ربع العادات

كتاب آداب النكاح

كتاب آداب النكاح

كتاب آداب النكاح وهو الكتاب الثاني من ربع العادات من كتاب إحياء

Kitab Adab-Adab Pernikahan, yaitu kitab kedua dari Seperempat Adat Kebiasaan (Rub'ul 'Adat) dari Kitab Ihya' Ulumuddin.

علوم الدين

Ilmu-Ilmu Agama

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

الحمد لله الذي لا تصادف سهام الأوهام في عجائب صنعه مجرى ولا ترجع العقول عن أوائل بدائعها إلا والهة حيرى ولا تزال لطائف نعمه على العالمين تترى فهي تتوالى عليهم اختياراً وقهراً

Segala puji bagi Allah, yang anak panah prasangka tidak mampu menemukan celah pada keajaiban ciptaan-Nya, yang akal budi tidak kembali dari keindahan permulaan ciptaan-Nya melainkan dalam keadaan terpesona dan bingung, serta yang kelembutan nikmat-Nya senantiasa tercurah kepada seluruh alam secara terus-menerus, saling menyusul baik secara pilihan maupun ketetapan-Nya.

ومن بدائع ألطافه أن خلق من الماء بشراً فجعله نسباً وصهراً وسلط على الخلق شهوةً اضطرهم بها الحراثة جبرا واستبقى بهم نسلهم إقهاراً وقسراً

Di antara keajaiban kelembutan-Nya adalah Dia menciptakan manusia dari air, lalu menjadikannya mempunyai keturunan dan hubungan kekeluargaan (mushaharah). Dia menguasakan syahwat kepada makhluk, yang dengannya Dia memaksa mereka melakukan perkawinan, serta melestarikan keturunan mereka melalui kekuasaan dan kehendak-Nya.

ثم عظم أمر الأنساب وجعل لها قدراً فحرم بسببها السفاح وبالغ في تقبيحه ردعاً وزجراً وجعل اقتحامه جريمةً فاحشةً وأمر إمراً وندب إلى النكاح وحث عليه استحباباً وأمراً فسبحان من كتب الموت على عباده فأذلهم به هدماً وكسراً ثم بث بذور النطف في أراضي الأرحام وأنشأ منها خلقاً وجعله لكسر الموت جبراً تنبيهاً على أن بحار المقادير فياضة على العالمين نفعاً وضراً وخيراً وشراً وعسراً ويسراً وطياً ونشراً والصلاة والسلام على محمد المبعوث بالإنذار والبشرى وعلى آله وأصحابه صلاةً لا يستطيع لها الحساب عداً ولا حصراً وسلم تسليماً كثيراً

Kemudian Dia mengagungkan perkara nasab dan memberinya kedudukan yang mulia. Oleh karena itu, Dia mengharamkan perzinahan dan sangat mencelanya sebagai benteng dan cegahan, serta menjadikan perbuatan itu sebagai kejahatan keji dan perkara yang amat besar. Dia menganjurkan dan memotivasi pernikahan, baik secara sunnah maupun perintah. Maka Mahasuci Dzat yang telah menetapkan kematian atas hamba-hamba-Nya, lalu menghinakan mereka dengannya melalui kehancuran dan kebinasaan, kemudian Dia menyebarkan benih-benih nutfah di rahim-rahim, menciptakan darinya makhluk baru, serta menjadikannya sebagai penambal atas kehancuran akibat kematian; sebagai peringatan bahwa samudra takdir melimpah ruah kepada seluruh alam membawa manfaat dan mudarat, kebaikan dan keburukan, kesulitan dan kemudahan, serta pemusnahan dan kebangkitan. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad yang diutus membawa peringatan dan kabar gembira, serta kepada keluarga dan para sahabatnya, dengan shalawat yang tak mampu dihitung dan terhitung oleh para penghitung, dan semoga Allah melimpahkan keselamatan yang sebanyak-banyaknya.

أما بعد فإن النكاح معين على الدين ومهين للشياطين وحصن دون عدو الله حصين وسبب للتكثير الذي به مباهاة سيد المرسلين لسائر النبيين فما أحراه بأن تتحرى أسبابه وتحفظ سننه وآدابه وتشرح مقاصده وآرابه وتفصل فصوله وأبوابه

Amma ba'du. Sesungguhnya pernikahan adalah penolong bagi agama, penghina bagi setan-setan, benteng yang kokoh dari musuh Allah, serta menjadi sebab bertambah banyaknya umat yang dengannya Pemimpin para Rasul membanggakan diri di hadapan para nabi lainnya. Maka alangkah patutnya untuk mencermati sebab-sebabnya, menjaga sunnah-sunnah dan adab-adabnya, menjelaskan maksud-maksud dan kehendak-kehendaknya, serta merinci pasal-pasal dan bab-babnya.

والقدر المهم من أحكامه ينكشف في ثلاثة أبواب

Kadar penting dari hukum-hukumnya terjelaskan dalam tiga bab.

الباب الأول في الترغيب فيه وعنه

Bab Pertama: Tentang anjuran untuk menikah dan anjuran untuk meninggalkannya.

الباب الثاني في الآداب المرعية في العقد والعاقدين

Bab Kedua: Tentang adab-adab yang dipelihara dalam akad dan dua pihak yang berakad.

الباب الثالث في آداب المعاشرة بعد العقد إلى الفراق

Bab Ketiga: Tentang adab-adab pergaulan suami-istri setelah akad hingga perpisahan.

الباب الأول في الترغيب في النكاح والترغيب عنه

Bab Pertama: Tentang anjuran untuk menikah dan anjuran untuk meninggalkannya.

اعلم أن العلماء قد اختلفوا في فضل النكاح فبالغ بعضهم فيه حتى زعم أنه أفضل من التخلي لعبادة الله واعترف آخرون بفضله ولكن قدموا عليه التخلي لعبادة الله مهما لم تتق النفس إلى النكاح توقاناً يشوش الحال ويدعو إلى الوقاع

Ketahuilah bahwa para ulama telah berselisih pendapat mengenai keutamaan pernikahan. Sebagian dari mereka berlebihan dalam memujinya hingga menganggap bahwa menikah lebih utama daripada meluangkan waktu sepenuhnya untuk beribadah kepada Allah. Sedangkan ulama lainnya mengakui keutamaannya, namun mereka mendahulukan fokus beribadah kepada Allah daripada pernikahan, selama jiwa tidak sangat merindukan pernikahan dengan kerinduan yang mengganggu keadaan batin dan mendorong pada persetubuhan.

وقال آخرون الأفضل تركه في زماننا هذا وقد كان له فضيلة من قبل إذ لم تكن الأكساب محظورة وأخلاق النساء مذمومة

Ulama lainnya berpendapat bahwa yang lebih utama adalah meninggalkannya pada zaman kita ini, padahal pernikahan memiliki keutamaan pada masa sebelumnya ketika mata pencaharian belum bercampur dengan hal-hal yang terlarang dan akhlak para wanita belum tercela.

ولا ينكشف الحق فيه إلا بان نقدم أولاً ما ورد من الأخبار والآثار في الترغيب فيه والترغيب عنه ثم نشرح فوائد النكاح وغوائله حتى يتضح منها فضيلة النكاح وتركه في حق كل من سلم من غوائله أو لم يسلم منها الترغيب في النكاح

Kebenaran dalam masalah ini tidak akan terungkap melainkan jika kita terlebih dahulu menyampaikan riwayat-riwayat hadis dan atsar tentang anjuran untuk menikah dan anjuran untuk meninggalkannya. Kemudian, kita menjelaskan manfaat-manfaat nikah beserta bahaya-bahayanya, sehingga menjadi jelas keutamaan menikah dan meninggalkannya bagi setiap orang yang selamat dari bahaya-bahayanya maupun yang tidak selamat darinya. [Anjuran untuk Menikah]

أما من الآيات فقد قال تعالى وانكحوا الأيامى منكم وَهَذَا أَمْرٌ وَقَالَ تَعَالَى فَلَا تَعْضُلُوهُنَّ أَنْ ينكحن أزواجهن وَهَذَا مَنْعٌ مِنَ الْعَضْلِ وَنَهْيٌ عَنْهُ

Adapun dari ayat-ayat Al-Qur'an, Allah Ta'ala berfirman: "Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu" (QS. An-Nur: 32), dan ini merupakan sebuah perintah. Allah Ta'ala juga berfirman: "Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka menikah lagi dengan calon suaminya" (QS. Al-Baqarah: 232), dan ini merupakan pelarangan serta pencegahan dari tindakan adhl (menghalangi pernikahan).

وَقَالَ تَعَالَى فِي وَصْفِ الرُّسُلِ وَمَدْحِهِمْ وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً فَذَكَرَ ذَلِكَ فِي مَعْرِضِ الِامْتِنَانِ وَإِظْهَارِ الْفَضْلِ

Allah Ta'ala berfirman dalam menyifati para rasul dan memuji mereka: "Dan sungguh, Kami telah mengutus beberapa rasul sebelum engkau dan Kami berikan kepada mereka istri-istri dan keturunan" (QS. Ar-Ra'd: 38). Allah menyebutkan hal tersebut dalam konteks anugerah dan penampakan keutamaan.

وَمَدَحَ أَوْلِيَاءَهُ بِسُؤَالِ ذَلِكَ فِي الدُّعَاءِ فَقَالَ وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وذرياتنا قرة أعين الآية ويقال أن الله تعالى لم يذكر

Dia juga memuji para kekasih-Nya karena memohon hal itu dalam doa, sebagaimana firman-Nya: "Dan orang-orang yang berkata, 'Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami)…'" hingga akhir ayat (QS. Al-Furqan: 74). Dan dikatakan bahwa sesungguhnya Allah Ta'ala tidak menyebutkan…

في كتابه من الأنبياء إلا المتأهلين فقالوا إن يحيى ﷺ قد تزوج ولم يجامع قيل إنما فعل ذلك لنيل الفضل وإقامة السنة وقيل لغض البصر وأما عيسى ﵇ فإنه سينكح إذا نزل الأرض ويولد له

…di dalam Kitab-Nya dari para nabi melainkan mereka yang berkeluarga. Para ulama mengatakan bahwa Nabi Yahya 'alaihis salam telah menikah namun tidak mencampuri istrinya. Dikatakan bahwa beliau melakukan hal itu hanya untuk meraih keutamaan dan menegakkan sunnah, dan ada yang mengatakan untuk menundukkan pandangan. Adapun Nabi 'Isa 'alaihis salam, sesungguhnya beliau akan menikah apabila telah turun ke bumi dan akan dikaruniai anak.

وَأَمَّا الْأَخْبَارُ فَقَوْلُهُ ﷺ النِّكَاحُ سُنَّتِي فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَقَدْ رغب عني وقال ﷺ النِّكَاحُ سُنَّتِي فَمَنْ أحب فطرتي فليستن بسنتي

Adapun dari hadis-hadis, adalah sabda Nabi ﷺ: "Pernikahan adalah sunnahku, maka barang siapa yang membenci sunnahku, sungguh ia bukan dari golonganku." Beliau ﷺ juga bersabda: "Pernikahan adalah sunnahku, maka barang siapa menyukai fitrahku, hendaklah ia berpegang teguh pada sunnahku."

وقال أيضاً ﷺ تناكحوا تكثروا فإني أباهي بكم الأمم يوم القيامة حتى بالسقط

Beliau ﷺ juga bersabda: "Menikahlah kalian dan berbanyaklah keturunan, karena sesungguhnya aku merasa bangga dengan banyaknya jumlah kalian di hadapan umat-umat lain pada hari kiamat, bahkan dengan janin yang gugur sekalipun."

وقال أيضاً ﷺ من رغب عن سنتي فليس مني وإن من سنتي النكاح فمن أحبني فليستن بسنتي

Beliau ﷺ juga bersabda, "Barangsiapa membenci sunnahku, maka ia bukan bagian dariku. Dan sesungguhnya di antara sunnahku adalah pernikahan, maka barangsiapa mencintaiku, hendaklah ia berpegang teguh pada sunnahku."

وقال النبي ﷺ من ترك التزويج مخافة العيلة فليس منا

Nabi ﷺ bersabda, "Barangsiapa meninggalkan pernikahan karena takut akan kemelaratan (kemiskinan), maka ia bukan dari golongan kami."

وهذا ذم لعلة الامتناع لا لأصل الترك وَقَالَ ﷺ مَنْ كَانَ ذا طول فليتزوج

Ini merupakan celaan terhadap alasan penolakannya (yaitu rasa takut miskin), bukan terhadap hukum asal meninggalkan pernikahan. Dan Beliau ﷺ bersabda, "Barangsiapa memiliki kelapangan (kemampuan), maka hendaklah ia menikah."

وَقَالَ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أغض للبصر وأحصن للفرج ومن لا فليصم فإن الصوم له وجاء

Beliau juga bersabda, "Barangsiapa di antara kalian yang telah memiliki kemampuan (untuk menikah), hendaklah ia menikah, karena sesungguhnya hal itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barangsiapa belum mampu, hendaklah ia berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu menjadi perisai (penekan syahwat) baginya."

وهذا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ سَبَبَ التَّرْغِيبِ فِيهِ خَوْفُ الْفَسَادِ فِي الْعَيْنِ وَالْفَرْجِ

Hal ini menunjukkan bahwa sebab timbulnya anjuran untuk menikah adalah kekhawatiran timbulnya kerusakan pada mata (pandangan) dan kemaluan.

وَالْوِجَاءُ هُوَ عِبَارَةٌ عَنْ رَضِّ الْخُصْيَتَيْنِ لِلْفَحْلِ حَتَّى تَزُولَ فُحُولَتُهُ فهو مستعار للضعف عن الوقاع في الصوم

Kata *al-wijā'* secara harfiah adalah kiasan dari memecahkan/menumbuk kedua buah zakar hewan jantan hingga hilang kejantanannya; maka istilah ini dipinjam sebagai metafora atas melemahnya hasrat bersetubuh akibat berpuasa.

وَقَالَ ﷺ إِذَا أَتَاكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَأَمَانَتَهُ فَزَوِّجُوهُ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ

Beliau ﷺ bersabda, "Apabila datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridhai agama dan amanahnya, maka nikahkanlah ia. Jika kalian tidak melakukannya, niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar."

وَهَذَا أَيْضًا تَعْلِيلُ التَّرْغِيبِ لِخَوْفِ الْفَسَادِ

Ini juga merupakan penjelasan alasan anjuran menikah, yaitu karena kekhawatiran timbulnya kerusakan.

وَقَالَ ﷺ من نكح لله وأنكح لله استحق ولاية الله

Beliau ﷺ bersabda, "Barangsiapa menikah karena Allah dan menikahkan (orang lain) karena Allah, maka ia berhak mendapatkan kewalian (perlindungan khusus) dari Allah."

وقال ﷺ من تزوج فقد أحرز شطر دينه فليتق الله في الشطر الثاني

Beliau ﷺ bersabda, "Barangsiapa telah menikah, maka ia sungguh telah membentengi separuh agamanya, maka hendaklah ia bertakwa kepada Allah pada separuh sisanya."

وهذا أيضاً إشارةً إلى أن فضيلته لأجل التحرز من المخالفة تحصناً من الفساد فكأن المفسد لدين المرء في الأغلب فرجه وبطنه وقد كفى بالتزويج أحدهما

Ini juga merupakan isyarat bahwa keutamaan menikah adalah untuk menjaga diri dari kemaksiatan sebagai benteng dari kerusakan. Seolah-olah perusak agama seseorang pada umumnya adalah kemaluan dan perutnya, dan dengan menikah ia telah membentengi salah satu dari keduanya.

وَقَالَ ﷺ كُلُّ عَمَلِ ابن آدم ينقطع إلا ثلاث ولد صالح يَدْعُو لَهُ

Beliau ﷺ bersabda, "Setiap amal perbuatan anak Adam akan terputus kecuali tiga perkara: anak saleh yang mendoakannya…"

الْحَدِيثَ

…dan seterusnya hingga akhir hadis.

وَلَا يُوصَلُ إِلَى هَذَا إلا بالنكاح

Dan keberadaan anak saleh ini tidak dapat dicapai melainkan melalui jalan pernikahan.

وأما الآثار فقال عمر ﵁ لا يمنع من النكاح إلا عجز أو فجور

Adapun riwayat para sahabat (*ātsār*), Umar ﵁ berkata, "Tidak ada yang menghalangi seseorang dari pernikahan melainkan kelemahan (ketidakmampuan) atau kefasikan."

فبين أن الدين غير مانع منه وحصر المانع في أمرين مذمومين

Beliau menjelaskan bahwa agama sama sekali tidak menghalangi pernikahan, dan membatasi penghalangnya hanya pada dua hal yang tercela.

وقال ابن عباس ﵄ لَا يَتِمُّ نُسُكُ النَّاسِكِ حَتَّى يَتَزَوَّجَ

Ibnu Abbas ﵄ berkata, "Tidaklah sempurna ibadah seorang ahli ibadah sampai ia menikah."

يَحْتَمِلُ أن جعله من النسك وتتمة له

Mungkin saja beliau menganggap bahwa pernikahan itu sendiri merupakan bagian dari ibadah dan penyempurna baginya.

ولكن الظاهر أنه أراد به أَنَّهُ لَا يَسْلَمُ قَلْبُهُ لِغَلَبَةِ الشَّهْوَةِ إِلَّا بالتزويج ولا يتم النسك إلا بفراغ القلب ولذلك كان يجمع غلمانه لما أدركوا عكرمة وكريبا وغيرهما وَيَقُولُ إِنْ أَرَدْتُمُ النِّكَاحَ أَنْكَحْتُكُمْ فَإِنَّ الْعَبْدَ إذا زنى نزع الإيمان من قلبه

Akan tetapi yang tampak jelas, maksud beliau adalah bahwa hati seseorang tidak akan selamat dari gejolak syahwat melainkan dengan menikah, sedangkan ibadah tidak akan sempurna kecuali dengan ketenangan (ketiadaan kesibukan) hati. Oleh karena itu, Ibnu Abbas mengumpulkan para pemudanya ketika mereka menginjak dewasa (seperti Ikrimah, Kuraib, dan lainnya) lalu berkata, "Jika kalian ingin menikah, aku akan menikahkan kalian; karena sesungguhnya seorang hamba apabila berzina, dicabutlah iman dari hatinya."

وَكَانَ ابْنُ مَسْعُودٍ ﵁ يَقُولُ لو لم يبق من عمري إلا عشرة أيام لأحببت أن أتزوج لكيلا ألقى الله عزباً ومات امرأتان لمعاذ بن جبل ﵁ في الطاعون وكان هو أيضاً مطعوناً فقال زوجوني فإني أكره أن ألقى الله عزباً

Ibnu Mas'ud ﵁ pernah berkata, "Seandainya tidak tersisa dari umurku melainkan sepuluh hari saja, niscaya aku lebih menyukai menikah agar aku tidak menghadap Allah dalam keadaan membujang." Dan ketika dua orang istri Mu'adz bin Jabal ﵁ wafat karena wabah pes (*tha'un*) sementara beliau sendiri juga telah tertular wabah tersebut, beliau berkata, "Nikahkanlah aku, karena sesungguhnya aku benci menghadap Allah dalam keadaan membujang."

وهذا منهما يدل على أنهما رأيا في النكاح فضلاً لا من حيث التحرز عن غائلة الشهوة

Hal ini dari keduanya menunjukkan bahwa mereka berdua memandang pernikahan memiliki keutamaan tersendiri, bukan sekadar dari sisi menjaga diri dari bahaya gejolak syahwat.

وكان عمر ﵁ يكثر النكاح ويقول ما أتزوج إلا لأجل الولد وكان بعض الصحابة قد انقطع إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ يخدمه ويبيت عنده لحاجة إن طرقته فقال لَهُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ألا تتزوج فقال يا رسول الله إني فقير لا شيء لي وأنقطع عن خدمتك فسكت

Dahulu Umar radhiyallahu 'anhu sering menikah dan berkata, "Aku tidak menikah melainkan karena mengharapkan keturunan." Dan dahulu ada seorang sahabat yang meluangkan seluruh waktunya untuk berkhidmat kepada Rasulullah ﷺ dan bermalam di dekat beliau bila ada keperluan mendadak. Maka Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya, "Apakah engkau tidak menikah?" Ia menjawab, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku seorang yang fakir, tidak memiliki apa-apa, dan aku akan terputus dari melayanimu." Maka beliau pun diam.

ثم عاد ثانياً فأعاد الجواب

Kemudian beliau mengulangi pertanyaan itu untuk kedua kalinya, dan sahabat tersebut mengulangi jawaban yang sama.

ثم تفكر الصحابي وقال والله لرسول الله ﷺ أعلم بما يصلحني في دنياي وآخرتي وما يقربني إلى الله مني ولئن قال لي الثالثة لأفعلن

Kemudian sahabat itu merenung dan berkata dalam hati, "Demi Allah, sungguh Rasulullah ﷺ lebih mengetahui apa yang mendatangkan kebaikan bagiku di dunia dan akhiratku, serta apa yang mendekatkan diriku kepada Allah melebihi diriku sendiri. Dan jika beliau membicarakannya kepadaku untuk ketiga kalinya, sungguh aku akan melaksanakannya."

فقال له الثالثة ألا تتزوج قال فقلت يا رسول الله زوجني قال

Maka beliau bersabda kepadanya untuk ketiga kalinya, "Apakah engkau tidak menikah?" Sahabat itu berkata, "Aku katakan: Wahai Rasulullah, nikahkanlah aku!" Beliau bersabda:

اذهب إلى بني فلان فقل أن رسول الله ﷺ يأمركم أن تزوجوني فتاتكم قال فقلت يا رسول الله لا شيء لي فقال لأصحابه اجمعوا لأخيكم وزن نواة من ذهب فجمعوا له فذهبوا به إلى القوم فأنكحوه فقال له أولم وجمعوا له من الأصحاب شاة للوليمة

"Pergilah kepada Bani Fulan, katakanlah bahwa Rasulullah ﷺ memerintahkan kalian untuk menikahkan aku dengan putri kalian." Sahabat itu berkata, "Aku pun berkata: Wahai Rasulullah, aku tidak memiliki sesuatu apa pun (untuk mahar)." Maka beliau bersabda kepada para sahabatnya, "Kumpulkanlah untuk saudara kalian ini emas seberat biji kurma!" Para sahabat pun mengumpulkannya untuknya, lalu mereka membawanya kepada kaum tersebut, dan kaum itu pun menikahkannya. Kemudian beliau bersabda kepadanya, "Adakanlah walimah!" Dan para sahabat mengumpulkan seekor domba baginya untuk acara walimah.

وهذا التكرير يدل على فضل في نفس النكاح ويحتمل أنه توسم فيه الحاجة إلى النكاح

Pengulangan ini menunjukkan adanya keutamaan pada esensi pernikahan itu sendiri, dan terdapat pula kemungkinan bahwa beliau melihat adanya kebutuhan pada diri sahabat tersebut untuk menikah.

وحكى أن بعض العباد في الأمم السالفة فاق أهل زمانه في العبادة فذكر لنبي زمانه حسن عبادته فقال نعم الرجل هو لولا أنه تارك لشيء من السنة فاغتم العابد لما سمع ذلك فسأل النبي عن ذلك فقال أنت تارك للتزويج فقال لست أحرمه ولكني فقير وأنا عيال على الناس قال أنا أزوجك ابنتي فزوجه النبي ﵇ ابنته

Diceritakan pula bahwa sebagian ahli ibadah dari umat terdahulu mengungguli penduduk zamannya dalam beribadah. Lalu kebaikan ibadahnya disampaikan kepada nabi pada zamannya. Nabi tersebut bersabda, "Sebaik-baik laki-laki adalah dia, seandainya saja ia tidak meninggalkan sebagian dari sunnah." Maka ahli ibadah itu merasa sedih ketika mendengarnya, lalu ia menanyakan hal itu kepada sang nabi. Nabi menjawab, "Engkau meninggalkan pernikahan." Ahli ibadah itu berkata, "Aku tidak mengharamkannya, tetapi aku seorang fakir dan menjadi beban orang lain." Nabi bersabda, "Aku akan menikahkanmu dengan putriku." Maka nabi 'alaihissalam tersebut menikahkan putrinya dengannya.

وقال بشر بن الحرث فضل علي أحمد بن حنبل بثلاث بطلب الحلال لنفسه ولغيره وأنا أطلبه لنفسي فقط ولاتساعه في النكاح وضيقي عنه ولأنه نصب إماماً للعامة

Bisyir bin al-Harits berkata, "Ahmad bin Hanbal mengungguluiku dalam tiga hal: dalam hal mencari nafkah yang halal bagi dirinya dan orang lain, sedangkan aku hanya mencarinya untuk diriku sendiri; dalam hal keluasannya untuk menikah, sedangkan aku merasa sempit darinya; serta karena beliau diangkat sebagai imam bagi masyarakat umum."

ويقال إن أحمد ﵀ تزوج في اليوم الثاني لوفاة أم ولده عبد الله وقال أكره أن أبيت عزباً

Dikatakan bahwa Ahmad rahimahullah menikah pada hari kedua setelah wafatnya ibu dari anaknya, Abdullah, dan beliau berkata: "Aku benci bermalam dalam keadaan membujang."

وأما بشر فإنه لما قيل له

Adapun Bisyir, ketika dikatakan kepadanya:

إن الناس يتكلمون فيك لتركك النكاح ويقولون هو تارك للسنة فقال قولوا لهم هو مشغول بالفرض عن السنة

"Sesungguhnya orang-orang membicarakanmu karena engkau meninggalkan pernikahan, dan mereka berkata: Ia meninggalkan sunnah." Maka Bisyir menjawab, "Katakanlah kepada mereka: Ia disibukkan oleh perkara fardhu dari perkara sunnah."

وعوتب مرة أخرى فقال ما يمنعني من التزويج إلا قوله تعالى ﴿ولهن مثل الذي عليهن بالمعروف﴾ فذكر ذلك لأحمد فقال وأين مثل بشر إنه قعد على مثل حد السنان

Ketika ia dicela pada kali yang lain, ia berkata, "Tidak ada yang menghalangiku dari menikah melainkan firman Allah Ta'ala: 'Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang patut.'" Hal itu diceritakan kepada Imam Ahmad, lalu beliau berkata, "Di mana ada orang sekelas Bisyir? Sesungguhnya ia sedang duduk di atas mata pedang (sangat berhati-hati dalam menunaikan hak)."

ومع ذلك فقد روي انه رؤي في المنام فقيل له ما فعل الله بك فقال رفعت منازلي في الجنة وأشرف بي على مقامات الأنبياء ولم أبلغ منازل المتأهلين

Meskipun demikian, diriwayatkan bahwa Bisyir pernah diperlihatkan dalam mimpi, lalu ditanyakan kepadanya, "Apa yang telah Allah perbuat kepadamu?" Ia menjawab, "Kedudukanku ditinggikan di surga dan aku diperlihatkan maqam para nabi, namun aku tidak mampu mencapai kedudukan orang-orang yang berkeluarga (menikah)."

وفي رواية قال لي ما كنت أحب أن تلقاني عزباً قال فقلنا له ما فعل أبو نصر التمار فقال رفع فوقي بسبعين درجة قلنا بماذا فقد كنا نراك فوقه قال بصبره على بنياته والعيال

Dalam riwayat lain ia berkata, "Allah berfirman kepadaku: Aku tidak suka engkau menemui-Ku dalam keadaan lajang." Perawi berkata: Kami bertanya kepadanya, "Apa yang terjadi pada Abu Nashr at-Tammar?" Ia menjawab, "Ia diangkat tujuh puluh derajat di atas kedudukanku." Kami bertanya, "Dengan sebab apa? Padahal kami dahulu memandangmu berada di atasnya." Ia menjawab, "Disebabkan kesabarannya dalam menanggung beban anak-anak perempuan dan keluarganya."

وقال سفيان بن عيينة كثرة النساء ليست من الدنيا لأن علياً ﵁ كان أزهد أصحاب رسول الله ﷺ وكان له أربع نسوة وسبع عشرة سرية

Sufyan bin Uyainah berkata, "Banyak istri bukanlah termasuk perkara duniawi, sebab Ali radhiyallahu 'anhu adalah sahabat Rasulullah ﷺ yang paling zuhud, padahal beliau memiliki empat orang istri dan tujuh belas hamba sahaya wanita."

فالنكاح سنة ماضية وخلق من أخلاق الأنبياء

Maka pernikahan adalah sunnah yang terus berlaku dan merupakan salah satu akhlak mulia para nabi.

وقال رجل لإبراهيم بن أدهم ﵀ طوبى لك فقد تفرغت للعبادة بالعزوبة فقال لروعة منك بسبب العيال أفضل من جميع ما أنا فيه قال فما الذي

Seorang laki-laki berkata kepada Ibrahim bin Adham رحمة الله عليه, "Beruntunglah engkau karena telah fokus beribadah dengan melajang." Maka Ibrahim menjawab, "Kekhawatiran yang engkau rasakan karena mengurus keluarga sungguh lebih utama daripada seluruh keadaan yang sedang aku jalani ini." Orang itu bertanya, "Lantas apa yang…

يمنعك من النكاح فقال مالي حاجة في إمرأة وما أريد أن أغر امرأة بنفسي

…menghalangimu dari menikah?" Ibrahim menjawab, "Aku tidak memiliki Keinginan terhadap wanita, dan aku tidak ingin memperdaya seorang wanita dengan keadaan diriku."

وقد قيل فضل المتأهل على العزب كفضل المجاهد على القاعد

Dan sungguh telah dikatakan, "Keutamaan orang yang berkeluarga (menikah) atas orang yang membujang adalah seperti keutamaan mujahid dibanding orang yang tidak ikut berperang."

وركعة من متأهل افضل من سبعين ركعة من عزب

Dan satu rakaat dari orang yang berkeluarga adalah lebih utama daripada tujuh puluh rakaat dari orang yang membujang.

وأما ما جاء في الترهيب عن النكاح فقد قال ﷺ خير الناس بعد المائتين الخفيف الحاذ الذي لا أهل له ولا ولد

Adapun riwayat yang berisi peringatan untuk tidak menikah, sungguh Rasulullah ﷺ telah bersabda: 'Manusia terbaik setelah tahun dua ratus (hijriah) adalah orang yang ringan keadaannya, yang tidak memiliki istri dan tidak pula anak.'

وَقَالَ ﷺ يَأْتِي عَلَى الناس زمان يكون هلاك الرجل على يد زوجته وأبويه وولده يعيرونه بالفقر ويكلفونه ما لا يطيق فيدخل المداخل التي يذهب فيها دينه فيهلك

Beliau ﷺ juga bersabda: 'Akan datang suatu zaman kepada manusia di mana kebinasaan seorang laki-laki berada di tangan istrinya, kedua orang tuanya, dan anaknya. Mereka mencelanya dengan kemiskinan dan membebaninya dengan apa yang tidak sanggup ia pikul, sehingga ia memasuki cara-cara yang melenyapkan agamanya, lalu ia pun binasa.'

وفي الخبر قلة العيال أحد اليسارين وكثرتهم أحد الفقرين

Dalam sebuah riwayat disebutkan: 'Sedikitnya tanggungan keluarga adalah salah satu dari dua kemudahan, sedangkan banyaknya tanggungan keluarga adalah salah satu dari dua kemiskinan.'

وسئل أبو سليمان الداراني عن النكاح فقال الصبر عنهن خير من الصبر عليهن والصبر عليهن خير من الصبر على النار

Abu Sulaiman ad-Darani pernah ditanya tentang pernikahan, lalu beliau menjawab: 'Bersabar dari mereka (tidak menikah) adalah lebih baik daripada bersabar menghadapi (tabiat) mereka, dan bersabar menghadapi mereka adalah lebih baik daripada bersabar menghadapi api neraka.'

وقال أيضاً الوحيد يجد من حلاوة العمل وفراغ القلب ما لا يجد المتأهل

Beliau juga berkata: 'Orang yang menyendiri (lajang) akan merasakan manisnya amal dan ketenangan hati yang tidak dirasakan oleh orang yang berkeluarga.'

وقال مرة ما رأيت أحداً من أصحابنا تزوج فثبت على مرتبته الأولى

Beliau pernah pula berkata: 'Aku tidak pernah melihat seorang pun dari sahabat kami yang menikah kemudian tetap bertahan pada kedudukan (spiritual)nya yang semula.'

وقال أيضاً ثلاث من طلبهن فقد ركن إلى الدنيا من طلب معاشاً أو تزوج امرأةً أو كتب الحديث

Beliau juga berkata: 'Tiga hal yang barang siapa mencarinya, maka sungguh ia telah cenderung kepada dunia: orang yang mencari mata pencaharian, orang yang menikahi wanita, atau orang yang menulis hadis.'

وقال الحسن ﵀ إذا أراد الله بعبد خيراً لم يشغله بأهل ولا مال وقال ابن أبي الحواري تناظر جماعة في هذا الحديث فاستقر رأيهم على أنه ليس معناه أن لا يكونا له بل أن يكونا له ولا يشغلانه وهو إشارة إلى قول أبي سليمان الداراني ما شغلك عن الله من أهل ومال وولد فهو عليك مشئوم وبالجملة لم ينقل عن أحد الترغيب عن النكاح مطلقاً إلا مقروناً بشرط

Al-Hasan ﵀ berkata: 'Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Dia tidak akan disibukkan oleh keluarga maupun harta.' Ibn Abil Hawari bercerita bahwa sekelompok ulama mendiskusikan hadis ini, lalu kesepakatan mereka menetapkan bahwa maknanya bukanlah ia tidak boleh memiliki keduanya, melainkan ia memiliki keduanya namun keduanya tidak mengalihkannya dari Allah. Hal ini mengisyaratkan perkataan Abu Sulaiman ad-Darani: 'Apa pun dari keluarga, harta, dan anak yang mengalihkan perhatianmu dari Allah, maka itu adalah kesialan bagimu.' Dan secara keseluruhan, tidak pernah diriwayatkan dari seorang pun celaan terhadap pernikahan secara mutlak, melainkan selalu disertai dengan syarat.

وأما الترغيب في النكاح فقد ورد مطلقاً ومقروناً بشرط فلنكشف الغطاء عنه بحصر آفات النكاح وفوائده

Adapun anjuran untuk menikah, sesungguhnya telah diriwayatkan baik secara mutlak maupun disertai syarat. Maka marilah kita singkap tabirnya dengan merinci bahaya-bahaya pernikahan dan manfaat-manfaatnya.

آفات النكاح وفوائده وفيه فوائد خمسة الْوَلَدُ وَكَسْرُ الشَّهْوَةِ وَتَدْبِيرُ الْمَنْزِلِ

Bahaya dan Manfaat Pernikahan. Di dalamnya terdapat lima manfaat: anak, mematahkan gejolak syahwat, pengurusan rumah tangga,

وَكَثْرَةُ الْعَشِيرَةِ ومجاهدة النفس بالقيام بهن

banyaknya sanak kerabat, dan melatih jiwa (mujahadatan nafs) dengan mengurusi serta memenuhi hak-hak mereka.

الفائدة الأولى الولد وهو الأصل وله وضع النكاح

Manfaat pertama: Anak, dan ia merupakan tujuan pokok serta alasan utama disyariatkannya pernikahan.

والمقصود إبقاء النسل وأن لا يخلو العالم عن جنس الإنس

Maksud utamanya adalah menjaga kelangsungan keturunan dan agar alam ini tidak kosong dari jenis manusia.

وإنما الشهوة خلقت باعثة مستحثة كالموكل بالفحل في إخراج البذر وبالأنثى في التمكين من الحرث تلطفاً بهما في السياقة إلى اقتناص الولد بسبب الوقاع كالتلطف بالطير في بث الحب الذي يشتهيه ليساق إلى الشبكة وكانت القدرة الأزلية غير قاصرة عن اختراع الأشخاص ابتداءً من غير حراثة وازدواج ولكن الحكمة اقتضت ترتيب المسببات على الأسباب مع الاستغناء عنها إظهاراً للقدرة وإتماماً لعجائب الصنعة وتحقيقاً لما سبقت به المشيئة وحقت به الكلمة وجرى به القلم

Sesungguhnya syahwat diciptakan sebagai pendorong dan penggerak, ibarat petugas yang diserahi tugas pada pejantan untuk mengeluarkan benih dan pada betina untuk memungkinkan penyemaian, sebagai bentuk kelembutan-Nya kepada keduanya dalam menggiring menuju upaya memperoleh anak melalui persetubuhan; sebagaimana kelembutan terhadap burung dengan menebarkan biji-bijian yang disukainya agar tergiring ke dalam jaring. Padahal Kekuasaan Azali Allah tidaklah terbatas untuk menciptakan individu-individu secara langsung sejak awal tanpa proses penyemaian dan perkawinan. Akan tetapi, hikmah-Nya menghendaki penetapan akibat atas sebab-sebabnya meskipun Dia tidak membutuhkannya, demi menampakkan Kekuasaan-Nya, menyempurnakan keajaiban ciptaan-Nya, serta merealisasikan apa yang telah mendahului dalam kehendak-Nya, telah pasti dalam firman-Nya, dan telah berlaku dalam Qalam-Nya.

وفي التوصل إلى الولد قربة من أربعة أوجه هي الأصل في الترغيب فيه عند الأمن من غوائل الشهوة حتى لم يحب أحدهم أن يلقى الله عزباً

Dalam ikhtiar memperoleh anak terdapat nilai pendekatan diri (qurbah) kepada Allah dari empat segi, yang menjadi landasan utama anjuran menikah ketika aman dari bahaya syahwat, sehingga tidak ada seorang pun dari mereka yang ingin menghadap Allah dalam keadaan membujang.

الأول موافقة محبة الله بالسعي في تحصيل الولد لإبقاء جنس الإنسان

Yang pertama: Menyesuaikan dengan apa yang dicintai Allah, yaitu berikhtiar memperoleh anak demi melestarikan jenis manusia.

والثاني طلب محبة رسول الله ﷺ في تكثير من مباهاته

Yang kedua: Mencari kecintaan Rasulullah ﷺ dengan memperbanyak jumlah umat yang dibanggakan oleh beliau.

والثالث طلب التبرك بدعاء الولد الصالح بعده

Yang ketiga: Mencari keberkahan melalui doa dari anak yang saleh sepeninggalnya.

والرابع طلب الشفاعة بموت الولد الصغير إذا مات قبله

Yang keempat: Mencari syafaat melalui wafatnya anak yang masih kecil jika ia meninggal dunia terlebih dahulu darinya.

أما الوجه الأول فهو أدق الوجوه وأبعدها عن إفهام الجماهير وهو أحقها وأقواها عند ذوي البصائر النافذة في عجائب صنع الله تعالى ومجاري حكمه

Adapun sisi yang pertama, ia adalah sisi yang paling halus dan paling jauh dari pemahaman khalayak awam, namun ia paling berhak dan paling kuat di sisi orang-orang yang memiliki basirah (mata hati) yang tajam dalam menembus keajaiban ciptaan Allah Ta'ala dan alur-alur hikmah-Nya.

وبيانه أن السيد إذا سلم إلى عبده البذر وآلات الحرث وهيأ له أرضاً مهيأة للحراثة وكان العبد قادراً على الحراثة ووكل به من يتقاضاه عليها فإن تكاسل وعطل آلة الحرث وترك البذر ضائعا

Penjelasannya adalah bahwa apabila seorang tuan menyerahkan benih dan alat-alat bercocok tanam kepada hambanya, serta menyiapkan baginya lahan yang siap untuk ditanami, sementara si hamba mampu untuk bercocok tanam dan sang tuan menugaskan pengawas yang menuntutnya untuk bekerja, namun hamba tersebut malas, membiarkan alat bercocok tanam menganggur, dan membiarkan benih terbuang sia-sia

حتى فسد ودفع الموكل عن نفسه بنوع من الحيلة كان مستحقاً للمقت والعتاب من سيده

hingga menjadi rusak, lalu si hamba menghindar dari pengawas itu dengan sejenis tipu daya, maka ia sangat layak mendapatkan kemurkaan dan celaan dari tuannya.

والله تعالى خلق الزوجين وخلق الذكر والأنثيين وخلق النطفة في الفقار وهيأ لها في الأنثيين عروقاً ومجاري وخلق الرحم قراراً ومستودعاً للنطفة وسلط متقاضى الشهوة على كل واحد من الذكر والأنثى فهذه الأفعال والآلات تشهد بلسان ذلق في الإعراب عن مراد خالقها وتنادى أرباب الألباب بتعريف ما أعدت له

Allah Ta'ala telah menciptakan pasangan suami-istri, menciptakan kemaluan laki-laki dan dua buah zakar, menciptakan nutfah (sperma) di dalam tulang sulbi, serta menyiapkan baginya di kedua buah zakar berupa pembuluh-pembuluh dan saluran-saluran. Allah juga menciptakan rahim sebagai tempat yang kokoh dan penampungan bagi nutfah, serta menguasakan dorongan syahwat pada diri setiap laki-laki dan perempuan. Maka perbuatan-perbuatan dan alat-alat ini bersaksi dengan bahasa yang sangat fasih dalam mengungkapkan kehendak Penciptanya, seraya menyeru pemilik akal budi (ulul albab) dengan memberitahukan tujuan diciptakannya alat-alat tersebut.

هذا إن لم يصرح به الخالق تعالى على لسان رسوله ﷺ بالمراد حيث قال تناكحوا تناسلوا فكيف وقد صرح بالأمر وباح بالسر فكل ممتنع عن النكاح معرض عن الحراثة مضيع للبذر معطل لما خلق الله من الآلات المعدة وجان على مقصود الفطرة والحكمة المفهومة من شواهد الخلقة المكتوبة على هذه الأعضاء بخط إلهي ليس برقم حروف وأصوات يقرؤه كل من له بصيرة ربانية نافذة في إدراك دقائق الحكمة الأزلية ولذلك عظم الشرع الأمر في القتل للأولاد وفي الوأد لأنه منع لتمام الوجود وإليه أشار من قال العزل أحد الوأدين فالناكح ساع في إتمام ما أحب الله تعالى تمامه والمعرض معطل ومضيع لما كره الله ضياعه ولأجل محبة الله تعالى لبقاء النفوس أمر بالإطعام وحث عليه وعبر عنه بعبادة القرض فقال من ذا الذي يقرض الله قرضاً حسناً فإن قلت قولك إن بقاء النسل والنفس محبوب يوهم أن فناءها مكروه عند الله وهو فرق بين الموت والحياة بالإضافة إلى إرادة الله تعالى ومعلوم أن الكل بمشيئة الله وأن الله غني عن العالمين فمن أين يتميز عنده موتهم عن حياتهم أو بقاؤهم عن فنائهم فأعلم أن هذه الكلمة حق أريد بها باطل فإن ما ذكرناه لا ينافي إضافة الكائنات كلها إلى إرادة الله خيرها وشرها ونفعها وضرها ولكن المحبة والكراهية يتضادان وكلاهما لا يضادان الإرادة فرب مراد مكروه ورب مراد محبوب فالمعاصي مكروهة وهي مع الكراهة مرادة والطاعات مرادة ومزمع كونها مرادة محبوبة ومرضية أما الكفر والشر فلا نقول إنه مرضي ومحبوب بل هو مراد

Hal ini berlaku jika sekiranya Sang Pencipta Ta'ala belum memfirmankannya secara jelas melalui lisan Rasul-Nya ﷺ tentang maksud tersebut, di mana beliau bersabda, "Menikahlah kalian dan berketurunanlah." Lalu bagaimana lagi ketika Dia telah memfirmankan perintah tersebut secara tegas dan membukakan rahasianya? Maka setiap orang yang enggan menikah berarti memalingkan diri dari bercocok tanam, menyia-nyiakan benih, melumpuhkan alat-alat yang disiapkan Allah, serta mencederai maksud fitrah dan hikmah yang dipahami dari bukti-bukti penciptaan yang tertulis pada anggota tubuh ini dengan tulisan ilahi—yang bukan berupa rajutan huruf dan suara—yang dapat dibaca oleh setiap orang yang memiliki basirah rabbaniyah yang tajam dalam menangkap kelembutan hikmah azali. Oleh karena itu, syariat menganggap sangat besar dosa pembunuhan anak-anak dan penguburan bayi hidup-hidup (wa'd), karena hal itu menghalangi kesempurnaan wujud. Kepada hal inilah diisyaratkan oleh orang yang berkata, "Azal adalah salah satu dari dua bentuk penguburan hidup-hidup." Maka orang yang menikah berupaya menyempurnakan apa yang dicintai Allah Ta'ala kesempurnaannya, sedangkan orang yang berpaling adalah melumpuhkan dan menyia-nyiakan apa yang dibenci Allah penyia-nyiaannya. Dan karena kecintaan Allah Ta'ala terhadap kelangsungan jiwa-jiwa manusia, Dia memerintahkan untuk memberi makan serta menganjurkannya, dan mengistilahkannya sebagai ibadah pinjaman (qardh), di mana Dia berfirman, "Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik?" Jika engkau berkata, "Pernyataanmu bahwa kelangsungan keturunan dan jiwa itu dicintai Allah memberi kesan bahwa kepunahannya dibenci di sisi Allah, padahal terdapat perbedaan antara kematian dan kehidupan bila dikaitkan dengan kehendak (iradah) Allah Ta'ala, dan telah maklum bahwa segala sesuatu terjadi dengan kehendak Allah dan bahwa Allah Mahakaya dari seluruh alam, maka dari mana kematian dipisahkan dari kehidupan di sisi-Nya, atau kelangsungan hidup dari kepunahan?" Maka ketahuilah bahwa kalimat tersebut adalah kebenaran yang dimaksudkan untuk kebatilan (haqqun urida bihi bathil). Sebab, apa yang kami sebutkan tidaklah bertentangan dengan penyandaran seluruh makhluk kepada kehendak Allah, baik kebaikan maupun keburukannya, manfaat maupun mudaratnya. Namun, kecintaan (mahabbah) dan kebencian (karahah) saling berlawanan, sedangkan keduanya tidak bertentangan dengan kehendak (iradah). Berapa banyak hal yang dikehendaki namun dibenci, dan berapa banyak hal yang dikehendaki sekaligus dicintai. Maka kemaksiatan-kemaksiatan itu dibenci, namun beserta kebencian itu, ia tetap dikehendaki (terjadi oleh iradah-Nya). Adapun ketaatan-ketaatan dikehendaki dan dipastikan keberadaannya sebagai hal yang dikehendaki, dicintai, serta diridhai. Adapun kekufuran dan kejahatan, kami tidak mengatakan bahwa itu diridhai dan dicintai, melainkan itu dikehendaki (terjadi).

وقد قال الله تعالى ولا يرضى لعباده الكفر فكيف يكون الفناء بالإضافة إلى محبة الله وكراهته كالبقاء فإنه تعالى يقول ما ترددت في شيء كترددي في قبض روح عبدي المسلم هو يكره الموت وأنا أكره مساءته ولا بد له من الموت

Sungguh Allah Ta'ala telah berfirman, "Dan Dia tidak meridhai kekufuran bagi hamba-hamba-Nya." Maka bagaimana mungkin kebinasaan (fana') jika dikaitkan dengan kecintaan dan kebencian Allah sama halnya dengan kelangsungan wujud (baqa')? Sebab Dia Ta'ala berfirman (dalam hadis qudsi), "Aku tidak ragu-ragu dalam sesuatu sebagaimana keraguan-Ku dalam mencabut nyawa hamba-Ku yang muslim; dia membenci kematian dan Aku benci menyakitinya, sedangkan kematian itu adalah keniscayaan baginya."

فقوله لا بد له من الموت إشارة إلى سبق الإرادة والتقدير المذكور في قوله تعالى نحن قدرنا بينكم الموت وفي قوله تعالى الذي خلق الموت والحياة ولا مناقضة بين قوله تعالى نحن قدرنا بينكم الموت وبين قوله وأنا أكره مساءته ولكن إيضاح الحق في هذا يستدعي تحقيق معنى الإرادة والمحبة والكراهة وبيان حقائقها فإن السابق إلى الإفهام منها أمور تناسب إرادة الخلق ومحبتهم وكراهتهم وهيهات فبين صفات الله تعالى وصفات الخلق من البعد ما بين ذاته العزيز وذاتهم وكما أن ذوات الخلق جوهر وعرض وذات الله مقدس عنه ولا يناسب ما ليس بجوهر وعرض الجوهر والعرض فكذا صفاته لا تناسب صفات الخلق وهذه الحقائق داخلة في علم المكاشفة ووراء سر القدر الذي منع من إفشائه فلنقصر عن ذكره ولنقتصر على ما نبهنا عليه من الفرق بين الإقدام على النكاح والإحجام عنه فإن أحدهما مضيع نسلاً أدام الله وجوده من آدم ﷺ عقباً بعد عقب إلى أن انتهى إليه فالممتنع عن النكاح قد حسم الوجود المستدام من لدن وجود آدم ﵇ على نفسه فمات أبتر لا عقب له ولو كان الباعث على النكاح مجرد دفع الشهوة لما قال معاذ في الطاعون زوجوني لا ألقى الله عزباً فإن قلت فما كان معاذ يتوقع ولداً في ذلك الوقت فما وجه رغبته فيه فأقول الولد يحصل بالوقاع

Maka firman-Nya "sedangkan kematian itu adalah keniscayaan baginya" merupakan isyarat kepada telah mendahuluinya kehendak (iradah) dan takdir yang disebutkan dalam firman-Nya Ta'ala, "Kami telah menentukan kematian di antara kamu," dan dalam firman-Nya Ta'ala, "Yang menciptakan mati dan hidup." Dan tidak ada pertentangan antara firman-Nya Ta'ala "Kami telah menentukan kematian di antara kamu" dengan firman-Nya "dan Aku benci menyakitinya." Akan tetapi, penjelasan kebenaran dalam hal ini membutuhkan penelitian mendalam mengenai hakikat makna iradah (kehendak), mahabbah (kecintaan), dan karahah (kebencian), serta penjelasan tentang hakikat-hakikatnya. Sebab yang segera terlintas dalam pemahaman dari istilah-istilah tersebut adalah hal-hal yang menyerupai kehendak, kecintaan, dan kebencian makhluk. Sungguh jauh bertolak belakang! Antara sifat-sifat Allah Ta'ala dan sifat-sifat makhluk terdapat jarak sejauh antara Dzat-Nya Yang Mahaagung dengan zat mereka. Sebagaimana zat makhluk berupa substansi (jauhar) dan aksiden ('aradh), sedangkan Dzat Allah Mahasuci dari hal itu dan tidak ada keserupaan antara yang bukan jauhar dan 'aradh dengan jauhar dan 'aradh, demikian pula sifat-sifat-Nya tidak menyerupai sifat-sifat makhluk. Hakikat-hakikat ini termasuk ke dalam ilmu mukasyafah dan berada di balik rahasia takdir yang dilarang untuk disebarluaskan. Oleh karena itu, hendaknya kita membatasi diri dari membahasnya dan cukup berpegang pada apa yang telah kami ingatkan berupa perbedaan antara melangkah menuju pernikahan dan menahannya. Sebab, salah satunya menyia-nyiakan keturunan yang telah diabadikan wujudnya oleh Allah sejak Adam 'alaihissalam generasi demi generasi hingga sampai kepadanya. Maka orang yang enggan menikah telah memutuskan wujud yang berkelanjutan sejak zaman keberadaan Adam 'alaihissalam bagi dirinya, sehingga ia mati terputus tanpa memiliki keturunan. Seandainya pendorong pernikahan semata-mata untuk menolak gejolak syahwat, niscaya Mu'adz tidak akan berkata ketika tertimpa wabah pes, "Nikahkanlah aku, agar aku tidak menemui Allah dalam keadaan lajang." Jika engkau bertanya, "Padahal Mu'adz saat itu tidak mengharapkan anak lagi, lalu apa alasan keinginannya untuk menikah?" Maka aku katakan, "Anak itu diperoleh melalui persetubuhan

بباعث الشهوة وذلك أمر لا يدخل في الاختيار وإنما المعلق باختيار العبد إحضار المحرك للشهوة وذلك متوقع في كل حال فمن عقد فقد أدى ما عليه وفعل ما إليه والباقي خارج عن اختياره ولذلك يستحب النكاح للعنين أيضاً فإن نهضات الشهوة خفية لا يطلع عليها حتى إن الممسوح الذي لا يتوقع له ولد لا ينقطع الاستحباب أيضاً في حقه على الوجه الذي يستحب للأصلع إمرار الموسى على رأسه إقتداءً بغيره وتشبهاً بالسلف الصالحين وكما يستحب الرمل والاضطباع في الحج الآن وقد كان المراد منه أولاً إظهار الجلد للكفار

yang didorong oleh syahwat, dan hal itu adalah perkara yang tidak masuk dalam ranah ikhtiar (pilihan manusia). Sungguh yang digantungkan pada pilihan hamba hanyalah menghadirkan pemicu syahwat, dan itu memungkinkan dalam setiap keadaan. Barang siapa melakukan akad pernikahan, maka ia telah menunaikan kewajibannya dan melakukan apa yang menjadi bagiannya, sedangkan sisanya berada di luar ikhtiar dirinya. Oleh karena itu, disunnahkan menikah bagi orang yang 'innin (impoten) juga, sebab bangkitnya syahwat itu terselubung dan tidak diketahui. Bahkan bagi orang yang mamsuh (yang terpotong kemaluannya) yang tidak diharapkan memiliki anak, kesunnahannya juga tidak terputus baginya, sebagaimana disunnahkannya bagi orang gundul untuk menjalankan pisau cukur di atas kepalanya sebagai bentuk meneladani orang lain dan menyerupai para pendahulu yang saleh (salaf ash-shalih). Sebagaimana pula disunnahkannya ramal (berjalan cepat) dan idhtiba' (mengarungkan kain ihram di bawah ketiak kanan) dalam ibadah haji saat ini, padahal tujuan awalnya dahulu adalah untuk menunjukkan kekuatan kepada orang-orang kafir.

فصار الاقتداء والتشبه بالذين أظهروا الجلد سنة في حق من بعدهم ويضعف هذا الاستحباب بالإضافة إلى الاستحباب في حق القادر على الحرث وربما يزداد ضعفاً بما يقابله من كراهة تعطيل المرأة وتضييعها فيما يرجع إلى قضاء الوطر فإن ذلك لا يخلو عن نوع من الخطر فهذا المعنى هو الذي ينبه على شدة إنكارهم لترك النكاح مع فتور الشهوة

Maka meneladani dan menyerupai orang-orang yang menunjukkan kekuatan tersebut menjadi sunnah bagi orang-orang setelah mereka. Namun kesunnahan ini melemah jika dibandingkan dengan kesunnahan bagi orang yang mampu bercocok tanam (bersetubuh), dan terkadang makin melemah karena berhadapan dengan makruhnya membiarkan wanita menganggur dan menyia-nyiakannya dalam hal penyaluran hasrat biologis, sebab hal itu tidak lepas dari sejenis bahaya. Makna inilah yang mengingatkan akan kerasnya pengingkaran mereka terhadap penelantaran pernikahan meskipun syahwat melemah.

الوجه الثاني السعي في محبة رسول الله ﷺ ورضاه بتكثير ما به مباهاته إذ قد صرح رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بِذَلِكَ ويدل على مراعاة أمر الولد جملة بالوجوه كلها ما روي عن عمر ﵁ أنه كان ينكح كثيراً ويقول إنما أنكح للولد

Sisi kedua: Bekerja keras untuk meraih kecintaan Rasulullah ﷺ dan keridhaan-Nya dengan memperbanyak apa yang menjadi kebanggaan beliau, karena Rasulullah ﷺ telah menyatakan hal itu secara tegas. Dan yang menunjukkan pentingnya memperhatikan perkara anak secara keseluruhan dari segala sisinya adalah apa yang diriwayatkan dari Umar radhiyallahu 'anhu bahwa beliau banyak menikah dan berkata, "Sesungguhnya aku menikah hanyalah untuk memperoleh anak."

وما روي من الأخبار في مذمة المرأة العقيم إذ قال ﵇ لحصير في ناحية البيت خير من امرأة لا تلد

Juga apa yang diriwayatkan dari riwayat-riwayat tentang celaan terhadap wanita yang mandul, ketika beliau 'alaihissalam bersabda, "Sungguh, tikar di sudut rumah masih lebih baik daripada wanita yang tidak melahirkan (mandul)."

وقال خير نسائكم الولود الودود

Dan beliau bersabda, "Sebaik-baik wanita kalian adalah yang banyak anak lagi sangat penyayang (al-walud al-wadud)."

وقال سوداء ولود خير من حسناء لا تلد

Dan beliau bersabda, "Wanita berkulit hitam yang banyak anak lebih baik daripada wanita cantik yang mandul."

وهذا يدل على أن طلب الولد أدخل في اقتضاء فضل النكاح من طلب دفع غائلة الشهوة لأن الحسناء أصلح للتحصين وغض البصر وقطع الشهوة

Hal ini menunjukkan bahwa mencari anak memiliki pengaruh yang lebih kuat dalam menuntut keutamaan nikah daripada sekadar menolak bahaya gejolak syahwat, sebab wanita yang cantik itu lebih efektif untuk menjaga kesucian diri, menundukkan pandangan, dan memutus gejolak syahwat.

الوجه الثالث أن يبقى بعده ولدا صالحاً يدعو له كما ورد في الخبر أن جميع عمل إبن آدم منقطع إلا ثلاثاً فذكر الولد الصالح

Sisi ketiga: Bahwa seseorang meninggalkan anak saleh setelah meninggalnya yang akan mendoakannya, sebagaimana disebutkan dalam hadis bahwa seluruh amal perbuatan anak Adam terputus kecuali tiga perkara, lalu beliau menyebutkan anak yang saleh.

وفي الخبر إن الأدعية تعرض على الموتى على أطباق من نور

Dan dalam sebuah hadis disebutkan, "Sesungguhnya doa-doa dihaturkan kepada orang-orang mati di atas talam-talam dari cahaya."

وقول القائل إن الولد ربما لم يكن صالحاً لا يؤثر فإنه مؤمن والصلاح هو الغالب على أولاد ذوي الدين لا سيما إذا عزم على تربيته وحمله على الصلاح وبالجملة دعاء المؤمن لأبويه مفيد براً كان أو فاجراً فهو مثاب على دعواته وحسناته فإنه من كسبه وغير مؤاخذ بسيئاته فإنه لا تزر وازرة وزر أخرى ولذلك قال تعالى ألحقنا بهم ذرياتهم وما ألتناهم من عملهم من شيء أي ما نقصناهم من أعمالهم وجعلنا أولادهم مزيداً في إحسانهم

Adapun ucapan seseorang bahwa terkadang anak itu tidak saleh, maka hal itu tidak berpengaruh; sebab anak tersebut adalah seorang mukmin, dan kesalehan adalah hal yang dominan pada anak-anak dari orang-orang yang beragama, terlebih lagi jika orang tua bertekad mendidiknya dan membimbingnya menuju kesalehan. Walhasil, doa seorang mukmin bagi kedua orang tuanya tetap bermanfaat, baik anak itu berbakti maupun berbuat dosa. Orang tua akan diberi pahala atas doa-doa dan kebaikan-kebaikan anak tersebut karena anak itu bagian dari usahanya (kasb), dan orang tua tidak dihisab atas dosa-dosa si anak karena "seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain." Oleh karena itu, Allah Ta'ala berfirman, "Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka," yakni Kami tidak mengurangi pahala amal-amal mereka sedikit pun dan Kami jadikan anak-anak mereka sebagai tambahan bagi kebaikan mereka.

الوجه الرابع أن يموت الولد قبله فيكون له شفيعاً فقد روي عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ أنه قال إن الطفل يجر بأبويه إلى الجنة

Sisi keempat: Bahwa anak tersebut meninggal dunia sebelum dirinya, sehingga anak itu menjadi pemberi syafaat baginya. Sungguh telah diriwayatkan dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda, "Sesungguhnya anak kecil itu menuntun kedua orang tuanya menuju surga."

وفي بعض الأخبار يأخذ بثوبه كما أنا الآن آخذ بثوبك

Dan dalam sebagian riwayat disebutkan, "Ia memegang pakaian orang tuanya sebagaimana aku saat ini memegang pakaianmu."

وقال أيضاً ﷺ إن المولود يقال ادخل الجنة فيقف على باب الجنة فيظل محبنطئا أي ممتلئاً غيظا وغضباً ويقول لا أدخل الجنة إلا وأبواي معي فيقال أدخلوا أبويه معه الجنة

Dan beliau ﷺ juga bersabda, "Sesungguhnya bayi yang meninggal itu dikatakan kepadanya: 'Masuklah ke surga!' Lalu ia berdiri di pintu surga seraya bersikap enggan dan menolak (karena sangat menginginkan orang tuanya), seraya berkata: 'Aku tidak akan masuk surga kecuali kedua orang tuaku bersamaku.' Maka dikatakanlah: 'Masukkanlah kedua orang tuanya ke surga bersamanya!'"

وفي خبر آخر إن الأطفال

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa anak-anak kecil

يجتمعون في موقف القيامة عند عرض الخلائق للحساب فيقال للملائكة اذهبوا بهؤلاء إلى الجنة فيقفون على باب الجنة فيقال لهم مرحباً بذراري المسلمين ادخلوا لا حساب عليكم فيقولون فأين آباؤنا وأمهاتنا فيقول الخزنة إن آباءكم وأمهاتكم ليسوا مثلكم إنه كانت لهم ذنوب وسيئات فهم يحاسبون عليها ويطالبون

akan berkumpul di padang Mahsyar pada hari Kiamat ketika seluruh makhluk dihadapkan untuk dihisab. Lalu dikatakan kepada para malaikat, "Bawalah mereka ini ke dalam surga." Namun mereka berhenti di pintu surga, lalu dikatakan kepada mereka, "Selamat datang wahai anak-anak keturunan orang-orang muslim, masuklah kalian, tidak ada hisab atas kalian." Mereka menjawab, "Lantas di manakah ayah dan ibu kami?" Para malaikat penjaga surga berkata, "Sesungguhnya ayah dan ibu kalian tidak seperti kalian. Mereka memiliki dosa dan keburukan-keburukan sehingga mereka sedang dihisab dan dituntut atas dosa-dosa tersebut."

قال فيتضاغون ويضجون على أبواب الجنة ضجةً واحدةً فيقول الله سبحانه وهو أعلم بهم ما هذه الضجة فيقولون ربنا أطفال المسلمين قالوا لا ندخل الجنة إلا مع آبائنا فيقول الله تعالى تخللوا الجمع فخذوا بأيدي آبائهم فأدخلوهم الجنة

Beliau bersabda: Maka anak-anak itu menangis dan berteriak riuh di pintu-pintu surga dengan satu teriakan. Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā—yang Mahamengetahui perihal mereka—berfirman, "Kegaduhan apakah ini?" Para malaikat menjawab, "Ya Tuhan kami, mereka adalah anak-anak kecil orang muslim. Mereka berkata bahwa mereka tidak akan masuk surga kecuali bersama ayah ibu mereka." Maka Allah Ta‘ālā berfirman, "Masuklah kalian ke tengah-tengah kerumunan, peganglah tangan ayah ibu mereka, lalu masukkanlah mereka ke dalam surga."

وقال ﷺ من مات له اثنان من الولد فقد احتظر بحظار من النار

Dan Rasulullah ﷺ bersabda, "Barang siapa ditinggal mati oleh dua orang anaknya, maka sungguh ia telah membentengi dirinya dengan benteng dari api neraka."

وقال ﷺ من مات له ثلاثة لم يبلغوا الحنث أدخله الله الجنة بفضل رحمته إياهم قيل يا رسول الله واثنان قال واثنان

Dan Rasulullah ﷺ bersabda, "Barang siapa ditinggal mati oleh tiga orang anak yang belum mencapai usia baligh, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga berkat karunia rahmat-Nya kepada anak-anak tersebut." Ditanyakan, "Wahai Rasulullah, bagaimana jika dua anak?" Beliau menjawab, "Dua anak juga demikian."

وحكي أن بعض الصالحين كان يعرض عليه التزويج فيأبى برهةً من دهره قال فانتبه من نومه ذات يوم وقال زوجوني زوجوني فزوجوه فسئل عن ذلك فقال لعل الله يرزقني ولداً ويقبضه فيكون لي مقدمةً في الآخرة ثم قال رأيت في المنام كأن القيامة قد قامت وكأني في جملة الخلائق في الموقف وبي من العطش ما كاد أن يقطع عنقي وكذا الخلائق في شدة العطش والكرب فنحن كذلك إذ ولدان يتخللون الجمع عليهم مناديل من نور وبأيديهم أباريق من فضة وأكواب من ذهب وهم يسقون الواحد بعد الواحد يتخللون الجمع ويتجاوزون أكثر الناس فمددت يدي إلى أحدهم وقلت اسقني فقد أجهدني العطش فقال ليس لك فينا ولد إنما نسقي آباءنا فقلت ومن أنتم فقالوا نحن من مات من أطفال المسلمين

Diceritakan bahwa sebagian orang saleh pernah ditawari untuk menikah, namun ia menolaknya selama kurun waktu yang cukup lama. Suatu hari, ia terbangun dari tidurnya lalu berkata, "Nikahkanlah aku, nikahkanlah aku!" Maka mereka pun menikahkannya. Ketika ditanya mengenai perubahan sikapnya itu, ia menjawab, "Semoga Allah mengaruniakanku seorang anak lalu menggenggam jiwanya (mematikannya), sehingga ia menjadi simpanan pahala bagiku di akhirat kelak." Kemudian ia bercerita, "Aku bermimpi seolah-olah Kiamat telah terjadi, dan aku berada di antara sekian banyak makhluk di padang Mahsyar. Aku mengalami kehausan yang sangat hebat hingga hampir memutuskan leherku, demikian pula makhluk-makhluk lainnya berada dalam kehausan dan penderitaan yang dahsyat. Dalam kondisi demikian, tiba-tiba muncul anak-anak kecil yang menyusup di antara kerumunan orang banyak. Di atas pundak mereka terdapat sapu tangan dari cahaya, dan di tangan mereka ada teko-teko dari perak serta cangkir-cangkir dari emas. Mereka memberi minum seseorang demi seseorang, menyusup di antara kerumunan dan melewati sebagian besar manusia. Maka aku mengulurkan tanganku kepada salah seorang dari mereka seraya berkata, 'Berilah aku minum, sungguh dahaga telah memuncak padaku.' Namun anak itu menjawab, 'Engkau tidak memiliki anak di antara kami; kami hanya memberi minum kepada ayah-ayah kami.' Aku bertanya, 'Siapakah kalian ini?' Mereka menjawab, 'Kami adalah anak-anak kecil umat Islam yang telah meninggal dunia.'"

وأحد المعاني المذكورة في قوله تعالى ﴿فأتوا حرثكم أنى شئتم وقدموا لأنفسكم﴾ تقديم الأطفال إلى الآخرة فقد ظهر بهذه الوجوه الأربعة أن أكثر فضل النكاح لأجل كونه سبباً للولد

Dan salah satu makna yang disebutkan dalam firman Allah Ta‘ālā, "Maka datangilah ladangmu itu bagaimana saja kamu kehendaki, dan usahakanlah (kebajikan) untuk dirimu" (QS. Al-Baqarah: 223) adalah mendahulukan (mengirimkan) anak-anak kecil ke akhirat. Maka telah jelas melalui empat segi ini bahwa sebagian besar keutamaan pernikahan adalah karena ia menjadi perantara untuk memperoleh anak.

الفائدة الثانية التحصن من الشيطان وكسر التوقان ودفع غوائل الشهوة وغض البصر وحفظ الفرج وإليه الإشارة بقوله ﵇ من نكح فقد حصن نصف دينه فليتق الله في الشطر الآخر وإليه الإشارة بقوله عليكم بالباءة فمن لم يستطع فعليه بالصوم فإن الصوم له وجاء وأكثر ما نقلناه من الآثار والأخبار إشارةً إلى هذا المعنى وهذا المعنى دون الأول لأن الشهوة موكلة بتقاضي تحصيل الولد فالنكاح كاف لشغله دافع لجعله وصارف لشر سطوته وليس من يجيب مولاه رغبةً في تحصيل رضاه كمن يجيب لطلب الخلاص عن غائلة التوكيل فالشهوة والولد مقدران وبينهما ارتباط وليس يجوز أن يقال المقصود اللذة والولد لازم منها كما يلزم مثلاً قضاء الحاجة منالأكل وليس مقصوداً في ذاته بل الولد هو المقصود بالفطرة والحكمة والشهوة باعثة عليه ولعمري في الشهوة حكمة أخرى سوى الإرهاق إلى الإيلاد وهو ما في قضائها من اللذة التي لا توازيها لذة لو دامت فهي منبهه على اللذات الموعودة في الجنان إذ الترغيب في لذة لم يجد لها ذواقاً لا ينفع فلو رغب العنين في لذة الجماع أو الصبي في لذة

Manfaat kedua: Benteng dari syaitan, mematahkan gejolak nafsu, menolak bahaya syahwat, menundukkan pandangan, dan menjaga kemaluan. Hal ini diisyaratkan oleh sabda Nabi ﷺ, "Barang siapa menikah, maka sungguh ia telah membentengi separuh agamanya, maka hendaklah ia bertakwa kepada Allah pada separuh sisanya." Diisyaratkan pula oleh sabda beliau, "Hendaklah kalian menikah, dan barang siapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu menjadi perisai baginya." Sebagian besar atsar dan riwayat yang kami kutip mengisyaratkan makna ini. Namun makna ini berada di bawah makna yang pertama, sebab syahwat itu ditugaskan untuk menuntut dihasilkannya anak; maka pernikahan menjadi pemenuh bagi kesibukannya, penolak bagi gejolaknya, dan pemaling dari kejahatan kepengarahannya. Dan tidaklah sama orang yang menyambut seruan Tuannya demi meraih keridaan-Nya dengan orang yang menyambut demi mencari keselamatan dari bahaya gejolak penugasan itu. Maka syahwat dan anak adalah dua hal yang ditakdirkan dan saling berkaitan. Tidak boleh dikatakan bahwa maksud utamanya adalah kenikmatan, sedangkan anak hanyalah konsekuensi yang pasti timbul darinya—sebagaimana buang hajat adalah konsekuensi dari makan dan bukan tujuan pada dirinya sendiri—melainkan anak itulah yang menjadi tujuan utama secara fitrah dan hikmah, sedangkan syahwat adalah pendorongnya. Demi umurku, dalam syahwat terdapat hikmah lain di samping mendorong pada kelahiran anak, yaitu kenikmatan yang terkandung dalam pemenuhannya yang tidak tertandingi oleh kenikmatan apa pun sekiranya ia terus berlanjut. Maka kenikmatan itu menjadi pengingat atas kenikmatan-kenikmatan yang dijanjikan di surga. Sebab, memberi dorongan pada suatu kenikmatan yang belum pernah dirasakan oleh seseorang tidaklah bermanfaat. Seandainya orang yang mati rasa seksualnya (impoten) didorong pada kenikmatan bersetubuh, atau anak kecil didorong pada kenikmatan

الملك والسلطنة لم ينفع الترغيب وإحدى فوائد لذات الدنيا الرغبة في دوامها في الجنة ليكون باعثاً على عبادة الله

kekuasaan dan pemerintahan, niscaya dorongan itu tidak akan berguna. Dan salah satu manfaat kenikmatan dunia adalah memunculkan keinginan untuk mendapatkannya secara kekal di surga, sehingga menjadi pendorong untuk beribadah kepada Allah.

فانظر إلى الحكمة ثم إلى الرحمة ثم إلى التعبية الإلهية كيف عبيت تحت شهوة واحدة حياتان حياةً ظاهرةً وحياةً باطنةً فالحياة الظاهرة حياة المرء ببقاء نسله فإنه نوع من دوام الوجود والحياة الباطنة هي الحياة الأخروية فإن هذه اللذة الناقصة بسرعة الانصرام تحرك الرغبة في اللذة الكاملة بلذة الدوام فيستحث على العبادة الموصلة إليها فيستفيد العبد بشدة الرغبة فيها تيسر المواظبة على ما يوصله إلى نعيم الجنان وما من ذرة من ذرات بدن الإنسان باطناً وظاهراً بل ذرات ملكوت السموات والأرض إلا وتحتها من لطائف الحكمة وعجائبها ما تحار العقول فيها ولكن إنما ينكشف للقلوب الطاهرة بقدر صفائها بقدر رغبتها عن زهرة الدنيا وغرورها وغوائلها فالنكاح بسبب دفع غائلة الشهوة مهم في الدين لكل من لا يؤتى عن عجز وعنة وهم غالب الخلق فإن الشهوة إذا غلبت ولم يقاومها قوة التقوى جرت إلى اقتحام الفواحش وإليه أشار بقوله ﵊ عن الله تعالى ﴿إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كبير﴾ وإن كان ملجماً بلجام التقوى فغايته أن يكف الجوارح عن إجابة الشهوة فيغض البصر ويحفظ الفرج فأما حفظ القلب عن الوسواس والفكر فلا يدخل تحت اختياره بل لا تزال النفس تجاذبه وتحدثه بأمور الوقاع ولا يفتر عنه الشيطان الموسوس إليه في أكثر الأوقات وقد يعرض له ذلك في أثناء الصلاة حتى يجري على خاطره من أمور الوقاع ما لو صرح به بين يدي أخس الخلق لاستحى منه والله مطلع على قلبه والقلب في حق الله كاللسان في حق الخلق ورأس الأمور للمريد في سلوك طريق الآخرة قلبه والمواظبة على الصوم لا تقطع مادة الوسوسة في حق أكثر الخلق إلا أن ينضاف إليه ضعف في البدن وفساد في المزاج ولذلك قال ابن عباس ﵄ لا يتم نسك الناسك إلا بالنكاح

Maka perhatikanlah hikmah ini, kemudian rahmat-Nya, lalu susunan Ilahi bagaimana di balik satu syahwat dihimpun dua kehidupan: kehidupan lahiriah dan kehidupan batiniah. Kehidupan lahiriah adalah kehidupan seseorang melalui kelangsungan keturunannya, sebab itu merupakan sejenis keekalan wujud. Sedangkan kehidupan batiniah adalah kehidupan akhirat, karena kenikmatan yang kurang ini—disebabkan cepatnya ia berakhir—menggerakkan keinginan menuju kenikmatan yang sempurna yaitu kenikmatan yang kekal, sehingga mendesak untuk beribadah yang menyampaikannya ke sana. Maka hamba tersebut, dengan besarnya keinginan itu, memperoleh kemudahan untuk konsisten (muwāẓabah) pada apa yang mengantarkannya menuju kenikmatan surga. Dan tidak ada satu zarah pun dari zarah-zarah tubuh manusia secara batin maupun lahir, bahkan zarah-zarah kerajaan langit dan bumi, melainkan di dalamnya tersimpan kehalusan hikmah dan keajaibannya yang membingungkan akal pikiran. Namun hal itu hanya terpapar bagi hati yang suci sesuai dengan kadar kebeningannya dan sejauh mana ia berpaling dari kesenangan dunia, tipu dayanya, dan marbahayanya. Maka pernikahan—dengan alasan menolak bahaya syahwat—merupakan hal yang penting dalam agama bagi setiap orang yang tidak terhalang oleh kelemahan dan impotensi, dan mereka adalah mayoritas makhluk. Sebab, jika syahwat telah memuncak dan tidak dilawan oleh kekuatan takwa, ia akan menyeret pada penjelajahan perbuatan-perbuatan keji. Ke arah inilah beliau ʿalaihis-salām mengisyaratkan firman Allah Ta‘ālā, "Jika kamu tidak melaksanakan apa yang diperintahkan itu, niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar" (QS. Al-Anfal: 73). Kalaupun ia terkekang dengan kekang takwa, maka batas maksimalnya hanyalah menahan anggota tubuh dari memenuhi syahwat, seperti menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Adapun menjaga hati dari bisikan jahat (waswās) dan pikiran kotor, maka hal itu di luar kemampuannya. Bahkan nafsunya senantiasa menariknya dan membicarakan perkara bersetubuh kepadanya, serta syaitan yang membisikkan tidak pernah letih mengganggunya pada sebagian besar waktu. Bahkan hal itu kadang datang kepadanya di tengah-tengah shalat, hingga terlintas dalam benaknya perkara bersetubuh yang jika ia ucapkan di hadapan makhluk paling rendah sekalipun niscaya ia merasa malu, padahal Allah Mahamelihat hatinya. Dan posisi hati bagi Allah adalah seperti posisi lidah bagi makhluk. Sedangkan pokok segala perkara bagi seorang murid dalam menempuh jalan akhirat adalah hatinya. Konsistensi dalam berpuasa pun tidak memutuskan bahan bisikan syaitan bagi kebanyakan orang, kecuali jika disertai kelemahan fisik dan gangguan kondisi kesehatan. Oleh karena itu, Ibnu Abbas raḍiyallāhu 'anhumā berkata, "Ibadah seorang ahli ibadah tidak akan sempurna kecuali dengan menikah."

وهذه محنة عامة قل من يتخلص منها

Ini adalah ujian umum yang sedikit sekali orang dapat terbebas darinya.

قال قتادة في معنى قوله تعالى ﴿ولا تحملنا ما لا طاقة لنا به﴾ هو الغلمة

Qatadah berkata mengenai makna firman Allah Ta‘ālā, "Dan janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya" (QS. Al-Baqarah: 286): "Yang dimaksud adalah gejolak syahwat seksual (al-ghulamah)."

وعن عكرمة ومجاهد أنهما قالا في معنى قوله تعالى ﴿وخلق الإنسان ضعيفا﴾ أنه لا يصبر عن النساء وقال فياض بن نجيح

Diriwayatkan dari Ikrimah dan Mujahid bahwa keduanya berkata mengenai makna firman Allah Ta‘ālā, "Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah" (QS. An-Nisa': 28): "Yaitu tidak mampu bersabar dari wanita." Dan Fayyadh bin Najih berkata,

إذا قام ذكر الرجل ذهب ثلثا عقله

"Apabila kemaluan laki-laki telah bangkit (ereksi), maka hilanglah dua pertiga akalnya."

وبعضهم يقول ذهب ثلث دينه

Sebagian dari mereka berkata, "Hilanglah sepertiga agamanya."

وفي نوادر التفسير عن ابن عباس ﵄ ﴿ومن شر غاسق إذا وقب﴾ قال قيام الذكر وهذه يلية غالبة إذا هاجت لا يقاومها عقل ولا دين وهي مع أنها صالحة لأن تكون باعثة على الحياتين كما سبق فهي أقوى آلة الشيطان على بني آدم وإليه أشار ﷺ بقوله ما رأيت من ناقصات عقل ودين أغلب لذوي الألباب منكن

Dalam Nawadir at-Tafsīr dari Ibnu Abbas raḍiyallāhu 'anhumā mengenai firman Allah, "Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita" (QS. Al-Falaq: 3), beliau berkata, "Maksudnya adalah bangkitnya kemaluan." Ini adalah cobaan yang sangat dominan; apabila ia telah bergejolak, tidak ada akal maupun agama yang sanggup menahannya. Kendati ia layak menjadi pendorong bagi dua kehidupan sebagaimana telah dijelaskan, ia juga merupakan senjata syaitan yang paling kuat untuk menundukkan anak cucu Adam. Kepada hal inilah Nabi ﷺ mengisyaratkan dengan sabdanya, "Aku tidak pernah melihat orang-orang yang kurang akal dan agamanya yang lebih mampu mengalahkan orang-orang yang berakal selain dari kalian (para wanita)."

وإنما ذلك لهيجان الشهوة وقال ﷺ في دعائه اللهم إني أعوذ بك من شر سمعي وبصري وقلبي وشر مني

Hal itu tidak lain karena bergejolaknya syahwat. Dan Nabi ﷺ berdoa dalam doanya, "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan pendengaranku, penglihatanku, hatiku, dan dari kejahatan air maniku (maniyyī)."

وقال أسألك أن تطهر قلبي وتحفظ فرجي

Dan beliau juga berdoa, "Aku memohon kepada-Mu agar Engkau menyucikan hatiku dan menjaga kemaluanku."

فما يستعيذ منه رسول الله ﷺ كيف يجوز التساهل فيه لغيره وكان بعض الصالحين يكثر النكاح حتى لا يكاد يخلو من اثنتين وثلاث فأنكر عليه بعض الصوفية فقال هل يعرف أحد منكم أنه جلس بين يدي الله تعالى جلسة أو وقف بين يديه موقفاً في معاملة فخطر على قلبه خاطر شهوة فقالوا يصيبنا من ذلك كثير فقال لو رضيت في عمري كله بمثل حالكم في وقت واحد لما تزوجت لكني ما خطر على قلبي خاطر يشغلني عن حالي إلا نفذته فأستريح وأرجع إلى شغلي ومنذ أربعين سنة ما خطر على قلبي معصية

Sesuatu yang Rasulullah ﷺ saja memohon perlindungan darinya, bagaimana mungkin orang lain boleh meremehkannya? Dulu ada sebagian orang saleh yang sering menikah hingga hampir tidak pernah lepas dari mempunyai dua atau tiga istri. Maka sebagian kaum sufi mengingkari perbuatannya itu. Lalu ia bertanya, "Apakah ada di antara kalian yang pernah duduk di hadapan Allah Ta‘ālā atau berdiri di hadapan-Nya dalam suatu amalan, lalu terlintas dalam hatinya bisikan syahwat?" Mereka menjawab, "Sering kali hal itu menimpa kami." Ia berkata, "Seandainya aku ridha sepanjang umurku berada dalam kondisi seperti kondisi kalian walau sekejap saja, niscaya aku tidak akan menikah. Namun, tidaklah terlintas dalam hatiku suatu bisikan yang menggangguku dari kondisiku (bersama Allah) melainkan langsung aku laksanakan (melalui nikah) sehingga aku merasa tenang dan kembali pada kesibukanku. Dan sejak empat puluh tahun, tidak pernah terlintas suatu maksiat pun dalam hatiku."

وأنكر بعض الناس حال الصوفية فقال له

Dan sebagian orang ada yang mengingkari kondisi kaum sufi, maka dikatakan kepadanya

بعض ذوي الدين ما الذي تنكر منهم قال يأكلون كثيراً

Seseorang bertanya tentang sebagian orang yang taat beragama: "Apakah yang engkau ingkari (keluhkan) dari mereka?" Ia menjawab: "Mereka makan terlalu banyak."

قال وأنت أيضا لو جعت كما يجوعون لأكلت كما يأكلون قال ينكحون كثيراً

Ia berkata: "Dan engkau pun, seandainya merasa lapar sebagaimana mereka lapar, niscaya engkau akan makan sebagaimana mereka makan." Orang itu berkata lagi: "Mereka banyak menikah (melakukan hubungan suami-istri)."

قال وأنت أيضاً لو حفظت عينيك وفرجك كما يحفظون لنكحت كما ينكحون

Ia menjawab: "Dan engkau pun, seandainya menjaga pandangan mata dan kemaluanmu sebagaimana mereka menjaganya, niscaya engkau akan menikah sebagaimana mereka menikah."

وكان الجنيد يقول أحتاج إلى الجماع كما أحتاج إلى القوت فالزوجة على التحقيق قوت وسبب لطهارة القلب ولذلك أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ كل من وقع نظره على امرأة فتاقت إليها نفسه أن يجامع أهله

Dahulu Al-Junayd berkata: "Aku membutuhkan jima' (hubungan suami-istri) sebagaimana aku membutuhkan makanan pokok." Maka istri pada hakikatnya adalah penopang jiwa dan sarana bagi kesucian hati. Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ memerintahkan setiap orang yang pandangannya tertuju pada seorang wanita lalu jiwanya merasa tergiur, agar ia mendatangi (menggauli) istrinya,

لأن ذلك يدفع الوسواس عن النفس

karena hal tersebut dapat menepis bisikan waswas dari dalam jiwa.

وروى جابر ﵁ أن النبي ﷺ رأى إمرأة فدخل على زينب فقضى حاجته وخرج

Diriwayatkan dari Jabir ra. bahwa Nabi ﷺ melihat seorang wanita, lalu Beliau masuk menemui Zainab untuk menunaikan hajatnya (menggaulinya), kemudian Beliau keluar.

وقال ﷺ إن المرأة إذا أقبلت أقبلت بصورة شيطان فإذا رأى أحدكم امرأةً فأعجبته فليأت أهله معها مثل الذي معها

Dan Beliau ﷺ bersabda: "Sesungguhnya wanita itu apabila datang, ia datang dalam wujud setan (membawa fitnah). Maka apabila salah seorang dari kalian melihat seorang wanita lalu mengaguminya, hendaklah ia mendatangi istrinya, karena pada diri istrinya terdapat apa yang ada pada wanita tersebut."

وقال ﵇ لا تدخلوا على المغيبات وهي التي غاب زوجها عنها فإن الشيطان يجري من أحدكم مجرى الدم قلنا ومنك قال ومني ولكن الله أعانني عليه فأسلم

Dan Beliau ﷺ bersabda: "Janganlah kalian menemui para wanita yang ditinggal pergi suaminya (al-mugheebāt). Karena sesungguhnya setan itu mengalir dalam diri salah seorang dari kalian sebagaimana alirnya darah." Kami bertanya: "Apakah juga padamu (wahai Rasulullah)?" Beliau menjawab: "Juga padaku, namun Allah telah menolongku atasnya sehingga ia pasrah/tunduk (atau: sehingga aku selamat)."

قال سفيان بن عيينة فأسلم معناه فأسلم أنا منه هذا معناه فإن الشيطان لا يسلم وكذلك حكى على ابن عمر ﵄ وكان من زهاد الصحابة وعلمائهم أنه كان يفطر من الصوم على الجماع قبل الأكل وربما أنه جامع ثلاثاً من جواريه في شهر رمضان قبل العشاء الأخير

Sufyan bin 'Uyaynah berkata: Makna 'fa-aslamu' adalah 'sehingga aku selamat dari gangguannya', inilah maknanya, karena setan tidak akan masuk Islam. Begitu pula diceritakan tentang Ibnu Umar ra.—dan beliau termasuk zuhudnya para sahabat serta ulama mereka—bahwa beliau pernah berbuka puasa dengan jima' sebelum makan, dan terkadang beliau menggauli tiga orang budak wanitanya di bulan Ramadan sebelum shalat Isya terakhir.

وقال ابن عباس خير هذه الأمة أكثرها نساءً

Dan Ibnu Abbas berkata: "Orang terbaik dari umat ini adalah orang yang paling banyak istrinya."

ولما كانت الشهوة أغلب على مزاج العرب كان استكثار الصالحين منهم لنكاح أشد ولأجل فراغ القلب أبيح نكاح الأمة عند خوف العنت مع أن فيه إرقاق الولد وهو نوع إهلاك وهو محرم على كل من قدر على حرة ولكن إرقاق الولد أهون من إهلاك الدين وليس فيه إلا تنغيص الحياة على الولد مدة وفي اقتحام الفاحشة تفويت الحياة الأخروية التي تستحقر الأعمار الطويلة بالإضافة إلى يوم من أيامها

Ketika syahwat lebih mendominasi tabiat orang Arab, maka dorongan orang-orang saleh di antara mereka untuk memperbanyak pernikahan menjadi lebih kuat. Dan demi kelapangan hati (dari kesibukan syahwat), dipermudahlah perizinan menikahi budak wanita ketika dikhawatirkan terjadinya perzinahan ('anat), meskipun di dalamnya terdapat risiko memperbudak anak yang dilahirkan—yang merupakan sejenis kebinasaan dan haram hukumnya bagi siapa saja yang mampu menikahi wanita merdeka. Namun, memperbudak anak itu lebih ringan ketimbang membinasakan agama; hal itu hanya memperkeruh kehidupan anak selama kurun waktu tertentu, sedangkan terjerumus ke dalam perbuatan keji (zina) akan menghilangkan kehidupan akhirat, yang mana umur yang panjang di dunia ini sungguh sangat tidak berarti jika dibandingkan dengan satu hari saja dari hari-hari akhirat.

وروي أنه انصرف الناس ذات يوم من مجلس ابن عباس وبقي شاب لم يبرح فقال له ابن عباس هل لك من حاجة قال نعم أردت أن اسأل مسألة فاستحييت من الناس وأنا الآن أهابك وأجلك فقال ابن عباس إن العالم بمنزلة الوالد فما كنت أفضيت به إلى أبيك فأفض إلي به فقال إني شاب لا زوجة لي وربما خشيت العنت على نفسي فربما استمنيت بيدي فهل في ذلك معصية فأعرض عنه ابن عباس ثم قال أف وتف نكاح الأمة خير منه وهو خير من الزنا فهذا تنبيه على أن العزب المغتلم مردد بين ثلاثة شرور أدناها نكاح الأمة وفيه إرقاق الولد وأشد منه الاستمناء باليد وأفحشه الزنا ولم يطلق ابن عباس الإباحة في شيء منه لأنهما محذوران يفزع إليهما حذراً من الوقوع في محذور أشد منه كما يفزع إلى تناول الميتة حذراً من هلاك النفس فليس ترجيح أهون الشرين في معنى الإباحة المطلقة ولا في معنى الخير المطلق وليس قطع اليد المتآكلة من الخيرات وإن كان يؤذن فيه عند إشراف النفس على الهلاك فإذاً في النكاح فضل من هذا الوجه ولكن هذا لا يعم الكل بل الأكثر فرب شخص فترت شهوته لكبر سن أو مرض أو غيره فينعدم هذا الباعث في حقه ويبقى ما سبق من أمر الولد

Diriwayatkan bahwa pada suatu hari orang-orang membubarkan diri dari majelis Ibnu Abbas, sementara seorang pemuda tetap bertahan dan tidak beranjak. Ibnu Abbas bertanya kepadanya: "Apakah engkau memiliki suatu keperluan?" Pemuda itu menjawab: "Ya, aku ingin menanyakan suatu masalah, tetapi aku merasa malu di hadapan orang banyak, dan sekarang pun aku merasa segan dan menghormatimu." Ibnu Abbas berkata: "Sesungguhnya seorang alim itu berkedudukan seperti orang tua, maka apa yang hendak engkau sampaikan kepada ayahmu, sampaikanlah kepadaku." Pemuda itu berkata: "Aku seorang pemuda yang belum beristri dan terkadang aku mengkhawatirkan timbulnya perzinahan atas diriku, sehingga terkadang aku melakukan masturbasi dengan tanganku. Apakah pada hal itu terdapat kemaksiatan?" Ibnu Abbas berpaling darinya lalu berkata: "Cih dan cis! Menikahi budak wanita itu lebih baik darinya, dan itu (masturbasi) masih lebih baik daripada zina." Ini adalah peringatan bahwa seorang bujang yang bergejolak syahwatnya berada di antara tiga keburukan: yang paling ringan adalah menikahi budak wanita—meski di dalamnya terdapat risiko memperbudak anak; yang lebih berat darinya adalah masturbasi dengan tangan; dan yang paling keji adalah zina. Ibnu Abbas tidak memutlakkan kebolehan pada satu pun dari hal itu, karena keduanya merupakan perkara yang dilarang yang terpaksa dituju demi menghindari keburukan yang lebih berat, sebagaimana seseorang terpaksa memakan bangkai demi menghindari kebinasaan jiwa. Maka mengutamakan keburukan yang lebih ringan bukan berarti kebolehan yang mutlak dan bukan pula kebaikan yang mutlak. Memotong tangan yang membusuk bukanlah termasuk kebaikan, meskipun hal itu diizinkan ketika jiwa berada di ambang kebinasaan. Dengan demikian, dalam pernikahan terdapat keutamaan dari sisi ini. Namun, hal ini tidak berlaku bagi semua orang, melainkan bagi mayoritas. Sebab, bisa jadi seseorang syahwatnya telah melemah karena usia lanjut, sakit, atau sebab lainnya, sehingga dorongan ini menjadi tidak ada padanya dan yang tersisa hanyalah perkara anak sebagaimana dijelaskan sebelumnya.

فإن ذلك عام إلا للممسوح

karena hal tersebut bersifat umum kecuali bagi orang yang dikebiri (mamsūḥ),

وهو نادر ومن الطباع ما تغلب عليها الشهوة بحيث لا تحصنه المرأة الواحدة فيستحب لصاحبها الزيادة على الواحدة إلى الأربع فإن يسر الله له مودة ورحمة واطمأن قلبه بهن وإلا فيستحب له الاستبدال فقد نكح علي ﵁ بعد وفاة فاطمة ﵍ بسبع ليال ويقال إن الحسن بن علي كان منكاحاً حتى نكح زيادة على مائتي امرأة وكان ربما عقد على أربع في وقت واحد وربما طلق أربعاً في وقت واحد واستبدل بهن وقد قال ﷺ للحسن أشبهت خلقي وخلقي

dan hal itu tergolong langka. Di antara watak manusia ada yang syahwatnya sangat dominan sehingga satu orang istri tidak cukup untuk menjaga kesucian dirinya. Maka dianjurkan bagi orang tersebut untuk menambah lebih dari satu hingga empat istri. Jika Allah mudahkan baginya kasih sayang (mawaddah) dan rahmat serta hatinya merasa tenang bersama mereka, (maka cukuplah); jika tidak, dianjurkan baginya untuk menggantinya. Ali ra. pernah menikah lagi tujuh malam setelah wafatnya Fatimah ra. Dikatakan pula bahwa Al-Hasan bin Ali ra. adalah seorang yang sering menikah hingga beliau menikah lebih dari dua ratus wanita; terkadang beliau menikahi empat wanita sekaligus dalam satu waktu dan terkadang menceraikan empat wanita sekaligus dalam satu waktu lalu menggantinya dengan yang lain. Rasulullah ﷺ sungguh telah bersabda kepada Al-Hasan: "Engkau menyerupai bentuk fisikku dan akhlakku."

وقال ﷺ حسن مني وحسين من علي

Dan Beliau ﷺ bersabda: "Hasan berasal dariku dan Husain berasal dari Ali."

فقال إن كثرة نكاحه أحد ما أشبه به خلق رسول الله ﷺ وتزوج المغيرة بن شعبة بثمانين امرأة وكان في الصحابة من له الثلاث والأربع ومن كان له اثنتان لا يحصى ومهما كان الباعث معلوماً فينبغي أن يكون العلاج بقدر العلة فالمراد تسكين النفس فلينظر إليه في الكثرة والقلة

Maka dikatakan bahwa banyaknya pernikahan beliau (Al-Hasan) adalah salah satu bentuk kemiripannya dengan akhlak Rasulullah ﷺ. Al-Mughirah bin Syu'bah juga pernah menikahi delapan puluh wanita, dan di antara para sahabat ada yang memiliki tiga atau empat istri, sedangkan yang memiliki dua istri tidak terhitung jumlahnya. Selama dorongannya telah diketahui, hendaknya pengobatannya disesuaikan dengan kadar penyakitnya; sebab yang dimaksudkan adalah menenangkan jiwa, maka hendaklah ditakar banyak dan sedikitnya sesuai kebutuhan tersebut.

الفائدة الثالثة ترويح النفس وإيناسها بالمجالسة والنظر والملاعبة إراحة للقلب وتقوية له على العبادة فإن النفس ملول وهي عن الحق نفور لأنه على خلاف طبعها فلو كلفت المداومة بالإكراه على ما يخالفها جمحت وثابت وإذا روحت باللذات في بعض الأوقات قويت ونشطت وفي الاستئناس بالنساء من الاستراحة ما يزيل الكرب ويروح القلب وينبغي أن يكون لنفوس المتقين استراحات بالمباحات ولذلك قال الله تعالى ﴿ليسكن إليها﴾ وقال علي ﵁ روحوا القلوب ساعة فإنها إذا أكرهت عميت

Manfaat ketiga: Menghibur jiwa dan melembutkannya dengan duduk bersama, memandang, serta bercumbu rayu sebagai bentuk peristirahatan bagi hati dan penguat baginya untuk melaksanakan ibadah. Sebab, jiwa itu mudah bosan dan cenderung berpaling dari kebenaran karena kebenaran itu berseberangan dengan tabiat dasarnya. Jika jiwa dipaksa untuk terus-menerus melakukan hal yang bertentangan dengannya, ia akan membangkang dan lari. Namun jika dihibur dengan kelezatan-kelezatan pada sebagian waktu, ia akan menjadi kuat dan bersemangat kembali. Dalam bersenda gurau dengan para wanita terdapat peristirahatan yang dapat menghilangkan kesedihan dan menyegarkan hati. Hendaknya jiwa orang-orang yang bertakwa memiliki waktu-waktu istirahat melalui hal-hal yang dimubahkan. Oleh karena itu, Allah Ta'ala berfirman: "Agar dia merasa tenteram kepadanya" (QS. Al-A'raf: 189). Dan Ali ra. berkata: "Istirahatkanlah hati itu sesaat, karena sesungguhnya hati jika dipaksa akan menjadi buta."

وفي الخبر على العاقل أن يكون له ثلاث ساعات ساعة يناجي فيها ربه وساعة يحاسب فيها نفسه وساعة يخلو فيها مطعمه ومشربه فإن في هذه الساعة عوناً على تلك الساعات

Dan dalam riwayat disebutkan: "Wajib bagi orang yang berakal untuk memiliki tiga pembagian waktu: satu waktu untuk bermunajat kepada Tuhannya, satu waktu untuk mengintrospeksi (muḥāsabah) dirinya, dan satu waktu untuk menyendiri memenuhi kebutuhan makan dan minumnya, karena sesungguhnya waktu yang ini menjadi penopang bagi waktu-waktu lainnya."

ومثله بلفظ آخر لا يكون العاقل ظاعناً إلا في ثلاث تزود لمعاد أو مرمة لمعاش أو لذة في غير محرم

Dan yang serupa dengannya dalam redaksi lain: "Tidaklah orang berakal itu bepergian kecuali untuk tiga hal: bekal untuk hari akhirat (ma'ād), memperbaiki penghidupan (ma'āsy), atau menikmati kelezatan pada hal yang tidak diharamkan."

وقال ﷺ لكل عامل شرة ولكل شرة فترة فمن كانت فترته إلى سنتي فقد اهتدى

Dan Beliau ﷺ bersabda: "Setiap pengamal kebaikan memiliki masa semangat (syirrah), dan setiap masa semangat memiliki masa jenuh (fatrah). Maka barang siapa yang masa jenuhnya tetap mengarah pada sunnahku, sungguh ia telah mendapat petunjuk."

والشرة الجد والمكابدة بحدة وقوة وذلك في ابتداء الإرادة والفترة الوقوف للإستراحة وكان أبو الدرداء يقول إني لأستجم نفسي بشيء من اللهو لأتقوى بذلك فيما بعد على الحق

Adapun 'syarah' (semangat yang meluap) adalah kesungguhan dan perjuangan keras dengan ketajaman dan kekuatan, dan hal itu terjadi pada permulaan kehendak (iradah). Sedangkan 'fatrah' adalah berhenti untuk beristirahat. Abu ad-Darda' radhiyallahu 'anhu pernah berkata: 'Sesungguhnya aku menyegarkan jiwaku dengan sesuatu dari hiburan (yang mubah), agar dengan begitu aku menjadi lebih kuat dalam menunaikan kebenaran di kemudian waktu.'

وفي بعض الأخبار عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ أنه قال شكوت إلى جبريل ﵇ ضعفي عن الوقاع فدلني على الهريسة حديث شكوت إلى جبريل ضعفي عن الوقاع فدلني على الهريسة أخرجه ابن عدي من حديث حذيفة وابن عباس والعقيلي من حديث معاذ وجابر بن سمرة وابن حبان في الضعفاء من حديث حذيفة والأزدي في الضعفاء من حديث أبي هريرة بطرق كلها ضعيفة قال ابن عدي موضوع وقال العقيلي باطل حديث حبب إلي من دنياكم الطيب والنساء وقرة عيني في الصلاة رواه النسائي والحاكم من حديث أنس بإسناد جيد وضعفه العقيلي //

Dan dalam sebagian riwayat dari Rasulullah ﷺ beliau bersabda: "Aku mengadukan kepada Jibril 'alaihis salam tentang kelemahanku dalam bersetubuh, lalu ia menunjukkanku kepada harisah (sejenis makanan penguat)." [Hadis: "Aku mengadukan kepada Jibril kelemahanku dalam bersetubuh…" Diriwayatkan oleh Ibn 'Adi dari hadis Hudzaifah dan Ibn 'Abbas, Al-'Uqaili dari hadis Mu'adz dan Jabir bin Samurah, Ibn Hibban dalam Kitab adh-Dhu'afa' dari hadis Hudzaifah, dan Al-Azdi dalam adh-Dhu'afa' dari hadis Abu Hurairah, dengan jalur-jalur yang semuanya dha'if. Ibn 'Adi berkata: "Maudhu' (palsu)", dan Al-'Uqaili berkata: "Bathil". Hadis: "Dijadikan aku menyukai dari dunia kalian: wewangian dan wanita, dan dijadikan penyejuk mataku di dalam shalat." Diriwayatkan oleh An-Nasa'i dan Al-Hakim dari hadis Anas dengan sanad yang jayyid (baik), namun didha'ifkan oleh Al-'Uqaili.]

فهذه أيضاً فائدة لا ينكرها من جرب إتعاب نفسه في الأفكار والأذكار وصنوف الأعمال وهي خارجة عن

Maka ini juga merupakan suatu manfaat yang tidak dimungkiri oleh siapa saja yang pernah mencoba meletihkan jiwanya dalam tafakur, zikir, dan berbagai macam amal perbuatan, dan manfaat ini berada di luar…

الفائدتين السابقتين حتى إنها تطرد في حق الممسوح ومن لا شهوة له إلا أن هذه الفائدة تجعل للنكاح فضيلة بالإضافة إلى هذه النية وقل من يقصد بالنكاح ذلك

…dua manfaat terdahulu, sehingga hal ini berlaku pula bagi orang yang terhimpit kakinya/kebiri (mamsuh) dan orang yang tidak memiliki syahwat. Hanya saja, manfaat ini menjadikan pernikahan memiliki keutamaan jika dikaitkan dengan niat ini, meskipun sedikit sekali orang yang bermaksud menikah untuk tujuan tersebut.

وأما قصد الولد وقصد دفع الشهوة وأمثالها فهو مما يكثر ثم رب شخص يستأنس بالنظر إلى الماء الجاري والخضرة وأمثالها ولا يحتاج إلى ترويح النفس بمحادثة النساء وملاعبتهن

Adapun niat untuk mendapatkan anak, menyalurkan syahwat, dan seumpamanya, maka hal itu termasuk hal yang umum terjadi. Kemudian, betapa banyak orang yang merasa terhibur hanya dengan memandang air yang mengalir, dedaunan hijau, dan sejenisnya, tanpa membutuhkan penyegaran jiwa melalui bercakap-cakap dengan wanita atau bercanda gurau dengan mereka.

فيختلف هذا باختلاف الأحوال والأشخاص فليتنبه له

Maka hal ini berbeda-beda sesuai dengan perbedaan keadaan dan pribadi masing-masing, hendaknya hal ini diperhatikan.

الفائدة الرابعة تفريغ القلب عن تدبير المنزل والتكفل بشغل الطبخ والكنس والفرش وتنظيف الأواني وتهيئة أسباب المعيشة فإن الإنسان لو لم يكن له شهوة الوقاع لتعذر عليه العيش في منزله وحده إذ لو تكفل بجميع أشغال المنزل لضاع أكثر أوقاته ولم يتفرغ للعلم والعمل فالمرأة الصالحة للمنزل عون على الدين بهذه الطريق واختلال هذه الأسباب شواغل ومشوشات للقلب ومنغصات للعيش ولذلك قال أبو سليمان الداراني ﵀ الزوجة الصالحة ليست من الدنيا فإنها تفرغك للآخرة وإنما تفريغها بتدبير المنزل وبقضاء الشهوة جميعاً

Manfaat keempat: Mengosongkan hati (dari beban pikiran) dalam mengurus rumah tangga dan menanggung kesibukan memasak, menyapu, menggelar tempat tidur, membersihkan bejana-bejana, serta menyiapkan sarana kehidupan. Sebab, jikalau manusia tidak memiliki syahwat bersetubuh pun, sungguh akan sulit baginya untuk hidup di rumahnya seorang diri; karena jika ia harus mengurus seluruh pekerjaan rumah tangga sendirian, tentulah sebagian besar waktunya akan habis dan ia tidak memiliki waktu luang untuk ilmu dan amal. Maka wanita solehah di dalam rumah tangga merupakan penolong bagi agama melalui jalan ini. Ketiadaan atau kekacauan sarana-sarana ini menjadi pengalih dan pengganggu hati serta keruhan kehidupan. Oleh karena itu, Abu Sulaiman ad-Darani rahmatullah 'alaih berkata: "Istri yang solehah itu bukanlah bagian dari dunia, karena ia membebaskan (hati)-mu untuk (menghadap) akhirat. Dan pembebasannya itu terjadi melalui pengurusan rumah tangga sekaligus pemenuhan syahwat secara bersamaan."

وقال محمد بن كعب القرظي في معنى قوله تعالى ربنا آتنا في الدنيا حسنة قال المرأة الصالحة

Dan Muhammad bin Ka'b al-Qurazhi berkata mengenai makna firman Allah Ta'ala: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia" (QS. Al-Baqarah: 201), beliau berkata: "Maksudnya adalah istri yang solehah."

وقال ﷺ ليتخذ أحدكم قلباً شاكراً ولساناً ذاكراً وزوجة مؤمنة صالحة تعينه على آخرته

Dan Rasulullah ﷺ bersabda: "Hendaklah salah seorang dari kalian memiliki hati yang bersyukur, lisan yang berzikir, dan istri mukminah yang solehah yang membantunya dalam urusan akhiratnya."

فانظر كيف جمع بينها وبين الذكر والشكر

Maka perhatikanlah bagaimana beliau membandingkan dan menyandingkan antara istri solehah dengan zikir dan syukur.

وفي بعض التفاسير في قوله تعالى فلنحيينه حياة طيبة قال الزوجة الصالحة وكان عمر بن الخطاب ﵁ يقول ما أعطى العبد بعد الإيمان بالله خيراً من امرأة صالحة وإن منهن غنماً لا يحذى منه ومنهن غلالا يفدى منه

Dalam sebagian tafsir mengenai firman Allah Ta'ala: "Maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik" (QS. An-Nahl: 97), dikatakan: "Maksudnya adalah istri yang solehah." Umar bin al-Khattab radhiyallahu 'anhu pernah berkata: "Tidaklah seorang hamba dianugerahi kenikmatan setelah keimanan kepada Allah yang lebih baik daripada seorang istri yang solehah. Dan sesungguhnya di antara wanita itu ada yang bagaikan ghanimah (keuntungan besar) yang tidak dapat ternilai dengan pemberian apa pun, dan ada pula yang bagaikan belenggu yang tidak bisa ditebus."

وقوله لا يحذى أن يعتاض عنه بعطاء

Perkataan beliau 'la yuhdza' artinya tidak dapat digantikan atau ditandingi dengan pemberian (harta) apa pun.

وقال ﷺ فضلت على آدم بخصلتين كانت زوجته عوناً له على المعصية وأزواجي أعوان لي على الطاعة وكان شيطانه كافراً وشيطاني مسلم لا يأمر إلا بخير

Dan Nabi ﷺ bersabda: "Aku diunggulkan atas Adam dengan dua perkara: istrinya dahulu menjadi pembantu baginya dalam maksiat, sedangkan istri-istriku adalah pembantu-pembantuku dalam ketaatan. Dan syaitannya dahulu adalah kafir, sedangkan syaitanku telah masuk Islam sehingga ia tidak menyuruhku kecuali kepada kebaikan."

فعد معاونتها على الطاعة فضيلة فهذه أيضاً من الفوائد التي يقصدها الصالحون إلا أنها تخص بعض الأشخاص الذين لا كافل لهم ولا مدبر ولا تدعو إلى امرأتين بل الجمع ربما ينغص المعيشة ويضطرب به أمور المنزل ويدخل في هذه الفائدة قصد الاستكثار بعشيرتها وما يحصل من القوة بسبب تداخل العشائر فإن ذلك مما يحتاج إليه في دفع الشرور وطلب السلامة ولذلك قيل ذل من لا ناصر له ومن وجد من يدفع عنه الشرور سلم حاله وفرغ قلبه للعبادة فإن الذل مشوش للقلب والعز بالكثرة دافع بالذل

Maka beliau menganggap perbantuan istri dalam ketaatan sebagai suatu keutamaan. Ini juga termasuk manfaat yang dituju oleh orang-orang soleh, hanya saja hal ini khusus bagi sebagian orang yang tidak memiliki orang yang mengurus dan mengatur rumah tangganya, serta tidak menuntut untuk menikahi dua wanita. Bahkan, beristri lebih dari satu (poligami) terkadang justru memperkeruh kehidupan dan mengacaukan urusan rumah tangga. Termasuk pula dalam manfaat ini adalah niat untuk memperbanyak sanak kerabat melalui keluarganya dan kekuatan yang diperoleh dari pertalian kerabat tersebut; sebab hal itu termasuk perkara yang dibutuhkan untuk menolak kejahatan dan mengupayakan keselamatan. Oleh karena itu dikatakan: "Hinalah orang yang tidak memiliki penolong." Dan barang siapa menemukan orang yang dapat menolak kejahatan darinya, maka selamatlah keadaannya dan lapanglah hatinya untuk beribadah. Sebab kehinaan itu mengganggu (ketenangan) hati, sedangkan kemuliaan dengan banyaknya kerabat dapat menolak kehinaan.

الفائدة الخامسة مجاهدة النفس ورياضتها بالرعاية والولاية والقيام بحقوق الأهل والصبر على أخلاقهن واحتمال الأذى منهن والسعي في إصلاحهن وإرشادهن إلى طريق الدين والاجتهاد في كسب الحلال لأجلهن والقيام بتربيته لأولاده فكل هذه أعمال عظيمة الفضل فإنها رعاية وولاية والأهل والولد رعية وفضل الرعاية عظيم إنما يحترز منها من يحترز خيفة من القصور عن القيام بحقها وإلا فقد قال ﷺ يوم من وال عادل أفضل من عبادة سبعين سنة ﴿ثم قال﴾ ألا كلكم راع وكلكم مسئول عن رعيته

Manfaat kelima: Mujahadatun-nafs (perjuangan menundukkan hawa nafsu) dan riyadhah (latihan spiritual) melalui pengayoman, kepemimpinan, menunaikan hak-hak keluarga, bersabar atas perangai mereka, menanggung gangguan dari mereka, berusaha memperbaiki dan membimbing mereka ke jalan agama, bersungguh-sungguh dalam mencari nafkah yang halal demi mereka, serta mendidik anak-anaknya. Semua ini merupakan amal perbuatan yang sangat besar keutamaannya; sebab hal itu adalah bentuk pengayoman dan kepemimpinan, sementara keluarga dan anak adalah rakyat (tanggungan). Keutamaan pengayoman sangatlah besar, dan orang yang berhati-hati darinya hanyalah karena takut akan kekurangan dalam menunaikan haknya. Jika tidak demikian, maka sungguh Nabi ﷺ telah bersabda: "Satu hari dari seorang pemimpin yang adil lebih utama daripada ibadah selama tujuh puluh tahun." Kemudian beliau bersabda: "Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya."

وليس من اشتغل

Dan tidaklah sama orang yang sibuk…

بإصلاح نفسه وغيره كمن اشتغل بإصلاح نفسه فقط ولا من صبر على الأذى كمن رفه نفسه وأراحها فمقاساة الأهل والولد بمنزلة الجهاد في سبيل الله ولذلك قال بشر فضل علي أحمد بن حنبل بثلاث إحداها أنه يطلب الحلال لنفسه ولغيره وقد قال ﷺ ما أنفقه الرجل على أهله فهو صدقة وإن الرجل ليؤجر في اللقمة يرفعها إلي في امرأته

…dengan memperbaiki dirinya dan orang lain seperti orang yang hanya sibuk memperbaiki dirinya sendiri saja. Tidak pula sama orang yang bersabar atas gangguan dengan orang yang memanjakan jiwanya dan mencari kenyamanan. Maka menanggung kesulitan dalam mengurus keluarga dan anak berkedudukan seperti jihad di jalan Allah. Oleh karena itu, Bisyr berkata: "Ahmad bin Hanbal mengungguli aku dalam tiga perkara, salah satunya adalah bahwasanya beliau mencari rezeki yang halal untuk dirinya dan untuk orang lain." Dan sungguh Nabi ﷺ telah bersabda: "Apa yang dinafkahkan oleh seseorang kepada keluarganya adalah sedekah, dan sesungguhnya seseorang benar-benar diberi pahala atas sesuap makanan yang dia angkat ke mulut istrinya."

وقال بعضهم لبعض العلماء من كل عمل أعطاني الله نصيباً حتى ذكر الحج والجهاد وغيرهما فقال له أين أنت من عمل الأبدان قال وما هو قال كسب الحلال والنفقة على العيال

Seseorang pernah berkata kepada sebagian ulama: "Dalam setiap amal perbuatan, Allah telah memberiku bagian," hingga ia menyebutkan haji, jihad, dan selain keduanya. Maka ulama itu berkata kepadanya: "Di manakah kedudukanmu dari amalan para pejuang sejati (abdan)?" Ia bertanya: "Apakah amalan itu?" Ulama itu menjawab: "Mencari rezeki yang halal dan memberikan nafkah kepada keluarga."

وقال ابن المبارك وهو مع إخوانه في الغزو تعلمون عملاً أفضل مما نحن فيه قالوا ما نعلم ذلك

Abdullah bin al-Mubarak pernah berkata ketika beliau sedang bersama saudara-saudaranya dalam peperangan (jihad): "Apakah kalian mengetahui suatu amal yang lebih utama daripada apa yang sedang kita lakukan ini?" Mereka menjawab: "Kami tidak mengetahuinya."

قال أنا أعلم قالوا فما هو قال رجل متعفف ذو عائلة قام من الليل فنظر إلى صبيانه نياماً متكشفين فسترهم وغطاهم بثوبه فعمله أفضل مما نحن فيه

Beliau berkata: "Aku mengetahuinya." Mereka bertanya: "Apakah itu?" Beliau menjawab: "Seorang laki-laki yang menjaga kehormatan dirinya lagi memiliki tanggungan keluarga, ia bangun di malam hari lalu melihat anak-anaknya yang masih kecil tertidur dalam keadaan tersingkap penutup tubuhnya, lalu ia menutup dan menyelimuti mereka dengan pakaiannya; maka amalnya itu lebih utama daripada apa yang sedang kita lakukan ini."

وقال ﷺ من حسنت صلاته وكثر عياله وقل ماله ولم يغتب المسلمين كان معي في الجنة كهاتين

Dan Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang salatnya baik, banyak keluarganya (tanggungannya), sedikit hartanya, dan tidak menggunjing kaum muslimin, maka ia bersamaku di dalam surga seperti kedua jari ini."

وفي حديث آخر إن الله يحب الفقير المتعفف أبا العيال

Dan dalam hadis yang lain: "Sesungguhnya Allah menyukai orang fakir yang memelihara kehormatan dirinya serta menjadi kepala keluarga yang menanggung anak istri."

وفي الحديث إذا كثرت ذنوب العبد ابتلاه الله بهم العيال ليكفرها عنه

Dan dalam sebuah hadis: "Apabila dosa seorang hamba telah menumpuk, maka Allah akan mengujinya dengan kesusahan mengurus keluarga untuk menghapuskan dosa-dosa tersebut darinya."

وقال بعض السلف

Sebagian ulama Salaf berkata:

من الذنوب ذنوب لا يكفرها إلا الغم بالعيال وفيه أثر عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ أنه قال من الذنوب ذنوب لا يكفرها إلا الهم بطلب المعيشة

"Di antara dosa-dosa, ada dosa yang tidak dapat dihapuskan kecuali oleh dukacita dalam mengurus keluarga." Dan mengenai hal ini terdapat riwayat dari Rasulullah ﷺ bahwasanya beliau bersabda: "Di antara dosa-dosa, ada dosa yang tidak dapat dihapuskan kecuali oleh kesusahan dalam mencari penghidupan."

وَقَالَ ﷺ مَنْ كَانَ له ثلاث بنات فأنفق عليهن وأحسن إليهن حتى يغنيهن الله عنه أوجب الله له الجنة ألبتة ألبتة إلا أن يعمل عملاً لا يغفر له

Dan beliau ﷺ bersabda: "Barangsiapa mempunyai tiga anak perempuan, lalu ia menafkahi mereka dan berbuat baik kepada mereka hingga Allah mencukupi mereka darinya, niscaya Allah mewajibkan surga baginya pasti, pasti, kecuali jika ia melakukan perbuatan yang tidak diampuni-Nya."

وكان ابن عباس إذا حدث بهذا قال

Dan Ibnu Abbas r.a. apabila menyampaikan hadis ini, beliau berkata:

والله هو من غرائب الحديث وغرره

"Demi Allah, hadis ini termasuk hadis-hadis yang sangat indah dan tergolong mulia."

وروي أن بعض المتعبدين كان يحسن القيام على زوجته إلى أن ماتت

Diriwayatkan bahwa sebagian ahli ibadah senantiasa berbuat baik dalam mengurus istrinya hingga sang istri meninggal dunia.

فعرض عليه التزويج فامتنع وقال الوحدة أروح لقلبي وأجمع لهمي ثم قال رأيت في المنام بعد جمعة من وفاتها كأن أبواب السماء فتحت وكأن رجالاً ينزلون ويسيرون في الهواء يتبع بعضهم بعضاً فكلما نزل واحد نظر إلي وقال لمن وراءه هذا هو المشئوم فيقول الآخر نعم ويقول الثالث كذلك ويقول الرابع نعم فخفت أن أسألهم هيبة من ذلك إلى أن مر بي آخرهم وكان غلاماً فقلت له يا هذا من هذا المشئوم الذي تؤمئون إليه فقال أنت

Lalu ditawarkan kepadanya untuk menikah lagi, namun ia menolak dan berkata, "Menyendiri itu lebih menenangkan hatiku dan lebih menyatukan konsentrasi ibadahku." Kemudian ia menceritakan, "Seminggu setelah wafatnya istriku, aku bermimpi seakan-akan pintu-pintu langit dibuka dan beberapa laki-laki turun serta berjalan di udara saling menyusul satu sama lain. Setiap kali seorang dari mereka turun, ia memandangku dan berkata kepada orang di belakangnya, 'Inilah orang yang sial itu.' Yang lain menjawab, 'Ya.' Yang ketiga berkata demikian pula, dan yang keempat pun mengiyakan. Aku merasa takut untuk bertanya kepada mereka karena wibawa mereka, hingga berpapasan denganku orang yang terakhir di antara mereka yang masih berupa seorang pemuda. Maka aku bertanya kepadanya, 'Wahai Fulan, siapakah orang sial yang kalian tunjuk itu?' Ia menjawab, 'Engkau.'

فقلت ولم ذاك قال كنا نرفع عملك في أعمال المجاهدين في سبيل الله فمنذ جمعة أمرنا أن نضع عملك مع الخالفين فما ندري ما أحدثت فقال لإخوانه زوجوني زوجوني فلم يكن تفارقه زوجتان أو ثلاث

Aku bertanya, "Mengapa demikian?" Ia menjawab, "Dahulu kami mengangkat amalmu bersama amalan para mujahid di jalan Allah. Namun sejak seminggu lalu, kami diperintahkan untuk menempatkan amalmu bersama orang-orang yang tertinggal dari perjuangan, maka kami tidak tahu perkara baru apa yang telah engkau perbuat." Lalu lelaki ahli ibadah itu berkata kepada saudara-saudaranya, "Nikahkanlah aku, nikahkanlah aku!" Maka setelah itu ia tidak pernah berpisah dari dua atau tiga orang istri.

وفي أخبار الأنبياء ﵈ أن قوماً دخلوا على يونس النبي ﵇ فأضافهم فكان يدخل ويخرج إلى منزله فتؤذيه امرأته وتستطيل عليه وهو ساكت فتعجبوا من ذلك فقال لا تعجبوا فإني سألت الله تعالى وقلت ما أنت معاقب لي به في الآخرة فعجله لي في الدنيا فقال إن عقوبتك بنت فلان تتزوج بها فتزوجت بها وأنا صابر على ما ترون منها وفي الصبر على ذلك رياضة النفس وكسر الغضب

Dalam kisah para nabi alaihimussalam disebutkan bahwa suatu kaum bertamu kepada Nabi Yunus a.s., lalu beliau menjamu mereka. Beliau keluar-masuk kediamannya, sementara istrinya menyakiti dan mencelanya, sedangkan beliau hanya diam. Mereka pun merasa heran atas hal itu. Maka beliau berkata, "Janganlah kalian heran, sesungguhnya aku pernah memohon kepada Allah Ta'ala: 'Apa pun hukuman yang hendak Engkau timpakan kepadaku di akhirat, segerakanlah bagiku di dunia.' Lalu Allah berfirman: 'Hukumanmu adalah putri si Fulan, engkau akan menikahi dirinya.' Maka aku pun menikahinya, dan aku bersabar atas apa yang kalian lihat darinya. Dan dalam bersabar atas hal itu terdapat riyadhah (latihan penyucian) jiwa serta penundukan amarah."

وتحسين الخلق فإن المنفرد بنفسه أو المشارك لمن حسن خلقه لا تترشح منه خبائث النفس الباطنة ولا تنكشف بواطن عيوبه فحق على سالك الطريق الآخرة أن يجرب نفسه بالتعرض لأمثال هذه المحركات واعتياد الصبر عليها لتعتدل أخلاقه وترتاض نفسه ويصفو عن الصفات الذميمة باطنه والصبر على العيال مع أنه رياضة ومجاهدة تكفل لهم وقيام بهم وعبادة في نفسها فهذه أيضاً من الفوائد ولكنه لا ينتفع بها إلا أحد رجلين إما رجل قصد المجاهدة والرياضة وتهذيب الأخلاق لكونه في بداية الطريق فلا يبعد أن يرى هذا طريقاً في المجاهدة وترتاض به نفسه

"Serta pembentukan akhlak mulia. Sebab, orang yang menyendiri atau hanya bergaul dengan orang yang berakhlak baik, tidak akan nampak keburukan batin jiwanya dan tidak akan terungkap cela batinnya. Maka sudah sepatutnya bagi penempuh jalan akhirat (salik) untuk menguji jiwanya dengan menyongsong hal-hal yang memicu hal tersebut serta membiasakan bersabar atasnya, agar akhlaknya menjadi seimbang, jiwanya terlatih, dan batinnya bersih dari sifat-sifat tercela. Bersabar atas keluarga—di samping sebagai bentuk riyadhah dan mujahadah—merupakan bentuk penanggungan dan pengurusan terhadap mereka, yang pada hakikatnya adalah ibadah tersendiri. Ini juga termasuk manfaat pernikahan. Namun, manfaat ini tidak dapat dirasakan kecuali oleh salah satu dari dua kelompok: pertama, seseorang yang bermaksud melakukan mujahadah, riyadhah, dan pembersihan akhlak karena ia masih berada di awal perjalanan (permulaan suluk), maka tidak heran jika ia memandang hal ini sebagai sarana mujahadah untuk melatih jiwanya."

وإما رجل من العابدين ليس له سير بالباطن وحركة بالفكر والقلب وإنما عمله عمل الجوارح بالصلاة أو حج أو غيره فعمله لأهله وأولاده بكسب الحلال لهم والقيام بتربيتهم أفضل له من العبادات اللازمة لبدنه التي لا يتعدى خيرها إلى غيرها فأما الرجل المهذب الأخلاق إما بكفاية في أصل الخلقة أو بمجاهدة سابقة إذا كان له سير في الباطن وحركة بفكر القلب في العلوم والمكاشفات فلا ينبغي أن يتزوج لهذا الغرض فإن الرياضة هو مكفي فيها

"Dan kedua, seseorang dari kalangan ahli ibadah ('abid) yang tidak memiliki perjalanan batin (sain ilallah) serta pergerakan pemikiran dan hati, di mana amalnya hanyalah amalan anggota badan seperti salat, haji, atau lainnya. Maka amalnya untuk keluarga dan anak-anaknya dengan mencari rezeki yang halal bagi mereka serta mengurus pendidikan mereka adalah lebih utama baginya daripada ibadah-ibadah yang manfaatnya terbatas pada fisiknya sendiri dan tidak meluas kepada orang lain. Adapun seseorang yang telah bersih akhlaknya—baik karena pembawaan fitrah sejak lahir maupun hasil mujahadah sebelumnya—jika ia memiliki perjalanan batin dan pengembaraan pemikiran hati dalam ilmu-ilmu dan mukasyafah, maka tidak sepantasnya ia menikah semata-mata untuk tujuan ini (riyadhah jiwa), karena kebutuhan riyadhah baginya telah tercukupi."

وأما العبادة في العمل بالكسب لهم فالعلم أفضل من ذلك لأنه أيضاً عمل وفائدته أكثر من ذلك وأعم وأشمل لسائر الخلق من فائدة الكسب على العيال فهذه فوائد النكاح في الدين التي بها يحكم له بالفضيلة

"Adapun nilai ibadah dalam bekerja mencari nafkah untuk keluarga, maka kesibukan menuntut ilmu lebih utama dari hal itu; karena ilmu juga merupakan suatu amal, dan manfaatnya jauh lebih banyak, lebih umum, serta lebih mencakup seluruh makhluk daripada manfaat mencari nafkah untuk keluarga. Inilah manfaat-manfaat pernikahan dalam agama yang dengannya pernikahan dinilai memiliki keutamaan."

أما آفات النكاح فثلاث

Adapun bahaya (dampak buruk) dari pernikahan ada tiga perkara:

الأولى وهي أقواها العجز عن طلب الحلال فإن ذلك لا يتيسر لكل أحد لا سيما في هذه الأوقات مع اضطراب المعايش فيكون النكاح سبباً في التوسع للطلب والإطعام من الحرام وفيه هلاكه وهلاك أهله والمتعزب في أمن من ذلك وأما المتزوج ففي الأكثر يدخل في مداخل السوء فيتبع هوى زوجته ويبيع آخرته بدنياه

Yang pertama, dan ini yang paling berat, adalah ketidakmampuan mencari nafkah yang halal. Sebab, hal itu tidak mudah bagi setiap orang, lebih-lebih pada masa sekarang dengan tidak menentunya sarana penghidupan. Sehingga pernikahan menjadi sebab terdorongnya seseorang untuk melampaui batas dalam mencari rezeki dan memberi makan dari harta yang haram. Di sinilah letak kebinasaan dirinya dan kebinasaan keluarganya, sedangkan orang yang membujang berada dalam keselamatan dari hal tersebut. Adapun orang yang menikah, sering kali ia terjerumus ke dalam jalan-jalan keburukan, menuruti hawa nafsu istrinya, dan menjual akhiratnya demi dunianya.

وفي الخبر إن العبد ليوقف عند الميزان وله من الحسنات أمثال الجبال فيسأل عن رعاية عائلته والقيام بهم وعن ماله من أين اكتسبه وفيم أنفقه حتى يستغرق بتلك المطالبات كل أعماله فلا تبقى له حسنة فتنادي الملائكة هذا الذي أكل عياله حسناته في الدنيا وارتهن اليوم بأعماله

Dalam sebuah riwayat disebutkan: "Sesungguhnya seorang hamba benar-benar diberhentikan di dekat timbangan (mizan) sedang ia memiliki kebaikan sebesar gunung-gunung. Lalu ia ditanyai tentang pengurusan dan pemeliharaan terhadap keluarganya, serta tentang hartanya dari mana ia memperolehnya dan untuk apa ia menginfakkannya, hingga seluruh amalnya habis terikat oleh tuntutan-tuntutan tersebut dan tidak tersisa lagi satu pun kebaikan baginya. Maka malaikat pun menyeru, 'Inilah orang yang kebaikannya dihabiskan oleh keluarganya sewaktu di dunia, dan hari ini ia tergadai oleh perbuatannya sendiri.'"

ويقال إن أول ما يتعلق بالرجل في القيامة أهله وولده فيوقفونه بين يدي الله تعالى ويقولون يا ربنا خذ لنا بحقنا منه فإنه ما علمنا ما نجهل وكان يطعمنا الحرام ونحن لا نعلم فيقتص لهم منه

Dan dikatakan bahwa hal pertama yang akan menuntut seorang laki-laki pada hari kiamat adalah istri dan anaknya. Mereka menghentikannya di hadapan Allah Ta'ala seraya berkata, "Wahai Tuhan kami, ambilkanlah hak kami darinya, karena sesungguhnya ia tidak mengajarkan kepada kami apa yang tidak kami ketahui, dan ia biasa memberi kami makan dari hasil yang haram sedangkan kami tidak mengetahuinya." Maka Allah memberikan qisas (pembalasan) bagi mereka dari dirinya.

وقال بعض السلف إذا أراد الله بعبد شراً سلط عليه في الدنيا أنياباً تنهشه يعني العيال

Sebagian ulama Salaf berkata, "Apabila Allah menghendaki keburukan bagi seorang hamba, niscaya Dia menguasakan atasnya di dunia taring-taring yang mencabiknya, yaitu sanak keluarganya."

وقال ﷺ لا يلقى الله أحد بذنب أعظم من جهالة أهله

Dan Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidak ada seorang pun yang menemui Allah dengan membawa dosa yang lebih besar daripada membiarkan keluarganya berada dalam kebodohan (agama)."

فهذه آفة عامة قل من يتخلص منها إلا من له مال موروث أو مكتسب من حلال يفي به وبأهله وكان له من القناعة ما يمنعه من الزيادة فإن ذاك يتخلص من هذه الآفة أو من هو محترف ومقتد على كسب حلال من المباحات باحتطاب أو اصطياد أو كان في صناعة لا تتعلق بالسلاطين ويقدر على أن يعامل به أهل الخير ومن ظاهره السلامة وغالب ماله الحلال وقال ابن سالم ﵀ وقد سئل عن التزويج فقال هو أفضل في زماننا هذا لمن أدركه شبق غالب مثل الحماريري الأتان فلا ينتهي عنها بالضرب ولا يملك نفسه فإن ملك نفسه فتركه أولى

Maka ini adalah bahaya yang bersifat umum, sedikit sekali orang yang bisa selamat darinya, kecuali orang yang memiliki harta warisan atau harta pencaharian yang halal yang mencukupi untuk dirinya dan keluarganya, serta memiliki sifat qana'ah (merasa cukup) yang mencegahnya dari menuntut kemewahan lebih; maka orang seperti itu akan selamat dari bahaya ini. Atau orang yang memiliki profesi dan mampu mengusahakan nafkah halal dari hal-hal yang mubah seperti mencari kayu bakar, berburu, atau bekerja pada kerajinan yang tidak berhubungan dengan penguasa (sultan) serta mampu bertransaksi dengan orang-orang baik yang secara lahiriah tampak selamat (bersih) dan mayoritas hartanya adalah halal. Ibnu Salim *rahimahullah* pernah ditanya tentang pernikahan, lalu beliau menjawab, "Menikah itu lebih utama di zaman kita ini bagi orang yang dikuasai gejolak syahwat yang sangat hebat—seperti keledai jantan yang melihat keledai betina sehingga tidak terhalangi meskipun dipukul dan tidak sanggup menguasai dirinya. Namun jika ia masih sanggup menguasai dirinya, maka meninggalkannya (tidak menikah) adalah lebih utama."

الآفة الثانية القصور عن القيام بحقهن والصبر على أخلاقهن واحتمال الأذى منهن وهذه دون الأولى في العموم فإن القدرة على هذا أيسر من القدرة على الأولى وتحسين الخلق مع النساء والقيام بحظوظهن أهون من طلب الحلال وفي هذا أيضاً خطر لأنه راع ومسئول عن رعيته

Bahaya kedua adalah ketidakmampuan untuk menunaikan hak-hak mereka (para istri), bersabar atas perangai buruk mereka, serta menanggung gangguan dari mereka. Bahaya ini kadar keumumannya di bawah bahaya yang pertama, sebab kemampuan untuk menghadapi hal ini lebih mudah daripada kemampuan menghadapi bahaya yang pertama. Memperbaiki akhlak terhadap para wanita dan menunaikan hak-hak mereka itu lebih ringan daripada mencari rezeki yang halal. Meski demikian, di dalam hal ini juga terdapat bahaya besar, karena seorang suami adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya (keluarganya).

وقال ﷺ كفى بالمرء إثماً أن يضيع من يعول

Dan Rasulullah ﷺ bersabda, "Cukuplah seseorang dianggap berdosa jika ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya."

وروي أن الهارب من عياله بمنزلة العبد الهارب الآبق لا تقبل له صلاة ولا صيام حتى يرجع إليهم ومن يقصر عن القيام بحقهن وإن كان حاضراً فهو بمنزلة هارب فقد قال تعالى ﴿قوا أنفسكم وأهليكم ناراً﴾ أمرنا أن نقيهم النار كما نقي أنفسنا والإنسان قد يعجز عن القيام بحق نفسه وإذا تزوج تضاعف عليه الحق وانضافت إلى نفسه نفس أخرى والنفس أمارة بالسوء إن كثرت عليها الحقوق كثر الأمر بالسوء غالباً ولذلك اعتذر بعضهم من التزويج وقال أنا مبتلي بنفسي وكيف أضيف إليها نفساً أخرى كما قيل

Dan diriwayatkan bahwa orang yang lari dari tanggung jawab keluarganya itu berkedudukan seperti seorang budak yang kabur; shalat dan puasanya tidak diterima hingga ia kembali kepada mereka. Barang siapa melalaikan penunaian hak-hak mereka, sekalipun ia berada di rumah, maka ia berkedudukan sama seperti orang yang lari. Allah Ta'ala berfirman, "Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka." Kita diperintahkan untuk menjaga mereka dari neraka sebagaimana kita menjaga diri kita sendiri. Manusia terkadang lemah dalam menunaikan hak dirinya sendiri, dan apabila ia menikah, kewajiban itu berlipat ganda baginya serta bertambah jiwa lain di samping jiwanya. Padahal nafsu selalu menyuruh kepada keburukan (*ammaarah bis-suu'*); jika kewajiban pada nafsu semakin banyak, maka dorongan kepada keburukan pun umumnya semakin banyak. Oleh karena itulah sebagian ulama memberikan udzur untuk tidak menikah dan berkata, "Aku sedang diuji dengan diriku sendiri, bagaimana mungkin aku menambahkan jiwa lain kepadanya?" Sebagaimana diungkapkan dalam bait syair:

لن يسع الفأرة جحرها … علقت المكنس في دبرها

*"Liang saja tak cukup luas bagi si tikus … kini ia mengikatkan sapu di ekornya."*

وكذلك اعتذر إبراهيم بن أدهم ﵀ وقال لا أغر امرأة بنفسي ولا حاجة لي فيهن أي من القيام بحقهن وتحصينهن وإمتاعهن وأنا عاجز عنه وكذلك اعتذر بشر وقال يمنعني من النكاح قوله تعالى ﴿ولهن مثل الذي عليهن﴾ وكان يقول لو كنت أعول دجاجة لخفت أن أصير جلادا على الجسر

Demikian pula Ibrahim bin Adham *rahimahullah* mengemukakan udzur seraya berkata, "Aku tidak akan memperdaya seorang wanita pun dengan diriku, dan aku tidak memiliki keperluan terhadap mereka," yakni dalam hal menunaikan hak-hak mereka, menjaga kehormatan mereka, dan memberi kebahagiaan kepada mereka sementara aku tidak sanggup melakukannya. Begitu pula Bisyr al-Hafi mengemukakan udzur dan berkata, "Yang menghalangiku dari menikah adalah firman Allah Ta'ala: 'Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya' [QS. Al-Baqarah: 228]." Beliau juga biasa berkata, "Seandainya aku harus menanggung seekor ayam betina, niscaya aku takut akan menjadi seorang algojo penindas di atas jembatan."

ورؤي سفيان ابن عيينة ﵀ على باب السلطان فقيل له ما هذا موقفك فقال وهل رأيت ذا عيال أفلح وكان سفيان يقول

Sufyan bin Uyainah *rahimahullah* pernah terlihat berada di pintu penguasa (sultan), lalu dikatakan kepadanya, "Mengapa engkau berdiri di tempat ini?" Beliau menjawab, "Apakah engkau pernah melihat orang yang memiliki keluarga (banyak tanggungan) bisa beruntung?" Dan Sufyan biasa mendendangkan bait syair:

يا حبذا العزبة والمفتاح … ومسكن تخرقه الرياح … لا صخب فيه ولا صياح

*"Alangkah indahnya hidup membujang dan memegang kunci … di kediaman sederhana yang diterpa angin lalu … tanpa kegaduhan dan tanpa jeritan kemarahan."*

فهذه آفة عامة أيضاً وإن كانت دون عموم الأولى لا يسلم منها إلا حكيم عاقل حسن الأخلاق بصير بعادات النساء صبور على لسانهن وقاف عن اتباع شهواتهن حريص على الوفاء بحقهن يتغافل عن زللهن ويداري بعقله أخلاقهن والأغلب على الناس السفه والفظاظة والحدة والطيش وسوء الخلق وعدم الإنصاف مع طلب تمام الإنصاف ومثل هذا يزداد بالنكاح فساداً من هذا الوجه لا محالة فالوحدة أسلم له

Maka ini juga merupakan bahaya yang umum, meskipun kadar keumumannya di bawah yang pertama. Tidak ada yang selamat darinya melainkan orang yang bijaksana, berakal sehat, berakhlak mulia, memahami tabiat para wanita, sabar menghadapi ucapan lisan mereka, sanggup menahan diri dari menuruti syahwat mereka, bersungguh-sungguh menunaikan hak-hak mereka, memaklumi (*taghaful*) kekeliruan mereka, serta membimbing tabiat mereka dengan akal budinya. Namun mayoritas manusia didominasi oleh kebodohan, kekasaran, sifat temperamental, kecerobohan, akhlak yang buruk, serta ketidakadilan padahal mereka menuntut keadilan yang sempurna. Orang seperti ini pasti akan semakin rusak keadaannya melalui pernikahan dari sisi ini, sehingga hidup menyendiri (*al-wahdah*) adalah lebih selamat baginya.

الآفة الثالثة وهي دون الأولى والثانية أن يكون الأهل والولد شاغلاً له عن الله تعالى وجاذباً له إلى طلب الدنيا وحسن تدبير المعيشة للأولاد بكثرة جمع المال وادخاره لهم وطلب التفاخر والتكاثر بهم وكل ما شغل عن الله من أهل ومال وولد فهو مشئوم على صاحبه ولست أعني بهذا أن يدعو إلى محظور فإن ذلك مما اندرج تحت تحت الآفة الأولى والثانية بل أن يدعوه إلى التنعم بالمباح بل إلى الإغراق في ملاعبة النساء ومؤانستهن والإمعان في التمتع بهن ويثور من النكاح أنواع من الشواغل من هذا الجنس تستغرق القلب فينقضي الليل والنهار ولا يتفرغ المرء فيهما للتفكر في الآخرة والاستعداد لها ولذلك قال إبراهيم بن أدهم ﵀ من تعود أفخاد النساء لم يجيء منه شيء

Bahaya ketiga, yang tingkatannya di bawah yang pertama dan kedua, adalah bahwa istri dan anak menjadi kelalaian baginya dari Allah Ta'ala serta menariknya untuk terus mengejar dunia dan mengurus penghidupan anak-anak dengan mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, menimbunnya untuk mereka, serta berbangga-bangga dan berlomba memperbanyak anak. Setiap hal yang memalingkan dari Allah—baik berupa istri, harta, maupun anak—adalah pembawa kesialan bagi pemiliknya. Yang aku maksud dengan ini bukanlah bahwa hal itu menyeretnya kepada hal yang diharamkan, karena hal itu sudah termasuk ke dalam bahaya pertama dan kedua; melainkan bahwa hal itu membawanya untuk terus bergelimang dalam kenikmatan yang mubah, larut dalam bersenda gurau dan bercengkrama dengan wanita, serta berlebihan dalam menikmati kebersamaan dengan mereka. Maka lahir dari pernikahan berbagai bentuk kesibukan dari jenis ini yang menyita seluruh isi hati, sehingga siang dan malam berlalu tanpa pernah ada waktu luang bagi seseorang untuk bertafakur tentang akhirat dan mempersiapkan diri menghadapinya. Oleh sebab itulah Ibrahim bin Adham *rahimahullah* berkata, "Barang siapa yang terbiasa terbuai oleh paha-paha wanita, niscaya tidak akan lahir kebaikan apa pun darinya."

وقال أبو سليمان ﵀

Dan Abu Sulaiman (at-Tirani) *rahimahullah* berkata:

من تزوج فقد ركن إلى الدنيا أي يدعوه ذلك إلى الركون إلى الدنيا فهذه مجامع الآفات والفوائد فالحكم على شخص واحد بأن الأفضل له النكاح أو العزوبة مطلقا قصور عن الإحاطة بمجامع هذه الأمور بل تتخذ هذه الفوائد والآفات معتبراً ومحكماً ويعرض المريد عليه نفسه فإن انتفت في حقه الآفات واجتمعت الفوائد بأن كان له مال حلال وخلق حسن وجد في الدين تام لا يشغله النكاح عن الله وهو مع ذلك شاب محتاج إلى تسكين الشهوة ومنفرد يحتاج إلى تدبير المنزل والتحصن بالعشيرة فلا يماري في أن النكاح أفضل له مع ما فيه من السعي في تحصيل الولد فإن انتفت الفوائد واجتمعت الآفات فالعزوبة أفضل له وإن تقابل الأمران وهو الغالب فينبغي أن يوزن بالميزان القسط حظ تلك الفائدة في الزيادة من دينه وحظ تلك الآفات في النقصان منه فإذا غلب على الظن رجحان أحدهما حكم به وأظهر الفوائد الولد وتسكين الشهوة وأظهر الآفات الحاجة إلى كسب الحرام والاشتغال عن الله فلنفرض تقابل هذه الأمور فنقول من لم يكن في أذية من الشهوة وكانت فائدة نكاحه في السعي لتحصيل

"Barang siapa yang menikah, sungguh ia telah bersandar kepada dunia," yakni pernikahan menyeretnya untuk cenderung dan bersandar kepada dunia. Inilah simpul kumpulan dari segala kemudaratan (bahaya) dan kemanfaatan (faedah) pernikahan. Oleh karena itu, menghukumi satu pribadi secara mutlak bahwa menikah atau membujang (*al-'uzubah*) lebih utama baginya merupakan pandangan yang dangkal dan kurang memahami cakupan seluruh perkara ini. Seharusnya manfaat dan bahaya ini dijadikan sebagai tolok ukur dan penentu hukum, lalu seorang penuntut jalan Allah (*murid*) menimbang dirinya sendiri pada tolok ukur tersebut. Jika bahaya-bahaya tersebut terbebas dari dirinya dan manfaat-manfaatnya terkumpul padanya—yaitu ia memiliki harta yang halal, akhlak yang mulia, kesungguhan agama yang sempurna sehingga pernikahan tidak menyibukkannya dari Allah, sementara ia seorang pemuda yang butuh meredam syahwat, serta hidup sendiri yang memerlukan pengurusan rumah tangga dan perlindungan kerabat—maka tidak diragukan lagi bahwa menikah adalah lebih utama baginya, di samping adanya keutamaan berusaha mendapatkan keturunan. Namun, jika manfaat-manfaat itu tidak ada dan bahaya-bahayanya justru berkumpul, maka membujang adalah lebih utama baginya. Apabila kedua kondisi itu saling bertolak belakang—dan inilah yang umumnya terjadi—maka hendaknya ditimbang dengan neraca yang adil antara kadar manfaat tersebut dalam menambah kualitas agamanya dan kadar bahaya tersebut dalam menguranginya. Apabila persangkaan kuat (*ghalabatuzh-zhann*) telah cenderung pada salah satunya, maka itulah yang dijatuhkan sebagai hukum. Manfaat yang paling nyata dari pernikahan adalah memperoleh anak dan meredakan syahwat, sedangkan bahaya yang paling nyata adalah kebutuhan kepada usaha yang haram dan tersibukkan dari Allah. Mari kita andaikan pertentangan perkara-perkara ini, lalu kita katakan: barang siapa yang tidak berada dalam gangguan syahwat dan manfaat pernikahannya sekadar berusaha untuk memperoleh…

الولد وكانت الآفة الحاجة إلى كسب الحرام والاشتغال عن الله فالعزوبة له أولى فلا خير فيما يشغل عن الله ولا خير في كسب الحرام ولا يفي بنقصان هذين الأمرين أمر الولد فإن النكاح للولد سعي في طلب حياة للولد موهومة وهذا نقصان في الدين ناجز فحفظه لحياة نفسه وصونها عن الهلاك أهم من السعي في الولد وذلك ربح والدين رأس مال

…keturunan, sedangkan bahayanya adalah timbulnya kebutuhan pada pencaharian yang haram dan tersibukkan dari Allah, maka membujang baginya adalah lebih utama. Sebab tidak ada kebaikan dalam sesuatu yang memalingkan dari Allah, dan tidak ada kebaikan dalam pencaharian yang haram. Perkara memperoleh anak tidak dapat menutupi kerugian dari dua bahaya tersebut; karena menikah demi mendapatkan anak merupakan usaha menuntut kehidupan bagi anak yang sifatnya masih persangkaan (rekaan), sementara kerugian dalam agama ini merupakan hal yang pasti terjadi. Maka memelihara kehidupan dirinya sendiri serta menjaganya dari kebinasaan adalah jauh lebih penting daripada berusaha memperoleh anak; sebab anak itu ibarat keuntungan (*ribh*), sedangkan agama adalah modal utama (*ra'sul mal*).

وفي فساد الدين بطلان الحياة الأخروية وذهاب رأس المال ولا تقاوم هذه الفائدة إحدى هاتين الآفتين

Dalam kerusakan agama terdapat kebinasaan kehidupan akhirat dan sirnanya modal utama, sehingga manfaat (memperoleh anak) ini sama sekali tidak sanggup menandingi salah satu dari kedua bahaya tersebut.

وأما إذا انضاف إلى أمر الولد حاجة كسر الشهوة لتوقان النفس إلى النكاح نظر فإن لم يقو لجام التقوى في رأسه وخاف على نفسه الزنا فالنكاح له أولى لأنه متردد بين أن يقتحم الزنا أو يأكل الحرام والكسب الحرام أهون الشرين وإن كان يثق بنفسه أنه لا يزني ولكن لا يقدر مع ذلك على غض البصر عن الحرام فترك النكاح أولى لأن النظر حرام والكسب من غير وجهه حرام والكسب يقع دائماً وفيه عصيانه وعصيان أهله والنظر يقع أحياناً وهو يخصه وينصرم على قرب والنظر زنا العين ولكن إذا لم يصدقه الفرج فهو إلى العفو أقرب من أكل الحرام إلا أن يخاف إفضاء النظر إلى معصية الفرج فيرجع ذلك إلى خوف العنت وإذا ثبت هذا فالحالة الثالثة وهو أن يقوى على غض البصر ولكن لا يقوى على دفع الأفكار الشاغلة للقلب فذلك أولى بترك النكاح لأن عمل القلب إلى العفو أقرب إنما يراد فراغ القلب للعبادة ولا تتم عبادة مع الكسب الحرام وأكله وإطعامه فهكذا ينبغي أن توزن هذه الآفات بالفوائد ويحكم بحسبها ومن أحاط بهذا لم يشكل عليه شيء مما نقلنا عن السلف من ترغيب في النكاح مرة ورغبة عنه أخرى إذ ذلك بحسب الأحوال صحيح

Adapun jika kebutuhan meredam syahwat bertambah pada perkara anak karena dorongan jiwa yang sangat kuat untuk menikah, maka perlu dilihat: jika kendali ketakwaan pada dirinya tidak cukup kuat dan ia mengkhawatirkan dirinya terjerumus ke dalam perzinaan, maka menikah adalah lebih utama baginya. Sebab ia berada di antara dua pilihan: menerjang perzinaan atau memakan harta haram, sedangkan mencari rezeki yang haram adalah yang lebih ringan dari dua keburukan (*ahwanusy-syarrain*). Namun jika ia percaya pada dirinya bahwa ia tidak akan berzina, tetapi ia tidak sanggup menundukkan pandangannya (*ghaddhul bashar*) dari hal yang haram, maka meninggalkan pernikahan adalah lebih utama. Sebab melihat hal haram itu dilarang dan mencari nafkah dari jalan yang tidak benar juga dilarang, namun pencaharian haram terjadi secara terus-menerus dan di dalamnya terdapat kemaksiatan dirinya serta keluarganya, sedangkan pandangan haram terjadi sesekali, bersifat pribadi, dan cepat berlalu. Pandangan haram memang zina mata, namun jika tidak dibuktikan oleh kemaluan, maka ia lebih dekat pada ampunan daripada memakan rezeki haram; kecuali jika ia khawatir pandangan itu akan menyeretnya pada maksiat kemaluan, maka masalah ini kembali pada kekhawatiran terjerumus zina (*khauful 'anat*). Jika hal ini telah jelas, maka kondisi ketiga adalah: ia sanggup menundukkan pandangan tetapi tidak sanggup menolak lintasan pikiran yang menyibukkan hati. Dalam kondisi ini, meninggalkan pernikahan adalah lebih utama, karena bisikan hati lebih dekat pada ampunan Allah. Sungguh, yang dimaksudkan adalah kekosongan hati (*faraghul qalb*) untuk beribadah, dan ibadah tidak akan sempurna jika disertai usaha haram, memakannya, dan memberikannya kepada orang lain. Begitulah hendaknya bahaya-bahaya ini ditimbang dengan manfaat-manfaatnya dan dihukumi sesuai kondisinya. Siapa pun yang memahami hal ini secara mendalam, niscaya tidak akan bingung oleh riwayat-riwayat yang kami kutip dari para ulama Salaf—baik yang menganjurkan pernikahan pada suatu waktu maupun yang membencinya pada waktu yang lain—karena semua itu adalah benar sesuai dengan perbedaan kondisi masing-masing.

فإن قلت فمن أمن الآفات فما الأفضل له التخلي لعبادة الله أو النكاح فأقول يجمع بينهما لأن النكاح ليس مانعاً من التخلي لعبادة الله من حيث إنه عقد ولكن من حيث الحاجة إلى الكسب فإن قدر على الكسب الحلال فالنكاح أيضاً أفضل لأن الليل وسائر أوقات النهار يمكن التخلي فيه للعبادة والمواظبة على العبادة من غير استراحة غير ممكن فإن فرض كونه مستغرقاً بالكسب حتى لا يبقى له وقت سوى أوقات المكتوبة والنوم والأكل وقضاء الحاجة فإن كان الرجل ممن لا يسلك سبيل الآخرة إلا بالصلاة النافلة أو الحج وما يجري مجراه من الأعمال البدنية فالنكاح له أفضل لأن في كسب الحلال والقيام بالأهل والسعي في تحصيل الولد والصبر على أخلاق النساء أنواعاً من العبادات لا يقصر فضلها عن نوافل العبادات وإن كان عبادته بالعلم والفكر وسير الباطن والكسب يشوش عليه ذلك فترك النكاح أفضل

Jika engkau bertanya: "Bagi orang yang aman dari segala bahaya tersebut, manakah yang lebih utama baginya: meluangkan waktu sepenuhnya (*at-takhalli*) untuk beribadah kepada Allah ataukah menikah?" Maka aku menjawab: Hendaknya ia menggabungkan keduanya. Sebab pernikahan itu sendiri tidaklah menghalangi seseorang untuk meluangkan waktu beribadah kepada Allah ditinjau dari kedudukannya sebagai sebuah akad, melainkan dari sisi kebutuhan untuk mencari nafkah. Jika ia mampu melakukan pencaharian yang halal, maka menikah tetap lebih utama; karena waktu malam dan sisa waktu siang masih memungkinkan untuk dipakai menyendiri beribadah, sementara menekuni ibadah terus-menerus tanpa istirahat adalah hal yang tidak mungkin. Namun jika diandaikan seluruh waktunya habis tersita oleh pencaharian nafkah hingga tidak ada waktu tersisa kecuali untuk shalat fardhu, tidur, makan, dan buang hajat; maka jika orang tersebut termasuk orang yang tidak menempuh jalan akhirat melainkan melalui shalat-shalat sunnah, haji, dan amalan-amalan fisik sejenisnya, maka menikah adalah lebih utama baginya. Sebab di dalam mencari rezeki yang halal, mengurus keluarga, berusaha mendapatkan keturunan, dan bersabar atas perangai para wanita terdapat berbagai jenis ibadah yang keutamaannya tidak kalah dibandingkan ibadah-ibadah sunnah. Akan tetapi, jika ibadahnya adalah dengan ilmu, bertafakur, dan perjalanan batin (*sainul bathin*), sementara pencaharian nafkah akan mengacaukan hal itu, maka meninggalkan pernikahan adalah lebih utama.

فإن قلت فلم ترك عيسى ﵇ النكاح مع فضله وإن كان الأفضل التخلي لعبادة الله فلم استكثر رسولنا ﷺ من الأزواج فاعلم أن الأفضل الجمع بينهما في حق من قدر ومن قويت منته وعلت همته فلا يشغله عن الله شاغل ورسولنا ﷺ أخذ بالقوة وجمع بين فضل العبادة والنكاح ولقد كان مع تسع من النسوة

Jika engkau bertanya: "Lantas mengapa Nabi Isa 'alaihissalam meninggalkan pernikahan padahal pernikahan itu memiliki keutamaan?" Dan jika yang lebih utama adalah menggabungkan keduanya bagi orang yang mampu, yang kuat tekad jiwanya (*minnah*) serta tinggi cita-cita kerohaniannya (*himmah*) sehingga tidak ada satu pun kesibukan yang memalingkannya dari Allah, maka Rasulullah ﷺ telah mengambil kedudukan yang kuat tersebut. Beliau menggabungkan antara keutamaan ibadah dan keutamaan menikah, padahal beliau bersama sembilan orang istri…

متخلياً لعبادة الله وكان قضاء الوطر بالنكاح في حقه غير مانع كما لا يكون قضاء الحاجة في حق المشغولين بتدبيرات الدنيا مانعاً لهم عن التدبير حتى يشتغلون في الظاهر بقضاء الحاجة وقلوبهم مشغوفة بهممهم غير غافلة عن مهماتهم وكان رسول الله ﷺ لعلو درجته لا يمنعه أمر هذا العالم عن حضور القلب مع الله تعالى فكان ينزل عليه الوحي وهو في فراش امرأته

…tetap meluangkan waktu sepenuhnya untuk beribadah kepada Allah. Pemenuhan hajat biologis melalui pernikahan sama sekali tidak menjadi penghalang bagi beliau, sebagaimana halnya buang hajat bagi orang-orang yang sibuk mengurus urusan duniawi tidaklah menghalangi mereka dari pemikiran mereka; secara lahiriah mereka sibuk buang hajat, namun hati mereka tetap terpaut pada cita-cita dan tidak lalai dari urusan penting mereka. Rasulullah ﷺ, karena tingginya derajat beliau, tidak ada satu pun urusan alam dunia ini yang menghalangi kehadiran hati (*hudhurul qalb*) beliau bersama Allah Ta'ala. Oleh karena itu, wahyu pernah turun kepada beliau saat beliau berada di dalam selimut/tempat tidur istrinya.

ومتى سلم مثل هذا المنصب لغيره فلا يبعد أن يغير السواقي

Dan bilakah kedudukan spiritual seperti ini diakui milik selain beliau? Maka tidaklah jauh kemungkinan bahwa hal itu justru akan mengubah saluran-saluran air (mengacaukan kesucian batinnya).

ما لا يغير البحر الخضم فلا ينبغي أن يقاس عليه غيره

Sesuatu yang tidak dapat mengubah lautan yang luas, maka tidak seyogianya hal selainnya diqiaskan (dianalogikan) dengannya.

وأما عيسى ﷺ فإنه أخذ بالحزم لا بالقوة واحتاط لنفسه ولعل حالته كانت حالة يؤثر فيها الاشتغال بالأهل أو يتعذر معها طلب الحلال أو لا يتيسر فيها الجمع بين النكاح والتخلي للعبادة فآثر التخلي للعبادة وهم أعلم بأسرار أحوالهم وأحكام أعصارهم في طيب المكاسب وأخلاق النساء وما على الناكح من غوائل النكاح وما له فيه ومهما كانت الأحوال منقسمة حتى يكون النكاح في بعضها أفضل وتركه في بعضها أفضل فحقنا أن ننزل أفعال الأنبياء على الأفضل في كل حال والله أعلم

Adapun Nabi Isa 'alaihis-salam, beliau mengambil sikap kehati-hatian (al-hazm), bukan karena ketidakmampuan, dan beliau bersikap ikhtiat untuk dirinya sendiri. Boleh jadi keadaan beliau adalah keadaan di mana kesibukan berkeluarga akan mengganggu (tujuan utamanya), atau sulit baginya mencari rezeki yang halal saat itu, atau tidak memungkinkan baginya mengumpulkan antara pernikahan dan pengosongan diri (takhalli) untuk beribadah, sehingga beliau mengutamakan pengosongan diri untuk beribadah. Mereka (para nabi) lebih mengetahui rahasia-rahasia keadaan mereka dan hukum-hukum zaman mereka terkait kebaikan mata pencaharian, akhlak kaum wanita, serta bahaya-bahaya pernikahan yang menimpa orang yang menikah maupun manfaat yang ada padanya. Dan selagi keadaan itu terbagi-bagi sehingga pernikahan pada sebagian keadaan lebih utama dan meninggalkannya pada sebagian keadaan lainnya lebih utama, maka kewajiban kita adalah menempatkan perbuatan para nabi pada hal yang paling utama dalam setiap keadaan. Wallahu a'lam.

الباب الثاني فيما يراعى حالة العقد من أحوال المرأة وشروط العقد

Bab Kedua: Tentang Hal-Hal yang Memperhatikan Keadaan Wanita dan Syarat-Syarat Akad pada Saat Pelaksanaan Akad

أما العقد فأركانه وشروطه لينعقد ويفيد الحل أربعة

Adapun akad, rukun-rukun dan syarat-syaratnya agar sah dan memberikan kehalalan ada empat.

الأول إذن الولي فإن لم يكن فالسلطان

Pertama: Izin dari wali; jika tidak ada, maka wali sultan (penguasa).

الثاني رضا المرأة إن كانت ثيباً بالغاً أو كانت بكراً بالغاً ولكن يزوجها غير الأب والحد

Kedua: Kerelaan wanita jika ia seorang janda yang sudah baligh, atau seorang perawan yang sudah baligh namun yang menikahkannya bukan ayah atau kakeknya.

الثالث حضور شاهدين ظاهري العدالة فإن كانا مستورين حكمنا بالانعقاد للحاجة

Ketiga: Kehadiran dua orang saksi yang tampak adil secara lahiriah; apabila sifat adil keduanya tersembunyi (mastur), maka kami menetapkan keabsahan akad tersebut karena adanya kebutuhan.

الرابع إيجاب وقبول متصل به بلفظ الإنكاح أو التزويج أو معناهما الخاص بكل لسان من شخصين مكلفين ليس فيهما امرأة سواء كان هو الزوج أو الولي أو وكيلهما

Keempat: Ijab dan kabul yang bersambung dengannya, menggunakan lafaz inkah (menikahkan) atau tazwij (mengawinkan) atau makna keduanya yang khusus dalam bahasa apa pun, yang diucapkan oleh dua orang mukallaf yang tidak ada wanita di antara keduanya, baik ia adalah calon suami, wali, maupun wakil dari keduanya.

وأما آدابه

Adapun adab-adabnya:

فتقديم الخطبة مع الولي لا في حال عدة المرأة بل بعد انقضائها إن كانت معتدة ولا في حال سبق غيره بالخطبة إذ نهى عن الخطبة على الخطبة حديث عائشة تزوجني رسول الله ﷺ في شوال وبنى بي في شوال رواه مسلم //

Adalah mendahulukan khitbah (peminangan) kepada wali, tidak dilakukan pada saat wanita dalam masa idah melainkan setelah selesai masa idahnya jika ia wanita yang beridah, dan tidak pada saat orang lain telah mendahului meminangnya, karena terdapat larangan meminang di atas pinangan orang lain. Terdapat hadis dari Aisyah: "Rasulullah ﷺ menikahiku pada bulan Syawal dan membangun rumah tangga bersamaku pada bulan Syawal." Diriwayatkan oleh Muslim.

وأما المنكوحة فيعتبر فيها نوعان أحدهما للحل

Adapun wanita yang dinikahi, maka diperhatikan padanya dua jenis kriteria: pertama berkaitan dengan kehalalan,

والثاني لطيب المعيشة وحصول المقاصد

dan yang kedua berkaitan dengan keharmonisan hidup serta tercapainya tujuan-tujuan pernikahan.

النوع الأول ما يعتبر فيها للحل وهو أن تكون خلية عن موانع النكاح والموانع تسعة عشر الأول أن

Jenis pertama adalah kriteria yang diperhatikan padanya demi kehalalan, yaitu ia harus terbebas dari penghalang-penghalang (penyebab haramnya) pernikahan. Penghalang-penghalang tersebut ada sembilan belas. Pertama:

تكون منكوحة للغير

Wanita tersebut sedang menjadi istri orang lain.

الثاني أن تكون معتدة للغير سواء كانت عدة وفاة أو طلاق أو وطء شبهة أو كانت في استبراء وطء عن ملك يمين

Kedua: Wanita tersebut sedang berada dalam masa idah orang lain, baik idah karena kematian, perceraian, persetubuhan syubhat, ataupun sedang dalam masa istibra' (penyucian rahim) akibat persetubuhan atas kepemilikan hamba sahaya (milkul yamin).

الثالث أن تكون مرتدة عن الدين لجريان كلمة على لسانها من كلمات الكفر

Ketiga: Wanita tersebut murtad dari agama (Islam) dikarenakan terucapnya perkataan kekufuran pada lisannya.

الرابع أن تكون مجوسية

Keempat: Wanita tersebut seorang penganut Majusi.

الخامس أن تكون وثنية أو زنديقة لا تنسب إلى نبي وكتاب ومنهن المعتقدات لمذهب الإباحة فلا يحل نكاحهن وكذلك كل معتقدة مذهباً فاسداً يحكم بكفر معتقده

Kelima: Wanita tersebut seorang penyembah berhala (watsaniyyah) atau seorang zindiq yang tidak menisbahkan diri kepada nabi dan kitab suci. Di antara mereka adalah para wanita yang meyakini paham ibahiyyah (pergaulan bebas tanpa batas hukum), maka tidak halal menikahi mereka. Demikian pula setiap wanita yang meyakini paham yang rusak yang penganutnya dihukumi kafir.

السادس أن تكون كتابية قد دانت بدينهم بعد التبديل أو بعد مبعث رسول الله ﷺ ومع ذلك فليست من نسب بني إسرائيل فإذا عدمت كلتا الخصلتين

Keenam: Wanita tersebut seorang Ahli Kitab yang memeluk agama mereka setelah terjadinya penyimpangan (tabdil) atau setelah diutusnya Rasulullah ﷺ, dan di samping itu ia bukan dari keturunan Bani Israil. Apabila kedua kriteria ini tidak ada,

لم يحل نكاحها وإن عدمت النسب فقط ففيه خلاف

maka tidak halal menikahinya. Namun jika ia hanya kehilangan faktor nasab saja, maka dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat (khilaf).

السابع أن تكون رقيقة والناكح حراً قادراً على طول الحرة أو غير خائف من العنت

Ketujuh, hendaklah wanita tersebut seorang budak sahaya (raqiqah), sedangkan laki-laki yang hendak menikahi adalah seorang merdeka yang mampu membayar mahar wanita merdeka (thawl al-hurrah) atau tidak merasa khawatir akan terjerumus ke dalam zina ('anat).

الثامن أن تكون كلها أو بعضها مملوكاً للناكح ملك يمين

Kedelapan, seluruh atau sebagian dari diri wanita tersebut merupakan milik laki-laki yang menikahi melalui kepemilikan yang sah (milk al-yamin).

التاسع أن تكون قريبة للزوج بأن تكون من أصوله أو فصوله أو فصول أول أصوله أو من أول فصل من كل أصل بعده أصل وأعني بالأصول الأمهات والجدات وبفصوله الأولاد والأحفاد وبفصول أول أصوله الإخوة وأولادهم وبأول فصل من كل أصل بعده أصل العمات والخالات دون أولادهن

Kesembilan, wanita tersebut adalah kerabat dekat bagi sang suami, yaitu termasuk dari leluhurnya (ushul), keturunannya (fushul), keturunan dari leluhur pertamanya, atau cabang pertama dari setiap leluhur setelah leluhur pertama. Yang saya maksud dengan ushul adalah ibu dan nenek; fushul adalah anak-anak dan cucu-cucu; keturunan dari leluhur pertama adalah saudara-saudara dan anak-anak mereka; serta cabang pertama dari setiap leluhur setelahnya adalah bibi dari pihak ayah ('ammah) dan bibi dari pihak ibu (khalah), bukan anak-anak perempuan mereka.

العاشر أن تكون محرمة بالرضاع ويحرم من الرضاع ما يحرم من النسب من الأصول والفصول كما سبق ولكن المحرم خمس رضعات وما دون ذلك لا يحرم

Kesepuluh, wanita tersebut merupakan mahram karena persusuan (ridha'). Diharamkan sebab persusuan apa yang diharamkan sebab nasab, baik dari ushul maupun fushul sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Namun, yang menyebabkan keharaman adalah lima kali susuan (yang mengenyangkan), sedangkan yang kurang dari itu tidak menyebabkan keharaman.

الحادي عشر المحرم بالمصاهرة وهو أن يكون الناكح قد نكح ابنتها أو جدتها أو ملك بعقد أو شبهة عقد من قبل أو وطئهن بالشبهة في عقد أو وطيء أمها أو إحدى جداتها بعقد أو شبهة عقد فمجرد العقد على المرأة يحرم أمهاتها ولا يحرم فروعها إلا بالوطء أو يكون قد نكحها أبوه أو ابنه قبل

Kesebelas, wanita yang diharamkan karena hubungan semenda (mushaharah), yaitu jika laki-laki tersebut pernah menikahi anak perempuan sang wanita atau neneknya, atau pernah memilikinya dengan akad atau syubhat akad sebelumnya, atau pernah menyetubuhinya secara syubhat dalam suatu akad, atau pernah menyetubuhi ibunya atau salah satu neneknya melalui akad atau syubhat akad. Akad nikah semata terhadap seorang wanita sudah mengharamkan (menikahi) ibu-ibunya, tetapi tidak mengharamkan keturunannya (furu') kecuali jika telah terjadi persetubuhan (wath'u); atau jika wanita tersebut pernah dinikahi oleh ayah atau anak laki-laki dari pria itu sebelumnya.

الثاني عشر أن تكون المنكوحة خامسة أي يكون تحت الناكح أربع سواها إما في نفس النكاح أو في عدة الرجعة فإن كانت في عدة بينونة لم تمنع الخامسة

Kedua belas, wanita yang hendak dinikahi adalah wanita kelima, dalam arti pria tersebut telah memiliki empat orang istri selain dirinya, baik masih dalam ikatan pernikahan maupun dalam masa idah talak raj'i. Namun, jika berada dalam masa idah talak ba'in, maka hal itu tidak menghalangi untuk menikahi wanita kelima.

الثالث عشر أن يكون تحت الناكح أختها أو عمتها أو خالتها فيكون بالنكاح جامعاً بينهما وكل شخصين بينهما قرابة لو كان أحدهما ذكراً والآخرة أنثى لم يجز بينهما النكاح فلا يجوز أن يجمع بينهما

Ketiga belas, pria tersebut sedang memperistri saudara perempuan wanita itu, atau bibinya dari pihak ayah, atau bibinya dari pihak ibu, sehingga dengan pernikahan baru ini ia menghimpun (jam') keduanya. Setiap dua orang yang memiliki hubungan kekerabatan di mana seandainya salah seorang dari mereka laki-laki dan yang lainnya perempuan tidak boleh menikah, maka tidak boleh pula menghimpun keduanya dalam satu ikatan pernikahan.

الرابع عشر أن يكون هذا الناكح قد طلقها ثلاثاً فهي لا تحل له ما لم يطأها زوج غيره في نكاح صحيح

Keempat belas, pria tersebut telah menjatuhkan talak tiga kepadanya, maka wanita itu tidak halal baginya sampai ia disetubuhi oleh suami lain dalam pernikahan yang sah.

الخامس عشر أن يكون الناكح قد لاعنها فإنها تحرم عليه أبداً بعد اللعان

Kelima belas, pria tersebut telah melakukan li'an (sumpah tuduhan zina) terhadap wanita itu, sehingga ia diharamkan baginya untuk selamanya setelah terjadinya li'an.

السادس عشر أن تكون محرمة بحج أو عمرة أو كان الزوج كذلك فلا ينعقد النكاح إلا بعد تمام التحلل

Keenam belas, wanita tersebut sedang dalam keadaan ihram untuk haji atau umrah, atau sang suami sedang dalam keadaan demikian; maka akad nikah tidak sah kecuali setelah selesainya tahallul secara sempurna.

السابع عشر أن تكون ثيباً صغيرة فلا يصح نكاحها إلا بعد البلوغ

Ketujuh belas, wanita tersebut adalah seorang janda yang masih kecil (thayyib shaghirah), maka tidak sah menikahkan dirinya kecuali setelah ia mencapai usia baligh.

الثامن عشر أن تكون يتيمة فلا يصح نكاحها إلا بعد البلوغ

Kedelapan belas, wanita tersebut adalah seorang anak yatim perempuan, maka tidak sah menikahkan dirinya kecuali setelah ia mencapai usia baligh.

التاسع عشر أن تكون من أزواج رسول الله ﷺ ممن توفى عنها أو دخل بها فإنهن أمهات المؤمنين وذلك لا يوجد في زماننا فهذه هي الموانع المحرمة

Kesembilan belas, wanita tersebut termasuk dari istri-istri Rasulullah ﷺ yang ditinggal wafat oleh beliau atau yang telah beliau gauli, sebab mereka adalah Ummahatul Mukminin (ibu-ibu orang beriman). Hal ini tentu tidak ada lagi pada zaman kita. Inilah faktor-faktor penghalang (mewani') yang mengharamkan pernikahan.

أما الْخِصَالُ الْمُطَيِّبَةُ لِلْعَيْشِ الَّتِي لَا بُدَّ مِنْ مُرَاعَاتِهَا فِي الْمَرْأَةِ لِيَدُومَ الْعَقْدُ وَتَتَوَفَّرَ مَقَاصِدُهُ ثمانية الدِّينُ وَالْخُلُقُ وَالْحُسْنُ وَخِفَّةُ الْمَهْرِ وَالْوِلَادَةُ وَالْبَكَارَةُ وَالنَّسَبُ وَأَنْ لَا تَكُونَ قَرَابَةٌ قَرِيبَةٌ

Adapun kriteria-kriteria yang menyenangkan kehidupan rumah tangga yang harus diperhatikan pada diri wanita agar ikatan pernikahan tetap langgeng dan tujuan-tujuannya terpenuhi secara sempurna ada delapan perkara: religiusitas (agung/agama), akhlak yang baik, kecantikan, ringannya mahar, kesuburan (mampu melahirkan keturunan), keperawanan, nasab yang baik, serta bukan merupakan kerabat yang sangat dekat.

الْأُولَى أَنْ تَكُونَ صَالِحَةً ذَاتَ دِينٍ فَهَذَا هُوَ الْأَصْلُ وَبِهِ يَنْبَغِي أَنْ يَقَعَ الِاعْتِنَاءُ فَإِنَّهَا إِنْ كَانَتْ ضَعِيفَةَ الدِّينِ فِي صِيَانَةِ نَفْسِهَا وَفَرْجِهَا أَزْرَتْ بِزَوْجِهَا وَسَوَّدَتْ بَيْنَ النَّاسِ وَجْهَهُ وشوشت بالغيرة قلبه وتتغص بِذَلِكَ عَيْشُهُ فَإِنْ سَلَكَ سَبِيلَ الْحَمِيَّةِ وَالْغَيْرَةِ لم يزل في بلاء ومحنة وَإِنْ سَلَكَ سَبِيلَ التَّسَاهُلِ كَانَ مُتَهَاوِنًا بِدِينِهِ وعرضه ومنسوبا إلى قلة الحمية والأنفة وإذا كانت مع الفساد جميلةً كان بلاؤها أشد إذ يشق على الزوج مفارقتها فلا يصبر عنها ولا يصبر عليها ويكون كالذي جاء إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وقال يا رسول الله إن لي امرأة لا ترد يد لامس

Kriteria pertama, hendaklah wanita itu seorang yang salihah dan taat beragama. Hal inilah yang menjadi landasan utama dan patut mendapatkan perhatian paling besar. Sebab, apabila ia lemah agamanya dalam menjaga kehormatan diri dan kemaluannya, ia akan mencoreng nama baik suaminya, menghitamkan wajah suaminya di tengah masyarakat, memperkeruh hatinya dengan cemburu, dan merusak kenyamanan kehidupannya. Jika sang suami menempuh jalan ketegasan dan kecemburuan, ia akan senantiasa berada dalam ujian dan kesengsaraan; dan jika ia menempuh jalan pembiaran, berarti ia meremehkan agama dan kehormatan dirinya sendiri serta dinilai tidak memiliki cemburu dan harga diri. Apabila di samping kerusakan agamanya wanita itu cantik, maka ujiannya jauh lebih berat, karena amat berat bagi suami untuk menceraikannya; ia tidak sanggup berpisah darinya, namun tidak sanggup pula bersabar menghadapinya. Keadaannya akan seperti orang yang datang kepada Rasulullah ﷺ lalu berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki seorang istri yang tidak menolak tangan orang yang menyentuh."

قال طلقها فقال إني أحبها

Beliau bersabda, "Ceraikanlah dia!" Laki-laki itu berkata, "Sesungguhnya aku mencintainya."

قال أمسكها

Beliau bersabda, "Pertahankanlah dia."

وإنما أمره بإمساكها خوفاً عليه بأنه إذا طلقها أتبعها نفسه وفسد هو أيضاً معها فرأى ما في دوام نكاحه من دفع الفساد عنه من ضيق قلبه أولى وَإِنْ كَانَتْ فَاسِدَةَ الدِّينِ بِاسْتِهْلَاكِ مَالِهِ أَوْ بِوَجْهٍ آخَرَ لَمْ يَزَلِ الْعَيْشُ مُشَوَّشًا مَعَهُ

Beliau memerintahkannya untuk memperistrinya kembali hanya karena khawatir terhadap diri laki-laki itu, yaitu jika ia menceraikannya, hatinya akan terus terikat padanya dan ia pun ikut rusak bersamanya. Beliau memandang bahwa mempertahankan pernikahan demi menghindarkan kerusakan jiwa akibat kesempitan hatinya adalah lebih utama. Dan jika wanita itu buruk agamanya dengan cara menghambur-hamburkan harta suami atau dengan cara lainnya, maka kehidupan bersamanya akan senantiasa dipenuhi kekeruhan.

فَإِنْ سَكَتَ وَلَمْ يُنْكِرْهُ كَانَ شَرِيكًا فِي الْمَعْصِيَةِ مُخَالِفًا لِقَوْلِهِ تَعَالَى قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ ناراً وَإِنْ أَنْكَرَ وَخَاصَمَ تَنَغَّصَ الْعُمْرُ وَلِهَذَا بَالَغَ رسول الله ﷺ في التَّحْرِيضِ عَلَى ذَاتِ الدِّينِ فَقَالَ تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لمالها وجمالها وحسبها

Apabila suami berdiam diri dan tidak mengingkarinya, ia terhitung berserikat dalam kemaksiatan serta menyelisih firman Allah Ta'ala, "Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka" (QS. At-Tahrim: 6). Namun jika ia mengingkari dan mempertengkarkannya, kehidupannya akan terasa pahit. Oleh karena itulah Rasulullah ﷺ sangat bersungguh-sungguh dalam mendorong untuk memilih wanita yang taat beragama, seraya bersabda, "Wanita itu dinikahi karena hartanya, kecantikannya, kedudukan nasabnya,

ودينها فعليك بذات الدين تربت يداك

dan agamanya. Maka pilihlah wanita yang memiliki agama (taat beragama), niscaya beruntunglah kedua tanganmu."

وفي حديث آخر من نكح المرأة لمالها وجمالها حرم جمالها ومالها ومن نكحها لدينها رزقه الله مالها وجمالها وقال ﷺ لا تنكح المرأة لجمالها فلعل جمالها يرديها ولا لمالها فلعل مالها يطغيها وانكح المرأة لدينها ٣ حديث لا تنكح المرأة لجمالها فلعل جمالها يرديهاأخرجه ابن ماجة من حديث عبد الله بن عمرو بسند ضعيف

Dalam hadis lain disebutkan: "Barangsiapa menikahi seorang wanita karena harta dan kecantikannya, niscaya Allah mengharamkan (menghilangkan keberkahan) kecantikan dan hartanya darinya. Dan barangsiapa menikahi wanita karena agamanya, niscaya Allah akan mengaruniakan kepadanya harta dan kecantikannya." Dan Rasulullah ﷺ bersabda: "Janganlah kalian menikahi wanita karena kecantikannya, bisa jadi kecantikannya itu akan membinasakannya; dan janganlah (menikahinya) karena hartanya, bisa jadi hartanya akan membuatnya melampaui batas (sombong). Akan tetapi, nikahilah wanita karena agamanya." (Hadis "Janganlah kalian menikahi wanita karena kecantikannya…": Diriwayatkan oleh Ibn Majah dari hadis Abdullah bin 'Amr dengan sanad yang daif).

وإنما بالغ في الحث على الدين لأن مثل هذه المرأة تكون عوناً على الدين فأما إذا لم تكن متدينة كانت شاغلة عن الدين ومشوشة له

Sungguh, beliau (Nabi ﷺ) amat menekankan imbauan untuk memilih wanita yang taat beragama karena wanita yang demikian akan menjadi penolong dalam urusan agama (kehidupan spiritual). Adapun jika ia tidak taat beragama, ia justru akan melalaikan serta mengacaukan urusan agama suaminya.

الثانية حسن الخلق وذلك أصل مهم في طلب الفراغة والاستعانة على الدين فإنها إذا كانت سليطة بذية اللسان سيئة الخلق كَافِرَةً لِلنِّعَمِ كَانَ الضَّرَرُ مِنْهَا أَكْثَرَ مِنَ النَّفْعِ وَالصَّبْرُ عَلَى لِسَانِ النِّسَاءِ مِمَّا يُمْتَحَنُ به الأولياء

(Sifat) kedua: Berakhlak baik. Hal ini merupakan asas penting untuk memperoleh ketenangan jiwa (ketenteraman dari kesibukan duniawi) dan menopang pengamalan agama. Sebab, jika wanita itu bersikap tajam, tajam lidahnya (suka berkata kotor), buruk perangainya, serta mengkufuri nikmat (tidak bersyukur), maka kemudaratan padanya jauh lebih besar daripada manfaatnya. Dan bersabar menghadapi lisan para wanita merupakan salah satu bentuk ujian yang dialami para wali Allah.

قال بعض العرب

Sebagian orang Arab pernah berkata:

لا تنكحوا من النساء ستة لا أنانة ولا منانة ولا حنانة ولا تنكحوا حداقة ولا براقة ولا شداقة

"Janganlah kalian menikahi enam karakter wanita: jangan menikahi wanita yang annānah (suka mengeluh), mannānah (suka membangkit-bangkit kebaikan), ḥannānah (suka merindukan mantan suami atau anak dari suami lain), dan jangan pula menikahi wanita yang ḥaddāqah (suka melirik dan menginginkan segala hal), barrāqah (suka bersolek berlebihan atau enggan makan bersama), serta syaddāqah (banyak bicara dan nyinyir)."

أما الأنانة فهي التي تكثر الأنين والتشكي وتعصب رأسها كل ساعة فنكاح الممراضة أو نكاح المتمارضة لا خير فيه والمنانة التي تمن على زوجها فتقول فعلت لأجلك كذا وكذا والحنانة التي تحن إلى زوج آخر أو ولدها من زوج آخر وهذا أيضا مما يجب اجتنابه والحداقة التي ترمي إلى كل شيء بحدقتها فتشتهيه وتكلف الزوج شراءه والبراقة تحتمل معنيين

Adapun annānah adalah wanita yang banyak merintih dan mengeluh serta selalu membalut kepalanya setiap saat (berpura-pura sakit). Menikahi wanita yang sering sakit-sakitan atau pura-pura sakit itu tidak ada kebaikannya. Mannānah adalah wanita yang suka menyebut-nyebut kebaikannya kepada suaminya seraya berkata, "Aku telah berbuat begini dan begitu demi kamu." Ḥannānah adalah wanita yang selalu merindukan suaminya yang lain (suami terdahulu) atau anak dari suaminya yang lain; dan hal ini juga termasuk hal yang wajib dihindari. Ḥaddāqah adalah wanita yang memandang segala sesuatu dengan biji matanya lalu menginginkannya dan membebani suaminya untuk membelikannya. Adapun barrāqah mengandung dua makna:

أحدهما أن تكون طول النهار في تصقيل وجهها وتزيينه ليكون لوجهها بريق محصل بالصنع

Salah satunya, wanita yang sepanjang hari sibuk memoles dan merias wajahnya agar wajahnya memiliki kilauan (barīq) buatan yang dihasilkan dari hiasan diri.

والثاني أن تغضب على الطعام فلا تأكل إلا وحدها وتستقل نصيبها من كل شيء وهذه لغة يمانية يقولون برقت المرأة وبرق الصبي الطعام إذا غضب عنده والشداقة المتشدقة الكثيرة الكلام ومنه قَوْلَهُ ﷺ إِنَّ اللَّهَ تعالى يبغض الثرثارين المتشدقين

Makna kedua, wanita yang cemberut/marah ketika makan sehingga ia tidak mau makan kecuali seorang diri, serta selalu menganggap sedikit bagiannya dari segala sesuatu. Ini adalah ungkapan dialek Yaman, mereka mengatakan baraqat al-mar'ah (wanita itu cemberut/marah saat makan) dan baraqa ash-shabiyyu ath-tha'ām jika anak itu marah di hadapan makanan. Sedangkan syaddāqah adalah wanita yang suka mengagungkan bicaranya (mutasyaddiqah) dan banyak cakap. Di antaranya bersumber dari sabda Nabi ﷺ: "Sesungguhnya Allah Ta'ala membenci orang-orang yang banyak bicara dan suka memaksakan diri dalam berkata-kata (ats-tsartsārūn al-mutasyaddiqūn)."

وحكي أن السائح الأزدي لقي إلياس ﵇ في سياحته فأمره بالتزوج ونهاه عن التبتل ثم قال لا تنكح أربعا المختلعة والمبارية والعاهرة والناشز فأما المختلعة فهي التي تطلب الخلع كل ساعة من غير سبب والمبارية المباهية بغيرها المفاخرة بأسباب الدنيا والعاهرة الفاسقة التي تعرف بخليل وخدن وهي التي قال الله تعالى ﴿ولا متخذات أخدان﴾ والناشز التي تعلو على زوجها بالفعال والمقال

Diceritakan bahwa As-Sa'ih Al-Azdi bertemu Nabi Ilyas 'alaihissalam dalam pengembaraannya. Nabi Ilyas memerintahkannya untuk menikah dan melarangnya membujang (tabattul). Kemudian beliau berkata: "Janganlah engkau menikahi empat golongan wanita: al-mukhtali'ah, al-mubāriyah, al-'āhirah, dan an-nāsyiz." Adapun al-mukhtali'ah adalah wanita yang selalu meminta gugat cerai (khulu') setiap saat tanpa alasan. Al-mubāriyah adalah wanita yang suka bermegah-megahan melebihi orang lain dan membanggakan perkara-perkara duniawi. Al-'āhirah adalah wanita fasik yang dikenal memiliki kekasih gelap (khalīl dan khadn), yaitu yang difirmankan oleh Allah Ta'ala: "…dan bukan pula wanita yang mengambil kekasih gelap" (QS. An-Nisa': 25). Sedangkan an-nāsyiz adalah wanita yang membangkang terhadap suaminya, baik melalui perbuatan maupun perkataan.

والنشز العالي من الأرض وكان علي ﵁ يقول شر خصال الرجال خير خصال النساء

Kata nasyaz (asal kata nusyūz) berarti tanah yang tinggi. Dahulu Sayyidina 'Ali radhiyallahu 'anhu berkata: "Seburuk-buruk sifat laki-laki adalah sebaik-baik sifat wanita, yaitu:

البخل والزهو والجبن فإن المرأة إذا كانت بخيلةً حفظت مالها ومال زوجها وإذا كانت مزهوة استنكفت أن تكلم كل أحد بكلام لين مريب وإذا كانت جبانة فرقت من كل شيء فلم تخرج من بيتها واتقت مواضع التهمة خيفةً من زوجها فهذه الحكايات ترشد إلى مجامع الأخلاق المطلوبة في النكاح

Kikir, bangga diri (menjaga gengsi), dan penakut. Sebab jika seorang wanita kikir, ia akan menjaga hartanya dan harta suaminya; jika ia bangga diri (menjaga gengsi), ia enggan berbicara dengan sembarang orang dengan kata-kata manis yang meragukan (memancing fitnah); dan jika ia penakut, ia akan merasa takut dari segala hal sehingga ia tidak akan keluar dari rumahnya dan selalu menjauhi tempat-tempat prasangka demi rasa takutnya kepada suaminya." Maka kisah-kisah ini memberi petunjuk pada himpunan akhlak yang dituntut dalam pernikahan.

الثَّالِثَةُ حُسْنُ الْوَجْهِ فَذَلِكَ أَيْضًا مَطْلُوبٌ إِذْ بِهِ يَحْصُلُ التَّحَصُّنُ وَالطَّبْعُ لَا يَكْتَفِي بِالدَّمِيمَةِ غالباً كيف والغالب أن حسن الخلق والخلق لا يفترقان

(Sifat) ketiga: Wajah yang cantik (paras yang elok). Hal itu juga dituntut, karena dengannya akan terwujud penjagaan diri (dari maksiat), dan watak manusia umumnya tidak merasa cukup dengan wanita yang berparas buruk. Lagi pula, pada umumnya kebaikan fisik (ḥusnul-khalq) dan kebaikan perangai (ḥusnul-khuluq) tidak terpisahkan.

وما نقلناه من الحث على الدين وأن المرأة لا تنكح لجمالها ليس زاجر عَنْ رِعَايَةِ الْجَمَالِ بَلْ هُوَ زَجْرٌ عَنِ النِّكَاحِ لِأَجْلِ الْجَمَالِ الْمَحْضِ مَعَ الْفَسَادِ فِي الدِّينِ فَإِنَّ الْجَمَالَ وَحْدَهُ فِي غَالِبِ الْأَمْرِ يُرَغِّبُ فِي النِّكَاحِ وَيُهَوِّنُ أَمْرَ الدِّينِ وَيَدُلُّ على الالتفات إلى معنى الجمال أن الألفة والمودة تحصل بِهِ غَالِبًا وَقَدْ نَدَبَ الشَّرْعُ إِلَى مُرَاعَاةِ أَسْبَابِ الْأُلْفَةِ وَلِذَلِكَ اسْتَحَبَّ النَّظَرَ فَقَالَ إِذَا أوقع الله في نفس

Apa yang kami kutip berupa anjuran untuk mengutamakan agama dan bahwa wanita tidak boleh dinikahi semata-mata karena kecantikannya, bukanlah larangan untuk memperhatikan kecantikan. Melainkan, itu adalah larangan menikah hanya demi kecantikan semata yang disertai dengan rusaknya kualitas agama (keimanan). Sebab kecantikan semata, pada umumnya, mendorong seseorang untuk menikah dan meremehkan urusan agama. Petunjuk akan diperhatikannya makna kecantikan ini adalah bahwa keharmonisan dan kasih sayang (al-ulfah wal-mawaddah) umumnya terwujud melaluinya. Dan syariat telah menganjurkan untuk memperhatikan sebab-sebab keharmonisan tersebut; oleh karena itu disunnahkan untuk memandang (melihat calon istri). Rasulullah ﷺ bersabda: "Apabila Allah telah menanamkan dalam hati…"

أَحَدِكُمْ مِنِ امْرَأَةٍ فَلْيَنْظُرْ إِلَيْهَا فَإِنَّهُ أَحْرَى أن يؤدم بينهما

"…salah seorang di antara kalian (keinginan untuk meminang) seorang wanita, hendaknya ia melihatnya, karena hal itu lebih patut untuk melanggengkan kasih sayang (yu'dama) di antara keduanya."

أي يؤلف بينهما من وقوع الأدمة على الأدمة وهي الجلدة الباطنة

Maksudnya, menyatukan (mengharmoniskan) keduanya, diambil dari bertemunya al-adamah dengan al-adamah, yaitu lapisan kulit bagian dalam.

والبشرة الجلدة الظاهرة وإنما ذكر ذلك للمبالغة في الائتلاف

Sedangkan al-basyarah adalah lapisan kulit bagian luar. Hal itu disebutkan hanyalah sebagai bentuk kiasan untuk menggambarkan keharmonisan dan penyatuan yang sangat mendalam.

وَقَالَ ﷺ إِنَّ فِي أعين الأنصار شيئاً فإذا أراد أحدكم أن يتزوج منهن فلينظر إليهن

Dan Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya pada mata wanita-wanita Ansar ada sesuatu (ciri khas). Jika salah seorang dari kalian hendak menikah dengan wanita dari mereka, maka hendaknya ia melihatnya terlebih dahulu."

قيل كان في أعينهن عمش

Ada yang mengatakan bahwa pada mata mereka terdapat kecacatan ('amasy / agak rabun atau kemerahan).

وقيل صغر وَكَانَ بَعْضُ الْوَرِعِينَ لَا يَنْكِحُونَ كَرَائِمَهُمْ إِلَّا بعد النظر احترازاً من الغرور

Ada pula yang mengatakan ukurannya kecil. Dahulu, sebagian orang yang bersikap wara' tidak mau menikahkan putri-putri mulia mereka melainkan setelah dilakukan penglihatan (proses nazhar) terlebih dahulu, sebagai bentuk kehati-hatian agar tidak terjebak dalam penipuan (kekecewaan).

قال الْأَعْمَشُ

Al-A'masy berkata:

كُلُّ تَزْوِيجٍ يَقَعُ عَلَى غَيْرِ نَظَرٍ فآخره هم وغم

Pernikahan apa pun yang terjadi tanpa adanya proses nazhar (melihat calon pasangan) terlebih dahulu, maka kesudahannya adalah keresahan dan kesedihan.

ومعلوم أن النظر لا يعرف الخلق والدين والمال وإنما يعرف الجمال من القبح

Telah dimaklumi bahwa memandang (nazhar) itu tidak dapat mengenali rupa akhlak, agama, maupun harta; ia hanyalah dapat membedakan antara kecantikan/ketampanan dari keburukan rupa.

وَرُوِيَ أَنَّ رَجُلًا تَزَوَّجَ عَلَى عَهْدِ عمر ﵁ وَكَانَ قَدْ خَضَبَ فَنَصَلَ خِضَابُهُ فَاسْتَعْدَى عَلَيْهِ أَهْلُ الْمَرْأَةِ إِلَى عمر وَقَالُوا حَسِبْنَاهُ شَابًّا فَأَوْجَعَهُ عمر ضَرْبًا وَقَالَ غررت القوم وروي أن بلالاً وصهيباً أتيا أهل بيت من العرب فخطبا إليهم فقيل لهما من أنتما فقال بلال أنا بلال وهذا أخي صهيب كنا ضالين فهدانا الله وكنا مملوكين فأعتقنا الله وكنا عائلين فأغنانا الله فإن تزوجونا فالحمد لله وإن تردونا فسبحان الله فقالوا بل تزوجان والحمد لله

Diriwayatkan bahwa ada seorang pria yang menikah pada masa Umar ﵁. Ia telah menyemir rambutnya, lalu semir tersebut luntur. Maka keluarga sang wanita mengadukannya kepada Umar seraya berkata, "Kami mengiranya masih muda." Lalu Umar memukulnya dengan pukulan yang menyakitkan seraya berkata, "Engkau telah menipu mereka!" Diriwayatkan pula bahwa Bilal dan Suhaib mendatangi suatu keluarga dari bangsa Arab untuk meminang putri mereka. Ditanyakan kepada keduanya, "Siapakah kalian berdua?" Bilal menjawab, "Aku adalah Bilal, dan ini saudaraku Suhaib. Dahulu kami tersesat, lalu Allah memberi kami petunjuk; dahulu kami adalah budak, lalu Allah memerdekakan kami; dan dahulu kami miskin, lalu Allah mencukupi kami. Jika kalian menikahkan kami, maka alhamdulillah (segala puji bagi Allah), namun jika kalian menolak kami, maka subhanallah (Mahasuci Allah)." Mereka pun menjawab, "Bahkan kami menikahkan kalian berdua, walhamdulillah."

فقال صهيب لو ذكرت مشاهدنا وسوابقنا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فقال اسكت فقد صدقت فأنكحك الصدق

Maka Suhaib berkata, "Alangkah baiknya jika engkau juga menyebutkan keikutsertaan kita dalam peperangan dan keutamaan-keutamaan terdahulu kita bersama Rasulullah ﷺ." Bilal menjawab, "Diamlah! Sungguh engkau telah berkata jujur, dan kejujuran itulah yang telah menikahkanmu."

وَالْغُرُورُ يَقَعُ فِي الْجَمَالِ وَالْخُلُقِ جَمِيعًا فَيُسْتَحَبُّ إِزَالَةُ الْغُرُورِ فِي الْجَمَالِ بِالنَّظَرِ وَفِي الْخُلُقِ بالوصف والإستيصاف فينبغي أن يقدم ذلك على النكاح وَلَا يَسْتَوْصِفُ فِي أَخْلَاقِهَا وَجَمَالِهَا إِلَّا مَنْ هو بصير صادق خبير بالظاهر والباطن ولا يَمِيلُ إِلَيْهَا فَيُفْرِطَ فِي الثَّنَاءِ وَلَا يَحْسُدُهَا فيقصر فالطباع مائلة في مبادي النكاح ووصف المنكوحات إلى الإفراط والتفريط وقل من يصدق فيه ويقتصد بَلِ الْخِدَاعُ وَالْإِغْرَاءُ أَغْلَبُ وَالِاحْتِيَاطُ فِيهِ مُهِمٌّ لمن يخشى على نفسه التشوف إلى غير زوجته

Kerancuan dan penipuan (al-ghurur) dapat terjadi baik pada aspek kecantikan maupun akhlak. Maka dianjurkan untuk menghilangkan kerancuan pada aspek kecantikan dengan cara melihat (nazhar), dan pada aspek akhlak dengan cara meminta penjelasan serta penggambaran sifat (isti'shaf). Seyogianya hal tersebut didahulukan sebelum akad nikah. Janganlah meminta gambaran mengenai akhlak dan kecantikannya melainkan kepada orang yang jeli, jujur, serta memahami lahir dan batin; yang tidak cenderung kepadanya hingga berlebihan dalam memuji, dan tidak pula dengki kepadanya hingga mengurang-ngurangi. Sebab, watak manusia pada permulaan pernikahan dan saat mendeskripsikan calon pasangan cenderung berlebihan (ifrath) atau mengurangkan (tafrith), dan amat sedikit orang yang bersikap jujur serta proporsional dalam hal tersebut. Bahkan tipu daya dan pembujukan justru lebih mendominasi, padahal kehati-hatian dalam hal ini sangat penting bagi orang yang mengkhawatirkan jiwanya akan berpaling kepada wanita selain istrinya.

فأما من أراد من الزوجة مجرد السنة أو الولد أو تدبير المنزل فلو رغب عن الجمال فهو إلى الزهد أقرب لأنه على الجملة باب من الدنيا وإن كان قد يعين على الدين في حق بعض الأشخاص

Adapun orang yang menghendaki dari seorang istri semata-mata untuk menegakkan sunnah, mendapatkan keturunan, atau mengurus rumah tangga, maka jika ia berpaling dari mengutamakan kecantikan rupa, sikapnya itu lebih dekat kepada zuhud. Sebab secara umum, kecantikan adalah salah satu pintu dunia, meskipun pada hak sebagian orang dapat membantu dalam urusan agama.

قال أبو سليمان الداراني الزهد في كل شيء حتى في المرأة يتزوج الرجل العجوز إيثاراً للزهد في الدنيا

Abu Sulaiman ad-Darani berkata, "Sikap zuhud berlaku dalam segala hal, bahkan dalam urusan wanita; seorang pria menikahi wanita yang tua demi mengutamakan sikap zuhud terhadap dunia."

وقد كان مالك بن دينار ﵀ يقول

Dahulu Malik bin Dinar ﵀ sering berkata:

يترك أحدكم أن يتزوج يتيمة فيؤجر فيها إن أطعمها وكساها تكون خفيفة المؤنة ترضى باليسير ويتزوج بنت فلان وفلان يعني أبناء الدنيا فتشتهي عليه الشهوات وتقول اكسني كذا وكذا واختار أحمد بن حنبل عوراء على أختها وكانت أختها جميلة فسأل من أعقلهما فقيل العوراء فقال زوجوني إياها فهذا دأب من لم يقصد التمتع فأما من لا يأمن على دينه ما لم يكن له مستمتع فليطلب الجمال فالتلذذ بالمباح حصن للدين

"Salah seorang dari kalian enggan menikahi anak yatim perempuan yang justru akan memberinya pahala jika ia memberi makan dan pakaian kepadanya, di mana ia berbiaya ringan serta ridha dengan yang sedikit; lalu ia justru menikahi putri si Fulan dan si Fulan—maksudnya para pemburu dunia—sehingga wanita itu menuntut berbagai keinginan darinya dan berkata, 'Beri aku pakaian ini dan itu.'" Imam Ahmad bin Hanbal pun pernah memilih wanita yang buta sebelah matanya ketimbang saudarinya, padahal saudarinya itu jelita. Beliau bertanya, "Siapakah yang lebih berakal di antara keduanya?" Dijawab, "Yang buta sebelah matanya." Maka beliau berkata, "Nikahkanlah aku dengannya." Ini adalah kebiasaan orang yang tidak bermaksud semata-mata mengejar kesenangan fisik (tamattu'). Adapun orang yang tidak merasa aman atas agamanya selama belum memiliki tempat mengenyam kesenangan yang halal, hendaklah ia mencari kecantikan rupa, sebab mengenyam kelezatan yang mubah merupakan benteng penjaga agama.

وقد قيل إذا كانت المرأة حسناء خيرة الأخلاق سوداء الحدقة والشعر كبيرة العين شديدة بيضاء اللون محبةً لزوجها قاصرة الطرف عليه فهي على صورة الحور العين فإن الله تعالى وصف نساء أهل الجنة بهذه الصفة في قوله ﴿خيرات حسان﴾ أراد بالخيرات حسنات الأخلاق وفي قوله ﴿قاصرات الطرف﴾ وفي قوله ﴿عرباً أتراباً﴾ العروب هي العاشقة لزوجها المشتهية للوقاع وبه تتم اللذة والحور البياض والحوراء شديدة بياض العين شديدة سوادها في سواد الشعر والعيناء الواسعة العين

Dan telah dikatakan bahwa jika seorang wanita itu parasnya jelita, akhlaknya mulia, bola mata dan rambutnya hitam pekat, matanya lebar, kulitnya amat putih bersih, amat mencintai suaminya, serta membatasi pandangannya hanya untuk suaminya, maka ia berada dalam keserupaan bidadari surga (al-hur al-'in). Sebab Allah Ta'ala menyifati wanita-wanita penghuni surga dengan sifat ini dalam firman-Nya, "Khairatun hisan" (Wanita-wanita yang baik lagi jelita)—yang dimaksud dengan 'khairat' adalah yang mulia akhlaknya—dan dalam firman-Nya, "Qashiratut-tharf" (Wanita-wanita yang memelihara pandangannya), serta dalam firman-Nya, "'Uruban atraba". Al-'Arub adalah wanita yang amat mencintai suaminya dan mendambakan persetubuhan dengannya yang dengannya kelezatan menjadi sempurna. Al-Hur berarti keputihan yang murni, al-haura' adalah wanita yang sangat putih bagian putih matanya dan sangat hitam bagian hitam matanya sehitam rambutnya, sedangkan al-'aina' adalah wanita yang matanya lebar.

وقال ﷺ خير نسائكم من إذا نظر إليها زوجها سرته وإذا أمرها أطاعته وإذا غاب عنها حفظته في نفسها وماله

Rasulullah ﷺ bersabda, "Sebaik-baik wanita kalian adalah yang apabila dipandang oleh suaminya ia membahagiakannya, apabila diperintah ia menaatinya, dan apabila suaminya tidak ada ia menjaga kehormatan dirinya dan harta suaminya."

وإنما يسر بالنظر إليها إذا كانت محبة للزوج

Hanyasanya seorang suami merasa bahagia ketika memandangnya apabila wanita tersebut memiliki rasa cinta yang mendalam kepada suaminya.

الرابعة أن تكون خفيفة المهر

Kriteria keempat: hendaklah wanita itu ringankan (murah) maharnya.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ خير النساء أحسنهن وجوهاً وأرخصهن مهوراً

Rasulullah ﷺ bersabda, "Sebaik-baik wanita adalah yang paling indah parasnya dan paling terjangkau (ringan) maharnya."

وقد نهى عن المغالاة في المهر

Sungguh, telah ada larangan dari sikap berlebih-lebihan (memahalkan) dalam menetapkan mahar.

تزوج رسول الله ﷺ بعض نسائه على عشرة دراهم وأثاث بيت وكان رحى يد وجرة ووسادة من أدم حشوها ليف

Rasulullah ﷺ menikahi sebagian istri beliau dengan mahar sepuluh dirham dan perabotan rumah tangga, yang berupa batu kilangan penumbuk gandum, bejana air dari tanah liat, serta bantal dari kulit yang berisi serat sabut kelapa.

وعلى وأولم على بعض نسائه بمدين من شعير

Dan beliau mengadakan walimah (pesta pernikahan) atas sebagian istrinya hanya dengan dua mud gandum.

وعلى أخرى بمدين من تمر ومدين من سويق

Dan atas istri yang lain dengan dua mud kurma dan dua mud adonan tepung gandum (sawiq).

وكان عمر ﵁ ينهي عن المغالاة في الصداق ويقول ما تزوج رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وَلَا زوج بناته بأكثر من أربعمائة درهم

Dahulu Umar ﵁ melarang sikap berlebih-lebihan dalam menetapkan mahar seraya berkata, "Rasulullah ﷺ tidak pernah menikah dan tidak pula menikahkan putri-putri beliau dengan mahar lebih dari empat ratus dirham."

ولو كانت المغالاة بمهور النساء مكرمة لسبق إليها رسول الله ﷺ وقد تزوج بعض أصحاب رسول الله ﷺ على نواة من ذهب قِيمَتُهَا خَمْسَةُ دَرَاهِمَ

Sekiranya memahalkan mahar wanita merupakan suatu kemuliaan, niscaya Rasulullah ﷺ telah mendahuluinya. Sungguh sebagian sahabat Rasulullah ﷺ ada yang menikah dengan mahar sebutir biji emas yang nilainya setara dengan lima dirham.

وَزَوَّجَ سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ ابْنَتَهُ مِنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ﵁ عَلَى دِرْهَمَيْنِ ثُمَّ حَمَلَهَا هُوَ إِلَيْهِ لَيْلًا فأدخلها هو مِنَ الْبَابِ ثُمَّ انْصَرَفَ ثُمَّ جَاءَهَا بَعْدَ سبعة أيام فسلم عليها ولو تزوج على عشرة دراهم للخروج من خلاف العلماء فلا بأس به

Sa'id bin al-Musayyib pernah menikahkan putrinya dengan (putra) Abu Hurairah r.a. dengan mahar dua dirham. Kemudian Sa'id sendiri yang mengantarkan putrinya ke rumah suaminya pada malam hari dan memasukkannya lewat pintu, lalu beliau pulang. Setelah tujuh hari, Sa'id mendatangi putrinya dan mengucapkan salam padanya. Dan seandainya seseorang menikah dengan mahar sepuluh dirham demi keluar dari perselisihan pendapat para ulama (khilafiyah), maka hal itu tidak mengapa.

وفي الخبر مِنْ بَرَكَةِ الْمَرْأَةِ سُرْعَةُ تَزْوِيجِهَا وَسُرْعَةُ رَحِمِهَا أي الولادة ويسر مهرها

Dalam sebuah riwayat disebutkan: 'Di antara keberkahan seorang wanita adalah kemudahan (proses) pernikahannya, kesuburan rahimnya—yakni kemudahan melahirkan—serta keringanan maharnya.'

وقال أيضاً أبركهن أقلهن مهراً

Beliau (Nabi ﷺ) juga bersabda: 'Wanita yang paling besar keberkahannya adalah yang paling ringan maharnya.'

وَكَمَا تُكْرَهُ الْمُغَالَاةُ فِي الْمَهْرِ مِنْ جِهَةِ الْمَرْأَةِ فَيُكْرَهُ السُّؤَالُ عَنْ مَالِهَا مِنْ جِهَةِ الرَّجُلِ

Sebagaimana dimakruhkan menetapkan mahar yang terlalu mahal dari pihak wanita, dimakruhkan pula bertanya tentang harta pihak wanita dari pihak laki-laki.

وَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَنْكِحَ طَمَعًا فِي المال

Dan tidak sepantasnya seseorang menikah hanya karena tamak (serakah) akan harta benda.

قال النوري إذا تزوج وقال أي شيء للمرأة فأعلم أنه لص وَإِذَا أَهْدَى إِلَيْهِمْ فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يُهْدِيَ لِيَضْطَرَّهُمْ إِلَى الْمُقَابَلَةِ بِأَكْثَرَ مِنْهُ وَكَذَلِكَ إِذَا أَهْدَوْا إِلَيْهِ فَنِيَّةُ طَلَبِ الزِّيَادَةِ نِيَّةٌ فَاسِدَةٌ فأما التهادي فمستحب وهو سبب المودة

An-Nuri berkata: 'Jika seorang laki-laki menikah lalu bertanya tentang harta yang dimiliki wanita tersebut, ketahuilah bahwa dia adalah seorang pencuri.' Dan apabila laki-laki itu memberi hadiah kepada pihak wanita, tidak sepantasnya ia memberi hadiah dengan tujuan memaksa mereka membalasnya dengan yang lebih banyak. Demikian pula jika mereka memberi hadiah kepadanya, niat menuntut balasan yang lebih banyak adalah niat yang rusak. Adapun saling memberi hadiah secara ikhlas adalah hal yang disunnahkan dan menjadi sebab tumbuhnya rasa kasih sayang.

قال ﷺ تهادوا تحابوا

Rasulullah ﷺ bersabda: 'Saling berilah hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai.'

وأما طلب الزيادة فداخل في قوله تعالى ولا تمنن تستكثر أي تعطي لتطلب أكثر وتحت قوله تعالى وما آتيتم من ربا ليربوا في أموال الناس فإن الربا هو الزيادة وهذا طلب زيادة على الجملة وإن لم يكن في الأموال الربوية فكل ذلك مكروه وبدعة في النكاح يشبه التجارة والقمار ويفسد مقاصد النكاح

Adapun menuntut balasan yang lebih banyak, hal itu termasuk dalam firman Allah Ta'ala: 'Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak' (QS. Al-Muddassir: 6), yakni engkau memberi agar menuntut balasan yang lebih banyak; serta termasuk dalam firman-Nya: 'Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar ia bertambah pada harta manusia…' (QS. Ar-Rum: 39), karena rupa hakiki riba adalah tambahan. Dan ini secara umum merupakan bentuk penuntutan tambahan, meskipun tidak terjadi pada harta ribawi. Semua itu hukumnya makruh dan merupakan perkara bid'ah dalam pernikahan yang menyerupai perdagangan serta perjudian, dan dapat merusak tujuan-tujuan luhur pernikahan.

الْخَامِسَةُ أَنْ تَكُونَ الْمَرْأَةُ وَلُودًا فَإِنْ عُرِفَتْ بالعقر فليمتنع عن تزوجها

Kriteria kelima: Hendaknya wanita tersebut adalah wanita yang subur (berpotensi melahirkan banyak anak). Jika ia diketahui mandul, hendaknya ia menghindar dari menikahinya.

قال ﷺ عليكم

Rasulullah ﷺ bersabda: 'Hendaklah kalian menikahi…'

بالولود الودود

'…wanita yang penyayang lagi subur (banyak anak).'

فإن لم يكن لها زوج ولم يعرف حالها فيراعي صحتها وشبابها فإنها تكون ولوداً في الغالب مع هذين الوصفين

Jika wanita tersebut belum pernah menikah dan tidak diketahui keadaan (kesuburan) rahimnya, hendaklah memperhatikan kesehatan dan usianya yang masih muda, karena umumnya wanita subur jika memiliki kedua sifat tersebut.

السادسة أن تكون بكرا قال ﷺ لجابر وَقَدْ نَكَحَ ثَيِّبًا هَلَّا بِكْرًا تُلَاعِبُهَا وتلاعبك

Kriteria keenam: Hendaknya ia seorang gadis (perawan). Rasulullah ﷺ bersabda kepada Jabir r.a. ketika beliau menikahi seorang janda: 'Mengapa engkau tidak menikahi seorang gadis saja, sehingga engkau bisa bercanda dengannya dan ia pun bisa bercanda dengannmu?'

في البكارة ثلاث فوائد

Dalam keperawanan (menikahi gadis) terdapat tiga manfaat:

إحداها أن تحب الزوج وتألفه فيؤثر في معنى الود وقد قال ﷺ عليكم بالودود والطباع مجبولة على الأنس بأول مألوف

Pertama: Ia akan mencintai suaminya dan merasa terbiasa dengannya, sehingga hal ini menguatkan makna rasa kasih sayang (al-wudd). Rasulullah ﷺ telah bersabda: 'Hendaklah kalian menikahi wanita yang penyayang', sedangkan tabiat manusia itu secara alami cenderung merasa nyaman dengan sesuatu yang pertama kali dikenalnya.

وأما التي اختبرت الرجال ومارست الأحوال فربما لا ترضى بعض الأوصاف التي تخالف ما ألفته فتقلي الزوج

Adapun wanita yang telah berpengalaman dengan laki-laki dan mengenal berbagai keadaan, terkadang ia tidak ridha terhadap sebagian sifat yang berbeda dari apa yang biasa ditemuinya, sehingga ia bisa membenci suaminya.

الثانية أن ذلك أكمل في مودته لها فإن الطبع ينفر عن التي مسها غير الزوج نفرة ما وذلك يثقل على الطبع مهما يذكر وبعض الطباع في هذا أشد نفوراً

Kedua: Hal itu lebih sempurna dalam menumbuhkan rasa kasih sayang suami kepadanya. Sebab, tabiat manusia cenderung enggan terhadap wanita yang pernah disentuh oleh laki-laki lain, dan hal tersebut terasa berat bagi naluri setiap kali teringat, bahkan sebagian watak merasa sangat enggan dalam hal ini.

الثالثة أنها لا تحن إلى الزوج الأول وآكد الحب ما يقع مع الحبيب الأول غالباً

Ketiga: Wanita tersebut tidak akan merindukan suami pertamanya, padahal cinta yang paling kuat pada umumnya adalah cinta yang terjalin dengan kekasih pertama.

السَّابِعَةُ أَنْ تَكُونَ نَسِيبَةً أَعْنِي أَنْ تَكُونَ مِنْ أَهْلِ بَيْتِ الدِّينِ وَالصَّلَاحِ فَإِنَّهَا سَتُرَبِّي بَنَاتِهَا وَبَنِيهَا فَإِذَا لَمْ تَكُنْ مُؤَدَّبَةً لَمْ تحسن التأديب والتربية ولذلك قال ﷺ إياكم وخضراء الدمن فقيل ما خضراء الدمن قال المرأة الحسناء في المنبت السوء

Kriteria ketujuh: Hendaknya ia berasal dari keturunan yang baik (nasibah), yaitu berasal dari keluarga yang taat beragama dan saleh. Sebab, ia nantinya akan mendidik anak-anak perempuannya dan anak-anak laki-lakinya. Jika ia sendiri tidak terdidik berakhlak, niscaya ia tidak akan mampu mendidik dan membesarkan anak dengan baik. Oleh karena itulah Rasulullah ﷺ bersabda: 'Jauhilah oleh kalian khadhra' ad-diman (rumput hijau di atas kotoran)!' Dikatakan kepada beliau: 'Apakah khadhra' ad-diman itu?' Beliau menjawab: 'Wanita yang cantik yang tumbuh di lingkungan yang buruk.'

وقال ﷺ تَخَيَّرُوا لِنُطَفِكُمْ فَإِنَّ الْعِرْقَ نَزَّاعٌ

Dan Rasulullah ﷺ bersabda: 'Pilihlah tempat yang baik untuk benih (sperma) kalian, karena sesungguhnya faktor keturunan (karakter bawaan) itu sangat kuat pengaruhnya.'

الثَّامِنَةُ أَنْ لَا تَكُونَ مِنَ الْقَرَابَةِ الْقَرِيبَةِ فَإِنَّ ذَلِكَ يقلل الشهوة قال ﷺ لا تنكحوا القرابة القريبة فإن الولد يخلق ضاوياً

Kriteria kedelapan, hendaklah wanita tersebut bukan dari kerabat dekat, karena hal itu dapat mengurangi syahwat (hasrat seksual). Rasulullah ﷺ bersabda, "Janganlah kalian menikahi kerabat dekat, karena anak yang dilahirkan nantinya akan lemah fisik (kurus)."

أي نحيفاً وذلك لتأثيره في تضعيف الشهوة فإن الشهوة إنما تنبعث بقوة الإحساس بالنظر واللمس وإنما يقوى الإحساس بالأمر الغريب الجديد فأما المعهود الذي دام النظر إليه مدة فإنه يضعف الحس عن تمام إدراكه والتأثر به ولا تنبعث به الشَّهْوَةَ فَهَذِهِ هِيَ الْخِصَالُ الْمُرَغِّبَةُ فِي النِّسَاءِ وَيَجِبُ عَلَى الْوَلِيِّ أَيْضًا أَنْ يُرَاعِيَ خِصَالَ الزَّوْجِ وَلْيَنْظُرْ لِكَرِيمَتِهِ فَلَا يُزَوِّجْهَا مِمَّنْ سَاءَ خُلُقُهُ أَوْ خَلْقُهُ أَوْ ضَعُفَ دَيْنُهُ أَوْ قَصَّرَ عَنِ الْقِيَامِ بِحَقِّهَا أَوْ كَانَ لَا يكافئها في نسبها قال ﷺ النكاح رق فلينظر أحدكم أين يضع كريمته

Maksudnya adalah kurus atau lemah. Hal itu disebabkan oleh pengaruhnya dalam melemahkan syahwat. Sesungguhnya syahwat itu timbul karena kuatnya sensasi melalui pandangan dan sentuhan, sedangkan sensasi tersebut menjadi kuat terhadap hal yang baru dan asing. Adapun apa yang sudah terbiasa dilihat dalam jangka waktu lama, maka indra akan melemah untuk merasakannya secara sempurna dan terpengaruh darinya, sehingga syahwat tidak tergerak. Inilah sifat-sifat yang mendatangkan kehendak (daya tarik) pada wanita. Seorang wali juga wajib memperhatikan sifat-sifat calon suami; hendaklah ia mencermati demi kebaikan putri tercintanya, sehingga tidak menikahkannya dengan orang yang buruk akhlaknya, buruk rupanya, lemah agamanya, lalai dalam menunaikan haknya, atau tidak sepadan (kufu) dalam nasabnya. Rasulullah ﷺ bersabda, "Pernikahan adalah bentuk perbudakan (keterikatan), maka hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan di mana ia menempatkan putri tercintanya."

والاحتياط في حقها أهم لأنها رقيقة بالنكاح لا مخلص لها والزوج قادر على الطلاق بكل حال وَمَهْمَا زَوَّجَ ابْنَتَهُ ظَالِمًا أَوْ فَاسِقًا أَوْ مُبْتَدِعًا أَوْ شَارِبَ خَمْرٍ فَقَدْ جَنَى عَلَى دِينِهِ وَتَعَرَّضَ لِسُخْطِ اللَّهِ لِمَا قَطَعَ مِنْ حق الرحم وسوء الاختيار

Sikap hati-hati demi hak wanita itu jauh lebih penting, karena ia menjadi terikat oleh pernikahan tanpa ada jalan keluar baginya secara mandiri, sedangkan suami berkuasa melakukan talak dalam keadaan apa pun. Apabila seorang ayah menikahkan putrinya dengan orang yang zalim, fasik, pelaku bid'ah, atau peminum khamar, maka sungguh ia telah berbuat dosa terhadap agamanya dan memancing kemurkaan Allah, karena ia telah memutuskan hak silaturahmi dan melakukan pilihan yang buruk.

وقال رجل للحسن قد خطب ابنتي جماعة فمن أُزَوِّجُهَا قَالَ مِمَّنْ يَتَّقِي اللَّهَ فَإِنْ أَحَبَّهَا أكرمها وإن أبغضها لم يظلمها

Seseorang berkata kepada Al-Hasan Al-Bashri, "Banyak orang yang telah meminang putriku, maka kepada siapakah aku harus menikahkannya?" Beliau menjawab, "Kepada orang yang bertakwa kepada Allah. Sebab, jika ia mencintainya maka ia akan memuliakannya, dan jika ia membencinya maka ia tidak akan menzaliminya."

وقال ﷺ من زوج كريمته من فاسق فقد قطع رحمها

Rasulullah ﷺ bersabda, "Barang siapa menikahkan putri tercintanya dengan orang yang fasik, maka sungguh ia telah memutuskan tali silaturahminya."

الباب الثالث في آداب المعاشرة وما يجري في دوام النكاح

Bab Ketiga: Perihal Adab Bergaul Suami-Istri dan Hal-Hal yang Berlaku dalam Keberlangsungan Pernikahan.

والنظر فيما على الزوج وفيما على الزوجة

Pembahasan mengenai kewajiban-kewajiban yang ditanggung suami dan kewajiban-kewajiban yang ditanggung istri.

أما الزوج فعليه مراعاة الاعتدال والأدب فِي اثْنَيْ عَشَرَ أَمْرًا فِي الْوَلِيمَةِ وَالْمُعَاشَرَةِ وَالدُّعَابَةِ وَالسِّيَاسَةِ وَالْغَيْرَةِ وَالنَّفَقَةِ وَالتَّعْلِيمِ وَالْقَسْمِ وَالتَّأْدِيبِ فِي النُّشُوزِ وَالْوِقَاعِ وَالْوِلَادَةِ وَالْمُفَارَقَةِ بِالطَّلَاقِ

Adapun suami, ia wajib menjaga sikap moderat (pertengahan) dan adab dalam dua belas perkara: walimah (resepsi pernikahan), pergaulan, bersenda gurau, kepemimpinan (mendidik dan mengatur), kecemburuan, nafkah, pengajaran ilmu agama, pembagian gilir malam, penertiban saat terjadi nusyuz (pembangkangan), jima' (hubungan intim), kelahiran anak, dan perceraian dengan talak.

الْأَدَبُ الْأَوَّلُ الْوَلِيمَةُ وَهِيَ مُسْتَحَبَّةٌ قَالَ أنس ﵁ رَأَى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَلَى عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ ﵁ أَثَرَ صُفْرَةٍ فَقَالَ ﴿مَا هَذَا﴾ فَقَالَ تَزَوَّجْتُ امْرَأَةً عَلَى وَزْنِ نَوَاةٍ مِنْ ذَهَبٍ

Adab pertama: Walimah (resepsi pernikahan), dan hukumnya adalah sunnah (mustahab). Anas radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ melihat bekas wewangian berwarna kuning pada diri 'Abdurrahman bin 'Auf radhiyallahu 'anhu, lalu beliau bertanya, "Apakah ini?" Ia menjawab, "Aku telah menikahi seorang wanita dengan mahar seberat biji kurma berupa emas."

فَقَالَ بَارَكَ اللَّهُ لَكَ أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ

Lalu Rasulullah ﷺ bersabda, "Semoga Allah memberkahimu. Adakanlah walimah walaupun hanya dengan menyembelih seekor kambing."

وَأَوْلَمَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ على صفية بتمر وسويق

Dan Rasulullah ﷺ mengadakan walimah untuk pernikahannya dengan Shaffiyyah dengan hidangan kurma dan adonan tepung (sawiq).

وقال ﷺ طعام أول يوم حق وطعام الثاني سنة وطعام الثالث سمعة ومن سمع سمع الله به

Rasulullah ﷺ bersabda, "Makanan walimah pada hari pertama adalah sebuah kebenaran (hak), hari kedua adalah sunnah, dan hari ketiga adalah sum'ah (pamer popularitas). Barang siapa yang berniat pamer, niscaya Allah akan memperlihatkan keburukannya."

ولم يرفعه إلا زياد بن عبد الله وهو غريب

Tidak ada yang menyandarkan (marfu') hadis ini sampai ke Nabi ﷺ kecuali Ziyad bin 'Abdillah, dan riwayat ini berstatus gharib.

وَتُسْتَحَبُّ تَهْنِئَتُهُ فَيَقُولُ مَنْ دَخَلَ عَلَى الزَّوْجِ بَارَكَ اللَّهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا في خير

Disunnahkan pula mengucapkan selamat (tahni'ah) kepadanya. Hendaklah orang yang menemui pengantin pria mengucapkan: "Bârakallâhu laka wa bâraka 'alaika wa jama'a bainakumâ fî khair" (Semoga Allah memberkahimu, menetapkan keberkahan atasmu, dan menghimpun kalian berdua dalam kebaikan).

وروى أبو هريرة ﵁ أنه ﷺ أمر بذلك ويستحب إظهار النكاح

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah ﷺ memerintahkan hal tersebut. Dan disunnahkan pula untuk mengumumkan pernikahan (menampakkannya kepada publik).

قال ﷺ فَصْلُ مَا بَيْنَ الْحَلَالِ وَالْحَرَامِ الدُّفُّ وَالصَّوْتُ

Rasulullah ﷺ bersabda, "Pembeda antara yang halal (pernikahan sah) dan yang haram (perzinaan) adalah tabuhan rebana dan suara (pengumuman)."

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أعلنوا هذا النكاح واجعلوه في المساجد واضربوا عليه بالدفوف

Rasulullah ﷺ bersabda, "Umumkanlah pernikahan ini, selenggarakanlah di masjid-masjid, dan pukullah rebana untuk merayakannya."

وعن الربيع بنت معوذ قالت جاء رسول الله ﷺ فدخل غداة بنى بي فجلس على فراشي وجويريات لنا يضربن بدفهن ويندبن من قتل من آبائي إلى أن قالت إحداهن وفينا نبي يعلم ما في غد فقال لها اسكتي عن هذه وقولي الذي كنت تقولين قبلها

Diriwayatkan dari Ar-Rabi' binti Mu'awwidz, ia berkata: Rasulullah ﷺ datang lalu masuk pada pagi hari setelah malam pernikahan saya. Beliau duduk di atas tempat tidur saya, sementara beberapa anak perempuan kecil kami memukul rebana mereka dan mendendangkan syair pujian bagi leluhur kami yang gugur (di Perang Badar). Sampai salah seorang di antara mereka berkata: "Dan di antara kita ada seorang Nabi yang mengetahui apa yang akan terjadi esok hari." Maka Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya: "Tinggalkan ucapan ini, dan teruskanlah apa yang engkau nyanyikan sebelumnya."

الْأَدَبُ الثَّانِي حُسْنُ الْخُلُقِ مَعَهُنَّ وَاحْتِمَالُ الْأَذَى منهن ترحماً عليهن لقصور عقلهن

Adab kedua: Berakhlak baik terhadap wanita (istri) serta bersabar dan menanggung gangguan dari mereka sebagai bentuk kasih sayang karena keterbatasan akal mereka.

وقال الله تعالى وعاشروهن بالمعروف وَقَالَ فِي تَعْظِيمِ حَقِّهِنَّ وَأَخَذْنَ مِنْكُمْ مِيثَاقًا غليظاً ﴿وقال﴾ والصاحب بالجنب قيل هي المرأة وآخر ما وصى به رسول الله ﷺ ثلاث كان يتكلم بهم حتى تلجلج لسانه وخفي كلامه جعل يقول الصلاة الصلاة وما ملكت أيمانكم لا تكلفوهم ما لا يطيقون

Allah Ta'ala berfirman, "Dan bergaullah dengan mereka secara patut." (QS. An-Nisa': 19). Dan Allah berfirman dalam mengagungkan hak mereka, "Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang teguh." (QS. An-Nisa': 21). Dan Allah berfirman, "Dan teman sejawat" (QS. An-Nisa': 36), yang ditafsirkan sebagai istri. Dan wasiat terakhir yang disampaikan Rasulullah ﷺ terdiri dari tiga hal, yang terus beliau ucapkan hingga lidah beliau kelu dan perkataannya samar, beliau senantiasa bersabda: "Jagalah shalat, jagalah shalat! Dan bertakwalah kepada Allah atas hamba sahaya yang kalian miliki, janganlah kalian membebani mereka dengan apa yang tidak sanggup mereka pikul."

الله الله فإنهن عوان في أيديكم يعني أسراء أخذتموهن بأمانة الله واستحللتم فروجهن بكلمة الله

Bertakwalah kepada Allah, bertakwalah kepada Allah dalam urusan wanita, karena sesungguhnya mereka adalah tawanan di tangan kalian. Yaitu tawanan yang kalian ambil dengan amanah Allah dan kalian halalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah.

وقال ﷺ من صبر على سوء خلق امرأته

Dan Rasulullah ﷺ bersabda: "Barang siapa yang bersabar atas keburukan akhlak istrinya,

أعطاه الله من الأجر مثل ما أعطى أيوب على بلائه ومن صبرت على سوء خلق زوجها أعطاها الله مثل ثواب آسية امرأة فرعون حديث كان أزواجه ﷺ يراجعنه الحديث وتهجره الواحدة منهن يوماً إلى الليل متفق عليه من حديث عمر في الحديث الطويل في قوله تعالى فان تظاهرا عليه

Maka Allah akan memberinya pahala seperti yang diberikan-Nya kepada Nabi Ayyub atas ujiannya. Dan barang siapa (istri) yang bersabar atas keburukan akhlak suaminya, maka Allah akan memberinya pahala seperti pahala Asiyah, istri Firaun." Hadis tentang bahwa para istri Nabi ﷺ biasa menyanggah perkataan beliau dan salah seorang dari mereka tidak menyapa beliau dari siang hingga malam hari, adalah hadis muttafaq 'alaih dari hadis Umar dalam riwayat yang panjang mengenai firman Allah Ta'ala: "Jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi…"

وراجعت امرأة عمر ﵁ عمر في الكلام فقال أتراجعيني يالكعاء فقالت إن أزواج رسول الله ﷺ يراجعنه وهو خير منك حديث دفعت إحداهن في صدر رسول الله ﷺ فزبرتها أمها فقال ﷺ دعيها فنهن يصنعن أكثر من ذلك لم اقف له على أصل حديث جرى بينه وبين عائشة كلام حتى أدخل بينهما أبا بكر حكماالحديث أخرجه الطبراني في الأوسط والخطيب في التاريخ من حديث عائشة بسند ضعيف حديث قالت له عائشة مرة غضبت عنده وأنت الذي تزعم أنك نبي فتبسم رسول الله ﷺ أخرجه أبو يعلى في مسنده وأبو الشيخ في كتاب الأمثال من حديث عائشة وفيه ابن اسحق وقد عنعنه حديث كان يقول لعائشة إني لأعرف غضبك من رضاك الحديث متفق عليه سن حديثها حديث أول حب وقع في الإسلام حب النبي ﷺ عائشة رواه الشيخان من حديث عمرو بن العاص أنه قال أي الناس أحب إليك يا رسول الله قال عائشة الحديث وأما كونه أول فرواه ابن الجوزي في الموضوعات من حديث أنس ولعله أراد بالمدينة كما في الحديث الآخر أن ابن الزبير أول مولود ولد في الإسلام يريد بالمدينة وإلا فمحبة النبي ﷺ لخديجة أمر معروف تشهد له الأحاديث الصحيحة حديث كان يقول لعائشة كنت لك كأبي زرع لأم زرع غير أني لا أطلقك متفق عليه من حديث عائشة دون الاستثناء ورواه بهذه الزيادة الزبير بن بكار والخطيب حديث لا تؤذوني في عائشة فإنه والله ما أنزل علي الوحي وأنا في لحاف امرأة منكن غيرها رواه البخاري من حديث عائشة حديث أنس كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أرحم الناس بالنساء والصبيان رواه مسلم بلفظ ما رأيت أحدا كان أرحم بالعيال من رسول الله ﷺ زاد علي بن عبد العزيز والبغوي والصبيان //

Istri Umar radhiyallahu 'anhu pernah menyanggah perkataan Umar, lalu Umar berkata, "Apakah engkau berani menyanggahku, wahai wanita bodoh?" Istrinya menjawab, "Sesungguhnya istri-istri Rasulullah ﷺ menyanggah perkataan beliau, padahal beliau lebih baik darimu." Hadis: Salah seorang istri beliau pernah mendorong dada Rasulullah ﷺ, lalu ibunya menegurnya. Rasulullah ﷺ bersabda, "Biarkanlah dia, karena mereka biasa melakukan lebih dari itu." (Aku belum menemukan sanad asal hadis ini). Hadis: Pernah terjadi perselisihan antara beliau dan Aisyah hingga beliau menghadirkan Abu Bakar sebagai penengah… (Diriwayatkan oleh at-Thabrani dalam al-Awsath dan al-Khatib dalam at-Tarikh dari hadis Aisyah dengan sanad yang dhaif). Hadis: Aisyah pernah berkata kepada beliau ketika sedang marah di hadapan beliau, "Dan engkaulah yang mengklaim bahwa engkau seorang nabi!" Maka Rasulullah ﷺ pun tersenyum. (Diriwayatkan oleh Abu Ya'la dalam Musnadnya dan Abu asy-Syaikh dalam Kitab al-Amtsal dari hadis Aisyah, dan di dalamnya terdapat Ibn Ishaq yang meriwayatkan dengan 'an'anah). Hadis: Beliau pernah berkata kepada Aisyah, "Sesungguhnya aku mengetahui marahmu dari ridhamu…" (Hadis muttafaq 'alaih). Hadis: "Cinta pertama yang terjadi dalam Islam adalah cinta Nabi ﷺ kepada Aisyah." (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari hadis Amr bin al-Ash bahwa dia bertanya, "Siapakah manusia yang paling engkau cintai, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Aisyah…"). Adapun pernyataan bahwa itu adalah cinta "pertama", maka diriwayatkan oleh Ibnul Jauzi dalam al-Maudhu'at dari hadis Anas, dan mungkin yang dimaksud adalah di Madinah, sebagaimana dalam hadis lain bahwa Ibn az-Zubair adalah bayi pertama yang lahir dalam Islam—maksudnya di Madinah—sebab jika tidak demikian, rasa cinta Nabi ﷺ kepada Khadijah adalah perkara yang telah dimaklumi dan disaksikan oleh hadis-hadis shahih. Hadis: Beliau pernah berkata kepada Aisyah, "Aku bagimu seperti Abu Zar' bagi Umm Zar', hanya saja aku tidak menceraikanmu." (Muttafaq 'alaih dari hadis Aisyah tanpa pengecualian tersebut, dan diriwayatkan dengan tambahan ini oleh az-Zubair bin Bakkar dan al-Khatib). Hadis: "Janganlah kalian menyakitiku dalam urusan Aisyah, demi Allah, tidaklah wahyu turun kepadaku saat aku berada dalam satu selimut dengan seorang wanita di antara kalian selain dirinya." (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dari hadis Aisyah). Hadis Anas: "Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling penyayang terhadap wanita dan anak-anak." (Diriwayatkan oleh Muslim dengan lafaz: "Aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih penyayang kepada keluarga daripada Rasulullah ﷺ", dan Ali bin Abdul Aziz serta al-Baghawi menambahkan: "dan anak-anak").

الثَّالِثُ أَنْ يَزِيدَ عَلَى احْتِمَالِ الْأَذَى بِالْمُدَاعَبَةِ وَالْمَزْحِ وَالْمُلَاعَبَةِ فَهِيَ الَّتِي تُطَيِّبُ قُلُوبَ النِّسَاءِ وَقَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَمْزَحُ مَعَهُنَّ وَيَنْزِلُ إِلَى دَرَجَاتِ عُقُولِهِنَّ في الأعمال والأخلاق حتى روي أنه ﷺ كان يسابق عائشة في العدو فسبقته يوماً وسبقها في بعض الأيام فقال ﷺ هذه بتلك

Yang ketiga: Hendaklah ia tidak hanya sebatas menanggung gangguan (bersabar atas perlakuan istri), tetapi melampauinya dengan bercanda, bersenda gurau, dan mengajak bermain. Sebab, hal itulah yang dapat menyenangkan hati para wanita. Rasulullah ﷺ sendiri biasa bercanda dengan istri-istri beliau dan menurunkan tingkatan diri beliau sesuai kadar akal mereka dalam perbuatan dan akhlak, hingga diriwayatkan bahwa beliau ﷺ pernah berlomba lari dengan Aisyah. Pada suatu hari Aisyah mendahului beliau, dan pada hari yang lain beliau mendahuluinya, lalu beliau ﷺ bersabda: "Kemenangan ini untuk membalas kekalahan yang lalu."

وفي الخبر أنه كان ﷺ من أفكه الناس مع نسائه

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa beliau ﷺ adalah orang yang paling ramah dan penuh canda di antara manusia ketika bersama istri-istrinya.

وقالت عائشة ﵂ سمعت أصوات أناس من الحبشة وغيرهم وهم يلعبون في يوم عاشوراء فقال لي رسول الله ﷺ أتحبين أن تري لعبهم قالت قلت نعم فأرسل إليهم فجاؤا وقام رسول الله ﷺ بين البابين فوضع كفه على الباب ومد يده ووضعت ذقني على يده وجعلوا يلعبون وأنظر وَجَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يقول ﴿حسبك﴾ وأقول اسكت مرتين أو ثلاثاً ثم قال يا عائشة حسبك فقلت نعم فأشار إليهم فانصرفوا

Aisyah radhiyallahu 'anha berkata, "Aku mendengar suara orang-orang Habasyah dan lainnya yang sedang bermain pada hari Asyura. Lalu Rasulullah ﷺ bersabda kepadaku, 'Apakah engkau suka untuk melihat permainan mereka?' Aku menjawab, 'Ya.' Beliau lalu mengutus utusan kepada mereka hingga mereka datang. Rasulullah ﷺ berdiri di antara dua pintu, meletakkan telapak tangannya pada pintu dan merentangkan tangannya, lalu aku meletakkan daguku di atas tangan beliau. Mereka pun bermain sementara aku melihatnya. Rasulullah ﷺ berkali-kali bertanya, 'Apakah sudah cukup bagimu?' Dan aku berkata, 'Tunggulah sebentar,' sebanyak dua atau tiga kali. Kemudian beliau bersabda, 'Wahai Aisyah, apakah sudah cukup?' Aku menjawab, 'Ya.' Beliau lalu memberi isyarat kepada mereka, maka mereka pun pergi."

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أكمل المؤمنين إيماناً أحسنهم خلقاً وألطفهم بأهله

Maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya dan yang paling lemah lembut kepada keluarganya."

وَقَالَ ﷺ خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لنسائه وأنا خيركم لنسائي

Dan beliau ﷺ bersabda: "Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya, dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian terhadap istri-istriku."

وقال عمر ﵁ مع خشونته ينبغي للرجل أن يكون في أهله مثل الصبي فإذا التمسوا ما عنده وجد رجلاً

Umar radhiyallahu 'anhu berkata, di samping ketegasannya: "Hendaklah seorang laki-laki ketika berada di tengah keluarganya menjadi seperti seorang anak kecil. Namun, jika mereka membutuhkan ketegasan dan kewibawaannya, ia ditemukan sebagai seorang lelaki sejati."

وقال لقمان ﵀ ينبغي للعاقل أن يكون في أهله كالصبي وإذا كان في القوم وجد رجلاً

Luqman al-Hakim rahmatullah 'alaih berkata: "Sepatutnya bagi orang yang berakal untuk menjadi seperti anak kecil saat berada bersama keluarganya; namun ketika berada di tengah kaumnya (masyarakat), ia tampil sebagai lelaki yang matang."

وفي تفسير الخبر المروي إن الله يبغض الجعظري الجواظ

Dalam penafsiran hadis yang diriwayatkan: "Sesungguhnya Allah membenci orang yang ja'zhari (bersikap kasar lagi sombong) dan jawwath (berperangai buruk lagi jahat)."

قيل هو الشديد على أهله المتكبر في نفسه وهو أحد ما قيل في معنى قوله تعالى عتل قيل العتل هو اللفظ اللسان الغليظ القلب على أهله

Dikatakan bahwa maknanya adalah orang yang bersikap keras terhadap keluarganya lagi sombong dalam dirinya. Hal itu juga merupakan salah satu pendapat mengenai makna firman Allah Ta'ala: 'Utull (yang kasar lagipula keras kepala).' Dikatakan pula bahwa al-'Utull adalah orang yang tajam lisannya lagi keras hatinya terhadap keluarganya.

وَقَالَ ﷺ لجابر هَلَّا بِكْرًا تُلَاعِبُهَا وَتُلَاعِبُكَ

Dan beliau ﷺ bersabda kepada Jabir: "Mengapa engkau tidak menikahi gadis perawan sehingga engkau dapat mencenanginya dan ia pun mencenangimu (saling bercanda)?"

وَوَصَفَتْ أَعْرَابِيَّةٌ زَوْجَهَا وَقَدْ مَاتَ فَقَالَتْ وَاللَّهِ لَقَدْ كَانَ ضَحُوكًا إِذَا وَلَجَ سِكِّيتًا إِذَا خَرَجَ آكِلًا مَا وَجَدَ

Seorang wanita Arab Badui menggambarkan sosok suaminya yang telah meninggal, ia berkata: "Demi Allah, sungguh beliau adalah seorang yang banyak tersenyum ketika masuk rumah, tenang dan tidak banyak menuntut ketika keluar, memakan apa yang ada,"

غير مسائل عما فقد

"Serta tidak pernah menanyakan apa yang tidak ada (hilang)."

الرابع أن لا يتبسط فِي الدُّعَابَةِ وَحُسْنِ الْخُلُقِ وَالْمُوَافَقَةِ بِاتِّبَاعِ هَوَاهَا إِلَى حَدٍّ يُفْسِدُ خُلُقَهَا وَيُسْقِطُ بِالْكُلِّيَّةِ هَيْبَتَهُ عِنْدَهَا بَلْ يُرَاعِي الِاعْتِدَالَ فِيهِ فَلَا يَدَعُ الْهَيْبَةَ وَالِانْقِبَاضَ مَهْمَا رَأَى مُنْكَرًا وَلَا يَفْتَحُ بَابَ الْمُسَاعَدَةِ عَلَى الْمُنْكَرَاتِ الْبَتَّةَ بَلْ مَهْمَا رَأَى مَا يُخَالِفُ الشَّرْعَ وَالْمُرُوءَةَ تَنَمَّرَ وَامْتَعَضَ

Yang keempat: Hendaklah ia tidak berlebihan dalam bercanda, berakhlak baik, dan menuruti kemauan istri dengan mengikuti hawa nafsunya hingga ke tingkat yang merusak akhlak sang istri dan menggugurkan wibawanya secara total di hadapan istrinya. Sebaliknya, ia harus menjaga keseimbangan (iktidal) dalam hal tersebut. Ia tidak boleh mengabaikan wibawa dan ketegasan setiap kali melihat kemungkaran, serta tidak membuka pintu toleransi terhadap kemungkaran sama sekali. Bahkan, kapan pun ia melihat sesuatu yang menyelisahi syariat dan muruah (kehormatan diri), ia harus bersikap tegas dan menunjukkan ketidaksukaannya.

قال الحسن والله ما أصبح رجل يطيع امرأته فيما تهوى إلا كبه الله في النار

Al-Hasan al-Bashri berkata: "Demi Allah, tidaklah seorang suami menuruti keinginan hawa nafsu istrinya melainkan Allah akan menyungkurkannya ke dalam neraka."

وقال عمر ﵁ خالفوا النساء فإن في خلافهن البركة

Dan Umar radhiyallahu 'anhu berkata: "Selisihilah (hawa nafsu) wanita, karena sesungguhnya dalam menyelisihi mereka terdapat keberkahan."

وقد قيل شاوروهن وخالفوهن

Dan sungguh telah dikatakan: "Bermusyawarahlah dengan mereka, tetapi selisihilah (keinginan hawa nafsu) mereka."

وقد قَالَ ﷺ تَعِسَ عَبْدُ الزوجة

Dan sungguh Rasulullah ﷺ telah bersabda: "Celakalah hamba (budak) istri."

وإنما قال ذلك لأنه إذا أطاعها في هواها فهو عبدها

Beliau bersabda demikian semata-mata karena apabila seorang suami menuruti hawa nafsu istrinya, maka pada hakikatnya ia telah menjadi hambanya.

وقد تعس فإن الله ملكه المرأة فملكها نفسه فقد عكس الأمر وقلب القضية وأطاع الشيطان لما قال ولآمرنهم فليغيرن خلق الله إذ حق الرجل أن يكون متبوعاً لا تابعاً وقد سمى الله الرجال قوامين على النساء وسمى الزوج سيداً فقال تعالى وألفيا سيدها لدى الباب فإذا انقلب السيد مسخراً فقد بدل نعمة الله كفراً ونفس المرأة على مثال نفسك إن أرسلت عنانها قليلاً جمحت بك طويلاً وإن أرخيت عذارها فتراً جذبتك ذراعاً وإن كبحتها وشددت يدك عليها في محل الشدة ملكتها

Sungguh ia telah celaka, sebab Allah telah menjadikannya pemimpin atas wanita, namun ia justru menyerahkan dirinya untuk dikuasai oleh wanita itu. Dengan demikian, ia telah memutarbalikkan perkara, membalikkan tatanan, dan menaati setan tatkala ia berkata: "Dan akan aku perintahkan mereka (untuk mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka mengubahnya" (QS. An-Nisa': 119). Padahal hakikatnya seorang laki-laki itu seharusnya menjadi pihak yang diikuti, bukan pengikut. Allah telah menamai kaum laki-laki sebagai qawwam (pemimpin/pelindung) atas kaum wanita, dan menamai suami sebagai sayyid (tuan/pemimpin), sebagaimana firman-Nya Ta'ala: "Dan keduanya mendapati suami wanita itu di depan pintu" (QS. Yusuf: 25). Maka apabila sang pemimpin justru tunduk diperalat, sungguh ia telah mengganti nikmat Allah dengan kekufuran. Jiwa wanita itu sebagaimana jiwamu sendiri; jika engkau melepas kendalinya sedikit saja, niscaya ia akan membawamu lari jauh. Jika engkau melonggarkan tali kekangnya sejengkal, ia akan menarikmu sehasta. Namun jika engkau mengendalikannya dan memegang teguh kendali itu pada saat yang tepat, niscaya engkau akan menguasainya.

قال الشافعي ﵁ ثلاثة إن أكرمتهم أهانوك وإن أهنتهم أكرموك المرأة والخادم والنبطي أراد به إن محضت الإكرام ولم تمزج غلظك بلينك وفظاظتك برفقك

Imam Asy-Syafi'i rahimahullah berkata: "Tiga golongan yang jika engkau muliakan secara berlebihan, mereka akan meremehkanmu; dan jika engkau bersikap tegas kepada mereka, mereka justru akan menghormatimu: wanita, pelayan, dan orang awam/asing (An-Nabathi)." Maksud beliau adalah jika engkau memberikan penghormatan secara mutlak tanpa memadukan ketegasanmu dengan kelembutan, serta ketegasan sikapmu dengan kesantunan.

وكانت نساء العرب يعلمن بناتهن اختبار الأزواج وكانت المرأة تقول لابنتها اختبري زوجك قبل الإقدام والجراءة عليه انزعي زج رمحه فإن سكت فقطعي اللحم على ترسه فإن سكت فكسري العظام بسيفه فإن سكت فاجعلي الإكاف على ظهره وامتطيه فإنما هو حمارك

Dahulu wanita-wanita Arab mengajarkan putri-putri mereka cara menguji para suami. Seorang ibu berkata kepada putrinya: "Ujilah suamimu sebelum engkau bertindak terlalu jauh dan berani kepadanya. Lepaskanlah besi penutup tombaknya; jika ia berdiam diri, maka potonglah daging di atas perisainya; jika ia berdiam diri, pecahkanlah tulang dengan pedangnya; jika ia tetap berdiam diri, maka pasangkanlah pelana di punggungnya dan tunggangilah ia, karena sesungguhnya ia tidak lain hanyalah keledaimu."

وعلى الجملة فبالعدل قامت السموات وَالْأَرْضُ فَكُلُّ مَا جَاوَزَ حَدَّهُ انْعَكَسَ عَلَى ضده فينبغي أن تسلك سبيل الاقتصاد في المخالفة والموافقة وتتبع الحق في جميع ذلك لتسلم من شرهن فإن كيدهن عظيم وشرهن فاش والغالب عليهن سوء الخلق وركاكة العقل وَلَا يَعْتَدِلُ ذَلِكَ مِنْهُنَّ إِلَّا بِنَوْعِ لُطْفٍ ممزوج بسياسة

Kesimpulannya, hanya dengan keadilan langit dan bumi ini berdiri tegak. Maka segala sesuatu yang melampaui batasnya akan berbalik menjadi kebalikannya. Oleh karena itu, hendaknya engkau menempuh jalan pertengahan dalam hal menolak maupun menyetujui, serta senantiasa mengikuti kebenaran dalam semua hal itu, agar engkau selamat dari keburukan mereka. Sebab sesungguhnya tipu daya mereka itu besar, keburukan mereka meluas, dan secara umum mereka mendominasi dengan keburukan akhlak serta kelemahan akal. Hal itu tidak akan menjadi lurus pada diri mereka kecuali dengan sejenis kelembutan yang dipadukan dengan kebijakan pengaturan (siasat).

وقال ﷺ مثل المرأة الصالحة في النساء كمثل الغراب الأعصم بين مائة غراب

Rasulullah ﷺ bersabda: "Perumpamaan wanita salihah di antara para wanita adalah seperti burung gagak yang memiliki warna putih (al-a'sham) di antara seratus burung gagak."

والأعصم يعني الأبيض البطن

Kata al-a'sham maksudnya adalah yang memiliki warna putih pada bagian perutnya.

وفي وصية لقمان لابنه يا بني اتق المرأة السوء فإنها تشيبك قبل الشيب واتق شرار النساء فإنهن لا يدعون إلى خير وكن من خيارهن على حذر

Termaktub dalam wasiat Luqman kepada putranya: "Wahai anakku, jauhilah wanita yang buruk akhlaknya, karena sesungguhnya ia akan membuatmu beruban sebelum waktunya. Jauhilah wanita-wanita yang jahat, karena sesungguhnya mereka tidak mengajak kepada kebaikan, dan hendaknya engkau tetap waspada terhadap wanita-wanita terbaik di antara mereka."

وقال ﷺ استعيذوا من الفواقر الثلاث

Rasulullah ﷺ bersabda: "Mohonlah perlindungan kepada Allah dari tiga perkara yang membinasakan (al-fawaqir)."

وعد منهن المرأة السوء فإنها المشيبة قبل الشيب

Beliau menyebutkan salah satunya adalah wanita yang buruk akhlaknya, karena sesungguhnya ia membuat suami beruban sebelum masanya.

وفي لفظ آخر إن دخلت عليها سبتك وإن غبت عنها خانتك وقد قال ﷺ في خيرات النساء إنكن صواحبات يوسف

Dalam lafaz yang lain disebutkan: "Jika engkau menemuinya, ia mencacimu; dan jika engkau tidak berada di sisinya, ia mengkhianatimu." Dan sungguh Rasulullah ﷺ telah bersabda mengenai wanita-wanita terbaik: "Sesungguhnya kalian adalah seperti wanita-wanita di sekitar Yusuf."

يعني إن صرفكن أبا بكر عن التقدم في الصلاة ميل منكن عن الحق إلى الهوى

Maksudnya, upaya kalian untuk memalingkan Abu Bakar dari maju mengimami shalat merupakan bentuk kecenderungan kalian dari kebenaran menuju hawa nafsu.

قال الله تعالى حين أفشين سِرِّ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ إن تتوبا إلى الله فقد صغت قلوبكما أي مالت وقال ذلك في خير أزواجه

Allah Ta'ala berfirman ketika mereka menyebarkan rahasia Rasulullah ﷺ: "Jika kamu berdua bertobat kepada Allah, maka sungguh hati kamu berdua telah condong" (QS. At-Tahrim: 4), yakni telah berpaling dari kebenaran. Dan Allah berfirman demikian berkenaan dengan sebaik-baik istri beliau.

وقال ﷺ لا يفلح قوم تملكهم امرأة حَدِيثِ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إن تتبع عورات النساء رواه الطبراني في الأوسط من حديث جابر نهى أن تتطلب عثرات النساء والحديث عند مسلم بلفظ نهى أن يطرق الرجل أهله ليلا يخونهم أو يطلب عثراتهم واقتصر البخاري منه على ذكر النهي عن الطروق ليلا

Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan kekuasaan mereka kepada seorang wanita." Mengenai hadis larangan Rasulullah ﷺ mencari-cari cela (aurat) wanita: Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Ausath dari hadis Jabir bahwasanya beliau melarang mencari-cari kesalahan wanita. Hadis ini juga terdapat dalam Shahih Muslim dengan lafaz: "Beliau melarang seseorang mendatangi keluarganya di malam hari untuk mencari-cari pengkhianatan mereka atau mencari-cari kesalahan mereka." Sedangkan Al-Bukhari meringkasnya hanya pada penyebutan larangan mendatangi rumah pada malam hari.

وفي لفظ آخر

Dan dalam lafaz yang lain:

أَنْ تُبْغَتَ النِّسَاءُ

"(Dilarang) mendatangi kaum wanita secara mengejutkan (tanpa pemberitahuan terlebih dahulu)."

وَلَمَّا قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مِنْ سَفَرِهِ قَالَ قَبْلَ دُخُولِ الْمَدِينَةِ لَا تَطْرُقُوا النِّسَاءَ لَيْلًا فَخَالَفَهُ رَجُلَانِ فَسَبَقَا فَرَأَى كُلُّ وَاحِدٍ فِي منزله ما يكره

Ketika Rasulullah ﷺ kembali dari suatu perjalanan, beliau bersabda sebelum memasuki kota Madinah: "Janganlah kalian mendatangi istri-istri kalian pada malam hari secara tiba-tiba." Namun ada dua orang laki-laki yang menyelisihi perintah beliau dan mendahului pulang, lalu masing-masing dari keduanya mendapati di rumahnya hal yang tidak disukainya.

وفي الخبر المشهور المرأة كالضلع إن قومته كسرته فدعه تستمتع به على عوج

Dalam riwayat yang masyhur disebutkan: "Wanita itu bagaikan tulang rusuk; jika engkau meluruskannya secara paksa, engkau akan mematahkannya. Maka biarkanlah ia, niscaya engkau dapat mengambil manfaat dan bersenang-senang dengannya dalam keadaannya yang bengkok."

وهذا في تهذيب أخلاقها

Keterangan ini berkaitan dengan tata cara melatih dan mendidik akhlak wanita.

وَقَالَ ﷺ إِنَّ مِنْ الْغَيْرَةِ غَيْرَةً يُبْغِضُهَا اللَّهُ ﷿ وَهِيَ غَيْرَةُ الرَّجُلِ عَلَى أَهْلِهِ مِنْ غَيْرِ رِيبَةٍ

Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya di antara rasa cemburu (ghirah) terdapat kecemburuan yang dibenci Allah Azza wa Jalla, yaitu kecemburuan seorang suami terhadap istrinya tanpa adanya kecurigaan (alasan yang membenarkan)."

لِأَنَّ ذَلِكَ مِنْ سُوءِ الظَّنِّ الَّذِي نُهِينَا عنه فإن بعض الظن إثم

Sebab yang demikian itu termasuk dalam prasangka buruk (su'udzan) yang telah dilarang bagi kita, karena sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa.

وقال علي ﵁ لا تكثر الغيرة على أهلك فترمي بالسوء من أجلك

Ali radiyallahu 'anhu berkata, "Janganlah engkau terlalu sering memperlihatkan rasa cemburu terhadap istri/keluargamu, sehingga ia menjadi tertuduh melakukan keburukan karena ulahmu."

وَأَمَّا الْغَيْرَةُ فِي مَحَلِّهَا فَلَا بُدَّ مِنْهَا وهي محمودة

Adapun rasa cemburu pada tempat yang semestinya, maka hal itu adalah suatu keharusan dan merupakan perbuatan yang terpuji.

وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إن الله تعالى يغار والمؤمن يغار وغيرة الله تعالى أن يأتي الرجل المؤمن ما حرم الله عليه

Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Allah Ta'ala itu cemburu, dan seorang mukmin pun cemburu. Adapun cemburunya Allah Ta'ala adalah apabila seorang hamba yang mukmin melakukan apa yang diharamkan oleh Allah atas dirinya."

وقال ﷺ أتعجبون من غيرة سعد أنا والله أغير منه والله أغير مني

Dan beliau ﷺ bersabda, "Apakah kalian merasa heran dengan rasa cemburu Sa'ad? Demi Allah, aku sungguh lebih cemburu daripadanya, dan Allah lebih cemburu daripadaku."

ولأجل غيرة الله تعالى حرم الفواحش ما ظهر منها وما بطن ولا أحد أحب إليه العذر من الله ولذلك بعث المنذرين والمبشرين ولا أحد أحب إليه المدح من الله ولأجل ذلك وعد الجنة

Hanya karena rasa cemburu Allah Ta'ala pula, Dia mengharamkan segala perbuatan keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Dan tidak ada seorang pun yang lebih menyukai pemberian uzur (penerimaan taubat/alasan) daripada Allah, oleh karena itulah Dia mengutus para pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira. Serta tidak ada seorang pun yang lebih menyukai pujian daripada Allah, oleh karena itulah Dia menjanjikan surga.

وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ رأيت ليلةً أسري بي في الجنة قصراً وبفنائه جارية فقلت لمن هذا القصر فقيل لعمر فأردت أن أنظر إليها فذكرت غيرتك يا عمر فبكى عمر وقال أعليك أغار يا رسول الله

Rasulullah ﷺ bersabda, "Pada malam aku diisrakan, aku melihat di dalam surga sebuah istana yang di pelatarannya terdapat seorang bidadari. Aku bertanya, 'Milik siapakah istana ini?' Dijawab, 'Milik Umar.' Maka aku berkeinginan untuk melihatnya, namun aku teringat akan rasa cemburumu, wahai Umar." Maka Umar pun menangis seraya berkata, "Apakah kepada engkau aku akan merasa cemburu, wahai Rasulullah?"

وكان الحسن يقول أتدعون نساءكم ليزاحمن العلوج في الأسواق قبح الله من لا يغار وقال ﵊ إن من الغيرة ما يحبه الله ومنها ما يبغضه الله ومن الخيلاء ما يحبه الله ومنها ما يبغضه الله فأما الغيرة التي يحبها الله فالغيرة في الريبة والغيرة التي يبغضها الله فالغيرة في غير ريبة والاختيال الذي يحبه الله اختيال الرجل بنفسه عند القتال وعند الصدمة والاختيال الذي يبغضه الله الاختيال في الباطل

Hasan al-Bashri pernah berkata, "Apakah kalian membiarkan wanita-wanita kalian berdesak-desakan dengan lelaki asing di pasar-pasar? Semoga Allah menjauhkan dari kebaikan orang yang tidak memiliki rasa cemburu!" Dan Nabi ﷺ bersabda, "Sesungguhnya di antara rasa cemburu ada yang dicintai Allah dan ada yang dibenci Allah; dan di antara sikap bangga (khuyala') ada yang dicintai Allah dan ada yang dibenci Allah. Adapun cemburu yang dicintai Allah adalah cemburu ketika ada kecurigaan (tanda keburukan), sedangkan cemburu yang dibenci Allah adalah cemburu tanpa adanya kecurigaan. Adapun sikap bangga yang dicintai Allah adalah kebanggaan seseorang atas dirinya saat berada dalam pertempuran dan ketika menghadapi benturan musuh, sedangkan kebanggaan yang dibenci Allah adalah kebanggaan dalam kebatilan."

وقال ﷺ إني لغيور وما من امرئ لا يغار إلا منكوس القلب

Dan beliau ﷺ bersabda, "Sesungguhnya aku adalah seorang yang cemburu, dan tidaklah seseorang tidak memiliki rasa cemburu melainkan orang itu telah terbalik hatinya."

والطريق المغني عن الغيرة أن لا يدخل عليها الرجال وهي لا تخرج إلى الأسواق

Jalan yang dapat menghindarkan dari beban rasa cemburu adalah dengan tidak membiarkan kaum laki-laki masuk menemui sang istri dan sang istri pun tidak keluar menuju pasar-pasar.

وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لابنته فاطمة ﵍ أي شيء خير للمرأة قالت أن لا ترى رجلا ولا يراها رجل فضمها إليه وقال ذرية بعضها من بعض

Rasulullah ﷺ pernah bertanya kepada putrinya, Fathimah 'alaihassalam, "Apakah hal yang paling baik bagi seorang wanita?" Fathimah menjawab, "Yaitu ia tidak melihat laki-laki (yang bukan mahram) dan tidak ada laki-laki yang melihatnya." Maka Rasulullah ﷺ merangkulnya seraya membaca (ayat), "(Mereka adalah) keturunan yang sebagiannya berasal dari sebagian yang lain."

فاستحسن قولها

Maka beliau menganggap baik dan memuji jawaban Fathimah tersebut.

وَكَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ يسدون الكوى والثقب في الحيطان لئلا تطلع النسوان إلى الرجال

Para sahabat Rasulullah ﷺ dahulu menutup celah-celah jendela dan lubang-lubang pada dinding agar para wanita tidak mengintip atau melihat ke arah kaum laki-laki.

ورأى معاذ امرأته تطلع في الكوة فضربها ورأى امرأته قد دفعت إلى غلامه تفاحة قد أكلت منها فضربها

Mu'adz pernah melihat istrinya mengintip dari celah jendela, lalu ia memukulnya; dan ia juga melihat istrinya menyerahkan buah apel yang telah dimakan sebagiannya kepada budak laki-lakinya, lalu ia pun memukulnya.

وقال عمر ﵁ أعروا النساء يلزمن الحجال وإنما قال ذلك لأنهن لا يرغبن في

Umar radiyallahu 'anhu berkata, "Biarkanlah para wanita tidak memiliki pakaian yang bagus untuk bepergian, niscaya mereka akan tetap menetap di dalam kamar-kamar mereka." Beliau mengatakan hal itu karena para wanita sesungguhnya tidak suka…

الخروج في الهيئة الرثة

…keluar rumah dalam keadaan berpenampilan lusuh.

وقال عودوا نساءكم لا وَكَانَ قَدْ أَذِنَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ للنساء في حضور المسجد

Dan beliau berkata, "Biasakanlah wanita-wanita kalian untuk tidak (banyak keluar)." Padahal Rasulullah ﷺ dahulu telah mengizinkan kaum wanita untuk menghadiri masjid,

والصواب الآن المنع إلا العجائز بل استصوب ذلك في زمان الصحابة حتى قالت عائشة ﵂ لو علم النبي ﷺ ما أحدثت النساء بعده لمنعهن من الخروج

namun yang benar pada masa sekarang adalah melarang mereka kecuali wanita-wanita yang sudah tua renta. Bahkan pelarangan itu telah dianggap tepat sejak zaman para Sahabat, hingga Aisyah radiyallahu 'anha berkata, "Seandainya Nabi ﷺ mengetahui apa yang diada-adakan oleh kaum wanita sepeninggal beliau, niscaya beliau pasti akan melarang mereka keluar (ke masjid)."

ولما قال ابن عمر قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لاتمنعوا إماء الله مساجد الله فقال بعض ولده بلى والله لنمنعهن فضربه وغضب عليه وقال تسمعني أقول قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لا تمنعوا فتقول بلى

Ketika Ibnu Umar menyampaikan bersabda Rasulullah ﷺ, "Janganlah kalian melarang hamba-hamba Allah yang wanita dari masjid-masjid Allah," salah seorang anaknya menyahut, "Demi Allah, sungguh kami akan tetap melarang mereka!" Maka Ibnu Umar memukulnya dan marah kepadanya seraya berkata, "Engkau mendengarku mengatakan Rasulullah ﷺ bersabda: 'Janganlah kalian melarang', lalu engkau justru berkata: 'Sungguh kami akan melarang'!"

وإنما استجرأ على المخالفة لعلمه بتغير الزمان وإنما غضب عليه لإطلاقه اللفظ بالمخالفة ظاهراً من غير إظهار العذر وكذلك كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ قد أذن لهن في الأعياد خاصة أن يخرجن

Beliau berani melakukan hal tersebut tidak lain karena mengetahui adanya perubahan zaman. Adapun kemarahan kepadanya hanyalah karena ia menyampaikan lafal yang menyelisihi secara lahiriah tanpa menunjukkan uzur (alasan yang jelas). Demikian pula Rasulullah ﷺ dahulu telah mengizinkan bagi kaum wanita secara khusus untuk keluar pada hari-hari raya ('id).

ولكن لا يخرجن إلا برضا أزواجهن والخروج الآن مباح للمرأة العفيفة برضا زَوْجِهَا وَلَكِنَّ الْقُعُودَ أَسْلَمُ وَيَنْبَغِي أَنْ لَا تَخْرُجَ إِلَّا لِمُهِمٍّ فَإِنَّ الْخُرُوجَ لِلنِّظَارَاتِ وَالْأُمُورِ الَّتِي لَيْسَتْ مُهِمَّةً تَقْدَحُ فِي الْمُرُوءَةِ وَرُبَّمَا تُفْضِي إِلَى الْفَسَادِ فَإِذَا خَرَجَتْ فَيَنْبَغِي أَنْ تَغُضَّ بَصَرَهَا عَنِ الرِّجَالِ وَلَسْنَا نَقُولُ إِنَّ وَجْهَ الرَّجُلِ فِي حَقِّهَا عَوْرَةٌ كَوَجْهِ الْمَرْأَةِ فِي حَقِّهِ بَلْ هُوَ كَوَجْهِ الصَّبِيِّ الْأَمْرَدِ فِي حَقِّ الرَّجُلِ فَيَحْرُمُ النَّظَرُ عِنْدَ خَوْفِ الْفِتْنَةِ فَقَطْ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ فِتْنَةٌ فَلَا إِذْ لَمْ يَزَلِ الرِّجَالُ عَلَى مَمَرِّ الزَّمَانِ مكشوفي الوجوه والنساء يخرجن منتقبات وَلَوْ كَانَ وُجُوهُ الرِّجَالِ عَوْرَةً فِي حَقِّ النساء لأمروا بالتنقب أَوْ مُنِعْنَ مِنَ الْخُرُوجِ إِلَّا لِضَرُورَةٍ

Akan tetapi, janganlah mereka keluar melainkan dengan keridaan suami-suami mereka. Keluar rumah pada saat ini hukumnya boleh bagi wanita yang menjaga kehormatan dirinya ('iffah) dengan rida suaminya, namun berdiam di rumah adalah lebih selamat. Hendaknya ia tidak keluar kecuali untuk urusan yang penting, karena keluar hanya untuk menonton dan hal-hal yang tidak penting dapat merusak muruah (kehormatan diri) dan terkadang membawa kepada kerusakan. Apabila ia keluar, hendaklah ia menundukkan pandangannya dari laki-laki. Kita tidak mengatakan bahwa wajah laki-laki bagi wanita adalah aurat seperti halnya wajah wanita bagi laki-laki, melainkan ia seperti wajah anak laki-laki yang belum tumbuh jenggotnya (amrad) bagi laki-laki. Maka haram memandang hanya apabila dikhawatirkan timbulnya fitnah. Jika tidak ada fitnah, maka tidak haram, sebab sepanjang zaman kaum laki-laki senantiasa terbuka wajahnya sedangkan kaum wanita keluar dengan berniqab (bercadar). Seandainya wajah laki-laki adalah aurat bagi wanita, niscaya mereka (laki-laki) diperintahkan untuk berniqab atau kaum wanita dilarang keluar kecuali dalam keadaan darurat.

السَّادِسُ الِاعْتِدَالُ فِي النَّفَقَةِ فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يُقَتِّرَ عَلَيْهِنَّ فِي الْإِنْفَاقِ وَلَا يَنْبَغِي أَنْ يُسْرِفَ بَلْ يَقْتَصِدَ

Keenam: Bersikap pertengahan (hemat dan seimbang) dalam memberikan nafkah. Maka tidak sepantasnya ia terlalu menyempitkan (pelit) dalam memberi nafkah kepada mereka, dan tidak sepantasnya pula ia berlebihan (boros), melainkan hendaklah ia mengambil jalan tengah.

قَالَ تَعَالَى ﴿وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تسرفوا﴾ وَقَالَ تَعَالَى ﴿وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عنقك ولا تبسطها كل البسط﴾ وقد قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ خيركم خيركم لأهله

Allah Ta'ala berfirman, 'Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan.' (QS. Al-A'raf: 31). Dan Allah Ta'ala berfirman, 'Dan janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan jangan pula engkau mengulurkannya terlalu jauh.' (QS. Al-Isra': 29). Dan sungguh Rasulullah ﷺ telah bersabda, 'Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya.'

وقال ﷺ دينار أنفقته في سبيل الله ودينار أنفقته في رقبة ودينار تصدقت به على مسكين ودينار أنفقته على أهلك أعظمها أجراً الذي أنفقته على أهلك

Dan Beliau ﷺ bersabda, 'Satu dinar yang engkau infakkan di jalan Allah, satu dinar yang engkau infakkan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang engkau sedekahkan kepada orang miskin, dan satu dinar yang engkau infakkan kepada keluargamu; yang paling besar pahalanya adalah yang engkau infakkan kepada keluargamu.'

وقيل كان لعلي ﵁ أربع نسوة فكان يشتري لكل واحدة في كل أربعة أيام لحماً بدرهم وقال الحسن ﵁ كانوا في الرجال مخاصيب والإناث والثياب مجاديب

Dikatakan bahwa Ali ﵁ memiliki empat orang istri, lalu beliau membeli daging seharga satu dirham untuk setiap istrinya setiap empat hari sekali. Al-Hasan ﵁ berkata, 'Dahulu mereka (para sahabat) sangat bersikap murah hati dan melonggarkan nafkah dalam hal makanan bagi keluarga, namun bersikap hemat dan sederhana dalam hal pakaian.'

وقال ابْنُ سِيرِينَ يُسْتَحَبُّ لِلرَّجُلِ أَنْ يَعْمَلَ لِأَهْلِهِ في كل جمعة فالوذجة وكأن الحلاوة وإن لم تكن من المهمات ولكن تركها بالكلية تقتير في العادة وَيَنْبَغِي أَنْ يَأْمُرَهَا بِالتَّصَدُّقِ بِبَقَايَا الطَّعَامِ وَمَا يَفْسُدُ لَوْ تُرِكَ فَهَذَا أَقَلُّ دَرَجَاتِ الْخَيْرِ وَلِلْمَرْأَةِ أَنْ تَفْعَلَ ذَلِكَ بِحُكْمِ الْحَالِ مِنْ غير صريح إِذْنٍ مِنَ الزَّوْجِ وَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَسْتَأْثِرَ عَنْ أَهْلِهِ بِمَأْكُولٍ طَيِّبٍ فَلَا يُطْعِمُهُمْ مِنْهُ فَإِنَّ ذَلِكَ مِمَّا يُوغِرُ الصُّدُورَ وَيَبْعُدُ عَنِ المعاشرة بالمعروف فإن كان مزمعاً على ذلك فليأكله بخفية بحيث لا يعرف أهله وَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَصِفَ عِنْدَهُمْ طَعَامًا لَيْسَ يُرِيدُ إِطْعَامَهُمْ إِيَّاهُ وَإِذَا أَكَلَ فَيُقْعِدُ الْعِيَالَ كلهم على مائدته فقد قال سفيان ﵁ بلغنا أن الله وملائكته يصلون على أهل بيت يأكلون جماعة وَأَهَمُّ مَا يَجِبُ عَلَيْهِ مُرَاعَاتُهُ فِي الْإِنْفَاقِ أَنْ يُطْعِمَهَا مِنَ الْحَلَالِ وَلَا يَدْخُلَ مَدَاخِلَ السُّوءِ لِأَجْلِهَا فَإِنَّ ذَلِكَ جِنَايَةٌ عَلَيْهَا لَا مراعاة لها وقد أوردنا الأخبار الواردة في ذلك عند ذكر آفات النكاح

Ibnu Sirin berkata, 'Disunnahkan bagi seorang suami untuk membuatkan faludzaj (makanan manis yang lezat) untuk keluarganya pada setiap hari Jumat.' Seolah-olah makanan manis, meskipun bukan termasuk kebutuhan pokok, namun meninggalkannya secara keseluruhan merupakan tindakan pelit menurut kebiasaan. Hendaklah suami memerintahkan istrinya untuk bersedekah dengan sisa-sisa makanan dan apa yang akan rusak jika dibiarkan, sebab ini adalah tingkatan kebaikan yang paling minimal. Dan istri boleh melakukan hal itu berdasarkan indikasi keadaan tanpa izin yang tegas dari suami. Hendaklah suami tidak mementingkan dirinya sendiri di hadapan keluarganya dengan makanan yang lezat lalu tidak memberi mereka makan darinya, karena hal itu dapat menimbulkan rasa dengki di dalam dada dan menjauhkan dari pergaulan yang baik (al-mu'asyarah bil ma'ruf). Jika ia memang berniat melakukan itu, hendaklah ia memakannya secara sembunyi-sembunyi sekiranya keluarganya tidak mengetahuinya. Hendaklah ia tidak menceritakan di hadapan mereka suatu makanan yang tidak berniat ia berikan kepada mereka. Apabila ia makan, hendaklah ia mendudukkan seluruh keluarganya di hidangannya. Sufyan ﵁ berkata, 'Telah sampai berita kepada kami bahwa Allah dan para malaikat-Nya berselawat kepada penghuni rumah yang makan secara bersama-sama.' Dan hal paling penting yang wajib ia perhatikan dalam memberi nafkah adalah memberinya makan dari rezeki yang halal dan tidak memasuki jalan-jalan keburukan demi kepentingan istri, karena hal itu merupakan kejahatan terhadap istri dan bukan bentuk perhatian kepadanya. Kami telah menyampaikan riwayat-riwayat yang berkaitan dengan hal tersebut saat menyebutkan bahaya-bahaya nikah.

السَّابِعُ أَنْ يَتَعَلَّمَ الْمُتَزَوِّجُ مِنْ عِلْمِ الْحَيْضِ وَأَحْكَامِهِ مَا يَحْتَرِزُ بِهِ الِاحْتِرَازَ الْوَاجِبَ وَيُعَلِّمَ زوجته أحكام الصلاة وما يقضى منها في الحيض وما لا يقضى فإنه أمر بأن يقيها النار بقوله تعالى ﴿قوا أنفسكم وأهليكم ناراً﴾ فعليه أن يلقنها اعتقاد أهل السنة ويزيل عن قلبها كل بدعة إن استمعت إليها ويخوفها في الله إن تساهلت في أمر الدين ويعلمها من أحكام الحيض والاستحاضة ما تحتاج إليه وعلم الاستحاضة يطول فأما الذي لا بد من إرشاد النساء إليه في أمر الحيض بيان الصلوات التي تقضيها فإنها مهما انقطع دمها قبيل المغرب بمقدار ركعة فعليها قضاء الظهر والعصر وإذا انقطع قبل الصبح بمقدار ركعة فعليها قضاء المغرب والعشاء وهذا أقل ما يراعيه النساء فَإِنْ كَانَ الرَّجُلُ قَائِمًا بِتَعْلِيمِهَا فَلَيْسَ لَهَا الْخُرُوجُ لِسُؤَالِ الْعُلَمَاءِ وَإِنْ قَصُرَ عِلْمُ الرَّجُلِ وَلَكِنْ نَابَ عَنْهَا فِي السُّؤَالِ فَأَخْبَرَهَا بِجَوَابِ المفتي فليس لها خروج فَإِنْ لَمْ يَكُنْ ذَلِكَ فَلَهَا الْخُرُوجُ لِلسُّؤَالِ بل عليها ذلك ويعصي الرجل بمنعها ومهما تعلمت ما هو من الفرائض عليها فليس لها أن تخرج إلى مجلس ذكر ولا إلى تعلم فضل إلا برضاه ومهما أهملت المرأة حكماً من أحكام الحيض والاستحاضة ولم يعلمها الرجل حرج الرجل معها وشاركها في الإثم

Ketujuh: Hendaknya laki-laki yang menikah mempelajari ilmu haid dan hukum-hukumnya sekadar apa yang dapat menjaganya dengan penjagaan yang wajib, serta mengajarkan kepada istrinya hukum-hukum shalat, apa yang harus diqada darinya saat haid dan apa yang tidak perlu diqada. Sebab ia diperintahkan untuk menjaganya dari api neraka sebagaimana firman Allah Ta'ala, 'Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.' (QS. At-Tahrim: 6). Maka wajib baginya untuk menanamkan akidah Ahlus Sunnah kepadanya, menghilangkan setiap bidah dari hatinya jika sang istri mendengarkannya, menakut-nakutinya dengan ancaman Allah jika ia meremehkan urusan agama, dan mengajarkan kepadanya hukum-hukum haid dan istihadhah yang ia butuhkan. Pembahasan ilmu istihadhah sangat panjang, adapun hal yang harus ditunjukkan kepada wanita dalam masalah haid adalah penjelasan tentang shalat-shalat yang wajib diqada. Apabila darah haidnya berhenti sebelum Maghrib sekadar waktu satu rakaat, maka wajib atasnya mengqada shalat Zuhur dan Asar. Dan apabila berhenti sebelum Subuh sekadar waktu satu rakaat, maka wajib atasnya mengqada shalat Maghrib dan Isya. Ini adalah batas minimal yang harus diperhatikan oleh wanita. Jika suami telah melaksanakan kewajiban mengajarinya, maka istri tidak boleh keluar untuk bertanya kepada para ulama. Jika ilmu suami kurang namun ia mewakilinya dalam bertanya lalu menyampaikan jawaban mufti kepadanya, maka istri juga tidak boleh keluar. Jika hal itu tidak dilakukan, maka istri berhak keluar untuk bertanya, bahkan hal itu wajib baginya, dan suami berbuat maksiat jika melarangnya. Apabila istri telah mempelajari apa yang menjadi kewajiban baginya, maka ia tidak boleh keluar ke majelis zikir atau untuk mempelajari keutamaan (ilmu sunnah) kecuali dengan keridaan suaminya. Apabila wanita mengabaikan suatu hukum dari hukum-hukum haid dan istihadhah dan suami tidak mengajarinya, maka suami ikut berdosa bersamanya dan berserikat dalam dosa tersebut.

الثَّامِنُ إِذَا كَانَ لَهُ نِسْوَةٌ فَيَنْبَغِي أَنْ يَعْدِلَ بَيْنَهُنَّ وَلَا يَمِيلَ إِلَى بَعْضِهِنَّ فَإِنْ خَرَجَ إِلَى سَفَرٍ وَأَرَادَ اسْتِصْحَابَ وَاحِدَةٍ أَقْرَعَ بينهن

Kedelapan: Apabila ia memiliki beberapa orang istri, hendaknya ia berbuat adil di antara mereka dan tidak condong kepada salah satu dari mereka. Jika ia hendak bepergian (safar) dan ingin membawa salah seorang dari mereka, hendaknya ia mengundi di antara mereka.

كذلك كان يفعل رسول الله ﷺ فَإِنْ ظَلَمَ امْرَأَةً بِلَيْلَتِهَا قَضَى لَهَا فَإِنَّ القضاء واجب عليه وعند ذلك يحتاج إلى معرفة أحكام القسم وذلك يطول ذكره وقد قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ من كان له امرأتان فمال إلى إحداهما دون الأخرى وفي لفظ ولم يعدل بينهما جاء يوم القيامة وأحد شقيه مائل

Demikianlah yang biasa dilakukan oleh Rasulullah ﷺ. Apabila suami mendzalimi seorang istri pada malam bagiannya, maka ia wajib mengqadanya untuk istri tersebut, karena mengqada malam gilirannya adalah wajib baginya. Dalam hal ini, ia memerlukan pengetahuan tentang hukum-hukum pembagian giliran (al-qasm) yang pembahasannya sangat panjang. Sungguh Rasulullah ﷺ telah bersabda, 'Barang siapa yang memiliki dua orang istri lalu ia condong kepada salah satunya daripada yang lain' —dan dalam lafal lain: 'dan ia tidak berbuat adil di antara keduanya'— 'maka ia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan salah satu sisi tubuhnya miring.'

وَإِنَّمَا عَلَيْهِ الْعَدْلُ فِي الْعَطَاءِ وَالْمَبِيتِ وَأَمَّا فِي الْحُبِّ وَالْوِقَاعِ فَذَلِكَ لَا يَدْخُلُ تَحْتَ الاختيار

Kewajiban berbuat adil atasnya hanyalah dalam hal pemberian nafkah dan menginap (gilir malam). Adapun dalam hal rasa cinta dan jima' (hubungan suami istri), maka hal itu tidak berada di bawah ikhtiar (kehendak bebas manusia).

قال الله تعالى ﴿ولن تستطيعوا أن تعدلوا بين النساء ولو حرصتم﴾ أي أن تعدلوا في شهوة القلب وميل النفس ويتبع ذلك التفاوت في الوقاع

Allah Ta'ala berfirman, 'Dan kamu tidak akan sanggup berbuat adil di antara istri-istrimu, walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian.' (QS. An-Nisa': 129), maksudnya berbuat adil dalam hal hasrat hati dan kecenderungan jiwa, dan hal tersebut diikuti oleh perbedaan dalam jima'.

وكان رسول الله ﷺ يعدل بينهن في العطاء والبيتوتة في الليالي ويقول اللهم هذا جهدي فيما أملك ولا طاقة لي فيما تملك ولا أملك

Rasulullah ﷺ dahulu berbuat adil di antara istri-istrinya dalam hal pemberian dan menginap pada malam-malam giliran, seraya berdoa, 'Ya Allah, inilah usahaku dalam hal yang aku kuasai, maka janganlah Engkau menghukumku dalam hal yang Engkau kuasai dan tidak aku kuasai.'

يعني الحب

Maksudnya adalah rasa cinta.

وقد كانت عائشة ﵂ أحب نسائه إليه

Sungguh 'Aisyah ﵂ adalah istri yang paling beliau cintai di antara istri-istri beliau.

وسائر نسائه يعرفن ذلك

Dan istri-istri beliau yang lain mengetahui hal tersebut.

وكان يُطَافُ بِهِ مَحْمُولًا فِي مَرَضِهِ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَكُلِّ لَيْلَةٍ فَيَبِيتُ عِنْدَ كُلِّ وَاحِدَةٍ منهن ويقول أين أنا غداً ففطنت لذلك امرأة منهن فقالت إنما يسأل عن يوم عائشة فقلن يا رسول الله قد أذنا لك أن تكون في بيت عائشة فإنه يشق عليك أن تحمل في كل ليلة فقال وقد رضيتن بذلك فقلن نعم قال فحولوني إلى بيت عائشة

Beliau diusung ketika sakit pada setiap hari dan setiap malam untuk bermalam di rumah setiap orang dari mereka, seraya bertanya, 'Di mana giliranku besok?' Maka salah seorang dari istri beliau memahami hal itu lalu berkata, 'Beliau hanya menanyakan tentang hari giliran 'Aisyah.' Kemudian mereka berkata, 'Wahai Rasulullah, kami telah mengizinkan engkau untuk berada di rumah 'Aisyah, karena sungguh amat berat bagimu untuk diusung setiap malam.' Beliau bersabda, 'Apakah kalian semua rida dengan hal itu?' Mereka menjawab, 'Ya.' Beliau bersabda, 'Maka pindahkanlah aku ke rumah 'Aisyah.'

ومهما وهبت واحدة ليلتها لصاحبتها ورضي الزوج بذلك ثبت الحق لها

Dan apabila salah seorang istri memberikan malam gilirannya kepada madunya dan suami meredainya, maka hak giliran tersebut tetap sah baginya.

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يقسم بين نسائه فقصد أن يطلق سودة بنت زمعة لما كبرت

Rasulullah ﷺ membagi giliran di antara istri-istri beliau, lalu beliau bermaksud menceraikan Saudah binti Zam'ah ketika usianya sudah lanjut.

فوهبت ليلتها لعائشة وسألته أن يقرها على الزوجية حتى تحشر في زمرة نسائه فتركها وكان لا يقسم لها ويقسم لعائشة ليلتين ولسائر أزواجه ليلةً ليلةً

Maka Saudah memberikan malam gilirannya kepada 'Aisyah dan memohon kepada beliau agar tetap mempertahankannya dalam ikatan pernikahan agar ia dihimpun (pada hari kiamat) dalam golongan istri-istri beliau. Maka beliau meninggalkannya (tidak menceraikannya), dan beliau tidak memberikan giliran malam kepadanya melainkan memberikan dua malam giliran untuk 'Aisyah dan satu malam giliran untuk setiap istri beliau yang lain.

ولكنه ﷺ عدله وقوته كان إذا تاقت نفسه إلى واحدة من النساء في غير نوبتها فجامعها طاف في يومه أو ليلته على سائر نسائه فمن ذلك ما روي عن عائشة ﵂ أن رسول الله ﷺ طاف على نسائه في ليلة واحدة

Akan tetapi, karena keadilan dan keperkasaan beliau ﷺ, apabila beliau berkeinginan kepada salah seorang istrinya di luar giliran istri tersebut lalu menggaulinya, beliau mengelilingi (menggauli) seluruh istrinya yang lain pada hari atau malam itu juga. Di antara contoh hal tersebut adalah apa yang diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu 'anha bahwa Rasulullah ﷺ mengelilingi (menggauli) istri-istri beliau dalam satu malam.

وعن أنس أنه ﷺ طاف على تسع نسوة في ضحوة نهار

Dan dari Anas, bahwa Rasulullah ﷺ mengelilingi (menggauli) sembilan istrinya dalam satu waktu dhuha.

التاسع فِي النُّشُوزِ وَمَهْمَا وَقَعَ بَيْنَهُمَا خِصَامٌ وَلَمْ يَلْتَئِمْ أَمْرُهُمَا فَإِنْ كَانَ مِنْ جَانِبِهِمَا جَمِيعًا أَوْ مِنَ الرَّجُلِ فَلَا تُسَلِّطُ الزَّوْجَةُ عَلَى زَوْجِهَا وَلَا يَقْدِرُ عَلَى إِصْلَاحِهَا فَلَا بُدَّ مِنْ حَكَمَيْنِ أَحَدُهُمَا مِنْ أَهْلِهِ وَالْآخَرُ مِنْ أَهْلِهَا لِيَنْظُرَا بَيْنَهُمَا وَيُصْلِحَا أَمْرَهُمَا ﴿إِنْ يُرِيدَا إصلاحاً يوفق الله بينهما﴾ وقد بعث عمر ﵁ حكما إلى زوجين فعاد ولم يصلح أمرهما فعلاه بالدرة وقال إن الله تعالى يقول ﴿إن يريدا إصلاحاً يوفق الله بينهما﴾ فعاد الرجل وأحسن النية وتلطف بهما فأصلح بينهما

Adab Kesembilan: Mengenai Nusyuz (pembangkangan). Apabila terjadi perselisihan di antara suami istri dan perkara mereka tidak kunjung membaik, jika perselisihan itu timbul dari kedua belah pihak atau dari pihak suami, maka istri tidak boleh membalas kekuasaan terhadap suaminya dan suami pun tidak mampu memperbaikinya, maka harus diutus dua orang juru damai (hakam); seorang dari keluarga suami dan seorang lagi dari keluarga istri untuk mencermati permasalahan mereka dan mendamaikan perkara keduanya. "Jika kedua hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami istri itu" (QS. An-Nisa': 35). Umar radhiyallahu 'anhu pernah mengutus seorang hakam kepada pasangan suami istri, lalu hakam itu kembali tanpa berhasil mendamaikan keduanya. Maka Umar mengangkat cambuknya seraya berkata, "Sesungguhnya Allah Ta'ala berfirman: 'Jika kedua hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami istri itu'." Maka hakam tersebut kembali dengan memperbaiki niat dan bersikap lemah lembut kepada pasangan suami istri itu, hingga akhirnya berhasil mendamaikan mereka berdua.

وَأَمَّا إِذَا كَانَ النُّشُوزُ مِنَ الْمَرْأَةِ خَاصَّةً فالرجال قوامون على النِّسَاءِ فَلَهُ أَنْ يُؤَدِّبَهَا وَيَحْمِلَهَا عَلَى الطَّاعَةِ قهراً وكذا إذا كانت تاركة للصلاة فله حملها على الصلاة قَهْرًا وَلَكِنْ يَنْبَغِي أَنْ يَتَدَرَّجَ فِي تَأْدِيبِهَا وَهُوَ أَنْ يُقَدِّمَ أَوَّلًا الْوَعْظَ وَالتَّحْذِيرَ وَالتَّخْوِيفَ فَإِنْ لَمْ يَنْجَحْ وَلَّاهَا ظَهْرَهُ فِي الْمَضْجَعِ أَوِ انْفَرَدَ عَنْهَا بِالْفِرَاشِ وَهَجَرَهَا وَهُوَ فِي الْبَيْتِ مَعَهَا مِنْ لَيْلَةٍ إِلَى ثَلَاثِ لَيَالٍ

Adapun jika nusyuz itu berasal dari pihak istri secara khusus, maka kaum laki-laki adalah pemimpin atas kaum wanita. Karena itu, suami berhak mendidiknya dan memaksanya untuk taat secara tegas. Demikian pula jika istri meninggalkan shalat, suami berhak memaksanya melakukan shalat secara tegas. Akan tetapi, sepatutnya suami melakukan pendidikan (ta'dib) tersebut secara bertahap, yaitu dengan mendahulukan nasihat, peringatan, dan pengingatan akan ancaman Allah. Jika belum berhasil, hendaklah ia membelakanginya di tempat tidur atau memisahkan diri darinya dalam tempat tidur dan mendiamkannya (pisah ranjang) padahal ia tetap berada di rumah bersamanya, dari satu malam hingga tiga malam.

فَإِنْ لَمْ يَنْجَحْ ذَلِكَ فِيهَا ضَرَبَهَا ضَرْبًا غير مبرح بحيث يؤلمها ولا يكسر لها عظماً ولا يدمي لها جسم

Jika langkah tersebut belum juga berhasil padanya, maka ia boleh memukulnya dengan pukulan yang tidak melukai atau membahayakan (dharban ghaira mubarrih), sekadar memberi rasa sakit tanpa mematahkan tulang dan tanpa mengalirkan darah pada tubuhnya.

ولا يضرب وجهها فذلك منهي عنه

Dan hendaknya ia tidak memukul wajahnya, karena hal itu dilarang.

وقد قيل لرسول الله ﷺ ما حق المرأة على الرجل قال يطعمها إذا طعم ويكسوها إذا اكتسى ولا يقبح الوجه ولا يضرب إلا ضرباً غير مبرح ولا يهجرها إلا في المبيت

Rasulullah ﷺ pernah ditanya, "Apakah hak istri atas suaminya?" Beliau bersabda, "Engkau memberinya makan apabila engkau makan, memberinya pakaian apabila engkau berpakaian, tidak mencela wajahnya, tidak memukulnya kecuali pukulan yang tidak membahayakan, dan tidak mendiamkannya (pisah ranjang) kecuali di dalam rumah."

وله أن يغضب عليها ويهجرها في أمر من أمور الدين إلى عشر وإلى عشرين وإلى شهر

Dan suami berhak marah kepadanya serta mendiamkannya berkenaan dengan perkara agama selama sepuluh hari, dua puluh hari, hingga satu bulan.

فعل ذلك رسول الله ﷺ إذ أرسل إلى زينب بهدية فردتها عليه

Rasulullah ﷺ telah melakukan hal tersebut tatkala beliau mengutus seseorang membawa hadiah kepada Zainab, lalu Zainab mengembalikan hadiah itu kepada beliau.

فقالت له التي هو في بيتها لقد أقمأتك إذ ردت عليك هديتك

Maka istri yang rumahnya sedang beliau singgahi berkata kepada beliau, "Sungguh dia telah merendahkanmu ketika mengembalikan hadiahmu kepadamu."

أي أذلتك واستصغرتك

Maksudnya: menghinakanmu dan meremehkanmu.

فقال ﷺ أنتن أهون على الله أن تقمئنني ثم غضب عليهن كلهن شهراً إلى أن عاد إليهن

Maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Kalian terlalu hina bagi Allah untuk bisa merendahkanku." Kemudian beliau marah kepada seluruh istri beliau selama satu bulan sampai akhirnya kembali kepada mereka.

العاشر في آداب الجماع

Adab Kesepuluh: Mengenai Adab-Adab Bersetubuh (Jima').

ويستحب أن يبدأ باسم الله تعالى ويقرأ قل هو الله أحد أولاً ويكبر ويهلل ويقول بسم الله العلي العظيم

Disunnahkan memulainya dengan menyebut nama Allah Ta'ala (membaca Basmalah), membaca Qul Huwallāhu Aḥad terlebih dahulu, bertakbir, bertahlil, dan mengucapkan: "Bismillāhil-'Aliyyil-'Aẓīm" (Dengan nama Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung).

اللهم اجعلها ذريةً طيبةً إن كنت قدرت أن تخرج ذلك من صلبي

"Allāhummaj'alhā żurriyyatan ṭayyibatan in kunta qaddarta an tukhrija żālika min ṣulbī" (Ya Allah, jadikanlah ia keturunan yang baik jika Engkau menakdirkan untuk mengeluarkan anak itu dari sulbiku).

وقال ﷺ لو أن أحدكم إذا أتى أهله قال اللهم جنبني الشيطان وجنب الشيطان ما رزقتنا

Dan Rasulullah ﷺ bersabda, "Seandainya salah seorang dari kalian ketika hendak menggauli istrinya membaca: 'Allāhumma jannibnisy-syaīṭāna wa jannibisy-syaīṭāna mā razaqtanā' (Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau anugerahkan kepada kami),

فإن كان بينهما ولد لم يضره

lalu ditakdirkan lahir seorang anak dari hubungan keduanya, maka anak itu tidak akan dapat dimudharatkan oleh…

﴿الشيطان﴾

…setan."

وإذا قربت من الإنزال فقل في نفسك ولا تحرك شفتيك الحمد لله الذي خلق من الماء بشراً فجعله نسباً وصهراً وكان ربك قديراً

Dan apabila engkau telah mendekati klimaks (ejakulasi), ucapkanlah di dalam hatimu tanpa menggerakkan kedua bibirmu: "Al-ḥamdu lillāhillażī khalaqa minal-mā'i basyaran faja'alahū nasaban wa ṣihran wa kāna rabbuka qadīrā" (Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan manusia dari air, lalu Dia menjadikannya punya keturunan dan hubungan kekeluargaan; dan adalah Tuhanmu Mahakuasa).

وكان بعض أصحاب الحديث يكبر حتى يسمع أهل الدار صوته ثم ينحرف عن القبلة ولا يستقبل القبلة بالوقاع إكراماً للقبلة وليغط نفسه وأهله بثوب كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يغطي رأسه ويغض صوته ويقول للمرأة عليك بالسكينة

Sebagian ahli hadits biasa bertakbir hingga penghuni rumah mendengar suaranya, kemudian berpaling membelakangi kiblat dan tidak menghadap kiblat saat berhubungan intim demi memuliakan kiblat. Hendaklah ia menutupi dirinya dan istrinya dengan kain; Rasulullah ﷺ dahulu menutupi kepala beliau, merendahkan suaranya, dan bersabda kepada istrinya, "Hendaklah engkau bersikap tenang."

وفي الخبر إذا جامع أحدكم أهله فلا يتجردان تجرد العيرين

Dalam sebuah riwayat disebutkan, "Apabila salah seorang di antara kalian mencumbu (berhubungan intim dengan) istrinya, janganlah keduanya bertelanjang bulat sebagaimana bertelanjangnya dua ekor keledai."

أي الحمارين وليقدم التلطف بالكلام والتقبيل قال ﷺ لا يقعن أحدكم على امرأته كما تقع البهيمة وليكن بينهما رسول قيل وما الرسول يا رسول الله قال القبلة والكلام

Yaitu dua ekor keledai. Hendaklah ia mendahuluinya dengan kelembutan kata-kata dan ciuman. Rasulullah ﷺ bersabda, "Janganlah salah seorang di antara kalian mendatangi istrinya sebagaimana bersenggamanya hewan ternak, dan hendaklah ada utusan di antara keduanya." Ditanyakan, "Apakah utusan itu, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Ciuman dan tutur kata."

وقال ﷺ ثلاث من العجز في الرجل أن يلقى من يحب معرفته فيفارقه قبل أن يعلم اسمه ونسبه والثاني أن يكرمه أحد فيرد عليه كرامته والثالث أن يقارب الرجل جاريته أو زوجته فيصيبها قبل أن يحدثها ويؤانسها ويضاجعها فيقضي حاجته منها قبل أن تقضي حاجتها منه

Nabi ﷺ juga bersabda, "Tiga hal yang termasuk kelemahan pada diri seorang lelaki: Pertama, ia bertemu dengan seseorang yang ingin ia kenal, namun ia berpisah darinya sebelum mengetahui nama dan nasabnya. Kedua, seseorang memuliakannya, lalu ia menolak penghormatan tersebut. Ketiga, seorang lelaki mendatangi budak perempuannya atau istrinya lalu menggaulinya sebelum mengajak bicara, mencumbunya, dan berbaring bersamanya, sehingga ia telah menunaikan hajatnya sementara istrinya belum menunaikan hajatnya darinya."

ويكره له الجماع في ثلاث ليال من الشهر الأول والآخر والنصف

Dimakruhkan baginya melakukan hubungan intim pada tiga malam dalam sebulan: malam pertama, malam terakhir, dan pertengahan bulan.

يقال إن الشيطان يحضر الجماع في هذه الليالي ويقال إن الشياطين يجامعون فيها وروي كراهة ذلك عن علي ومعاوية وأبي هريرة ﵃

Dikatakan bahwa setan menghadiri hubungan intim pada malam-malam ini, dan dikatakan pula bahwa para setan berhubungan intim pada malam-malam tersebut. Diriwayatkan pula kemakruhan hal itu dari Ali, Mu'awiyah, dan Abu Hurairah semoga Allah meredai mereka.

ومن العلماء من استحب الجماع يوم الجمعة وليلته تحقيقاً لأحد التأويلين من قوله ﷺ رحم الله من غسل واغتسل

Di antara para ulama ada yang menyunnahkan hubungan intim pada hari Jumat dan malamnya, dalam rangka merealisasikan salah satu dari dua takwil dari sabda Nabi ﷺ, "Semoga Allah merahmati orang yang memandikan dan mandi…"

الحديث

(hingga akhir) hadis.

ثُمَّ إِذَا قَضَى وَطَرَهُ فَلْيَتَمَهَّلْ عَلَى أَهْلِهِ حتى تقضي هي أيضاً نهمتها فإن إنزالها ربما يتأخر فيهيج شهوتها ثم القعود عنها إيذاء لها والاختلاف في طبع الإنزال يوجب التنافر مهما كان الزوج سابقاً إلى الإنزال والتوافق في وقت الإنزال ألذ عندها ليشتغل الرجل بنفسه عنها فإنها ربما تستحي

Kemudian, apabila suami telah menyelesaikan hajatnya, hendaklah ia perlahan-lahan (tidak terburu-buru menyudahi) terhadap istrinya hingga sang istri juga menunaikan hajatnya. Sebab, ejakulasi/puncak kepuasan sang istri terkadang terlambat sehingga syahwatnya terlanjur bergejolak, maka meninggalkannya begitu saja dapat menyakitinya. Perbedaan dalam tabiat keluarnya mani dapat menyebabkan kerenggangan manakala suami lebih dahulu mencapai puncak kepuasan. Sedangkan kesamaan waktu dalam mencapai puncaknya terasa lebih nikmat bagi sang istri, agar suami tidak terlalu sibuk dengan dirinya sendiri dari memperhatikan istrinya, sebab bisa jadi sang istri merasa malu.

وينبغي أن يأتيها في كل أربع ليال مرة فهو أعدل إذ عدد النساء أربعة فجاز التأخير إلى هذا الحد نعم ينبغي أن يزيد أو ينقص بحسب حاجتها في التحصين فإن تحصينها واجب عليه وإن كان لا يثبت المطالبة بالوطء فذلك لعسر المطالبة والوفاء بها ولا يأتيها في المحيض ولا بعد انقضائه وقبل الغسل فهو محرم بنص الكتاب وقيل إن ذلك يورث الجذام في الولد وَلَهُ أَنْ يَسْتَمْتِعَ بِجَمِيعِ بَدَنِ الْحَائِضِ وَلَا يَأْتِيَهَا فِي غَيْرِ الْمَأْتَى إِذْ حَرُمَ غَشَيَانُ الحائض لأجل الأذى والأذى غَيْرِ الْمَأْتَى دَائِمٌ فَهُوَ أَشَدُّ تَحْرِيمًا مِنْ إِتْيَانِ الْحَائِضِ

Hendaknya ia menggaulinya sekali setiap empat malam, sebab hal itu paling adil mengingat batasan jumlah istri adalah empat, sehingga dibolehkan menundanya hingga batas ini. Ya, hendaknya ia menambah atau mengurangi sesuai kebutuhan istri dalam menjaga kehormatannya (tahshin), karena menjaga kehormatan istri adalah kewajiban bagi suami meskipun gugatan hukum untuk jima' tidak ditetapkan secara kaku disebabkan sulitnya penuntutan dan pemenuhannya. Dan janganlah ia menggaulinya dalam keadaan haid, tidak pula setelah haid selesai sebelum mandi junub, sebab hal itu haram berdasarkan nash Al-Kitab (Al-Qur'an), dan dikatakan bahwa hal itu dapat menyebabkan kusta pada anak. Dan suami boleh bersenang-senang (bercumbu) dengan seluruh tubuh wanita yang sedang haid, serta tidak menggaulinya pada selain tempatnya (dubur), karena dilarangnya menggauli wanita haid adalah lantaran adanya gangguan (kotoran haid), sedangkan gangguan pada selain tempatnya itu bersifat menetap/terus-menerus, maka mendatangi selain tempatnya lebih keras keharamannya daripada menggauli wanita haid.

وَقَوْلُهُ تَعَالَى فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شئتم أي أَيِّ وَقْتٍ شِئْتُمْ وَلَهُ أَنْ يَسْتَمْنِيَ بِيَدِيهَا وَأَنْ يَسْتَمْتِعَ بِمَا تَحْتَ الْإِزَارِ بِمَا يَشْتَهِي سوى الوقاع

Dan firman Allah Ta'ala: "Maka datangilah tempat bercocok tanammu kapan saja kamu kehendaki" (QS. Al-Baqarah: 223), maksudnya pada waktu kapan saja yang kalian kehendaki. Suami juga boleh meminta dikeluarkan maninya melalui tangan istrinya, serta menikmati bagian tubuh di bawah kain sarung sesuai yang diinginkannya selain persetubuhan.

وينبغي أن تتزر المرأة بإزار من حقوها إلى فوق الركبة في حال الحيض فهذا من الأدب وَلَهُ أَنْ يُؤَاكِلَ الْحَائِضَ وَيُخَالِطَهَا فِي الْمُضَاجَعَةِ وغيرها وليس عليه اجتنابها وإن أراد أن يجامع ثانياً بعد أخرى فليغسل فرجه أولاً وإن احتلم فلا يجامع حتى يغسل فرجه أو يبول ويكره الجماع في أول الليل حتى لا ينام على غير طهارة فإن أراد النوم أو الأكل فليتوضأ أولا وضوء الصلاة فذلك سنة

Hendaknya wanita yang sedang haid memakai kain sarung dari pinggangnya hingga di atas lutut, sebab ini merupakan bagian dari adab. Suami boleh makan bersama wanita yang sedang haid dan berbaur bersamanya dalam tidur berbaring maupun lainnya, dan tidak wajib baginya menjauhinya. Apabila ia ingin berhubungan intim kembali untuk kedua kalinya, hendaknya ia membasuh kemaluannya terlebih dahulu. Jika ia bermimpi basah, janganlah berhubungan intim hingga ia membasuh kemaluannya atau kencing. Dimakruhkan berhubungan intim pada awal malam agar ia tidak tidur dalam keadaan tidak suci. Apabila ia hendak tidur atau makan (dalam keadaan junub), hendaknya ia berwudu terlebih dahulu sebagaimana wudu untuk shalat, sebab hal itu adalah sunnah.

قال ابن عمر قلت للنبي ﷺ أينام أحدنا وهو جنب قال نعم إذا توضأ

Ibnu Umar berkata: Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, "Apakah salah seorang dari kami boleh tidur dalam keadaan junub?" Beliau menjawab, "Ya, apabila ia telah berwudu."

ولكن قد وردت فيه رخصة قالت عائشة رضي الله

Namun sungguh telah ada keringanan mengenai hal ini. Aisyah radhiyallahu…

عنها كان النبي ﷺ ينام جنباً لم يمس ماء

…'anha berkata: "Nabi ﷺ pernah tidur dalam keadaan junub tanpa menyentuh air (sama sekali)."

ومهما عاد إلى فراشه فليمسح وجه فراشه أو لينفضه فإنه لا يدري ما حدث عليه بعده ولا ينبغي أن يحلق أو يقلم أو يستحد أو يخرج الدم أو يبين من نفسه جزءاً وهو جنب إذ ترد إليه سائر أجزائه في الآخرة فيعود جنباً ويقال إن كل شعرة تطالبه بجنابتها ومن الآداب أن لا يعزل بل لا يسرح إلا إلى محل الحرث وهو الرحم فَمَا مِنْ نَسَمَةٍ قَدَّرَ اللَّهُ كَوْنَهَا إِلَّا وهي كائنة

Apabila ia kembali ke tempat tidurnya, hendaknya ia mengusap permukaan tempat tidurnya atau mengibaskannya, karena ia tidak tahu apa yang terjadi di atasnya setelah ditinggalkan. Dan tidak sepatutnya ia mencukur rambut, memotong kuku, mencukur bulu kemaluan, mengeluarkan darah (berbekam), atau memisahkan bagian tubuh dari dirinya dalam keadaan junub, sebab seluruh bagian tubuhnya akan dikembalikan kepadanya di akhirat kelak dalam keadaan junub, dan dikatakan bahwa setiap helai rambut akan menuntut janabahnya. Termasuk adab pula adalah tidak melakukan 'azal (mengeluarkan sperma di luar vagina), bahkan hendaknya tidak menumpahkannya kecuali ke tempat bercocok tanam yaitu rahim, sebab tidak ada satu pun jiwa yang telah Allah takdirkan keberadaannya melainkan ia pasti akan ada.

هكذا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فإن عزل فقد اختلف العلماء في إباحته وكراهته على أربع مذاهب فمن مبيح مطلقاً بكل حال ومن محرم بكل حال ومن قائل يحل برضاها ولا يحل دون رضاها وكأن هذا القائل يحرم الإيذاء دون العزل ومن قائل يباح في المملوكة دون الحرة

Demikianlah yang disabdakan oleh Rasulullah ﷺ. Jika seseorang melakukan 'azal, maka para ulama berbeda pendapat mengenai kebolehan dan kemakruhannya menjadi empat mazhab: Di antaranya ada yang membolehkan secara mutlak dalam setiap keadaan; ada yang mengharamkan secara mutlak dalam setiap keadaan; ada yang berpendapat bahwa 'azal halal dengan kerelaan istri dan tidak halal tanpa kerelaannya—seakan-akan pendapat ini mengharamkan tindakan menyakiti/merugikan istri, bukan 'azal-nya itu sendiri; dan ada pula yang berpendapat bahwa 'azal dibolehkan pada budak wanita, tidak pada wanita merdeka.

والصحيح عندنا أن ذلك مباح وأما الكراهية فإنها تطلق لنهي التحريم ولنهي التنزيه ولترك الفضيلة فهو مكروه بالمعنى الثالث أي فيه ترك فضيلة كما يقال يكره للقاعد في المسجد أن يقعد فارغاً لا يشتغل بذكر أو صلاة ويكره للحاضر في مكة مقيماً بها أن لا يحج كل سنة والمراد بهذه الكراهية ترك الأولى والفضيلة فقط وهذا ثابت لما بيناه من الفضيلة في الولد ولما رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ إن الرجل ليجامع أهله فيكتب له بجماعه أجر ولد ذكر قاتل في سبيل الله فقتل

Yang sahih menurut kami adalah bahwa hal itu mubah (boleh). Adapun istilah 'makruh' terkadang digunakan untuk larangan yang bersifat haram (nahy tahrim), larangan yang bersifat tanzihi (nahy tanzih), dan untuk meninggalkan keutamaan (tark al-fadhilah). Maka 'azal adalah makruh dalam arti makna yang ketiga, yaitu padanya terdapat tindakan meninggalkan keutamaan. Sebagaimana dikatakan: dimakruhkan bagi orang yang duduk di masjid untuk duduk menganggur tanpa disibukkan dengan zikir atau shalat, dan dimakruhkan bagi orang yang tinggal di Makkah untuk tidak berhaji setiap tahun. Yang dimaksud dengan kemakruhan di sini hanyalah meninggalkan hal yang lebih utama dan afdal saja. Hal ini tetap berlaku berdasarkan apa yang telah kami jelaskan mengenai keutamaan mempunyai anak, serta berdasarkan riwayat dari Nabi ﷺ: "Sesungguhnya seseorang yang menggauli istrinya, dicatatkan baginya pahala seumpama memiliki seorang anak laki-laki yang berperang di jalan Allah lalu gugur syahid."

وإنما قال ذلك لأنه لو ولد له مثل هذا الولد لكان له أجر التسبب إليه مع أن الله تعالى خالقه ومحييه ومقويه على الجهاد والذي إليه من التسبب فقد فعله وهو الوقاع وذلك عند الإمناء في الرحم

Beliau bersabda demikian karena jika dilahirkan baginya anak seperti itu, niscaya ia memperoleh pahala atas usahanya (menjadi sebab kelahirannya), meskipun Allah Ta'ala dialah yang menciptakannya, menghidupkannya, dan menguatkannya untuk berjihad. Adapun usaha yang menjadi bagiannya telah ia lakukan, yaitu persetubuhan, dan hal itu terjadi ketika memancarkan mani ke dalam rahim.

وإنما قلنا لا كراهة بمعنى التحريم والتنزيه لأن إثبات النهي إنما يمكن بنص أو قياس على منصوص ولا نص ولا أصل يقاس عليه بل ههنا أصل يقاس عليه وهو ترك النكاح أصلاً أو ترك الجماع بعد النكاح أو ترك الإنزال بعد الإيلاج فكل ذلك ترك للأفضل وليس بارتكاب نهي ولا فرق إذ الولد يتكون بوقوع النطفة في الرحم ولها أربعة أسباب النكاح ثم الوقاع ثم الصبر إلى الإنزال بعد الجماع ثم الوقوف لينصب المني في الرحم وبعض هذه الأسباب أقرب من بعض فالامتناع عن الرابع كالامتناع عن الثالث وكذا الثالث كالثاني والثاني كالأول وليس هذا كالإجهاض والوأد لأن ذلك جناية على موجود حاصل وله أيضاً مراتب وأول مراتب الوجود أن تقع النطفة في الرحم وتختلط بماء المرأة وتستعد لقبول الحياة وإفساد ذلك جناية فإن صارت مضغةً وعلقةً كانت الجناية أفحش وإن نفخ فيه الروح واستوت الخلقة ازدادت الجناية تفاحشاً ومنتهى التفاحش في الجناية بعد الانفصال حياً

Kami katakan bahwa tidak ada kemakruhan dalam arti haram (tahrim) maupun tanzihi karena penetapan larangan hanya mungkin dilakukan dengan adanya nash (teks hukum) atau qiyas (analogi) terhadap hal yang ada nash-nya. Padahal tidak ada nash dan tidak ada pula dasar (asl) untuk diqiyaskan dengannya. Bahkan di sini terdapat dasar yang diqiyaskan kepadanya, yaitu meninggalkan nikah sama sekali, atau meninggalkan jima' setelah menikah, atau meninggalkan ejakulasi setelah penetrasi (iilaj); semua itu adalah tindakan meninggalkan hal yang paling utama dan bukan melakukan suatu keharaman, tidak ada bedanya. Sebab, anak terbentuk dengan jatuhnya nutfah ke dalam rahim, yang mana hal itu memiliki empat tahapan/sebab: pernikahan, kemudian persetubuhan, kemudian bersabar hingga ejakulasi setelah jima', kemudian berdiam sejenak agar mani tertumpah ke dalam rahim. Sebagian sebab ini lebih dekat (kepada pembentukan anak) dibanding sebagian yang lain. Maka menahan diri dari sebab keempat sama seperti menahan diri dari sebab ketiga, demikian pula sebab ketiga seperti sebab kedua, dan sebab kedua seperti sebab pertama. Hal ini tidaklah sama seperti aborsi (ijhadh) atau mengubur bayi hidup-hidup (wa'd), karena hal itu merupakan tindak kejahatan (jinayah) terhadap sesuatu yang sudah ada dan berwujud. Wujud itu sendiri memiliki tingkatan-tingkatan: tingkatan pertama dari wujud adalah ketika nutfah jatuh ke dalam rahim dan bercampur dengan air wanita serta bersiap menerima kehidupan, maka merusak hal itu merupakan suatu kejahatan. Apabila telah menjadi segumpal darah ('alaqah) dan segumpal daging (mudhghah), maka kejahatannya lebih keji. Jika telah ditiupkan ruh ke dalamnya dan bentuk tubuhnya sempurna, kejahatan itu semakin keji. Dan puncak keji-kejinya kejahatan adalah setelah ia terpisah (lahir) dalam keadaan hidup.

وإنما قلنا مبدأ سبب الوجود من حيث وقوع المني في الرحم لا من حيث الخروج من الإحليل لأن الولد لا يخلق من مني الرجل وحده بل من الزوجين جميعاً إما من مائه ومائها أو من مائه ودم الحيض قال بعض أهل التشريح إن المضغة تخلق بتقدير الله من دم الحيض وإن الدم منها كاللبن من الرائب وإن النطفة من الرجل شرط في خثور دم الحيض وانعقاده كالأنفحة للبن إذ بها ينعقد الرائب وكيفما كان فماء المرأة ركن في الانعقاد فيجري الماءان مجرى الإيجاب والقبول في الوجود الحكمي في العقود فمن أوجب ثم رجع قبل القبول لا يكون جانياً على العقد بالنقض والفسخ ومهما اجتمع الإيجاب والقبول كان الرجوع بعده رفعاً وفسخاً وقطعاً وكما أن النطفة في الفقار لا يتخلق منها الولد فكذا بعد الخروج من الإحليل ما لم يمتزج بماء المرأة ودمها فهذا هو القياس الجلي

Kami katakan bahwa permulaan sebab wujud adalah sejak jatuhnya mani ke dalam rahim, bukan sejak keluarnya dari saluran kencing (ihlil/kemaluan), sebab anak tidak diciptakan dari mani laki-laki saja, melainkan dari kedua pasangan secara bersama-sama, baik dari airnya (lelaki) dan airnya (perempuan) atau dari airnya dan darah haid. Sebagian ahli anatomi berkata bahwa segumpal daging diciptakan dengan takdir Allah dari darah haid, dan darah baginya bagaikan susu bagi keju/susu kental, sedangkan nutfah dari laki-laki merupakan syarat dalam mengendapkan dan membekukan darah haid sebagaimana ragi/rennet bagi susu yang dengannya susu kental membeku. Bagaimana pun juga, air wanita merupakan rukun dalam pembentukan tersebut. Maka kedua air tersebut berkedudukan seperti ijab dan kabul dalam wujud hukum pada akad-akad. Barang siapa menyampaikan ijab lalu membatalkannya sebelum adanya kabul, ia tidak dianggap melakukan pelanggaran terhadap akad dengan pembatalan atau pembubaran. Namun manakala ijab dan kabul telah menyatu, maka pembatalan setelahnya adalah pengangkatan, pembubaran, dan pemutusan. Sebagaimana nutfah di dalam tulang sulbi tidak bisa tercipta anak darinya, demikian pula setelah keluar dari kemaluan selama belum bercampur dengan air wanita dan darahnya. Maka inilah analogi yang jelas (qiyas jali).

فإن قلت فإن لم يكن العزل مكروهاً من حيث أنه دفع لوجود الولد فلا يبعد أن يكره لأجل النية الباعثة عليه إذ لا يبعث عليه إلا نية فاسدة فيها شيء من شوائب الشرك الخفي فأقول النيات الباعثة على العزل خمس

Jika Anda bertanya, "Jika 'azal (mengeluarkan sperma di luar rahim) tidak dimakruhkan dari segi bahwa hal itu menolak keberadaan anak, maka tidak mustahil jika hal itu dimakruhkan karena niat yang melatarbelakanginya; sebab tidaklah mendorong padanya kecuali niat yang rusak yang di dalamnya terdapat noda syirik tersembunyi (syirik khafi)." Maka saya katakan, niat-niat yang mendorong untuk melakukan 'azal ada lima:

الأولى في السراري وهو حفظ الملك عن الهلاك باستحقاق العتاق وقصد استبقاء الملك بترك الإعتاق ودفع أسبابه ليس بمنهي عنه

Pertama, berkaitan dengan budak-budak wanita (sarari), yaitu menjaga kepemilikan agar tidak hilang akibat hak kemerdekaan (karena menjadi ummul walad), dan maksud untuk mempertahankan kepemilikan dengan tidak memerdekakan serta menolak sebab-sebabnya bukanlah hal yang dilarang.

الثانية اسْتِبْقَاءُ جَمَالِ الْمَرْأَةِ وَسِمَنِهَا لِدَوَامِ التَّمَتُّعِ وَاسْتِبْقَاءُ حياتها خوفاً من خطر الطلق وهذا أيضاً ليس منهياً عنه

Kedua, menjaga kecantikan dan kesegaran tubuh wanita agar kenikmatan (hubungan suami-istri) berkesinambungan, serta menjaga keselamatan jiwanya karena rasa takut terhadap bahaya rasa sakit saat melahirkan. Hal ini juga tidak dilarang.

الثالثة الْخَوْفُ مِنْ كَثْرَةِ الْحَرَجِ بِسَبَبِ كَثْرَةِ الْأَوْلَادِ وَالِاحْتِرَازُ مِنَ الْحَاجَةِ إِلَى التَّعَبِ فِي الْكَسْبِ ودخول مداخل السوء وهذا أيضاً غير منهي عنه فإن قلة الحرج معين على الدين نعم الكمال والفضل في التوكل والثقة بضمان الله حيث قال ﴿وما من دابة في الأرض إلا على الله رزقها﴾ ولا جرم فيه سقوط عن ذروة الكمال وترك الأفضل ولكن النظر إلى العواقب وحفظ المال وادخاره مع كونه مناقضاً للتوكل لا نقول إنه منهي عنه

Ketiga, kekhawatiran akan besarnya kesulitan akibat banyaknya anak, serta berikhtiar menjaga diri dari keharusan bersusah payah dalam mencari mata pencaharian dan masuk ke dalam cara-cara pencarian yang buruk. Ini juga tidak dilarang, karena ringannya kesulitan merupakan penolong bagi agama. Benar bahwa kesempurnaan dan keutamaan itu terletak pada tawakal dan percaya pada jaminan Allah, di mana Dia berfirman, "Dan tidak ada satu pun makhluk bergerak di bumi melainkan Allahlah yang menanggung rezekinya" (QS. Hud: 6). Dan tidak diragukan lagi bahwa padanya terdapat penurunan dari puncak kesempurnaan dan meninggalkan yang lebih utama. Namun demikian, mempertimbangkan akibat, menjaga harta, dan menyimpannya, meskipun bertentangan dengan tawakal, kami tidak mengatakan bahwa hal itu dilarang.

الرابعة الخوف من الأولاد الإناث لما يعتقد في تزويجهن من المعرة كما كانت من عادة العرب في قتلهم الإناث فهذه نية فاسدة لو ترك بسببها أصل النكاح أو أصل الوقاع أثم بها لا بترك النكاح والوطء فكذا في العزل والفساد في اعتقاد المعرة في سنة رسول الله ﷺ أشد وينزل منزلة امرأة تركت النكاح استنكافاً من أن يعلوها رجل فكانت تتشبه بالرجال ولا ترجع الكراهة إلى عين ترك النكاح

Keempat, kekhawatiran memiliki anak-anak perempuan karena adanya prasangka akan celaan saat menikahkan mereka, sebagaimana kebiasaan bangsa Arab (jahiliyah) dalam membunuh anak-anak perempuan. Ini adalah niat yang rusak. Seandainya karena niat ini seseorang meninggalkan pokok pernikahan atau pokok jima', maka ia berdosa karena niat tersebut, bukan karena meninggalkan pernikahan atau jima'-nya. Demikian pula dalam hal 'azal. Kerusakan dalam meyakini adanya celaan pada sunnah Rasulullah ﷺ adalah lebih berat, dan posisinya sama seperti seorang wanita yang meninggalkan pernikahan karena enggan digauli oleh laki-laki sehingga ia menyerupakan diri dengan laki-laki, padahal kemakruhan itu tidak kembali kepada zat meninggalkan pernikahan itu sendiri.

الخامسة أن تمتنع المرأة لتعززها ومبالغتها في النظافة والتحرز من الطلق والنفاس والرضاع وكان ذلك عادة نساء الخوارج لمبالغتهن في استعمال المياه حتى كن يقضين صلوات أيام الحيض ولا يدخلن الخلاء إلا عراة فهذه بدعة تخالف السنة فهي نية فاسدة واستأذنت واحدة منهن على عائشة ﵂ لما قدمت البصرة فلم تأذن لها فيكون القصد هو الفاسد دون منع الولادة

Kelima, wanita yang menolak (hamil) karena kesombongannya, rasa berlebihan dalam menuntut kebersihan, serta menghindar dari rasa sakit melahirkan, nifas, dan menyusui. Dulu hal ini merupakan kebiasaan wanita-wanita Khawarij karena sikap berlebihan mereka dalam penggunaan air, hingga mereka mengqadha shalat pada hari-hari haid dan tidak memasuki kamar mandi kecuali dalam keadaan telanjang bulat. Ini adalah bid'ah yang menyelisih Sunnah, sehingga niat tersebut adalah niat yang rusak. Salah seorang dari mereka pernah meminta izin menemui 'Aisyah radhiyallahu 'anha ketika beliau tiba di Bashrah, namun beliau tidak mengizinkannya. Dengan demikian, yang menjadi rusak adalah maksudnya, bukan pencegahan kelahirannya itu sendiri.

فإن قلت فقد قال النبي ﷺ من ترك النكاح مخافة العيال فليس منا ثلاثاً

Jika Anda bertanya, "Bukankah Nabi ﷺ telah bersabda, 'Barangsiapa meninggalkan pernikahan karena takut akan beban tanggungan (keluarga), maka ia bukan bagian dari kami,' sebanyak tiga kali?"

قلت فالعزل كترك النكاح

Saya katakan, maka 'azal itu seperti halnya meninggalkan pernikahan.

وقوله ليس منا أي ليس موافقاً لنا على سنتنا وطريقتنا وسنتنا فعل الأفضل

Dan sabda Beliau "bukan bagian dari kami" artinya tidak sejalan dengan kami dalam Sunnah dan jalan kami, sedangkan Sunnah kami adalah melakukan hal yang lebih utama (al-afdhal).

فإن قلت فقد قال ﷺ في العزل ذاك الوأد الخفي وقرأ وإذا الموءودة سئلت

Jika Anda bertanya, "Bukankah Nabi ﷺ bersabda mengenai 'azal, 'Itu adalah pembunuhan anak secara terselubung (al-wa'dul-khafi)', dan Beliau membaca ayat: 'Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya' (QS. At-Takwir: 8)?"

وهذا في الصحيح

Dan periwayatan ini terdapat dalam kitab Shahih.

قلنا وفي الصحيح أيضا أخبار صحيحة

Kami jawab: Di dalam kitab Shahih juga terdapat riwayat-riwayat shahih yang lain…

في الإباحة وقوله الوأد الخفي كقوله الشرك الخفي وذلك يوجب كراهة لا تحريماً

…tentang kebolehannya. Adapun sabda Beliau "pembunuhan terselubung" (al-wa'dul-khafi) adalah seperti sabda Beliau "syirik terselubung" (asy-syirkul-khafi), dan hal itu mengkonsekuensikan kemakruhan, bukan keharaman.

فإن قلت فقد قال ابن عباس العزل هو الوأد الأصغر فإن الممنوع وجوده به هو الموءودة الصغرى

Jika Anda bertanya, "Bukankah Ibnu 'Abbas telah berkata bahwa 'azal adalah pembunuhan anak yang kecil (al-wa'dul-ashghar), karena janin yang dihalangi keberadaannya dengannya adalah bayi yang dikubur hidup-hidup dalam skala kecil?"

قلنا هذا قياس منه لدفع الوجود على قطعه وهو قياس ضعيف ولذلك أنكره عليه علي ﵁ لما سمعه قال ولا تكون موءودة إلا بعد سبع أي بعد الأخرى سبعة أطوار وتلا الآية الواردة في أطوار الخلقة وهي قوله تَعَالَى وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ إلى قوله ثم أنشأناه خلقاً آخر أي نفخنا فيه الروح ثم تلا قوله تعالى في الآية وإذا الموءودة سئلت وإذا نظرت إلى ما قدمناه في طريق القياس والاعتبار ظهر لك تفاوت منصب علي وابن عباس ﵄ في الغوص على المعاني ودرك

Kami jawab: Ini adalah qiyas (analogi) dari beliau yang menyamakan pencegahan timbulnya wujud dengan pemutusan wujud yang sudah ada, dan ini adalah qiyas yang lemah. Oleh karena itu, 'Ali radhiyallahu 'anhu mengingkarinya ketika mendengarnya. 'Ali berkata, "Tidaklah dinamakan bayi yang dikubur hidup-hidup (mau'udah) kecuali setelah melewati tujuh tahapan." Maksudnya, setelah melewati tujuh fase penciptaan. Lalu beliau membaca ayat yang menjelaskan fase-fase penciptaan, yaitu firman Allah Ta'ala: "Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami menjadikannya air mani dalam tempat yang kokoh (rahim)…" sampai firman-Nya, "…kemudian Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain" (QS. Al-Mu'minun: 12-14), yaitu saat ditiupkan roh ke dalamnya. Kemudian beliau membaca firman Allah Ta'ala: "Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya." Apabila Anda memperhatikan apa yang telah kami paparkan dalam metode qiyas dan pertimbangan ini, niscaya tampak bagi Anda perbedaan kedudukan 'Ali dan Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma dalam mendalami makna-makna dan pencapaian…

العلوم كيف وفي المتفق عليه في الصحيحين على جابر أَنَّهُ قَالَ كُنَّا نَعْزِلُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَالْقُرْآنُ يَنْزِلُ وَفِي لَفْظٍ آخَرَ كُنَّا نَعْزِلُ فَبَلَغَ ذَلِكَ نَبِيَّ اللَّهِ ﷺ فَلَمْ ينهنا

…ilmu-ilmu. Bagaimana tidak, padahal dalam riwayat yang disepakati (Muttafaq 'Alaih) di dalam dua kitab Shahih dari Jabir radhiyallahu 'anhu bahwasanya ia berkata: "Kami pernah melakukan 'azal pada masa Rasulullah ﷺ sementara Al-Qur'an sedang turun." Dan dalam lafaz yang lain: "Kami pernah melakukan 'azal, lalu hal itu sampai kepada Nabi Allah ﷺ dan Beliau tidak melarang kami."

وفيه أيضاً عن جابر أنه قال إن رجلاً أتى رسول الله ﷺ فقال إن لي جارية خادمتنا وساقيتنا في النخل وأنا أطوف عليها وأكره أن تحمل فقال ﷺ اعزل عنها إن شئت فإنه سيأتيها ما قدر لها فلبث الرجل ما شاء الله ثم أتاه فقال إن الجارية قد حملت فقال قد قلت سيأتيها ما قدر لها

Dan di dalamnya (Shahih) juga diriwayatkan dari Jabir bahwa seorang laki-laki mendatangi Rasulullah ﷺ lalu berkata, "Sesungguhnya aku memiliki seorang budak wanita yang menjadi pelayan kami dan menyiram kebun kurma kami, dan aku menggaulinya namun aku tidak suka jika ia hamil." Maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Lakukanlah 'azal padanya jika engkau mau, karena sesungguhnya akan tetap datang kepadanya apa yang telah ditakdirkan untuknya." Laki-laki itu pun menunggu sekian lama, lalu ia mendatangi Beliau lagi dan berkata, "Sesungguhnya budak wanita itu telah hamil." Maka Beliau bersabda, "Aku telah katakan kepadamu bahwa akan tetap datang kepadanya apa yang telah ditakdirkan untuknya."

كل ذلك في الصحيحين

Semua riwayat itu terdapat dalam As-Shahihain (Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim).

الْحَادِيَ عَشَرَ فِي آدَابِ الْوِلَادَةِ وَهِيَ خَمْسَةٌ

Hal ke sebelas: Mengenai Adab-Adab Kelahiran Anak, dan Hal Ini Ada Lima:

الْأَوَّلُ أَنْ لَا يَكْثُرَ فَرَحُهُ بِالذَّكَرِ وَحُزْنُهُ بالأنثى فإنه لا يدري الخيرة فِي أَيِّهِمَا فَكَمْ مِنْ صَاحِبِ ابْنٍ يَتَمَنَّى أَنْ لَا يَكُونَ لَهُ أَوْ يَتَمَنَّى أَنْ يكون بنتاً بل السلامة منهن أكثر والثواب فيهن اجزل قَالَ ﷺ مَنْ كَانَ له ابنة فأدبها فأحسن تأديبها وغذاها فأحسن غذائها وأسبغ عليها من النعمة التي أسبغ الله عليه كانت له ميمنة وميسرة من النار إلى الجنة

Pertama, hendaknya kegembiraannya tidak berlebihan karena (kelahiran) anak laki-laki dan tidak bersedih karena (kelahiran) anak perempuan; sebab seseorang tidak mengetahui di mana letak kebaikan. Betapa banyak orang yang memiliki anak laki-laki kemudian berharap seandainya ia tidak memilikinya atau berharap anak itu adalah anak perempuan. Bahkan keselamatan dari anak perempuan itu lebih banyak dan pahala padanya lebih besar. Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa mempunyai anak perempuan, lalu ia mendidiknya dengan baik, memberinya makan dengan baik, dan melimpahkan kepadanya nikmat yang telah Allah limpahkan kepadanya, niscaya anak itu akan menjadi benteng penolak dan kemudahan baginya dari siksa neraka menuju surga."

وقال ابن عباس ﵄ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ما من أحد يدرك ابنتين فيحسن إليهما ما صحبتاه إلا أدخلتاه الجنة

Ibnu Abbas r.a. berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidak ada seorang pun yang mendapati dua anak perempuan lalu ia berbuat baik kepada keduanya selama keduanya menyertainya, melainkan kedua anak itu akan memasukkannya ke dalam surga."

وقال أنس قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مَنْ كَانَتْ لَهُ ابْنَتَانِ أَوْ أُخْتَانِ فَأَحْسَنَ إِلَيْهِمَا مَا صَحِبَتَاهُ كُنْتُ أَنَا وَهُوَ في الجنة كهاتين

Anas r.a. berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Barang siapa memiliki dua anak perempuan atau dua saudara perempuan, lalu berbuat baik kepada keduanya selama keduanya menyertainya, maka aku dan dia berada di surga seperti dua jari ini."

وقال أنس قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ من خرج إلى سوق من أسواق المسلمين فاشترى شيئاً فحمله إلى بيته فخص به الإناث دون الذكور نظر الله إليه ومن نظر الله إليه لم يعذبه

Anas r.a. berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Barang siapa pergi ke salah satu pasar kaum muslimin lalu membeli sesuatu dan membawanya ke rumahnya, kemudian mengkhususkan atau mendahulukan anak-anak perempuan daripada anak-anak laki-laki, niscaya Allah akan memandangnya (dengan pandangan rahmat). Dan barang siapa yang dipandang oleh Allah, niscaya Dia tidak akan mengazabnya."

وعن أنس قال قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ من حمل طرفة من السوق إلى عياله فكأنما حمل إليهم صدقة حتى يضعها فيهم وليبدأ بالإناث قبل الذكور فإنه من فرح أنثى فكأنما بكى من خشية الله ومن بكى من خشيته حرم الله بدنه على النار

Dari Anas r.a., ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Barang siapa membawa oleh-oleh dari pasar untuk keluarganya, maka seolah-olah ia membawa sedekah kepada mereka hingga ia menyerahkannya kepada mereka. Hendaklah ia memulainya dari anak-anak perempuan sebelum anak-anak laki-laki, karena barang siapa membahagiakan anak perempuan, seolah-olah ia menangis karena takut kepada Allah (*khasyyatullāh*). Dan barang siapa menangis karena takut kepada Allah, niscaya Allah mengharamkan jasadnya dari api neraka."

وقال أبو هريرة قال ﷺ مَنْ كَانَتْ لَهُ ثلاث بنات أو أخوات فصبر على لأوائهن وضرائهن أدخله الله الجنة بفضل رحمته إياهن فقال رجل وثنتان يا رسول الله قال وثنتان فقال رجل أو واحدة فقال وواحدة

Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Barang siapa memiliki tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan, lalu ia bersabar atas kesukaran dan penderitaan mereka, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga berkat karunia rahmat-Nya kepada mereka." Seseorang bertanya, "Bagaimana jika dua anak, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Dua anak pun demikian." Seseorang bertanya lagi, "Atau satu anak?" Beliau menjawab, "Dan satu anak pun demikian."

الأدب الثاني أن يؤذن في أذن الولد روى رافع عن أبيه قال رأيت النبي ﷺ قد أذن في أذن الحسين حين ولدته فاطمة ﵂

Adab kedua adalah mengumandangkan azan di telinga anak. Rafi' meriwayatkan dari ayahnya, ia berkata, "Aku melihat Nabi ﷺ mengumandangkan azan di telinga al-Husain ketika Fatimah r.a. melahirkannya."

وروي عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قال من ولد له مولود فأذن في أذنه اليمنى وأقام في أذنه اليسرى دفعت عنه أم الصبيان

Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwasanya beliau bersabda, "Barang siapa dikaruniai seorang anak, lalu ia mengumandangkan azan di telinga kanannya dan mengumandangkan ikamah di telinga kirinya, niscaya ia akan dihindarkan dari gangguan *Ummu ash-Shibyan* (gangguan jin/penyakit anak)."

ويستحب أن يلقنوه أول انطلاق لسانه

Disunnahkan pula untuk menuntunnya (*talqin*) saat lidahnya pertama kali mulai dapat berbicara,

لا إله إلا الله ليكون أول حديثه والختان في اليوم السابع ورد به خبر

dengan ucapan *Lā ilāha illallāh* agar kalimat tersebut menjadi ucapan pertamanya. Adapun khitan pada hari ketujuh, terdapat riwayat (*khabar*) mengenai hal itu.

الأدب الثالث أن تسميه اسماً حسناً فذلك من حق الولد

Adab ketiga adalah memberinya nama yang baik, karena hal itu merupakan hak anak atas orang tuanya.

وقال ﷺ إذا سميتم فعبدوا

Nabi ﷺ bersabda, "Jika kalian memberi nama, maka gunakanlah nama yang menunjukkan penghambaan (*ta'bīd*)."

وقال ﷺ أحب الأسماء إلى الله عبد الله وعبد الرحمن

Beliau ﷺ juga bersabda, "Nama-nama yang paling dicintai oleh Allah adalah 'Abdullah dan 'Abdurrahman."

وقال سموا باسمي ولا تكنوا بكنيتي قال العلماء كان ذلك في عصره ﷺ إذ كان ينادى يا أبا القاسم والآن فلا بأس نعم لا يجمع بين اسمه وكنيته وَقَدْ قَالَ ﷺ لَا تجمعوا بين اسمي وكنيتي

Nabi ﷺ bersabda, "Beri namalah dengan namaku, tetapi janganlah kalian menggunakan julukan (*kunyah*)-ku." Para ulama menjelaskan bahwa larangan tersebut berlaku pada zaman beliau ﷺ ketika beliau biasa dipanggil "Wahai Abul Qasim". Namun sekarang, tidak apa-apa menggunakannya. Kendati demikian, tidak boleh menggabungkan antara nama dan julukan beliau, sebagaimana bersabda ﷺ, "Janganlah kalian menggabungkan antara namaku dan julukanku."

وقيل إن هذا أيضاً كان في حياته وتسمى رجل أبا عيسى فقال ﷺ إن عيسى لا أب له

Ada pula yang berpendapat bahwa larangan ini pun berlaku pada masa hidup beliau. Seorang laki-laki pernah menggunakan julukan *Abu 'Isa* (Ayah 'Isa), lalu Nabi ﷺ bersabda, "Sesungguhnya 'Isa tidak memiliki ayah."

فيكره ذلك والسقط ينبغي أن يسمى

Maka hal itu makruh. Dan bayi yang gugur sebelum waktunya (*as-siqt*) hendaknya tetap diberi nama.

قال عبد الرحمن بن يزيد بن معاوية بلغني أن السقط يصرخ يوم القيامة وراء أبيه فيقول أنت ضيعتني وتركتني لا اسم لي فقال عمر بن عبد العزيز كيف وقد لا يدري إنه غلام أو جارية فقال عبد الرحمن من الأسماء ما يجمعهما كحمزة وعمارة وطلحة وعتبة وقال ﷺ إنكم تدعون يوم القيامة بأسمائكم وأسماء آبائكم فأحسنوا أسماءكم

Abdurrahman bin Yazid bin Mu'awiyah berkata, "Telah sampai kepadaku berita bahwa bayi yang gugur akan berteriak pada hari kiamat di belakang ayahnya seraya berkata, 'Engkau telah menyia-nyiakanku dan membiarkanku tanpa nama.' Maka Umar bin Abdul Aziz bertanya, 'Bagaimana caranya, padahal tidak diketahui apakah ia anak laki-laki atau perempuan?' Abdurrahman menjawab, 'Ada nama-nama yang dapat mencakup keduanya, seperti Hamzah, 'Umarah, Thalhah, dan 'Utbah.' Dan Nabi ﷺ bersabda, 'Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kalian dan nama-nama ayah kalian, maka perbaikilah nama-nama kalian.'"

ومن كان له اسم يكره يستحب تبديله أبدل رسول الله ﷺ اسم العاص بعبد الله

Barang siapa memiliki nama yang dibenci (makruh), disunnahkan untuk menggantinya. Rasulullah ﷺ pernah mengganti nama *Al-'Ash* (maksiat) dengan *'Abdullah*.

وكان اسم زينب برة فقال ﷺ تزكي نفسها فسماها زينب

Dahulu nama Zainab adalah *Barrah* (wanita baik), lalu Nabi ﷺ bersabda, "Ia menganggap dirinya suci," kemudian beliau menamainya *Zainab*.

وكذلك ورد النهي في تسمية أفلح ويسار ونافع وبركة

Demikian pula terdapat larangan dalam memberi nama *Aflah* (yang beruntung), *Yasar* (kemudahan), *Nafi'* (yang bermanfaat), dan *Barakah* (keberkahan).

لأنه يقال أثم بركة فيقال لا

Sebab akan ditanyakan, "Apakah di sana ada Barakah?" Lalu dijawab, "Tidak ada."

الرَّابِعُ الْعَقِيقَةُ عَنِ الذَّكَرِ بِشَاتَيْنِ وَعَنِ الْأُنْثَى بشاة ذكراً كان أو أنثى

Keempat: Aqiqah untuk anak laki-laki dengan dua ekor kambing dan untuk anak perempuan dengan satu ekor kambing, baik kambing tersebut jantan maupun betina.

وروت عائشة ﵂ أن رسول الله ﷺ أمر في الغلام أن يعق بشاتين مكافئتين وفي الجارية بشاة

Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu 'anha bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan untuk anak laki-laki diaqiqahi dua ekor kambing yang sepadan, dan untuk anak perempuan satu ekor kambing.

وروي أنه عق عن الحسن بشاة

Diriwayatkan pula bahwa beliau mengaqiqahi al-Hasan dengan satu ekor kambing.

وهذا رخصة في الاقتصار على واحدة وقال ﷺ مع الغلام عقيقته فأهريقوا عنه دماً وأميطوا عنه الأذى

Hal ini merupakan keringanan (rukhsah) untuk mencukupkan diri dengan satu ekor. Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Setiap anak laki-laki beserta aqiqahnya, maka alirkanlah darah (sembelihan) baginya dan hilangkanlah kotoran darinya."

ومن السنة أن يتصدق بوزن شعره ذهباً أو فضةً فقد ورد فيه خبر أنه ﷺ أمر فاطمة ﵂ يوم سابع حسين أن تحلق شعره وتتصدق بزنة شعره فضة

Termasuk sunnah adalah bersedekah seberat timbangan rambutnya dengan emas atau perak. Sungguh telah ada riwayat bahwa beliau shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan Fatimah radhiyallahu 'anha pada hari ketujuh kelahiran al-Husain untuk mencukur rambutnya dan bersedekah perak seberat timbangan rambut tersebut.

قالت عائشة ﵄ لا يكسر للعقيقة عظم

Aisyah radhiyallahu 'anha berkata, "Janganlah mematahkan tulang hewan aqiqah."

الخامس أن يحنكه بتمرة أو حلاوة وروي عن أسماء بنت أبي بكر ﵄ قالت ولدت عبد الله بن الزبير بقباء ثم أتيت به رسول الله ﷺ فوضعته في حجره ثم دعا بتمرة فمضغها ثم تفل في فيه

Kelima: Melakukan tahnik baginya dengan kurma atau sesuatu yang manis. Diriwayatkan dari Asma' binti Abi Bakr radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: "Aku melahirkan Abdullah bin az-Zubair di Quba', kemudian aku membawanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan meletakkannya di pangkuan beliau. Kemudian beliau meminta sebutir kurma, mengunyahnya, lalu meludahkan (kunyahan itu) ke dalam mulutnya (bayi tersebut)."

فكان أول شيء دخل جوفه ربق رَسُولِ اللَّهِ ﷺ ثُمَّ حنكه بتمرة ثم دعا له وبرك عليه وكان أول مولود ولد في الإسلام ففرحوا به فرحاً شديداً لأنهم قيل لهم إن اليهود قد سحرتكم فلا يولد لكم

Maka benda pertama yang masuk ke dalam perutnya adalah air liur Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Kemudian beliau mentahniknya dengan kurma, berdoa untuknya, dan memohonkan keberkahan baginya. Ia adalah bayi pertama yang lahir dalam Islam (setelah hijrah), maka para sahabat sangat bergembira dengannya, sebab sebelumnya dikatakan kepada mereka bahwa kaum Yahudi telah menyihir mereka sehingga mereka tidak akan melahirkan anak.

الثاني عشر في الطلاق وليعلم أنه مباح ولكنه أَبْغَضُ الْمُبَاحَاتِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى وَإِنَّمَا يَكُونُ مباحاً إذا لم يكن فيه إِيذَاءٌ بِالْبَاطِلِ وَمَهْمَا طَلَّقَهَا فَقَدْ آذَاهَا وَلَا يُبَاحُ إِيذَاءُ الْغَيْرِ إِلَّا بِجِنَايَةٍ مِنْ جَانِبِهَا أو بضرورة من جانبه قال الله تَعَالَى ﴿فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا﴾ أَيْ لَا تَطْلُبُوا حِيلَةً لِلْفِرَاقِ وَإِنْ كَرِهَهَا أبوه فليطلقها

Ke-12: Mengenai talak. Hendaklah diketahui bahwa talak itu dibolehkan (mubah), namun ia adalah perkara mubah yang paling dibenci oleh Allah Ta'ala. Talak hanya menjadi mubah apabila tidak ada unsur menyakiti secara batil di dalamnya. Kapan pun seorang suami menalak istrinya, ia sungguh telah menyakitinya, dan tidak boleh menyakiti orang lain kecuali karena kejahatan/pelanggaran dari pihak istri atau karena kondisi darurat dari pihak suami. Allah Ta'ala berfirman, "Jika mereka mematuhimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka" (QS. An-Nisa': 34), maksudnya janganlah kamu mencari tipu daya untuk perpisahan. Namun jika ayah sang suami membenci istri tersebut, hendaklah ia menalaknya.

قال ابن عمر ﵄ كان تحتي امرأة أحبها وكان أبي يكرهها ويأمرني بطلاقها فراجعت رسول الله ﷺ فقال يا ابن عمر طلق امرأتك

Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma berkata, "Aku dahulu memiliki seorang istri yang sangat kucintai, tetapi ayahku membencinya dan memerintahkanku untuk menalaknya. Lalu aku menyampaikannya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, maka beliau bersabda, 'Wahai Ibnu Umar, talaklah istrimu.'"

فهذا يدل على أن حق الوالد مقدم ولكن والد يكرهها لا لغرض فاسد مثل عمر وَمَهْمَا آذَتْ زَوْجَهَا وَبَذَتْ عَلَى أَهْلِهِ فَهِيَ جَانِيَةٌ وَكَذَلِكَ مَهْمَا كَانَتْ سَيِّئَةَ الْخُلُقِ أَوْ فاسدة الدين

Hal ini menunjukkan bahwa hak orang tua harus didahulukan. Namun, ini berlaku untuk ayah yang membencinya bukan karena tujuan yang buruk, sebagaimana Umar. Dan kapan pun seorang istri menyakiti suaminya serta berkata tajam/buruk kepada keluarga suaminya, maka ia telah berbuat kesalahan. Demikian pula apabila ia berakhlak buruk atau rusak agamanya.

قال ابن مسعود في قوله تعالى ﴿ولا يخرجن إلا أن يأتين بفاحشة مبينة﴾ مهما بذت على أهله وآذت زوجها فهو فاحشة وهذا أريد به في العدة ولكنه تنبيه على المقصود

Ibnu Mas'ud berkata mengenai firman Allah Ta'ala, "Dan janganlah mereka keluar kecuali apabila mereka melakukan perbuatan keji yang nyata" (QS. At-Talaq: 1): "Kapan saja ia berkata buruk kepada keluarganya dan menyakiti suaminya, maka itu adalah perbuatan keji (fahisyah)." Dan maksud ayat ini berkaitan dengan masa iddah, akan tetapi ini menjadi peringatan atas tujuan tersebut.

وَإِنْ كَانَ الْأَذَى مِنَ الزَّوْجِ فَلَهَا أَنْ تفتدي ببذل مال يكره لِلرَّجُلِ أَنْ يَأْخُذَ مِنْهَا أَكْثَرَ مِمَّا أَعْطَى فَإِنَّ ذَلِكَ إِجْحَافٌ بِهَا وَتَحَامُلٌ عَلَيْهَا وَتِجَارَةٌ عَلَى الْبُضْعِ

Jika gangguan atau tindakan menyakiti itu berasal dari pihak suami, maka istri berhak menebus dirinya (khulu') dengan menyerahkan sejumlah harta. Namun makruh bagi seorang suami mengambil dari istrinya lebih banyak dari apa yang telah ia berikan (sebagai mahar), sebab hal itu merupakan kezaliman terhadap istri, tindakan sewenang-wenang atasnya, serta menjadikan persetubuhan sebagai barang dagangan.

قَالَ تَعَالَى ﴿فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فيما افتدت به﴾ فَرَدُّ مَا أَخَذَتْهُ فَمَا دُونَهُ لَائِقٌ بِالْفِدَاءِ فَإِنْ سَأَلَتِ الطَّلَاقَ بِغَيْرِ مَا بَأْسٍ فَهِيَ آثمة قَالَ ﷺ أَيُّمَا امْرَأَةٍ سألت زوجها طلاقها من غير ما بأس لم ترح رائحة الجنة

Allah Ta'ala berfirman, "Maka tidak ada dosa bagi keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya" (QS. Al-Baqarah: 229). Mengembalikan apa yang telah ia terima atau kurang dari itu adalah hal yang layak sebagai tebusan (fidyah). Apabila seorang istri meminta talak tanpa alasan yang dibenarkan, maka ia berdosa. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Wanita mana saja yang meminta talak kepada suaminya tanpa alasan yang dibenarkan, maka ia tidak akan mencium bau surga."

وفي لفظ آخر فالجنة عليها حرام وفي لفظ آخر أنه ﷺ قال المختلعات هن المنافقات

Dalam lafaz lain disebutkan: "Maka surga haram baginya." Dan dalam lafaz yang lain bahwasanya beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Para wanita yang melakukan khulu' (tanpa alasan syar'i) adalah wanita-wanita munafik."

ثُمَّ لِيُرَاعِ الزَّوْجُ فِي الطَّلَاقِ أَرْبَعَةَ أُمُورٍ

Kemudian, hendaklah suami memperhatikan empat hal dalam menjatuhkan talak:

الْأَوَّلُ أَنْ يُطَلِّقَهَا فِي طُهْرٍ لَمْ يُجَامِعْهَا فِيهِ فَإِنَّ الطَّلَاقَ فِي الْحَيْضِ أَوِ الطُّهْرِ الذي جامع يدعى حَرَامٌ وَإِنْ كَانَ وَاقِعًا لِمَا فِيهِ مِنْ تَطْوِيلِ الْعِدَّةِ عَلَيْهَا فَإِنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَلْيُرَاجِعْهَا طلق ابن عمر زوجته في الحيض فقال ﷺ لعمر مره فَلْيُرَاجِعْهَا حَتَّى تَطْهُرَ ثُمَّ تَحِيضَ ثُمَّ تَطْهُرَ ثُمَّ إِنْ شَاءَ طَلَّقَهَا وَإِنْ شَاءَ أَمْسَكَهَا فتلك العدة التي أمر الله أن يطلق لها النساء

Pertama: Hendaklah ia menalaknya pada masa suci yang belum ia gauli di dalamnya. Sebab menalak pada saat haid atau pada masa suci yang telah digauli hukumnya haram, walaupun talak tersebut tetap jatuh, karena hal itu memperpanjang masa iddah bagi sang istri. Apabila suami telah melakukan hal itu, hendaklah ia merujuknya kembali. Ibnu Umar pernah menalak istrinya dalam keadaan haid, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada Umar, "Perintahkan dia agar merujuknya kembali sampai istrinya suci, kemudian haid lagi, kemudian suci lagi. Setelah itu, jika ia menghendaki, ia boleh menalaknya atau tetap mempertahankannya. Itulah iddah yang diperintahkan Allah untuk menalak wanita."

وإنما أمره بالصبر بعد الرجعة طهرين لئلا يكون مقصود الرجعة الطلاق فقط

Beliau memerintahkannya untuk bersabar setelah rujuk selama dua kali masa suci hanyalah agar tujuan rujuk tersebut tidak semata-mata untuk menalak lagi.

الثاني أن يقتصر على طلقة واحدة فلا يجمع بين الثلاث لأن الطلقة الواحدة بعد العدة تُفِيدُ الْمَقْصُودَ وَيَسْتَفِيدُ بِهَا الرَّجْعَةَ إِنْ نَدِمَ في العدة وتجديد النكاح إن أراد بعد الْعِدَّةِ وَإِذَا طَلَّقَ ثَلَاثًا رُبَّمَا نَدِمَ فَيَحْتَاجُ إِلَى أَنْ يَتَزَوَّجَهَا مُحَلِّلٌ وَإِلَى الصَّبْرِ مُدَّةً وَعَقْدُ الْمُحَلِّلِ مَنْهِيٌّ عَنْهُ وَيَكُونُ هُوَ السَّاعِيَ فيه ثم يكون قلبه معلقاً بزوجة الغير وتطليقه أعني زوجة المحلل بعد أن زوج منه ثم يورث ذلك تنفيراً من الزوجة وكل ذلك ثمرة الجمع وفي الواحدة

Kedua: Hendaklah ia mencukupkan diri dengan satu kali talak saja dan tidak menggabungkan tiga talak sekaligus. Sebab satu talak setelah berlalunya masa iddah sudah mencapai tujuan (perpisahan), sementara ia masih mendapatkan manfaat berupa hak rujuk jika ia menyesal selama masa iddah, atau memperbarui akad nikah jika ia menginginkannya setelah masa iddah. Namun apabila ia menalak tiga sekaligus, boleh jadi ia akan menyesal sehingga membutuhkan seorang muhallil (suami pembuka yang menikahi mantan istrinya lalu menceraikannya) serta harus menunggu dalam jangka waktu tertentu. Padahal akad muhallil itu dilarang, dan suami (pertama) menjadi orang yang mengusahakannya, kemudian hatinya tetap terikat pada istri orang lain (mantan istrinya yang dinikahi muhallil) sampai muhallil menceraikannya, lalu hal itu menimbulkan rasa benci/jijik kepada sang istri. Semua ini adalah buah dari menjatuhkan tiga talak sekaligus, padahal satu talak saja…

كفاية في المقصود من غير محذور ولست أقول الجمع حرام لكنه مكروه بهذه المعاني وأعني بالكراهة تركه النظر لنفسه

…sudah cukup untuk mencapai tujuan tanpa menimbulkan bahaya tersebut. Aku tidak mengatakan bahwa menggabungkan tiga talak itu haram, melainkan makruh dengan alasan-alasan ini. Dan yang kumaksud dengan makruh di sini adalah tindakannya yang mengabaikan kebaikan/kemaslahatan bagi dirinya sendiri.

الثَّالِثُ أَنْ يَتَلَطَّفَ فِي التَّعَلُّلِ بِتَطْلِيقِهَا مِنْ غَيْرِ تَعْنِيفٍ وَاسْتِخْفَافٍ وَتَطْيِيبِ قَلْبِهَا بِهَدِيَّةٍ عَلَى سَبِيلِ الْإِمْتَاعِ وَالْجَبْرِ لِمَا فَجَعَهَا بِهِ مِنْ أذى الفراق

Ketiga, hendaknya ia bersikap lembut dalam memberikan alasan penceraiannya tanpa bersikap kasar atau meremehkan, serta menyenangkan hatinya dengan pemberian (mut'ah) sebagai bentuk penghiburan dan pemulihan atas kepedihan luka perpisahan yang menimpanya.

قال تعالى ﴿ومتعوهن﴾ وذلك واجب مهما لم يسم لها مهر في أصل النكاح

Allah Ta'ala berfirman, "Dan berilah mereka mut'ah (pemberian)." Dan hal itu adalah wajib selama tidak ditentukan kadar mahar baginya pada akad nikah semula.

كان الحسن بن علي ﵄ مطلاقاً ومنكاحاً ووجه ذات يوم بَعْضَ أَصْحَابِهِ لِطَلَاقِ امْرَأَتَيْنِ مِنْ نِسَائِهِ وَقَالَ قُلْ لَهُمَا اعْتَدَّا وَأَمَرَهُ أَنْ يَدْفَعَ إِلَى كل واحدةً عشرة آلاف درهم ففعل فلما رجع إليه قال ماذا فعلتا قال أما إحداهما فنكست رأسها وتنكست وأما الأخرى فبكت وانتحبت وسمعتها تقول متاع قليل من حبيب مفارق فأطرق الحسن وترحم لها وقال لو كنت مراجعاً امرأةً بعد ما فارقتها لراجعتها ودخل الحسن ذات يوم على عبد الرحمن بن الحارث بن هشام فقيه المدينة ورئيسها ولم يكن له بالمدينة نظير وبه ضربت المثل عائشة ﵂ حيث قالت لو لم أسر مسيري ذلك لكان أحب إلي من أن يكون لي ستة عشراً ذكراً من رسول الله ﷺ مثل عبد الرحمن بن الحارث بن هشام فدخل عليه الحسن في بيته فعظمه عبد الرحمن وأجلسه في مجلسه وقال ألا أرسلت إلي فكنت أجيئك فقال الحاجة لنا

Dahulu al-Hasan bin Ali radiyallahu 'anhuma sering menceraikan dan menikahi wanita. Pada suatu hari beliau mengutus salah seorang sahabatnya untuk menceraikan dua orang istrinya, seraya berkata, "Katakan kepada mereka berdua: Hendaklah kalian berdua menjalani masa 'iddah." Beliau juga memerintahkannya untuk menyerahkan sepuluh ribu dirham kepada masing-masing dari mereka. Maka ia pun melaksanakannya. Ketika ia kembali, al-Hasan bertanya, "Apa yang dilakukan oleh keduanya?" Ia menjawab, "Adapun salah satunya, ia menundukkan kepalanya dan merasa tersungkur malu. Sedangkan yang satunya lagi menangis tersedu-sedu dan aku mendengarnya berkata: Kesenangan yang sedikit dari kekasih yang berpisah." Maka al-Hasan menundukkan kepala, mendoakan rahmat untuknya, dan berkata, "Seandainya aku adalah orang yang merujuk kembali seorang wanita setelah menceraikannya, niscaya aku akan merujuknya kembali." Dan pada suatu hari, al-Hasan mengunjungi Abdurrahman bin al-Harits bin Hisyam, seorang ahli fikih Madinah dan pemukim utamanya yang tidak ada tandingannya di Madinah, di mana Aisyah radiyallahu 'anha pernah membuat perumpamaan dengannya ketika berkata, "Seandainya aku tidak melakukan perjalananku itu (Perang Jamal), niscaya hal itu lebih aku cintai daripada memiliki enam belas anak laki-laki dari Rasulullah ﷺ seperti Abdurrahman bin al-Harits bin Hisyam." Lalu al-Hasan menemuinya di rumahnya, maka Abdurrahman memuliakannya dan mendudukkannya di tempat duduknya, seraya berkata, "Mengapa Anda tidak mengutus utusan kepadaku sehingga aku yang mendatangi Anda?" Al-Hasan menjawab, "Kebutuhan itu ada pada kami."

قال وما هي قال جئتك خاطباً ابنتك فأطرق عبد الرحمن ثم رفع رأسه وقال والله ما على وجه الأرض أحد يمشي عليها أعز علي منك ولكنك تعلم أن ابنتي بضعة مني يسوءني ما ساءها ويسرني ما سرها وأنت مطلاق فأخاف أن تطلقها وإن فعلت خشيت أن يتغير قلبي في محبتك وأكره أن يتغير قلبي عليك فأنت بضعة من رسول الله ﷺ فإن شرطت أن لا تطلقها زوجتك فسكت الحسن وقام وخرج وقال بعض أهل بيته

Abdurrahman bertanya, "Apakah kebutuhan itu?" Al-Hasan menjawab, "Aku datang untuk meminang putri Anda." Abdurrahman pun menundukkan kepala, lalu mengangkat kepalanya dan berkata, "Demi Allah, tidak ada seorang pun di atas muka bumi ini yang berjalan di atasnya yang lebih mulia bagiku daripada Anda. Namun Anda tahu bahwa putriku adalah bagian dari diriku, apa yang menyusahkannya akan menyusahkanku dan apa yang membahagiakannya akan membahagiakanku. Sementara Anda adalah seorang yang sering menceraikan istri. Maka aku khawatir Anda akan menceraikannya, dan jika Anda melakukannya, aku takut hatiku berubah dalam mencintai Anda, padahal aku benci jika hatiku berubah terhadap Anda, karena Anda adalah bagian dari darah daging Rasulullah ﷺ. Jika Anda bersyarat tidak akan menceraikannya, aku akan menikahkan Anda." Maka al-Hasan diam, lalu berdiri dan keluar. Dan sebagian anggota keluarganya berkata:

سمعته وهو يمشي ويقول ما أراد عبد الرحمن إلا أن يجعل ابنته طوقاً في عنقي

Aku mendengarnya ketika berjalan seraya berkata, "Abdurrahman tidak lain hanya ingin menjadikan putrinya sebagai belenggu di leherku."

وكان علي ﵁ يضجر من كثرة تطليقه فكان يعتذر منه على المنبر ويقول في خطبته إن حسناً مطلاقاً فلا تنكحوه حتى قام رجل من همدان فقال والله يا أمير المؤمنين لننكحنه ما شاء فإن أحب أمسك وإن شاء ترك فسر ذلك علياً وقال

Dahulu Ali radiyallahu 'anhu merasa gusar karena banyaknya talak yang dilakukan al-Hasan, sehingga beliau meminta maaf atas nama al-Hasan di atas mimbar dan berkata dalam khotbahnya, "Sesungguhnya Hasan adalah seorang yang sering menceraikan istri, maka janganlah kalian menikahkannya!" Hingga berdirilah seorang laki-laki dari suku Hamdan lalu berkata, "Demi Allah, wahai Amirul Mukminin, kami sungguh akan tetap menikahkannya dengan siapa saja yang ia kehendaki. Jika ia suka maka ia pertahankan, dan jika ia mau maka ia tinggalkan." Hal itu menggembirakan Ali, lalu beliau bersyair:

لو كنت بواباً على باب جنة … لقلت لهمدان ادخلي بسلام

"Seandainya aku seorang penjaga pintu di pintu surga… niscaya aku akan berkata kepada suku Hamdan: Masuklah dengan selamat sejahtera."

وهذا تنبيه على أن من طعن في حبيبه من أهل وولد بنوع حياء فلا ينبغي أن يوافق عليه فهذه الموافقة قبيحة بل الأدب المخالفة ما أمكن فإن ذلك أسر لقلبه وأوفق لباطن ذاته والقصد من هذا بيان أن الطلاق مباح وقد وعد الله الغنى في الفراق والنكاح جميعاً فقال ﴿وأنكحوا الأيامى منكم والصالحين من عبادكم وإمائكم إن يكونوا فقراء يغنهم الله من فضله﴾ وقال ﷾ ﴿وإن يتفرقا يغن الله كلاً من سعته﴾

Ini adalah peringatan bahwa barangsiapa mencela kekasihnya—baik dari keluarga maupun anak—karena rasa malu, maka tidak seyogianya celaan itu disetujui. Persetujuan semacam ini adalah hal yang buruk; sebaliknya, adab yang benar adalah menyelisihi celaan tersebut selagi memungkinkan, karena hal itu lebih membahagiakan hatinya dan lebih sesuai dengan batin jiwanya. Maksud dari semua ini adalah penjelasan bahwa talak itu diperbolehkan (mubah). Dan sungguh Allah telah menjanjikan kecukupan (kekayaan) baik dalam perpisahan maupun pernikahan sekaligus. Allah berfirman, "Dan nikahkanlah orang-orang yang membujang di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya." Dan Allah Azza wa Jalla juga berfirman, "Jika keduanya berpisah, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masing dari karunia-Nya."

الرَّابِعُ أَنْ لَا يُفْشِيَ سِرَّهَا لَا فِي الطَّلَاقِ وَلَا عِنْدَ النِّكَاحِ فَقَدْ وَرَدَ فِي إفشاء سر النساء في الخبر الصحيح وعيد عظيم

Keempat, hendaknya ia tidak menyebarkan rahasia istrinya, baik saat terjadinya perceraian maupun dalam ikatan pernikahan. Sungguh telah terdapat ancaman yang sangat keras dalam khabar (hadis) yang shahih mengenai tindakan menyebarkan rahasia kaum wanita.

ويروى عن بعض الصالحين أنه أراد طلاق امرأة فقيل له ما الذي يريبك فيها فقال العاقل لا يهتك ستر امرأته فلما طلقها قيل له

Diriwayatkan dari sebagian orang saleh bahwa ia hendak menceraikan istrinya, lalu ditanyakan kepadanya, "Apa yang membuatmu ragu atau cela padanya?" Ia menjawab, "Orang yang berakal tidak akan merobek tirai (menyingkap rahasia) istrinya." Setelah ia menceraikannya, ditanyakan lagi kepadanya:

لم طلقتها فقال مالي ولا مرأة غيري فهذا بيان ما على الزوج القسم الثاني من هذا الباب النظر في حقوق الزوج عليها

"Mengapa engkau menceraikannya?" Ia menjawab, "Ada urusan apa aku dengan wanita yang sudah menjadi milik orang lain?" Ini adalah penjelasan mengenai kewajiban-kewajiban yang ada pada suami. Bagian Kedua dari bab ini: Pembahasan mengenai hak-hak suami atas istri.

والقول الشافي فيه أن النكاح نوع رق فهي رقيقة له فعليها طاعة الزوج مطلقاً في كل ما طلب منها في نفسها مما لَا مَعْصِيَةَ فِيهِ وَقَدْ وَرَدَ فِي تَعْظِيمِ حَقِّ الزَّوْجِ عَلَيْهَا أَخْبَارٌ كَثِيرَةٌ قَالَ ﷺ أيما امرأة

Penjelasan yang tuntas (al-qaul asy-syafi) dalam hal ini adalah bahwa pernikahan itu merupakan sejenis perhambaan (riqq), maka istri adalah hamba bagi suaminya. Oleh karena itu, ia wajib menaati suaminya secara mutlak dalam setiap apa yang dituntut dari dirinya selama tidak mengandung maksiat. Sungguh telah terdapat banyak riwayat tentang agungnya hak suami atas istrinya. Rasulullah ﷺ bersabda, "Wanita mana saja yang…"

ماتت وزوجها عنها راض دخلت الجنة

"…meninggal dunia sedangkan suaminya ridha kepadanya, niscaya ia masuk surga."

وكان رجل قد خرج إلى سفر وعهد إلى امرأته أن لا تنزل من العلو إلى السفل وكان أبوها في الأسفل فمرض فأرسلت المرأة إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ تستأذن في النزول إلى أبيها فقال ﷺ أطيعي زوجك فمات فاستأمرته فقال أطيعي زوجك فدفن أبوها فأرسل رسول الله ﷺ إليها يخبرها أن الله قد غفر لأبيها بطاعتها لزوجها

Dahulu ada seorang laki-laki yang bepergian (safar) dan berpesan kepada istrinya agar tidak turun dari tingkat atas ke tingkat bawah rumah. Sementara ayahnya berada di tingkat bawah. Lalu ayahnya sakit, maka wanita itu mengutus utusan kepada Rasulullah ﷺ untuk meminta izin turun menjenguk ayahnya. Beliau ﷺ bersabda, "Taatilah suamimu." Kemudian ayahnya meninggal dunia, maka ia meminta petunjuk beliau kembali, dan beliau bersabda, "Taatilah suamimu." Ayahnya pun dimakamkan, lalu Rasulullah ﷺ mengirim utusan kepadanya untuk memberitahukan bahwa Allah telah mengampuni ayahnya berkat ketaatan wanita itu kepada suaminya.

وَقَالَ ﷺ إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زوجها دخلت جنة ربها

Dan Rasulullah ﷺ bersabda, "Apabila seorang wanita telah menunaikan shalat lima waktunya, berpuasa di bulan (Ramadhan)-nya, menjaga kemaluannya, dan menaati suaminya, niscaya ia akan masuk ke dalam surga Tuhannya."

وأضاف طاعة الزوج إلى مباني الإسلام وذكر رسول الله ﷺ النساء فقال حاملات والدات مرضعات رحيمات بأولادهن لولا ما يأتين إلى أزواجهن دخل مصلياتهن الجنة

Beliau menggabungkan ketaatan kepada suami dengan rukun-rukun (fondasi) Islam. Rasulullah ﷺ juga menyebutkan tentang wanita, bersabda, "Mereka adalah wanita-wanita yang mengandung, melahirkan, menyusui, serta penuh kasih sayang kepada anak-anak mereka. Seandainya bukan karena perbuatan (buruk) yang mereka lakukan terhadap suami-suami mereka, niscaya wanita-wanita yang mendirikan shalat di antara mereka akan masuk surga."

وقال ﷺ اطلعت في النار فإذا أكثر أهلها النساء فقلن لم يا رسول الله قال يكثرن اللعن ويكفرن العشير

Dan Beliau ﷺ bersabda, "Aku melihat ke dalam neraka, ternyata mayoritas penghuninya adalah kaum wanita." Maka mereka bertanya, "Mengapa demikian, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Karena mereka banyak mengutuk/mengeluh dan mengkufuri al-'asyir (kebaikan suami)."

يعني الزوج المعاشر

Yaitu suami yang hidup bersamanya.

وفي خبر آخر اطلعت في الجنة فإذا أقل أهلها النساء فقلت أين النساء قال شغلهن الأحمران الذهب والزعفران

Dalam riwayat lain disebutkan: "Aku melihat ke dalam surga, ternyata minoritas penghuninya adalah wanita. Maka aku bertanya: Di manakah kaum wanita? Dikatakan: Mereka telah disibukkan oleh dua hal yang merah: emas dan za'faran (perhiasan dan pakaian yang dicelup warna)."

يعني الحلي ومصبغات الثياب وقالت عائشة ﵂ أتت فتاة إلى النبي ﷺ فقالت يا رسول الله إني فتاة أخطب فأكره التزويج فما حق الزوج على المرأة قال لو كان من فرقه إلى قدمه صديد فلحسته ما أدت شكره قالت أفلا أتزوج قال بلى تزوجي فإنه خير

Maksudnya adalah perhiasan dan pakaian yang diwarnai. Aisyah radiyallahu 'anha berkata: Seorang gadis muda datang kepada Nabi ﷺ lalu berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku adalah seorang gadis yang sedang dilamar, namun aku membenci pernikahan. Maka apakah hak suami atas istrinya?" Beliau bersabda, "Seandainya dari ujung kepala hingga kakinya bernanah lalu sang istri menjilatnya, niscaya ia belum memenuhi hak syukurnya kepada suami." Gadis itu bertanya, "Apakah aku tidak boleh menikah?" Beliau bersabda, "Bahkan menikahlah, karena sesungguhnya pernikahan itu adalah kebaikan."

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ أَتَتِ امْرَأَةٌ مِنْ خَثْعَمٍ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فقالت إني امرأة أيم وأريد أن تزوج فَمَا حَقُّ الزَّوْجِ قَالَ إِنَّ مِنْ حَقِّ الزَّوْجِ عَلَى الزَّوْجَةِ إِذَا أَرَادَهَا فَرَاوَدَهَا عَنْ نَفْسِهَا وَهِيَ عَلَى ظَهْرِ بَعِيرٍ لَا تَمْنَعُهُ وَمِنْ حَقِّهِ أَنْ لَا تُعْطِيَ شَيْئًا مِنْ بَيْتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ فَإِنْ فَعَلَتْ ذَلِكَ كَانَ الْوِزْرُ عَلَيْهَا وَالْأَجْرُ لَهُ وَمِنْ حَقِّهِ أَنْ لَا تَصُومَ تَطَوُّعًا إِلَّا بِإِذْنِهِ فَإِنْ فَعَلَتْ جَاعَتْ وَعَطِشَتْ وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنْهَا وَإِنْ خَرَجَتْ مِنْ بَيْتِهَا بِغَيْرِ إِذْنِهِ لَعَنَتْهَا الْمَلَائِكَةُ حَتَّى ترجع إلى بيته أو تتوب

Ibnu Abbas menceritakan bahwa seorang wanita dari kabilah Khats'am datang kepada Rasulullah ﷺ lalu berkata, "Sesungguhnya aku adalah seorang wanita janda dan aku ingin menikah, maka apakah hak suami itu?" Beliau bersabda, "Sesungguhnya di antara hak suami atas istrinya adalah jika suami menghendakinya lalu mengajaknya (untuk berhubungan) sedangkan ia berada di atas punggung unta, ia tidak boleh menolaknya. Di antara haknya pula adalah istri tidak boleh memberikan sesuatu pun dari rumahnya kecuali dengan izinnya; jika ia melakukan hal itu, maka dosa baginya dan pahalanya bagi suami. Di antara haknya lagi adalah ia tidak boleh berpuasa sunnah kecuali dengan izinnya; jika ia tetap melakukannya, ia hanya menanggung lapar dan dahaga serta tidak diterima darinya. Dan jika ia keluar dari rumahnya tanpa izin suaminya, para malaikat melaknatinya sampai ia kembali ke rumah suaminya atau bertaubat."

وقال ﷺ لو أمرت أحداً أن يسجد لأحد لأمرت المرأة أن تسجد لزوجها من عظم حقه عليها

Dan Beliau ﷺ bersabda, "Sekiranya aku boleh memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada orang lain, niscaya aku akan memerintahkan seorang wanita untuk bersujud kepada suaminya, karena betapa besarnya hak suami atas dirinya."

وَقَالَ ﷺ أَقْرَبُ مَا تكون المرأة من وجه ربها إذا كانت في قعر بيتها وإن صلاتها في صحن دارها أفضل من صلاتها في المسجد وصلاتها في بيتها أفضل من صلاتها في صحن دارها وصلاتها

Dan Beliau ﷺ bersabda, "Keadaan wanita yang paling dekat dengan keridaan Rabbnya adalah ketika ia berada di bagian paling dalam dari rumahnya. Sesungguhnya shalatnya di halaman rumahnya lebih utama daripada shalatnya di masjid, shalatnya di dalam rumahnya lebih utama daripada shalatnya di halaman rumahnya, dan shalatnya…"

في مخدعها أفضل من صلاتها في بيتها

"… di dalam kamarnya yang paling dalam (makhda') lebih utama daripada shalatnya di dalam rumahnya."

والمخدع بيت في بيت وذلك للستر ولذلك قال ﷺ والمرأة عورة فإذا خرجت استشرفها الشيطان

Makhda' adalah ruangan khusus di dalam rumah, dan hal itu bertujuan demi menjaga privasi dan perlindungan (tertutupnya aurat). Oleh karena itu Beliau ﷺ bersabda, "Wanita itu adalah aurat, maka apabila ia keluar, setan akan mengawasinya (untuk menggodanya)."

وقال أيضاً للمرأة عشر عورات فإذا تزوجت ستر الزوج عورة واحدة فإذا ماتت ستر القبر العشر عورات

Beliau juga bersabda, "Bagi wanita ada sepuluh aurat. Jika ia menikah, maka suami menutup satu aurat, dan jika ia meninggal dunia, maka kubur menutup kesepuluh aurat tersebut."

فَحُقُوقُ الزَّوْجِ عَلَى الزَّوْجَةِ كَثِيرَةٌ وَأَهَمُّهَا أَمْرَانِ أحدهما الصيانة والستر

Maka hak-hak suami atas istri itu sangat banyak, dan yang paling utama ada dua hal: salah satunya adalah menjaga kehormatan diri dan menutup diri.

والآخر ترك المطالبة بما وَرَاءَ الْحَاجَةِ وَالتَّعَفُّفُ عَنْ كَسْبِهِ إِذَا كَانَ حراماً وهكذا كانت عادة النساء في السلف كان الرجل إذا خرج من منزله تقول له امرأته أو ابنته إياك وكسب الحرام فإنا نصبر على الجوع والضر ولا نصبر على النار

Dan yang lainnya adalah tidak menuntut melebihi batas kebutuhan, serta menjaga diri (iffah) dari hasil pencarian suami jika itu haram. Demikianlah dahulu kebiasaan para wanita dari kalangan Salaf. Ketika seorang suami hendak keluar dari rumahnya, istrinya atau putrinya berkata kepadanya, "Jauhilah olehmu pencarian harta yang haram, karena sesungguhnya kami mampu bersabar atas kelaparan dan kesusahan, namun kami tidak akan sanggup bersabar atas api neraka."

وهم رجل من السلف بالسفر فكره جيرانه سفره فقالوا لزوجته لم ترضين بسفره ولم يدع لك نفقة فقالت زوجي منذ عرفته عرفته أكالاً وما عرفته رزاقا ولي رب رزاق يذهب الأكال ويبقى الرزاق

Seorang laki-laki dari kalangan Salaf berniat untuk melakukan perjalanan (safar), lalu para tetangganya tidak menyukai kepergiannya. Mereka berkata kepada istrinya, "Mengapa engkau meridai kepergiannya padahal ia tidak meninggalkan nafkah untukmu?" Istrinya menjawab, "Suamiku sejak aku mengenalnya, aku mengenalnya sebagai pemakan rezeki dan bukan pemberi rezeki. Aku memiliki Rabb yang Maha Pemberi rezeki; biarlah sang pemakan pergi, karena Maha Pemberi rezeki tetap ada."

وخطبت رابعة بنت إسماعيل أحمد بن أبي الحواري فكره ذلك لما كان فيه من العبادة وقال لها والله مالي همة في النساء لشغلي بحالي فقالت إني لأشغل بحالي منك ومالي شهوة ولكن ورثت مالاً جزيلاً من زوجي فأردت أن تنفقه على إخوانك وأعرف بك الصالحين فيكون لي طريقاً إلى الله ﷿ فقال حتى استأذن أستاذي فرجع إلى أبي سليمان الداراني قال وكان ينهاني عن التزويج ويقول ما تزوج أحد من أصحابنا إلا تغير فلما سمع كلامها قال تزوج بها فإنها ولية لله هذا كلام الصديقين قال فتزوجتها فكان في منزلنا كن من جص ففني من غسل أيدي المستعجلين للخروج بعد الأكل فضلاً عمن غسل بالأشنان

Rabi'ah binti Ismail pernah meminang Ahmad bin Abil Hawari, namun Ahmad enggan menerima karena ia sangat sibuk dengan ibadah. Ahmad berkata kepadanya, "Demi Allah, aku tidak memiliki keinginan terhadap wanita karena kesibukanku dengan keadaanku (bersama Allah)." Rabi'ah menjawab, "Sesungguhnya aku lebih sibuk dengan keadaanku daripada engkau, dan aku pun tidak memiliki syahwat. Akan tetapi, aku mewarisi harta yang sangat banyak dari suamiku, dan aku ingin engkau menafkahkannya kepada saudara-saudaramu (yang saleh) serta melaluimu aku dapat mengenal orang-orang saleh, sehingga hal itu menjadi jalan bagiku menuju Allah Azza wa Jalla." Ahmad berkata, "(Tunggulah) sampai aku meminta izin kepada guruku." Maka ia kembali kepada Abu Sulaiman Ad-Darani. Ahmad berkata, "Dahulu beliau melarangku menikah dan berkata: 'Tidak ada seorang pun dari sahabat kita yang menikah melainkan ia berubah (kualitas ibadahnya).' Namun ketika beliau mendengar perkataan wanita itu, beliau berkata, 'Nikahilah dia, karena sesungguhnya dia adalah seorang wali Allah; ini adalah perkataan para shiddiqin.'" Ahmad berkata, "Maka aku menikahinya. Di rumah kami terdapat sebuah tempat cuci tangan dari kapur, yang sampai aus karena seringnya dipakai mencuci tangan oleh orang-orang yang terburu-buru keluar setelah makan, belum lagi mereka yang mencuci tangan dengan usynan (pembersih tradisional)."

قال وتزوجت عليها ثلاث نسوة فكانت تطعمني الطيبات وتطيبني وتقول اذهب بنشاطك وقوتك إلى أزواجك وكانت رابعة هذه تشبه في أهل الشام برابعة العدوية بالبصرة

Ahmad berkata, "Aku juga menikah lagi dengan tiga wanita selain dirinya, namun ia tetap menghidangkan makanan-makanan lezat untukku, memberiku wewangian, dan berkata, 'Pergilah dengan semangat dan kekuatanmu kepada istri-istrimu yang lain.' Rabi'ah ini di kalangan penduduk Syam disepadankan dengan Rabi'ah Al-Adawiyah dari Bashrah."

ومن الواجبات عليها أن لا تفرط في ماله بل تحفظه عليه

Di antara kewajiban atas istri adalah tidak menyia-nyiakan harta suaminya, melainkan hendaklah ia menjaganya dengan baik.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لا يحل لها أن تطعم من بيته إلا بإذنه إلا الرطب من الطعام الذي يخاف فساده فإن أطعمت عن رضاه كان لها مثل أجره وإن أطعمت بغير إذنه كان له الأجر وعليها الوزر

Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidak halal bagi wanita untuk memberi makan dari rumah suaminya kecuali dengan izinnya, kecuali makanan segar yang dikhawatirkan akan membusuk. Apabila ia memberi makan atas keridaannya, maka ia mendapatkan pahala seperti pahalanya (suami). Dan jika ia memberi makan tanpa izinnya, maka pahala bagi suaminya dan dosa baginya."

وَمِنْ حَقِّهَا عَلَى الْوَالِدَيْنِ تَعْلِيمُهَا حُسْنَ الْمُعَاشَرَةِ وَآدَابَ الْعِشْرَةِ مَعَ الزَّوْجِ كَمَا رُوِيَ أَنَّ أسماء بنت خارجة الفزاري قالت لأبنتها عِنْدَ التَّزَوُّجِ إِنَّكِ خَرَجْتِ مِنَ الْعُشِّ الَّذِي فيه درجت فصرت إلى فراش لم تعرفيه وقرين لم تألفيه فَكُونِي لَهُ أَرْضًا يَكُنْ لَكِ سَمَاءً وَكُونِي لَهُ مِهَادًا يَكُنْ لَكِ عِمَادًا وَكُونِي لَهُ أَمَةً يَكُنْ لَكِ عَبْدًا لَا تُلْحِفِي بِهِ فَيَقْلَاكِ وَلَا تَبَاعَدِي عَنْهُ فَيَنْسَاكِ إِنْ دَنَا مِنْكِ فَاقْرَبِي مِنْهُ وَإِنْ نَأَى فَابْعُدِي عَنْهُ وَاحْفَظِي أَنْفَهُ وَسَمْعَهُ وَعَيْنَهُ فَلَا يَشُمَّنَّ مِنْكِ إِلَّا طَيِّبًا وَلَا يَسْمَعُ إِلَّا حُسْنًا وَلَا ينظر إلا جميلاً

Di antara hak anak perempuan atas kedua orang tuanya adalah mengajarinya cara bergaul yang baik dan adab-adab pergaulan bersama suami. Sebagaimana diriwayatkan bahwa Asma' binti Kharijah Al-Fazari berkata kepada putrinya saat menikah: "Sesungguhnya engkau telah keluar dari sarang tempat engkau tumbuh berkembang menuju pembaringan yang belum engkau kenal dan pendamping yang belum engkau terbiasa dengannya. Maka jadilah bumi baginya, niscaya ia menjadi langit bagimu; jadilah hamparan baginya, niscaya ia menjadi tiang pelindung bagimu; dan jadilah hamba sahaya baginya, niscaya ia menjadi hamba sahaya bagimu. Janganlah engkau mendesaknya hingga ia membencimu, dan jangan pula engkau terlalu menjauh darinya hingga ia melupakanmu. Jika ia mendekat padamu, mendekatlah kepadanya; jika ia menjauh, menjauhlah darinya. Jagalah penciumannya, pendengarannya, dan pandangannya; jangan sampai ia mencium darimu melainkan bau yang harum, tidak mendengar melainkan perkataan yang baik, dan tidak memandang melainkan keindahan."

وقال رجل لزوجته

Seorang laki-laki berkata kepada istrinya (dalam bait syair):

خذي العفو مني تستديمي مودتي … ولا تنطقي في سورتي حين أغضب

"Maafkanlah kekuranganku niscaya engkau melanggengkan cintaku … dan janganlah engkau berbicara di saat puncak amarahku ketika aku sedang murka."

ولا تنقريني نقرك الدف مرة … فإنك لا تدرين كيف المغيب

"Dan janganlah engkau memukulku seperti memukul rebana sekali pun … karena engkau tidak tahu bagaimana hal yang gaib (kesudahan takdir) akan terjadi."

ولا تكثري الشكوى فتذهب بالهوى … ويأباك قلبي والقلوب تقلب

"Dan janganlah engkau memperbanyak keluhan hingga menghilangkan rasa cinta … sehingga hatiku menolakmu, padahal hati itu senantiasa berbolak-balik."

فإني رأيت الحب في القلب والأذى … إذا اجتمعا لم يلبث الحب يذهب

"Sebab sesungguhnya aku melihat bahwa cinta dan rasa sakit di dalam hati … apabila berkumpul, niscaya cinta tidak akan bertahan lama dan akan sirna."

فَالْقَوْلُ الْجَامِعُ فِي آدَابِ الْمَرْأَةِ مِنْ غَيْرِ تَطْوِيلٍ أَنْ تَكُونَ قَاعِدَةً فِي قَعْرِ بَيْتِهَا لَازِمَةً لِمِغْزَلِهَا لَا يَكْثُرَ صُعُودُهَا وَاطِّلَاعُهَا قَلِيلَةَ الْكَلَامِ لِجِيرَانِهَا لَا تَدْخُلَ عَلَيْهِمْ إِلَّا فِي حَالٍ يُوجِبُ الدُّخُولَ تَحْفَظَ بَعْلَهَا فِي غَيْبَتِهِ وَتَطْلُبَ مَسَرَّتَهُ فِي جَمِيعِ أُمُورِهَا وَلَا تَخُونَهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهِ وَلَا تَخْرُجَ مِنْ بَيْتِهَا إِلَّا بِإِذْنِهِ فَإِنْ خَرَجَتْ بِإِذْنِهِ فَمُخْتَفِيَةً فِي هيئة رئة تَطْلُبُ الْمَوَاضِعَ الْخَالِيَةَ دُونَ الشَّوَارِعِ وَالْأَسْوَاقِ مُحْتَرِزَةً مِنْ أَنْ يَسْمَعَ غَرِيبٌ صَوْتَهَا أَوْ يَعْرِفَهَا بِشَخْصِهَا لَا تَتَعَرَّفَ إِلَى صَدِيقِ بَعْلِهَا فِي حَاجَاتِهَا بَلْ تَتَنَكَّرَ عَلَى مَنْ تَظُنُّ أَنَّهُ يَعْرِفُهَا أَوْ تَعْرِفُهُ هَمُّهَا صَلَاحُ شَأْنِهَا وَتَدْبِيرُ بَيْتِهَا مُقْبِلَةٌ عَلَى صَلَاتِهَا وَصِيَامِهَا وَإِذَا اسْتَأْذَنَ صَدِيقٌ لِبَعْلِهَا عَلَى الْبَابِ وَلَيْسَ الْبَعْلُ حَاضِرًا لَمْ تَسْتَفْهِمْ وَلَمْ تُعَاوِدْهُ فِي الْكَلَامِ غَيْرَةً عَلَى نَفْسِهَا وَبَعْلِهَا وَتَكُونَ قَانِعَةً مِنْ زَوْجِهَا بِمَا رَزَقَ اللَّهُ وَتُقَدِّمَ حَقَّهُ عَلَى حَقِّ نفسها وحق سائر أقاربها منتظفة فِي نَفْسِهَا مُسْتَعِدَّةً فِي الْأَحْوَالِ كُلِّهَا لِلتَّمَتُّعِ بها إِنْ شَاءَ مُشْفِقَةً عَلَى أَوْلَادِهَا حَافِظَةً لِلسِّتْرِ عَلَيْهِمْ قَصِيرَةَ اللِّسَانِ عَنْ سَبِّ الْأَوْلَادِ وَمُرَاجَعَةِ الزوج

Maka perkataan yang merangkum seluruh adab wanita secara ringkas adalah: hendaknya ia menetap di dalam rumahnya, selalu memegang alat pemintalnya, tidak sering naik ke tempat tinggi atau memandang keluar, sedikit berbicara dengan tetangganya, tidak menemui mereka kecuali dalam keadaan yang mengharuskan, menjaga kehormatan suaminya ketika suami tidak ada, mengupayakan kebahagiaan suaminya dalam segala urusan, tidak mengkhianatinya baik pada dirinya maupun hartanya, tidak keluar dari rumahnya kecuali dengan izinnya; dan jika ia keluar dengan izin suaminya, hendaknya ia bersembunyi dengan pakaian yang tidak mencolok, memilih jalan-jalan yang sepi dan bukan jalan utama atau pasar, berhati-hati agar orang asing tidak mendengar suaranya atau mengenali sosoknya, tidak menyapa atau meminta bantuan teman suaminya untuk keperluan-keperluannya melainkan bersikap asing (menjaga jarak) terhadap orang yang dikira mengenalnya atau ia kenali. Fokus perhatiannya adalah mengurus kebaikan keadaannya dan mengatur rumah tangganya, tekun melaksanakan shalat dan puasa. Dan apabila ada teman suaminya yang meminta izin di pintu sementara suaminya tidak ada di rumah, ia tidak perlu banyak bertanya dan tidak mengulang-ulang pembicaraan dengannya demi menjaga kehormatan dirinya dan suaminya. Hendaknya ia bersikap qana'ah terhadap suaminya atas apa yang telah Allah karuniakan, mendahulukan hak suami di atas hak dirinya sendiri dan seluruh kerabatnya, selalu menjaga kebersihan dirinya, bersiap sedia dalam segala keadaan untuk melayaninya jika suami menghendakinya, penuh kasih sayang kepada anak-anaknya, menjaga kerahasiaan mereka, menahan lisannya dari mencaci anak-anak serta membantah suami.

وقد قال ﷺ أنا وامرأة سفعاء الخدين كهاتين في الجنة امرأة آمت من زوجها وحبست نفسها على بناتها حتى ثابوا أو ماتوا

Dan Rasulullah ﷺ sungguh telah bersabda, "Aku dan seorang wanita yang kusam kedua pipinya (karena berjuang mengasuh anak) kelak di surga bagaikan dua jari ini; yaitu seorang wanita yang ditinggal mati suaminya lalu ia menahan dirinya (tidak menikah lagi) demi mengasuh anak-anak perempuannya hingga mereka mandiri atau meninggal dunia."

وقال ﷺ حرم الله على كل آدمي الجنة يدخلها قبلي غير أني أنظر عن يميني فإذا امرأة تبادرني إلى باب الجنة فأقول ما لهذه تبادرني فيقال لي يا محمد هذه امرأة كانت حسناء جميلة وكان عندها يتامى لها فصبرت عليهن حتى بلغ أمرهن الذي بلغ فشكر الله لها ذلك

Beliau ﷺ juga bersabda, "Allah mengharamkan surga bagi setiap manusia untuk memasukinya sebelumku. Hanya saja, ketika aku melihat ke sebelah kananku, tiba-tiba ada seorang wanita yang mendahuluiku menuju pintu surga. Maka aku bertanya, 'Ada apa dengan wanita ini mendahuluiku?' Lalu dikatakan kepadaku, 'Wahai Muhammad, ini adalah wanita yang dahulunya sangat cantik dan rupawan, namun ia memiliki anak-anak yatim, lalu ia bersabar mengasuh mereka hingga mereka dewasa. Maka Allah bersyukur kepadanya atas hal itu.'"

وَمِنْ آدَابِهَا أَنْ لَا تَتَفَاخَرَ عَلَى الزَّوْجِ بجمالها ولا تزدري زوجها لقبحه فقد روي أن الأصمعي قال دخلت البادية فإذا أنا بامرأة من أحسن الناس وجهاً تحت رجل من أقبح الناس وجهاً فقلت لها يا هذه أترضين لنفسك أن تكوني تحت مثله فقالت يا هذا اسكت فقد أسأت في قولك لعله أحسن فيما بينه وبين خالقه فجعلني ثوابه أو لعلي أسأت فيما بيني وبين خالقي فجعله عقوبتي أفلا أرضى بما رضي الله لي فأسكتتني

Di antara adab istri adalah tidak membanggakan kecantikannya di hadapan suaminya dan tidak menghina suaminya karena keburukan rupa suaminya. Diriwayatkan bahwa Al-Asma'i berkata: Aku pernah memasuki daerah pedalaman (Badiyah), lalu aku menjumpai seorang wanita yang paling cantik rupanya menikah dengan seorang laki-laki yang paling buruk rupanya. Maka aku berkata kepadanya, "Wahai wanita, apakah engkau rela dirimu menjadi istri dari orang seperti dia?" Wanita itu menjawab, "Wahai engkau, diamlah! Sungguh engkau telah berbuat buruk dengan ucapanmu. Mungin saja laki-laki ini telah berbuat kebaikan dalam hubungannya dengan Sang Pencipta, lalu Dia menjadikanku sebagai pahalanya; atau mungkin aku telah berbuat keburukan dalam hubunganku dengan Sang Pencipta, lalu Dia menjadikannya sebagai hukumanku. Apakah aku tidak boleh ridha dengan apa yang telah diridhai Allah untukku?" Maka wanita itu pun membungkamku.

وقال الأصمعي رأيت في البادية امرأة عليها قميص أحمر وهي مختضبة وبيدها سبحة فقلت ما أبعد هذا من هذا فقالت

Al-Asma'i juga berkata: Aku melihat seorang wanita di pedalaman mengenakan baju gamis merah, tangannya diwarnai pacar (inai), dan di tangannya terdapat tasbih. Maka aku berkata, "Betapa jauhnya perbedaan antara hal ini (hiasan pakaian) dengan hal ini (tasbih)!" Wanita itu lalu bersyair:

ولله مني جانب لا أضيعه … وللهو مني والبطالة جانب

"Bagi Allah ada bagian dari diriku yang tidak akan kusia-siakan … Dan untuk kesenangan serta kebebasan ada bagian tersendiri."

فعلمت أنها امرأة صالحة لها زوج تتزين له

Maka aku pun menyadari bahwa ia adalah seorang wanita shalihah yang memiliki suami, tempat ia berhias untuknya.

ومن آداب المرأة مُلَازَمَةُ الصَّلَاحِ وَالِانْقِبَاضِ فِي غَيْبَةِ زَوْجِهَا وَالرُّجُوعُ إِلَى اللَّعِبِ وَالِانْبِسَاطِ وَأَسْبَابِ اللَّذَّةِ فِي حُضُورِ زوجها ولا ينبغي أن تؤذي زوجها بحال

Di antara adab seorang istri adalah senantiasa menjaga kesalehan dan bersikap menjaga diri ketika suaminya tidak berada di rumah, serta kembali bercengkerama, bersikap riang, dan menghadirkan sarana-sarana kesenangan ketika suaminya hadir. Dan tidak sepatutnya ia menyakiti suaminya dalam keadaan bagaimanapun.

روي عن معاذ ابن جبل قال قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لا تؤذي امرأة زوجها في الدنيا إلا قالت زوجته من الحور العين لا تؤذيه قاتلك الله فإنما هو عندك دخيل يوشك أن يفارقك إلينا

Diriwayatkan dari Mu'adz bin Jabal, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidaklah seorang istri menyakiti suaminya di dunia melainkan istrinya dari kalangan bidadari (Al-Huur al-'Iin) akan berkata, 'Janganlah engkau menyakitinya, semoga Allah membinasakanmu! Sesungguhnya ia di sisimu hanyalah seorang tamu yang sebentar lagi akan berpisah darimu untuk datang kepada kami.'"

وَمِمَّا يَجِبُ عَلَيْهَا مِنْ حُقُوقِ النِّكَاحِ إِذَا مَاتَ عَنْهَا زَوْجُهَا أَنْ لَا تُحِدَّ عَلَيْهِ أكثر من أربعة أشهر وعشر وتتجنب الطيب والزينة في هذه المدة قالت زينب بنت أبي سلمة دخلت على أم حبيبة زوج النبي ﷺ حين توفى أبوها أبو سفيان بن حرب

Di antara kewajiban istri yang termasuk hak-hak pernikahan adalah apabila suaminya wafat, hendaklah ia tidak berkabung (ihdad) melebihi empat bulan sepuluh hari, serta menjauhi wewangian dan perhiasan selama masa tersebut. Zainab binti Abu Salamah berkata: Aku pernah menemui Ummu Habibah, istri Nabi ﷺ, ketika ayahnya, Abu Sufyan bin Harb, meninggal dunia.

فدعت بطيب فيه صفرة خلوق أو غيره فدهنت به جارية ثم مست بعارضيها ثم قالت والله ما لي بالطيب من حاجة غير إني سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يقول لَا يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ تُحِدَّ عَلَى مَيِّتٍ أَكْثَرَ مِنْ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ إِلَّا عَلَى زَوْجٍ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا

Lalu Ummu Habibah meminta wewangian yang mengandung warna kekuningan, berupa minyak khaluq atau lainnya, kemudian ia mengoleskannya pada seorang sahaya wanita lalu mengusapkannya pada kedua pipinya sendiri. Setelah itu ia berkata: "Demi Allah, sebenarnya aku tidak membutuhkan wewangian ini, hanya saja aku telah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, 'Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk berkabung atas seorang mayit lebih dari tiga hari, kecuali atas kematian suaminya, yaitu selama empat bulan sepuluh hari.'"

وَيَلْزَمُهَا لُزُومُ مَسْكَنِ النِّكَاحِ إِلَى آخِرِ الْعِدَّةِ وَلَيْسَ لَهَا الِانْتِقَالُ إِلَى أَهْلِهَا وَلَا الْخُرُوجُ إِلَّا لِضَرُورَةٍ وَمِنْ آدَابِهَا أَنْ تَقُومَ بِكُلِّ خدمة في الدار تقدر عليها فقد روي عن أسماء بنت أبي بكر الصديق ﵄ أنها قالت تزوجني الزبير وما له في الأرض من مال ولا مملوك ولا شيء غير فرسه وناضحه فكنت أعلف فرسه وأكفيه مؤنته وأسوسه وأدق النوى لناضحه وأعلفه وأستقي الماء وأخرز غربه وأعجن وكنت أنقل النوى على رأسي من ثلثي فرسخ حتى أرسل إلى أبو بكر بجارية فكفتني سياسة الفرس فكأنما أعتقني

Dan ia wajib menetap di rumah tempat tinggal pernikahannya hingga akhir masa 'iddah; ia tidak boleh berpindah ke rumah keluarganya dan tidak boleh keluar rumah kecuali karena darurat. Di antara adab wanita adalah melaksanakan setiap pelayanan di dalam rumah yang mampu ia lakukan. Sungguh telah diriwayatkan dari Asma' binti Abu Bakar As-Siddiq radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Az-Zubair menikahiku sementara ia tidak memiliki harta di bumi, tidak memiliki budak, dan tidak memiliki sesuatu pun selain kudanya dan unta penyiram minumannya. Maka akulah yang memberi makan kudanya, mencukupi kebutuhannya, merawatnya, menumbuk biji kurma untuk untanya, memberinya makan, mengambilkan air, menjahit timba kulitnya, dan mengadoni tepung. Aku juga mengangkut biji kurma di atas kepalaku dari jarak dua pertiga farsakh, hingga Abu Bakar mengutuskanku seorang budak wanita yang kemudian mengurus perawatan kuda tersebut, maka seolah-olah beliau telah memerdekakanku.

ولقيني رسول الله ﷺ يوماً ومعه أصحابه والنوى على رأسي فقال ﷺ أخ أخ لينيخ ناقته ويحملني خلفه فاستحييت أن أسير مع الرجال وذكرت الزبير وغيرته وكان أغير الناس فعرف رسول الله ﷺ إني قد استحييت فجئت الزبير فحكيت له ما جرى فقال والله لحملك النوى على رأسك أشد علي من ركوبك معه

Dan Rasulullah ﷺ pernah bertemu denganku pada suatu hari bersama para sahabat beliau, sedangkan biji kurma berada di atas kepalaku. Maka Beliau ﷺ bersabda, "Ikh… ikh…" (isyarat untuk menderumkan unta) agar unta beliau menderum dan beliau bisa memboncengkanku di belakang beliau. Namun aku merasa malu untuk berjalan bersama kaum laki-laki, serta aku teringat kepada Az-Zubair dan rasa cemburunya, karena ia adalah orang yang paling cemburu. Rasulullah ﷺ pun mengetahui bahwa aku merasa malu. Kemudian aku mendatangi Az-Zubair dan menceritakan kepadanya apa yang telah terjadi. Maka Az-Zubair berkata, "Demi Allah, engkau membawa biji kurma di atas kepalamu sungguh lebih berat bagiku daripada engkau naik bersama beliau."