كتاب آداب السماع والوجد
كتاب آداب السماع والوجد
Kitab Adab Sima' (Mendengarkan Lantunan Spiritual) dan Wajd (Ekstase Spiritual)
وهو الكتاب الثامن من ربع العادات من كتب إحياء علوم الدين
Yaitu kitab kedelapan dari seperempat bagian Adat Kebiasaan (Rub'ul 'Adat) dari kitab Ihya' 'Ulumiddin.
…
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
الحمد لله الذي أحرق قلوب أوليائه بنار محبته واسترق هممهم وأرواحهم بالشوق الى لقائه ومشاهدته ووقف أبصارهم وبصائرهم على ملاحظة جمال حضرته حتى أصبحوا من تنسم روح الوصال سكرى وأصبحت قلوبهم من ملاحظة سبحات الجلال والهة حيرى فلم يروا في الكونين شيئاً سواه ولم يذكروا في الدارين إلا إياه إن سنحت لأبصارهم صورة عبرت الى المصور بصائرهم وإن قرعت أسماعهم نغمة سبقت الى المحبوب سرائرهم وإن ورد عليهم صوت مزعج أو مقلق أو مطرب أو محزن أو مهيج أو مشوق أو مهيج لم يكن انزعاجهم إلا إليه ولا طربهم إلا به ولا قلقهم إلا عليه ولا حزنهم إلا فيه ولا شوقهم إلا إلى ما لديه ولا انبعاثهم إلا له ولا ترددهم إلا حواليه
Segala puji bagi Allah yang telah membakar hati para kekasih-Nya dengan api kecintaan-Nya, menawan cita-cita serta ruh mereka dengan kerinduan untuk menemui dan menyaksikan-Nya, serta menambatkan pandangan lahir dan mata hati mereka untuk menatap keindahan keagungan-Nya. Sehingga jadilah mereka mabuk karena menghirup hembusan kedamaian penyatuan (wushul), dan jadilah hati mereka terpesona lagi bingung dalam keindahan menyaksikan keagungan-Nya yang Mahasuci. Mereka tidak melihat sesuatu pun di kedua alam selain Diri-Nya, dan tidak mengingat di kedua negeri (dunia dan akhirat) melainkan hanya Dia. Jika tampak suatu rupa pada pandangan lahir mereka, mata hati mereka langsung menembus kepada Sang Pencipta Rupa. Jika suatu nada mengetuk pendengaran mereka, rahasia hati (sarair) mereka langsung melesat menuju Sang Kekasih. Dan jika datang kepada mereka suara yang menggetarkan, menggelisahkan, menggembirakan, menyedihkan, membangkitkan rasa, atau membangkitkan kerinduan, maka tidaklah getaran jiwa mereka melainkan menuju kepada-Nya, tidaklah kegembiraan mereka melainkan bersama-Nya, tidaklah kegelisahan mereka melainkan karena-Nya, tidaklah kesedihan mereka melainkan dalam jalan-Nya, tidaklah kerinduan mereka melainkan kepada apa yang ada di sisi-Nya, tidaklah dorongan jiwa mereka melainkan untuk-Nya, dan tidaklah bolak-baliknya hati mereka melainkan di sekitar-Nya.
فمنه سماعهم وإليه استماعهم فقد أقفل عن غيره أبصارهم وأسماعهم أولئك الذين اصطفاهم الله لولايته واستخلصهم من بين أصفيائه وخاصته
Maka dari-Nya lah pendengaran mereka, dan kepada-Nya lah penyimakan mereka. Sungguh Allah telah mengunci pandangan dan pendengaran mereka dari selain-Nya. Mereka itulah orang-orang yang telah dipilih Allah untuk kewalian-Nya dan disucikan secara khusus di antara hamba-hamba pilihan dan hamba khusus-Nya.
والصلاة على محمد المبعوث برسالته وعلى آله وأصحابه أئمة الحق وقادته وسلم كثيراً
Shalawat serta salam yang melimpah semoga tercurah kepada Nabi Muhammad yang diutus membawa risalah-Nya, juga kepada keluarga dan para sahabatnya yang merupakan para imam kebenaran dan para pemimpinnya.
أما بعد فإن القلوب والسرائر خزائن الأسرار ومعادن الجواهر وقد طويت فيها جواهرها كما طويت النار في الحديد والحجر كما أخفى الماء تحت التراب والمدر ولا سبيل الى استثارة خفاياها إلا بقوادح السماع ولا منفذ الى القلوب الى من دهليز الأسماع فالنغمات الموزونة المستلذة تخرج ما فيها وتظهر محاسنها أو مساويها فلا يظهر من القلب عند التحريك إلا ما يحويه
Amma ba'du. Sesungguhnya hati dan rahasia-rahasia batin adalah perbendaharaan rahasia Ilahi dan tambang permata spiritual. Permata-permata itu tersembunyi di dalamnya sebagaimana api tersembunyi dalam besi dan batu, dan sebagaimana air tersembunyi di balik tanah dan gumpalan tanah keras. Tiada jalan untuk membangkitkan apa yang tersembunyi di dalamnya kecuali dengan pemantik sama' (mendengarkan alunan spiritual), dan tiada jalan masuk menuju hati melainkan melalui lorong pendengaran. Maka nada-nada yang berirama indah dan menyenangkan akan mengeluarkan apa yang ada di dalam hati serta menampakkan kebaikan-kebaikannya atau keburukan-keburukannya; sebab tidaklah keluar dari hati saat digerakkan melainkan apa yang dikandungnya,
كما لا يرشح الإناء إلا بما فيه فالسماع للقلب محك صادق ومعيار ناطق فلا يصل نفس السماع إليه إلا وقد تحرك فيه ما هو الغالب عليه وإذا كانت القلوب بالطباع مطيعة للأسماع حتى أبدت بوارداتها مكامنها وكشفت بها عن مساويها وأظهرت محاسنها وجب شرح القول في السماع والوجد وبيان ما فيهما من الفوائد والآفات وما يستحب فيهما من الآداب والهيئات وما يتطرّق إليهما من خلاف العلماء في أنهما من المحظورات أو المباحات
sebagaimana bejana tidak akan merembeskan melainkan apa yang ada di dalamnya. Maka sama' bagi hati adalah batu ujian yang jujur dan tolok ukur yang berbicara. Tidaklah getaran sama' itu sampai ke hati melainkan tergeraklah apa yang mendominasi di dalamnya. Dan ketika hati secara watak alamiah tunduk kepada pendengaran hingga menampakkan rahasia-rahasia tersembunyinya melalui limpahan rasa (warid) yang masuk, serta menyingkap keburukan-keburukannya dan menampakkan kebaikan-kebaikannya, maka wajiblah menjelaskan uraian tentang sama' dan wajad (getaran rasa spiritual), menerangkan manfaat dan bahaya dari keduanya, adab dan sikap tubuh yang disunnahkan pada keduanya, serta perbedaan pendapat para ulama yang masuk ke dalamnya mengenai apakah keduanya termasuk hal yang dilarang atau yang diperbolehkan.
ونحن نوضح ذلك في بابين
Kami akan menjelaskan hal tersebut dalam dua bab:
الباب الأول في إباحة السماع
Bab Pertama: Mengenai kebolehan (kebahan) sama'.
الباب الثاني في آداب السماع وآثاره في القلب بالوجد وفي الجوارح بالرقص والزعق وتمزيق الثياب
Bab Kedua: Mengenai adab-adab sama' dan pengaruh-pengaruhnya dalam hati berupa wajad (getaran jiwa spiritual), serta pada anggota badan berupa tarian, jeritan, dan merobek pakaian.
الباب الأول في ذكر اختلاف العلماء في إباحة السماع وكشف الحق فيه
Bab Pertama: Mengenai penuturan perbedaan pendapat para ulama tentang kebolehan sama' dan pengungkapan kebenaran di dalamnya.
بيان أقاويل العلماء والمتصوفة في تحليله وتحريمه
Penjelasan tentang pendapat para ulama dan kaum sufi mengenai kehalalan dan keharamannya.
اعلم أن السماع هو أول الأمر ويثمر السماع حالة في القلب تسمى الوجد ويثمر الوجد تحريك الأطراف إما بحركة غير موزونة فتسمى الإضطراب وإما موزونة فتسمى التصفيق والرقص فلنبدأ بحكم السماع وهو الأول وننقل فيه الأقاويل المعربة عن المذاهب فيه
Ketahuilah bahwa sama' (mendengarkan alunan nada) adalah tahapan awal. Sama' membuahkan suatu kondisi dalam hati yang dinamakan wajad (getaran rasa spiritual), dan wajad membuahkan gerakan pada anggota tubuh, baik berupa gerakan tak berirama yang dinamakan idhtirab (guncangan), maupun yang berirama yang dinamakan tepuk tangan dan tarian. Maka marilah kita mulai dengan hukum sama' yang merupakan tahapan pertama, dan di dalamnya kita akan menuturkan pendapat-pendapat yang menjelaskan mazhab-mazhab berkenaan dengannya.
ثم نذكر الدليل على إباحته ثم نردفه بالجواب عما تمسك به القائلون بتحريمه
Kemudian kami akan menyebutkan dalil atas kebolehannya, lalu melanjutkannya dengan jawaban terhadap dalil-dalil yang dipegang oleh pihak yang berpendapat haramnya.
فأما نقل المذاهب فقد حكى القاضي أبو الطيب الطبري عن الشافعي ومالك وأبي حنيفة وسفيان وجماعة من
Adapun mengenai penuturan pendapat mazhab-mazhab, Al-Qadhi Abu Ath-Thayyib Ath-Thabari telah meriwayatkan dari Asy-Syafi'i, Malik, Abu Hanifah, Sufyan, dan sekelompok
العلماء ألفاظاًً يستدل بها على أنهم رأوا تحريمه
ulama, ungkapan-ungkapan yang dijadikan dalil bahwa mereka berpendapat akan keharamannya.
وقال الشافعي ﵀ في
Imam Asy-Syafi'i—semoga Allah merahmatinya—berkata di dalam
كتاب آداب القضاء إن الغناء لهو مكروه يشبه الباطل ومن استكثر منه
kitab Adab Al-Qadha' (Adab Peradilan): "Sesungguhnya nyanyian itu adalah hiburan yang makruh dan menyerupai kebatilan. Barang siapa yang memperbanyak dengannya,
فهو سفيه ترد شهادته
maka ia adalah orang yang safih (kurang akal) yang ditolak kesaksiannya."
وقال القاضي أبو الطيب استماعة من المرأة التي ليست بمحرم له لا يجوز عند أصحاب الشافعي ﵀ بحال سواء كانت مكشوفة أو من وراء حجاب وسواء كانت حرة أو مملوكة وقال قال الشافعي ﵁ صاحب الجارية إذا جمع الناس لسماعها فهو سفيه ترد شهادته وقال وحكي عن الشافعي أنه كان يكره الطقطقة بالقضيب ويقول وضعته الزنادقة ليشتغلوا به عن القرآن
Al-Qadhi Abu Ath-Thayyib berkata: "Mendengarkan nyanyian dari wanita yang bukan mahram tidak diperbolehkan menurut para pengikut Imam Asy-Syafi'i—semoga Allah merahmatinya—dalam keadaan apa pun, baik wanita itu terlihat maupun dari balik tirai, baik ia merdeka maupun hamba sahaya." Ia juga berkata: Asy-Syafi'i—semoga Allah meridhainya—berkata: "Pemilik hamba sahaya perempuan yang mengumpulkan orang-orang untuk mendengarkan nyanyiannya adalah orang yang safih (kurang akal) yang ditolak kesaksiannya." Dan ia berkata: Diriwayatkan dari Asy-Syafi'i bahwa beliau membenci ketukan dengan batang kayu (al-qadhib) dan berkata: "Hal itu dibuat oleh orang-orang zindik untuk memalingkan manusia dari Al-Qur'an."
وقال الشافعي ﵀ ويكره من جهة الخبر اللعب بالنرد أكثر مما يكره اللعب بشيء من الملاهي ولا أحب اللعب بالشطرنج وأكره كل ما يلعب به الناس لأن اللعب ليس من صنعة أهل الدين ولا المروءة
Imam Asy-Syafi'i—semoga Allah merahmatinya—juga berkata: "Berdasarkan riwayat khabar, bermain dadu itu dibenci melebihi kebencian terhadap alat-alat permainan hiburan lainnya, dan aku tidak menyukai permainan catur. Aku membenci segala bentuk permainan yang dimainkan manusia, karena permainan bukanlah bagian dari perbuatan ahli agama maupun muru'ah (kehormatan diri)."
وأما مالك ﵀ فقد نهى عن الغناء وقال إذا اشترى جارية فوجدها مغنية كان له ردها
Adapun Imam Malik—semoga Allah merahmatinya—sungguh beliau melarang nyanyian dan berkata: "Jika seseorang membeli hamba sahaya perempuan lalu mendapatinya seorang penyanyi, maka ia berhak mengembalikannya."
وهو مذهب سائر أهل المدينة إلا ابن سعد وحده
Dan itu adalah mazhab seluruh penduduk Madinah, kecuali Ibnu Sa'd seorang diri.
وأما أبو حنيفة ﵁ فإنه كان يكره ذلك ويجعل سماع الغناء من الذنوب وكذلك سائر أهل الكوفة سفيان الثوري وحماد وإبراهيم والشعبي وغيرهم
Adapun Imam Abu Hanifah—semoga Allah meridhainya—beliau membenci hal tersebut dan mengategorikan mendengarkan nyanyian sebagai bagian dari dosa-dosa. Begitu pula seluruh ulama Kufah seperti Sufyan Ats-Tsauri, Hammad, Ibrahim, Asy-Sya'bi, dan selain mereka.
فهذا كله نقله القاضي أبو الطيب الطبري
Semua ini telah diriwayatkan oleh Al-Qadhi Abu Ath-Thayyib Ath-Thabari.
ونقل أبو طالب المكي إباحة السماع من جماعة فقال سمع من الصحابة عبد الله بن جعفر وعبد الله بن الزبير والمغيرة بن شعبة ومعاوية وغيرهم وقال قد فعل ذلك كثير من السلف الصالح صحابي وتابعي بإحسان وقال لم يزل الحجازيون عندنا بمكة يسمعون السماع في أفضل أيام السنة وهى الايام المعدودات التي أمر الله عباده فيها بذكره كأيام التشريق ولم يزل أهل المدينة مواظبين كأهل مكة على السماع إلى زماننا هذا فأدركنا أبا مروان القاضي وله جوار يسمعن الناس التلحين قد أعدهن للصوفية قال وكان لعطاء جاريتان يلحنان فكان إخوانه يستمعون إليهما قال وقيل لأبي الحسن بن سالم كيف تنكر السماع وقد كان الجنيد وسرى السقطى وذو النون يستمعون فقال وكيف أنكر السماع وقد أجازه وسمعه من هو خير مني فقد كان عبد الله بن جعفر الطيار يسمع وإنما أنكر اللهو واللعب في السماع
Abu Talib al-Makki meriwayatkan kebolehan sama' (mendengarkan musik/nyanyian spiritual) dari sekelompok ulama. Beliau berkata, "Di antara para sahabat yang pernah mendengarkan sama' adalah 'Abdullah bin Ja'far, 'Abdullah bin az-Zubair, al-Mughirah bin Syu'bah, Mu'awiyah, dan selain mereka." Beliau juga berkata, "Hal itu sungguh telah dilakukan oleh banyak ulama Salaf yang saleh, baik dari kalangan sahabat maupun tabi'in yang mengikuti mereka dengan baik." Beliau menambahkan, "Penduduk Hijaz di tempat kami di Makkah senantiasa mendengarkan sama' pada hari-hari yang paling utama dalam setahun, yaitu hari-hari yang terbilang (al-ayyam al-ma'dudat) yang mana Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berzikir kepada-Nya pada hari-hari tersebut, seperti hari-hari Tasyriq. Begitu pula penduduk Madinah senantiasa membiasakan diri sebagaimana penduduk Makkah dalam mendengarkan sama' hingga zaman kita ini. Kami sempat mendapati Abu Marwan al-Qadhi yang memiliki hamba-hamba sahaya wanita yang mendendangkan lagu untuk listened orang-orang, dan ia menyiapkannya khusus untuk kaum Sufi." Beliau berkata, "Atha' juga memiliki dua hamba sahaya wanita yang mendendangkan lagu, lalu saudara-saudaranya mendengarkan nyanyian keduanya." Beliau melanjutkan, "Pernah ditanyakan kepada Abu al-Hasan bin Salim: 'Bagaimana engkau mengingkari sama' padahal al-Junaid, Siri al-Saqathi, dan Dzun Nun al-Mishri mendengarkannya?' Maka ia menjawab: 'Bagaimana mungkin aku mengingkari sama' padahal orang yang lebih baik dariku telah membolehkan dan mendengarkannya? Sungguh 'Abdullah bin Ja'far ath-Thayyar dahulu mendengarkannya. Yang aku ingkari hanyalah main-main dan kesia-siaan (al-lahw wa al-la'ib) di dalam sama''".
وروي عن يحيى بن معاذ أنه قال فقدنا ثلاثة أشياء فما نراها ولا أراها تزداد إلا قلة حسن الوجه مع الصيانة وحسن القول مع الديانة وحسن الإخاء مع الوفاء
Diriwayatkan dari Yahya bin Mu'adz bahwa ia berkata, "Kami kehilangan tiga hal yang hampir tidak lagi kami lihat, dan aku tidak melihatnya melainkan semakin berkurang: indahnya wajah yang disertai dengan penjagaan diri (al-shiyanah), indahnya tutur kata yang disertai dengan ketaatan agama (ad-diyanah), dan indahnya persaudaraan yang disertai dengan kesetiaan (al-wafa')."
ورأيت في بعض الكتب هذا محكياً بعينه عن الحارث المحاسبي وفيه ما يدل على تجويزه السماع مع زهده وتصاونه وجده في الدين وتشميره
Dan aku melihat di sebagian kitab perkataan ini dihikayatkan persis dari al-Harits al-Muhasibi. Di dalamnya terdapat perkara yang menunjukkan atas perbolehannya terhadap sama', beserta kezuhudannya, penjagaan dirinya, kesungguhannya dalam beragama, dan kesiapannya dalam beramal.
قال وكان ابن مجاهد لا يجيب دعوة إلا أن يكون فيه سماع
Beliau berkata, "Dahulu Ibn Mujahid tidak memenuhi undangan kecuali jika di dalamnya terdapat acara sama'."
وحكي غير واحد أنه قال اجتمعنا في دعوة ومعنا أبو القاسم ابن بنت منيع وأبو بكر ابن داود وابن مجاهد في نظرائهم فحضر سماع فجعل ابن مجاهد يحرض ابن بنت منيع على ابن داود في أن يسمع فقال ابن داود حدثني أبي عن أحمد بن حنبل أنه كره السماع وكان أبي يكرهه وأنا على مذهب أبي فقال أبو القاسم ابن بنت منيع أما جدى احمد ابن بنت منيع فحدثني عن صالح بن أحمد أن أباه كان يسمع قول ابن الخبازة فقال ابن مجاهد لابن داود دعني أنت من أبيك وقال لابن بنت منيع دعني أنت من جدك أي شيء تقول يا أبا بكر فيمن أنشد بيت شعر أهو حرام فقال ابن داود لا قال فإن كان حسن الصوت حرم عليه إنشاده قال لا قال فإن أنشده وطوله وقصر منه الممدود ومدّ منه المقصور أيحرم عليه قال أنا لم أقو لشيطان واحد فكيف
Dihikayatkan oleh lebih dari satu orang bahwa salah seorang dari mereka berkata, "Kami berkumpul dalam suatu undangan, dan bersama kami ada Abu al-Qasim bin Binti Mani', Abu Bakr bin Dawud, dan Ibn Mujahid beserta orang-orang yang sepadan dengan mereka. Lalu dihadirkanlah acara sama', maka Ibn Mujahid mulai mendorong Ibn Binti Mani' untuk mematahkan argumen Ibn Dawud agar mau mendengarkan. Maka Ibn Dawud berkata, 'Ayahku menceritakan kepadaku dari Ahmad bin Hanbal bahwa beliau membenci sama', dan ayahku pun membencinya, sedangkan aku berada di atas mazhab ayahku.' Abu al-Qasim bin Binti Mani' membalas, 'Adapun kakekku, Ahmad bin Binti Mani', menceritakan kepadaku dari Shalih bin Ahmad bahwa ayahnya (Ahmad bin Hanbal) dahulu mendengarkan lantunan syair Ibn al-Khabbazah.' Lalu Ibn Mujahid berkata kepada Ibn Dawud, 'Tinggalkanlah urusan ayahmu,' dan berkata kepada Ibn Binti Mani', 'Tinggalkanlah urusan kakekmu. Apa pendapatmu, wahai Abu Bakr, tentang seseorang yang melantunkan sebait syair, apakah itu haram?' Ibn Dawud menjawab, 'Tidak.' Ibn Mujahid bertanya, 'Jika pelantunnya bersuara merdu, apakah haram baginya melantunkannya?' Ia menjawab, 'Tidak.' Ibn Mujahid bertanya lagi, 'Jika ia melantunkannya dengan memanjangkan bacaan, memendekkan yang panjang, dan memanjangkan yang pendek, apakah itu menjadikannya haram?' Ibn Dawud menjawab, 'Aku saja tidak sanggup menghadapi satu setan, bagaimana mungkin aku sanggup menghadapi dua setan?'"
أقوى لشيطانين قال وكان أبو الحسن العسقلاني الأسود من الأولياء يسمع ويوله عند السماع وصنف فيه كتاباً ورد فيه على منكريه وكذلك جماعة منهم صنفوا في الرد على منكريه
Beliau melanjutkan, "Dahulu Abu al-Hasan al-'Asqalani al-Aswad, yang termasuk di antara para wali Allah, biasa mendengarkan sama' dan larut dalam kerinduan spiritual (yawaluh) ketika mendengarkannya. Ia bahkan menyusun sebuah kitab mengenai hal ini dan membantah para pengingkarnya. Demikian pula sekelompok ulama dari kalangan mereka menyusun karya tulis dalam rangka membantah pihak-pihak yang mengingkarinya."
وحكي عن بعض الشيوخ أته قال رأيت أبا العباس الخضر ﵇ فقلت له ما تقول في هذا السماع الذي اختلف فيه أصحابنا فقال هو الصفو الزلال الذي لا يثبت عليه إلا أقدام العلماء
Diriwayatkan dari sebagian guru spiritual bahwa ia berkata, "Aku melihat Abu al-'Abbas al-Khadhir a.s., lalu aku bertanya kepadanya, 'Apa pendapatmu tentang sama' ini yang diperselisihkan oleh sahabat-sahabat kami?' Maka beliau menjawab, 'Ia adalah kesucian yang jernih (ash-shafw al-zulal), yang tidak dapat teguh di atasnya melainkan pijakan kaki para ulama.'"
وحكي عن ممشاد الدينوري أنه قال رأيت النبي ﷺ في النوم فقلت يا رسول الله هل تنكر من هذا السماع شيئاً فقال ما أنكر منه شيئاً ولكن قل لهم يفتتحون قبلة بالقرآن ويختمون بعده بالقرآن
Diriwayatkan dari Mimsyad ad-Dinawari bahwa ia berkata, "Aku bermimpi melihat Nabi ﷺ dalam tidurku, lalu aku bertanya, 'Wahai Rasulullah, apakah Engkau mengingkari sesuatu dari sama' ini?' Beliau bersabda, 'Aku tidak mengingkari sesuatu pun darinya. Akan tetapi, katakan kepada mereka agar membukanya terlebih dahulu dengan Al-Qur'an dan mengakhirinya setelah itu dengan Al-Qur'an.'"
وحكي عن طاهر بن بلال الهمداني الوراق وكان من أهل العلم أنه قال كنت معتكفاً في جامع جدّة على البحر فرأيت يوماً طائفة يقولون في جانب منه قولاً ويستمعون فأنكرت ذلك بقلبي وقلت في بيت من بيوت الله يقولون الشعر قال فرأيت النبي ﷺ تلك الليلة وهو جالس في تلك الناحية والى جنبة أبو بكر الصديق ﵁ وإذا أبو بكر يقول شيئاً من القول والنبي ﷺ يستمع إليه ويضع يده على صدره كالواجد بذلك فقلت في نفسي ما كان ينبغي لي أن أنكر على أولئك الذين كانوا يستمعون وهذا رسول الله ﷺ يستمع وابو بكر يقول فالتفت إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وقال هذا حق بحق أو قال حق من حق أنا أشك فيه
Diriwayatkan dari Thahir bin Bilal al-Hamadani al-Warraq—seorang yang berilmu—ia berkata, "Aku pernah beriktikaf di Masjid Agung Jeddah di tepi laut. Pada suatu hari, aku melihat sekelompok orang di salah satu sudut masjid melantunkan ucapan (syair) dan mendengarkannya. Maka aku mengingkari hal itu dalam hatiku seraya berkata, 'Di salah satu rumah Allah, mereka melantunkan syair?'" Ia melanjutkan, "Lalu pada malam harinya aku bermimpi melihat Nabi ﷺ sedang duduk di sudut tersebut, dan di samping beliau terdapat Abu Bakr as-Siddiq r.a. Tiba-tiba Abu Bakr melantunkan sesuatu dari ucapan (syair), sedangkan Nabi ﷺ mendengarkannya dan meletakkan tangan beliau di atas dadanya seolah-olah merasakan keasyikan spiritual (wajd) dengannya. Maka aku berkata dalam hatiku, 'Tidak sepatutnya bagiku mengingkari orang-orang yang mendengarkan itu, sementara ini Rasulullah ﷺ mendengarkan dan Abu Bakr melantunkannya.' Lalu Rasulullah ﷺ menoleh kepadaku dan bersabda, 'Ini adalah kebenaran dengan kebenaran,' atau beliau bersabda, 'Kebenaran dari kebenaran'—aku ragu akan lafal pastinya."
وقال الجنيد تنزل الرحمة على هذه الطائفة في ثلاثة مواضع عند الأكل لأنهم لا يأكلون إلا عن فاقة وعند المذاكرة لأنهم لا يتحاورون إلا في مقامات الصدّيقين وعند السماع لأنهم يسمعون بوجد ويشهدون حقاً
Al-Junaid berkata, "Rahmat turun kepada kelompok (kaum Sufi) ini pada tiga tempat: ketika makan, karena mereka tidak makan melainkan dalam keadaan sangat membutuhkan (faqah); ketika berdiskusi (mudzakarah), karena mereka tidak saling berbincang melainkan tentang maqam-maqam orang-orang yang jujur (ash-shiddiqin); dan ketika sama', karena mereka mendengarkan dengan perasaan ekstasi spiritual (wajd) dan menyaksikan kebenaran (haqq)."
وعن ابن جريج أنه كان يرخص في السماع فقيل له أيؤتى يوم القيامة في جملة حسناتك أو سيئاتك فقال لا في الحسنات ولا في السيئات لأنه شبيه باللغو وقال الله تعالى ﴿لا يؤاخذكم الله باللغو في أيمانكم﴾
Diriwayatkan dari Ibn Juraij bahwa beliau memberi keringanan (memperbolehkan) dalam masalah sama'. Lalu ditanyakan kepadanya, "Apakah hal itu kelak pada hari kiamat akan dimasukkan dalam kelompok kebaikanmu atau keburukanmu?" Beliau menjawab, "Tidak masuk dalam kebaikan dan tidak pula dalam keburukan, karena ia menyerupai hal yang tidak bermaksud (al-laghw). Dan Allah Ta'ala telah berfirman, 'Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksudkan (untuk bersumpah) [al-laghw]'".
هذا ما نقل من الأقاويل
Inilah apa yang diriwayatkan dari berbagai pendapat.
ومن طلب الحق في التقليد فمهما استقصى تعارضت عنده هذه الأقاويل فيبقى متحيرا أومائلا إلى بعض الأقاويل بالتشهي وكل ذلك قصور بل ينبغي أن يطلب الحق بطريقه وذلك بالبحث عن مدارك الحظر والإباحة كما سنذكره
Barang siapa yang mencari kebenaran dengan cara bertaklid, maka semaksimal apa pun ia meneliti, pendapat-pendapat ini akan saling bertentangan baginya, sehingga ia tetap dalam kebingungan atau cenderung kepada sebagian pendapat hanya karena menuruti hawa nafsu (at-tasyahhi), dan semua itu merupakan suatu kekurangan. Sebaliknya, hendaknya kebenaran dicari melalui jalurnya yang tepat, yaitu dengan meneliti dasar-dasar hukum keharaman (al-hazhr) dan kebolehan (al-ibahah), sebagaimana yang akan kami sebutkan.
بيان الدليل على إباحة السماع
Penjelasan Dalil atas Kebolehan Sama'
اعلم أن قول القائل السماع حرام معناه أن الله تعالى يعاقب عليه وهذا أمر لا يعرف بمجرد العقل بل بالسمع ومعرفة الشرعيات محصورة في النص أو القياس على المنصوص
Ketahuilah bahwa ucapan seseorang, "Sama' itu haram," bermakna bahwa Allah Ta'ala akan menyiksa atas perbuatannya. Dan perkara ini tidak dapat diketahui hanya dengan akal semata, melainkan melalui pendengaran wahyu (as-sam'). Sedangkan pengetahuan tentang hukum-hukum syariat itu terbatas pada nas (dalil teks Al-Qur'an dan Hadis) atau kias (qiyas) terhadap apa yang telah dinaskan.
وأعني بالنص ما أظهره ﷺ بقوله أو فعله وبالقياس المعنى المفهوم من ألفاظه وأفعاله
Yang aku maksud dengan nas adalah apa yang diterangkan oleh Nabi ﷺ melalui perkataan atau perbuatan beliau. Sedangkan yang dimaksud dengan kias adalah makna yang dipahami dari lafal-lafal dan perbuatan-perbuatan beliau.
فإن لم يكن فيه نص ولم يستقم فيه قياس على منصوص بطل القول بتحريمه وبقى فعلاً لا حرج فيه كسائر المباحات
Maka jika tidak terdapat nas padanya, dan tidak pula lurus kias atas perkara yang dinaskan, gugurlah pendapat yang mengharamkannya, sehingga ia tetap menjadi perbuatan yang tidak ada dosa padanya sebagaimana perkara-perkara mubah lainnya.
ولا يدل على تحريم السماع نص ولا قياس ويتضح ذلك في جوابنا عن أدلة المائلين إلى التحريم
Tidak ada nas maupun kias yang menunjukkan atas keharaman sama', dan hal tersebut akan menjadi jelas dalam jawaban kami terhadap dalil-dalil pihak yang cenderung mengharamkan.
ومهما تم الجواب عن أدلتهم كان ذلك مسلكاً كافياً في إثبات هذا الغرض لكن نستفتح ونقول قد دل النص والقياس جميعاً على إباحته
Selagi jawaban terhadap dalil-dalil mereka telah tuntas, maka hal itu sudah menjadi jalan yang cukup untuk membuktikan tujuan ini. Namun, kami akan memulainya dan berkata: Sungguh nas dan kias keduanya telah menunjukkan atas kebolehannya.
أما القياس فهو أن الغناء اجتمعت فيه معان ينبغي أن يبحث عن أفرادها ثم عن مجموعها فإن فيه سماع صوت طيب موزون مفهوم المعنى محرك للقلب فالوصف الأعم أنه صوت طيب
Adapun kias, bahwasanya nyanyian (al-ghina') terkumpul di dalamnya beberapa makna/unsur yang hendaknya dibahas secara terpisah maupun secara keseluruhannya. Sebab, di dalamnya terdapat pendengaran terhadap suara yang indah (thayyib), berirama (mawzun), dipahami maknanya, serta menggerakkan hati. Maka sifat yang paling umum dengannya adalah bahwa ia merupakan suara yang indah.
ثم الطيب ينقسم إلى الموزون وغيره
Kemudian, suara yang merdu terbagi menjadi suara yang berirama (mauzun) dan suara yang tidak berirama.
والموزون ينقسم إلى المفهوم كالأشعار والى غير المفهوم كأصوات الجمادات وسائر الحيوانات
Sedangkan suara yang berirama terbagi menjadi suara yang dapat dipahami maknanya seperti syair-syair, dan suara yang tidak dapat dipahami maknanya seperti suara benda-benda mati serta berbagai jenis hewan.
أما سماع الصوت الطيب من حيث إنه طيب فلا ينبغي أن يحرم بل هو حلال بالنص والقياس أما القياس فهو أنه يرجع إلى تلذذ حاسة السمع بإدراك ما هو مخصوص به وللإنسان عقل وخمس حواس ولكل حاسة إدراك
Adapun mendengarkan suara yang merdu ditinjau dari semata-mata keindahannya, maka tidak sepatutnya diharamkan, bahkan hukumnya halal berdasarkan dalil nas maupun qiyas. Adapun dalil qiyas, bahwasanya hal itu kembali pada kenikmatan indra pendengaran dalam menangkap apa yang menjadi kekhususannya. Manusia memiliki akal dan lima indra, dan setiap indra memiliki persepsi tersendiri.
وفي مدركات تلك الحاسة ما يستلذ فلذة النظر في المبصرات الجميلة كالخضرة والماء الجاري والوجه الحسن وبالجملة سائر الألوان الجميلة وهي في مقابلة ما يكره من الألوان الكدرة القبيحة
Pada objek-objek persepsi indra tersebut terdapat hal-hal yang dirasakan nikmat, seperti kenikmatan pandangan mata terhadap objek-objek kasatmata yang indah seperti pemandangan hijau, air yang mengalir, dan wajah yang elok, serta secara umum seluruh warna yang indah; yang mana semua itu berhadapan dengan warna-warna keruh dan buruk yang dibenci.
وللشم الروائح الطيبة وهي في مقابلة الأنتان المستكرهة
Bagi indra penciuman terdapat kenikmatan wewangian, yang berhadapan dengan bau-bau busuk yang dibenci.
وللذوق الطعوم اللذيذة كالدسومة والحلاوة والحموضة وهي في مقابلة المرارة المستبشعة
Bagi indra pengecap terdapat kenikmatan rasa yang lezat seperti gurih, manis, dan masam, yang berhadapan dengan rasa pahit yang dibenci.
وللمس لذة اللين والنعومة والملاسة وهي في مقابلة الخشونة والضراسة
Bagi indra peraba terdapat kenikmatan kelembutan, kehalusan, dan kelicinan, yang berhadapan dengan kekasaran dan ketajaman.
وللعقل لذة العلم والمعرفة وهي في مقابلة الجهل والبلادة
Dan bagi akal terdapat kenikmatan ilmu dan ma'rifat, yang berhadapan dengan kebodohan dan ketumpulan berpikir.
فكذلك الأصوات المدركة بالسمع تنقسم إلى مستلذة كصوت العنادل والمزامير ومستكرهة كنهيق الحمير وغيرها
Demikian pula suara-suara yang ditangkap oleh pendengaran terbagi menjadi suara yang dinikmati seperti kicauan burung bulbul dan tiupan seruling, serta suara yang dibenci seperti ringkikan keledai dan sejenisnya.
فما أظهر قياس هذه الحاسة ولذتها على سائر الحواس ولذاتها
Betapa jelasnya analogi (qiyas) indra ini beserta kenikmatannya dibandingkan dengan indra-indra lainnya beserta kenikmatannya.
أما النص فيدل على إباحة سماع الصوت الحسن امتنان الله تعالى على عباده إذ قال ﴿يزيد في الخلق ما يشاء﴾ فقيل هو الصوت الحسن وفي الحديث ما بعث الله نبياً إلا حسن الصوت
Adapun dalil nas yang menunjukkan kebolehan mendengarkan suara yang merdu adalah bentuk karunia Allah Ta'ala kepada hamba-hamba-Nya tatkala Dia berfirman, "Dia menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang Dia kehendaki" (QS. Fatir: 1), yang ditafsirkan sebagai suara yang merdu. Dalam hadis juga disebutkan: "Tidaklah Allah mengutus seorang nabi pun melainkan ia bersuara merdu."
وقال ﷺ لله أشد أذناً للرجل الحسن الصوت بالقرآن من صاحب القينة لقينته وفي الحديث في معرض المدح لداود ﵇
Dan Rasulullah ﷺ bersabda: "Sungguh Allah lebih berkenan mendengarkan seseorang yang bersuara merdu saat membaca Al-Qur'an daripada pemilik budak penyanyi mendengarkan lantunan nyanyian budaknya." Dan terdapat pula riwayat hadis dalam bentuk pujian kepada Nabi Daud 'alaihissalam,
أنه كان حسن الصوت في النياحة على نفسه وفي تلاوة الزبور حتى كان يجتمع الإنس والجن والوحوش والطير لسماع صوته وكان يحمل في مجلسه أربعمائة جنازة وما يقرب منها في الأوقات
bahwasanya beliau memiliki suara yang sangat merdu ketika meratapi dirinya (karena khauf kepada Allah) dan ketika membaca Zabur, hingga manusia, jin, binatang buas, dan burung-burung berkumpul untuk mendengarkan suaranya. Bahkan di majelis beliau pernah diusung sekitar empat ratus jenazah (yang meninggal karena dalamnya rasa takut dan rindu kepada Allah) atau jumlah yang mendekati itu di waktu-waktu lainnya.
وقال ﷺ في مدح أبي موسى الأشعري لقد أعطى مزماراً من مزامير آل داود
Nabi ﷺ juga bersabda dalam memuji Abu Musa al-Asy'ari: "Sungguh, dia telah dianugerahi seruling (suara merdu) dari seruling-seruling keluarga Daud."
وقول الله تعالى ﴿إن أنكر الأصوات لصوت الحمير﴾ يدل بمفهومه على مدح الصوت الحسن
Serta firman Allah Ta'ala, "Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai" (QS. Luqman: 19), secara mafhum (pemahaman tersirat) menunjukkan pujian terhadap suara yang merdu.
ولو جاز أن يقال إنما أبيح ذلك بشرط أن يكون في القرآن للزمه أن يحرم سماع صوت العندليب لأنه ليس من القرآن
Seandainya boleh dikatakan bahwa mendengarkan suara merdu itu hanya dihalalkan dengan syarat dalam membaca Al-Qur'an, niscaya konsekuensinya adalah haram mendengarkan kicauan burung bulbul karena kicauannya bukan bagian dari Al-Qur'an.
وإذا جاز سماع صوت غفل لا معنى له فلم لا يجوز سماع صوت يفهم منه الحكمة والمعاني الصحيحة وإن من الشعر لحكمة
Apabila dibolehkan mendengarkan suara polos yang tidak mengandung makna, mengapa tidak dibolehkan mendengarkan suara yang darinya dapat dipahami hikmah dan makna-makna yang benar? Padahal sesungguhnya dalam sebagian syair terdapat hikmah.
فهذا نظر في الصوت من حيث أنه طيب حسن
Maka ini adalah pembahasan mengenai suara ditinjau dari segi keindahan dan kemerduannya.
الدرجة الثانية النظر في الصوت الطيب الموزون فإن الوزن وراء الحسن فكم من صوت حسن خارج عن الوزن وكم من صوت موزون غير مستطاب
Tingkatan kedua: Pembahasan mengenai suara yang merdu lagi berirama (mauzun). Sebab, irama (wazan) berada di luar sekadar keindahan; betapa banyak suara indah tetapi tidak berirama, dan betapa banyak suara yang berirama namun tidak menyenangkan untuk didengar.
والأصوات الموزونه باعتبار مخارجها ثلاثة فإنها إما أن تخرج من جماد كصوت المزامير والأوتار وضرب القضيب والطبل وغيره وإما أن تخرج من حنجرة حيوان وذلك الحيوان إما إنسان أو غيره كصوت العنادل والقمارى وذات السجع من الطيور فهي مع طيبها موزونة متناسبة المطالع والمقاطع فلذلك يستلذ سماعها
Suara-suara yang berirama berdasarkan sumber keluarnya terbagi menjadi tiga jenis: adakala keluar dari benda mati seperti suara seruling, petikan senar, ketukan tongkat, tabuhan gendang, dan selainnya; atau keluar dari tenggorokan makhluk bernyawa, dan makhluk tersebut adakala berupa manusia atau selainnya seperti suara burung bulbul, burung tekukur, dan jenis burung yang berkicau secara bersajak. Suara-suara tersebut, selain merdu, juga berirama serta memiliki keharmonisan nada pembuka dan penutupnya, sehingga didengar dengan penuh kenikmatan.
والأصل في الأصوات حناجر الحيوانات وإنما وضعت المزامير على أصوات الحناجر وهو تشبيه للصنعة بالخلقة
Asal dari segala suara adalah tenggorokan makhluk hidup. Adapun seruling diciptakan menyerupai suara tenggorokan, yang merupakan penyerupaan karya buatan manusia (*shana'ah*) terhadap ciptaan Allah (*khilqah*).
وما من شيء توصل أهل الصناعات بصناعتهم إلى تصويره إلا وله مثال في الخلقة التي استأثر الله تعالى باختراعها فمنه تعلم الصناع وبه قصدوا الإقتداء وشرح ذلك يطول
Tidak ada satu pun yang berhasil digambarkan atau diciptakan oleh para pengrajin melalui keahlian mereka, melainkan ia memiliki rujukan asli dalam ciptaan alamiah yang hanya dikhususkan ciptaannya oleh Allah Ta'ala. Dari sanalah para pembuat karya belajar dan kepada penciptaan-Nya mereka meneladani; dan penjelasannya mengenai hal ini amatlah panjang.
فسماع هذه الأصوات يستحيل أن يحرم لكونها طيبة أو موزونة فلا ذاهب إلى تحريم صوت العندليب وسائر الطيور
Maka mendengarkan suara-suara ini mustahil diharamkan semata-mata karena suaranya merdu atau berirama teratur. Tidak ada seorang pun yang berpendapat mengharamkan suara burung bulbul dan burung-burung lainnya.
ولا فرق بين حنجرة وحنجرة ولا بين جماد وحيوان
Tidak ada bedanya antara satu tenggorokan dengan tenggorokan lainnya, dan tidak ada bedanya pula antara benda mati dan makhluk hidup.
فينبغي أن يقاس على صوت العندليب الأصوات الخارجة من سائر الأجسام باختيار الآدمى كالذي يخرج من حلقه أو من القضيب والطبل والدف وغيره
Oleh karena itu, suara-suara yang keluar dari benda-benda lain atas pilihan manusia hendaknya diqiyaskan dengan suara burung bulbul, seperti suara yang keluar dari kerongkongannya, atau dari ketukan kayu (*qadhib*), gendang (*thabl*), rebana (*duff*), dan lainnya.
ولا يستثنى من هذه إلا الملاهي والأوتار والمزامير التي ورد الشرع بالمنع منها لا للذتها إذ لو كان للذة لقيس عليها كل ما يلتذ به الإنسان
Tidak ada yang dikecualikan dari hal ini selain alat-alat musik tiup, alat musik berdawai, dan seruling yang ada larangan tegas dalam syariat, bukan karena kelezatan suaranya. Sebab jika keharaman itu disebabkan oleh kelezatan, niscaya segala sesuatu yang memberikan kelezatan bagi manusia akan diqiyaskan demikian.
ولكن حرمت الخمور واقتضت ضراوة الناس بها المبالغة في الفطام عنها حتى انتهى الأمر في الابتداء إلى كسر الدنان فحرم معها ما هو شعار أهل الشرب وهي الأوتار والمزامير فقط وكان تحريمها من قبل الأتباع كما حرمت الخلوة بالأجنبية لأنها مقدمة الجماع وحرم النظر إلى الفخذ لاتصاله بالسوأتين وحرم قليل الخمر وإن كان لا يسكر لأنه يدعو إلى السكر وما من حرام إلا وله حريم يطيف به وحكم الحرمة ينسحب على حريمه ليكون حمى للحرام ووقاية له وحظارا مانعاً حوله كما قال ﷺ إن لكل ملك حمى وإن حمى الله محارمه فهي محرمة تبعاً لتحريم الخمر لثلاث علل
Akan tetapi, khamar diharamkan, dan ketergantungan manusia yang sangat kuat terhadapnya menuntut upaya ketat dalam menyapih mereka, hingga pada mulanya berujung pada penghancuran wadah-wadah khamar. Maka diharamkan pula bersamanya apa yang menjadi simbol (*syi'ar*) para peminum khamar, yaitu alat musik berdawai dan seruling saja. Keharamannya bersifat pengikut (*taba'an*), sebagaimana berkhalwat dengan wanita asing diharamkan karena merupakan perantara menuju perzinaannya, melihat paha diharamkan karena bersambung dengan dua kemaluan, dan sedikit khamar diharamkan meskipun tidak memabukkan karena dapat mengajak pada kemabukan. Tiada sesuatu yang haram melainkan memiliki kawasan terlarang (*harim*) yang mengelilinginya, dan hukum keharaman menjangkau kawasan tersebut sebagai benteng penjaga dan pembatas di sekitarnya, sebagaimana sabda Nabi ﷺ: "Sesungguhnya setiap raja memiliki kawasan terlarang (*himya*), dan kawasan terlarang Allah adalah hal-hal yang diharamkan-Nya." Maka alat-alat musik tersebut diharamkan sebagai ikutan dari keharaman khamar karena tiga 'illat (alasan hukum):
إحداها أنها تدعو إلى شرب الخمر فإن اللذة الحاصلة بها إنما تتم بالخمر ولمثل هذه العلة حرم قليل الخمر
Pertama, alat-alat tersebut mendorong seseorang untuk meminum khamar, karena kenikmatan yang diperoleh dengannya baru terasa sempurna dengan meminum khamar. Atas 'illat semacam inilah diharamkan khamar dalam jumlah sedikit.
الثانية أنها في حق قريب العهد بشرب الخمر تذكر مجالس الأنس بالشرب فهي سبب الذكر والذكر سبب انبعاث الشوق وانبعاث الشوق إذا قوى فهو سبب الإقدام
Kedua, bagi orang yang baru saja meninggalkan kebiasaan minum khamar, alat-alat tersebut mengingatkannya kembali pada majelis-majelis kenikmatan pesta minuman keras. Maka ia menjadi sebab timbulnya ingatan, ingatan menjadi sebab bangkitnya kerinduan, dan bangkitnya kerinduan jika semakin kuat menjadi sebab untuk melakukan perbuatan tersebut kembali.
ولهذه العلة نهى عن الانتباذ في المزفت والحنتم والنقير
Karena 'illat inilah dilarang membuat minuman perasan (*al-intibadz*) dalam wadah *muzaffat*, *hantam*, dan *naqir*.
وهي الآواني التي كانت مخصوصة بها
Yaitu bejana-bejana yang khusus digunakan untuk minuman keras.
فمعنى هذا أن مشاهدة صورتها تذكرها وهذه العلة تفارق الأولى إذ ليس فيها اعتبار لذة في الذكر إذ لا لذة في رؤية القنينة وأواني الشرب لكن من حيث التذكر بها فإن كان السماع يذكر الشرب تذكيراً يشوق إلى الخمر عند من ألف ذلك مع الشرب فهو منهى عن السماع لخصوص هذه العلة فيه
Makna dari hal ini adalah bahwa melihat bentuk wadah-wadah tersebut dapat mengingatkan kembali padanya. 'Illat ini berbeda dari yang pertama, sebab di sini tidak mempertimbangkan adanya kelezatan dalam ingatan tersebut—mengingat tidak ada kelezatan hanya dengan melihat botol atau wadah minuman—melainkan dari segi ingatan yang ditimbulkannya. Maka jika mendengar musik mengingatkan seseorang pada pesta minuman keras hingga membangkitkan kerinduan pada khamar bagi orang yang terbiasa melakukannya, ia dilarang mendengarkan musik karena adanya 'illat khusus ini pada dirinya.
الثالثة الاجتماع عليها لما أن صار من عادة أهل الفسق فيمنع من التشبه بهم لأن من تشبه بقوم فهو منهم
Ketiga, berkumpul untuk mendengarkannya karena hal itu telah menjadi kebiasaan orang-orang fasik, sehingga dilarang menyerupai (*tasyabbuh*) mereka, karena barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka.
وبهذه العلة نقول بترك السنة مهما صارت شعاراً لأهل البدعة خوفاً من التشبه بهم
Atas dasar 'illat ini pula kami berpendapat untuk meninggalkan suatu amalan sunnah apabila amalan tersebut telah menjadi simbol (*syi'ar*) ahli bid'ah, karena takut menyerupai mereka.
وبهذه العلة يحرم ضرب الكوبة وهو طبل مستطيل دقيق الوسط واسع الطرفين وضربها عادة المخنثين ولولا ما فيه من التشبه لكان مثل طبل الحجيج والغزو وبهذه العلة نقول لو اجتمع جماعة وزينوا مجلساً وأحضروا آلات الشرب وأقداحه وصبوا فيها السكنجبين ونصبوا ساقياً يدور عليهم ويسقيهم فيأخذون من الساقي ويشربون ويحيي بعضهم بعضاً بكلماتهم المعتادة بينهم حرم ذلك عليهم وإن كان المشروب مباحاً في نفسه لأن في هذا تشبهاً بأهل الفساد بل لهذا ينهى عن لبس القباء وعن ترك الشعر على الرأس قزعاً في بلاد صار القباء فيها من لباس أهل الفساد ولا ينهى عن ذلك فيما وراء النهر لاعتياد أهل الصلاح ذلك فيهم
Berdasarkan 'illat ini pula diharamkan memukul *kubah*—yaitu gendang panjang yang ramping bagian tengahnya dan lebar di kedua ujungnya—karena memukulnya merupakan kebiasaan orang-orang yang menyerupai wanita (*mukhannatsin*). Sekiranya bukan karena unsur *tasyabbuh* di dalamnya, niscaya hukumnya sama seperti gendang para jamaah haji dan perang. Atas dasar 'illat ini pula kami berpendapat: seandainya sekelompok orang berkumpul, menghiasi majelis, menghadirkan peralatan minum beserta gelas-gelasnya, menuangkan sirup cuka-madu (*sikanjabin*), serta menunjuk seorang pelayan yang mengedarkan minuman kepada mereka, lalu mereka meminumnya dan saling menyapa dengan ungkapan-ungkapan khas di antara mereka, maka hal itu diharamkan atas mereka meskipun minuman itu sendiri hukumnya mubah. Hal ini disebabkan adanya penyerupaan dengan para pelaku kerosakan. Bahkan karena alasan inilah dilarang mengenakan jubah *qaba'* atau menyisakan rambut secara acak (*qaza'*) di negeri-negeri tempat *qaba'* menjadi pakaian para pembuat kerusakan, namun tidak dilarang di kawasan Transoxiana (*Ma Wara'an-Nahr*) karena telah menjadi kebiasaan orang-orang saleh di sana.
فبهذه المعاني حرم المزمار العراقي والأوتار كلها كالعود والصنج والرباب والبربط وغيرها
Maka karena alasan-alasan inilah diharamkan seruling Irak (*mizmar 'iraqi*) dan seluruh alat musik berdawai, seperti 'ud, simbal (*shanj*), rebab (*rabab*), barbat, dan sejenisnya.
وما عدا ذلك فليس في معناها كشاهين الرعاة والحجيج وشاهين الطبالين وكالطبل والقضيب وكل آلة يستخرج منها صوت مستطاب موزون سوى ما يعتاده أهل الشرب لأن كل ذلك لا يتعلق بالخمر ولا يذكر بها ولا يشوق إليها ولا يوجب التشبه بأربابها
Adapun selain itu yang tidak mengandung makna keharaman tersebut, seperti seruling (*syahin*) para gembala, seruling jamaah haji, seruling para penabuh drum, demikian pula gendang, ketukan kayu (*qadhib*), dan setiap alat yang menghasilkan suara merdu berirama selain yang biasa digunakan oleh para peminum khamar, hukumnya tidak haram. Sebab, semua itu tidak berkaitan dengan khamar, tidak mengingatkannya, tidak membangkitkan kerinduan kepadanya, dan tidak menimbulkan penyerupaan dengan para peminumnya.
فلم يكن في معناها فبقي على أصل الإباحة قياساً على أصوات الطيور وغيرها بل أقول سماع الأوتار ممن يضربها على غير وزن متناسب مستلذ حرام أيضاً
Oleh karena tidak mengandung makna keharaman tersebut, maka ia tetap berada pada hukum asal kebolehan (*al-ibahah*), diqiyaskan pada suara burung dan lainnya. Bahkan saya katakan: mendengarkan alat musik berdawai dari orang yang memetiknya tanpa nada yang selaras dan merdu pun tetap diharamkan.
وبهذا يتبين أنه ليست العلة في تحريمها مجرد اللذة الطيبة بل القياس تحليل الطيبات كلها إلا ما في تحليله فساد
Dengan ini jelaslah bahwa 'illat keharamannya bukanlah semata-mata karena kelezatan yang menyenangkan. Sebaliknya, qiyas yang shahih menuntut dihalalkannya segala hal yang baik (*at-thayyibat*), kecuali hal-hal yang jika dihalalkan mengandung kerusakan (*fasad*).
قال الله تعالى ﴿قل من حرم زينة الله التي أخرج لعباده والطيبات من الرزق﴾ فهذه الأصوات لا تحرم من حيث إنها أصوات موزونة وإنما تحرم بعارض آخر
Allah Ta'ala berfirman: "Katakanlah: Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah Dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan rezeki yang baik-baik?" Maka suara-suara ini tidak diharamkan ditinjau dari segi bahwa ia merupakan suara berirama, melainkan diharamkan karena adanya faktor luar (*'aridh*) lainnya.
كما سيأتي في العوارض المحرمة
Sebagaimana yang akan dijelaskan kemudian mengenai faktor-faktor luar yang mengharamkan.
الدرجة الثالثة الموزون والمفهوم وهو الشعر وذلك لا يخرج إلا من حنجرة الإنسان فيقطع بإباحة ذلك لأنه ما زاد إلا كونه مفهوما والكلام المفهوم غير حرام والصوت الطيب الموزون غير حرام فإذا لم يحرم الآحاد فمن أين يحرم المجموع نعم ينظ فيما يفهم منه فإن كان فيه أمر محظور حرم نثره ونظمه وحرم النطق به سواء كان بألحان أو لم يكن والحق فيه ما قاله الشافعي ﵀ إذ قال الشعر كلام فحسنه حسن وقبيحه قبيح
Tingkatan ketiga adalah suara yang berirama (berwazan) dan dipahami (memiliki makna), yaitu syair. Suara ini tidak keluar melainkan dari tenggorokan manusia, maka dipastikan kebolehannya, karena ia tidak menambah apa-apa selain keadaannya yang dapat dipahami. Perkataan yang dipahami itu tidaklah haram, dan suara merdu yang berirama juga tidak haram. Apabila unsur-unsur tunggalnya tidak haram, dari mana gabungannya menjadi haram? Benar, perlu dicermati apa yang dipahami darinya; jika di dalamnya terdapat hal yang terlarang, maka haramlah bentuk prosa maupun bait syairnya, dan haram pula mengucapkannya, baik melaluinya dengan lagu maupun tidak. Pendapat yang benar dalam hal ini adalah apa yang dikatakan oleh Imam Asy-Syafi'i rahimahullah: 'Syair adalah perkataan; yang baik darinya adalah baik, dan yang buruk darinya adalah buruk.'
ومهما جاز إنشاد الشعر بغير صوت وألحان جاز إنشاده مع الألحان
Manakala melantunkan syair itu boleh tanpa suara dan irama lagu, maka boleh pula melantunkannya disertai dengan irama lagu.
فإن أفراد المباحات إذا اجتمعت كان ذلك المجموع مباحاً
Sebab, unsur-unsur yang mubah apabila berkumpul, maka gabungan tersebut tetap mubah.
ومهما انضم مباح إلى مباح لم يحرم إلا إذا تضمن المجموع محظوراً لا تتضمنه الآحاد
Dan manakala suatu hal yang mubah bergabung dengan hal mubah lainnya, ia tidak menjadi haram kecuali jika gabungan tersebut mengandung hal terlarang yang tidak dikandung oleh unsur-unsur tunggalnya.
ولا محظور ههنا وكيف ينكر إنشاد الشعر وقد أنشد بين يدي رَسُولُ اللَّهِ ﷺ
Sedangkan di sini tidak ada hal yang terlarang. Bagaimana mungkin pelantunan syair mengingkari, padahal syair sungguh telah dilantunkan di hadapan Rasulullah ﷺ?
وَقَالَ ﷺ إن من الشعر لحكمة
Dan Rasulullah ﷺ telah bersabda: 'Sesungguhnya di antara syair itu benar-benar terdapat hikmah.'
وأنشدت عائشة ﵂
Dan Aisyah radhiyallahu 'anha pernah melantunkan syair:
ذهب الذين يعاش في أكنافهم … وبقيت في خلف كجلد الأجرب
'Telah pergi orang-orang yang kita hidup di bawah naungan mereka… dan aku tertinggal di antara generasi pengganti yang bagaikan kulit orang berpenyakit kudis.'
وروى في الصحيحين عن عائشة ﵂ أنها قالت لما قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ المدينة وعك أبو بكر وبلال ﵄ وكان بها وباء فقلت يا أبت كيف تجدك ويا بلال كيف تجدك فكان أبو بكر ﵁ إذا أخذته الحمى يقول
Diriwayatkan dalam Ash-Shahihain dari Aisyah radhiyallahu 'anha, beliau berkata: Ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah, Abu Bakar dan Bilal radhiyallahu 'anhuma jatuh sakit karena di sana sedang terjangkit wabah. Maka aku bertanya: 'Wahai ayahku, bagaimana keadaanmu? Dan wahai Bilal, bagaimana keadaanmu?' Maka Abu Bakar radhiyallahu 'anhu apabila dilanda demam biasa mengucapkan:
كل امرئ مصبح في أهله … والموت أدنى من شراك نعله
'Setiap orang menyongsong pagi di tengah keluarganya… padahal kematian lebih dekat daripada tali sandalnya.'
وكان بلال إذا أقلعت عنه الحمى يرفع عقيرته ويقول
Dan Bilal, apabila demamnya telah reda, mengencangkan suaranya seraya mengucapkan:
ألا ليت شعري هل أبيتن ليلة … بواد وحولي إذخر وجليل
'Duhai, sekiranya aku tahu, akankah aku pernah bermalam lagi suatu malam… di sebuah lembah dengan tumbuhan idzkhir dan jalil di sekelilingku.'
وهل أردن يوماً مياه مجنة … وهل يبدون لي شامة وطفيل
'Dan akankah suatu hari aku mendatangi mata air Majannah… serta akankah tampak bagiku Gunung Shamah dan Thafail?'
قالت عائشة ﵂ فأخبرت بذلك رسول الله ﷺ فقال اللهم حبب إلينا المدينة كحبنا مكة أو أشد
Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: Lalu aku memberitahukan hal itu kepada Rasulullah ﷺ, maka beliau berdoa: 'Ya Allah, jadikanlah kami mencintai Madinah sebagaimana kecintaan kami kepada Makkah atau bahkan lebih dari itu.'
وَقَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ينقل اللبن مع القوم في بناء المسجد وهو يقول
Sungguh Rasulullah ﷺ pernah ikut mengangkut batu bata bersama para sahabat dalam pembangunan masjid seraya melantunkan:
هذا الحمال لا حمال خيبر … هذا أبر ربنا وأطهر
'Bawaan ini bukanlah bawaan Khaibar… bawaan ini lebih berbakti wahai Tuhan kami, dan lebih suci.'
وقال أيضاً ﷺ مرة أخرى
Dan beliau ﷺ juga melantunkan pada kesempatan lain:
لا هم إن العيش عيش الآخرة … فارحم الأنصار والمهاجره وليس البيت الثانى موزونا وفي الصحيحين أيضا أنه قال في حفر الخندق بلفظ فبارك في الأنصار والمهاجره وفي رواية فاغفر وفي رواية لمسلم فأكرم ولهما من حديث سهل بن سعد فاغفر للمهاجرين والأنصار
'Ya Allah, sesungguhnya kehidupan sejati adalah kehidupan akhirat… maka rahmati-lah kaum Anshar dan Muhajirin.' Dan bait kedua ini tidak berwazan secara puitis. Dalam Ash-Shahihain juga diriwayatkan bahwa beliau bersabda saat penggalian parit (Khandaq) dengan lafaz: 'Maka berkahilah kaum Anshar dan Muhajirin'. Dalam satu riwayat: 'Maka ampunilah', dan dalam riwayat Muslim: 'Maka muliakanlah'. Serta dalam riwayat keduanya dari hadis Sahl bin Sa'd: 'Maka ampunilah bagi kaum Muhajirin dan Anshar.'
وهذه في الصحيحين
Dan riwayat-riwayat ini terdapat dalam Ash-Shahihain.
وكان النبي ﷺ يضع لحسان منبراً في المسجد يقوم عليه قائماً يفاخر عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ أو ينافح ويقول رسول الله ﷺ أن الله يؤيد حسان بروح القدس ما نافح أو فاخر عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ
Nabi ﷺ pernah menyediakan mimbar bagi Hassan (bin Tsabit) di dalam masjid, agar ia berdiri di atasnya untuk membanggakan (kemuliaan) Rasulullah ﷺ atau membela beliau. Dan Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Allah menguatkan Hassan dengan Ruhul Kudus (Malaikat Jibril) selama ia membela atau membanggakan Rasulullah ﷺ."
ولما أنشده النابغة شعره قال له ﷺ لا يفضض الله فاك
Ketika An-Nabighah melantunkan syairnya di hadapan Nabi ﷺ, beliau bersabda kepadanya, "Semoga Allah tidak memecahkan gigi-gigi mulutmu."
وقالت عائشة ﵂ كان أصحاب رسول الله ﷺ يتناشدون عنده الأشعار وهو يتبسم
Aisyah radhiyallahu 'anha berkata, "Para sahabat Rasulullah ﷺ saling melantunkan syair di hadapan beliau, sementara beliau tersenyum."
وعن عمرو بن الشريد عن أبيه قال أنشدت رسول الله ﷺ مائة قافية من قول أمية بن أبي الصلت كل ذلك يقول هيه هيه ﴿ثم قال﴾ إن كاد في شعره ليسلم
Dari 'Amr bin Asy-Syarid, dari ayahnya, ia berkata: Aku membacakan kepada Rasulullah ﷺ seratus bait berima dari syair Umayyah bin Abi Ash-Shalt. Setiap kali selesai satu bait, beliau bersabda, "Teruskan, teruskan!" Kemudian beliau bersabda, "Hampir saja ia masuk Islam melalui syairnya."
وعن أنس ﵁ أن النبي ﷺ كان يحدى له في السفر
Dari Anas radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ pernah dinyanyikan huda' (lagu penggiring unta) ketika dalam perjalanan.
وإن أنجشة كان يحدو بالنساء والبراء بن مالك كان يحدو بالرجال فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يا أنجشة رويدك سوقك بالقوارير
Anjasyah dahulu melantunkan huda' untuk menggiring rombongan wanita, sedangkan Al-Bara' bin Malik melantunkan huda' untuk rombongan laki-laki. Maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Wahai Anjasyah, pelan-pelanlah! Berhati-hatilah saat menggiring kaca-kaca yang rapuh (para wanita)."
ولم يزل الحداء وراه الجمال من عادة العرب فِي زَمَانِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وزمان الصحابة ﵃ وما هو إلا أشعار تؤدى بأصوات طيبة وألحان موزونة ولم ينقل عن أحد من الصحابة إنكاره بل ربما كانوا يلتمسون
Tradisi huda' (lantunan lagu penggiring unta) dan penggiringan unta senantiasa menjadi kebiasaan bangsa Arab pada zaman Rasulullah ﷺ dan zaman para sahabat radhiyallahu 'anhum. Hal itu tidak lain hanyalah bait-bait syair yang dibawakan dengan suara yang merdu serta irama yang teratur. Tidak diriwayatkan dari seorang pun sahabat bahwa mereka mengingkarinya, bahkan terkadang mereka sengaja mencarinya,
ذلك تارة لتحريك الجمال وتارة للاستلذاذ
hal itu terkadang untuk memacu jalannya unta dan terkadang untuk menikmati keindahannya.
فلا يجوز أن يحرم من حيث إنه كلام مفهوم مستلذ مؤدى بأصوات طيبة وألحان موزونة
Maka tidak boleh mengharamkannya ditinjau dari kedudukannya sebagai perkataan yang dapat dipahami, menyenangkan, serta dibawakan dengan suara yang merdu dan irama yang teratur.
الدرجة الرابعة النظر فيه من حيث أنه محرك للقلب ومهيج لما هو الغالب عليه
Tingkatan keempat: Meninjau pendengaran (sama') dari sudut pandang bahwa ia adalah penggerak hati dan pembangkit bagi perasaan yang mendominasi padanya.
فأقول لله تعالى سر في مناسبة النغمات الموزونة للأرواح حتى إنها لتؤثر فيها تأثيراً عجيباً
Maka aku katakan: Bagi Allah Ta'ala terdapat rahasia dalam keselarasan nada-nada yang teratur dengan ruh-ruh manusia, hingga nada-nada itu memberikan pengaruh yang menakjubkan padanya.
فمن الأصوات ما يفرح ومنها ما يحزن ومنها ما ينوم ومنها ما يضحك ويطرب ومنها ما يستخرج من الأعضاء حركات على وزنها باليد والرجل والرأس
Di antara suara-suara itu ada yang mengembirakan, ada yang menyedihkan, ada yang menidurkan, ada yang membuat tertawa dan terbuai, serta ada yang menggerakkan anggota tubuh sesuai iramanya, baik tangan, kaki, maupun kepala.
ولا ينبغي أن يظن أن ذلك لفهم معاني الشعر بل جار في الأوتار حتى قيل من لم يحركه الربيع وأزهاره والعود وأوتاره فهو فاسد المزاج ليس له علاج
Dan tidak sepatutnya dikira bahwa hal itu disebabkan oleh pemahaman atas makna-makna syair semata, melainkan berlaku pula pada dawai-dawai (alat musik). Hingga dikatakan: "Barang siapa yang tidak tergerak (perasaannya) oleh musim semi dan bunganya, serta oleh lute ('ud) dan senarnya, maka temperamen jiwanya telah rusak dan tidak ada obat baginya."
وكيف يكون ذلك لفهم المعنى وتأثيره مشاهد في الصبي في مهده فإنه يسكنه الصوت الطيب عن بكائه وتنصرف نفسه عما يبكيه إلى الإصغاء إليه
Bagaimana mungkin hal itu hanya karena memahami makna, padahal pengaruhnya dapat disaksikan pada bayi di dalam buaiannya? Sesungguhnya suara yang merdu dapat menenangkan tangisnya dan memalingkan jiwanya dari hal yang membuatnya menangis untuk mendengarkan suara itu.
والجمل مع بلادة طبعه يتأثر بالحداء تأثراً يستخف معه الأحمال الثقيلة
Begitu pula unta, meskipun wataknya bebal, ia terpengaruh oleh alunan huda' dengan pengaruh yang membuatnya merasa ringan menanggung beban-beban yang berat,
ويستقصر لقوة نشاطه في سماعه المسافات الطويلة وينبعث فيه من النشاط ما يسكره ويولهه فتراها إذا طالت عليها البوادي واعتراها الإعياء والكلال تحت المحامل والأحمال إذا سمعت منادي الحداء تمد أعناقها وتصغي إلى الحادي ناصية آذانها وتسرع في سيرها حتى تتزعزع عليها أحمالها ومحاملها وربما تتلف أنفسها من شدة السير وثقل الحمل وهي لا تشعر به لنشاطها
serta menganggap pendek jarak-jarak perjalanan yang jauh karena kuatnya semangat yang timbul saat mendengarnya. Membumbunglah pada dirinya semangat yang membuatnya bagai mabuk dan terpesona. Maka engkau akan melihat unta-unta itu, apabila perjalanan padang pasir terasa panjang baginya dan ia ditimpa kelelahan serta kepayahan di bawah beban dan muatan, begitu mendengar suara pemanggil huda', mereka menegakkan lehernya, mengarahkan telinganya untuk menyimak sang penyanyi huda', dan mempercepat langkahnya hingga beban dan muatannya bergoyang-goyang di atas punggungnya. Bahkan terkadang unta-unta itu binasa karena terlalu cepat berjalan dan beratnya beban, sedang ia tidak merasakannya karena terbuai oleh semangatnya.
فقد حكى أبو بكر محمد بن داود الدينوري المعروف بالرقى ﵁ قال كنت بالبادية فوافيت قبيلة من قبائل العرب فأضافني رجل منهم وأدخلني خباءه فرأيت في الخباء عبداً أسود مقيداً بقيد ورأيت جمالاً قد ماتت بين يدي البيت وقد بقي منها جمل وهو ناحل ذابل كأنه ينزع روحه فقال لي الغلام أنت ضيف ولك حق فتشفع في إلى مولاي فإنه مكرم لضيفه فلا يرد شفاعتك في هذا القدر فعساه يحل القيد عني قال
Diriwayatkan dari Abu Bakr Muhammad bin Daud Ad-Dinawari yang dikenal dengan Ar-Raqqi radhiyallahu 'anhu, ia bercerita: Aku pernah berada di padang pasir lalu mendatangi salah satu suku Arab. Seorang pria di antara mereka memuliakanku sebagai tamu dan memasukkanku ke dalam kemahnya. Di dalam kemah itu aku melihat seorang budak hitam yang terikat belenggu, dan aku melihat unta-unta telah mati di depan rumah, serta hanya tersisa satu unta yang tampak sangat kurus dan layu seolah-olah hampir dicabut nyawanya. Pemuda budak itu berkata kepadaku, "Engkau adalah seorang tamu dan memiliki hak (kehormatan), maka berilah syafaat (bantuan permohonan) untukku kepada tuanku, karena sesungguhnya ia sangat memuliakan tamunya dan tidak akan menolak permohonanmu dalam perkara sekecil ini, semoga ia mau melepaskan belenggu ini dariku." Ia melanjutkan menceritakan:
فلما أحضروا الطعام امتنعت وقلت لا آكل ما لم أشفع في هذا العبد فقال إن هذا العبد قد أفقرني وأهلك جميع مالي فقلت
Maka ketika mereka menghidangkan makanan, aku menolaknya dan berkata, "Aku tidak akan makan sebelum aku memberi syafaat (memohonkan ampun) untuk budak ini." Tuan rumah itu berkata, "Sesungguhnya budak ini telah membuatkanku miskin dan menghancurkan seluruh hartaku." Maka aku bertanya,
ماذا فعل فقال
"Apa yang telah ia perbuat?" Ia menjawab,
إن له صوتاً طيباً وإني كنت أعيش من ظهور هذه الجمال فحملها أحمالاً ثقالاً وكان يحدو بها حتى قطعت مسيرة ثلاثة أيام في ليلة واحدة من طيب نغمته فلما حطت أحمالها ماتت كلها إلا هذا الجمل الواحد ولكن أنت ضيفي فلكرامتك قد وهبته لك قال فأحببت أن أسمع صوته فلما أصبحنا أمره أن يحدو على جمل يستقى الماء من بئر هناك فلما رفع صوته هام ذلك الجمل وقطع حباله ووقعت أنا على وجهي فما أظن أني سمعت قط صوتاً أطيب منه
"Sesungguhnya ia memiliki suara yang sangat merdu, dan aku menggantungkan penghidupanku dari hasil unta-unta ini. Suatu ketika ia memuatkan beban-beban berat pada unta-unta itu, lalu melantunkan huda' kepadanya hingga unta-unta itu menempuh perjalanan tiga hari hanya dalam satu malam karena keindahan nadanya. Ketika beban-bebannya diturunkan, seluruh unta itu mati kecuali satu unta ini. Namun engkau adalah tamuku, maka demi menghormatimu, aku hadiahkan budak ini kepadamu." Ar-Raqqi berkata: Maka aku ingin mendengar suaranya. Ketika pagi tiba, tuannya menyuruh budak itu melantunkan huda' kepada seekor unta yang sedang menarik air dari sumur di sana. Ketika budak itu mengumandangkan suaranya, unta itu menjadi kebingungan terpesona dan memutuskan tali-talinya, sementara aku sendiri jatuh tersungkur pada wajahku. Dan aku tidak mengira bahwa aku pernah mendengar suara yang lebih merdu daripada suaranya.
فإذن تأثير السماع في القلب محسوس
Maka dengan demikian, pengaruh sama' (mendengarkan alunan lagu/musik) terhadap hati dapat dirasakan secara nyata.
ومن لم يحركه السماع فهو ناقص مائل عن الاعتدال بعيد عن الروحانية زائد في غلظ الطبع وكثافته على الجمال والطيور بل على جميع البهائم فإن جميعها تتأثر بالنغمات الموزونة
Barang siapa yang tidak tergerak oleh sama', maka ia adalah orang yang kurang (jiwanya), menyimpang dari keseimbangan, jauh dari kerohanian, serta melebihi unta, burung-burung, bahkan seluruh binatang ternak dalam hal kekasaran dan ketebalan wataknya; sebab seluruh makhluk tersebut dapat terpengaruh oleh nada-nada yang berirama.
ولذلك كانت الطيور تقف على رأس داود ﵇ لاستماع صوته
Oleh karena itulah, burung-burung hinggap dan berhenti di atas kepala Nabi Daud 'alaihissalam untuk mendengarkan keindahan suaranya.
ومهما كان النظر في السماع باعتبار تأثيره في القلب لم يجز أن يحكم فيه مطلقاً بإباحة ولا تحريم بل يختلف ذلك بالأحوال والأشخاص واختلاف طرق النغمات فحكمه حكم ما في القلب
Selama peninjauan terhadap sama' didasarkan pada pengaruhnya di dalam hati, maka tidak boleh hukumnya diputuskan secara mutlak, baik kebolehannya (mubah) maupun keharamannya. Sebaliknya, hukum tersebut berbeda-beda sesuai dengan kondisi-kondisi spiritual, personalitas individu, serta keragaman metode alunan nadanya. Dengan demikian, hukum sama' mengikuti hukum dari apa yang bersemayam di dalam hati.
قال أبو سليمان السماع لا يجعل في القلب ما ليس فيه ولكن يحرك ما هو فيه فالترنم بالكلمات المسجعة الموزونة معتاد في مواضع لأغراض مخصوصة ترتبط بها آثار في القلب وهي سبعة مواضع
Abu Sulaiman berkata, 'Sama' tidak menanamkan sesuatu yang tidak ada di dalam hati, melainkan menggerakkan apa yang sudah ada di dalamnya.' Maka, mendendangkan kalimat-kalimat bersajak dan berirama merupakan hal yang lazim dilakukan pada tempat-tempat tertentu untuk tujuan-tujuan khusus yang memiliki keterkaitan dengan bekas-bekasnya di dalam hati, dan itu ada tujuh keadaan:
الأول غناء الحجيج فإنهم أولاً يدورون في البلاد بالطبل والشاهين والغناء وذلك مباح لأنها أشعار نظمت في وصف الكعبة والمقام والحطيم وزمزم وسائر المشاعر ووصف البادية وغيرها وأثر ذلك يهيج الشوق إلى حج بيت الله تعالى واشتعال نيرانه إن كان ثم شوق حاصل أو استثارة الشوق واجتلابه إن لم يكن حاصلاً
Pertama, nyanyian para jamaah haji. Sesungguhnya mereka pada mulanya berkeliling di berbagai negeri dengan tabuhan gendang, seruling (syahin), dan nyanyian. Hal tersebut diperbolehkan (mubah) karena ia berupa bait-bait syair yang digubah untuk menggambarkan Ka'bah, Maqam Ibrahim, Hijir Ismail (Al-Hathim), telaga Zamzam, serta seluruh tempat syiar haji (masya'ir), beserta gambaran padang pasir dan selainnya. Pengaruh dari hal itu ialah menggelorakan kerinduan untuk menunaikan haji ke Baitullah Ta'ala serta menyalakan api kerinduan tersebut jika kerinduan itu telah ada, atau memantik dan menghadirkan kerinduan itu apabila belum ada.
وإذا كان الحج قربة والشوق إليه محموداً كان التشويق إليه بكل ما يشوق محموداً
Apabila ibadah haji merupakan sarana pendekatan diri kepada Allah (qurbah) dan kerinduan kepadanya adalah hal yang terpuji, maka memunculkan kerinduan kepadanya melalui segala sarana yang menggugah rasa rindu itu juga merupakan hal yang terpuji.
وكما يجوز للواعظ أن ينظم كلامه
Sebagaimana diperbolehkan bagi seorang penceramah (wa'iz) untuk menyusun rangkaian kata-katanya
في الوعظ ويزينه بالسجع ويشوق الناس إلى الحج بوصف البيت والمشاعر ووصف الثواب عليه جاز لغيره ذلك على نظم الشعر فإن الوزن إذا انضاف إلى السجع صار الكلام أوقع في القلب فإذا أضيف إليه صوت طيب ونغمات موزونة زاد وقعه فإن أضيف إليه الطبل والشاهين وحركات الإيقاع زاد التأثير
dalam nasihatnya, memperindahnya dengan sajak, dan menggugah rindu manusia untuk berhaji dengan menggambarkan Baitullah, tempat-tempat syiar haji, serta pahala atasnya, maka diperbolehkan pula bagi orang lain melakukan hal itu dalam bentuk gubahan syair. Sebab, apabila irama bersatu dengan sajak, perkataan itu menjadi lebih berkesan di dalam hati. Lalu jika ditambahkan padanya suara yang merdu dan nada-nada berirama, makin bertambahlah kesannya. Apabila ditambahkan lagi dengannya tabuhan gendang, seruling (syahin), dan gerakan ketukan nada, makin bertambahlah pengaruhnya.
وكل ذلك جائز ما لم يدخل فيه المزامير والأوتار التي هي من شعار الأشرار نعم إن قصد به تشويق من لا يجوز له الخروج إلى الحج كالذي أسقط الفرض عن نفسه ولم يأذن له أبواه في الخروج فهذا يحرم عليه الخروج
Semua hal itu hukumnya boleh selama tidak disusupi oleh seruling-seruling (mazamir) dan alat musik petik (awtar) yang menjadi simbol para pelaku kejahatan (asy-asyrar). Benar bahwa apabila dimaksudkan untuk membangkitkan rasa rindu pada orang yang tidak boleh berangkat haji—seperti orang yang telah gugur kewajiban hajinya tetapi kedua orang tuanya tidak mengizinkannya untuk berangkat—maka orang ini haram hukumnya untuk berangkat,
فيحرم تشويقه إلى الحج بالسماع بكل كلام يشوق إلى الخروج فإن التشويق إلى الحرام حرام
sehingga haram pula membangkitkan kerinduannya untuk berhaji melalui sama' dengan kata-kata apa pun yang mendorongnya untuk keluar (berangkat), sebab memunculkan kerinduan pada hal yang haram hukumnya adalah haram.
وكذلك إن كانت الطريق غير آمنة وكان الهلاك غالباً لم يجز تحريك القلوب ومعالجتها بالتشويق
Demikian pula jika jalannya tidak aman dan kebinasaan lebih dominan kemungkinannya, maka tidak boleh menggerakkan hati dan mengolahnya dengan dorongan rasa rindu.
الثاني ما يعتاده الغزاة لتحريض الناس على الغزو
Kedua, dendang yang biasa digunakan oleh para pejuang (tentara) untuk mengobarkan semangat manusia menuju perang (ghazw).
وذلك أيضاً مباح كما للحاج ولكن ينبغي أن تخالف أشعارهم وطرق ألحانهم أشعار الحاج وطرق ألحانهم لأن استثارة داعية الغزو بالتشجيع وتحريك الغيظ والغضب فيه على الكفار وتحسين الشجاعة واستحقار النفس والمال بالإضافة إليه بالأشعار المشجعة
Hal itu juga hukumnya boleh (mubah) sebagaimana bagi orang yang berhaji. Namun hendaknya syair-syair dan metode lantunan lagu mereka berbeda dari syair-syair dan metode lantunan lagu jamaah haji. Sebab membangkitkan dorongan perang dilakukan dengan mengobarkan keberanian, menyulut kemarahan terhadap orang-orang kafir, menumbuhkan sifat pemberani, serta memandang rendah jiwa dan harta demi membela agama melalui syair-syair yang membakar semangat.
مثل قول المتنبي
Seperti perkataan Al-Mutanabbi:
فإن لا تمت تحت السيوف مكرماً … تمت وتقاس الذل غير مكرم
'Jika engkau tidak mati di bawah tebasan pedang secara mulia… engkau pun akan mati dan menanggung kehinaan tanpa kemuliaan.'
وقوله أيضاً
Dan perkataannya pula:
يرى الجبناء أن الجبن حزم … وتلك خديعة الطبع اللئيم
'Para penakut menganggap kepengecutan sebagai sebuah ketegasan… padahal itu adalah tipu daya dari watak yang hina.'
وأمثال ذلك
Dan hal-hal yang serupa dengan itu.
وطرق الأوزان المشجعة تخالف الطرق المشوقة
Metode irama yang mengobarkan keberanian berbeda dengan metode yang memunculkan rasa rindu.
وهذا أيضاً مباح في وقت يباح فيه الغزو
Dan ini juga diperbolehkan pada waktu di mana berperang (ghazwu) diperbolehkan.
ومندوب إليه وقت يستحب فيه الغزو ولكن في حق من يجوز له الخروج إلى الغزو
Dan disunnahkan (dianjurkan) pada waktu yang dianjurkan untuk berperang, namun hal itu berlaku bagi orang yang boleh baginya keluar untuk berperang.
الثالث الرجزيات التي يستعملها الشجعان في وقت اللقاء والغرض منها التشجيع للنفس وللأنصار وتحريك النشاط فيهم للقتال وفيه التمدح بالشجاعة والنجدة وذلك إذا كان بلفظ رشيق وصوت طيب كان أوقع في النفس وذلك مباح في كل قتال مباح ومندوب في قتال مندوب ومحظور في قتال المسلمين وأهل الذمة
Ketiga: Syair-syair rajaz (lagu keberanian) yang digunakan oleh para pahlawan pemberani saat bertempur. Tujuannya adalah untuk membakar semangat diri sendiri dan para pendukung, serta membangkitkan gairah bertempur pada diri mereka. Di dalamnya terdapat pujian atas keberanian dan ketangguhan. Jika hal itu dilantunkan dengan lafaz yang indah dan suara yang merdu, maka akan lebih berkesan dalam jiwa. Hal tersebut diperbolehkan pada setiap peperangan yang mubah, disunnahkan pada peperangan yang disunnahkan, dan diharamkan pada peperangan melawan sesama kaum muslimin serta ahli dzimmah,
وكل قتال محظور لأن تحريك الدواعي إلى المحظور محظور
serta setiap peperangan yang diharamkan, karena membangkitkan dorongan-dorongan menuju hal yang dilarang adalah haram hukumnya.
وذلك منقول عن شجعان الصحابة ﵃ كعلي وخالد ﵄ وغيرهما
Hal tersebut diriwayatkan dari para sahabat yang pemberani—semoga Allah meredai mereka—seperti Ali dan Khalid—semoga Allah meredai keduanya—serta sahabat-sahabat lainnya.
ولذلك نقول ينبغي أن يمنع من الضرب بالشاهين في معسكر الغزاة فإن صوته مرقق محزن يحلل عقدة الشجاعة ويضعف صرامة النفس ويشوق إلى الأهل والوطن ويورث الفتور في القتال وكذا سائر الأصوات والألحان المرققة للقلب فالألحان المرققة المحزنة تباين الألحان المحركة المشجعة فمن فعل ذلك على قصد تغيير القلوب وتفتير الآراء عن القتال الواجب فهو عاص ومن فعله على قصد التفتير عن القتال المحظور فهو بذلك مطيع
Oleh karena itu, kami berpendapat bahwa hendaknya dilarang memainkan syahin (sejenis tiupan yang mendayu) di markas para pejuang, karena suaranya mendayu-dayu dan menyedihkan, yang dapat mengurai tekad keberanian, melemahkan keteguhan jiwa, menimbulkan kerinduan kepada keluarga dan tanah air, serta mewariskan kelemahan dalam pertempuran. Demikian pula seluruh suara dan irama yang melembutkan hati (secara melankolis). Sebab irama yang melembutkan lagi menyedihkan bertolak belakang dengan irama yang mengobarkan semangat keberanian. Maka barang siapa yang melakukan hal tersebut dengan maksud mengubah hati dan melemahkan tekad dari perang yang wajib, maka dia bermaksiat; dan barang siapa yang melakukannya dengan maksud melemahkan semangat perang yang dilarang, maka dengan demikian dia tergolong taat.
الرابع أصوات النياحة ونغماتها وتأثيرها في تهييج الحزن والبكاء وملازمة الكآبة والحزن قسمان محمود ومذموم
Keempat: Suara-suara ratapan (niyahah), nada-nadanya, dan pengaruhnya dalam membangkitkan kesedihan dan tangisan serta melanggengkan rasa duka. Kesedihan itu sendiri terbagi menjadi dua jenis: terpuji dan tercela.
فأما المذموم فكالحزن على ما فات قال الله تعالى لكيلا تأسوا على ما فاتكم والحزن على الأموات من هذا القبيل فإنه تسخط لقضاء الله تعالى وتأسف على ما لا تدارك له
Adapun yang tercela adalah seperti berduka atas apa yang telah luput. Allah Ta'ala berfirman: "(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu." Dan kesedihan atas kematian seseorang termasuk dalam kategori ini, karena hal itu merupakan bentuk ketidaksenangan terhadap takdir (qada) Allah Ta'ala serta penyesalan atas sesuatu yang tidak dapat diperbaiki lagi.
فهذا الحزن لما كان مذموماً كان تحريكه بالنياحة مذموماً فلذلك ورد النهي الصريح عن النياحة
Maka kesedihan ini, karena sifatnya tercela, membangkitkannya dengan ratapan juga tergolong tercela. Oleh sebab itulah, terdapat larangan yang tegas terhadap ratapan.
وأما الحزن المحمود فهو حزن الإنسان على تقصيره في أمر دينه وبكاؤه على خطاياه
Adapun kesedihan yang terpuji adalah kesedihan seseorang atas kelalaiannya dalam urusan agamanya dan tangisannya atas dosa-dosanya.
والبكاء والتباكي
Dan menangis serta berupaya untuk menangis (tabaki),
والحزن والتحازن على ذلك محمود وعليه بكاء آدم ﵇
serta berduka dan memaksakan diri untuk berduka atas hal itu adalah terpuji. Atas dasar itulah terjadi tangisan Nabi Adam 'alaihissalam.
وتحريك هذا الحزن وتقويته محمود لأنه يبعث على التشمير للتدارك ولذلك كانت نياحة داود ﵇ محمودة إذ كان ذلك مع دوام الحزن وطول البكاء بسبب الخطايا والذنوب فقد كان ﵇ يبكي ويبكي ويحزن حتى كانت الجنائز ترفع من مجالس نياحته
Membangkitkan dan menguatkan kesedihan jenis ini adalah terpuji, karena hal itu mendorong seseorang untuk bersungguh-sungguh memperbaiki diri. Oleh karena itulah ratapan (tangisan penyesalan) Nabi Daud 'alaihissalam tergolong terpuji, karena hal itu disertai kesedihan yang terus-menerus dan tangisan yang panjang disebabkan kesalahan dan dosa-dosa. Sungguh beliau 'alaihissalam menangis dan terus menangis serta berduka hingga jenazah-jenazah diangkat dari majelis ratapannya.
وكان يفعل ذلك بألفاظه وألحانه وذلك محمود لأن المفضى إلى المحمود محمود
Beliau melakukan hal itu dengan lafaz-lafaz dan nada-nadanya. Hal tersebut tergolong terpuji, karena perantara yang membawa kepada hal yang terpuji hukumnya adalah terpuji.
وعلى هذا لا يحرم على الواعظ الطيب الصوت أن ينشد على المنبر بألحانه الأشعار المحزنة المرققة للقلب ولا أن يبكي ويتباكى ليتوصل به إلى تبكية غيره وإثارة حزنه
Berdasarkan hal ini, tidak diharamkan bagi seorang penceramah yang bersuara merdu untuk melantunkan di atas mimbar syair-syair yang menyedihkan lagi melembutkan hati dengan iramanya, tidak pula diharamkan baginya menangis dan berusaha menangis agar menjadi perantara untuk membuat orang lain menangis dan membangkitkan kesedihannya.
الخامس السماع في أوقات السرور تأكيدا للسرور وتهييجاً له وهو مباح إن كان ذلك السرور مباحاً كالغناء في أيام العيد وفي العرس وفي وقت قدوم الغائب وفي وقت الوليمة والعقيقة وعند ولادة المولود وعند ختانه وعند حفظه القرآن العزيز
Kelima: Mendengarkan nyanyian (sama') pada waktu-waktu kegembiraan untuk menguatkan rasa gembira dan membangkitkannya. Hal tersebut diperbolehkan apabila kegembiraan itu sendiri hukumnya mubah, seperti nyanyian pada hari raya, pada perayaan pernikahan (walimah), saat menyambut kedatangan orang yang lama bepergian, pada acara jamuan makan, akikah, saat kelahiran bayi, saat khitanan, dan saat seorang anak menghafal Al-Qur'an Al-Aziz.
وكل ذلك مباح لأجل إظهار السرور به
Semua itu diperbolehkan demi mengikrarkan dan menampakkan rasa gembira atasnya.
ووجه جوازه أن من الألحان ما يثير الفرح والسرور والطرب فكل ما جاز السرور به جاز إثاره السرور فيه
Alasan kebolehannya adalah bahwa di antara irama nyanyian ada yang membangkitkan rasa suka cita, kegembiraan, dan kebahagiaan. Maka setiap hal yang diperbolehkan untuk bergembira dengannya, boleh pula membangkitkan kegembiraan padanya.
ويدل على هذا من النقل إنشاد النساء على السطوح بالدف والألحان عند قدوم رسول الله ﷺ
Hal ini ditunjukkan pula oleh dalil riwayat (naql) tentang lantunan syair para wanita di atas atap-atap rumah dengan rebana dan irama saat menyambut kedatangan Rasulullah ﷺ:
طلع البدر علينا … من ثنيات الوداع
"Telah terbit bulan purnama atas kita … dari bukit Thaniyyatil Wada'"
وجب الشكر علينا … ما دعا لله داع
Dan wajiblah bersyukur atas kita … selama ada penyeru yang menyeru kepada Allah.
فهذا إظهار السرور لقدومه ﷺ وهو سرور محمود فإظهاره بالشعر والنغمات والرقص والحركات أيضاً محمود
Maka ini merupakan penampakan rasa gembira atas kedatangan Beliau ﷺ, dan itu adalah kegembiraan yang terpuji. Oleh karena itu, menampakkannya dengan bait syair, alunan nada, tarian, serta gerakan-gerakan tubuh juga merupakan hal yang terpuji.
فقد نقل عن جماعة من الصحابة ﵃ أنهم حجلوا في سرور أصابهم
Sungguh telah diriwayatkan dari sekelompok Sahabat radhiyallahu 'anhum bahwasanya mereka melonjak-lonjak gembira (dengan melompat satu kaki) karena kegembiraan yang meliputi mereka,
كما سيأتي في أحكام الرقص وهو جائز في قدوم كل قادم يجوز الفرح به وفي كل سبب مباح من أسباب السرور
sebagaimana akan dijelaskan nanti dalam hukum-hukum tarian. Hal itu diperbolehkan pada saat menyambut kedatangan setiap orang yang boleh disambut dengan kegembiraan, serta dalam setiap sebab yang dimubahkan dari sebab-sebab kebahagiaan.
ويدل على هذا ما روي في الصحيحين عن عائشة ﵂ أنها قالت لقد رأيت النبي ﷺ يسترني بردائه وأنا أنظر إلى الحبشة يلعبون في المسجد حتى أكون أنا الذي أسأمه
Hal ini ditunjukkan oleh riwayat yang terdapat dalam As-Shahihain (Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim) dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, beliau berkata: "Sungguh aku melihat Nabi ﷺ menutupiku dengan selendang Beliau sementara aku melihat orang-orang Habasyah bermain (atraksi) di masjid, hingga akulah yang merasa bosan sendiri (lalu berpaling)."
فاقدروا قدر الجارية الحديثة السن الحريصة على اللهو إشارة إلى طول مدة وقوفها
"Maka permaklumkanlah kadar keinginan seorang gadis muda yang amat menggemari hiburan"—sebagai isyarat akan lamanya durasi berdirinya beliau.
وروى البخاري ومسلم أيضاً في صحيحيهما حديث عقيل عن الزهري عن عروة عن عائشة ﵂ أن أبا بكر ﵁ دخل عليها وعندها جاريتان في أيام منى تدففان وتضربان والنبي ﷺ متغش بثوبه فانتهرهما أبو بكر ﵁ فكشف النبي ﷺ عن وجهه وقال دعهما يا أبا بكر فإنها أيام عيد وقالت عائشة ﵂ رأيت ﷺ يسترني بردائه وأنا أنظر إلى الحبشة وهم يلعبون في المسجد فزجرهم عمر ﵁ فقال النبي ﷺ أمنا يا بني أرفدة
Al-Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan dalam kitab Shahih keduanya, hadits 'Uqail dari Az-Zuhri dari 'Urwah dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, bahwasanya Abu Bakar radhiyallahu 'anhu masuk menemuinya ketika di sisinya ada dua orang gadis kecil pada hari-hari Mina yang sedang memainkan rebana dan memukulnya, sementara Nabi ﷺ berselimut dengan pakaiannya. Maka Abu Bakar radhiyallahu 'anhu menegur keduanya, lalu Nabi ﷺ menyingkap kain dari wajahnya seraya bersabda: "Biarkanlah mereka berdua wahai Abu Bakar, karena sesungguhnya ini adalah hari-hari raya." Dan 'Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: "Aku melihat Beliau ﷺ menutupiku dengan selendangnya sedangkan aku melihat orang-orang Habasyah yang sedang bermain di masjid, lalu Umar radhiyallahu 'anhu menghardik mereka. Maka Nabi ﷺ bersabda: '(Tetaplah dalam) rasa aman, wahai Bani Arfidah.'"
يعني من الأمن ومن حديث عمرو بن الحرث عن ابن شهاب نحوه وفيه تغنيان وتضربان
Maksudnya (perkataan amnan) berakar dari kata keamanan. Dan dari hadits 'Amr bin Al-Harits dari Ibn Syihab yang serupa dengannya, tercantum di dalamnya redaksi: "keduanya bernyanyi dan memukul (rebana)".
وفي حديث أبي طاهر
Dan dalam hadits Abu Thahir,
عن ابن وهب والله لقد رأيت رسول الله ﷺ يقوم على باب حجرتي والحبشة يلعبون بحرابهم في مسجد رَسُولَ اللَّهِ ﷺ وَهُوَ يسترني بثوبه أو بردائه لكي أنظر إلى لعبهم ثم يقوم من أجلي حتى أكون أنا الذي أنصرف
dari Ibn Wahb: "Demi Allah, sungguh aku telah melihat Rasulullah ﷺ berdiri di pintu kamarku sedangkan orang-orang Habasyah bermain dengan tombak-tombak mereka di masjid Rasulullah ﷺ, dan Beliau menutupiku dengan pakaiannya atau selendangnya agar aku bisa melihat permainan mereka. Kemudian Beliau tetap berdiri demi diriku hingga akulah yang memutuskan untuk pergi."
وروى عن عائشة ﵂ قالت كنت ألعب بالبنات عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ قالت وكان يأتيني صواحب لي فكن يتقنعن من رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَكَانَ رسول الله ﷺ يسر لمجيئهن إلي فيلعبن معي
Diriwayatkan pula dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, beliau berkata: "Aku pernah bermain boneka di sisi Rasulullah ﷺ." Beliau berkata: "Teman-teman sebayaku biasa datang menemuiku, lalu mereka merasa malu/bersembunyi karena keberadaan Rasulullah ﷺ, namun Rasulullah ﷺ justru merasa senang dengan kedatangan mereka kepadaku sehingga mereka bisa bermain bersamaku."
وفي رواية أن النبي ﷺ قال لها يوماً ما هذا قالت بناتي قال فما هذا الذي أرى في وسطهن قالت فرس قال ما هذا الذي عليه قالت جناحان قال فرس له جناحان قالت أو ما سمعت أنه كان لسليمان بن داود ﵇ خيل لها أجنحة قالت فضحك رَسُولِ اللَّهِ ﷺ حَتَّى بدت نواجذه والحديث محمول عندنا على عادة الصبيان في اتخاذ الصورة من الخزف والرقاع من غير تكميل صورته بدليل ما روى في بعض الروايات أن الفرس كان له جناحان من رقاع
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Nabi ﷺ pada suatu hari bertanya kepadanya: "Apakah ini?" Ia menjawab: "Boneka-boneka anak perempuanku." Beliau bertanya: "Lalu apa yang aku lihat di tengah-tengahnya ini?" Ia menjawab: "Kuda." Beliau bertanya: "Apa ini yang ada padanya?" Ia menjawab: "Dua sayap." Beliau bersabda: "Kuda mempunyai dua sayap?" Ia menjawab: "Tidakkah engkau pernah mendengar bahwa Sulaiman bin Daud 'alaihissalam memiliki kuda-kuda yang bersayap?" Beliau berkata: Maka Rasulullah ﷺ tertawa hingga tampak gigi geraham Beliau. Hadits ini menurut kami dipahami atas kebiasaan anak-anak dalam membuat bentuk permainan dari tembikar dan perca kain tanpa menyempurnakan bentuk fisiknya, dengan dalil apa yang diriwayatkan dalam sebagian riwayat bahwa kuda tersebut memiliki dua sayap dari perca kain.
وقالت عائشة ﵂ دخل عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وعندي جاريتان تغنيان بغناء بعاث فاضطجع على الفراش وحول وجهه فدخل أبو بكر ﵁ فانتهرنى وقال مزمار الشيطان عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فأقبل عليه رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وَقَالَ دعهما فلما غفل غمزتهما فخرجتا
Dan 'Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: "Rasulullah ﷺ masuk menemuiku sedangkan di sisiku ada dua orang gadis yang menyanyikan lagu tentang perang Bu'ats. Maka Beliau berbaring di atas tempat tidur dan memalingkan wajahnya. Lalu Abu Bakar radhiyallahu 'anhu masuk dan menegurku seraya berkata: 'Seruling setan ada di sisi Rasulullah ﷺ?' Maka Rasulullah ﷺ menghadap kepadanya dan bersabda: 'Biarkanlah keduanya.' Ketika Abu Bakar lengah, aku memberi isyarat mata kepada kedua gadis itu lalu mereka berdua keluar."
وكان يوم عيد يلعب فيه السودان بالدرق والحراب فإما سألت رسول الله ﷺ وأما قال تشتهين تنظرين فقلت نعم فأقامني وراءه وخدي على خده ويقول دونكم يا بني أرفدة حتى إذا مللت قال حسبك قلت نعم قال فاذهبي وفي صحيح مسلم فوضعت رأسي على منكبه فجعلت أنظر إلى لعبهم حتى كنت أنا الذي انصرفت
Hari itu adalah hari raya di mana orang-orang berkulit hitam bermain dengan perisai dan tombak. Baik karena aku yang meminta kepada Rasulullah ﷺ ataupun Beliau yang bertanya: "Apakah engkau ingin melihatnya?" Maka aku menjawab: "Ya." Lalu Beliau mendudukkanku di belakang Beliau dengan pipiku menempel pada pipi Beliau seraya bersabda: "(Teruskanlah) wahai Bani Arfidah!" Hingga ketika aku merasa puas, Beliau bertanya: "Sudah cukup?" Aku menjawab: "Ya." Beliau bersabda: "Jika demikian, pergilah." Dan dalam Shahih Muslim: "Maka aku meletakkan kepalaku di atas bahu Beliau lalu aku memandang permainan mereka hingga akulah yang memutuskan untuk pergi."
فهذه الأحاديث كلها في الصحيحين وهو نص صريح في أن الغناء واللعب ليس بحرام
Maka hadits-hadits ini seluruhnya terdapat dalam As-Shahihain, dan ini merupakan nash (teks hukum) yang tegas bahwasanya nyanyian dan permainan itu tidaklah haram.
وفيها دلالة على أنواع من الرخص
Di dalamnya terdapat petunjuk atas berbagai bentuk keringanan (rukhsah):
الأول اللعب ولا يخفى عادة الحبشة في الرقص واللعب
Pertama: Permainan, dan tidak tersembunyi lagi kebiasaan orang-orang Habasyah dalam menari dan bermain.
والثاني فعل ذلك في المسجد
Kedua: Melakukan hal tersebut di dalam masjid.
والثالث قوله ﷺ دونكم يا بني أرفدة وهذا أمر باللعب والتماس له فكيف يقدر كونه حراماً
Ketiga: Sabda Beliau ﷺ: "(Teruskanlah) wahai Bani Arfidah!", dan ini merupakan perintah untuk bermain serta anjuran padanya. Maka bagaimana mungkin hal itu dianggap sebagai sesuatu yang haram?
والرابع منعه لأبي بكر وعمر ﵄ عن الإنكار والتغيير وتعليله بأنه يوم عيد أي هو وقت سرور وهذا من أسباب السرور
Keempat: Larangan Beliau terhadap Abu Bakar dan Umar radhiyallahu 'anhuma untuk mengingkari dan mengubahnya, serta alasan Beliau bahwa hari itu adalah hari raya, yaitu waktu untuk bersuka cita, dan hal ini termasuk dari sebab-sebab kegembiraan.
والخامس وقوفه طويلاً في مشاهدة ذلك وسماعه لموافقة عائشة ﵂
Kelima, berdirinya Beliau ﷺ dalam waktu yang lama saat menyaksikan dan mendengarkannya demi menuruti keinginan 'Aisyah radhiyallahu 'anha.
وفيه دليل على أن حسن الخلق في تطييب قلوب النساء والصبيان بمشاهدة اللعب أحسن من خشونة الزهد والتقشف في الامتناع والمنع منه
Dalam hal ini terdapat dalil bahwa akhlak yang baik dalam menyenangkan hati para wanita dan anak-anak dengan menyaksikan permainan itu lebih utama daripada kerasnya sikap zuhud dan kaku dalam menolak serta melarangnya.
والسادس قوله ﷺ ابتداء لعائشة أتشتهين أن تنظري ولم يكن ذلك عن اضطرار إلى مساعدة الأهل خوفا من غضب أو وحشة فإن الإلتماس إذا سبق ربما كان الرد سبب وحشة وهو محذور فيقدم محذور على محذور
Keenam, sabda Beliau ﷺ yang memulai tawaran kepada 'Aisyah: "Apakah engkau ingin melihatnya?" Perkataan ini bukan berasal dari keterpaksaan untuk menuruti istri karena takut akan kemarahan atau kerenggangan. Sebab jika permohonan telah mendahului, terkadang penolakan menjadi penyebab kerenggangan yang mana hal itu dihindari, sehingga satu hal yang dihindari didahulukan atas hal yang dihindari lainnya.
فأما ابتداء السؤال فلا حاجة فيه
Adapun memulai tawaran pertanyaan, maka tidak ada faktor keterpaksaan di dalamnya.
والسابع الرخصة في الغناء والضرب بالدف من الجاريتين مع أنه شبه ذلك بمزمار الشيطان وفيه بيان أن المزمار المحرم غير ذلك
Ketujuh, adanya keringanan (rukhshah) dalam bernyanyi dan memukul rebana dari dua anak perempuan kecil, padahal Beliau menyerupakan hal itu dengan seruling setan. Di dalamnya terdapat penjelasan bahwa seruling yang diharamkan adalah selain dari itu.
والثامن أن رسول الله ﷺ كان يقرع سمعه صوت الجاريتين وهو مضطجع ولو كان يضرب بالأوتار في موضع لما جوز الجلوس ثم لقرع صوت الأوتار سمعه
Kedelapan, bahwasanya Rasulullah ﷺ mendengarkan suara kedua budak perempuan tersebut dalam keadaan Beliau berbaring. Seandainya di tempat itu dimainkan alat musik bertali (seperti kecapi), niscaya Beliau tidak akan membolehkan duduk di sana dan pendengarannya tidak akan membiarkan suara alat musik bertali itu terdengar.
فيدل هذا على أن صوت النساء غير محرم تحريم صوت المزامير بل إنما يحرم عند خوف الفتنة
Maka hal ini menunjukkan bahwa suara wanita tidak diharamkan sebagaimana diharamkannya suara seruling, melainkan hanyalah diharamkan ketika dikhawatirkan timbulnya fitnah.
فهذه المقاييس والنصوص تدل على إباحة الغناء والرقص والضرب بالدف واللعب بالدرق والحراب والنظر إلى رقص الحبشة والزنوج في أوقات السرور كلها قياساً على يوم العيد فإنه وقت سرور وفي معناه يوم العرس والوليمة والعقيقة والختان ويوم القدوم من السفر وسائر أسباب الفرح وهو كل ما يجوز به الفرح شرعاً ويجوز الفرح بزيارة الإخوان ولقائهم واجتماعهم في موضع واحد على طعام أو كلام فهو أيضاً مظنة السماع
Maka kias-kias dan nas-nas ini menunjukkan atas kebolehan nyanyian, tarian, pemukulan rebana, permainan perisai dan tombak, serta melihat tarian orang-orang Habasyah dan Zanj pada seluruh waktu kegembiraan, dianalogikan dengan hari raya karena ia merupakan waktu kegembiraan. Dan sepadan dengannya adalah hari pernikahan, walimah, akikah, khitanan, hari kepulangan dari bepergian (safar), dan seluruh sebab kebahagiaan yang dibolehkan bersukacita dengannya secara syariat. Dibolehkan pula bergembira dengan mengunjungi saudara-saudara, bertemu mereka, dan berkumpulnya mereka di satu tempat untuk menyantap makanan atau berbincang-bincang, yang mana itu juga merupakan kondisi yang memungkinkan bagi pendengaran nyanyian (Sama').
السادس سماع العشاق تحريكا للشوق وتهييجاً للعشق وتسلية للنفس
Keenam, pendengaran nyanyian (Sama') para pencinta untuk menggerakkan rasa rindu, membangkitkan gelora cinta ('isyq), dan menghibur jiwa.
فإن كان في مشاهدة المعشوق فالغرض تأكيد اللذة وإن كان مع المفارقة فالغرض تهييج الشوق
Jika hal itu dilakukan saat memandang sang kekasih, maka tujuannya adalah menegaskan kenikmatan. Namun jika dilakukan saat berpisah, maka tujuannya adalah membangkitkan rasa rindu.
والشوق وإن كان ألما ففيه نوع لذة إذا انضاف إليه رجاء الوصال فإن الرجاء لذيذ واليأس مؤلم وقوة لذة الرجاء بحسب قوة الشوق والحب للشيء المرجو
Dan kerinduan itu, meskipun merupakan suatu kepedihan, di dalamnya terdapat sejenis kenikmatan apabila disertai dengan harapan akan pertemuan (wushal). Sebab harapan itu nikmat sedangkan keputusasaan itu menyakitkan, dan besarnya kenikmatan harapan itu sesuai dengan besarnya kerinduan dan kecintaan pada sesuatu yang diharapkan tersebut.
ففي هذا السماع تهييج العشق وتحريك الشوق وتحصيل لذة الرجاء المقدر في الوصال مع الإطناب في وصف حسن المحبوب
Maka dalam pendengaran nyanyian jenis ini terdapat kebangkitan gelora cinta, penggerak kerinduan, serta pencapaian kenikmatan harapan yang diperkirakan dalam pertemuan, disertai dengan penguraian panjang lebar mengenai keindahan sang kekasih.
وهذا حلال إن كان المشتاق إليه ممن يباح وصاله كمن يعشق زوجته أو سريته فيصغي إلى غنائها لتضاعف لذته في لقائها
Dan hal ini hukumnya halal apabila sosok yang dirindukan adalah orang yang dibolehkan untuk ditemui (wushal), seperti seseorang yang mencintai istrinya atau budak wanitanya, lalu ia mendengarkan nyanyiannya agar kenikmatannya berlipat ganda saat bertemu dengannya.
فيحظى بالمشاهدة البصر وبالسماع الأذن ويفهم لطائف معاني الوصال والفراق القلب فتترادف أسباب اللذة فهذه أنواع تمتع من جملة مباحات الدنيا ومتاعها وما الحياة الدنيا إلا لهو ولعب وهذا منه
Sehingga mata mendapatkan bagian dengan memandang, telinga dengan mendengarkan, dan hati memahami kelembutan makna-makna pertemuan serta perpisahan, maka beruntunlah sebab-sebab kenikmatan. Ini merupakan bentuk-bentuk kesenangan dari bagian kebolehan duniawi serta perhiasannya, dan tidaklah kehidupan dunia melainkan senda gurau dan permainan, dan hal ini termasuk di dalamnya.
وكذلك إن غضبت منه جارية أو حيل بينه وبينها بسبب من الأسباب فله أن يحرك بالسماع شوقه وأن يستثير به لذة رجاء الوصال فإن باعها أو طلقها حرم عليه ذلك بعده
Demikian pula jika seorang budak wanita marah kepadanya atau terhalang antara dirinya dan wanita itu karena suatu sebab, maka ia boleh menggerakkan kerinduannya melalui pendengaran nyanyian dan membangkitkan kenikmatan harapan pertemuan darinya. Namun jika ia telah menjualnya atau menalaknya, maka hal itu diharamkan baginya setelahnya.
إذ لا يجوز تحريك الشوق حيث لا يجوز تحقيقه بالوصال واللقاء
Sebab tidak boleh membangkitkan kerinduan pada kondisi di mana kerinduan tersebut tidak boleh diwujudkan dengan perjumpaan dan pertemuan.
وأما من يتمثل في نفسه صورة صبي أو امرأة لا يحل له النظر إليها وكان ينزل ما يسمع على ما تمثل في نفسه فهذا حرام لأنه محرك للفكر في الأفعال المحظورة ومهيج للداعية إلى ما لا يباح الوصول إليه
Adapun orang yang membayangkan dalam dirinya sosok seorang pemuda atau wanita yang tidak halal baginya untuk dipandang, lalu ia menerapkan apa yang ia dengar pada bayangan dalam jiwanya tersebut, maka hal ini hukumnya haram, karena ia menggerakkan pikiran pada perbuatan-perbuatan yang dilarang serta membangkitkan dorongan pada apa yang tidak boleh dijangkau.
وأكثر العشاق والسفهاء من الشباب في وقت هيجان الشهوة لا ينفكون عن إضمار شيء من ذلك وذلك ممنوع في حقهم لما فيه من الداء الدفين لا لأمر يرجع إلى نفس السماع
Dan sebagian besar orang yang dimabuk cinta serta pemuda yang kurang bijak pada saat bergejolaknya syahwat tidak lepas dari membayangkan hal tersebut di dalam hati. Maka hal itu terlarang bagi mereka karena adanya penyakit yang tersembunyi di dalamnya, bukan karena faktor yang kembali pada zat pendengaran nyanyian (Sama') itu sendiri.
ولذلك سئل حكيم عن العشق فقال
Oleh karena itu, seorang ahli hikmah pernah ditanya tentang gelora cinta ('isyq), lalu ia menjawab:
دخان يصعد إلى دماغ الإنسان يزيله الجماع ويهيجه السماع
"Asap yang membumbung ke otak manusia, yang dapat dihilangkan oleh hubungan intim dan dibangkitkan oleh pendengaran nyanyian (Sama')."
السابع سماع من أحب الله وعشقه واشتاق إلى لقائه فلا ينظر إلى شيء إلا رآه فيه سبحانه ولا يقرع سمعه قارع إلا سمعه منه أو فيه فالسماع في حقه مهيج لشوقه ومؤكد لعشقه وحبه ومور زناد قلبه ومستخرج منه احوالا من المكاشفات والملاطفات لا يحيط الوصف بها يعرفها من ذاقها وينكرها من كل حسه عن ذوقها
Ketujuh: Sama' (mendengarkan lantunan spiritual) bagi orang yang mencintai Allah, merindukan-Nya dengan gejolak cinta ('isyq), dan merindukan perjumpaan dengan-Nya; ia tidak memandang kepada sesuatu pun melainkan melihat-Nya di dalamnya, Maha Suci Dia, dan tidak ada suatu suara pun yang mengetuk pendengarannya melainkan ia mendengarnya dari-Nya atau tentang-Nya. Maka sama' bagi haknya adalah pemicu rindunya, penguat gejolak cinta dan kasihnya, pemantik api hatinya, serta pengeluar hal-hal dari mukasyafah (penyingkapan rahasia gaib) dan kelembutan-kelembutan ilahi darinya yang tidak dapat dilukiskan oleh kata-kata, yang hanya diketahui oleh orang yang pernah merasakannya (dzawq) dan diingkari oleh orang yang indranya tumpul dari merasakannya.
وتسمى تلك الأحوال بلسان الصوفية وجداً مأخوذ من الوجود والمصادفة أي صادف من نفسه أحوالاً لم يكن يصادفها قبل السماع
Keadaan-keadaan (ahwal) tersebut dalam istilah para sufi dinamakan wajd, yang diambil dari kata al-wujud (penemuan) dan al-mushadafah (perjumpaan), yaitu ia menemukan pada dirinya keadaan-keadaan spiritual yang tidak pernah ia temukan sebelum melakukan sama'.
ثم تكون تلك الأحوال أسباباً لروادف وتوابع لها تحرق القلب بنيرانها وتنقيه من الكدورات كما تنقى النار الجواهر المعروضة عليها من الخبث ثم يتبع الصفاء الحاصل به مشاهدات ومكاشفات وهي غاية مطالب المحبين لله تعالى ونهاية ثمرة القربات كلها فالمفضى إليها من جملة القربات لا من جملة المعاصي والمباحات
Kemudian keadaan-keadaan tersebut menjadi sebab bagi dampak-dampak dan susulan-susulan berikutnya yang membakar hati dengan apinya dan membersihkannya dari kekeruhan, sebagaimana api membersihkan permata yang dipaparkan padanya dari karat dan kotoran. Lalu kesucian yang diperoleh darinya itu diikuti oleh musyahadah (penyaksian batin) dan mukasyafah, yang merupakan puncak pencarian para pecinta Allah Ta'ala dan akhir dari buah segala ketaatan (qurubat). Maka hal yang mengantarkan kepadanya termasuk dalam kelompok ketaatan, bukan dari kelompok kemaksiatan maupun hal-hal yang sekadar mubah.
وحصول هذه الأحوال للقلب بالسماع سببه سر الله تعالى في مناسبة النغمات الموزونة للأرواح وتسخير الأرواح لها وتأثرها بها شوقاً وفرحاً وحزناً وانبساطاً وانقباضاً
Perolehan keadaan-keadaan ini bagi hati melalui sama' disebabkan oleh rahasia Allah Ta'ala dalam keselarasan alunan nada yang teratur dengan ruh-ruh, tunduknya ruh-ruh kepadanya, serta terpengaruhnya ruh oleh nada tersebut berupa rasa rindu, bahagia, duka, kelapangan jiwa (inbisath), dan kesempitan jiwa (inqibadh).
ومعرفة السبب في تأثر الأرواح بالأصوات من دقائق علوم المكاشفات
Pengetahuan tentang sebab terpengaruhnya ruh-ruh oleh suara merupakan bagian dari kelembutan dan kedalaman ilmu mukasyafah.
والبليد الجامد القاسي القلب المحروم عن لذة السماع يتعجب من التذاذ المستمع ووجده واضطراب حاله وتغير لونه تعجب البهيمة من لذة اللوزينج وتعجب العنين من لذة المباشرة وتعجب الصبي من لذة الرياسة واتساع أسباب الجاه وتعجب الجاهل من لذة معرفة الله تعالى ومعرفة جلاله وعظمته وعجائب صنعه
Orang yang dungu, kaku, berhati keras, dan terhalang dari kelezatan sama' akan merasa heran terhadap kenikmatan pendengar (sama'), kondisi wajd-nya, kegoncangan keadaannya, serta perubahan warna wajahnya; keheranannya bagaikan keheranan hewan ternak terhadap kelezatan kue lauzinaj, keheranan orang yang impotent terhadap kelezatan jima', keheranan anak kecil terhadap kelezatan kepemimpinan dan keagungan kedudukan, serta keheranan orang bodoh terhadap kelezatan ma'rifatullah (mengenal Allah Ta'ala) beserta keagungan, kebesaran, dan keajaiban ciptaan-Nya.
ولكل ذلك سبب واحد وهو أن اللذة نوع إدراك والإدراك يستدعي مدركاً ويستدعي قوة مدركة
Bagi semua hal tersebut hanya ada satu sebab, yaitu bahwa kelezatan itu adalah sejenis persepsi (idrak), dan persepsi menuntut adanya objek yang dipersepsi serta daya yang mampu mempersepsinya.
فمن لم تكمل قوة إدراكه لم يتصور منه التلذذ فكيف يدر لذة الطعوم من فقد الذوق وكيف يدرك لذة الألحان من فقد السمع ولذة المعقولات من فقد العقل وكذلك ذوق السماع
Maka barangsiapa yang daya persepsinya tidak sempurna, tidak mungkin terbayangkan baginya untuk menikmati kelezatan. Bagaimana mungkin orang yang kehilangan indra pengecap dapat merasakan kelezatan rasa makanan? Bagaimana mungkin orang yang kehilangan pendengaran dapat merasakan kelezatan alunan nada? Dan bagaimana mungkin orang yang kehilangan akal dapat merasakan kelezatan hal-hal rasional? Demikian pula dengan cita rasa (dzawq) dalam sama'.
بالقلب بعد وصول الصوت إلى السمع يدرك بحاسة باطنة في القلب فمن فقدها عدم لا محالة لذته
Sama' dengan hati setelah sampainya suara ke pendengaran lahiriah ditangkap oleh indra batiniah yang ada di dalam hati. Maka barangsiapa yang tidak memilikinya, ia pasti tidak akan merasakan kelezatannya.
ولعلك تقول كيف يتصور العشق في حق الله تعالى حتى يكون السماع محركاً له فاعلم أن من عرف الله أحبه لا محالة ومن تأكدت معرفته تأكدت محبته بقدر تأكد معرفته
Boleh jadi engkau berkata: "Bagaimana mungkin gejolak cinta ('isyq) dapat terbayangkan dalam hak Allah Ta'ala sehingga sama' dapat menggerakkannya?" Maka ketahuilah, barangsiapa mengenal Allah, ia pasti mencintai-Nya. Dan barangsiapa yang ma'rifatnya semakin kuat, maka kecintaannya pun semakin menguat sesuai dengan kadar kekuatan ma'rifatnya.
والمحبة إذا تأكدت سميت عشقاً فلا معنى للعشق إلا محبة مؤكدة مفرطة
Kecintaan itu, apabila telah demikian kuat, dinamakan 'isyq. Maka tidak ada makna bagi 'isyq melainkan kecintaan yang sangat kuat dan meluap-luap.
ولذلك قالت العرب إن محمداً قد عشق ربه
Oleh karena itulah orang-orang Arab dahulu berkata: "Sesungguhnya Muhammad telah jatuh cinta ('asyiqa) kepada Tuhannya,"
لما رأوه يتخلى للعبادة في جبل حراء
ketika mereka melihat beliau menyendiri untuk beribadah di Gua Hira'.
واعلم أن كل جمال محبوب عند مدرك ذلك الجمال والله تعالى جميل يحب الجمال
Ketahuilah bahwa setiap keindahan itu dicintai oleh orang yang dapat menangkap keindahan tersebut, dan Allah Ta'ala itu Maha Indah lagi menyukai keindahan.
ولكن الجمال إن كان بتناسب الخلقة وصفاء اللون أدرك بحاسة البصر
Namun keindahan itu, jika berupa keserasian bentuk tubuh dan kejernihan warna, ditangkap dengan indra penglihatan lahiriah.
وإن كان الجمال بالجلال والعظمة وعلو الرتبة وحسن الصفات والأخلاق وإرادة الخيرات لكافة الخلق وإفاضتها عليهم على الدوام إلى غير ذلك من الصفات الباطنة أدرك بحاسة القلب
Dan jika keindahan itu berupa keagungan (jalal), kebesaran ('azhamah), keluhuran derajat, kebaikan sifat dan akhlak, serta kehendak untuk melimpahkan kebaikan kepada seluruh makhluk secara berkesinambungan dan sifat-sifat batiniah lainnya, maka ia ditangkap dengan indra hati.
ولفظ الجمال قد يستعار أيضاً لها فيقال إن فلاناً حسن وجميل ولا تراد صورته
Lafaz "keindahan" (al-jamal) kadang kala juga dipinjam penggunaannya untuk sifat-sifat tersebut, sehingga dikatakan: "Si Fulan itu indah dan rupawan," padahal yang dimaksud bukanlah rupa fisiknya,
وإنما يعنى به أنه جميل الأخلاق محمود الصفات حسن السيرة حتى قد يحب الرجل بهذه الصفات الباطنة استحساناً لها كما تحب الصورة الظاهرة
melainkan yang dimaksud adalah bahwa ia indah akhlaknya, terpuji sifat-sifatnya, dan baik perjalanan hidupnya. Sampai-sampai seseorang dapat dicintai karena sifat-sifat batiniah ini sebagai bentuk rasa kagum padanya, sebagaimana rupa lahiriah dicintai.
وقد تتأكد هذه المحبة فتسمى عشقاً
Kecintaan ini terkadang menguat hingga dinamakan 'isyq.
وكم من الغلاة في حب أرباب المذاهب كالشافعي ومالك وأبي حنيفة ﵃ حتى يبذلوا أموالهم وأرواحهم في نصرتهم وموالاتهم ويزيدوا على كل عاشق في الغلو والمبالغة
Berapa banyak orang yang sangat berlebihan dalam mencintai para imam mazhab, seperti Asy-Syafi'i, Malik, dan Abu Hanifah—semoga Allah meredai mereka—hingga mereka mengorbankan harta dan jiwa mereka untuk membela dan mendukung mereka, serta melampaui setiap pecinta dalam hal sikap berlebihan tersebut.
ومن العجب أن يعقل عشق شخص لم تشاهد قط صورته أجميل هو أم قبيح وهو الآن ميت ولكن لجمال صورته الباطنة وسيرته المرضية والخيرات الحاصلة من عمله لأهل الدين وغير ذلك من الخصال
Sungguh menakjubkan bagaimana masuk akal rasanya mencintai (isyq) seseorang yang belum pernah Anda lihat rupa fisiknya sama sekali, apakah ia tampan atau buruk rupa, dan ia pun kini telah wafat; namun [cinta itu ada] karena keindahan rupa batinnya, perjalanannya (rekam jejak hidupnya) yang diridhai, serta kebaikan-kebaikan yang terlahir dari amalnya bagi para pemeluk agama dan sifat-sifat mulia lainnya.
ثم لا يعقل عشق من ترى الخيرات منه
Lantas, bagaimana mungkin tidak masuk akal untuk mencintai (isyq) Dzat yang Engkau saksikan segala kebaikan bersumber dari-Nya?
بل على التحقيق من لا خير ولا جمال ولا محبوب في العالم إلا وهو حسنة من حسناته وأثر من آثار كرمه وغرفة من بحر جوده بل كل حسن وجمال في العالم أدرك بالعقول والأبصار والأسماع وسائر الحواس من مبتدإ العالم إلى منقرضه ومن ذروة الثريا إلى منتهى الثرى فهو ذرة من خزائن قدرته ولمعة من أنوار حضرته فليت شعري كيف لا يعقل حب من هذا وصفه وكيف لا يتأكد عند العارفين بأوصافه حبه حتى يجاوز حداً يكون إطلاق اسم العشق عليه ظلماً في حقه لقصوره عن الإنباء عن فرط محبته فسبحان من احتجب عن الظهور بشدة ظهوره واستتر عن الأبصار بإشراق نوره ولولا احتجابه بسبعين حجاباً من نوره لأحرقت سبحات وجهه أبصار الملاحظين لجمال حضرته ولولا أن ظهوره سبب خفائه لبهتت العقول ودهشت القلوب وتخاذلت القوى وتنافرت الأعضاء ولوركبت القلوب من الحجارة والحديد لأصبحت تحت مبادى أنوار تجليله دكادكا فأنى تطيق كنه نور الشمس أبصار الخفافيش
Bahkan secara hakiki, tidak ada satu pun kebaikan, keindahan, dan sesuatu yang dicintai di alam semesta ini melainkan ia merupakan satu kebaikan di antara kebaikan-kebaikan-Nya, bekas dari jejak kemurahan-Nya, dan secedok dari samudra kedermawanan-Nya. Bahkan, setiap kebaikan dan keindahan di alam ini yang tertangkap oleh akal, penglihatan, pendengaran, dan seluruh indera, sejak awal penciptaan alam hingga kepunahannya, dan dari puncak Bintang Tsurayya hingga ke dasar bumi, tidak lain hanyalah sezarah dari perbendaharaan kekuasaan-Nya dan secercah dari cahaya Kehadiran-Nya. Sungguh, alangkah herannya, bagaimana mungkin tidak masuk akal mencintai Dzat yang demikian sifat-Nya? Dan bagaimana mungkin cinta kepada-Nya tidak menguat di sisi orang-orang yang mengenali sifat-sifat-Nya ('arifin), hingga melampaui suatu batas di mana penyematan istilah 'isyq (gelora cinta) justru menjadi kezaliman bagi hak-Nya karena keterbatasan istilah tersebut dalam mengungkapkan keagungan cinta-Nya? Maka Mahasuci Dzat yang terhijab dari penampakan justru karena sangat jelas penampakan-Nya, dan tersembunyi dari pandangan mata karena sangat terangnya cahaya-Nya! Seandainya Dia tidak terhijab dengan tujuh puluh hijab cahaya-Nya, niscaya keagungan wajah-Nya akan membakar pandangan orang-orang yang menatap keindahan Kehadiran-Nya. Seandainya penampakan-Nya bukan menjadi sebab tersembunyi-Nya Dia, niscaya akal akan terperangah, hati akan terkesiap, kekuatan akan melumpuh, dan anggota tubuh akan terurai. Seandainya hati terbuat dari batu dan besi sekalipun, niscaya di bawah permulaan cahaya keagungan-Nya hati itu akan hancur lebur menjadi debu. Maka bagaimana mungkin mata kelelawar sanggup menatap hakikat cahaya matahari?
وسيأتي تحقيق هذه الإشارة في كتاب المحبة ويتضح أن محبة غير الله تعالى قصور وجهل بل المتحقق
Penjelasan mendalam (tahqiq) mengenai isyarat ini akan hadir dalam Kitab al-Mahabbah (Kitab Cinta), dan akan menjadi jelas bahwa mencintai selain Allah Ta'ala adalah suatu kekurangan dan kejahilan, bahkan bagi orang yang telah mantap…
بالمعرفة لا يعرف غير الله تعالى إذ ليس في الوجود تحقيقاً إلا الله وأفعاله
…dalam makrifat, ia tidak mengenali selain Allah Ta'ala. Sebab, pada hakikatnya tidak ada di dalam wujud ini melainkan Allah dan perbuatan-perbuatan-Nya (af'al-Nya).
ومن عرف الأفعال من حيث إنها أفعال لم يجاوز معرفة الفاعل إلى غيره
Dan barangsiapa mengenali perbuatan-perbuatan itu dari sudut pandang bahwa ia adalah perbuatan, maka makrifatnya tidak akan melampaui Dzat Pelakunya (al-Fa'il) kepada selain-Nya.
فمن عرف الشافعي مثلاً ﵀ وعلمه وتصنيفه من حيث إنه تصنيفه لا من حيث إنه بياض وجلد وحبر وورق وكلام منظوم ولغة عربية فلقد عرفه ولم يجاوز معرفة الشافعي إلى غيره ولا جاوزت محبته إلى غيره فكل موجود سوى الله تعالى فهو تصنيف الله تعالى وفعله وبديع أفعاله فمن عرفها من حيث هي صنع الله تعالى فرأى من الصنع صفات الصانع كما يرى من حسن التصنيف فضل المصنف وجلالة قدره كانت معرفته ومحبته مقصورة على الله تعالى غير مجاوزة إلى سواه
Maka barangsiapa mengenali Imam Asy-Syafi'i—semoga Allah meredhainya—ilmunya, dan karya tulisnya dari sudut pandang bahwa itu adalah karyanya, bukan dari sudut pandang putihnya kertas, kulit jilid, tinta, kertas, susunan kata, dan bahasa Arab semata, sungguh ia telah mengenali Asy-Syafi'i dan makrifatnya tidak melampaui Asy-Syafi'i kepada selainnya, serta cintanya pun tidak berpaling kepada selainnya. Maka setiap yang wujud selain Allah Ta'ala adalah ciptaan (tasnif) Allah Ta'ala, perbuatan-Nya, dan keindahan karya-Nya. Barangsiapa mengenali hal-hal tersebut dari sudut pandang bahwa ia adalah buatan Allah Ta'ala, lalu dari buatan itu ia melihat sifat-sifat Sang Pembuat (as-Sani'), sebagaimana ia melihat keutamaan pengarang dan keagungan derajatnya dari indahnya suatu karya tulis, maka makrifat dan cintanya akan tertuju khusus kepada Allah Ta'ala semata, tanpa melampaui kepada selain-Nya.
ومن حد هذا العشق أنه لا يقبل الشركة وكل ما سوى هذا العشق فهو قابل للشركة إذ كل محبوب سواه يتصور له نظير إما في الوجود وإما في الإمكان
Dan di antara batasan 'isyq (cinta mendalam) ini adalah bahwa ia tidak menerima persekutuan (syirkah). Sedangkan segala sesuatu selain 'isyq ini dapat menerima persekutuan, karena setiap yang dicintai selain-Nya dapat dibayangkan memiliki tandingan, baik dalam kenyataan wujud maupun dalam kemungkinannya (imkan).
فأما هذا الجمال فلا يتصور له ثان لا في الإمكان ولا في الوجود
Adapun keindahan ini (Keindahan Ilahi), tidak dapat dibayangkan adanya tandingan yang kedua, baik secara kemungkinan maupun dalam kenyataan wujud.
فكان اسم العشق على حب غيره مجازاً محضالاً حقيقة
Oleh karena itu, penyematan nama 'isyq pada cinta kepada selain-Nya hanyalah kiasan (majaz) murni, bukan hakikat yang sebenarnya.
نعم الناقص القريب في نقصانه من البهيمة قد لا يدرك من لفظة العشق إلا طلب الوصال الذي هو عبارة عن تماس
Ya, orang yang kurang [akalnya] dan mendekati binatang dalam kekurangannya, terkadang tidak memahami dari kata 'isyq selain tuntutan penyatuan (wishal), yang merupakan ungkapan dari persentuhan…
ظواهر الأجسام وقضاء شهوة الوقاع
…bagian luar tubuh dan pemenuhan syahwat bersetubuh.
فمثل هذا الحمار ينبغي أن لا يستعمل معه لفظه العشق والشوق والوصال والأنس بل يجنب هذه الألفاظ والمعاني كما تجنب البهيمة النرجس والريحان وتخصص بالفت والحشيش وأوراق القضبان
Maka orang yang dungu seperti keledai ini hendaknya tidak dipergunakan padanya istilah 'isyq (gelora cinta), syauq (kerinduan), wishal (penyatuan batin), dan uns (keakraban spiritual). Sebaliknya, ia harus dijauhkan dari kata-kata dan makna-makna ini sebagaimana binatang ternak dijauhkan dari bunga narsis dan kemangi, lalu ia hanya dikhususkan untuk diberi makanan remukan biji-bijian, rumput, dan dedaunan ranting.
فإن الألفاظ إنما يجوز إطلاقها في حق الله تعالى إذا لم تكن موهمة معنى يجب تقديس الله تعالى عنه
Sebab, kata-kata itu hanyalah boleh disematkan bagi hak Allah Ta'ala jika tidak menimbulkan prasangka makna yang wajib bagi Allah Ta'ala untuk disucikan darinya.
والأوهام تختلف باختلاف الأفهام فليتنبه لهذه الدقيقة في أمثال هذه الألفاظ بل لا يبعد أن ينشأ من مجرد السماع لصفات الله تعالى وجد غالب يقطع بسببه نياط القلب
Dan prasangka-prasangka (awham) itu berbeda-beda sesuai dengan perbedaan pemahaman. Maka hendaklah diperhatikan kelembutan rahasia ini dalam kata-kata semacam ini. Bahkan, tidak mustahil timbul dari sekadar mendengarkan sifat-sifat Allah Ta'ala suatu wajd (keharuan spiritual) yang sangat menguasai, yang karenanya terputuslah urat-urat hati.
فقد روى أبو هريرة ﵁ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ أنه ذكر غلاماً كان في بني إسرائيل على جبل فقال لأمه من خلق السماء قالت الله ﷿ قال فمن خلق الأرض قالت الله ﷿ قال فمن خلق الجبال قالت الله ﷿ قال فمن خلق الغيم قالت الله ﷿ قال إني لأسمع لله شأناً
Sungguh Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu telah meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bahwa Beliau menyebutkan tentang seorang pemuda dari kalangan Bani Israil yang berada di atas gunung, lalu pemuda itu bertanya kepada ibunya, "Siapakah yang menciptakan langit?" Ibunya menjawab, "Allah 'Azza wa Jalla." Ia bertanya lagi, "Siapakah yang menciptakan bumi?" Ibunya menjawab, "Allah 'Azza wa Jalla." Ia bertanya, "Siapakah yang menciptakan gunung-gunung?" Ibunya menjawab, "Allah 'Azza wa Jalla." Ia bertanya, "Siapakah yang menciptakan awan?" Ibunya menjawab, "Allah 'Azza wa Jalla." Pemuda itu berkata, "Sungguh aku benar-benar mendengar bagi Allah suatu urusan yang sangat agung!"
ثم رمى بنفسه من الجبل فتقطع
Kemudian ia menjatuhkan dirinya dari atas gunung hingga tubuhnya hancur terputus-putus.
وهذا كأنه سمع ما دل على جلال الله تعالى وتمام قدرته فطرب لذلك ووجد فرمى بنفسه من الوجد
Dan orang ini seolah-olah mendengar apa yang menunjukkan keagungan Allah Ta'ala dan kesempurnaan kekuasaan-Nya, lalu ia merasa tergugah gembira karena hal itu dan mengalami wajd (gejolak batin yang dahsyat), hingga ia menjatuhkan dirinya karena dorongan wajd tersebut.
وما أنزلت الكتب إلا ليطربوا بذكر الله تعالى
Dan tidaklah Kitab-kitab suci diturunkan melainkan agar manusia tergerak rindu dan bergetar hatinya dengan mengingat Allah Ta'ala.
قال بعضهم رأيت مكتوباً في الإنجيل غنينا لكم فلم تطربوا وزمرنا لكم فلم ترقصا
Sebagian ulama berkata, "Aku melihat tertulis dalam Injil: 'Kami telah bernyanyi (membangkitkan kerinduan) untuk kalian tetapi kalian tidak tergerak gembira, dan Kami telah meniupkan seruling untuk kalian tetapi kalian tidak menari'."
أي شوقناكم بذكر الله تعالى فلم تشتاقوا
Yaitu, kami buat kalian rindu dengan mengingat Allah Ta'ala, tetapi kalian tidak menjadi rindu.
فهذا ما أردنا أن نذكره من أقسام السماع وبواعثه ومقتضياته وقد ظهر على القطع إباحته في بعض المواضع والندب إليه في بعض المواضع
Inilah apa yang ingin kami sebutkan mengenai pembagian sama' (mendengarkan nyanyian/musik spiritual), pendorong-pendorongnya, serta konsekuensi-konsekuensinya. Dan telah jelas secara pasti kebolehannya (mubah) pada sebagian keadaan serta kesunnahannya (mandub) pada sebagian keadaan yang lain.
فإن قلت فهل له حالة يحرم فيها فأقول إنه يحرم بخمسة عوارض عارض في المسمع وعارض في آلة الإسماع وعارض في نظم الصوت وعارض في نفس المستمع أو في مواظبته وعارض في كون الشخص من عوام الخلق لأن أركان السماع هي المسمع والمستمع وآلة الإسماع
Jika engkau bertanya: "Apakah ada keadaan di mana sama' itu menjadi haram?" Maka aku katakan: Sesungguhnya sama' menjadi haram disebabkan oleh lima faktor eksternal ('awaridh): faktor pada orang yang memperdengarkan (penyanyi), faktor pada alat pendengar (instrumen), faktor pada susunan suara (lirik/syair), faktor pada diri pendengar itu sendiri atau dalam kontinuitasnya (kebiasaannya), dan faktor pada keberadaan seseorang yang termasuk dari kalangan awam. Sebab, rukun-rukun sama' adalah penyanyi (yang memperdengarkan), pendengar, dan alat untuk memperdengarkan.
العارض الأول أن يكون المسمع امرأة لا يحل النظر إليها وتخشى الفتنة من سماعها وفي معناها الصبي الأمرد الذي تخشى فتنته وهذا حرام لما فيه من خوف الفتنة وليس ذلك لأجل الغناء بل لو كانت المرأة بحيث يفتتن بصوتها في المحاورة من غير ألحان فلا يجوز محاورتها ومحادثتها ولا سماع صوتها في القرآن أيضاً وكذلك الصبي الذي تخاف فتنته
Faktor eksternal pertama: Hendaknya penyanyi adalah seorang wanita yang tidak halal dilihat dan dikhawatirkan timbul fitnah karena mendengarkannya. Termasuk dalam maknanya adalah pemuda belia (amrad) yang dikhawatirkan fitnah darinya. Hal ini hukumnya haram karena di dalamnya terdapat kekhawatiran timbulnya fitnah, dan bukan semata-mata karena nyanyian itu sendiri. Bahkan jika seorang wanita berada dalam kondisi di mana suaranya dapat menimbulkan fitnah saat percakapan biasa tanpa irama, maka tidak boleh bercakap-cakap dengannya, berbicara kepadanya, dan tidak boleh pula mendengarkan suaranya saat membaca Al-Qur'an; demikian pula halnya dengan pemuda belia yang dikhawatirkan fitnah darinya.
فإن قلت فهل تقول إن ذلك حرام بكل حال حسماً للباب أو لا يحرم إلا حيث تخاف الفتنة في حق من يخاف العنت
Jika engkau bertanya: "Apakah engkau berpendapat bahwa hal itu haram dalam segala keadaan demi menutup pintu fitnah (hasman lil-bab), ataukah tidak haram kecuali dalam keadaan yang dikhawatirkan fitnah bagi orang yang takut terjatuh dalam dosa ('anat)?"
فأقول هذه مسألة محتملة من حيث الفقه يتجاذبها أصلان أحدهما أن الخلوة بالأجنبية والنظر إلى وجهها حرام سواء خيفت الفتنة أو لم تخف لأنها مظنة الفتنة على الجملة
Maka aku katakan: Ini adalah masalah yang memiliki berbagai kemungkinan dari sudut pandang Fiqih, yang ditarik oleh dua landasan hukum (ashl). Salah satunya: Sesungguhnya berduaan (khalwat) dengan wanita bukan mahram dan melihat wajahnya adalah haram, baik dikhawatirkan timbul fitnah maupun tidak, karena hal itu secara umum merupakan dugaan kuat (mazhinnah) timbulnya fitnah.
فقضى الشرع بحسم الباب من غير التفات إلى الصور والثاني أن النظر إلى الصبيان مباح إلا عند خوف الفتنة فلا يلحق الصبيان بالنساء في عموم الحسم بل يتبع فيه الحال وصوت المرأة دائر بين هذين الأصلين فإن قسناه على النظر إليها وجب حسم الباب وهو قياس قريب ولكن بينهما فرق إذ الشهوة تدعو إلى النظر في أول هيجانها ولا تدعو إلى سماع الصوت وليس تحريك النظر لشهوة المماسة كتحريك السماع بل هو أشد
Maka syariat menetapkan hukum untuk menutup pintu fitnah secara mutlak tanpa memandang rincian keadaan. Landasan kedua: Bahwasanya melihat pemuda belia (ash-shibyan) adalah mubah, kecuali jika dikhawatirkan timbul fitnah. Maka pemuda belia tidak disamakan dengan kaum wanita dalam hal penutupan pintu fitnah secara umum, melainkan hukumnya mengikuti kondisi yang ada. Sedangkan suara wanita berada di antara kedua landasan ini. Jika kita mengkiaskannya dengan melihat kepada wanita, maka wajib menutup pintu fitnah secara mutlak, dan ini adalah kias yang dekat. Namun di antara keduanya terdapat perbedaan, sebab syahwat mendorong untuk melihat sejak awal gejolaknya dan tidak serta-merta mendorong untuk mendengarkan suara. Pergerakan melihat untuk membangkitkan syahwat sentuhan tidaklah sama seperti pergerakan mendengarkan, melainkan melihat itu lebih kuat pendorongnya.
وصوت المرأة في غير الغناء ليس بعورة فلم تزل النساء في زمن الصحابة ﵃ يكلمن الرجال في السلام والاستفتاء والسؤال والمشاورة وغير ذلك
Suara wanita di luar nyanyian bukanlah aurat, sebab para wanita pada zaman para Sahabat radhiyallahu 'anhum senantiasa berbicara kepada laki-laki dalam memberi salam, meminta fatwa, bertanya, bermusyawarah, dan lain sebagainya.
ولكن للغناء مزيد أثر في تحريك الشهوة
Akan tetapi, nyanyian memiliki pengaruh tambahan dalam membangkitkan syahwat.
فقياس هذا على النظر إلى الصبيان أولى لأنهم لم يؤمروا بالاحتجاب كما لم تؤمر النساء بستر الأصوات
Maka mengkiaskan hal ini dengan melihat kepada pemuda belia adalah lebih utama, karena mereka tidak diperintahkan untuk berhijab, sebagaimana kaum wanita juga tidak diperintahkan untuk menyembunyikan suara mereka.
فينبغي أن يتبع مثار الفتن ويقصر التحريم عليه
Maka hendaknya hukum mengikuti tempat timbulnya fitnah dan keharaman itu dibatasi hanya padanya.
هذا هو الأقيس عندي ويتأيد بحديث الجاريتين المغنيتين في بيت عائشة ﵂ إذ يعلم أنه ﷺ كان يسمع أصواتهما ولم يحترز منه ولكن لم تكن
Inilah pendapat yang lebih sesuai dengan kias menurutku, dan diperkuat oleh hadis dua anak perempuan yang bernyanyi di rumah Aisyah radhiyallahu 'anha, di mana diketahui bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mendengarkan suara keduanya dan tidak menghindarinya. Akan tetapi…
الفتنة مخوفة عليه فلذلك لم يحترز
…fitnah tidak dikhawatirkan atas beliau, oleh karena itu beliau tidak menghindarinya.
فإذن يختلف هذا بأحوال المرأة وأحوال الرجل في كونه شاباً وشيخاً ولا يبعد أن يختلف الأمر في مثل هذا بالأحوال
Oleh karena itu, hal ini berbeda-beda tergantung keadaan wanita dan keadaan laki-laki, apakah ia seorang pemuda atau orang tua. Tidaklah jauh kemungkinan bahwa hukum dalam hal seperti ini berbeda-beda sesuai dengan keadaan.
فإنا نقول للشيخ أن يقبل زوجته وهو صائم وليس للشاب ذلك لأن القبلة تدعو إلى الوقاع في الصوم وهو محظور والسماع يدعو إلى النظر والمقاربة وهو حرام فيختلف ذلك أيضاً بالأشخاص
Sebab kita katakan bahwa boleh bagi seorang pria tua mencium istrinya saat berpuasa, sedangkan bagi pemuda hal itu tidak diperbolehkan, karena ciuman dapat memicu jima' saat puasa yang mana hal itu dilarang; sementara mendengarkan nyanyian memicu untuk melihat dan mendekati yang mana hal itu haram. Maka hukum ini berbeda-beda pula menurut keadaan setiap individu.
العارض الثاني في الآلة بأن تكون من شعار أهل الشرف أو المخنثين وهي المزامير والأوتار وطبل الكوبة
Faktor eksternal kedua: Mengenai instrumen/alat, yaitu jika alat tersebut termasuk simbol/ciri khas peminum khamr atau orang-orang yang bergaya menyerupai wanita (mukhannatsin), yaitu seruling (al-mazamir), instrumen berdawai (al-autar), dan gendang kubah (thabl al-kubah).
فهذه ثلاثة أنواع ممنوعة
Maka ketiga jenis alat ini dilarang.
وما عدا ذلك يبقى على أصل الإباحة كالدف وإن كان فيه الجلاجل وكالطبل والشاهين والضرب بالقضيب وسائر الآلات
Adapun selain dari itu, maka hukumnya tetap pada kebolehan asalnya (mubah), seperti rebana (ad-duff) meskipun terdapat gemerincing logam padanya, gendang biasa (at-thabl), seruling penggembala (ash-syahin), pukulan dengan tongkat/ranting (al-qadhib), serta instrumen-instrumen lainnya.
العارض الثالث في نظم الصوت وهو الشعر فإن كان فيه شيء من الخنا والفحش والهجو أو ما هو كذب على الله تعالى وعلى رسوله ﷺ أو على الصحابة ﵃ كما رتبه الروافض في هجاء الصحابة وغيرهم فسماع ذلك حرام بألحان وغير ألحان والمستمع شريك للقائل
Faktor eksternal ketiga: Mengenai susunan suara, yaitu bait puisi/syair. Jika di dalamnya terdapat sesuatu berupa perkataan keji, kotor, celaan (al-hija'), atau berupa kedustaan atas nama Allah Ta'ala, Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam, atau para Sahabat radhiyallahu 'anhum sebagaimana yang disusun oleh kaum Rafidhah dalam mencela para Sahabat dan selain mereka, maka mendengarkan hal itu adalah haram, baik menggunakan irama lagu maupun tanpa irama. Dan orang yang mendengarkannya bersekutu (bersama-sama menanggung dosa) dengan yang mengucapkannya.
وكذلك ما فيه وصف امرأة بعينها فإنه لا يجوز وصف المرأة بين الرجال
Demikian pula puisi yang di dalamnya memuat penggambaran/sifat seorang wanita tertentu, sebab tidak boleh menggambarkan sifat wanita di hadapan kaum laki-laki.
وأما هجاء الكفار وأهل البدع فذلك جائز
Adapun mencela (satir) orang-orang kafir dan ahli bid'ah, maka hal itu diperbolehkan.
فقد كان حسان بن ثابت ﵁ ينافح عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ ويهاجي الكفار وأمره ﷺ بذلك
Sebab Hassan bin Tsabit radhiyallahu 'anhu dahulu membela Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan mencela orang-orang kafir lewat syairnya, dan Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkannya melakukan hal tersebut.
فأما النسيب وهو التشبيه بوصف الخدود والأصداغ وحسن القد والقامة وسائر أوصاف النساء فهذا فيه نظر
Adapun nasib (syair percintaan), yaitu penggambaran dengan menyebutkan sifat pipi, pelipis, keindahan perawakan dan postur tubuh, serta sifat-sifat wanita lainnya, maka hal ini memerlukan rincian hukum.
والصحيح أنه لا يحرم نظمه وإنشاده بلحن وغير لحن
Pendapat yang sahih adalah bahwa tidak diharamkan merangkai (mengubah) dan mendendangkannya, baik dengan irama maupun tanpa irama.
وعلى المستمع أن لا ينزله على امرأة معينة فإن نزله فلينزله على من يحل له من زوجته وجاريته فإن نزله على أجنبية فهو العاصي بالتنزيل وإحالة الفكر فيه
Dan hendaknya pendengar tidak mengarahkannya (membayangkannya) kepada wanita tertentu. Jika ia mengarahkannya, hendaknya ia mengarahkannya kepada wanita yang halal baginya, yaitu istrinya atau hamba sahayanya. Apabila ia mengarahkannya kepada wanita yang bukan mahram (ajnabiyyah), maka dialah yang bermaksiat dengan pengarahan bayangan tersebut dan pelimpahan pikirannya kepadanya.
ومن هذا وصفه فينبغي أن يجتنب السماع رأساً فإن من غلب عليه عشق نزل كل ما يسمعه عليه سوء كان اللفظ مناسباً له أو لم يكن إذ ما من لفظ إلا ويمكن تنزيله على معان بطريق الاستعارة فالذي يغلب على قلبه حب الله تعالى يتذكر بسواد الصدغ مثلا ظلمة الكفر وبنضارة الخد نور الإيمان وبذكر الوصال لقاء الله تعالى وبذكر الفراق الحجاب عن الله تعالى في زمرة المردودين وبذكر الرقيب المشوش لروح الوصال عوائق الدنيا وآفاتها المشوشة لدوام الأنس بالله تعالى ولا يحتاج في تنزيل ذلك عليه إلى استنباط وتفكر ومهلة بل تسبق المعاني الغالبة على القلب إلى فهمه مع اللفظ
Barang siapa yang keadaannya demikian, hendaknya ia menjauhi sama sekali mendengarkan nyanyian (sama'). Karena orang yang didominasi oleh asmara (kasmaran) akan mengarahkan semua yang didengarnya kepada hawa nafsunya, baik lafalnya sesuai maupun tidak. Sebab, tidak ada satu lafal pun melainkan dapat diarahkan kepada makna-makna secara kiasan (isti'arah). Maka orang yang hatinya didominasi oleh cinta kepada Allah Ta'ala akan teringat kegelapan kufur dari hitamnya pelipis—sebagai contoh—dan teringat cahaya iman dari berserinya pipi, teringat perjumpaan dengan Allah Ta'ala dari penyebutan jalinan cinta (wishaal), teringat penghalang (hijab) dari Allah Ta'ala di tengah kelompok orang-orang yang tertolak dari penyebutan perpisahan (firaaq), serta teringat hambatan-hambatan dunia dan bencana-bencananya yang mengganggu kelanggengan keakraban (uns) dengan Allah Ta'ala dari penyebutan pengawas (raqib) yang mengganggu keheningan jalinan cinta. Dalam membawa makna itu, ia tidak memerlukan penggalian makna, pemikiran yang rumit, atau jeda waktu, melainkan makna-makna yang mendominasi hati itu mendahului pemahamannya bersamaan dengan terucapnya lafal.
كما روي عن بعض الشيوخ أنه مر في السوق فسمع واحداً يقول الخيار عشرة بحبة فغلبه الوجد فسئل عن ذلك فقال إذا كان الخيار عشرة بحبة فما قيمة الأشرار واجتاز بعضهم في السوق فسمع قائلاً يقول يا سعتر برى فغلبه الوجد فقيل له على ماذا كان وجدك فقال سمعته كأنه يقول اسع ترى برى حتى إن العجمى قد يغلب عليه الوجد على الأبيات المنظومة بلغة العرب فإن بعض حروفها يوازن الحروف العجمية فيفهم منها معان آخر
Sebagaimana diriwayatkan dari sebagian guru tasawuf, bahwa beliau berjalan di pasar lalu mendengar seseorang berkata: 'Mentimun sepuluh seharga satu habbah', maka beliau dikuasai oleh rasa kecintaan mendalam (wajd). Ketika ditanya tentang hal itu, beliau menjawab: 'Jika orang-orang pilihan (al-khiyaar) sepuluh seharga satu habbah, lantas berapakah nilai orang-orang yang jahat (al-asyraar)?' Dan sebagian yang lain melintas di pasar, lalu mendengar seorang penjual berkata: 'Wahai sa'tar liar (ya sa'tar barri)!', maka ia dikuasai oleh wajd. Dikatakan kepadanya: 'Atas dasar apa wajd-mu?' Ia menjawab: 'Aku mendengarnya seakan-akan ia berkata: Berusahalah (is'a), niscaya engkau melihat kebaikanku (tara birri)'. Bahkan, seorang non-Arab ('ajami) terkadang dikuasai oleh wajd terhadap bait-bait syair berbahasa Arab, karena sebagian hurufnya menandingi huruf-huruf non-Arab sehingga ia memahami darinya makna-makna yang lain.
أنشد بعضهم
Sebagian mereka melantunkan bait syair:
وما زارني في الليل إلا خياله …
'Dan tidaklah menziarahiku di malam hari melainkan bayangannya…'
فتواجد عليه رجل أعجمي
Maka seorang lelaki non-Arab ('Ajami) tersentuh dan tergerak wajd-nya karenanya.
فسئل عن سبب وجده فقال إنه يقول ما زاريم
Lalu ia ditanya mengenai sebab wajd-nya, maka ia menjawab: 'Sesungguhnya dia berkata: maa zaarim.'
وهو كما يقول فإن لفظ زار يدل في العجمية على المشرف على الهلاك فتوهم أنه يقول كلنا مشرفون على الهلاك فاستشعر عند ذلك خطر هلاك الآخرة
Dan hal itu sebagaimana yang dikatakannya, karena lafal 'zaar' dalam bahasa 'Ajam (Persia) menunjukkan kepada orang yang berada di ambang kehancuran. Maka ia menyangka bahwa penyair itu berkata: 'Kita semua berada di ambang kehancuran', sehingga pada saat itu ia merasakan bahaya kebinasaan di akhirat.
والمحترق في حب الله تعالى وجده بحسب فهمه وفهمه بحسب تخيله وليس من شرط تخيله أن يوافق مراد
Orang yang terbakar dalam cinta kepada Allah Ta'ala, wajd-nya adalah sesuai dengan pemahamannya, dan pemahamannya sesuai dengan daya imajinasinya. Bukanlah termasuk syarat imajinasinya harus sesuai dengan maksud…
الشاعر ولغته
…penyair dan bahasanya.
فهذا الوجد حق وصدق
Maka wajd (getaran jiwa spiritual) seperti ini adalah hakiki dan benar.
ومن استشعر خطر هلاك الآخرة فجدير بأن يتشوش عليه عقله وتضطرب عليه أعضاؤه
Barang siapa yang merasakan dahsyatnya bahaya kebinasaan akhirat, maka sudah sepatutnya akalnya menjadi guncang dan anggota tubuhnya gemetar.
فإذن ليس في تغيير أعيان الألفاظ كبير فائدة بل الذي غلب عشق مخلوق ينبغي أن يحترز من السماع بأي لفظ كان والذي غلب عليه حب الله تعالى فلا تضره الألفاظ ولا تمنعه عن فهم المعاني اللطيفة المتعلقة بمجاري همته الشريفة
Dengan demikian, tidak ada faedah besar dalam mengubah bentuk lafal-lafal itu sendiri. Sebaliknya, orang yang didominasi cinta kepada makhluk hendaknya berhati-hati dari mendengarkan nyanyian dengan lafal apa pun, sedangkan orang yang didominasi oleh cinta kepada Allah Ta'ala, maka lafal-lafal tidak akan membahayakannya dan tidak menghalanginya dari memahami makna-makna halus yang berkaitan dengan kecenderungan cita-citanya yang mulia.
العارض الرابع في المستمع وهو أن تكون الشهوة غالبة عليه وكان في غرة الشباب وكانت هذه الصفة أغلب عليه من غيرها فالسماع حرام عليه سواء غلب على قلبه حب شخص معين أو لم يغلب فإنه كيفما كان فلا يسمع وصف الصدغ والخد والفراق والوصال إلا ويحرك ذلك شهوته وينزله على صورة معينة ينفخ الشيطان بها في قلبه فتشتعل فيه نار الشهوة وتحتد بواعث الشر
Faktor penghalang keempat pada pendengar: Yaitu apabila syahwat mendominasi dirinya dan ia berada di puncak masa mudanya, serta sifat ini lebih dominan padanya daripada sifat lainnya. Maka mendengarkan nyanyian (sama') adalah haram baginya, baik hatinya didominasi oleh cinta kepada individu tertentu maupun tidak. Karena bagaimanapun keadaannya, tidaklah ia mendengar penggambaran pelipis, pipi, perpisahan, dan jalinan cinta melainkan hal itu akan mengobarkan syahwatnya dan membayangkannya pada sosok tertentu yang ditiupkan setan ke dalam hatinya, sehingga menyalalah api syahwat dalam dirinya dan makin tajamlah dorongan-dorongan kejahatan.
وذلك هو النصرة لحزب الشيطان والتخذيل للعقل المانع منه الذي هو حزب اللهتعالى والقتال في القلب دائم جنود الشيطان وهي الشهوات وبين حزب الله تعالى وهو نور العقل إلا في قلب قد فتحه أحد الجندين واستولى عليه بالكلية
Hal itu merupakan perbuatan membela golongan setan dan melemahkan akal pencegah yang merupakan golongan Allah Ta'ala. Pertempuran di dalam hati senantiasa berlangsung antara pasukan setan—yaitu berbagai syahwat—dengan golongan Allah Ta'ala—yaitu cahaya akal—kecuali pada hati yang telah ditaklukkan oleh salah satu dari kedua pasukan tersebut dan dikuasai secara keseluruhan.
وغالب القلوب الآن قد فتحها جند الشيطان وغلب عليها فتحتاج حينئذ إلى أن تستأنف أسباب القتال لإزعاجها فكيف يجوز تكثير أسلحتها وتشحيذ سيوفها وأسنتها والسماع مشحذ لأسلحة جند الشيطان في حق مثل هذا الشخص
Sebagian besar hati pada masa sekarang telah ditaklukkan oleh pasukan setan dan dikuasai olehnya, sehingga saat itu ia memerlukan upaya memperbarui sarana pertempuran untuk mengusirnya. Maka bagaimana mungkin diperbolehkan memperbanyak persenjataannya serta mengasah pedang dan mata tombaknya, padahal mendengarkan nyanyian (sama') adalah pengasah senjata bagi pasukan setan dalam diri orang yang seperti ini?
فليخرج مثل هذا عن مجمع السماع فإنه يستضر به
Maka hendaknya orang seperti ini keluar dari majelis سماع (mendengarkan nyanyian/musik spiritual), karena sesungguhnya hal itu justru akan memudaratkan dirinya.
العارض الخامس أن يكون الشخص من عوام الخلق ولم يغلب عليه حب الله تعالى فيكون السماع له محبوباً ولو غلبت عليه شهوة فيكون في حقه محظوراً
Faktor penghalang kelima adalah apabila seseorang termasuk dari kalangan awam dan belum didominasi oleh rasa cinta kepada Allah Ta'ala. Dalam kondisi ini, mendengarkan lagu (سماع) disukai baginya, namun jika syahwatnya lebih mendominasi, maka hal itu menjadi terlarang baginya.
ولكنه أبيح في حقه كسائر أنواع اللذات المباحة إلا أنه إذا اتخذه ديدنه وهجيراه وقصر عليه أكثر أوقاته فهذا هو السفيه الذي ترد شهادته فإن المواظبة على اللهو جناية
Akan tetapi, hal itu diperbolehkan baginya sebagaimana jenis-jenis kenikmatan lain yang mubah. Hanya saja, jika ia menjadikannya sebagai kebiasaan dan kegemaran utamanya serta menghabiskan sebagian besar waktunya untuk itu, maka ia adalah orang yang kurang berakal (سفيه) yang kesaksiannya ditolak, sebab terus-menerus melakukan hiburan merupakan suatu pelanggaran.
وكما أن الصغيرة بالإصرار والمداومة تصير كبيرة فكذلك بعض المباحات بالمداومة تصير صغيرة وهو كالمواظبة على متابعة الزنوج والحبشة والنظر إلى لعبهم على الدوام فإنه ممنوع وإن لم يكن أصله ممنوعاً إذ فعله رسول الله ﷺ
Dan sebagaimana dosa kecil dengan terus-menerus dilakukan dapat menjadi dosa besar, begitu pula sebagian perkara mubah jika dilakukan terus-menerus dapat menjadi dosa kecil. Hal ini seperti terus-menerus menonton orang-orang Zanj dan Habasyah serta memandangi permainan mereka secara berkesinambungan, maka itu dilarang, meskipun pada dasarnya tidak dilarang karena Rasulullah ﷺ pernah menyaksikannya.
ومن هذا القبيل اللعب بالشطرنج فإنه مباح ولكن المواظبة عليه مكروهة كراهة شديدة
Termasuk dalam kategori ini adalah bermain catur; sesungguhnya hal itu mubah, namun membiasakannya secara terus-menerus hukumnya makruh dengan kemakruhan yang sangat.
ومهما كان الغرض اللعب والتلذذ باللهو فذلك إنما يباح لما فيه من ترويح القلب إذ راحة القلب معالجة له في بعض الأوقات لتنبعث دواعيه فيشتغل في سائر الأوقات بالجد الدنيا كالكسب والتجارة أو في الدين كالصلاة والقراءة
Ketika tujuannya adalah bermain dan menikmati hiburan, maka hal itu hanya diperbolehkan karena di dalamnya terdapat penyegaran (ترويح) bagi hati. Sebab, mengistirahatkan hati merupakan terapi baginya pada sebagian waktu agar dorongan energinya bangkit kembali, sehingga di waktu-waktu lainnya ia dapat bertekun dalam kesungguhan urusan dunia—seperti bekerja dan berdagang—maupun urusan agama—seperti shalat dan membaca Al-Qur'an.
واستحسان ذلك فيما بين تضاعيف الجد كاستحسان الخال على الخد ولو استوعبت الخيلان في الوجه لشوهته فما أقبح ذلك فيعود الحسن قبحاً بسبب الكثرة فما كل حسن يحسن كثيره ولا كل مباح يباح كثيره بل الخبز مباح والاستكثار منه حرام
Anggapan baik terhadap hiburan di sela-sela kesungguhan itu bagaikan indahnya tahi lalat di pipi; namun jika tahi lalat memenuhi seluruh wajah, tentu akan merusaknya. Betapa buruknya hal itu, sehingga keindahan berubah menjadi keburukan akibat berlebihan. Jadi, tidak semua yang indah itu baik jika terlalu banyak, dan tidak semua yang mubah itu diperbolehkan jika berlebihan; bahkan roti itu mubah, tetapi memakannya secara berlebihan hukumnya haram.
فهذا المباح كسائر المباحات
Maka hal yang mubah ini sama seperti perkara-perkara mubah lainnya.
فإن قلت فقد أدى مساق هذا الكلام إلى أنه مباح في بعض الأحوال دون بعض فلم أطلقت القول أولاً بالإباحة إذ إطلاق القول في المفصل بلا أو بنعم خلف وخطأ فاعلم أن هذا غلط لأن الإطلاق إنما يمتنع لتفصيل ينشأ من غير ما فيه النظر فأما ما ينشأ من الأحوال العارضة المتصلة به من خارج فلا يمنع الإطلاق ألا ترى أنا إذا سئلنا عن العسل أهو حلال أم لا قلنا إنه حلال على الإطلاق مع أنه حرام على المحرور الذي يستضر به وإذا سئلنا عن الخمر قلنا
Jika Anda bertanya: Alur pembicaraan ini menunjukkan bahwa ia mubah pada sebagian kondisi dan tidak pada kondisi lainnya, lalu mengapa pada mulanya Anda memutlakkan hukum mubah? Padahal memutlakkan jawaban 'tidak' atau 'ya' pada perkara yang memerlukan rincian adalah kekeliruan dan kesalahan. Ketahuilah bahwa prasangka demikian adalah keliru, karena pemutlakan hukum itu hanya terhalang oleh rincian yang bersumber dari substansi objek yang dibahas itu sendiri. Adapun rincian yang bersumber dari kondisi eksternal yang baru datang (عارض) yang menyertainya dari luar, tidaklah menghalangi pemutlakan hukum. Tidakkah Anda melihat bahwa jika kita ditanya tentang madu, apakah ia halal atau tidak, tentu kita menjawab bahwa madu itu halal secara mutlak, meskipun ia haram bagi orang bertemperamen panas yang merasa mudarat karenanya? Dan jika kita ditanya tentang khamar, kita katakan:
إنها حرام
Bahwa khamar itu haram,
مع إنها تحل لمن غص بلقمة أن يشربها مهما لم يجد غيرها ولكن هي من حيث أنها خمر حرام وإنما أبيحت لعارض الحاجة
meskipun khamar itu menjadi halal diminum bagi orang yang tersedak suapan makanan selama ia tidak menemukan minuman lain. Akan tetapi, ditinjau dari hakikatnya sebagai khamar, ia adalah haram, dan hanya dibolehkan karena faktor kebutuhan mendesak yang datang kemudian.
والعسل من حيث إنه عسل حلال وإنما حرم لعارض الضرر وما يكون لعارض فلا يلتفت إليه فإن البيع حلال ويحرم بعارض الوقوع في وقت النداء يوم الجمعة ونحوه من العوارض والسماع من جملة المباحات من حيث إنه سماع صوت طيب موزون مفهوم وإنما تحريمه لعارض خارج
Sedangkan madu, ditinjau dari hakikatnya sebagai madu, adalah halal, dan hanya diharamkan karena faktor mudarat yang datang kemudian. Adapun sesuatu yang terjadi karena faktor luar yang tidak tetap, maka tidak diperhitungkan dalam hukum asal. Sebab, jual beli itu halal, namun diharamkan karena faktor luar seperti berlangsung pada saat azan shalat Jumat dan faktor-faktor eksternal lainnya. Maka سماع (mendengarkan musik/lagu) termasuk dalam kelompok hal-hal yang mubah, ditinjau dari hakikatnya sebagai pendengaran atas suara yang merdu, berirama, dan dapat dipahami, sedangkan keharamannya hanyalah karena faktor eksternal…
عن حقيقة ذاته
…di luar dari hakikat zatnya sendiri.
فإذا انكشف الغطاء عن دليل الإباحة فلا نبالي بمن يخالف بعد ظهور الدليل
Apabila kebenaran dalil kebolehan telah terkuak terang, maka kita tidak perlu menghiraukan siapa pun yang menyelisihi setelah jelasnya dalil tersebut.
وأما الشافعي ﵁ فليس تحريم الغناء من مذهبه أصلاً
Adapun Imam Syafi'i radhiyallahu 'anhu, mengharamkan nyanyian (غناء) sama sekali bukanlah bagian dari mazhab beliau.
وقد نص الشافعي وقال في الرجل يتخذه صناعة لا تجوز شهادته
Imam Syafi'i telah menyatakan secara tegas dalam nashnya, beliau berkata tentang seseorang yang menjadikan nyanyian sebagai profesinya: 'Tidak boleh diterima kesaksiannya.'
وذلك لأنه من اللهو المكروه الذي يشبه الباطل ومن اتخذه صنعة كان منسوباً إلى السفاهة وسقوط المروءة وإن لم يكن محرماً بين التحريم
Hal itu karena nyanyian termasuk hiburan yang makruh dan menyerupai kebatilan. Barangsiapa menjadikannya sebagai profesi, maka ia dinisbatkan kepada kurangnya akal sehat (سفاهة) dan gugurnya kehormatan diri (مروءة), meskipun tidak diharamkan secara jelas keharamannya.
فإن كان لا ينسب نفسه إلى الغناء ولا يؤتى لذلك ولا يأتى لأجله وإنما يعرف بأنه قد يطرب في الحال فيترنم بها لم يسقط هذا مروءته ولم يبطل شهادته
Namun, jika ia tidak menisbatkan dirinya sebagai penyanyi, tidak diundang untuk bernyanyi, dan tidak pula didatangi karena alasan itu, melainkan ia hanya dikenal terkadang merasa gembira hatinya pada saat tertentu lalu ia bersenandung, maka hal ini tidak menggugurkan kehormatan dirinya (مروءة) dan tidak membatalkan kesaksiannya.
واستدل بحديث الجاريتين اللتين كانتا تغنيان في بيت عائشة ﵂ وقال يونس بن عبد الأعلى سألت الشافعي ﵀ عن إباحة أهل المدينة للسماع فقال الشافعي
Dan beliau berdalil dengan hadits dua budak perempuan yang bernyanyi di rumah Aisyah radhiyallahu 'anha. Yunus bin 'Abdila'la berkata: Saya bertanya kepada Imam Syafi'i rahimahullah tentang kebolehan mendengarkan nyanyian (سماع) menurut penduduk Madinah, maka Imam Syafi'i menjawab:
لا أعلم أحداً من علماء الحجاز كره السماع إلا ما كان منه في الأوصاف فأما الحداء وذكر الأطلال والمرابع وتحسين الصوت بألحان الأشعار فمباح
'Aku tidak mengetahui seorang pun dari ulama Hijaz yang membenci سماع kecuali apa yang memuat deskripsi keindahan fisik (yang tidak halal). Adapun nyanyian pengiring unta (حداء), penyebutan reruntuhan tempat tinggal bekas kediaman kekasih, serta memperindah suara dengan nada-nada syair, maka hukumnya mubah.'
وحيث قال إنه لهو مكروه يشبه الباطل فقوله لهو صحيح
Adapun perkataannya bahwa itu adalah kelengahan (lahw) yang dimakruhkan dan menyerupai kebatilan, maka ucapannya bahwa itu adalah "kelengahan" (lahw) memang benar.
ولكن اللهو من حيث إنه لهو ليس بحرام فلعب الحبشة ورقصهم لهو وقد كان ﷺ ينظر إليه ولا يكرهه
Namun, kelengahan (lahw) ditinjau dari hakikatnya sebagai kelengahan belaka tidaklah haram. Sebab, permainan dan tarian orang-orang Abisinia (Habsyah) adalah suatu kelengahan (lahw), padahal Rasulullah ﷺ menyaksikan mereka dan tidak membencinya.
بل اللهو واللغو لا يؤاخذ الله تعالى به إن عنى به أنه فعل ما لا فائدة فيه
Bahkan, kelengahan (lahw) dan kesia-siaan (laghw) tidaklah dihukum oleh Allah Ta'ala jika yang dimaksudkan adalah perbuatan yang tidak mendatangkan manfaat (tanpa guna).
فإن الإنسان لو وظف على نفسه أن يضع يده على رأسه في اليوم مائة مرة فهذا عبث لا فائدة له ولا يحرم
Karena seandainya seseorang mewajibkan atas dirinya untuk meletakkan tangannya di atas kepalanya seratus kali dalam sehari, hal ini adalah perbuatan sia-sia yang tidak bermanfaat, tetapi tidaklah haram.
قال الله تعالى لا يؤاخذكم الله باللغو في أيمانكم فإذا كان ذكر اسم الله تعالى على الشيء على طريق القسم من غير عقد عليه ولا تصميم والمخالفة فيه مع أنه لا فائدة فيه لا يؤاخذ فكيف يؤاخذ به بالشعر والرقص
Allah Ta'ala berfirman: "Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksudkan (laghw)." Jika menyebut nama Allah Ta'ala atas sesuatu melalui jalan sumpah tanpa niat sungguh-sungguh dan ketetapan hati, serta melanggarnya—meskipun hal itu tidak ada manfaatnya—tidak dikenai hukuman, maka bagaimana mungkin seseorang dihukum hanya karena syair dan tarian?
وأما قوله يشبه الباطل فهذا لا يدل على اعتقاد تحريمه بل لو قال هو باطل صريحاً
Adapun perkataannya bahwa itu "menyerupai kebatilan", maka ini tidak menunjukkan keyakinan akan keharamannya. Bahkan seandainya beliau secara tegas mengatakan "itu adalah batil",
لما دل على التحريم وإنما يدل على خلوه عن الفائدة فالباطل ما لا فائدة فيه
hal itu tetap tidak menunjukkan keharaman, melainkan hanya menunjukkan ketiadaan manfaat di dalamnya. Sebab, yang dinamakan "batil" adalah sesuatu yang tidak mendatangkan manfaat.
فقول الرجل لامرأته مثلاً بعت نفسي منك وقولها اشتريت عقد باطل مهما كان القصد اللعب والمطايبة وليس بحرام إلا إذا قصد به التمليك المحقق منع الشرع منه
Sebagai contoh, ucapan seorang suami kepada istrinya: "Aku menjual diriku kepadamu," dan jawaban istrinya: "Aku telah membeli," adalah akad yang batil selama tujuannya hanya bersenda gurau dan bercengkerama, namun perbuatan itu tidak haram, kecuali jika dimaksudkan untuk kepemilikan sungguh-sungguh yang dilarang oleh syariat.
وأما قوله مكروه فينزل بعض المواضع التي ذكرتها لك أو ينزل على التنزيه فإنه نص على إباحة لعب الشطرنج وذكر أني أكره لعب وتعليله يدل عليه فإنه قال ليس ذلك من عادة ذوي الدين والمروءة
Adapun perkataannya "makruh", hendaknya dipahami menurut sebagian konteks yang telah aku sebutkan kepadamu, atau dipahami sebagai karahat tanzih (kemakruhan yang tidak berdosa). Sebab beliau secara tegas menyatakan kebolehan bermain catur, lalu menyebutkan: "Aku membenci permainannya," dan alasan yang beliau kemukakan menunjukkan hal itu, di mana beliau berkata: "Itu bukanlah kebiasaan orang-orang yang memiliki keberagamaan dan kehormatan diri (muru'ah)."
فهذا يدل على التنزيه
Maka hal ini menunjukkan makna tanzih (makruh yang tidak berdosa).
ورده الشهادة بالمواظبة عليه لا يدل على تحريمه أيضاً بل قد ترد الشهادة بالأكل في السوق وما يحرم المروءة بل الحياكة مباحة وليست من صنائع ذوي المروءة وقد ترد شهادة المحترف بالحرفة الخسيسة فتعليله يدل على أنه أراد بالكراهة التنزيه
Penolakan beliau terhadap kesaksian orang yang terus-menerus melakukannya pun tidak menunjukkan keharamannya. Sebab kesaksian seseorang bisa saja ditolak hanya karena makan di pasar dan hal-hal yang menciderai kehormatan diri (muru'ah). Bahkan, pekerjaan menenun itu mubah, namun bukan termasuk mata pencaharian orang-orang yang memiliki muru'ah, dan kesaksian orang yang menekuni profesi yang dianggap rendah bisa ditolak. Maka argumen yang beliau kemukakan menunjukkan bahwa yang beliau maksud dengan makruh adalah tanzih.
وهذا هو الظن أيضاً بغيره من كبار الأئمة
Ini pulalah prasangka baik terhadap para imam besar lainnya.
وإن أرادوا التحريم فما ذكرناه حجة عليهم
Apabila mereka menghendaki makna haram, maka apa yang telah kami uraikan menjadi dalil yang membantah mereka.
بيان حجج القائلين بتحريم السماع والجواب عنها
Penjelasan Mengenai Dalil-Dalil Pihak yang Mengharamkan Sama' (Mendengarkan Nyanyian/Musik) dan Jawabannya
احتجوا بقوله تعالى ومن الناس من يشتري لهو الحديث قال ابن مسعود والحسن البصري والنخعي ﵃ أن لهو الحديث هو الغناء
Mereka berdalil dengan firman Allah Ta'ala: "Dan di antara manusia ada orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna (lahwal hadits)…" Ibnu Mas'ud, al-Hasan al-Bashri, dan an-Nakha'i radhiyallahu 'anhum berpendapat bahwa lahwal hadits yang dimaksud adalah nyanyian.
وروت عائشة ﵂ أن النبي ﷺ قال إن الله تعالى حرم القينة وبيعها وثمنها وتعليمها
Aisyah radhiyallahu 'anha meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Allah Ta'ala mengharamkan budak wanita penyanyi (qainah), menjualnya, hasil penjualannya, dan mengajarinya."
فنقول أما القينة فالمراد بها الجارية التي تغني للرجال في مجلس الشرب
Maka kami katakan: Adapun qainah (budak wanita penyanyi), yang dimaksud adalah budak perempuan yang bernyanyi untuk kaum laki-laki di majelis peminum khamar.
وقد ذكرنا أن غناء الأجنبية للفساق ومن يخاف عليهم الفتنة حرام وهم لا يقصدون بالفتنة إلا ما هو محظور فأما غناء الجارية لمالكها فلا يفهم تحريمه من هذا الحديث بل لغير مالكها سماعها عند عدم الفتنة
Dan telah kami jelaskan bahwa nyanyian wanita bukan mahram (ajnabiyyah) untuk orang-orang fasik serta mereka yang dikhawatirkan terkena fitnah adalah haram—dan yang dimaksud fitnah di sini tidak lain adalah hal yang dilarang. Adapun nyanyian budak perempuan bagi tuannya sendiri, maka keharamannya tidak dapat dipahami dari hadis ini, bahkan selain tuannya pun boleh mendengarkannya apabila terhindar dari fitnah,
بدليل ما روي في الصحيحين من غناء الجاريتين في بيت عائشة ﵂
berlandaskan dalil yang diriwayatkan dalam Al-Shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim) tentang nyanyian dua budak perempuan di rumah Aisyah radhiyallahu 'anha.
وأما شراء لهو الحديث بالدين استبدالاً به ليضل به عن سبيل الله
Adapun membeli "perkataan yang tidak berguna" (lahwal hadits) dengan mengorbankan agama sebagai gantinya agar menyesatkan manusia dari jalan Allah…
فهو حرام مذموم وليس النزاع فيه وليس كل غناء بدلاً عن الدين مشترى به ومضلاً عن سبيل الله تعالى وهو المراد في الآية
Maka nyanyian seperti itu hukumnya haram lagi tercela, dan tidak ada perselisihan padanya. Namun, tidak setiap nyanyian dijadikan sebagai pengganti agama yang dibeli dengannya dan menyesatkan dari jalan Allah Ta'ala, padahal itulah yang dimaksudkan dalam ayat tersebut.
ولو قرأ القرآن ليضل به عن سبيل الله لكان حراماً
Sekiranya seseorang membaca Al-Qur'an dengan tujuan untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah, niscaya pembacaan itu pun menjadi haram.
حكى عن بعض المنافقين أنه كان يؤم الناس ولا يقرأ إلا سورة عبس لما فيها من العتاب مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فهم عمر بقتله ورأى فعله حراما لما فيه من الإضلال
Diceritakan tentang sebagian orang munafik bahwa ia mengimami manusia dan tidak pernah membaca kecuali surah 'Abasa karena di dalamnya terdapat teguran kepada Rasulullah ﷺ. Maka Umar berkeinginan untuk membunuhnya dan memandang perbuatannya itu haram karena mengandung penyesatan.
فالإضلال بالشعر والغناء أولى بالتحريم
Maka penyesatan melalui syair dan nyanyian tentu lebih utama untuk diharamkan.
واحتجوا بقوله تعالى أفمن هذا الحديث تعجبون وتضحكون ولا تبكون وأنتم سامدون قال ابن عباس ﵄ هو الغناء بلغة حمير يعني السمد فنقول ينبغي أن يحرم الضحك وعدم البكاء أيضاً لآن الآية تشتمل عليه
Merekapun berhujkah dengan firman Allah Ta'ala: "Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini? Dan kamu tertawa dan tidak menangis, sedang kamu lengah (samidun)?" Ibnu Abbas r.a. berkata: "As-samad adalah nyanyian dalam bahasa Himyar." Maka kami katakan: Berdasarkan hal tersebut, semestinya tertawa dan tidak menangis juga diharamkan, karena ayat tersebut mencakup semuanya.
فإن قيل إن ذلك مخصوص بالضحك على المسلمين لإسلامهم فهذا أيضاً مخصوص بأشعارهم وغنائهم في معرض الاستهزاء بالمسلمين كما قال تعالى والشعراء يتبعهم الغاوون وأراد به شعراء الكفار
Jika dikatakan bahwa larangan itu khusus bagi sikap menertawakan kaum muslimin karena keislaman mereka, maka larangan nyanyian ini pun khusus bagi syair-syair dan nyanyian-nyanyian mereka yang disampaikan dalam konteks penghinaan terhadap kaum muslimin, sebagaimana firman Allah Ta'ala: "Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat," yang mana dimaksudkan dengannya adalah para penyair kafir.
ولم يدل ذلك على تحريم نظم الشعر في نفسه
Dan hal itu tidak menunjukkan diharamkannya menggubah syair pada hakikat zatnya sendiri.
واحتجوا بما روى جابر ﵁ أنه ﷺ قال كان إبليس أول من ناح وأول من تغنى
Mereka juga berhujkah dengan riwayat dari Jabir r.a. bahwasanya Nabi ﷺ bersabda: "Iblis adalah makhluk pertama yang meratap dan makhluk pertama yang bernyanyi."
فقد جمع بين النياحة والغناء قلنا لا جرم كما استثنى منه نياحة داود ﵇ ونياحة المذنبين على خطاياهم فكذلك يستثنى الغناء الذي يراد به تحريك السرور والحزن والشوق حيث يباح تحريكه بل كما استثنى غناء الجاريتين يوم العيد في بيت رسول الله ﷺ وغناؤهن عند قدومه ﷺ بقولهن
Maka hadis tersebut menggabungkan antara ratapan dan nyanyian. Kami jawab: Tentu saja, sebagaimana dikecualikan darinya ratapan Nabi Daud a.s. dan ratapan orang-orang berdosa atas kesalahan-kesalahan mereka, maka demikian pula dikecualikan nyanyian yang bertujuan untuk menggerakkan rasa gembira, sedih, dan rindu pada hal-hal yang dibolehkan untuk digerakkan. Bahkan, sebagaimana dikecualikan nyanyian dua anak perempuan pada hari raya di rumah Rasulullah ﷺ dan nyanyian mereka ketika kedatangan beliau ﷺ dengan melantunkan:
طلع البدر علينا … من ثنيات الوداع
"Telah terbit bulan purnama atas kami… dari arah Tsaniyyatil Wada'"
واحتجوا بما روى أبو إمامة عنه ﷺ أَنَّهُ قَالَ مَا رفع أحد صوته بغناء إلا بعث الله له شيطانين على منكبيه يضربان بأعقابهما على صدره حتى يمسك
Mereka juga berhujkah dengan riwayat Abu Umamah dari Nabi ﷺ bahwasanya beliau bersabda: "Tidaklah seseorang meninggikan suaranya dengan nyanyian melainkan Allah mengutus dua setan kepadanya di atas kedua bahunya yang memukul dada orang itu dengan tumit mereka hingga ia berhenti."
قلنا هو منزل على بعض أنواع الغناء الذي قدمناه وهو الذي يحرك من القلب ما هو مراد الشيطان من الشهوة وعشق المخلوقين فأما ما يحرك الشوق إلى الله أو السرور بالعيد أو حدوث الولد أو قدوم الغائب فهذا كله يضاد مراد الشيطان
Kami jawab: Hadis ini diterapkan pada sebagian jenis nyanyian yang telah kami sebutkan sebelumnya, yaitu nyanyian yang menggerakkan dari dalam hati apa yang menjadi tujuan setan berupa syahwat dan kasmaran kepada makhluk. Adapun apa yang menggerakkan kerinduan kepada Allah, atau kegembiraan pada hari raya, atau karena kelahiran anak, atau kedatangan orang yang bepergian jauh, maka semua ini berlawanan dengan tujuan setan.
بدليل قصة الجاريتين والحبشة والأخبار التي نقلناها من الصحاح فالتجويز في موضع واحد نص في الإباحة والمنع في ألف موضع محتمل للتأويل ومحتمل للتنزيل
Hal ini dibuktikan dengan kisah dua anak perempuan, atraksi bangsa Habasyah, dan riwayat-riwayat yang kami kutip dari kitab-kitab sahih. Maka, pembolehan pada satu tempat merupakan nash tentang kehalalannya, sedangkan pelarangan di seribu tempat masih mengandung kemungkinan takwil dan kemungkinan penyesuaian kondisi (tanzil).
أما الفعل فلا تأويل له إذ ما حرم فعله إنما يحل بعارض الإكراه فقط وما أبيح فعله يحرم بعوارض كثيرة حتى النيات والقصود
Adapun perbuatan lahiriah (yang telah dicontohkan Nabi), tidak ada takwil baginya, sebab apa yang diharamkan perbuatannya hanya dapat menjadi halal karena kondisi pemaksaan (ikrah). Sedangkan apa yang dibolehkan perbuatannya bisa berubah menjadi haram karena berbagai faktor luar, bahkan karena niat dan tujuan.
واحتجوا بما روى عقبة بن عامر أن النبي ﷺ قال كل شيء يلهو به الرجل فهو باطل إلا تأديبه فرسه ورميه بقوسه وملاعبته لامرأته
Mereka juga berhujkah dengan riwayat 'Uqbah bin 'Amir bahwasanya Nabi ﷺ bersabda: "Segala sesuatu yang dijadikan permainan oleh seseorang adalah batil, kecuali latihannya pada kudanya, lemparan panahnya dari busurnya, dan senda gurau dengan istrinya."
قلنا فقوله باطل لا يدل على التحريم بل يدل على عدم الفائدة وقد يسلم ذلك
Kami jawab: Sabda beliau "batil" tidak menunjukkan keharaman, melainkan menunjukkan ketiadaan manfaat, dan hal itu dapat diterima.
على أن التلهي بالنظر إلى الحبشة خارج عن هذه الثلاثة وليس بحرام بل يلحق بالمحصور غير المحصور قياساً كقوله ﷺ لا يحل دم امرئ مسلم إلا بإحدى ثلاث
Di samping itu, bersenang-senang dengan menyaksikan atraksi bangsa Habasyah berada di luar tiga hal tersebut dan hukumnya tidak haram, melainkan hal yang tidak terbatas diqiyaskan kepada yang terbatas, sebagaimana sabda beliau ﷺ: "Tidak halal darah seorang muslim kecuali karena salah satu dari tiga hal."
فإنه يلحق به رابع وخامس فكذلك ملاعبة امرأته لا فائدة له إلا التلذذ
Sebab, hal keempat dan kelima dapat dihubungkan padanya. Maka demikian pula bersenda gurau dengan istri, tidak ada manfaat padanya selain untuk menikmati kelezatan.
وفي هذا دليل على أن التفرج في البساتين وسماع أصوات الطيور وأنواع المداعبات مما يلهو به الرجل لا يحرم عليه شيء منها وإن جاز وصفه بأنه باطل
Dalam hal ini terdapat dalil bahwa rekreasi di kebun-kebun, mendengarkan kicauan burung, dan berbagai jenis senda gurau yang dijadikan hiburan oleh seseorang, tidak ada satupun darinya yang diharamkan, meskipun boleh disifati sebagai sesuatu yang batil (sia-sia).
واحتجوا بقول عثمان ﵁ ما تغنيت ولا تمنيت ولا مسست ذكري بيميني مذ بايعت بِهَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ
Mereka juga berhujkah dengan perkataan Utsman r.a.: "Aku tidak pernah bernyanyi, tidak pernah berangan-angan hampa, dan tidak pernah menyentuh kemaluanku dengan tangan kananku sejak aku membaiat Rasulullah ﷺ dengannya."
قلنا فليكن التمني ومس الذكر باليمنى حراماً إن كان هذا دليل تحريم الغناء فمن أين يثبت أن عثمان ﵁ كان لا يترك إلا الحرام
Kami katakan: Maka hendaklah berangan-angan (tamanni) dan menyentuh kemaluan dengan tangan kanan itu haram hukumnya jika ini dijadikan dalil pengharaman nyanyian (ghina'). Lantas dari manakah dapat dibuktikan bahwa Utsman radhiyallahu 'anhu tidak pernah meninggalkan sesuatu kecuali perkara yang haram?
واحتجوا بقول ابن مسعود ﵁ الغناء ينبت في القلب النفاق وزاد بعضهم كما ينبت الماء البقلحديث ابن مسعود الغناء ينبت النفاق في القلب ما ينبت الماء البقل قال المصنف والمرفوع غير صحيح لأن في إسناده من لم يسم رواه أبو داود وهو في رواية ابن العبد ليس في رواية اللؤلؤى ورواه البيهقى مرفوعا وموقوفا ورفعه بعضهم إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وهو غير صحيح
Dan mereka berhujjah dengan perkataan Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu: "Nyanyian itu menumbuhkan kemunafikan di dalam hati," dan sebagian dari mereka menambahkan: "sebagaimana air menumbuhkan sayur-mayur." (Hadis Ibnu Mas'ud: "Nyanyian menumbuhkan kemunafikan di dalam hati sebagaimana air menumbuhkan sayur-mayur." Mushannif berkata: Riwayat yang marfu' [disandarkan kepada Nabi] tidak shahih karena dalam sanadnya terdapat perawi yang tidak disebutkan namanya. Diriwayatkan oleh Abu Dawud, dan ia terdapat dalam riwayat Ibnu al-'Abd tetapi tidak ada dalam riwayat al-Lu'lu'i. Diriwayatkan juga oleh al-Baihaqi secara marfu' dan mauquf, dan sebagian perawi memarfu'kannya kepada Rasulullah ﷺ, namun hal itu tidak shahih).
قالوا ومر على ابن عمر ﵄ قوم محرمون وفيهم رجل يتغنى فقال ألا لا أسمع الله لكم ألا لا أسمع الله لكم
Mereka berkata: Pernah Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma melewati sekelompok orang yang sedang berihram, dan di antara mereka ada seorang laki-laki yang bernyanyi. Maka beliau berkata: "Ketahuilah, semoga Allah tidak mendengarkan kalian! Ketahuilah, semoga Allah tidak mendengarkan kalian!"
وعن نافع أنه قال كنت مع ابن عمر ﵄ في طريق فسمع زمارة راع فوضع أصبعيه في أذنيه ثم عدل عن الطريق فلم يزل يقول يا نافع أتسمع ذلك حتى قلت لا فأخرج أصبعيه وقال
Diriwayatkan dari Nafi' bahwa ia berkata: Aku pernah berjalan bersama Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma di suatu jalan, lalu beliau mendengar suara seruling seorang penggembala. Maka beliau memasukkan kedua jarinya ke dalam kedua telinganya, kemudian menyimpang dari jalan tersebut. Beliau terus-menerus bertanya, "Wahai Nafi', apakah engkau masih mendengarnya?" hingga aku menjawab, "Tidak." Maka beliau mengeluarkan kedua jarinya dan berkata:
هكذا رأيت رسول الله ﷺ صنعحديث نافع كنت وابن عمر في طريق فسمع زمارة راع فوضع أصبعيه في أذنية الحديث ورفعه أبو داود وقال هذا حديث منكر
"Demikianlah aku melihat Rasulullah ﷺ berbuat." (Hadis Nafi': "Aku pernah bersama Ibnu Umar di suatu jalan lalu beliau mendengar suara seruling penggembala… al-hadits." Diriwayatkan oleh Abu Dawud secara marfu', dan ia berkata: Ini adalah hadis munkar).
وقال الفضيل بن عياض ﵀ الغناء رقية الزنا
Fudhayl bin 'Iyadh rahimahullah berkata: "Nyanyian adalah mantra (pemicu) perzinaan."
وقال بعضهم الغناء رائد من رواد الفجور
Sebagian ulama berkata: "Nyanyian merupakan salah satu utusan pembuka menuju kefasikan (fujur)."
وقال يزيد بن الوليد إياكم والغناء فإنه ينقص الحياء ويزيد الشهوة ويهدم المروءة وإنه لينوب عن الخمر ويفعل ما يفعله السكر فإن كنتم لا بد فاعلين فجنبوه النساء فإن الغناء داعية الزنا
Yazid bin al-Walid berkata: "Jauhilah oleh kalian nyanyian, karena sesungguhnya nyanyian itu mengikis rasa malu, menambah syahwat, meruntuhkan muru'ah (harga diri), serta menggantikan peran khamar dan menimbulkan efek sebagaimana mabuk. Jika kalian terpaksa melakukannya, maka jauhkanlah nyanyian itu dari para wanita, karena nyanyian merupakan pendorong terjadinya zina."
فنقول قول ابن مسعود ﵁ ينبت النفاق أراد به في حق المغني فإنه في حقه ينبت النفاق إذ غرضه كله أن يعرض نفسه على غيره ويروج صوته عليه ولا يزال ينافق ويتودد إلى الناس ليرغبوا في غنائه وذلك أيضاً لا يوجب تحريماً
Maka kami katakan: Perkataan Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu "menumbuhkan kemunafikan" dimaksudkan berkenaan dengan diri penyanyi itu sendiri. Sebab bagi si penyanyi, hal itu memang menumbuhkan kemunafikan karena seluruh tujuannya adalah memamerkan dirinya kepada orang lain dan mempopulerkan suaranya. Ia senantiasa bermuka dua dan bersikap manis kepada orang-orang agar mereka menyukai nyanyiannya. Namun, hal itu sendiri tidak serta-merta menetapkan hukum haram.
فإن لبس الثياب الجميلة وركوب الخيل المهملجة وسائر أنواع الزينة والتفاخر بالحرث والأنعام والزرع وغير ذلك ينبت في القلب النفاق والرياء ولا يطلق القول بتحريم ذلك كله
Sebab mengenakan pakaian yang indah, menunggangi kuda yang terlatih berpacu cepat, serta berbagai jenis perhiasan lainnya, begitu pula membanggakan ladang, binatang ternak, tanaman, dan semacamnya, juga menumbuhkan kemunafikan dan riya' di dalam hati; namun tidaklah mutlak dikatakan bahwa semua hal itu haram.
فليس السبب في ظهور النفاق في القلب المعاصي فقط بل المباحات التي هي مواقع نظر الخلق أكثر تأثيراً
Sebab faktor penyebab munculnya kemunafikan di dalam hati bukan hanya perbuatan maksiat semata, melainkan perkara-perkara mubah yang menjadi pusat perhatian makhluk justru memberikan pengaruh yang lebih kuat.
ولذلك نزل عمر ﵁ عن فرس هملج تحته وقطع ذنبه لأنه استشعر في نفسه الخيلاء لحسن مطيته
Oleh karena itulah, Umar radhiyallahu 'anhu pernah turun dari kuda tunggangannya yang melangkah tangkas dan memotong ekornya, karena beliau merasakan timbulnya rasa kesombongan (khuyala') di dalam dirinya akibat indahnya tunggangan tersebut.
فهذا النفاق من المباحات
Maka kemunafikan jenis ini bersumber dari perkara-perkara yang mubah.
وأما قول ابن عمر ﵄ ألا لا أسمع الله لكم
Adapun perkataan Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma: "Ketahuilah, semoga Allah tidak mendengarkan kalian!"
فلا يدل على التحريم من حيث إنه غناء بل كانوا محرمين ولا يليق بهم الرفث وظهر له من مخايلهم أن سماعهم لم يكن لوجد وشوق إلى زيارة بيت الله تعالى بل لمجرد اللهو فأنكر ذلك عليهم لكونه منكراً بالإضافة إلى حالهم وحال الإحرام
Maka perkataan itu tidak menunjukkan pengharaman dari segi bahwa ia adalah nyanyian semata. Melainkan karena mereka saat itu sedang berihram dan tidak layak bagi mereka melakukan rafat (perkataan atau perbuatan sia-sia/tak senonoh). Terlebih tampak bagi beliau dari indikasi mereka bahwa pendengaran mereka bukan didasari oleh rasa wajd (ketergugahan jiwa) dan kerinduan untuk mengunjungi Baitullah Ta'ala, melainkan murni untuk kesenangan sia-sia (lahw). Maka beliau mengingkari hal itu karena dianggap sebagai keburukan jika dikaitkan dengan keadaan diri mereka dan kondisi ihram tersebut.
وحكايات الأحوال تكثر فيها وجوه الاحتمال
Dan kisah-kisah tentang suatu kondisi (hikayat al-ahwal) mengandung banyak kemungkinan penafsiran.
وأما وضعه أصبعيه في أذنيه فيعارضه أنه لم يأمر نافعاً بذلك ولا أنكر عليه سماعه وإنما فعل ذلك هو لأنه رأى أن ينزه سمعه في الحال وقلبه عن صوت ربما يحرك اللهو ويمنعه عن فكر كان فيه أو ذكر هو أولى منه
Adapun tindakan beliau memasukkan kedua jarinya ke dalam kedua telinganya, hal itu disanggah oleh fakta bahwa beliau tidak memerintahkan Nafi' untuk melakukan hal serupa dan tidak pula melarang Nafi' mendengarkannya. Beliau melakukan hal itu semata-mata karena memandang perlunya menyucikan pendengarannya dan hatinya pada saat itu dari suara yang mungkin membangkitkan kelalaian (lahw) serta memalingkannya dari tafakur atau zikir yang sedang ia lakukan yang lebih utama baginya.
وكذلك فَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مع أنه لم يمنع ابن عمر لا يدل أيضاً على التحريم بل يدل على أن الأولى تركه
Demikian pula yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ, di samping beliau tidak melarang Ibnu Umar. Hal ini juga tidak menunjukkan pengharaman, melainkan menunjukkan bahwa yang lebih utama adalah meninggalkannya.
ونحن نرى أن الأولى تركه في أكثر الأحوال بل أكثر مباحات الدنيا الأولى تركها إذا علم أن ذلك يؤثر في القلب
Dan kami berpandangan bahwa yang lebih utama adalah meninggalkannya dalam sebagian besar keadaan. Bahkan, sebagian besar perkara mubah di dunia ini lebih utama untuk ditinggalkan apabila diketahui bahwa hal itu berpengaruh negatif terhadap hati.
فقد خلع رسول الله ﷺ بعد الفراغ من الصلاة ثوب أبي جهم إذ كانت عليه أعلام شغلت قلبه
Sungguh Rasulullah ﷺ setelah selesai dari shalat pernah menanggalkan baju pemberian Abu Jahm, karena pakaian tersebut memiliki corak yang menyibukkan (mengganggu konsentrasi) hati beliau.
أفترى أن ذلك يدل على تحريم الأعلام على الثوب فلعله ﷺ كان في حالة كان صوت زمارة الراعي يشغله عن تلك الحالة كما شغله العلم عن الصلاة
Apakah engkau melihat bahwa hal itu menunjukkan keharaman corak atau garis-garis pada pakaian? Boleh jadi Rasulullah ﷺ saat itu berada dalam suatu keadaan spiritual (hal) di mana suara seruling gembala mengganggu keadaan spiritual tersebut, sebagaimana corak pakaian mengganggu konsentrasi beliau dalam shalat.
بل الحاجة إلى استثارة الأحوال الشريفة من القلب بحيلة السماع قصور بالإضافة إلى من هو دائم الشهود للحق وإن كان كمالاً بالإضافة إلى غيره
Bahkan, kebutuhan untuk membangkitkan keadaan-keadaan rohani (ahwal) yang mulia dari dalam hati dengan sarana sima' (mendengarkan nyanyian/musik) merupakan suatu kekurangan jika dibandingkan dengan orang yang senantiasa menyaksikan (syuhud) Al-Haqq (Allah), meskipun hal itu merupakan suatu kesempurnaan jika dibandingkan dengan selainnya.
ولذلك قال الحصري ماذا أعمل بسماع ينقطع إذا مات من
Oleh karena itu, Al-Hushri berkata, 'Apa yang bisa kubuat dengan sima' yang terputus jika orang yang
يسمع منه إشارة إلى أن السماع من الله تعالى هو الدائم
didengar darinya meninggal dunia?' Hal ini sebagai isyarat bahwa sima' (pendengaran rohani) dari Allah Ta'ala itulah yang bersifat abadi.
فالأنبياء ﵈ على الدوام في لذة السمع والشهود فلا يحتاجون إلى التحريك بالحيلة
Maka para nabi 'alaihimussalam senantiasa berada dalam kenikmatan mendengarkan keagungan-Nya dan penyaksian (syuhud) secara terus-menerus, sehingga mereka tidak memerlukan dorongan melalui sarana perantara.
وأما قول الفضيل هو رقية الزنا
Adapun ucapan Al-Fudhayl, 'Ia (musik/nyanyian) adalah jampi-jampi perzinaa'n,'
وكذلك ما عداه من الأقاويل القريبة منه
demikian pula perkataan-perkataan lain yang senada dengannya,
فهو منزل على سماع الفساق والمغتلمين من الشبان
maka itu ditujukan untuk sima' (nyanyian) orang-orang fasik dan para pemuda yang sedang bergejolak hawa nafsunya.
ولو كان ذلك عاماً لما سمع من الجاريتين في بيت رسول الله ﷺ
Seandainya hal itu bersifat umum, niscaya Nabi ﷺ tidak akan mendengarkan nyanyian dari dua anak perempuan di rumah beliau.
وأما القياس فغاية ما يذكر فيه أن يقاس على الأوتار وقد سبق الفرق أو يقال هو لهو ولعب وهو كذلك ولكن الدنيا كلها لهو ولعب
Adapun mengenai kias (analogi hukum), batas maksimal yang dapat disebutkan adalah mengkiaskannya dengan alat musik petik (autar), dan perbedaan hukumnya telah dijelaskan sebelumnya; atau dikatakan bahwa itu adalah hiburan dan permainan (lahw wa la'ib). Memang demikian, namun dunia seluruhnya adalah hiburan dan permainan.
قال عمر ﵁ لزوجته إنما أنت لعبة في زاوية البيت
Umar radhiyallahu 'anhu pernah berkata kepada istrinya, 'Sesungguhnya engkau tidak lain hanyalah hiburan di sudut rumah.'
وجميع الملاعبة مع النساء لهو إلا الحراثة التي هي سبب وجود الولد
Dan seluruh sendagurau bersama wanita adalah hiburan semata, kecuali bersetubuh yang menjadi sebab lahirnya anak.
وكذلك المزح الذي لا فحش فيه حلال
Demikian pula gurauan yang tidak mengandung kata-kata kotor adalah halal.
نقل ذلك عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وعن الصحابة كما سيأتي تفصيله في
Hal itu diriwayatkan dari Rasulullah ﷺ dan dari para sahabat, sebagaimana rinciannya akan dijelaskan dalam
كتاب آفات اللسان إن شاء الله
Kitab Bahaya-Bahaya Lidah (Afat al-Lisan), insya Allah.
وأي لهو يزيد على لهو الحبشة والزنوج في لعبهم وقد ثبت بالنص إباحته على أني أقول اللهو مروح للقلب ومخفف عنه أعباء الفكر والقلوب إذا أكرهت عميت وترويحها إعانة لها على الجد فالمواظب على التفقه مثلاً ينبغي أن يتعطل يوم الجمعة لأن عطلة يوم تبعث على النشاط في سائر الأيام والمواظب على نوافل الصلوات في سائر الأوقات ينبغي أن يتعطل في بعض الأوقات ولأجله كرهت الصلاة في بعض الأوقات
Dan hiburan mana yang melebihi hiburan orang-orang Habasyah dan Zanj dalam permainan tarian mereka? Padahal kebolehannya telah tetap berdasarkan nas (dalil yang sahih). Di samping itu aku katakan bahwa hiburan itu menyegarkan hati dan meringankan beban fikiran darinya. Hati itu jika dipaksa terus-menerus akan menjadi buta, dan penyegarannya merupakan bantuan baginya untuk bersungguh-sungguh kembali. Maka orang yang tekun mendalami ilmu fiqih (tafaqquh) misalnya, sepantasnya ia meliburkan diri pada hari Jumat, karena libur sehari dapat membangkitkan semangat pada hari-hari lainnya. Demikian pula orang yang tekun melaksanakan shalat-shalat sunnah di setiap waktu, sepantasnya ia beristirahat pada sebagian waktu, dan karena alasan itulah dimakruhkan shalat pada waktu-waktu tertentu.
فالعطلة معونة على العمل واللهو معين على الجد ولا يصبر على الجد المحض والحق المر إلا نفوس الأنبياء ﵈
Maka beristirahat adalah penolong untuk beramal, dan hiburan adalah penolong untuk kesungguhan. Tidak ada yang mampu bersabar di atas kesungguhan murni dan kebenaran yang pahit melainkan jiwa para nabi 'alaihimussalam.
فاللهو دواء القلب من داء الإعياء والملال فينبغي أن يكون مباحا ولكن لا ينبغي أن يستكثر منه كما لا يستكثر من الدواء فإذا اللهو على هذه النية يصير قربة هذا في حق من لا يحرك السماع من قلبه صفة محمودة يطلب تحريكها بل ليس له إلا اللذة والاستراحة المحضة فينبغي أن يستحب له ذلك ليتوصل به إلى المقصود الذي ذكرناه
Oleh karena itu, hiburan merupakan obat bagi hati dari penyakit kelelahan dan kebosanan, sehingga sepantasnya hukumnya adalah mubah (boleh). Namun, tidak sepatutnya dikonsumsi secara berlebihan, sebagaimana obat yang tidak boleh diminum secara berlebihan. Dengan niat ini, hiburan dapat menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah (qurbah). Ini berlaku bagi orang yang sima' tidak membangkitkan suatu sifat terpuji dalam hatinya yang memang dituntut untuk dibangkitkan, melainkan ia hanya memperoleh kelezatan dan istirahat murni. Maka sepantasnya hal itu dianjurkan baginya agar ia dapat mencapai tujuan yang telah kami sebutkan.
نعم هذا يدل على نقصان عن ذروة الكمال فإن الكامل هو الذي لا يحتاج أن يروح نفسه بغير الحق ولكن حسنات الأبرار سيئات المقربين ومن أحاط بعلم علاج القلوب ووجوه التلطف بها لسياقتها إلى الحق علم قطعاً أن ترويحها بأمثال هذه الأمور دواء نافع لا غنى عنه
Benar, hal ini menunjukkan adanya kekurangan dari puncak kesempurnaan, karena orang yang sempurna adalah orang yang tidak perlu menyegarkan jiwanya dengan selain Kebenaran (Allah). Akan tetapi, 'kebaikan-kebaikan orang-orang yang berbakti (al-abrar) adalah keburukan-keburukan bagi orang-orang yang dekat dengan Allah (al-muqarrabun).' Dan barangsiapa yang menguasai ilmu pengobatan hati serta cara-cara bersikap lembut kepadanya untuk menuntunnya menuju Kebenaran, niscaya ia mengetahui secara pasti bahwa menyegarkan hati dengan hal-hal seperti ini merupakan obat yang bermanfaat dan sangat dibutuhkan.
الباب الثاني آثار السماع وآدابه
Bab Kedua: Dampak-Dampak Sima' dan Adab-Adabnya
اعلم أن أول درجة السماع فهم المسموع وتنزيله على معنى يقع للمستمع ثم يثمر الفهم الوجد ويثمر الوجد الحركة بالجوارح
Ketahuilah bahwa tingkatan pertama dari mendengarkan (sima') adalah pemahaman terhadap apa yang didengar dan mengaplikasikannya pada makna yang terlintas bagi pendengar. Kemudian pemahaman tersebut membuahkan gairah spiritual (wajd), dan wajd itu membuahkan gerakan pada anggota badan.
فلينظر في هذه المقامات الثلاثة
Maka hendaklah diperhatikan ketiga maqam (tingkatan) ini.
المقام الأول في الفهم وهو يختلف باختلاف أحوال المستمع
Maqam pertama adalah dalam hal pemahaman, dan ia berbeda-beda sesuai dengan perbedaan kondisi kerohanian (ahwal) si pendengar.
وللمستمع أربعة أحوال إحداها أن يكون سماع بمجرد الطبع أي لاحظ له في السماع إلا استلذاذ الألحان والنغمات وهذا مباح وهو أخسر رتب السماع إذ الإبل شريكه له فيه وكذا سائر البهائم بل لا يستدعى هذا الذوق إلا الحياة فلكل حيوان نوع تلذذ بالأصوات الطيبة
Bagi pendengar ada empat kondisi (ahwal). Salah satunya adalah pendengaran semata-mata karena watak jasmani (thaba'), yaitu ia tidak memiliki bagian dalam pendengaran melainkan sekadar menikmati irama dan nada-nada. Ini hukumnya mubah dan merupakan tingkatan pendengaran yang paling rendah, sebab unta pun berserikat dengannya dalam hal ini, demikian pula hewan-hewan lainnya. Bahkan rasa (dzawq) seperti ini tidak membutuhkan apa pun selain kehidupan belaka, sebab setiap hewan memiliki jenis kenikmatan tersendiri terhadap suara-suara yang merdu.
الحالة الثانية أن يسمع بفهم ولكن ينزله على صورة مخلوق إما معيناً وإما غير معين وهو سماع الشباب وأرباب الشهوات ويكون تنزيلهم للمسموع على حسب شهواتهم ومقتضى أحوالهم وهذه الحالة أخس من أن نتكلم فيها إلا ببيان خستها والنهي عنها
Kondisi kedua adalah ia mendengarkan dengan pemahaman, namun mengaplikasikannya pada rupa makhluk, baik yang tertentu maupun tidak tertentu. Ini adalah pendengaran para pemuda dan pemilik hawa nafsu (syahwat), dan pengaplikasian mereka terhadap apa yang didengar adalah sesuai dengan syahwat dan tuntutan kondisi mereka. Kondisi ini terlalu rendah untuk kita bicarakan kecuali sekadar menjelaskan kerendahannya dan melarangnya.
الحالة الثالثة أن ينزل ما يسمعه على أحوال نفسه في معاملته لله تعالى وتقلب أحواله في التمكن مرة والتعذر أخرى وهذا سماع المريدين لا سيما المبتدئين فإن للمريد لا محالة مراداً هو مقصده ومقصده معرفة الله سبحانه
Kondisi ketiga adalah ia mengaplikasikan apa yang didengarnya pada kondisi-kondisi jiwanya dalam berinteraksi (muamalah) kepada Allah Ta'ala, serta perubahan kondisi rohaninya yang terkadang mantap (tamakkun) dan terkadang terhalang (ta'addzur). Ini adalah pendengaran para murid (penuntut jalan spiritual), terutama para pemula (mubtadi'in). Sebab, seorang murid pastilah memiliki sesuatu yang diinginkan yang menjadi tujuannya, dan tujuannya adalah ma'rifatullah (mengenal Allah Subhanu wa Ta'ala).
ولقاؤه والوصول إليه بطريق المشاهدة بالسر وكشف الغطاء وله في مقصده طريق هو سالكه ومعاملات هو مثابر عليها وحالات تستقبله في معاملاته
Serta berjumpa dengan-Nya dan sampai (wushul) kepada-Nya melalui jalan perjumpaan rohani (musyahadah) dengan mata hati (sirr) dan tersingkapnya tirai (kasyful ghitha'). Dalam tujuannya itu, ia memiliki jalan yang ia tempuh (salik), amalan-amalan muamalah yang ia tekuni secara konsisten, serta kondisi-kondisi kerohanian (halat) yang menyambutnya dalam muamalah tersebut.
فإذا سمع ذكر عتاب أو خطاب أو قبول أو رد أو وصل أو هجر أو قرب أو بعد أو تلهف على فائت أو تعطش إلى منتظر أو شوق إلى وارد أو طمع أو يأس أو وحشة أو استئناس أو وفاء بالوعد أو نقض للعهد أو خوف فراق أو فرح بوصال أو ذكر ملاحظة الحبيب ومدافعة الرقيب أو همول العبرات أو ترادف الحسرات أو طول الفراق أو عدة الوصال أو غير ذلك مما يشتمل على وصفه الأشعار فلا بد أن يوافق بعضها حال المريد في طلبه فيجري ذلك مجرى القدح الذي يورى زناد قلبه فتشتعل به نيرانه ويقوى به انبعاث الشوق وهيجانه ويهجم عليه بسببه أحوال مخالفة لعادته ويكون له مجال رحب في تنزيل الألفاظ على أحواله
Maka apabila ia mendengar penuturan tentang celaan, teguran, penerimaan, penolakan, penyatuan (washl), perpisahan (hajr), kedekatan (qurb), kejauhan (bu'd), penyesalan atas yang luput, dahaga akan yang dinanti, kerinduan (syawq) pada apa yang datang, harapan (thama'), keputusasaan (ya's), keterasingan (wahsyah), ketenangan (isti'nas), pemenuhan janji, pemutusan janji, rasa takut akan perpisahan, kegembiraan atas pertemuan, atau penuturan tentang tatapan sang Kekasih dan penolakan terhadap sang pengawas, curahan air mata, penyesalan yang bertubi-tubi, panjangnya perpisahan, janji pertemuan, atau hal-hal lain yang tercakup dalam penggambaran syair-syair; maka dapat dipastikan sebagian dari hal itu akan sesuai dengan kondisi rohani (hal) sang murid dalam pencariannya. Hal itu bertindak bagaikan pemantik yang menyalakan percikan api hatinya, sehingga kobaran apinya menyala, gelombang kerinduan dan gejolaknya semakin kuat, dan menyergapnya kondisi-kondisi kerohanian yang berbeda dari kebiasaannya, serta ia memiliki ruang yang luas dalam mengaplikasikan lafal-lafal tersebut pada kondisi-kondisi rohaninya.
وليس على المستمع مراعاة مراد الشاعر من كلامه بل لكل كلام وجوه ولكل ذي فهم في اقتباس المعنى منه حظوظ
Dan tidak wajib bagi pendengar untuk memperhatikan maksud penyair dari perkataannya, melainkan setiap perkataan memiliki berbagai sudut pandang, dan setiap orang yang memiliki pemahaman mempunyai bagian masing-masing dalam memetik makna darinya.
ولنضرب لهذه التنزيلات والفهوم أمثلة كي لا يظن الجاهل أن المستمع لأبيات فيها ذكر الفم والخد والصدغ إنما يفهم منها ظواهرها
Dan mari kita berikan contoh-contoh bagi pengaplikasian dan pemahaman ini, agar orang jahil tidak mengira bahwa pendengar bait-bait syair yang di dalamnya terdapat penuturan tentang mulut, pipi, dan pelipis hanyalah memahami makna lahiriahnya saja.
ولا حاجة بنا إلى ذكر كيفية فهم المعاني من الأبيات ففي حكايات أهل السماع ما يكشف عن ذلك
Dan kita tidak perlu menyebutkan tata cara memahami makna-makna dari bait-bait syair tersebut, sebab dalam kisah-kisah para ahli sima' terdapat hal yang menyingkap hal itu.
فقد حكى أن بعضهم سمع قائلاً يقول
Sungguh telah diriwayatkan bahwa sebagian dari mereka mendengar seorang penembang berkata:
قال الرسول غدا تزور … فقلت تعقل ما تقول
"Utusan berkata: Besok engkau akan berkunjung (tazuur)… Maka aku berkata: Apakah engkau menyadari apa yang engkau katakan?"
فاستفزه اللحن والقول وتواجد وجعل يكرر ذلك ويجعل مكان التاء نوناً فيقول قال الرسول غدا نزور حتى غشى عليه من شدة الفرح واللذة والسرور
Maka irama dan perkataan itu menggoncang jiwanya, lalu ia larut dalam gairah spiritual yang diusahakan (tawajud), dan ia terus mengulang-ulangnya dengan mengganti huruf 'ta' menjadi 'nun', sehingga ia mengucapkan: "Utusan berkata: Besok kita akan berkunjung (nazuur)", hingga ia pingsan karena sangat gembira, nikmat, dan bahagia.
فلما أفاق سئل عن وجده مم كان فقال ذكرت قول الرسول ﷺ إن أهل الجنة يزورون ربهم في كل يوم جمعة مرة
Ketika ia sadar, ia ditanya tentang gairah spiritualnya (wajd), dari manakah asalnya? Ia menjawab: "Aku teringat sabda Rasulullah ﷺ bahwa penghuni surga mengunjungi Tuhan mereka satu kali setiap hari Jumat."
وحكى الرقى عن ابن الدراج أنه قال كنت أنا وابن الفوطى مارين على دجلة بين البصرة والأبلة فإذا بقصر حسن له منظرة وعليه رجل بين يديه جارية تغني وتقول
Dan Al-Raqqi meriwayatkan dari Ibn ad-Darraj bahwa ia berkata: Aku dan Ibn al-Fuwati sedang melintas di Sungai Tigris antara Basra dan Ubullah. Tiba-tiba tampak sebuah istana indah yang memiliki balkon tempat memandang, di atasnya terdapat seorang lelaki dan di hadapannya ada seorang budak perempuan bernyanyi seraya mengucapkan:
كل يوم تتلون … غير هذا بك أحسن
"Setiap hari engkau berubah-ubah (sikap)… Padahal selain ini sungguh lebih baik bagimu."
فإذا شاب حسن تحت المنظرة وبيده ركوة وعليه مرقعة يستمع فقال يا جارية بالله وبحياة مولاك إلا أعدت علي هذا البيت
Tiba-tiba ada seorang pemuda rupawan di bawah balkon itu, di tangannya ada tempat air (rakwah) dan ia mengenakan pakaian tambalan (muraqqa'ah) sedang mendengarkan. Ia berkata: "Wahai budak perempuan, demi Allah dan demi kehidupan tuanmu, sudi kiranya engkau mengulangi bait ini padaku!"
فأعادت فكان الشاب يقول هذا والله تلوني مع الحق في حالي فشهق شهقة ومات
Maka budak perempuan itu mengulanginya, lalu pemuda itu berkata: "Ini demi Allah adalah gambaran perubahan-perubahan diriku bersama Al-Haqq (Allah) dalam keadaan kerohanianku." Kemudian ia menjerit sekali, lalu meninggal dunia.
قال فقلنا قد استقبلنا فرض
Perawi berkata: Maka kami berkata, "Sungguh telah berada di hadapan kita suatu kewajiban (untuk mengurus jenazahnya)."
فوقفنا فقال صاحب القصر للجارية أنت حرة لوجه الله تعالى قال ثمإن أهل البصرة خرجوا وهذا القصر للسبيل قال ثم رمى بثيابه واتزر بإزار وارتدى بآخر ومر على وجهه والناس ينظرون إليه حتى غاب عن أعينهم وهم يبكون
Maka kami pun berhenti. Pemilik istana itu berkata kepada budak perempuannya, "Engkau merdeka karena Allah Ta'ala." Kemudian (perawi) berkata: Lalu penduduk Basrah keluar, dan istana ini dijadikan wakaf untuk fasilitas umum di jalan Allah. (Perawi) berkata: Kemudian ia melemparkan pakaian mewahnya, mengenakan kain sarung dan selendang, lalu mengembara menuruti langkah kakinya sementara orang-orang memandangnya hingga ia lenyap dari pandangan mereka dalam keadaan mereka menangis.
فلم يسمع له بعد خبر
Maka setelah itu, tidak pernah terdengar lagi kabar tentang dirinya.
والمقصود أن هذا الشخص كان مستغرق الوقت بحاله مع الله تعالى ومعرفة عجزه عن الثبوت على حسن الأدب في المعاملة وتأسفه على تقلب قلبه وميله عن سنن الحق فلما قرع سمعه ما يوافق حاله سمعه من الله تعالى كأنه يخاطبه ويقول له
Maksudnya adalah bahwa orang tersebut seluruh waktunya telah tenggelam dalam keadaannya (hal) bersama Allah Ta'ala, serta kesadarannya akan kelemahannya untuk tetap teguh di atas adab yang baik dalam bermuamalah, dan penyesalannya atas berbolak-baliknya hatinya serta kecenderungannya yang menyimpang dari jalan kebenaran. Maka ketika pendengarannya menangkap sesuatu yang sesuai dengan keadaannya, ia mendengarnya seolah-olah dari Allah Ta'ala, seakan-akan Allah sedang berfirman kepadanya:
كل يوم تتلون … غير هذا بك أحسن
"Setiap hari engkau berubah-ubah warna (labil)… selain sikap ini sungguh lebih baik bagimu."
ومن كان سماعه من الله تعالى وعلى الله وفيه
Dan barang siapa yang pendengarannya (sama') berasal dari Allah Ta'ala, mengenai Allah, dan di dalam jalan Allah,
فينبغي أن يكون قد أحكم قانون العلم في معرفة الله تعالى ومعرفة صفاته
maka hendaknya ia telah mengokohkan kaidah ilmu dalam maqam ma'rifatullah (mengenal Allah Ta'ala) dan mengenal sifat-sifat-Nya.
وإلا خطر له من السماع في حق الله تعالى ما يستحيل عليه ويكفر به
Jika tidak demikian, niscaya akan terlintas dalam benaknya dari sama' itu mengenai hak Allah Ta'ala sesuatu yang mustahil bagi-Nya dan dapat menyebabkan kekufuran.
ففي سماع المريد المبتدئ خطر إلا إذا
Oleh karena itu, dalam pendengaran (sama') seorang murid pemula terdapat bahaya besar, kecuali jika
لم ينزل ما يسمع إلا على حاله من حيث لا يتعلق بوصف الله تعالى
ia tidak menempatkan apa yang ia dengar melainkan pada keadaannya (hal) sendiri, sekira tidak berhubungan sama sekali dengan sifat Allah Ta'ala.
ومثال الخطأ فيه هذا البيت بعينه فلو سمعه في نفسه وهو يخاطب به ربه ﷿ فيضيف التلون إلى الله تعالى فيكفر وهذا قد يقع عن جهل محض مطلق غير ممزوج بتحقيق وقد يكون عن جهل ساقه إليه نوع من التحقيق وهو أن يرى تقلب أحوال قلبه بل تقلب أحوال سائر العالم من الله وهو حق فإنه تارة يبسط قلبه وتارة يقبضه وتارة ينوره وتارة يظلمه وتارة يقسيه وتارة يلينه وتارة يثبته على طاعته ويقويه عليها وتارة يسلط الشيطان عليه ليصرفه عن سنن الحق وهذا كله من الله تعالى
Contoh kekeliruan dalam hal ini adalah bait syair ini sendiri. Jika ia mendengarnya dalam dirinya sedang ia mengalamatkannya kepada Tuhannya Azza wa Jalla, lalu ia menisbahkan sifat berubah-ubah (talawwun) kepada Allah Ta'ala, maka ia menjadi kafir. Hal ini terkadang timbul dari kebodohan murni dan mutlak tanpa tersentuh oleh kebenaran hakiki (tahqiq), dan terkadang pula timbul dari kebodohan yang dihantarkan oleh sejenis tahqiq, yaitu ia melihat berbolak-baliknya keadaan hatinya bahkan berbolak-baliknya keadaan seluruh alam semesta berasal dari Allah—dan hal ini memang benar. Sebab Allah terkadang melapangkan (yabsuthu) hatinya, terkadang menyempitkannya (yaqbidhu), terkadang meneranginya, terkadang menggelapkannya, terkadang mengerasankannya, terkadang melembutkannya, terkadang meneguhkannya atas ketaatan dan menguatkannya, serta terkadang menguasakan setan atasnya untuk memalingkannya dari jalan kebenaran; dan semua ini memang bersumber dari Allah Ta'ala.
ومن يصدر منه أحوال مختلفة في أوقات متقاربة فقد يقال له في العادة إنه ذو بداوات وإنه متلون
Barang siapa yang bersumber darinya berbagai keadaan (hal) yang berbeda-beda dalam waktu yang berdekatan, maka menurut kebiasaan kerap dikatakan kepadanya bahwa ia seorang yang labil dan senantiasa berubah-ubah (mutalawwin).
ولعل الشاعر لم يرد به إلا نسبة محبوبة إلى التلون في قبوله ورده وتقريبه وإبعاده وهذا هو المعنى
Dan boleh jadi penyair tersebut tidak bermaksud melainkan menisbahkan kekasihnya kepada sifat berubah-ubah (talawwun) dalam hal menerima, menolak, mendekatkan, dan menjauhkannya, dan inilah makna (yang sebenarnya).
فسماع هذا كذلك في حق الله تعالى كفر محض بل ينبغي أن يعلم أنه ﷾ يلون ولا يتلون ويغير ولا يتغير بخلاف عباده
Maka memahami sama' seperti ini berkaitan dengan hak Allah Ta'ala merupakan kekufuran murni. Sebaliknya, hendaknya ia mengetahui bahwa Allah Jalla wa 'Ala Dialah yang mengubah-ubah keadaan dan tidak pernah berubah-ubah, Dialah yang mengubah segala sesuatu dan tidak pernah berubah, berbeda halnya dengan para hamba-Nya.
وذلك العلم يحصل للمريد باعتقاد تقليدي إيماني
Pengetahuan yang demikian itu diperoleh oleh seorang murid melalui iktikad imaniah yang bersifat taqlid,
ويحصل للعارف البصير بيقين كشفي حقيقي
sedangkan bagi seorang arif yang mata hatinya tajam, hal itu diperoleh melalui keyakinan kasyaf yang hakiki.
وذلك من أعاجيب أوصاف الربوبية وهو المغير من غير تغير ولا يتصور ذلك إلا في حق الله تعالى بل كل مغير سواه فلا يغير ما لم يتغير
Hal itu termasuk di antara keajaiban sifat-sifat Rububiyyah, yaitu Dialah Sang Pengubah tanpa mengalami perubahan. Hal itu tidak terbayangkan kecuali pada hak Allah Ta'ala. Sebaliknya, setiap pengubah selain-Nya tidak akan dapat mengubah sesuatu selama ia sendiri tidak berubah.
ومن أرباب الوجد من يغلب عليه حال مثل السكر المدهش فيطلق لسانه بالعتاب مع الله تعالى ويستنكر اقتهاره للقلوب وقسمته للأحوال الشريفة على تفاوت
Di antara para pemilik wajd (pengalaman spiritual), ada yang didominasi oleh keadaan (hal) seperti mabuk spiritual (sukr) yang membingungkan, sehingga lisan mereka terlepas mengucapkan keluhan ('itab) kepada Allah Ta'ala dan merasa heran atas kekuasaan pemaksaan-Nya atas hati serta pembagian-Nya terhadap keadaan-keadaan yang mulia secara bertingkat-tingkat.
فإنه المستصفى لقلوب الصديقين والمبعد لقلوب الجاحدين والمغرورين فلا مانع لما أعطى ولا معطي لما منع ولم يقطع التوفيق عن الكفار لجناية متقدمة ولا أمد الأنبياء ﵈ بتوفيقه ونور هدايته لوسيلة سابقة ولكنه قال ولقد سبقت كلمتنا لعبادنا المرسلين وقال ﷿ ولكن حق القول مني لأملأن جهنم من الجنة والناس أجمعين وقال تعالى إن الذين سبقت لهم منا الحسنى أولئك عنها مبعدون فإن خطر ببالك أنه لم اختلفت السابقة وهم في ربقه العبودية مشتركون نوديت من سرادقات الجلال لا تجاوز حد الأدب فإنه لا يسئل عما يفعل وهم يسئلون ولعمري تأدب اللسان والظاهر مما يقدر عليه الأكثرون
Sebab Dialah yang memurnikan hati para shiddiqin dan yang menjauhkan hati orang-orang yang ingkar dan tertipu. Maka tidak ada penolak atas apa yang Dia berikan dan tidak ada pemberi atas apa yang Dia tahan. Dia tidak memutuskan taufik dari orang-orang kafir karena kejahatan yang terdahulu, dan tidak pula menyokong para nabi 'alaihimus salam dengan taufik-Nya dan cahaya hidayah-Nya karena wasilah yang mendahuluinya. Akan tetapi Dia berfirman: "Dan sungguh, janji Kami telah tetap bagi hamba-hamba Kami yang menjadi rasul," dan Dia Azza wa Jalla berfirman: "Tetapi telah tetap perkataan dari-Ku: Sungguh akan Aku penuhi neraka Jahanam itu dengan jin dan manusia bersama-sama," serta Dia Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang telah ada untuk mereka kebaikan yang telah menetap dari Kami, mereka itu dijauhkan dari neraka." Maka jika terlintas dalam benakmu: "Mengapa takdir yang terdahulu (sabiqah) itu berbeda-beda padahal mereka sama-sama berada dalam ikatan perhambaan?", niscaya engkau dipanggil dari balik tirai keagungan (suradiqat al-jalal): "Janganlah engkau melampaui batas adab! Karena Dia tidak ditanya tentang apa yang Dia perbuat, melainkan merekalah yang akan ditanya." Demi umurku, menjaga adab lisan dan lahiriah merupakan hal yang mampu dilakukan oleh kebanyakan orang.
فأما تأدب السر عن إضمار الاستبعاد بهذا الاختلاف الظاهر في التقريب والإبعاد والإشقاء والإسعاد مع بقاء السعادة والشقاوة أبد الآباد فلا يقوى عليه إلا العلماء الراسخون في العلم
Adapun menjaga adab batin (sirr) agar tidak menyimpan rasa heran atau menganggap mustahil terhadap perbedaan yang nyata ini dalam hal mendekatkan dan menjauhkannya, menyengsarakan dan membahagiakannya, disertai dengan kekekalan kebahagiaan dan kesengsaraan itu selama-lamanya, maka tidak ada yang mampu melakukannya kecuali para ulama yang mendalam ilmunya (al-rasikhuna fil-'ilm).
ولهذا قال الخضر ﵇ لما سئل عن السماع في المنام إنه الصفو الزلال الذي لا يثبت عليه إلا أقدام العلماء لأنه محرك لأسرار القلوب ومكامنها ومشوش لها تشويش السكر المدهش الذي يكاد يحل عقدة الأدب عن السر إلا ممن عصمه الله تعالى بنور هدايته ولطيف عصمته
Oleh sebab itulah Nabi Khadhir 'alaihissalam berkata ketika ditanya tentang sama' di dalam mimpi: "Sesungguhnya sama' itu adalah kesucian yang jernih yang tidak akan bisa teguh di atasnya kecuali kaki para ulama." Karena sama' itu menggerakkan rahasia-rahasia hati dan tempat-tempat tersembunyinya, serta menguncangkannya dengan keguncangan mabuk spiritual (al-sukr al-mudhisy) yang hampir saja menguraikan ikatan adab dari batin (sirr), kecuali orang yang dipelihara oleh Allah Ta'ala dengan cahaya hidayah-Nya dan kelembutan perlindungan-Nya ('ismah).
ولذلك قال بعضهم ليتنا نجونا من هذا السماع رأساً برأس
Oleh karena itu, sebagian dari mereka berkata, "Duhai, sekiranya kita dapat selamat dari pendengaran (Sama') ini secara impas (tanpa pahala maupun dosa)."
ففي هذا الفن من السماع خطر يزيد على خطر السماع المحرك للشهوة فإن غاية ذلك معصية وغاية الخطأ ههنا كفر
Sebab, dalam jenis Sama' yang ini terdapat bahaya yang melebihi bahaya Sama' yang menggerakkan syahwat. Karena puncak dari hal itu adalah kemaksiatan, sedangkan puncak kesalahan di sini adalah kekufuran.
واعلم أن الفهم قد يختلف بأحوال المستمع فيغلب الوجد على مستمعين لبيت واحد وأحدهما مصيب في الفهم والآخر مخطىءأو كلاهما مصيبان وقد فهما معنيين مختلفين متضادين ولكنه بالإضافة إلى اختلاف أحوالهما لا يتناقض
Ketahuilah bahwa pemahaman itu terkadang berbeda-beda sesuai dengan kondisi spiritual (hal) orang yang mendengarkan. Sehingga wajad (al-wajd) dapat menguasai dua orang yang mendengarkan satu bait syair yang sama, di mana salah seorang dari keduanya benar dalam pemahamannya dan yang lain keliru; atau keduanya sama-sama benar padahal mereka memahami dua makna yang berbeda dan saling bertolak belakang. Namun, jika dinilai berdasarkan perbedaan kondisi spiritual (hal) mereka masing-masing, hal itu tidaklah bertentangan.
كما حكى عن عتبة الغلام أنه سمع رجلاً يقول
Sebagaimana diriwayatkan dari Utbah al-Ghulam bahwa dia mendengar seseorang berkata:
سبحان جبار السما … إن المحب لفي عنا
"Maha Suci Sang Maha Memaksa di langit… Sungguh, orang yang mencintai itu benar-benar berada dalam penderitaan."
فقال صدقت
Maka Utbah berkata, "Engkau benar."
وسمعه رجل آخر فقال كذبت
Dan seorang laki-laki lain mendengarnya lalu berkata, "Engkau dusta."
فقال بعض ذوي البصائر أصابا جميعاً وهو الحق فالتصديق كلام محب غير ممكن من المراد بل مصدود متعب بالصد والهجر
Lalu sebagian orang yang memiliki mata hati (zawi al-basa'ir) berkata, "Keduanya sama-sama benar, dan itulah yang hakiki. Pembenaran tersebut merupakan ucapan seorang pencinta yang tidak dimungkinkan meraih apa yang diidamkannya, bahkan ia terhalang dan merasa lelah oleh penolakan serta pemalingan (dari Sang Kekasih)."
والتكذيب كلام مستأنس بالحب مستلذ لما يقاسيه بسبب فرط حبه غير متأثر به أو كلام محب غير مصدود عن مراده في الحال ولا مستشعر بخطر
Sedangkan pendustaan itu merupakan ucapan seorang pencinta yang telah merasa tenteram (musta'nis) dengan cinta, ia menikmati apa yang dirasakannya karena besarnya cintanya sehingga tidak terpengaruh oleh penderitaan itu; atau ucapan seorang pencinta yang saat itu tidak terhalang dari maksudnya dan tidak merasakan adanya bahaya…
الصد في المآل
… penolakan di kemudian hari.
وذلك لاستيلاء الرجاء وحسن الظن على قلبه
Hal itu terjadi karena didominasi oleh rasa harap (raja') dan prasangka baik (husnudzan) atas hatinya.
فباختلاف هذه الأحوال يختلف الفهم
Maka dengan perbedaan kondisi-kondisi spiritual (al-ahwal) ini, berbedalah pemahamannya.
وحكى عن أبي القاسم بن مروان وكان قد صحب أبا سعيد الخراز ﵀ وترك حضور السماع سنين كثيرة فحضر دعوة وفيها إنسان يقول
Dan diriwayatkan dari Abu al-Qasim bin Marwan—yang telah mendampingi Abu Sa'id al-Kharraz rahimahullah dan telah meninggalkan majelis Sama' selama bertahun-tahun—bahwa ia menghadiri suatu undangan, lalu di sana terdapat seseorang yang melantunkan:
واقف في الماء عطشان … ولكن ليس يسقى
"Berdiri di tengah air dalam keadaan dahaga… akan tetapi ia tidak diberi minum."
فقام القوم وتواجدوا فلما سكنوا سألهم عن معنى ما وقع لهم من معنى البيت فأشاروا إلى التعطش إلى الأحوال الشريفة والحرمان منها مع حضور أسبابها فلم يقنعه ذلك فقالوا له فماذا عندك فيه فقال أن يكون في وسط الأحوال ويكرم بالكرامات ولا يعطى منها ذرة
Maka orang-orang yang hadir pun bangkit dan mengalami wajad (tawajadu). Ketika mereka telah tenang kembali, ia bertanya kepada mereka tentang makna yang timbul dalam diri mereka dari bait syair tersebut. Mereka pun mengisyaratkan kepada rasa dahaga terhadap kondisi-kondisi spiritual yang mulia (al-ahwal al-syarifah) dan terhalang darinya padahal sebab-sebabnya telah hadir. Jawaban itu belum memuaskannya, maka mereka bertanya kepadanya, "Lalu bagaimana pendapatmu tentangnya?" Ia menjawab, "Yaitu seseorang berada di tengah-tengah berbagai hal (kondisi spiritual) dan dimuliakan dengan karamah-karamah, namun ia tidak diberi dari (hakikat ma'rifat) itu walaupun seberat zarrah."
وهذه إشارة إلى إثبات حقيقة وراء الأحوال والكرامات والأحوال سوابقها والكرامات تسنح في مباديها والحقيقة بعد لم يقع الوصول إليها
Ini merupakan isyarat untuk menetapkan adanya Hakikat (Haqiqah) di balik kondisi-kondisi spiritual (ahwal) dan karamah-karamah. Kondisi spiritual adalah pendahulunya, sedangkan karamah-karamah muncul pada permulaannya, sementara Hakikat belum sampai dicapai.
ولا فرق بين المعنى الذي فهمه وبين ما ذكروه إلا في تفاوت رتبة المتعطش إليه فإن المحروم عن الأحوال الشريفة أولاً يتعطش إليها فإن مكن منها تعطش إلى ما وراءها فليس بين المعنيين اختلاف في الفهم بل الاختلاف بين الرتبتين
Dan tidak ada perbedaan antara makna yang dipahaminya dengan apa yang mereka sebutkan melainkan dalam hal perbedaan tingkatan (martabah) dari apa yang didahagakan. Sebab orang yang terhalang dari kondisi-kondisi spiritual yang mulia pada mulanya mendahagakannya, dan apabila ia telah dimungkinkan menggapainya, ia akan mendahagakan apa yang ada di baliknya. Jadi, di antara kedua makna itu tidak ada perselisihan dalam pemahaman, melainkan perbedaan di antara dua tingkatan.
وكان الشبلي ﵀ كثيراً ما يتواجد على هذا البيت
Al-Syibli rahimahullah sering kali mengalami wajad (tawajjud) karena bait syair ini:
ودادكم هجر وحبكم قلى … ووصلكم صرم وسلمكم حرب
"Cinta kalian adalah pemalingan, menyukai kalian adalah kebencian… Penyatuan dengan kalian adalah pemutusan, dan perdamaian kalian adalah peperangan."
وهذا البيت يمكن سماعه على وجوه مختلفة وبعضها حق وبعضها باطل وأظهرها أن يفهم هذا في الخلق بل في الدنيا بأسرها بل في كل ما سوى الله تعالى
Bait syair ini memungkinkan untuk didengar dengan berbagai penafsiran yang berbeda; sebagian di antaranya benar dan sebagian yang lain batil. Penafsiran yang paling jelas adalah hendaknya hal ini dipahami terkait makhluk, bahkan dunia secara keseluruhan, bahkan segala sesuatu selain Allah Ta'ala.
فإن الدنيا مكارة خداعة قتالة لأربابها معادية لهم في الباطن ومظهرة صورة الود فما امتلأت منها دار حبرة إلا امتلأت عبرة
Sesungguhnya dunia itu amat licik, penuh tipu daya, membunuh orang-orang yang mengejarnya, serta memusuhi mereka secara batiniah meskipun menampakkan wujud kasih sayang. Tidaklah sebuah rumah terpenuhi oleh kegembiraan darinya, melainkan pasti akan terpenuhi pula oleh air mata.
كما ورد في الخبر وكما قال الثعلبي في وصف الدنيا
Sebagaimana diriwayatkan dalam riwayat hadis dan sebagaimana dikatakan oleh Ats-Tsa'labi dalam menggambarkan hakikat dunia:
تنح عن الدنيا فلا تخطبنها … ولا تخطبن قتالة من تناكح
Menjauhlah dari dunia dan jangan sekali-kali engkau meminangnya… dan jangan meminang wanita pembunuh yang menghabisi siapa pun yang menikahinya.
فليس يفي مرجوها بمخوفها … ومكروهها أما تأملت راجح
Sebab apa yang diharapkan darinya tidak sebanding dengan apa yang ditakuti darinya… dan hal yang dibenci darinya, jika engkau renungkan, jauh lebih dominan.
لقد قال فيها الواصفون فأكثروا … وعندي لها وصف لعمري صالح
Sungguh para penggambar telah banyak bicara tentangnya… namun demi umurku, aku memiliki gambaran yang sangat tepat tentangnya.
سلاف قصاراها زعاف ومركب … شهى إذا استذللته فهو جامح
Ia bagaikan khamar murni yang ujungnya adalah racun mematikan, dan bagaikan tunggangan lezat yang ketika engkau berusaha menundukkannya, ia justru liar menentang.
وشخص جميل يؤثر الناس حسنه … ولكن له أسرار سوء قبائح
Dan bagaikan sosok indah yang keelokannya memikat manusia… namun menyimpan rahasia keburukan yang sangat keji.
والمعنى الثاني
Makna yang kedua:
أن ينزله على نفسه في حق الله تعالى فإنه إذا تفكر فمعرفته جهل إذ ما قدروا الله حق قدره
Hendaknya ia menerapkan bait syair tersebut pada dirinya sendiri terkait hak Allah Ta'ala. Sebab jika ia merenungkan, maka pengetahuan (ma'rifat)-nya sesungguhnya adalah kebodohan, karena mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya.
وطاعته رياء إذ لا يتقي الله حق تقاته وحبه معلول إذ لا يدع شهوة من شهواته في حبه
Ketaatannya pun mengandung riya, karena ia tidak bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Dan cintanya bernoda (cacat), karena ia tidak meninggalkan satu pun dari keinginan hawa nafsunya demi cinta-Nya.
ومن أراد الله به خيراً بصره بعيوب نفسه فيرى مصداق هذا البيت في نفسه وإن كان على المرتبة بالإضافة إلى الغافلين وَلِذَلِكَ قَالَ ﷺ لَا أحصي ثناء عليك أنت كما أثنيت على نفسك
Barang siapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memperlihatkan cacat-cacat jiwanya kepadanya, sehingga ia melihat pembenaran bait ini dalam dirinya sendiri, meskipun ia berada pada tingkatan (maqam) yang tinggi jika dibandingkan dengan orang-orang yang lalai. Oleh karena itulah Rasulullah ﷺ bersabda: "Aku tidak mampu menghitung pujian atas-Mu, Engkau adalah sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri."
وَقَالَ ﷺ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ الله في اليوم والليلة سبعين مرة
Dan Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya aku memohon ampunan kepada Allah dalam sehari semalam sebanyak tujuh puluh kali."
وإنما كان استغفاره عن أحوال هي درجات بعد بالإضافة إلى ما بعدها وإن كانت قربا بالإضافة إلى ما قبلها فلا قرب إلا ويبقى وراءه قرب لا نهاية له إذ سبيل السلوك إلى الله تعالى غير متناه والوصول إلى أقصى درجات القرب محال
Permohonan ampun (istighfar) beliau sebenarnya bersumber dari keadaan-keadaan (ahwal) yang dianggap sebagai tingkatan kejauhan jika dibandingkan dengan tingkatan setelahnya, meskipun keadaan tersebut merupakan kedekatan (qurb) jika dibandingkan dengan tingkatan sebelumnya. Tidak ada suatu kedekatan melainkan masih tersisa di baliknya kedekatan lain yang tiada bertepi, karena jalan suluk menuju Allah Ta'ala itu tanpa batas, dan mencapai puncak tingkatan kedekatan yang paling akhir adalah hal yang mustahil.
والمعنى الثالث أن ينظر في مبادئ أحواله فيرتضيها ثم ينظر في عوافيها فيزدريها لإطلاعه على خفايا الغرور فيها فيرى ذلك من الله تعالى فيستمع البيت في حق الله تعالى شكاية من القضاء والقدر وهذا كفر كما سبق بيانه وما من بيت إلا ويمكن تنزيله على معان وذلك بقدر غزارة علم
Makna yang ketiga: Hendaknya ia memandang awal dari keadaan-keadaannya lalu menyukainya, kemudian memandang kesudahan dari keadaan-keadaan tersebut lalu meremehkannya karena ia mengetahui rahasia tipu daya (ghurur) yang tersembunyi di dalamnya. Lalu ia melihat hal itu berasal dari Allah Ta'ala, sehingga ia mendengarkan bait syair dalam kaitannya dengan Allah Ta'ala sebagai bentuk keluhan terhadap qadha dan qadar. Dan ini merupakan kekufuran sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Tidak ada satu pun bait syair melainkan dapat diterapkan pada berbagai makna, dan hal itu sesuai dengan kedalaman ilmu…
المستمع وصفاء قلبه
…pendengar (sama') dan kesucian hatinya.
الحالة الرابعة سماع من جاوز الأحوال والمقامات فعزب عن فهم ما سوى الله تعالى حتى عزب عن نفسه وأحوالها ومعاملاتها وكان كالمدهوش الغائص في بحر عين الشهود الذي يضاهي حاله حال النسوة اللاتي قطعن أيديهن في مشاهدة جمال يوسف ﵇ حتى دهشن وسقط إحساسهن
Keadaan (hal) keempat: Pendengaran (sama') orang yang telah melampaui segala ahwal dan maqamat, sehingga ia sirna dari pemahaman akan segala sesuatu selain Allah Ta'ala hingga ia sirna dari dirinya sendiri, keadaan-keadaannya, serta amalan-amalannya. Ia seperti orang yang terpesona dan tenggelam dalam samudera 'ain al-syuhud (penyaksian hakiki), yang keadaannya menyerupai keadaan wanita-wanita yang memotong tangan mereka sendiri ketika menyaksikan keindahan Nabi Yusuf 'alaihissalam hingga mereka terpesona dan hilang kesadaran indrawinya.
وعن مثل هذه الحالة تعبر الصوفية بأنه قد فنى عن نفسه
Dari keadaan seperti inilah kaum Sufi mengistilahkannya bahwa ia telah fana' (lebur) dari dirinya sendiri.
ومهما فنى عن نفسه فهو عن غيره أفنى فكأنه فنى عن كل شيء إلا عن الواحد المشهود
Dan manakala ia telah fana' dari dirinya sendiri, maka ia jauh lebih fana' dari selain dirinya. Seolah-olah ia telah fana' dari segala sesuatu kecuali dari Yang Maha Esa yang disaksikan (al-Wahid al-Mashhud).
وفنى أيضاً عن الشهود فإن القلب أيضاً إذا التفت إلى الشهود وإلى نفسه بأنه مشاهد فقد غفل عن المشهود
Ia juga fana' dari penyaksian (syuhud) itu sendiri. Sebab jika hati berpaling memperhatikan penyaksian dan menyadari dirinya sendiri bahwa ia sedang menyaksikan, maka sungguh ia telah lalai dari Yang Disaksikan (al-Mashhud).
فالمستهتر بالمرئي لا التفات له في حال استغراقه إلى رؤيته ولا إلى عينه التي بها رؤيته ولا إلى قلبه الذي به لذته فالسكران لا خبر له من سكره والمتلذذ لا خبر له من التذاذه وإنما خبره من المتلذذ به فقط
Maka orang yang terpesona oleh Yang Dilihat (al-mar'i), dalam keadaan tenggelam (istighraq), tidak lagi memperhatikan penglihatannya, tidak pula matanya yang dengannya ia melihat, dan tidak pula hatinya yang darinya ia merasakan kenikmatan. Orang yang mabuk tidak menyadari mabuknya, dan orang yang merasakan kenikmatan tidak menyadari rasa nikmatnya; kesadarannya hanyalah tertuju kepada Dzat yang dinikmatinya saja.
ومثاله العلم بالشيء فإنه مغاير للعلم في حق المخلوق وتطرأ أيضاً في حق الخالق ولكنها في الغالب تكن كالبرق الخاطف الذي لا يثبت ولا يدوم وإن دام لم تطقه القوة البشرية فربما اضطرب تحت أعبائه اضطراباً تهلك به نفسه
Contohnya adalah pengetahuan tentang sesuatu, sebab hal itu berbeda dengan pengetahuan pada hak makhluk. Dan hal itu juga dapat terlintas berkenaan dengan Hak Sang Pencipta, namun biasanya ia seperti kilat menyambar yang tidak tetap dan tidak bertahan lama. Sekiranya ia bertahan lama, niscaya kekuatan manusia tidak akan sanggup menanggungnya, sehingga terkadang ia guncang di bawah beban beratnya dengan keguncangan yang dapat membinasakan dirinya.
كما روي عن أبي الحسن النوري أنه حضر مجلساً فسمع هذا البيت
Sebagaimana diriwayatkan dari Abu al-Hasan an-Nuri bahwa beliau menghadiri suatu majelis lalu mendengar bait syair ini:
ما زلت أنزل من ودادك منزلاً … تتحير الألباب عند نزوله
"Aku senantiasa menempati kedudukan demi kedudukan dari cinta-Mu … kedudukan yang membuat akal budi terperangah saat memasukinya."
فقام وتواجد وهام على وجهه
Lalu beliau bangkit, merasakan gelora keintiman spiritual (tawajud), dan berjalan mengembara tanpa arah.
فوقع في أجمة قصب قد قطع وبقيت أصوله مثل السيوف فصار يعدو فيها ويعيد البيت إلى الغداة والدم يخرج من رجليه حتى ورمت قدماه وساقاه وعاش بعد ذلك أياماً ومات ﵀
Maka beliau jatuh ke dalam belukar bambu yang telah ditebas dan menyisakan pangkal-pangkal tajam seperti pedang. Beliau berlari-lari di dalamnya seraya mengulang-ulang bait syair itu hingga pagi hari, sementara darah mengucur dari kedua kakinya sampai kedua telapak dan betisnya bengkak. Setelah peristiwa itu beliau bertahan hidup beberapa hari lalu wafat, semoga Allah merahmatinya.
فهذه درجة الصديقين في الفهم والوجد فهي أعلى الدرجات لأن السماع على الأحوال نازل عن درجات الكمال وهي ممتزجة بصفات البشرية وهو نوع قصور وإنما الكمال أن يفنى بالكلية عن نفسه وأحواله أعني أنه ينساها فلا يبقى له التفات إليها كما لم يكن للنسوة التفات إلى الأيدي والسكاكين
Inilah derajat para shiddiqin dalam hal pemahaman dan wajd (gelora kecintaan spiritual), dan ini adalah derajat tertinggi. Sebab mendengarkan musik atau lantunan spiritual (sama') yang bergantung pada tingkatan ahwal (kondisi spiritual) masih berada di bawah derajat kesempurnaan karena masih bercampur dengan sifat-sifat kemanusiaan, dan itu merupakan sejenis keterbatasan. Kesempurnaan sejati adalah ketika seseorang fana' (sirna) secara total dari dirinya sendiri dan dari kondisi-kondisi spiritualnya—maksudnya, ia melupakannya sehingga tidak ada lagi perhatian padanya, sebagaimana para wanita dalam kisah Nabi Yusuf tidak memperhatikan tangan dan pisau mereka.
فيسمع لله وبالله وفي الله ومن الله وهذه رتبة من خاض لجة الحقائق وعبر ساحل الأحوال والأعمال واتحد بصفاء التوحيد وتحقق بمحض الإخلاص فلم يبق فيه منه شيء أصلاً بل خمدت بالكلبة بشريته وفنى التفاته إلى صفات البشرية رأساً ولست أعني بفنائه فناء جسده بل فناء قلبه ولست أعني بالقلب اللحم والدم بل سر لطيف له إلى القلب الظاهر نسبة خفية وراءها سر الروح الذي هو من أمر الله ﷿ عرفها من عرفها وجهلها من جهلها ولذلك السر وجود
Sehingga ia mendengar untuk Allah, dengan Allah, di dalam Allah, dan dari Allah. Ini adalah tingkatan orang yang menyelami samudera hakikat, melintasi pantai ahwal dan amal perbuatan, menyatu dengan kemurnian tauhid, serta merealisasikan keikhlasan murni. Maka tidak tersisa sedikit pun dari dirinya untuk dirinya sendiri; melainkan sifat kemanusiaannya padam secara total, dan perhatiannya terhadap sifat-sifat kemanusiaan sirna sama sekali. Yang aku maksud dengan fana' bukanlah fana-nya jasadnya, melainkan fana-nya hatinya. Dan tidaklah yang aku maksud dengan hati adalah daging dan darah, melainkan rahasia yang halus (sirr lathif) yang memiliki hubungan samar dengan hati lahiriah, yang di baliknya terdapat rahasia ruh yang merupakan bagian dari urusan Allah Azza wa Jalla; siapa yang mengetahuinya maka ia mengetahuinya, dan siapa yang tidak mengetahuinya maka ia tidak mengetahuinya. Dan rahasia itu memiliki keberadaan.
وصورة ذلك الوجود ما يحضر فيه فإذا حضر فيه غيره فكأنه لا وجود إلا للحاضر
Bentuk keberadaan rahasia tersebut adalah apa yang hadir di dalamnya; maka jika selain-Nya hadir di dalamnya, seolah-olah tidak ada keberadaan selain apa yang sedang hadir tersebut.
ومثاله المرآة المجلوة إذ ليس لها لون في نفسها بل لونها لون الحاضر فيها وكذلك الزجاجة فإنها تحكى لون قرارها ولونها لون الحاضر فيها
Perumpamaannya seperti cermin yang dipoles kilat; ia tidak memiliki warna pada dirinya sendiri, melainkan warnanya adalah warna objek yang hadir di hadapannya. Begitu pula gelas kaca, ia memantulkan warna isinya dan warnanya mengikuti warna apa yang ada di dalamnya.
وليس لها في نفسها صورة بل صورتها قبول الصور ولونها هو هيئة الاستعداد لقبول الألوان ويعرب عن هذه الحقيقة أعني سر القلب بالإضافة إلى ما يحضر فيه قول الشاعر
Ia tidak memiliki bentuk pada dirinya sendiri, melainkan bentuknya adalah menerima berbagai bentuk; dan warnanya adalah kondisi kesiapan untuk menerima berbagai warna. Hakikat ini—yaitu rahasia hati saat dikaitkan dengan apa yang hadir di dalamnya—diungkapkan dengan amat baik oleh bait syair:
رق الزجاج ورقت الخمر … فتشابها فتشاكل الأمر
"Alangkah beningnya kaca dan alangkah murninya minuman … keduanya begitu serupa hingga perkara menjadi tersamar."
فكأنما خمر ولا قدح … وكأنما قدح ولا خمر
"Seakan-akan yang ada hanya minuman tanpa cangkir … dan seakan-akan yang ada hanya cangkir tanpa minuman."
وهذا مقام من مقامات علوم المكاشفة منه نشأ خيال من ادعى الحلول والاتحاد وقال أنا الحق وحوله يدندن كلام النصارى في دعوى اتحاد اللاهوت بالناسوت أو تدرعها بها أو حلولها فيها على ما اختلف فيهم عباراتهم وهو غلط محض يضاهي غلط من يحكم على المرآة بصورة الحمرة إذ ظهر فيها لون الحمرة مقابلها وإذا كان هذا لا غير لائق
Ini merupakan salah satu maqam dari ilmu-ilmu mukasyafah, yang dari situlah bersumber ilusi dari orang yang mendakwahkan hulul (penjelmaan Tuhan) dan ittihad (penyatuan) hingga ia berkata, 'Akulah Al-Haq' (Tuhan). Dan di seputar ini pulalah berputar perkataan kaum Nasrani dalam klaim menyatunya keilahian (lahut) dengan kemanusiaan (nasut), atau terbungkusnya keilahian oleh kemanusiaan, atau penjelmaan di dalamnya, sesuai dengan keberagaman ungkapan mereka. Padahal itu adalah kekeliruan murni yang menyerupai kekeliruan orang yang menilai cermin berwarna merah saat tampak padanya warna merah dari benda di depannya. Dan karena pembahasan ini tidak layak…
بعلم المعاملة فلنرجع إلى الغرض فقد ذكرنا تفاوت الدرجات في فهم المسموعات
…dalam ilmu mu'amalah (praktik pengamalan), maka marilah kita kembali kepada tujuan utama. Kita telah menyebutkan perbedaan tingkatan dalam memahami apa yang didengar (matsmu'at).
المقام الثاني بعد الفهم والتنزيل الوجد وللناس كلام طويل في حقيقة الوجد أعني الصوفية والحكماء الناظرين في وجه مناسبة السماع للأرواح فلننقل من أقوالهم الفاظا ثم لنكشف عن الحقيقة فيه
Tahapan kedua setelah pemahaman dan penafsiran (tanzil) adalah wajd (perasaan spiritual yang mendalam). Manusia—maksudnya para sufi dan para cendekiawan yang mengamati kesesuaian antara sama' dan jiwa—memiliki penjelasan yang panjang mengenai hakikat wajd. Mari kita kutip beberapa ungkapan dari perkataan mereka, kemudian kita akan menyingkap hakikat yang ada di dalamnya.
أما الصوفية فقد قال ذو النون المصري ﵀ في السماع إنه وارد حق جاء يزعج القلوب إلى الحق فمن أصغى إليه بحق تحقق ومن أصغى إليه بنفس تزندق
Adapun kaum sufi, Dzu an-Nun al-Mishri rahimahullah berkata tentang sama': 'Sesungguhnya ia adalah dorongan spiritual yang haq (warid haqq), yang datang untuk menggerakkan hati menuju Al-Haq (Allah). Maka barang siapa mendengarkannya dengan hak (kesucian niat), ia mencapai hakikat; dan barang siapa mendengarkannya dengan hawa nafsu, ia jatuh ke dalam zindik.'
فكأنه عبر عن الوجد بانزعاج القلوب إلى الحق وهو الذي يجده عند ورود وارد السماع إذ سمي السماع وارد حق
Seolah-olah beliau mengutarakan wajd sebagai ketergugahan hati menuju Al-Haq, yaitu perasaan yang didapati seseorang saat datangnya kesan spiritual dari sama', karena beliau menamai sama' sebagai warid haqq (dorongan ilahi yang benar).
وقال أبو الحسين الدراج مخبراً عما وجده في السماع الوجد عبارة عما يوجد عند السماع وقال جال بي السماع في ميادين البهاء فاوجدني وجود الحق عند العطاء فسقاني بكأس الصفاء فادركت به منازل الرضاء وأخرجني إلى رياض التنزه والفضاء
Abu al-Husain ad-Darraj berkata memberitahukan apa yang dirasakannya dalam sama': 'Wajd adalah ungkapan tentang apa yang dirasakan saat mendengarkan (sama').' Beliau juga berkata: 'Sama' membawa diriku berkelana di padang keagungan, lalu menganugerahkanku kemudahan menemukan Al-Haq saat Ia memberi; Ia memberiku minum dari cangkir kemurnian, sehingga dengannya aku mencapai kedudukan-kedudukan keridaan, dan membawaku keluar menuju taman-taman kelapangan dan ketenangan.'
وقال الشبلي ﵀ السماع ظاهره فتنة وباطنه عبرة فمن عرف الإشارة حل له استماع العبارة وإلا فقد استدعى الفتنة وتعرض للبلية
Asy-Syibli rahimahullah berkata: 'Sama' itu lahiriahnya adalah fitnah (ujian) dan batiniahnya adalah pelajaran ('ibrah). Barang siapa memahami isyaratnya, maka halal baginya mendengarkan ungkapannya; jika tidak, sungguh ia telah mengundang fitnah dan mendedahkan dirinya pada petaka.'
وقال بعضهم السماع غذاء الأرواح لأهل المعرفة لأنه وصف يدق عن سائر الأعمال ويدرك برقة الطبع لرقته وبصفاء السر لصفائه ولطفه عند أهله
Sebagian dari mereka berkata: 'Sama' adalah makanan jiwa bagi para ahlul-ma'rifah (orang-orang yang mengenal Allah), karena ia merupakan suatu keadaan yang sangat halus melampaui seluruh amal perbuatan biasa. Ia hanya dapat dirasakan melalui kehalusan watak karena kehalusannya, dan melalui kemurnian rahasia batin (sirr) karena kemurnian serta kelembutannya di mata para ahlinya.'
وقال عمرو بن عثمان المكي لا يقع على كيفية الوجد عبارة لأنه سر الله عند عباده المؤمنين الموقنين وقال بعضهم الوجد مكاشفات من الحق
'Amr bin 'Utsman Al-Makki berkata, "Tidak ada ungkapan yang mampu menggambarkan hakikat (keadaan) wajd (ekstasi spiritual), karena ia adalah rahasia Allah di sisi hamba-hamba-Nya yang beriman lagi yakin." Sebagian ulama Sufi lainnya berkata, "Wajd adalah penyingkapan-penyingkapan (mukasyafah) dari Yang Mahabenar (Al-Haqq)."
وقال أبو سعيد بن الأعرابي الوجد رفع الحجاب ومشاهدة الرقيب وحضور الفهم وملاحظة الغيب ومحادثة السر وإيناس المفقود وهو فناؤك من حيث أنت وقال أيضاً الوجد أول درجات الخصوص وهو ميراث التصديق بالغيب فلما ذاقوه وسطع في قلوبهم نوره زال عنهم كل شك وريب
Abu Sa'id bin Al-A'rabi berkata, "Wajd adalah terangkatnya tabir (hijab), penyaksian terhadap Sang Maha Mengawasi (Ar-Raqib), hadirnya pemahaman, pengamatan terhadap alam gaib, perbincangan rahasia batin (sirr), keakraban dengan yang dirindukan, dan fana-nya dirimu dari eksistensi dirimu." Beliau juga berkata, "Wajd adalah tingkatan pertama dari derajat khawas (orang-orang khusus), dan ia merupakan warisan dari pembenaran (tashdiq) terhadap hal gaib. Ketika mereka mencicipinya dan cahayanya memancar dalam hati mereka, maka lenyaplah segala keraguan dan kebimbangan dari mereka."
وقال أيضاً الذي يحجب عن الوجد رؤية آثار النفس والتعلق بالعلائق والأسباب لأن النفس محجوبة بأسبابها فإذا انقطعت الأسباب وخلص الذكر وصحا القلب ورق وصفا ونجحت الموعظة فيه وحل من المناجاة في محل قريب وخوطب وسمع الخطاب بأذن واعية وقلب شاهد وسر ظاهر فشاهد ما كان منه خالياً فذلك هو الوجد لأنه قد وجد ما كان معدوماً عنده
Beliau juga berkata, "Yang menghalangi seseorang dari wajd adalah memandang jejak-jejak hawa nafsu serta ketergantungan pada ikatan-ikatan duniawi dan sebab-sebab lahiriah. Sebab, nafsu terhijab oleh sebab-sebabnya. Apabila sebab-sebab tersebut terputus, dzikir menjadi murni, hati menjadi sadar, lembut, dan jernih, serta nasehat meresap dengan berhasil di dalamnya, lalu ia berada di tempat yang dekat dalam bermunajat, disapa dan mendengar khithab (sapaan Ilahi) dengan telinga yang penuh perhatian, hati yang bersaksi, dan batin yang terbuka, sehingga ia menyaksikan apa yang semula kosong dari dirinya—maka itulah wajd, karena ia telah mendapati (wajada) apa yang sebelumnya tidak ada padanya."
وقال أيضاً الوجد ما يكون عند ذكر مزعج أو خوف مقلق أو توبيخ على زلة أو محادثة بلطيفة أو إشارة إلى فائدة أو شوق إلى غائب أو أسف على فائت أو ندم على ماض أو استجلاب إلى حال أو داع إلى واجب أو مناجاة بسر وهو مقابلة الظاهر بالظاهر والباطن بالباطن والغيب بالغيب والسر بالسر واستخراج مالك بما عليك مما سبق للسعي فيه فيكتب ذلك لك بعد كونه منك فيثبت لك قدم بلا قدم وذكر بلا ذكر إذ كان هو المبتدئ بالنعم والمتولى وإليه يرجع الأمر كله فهذا ظاهر علم الوجد وأقوال الصوفية من هذا الجنس في الوجد كثيرة
Beliau juga berkata, "Wajd adalah sesuatu yang terjadi ketika adanya peringatan yang menggetarkan, rasa takut yang menggelisahkan, celaan atas kekhilafan, bisikan kelembutan, isyarat pada suatu faedah, kerinduan pada yang tak hadir, penyesalan atas yang terlewat, penyesalan atas masa lalu, kecondongan menuju suatu keadaan spiritual (hal), pendorong menuju kewajiban, atau munajat secara rahasia batin. Ia adalah pertemuan lahir dengan lahir, batin dengan batin, yang gaib dengan yang gaib, dan yang rahasia (sirr) dengan yang rahasia; serta penggalian atas apa yang menjadi milikmu melalui kewajibanmu dari apa yang telah tertulis sebelumnya untuk diusahakan. Maka hal itu dicatat bagimu setelah keluar dari dirimu, sehingga tetap bagimu kedudukan tanpa ketetapan diri dan dzikir tanpa dzikirmu, karena Dialah Yang Maha Memulai nikmat, Maha Mengurus, dan kepada-Nyalah dikembalikan segala urusan. Inilah aspek lahiriah dari ilmu wajd, dan ungkapan kaum Sufi mengenai wajd dalam jenis ini amatlah banyak."
وأما الحكماء فقال بعضهم في القلب فضيلة شريفة لم تقدر قوة النطق على إخراجها باللفظ فأخرجتها النفس بالألحان فلما ظهرت سرت وطربت إليها فاستمعوا من النفس وناجوها ودعوا مناجاة الظواهر
Adapun para ahli hikmah (filsuf/hukama), sebagian dari mereka berkata, "Dalam hati terdapat keutamaan yang mulia yang tidak sanggup dikeluarkan oleh kekuatan lisan melalui lafal, maka jiwa mengeluarkannya melalui nada-nada lagu (alhan). Ketika keutamaan itu tampak, jiwa menjadi gembira dan terpesona dengannya. Maka dengarkanlah dari jiwa, bermunajatlah dengannya, dan tinggalkanlah munajat lahiriah semata."
وقال بعضهم نتائج السماع استنهاض العاجز من الرأي واستجلاب العازب من الأفكار وحدة الكال من الأفهام والآراء حتى يثوب ما عزب وينهض ما عجز ويصفو ما كدر ويمرح في كل رأي ونية فيصيب ولا يخطىء ويأتي ولا يبطىء
Sebagian dari mereka berkata, "Hasil dari mendengarkan musik/lantunan (sama') adalah membangkitkan pandangan yang lemah, menghadirkan pikiran yang teringat kembali, dan mempertajam pemahaman serta gagasan yang tumpul, hingga kembali apa yang sempat hilang, bangkit apa yang semula lemah, menjadi jernih apa yang keruh, dan bergembira dalam setiap pandangan serta niat, sehingga ia tepat tanpa keliru dan cekatan tanpa terlambat."
وقال آخر كما إن الفكر يطرق العلم إلى المعلوم فالسماع يطرق القلب إلى العالم الروحاني
Yang lain berkata, "Sebagaimana pemikiran merintis jalan bagi ilmu menuju objek yang diketahui (ma'lum), maka sama' (mendengarkan lantunan spiritual) merintis jalan bagi hati menuju alam ruhani."
وقال بعضهم وقد سئل عن سبب حركة الأطراف بالطبع على وزن الألحان والإيقاعات فقال ذلك عشق عقلي والعاشق العقلي لا يحتاج إلى أن يناغي معشوقه بالمنطق الجرمي بل يناغيه ويناجيه بالتبسم واللحظ والحركة اللطيفة بالحاجب والجفن والإشارة وهذه نواطق أجمع إلا أنها روحانية وأما العاشق البهيمي فإنه يستعمل المنطق الجرمي ليعبر به عن ثمرة ظاهر شوقه الضعيف وعشقه
Sebagian dari mereka ketika ditanya tentang sebab bergeraknya anggota tubuh secara alami mengikuti irama nada dan ketukan, menjawab, "Itu adalah kerinduan/cinta rasional ('isyq 'aqli). Pecinta yang rasional tidak perlu berbisik kepada kekasihnya dengan lisan jasmani, melainkan ia berbisik dan bermunajat dengannya melalui senyuman, kerlingan mata, gerakan halus alis dan kelopak mata, serta isyarat. Semua ini adalah ucapan-ucapan, hanya saja bersifat ruhani. Adapun pecinta yang bergaya hewani, ia menggunakan lisan jasmani untuk mengekspresikan buah dari lahiriah kerinduannya yang lemah dan cintanya…"
الزائف
"…yang palsu."
وقال آخر من حزن فليسمع الألحان
Yang lain berkata, "Barangsiapa diselimuti kesedihan, hendaknya ia mendengarkan lantunan nada."
فإن النفس إذا دخلها الحزن خمد نورها وإذا فرحت اشتعل نورها وظهر فرحها فيظهر الحنين بقدر قبول القابل وذلك بقدر صفائه ونقائه من الغش والدنس
"Sebab jiwa, apabila dimasuki kesedihan, cahayanya akan padam. Dan apabila gembira, cahayanya menyala-nyala serta tampak kegembiraannya, maka muncullah kerinduan syahdu sesuai dengan kadar penerimaan jiwa tersebut, dan hal itu sebanding dengan tingkat kejernihan dan kesuciannya dari kepalsuan serta noda."
والأقاويل المقررة في السماع والوجد كثيرة ولا معنى للاستكثار من إيرادها فلنشتغل بتفهيم المعنى الذي الوجد عبارة عنه فنقول إنه عبارة عن حالة يثمرها السماع وهو وارد حق جديد عقيب السماع يجده المستمع من نفسه
Pendapat-pendapat yang ditetapkan mengenai sama' (mendengarkan lantunan) dan wajd (ekstasi spiritual) amatlah banyak, dan tidak ada gunanya memperbanyak penyebutannya. Maka marilah kita fokus memberikan pemahaman tentang makna yang diwakili oleh istilah wajd. Kita katakan bahwa wajd adalah ungkapan tentang suatu kondisi (hal) yang dihubungkan sebagai buah dari sama', yaitu limpahan kebenaran (warid haq) yang baru sesudah sama', yang dirasakan oleh pendengar di dalam jiwanya sendiri.
وتلك الحالة لا تخلو عن قسمين فإنها إما أن ترجع إلى مكاشفات ومشاهدات هي من قبيل العلوم والتنبيهات وإما أن ترجع إلى تغيرات وأحوال ليست من العلوم بل هي كالشوق والخوف والحزن والقلق والسرور والأسف والندم والبسط والقبض وهذه الأحوال يهيجها السماع ويقويها فإن ضعف بحيث لم يؤثر في تحريك الظاهر أو تسكينه أو تغيير حاله حتى يتحرك على خلاف عادته أو يطرق أو يسكن عن النظر والنطق والحركة على خلاف عادته لم يسم وجداً وإن ظهر على الظاهرسمى وجداً إما ضعيفاً وإما قوياً بحسب ظهوره وتغييره للظاهر وتحريكه بحسب قوة وروده وحفظ الظاهر عن التغيير بحسب قوة الواجد وقدرته على ضبط جوارحه فقد يقوى الوجد في الباطن ولا يتغير الظاهر لقوة صاحبه وقد لا يظهر لضعف الوارد وقصوره عن التحريك وحل عقد التماسك
Kondisi tersebut tidak lepas dari dua bagian: boleh jadi kembali kepada mukasyafah (penyingkapan batin) dan musyahadah (penyaksian spiritual) yang termasuk jenis pengetahuan dan gugahan-gugahan kesadaran; atau kembali kepada perubahan-perubahan dan keadaan-keadaan batin (ahwal) yang bukan termasuk pengetahuan, melainkan seperti kerinduan (syawq), rasa takut (khauf), kesedihan (huzn), kegelisahan (qalaq), kegembiraan (surur), penyesalan (asaf), penyesalan mendalam (nadam), kelapangan batin (basth), dan kesempitan batin (qabdh). Keadaan-keadaan ini dibangkitkan dan diperkuat oleh sama'. Jika kondisi tersebut lemah sehingga tidak memengaruhi gerakan lahiriah, menenangkannya, atau mengubah keadaannya hingga bergerak tidak seperti biasanya, atau tertunduk, atau diam dari memandang, berkata-kata, dan bergerak di luar kebiasaannya, maka itu belum dinamakan wajd. Namun jika tampak pada fisik lahiriah, dinamakan wajd, baik yang lemah maupun yang kuat, sesuai dengan kadar penampakan dan perubahannya pada fisik lahiriah serta gerakannya mengikuti kekuatan warid (limpahan spiritual) tersebut. Adapun terjaganya fisik lahiriah dari perubahan adalah sesuai dengan kekuatan orang yang mengalami wajd (al-wajid) dan kemampuannya mengendalikan anggota tubuhnya. Sebab, terkadang wajd sangat kuat di dalam batin tetapi fisik lahiriah tidak berubah karena kuatnya orang tersebut; dan terkadang wajd tidak tampak karena lemahnya warid yang datang serta ketidakmampuannya menggerakkan fisik dan mengurai ikatan kendali diri.
وإلى معنى الأول أشار أبو سعيد بن الأعرابي حيث قال في الوجد إنه مشاهدة الرقيب وحضور الفهم وملاحظة الغيب ولا يبعد أن يكون السماع سبباً لكشف ما لم يكن مكشوفاً قبله فإن الكشف يحصل بأسباب منها التنبيه والسماع منبه ومنها تغير الأحوال ومشاهدتها وإدراكها فإن إدراكها نوع علم يفيد إيضاح أمور لم تكن معلومة قبل الورود ومنها صفاء القلب والسماع يؤثر في تصفية القلب والصفاء يسبب الكشف ومنها انبعاث نشاط القلب بقوة السماع فيقوى به على مشاهدة ما كان تقصر عنه قبل ذلك قوته كما يقوى البعير على حمل ما كان لا يقوى عليه قبله
Pada makna pertama itulah Abu Sa'id bin Al-A'rabi mengisyaratkan ketika beliau berkata tentang wajd bahwa ia adalah "penyaksian terhadap Ar-Raqib (Sang Maha Mengawasi), hadirnya pemahaman, dan pengamatan terhadap alam gaib". Tidaklah mustahil jika sama' menjadi sebab bagi tersingkapnya (kasyf) apa yang belum tersingkap sebelumnya. Sebab, penyingkapan batin (kasyf) terjadi melalui beberapa sebab, di antaranya: penggugahan (tanbih), dan sama' adalah penggugah; di antaranya pula perubahan keadaan batin (ahwal), penyaksiannya, serta pencapaian pemahaman atasnya, karena memahami hal itu merupakan sejenis ilmu yang memberi kejelasan tentang perkara-perkara yang belum diketahui sebelum kedatangan warid; di antaranya juga kesucian hati, dan sama' berpengaruh dalam menyucikan hati, sedangkan kesucian hati menjadi penyebab timbulnya kasyf; serta di antaranya bangkitnya semangat hati dengan kekuatan sama', sehingga hati menjadi kuat untuk menyaksikan apa yang sebelumnya berada di luar jangkauan kemampuannya, sebagaimana unta menjadi kuat memikul beban yang sebelumnya tidak sanggup dipikulnya.
وعمل القلب الاستكشاف وملاحظة أسرار الملكوت كما أن عمل البعير حمل الأثقال فبواسطة هذه الأسباب يكون سبباً للكشف بل القلب إذا صفا ربما يمثل له الحق في صورة مشاهدة أو في لفظ منظوم يقرع سمعه يعبر عنه بصوت الهاتف إذا كان في اليقظة وبالرؤيا إذا كان في المنام وذلك جزء من ستة وأربعين جزءاً من النبوة
Tugas hati adalah menyingkap rahasia dan mengamati rahasia alam Malakut, sebagaimana tugas unta adalah memikul beban-beban berat. Maka melalui sebab-sebab ini, sama' menjadi sarana terjadinya kasyf. Bahkan, ketika hati telah jernih, terkadang Kebenaran (Al-Haqq) diproyeksikan kepadanya dalam bentuk penampakan visual (musyahadah) atau dalam lafal bersyair yang mengetuk pendengarannya—yang diungkapkan sebagai suara tanpa rupa (haatif) jika dalam keadaan jaga, dan sebagai mimpi yang benar (ru'ya) jika dalam keadaan tidur. Dan hal itu merupakan satu dari empat puluh enam bagian dari kenabian.
وعلم تحقيق ذلك خارج عن علم المعاملة وذلك كما روي عن محمد بن مسروق البغدادي أنه قال خرجت ليلة في أيام جهالتي وأنا نشوان وكنت أغني هذا البيت
Pengetahuan tentang hakikat mendalam dari hal tersebut berada di luar ranah ilmu muamalah (ilmu praktis tazkiyatun nafs). Hal itu sebagaimana diriwayatkan dari Muhammad bin Masruq Al-Baghdadi bahwa beliau berkata, "Aku keluar pada suatu malam di masa kebodohanku (sebelum bertaubat) dalam keadaan mabuk, sambil melantunkan bait syair ini:
بطور سيناء كرم ما مررت به … إلا تعجبت ممن يشرب الماء
'Di Bukit Sinai terdapat kebun anggur yang tidaklah aku melewatinya … melainkan aku heran pada orang yang (masih memilih) meminum air.'
فسمعت قائلاً يقول
Lalu aku mendengar seseorang (suara tanpa rupa) berkata:
وفي جهنم ماء ما تجرعه … خلق فأبقى له في الجوف أمعاء
'Dan di dalam Jahannam terdapat air, yang tidaklah seteguk pun diteguk oleh seorang makhluk … melainkan ia melumatkan usus di dalam perutnya.'
قال فكان ذلك سبب توبتي واشتغالي بالعلم والعبادة
Beliau berkata, "Maka hal itulah yang menjadi sebab taubatku serta kesibukanku dalam menuntut ilmu dan beribadah."
فانظر كيف أثر الغناء في تصفية قلبه حتى تمثل له حقيقة الحق في صفة جهنم في لفظ مفهوم موزون وقرع ذلك سمعه الظاهر
Maka perhatikanlah bagaimana nyanyian (lantunan musik spiritual) berpengaruh dalam menjernihkan hatinya, hingga hakikat kebenaran perihal sifat Jahanam terwujud baginya dalam bait yang dapat dipahami dan berirama, serta mengetuk pendengaran lahiriahnya.
وروى عن مسلم العباداني أنه قال قدم علينا صالح المري وعتبة الغلام وعبد الواحد بن زيد ومسلم الأسواري فنزلوا على الساحل قال فهيأت لهم ذات ليلة طعاماً فدعوتهم إليه فجاؤا فلما وضعت الطعام بين أيديهم إذا بقائل يقول رافعاً صوته هذا البيت
Diriwayatkan dari Muslim al-'Abadani bahwa ia berkata, "Salih al-Murri, 'Utbah al-Ghulam, 'Abdul Wahid bin Zaid, dan Muslim al-Uswari mendatangi kami, lalu mereka singgah di tepi pantai." Ia melanjutkan, "Pada suatu malam, aku menyiapkan makanan untuk mereka dan mengundang mereka. Ketika makanan telah kuletakkan di hadapan mereka, tiba-tiba ada seorang penyeru melantunkan bait syair ini dengan suara keras:
وتلهيك عن دار الخلود مطاعم … ولذة نفس غيها غير نافع
"Berbagai makanan telah melalaikanmu dari negeri keabadian… Dan kelezatan nafsu yang kesesatannya tiada berguna."
قال فصاح عتبة الغلام صيحة وخر مغشياً عليه وبكى القوم فرفعت الطعام وما ذاقوا والله منه لقمة
Ia berkata, "Seketika 'Utbah al-Ghulam berteriak keras lalu jatuh pingsan, dan orang-orang pun menangis. Maka aku mengangkat makanan itu, dan demi Allah, mereka tidak mengecap darinya walau sesuap pun."
وكما يسمع صوت الهاتف عند صفاء القلب فيشاهد أيضاً بالبصر صورة الخضر ﵇ فإنه يتمثل لأرباب القلوب بصور مختلفة
Sebagaimana suara gaib (hatif) dapat terdengar ketika hati telah jernih, demikian pula wujud Nabi Khidir 'alaihissalam dapat disaksikan oleh mata lahiriah. Sebab, beliau memang menampakkan diri bagi para pemilik hati (arbab al-qulub) dalam berbagai rupa yang berbeda.
وفي مثل هذه الحالة تتمثل الملائكة للأنبياء ﵈ إما على حقيقة صورتها وإما على مثال يحاكي صورتها بعض المحاكاة
Dalam kondisi penjernihan semacam inilah para malaikat menampakkan diri kepada para nabi 'alaihimussalam, baik dalam wujud hakiki rupa mereka maupun dalam wujud penyerupaan yang menyamai rupa mereka sebagiannya.
وقد رَأَى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ جبريل ﵇ مرتين في صورته وأخبر عنه بأنه سد الأفق
Sungguh Rasulullah ﷺ telah melihat Malaikat Jibril 'alaihissalam sebanyak dua kali dalam wujud aslinya, dan beliau mengabarkan tentangnya bahwa wujud Jibril memenuhi ufuk.
وهو المراد بقوله تعالى ﴿علمه شديد القوى ذو مرة فاستوى وهو بالأفق الأعلى﴾ إلى آخر هذه الآيات
Hal itulah yang dimaksud oleh firman Allah Ta'ala, "Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai keteguhan; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan wujud yang asli, sedang dia berada di ufuk yang tinggi…" (QS. An-Najm: 5-7) hingga akhir ayat-ayat ini.
وفي مثل هذه الأحوال من الصفاء يقع الإطلاع على ضمائر القلوب وقد يعبر عن ذلك الإطلاع بالتفرس
Dalam kondisi kejernihan jiwa semacam ini, berlakulah penyingkapan (iṭṭilā‘) terhadap bisikan rahasia hati. Penyingkapan tersebut terkadang diungkapkan dengan istilah firasat (tafarrus).
ولذلك قال ﷺ اتقوا فراسة المؤمن فإنه ينظر بنور الله
Oleh karena itulah Rasulullah ﷺ bersabda, "Takutlah kamu akan firasat seorang mukmin, karena sesungguhnya ia melihat dengan cahaya Allah."
وقد حكى أن رجلاً من المجوس كان يدور على المسلمين ويقول ما معنى قول النبي ﷺ اتقوا فراسة المؤمن فكان يذكر له تفسيره فلا يقنعه ذلك حتى انتهى إلى بعض المشايخ من الصوفية
Diceritakan bahwa seorang lelaki Majusi berkeliling menanyai kaum muslimin seraya berkata, "Apakah makna sabda Nabi ﷺ: 'Takutlah kamu akan firasat seorang mukmin'?" Setiap kali dijelaskan tafsirnya, penjelasan itu belum memuaskannya, hingga ia sampai kepada salah seorang syaikh dari kalangan sufi.
فسأله فقال له معناه أن تقطع الزنار الذي على وسطك تحت ثوبك
Lelaki itu lalu bertanya kepadanya, dan Syaikh itu menjawab, "Maknanya adalah engkau memotong zunnar (sabuk khas non-Muslim) yang berada di pinggangmu di balik pakaianmu."
فقال صدقت هذا معناه وأسلم وقال الآن عرفت أنك مؤمن وأن إيمانك حق
Lelaki Majusi itu berkata, "Engkau benar, inilah maknanya!" Lalu ia masuk Islam dan berkata, "Sekarang aku tahu bahwa engkau adalah seorang mukmin sejati dan imanmu adalah kebenaran."
وكما حكى عن إبراهيم الخواص قال كنت ببغداد في جماعة من الفقراء في الجامع فأقبل شاب طيب الرائحة حسن الوجه فقلت لأصحابي يقع لي أنه يهودي فكلهم كرهوا ذلك فخرجت وخرج الشاب ثم رجع إليهم وقال أي شيء قال الشيخ في فاحتشموه فألح عليهم فقالوا له قالإنك يهودي قال فجاءني وأكب على يدي وقبل رأسي وأسلم وقال نجد في كتبنا أن الصديق لا تخطىء فراسته فقلت امتحن المسلمين فتأملتهم فقلت إن كان فيهم صديق ففي هذه الطائفة لأنهم يقولون حديثه سبحانه ويقرءون كلامه فلبست عليكم فلما اطلع على الشيخ وتفرس في علمت أنه صديق قال وصار الشاب من كبار الصوفية
Sebagaimana diceritakan pula dari Ibrahim al-Khawwas, ia berkata: "Aku pernah berada di Baghdad bersama sekelompok fuqara (ahli tasawuf) di masjid jami'. Tiba-tiba datang seorang pemuda berbau harum dan berwajah tampan. Aku berkata kepada sahabat-sahabatku, 'Terlintas dalam hatiku bahwa ia adalah seorang Yahudi.' Mereka semua enggan memercayai hal itu. Kemudian aku keluar dan pemuda itu pun keluar, lalu ia kembali kepada mereka dan bertanya, 'Apa yang dikatakan Syaikh mengenai diriku?' Mereka segan menjawabnya, tetapi ia terus mendesak, sehingga mereka berkata, 'Beliau mengatakan bahwa engkau seorang Yahudi.' Ibrahim berkata: Maka pemuda itu mendatangiku, membungkuk memegang tanganku, mencium kepalaku, lalu masuk Islam seraya berkata, 'Kami menemukan dalam kitab-kitab kami bahwa seorang shiddiq firasatnya tidak pernah keliru. Maka aku berkata (dalam hati), aku akan menguji kaum muslimin. Aku perhatikan mereka dan berkata, jika di antara mereka ada seorang shiddiq, maka ia berada di kelompok ini (kaum sufi), sebab mereka menyuarakan firman-Nya dan membaca kalam-Nya. Maka aku menyamarkan diriku di hadapan kalian. Ketika Syaikh berhasil menyingkap rahasia diriku dan menatapku dengan firasatnya, aku pun tahu bahwa beliau adalah seorang shiddiq.' Ibrahim berkata: Dan pemuda itu kelak menjadi termasuk jajaran sufi agung."
وإلى مثل هذا الكشف الاشارة بقوله عليع السلام لولا أن الشياطين يحومون على قلوب بني آدم لنظروا إلى ملكوت السماء
Kepada bentuk kasyaf (singkapan gaib) seperti inilah isyarat dari sabda Nabi 'alaihissalam: "Seandainya setan-setan tidak mengelilingi hati anak cucu Adam, niscaya mereka akan dapat memandang ke alam Malakut langit."
وإنما تحوم الشياطين على القلوب إذا كانت مشحونة بالصفات المذمومة فإنها مرعى الشيطان وجنده
Hanyalah setan-setan itu mengelilingi hati apabila hati tersebut sarat dengan sifat-sifat tercela, karena sifat-sifat tercela itu merupakan tempat gembala (padang rumput) bagi setan dan bala tentaranya.
ومن خلص قلبه من تلك الصفات وصفاه لم يطف الشيطان حول قلبه
Barang siapa membebaskan hatinya dari sifat-sifat tercela tersebut serta menjernihkannya, niscaya setan tidak akan mengitari hatinya.
وإليه الإشارة بقوله تعالى إلا عبادك منهم المخلصين وبقوله تعالى ﴿إن عبادي ليس لك عليهم سلطان﴾ والسماع سبب لصفاء القلب وهو شبكة للحق بواسطة الصفاء
Kepada hal inilah isyarat dari firman Allah Ta'ala, "…kecuali hamba-hamba-Mu yang murni (mukhlaṣīn) di antara mereka," (QS. Sad: 83) dan firman-Nya, "Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, tidak ada kekuasaan bagimu atas mereka." (QS. Al-Hijr: 42). Adapun sama' (mendengarkan lantunan spiritual) merupakan sebab bagi kejernihan hati, dan ia menjadi sarana penangkap Kebenaran (Al-Haqq) dengan perantaraan kejernihan tersebut.
وعلى هذا يدل ما روى أن ذا النون المصري ﵀ دخل بغداد فاجتمع إليه قوم من الصوفية ومعهم قوال فاستأذنوه في أن يقول لهم شيئاً
Hal ini ditunjukkan pula oleh riwayat bahwa Dzu al-Nun al-Mishri rahimahullah memasuki Baghdad, lalu sekelompok kaum sufi berkumpul menemuinya bersama seorang pelantun syair (qawwal). Mereka pun meminta izin kepadanya agar pelantun itu melantunkan sesuatu untuk mereka.
فأذن لهم في ذلك فأنشأ يقول
Maka beliau mengizinkan mereka untuk hal itu, lalu pelantun tersebut mulai melantunkan syair:
صغير هواك عذبني … فكيف به إذا احتنكا … وأنت جمعت في قلبي
Cintamu yang sekecil ini saja telah menyiksaku… bagaimana jadinya kelak jika ia telah tumbuh dewasa dan menguasai… Padahal engkau telah menyatukan di dalam hatiku
هوى قد كان مشتركا … أما ترثى لمكتئب … إذا ضحك الخلي بكى
Cinta yang dahulunya terbagi… Apakah engkau tidak merasa kasihan kepada orang yang bersedih ini… Yang ketika orang yang bebas dari beban tertawa, ia justru menangis.
فقام ذو النون وسقط على وجهه ثم قام رجل آخر فقال ذو النون الذي يراك حين تقوم
Maka Dzun Nun pun bangkit dan tersungkur menyungkurkan wajahnya. Kemudian berdirilah seorang laki-laki lain, lalu Dzun Nun berkata (mengutip ayat Al-Qur'an): "Yang melihatmu ketika engkau berdiri."
فجلس ذلك الرجل وكان ذلك إطلاعاً من ذي النون على قلبه
Maka laki-laki itu pun duduk kembali. Hal itu merupakan penyingkapan (kasyaf) dari Dzun Nun terhadap apa yang ada di dalam hati laki-laki tersebut,
أنه متكلف متواجد فعرفه أن الذي يراه حين يقوم هو الخصم في قيامه لغير الله تعالى ولو كان الرجل صادقاً لما جلس
bahwa ia hanya berpura-pura merasakan wajd. Maka Dzun Nun memberitahunya bahwa Dzat Yang melihatnya ketika berdiri adalah Penuntut baginya atas berdirinya yang bukan karena Allah Ta'ala. Seandainya laki-laki itu jujur dalam wajd-nya, niscaya ia tidak akan duduk.
فإذاً قد رجع حاصل الوجد إلى مكاشفات وإلى حالات واعلم أن كل واحد منهما ينقسم إلى ما يمكن التعبير عنه عند الافاقة منه وإلى ما لا تمكن العبارة عنه أصلاً
Dengan demikian, hakikat wajd (ekstasi spiritual) kembali kepada mukasyafah-mukasyafah (penyingkapan gaib) dan hal-hal (keadaan spiritual). Ketahuilah bahwa masing-masing dari keduanya terbagi menjadi: apa yang mungkin diungkapkan dengan kata-kata ketika telah sadar darinya, dan apa yang sama sekali tidak mungkin diungkapkan dengan kata-kata.
ولعلك تستبعد حالة أو علماً لا تعلم حقيقته ولا يمكن التعبير عنه عن حقيقته فلا تستبعد ذلك فإنك تجد في أحوالك القريبة لذلك شواهد
Boleh jadi engkau menganggap mustahil adanya suatu keadaan spiritual (hal) atau ilmu yang tidak engkau ketahui hakikatnya dan tidak mungkin diungkapkan hakikatnya dengan kata-kata. Namun janganlah engkau menganggapnya mustahil, karena engkau akan menemukan bukti-bukti untuk hal itu dalam keadaan-keadaan dirimu sendiri yang dekat dengannya.
أما العلم فكم من فقيه تعرض عليه مسألتان متشابهتان في الصورة ويدرك الفقيه بذوقه أن بينهما فرقاً في الحكم وإذا كلف ذكر وجه الفرق لم يساعده اللسان على التعبير وإن كان من أفصح الناس فيدرك بذوقه الفرق ولا يمكنه التعبير عنه وإدراكه الفرق علم يصادفه في قلبه بالذوق ولا يشك في أن لوقوعه في قلبه سبباً وله عند الله تعالى حقيقة ولا يمكنه الإخبار عنه لا لقصور في لسانه بل لدقة المعنى في نفسه عن أن تناله العبارة
Adapun mengenai ilmu, betapa banyak seorang ahli fiqih dihadapkan pada dua masalah yang tampak serupa secara lahiriah, lalu dengan intuisinya (dzauq) ia menyadari adanya perbedaan hukum di antara keduanya. Apabila ia diminta menyebutkan letak perbedaannya, lisannya tidak mampu mengutarakannya, meskipun ia termasuk orang yang paling fasih berbicara. Ia merasakan perbedaan itu melalui dzauq-nya namun tidak mampu mengutarakannya. Persepsinya terhadap perbedaan tersebut adalah sebuah ilmu yang ia temukan di dalam hatinya melalui dzauq, dan ia tidak meragukan bahwa ada sebab bagi jatuhnya ilmu itu di dalam hatinya serta memiliki hakikat di sisi Allah Ta'ala. Hanya saja ia tidak mampu memberitahukannya bukan karena keterbatasan lisannya, melainkan karena halusnya makna tersebut di dalam jiwanya sehingga tidak terjangkau oleh ungkapan kata.
وهذا مما قد تفطن له المواظبون على النظر في المشكلات
Hal ini merupakan sesuatu yang telah disadari oleh orang-orang yang tekun menelaah masalah-masalah yang rumit.
وأما الحال فكم من إنسان يدرك في قلبه في الوقت الذي يصبح فيه قبضاً أو بسطاً ولا يعلم سببه وقد يتفكر إنسان في شيء فيؤثر في نفسه اثر فينسى ذلك السبب ويبقى الأثر في نفسه وهو يحس به وقد تكون الحالة التي يحسها سرورا ثبت في نفسه بتفكره في سبب موجب للسرور أو حزناً فينسى المتفكر فيه ويحس بالأثر عقيبه
Adapun mengenai keadaan spiritual (hal), betapa banyak manusia yang merasakan di dalam hatinya pada waktu pagi berupa kesempitan (qabd) atau kelapangan (bast) tanpa mengetahui sebabnya. Kadang seseorang memikirkan sesuatu lalu pikiran itu meninggalkan pengaruh dalam jiwanya; kemudian ia lupa akan sebab tersebut, tetapi pengaruhnya tetap berada dalam jiwanya dan ia merasakannya. Keadaan yang dirasakannya itu bisa berupa kegembiraan yang menetap dalam jiwanya karena memikirkan sebab yang mendatangkan kegembiraan, atau berupa kesedihan, lalu ia lupa akan apa yang dipikirkannya namun tetap merasakan pengaruhnya setelah itu.
وقد تكون تلك الحالة حالة غريبة لا يعرب عنها لفظ السرور والحزن ولا يصادف لها عبارة مطابقة مفصحة عن المقصود بل ذوق الشعر الموزون والفرق بينه وبين غير الموزون يختص به بعض الناس دون بعض وهي حالة يدركها صاحب الذوق بحيث لا يشك فيها أعني التفرقة بين الموزون والمنزحف فلا يمكنه التعبير عنها بما يتضح مقصوده لمن لا ذوق له
Dan terkadang keadaan itu merupakan keadaan yang asing yang tidak dapat diwakili oleh kata 'kegembiraan' maupun 'kesedihan', serta tidak ditemukan ungkapan yang tepat dan jelas untuk menggambarkan maksudnya. Sebagaimana halnya rasa keindahan (dzauq) terhadap syair yang bersyair (mauzun) dan perbedaan antara syair itu dengan yang tidak terukur; kepekaan ini hanya dimiliki oleh sebagian orang saja. Itu adalah suatu keadaan yang dirasakan oleh pemilik dzauq sedemikian rupa sehingga ia tidak meragukannya—maksud saya, membedakan antara syair yang pas metrumnya dan yang cacat (manzuhif)—namun ia tidak mampu mengutarakannya dengan cara yang dapat menjelaskan maksudnya kepada orang yang tidak memiliki dzauq tersebut.
وفي النفس أحوال غريبة هذا وصفها بل المعاني المشهورة من الخوف والحزن والسرور إنما تحصل في السماع عن غناء مفهوم وأما الأوتار وسائر النغمات التي ليست مفهومة فإنها تؤثر في النفس تأثيراً عجيبا ولا يمكن التعبير عن عجائب تلك الآثار وقد يعبر عنها بالشوق ولكن شوق لا يعرف صاحبه المشتاق إليه فهو عجيب والذي اضطرب قلبه بسماع الأوتار أو الشاهين وما أشبهه ليس يدري إلى ماذا يشتاق ويجد في نفسه حالة كأنها تتقاضى أمراً ليس يدري ما هو حتى يقع ذلك للعوام ومن لا يغلب على قلبه لا حب آدمي ولا حب الله تعالى
Di dalam jiwa terdapat keadaan-keadaan menakjubkan yang sifatnya demikian. Bahkan makna-makna yang terkenal seperti rasa takut (khauf), kesedihan (huzn), dan kegembiraan (surur) hanya dihasilkan dalam mendengarkan nyanyian (sama') dari kata-kata yang dipahami. Adapun alunan dawai dan aneka nada yang tidak dipahami maknanya, sesungguhnya ia mempengaruhi jiwa dengan pengaruh yang sangat ajaib, dan keajaiban pengaruh-pengaruh itu tidak mungkin diungkapkan dengan kata-kata. Kadang hal itu diungkapkan dengan kata 'rindu' (syawq), namun kerinduan yang pemiliknya sendiri tidak mengetahui siapa atau apa yang dirindukannya, dan ini sungguh ajaib. Orang yang hatinya bergetar karena mendengarkan instrumen dawai atau seruling (syahin) dan sejenisnya, ia tidak mengetahui kepada apa ia merindu; ia mendapati dalam jiwanya suatu keadaan seolah-olah menuntut sesuatu yang ia sendiri tidak tahu apa itu, hingga hal itu terjadi pula pada orang awam dan orang yang hatinya tidak didominasi oleh cinta kepada manusia maupun cinta kepada Allah Ta'ala.
وهذا له سر وهو أن كل شوق فله ركنان
Hal ini memiliki rahasia tersendiri, yaitu bahwa setiap kerinduan (syawq) memiliki dua rukun (unsur pokok):
أحدهما صفة المشتاق وهو نوع مناسبة مع المشتاق إليه
Salah satunya adalah sifat dari orang yang merindu, yaitu adanya sejenis keserasian dengan yang dirindukan.
والثاني معرفة المشتاق إليه ومعرفة صورة الوصول إليه فإن وجدت الصفة التي بها الشوق ووجد العلم بصورة المشتاق إليه كان الأمر ظاهراً وإن لم يوجد العلم بالمشتاق ووجدت الصفة المشوقة وحركت قلبك الصفة واشتعلت نارها اورث ذلك دهشة وحيرة لا محالة
Dan yang kedua adalah pengetahuan tentang yang dirindukan serta pengetahuan tentang gambaran cara mencapainya. Jika sifat yang darinya timbul kerinduan itu ada, dan pengetahuan tentang gambaran yang dirindukan itu juga ada, maka urusannya menjadi jelas. Namun, jika pengetahuan tentang yang dirindukan itu tidak ada, sementara sifat perindu itu ada dan sifat tersebut menggerakkan hatimu serta menyalakan apinya, niscaya hal itu pasti melahirkan kebingungan dan keheranan yang mendalam (dahsyah dan hairah).
ولو نشأ آدمى وحده بحيث لم ير صورة النساء ولا عرف صورة الوقاع ثم راهق الحلم وغلبت عليه الشهوة لكان يحس من نفسه بنار الشهوة ولكن لا يدري أنه يشتاق إلى الوقاع لأنه ليس يدري صورة الوقاع ولا يعرف صورة النساء فكذلك في نفسه الآدمي مناسبة مع العالم الأعلى واللذات التي وعد بها في سدرة المنتهى والفراديس العلا إلا أنه لم يتخيل من هذا الأمور إلا الصفات والأسماء كالذي سمع لفظ الوقاع واسم النساء ولم يشاهد صورة امرأة قط ولا صورة رجل ولا صورة نفسه في المرآة ليعرف بالمقايسة فالسماع يحرك منه الشوق والجهل المفرط والاشتغال بالدنيا قد أنساه نفسه وأنساه ربه وأنساه مستقره الذي إليه حنينه واشتياقه بالطبع فيتقاضاه قلبه أمراً ليس يدري ما هو فيدهش ويتحير ويضطرب ويكون كالمختنق الذي لا يعرف طريق الخلاص فهذا وأمثاله من الأحوال التي لا يدرك تمام حقائقها ولا يمكن المتصف بها أن يعبر عنها
Seandainya seorang manusia tumbuh dewasa sendirian, sedemikian rupa sehingga ia tidak pernah melihat rupa wanita dan tidak mengetahui gambaran persetubuhan, kemudian ia mendekati usia baligh dan syahwat menguasainya, tentu ia akan merasakan dalam jiwanya kobaran api syahwat, namun ia tidak tahu bahwa ia sedang merindukan persetubuhan, karena ia tidak tahu gambaran persetubuhan dan tidak mengenal rupa wanita. Demikian pulalah dalam jiwa manusia terdapat keserasian dengan alam tinggi (alam 'ulwi) serta kenikmatan-kenikmatan yang dijanjikan di Sidratul Muntaha dan surga-surga yang tinggi, hanya saja ia tidak dapat membayangkan hal-hal ini selain sebatas sifat-sifat dan nama-nama saja; ibarat orang yang mendengar kata persetubuhan dan nama wanita tetapi belum pernah sama sekali melihat rupa wanita, rupa pria, atau rupa dirinya sendiri di cermin untuk diketahui melalui analogi. Maka pendengaran nada (sama') membangkitkan kerinduan dari dalam dirinya, sementara kebodohan yang teramat sangat dan kesibukan dengan dunia telah membuatnya lupa akan dirinya, lupa akan Tuhannya, dan lupa akan tempat tinggalnya yang secara fitrah menjadi tujuan kerinduannya. Akibatnya, hatinya menuntut sesuatu yang ia sendiri tidak tahu apa itu, sehingga ia tercengang, bingung, gelisah, dan menjadi seperti orang yang tercekik yang tidak tahu jalan keluar. Maka ini dan yang seumpamanya termasuk dari keadaan-keadaan spiritual (ahwal) yang tidak dapat dijangkau seluruh hakikatnya secara sempurna, dan orang yang mengalaminya tidak mungkin dapat mengutarakannya.
فقد ظهر انقسام الوجد إلى ما يمكن إظهاره وإلى ما لا يمكن إظهاره
Maka telah jelaslah pembagian wajd menjadi apa yang mungkin ditampakkan dan apa yang tidak mungkin ditampakkan.
واعلم أيضاً أن الوجد ينقسم إلى هاجم وإلى متكلف ويسمى التواجد وهذا التواجد المتكلف فمنه مذموم
Ketahuilah pula bahwa wajd itu terbagi menjadi: wajd yang datang sekonyong-konyong (hajim) dan wajd yang diupayakan, yang dinamakan tawajud. Tawajud yang diupayakan ini, di antaranya ada yang tercela,
وهو الذي يقصد به الرياء وإظهار الأحوال الشريفة مع الإفلاس منها ومنه ما هو محمود وهو التوصل إلى استدعاء الأحوال الشريفة واكتسابها واجتلابها بالحيلة فإن للكسب مدخلاً في جلب الأحوال الشريفة ولذلك أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ من لم يحضره البكاء في قراءة القرآن أن يتباكى ويتحازن
yaitu yang dimaksudkan untuk riya' dan menampakkan keadaan-keadaan spiritual (ahwal) yang mulia padahal dirinya kosong darinya. Dan di antaranya ada yang terpuji, yaitu yang menjadi sarana untuk memanggil keadaan-keadaan spiritual yang mulia, mengusahakannya, dan mengundangnya dengan upaya; sebab usaha (kasb) memiliki peran dalam mendatangkan keadaan-keadaan spiritual yang mulia. Oleh karena itulah Rasulullah ﷺ memerintahkan orang yang tidak bisa menangis saat membaca Al-Qur'an agar berpura-pura menangis (tabaki) dan mengondisikan diri dalam kesedihan.
فإن هذه الأحوال قد تتكلف مباديها ثم تتحقق آواخرها
Sebab keadaan-keadaan spiritual (ahwal) ini terkadang diupayakan pada permulaannya, kemudian menjadi hakiki (benar-benar terwujud) pada akhirnya.
وكيف لا يكون التكلف سبباً في أن يصير المتكلف في الآخرة طبعاً وكل من يتعلم القرآن أو لا يحفظه تكلفاً ويقرؤه تكلفاً مع تمام التأمل وإحضار الذهن ثم يصير ذلك ديدناً للسان مطرداً حتى يجري به لسانه في الصلاة وغيرها وهو غافل فيقرأ تمام السورة وتثوب نفسه إليه بعد انتهائه إلى آخرها ويعلم أنه قرأها في حال غفلته وكذلك الكاتب يكتب في الابتداء بجهد شديد ثم تتمرن على الكتابة يده فيصير الكتب له طبعاً فيكتب أوراقاً كثيرة وهو مستغرق القلب بفكر آخر فجميع ما تحتمله النفس والجوارح من الصفات لا سبيل إلى اكتسابه إلا بالتكلف والتصنع أولاً ثم يصير بالعادة طبعاً وهو المراد بقول بعضهم العادة طبيعة خامسة
Bagaimana mungkin memaksakan diri (takalluf) tidak menjadi sebab sehingga hal yang dipaksakan itu akhirnya menjadi watak alami (pembawaan insting)? Setiap orang yang mempelajari Al-Qur'an atau menghafalnya dengan memaksakan diri dan membacanya secara berulang disertai perenungan penuh serta menghadirkan pikiran, kemudian hal itu menjadi kebiasaan lisan yang berlanjut, hingga lisannya kelak melantunkannya dalam shalat maupun di luar shalat secara spontan ketika ia dalam keadaan lalai. Ia membacanya hingga akhir surah, lalu kesadarannya kembali setelah merampungkan seluruhnya, dan ia menyadari bahwa ia telah membacanya dalam keadaan lalai. Demikian pula seorang penulis, pada awalnya ia menulis dengan jerih payah yang keras, lalu tangannya terbiasa dan terlatih sehingga menulis itu menjadi watak baginya; ia pun sanggup menulis berlembar-lembar kertas sementara hatinya tenggelam dalam pemikiran lain. Maka segala sifat yang mampu ditanggung oleh jiwa dan anggota badan tidak ada jalan untuk menggapainya melainkan dengan memaksakan diri (takalluf) dan pembiasaan (tashannu') pada awalnya, kemudian melalui kebiasaan ia berubah menjadi watak alami. Inilah yang dimaksud oleh ungkapan sebagian ulama, 'Kebiasaan adalah watak alami kelima.'
فكذلك الأحوال الشريفة لا ينبغي أن يقع اليأس منها عند فقدها بل ينبغي أن يتكلف اجتلابها بالسماع وغيره فلقد شوهد في العادات من اشتهى أن يعشق شخصاً ولم يكن يعشقه فلم يزل يردد ذكره على نفسه ويديم النظر إليه ويقرر على نفسه الأوصاف المحبوبة والأخلاق المحمودة فيه حتى عشقه ورسخ ذلك في قلبه رسوخاً خرج عن حداختياره فاشتهى بعد ذلك الخلاص منه فلم يتخلص فكذلك حب الله تعالى والشوق إلى لقائه والخوف من سخطه وغير ذلك من الأحوال الشريفة إذا فقدها الإنسان فينبغي أن يتكلف اجتلابها بمجالسة الموصوفين بها ومشاهدة أحوالهم وتحسين صفاتهم في النفس وبالجلوس معهم في السماع وبالدعاء والتضرع إلى الله تعالى في أن يرزقه تلك الحلة بأن ييسر له أسبابها
Demikian pula dengan ahwal (kondisi-kondisi spiritual) yang mulia, tidak sepatutnya seseorang berputus asa darinya ketika ia kehilangan hal tersebut. Sebaliknya, hendaknya ia mengupayakan dan memaksakan diri untuk menghadirkan kembali ahwal itu melalui samaan (mendengarkan lantunan spiritual) dan sarana lainnya. Sungguh telah disaksikan dalam kebiasaan sehari-hari, ada orang yang berkeinginan untuk mencintai seseorang padahal awalnya ia tidak mencintainya, lalu ia terus-menerus menyebut namanya, memandangnya secara berkesinambungan, dan menanamkan dalam dirinya sifat-sifat yang dicintai serta akhlak terpuji dari orang tersebut, hingga akhirnya ia sungguh-sungguh mencintainya dan rasa cinta itu meresap begitu kuat di dalam hatinya hingga di luar batas kehendaknya sendiri. Bahkan setelah itu ia berkeinginan untuk melepaskan diri darinya namun tidak mampu. Demikian pulalah rasa cinta kepada Allah Ta'ala, rindu untuk bertemu dengan-Nya, rasa takut akan murka-Nya, dan ahwal mulia lainnya: apabila seseorang kehilangan hal-hal tersebut, hendaknya ia mengupayakan hadirnya dengan cara duduk bersanding dengan orang-orang yang memiliki sifat-sifat itu, menyaksikan ahwal mereka, memandang baik sifat-sifat mereka dalam jiwa, duduk bersama mereka dalam majelis samaan, serta berdoa dan bertadharru' (merendahkan diri) kepada Allah Ta'ala agar Dia mengaruniakan perhiasan spiritual (hullah) tersebut kepadanya dengan memudahkan sebab-sebabnya.
ومن أسبابها السماع ومجالسة الصالحين والخائفين والمحسنين والمشتاقين والخاشعين
Dan di antara sebab-sebabnya adalah samaan (mendengarkan lantunan spiritual) serta duduk bersanding dengan orang-orang shaleh, orang-orang yang memiliki rasa takut (khauf), orang-orang yang berbuat kebaikan (muhsinin), orang-orang yang merindukan Allah (musytaqin), dan orang-orang yang khusyuk.
فمن جالس شخصاً سرت إليه صفاته من حيث لا يدري
Sebab barang siapa yang duduk bersanding dengan seseorang, maka sifat-sifat orang tersebut akan menular dan meresap ke dalam dirinya tanpa ia sadari.
ويدل على إمكان تحصيل الحب وغيره من الأحوال بالأسباب قول رسول الله ﷺ في دعائه اللهم ارزقني حبك وحب من أحبك وحب من يقربني إلى حبك
Hal yang menunjukkan dimungkinkannya meraih rasa cinta dan ahwal lainnya melalui sebab-sebab tertentu adalah sabda Rasulullah ﷺ dalam doa beliau: 'Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku cinta-Mu, cinta orang yang mencintai-Mu, dan cinta pada amalan yang mendekatkanku kepada cinta-Mu.'
فقد فزع ﷺ إلى الدعاء في طلب الحب
Sungguh Rasulullah ﷺ telah memohon bantuan melalui doa dalam menggapai dan memohon rasa cinta tersebut.
فهذا بيان انقسام الوجد إلى مكاشفات وإلى أحوال وانقسامه إلى ما يمكن الإفصاح عنه وإلى ما لا يمكن وانقسامه إلى المتكلف وإلى المطبوع
Inilah penjelasan mengenai pembagian wajd (ekstasi spiritual) menjadi mukasyafah (penyingkapan rahasia gaib) dan ahwal (kondisi jiwa), serta pembagiannya menjadi apa yang dapat diungkapkan dengan kata-kata dan apa yang tidak dapat diungkapkan, serta pembagiannya menjadi yang diupayakan secara sengaja (mutakallaf) dan yang bersifat alami atau pembawaan (matbu').
فإن قلت فما بال هؤلاء لا يظهر وجدهم عند سماع القرآن وهو كلام الله ويظهر عند الغناء وهو كلام الشعراء فلو كان ذلك حقاً من لطف الله تعالى ولم يكن باطلاً من غرور الشيطان لكان القرآن أولى به من الغناء فنقول الوجد الحق هو ما ينشأ من فرط حب الله تعالى وصدق إرادته والشوق إلى لقائه وذلك يهيج بسماع القرآن أيضاً
Jika engkau bertanya, 'Mengapa orang-orang tersebut tidak tampak wajd-nya ketika mendengarkan Al-Qur'an padahal itu adalah firman Allah, melainkan justru tampak ketika mendengarkan ghina' (nyanyian) yang merupakan perkataan para penyair? Sekiranya hal itu memang kebenaran dari kelembutan rahmat Allah Ta'ala dan bukannya kebatilan dari tipu daya setan, tentulah Al-Qur'an lebih utama membangkitkannya ketimbang nyanyian.' Maka kami katakan: Wajd yang sejati adalah apa yang timbul dari besarnya cinta kepada Allah Ta'ala, ketulusan kehendak (iradah), dan kerinduan untuk bertemu dengan-Nya. Dan hal itu pun bergejolak pula dengan mendengarkan Al-Qur'an.
وإنما الذي لا يهيج بسماع القرآن حب الخلق وعشق المخلوق
Hanya saja yang tidak bergejolak dengan mendengarkan Al-Qur'an adalah cinta kepada makhluk dan keasyikan ('isyq) terhadap sesama ciptaan.
ويدل على ذلك قوله تعالى ﴿ألا بذكر الله تطمئن القلوب﴾ وقوله تعالى ﴿مثاني تقشعر منه جلود الذين يخشون ربهم ثم تلين جلودهم وقلوبهم إلى ذكر الله﴾ وكل ما يوجد عقيب السماع في النفس فهو وجد
Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah Ta'ala: 'Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram' (QS. Ar-Ra'd: 28), dan firman-Nya Ta'ala: '(Yaitu) Kitab yang serupa (ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka ketika mengingat Allah' (QS. Az-Zumar: 23). Dan segala sesuatu yang timbul di dalam jiwa menyertai pendengaran spiritual (samaan) dinamakan wajd.
فالطمأنينة والاقشعرار والخشية ولين القلب كل ذلك وجد
Maka ketenteraman (thuma'ninah), gemetarnya kulit (iqsyi'rar), rasa takut (khasyyah), dan melembutnya hati, seluruhnya itu adalah wajd.
وقد قال الله تعالى ﴿إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قلوبهم﴾ وقال تعالى ﴿لو أنزلنا هذا القرآن على جبل لرأيته خاشعاً متصدعاً من خشية الله﴾ فالوجل والخشوع وجد من قبيل الأحوال وإن لم يكن من قبيل المكاشفات
Sungguh Allah Ta'ala telah berfirman: 'Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka' (QS. Al-Anfal: 2), dan Allah Ta'ala berfirman: 'Sekiranya Kami turunkan Al-Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah' (QS. Al-Hasyr: 21). Maka rasa takut (wajal) dan kekhusyukan adalah wajd yang tergolong sebagai ahwal (kondisi batin), meskipun bukan tergolong sebagai mukasyafah.
ولكن قد يصير سبباً للمكاشفات والتنبيهات ولهذا قال ﷺ زينوا القرآن بأصواتكم
Akan tetapi, hal itu dapat menjadi lantaran (sebab) timbulnya mukasyafah dan pencerahan batin (tanbihat). Oleh karena itulah Rasulullah ﷺ bersabda: 'Hiasilah Al-Qur'an dengan suara-suara kalian.'
وقال لأبي موسى الأشعري لقد أوتى مزماراً من مزامير آل داود ﵇
Dan beliau bersabda kepada Abu Musa al-Asy'ari: 'Sungguh engkau telah diberi seruling (keindahan suara) dari seruling-seruling keluarga Nabi Daud 'alaihis salam.'
وأما الحكايات الدالة على أن أرباب القلوب ظهر عليهم الوجد عند سماع القرآن فكثيرة فقوله ﷺ شيبتني هود وأخواتها
Adapun kisah-kisah yang menunjukkan bahwa para arbabul qulub (pemilik hati yang hidup) tampak pada mereka wajd ketika mendengarkan Al-Qur'an sangatlah banyak. Maka sabda Nabi ﷺ: 'Surah Hud dan surah-surah sejenisnya telah membuatku beruban,'
خبر عن الوجد فإن الشيب يحصل من الحزن والخوف وذلك وجد
adalah kabar/pemberitahuan tentang wajd, karena tumbuhnya uban terjadi akibat kesedihan dan rasa takut, dan hal itu merupakan bagian dari wajd.
وروي أن ابن مسعود ﵁ قرأ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ سورة النساء فلما انتهى إلى قوله تعالى ﴿فكيف إذا جئنا من كل أمة بشهيد وجئنا بك على هؤلاء شهيداً﴾ قال ﴿حسبك﴾ وكانت عيناه تذرفان بالدموع
Diriwayatkan bahwasanya Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu membaca surah An-Nisa' di hadapan Rasulullah ﷺ. Ketika ia sampai pada firman Allah Ta'ala: 'Maka bagaimanakah (halnya orang-orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu' (QS. An-Nisa': 41), Rasulullah ﷺ bersabda: 'Cukup,' sementara kedua mata beliau meneteskan air mata.
وفي رواية أنه ﷺ قرأ هذا الآية أو قرئ عنده ﴿إن لدينا أنكالاً وجحيماً وطعاماً ذا غصة وعذاباً أليماً﴾ فصعق
Dalam riwayat lain disebutkan bahwasanya Nabi ﷺ membaca ayat ini atau dibacakan di hadapan beliau: 'Sungguh di sisi Kami ada belenggu-belenggu (yang berat) dan neraka yang menyala-nyala, dan makanan yang menyumbat di kerongkongan dan azab yang pedih' (QS. Al-Muzzammil: 12-13), lalu beliau pingsan.
وفي رواية أنه ﷺ قرأ ﴿إن تعذبهم فإنهم عبادك﴾ فبكى
Dan dalam suatu riwayat disebutkan bahwasanya beliau ﷺ membaca: 'Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu' (QS. Al-Ma'idah: 118), lalu beliau menangis.
وكان ﷺ إذا مر بآية رحمة دعا واستبشر
Dan Rasulullah ﷺ apabila melewati ayat tentang rahmat, beliau berdoa dan merasa gembira.
والاستبشار وجد
Dan kegembiraan atas kabar baik juga merupakan wujud dari wajd (getaran rasa spiritual).
وقد أثنى الله تعالى على أهل الوجد بالقرآن فقال تعالى ﴿وإذا سمعوا ما أنزل إلى الرسول ترى أعينهم تفيض من الدمع مما عرفوا من الحق﴾ وروي أن رسول الله ﷺ كان يصلي ولصدره أزيز كأزيز المرجل
Sungguh, Allah Ta'ala telah memuji para pemilik wajd terhadap Al-Qur'an. Allah Ta'ala berfirman: "Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul, kamu melihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran yang telah mereka ketahui." Diriwayatkan pula bahwa Rasulullah ﷺ pernah melaksanakan shalat dan dari dada beliau terdengar suara gemuruh seperti gemuruh air yang mendidih dalam kuali.
وأما ما نقل من الوجد بالقرآن عن الصحابة ﵃ والتابعين فكثير فمنهم من صعق ومنهم من بكى ومنهم من غشي عليه ومنهم من مات في غشيته
Adapun riwayat tentang wajd saat mendengarkan Al-Qur'an dari para sahabat radhiyallahu 'anhum dan tabi'in sangatlah banyak. Di antara mereka ada yang menjerit pingsan, ada yang menangis, ada yang pingsan tak sadarkan diri, dan ada pula yang meninggal dunia dalam pingsannya.
وروى أن زرارة بن أوفى وكان من التابعين كان يؤم الناس بالرقة فقرأ ﴿فإذا نقر في الناقور﴾ فصعق ومات في محرابه ﵀
Diriwayatkan bahwa Zurarah bin Aufa, seorang tabi'in, pernah menjadi imam shalat bagi masyarakat di Raqqa. Ketika beliau membaca ayat: "Maka apabila sangkakala ditiup," beliau tersengal pingsan dan wafat di mihrabnya, semoga Allah merahmatinya.
وسمع عمر ﵁ رجلاً يقرأ إن عذاب ربك لواقع ماله من دافع فصاح صيحة وخر مغشياً عليه فحمل إلى بيته فلم يزل مريضاً في بيته شهراً
Umar radhiyallahu 'anhu pernah mendengar seseorang membaca: "Sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi, tidak seorang pun yang dapat menolaknya." Maka beliau berteriak keras dan jatuh pingsan, lalu digotong ke rumahnya dan terus jatuh sakit di rumahnya selama sebulan.
وأبو جرير من التابعين قرأ عليه صالح المري فشهق ومات
Abu Jarir, salah seorang dari kalangan tabi'in, pernah dibacakan ayat Al-Qur'an oleh Shalih Al-Murri, lalu beliau menghela napas panjang dan wafat.
وسمع الشافعي ﵀ قارئاً يقرأ ﴿هذا يوم لا ينطقون ولا يؤذن لهم فيعتذرون﴾ فغشي عليه
Imam Asy-Syafi'i rahmatullah 'alaih pernah mendengar seorang qari membaca: "Inilah hari yang mereka tidak dapat berbicara (pada hari itu), dan tidak diizinkan kepada mereka mengemukakan alasan." Maka beliau pun pingsan tak sadarkan diri.
وسمع علي بن الفضيل قارئاً يقرأ ﴿يوم يقوم الناس لرب العالمين﴾ فسقط مغشياً عليه فقال الفضيل شكر الله لك ما قد علمه منك
Ali bin Al-Fudhail pernah mendengar seorang qari membaca: "(yaitu) hari ketika manusia berdiri menghadap Tuhan seluruh alam." Maka ia tersungkur pingsan. Lalu Fudhail berkata: "Semoga Allah membalas kebaikanmu atas apa yang telah Dia ketahui dari hatimu."
وكذلك نقل عن جماعة منهم
Demikian pula hal itu diriwayatkan dari sekelompok orang dari kalangan mereka.
وكذلك الصوفية فقد كان الشبلي في مسجده ليلة من رمضان وهو يصلي خلف إمام له فقرأ الإمام ﴿ولئن شئنا لنذهبن بالذي أوحينا إليك﴾ فزعق الشبلي زعقة ظن الناس أنه قد طارت روحه وأحمر وجهه وارتعدت فرائصه وكان يقول بمثل هذا يخاطب الأحباب يردد ذلك مراراً
Demikian pula halnya dengan para sufi. Al-Syibli pernah berada di masjidnya pada suatu malam di bulan Ramadan dan shalat di belakang imamnya. Lalu sang imam membaca: "Dan sesungguhnya jika Kami menghendaki, niscaya Kami lenyapkan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu." Maka Al-Syibli berteriak sangat keras hingga orang-orang mengira jiwanya telah melayang, wajahnya memerah, dan seluruh badannya gemetar. Beliau berulang kali berkata: "Dengan firman seperti inilah Sang Kekasih disapa!" Beliau mengulangnya berkali-kali.
وقال الجنيد دخلت على سرى السقطي فرأيت بين يديه رجلاً قد غشي عليه فقال لي هذا رجل قد سمع آية من القرآن فغشي عليه فقلت اقرءوا عليه تلك الآية بعينها فقرئت فأفاق فقال من أين قلت هذا فقلت رأيت يعقوب ﵇ كان عماه من أجل مخلوق فبمخلوق أبصر ولو كان عماه من أجل الحق ما أبصر بمخلوق فاستحسن ذلك
Al-Junaid berkata: "Aku menemui Sari Al-Saqathi dan melihat di hadapannya seorang pria yang pingsan. Beliau berkata kepadaku: 'Pria ini mendengar satu ayat dari Al-Qur'an lalu pingsan.' Maka aku katakan: 'Bacakanlah kembali ayat yang persis sama kepadanya!' Lalu ayat itu dibacakan dan pria itu pun sadar. Sari bertanya: 'Dari mana engkau menyimpulkan hal ini?' Aku menjawab: 'Aku melihat Nabi Ya'qub 'alaihissalam; kebutaannya disebabkan oleh sesama makhluk, maka dengan perantara makhluk pula ia dapat melihat kembali. Seandainya kebutaannya disebabkan oleh Al-Haq (Allah), tentu ia tidak akan bisa melihat kembali dengan perantara makhluk.' Maka Sari pun menganggap baik pemikiran tersebut."
ويشير إلى ما قاله الجنيد قول الشاعر
Gagasan yang disampaikan oleh Al-Junaid ini selaras dengan bait syair:
وكأس شربت على لذة … وأخرى تداويت منها بها
"Satu cangkir kuminum karena kenikmatan… Dan cangkir lainnya kujadikan obat penawar darinya."
وقال بعض الصوفية كنت أقرأ ليلة هذه الآية ﴿كل نفس ذائقة الموت﴾ فجعلت أرددها فإذا هاتف يهتف بي
Sebagian sufi menceritakan: "Pada suatu malam aku membaca ayat ini: 'Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.' Aku terus mengulang-ulangnya, tiba-tiba ada suara tanpa rupa berseru kepadaku:"
كم تردد هذه الآية فقد قتلت أربعة من الجن ما رفعوا رءوسهم إلى السماء منذ خلقوا
"Berapa kali lagi engkau akan mengulang ayat ini? Sungguh engkau telah membunuh empat ekor jin yang belum pernah mengangkat kepala mereka ke langit sejak mereka diciptakan!"
وقال أبو علي المغازلي للشبلي ربما تطرق سمعي آية من كتاب الله تعالى فتجذبني إلى الإعراض عن الدنيا ثم أرجع إلى أحوالي وإلى الناس فلا أبقى على ذلك فقال ما طرق سمعك من القرآن فاجتذبك به إليه فذلك عطف منه عليك ولطف منه بك وإذا ردك إلى نفسك فهو شفقة منه عليك فإنه لا يصلح لك إلا التبري من الحول والقوة في التوجه إليه
Abu Ali Al-Maghazili berkata kepada Al-Syibli: "Terkadang ada suatu ayat dari Kitabullah Ta'ala yang mendatangi pendengaranku, lalu ia menarikku untuk berpaling dari dunia. Namun kemudian aku kembali pada keadaan kebiasaanku dan kepada manusia, sehingga aku tidak bisa bertahan terus dalam kondisi tersebut." Maka Al-Syibli menjawab: "Apa yang mendatangi pendengaranmu dari Al-Qur'an lalu menarikmu kepada-Nya, itu adalah kasih sayang dan kelembutan-Nya kepadamu. Dan ketika Dia mengembalikanmu kepada dirimu sendiri, itu adalah kelembutan belas kasih-Nya kepadamu, sebab tidak ada yang layak bagimu selain berlepas diri dari daya dan upaya dalam bertawajjuh menghadap-Nya."
وسمع رجل من أهل التصوف قارئاً يقرأ ﴿يا أيتها النفس المطمئنة ارجعي إلى ربك راضية مرضية﴾ فاستعادها من القارىء وقال
Seorang lelaki dari kalangan kaum sufi mendengar seorang qari membaca: "Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya." Maka ia meminta qari tersebut untuk mengulangnya kembali, lalu ia berkata:
كم أقول لها ارجعي وليست ترجع وتواجد وزعق زعقة فخرجت روحه
"Betapa sering aku berkata kepada jiwa ini: 'Kembalilah!', namun ia tak kunjung kembali." Lalu timbullah gelora wajd dalam dirinya, ia pun berteriak keras seketika dan mencabut nyawanya.
وسمع بكر بن معاذ قارئاً يقرأ ﴿وأنذرهم يوم الآزفة﴾ الآية فاضطرب ثم صاح ارحم من أنذرته ولم يقبل إليك بعد الإنذار بطاعتك ثم غشى عليه
Bakr bin Mu'adz pernah mendengar seorang qari membaca: "Dan berilah mereka peringatan akan hari yang makin dekat…" hingga akhir ayat. Beliau seketika gemetar, lalu berteriak: "Kasihanilah orang yang telah Engkau beri peringatan namun belum juga menghadap kepada-Mu dengan ketaatan setelah peringatan itu!" Kemudian beliau jatuh pingsan.
وكان إبراهيم ابن أدهم ﵀ إذا سمع أحداً يقرأ ﴿إذا السماء انشقت﴾ اضطربت أوصاله حتى كان يرتعد
Ibrahim bin Adham rahmatullah 'alaih, apabila mendengar seseorang membaca: "Apabila langit terbelah," persendian tubuhnya berguncang hebat hingga beliau gemetaran.
وعن محمد بن صبيح قال كان رجل يغتسل في الفرات فمر به رجل على الشاطىء يقرأ ﴿وامتازوا اليوم أيها المجرمون﴾ فلم يزل الرجل يضطرب حتى غرق ومات
Diriwayatkan dari Muhammad bin Sabih, ia berkata: Ada seorang laki-laki yang sedang mandi di sungai Efrat, lalu melintaslah seseorang di tepi sungai seraya membaca (ayat Al-Qur'an): "Dan berpisahlah kamu (dari orang-orang beriman) pada hari ini, wahai orang-orang yang berbuat dosa!" (QS. Yasin: 59). Maka laki-laki (yang sedang mandi) itu terus-menerus berguncang jiwanya hingga tenggelam dan meninggal dunia.
وذكر أن سلمان الفارسي أبصر شاباً يقرأ فأتى على آية فاقشعر جلده فأحبه سلمان وفقده فسأل عنه فقيل له إنه مريض فأتاه يعوده فإذا هو في الموت فقال يا عبد الله أرأيت تلك القشعريرة التي كانت بي فإنها أتتني في أحسن صورة فأخبرتني أن الله قد غفر لي بها كل ذنب
Diriwayatkan pula bahwa Salman al-Farisi melihat seorang pemuda sedang membaca Al-Qur'an. Ketika sampai pada suatu ayat, merindinglah kulit pemuda itu. Salman pun mencintainya. Suatu ketika Salman kehilangan jejak pemuda itu, lalu ia menanyakannya dan diberitahukan bahwa pemuda itu sedang sakit. Salman lalu menjenguknya, dan ternyata ia sedang dalam keadaan sakaratul maut. Pemuda itu berkata: "Wahai hamba Allah, tahukah engkau rasa merinding yang dahulu menimpaku? Sesungguhnya rasa merinding itu mendatangi aku dalam wujud yang paling indah, lalu memberitahukan kepadaku bahwa Allah telah mengampuni seluruh dosaku karenanya."
وبالجملة لا يخلو صاحب القلب عن وجد عند سماع القرآن فإن كان القرآن لا يؤثر فيه أصلاً ف مثله كمثل الذي ينعق بما لا يسمع إلا دعاء ونداء صم بكم عمي فهم لا يعقلون بل صاحب القلب تؤثر فيه الكلمة من الحكمة يسمعها
Walhasil, seorang pemilik hati (yang hidup batinnya) tidak akan pernah sunyi dari wajd (getaran ekstasi spiritual) ketika mendengarkan Al-Qur'an. Jika Al-Qur'an sama sekali tidak memberi pengaruh kepadanya, maka perumpamaannya bagaikan pemanggil yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan semata; mereka tuli, bisu, dan buta, maka mereka tidak mengerti. Sebaliknya, seorang pemilik hati akan terpengaruh bahkan oleh seuntai kata hikmah yang didengarnya.
قال جعفر الخلدي دخل رجل من أهل خراسان على الجنيد وعنده جماعة فقال للجنيد متى يستوي عند العبد حامده وذامه فقال بعض الشيوخ إذا دخل البيمارستان وقيد بقيدين فقال الجنيد ليس هذا من شأنك ثم أقبل على الرجل وقال إذا تحقق أنه مخلوق فشهق الرجل شهقة ومات
Ja'far al-Khuldi berkata: Seorang laki-laki dari kalangan penduduk Khurasan menemui al-Junaid saat beliau sedang bersama sekelompok orang. Laki-laki itu bertanya kepada al-Junaid, "Kapan seorang hamba memandang sama antara orang yang memujinya dan orang yang mencelanya?" Sebagian syekh yang ada di situ menjawab, "Apabila ia telah masuk rumah sakit jiwa dan diikat dengan dua belenggu." Al-Junaid berkata, "Ini bukan urusanmu." Kemudian al-Junaid menghadap kepada laki-laki itu dan menjawab, "Apabila ia telah benar-benar menyadari secara hakiki bahwa dirinya adalah makhluk." Maka laki-laki itu pun menarik napas dalam-dalam (syahqah) lalu meninggal dunia.
فإن قلت فإن كان سماع القرآن مفيداً للوجد فما بالهم يجتمعون على سماع الغناء من القوالين دون القارئين فكان ينبغي أن يكون اجتماعهم وتواجدهم في حلق القراء لا حلق المغنين وكان ينبغي أن يطلب عند كل اجتماع في كل دعوة قارىء لأقوال فإن كلام الله تعالى أفضل من الغناء لا محالة فاعلم أن الغناء أشد تهييجاً للوجد من القرآن من سبعة أوجه
Jika engkau bertanya: "Apabila mendengarkan Al-Qur'an itu dapat mendatangkan wajd, mengapa mereka justru berkumpul untuk mendengarkan nyanyian dari para pelantun syair (qawwalin), bukan dari para pembaca Al-Qur'an? Bukankah seharusnya perkumpulan dan ekstasi spiritual (tawajud) mereka berada di majelis para pembaca Al-Qur'an, bukan majelis para penyanyi? Dan seharusnya pula yang dicari pada setiap perkumpulan dalam setiap perjamuan adalah pembaca Al-Qur'an, bukan pelantun lagu, sebab Firman Allah Ta'ala niscaya lebih utama daripada nyanyian." Maka ketahuilah, sesungguhnya nyanyian itu lebih kuat memicu wajd daripada Al-Qur'an dilihat dari tujuh sisi:
الوجه الأول أن جميع آيات القرآن لا تناسب حال المستمع ولا تصلح لفهمه وتنزيله على ما هو ملابس له فمن استولى عليه حزن أو شوق أو ندم فمن أين يناسب حاله قوله تعالى ﴿يوصيكم الله في أولادكم للذكر مثل حظ الأنثيين﴾ وقوله تعالى ﴿والذين يرمون المحصنات﴾ وكذلك جميع الآيات التي فيها بيان أحكام الميراث والطلاق والحدود وغيرها وإنما المحرك لما في القلب ما يناسبه
Sisi pertama: Bahwa tidak semua ayat Al-Qur'an sesuai dengan keadaan (hal) pendengar, serta tidak seluruhnya cocok untuk dipahami dan diterapkan secara langsung pada kondisi spiritual yang sedang dialaminya. Barangsiapa yang sedang dikuasai oleh rasa sedih, kerinduan, atau penyesalan, maka bagaimana mungkin keadaannya bisa bersesuaian dengan firman-Nya Ta'ala: "Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian warisan untuk) anak-anakmu, yaitu bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan" (QS. An-Nisa': 11), atau firman-Nya Ta'ala: "Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina)…" (QS. An-Nur: 4), serta seluruh ayat yang berisi penjelasan hukum waris, talak, hudud (hukuman tindak pidana), dan lainnya. Padahal, sesuatu yang dapat menggerakkan apa yang ada di dalam hati hanyalah hal yang sesuai dengannya.
والأبيات إنما يضعها الشعراء إعراباً بها عن أحوال القلب فلا يحتاج في فهم الحال منها إلى تكلف
Sementara bait-bait puisi diciptakan oleh para penyair justru untuk mengungkapkan keadaan-keadaan hati (ahwal al-qalb), sehingga untuk memahami keadaan spiritual darinya tidak memerlukan pemaksaan pemaknaan (takalluf).
نعم من يستولي عليه حالة غالبة قاهرة لم تبق فيه متسعاً لغيرها ومعه تيقظ وذكاء ثاقب يتفطن به للمعاني البعيدة من الألفاظ فقد يخرج وجده على كل مسموع كمن يخطر له عند ذكر قوله تعالى ﴿يوصيكم الله في أولادكم﴾ حالة الموت المحوج إلى الوصية وأن كل إنسان لا بد أن يخلف ماله وولده وهما محبوباه من الدنيا فيترك أحد المحبوبين للثاني ويهجرهما جميعاً فيغلب عليه الخوف والجزع أو يسمع ذكر الله في قوله ﴿يوصيكم الله في أولادكم﴾ فيدهش بمجرد الاسم عما قبله وبعده أو يخطر له رحمة الله على عباده وشفقته بأن تولى قسم مواريثهم بنفسه نظراً لهم في حياتهم وموتهم فيقول إذا نظر لأولادنا بعد موتنا فلا نشك بأنه ينظر لنا فيهيج
Memang benar, barangsiapa yang dikuasai oleh suatu kondisi spiritual (hal) yang sangat kuat dan dominan, yang tidak menyisakan ruang bagi yang lain, disertai dengan kewaspadaan batin serta kecerdasan tajam yang membuatnya mampu menangkap makna-makna jauh dari lafaz-lafaz lahiriah, maka wajd-nya bisa terpicu dari setiap apa yang didengarnya. Seperti seseorang yang ketika mendengar firman Allah Ta'ala: "Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian warisan untuk) anak-anakmu", terlintas dalam pikirannya kondisi kematian yang mengharuskan adanya wasiat, dan bahwa setiap manusia pasti meninggalkan harta dan anaknya—dua hal yang paling dicintainya di dunia—sehingga ia meninggalkan salah satu yang dicintai untuk yang lain dan melepaskan keduanya sekaligus, lalu dikuasai oleh rasa takut dan kecemasan. Atau ia mendengar penyebutan Nama Allah dalam firman-Nya: "Allah mensyariatkan bagimu tentang anak-anakmu", maka ia pun terperanjat terpesona hanya karena mendengar Nama itu semata, terlepas dari perkataan sebelum dan sesudahnya. Atau terlintas dalam benaknya rahmat dan kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya, di mana Dia Sendiri yang mengatur pembagian warisan mereka sebagai bentuk perhatian kepada mereka sewaktu hidup dan setelah mati, lalu orang itu berkata: "Jika Dia memelihara anak-anak kita setelah kematian kita, maka kita tidak meragukan lagi bahwa Dia juga akan memelihara kita," sehingga berkobarlah…
منه حال الرجاء ويورثه ذلك استبشارا وسروراً أو يخطر له من قوله تعالى ﴿للذكر مثل حظ الأنثيين﴾ تفضيل الذكر بكونه رجلاً على الأنثى وأن الفضل في الآخرة لرجال لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ الله
…keadaan raja' (pengharapan) darinya, dan hal itu mewariskan kabar gembira serta kebahagiaan baginya. Atau terlintas dalam pikirannya dari firman-Nya Ta'ala: "bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan", tentang keutamaan laki-laki (dzakar) sebagai pria sejati atas wanita, dan bahwa keutamaan di akhirat adalah bagi orang-orang (pria sejati) yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah,
وأن من ألهاه غير الله تعالى عن الله تعالى فهو من الإناث لا من الرجال تحقيقاً فيخشى أن يحجب أو يؤخر في نعيم الآخرة كما أخرت الأنثى في أموال الدنيا
dan bahwa barangsiapa yang dilalaikan oleh selain Allah Ta'ala dari mengingat Allah Ta'ala, maka ia pada hakikatnya tergolong sebagai wanita, bukan pria sejati. Maka ia pun takut akan terhalang (mahjub) atau diakhirkan dalam kenikmatan akhirat, sebagaimana wanita diakhirkan (mendapat bagian lebih sedikit) dalam harta duniawi.
فأمثال هذا قد يحرك الوجد ولكن لمن فيه وصفان
Hal-hal semacam inilah yang dapat menggerakkan wajd, namun hanya bagi orang yang memiliki dua sifat:
أحدهما حالة غالبة مستغرقة قاهرة
Pertama: Keadaan spiritual (hal) yang dominan, tenggelam sepenuhnya, dan menguasai batin.
والآخر تفطن بليغ وتيقظ بالغ كامل للتنبيه بالأمور القريبة على المعاني البعيدة وذلك مما يعز فلأجل ذلك يفزع إلى الغناء الذي هو ألفاظ مناسبة للأحوال حتى يتسارع هيجانها
Kedua: Pemahaman yang sangat mendalam serta kewaspadaan batin yang sempurna untuk menangkap makna-makna yang jauh melalui isyarat hal-hal yang dekat. Dan perkara seperti ini sangatlah langka. Oleh karena itulah, orang-orang beralih kepada nyanyian yang lafaz-lafaznya memang bersesuaian dengan keadaan-keadaan batin (ahwal), agar gelora batin tersebut dapat terpancing dengan cepat.
وروي أن أبا الحسين النوري كان مع جماعة في دعوى فجرى بينهم مسألة في العلم وأبو الحسين ساكت ثم رفع رأسه وأنشدهم
Diriwayatkan bahwa Abu al-Husain an-Nuri pernah berada bersama sekelompok orang dalam suatu perjamuan (da'wah). Lalu terjadi perdebatan di antara mereka mengenai suatu masalah ilmu, sementara Abu al-Husain diam saja. Kemudian beliau mengangkat kepalanya dan melantunkan syair kepada mereka:
رب ورقاء هتوف في الضحى … ذات شجو صدحت في فنن
"Betapa banyak merpati yang berkicau di waktu dhuha… Penuh duka berkicau nyaring di atas dahan kayu"
ذكرت إلفا ودهراً صالحاً … وبكت حزنا فهاجت حزني
"Ia teringat kekasih dan masa-masa indah… Ia menangis karena sedih, lalu membakar kesedihanku"
فبكائي ربما أرقها … وبكاها ربما أرقني
"Mungkin tangisku membuat mata berkaca… Dan tangisnya membuatku tak bisa terlelap"
ولقد أشكو فما أفهمها … ولقد تشكو فما تفهمني
"Sungguh aku mengadu namun aku tak dapat membuatnya paham… Dan sungguh ia mengadu namun ia tak dapat membuatku paham"
غير أني بالجوى أعرفها … وهي أيضاً بالجوى تعرفني
"Hanya saja melalui gejolak rasa kerinduan aku mengenalnya… Dan ia pun melalui gejolak kerinduan mengenalku"
قال فما بقي أحد من القوم إلا قام وتواجد ولم يحصل لهم هذا الوجد من العلم الذي خاضوا فيه وإن كان العلم جداً وحقاً
Perawi berkata: Maka tidak tersisa seorang pun dari kaum itu melainkan ia bangkit dan larut dalam tawajud (ekstasi spiritual). Padahal rasa wajd ini tidak mereka dapatkan dari diskusi ilmu yang tadinya mereka dalami, meskipun ilmu itu adalah sesuatu yang sangat penting dan haq.
الوجه الثاني أن القرآن محفوظ للأكثرين ومتكرر على الأسماع والقلوب وكلما سمع أولاً عظم أثره في القلوب وفي الكرة الثانية يضعف أثره وفي الثالثة يكاد يسقط أثره
Sisi kedua adalah bahwa Al-Qur'an itu terpatri di dalam ingatan mayoritas manusia serta berulang-ulang terdengar oleh pendengaran dan hati. Setiap kali didengar untuk pertama kalinya, pengaruhnya sangat agung di dalam hati, pada kali kedua pengaruhnya melemah, dan pada kali ketiga pengaruhnya hampir sirna.
ولو كلف صاحب الوجد الغالب أن يحضر وجده على بيت واحد على الدوام في مرات متقاربة في الزمان في يوم أو أسبوع لم يمكنه ذلك
Seandainya seorang yang diliputi wajd (ekstasi spiritual) yang mendalam dibebani untuk menghadirkan wajd-nya atas satu bait syair secara terus-menerus dalam rentang waktu yang berdekatan dalam sehari atau sepekan, niscaya ia tidak akan sanggup melakukannya.
ولو ابدل ببيت آخر لتجدد له أثر في قلبه وإن كان معرباً عن عين ذلك المعنى
Namun, jika bait tersebut diganti dengan bait lain, niscaya akan timbul kembali pengaruh baru di dalam hatinya, meskipun bait baru itu menguraikan makna yang persis sama.
ولكن كون النظم واللفظ غريباً بالإضافة إلى الأولى يحرك النفس وإن كان المعنى واحداً
Akan tetapi, keberadaan susunan dan lafal yang asing (baru) jika dibandingkan dengan bait pertama dapat menggerakkan jiwa, meskipun maknanya sama.
وليس يقدر القارئ على أن يقرأ قرآناً غريباً في كل وقت ودعوة فإن القرآن محصور لا يمكن الزيادة عليه وكله محفوظ متكرر وإلى ما ذكرناه أشار الصديق ﵁ حيث رأى الأعراب يقدمون فيسمعون القرآن ويبكون فقال كنا كما كنتم ولكن قست قلوبنا ولا تظنن أن قلب الصديق ﵁ كان أقسى من قلوب الأجلاف من العرب وانه كان أخلى عن حب الله تعالى وحب كلامه من قلوبهم ولكن التكرار على قلبه اقتضى المرون عليه وقلة التأثر به لما حصل له من الأنس بكثرة استماعه إذ محال في العادات أن يسمع السامع آية لم يسمعها قبل فيبكي ثم يدوم على بكائه عليها عشرين سنة ثم يرددها ويبكي ولا يفارق الأول الآخر إلا في كونه غريباً جديداً ولكل جديد لذة ولكل طارئ صدمة ومع كل مألوف أنس يناقض الصدمة
Seorang pembaca tidak akan mampu membaca Al-Qur'an yang baru (asing) pada setiap waktu dan kesempatan, karena Al-Qur'an itu terbatas dan tidak mungkin ditambahi, serta seluruhnya dihafal dan diulang-ulang. Kepada apa yang kami sebutkan inilah Abu Bakar ash-Shiddiq radiyallahu 'anhu mengisyaratkan ketika ia melihat orang-orang Arab Badui datang lalu mendengarkan Al-Qur'an dan menangis, maka ash-Shiddiq berkata, "Dahulu kami pun seperti kalian, tetapi kini hati kami telah membatu." Dan janganlah engkau mengira bahwa hati ash-Shiddiq radiyallahu 'anhu lebih keras daripada hati orang-orang Arab Badui yang kasar itu, atau hatinya lebih hampa dari rasa cinta kepada Allah Ta'ala dan cinta kepada kalam-Nya daripada hati mereka. Akan tetapi, pengulangan Al-Qur'an pada hatinya meniscayakan keterbiasaan dan berkurangnya keharuan padanya disebabkan timbulnya keakraban akibat seringnya mendengarkan. Sebab secara kebiasaan umum, mustahil seorang pendengar mendengar suatu ayat yang belum pernah ia dengar sebelumnya lalu ia menangis, kemudian ia terus-menerus menangis karenanya selama dua puluh tahun saat mengulangnya dan tetap menangis, padahal tidak ada perbedaan antara yang pertama dan yang terakhir melainkan hanya karena yang pertama itu terasa asing dan baru. Dan bagi setiap hal yang baru terdapat kelezatan, pada setiap yang baru datang terdapat kejutan spiritual, dan bersama setiap hal yang sudah terbiasa terdapat keakraban yang meniadakan kejutan tersebut.
ولذا هم عمر ﵁ أن يمنع الناس من كثرة الطواف وقال قد خشيت أن يتهاون الناس بهذا البيت أي يأنسوا به
Oleh karena itulah Umar radiyallahu 'anhu berkeinginan untuk melarang orang-orang memperbanyak tawaf dan berkata, "Sungguh aku khawatir manusia akan meremehkan Rumah ini (Ka'bah)," yakni mereka menjadi terlalu terbiasa dengannya.
ومن قدم حاجاً فرأى البيت أولاً بكى وزعق وربما غشي عليه إذ وقع عليه بصره وقد يقيم بمكة شهراً ولا يحس من ذلك في نفسه بأثر فإذاً المغنى يقدر على الأبيات الغريبة في كل وقت ولا يقدر في كل وقت على آية غريبة
Dan barangsiapa datang menunaikan ibadah haji lalu melihat Baitullah untuk pertama kalinya, ia akan menangis, berteriak, dan bahkan mungkin pingsan ketika pandangannya jatuh padanya. Namun, ia bisa saja tinggal di Makkah selama sebulan dan tidak lagi merasakan pengaruh tersebut di dalam jiwanya. Dengan demikian, seorang penyanyi mampu mendendangkan bait-bait syair yang baru pada setiap waktu, sedangkan pembaca Al-Qur'an tidak mampu menghadirkan ayat yang baru pada setiap waktu.
الوجه الثالث أن لوزن الكلام بذوق الشعر تأثيراً في النفس فليس الصوت الموزون الطيب كالصوت الطيب الذي ليس بموزون وإنما يوجد الوزن في الشعر دون الآيات ولو زحف المغني البيت الذي ينشده أو لحن فيه
Sisi ketiga adalah bahwa irama kata (wazan) menurut rasa syair memiliki pengaruh tersendiri pada jiwa. Suara yang merdu dan berirama tidaklah sama dengan suara merdu yang tidak berirama. Irama (wazan) ini hanya terdapat pada syair dan tidak ada pada ayat-ayat Al-Qur'an. Seandainya penyanyi merusak irama pada bait yang dinyanyikannya atau melakukan kesalahan dalam melantunkannya,
أو مال عن حد تلك الطريقة في اللحن لاضطرب قلب المستمع وبطل جده وسماعه ونفر طبعه لعدم المناسبة
atau menyimpang dari batasan metode lagu tersebut, niscaya hati pendengar akan terguncang, sirnalah kesungguhan dan pendengarannya (sama'), serta watak alaminya akan menolak karena hilangnya keselarasan.
وإذا نفر الطبع اضطرب القلب وتشوش فالوزن إذن مؤثر فلذلك طاب الشعر
Apabila watak alami menolak, hati akan terguncang dan kacau. Maka irama (wazan) itu memberi pengaruh, dan karena itulah syair terasa nikmat.
الوجه الرابع أن الشعر الموزون يختلف تأثيره في النفس بالألحان التي تسمى الطرق والاستانات وإنما اختلاف تلك الطرق بمد المقصور وقصر المدود والوقف في أثناء الكلمات والقطع والوصل في بعضها
Sisi keempat adalah bahwa syair yang berirama berbeda-beda pengaruhnya bagi jiwa sesuai dengan cengkok lagu (alhan) yang disebut turuq dan astanat. Perbedaan lagu-lagu tersebut terletak pada memanjangkan bacaan yang pendek, memendekkan bacaan yang panjang, berhenti di tengah-tengah kata, serta memutus dan menyambung sebagian kata.
وهذا التصرف جائز في الشعر ولا يجوز في القرآن إلا التلاوة كما أنزل فقصره ومده والوقف والوصل والقطع فيه على خلاف ما تقضيه التلاوة حرام أو مكروه
Pengubahan semacam ini diperbolehkan dalam syair, tetapi tidak diperbolehkan dalam Al-Qur'an kecuali membaca sebagaimana ia diturunkan. Maka memendekkan, memanjangkan, berhenti (waqaf), menyambung (washal), dan memutus (qatha') pada Al-Qur'an yang menyelisahi ketetapan kaidah tilawah hukumnya adalah haram atau makruh.
وإذا رتل القرآن كما أنزل سقط عنه الأثر الذي سببه وزن الألحان وهو سبب مستقل بالتأثير وإن لم يكن مفهوماً كما في الأوتار والمزمار والشاهين وسائر الأصوات التي لا تفهم
Jika Al-Qur'an dibaca secara tartil sebagaimana ia diturunkan, gugurlah darinya pengaruh yang disebabkan oleh irama lagu—suatu sebab yang berdiri sendiri dalam memberi pengaruh meskipun maknanya tidak dipahami, sebagaimana suara alat musik petik, seruling, tiup, dan seluruh suara lainnya yang tidak dipahami maknanya.
الوجه الخامس أن الألحان الموزونة تعضد وتؤكد بإيقاعات وأصوات أخر موزونة خارج الحلق كالضرب بالقضيب والدف وغيره لأن الوجد الضعيف لا يستثار إلا بسبب قوي وإنما يقوى بمجموع هذه الأسباب ولكل واحد منها حظ في التأثير وواجب أن يصان القرآن عن مثل هذه القرائن لأن صورتها عند عامة الخلق صورة اللهو واللعب والقرآن جد كله عند كافة الخلق فلا يجوز أن يمزج بالحق المحض ما هو لهو عند العامة وصورته صورة اللهو عند الخاصة وإن كانوا لا ينظرون إليها من حيث إنها لهو بل ينبغي أن يوقر القرآن فلا يقرأ على شوارع الطرق بل في مجلس ساكن ولا في حال الجنابة
Sisi kelima adalah bahwa lagu yang berirama itu disokong dan diperkuat dengan ketukan ritmis dan suara-suara berirama lainnya dari luar tenggorokan, seperti pukulan tongkat, rebana, dan selainnya. Sebab wajd yang lemah tidak akan terkobarkan kecuali dengan sebab yang kuat, dan ia menjadi kuat dengan gabungan sebab-sebab ini yang masing-masing memiliki kadar pengaruhnya tersendiri. Wajib hukumnya menjaga Al-Qur'an dari penyertaan hal-hal semacam ini, sebab bentuknya di mata orang awam adalah bentuk hiburan dan permainan, sedangkan Al-Qur'an seluruhnya adalah kebenaran yang agung (jadd) di mata seluruh makhluk. Maka tidak boleh mencampuradukkan kebenaran murni dengan apa yang dianggap hiburan oleh kalangan awam dan tampak seperti hiburan bagi kalangan khusus—meskipun mereka tidak memandangnya dari sudut pandang hiburan. Sebaliknya, Al-Qur'an harus diagungkan sehingga tidak dibaca di jalanan umum, melainkan di majelis yang tenang, tidak pula dalam keadaan junub,
ولا على غير طهارة ولا يقدر على الوفاء بحق حرمة القرآن في كل حال إلا المراقبون لأحوالهم فيعدل إلى الغناء الذي لا يستحق هذه المراقبة والمراعاة ولذلك لا يجوز الضرب بالدف مع قراءة القرآن ليلة العرس
dan tidak pula tanpa bersuci. Tidak ada yang mampu menunaikan hak keagungan Al-Qur'an dalam setiap keadaan kecuali orang-orang yang senantiasa mengawasi diri (muraqabah) atas keadaan mereka. Oleh karena itu, beralihlah kepada nyanyian (ghina') yang tidak menuntut tingkat pengawasan dan penjagaan sedemikian rupa. Atas dasar itulah tidak diperbolehkan memukul rebana bersamaan dengan pembacaan Al-Qur'an pada malam pesta pernikahan.
وقد أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بضرب الدف في العرس فقال أظهروا النكاح ولو بضرب الغربال
Rasulullah ﷺ telah memerintahkan untuk memukul rebana dalam pesta pernikahan, beliau bersabda: "Uraikanlah (gemarkanlah) pernikahan itu, walau dengan memukul rebana."
أو بلفظ هذا معناه وذلك جائز مع الشعر دون القرآن
Atau dengan lafal yang bermakna demikian. Hal itu diperbolehkan menyertai syair, tetapi tidak untuk Al-Qur'an.
ولذلك لما دخل رسول الله ﷺ بيت الربيع بنت معوذ وعندها جوار فسمع إحداهن تقول وفينا نبي يعلم ما في غد
Oleh karena itu, ketika Rasulullah ﷺ memasuki rumah ar-Rubayyi' binti Mu'awwidz dan di sisinya terdapat anak-anak perempuan yang sedang bernyanyi, beliau mendengar salah seorang dari mereka mengucapkan: "Dan di antara kita ada seorang Nabi yang mengetahui apa yang terjadi esok hari,"
على وجه الغناء فقال ﷺ دعي هذا وقولي ما كنت تقولين
secara bernyanyi, maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Tinggalkan kalimat ini, dan ucapkanlah apa yang biasa engkau ucapkan sebelumnya."
وهذه شهادة بالنبوة فزجرها عنها وردها إلى الغناء الذي هو لهو لأن هذا جد محض فلا يقرن بصورة اللهو
Bait ini memuat kesaksian atas kenabian. Maka beliau melarangnya dari ucapan tersebut dan mengembalikannya kepada nyanyian biasa (hiburan), karena hal ini (kenabian) adalah kesungguhan murni (jadd mahdh) yang tidak boleh disandingkan dengan bentuk hiburan.
فإذاً يتعذر بسببه تقوية الأسباب التي بها يصير السماع محركاً للقلب فواجب في الاحترام العدول إلى الغناء عن القرآن كما وجب على تلك الجارية العدول عن شهادة النبوة إلى الغناء
Maka dari itu, karena hal tersebut, menjadi sulit untuk memperkuat sebab-sebab yang menjadikan sama' (mendengarkan lantunan) sebagai penggerak hati. Oleh karena itu, demi menjaga kehormatan Al-Qur'an, wajib beralih kepada nyanyian, sebagaimana wajib bagi budak perempuan tersebut untuk beralih dari kesaksian kenabian kepada nyanyian.
الوجه السادس
Alasan keenam.
أن المغني قد يغني ببيت لا يوافق حال السامع فيكرهه وينهاه عنه ويستدعي غيره فليس كل كلام موافقاً لكل حال
Bahwa seorang penyanyi terkadang menyanyikan bait syair yang tidak sesuai dengan hal (kondisi spiritual) pendengar, sehingga pendengar tersebut merasa tidak cocok, melarangnya, dan meminta nyanyian yang lain. Sebab, tidak semua perkataan sesuai dengan setiap hal.
فلو اجتمعوا في الدعوات على القارئ فربما يقرأ آية لا توافق حالهم إذ القرآن شفاء للناس كلهم على اختلاف الأحوال فآيات الرحمة شفاء الخائف وآيات العذاب شفاء المغرور الآمن
Seandainya mereka berkumpul dalam suatu majelis bersama seorang qari' (pembaca Al-Qur'an), boleh jadi ia membaca ayat yang tidak sesuai dengan hal mereka. Sebab, Al-Qur'an adalah penawar (syifa') bagi seluruh manusia dengan keragaman hal mereka; ayat-ayat rahmat adalah penawar bagi orang yang takut (kha'if), sedangkan ayat-ayat azab adalah penawar bagi orang yang tertipu lagi merasa aman.
وتفصيل ذلك مما يطول
Dan rincian mengenai hal tersebut akan sangat panjang.
فإذاً لا يؤمن أن لا يوافق المقروء الحال وتكرهه النفس فيتعرض به لخطر كراهة كلام الله تعالى من حيث لا يجد سبيلاً إلى دفعه
Maka dari itu, tidak ada jaminan bahwa apa yang dibaca akan sesuai dengan hal pendengar, lalu jiwanya merasa tidak menyukainya, sehingga ia terancam bahaya membenci firman Allah Ta'ala tanpa menemukan jalan untuk menolaknya.
فالاحتراز عن خطر ذلك حزم بالغ وحتم واجب إذ لا يجد الخلاص عنه إلا بتنزيله على وفق حاله ولا يجوز تنزيل كلام الله تعالى إلا على ما أراد الله تعالى
Maka berhati-hati dari bahaya tersebut merupakan tindakan yang sangat bijaksana dan suatu keharusan yang wajib. Sebab, seseorang tidak akan menemukan jalan keluar darinya kecuali dengan menerapkan bacaan itu sesuai dengan hal-nya, padahal tidak boleh menerapkan firman Allah Ta'ala melainkan sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah Ta'ala.
وأما قول الشاعر فيجوز تنزيله على غير مراده ففيه خطر الكراهة أو خطر التأويل الخطأ لموافقة الحال فيجب توقير كلام الله وصيانته عن ذلك وهذا ما ينقدح في علل انصراف الشيوخ إلى سماع الغناء عن سماع القرآن
Adapun perkataan penyair (syair), maka boleh menerapkannya di luar maksud penyairnya. Di dalamnya terkandung risiko ketidaksukaan atau risiko penafsiran yang keliru agar sesuai dengan hal. Oleh karena itu, wajib mengagungkan firman Allah dan memeliharanya dari hal demikian. Inilah alasan yang terlintas mengenai berpalingnya para syekh kepada mendengarkan nyanyian ketimbang mendengarkan Al-Qur'an.
وههنا وجه سابع ذكره أبو نصر السراج الطوسي في الاعتذار عن ذلك فقال القرآن كلام الله وصفة من
Dan di sini terdapat alasan ketujuh yang disebutkan oleh Abu Nasr as-Sarraj at-Thusi sebagai argumen atas hal tersebut. Ia berkata, "Al-Qur'an adalah firman Allah dan salah satu sifat dari…
صفاته وهو حق لا تطيقه البشرية لأنه غير مخلوق فلا تطيقه الصفات المخلوقة
…sifat-sifat-Nya. Ia adalah kebenaran (haqq) yang tidak sanggup ditanggung oleh sifat kemanusiaan (basyariyyah), karena Al-Qur'an bukan makhluk, sehingga tidak sanggup ditampung oleh sifat-sifat makhluk.
ولو كشف للقلوب ذرة من معناه وهيبته لتصدعت ودهشت وتحيرت
Seandainya disingkapkan kepada hati sekecil zarrah dari makna dan keagungannya, niscaya hati akan hancur terbelah, bingung, dan terpesona.
والألحان الطيبة مناسبة للطباع ونسبتها نسبة الحظوظ لا نسبة الحقوق والشعر نسبته نسبة الحظوظ
Sedangkan irama yang indah itu sesuai dengan watak manusia, dan kedudukannya adalah kedudukan kesenangan jiwa (hazhzh), bukan kedudukan hak ketuhanan (haqq). Begitu pula dengan syair, kedudukannya adalah kedudukan kesenangan jiwa.
فإذا علقت الألحان والأصوات بما في الأبيات من الإشارات واللطائف شاكل بعضها بعضاكان أقرب إلى الحظوظ وأخف على القلوب لمشاكلة المخلوق المخلوق
Maka apabila nada dan suara ditautkan pada isyarat dan kelembutan makna dalam bait-bait syair, lalu sebagiannya bersesuaian dengan yang lain, hal itu menjadi lebih dekat dengan kesenangan jiwa dan lebih ringan bagi hati, karena adanya kesesuaian antara sesama makhluk.
فما دامت البشرية باقية ونحن بصفاتنا وحظوظنا نتنعم بالنغمات الشجية والأصوات الطيبة فانبساطنا لمشاهدة بقاء هذه الحظوظ إلى القصائد أولى من انبساطنا إلى كلام الله تعالى الذي هو صفته وكلامه الذي منه بدأ وإليه يعود
Selama sifat kemanusiaan (basyariyyah) itu masih ada, dan kita dengan sifat-sifat serta kesenangan jiwa kita menikmati alunan nada yang merdu dan suara yang indah, maka keterbukaan jiwa (inbisat) kita untuk menyaksikan tetapnya kesenangan-kesenangan ini melalui kasidah-kasidah adalah lebih utama daripada keterbukaan jiwa kita terhadap firman Allah Ta'ala, yang merupakan sifat dan kalam-Nya, yang dari-Nya bermula dan kepada-Nya kembali."
وهذا حاصل المقصود من كلامه واعتذاره
Inilah kesimpulan maksud dari perkataan dan penjelasan beliau.
وقد حكى عن أبي الحسن الدراج أنه قال قصدت يوسف بن الحسين الرازي من بغداد للزيارة والسلام عليه فلما دخلت الرى كنت أسأل عنه فكل من سألته عنه قال
Diceritakan dari Abu al-Hasan ad-Darraj bahwa ia berkata, "Aku sengaja menemui Yusuf bin al-Husain ar-Razi dari Baghdad untuk berziarah dan mengucapkan salam kepadanya. Ketika aku memasuki kota Rayy, aku bertanya tentang keberadaannya, namun setiap orang yang kutanyai berkata:
أيش تعمل بذلك الزنديق فضيقوا صدري حتى عزمت على الانصراف
'Apa yang hendak kamu lakukan dengan orang zindik itu?' Perkataan mereka menyempitkan dadaku hingga aku berniat untuk pulang.
ثم قلت في نفسي قد جبت هذا الطريق كله فلا أقل من أن أراه
Kemudian aku berkata dalam hati, 'Aku telah menempuh seluruh perjalanan jauh ini, maka setidaknya aku harus melihatnya.'
فلم أزل أسأل عنه حتى دخلت عليه في مسجد وهو قاعد في المحراب وبين يديه رجل وبيده مصحف وهو يقرأ فإذا هو شيخ بهي حسن الوجه واللحية فسلمت عليه فأقبل على وقال من أين أقبلت فقلت من بغداد فقال وما الذي جاء بك فقلت قصدتك للسلام عليك فقال لو أن في بعض هذه البلدان قال لك إنسان أقم عندنا حتى نشتري لك داراً أو جارية أكان يقعدك ذلك عن المجيء فقلت ما امتحنني الله بشيء من ذلك ولو امتحنني ما كنت أدري كيف أكون ثم قال لي أتحسن أن تقول شيئاً فقلت نعم فقال هات فأنشأت أقول
Maka aku terus bertanya tentangnya hingga aku menemuinya di sebuah masjid. Saat itu ia sedang duduk di mihrab, di hadapannya ada seorang laki-laki memegang mushaf yang sedang membaca Al-Qur'an. Ia ternyata seorang syekh yang berwibawa, berwajah tampan, dan berjenggot indah. Aku pun mengucapkan salam kepadanya, lalu ia menghadap kepadaku dan bertanya, 'Dari mana kamu datang?' Aku menjawab, 'Dari Baghdad.' Ia bertanya lagi, 'Apa yang membuatmu datang ke mari?' Aku menjawab, 'Aku bermaksud menemui Anda untuk mengucapkan salam.' Ia lalu berkata, 'Seandainya di salah satu negeri ini seseorang berkata padamu: Tinggallah bersama kami hingga kami belikan rumah atau hamba sahaya untukmu, apakah hal itu akan menghalangimu untuk datang?' Aku menjawab, 'Allah belum mengujiku dengan hal seperti itu, dan seandainya Dia mengujiku, aku tidak tahu bagaimana keadaanku.' Kemudian ia berkata kepadaku, 'Apakah engkau bisa melantunkan sesuatu (syair)?' Aku menjawab, 'Ya.' Ia berkata, 'Lantunkanlah!' Maka aku pun melantunkan bait syair:
رأيتك تبني دائماً في قطيعتي … ولو كنت ذا حزم لهدمت ما تبني
Aku melihatmu selalu membangun pemutusan hubungan denganku… Seandainya engkau bijaksana, niscaya engkau hancurkan apa yang engkau bangun.
كأني بكم والليت أفضل قولكم … ألا ليتنا كنا إذ الليت لا يغني
Seolah-olah aku melihat kalian dan ucapan 'andaikan' menjadi perkataan terbaikmu… 'Aduhai, sekiranya dahulu kita begini,' padahal kata 'andaikan' tidak lagi berguna.
قال فأطبق المصحف ولم يزل يبكي حتى ابتلت لحيته وابتل ثوبه حتى رحمته من كثرة بكائه ثم قال يا بني تلوم أهل الري يقولون يوسف زنديق هذا أنا من صلاة الغداة أقرأ في المصحف لم تقطر من عيني قطرة وقد قامت القيامة علي لهذين البيتين
Ia berkata, "Lalu beliau menutup mushaf dan terus menangis hingga jenggot dan pakaiannya basah, sampai-sampai aku merasa kasihan padanya karena begitu banyaknya tangisannya. Kemudian beliau berkata, 'Wahai anakku, engkau mencela penduduk Rayy yang mengatakan bahwa Yusuf adalah seorang zindiq. Ini aku, sejak shalat Shubuh membaca mushaf, tidak ada satu tetes air mata pun yang menetes dari mataku, padahal kiamat seakan telah bangkit atas diriku hanya karena dua bait syair ini.'"
فإذاً القلوب وإن كانت محترقة في حب الله تعالى فإن البيت الغريب يهيج منها ما لا تهيج تلاوة القرآن وذلك لوزن الشعر ومشاكلته للطباع ولكونه مشاكلاً للطبع اقتدر البشر على نظم الشعر وأما القرآن فنظمه خارج عن أساليب الكلام ومنهاجه وهو لذلك معجز لا يدخل في قوة البشر لعدم مشاكلته لطبعه
Dengan demikian, hati itu—meskipun terbakar dalam kecintaan kepada Allah Ta'ala—bait syair yang asing terkadang mengobarkan darinya apa yang tidak dikobarkan oleh tilawah Al-Qur'an. Hal itu disebabkan oleh irama (wazan) syair dan kesesuaiannya dengan watak manusia. Oleh karena kesesuaiannya dengan watak itulah, manusia mampu merangkai syair. Adapun Al-Qur'an, susunannya berada di luar gaya bahasa dan metode bicara manusia, sehingga ia menjadi mukjizat yang tidak masuk dalam batas kemampuan manusia karena tidak sesuai dengan watak dasar (kebiasaan) manusia.
وروي أن إسرافيل أستاذ ذي النون المصري دخل عليه رجل فرآه وهو ينكت في الأرض بإصبعه ويترنم ببيت فقال هل تحسن أن تترنم بشيء فقال لا قال فأنت بلا قلب إشارة إلى أن من له قلب وعرف طباعه علم أنه تحركه الأبيات والنغمات تحريكاً لا يصادف في غيرها فيتكلف طريق التحريك إما بصوت نفسه أو بغيره وقد ذكرنا حكم المقام الأول في فهم المسموع وتنزيله وحكم المقام الثاني في الوجد الذي يصادف في القلب فلنذكر الآن أثر الوجد أعني ما يترشح منه إلى الظاهر من صعقة وبكاء وحركة وتمزيق ثوب وغيره فنقول
Diriwayatkan bahwa Israfil, guru dari Dzun Nun al-Mishri, didatangi oleh seseorang yang melihatnya sedang mengait-ngaitkan jarinya ke tanah seraya melantunkan sebuah bait syair. Orang itu bertanya, "Apakah engkau mampu melantunkan sesuatu?" Ia menjawab, "Tidak." Maka Israfil berkata, "Berarti engkau tidak memiliki hati!" Hal ini merupakan isyarat bahwa siapa yang memiliki hati dan memahami watak dasarnya, niscaya ia mengetahui bahwa bait-bait syair dan nada-nada dapat menggerakkannya dengan dorongan yang tidak dijumpai pada selainnya. Maka ia pun berusaha mencari jalan pemicu dorongan tersebut, baik dengan suaranya sendiri maupun suara orang lain. Kami telah menyebutkan hukum tingkatan pertama mengenai pemahaman terhadap apa yang didengar (matsmu') dan penempatannya, serta hukum tingkatan kedua mengenai wajd (keharuan spiritual) yang ditemui di dalam hati. Maka sekarang mari kita sebutkan pengaruh dari wajd tersebut, yaitu apa yang tampak mengalir darinya ke alam lahiriah seperti pingsan, menangis, bergerak, merobek pakaian, dan lainnya. Maka kami katakan:
المقام الثالث من السماع
Tingkatan Ketiga dari Sama' (Mendengar Melodi Spiritual)
نذكر فيه آداب السماع ظاهراً وباطناً وما يحمد من آثار الوجد وما يذم
Pada tingkatan ini, kami akan menyebutkan adab-adab sama' secara lahiriah maupun batiniah, serta apa yang terpuji dan apa yang tercela dari dampak-dampak wajd.
فأما الآداب فهي خمس جمل
Adapun adab-adab tersebut terbagi dalam lima kelompok pokok:
الأول مراعاة الزمان والمكان والإخوان
Pertama: Memperhatikan waktu (zaman), tempat (makan), dan para sahabat/saudara (ikhwan).
قال الجنيد السماع يحتاج إلى ثلاثة أشياء وإلا فلا تسمع الزمان والمكان والإخوان
Al-Junaid berkata, "Sama' itu membutuhkan tiga hal, jika tidak ada maka janganlah engkau mendengarkannya: waktu, tempat, dan para sahabat (ikhwan)."
ومعناه أن الاشتغال به في وقت حضور طعام أو خصام أو صلاة أو صارف من الصوارف مع اضطراب القلب لا فائدة فيه فهذا معنى مراعاة الزمان فيراعي حالة فراغ القلب له
Maknanya adalah bahwa menyibukkan diri dengannya di waktu hidangan makanan disajikan, ketika percekcokan, shalat, atau adanya hal lain yang memalingkan fokus bersamaan dengan kegelisahan hati, tidaklah membawa manfaat. Inilah makna dari memperhatikan waktu, yaitu dengan menjaga kondisi ketika hati sedang kosong (terbebas dari gangguan).
وأما المكان فقد يكون
Adapun mengenai tempat, terkadang tempat itu berupa
شارعاً مطروقاً أو موضعاً كريه الصورة أو فيه سبب يشغل القلب فيجتنب ذلك
jalan umum yang sering dilalui, tempat yang buruk pemandangannya, atau di dalamnya terdapat hal yang mengganggu konsentrasi hati, maka tempat seperti itu harus dihindari.
وأما الإخوان فسببه أنه إذا حضر غير الجنس من منكر السماع متزهد الظاهر مفلس من لطائف القلوب كان مستثقلاً في المجلس واشتغل القلب به
Adapun mengenai para sahabat (ikhwan), keterkaitannya adalah apabila hadir orang yang tidak sejiwa—seperti orang yang mengingkari sama', bersikap zuhud secara lahiriah saja namun hampa dari kehalusan batin (latha'iful qulub)—maka kehadirannya akan menjadi beban dalam majelis dan hati akan terganggu olehnya.
وكذلك إذا حضر متكبر من أهل الدنيا يحتاج إلى مراقبته وإلى مراعاته أو متكلف متواجد من أهل التصوف يرائي بالوجد والرقص وتمزيق الثياب فكل ذلك مشوشات
Demikian pula apabila hadir orang yang sombong dari kalangan ahli dunia yang perlu diawasi dan dijaga perasaannya, atau seseorang dari kalangan tasawuf yang berpura-pura merasakan wajd (ekstasi spiritual) dan bersikap mengada-ada dengan berpura-pura tawajud, menari, serta merobek-robek pakaian untuk tujuan riya'. Semua itu merupakan faktor-faktor pengganggu.
فترك السماع عند فقد هذه الشروط أولى ففي هذه الشروط نظر للمستمع
Maka meninggalkan sama' ketika syarat-syarat ini tidak terpenuhi adalah lebih utama, karena dalam syarat-syarat ini terkandung pertimbangan bagi kebaikan pendengar.
الأدب الثاني هو نظر الحاضرين أن الشيخ إذا كان حوله مريدون يضرهم السماع فلا ينبغي أن يسمع في حضورهم فإن سمع فليشغلهم بشغل آخر والمريد الذي يستضر بالسماع أحد ثلاثة
Adab kedua: Memperhatikan kondisi orang-orang yang hadir. Bahwa seorang syekh, jika di sekelilingnya terdapat para murid yang akan mudarat (terganggu) oleh sama', maka tidak sepatutnya ia mendengarkan sama' di hadapan mereka. Jika ia tetap mendengarkannya, hendaklah ia menyibukkan mereka dengan aktivitas lain. Murid yang dapat bahaya/mudarat akibat sama' ada salah satu dari tiga tingkatan:
أقلهم درجة
Tingkatan yang paling rendah di antara mereka
هو الذي لم يدرك من الطريق إلا الأعمال الظاهرة ولم يكن له ذوق السماع فاشتغاله بالسماع اشتغال بما لا يعنيه فإنه ليس من أهل اللهو فيلهو ولا من أهل الذوق فيتنعم بذوق السماع فليشتغل بذكر أو خدمة وإلا فهو تضييع لزمانه
adalah orang yang belum mencapai jalan ini kecuali sebatas amal-amal lahiriah semata dan belum memiliki rasa ketenangan/kesadaran rasa (dzauq) dalam sama'. Keterlibatannya dalam sama' adalah bentuk kesibukan dengan hal yang tidak berguna baginya, sebab ia bukan termasuk golongan ahli kelalaian (ahlul lahwi) sehingga ia bisa bersenang-senang, bukan pula termasuk golongan ahli dzauq sehingga ia bisa menikmati rasa spiritual sama'. Maka hendaklah ia menyibukkan diri dengan dzikir atau khidmat (pelayanan), jika tidak, hal itu hanyalah pemborosan waktunya.
الثاني هو الذي له ذوق السماع ولكن فيه بقية من الحظوظ والالتفات إلى الشهوات والصفات البشرية ولم ينكسر بعد انكسارا تؤمن غوائله فربما يهيج السماع منه داعية اللهو والشهوة فيقطع عليه طريقه ويصده عن الاستكمال
Tingkatan kedua: Orang yang telah memiliki dzauq dalam sama', namun di dalam dirinya masih tersisa bagian dari kesenangan nafsu (hazhzhuzh), kecenderungan pada syahwat, dan sifat-sifat kemanusiaan, serta belum tunduk sepenuhnya hingga terbebas dari bahaya kejahatannya. Maka terkadang sama' justru membangkitkan pendorong kelalaian dan syahwat darinya, sehingga memutus jalannya menuju Allah dan menghalanginya untuk mencapai kesempurnaan.
الثالث أن يكون قد انكسرت شهوته وأمنت غائلته وانفتحت بصيرته واستولى على قلبه حب الله تعالى ولكنه لم يحكم ظاهر العلم ولم يعرف أسماء الله تعالى وصفاته وما يجوز عليه وما يستحيل فإذا فتح له باب السماع نزل المسموع في حق الله تعالى على ما يجوز وما لا يجوز فيكون ضرره من تلك الخواطر التي هي كفر أعظم من نفع السماع
Tingkatan ketiga: Orang yang syahwatnya telah tunduk, terbebas dari bahayanya, mata batinnya telah terbuka, dan hatinya telah dikuasai oleh rasa cinta (mahabbah) kepada Allah Ta'ala, namun ia belum menguasai ilmu lahiriah secara kokoh serta belum mengenal nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta'ala, apa yang boleh (jaiz) dan apa yang mustahil bagi-Nya. Maka apabila pintu sama' dibuka baginya, ia akan menafsirkan apa yang didengarnya terkait hak Allah Ta'ala tanpa membedakan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh, sehingga bahaya yang timbul dari bisikan-bisikan pikiran (lintasan batin) yang dapat mengarah pada kekufuran itu jauh lebih besar daripada manfaat sama' itu sendiri.
قال سهل ﵀ كل وجد لا يشهد له الكتاب والسنة فهو باطل
Sahl—semoga Allah merahmatinya—berkata, "Setiap wajd (ekstasi spiritual) yang tidak dipersaksikan kebenarannya oleh Al-Kitab dan As-Sunnah, maka itu adalah batil."
فلا يصلح السماع لمثل هذا ولا لمن قلبه بعد ملوث بحب الدنيا وحب المحمدة والثناء ولا لمن يسمع لأجل التلذذ والاستطابة بالطبع فيصير ذلك عادة له ويشغله ذلك عن عبادته ومراعاة قلبه وينقطع عليه طريقه
Maka sama' (mendengarkan lantunan spiritual) tidak layak bagi orang yang demikian, tidak pula bagi orang yang hatinya masih terpolusi oleh kecintaan kepada dunia serta dahaga akan pujian dan sanjungan. Tidak layak pula bagi orang yang mendengarkannya sekadar untuk mengecap kenikmatan dan kesenangan hawa nafsu secara tabiat, hingga hal itu menjadi kebiasaan baginya, melalaikannya dari ibadah dan pemeliharaan hatinya, serta memutus jalannya menuju Allah.
فالسماع مزلة قدم يجب حفظ الضعفاء عنه
Oleh karena itu, sama' merupakan tempat yang rawan menggelincirkan kaki, sehingga orang-orang yang lemah jiwanya wajib dijaga darinya.
قال الجنيد رأيت إبليس في النوم فقلت له هل تظفر من أصحابنا بشيء قال نعم في وقتين وقت السماع ووقت النظر فإني أدخل عليهم به
Al-Junaid berkata, "Aku melihat Iblis dalam mimpi, lalu aku bertanya kepadanya, 'Apakah engkau dapat memperdaya sahabat-sahabat kami?' Ia menjawab, 'Ya, dalam dua waktu: ketika sama' dan ketika memandang (hal yang dilarang/syahwat), sebab aku masuk menyesatkan mereka melalui kedua hal itu.'"
فقال بعض الشيوخ لو رأيته أنا لقلت له ما أحمقك من سمع منه إذا سمع ونظر إليه إذا نظر كيف تظفر به فقال الجنيد صدقت
Maka sebagian guru tasawuf berkata, "Seandainya aku yang melihatnya, niscaya akan kukatakan padanya, 'Betapa dungunya engkau! Seseorang yang mendengar dari-Nya (Allah) ketika ia mendengarkan, dan memandang kepada-Nya ketika ia memandang, bagaimana mungkin engkau bisa memperdayanya?'" Maka Al-Junaid berkata, "Engkau benar."
الأدب الثالث أن يكون مصغياً إلى ما يقول القائل حاضر القلب قليل الالتفات إلى الجوانب متحرزاً عن النظر إلى وجوه المستمعين وما يظهر عليهم من أحوال الوجد
Adab ketiga: Hendaknya ia mendengarkan secara saksama apa yang diucapkan oleh pelantun, hadir hatinya, sedikit berpaling ke samping, menjaga diri dari memandang wajah para pendengar lain serta keadaan wajd (gejolak spiritual) yang tampak pada diri mereka.
مشتغلاً بنفسه ومراعاة قلبه ومراقبة ما يفتح الله تعالى له من رحمته في سره متحفظاً عن حركة تشوش على أصحابه قلوبهم
Ia disibukkan dengan dirinya sendiri, memelihara hatinya, serta menanti-nanti limpahan rahmat yang dibukakan oleh Allah Ta'ala di dalam rahasia jiwanya (sirr), seraya menjaga diri dari gerakan yang dapat mengacaukan kekhusyukan hati sahabat-sahabatnya.
بل يكون ساكن الظاهر هادئ الأطراف متحفظاً عن التنحنح والتثاؤب ويجلس مطرقاً رأسه كجلوسه في فكر مستغرق لقلبه متماسكاً عن التصفيق والرقص وسائر الحركات على وجه التصنع والتكلف والمراءاة ساكتا عن النطق في أثناء القول بكل ما عنه بد فإن غلبه الوجد وحركه بغير اختيار فهو فيه معذور غير ملوم
Bahkan hendaknya ia tenang secara lahiriah, diam anggota tubuhnya, menjaga diri dari berdeham dan menguap, serta duduk tertunduk kepalanya seperti duduknya orang yang tenggelam dalam perenungan mendalam bagi hatinya. Ia hendaknya menahan diri dari bertepuk tangan, menari, dan seluruh gerakan yang bersifat kepura-puraan (tasannu'), memaksakan diri (takalluf), serta pamer (riya'), seraya diam tidak berbicara di sela-sela lantunan mengenai apa pun yang tidak perlu. Namun, jika wajd telah menguasai dirinya dan menggerakkannya tanpa ikhtiar (di luar kendalinya), maka ia dimaafkan dalam hal itu dan tidak dicela.
ومهما رجع إليه الاختيار فليعد إلى هدوئه وسكونه
Dan bilamana kesadaran serta kehendaknya telah kembali, hendaknya ia segera kembali kepada ketenangan dan keheningannya.
ولا ينبغي أن يستديمه حياء من أن يقال انقطع وجده على القرب ولا أن يتواجد خوفاً من أن يقال هو قاسي القلب عديم الصفاء والرقة
Tidak sepatutnya ia melanggengkan gerakan tersebut hanya karena malu jika dikatakan bahwa wajd-nya telah terputus begitu cepat, tidak pula ia berpura-pura menunjukkan wajd (tawajud) karena takut dikatakan bahwa ia berhati keras serta hampa dari kesucian dan kelembutan jiwa.
حكي أن شاباً كان يصحب الجنيد فكان إذا سمع شيئاً من الذكر يزعق فقال له الجنيد يوماإن فعلت ذلك مرة
Dikisahkan bahwa ada seorang pemuda yang berguru kepada Al-Junaid. Setiap kali mendengar sesuatu dari dzikir, ia selalu berteriak. Maka pada suatu hari Al-Junaid berkata kepadanya, "Jika engkau melakukan hal itu sekali lagi,
أخرى لم تصحبني فكان بعد ذلك يضبط نفسه حتى يقطر من كل شعرة منه قطرة ماء ولا يزعق فحكى أنه اختنق يوماً لشدة ضبطه لنفسه فشهق شهقة فانشق قلبه وتلفت نفسه
maka engkau tidak boleh lagi bersamaku." Setelah itu, pemuda tersebut berusaha keras menahan dirinya hingga dari setiap helai rambutnya meneteskan air keringat dan ia tidak berteriak lagi. Diceritakan bahwa pada suatu hari ia merasa sangat sesak karena amat keras menahan dirinya, lalu ia menghela napas yang amat berat hingga pecahlah hatinya dan melayanglah nyawanya.
وروي أن موسى ﵇ قص في بني إسرائيل فمزق واحد منهم ثوبه أو قميصه فأوحى الله تعالى إلى موسى ﵇ قل له مزق لي قلبك ولا تمزق ثوبك
Diriwayatkan bahwa Nabi Musa a.s. pernah menyampaikan nasihat kepada Bani Israil, lalu salah seorang dari mereka merobek bajunya. Maka Allah Ta'ala mewahyukan kepada Nabi Musa a.s., "Katakanlah kepadanya: Robeklah hatimu untuk-Ku, dan janganlah engkau merobek bajumu!"
قال أبو القاسم النصراباذي لأبي عمرو بن عبيد أنا أقول إذا اجتمع القوم فيكون معهم قوال يقول خيراً لهم من أن يغتابوا فقال أبو عمرو الرياء في السماع وهو أن ترى من نفسك حالاً ليست فيك شر من أن تغتاب ثلاثين سنة أو نحو ذلك
Abu Al-Qasim An-Nashrabadzi berkata kepada Abu 'Amr bin 'Ubaid, "Aku berpendapat, jika suatu kaum berkumpul lalu di tengah mereka terdapat seorang pelantun yang melantunkan kebaikan, itu lebih baik bagi mereka daripada mereka menggunjing (ghibah)." Abu 'Amr merespons, "Riya dalam sama'—yaitu engkau memperlihatkan pada dirimu suatu keadaan spiritual (hal) yang sebenarnya tidak ada padamu—lebih buruk daripada engkau menggunjing selama tiga puluh tahun atau seumpamanya."
فإن قلت الأفضل هو الذي لا يحركه السماع ولا يؤثر في ظاهره أو الذي يظهر عليه فاعلم أن عدم الظهور تارة يكون لضعف الوارد من الوجد فهو نقصان وتارة يكون مع قوة الوجد في الباطن لكن لا يظهر لكمال القوة على ضبط الجوارح فهو كمال وتارة يكون لكون حال الوجد ملازما ومصاحبا في الأحوال كلها فلا يتبين للسماع مزيد تأثير وهو غاية الكمال
Jika engkau bertanya: Manakah yang lebih utama, apakah orang yang tidak digerakkan oleh sama' dan tidak terpengaruh lahiriahnya, ataukah orang yang tampak pengaruh wajd padanya? Maka ketahuilah bahwa tidak tampaknya pengaruh itu terkadang disebabkan oleh lemahnya limpahan rahmat (warid) dari wajd, dan ini merupakan suatu kekurangan. Terkadang hal itu terjadi beserta kuatnya wajd di batin, namun tidak tampak karena sempurnanya kemampuan dalam mengendalikan anggota tubuh, dan ini adalah suatu kesempurnaan. Dan terkadang hal itu terjadi karena keadaan wajd itu sudah melekat dan menyertai dalam seluruh keadaan, sehingga sama' tidak lagi menimbulkan tambahan pengaruh baru, dan inilah puncak kesempurnaan.
فإن صاحب الوجد في غالب الأحوال لا يدوم وجده فمن هو في وجد دائم ثم فهو المرابط للحق والملازم لعين الشهود فهذا لا تغيره طوارق الأحوال ولا يبعد أن تكون الإشارة بقول الصديق ﵁ كنا كما كنتم ثم قست قلوبنا معناه قويت قلوبنا واشتدت فصارت تطيق ملازمة الوجد في كل الأحوال فنحن في سماع معاني القرآن على الدوام فلا يكون القرآن جديداً في حقنا طارئاً علينا حتى تتأثر به
Sebab, pemilik wajd pada umumnya tidaklah berlangsung terus-menerus wajd-nya. Maka barangsiapa yang berada dalam wajd yang bertali-temali secara konstan, dialah orang yang senantiasa menambatkan hatinya pada Al-Haqq (Allah) dan melazimi hakikat kesaksian batin (syuhud). Orang seperti ini tidak akan diubah oleh keadaan-keadaan yang datang seketika. Tidak jauh kemungkinan bahwa isyarat dari perkataan Abu Bakar As-Siddiq r.a., "Dahulu kami seperti kalian, kemudian hati kami menjadi keras," maknanya adalah hati kami menjadi kuat dan kokoh sehingga sanggup melazimi wajd dalam segala keadaan. Dengan demikian, kami senantiasa mendengarkan makna-makna Al-Qur'an secara terus-menerus, sehingga Al-Qur'an tidak lagi menjadi hal yang baru atau asing bagi kami hingga lahiriah kami terguncang karenanya.
فإذاً قوة الوجد تحرك وقوة العقل والتماسك تضبط الظاهر وقد يغلب أحدهما الآخر إما الشدة قوته وإما لضعف ما يقابله ويكون النقصان والكمال بحسب ذلك فلا تظنن أن الذي يضطرب بنفسه على الأرض أتم وجداً من الساكن باضطرابه بل رب ساكن أتم وجداً من المضطرب
Oleh karena itu, kekuatan wajd itu menggerakkan, sedangkan kekuatan akal dan ketahanan diri menertibkan sisi lahiriah. Kadang-kadang salah satu dari keduanya mengalahkan yang lain, baik karena teramat kuatnya maupun karena lemahnya yang berhadapan dengannya, dan kekurangan serta kesempurnaan diukur berdasarkan hal tersebut. Maka janganlah engkau mengira bahwa orang yang terombang-ambing tubuhnya di atas tanah itu lebih sempurna wajd-nya daripada orang yang tenang di tengah keguncangannya; bahkan betapa banyak orang yang tenang itu lebih sempurna wajd-nya daripada orang yang terguncang.
فقد كان الجنيد يتحرك في السماع في بدايته ثم صار لا يتحرك فقيل له في ذلك فقال ﴿وترى الجبال تحسبها جامدة وهي تمر مر السحاب صنع الله الذي أتقن كل شيء﴾ إشارة إلى أن القلب مضطرب جائل في الملكوت والجوارح متأدبة في الظاهر ساكنة
Sungguh Al-Junaid dahulu bergerak dalam sama' pada awal perjalanannya, kemudian ia menjadi tidak bergerak lagi. Ketika hal itu ditanyakan kepadanya, ia membaca firman Allah: "Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal dia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat kokoh tiap-tiap sesuatu." (QS. An-Naml: 88). Ini merupakan isyarat bahwa hati berguncang dan mengelana di alam Malakut, sedangkan anggota badan tetap beradab secara lahiriah dan tenang.
وقال أبو الحسن محمد بن أحمد وكان بالبصرة صحبت سهل بن عبد الله ستين سنة فما رأيته تغير عند شيء كان يسمعه من الذكر أو القرآن فلما كان في آخر عمره قرأ رجل بين يديه ﴿فاليوم لا يؤخذ منكم فدية﴾ الآية فرأيته قد ارتعد وكاد يسقط فلما عاد إلى حاله سألته عن ذلك فقال نعم يا حبيبي قد ضعفنا
Abu Al-Hasan Muhammad bin Ahmad di Bashrah berkata, "Aku telah mendampingi Sahl bin 'Abdullah selama enam puluh tahun, dan aku tidak pernah melihatnya berubah (terguncang) karena sesuatu dari dzikir atau Al-Qur'an yang didengarnya. Namun ketika berada di akhir umurnya, seorang laki-laki membaca di hadapannya firman-Nya: 'Maka pada hari ini tidak diambil tebusan dari kamu…' (QS. Al-Hadid: 15). Lalu aku melihat beliau gemetar dan hampir jatuh. Ketika beliau kembali ke keadaannya semula, aku menanyakan hal itu kepadanya, maka beliau menjawab: 'Ya wahai kekasihku, sungguh kita telah melemah.'"
وكذلك سمع مرة قوله تعالى ﴿الملك يومئذ الحق للرحمن﴾ فاضطرب فسأله ابن سالم وكان من أصحابه فقال قد ضعفت فقيل له فإن كان هذا من مضعف فما قوة الحال فقال أن لا يرد عليه وارد إلا وهو يلتقيه بقوة حاله فلا تغيره الواردات وإن كانت قوية
Demikian pula pada suatu kali beliau mendengar firman Allah Ta'ala: "Kerajaan yang hak pada hari itu adalah milik Ar-Rahman" (QS. Al-Furqan: 26), lalu beliau terguncang. Maka Ibn Salim—salah seorang sahabatnya—menanyakannya, dan beliau menjawab, "Aku telah melemah." Lalu ditanyakan kepadanya, "Jika ini timbul dari melemahnya fisik, lalu apakah kekuatan hal (keadaan spiritual) itu?" Beliau menjawab, "Yaitu tidaklah datang kepadanya suatu warid (impresi spiritual) melainkan ia menyambutnya dengan kekuatan hal-nya, sehingga warid-warid itu tidak sampai mengubahkan dirinya meskipun amat kuat."
وسبب القدرة على ضبط الظاهر مع وجود الوجد استواء الأحوال بملازمة الشهود
Sebab kemampuan mengendalikan sikap lahiriah di tengah gelora wajd (keintiman spiritual) adalah karena kesetaraan keadaan-keadaan rohani (istawa' al-ahwal) akibat kesetiaan yang terus-menerus dalam penyaksian batin (syuhud).
كما حكي عن سهل رحمه الله تعالى أنه قال حالتي قبل الصلاة وبعدها واحدة لأنه كان مراعياً للقلب حاضر الذكر مع الله تعالى في كل حال
Sebagaimana dikisahkan tentang Sahl—semoga Allah Ta'ala merahmatinya—bahwa beliau berkata: 'Keadaanku sebelum shalat dan sesudahnya adalah sama.' Hal itu karena beliau senantiasa menjaga hati dan senantiasa mendasarkan dzikir bersama Allah Ta'ala dalam setiap keadaan.
فكذلك يكون قبل السماع وبعده إذ يكون وجده دائماً وعطشه متصلاً وشربه مستمراً بحيث لا يؤثر السماع في زيادته
Demikian pula keadaannya sebelum mendengarkan sima' dan sesudahnya; wajd-nya bersifat menetap, dahaganya bersambung, dan regukan dahaganya berlangsung terus-menerus, sekira sima' itu sendiri tidak lagi berpengaruh dalam menambahnya.
كما روى أن ممشاد الدينوري أشرف على جماعة فيهم قوال فسكنوا فقال ارجعوا إلى ما كنتم فيه فلو جمعت ملاهي الدنيا في أذني ما شغل همي ولا شفي بعض ما بي
Sebagaimana diriwayatkan bahwa Mumsyad Ad-Dinawari mendatangi sekelompok orang yang di tengah mereka terdapat seorang pelantun syair (qawwal), lalu mereka mendadak tenang dan diam. Maka beliau berkata: 'Kembalilah pada apa yang tadinya kalian lakukan! Sekiranya seluruh hiburan dunia dikumpulkan di telingaku, niscaya hal itu tidak akan mengalihkan kerinduan rohaniku dan tidak pula mampu menyembuhkan sebagian dari apa yang kurasakan.'
وقال الجنيد رحمه الله تعالى لا يضر نقصان الوجد مع فضل العلم
Al-Junaid—semoga Allah Ta'ala merahmatinya—berkata: 'Berkurangnya wajd tidaklah merugikan bila disertai dengan keutamaan ilmu.'
وفضل العلم أتم من فضل الوجد
Dan keutamaan ilmu itu lebih sempurna daripada keutamaan wajd.
فإن قلت فمثل هذا لم يحضر السماع فاعلم أن من هؤلاء من ترك السماع في كبره وكان لا يحضر إلا نادراً لمساعدة أخ من الإخوان وإدخالاً للسرور على قلبه وربما حضر ليعرف القوم كمال قوته فيعلمون أنه ليس الكمال بالوجد الظاهر فيتعلمون منه ضبط الظاهر عن التكلف وإن لم يقدروا على الإقتداء به في صيرورته طبعاً
Jika engkau bertanya: 'Mengapa orang semisal ini masih menghadiri majelis sima'?' Maka ketahuilah bahwa di antara mereka ada yang telah meninggalkan sima' di usia senjanya dan tidak menghadirinya kecuali sangat jarang, semata-mata untuk melapangkan hati seorang saudara (sesama salik) dan memasukkan kegembiraan ke dalam hatinya. Terkadang ia hadir agar kaum tersebut mengetahui kesempurnaan keteguhan rohaninya, sehingga mereka menyadari bahwa kesempurnaan itu bukanlah dengan menampakkan wajd secara lahiriah. Dengan demikian mereka belajar darinya untuk mengendalikan sikap lahir dari kepura-puraan (takalluf), meskipun mereka tidak sanggup meneladaninya hingga hal itu menjadi pembawaan alami
لهم
bagi mereka.
وإن اتفق حضورهم مع غير أبناء جنسهم فيكونون معهم بأبدانهم نائين عنهم بقلوبهم وبواطنهم
Dan jikalau kebetulan mereka hadir bersama orang-orang yang bukan selevel atau sejalan dengan mereka, maka mereka bersamanya secara fisik, namun jauh berjarak dari mereka secara hati dan batin.
كما يجلسون من غير سماع مع غير جنسهم بأسباب عارضة تقتضي الجلوس معهم
Sebagaimana mereka duduk tanpa adanya sima' bersama orang-orang yang bukan golongan mereka karena sebab-sebab mendesak yang menuntut untuk duduk bersama mereka.
وبعضهم نقل عنه ترك السماع ويظن أنه كان سبب تركه استغناءه عن السماع بما ذكرناه
Sementara sebagian dari mereka ada yang diriwayatkan meninggalkan sima', dan diduga bahwa sebab meninggalkannya adalah karena ia sudah tidak memerlukan sima' lagi lantaran hal-hal yang telah kami sebutkan.
وبعضهم كان من الزهاد ولم يكن له حظ روحاني في السماع ولا كان من أهل اللهو فتركه لئلا يكون مشغولاً بما لا يعنيه
Dan sebagian lagi termasuk golongan ahli zuhud yang tidak memiliki bagian (pengalaman) spiritual dalam sima' dan bukan pula termasuk ahli kelalaian, sehingga ia meninggalkannya agar tidak disibukkan oleh hal yang tidak berguna baginya.
وبعضهم تركه لفقد الإخوان
Sebagian yang lain meninggalkannya karena ketiadaan ikhwan (sahabat spiritual yang sehati).
قيل لبعضهم لم لا تسمع فقال ممن ومع من
Dikatakan kepada sebagian mereka: 'Mengapa engkau tidak mendengarkan sima'?' Ia menjawab: 'Dari siapa dan bersama siapa?'
الأدب الرابع أن لا يقوم ولا يرفع صوته بالبكاء وهو يقدر على ضبط نفسه ولكن إن رقص أو تباكى فهو مباح إذا لم يقصد به المراءاة لأن التباكي استجلاب للحزن والرقص سبب في تحريك السرور والنشاط
Adab keempat: Hendaklah ia tidak berdiri dan tidak meninggikan suaranya dengan tangisan selagi ia mampu mengendalikan dirinya. Namun, jika ia menari (bergerak mengikuti gejolak rasa) atau berusaha menangis (tabaki), maka hal itu dibolehkan (mubah) apabila tidak bermaksud pamer (riya'), sebab tabaki adalah usaha menghadirkan kesedihan rohani, sedangkan tarian menjadi sebab bangkitnya kegembiraan dan semangat.
فكل سرور مباح فيجوز تحريكه
Maka setiap kegembiraan yang mubah itu boleh dibangkitkan.
ولو كان ذلك حراماً لما نظرت عائشة ﵂ إلى الحبشة مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وهم يزفنون
Seandainya hal itu haram, niscaya 'Aisyah radhiyallahu 'anha tidak akan menyaksikan orang-orang Habasyah bersama Rasulullah ﷺ tatkala mereka sedang menari (yazfinun).
هذا لفظ عائشة ﵂ في بعض الروايات
Ini adalah lafaz 'Aisyah radhiyallahu 'anha dalam sebagian riwayat.
وقد روي عن جماعة من الصحابة ﵃ أنهم حجلوا لما ورد عليهم سرور أوجب ذلك وذلك في قصة ابنة حمزة لما اختصم فيها علي بن أبي طالب وأخوه جعفر وزيد بن حارثة ﵃ فتشاحوا في تربيتها فقال ﷺ لعلي أنت مني وأنا منك فحجل علي وقال لجعفر أشبهت خلقي وخلقي فحجل وراء حجل علي وقال لزيد أنت أخوناً ومولانا فحجل زيد وراء حجل جعفر ثم قال ﷺ هي لجعفر لأن خالتها تحته والخالة والدة
Sungguh telah diriwayatkan dari sekelompok sahabat radhiyallahu 'anhum bahwa mereka melompat-lompat gembira (hajalu) ketika datang kegembiraan yang menuntut hal tersebut. Hal itu terjadi pada kisah putri Hamzah tatkala Ali bin Abi Thalib, saudaranya Ja'far, dan Zaid bin Haritsah radhiyallahu 'anhum berselisih mengenai dirinya, di mana mereka saling memperebutkan hak pengasuhannya. Maka Nabi ﷺ berkata kepada Ali: 'Engkau bagian dariku dan aku bagian darimu,' lalu Ali pun melompat gembira. Beliau berkata kepada Ja'far: 'Rupa dan akhlakmu serupa denganku,' lalu Ja'far melompat gembira menyusul lompatan Ali. Beliau berkata kepada Zaid: 'Engkau saudara kami dan penolong kami,' maka Zaid pun melompat gembira menyusul lompatan Ja'far. Kemudian Nabi ﷺ bersabda: 'Anak ini hak Ja'far, karena bibinya adalah istrinya, dan bibi itu berkedudukan seperti ibu.'
وفي رواية أنه قال لعائشة ﵂ أتحبين أن تنظري إلى زفن الحبشة والزفن والحجل هو الرقص
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Nabi ﷺ bersabda kepada 'Aisyah radhiyallahu 'anha: 'Apakah engkau suka melihat zafn (tarian) orang-orang Habasyah?' Dan zafn serta hajl itu adalah tarian (gerakan mengekspresikan kegembiraan).
وذلك يكون لفرح أو شوق فحكمه حكم مهيجه إن كان فرحه محموداً والرقص يزيده ويؤكده فهو محمود وإن كان مباحاً فهو مباح وإن كان مذموما فهو مذموم
Hal itu timbul karena rasa gembira atau kerinduan (syauq). Maka hukumnya mengikuti hukum dari pemicunya: jika kegembiraannya terpuji dan tarian itu menambah serta memperkuatnya, maka tarian itu terpuji; jika kegembiraannya mubah, maka tarian itu mubah; dan jika kegembiraannya tercela, maka tarian itu tercela.
نعم لا يليق اعتياد ذلك بمناصب الأكابر وأهل القدوة لأنه في الأكثر يكون عن لهو ولعب وماله صورة اللعب واللهو في أعين الناس فينبغي أن يجتنبه المقتدي به لئلا يصغر في أعين الناس فيترك الإقتداء به
Benar, tidaklah layak membiasakan hal tersebut bagi orang-orang yang berkedudukan tinggi dan para teladan. Sebab pada umumnya hal itu bersumber dari kelengahan (lahw) dan permainan (la'ib). Dan apa saja yang menyerupai permainan dan kelengahan dalam pandangan manusia, hendaknya dijauhi oleh orang yang dijadikan panutan agar kedudukannya tidak merosot dalam pandangan manusia, sehingga mereka berhenti meneladaninya.
وأما تمزيق الثياب فلا رخصة فيه إلا عند خروج الأمر عن الاختيار ولا يبعد أن يغلب الوجد بحيث يمزق ثوبه وهو لا يدري لغلبة سكر الوجد عليه أو يدري ولكن يكون كالمضطر الذي لا يقدر على ضبط نفسه وتكون صورته صورة المكره إذ يكون له في الحركة أو التمزيق متنفس فيضطر إليه اضطرار المريض إلى الأنين ولو كلف الصبر عنه لم يقدر عليه مع أنه فعل اختياري فليس كل فعل حصوله بالإرادة يقدر الإنسان على تركه فالتنفس فعل يحصل بالإرادة ولو كلف الإنسان أن يمسك النفس ساعة لاضطر من باطنه إلى أن يختار التنفس
Adapun merobek-robek pakaian, tidak ada kelonggaran (rukhsah) padanya kecuali ketika keadaan keluar dari batas ikhtiar (pilihan sadar). Tidaklah mustahil keasyikan batin (wajd) begitu menguasai seseorang hingga ia merobek pakaiannya tanpa ia sadari karena kuatnya mabuk wajd (sukr al-wajd), atau ia menyadarinya namun ia seperti orang yang terdesak (mudhtarr) yang tidak mampu mengendalikan dirinya. Keadaannya bagaikan orang yang dipaksa, sebab gerakan atau robekan itu menjadi tempat pelepasan baginya, sehingga ia terdesak melakukannya sebagaimana terdesaknya orang sakit untuk merintih. Sekiranya ia dituntut untuk bersabar menahannya, niscaya ia tidak akan sanggup, meskipun itu pada dasarnya adalah perbuatan sukarela (ikhtiyari). Sebab, tidak semua perbuatan yang terjadi dengan kehendak mampu ditinggalkan oleh manusia. Bernapas, misalnya, adalah perbuatan yang terjadi dengan kehendak, namun jika manusia dituntut untuk menahan napas sejenak, niscaya dorongan batinnya akan mendesaknya untuk memilih bernapas.
فكذلك الزعقة وتمزيق الثياب قد يكون كذلك فهذا لا يوصف بالتحريم
Demikian pula jeritan dan merobek pakaian, terkadang keadaannya seperti itu. Maka hal ini tidak dideskripsikan sebagai perbuatan haram.
فقد ذكر عند السري حديث الوجد الحاد الغالب فقال نعم يضرب وجهه بالسيف وهو لا يدري فروجع فيه واستبعد أن ينتهي إلى هذا الحد فأصر عليه ولم يرجع
Sungguh telah disebutkan di hadapan As-Sari perihal wajd yang sangat dahsyat dan menguasai batin, lalu beliau berkata, "Ya, seseorang bisa saja menebas mukanya dengan pedang tanpa ia sadari." Lantas hal itu disanggah oleh orang-orang dan mereka menganggap mustahil wajd mencapai tingkatan sedemikian rupa, namun beliau tetap bertahan pada pendapatnya dan tidak menariknya kembali.
ومعناه أنه في بعض الأحوال قد ينتهي إلى هذا الحد في بعض الأشخاص
Maknanya adalah bahwa dalam sebagian kondisi, wajd memang dapat mencapai tingkatan tersebut pada sebagian orang.
فإن قلت فما تقول في تمزيق الصوفية الثياب الجديدة بعد سكون الوجد والفراغ من السماع فإنهم يمزقونها قطعاً صغاراً ويفرقونها على القوم ويسمونها الخرقة فاعلم أن ذلك مباح إذا قطع قطعاً مربعة تصلح لترقيع الثياب والسجادات
Jika engkau bertanya, "Lantas apa pendapatmu mengenai perbuatan kaum Sufi yang merobek pakaian baru setelah meredanya wajd dan usainya majelis sama' (mendengarkan alunan spiritual), di mana mereka memotong-motongnya menjadi bagian-bagian kecil lalu membagikannya kepada kaum yang hadir dan menamainya al-khirqah?" Ketahuilah bahwa hal itu mubah apabila dipotong menjadi potongan-potongan segi empat yang layak untuk menambal pakaian dan sajadah.
فإن الكرباس يمزق حتى يخاط منه القميص ولا يكون ذلك تضييعاً لأنه تمزيق لغرض
Sebab, kain kasar (kirbas) pun dipotong-potong agar dapat dijahit menjadi baju kurung (qamish), dan hal itu tidak dianggap membuang-buang harta (tadhyi') karena pemotongan tersebut dilakukan demi suatu tujuan.
وكذلك ترقيع الثياب لا يمكن إلا بالقطع الصغار وذلك مقصود والتفرقة على الجميع ليعم ذلك الخير مقصود مباح
Demikian pula penambalan pakaian tidak mungkin dilakukan melainkan dengan potongan-potongan kecil, dan hal itu adalah tujuan yang jelas. Sedangkan pembagiannya kepada seluruh hadirin agar kebaikan tersebut merata juga merupakan tujuan yang mubah.
ولكل
Dan bagi setiap
مالك أن يقطع كرباسه مائة قطعة ويعطيها لمائة مسكين ولكن ينبغي أن تكون القطع بحيث يمكن أن ينتفع بها في الرقاع
pemilik harta berhak memotong kain kasarnya menjadi seratus potongan dan membagikannya kepada seratus orang miskin. Akan tetapi, hendaknya potongan-potongan tersebut berukuran yang masih memungkinkan untuk dimanfaatkan sebagai tambalan.
وإنما منعنا في السماع التمزيق المفسد للثوب الذي يهلك بعضه بحيث لا يبقى منتفعاً به فهو تضييع محض لا يجوز بالاختيار
Hanyasanya kami melarang dalam majelis sama' perbuatan merobek yang merusak pakaian secara sia-sia hingga sebagian darinya hancur dan tidak dapat dimanfaatkan lagi. Hal itu merupakan pemborosan murni (tadhyi' mahdh) yang tidak boleh dilakukan secara sengaja (ikhtiyar).
الأدب الخامس موافقه القوم في القيام إذا قام واحد منهم في وجد صادق من غير رياء وتكلف أو قام باختيار من غير إظهار وجد وقامت له الجماعة فلا بد من الموافقة فذلك من آداب الصحبة
Adab kelima: Menyelaraskan diri dengan jamaah dalam hal berdiri apabila salah seorang dari mereka berdiri karena rasa wajd yang jujur tanpa riya dan dibuat-buat, atau ia berdiri dengan pilihannya sendiri tanpa menampakkan wajd lalu jamaah menyertainya berdiri. Maka harus ada penyesuaian (kebersamaan), sebab hal itu termasuk adab dalam persahabatan (shuhbah).
وكذلك إن جرت عادة طائفة بتنحية العمامة على موافقة صاحب الوجد إذا سقطت عمامته
Demikian pula jika telah menjadi kebiasaan suatu kelompok untuk melepas sorban demi menyelaraskan diri dengan orang yang mengalami wajd tatkala sorbannya terjatuh,
أو خلع الثياب إذا سقط عنه ثوبه بالتمزيق فالموافقة في هذه الأمور من حسن الصحبة والعشرة إذا المخالفة موحشة ولكل قوم رسم ولا بد من مخالقة الناس بأخلاقهم
atau melepaskan pakaian apabila pakaian orang tersebut terlepas karena robek. Maka penyelarasan diri dalam hal-hal ini termasuk kebaikan dalam persahabatan dan pergaulan (husn al-'usyrah), karena menyelahi orang lain itu menimbulkan kecanggangan, dan setiap kaum memiliki adat kebiasaan. Dan keniscayaan bagi seseorang untuk bergaul dengan manusia sesuai dengan akhlak (kebiasaan) mereka,
كما ورد في الخبر لا سيما إذا كانت أخلاقاً فيها حسن العشرة والمجاملة وتطييب القلب بالمساعدة
sebagaimana termaktub dalam riwayat. Terlebih lagi jika akhlak (kebiasaan) tersebut mengandung kebaikan pergaulan, keramahan, dan penyenangan hati melalui pertolongan.
وقول القائل إن ذلك بدعة لم يكن في الصحابة فليس كل ما يحكم بإباحته منقولاً عن الصحابة ﵃ وإنما المحذور ارتكاب بدعة تراغم سنة مأثورة ولم ينقل النهي عن شيء من هذا
Adapun perkataan seseorang bahwa hal tersebut adalah bid'ah yang tidak ada pada masa para sahabat, maka tidak semua hal yang dihukumi mubah harus diriwayatkan dari para sahabat radhiyallahu 'anhum. Sungguh perkara yang dilarang hanyalah melakukan bid'ah yang menentang sunnah yang ma'tsur, padahal tidak ada larangan yang diriwayatkan mengenai hal ini sedikit pun.
والقيام عند الدخول للداخل لم يكن من عادة العرب بل كان الصحابة ﵃ لا يقومون لرسول الله ﷺ في بعض الأحوال
Berdiri menyambut orang yang baru masuk bukanlah termasuk kebiasaan bangsa Arab, bahkan para sahabat radhiyallahu 'anhum tidak berdiri menyambut Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam beberapa keadaan,
كما رواه أنس ﵁
sebagaimana yang diriwayatkan oleh Anas radhiyallahu 'anhu.
ولكن إذا لم يثبت فيه نهي عام فلا نرى به بأساً في البلاد التي جرت العادة فبها بإكرام الداخل بالقيام فإن المقصود منه الإحترام والإكرام وتطييب القلب به
Akan tetapi, selama tidak ada larangan umum yang tetap (shahih) mengenai hal tersebut, maka kami tidak memandangnya sebagai masalah di negeri-negeri yang telah terbiasa menghormati orang yang datang dengan cara berdiri. Sebab tujuan darinya adalah penghormatan, pemuliaan, serta penyenangan hati dengannya.
وكذلك سائر أنواع المساعدات إذا قصد بها تطييب القلب واصطلح عليها جماعة فلا بأس بمساعدتهم عليها بل الأحسن المساعدة إلا فيما ورد فيه نهي لا يقبل التأويل ومن الأدب أن لا يقوم للرقص مع القوم إن كان يستثقل رقصه ولا يشوش عليهم أحوالهم إذ الرقص من غير إظهار التواجد مباح والمتواجد هو الذي يلوح للجميع منه أثر التكلف
Demikian pula jenis-jenis bentuk penyesuaian diri (bantuan) lainnya, jika bertujuan untuk menggembirakan hati (tathyib al-qalb) dan telah disepakati oleh suatu kelompok, maka tidak mengapa menyesuaikan diri dengan mereka. Bahkan yang lebih baik adalah berpartisipasi, kecuali dalam hal yang terdapat larangan tegas yang tidak menerima takwil. Di antara adabnya adalah hendaknya seseorang tidak bangkit untuk menari bersama kaum tersebut jika tariannya dirasa memberatkan (mengganggu orang lain) dan tidak mengacaukan kondisi spiritual (ahwal) mereka. Sebab, menari tanpa menunjukkan kepura-puraan dalam wajd (tawajud) adalah mubah. Sedangkan orang yang bertawajud adalah orang yang nampak bagi semua orang adanya kesan pemaksaan diri.
ومن يقوم عن صدق لا تستثقله الطباع فقلوب الحاضرين إذا كانوا من أرباب القلوب محك للصدق والتكلف
Adapun orang yang bangkit karena kejujuran rasa (ketulusan), maka watak manusia tidak akan merasa keberatan darinya. Sebab, hati orang-orang yang hadir—jika mereka termasuk arbabul qulub (pemilik hati yang jernih)—adalah batu ujian untuk menguji kejujuran dan pemaksaan diri (keterpaksaan).
سئل بعضهم عن الوجد الصحيح فقال صحته قبول قلوب الحاضرين له إذا كانوا أشكالاً غير أضداد
Sebagian ulama ditanya tentang wajd yang sejati, lalu ia menjawab, "Keabsahannya adalah penerimaan hati orang-orang yang hadir terhadapnya, apabila mereka memiliki kesamaan spiritual dan bukan orang-orang yang berseberangan."
فإن قلت فما بال الطباع تنفر عن الرقص ويسبق إلى الأوهام أنه باطل ولهو ومخالف للدين فلا يراه ذو جد في الدين إلا وينكره
Jika engkau bertanya, "Lantas mengapa watak manusia enggan terhadap tarian, dan terlintas dalam persangkaan bahwa tarian itu batil, permainan, dan menyelisih agama, sehingga tidaklah orang yang sungguh-sungguh dalam agama melihatnya melainkan pasti mengingkarinya?"
فاعلم أن الجد لا يزيد على جد رسول الله ﷺ
Maka ketahuilah bahwa kesungguhan (dalam agama) tidaklah melebihi kesungguhan Rasulullah ﷺ.
وقد رأى الحبشة يزفنون في المسجد وما أنكره لما كان في وقت لائق به وهو العيد ومن شخص لائق به وهم الحبشة
Dan beliau sungguh telah melihat orang-orang Habasyah menari (yazfinun) di dalam masjid dan beliau tidak mengingkarinya, karena hal itu terjadi pada waktu yang layak untuk itu yaitu hari raya, dan dari orang yang layak melakukan hal itu yaitu orang-orang Habasyah.
نعم نفرة الطباع عنه لأنه يرى غالباً مقروناً باللهو واللعب واللهو واللعب مباح ولكن للعوام من الزنوج والحبشة ومن أشبههم
Benar, keengganan watak terhadapnya adalah karena tarian sering kali terlihat berbarengan dengan senda gurau dan permainan. Padahal senda gurau dan permainan itu hukumnya mubah, namun bagi kalangan awam dari bangsa Zanj, Habasyah, dan yang serupa dengan mereka.
وهو مكروه لذوي المناصب لأنه لا يليق بهم وما كره لكونه غير لائق بمنصب ذي المنصب فلا يجوز أن يوصف بالتحريم فمن سأل فقيراً شيئاً فأعطاه رغيفاً كان ذلك طاعة مستحسنة ولو سأل ملكاً فأعطاه رغيفاً أو رغيفين لكان ذلك منكراً عند الناس كافة ومكتوباً في تواريخ الأخبار من جملة مساوية ويعير به أعقابه وأشياعه ومع هذا فلا يجوز أن يقال ما فعله حرام لأنه من حيث إنه أعطى خبزاً للفقير حسن ومن حيث أنه بالإضافة إلى منصبه كالمنع بالإضافة إلى الفقير مستقبح فكذلك الراقص وما يجري مجراه من المباحات ومباحات العوام سيئات الأبرار وحسنات الأبرار
Dan hal itu makruh bagi orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi (kehormatan) karena tidak layak bagi mereka. Sesuatu yang dimakruhkan karena tidak layak bagi kedudukan seseorang yang berkedudukan tinggi tidak boleh disifati dengan hukum haram. Barang siapa meminta sesuatu kepada seorang fakir lalu si fakir memberinya sepotong roti, hal itu merupakan ketaatan yang baik. Namun jika ia meminta kepada seorang raja lalu sang raja memberinya sepotong atau dua potong roti, niscaya hal itu menjadi sesuatu yang tercela menurut seluruh manusia, dicatat dalam sejarah sebagai bagian dari keburukannya, serta menjadi celaan bagi keturunan dan pengikutnya. Meskipun demikian, tidak boleh dikatakan bahwa apa yang dilakukan raja itu haram; sebab ditinjau dari sisi memberikan roti kepada fakir hal itu baik, namun ditinjau dari sisi kedudukannya, itu seperti penahanan pemberian yang dianggap buruk bagi orang fakir. Begitu pula penari dan perkara-perkara mubah yang sejenisnya. Perkara mubah bagi orang awam adalah keburukan bagi al-abrar (orang-orang baik), dan kebaikan al-abrar…
سيئات المقربين ولكن هذا من حيث الالتفات إلى المناصب
…adalah keburukan bagi al-muqarrabun (orang-orang yang dekat dengan Allah). Namun ini ditinjau dari sisi memperhatikan kedudukan/martabat.
وأما إذا نظر إليه في نفسه وجب الحكم بأنه هو في نفسه لا تحريم فيه والله أعلم فقد خرج من جملة التفصيل السابق أن السماع قد يكون حراماً محضاً وقد يكون مباحاً وقد يكون مكروهاً وقد يكون مستحباً
Adapun jika dilihat pada zat perkara itu sendiri, maka wajib dihukumi bahwa secara zatnya tidak ada keharaman di dalamnya, wallahu a'lam. Maka kesimpulan dari rincian sebelumnya adalah bahwa mendengarkan musik/nyanyian (as-sima') kadang-kadang murni haram, kadang mubah, kadang makruh, dan kadang sunnah (mustahab).
أما الحرام فهو لأكثر الناس من الشبان ومن غلبت عليهم شهوة الدنيا فلا يحرك السماع منهم إلا ما هو الغالب على قلوبهم من الصفات المذمومة
Adapun yang haram, hal itu berlaku bagi mayoritas manusia dari kalangan pemuda dan orang-orang yang didominasi oleh syahwat duniawi, sehingga sima' tidak menggerakkan dari diri mereka melainkan sifat-sifat tercela yang mendominasi hati mereka.
وأما المكروه فهو لمن لا ينزله على صورة المخلوقين ولكنه يتخذه عادة له في أكثر الأوقات على سبيل اللهو
Adapun yang makruh, hal itu bagi orang yang tidak memahaminya pada gambaran makhluk, namun ia menjadikannya sebagai kebiasaan pada sebagian besar waktunya secara main-main (senda gurau).
وأما المباح فهو لمن لا حظ له منه إلا التلذذ بالصوت الحسن
Adapun yang mubah, hal itu bagi orang yang tidak memiliki bagian darinya kecuali sekadar menikmati suara yang merdu.
وأما المستحب فهو لمن غلب عليه حب الله تعالى ولم يحرك السماع منه إلا الصفات المحمودة والحمد لله وحده وصلى الله عليه وسلم على محمد وآله
Adapun yang sunnah (mustahab), hal itu bagi orang yang didominasi oleh kecintaan kepada Allah Ta'ala, dan sima' tidak menggerakkan darinya kecuali sifat-sifat yang terpuji. Segala puji bagi Allah semata, dan semoga shalawat serta salam Allah tercurah kepada Nabi Muhammad dan keluarganya.