunasi upahmu, sehingga dengan demikian engkau telah menyukai keberlangsungan hidup orang yang bermaksiat kepada Allah.'
وقد جاء في الخبر من دعا لظالم بالبقاء فقد أحب أن يعصي الله في أرضه
Dan sungguh telah terdapat dalam riwayat (atsar): "Barangsiapa mendoakan kelanggengan bagi orang yang zalim, maka sungguh ia telah menyukai agar Allah didurhakai di bumi-Nya."
وفي الحديث إن الله ليغضب إذا مدح الفاسق
Dan dalam hadis disebutkan: "Sesungguhnya Allah benar-benar murka apabila seorang fasik dipuji."
وفي حديث آخر من أكرم فاسقاً فقد أعان على هدم الإسلام
Dan dalam hadis lain: "Barangsiapa memuliakan orang fasik, maka sungguh ia telah membantu meruntuhkan Islam."
ودخل سفيان على المهدي وبيده درج أبيض فقال يا سفيان أعطني الدواة حتى أكتب فقال أخبرني أي شيء تكتب فإن كان حقاً أعطيتك
Sufyan pernah menemui (Khalifah) Al-Mahdi yang sedang memegang gulungan kertas putih. Al-Mahdi berkata, "Wahai Sufyan, berikan tempat tinta itu kepadaku agar aku dapat menulis." Sufyan menjawab, "Beritahukan kepadaku apa yang akan engkau tulis? Jika itu perkara yang haq (benar), aku akan memberikannya kepadamu."
وطلب بعض الأمراء من بعض العلماء المحبوسين عنده أن يناوله طيناً ليختم به الكتاب فقال ناولني الكتاب أولاً حتى أنظر ما فيه فهكذا كانوا يحترزون عن معاونة الظلمة ومعاملتهم أشد أنواع الإعانة فينبغي أن يجتنبها ذوو الدين ما وجدوا إليه سبيلاً
Sebagian penguasa pernah meminta kepada seorang ulama yang dipenjarakannya agar mengambilkan tanah liat untuk menyegel suratnya. Ulama tersebut berkata, "Berikan surat itu kepadaku terlebih dahulu agar aku melihat apa isinya." Demikianlah dahulu mereka sangat berhati-hati agar tidak membantu orang-orang zalim. Bermuamalah dengan mereka merupakan bentuk bantuan yang paling keras, maka hendaknya orang-orang yang taat beragama menjauhinya sedapat mungkin.
وبالجملة فينبغي أن ينقسم الناس عنده إلى من يعامل ومن لا يعامل وليكن من يعامله أقل ممن لا يعامله في هذا الزمان قال بعضهم أتى على الناس زمان كان الرجل يدخل السوق ويقول من ترون لي أن أعامل من الناس فيقال له عامل من شئت
Walhasil, hendaknya manusia dalam pandangannya terbagi menjadi dua kelompok: orang yang boleh bermuamalah dengannya dan orang yang tidak boleh bermuamalah dengannya. Dan hendaknya orang yang ia ajak bermuamalah lebih sedikit daripada orang yang dihindarinya di zaman sekarang ini. Sebagian ulama berkata, "Telah datang suatu zaman kepada manusia di mana seorang lelaki masuk ke pasar lalu bertanya, 'Siapa yang menurut kalian pantas untuk aku ajak bermuamalah?' Maka dikatakan kepadanya, 'Bermuamalahlah dengan siapa pun yang engkau kehendaki.'"
ثم أتى زمان آخر كانوا يقولون عامل من شئت إلا فلاناً وفلاناً ثم أتى زمان آخر فكان يقال لا تعامل أحداً إلا فلاناً وفلانا وأخشى أن يأتي زمان يذهب هذا أيضاً
"Kemudian datang zaman lain di mana orang-orang berkata, 'Bermuamalahlah dengan siapa saja yang engkau kehendaki kecuali si Fulan dan si Fulan.' Lalu datang zaman berikutnya sehingga dikatakan, 'Janganlah engkau bermuamalah dengan siapa pun kecuali dengan si Fulan dan si Fulan.' Dan aku khawatir akan datang suatu zaman di mana pilihan ini pun hilang sama sekali."
وكأنه قد كان الذي كان يحذر أن يكون إنا لله وإنا إليه راجعون
Dan seolah-olah apa yang dikhawatirkan itu sungguh telah terjadi. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).
السَّابِعُ يَنْبَغِي أَنْ يُرَاقِبَ جَمِيعَ مَجَارِيَ مُعَامَلَتِهِ مع وَاحِدٍ مِنْ مُعَامِلِيهِ فَإِنَّهُ مُرَاقَبٌ وَمُحَاسَبٌ فَلْيَعُدَّ الجواب ليوم الحساب والعقاب في كل فعلة وقولة إنه لم أقدم عليها ولأجل ماذا فإنه يقال إنه يوقف التاجر يوم القيامة مع كل رجل كان باعه شيئاً وقفة ويحاسب عن كل واحد فهو محاسب على عدد من عامله
(Prinsip) Ketujuh: Hendaknya ia senantiasa mengawasi (muraqabah) seluruh alur muamalahnya dengan setiap orang yang berhubungan dengannya, karena sesungguhnya ia diawasi dan akan dihisab. Maka hendaknya ia menyiapkan jawaban untuk Hari Perhitungan dan Siksa atas setiap perbuatan dan perkataan: mengapa ia melakukannya dan atas dasar apa? Sebab dikatakan bahwa kelak pada hari kiamat seorang pedagang akan dihentikan bersama setiap orang yang pernah bertransaksi dengannya untuk dihisab satu per satu. Jadi, ia akan dihisab sebanyak jumlah orang yang pernah bermuamalah dengannya.
قال بعضهم رأيت بعض التجار في النوم فقلت ماذا فعل الله بك فقال نشر علي خمسين ألف صحيفة فقلت هذه كلها ذنوب فقال هذه معاملات الناس بعدد كل إنسان عاملته في الدنيا لكل إنسان صحيفة مفردة فيما بيني وبينه من أول معاملته إلى آخرها فهذا ما على المكتسب في عمله من العدل والإحسان والشفقة على الدين فإن اقتصر على العدل كان من الصالحين وإن أضاف إليه الإحسان كان من المقربين وإن راعى مع ذلك وظائف الدين كما ذكر في الباب الخامس كان من الصديقين والله أعلم بالصواب
Sebagian ulama berkata, "Aku bermimpi melihat seorang pedagang, lalu aku bertanya, 'Apa yang Allah perbuat terhadapmu?' Ia menjawab, 'Dia membentangkan lima puluh ribu lembaran catatan bagiku.' Aku bertanya, 'Apakah ini semua dosa?' Ia menjawab, 'Ini adalah muamalahku dengan manusia sejumlah setiap orang yang pernah aku ajak bermuamalah di dunia. Bagi setiap orang ada lembaran tersendiri mengenai hubungan antara aku dan dia, dari awal muamalah hingga akhir.' Inilah kewajiban seorang pencari nafkah dalam usahanya, yaitu menegakkan keadilan, berbuat ihsan, dan menjaga keselamatan agamanya. Jika ia mencukupkan diri pada keadilan, maka ia termasuk golongan orang-orang saleh (al-shalihin). Jika ia mengiringinya dengan ihsan, ia termasuk golongan orang-orang yang dekat (al-muqarrabin). Dan jika di samping itu ia menjaga kewajiban-kewajiban agama sebagaimana disebutkan dalam Bab Kelima, maka ia termasuk golongan orang-orang yang sangat jujur imannya (al-shiddiqin). Wallahu a'lam bish-shawab (Dan Allah lebih mengetahui apa yang benar).
تم كتاب الكسب والمعيشة بحمد الله ومنه
Telah selesai Kitab Adab Usaha dan Penghidupan (Kitab Asbab al-Kasb wa al-Ma'isyah) dengan memuji Allah dan atas karunia-Nya.