كتاب الحلال والحرام
كتاب الحلال والحرام وهو الكتاب الرابع من ربع العادات من كتاب إحياء علوم الدين
Kitab Halal dan Haram, yaitu kitab keempat dari seperempat bagian Adat Kebiasaan (Rub' al-'Adat) dari kitab Ihya Ulumuddin.
…
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
الحمد لله الذي خلق الإنسان من طين لازب وصلصال ثم ركب صورته في أحسن تقويم وأتم اعتدال ثم غذاه في أول نشوه بلبن استصفاه من بين فرث ودم سائغاً كالماء الزلال ثم حماه بما آتاه من طيبات الرزق عن دواعي الضعف والانحلال ثم قيد شهوته المعادية له عن السطوة والصيال وقهرها بما افترضه عليه من طلب القوت الحلال وهزم بكسرها جند الشيطان المتشمر للإضلال ولقد كان يجري من ابن آدم مجرى الدم السيال فضيق عليه عزة الحلال المجرى والمجال إذ كان لا يبذرقه إلى أعماق العروق إلا الشهوة الماثلة إلى الغلبة والاسترسال فبقي لما زمت بزمام الحلال خائباً خاسراً ما له من ناصر ولا وال
Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan manusia dari tanah liat yang pekat dan tembikar, kemudian menyusun bentuk tubuhnya dalam sebaik-baik rupa dan kesempurnaan yang paling seimbang. Kemudian Dia memberinya makan pada awal pertumbuhannya dengan air susu yang dimurnikan dari antara kotoran dan darah, yang mudah ditelan bagaikan air jernih yang murni. Kemudian Dia melindunginya dengan rezeki yang baik-baik dari sebab-sebab kelemahan dan keruntuhan. Kemudian Dia mengekang syahwat manusia yang memusuhinya dari sifat melampaui batas dan kesewenang-wenangan, serta menundukkannya melalui kewajiban menuntut makanan yang halal. Dengan mematahkan syahwat itu, Dia mengalahkan pasukan setan yang bersiap siagakan untuk menyesatkan, padahal dahulu setan dapat merasuki anak Adam melalui aliran darahnya. Maka kemuliaan perkara halal ini mempersempit ruang dan alirannya, sebab tidak ada yang membawanya masuk hingga ke lubuk pembuluh darah selain syahwat yang cenderung menguasai dan menuruti hawa nafsu. Oleh karena itu, ketika syahwat itu dikendalikan dengan tali kekang yang halal, setan menjadi kecewa, rugi, serta tidak memiliki penolong maupun pelindung.
والصلاة على محمد الهادي من الضلال وعلى آله خير آل وسلم تسليماً كثيراً
Shalawat serta salam yang melimpah semoga tercurah kepada Nabi Muhammad, petunjuk dari kesesatan, dan kepada keluarganya sebaik-baik keluarga.
أما بعد فقد قال ﷺ طلب الحلال فريضة على كل مسلم
Amma ba'du. Sungguh Rasulullah ﷺ telah bersabda: "Mencari yang halal adalah suatu kewajiban atas setiap muslim."
رواه ابن مسعود ﵁ وهذه الفريضة من بين سائر الفرائض أعصاها على العقول فهماً وأثقلها على الجوارح فعلاً ولذلك اندرس بالكلية علماً وعملاً وصار غموض علمه سبباً لاندراس عمله إذ ظن الجهال أن الحلال مفقود وأن السبيل دون الوصول إليه مسدود وانه لم يبق من الطيبات إلا الماء الفرات والحشيش النابت في الموات وما عداه فقد أخبثته الأيدي العادية وأفسدته المعاملات الفاسدة وإذا تعذرت القناعة بالحشيش من النبات لم يبق وجه سوى الاتساع في المحرمات فرفضوا هذا القطب من الدين أصلاً ولم يدركوا بين الأموال فرقاً وفصلاً وهيهات هيهات فالحلال بين والحرام بين وبينهما أمور مشتبهات ولا تزال هذه الثلاثة مقترنات كيفما تقلبت الحالات
Diriwayatkan oleh Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu. Kewajiban ini, di antara seluruh kewajiban lainnya, adalah yang paling rumit dipahami oleh akal dan paling berat dilaksanakan oleh anggota badan. Oleh karena itu, perkara ini telah musnah secara keseluruhan baik dalam ilmu maupun amal. Kerumitan ilmunya menjadi sebab sirnanya pengamalannya, karena orang-orang bodoh mengira bahwa yang halal itu sudah tidak ada lagi dan jalan untuk mencapainya telah tertutup, serta tidak ada yang tersisa dari hal-hal yang baik kecuali air yang tawar dan rumput yang tumbuh di tanah mati (tak berpemilik). Adapun selain itu, dianggap telah dirusak oleh tangan-tangan zalim dan dicemari oleh muamalah yang fasik. Dan apabila tidak memungkinkan untuk hanya berpuas diri dengan memakan rumput-rumputan, maka tidak ada jalan lain kecuali meluaskan diri dalam mengonsumsi hal-hal yang haram. Akibatnya, mereka meninggalkan pilar agama ini secara total dan tidak lagi membedakan atau memilah antar-harta benda. Sungguh jauh (persangkaan demikian)! Karena yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar). Ketiga hal ini akan senantiasa berdampingan bagaimanapun keadaan berubah.
ولما كانت هذه بدعة عم في الدين ضررها واستطار في الخلق شررها وجب كشف الغطاء عن فسادها بالإرشاد إلى مدرك الفرق بين الحلال والحرام والشبهة على وجه التحقيق والبيان ولا يخرجه التضييق عن حيز الإمكان
Karena pemikiran (keliru) ini merupakan bid'ah yang bahayanya merata dalam agama dan keburukannya menyebar luas di tengah makhluk, maka wajib menyibak tabir dari kerusakannya dengan memberikan petunjuk tentang kaidah pembeda antara yang halal, haram, dan syubhat secara mendalam dan jelas, serta menunjukkan bahwa kehati-hatian dalam menelitinya tidak akan mengeluarkannya dari batas kemampuan manusia.
ونحن نوضح ذلك في سبعة أبواب
Dan kami menjelaskan hal tersebut dalam tujuh bab.
الباب الأول في فضيلة طلب الحلال ومذمة الحرام ودرجات الحلال والحرام
Bab Pertama: Keutamaan mencari yang halal, celaan terhadap yang haram, serta tingkatan-tingkatan halal dan haram.
الباب الثاني في مراتب الشبهات ومثاراتها وتمييزها عن الحلال والحرام
Bab Kedua: Tingkatan-tingkatan syubhat (keraguan), faktor-faktor penyebabnya, serta pembedaannya dari yang halal dan haram.
الباب الثالث في البحث والسؤال والهجوم والإهمال ومظانها في الحلال والحرام
Bab Ketiga: Meneliti, bertanya, menerjang tanpa perhitungan, dan mengabaikan, serta tempat-tempat persangkaan keberadaannya dalam hal halal dan haram.
الباب الرابع في كيفية خروج التائب عن المظالم المالية
Bab Keempat: Tata cara orang yang bertobat melepaskan diri dari kezaliman-kezaliman harta.
الباب الخامس في إدرارات السلاطين وصلاتهم وما يحل منها وما يحرم
Bab Kelima: Tunjangan-tunjangan rutin dari penguasa dan pemberian-pemberian mereka; mana yang halal darinya dan mana yang haram.
الباب السادس في الدخول على السلاطين ومخالطتهم
Bab Keenam: Mengunjungi para penguasa dan bergaul dengan mereka.
الباب السابع في مسائل متفرقة
Bab Ketujuh: Masalah-masalah yang beraneka ragam.
الباب الأول في فضيلة الحلال ومذمة الحرام
Bab Pertama: Keutamaan yang halal dan celaan terhadap yang haram.
وبيان أصناف الحلال ودرجاته وأصناف الحرام ودرجات الورع فيه فَضِيلَةُ الْحَلَالِ وَمَذَمَّةُ الْحَرَامِ
Serta penjelasan jenis-jenis yang halal dan tingkatannya, jenis-jenis yang haram dan tingkatan-tingkatan warak padanya. Keutamaan yang halal dan celaan terhadap yang haram.
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى كلوا من الطيبات واعملوا صالحا أَمَرَ بِالْأَكْلِ مِنَ الطَّيِّبَاتِ قَبْلَ الْعَمَلِ
Allah Ta'ala berfirman: "Makanlah dari makanan yang baik-baik (halal), dan kerjakanlah kebajikan." Dia memerintahkan untuk memakan makanan yang baik sebelum beramal.
وَقِيلَ إِنَّ الْمُرَادَ بِهِ الْحَلَالُ
Dan dikatakan bahwa yang dimaksud dengan "yang baik-baik" (at-thayyibat) di sini adalah yang halal.
وَقَالَ تَعَالَى وَلَا تأكلوا أموالكم بينكم بالباطل وَقَالَ تَعَالَى إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظلماً الآية
Allah Ta'ala juga berfirman: "Dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil." Dan Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim…" hingga akhir ayat.
وَقَالَ تَعَالَى يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كنتم مؤمنين ﴿ثُمَّ قَالَ﴾ فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ من الله ورسوله ﴿ثُمَّ قَالَ﴾ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ ﴿ثُمَّ قَالَ﴾ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هم فيها خالدون جعل آكل الربا أَوَّلِ الْأَمْرِ مُؤْذِنًا بِمُحَارَبَةِ اللَّهِ وَفِي آخِرِهِ مُتَعَرِّضًا لِلنَّارِ وَالْآيَاتُ الْوَارِدَةُ فِي الْحَلَالِ وَالْحَرَامِ لَا تُحْصَى
Allah Ta'ala berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman." Kemudian Dia berfirman: "Maka jika kamu tidak mengerjakannya, ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu." Kemudian Dia berfirman: "Dan jika kamu bertobat, maka bagimu pokok hartamu." Kemudian Dia berfirman: "Dan barangsiapa yang kembali (mengambil riba), maka mereka itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya." Allah menjadikan pemakan riba pada awalnya dinilai mengumumkan perang terhadap Allah, dan pada akhirnya mengantarkan dirinya ke neraka. Dan ayat-ayat yang menerangkan tentang halal dan haram tidak terhitung banyaknya.
وَرَوَى ابْنُ مَسْعُودٍ ﵁ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ طَلَبُ الْحَلَالِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مسلم ولما قال ﷺ طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ على كل مسلم
Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu meredaksikan dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: "Mencari yang halal adalah kewajiban atas setiap muslim." Dan ketika beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Mencari ilmu itu wajib atas setiap muslim,"
قال بعض العلماء أراد بِهِ طَلَبُ عِلْمِ الْحَلَالِ وَالْحَرَامِ وَجَعَلَ الْمُرَادَ بالحديثين واحداً
sebagian ulama berkata: "Yang dimaksud oleh beliau dengannya adalah mencari ilmu tentang yang halal dan haram," dan mereka menjadikan maksud dari kedua hadis tersebut adalah satu hal yang sama.
وقال ﷺ من سعى على عياله من حله فهو كالمجاهد في سبيل الله ومن طلب الدنيا حلالاً في عفاف كان في درجة الشهداء
Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa bekerja keras untuk keluarganya dari jalan yang halal, maka dia bagaikan seorang mujahid di jalan Allah. Dan barangsiapa mencari dunia secara halal demi menjaga kehormatan diri, maka dia berada di derajat para syuhada."
وقال ﷺ من أكل الحلال أربعين يوماً نور الله قلبه وأجرى ينابيع الحكمة من قلبه على لسانه
Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa memakan yang halal selama empat puluh hari, niscaya Allah menerangi hatinya dan mengalirkan sumber-sumber hikmah dari hatinya ke lisannya."
وفي رواية زهده الله في الدنيا وروي أن سعداً سأل رسول الله ﷺ أن يسأل الله تعالى أن يجعله مجاب الدعوة فقال له أطب طعمتك تستجب دعوتك
Dalam suatu riwayat disebutkan: "Allah menganugerahkan rasa zuhud kepadanya terhadap dunia." Diriwayatkan pula bahwa Sa'ad memohon kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam agar beliau memohon kepada Allah Ta'ala untuk menjadikannya orang yang dikabulkan doanya. Maka beliau bersabda kepadanya: "Baguskanlah (halalkanlah) makananmu, niscaya doamu akan dikabulkan."
وَلَمَّا ذَكَرَ ﷺ الْحَرِيصَ عَلَى الدُّنْيَا قَالَ رُبَّ أَشْعَثَ أَغْبَرَ مُشَرَّدٍ فِي الْأَسْفَارِ مَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِّيَ بالحرام يرفع يديه فيقول يا رب يا رب فأنى يستجاب لذلك
Ketika beliau shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan tentang orang yang sangat ambisius terhadap dunia, beliau bersabda: "Betapa banyak orang yang berambut kusut, berdebu, terlunta-lunta dalam perjalanan jauh, sedangkan makanannya haram, pakaiannya haram, dan diberi asupan dari yang haram; ia mengangkat kedua tangannya seraya berdoa: 'Wahai Tuhanku! Wahai Tuhanku!', maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?"
وفي حديث ابن عباس عَنِ النَّبِيِّ ﷺ إِنَّ لله ملكاً على بيت المقدس ينادي كل ليلة من أكل حراماً لم يقبل منه صرف ولا عدل
Dalam hadis Ibnu Abbas dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah memiliki seorang malaikat di Baitul Maqdis yang berseru pada setiap malam, 'Barang siapa yang memakan barang haram, maka tidak akan diterima darinya amalan sunnah (*sharf*) maupun amalan fardhu (*'adl*).'"
فقيل الصرف النافلة والعدل الفريضة
Dikatakan bahwa *ash-sharf* adalah amalan sunnah (*nafilah*), sedangkan *al-'adl* adalah amalan fardhu (*faridhah*).
وقال ﷺ من اشترى ثوباً
Dan Nabi ﷺ bersabda, "Barang siapa membeli sehelai pakaian…
بعشرة دراهم وفي ثمنه درهم حرام لم يقبل الله صلاته ما دام عليه منه شيء
…seharga sepuluh dirham, dan di dalam harganya terdapat satu dirham dari sumber yang haram, maka Allah tidak akan menerima shalatnya selama pakaian itu masih mengenai tubuhnya walau sedikit pun."
وَقَالَ ﷺ كُلُّ لَحْمٍ نبت من حرام فالنار أولى بِهِ
Dan Nabi ﷺ bersabda: "Setiap daging yang tumbuh dari barang haram, maka neraka lebih utama baginya."
وَقَالَ ﷺ مَنْ لم يبال من أين اكتسب المال لم يبال الله من أين أدخله النار
Dan Nabi ﷺ bersabda: "Barang siapa tidak peduli dari mana ia memperoleh harta, maka Allah pun tidak peduli dari pintu mana Dia memasukkannya ke dalam neraka."
وقال ﷺ العبادة عشرة أجزاء تسعة منها في طلب الحلال
Dan Nabi ﷺ bersabda: "Ibadah itu terdiri dari sepuluh bagian; sembilan di antaranya berada dalam mencari rezeki yang halal."
روي هذا مرفوعاً وموقوفاً على بعض الصحابة أيضاً
Riwayat ini diriwayatkan secara *marfu'* (bersambung kepada Nabi) dan juga *mauquf* (terhenti pada sebagian sahabat).
وقال ﷺ من أمسى وانيا من طلب الحلال بات مغفورا له وأصبح والله عنه راض
Dan Nabi ﷺ bersabda: "Barang siapa yang berpetang hari dalam keadaan lelah karena mencari rezeki yang halal, maka ia bermalam dalam keadaan diampuni dosanya, dan menyongsong pagi hari dalam keadaan Allah meridhai dirinya."
وقال ﷺ من أصاب مالاً من مأثم فوصل به رحماً أو تصدق به أو أنفقه في سبيل الله جمع الله ذلك جميعاً ثم قذفه في النار
Dan Nabi ﷺ bersabda: "Barang siapa memperoleh harta dari jalan dosa lalu ia menyambung silaturahmi dengannya, atau bersedekah dengannya, atau menginfakkannya di jalan Allah, niscaya Allah akan mengumpulkan semua amalan itu lalu melemparkannya bersama amalan tersebut ke dalam neraka."
وقال ﵇ خير دينكم الورع
Rasulullah 'Alaihissalam bersabda: "Sebaik-baik agama kalian adalah sikap wara' (kehati-hatian dari hal haram dan syubhat)."
وقال ﷺ من لقي الله ورعاً أعطاه الله ثواب الإسلام كله
Dan Nabi ﷺ bersabda: "Barang siapa menghadap Allah dalam keadaan memiliki sifat *wara'*, niscaya Allah memberikan pahala Islam seluruhnya kepadanya."
ويروى أن الله تعالى قال في بعض كتبه وأما الورعون فأنا أستحي أن أحاسبهم
Diriwayatkan bahwa Allah Ta'ala berfirman dalam sebagian Kitab-Nya: "Adapun orang-orang yang *wara'*, maka Aku malu untuk menghisab mereka."
وقال ﷺ درهم من ربا أشد عند الله من ثلاثين زنية في الإسلام
Dan Nabi ﷺ bersabda: "Satu dirham dari hasil riba itu lebih berat dosanya di sisi Allah daripada tiga puluh kali berzina dalam Islam."
وفي حديث أبي هريرة ﵁ المعدة حوض البدن والعروق إليها واردة فإذا صحت المعدة صدرت العروق بالصحة وإذا سقمت صدرت بالسقم
Dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu: "Lambung adalah telaga bagi tubuh, dan pembuluh-pembuluh darah bermuara kepadanya. Apabila lambung itu sehat, maka pembuluh darah akan mengalirkan kesehatan; dan apabila lambung itu sakit, maka pembuluh darah akan mengalirkan penyakit."
ومثل الطعمة من الدين مثل الأساس من البنيان فإذا ثبت الأساس وقوي استقام البنيان وارتفع وإذا ضعف الأساس واعوج انهار البنيان ووقع
Perumpamaan makanan dalam kaitannya dengan agama adalah seperti pondasi bagi suatu bangunan. Jika pondasinya kokoh dan kuat, maka bangunan akan berdiri tegak serta menjulang tinggi. Namun jika pondasinya lemah dan miring, maka bangunan tersebut akan runtuh dan roboh.
وقال الله ﷿ أفمن أسس بنيانه على تقوى من الله الآية
Dan Allah 'Azza wa Jalla berfirman: "Maka apakah orang-orang yang mendirikan bangunannya di atas dasar ketakwaan kepada Allah…" [al-Ayah].
وفي الحديث من اكتسب مالاً من حرام فإن تصدق به لم يقبل منه وإن تركه وراءه كان زاده إلى النار
Dalam sebuah hadis disebutkan: "Barang siapa memperoleh harta dari jalan haram, lalu ia bersedekah dengannya, maka sedekah itu tidak akan diterima darinya. Dan jika ia meninggalkannya di belakangnya (sebagai warisan), harta itu akan menjadi bekalnya menuju neraka."
وقد ذكرنا جملة من الأخبار في كتاب آداب الكسب تكشف عن فضيلة الكسب الحلال
Sungguh kami telah menyebutkan sejumlah riwayat dalam "Kitab Adab Mencari Rezeki" yang menyingkap keutamaan mata pencaharian yang halal.
وَأَمَّا الْآثَارُ فَقَدْ وَرَدَ أَنَّ الصِّدِّيقَ ﵁ شَرِبَ لَبَنًا مِنْ كَسْبِ عَبْدِهِ ثُمَّ سَأَلَ عَبْدَهُ فَقَالَ تَكَهَّنْتُ لِقَوْمٍ فَأَعْطَوْنِي فَأَدْخَلَ أَصَابِعَهُ فِي فِيهِ وَجَعَلَ يَقِيءُ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّ نَفْسَهُ سَتَخْرُجُ ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعْتَذِرُ إِلَيْكَ مِمَّا حَمَلَتِ الْعُرُوقُ وَخَالَطَ الأمعاء
Adapun riwayat dari para sahabat (*al-atsar*), telah diriwayatkan bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu meminum susu dari hasil usaha budaknya, kemudian beliau bertanya kepada budak tersebut. Budak itu menjawab, "Dahulu aku pernah mempraktikkan perdukunan untuk suatu kaum, lalu mereka memberiku upah ini." Maka Abu Bakar memasukkan jari-jarinya ke dalam mulutnya dan berusaha muntah hingga aku mengira nyawanya akan keluar. Kemudian beliau berdoa: "Ya Allah, sesungguhnya aku memohon uzur kepada-Mu atas apa yang telah diangkut oleh pembuluh darah dan bercampur dengan usus."
وفي بعض الأخبار أنه ﷺ أخبر بذلك فقال أو علمتم
Dan dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ mengabarkan hal tersebut, lalu beliau bersabda: "Apakah kalian mengetahui…
أن الصديق
…bahwa As-Siddiq (Abu Bakar)…
لا يدخل جوفه إلا طيباً وَكَذَلِكَ شَرِبَ عمر ﵁ مِنْ لبن إبل الصدقة غلطاً فأدخل إصبعه وتقيأ وقالت عائشة ﵂ إنكم لتغفلون عن أفضل العبادة هو الورع وقال عبد الله بن عمر ﵁ لو صليتم حتى تكونوا كالحنايا وصمتم حتى تكونوا كالأوتار لم يقبل ذلك منكم إلا بورع حاجز
…tidak memasukkan ke dalam perutnya melainkan makanan yang baik (halal)." Demikian pula Umar ﵁ pernah meminum susu unta sedekah secara tidak sengaja, lalu beliau memasukkan jarinya ke kerongkongan dan memuntahkannya. 'Aisyah ﵂ berkata: "Sesungguhnya kalian benar-benar melalaikan ibadah yang paling utama, yaitu wara'." Dan Abdullah bin Umar ﵁ berkata: "Seandainya kalian mendirikan shalat hingga tubuh kalian membungkuk seperti busur panah dan kalian berpuasa hingga kurus seperti tali busur, hal itu tidak akan diterima dari kalian kecuali dengan wara' yang membentengi dari maksiat."
وقال إبراهيم بن أدهم ﵀ ما أدرك من أدرك إلا من كان يعقل ما يدخل جوفه
Ibrahim bin Adham ﵀ berkata: "Tidaklah mencapai kedudukan spiritual orang-orang yang telah mecapainya, melainkan karena ia menyadari dan menjaga apa yang masuk ke dalam perutnya."
وقال الفضيل من عرف ما يدخل جوفه كتبه الله صديقاً فانظر عند من تفطر يا مسكين وقيل لإبراهيم بن أدهم ﵀ لم لا تشرب من ماء زمزم فقال لو كان لي دلو شربت منه
Al-Fudhail berkata: "Barangsiapa memperhatikan apa yang masuk ke dalam perutnya, niscaya Allah mencatatnya sebagai seorang siddiq. Maka perhatikanlah di mana engkau berbuka puasa, wahai orang miskin!" Dan pernah ditanyakan kepada Ibrahim bin Adham ﵀: "Mengapa engkau tidak meminum air Zamzam?" Beliau menjawab: "Seandainya aku memiliki timba sendiri, niscaya aku akan meminumnya."
وقال سفيان الثوري ﵁ من أنفق من الحرام في طاعة الله كان كمن طهر الثوب النجس بالبول والثوب النجس لا يطهره إلا الماء والذنب لا يكفره إلا الحلال
Sufyan ats-Tsauri ﵁ berkata: "Barangsiapa menginfakkan harta haram dalam ketaatan kepada Allah, ia seperti orang yang menyucikan pakaian najis dengan air kencing. Padahal pakaian najis tidak dapat disucikan kecuali dengan air, dan dosa tidak dapat dihapuskan kecuali dengan harta yang halal."
وقال يحيى بن معاذ الطاعة خزانة من خزائن الله إلا أن مفتاحها الدعاء وأسنانه لقم الحلال
Yahya bin Mu'adz berkata: "Ketaatan adalah salah satu perbendaharaan Allah, hanya saja kuncinya adalah doa, dan gigi-gigi kuncinya adalah suapan makanan yang halal."
وقال ابن عباس ﵄ لا يقبل الله صلاة امرىء في جوفه حرام وَقَالَ سهل التستري لَا يَبْلُغُ الْعَبْدُ حَقِيقَةَ الْإِيمَانِ حَتَّى يَكُونَ فِيهِ أَرْبَعُ خِصَالٍ أَدَاءُ الْفَرَائِضِ بِالسُّنَّةِ وَأَكْلُ الْحَلَالِ بِالْوَرَعِ وَاجْتِنَابُ النَّهْيِ من الظاهر والباطن والصبر على ذلك إلى الموت
Ibnu Abbas ﵄ berkata: "Allah tidak akan menerima shalat seseorang yang di dalam perutnya terdapat barang haram." Sahl at-Tustari berkata: "Seorang hamba tidak akan mencapai hakikat iman hingga ia memiliki empat perkara: menunaikan kewajiban-kewajiban sesuai sunnah, memakan yang halal dengan sikap wara', menjauhi larangan baik lahir maupun batin, serta bersabar atas hal itu hingga wafat."
وقال من أحب أن يكاشف بآيات الصديقين فلا يأكل إلا حلالاً ولا يعمل إلا في سنة أو ضرورة
Beliau (Sahl at-Tustari) juga berkata: "Barangsiapa ingin disingkapkan (mukasyafah) baginya tanda-tanda keagungan para siddiqin, hendaknya ia tidak memakan kecuali yang halal dan tidak beramal kecuali dalam bingkai sunnah atau keadaan darurat."
ويقال من أكل الشبهة أربعين يوماً أظلم قلبه وهو تأويل قوله تَعَالَى ﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كانوا يكسبون﴾ وقال ابن المبارك رد درهم من شبهة أحب إلي من أن أتصدق بمائة ألف درهم ومائة ألف ومائة ألف حتى بلغ إلى ستمائة ألف
Dikatakan pula: "Barangsiapa memakan barang syubhat selama empat puluh hari, hatinya akan menjadi gelap." Hal inilah takwil dari firman Allah Ta'ala: "Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka." (QS. Al-Muthaffifin: 14). Ibnu al-Mubarak berkata: "Mengembalikan satu dirham dari barang syubhat lebih aku sukai daripada bersedekah seratus ribu dirham, seratus ribu, seratus ribu—hingga beliau menyebutkan sampai enam ratus ribu dirham."
وقال بعض السلف إن العبد يأكل أكله فيتقلب قلبه فينغل كما ينغل الأديم ولا يعود إلى حاله أبداً
Sebagian ulama Salaf berkata: "Sesungguhnya seorang hamba memakan satu suapan makanan, lalu hatinya berbalik menjadi rusak sebagaimana kulit yang membusuk, dan hatinya tidak akan pernah kembali ke keadaannya semula selama-lamanya."
وقال سهل ﵁ من أكل الحرام عصت جوارحه شاء أم أبى علم أو لم يعلم
Sahl ﵁ berkata: "Barangsiapa memakan barang haram, anggota tubuhnya akan bermaksiat, baik ia mau maupun tidak, baik ia mengetahui maupun tidak mengetahui."
ومن كانت طعمته حلالاً أطاعته جوارحه ووفقت للخيرات وقال بعض السلف إن أول لقمة يأكلها العبد من حلال يغفر له ما سلف من ذنوبه ومن أقام نفسه مقام ذل في طلب الحلال تساقطت عنه ذنوبه كتساقط ورق الشجر
Dan barangsiapa makanan yang dikonsumsinya halal, anggota tubuhnya akan tunduk taat kepadanya serta diberi taufik untuk melakukan berbagai kebaikan. Sebagian ulama Salaf berkata: "Sesungguhnya suapan pertama dari makanan halal yang dimakan seorang hamba akan diampuni baginya dosa-dosa yang telah lalu. Dan barangsiapa yang merendahkan dirinya dalam mencari rezeki yang halal, niscaya dosa-dosanya berguguran sebagaimana gugurnya dedaunan dari pohon."
وروي في آثار السلف أن الواعظ كان إذا جلس للناس قال العلماء تفقدوا منه ثلاثاً فإن كان معتقداً لبدعة فلا تجالسوه فإنه عن لسان الشيطان ينطق وإن كان سيء الطعمة فعن الهوى ينطق فإن لم يكن مكين العقل فإنه يفسد بكلامه أكثر مما يصلح فلا تجالسوه
Diriwayatkan dalam riwayat-riwayat ulama Salaf bahwa apabila seorang pemberi nasihat duduk untuk mengajar manusia, para ulama berkata: "Periksalah tiga hal dari dirinya: Jika ia meyakini suatu bid'ah, maka janganlah kalian duduk bersamanya karena ia berbicara dari lisan setan. Jika makanannya buruk (dari yang haram atau syubhat), maka ia berbicara dari hawa nafsu. Dan jika akalnya tidak mantap, maka ia akan merusak dengan perkataannya lebih banyak daripada membenahinya, maka janganlah kalian duduk bersamanya."
وفي الأخبار المشهورة عن على ﵇ وغيره إن الدنيا حلالها حساب وحرامها عذاب
Dan dalam riwayat-riwayat mashhur dari Ali ﵇ serta lainnya disebutkan: "Sesungguhnya dunia itu, halalnya adalah hisab dan haramnya adalah azab."
وزاد آخرون وشبهتها عتاب
Dan ulama lainnya menambahkan: "…dan barang syubhatnya adalah celaan ('itab)."
وروي أن بعض الصالحين دفع طعاماً إلى بعض الأبدال فلم يأكل فسأله عن ذلك فقال نحن لا نأكل إلا حلالاً فلذلك تستقيم قلوبنا ويدوم حالنا ونكاشف الملكوت ونشاهد الآخرة ولو أكلنا مما تأكلون ثلاثة أيام لما رجعنا إلى شيء من علم اليقين ولذهب الخوف والمشاهدة من قلوبنا فقال له الرجل فإني أصوم الدهر وأختم القرآن في كل شهر ثلاثين مرة فقال له البدل هذه الشربة التي رأيتني شربتها من الليل أحب إلى من ثلاثين ختمة في ثلثمائة ركعة من أعمالك وكانت شربته من لبن ظبية وحشية
Diriwayatkan bahwa sebagian orang saleh menyodorkan makanan kepada salah seorang dari wali Abdal, namun ia tidak memakannya. Orang itu menanyakan sebabnya, maka wali Abdal tersebut menjawab: "Kami tidak memakan kecuali makanan yang halal, karena itulah hati kami menjadi lurus, keadaan spiritual (hal) kami berkesinambungan, kami disingkapkan ke alam Malakut, serta menyaksikan keagungan akhirat. Seandainya kami memakan dari apa yang kalian makan selama tiga hari saja, niscaya kami tidak akan dapat kembali kepada ilmu yaqin, serta sirnalah rasa takut kepada Allah (khauf) dan penyingkapan batin (musyahadah) dari hati kami." Orang itu lalu berkata kepadanya: "Sesungguhnya aku berpuasa sepanjang tahun dan mengkhatamkan Al-Qur'an setiap bulan sebanyak tiga puluh kali." Wali Abdal itu berkata: "Seteguk minuman yang engkau lihat aku minum malam tadi lebih aku sukai daripada tiga puluh kali khatam Al-Qur'an dalam tiga ratus rakaat dari amal-amalmu." Adapun minuman wali Abdal tersebut berasal dari susu kijang liar.
وقد كان بين أحمد بن حنبل ويحيى بن معين صحبة طويلة فهجره أحمد إذ سمعه يقول إني لا أسأل أحداً شيئاً ولو أعطاني الشيطان شيئاً لأكلته حتى اعتذر يحيى وقال كنت أمزح فقال تمزح بالدين أما علمت أن الأكل من الدين قدمه الله تعالى على العمل الصالح فقال ﴿كلوا من الطيبات واعملوا صالحاً﴾ وفي الخبر أنه مكتوب في التوراة من لم يبال من أين مطعمه لم يبال الله من أي أبواب النيران أدخله وعن علي ﵁ أنه لم يأكل بعد قد قتل عثمان ونهب الدار طعاماً إلا مختوماً حذراً من الشبهة
Sungguh telah terjalin persahabatan yang lama antara Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma'in. Namun Ahmad sempat mendiamkannya ketika beliau mendengarnya berkata: "Aku tidak meminta sesuatu pun kepada siapa pun, tetapi seandainya setan memberiku sesuatu, niscaya aku akan memakannya," hingga Yahya menyampaikan permohonan maaf dan berkata: "Aku hanya bergurau." Ahmad berkata: "Apakah engkau bergurau dalam urusan agama? Tidakkah engkau tahu bahwa masalah makanan adalah bagian dari agama? Allah Ta'ala mendahulukannya sebelum amal saleh, sebagaimana firman-Nya: 'Makanlah dari makanan yang baik-baik (halal), dan kerjakanlah kebajikan.' (QS. Al-Mu'minun: 51)." Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa tertulis di dalam Taurat: "Barangsiapa tidak memedulikan dari mana ia mendapatkan makanannya, maka Allah tidak akan memedulikan melalui pintu neraka mana Dia memasukkannya." Dan diriwayatkan dari Ali ﵁ bahwa setelah Utsman gugur dan rumahnya dijarah, beliau tidak memakan makanan kecuali yang tersegel karena khawatir terhadap barang syubhat.
واجتمع الفضيل بن عياض وابن عيينة وابن المبارك عند وهيب بن الورد بمكة فذكروا الرطب فقال وهيب هو من أحب الطعام إلي إلا أني لا آكله لاختلاط رطب مكة ببساتين زبيدة وغيرها فقال له
Fudhail bin 'Iyadh, Ibnu 'Uyaynah, dan Ibnu al-Mubarak berkumpul di kediaman Wuhaib bin al-Ward di Makkah, lalu mereka membicarakan kurma basah (ruthab). Wuhaib berkata: "Kurma basah adalah makanan yang paling aku sukai, namun aku tidak memakannya karena bercampurnya kurma Makkah dengan kebun-kebun milik Zubaidah dan selainnya." Maka…
ابن المبارك إن نظرت في مثل هذا ضاق عليك الخبز
…Ibnu al-Mubarak berkata kepadanya: "Jika engkau terlalu mempermasalahkan hal semacam ini, niscaya urusan roti (makanan pokok) pun akan menjadi sangat sempit bagimu."
قال وما سببه قال إن أصول الضياع قد اختلط بالصوافي فغشي على وهيب فقال سفيان قتلت الرجل فقال ابن المبارك ما أردت إلا أن أهون عليه فلما أفاق قال لله على أن لا آكل خبزاً أبداً حتى ألقاه
Ia berkata, "Apa penyebabnya?" Dia menjawab, "Sesungguhnya tanah-tanah perkebunan telah bercampur dengan tanah-tanah milik penguasa (sawafi)." Maka pingsanlah Wuhaib. Sufyan lalu berkata, "Engkau telah membunuh orang ini!" Ibnu al-Mubarok berkata, "Aku tidak bermaksud melainkan untuk meredakan (beban) hatinya." Ketika Wuhaib sadar, ia berkata, "Demi Allah, wajib bagiku untuk tidak memakan roti selamanya hingga aku bertemu dengan-Nya."
قال فكان يشرب اللبن قال فأتته أمه بلبن فسألها فقالت هو من شاة بني فلان فسأل عن ثمنها وأنه من أين كان لهم فذكرت فلما أدناه من فيه قال بقي أنها من أين كانت ترعى فسكتت فلم يشرب لأنها كانت ترعى من موضع فيه حق للمسلمين فقالت أمه اشرب فإن الله يغفر لك فقال ما أحب أن يغفر لي وقد شربته فأنال مغفرته بمعصيته
Dia berkata bahwa setelah itu Wuhaib hanya meminum susu. Suatu ketika ibunya membawakannya susu, lalu ia bertanya kepada ibunya. Ibunya menjawab, "Ini dari domba keluarga Fulan." Ia bertanya tentang harganya dan dari mana mereka mendapatkannya, lalu ibunya menjelaskannya. Ketika ia hendak mendekatkan susu itu ke mulutnya, ia berkata, "Masih tersisa satu hal: di manakah domba itu digembalakan?" Ibunya pun terdiam. Maka ia tidak meminumnya karena domba itu digembalakan di tempat yang di dalamnya terdapat hak milik kaum muslimin. Ibunya berkata, "Minumlah, sungguh Allah akan mengampunimu." Wuhaib menjawab, "Aku tidak suka diampuni oleh-Nya sementara aku telah meminumnya, sehingga aku meraih ampunan-Nya melalui perbuatan maksiat kepada-Nya."
وَكَانَ بِشْرٌ الْحَافِي ﵀ مِنَ الْوَرِعِينَ فَقِيلَ لَهُ مِنْ أَيْنَ تَأْكُلُ فَقَالَ مِنْ حَيْثُ تَأْكُلُونَ وَلَكِنْ لَيْسَ مَنْ يَأْكُلُ وَهُوَ يَبْكِي كَمَنْ يَأْكُلُ وَهُوَ يَضْحَكُ
Bisyir al-Hafi radhiyallahu 'anhu termasuk di antara orang-orang yang sangat wara'. Ditanyakan kepadanya, "Dari mana engkau makan?" Ia menjawab, "Dari tempat kalian makan, akan tetapi tidaklah sama antara orang yang makan seraya menangis dengan orang yang makan seraya tertawa."
وَقَالَ يَدٌ أَقْصَرُ مِنْ يَدٍ وَلُقْمَةٌ أَصْغَرُ مِنْ لُقْمَةٍ وَهَكَذَا كَانُوا يَحْتَرِزُونَ مِنَ الشُّبُهَاتِ أَصْنَافُ الْحَلَالِ وَمَدَاخِلُهُ
Ia juga berkata, "Tangan yang satu lebih pendek dari tangan yang lain, dan suapan yang satu lebih kecil dari suapan yang lain." Begitulah cara mereka menjaga diri dari syubhat. [Kategori-Kategori Halal dan Pintu-Pintu Masuknya]
اعْلَمْ أَنَّ تَفْصِيلَ الْحَلَالِ وَالْحَرَامِ إِنَّمَا يَتَوَلَّى بَيَانَهُ كُتُبُ الْفِقْهِ وَيَسْتَغْنِي الْمُرِيدُ عَنْ تَطْوِيلِهِ بِأَنْ يَكُونَ لَهُ طُعْمَةٌ مُعِينَةٌ يَعْرِفُ بالفتوى حلها لَا يَأْكُلُ مِنْ غَيْرِهَا فَأَمَّا مَنْ يَتَوَسَّعُ فِي الْأَكْلِ مِنْ وُجُوهٍ مُتَفَرِّقَةٍ فَيَفْتَقِرُ إِلَى علم الحلال والحرام كله كما فصلناه في كتب الفقه
Ketahuilah bahwa rincian mengenai halal dan haram itu dipaparkan secara mendalam dalam kitab-kitab fiqih. Seorang murid (penempuh jalan spiritual) tidak memerlukan pembahasan yang panjang lebar jika ia telah memiliki sumber makanan tertentu yang telah diketahui kehalalannya berdasarkan fatwa, sehingga ia tidak memakan selain darinya. Adapun orang yang meluaskan konsumsinya dari berbagai sumber yang bermacam-macam, maka ia membutuhkan seluruh ilmu tentang halal dan haram sebagaimana telah kami rincikan dalam kitab-kitab fiqih.
وَنَحْنُ الْآنَ نُشِيرُ إِلَى مَجَامِعِهِ فِي سِيَاقٍ تقسيم وهو أَنَّ الْمَالَ إِنَّمَا يَحْرُمُ إِمَّا لِمَعْنًى فِي عَيْنِهِ أَوْ لِخَلَلٍ فِي جِهَةِ اكْتِسَابِهِ الْقِسْمُ الْأَوَّلُ الْحَرَامُ لِصِفَةٍ فِي عَيْنِهِ كَالْخَمْرِ وَالْخِنْزِيرِ وَغَيْرِهِمَا
Kini kami akan mengisyaratkan pokok-pokok bahasannya dalam alur pembagian: bahwa harta itu diharamkan adakalanya karena suatu sifat yang melekat pada dzat benda itu sendiri, atau karena adanya cacat pada cara memperolehnya. Bagian Pertama: Harta yang haram karena sifat yang ada pada dzatnya, seperti khamar (minuman keras), babi, dan selain keduanya.
وَتَفْصِيلُهُ أَنَّ الْأَعْيَانَ الْمَأْكُولَةَ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ لَا تَعْدُو ثَلَاثَةَ أَقْسَامٍ فَإِنَّهَا إِمَّا أَنْ تَكُونَ مِنَ الْمَعَادِنِ كَالْمِلْحِ وَالطِّينِ وَغَيْرِهِمَا أو من النبات أو من الحيوانات
Rinciannya adalah bahwa segala zat yang dikonsumsi di muka bumi tidak keluar dari tiga bagian: adakalanya berasal dari barang tambang/mineral seperti garam, tanah, dan lainnya; atau dari tumbuh-tumbuhan; atau dari hewan.
أما الْمَعَادِنُ فَهِيَ أَجْزَاءُ الْأَرْضِ وَجَمِيعُ مَا يَخْرُجُ مِنْهَا فَلَا يَحْرُمُ أَكْلُهُ إِلَّا مِنْ حَيْثُ أنه يضر بالآكل وفي بَعْضِهَا مَا يَجْرِي مَجْرَى السُّمِّ وَالْخُبْزُ لَوْ كَانَ مُضِرًّا لَحَرُمَ أَكْلُهُ وَالطِّينُ الَّذِي يُعْتَادُ أَكْلُهُ لَا يَحْرُمُ إِلَّا مِنْ حَيْثُ الضَّرَرُ
Adapun barang tambang/mineral, yaitu bagian-bagian bumi dan segala yang keluar darinya, tidaklah diharamkan memakannya kecuali sejauh hal itu membahayakan pemakannya. Di antara benda-benda tersebut ada yang berkedudukan seperti racun. Bahkan roti pun sekiranya membahayakan, niscaya haram memakannya. Demikian pula tanah yang biasa dimakan, tidak diharamkan melainkan dari segi kemudaratannya.
وفائدة قولنا إنه لا يحرم مع أنه لا يؤكل أنه لو وقع شيء منها في مرقة أو طعام مائع لم يصر به محرماً
Manfaat dari perkataan kami bahwa benda tersebut tidak haram—meskipun tidak biasa dimakan—adalah apabila sedikit dari benda tersebut jatuh ke dalam kuah atau makanan cair, makanan tersebut tidak menjadi haram karenanya.
وَأَمَّا النَّبَاتُ فَلَا يَحْرُمُ مِنْهُ إِلَّا مَا يزيل العقل أو يزيل الْحَيَاةَ أَوِ الصِّحَّةَ فَمُزِيلُ الْعَقْلِ الْبِنْجُ وَالْخَمْرُ وَسَائِرُ الْمُسْكِرَاتِ وَمُزِيلُ الْحَيَاةِ السُّمُومُ وَمُزِيلُ الصِّحَّةِ الْأَدْوِيَةُ فِي غَيْرِ وَقْتِهَا وَكَأَنَّ مَجْمُوعَ هَذَا يَرْجِعُ إِلَى الضَّرَرِ إِلَّا الْخَمْرَ وَالْمُسْكِرَاتِ فَإِنَّ الَّذِي لَا يُسْكِرُ مِنْهَا أَيْضًا حَرَامٌ مَعَ قلته لعينه ولصفته وهي الشدة المطربة
Adapun tumbuh-tumbuhan, tidak ada yang diharamkan darinya melainkan apa yang menghilangkan akal, menghilangkan nyawa, atau merusak kesehatan. Yang menghilangkan akal adalah kecubung (banj), khamar, dan seluruh bahan pemabuk. Yang menghilangkan nyawa adalah racun. Yang merusak kesehatan adalah obat-obatan yang digunakan tidak pada waktunya. Seolah-olah seluruh hal ini muaranya kembali pada bahaya (kemudaratan), kecuali khamar dan bahan pemabuk, sebab jumlah yang tidak memabukkan darinya pun tetap haram meskipun sedikit, baik karena dzatnya maupun sifatnya yang berpotensi memabukkan serta menimbulkan kenikmatan yang memabukkan (asy-syiddah al-muthribah).
وأما السم فإذا خرج عن كونه مضراً لقلته أو لعجنه بغيره فلا يحرم
Adapun racun, apabila telah keluar dari sifat membahayakan—baik karena jumlahnya yang sangat sedikit maupun karena telah dicampur dengan zat lain—maka tidak lagi diharamkan.
وَأَمَّا الْحَيَوَانَاتُ فَتَنْقَسِمُ إِلَى مَا يُؤْكَلُ وَإِلَى ما لا يؤكل وتفصيله في كتاب الأطعمة والنظر يطول في تفصيله لا سيما في الطيور الغريبة وحيوانات البر والبحر وما يحل أكله منها فَإِنَّمَا يَحِلُّ إِذَا ذُبِحَ ذَبْحًا شَرْعِيًّا رُوعِيَ فيه شروط الذابح والآلة والذبح وذلك مذكور في
Adapun hewan, terbagi menjadi hewan yang boleh dimakan dan hewan yang tidak boleh dimakan. Rinciannya terdapat dalam Kitab al-Ath'imah (Kitab Makanan), dan pembahasannya cukup panjang, khususnya mengenai burung-burung langka serta hewan darat dan laut. Adapun apa yang halal dimakan darinya, hanya menjadi halal jika disembelih dengan penyembelihan secara syar'i, yang memperhatikan syarat-syarat penyembelih, alat penyembelihan, dan tata cara penyembelihannya. Hal itu disebutkan dalam…
كتاب الصيد والذبائح وَمَا لَمْ يُذْبَحْ ذَبْحًا شَرْعِيًّا أَوْ مَاتَ فَهُوَ حَرَامٌ وَلَا يَحِلُّ
… Kitab ash-Shaid wa adz-Dzabai'ih (Kitab Berburu dan Sembelihan). Dan hewan yang tidak disembelih dengan penyembelihan syar'i atau mati (menjadi bangkai), maka hukumnya haram dan tidak halal…
إِلَّا مِيتَتَانِ السَّمَكُ والجراد وفي معناهما ما يستحيل من الأطعمة كدود التفاح والخل والجبن فإن الاحتراز منهما غير ممكن فأما إذا أفردت وأكلت فحكمها حكم الذباب والخنفساء والعقرب وكل ما ليس له نفس سائلة لا سبب في تحريمها إلا الاستقذار ولو لم يكن لكان لا يكره فإن وجد شخص لا يستقذره لم يلتفت إلى خصوص طبعه فإنه التحق بالخبائث لعموم الاستقذار فيكره أكله كما لو جمع المخاط وشربه كره
… kecuali dua jenis bangkai, yaitu ikan dan belalang. Searti dengannya adalah apa yang bertransformasi dari makanan, seperti ulat apel, cuka, dan keju, karena menjaga diri darinya adalah hal yang tidak mungkin. Namun jika dipisahkan dan dimakan tersendiri, hukumnya sama seperti lalat, kumbang, kalajengking, dan segala yang tidak memiliki darah mengalir; tidak ada sebab diharamkannya melainkan karena menganggapnya jijik (al-istaqdzar). Sekiranya bukan karena itu, niscaya tidak dimakruhkan. Apabila ada seseorang yang tidak menganggapnya jijik, watak khususnya itu tidak dijadikan patokan, sebab ia tergolong sesuatu yang menjijikkan (al-khaba'ith) secara umum. Maka makruh memakannya, sebagaimana jika seseorang mengumpulkan ingus lalu meminumnya, hal itu dimakruhkan…
ذلك وليست الكراهة لنجاستها فإن الصحيح أنها لا تنجس بالموت إذ أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بأن يمقل الذباب في الطعام إذا وقع فيه
… kemakruhan tersebut bukanlah karena kenajisannya, sebab pendapat yang shahih menyatakan bahwa hewan-hewan itu tidak menjadi najis karena mati, lantaran Rasulullah ﷺ telah memerintahkan untuk membenamkan lalat ke dalam makanan apabila ia jatuh ke dalamnya.
وربما يكون حاراً ويكون ذلك سبب موته ولم تهرت نملة أو ذبابة في قدر لم يجب إراقتها إذ المستقذر هو جرمه إذا بقي له جرم ولم ينجس حتى يحرم بالنجاسة وهذا يدل على أن تحريمه للاستقذار ولذلك نقول لو وقع جزء من آدمي ميت في قدر ولو وزن دانق حرم الكل لا لنجاسته فإن الصحيح أن الآدمي لا ينجس بالموت ولكن لأن أكله محرم احتراماً لا استقذاراً
Bisa jadi makanan itu panas dan menjadi penyebab matinya. Apabila semut atau lalat hancur di dalam kuali, tidak wajib membuang isi kuali tersebut, sebab yang dianggap jijik adalah wujud fisiknya jika masih utuh tersisa, dan ia tidak bernajis hingga menjadi haram karena najis. Ini menunjukkan bahwa pengharamannya adalah karena anggapan jijik. Oleh karena itu kami katakan: Sekiranya sepotong bagian dari mayat manusia jatuh ke dalam kuali walau seberat satu daniq (sangat sedikit), haramlah seluruhnya, bukan karena najis—sebab pendapat yang shahih bahwa manusia tidak menjadi najis karena kematiannya—melainkan karena memakannya diharamkan demi memuliakannya (ihtiram), bukan karena jijik.
وأما الحيوانات المأكولة إذا ذبحت بشرط الشرع فلا تحل جميع أجزائها بل يحرم منها الدم والفرث وكل ما يقضى بنجاسته منها بل تناول النجاسة مطلقاً محرم ولكن ليس في الأعيان شيء محرم نجس إلا من الحيوانات
Adapun hewan yang boleh dimakan, apabila telah disembelih sesuai syarat syariat, tidaklah halal seluruh bagian tubuhnya; melainkan diharamkan darinya darah, kotoran dalam perut (fartsh), dan segala sesuatu darinya yang dihukumi najis. Bahkan mengonsumsi benda najis secara mutlak adalah haram, namun tidak ada di antara benda-benda materi yang diharamkan lagi najis kecuali yang berasal dari hewan.
وأما من النبات فالمسكرات فقط دون ما يزيل العقل ولا يسكر كالبنج فإن نجاسة المسكر تغليظ للذجر عنه لكونه في مظنة التشوف ومهما وقعت قطرة من النجاسة أو جزء من نجاسة جامدة في مرقة أو طعام أو دهن حرم أكل جميعه ولا يحرم الانتفاع به لغير الأكل فيجوز الاستصباح بالدهن النجس وكذا طلاء السفن والحيوانات وغيرها فهذه مجامع ما يحرم لصفة في ذاته الْقِسْمُ الثَّانِي مَا يَحْرُمُ لِخَلَلٍ فِي جِهَةِ إثبات اليد عليه
Adapun dari tumbuh-tumbuhan, hanyalah bahan pemabuk saja (yang najis), bukan yang sekadar menghilangkan akal tanpa memabukkan seperti kecubung. Sebab kenajisan zat pemabuk merupakan bentuk penegasan hukuman untuk mencegahnya, mengingat ia berada dalam prasangka daya tarik keinginan syahwat. Apabila setetes najis atau sebagian dari najis padat jatuh ke dalam kuah, makanan, atau minyak, maka haram dimakan seluruhnya. Namun tidak diharamkan memanfaatkannya untuk selain dimakan; maka boleh menjadikan minyak najis sebagai bahan bakar lampu penerang, begitu pula melumuri kapal, hewan, dan lainnya. Inilah pokok-pokok apa yang diharamkan karena sifat yang ada pada dzatnya. Bagian Kedua: Harta yang haram karena adanya cacat pada cara penguasaannya (kepemilikannya).
وفيه يتسع النظر فنقول أخذ المال إما أن يكون باختيار المالك أو بغير اختياره فالذي يكون بغير اختياره كالإرث والذي يكون باختياره إما أن لا يكون من مالك كنيل المعادن أو يكون من مالك والذي أخذ من مالك فإما أن يؤخذ قهراً أو يؤخذ تراضياً والمأخوذ قهراً إما أن يكون لسقوط عصمة المالك كالغنائم أو لاستحقاق الأخذ كزكاة الممتنعين والنفقات الواجبة عليهم والمأخوذ تراضياً إما أن يؤخذ بعوض كالبيع والصداق والأجرة وإما أن يؤخذ بغير عوض كالهبة والوصية فيحصل من هذا السياق ستة أَقْسَامٌ
Dalam bagian ini pembahasannya meluas. Kami katakan: Pengambilan harta adakalanya terjadi dengan kerelaan/pilihan pemiliknya, atau tanpa kerelaannya. Yang terjadi tanpa kerelaannya seperti warisan. Sedangkan yang terjadi dengan kerelaannya, adakalanya bukan dari seorang pemilik (seperti memperoleh barang tambang), atau dari seorang pemilik. Harta yang diambil dari seorang pemilik, adakalanya diambil secara paksa atau diambil atas dasar saling ridha. Yang diambil secara paksa adakalanya karena gugurnya perlindungan hukum atas pemiliknya seperti harta rampasan perang (ghanimah), atau karena berhaknya pengambil seperti zakat dari orang-orang yang membangkang dan nafkah-nafkah yang wajib atas mereka. Adapun yang diambil atas dasar saling ridha, adakalanya diambil dengan imbalan seperti jual beli, mahar, dan sewa; atau diambil tanpa imbalan seperti hibah dan wasiat. Dari alur ini terbagilah menjadi enam bagian.
الْأَوَّلُ مَا يُؤْخَذُ مِنْ غَيْرِ مَالِكٍ كَنَيْلِ الْمَعَادِنِ وَإِحْيَاءِ الْمَوَاتِ وَالِاصْطِيَادِ وَالِاحْتِطَابِ وَالِاسْتِقَاءِ من الأنهار والاحتشاش فهذا حلال بشرط أَنْ لَا يَكُونَ الْمَأْخُوذُ مُخْتَصًّا بِذِي حُرْمَةٍ من الآدميين فإذا انفك من الاختصاصات ملكها آخذها
Bagian Pertama: Apa yang diambil dari selain pemilik, seperti memperoleh barang tambang, menghidupkan lahan mati (ihya'ul mawat), berburu, mengumpulkan kayu bakar, mengambil air dari sungai, dan mencari rumput liar. Semua ini hukumnya halal dengan syarat benda yang diambil tersebut tidak dikhususkan (menjadi hak khusus) bagi manusia yang dilindungi hukum. Apabila benda tersebut terbebas dari pengkhususan-pengkhususan hak, maka pengambilnya menjadi pemiliknya.
وتفصيل ذلك في كتاب إحياء الموات
Rincian mengenai hal tersebut terdapat dalam Kitab Ihya' al-Mawat (Membuka Lahan Baru).
الثاني المأخوذة قَهْرًا مِمَّنْ لَا حُرْمَةَ لَهُ وَهُوَ الْفَيْءُ والغنيمة وسائر أموال الكفار والمحاربين وَذَلِكَ حَلَالٌ لِلْمُسْلِمِينَ إِذَا أَخْرَجُوا مِنْهَا الْخُمْسَ وَقَسَّمُوهَا بَيْنَ الْمُسْتَحِقِّينَ بِالْعَدْلِ وَلَمْ يَأْخُذُوهَا مِنْ كافر له حرمة وأمان وعهد
Yang kedua, harta yang diambil secara paksa dari pihak yang tidak memiliki kehormatan (perlindungan harta), yaitu fai', ghanimah, serta seluruh harta kaum kafir harbi. Harta tersebut halal bagi kaum muslimin apabila mereka telah mengeluarkan seperlimanya (khumus) dan membagikannya di antara para penerima yang berhak secara adil, serta tidak mengambilnya dari kafir yang memiliki jaminan kehormatan, keamanan, dan perjanjian damai ('ahd).
وتفصيل هذه الشروط في كتاب السير من كتاب الفيء والغنيمة وكتاب الجزية
Rincian syarat-syarat ini terdapat dalam Kitab as-Siyar (Hukum Perang dan Hubungan Internasional), yaitu bab Fai', Ghanimah, dan Jizyah.
الثالث ما يؤخذ قهراً باستحقاق عند امتناع من وجب عليه فيؤخذ دون رضاه وذلك حلال إذا تم سبب الاستحقاق وتم وصف المستحق الذي به استحقاقه واقتصر على القدر المستحق واستوفاه ممن يملك الاستيفاء من قاض أو سلطان أو مستحق وتفصيل ذلك في
Yang ketiga, harta yang diambil secara paksa atas dasar hak ketika orang yang berkewajiban menolak menunaikannya, sehingga diambil tanpa kerelaannya. Harta ini halal apabila sebab haknya telah terpenuhi, sifat/kriteria orang yang berhak juga telah terpenuhi, pembaginya membatasi diri hanya pada kadar yang menjadi haknya, dan dipungut oleh pihak yang berwenang memungutnya, baik seorang qadhi (hakim), penguasa (sultan), maupun orang yang berhak itu sendiri. Rincian mengenai hal ini terdapat dalam
كتاب تفريق الصدقات وكتاب الوقف وكتاب النفقات إذ فيها النظر في صفة
Kitab Tafriq as-Sadaqat (Pembagian Zakat dan Sedekah), Kitab Al-Waqf (Wakaf), dan Kitab An-Nafaqat (Nafkah); karena di dalamnya dibahas mengenai kriteria
المستحقين للزكاة والوقف والنفقة وغيرها من الحقوق فإذا استوفيت شرائطها كان المأخوذ حلالاً
orang-orang yang berhak menerima zakat, wakaf, nafkah, dan hak-hak lainnya. Apabila syarat-syaratnya telah terpenuhi, maka harta yang diambil itu adalah halal.
الرابع مَا يُؤْخَذُ تَرَاضِيًا بِمُعَاوَضَةٍ وَذَلِكَ حَلَالٌ إِذَا روعي شرط العوضين وشرط العاقدين وشرط اللفظين أعني الإيجاب والقبول مَعَ مَا تَعَبَّدَ الشَّرْعُ بِهِ مِنِ اجْتِنَابِ الشروط المفسدة
Yang keempat, harta yang diperoleh atas dasar kerelaan bersama melalui akad imbalan (mu'awadhah). Harta ini halal apabila memperhatikan syarat kedua barang/imbalan ('iwadh), syarat kedua belah pihak yang berakad ('aqidain), dan syarat lafal transaksi, yaitu ijab dan kabul, di samping mematuhi aturan syariat untuk menjauhi syarat-syarat yang merusak akad (syurut mufsidah).
وبيان ذلك في كتاب البيع والسلم والإجارة والحوالة والضمان والقراض والشركة والمساقاة والشفعة والصلح والخلع والكتابة والصداق
Penjelasan mengenai hal ini terdapat dalam Kitab Jual Beli (Al-Bai'), Salam, Ijarah (Sewa-Menyewa), Hawalah (Pengalihan Utang), Dhaman (Jaminan), Qiradh (Bagi Hasil/Mudarabah), Syirkah (Kemitraan), Musaqah, Syuf'ah, Sulh (Perdamaian), Khula' (Gugat Cerai), Kitabah (Akad Kemerdekaan Budak), Shadaq (Mahar),
وسائر المعاوضات
serta jenis-jenis akad imbalan (mu'awadhah) lainnya.
الخامس ما يؤخذ عن رضا من غير عوض وهو حلال إذا روعي فيه شرط المعقود عليه وشرط العاقدين وشرط العقد ولم يؤد إلى ضرر بوارث أو غيره وذلك مذكور في كتاب الهبات والوصايا والصدقات
Yang kelima, harta yang diambil berdasarkan kerelaan tanpa imbalan (non-komersial). Harta ini halal jika memperhatikan syarat barang yang ditransaksikan, syarat kedua belah pihak, dan syarat akad, serta tidak menimbulkan kemudaratan bagi ahli waris maupun pihak lain. Hal tersebut disebutkan dalam Kitab Hibah, Wasiat, dan Sedekah.
السادس
Yang keenam,
مَا يَحْصُلُ بِغَيْرِ اخْتِيَارٍ كَالْمِيرَاثِ وَهُوَ حَلَالٌ إذا كان الموروث قد اكتسب المال من بعض الجهات الخمس على وَجْهٍ حَلَالٍ ثُمَّ كَانَ ذَلِكَ بَعْدَ قَضَاءِ الدَّيْنِ وَتَنْفِيذِ الْوَصَايَا وَتَعْدِيلِ الْقِسْمَةِ بَيْنَ الْوَرَثَةِ وإخراج الزكاة والحج والكفارة إن كان واجباً وذلك مذكور في كتاب الوصايا والفرائض فهذه مجامع مداخل الحلال والحرام أومأنا إلى جملتها ليعلم المريد أنه إن كانت طعمته متفرقة لا من جهة معينة فلا يستغني عن علم هذه الأمور فكل ما يأكله من جهة من الجهات يَنْبَغِي أَنْ يَسْتَفْتِيَ فِيهِ أَهْلَ الْعِلْمِ وَلَا يُقْدِمَ عَلَيْهِ بِالْجَهْلِ فَإِنَّهُ كَمَا يُقَالُ لِلْعَالِمِ لِمَ خَالَفْتَ عِلْمَكَ يُقَالُ لِلْجَاهِلِ لِمَ لَازَمْتَ جهلك ولم تتعلم بعد أن قبل لك طلب فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ دَرَجَاتُ الْحَلَالِ وَالْحَرَامِ
harta yang diperoleh tanpa pilihan (secara otomatis), seperti warisan. Ini adalah halal apabila harta yang diwariskan tersebut diperoleh oleh si mayit dari salah satu dari lima jalan sebelumnya secara halal, dan perolehan itu terjadi setelah pelunasan utang, pelaksanaan wasiat, pembagian yang adil di antara para ahli waris, serta pengeluaran zakat, biaya haji, dan kafarat jika memang wajib. Hal ini disebutkan dalam Kitab Wasiat dan Fara'idh (Hukum Waris). Inilah himpunan pintu-pintu masuk halal dan haram yang telah kami isyaratkan secara garis besar, agar seorang murid (penuntut jalan spiritual) mengetahui bahwa jika penghidupannya beragam dan tidak berasal dari satu jalan tertentu, maka ia tidak boleh lepas dari pengetahuan akan hal-hal ini. Setiap apa yang dikonsumsinya dari jalan mana pun, hendaknya ia meminta fatwa kepada ahli ilmu dan tidak melangkah di atas kebodohan. Sebab, sebagaimana dikatakan kepada alim: 'Mengapa engkau menyelisih ilmu pengetahuanmu?', dikatakan pula kepada orang bodoh: 'Mengapa engkau menetapi kebodohanmu dan tidak belajar, padahal telah dikatakan kepadamu bahwa menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim?' Tingkatan-tingkatan Halal dan Haram:
اعْلَمْ أَنَّ الْحَرَامَ كُلَّهُ خَبِيثٌ لَكِنَّ بَعْضَهُ أَخْبَثُ مِنْ بَعْضٍ وَالْحَلَالَ كُلَّهُ طَيِّبٌ وَلَكِنَّ بَعْضَهُ أَطْيَبُ مِنْ بَعْضٍ وَأَصْفَى مِنْ بَعْضٍ وكما أن الطبيب يحكم على كل حلو بالحرارة ولكن يقول بعضها حار في الدرجة الأولى كالسكر وبعضها حار في الثانية كالفانيذ وبعضها حار في الثالثة كالدبس وبعضها حار في الرابعة كالعسل
Ketahuilah bahwa perkara haram itu seluruhnya buruk (khabits), tetapi sebagiannya lebih buruk daripada sebagian yang lain. Dan perkara halal itu seluruhnya baik (thayyib), tetapi sebagiannya lebih baik dan lebih murni daripada sebagian yang lain. Sebagaimana seorang tabib menilai setiap makanan manis memiliki kadar panas, namun ia mengatakan sebagian manisnya panas pada tingkatan pertama seperti gula, sebagian lagi panas pada tingkatan kedua seperti fanid (sejenis permen/manisan), sebagian lagi panas pada tingkatan ketiga seperti sirup kurma (dibs), dan sebagian lagi panas pada tingkatan keempat seperti madu.
كذلك الحرام بعضه خبيث حار في الدرجة الأولى وبعضه الثانية أو الثالثة أو الرابعة وكذا الحلال تتفاوت درجات صفاته وطيبه فلنقتد بأهل الطب في الاصطلاح على أربع درجات تقريباً
Demikian pula perkara haram, sebagiannya buruk pada tingkatan pertama, sebagiannya pada tingkatan kedua, ketiga, atau keempat. Demikian halnya perkara halal, tingkatan kemurnian dan kebaikannya pun berbeda-beda. Maka hendaknya kita meneladani para ahli medis dalam mengklasifikasikannya secara istilah ke dalam empat tingkatan secara pendekatan.
وإن كان التحقيق لا يوجب هذا الحصر إذ يتطرق إلى كل درجة من الدرجات أيضاً تفاوت لا ينحصر فإن من السكر ما هو أشد حرارة من سكر آخر وكذا غيره فلذلك نقول الورع عن الحرام على أربع درجات
Meskipun secara hakikat penjelasannya tidak mengharuskan pembatasan ini, sebab dalam setiap tingkatan masih terdapat perbedaan yang tidak terbatas—karena di antara gula ada yang lebih panas daripada gula lainnya, begitu pula yang lain—oleh karena itu, kami katakan bahwa wara' (sikap kehati-hatian spiritual) dari perkara haram itu terbagi menjadi empat tingkatan:
الأولى ورع العدول وهو الذي يجب الفسق باقتحامه وتسقط العدالة به ويثبت اسم العصيان والتعرض للنار بسببه وهو الْوَرَعُ عَنْ كُلِّ مَا تُحَرِّمُهُ فَتَاوَى الْفُقَهَاءِ
Tingkatan pertama adalah wara' orang-orang adil (wara' al-'udul), yaitu wara' yang apabila dilanggar menyebabkan timbulnya kefasikan, membatalkan sifat keadilan seseorang, serta memicu julukan maksiat dan ancaman api neraka dengannya. Ini adalah wara' (menjaga diri) dari segala hal yang diharamkan menurut fatwa para ahli fiqih.
الثانية ورع الصالحين وهو الامتناع عما يتطرق إليه احتمال التحريم ولكن المفتي يرخص في التناول بناء على الظاهر فهو من مواقع الشبهة على الجملة فلنسم التحرج عن ذلك ورع الصالحين وهو في الدرجة الثانية
Tingkatan kedua adalah wara' orang-orang saleh (wara' ash-shalihin), yaitu menahan diri dari hal-hal yang memiliki kemungkinan diharamkan, meskipun seorang mufti memberikan keringanan untuk mengonsumsinya berdasarkan lahiriah. Jadi secara umum hal itu termasuk tempat-tempat syubhat. Maka hendaklah kita menamai sikap berhati-hati dengannya ini sebagai wara' orang-orang saleh, dan ia berada pada tingkatan kedua.
الثالثة مالا تحرمه الفتوى ولا شُبْهَةَ فِي حِلِّهِ وَلَكِنْ يُخَافُ مِنْهُ أَدَاؤُهُ إِلَى مُحَرَّمٍ وَهُوَ تَرْكُ مَا لَا بَأْسَ به مخافة مما به باس وهذا ورع المتيقن
Tingkatan ketiga adalah perkara yang tidak diharamkan oleh fatwa dan tidak ada keraguan akan kehalalannya, tetapi dikhawatirkan dapat mengantarkan kepada hal yang diharamkan, yaitu meninggalkan sesuatu yang tidak mengapa (boleh) karena takut terjerumus ke dalam sesuatu yang bermasalah (dilarang). Ini adalah wara' orang-orang yang bertakwa (wara' al-muttaqin).
قال ﷺ لا يبلغ العبد درجة المتقين حتى يدع مالا بأس به مخافة ما به بأس
Rasulullah ﷺ bersabda: "Seorang hamba tidak akan mencapai derajat orang-orang yang bertakwa hingga ia meninggalkan apa yang tidak bermasalah karena takut terjerumus pada apa yang bermasalah."
الرابعة ما لا بأس به أصلاً ولا يُخَافُ مِنْهُ أَنْ يُؤَدِّيَ إِلَى مَا بِهِ بأس ولكنه يتناول لغير الله وعلى غير نِيَّةِ التَّقَوِّي بِهِ عَلَى عِبَادَةِ اللَّهِ أَوْ تَتَطَرَّقُ إِلَى أَسْبَابِهِ الْمُسَهِّلَةِ لَهُ كَرَاهِيَةٌ أَوْ معصية والامتناع منه ورع الصديقين فهذه درجات الحلال جملة إلى أن نفصلها بالأمثلة والشواهد
Tingkatan keempat adalah perkara yang sama sekali tidak bermasalah dan tidak dikhawatirkan mengantarkan kepada hal yang dilarang, tetapi dikonsumsi/dilakukan bukan karena Allah dan tanpa niat untuk memberi kekuatan dalam beribadah kepada Allah, atau terdapat kemakruhan maupun kemaksiatan pada sebab-sebab yang memudahkannya. Menahan diri dari hal ini adalah wara' orang-orang yang sangat jujur imannya (wara' ash-shiddiqin). Inilah tingkatan-tingkatan halal secara garis besar, sebelum kami menjelaskannya secara rinci beserta contoh-contoh dan dalil-dalilnya.
وأما الحرام الذي ذكرناه في الدرجة الأولى هو الذي يشترط التورع عنه في العدالة وإطراح سمة الفسق فهو أيضاً على درجات في الخبث فالمأخوذ بعقد فاسد كالمعاطاة مثلاً فيما لا يجوز فيه المعاطاة حرام ولكن ليس في درجة المغصوب على سبيل القهر بل المغصوب أغلظ إذ فيه ترك طريق الشرع في الاكتساب وإيذاء الغير
Adapun keharaman yang kami sebutkan pada tingkatan pertama—yaitu keharaman yang disyaratkan untuk dijauhi guna menjaga keadilan dan membuang predikat ketafasikan—juga memiliki tingkatan-tingkatan dalam hal keburukannya. Sesuatu yang diambil melalui akad yang fasad (rusak), seperti jual beli *mu'athah* (saling menyerahkan tanpa lafaz) pada perkara yang tidak diperbolehkan *mu'athah*, hukumnya adalah haram, tetapi tidak selevel dengan barang ghasab (yang dirampas) secara paksa. Bahkan, barang ghasab itu jauh lebih berat keharamannya, karena di dalamnya terdapat tindakan meninggalkan jalan syariat dalam usaha mencari nafkah sekaligus menimbulkan kemudaratan bagi orang lain.
وليس في المعاطاة إيذاء وإنما فيه ترك طريق التعبد فقط ثم ترك طريق التعبد بالمعاطاة أهون من تركه بالربا وهذا التفاوت يدرك بتشديد الشرع ووعيده وتأكيده في بعض المناهى على ما سيأتي في كتاب التوبة عند ذكر الفرق بين الكبيرة والصغيرة بل المأخوذ ظلماً من فقير أو صالح أو من يتيم أخبث وأعظم من المأخوذ من قوي أو غني أو فاسق لأن درجات الإيذاء تختلف باختلاف درجات المؤذي فهذه دقائق في تفاصيل الخبائث لا ينبغي أن يذهل عنها فلولا اختلاف درجات العصاة لما اختلفت درجات النار وإذا عرفت مثارات التغليظ فلا حاجة إلى حصره في ثلاث درجات أو أربعة فإن ذلك جار مجرى التحكم والتشهي وهو طلب حصر فيما لا حاصر له ويدلك على اختلاف درجات الحرام في الخبث ما سيأتي في تعارض المحذورات وترجيح بعضها على بعض حتى إذا اضطر إلى أكل ميتة أو أكل طعام الغير أو أكل صيد الحرم فإنا نقدم بعض هذا على بعض أمثلة الدرجات الأربع في الورع وشواهدها
Pada *mu'athah* tidak terdapat unsur menyakiti atau merugikan orang lain, melainkan hanya mengandung tindakan meninggalkan tata cara peribadatan (aturan syariat) saja. Kemudian, meninggalkan cara peribadatan melalui *mu'athah* itu lebih ringan daripada meninggalkannya melalui perbuatan riba. Perbedaan tingkatan ini dapat dipahami melalui penegasan syariat, ancaman-Nya, serta penguatan-Nya pada sebagian larangan, sebagaimana akan dijelaskan dalam Kitab At-Taubah ketika menyebutkan perbedaan antara dosa besar dan dosa kecil. Bahkan, harta yang diambil secara zalim dari seorang fakir, orang saleh, atau anak yatim adalah jauh lebih buruk dan lebih besar dosanya daripada yang diambil dari orang yang kuat, kaya, atau fasik, karena tingkatan penzaliman itu berbeda-beda sesuai dengan tingkatan orang yang disakiti. Ini adalah kerincian dalam rincian keburukan yang tidak sepatutnya dilupakan. Sebab, sekiranya tidak ada perbedaan tingkatan para pelaku maksiat, niscaya tidak akan berbeda pula tingkatan-tingkatan neraka. Apabila engkau telah mengetahui sebab-sebab pemberatan dosa ini, maka tidak perlu membatasinya hanya pada tiga atau empat tingkatan saja, karena hal itu seperti tindakan rekaan dan kemauan pribadi belaka, yaitu berupaya membatasi sesuatu yang pada hakikatnya tidak memiliki batasan. Hal yang menunjukkan kepadamu tentang perbedaan tingkatan keharaman dalam hal keburukan adalah apa yang akan datang dalam bab bertentangannya hal-hal yang dilarang (*ta'arudh al-mahdzurat*) dan mengutamakannya satu atas yang lain, hingga apabila seseorang dalam keadaan darurat harus memilih antara memakan bangkai, memakan makanan orang lain, atau memakan hewan buruan tanah haram, niscaya kita akan mendahulukan sebagian dari hal ini atas sebagian yang lain. Contoh-contoh dan Dalil-dalil Empat Tingkatan dalam Warak:
أما الدرجة الأولى وهي ورع العدول فكل ما اقتضى الفتوى تحريمه مما يدخل في المداخل الستة التي ذكرناها من مداخل الحرام لفقد شرط من الشروط فهو الحرام المطلق الذي ينسب مقتحمه إلى الفسق والمعصية وهو الذي نريده بالحرام المطلق ولا يحتاج إلى أمثلة وشواهد
Adapun tingkatan pertama, yaitu waraknya orang-orang yang adil (*wara' al-'udul*), adalah segala sesuatu yang menurut fatwa dituntut keharamannya—dari perkara yang termasuk dalam enam jalan masuk keharaman yang telah kami sebutkan karena gugurnya salah satu syarat. Hal itulah yang dinamakan haram mutlak, yang pelakunya dinisbatkan kepada ketafasikan dan kemaksiatan. Inilah yang kami maksud dengan haram mutlak, dan hal ini tidak memerlukan contoh-contoh serta dalil-dalil pembuktian.
وأما الدرجة الثانية فأمثلتها كل شبهة لا توجب اجتنابها ولكن يستجب اجتنابها كما سيأتي في باب الشبهات إذ من الشبهات ما يجب اجتنابها فتلحق بالحرام ومنها ما يكره اجتنابها فالورع عنها ورع الموسوسين كمن يمتنع من الاصطياد خوفاً من أن يكون الصيد قد أفلت من إنسان أخذه وملكه وهذا وسواس
Adapun tingkatan kedua, contoh-contohnya adalah setiap syubhat yang tidak diwajibkan untuk dijauhi, namun disunnahkan untuk menjauhinya, sebagaimana akan dijelaskan dalam bab *Asy-Syubuhat*. Sebab, di antara bentuk syubhat ada yang wajib dijauhi sehingga digolongkan ke dalam yang haram, dan di antaranya ada yang makruh untuk dijauhi, yang mana sikap berwarak darinya merupakan waraknya orang-orang yang waswas (*wara' al-muwaswisin*), seperti orang yang enggan berburu karena takut kalau-kalau hewan buruan itu sebelumnya telah lepas dari seseorang yang telah menangkap dan memilikinya, dan ini adalah prasangka waswas.
ومنها
Dan di antaranya:
ما يستحب اجتنابها ولا يجب وهو الذي ينزل عليه قوله ﷺ دع ما يريبك إلى مالا يريبك
Adalah perkara yang disunnahkan untuk menjauhinya namun tidak wajib. Hal inilah yang menjadi pemaknaan bagi sabda Rasulullah ﷺ: "Tinggalkanlah apa yang meragukanmu menuju apa yang tidak meragukanmu."
ونحمله على نهي التنزيه وكذلك قوله ﷺ كل ما أصميت ودع ما أنميت
Dan kami membawanya pada makna larangan yang bersifat *tanzih* (anjuran menjauhi). Demikian pula sabda Beliau ﷺ: "Makanlah hewan yang engkau panah secara langsung (*asmaita*) dan tinggalkanlah hewan yang sempat menghilang dari pandanganmu (*anmaita*)."
والإنماء أن يجري الصيد فيغيب عنه ثم يدركه ميتاً إذ يُحْتَمَلُ أَنَّهُ مَاتَ بِسَقْطَةٍ أَوْ بِسَبَبٍ آخَرَ والذي نختاره كما سيأتي أن هذا ليس بحرام ولكن تركه من ورع الصالحين
Makna *al-inma'* adalah ketika hewan buruan itu lari lalu menghilang dari pandangan pemburu, kemudian didapatkan dalam keadaan telah mati; sebab ada kemungkinan hewan itu mati karena jatuh atau karena sebab lainnya. Pendapat yang kami pilih—sebagaimana akan dijelaskan nanti—bahwa hal ini bukanlah haram, namun meninggalkannya merupakan bagian dari waraknya orang-orang saleh (*wara' ash-shalihin*).
وقوله دع ما يريبك أمر تنزيه إذ ورد في بعض الروايات كل منه وإن غاب عنك ما لم تجد فيه أثراً غير سهمك ولذلك قال ﷺ لعدي بن حاتم في الكلب المعلم وإن أكل فلا تأكل فإني أخاف أن يكون إنما أمسك على نفسه على سبيل التنزيه لأجل الخوف
Dan sabda Beliau: "Tinggalkanlah apa yang meragukanmu," merupakan perintah yang bernilai *tanzih* (anjuran), sebab telah diriwayatkan dalam sebagian redaksi: "Makanlah darinya walaupun ia sempat menghilang darimu selama engkau tidak menemukan padanya bekas selain anak panahmu." Oleh karena itu, Nabi ﷺ bersabda kepada 'Adi bin Hatim berkenaan dengan anjing buruan yang terlatih: "Jika anjing itu memakannya, maka janganlah engkau makan, karena aku khawatir ia menahannya untuk dirinya sendiri." Hal ini disampaikan sebagai bentuk *tanzih* karena adanya rasa khawatir.
إذ قال لأبي ثعلبة الخشني كل منه فقال وإن أكل منه فقال وإن أكل
Sebab, Beliau bersabda kepada Abu Tha'labah Al-Khushani: "Makanlah darinya." Abu Tha'labah bertanya: "Meskipun anjing itu telah memakannya sebagian?" Beliau menjawab: "Meskipun ia telah memakannya sebagian."
وذلك لأن حالة أبي ثعلبة وهو فقير مكتسب لا تحتمل هذا الورع وحال عدي كان يحتمله
Hal itu karena keadaan Abu Tha'labah yang merupakan seorang yang fakir dan harus bekerja mencari penghidupan tidak memungkinkan untuk menanggung derajat warak (yang tinggi) ini, sedangkan keadaan 'Adi memungkinkan untuk menanggungnya.
يحكى عن ابن سيرين أنه ترك لشريك له أَرْبَعَةَ آلَافِ دِرْهَمٍ لِأَنَّهُ حَاكَ فِي قَلْبِهِ شَيْءٌ مَعَ اتِّفَاقِ الْعُلَمَاءِ عَلَى أَنَّهُ لَا بأس به فأمثلة هذه الدرجة نذكرها في التعرض لدرجات الشبهة فكل ما هو شبهة لا يجب اجتنابه فهو مثال هذه الدرجة
Diceritakan dari Ibnu Sirin bahwa beliau merelakan empat ribu dirham miliknya untuk rekannya hanya karena ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya, padahal para ulama telah sepakat bahwa hal itu tidak mengapa. Contoh-contoh tingkatan ini akan kami sebutkan saat menguraikan tingkatan-tingkatan syubhat. Maka, segala sesuatu yang berupa syubhat yang tidak wajib dijauhi merupakan contoh dari tingkatan ini.
أما الدرجة الثالثة وهي ورع المتقين فيشهد لها قوله ﷺ لا يبلغ العبد درجة المتقين حتى يدع ما لا بأس به مخافة ما به بأس وقال عمر ﵁
Adapun tingkatan ketiga, yaitu waraknya orang-orang yang bertakwa (*wara' al-muttaqin*), disaksikan oleh sabda Nabi ﷺ: "Seorang hamba tidak akan mencapai derajat orang-orang yang bertakwa hingga ia meninggalkan apa yang tidak bermasalah (halal) karena khawatir terjerumus pada apa yang bermasalah (terlarang)." Dan Umar radhiyallahu 'anhu berkata:
كنا ندع تسعة أعشار الحلال مخافة أن نقع في الحرام
"Kami dahulu meninggalkan sembilan persepuluh dari perkara yang halal karena khawatir terjerumus ke dalam perkara yang haram."
وقيل إن هذا عن ابن عباس ﵄
Dikatakan pula bahwa ucapan ini bersumber dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma.
وقال أبو الدرداء إن من تمام التقوى أن يتقي العبد في مثال ذرة حتى يترك بعض ما يرى أنه حلال خشية أن يكون حراماً حتى يكون حجاباً بينه وبين النار ولهذا كان لِبَعْضِهِمْ مِائَةُ دِرْهَمٍ عَلَى إِنْسَانٍ فَحَمَلَهَا إِلَيْهِ فَأَخَذَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ وَتَوَرَّعَ عَنِ اسْتِيفَاءِ الْكُلِّ خيفة الزيادة
Dan Abu Ad-Darda' berkata: "Sesungguhnya di antara kesempurnaan takwa adalah seorang hamba bertakwa dalam seumpama bobot zarrah, hingga ia meninggalkan sebagian dari apa yang dipandangnya halal karena takut kalau-kalau itu haram, sehingga hal itu menjadi benteng pemisah antara dirinya dan neraka." Oleh karena inilah, sebagian dari mereka pernah memiliki piutang seratus dirham pada seseorang, lalu orang itu membawanya kepadanya, namun ia hanya mengambil sembilan puluh sembilan dirham dan berwarak dari mengambil seluruhnya karena takut ada kelebihan.
وكان بعضهم يتحرز فكل ما يستوفيه يأخذه ينقصان حبة وما يعطيه يوفيه بزيادة حبة ليكون ذلك حاجزاً من النار ومن هذه الدرجة الِاحْتِرَازُ عَمَّا يَتَسَامَحُ بِهِ النَّاسُ فَإِنَّ ذَلِكَ حَلَالٌ فِي الْفَتْوَى وَلَكِنْ يُخَافُ مِنْ فَتْحِ بَابِهِ أَنْ يَنْجَرَّ إِلَى غَيْرِهِ وَتَأْلَفَ النَّفْسُ الاسترسال وتترك الورع فمن ذلك ما روي عن علي بن معبد أنه قال كنت ساكناً في بيت بكراء فكتبت كتاباً وأردت أن آخذ من تراب الحائط لأتربه وأجففه ثم قلت الحائط ليس لي فقالت لي نفسي وما قدر تراب من حائط فأخذت من التراب حاجتي فلما نمت فإذا أنا بشخص واقف يقول يا علي بن معبد سيعلم غداً الذي يقول وما قدر تراب من حائط ولعل معنى ذلك انه يرى كيف يحط من منزلته فإن للتقوى درجة تفوت بفوات ورع المتقين وليس المراد به أن يستحق عقوبة على فعله
Sebagian dari mereka sangat berhati-hati; setiap kali menagih haknya, ia menguranginya seberat satu *habbah* (biji), dan setiap kali memberi, ia memenuhinya dengan menambahi seberat satu *habbah*, agar hal itu menjadi penghalang dari api neraka. Termasuk dalam tingkatan ini adalah sikap menjaga diri dari perkara yang biasa dimaklumi (ditoleransi) oleh manusia; sebab hal itu menurut fatwa hukumnya halal, tetapi dikhawatirkan jika pintunya dibuka akan menyeret kepada perkara lain, sehingga jiwa terbiasa bersikap mempermudah dan meninggalkan warak. Di antaranya adalah apa yang diriwayatkan dari Ali bin Ma'bad bahwa ia berkata: "Aku dahulu tinggal di sebuah rumah sewaan, lalu aku menulis sebuah surat dan hendak mengambil sedikit debu dinding untuk menaburinya agar tinta cepat kering. Kemudian aku berkata pada diriku: 'Dinding ini bukan milikku.' Namun nafsuku membisikkan: 'Seberapa bernilaikah segenggam debu dari dinding?' Maka aku pun mengambil tanah seperluku. Ketika tidur, tiba-tiba aku melihat seseorang berdiri seraya berkata: 'Wahai Ali bin Ma'bad, besok orang yang berkata: *Seberapa bernilaikah segenggam debu dari dinding* akan mengetahui (akibatnya).' Perkataan ini kemungkinan maknanya bahwa kelak ia akan melihat bagaimana derajat kedudukannya merosot; karena takwa memiliki kedudukan yang bisa luput disebabkan hilangnya waraknya orang-orang bertakwa, dan bukan bermaksud bahwa ia berhak menerima siksaan atas perbuatannya tersebut."
ومن ذلك ما روي أن عمر ﵁ وصله مسك من البحرين فقال وددت لو أن امرأة وزنت حتى أقسمه بين المسلمين فقالت امرأته عاتكة أنا أجيد الوزن فسكت عنها ثم أعاد القول فأعادت الجواب فقال لا أحببت أن تضعيه بكفة ثم تقولين فيها أثر الغبار فتمسحين بها عنقك فأصيب بذلك فضلاً على المسلمين
Termasuk pula apa yang diriwayatkan bahwa Umar radhiyallahu 'anhu mendapat kiriman minyak kasturi dari Bahrain, lalu beliau berkata: "Aku berharap ada seorang wanita yang pandai menimbang sehingga ia dapat menimbangnya agar aku bagikan di antara kaum muslimin." Istrinya, 'Atikah, berkata: "Aku pandai menimbang." Umar pun diam darinya, kemudian mengulangi perkataannya kembali dan 'Atikah pun mengulangi jawabannya. Maka Umar berkata: "Tidak, aku tidak suka engkau meletakkannya di atas timbangan lalu engkau berkata: 'Di wadah ini ada bekas minyaknya,' lalu engkau mengusapkannya ke lehermu, sehingga aku mendapatkan kelebihan yang melebihi hak kaum muslimin."
وكان يوزن بين يدي عمر بن عبد العزيز مِسْكٌ لِلْمُسْلِمِينَ
Pernah pula ditimbang minyak kasturi milik kaum muslimin di hadapan Umar bin Abdul Aziz,
فَأَخَذَ بِأَنْفِهِ حَتَّى لَا تُصِيبَهُ الرائحة وقال وهل ينتفع منه إلا بريحه لما استعبد ذلك منه
lalu beliau menutup hidungnya agar wanginya tidak terhirup olehnya, seraya berkata: "Apakah ada manfaat yang diambil dari kasturi selain dari baunya?" ketika perbuatannya itu dianggap berlebihan oleh orang lain.
وَأَخَذَ الحسن ﵁ تَمْرَةً مِنْ تمر الصدقة وكان صغيراً فقال النبي ﷺ كخ كخ // حديث أخذ الحسن بن علي تمرة من الصدقة وكان ضغيرا فقال النبي ﷺ كخ كخ ألقها أخرجه البخاري من حديث أبي هريرة
Al-Hasan (semoga Allah meredainya) pernah mengambil sebutir kurma dari kurma sedekah ketika ia masih kecil, lalu Nabi ﷺ bersabda, "Kakh, kakh!" [Hadis mengenai al-Hasan bin Ali yang mengambil sebutir kurma dari kurma sedekah ketika ia masih kecil, lalu Nabi ﷺ bersabda, "Kakh, kakh, buanglah itu!", diriwayatkan oleh al-Bukhari dari hadis Abu Hurairah].
أي ألقها
Maksudnya, buanglah (kurma itu).
ومن ذلك ما روي بعضهم أنه كَانَ عِنْدَ مُحْتَضَرٍ فَمَاتَ لَيْلًا فَقَالَ أَطْفِئُوا السراج قد حدث للورثة حق في الدهن
Di antaranya pula adalah apa yang diriwayatkan oleh sebagian ulama bahwa ada seseorang yang berada di sisi orang yang sakaratulmaut, lalu orang tersebut meninggal pada malam hari. Maka ia berkata, "Padamkanlah lampu ini, karena para ahli waris kini telah memiliki hak atas minyaknya."
وروى سليمان التيمي عن نعيمة العطارة قالت كان عمر ﵁ يدفع إلى امرأته طيباً من طيب المسلمين لتبيعه فباعتني طيباً فجعلت تقوم وتزيد وتنقص وتكسر بأسنانها فتعلق بإصبعها شيء منه فقالت به هكذا بإصبعها ثم مسحت به خمارها فدخل عمر ﵁ فقال ما هذه الرائحة فأخبرته فقال طيب المسلمين تأخذينه فانتزع الخمار من رأسها وأخذ جرة من الماء فجعل يصب على الخمار ثم يدلكه في التراب ثم يشمه ثم يصب الماء ثم يدلكه في التراب ويشمه حتى لم يبق له ريح قالت ثم أتيتها مرة أخرى فلما وزنت علق منه شيء بإصبعها فأدخلت إصبعها في فيها ثم مسحت به التراب فهذا من عمر ﵁ ورع التقوى لخوف أداء ذلك إلى غيره وإلا فغسل الخمار ما كان يعيد الطبيب إلى المسلمين ولكن أتلفه عليها زجراً وردعاً واتقاء من أن يتعدى الأمر إلى غيره
Sulaiman at-Taimi meriwayatkan dari Nu'aimah al-'Attarah yang berkata: Umar (semoga Allah meredainya) pernah menyerahkan minyak wangi dari harta kaum muslimin kepada istrinya untuk dijual. Lalu istrinya menjual minyak wangi itu kepadaku. Istrinya pun menakar, menambah, mengurang, dan memotongnya dengan giginya, lalu ada sedikit minyak wangi yang melekat di jarinya. Istrinya mengusapkan jarinya lalu mengusapkannya pula pada kerudungnya. Kemudian Umar (semoga Allah meredainya) masuk dan bertanya, "Bau wangi apa ini?" Istrinya pun memberitahukannya. Umar berkata, "Minyak wangi kaum muslimin engkau ambil?!" Lalu ia menarik kerudung itu dari kepala istrinya, mengambil sebuah kendi berisi air, dan mulai mengucurkan air ke kerudung itu lalu menggosoknya dengan tanah, kemudian menciumnya. Ia terus mengucurkan air, menggosoknya dengan tanah, dan menciumnya hingga tidak ada lagi wewangian yang tersisa. Nu'aimah berkata: Kemudian aku mendatangi istrinya di kali lain. Ketika ia menimbang, ada sedikit yang melekat di jarinya, maka ia memasukkan jarinya ke dalam mulutnya lalu mengusapkannya ke tanah. Tindakan Umar (semoga Allah meredainya) ini termasuk wara' at-taqwa (sikap wara' demi menjaga ketakwaan) karena khawatir hal itu dapat menyeret pada hal lain. Jika tidak demikian, mencuci kerudung itu sebenarnya tidak mengembalikan minyak wangi tersebut kepada kaum muslimin, namun Umar merusaknya sebagai peringatan keras, celaan, serta kehati-hatian agar perkara ini tidak meluas kepada selainnya.
ومن ذلك ما سئل أحمد بن حنبل رحمة الله عن رجل يكون في المسجد يحمل مجمرة لبعض السلاطين ويبخر المسجد بالعود فقال ينبغي أن يخرج من المسجد فإنه لا ينتفع من العود إلا برائحته وهذا قد يقارب الحرام فإن القدر الذي يعبق بثوبه من رائحة الطيب قد يقصد وقد يبخل به فلان يدري أنه يتسامح به أم لا
Di antaranya pula adalah apa yang ditanyakan kepada Ahmad bin Hanbal (semoga Allah merahmatinya) tentang seorang laki-laki di dalam masjid yang membawa tempat pembakar kemenyan milik sebagian penguasa lalu mengasapi masjid dengan kayu gaharu. Maka beliau berkata, "Hendaknya ia keluar dari masjid, sebab tidaklah diambil manfaat dari kayu gaharu melainkan dari aromanya. Hal ini mendekati haram, karena kadar wewangian yang melekat pada pakaiannya dari aroma minyak wangi tersebut bisa jadi memang disengaja dan bisa jadi pemiliknya kikir atasnya, sehingga tidak diketahui apakah pemiliknya merelakannya atau tidak."
وسئل أحمد بن حنبل عمن سقطت منه ورقة فيها أحاديث فهل لمن وجدها أن يكتب منها ثم يردها فقال لا بل يستأذن ثم يكتب وهذا أيضاً قد يشك في أن صاحبها هل يرضى به أم لا فما هو في محل الشك والأصل تحريمه فهو حرام وتركه من الدرجة الأولى
Ahmad bin Hanbal juga ditanya tentang seseorang yang menjatuhkan selembar kertas berisi hadis-hadis, apakah boleh bagi orang yang menemukannya untuk menyalin sebagian darinya lalu mengembalikannya? Beliau menjawab, "Tidak boleh, melainkan ia harus meminta izin terlebih dahulu baru kemudian menyalinnya." Hal ini juga disebabkannya adanya keraguan apakah pemiliknya merelakan hal itu atau tidak. Segala sesuatu yang berada dalam ranah keraguan, sementara hukum asalnya adalah haram, maka hal itu adalah haram dan meninggalkannya termasuk dalam tingkatan wara' yang pertama.
ومن ذلك التورع عن الزينة لأنه يخاف منها أن تدعو إلى غيرها وإن كانت الزينة مباحة في نفسها
Di antaranya pula adalah bersikap wara' (menjauhkan diri) dari perhiasan atau kemegahan, karena dikhawatirkan hal itu dapat mendorong kepada hal terlarang lainnya, meskipun perhiasan itu pada dasarnya bersifat mubah.
وقد سئل أحمد بن حنبل عن النعال السبتية فقال أما أنا فلا استعملها ولكن إن كان للطين فأرجو وأما من أراد الزينة فلا ومن ذلك أن عمر
Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang memakai sandal as-Sibtiyyah (sandal berbahan kulit halus tanpa bulu), lalu beliau menjawab, "Adapun aku, aku tidak memakainya. Namun jika digunakan untuk melindungi dari tanah berlumpur, maka aku berharap tidak apa-apa; sedangkan bagi siapa saja yang menginginkannya untuk perhiasan, maka jangan." Di antaranya pula bahwa Umar—
رضي الله عنه لما ولى الخلافة له زوجة يحبها فطلقها خفية أن تشير عليه بشفاعة في باطل فيعطيها ويطلب رضاها وهذا من ترك مالا بأس به مخافة مما به البأس أي مخافة من أن يفضي إليه وأكثر المباحات داعية إلى المحظورات حتى استكثار الأكل واستعمال الطيب للمتعزب فإنه يحرك الشهوة ثم الشهوة تدعو إلى الفكر والفكر يدعو إلى النظر والنظر يدعو إلى غيره وكذلك النظر إلى دور الأغنياء وتجملهم مباح في نفسه ولكن يهيج الحرص ويدعوا إلى طلب مثله ويلزم منه ارتكاب ما لا يحل في تحصيله وهكذا المباحات كلها إذا لم تؤخذ بقدر الحاجة في وقت الحاجة مع التحرز من غوائها بالمعرفة أولا ثم ثانياً فقلما تخلو عاقبتها عن خطر وكذا كل ما أخذ بالشهوة فقلما يخلو عن خطر حتى كره احمد بن حنبل تجصيص الحيطان وقال أما تجصيص الأرض فيمنع التراب وأما تجصيص الحيطان فزينة لا فائدة فيه حتى أنكر تجصيص المساجد وتزيينها واستدل بما رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أنه سئل أن يكحل المسجد فقال لاعريش كعريش موسى
—semoga Allah meredainya, ketika menjabat sebagai khalifah, ia memiliki seorang istri yang sangat dicintainya, lalu ia menceraikannya secara sembunyi-sembunyi karena khawatir istrinya akan memintanya memberi bantuan (syafaat) dalam kebatilan sehingga ia memenuhinya demi mencari keridaan istrinya. Ini termasuk tindakan meninggalkan apa yang tidak berbahaya karena takut akan apa yang berbahaya, yakni takut hal itu akan berujung pada keharaman. Kebanyakan hal yang mubah dapat memicu terjadinya hal-hal yang terlarang, bahkan memperbanyak makan dan menggunakan wewangian bagi orang yang membujang, karena hal itu dapat membangkitkan syahwat. Lalu syahwat itu mendorong timbulnya pikiran, pikiran mendorong pandangan mata, dan pandangan mata mendorong kepada perkara lainnya. Demikian pula memandang rumah-rumah orang kaya dan kemewahan mereka, pada dasarnya mubah, tetapi hal itu membangkitkan ketamakan dan mendorong untuk menuntut hal serupa, yang berakibat pada dilakukannya tindakan yang tidak halal untuk mendapatkannya. Begitulah seluruh hal mubah jika tidak diambil sesuai kadar kebutuhan pada waktu yang dibutuhkan, disertai kehati-hatian dari godaannya melalui pemahaman terlebih dahulu, maka jarang sekali kesudahannya terbebas dari bahaya. Demikian pula segala sesuatu yang diambil berdasarkan syahwat, jarang sekali terbebas dari bahaya, hingga Ahmad bin Hanbal membenci pelapisan dinding dengan kapur. Beliau berkata, "Adapun melapisi lantai dengan kapur dapat mencegah debu, sedangkan melapisi dinding dengan kapur adalah perhiasan yang tidak ada manfaatnya," hingga beliau mengingkari pelapisan kapur pada masjid dan menghiasinya, serta berdalil dengan apa yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau diminta untuk memperindah masjid dengan kapur, lalu beliau bersabda, "Tidak, cukuplah gubuk seperti gubuk Musa."
وإنما هو شيء مثل الكحل يطلى به فلم يرخص رسول الله ﷺ فيه وكره السلف الثوب الرقيق وقالوا من رق ثوبه رق دينه وكل ذلك خوفاً من سريان اتباع الشهوات في المباحات إلى غيرها فإن المحظور والمباح تشتهيهما النفس بشهوة واحدة وإذا تعودت الشهوة المسامحة استرسلت فاقتضى خوف التقوى الورع عن هذا كله فكل حلال انفك عن مثل هذه المخافة فهو الحلال الطيب في الدرجة الثالثة وهو كل ما لا يخاف أداؤه إلى معصية البتة
Yaitu sesuatu seperti celak yang dilapiskan padanya, namun Rasulullah ﷺ tidak memberikan keringanan padanya. Para ulama Salaf juga membenci pakaian yang tipis dan mereka berkata, "Barang siapa yang tipis pakaiannya, maka tipis pula agamanya." Semua itu dilakukan karena takut terperosok dari menuruti syahwat dalam hal-hal yang mubah menuju kepada hal terlarang. Sebab, hal yang terlarang dan hal yang mubah sama-sama diinginkan oleh nafsu dengan satu syahwat yang sama. Apabila syahwat sudah terbiasa dengan kelonggaran, ia akan melunjak. Maka rasa takut dalam ketakwaan menuntut sikap wara' dari seluruh hal ini. Oleh karena itu, setiap hal halal yang terbebas dari ketakutan semacam ini merupakan hal halal yang baik (al-halal at-tayyib) pada tingkatan ketiga, yaitu segala sesuatu yang sama sekali tidak dikhawatirkan membawa kepada kemaksiatan.
أما الدرجة الرابعة وهو ورع الصديقين فالحلال عندهم كل ما لا تتقدم في أسبابه معصية ولا يستعان به على معصية ولا يقصد منه في الحال والمال قضاء وطر بل يتناول لله تعالى فقد وللتقوي على عبادته واستبقاء الحياة لأجله وهؤلاء هم الذين يرون كل ما ليس لله حراماً امتثالاً لقوله تعالى ﴿قل الله ثم ذرهم في خوضهم يلعبون﴾ وهذه رتبة الموحدين المتجردين عن حظوظ أنفسهم المنفردين لله تعالى بالقصد ولا شك في أن من يتورع عما يوصل إليه أو يستعان عليه بمعصية ليتورع عما يقترن بسبب اكتسابه معصية أو كراهية فمن ذلك ما روي عن يحيى بن كثير أنه شرب الدواء فقالت له امرأته لو تمشيت في الدار قليلاً حتى يعمل الدواء فقال هذه مشية لا أعرفها وأنا أحاسب نفسي منذ ثلاثين سنة فكأنه لم تحضره نية في هذه المشية تتعلق بالدين فلم يجز الإقدام عليها
Adapun tingkatan keempat, yaitu wara' ash-shiddiqin (sikap wara' para shiddiqin), maka hal yang halal menurut mereka adalah segala sesuatu yang dalam sebab-sebabnya tidak didahului oleh maksiat, tidak digunakan untuk membantu maksiat, dan tidak ditujukan pada saat ini maupun masa depan sekadar untuk memuaskan hawa nafsu; melainkan diambil semata-mata karena Allah Ta'ala, untuk menguatkan diri dalam beribadah kepada-Nya, dan memelihara kehidupan demi Diri-Nya. Mereka adalah orang-orang yang memandang segala sesuatu yang bukan karena Allah sebagai hal yang terlarang, demi mematuhi firman-Nya Ta'ala: "Katakanlah: 'Allah', kemudian biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatan mereka." (QS. Al-An'am: 91). Ini adalah derajat orang-orang yang mentauhidkan Allah, yang melepaskan diri dari kepentingan hawa nafsu diri mereka, dan yang memurnikan niat semata-mata untuk Allah Ta'ala. Tidak diragukan lagi bahwa barang siapa yang bersikap wara' terhadap apa yang menghantarkan pada maksiat atau yang digunakan untuk membantu maksiat, sungguh ia akan bersikap wara' terhadap apa yang menyertai sebab diusahakannya dengan maksiat atau makruh. Di antaranya adalah apa yang diriwayatkan dari Yahya bin Katsir bahwa ia meminum obat, lalu istrinya berkata kepadanya, "Seandainya engkau berjalan-jalan sedikit di dalam rumah agar obat itu bekerja." Beliau menjawab, "Langkah kaki ini adalah langkah yang tidak aku ketahui niatnya, padahal aku telah mengintrospeksi diriku selama tiga puluh tahun." Seolah-olah beliau tidak mendapati niat yang berkaitan dengan agama dalam langkah kaki tersebut, sehingga beliau tidak menganggap boleh untuk melakukannya.
وعن سري ﵀ أنه قال انتهيت إلى حشيش في جبل وماء يخرج منه فتناولت من الحشيش وشربت من الماء وقلت في نفسي إن كنت قد أكلت يوما حلالاً طيباً فهو هذا اليوم فهتف بي هاتف إن القوة التي أوصلتك إلى هذا الموضع من أين هي فرجعت وندمت
Diriwayatkan dari As-Sari (semoga Allah merahmatinya) bahwa ia berkata: Aku sampai di tempat rumput di suatu gunung dan air yang mengalir darinya, lalu aku mengambil rumput itu dan meminum airnya. Aku berkata dalam hatiku, "Jika aku pernah memakan makanan yang halal lagi baik pada suatu hari, maka itulah hari ini." Tiba-tiba ada suara gaib berseru kepadaku, "Tenaga yang membawamu sampai ke tempat ini, dari manakah asalnya?" Maka aku pun kembali dan menyesal.
ومن هذا ما روي عن ذي النون المصري أنه كان جائعاً محبوساً فبعثت إليه امرأة صالحة طعاماً على يد السجان فلم يأكل ثم اعتذر وقال جاءني على طبق ظالم يعني أن القوة التي أوصلت الطعام إلي لم تكن طيبة وهذه الغاية القصوى في الورع
Di antaranya pula adalah apa yang diriwayatkan dari Dzun Nun al-Mishri bahwa ia sedang kelaparan dan dipenjara, lalu seorang wanita salehah mengirimkan makanan kepadanya melalui tangan sipir penjara. Namun Dzun Nun tidak memakannya, kemudian ia meminta maaf dan berkata, "Makanan ini sampai kepadaku di atas piring orang yang zalim." Maksudnya, tenaga yang menyampaikan makanan itu kepadaku bukanlah tenaga yang baik. Dan ini adalah puncak tertinggi dalam sikap wara'.
ومن ذلك أن بشراً ﵀ كان لا يشرب الماء من الأنهار التي حفرها الأمراء فإن النهر سبب لجريان الماء ووصوله إليه وإن كان الماء مباحاً في نفسه فيكون كالمنتفع بالنهر المحفور بأعمال الأجراء وقد أعطوا الأجرة من الحرام ولذلك امتنع بعضهم من العنب الحلال من كرم حلال وقال لصاحبه
Di antaranya pula bahwa Bishr (semoga Allah merahmatinya) tidak pernah meminum air dari sungai-sungai yang digali oleh para pejabat/penguasa. Sebab sungai itu merupakan penyebab mengalirnya air dan sampainya air kepadanya, meskipun air itu sendiri hukum asalnya mubah. Dengan demikian, ia seperti orang yang memanfaatkan sungai yang digali oleh buruh-buruh yang diberi upah dari harta haram. Oleh karena itu pula, sebagian mereka menolak memakan buah anggur halal dari kebun yang halal, lalu ia berkata kepada pemiliknya—
أفسدته إذ سقيته من الماء الذي يجري في النهر الذي حفرته الظلمة وهذا أبعد عن الظلم من شرب نفس الماء لأنه احتراز من استمداد العنب من ذلك الماء
—"Engkau telah merusaknya ketika engkau menyiramnya dengan air yang mengalir di sungai yang digali oleh orang-orang zalim." Hal ini bahkan lebih jauh dari kezaliman daripada sekadar meminum air itu sendiri, karena tindakan ini merupakan bentuk kehati-hatian agar buah anggur tersebut tidak menyerap nutrisi dari air tersebut.
وكان بعضهم إذا مر في طريق الحج لم يشرب من المصانع التي عملتها الظلمة مع أن الماء مباح ولكنه بقي محفوظا
Sebagian dari mereka apabila melintasi jalan haji tidak mau meminum dari wadah penampungan air yang dibuat oleh orang-orang zalim, padahal air itu sendiri mubah, tetapi air itu tetap terjaga—
بالمصنع الذي عمل به بمال حرام فكأنه انتفاع به
—dengan penampungan yang dibuat dengan harta haram, sehingga seolah-olah hal itu merupakan bentuk pengambilan manfaat dari harta haram tersebut.
وامتناع ذي النون من تناول الطعام من يد السجان أعظم من هذا كله لأن يد السجان لا توصف بأنها حرام بخلاف الطبق المغصوب إذا حمل عليه ولكنه وصل إليه بقوة اكتسبت بالغذاء الحرام ولذلك تقيأ الصديق ﵁ من اللبن خِيفَةً مِنْ أَنْ يُحْدِثَ الْحَرَامُ فِيهِ قُوَّةً مَعَ أَنَّهُ شَرِبَهُ عَنْ جَهْلٍ وَكَانَ لَا يَجِبُ إِخْرَاجُهُ وَلَكِنَّ تَخْلِيَةَ الْبَطْنِ عَنِ الْخَبِيثِ من ورع الصديقين ومن ذلك التورع من كسب حلال اكتسبه خياط يخيط في المسجد فإن أحمد ﵀ كره جلوس الخياط في المسجد
Dan penolakan Dzun Nun untuk mengambil makanan dari tangan sipir penjara adalah lebih agung dari semua ini, karena tangan sipir penjara tidak dapat disifati sebagai hal yang haram, berbeda dengan piring rampasan jika makanan diangkut di atasnya. Namun makanan itu sampai kepadanya dengan tenaga yang diperoleh dari makanan haram. Oleh karena itu, Abu Bakar as-Siddiq (semoga Allah meredainya) memuntahkan susu karena takut hal yang haram itu menimbulkan tenaga padanya, padahal ia meminumnya karena ketidaktahuan dan tidak wajib baginya untuk memuntahkannya. Akan tetapi, mengosongkan perut dari hal yang buruk termasuk wara' ash-shiddiqin. Di antaranya pula adalah bersikap wara' terhadap penghasilan halal yang diperoleh seorang penjahit yang menjahit di dalam masjid, karena Ahmad (semoga Allah merahmatinya) membenci sikap penjahit yang duduk bekerja di dalam masjid.
وسئل عن المغازلي يجلس في قبة في المقابر وفي وقت يخاف من المطر فقال
Dan beliau ditanya tentang pemintal benang yang duduk di bawah kubah area pemakaman saat khawatir akan turun hujan, maka beliau menjawab—
إنما هي من أمر الآخرة وكره جلوسه فيها
—"Kuburan itu hanyalah untuk urusan akhirat," dan beliau membenci orang tersebut duduk bekerja di dalamnya.
وأطفأ بعضهم سراجاً أسرجه غلامه من قوم يكره ما لهم
Sebagian dari mereka memadamkan lampu yang dinyalakan oleh pelayannya dari minyak/bahan milik kaum yang harta mereka dibenci (diragukan kehalalannya).
وامتنع من تسجير تنور للخبز وقد بقي فيه جمر من حطب مكروه
Dan ia enggan menyalakan tungku pembuat roti sementara di dalamnya masih tersisa bara api dari kayu bakar yang dibenci (makruh/syubhat).
وامتنع بعضهم من أن يحكم شسع نعله في مشعل السلطان فهذه دقائق الورع عند سالكي طريق الآخرة
Sebagian lain menolak mengencangkan tali sandal mereka di bawah cahaya obor milik penguasa. Inilah kelembutan-kelembutan detail wara' di kalangan penempuh jalan akhirat (salik).
والتحقيق فيه أن الورع له أول وهو الامتناع عما حرمته الفتوى وهو ورع العدول وله غاية وهو ورع الصديقين وذلك هو الامتناع من كل ما ليس له مما أخذ بشهوة أو توصل إليه بمكروه أو اتصل بسببه مكروه وبينهما درجات في الاحتياط فَكُلَّمَا كَانَ الْعَبْدُ أَشَدَّ تَشْدِيدًا عَلَى نَفْسِهِ كان أخف ظهراً يوم القيامة وأسرع جوازاً على الصراط وَأَبْعَدَ عَنْ أَنْ تَتَرَجَّحَ كِفَّةُ سَيِّئَاتِهِ عَلَى كفة حسناته وتتفاوت المنازل في الآخرة بحسب تفاوت هذه الدرجات في الورع كما تتفاوت درجات النار في حق الظلمة بحسب تفاوت درجات الحرام في الخبث وَإِذَا عَلِمْتَ حَقِيقَةَ الْأَمْرِ فَإِلَيْكَ الْخِيَارُ فَإِنْ شِئْتَ فَاسْتَكْثِرْ مِنَ الِاحْتِيَاطِ وَإِنْ شِئْتَ فَرَخِّصْ فلنفسك تحتاط وعلى نفسك ترخص والسلام
Hakikat dalam masalah ini adalah bahwa wara' memiliki tingkatan awal, yaitu menahan diri dari apa yang diharamkan oleh fatwa (hukum Fiqih), dan ini adalah wara'-nya orang-orang adil (wara' al-'udul). Wara' juga memiliki puncak (tingkatan tertinggi), yaitu wara'-nya para shiddiqin, yakni menahan diri dari segala sesuatu yang bukan haknya, yang diambil karena dorongan hawa nafsu, dicapai melalui sesuatu yang makruh, atau terhubung dengan sesuatu yang makruh. Di antara kedua tingkatan itu terdapat berbagai derajat kehati-hatian. Maka, semakin keras seorang hamba memperketat dirinya, semakin ringan bebannya kelak pada hari kiamat, semakin cepat ia melintasi ash-shirath (jembatan), dan semakin jauh dari beratnya timbangan keburukan melebihi timbangan kebaikannya. Tingkatan derajat di akhirat pun berbeda-beda sesuai dengan perbedaan derajat dalam wara' ini, sebagaimana tingkatan neraka bagi orang-orang zalim berbeda-beda sesuai dengan tingkatan keharaman dalam hal keburukannya. Apabila engkau telah mengetahui hakikat perkara ini, maka pilihan ada di tanganmu; jika engkau berkenan, perbanyaklah sikap hati-hati (al-ihtiyath), dan jika engkau berkenan, ambillah kelonggaran (rukhshah). Sebab, untuk dirimu sendirilah engkau berhati-hati, dan atas dirimu sendirilah engkau memberi kelonggaran. Wassalam.
الباب الثاني في مراتب الشبهات ومثاراتها وتمييزها عن الحلال والحرام
Bab Kedua: Tentang Tingkatan-Tingkatan Syubhat, Sumber-Sumber Kemunculannya, dan Pemisahannya dari yang Halal dan yang Haram
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ الْحَلَالُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُورٌ مُشْتَبِهَاتٌ لَا يَعْلَمُهَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدِ اسْتَبْرَأَ لِعِرْضِهِ وَدِينِهِ وَمَنْ وَقَعَ في الشبهات واقع الْحَرَامِ كَالرَّاعِي حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يَقَعَ فِيهِ
Rasulullah ﷺ bersabda: "Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar) yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Barangsiapa yang menjaga diri dari perkara syubhat, maka ia telah memelihara kehormatan dan agamanya; dan barangsiapa yang jatuh ke dalam perkara syubhat, maka ia telah jatuh ke dalam perkara haram, seperti seorang penggembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar kawasan terlarang, dikhawatirkan ia akan masuk ke dalamnya."
فَهَذَا الْحَدِيثُ نَصٌّ فِي إِثْبَاتِ الْأَقْسَامِ الثَّلَاثَةِ وَالْمُشْكِلُ مِنْهَا الْقِسْمُ الْمُتَوَسِّطُ الَّذِي لَا يَعْرِفُهُ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ وَهُوَ الشُّبْهَةُ فَلَا بد من بيانها وكشف الغطاء عنها فإن ما لا يعرفه الكثير فقد يعرف القليل فنقول
Hadis ini merupakan dalil yang tegas dalam menetapkan tiga pembagian tersebut. Bagian yang pelik di antaranya adalah bagian tengah yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia, yaitu syubhat. Maka, merupakan suatu keharusan untuk menjelaskannya dan menyingkap tabirnya, karena apa yang tidak diketahui oleh orang banyak bisa jadi diketahui oleh sedikit orang. Maka kami katakan:
الحلال المطلق هو الذي خَلَا عَنْ ذَاتِهِ الصِّفَاتُ الْمُوجِبَةُ لِلتَّحْرِيمِ فِي عينه وانحل عن أسبابه ما تطرق إليه تحريم أو كراهية ومثاله الماء الذي يأخذه الإنسان من المطر قبل أن يقع على ملك أحد يكون هو واقفاً عند جمعه وأخذه من الهواء في ملك نفسه أو في أرض مباحة
Halal mutlak adalah segala sesuatu yang zatnya bersih dari sifat-sifat yang mewajibkan keharaman pada dirinya sendiri, dan sebab-sebab kepemilikannya terbebas dari hal-hal yang dimasuki keharaman atau kemakruhan. Contohnya adalah air yang diambil seseorang dari hujan sebelum jatuh ke atas tanah milik siapa pun, di mana ia berdiri saat mengumpulkan dan mengambilnya langsung dari udara di tanah miliknya sendiri atau di tanah yang mubah.
وَالْحَرَامُ الْمَحْضُ هُوَ مَا فِيهِ صِفَةٌ مُحَرَّمَةٌ لا يشك فيها كالشدة المطربة في الخمر والنجاسة في البول
Sedangkan haram murni (al-haram al-mahdh) adalah segala sesuatu yang di dalamnya terdapat sifat yang diharamkan tanpa ada keraguan padanya, seperti sifat memabukkan pada khamar dan sifat najis pada air kencing.
أَوْ حَصَلَ بِسَبَبٍ مَنْهِيٍّ عَنْهُ قَطْعًا كَالْمُحَصَّلِ بالظلم والربا ونظائره فهذان طَرَفَانِ ظَاهِرَانِ وَيَلْتَحِقُ بِالطَّرَفَيْنِ مَا تَحَقَّقَ أَمْرُهُ وَلَكِنَّهُ احْتَمَلَ تَغَيُّرَهُ وَلَمْ يَكُنْ لِذَلِكَ الِاحْتِمَالِ سبب يدل عليه فإن صيد البر والبحر حلال ومن أخذ ظبية فيحتمل أن يكون قد ملكها صياد ثم أفلتت منه وكذلك السمك يحتمل أن يكون قد تزلق من الصياد بعد وقوعه في يده وخريطته فمثل هذا الاحتمال لا يتطرق إلى ماء المطر المختطف من الهواء ولكنه في معنى ماء المطر
Atau sesuatu yang didapatkan melalui sebab yang dilarang secara pasti, seperti yang diperoleh dengan kezaliman, riba, dan sejenisnya. Kedua hal ini merupakan dua ujung batas yang jelas. Namun, digabungkan ke dalam dua ujung batas tersebut perkara yang keadaannya sudah pasti tetapi mengandung kemungkinan perubahan, padahal tidak ada sebab yang menunjukkan pada kemungkinan tersebut. Sebab, hewan buruan darat dan laut adalah halal; jika seseorang menangkap seekor rusa betina, ada kemungkinan rusa tersebut pernah dimiliki pemburu lain lalu lepas darinya. Demikian pula ikan, ada kemungkinan terlepas dari pemburu setelah sempat masuk ke dalam tangannya atau jaringnya. Kemungkinan seperti ini memang tidak terjadi pada air hujan yang ditampung langsung dari udara, tetapi secara makna ia berada dalam kedudukan yang sama dengan air hujan.
والاحتراز منه وسواس ولنسم هذا الفن ورع الموسوسين حتى تلتحق به أمثاله وذلك لأن هذا وهم مجرد لا دلالة عليه نعم لو دل عليه دليل فإن كان قاطعاً كما لو وجد حلقة في أذن السمكة أو كان محتملاً كما لو وجد على الظبية جراحة يحتمل أن يكون كياً لا يقدر عليه إلا بعد الضبط
Sikap berhati-hati (menghindari) perkara seperti ini adalah keragu-raguan yang berlebihan (waswas), dan mari kita namai jenis ini sebagai "wara' orang-orang yang waswas" agar contoh-contoh serupa digabungkan padanya. Hal itu karena kemungkinan tersebut hanyalah prasangka belaka (wahm) tanpa adanya petunjuk/dalil yang mendukungnya. Ya, jika ada petunjuk yang menunjukkannya, baik yang bersifat pasti seperti ditemukannya anting-anting pada telinga ikan, atau yang bersifat kemungkinan seperti ditemukannya bekas luka pada rusa yang memungkinkan merupakan bekas besi panas (kay) yang tidak mungkin dilakukan kecuali setelah ditangkap,
ويحتمل أن يكون جرحاً فهذا موضع الورع وإذا انتفت الدلالة من كل وجه فالاحتمال المعدوم دلالته كإحتمال المعدوم في نفسه ومن هذا الجنس من يستعير داراً فيغيب عنه المعير فيخرج ويقول لعله مات وصار الحق للوارث فهذا وسواس إذ لم يدل على موته سبب قاطع أو مشكك إذ الشبهة المحذورة ما تنشأ من الشك والشك عبارة عن اعتقادين متقابلين نشآ عن سببين فما لا سبب له لا يثبت عقده في النفس حتى يساوي العقد المقابل له فيصير شكاً ولهذا نقول من شك أنه صلى ثلاثاً أو أربعاً أخذ بالثلاث إذ الأصل عدم الزيادة
serta memungkinkan pula itu sekadar luka biasa, maka inilah tempat berlakunya wara'. Apabila petunjuk tersebut tidak ada sama sekali dari segala sisi, maka kemungkinan yang tidak memiliki petunjuk itu sama halnya dengan kemungkinan yang tidak ada sama sekali secara asal. Termasuk dalam jenis ini adalah seseorang yang meminjam rumah, lalu pemilik rumah yang meminjamkan itu pergi (gaib), kemudian si peminjam keluar seraya berkata, "Bisa jadi ia telah meninggal dunia dan haknya telah beralih kepada ahli waris." Ini adalah keraguan waswas, karena tidak ada sebab pasti maupun yang meragukan yang menunjukkan kematiannya. Sebab, syubhat yang harus dihindari adalah apa yang timbul dari keraguan (syakk), dan keraguan itu adalah dua keyakinan yang saling berhadapan yang timbul dari dua sebab. Maka, apa yang tidak memiliki sebab tidak akan menetap ikatan keyakinannya di dalam jiwa hingga setara dengan ikatan keyakinan yang berlawanan dengannya yang menjadikannya sebuah keraguan. Oleh karena itu, kami katakan: barangsiapa ragu apakah ia telah shalat tiga atau empat rakaat, hendaklah ia mengambil yang tiga rakaat, karena hukum asalnya adalah tidak adanya tambahan.
ولو سئل إنسان أن صلاة الظهر التي أداها قبل هذا بعشر سنين كانت ثلاثاً أو أربعاً لم يتحقق قطعاً أنها أربعة وإذا لم يقطع جوز أن تكون ثلاثة وهذا التجويز لا يكون شكا إذ لم يحضره سبب أوجب اعتقاد كونها ثلاثاً فلتفهم حقيقة الشك حتى لا يشتبه الوهم والتجويز بغير سبب فهذا يلتحق بالحلال المطلق
Seandainya seseorang ditanya apakah shalat Dzuhur yang dikerjakannya sepuluh tahun lalu itu tiga rakaat atau empat rakaat, ia tentu tidak meyakini secara pasti bahwa shalatnya empat rakaat; dan ketika ia tidak meyakini secara pasti, ia mengandaikan kemungkinan bahwa shalatnya tiga rakaat. Pengandaian kemungkinan ini tidak bisa dinamakan sebagai keraguan (syakk), karena tidak ada sebab yang hadir padanya yang mewajibkan keyakinan bahwa shalatnya tiga rakaat. Maka pahamilah hakikat keraguan agar prasangka belaka (wahm) dan pengandaian tanpa sebab tidak membingungkanmu. Maka jenis ini digabungkan ke dalam hukum Halal Mutlak.
ويلتحق بالحرام المحض ما تحقق تحريمه وإن أمكن طريان محلل ولكن لم يدل عليه سبب كمن في يدل طعام لمورثه الذي لا وارث له سواه فغاب عنه فقال يحتمل أنه مات وقد انتقل الملك إلي فآكله فإقدامه عليه إقدام على حرام محض لأنه احتمال لا مستند له فلا ينبغي أن يعد هذا النمط من أقسام الشبهات وإنما الشبهة نعني بها ما اشْتَبَهَ عَلَيْنَا أَمْرُهُ بِأَنْ تَعَارَضَ لَنَا فِيهِ اعتقادان صدرا عن سببين مقتضيين للاعتقادين
Dan digabungkan ke dalam Haram Murni apa yang telah pasti keharamannya, meskipun memungkinkan timbulnya hal yang menghalalkan namun tidak ada sebab yang menunjukkannya. Seperti seseorang yang memegang makanan milik orang yang akan diwarisinya—sementara ia tidak memiliki ahli waris lain selain dirinya—lalu pemiliknya pergi, kemudian orang tersebut berkata, "Ada kemungkinan ia telah meninggal dan kepemilikan telah berpindah kepadaku, maka aku akan memakannya." Keberaniannya untuk memakan makanan tersebut adalah tindakan melanggar yang tergolong haram murni, karena kemungkinan tersebut tidak memiliki landasan. Maka tidak sepatutnya pola seperti ini dihitung sebagai bagian dari jenis-jenis syubhat. Yang kami maksud dengan syubhat hanyalah apa yang kabur/samar perkaranya bagi kita disebabkan oleh bertentangannya dua keyakinan yang bersumber dari dua sebab yang menuntut lahirnya kedua keyakinan tersebut.
ومثارات الشبهة خمسة المثار الأول الشك في السبب المحلل والمحرم
Sumber-sumber kemunculan syubhat ada lima. Sumber pertama: Keraguan pada sebab yang menghalalkan dan yang mengharamkan.
وذلك لا يخلو إما أن يكون متعادلاً أو غلب أحد الاحتمالين فَإِنْ تَعَادَلَ الِاحْتِمَالَانِ كَانَ الْحُكْمُ لِمَا عُرِفَ قَبْلَهُ فَيُسْتَصْحَبُ وَلَا يُتْرَكُ بِالشَّكِّ وَإِنْ غَلَبَ أحد الاحتمالين عليه بأن صدر عن دَلَالَةٌ مُعْتَبَرَةٌ كَانَ الْحُكْمُ لِلْغَالِبِ وَلَا يَتَبَيَّنُ هَذَا إِلَّا بِالْأَمْثَالِ وَالشَّوَاهِدِ فَلْنُقَسِّمْهُ إِلَى أَقْسَامٍ أَرْبَعَةٍ
Hal itu tidak lepas dari dua kemungkinan: bisa jadi keduanya seimbang, atau salah satu dari dua kemungkinan itu lebih unggul (dominan). Jika kedua kemungkinan itu seimbang, maka hukumnya ditetapkan berdasarkan apa yang diketahui sebelumnya, sehingga hukum asal tersebut diberlakukan (istishhab) dan tidak ditinggalkan hanya karena adanya keraguan. Dan jika salah satu dari dua kemungkinan itu lebih kuat karena bersumber dari dalil yang terhitung (mu'tabarah), maka hukumnya mengikut pada kemungkinan yang unggul tersebut. Hal ini tidak dapat menjadi jelas kecuali dengan contoh-contoh dan bukti-bukti pendukung. Oleh karena itu, mari kita bagikan menjadi empat bagian:
الْقِسْمُ الْأَوَّلُ أَنْ يَكُونَ التَّحْرِيمُ مَعْلُومًا من قبل ثم يقع الشك في المحل فَهَذِهِ شُبْهَةٌ يَجِبُ اجْتِنَابُهَا وَيَحْرُمُ الْإِقْدَامُ عَلَيْهَا
Bagian Pertama: Keharaman itu telah diketahui sebelumnya, kemudian timbul keraguan pada objeknya (al-mahall). Maka ini adalah syubhat yang wajib dijauhi dan haram dilakukan.
مثاله أن يرمي إلى صيد فيجرحه ويقع في الماء فيصادفه ميتاً ولا يدري أنه مات بالغرق أو بالجرح فهذا حرام لأن الأصل التحريم إلا إذ مات بطريق معين وقد وقع الشك في الطريق فلا يترك اليقين بالشك كما في الأحداث والنجاسات وركعات الصلاة وغيرها وعلى هذا ينزل قوله ﷺ لعدي بن حاتم لا تأكله فلعله قتله غير كلبك
Contohnya adalah seseorang yang memanah hewan buruan lalu melukainya, namun hewan itu jatuh ke dalam air dan ditemukan dalam keadaan mati, sementara ia tidak mengetahui apakah hewan itu mati karena tenggelam atau karena luka panahnya. Maka ini hukumnya haram, karena hukum asalnya adalah haram kecuali jika hewan itu mati melalui cara tertentu yang menghalalkan, sedangkan timbul keraguan pada cara kematiannya. Maka keyakinan tidak ditinggalkan karena keraguan, sebagaimana dalam perkara hadas, najis, jumlah rakaat shalat, dan lainnya. Berdasarkan kaidah inilah dipahami sabda Nabi ﷺ kepada 'Adi bin Hatim: "Janganlah engkau memakannya, karena mungkin ada anjing lain selain anjingmu yang membunuhnya."
فلذلك كان ﷺ إذا أتي بشيء اشتبه عليه أنه صدقة أو هدية سأل عنه حتى يعلم أيهما هو
Oleh karena itu, apabila disajikan kepada Nabi ﷺ sesuatu yang samar baginya apakah itu sedekah atau hadiah, beliau bertanya terlebih dahulu tentangnya hingga beliau mengetahui yang mana di antara keduanya.
وروي أنه ﷺ أرق ليلة فقالت له بعض نسائه أرقت يا رسول الله فقال أجل وجدت تمرة فخشيت أن تكون من الصدقة
Diriwayatkan bahwasanya Nabi ﷺ tidak bisa tidur (gelisah) pada suatu malam, lalu sebagian istri beliau bertanya, "Apakah engkau tidak bisa tidur, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Ya, aku menemukan sebutir kurma (lalu memakannya), maka aku khawatir kurma itu berasal dari harta sedekah."
وفي رواية فأكلتها فخشيت أن تكون من الصدقة ومن ذلك ما روي عن بعضهم أنه قال كنا في سفر مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فأصابنا الجوع فنزلنا منزلا
Dalam suatu riwayat disebutkan, 'Maka aku memakannya, lalu aku khawatir jika makanan itu berasal dari barang sedekah.' Di antaranya pula adalah apa yang diriwayatkan dari sebagian mereka (sahabat) yang berkata, 'Kami pernah berada dalam suatu perjalanan bersama Rasulullah ﷺ, lalu kami ditimpa kelaparan, maka kami singgah di suatu tempat…
كثير الضباب فبينا القدور تغلي بها إذ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أمة مسخت من بني إسرائيل أخشى أن تكون هذه فأكفأنا القدور
…yang banyak terdapat dhab (kadal gurun). Ketika kuali-kuali sedang mendidih berisi daging dhab tersebut, tiba-tiba Rasulullah ﷺ bersabda, 'Ada suatu umat dari Bani Israil yang diubah wujudnya (dimasakh), dan aku khawatir hewan ini adalah bagian darinya.' Maka kami pun menumpahkan kuali-kuali tersebut.
ثم أعمله الله بعد ذلك أنه لم يمسخ الله خلقاً فجعل له نسلاً
Kemudian Allah memberitahukan kepada beliau setelah itu bahwa Allah tidak pernah mengubah wujud suatu makhluk lalu menjadikan baginya keturunan.
وكان امتناعه أولاً لأن الأصل عدم الحل وشك في كون الذبح محللاً
Sikap menahan diri beliau pada awalnya adalah karena hukum asal (al-ashl) sesuatu adalah tidak halal (keharaman), dan timbul keraguan apakah penyembelihan tersebut telah menghalalkannya.
الْقِسْمُ الثَّانِي أَنْ يُعْرَفَ الْحِلُّ وَيُشَكَّ فِي المحرم فالأصل الحل وله الحكم
Bagian Kedua: Kehalalan telah diketahui dengan pasti, namun timbul keraguan pada faktor yang mengharamkannya. Maka hukum asalnya adalah halal, dan hukum itulah yang berlaku.
كما إذا نكح امرأتين رجلان وطار طائر فقال أحدهما إن كان هذا غراباً فامرأتي طالق وقال الآخر إن لم يكن غراباً فامرأتي طالق
Sebagaimana apabila dua orang laki-laki menikahi dua orang wanita, lalu seekor burung terbang. Salah seorang dari mereka berkata, 'Jika burung ini adalah gagak, maka istriku tertalak.' Sedangkan yang lain berkata, 'Jika burung ini bukan gagak, maka istriku tertalak.'
والتبس أمر الطائر فلا يقضى بالتحريم في واحدة منهما ولا يلزمهما اجتنابهما ولكن الورع اجتنابهما وتطليقهما حتى يحلا لسائر الأزواج وقد أمر مكحول بالاجتناب في هذه المسئلة وأفتى الشعبي بالاجتناب في رجلين كانا قد تنازعا فقال أحدهما للآخر أنت حسود فقال الآخر أحسدنا زوجته طالق ثلاثاً فقال الآخر نعم وأشكل الأمر وهذا إن أراد به اجتناب الورع فصحيح وإن أراد التحريم المحقق فلا وجه له إذ ثبت في المياه والنجاسات والأحداث والصلوات أن اليقين لا يجب تركه بالشك وهذا في معناه
Lalu perkara burung tersebut menjadi samar, maka tidak dijatuhkan hukum haram atas salah satu pun dari kedua istri tersebut, dan tidak diwajibkan bagi kedua suami itu untuk menjauhi mereka. Akan tetapi, sikap wara' menuntut untuk menjauhi keduanya dan menalak keduanya agar mereka menjadi halal bagi suami-suami yang lain. Makhul telah memerintahkan untuk menjauhi (istri) dalam masalah ini, dan Asy-Sya'bi memberi fatwa untuk menjauhi pada kasus dua orang laki-laki yang saling berselisih; salah seorang berkata kepada yang lain, 'Engkau orang yang dengki,' lalu yang lain menjawab, 'Siapa di antara kita yang lebih dengki, maka istrinya tertalak tiga.' Yang satunya berkata, 'Ya.' Lalu perkara itu menjadi rumit. Apabila yang dimaksud dengannya adalah menjauhi atas dasar wara', maka itu benar. Namun jika yang dimaksud adalah keharaman secara pasti (tahrim muhaqqaq), maka tidak ada landasannya, sebab telah tetap dalam hukum air, najis, hadas, dan shalat bahwa keyakinan tidak boleh ditinggalkan hanya karena adanya keraguan, dan masalah ini bermakna sama.
فإن قلت وأي مناسبة بين هذا وبين ذلك فاعلم أنه لا يحتاج إلى المناسبة فإنه لازم من غير ذلك في بعض الصور فإنه مهما تيقن طهارة الماء ثم شك في نجاسته جاز له أن يتوضأ به فكيف لا يجوز أن يشربه وإذا جوز الشرب فقد سلم أن اليقين لا يزال بالشك إلا أن ههنا دقيقة وهو أن وزان الماء أن يشك في أنه طلق زوجته أم لا فيقال الأصل أنه ما طلق ووزان مسئلة الطائر أن يتحقق نجاسة أحد الإناءين ويشتبه عينه فلا يجوز أن يستعمل أحدهما بغير اجتهاد لأنه قابل يقين النجاسة بيقين الطهارة فيبطل الاستصحاب فكذلك ههنا قد وقع الطلاق على إحدى الزوجين قطعاً والتبس عين المطلقة بغير المطلقة فنقول اختلف أصحاب الشافعي في الإناءين على ثلاثة أوجه فقال قوم يستصحب بغير اجتهاد وقال قوم بعد حصول يقين النجاسة في مقابلة يقين الطهارة يجب الاجتناب ولا يغني الاجتهاد
Jika engkau bertanya, 'Kesesuaian apakah yang ada antara masalah ini dengan masalah itu?' Maka ketahuilah bahwa hal itu tidak membutuhkan kesesuaian khusus, karena hal itu berlaku secara niscaya dalam sebagian kasus. Sebab, kapan saja seseorang meyakini kesucian air lalu ragu akan kenajisannya, ia boleh berwudhu dengannya, maka bagaimana mungkin tidak boleh meminumnya? Apabila kebolehan meminumnya diakui, berarti telah disepakati bahwa keyakinan tidak dapat dihilangkan oleh keraguan. Hanya saja di sini ada sebuah kecermatan (daqa'iq), yaitu bahwa padanan kasus air adalah seseorang ragu apakah ia telah menalak istrinya atau belum, maka dikatakan: Hukum asalnya adalah ia belum menalaknya. Sedangkan padanan kasus burung adalah diyakininya najis pada salah satu dari dua bejana namun wujud persatunya samar, maka tidak boleh menggunakan salah satunya tanpa ijtihad, karena ia memperhadapkan keyakinan najis dengan keyakinan suci sehingga gugurlah istishab. Begitu pula di sini, talak telah jatuh pada salah satu dari dua istri secara pasti, dan wujud istri yang ditalak menjadi samar dengan yang tidak ditalak. Maka kami katakan: Para pengikut Imam Asy-Syafi'i berbeda pendapat mengenai dua bejana ini dalam tiga pandangan: sebagian berkata bahwa istishab tetap berlaku tanpa ijtihad, dan sebagian lain berkata bahwa setelah terjadinya keyakinan najis yang berhadapan dengan keyakinan suci, maka wajib menjauhinya dan ijtihad tidaklah cukup.
وقال المقتصدون يجتهد وهو الصحيح ولكن وزانه أن تكون له زوجتان فيقول إن كان غرابا فزينب طلق وإن لم يكن فعمرة طالق فلا جرم لا يجوز له غشيانهما بالاستصحاب ولا يجوز الاجتهاد إذ لا علامة ونحرمهما عليه لأنه لو وطئهما كان مقتحماً للحرام قطعاً وإن وطيء إحداهما وقال أقتصر على هذه كان متحكماً بتعيينها من غير ترجيح
Dan golongan menengah (al-muqtashidun) berkata bahwa ia harus berijtihad, dan inilah pendapat yang shahih. Akan tetapi padanan kasusnya adalah apabila seseorang memiliki dua istri lalu berkata, 'Jika burung ini gagak maka Zainab tertalak, dan jika bukan maka 'Amrah tertalak.' Maka tentu saja ia tidak boleh menggauli keduanya dengan berlandaskan istishab, dan tidak boleh pula berijtihad karena tidak ada tanda (alamat) petunjuk, dan kami mengharamkan keduanya baginya. Sebab jika ia menggauli keduanya, berarti ia secara pasti telah menerjang keharaman. Dan jika ia menggauli salah satunya seraya berkata, 'Aku membatasi diri pada yang ini saja,' berarti ia bertindak sewenang-wenang dalam menentukan tanpa adanya faktor penguat (tarjih).
ففي هذا افترق حكم شخص واحد أو شخصين لأن التحريم على شخص واحد متحقق بخلاف الشخصين
Maka dalam hal ini berbedalah hukum bagi satu orang dengan dua orang, karena keharaman atas satu orang adalah pasti (mutahaqqiq), berbeda halnya dengan dua orang.
إذ كل واحد شك في التحريم في حق نفسه
Sebab masing-masing dari keduanya berada dalam keraguan mengenai keharaman dalam hak dirinya sendiri.
فإن قيل فلو كان الإناء أن لشخصين فينبغي أن يستغني عن الاجتهاد ويتوضأ كل واحد بإنائه لأنه تيقن طهارته وقد شك الآن فيه فنقول هذا محتمل في الفقه والأرجح في ظني المنع وأن تعدد الشخصين ههنا كاتحاده لأن صحة الوضوء لا تستدعي ملكاً بل وضوء الإنسان بماء غيره في رفع الحدث كوضوئه بماء نفسه فلا يتبين لاختلاف الملك واتحاده أثر بخلاف الوطء لزوجة الغير فإنه لا يحل ولأن للعلامات مدخلاً في النجاسات والاجتهاد فيه ممكن بخلاف الطلاق فوجب تقوية الاستصحاب بعلامة ليدفع بها قوة يقين النجاسة المقابلة ليقين الطهارة وأبواب الاستصحاب والترجيحات من غوامض الفقه ودقائقه وقد استقصيناه في كتب الفقه ولسنا نقصد الآن إلا التنبيه على قواعدها
Jika dikatakan, 'Apabila dua bejana itu milik dua orang, mestinya tidak diperlukan ijtihad dan masing-masing boleh berwudhu dengan bejananya sendiri karena ia meyakini kesuciannya dan baru ragu sekarang?' Maka kami katakan: Hal ini memiliki kemungkinan dalam fiqih, namun yang lebih unggul (al-arjah) menurut prasangkaku adalah larangan (ketidakbolehannya), dan bahwa banyaknya dua orang di sini sama seperti satu orang. Sebab, keabsahan wudhu tidak menuntut kepemilikan (milik), melainkan wudhu seseorang dengan air milik orang lain dalam menyucikan hadas adalah seperti wudhunya dengan airnya sendiri, sehingga perbedaan atau penyatuan kepemilikan tidak memberikan pengaruh, berbeda halnya dengan persetubuhan (wathi') terhadap istri orang lain karena hal itu tidak halal. Lagipula, tanda-tanda (tanda fisik/petunjuk) memiliki peran dalam hal kenajisan dan ijtihad padanya adalah memungkinkan, berbeda dengan masalah talak. Maka wajib memperkuat istishab dengan suatu tanda guna menolak kekuatan keyakinan najis yang berhadapan dengan keyakinan suci. Bab-bab istishab dan tarjihat termasuk di antara perkara fiqih yang rumit dan halus, dan kami telah membahasnya secara tuntas dalam kitab-kitab fiqih; kami tidak bermaksud saat ini melainkan untuk memberikan peringatan atas kaidah-kaidahnya.
الْقِسْمُ الثَّالِثُ أَنْ يَكُونَ الْأَصْلُ التَّحْرِيمُ وَلَكِنْ طَرَأَ مَا أَوْجَبَ تَحْلِيلَهُ بِظَنٍّ غَالِبٍ فَهُوَ مَشْكُوكٌ فِيهِ وَالْغَالِبُ حِلُّهُ فَهَذَا يُنْظَرُ فِيهِ فَإِنِ اسْتَنَدَ غَلَبَةُ الظَّنِّ إِلَى سَبَبٍ مُعْتَبَرٍ شرعا فالذي نختاره فيه أنه يحل واجتنابه مِنَ الْوَرَعِ
Bagian Ketiga: Hukum asalnya adalah haram, tetapi timbul sesuatu yang mewajibkan kehalalannya berdasarkan prasangka yang kuat (dzan ghalib). Maka ia berada dalam keraguan, namun yang dominan adalah kehalalannya. Hal ini perlu ditinjau: jika prasangka kuat tersebut bersandar pada sebab yang diakui secara syariat, maka pendapat yang kami pilih dalam hal ini adalah bahwa ia halal, sedangkan menjauhinya merupakan sikap wara'.
مِثَالُهُ أَنْ يَرْمِيَ إِلَى صَيْدٍ فَيَغِيبَ ثُمَّ يُدْرِكَهُ مَيِّتًا وَلَيْسَ عَلَيْهِ أَثَرٌ سِوَى سَهْمِهِ وَلَكِنْ يُحْتَمَلُ أَنَّهُ مَاتَ بِسَقْطَةٍ أو بسبب آخر فإن ظهر عليه أثر صدمة أو جراحة أخرى التحق بالقسم الأول
Contohnya: seseorang memanah hewan buruan lalu hewan itu menghilang, kemudian ia menemukannya dalam keadaan mati dan tidak ada bekas padanya selain anak panahnya. Namun ada kemungkinan hewan itu mati karena jatuh atau karena sebab lain. Apabila tampak padanya bekas hantaman atau luka lain, maka ia dimasukkan ke dalam Bagian Pertama.
وقد اختلف قول الشافعي ﵀ في هذا القسم والمختار أَنَّهُ حَلَالٌ لِأَنَّ الْجُرْحَ سَبَبٌ ظَاهِرٌ وَقَدْ تحقق والأصل أنه لم يطرأ غيره عليه فطريانه مشكوك فيه فلا يدع اليقين بالشك
Pendapat Imam Asy-Syafi'i rahimahullah berbeda-beda mengenai bagian ini. Pendapat yang terpilih (al-mukhtar) adalah bahwa hewan tersebut halal, karena luka panah merupakan sebab yang nyata dan telah terbukti pasti, sedangkan hukum asalnya adalah tidak ada sebab lain yang timbul padanya. Maka timbulnya sebab lain itu bersifat diragukan, dan keyakinan tidak boleh ditinggalkan karena keraguan.
فإن قيل فقد قال ابن عباس كل ما أصميت ودع ما أنميت
Jika dikatakan: Bukankah Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma pernah berkata, 'Makanlah apa yang kamu bunuh secara langsung (ashmaita) dan tinggalkanlah apa yang menghilang lalu mati (anmaita)'?
وروت عائشة ﵂ أن رجلاً أتى النبي ﷺ بأرنب فقال رميتى فعرفت فيها سمهي فقال أصميت أو أنميت فقال بل أنميت قال إن الليل خلق من خلق الله لا يقدر قدره إلا الذي خلقه فلعله أعان على قتله شيء
Dan Aisyah radhiyallahu 'anha meriwayatkan bahwa seseorang mendatangi Nabi ﷺ membawa seekor kelinci seraya berkata, 'Aku telah memanah lalu aku mengenali anak panahku padanya.' Maka beliau bersabda, 'Apakah engkau membunuhnya langsung (ashmaita) atau ia menghilang lalu mati (anmaita)?' Orang itu menjawab, 'Bahkan ia menghilang lalu mati.' Beliau bersabda, 'Sesungguhnya malam adalah salah satu makhluk ciptaan Allah yang tidak ada yang dapat mengukur kadarnya selain Yang Menciptakannya, maka boleh jadi ada sesuatu lain yang membantu membunuhnya.'
وكذلك قال ﷺ لعدي بن حاتم في كلبه المعلم وإن أكل فلا تأكل فإني أخاف أن يكون إنما أمسك على نفسه
Demikian pula bersabda ﷺ kepada 'Adi bin Hatim mengenai anjing pemburunya yang terlatih, 'Dan jika anjing itu telah memakannya, maka janganlah engkau makan, karena aku khawatir jangan-jangan ia menangkapnya hanya untuk dirinya sendiri.'
والغالب أن الكلب المعلم لا يسئ خلقه ولا يمسك إلا على صاحبه ومع ذلك نهى عنه وهذا التحقيق وهو أن الحل إنما يتحقق إذا تحقق تمام السبب وتمام السبب بأن يفضي إلى الموت سليماً من طريان غيره عليه وقد شك فيه فهو شك في تمام السبب حتى اشتبه أن موته على الحل أو على الحرمة فلا يكون هذا في معنى ما تحقق موته على الحل في ساعته ثم شك فيما يطرأ عليه فالجواب أن نهي ابن عباس ونهى رسول الله ﷺ محمول على الورع والتنزيه بدليل ما روي في بعض الروايات أنه قال كل منه وإن غاب عنك ما لم تجد فيه أثراً غير سهمك
Padahal secara umum (al-ghalib), anjing terlatih tidak berakhlak buruk dan tidak menangkap melainkan untuk tuannya; meski demikian beliau tetap melarangnya. Inilah penjelasannya secara cermat, yaitu bahwa kehalalan itu baru terbukti apabila sempurnanya sebab telah terbukti pasti, dan sempurnanya sebab adalah jika mengantarkan pada kematian dalam keadaan selamat dari masuknya sebab lain padanya, sedangkan dalam kasus ini hal itu diragukan. Maka itu adalah keraguan dalam kesempurnaan sebab, hingga menjadi samar apakah kematiannya di atas kehalalan atau keharaman, sehingga hal ini tidak sepadan dengan sesuatu yang telah terbukti kematiannya atas dasar kehalalan pada saat itu lalu timbul keraguan mengenai apa yang mendatanginya kelak. Maka jawabannya adalah bahwa larangan Ibnu Abbas dan larangan Rasulullah ﷺ dipahami sebagai bentuk wara' dan penyucian (tanzih), berdasarkan dalil yang diriwayatkan dalam sebagian riwayat bahwa beliau bersabda, 'Makanlah darinya meskipun ia sempat menghilang darimu, selama engkau tidak menemukan padanya bekas selain anak panahmu.'
وهذا تنبيه على المعنى الذي ذكرناه وهو أنه إن وجد أثراً آخر فقد تعارض السببان بتعارض الظن وإن لم يجد سوى جرحه حصل غلبة الظن فيحكم به على الاستصحاب كما يحكم على الاستصحاب بخبر الواحد والقياس المظنون والعمومات المظنونة وغيرها
Dan ini merupakan peringatan atas makna yang telah kami sebutkan, yaitu jika ia menemukan bekas lain, maka kedua sebab telah saling bertentangan akibat bertentangannya dugaan (dzan). Namun jika ia tidak menemukan selain luka panahnya, maka terwujudlah prasangka kuat (ghalabatudh-dzan), sehingga ditetapkan hukum dengannya berdasarkan istishab, sebagaimana ditetapkan hukum berdasarkan istishab pada khabar ahad, qiyas yang bersifat dzanni, keumuman-keumuman yang bersifat dzanni, dan lain sebagainya.
وأما قول القائل إنه لم يتحقق موته على الحل في ساعة فيكون شكاً في السبب فليس كذلك بل السبب قد تحقق إذ الجرح سبب الموت فطربان الغير شك فيه ويدل على صحة هذا الإجماع على أن من جرح وغاب فوجد ميتاً فيجب القصاص على جارحه بل إن لم يغب يحتمل أن يكون موته بيهجان خلط في باطنه كما يموت الإنسان فجأة فينبغي أن لا يجب القصاص إلا بحز الرقبة والجرح المذفف لأن العلل القاتلة في الباطن لا تؤمن ولأجلها يموت الصحيح فجأة ولا قائل بذلك مع أن القصاص مبناه على الشبهة وكذلك جنين المذكاة حلال ولعله مات قبل ذبح الأصل لا بسبب ذبحه أو لم ينفخ فيه الروح وغرة الجنين تجب ولعل الروح لم ينفخ فيه أو كان قد مات قبل الجناية بسبب آخر ولكن يبني على الأسباب الظاهرة فإن الاحتمال الآخر إذا لم يستند إلى دلالة تدل عليه التحق بالوهم والوسواس كما ذكرناه فكذلك هذا
Adapun perkataan orang yang berpendapat bahwa kematian hewan tersebut belum dipastikan terjadi dalam keadaan halal pada suatu saat tertentu, sehingga hal itu menjadi keraguan terhadap sebab kematian, maka tidaklah demikian. Justru sebabnya telah dipastikan, karena luka adalah sebab kematian, sedangkan masuknya faktor lain adalah hal yang diragukan. Hal yang menunjukkan kebenaran ini adalah ijmak bahwa barang siapa melukai seseorang lalu orang yang dilukai itu menghilang dan kemudian ditemukan dalam keadaan tewas, maka wajib dilaksanakan qisas atas orang yang melukainya. Bahkan jika ia tidak menghilang pun, ada kemungkinan kematiannya disebabkan oleh gejolak cairan tubuh (penyakit) di dalam batinnya sebagaimana orang mati mendadak. Jika demikian, seharusnya qisas tidak wajib kecuali dengan memenggal leher atau luka fatal yang mematikan seketika, karena penyakit-penyakit mematikan di dalam tubuh tidak dapat dijamin aman dari bahaya, dan karenanya orang sehat pun bisa mati mendadak, padahal tidak ada seorang pun yang berpendapat demikian, padahal qisas itu gugur dengan adanya syubhat (keraguan). Begitu pula janin dari hewan yang disembelih adalah halal, padahal ada kemungkinan ia mati sebelum induknya disembelih, bukan karena penyembelihannya, atau ruhnya belum ditiupkan. Demikian juga kewajiban ghurrah (denda) janin yang digugurkan, padahal boleh jadi ruh belum ditiupkan kepadanya atau ia telah mati sebelum terjadinya penganiayaan karena sebab lain. Namun, hukum dibangun di atas sebab-sebab yang tampak, sebab kemungkinan lain jika tidak didasarkan pada petunjuk (dalil) yang mengarah kepadanya, maka akan digolongkan sebagai waham (persangkaan hampa) dan waswas sebagaimana telah kami sebutkan. Begitu pula dalam masalah ini.
وأما قوله ﷺ أخاف أن يكون إنما أمسك على نفسه فللشافعي ﵀
Adapun sabda Rasulullah ﷺ, "Aku khawatir anjing itu menangkap buruan untuk dirinya sendiri," maka bagi Imam Asy-Syafi'i rahimahullah…
في هذه الصورة قولان والذي نختاره الحكم بالتحريم لأن السبب قد تعارض إذ الكلب المعلم كالآلة والوكيل يمسك على صاحبه فيحل ولو استرسل المعلم بنفسه فأخذ لم يحل لأنه يتصور منه أن يصطاد لنفسه ومهما انبعث بإشارته ثم أكل دل ابتداء انبعاثه على أنه نازل منزلة آلته وأنه يسعى في وكالته ونيابته ودل أكله آخراً على أنه أمسك لنفسه لا لصاحبه فقد تعارض السبب الدال فيتعارض الاحتمال والأصل التحريم فيستصحب ولا يزال بالشك وهو كما لو وكل رجلاً بأن يشتري له جارية فاشترى له جارية ومات قبل أن يبين أنه اشتراها لنفسه أو لموكله يحل للموكل وطؤها لأن للوكيل قدرة على الشراء لنفسه ولموكله جميعاً ولا دليل مرجح والأصل التحريم فهذا يلتحق بالقسم الأول لا بالقسم الثالث
Dalam permasalahan ini terdapat dua pendapat. Pendapat yang kami pilih adalah hukum haram, karena sebabnya saling bertentangan (ta'arudh). Sebab anjing yang terlatih bagaikan alat dan wakil yang menangkap buruan untuk pemiliknya sehingga hukumnya halal. Namun jika anjing terlatih itu terlepas sendiri lalu menangkap buruan, maka tidak halal, karena memungkinkan baginya berburu untuk dirinya sendiri. Apabila anjing itu bergerak karena perintah pemiliknya lalu ia memakannya, maka pergerakan awalnya menunjukkan bahwa ia berkedudukan sebagai alat dan berikhtiar sebagai wakil dan pengganti pemiliknya, sedangkan tindakannya memakan hasil buruan di akhirnya menunjukkan bahwa ia menangkap untuk dirinya sendiri, bukan untuk pemiliknya. Maka petunjuk sebabnya saling bertentangan, sehingga kemungkinannya pun bertentangan. Hukum asalnya adalah haram, sehingga hukum asal ini diberlakukan (istishhab) dan tidak boleh dihilangkan dengan keraguan. Hal ini seperti seorang yang mewakilkan kepada seseorang untuk membelikan seorang budak perempuan, lalu wakil itu membeli budak perempuan tersebut dan meninggal sebelum menjelaskan apakah ia membelinya untuk dirinya sendiri atau untuk pemberi kuasa (muwakkil). Apakah halal bagi muwakkil menyetubuhinya? Sebab wakil memiliki kemampuan untuk membeli bagi dirinya sendiri maupun bagi muwakkil-nya sekaligus, sementara tidak ada dalil yang memenangkan salah satu kemungkinan, sedangkan hukum asalnya adalah haram. Maka masalah ini digolongkan ke dalam kelompok pertama, bukan kelompok ketiga.
الْقِسْمُ الرَّابِعُ أَنْ يَكُونَ الْحِلُّ مَعْلُومًا وَلَكِنْ يَغْلِبُ عَلَى الظَّنِّ طَرَيَانٌ مُحَرِّمٌ بِسَبَبٍ مُعْتَبَرٍ فِي غَلَبَةِ الظَّنِّ شَرْعًا فَيَرْفَعُ الِاسْتِصْحَابَ وَيَقْضِي بالتحريم إذ بان لنا أن الاستصحاب ضعيف ولا يبقى له حكم مع غالب الظن ومثاله أَنْ يُؤَدِّيَ اجْتِهَادُهُ إِلَى نَجَاسَةِ أَحَدِ الْإِنَاءَيْنِ بِالِاعْتِمَادِ عَلَى عَلَامَةٍ مُعَيَّنَةٍ تُوجِبُ غَلَبَةَ الظَّنِّ فتوجب تحريم شربه كما أوجبت منع الوضوء به وكذا إذا قال إن قتل زيد عمراً أو قتل زيد صيداً منفرداً بقتله فامرأتي طالق فجرحه وغاب عنه فوجد ميتاً حرمت زوجته لأن الظاهر أنه منفرد بقتله كما سبق وقد نص الشافعي ﵀ أن من وجد في الغدران ماء متغيرا احتمل أن يكون تغيره بطول المكث أو بالنجاسة فيستعمله ولو رأى ظبية بالت فيه ثم وجده متغيراً واحتمل أن يكون بالبول أو بطول المكث لم يجز استعماله إذ صار البول المشاهد دلالة مغلبة لاحتمال النجاسة وهو مثال ما ذكرناه وهذا في غلبة ظن استند إلى علامة متعلقة بعين الشيء فأما غلبة الظن لا من جهة علامة تتعلق بعين الشيء فقد اختلف قول الشافعي ﵁ في أن أصل الحل هل يزال به إذا اختلف قوله في التوضؤ من أواني المشركين ومدمن الخمر والصلاة في المقابر المنبوشة والصلاة مع طين الشوارع أعنى المقدار الزائد على ما يتعذر الاحتراز عنه وعبر الأصحاب عنه بأنه إذا تعارض الأصل والغالب فأيهما يعتبر وهذا جار في حل الشرب من أواني مدمن الخمر والمشركين لأن النجس لا يحل شربه فإذن مأخذ النجاسة والحل واحد فالتردد في أحدهما يوجب التردد في الآخر والذي أختاره أن الأصل هو المعتبر وأن العلامة إذا لم تتعلق بعين المتناول لم توجب رفع الأصل وسيأتي بيان ذلك وبرهانه في المثار الثاني للشبهة وهي شبهة الخلط فقد اتضح من هذا حكم حلال شك في طريان محرم عليه أو ظن وحكم حرام شك في طريان محلل عليه أو ظن وبان الفرق بين ظن يستند إلى علامة في عين الشيء وبين ما لا يستند إليه وكل ما حكمنا في هذه الأقسام الأربعة بحله فهو حلال في الدرجة الأولى والاحتياط تركه فالمقدم عليه لا يكون من زمرة المتقين والصالحين بل من زمرة العدول الذين لا يقضى في فتوى الشرع بفسقهم وعصيانهم واستحقاقهم العقوبة إلا ما ألحقناه برتبة الوسواس فإن الاحتراز عنه ليس من الورع أصلاً المثار الثاني للشبهة شَكٌّ مَنْشَؤُهُ الِاخْتِلَاطُ
Bagian Keempat: Kehalalannya telah diketahui secara pasti, tetapi terdapat dugaan kuat (ghalabat uzh-zhann) masuknya faktor yang mengharamkan berdasarkan sebab yang diakui secara syariat dalam membentuk dugaan kuat. Maka dugaan ini membatalkan istishhab (pemberlakuan hukum asal) dan menetapkan hukum haram, karena menjadi jelas bagi kita bahwa istishhab tersebut lemah dan hukumnya tidak lagi berlaku ketika berhadapan dengan dugaan yang kuat (ghalib uzh-zhann). Contohnya adalah ketika ijtihad seseorang membawanya pada kesimpulan akan najisnya salah satu dari dua bejana dengan bersandar pada tanda tertentu yang menghasilkan dugaan kuat, sehingga mewajibkan keharaman meminumnya sebagaimana mewajibkan larangan berwudu dengannya. Demikian pula jika seseorang berkata, "Jika Zaid membunuh 'Amr, atau Zaid membunuh hewan buruan secara sendirian, maka istriku tertalak," lalu Zaid melukainya dan hewan/orang itu menghilang darinya lalu ditemukan dalam keadaan tewas, maka istrinya menjadi haram (tertalak), karena secara lahiriah ia membunuhnya secara sendirian sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Imam Asy-Syafi'i rahimahullah telah menegaskan bahwa barang siapa menemukan air di kolam dalam keadaan berubah warnanya/rasanya/bau, sementara ada kemungkinan perubahannya disebabkan oleh lamanya tergenang atau karena najis, maka ia boleh menggunakannya. Namun jika ia melihat seekor kijang kencing di dalamnya lalu ia mendapati air itu telah berubah, dan ada kemungkinan perubahannya disebabkan oleh air kencing atau karena lamanya tergenang, maka tidak boleh menggunakannya; karena air kencing yang terlihat itu menjadi petunjuk yang menguatkan kemungkinan najis, dan ini adalah contoh dari apa yang telah kami sebutkan. Hal ini berlaku pada dugaan kuat yang bersandar pada tanda yang terhubung dengan benda itu sendiri secara langsung. Adapun dugaan kuat yang tidak bersumber dari tanda yang terhubung langsung dengan benda tersebut, maka terdapat perbedaan pendapat (qaul) Imam Asy-Syafi'i radhiyallahu 'anhu mengenai apakah hukum asal halal dapat dihilangkan dengannya, sebagaimana perbedaan pendapat beliau dalam masalah berwudu dari bejana-bejana kaum musyrik dan peminum khamar, shalat di pemakaman yang digali kembali, serta shalat dengan lumpur jalanan—maksudnya jumlah yang melebihi batas yang sulit dihindari. Para sahabat Syafi'iyyah mengistilahkannya dengan: jika hukum asal (al-asl) bertentangan dengan kebiasaan umum (al-ghalib), manakah yang diakui? Hal ini berlaku pula dalam kehalalan meminum dari bejana peminum khamar dan orang-orang musyrik, karena benda najis tidak halal diminum, sehingga dasar keharaman najis dan kehalalan adalah sama; keraguan pada salah satunya menyebabkan keraguan pada yang lain. Pendapat yang saya pilih adalah bahwa hukum asal (al-asl)-lah yang diperhitungkan, dan bahwa tanda jika tidak terhubung secara langsung dengan objek yang diambil, maka tidak menyebabkan gugurnya hukum asal. Penjelasan dan dalilnya akan hadir pada pemicu keraguan (matsar asy-syubhah) kedua, yaitu keraguan akibat pencampuran (syubhat al-khalth). Maka dari penjelasan ini menjadi jelaslah hukum sesuatu yang halal yang diragukan atau diduga kemasukan faktor haram, serta hukum sesuatu yang haram yang diragukan atau diduga kemasukan faktor yang menghalalkan. Tampak jelas pula perbedaan antara dugaan yang bersandar pada tanda pada objek benda itu sendiri dan yang tidak bersandar kepadanya. Setiap hal yang kami hukum halal dalam empat bagian ini adalah halal pada derajat pertama (hukum lahiriah), namun wara' (kehati-hatian) menetapkan untuk meninggalkannya. Orang yang melakukannya tidak termasuk golongan orang-orang yang bertakwa dan saleh, melainkan termasuk golongan orang-orang adil ('adul) yang dalam fatwa syariat tidak dihukumi sebagai fasik, bermaksiat, atau berhak menerima hukuman, kecuali apa yang kami golongkan dalam derajat waswas, karena menjaga diri darinya sama sekali bukan bagian dari wara'. Pemicu Keraguan Kedua: Keraguan yang bersumber dari pencampuran (al-ikhtilath).
وَذَلِكَ بِأَنْ يَخْتَلِطَ الْحَرَامُ بالحلال ويشتبه الأمر ولا يتميز والخلط لا يخلو إما أن يقع بعدد لا يحصر من الجانبين أو من أحدهما أو بعدد محصور فإن اختلط بمحصور فلا يخلو إما أن يكون اختلاط امتزاج بحيث لا يتميز بالإشارة كاختلاط المائعات
Hal itu terjadi ketika barang yang haram bercampur dengan barang yang halal sehingga permasalahannya menjadi samar dan tidak dapat dibedakan. Pencampuran tersebut tidak terlepas dari kemungkinan: terjadi pada jumlah yang tidak terbatas dari kedua belah pihak atau dari salah satunya, atau pada jumlah yang terbatas. Jika bercampur pada jumlah yang terbatas, maka tidak terlepas dari kemungkinan: berupa pencampuran yang lebur (imtisaj) sehingga tidak dapat dibedakan dengan isyarat, seperti bercampurnya benda-benda cair…
أو يكون اختلاط استبهام مع التميز للأعيان كاختلاط الأعبد والدور والأفراس والذي يختلط بالاستيهام فلا يخلو إما أن يكون مما يقصد عينه كالعروض أو لا يقصد كالنقود
…atau berupa pencampuran secara kesamaran (istibham) padahal fisik bendanya masing-masing tampak jelas (tamayyuz al-a'yan), seperti bercampurnya beberapa hamba sahaya, rumah, dan kuda. Adapun barang yang bercampur secara kesamaran tidak terlepas dari kemungkinan: apakah berupa benda yang dituju bentuk fisiknya seperti barang dagangan ('arudh), atau tidak dituju bentuk fisiknya secara khusus seperti uang tunai (nuqud).
فيخرج من هذا التقسيم ثلاثة أقسام
Maka dari pembagian ini terpancar tiga bagian:
القسم الأول أن تستبهم العين بعدد محصور كما لو اختلطت الميتة بمذكاة أو بعشر مذكيات أو اختلطت رضيعة بعشر نسوة أو يتزوج إحدى الأختين ثم تلتبس فَهَذِهِ شُبْهَةٌ يَجِبُ اجْتِنَابُهَا بِالْإِجْمَاعِ لِأَنَّهُ لَا مَجَالَ لِلِاجْتِهَادِ وَالْعَلَامَاتِ فِي هَذَا وَإِذَا اخْتَلَطَتْ بِعَدَدٍ مَحْصُورٍ صَارَتِ الْجُمْلَةُ كَالشَّيْءِ الْوَاحِدِ فَتَقَابَلَ فيه يقين التحريم والتحليل ولا فرق في هذا بين أن يثبت حل فيطرأ اختلاط بمحرم كما لو أوقع الطلاق على إحدى زوجتين في مسئلة الطائر أو يختلط قبل الاستحلال كما لو اختلطت رضيعة بأجنبية فأراد استحلال واحدة وهذا قد يشكل في طريان التحريم كطلاق إحدى الزوجتين لما سبق من الاستصحاب
Bagian Pertama: Benda ('ain) menjadi samar dalam jumlah yang terbatas. Seperti jika bangkai bercampur dengan seekor hewan yang disembelih secara syar'i (mudzakkaah) atau dengan sepuluh hewan yang disembelih, atau seorang saudara sepersusuan bercampur dengan sepuluh wanita, atau seseorang menikahi salah satu dari dua bersaudara perempuan lalu keduanya menjadi samar baginya. Maka ini adalah syubhat yang wajib dijauhi menurut kesepakatan ulama (ijmak), karena tidak ada ruang bagi ijtihad dan tanda-tanda petunjuk dalam masalah ini. Apabila ia bercampur dalam jumlah yang terbatas, maka keseluruhannya menjadi seperti satu kesatuan benda, sehingga saling berhadapanlah kepastian haram dan kepastian halal. Tidak ada perbedaan dalam hal ini antara kehalalan yang telah tetap lalu kemasukan pencampuran dengan yang haram—sebagaimana jika seseorang menjatuhkan talak pada salah satu dari dua istrinya dalam masalah burung—atau pencampuran itu terjadi sebelum adanya kehalalan, seperti jika wanita sepersusuan bercampur dengan wanita asing (bukan mahram) lalu ia ingin menghalalkan salah satunya. Hal ini mungkin terasa rumit pada masuknya keharaman seperti talak pada salah satu dari dua istri, karena adanya prinsip istishhab yang telah dijelaskan sebelumnya.
وقد نبهنا على وجه الجواب وهو أن يقين التحريم قابل يقين الحل فَضَعُفَ الِاسْتِصْحَابُ وَجَانِبُ الْحَظْرِ أَغْلَبُ فِي نَظَرِ الشرع فلذلك ترجح وهذا إذا اختلط حلال محصور بحرام محصور
Kami telah mengingatkan bentuk jawabannya, yaitu bahwa kepastian haram berhadapan dengan kepastian halal, sehingga istishhab (pemberlakuan hukum asal) menjadi lemah, sedangkan sisi larangan (al-hazhr) lebih dimenangkan dalam pandangan syariat, karenanya sisi larangan itulah yang diunggulkan. Hal ini berlaku jika barang halal yang terbatas jumlahnya bercampur dengan barang haram yang juga terbatas jumlahnya.
فإن اختلط حلال محصور بحرام غير محصور فلا يخفى أن وجوب الاجتناب أولى
Apabila barang halal yang terbatas jumlahnya bercampur dengan barang haram yang tidak terbatas jumlahnya, maka tidak tersembunyi lagi bahwa kewajiban untuk menjauhinya adalah lebih utama.
القسم الثاني حَرَامٌ مَحْصُورٌ بِحَلَالٍ غَيْرِ مَحْصُورٍ كَمَا لَوِ اخْتَلَطَتْ رَضِيعَةٌ أَوْ عَشْرُ رَضَائِعَ بِنِسْوَةِ بَلَدٍ كبير فلا يلزم بهذا اجتناب نكاح نساء أَهْلِ الْبَلَدِ بَلْ لَهُ أَنْ يَنْكِحَ مَنْ شاء منهن وهذا لا يجوز أن يعلل بكثرة الحلال إذ يلزم عليه أن يجوز النكاح إذا اختلطت واحدة حرام بتسع حلال ولا قائل به بل العلة الغلبة وَالْحَاجَةِ جَمِيعًا إِذْ كُلُّ مَنْ ضَاعَ لَهُ رَضِيعٌ أَوْ قَرِيبٌ أَوْ مُحَرَّمٌ بِمُصَاهَرَةٍ أَوْ سَبَبٍ مِنَ الْأَسْبَابِ فَلَا يُمْكِنُ أَنْ يُسَدَّ عليه باب النكاح وَكَذَلِكَ مَنْ عَلِمَ أَنَّ مَالَ الدُّنْيَا خَالَطَهُ حَرَامٌ قَطْعًا لَا يَلْزَمُهُ تَرْكُ الشِّرَاءِ وَالْأَكْلِ فَإِنَّ ذَلِكَ حَرَجٍ وَمَا فِي الدِّينِ مِنْ حرج
Bagian Kedua: Barang haram yang terbatas jumlahnya bercampur dengan barang halal yang tidak terbatas jumlahnya. Seperti jika seorang saudara sepersusuan atau sepuluh saudara sepersusuan bercampur di antara wanita-wanita di sebuah kota besar. Maka hal ini tidak mewajibkan seseorang menjauhi pernikahan dengan wanita-wanita penduduk kota tersebut, bahkan ia boleh menikahi siapa saja yang ia kehendaki dari mereka. Hal ini tidak boleh dicarikan alasannya ('illah) sekadar banyaknya jumlah yang halal, sebab konsekuensinya akan memperbolehkan pernikahan jika seorang wanita haram bercampur dengan sembilan wanita halal, padahal tidak ada seorang pun yang berpendapat demikian. Melainkan alasannya ('illah) adalah gabungan antara dominasi kelimpahan (al-ghalabah) dan kebutuhan (al-hajah); sebab setiap orang yang kehilangan informasi tentang saudara sepersusuan, kerabat, atau mahram karena hubungan semenda (mushaharah) atau sebab apa pun, tidak mungkin ditutup baginya pintu pernikahan. Demikian pula barang siapa yang mengetahui bahwa harta di dunia ini secara pasti telah tercampur barang haram, tidak wajib baginya meninggalkan transaksi jual beli dan makan, karena hal itu merupakan kesempitan (haraj), padahal dalam agama tidak ada kesempitan.
وَيُعْلَمُ هَذَا بِأَنَّهُ لَمَّا سُرِقَ فِي زَمَانِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ مِجَنٌّ
Hal ini dapat diketahui dari fakta bahwa ketika pada zaman Rasulullah ﷺ dicuri sebuah perisai (mijan)…
وَغَلَّ وَاحِدٌ فِي الْغَنِيمَةِ عَبَاءَةً
…dan seseorang mengambil secara khianat (ghulul) sehelai jubah ('aba'ah) dari harta rampasan perang…
لَمْ يَمْتَنِعْ أَحَدٌ مِنْ شِرَاءِ الْمَجَانِّ وَالْعَبَاءِ فِي الدُّنْيَا وَكَذَلِكَ كُلُّ مَا سُرِقَ وَكَذَلِكَ كَانَ يُعْرَفُ أن في الناس من يربي فِي الدَّرَاهِمِ وَالدَّنَانِيرِ
…tidak ada seorang pun yang menahan diri dari membeli perisai-perisai dan jubah-jubah di dunia ini, demikian pula pada semua barang yang dicuri. Begitu juga telah diketahui bahwa di antara manusia ada yang bertransaksi riba pada dirham dan dinar…
وَمَا تَرَكَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وَلَا النَّاسُ الدَّرَاهِمَ والدنانير بالكلية
…namun Rasulullah ﷺ maupun umat manusia tidak meninggalkan penggunaan dirham dan dinar secara keseluruhan.
وبالجملة إنما تنفك الدنيا عن الحرام إذا عصم الخلق كلهم عن المعاصي وهو محال
Kesimpulannya, dunia ini hanya akan terlepas sama sekali dari barang haram jika seluruh makhluk dijaga ('ishmah) dari perbuatan maksiat, padahal hal itu adalah sesuatu yang mustahil.
وإذا لم يشترط هذا في الدنيا لم يشترط أيضاً في بلد إلا إذا وقع بين جماعة محصورين بل اجتناب هذا من ورع الموسوسين إذا لم ينقل ذلك عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ ولا عن أحد من الصحابة ولا يتصور الوفاء به في ملة من الملل ولا في عصر من الأعصار
Apabila hal ini tidak disyaratkan di seluruh dunia, maka tidak disyaratkan pula di suatu negeri, kecuali jika pencampuran itu terjadi di antara kelompok masyarakat yang terbatas jumlahnya. Bahkan menjauhi hal semacam ini termasuk wara'-nya orang-orang yang terkena penyakit waswas, sebab hal itu tidak pernah diriwayatkan dari Rasulullah ﷺ tidak pula dari seorang pun sahabat, dan tidak mungkin dapat dilaksanakan secara utuh dalam syariat agama mana pun atau pada zaman kapan pun.
فإن قلت فكل عدد محصور في علم الله
Jika engkau bertanya: Bukankah setiap jumlah itu pada hakikatnya terbatas dalam ilmu Allah?
فما حد المحصور ولو أراد الإنسان أن يحصر أهل بلد لقدر عليه أيضاً إن تمكن منه فاعلم أن تحديد أمثال هذه الأمور غير ممكن وإنما يضبط بالتقريب
Lantas apakah batasan dari jumlah yang terbatas (mahshur) itu? Dan seandainya seseorang hendak menghitung penduduk suatu kota, niscaya ia pun akan sanggup jika diberi kesempatan. Maka ketahuilah bahwa membatasi hal-hal semacam ini secara persis tidaklah memungkinkan, melainkan hanya dapat diukur secara pendekatan (at-taqrib).
فنقول كل عدد لو اجتمع على صعيد واحد لعسر على الناظر عدهم بمجرد النظر كالألف والألفين فهو غير محصور وما سهل كالعشرة والعشرين فهو محصور وبين الطرفين أوساط متشابهة تحلق بأحد الطرفين بالظن وما وقع الشك فيه استفتى فيه القلب فإن الإثم حزاز القلوب
Maka kami katakan: Setiap jumlah yang sekiranya berkumpul di satu padang luas lalu menyulitkan seseorang untuk menghitungnya hanya dengan sekali pandang, seperti seribu atau dua ribu, maka itu tergolong tidak terbatas (ghairu mahshur). Sedangkan jumlah yang mudah dihitung, seperti sepuluh atau dua puluh, maka itu tergolong terbatas (mahshur). Di antara kedua ujung batasan ini terdapat tingkatan-tingkatan pertengahan yang samar (amr musytabah), yang digolongkan ke salah satu dari dua ujung tersebut berdasarkan dugaan (azh-zhann). Adapun apa yang menimbulkan keraguan padanya, hendaklah meminta fatwa kepada hati, karena dosa itu adalah apa yang menggelisahkan hati.
وفي مثل هذا المقام قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لوابصة استفت قلبك وإن أفتوك وأفتوك وأفتوك
Dalam kedudukan seperti inilah Rasulullah ﷺ bersabda kepada Wabisah: "Mintalah fatwa kepada hatimu, meskipun orang-orang telah memberimu fatwa, memberimu fatwa, dan memberimu fatwa."
وكذا الأقسام الأربعة التي ذكرناها في المثال الأول يقع فيها أطراف متقابلة واضحة في النفي والإثبات وأوساط متشابهة فالمفتي يفتي بالظن وعلى المستفتي أن يستفتي
Demikian pula empat bagian yang telah kami sebutkan dalam contoh pertama, di dalamnya terdapat sisi-sisi berhadapan yang jelas dalam hal peniadaan dan penetapan, serta bagian-bagian tengah yang serupa (samar). Maka mufti memberikan fatwa berdasarkan prasangka (zhann), sedangkan peminta fatwa wajib meminta fatwa…
قلبه فإن حاك في صدره شيء فهو الآثم بينه وبين الله فلا ينجيه في الآخرة فتوى المفتي فإنه يفتي بالظاهر والله يتولى السرائر
…kepada hatinya. Jika terdapat sesuatu yang mengganjal di dalam dadanya, maka dialah yang berdosa di antara dirinya dan Allah. Fatwa seorang mufti tidak akan menyelamatkannya di akhirat kelak, sebab mufti hanya berfatwa berdasarkan hal yang lahiriah, sedangkan Allah-lah yang menguasai hal-hal yang tersembunyi.
القسم الثالث أن يختلط حَرَامٌ لَا يُحْصَرُ بِحَلَالٍ لَا يُحْصَرُ كَحُكْمِ الأموال في زماننا هذا فالذي يأخذ الأحكام من الصور قد يظن أن نسبة غير المحصور إلى غير المحصور كنسبة المحصور إلى المحصور وقد حكمنا ثم بالتحريم فلنحكم هنا به والذي نختاره خلاف ذلك وهو أنه لَا يَحْرُمُ بِهَذَا الِاخْتِلَاطِ أَنْ يُتَنَاوَلَ شَيْءٌ بِعَيْنِهِ احْتَمَلَ أَنَّهُ حَرَامٌ وَأَنَّهُ حَلَالٌ إِلَّا أَنْ يَقْتَرِنَ بِتِلْكَ الْعَيْنِ عَلَامَةٌ تَدُلُّ عَلَى أنه من الحرام فإن لم يكن في الْعَيْنِ عَلَامَةٌ تَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ مِنَ الْحَرَامِ فتركه ورع وأخذه حلال لا يفسق به آكله
Bagian ketiga: Bercampurnya benda haram yang tidak terbatas jumlahnya dengan benda halal yang juga tidak terbatas jumlahnya, seperti hukum harta benda di zaman kita sekarang ini. Orang yang mengambil hukum hanya dari bentuk lahiriah mungkin mengira bahwa nisbah antara benda yang tak terbatas dengan benda tak terbatas lainnya sama seperti nisbah antara benda yang terbatas dengan benda terbatas, dan kami telah menghukumi keharaman pada situasi tersebut, sehingga di sini pun harus dihukumi haram. Namun, pandangan yang kami pilih adalah sebaliknya, yaitu bahwa tidaklah menjadi haram disebabkan percampuran ini untuk mengonsumsi atau mengambil sesuatu benda tertentu yang ada kemungkinan haram atau halal, kecuali jika pada benda tertentu tersebut menyertai suatu tanda yang menunjukkan bahwa ia termasuk barang haram. Jika tidak ada tanda pada benda tersebut yang menunjukkan keharamannya, maka meninggalkannya adalah wara' (kehati-hatian), sedangkan mengambilnya adalah halal dan pemakannya tidak dianggap fasik karenanya.
ومن العلامات أن يأخذه من يد سلطان ظالم إلى غير ذلك من العلامات التي سيأتي ذكرها ويدل عليه الأثر والقياس فأما الأثر
Di antara tanda-tanda tersebut adalah bilamana seseorang mengambilnya dari tangan penguasa yang zalim, di samping tanda-tanda lainnya yang akan disebutkan nanti. Hal ini ditunjukkan oleh atsar (riwayat) dan qiyas (analogi). Adapun atsar,…
فما علم في زمن رسول الله ﷺ والخلفاء الراشدين بعده إذ كانت أثمان الخمور ودراهم الربا من أيدي أهل الذمة مختلطة بالأموال وكذا غلول الأموال وكذا غلول الغنيمة ومن الوقت الذي نهى ﷺ عن الربا إذ قال أول ربا أضعه ربا العباس
…adalah apa yang diketahui pada zaman Rasulullah ﷺ dan para Khulafaur Rasyidin setelah beliau, ketika harga khamar dan dirham-dirham riba dari tangan ahli dzimmah bercampur dengan harta benda masyarakat, demikian pula harta ghulul (penggelapan) dan penggelapan harta rampasan perang (ghanimah). Serta sejak waktu ketika Rasulullah ﷺ melarang riba saat beliau bersabda: "Riba pertama yang kutebaskan (kuhapuskan) adalah riba Al-'Abbas."
ما ترك الناس الربا بأجمعهم كما لم يتركوا شرب الخمور وسائر المعاصي حتى روي أن بعض أصحاب النبي ﷺ باع الخمر فقال عمر ﵁
Manusia tidak meninggalkan riba secara keseluruhan, sebagaimana mereka tidak meninggalkan meminum khamar dan kemaksiatan lainnya, hingga diriwayatkan bahwa sebagian sahabat Nabi ﷺ ada yang menjual khamar, lalu Umar radhiyallahu 'anhu berkata:
لعن الله فلاناهو أول من سن بيع الخمر إذ لم يكن قد فهم أن تحريم الخمر تحريم لثمنها
"Semoga Allah melaknat si Fulan, dialah orang pertama yang menceramahkan/memulai penjualan khamar," sebab dia belum memahami bahwa pengharaman khamar berarti juga pengharaman terhadap harganya.
وقال ﷺ إن فلاناً يجر في النار عباءة قد غلها
Dan Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya si Fulan menyeret di dalam neraka sehelai jubah yang telah dia gelapkan."
وقتل رجل ففتشوا متاعه فوجدوا فيه خرزات من خرز اليهود لا تساوي درهمين قد غلها
Dan seorang laki-laki terbunuh, lalu mereka memeriksa barang perbekalannya, kemudian mereka menemukan di dalamnya manik-manik milik Yahudi yang nilainya tidak mencapai dua dirham yang telah dia gelapkan.
وكذلك أدرك أصحاب رسول الله ﷺ الأمراء الظلمة ولم يمتنع أحد منهم عن الشراء والبيع في السوق بسبب نهب المدينة وقد نهبها أصحاب يزيد ثلاثة أيام وكان من يمتنع من تلك الأموال مشاراً إليه في الورع والأكثرون لم يمتنعوا مع الاخلاط وكثرة الأموال المنهوبة في أيام الظلمة
Begitu pula, para sahabat Rasulullah ﷺ mendapati para penguasa yang zalim, dan tidak seorang pun dari mereka yang menahan diri dari jual beli di pasar hanya karena penjarahan kota Madinah—padahal pasukan Yazid telah menjarahnya selama tiga hari. Orang yang menahan diri dari harta-harta tersebut menjadi sosok yang ditunjuk karena sifat wara'-nya, sementara mayoritas mereka tidak menahan diri meskipun terjadi percampuran dan banyaknya harta hasil jarahan pada masa para penguasa zalim tersebut.
ومن أوجب ما لم يوجبه السلف الصالح وزعم أنه تفطن من الشر ما لم يتفطنوا له فهو موسوس مختل العقل ولو جاز أن يزاد عليهم في أمثال هذا لجاز مخالفتهم في مسائل لا مستند فيها سوى اتفاقهم كقولهم إن الجدة كالأم في التحريم وابن الابن كالابن وشعر الخنزير وشحمه كاللحم المذكور تحريمه في القرآن والربا جار فيما عدا الأشياء الستة وذلك محال فإنهم أولى بفهم الشرع من غيرهم وأما القياس فهو أنه لو فتح هذا الباب لانسد باب جميع التصرفات وخرب العالم إذ الفسق يغلب على الناس ويتساهلون بسببه في شروط الشرع في العقود ويؤدي ذلك لا محالة إلى الاختلاط
Barang siapa mewajibkan apa yang tidak diwajibkan oleh Salafus Shalih dan mengklaim bahwa ia menyadari keburukan yang tidak disadari oleh mereka, maka ia adalah orang yang terkena waswas dan terganggu akalnya. Jika dibolehkan menambahi ajaran mereka dalam hal-hal seperti ini, tentu dibolehkan pula menyelisihi mereka dalam masalah-masalah yang tidak memiliki sandaran selain kesepakatan (ijmak) mereka, seperti ucapan mereka bahwa nenek sama seperti ibu dalam hal keharaman, cucu laki-laki dari anak laki-laki sama seperti anak laki-laki, bulu dan lemak babi sama seperti dagingnya yang disebutkan keharamannya dalam Al-Qur'an, serta riba berlaku pula pada selain enam jenis barang komoditas. Hal itu jelas mustahil, karena mereka lebih utama dalam memahami syariat daripada selain mereka. Adapun qiyas yaitu bahwa seandainya pintu ini dibuka, niscaya pintu seluruh transaksi akan tertutup dan tatanan dunia akan rusak, sebab kefasikan mendominasi manusia sehingga mereka meremehkan syarat-syarat syariat dalam akad-akad, dan hal itu pasti akan mengarah pada percampuran harta.
فإن قيل قد نقلتم أنه ﷺ امتنع من الضب وقال أخشى أن يكون مما مسخه الله وهو في اختلاط غير المحصور قلنا يحمل ذلك على التنزه والورع أو نقول الضب شكل غريب ربما يدل على أنه من المسخ فهي دلالة في عين المتناول
Jika dikatakan: "Anda sekalian telah meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ tidak mau memakan biawak padang pasir (dhabb) dan bersabda: 'Aku khawatir ia termasuk hewan yang telah dikutuk oleh Allah,' padahal hal itu terjadi dalam percampuran yang tak terbatas." Kami jawab: Hal itu dibawa pada makna menjaga kebersihan diri (tanzih) dan kehati-hatian (wara'), atau kita katakan bahwa bentuk dhabb adalah bentuk yang aneh yang boleh jadi menunjukkan bahwa ia berasal dari kutukan wujud, sehingga itu menjadi indikasi pada zat barang yang hendak dikonsumsi tersebut.
فإن قيل هذا معلوم فِي زَمَانِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وزمان الصحابة بسبب الربا والسرقة والنهب وغلوك الغنيمة وغيرها ولكن كانت هي الأقل بالإضافة إلى الحلال فما تقول في زماننا وقد صار الحرام أكثر ما في أيدي الناس لفساد المعاملات وإهمال شروطها وكثرة الربا وأموال السلاطين الظلمة فمن أخذ مالاً لم يشهد
Jika dikatakan: "Hal ini telah diketahui pada zaman Rasulullah ﷺ dan zaman para sahabat akibat riba, pencurian, penjarahan, penggelapan ghanimah, dan lainnya, akan tetapi jumlahnya lebih sedikit dibandingkan yang halal. Lantas apa pendapat Anda tentang zaman kita sekarang, di mana harta haram telah menjadi mayoritas dari apa yang ada di tangan manusia karena rusaknya transaksi, diabaikannya syarat-syaratnya, maraknya riba, dan harta para penguasa yang zalim? Maka barang siapa mengambil harta yang tidak disaksikan…
عليه علامة معينة في عينة للتحريم فهل هو حرام أم لا
…adanya tanda tertentu pada fisiknya yang menunjukkan keharaman, apakah harta tersebut haram atau tidak?"
فأقول ليس ذلك حراما وإنما الورع تركه وهذا الورع أهم من الورع إذا كان قليلا
Maka aku katakan: Hal itu tidaklah haram, melainkan meninggalkannya adalah wara' (sikap hati-hati). Sikap wara' dalam kondisi ini lebih penting daripada wara' ketika harta haram itu berjumlah sedikit.
ولكن الجواب عن هذا أن قول الْقَائِلِ أَكْثَرُ الْأَمْوَالِ حَرَامٌ فِي زَمَانِنَا غَلَطٌ محض ومنشؤه الغفلة عن الفرق بين الكثير والأكثر فأكثر الناس بل أكثر الفقهاء يظنون أن ما ليس بنادر فهو الأكثر ويتوهمون أنهما قسمان متقابلان ليس بينهما ثالث وليس كذلك بل الأقسام ثلاثة قليل وهو النادر وكثير وأكثر ومثاله أن الخنثى فيما بين الخلق نادر وإذا أضيف إليه المريض وجد كثيراً وكذا السفر حتى يقال المرض والسفر من الأعذار العامة والاستحاضة من الأعذار النادرة ومعلوم أن المرض ليس بنادر وليس بالأكثر أيضابل هو كثير والفقيه إذا تساهل وقال المرض والسفر غالب وهو عذر عام أراد به أنه ليس بنادر فإن لم يرد هذا فهو غلط والصحيح والمقيم هو الأكثر والمسافر والمريض كثير والمستحاضة والخنثى نادر فإذا فهم هذا فنقول: قول القائل الحرام أكثر باطل لأن مستند هذا القائل إما أن يكون كثرة الظلمة والجندية أو كثرة الربا والمعاملات الفاسدة أو كثرة الأيدي التي تكررت من أول الإسلام إلى زماننا هذا على أصول الأموال الموجودة اليوم أما المستند الأول فباطل فإن الظالم كثير وليس هو بالأكثر فإنهم الجندية إذ لا يظلم إلا ذو غلبة وشوكة وهم إذا أضيفوا إلى كل العالم لم يبلغوا عشر عشيرهم فكل سلطان يجتمع عليه من الجنود مائة ألف مثلا فيملك إقليمايجمع ألف ألف وزيادة ولعل بلدة واحدة من بلاد مملكته يزيد عددها على جميع عسكره ولو كان عدد السلاطين أكثر من عدد الرعايا لهلك الكل إذ كان يجب على كل واحد من الرعية أن يقوم بعشرة منهم مثلاً مع تنعمهم في المعيشة ولا يتصور ذلك بل كفاية الواحد كان منهم تجمع من ألف من الرعية وزيادة وكذا القول في السراق فإن البلدة الكبيرة تشتمل منهم على قدر قليل
Namun jawaban atas hal ini adalah bahwa ucapan seseorang: "Sebagian besar harta di zaman kita adalah haram," merupakan kekeliruan murni. Mula sebabnya adalah kelalaian dalam membedakan antara "banyak" (katsir) dan "mayoritas" (aktsar). Sebagian besar manusia, bahkan kebanyakan ahli fiqih, mengira bahwa apa yang tidak langka adalah mayoritas, dan mereka membayangkan bahwa keduanya adalah dua bagian yang saling berhadapan tanpa ada yang ketiga. Padahal tidak demikian, melainkan ada tiga bagian: sedikit yaitu yang langka (nadir), banyak (katsir), dan mayoritas (aktsar). Contohnya, khuntsa (berkelamin ganda) di antara makhluk adalah langka, dan jika ditambahkan padanya orang sakit, maka ditemukan berjumlah banyak, demikian pula safar (perjalanan), hingga dikatakan bahwa sakit dan safar termasuk udzur yang umum, sedangkan istihadhah termasuk udzur yang langka. Telah diketahui bahwa sakit bukanlah hal yang langka dan bukan pula mayoritas, melainkan berjumlah banyak. Dan apabila seorang ahli fiqih bersikap mempermudah dengan mengatakan "sakit dan safar adalah hal yang dominan dan merupakan udzur umum", maka yang ia maksudkan adalah bahwa hal itu bukan hal yang langka. Jika ia tidak menghendaki hal ini, maka itu adalah suatu kekeliruan. Yang benar adalah bahwa orang sehat dan orang yang bermukim adalah mayoritas, sedangkan musafir dan orang sakit adalah banyak, sementara wanita istihadhah dan khuntsa adalah langka. Jika hal ini telah dipahami, maka kami katakan: Ucapan orang yang menyatakan bahwa harta haram itu mayoritas adalah batil, sebab sandaran orang yang berpendapat demikian bisa jadi karena banyaknya orang zalim dan tentara, atau banyaknya riba dan transaksi yang fasik, atau banyaknya tangan yang beruntun berganti dari awal Islam hingga zaman kita ini atas pokok-pokok harta yang ada hari ini. Adapun sandaran pertama adalah batil, sebab orang zalim memang banyak namun bukan mayoritas; mereka adalah para tentara, karena tidak ada yang berbuat zalim kecuali orang yang memiliki kekuasaan dan kekuatan. Jika mereka dibandingkan dengan seluruh dunia, jumlah mereka tidak mencapai sepersepuluh dari sepersepuluh. Setiap penguasa dikelilingi oleh tentara misalnya seratus ribu orang, padahal ia menguasai wilayah yang dihuni satu juta orang atau lebih, dan boleh jadi satu kota dari wilayah kerajaannya jumlah penduduknya melebihi seluruh tentaranya. Seandainya jumlah penguasa lebih banyak daripada rakyat, niscaya hancurlah semuanya, sebab setiap rakyat harus menanggung sepuluh orang dari mereka misalnya dengan kehidupan yang serba mewah, dan hal itu tidak dapat dibayangkan. Bahkan kecukupan satu orang dari mereka dikumpulkan dari seribu rakyat atau lebih. Demikian pula halnya dengan para pencuri, sebab kota yang besar hanya mencakup sedikit dari mereka.
وأما المستند الثاني وهو كثرة الربا والمعاملات الفاسدة فهي أيضاً كثيرة وليست بالأكثر إذ أكثر المسلمين يتعاملون بشروط الشرع فعدد هؤلاء أكثر والذي يعامل بالربا أو غيره فلو عددت معاملاته وحده لكان عدد الصحيح منها يزيد على الفاسد إلا أن يطلب الإنسان بوهمه في البلد مخصوصاً بالمجانة والخبث وقلة الدين حتى يتصور أن يقال معاملاته الفاسدة أكثر ومثل ذلك المخصوص نادر وإن كان كثيراً فليس بالأكثر لو كان كل معاملاته فاسدة كيف ولا يخلو هو أيضا عن معاملات صحيحة تساوي الفاسدة أو تزيد عليها وهذا مقطوع به لمن تأمله وإنما غلب هذا على النفوس لاستكثار النفوس الفساد واستبعادها إياه واستعظامها له وإن كان نادراحتى ربما يظن أن الربا وَشُرْبَ الْخَمْرِ قَدْ شَاعَ كَمَا شَاعَ الْحَرَامُ فَيَتَخَيَّلُ أَنَّهُمُ الْأَكْثَرُونَ وَهُوَ خَطَأٌ فَإِنَّهُمُ الْأَقَلُّونَ وإن كان فيهم كثرة
Adapun sandaran kedua, yaitu banyaknya riba dan transaksi yang fasik, hal itu juga berjumlah banyak namun bukan mayoritas, sebab mayoritas kaum muslimin bertransaksi dengan syarat-syarat syariat, sehingga jumlah mereka lebih banyak. Adapun orang yang melakukan transaksi riba atau lainnya, seandainya engkau menghitung transaksi-transaksinya saja, niscaya jumlah transaksi yang sah akan melebihi transaksi yang fasik, kecuali jika seseorang mencari dalam khayalan atau prasangkanya di sebuah kota seseorang yang khusus dengan kelakuan buruk, kejahatan, dan minimnya agama hingga dapat dibayangkan bahwa transaksi fasiknya lebih banyak. Orang yang khusus seperti itu adalah langka; dan kalaupun ada banyak, tetap bukan mayoritas jika seluruh transaksinya dianggap fasik. Bagaimana tidak, padahal dia sendiri tidak luput dari transaksi-transaksi sah yang sebanding dengan transaksi fasiknya atau bahkan melebihinya. Hal ini dipastikan bagi siapa saja yang mencermatinya. Hanya saja prasangka ini menguasai jiwa karena jiwa menganggap banyak kerusakan, menganggapnya tidak wajar, dan menganggapnya besar meskipun hal itu langka, hingga terkadang dikira bahwa riba dan meminum khamar telah menyebar sebagaimana menyebarnya yang haram, lalu dikhayalkan bahwa mereka adalah mayoritas. Padahal hal itu keliru, sebab mereka adalah minoritas, walaupun pada diri mereka terdapat jumlah yang banyak.
وأما المستند الثالث وهو أخيلها أن يقال الأموال إنما تحصل من المعادن والنبات والحيوان والنبات والحيوان حاصلان بالتوالد فإذا نظرنا إلى شاة مثلاً وهي تلد في كل سنة فيكون عدد أصولها إلى زَمَانِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ قريباً من خمسمائة ولا يخلو هذا أن يتطرق إلى أصل من تلك الأصول غصب أو معاملة فاسدة فكيف يقدر أن تسلم أصولها عن تصرف باطل إلى زماننا هذا وكذا بذور الحبوب والفواكه تحتاج إلى خمسمائة أصل أو ألف أصل مثلاً إلى أول زمان الشرع ولا يكون هذا حلالاً ما لم يكن أصله وأصل أصله كذلك إلى أول زمان النبوة حلالاً وأما المعادن فهي التي يمكن نيلها على سبيل الابتداء وهي أقل الأموال وأكثر ما يستعمل منها الدراهم والدنانير ولا تخرج إلا من دار الضرب وهي في أيدي الظلمة مثل المعادن في أيديهم يمنعون الناس منها ويلزمون الفقراء استخراجها بالأعمال الشاقة ثم يأخذونها منهم غصباً فإذا نظر إلى هذا علم أن بقاء دينار واحد بحيث لا يتطرق إليه عقد فاسد
Adapun sandaran ketiga, yang merupakan sandaran paling tampak logis dalam khayalan, yaitu dikatakan bahwa harta benda hanya diperoleh dari bahan tambang, tumbuh-tumbuhan, dan hewan. Tumbuh-tumbuhan dan hewan diperoleh melalui perkembangbiakan. Jika kita melihat seekor domba misalnya, yang melahirkan setiap tahun, maka jumlah asal-usulnya hingga zaman Rasulullah ﷺ mendekati lima ratus ekor. Hal ini tidak luput dari kemungkinan terjadinya ghashab (perampasan) atau transaksi fasik pada salah satu dari asal-usul tersebut, lantas bagaimana mungkin asal-usulnya selamat dari tindakan batil hingga zaman kita ini? Demikian pula benih biji-bijian dan buah-buahan membutuhkan lima ratus atau seribu asal-usul misalnya hingga awal masa syariat, dan hal ini tidak menjadi halal kecuali jika asalnya dan asal dari asalnya demikian pula hingga awal masa kenabian adalah halal. Adapun bahan tambang, merupakan hal yang bisa didapatkan secara langsung sejak awal, dan itu adalah harta yang paling sedikit. Yang paling banyak digunakan darinya adalah dirham dan dinar, dan tidaklah keluar melainkan dari tempat percetakan uang (dar adh-dharb). Tempat tersebut berada di tangan orang-orang zalim sebagaimana tambang ada di tangan mereka; mereka menghalangi manusia darinya dan mewajibkan orang-orang fakir untuk mengeluarkannya dengan pekerjaan yang berat lalu mengambilnya dari mereka secara paksa. Maka apabila hal ini dicermati, ketahuilah bahwa tersisanya satu dinar saja tanpa tersentuh akad yang fasik…
ولا ظلم وقت النيل ولا وقت الضرب في دار الضرب ولا بعده في معاملات الصرف والربا بعيد نادر أو محال فلا يبقى إذن حلال إلا الصيد والحشيش في الصحاري الموات والمفاوز والحطب المباح ثم من يحصله لا يقدر على أكله فيفتقر إلى أن يشتري به الحبوب والحيوانات التي لا تحصل إلا بالاستنبات والتوالد فيكون قد بذل حلالاً في مقابلة حرام فهذا هو أشد الطرق تخيلاً
…maupun kezaliman saat diperoleh, saat dicetak di tempat percetakan uang, atau setelahnya dalam transaksi penukaran uang (sharf) dan riba, adalah hal yang jauh, langka, atau mustahil. Dengan demikian, tidak ada lagi yang tersisa dari hal yang halal melainkan hasil buruan, rumput di padang pasir mati yang tak bertuan, dan kayu bakar yang mubah. Kemudian orang yang mendapatkannya tidak mampu memakannya secara langsung, sehingga ia butuh menukarnya dengan membeli biji-bijian dan hewan yang tidak diperoleh melainkan dengan penanaman dan perkembangbiakan, sehingga ia telah menyerahkan hal yang halal demi mendapatkan hal yang haram. Maka inilah argumen yang paling kuat dalam bentuk khayalan tersebut.
والجواب أن هذه الغلبة لم تنشأ من كثرة الحرام المخلوط بالحلال فخرج عن النمط الذي نحن فيه والتحق بما ذكرناه من قبل وهو تعارض الأصل والغالب إذ الأصل في هذه الأموال قبولها للتصرفات وجواز التراضي عليها وقد عارضه سبب غالب يخرجه عن الصلاح له فيصاهي هذا محل القولين للشافعي ﵁ في حكم النجاسات والصحيح عندنا أنه تجوز الصلاة في الشوارع إذا لم يجد فيها نجاسة فإن طين الشوارع طاهر وأن الوضوء من أواني المشركين جائز وأن الصلاة في المقابر المنبوشة جائزة فثبت هذا أولاثم نقيس ما نحن فيه عليه ويدل على ذلك توضؤ رسول الله ﷺ من مزادة مشركة وتوضؤ عمر ﵁ من جرة نصرانية مع أن مشربهم الخمر ومطعمهم الخنزير ولا يحترزون عما نجسه شرعنا فكيف تسلم أوانيهم من أيديهم بل نقول نعلم قطعاً أنهم كانوا يلبسون الفراء المدبوغة والثياب المصبوغة والمقصورة ومن تأمل أحول الدباغين والقصارين والصباغين علم أن الغالب عليهم النجاسة وأن الطهارة في تلك الثياب محال أو نادر بل نقول نعلم أنهم كانوا يأكلون خبز البر والشعير ولا يغسلونه مع أنه يداس بالبقر والحيوانات وهي تبول عليه وتروث وقلما يخلص منها وكانوا يركبون الدواب وهي تعرق وما كانوا يغسلون ظهورها مع كثرة تمرغها في النجاسات بل كل دابة تخرج من بطن أمها وعليها رطوبات نجسة قد تزيلها الأمطار وقد لا تزيلها وما كان يحترز عنها وكانوا يمشون حفاة في الطرق وبالنعال ويصلون معها ويجلسون على التراب ويمشون في الطين من غير حاجة وكانوا لا يمشون في البول والعذرة ولا يجلسون عليهما ويستنزهون منه ومتى تسلم الشوارع عن النجاسات مع كثرة الكلاب وأبوالها وكثرة الدواب وأرواثها ولا ينبغي أن نظن أن الأعصار أو الأمصار تختلف في مثل هذا حتى يظن أن الشوارع كانت تغسل في عصرهم أو كانت تحرس من الدواب هيهات فذلك معلوم استحالته بالعادة قطعاً فدل على أنهم لم يحترزوا إلا من نجاسة مشاهدة أو علامة على النجاسة دالة على العين
Jawabannya adalah bahwa keunggulan atau dominasi ini tidak timbul dari banyaknya harta haram yang bercampur dengan harta yang halal, sehingga kasus ini keluar dari pola yang sedang kita bahas dan masuk ke dalam apa yang telah kami sebutkan sebelumnya, yaitu pertentangan antara hukum asal (al-ashl) dan keumuman yang dominan (al-ghalib). Sebab, hukum asal pada harta-harta ini adalah kebolehan untuk ditransaksikan dan keabsahan kerelaan bersama atasnya, namun hukum asal tersebut dipertentangkan oleh sebab dominan yang mengeluarkannya dari kelayakan tersebut. Maka hal ini serupa dengan tempat munculnya dua pendapat (qawlain) Imam al-Syafi'i radhiyallahu 'anhu dalam hukum najis. Menurut pandangan kami yang sahih, sah melaksanakan shalat di jalanan umum jika tidak dijumpai najis padanya, karena lumpur atau tanah jalanan adalah suci; berwudhu dari wadah kaum musyrikin adalah boleh; dan shalat di pemakaman yang pernah digali kembali adalah boleh. Hal ini ditetapkan terlebih dahulu, kemudian kita mengqiaskan masalah yang sedang kita bahas padanya. Petunjuk atas hal tersebut adalah wudhunya Rasulullah ﷺ dari wadah air (mazadah) milik wanita musyrik dan wudhunya Umar radhiyallahu 'anhu dari kendi milik wanita Nasrani, padahal minuman mereka adalah khamar dan makanan mereka adalah daging babi, serta mereka tidak menjaga diri dari apa yang dinajiskan oleh syariat kita. Lantas bagaimana wadah-wadah mereka dapat terbebas dari sentuhan tangan mereka? Bahkan kami katakan: kita mengetahui secara pasti bahwa para sahabat dahulu mengenakan pakaian berbulu yang disamak, kain yang dicelup warna, dan kain yang diputihkan. Barangsiapa merenungkan kondisi para penyamak kulit, tukang pemutih kain, dan tukang pencelup warna, niscaya ia mengetahui bahwa yang dominan pada mereka adalah kenajisan, dan kesucian pada pakaian-pakaian tersebut adalah hal yang mustahil atau amat langka. Bahkan kami katakan: kita tahu bahwa mereka dahulu memakan roti gandum utuh dan gandum jelai tanpa mencucinya terlebih dahulu, padahal gandum itu diinjak-injak oleh sapi dan hewan ternak yang kencing dan membuang kotoran di atasnya, dan amat jarang gandum itu terbebas darinya. Mereka juga menunggangi hewan-hewan tunggangan dalam keadaan berkeringat, dan mereka tidak mencuci punggung hewan-hewan itu meskipun hewan tersebut sering berguling-guling di atas najis. Bahkan setiap hewan yang lahir dari perut induknya membawa cairan najis yang terkadang dihilangkan oleh air hujan dan terkadang tidak, namun mereka tidak menjaga diri darinya. Mereka juga berjalan tanpa alas kaki di jalanan serta dengan sandal lalu shalat dengannya, duduk di atas tanah, dan berjalan di atas lumpur tanpa ada hajat mendesak, walaupun mereka tidak berjalan di atas air kencing dan kotoran manusia, tidak duduk di atas keduanya, dan senantiasa menjaga diri darinya. Lagipula, bilakah jalanan umum dapat selamat dari najis dengan begitu banyaknya anjing beserta air kencingnya serta banyaknya hewan tunggangan beserta kotorannya? Tidak sepatutnya kita mengira bahwa zaman atau tempat berbeda dalam hal semacam ini, hingga ada yang mengira bahwa jalanan pada zaman mereka dicuci atau dijaga dari hewan tunggangan. Sungguh jauh! Hal itu secara adat jelas mustahil. Maka ini menunjukkan bahwa para sahabat tidak menjaga diri melainkan dari najis yang terlihat secara kasat mata (musyahadah) atau adanya tanda khusus yang menunjukkan najis pada benda tersebut secara spesifik.
فأما الظن الغالب الذي يستثار من رد الدراهم إلى مجاري الأحوال فلم يعتبروه وهذا عند الشافعي ﵀ وهو يرى أن الماء القليل ينجس من غير تغير واقع إذ لم يزل الصحابة يدخلون الحمامات ويتوضئون من الحياض وفيها المياه القليلة والأيدي المختلفة تغمس فيها على الدوام وهذا قاطع في هذا الغرض ومهما ثبت جواز التوضؤ من جرة نصرانية ثبت جواز شربه والتحق حكم الحل بحكم النجاسة
Adapun prasangka kuat (azh-zhann al-ghalib) yang timbul dari pengembalian dirham-dirham kepada alur kebiasaan umum, mereka tidak memperhitungkannya. Hal ini berlaku menurut Imam al-Syafi'i rahmatullah 'alaih, sementara beliau berpandangan bahwa air yang sedikit menjadi najis tanpa harus terjadi perubahan padanya, sebab para sahabat senantiasa memasuki tempat pemandian umum (hammam) dan berwudhu dari bak-bak air yang berisi air sedikit, padahal tangan yang bermacam-macam senantiasa dicelupkan ke dalamnya secara terus-menerus. Hal ini merupakan dalil yang pasti dalam maksud ini. Dan manakala telah tetap kebolehan berwudhu dari kendi wanita Nasrani, maka tetap pulalah kebolehan meminumnya, dan hukum kehalalan pun diikutsertakan pada hukum kesucian.
فإن قيل لا يجوز قياس الحل على النجاسة إذ كانوا يتوسعون في أمور الطهارات ويحترزون من شبهات الحرام غاية التحرز فكيف يقاس عليها قلنا إن أريد به أنهم صلوا معها مع النجاسة والصلاة معصية وهي عماد الدين فبئس الظن بل يجب أن نعتقد فيهم أنهم احترزوا عن كل نجاسة وجب اجتنابها وإنما تسامحوا حيث لم يجب وكان في محل تسامحهم هذه الصورة التي تعارض فيها الأصل والغالب فبان أن الغالب الذي لا يستند إلى علامة تتعلق بعين ما فيه النظر مطرح وأما تورعهم في الحلال فكان بطريق التقوى وهو ترك ما لا بأس به مخافة ما به بأس لأن أمر الأموال مخوف والنفس تميل إليها إن لم تضبط عنها وأمر الطهارة ليس كذلك فقد امتنع طائفة منهم عن الحلال المحض خيفة أن يشغل قلبه وقد حكي عن واحد منهم أنه احترز من الوضوء بماء البحر وهو الطهور المحض فالافتراق في ذلك لا يقدح في الغرض الذي أجمعنا فيه على أنا نجري في هذا المستند
Jika dikatakan: "Tidak boleh mengqiaskan kehalalan dengan kesucian dari najis, sebab para sahabat memberikan kelonggaran dalam urusan bersuci (thaharah) namun mereka sangat berhati-hati terhadap syubhat-syubhat yang haram dengan puncak kehati-hatian, lantas bagaimana mungkin hal itu diqiaskan?" Kami jawab: Jika yang dimaksud adalah bahwa mereka shalat bersama najis padahal shalat bersama najis adalah kemaksiatan sedangkan shalat adalah tiang agama, sungguh alangkah buruknya prasangka tersebut! Bahkan wajib bagi kita meyakini tentang mereka bahwa mereka menjaga diri dari setiap najis yang wajib dijauhi, dan mereka hanya memberikan kelonggaran pada hal yang tidak diwajibkan untuk dijauhi. Bentuk kelonggaran mereka berada pada kondisi terjadinya pertentangan antara hukum asal (al-ashl) dan keumuman yang dominan (al-ghalib). Maka jelaslah bahwa kondisi dominan yang tidak bersandar pada tanda khusus yang berkaitan dengan benda yang sedang diteliti harus digugurkan. Adapun sifat kewirausahaan (wara') mereka dalam hal kehalalan adalah dengan jalan ketakwaan, yaitu meninggalkan hal yang tidak bermasalah karena khawatir akan jatuh pada hal yang bermasalah, sebab urusan harta adalah hal yang menakutkan dan nafsu cenderung padanya jika tidak dikendalikan. Sedangkan urusan bersuci tidaklah demikian. Sungguh sekelompok dari mereka ada yang menahan diri dari hal yang murni halal karena takut menambat-sibatkan hatinya. Dan telah diceritakan dari salah seorang di antara mereka bahwa ia menjaga diri dari berwudhu dengan air laut, padahal air laut itu murni mensucikan (ath-thahur al-mahdh). Maka perbedaan dalam hal tersebut tidak merusak tujuan yang telah kita sepakati bahwa kita berjalan di atas landasan ini.
على الجواب الذي قدمنا في المستندين السابقين ولا نسلم ما ذكروه من أن الأكثر هو الحرام لأن المال وإن كثرت أصوله فليس بواجب أن يكون في أصوله حرام بل الأموال الموجودة اليوم مما تطرق الظلم إلى أصول بعضها دون بعض وكما أن الذي يبتدأ غصبه اليوم هو الأقل بالإضافة إلى ما لا يغصب ولا يسرق فهكذا كل مال في كل عصر وفي كل أصل فالمغصوب من مال الدنيا والمتناول في كل زمان بالفساد بالإضافة إلى غيره أقل ولسنا ندري أن هذا الفرع بعينه من أي القسمين فلا نسلم أن الغالب تحريمه فإنه كما يزيد المغصوب بالتوالد يزيد غير المغصوب بالتوالد فيكون فرع الأكثر لا محالة في كل عصر وزمان أكثر بل الغالب أن الحبوب المغصوبة تغصب للأكل لا للبذر وكذا الحيوانات المغصوبة أكثرها يؤكل ولا يقتنى للتوالد فكيف يقال إن فروع الحرام أكثر ولم تزل أصول الحلال أكثر من أصول الحرام وليتفهم المسترشد من هذا طريق معرفة الأكثر فإنه مزلة قدم وأكثر العلماء يغلطون فيه فكيف العوام هذا في المتولدات من الحيوانات والحبوب فأما المعادن فإنها مخلاة مسبلة يأخذها في بلاد الترك وغيرها من شاء ولكن قد يأخذ السلاطين بعضها منهم أو يأخذون الأقل لا محالة لا الأكثر ومن حاز من السلاطين معدناً فظلمه يمنع الناس منه فأما ما يأخذه الآخذ منه فيأخذه من السلطان بأجرة والصحيح أنه يجوز الاستنابة في إثبات اليد على المباحات والاستئجار عليها فالمستأجر على الاستقاء إذا حاز الماء دخل في ملك المستقي له واستحق الأجرة فكذلك النيل فإذا فرعنا على هذا لم تحرم عين الذهب إلا أن يقدر ظلمه بنقصان أجرة العمل وذلك قليل بالإضافة ثم لا يوجب تحريم عين الذهب بل يكون ظالماً ببقاء الأجرة في ذمته وأما دار الضرب فليس الذهب الخارج منها من أعيان ذهب السلطان الذي غصبه وظلم به الناس بل التجار يحملون إليهم الذهب المسبوك أو النقد الرديء ويستأجرونهم على السبك والضرب ويأخذون مثل وزن ما سلموه إليهم إلا شيئاً قليلا ًيتركونه أجرة لهم على العمل وذلك جائز وإن فرض دنانير مضروبة من دنانير السلطان فهو بالإضافة إلى مال التجار أقل لا محالة نعم السلطان يظلم أجراء دار الضرب بأن يأخذ منهم ضريبة لأنه خصصهم بها من بين سائر الناس حتى توفر عليهم مال بحشمة السلطان فما يأخذه السلطان عوض من حشمته وذلك من باب الظلم وهو قليل بالإضافة إلى ما يخرج من دار الضرب فلا يسلم لأهل دار الضرب والسلطان من جملة ما يخرج منه من المائة واحد وهو عشر العشير فكيف يكون هو الأكثر فهذه أغاليط سبقت إلى القلوب بالوهم وتشمر لتزيينها جماعة ممن رق دينهم حتى قبحوا الورع وسدوا بابه واستقبحوا تمييز من يميز بين مال ومال وذلك عين البدعة والضلال
Pada jawaban yang telah kami kemukakan pada dua landasan sebelumnya. Dan kami tidak menerima apa yang mereka sebutkan bahwa mayoritas harta itu adalah haram. Sebab harta benda, meskipun sumber-sumber asalnya banyak, tidaklah harus berarti pada sumber-sumber asalnya terdapat keharaman. Bahkan harta benda yang ada pada hari ini termasuk hal yang di dalamnya tindakan kezaliman menyusup ke sebagian sumber asalnya dan tidak pada sebagian yang lain. Sebagaimana perampasan (ghashab) yang baru dimulai hari ini adalah jumlah yang sedikit jika dibandingkan dengan apa yang tidak dirampas dan tidak dicuri, demikian pulalah setiap harta pada setiap zaman dan pada setiap sumber asal. Maka harta yang dirampas dari harta dunia dan harta yang diambil dengan cara yang rusak pada setiap masa adalah lebih sedikit jika dibandingkan dengan harta lainnya. Kita tidak mengetahui secara pasti apakah cabang atau bagian harta khusus ini termasuk dalam kelompok yang mana, sehingga kami tidak menerima bahwa keharamannya adalah hal yang dominan. Sebab, sebagaimana harta yang dirampas bertambah melalui perkembangbiakan, harta yang tidak dirampas pun bertambah melalui perkembangbiakan, sehingga cabang dari yang mayoritas secara pasti menjadi lebih banyak pada setiap zaman dan masa. Bahkan, umumnya biji-bijian yang dirampas adalah dirampas untuk dimakan, bukan untuk dijadikan benih tanaman. Demikian pula hewan-hewan yang dirampas, mayoritasnya dimakan dan tidak dipelihara untuk dikembangbiakkan. Lantas bagaimana dapat dikatakan bahwa cabang-cabang yang haram itu lebih banyak, padahal sumber-sumber yang halal senantiasa lebih banyak daripada sumber-sumber yang haram? Hendaklah pencari petunjuk (al-mustarsyid) memahami dari hal ini metode untuk mengetahui mana yang mayoritas, karena hal ini merupakan tempat tergelincirnya kaki dan kebanyakan ulama pun keliru di dalamnya, terlebih lagi orang-orang awam. Hal ini berlaku pada hasil perkembangbiakan hewan dan biji-bijian. Adapun barang tambang (ma'adin), ia dibiarkan dan dihalalkan bagi umum, di mana siapa pun di negeri Turk dan selainnya boleh mengambilnya. Namun terkadang para penguasa mengambil sebagian darinya atau mengambil bagian yang lebih sedikit secara pasti, bukan bagian mayoritas. Barangsiapa dari para penguasa yang menguasai suatu tambang lalu kezalimannya menghalangi manusia darinya, maka apa yang diambil oleh pengambil dari tambang tersebut diambilnya dari penguasa dengan memberikan upah (ujrah). Yang sahih adalah bahwa boleh diwakilkan (istinabah) dalam menguasai barang-barang yang mubah dan menyewa tenaga untuknya. Maka orang yang disewa untuk mengambil air, jika ia telah menguasai air tersebut, air itu masuk ke dalam milik orang yang menyewanya dan ia berhak menerima upah. Demikian pula halnya dengan barang tambang. Jika kita menerapkan cabang hukum berdasarkan hal ini, maka fisik emas itu sendiri tidaklah haram, kecuali jika kezalimannya diperkirakan sebatas pengurangan upah kerja, dan itu sangat sedikit jika dibandingkan darinya. Kemudian hal itu tidak menetapkan keharaman fisik emas tersebut, melainkan ia menjadi orang yang zalim karena upah yang masih menjadi tanggungannya (dzimmah). Adapun rumah cetak uang (dar al-dharb), emas yang keluar darinya bukanlah dari fisik emas milik penguasa yang dirampasnya dan dipakainya untuk menzalimi manusia. Melainkan, para pedagang membawa emas batangan atau mata uang yang buruk kualitasnya kepada mereka, lalu menyewa mereka untuk mencairkan dan mencetaknya, serta mengambil kembali timbangan yang setara dengan apa yang mereka serahkan kepada mereka, kecuali sebagian kecil yang mereka tinggalkan sebagai upah atas pekerjaan cetak tersebut, dan hal itu adalah boleh. Seandainya diandaikan terdapat dinar-dinar yang dicetak dari dinar milik penguasa, maka nilainya amat sedikit jika dibandingkan dengan harta para pedagang secara pasti. Memang penguasa menzalimi para pekerja rumah cetak uang dengan mengambil pajak dari mereka karena ia mengkhususkan mereka di antara seluruh manusia, sehingga terkumpul bagi mereka harta melimpah berkat wibawa penguasa. Maka apa yang diambil penguasa adalah imbalan dari wibawanya, dan hal itu termasuk pintu kezaliman, namun nilainya sedikit jika dibandingkan dengan apa yang keluar dari rumah cetak uang. Maka tidaklah tersisa bagi para pekerja rumah cetak uang dan penguasa dari keseluruhan apa yang keluar darinya melainkan satu dari seratus, yaitu sepersepuluh dari sepersepuluh ('usyr al-'usyir). Lantas bagaimana mungkin hal itu menjadi yang mayoritas? Ini semua adalah kekeliruan-kekeliruan yang terlintas ke dalam hati akibat prasangka (wahm), dan segolongan orang yang tipis agamanya bergegas memperindahnya hingga mereka menganggap buruk sikap wara', menutup pintunya, serta menganggap buruk pembedaan yang dilakukan oleh orang yang membedakan antara satu harta dengan harta lainnya. Dan hal itu merupakan inti dari bid'ah dan kesesatan.
فإن قيل: فلو قدر غلبة الحرام وقد اختلط غير محصور بغير محصور فماذا تقولون فيه إذا لم يكن في العين المتناولة علامة خاصة فنقول الذي نراه أن تركه ورع وأن أخذه ليس بحرام لأن الأصل الحل ولا يرفع إلا بعلامة معينة كما في طين الشوارع ونظائرها بل أزيد وأقول لو طبق الحرام الدنيا حتى علم يقيناً أنه لم يبق في الدنيا حلال لكنت أقول نستأنف تمهيد الشروط من وقتنا ونعفو عما سلف ونقول ما جاوز حده انعكس إلى ضده فمهما حرم الكل حل الكل وبرهانه أنه إذا وقعت هذه الواقعة فالاحتمالات خمسة أحدها أن يقال يدع الناس الأكل حتى يموتوا من عند آخرهم
Jika dikatakan: "Seandainya diandaikan dominasi keharaman dan telah bercampur sesuatu yang tidak terbatas dengan sesuatu yang tidak terbatas, apakah yang kalian katakan padanya jika pada benda yang diambil tidak terdapat tanda khusus?" Maka kami katakan: Yang kami pandang adalah bahwa meninggalkannya merupakan bentuk wara', sedangkan mengambilnya bukanlah hal yang haram, karena hukum asalnya adalah halal dan tidak bisa diangkat (diubah) kecuali dengan adanya tanda tertentu sebagaimana pada lumpur jalanan dan sejenisnya. Bahkan aku tambahkan dan aku katakan: Seandainya keharaman memenuhi seluruh dunia hingga diketahui secara yakin bahwa tidak tersisa lagi yang halal di dunia, niscaya aku akan berkata: Kita memulai kembali penyusunan syarat-syarat dari waktu kita sekarang dan memaafkan apa yang telah lalu, serta kita katakan: "Sesuatu yang telah melampaui batasnya akan berbalik menjadi kebalikannya". Maka manakala semuanya haram, semuanya menjadi halal. Pembuktiannya adalah bahwa jika peristiwa ini terjadi, maka ada lima kemungkinan. Yang pertama: dikatakan bahwa manusia meninggalkan makan hingga mereka mati semuanya tanpa tersisa.
الثاني أن يقتصروا منها على قدر الضرورة وسد الرمق يزجون عليها أياماً إلى الموت
Yang kedua: mereka membatasi diri darinya sekadar kadar darurat dan penyambung hidup (sadd ar-ramaq), yang dengannya mereka menghabiskan hari-hari mereka hingga menjumpai kematian.
الثالث أن يقال يتناولون قدر الحاجة كيف شاءوا سرقة وغصبا وتراضياً من غير تمييز بين مال ومال وجهة وجهة
Yang ketiga: dikatakan bahwa mereka mengambil sekadar kadar kebutuhan sebagaimana yang mereka kehendaki, baik dengan mencuri, merampas, maupun kerelaan bersama, tanpa membedakan antara satu harta dengan harta yang lain serta antara satu jalan atau cara dengan jalan yang lain.
الرابع أن يتبعوا شروط الشرع ويستأنفوا قواعده من غير اقتصار على قدر الحاجة
Yang keempat: mereka mengikuti syarat-syarat syariat dan menyusun kembali kaidah-kaidahnya tanpa membatasi diri hanya pada kadar kebutuhan.
الخامس
Yang kelima:
أن يقتصروا مع شروط الشرع على قدر الحاجة
Bahwa mereka membatasi diri—beserta tetap mematuhi syarat-syarat syariat—pada kadar kebutuhan saja.
أما الأول فلا يخفى بطلانه
Adapun kemungkinan pertama, maka tidak tersembunyi kebatilannya.
وأما الثاني فباطل قطعاً لأنه إذا اقتصر الناس على سد الرمق وزجوا أوقاتهم على الضعف فشا فيهم الموتان وبطلت الأعمال والصناعات وخربت الدنيا بالكلية وفي خراب الدنيا خراب الدين لأنها مزرعة الآخرة وأحكام الخلافة والقضاء والسياسات بل أكثر أحكام الفقه مقصودها حفظ مصالح الدنيا ليتم بها مصالح الدين
Adapun kemungkinan kedua, maka jelas batil secara pasti. Karena jika manusia hanya membatasi diri pada penyambung hidup dan menghabiskan waktu mereka dalam kelemahan, niscaya kematian akan merajalela di antara mereka, pekerjaan serta perindustrian akan terhenti, dan dunia akan hancur secara keseluruhan. Sedangkan dalam kehancuran dunia terdapat kehancuran agama, karena dunia adalah ladang bagi akhirat. Hukum-hukum kekhalifahan, peradilan, tata kelola pemerintahan (siyasah), bahkan mayoritas hukum fiqih, maksud utamanya adalah menjaga kemaslahatan dunia agar kemaslahatan agama menjadi sempurna dengannya.
وأما الثالث وهو الاقتصار على قدر الحاجة من غير زيادة عليه مع التسوية بين مال ومال بالغضب والسرقة والتراضي وكيفما اتفق فهو رفع لسد الشرع بين المفسدين وبين أنواع الفساد فتمتد الأيدي بالغصب والسرقة وأنواع الظلم ولا يمكن زجرهم منه إذ يقولون ليس يتميز صاحب اليد باستحقاق عنا فإنه حرام عليه وعلينا وذو اليد له قدر الحاجة فقط فإن كان هو محتاجا فإنا أيضاً محتاجون وإن كان الذي أخذته في حقي زائداً على الحاجة فقد سرقته ممن هو زائد على حاجته يومه وإذا لم يراع حاجة اليوم والسنة فما الذي نراعي وكيف يضبط وهذا يؤدي إلى بطلان سياسة الشرع وإغراء أهل الفساد بالفساد فلا يبقى إلا الاحتمال الرابع وهو أن يقال كل ذي يد على ما في يده وهو أولى به لا يجوز أن يؤخذ منه سرقة وغصبا بل يؤخذ برضاه والتراضي هو طريق الشرع وإذ لم يجز إلا بالتراضي فللتراضي أيضاً منهاج في الشرع تتعلق به المصالح فإن لم يعتبر فلم يتعين أصل التراضي وتعطل تفصيله وأما الاحتمال الخامس وهو الاقتصار على قدر الحاجة مع الاكتساب بطريق الشرع من أصحاب الأيدي فهو الذي نراه لائقاً بالورع لمن يريد سلوك طريق الآخر ولكن لا وجه لإيجابه على الكافة ولا لإدخاله في فتوى العامة لأن أيدي الظلمة تمتد إلى الزيادة على قدر الحاجة في أيدي الناس وكذا أيدي السراق وكل من غلب سلب وكل من وجد فرصة سرق ويقول لا حق له إلا في قدر الحاجة وأنا محتاج ولا يبقى إلا أن يجب على السلطان أن يخرج كل زيادة على قدر الحاجة من أيدي الملاك ويستوعب بها أهل الحاجة ويدر على الكل الأموال يوما فيوما أو سنة فسنة وفيه تكليف شطط وتضييع أموال أما تكليف الشطط فهو أن السلطان لا يقدر على القيام بهذا مع كثرة الخلق بل لا يتصور ذلك أصلاً وأما التضييع فهو أن ما فضل عن الحاجة من الفواكه واللحوم والحبوب ينبغي أن يلقى في البحر أو يترك حتى يتعفن فإن الذي خلقه الله من الفواكه والحبوب زائد عن قدر توسع الخلق وترفههم فكيف على قدر حاجتهم ثم يؤدي ذلك إلى سقوط الحج والزكاة والكفارات المالية وكل عبادة نيطت بالغنى عن الناس إذا أصبح الناس لا يملكون إلا قدر حاجتهم وهو في غاية القبح بل أقول لو ورد نبي في مثل هذا الزمان لوجب عليه أن يستأنف الأمر ويمهد تفصيل أسباب الأملاك بالتراضي وسائر الطرق ويفعل ما يفعله لو وجد جميع الأموال حلالاً من غير فرق
Adapun kemungkinan ketiga, yaitu membatasi diri pada kadar kebutuhan tanpa ada kelebihan dengannya disertai menyamaratakan antara harta yang satu dengan harta yang lain melalui perampasan, pencurian, kerelaan bersama, dan dengan cara apa pun yang terjadi, maka hal itu merupakan peruntuhan terhadap benteng syariat antara para perusak dan bermacam bentuk kerusakan. Maka tangan-tangan akan terulur dengan perampasan, pencurian, dan berbagai jenis kezaliman, serta tidak memungkinkan untuk mencegah mereka darinya, karena mereka akan berkata: "Pemilik harta tidaklah lebih berhak daripada kami, sebab harta itu haram baginya dan haram pula bagi kami. Pemilik harta hanya berhak sekadar kadar kebutuhannya saja, jika ia membutuhkan maka kami pun membutuhkan. Dan jika apa yang aku ambil untuk hakku melebihi kebutuhan, maka aku telah mencurinya dari orang yang melebihi kebutuhannya pada hari itu." Jika kebutuhan sehari dan setahun tidak dipelihara, lantas apa yang kita pelihara dan bagaimana hal itu dapat dikendalikan? Hal ini akan membawa pada kebatilan tata kelola syariat dan memprovokasi pelaku kerusakan untuk berbuat kerusakan. Maka tidak tersisa melainkan kemungkinan keempat, yaitu dikatakan bahwa setiap pemilik harta berhak atas apa yang ada di tangannya dan ia lebih berhak atasnya, tidak boleh diambil darinya secara mencuri maupun merampas, melainkan diambil dengan kerelaannya. Kerelaan bersama (at-taradhi) adalah jalan syariat. Manakala hal itu tidak boleh kecuali dengan kerelaan bersama, maka bagi kerelaan bersama itu pun terdapat jalan terang dalam syariat yang berkaitan dengan kemaslahatan-kemaslahatan. Jika hal itu tidak diperhitungkan, maka pokok kerelaan bersama tidak akan tertentu dan rinciannya menjadi terbengkalai. Adapun kemungkinan kelima, yaitu membatasi diri pada kadar kebutuhan disertai ikhtiar mendapatkan harta melalui jalan syariat dari para pemilik harta, maka itulah yang kami pandang selaras dengan sifat wara' bagi orang yang ingin menempuh jalan akhirat. Namun tidak ada alasan untuk mewajibkannya kepada khalayak umum dan tidak pula memasukkannya ke dalam fatwa awam. Sebab tangan-tangan orang zalim akan terulur pada kelebihan dari kadar kebutuhan di tangan-tangan manusia, demikian pula tangan para pencuri; setiap orang yang menang akan merampas dan setiap orang yang mendapati kesempatan akan mencuri, seraya berkata: "Ia tidak berhak melainkan sekadar kadar kebutuhan, sedangkan aku dalam keadaan membutuhkan." Maka tidak tersisa melainkan wajib bagi penguasa (sultan) untuk mengeluarkan setiap kelebihan dari kadar kebutuhan dari tangan para pemiliknya lalu mendistribusikannya kepada orang-orang yang membutuhkan serta mengalirkan harta benda kepada semuanya dari hari ke hari atau dari tahun ke tahun. Padahal di dalamnya terdapat pembebanan yang berlebihan (taklif syathath) dan penyia-nyiaan harta. Adapun pembebanan yang berlebihan adalah bahwa penguasa tidak akan mampu melakukan hal ini di tengah banyaknya manusia, bahkan hal itu sama sekali tidak tergambarkan. Adapun penyia-nyiaan harta adalah bahwa apa yang melebihi kebutuhan berupa buah-buahan, daging, dan biji-bijian seharusnya dibuang ke laut atau dibiarkan hingga membusuk, karena apa yang Allah ciptakan berupa buah-buahan dan biji-bijian melimpah melebihi kadar kelapangan dan kemewahan manusia, apatah lagi sekadar kadar kebutuhan mereka. Kemudian hal itu juga akan membawa pada gugurnya kewajiban haji, zakat, kafarat harta, dan setiap ibadah yang dikaitkan dengan kecukupan atau kekayaan manusia, apabila manusia tidak lagi memiliki melainkan sekadar kadar kebutuhan mereka; dan hal itu amat sangat buruk. Bahkan aku katakan: Seandainya seorang nabi diutus pada zaman semacam ini, niscaya wajib atasnya untuk memulai kembali urusan ini dan menyusun rincian sebab-sebab kepemilikan melalui kerelaan bersama dan seluruh jalan lainnya, serta melakukan apa yang dilakukannya seandainya ia mendapati seluruh harta dalam keadaan halal tanpa ada perbedaan.
وأعني بقولي يجب عليه إذا كان النبي ممن بعث لمصلحة الخلق في دينهم ودنياهم إذ لا يتم الصلاح برد الكافة إلى قدر الضرورة والحاجة إليه فإن لم يبعث للصلاح لم يجب هذا
Maksud perkataanku "wajib atasnya" adalah apabila nabi tersebut termasuk orang yang diutus demi kemaslahatan makhluk dalam agama dan dunia mereka, sebab kemaslahatan tidak akan sempurna dengan mengembalikan seluruh manusia pada kadar darurat dan kebutuhan mendesak padanya. Jika ia tidak diutus untuk kemaslahatan, maka hal ini tidaklah wajib.
ونحن نجوز أن يقدر الله سبباً يهلك به الخلق عن آخرهم فيفوت دنياهم ويضلون في دينهم فإنه يضل من يشاء ويهدي من يشاء ويميت من يشاء ويحيي من يشاء ولكنا نقدر الأمر جارياً على ما ألف من سنة الله تعالى في بعثة الأنبياء لصلاح الدين والدنيا
Dan kita membolehkan secara akal bahwa Allah menakdirkan suatu sebab yang membinasakan para makhluk hingga yang terakhir dari mereka, sehingga sirnalah dunia mereka dan mereka tersesat dalam agama mereka. Karena sesungguhnya Dia menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki, mematikan siapa yang Dia kehendaki, dan menghidupkan siapa yang Dia kehendaki. Akan tetapi kita mengandaikan perkara ini berjalan sesuai dengan ketetapan (sunnatullah) Ta'ala yang sudah dikenal dalam pengutusan para nabi demi kemaslahatan agama dan dunia.
وما لي أقدر هذا وقد كان ما أقدره فلقد بعث الله نبينا ﷺ على فترة من الرسل وكان شرع عيسى ﵇ قد مضى عليه قريب من ستمائة سنة والناس منقسمون إلى مكذبين له من اليهود وعبدة الأوثان وإلى مصدقين له قد شاع الفسق فيهم كما شاع في زماننا الآن والكفار مخاطبون بفروع الشريعة
Mengapa aku mengandaikan hal ini padahal apa yang aku andaikan itu telah benar-benar terjadi? Sungguh Allah telah mengutus Nabi kita ﷺ di masa kekosongan para rasul (fatrah min ar-rusul), sedangkan syariat Isa 'alaihis-salam telah berlalu darinya hampir enam ratus tahun. Manusia saat itu terbagi menjadi orang-orang yang mendustakannya dari kalangan Yahudi dan penyembah berhala, serta orang-orang yang membenarkannya namun telah merajalela kefasikan di antara mereka sebagaimana merajalelanya pada zaman kita sekarang, sedangkan orang-orang kafir itu pun terkena khitab (seruan) hukum-hukum cabang syariat (furu' asy-syari'ah).
والأموال كانت في أيدي المكذبين له والمصدقين أما المكذبون فكانوا يتعاملون بغير شرع عيسى ﵇ وأما المصدقون فكان يتساهلون مع أصل التصديق
Harta benda saat itu berada di tangan orang-orang yang mendustakan beliau dan yang membenarkan beliau. Adapun orang-orang yang mendustakan, mereka bertransaksi tanpa syariat Isa 'alaihis-salam. Adapun orang-orang yang membenarkan, mereka bersikap menggampangkan padahal mereka memiliki pokok pembenaran (iman).
كما يتساهل الآن المسلمون مع أن العهد بالنبوة أقرب فكانت الأموال كلها أو أكثرها أو كثير منها حراماً وعفا ﷺ عما سلف ولم يتعرض له وخصص أصحاب الأيدي بالأموال ومهد الشرع وما ثبت تحريمه في شرع لا ينقلب حلالاً لبعثة رسول ولا ينقلب حلالاً بأن بسلم الذي في يده الحرام فإنا لا نأخذ في الجزية من أهل الذمة ما نعرفه بعينه أنه ثمن خمر أو مال ربا فقد كانت أموالهم في ذلك الزمان كأموالنا الآن وأمر العرب كان أشد لعموم النهب والغارة فيهم
Sebagaimana kaum muslimin sekarang bersikap menggampangkan, padahal kurun kenabian saat itu lebih dekat. Maka harta benda seluruhnya, atau mayoritasnya, atau banyak darinya adalah haram. Namun Rasulullah ﷺ memaafkan apa yang telah berlalu dan tidak mengusiknya, menetapkan para pemilik harta atas harta yang berada dalam kekuasaan mereka, serta menyusun kaidah-kaidah syariat. Apa yang telah tetap keharamannya dalam suatu syariat tidak akan berbalik menjadi halal hanya karena diutusnya seorang rasul, dan tidak pula berbalik menjadi halal dengan masuk Islamnya orang yang memegang harta haram tersebut. Sebab kita tidak mengambil dalam pembayaran jizyah dari ahli dzimmah apa yang kita ketahui secara spesifik bahwa itu adalah harga khamar atau harta riba. Sungguh harta benda mereka pada zaman itu sama seperti harta benda kita sekarang, bahkan urusan bangsa Arab saat itu lebih parah karena maraknya penjarahan dan perampokan di antara mereka.
فبان أن الاحتمال الرابع متعين في الفتوى والاحتمال الخامس هو طريق الورع بل تمام الورع الاقتصار في المباح على قدر الحاجة وترك التوسع في الدنيا بالكلية وذلك طريق الآخرة
Maka jelaslah bahwa kemungkinan keempat adalah hal yang tertentu (wajib) dalam fatwa, sedangkan kemungkinan kelima adalah jalan wara'. Bahkan kesempurnaan wara' adalah membatasi diri dalam hal yang mubah sekadar kadar kebutuhan dan meninggalkan kemewahan atau perluasan di dunia secara keseluruhan, dan itulah jalan menuju akhirat.
ونحن الآن نتكلم في الفقه المنوط بمصالح الخلق وفتوى الظاهر له حكم ومنهاج على حسب مقتضى المصالح وطريق الدين الذي لا يقدر على سلوكه إلا الآحاد ولو اشتغل الخلق كلهم به لبطل النظام وخرب العالم فإن ذلك طلب ملك كبير في الآخرة ولو اشتغل كل الخلق بطلب ملك الدنيا وتركوا الحرف الدنيئة والصناعات الخسيسة لبطل النظام ثم يبطل ببطلانه الملك أيضاً
Dan kita sekarang sedang berbicara dalam konteks fiqih yang berkaitan dengan kemaslahatan makhluk. Fatwa lahiriah memiliki hukum dan metode tersendiri sesuai tuntutan kemaslahatan. Sedangkan jalan keagamaan (spiritual) yang mendalam tidak mampu ditempuh melainkan oleh orang-orang tertentu saja. Seandainya seluruh makhluk sibuk menempuhnya, niscaya akan rusaklah tatanan kehidupan dan hancurlah dunia. Sebab hal itu merupakan pencarian terhadap kerajaan besar di akhirat. Dan seandainya seluruh makhluk sibuk mencari kerajaan dunia lalu meninggalkan mata pencaharian yang rendah dan perindustrian yang remeh, niscaya akan batal pula tatanan kehidupan, kemudian dengan batalnya tatanan kehidupan tersebut, kerajaan itu pun akan hancur pula.
فالمحترفون إنما سخروا لينتظم الملك للملوك وكذلك المقبلون على الدنيا سخروا ليسلم طريق الدين لذوي الدين وهو ملك الآخرة ولولاه لما سلم لذوي الدين أيضاً دينهم فشرط سلامة الدين لهم أن يعرض الأكثرون عن طريقهم ويشتغلوا بأمور الدنيا وذلك قسمة سبقت بها المشيئة الأزلية وإليه الإشارة بقوله تعالى: ﴿نحن قسمنا بينهم معيشتهم في الحياة الدنيا ورفعنا بعضهم فوق بعض درجات ليتخذ بعضهم بعضاً سخرياً﴾
Maka para pekerja dan pengrajin itu sesungguhnya ditundukkan agar tatanan kekuasaan para raja menjadi teratur. Demikian pula orang-orang yang mengejar dunia ditundukkan agar jalan agama selamat bagi para pemilik agama—yaitu kerajaan akhirat. Seandainya bukan karena itu, niscaya tidak akan selamat pula agama bagi para pemilik agama. Maka syarat keselamatan agama bagi mereka adalah hendaknya mayoritas manusia berpaling dari jalan mereka dan sibuk dengan urusan-urusan dunia. Hal itu merupakan pembagian yang telah didahului oleh kehendak azali. Dan kepada hal itulah isyarat firman Allah Ta'ala: "Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat menjadikan sebagian yang lain sebagai pekerja." (QS. Az-Zukhruf: 32).
فإن قيل: لا حاجة إلى تقدير عموم التحريم حتى لا يبقى حلال فإن ذلك غير واقع وهو معلوم ولا شك في أن البعض حرام وذلك البعض هو الأقل أو الأكثر فيه نظر وما ذكرتموه من أنه الأقل بالإضافة إلى الكل جلي ولكن لا بد من دليل محصل على تجويزه ليس من المصالح المرسلة وما ذكرتموه من التقسيمات كلها مصالح مرسلة فلا بد لها من شاهد معين تقاس عليه حتى يكون الدليل مقبولاً بالاتفاق فإن بعض العلماء لا يقبل المصالح المرسلة
Jika dikatakan: Tidak ada kebutuhan untuk mengandaikan keumuman keharaman hingga tidak tersisa lagi yang halal, karena hal itu tidak terjadi dan sudah dimaklumi. Dan tidak diragukan lagi bahwa sebagian harta itu haram, apakah sebagian itu merupakan jumlah yang sedikit atau mayoritas, hal ini masih perlu ditinjau. Dan apa yang Anda sebutkan bahwa itu adalah yang sedikit jika dibandingkan dengan keseluruhan adalah jelas, namun harus ada dalil yang menghasilkan pembolehannya yang bukan berasal dari maslahat mursalah. Sedangkan pembagian-pembagian yang Anda sebutkan semuanya adalah maslahat mursalah, maka harus ada dasar spesifik (syahid mu'ayyan) sebagai kiasan agar dalil tersebut dapat diterima secara kesepakatan, karena sebagian ulama tidak menerima maslahat mursalah.
فأقول: إن سلم أن الحرام هو الأقل فيكفينا برهاناً عصر رسول الله ﷺ والصحابة مع وجود الربا والسرقة والغلول والنهب وإن قدر زمان يكون الأكثر الحرام هو فيحل التناول أيضاً فبرهانه ثلاثة أمور:
Maka saya katakan: Jika disepakati bahwa yang haram itu lebih sedikit, maka cukuplah bagi kita bukti dari zaman Rasulullah ﷺ dan para sahabat, di mana tetap ada praktik riba, pencurian, ghalul (pengkhianatan harta rampasan perang), dan penjarahan. Dan jika diandaikan suatu zaman di mana mayoritas hartanya adalah haram, maka mengambilnya juga tetap halal, dan buktinya ada tiga hal:
﴿الأول﴾ التقسيم الذي حصرناه وأبطلنا منه أربعة وأثبتنا القسم الخامس فإن ذلك إذا أجرى فيما إذا كان الكل حراماً كان أحرى فيما إذا كان الحرام هو الأكثر أو الأقل وقول القائل هو مصلحة مرسلة: هوس فإن ذلك إنما تخيل من تخيله في أمور مظنونة وهذا مقطوع به فإنا لا نشك في أن مصلحة الدين والدنيا مراد الشرع وهو معلوم بالضرورة إلى وليس بمظنون ولا شك في أن رد كافة الناس إلى قدر الضرورة أو الحاجة أو الحشيش والصيد مخرب للدنيا أولاً وللدين بواسطة الدنيا ثانياً فما لا يشك فيه لا يحتاج إلى أصل يشهد له وإنما يستشهد على الخيالات المظنونة المتعلقة بآحاد الأشخاص
(Pertama) Pembagian yang telah kita batasi, yang mana kita telah membatalkan empat darinya dan menetapkan bagian yang kelima. Sebab jika pembagian itu diberlakukan dalam kondisi ketika seluruh harta itu haram, tentu ia lebih layak diberlakukan jika harta haram itu merupakan mayoritas atau minoritas. Dan perkataan orang yang menyebutnya sebagai maslahat mursalah adalah omong kosong belaka. Sebab, hal itu hanyalah dikayalkan oleh orang yang mengkhayalkannya dalam perkara-perkara yang bersifat dugaan (dzanni), sedangkan hal ini sudah pasti (maqthu' bih). Kita tidak meragukan bahwa kemaslahatan agama dan dunia adalah tujuan Syariat, dan ini diketahui secara pasti (darurat), bukan dugaan. Dan tidak diragukan lagi bahwa mengembalikan seluruh manusia hanya pada kadar darurat, kebutuhan pokok, memakan rumput, atau berburu adalah merusak dunia terlebih dahulu, dan merusak agama melalui perantara dunia kedua. Maka apa yang tidak diragukan lagi tidak memerlukan dalil dasar (ashl) yang menyaksikannya; dalil dasar hanyalah dicari untuk khayalan-khayalan dugaan yang berkaitan dengan individu perorangan.
البرهان الثاني أن يعلل بقياس محرر مردود إلى أصل يتفق الفقهاء الآنسون بالأقيسة الجزئية عليه وإن كانت الجزئيات مستحقرة عند المحصلين بالإضافة إلى مثل ما ذكرناه من الأمر الكلي الذي هو ضرورة النبي لو بعث في زمان عم التحريم فيه حتى لو حكم بغيره لخرب العالم والقياس المحرر الجزئي هو أنه قد تعارض أصل وغالب فيما انقطعت فيه العلامات المعينة من الأمور التي ليس محصورة فيحكم بالأصل لا بالغالب قياساً على طين الشوارع وجرة النصرانية وأواني المشركين وذلك قد أثبتناه من قبل بفعل الصحابة وقولنا انقطعت العلامات المعينة احتراز عن الأواني التي يتطرق الاجتهاد إليها وقولنا ليست محصورة احتراز عن التباس الميتة والرضيعة بالذكية والأجنبية
Bukti kedua adalah dijelaskan dengan kias yang terstruktur yang dikembalikan kepada prinsip dasar (ashl) yang disepakati oleh para ahli fiqih yang terbiasa dengan kias-kias parsial (juz'iyyah), meskipun perkara parsial itu terpandang remeh menurut para ulama peneliti jika dibandingkan dengan perkara universal (kulliy) yang telah kami sebutkan—yang merupakan keniscayaan dari seorang Nabi seandainya beliau diutus di zaman yang keharaman merajalela secara umum, sehingga jika diputuskan dengan selainnya niscaya dunia akan hancur. Dan kias parsial yang terstruktur itu adalah: telah bertentangan antara hukum asal (ashl) dan kondisi umum (ghalib) pada perkara-perkara yang terputus tanda-tanda khususnya serta tidak terbatas jumlahnya, maka diputuskan hukum berdasarkan hukum asal, bukan berdasarkan kondisi umum, dianalogikan (dikias) pada lumpur jalanan, tempayan wanita Nasrani, dan bejana-bejana kaum musyrik. Dan hal itu telah kita buktikan sebelumnya melalui perbuatan para sahabat. Perkataan kita "terputus tanda-tanda khususnya" adalah untuk mengecualikan bejana-bejana yang bisa dimasuki oleh ijtihad. Dan perkataan kita "tidak terbatas" adalah untuk mengecualikan bercampurnya bangkai dan anak susuan dengan hewan yang disembelih secara syar'i dan wanita asing (bukan mahram).
فإن قيل: كون الماء طهوراً مستيقن وهو الأصل ومن يسلم أن الأصل في الأموال الحل بل الأصل فيها التحريم
Jika dikatakan: Keberadaan air itu suci mensucikan adalah sesuatu yang diyakini dan merupakan hukum asal, lantas siapakah yang menyepakati bahwa hukum asal pada harta adalah halal? Bahkan hukum asal padanya adalah haram.
فنقول: الأمور لا تحرم لصفة في عينها حرمة الخمر والخنزير خلقت على صفة تستعد لقبول المعاملات بالتراضي كما خلق الماء مستعدا للوضوء وقد وقع الشك في بطلان هذا الاستعداد منهما فلا فرق بين الأمرين فإنها تخرج عن قبول المعاملة بالتراضي بدخول الظلم عليها كما يخرج الماء عن قبول الوضوء بدخول النجاسة عليه ولا فرق بين الأمرين
Maka kita katakan: Perkara-perkara itu tidak diharamkan karena sifat pada zatnya seperti keharaman khamar dan babi; harta diciptakan atas sifat yang siap menerima muamalah dengan keridaan bersama, sebagaimana air diciptakan siap untuk berwudu. Dan telah terjadi keraguan atas batalnya kesiapan dari keduanya, maka tidak ada perbedaan antara kedua hal tersebut. Sebab harta keluar dari kebolehan muamalah dengan keridaan karena masuknya kedzaliman padanya, sebagaimana air keluar dari kebolehan wudu karena masuknya najis padanya, dan tidak ada perbedaan antara kedua hal ini.
والجواب الثاني: أن اليد دلالة ظاهرة دالة على الملك نازلة منزلة الاستصحاب وأقوى منه بدليل ان الشرع ألحقه به إذ من ادعى عليه دين فالقول قوله لأن الأصل براءة ذمته وهذا استصحاب
Dan jawaban kedua: Bahwa penguasaan fisik (al-yad) adalah petunjuk yang nyata yang menunjukkan kepemilikan, yang menempati kedudukan istishhab dan lebih kuat darinya dengan dalil bahwa Syariat menghubungkannya kepadanya. Sebab barang siapa yang dituntut memiliki utang, maka perkataan yang dimenangkan adalah perkataannya, karena hukum asalnya adalah bebasnya tanggungan, dan ini adalah istishhab.
ومن ادعى عليه ملك في يده فالقول أيضاً قوله إقامة لليد مقام الاستصحاب فكل ما وجد في يد إنسان فالأصل أنه ملكه ما لم يدل على خلافه علامة معينة
Dan barang siapa yang dituntut atas kepemilikan suatu barang yang berada dalam penguasaannya (di tangannya), maka perkataan yang dimenangkan adalah perkataannya juga, karena mendudukkan penguasaan fisik (al-yad) pada posisi istishhab. Maka setiap apa yang ditemukan berada di tangan seseorang, pada dasarnya adalah miliknya selama tidak ada tanda khusus yang menunjukkan sebaliknya.
البرهان الثالث هو أن كل ما دل على جنس لا يحصر ولا يدل على معين لم يعتبر وإن كان قطعاً فبأن لا يعتبر إذا دل بطريق الظن أولى وبيانه أن ما علم أنه ملك زيد فحقه يمنع من التصرف فيه بغير إذنه ولو علم أن له مالكاً في العالم ولكن وقع اليأس عن الوقوف عليه وعلى وارثه فهو مال مرصد لمصالح المسلمين يجوز التصرف فيه بحكم المصلحة ولو دل على أن له مالكاً محصوراً في عشرة مثلاً أو عشرين امتنع التصرف فيه بحكم المصلحة فالذي يشك في أن له مالكاً سوى صاحب اليد أم لا لا يزيد على الذي يتيقن قطعاً أن له مالكاً ولكن لا يعرف عينه فليجز التصرف فيه بالمصلحة والمصلحة ما ذكرناه في الأقسام الخمسة فيكون هذا الأصل شاهداً له وكيف لا وكل مال ضائع فقد مالكه يصرفه السلطان إلى المصالح ومن المصالح الفقراء وغيرهم فلو صرف إلى فقير ملكه ونفذ فيه تصرفه فلو سرقه منه سارق قطعت يده فكيف نفذ تصرفه في ملك الغير ليس ذلك إلا لحكمنا بأن المصلحة تقتضي أن ينتقل الملك إليه ويحل له فقضينا بموجب المصلحة
Bukti ketiga adalah bahwa setiap petunjuk yang menunjukkan pada suatu jenis yang tidak terbatas dan tidak menunjukkan pada individu atau barang tertentu tidaklah diperhitungkan, meskipun petunjuk itu bersifat pasti (qath'i); maka terlebih lagi tidak diperhitungkan jika ditunjukkan melalui jalan dugaan (dzann). Penjelasannya: barang yang diketahui bahwa ia milik Zaid, maka haknya menghalangi untuk bertindak (tasharruf) padanya tanpa izinnya. Jika diketahui bahwa barang itu memiliki pemilik di dunia ini namun telah putus asa untuk menemukannya dan menemukan ahli warisnya, maka ia menjadi harta yang disiapkan untuk kemaslahatan kaum muslimin, yang boleh ditindak berdasarkan hukum maslahat. Dan jika petunjuk menunjukkan bahwa ia memiliki pemilik yang terbatas, misalnya sepuluh atau dua puluh orang, maka terhalanglah tindakan padanya berdasarkan hukum maslahat. Maka orang yang ragu apakah barang itu memiliki pemilik selain pemegang tangan (shahib al-yad) atau tidak, keadaannya tidak melebihi orang yang meyakini secara pasti bahwa ia memiliki pemilik namun tidak diketahui sosoknya secara spesifik. Maka hendaknya diperbolehkan tindakan padanya demi maslahat, dan maslahat itu adalah apa yang telah kami sebutkan dalam lima bagian, sehingga prinsip dasar ini menjadi saksi bagi hal tersebut. Bagaimana tidak, padahal setiap harta terlantar yang kehilangan pemiliknya dialokasikan oleh penguasa (sultan) untuk kemaslahatan, dan di antara bentuk kemaslahatan adalah untuk orang-orang fakir dan selain mereka. Jika harta itu dialokasikan kepada orang fakir, ia menjadi miliknya dan tindakan hukumnya padanya berlaku sah, sehingga jika seorang pencuri mencurinya dari orang fakir tersebut, tangannya dipotong. Lantas bagaimana tindakan hukumnya berlaku pada milik orang lain? Tidak lain hal itu terjadi kecuali karena hukum kita bahwa kemaslahatan menuntut berpindahnya kepemilikan kepadanya dan menjadi halal baginya, maka kita memutuskan berdasarkan tuntutan kemaslahatan.
فإن قيل: ذلك يختص بالتصرف فيه السلطان
Jika dikatakan: Hal itu khusus berlaku pada tindakan hukum yang dilakukan oleh penguasa (sultan).
فنقول: والسلطان لم يجوز له التصرف في ملك غيره بغير إذنه لا سبب له إلا المصلحة وهو أنه لو ترك لضاع فهو مردد بين تضييعه وصرفه إلى مهم والصرف إلى مهم أصلح من التضييع فرجح عليه والمصلحة فيما يشك فيه ولا يعلم تحريمه أن يحكم فيه بدلالة اليد ويترك على أرباب الأيدي إذ انتزاعها بالشك وتكليفهم الاقتصار على الحاجة يؤدي إلى الضرر الذي ذكرناه وجهات المصلحة تختلف فإن السلطان تارة يرى أن المصلحة أن يبني بذلك المال قنطرة وتارة أن يصرفه إلى جند الإسلام وتارة إلى الفقراء ويدور مع المصلحة كيفما دارت وكذلك الفتوى في مثل هذا تدور على المصلحة وقد خرج من هذا أن الخلق غير مأخوذين في أعيان الأموال بظنون لا تستند إلى خصوص دلالة في ملك الأعيان كما لم يؤاخذ السلطان والفقراء الآخذون منه بعلمهم أن المال له مالك حيث لم يتعلق العلم بعين مالك مشار إليه ولا فرق بين عين المالك وبين عين الأملاك في هذا المعنى فهذا بيان شبهة الاختلاط ولم يبق إلا النظر في امتزاج المائعات والدراهم والعروض في يد مالك واحد وسيأتي بيانه في باب تفصيل طريق الخروج من المظالم الْمَثَارُ الثَّالِثُ لِلشُّبْهَةِ أَنْ يَتَّصِلَ بِالسَّبَبِ الْمُحَلِّلِ معصية
Maka kita katakan: Penguasa pun tidak diperbolehkan bertindak atas milik orang lain tanpa izinnya melainkan karena adanya sebab maslahat. Yaitu bahwa jika harta itu dibiarkan, niscaya akan terbuang sia-sia; maka harta itu berada di antara dua pilihan: dibuang sia-sia atau dialokasikan untuk hal yang penting, dan mengalokasikan pada hal yang penting adalah lebih maslahat daripada membuangnya sia-sia, sehingga pilihan ini lebih diunggulkan. Dan kemaslahatan dalam hal yang diragukan serta tidak diketahui keharamannya adalah diputuskan padanya berdasarkan petunjuk penguasaan fisik (dalalat al-yad) dan dibiarkan tetap pada para pemegang tangan tersebut. Sebab mencabutnya karena keraguan dan membebani mereka untuk hanya mencukupi kebutuhan pokok saja akan membawa pada kemudaratan yang telah kami sebutkan. Arah kemaslahatan itu berbeda-beda; terkadang penguasa memandang kemaslahatan itu terletak pada membangun jembatan dengan harta tersebut, terkadang mengalokasikannya kepada pasukan Islam, dan terkadang kepada orang-orang fakir; ia berputar bersama kemaslahatan ke mana pun kemaslahatan itu berputar. Demikian pula fatwa dalam hal seperti ini berputar pada kemaslahatan. Dari sini dapat disimpulkan bahwa manusia tidak dituntut atau dihukum mengenai barang harta secara langsung hanya berdasarkan dugaan-dugaan yang tidak bersandar pada petunjuk khusus dalam kepemilikan barang-barang tersebut, sebagaimana penguasa dan orang-orang fakir yang menerimanya dari penguasa tidak dihukum atas pengetahuan mereka bahwa harta itu memiliki pemilik, selagi pengetahuan itu tidak berkaitan dengan sosok pemilik tertentu yang ditunjuk. Tidak ada perbedaan antara identitas pemilik dan identitas harta milik dalam makna ini. Ini adalah penjelasan mengenai syubhat perbauran (syubhat al-ikhtilath), dan tidak tersisa selain pembahasan mengenai perbauran benda-benda cair, dirham, dan barang dagangan di tangan satu pemilik, yang akan datang penjelasannya pada bab rincian tata cara keluar dari kezaliman. Pemicu ketiga dari syubhat adalah terkoneksinya maksiat dengan sebab yang membolehkan (as-sabab al-muhallil).
إما في قرائنه وإما في لواحقه وإما في سوابقه أو في عوضه وكانت من المعاصي التي لا توجب فساد العقد وإبطال السبب المحلل
Baik pada hal-hal yang menyertainya (qarain), hal-hal yang mengikutinya (lawahiq), hal-hal yang mendahuluinya (sawaabiq), atau pada imbalannya ('iwadh); dan maksiat tersebut termasuk jenis maksiat yang tidak menyebabkan batalnya akad dan tidak membatalkan sebab yang membolehkan.
مثال المعصية في القرائن: البيع فِي وَقْتِ النِّدَاءِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالذَّبْحِ بِالسِّكِّينِ المغصوبة والاحتطاب بالقدوم المغصوب
Contoh maksiat pada hal-hal yang menyertai: Jual beli pada saat azan Shalat Jumat, menyembelih hewan dengan pisau ghashab (hasil ghashab/tanpa izin), dan mencari kayu bakar dengan kapak ghashab.
وَالْبَيْعِ عَلَى بَيْعِ الْغَيْرِ وَالسَّوْمِ عَلَى سَوْمِهِ فَكُلُّ نَهْيٍ وَرَدَ فِي الْعُقُودِ وَلَمْ يَدُلَّ عَلَى فَسَادِ الْعَقْدِ فَإِنَّ الِامْتِنَاعَ مِنْ جَمِيعِ ذلك ورع وإن لم يكن المستفاد بهذه الأساليب محكوماً بتحريمه
Dan menjual di atas penjualan orang lain serta menawar di atas penawaran orang lain. Maka setiap larangan yang timbul dalam akad dan tidak menunjukkan batalnya akad, sesungguhnya menahan diri dari seluruh hal itu merupakan bentuk wara', meskipun harta yang diperoleh melalui cara-cara ini tidak dihukumi sebagai haram.
وتسمية هذا النمط شبهة فيه تسامح لأن الشبهة في غالب الأمر تطلق لإرادة الاشتباه والجهل ولا اشتباه ههنا بل العصيان بالذبح بسكين الغير معلوم وحل الذبيحة أيضاً معلوم ولكن قد تشتق الشبهة من المشابهة وتناول الْحَاصِلِ مِنْ هَذِهِ الْأُمُورِ مَكْرُوهٌ وَالْكَرَاهَةَ تُشْبِهُ التحريم فإن أريد بالشبهة هذا فتسمية هذا شبهة له وجه وإلا فينبغي أن يسمى هذا كراهة لا شبهة وإذا عرف المعنى فلا مشاحة في الأسامي فعادة الفقهاء التسامح في الإطلاقات
Dan penamaan jenis ini sebagai "syubhat" mengandung kelonggaran (tasamuh), karena syubhat pada umumnya dimutlakkan dengan maksud samar (ketidakjelasan) dan ketidaktahuan, sedangkan di sini tidak ada kesamaran; maksiat menyembelih dengan pisau orang lain sudah diketahui, dan kehalalan hasil sembelihannya juga sudah diketahui. Namun terkadang kata syubhat diturunkan dari kemiripan (musyabahah), di mana mengambil harta yang didapat dari perkara-perkara ini adalah makruh, dan makruh itu menyerupai haram. Jika yang dimaksud dengan syubhat adalah hal ini, maka penamaan ini sebagai syubhat memiliki landasan; jika tidak, maka sepantasnya ini dinamakan makruh bukan syubhat. Apabila maknanya telah dipahami, maka tidak ada perselisihan dalam penamaan, sebab kebiasaan para ahli fiqih adalah bersikap longgar dalam penggunaan istilah.
ثم اعلم أن هذه الكراهة لها ثلاث درجات: الأولى منها تقرب من الحرام والورع عنه مهم والأخيرة تنتهي إلى نوع من المبالغة تكاد تلتحق بورع الموسوسين وبينهما أوساط نازعة إلى الطرفين فالكراهة في صيد كلب مغصوب أشد منها في الذبيحة بسكين مغصوب أو المقتنص بسهم مغصوب إذ الكلب له اختيار وقد اختلف في أن الحاصل به لمالك الكلب أو للصياد ويليه شبه البذر المزروع في الأرض المغصوبة فإن الزرع لمالك البذر ولكن فيه شبهة ولو أثبتنا حق الحبس لمالك الأرض في الزرع لكان كالثمن الحرام ولكن الأقيس أن لا يثبت حق حبس كما لو طحن بطاحونة مغصوبة واقتنص بشبكة مغصوبة إذا لا يتعلق حق صاحب الشبكة في منفعتها بالصيد ويليه الاحتطاب بالقدوم المغصوب ثم ذبحه ملك نفسه بالسكين المغصوب إذ لم يذهب أحد إلى تحريم الذبيحة ويليه البيع في وقت النداء فإنه ضعيف التعلق بمقصود العقد وإن ذهب قوم إلى فساد العقد إذ ليس فيه إلا أنه اشتغل بالبيع عن واجب آخر كان عليه ولو أفسد البيع بمثله لأفسد بيع كل من عليه درهم زكاة أو صلاة فائتة وجوبها على الفور أو في ذمته مظلمة دانق فإن الاشتغال بالبيع مانع له عن القيام بالواجبات فليس للجمعة إلا الوجوب بعد النداء وينجر ذلك إلى أن لا يصح نكاح أولاد الظلمة وكل من في ذمته درهم لأنه اشتغل بقوله عن الفعل الواجب عليه إلا من حيث ورد في يوم الجمعة نهي على الخصوص ربما سبق إلى الأفهام خصوصية فيه فتكون الكراهة أشد ولا بأس بالحذر منه ولكن قد ينجر إلى الوسواس حتى يتحرج عن نكاح بنات أرباب المظالم وسائر معاملاتهم
Kemudian ketahuilah bahwa makruh ini memiliki tiga tingkatan: Tingkatan pertama mendekati haram dan sikap wara' darinya adalah penting; tingkatan terakhir berujung pada sejenis sikap berlebihan yang hampir menyamai wara'-nya orang-orang waswas; dan di antara keduanya terdapat tingkatan menengah yang cenderung pada kedua ujung tersebut. Maka makruh pada hasil buruan anjing ghashab adalah lebih keras daripada makruh pada hewan sembelihan dengan pisau ghashab atau hewan tangkapan dengan anak panah ghashab, sebab anjing memiliki kehendak, dan telah diperselisihkan apakah hasil buruan itu milik pemilik anjing atau milik pemburu. Di bawahnya adalah kemiripan benih yang ditanam di tanah ghashab, karena tanaman adalah milik pemilik benih namun padanya terdapat syubhat. Seandainya kita menetapkan hak menahan (haqqul habs) bagi pemilik tanah terhadap tanaman itu, niscaya ia seperti harga yang haram, tetapi yang lebih sesuai dengan kias adalah tidak ditetapkan hak menahan sebagaimana jika ia menggiling dengan mesin penggiling ghashab atau menangkap buruan dengan jaring ghashab, sebab hak pemilik jaring atas manfaatnya tidak berkaitan langsung dengan hasil buruan. Di bawahnya lagi adalah mencari kayu bakar dengan kapak ghashab, lalu menyembelih hewan miliknya sendiri dengan pisau ghashab, sebab tidak ada seorang pun yang berpendapat haramnya hewan sembelihan tersebut. Di bawahnya lagi adalah jual beli pada saat azan Jumat, sebab keterkaitannya dengan tujuan akad sangat lemah, meskipun ada sekelompok ulama yang berpendapat batalnya akad, karena yang ada padanya hanyalah sibuknya seseorang dengan jual beli dari kewajiban lain yang menjadi tanggungannya. Seandainya jual beli dibatalkan karena hal seumpama ini, niscaya batal pula jual beli setiap orang yang menanggung utang zakat satu dirham, atau Shalat yang terlewat yang wajib diqadha segera, atau di dalam tanggungannya ada kezaliman seberat satu danaq (seperenam dirham). Sebab kesibukan dengan jual beli menghalanginya dari menunaikan kewajiban-kewajiban. Maka Jumat tidak memiliki keistimewaan kecuali adanya kewajiban setelah azan. Dan hal itu akan berlanjut pada tidak sahnya pernikahan anak-anak para penguasa zalim dan setiap orang yang memiliki tanggungan satu dirham, karena ia disibukkan oleh ucapannya dari perbuatan yang diwajibkan atasnya; kecuali sekiranya pada hari Jumat terdapat larangan secara khusus yang mungkin terlintas di pemahaman adanya kekhususan padanya, sehingga makruhnya lebih keras, dan tidak mengapa bersikap waspada darinya. Namun terkadang hal itu berlanjut pada waswas hingga merasa enggan untuk menikahi putri-putri para pelaku kezaliman dan seluruh transaksi muamalah mereka.
وقد حكي عن بعضهم أنه اشترى شيئاً من رجل فسمع أنه اشتراه يوم الجمعة فرده خيفة أن يكون ذلك مما اشتراه وقت النداء وهذا غاية المبالغة أنه رد بالشك
Dan sungguh telah diceritakan dari sebagian mereka bahwa ia membeli sesuatu dari seseorang, lalu ia mendengar bahwa orang itu membelinya pada hari Jumat, maka ia mengembalikannya karena takut jika barang itu termasuk yang dibeli pada saat azan. Ini adalah puncak dari sikap berlebihan, yaitu ia mengembalikannya hanya karena keraguan.
ومثل هذا الوهم في تقدير المناهي أو المفسدات لا ينقطع عن يوم السبت وسائر الأيام والورع حسن والمبالغة فيه أحسن ولكن إلى حد معلوم فقد قال ﷺ هلك المتنطعون فليحذر من أمثال هذه المبالغات فإنها وإن كانت لا تضر صاحبها ربما أوهم عند الغير أن مثل ذلك مهم ثم يعجز عما هو أيسر منه فيترك أصل الورع وهو مستند أكثر الناس في زماننا هذا إذ ضيق عليهم الطريق فأيسوا عن القيام به فاطرحوه فكما أن الموسوس في الطهارة قد يعجز عن الطهارة فيتركها فكذا بعض الموسوسين في الحلال سبق إلى أوهامهم أن مال الدنيا كله حرام فتوسعوا فتركوا التمييز وهو عين الضلال
Prasangka (waham) semacam ini dalam mengira adanya larangan-larangan atau hal-hal yang membatalkan tidak akan pernah terputus dari hari Sabtu dan hari-hari lainnya. Wara' itu baik, dan mendalaminya lebih baik, namun hingga batas tertentu yang dimaklumi. Sungguh Nabi ﷺ telah bersabda: "Binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan (mutanaththi'un)." Maka hendaknya diwaspadai sikap-sikap berlebihan seperti ini, sebab meskipun tidak memudaratkan pelakunya, terkadang hal itu memberi prasangka pada orang lain bahwa perkara semacam itu sangat penting, kemudian ia menjadi lemah dan tidak sanggup melakukan hal yang lebih ringan darinya sehingga ia meninggalkan pokok dari wara' itu sendiri. Dan inilah yang menjadi sandaran mayoritas manusia pada zaman kita ini, ketika jalan itu disempitkan bagi mereka, mereka pun putus asa untuk menjalankannya lalu membuangnya sama sekali. Sebagaimana orang yang waswas dalam bersuci terkadang menjadi tidak mampu bersuci lalu meninggalkannya, begitu pula sebagian orang yang waswas dalam hal kehalalan; terlintas dalam prasangka mereka bahwa seluruh harta dunia adalah haram, sehingga mereka mempermudah diri lalu meninggalkan pemilahan (tamyiiz), dan hal itu adalah inti dari kesesatan.
وأما مثال اللواحق: فهو كُلُّ تَصَرُّفٍ يُفْضِي فِي سِيَاقِهِ إِلَى مَعْصِيَةٍ وأعلاه بيع العنب من الخمار وبيع الغلام من المعروف بالفجور بالغلمان وبيع السيف مِنْ قُطَّاعِ الطَّرِيقِ
Adapun contoh hal-hal yang mengikutinya (al-lawahiq): Yaitu setiap tindakan hukum yang dalam alurnya membawa pada kemaksiatan. Tingkatan tertingginya adalah menjual buah anggur kepada pembuat khamar, menjual anak laki-laki (ghulam) kepada orang yang dikenal dengan kejahatan seksual terhadap anak laki-laki, dan menjual pedang kepada para penyamun jalanan.
وَقَدِ اخْتَلَفَ الْعُلَمَاءُ فِي صِحَّةِ ذَلِكَ وَفِي حِلِّ الثَّمَنِ الْمَأْخُوذِ مِنْهُ
Para ulama telah berselisih pendapat mengenai keabsahan transaksi tersebut dan mengenai kehalalan harga (uang) yang diambil darinya.
وَالْأَقْيَسُ أَنَّ ذَلِكَ صَحِيحٌ وَالْمَأْخُوذَ حَلَالٌ وَالرَّجُلَ عَاصٍ بِعَقْدِهِ كَمَا يُعْصَى بِالذَّبْحِ بِالسِّكِّينِ الْمَغْصُوبِ والذبيحة حلال ولكنه يعصى عصيان الإعانة على المعصية إذ لا يتعلق ذلك بعين العقد فالمأخوذ مِنْ هَذَا مَكْرُوهٌ كَرَاهِيَةً شَدِيدَةً وَتَرْكُهُ مِنَ الورع المهم وليس بحرام ويليه في الرتبة بيع العنب ممن يشرب الخمر ولم يكن خماراً وبيع السيف ممن
Yang lebih sesuai dengan qiyas (analogi hukum) adalah bahwa transaksi tersebut sah dan uang yang diterima adalah halal, namun orang tersebut bermaksiat dengan akad yang dilakukannya, sebagaimana seseorang bermaksiat ketika menyembelih dengan pisau ghashab (hasil rampasan) padahal sembelihannya tetap halal. Hanya saja, ia bermaksiat dengan bentuk maksiat membantu perbuatan maksiat (i'anah 'alal ma'shiyah), karena hal itu tidak berkaitan langsung dengan zat akad itu sendiri. Oleh karena itu, apa yang diperoleh dari hal ini hukumnya makruh dengan karahah syadidah (sangat makruh), dan meninggalkannya termasuk warak yang penting, meskipun tidak sampai haram. Tingkatan selanjutnya adalah menjual anggur kepada peminum khamar yang bukan pembuat khamar, serta menjual pedang kepada orang yang…
يغزو ويظلم أيضاً لأن الاحتمال قد تعارض
…berperang dan juga berbuat zalim, karena adanya pertentangan kemungkinan (antara penggunaan untuk kebaikan atau keburukan).
وقد كره السلف بيع السيف في وقت الفتنة خيفة أن يشتريه ظالم فهذا ورع فوق الأول والكراهية فيه أخف ويليه ما هو مبالغة ويكاد يلتحق بالوسواس وهو قول جماعة أنه لا تجوز معاملة الفلاحين بآلات الحارث لأنهم يستعينون بها على الحراثة ويبيعون الطعام من الظلمة ولا يباع منهم البقر والفدان وآلات الحرث وهذا ورع الوسوسة إذ ينجر إلى أن لا يباع من الفلاح طعام لأنه يتقوى به على الحراثة ولا يسقى من الماء العام لذلك وينتهي هذا حد التنطع المنهي عنه وكل متوجه إلى شيء على قصد خير لا بد وأن يسرف إن لم يذمه العلم المحقق وربما يقدم على ما يكون بدعة في الدين ليستضر الناس بعده بها وهو يظن أنه مشغول بالخير وَلِهَذَا قَالَ ﷺ فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِي عَلَى أَدْنَى رَجُلٍ من أصحابي وَالْمُتَنَطِّعُونَ هُمُ الَّذِينَ يُخْشَى عَلَيْهِمْ أَنْ يَكُونُوا ممن قيل فيهم الذي ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أنهم يحسنون صنعاً وبالجملة لَا يَنْبَغِي لِلْإِنْسَانِ أَنْ يَشْتَغِلَ بِدَقَائِقِ الْوَرِعِ إِلَّا بِحَضْرَةِ عَالِمٍ مُتْقِنٍ فَإِنَّهُ إِذَا جَاوَزَ ما رسم وَتَصَرَّفَ بِذِهْنِهِ مِنْ غَيْرِ سَمَاعٍ كَانَ مَا يفسده أكثر مما يصلحه وقد روي عن سعد بن أبي وقاص ﵁ أنه أحرق كرمه خوفاً من أن يباع العنب ممن يتخذه خمراً وهذا لا أعرف له وجهاً إن لم يعرف هو سبباً خاصاً يوجب الإحراق إذا ما أحرق كرمه ونخله من كان أرفع قدرامنه من الصحابة
Para ulama Salaf telah membenci penjualan pedang pada masa kemelut fitnah karena khawatir akan dibeli oleh orang zalim. Ini adalah bentuk warak yang lebih tinggi dari tingkatan pertama, dan kemakruhannya lebih ringan. Selanjutnya adalah bentuk berlebihan (mubalaghah) yang hampir mendekati was-was, yaitu pendapat sekelompok orang bahwa tidak boleh bertransaksi dengan para petani terkait alat-alat bajak, sebab mereka menggunakannya untuk membajak lalu menjual hasil pertaniannya kepada orang-orang zalim, serta tidak boleh menjual sapi, lahan garapan, maupun alat-alat pertanian kepada mereka. Ini adalah warak yang lahir dari bisikan was-was, sebab hal ini akan merembet hingga tidak boleh menjual makanan kepada petani karena ia akan menggunakannya sebagai kekuatan untuk membajak, serta tidak boleh memberinya air umum karena alasan itu. Hal ini berujung pada batasan tanaṭṭu' (sikap berlebihan/ekstrem) yang dilarang. Setiap orang yang menuju pada sesuatu dengan niat kebaikan pasti akan berlebihan jika tidak dibimbing oleh ilmu yang mendalam. Bahkan terkadang ia melakukan sesuatu yang menjadi bid'ah dalam agama sehingga merugikan orang lain setelahnya, padahal ia mengira sedang sibuk dengan kebaikan. Oleh karena itu, Nabi ﷺ bersabda, "Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah seperti keutamaanku atas orang yang paling rendah di antara sahabatku." Dan orang-orang yang tanaṭṭu' adalah orang-orang yang dikhawatirkan termasuk golongan yang difirmankan Allah: "(Yaitu) orang-orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka mengira bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya." Kesimpulannya, tidak sepatutnya seseorang disibukkan dengan kedalaman warak yang rumit kecuali di bawah bimbingan seorang alim yang mendalam ilmunya (mutqin). Sebab jika ia melampaui garis ketentuan dan bertindak hanya dengan logikanya tanpa tuntunan riwayat/ilmu, maka kerusakan yang ia perbuat akan lebih banyak daripada kebaikan yang ia capai. Diriwayatkan dari Sa'ad bin Abi Waqqas radhiyallahu 'anhu bahwa beliau membakar kebun anggurnya karena khawatir anggurnya dijual kepada orang yang menjadikannya khamar. Namun, saya (Al-Ghazali) tidak melihat alasan yang kuat untuk perbuatan ini, kecuali jika beliau mengetahui sebab khusus yang mengharuskan pembakaran tersebut, sebab para sahabat lain yang kedudukannya lebih tinggi darinya tidak membakar kebun anggur dan kurma mereka.
ولو جاز هذا لجاز قطع الذكر خيفة من الزنا وقطع اللسان خيفة من الكذب إلى غير ذلك من الإتلافات
Seandainya hal semacam ini diperbolehkan, niscaya diperbolehkan pula memotong kemaluan karena takut perbuatan zina, atau memotong lidah karena takut berbohong, serta perusakan-perusakan lainnya.
وأما المقدمات: فلتطرق المعصية إليها ثلاث درجات: الدرجة العليا التي يشتد الكراهة فيها: ما بقي أثره في المتناول كالأكل من شاة علفت بعلف مغصوب أو رعت في مرعى حرام فإن ذلك معصية وقد كان سبباً لبقائها وربما يكون الباقي من دمها ولحمها وأجزائها من ذلك العلف وهذا الورع مهم وإن لم يكن واجبا ونقل ذلك عن جماعة من السلف
Adapun hal-hal perantara (pembuka jalan maksiat), maka celah masuknya maksiat padanya terbagi dalam tiga tingkatan: Tingkatan tertinggi yang tingkat kemakruhannya sangat kuat adalah apabila bekas maksiat tersebut masih tersisa pada benda yang dikonsumsi, seperti memakan daging domba yang diberi makan pakan ghashab (rampasan) atau digembalakan di padang rumput yang haram. Sebab hal itu merupakan maksiat dan menjadi sebab kelangsungan hidup domba tersebut, serta boleh jadi sisa-sisa darah, daging, dan anggota tubuhnya berasal dari pakan tersebut. Warak semacam ini sangat penting meskipun tidak wajib, dan hal ini diriwayatkan dari sejumlah ulama Salaf.
وكان لأبي عبد الله الطوسي التروغندي شاة يحملها على رقبته كل يوم إلى الصحراء ويرعاها وهو يصلي وكان يأكل من لبنها فغفل عنها ساعة فتناولت من ورق كرم على طرف بستان فتركها في البستان ولم يستحل أخذها
Abu 'Abdillah At-Thusi At-Tarughandi dahulu memiliki seekor domba yang selalu dipikulnya di atas tengkuknya setiap hari menuju padang gembala, lalu ia menggembalakannya seraya melaksanakan shalat dan mengonsumsi susunya. Suatu ketika ia lalai sejenak darinya, lalu domba itu memakan daun anggur di pinggir sebuah kebun. Maka ia meninggalkan domba tersebut di kebun itu dan tidak menganggap halal untuk mengambilnya kembali.
فإن قيل: فقد روي عن عبد الله بن عمر وعبيد الله أنهما اشتريا إبلاً فبعثاها إلى الحمى فرعته إبلهما حتى سمنت فقال عمر ﵁: أرعيتماها في الحمى فقالا: نعم فشاطرهما
Jika ada yang bertanya: Bukankah telah diriwayatkan dari 'Abdullah bin 'Umar dan 'Ubaidullah bahwa keduanya membeli unta lalu mengirimnya ke kawasan cagar alam (hima) milik negara hingga unta-unta mereka gemuk. Lantas 'Umar radhiyallahu 'anhu berkata: "Apakah kalian menggembalakannya di hima?" Keduanya menjawab: "Ya." Maka 'Umar membagi dua hasilnya dengan mereka.
وفهذا يدل على أنه رأى اللحم الحاصل من العلف لصاحب العلف فليوجب هذا تحريماً
Hal ini menunjukkan bahwa beliau menganggap daging yang tumbuh dari pakan adalah milik pemilik pakan (kas negara), maka bukankah ini mestinya mewajibkan keharaman?
قلنا: ليس كذلك فإن العلف يفسد بالأكل واللحم خلق جديد وليس عين العلف فلا شركة لصاحب العلف شرعاً ولكن عمر غرمهما قيمة الكلأ ورأى ذلك مثل شطر الإبل فأخذ الشطر بالاجتهاد كما شاطر سعد بن أبي وقاص ماله لما أن قدم من الكوفة وكذلك شاطر أبا هريرة ﵁ إذ رأى أن كل ذلك لا يستحقه العامل ورأى شطر ذلك كافياً على حق عملهم وقدره بالشطر اجتهاداً
Kami jawab: Tidak demikian, sebab pakan itu hancur dengan dimakan, sedangkan daging adalah ciptaan baru dan bukan zat pakan itu sendiri. Karena itu, secara syariat tidak ada kepemilikan serikat bagi pemilik pakan. Akan tetapi, 'Umar membebani keduanya membayar ganti rugi seharga rumput tersebut dan menganggap nilainya setara dengan separuh unta, lalu beliau mengambil separuhnya berdasarkan ijtihad. Sebagaimana beliau membagi dua harta Sa'ad bin Abi Waqqas ketika datang dari Kufah, dan begitu pula beliau membagi dua harta Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu ketika melihat bahwa seluruhnya tidak sepenuhnya menjadi hak pekerja, dan menganggap separuhnya sudah mencukupi sebagai hak kerja mereka, lalu menetapkannya sebesar separuh berdasarkan ijtihad.
الرتبة الوسطى ما نقل عن بشر بن الحارث من امتناعه عن الماء المساق في نهر احتفره الظلمة لأن النهر موصل إليه وقد عصى الله بحفره
Tingkatan pertengahan adalah apa yang diriwayatkan dari Bisyr bin Al-Harits, berupa penolakannya untuk meminum air yang dialirkan di sungai yang digali oleh orang-orang zalim, karena sungai tersebut merupakan perantara yang mengalirkannya, padahal penggaliannya dilakukan dengan bermaksiat kepada Allah.
وامتنع آخر عن عنب كرم يسقى بماء يجري في نهر حفر ظلماً وهو أرفع منه وأبلغ في الورع
Tokoh lain menolak memakan anggur dari kebun yang disirami dengan air yang mengalir di sungai yang digali secara zalim. Ini lebih tinggi dan lebih mendalam dalam derajat warak.
وامتنع آخر من الشرب من مصانع السلاطين في الطرق
Dan tokoh lainnya menolak minum dari tempat-tempat penampungan air (fasilitas publik) yang dibangun para penguasa di jalan-jalan.
وأعلى من ذلك امتناع ذي النون من طعام حلال أوصل إليه على يد سجان وقوله: إنه جاءني على يد ظالم ودرجات هذه الرتب لا تنحصر
Yang lebih tinggi dari itu adalah penolakan Dzun Nun terhadap makanan halal yang diantarkan kepadanya melalui perantara seorang sipir penjara, serta ucapannya: "Sesungguhnya makanan ini sampai kepadaku melalui tangan orang zalim." Tingkatan-tingkatan pada tingkatan ini tidak terbatas.
الرتبة الثالثة وهي قريب من الوسواس والمبالغة أن يمتنع من حلال وصل على يد رجل عصى الله بالزنا أو القذف وليس هو كما لو عصى بأكل
Tingkatan ketiga yang mendekati was-was dan berlebih-lebihan adalah menolak makanan halal yang sampai melalui perantara seseorang yang bermaksiat kepada Allah dengan perbuatan zina atau tuduhan zina (qadzaf). Hal ini tidak sama seperti jika ia bermaksiat dengan memakan…
الحرام فإن الموصل قوته الحاصلة من الغذاء الحرام والزنا والقذف لا يوجب قوة يستعان بها على الحمل بل الامتناع من أخذ حلال وصل على يد كافر وسواس بخلاف أكل الحرام إذ الكفر لا يتعلق بحمل الطعام وينجر هذا إلى أن لا يؤخذ من يد من عصى الله ولو بغيبة أو كذبة وهو غاية التنطع والإسراف فليضبط ما عرف من ورع ذي النون وبشر بالمعصية في السبب الموصل كالنهر وقوة اليد المستفادة بالغذاء الحرام
…makanan haram. Sebab kekuatan pengantar tersebut berasal dari asupan makanan yang haram, sedangkan perbuatan zina dan qadzaf tidak menghasilkan kekuatan fisik yang digunakan untuk membawa barang. Bahkan menolak mengambil barang halal yang sampai melalui perantara orang kafir merupakan bentuk was-was, berbeda dengan memakan harta haram, karena kekufuran tidak ada hubungannya dengan kekuatan membawa makanan. Jika hal ini diteruskan, akan merembet pada sikap tidak mau menerima barang dari tangan orang yang bermaksiat kepada Allah meskipun hanya dengan ghibah atau kebohongan kecil, dan ini adalah puncak tanaṭṭu' (sikap berlebihan) dan pemborosan. Maka, batasilah warak yang dikenal dari Dzun Nun dan Bisyr pada maksiat yang terdapat pada perantara langsung, seperti saluran sungai dan kekuatan tangan yang diperoleh dari asupan makanan haram.
ولو امتنع عن الشرب بالكوز لأن صانع الفخار الذي عمل الكوز كان قد عصى الله يوماً بضرب إنسان أو شتمه لكان هذا وسواساً
Seandainya seseorang enggan minum dari cangkir tembikar karena pembuat tembikar tersebut pernah suatu hari bermaksiat kepada Allah dengan memukul atau memaki orang lain, niscaya hal ini merupakan bentuk was-was.
ولو امتنع من لحم شاة ساقها آكل حرام فهذا أبعد من يد السجان لأن الطعام يسوقه قوة السجان والشاة تمشي بنفسها والسائق يمنعها عن العدول في الطريق فقط فهذا قريب من الوسواس
Seandainya seseorang enggan memakan daging domba yang digiring oleh pemakan harta haram, maka hal ini lebih jauh dampaknya daripada kasus tangan sipir penjara. Sebab makanan itu diangkut oleh kekuatan fisik sipir, sedangkan domba itu berjalan sendiri dan penggiring hanya mencegahnya agar tidak menyimpang dari jalan. Maka sikap enggan ini sangat dekat dengan was-was.
فانظر كيف تدرجنا في بيان ما تتداعى إليه هذه الأمور
Maka perhatikanlah bagaimana kita telah menguraikan secara bertahap penjelasan mengenai keterkaitan perkara-perkara ini.
واعلم أن كل هذا خارج عن فتوى علماء الظاهر فإن فتوى الفقيه تختص بالدرجة الأولى التي يمكن تكليف عامة الخلق بها ولو اجتمعوا عليه لم يخرب العالم دون ما عداه من ورع المتقين والصالحين
Dan ketahuilah bahwa seluruh pembahasan ini berada di luar wilayah fatwa ulama lahir (ahli fiqih). Sebab fatwa seorang ahli fiqih hanya khusus mencakup tingkatan pertama yang memungkinkan untuk dibebankan kepada masyarakat awam, yang seandainya mereka semua melaksanakannya, tidak akan merusak keteraturan dunia, bukan tingkatan-tingkatan lainnya yang merupakan warak bagi orang-orang bertakwa dan shaleh.
والفتوى في هذا ما قاله ﷺ لوابصة إذ قال: استفت قلبك وإن أفتوك وأفتوك وأفتوك وعرف ذلك إذ قال الإثم حزاز القلوب
Fatwa dalam masalah ini adalah sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah ﷺ kepada Wabishah ketika beliau bersabda: "Mintalah fatwa kepada hatimu, meskipun orang-orang telah memberimu fatwa, memberimu fatwa, dan memberimu fatwa." Beliau menjelaskan hal itu ketika bersabda: "Dosa adalah apa yang mengganjal dalam hati."
وكل ما حاك في صدر المريد من هذه الأسباب فلو أقدم عليه مع حزازة القلب استضربه وأظلم قلبه بقدر الحزازة التي يجدها بل لو أقدم على حرام في علم الله وهو يظن أنه حلال لم يؤثر ذلك في قساواة قلبه ولو أقدم على ما هو حلال في فتوى علماء الظاهر ولكنه يجد حزازة في قلبه فذلك يضره
Setiap hal yang mengganjal di dalam dada seorang murid (salik) dari sebab-sebab ini, jika ia tetap menerjangnya disertai ganjalan dalam hati, maka hal itu akan membawa kemudaratan baginya dan meredupkan cahaya hatinya sebesar ganjalan yang ia rasakan. Bahkan, seandainya ia melakukan sesuatu yang haram menurut ilmu Allah sementara ia mengiranya halal, hal itu tidak mempengaruhi kekerasan hatinya. Sebaliknya, jika ia menerjang sesuatu yang halal menurut fatwa ulama lahiriah namun ia mendapati ganjalan di dalam hatinya, maka hal tersebut justru membahayakannya.
وإنما الذي ذكرناه في النهي عن المبالغة أردنا به أن القلب الصافي المعتدل هو الذي لا يجد حزاز في مثل تلك الأمور فإن مال قلب موسوس عن الاعتدال ووجد الحزازة فأقدم مع ما يجد في قلبه فذلك يضره لأنه مأخوذ في حق نفسه بينه وبين الله تعالى بفتوى قلبه
Adapun apa yang kami sebutkan mengenai larangan berlebih-lebihan (dalam keraguan/was-was), maksud kami adalah bahwa hati yang bersih dan lurus tidak akan mendapati ganjalan dalam hal-hal semacam itu. Namun, jika hati seseorang yang tertimpa was-was berpaling dari kelurusan dan mendapati ganjalan, lalu ia tetap menerjangnya beserta ganjalan di hatinya, maka hal itu membahayakannya; karena pada hak dirinya sendiri di antara ia dan Allah Ta'ala, ia dituntut berdasarkan fatwa hatinya.
وكذلك يشدد على الموسوس في الطهارة ونية الصلاة فإنه إذا غلب على قلبه أن الماء لم يصل إلى جميع أجزائه بثلاث مرات لغلبة الوسوسة عليه فيجب عليه أن يستعمل الرابعة وصار ذلك حكماً في حقه وإن كان مخطئاً في نفسه أولئك قوم شددوا فشدد الله عليهم ولذلك شدد على قوم موسى ﵇ لما استقصوا في السؤال عن البقرة ولو أخذوا أولاً بعموم لفظ البقرة وكل ما ينطلق عليه الاسم لأجزأهم ذلك
Demikian pula orang yang tertimpa was-was dalam bersuci dan niat shalat diperberat atas dirinya. Jika dalam hatinya terbesit sangkaan kuat akibat besarnya was-was bahwa air belum merata ke seluruh anggota tubuhnya dengan tiga kali basuhan, maka wajib baginya menggunakan basuhan keempat, dan hal itu menjadi hukum bagi hak dirinya meskipun sebenarnya ia keliru. Mereka adalah kaum yang memperberat diri sendiri, maka Allah pun memperberat hukum atas mereka. Oleh karena itu, diperberat pula atas kaum Musa ʿalaihis-salām ketika mereka berlebih-lebihan dalam mempertanyakan tentang sapi betina; padahal seandainya sejak awal mereka mengambil keumuman lafaz sapi betina dan segala apa yang mencakup nama tersebut, niscaya hal itu sudah mencukupi bagi mereka.
فلا تغفل عن هذه الدقائق التي رددناها نفياً وإثباتاً فإن من لا يطلع على كنه الكلام ولا يحيط بمجامعه يوشك أن يزل في درك مقاصده
Maka janganlah engkau lalai dari kehalusan-kehalusan makna ini yang telah kami penjelasannya bolak-balikkan antara penolakan dan penetapannya. Sesungguhnya barang siapa yang tidak memahami hakikat terdalam dari ucapan ini dan tidak menguasai seluruh cakupannya, dikhawatirkan ia akan tergelincir dalam memahami maksud-maksudnya.
وأما المعصية في العوض فله أيضاً درجات الدرجة العليا التي تشتد الكراهة فيها أن يشتري شيئاً في الذمة ويقضي ثمنه من غصب أو مال حرام فينظر فإن سلم إليه البائع الطعام قبل قبض الثمن بطيب قلبه فأكله قبل قضاء الثمن فهو حلال وتركه ليس بواجب بالإجماع أعني قبل قضاء الثمن ولا هو أيضاً من الورع المؤكد فإن قضى الثمن بعد الأكل من الحرام فكأنه لم يقض الثمن ولو لم يقضه أصلاً لكان متقلداً للمظلمة بترك ذمته مرتهنة بالدين ولا ينقلب ذلك حراماً
Adapun maksiat yang terjadi pada pengganti (iwadh/harga pembayaran), hal itu juga memiliki tingkatan-tingkatan. Tingkatan tertinggi yang sangat makruh adalah ketika seseorang membeli sesuatu secara tanggungan (dalam dzimmah), lalu ia melunasi harganya dari harta ghasab atau harta haram. Maka perlu dilihat: jika penjual menyerahkan makanan kepadanya sebelum menerima pembayaran dengan kerelaan hatinya, lalu ia memakannya sebelum melunasi pembayaran, maka makanan itu halal, dan meninggalkannya tidaklah wajib berdasarkan ijmak—maksud saya sebelum melunasi pembayaran—dan hal itu juga bukan termasuk wara' yang sangat ditekankan. Jika ia melunasi harganya setelah memakannya dari harta haram, maka seolah-olah ia belum melunasi harganya. Seandainya ia tidak melunasinya sama sekali, ia telah menanggung kezaliman dengan membiarkan tanggungannya tersandera oleh utang, dan barang tersebut tidak serta-merta berubah menjadi haram.
فإن قضى الثمن من الحرام وأبرأه البائع مع العلم بأنه حرام فقد برئت ذمته ولم يبق عليه إلا مظلمة تصرفه في الدراهم الحرام بصرفها إلى البائع وإن أبرأه على ظن أن الثمن حلال فلا تحصل البراءة لأنه يبرئه مما أخذه إبراء استيفاء ولا يصلح ذلك للإيفاء
Jika ia membayar harganya dari barang haram dan penjual membebaskannya dari tanggungan sementara penjual mengetahui bahwa pembayaran itu haram, maka tanggungannya telah bebas, dan tidak ada yang tersisa baginya selain kezaliman atas tindakannya membelanjakan dirham haram tersebut kepada penjual. Namun jika penjual membebaskannya atas dugaan bahwa pembayaran itu halal, maka pembebasan tanggungan tidak terjadi; sebab penjual membebaskannya dari apa yang ia terima sebagai bentuk pelunasan sempurna, padahal barang haram itu tidak sah untuk dijadikan pelunasan.
هذا حكم المشتري والأكل منه وحكم الذمة وإن لم يسلم إليه بطيب قلب ولكن أخذه فأكله حرام سواء أكله قبل توفية الثمن من الحرام أو بعده لأن الذي تومئ الفتوى به ثبوت حق الحبس للبائع حتى يتعين ملكه بإقباض النقد كما تعين ملك المشتري وإنما يبطل حق حبسه إما بالإبراء
Ini adalah hukum bagi pembeli, mengonsumsinya, dan hukum tanggungan jika barang tersebut diserahkan dengan kerelaan hati penjual. Namun jika penjual tidak menyerahkannya dengan kerelaan hati, melainkan pembeli mengambilnya lalu memakannya, maka hal itu haram, baik ia memakannya sebelum pelunasan pembayaran yang haram maupun sesudahnya. Sebab, fatwa menunjukkan tetapnya hak menahan barang bagi penjual sampai kepemilikannya menjadi pasti dengan penyerahan uang pembayaran sebagaimana kepemilikan pembeli telah pasti. Hak menahannya hanya bisa batal baik dengan pembebasan…
أو الاستيفاء ولم يجر شيء منهما ولكنه أكل ملك نفسه وهو عاص به عصيان الراهن للطعام إذا أكله بغير إذن المرتهن وبينه وبين أكل طعام الغير فرق ولكن أصل التحريم شامل هذا كله إذا قبض قبل توفية الثمن إما بطيبة قلب البائع أو من غير طيبة قلبه
…atau dengan pelunasan. Padahal tidak satu pun dari kedua hal itu terjadi, tetapi pembeli tersebut memakan milik dirinya sendiri sementara ia bermaksiat padanya sebagaimana maksiatnya orang yang menggadaikan (rahin) makanan jika ia memakannya tanpa izin pemegang gadai (murtahin). Memang ada perbedaan antara hal ini dan memakan makanan orang lain, tetapi dasar keharaman mencakup semua ini. Hal tersebut berlaku jika penerimaan barang terjadi sebelum pelunasan pembayaran, baik dengan kerelaan hati penjual maupun tanpa kerelaan hatinya.
فأما إذا وفى الثمن الحرام أولاً ثم قبض فإن كان البائع عالماً بأن الثمن حرام ومع هذا أقبض المبيع بطل حق حبسه وبقي له الثمن في ذمته إذ ما أخذه ليس بثمن ولا يصير أكل المبيع حراماً بسبب بقاء الثمن فأما إذا لم يعلم أنه حرام وكانت بحيث لو علم لما رضي به ولا أقبض المبيع فحق حبسه لا يبطل بهذا التلبيس فأكله حرام تحريم أكله المرهون إلى أن يبرئه أو يوفى من حلال أو يرضى هو بالحرام ويبرئ فيصح إبراؤه ولا يصح رضاه بالحرام فهذا مقتضى الفقه وبيان الحكم في الدرجة الأولى من الحلل والحرمة فأما الامتناع عنه فمن الورع المهم لأن المعصية إذا تمكنت من السبب الموصل إلى الشيء تشتد الكراهية فيه كما سبق وأقوى الأسباب الموصلة الثمن ولولا الثمن الحرام لما رضي الله البائع بتسلميه إليه فرضاه لا يخرجه عن كونه مكروهاً كراهية شديدة ولكن العدالة لا تنخرم به وتزول به درجة التقوى والورع
Adapun jika pembeli melunasi pembayaran yang haram terlebih dahulu baru kemudian menerima barangnya: jika penjual mengetahui bahwa pembayaran itu haram namun tetap menyerahkan barang dagangannya, maka gugurlah hak menahannya dan harganya tetap menjadi utang pada tanggungan pembeli, karena apa yang diterimanya bukanlah harga yang sah; dan mengonsumsi barang dagangan tersebut tidak menjadi haram hanya karena belum dilunasinya harga. Namun jika penjual tidak mengetahui bahwa itu haram, sekiranya jika ia tahu tentu tidak akan rela dan tidak menyerahkan barang tersebut, maka hak menahannya tidak gugur oleh penipuan ini. Mengonsumsinya adalah haram sebagaimana haramnya mengonsumsi barang gadai sampai penjual membebaskannya, atau dilunasi dari harta yang halal, atau penjual rela dengan barang haram tersebut lalu membebaskan tanggungannya; maka pembebasannya sah, sedangkan kerelaannya atas yang haram tidaklah sah. Inilah konsekuensi fiqih dan penjelasan hukum pada tingkat pertama dari kehalalan dan keharaman. Adapun menahan diri darinya merupakan bagian dari wara' yang penting, karena jika kemaksiatan bertaut erat pada sebab yang mengantarkan kepada sesuatu, maka kemakruhan padanya menjadi sangat kuat sebagaimana penjelasan lalu. Sebab paling kuat yang mengantarkan adalah harga/alat pembayaran; seandainya bukan karena pembayaran haram itu, tentu penjual tidak akan rela menyerahkannya. Kerelaannya tidak mengeluarkan hal itu dari status makruh dengan makruh yang berat, tetapi keadilan seseorang tidak gugur karenanya meskipun derajat ketakwaan dan wara'-nya menjadi hilang.
ولو اشترى سلطان مثلاً ثوباً أو أرضاً في الذمة وقبضه برضا البائع قبل توفية الثمن وسلمه إلى فقيه أو غيره صلة أو خلعة وهو شاك في أنه سيقضي ثمنه من الحلال أو الحرام فهذا أخف إذ وقع الشك في تطرق المعصية إلى الثمن وتفاوت خفته بتفاوت كثرة الحرام وقلته في مال ذلك السلطان وما يغلب على الظن فيه وبعضه أشد من بعض والرجوع فيه إلى ما ينقدح في القلب
Seandainya seorang penguasa (sultan) misalnya, membeli pakaian atau tanah atas tanggungannya lalu menerimanya dengan kerelaan penjual sebelum pelunasan pembayaran, kemudian memberikan barang itu kepada seorang ahli fiqih atau lainnya sebagai hadiah atau pakaian kehormatan (khil'ah), sementara ia (penerima) ragu apakah sultan akan melunasi harganya dari harta yang halal atau haram, maka hal ini lebih ringan karena keraguan terletak pada masuknya kemaksiatan pada pembayaran tersebut. Ringannya hal ini berbeda-beda sesuai dengan tingkat banyak atau sedikitnya harta haram pada harta penguasa tersebut serta apa yang terbersit kuat dalam prasangka padanya; sebagian keadaannya lebih berat daripada yang lain, dan rujukan dalam hal ini adalah apa yang terbersit di dalam hati.
الرتبة الوسطى أن لا يكون العوض غصباً ولا حراماً ولكن يتهيأ لمعصية كما لو سلم عوضاً عن الثمن عنباً والآخذ شارب الخمر أو سيفاً وهو قاطع طريق فهذا لا يوجب تحريماً في مبيع اشتراه في الذمة ولكن يقتضي فيه كراهية دون الكراهية التي في الغصب وتتفاوت درجات هذه الرتبة أيضاً بتفاوت غلبة المعصية على قابض الثمن وندوره ومهما كان العوض حراماً فبذله حرام وإن احتمل تحريمه ولكن أبيح بظن فبذله مكروه وعليه ينزل عندي النهي عن كسب الحجام وكراهته
Tingkatan menengah (al-rutbah al-wustha) adalah pengganti (pembayaran) tidak berupa ghasab maupun barang haram, melainkan bersiap/mengarah pada kemaksiatan, seperti menyerahkan anggur sebagai pembayaran harga sedangkan penerimanya adalah peminum khamar, atau menyerahkan pedang sementara penerimanya adalah perampok jalanan. Hal ini tidak mewajibkan keharaman pada barang yang dibeli secara tanggungan, melainkan menuntut adanya kemakruhan yang tingkatan makruhnya di bawah ghasab. Tingkatan pada tingkatan ini juga berbeda-beda sesuai dengan dominansi maksiat pada penerima pembayaran tersebut atau kelangkaannya. Kapan pun pembayaran berupa hal yang haram, maka menyerahkannya adalah haram; dan jika ada kemungkinan haram namun dibolehkan berdasarkan dugaan, maka menyerahkannya adalah makruh. Atas dasar inilah menurut pandangan saya penafsiran larangan dan kemakruhan atas penghasilan tukang bekam (hijam).
إذ نهى عنه ﵇ مرات ثم أمر بأن يعلف الناضح
…sebab Rasulullah ﷺ melarangnya beberapa kali, kemudian memerintahkan agar (penghasilan bekam itu) diberikan untuk pakan unta penyiram tanaman.
وما سبق إلى الوهم من أن سببه مباشرة النجاسة والقذر فاسد إذ يجب طرده في الدباغ والكناس ولا قائل به وإن قيل به فلا يمكن طرده في القصاب إذ كيف يكون كسبه مكروهاً وهو بدل عن اللحم واللحم في نفسه غير مكروه ومخامرة القصاب النجاسة أكثر منه للحجام والفصاد فإن الحجام يأخذ الدم بالمحجمة ويمسحه بالقطنة ولكن السبب أن في الحجامة والفصد تخريب بنية الحيوان وإخراجها لدمه وبه قوام حياته والأصل فيه التحريم وإنما يحل بضرورة وتعلم الحاجة والضرورة بحدس واجتهاد وربما يظن نافعاً ويكون ضاراً فيكون حراماً عند الله تعالى ولكن يحكم بحله بالظن والحدس
Apa yang terlintas dalam prasangka bahwa sebabnya adalah persentuhan langsung dengan najis dan kotoran merupakan andaian yang keliru; karena seandainya demikian, tentu konsekuensi hukum tersebut harus diberlakukan pula pada penyamak kulit dan penyapu kotoran, padahal tidak ada seorang pun yang berpendapat demikian. Kalaupun hal itu dikatakan, tidak mungkin diberlakukan secara konsisten pada jagal hewan; sebab bagaimana mungkin usahanya dikategorikan makruh sementara ia merupakan pengganti dari daging, padahal daging itu sendiri tidak makruh, sedangkan persentuhan jagal dengan najis jauh lebih banyak ketimbang tukang bekam (hijam) dan tukang potong pembuluh darah (fassad)? Tukang bekam mengambil darah dengan alat bekam dan mengusapnya dengan kapas. Akan tetapi, sebab sebenarnya adalah bahwa dalam pembekaman dan pemotongan pembuluh darah terdapat tindakan merusak susunan tubuh makhluk hidup dan mengeluarkan darahnya yang menjadi penopang hidupnya; padahal hukum asalnya adalah haram dan hanya menjadi halal karena darurat. Kebutuhan dan kedaruratan itu diketahui melalui perkiraan dan ijtihad; terkadang disangka bermanfaat padahal membahayakan, sehingga menjadi haram di sisi Allah Ta'ala, namun dihukumi halal secara lahiriah berdasarkan prasangka dan perkiraan.
ولذلك لا يجوز للفصاد فصد صبي وعبد ومعتوه إلا بإذن وليه وقول طبيب ولولا أنه حلال في الظاهر لما أعطي ﵇ أجرة الحجام
Oleh karena itu, tidak boleh bagi tukang pemotong pembuluh darah (fassad) melukai pembuluh darah anak kecil, hamba sahaya, atau orang kurang ingatan melainkan dengan izin walinya dan atas petunjuk dokter. Seandainya hal itu tidak halal secara lahiriah, niscaya Nabi ﷺ tidak akan memberikan upah kepada tukang bekam.
ولولا أنه يحتمل التحريم لما نهى عنه فلا يمكن الجمع بين إعطائه ونهيه إلا باستنباط هذا المعنى
Dan seandainya hal itu tidak mengandung kemungkinan haram, niscaya beliau tidak akan melarangnya. Maka tidak mungkin mengompromikan antara pemberian upah oleh beliau dan larangannya melainkan dengan mengintisarikan makna ini.
وهذا كان ينبغي أن نذكره في القرائن المقرونة بالسبب فإنه أقرب إليه
Hal ini sebenarnya patut kami sebutkan pada bagian indikasi-indikasi yang menyertai sebab, karena hal itu lebih dekat kepadanya.
الرتبة السفلى وهي درجة الموسوسين وذلك أن يحلف إنسان على
Tingkatan terendah (al-rutbah al-sufla) adalah derajat orang-orang yang tertimpa was-was, yaitu ketika seseorang bersumpah untuk…
أن لا يلبس من غزل أمه فباع غزلها واشترى به ثوباً فهذا لا كراهية فيه والورع عنه وسوسة
…tidak memakai pakaian dari hasil pintalan ibunya, lalu ia menjual hasil pintalan ibunya dan membeli pakaian dengannya. Maka hal ini tidak mengandung kemakruhan sama sekali, dan bersikap wara' darinya adalah suatu bentuk was-was.
وروي عن المغيرة أنه قال في هذه الواقعة: لا يجوز واستشهد بأن النبي ﷺ قال لعن الله اليهود حرمت عليهم الخمور فباعوها وأكلوا أثمانها
Diriwayatkan dari al-Mughirah bahwa ia berkata mengenai peristiwa ini: "Tidak boleh," dan ia berdalil bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Semoga Allah melaknat kaum Yahudi, diharamkan atas mereka khamr, lalu mereka menjualnya dan memakan hasil penjualannya."
وهذا غلط لأن بيع الخمور باطل إذ لم يبق للخمر منفعة في الشرع وثمن البيع الباطل حرام وليس هذا من ذلك بل مثال هذا أن يملك الرجل جارية هي أخته من الرضاع فتباع بجارية أجنبية فليس لأحد أن يتورع منه وتشبيه ذلك ببيع الخمر غاية السرف في هذا الطرف
Dan ini adalah kekeliruan, karena jual beli khamar adalah batal (batil) sebab tidak ada lagi manfaat bagi khamar menurut syariat, dan hasil penjualan yang batil adalah haram. Sedangkan permasalahan ini tidak termasuk ke dalam hal tersebut. Sebaliknya, contoh permasalahan ini adalah seseorang yang memiliki seorang hamba sahaya perempuan yang merupakan saudara sepersusuannya, lalu ia menjualnya dengan menukarkannya dengan hamba sahaya perempuan lain (bukan mahram). Maka tidak ada alasan bagi siapa pun untuk bersikap wara' (menjauhinya), dan mengumpamakan transaksi tersebut dengan jual beli khamar adalah bentuk sikap yang sangat berlebihan dalam hal ini.
وقد عرفنا جميع الدرجات وكيفية التدريج فيها وإن كان تفاوت هذه الدرجات لا ينحصر في ثلاث أو أربع ولا في عدد ولكن المقصود من التعديد التقريب والتفهيم
Kita telah memahami seluruh tingkatan (derajat) beserta tata cara pemeringkatannya, meskipun perbedaan antar tingkatan ini tidak terbatas pada tiga atau empat tingkatan saja, tidak pula pada jumlah tertentu. Namun, tujuan dari pembagian bilangan ini adalah untuk mendekatkan pemahaman dan mempermudah pengertian.
فإن قيل: فَقَدْ قَالَ ﷺ مَنْ اشترى ثوباً بعشرة دراهم فيها درهم حرام لم يقبل الله له صلاة ما كان عليه
Jika ada yang bertanya: Bukankah Rasulullah ﷺ telah bersabda, 'Barang siapa membeli pakaian seharga sepuluh dirham yang di dalamnya terdapat satu dirham haram, maka Allah tidak akan menerima shalatnya selama pakaian itu melekati tubuhnya'?
ثم أدخل ابن عمر أصبعيه في أذنيه وقال: صمتاً إن لم أكن سمعته منه قلنا ذلك محمول على ما لو أشترى بعشرة بعينها لا في الذمة وإذا اشترى في الذمة فقد حكمنا بالتحريم في أكثر الصور فليحمل عليها ثم كم من ملك يتوعد عليه بمنع قبول الصلاة لمعصية تطرقت إلى سببه وإن لم يدل ذلك على فساد العقد كالمتشري في الوقت النداء وغيره المثار الرابع الاختلاف في الأدلة
Kemudian Ibnu Umar memasukkan kedua jarinya ke dalam kedua telinganya seraya berkata: 'Semoga kedua telingaku ini tuli jika aku tidak mendengarnya langsung dari beliau.' Kami katakan: Hadis tersebut dipahami jika seseorang membeli dengan sepuluh dirham yang ditentukan wujud fisiknya (bi 'ainiha), bukan secara tanggungan (fi adz-dzimmah). Namun jika ia membeli secara tanggungan, kami pun menetapkan hukum haram pada mayoritas bentuknya, maka hendaknya hadis tersebut dibawakan pada pemahaman ini. Di samping itu, betapa banyak kepemilikan yang diancam dengan ditolaknya shalat disebabkan adanya maksiat yang menyusup pada sebab kepemilikannya, meskipun hal itu tidak menunjukkan rusaknya akad, seperti pembeli pada saat azan shalat Jumat dibunyikan dan contoh lainnya. Penyebab keraguan keempat: Perbedaan dalam dalil-dalil.
فإن ذلك كالاختلاف في السبب لأن السبب سبب لحكم الحل والحرمة
Sebab hal tersebut seperti halnya perbedaan dalam sebab hukum, karena sebab merupakan pendorong bagi ketetapan hukum halal dan haram.
والدليل سبب لمعرفة الحل والحرمة فهو السبب في حق المعرفة ولم يثبت في معرفة الغير فلا فائدة لثبوته في نفسه وإن جرى سببه في علم الله وهو إما أن يكون لتعارض أدلة الشرع أو لتعارض العلامات الدالة أو لتعارض التشابه
Sedangkan dalil adalah sebab untuk mengetahui halal dan haram, maka ia menjadi sebab dalam ranah pengetahuan manusia. Jika ia tidak terbukti dalam pengetahuan orang lain, maka tidak ada faedahnya penetapannya pada diri dalil itu sendiri, meskipun sebabnya telah berlaku dalam ilmu Allah. Hal ini bisa terjadi karena pertentangan (ta'arudh) dalil-dalil syariat, pertentangan tanda-tanda yang menunjukkannya, ataupun pertentangan akibat adanya keserupaan.
القسم الأول: أن تتعارض أدلة الشرع مثل تعارض عمومين من القرآن أو السنة أو التعارض قياسين أو تعارض قياس وعموم
Kategori Pertama: Pertentangan di antara dalil-dalil syariat, seperti pertentangan antara dua dalil umum dari Al-Qur'an atau As-Sunnah, pertentangan antara dua qiyas, atau pertentangan antara qiyas dengan dalil umum.
وكل ذلك يورث الشك ويرجع فيه إلى الاستصحاب أو الأصل المعلوم قبله إن لم يكن ترجيح فإن ظهر ترجيح في جانب الحظر وجب الأخذ به وإن ظهر في جانب الحل جاز الأخذ به ولكن الورع تركه
Semua hal tersebut menimbulkan keraguan, dan penyelesaiannya dikembalikan kepada prinsip istishhab (keberlanjutan hukum asal) atau hukum asal yang diketahui sebelumnya jika tidak terdapat tarjih (penguatan salah satu dalil). Apabila tampak penguatan pada sisi larangan (haram), maka wajib mengikutinya. Namun jika tampak pada sisi kehalalan, maka boleh mengikutinya, akan tetapi sikap wara' adalah meninggalkannya.
واتقاء مواضع الخلاف مهم في الورع في حق المفتي والمقلد وإن كان المقلد يجوز له أن يأخذ بما أفتى له مقلده الذي يظن أنه أفضل علماء بلده ويعرف ذلك بالتسامع كما يعرف أفضل أطباء البلد بالتسامع والقرائن وإن كان لا يحسن الطب
Menjauhi titik-titik perselisihan (khilafiyah) merupakan hal penting dalam wara' baik bagi pemberi fatwa (mufti) maupun pengikut (muqallid). Meskipun bagi seorang muqallid diperbolehkan mengambil apa yang difatwakan oleh ulama yang diikutinya, yang ia duga sebagai ulama paling utama di negerinya. Hal ini diketahui melalui berita yang tersebar (tasammu'), sebagaimana diketahuinya dokter terbaik di suatu daerah melalui desas-desus dan indikasi-indikasi, meskipun orang tersebut tidak menguasai ilmu kedokteran.
وليس للمستفتي أن ينتقد من المذاهب أوسعها عليه بل عليه أن يبحث حتى يغلب على ظنه الأفضل ثم يتبعه فلا يخالفه أصلاً نعم إن أفتى له إمامه بشيء ولإمامه فيه مخالف فالفرار من الخلاف إلى الإجماع من الورع المؤكد وكذا المجتهد إذا تعارضت عنده الأدلة ورجح جانب الحل بحدس وتخمين وظن فالورع له الاجتناب
Tidak selayaknya bagi orang yang meminta fatwa (mustafti) untuk memilih-milih dari mazhab-mazhab mana yang paling longgar baginya. Sebaliknya, ia harus berupaya mencari hingga meyakini (dalam dugaan kuatnya) siapa yang paling utama, kemudian mengikutinya tanpa menyelisihinya sama sekali. Benar, jika imamnya memfatwakan sesuatu padahal imamnya tersebut memiliki penentang dalam masalah itu, maka lari dari perselisihan menuju kesepakatan (ijmak) termasuk bentuk wara' yang sangat ditekankan. Demikian pula bagi seorang mujtahid, apabila dalil-dalil bertentangan padanya dan ia menguatkan sisi kehalalan hanya berdasarkan intuisi, dugaan, dan sangkaan, maka sikap wara' baginya adalah menjauhinya.
فلقد كان المفتون يفتون بحل أشياء لا يقدمون عليها قط تورعاً منها وحذراً من الشبهة فيها فلنقسم هذا أيضا على ثلاثة مراتب
Sungguh para ahli fatwa terdahulu kerap memfatwakan kehalalan sesuatu, namun mereka sama sekali tidak pernah melakukannya karena sikap wara' dan kehati-hatian terhadap syubhat di dalamnya. Maka marilah kita bagi pembahasan ini juga menjadi tiga tingkatan.
الرتبة الأولى ما يتأكد الاستحباب في التورع عنه وهو ما يقوى فيه دليل المخالف ويدق وجه ترجيح المذهب الآخر عليه
Tingkatan Pertama: Sesuatu yang sangat ditekankan kesunnahannya untuk bersikap wara' darinya, yaitu perkara yang dalil penentangnya kuat dan bentuk penguatan (tarjih) dari mazhab lain atasnya begitu rumit.
فمن المهمات التورع عن فريسة الكلب المعلم إذا أكل منها وإن أفتى المفتي بأنه حلال لأن الترجيح فيه غامض وقد اخترنا أن ذلك حرام وهو أقيس قولي الشافعي ﵀
Di antara hal penting adalah bersikap wara' (menjauhi) dari mangsa anjing pemburu yang telah terlatih apabila anjing itu ikut memakannya, meskipun mufti memfatwakan bahwa itu halal. Hal ini karena segi penguatannya samar, dan kami memilih bahwa hukumnya haram, yang merupakan pendapat yang paling sesuai dengan qiyas dari dua pendapat Imam Asy-Syafi'i rahimahullah.
ومهما وجد للشافعي
Dan setiap kali ditemukan bagi Imam Asy-Syafi'i
قول جديد موافق لمذهب أبي حنيفة ﵀ أو غيره من الأئمة كان الورع فيه مهماً وإن أفتى المفتي بالقول الآخر
pendapat baru (qaul jadid) yang sesuai dengan mazhab Abu Hanifah rahimahullah atau imam-imam lainnya, maka wara' dalam hal itu sangat penting, meskipun mufti memfatwakan pendapat yang lain.
ومن ذلك الورع عن متروك التسمية وإن لم يختلف فيه قول الشافعي ﵀ لأن الآية ظاهرة في إيجابها والأخبار متواترة فيه فإنه ﷺ قال لكل من سأله عن الصيد إذا أرسلت كلبك المعلم وذكرت عليه اسم الله فكل
Di antaranya pula adalah bersikap wara' dari sembelihan yang sengaja tidak dibacakan basmalah padanya, meskipun tidak ada perbedaan dalam pendapat Imam Asy-Syafi'i rahimahullah padanya. Sebab ayat Al-Qur'an secara jelas menunjukkan kewajibannya dan riwayat-riwayat hadis bersumber secara mutawatir tentang hal itu, di mana Nabi ﷺ bersabda kepada setiap orang yang bertanya kepada beliau tentang berburu: 'Jika engkau melepaskan anjing buruanmu yang terlatih dan engkau sebut nama Allah atasnya, maka makanlah.'
ونقل ذلك على التكرر وقد شهر الذبح بالبسملة
Dan hal itu diriwayatkan secara berulang-ulang, serta penyembelihan dengan membaca basmalah telah menjadi hal yang masyhur.
وكل ذلك يقوي دليل الاشتراط ولكن لما صح قوله ﷺ المؤمن يذبح على اسم الله تعالى سمى أو لم يسم
Semua hal tersebut memperkuat dalil persyaratannya. Namun ketika telah sahih sabda Nabi ﷺ: 'Seorang mukmin itu menyembelih atas nama Allah Ta'ala, baik ia membaca basmalah maupun tidak membacanya,'
واحتمل أن يكون هذا عاماً موجباً لصرف الآية وسائر الأخبار عن ظواهرها ويحتمل أن يخصص هذا بالناسي ويترك الظواهر ولا تأويل وكان حمله على الناس ممكنا تمهيداً لعذره في ترك التسمية بالنسيان وكان تعميمه وتأويل الآية ممكناً إمكاناً أقرب رجحنا ذلك ولا ننكر رفع الاحتمال المقابل له فالورع عن مثل هذا مهم واقع في الدرجة الأولى
dan terdapat kemungkinan bahwa hadis ini bersifat umum yang mengharuskan pemalingan makna lahiriah ayat serta hadis-hadis lainnya, dan juga terdapat kemungkinan bahwa hadis ini dikhususkan bagi orang yang lupa sehingga makna lahiriah tetap dipertahankan tanpa perlu takwil. Membawakan maknanya kepada orang yang lupa adalah hal yang memungkinkan sebagai bentuk udzur baginya atas pengabaian basmalah karena lupa, sedangkan mengumumkannya serta menakwilkan ayat juga sangat memungkinkan bahkan lebih dekat, sehingga kami menguatkan hal tersebut tanpa mengingkari keberadaan kemungkinan sebaliknya. Maka wara' dari perkara semacam ini adalah hal penting yang berada pada tingkatan pertama.
الرتبة الثانية وهي مزاحمة لدرجة الوسواس أن يتورع الإنسان عن أكل الجنين الذي يصادف في بطن الحيوان المذبوح وعن الضب
Tingkatan Kedua: Tingkatan yang bersinggungan dengan derajat waswas (keraguan yang berlebihan), yaitu seseorang yang bersikap wara' dengan tidak memakan janin yang ditemukan di dalam perut hewan yang disembelih, serta tidak memakan dhab (biawak padang pasir).
وقد صح في الصحاح من الأخبار حديث الجنين إن ذكاته ذكاة أمه
Sungguh telah sahih dalam kitab-kitab riwayat yang sahih hadis tentang janin, bahwasanya penyembelihan atas janin itu cukuplah dengan penyembelihan induknya.
صحة لا يتطرق احتمال إلى متنه ولا ضعف إلى سنده وكذلك صح أنه أكل الضب على مائدة رسول الله ﷺ
Suatu kesahihan yang tidak tersusupi oleh kemungkinan keraguan pada matannya, serta tidak ada kelemahan pada sanadnya. Begitu pula telah sahih bahwa dhab (binatang sejenis biawak padang pasir) pernah dimakan di hidangan Rasulullah ﷺ.
وقد نقل ذلك في الصحيحين
Dan hal itu telah diriwayatkan dalam Ash-Shahihain (Shahih Bukhari dan Shahih Muslim).
وأظن أن أبا حنيفة لم تبلغه هذه الأحاديث ولو بلغته لقال بها وإن أنصف وإن لم ينصف منصف فيه كان خلافه غلط لا يعتد به ولا يورث شبهة كما لو لم يخالف وعلم الشيء بخبر الواحد
Saya menduga bahwa Abu Hanifah belum menerima hadis-hadis ini. Seandainya telah sampai kepadanya, niscaya beliau akan berpendapat dengannya jika beliau bersikap adil. Dan jikalau seorang penilai tidak menganggapnya adil dalam hal ini, maka perselisihan beliau tersebut merupakan kekeliruan yang tidak diperhitungkan serta tidak memicu syubhat, sebagaimana jika tidak ada perselisihan, dan hukum sesuatu tersebut diketahui melalui khabar ahad (riwayat tunggal).
الرتبة الثالثة أن لا يشتهر في المسألة خلاف أصلاً ولكن يكون الحل معلوماً بخبر الواحد فيقول القائل قد اختلف الناس في خبر الواحد فمنهم من لا يقبله فأنا أتورع
Tingkatan ketiga: Tidak dikenal adanya perselisihan sama sekali dalam masalah tersebut, tetapi kehalalannya diketahui berdasarkan khabar ahad. Lalu seseorang berkata, "Para ulama telah berselisih pendapat mengenai khabar ahad, di antara mereka ada yang tidak menerimanya, maka aku memilih bersikap wara' (menjauhkan diri)."
فإن النقلة وإن كانوا عدولاً فالغلط جائز عليهم والكذب لغرض خفي جائز عليهم لأن العدل أيضاً قد يكذب والوهم جائز عليه فإنه قد يسبق إلى سمعهم خلاف ما يقوله القائل وكذا إلى فهمهم فهذا ورع لم ينقل مثله عن الصحابة فيما كانوا يسمعونه من عدل تسكن نفوسهم إليه
Sebab para perawi itu, meskipun mereka 'adil, kekeliruan tetap dimungkinkan terjadi pada mereka, dan kebohongan karena tujuan tersembunyi pun dimungkinkan pada mereka—karena orang 'adil pun terkadang bisa berbohong dan kekhilafan bisa menimpanya, seperti terlintas di pendengaran atau pemahaman mereka hal yang berbeda dari yang diucapkan penutur. Sikap wara' semacam ini tidak pernah diriwayatkan dari para sahabat mengenai apa yang mereka dengar dari seorang yang 'adil yang jiwa mereka merasa tenteram kepadanya.
وأما إذا تطرقت شبهة بسبب خاص ودلالة معينة في حق الراوي فللتوقف وجه ظاهر وإن كان عدلاً
Adapun apabila timbul syubhat karena sebab khusus dan indikasi tertentu berkenaan dengan diri perawi, maka tindakan tawaqquf (menahan diri dari memutuskan) memiliki alasan yang jelas, meskipun perawi tersebut seorang yang 'adil.
وخلاف من خالف في أخبار الآحاد غير معتد به وهو كخلاف النظام في أصل الإجماع
Dan perbedaan pendapat dari pihak yang menyelisihi kehujahan khabar ahad tidaklah diperhitungkan; hal itu sama seperti perselisihan An-Nazzham terhadap prinsip dasar ijma' (kesepakatan ulama).
وقوله إنه ليس بحجة ولو جاز مثل هذا الورع لكان من الورع أن يمتنع الإنسان من أن يأخذ ميراث الجد أبي الأب ويقول ليس في كتاب الله ذكر إلا للبنين وإلحاق ابن الابن بالابن بإجماع الصحابة وهم غير معصومين والغلط عليهم جائز إذ خالف النظام فيه وهذا هوس ويتداعى إلى أن يترك ما علم بعمومات القرآن إذ من المتكلمين من ذهب إلى أن
Serta ucapannya bahwa khabar ahad bukanlah hujjah. Seandainya wara' semacam ini dibenarkan, niscaya termasuk bagian dari wara' jika seseorang enggan mengambil warisan kakek (ayah dari ayah) seraya berkata, "Dalam Kitabullah tidak disebutkan melainkan hanya untuk anak kandung, sedangkan penyamaan cucu laki-laki dari anak laki-laki dengan anak kandung adalah berdasarkan ijma' para sahabat, sementara mereka tidak ma'shum (terpelihara dari dosa/salah) dan kekeliruan mungkin terjadi pada mereka," sebagaimana An-Nazzham berselisih dalam hal ini. Ini adalah kerancuan berpikir (hawas) yang berakibat pada ditinggalkannya hukum-hukum yang diketahui dari keumuman ayat Al-Qur'an, sebab di antara para ahli kalam (mutakallimin) ada yang berpandangan bahwa…
العمومات لا صيغ لها وإنما يحتج بما فهمه الصحابة منها بالقرائن والدلالات وكل ذلك وسواس
…lafaz-lafaz umum ('umumāt) tidak memiliki bentuk (shighah) khusus, dan bahwasanya berargumentasi hanya berpatokan pada apa yang dipahami oleh para sahabat darinya melalui petunjuk indikator (qara'in) serta pemaknaan. Semua hal tersebut adalah bentuk keraguan yang bersumber dari bisikan waswas.
فإذن لا طرف من أطراف الشبهات إلا وفيها غلو وإسراف فليفهم ذلك
Oleh karena itu, tidak ada satu pun sisi dari keraguan (syubhat) melainkan di dalamnya terdapat sikap berlebih-lebihan (ghuluw) dan melampaui batas (israf), maka pahamilah hal tersebut.
ومهما أشكل أمر من هذه الأمور فليستفت فيه القلب وليدع الورع ما يريبه إلى ما لا يربيه وليترك حزاز القلوب وحكاكات الصدور وذلك يختلف بالأشخاص والوقائع ولكن ينبغي أن يحفظ قلبه عن دواعي الوسواس حتى لا يحكم إلا بالحق فلا ينطوي على حزازة في مظان الوسواس ولا يخلو عن الحزازة في مظان الكراهة وما أعز مثل هذا القلب ولذلك لم يرد ﵇ كل أحد إلى فتوى القلب وإنما قال ذلك لوابصة لما كان قد عرف من حاله
Setiap kali suatu perkara dari hal-hal ini terasa rumit, hendaklah ia meminta fatwa kepada hatinya, dan hendaklah ia meninggalkan—demi wara'—apa yang meragukannya menuju apa yang tidak meragukannya, serta meninggalkan ganjalan dalam hati dan kegelisahan dalam dada. Hal itu berbeda-beda sesuai dengan pribadi dan kejadiannya. Namun, sepatutnya ia menjaga hatinya dari dorongan waswas sehingga ia tidak menetapkan hukum melainkan dengan kebenaran; ia tidak memelihara ganjalan pada situasi yang berpotensi waswas, dan tidak pula lepas dari ganjalan pada tempat-tempat yang berpotensi makruh. Alangkah langkahnya hati yang seperti ini! Oleh sebab itu, Beliau ﷺ tidak mengembalikan setiap orang kepada fatwa hati, melainkan hanya menyatakannya kepada Wabishah karena keadaan (kesucian hati) beliau yang telah diketahui oleh Nabi ﷺ.
القسم الثاني: تعارض العلامات الدالة على الحل والحرمة فإنه قد ينهب نوع من المتاع في وقت ويندر وقوع مثله من غير النهب فيرى مثلاً في يد رجل من أهل الصلاح فيدل صلاحه على أنه حلال ويدل نوع المتاع وندوره من غير المنهوب على أنه حرام فيتعارض الأمران
Bagian Kedua: Pertentangan antar-indikasi (ta'arudhal-'alamat) yang menunjukkan kehalalan dan keharaman. Sebab, terkadang sejenis barang dijarah pada suatu waktu dan sangat jarang barang serupa ditemukan dari jalur selain jarahan tersebut. Lalu barang tersebut terlihat, misalnya, di tangan seorang yang saleh; kesalehannya menunjukkan bahwa barang itu halal, sedangkan jenis barang tersebut dan kelangkaannya di luar barang jarahan menunjukkan bahwa itu haram, sehingga kedua indikasi tersebut saling bertentangan.
وكذلك يخبر عدل أنه حرام وآخر أنه حلال أو تتعارض شهادة فاسقين أو قول صبي وبالغ فإن ظهر ترجيح حكم به والورع الاجتناب وإن لم يظهر ترجيح وجب التوقف وسيأتي تفصيله في باب التعرف والبحث والسؤال
Demikian pula ketika seorang yang 'adil mengabarkan bahwa barang itu haram, sementara orang 'adil lainnya mengabarkan halal, atau bertentangannya kesaksian dua orang fasik, atau perkataan seorang anak kecil dan seorang dewasa. Jika tampak faktor penguat (tarjih), maka dihukumi bersandarkan padanya dan sikap wara' adalah menjauhinya. Namun jika tidak tampak faktor penguat, maka wajib tawaqquf (menahan diri dari memutuskan). Rinciannya akan dijelaskan kelak pada Bab Menyelidiki, Meneliti, dan Bertanya (Bab At-Ta'arruf wal-Bahth was-Su'al).
القسم الثالث: تعارض الأشباه في الصفات التي تناط بها الأحكام
Bagian Ketiga: Pertentangan kemiripan dalam sifat-sifat yang menjadi landasan penetapan hukum (manath al-ahkam).
مثاله أن يوصى بمال للفقهاء فيعلم أن الفاضل في الفقه داخل فيه وأن الذي ابتدأ التعلم من يوم أو شهر لا يدخل فيه وبينهما درجات لا تحصى يقع الشك فيها فالمفتي يفتي بحسب الظن والورع الاجتناب وهذ أغمض مثارات الشبهة فإن فيها صوراً يتحير المفتي فيها تحيراً لازماً لا حيلة له فيه إذ يكون المتصف بصفة في درجة متوسطة بين الدرجتين المتقابلتين لا يظهر له ميله إلى أحدهما
Contohnya: Seseorang berwasiat harta bagi para ahli fikih (al-fuqaha'). Maka diketahui bahwa orang yang sangat mendalam keilmuan fikihnya (al-fadhil) termasuk di dalamnya, sedangkan orang yang baru mulai belajar sehari atau sebulan tidak termasuk di dalamnya. Namun di antara kedua tingkatan itu terdapat tingkatan yang tak terhitung jumlahnya yang memicu keraguan. Seorang mufti memberi fatwa berdasarkan dugaan kuat (azh-zhann), sedangkan sikap wara' adalah menjauhinya. Ini merupakan sumber syubhat yang paling samar, karena di dalamnya terdapat gambaran-gambaran yang membuat mufti benar-benar kebingungan tanpa ada jalan keluar, yaitu ketika seseorang memiliki sifat di tingkatan pertengahan antara dua tingkatan yang bertolak belakang tersebut, sehingga kecenderungannya pada salah satunya tidak tampak jelas.
وكذلك الصدقات المصروفة إلى المحتاجين فإن مما لا شيء له معلوم أنه محتاج ومن له مال كثير معلوم أنه غني ويتصد بينهما مسائل غامضة كمن له دار وأثاث وثياب وكتب فإن قدر الحاجة منه لا يمنع من الصرف إليه والفاضل يمنع والحاجة ليست محدودة وإنما تدرك بالتقريب ويتعدى منه النظر في مقدار سعة الدار وأبنيتها ومقدار قيمتها لكونها في وسط البلد ووقوع الاكتفاء بدار دونها وكذلك في نوع أثاث البيت إذا كان من الصفر لا من الخزف وكذلك في عددها وكذلك في قيمتهما وكذلك فيما لا يحتاج إليه كل يوم وما يحتاج إليه كل سنة من آلات الشتاء وما لا يحتاج إليه إلا في سنين وشيء من ذلك لا حد له
Demikian pula sedekah yang disalurkan kepada orang-orang yang membutuhkan. Seseorang yang tidak memiliki apa-apa jelas diketahui sebagai orang yang membutuhkan (fakir/miskin), dan seseorang yang memiliki harta berlimpah jelas diketahui sebagai orang kaya. Namun di antara keduanya terdapat persoalan-persoalan yang rumit, seperti orang yang memiliki rumah, perabot, pakaian, dan buku-buku. Kadar kebutuhan dasar darinya tidak menghalanginya untuk menerima sedekah, sedangkan harta yang melebihi kebutuhan menghalanginya. Padahal kebutuhan itu tidak berbatas pasti, melainkan hanya diperkirakan secara pendekatan (at-taqrib). Pembahasan ini merembet pada penilaian ukuran luas rumah, kelayakan bangunannya, nilainya karena berada di pusat kota, dan kecukupan dengan rumah di bawah standar itu. Begitu pula pada jenis perabot rumah tangga jika terbuat dari tembaga bukan dari tembikar, juga pada jumlah dan nilainya, serta pada barang yang tidak dibutuhkan setiap hari melainkan dibutuhkan setiap tahun seperti perlengkapan musim dingin, atau barang yang hanya dibutuhkan sekali dalam beberapa tahun. Semua hal itu tidak memiliki batas yang pasti.
والوجه في هذا ما قاله ﵇ دع ما يريبك إلى ما لا يريبك
Maka pedoman dalam hal ini adalah apa yang disabdakan oleh Nabi ﷺ: "Tinggalkanlah apa yang meragukanmu menuju apa yang tidak meragukanmu."
كل ذلك في محل الريب إن توقف المفتي فلا وجهه إلا التوقف وهو أهم مواقع الورع
Semua itu berada pada tempat keraguan. Jika seorang mufti mengalami keraguan (tawaqquf), maka tidak ada jalan lain kecuali menahan diri (at-tawaqquf), dan ini adalah medan wara' yang paling utama.
وكذلك ما يجب بقدر الكفاية من نفقة الأقارب وكسوة الزوجات وكفاية الفقهاء والعلماء على بيت المال إذ فيه طرفان يعلم أن أحدهما قاصر وأن الآخر زائد وبينهما أمور متشابهة تختلف باختلاف الشخص والحال
Demikian pula apa yang wajib menurut kadar kecukupan (bi qadr al-kifayah) dari nafkah kerabat, pakaian para istri, serta jaminan kecukupan bagi para fukaha dan ulama dari Baitul Mal. Sebab di dalamnya terdapat dua sisi ekstrem yang diketahui: satu sisi kurang dari standar dan sisi lainnya berlebihan, sedangkan di antara keduanya terdapat hal-hal yang samar yang berbeda-beda sesuai dengan perbedaan individu dan keadaan.
والمطلع على الحاجات هو الله تعالى وليس للبشر وقوف على حدودها فما دون الرطل المكي في اليوم قاصر عن كفاية الرجل الضخم وما فوق ثلاثة أرطال زائد على الكفاية وما بينهما لا يتحقق له حد
Maha Mengetahui segala kebutuhan adalah Allah Ta'ala, dan manusia tidak memiliki pengetahuan yang pasti tentang batasan-batasannya. Maka, kurang dari satu rathl Makkah dalam sehari tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan seorang pria berbadan besar, sedangkan lebih dari tiga rathl adalah berlebihan dari kecukupan, dan batas antara keduanya tidak dapat dipastikan secara mutlak.
فليدع الورع ما يريبه وهذا جار في كل حكم نيط السبب يعرف ذلك بلفظ العرب إذ العرب وسائر أهل اللغات لم يقدروا متضمنات اللغات بحدود محدودة تنقطع أطرافها عن مقابلاتها كلفظ الستة فإنه لا يحتمل ما دونها وما فوقها من الأعداد وسائر ألفاظ الحساب والتقديرات فليست الألفاظ اللغوية كذلك فلا لفظ في كتاب الله وسنة رسول الله
Maka hendaknya orang yang warak meninggalkan apa yang meragukannya. Hal ini berlaku dalam setiap hukum yang digantungkan pada suatu sebab. Hal itu dapat diketahui melalui lisan (bahasa) orang Arab, sebab bangsa Arab dan seluruh pemilik bahasa lainnya tidak membatasi cakupan-cakupan kebahasaan dengan batasan-batasan ketat yang terpisah secara tegas dari kebalikannya, seperti lafaz "enam" yang tidak mengandung angka di bawah maupun di atasnya, serta lafaz-lafaz hitungan dan taksiran lainnya. Lafaz-lafaz kebahasaan tidaklah demikian, maka tidak ada satu lafaz pun dalam Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya…
صلى الله عليه وسلم إلا ويتطرق الشك إلى أوساط في مقتضياتها تدور بين أطراف متقابلة فتعظم الحاجة إلى هذا الفن في الوصايا والأوقاف على الصوفية مثلامما يصح ومن الداخل تحت موجب هذا اللفظ هذا من الغوامض فكذلك سائر الألفاظ
…shallallahu 'alaihi wa sallam melainkan dapat disusupi keraguan pada daerah pertengahan dari tuntutan maknanya, yang berputar di antara dua ujung yang berlawanan. Oleh karena itu, kebutuhan terhadap disiplin ilmu ini menjadi sangat besar dalam masalah wasiat dan wakaf yang ditujukan kepada kaum Sufi, misalnya mengenai apa yang sah dan siapa saja yang masuk ke dalam cakupan lafaz tersebut. Hal ini termasuk perkara yang samar, demikian pula lafaz-lafaz lainnya.
وسنشير إلى مقتضى لفظ الصوفي على الخصوص ليعلم به طريق التصرف في الألفاظ وإلا فلا مطمع في استيفائها فهذه اشتباهات تثور من علامات متعارضة تجذب إلى طرفين متقابلين وكل ذلك من الشبهات يجب اجتنابها إذا لم يترجح جانب الحل بدلالة تغلب على الظن أو باستصحاب بموجب قوله ﷺ دع ما يريبك إلى ما لا يريبك وبموجب سائر الأدلة التي سبق ذكرها
Dan kami akan mengisyaratkan konsekuensi dari lafaz "Sufi" secara khusus agar diketahui darinya cara mengelola dan menerapkan lafaz-lafaz; sebab jika tidak demikian, mustahil untuk menuntaskannya secara menyeluruh. Ini adalah kerancuan-kerancuan (isytibahat) yang timbul dari indikasi-indikasi yang saling bertentangan yang menarik ke dua arah yang berlawanan. Semua itu termasuk syubhat yang wajib dijauhi apabila sisi kehalalan tidak lebih unggul berdasarkan petunjuk yang menguatkan persangkaan (dhan), atau berdasarkan prinsip istishhab (melanggengkan hukum asal), sesuai dengan sabda Nabi ﷺ, "Tinggalkanlah apa yang meragukanmu menuju apa yang tidak meragukanmu," serta berdasarkan dalil-dalil lain yang telah disebutkan sebelumnya.
فهذه مثارات الشبهات وبعضها أشد من بعض ولو تظاهرت شبهات شتى على شيء واحد كان الأمر أغلظ مثل أن يأخذ طعاماً مختلفاً فيه عوضاً عن عنب باعه من خمار بعد النداء يوم الجمعة والبائع قد خالط ماله حرام وليس هو أكثر ماله ولكنه صار مشتبهاً به فقد يؤدي ترادف الشبهات إلى أن يشتد الأمر في اقتحامها فهذه مراتب عرفنا طريق الوقوف عليها وليس في قوة البشر حصرها فما اتضح من هذا الشرح أخذ به وما التبس فليجتنب فإن الإثم حزاز القلب
Inilah pemicu-pemicu syubhat, dan sebagian di antaranya lebih berat dari sebagian yang lain. Apabila berbagai syubhat berkumpul pada satu hal yang sama, maka urusannya menjadi semakin berat; seperti seseorang yang mengambil makanan yang diperselisihkan kehalalannya sebagai ganti dari buah anggur yang dia jual kepada pembuat khamar setelah azan pada hari Jumat, sedangkan harta si penjual telah bercampur dengan harta haram walau bukan mayoritas hartanya, namun hartanya menjadi samar/diragukan. Bertumpuknya syubhat-syubhat tersebut dapat membuat perkara memasukinya menjadi sangat berat. Inilah tingkatan-tingkatan yang telah kami jelaskan cara mengetahuinya, dan tidak ada dalam kemampuan manusia untuk membatasinya secara mutlak. Maka apa yang telah jelas dari penjelasan ini, hendaknya diambil; dan apa yang samar, hendaknya dijauhi, karena sesungguhnya dosa itu adalah apa yang menggelisahkan hati.
وحيث قضينا باستفتاء القلب أردنا به حيث أباح المفتي أما حيث حرمه فيجب الامتناع
Dan ketika kami menetapkan hukum untuk meminta fatwa kepada hati (istafti qalbak), yang kami maksudkan adalah dalam kondisi ketika mufti membolehkannya. Adapun dalam kondisi mufti mengharamkannya, maka wajib untuk menahan diri.
ثم لا يعول على كل قلب فرب موسوس ينفر عن كل شيء ورب شره متساهل يطمئن إلى كل شيء ولا اعتبار بهذين القلبين وإنما الاعتبار بقلب العالم الموفق المراقب لدقائق الأحوال وهو المحك الذي يمتحن به خفايا الأمور وما أعز هذا القلب في القلوب فمن لم يثق بقلب نفسه فليلتمس النور من قلب هذه الصفة وليعرض عليه واقعته وجاء في الزبور أن الله تعالى أوحى إلى داود ﵇: قل لبني إسرائيل إني لا أنظر إلى صلاتكم ولا صيامكم ولكن أنظر إلى من شك في شيء فتركه لأجلي فذاك الذي أنظر إليه وأؤيده بنصري وأباهي به ملائكتي
Kemudian, tidak semua hati dapat dijadikan sandaran. Betapa banyak orang yang dihinggapi waswas sehingga lari dari segala sesuatu, dan betapa banyak orang yang tamak lagi meremehkan sehingga merasa tenang dengan segala sesuatu. Kedua jenis hati ini tidak dianggap (tidak dapat dijadikan ukuran). Sesungguhnya yang menjadi ukuran adalah hati seorang 'alim yang mendapat taufik, yang selalu mengawasi (muraqabah) kelembutan dan kedalaman keadaan spiritual; dialah batu ujian untuk menguji hal-hal yang tersembunyi. Betapa langkahnya hati seperti ini di antara hati-hati manusia! Maka barangsiapa yang tidak percaya pada hatinya sendiri, hendaklah ia mencari cahaya dari hati yang memiliki sifat demikian dan memaparkan masalahnya kepadanya. Dalam Zabur disebutkan bahwa Allah Ta'ala berwahyu kepada Daud 'alaihissalam: "Katakanlah kepada Bani Israil, sesungguhnya Aku tidak memandang pada shalat kalian dan puasa kalian, melainkan Aku memandang kepada orang yang ragu terhadap sesuatu lalu ia meninggalkannya karena Aku. Orang itulah yang Aku pandang, Aku kuatkan dengan pertolongan-Ku, dan Aku banggakan di hadapan para malaikat-Ku."
الباب الثالث: في البحث والسؤال والهجوم والإهمال ومظانها
Bab Ketiga: Tentang Meneliti, Bertanya, Langsung Mengambil (Hujum), Membiarkan (Ihmal), serta Tempat-Tempat Prasangkanya.
اعْلَمْ أَنَّ كُلَّ مَنْ قَدَّمَ إِلَيْكَ طَعَامًا أَوْ هَدِيَّةً أَوْ أَرَدْتَ أَنْ تَشْتَرِيَ مِنْهُ أَوْ تَتَّهِبَ فَلَيْسَ لَكَ أَنْ تُفَتِّشَ عَنْهُ وَتَسْأَلَ وَتَقُولَ: هَذَا مِمَّا لَا أَتَحَقَّقُ حِلَّهُ فَلَا آخُذُهُ بَلْ أُفَتِّشُ عَنْهُ
Ketahuilah bahwa setiap orang yang menyajikan makanan atau hadiah kepadamu, atau engkau ingin membeli darinya atau menerima pemberian darinya, maka engkau tidak berhak untuk menyelidiki dan bertanya-tanya tentang hal itu serta berkata: "Ini termasuk perkara yang belum aku yakini kehalalannya, maka aku tidak akan mengambilnya sebelum aku menyelidikinya."
وَلَيْسَ لَكَ أيضاً أن تترك البحث فتأخذ كل ما لا تتيقن تحريمه بل السؤال واجب مرة وحرام مرة ومندوب مرة ومكروه مرة فلا بد من تفصيله والقول الشافي فيه هو أن مظنة السؤال مواقع الريبة ومنشأ الريبة ومثارها إما أمر يتعلق بالمال أو يتعلق بصاحب المال المثار الأول: أحوال المالك
Dan engkau juga tidak boleh meninggalkan penyelidikan secara mutlak lalu mengambil semua hal yang tidak engkau yakini keharamannya. Akan tetapi, bertanya itu terkadang hukumnya wajib, terkadang haram, terkadang sunnah, dan terkadang makruh. Oleh karena itu, harus ada rincian dan penjelasan yang memuaskan mengenai hal tersebut. Penjelasan yang tuntas adalah bahwa tempat persangkaan perlunya bertanya adalah pada kondisi-kondisi timbulnya keraguan, dan muara timbulnya keraguan itu adakalanya berkaitan dengan harta itu sendiri, atau berkaitan dengan pemilik harta. Pemicu pertama: Kondisi-kondisi pemilik harta.
وله بالإضافة إلى معرفتك ثلاثة أحوال: إما أن يكون مجهولاً أو مشكوكاً فيه أو معلوماً بنوع ظن يستند إلى دلالة
Dan dikaitkan dengan pengetahuanmu tentangnya, ia memiliki tiga kondisi: adakalanya ia tidak diketahui (majhul), adakalanya diragukan (masykuk fihi), atau adakalanya diketahui melalui suatu persangkaan (dhan) yang bersandar pada suatu petunjuk atau indikasi.
الحالة الأولى: أن يكون مجهولا والمجهول هو الذي ليس معه قرينة تدل على فساده وظلمه كزي الأجناد ولا ما يدل على صلاحه كثياب أهل التصوف والتجارة والعلم وغيرها من العلامات
Kondisi pertama: Pemilik harta adalah orang yang tidak diketahui (majhul). Orang yang majhul adalah orang yang tidak memiliki indikasi (qarinah) yang menunjukkan atas kefasikan dan kezalimannya, seperti pakaian para prajurit zalim; dan tidak pula ada petunjuk yang menunjukkan atas kesalehannya, seperti pakaian ahli tasawuf, pedagang, ahli ilmu, dan tanda-tanda lainnya.
فإذا دخلت قرية لا تعرفها فرأيت رجلاً لا تعرف من حاله شيئاً ولا عليه علامة تنسبه إلى أهل صلاح أو أهل فساد فهو مجهول وإذا دخلت بلدة غريبا ودخلت سوقاً ووجدت رجلاً خبازاً أو قصاباً أو غيره ولا علامة تدل على كونه مريباً أو خائناً ولا ما يدل على نفيه فهو مجهول ولا يدرى حاله ولا نقول إنه مشكوك فيه لأن الشك عبارة عن اعتقادين متقابلين لهما سببان متقابلان وأكثر الفقهاء لا يدركون الفرق بين ما لا يدري وبين ما يشك فيه وقد عرفت مما سبق أن الورع ترك ما لا يدرى
Apabila engkau memasuki sebuah desa yang tidak engkau kenal, lalu engkau melihat seorang laki-laki yang tidak engkau ketahui sedikit pun tentang keadaannya, serta tidak ada padanya tanda yang menisbahkannya kepada golongan orang saleh maupun orang fasik, maka ia adalah orang yang majhul. Apabila engkau memasuki suatu negeri sebagai orang asing, lalu engkau masuk ke pasar dan menjumpai seorang tukang roti, tukang daging, atau yang lainnya, dan tidak ada tanda yang menunjukkan bahwa ia mencurigakan atau pengkhianat, tidak pula ada tanda yang menepisnya, maka ia adalah majhul dan tidak diketahui keadaannya. Kita tidak menyebutnya sebagai orang yang diragukan (masykuk fihi), karena ragu (syak) adalah ungkapan tentang dua keyakinan yang saling berhadapan yang memiliki dua sebab yang saling berhadapan pula. Kebanyakan ahli fiqih tidak menyadari perbedaan antara "sesuatu yang tidak diketahui" dan "sesuatu yang diragukan". Padahal engkau telah mengetahui dari penjelasan sebelumnya bahwa warak adalah meninggalkan apa yang tidak diketahui.
قال يوسف بن أسباط منذ ثلاثين سنة ما حاك في قلبي شيء إلا تركته
Yusuf bin Asbath berkata, "Sejak tiga puluh tahun lalu, tidaklah timbul keraguan dalam hatiku tentang sesuatu melainkan aku meninggalkannya."
وتكلم جماعة في أشق الأعمال
Dan sekelompok ulama berbincang-bincang mengenai amalan yang paling berat.
فقالوا هو الورع فقال لهم حسان بن أبي سنان ما شيء عندي أسهل من الورع إذا حاك في صدري شيء تركته
Mereka berkata, "Amalan paling berat adalah warak." Maka Hassan bin Abi Sinan berkata kepada mereka, "Tidak ada sesuatu pun bagiku yang lebih mudah daripada warak; jika timbul keraguan dalam dadaku tentang sesuatu, maka aku meninggalkannya."
فهذا شرط الورع وإنما نذكر الآن حكم الظاهر فنقول حكم هذه الحالة أن المجهول إن قدم إليك طعاماً أو حمل إليك هدية أو أردت أن تشتري من دكانه شيئاً فلا يلزمك السؤال بل يده وكونه مسلماً دلالتان كافيتان في الهجوم على أخذه
Maka inilah syarat warak. Namun, kita sekarang hanya membicarakan hukum lahiriah. Kita katakan bahwa hukum dalam kondisi ini adalah: jika orang yang majhul tersebut menghidangkan makanan kepadamu, membawakan hadiah untukmu, atau engkau ingin membeli sesuatu dari tokonya, maka engkau tidak diwajibkan bertanya. Bahkan kepemilikan tangannya dan keberadaannya sebagai seorang muslim adalah dua indikasi yang cukup untuk langsung mengambilnya.
وليس لك أن تقول الفساد والظلم غالب على الناس فهذه وسوسة وسوء ظن بهذا المسلم بعينه وإن بعض الظن إثم
Dan tidak boleh bagimu untuk berkata, "Kerusakan dan kezaliman telah merajalela pada manusia," karena ini adalah bisikan waswas dan prasangka buruk (su'udzan) terhadap muslim ini secara khusus, padahal sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa.
وهذا المسلم يستحق بإسلامه عليك أن لا تسيء الظن به فإن أسأت الظن به في عينه لأنك رأيت فساداً من غيره فقد جنيت عليه وأثمت به في الحال نقداً من غير شك ولو أخذت المال لكان كونه حراما مشكوكاً فيه
Seorang muslim ini memiliki hak atasmu karena keislamannya agar engkau tidak berprasangka buruk kepadanya. Jika engkau berprasangka buruk kepadanya secara personal hanya karena engkau melihat kefasikan dari orang lain, maka engkau telah berbuat zalim kepadanya dan berdosa secara langsung saat itu juga tanpa diragukan lagi. Sementara jika engkau mengambil harta itu, keharamannya masih bersifat diragukan.
ويدل عليه أنا نعلم ان الصحابة ﵃ في غزواتهم واسفارهم كانوا ينزلون في القرى ولا يردون القرى ويدخلون البلاد ولا يحترزون من الأسواق وكان الحرام أيضاً موجوداً في زمانهم وما نقل عنهم سؤال إلا عن ريبة إذ كان ﷺ لا يسأل عن كل ما يحمل إليه بل سأل في أول قدومه إلى المدينة عما يحمل إليه أصدقة أم هدية
Petunjuk atas hal ini adalah bahwa kita mengetahui bahwa para Sahabat radhiyallahu 'anhum dalam peperangan dan perjalanan mereka biasa singgah di desa-desa dan tidak menolaknya, serta memasuki negeri-negeri dan tidak menjauhi pasar-pasar, padahal keharaman juga ada pada zaman mereka. Tidak diriwayatkan dari mereka adanya pertanyaan melainkan karena timbulnya keraguan. Sebagaimana Rasulullah ﷺ tidak pernah mempertanyakan segala sesuatu yang dibawakan kepadanya, melainkan beliau hanya bertanya di awal kedatangan beliau ke Madinah mengenai apa yang dibawakan kepadanya: apakah itu sedekah ataukah hadiah.
لأن قرينة الحال تدل وهو دخول المهاجرين المدينة وهم فقراء فغلب على الظن أن ما يحمل إليهم بطريق الصدقة ثم إسلام المعطي ويده لا يدلان على أنه ليس بصدقة
Sebab, indikasi keadaan (qarinah al-hal) menunjukkan demikian, yaitu kedatangan kaum Muhajirin ke Madinah dalam keadaan fakir, sehingga dugaan kuat (ghalabat adh-dhann) mengarah pada bahwa apa yang dibawakan kepada mereka adalah dengan jalan sedekah. Kemudian, keislaman si pemberi dan kepemilikan tangannya tidaklah menunjukkan bahwa barang tersebut bukan sedekah.
وكان يدعى إلى الضيافات فيجيب ولا يسأل أصدقة أم لا إذ العادة ما جرت بالتصدق بالضيافة
Beliau (Rasulullah ﷺ) pernah diundang ke jamuan-jamuan makan, lalu beliau menyambutnya dan tidak bertanya apakah itu sedekah atau bukan, sebab kebiasaan yang berlaku tidaklah memberikan sedekah melalui bentuk jamuan makan.
ولذلك دعته أم سليم
Oleh karena itulah Ummu Sulaim mengundang beliau,
ودعاه الخياط
dan seorang tukang jahit pun mengundang beliau,
كما في الحديث الذي رواه أنس بن مالك ﵁ وقدم إليه طعاماً فيه قرع ودعاه الرجل الفارسي فقال ﵊ أنا وعائشة فقال: لا فقال: ﴿فلا﴾ ثم أجابه بعد فذهب هو وعائشة يتساوقان فقرب إليهما إهالة
sebagaimana dalam hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, ketika ia menyajikan makanan yang berisi labu kepada beliau; dan seorang pria Persia juga mengundang beliau, lalu beliau 'alaihissalam bersabda: 'Saya bersama 'Aisyah.' Orang itu menjawab: 'Tidak.' Beliau pun bersabda: 'Kalau begitu tidak.' Kemudian orang itu mengundangnya kembali setelah itu, lalu beliau dan 'Aisyah pergi berjalan berdampingan, dan orang itu menghidangkan lemak cair kepada keduanya.
ولم ينقل السؤال في شيء من ذلك وسأل أبو بكر ﵁ عبده عن كسبه لما رابه من أمره وسأل عمر ﵁ الذي سقاه من لبن إبل الصدقة إذ رابه وكان أعجبه طعمه ولم يكن على ما كان يألفه كل مرة
Tidak diriwayatkan adanya pertanyaan (pemeriksaan) dalam satu pun dari peristiwa tersebut. Namun Abu Bakar radhiyallahu 'anhu pernah bertanya kepada budaknya tentang hasil usahanya ketika perkara itu meragukannya; dan Umar radhiyallahu 'anhu juga pernah bertanya kepada orang yang memberinya minum dari susu unta sedekah ketika hal itu meragukannya, karena rasanya yang sangat lezat dan tidak seperti yang biasa beliau rasakan setiap kali.
وهذه أسباب الريبة وكل من وجد ضيافة عند رجل مجهول لم يكن عاصياً بإجابته من غير تفتيش بل لو رأى في داره تجملاً ومالاً كثيراً فليس له أن يقول الحلال عزيز وهذا كثير فمن أين يجتمع هذا من الحلال بلى هذا الشخص بعينه يحتمل ان يكون ورث مالاً أو اكتسبه فهو بعينه يستحق إحسان الظن به وأزيد على هذا وأقول: ليس له أن يسأله بل إن كان يتورع فلا يدخل جوفه إلا ما يدري من أين هو فهو حسن فليتلطف في الترك وإن كان لا بدله من أكله فليأكل بغير سؤال إذ السؤال إيذاء وهتك ستر وإيحاش وهو حرا م بلا شك
Inilah sebab-sebab keraguan (ribah). Barang siapa mendapatkan jamuan pada seorang laki-laki yang tidak dikenal (majhul), ia tidaklah bermaksiat dengan memenuhi undangannya tanpa melakukan pemeriksaan (taftisy). Bahkan jika ia melihat keindahan dan harta yang banyak di rumah orang itu, tidak berhak baginya untuk berkata: 'Yang halal itu langka sedangkan ini sangat banyak, dari mana semua ini berkumpul dari yang halal?' Tidak demikian, orang ini sendiri memiliki kemungkinan telah mewarisi harta atau mengusahakannya, maka ia secara khusus berhak untuk disangka baik (ihsan adh-dhann). Dan aku tambahkan atas ini dengan berkata: Tidak boleh baginya untuk menanyainya; melainkan jika ia hendak bertawaruk sehingga tidak memasukkan ke dalam perutnya kecuali apa yang ia ketahui dari mana asalnya, maka itu hal yang baik, hendaklah ia menolaknya dengan santun. Namun jika ia harus memakannya, hendaklah ia makan tanpa bertanya, karena bertanya itu mengandung unsur menyakiti, merobek tirai privasi, dan menimbulkan ketidaknyamanan, dan hal itu hukumnya haram tanpa diragukan lagi.
فإن قلت لعله لا يتأذى فأقول: لعله يتأذى فأنت تسأل حذراً من لعل فإن قنعت فلعل ماله حلال وليس الإثم المحذور في إيذاء مسلم بأقل من الإثم في أكل الشبهة والحرام والغالب على الناس الاستيحاش بالتفتيش ولا يجوز له أن يسأل من غيره من حيث يدري هو به لأن الإيذاء في ذلك اكثر وإن سأل من حيث لا يدري هو ففيه إساءة ظن وهتك ستر وفيه تجسس وفيه تشبث بالغيبة وإن لم يكن ذلك صريحاً
Jika engkau berkata: 'Mungkin saja dia tidak merasa tersakiti,' maka aku katakan: 'Mungkin saja dia merasa tersakiti.' Engkau bertanya karena berhati-hati dari kemungkinan 'mungkin'. Jika engkau merasa cukup dengan kemungkinan itu, maka mungkin saja hartanya halal. Dosa yang diwaspadai dalam menyakiti seorang muslim tidaklah lebih kecil daripada dosa memakan barang syubhat atau haram. Kebiasaan umum manusia akan merasa risih dengan adanya pemeriksaan. Tidak boleh pula baginya untuk bertanya kepada orang lain sekira pemilik harta itu mengetahuinya, karena rasa tersakiti dalam hal itu justru lebih besar. Dan jika ia bertanya sekira pemilik harta tidak mengetahuinya, maka di dalamnya terdapat prasangka buruk (isa'ah adh-dhann), merobek tirai privasi, tajassus (mencari-cari kesalahan), serta keterikatan pada ghibah meskipun tidak secara terang-terangan.
وكل ذلك منهي عنه في آية
Semua itu dilarang dalam satu ayat
عليه السلام واحدة قال الله تعالى اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا وكم زاهد جاهل يوحش القلوب في التفتيش ويتكلم الكلام الخشن المؤذي وإنما يحسن الشيطان ذلك عنده طلباً للشهرة بأكل الحلال ولو كان باعثه محض الدين لكان خوفه على قلب مسلم أن يتأذى أشد من خوفه على بطنه أن يدخله ما لا يدري وهو غير مؤاخذ بما لا يدري إذ لم يكن ثم علامة توجب الاجتناب فليعلم أن طريق الورع الترك دون التجسس وإذا لم يكن بد من الأكل فالورع الأكل وإحسان الظن
yang sama. Allah Ta'ala berfirman: 'Jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain serta janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain' (QS. Al-Hujurat: 12). Berapa banyak orang zahid yang bodoh membuat hati risih dalam melakukan pemeriksaan, dan mengucapkan perkataan yang kasar lagi menyakiti. Setan memperindah hal tersebut di matanya semata-mata demi mencari ketenaran dalam memakan yang halal. Seandainya pendorongnya adalah murni agama, niscaya rasa takutnya terhadap hati seorang muslim agar tidak tersakiti adalah lebih besar daripada rasa takutnya terhadap perutnya dari kemasukan apa yang tidak ia ketahui. Padahal ia tidak dihukum atas apa yang tidak ia ketahui selama tidak ada tanda yang mewajibkan penjagaan. Maka hendaklah diketahui bahwa jalan wara' adalah meninggalkan tanpa harus melakukan tajassus (mencari-cari kesalahan). Dan jika tidak ada pilihan lain kecuali makan, maka wara' dalam kondisi itu adalah makan dan bersangka baik (ihsan adh-dhann).
هذا هو المألوف من الصحابة ﵃ ومن زاد عليهم في الورع فهو ضال مبتدع وليس بمتبع فلن يبلغ أحد مد أحدهم ولا نصيفه ولو انفق ما في الأرض جميعاً كيف وقد أكل رسول الله ﷺ طعام بريرة فقيل: إنه صدقة فقال: هو لها صدقة ولنا هدية
Inilah yang biasa dilakukan oleh para Sahabat radhiyallahu 'anhum. Barang siapa menambah-nambah atas mereka dalam hal wara', maka ia adalah orang yang sesat lagi berbuat bid'ah dan bukanlah pengikut sunnah. Seseorang tidak akan pernah menyamai satu mud dari mereka dan tidak pula separuhnya, walaupun ia menginfakkan seluruh apa yang ada di bumi. Bagaimana tidak, padahal Rasulullah ﷺ telah memakan makanan Barirah, lalu dikatakan kepada beliau bahwa itu adalah sedekah, maka beliau bersabda: 'Makanan itu adalah sedekah baginya (Barirah) dan bagi kita adalah hadiah.'
ولم يسأل على المتصدق عليها فكان مجهولاً عنده ولم يمتنع
Beliau tidak bertanya tentang orang yang bersedekah kepadanya, sehingga orang tersebut tidak diketahui (majhul) bagi beliau, dan beliau pun tidak menolaknya.
الح الة الثانية أن يكون مشكوكاً فيه بسبب دلالة أورثت ريبة فلنذكر صورة ريبة ثم حكمها
Keadaan Kedua: Barang tersebut diragukan karena adanya indikasi (dalalah) yang menimbulkan keraguan. Maka marilah kita sebutkan gambaran keraguan tersebut beserta hukumnya.
أما الخلقة فبأن يكون على خلقه الأتراك والبوادي والمعروفين بالظلم وقطع الطريق وأن يكون طويل الشارب وأن يكون الشعر مفرقاً على رأسه على دأب أهل الفساد
Adapun dari segi perawakan: seperti ia berpenampilan menyerupai bangsa Turki, penduduk pedalaman (Badui), dan orang-orang yang dikenal dengan kezaliman serta perampokan di jalan; atau ia kumisnya panjang, dan rambutnya terbelah di kepalanya sesuai kebiasaan para pelaku kerusakan.
وأما الثياب: فالقباء والقلنسوة وزي أهل الظلم والفساد من الأجناد وغيرهم
Adapun dari segi pakaian: seperti memakai jubah ketat (qaba'), kopiah khas (qalansuwah), dan pakaian para pelaku kezaliman serta kerusakan dari kalangan tentara dan selain mereka.
وأما الفعل والقول: فهو إن يشاهد منه الإقدام على ما لا يحل فإن ذلك يدل على أنه يتساهل أيضاً في المال ويأخذ ما لا يحل فهذه مواضع الريبة
Adapun dari segi perbuatan dan perkataan: yaitu apabila disaksikan darinya keberanian melakukan apa yang tidak halal, karena hal itu menunjukkan bahwa ia juga meremehkan masalah harta dan mengambil apa yang tidak halal. Inilah tempat-tempat terjadinya keraguan (ribah).
فإذا أراد أن يشتري من مثل هذا شيئاً ويأخذ منه هدية أو يجيبه إلى ضيافة وهو غريب مجهول عنده لم يظهر له منه إلا هذه العلامات فيحتمل أن يقال إن اليد تدل على الملك وهذه الدلالات ضعيفة فالإقدام جائز والترك من الورع
Maka apabila seseorang hendak membeli sesuatu dari orang seperti ini, mengambil hadiah darinya, atau memenuhi undangan jamuannya, padahal orang itu adalah orang asing yang tidak dikenal baginya dan tidak nampak baginya kecuali tanda-tanda ini, maka ada kemungkinan untuk dikatakan bahwa kepemilikan tangan (al-yad) menunjukkan kepemilikan yang sah, sedangkan indikasi-indikasi ini lemah; sehingga mengambil tindakan adalah boleh, dan meninggalkannya merupakan bagian dari wara'.
ويحتمل أن يقال إن اليد دلالة ضعيفة وقد قابلها مثل هذه الدلالة فأورثت ريبة فالهجوم غير جائز وهو الذي نختاره ونفتي به لقوله ﷺ دع ما يريبك إلى ما لا يريبك
Namun ada kemungkinan pula untuk dikatakan bahwa kepemilikan tangan adalah indikasi yang lemah dan telah berhadapan dengan indikasi semisal ini sehingga menimbulkan keraguan, maka melakukan tindakan adalah tidak boleh. Inilah pendapat yang kami pilih dan kami fatwakan berdasarkan sabda Nabi ﷺ: 'Tinggalkanlah apa yang meragukanmu menuju apa yang tidak meragukanmu.'
فظاهره أمر وإن كان يحتمل الاستحباب لقوله ﷺ الإثم حزاز القلوب
Maka zahir dari hadis ini adalah perintah wajib, meskipun mengandung kemungkinan sunnah (istihbab), berdasarkan sabda beliau ﷺ: 'Dosa itu adalah apa yang menggelisahkan hati.'
وهذا له وقع في القلب لا ينكر ولأن النبي ﷺ سأل: أصدقة هو أهدية وسأل أبو بكر ﵁ غلامه
Dan hal ini memiliki pengaruh yang kuat di dalam hati yang tidak dapat dipungkiri, juga karena Nabi ﷺ pernah bertanya: 'Apakah ini sedekah atau hadiah?' Dan Abu Bakar radhiyallahu 'anhu pun pernah bertanya kepada budaknya.
وسأل عمر ﵁
Dan Umar r.a. pernah bertanya:
وكل ذلك كان في موضع الريبة وحمله على الورع وإن كان ممكناً ولكن لا يحمل عليه إلا بقياس حكمي والقياس ليس يشهد بتحليل هذا فإن دلالة اليد والإسلام وقد عارضتها هذه الدلالات أورثت ريبة فإذا تقابلا فالاستحلال لا مستند له
Semua itu berada pada posisi keraguan (riba). Membawa hal tersebut pada sikap wara' (kehati-hatian spiritual) meskipun dimungkinkan, namun tidak dapat dibawa kepadanya kecuali dengan kias hukum (qiyas hukmi). Sedangkan kias tidak menguatkan kehalalan hal ini. Sebab, indikasi penguasaan barang (dalalat al-yad) dan keislaman pemiliknya, ketika bertentangan dengan indikasi-indikasi ini, menimbulkan keraguan. Maka ketika keduanya saling berhadapan, tindakan menganggapnya halal tidak memiliki dasar pegangan.
وإنما لا يترك حكم اليد والاستصحاب بشك لا يستند إلى علامة كما إذا وجدنا الماء متغيراً واحتمل أن يكون بطول المكث فإن رأينا ظبية بالت فيه ثم احتمل أن التغيير به تركنا الاستصحاب وهذا قريب منه
Hukum penguasaan barang (yad) dan keberlanjutan status asal (istishhab) tidak boleh ditinggalkan hanya karena keraguan yang tidak bersandar pada suatu tanda (indikasi). Sebagaimana jika kita menemukan air berubah warna, rasa, atau baunya dan ada kemungkinan perubahan itu terjadi karena terlalu lama diam; namun jika kita melihat seekor kijang kencing di dalamnya, lalu muncul kemungkinan bahwa perubahan itu disebabkan oleh kencing tersebut, maka kita meninggalkan istishhab. Dan masalah ini dekat dengan permisalan itu.
ولكن بين هذه الدلالات تفاوت فإن طول الشوارب ولبس القباء وهيئة الأجناد يدل على الظلم بالمال
Akan tetapi, di antara indikasi-indikasi ini terdapat perbedaan tingkatan. Kumis yang panjang, pakaian jubah khusus (qaba'), dan penampilan para prajurit menunjukkan adanya kedzaliman dalam hal harta.
أما القول والفعل المخالفان للشرع إن تعلقا بظلم المال فهو أيضا ًدليل ظاهر كما لو سمعه يأمر بالغصب والظلم أو يعقد عقد الربا
Adapun ucapan dan perbuatan yang menyelisih syariat, jika berkaitan dengan kedzaliman terhadap harta, maka hal itu juga merupakan dalil (indikasi) yang nyata, seperti jika ia mendengarnya memerintahkan perampasan (ghashab) dan kedzaliman, atau melakukan akad riba.
فأما إذا رآه قد شتم غيره في غضبه أو اتبع نظره امرأة مرت به فهذه الدلالة ضعيفة فكم من إنسان يتحرج في طلب المال ولا يكتسب إلا الحلال ومع ذلك فلا يملك نفسه عند هيجان الغضب والشهوة فليتنبه لهذا التفاوت ولا يمكن أن يضبط هذا بحد فليستفت العبد في مثل ذلك قلبه
Namun jika ia melihatnya mencaci orang lain saat marah atau memandang wanita yang lewat, maka indikasi ini tergolong lemah. Betapa banyak orang yang sangat berhati-hati (wara') dalam mencari harta dan tidak mengusahakan kecuali yang halal, tetapi ia tidak mampu menguasai dirinya saat gejolak amarah dan syahwat meluap. Maka hendaklah disadari perbedaan tingkatan ini, dan hal ini tidak mungkin dibatasi dengan ukuran yang pasti, sehingga seorang hamba hendaknya meminta fatwa kepada hatinya dalam perkara semacam itu.
وأقول إن هذا إن رآه من مجهول فله حكم وإن رآه ممن عرفه بالورع في الطهارة والصلاة وقراءة القرآن فله حكم آخر إذ تعارضت
Dan aku katakan: Sesungguhnya jika ia melihat hal ini dari orang yang tidak dikenal (majhul), maka hukumnya satu hal; dan jika ia melihatnya dari orang yang dikenalnya memiliki sifat wara' dalam bersuci, shalat, dan membaca Al-Qur'an, maka hukumnya lain lagi, karena bertentangannya…
الدلالات بالإضافة إلى المال وتساقطنا وعاد الرجل كالمجهول إذ ليست إحدى الدلالتين تناسب المال على الخصوص فكم من متحرج في المال لا يتحرج في غيره وكم من محسن للصلاة والوضوء والقراءة ويأكل من حيث يجد فالحكم في هذه المواقع ما يميل إليه القلب فإن هذا أمر بين العبد وبين الله فلا يبعد أن يناط بسبب خفي لا يطلع عليه إلا هو ورب الأرباب وهو حكم حزازة القلب
…indikasi-indikasi tersebut yang dikaitkan dengan masalah harta, sehingga keduanya saling gugur dan orang itu kembali seperti orang yang tidak dikenal. Sebab, tidak salah satu pun dari kedua indikasi tersebut berhubungan secara khusus dengan harta. Betapa banyak orang yang sangat berhati-hati dalam hal harta namun tidak berhati-hati dalam hal lainnya, dan betapa banyak orang yang memperbagus shalat, wudhu, dan bacaan Al-Qur'annya namun memakan harta dari mana saja yang ia dapatkan. Maka hukum dalam kondisi-kondisi ini adalah apa yang cenderung diyakini oleh hati, karena ini adalah perkara antara hamba dan Allah. Tidak mustahil hal itu digantungkan pada sebab tersembunyi yang tidak diketahui kecuali olehnya dan Tuhan dari segala hamba (Rabbul Arbab), yaitu hukum dari ganjalan hati (hazazah al-qalb).
ثم ليتنبه لدقيقة أخرى وهو أن هذه الدلالة ينبغي أن تكون بحيث تدل على أن أكثر ماله حرام بأن يكون جندياً أو عامل سلطان أو نائحة أو مغنية فإن دل على أن في ماله حراماً قليلاً لم يكن السؤال واجبا بل كان السؤال من الورع
Kemudian hendaklah diperhatikan pula satu kelembutan makna (daqiqah) lainnya, yaitu bahwa indikasi ini hendaknya menunjukkan bahwa sebagian besar hartanya adalah haram, seperti ia seorang prajurit penguasa zalim, pejabat penguasa zalim, wanita ratap (na'ihah), atau penyanyi wanita. Jika indikasi tersebut hanya menunjukkan bahwa di dalam hartanya terdapat sedikit yang haram, maka bertanya hukumnya tidak wajib, melainkan termasuk bagian dari wara' (kehati-hatian spiritual).
الحالة الثالثة أن تكون الحالة معلومة بنوع خبرة وممارسة بحيث يوجب ذلك ظناً في حل المال أو تحريمه مثل أن يعرف صلاح الرجل وديانته وعدالته في الظاهر وجوز أن يكون الباطن بخلافه فههنا لا يجب السؤال ولا يجوز كما في المجهول فالأولى الإقدام
Kondisi ketiga: Keadaannya diketahui dengan semacam pengalaman dan pergaulan, sekiranya hal itu menimbulkan persangkaan kuat (zhann) akan kehalalan atau keharaman harta tersebut. Misalnya ia mengetahui kesalehan seseorang, ketaatannya pada agama, dan keadilannya secara lahiriah, meskipun dimungkinkan batinnya berbeda dengan lahirnya. Dalam kondisi ini, bertanya tidak wajib dan tidak dianjurkan (sebagaimana pada orang yang tidak dikenal/majhul), sehingga yang lebih utama adalah langsung mengambilnya (al-iqdam).
والإقدام ههنا أبعد عن الشبهة من الإقدام على طعام المجهول فإن ذلك بعيد عن الورع وإن لم يكن حراماً
Dan mengambilnya di sini lebih jauh dari syubhat dibandingkan mengambil makanan orang yang tidak dikenal (majhul), karena hal itu (mengambil makanan orang majhul) jauh dari sikap wara', meskipun tidak sampai diharamkan.
وأما أكل طعام أهل الصلاح فدأب الأنبياء والأولياء قال ﷺ لَا تَأْكُلْ إِلَّا طَعَامَ تَقِيٍّ وَلَا يَأْكُلْ طعامك إلا تقي
Adapun memakan makanan orang-orang saleh adalah kebiasaan para nabi dan para wali. Rasulullah ﷺ bersabda: "Janganlah engkau memakan kecuali makanan orang yang bertakwa, dan janganlah ada yang memakan makananmu kecuali orang yang bertakwa."
فإما إذا علم بالخبرة أنه جندي أو مغن أو مرب واستغنى عن الاستدلال عليه بالهيئة والشكل والثيابفههنا السؤال واجب لا محالة كما في موضع الريبة بل أولى المثار الثاني ما يستند الشك فيه إلى سبب المال لا في حال المالك
Adapun jika diketahui melalui pengalaman bahwa ia adalah seorang prajurit penguasa zalim, penyanyi, atau pemakan riba, sehingga tidak perlu lagi berdalil dengan penampilan, bentuk fisik, dan pakaiannya, maka dalam hal ini bertanya hukumnya wajib tanpa diragukan lagi sebagaimana pada posisi keraguan (riba), bahkan lebih utama. Sumber keraguan kedua: Sumber yang keraguannya bersandar pada sebab kehalalan/keharaman harta itu sendiri, bukan pada kondisi pemiliknya.
وذلك بأن يختلط الحلال بالحرام كما إذا طرح في سوق أحمال من طعام غصب واشتراها أهل السوق فليس يجب على من يشتري في تلك البلدة وذلك السوق أن يسأل عما يشتريه إلا أن يظهر أن أكثر ما في أيديهم حرام فعند ذلك يجب السؤال فإن لم يكن هو الأكثر فالتفتيش من الورع وليس بواجب
Yaitu dengan bercampurnya yang halal dan yang haram. Seperti ketika di suatu pasar dilemparkan muatan makanan hasil rampasan (ghashab) lalu dibeli oleh para pedagang pasar, maka tidak wajib bagi orang yang membeli di negeri dan pasar tersebut untuk menanyakan barang yang dibelinya, kecuali jika tampak jelas bahwa sebagian besar harta di tangan mereka adalah haram. Pada saat itulah wajib bertanya. Apabila yang haram bukan merupakan mayoritas, maka menyelidiki (mencari tahu) termasuk sikap wara' dan tidak wajib.
والسوق الكبير حكمه حكم بلد والدليل على أنه لا يجب السؤال والتفتيش إذا لم يكن الأغلب الحرام أن الصحابة ﵃ لم يمتنعوا من الشراء من الأسواق وفيها دراهم الربا وغلول الغنيمة وغيرها وكانوا لا يسألون في كل عقد وإنما السؤال نقل عن آحادهم نادرافي بعض الأحوال وهي محال الريبة في حق ذلك الشخص المعين وكذلك كانوا يأخذون الغنائم من الكفار الذين كانوا قد قاتلوا المسلمين وربما أخذوا أموالهم واحتمل أن يكون في تلك الغنائم شيء مما أخذوه من المسلمين وذلك لا يحل أخذه مجاناً بالاتفاق بل يرد على صاحبه عند الشافعي ﵀ وصاحبه أولى به بالثمن عند أبي حنيفة ﵀ ولم ينقل قط التفتيش عن هذا وكتب عمر ﵁ إلى أذربيجان إنكم في بلاد تذبح فيها الميتة فانظروا ذكيه من ميته أذن في السؤال وأمر به ولم يأمر بالسؤال عن الدراهم التي هي أثمانها لأن أكثر دراهمهم لم تكن أثمان الجلود وإن كانت هي أيضاً تباع وأكثر الجلود كان كذلك وكذلك قال ابن مسعود ﵁ إنكم في بلاد أكثر قصابيها المجوس فانظروا الذكي من الميتة فخص بالأكثر الأمر بالسؤال ولا يتضح مقصود هذا الباب إلا بذكر صور وفرض مسائل يكثر وقوعها في العادات فلنفرضها
Pasar yang besar hukumnya sama dengan hukum sebuah negeri. Dalil bahwa bertanya dan menyelidiki tidak wajib jika mayoritasnya bukan haram adalah bahwa para sahabat r.a. tidak menahan diri dari membeli di pasar-pasar, padahal di sana beredar dirham riba, harta rampasan perang yang digelapkan (ghulul), dan lainnya, serta mereka tidak selalu bertanya pada setiap akad. Penyelidikan/pertanyaan hanya diriwayatkan dari sebagian kecil sahabat secara langka pada beberapa kondisi, yaitu pada situasi yang meragukan berkenaan dengan pribadi orang tertentu tersebut. Begitu pula mereka mengambil harta rampasan perang (ghanimah) dari orang-orang kafir yang telah memerangi kaum muslimin, yang terkadang orang kafir itu mengambil harta kaum muslimin sehingga ada kemungkinan dalam ghanimah tersebut terdapat barang yang dulu diambil dari kaum muslimin. Dan barang tersebut tidak halal diambil begitu saja secara cuma-cuma menurut kesepakatan ulama; melainkan dikembalikan kepada pemiliknya menurut Imam Asy-Syafi'i r.a., dan pemiliknya lebih berhak mengambilnya dengan membayar harganya menurut Imam Abu Hanifah r.a. Meskipun demikian, tidak pernah diriwayatkan adanya penyelidikan mengenai hal ini. Umar r.a. pernah menulis surat ke Azerbaijan: "Sesungguhnya kalian berada di negeri yang disembelih di dalamnya bangkai, maka perhatikanlah mana yang disembelih secara syar'i dan mana yang bangkai." Beliau memberi izin dan memerintahkan untuk bertanya tentang hal itu, namun tidak memerintahkan bertanya tentang dirham yang menjadi harga pembayarannya, karena mayoritas dirham mereka bukan merupakan harga dari kulit bangkai tersebut, meskipun kulit itu juga diperjualbelikan dan mayoritas kulit bernilai demikian. Begitu pula Ibnu Mas'ud r.a. berkata: "Sesungguhnya kalian berada di negeri yang mayoritas penjual dagingnya adalah orang Majusi, maka perhatikanlah mana hasil sembelihan yang halal dan mana yang bangkai." Beliau mengkhususkan perintah bertanya pada kondisi mayoritas. Tujuan dari bab ini tidak akan menjadi jelas kecuali dengan menyebutkan gambaran-gambaran konkret dan mengandai-andaikan masalah yang sering terjadi dalam kebiasaan sehari-hari, maka mari kita andaikan.
مسألة شخص معين خالط ماله الحرام مثل أن يباع على دكان طعام مغصوب أو مال منهوب ومثل أن يكون القاضي أو الرئيس أو العامل أو الفقيه الذي له إدرار على سلطان ظالم له أيضاً مال موروث ودهقنة أو تجارة أو رجل
Masalah: Seseorang tertentu yang hartanya bercampur dengan barang haram, seperti dijualnya makanan hasil rampasan atau harta hasil jarahan di suatu toko; atau seperti seorang hakim, pemimpin, pejabat, atau ahli fikih yang menerima tunjangan rutin dari penguasa yang zalim, namun ia juga memiliki harta warisan, hasil pertanian (dahqanah), atau perdagangan; atau seorang…
تاجر يعامل بمعاملات صحيحة ويربي أيضا فإن كان الأكثر من ماله حراما لا يجوز الأكل من ضيافته ولا قبول هديته ولا صدقته الا بعد التفتيش فإن ظهر أن المأخوذ من وجه حلال فذاك وإلا ترك وإن كان الحرام أقل والمأخوذ مشتبه فهذا في محل النظر لأنه على رتبة بين الرتبتين إذ قضينا بأنه لو اشتبه ذكية بعشر ميتات مثلاً وجب اجتناب الكل وهذا يشبهه من وجه من حيث إن مال الرجل الواحد كالمحصور ولا سيما إذا لم يكن كثير المال مثل السلطان ويخالفه من وجه إذ الميتة يعلم وجودها في الحال يقيناً والحرام الذي خالط ماله يحتمل أن يكون قد خرج من يده وليس موجودأً في الحال وإن كان المال قليلاً وعلم قطعاً أن الحرام موجود في الحال فهو ومسألة اختلاط الميتة واحد وإن كثر المال واحتمل أن يكون الحرام غير موجود في الحال فهذا أخف من ذلك ويشبه من وجه الاختلاط بغير محصور كما في الأسواق والبلاد ولكنه أغلظ منه لاختصاصه بشخص واحد ولا يشك في أن الهجوم عليه بعيد من الورع جداً ولكن النظر في كونه فسقاً مناقض للعدالة وهذا من حيث النقل أيضاً غامض لتجاذب الأشياء ومن حيث النقل أيضاً غامض لأن ما ينقل فيه عن الصحابة من الامتناع في مثل هذا وكذا عن التابعين يمكن حمله على الورع ولا يصادف فيه نص على التحريم وما ينقل من إقدام على الأكل كأكل أبي هريرة ﵁ طعام معاوية مثلاً إن قدر في جملة ما في يده حرام فذلك أيضاً يحتمل أن يكون إقدامه بعد التفتيش واستبانة أن عين ما يأكله من وجه مباح فالأفعال في هذا ضعيفة الدلالة ومذاهب العلماء المتأخرين مختلفة حتى قال بعضهم لو أعطاني السلطان شيئاً لأخذته وطرد الإباحة فيما إذا كان الأكثر أيضاً حراماً مهماً لم يعرف عين المأخوذ واحتمل أن يكون حلالاً واستدل بأخذ بعض السلف جوائز السلاطين كما سيأتي في باب بيان أموال السلاطين فأما إذا كَانَ الْحَرَامُ هُوَ الْأَقَلُّ وَاحْتَمَلَ أَنْ لَا يَكُونَ مَوْجُودًا فِي الْحَالِ لَمْ يَكُنِ الْأَكْلُ حراماً وإن تحقق وجوده في الحال كما في مسألة اشتباه الذكية بالميتة فهذا مما لا أدري ما أقول فيه وهو من المتشابهات التي يتحير المفتي فيها لأنها مترددة بين مشابهة المحصور وغير المحصور والرضيعة إذا اشتبهت بقرية فيها عشر نسوة وجب الاجتناب وإن كانت ببلدة فيها عشرة آلاف لم يجب وبينهما أعداد ولو سئلت عنها لكنت لا أدري ما أقول فيها ولقد توقف العلماء في مسائل هي أوضح من هذه إذ سئل أحمد بن حنبل رحمة الله عن رجل رمى صيداً فوقع في ملك غيره أيكون الصيد للرامي أو لمالك الأرض فقال لا أدري فروجع فيه مرات فقال لا أدري وكثيراً من ذلك حكيناه عن السلف في كتاب العلم فليقطع المفتي طمعه عن درك الحكم في جميع الصور وقد سأل ابن المبارك صاحبه من البصرة عن معاملته قوماً يعاملون السلاطين فقال إن لم يعاملوا سوى السلطان فلا تعاملهم وإن عاملوا السلطان وغيره فعاملهم وهذا يدل على المسامحة في الأقل ويحتمل المسامحة في الأكثر أيضاً وبالجملة فلم ينقل عن الصحابة أنهم كانوا يهجرون بالكلية معاملة القصاب والخباز والتاجر لتعاطيه عقداً واحداً فاسداً أو لمعاملة السلطان مرة وتقدير ذلك فيه بعد والمسألة مشكلة في نفسها
…pedagang yang bertransaksi dengan transaksi yang sah tetapi juga melakukan riba. Jika mayoritas hartanya haram, maka tidak boleh memakan jamuannya, menerima hadiahnya, maupun sedekahnya kecuali setelah melakukan penyelidikan (taptisy). Jika terbukti barang yang diambil berasal dari jalan halal, maka boleh diambil; jika tidak, hendaklah ditinggalkan. Apabila yang haram lebih sedikit sementara yang diambil bersifat syubhat, maka ini berada pada posisi yang perlu dikaji (mahallun nazhar), karena berada pada tingkatan di antara dua tingkatan. Hal ini dikarenakan jika hewan sembelihan yang halal bercampur dengan sepuluh bangkai misalnya, maka wajib menjauhi semuanya. Kasus ini menyerupainya dari satu sisi, di mana harta satu orang itu terhitung terbatas (mahshur), terlebih jika hartanya tidak banyak seperti penguasa; namun berbeda dengannya dari sisi lain, karena bangkai diketahui keberadaannya secara pasti pada saat itu, sedangkan barang haram yang bercampur dengan hartanya dimungkinkan telah keluar dari tangannya dan tidak ada lagi saat ini. Jika hartanya sedikit dan diketahui secara pasti bahwa barang haram itu ada pada saat ini, maka hukumnya sama dengan masalah percampuran bangkai. Namun jika hartanya banyak dan ada kemungkinan barang haram itu tidak ada lagi saat ini, maka hal ini lebih ringan daripada itu, dan menyerupai percampuran dengan barang yang tidak terbatas (ghairu mahshur) sebagaimana di pasar-pasar dan negeri-negeri, tetapi lebih berat dari itu karena dikhususkan pada satu orang tertentu. Tidak diragukan bahwa langsung menerjangnya adalah tindakan yang sangat jauh dari wara'. Akan tetapi pertimbangan apakah hal itu merupakan kefasikan yang merusak keadilan seseorang, ini dari sudut penukilan riwayat (naql) juga bersifat samar karena bertolak belakangnya berbagai indikasi. Dari sudut penukilan riwayat juga samar, karena apa yang diriwayatkan dari para sahabat dan tabi'in berupa penahanan diri dari hal semacam ini bisa dibawa pada makna wara', dan tidak ditemukan padanya nash tegas tentang keharaman. Sedangkan apa yang diriwayatkan berupa tindakan memakannya, seperti perbuatan Abu Hurairah r.a. yang memakan makanan Mu'awiyah misalnya—jika diandaikan pada sebagian harta di tangannya terdapat yang haram—maka hal itu juga mengandung kemungkinan bahwa tindakan beliau dilakukan setelah penyelidikan dan kejelasan bahwa barang yang beliau makan berasal dari jalan yang mubah. Maka perbuatan-perbuatan dalam hal ini indikatornya lemah, dan mazhab-mazhab para ulama belakangan berbeda-beda hingga sebagian dari mereka berkata: "Jikalah penguasa memberiku sesuatu niscaya aku akan mengambilnya," serta memperluas kebolehan meskipun mayoritasnya haram selama tidak diketahui secara pasti zat barang yang diambil dan dimungkinkan itu halal, dengan berdalil pada pengambilan sebagian ulama salaf terhadap pemberian-pemberian (jawa'iz) para penguasa sebagaimana akan datang pada bab penjelasan harta para penguasa. Adapun jika yang haram adalah minoritas (lebih sedikit) dan ada kemungkinan tidak ada pada saat ini, maka memakannya tidaklah haram. Namun jika dipastikan keberadaannya pada saat ini—sebagaimana dalam masalah bercampurnya sembelihan halal dengan bangkai—maka perkara ini termasuk hal yang aku tidak tahu harus berkata apa tentangnya, dan termasuk perkara samar (mutasyabihat) yang membuat seorang mufti bingung, karena berada di antara kemiripan dengan yang terbatas (mahshur) dan yang tidak terbatas (ghairu mahshur). Sebagaimana seorang anak susuan jika tersamar di suatu desa yang terdapat sepuluh wanita, wajib menjauhinya; tetapi jika di suatu kota yang terdapat sepuluh ribu wanita, tidak wajib menjauhinya; dan di antara kedua angka itu terdapat tingkatan-tingkatan jumlah yang jika aku ditanya tentangnya niscaya aku tidak tahu harus berkata apa. Sungguh para ulama telah bersikap ragu-ragu (tawaqquf) dalam masalah-masalah yang lebih jelas dari ini; ketika Ahmad bin Hanbal rahimahullah ditanya tentang seseorang yang memanah hewan buruan lalu jatuh di tanah milik orang lain, apakah buruan itu milik pemanah atau milik pemilik tanah? Beliau menjawab: "Aku tidak tahu." Beliau ditanya berulang kali dan tetap menjawab: "Aku tidak tahu." Banyak hal semacam itu telah kami ceritakan dari para ulama salaf dalam Kitab Ilmu. Maka hendaklah seorang mufti memutuskan harapannya untuk dapat mencapai ketetapan hukum pada seluruh gambaran masalah. Ibnu al-Mubarak pernah ditanya oleh sahabatnya dari Bashrah mengenai bertransaksinya ia dengan kaum yang bertransaksi dengan penguasa, beliau menjawab: "Jika mereka tidak bertransaksi kecuali hanya dengan penguasa, maka jangan bertransaksi dengan mereka. Namun jika mereka bertransaksi dengan penguasa dan juga dengan selainnya, maka bertransaksilah dengan mereka." Ini menunjukkan adanya kelonggaran pada bagian yang minoritas (lebih sedikit), dan mengandung kemungkinan kelonggaran pada bagian yang mayoritas pula. Walhasil, tidak pernah diriwayatkan dari para sahabat bahwa mereka memboikot secara total transaksi dengan penjual daging, pembuat roti, dan pedagang hanya karena ia pernah melakukan satu akad yang rusak (fasid) atau pernah bertransaksi dengan penguasa sekali. Pengandaian keharaman dalam hal demikian terasa jauh, dan masalah ini sendiri memang tergolong rumit.
فإن قيل فقد روي عن عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ ﵁ أنه رخص فيه وقال خذ ما يعطيك السلطان فإنما يعطيك من الحلال وما يأخذ من الحلال أكثر من الحرام وسئل ابن مسعود ﵁ ذلك فقال له السائل إن لي جاراً لا أعلمه إلا خبيثا يدعونا أو نحتاج فنستسلفه فقال إذا دعاك فأجبه وإذا احتجت فاستسلفه فإن لك المهنأ وعليه المأثم وأفتي سلمان بمثل ذلك وقد علل علي الكثرة وعلل ابن مسعود ﵁ بطريق الإشارة بأن عليه المأثم لأنه يعرفه ولك المهنأ أي أنت
Jika dikatakan: Sungguh telah diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib r.a. bahwa beliau memberi keringanan dalam hal itu dan berkata: "Ambillah apa yang diberikan penguasa kepadamu, karena ia hanya memberimu dari yang halal, dan apa yang ia ambil dari yang halal itu lebih banyak daripada yang haram." Ibnu Mas'ud r.a. juga ditanya mengenai hal itu, penanya berkata kepada beliau: "Sesungguhnya aku memiliki tetangga yang aku tidak mengetahuinya melainkan orang jahat, ia mengundang kami atau kami butuh lalu mengutang darinya?" Maka beliau menjawab: "Jika ia mengundangmu maka penuhilah, dan jika engkau butuh maka berutanglah darinya, karena bagimu kenikmatannya dan baginya dosanya." Salman juga memberi fatwa yang serupa. Ali mengalaskan hukumnya dengan faktor mayoritas (kelimpahan), sedangkan Ibnu Mas'ud r.a. mengalaskan secara isyarat bahwa dosa menimpa tetangga tersebut karena ia mengetahuinya, sedangkan bagimu kenikmatannya, yaitu engkau…
لا تعرفه وروي أنه قال رجل لابن مسعود
…tidak mengetahuinya. Dan diriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Ibnu Mas'ud…
رضي الله عنه أن لي جاراً يأكل الربا فيدعونا إلى طعامه أفنأتيه فقال نعم
…radhiyallahu 'anhu: "Sesungguhnya aku mempunyai tetangga yang memakan riba, lalu ia mengundang kami ke makanan jamuannya, apakah kami mendatanginya?" Beliau menjawab: "Ya."
وروي في ذلك عن ابن مسعود ﵁ روايات كثيرة مختلفة وأخذ الشافعي ومالك ﵄ جوائز الخلفاء والسلاطين مع العلم بأنه قد خالط مالهم الحرام قلنا أما ما روي عن علي ﵁ فقد اشتهر من ورعه ما يدل على خلاف ذلك فإنه كان يمتنع من مال بيت المال حتى يبيع سيفه ولا يكون له إلا قميص واحد في وقت واحد في وقت الغسل لا يجد غيره ولست أنكر أن رخصته صريح في الجواز وفعله محتمل للورع ولكنه لو صح فمال السلطان له حكم آخر فإنه بحكم كثرته يكاد يلتحق بما لا يحصر وسيأتي بيان ذلك وكذا فعل الشافعي ومالك ﵄ متعلق بمال السلطان وسيأتي حكمه وإنما كلامنا في آحاد الخلق وأموالهم قريبة من الحصر وأما قول ابن مسعود ﵁ فقيل إنه إنما نقله خوات التيمي وإنه ضعيف الحفظ والمشهور عنه ما يدل على توفي الشبهات إذ قال لا يقولن أحدكم أخاف وأرجو فإن الحلال بين والحرام بين وبين ذلك أمور مشتبهات فدع مايريبك إلى ما لا يريبك وقال اجتنبوا الحكاكات ففيها الإثم فإن قيل فلم قلتم إذا كان الأكثر حراماً لم يجز الأخذ مع أن المأخوذ ليس فيه علامة تدل على تحريمه على الخصوص واليد علامة على الملك حتى أن من سرق مال مثل هذا الرجل قطعت يده والكثرة توجب ظناً مرسلاً لا يتعلق بالعين فليكن كغالب الظن في طين الشوارع وغالب الظن في الاختلاط بغير محصور إذا كان الأكثر هو الحرام ولايجوز أن يستدل على هذا بعموم قوله ﷺ دع مايريبك إلى ما لا يريبك لأنه مخصوص ببعض المواضع بالاتفاق وهو أن يريبه بعلامة في عين الملك بدليل اختلاط القليل بغير المحصور فإن ذلك يوجب ريبة ومع ذلك قطعتم بأنه لا يحرم فالجواب إن اليد دلالة ضعيفة كالاستصحاب وإنما تؤثر إذا سلمت عن معارض قوي
Diriwayatkan mengenai hal itu dari Ibn Mas'ud radhiyallahu 'anhu banyak riwayat yang berbeda-beda. Demikian pula Asy-Syafi'i dan Malik rahimahumallah menerima pemberian dari para khalifah dan penguasa, padahal diketahui bahwa harta mereka bercampur dengan yang haram. Kami katakan: Adapun apa yang diriwayatkan dari 'Ali radhiyallahu 'anhu, sungguh telah masyhur wara'-nya yang menunjukkan kebalikan dari hal itu. Beliau menahan diri dari harta Baitul Mal hingga menjual pedangnya, dan beliau tidak memiliki kecuali satu helai baju pada suatu waktu, sehingga ketika dicuci beliau tidak menemukan gantinya. Saya tidak memungkiri bahwa keringanan (rukhsah) darinya merupakan nash yang صريح (jelas) dalam kebolehan, sedangkan perbuatannya mengandung kemungkinan sikap wara'. Namun jika itu sahih, harta penguasa (sultan) memiliki hukum tersendiri, karena dengan jumlahnya yang sangat banyak, ia hampir dikategorikan sebagai sesuatu yang tidak terbatas (tidak terhitung), dan penjelasannya akan datang. Demikian pula perbuatan Asy-Syafi'i dan Malik rahimahumallah berkaitan dengan harta penguasa dan hukumnya akan dijelaskan nanti. Pembahasan kita hanyalah mengenai harta individu rakyat yang hartanya mendekati batas terhitung (terbatas). Adapun perkataan Ibn Mas'ud radhiyallahu 'anhu, dikatakan bahwa hal itu hanya diriwayatkan oleh Khawat At-Taimi dan ia memiliki hafalan yang lemah, sedangkan yang masyhur dari Ibn Mas'ud adalah apa yang menunjukkan sikap berhati-hati dari syubhat (tawaqqi asy-syubuhat), karena beliau berkata: "Janganlah salah seorang dari kalian mengatakan 'aku takut' dan 'aku berharap', sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang samar (syubhat). Maka tinggalkanlah apa yang meragukanmu menuju apa yang tidak meragukanmu." Dan beliau berkata: "Jauhilah perkara-perkara yang mengganjal dalam dada (al-hakkakat), karena di dalamnya terdapat dosa." Jika dikatakan: Mengapa kalian berpendapat jika yang terbanyak adalah haram, tidak boleh mengambilnya, padahal harta yang diambil itu tidak memiliki tanda khusus yang menunjukkan keharamannya, sementara penguasaan fisik (al-yad) adalah indikator kepemilikan, hingga barang siapa yang mencuri harta orang seperti ini tangannya tetap dipotong; dan jumlah mayoritas yang haram hanya melahirkan prasangka umum (zhann mursal) yang tidak terikat pada barang tertentu itu sendiri (al-'ain), maka hendaknya ia seperti prasangka kuat pada lumpur di jalanan atau prasangka kuat pada percampuran dengan jumlah yang tidak terbatas jika yang terbanyak adalah haram? Dan tidak boleh berdalil dalam hal ini dengan keumuman sabda Nabi ﷺ, "Tinggalkanlah apa yang meragukanmu menuju apa yang tidak meragukanmu," karena hadis itu dikhususkan pada sebagian tempat berdasarkan kesepakatan ulama, yaitu jika timbul keraguan karena adanya indikator ('alamah) pada fisik kepemilikan itu sendiri, dengan bukti percampuran yang sedikit dengan sesuatu yang tidak terbatas, sebab hal itu menimbulkan keraguan namun kalian memastikan tidak haram? Maka jawabannya adalah: Sesungguhnya penguasaan fisik (al-yad) merupakan petunjuk yang lemah seperti istishhab, dan ia hanya berpengaruh apabila selamat dari pembanding (penentang) yang kuat.
فإذا تحققنا الاختلاط وتحققنا إن الحرام المخالط موجود في الحال والمال غير خال عنه وتحققنا أن الأكثر هو الحرام وذلك في حق شخص معين يقرب ماله من الحصر ظهر وجوب الإعراض عن مقتضى اليد وإن لم يحمل عليه قوله ﵇ دع مايريبك إلى ما لا يريبك لا يبقى له محمل إذ لا يمكن أن يحمل على اختلاط قليل بحلال غير محصور إذ كان ذلك موجوداً في زمانه وكان لا يدعه وعلى أي موضع حمل هذا كان هذا في معناه
Maka apabila kita telah meyakini terjadinya percampuran, dan meyakini bahwa harta haram yang bercampur itu ada pada saat ini serta harta tersebut tidak bebas darinya, dan kita meyakini bahwa porsi terbesarnya adalah haram—dan hal itu berlaku pada diri seseorang tertentu yang hartanya mendekati batas terhitung—maka tampaklah kewajiban untuk berpaling dari konsekuensi penguasaan fisik (al-yad). Dan jika sabda Nabi ﷺ "Tinggalkanlah apa yang meragukanmu menuju apa yang tidak meragukanmu" tidak dibawakan pada kondisi ini, niscaya tidak ada lagi pemaknaan yang tersisa baginya; sebab tidak mungkin dibawakan pada percampuran barang haram yang sedikit dengan barang halal yang tidak terbatas, karena hal itu ada pada zaman Nabi dan beliau tidak meninggalkannya. Maka pada pemaknaan mana pun hadis ini dibawakan, kondisi ini berada dalam maknanya.
وحمله على التنزيه صرف له عن ظاهره بغير قياس فإن تحريم هذا غير بعيد عن قياس العلامات والاستصحاب وللكثرة تأثير في تحقيق الظن وكذا للحصر وقد اجتمعا حتى قال أبو حنيفة ﵁ لا تجتهد في الأواني إلا إذا كان الطاهر هو الأكثر فاشترط اجتماع الاستصحاب والاجتهاد بالعلامة وقوة الكثرة ومن قال يأخذ أي آنية أراد بلا اجتهاد بناء على مجرد الاستصحاب فيجوز الشرب أيضاً فيلزمه التجويز ههنا بمجرد علامة اليد ولا يجري ذلك في بول اشتبه بماء إذ لا استصحاب فيه ولا نطرده أيضاً في ميتة اشتبهت بذكية إذ لا استصحاب في الميتة واليد لا تدل على أنه غير ميتة وتدل في الطعام المباح على أنه ملك فههنا أربع متعلقات استصحاب وقلة في المخلوط أو كثرة وانحصار أو اتساع في المخلوط وعلامة خاصة في عين الشيء يتعلق بها الاجتهاد فمن يغفل عن مجموع الأربعة ربما يغلط فيشبه بعض المسائل بما لايشبهه فحصل مما ذكرناه ان المختلط في ملك شخص واحد إما أن يكون الحرام أكثره أو اقله وكل واحد إما أن يعلم بيقين أو بظن عن علامة أو توهم فالسؤال يجب في موضعين وهو أن يكون الحرام أكثر يقيناً أو ظناً كما لو رأى تركياً مجهولاً يحتمل أن يكون كل ماله من غنيمة وإن كان الأقل معلوماً باليقين فهو محل التوقف وتكاد تسير سير أكثر السلف وضرورة الأحوال إلى الميل إلى الرخصة وأما الأقسام الثلاثة الباقية
Membawakan maknanya kepada hukum makruh (tanzih) berarti memalingkannya dari makna lahiriahnya tanpa landasan qiyas. Sebab, mengharamkan hal ini tidaklah jauh dari qiyas tentang indikator-indikator (al-'alamat) dan istishhab. Jumlah yang dominan (al-katsrah) memiliki pengaruh dalam menguatkan persangkaan (zhann), demikian pula keterbatasan jumlah (al-hashr), dan keduanya telah berpadu. Sampai-sampai Abu Hanifah radhiyallahu 'anhu berkata: "Janganlah engkau berijtihad pada bejana-bejana kecuali jika yang suci adalah mayoritas." Maka beliau mensyaratkan perpaduan antara istishhab, ijtihad berdasarkan tanda ('alamah), dan kekuatan jumlah mayoritas. Sedangkan barang siapa yang berkata boleh mengambil bejana mana saja yang ia kehendaki tanpa ijtihad semata-mata bersandar pada istishhab, maka ia membolehkan pula meminumnya, sehingga ia terkonsekuensi untuk membolehkan di sini hanya berdasarkan tanda penguasaan fisik (al-yad). Hal demikian tidak berlaku pada air kencing yang samar dengan air suci, karena tidak ada istishhab padanya; dan tidak pula kita berlakukan secara konstan pada bangkai yang samar dengan hewan yang disembelih secara syar'i, karena tidak ada istishhab pada bangkai, sedangkan al-yad tidak menunjukkan bahwa ia bukan bangkai, tetapi al-yad menunjukkan pada makanan mubah bahwa ia adalah hak milik. Maka di sini terdapat empat keterkaitan: istishhab, sedikit atau banyaknya barang yang bercampur, terbatas atau luasnya cakupan percampuran, serta tanda khusus pada fisik benda yang menjadi tumpuan ijtihad. Barang siapa lalai dari gabungan empat hal ini, terkadang ia keliru sehingga menyamakan sebagian masalah dengan sesuatu yang tidak serupa darinya. Dari apa yang kami sebutkan dapat disimpulkan bahwa barang yang bercampur dalam kepemilikan satu orang: adakalanya yang haram adalah porsi terbesar atau porsi terkecilnya; dan masing-masing adakalanya diketahui dengan yakin, dengan prasangka berdasarkan tanda, atau dengan dugaan belaka (tawahhum). Maka bertanya/meneliti (as-su'al) itu wajib pada dua keadaan, yaitu apabila yang haram adalah porsi terbesar secara yakin atau secara prasangka kuat (zhann), seperti jika ia melihat seorang Turki asing yang tidak dikenal yang ada kemungkinan seluruh hartanya berasal dari harta rampasan perang. Adapun jika porsi terkecil yang haram itu diketahui secara yakin, maka itu menjadi tempat penundaan sikap (tawaqquf), dan hampir-hampir perjalanan sebagian besar ulama Salaf serta keterpaksaan kondisi mendorong untuk cenderung pada keringanan (rukhsah). Adapun tiga bagian selebihnya…
فالسؤال واجب فيها أصلاً مسألة إذا حضر طعام إنسان علم أنه دخل في يده حرام من إدرار كان قد أخذه أو وجه آخر ولا يدري أنه بقي إلى الآن أم لا قله الأكل ولايلزمه التفتيش وإنما التفتيش فيه من الورع ولو علم أنه قد بقي منه شيء ولكن لم يدر أنه الأ قل أو الأكثر فله أن يأخذ بأنه الأقل وقد سبق أن أمر الأقل مشكل وهذا يقرب منه مسألة إذا كان يد المتولى للخيرات أو الأوقاف أو الوصايا مالان يستحق هو أحدهما ولا يستحق الثاني لأنه غير موصوف بتلك الصفة فهل له أن يأخذ ما يسلمه إليه صاحب الوقف نظرفإن كانت تلك الصفة ظاهرة يعرفها المتولي وكان المتولي ظاهر العدالة فله أن يأخذ بغير بحث لأن الظن بالمتولي أنه لا يصرف إليه ما يصرفه إلا من المال الذي يستحقه وإن كانت الصفة خفية وإن كان المتولي ممن عرف حاله أنه يخلط ولا يبالي كيف يفعل فعليه السؤال إذ ليس ههنا يد ولا استصحاب يعول عليه وهو وزان سؤال رسول الله ﷺ عن الصدقة والهدية عند تردده فيهما لأن اليد لا تخصص الهدية عن الصدقة ولا الاستصحاب فلا ينجي منه إلا السؤال فإن السؤال حيث أسقطناه في المجهول أسقطناه بعلامة اليد والإسلام حتى لو لم يعلم أنه مسلم وأراد أن يأخذ من يده لحماً من ذبيحته واحتمل أن يكون مجوسياً لم يجر له ما لم يعرف أنه مسلم إذ اليد لا تدل في الميتة ولا الصورة تدل على الإسلام إلا إذا كان أكثر أهل البلدة مسلمين فيجوز أن يظن بالذي ليس عليه علامة الكفر أنه مسلم وإن كان الخطأ ممكناً فيه فلا ينبغي أن تلتبس المواضع التي تشهد فيها اليد والحال بالتي لا تشهد
…maka bertanya (as-su'al) pada dasarnya adalah wajib padanya. [Masalah]: Apabila dihidangkan makanan seseorang yang diketahui bahwa harta haram telah masuk ke tangannya dari pemberian rutin (idrar) yang pernah diambilnya atau dari jalan lain, namun tidak diketahui apakah masih tersisa hingga sekarang atau tidak, maka ia boleh memakannya dan tidak wajib baginya melakukan pemeriksaan/penyelidikan (at-taftisy), karena penyelidikan dalam hal ini termasuk sikap wara'. Sekiranya ia mengetahui bahwa harta haram itu masih tersisa sebagian, tetapi ia tidak tahu apakah porsinya sedikit atau banyak, maka ia boleh mengambil dengan menganggapnya sebagai porsi yang lebih sedikit, padahal telah dijelaskan sebelumnya bahwa perkara porsi yang lebih sedikit ini rumit. Sangat dekat dengan masalah ini adalah perkara apabila di tangan pengelola (mutawalli) kebajikan, wakaf, atau wasiat terdapat dua harta, yang mana seseorang berhak menerima salah satunya dan tidak berhak menerima yang kedua karena ia tidak menyandang sifat tersebut: Apakah boleh baginya mengambil apa yang diserahkan oleh pengelola wakaf kepadanya? Ada rincian hukum padanya: Jika sifat tersebut tampak jelas dan diketahui oleh pengelola, serta pengelola tersebut secara lahiriah bersifat adil, maka ia boleh mengambilnya tanpa perlu menyelidiki; karena prasangka baik terhadap pengelola adalah bahwa ia tidak menasharrufkan (menyerahkan) kepadanya melainkan dari harta yang menjadi haknya. Namun jika sifat tersebut samar, atau pengelola tersebut termasuk orang yang diketahui keadaannya suka mencampuradukkan dan tidak peduli bagaimana ia bertindak, maka ia wajib bertanya; sebab di sini tidak ada penguasaan fisik (al-yad) maupun istishhab yang dapat dijadikan pegangan. Hal ini senada dengan pertanyaan Rasulullah ﷺ tentang sedekah dan hadiah ketika beliau ragu terhadap keduanya; karena penguasaan fisik tidak dapat membedakan hadiah dari sedekah, demikian pula istishhab, maka tidak ada yang menyelamatkan darinya kecuali bertanya. Sebab pertanyaan tersebut, di mana kami menggugurkannya pada orang asing/tidak dikenal (al-majhul), kami menggugurkannya karena adanya indikator penguasaan fisik (al-yad) dan keislaman. Bahkan jika ia tidak mengetahui bahwa orang tersebut seorang muslim dan ia ingin mengambil daging dari sembelihannya dari tangannya, sementara ada kemungkinan orang tersebut seorang Majusi, maka tidak boleh baginya selama ia belum mengetahui bahwa orang itu muslim; sebab al-yad tidak menunjukkan sesuatu bukan bangkai, dan penampilan fisik tidak menunjukkan keislaman kecuali jika mayoritas penduduk negeri tersebut adalah muslim, maka boleh menduga bahwa orang yang tidak memiliki tanda kekufuran adalah seorang muslim, meskipun kesalahan tetap dimungkinkan padanya. Oleh karena itu, tidak sepatutnya samar antara tempat-tempat di mana al-yad dan kondisi lapangan memberikan persaksian dengan tempat-tempat yang tidak memberikan persaksian.
مسألة له أن يشتري في البلد دارا وإن علم أنها تشتمل على دور مغصوبة لأن ذلك الاختلاط بغير محصور ولكن السؤال احتياط وورع وإن كان في سكة عشر دور مثلا إحداها مغصوب أو وقف لم يجز الشراء ما لم يتميز ويجب البحث عنه ومن دخل بلدة وفيها رباطات خصص بوقفها أرباب المذاهب وهو على مذهب واحد من جملة تلك المذاهب فليس له أن يسكن أيها شاء ويأكل من وقفها بغير سؤال لأن ذلك من باب اختلاط المحصور فلا بد من التمييز ولا يجوز الهجوم مع الإبهام لأن الرباطات والمدارس في البلد لابد أن تكون محصورة
[Masalah]: Seseorang boleh membeli sebuah rumah di suatu kota meskipun ia mengetahui bahwa kota tersebut mencakup rumah-rumah yang dirampas (ghashab), karena percampuran tersebut terjadi pada jumlah yang tidak terbatas (ghairu mahshur); akan tetapi bertanya merupakan bentuk kehati-hatian dan wara'. Namun jika di dalam suatu lorong/gang terdapat sepuluh rumah misalnya, salah satunya adalah rumah ghashab atau tanah wakaf, maka tidak boleh membeli rumah di situ selama belum jelas terpisah, dan wajib melacak/meneliti keberadaannya. Barang siapa memasuki suatu kota yang di dalamnya terdapat pondok-pondok (ribath) yang wakafnya dikhususkan bagi para pengikut mazhab tertentu, sedangkan ia memeluk salah satu mazhab dari sekian mazhab tersebut, maka ia tidak boleh tinggal di ribath mana saja yang ia sukai dan makan dari wakafnya tanpa bertanya; karena hal itu termasuk percampuran yang terbatas (mahshur), sehingga harus ada kejelasan (tamyiz), dan tidak boleh langsung masuk dalam keadaan tidak jelas (ibham), sebab ribath-ribath dan madrasah-madrasah di suatu kota pasti berjumlah terbatas.
مسألة حيث جعلنا السؤال من الورع فليس له أن يسأل صاحب الطعام والمال إذا لم يأمن غضبه وإنما أوجبنا السؤال إذا تحقق أن أكثر ماله حرام وعند ذلك لا يبالي بغضب مثله إذ يجب إيذاء الظالم بأكثر من ذلك والغالب أن مثل هذا لا يغضب من السؤال نعم إن كان يأخذ من يد وكيله أو غلامه أو تلميذه أو بعض أهله ممن هو تحت رعايته فله أن يسأل مهما استراب لأنهم لا يغضبون من سؤاله ولأن عليه أن يسأل ليعلمهم طريق الحلال ولذلك سأل أبو بكر ﵁ غلامه وسأل عمر من سقاه من إبل الصدقة وسأل أبا هريرة ﵁ أيضاً لما أن قدم عليه بمال كثير فقال ويحك أكل هذا طيب من حيث إنه تعجب من كثرته وكان هو من رعيته لا سيما وقد رفق في صيغة السؤال وكذك قال علي ﵁ ليس شيء أحب إلى الله تعالى من عدل إمام ورفقه ولا شيء أبغض إليه من جوره وخرقه
[Masalah]: Di mana saja kami menjadikan bertanya (as-su'al) itu bagian dari sikap wara', maka seseorang tidak boleh bertanya kepada pemilik makanan dan harta apabila ia tidak merasa aman dari kemarahannya. Kami hanya mewajibkan bertanya apabila telah dipastikan bahwa mayoritas hartanya adalah haram, dan pada saat itu ia tidak perlu mempedulikan kemarahan orang seperti itu, sebab menyakiti orang zalim dengan hal yang lebih dari itu pun adalah wajib, dan biasanya orang seperti ini tidak marah karena ditanya. Ya, jika ia mengambil dari tangan wakilnya, pelayannya, muridnya, atau sebagian keluarganya yang berada di bawah pengampuannya, maka ia boleh bertanya kapan saja ia merasa ragu, karena mereka tidak akan marah terhadap pertanyaannya dan karena ia berkewajiban bertanya untuk mengajarkan kepada mereka jalan yang halal. Oleh sebab itulah Abu Bakar radhiyallahu 'anhu bertanya kepada pelayannya, Umar bertanya kepada orang yang memberinya minum dari susu unta sedekah, dan Umar juga bertanya kepada Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu ketika beliau datang membawakannya harta yang sangat banyak, seraya berkata: "Celaka engkau, apakah seluruh harta ini baik (halal)?" dalam konteks beliau heran akan banyaknya harta tersebut, sementara Abu Hurairah adalah rakyatnya, terlebih lagi Umar bersikap lemah lembut dalam redaksi pertanyaannya. Demikian pula 'Ali radhiyallahu 'anhu berkata: "Tidak ada sesuatu pun yang lebih dicintai oleh Allah Ta'ala daripada keadilan seorang pemimpin dan kelembutannya, dan tidak ada sesuatu pun yang lebih dibenci oleh-Nya daripada kezalimannya dan kekerasannya."
مسألة قال الحارث المحاسبي ﵀ لو كان له صديق أو أخ وهو يأمن غضبه لو سأله فلا ينبغي أن يسأله لأجل الورع لأنه ربما يبدو له ما كان مستوراً عنه فيكون قد حمله على هتك الستر ثم يؤدي ذلك إلى البغضاء وما ذكره حسن لأن السؤال إذا كان من الورع لا من الوجوب فالورع في مثل هذه الأمور الاحتراز عن هتك الستر وإثارة البغضاء أهم وزاد على هذا فقال وإن رابه منه شيء أيضاً لم يسأله ويظن به أنه يطعمه من الطيب
[Masalah]: Al-Harits Al-Muhasibi rahimahullah berkata: Sekiranya seseorang memiliki sahabat atau saudara yang ia merasa aman dari kemarahannya jika ia bertanya kepadanya, maka tidak seyogianya ia bertanya kepadanya atas nama sikap wara'; karena bisa jadi akan nampak baginya apa yang selama ini tersembunyi darinya, sehingga ia telah mendorong saudaranya untuk menyingkap tirai (aib), yang kemudian membawa kepada kebencian. Apa yang disebutkan oleh Al-Muhasibi ini adalah pandangan yang baik, karena apabila bertanya itu bersumber dari sikap wara' dan bukan suatu kewajiban, maka wara' dalam perkara-perkara semacam ini dengan menolak penyingkapan tirai dan menghindari timbulnya kebencian adalah lebih penting. Beliau menambahkan atas hal ini dengan berkata: Jika ia merasa ragu terhadap sesuatu dari saudaranya, ia juga tidak perlu bertanya kepadanya, melainkan berprasangka baik padanya bahwa ia memberinya makan dari rezeki yang baik (halal)…
ويجنبه الخبيث فإن كان لا يطمئن قلبه إليه فيحترز متلطفاً ولا يهتك ستره بالسؤال قال لأني لم أر أحداً من العلماء فعله فهذا منه مع ما اشتهر به من الزهد يدل على مسامحة فيما إذا خالط المال الحرام القليل ولكن ذلك عند التوهم لا عند التحقيق لأن لفظ الريبة يدل على التوهم بدلالة تدل عليه ولا يوجب اليقين فليراع هذه الدقائق بالسؤال
…dan menjauhkannya dari yang buruk (haram). Jika hatinya tidak merasa tenang kepadanya, hendaknya ia menahan diri (berhati-hati) dengan penuh kelembutan dan tidak menyingkap tirainya dengan bertanya. Beliau berkata: "Karena aku tidak pernah melihat seorang pun dari ulama yang melakukannya." Sikap dari beliau ini—di samping masyhurnya beliau dengan kezuhudan—menunjukkan adanya kelonggaran dalam hal jika harta tersebut bercampur dengan harta haram yang sedikit; namun hal itu berlaku ketika dalam kondisi dugaan (tawahhum) bukan ketika terbukti nyata (tahqiq), karena lafaz keraguan (ar-ribah) menunjukkan pada dugaan dengan adanya indikasi yang mengarah kepadanya namun tidak membuahkan keyakinan. Maka hendaknya diperhatikan kehalusan-kehalusan (ketelitian) ini dalam hal bertanya.
مسألة ربما يقول القائل أي فائدة في السؤال ممن بعض ماله حرام ومن يستحل المال الحرام ربما يكذب فإن وثق بأمانته فليثق بديانته في الحلال فأقول مهما علم مخالطة الحرام لمال إنسان وكان له غرض في حضورك ضيافته أو قبولك هديته فلا تحصل الثقة بقوله فلا فائدة للسؤال منه فينبغي أن يسأل من غيره وكذا إن كان بياعا وهو يرغب في البيع لطلب الربح فلا تحصل الثقة بقوله إنه حلال ولا فائدة في السؤال منه وإنما يسأل من غيره وَإِنَّمَا يُسْأَلُ مِنْ صَاحِبِ الْيَدِ إِذَا لَمْ يكن متهماً كما يسأل المتولي على المال الذي يسلمه أنه من أي جهة وكما سأل رسول الله ﷺ عن الهدية والصدقة فإن ذلك لا يؤذي ولا يتهم القائل فيه وكذلك إذا اتهمه بأنه ليس يدري طريق كسب الحلال فلا يتهم في قوله إذا أخبر عن طريق صحيح وكذلك يسأل عبده وخادمه ليعرف طريق اكتسابه فههنا يفيد السؤال فإذا كان صاحب المال متهماً فَلْيُسْأَلْ مِنْ غَيْرِهِ فَإِذَا أَخْبَرَهُ عَدْلٌ وَاحِدٌ قبله وإن أخبره فاسق يعلم مِنْ قَرِينَةِ حَالِهِ أَنَّهُ لَا يَكْذِبُ حَيْثُ لَا غَرَضَ لَهُ فِيهِ جَازَ قَبُولُهُ لِأَنَّ هذا أمر بينه وبين الله تعالى والمطلوب ثقة النفس وقد يحصل من الثقة بقول الفاسق ما لا يحصل بقول عدل في بعض الأحوال وليس كل من فسق يكذب ولا كل من ترى العدالة في ظاهره يصدق وإنما نيطت الشهادة بالعدالة الظاهرة لضرورة الحكم فإن البواطن لا يطلع عليها وقد قبل أبو حنيفة ﵀ شهادة الفاسق وكم من شخص تعرفه وتعرف أنه قد يقتحم المعاصي ثم إذا أخبرك بشيء وثقت به وكذلك إذا أخبر به صبي مميز ممن عرفته بالتثبت فقد تحصل الثقة بقوله فيحل الاعتماد عليه فأما إذا أخبر به مجهول لا يدري من حاله شيء أصلاً فهذا ممن جوزنا الأكل من يده لأن يده دلالة ظاهرة على ملكه
[Masalah]: Terkadang seseorang berkata: Apakah manfaat bertanya kepada orang yang sebagian hartanya haram, sedangkan orang yang menghalalkan harta haram itu bisa jadi akan berdusta? Jika ia percaya akan kesetiaannya (amanahnya), hendaknya ia percaya akan komitmen agamanya (diyanah) dalam hal halal. Maka aku katakan: Selama diketahui adanya percampuran haram pada harta seseorang, sementara ia memiliki kepentingan agar engkau menghadiri jamuannya atau menerima hadiahnya, maka tidak akan diperoleh kepercayaan pada perkataannya, sehingga tidak ada manfaatnya bertanya kepadanya, dan hendaknya bertanya kepada orang lain. Demikian pula jika ia seorang penjual yang berhasrat dalam menjual demi mencari keuntungan, maka tidak diperoleh kepercayaan pada perkataannya bahwa barang itu halal dan tidak ada manfaat bertanya kepadanya, melainkan ditanyakan kepada selain dirinya. Hanyasanya ditanyakan kepada pemegang kuasa fisik (shahib al-yad) apabila ia tidak dicurigai (dituduh), sebagaimana ditanyakan kepada pengelola harta yang menyerahkannya: dari jalur manakah harta itu? Dan sebagaimana Rasulullah ﷺ bertanya tentang hadiah dan sedekah, karena hal itu tidak menyakiti dan pembicara tidak dituduh di dalamnya. Demikian pula jika ia mencurigainya bahwa ia tidak mengetahui cara kasab (penghasilan) yang halal, maka ia tidak dituduh dalam perkataannya jika ia mengabarkan dari cara yang benar. Demikian pula ia bertanya kepada budaknya dan pelayannya untuk mengetahui cara perolehannya; maka di sinilah pertanyaan itu bermanfaat. Apabila pemilik harta itu dalam posisi tertuduh/dicurigai, hendaknya ditanyakan kepada selain dirinya. Jika seorang yang adil mengabarkannya, maka ia menerimanya. Dan jika seorang yang fasik mengabarkannya padahal diketahui dari indikasi keadaannya bahwa ia tidak berdusta karena tidak memiliki kepentingan di dalamnya, maka boleh menerimanya; sebab perkara ini adalah antara dirinya dengan Allah Ta'ala, sedangkan yang dituntut adalah ketenangan/kepercayaan jiwa (thiqatu an-nafs). Sungguh terkadang diperoleh kepercayaan dari perkataan orang fasik apa yang tidak diperoleh dari perkataan orang adil dalam sebagian kondisi. Tidak setiap orang yang fasik itu berdusta, dan tidak setiap orang yang tampak adil secara lahiriah itu jujur. Hanyasanya persaksian itu digantungkan pada keadilan lahiriah karena darurat penetapan hukum (al-hukm), sebab hal-hal batin tidak dapat diketahui. Abu Hanifah rahimahullah telah menerima kesaksian orang fasik, dan betapa banyak orang yang engkau kenal dan engkau tahu bahwa ia terkadang melakukan kemaksiatan, namun apabila ia mengabarkan kepadamu tentang sesuatu engkau mempercayainya. Demikian pula jika dikabarkan oleh seorang anak kecil yang mumayyiz yang engkau kenal ketelitiannya (tsabat), maka terkadang diperoleh kepercayaan dari perkataannya sehingga halal bersandar padanya. Adapun jika dikabarkan oleh orang asing/tidak dikenal (majhul) yang tidak diketahui keadaannya sama sekali, maka ini termasuk orang yang kami perbolehkan makan dari tangannya karena penguasaan fisiknya (al-yad) merupakan indikator yang nyata atas kepemilikannya.
وربما يقال إسلامه دلالة ظاهرة على صدقه وهذا فيه نظر ولا يخلو قوله عن أثر ما في النفس حتى لو اجتمع منهم جماعة تفيد ظناً قويأ إلا أن أثر الواحد فيه في غاية الضعف فلينظر إلى حد تأثيره في القلب فإن المفتي هو القلب في مثل هذا الموضع وَلِلْقَلْبِ الْتِفَاتَاتٌ إِلَى قَرَائِنَ خَفِيَّةٍ يَضِيقُ عَنْهَا نطاق النطق فليتأمل فيه ويدل على وجوب الالتفات إليه ما روي عن عقبة بن الحارث أنه جاء إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فقال إني تزوجت امرأة فجاءت أمة سوداء فزعمت أنها قد أرضعتنا وهي كاذبة فقال دعها فقال إنها سوداء يصغر من شأنها فقال ﵇ فكيف وقد زعمت أنها قد أرضعتكما لا خير لك فيها دعها عنك
Dan terkadang dikatakan: keislamannya merupakan indikator nyata atas kejujurannya; namun pendapat ini perlu ditinjau kembali. Dan perkataannya tidak lepas dari pengaruh tertentu di dalam jiwa, hingga sekiranya berkumpul sekelompok orang dari mereka, hal itu memberikan prasangka yang kuat, hanya saja pengaruh satu orang di dalamnya amatlah lemah. Maka hendaknya dilihat pada sejauh mana pengaruhnya di dalam hati, karena pembuat fatwa (al-mufti) adalah hati dalam posisi seperti ini. Dan hati memiliki kepekaan terhadap indikasi-indikasi terselubung yang sempit baginya ruang lingkup lisan untuk diungkapkan, maka hendaknya ia merenungkannya. Dan yang menunjukkan atas wajibnya memperhatikan kepekaan hati ini adalah apa yang diriwayatkan dari Uqbah bin Al-Harits bahwa ia datang kepada Rasulullah ﷺ lalu berkata: "Sesungguhnya aku telah menikahi seorang wanita, lalu datanglah seorang budak wanita berkulit hitam yang mengklaim bahwa ia telah menyusui kami berdua, padahal ia seorang pendusta." Maka Beliau bersabda: "Tinggalkanlah wanita itu!" Uqbah berkata: "Sesungguhnya ia wanita hitam yang diremehkan kedudukannya." Maka Nabi ﷺ bersabda: "Bagaimana lagi sedangkan ia telah mengklaim bahwa ia telah menyusui kalian berdua? Tidak ada kebaikan bagimu padanya, tinggalkanlah ia dari sisimu!"
وفي لفظ آخر كيف وقد قيل ومهما لم يعلم كذب المجهول ولم تظهر أمارة غرض له فيه كان له وقع في القلب لا محالة فلذلك يتأكد الأمر بالاحتراز فإن اطمأن إليه القلب كان الاحتراز حتماً واجباً
Dalam lafaz lain disebutkan: "Bagaimana lagi sedangkan telah dikatakan (demikian)?" Dan kapan saja tidak diketahui kedustaan orang yang tidak dikenal (al-majhul) tersebut serta tidak tampak tanda adanya kepentingan baginya dalam hal itu, maka perkataannya pasti memiliki pengaruh di dalam hati; oleh karena itu, perintah untuk berhati-hati (berjaga-jaga) menjadi sangat ditekankan. Jika hati merasa ragu/terkesan padanya, maka sikap berhati-hati menjadi perkara yang pasti dan wajib.
مسألة حيث يجب السؤال فلو تعارض قول عدلين تساقطا وكذا قول فاسقين ويجوز أن يترجح في قلبه قول أحد العدلين أو أحد الفاسقين ويجوز أن يرجح أحد الجانبين بالكثرة أو بالاختصاص بالخبرة والمعرفة وذلك مما يتشعب تصويره
[Masalah]: Pada posisi di mana bertanya itu wajib, sekiranya bertentangan perkataan dua orang yang adil, maka keduanya saling menggugurkan (tasaqatha); demikian pula perkataan dua orang yang fasik. Namun boleh jadi menguat di dalam hatinya perkataan salah satu dari dua orang yang adil atau salah satu dari dua orang yang fasik tersebut, dan boleh jadi ia mengunggulkan salah satu dari kedua belah pihak karena jumlah yang lebih banyak atau karena keahlian khusus dalam pengalaman dan pengetahuan, dan hal itu merupakan sesuatu yang bercabang-cabang gambarannya.
مسألة لو نهب متاع مخصوص فصادف من ذلك النوع متاعا في يد إنسان وأراد أن يشتريه واحتمل أن لا يكون
[Masalah]: Sekiranya harta benda tertentu dijarah, lalu seseorang mendapati jenis barang tersebut berada di tangan seseorang dan ia ingin membelinya, sedangkan ada kemungkinan barang itu bukan…
من المغصوب فإن كان ذلك الشخص ممن عرفه بالصلاح جاز الشراء وكان تركه من الورع وإن كان الرجل مجهولاً لا يعرف منه شيئاً فإن كان يكثر نوع ذلك المتاع من غير المغصوب فله أن يشتري وإن كان لا يوجد ذلك المتاع في تلك البقعة إلا نادراً وإنما كثر بسبب الغصب فليس بدل على الحل إلا اليد وقد عارضته علامة خاصة من شكل المتاع ونوعه فالامتناع عن شرائه من الورع المهم ولكن الوجوب فيه نظر فإن العلامة متعارضة ولست أقدر على أن أحكم فيه بحكم إلا أرده إلى قلب المستفتي لينظر ما الأقوى في نفسه فإن كان الأقوى أنه مغصوب لزمه تركه وإلا حل له شراؤه وأكثر هذه الوقائع يلتبس الأمر فيها فهي من المتشابهات التي لا يعرفها كثير الناس فمن توقاها فقد استبرأ لعرضه ودينه ومن اقتحمها فقد حام حول الحمى وخاطر بنفسه
…termasuk barang rampasan (ghashab): Jika orang tersebut termasuk yang diketahuinya memiliki kesalehan, maka boleh membelinya dan meninggalkannya adalah bagian dari sikap wara'. Namun jika orang itu tidak dikenal (majhul) dan tidak diketahui sesuatu pun darinya, maka jika jenis barang tersebut banyak terdapat dari sumber yang bukan rampasan, ia boleh membelinya. Adapun jika barang tersebut tidak ditemukan di tempat itu kecuali sangat jarang dan hanya menjadi banyak disebabkan adanya perampasan, maka tidak ada yang menunjukkan kehalalannya kecuali penguasaan fisik (al-yad), padahal penguasaan fisik itu telah ditentang oleh indikator khusus dari bentuk dan jenis barang tersebut; maka menahan diri dari membelinya merupakan bagian dari wara' yang penting, namun mengenai kewajiban meninggalkannya terdapat peninjauan kembali (nadzar), karena indikatornya saling bertentangan. Dan aku tidak mampu menetapkan hukum di dalamnya kecuali mengembalikan hal itu kepada hati orang yang meminta fatwa, agar ia melihat mana yang lebih kuat di dalam jiwanya: Jika yang lebih kuat adalah bahwa barang itu dirampas, maka wajib baginya meninggalkannya; jika tidak, maka halal baginya membelinya. Kebanyakan peristiwa ini bersifat samar (samar hukumnya), maka ia termasuk perkara syubhat (al-mutasyabihat) yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Barang siapa yang memelihara diri darinya, sungguh ia telah memelihara kehormatan dan agamanya; dan barang siapa yang terjerumus ke dalamnya, maka ia telah menggembala di sekitar kawasan terlarang dan mempertaruhkan jiwanya.
مسألة لو قال قائل قد سأل رسول الله ﷺ عن لبن قدم إليه فذكر أنه من شاة فسأل عن الشاة من أين هي فذكر له فسكت عن السؤال فيجب السؤال عن أصل المال أم لا وإن وجب فعن أصل واحد أو اثنين أو ثلاثة وما الضبط فيه فأقول لا ضبط فيه ولا تقدير بل ينظر إلى الريبة المقتضية للسؤال إما وجوباً أو ورعاً ولا غاية للسؤال إلا حيث تنقطع الريبة المقتضية له وذلك يختلف باختلاف الأحوال فإن كانت التهمة من حيث لا يدري صاحب اليد كيف طريق الكسب الحلال فإن قال اشتريت انقطع بسؤال واحد وإن قال من شاتي وقع الشك في الشاة فإذا قال اشتريت انقطع وإن كانت الريبة من الظلم وذلك مما في أيدي العرب ويتوالد في أيديهم المغصوب فلا تنقطع الريبة بقوله إنه من شاتي ولا بقوله إن الشاة ولدتها شاتي فإن أسنده إلى الوراثة من أبيه وحالة أبيه مجهولة انقطع السؤال وإن كان يعلم أن جميع مال أبيه حرام فقد ظهر التحريم وإن كان يعلم أن أكثره حرام فبكثرة التوالد وطول الزمان وتطرق الإرث إليه لا يغير حكمه فلينظر في هذه المعاني
[Masalah]: Sekiranya seseorang berkata: Sungguh Rasulullah ﷺ pernah bertanya tentang susu yang dihidangkan kepada Beliau, lalu disebutkan bahwa susu itu dari seekor kambing, maka Beliau bertanya tentang kambing itu dari mana asalnya, lalu disebutkan kepada Beliau kemudian Beliau diam dari bertanya; maka apakah wajib bertanya tentang asal-usul harta atau tidak? Dan jika wajib, apakah dari satu asal, dua, atau tiga asal, dan bagaimanakah batasan hukumnya (adh-dhabth)? Maka aku katakan: Tidak ada batasan pasti dan tidak ada kadar tertentu dalam hal ini, melainkan dilihat pada keraguan (ar-ribah) yang menuntut untuk bertanya, baik secara wajib maupun secara wara'. Dan tidak ada batas akhir dari pertanyaan kecuali ketika telah terputus keraguan yang menuntutnya, dan hal itu berbeda-beda sesuai dengan perbedaan kondisi. Jika persangkaan/tuduhan timbul dari sisi pemilik penguasaan fisik (shahib al-yad) tidak mengetahui bagaimana jalan kasab (penghasilan) yang halal, lalu ia berkata: "Aku membelinya," maka terputuslah keraguan dengan satu pertanyaan. Jika ia berkata: "Dari kambingku," maka timbul keraguan pada kambing tersebut, lalu jika ia berkata: "Aku membelinya," terputuslah keraguan. Namun jika keraguan itu timbul dari kezaliman—dan hal itu seperti yang berada di tangan orang-orang Arab di mana barang ghashab berkembang biak di tangan mereka—maka keraguan tidak terputus dengan perkataannya "Ini dari kambingku" dan tidak pula dengan perkataannya "Kambing ini dilahirkan oleh kambingku." Jika ia menyandarkannya pada warisan dari ayahnya sedangkan keadaan ayahnya tidak diketahui (majhul), maka terputuslah pertanyaan. Jika diketahui bahwa seluruh harta ayahnya adalah haram, maka telah jelas keharamannya; dan jika diketahui bahwa mayoritas hartanya adalah haram, maka banyaknya perkembangbiakan, panjangnya waktu, serta masuknya hukum waris padanya tidaklah mengubah hukumnya. Maka hendaknya diperhatikan makna-makna ini.
مسألة سئلت عن جماعة من سكان خانقاه الصوفية وفي يد خادمهم الذي يقدم إليهم الطعام وقف على ذلك المسكن ووقف آخر على جهة أخرى غير هؤلاء وهو يخلط الكل وينفق على هؤلاء وهؤلاء فأكل طعامه حلال أو حرام أو شبهة فقلت إن هذا يلتفت إلى سبعة أصول
[Masalah]: Aku pernah ditanya tentang sekelompok penghuni padepokan (khanqah) Sufi, di mana di tangan pelayan mereka yang menghidangkan makanan terdapat harta wakaf untuk tempat tinggal tersebut dan ada wakaf lain untuk peruntukan lain selain mereka, sedangkan pelayan itu mencampur semuanya dan menafkahi kelompok ini dan kelompok itu: Apakah memakan makanannya itu halal, haram, atau syubhat? Maka aku menjawab: Sesungguhnya hal ini mengacu pada tujuh kaidah (asal).
الأصل الأول أن الطعام الذي يقدم إليهم في الغالب يشتريه بالمعاطاة والذي اخترناه صحة المعاطاة لا سيما في الأطعمة والمستحقرات فليس في هذا إلا شبهة الخلاف
Kaidah Pertama: Bahwa makanan yang dihidangkan kepada mereka pada umumnya dibeli oleh pelayan tersebut dengan cara jual beli mu'athah (serah terima tanpa lafaz). Dan pendapat yang kami pilih adalah sahnya jual beli mu'athah, terlebih lagi pada makanan dan barang-barang yang bernilai kecil; maka tidak ada dalam hal ini kecuali syubhat perselisihan ulama (syubhat al-khilaf).
الأصل الثاني أن ينظر أن الخادم هل يشتريه بعين المال الحرام أو في الذمة فإن اشتراه بعين المال الحرام فهو حرام وإن لم يعرف فالغالب أنه يشتري في الذمة ويجوز الأخذ بالغالب ولا ينشأ من هذا تحريم بل شبهة احتمال بعيد وهو شراؤه بعين مال حرام
Kaidah Kedua: Hendaknya dilihat apakah pelayan tersebut membelinya dengan fisik harta yang haram ('ain al-mal al-haram) atau dalam bentuk tanggungan (fi adz-dzimmah)? Jika ia membelinya dengan fisik harta yang haram, maka hukumnya haram. Namun jika tidak diketahui, maka kebiasaannya adalah ia membeli dalam tanggungan (piutang/tanggungan pembayaran), dan boleh mengambil dengan kebiasaan umum (al-ghalib); sehingga dari hal ini tidak timbul keharaman, melainkan syubhat berupa kemungkinan yang jauh, yaitu membelinya dengan fisik harta yang haram.
الأصل الثالث أنه من أين يشتريه فإن اشترى ممن أكثر ماله حرام لم يجز وإن كان أقل ماله ففيه نظر قد سبق وإذا لم يعرف جاز له الأخذ بأنه يشتريه ممن ماله حلال أو ممن لا يدري المشتري حاله بيقين كالمجهول وقد سبق جواز الشراء من المجهول لأن ذلك هو الغالب فلا ينشأ من هذا تحريم بل شبهة احتمال
Kaidah Ketiga: Dari manakah ia membelinya? Jika ia membeli dari orang yang mayoritas hartanya adalah haram, maka tidak boleh. Jika yang haram adalah porsi yang lebih sedikit, maka di dalamnya terdapat peninjauan kembali (nadzar) sebagaimana telah berlalu. Jika tidak diketahui, ia boleh mengambil dengan anggapan bahwa ia membelinya dari orang yang hartanya halal atau dari orang yang pembeli tidak mengetahui keadaannya secara yakin seperti orang asing (majhul); dan telah lalu kebolehan membeli dari orang asing karena hal itulah yang umum terjadi, maka dari hal ini tidak timbul keharaman melainkan syubhat berupa kemungkinan.
الأصل الرابع أن يشتريه لنفسه أو للقوم فإن المتولي والخادم كالنائب وله أن يشتري له ولنفسه ولكن يكون ذلك بالنية أو صريح اللفظ وإذا كان الشراء يجري بالمعاطاة فلا يجري اللفظ والغالب أنه لا ينوي عند المعاطاة والقصاب والخباز ومن يعامله يعول عليه ويقصد البيع منه لا ممن لا يحضرون فيقع عن جبهته ويدخل في ملكه وهذا الأصل ليس فيه تحريم ولا شبهة ولكن يثبت أنهم يأكلون من ملك الخادم
Kaidah Keempat: Apakah ia membelinya untuk dirinya sendiri atau untuk orang banyak? Sebab pengelola (mutawalli) dan pelayan itu berkedudukan seperti wakil (na'ib), dan ia berhak membeli untuk mereka maupun untuk dirinya sendiri, tetapi hal itu terjadi dengan niat atau dengan lafaz yang tegas (sharih). Dan apabila pembelian berlangsung dengan mu'athah (serah terima tanpa ucapan), maka lafaz tidak berlaku, sedang kebiasaannya ia tidak berniat ketika mu'athah; sementara tukang daging, tukang roti, dan orang yang bertransaksi dengannya bersandar kepadanya dan bermaksud menjual darinya bukan dari orang-orang yang tidak hadir, sehingga akad itu jatuh atas dirinya dan masuk ke dalam kepemilikannya. Kaidah ini tidak mengandung keharaman dan tidak pula syubhat, tetapi menetapkan bahwa mereka memakan dari milik pelayan tersebut.
الأصل الخامس أن الخادم يقدم الطعام إليهم فلا يمكن أن يجعل ضيافة وهدية بغير عوض فإنه لا يرضى بذلك وإنما يقدم اعتماداً على عوضه من الوقف فهو معاوضة ولكن ليس ببيع ولا إقراض لأنه لو انتهض لمطالبتهم بالثمن استبعد ذلك وقرينة الحال لا تدل عليه فأشبه أصل ينزل عليه هذه الحالة الهبة بشرط الثواب أعني هدية لا لفظ فيها من شخص تقتضي قرينة حاله أنه يطمع في ثواب وذلك صحيح والثواب لازم وههنا ما طمع الخادم في أن يأخذ ثوابا فيما قدمه إلا حقهم من الوقف ليقضي به دينه من الخباز والقصاب والبقال فهذا ليس فيه شبهة إذ لا يشترط لفظ في الهدية ولا في تقديم الطعام وإن كان مع انتظار الثواب ولا مبالاة بقول من لا يصحح هدية في انتظار ثواب
Prinsip kelima: Bahwa seorang pelayan menghidangkan makanan kepada mereka, maka tidak mungkin hal itu dijadikan sebagai jamuan (dhiyafah) atau hadiah tanpa imbalan, sebab ia tidak akan rida dengan hal demikian. Ia menghidangkannya semata-mata karena mengandalkan imbalannya dari dana wakaf. Maka hal ini merupakan bentuk pertukaran (mu'awadhah), namun bukan jual beli dan bukan pula piutang (iqradh). Sebab, jika ia berdiri menuntut harga (tsaman) dari mereka, hal itu dianggap ganjil dan indikasi keadaan (qarinah al-hal) tidak menunjukkan hal itu. Maka landasan hukum (ashl) yang paling mirip untuk menganalogikan keadaan ini adalah hibah dengan syarat imbalan (hibah bi syarth ats-tsawab), yaitu hadiah tanpa ucapan lafaz dari seseorang yang indikasi keadaannya menunjukkan bahwa ia mengharapkan imbalan. Hal itu sah dan imbalan tersebut bersifat mengikat (lazim). Dalam kasus ini, sang pelayan tidak mengharapkan imbalan atas makanan yang ia hidangkan melainkan hak mereka dari dana wakaf tersebut, agar ia dapat melunasi utangnya kepada pembuat roti, tukang jagal, dan pedagang kelontong. Dengan demikian, hal ini tidak mengandung syubhat, sebab tidak disyaratkan adanya lafaz dalam hibah maupun dalam penghidangan makanan, meskipun disertai penantian imbalan. Dan tidak perlu dihiraukan pendapat orang yang tidak mensahkan hibah yang menanti imbalan.
الأصل السادس أن الثواب الذي يلزم فيه خلاف فقيل إنه أقل متمول وقيل قدر القيمة وقيل ما يرضى به الواهب حتى له أن لا يرضى بأضعاف القيمة والصحيح أنه يتبع رضاه فإذا لم يرض يرد عليه وههنا الخادم قد رضي بما يأخذ من حق السكان على الوقف فإن كان لهم من الحق بقدر ما أكلوه فقد تم الأمر وإن كان ناقصاً ورضي به الخادم صح أيضاً وإن علم أن الخادم لا يرضى لولا أن في يده الوقف الآخر الذي يأخذه بقوة هؤلاء السكان فكأنه رضي في الثواب بمقدار بعضه حلال وبعضه حرام والحرام لم يدخل في أيدي السكان فهذا كالخلل المتطرق إلى الثمن وقد ذكرنا حكمه من قبل وأنه متى يقتضي التحريم ومتى يقتضي الشبهة وهذا لا يقتضي تحريماً على ما فصلناه فلا تنقلب الهدية حراماً يتوصل المهدي بسبب الهدية إلى حرام
Prinsip keenam: Bahwa imbalan (tsawab) yang wajib di sini terdapat perbedaan pendapat padanya. Ada yang berpendapat bahwa imbalan itu adalah kadar minimal dari harta yang berharga (aqallu mutamawwal), ada yang berpendapat seharga nilainya (qadr al-qimah), dan ada pula yang berpendapat seberapa yang diridai oleh pemberi hibah (al-wahib), hingga ia berhak untuk tidak rida meskipun diberi berkali-kali lipat dari nilainya. Yang sahih adalah bahwa hal itu bergantung pada keridaannya; jika ia tidak rida, maka barang tersebut dikembalikan kepadanya. Dan dalam kasus ini, sang pelayan telah rida dengan apa yang ia ambil dari hak para penghuni atas harta wakaf. Jika hak mereka sesuai dengan kadar yang mereka makan, maka perkara telah sempurna. Namun jika kurang dan pelayan itu rida dengannya, maka itu pun sah. Jika diketahui bahwa pelayan tersebut tidak akan rida seandainya di tangannya tidak ada harta wakaf lain yang ia ambil dengan memanfaatkan kekuatan para penghuni ini, maka seolah-olah ia rida menerima imbalan yang sebagiannya halal dan sebagiannya haram, padahal yang haram tersebut tidak sampai ke tangan para penghuni. Hal ini seperti cacat yang masuk pada harga (tsaman), dan kami telah menyebutkan hukumnya sebelum ini, kapan hal itu menuntut keharaman dan kapan menuntut syubhat. Dan kasus ini tidak menuntut keharaman berdasarkan rincian yang telah kami jelaskan, sehingga hadiah tersebut tidak berubah menjadi haram akibat pemberi hadiah menggunakan hadiah itu sebagai sarana menuju hal yang haram.
الأصل السابع أنه يقضي دين الخباز والقصاب والبقال من ريع الواقفين فإن وفى ما أخذ من حقهم بقيمة ما أطعمهم فقد صح الأمر وإن قصر عنه فرضي القصاب والخباز بأي ثمن كان حراماً أو حلالاً فهذا خلل تطرق إلى ثمن الطعام أيضاً فليلتفت إلى ما قدمنا من الشراء في الذمة ثم قضاء الثمن من الحرام هذا إذا علم أنه قضاه من حرام فإن احتمل ذلك واحتمل غيره فالشبهة أبعدوقد خرج من هذا أن أكل هذا ليس بحرام ولكنه أكل شبهة وهو بعيد من الورع لأن هذه الأصول إذا كثرت وتطرق إلى كل واحد احتمال صار احتمال الحرام بكثرته أقوى في النفس كما أن الخبر إذا طال إسناده صار احتمال الكذب والغلط فيه أقوى مما إذا قرب إسناده فهذا حكم هذه الواقعة وهي من الفتاوى وإنما أوردناها ليعرف كيفية تخريج الوقائع الملتفة الملتبسة وأنها كيف ترد إلى الأصول فإن ذلك مما يعجز عنه أكثر المفتين
Prinsip ketujuh: Bahwa ia melunasi utang pembuat roti, tukang jagal, dan pedagang kelontong dari hasil (ri'i) harta para pewakaf. Jika apa yang diambil dari hak mereka mencukupi nilai makanan yang dihidangkan kepada mereka, maka perkara tersebut telah sah. Namun jika kurang dari itu lalu tukang jagal dan pembuat roti rida dengan harga berapa pun, baik dari harta haram maupun halal, maka ini pun merupakan cacat yang masuk pada harga makanan tersebut. Hendaklah diperhatikan apa yang telah kami paparkan terdahulu mengenai pembelian dalam tanggungan (asy-syira' fi adz-dzimmah) kemudian melunasi harganya dari harta haram. Hal ini jika diketahui secara pasti bahwa ia melunasinya dari harta haram; adapun jika ada kemungkinan demikian dan kemungkinan lain, maka kadar syubhatnya menjadi lebih jauh. Dari rincian ini dapat disimpulkan bahwa memakan makanan ini bukanlah haram, melainkan memakan makanan syubhat, dan hal itu jauh dari sifat wara'. Sebab, apabila prinsip-prinsip ini bertambah banyak dan pada setiap prinsip terdapat suatu kemungkinan, maka kemungkinan haram menjadi lebih kuat dalam jiwa karena banyaknya cabang kemungkinan tersebut, sebagaimana suatu kabar jika sanadnya terlalu panjang, maka kemungkinan dusta dan kekeliruan di dalamnya menjadi lebih kuat dibandingkan jika sanadnya pendek. Inilah hukum bagi peristiwa ini, yang termasuk dalam fatwa-fatwa. Kami menghadirkannya semata-mata agar diketahui tata cara mentakhrij (mengeluarkan hukum) kasus-kasus yang rumit lagi samar, serta bagaimana mengembalikannya kepada prinsip-prinsip dasar, karena hal sedemikian merupakan sesuatu yang tidak mampu dilakukan oleh kebanyakan para mufti.
الباب الرابع في كيفة خروج التائب عن المظالم المالية
Bab Keempat: Tentang Tata Cara Orang yang Bertobat Melepaskan Diri dari Kedzaliman-Kedzaliman Harta
اعلم أن من تاب وفي يده مُخْتَلِطٌ فَعَلَيْهِ وَظِيفَةٌ فِي تَمْيِيزِ الْحَرَامِ وَإِخْرَاجِهِ وَوَظِيفَةٌ أُخْرَى فِي مَصْرِفِ الْمُخْرَجِ فَلْيَنْظُرْ فِيهِمَا النظر الأول في كيفية التمييز والإخراج اعْلَمْ أَنَّ كُلَّ مَنْ تَابَ وَفِي يَدِهِ ما هو حرام معلوم العين من غَصْبٍ أَوْ وَدِيعَةٍ أَوْ غَيْرِهِ فَأَمْرُهُ سَهْلٌ فَعَلَيْهِ تَمْيِيزُ الْحَرَامِ وَإِنْ كَانَ مُلْتَبِسًا مُخْتَلِطًا فلا يخلو إما أن يكون في مال هو من ذوات الأمثال كالحبوب والنقود والأدهان وإما أن يكون في أعيان متمايزة كالعبيد والدور والثياب
Ketahuilah bahwa barang siapa bertobat sedangkan di tangannya terdapat harta yang bercampur (antara halal dan haram), maka ia memiliki kewajiban dalam memisahkan dan mengeluarkan hal yang haram, serta kewajiban lain dalam menentukan penyaluran dari harta yang dikeluarkan tersebut. Maka hendaklah ia meneliti kedua hal ini. Pengamatan Pertama: Tentang tata cara pemisahan dan pengeluaran harta. Ketahuilah bahwa setiap orang yang bertobat sementara di tangannya terdapat harta haram yang jelas wujud fisiknya (ma'lum al-'ain), seperti harta ghasab, titipan (wadi'ah), atau selainnya, maka perkaranya mudah; ia wajib memisahkan harta haram tersebut. Namun jika harta itu samar dan bercampur, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: bisa jadi berada pada harta yang memiliki kesepadanan/serupa (dzawat al-amtsal), seperti biji-bijian, mata uang, dan minyak; atau berada pada benda-benda yang dapat dibedakan wujud fisiknya (a'yan mutamayyizah), seperti hamba sahaya, rumah, dan pakaian.
فإن كان في المتماثلات أو كان شائعا في كله كمن اكتسب المال بتجارة يعلم أنه قد كذب في بعضها في المرابحة وصدق في بعضها أو من غصب دهناً وخلطه بدهن نفسه أو فعل ذلك في الحبوب أوالدراهم والدنانير فلا يخلو ذلك إما أن يكون معلوم القدر أو مجهولاً فَإِنْ كَانَ مَعْلُومَ الْقَدْرِ
Jika hal itu terjadi pada barang-barang yang sepadan (al-mutamatsilat) atau bersifat menyebar di seluruh harta (sya'i'an fi kullih), seperti seseorang yang memperoleh harta dari perdagangan yang ia ketahui bahwa ia telah berdusta dalam sebagian transaksi murabahah dan jujur dalam sebagian lainnya, atau seseorang yang mengghasab minyak lalu mencampurnya dengan minyak miliknya sendiri, atau melakukan hal itu pada biji-bijian, dirham, maupun dinar; maka hal itu tidak lepas dari keadaan apakah kadarnya diketahui (ma'lum al-qadr) atau tidak diketahui (majhul al-qadr). Jika kadarnya diketahui…
مِثْلَ أَنْ يَعْلَمَ أَنَّ قَدْرَ النِّصْفِ مِنْ جُمْلَةِ مَالِهِ حَرَامٌ فَعَلَيْهِ تَمْيِيزُ النِّصْفِ وَإِنْ شكل فله طريقان أحدهما الأخذ باليقين والآخر الأخذ بغالب الظن وكلاهما قد قال به العلماء في اشتباه ركعات الصلاة ونحن لا نجوز في الصلاة إلا الأخذ باليقين فإن الأصل اشتغال الذمة فيستصحب ولا يغير إلا بعلامة قوية وليس في أعداد الركعات علامات يوثق بها وأما ههنا فلا يمكن أن يقال الأصل أن ما في يده حرام بل هو مشكل فيجوز له الأخذ بغالب الظن اجتهاداً ولكن الورع في الأخذ باليقين فإن أراد الورع فطريق التحري والاجتهاد أن لا يَسْتَبْقِي إِلَّا الْقَدْرَ الَّذِي يَتَيَقَّنُ أَنَّهُ حَلَالٌ وإن أراد الأخذ بالظن فطريقه مثلاً أن يكون في يده مال تجارة فسد بعضها فيتيقن أن النصف حلال وأن الثلث مثلاً حرام ويبقى سدس يشك فيه فيحكم فيه بغالب الظن وهكذا طريق التحري في كل مال وهو أن يقتطع القدر المتيقن من الجانبين في الحل والحرمة والقدر المتردد فيه إن غلب على ظنه التحريم أخرجه وإن غلب الحل جاز له الإمساك والورع إخراجه وإن شك فيه جاز الإمساك والورع إخراجه وهذا الورع آكد لأنه صار مشكوكاً فيه وجاز إمساكه اعتماداً على أنه في يده فيكون الحل أغلب عليه وقد صار ضعيفاً بعد يقين اختلاط الحرام ويحتمل أن يقال الأصل التحريم ولا يأخذ إلا ما يغلب على ظنه أنه حلال وليس أحد الجانبين بأولى من الآخر وليس يتبين لي في الحال ترجيح وهو من المشكلات
Seperti ia mengetahui bahwa separuh dari keseluruhan hartanya adalah haram, maka ia wajib memisahkan separuh tersebut. Namun jika ia ragu, maka ia memiliki dua cara: pertama, mengambil keputusan berdasarkan keyakinan (al-akhdzu bi al-yaqin); dan kedua, mengambil keputusan berdasarkan dugaan terkuat (al-akhdzu bi ghalabat adz-dzann). Kedua cara ini telah dinyatakan oleh para ulama dalam kasus keraguan jumlah rakaat shalat. Kami tidak membolehkan dalam shalat melainkan mengambil keputusan berdasarkan keyakinan, karena hukum asalnya adalah tanggungan masih terbebani (ishtighal adz-dzimmah), sehingga hukum asal ini tetap dipertahankan dan tidak diubah melainkan dengan tanda yang kuat, sedangkan dalam bilangan rakaat tidak ada tanda-tanda yang dapat dipercaya. Adapun di sini, tidak mungkin dikatakan bahwa hukum asalnya adalah semua harta di tangannya haram, melainkan perkara ini samar/sulit. Maka boleh baginya mengambil keputusan berdasarkan dugaan kuat secara ijtihad, namun sikap wara' adalah mengambil keputusan berdasarkan keyakinan. Jika ia menghendaki wara', maka jalan untuk berikhtiar (at-taharri) dan berijtihad adalah tidak menyisakan kecuali kadar yang yakin halal baginya. Dan jika ia ingin mengambil keputusan berdasarkan dugaan kuat, jalannya adalah—sebagai contoh—di tangannya ada harta perdagangan yang sebagian transaksinya rusak, lalu ia yakin bahwa separuhnya halal dan sepertiganya haram, sehingga tersisa seperenam yang diragukan, maka ia menetapkan hukum padanya dengan dugaan terkuat. Demikianlah tata cara ikhtiar dalam setiap harta, yaitu memisahkan kadar yang diyakini dari kedua sisi, baik kehalalan maupun keharamannya. Adapun kadar yang diragukan, jika dugaan kuatnya cenderung haram maka ia mengeluarkannya; jika cenderung halal maka boleh baginya menahannya, namun wara'nya adalah mengeluarkannya. Apabila ia benar-benar ragu (sama kuat), boleh menahannya dan wara'nya adalah mengeluarkannya. Wara' dalam hal ini lebih ditekankan, karena harta itu telah menjadi sesuatu yang diragukan. Kebolehan menahannya didasarkan atas keberadaannya di tangannya sehingga kehalalannya dianggap lebih dominan, padahal hal itu telah menjadi lemah setelah diyakini adanya pencampuran dengan yang haram. Dan ada kemungkinan untuk dikatakan: Hukum asalnya adalah haram, sehingga ia tidak boleh mengambil kecuali apa yang diduga kuat kehalalannya. Tidak ada satu dari dua sisi ini yang lebih utama dari yang lain, dan saat ini belum tampak bagiku penjelasannya untuk mengunggulkan (tarjih) salah satunya, dan hal ini termasuk masalah yang rumit.
فإن قيل هب أنه أخذ باليقين لكن الذي يخرجه ليس يدري أنه عين الحرام فلعل الحرام ما بقي في يده فكيف يقدم عليه ولو جاز هذا لجاز أن يقال إذا اختلطت ميتة بتسع مذكاة فهي العشر فله أن يطرح واحدة أي واحدة كانت ويأخذ الباقي ويستحله ولكن يقال لعل الميتة فيما استبقاه بل لو طرح التسع واستبقى واحدة لم تحل لاحتمال أنها الحرام فنقول هذه الموازنة كانت تصح لولا أن المال يحل بإخراج البدل لتطرق المعاوضة إليه وأما الميتة فلا تتطرق المعاوضة إليها فليكشف الغطاء عن هذا الأشكال بالفرض في درهم معين اشتبه بدرهم آخر فيمن له درهمان أحدهما حرام قد اشتبه عينه وقد سئل أحمد بن حنبل ﵁ عن مثل هذا فقال يدع الكل حتى يتبين وكان قد رهن آنية فلما قضى الدين حمل إليه المرتهن آنيتين وقال لا أدري أيتهما آنيتك فتركهما فقال المرتهن هذا الذي هو لك وإنما كنت أختبرك فقضى دينه ولم يأخذ الرهن وهذا ورع ولكنا نقول إنه غير واجب فلنفرض المسألة في درهم له مالك معين حاضر فنقول إذا رد أحد الدرهمين عليه ورضي به مع العلم بحقيقة الحال حل له الدرهم الآخر لأنه لا يخلو إما أن يكون المردود في علم الله هو المأخوذ فقد حصل المقصود وإن كان غير ذلك فقد حصل لكل واحد درهم في يد صاحبه فالاحتياط أن يتبايعا باللفظ فإن لم يفعلا وقع التقاص والتبادل بمجرد المعاطاة وإن كان المغصوب منه قد فات له درهم في يد الغاصب وعسر الوصول إلى عينه واستحق ضمانه فلما أخذه وقع عن الضمان بمجرد القبض وهذا في جانبه واضح فإن المضمون له يملك الضمان بمجرد القبض من غير لفظ والإشكال في الجانب الآخر أنه لم يدخل في ملكه فنقول لأنه أيضاً إن كان قد تسلم درهم نفسه فقد فات له أيضا درهم في يد الآخر فليس يمكن الوصول إليه فهو كالغائب فيقع هذا بدلاً عنه في علم الله إن كان الأمر كذلك ويقع هذا التبادل في علم الله كما يقع التقاص لو أتلف رجلان كل واحد منهما درهماً على صاحبه بل في عين مسألتنا لو ألقى كل واحد ما في يده في البحر أو أحرقه كأن قد أتلفه ولم يكن عليه عهدة للآخر بطريق التاقص فكذا إذا لم يتلف فإن القول بهذا أولى من المصير إلى ان من يأخذ درهماً حراماً ويطرحه في ألف ألف درهم لرجل آخر يصير كل المال محجوراً عليه لا يجوز التصرف
Jika dikatakan: Anggaplah ia mengambil berdasarkan keyakinan, namun apa yang dikeluarkannya itu ia tidak tahu apakah benar-benar wujud harta haram itu sendiri, sehingga boleh jadi harta haram itulah yang justru tersisa di tangannya, lantas bagaimana ia berani melangkah dengannya? Seandainya hal ini boleh, tentu boleh juga dikatakan: Jika satu bangkai bercampur dengan sembilan hewan sembelihan yang halal, sehingga jumlahnya sepuluh, maka ia berhak membuang satu yang mana saja dan mengambil sisanya serta menganggapnya halal. Namun akan dikatakan: Boleh jadi bangkai itu ada pada apa yang ia sisakan. Bahkan seandainya ia membuang sembilan dan menyisakan satu, satu itu pun tidak halal karena adanya kemungkinan bahwa itulah yang bangkai. Maka kami katakan: Perbandingan ini baru benar seandainya harta itu tidak bisa menjadi halal dengan mengeluarkan penggantinya (al-badal) disebabkan masuknya kompensasi/pertukaran (al-mu'awadhah) padanya. Adapun bangkai, tidak berlaku padanya kompensasi pertukaran. Maka mari kita singkap tabir dari kemusykilan ini dengan mengandaikan satu dirham tertentu yang samar dengan dirham lainnya pada seseorang yang memiliki dua dirham, yang mana salah satunya haram namun wujud fisiknya samar. Imam Ahmad bin Hanbal r.a. pernah ditanya tentang masalah seperti ini, lalu beliau menjawab: "Hendaknya ia meninggalkan semuanya sampai menjadi jelas." Beliau pernah meragrahkan dua wadah; ketika beliau telah melunasi utangnya, penerima gadai membawakan dua wadah kepadanya seraya berkata: "Aku tidak tahu yang mana wadahmu." Maka beliau meninggalkan keduanya. Penerima gadai lalu berkata: "Inilah wadah milikmu, aku tadi hanya mengujimu." Namun beliau melunasi utangnya dan tidak mengambil barang gadai tersebut. Ini adalah sikap wara', namun kami katakan bahwa hal itu tidak wajib. Maka mari kita andaikan masalah ini pada satu dirham yang memiliki pemilik tertentu yang hadir. Kami katakan: Jika salah satu dari kedua dirham itu dikembalikan kepadanya dan ia rida menerimanya disertai pengetahuan tentang hakikat keadaannya, maka dirham yang satu lagi menjadi halal bagi orang tersebut. Sebab, tidak lepas dari dua hal: bisa jadi dirham yang dikembalikan itu dalam pengetahuan Allah adalah dirham yang diambil darinya, maka maksud telah tercapai; dan jika ternyata bukan, maka masing-masing dari keduanya telah mendapatkan satu dirham di tangan saudaranya. Langkah kehati-hatian adalah keduanya saling melakukan jual beli secara lafaz. Jika tidak dilakukan, maka telah terjadi saling menghapuskan utang (taniqash/qishas) dan pertukaran dengan sekadar serah terima (mu'athah). Jika dirham milik korban ghasab itu telah lenyap di tangan pemegang ghasab dan sulit untuk mengakses wujud fisiknya sehingga ia berhak atas ganti rugi (dhaman), maka ketika ia mengambilnya, hal itu sah sebagai ganti rugi dengan sekadar penerimaan tanpa perlu lafaz. Hal ini sangat jelas pada sisinya, karena orang yang berhak atas ganti rugi menjadi pemilik ganti rugi tersebut sekadar dengan menerima tanpa lafaz. Adapun kemusykilan pada sisi yang lain adalah bahwa harta tersebut belum masuk ke dalam kepemilikannya. Maka kami katakan: Karena jika ia telah menerima dirham miliknya sendiri, berarti telah lenyap pula baginya satu dirham di tangan orang lain yang tidak mungkin diakses, sehingga dirham ini berkedudukan sebagai pengganti darinya dalam pengetahuan Allah jika keadaannya demikian. Pertukaran ini terjadi dalam pengetahuan Allah sebagaimana terjadinya gugur-menggugurkan utang jika dua orang masing-masing merusakkan satu dirham milik saudaranya. Bahkan dalam masalah kita ini, seandainya masing-masing membuang apa yang ada di tangannya ke laut atau membakarnya, seolah-olah ia telah merusakkannya dan tidak ada tanggungan lagi bagi yang lain melalui jalan gugur-menggugurkan utang. Maka demikian pula jika tidak dirusakkan. Mengambil pendapat ini tentu lebih utama daripada berkesimpulan bahwa barang siapa mengambil satu dirham haram lalu mencampurkannya ke dalam satu juta dirham milik orang lain, maka seluruh harta itu menjadi tertahan (mahjur 'alaih) dan tidak boleh diutak-atik…
فيه وهذا المذهب يؤدي إليه فانظر ما في هذا من البعد وليس فيما ذكرناه إلا ترك اللفظ والمعاطاة بيع ومن لا يجعلها بيعاً فحيث يتطرق إليها احتمال إذ الفعل يضعف دلالته وحيث يمكن التلفظ وههنا هذا التسليم والتسلم للمبادلة قطعاً والبيع غير ممكن لأن المبيع غير مشار إليه ولا معلوم في عينه وقد يكون مما لا يقبل البيع كما لو خلط رطل دقيق بألف رطل دقيق لغيره وكذا الدبس والرطب وكل ما لا يباع البعض منه بالبعض
…Pengelolaan padanya, padahal mazhab tersebut mengarah pada hal itu. Maka perhatikanlah betapa jauhnya kemungkinan itu! Tidak ada dalam apa yang kami sebutkan melainkan sekadar meninggalkan lafaz. Sedangkan serah terima tanpa lafaz (mu'athah) adalah jual beli; dan bagi pihak yang tidak menjadikannya jual beli, hal itu berlaku di mana terdapat kemungkinan padanya, karena perbuatan itu lemah penunjukannya dan ketika lafaz memungkinkan untuk diucapkan. Sedangkan di sini, penyerahan dan penerimaan ini secara pasti dimaksudkan sebagai pertukaran, dan jual beli secara formal tidak memungkinkan karena barang yang dijual tidak ditunjuk dan tidak diketahui wujud fisiknya secara pasti. Bahkan terkadang berupa barang yang tidak menerima jual beli, sebagaimana jika satu rathal tepung bercampur dengan seribu rathal tepung milik orang lain, demikian pula dengan sirup kurma, kurma basah, dan segala sesuatu yang tidak boleh dijual sebagiannya dengan sebagian yang lain.
فإن قيل فأنتم جوزتم تسليم قدر حقه في مثل هذه الصورة وجعلتموه بيعاً قلنا لا نجعله بيعاً بل نقول هو بدل عما فات في يده فيملكه كما يملك المتلف عليه من الرطب إذا أخذ مثله هذا إذا ساعده صاحب المال فإن لم يساعده واضر به وقال لا آخذ درهماً أصلاً إلا عين ملكي فإن استهم فأتركه ولا أهبه وأعطل عليك مالك
Jika dikatakan: Lalu mengapa Anda membolehkan penyerahan kadar haknya dalam bentuk seperti ini dan Anda menjadikannya sebagai jual beli? Kami menjawab: Kami tidak menjadikannya sebagai jual beli, melainkan kami katakan bahwa itu adalah pengganti (badal) dari apa yang telah lenyap di tangannya, sehingga ia memilikinya sebagaimana orang yang barangnya dirosak memiliki kurma basah ketika ia mengambil yang sepadan dengannya. Hal ini apabila pemilik harta mendukungnya. Namun jika pemilik harta tidak mendukungnya dan menyulitkannya seraya berkata: "Aku tidak akan mengambil satu dirham pun sama sekali kecuali wujud asli milikku; jika engkau mengajak undian maka aku menolaknya, aku tidak akan menghibahkannya, dan aku akan membekukan hartamu!"
فأقول على القاضي أن ينوب عنه في القبض حتى يطيب للرجل ماله فإن هذا محض التعنت والتضييق والشرع لم يرد به فإن عجز عن القاضي ولم يجده فليحكم رجلاً متديناً ليقبض عنه فإن عجز فيتولى هو بنفسه ويفرد على نية الصرف إليه درهماً ويتعين ذلك له ويطيب له الباقي وهذا في خلط المائعات أظهر وألزم
Maka aku katakan: Wajib bagi hakim (qadhi) untuk mewakilinya dalam penerimaan tersebut agar harta orang tersebut menjadi halal baginya. Sebab hal ini murni bentuk sikap keras kepala dan mempersempit keadaan, padahal syariat tidak menghendaki hal demikian. Jika ia tidak mampu menemui hakim dan tidak menemukannya, hendaklah ia mengangkat seorang yang taat beragama (mutadayyin) untuk menerima atas namanya. Jika hal itu pun tidak memungkinkan, maka ia sendiri yang mengurusnya dan menyisihkan satu dirham dengan niat disalurkan kepadanya, sehingga dirham itu ditentukan untuknya dan sisanya menjadi halal baginya. Hal ini dalam pencampuran barang-barang cair tampak lebih jelas dan lebih mengikat.
فإن قيل فينبغي أن يحل له الأخذ وينتقل الحق إلى ذمته فأي حاجة إلى الإخراج أولاً ثم التصرف في الباقي قلنا قال قائلون يحل له أن يأخذ ما دام يبقى قدر الحرام ولا يجوز أن يأخذ الكل ولو أخذ لم يجز له ذلك وقال آخرون ليس له أن يأخذ ما لم يخرج قدر الحرام بالتوبة وقصد الإبدال وقال آخرون يجوز للآخذ في التصرف أن يأخذ منه وأما هو فلا يعطي فإن أعطى عصى هو دون الآخذ منه وما جوز أحد أخذ الكل وذلك لأن المالك لو ظهر فله أن يأخذ حقه من هذه الجملة إذ يقول لعل المصروف إلي يقع عين حقي وبالتعيين وإخراج حق الغير وتمييزه يندفع هذا الاحتمال فهذا المال يترجح بهذا الاحتمال على غيره وما هو أقرب إلى الحق مقدم كما يقدم المثل على القيمة والعين على المثل فكذلك ما يحتمل فيه رجوع المثل مقدم على ما يحتمل فيه رجوع القيمة وما يحتمل فيه رجوع العين يقدم على ما يحتمل فيه رجوع المثل ولو جاز لهذا أن يقول ذلك لجاز لصاحب الدرهم الآخر أن يأخذ الدرهمين ويتصرف فيهما ويقول على قضاء حقك من موضع آخر إذ الاختلاط من الجانبين وليس ملك أحدهما بأن يقدر فائتاً بأولى من الآخر إلا أن ينظر إلى الأقل فيقدر أنه فائت فيه أو ينظر إلى الذي خلط فيجعل بفعله متلفاً لحق غيره وكلاهما بعيدان جداً وهذا واضح في ذوات الأمثال فإنها تقع عوضاً في الإتلافات من غير عقد فأما إذا اشتبه دار بدور أو عبد بعبيد فلا سبيل إلى المصالحة والتراضي فإن أبى أن يأخذ إلا عين حقه ولم يقدر عليه وأراد الآخر أن يعوق عليه جميع ملكه فإن كانت متماثلة القيم فالطريق أن يبيع القاضي جميع الدور ويوزع عليهم الثمن بقدر النسبة وإن كانت متفاوتة أخذ من طالب البيع قيمة أنفس الدور وَصَرَفَ إِلَى الْمُمْتَنِعِ مِنْهُ مِقْدَارَ قِيمَةِ الْأَقَلِّ ويوقف قدر التفاوت إلى البيان أو الإصلاح لأنه مشكل وإن لم يوجد القاضي فللذي يريد الخلاص وفي يده الكل أن يتولى ذلك بنفسه هذه هي المصلحة وما عداها من الاحتمالات ضعيفة لا نختارها وفيما سبق تنبيه على العلة وهذا في الحنطة ظاهر وفي النقود دونه وفي العروض أغمض إذ لا يقع البعض بدلاً عن البعض فذلك احتيج إلى البيع ولترسم مسائل يتم بها البيان هذا الأصل
Jika dikatakan: Seharusnya boleh baginya untuk mengambil dan hak itu berpindah ke dalam tanggungannya (dzimmah), lalu apa perlunya mengeluarkan terlebih dahulu baru kemudian mengelola sisanya? Kami katakan: Ada yang berpendapat, boleh baginya mengambil selama masih tersisa kadar yang haram, dan tidak boleh mengambil semuanya; jika ia mengambil semuanya maka tidak boleh baginya. Yang lain berpendapat, ia tidak boleh mengambil sebelum mengeluarkan kadar yang haram dengan niat bertobat dan berniat mengganti. Yang lain lagi berpendapat, boleh bagi penerima transaksi untuk mengambil darinya, adapun dia sendiri tidak boleh memberikan; jika ia memberikan maka ia bermaksiat, sedangkan penerimanya tidak. Namun tidak ada seorang pun yang membolehkan mengambil seluruhnya. Hal itu karena jika pemiliknya muncul, ia berhak mengambil haknya dari keseluruhan harta ini seraya berkata: "Boleh jadi apa yang telah engkau belanjakan adalah wujud hak milikku." Maka dengan penentuan (ta'yiin), mengeluarkan hak orang lain, serta memisahkannya, kemungkinan ini menjadi tertolak. Maka harta ini lebih diutamakan dengan adanya kemungkinan ini dibanding yang lain. Dan apa yang lebih dekat kepada kebenaran harus didahulukan, sebagaimana barang yang sepadan (mitsil) didahulukan atas nilai (qimah), dan barang berwujud ( 'ain) didahulukan atas barang sepadan. Demikian pula apa yang memungkinkan kembalinya barang sepadan didahulukan atas apa yang memungkinkan kembalinya nilai, dan apa yang memungkinkan kembalinya barang berwujud didahulukan atas apa yang memungkinkan kembalinya barang sepadan. Seandainya boleh bagi orang ini untuk berkata demikian, tentu boleh pula bagi pemilik dirham yang satu lagi untuk mengambil kedua dirham itu dan mengelolanya seraya berkata: "Aku akan melunasi hakmu dari tempat lain," karena pencampuran terjadi dari kedua belah pihak, dan kepemilikan salah satu dari keduanya tidaklah lebih utama untuk dianggap lenyap dibanding yang lain, kecuali jika dilihat pada kadar yang lebih sedikit lalu dianggap lenyap padanya, atau dilihat pada orang yang mencampur lalu menjadikannya dengan perbuatannya telah merusakkan hak orang lain. Dan kedua hal ini sangat jauh dari kebenaran. Ini sangat jelas pada barang-barang yang memiliki kesepadanan (dzawat al-amtsal), karena barang sepadan berkedudukan sebagai pengganti dalam kasus pengrusakan tanpa memerlukan akad. Adapun jika satu rumah samar dengan beberapa rumah lain, atau seorang hamba sahaya samar dengan beberapa hamba sahaya lainnya, maka tidak ada jalan selain perdamaian (mushalahah) dan keridaan bersama. Jika pemilik enggan mengambil kecuali wujud asli haknya padahal tidak mampu menemukannya, sementara yang lain ingin agar seluruh miliknya tidak terhalang, maka jika rumah-rumah itu bernilai sama, jalannya adalah hakim menjual seluruh rumah tersebut dan membagikan harganya kepada mereka sesuai nisbahnya. Jika nilainya berbeda-beda, hakim mengambil nilai dari rumah-rumah yang paling berharga dari orang yang menuntut penjualan, lalu menyerahkan kadar nilai rumah yang paling murah kepada orang yang enggan, dan menahan kadar selisihnya sampai jelas perkaranya atau terjadi perdamaian, karena hal ini samar/sulit. Jika tidak ditemukan hakim, maka orang yang ingin lepas dari masalah sedangkan seluruh harta berada di tangannya berhak mengurusnya sendiri. Inilah kemaslahatan yang nyata, sedangkan kemungkinan-kemungkinan selainnya adalah lemah dan tidak kami pilih. Dalam uraian terdahulu terdapat peringatan atas 'illah (alasan hukumnya). Hal ini jelas pada gandum, kurang jelas pada mata uang, dan paling samar pada barang dagangan ( 'arudh) karena sebagian tidak bisa menjadi pengganti bagi sebagian yang lain. Oleh karena itu dibutuhkan penjualan. Dan mari kita gambarkan beberapa masalah untuk menyempurnakan penjelasan prinsip dasar ini.
مسألة إذا ورث مع جماعة وكان السلطان قد غصب ضيعة لمورثهم فرد عليه قطعة معينة فهي لجميع الورثة ولو رد من الضيعة نصفاً وهو قدر حقه ساهمه الورثة فإن النصف الذي له لا يتميز حتى يقال هو المردود والباقي هو المغصوب ولا يصير مميزاً بنية السلطان وقصده حصر الغصب في نصيب الآخرين
Masalah: Apabila seseorang menerima warisan bersama suatu kelompok, lalu penguasa telah mengghasab sebuah lahan pertanian milik muwarits (orang yang mewariskan) mereka, kemudian penguasa itu mengembalikan sebidang tanah tertentu kepadanya, maka tanah itu menjadi milik seluruh ahli waris. Dan jika penguasa mengembalikan separuh dari lahan pertanian tersebut—yang mana itu merupakan kadar haknya—maka para ahli waris tetap bersekutu padanya. Sebab separuh yang menjadi haknya itu tidak terpisahkan secara khusus hingga bisa dikatakan bahwa itulah yang dikembalikan sedangkan sisanya adalah yang dighasab; dan tanah itu tidak menjadi terpisah secara khusus hanya dengan niat dan maksud penguasa untuk membatasi ghasab pada bagian ahli waris yang lain.
مسألة
Masalah:
إذا وقع في يده مال أخذه من سلطان ظالم ثم تاب والمال عقار وكان قد حصل منه انتفاع فينبغي أن يحسب أجر مثله لطول تلك المدة وكذلك كل مغصوب له منفعة أو حصل منه زيادة فلا تصح توبته مالم يخرج أجرة المغصوب وكذلك كل زيادة حصلت منه وتقدير أجرة العبيد والثياب والأواني وأمثال ذلك مما لا يعتاد إجارتها مما يعسر ولا يدرك ذلك إلا باجتهاد وتخمين وهكذا كل التقويمات تقع بالاجتهاد وطريق الورع الأخذ بالأقصى وما ربحه على المال المغصوب في عقود عقدها على الذمة وقضى الثمن منه فهو ملك له ولكن فيه شبهة إذ كان ثمنه حراماً كما سبق حكمه وإن كان بأعيان تلك الأموال فالعقود كانت فاسدة وقد قيل تنفذ بإجازة المغصوب منه للمصلحة فيكون المغصوب منه أولى به والقياس أن تلك العقود تفسخ وتسترد الثمن وترد الأعواض فإن عجز عنه لكثرته فهي أموال حرام حصلت في يده فللمغصوب منه قدر رأس ماله والفضل حرام يجب إخراجه لتتصدق به ولا يحل للغاصب ولا للمغصوب منه بل حكمه حكم كل حرام يقع في يده
Apabila di tangan seseorang terdapat harta yang diambilnya dari penguasa yang zalim kemudian ia bertobat, sedangkan harta tersebut berupa barang tak bergerak (lahan/bangunan) dan telah diperoleh manfaat darinya, maka hendaknya ia menghitung sewa yang sepadan (ajr mitsl) selama jangka waktu yang lama tersebut. Demikian pula setiap barang ghasab yang memiliki manfaat atau menghasilkan pertambahan, maka tobatnya tidak sah hingga ia mengeluarkan sewa dari barang ghasab tersebut serta setiap pertambahan yang dihasilkan darinya. Mengukur sewa hamba sahaya, pakaian, wadah, dan sejenisnya dari barang-barang yang tidak biasa disewakan merupakan hal yang rumit dan tidak dapat diketahui kecuali dengan ijtihad dan perkiraan. Demikianlah seluruh penaksiran nilai dilakukan dengan ijtihad, dan jalan wara' adalah mengambil kadar yang paling maksimal. Adapun keuntungan yang diperolehnya dari harta ghasab melalui akad-akad yang ia lakukan dalam tanggungan (fi adz-dzimmah) kemudian ia melunasi harganya dari harta ghasab tersebut, maka keuntungan itu menjadi miliknya, namun di dalamnya terdapat syubhat karena harganya haram sebagaimana hukumnya telah lalu. Jika akad itu dilakukan pada wujud barang ghasab itu sendiri, maka akad-akad tersebut fasad (batal). Ada yang berpendapat akad tersebut berlaku sah dengan izin dari pemilik ghasab demi kemaslahatan, sehingga pemilik ghasab lebih berhak atasnya. Namun qiyas menuntut bahwa akad-akad tersebut dibatalkan, harga ditarik kembali, dan barang-barang pengganti dikembalikan. Jika ia tidak mampu melakukannya karena terlalu banyak, maka itu menjadi harta haram yang berada di tangannya, di mana pemilik ghasab berhak atas modal pokoknya saja, sedangkan kelebihannya adalah haram yang wajib dikeluarkan untuk disedekahkan; tidak halal bagi pemegang ghasab maupun bagi pemilik ghasab, melainkan hukumnya seperti hukum setiap harta haram yang jatuh ke tangannya.
مسألة من ورث مالاً ولم يدر أن مُوَرِّثُهُ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ أَمِنْ حَلَالٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ وَلَمْ يَكُنْ ثَمَّ عَلَامَةٌ فَهُوَ حَلَالٌ بِاتِّفَاقِ الْعُلَمَاءِ وَإِنْ عَلِمَ أَنَّ فِيهِ حَرَامًا وَشَكَّ فِي قَدْرِهِ أَخْرَجَ مِقْدَارَ الْحَرَامِ بالتحري فإن لم يعلم ذلك ولكن علم أن مورثه كان يتولى أعمالا للسلاطين واحتمل انه لم يكن] خذ في عمله شيئاً أو كان قد أخذ ولم يبق في يده منه شيء لطول المدة فهذه شبهة يحسن التورع عنها ولا يجب وَإِنْ عَلِمَ أَنَّ بَعْضَ مَالِهِ كَانَ مِنَ الظُّلْمِ فَيَلْزَمُهُ إِخْرَاجُ ذَلِكَ الْقَدْرِ بِالِاجْتِهَادِ وَقَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ لَا يَلْزَمُهُ وَالْإِثْمُ عَلَى الْمُوَرِّثِ واستدل بما روي أن رجلا ممن ولي عمل السلطان مات فقال صحابي الآن طاب ماله أي لوارثه وهذا ضعيف لأنه لم يذكر اسم الصحابي ولعله صدر من متساهل فقد كان في الصحابة من يتساهل ولكن لا نذكره لحرمة الصحبة وكيف يكون موت الرجل مبيحاً للحرام المتيقن المختلط ومن أين يؤخذ هذا نعم إذا لم يتيقن يجوز أن يقال هو غير مأخوذ بما لا يدري فيطيب لوارث لا يدري أن فيه حراماً يقيناً النَّظَرُ الثَّانِي فِي الْمَصْرِفِ
Masalah: Barang siapa mewarisi harta dan tidak mengetahui dari mana muwarits-nya mengusahakannya, apakah dari jalan yang halal atau haram, serta tidak ada tanda-tanda khusus di sana, maka harta itu halal berdasarkan kesepakatan para ulama. Namun jika ia mengetahui bahwa di dalamnya terdapat hal yang haram dan ia ragu akan kadarnya, maka ia mengeluarkan kadar yang haram tersebut dengan berikhtiar (taharri). Jika ia tidak mengetahui hal itu, tetapi mengetahui bahwa muwarits-nya dahulu memangku jabatan pekerjaan untuk para penguasa dan ada kemungkinan ia tidak mengambil sesuatu pun dalam pekerjaannya atau pernah mengambil namun tidak tersisa sedikit pun di tangannya karena rentang waktu yang lama, maka ini adalah syubhat yang baik untuk bersikap wara' darinya namun tidak wajib. Apabila ia yakin bahwa sebagian hartanya berasal dari kezaliman, maka ia wajib mengeluarkan kadar tersebut berdasarkan ijtihad. Sebagian ulama berpendapat ia tidak wajib mengeluarkannya dan dosanya ditanggung oleh muwarits. Mereka berdalil dengan riwayat bahwa seorang laki-laki yang memangku jabatan penguasa meninggal dunia, lalu seorang Sahabat berkata: "Sekarang hartanya telah menjadi baik (halal)," yakni bagi ahli warisnya. Pendapat ini lemah karena nama Sahabat tersebut tidak disebutkan, dan boleh jadi hal itu bersumber dari orang yang bersikap mempermudah (mUTasahiI). Sungguh di antara Sahabat ada yang bersikap mempermudah, namun kami tidak menyebutkannya demi menjaga kehormatan persahabatan dengan Nabi. Bagaimana mungkin kematian seseorang dapat menghalalkan hal yang diyakini haram lagi bercampur? Dari mana landasan ini diambil? Ya, jika ia tidak meyakini secara pasti, boleh dikatakan bahwa ia tidak dituntut atas apa yang tidak diketahuinya, sehingga harta itu menjadi baik (halal) bagi ahli waris yang tidak mengetahui secara yakin adanya hal yang haram di dalamnya. Pengamatan Kedua: Tentang tempat penyaluran harta.
فَإِذَا أَخْرَجَ الْحَرَامَ فَلَهُ ثَلَاثَةُ أَحْوَالٍ
Apabila seseorang telah mengeluarkan harta yang haram, maka ia memiliki tiga keadaan:
إِمَّا أَنْ يَكُونَ لَهُ مَالِكٌ مُعَيَّنٌ فَيَجِبُ الصَّرْفُ إِلَيْهِ أَوْ إِلَى وَارِثِهِ وَإِنْ كَانَ غَائِبًا فَيَنْتَظِرُ حُضُورَهُ أَوِ الْإِيصَالَ إِلَيْهِ وَإِنْ كَانَتْ لَهُ زِيَادَةٌ وَمَنْفَعَةٌ فَلِتَجَمُّعِ فَوَائِدِهِ إِلَى وَقْتِ حُضُورِهِ
Bisa jadi harta itu memiliki pemilik yang tertentu, maka wajib menyalurkannya kepadanya atau kepada ahli warisnya. Jika pemiliknya tidak berada di tempat (gaib), maka ia menanti kedatangannya atau menyampaikannya kepadanya. Jika harta itu memiliki pertambahan dan manfaat, maka hendaklah dikumpulkan hasil-hasil manfaatnya hingga waktu kedatangannya.
وَإِمَّا أَنْ يَكُونَ لِمَالِكٍ غَيْرِ مُعَيَّنٍ وَقَعَ الْيَأْسُ مِنَ الوقوف على عيبه وَلَا يَدْرِي أَنَّهُ مَاتَ عَنْ وَارِثٍ أَمْ لَا فَهَذَا لَا يُمْكِنُ الرَّدُّ فِيهِ لِلْمَالِكِ وَيُوقَفُ حَتَّى يَتَّضِحَ الْأَمْرُ فِيهِ وَرُبَّمَا لَا يمكن الرد لكثرة الملاك كغلول الغنيمة فإنها بعد تفرق الغزاة كيف يقدر على جمعهم وإن قدر فكيف يفرق دينارا واحد مثلاً على ألف أو ألفين فهذا ينبغي أن يتصدق به
Bisa jadi harta itu milik pemilik yang tidak tertentu, yang mana telah putus asa untuk mengetahui identitasnya, serta tidak diketahui apakah ia meninggal dengan meninggalkan ahli waris atau tidak. Maka harta ini tidak mungkin dikembalikan kepada pemiliknya dan ditahan hingga menjadi jelas perkaranya. Terkadang tidak mungkin mengembalikannya karena banyaknya pemilik, seperti harta rampasan perang yang digelapkan (ghulul al-ghanimah); sebab setelah para tentara berpisah, bagaimana mungkin mampu mengumpulkan mereka? Kalaupun mampu, bagaimana membagikan satu dinar misalnya kepada satu atau dua ribu orang? Maka harta seperti ini hendaknya disedekahkan.
وإما من مال الفئ والأموال المرصدة لمصالح المسلمين كافة فيصرف ذلك إلى القناطر والمساجد والرباطات ومصانع طريق مكة وأمثال هذه الأمور التي يشترك في الانتفاع بها كل من يمر بها من المسلمين ليكون عاماً للمسلمين وحكم القسم الأول لا شبهة فيه أما التصدق وبناء القناطر فينبغي أن يتولاه القاضي فيسلم إليه المال إن وجد قاضيا متدينا وإن كان القاضي مستحلاً فهو بالتسليم إليه ضامن لو ابتدأ به فيما لا يضمنه فكيف يسقط عنه به ضمان قد استقر عليه بل يحكم من أهل البلد عالماً متديناً فإن التحكيم أولى من الانفراد فإن عجز فليتول
Dan bisa jadi berasal dari harta fa'i dan harta yang disiapkan untuk kemaslahatan seluruh kaum muslimin, maka harta itu disalurkan untuk pembangunan jembatan, masjid, tempat persinggahan (ribath), sarana jalan menuju Mekkah, dan hal-hal sejenis ini yang pemanfaatannya dirasakan bersama oleh setiap kaum muslimin yang melewatinya, agar manfaatnya bersifat umum bagi kaum muslimin. Hukum bagian pertama tidak mengandung syubhat padanya. Adapun bersedekah dan membangun jembatan, hendaknya diurus oleh hakim, lalu harta itu diserahkan kepadanya jika ditemukan hakim yang taat beragama (mutadayyin). Namun jika hakim itu menganggap halal barang haram, maka dengan menyerahkan kepadanya ia justru menanggung ganti rugi (dhamin) jika ia memulainya pada hal yang tidak ia tanggung, lantas bagaimana mungkin ganti rugi yang telah menetap atas dirinya menjadi gugur darinya? Bahkan hendaknya ia mengangkat hakim (tahkim) dari penduduk negeri yang alim lagi taat beragama, karena melakukan tahkim lebih utama daripada bertindak sendiri. Jika ia tidak mampu, maka hendaklah ia sendiri yang mengurus penyalurannya.
ذلك بنفسه فإن المقصود الصرف
hal itu dengan sendirinya, sebab yang menjadi tujuan utama adalah penyalurannya.
وأما عين الصارف فإنما نطلبه لمصارف دقيقة في المصالح فلا يترك أصل الصرف بسبب العجز عن صارف هو أولى عند القدرة عليه
Adapun sosok penyalur, kita hanyalah mencarinya demi tujuan-tujuan kemaslahatan yang rinci. Oleh karena itu, pokok penyaluran harta tersebut tidak boleh ditinggalkan hanya karena ketidakmampuan menemukan penyalur yang lebih utama ketika ada kemampuan untuk itu.
فإن قيل ما دليل جواز التصدق بما هو حرام وكيف يتصدق بما لا يملك وقد ذهب جماعة إلى أن ذلك غير جائز لأنه حرام وحكي عن الفضيل أنه وقع في يده درهمان فلما علم أنهما من غير وجههما رماهما بين الحجارة وقال لا أتصدق إلا بالطيب ولا أرضى لغيري مالا أرضاه لنفسي فنقول نعم ذلك له وجه واحتمال وإنما اخترنا خلافه للخبر والأثر والقياس أما الخير فأمر رسول الله ﷺ بالتصدق بالشاة المصلية التي قدمت إليه فكلمته بأنها حرام إذ قال ﷺ أطعموها الأسارى
Jika ditanyakan: "Apakah dalil kebolehan bersedekah dengan harta yang haram, dan bagaimana seseorang bersedekah dengan sesuatu yang tidak dimilikinya? Padahal segolongan ulama berpendapat bahwa hal itu tidak boleh karena hukumnya haram, dan diriwayatkan dari Al-Fudhayl bahwa dua dirham jatuh ke tangannya, lalu ketika beliau mengetahui bahwa keduanya berasal dari jalan yang tidak sah, beliau membuangnya ke sela-sela bebatuan seraya berkata: 'Aku tidak akan bersedekah melainkan dengan yang baik (halal), dan aku tidak meredai bagi orang lain apa yang tidak aku redai bagi diriku sendiri.'" Maka kami katakan: Ya, pendapat tersebut memiliki pertimbangan dan kemungkinan alasannya tersendiri. Namun, kami memilih pendapat yang berbeda darinya berdasarkan khabar (hadis Nabi), atsar (riwayat sahabat/tabi'in), dan qiyas (analogi hukum). Adapun khabar, yaitu perintah Rasulullah ﷺ untuk menyedekahkan kambing panggang yang disajikan kepada beliau, lalu kambing itu 'berbicara' bahwa dirinya haram (karena disembelih tanpa izin pemiliknya), ketika beliau ﷺ bersabda: "Berikanlah makanan ini kepada para tawanan."
ولما نزل قوله تعالى ﴿ألم غلبت الروم في أدنى الأرض وهم من بعد غلبهم سيغلبون﴾ كذبه المشركون وقالوا للصحابة ألا ترون ما يقول صاحبكم يزعم أن الروم ستغلب فخاطرهم أبو بكر ﵁ بإذن رسول الله ﷺ فلما حقق الله صدقه وجاء أبو بكر ﵁ بما قامرهم به قال ﵊ هذا سحت فتصدق به وفرح المؤمنون بنصر الله وكان قد نزل تحريم القمار بعد أَذِنَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ له في المخاطرة مع الكفار
Dan ketika turun firman Allah Ta'ala: "Alif Lam Mim. Bangsa Romawi telah dikalahkan, di negeri yang terdekat dan mereka setelah kekalahannya itu akan menang" (QS. Ar-Rum: 1-3), kaum musyrikin mendustakannya dan berkata kepada para sahabat: "Tidakkah kalian memperhatikan apa yang dikatakan sahabat kalian itu? Ia mengklaim bahwa bangsa Romawi akan menang." Maka Abu Bakar r.a. bertaruh dengan mereka atas izin Rasulullah ﷺ. Ketika Allah membuktikan kebenarannya dan Abu Bakar r.a. membawa harta hasil taruhan tersebut, Rasulullah ﷺ bersabda: "Ini adalah harta haram (suht), maka bersedekahlah dengannya." Dan orang-orang beriman pun bergembira karena pertolongan Allah. Adapun keharaman perjudian/taruhan tersebut turun setelah Rasulullah ﷺ memberi izin kepadanya untuk bertaruh dengan orang-orang kafir.
وأما الأثر فإن ابن مسعود ﵁ اشترى جارية فلم يظفر بمالكها لينقده الثمن فطلبه كثيراً فلم يجده فتصدق بالثمن وقال اللهم هذا عنه إن رضي وإلا فالأجر لي
Adapun atsar, sesungguhnya Ibnu Mas'ud r.a. pernah membeli seorang budak wanita, namun beliau tidak berhasil menemukan pemiliknya untuk menyerahkan harganya. Beliau telah mencarinya secara sungguh-sungguh tetapi tidak menemukannya, maka beliau menyedekahkan harga (uang pembelian) tersebut seraya berdoa: "Ya Allah, sedekah ini atas nama pemiliknya jika ia meredainya, dan jika tidak, maka pahalanya bagiku."
وسئل الحسن ﵁ عن توبة الغال وما يؤخذ منه بعد تفرق الجيش فقال يتصدق به
Al-Hasan (Al-Bashri) r.a. pernah ditanya tentang tobatnya orang yang mengambil harta rampasan perang secara curang (*ghulul*) dan apa yang harus dilakukan terhadap harta yang diambilnya setelah pasukan berpisah. Beliau menjawab: "Hendaklah harta itu disedekahkan."
وروي أن رجلاً سولت له نفسه فغل مائة دينار من الغنيمة ثم أتى أميره ليردها عليه فأبى أن يقبضها وقال له تفرق الناس فأتى معاوية فأبى أن يقبض فأتى بعض النساك فقال ادفع خمسها إلى معاوية وتصدق بما يبقى فبلغ معاوية قوله فتلهف إذا لم يخطر له ذلك وقد ذهب أحمد بن حنبل والحارس المحاسبي وجماعة من الورعين إلى ذلك
Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki tergoda oleh nafsunya lalu mengambil secara curang seratus dinar dari harta rampasan perang (*ghanimah*). Kemudian ia mendatangi pimpinannya untuk mengembalikan harta tersebut, namun pimpinan itu menolak menerimanya dan berkata kepadanya: "Pasukan telah berpisah." Lalu ia mendatangi Mu'awiyah, tetapi Mu'awiyah juga menolak menerimanya. Kemudian ia mendatangi seorang ahli ibadah (*nussak*), maka ahli ibadah itu berkata: "Serahkan seperlimanya (*khumus*) kepada Mu'awiyah dan sedekahkan sisanya." Ketika ucapan tersebut sampai kepada Mu'awiyah, beliau bersedih (menyesal) karena pertimbangan tersebut tidak terlintas dalam pikirannya. Dan Ahmad bin Hanbal, Al-Harits Al-Muhasibi, serta sekelompok ulama ahli wara' berpendapat demikian.
وأما القياس فهو أن يقال إن هذا المال مردد بين أن يضيع وبين أن يصرف إلى خير إذ قد وقع اليأس من مالكه وبالضرورة يعلم أن صرفه إلى خير أولى من إلقائه في البحر فإنا إن رميناه في البحر فقد فوتناه على أنفسنا وعلى المالك ولم تحصل منه فائدة وإذا رميناه في يد فقير يدعو لمالكه حصل للمالك بركة دعائه وحصل للفقير سد حاجته وحصول الأجر للمالك بغير اختياره في التصدق لا ينبغي أن ينكر فإن في الخبر الصحيح إن للزارع والغارس أجراً في كل ما يصيبه الناس والطيور من ثماره وزرعه
Adapun qiyas (analogi rasional), hendaknya dikatakan bahwa harta ini berada di antara kemungkinan disia-siakan atau disalurkan kepada kebaikan, mengingat telah timbul rasa putus asa untuk menemukan pemiliknya. Secara pasti dapat diketahui bahwa menyalurkannya kepada kebaikan lebih utama daripada membuangnya ke laut. Sebab jika kita membuangnya ke laut, kita telah menyia-nyiakannya bagi diri kita dan bagi pemiliknya, serta tidak ada manfaat yang diperoleh darinya. Namun jika kita menyerahkannya ke tangan orang fakir yang mendoakan pemiliknya, maka pemiliknya memperoleh keberkahan dari doanya dan orang fakir itu terpenuhi kebutuhannya. Diperolehnya pahala bagi pemilik harta tanpa ikhtiarnya dalam bersedekah tidak sepatutnya diingkari, karena dalam hadis shahih disebutkan bahwa penanam tanaman dan pembenih pohon memperoleh pahala atas setiap apa yang dimakan manusia dan burung dari buah dan tanamannya.
وذلك بغير اختياره وأما قول القائل لا نتصدق إلا بالطيب فذلك إذا طلبنا الأجر لأنفسنا ونحن الآن نطلب الخلاص من المظلمة لا الأجر
Dan hal itu terjadi tanpa ikhtiarnya. Adapun perkataan orang yang menyatakan: "Kita tidak bersedekah melainkan dengan yang baik (halal)", hal itu berlaku jika kita mencari pahala untuk diri kita sendiri. Sedangkan kita sekarang ini sedang mencari pelepasan dari kezaliman/tanggungan, bukan mencari pahala.
وترددنا بين التضييع وبين التصدق ورجحنا جانب التصدق على جانب التضييع
Dan pilihan kita berputar antara menyia-nyiakannya dan bersedekah dengannya, lalu kita memenangkan opsi bersedekah di atas opsi menyia-nyiakannya.
وقول القائل لا نرضى لغيرنا مالا نرضاه لأنفسنا فهو كذلك ولكنه علينا حرام لاستغنائنا عنه وللفقير حلال إذ أحله دليل الشرع وإذا اقتضت المصلحة التحليل وجب التحليل وإذا حل فقد رضينا له الحلال ونقول إن له أَنْ يَتَصَدَّقَ عَلَى نَفْسِهِ وَعِيَالِهِ إِذَا كَانَ فقيراً
Adapun perkataan orang yang menyatakan: "Kita tidak meredai bagi orang lain apa yang tidak kita redai bagi diri kita sendiri", hal itu memang demikian. Akan tetapi, harta tersebut haram bagi kita karena kita tidak memburuhkannya (mampu), namun halal bagi orang fakir karena dalil syariat telah menghalalkannya. Apabila kemaslahatan menuntut penghalalan, maka wajib hukumnya dihalalkan. Dan ketika harta itu sudah halal baginya, berarti kita telah meredai sesuatu yang halal baginya. Dan kami katakan pula bahwa ia boleh bersedekah kepada dirinya sendiri dan keluarganya apabila ia memang seorang yang fakir.
أما عياله وأهله فلا يخفى لأن الفقر لا ينتفي عنهم بكونهم من عياله وأهله بل هم أولى من يتصدق عليهم وأما هو فله أن يأخذ منه قدر حاجته لأنه أيضاً فقير ولو تصدق به على فقير لجاز وكذا إذا كان هو الفقير ولنرسم في بيان هذا الأصل أيضاً مسائل
Adapun keluarga dan kerabatnya, maka kebolehannya sudah jelas, karena kefakiran tidak hilang dari mereka hanya karena mereka menjadi tanggungan dan kerabatnya; bahkan mereka adalah orang yang paling utama untuk disedekahi. Adapun dirinya sendiri, ia boleh mengambil darinya sekadar kebutuhannya karena ia juga seorang yang fakir. Sekiranya ia menyedekahkannya kepada fakir lain tentu boleh, demikian pula jika dialah orang yang fakir tersebut. Dan mari kita uraikan beberapa permasalahan untuk menjelaskan kaidah dasar ini.
مسألة إذا وقع في يده مال من يد سلطان قال قوم يرد إلى السلطان فهو أعلم بما تولاه فيقلده ما تقلده وهو خير من أن يتصدق به واختار المحاسبي ذلك وقال كيف يتصدق به فلعل له مالكاً معيناً ولو جاز ذلك لجاز أن يسرق من السلطان ويتصدق به وقال قوم يتصدق به إذا علم أن السلطان لا يرده إلى المالك لأن ذلك إعانة للظالم وتكثير لأسباب ظلمه فالرد إليه تضييع لحق المالك والمختار أنه إذا علم من عادة السلطان انه لا يرده إلى مالكه فيتصدق به عن مالكه فهو خير للمالك إن كان له مالك معين من أن يرد على السلطان لأنه ربما لا يكون له مالك معين ويكون حق المسلمين فرده على السلطان تضييع فإن كان له مالك معين فالرد على السلطان تضييع وإعانة للسلطان الظالم وتفويت لبركة دعاء الفقير على المالك وهذا ظاهر فإذا وقع في يده من ميراث ولم يتعد هو بالأخذ من للسلطان فإنه شبيه باللقطة التي أيس عن معرفة صاحبها إذا لم يكن له أن يتصرف فيها بالتصدق عن المالك ولكن له أن يتملكها ثم وإن كان غنياً من حيث إنه اكتسبه من وجه مباح وهو الالتقاط وههنا لم يحصل المال من وجه مباح فيؤثر في منعه من التملك ولا يؤثر في المنع من التصدق
Permasalahan: Apabila di tangannya terdapat harta dari tangan penguasa (sultan), sebagian ulama berpendapat harta itu harus dikembalikan kepada penguasa, sebab penguasa lebih mengetahui atas apa yang diurusnya, sehingga menyerahkan tanggung jawab itu kepadanya lebih baik daripada menyedekahkannya. Al-Muhasibi memilih pendapat ini dan berkata: "Bagaimana mungkin disedekahkan, sementara boleh jadi harta itu memiliki pemilik tertentu? Jika hal itu dibolehkan, niscaya boleh pula mencuri dari penguasa lalu menyedekahkannya." Sebagian ulama lain berpendapat: Harta itu disedekahkan apabila ia mengetahui bahwa penguasa tidak akan mengembalikannya kepada pemiliknya, karena mengembalikannya berarti membantu orang zalim dan memperbanyak sarana kezalimannya, sehingga mengembalikannya merupakan penyia-nyiaan atas hak pemilik. Pendapat yang terpilih (*al-mukhtar*) adalah: Apabila diketahui dari kebiasaan penguasa bahwa ia tidak akan mengembalikannya kepada pemiliknya, maka harta itu disedekahkan atas nama pemiliknya. Hal itu lebih baik bagi pemiliknya—jika ia memiliki pemilik tertentu—daripada dikembalikan kepada penguasa. Sebab boleh jadi harta itu tidak memiliki pemilik tertentu melainkan menjadi hak seluruh kaum muslimin, sehingga mengembalikannya kepada penguasa adalah suatu penyia-nyiaan. Dan jika harta itu memiliki pemilik tertentu, maka mengembalikannya kepada penguasa adalah penyia-nyiaan, wujud bantuan bagi penguasa yang zalim, serta menghilangkan keberkahan doa orang fakir bagi pemiliknya, dan hal ini sangat jelas. Maka apabila harta tersebut jatuh ke tangannya melalui warisan dan ia sendiri tidak melakukan pelanggaran dengan mengambilnya dari penguasa, maka harta tersebut menyerupai barang temuan (*luqatah*) yang telah putus asa untuk diketahui pemiliknya, yang mana ia berhak bertindak padanya dengan menyedekahkannya atas nama pemilik. Akan tetapi, pada barang temuan (*luqatah*), seseorang boleh memilikinya meskipun ia orang kaya karena ia mendapatkannya dari jalan yang mubah (yaitu menemukan/mengambil *luqatah*). Sedangkan di sini, harta tersebut tidak diperoleh dari jalan yang mubah, sehingga hal itu berpengaruh menahannya dari memiliki harta tersebut, namun tidak berpengaruh melarangnya dari menyedekahkannya.
مسألة إذا حصل في يده مال لا مالك له وجوزنا له أن يأخذ قدر حاجته لفقره ففي قدر حاجته نظر ذكرناه في كتاب أسرار الزكاة فقد قال قوم يأخذ كفاية سنة لنفسه وعياله وإن قدر على شراء ضيعة أو تجارة يكتسب بها للعائلة فعل وهذا ما اختاره المحاسبي ولكنه قال الأولى أن يتصدق بالكل إن وجد من نفسه قوة التوكل وينتظر لطف الله تعالى في الحلال فإن لم يقدر فله أن يشتري ضيعة أو يتخذ رأس مال يتعيش بالمعروف منه وكل يوم وجد فيه حلالاً أمسك ذلك اليوم عنه فإذا فني عاد إليه فإذا وجد حلالاً معينا تصدق بمثل ما أنفقه من قبل ويكون ذلك قرضاً عنده ثم إنه يأكل الخبز ويترك اللحم إن قوي عليه وإلا أكل اللحم من غير تنعم وتوسع وما ذكره لا مزيد عليه ولكن جعل ما أنفقه قرضاً عنده فيه نظر ولا شك في أن الورع ان يجعله قرضاً فإذا وجد حلالاً تصدق بمثله ولكن مهما لم يجب ذلك على الفقير الذي يتصدق به عليه فلا يبعد ان لا يجب عليه أيضاً إذا أخذه لفقره لا سيما إذا وقع في يده من ميراث ولم يكن متعديا بغصبه وكسبه حتى يغلظ الأمر عليه فيه
Permasalahan: Apabila di tangannya terdapat harta yang tidak diketahui pemiliknya, dan kita membolehkannya mengambil sekadar kebutuhannya karena kefakirannya, maka kadar kebutuhannya memerlukan peninjauan yang telah kami sebutkan dalam Kitab Asrar az-Zakat. Sebagian ulama berkata: Ia mengambil cukup untuk pemenuhan kebutuhan satu tahun bagi dirinya dan keluarganya. Jika ia mampu membeli ladang/kebun atau menjalankan perdagangan untuk mencari nafkah bagi keluarganya, hendaknya ia melakukannya. Pendapat inilah yang dipilih oleh Al-Muhasibi. Namun beliau berkata: "Yang lebih utama adalah menyedekahkan semuanya jika ia mendapati dalam dirinya kekuatan tawakal dan menantikan kelembutan kasih sayang Allah Ta'ala melalui yang halal. Namun jika ia tidak mampu, ia boleh membeli ladang atau menjadikannya modal usaha untuk memenuhi penghidupannya secara patut (*ma'ruf*). Pada setiap hari ia menemukan rezeki yang halal, hendaklah ia menahan diri pada hari itu dari harta tersebut. Jika harta halal itu habis, ia kembali menggunakannya. Apabila ia menemukan rezeki halal yang berlebih/tertentu, hendaklah ia menyedekahkan sejumlah yang telah diinfakkannya sebelumnya, dan hal itu dianggap sebagai utang baginya. Kemudian, hendaklah ia memakan roti dan meninggalkan daging jika ia sanggup; jika tidak sanggup, ia memakan daging tanpa berlebih-lebihan dan bermewah-mewah." Apa yang disebutkan beliau sungguh sangat lengkap tanpa perlu tambahan. Namun, menjadikan apa yang diinfakkannya sebagai utang atas dirinya perlu ditinjau kembali (*fiihi nazhar*). Tidak diragukan lagi bahwa kehati-hatian (*wara'*) menuntutnya untuk menjadikannya sebagai utang, sehingga ketika ia menemukan rezeki yang halal, ia menyedekahkan seumpamanya. Akan tetapi, selama hal itu tidak diwajibkan atas orang fakir yang disedekahi harta tersebut, maka tidak jauh kemungkinan bahwa hal itu tidak diwajibkan pula atas dirinya ketika ia mengambilnya karena kefakirannya; terlebih lagi jika harta itu jatuh ke tangannya dari warisan dan ia bukan pelaku perampasan (*ghashab*) atau pencaharian yang melanggar hukum, sehingga penanganan atas dirinya tidak perlu diperberat.
مسألة إذا كان في يده حلال وحرام أو شبهة وليس يفضل الكل عن حاجته فإذا كان له عيال فليخص نفسه بالحلال لأن الحجة عليه أوكد في نفسه منه في عبده وعياله وأولاده الصغار والكبار من الأولاد يحرسهم من الحرام إن كان لا يفضي بهم إلى ما هو أشد منه فإن أفضى فيطعمهم بقدر الحاجة
Permasalahan: Apabila di tangannya terdapat harta halal, haram, atau syubhat, dan keseluruhannya tidak melebihi kebutuhannya, maka jika ia memiliki keluarga, hendaklah ia mengkhususkan dirinya dengan yang halal. Sebab pertanggungjawaban atas dirinya sendiri lebih ditekankan daripada atas hamba sahaya, keluarga, dan anak-anaknya yang masih kecil. Sedangkan anak-anaknya yang sudah dewasa, hendaklah ia menjaga mereka dari yang haram selama hal itu tidak membawa mereka kepada keadaan yang lebih buruk. Namun jika membawanya kepada keadaan yang lebih buruk, hendaklah ia memberi mereka makan sekadar kebutuhan dasar.
وبالجملة ما يحذره في غيره فهو محذور في نفسه وزيادة وهو أنه يتناول مع العلم والعيال ربما تعذر إذا لم تعلم إذ لم تتول الأمر بنفسها فليبدأ بالحلال بنفسه ثم بمن يعول وإذا تردد في حق نفسه بين ما يخص قوته وكسوته وبين غيره من المؤن كأجرة الحجام والصباغ والقصار والحمال والاطلاء بالنورة والدهن وعمارة المنزل وتعهد الدابة وتسجير التنور وثمن الحطب ودهن السراج فليخص
Secara singkat, apa yang diwaspadainya pada orang lain adalah hal yang patut diwaspadai pada dirinya sendiri secara berlebih, karena ia mengonsumsinya dalam keadaan tahu, sedangkan keluarga terkadang diberi uzur jika mereka tidak mengetahui karena mereka tidak mengurus urusan itu sendiri. Maka hendaklah ia memulai penggunaan yang halal untuk dirinya sendiri, kemudian untuk orang-orang yang menjadi tanggungannya. Apabila berkenaan dengan hak dirinya sendiri ia bimbang antara apa yang khusus untuk makanan pokok (*qut*) dan pakaiannya, dengan biaya-biaya lainnya seperti upah tukang bekam, tukang celup kain, tukang cuci, tukang panggul, pemolesan dengan kapur (*nurah*) dan minyak, perbaikan rumah, perawatan hewan tunggangan, pemanasan tungku roti, harga kayu bakar, serta minyak lampu, maka hendaklah ia mengkhususkan…
بالحلال قوته ولباسه فإن ما يتعلق ببدنه ولا غنى به عنه هو أولى بأن يكون طيباً وإذا دار الأمر بين القوت واللباس فيحتمل أن يقال يخص القوت بالحلال لأنه ممتزج بلحمه ودمه وكل لَحْمٍ نَبَتَ مِنْ حَرَامٍ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ
…dengan yang halal untuk makanan pokok dan pakaiannya. Sebab apa yang berkaitan langsung dengan tubuhnya dan ia tidak dapat terlepas darinya adalah lebih utama untuk berupa sesuatu yang baik (*thayyib*). Dan apabila urusannya berkisar antara makanan pokok dan pakaian, maka dapat dikatakan bahwa ia hendaknya mengkhususkan makanan pokok dengan yang halal, karena makanan itu menyatu dengan daging dan darahnya; dan setiap daging yang tumbuh dari sesuatu yang haram, maka neraka lebih utama baginya.
وأما الكسوة ففائدتها ستر عورته ودفع الحر والبرد والأبصار عن بشرته وهذا هو الأظهر عندي
Adapun pakaian, manfaatnya adalah menutup aurat, menolak panas dan dingin, serta menghalangi pandangan mata dari kulitnya. Dan inilah pendapat yang lebih jelas (*al-azhar*) menurutku.
وقال الحارث المحاسبي يقدم اللباس لأنه يبقى عليه مدة والطعام لا يبقى عليه لما روي أنه لا يقبل الله صلاة من عليه ثوب اشتراه بعشرة دراهم فيها درهم حرام
Al-Harits Al-Muhasibi berkata: "Pakaian lebih didahulukan (untuk dihalalkan), karena pakaian bertahan lama padanya sedangkan makanan tidak bertahan lama padanya." Hal ini berdasarkan riwayat bahwa Allah tidak menerima shalat seseorang yang mengenakan pakaian yang dibeli seharga sepuluh dirham yang di dalamnya terdapat satu dirham haram.
وهذا محتمل ولكن أمثال هذا قد ورد فيمن في بطنه حرام ونبت لحمه من حرام
Dan pendapat ini memiliki kemungkinan pertimbangan, namun riwayat-riwayat serupa ini juga telah datang berkenaan dengan orang yang di dalam perutnya terdapat barang haram dan dagingnya tumbuh dari barang yang haram.
فمراعاة اللحم والعظم أن ينبته من الحلال أولى ولذلك تقيأ الصديق ﵁ ما شربه مع الجهل حتى لا ينبت منه لحم يثبت ويبقى
Maka menjaga agar daging dan tulang tumbuh dari barang yang halal adalah lebih utama. Oleh karena itulah Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu memuntahkan apa yang telah diminumnya meski karena ketidaktahuan, agar tidak ada daging yang tumbuh darinya lalu menetap dan tersisa.
فإن قيل فإذا كان الكل منصرفاً إلى أغراضه فأي فرق بين نفسه وغيره وبين جهة وجهة وما مدرك هذا الفرق قلنا عرف ذلك بما روي أن رافع بن خديج ﵀ مات وخلف ناضحاً وعبداً حجاماً فسئل رسول الله ﷺ عن ذلك فنهى عن كسب الحجام فروجع مرات فمنع منه فقيل إن له أيتاماً فقال أعلفوه الناضح
Jika dikatakan: "Apabila semuanya dialokasikan untuk tujuannya, lalu apa perbedaan antara dirinya sendiri dan orang lain, serta antara satu porsi dan porsi lainnya, dan apa landasan perbedaan ini?" Kami jawab: Hal itu diketahui melalui apa yang diriwayatkan bahwa Rafi' bin Khadij radhiyallahu 'anhu meninggal dunia dan meninggalkan seekor unta penyiram tanaman (nadhih) serta seorang budak tukang bekam. Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya mengenai hal itu, maka beliau melarang penghasilan tukang bekam. Beliau ditanya berulang kali, namun beliau tetap melarangnya. Lalu dikatakan: "Sesungguhnya ia meninggalkan anak-anak yatim." Beliau pun bersabda: "Beri makanlah unta penyiram tanaman itu darinya."
فهذا يدل على الفرق بين مايأكله هو أو دابته فإذا انفتح سبيل الفرق فقس عليه التفصيل الذي ذكرناه
Hal ini menunjukkan adanya perbedaan antara apa yang ia makan sendiri atau yang dimakan oleh hewan ternaknya. Apabila jalan perbedaan ini telah jelas, maka qiyaskanlah padanya rincian yang telah kami sebutkan.
مسألة الحرام الذي في يده لو تصدق به على الفقراء فله يوسع عليهم وإذا أنفق على نفسه فليضيق ما قدر وما أنفق على عياله فليقتصد وليكن وسطاً بين التوسيع والتضييق فيكون الأمر على ثلاث مراتب فإن أنفق على ضيف قدم عليه وهو فقير فليوسع عليه وإن كان غنياً فلا يطعمه إلا إذا كان في برية أو قدم ليلاً ولم يجد شيئاً فإنه في ذلك الوقت فقير وإن كان الفقير الذي حضر ضيفاً تقياً لو علم ذلك لتورع عنه فليعرض الطعام وليخبره جمعاً بين حق الضيافة وترك الخداع فلا ينبغي أن يكرم أخاه بما يكره ولا ينبغي أن يعول على أنه لا يدري فلا يضره فإن الحرام إذا حصل في المعدة أثر في قساوة القلب وإن لم يعرفه صاحبه ولذلك تقيأ أبو بكر وعمر ﵄ وكانا قد شربا على جهل وهذا وإن أفتينا بإنه حلال للفقراء أحللناه بحكم الحاجة إليه فهو كالخنزير والخمر إذا أحللناهما بالضرورة فلا يلتحق بالطيبات
Masalah: Harta haram yang ada di tangannya, jika ia sedekahkan kepada orang-orang fakir, maka boleh baginya melapangkan pemberian kepada mereka. Namun jika ia menafkahkannya untuk dirinya sendiri, hendaklah ia menyempitkan (membatasi) sesanggupnya. Dan apa yang ia nafkahkan untuk keluarganya, hendaklah ia berhemat dan bersikap pertengahan antara melapangkan dan menyempitkan. Sehingga perkara ini berada dalam tiga tingkatan. Jika ia menafkahkannya untuk tamu yang mendatanginya dalam keadaan fakir, hendaklah ia melapangkan baginya. Namun jika tamu itu orang kaya, janganlah ia memberinya makan kecuali jika berada di padang sahara atau bertamu di malam hari dan tidak menemukan sesuatu pun, karena pada saat itu ia berstatus fakir. Dan jika tamu fakir yang hadir tersebut adalah seorang yang bertakwa yang sekiranya mengetahui hal itu tentu ia akan bersikap wara' dengannya, maka hendaklah ia menyajikan makanan itu sembari memberitahunya, guna menggabungkan antara pemenuhan hak penghormatan tamu dan meninggalkan tipu daya. Sebab tidak sepatutnya seseorang memuliakan saudaranya dengan apa yang dibencinya, dan tidak boleh bersandar pada anggapan bahwa saudaranya tidak tahu sehingga tidak memudaratkannya. Sesungguhnya harta haram apabila telah masuk ke dalam perut, ia akan berpengaruh pada kerasnya hati meskipun pemiliknya tidak mengetahuinya. Oleh karena itu Abu Bakar dan Umar radhiyallahu 'anhuma memuntahkannya padahal keduanya telah meminumnya karena tidak tahu. Dan masalah ini, meskipun kami berfatwa bahwa itu halal bagi orang-orang fakir, kami menghalalkannya dengan hukum kebutuhan (hajat) kepadanya, sehingga ia seperti daging babi dan khamar saat kami menghalalkannya dalam kondisi darurat, maka ia tidak tergolong ke dalam makanan-makanan yang baik (al-thayyibat).
مسألة إذا كان الحرام أو الشبهة في يد أبويه فليمتنع عن مؤاكلتهما فإن كانا يسخطان فلا يوافقهما على الحرام المحض بل ينهاهما فلا طاعة لمخلوق في معصية الله تعالى فإن كان شبهة وكان امتناعه للورع فهذا قد عارضه أن الورع طلب رضاهما بل هو واجب فليتلطف في الامتناع فإن لم يقدر فليوافق وليقلل الأكل بأن يصغر اللقمة ويطيل المضغ ولا يتوسع فإن ذلك عدوان والأخ والأخت قريبان من ذلك لأن حقهما أيضاً مؤكد وكذلك إذا ألبسته أمه ثوباً من شبهة وكانت تسخط برده فليقبل وليلبس بين يديها ولينزع في غيبتها وليجتهد أن لا يصلي فيه إلا عند حضورها فيصلي فيه صلاة المضطر وعند تعارض أسباب الورع ينبغي أن يتفقد هذه الدقائق
Masalah: Apabila harta haram atau syubhat berada di tangan kedua orang tuanya, hendaklah ia menahan diri dari makan bersama keduanya. Jika kedua orang tuanya murka, maka ia tidak boleh menuruti keduanya dalam perkara haram murni (makhdh), melainkan ia harus melarang keduanya, sebab tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah Ta'ala. Namun jika harta itu berupa syubhat dan penolakannya adalah demi wara', maka hal ini berbenturan dengan kenyataan bahwa wara' sejati juga menuntut keridaan keduanya, bahkan berbakti kepada orang tua adalah wajib. Oleh karena itu, hendaklah ia bersikap lembut dalam menolak. Jika ia tidak mampu, hendaklah ia menuruti dan menyedikitkan makan dengan memperkecil suapan dan memperlama kunyahan, serta tidak melahap banyak, karena hal itu adalah kelampauan batas. Saudara laki-laki dan perempuan pun mendekati hukum ini, karena hak keduanya juga ditekankan. Demikian pula jika ibunya mengenakan pakaian dari harta syubhat kepadanya dan sang ibu akan marah jika ia menolaknya, hendaklah ia menerimanya dan memakainya di hadapan sang ibu, lalu melepasnya ketika di luar penglihatannya. Hendaklah ia berikhtiar untuk tidak shalat menggunakan pakaian itu kecuali di hadapan ibunya, sehingga ia shalat padanya seperti shalatnya orang yang dalam keadaan darurat. Ketika sebab-sebab wara' saling bertentangan, hendaknya seseorang memperhatikan kelembutan-kelembutan detail ini.
وقد حكي عن بشر ﵀ أنه سلمت إليه أمه رطبة وقالت بحقي عليك أن تأكلها وكان يكرهه فأكل ثم صعد غرفة فصعدت
Sungguh telah diceritakan dari Bishr radhiyallahu 'anhu bahwa ibunya menyerahkan seekor kurma basah (rutab) kepadanya seraya berkata: "Demi hakku atasmu, makanlah ini." Padahal ia membencinya (karena syubhat), namun ia pun memakannya. Kemudian ia naik ke kamar atas, lalu ibunya pun menyusul naik di belakangnya…
أمه وراءه فرأته يتقيأ وإنما فعل ذلك لأنه أراد أن يجمع بين رضاها وبين صيانة المعدة
…ibunya di belakangnya, lalu sang ibu melihatnya sedang memuntahkan makanan tersebut. Sungguh ia melakukan hal itu hanyalah karena ingin menggabungkan antara meraih rida ibunya dan menjaga kesucian perutnya.
وقد قيل لأحمد بن حنبل سئل بشر هل للوالدين طاعة في الشبهة فقال لا فقال أحمد هذا شديد
Pernah dikatakan kepada Ahmad bin Hanbal: "Bishr ditanya tentang apakah kedua orang tua wajib ditaati dalam perkara syubhat?" Lalu Bishr menjawab: "Tidak." Maka Ahmad berkata: "Ini adalah pendapat yang keras."
فقيل له سئل محمد بن مقاتل العباداني عنها فقال بر والديك فماذا تقول فقال للسائل أحب أن تعفيني فقد سمعت ما قالا ثم قال ما أحسن أن تداريهما
Lalu dikatakan kepadanya: "Muhammad bin Muqatil al-'Abadani ditanya tentang hal itu, lalu ia menjawab: 'Berbaktilah kepada kedua orang tuamu.' Lalu bagaimana pendapatmu?" Maka beliau berkata kepada penanya: "Aku ingin engkau membebaskanku (dari menjawab), sungguh engkau telah mendengar apa yang dikatakan oleh keduanya." Kemudian beliau bersabda: "Betapa indahnya jika engkau bersikap bijak dan berlembut-lembut (mudarah) kepada keduanya."
مسألة من في يده مال حرام محض فلا حج عليه ولا يلزمه كفارة مالية لأنه مفلس ولا تجب عليه الزكاة إذ معنى الزكاة وجوب إخراج ربع العشر مثلاً وهذا يجب عليه إخراج الكل إما رداً على المالك إن عرفه أو صرفاً إلى الفقراء إن لم يعرف المالك وأما إذا كان مال شبهة يحتمل أنه حلال فإذا لم يخرجه من يده لزمه الحج لأن كونه حلالاً ممكن ولا يسقط الحج إلا بالفقر ولم يتحقق فقره وقد قال الله تعالى ولله على الناس حج البيت من استطاع إليه سبيلاً وإذا وجب عليه التصدق بما يزيد على حاجته حيث يغلب على ظنه تحريمه فالزكاة أولى بالوجوب وإن لزمته كفارة فليجمع بين الصوم والإعتاق ليتخلص بيقين
Masalah: Barangsiapa yang di tangannya terdapat harta haram murni, maka tidak ada kewajiban haji baginya dan tidak pula wajib baginya kaffarah maliyah (tebusan harta), karena secara hukum ia adalah orang yang muflis (bangkrut/tidak memiliki harta). Dan tidak wajib pula baginya zakat, sebab makna zakat adalah kewajiban mengeluarkan seperempat puluh (2,5%) misalnya, sedangkan orang ini wajib mengeluarkan semuanya, baik dengan mengembalikannya kepada pemiliknya jika ia mengetahuinya, atau mendistribusikannya kepada fakir miskin jika ia tidak mengenal pemiliknya. Adapun jika harta tersebut mengandung syubhat yang berpotensi halal, maka jika ia belum mengeluarkannya dari tangannya, wajib baginya menunaikan haji, karena keberadaannya sebagai harta halal adalah memungkinkan, sedangkan haji tidak gugur melainkan karena kefakiran, sementara kefakirannya belum terbukti secara pasti. Dan Allah Ta'ala telah berfirman: "Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang yang mampu mengadakan perjalanan kepadanya." Dan apabila ia wajib bersedekah dengan apa yang melebihi kebutuhannya ketika keharamannya lebih dominan dalam prasangkanya, maka zakat tentu lebih utama kewajibannya. Dan jika ia berkewajiban membayar kaffarah, hendaklah ia menggabungkan antara berpuasa dan memerdekakan budak agar ia terbebas dari tanggungan secara meyakinkan.
وقد قال قوم يلزمه الصوم دون الإطعام إذ ليس له يسار معلوم
Sebagian ulama berpendapat bahwa ia wajib berpuasa tanpa memberi makan (ith'am), karena ia tidak memiliki kelapangan harta (yasar) yang jelas.
وقال المحاسبي يكفيه الإطعام
Al-Muhasibi berkata: Cukup baginya memberi makan.
والذي نختاره أن كل شبهة حكمنا بوجوب اجتنابها وألزمناه إخراجها من يده لكون احتمال الحرام أغلب على ما ذكرناه فعليه الجمع بين الصوم والإطعام أما الصوم فلأنه مفلس حكماً وأما الإطعام فلأنه قد وجب عليه التصدق بالجميع ويحتمل أن يكون له فيكون اللزوم من جهة الكفارة
Pendapat yang kami pilih adalah bahwa setiap harta syubhat yang kami hukumkan wajib menjauhinya dan kami wajibkan untuk dikeluarkannya dari tangannya dikarenakan kemungkinan haram lebih kuat sebagaimana telah kami sebutkan, maka wajib baginya menggabungkan antara berpuasa dan memberi makan. Adapun puasa, karena secara hukum ia adalah orang yang muflis (tidak berharta); sedangkan memberi makan, karena ia telah diwajibkan bersedekah dengan seluruhnya, dan ada kemungkinan harta itu miliknya sehingga kewajiban tersebut timbul dari sisi kaffarah.
مسألة من في يده مال حرام امسكه للحاجة فأراد أن يتطوع بالحج فإن كان ماشياً فلا بأس له لأنه سيأكل هذا المال في غير عبادة فأكله في عبادة أولى
Masalah: Barangsiapa di tangannya terdapat harta haram yang ia tahan karena kebutuhan, lalu ia ingin menunaikan haji sunnah; jika ia berjalan kaki, maka tidak mengapa baginya, karena ia akan memakan harta ini dalam hal selain ibadah, sehingga memakannya dalam rangka ibadah adalah lebih utama.
وإن كان لا يقدر على أن يمشي ويحتاج إلى زيادة للمركوب فلا يجوز الأخذ لمثل هذه الحاجة في الطريق كما لا يجوز شراء المركوب في البلد
Namun jika ia tidak mampu berjalan kaki dan membutuhkan tambahan biaya untuk kendaraan, maka tidak boleh mengambil dari harta haram tersebut untuk kebutuhan semacam ini di perjalanan, sebagaimana tidak boleh membeli kendaraan di dalam negerinya.
وإن كان يتوقع القدرة على حلال لو أقام بحيث يستغني به عن بقية الحرام فالإقامة في انتظاره أولى من الحج ماشياً بالمال الحرام
Dan jika ia memperkirakan akan memperoleh kemampuan dari harta yang halal apabila ia menetap tinggal, sehingga ia dapat mencukupi diri dengannya dari sisa harta haram tersebut, maka menetap tinggal untuk menunggunya adalah lebih utama daripada menunaikan haji dengan berjalan kaki menggunakan harta yang haram.
مسألة من خرج لحج واجب بمال فيه شبهة فليجتهد أن يكون قوته من الطيب فإن لم يقدر في قوت الإحرام إلى التحلل فإن لم يقدر فليجتهد يوم عرفة أن لا يكون قيامه بين يدي الله ودعاؤه في وقت مطعمه حرام وملبسه حرام فليجتهد أن لا يكون في بطنه حرام ولا على ظهره حرام فإنا وإن جوزنا هذا بالحاجة فهو نوع ضرورة وما ألحقناه بالطيبات فإن لم يقدر فليلازم قلبه الخوف والغم لما هو مضطر إليه من تناول ما ليس بطيب فعساه ينظر إليه بعين الرحمة ويتجاوز عنه بسبب حزنه وخوفه وكراهته
Masalah: Barangsiapa keluar untuk menunaikan haji wajib dengan menggunakan harta yang mengandung syubhat, hendaklah ia berikhtiar agar makanan pokoknya berasal dari yang baik (halal). Jika ia tidak mampu untuk keseluruhan safar, maka hendaklah pada makanan saat ihram hingga tahallul. Jika tidak mampu pula, hendaklah ia berikhtiar pada hari Arafah agar berdirinya di hadapan Allah dan doanya tidak terjadi di saat makanannya haram dan pakaiannya haram. Hendaklah ia bersungguh-sungguh agar tidak ada yang haram di dalam perutnya dan tidak ada yang haram di atas punggungnya. Sebab sekalipun kami membolehkan hal ini karena kebutuhan (hajat), ia merupakan bentuk darurat dan tidak kami golongkan ke dalam hal-hal yang baik. Jika ia tetap tidak mampu, hendaklah hatinya senantiasa diliputi rasa takut (khauf) dan kesedihan atas apa yang terpaksa ia konsumsi dari hal yang tidak baik tersebut, mudah-mudahan Allah memandangnya dengan pandangan rahmat dan mengampuninya disebabkan oleh kesedihan, ketakutan, dan ketidaksukaannya terhadap hal itu.
مسألة سئل أحمد بن حنبل رحمة الله فقال له قائل مات أبي وترك مالاً وكان يعامل من تكره معاملته فقال تدع من ماله بقدر ما ربح فقال له دين وعليه دين فقال تقضي وتقتضى فقال افترى ذلك فقال أفتدعه محتبساً بدينه وما ذكره صحيح وهو يدل على أنه رأى التحري بإخراج مقدار الحرام إذ قال يخرج قدر الربح وائه رأى أن أعيان أمواله ملك له بدلاً عما بذله في المعاوضات الفاسدة بطريق التقاص والتقابل مهما كثر التصرف وعسر الرد وعول في قضاء دينه على أنه يقين فلا يترك بسبب الشبهة
Masalah: Ahmad bin Hanbal rahmatullah 'alih pernah ditanya oleh seseorang yang berkata kepadanya: "Ayahku meninggal dunia dan meninggalkan harta, sedangkan ia dahulu bertransaksi dengan orang yang engkau benci transaksinya." Beliau menjawab: "Tinggalkanlah dari hartanya sekadar keuntungan yang ia dapatkan." Penanya bertanya lagi: "Ayahku memiliki piutang dan juga hutang." Beliau menjawab: "Bayarlah hutangnya dan tagihlah piutangnya." Penanya bertanya: "Apakah engkau berpendapat demikian?" Beliau menjawab: "Apakah engkau akan membiarkannya terhalang (di akhirat) karena hutangnya?" Apa yang beliau sebutkan ini adalah benar, dan hal ini menunjukkan bahwa beliau berpandangan untuk bersikap hati-hati (al-taharri) dengan mengeluarkan kadar yang haram, karena beliau berkata: "Dikeluarkan sekadar keuntungan." Dan beliau berpendapat bahwa wujud harta-harta tersebut adalah miliknya sebagai pengganti dari apa yang telah ia berikan dalam transaksi-transaksi yang fasad (rusak) melalui jalan perimbangan (taqash/kompensasi), betapapun banyaknya akad/transaksi dan sulitnya pengembalian. Serta beliau bersandar dalam pelunasan hutangnya pada prinsip bahwa hutang adalah sesuatu yang meyakinkan, maka tidak boleh ditinggalkan hanya karena adanya syubhat.
الباب الخامس في إدرارات السلاطين وصلاتهم وما يحل منها وما يحرم
Bab Kelima: Tentang Tunjangan Rutin dan Pemberian Para Penguasa (Sultan), Serta Apa yang Halal dan yang Haram Darinya.
اعلم أن من أخذ مالاً من سلطان فلا بد له من النظر في ثلاثة أمور في مدخل ذلك إلى يد السلطان من أين هو وفي صفته التي بها يستحق الأخذ
Ketahuilah bahwa barangsiapa mengambil harta dari penguasa (sultan), maka ia harus memperhatikan tiga perkara: tentang cara masuknya harta itu ke tangan penguasa dari mana asalnya, dan tentang sifat/kriteria dirinya yang membuatnya berhak mengambil harta tersebut.
وفي المقدار الذي يأخذه هل يستحقه إذا أضيف إلى حاله وحال شركائه في الاستحقاق النظر الأول في جهات الدخل للسلطان
Mengenai kadar (jumlah) yang ia ambil, apakah ia berhak atasnya apabila dikaitkan dengan keadaannya serta keadaan orang-orang yang berserikat dengannya dalam hak kelayakan tersebut. Pembahasan pertama adalah tentang sumber-sumber pendapatan bagi penguasa (Sultan).
وكل ما يحل للسلطان سوى الإحياء وما يشترك فيه الرعية قسمان
Segala sesuatu yang halal bagi penguasa, selain dari pengolahan tanah mati (ihya') dan apa yang menjadi milik bersama seluruh rakyat, terbagi menjadi dua bagian:
مأخوذ من الكفار وهو الغنيمة المأخوذة بالقهر والفيء وهو الذي حصل من مالهم في يده من غير قتال والجزية وأموال المصالحة وهي التي تؤخذ بالشروط والمعاقدة
Pertama, harta yang diambil dari orang-orang kafir, yaitu ghanimah (harta rampasan perang) yang diambil dengan penaklukkan; fai' yaitu harta milik mereka yang jatuh ke tangan penguasa tanpa peperangan; jizyah (pajak jaminan perlindungan); dan harta mushalahah (perjanjian damai) yaitu harta yang diambil berdasarkan syarat-syarat dan kesepakatan akad.
والقسم الثاني المأخوذ من المسلمين فلا يحل منه إلا قسمان المواريث وسائر الأمور الضائعة التي لا يتعين لها مالك والأوقاف التي لا متولي لها أما الصدقات فليست توجد في هذا الزمان
Bagian kedua adalah harta yang diambil dari kaum muslimin, maka tidak ada yang halal darinya kecuali dua bentuk: harta warisan (yang tidak ada ahli warisnya) dan seluruh harta telantar yang tidak ditentukan pemiliknya, serta harta wakaf yang tidak memiliki pengelola (mutawalli). Adapun zakat/sedekah, ia tidak lagi ditemukan pada zaman ini.
وما عدا ذلك من الخراج المضروب على المسلمين والمصادرات وأنواع الرشوة كلها حرام
Dan selain dari itu, seperti kharaj (pajak hasil bumi) yang dibebankan atas kaum muslimin, penyitaan harta secara paksa (mushadarat), serta segala jenis suap (risywah), seluruhnya adalah haram.
فإذا كتب لفقيه أو غيره إدرار أو صلة أو خلعة على جهة فلا يخلو من أحوال ثمانية فإنه إما أن يكتب له ذلك على الجزية أو على المواريث أو على الأوقاف أو على ملك أحياء السلطان أو على ملك اشتراه أو على عامل خراج المسلمين أو على بياع من جملة التجار أو على الخزانة
Apabila ditetapkan tunjangan rutin (idrar), pemberian (shilah), atau jubah kehormatan (khil'ah) untuk seorang ahli fiqih atau selainnya atas suatu alokasi, maka hal itu tidak lepas dari delapan keadaan: boleh jadi tunjangan itu ditetapkannya atas dasar jizyah, harta warisan, harta wakaf, kepemilikan dari tanah yang dihidupkan oleh penguasa, kepemilikan yang dibelinya, atas pengumpul pajak kharaj kaum muslimin, atas penjual dari kalangan pedagang, atau atas perbendaharaan negara (khazanah).
فالأول هو الجزية وأربعة أخماسها للمصالح وخمسها لجهات معينة
Keadaan pertama adalah jizyah; empat perlima darinya dialokasikan untuk kemaslahatan umum, sedangkan seperlima sisanya dialokasikan untuk pihak-pihak tertentu yang telah ditetapkan.
فما يكتب على الخمس من تلك الجهات أو على الأخماس الأربعة لما فيه مصلحة وروعي فيه الاحتياط في القدر فهو حلال بشرط أن لا تكون الجزية إلا مضروبة على وجه شرعي ليس فيها زيادة على دينار أو على أربعة دنانير فإنه أيضا في محل الاجتهاد وللسلطان أن يفعل ما هو في محل الاجتهاد وبشرط أن يكون الذمي الذي تؤخذ الجزية منه مكتسباً من وجه لا يعلم تحريمه فلا يكون عامل سلطان ظالما ولا بياع خمر ولا صبياً ولا امرأة إذ لا جزية عليهما
Maka apa yang ditetapkan atas bagian seperlima untuk alokasi tersebut, atau atas bagian empat perlima demi kemaslahatan umum dengan tetap memperhatikan sikap kehati-hatian (ihtiyat) dalam menentukan kadarnya, hukumnya adalah halal. Syaratnya, jizyah tersebut dipungut sesuai dengan ketentuan syariat, yaitu tidak melebihi satu dinar hingga empat dinar, karena hal ini juga masuk dalam ranah ijtihad, dan penguasa berhak melakukan apa yang berada dalam ranah ijtihad. Syarat lainnya adalah kafir zimi yang dipungut jizyah-nya memperoleh penghasilan dari jalan yang tidak diketahui keharamannya; sehingga ia bukanlah pegawai penguasa yang zalim, bukan penjual khamar, serta bukan anak kecil maupun wanita, karena tidak ada kewajiban jizyah atas keduanya.
فهذه أمور تراعى في كيفية ضرب الجزية ومقدارها وصفة من تصرف أليه ومقدار ما يصرف فيجب النظر في جميع ذلك
Inilah hal-hal yang harus diperhatikan mengenai tata cara pembebanan jizyah, besarannya, kriteria penerimanya, serta kadar yang disalurkan kepadanya. Maka wajib untuk mengkaji dan mempertimbangkan seluruh hal tersebut.
الثاني المواريث والأموال الضائعة فهي للمصالح والنظر أن الذي خلفه هل كان ماله كله حراماً أو أكثره أو أقله وقد سبق حكمه فإن لم يكن حراماً بقي النظر في صفة من يصرف إليه بأن يكون في الصرف إليه مصلحة ثم في المقدار المصروف
Keadaan kedua adalah harta warisan (yang tidak ada ahli warisnya) dan harta telantar; semuanya ini diperuntukkan bagi kemaslahatan umum. Pertimbangannya adalah apakah harta yang ditinggalkan oleh pemiliknya itu haram seluruhnya, sebagian besarnya, atau sebagian kecilnya—dan hukum mengenai hal ini telah dijelaskan sebelumnya. Jika harta itu tidak haram, maka tinggal mempertimbangkan kriteria orang yang dialokasikan penerimaannya, yaitu hendaknya ada kemaslahatan dalam penyalurannya kepadanya, kemudian mempertimbangkan pula kadar jumlah yang disalurkan.
الثالث الأوقاف وكذا يجري النظر فيها كما يجري في الميراث مع زيادة أمر وهو شرط المواقف حتى يكون المأخوذ موافقاً له في جميع شرائطه
Keadaan ketiga adalah harta wakaf. Pertimbangan padanya berlaku sebagaimana pertimbangan pada harta warisan, dengan tambahan satu hal, yaitu syarat yang ditetapkan oleh pewakaf (waqif), agar harta yang diambil itu sesuai dengan seluruh syarat yang ia tetapkan.
الرابع ما أحياه السلطان وهذا لا يعتبر فيه شرط إذ له أن يعطى من ملكه لمن شاء أي قدر شاء
Keadaan keempat adalah tanah yang dihidupkan (ihya') oleh penguasa. Hal ini tidak memerlukan syarat tertentu, karena penguasa berhak memberikan milik pribadinya kepada siapa pun yang ia kehendaki dalam kadar berapa pun yang ia kehendaki.
وإنما النظر في أن الغالب أنه أحياه بإكراه الأجراء أو بأداء أجرتهم من حرام
Pertimbangannya hanyalah pada kenyataan bahwa pada umumnya penguasa menghidupkan tanah tersebut dengan memaksa para pekerja atau membayar upah mereka dari harta yang haram.
فإن الإحياء يحصل بحفر القناة والأنهار وبناء الجدران وتسوية الأرض ولا يتولاه السلطان بنفسه
Sebab, pengolahan tanah mati itu dilakukan dengan cara menggali saluran air dan sungai, membangun dinding penahan, serta meratakan tanah; dan penguasa tidak mengerjakannya secara langsung oleh dirinya sendiri.
فإن كانوا مكرهين على الفعل لم يملكه السلطان وهو حرام وإن كانوا مستأجرين ثم قضيت أجورهم من الحرام فهذا يورث شبهة قد نبهنا عليها في تعلق الكرامة بالأعواض
Apabila para pekerja itu dipaksa untuk melakukannya, maka penguasa tidak memiliki hak atas tanah tersebut dan hukumnya adalah haram. Apabila mereka adalah pekerja sewa (muta'ajir), namun upah mereka dibayarkan dari harta haram, maka hal ini menimbulkan syubhat, sebagaimana telah kami peringatkan mengenai keterkaitan kehormatan atau pemberian dengan imbalan ('awadh).
الخامس ما اشتراه السلطان في الذمة من أرض أو ثياب خلعة أو فرس أو غيره فهو ملكه وله أن يتصرف فيه ولكنه سيقضي ثمنه من حرام وذلك يوجب التحريم تارة والشبهة أخرى وقد سبق تفصيله
Keadaan kelima adalah barang yang dibeli oleh penguasa dalam bentuk tanggungan (fi adz-dzimmah), baik berupa tanah, pakaian jubah kehormatan (khil'ah), kuda, maupun lainnya. Barang itu menjadi miliknya dan ia berhak mentasarrufkannya, namun ia akan membayar harganya dari harta yang haram. Hal demikian terkadang menyebabkan keharaman dan terkadang menyebabkan syubhat, dan perinciannya telah dijelaskan sebelumnya.
السادس أن يكتب على عامل خراج المسلمين أو من يجمع أمواله القسمة والمصادرة وهو الحرام السحت الذي لا شبهة فيه وهو أكثر الإدرارات في هذا الزمان إلا ما على أراضي العراق فإنها وقف عند الشافعي ﵀ على مصالح المسلمين
Keadaan keenam adalah apabila tunjangan itu ditetapkan atas pengumpul pajak kharaj kaum muslimin atau orang yang mengumpulkan harta hasil pembagian (qismah) dan penyitaan (mushadarah). Yang demikian ini adalah keharaman yang nyata (suht) tanpa ada keraguan (syubhat) di dalamnya, dan inilah jenis tunjangan terbanyak pada zaman ini; kecuali yang berasal dari tanah-tanah Irak, karena tanah Irak menurut Imam asy-Syafi'i rahimahullah adalah wakaf untuk kemaslahatan kaum muslimin.
السابع ما يكتب على بياع يعامل السلطان فإن كان لا يعامل غيره فماله له كمال خزانة السلطان
Keadaan ketujuh adalah tunjangan yang ditetapkan atas pedagang yang bertransaksi dengan penguasa. Apabila pedagang itu tidak bertransaksi dengan selain penguasa, maka hartanya berstatus sama seperti harta perbendaharaan (khazanah) penguasa.
وإن كان يعامل غير السلاطين أكثر فما يعطيه قرض على السلطان وسيأخذ بدله من الخزانة فالخلل يتطرق إلى العوض
Namun apabila ia lebih banyak bertransaksi dengan selain para penguasa, maka apa yang ia berikan merupakan pinjaman bagi penguasa, dan ia nantinya akan mengambil gantinya dari perbendaharaan negara. Maka cacat (kerusakan) tersebut menyusup ke dalam harta pengganti ('awadh) tersebut.
وقد سبق حكم الثمن الحرام
Dan hukum mengenai harga (pembayaran) yang haram telah dijelaskan sebelumnya.
الثامن ما يكتب على الخزانة أو على عامل يجتمع عنده من الحلال والحرام فإن لم يعرف للسلطان دخل إلا من الحرام فهو سحت محض وإن عرف يقيناً أن الخزانة تشتمل على مال حلال ومال حرام واحتمل ان يكون ما يسلم إليه بعينه من الحلال احتمالاً قريباً له وقع في النفس واحتمل أن يكون من الحرام وهو الأغلب لأن أغلب أموال السلاطين حرام في هذه الأعصار والحلال في أيديهم معدوم أو عزيز فقد اختلف الناس في هذا فقال قوم كل ما لا أتيقن أنه حرام فلي أن آخذه وقال آخرون لا يحل أن يؤخذ مالم يتحقق أنه حلال فلا تحل شبهة أصلاً
Yang kedelapan: Apa yang dicatat atas kas negara (perbendaharaan) atau atas seorang petugas yang terkumpul padanya harta halal dan haram. Jika penguasa tidak diketahui memiliki pemasukan kecuali dari yang haram, maka harta itu adalah haram murni (suht mahdh). Namun jika diketahui secara yakin bahwa kas perbendaharaan tersebut mencakup harta yang halal dan harta yang haram, serta ada kemungkinan bahwa apa yang diserahkan kepadanya secara wujud fisik adalah harta yang halal—dengan kemungkinan yang dekat dan masuk akal—serta ada pula kemungkinan berasal dari yang haram, dan ini adalah yang paling dominan (sebab mayoritas harta para penguasa pada zaman ini adalah haram, sedangkan yang halal di tangan mereka sangat langka atau sulit ditemukan), maka para ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Sebagian ulama berkata: "Setiap harta yang tidak aku yakini keharamannya, maka boleh bagiku untuk mengambilnya." Sementara ulama yang lain berkata: "Tidak halal mengambil harta selama belum dipastikan bahwa itu halal, sehingga harta syubhat tidak halal sama sekali."
وكلاهما إسراف والاعتدال ما قدمنا ذكره وهو الحكم بأن الأغلب إذا كان حراماً حرم وإن كان الأغلب حلالاً وفيه يقين حرام فهو موضع توقفنا فيه كما سبق
Kedua pendapat tersebut tergolong ekstrem. Pendapat yang moderat (al-i'tidal) adalah apa yang telah kami sebutkan sebelumnya, yaitu hukum bahwa jika mayoritas harta tersebut adalah haram, maka hukumnya haram. Namun jika mayoritasnya adalah halal dan di dalamnya terdapat yang yakin haram, maka di situlah letak keraguan/penangguhan (tawaqquf) kami padanya, sebagaimana telah berlalu.
لقد احتج من جوز اخذ أموال السلاطين إذا كان فيها حرام وحلال مهما لم يتحقق أن عين المأخوذ حرام بما روي عن جماعة من الصحابة أنهم أدركوا أيام الأئمة الظلمة وأخذوا الأموال منهم أبو هريرة وأبو سعيد الخدري وزيد بن ثابت وأبو أيوب الأنصاري وجرير بن عبد الله وجابر وأنس بن مالك والمسور بن مخرمة
Sungguh, orang yang membolehkan mengambil harta para penguasa—apabila di dalamnya bercampur antara yang haram dan yang halal, selama belum dipastikan bahwa wujud harta yang diambil itu haram—beralasan dengan riwayat dari sekelompok Sahabat bahwa mereka mendapati zaman para pemimpin yang zalim dan mereka tetap mengambil harta dari mereka, di antaranya Abu Hurairah, Abu Sa'id al-Khudri, Zaid bin Tsabit, Abu Ayyub al-Anshari, Jarir bin 'Abdillah, Jabir, Anas bin Malik, dan al-Miswar bin Makhramah.
فأخذ أبو سعيد وأبو هريرة من مروان ويزيد بن عبد الملك
Maka Abu Sa'id dan Abu Hurairah pernah menerima pemberian dari Marwan dan Yazid bin 'Abdul Malik.
وأخذ ابن عمر وابن عباس من الحجاج
Ibnu 'Umar dan Ibnu 'Abbas juga pernah menerima pemberian dari al-Hajjaj.
وأخذ كثير من التابعين منهم كالشعبي وإبراهيم والحسن وابن أبي ليلى
Demikian pula banyak dari kalangan Tabi'in menerima pemberian dari mereka, seperti asy-Sya'bi, Ibrahim, al-Hasan, dan Ibnu Abi Laila.
وأخذ الشافعي من هرون الرشيد ألف دينار في دفعة
Imam asy-Syafi'i pun pernah menerima seribu dinar sekaligus dari Harun ar-Rasyid.
وأخذ مالك من الخلفاء أموالاً جمة وقال علي ﵁ خذ ما يعطيك السلطان فإنما يعطيك من الحلال وما يأخذ من الحلال أكثر
Imam Malik juga menerima harta yang sangat banyak dari para khalifah. Dan 'Ali radhiyallahu 'anhu berkata: "Ambillah apa yang diberikan oleh penguasa kepadamu, karena sesungguhnya ia memberimu dari yang halal, dan apa yang ia ambil dari yang halal itu lebih banyak."
وإنما ترك من ترك العطاء منهم تورعاً مخافة على دينه أن يحمل على مالا يحل
Adapun orang yang meninggalkan (menolak) pemberian dari mereka, hal itu semata-mata karena sikap wara' (kehati-hatian) demi mengkhawatirkan agamanya agar tidak terdorong pada apa yang tidak halal.
ألا ترى قول أبي ذر للأحنف بن قيس خذ العطاء ما كان نحلة فإذا كان أثمان دينكم فدعوه وقال أبو هريرة ﵁ إذا أعطينا قبلنا وإذا منعنا لم نسأل
Tidakkah engkau memperhatikan perkataan Abu Dzarr kepada al-Ahnaf bin Qais: "Ambillah pemberian itu selama berupa hadiah murni, namun jika ia menjadi harga bagi agamamu, maka tinggalkanlah!" Dan Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata: "Jika kami diberi, kami menerima; dan jika kami tidak diberi, kami tidak meminta."
وعن سعيد بن المسيب أن أبا هريرة ﵁ كان إذا أعطاه معاوية سكت وإن منعه وقع فيه
Diriwayatkan dari Sa'id bin al-Musayyib bahwa Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, apabila Mu'awiyah memberinya pemberian, ia diam; namun apabila Mu'awiyah menahannya, ia mengkritiknya.
وعن الشعبي عن مسروق لا يزال العطاء بأهل العطاء حتى يدخلهم النار أي يحمله ذلك على الحرام لا انه في نفسه حرام وروى نافع عن ابن عمر ﵄ أن المختار كان يبعث إليه المال فيقبله ثم يقول لا أسأل أحداً ولا أرد ما رزقني الله
Diriwayatkan dari asy-Sya'bi, dari Masruq: "Pemberian itu akan senantiasa menyertai para penerimanya hingga memasukkan mereka ke dalam neraka"—maksudnya, hal itu mendorongnya melakukan hal yang haram, bukan berarti pemberian itu sendiri haram pada dzatnya. Nafi' meriwayatkan dari Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma bahwa al-Mukhtar pernah mengirimkan harta kepadanya lalu beliau menerimanya, kemudian beliau berkata: "Aku tidak meminta kepada seorang pun dan aku tidak menolak apa yang Allah rezekikan kepadaku."
وأهدى إليه ناقة فقبلها وكان يقال لها ناقة المختار ولكن هذا يعارضه ما روي أن ابن عمر ﵄ لم يرد هدية أحد إلا هدية المختار والإسناد في رده أثبت
Al-Mukhtar juga pernah menghadiahkan seekor unta betina kepadanya lalu beliau menerimanya, dan unta itu dikenal dengan sebutan "Unta al-Mukhtar". Akan tetapi, hal ini bertentangan dengan riwayat bahwa Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma tidak pernah menolak hadiah siapa pun kecuali hadiah al-Mukhtar, dan sanad mengenai penolakannya tersebut lebih kuat (shahih).
وعن نافع أنه قال بعث ابن معمر إلى ابن عمر بستين ألفاً فقسمها على الناس ثم جاءه سائل فاستقرض له من بعض من أعطاه وأعطى السائل
Diriwayatkan dari Nafi' bahwa ia berkata: Ibnu Ma'mar pernah mengirim enam puluh ribu (dirham) kepada Ibnu 'Umar, lalu beliau membagikannya kepada masyarakat. Kemudian datanglah seorang peminta-minta, maka beliau meminjamkan uang kepadanya dari sebagian orang yang telah beliau beri, lalu menyerahkannya kepada peminta-minta tersebut.
ولما قدم الحسن بن علي ﵄ على معاوية ﵁ فقال لأجيزك بجائزة لم أجزها أحداً قبلك من العرب ولا أجيزها أحداً بعدك من العرب قال فأعطاه أربعمائة ألف درهم فأخذها
Ketika Al-Hasan bin 'Ali radhiyallahu 'anhuma datang menemui Mu'awiyah radhiyallahu 'anhu, Mu'awiyah berkata: "Sungguh aku akan memberimu hadiah yang belum pernah kuberikan kepada seorang pun dari kalangan Arab sebelummu dan tidak akan kuberikan kepada seorang pun setelahmu." Beliau berkata: Lalu Mu'awiyah memberinya empat ratus ribu dirham, dan Al-Hasan pun menerimanya.
وعن حبيب
Diriwayatkan dari Habib
ابن أبي ثابت قال لقد رأيت جائزة المختار لابن عمر وابن عباس فقبلاها فقيل ما هي قال مال وكسوة
bin Abi Tsabit, ia berkata: "Sungguh aku telah melihat hadiah al-Mukhtar kepada Ibnu 'Umar dan Ibnu 'Abbas, lalu keduanya menerimanya." Ditanyakan kepadanya: "Apakah hadiah itu?" Ia menjawab: "Harta dan pakaian."
وعن الزبير بن عدي أنه قال قال سلمان إذا كان لك صديق عامل أو تاجر يقارف الربا فدعاك إلى طعام أو نحوه أو أعطاك شيئاً فاقبل فإن المهنأ لك وعليه الوزر
Diriwayatkan dari az-Zubair bin 'Adi bahwa ia berkata: Salman berkata: "Jika engkau memiliki sahabat seorang pejabat atau pedagang yang melakukan praktik riba, lalu ia mengundangmu ke jamuan makan atau sejenisnya, atau memberimu sesuatu, maka terimalah. Karena kenikmatan itu bagimu, sedangkan dosa dosanya ditanggung olehnya."
فإن ثبت هذا في المربي فالظالم في معناه
Maka jika hal ini berlaku pada pelaku riba (murbi), maka orang yang zalim pun sepadan maknanya dengannya.
وعن جعفر عن أبيه أن الحسن والحسين ﵉ كانا يقبلان جوائز معاوية
Diriwayatkan dari Ja'far, dari ayahnya, bahwa Al-Hasan dan Al-Husain 'alaihima as-salam pernah menerima hadiah-hadiah dari Mu'awiyah.
وقال حكيم بن جبير مررنا على سعيد بن جبير وقد جعل عاملاً على أسفل الفرات فأرسل إلى العشارين أطعمونا مما عندكم فأرسلوا بطعام فأكل وأكلنا معه وقال العلاء بن زهير الأزدي أتى إبراهيم أبي وهو عامل على حلوان فأجازه فقبل وقال إبراهيم لا بأس بجائزة العمال إن للعمال مؤنة ورزقاً
Hakim bin Jubair berkata, "Kami pernah melewati Sa'id bin Jubair ketika beliau diangkat sebagai petugas di wilayah bagian bawah Sungai Eufrat. Beliau lalu mengutus seseorang kepada para pemungut cukai (isyar), 'Beri kami makan dari apa yang ada pada kalian.' Mereka pun mengirimkan makanan, lalu beliau memakannya dan kami juga ikut makan bersamanya." Al-'Ala' bin Zuhair al-Azdi berkata, "Ibrahim mendatangi ayahku ketika ayahku menjadi petugas di Hulwan, lalu ayahku memberinya pemberian dan beliau membalasnya/menerimanya. Ibrahim berkata, 'Tidak mengapa dengan pemberian para petugas (pemerintah), karena sesungguhnya para petugas itu memiliki tunjangan dan rezeki.'"
ويدخل بيت ماله الخبيث والطيب فما أعطاك فهو من طيب ماله
"Dan ke dalam kas negara (baitul mal) mereka masuk harta yang buruk dan yang baik. Maka apa yang dia berikan kepadamu, itu dianggap berasal dari bagian hartanya yang baik."
فقد أخذ هؤلاء كلهم جوائز السلاطين الظلمة وكلهم طعنوا على من أطاعهم في معصية الله تعالى
Maka mereka semua ini telah mengambil pemberian para penguasa yang zhalim, padahal mereka semua mengecam orang yang mentaati para penguasa tersebut dalam kemaksiatan kepada Allah Ta'ala.
وزعمت هذه الفرقة أن ما ينقل من امتناع جماعة من السلف لا يدل على التحريم بل على الورع كالخلفاء الراشدين وأبي ذر وغيرهم من الزهاد فإنهم امتنعوا من الحلال المطلق زهداً ومن الحلال الذي يخاف إفضاؤه إلى محذور ورعاً وتقوى
Golongan ini mendakwahkan bahwa apa yang diriwayatkan tentang penolakan sekelompok ulama Salaf tidaklah menunjukkan keharaman, melainkan menunjukkan sikap wara', seperti yang dilakukan oleh Khulafaur Rasyidin, Abu Dharr, dan para zahid lainnya. Sebab, mereka menahan diri dari yang halal murni karena zuhud, dan menahan diri dari yang halal yang dikhawatirkan mengarah pada hal yang terlarang karena sikap wara' dan takwa.
فإقدام هؤلاء يدل على الجواز وامتناع أولئك لا يدل على التحريم
Maka tindakan mereka yang mengambil (harta itu) menunjukkan kebolehannya, sedangkan penolakan mereka yang tidak mengambilnya tidaklah menunjukkan keharamannya.
وما نقل عن سعيد بن المسيب أنه ترك عطاءه في بيت المال حتى اجتمع بضعة وثلاثين ألفاً وما نقل عن الحسن من قوله لا أتوضأ من ماء صيرفي ولو ضاق وقت الصلاة لأني لا أدري أصل ماله كل ذلك ورع لا ينكر واتباعهم عليه أحسن من اتباعهم على الاتساع ولكن لا يحرم اتباعهم على الاتساع أيضاً
Adapun apa yang diriwayatkan dari Sa'id bin al-Musayyib bahwa beliau meninggalkan jatah pemberiannya di baitul mal hingga terkumpul tiga puluh sekian ribu (dirham), dan apa yang diriwayatkan dari al-Hasan mengenai ucapannya, "Aku tidak akan berwudhu dengan air milik seorang juru tukar uang (sairafi) meskipun waktu shalat telah mendesak, karena aku tidak tahu asal-usul hartanya," semua itu adalah sikap wara' yang tidak diragukan. Mengikuti mereka dalam hal ini adalah lebih baik daripada mengikuti mereka dalam hal kelonggaran. Namun demikian, tidaklah haram pula mengikuti mereka yang mempermudah.
فهذه هي شبهة من يجوز أخذ مال السلطان الظالم
Maka inilah syubhat (argumentasi yang samar) dari pihak yang membolehkan mengambil harta penguasa yang zhalim.
والجواب أن ما نقل من أخذ هؤلاء محصور قليل بالإضافة إلى ما نقل من ردهم وإنكارهم وإن كان يتطرق إلى امتناعهم احتمال الورع فيتطرق إلى أخذ من أخذ ثلاثة احتمالات متفاوتة في الدرجة بتفاوتهم في الورع فإن للورع في حق السلاطين أربع درجات
Jawabannya adalah bahwa riwayat mengenai pengambilan mereka itu sifatnya terbatas dan sedikit jika dibandingkan dengan riwayat mengenai penolakan dan penentangan mereka. Jika penolakan mereka mengandung kemungkinan sikap wara', maka tindakan orang yang mengambilnya pun mengandung tiga kemungkinan yang bertingkat-tingkat derajatnya sesuai dengan perbedaan tingkat wara' mereka. Sebab, sikap wara' terkait para penguasa memiliki empat tingkatan.
الدرجة الأولى أن لا يأخذ من أموالهم شيئاً أصلاً كما فعله الورعون منهم وكما كان يفعله الخلفاء الراشدون حتى أن أبا بكر ﵁ حسب جميع ما كان أخذه من بيت المال فبلغ ستة آلاف درهم فغرمها لبيت المال وحتى أن عمر ﵁ كان يقسم مال بيت المال يوماً فدخلت ابنة له وأخذت درهماً من المال فنهض عمر في طلبها حتى سقطت الملحفة من أحد منكبيه ودخلت الصبية إلى بيت أهلها تبكي وجعلت الدرهم في فيها فأدخل عمر إصبعه فأخرجه من فيها وطرحه على الخراج وقال أيها الناس ليس لعمر ولا لآل عمر إلا ما للمسلمين قريبهم وبعيدهم
Tingkatan pertama: Tidak mengambil sesuatu pun dari harta mereka sama sekali, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang wara' di antara mereka dan sebagaimana yang dilakukan oleh Khulafaur Rasyidin. Sampai-sampai Abu Bakar ﵁ menghitung semua yang pernah diambilnya dari baitul mal, yang mencapai enam ribu dirham, lalu beliau menggantinya kembali ke baitul mal. Bahkan Umar ﵁ pada suatu hari pernah membagikan harta baitul mal, lalu anak perempuannya yang masih kecil masuk dan mengambil satu dirham dari harta itu. Umar pun bergegas mengejarnya hingga kain selendangnya jatuh dari salah satu bahunya. Anak kecil itu masuk ke rumah keluarganya sambil menangis dan memasukkan dirham itu ke dalam mulutnya. Maka Umar memasukkan jarinya ke dalam mulut anak itu dan mengeluarkan dirham tersebut, lalu melemparkannya ke tumpukan harta kharaj seraya berkata, "Wahai manusia, tidak ada hak bagi Umar maupun keluarga Umar melainkan sama seperti hak kaum muslimin, baik yang dekat maupun yang jauh."
وكسح أبو موسى الأشعري بيت المال فوجد درهماً فمر بني لعمر ﵁ فأعطاه إياه فرأى عمر ذلك في يد الغلام فسأله عنه فقال أعطانيه أبو موسى فقال
Abu Musa al-Asy'ari pernah membersihkan kas baitul mal lalu menemukan satu dirham. Kemudian lewatlah seorang anak laki-laki kecil milik Umar ﵁, lalu Abu Musa memberikan dirham itu kepadanya. Umar melihat dirham itu di tangan anak tersebut dan menanyakannya, lalu anak itu menjawab, "Abu Musa yang memberikannya kepadaku." Maka Umar berkata,
يا أبا موسى ما كان في أهل المدينة بيت أهون عليك من آل عمر أردت أن لا يبقى من أمة محمد ﷺ أحد إلا طلبنا بمظلمة ورد الدرهم إلى بيت المال
"Wahai Abu Musa, apakah tidak ada di antara penduduk Madinah keluarga yang lebih engkau anggap hina daripada keluarga Umar? Apakah engkau ingin agar tidak ada seorang pun dari umat Muhammad ﷺ melainkan akan menuntut kita atas suatu kezaliman?" Lalu beliau mengembalikan dirham itu ke baitul mal.
هذا مع أن المال كان حلالاً ولكن خاف أن لا يستحق هو ذلك القدر فكان يستبريء لدينه ويقتصر على الأقل امتثالاً لقوله ﷺ دع ما يريبك إلى ما لا يريبك
Hal ini terjadi padahal harta tersebut sebenarnya halal, namun beliau khawatir tidak berhak atas kadar tersebut. Maka beliau berusaha membebaskan agamanya (dari syubhat) dan mencukupkan diri pada jumlah yang paling sedikit demi mengamalkan sabda Nabi ﷺ, "Tinggalkanlah apa yang meragukanmu menuju apa yang tidak meragukanmu."
ولقوله ومن تركها فقد استبرأ لعرضه ودينه
Dan berdasarkan sabda beliau ﷺ, "Dan barangsiapa yang meninggalkan perkara-perkara syubhat, maka sungguh ia telah menyelamatkan kehormatan dan agamanya."
ولما سمعه من رسول الله ﷺ من التشديدات في الأموال السلطانية حتى قال ﷺ حين
Serta karena peringatan-peringatan keras yang beliau dengar dari Rasulullah ﷺ mengenai harta kekuasaan/pemerintahan, hingga beliau ﷺ bersabda ketika…
بعث عبادة بن الصامت إلى الصدقة اتق الله يا أبا الوليد لا تجيء يوم القيامة ببعير تحمله على رقبتك له رغاء أو بقرة لها خوار أو شاة لها تؤاج فقال يا رسول الله أهكذا يكون قال نعم والذي نفسي بيده إلا من رحم الله
…mengutus 'Ubadah bin ash-Shamit untuk mengurus zakat, "Bertakwalah kepada Allah, wahai Abu al-Walid! Jangan sampai engkau datang pada hari kiamat dengan memikul di atas tengkukmu seekor unta yang bersuara, atau seekor sapi yang melenguh, atau seekor kambing yang mengembik." 'Ubadah bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah demikian yang akan terjadi?" Beliau menjawab, "Ya, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kecuali orang yang dikasihi Allah."
قال فوالذي بعثك بالحق لا أعمل على شيء أبداً
'Ubadah berkata, "Maka demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak akan pernah bekerja mengurus sesuatu (tugas pemerintah) selamanya."
وقال ﷺ إني لا أخاف عليكم أن تشركوا بعدي إنما أخاف عليكم أن تنافسوا
Dan Nabi ﷺ bersabda, "Sesungguhnya aku tidak mengkhawatirkan kalian akan berbuat syirik sepeninggalku, melainkan aku mengkhawatirkan kalian akan berlomba-lomba (menginginkan harta dunia)."
وإنما خاف التنافس في المآل
Sesungguhnya yang beliau khawatirkan adalah perlombaan perebutan harta kekayaan (di kemudian hari).
ولذلك قال عمر ﵁ في حديث طويل يذكر فيه مال بيت المال إني لم أجد نفسي فيه إلا كالوالى مال اليتيم إن استغنيت استعففت وإن افتقرت أكلت بالمعروف
Oleh karena itulah Umar ﵁ berkata dalam sebuah hadits panjang yang menyebutkan tentang harta baitul mal, "Sesungguhnya aku tidak mendapati diriku dalam mengurusnya melainkan seperti pengampu harta anak yatim; jika aku berkecukupan maka aku menahan diri (tidak mengambilnya), dan jika aku membutuhkan maka aku memakannya dengan cara yang patut (ma'ruf)."
وروي أن ابناً لطاوس افتعل كتاباً عن لسانه إلى عمر بن عبد العزيز فأعطاه ثلثمائة دينار فباع طاوس ضيعة له وبعث من ثمنها إلى عمر بثلثمائة دينار هذا مع أن السلطان ليس مثل عمر بن عبد العزيز
Diriwayatkan pula bahwa putra Thawus membuat surat palsu atas nama ayahnya yang ditujukan kepada Umar bin Abdul Aziz, lalu Umar memberinya tiga ratus dinar. Maka Thawus menjual sebuah tanah/ladang miliknya dan mengirimkan uang hasil penjualannya sebanyak tiga ratus dinar kepada Umar (sebagai ganti). Padahal penguasa saat itu adalah sosok adil selevel Umar bin Abdul Aziz.
فهذه الدرجة العليا في الورع
Maka ini adalah tingkatan tertinggi dalam sikap wara'.
الدرجة الثانية هو أن يأخذ مال السلطان ولكن إنما يأخذ إذا علم أن ما يأخذه من جهة حلال فاشتمال يد السلطان على حرام آخر لا يضره وعلى هذا ينزل جميع ما نقل من الآثار أو أكثرها أو ما اختص منها بأكابر الصحابة والورعين منهم مثل ابن عمر فإنه كان من المبالغين في الورع فكيف يتوسع في مال السلطان وقد كان من أشدهم إنكاراً عليهم وأشدهم ذماً لأموالهم وذلك أنهم اجتمعوا عند ابن عامر وهو في مرضه وأشفق على نفسه من ولايته وكونه مأخوذاً عند الله تعالى بها فقالوا له إنا لنرجو لك الخير حفرت الآبار وسقيت الحاج وصنعت وصنعت وابن عمر ساكت فقال ماذا تقول يا ابن عمر فقال أقول ذلك إذا طاب المكسب وزكت النفقة وسترد فترى
Tingkatan kedua adalah mengambil harta penguasa (sultan), namun ia hanya mengambilnya jika ia mengetahui secara pasti bahwa apa yang diambilnya berasal dari sumber yang halal. Maka terhimpunnya harta haram lain di tangan penguasa tidaklah memudaratkannya. Atas dasar inilah ditafsirkannya seluruh atau sebagian besar riwayat yang dinukil dari para sahabat utama dan orang-orang yang wara' di antara mereka, seperti Ibnu 'Umar. Sesungguhnya beliau tergolong orang yang sangat bersungguh-sungguh dalam wara', maka bagaimanakah beliau akan bersikap melonggarkan diri dalam mengambil harta penguasa, padahal beliau adalah orang yang paling keras penolakannya terhadap mereka dan paling tajam celaannya terhadap harta mereka? Hal itu tampak ketika mereka berkumpul di tempat Ibnu 'Amir saat ia sedang sakit dan cemas atas dirinya akibat kekuasaannya serta kekhawatirannya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Ta'ala. Mereka berkata kepadanya, 'Kami sungguh berharap kebaikan bagimu; engkau telah menggali sumur-sumur, memberi minum para jamaah haji, serta telah berbuat ini dan itu.' Sementara Ibnu 'Umar hanya berdiam diri. Maka Ibnu 'Amir bertanya, 'Apa pendapatmu, wahai Ibnu 'Umar?' Beliau menjawab, 'Aku katakan bahwa hal itu berguna apabila penghasilannya baik (halal) dan nafkahnya bersih. Dan kelak engkau akan mendatangi (akhirat) lalu melihatnya.'
وفي حديث آخر أنه قال إن الخبيث لا يكفر الخبيث وإنك قد وليت البصرة ولا أحسبك إلا قد أصبت منها شراً
Dalam hadis lain disebutkan bahwa beliau bersabda, 'Sesungguhnya hal yang buruk tidak dapat menghapuskan hal yang buruk. Dan sesungguhnya engkau telah memimpin Bashrah, dan aku tidak menduga melainkan engkau telah tertimpa keburukan darinya.'
فقال له ابن عامر ألا تدعو لي فقال ابن عمر سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يقول لا يقبل الله صلاة بغير طهورا ولا صدقة من غلول
Maka Ibnu 'Amir berkata kepadanya, 'Tidakkah engkau mendoakanku?' Ibnu 'Umar menjawab, 'Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Allah tidak menerima shalat tanpa bersuci (thaharah), dan tidak menerima sedekah dari harta ghalul (pengkhianatan/penggelapan)."'
وقد وليت البصرة فهذا قوله فيما صرفه إلى الخيرات
'Dan engkau telah menjabat di Bashrah.' Demikianlah perkataan beliau mengenai apa yang telah diinfakkan (oleh Ibnu 'Amir) dalam berbagai kebaikan.
وعن ابن عمر ﵄ أنه قال في أيام الحجاج ما شبعت من الطعام منذ انتهبت الدار إلى يومي هذا وروي عن علي ﵁ أنه كان له سويق في إناء مختوم يشرب منه فقيل أتفعل هذا بالعراق مع كثرة طعامه فقال أما إني لا أختمه بخلابه ولكن أكره أن يجعل فيه ما ليس منه وأكره أن يدخل بطني غير طيب فهذا هو المألوف منهم وكان ابن عمر لا يعجبه شيء إلا خرج عنه فطلب منه نافع بثلاثين ألفاً فقال إني أخاف أن تقتنى دراهم ابن عامر وكان هو الطالب اذهب فأنت حر
Diriwayatkan dari Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma bahwa beliau berkata pada hari-hari pemerintahan al-Hajjaj, 'Aku tidak pernah kenyang makan sejak rumah dipugar/dijarah hingga hariku ini.' Dan diriwayatkan dari 'Ali radhiyallahu 'anhu bahwa beliau memiliki tepung gandum (sawiq) dalam bejana yang terpatri/terkunci yang beliau minum darinya. Maka ditanyakan kepada beliau, 'Apakah engkau melakukan ini di Irak padahal makanannya sangat melimpah?' Beliau menjawab, 'Ketahuilah, aku tidak menguncinya karena sifat kikir, tetapi aku benci jika dimasukkan ke dalamnya sesuatu yang bukan bagian darinya, dan aku benci jika ada sesuatu yang tidak thayyib (baik/halal) masuk ke dalam perutku.' Maka inilah sikap yang menjadi kebiasaan mereka. Ibnu 'Umar pun tidak pernah menyukai sesuatu melainkan beliau akan melepaskannya (mensedekahkannya). Nafi' pernah diminta dibeli dari beliau seharga tiga puluh ribu, maka beliau berkata, 'Sesungguhnya aku khawatir uang dirham Ibnu 'Amir akan tersimpan padaku'—sedangkan Nafi' adalah orang yang meminta dibeli (untuk dimerdekakan)—'Pergilah, maka engkau merdeka!'
وقال أبو سعيد الخدري ما منا أحد إلا مالت به الدنيا إلا ابن عمر فبهذا يتضح أنه لا يظن به وبمن كان في منصبه أنه أخذ مالاً يدري أنه حلال
Abu Sa'id al-Khudri berkata, 'Tidak ada seorang pun di antara kami melainkan dunia telah mencondongkannya, kecuali Ibnu 'Umar.' Maka dengan ini jelaslah bahwa tidak boleh disangkakan terhadap beliau dan orang yang berada pada kedudukan beliau bahwa beliau mengambil harta yang tidak diketahui kehalalannya.
الدرجة الثالثة أن يأخذ ما أخذه من السلطان ليتصدق به على الفقراء أو يفرقه على المستحقين فإن ما لا يتعين مالكه هذا حكم الشرع فيه
Tingkatan ketiga adalah mengambil apa yang ia ambil dari penguasa untuk disedekahkan kepada kaum fakir atau dibagikan kepada orang-orang yang berhak, karena harta yang tidak dapat ditentukan pemiliknya secara spesifik, demikianlah hukum syariat atasnya.
فإذا كان السلطان إن لم يأخذ منه لم يفرقه واستعان به على ظلم فقد نقول أخذه منه وتفرقته أولى من تركه في يده وهذا قد رآه بعض العلماء وسيأتي وجهه
Maka apabila penguasa tersebut jika hartanya tidak diambil darinya niscaya ia tidak akan membagikannya dan justru menggunakannya untuk menopang kezaliman, maka sungguh kami katakan bahwa mengambil darinya lalu membagikannya adalah lebih utama daripada membiarkannya di tangannya. Pandangan ini telah dianut oleh sebagian ulama dan kelak akan dijelaskan alasannya.
وعلى هذا ينزل ما أخذه أكثرهم ولذلك قال ابن المبارك إن الذين يأخذون الجوائز اليوم ويحتجون بابن عمر وعائشة ما يقتدون بهما لأن ابن عمر فرق ما أخذ حتى استقرض في مجلسه بعد تفرقته ستين ألفاً وعائشة فعلت مثل ذلك وجابر بن زيد جاءه مال فتصدق به وقال رأيت أن آخذه منهم وأتصدق أحب إلي من أن أدعها في أيديهم وهكذا فعل الشافعي ﵀ بما قبله
Atas dasar inilah ditafsirkannya apa yang diambil oleh sebagian besar dari mereka. Oleh karena itu, Ibnu al-Mubarakar berkata, 'Sesungguhnya orang-orang yang mengambil pemberian (hadiah penguasa) pada hari ini dan berhujah dengan perbuatan Ibnu 'Umar dan 'Aisyah, mereka tidaklah benar-benar meneladani keduanya. Sebab, Ibnu 'Umar membagikan apa yang beliau ambil hingga beliau berutang di majelisnya sebanyak enam puluh ribu setelah membagikannya; 'Aisyah juga melakukan hal yang serupa; dan Jabir bin Zaid pernah kedatangan harta lalu beliau bersedekah dengannya seraya berkata, "Aku memandang bahwa mengambilnya dari mereka lalu bersedekah dengannya lebih aku sukai daripada membiarkannya di tangan mereka." Demikian pula yang dilakukan oleh Imam Asy-Syafi'i rahimahullah terhadap apa yang diterimanya…'
من هرون الرشيد فإنه فرقه على قرب حتى لم يمسك لنفسه حبة واحدة
…dari Harun ar-Rasyid, sebab beliau langsung membagikannya kepada kerabat/orang-orang terdekat hingga tidak menyisakan untuk dirinya sendiri walau sebiji zarrah pun.
الدرجة الرابعة أن لا يتحقق انه حلال ولا يفرق بل يستبقي ولكن يأخذ من سلطان أكثر ماله حلال وهكذا كان الخلفاء في زمان الصحابة ﵃ والتابعين بعد الخلفاء الراشدين ولم يكن أكثر مالهم حراماً
Tingkatan keempat adalah tidak meyakini secara pasti bahwa harta itu halal dan tidak pula membagikannya melainkan menyimpannya, tetapi ia mengambilnya dari penguasa yang sebagian besar hartanya adalah halal. Demikianlah keadaan para khalifah pada zaman para sahabat radhiyallahu 'anhum dan para tabi'in setelah Khulafaur Rasyidin, di mana sebagian besar harta mereka tidaklah haram.
ويدل عليه تعليل علي ﵁ حيث قال فإن ما يأخذه من الحلال أكثر
Hal ini ditunjukkan oleh alasan yang disampaikan oleh 'Ali radhiyallahu 'anhu ketika beliau berkata, 'Sebab apa yang ia ambil dari yang halal itu lebih banyak.'
فهذا مما قد جوزه جماعة من العلماء تعويلاً على الأكثر
Maka hal ini termasuk perkara yang telah diperbolehkan oleh sekelompok ulama berdasarkan hukum porsi terbesar (mayoritas).
ونحن إنما توقفنا فيه في حق آحاد الناس ومال السلطان أشبه بالخروج عن الحصر فلا يبعد أن يؤدي اجتهاد مجتهد إلى جواز أخذ ما لم يعلم أنه حرام اعتماداً على الأغلب وإنما منعناه إذا كان الأكثر حراماً فإذا فهمت هذه الدرجات تحققت أن ادرارات الظلمة في زماننا لا تجري مجرى ذلك وأنها تفارقه من وجهين قاطعين
Adapun kami, kami bersikap tawaqquf (menahan diri) dalam hal tersebut berkenaan dengan hak individu manusia secara personal. Sedangkan harta penguasa lebih menyerupai sesuatu yang tidak terbatas perinciannya, sehingga tidak mustahil ijtihad seorang mujtahid mengarah pada kebolehan mengambil apa yang tidak diketahui secara pasti keharamannya berdasarkan porsi kebiasaan yang dominan (al-aghlab). Kami hanya melarangnya apabila porsi terbesarnya adalah haram. Jika engkau telah memahami tingkatan-tingkatan ini, engkau akan meyakini bahwa tunjangan/pemberian para penguasa zalim pada zaman kita sekarang tidaklah berlaku seperti itu, dan bahwasanya pemberian tersebut berbeda darinya dari dua sisi yang sangat tegas.
أحدهما أن أموال السلاطين في عصرنا حرام كلها أو أكثرها وكيف لا والحلال هو الصدقات والفيء والغنيمة لا وجود لها وليس يدخل منها شيء في يد السلطان ولم يبق إلا الجزية وأنها تؤخذ بأنواع من الظلم لا يحل أخذها به فإنهم يجاوزون حدود الشرع في المأخوذ والمأخوذ منه والوفاء له بالشرط ثم إذا نسبت ذلك إلى ما ينصب إليهم من الخراج المضروب على المسلمين ومن المصادرات والرشا وصنوف الظلم لم يبلغ عشر معشار عشيره
Pertama, bahwasanya harta para penguasa pada zaman kita seluruhnya atau sebagian besarnya adalah haram. Bagaimana tidak, padahal yang halal itu adalah zakat/sedekah, fa'i, dan ghanimah, sedangkan hal-hal tersebut tidak ada keberadaannya atau tidak ada sedikit pun yang masuk ke tangan penguasa. Yang tersisa hanyalah jizyah, dan itu pun diambil dengan berbagai bentuk kezaliman yang tidak dihalalkan cara pengambilannya, sebab mereka melampaui batas-batas syariat dalam hal apa yang diambil, dari siapa diambil, dan penepatan janji darinya sesuai syarat syar'i. Kemudian jika engkau membandingkan hal itu dengan apa yang mengalir kepada mereka berupa kharaj yang dibebankan atas kaum muslimin, penyitaan (pampasan), suap-menyuap, dan pelbagai jenis kezaliman, maka jizyah tersebut tidak ada sesepuluh dari sepersepuluh bagiannya.
والوجه الثاني أن الظلمة في العصر الأول لقرب عهدهم بزمان الخلفاء الراشدين كانوا مستشعرين من ظلمهم ومتشوفين إلى استمالة قلوب الصحابة والتابعين وحريصين على قبولهم عطاياهم وجوائزهم وكانوا يبعثون إليهم من غير سؤال وإذلال بل كانوا يتقلدون المنة بقبولهم ويفرحون به وكانوا يأخذون منهم ويفرقون ولا يطيعون السلاطين في أغراضهم ولا يغشون مجالسهم ولا يكثرون جمعهم ولا يحبون بقاءهم بل يدعون عليهم ويطلقون اللسان فيهم وينكرون المنكرات منهم عليهم فما كان يحذر أن يصيبوا من دينهم بقدر ما أصابوا من دنياهم ولم يكن يأخذهم بأس فأما الآن فلا تسمح نفوس السلاطين بعطية إلا لمن طمعوا في استخدامهم والتكثر بهم والاستعانة بهم على أغراضهم والتجمل بغشيان مجالسهم وتكليفهم المواظبة على الدعاء والثناء والتزكية والإطراء في حضورهم ومغيبهم
Sisi kedua, bahwasanya para penguasa zalim pada masa awal—karena masih dekatnya zaman mereka dengan era Khulafaur Rasyidin—masih menyadari kezaliman mereka dan sangat berharap dapat memikat hati para sahabat dan tabi'in serta sangat berhasrat agar pemberian dan hadiah mereka diterima. Mereka mengirimkannya kepada para sahabat dan ulama tanpa diminta dan tanpa merendahkan diri; bahkan para penguasa itu merasa berutang budi atas diterimanya pemberian tersebut dan merasa gembira dengannya. Sementara para sahabat dan tabi'in mengambil dari mereka lalu membagikannya, tanpa mematuhi keinginan-keinginan penguasa, tidak mendatangi majelis-majelis mereka, tidak memperbanyak kerumunan di sekeliling mereka, dan tidak menyukai kelangsungan kekuasaan mereka. Bahkan mereka mendoakan keburukan atas para penguasa itu, berbicara tegas mengkritik mereka, dan mengingkari kemungkaran-kemungkaran yang mereka lakukan. Maka tidak dikhawatirkan agama mereka akan rusak sebanding dengan apa yang didapat oleh para penguasa dari dunia mereka, serta tidak ada bahaya yang menimpa mereka. Adapun sekarang, jiwa para penguasa tidak pernah rela memberi hadiah kecuali kepada orang-orang yang mereka harapkan dapat dipekerjakan, diperbanyak pengikutnya melalui mereka, dimanfaatkan untuk menopang tujuan-tujuan mereka, dihiasi majelisnya dengan kehadiran mereka, serta dibebani untuk terus-menerus mendoakan, memuji, menyucikan (merekomendasikan), dan menyanjung mereka baik di hadapan maupun di belakang mereka.
فلو لم يذل الآخذ نفسه بالسؤال أولاً وبالتردد في الخدمة ثانياً وبالثناء والدعاء ثالثاً وبالمساعدة له على أغراضه عند الاستعانة رابعاً وبتكثير جمعه في مجلسه وموكبه خامساً وبإظهار الحب والموالاة والمناصرة له على أعدائه سادساً وبالستر على ظلمه ومقابحه ومساوي أعماله سابعاً لم ينعم عليه بدرهم واحد ولو كان في فضل الشافعي ﵀ مثلاً فإذا لا يجوز أن يؤخذ منهم في هذا الزمان ما يعلم أنه حلال لإفضائه إلى هذه المعاني فكيف ما يعلم أنه حرام أو يشك فيه فمن استجرأ على أموالهم وشبه نفسه بالصحابة والتابعين فقد قاس الملائكة بالحدادين
Seandainya si penerima tidak merendahkan dirinya dengan meminta terlebih dahulu, berbolak-balik melayani kedua, memberikan pujian dan doa ketiga, membantu mencapai tujuan-tujuan penguasa saat dimintai bantuan keempat, meramaikan majelis dan rombongannya kelima, memperlihatkan kecintaan, kesetiaan, dan pembelaan kepadanya terhadap musuh-musuhnya keenam, serta menutupi kezaliman, keburukan, dan kejahatan perbuatannya ketujuh, niscaya penguasa tidak akan memberi satu dirham pun kepadanya, meskipun orang itu memiliki keutamaan setingkat Imam Asy-Syafi'i rahimahullah sekalipun. Oleh karena itu, tidak boleh pada zaman ini mengambil harta dari mereka meskipun diketahui halal, karena hal itu mengarah pada hal-hal tersebut. Maka bagaimanakah dengan harta yang diketahui haram atau diragukan? Barang siapa yang berani mengambil harta mereka dan menganggap dirinya setara dengan para sahabat dan tabi'in, sungguh ia telah mengumpamakan malaikat dengan para pandai besi.
ففي أخذ الأموال منهم حاجة إلى مخالطتهم ومراعاتهم وخدمة عمالهم واحتمال الذل منهم والثناء عليهم والتردد إلى أبوابهم وكل ذلك معصية على ما سنبين في الباب الذي يلي هذا فإذا قد تبين مما تقدم مداخل أموالهم وما يحل منها وما لا يحل
Maka dalam mengambil harta dari mereka terdapat kebutuhan untuk bergaul dengan mereka, menjaga perasaan mereka, melayani para pegawainya, menanggung kehinaan dari mereka, memuji mereka, dan bolak-balik mendatangi pintu-pintu rumah mereka. Semua hal itu merupakan maksiat sebagaimana akan kami jelaskan pada bab berikutnya. Maka dengan demikian telah jelas dari penjelasan terdahulu tentang jalan-jalan masuk harta mereka, apa yang halal darinya dan apa yang tidak halal.
فلو تصور أن يأخذ الإنسان منها ما يحل بقدر استحقاقه وهو جالس في بيته يساق إليه ذلك لا يحتاج فيه إلى تفقد عامل وخدمته ولا إلى الثناء عليهم وتزكيتهم ولا إلى مساعدتهم فلا يحرم الأخذ ولكن يكره لمعان وسننبه عليها في الباب الذي يلي هذا النظر الثاني من هذا الباب في قدر المأخوذ وصفة الآخذ
Maka seandainya diandaikan seseorang mengambil harta yang halal dari mereka sesuai kadar haknya dalam keadaan ia duduk di rumahnya lalu harta itu diantarkan kepadanya tanpa perlu melayani pegawai penguasa, tanpa perlu memuji dan menyucikan mereka, serta tanpa perlu membantu mereka, maka tidaklah diharamkan mengambilnya. Namun hal itu dimakruhkan karena beberapa alasan yang akan kami peringatkan pada bab berikutnya. Pembahasan kedua dari bab ini adalah mengenai kadar harta yang diambil dan kriteria penerima.
ولنفرض المال من أموال المصالح كأربعة أخماس الفيء والمواريث فإن ما عداه مما قد تعين مستحقه إن كان من وقف أو صدقة أو خمس فيء أو خمس غنيمة وما كان من ملك السلطان مما أحياه أو اشتراه فله أن يعطي
Mari kita andaikan harta tersebut berasal dari harta kemaslahatan umum (amwal al-masalih), seperti empat perlima dari fa'i dan harta warisan (yang tidak ada ahli warisnya). Sebab, selain harta tersebut, yang telah ditentukan berhak menerimanya—baik berasal dari wakaf, sedekah, seperlima fa'i, seperlima ghanimah, maupun yang merupakan milik pribadi penguasa dari lahan yang ia hidupkan (ihya' al-mawat) atau ia beli—maka penguasa berhak memberikan…
ما شاء لمن شاء
…apa yang ia kehendaki kepada siapa saja yang ia kehendaki.
وإنما النظر في الأموال الضائعة ومال المصالح فلا يجوز صرفه إلا إلى من فيه مصلحة عامة أو هو محتاج إليه عاجز عن الكسب فأما الغني الذي لا مصلحة فيه فلا يجوز صرف مال من بيت المال إليه هذا هو الصحيح وإن كان العلماء قد اختلفوا فيه
Pembahasan sebetulnya tertuju pada harta yang terlantar (hilang pemiliknya) dan harta kemaslahatan umum. Maka harta tersebut tidak boleh disalurkan melainkan kepada orang yang memberikan kemaslahatan umum atau orang yang membutuhkannya serta tidak mampu bekerja (mencari nafkah). Adapun orang kaya yang tidak memberikan kemaslahatan publik, maka tidak boleh disalurkan harta dari kas negara (baitulmal) kepadanya. Inilah pendapat yang sahih, meskipun para ulama berbeda pendapat dalam hal ini.
وفي كلام عمر ﵁ ما يدل على أن لكل مسلم حقاً في بيت المال لكونه مسلماً مكثراً جمع الإسلام ولكنه مع هذا ما كان يقسم المال على المسلمين كافة بل على مخصوصين بصفات
Dalam perkataan 'Umar radhiyallahu 'anhu terdapat petunjuk bahwa setiap muslim memiliki hak di baitulmal karena kedudukannya sebagai seorang muslim yang memperbanyak jumlah umat Islam. Akan tetapi, meskipun demikian, beliau tidak membagikan harta tersebut kepada seluruh umat Islam secara merata, melainkan kepada orang-orang tertentu berdasarkan sifat-sifat khusus.
فإذا ثبت هذا فكل من يتولى أمراً يقوم به تتعدى مصلحته إلى المسلمين ولو اشتغل بالكسب لتعطل عليه ما هو فيه فله في بيت المال حق الكفاية
Jika hal ini telah jelas, maka setiap orang yang mengurus suatu urusan publik yang manfaatnya meluas kepada kaum muslimin, di mana jika ia disibukkan dengan bekerja mencari nafkah niscaya tugasnya akan terbengkalai, maka ia berhak mendapatkan jaminan kecukupan (hakkul kifayah) dari baitulmal.
ويدخل فيه العلماء كلهم أعني العلوم التي تتعلق بمصالح الدين من علم الفقه والحديث والتفسير والقراءة حتى يدخل فيه المعلمون والمؤذنون
Termasuk dalam kelompok ini adalah para ulama secara keseluruhan—maksud saya, mereka yang menggeluti ilmu-ilmu yang berkaitan dengan kemaslahatan agama, seperti ilmu fikih, hadis, tafsir, dan qira'at—bahkan termasuk di dalamnya para pengajar (guru) dan para muazin.
وطلبة هذه العلوم أيضاً يدخلون فيه فإنهم إن لم يكفوا لم يتمكنوا من الطلب
Para penuntut ilmu-ilmu ini juga termasuk di dalamnya, sebab jika kebutuhan hidup mereka tidak dicukupi, niscaya mereka tidak akan mampu menuntut ilmu.
ويدخل فيه العمال وهم الذين ترتبط مصالح الدنيا بأعمالهم وهم الأجناد المرتزقة الذين يحرسون المملكة بالسيوف عن أهل العداوة وأهل البغي وأعداء الإسلام
Termasuk di dalamnya pula para pekerja atau aparat negara, yaitu mereka yang kemaslahatan dunia terikat dengan pekerjaan mereka, seperti para prajurit yang digaji untuk menjaga wilayah kekuasaan dengan pedang dari gangguan para musuh, pelaku pembangkangan (al-bughat), dan musuh-musuh Islam.
ويدخل فيه الكتاب والحساب والوكلاء وكل من يحتاج إليه في ترتيب ديوان الخراج أعني العمال على الأموال الحلال لا على الحرام فإن هذا المال للمصالح
Termasuk pula para sekretaris (juru tulis), bendahara (akuntan), para wakil, dan setiap orang yang dibutuhkan dalam mengelola jawatan pajak (diwan al-kharaj)—maksud saya para petugas pengelola harta yang halal, bukan yang haram, karena harta ini diperuntukkan bagi kemaslahatan.
والمصلحة إما أن تتعلق بالدين أو بالدنيا فبالعلماء حراسة الدين وبالأجناد حراسة الدنيا
Sedangkan kemaslahatan itu adakalanya berkaitan dengan agama atau dunia. Penjagaan agama berada di tangan para ulama, sedangkan penjagaan dunia berada di tangan para prajurit.
والدين والملك توأمان فلا يستغني أحدهما عن الآخر
Agama dan kekuasaan (pemerintahan) adalah saudara kembar, yang satu tidak dapat berdiri sendiri tanpa yang lainnya.
والطبيب وإن كان لا يرتبط بعلمه أمر ديني ولكن يرتبط به صحة الجسد والدين يتبعه فيجوز أن يكون له ولمن يجري مجراه في العلوم المحتاج إليها في مصلحة الأبدان أو مصلحة البلاد إدرار من هذه الأموال ليتفرغوا لمعالجة المسلمين أعني من يعالج منهم بغير أجرة وليس يشترط في هؤلاء الحاجة بل يجوز أن يعطوا مع من الغنى
Adapun dokter, meskipun ilmunya tidak secara langsung berkaitan dengan perkara agama, namun darinya bergantung kesehatan tubuh, sedangkan pelaksanaan agama mengikuti kesehatan tubuh tersebut. Maka boleh diberikan santunan rutin dari harta ini kepadanya dan kepada siapa saja yang sederajat dengannya dalam ilmu-ilmu yang dibutuhkan demi kemaslahatan tubuh atau kemaslahatan negara, agar mereka dapat fokus mengobati kaum muslimin—maksudnya bagi mereka yang mengobati tanpa memungut bayaran. Tidak disyaratkan adanya sifat membutuhkan (fakir/miskin) pada mereka, bahkan boleh saja mereka diberi santunan meskipun mereka kaya.
فإن الخلفاء الراشدين كانوا يعطون المهاجرين والأنصار ولم يعرفوا بالحاجة
Sebab para Khulafaur Rasyidin dahulu memberikan pemberian kepada kaum Muhajirin dan Anshar padahal mereka tidak dikenal sebagai orang-orang yang membutuhkan (miskin).
وليس يتقدر أيضاً بمقدار بل هو إلى اجتهاد الإمام وله أن يوسع ويغني وله أن يقتصر على الكفاية على ما يقتضيه الحال وسعة المال
Pemberian ini juga tidak dibatasi dengan kadar tertentu, melainkan diserahkan kepada ijtihad seorang pemimpin (imam). Ia berhak melapangkan dan mencukupkannya, serta berhak membatasinya hanya pada tingkat kecukupan minimum, sesuai dengan tuntutan keadaan dan kelapangan harta yang ada.
فقد أخذ الحسن ﵇ من معاوية في دفعة واحدة أربعمائة ألف درهم
Sungguh Al-Hasan 'alaihissalam pernah menerima dari Mu'awiyah dalam satu kali pemberian sebanyak empat ratus ribu dirham.
وقد كان عمر ﵁ يعطي لجماعة اثني عشر ألف درهم نقرة في السنة
Dan sungguh 'Umar radhiyallahu 'anhu pernah memberikan kepada sekelompok orang sebanyak dua belas ribu dirham perak murni setiap tahunnya.
وأثبتت عائشة ﵂ في هذه الجريدة ولجماعة عشرة آلاف ولجماعة ستة آلاف وهكذا
Nama 'Aisyah radhiyallahu 'anha juga dicatat dalam daftar ini (dengan jatah tersebut), serta untuk sekelompok orang sepuluh ribu, sekelompok lain enam ribu, dan seterusnya.
فهذا مال هؤلاء فيوزع عليهم حتى لا يبقى منه شيء
Maka harta ini adalah milik mereka, lalu dibagikan kepada mereka hingga tidak tersisa sedikit pun.
فإن خص واحدا منه بمال كثير فلا بأس
Jika penguasa mengkhususkan seseorang di antara mereka dengan harta yang banyak, maka hal itu tidak mengapa.
وكذلك للسلطان أن يخص من هذا المال ذوي الخصائص بالخلع والجوائز فقد كان يفعل ذلك في السلف ولكن ينبغي أن يلتفت فيه إلى المصلحة
Demikian pula bagi penguasa (sultan), ia berhak mengkhususkan sebagian dari harta ini untuk orang-orang yang memiliki keistimewaan berupa pakaian kebesaran (khila') dan hadiah-hadiah (pemberian kehormatan). Hal ini memang telah dilakukan oleh generasi Salaf, namun hendaknya dalam hal tersebut tetap memperhatikan pertimbangan kemaslahatan.
ومهما خص عالم أو شجاع بصلة كان فيه بعث للناس وتحريض على الاشتغال والتشبه به فهذه فائدة الخلع والصلات وضروب التخصيصات وكل ذلك منوط باجتهاد السلطان
Dan manakala seorang alim atau seorang pemberani dikhususkan dengan suatu pemberian kehormatan, maka di dalamnya terdapat dorongan bagi manusia dan kebangkitan semangat untuk menekuni kebaikan serta meneladaninya. Inilah manfaat dari jubah kehormatan (khula'), pemberian-pemberian, dan pelbagai bentuk pengkhususan. Semua itu diserahkan kepada hasil ijtihad penguasa (sultan).
وإنما النظر في السلاطين الظلمة في شيئين أحدهما أن السلطان الظالم عليه أن يكف عن ولايته وهو إما معزول أو واجب العزل فكيف يجوز أن يأخذ من يده وهو على التحقيق ليس بسلطان والثاني أنه ليس يعمم بماله جميع المستحقين فكيف يجوز للآحاد أن يأخذوا أفيجوز لهم الأخذ بقدر حصصهم أم لا يجوز أصلا أم يجوز أن يأخذ كل واحد ما أعطى
Sesungguhnya pembahasan mengenai penguasa yang zalim berpusat pada dua hal: Pertama, bahwa penguasa yang zalim wajib menahan diri dari jabatannya, dan ia sebenarnya telah terazal (terlepas jabatannya) atau wajib diberhentikan, maka bagaimana mungkin diperbolehkan mengambil harta dari tangannya padahal pada hakikatnya ia bukanlah seorang sultan? Kedua, bahwa ia tidak membagikan hartanya secara merata kepada seluruh yang berhak, maka bagaimana diperbolehkan bagi individu-individu untuk mengambilnya? Apakah diperbolehkan bagi mereka mengambil sekadar bagian porsi mereka, atau tidak boleh sama sekali, atau boleh bagi setiap orang mengambil apa yang diberikan kepadanya?
أما الأول: فالذي نراه أنه لا يمنع أخذ الحق لأن السلطان الظالم الجاهل مهما ساعدته الشوكة وعسر خلعه وكان في الاستبدال به فتنة ثائرة لا تطاق وجب تركه ووجبت الطاعة له كما تجب طاعة الأمراء إذ قد ورد في الأمر بطاعة الأمراء
Adapun persoalan pertama: menurut pandangan kami, hal itu tidak menghalangi pengambilan hak yang semestinya. Sebab penguasa yang zalim dan bodoh, selama ia didukung oleh kekuatan riil (syawkah), sulit untuk dilengserkan, dan upaya menggantikannya akan memicu fitnah besar yang tak tertahankan, maka wajib membiarkannya dan wajib mematuhinya, sebagaimana wajibnya taat kepada para pemimpin, sebab telah ada dalil yang memerintahkan untuk taat kepada para pemimpin.
والمنع من سل اليد عن مساعدتهم // حديث المنع من سل اليد عن مساعدتهم أخرجه الشيخان من حديث ابن عباس ليس أحد يفارق الجماعة شبرا فيموت إلا مات ميتة جاهلية ولمسلم من حديث أبي هريرة من خرج من الطاعة وفارق الجماعة فمات مات ميتة جاهلية وله من حديث ابن عمر من خلع يدا من طاعة لقي الله يوم القيامة ولا حجة له
Dan larangan mencabut ketaatan dari membantu mereka. // Hadis tentang larangan mencabut ketaatan dari membantu mereka diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari hadis Ibnu Abbas: 'Tidaklah seorang pun yang memisahkan diri dari jamaah sejengkal saja lalu ia mati, melainkan ia mati dalam keadaan mati jahiliyah.' Dan dalam riwayat Muslim dari hadis Abu Hurairah: 'Barang siapa yang keluar dari ketaatan dan memisahkan diri dari jamaah lalu mati, maka ia mati secara jahiliyah.' Dan diriwayatkan pula dari Ibnu Umar: 'Barang siapa melepas tangannya dari ketaatan, ia akan berjumpa dengan Allah pada hari kiamat tanpa memiliki alasan (hujah).'
أوامر وزواجر
Berupa perintah-perintah dan larangan-larangan.
فالذي نراه أن الخلافة منعقدة للمتكفل
Maka pandangan kami adalah bahwa kekhalifahan itu sah bagi orang yang menanggungnya
بها من بني العباس ﵁
dari Bani Abbas —semoga Allah meridhai mereka—,
وأن الولاية نافذة للسلاطين في أقطار البلاد والمبايعين للخليفة وقد ذكرنا في كتاب المستظهري المستنبط من كتاب كشف الأسرار وهتك الأستار تأليف القاضي أبي الطيب في الرد على أصناف الروافض من الباطنية ما يشير إلى وجه المصلحة فيه والقول الوجيز أنا نراعي الصفات والشروط في السلاطين تشوفاً إلى مزايا المصالح
dan bahwa kekuasaan (wilayah) itu berlaku sah bagi para sultan di berbagai penjuru negeri yang membaiat khalifah. Kami telah menyebutkan dalam kitab Al-Mustazhhiri —yang disarikan dari kitab Kasyf al-Asrar wa Hatk al-Astar karya Qadhi Abu Thayyib dalam bantahan terhadap pelbagai kelompok Rafidhah dari golongan Batiniyyah— hal-hal yang menunjukkan sisi kemaslahatan di dalamnya. Ringkasnya, kami memperhatikan sifat-sifat dan syarat-syarat pada diri para sultan demi mengupayakan keunggulan kemaslahatan.
ولو قضينا ببطلان الولايات الآن لبطلت المصالح رأساً فكيف يفوت رأس المال في طلب الربح بل الولاية الآن لا تتبع إلا الشوكة
Jika kita memutuskan batalnya kekuasaan-kekuasaan pemerintahan pada masa sekarang, niscaya kemaslahatan akan hilang secara total. Bagaimana mungkin modal utama dikorbankan demi mengejar keuntungan? Bahkan kekuasaan pada masa sekarang tidaklah mengikuti melainkan kekuatan riil (syawkah).
فمن بايعه صاحب الشوكة فهو الخليفة
Maka barang siapa yang dibaiat oleh pemegang kekuatan riil tersebut, dialah khalifah.
ومن استبد بالشوكة وهو مطيع للخليفة في أصل الخطبة والسكة فهو سلطان نافذ الحكم والقضاء في أقطار الأرض ولاية نافذة الأحكام
Dan barang siapa yang memegang kendali kekuasaan riil secara mandiri namun tetap taat kepada khalifah dalam hal pokok khutbah dan penempaan mata uang (sikkah), maka ia adalah sultan yang berlaku hukum dan penetapannya di penjuru bumi dengan kekuasaan yang sah hukum-hukumnya.
وتحقيق هذا قد ذكرناه في أحكام الإمامة من كتاب الاقتصاد في الاعتقاد فلسنا نطول الآن به
Penjelasan mendalam mengenai hal ini telah kami sebutkan dalam bab Hukum-Hukum Keimaman dari kitab Al-Iqtishad fi al-I'tiqad, maka kami tidak memperpanjang lebar pembahasannya di sini.
وأما الإشكال الآخر وهو أن السلطان إذا لم يعمم بالعطاء كل مستحق فهل يجوز للواحد أن يأخذ منه فهذا مما اختلف العلماء فيه على أربع مراتب فغلا بعضهم
Adapun kemusykilan kedua, yaitu jika sultan tidak meratakan pemberian kepada setiap yang berhak, apakah boleh bagi seseorang untuk mengambil darinya? Hal ini termasuk perkara yang diperselisihkan oleh para ulama dalam empat tingkatan pandangan. Sebagian mereka bersikap keras
وقال كل ما يأخذه فالمسلمون كلهم فيه شركاء ولا يدري أن حصته منه دانق أو حبة فليترك الكل وقال قوم له أن يأخذ قدر قوت يومه فقط فإن هذا القدر يستحقه لحاجته على المسلمين وقال قوم له قوت سنة فإن أخذ الكفاية كل يوم عسير وهو ذو حق في هذا المال فكيف يتركه وقال قوم
dan berkata: 'Setiap apa yang diambil oleh sultan, seluruh kaum muslimin adalah sekutu di dalamnya, sedang ia tidak tahu apakah bagian dirinya dari harta itu seukuran satu danaq (seperenam dirham) atau sebutir biji; maka hendaklah ia meninggalkan semuanya.' Kelompok kedua berkata: 'Ia boleh mengambil sekadar makanan pokok untuk sehari saja, karena kadar ini berhak ia dapatkan atas kaum muslimin karena hajatnya.' Kelompok ketiga berkata: 'Ia berhak mengambil makanan pokok untuk satu tahun, karena mengambil kecukupan setiap hari itu sulit, sedangkan ia memiliki hak pada harta ini, maka bagaimana mungkin ia meninggalkannya?' Dan kelompok lain berkata:
وقال قوم إنه يأخذ ما يعطى والمظلوم هم الباقون
Dan sekelompok orang berkata bahwa ia boleh mengambil apa yang diberikan kepadanya, sedangkan orang-orang yang dizalimi adalah mereka yang tersisa (yang tidak diberi).
وهذا هو القياس لأن المال ليس مشتركاً بين المسلمين كالغنيمة بين الغانمين ولا كالميراث بين الورثة لأن ذلك صار ملكاً لهم
Dan inilah pandangan yang sesuai dengan qiyas (analogi hukum yang tepat), sebab harta tersebut tidaklah menjadi milik bersama di antara kaum muslimin seperti ghanimah di antara pasukan yang berperang, tidak pula seperti harta warisan di antara para ahli waris, karena hal-hal tersebut telah sah menjadi hak milik mereka,
وهذا لو لم يتفق قسمه حتى مات هؤلاء لم يجب التوزيع على ورثتهم بحكم الميراث
sedangkan harta ini, seandainya belum sempat dibagikan hingga orang-orang tersebut meninggal dunia, tidaklah wajib dibagikan kepada ahli waris mereka berdasarkan hukum waris,
بل هذا الحق غير متعين وإنما يتعين بالقبض
melainkan hak ini belum ditentukan porsinya, dan baru menjadi tertentu dengan jalan serah terima (al-qabdh).
بل هو كالصدقات ومهما أعطي الفقراء حصتهم من الصدقات وقع ذلك ملكاً لهم ولم يمتنع بظلم المالك بقية الأصناف بمنع حقهم هذا إذا لم يصرف إليه كل المال بل صرف إليه من المال ما لو صرف إليه بطريق الإيثار والتفضيل مع تعميم الآخرين لجاز له أن يأخذه والتفضيل جائز في العطاء
Bahkan harta ini bagaikan sedekah; manakala fakir miskin telah diberi bagian mereka dari sedekah, maka harta itu menjadi milik mereka secara sah, dan hal itu tidak terhalang disebabkan kezaliman pemilik harta yang menahan hak golongan-golongan (ashnaf) lainnya. Hal ini berlaku jika seluruh harta tidak dialokasikan hanya kepadanya saja, melainkan yang dialokasikan kepadanya adalah kadar harta yang seandainya diberikan kepadanya secara pengutamaan (itsār) dan keutamaan khusus di samping tetap memberi yang lain, niscaya ia boleh mengambilnya. Dan pengutamaan (tafdhil) dalam pemberian itu diperbolehkan,
سوى أبو بكر ﵁ فراجعه عمر ﵁ فقال إنما فضلهم عند الله وإنما الدنيا بلاغ
Kecuali Abu Bakar ash-Shiddiq radiyallahu 'anhu; pernah Umar radiyallahu 'anhu mendebatnya, lalu Abu Bakar berkata: 'Sesungguhnya keutamaan mereka itu di sisi Allah, sedangkan dunia ini hanyalah sarana penyampaian (bekal hidup sementara).'
وفضل عمر ﵁ في زمانه فأعطى عائشة اثني عشر ألفاً وزينب عشرة آلاف وجويرية ستة آلاف وكذا صفية
Umar ra. mengutamakan (pemberian) pada zamannya; beliau memberi 'Aisyah dua belas ribu (dirham), Zainab sepuluh ribu, Juwairiyah enam ribu, begitu pula Shafiyyah.
وأقطع عمر لعلي خاصة ﵄
Dan Umar memberikan tanah garapan (iqta') secara khusus kepada Ali radhiyallahu 'anhuma.
وأقطع عثمان أيضاً من السواد خمس جنات وآثر عثمان علياً ﵄ بها فقبل ذلك منه ولم ينكر
Utsman juga memberikan tanah garapan dari wilayah Sawad sebanyak lima kebun, dan Utsman lebih mengutamakan Ali radhiyallahu 'anhuma dengan kebun-kebun tersebut. Maka Ali menerimanya dan tidak mengingkarinya.
وكل ذلك جائز في محل الاجتهاد وهو من المجتهدات التي أقول فيها إن كل مجتهد مصيب وهي كل مسألة لا نص على عينها ولا على مسألة تقرب منها فتكون في معناها بقياس جلي كهذه المسألة ومسألة حد الشرب فإنهم جلدوا أربعين وثمانين والكل سنة وحق وأن كل واحد من أبي بكر وعمر ﵄ مصيب باتفاق الصحابة ﵃ إذ المفضول ما رد في زمان عمر شيئاً إلى الفاضل مما قد كان أخذه في زمان أبي بكر ولا الفاضل امتنع من قبول الفضل في زمان عمر واشترك في ذلك كل الصحابة واعتقدوا أن كل واحد من الرأيين حق
Semua hal itu diperbolehkan dalam ruang lingkup ijtihad. Ini termasuk perkara-perkara ijtihadiyyah yang saya katakan bahwa setiap مجتهد (orang yang berijtihad) adalah benar. Yaitu setiap masalah yang tidak memiliki nas eksplisit mengenai substansinya dan tidak pula memiliki masalah yang mendekatinya sehingga berada dalam maknanya secara qiyas jali (qiyas yang jelas), seperti masalah ini dan masalah hukuman (had) minum khamar, di mana para sahabat mencambuk empat puluh dan delapan puluh kali, dan semuanya merupakan sunnah serta kebenaran. Masing-masing dari Abu Bakar dan Umar radhiyallahu 'anhuma adalah benar berdasarkan kesepakatan para sahabat radhiyallahu 'anhum, sebab orang yang tidak diutamakan pada masa Umar tidak mengembalikan apa pun kepada orang yang diutamakan dari apa yang telah diterimanya pada masa Abu Bakar, dan orang yang diutamakan pun tidak enggan menerima keutamaan itu pada masa Umar. Seluruh sahabat berserikat dalam hal tersebut dan meyakini bahwa masing-masing dari kedua pendapat itu adalah benar.
فليؤخذ هذا الجنس دستورا للخلافات التي يصوب فيها كل مجتهد
Maka hendaknya jenis ini dijadikan sebagai panduan dasar (pedoman) bagi perbedaan pendapat yang di dalamnya setiap مجتهد (orang yang berijtihad) dinilai benar.
فأما كل مسألة شذ عن مجتهد فيها نص أو قياس جلي بغفلة أو سوء رأي وكان في القوة بحيث ينقض حكم المجتهد فلا نقول فيها إن كل واحد مصيب بل المصيب من أصاب النص أو ما في معنى النص
Adapun setiap masalah yang di dalamnya seorang مجتهد menyimpang dari nas atau qiyas jali karena kelalaian atau kekeliruan pandangan—yang kekuatannya sedemikian rupa sehingga dapat membatalkan putusan مجتهد tersebut—maka kita tidak mengatakan dalam masalah itu bahwa setiap orang adalah benar, melainkan yang benar adalah orang yang sesuai dengan nas atau apa yang sepadan dengan makna nas.
وقد تحصل من مجموع هذا أن من وجد من أهل الخصوص الموصوفين بصفة تتعلق بها مصالح الدين أو الدنيا وأخذ من السلطان خلعة أو إدراراً على التركات أو الجزية لم يصر فاسقاً بمجرد أخذه وإنما يفسق بخدمته لهم ومعانته إياهم ودخوله
Dari keseluruhan pembahasan ini dapat disimpulkan bahwa barang siapa termasuk kelompok khusus yang menyandang sifat yang berkaitan dengan kemaslahatan agama atau dunia, lalu ia menerima pemberian jubah kehormatan (khil'ah) atau tunjangan rutin dari peninggalan harta (warisan tanpa ahli waris) atau jizyah dari penguasa, maka ia tidak menjadi fasik hanya sekadar karena menerimanya. Ia baru menjadi fasik jika melayani mereka, membantu mereka, dan mendatangi
عليهم وثنائه وإطرائه لهم إلى غير ذلك من لوازم لا يسلم المال غالباً إلا بها كما سنبينه
mereka, serta memuji dan menyanjung mereka, hingga hal-hal lain dari konsekuensi yang mana harta itu pada umumnya tidak akan selamat melainkan dengannya, sebagaimana akan kami jelaskan.
الباب السادس فيما يحل من مخالطة السلاطين الظلمة وما يحرم وحكم غشيان
Bab Keenam: Perihal apa yang dihalalkan dan diharamkan dari bergaul dengan para penguasa yang zalim, serta hukum menghadiri
مجالسهم والدخول عليهم والإكرام لهم
majlis-majlis mereka, mendatangi mereka, dan memberikan penghormatan kepada mereka.
اعلم أن لك مع الأمراء والعمال الظلمة ثلاثة أحوال
Ketahuilah bahwa engkau memiliki tiga keadaan dalam berhubungan dengan para pemimpin (penguasa) dan pejabat yang zalim.
الحالة الأولى وهي شرها أن تدخل عليهم
Keadaan pertama, dan ini yang paling buruk, adalah engkau mendatangi (menemui) mereka.
والثانية وهي دونها أن يدخلوا عليك والثالثة وهي الأسلم أن تعتزل عنهم فلا تراهم ولا يرونك
Keadaan kedua, yang tingkatannya di bawah itu, adalah mereka yang mendatangi (menemui) dirimu. Keadaan ketiga, dan ini yang paling selamat, adalah engkau mengasingkan diri (menjauh) dari mereka sehingga engkau tidak melihat mereka dan mereka pun tidak melihatmu.
أما الحالة الأولى وهي الدخول عليهم فهو مذموم جداً في الشرع وفيه تغليظات وتشديدات تواردت بها الأخبار والآثار فننقلها لتعرف ذم الشرع له ثم نتعرض لما يحرم منه وما يباح وما يكره على ما تقتضيه الفتوى في ظاهر العلم
Adapun keadaan pertama, yaitu mendatangi mereka, maka hal itu sangat dicela dalam syariat. Di dalamnya terdapat penegasan berat dan peringatan keras yang disampaikan berulang kali dalam riwayat-riwayat hadis dan atsar. Maka kami akan mengutipnya agar engkau mengetahui celaan syariat terhadap hal tersebut, kemudian kami akan membahas apa yang diharamkan, dihalalkan, dan dimakruhkan darinya sesuai dengan tuntutan fatwa menurut zahir ilmu.
أما الأخبار فإنه لما وَصَفَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ الأمراء الظلمة قال فمن نابذهم نجا ومن اعتزلهم سلم أو كاد أن يسلم ومن وقع معهم في دنياهم فهو منهم
Adapun riwayat-riwayat hadis, sesungguhnya ketika Rasulullah ﷺ menggambarkan para penguasa yang zalim, beliau bersabda: "Barang siapa menentang mereka maka ia selamat, barang siapa menjauhi mereka maka ia sejahtera atau hampir sejahtera, dan barang siapa terjerumus bersama mereka dalam dunia mereka maka ia termasuk golongan mereka."
وذلك لأن من اعتزلهم سلم من إممهم ولكن لم يسلم من عذاب يعمه معهم إن نزل بهم لتركه المنابذة والمنازعة
Hal itu karena orang yang menjauhi mereka selamat dari kejahatan mereka, namun ia belum tentu selamat dari azab yang merata bersama mereka jika azab itu turun kepada mereka karena ia meninggalkan sikap menentang dan menolak (kezaliman).
وقال ﷺ سيكون من بعدي أمراء يكذبون ويظلمون فمن صدقهم يكذبهم وأعانهم على ظلمهم فليس مني ولست منه ولم يرد علي الحوض
Dan Rasulullah ﷺ bersabda: "Akan ada setelahku para penguasa yang berdusta dan berbuat zalim. Barang siapa yang membenarkan kedustaan mereka dan membantu kezaliman mereka, maka ia bukan dari golonganku dan aku bukan dari golongannya, serta ia tidak akan mendatangi telagaku."
وروى أبو هريرة ﵁ أنه قال ﷺ أبغض القراء إلى الله تعالى الذين يزورون الأمراء
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Ahli Qur'an (para ulama/pembaca Al-Qur'an) yang paling dibenci oleh Allah Ta'ala adalah mereka yang mengunjungi para penguasa."
وفي الخبر خير الأمراء الذين يأتون العلماء وشر العلماء الذين يأتون الأمراء
Dalam sebuah riwayat disebutkan: "Sebaik-baik penguasa adalah mereka yang mendatangi ulama, dan seburuk-buruk ulama adalah mereka yang mendatangi penguasa."
وفي الخبر العلماء أمناء الرسل على عباد الله ما لم يخالطوا السلطان فإذا فعلوا ذلك فقد خانوا الرسل فاحذروهم واعتزلوهم
Dan dalam riwayat lain: "Para ulama adalah pemegang amanah para rasul atas hamba-hamba Allah selama mereka tidak berbaur dengan sultan (penguasa). Apabila mereka melakukan hal itu, maka sungguh mereka telah mengkhianati para rasul, maka waspadailah mereka dan jauhilah mereka."
رواه أنس ﵁
Diriwayatkan oleh Anas radhiyallahu 'anhu.
وأما الآثار فقد قال حذيفة إياكم ومواقف الفتن قيل وما هي قال أبواب الأمراء يدخل أحدكم على الأمير فيصدقه بالكذب ويقول ما ليس فيه
Adapun atsar (riwayat sahabat), Hudzaifah pernah berkata, "Jauhilah oleh kalian tempat-tempat timbulnya fitnah!" Ditanyakan kepadanya, "Apakah tempat-tempat fitnah itu?" Beliau menjawab, "Pintu-pintu para penguasa. Seseorang dari kalian masuk menemui penguasa lalu membenarkan kedustaannya dan mengatakan pujian yang tidak ada pada dirinya."
وقال أبو ذر لسلمة يا سلمة لا تغش أبواب السلاطين فإنك لا تصيب من دنياهم شيئاً إلا أصابوا من دينك أفضل منه وقال سفيان في جهنم واد لا يسكنه إلا القراء الزوارون للملوك
Abu Dzarr berkata kepada Salamah, "Wahai Salamah, janganlah engkau mendatangi pintu-pintu para sultan! Sebab, tidaklah engkau memperoleh sesuatu dari dunia mereka melainkan mereka akan merenggut agama milikmu yang jauh lebih utama darinya." Dan Sufyan berkata, "Di dalam neraka Jahanam terdapat sebuah lembah yang tidak dihuni melainkan oleh para ahli Al-Qur'an (ulama) yang sering mengunjungi para raja."
وقال الأوزاعي ما من شيء أبغض إلى الله من عالم يزور عاملاً
Al-Auza'i berkata, "Tidak ada sesuatu yang lebih dibenci oleh Allah daripada seorang alim yang mengunjungi seorang pejabat penguasa."
وقال سمنون ما أسمج بالعالم أن يؤتى إلى مجلسه فلا يوجد فيسأل عنه فيقال عند الأمير
Samnun berkata, "Betapa buruknya bagi seorang alim ketika majelisnya didatangi namun ia tidak ditemukan di sana, lalu ketika ditanyakan keberadaannya, dijawab: 'Ia sedang berada di rumah penguasa'."
وكنت أسمع أنه يقال إذا رأيتم العالم يحب الدنيا فاتهموه على دينكم حتى جربت ذلك إذ ما دخلت قط على هذا السلطان إلا وحاسبت نفسي بعد الخروج فأرى عليها الدرك مع ما أواجههم به من الغلظة والمخالفة لهواهم
Dahulu aku pernah mendengar ucapan: "Jika kalian melihat seorang alim mencintai dunia, maka periksalah integritas agamanya." Hingga aku membuktikannya sendiri; tidak pernah sekalipun aku masuk menemui sultan ini melainkan aku bermuhasabah diri setelah keluar darinya, lalu aku melihat ada kecacatan spiritual pada diriku, padahal aku telah menghadapi mereka dengan ketegasan dan menentang hawa nafsu mereka.
وقال عبادة بن الصامت حب القاريء الناسك الأمراء نفاق وحبه الأغنياء رياء
Ubadah bin ash-Shamit berkata, "Kecintaan ahli Al-Qur'an yang tekun beribadah kepada para penguasa adalah nifak, dan kecintaannya kepada orang-orang kaya adalah riya."
وقال أبو ذر من كثر سواد قوم فهو منهم أي من كثر سواد الظلمة
Abu Dzarr berkata, "Barangsiapa memperbanyak barisan suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka," yaitu barangsiapa yang memperbanyak barisan orang-orang zhalim.
وقال ابن مسعود ﵁ إن الرجل ليدخل على السلطان ومعه دينه فيخرج ولا دين له قيل له ولم قال لأنه يرضيه بسخط الله
Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata, "Sungguh, seseorang masuk menemui sultan dengan membawa agamanya, lalu keluar tanpa membawa agamanya sedikit pun." Ditanyakan kepadanya, "Mengapa demikian?" Beliau menjawab, "Karena ia mencari ridha sultan dengan cara memancing kemurkaan Allah."
واستعمل عمر بن
Umar bin…
عبد العزيز رجلاً فقيل كان عاملاً للحجاج فعزله فقال الرجل إنما عملت له شيء يسير فقال له عمر حسبك بصحبته يوماً أو بعض يوم شؤماً وشراً
…Abdul Aziz pernah mempekerjakan seorang laki-laki, lalu dikatakan kepadanya bahwa orang itu dahulu adalah pegawai Al-Hajjaj, maka Umar pun mencopotnya. Laki-laki itu membela diri, "Aku hanya bekerja untuknya sebentar saja." Umar menjawab, "Cukuplah bersamanya sehari atau sebagian hari mendatangkan kesialan dan keburukan bagimu."
وقال الفضيل ما ازداد رجل من ذي سلطان قرباً إلا ازداد من الله بعداً
Al-Fudhail berkata, "Tidaklah seseorang semakin bertambah dekat dengan penguasa melainkan ia akan semakin bertambah jauh dari Allah."
وكان سعيد بن المسيب يتجر في الزيت ويقول إن في هذا لغنى عن هؤلاء السلاطين وقال وهيب هؤلاء الذين يدخلون على الملوك لهم أضر على الأمة من المقامرين
Said bin al-Musayyib dahulu berdagang minyak dan berkata, "Sesungguhnya pada usaha ini terdapat kecukupan dari ketergantungan kepada para sultan ini." Dan Wuhaib berkata, "Orang-orang yang masuk menemui para raja itu jauh lebih berbahaya bagi umat daripada para penjudi."
وقال محمد بن سلمة الذباب على العذرة أحسن من قارئ على باب هؤلاء
Muhammad bin Salamah berkata, "Lalat yang hinggap di atas kotoran masih lebih baik daripada seorang ahli ilmu yang berada di depan pintu para penguasa ini."
ولما خالط الزهري السلطان كتب أخ له في الدين إليه
Ketika Az-Zuhri berbaur erat dengan pihak penguasa, seorang saudaranya seiman menulis surat kepadanya:
عافانا الله وإياك أبا بكر من الفتن فقد أصبحت بحال ينبغي لمن عرفك أن يدعوا لك الله ويرحمك أصبحت شيخاً كبيراً قد أثقلتك نعم الله لما فهمك من كتابه وعلمك من سنة نبيه محمد ﷺ وليس كذلك أخذ الله الميثاق على العلماء قال الله تعالى ﴿لتبيننه للناس ولا تكتمونه﴾ واعلم أن أيسر ما ارتكبت وأخف ما احتملت أنك آنست وحشة الظالم وسهلت سبيل البغي بدنوك ممن لم يؤد حقاً ولم يترك باطلاً حين أدناك اتخذوك قطباً تدور عليك رحى ظلمهم وجسراً يعبرون عليك إلى بلائهم وسلماً يصعدون فيه إلى ضلالهم ويدخلون بك الشك على العلماء ويصادون بك قلوب الجهلاء فما أيسر ما عمروا في جنب ما خربوا عليك وما أكثر ما أخذوا منك فيما أفسدوا عليك من دينك فما يؤمنك أن تكون ممن قال الله تعالى فيهم ﴿فخلف من بعدهم خلف أضاعوا الصلاة﴾ الآية وإنك تعامل من لا يجهل ويحفظ عليك من لا يغفل فداو دينك فقد دخله سقم وهيء رادك فقد حضر سفر بعيد ﴿وما يخفى على الله من شيء في الأرض ولا في السماء﴾ والسلام
"Semoga Allah menyelamatkan kami dan engkau, wahai Abu Bakr, dari berbagai fitnah. Engkau kini telah berada dalam keadaan yang semestinya membuat orang yang mengenalmu berdoa untuk keselamatanmu dan mengasihanimu. Engkau telah menjadi seorang syaikh yang sepuh, yang diberati oleh nikmat-nikmat Allah karena Dia telah pemahamkan kepadamu Kitab-Nya dan mengajarimu Sunnah Nabi-Nya Muhammad ﷺ. Padahal tidaklah demikian janji yang diambil Allah dari para ulama sebagaimana firman-Nya: {Hendaklah kamu menerangkannya kepada manusia dan janganlah kamu menyembunyikannya}. Ketahuilah bahwa perkara paling ringan yang engkau lakukan dan beban paling kecil yang engkau tanggung adalah engkau telah menghilangkan rasa asing bagi orang zhalim serta memudahkan jalan kezaliman dengan mendekatnya dirimu kepada orang yang tidak menunaikan hak dan tidak meninggalkan kebatilan. Ketika mereka mendekatkanmu, mereka menjadikanmu sebagai sumbu berputarnya roda kezaliman mereka, jembatan untuk melintasi malapetaka mereka, dan tangga untuk mendaki menuju kesesatan mereka. Melalui dirimu mereka menanamkan keraguan pada para ulama dan memburu hati orang-orang jahil. Alangkah sedikitnya apa yang mereka bangun untuk kepentinganmu dibandingkan dengan apa yang mereka hancurkan dari agamamu! Alangkah banyaknya yang mereka ambil darimu dalam merusak agamamu! Apa yang menjaminmu bahwa engkau tidak termasuk orang-orang yang Allah firmankan tentang mereka: {Maka datanglah setelah mereka generasi pengganti yang menyia-nyiakan shalat}? Sesungguhnya engkau sedang berhubungan dengan Dzat Yang Maha Mengetahui dan diawasi oleh Dzat Yang tidak pernah lalai. Obatilah agamamu karena ia telah dihinggapi penyakit, dan siapkanlah bekalmu karena perjalanan jauh telah tiba. {Dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit}. Wassalam."
فهذه الأخبار والآثار تدل على ما في مخالطة السلاطين من الفتن وأنواع الفساد ولكن نفصل ذلك تفضيلا فقيها تميز فيه المحظور عن المكروه والمباح
Riwayat-riwayat dan atsar-atsar ini menunjukkan betapa besarnya fitnah dan kebinasaan dalam bergaul dengan para penguasa. Namun, kami akan menguraikan hal tersebut dengan perincian fiqih yang membedakan antara hal yang diharamkan, dimakruhkan, dan dibolehkan (mubah).
فنقول الداخل على السلطان متعرض لأن يعصي الله تعالى إما بفعله أو بسكوته وإما بقوله وإما باعتقاده فلا ينفك عن أحد هذه الأمور
Maka kami katakan: Orang yang masuk menemui penguasa berisiko melakukan kemaksiatan kepada Allah Ta'ala, baik melalui perbuatannya, diamnya, perkataannya, maupun iktikadnya. Ia tidak akan terlepas dari salah satu dari perkara-perkara ini.
أما الفعل فالدخول عليهم في غالب الأحوال يكون إلى دور مغصوبة وتخطيها والدخول فيها بغير إذن الملاك حرام ولا يغرنك قول القائل إن ذلك مما يتسامح به الناس كتمرة أو فتات خبز ذلك صحيح في غير المغصوب أما المغصوب فلا
Adapun dari segi perbuatan: masuk menemui mereka dalam banyak keadaan berarti memasuki istana-istana hasil rampasan (gashab). Melintas di atasnya dan memasukinya tanpa izin pemiliknya yang sah adalah haram. Janganlah engkau tertipu oleh ucapan orang yang berkata bahwa hal itu termasuk perkara yang dimaklumi masyarakat sebagaimana sebutir kurma atau remahan roti. Hal itu hanya berlaku pada harta yang bukan hasil gashab, adapun harta gashab maka tidak berlaku demikian.
لأنه إن قيل إن كل جلسة خفيفة لا تنقص الملك فهي في محل التسامح وكذلك الاجتياز فيجري هذا في كل واحد فيجري أيضاً في المجموع والغصب إنما تم بفعل الجميع وإنما يتسامح به إذا انفرد إذ لو علم المالك به ربما لم يكرهه فأما إذا كان ذلك طريقاً إلى الاستغراق بالاشتراك فحكم التحريم ينسحب على الكل فلا يجوز أن يؤخذ ملك الرجل طريقاً اعتماداً على أن كل واحد من المارين إنما يخطو خطوة لا تنقص الملك لان المجموع مفتوت للملك وهو كضربة خفيفة في التعليم تباح ولكن بشرط الانفراد فلو اجتمع جماعة بضربات توجب القتل وجب القصاص على الجميع مع أن كل واحدة من الضربات لو انفردت لكانت لا توجب قصاصا
Sebab jika dikatakan bahwa setiap duduk sebentar yang tidak mengurangi nilai kepemilikan barang adalah dimaklumi, begitu pula saat melintas, lalu hal ini diberlakukan pada setiap individu, maka kebolehan itu akan berlaku pula secara keseluruhan. Padahal perampasan (gashab) itu terjadi secara sempurna justru karena perbuatan bersama. Hal itu hanya bisa dimaklumi jika dilakukan secara individu/sendiri-sendiri, karena sekiranya pemiliknya mengetahui, boleh jadi ia tidak membencinya. Adapun jika hal tersebut menjadi jalan menuju penguasaan penuh secara kolektif, maka hukum keharaman berlaku bagi semuanya. Tidak boleh milik seseorang dijadikan jalan lalu lalang dengan mengandalkan anggapan bahwa setiap orang yang melintas hanya melangkah satu langkah yang tidak mengurangi kepemilikannya, sebab akumulasi dari semua itu merusak kepemilikan tersebut. Ini ibarat pukulan ringan dalam rangka pengajaran yang dibolehkan tetapi dengan syarat dilakukan secara individual; namun jika sekelompok orang berkumpul memberikan pukulan-pukulan yang menyebabkan kematian, maka hukum qishash wajib dijatuhkan atas semuanya, padahal setiap pukulan itu sekiranya berdiri sendiri tidak akan menuntut qishash.
فإن فرض كون الظالم في موضع غير مغصوب كالموات مثلاً فإن كان تحت خيمة أو مظلة من ماله فهو حرام والدخول إليه غير جائز لأنه انتفاع بالحرام واستظلال به
Jika diandaikan keberadaan orang yang zalim itu berada di tempat yang bukan hasil ghasab (rampasan), seperti tanah mati misalnya, namun ia berada di bawah kemah atau naungan dari harta haram miliknya, maka hal itu adalah haram dan masuk ke dalamnya tidak diperbolehkan, karena hal itu merupakan bentuk mengambil manfaat dari sesuatu yang haram dan bernaung dengannya.
فإن فرض كل ذلك حلالاً فلا يعصى بالدخول من حيث إنه دخول ولا بقوله السلام عليكم ولكن إن سجد أو ركع أو مثل قائماً في سلامه وخدمته كان مكرماً للظالم بسبب ولايته التي هي آلة ظلمه والتواضع للظالم معصية
Jika diandaikan bahwa seluruh hal tersebut adalah halal, maka seseorang tidak bermaksiat semata-mata karena masuk ke tempat itu atau karena mengucapkan 'Assalamu 'alaikum'. Akan tetapi, jika ia bersujud, berrukuk, atau berdiri tegak saat memberi salam dan melayaninya, berarti ia telah memuliakan orang zalim tersebut disebabkan kekuasaannya yang menjadi sarana kezalimannya, sedangkan bertawaduk (merendahkan diri) kepada orang zalim adalah sebuah kemaksiatan.
بل من تواضع لغني ليس يظالم لأجل غناه لا لمعنى آخر اقتضى التواضع نقص ثلثا دينه فكيف إذا تواضع للظالم فلا يباح إلا مجرد السلام فأما تقبيل اليد والانحناء في الخدمة فهو معصية إلا عند الخوف أو الأمام عادل أو لعالم أو لمن يستحق ذلك بأمر ديني
Bahkan, barangsiapa bertawaduk kepada orang kaya yang tidak zalim semata-mata karena kekayaannya, bukan karena alasan lain, maka bertawaduk tersebut berkonsekuensi hilangnya dua pertiga agamanya. Maka bagaimana jika ia bertawaduk kepada orang yang zalim? Oleh karena itu, tidak diperbolehkan melainkan hanya sekadar mengucapkan salam. Adapun mencium tangan dan membungkuk dalam melayani adalah kemaksiatan, kecuali ketika ada rasa takut, atau kepada pemimpin yang adil, kepada seorang ulama, atau kepada orang yang berhak mendapatkan hal itu karena alasan keagamaan.
قبل
Pernah mencium
أبو عبيدة بن الجراح ﵁ يد علي كرم الله وجهه لما أن لقيه بالشام فلم ينكر عليه
Abu Ubaidah bin al-Jarrah radhiyallahu 'anhu tangan Ali karramallahu wajhah ketika bertemu dengannya di Syam, dan Ali tidak mengingkarinya.
وقد بالغ بعض السلف حتى امتنع عن رد جوابهم في السلام والإعراض عنهم استحقاراً لهم وعد ذلك من محاسن القربات
Bahkan sebagian ulama Salaf bersikap amat keras hingga enggan membalas jawaban salam mereka dan berpaling dari mereka sebagai bentuk penghinaan terhadap mereka, serta menganggap hal tersebut termasuk amalan mendekatkan diri kepada Allah yang sangat terpuji.
فأما السكوت عن رد الجواب ففيه نظر لأن ذلك واجب فلا ينبغي أن يسقط بالظلم
Adapun berdiam diri tidak membalas jawaban salam, maka padanya terdapat pertimbangan (perbedaan pendapat), sebab membalas salam itu hukumnya wajib, maka tidak sepatutnya gugur hanya karena kezaliman.
فإن ترك الداخل جميع ذلك واقتصر على السلام فلا يخلو من الجلوس على بساطهم وإذا كان أغلب أموالهم حراماً فلا يجوز الجلوس على فرشهم هذا من حيث الفعل
Jika orang yang masuk itu meninggalkan semua hal tersebut dan hanya mencukupkan diri dengan mengucapkan salam, maka ia tidak akan terlepas dari duduk di atas permadani mereka. Dan apabila sebagian besar harta mereka adalah haram, maka tidak boleh duduk di atas hamparan mereka. Ini ditinjau dari segi perbuatan.
فأما السكوت فهو أنه سيرى في مجلسهم من الفرش الحرير وأواني الفضة والحرير الملبوس عليهم وعلى غلمانهم ما هو حرام
Adapun dari segi berdiam diri (tidak menegur), hal itu karena di majelis mereka ia akan melihat hamparan sutra, bejana-bejana perak, serta pakaian sutra yang dikenakan oleh mereka dan pelayan-pelayan mereka, yang kesemuanya merupakan hal yang haram.
وكل من رأى سيئة وسكت عليها فهو شريك في تلك السيئة
Dan barangsiapa melihat suatu keburukan (kemaksiatan) lalu berdiam diri atasnya, maka ia telah bersekutu dalam keburukan tersebut.
بل يسمع من كلامهم ما هو فحش وكذب وشتم وإيذاء والسكوت على جميع لك حرام بل يراهم لابسين الثياب الحرام وآكلين الطعام الحرام وجميع ما في أيديهم حرام والسكوت على ذلك غير جائز فيجب عليه الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر بلسانه إن لم يقدر بفعله
Bahkan ia akan mendengar dari perkataan mereka apa yang berupa kekejian, kedustaan, makian, dan perbuatan menyakiti, sedangkan berdiam diri atas semua itu hukumnya haram. Bahkan ia melihat mereka mengenakan pakaian haram, memakan makanan haram, dan segala sesuatu yang ada di tangan mereka adalah haram, padahal berdiam diri atas hal itu tidak diperbolehkan. Maka wajib baginya melakukan amar makruf nahi munkar dengan lisannya jika ia tidak mampu melakukannya dengan perbuatannya.
فإن قلت إنه يخاف على نفسه فهو معذور في السكوت فهذا حق ولكنه مستغن عن أن يعرض نفسه لارتكاب مالا يباح إلا بعذر فإنه لو لم يدخل ولم يشاهد لم يتوجه عليه الخطاب بالحسبة حتى يسقط عنه بالعذر
Jika engkau berkata: 'Sesungguhnya ia mengkhawatirkan keselamatan dirinya sehingga ia diberi uzur untuk berdiam diri', maka hal ini memang benar. Namun, ia sebenarnya tidak perlu menyerahkan dirinya untuk melakukan sesuatu yang tidak diperbolehkan melainkan karena uzur. Sebab, seandainya ia tidak masuk dan tidak menyaksikan, niscaya perintah melakukan hisbah (mencegah kemungkaran) tidak tertuju kepadanya, sehingga tidak perlu gugur baginya karena adanya uzur.
وعند هذا أقول من علم فساداً في موضع وعلم أنه لا يقدر على إزالته فلا يجوز له أن يحضر ليجري ذلك بين يديه وهو يشاهده ويسكت بل ينبغي أن يحترز عن مشاهدته
Oleh karena itu aku katakan: barangsiapa mengetahui adanya kemaksiatan di suatu tempat dan ia tahu bahwa ia tidak mampu menghilangkannya, maka tidak boleh baginya hadir hingga kemaksiatan itu terjadi di hadapannya sementara ia menyaksikannya dan berdiam diri. Sebaliknya, ia sepatutnya menghindar dari menyaksikannya.
وأما القول فهو أن يدعو للظالم أو يثني عليه أو يصدقه فيما يقول من باطل بصريح قوله أو بتحريك رأسه أو باستبشار في وجهه أو يظهر له الحب والموالاة والاشتياق إلى لقائه والحرص على طول عمره وبقائه فإنه في الغالب لا يقتصر على السلام بل يتكلم ولا يعدو كلامه هذه الأقسام
Adapun mengenai ucapan, yaitu ia mendoakan orang yang zalim, memujinya, membenarkan kebatilan yang diucapkannya melalui perkataan yang tegas, anggukan kepala, keceriaan wajah, atau menampakkan rasa cinta, kesetiaan, kerinduan untuk bertemu, serta keinginan agar orang zalim itu berumur panjang dan bertahan. Sebab pada umumnya, seseorang tidak cukup sekadar mengucapkan salam, melainkan ia akan berbicara, dan pembicaraannya tidak keluar dari bagian-bagian ini.
أما الدعاء له فلا يحل إلا أن يقول أصلحك الله أو وفقك الله للخيرات أو طول الله عمرك في طاعته أو ما يجري هذا المجرى
Adapun mendoakannya, maka tidak dihalalkan kecuali ia mengucapkan: 'Semoga Allah membaikkan dirimu', atau 'Semoga Allah memberimu taufik kepada kebaikan-kebaikan', atau 'Semoga Allah memanjangkan umurmu dalam ketaatan kepada-Nya', atau doa-doa yang sejenis dengan ini.
فأما الدعاء بالحراسة وطول البقاء وإسباغ النعمة مع الخطاب بالمولى وما في معناه فغير جائز قال ﷺ من دعا لظالم بالبقاء فقد أحب أن يعصي الله في أرضه
Adapun mendoakan perlindungan, umur panjang, dan kelimpahan nikmat baginya disertai sapaan 'Wahai Tuanku' (Al-Maula) dan sejenisnya, maka hal itu tidak diperbolehkan. Rasulullah ﷺ bersabda: 'Barangsiapa mendoakan umur panjang bagi orang yang zalim, sungguh ia telah menyukai agar Allah didurhakai di bumi-Nya.'
فإن جاوز الدعاء إلى الثناء فسيذكر ما ليس فيه فيكون به كاذباً ومنافقاً ومكرماً لظالم وهذه ثلاث معاص
Jika ia melampaui doa menuju pujian, maka ia pasti akan menyebutkan hal-hal yang tidak ada pada diri orang zalim itu, sehingga ia menjadi seorang pembohong, munafik, dan orang yang memuliakan penzalim. Dan ketiga hal ini merupakan maksiat.
وقد قَالَ ﷺ إِنَّ اللَّهَ ليغضب إذا مدح الفاسق
Dan sungguh Rasulullah ﷺ telah bersabda: 'Sesungguhnya Allah benar-benar murka apabila orang fasik dipuji.'
وفي خبر آخر من أكرم فاسقاً فقد أعان على هدم الإسلام
Dan dalam riwayat lain disebutkan: 'Barangsiapa memuliakan orang fasik, sungguh ia telah membantu meruntuhkan Islam.'
فإن جاوز ذلك إلى التصديق له فيما يقول والتزكية والثناء على ما يعمل كان عاصيا بالتصديق والإعانة فإن التزكية والثناء إعانة على المعصية وتحريك للرغبة فيه كما أن التكذيب والذمة والتقبيح زجر عنه وتضعيف لدواعيه
Jika ia melampaui hal tersebut hingga membenarkan apa yang diucapkannya, serta merekomendasikan dan memuji perbuatannya, maka ia telah bermaksiat dengan pembenaran dan bantuan tersebut. Sebab, memberikan rekomendasi bersih (tazkiyah) dan pujian merupakan bentuk dorongan terhadap kemaksiatan dan membangkitkan keinginan untuk melakukannya, sebagaimana mendustakan, mencela, dan menganggap buruk perbuatan tersebut merupakan cegahan darinya dan pelemah dorongannya.
والإعانة على المعصية معصية ولو بشطر كلمة
Membantu perbuatan maksiat adalah maksiat, walau hanya dengan sepotong kata.
ولقد سئل سفيان الثوري ﵁ عن ظالم أشرف على الهلاك في برية هل يسقى شربة ماء فقال لا دعه حتى يموت فإن ذلك إعانة له
Sufyan ats-Tsauri radhiyallahu 'anhu pernah ditanya mengenai seorang zalim yang hampir binasa di padang sahara, apakah ia boleh diberi seteguk air? Beliau menjawab, "Tidak, biarkanlah sampai ia mati, sebab memberi minum kepadanya merupakan bantuan baginya (untuk berbuat zalim)."
وقال غيره يسقى إلى أن تثوب إليه نفسه ثم يعرض عنه
Ulama lain berkata, "Ia tetap diberi minum hingga jiwanya (kekuatannya) pulih kembali, kemudian setelah itu ditinggalkan."
فإن جاوز ذلك إلى إظهار الحب والشوق إلى لقائه وطول بقائه فإن كان كاذباً عصى معصية الكذب والنفاق وإن كان صادقاً عصى بحبه بقاء الظالم وحقه أن يبغضه في الله ويمقته
Apabila hal itu melampaui batas hingga menampakkan rasa cinta, kerinduan untuk bertemu dengannya, dan harapan agar ia berumur panjang; maka jika ia berdusta, ia telah bermaksiat dengan kemaksiatan dusta dan kemunafikan. Namun jika ia jujur (benar-benar mencintainya), ia telah bermaksiat karena mencintai kelangsungan hidup orang yang zalim, padahal kewajibannya adalah membencinya karena Allah dan murka kepadanya.
فالبغض في الله واجب ومحب المعصية والراضي بها عاص ومن أحب ظالماً فإن أحبه لظلمه فهو عاص لمحبته وإن احبه لسبب آخر فهو عاص من حيث إنه لم يبغضه وكان الواجب عليه أن يبغضه
Maka membenci karena Allah adalah wajib. Orang yang mencintai kemaksiatan dan ridha terhadapnya adalah pembuat maksiat. Barangsiapa mencintai orang zalim, jika ia mencintainya karena kezalimannya, maka ia bermaksiat sebab cintanya tersebut. Dan jika ia mencintainya karena alasan lain, ia tetap bermaksiat dari segi tidak membencinya, padahal kewajibannya adalah membencinya.
وإن اجتمع في شخص خير وشر وجب أن يحب لأجل ذلك الخير ويبغض لأجل ذلك الشر
Jika terkumpul dalam diri seseorang kebaikan dan keburukan, maka wajib mencintainya karena kebaikan tersebut dan membencinya karena keburukan tersebut.
وسيأتي
Dan akan dijelaskan nanti
في كتاب الإخوة والمتحابين في الله وجه الجمع بين البغض والحب
dalam Kitab Adab Persaudaraan dan Saling Mencintai Karena Allah, mengenai tata cara memadukan antara benci dan cinta.
فإن سلم من ذلك كله وهيهات فلا يسلم من فساد يتطرق إلى قلبه فإنه ينظر إلى توسعه في النعمة ويزدري نعم الله عليه ويكون مقتحماً نَهَى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ حيث قال يا معشر المهاجرين لا تدخلوا على أهل الدنيا فإنها مسخطة للرزق
Sekiranya ia selamat dari itu semua—dan alangkah jauhnya hal itu terjadi—maka ia tidak akan selamat dari kerusakan yang merayap ke dalam hatinya. Sebab, ia melihat kelapangan nikmat pada diri mereka (orang-orang zalim), lalu ia meremehkan nikmat Allah yang ada pada dirinya. Dengan demikian, ia menerjang larangan Rasulullah ﷺ ketika beliau bersabda, "Wahai kaum Muhajirin, janganlah kalian masuk menemui para pengabdi dunia, karena sesungguhnya hal itu mendatangkan kemurkaan terhadap rezeki."
وهذا مع ما فيه من اقتداء غيره به في الدخول ومن تكثيره سواد الظلمة بنفسه وتجميله إياهم إن كان ممن يتجمل به وكل ذلك إما مكروهات أو محظورات
Hal ini di samping mengandung dampak bahwa orang lain akan meneladaninya dalam menemui penguasa, menambah jumlah rombongan orang-orang zalim dengan keberadaannya, dan memperindah citra mereka jika ia termasuk orang yang dijadikan perhiasan bagi mereka. Semua hal tersebut berkisar antara perkara makruh atau perkara haram.
دعي سعيد بن المسيب إلى البيعة للوليد وسليمان ابني عبد الملك بن مروان فقال
Sa'id bin al-Musayyib pernah diajak untuk berbaiat kepada al-Walid dan Sulaiman, dua putra 'Abdul Malik bin Marwan, lalu beliau berkata,
لا أبايع اثنين ما اختلف الليل والنهار فإن النبي ﷺ نهى عن بيعتين
"Aku tidak akan membaiat dua orang selama siang dan malam masih berganti, sebab Nabi ﷺ melarang dua baiat (pada satu waktu)."
فقال ادخل من الباب واخرج من الباب الآخر فقال لا والله لا يتقدى بي أحد من الناس فجلد مائة وألبس المسوح
Lalu dikatakan kepadanya, "Masuklah dari satu pintu dan keluarlah dari pintu yang lain (agar terlihat menyetujui)." Beliau menjawab, "Tidak, demi Allah, jangan sampai ada seorang pun manusia yang meneladaniku (dalam kecurangan ini)." Maka beliau dicambuk seratus kali dan dipakaikan pakaian wool kasar.
ولا يجوز الدخول عليهم إلا بعذرين أحدهما أن يكون من جهتهم أمر إلزام لا أمر إكرام وعلم أنه لو امتنع أوذى أو فسد عليهم طاعة الرعية واضطرب عليهم أمر السياسة فيجب عليه الإجابة لا طاعة لهم بل مراعاة لمصلحة الخلق حتى لا تضطرب الولاية
Dan tidak boleh masuk menemui mereka kecuali dengan dua uzur. Salah satunya: jika ada perintah paksaan dari pihak mereka, bukan perintah penghormatan, dan ia tahu bahwa sekiranya ia menolak maka ia akan disakiti atau ketaatan rakyat kepada mereka menjadi rusak serta tata kelola pemerintahan menjadi kacau. Maka wajib baginya memenuhi panggilan tersebut, bukan untuk menaati mereka, melainkan demi menjaga kemaslahatan makhluk agar roda pemerintahan tidak kacau.
والثاني أن يدخل عليهم في دفع ظلم عن مسلم سواه أو عن نفسه إما بطريق الحسبة أو بطريق التظلم فذلك رخصة بشرط أن لا يكذب ولا يثني ولا يدع نصيحة يتوقع لها قبولاً فهذا حكم الدخول
Yang kedua: ia masuk menemui mereka demi menghindarkan kezaliman dari Muslim lainnya atau dari dirinya sendiri, baik dengan cara hisbah (mencegah kemungkaran) maupun dengan cara tadzhallum (mengadukan kezaliman). Hal itu merupakan rukhsah (keringanan) dengan syarat ia tidak berdusta, tidak memuji-muji, dan tidak meninggalkan nasihat yang diperkirakan dapat diterima. Inilah hukum mengenai masuk menemui penguasa.
الحالة الثانية أن يدخل عليك السلطان الظالم زائرا فجواب السلام لا بد منه
Keadaan kedua: apabila penguasa yang zalim masuk menemui Anda sebagai tamu. Maka menjawab salam darinya adalah sebuah keharusan.
وأما القيام والإكرام له فلا يحرم مقابلة له على إكرامه
Adapun berdiri dan memuliakannya, maka hal itu tidak diharamkan sebagai balasan atas penghormatannya.
فإنه بإكرام العلم والدين مستحق للإحماد كما أنه بالظلم مستحق للإبعاد
Sebab dengan penghormatannya terhadap ilmu dan agama, ia berhak mendapatkan pujian, sebagaimana karena kezalimannya ia berhak untuk dijauhi.
فالإكرام بالإكرام والجواب بالسلام
Maka penghormatan dibalas dengan penghormatan, dan jawaban salam dibalas untuk salam.
ولكن الأولى أن لا يقوم إن كان معه في خلوة ليظهر له بذلك عز الدين وحقارة الظلم ويظهر غضبه للدين وإعراضه عمن أعرض عن الله فأعرض الله تعالى عنه
Namun yang lebih utama adalah hendaknya ia tidak berdiri jika ia bersamanya dalam keadaan berkhalwat (berdua saja), agar menampakkan kepadanya keagungan agama dan kehinaan kezaliman, serta menampakkan kemarahannya demi agama dan keberpalingannya dari orang yang berpaling dari Allah sehingga Allah Ta'ala pun berpaling darinya.
وإن كان الداخل عليه في جمع فمراعاة حشمة أرباب الولايات فيما بين الرعايا مهم فلا بأس بالقيام على هذه النية
Dan jika orang yang menemuinya berada di tengah khalayak ramai, maka menjaga wibawa dan kehormatan para pemegang kekuasaan di hadapan rakyat merupakan hal yang penting, sehingga tidak mengapa berdiri (menyambutnya) dengan niat ini.
وإن علم أن ذلك لا يورث فساداً في الرعية ولا يناله أذى من غضبه فترك الإكرام بالقيام أولى ثم يجب عليه بعد أن وقع اللقاء أن ينصحه فإن كان قارف ما لا يعرف تحريمه وهو يتوقع أن يتركه إذا عرف فليعرفه فذلك واجب
Namun jika dia tahu bahwa hal itu (tidak berdiri menyambut) tidak memicu timbulnya kerusakan pada rakyat dan dia pun selamat dari gangguan kemarahannya, maka meninggalkan penghormatan dengan berdiri adalah lebih utama. Kemudian, setelah pertemuan terjadi, dia wajib menasihatinya. Jika penguasa tersebut melakukan sesuatu yang tidak dia ketahui keharamannya sementara diperkirakan dia akan meninggalkannya jika mengetahuinya, hendaklah dia memberitahukannya, dan hal itu hukumnya wajib.
وأما ذكر تحريم ما يعلم تحريمه من السرف والظلم فلا فائدة فيه بل عليه أن يخوفه فيما يرتكبه من المعاصي مهما ظن أن التخويف يؤثر فيه
Adapun menyebutkan keharaman hal-hal yang sudah diketahui keharamannya, seperti pemborosan (israf) dan kezaliman, maka tidak ada faedahnya. Sebaliknya, dia wajib menakut-nakutinya (dengan ancaman azab) atas kemaksiatan-kemaksiatan yang dilakukannya selagi dia menduga bahwa peringatan tersebut berpengaruh padanya.
وعليه أن يرشده إلى طريق المصلحة إن كان يعرف طريقاً على وفق الشرع بحيث يحصل بها غرض الظالم من غير معصية ليصده بذلك عن الوصول إلى غرضه بالظلم
Dan dia wajib menunjukkannya kepada jalan kemaslahatan jika dia mengetahui cara yang sesuai dengan syariat, sekira tujuan penguasa zalim tersebut dapat tercapai tanpa kemaksiatan, guna berpaling dengannya dari meraih tujuannya melalui cara yang zalim.
فإذاً يجب عليه التعريف في محل جهله والتخويف فيما هو مستجرئ عليه والإرشاد إلى ما هو غافل عنه مما يغنيه عن الظلم فهذه ثلاثة أمور تلزمه إذا توقع للكلام فيه أثراً وذلك أيضاً لازم على كل من اتفق له دخول على السلطان بعذر أو بغير عذر
Dengan demikian, wajib baginya memberi tahu pada perkara yang tidak diketahuinya, menakut-nakutinya pada perkara yang nekat diperbuatnya, dan menunjukkan pada perkara yang dilalaikannya yang dapat menghindarkannya dari kezaliman. Ketiga hal ini mengikatnya apabila dia memperkirakan perkataannya itu membawa pengaruh. Hal itu juga mengikat bagi setiap orang yang kebetulan masuk menemui sultan (penguasa), baik dengan uzur maupun tanpa uzur.
وعن محمد بن صالح قال كنت عند حماد بن سلمة وإذا ليس في البيت إلا حصير وهو جالس عليه ومصحف يقرأ فيه وجراب فيه علمه ومطهرة يتوضأ منها فبينا أنا عنده إذ دق داق الباب فإذا هو محمد بن سليمان فأذن له فدخل وجلس بين يديه ثم قال له مالى إذا رأيتك امتلأت منك رعباً قال حماد لأنه قال ﵇ إن العالم إذا أراد بعلمه وجه الله هابه كل شيء وإن أراد أن يكنز به الكنوز هاب من كل شيء
Diriwayatkan dari Muhammad bin Shalih, ia berkata: "Aku pernah berada di sisi Hammad bin Salamah. Ketika itu tidak ada apa-apa di rumahnya kecuali selembar tikar yang didudukinya, sebuah mushaf yang dibacanya, sebuah kantong kulit berisi kitab-kitab ilmunya, dan bejana air untuk berwudu. Saat aku bersamanya, tiba-tiba ada orang yang mengetuk pintu. Ternyata dia adalah Muhammad bin Sulaiman. Hammad mengizinkannya, lalu ia masuk dan duduk di hadapannya. Kemudian Muhammad bin Sulaiman berkata kepadanya, 'Mengapa setiap kali aku melihatmu, aku dipenuhi rasa takut kepadamu?' Hammad menjawab, 'Karena Nabi ﷺ bersabda: *Sesungguhnya seorang alim apabila dengan ilmunya menghendaki wajah Allah (keridaan-Nya), maka segala sesuatu akan segan/takut kepadanya. Namun jika ia menghendaki untuk menimbun harta dengannya, ia akan takut kepada segala sesuatu.*'"
ثم عرض عليه أربعين ألف درهم وقال تأخذها وتستعين بها قال ارددها على من ظلمته بها
Kemudian ia menyodorkan empat puluh ribu dirham kepadanya seraya berkata, "Ambillah uang ini dan pergunakanlah untuk membantumu." Hammad berkata, "Kembalikan uang itu kepada orang yang telah engkau zalimi dengannya!"
قال والله ما أعطيتك إلا مما ورثته قال لا حاجة لي بها فتأخذها فتقسمها قال لعلي إن عدلت في قسمتها أخاف أن يقول بعض من لم يرزق منها إنه لم يعدل في قسمتها فيأثم فازوها عني
Ia berkata, "Demi Allah, aku tidak memberikannya kepadamu melainkan dari harta yang kuwarisi." Hammad berkata, "Aku tidak membutuhkannya." Ia berkata lagi, "Kalau begitu ambillah lalu bagikanlah." Hammad menjawab, "Boleh jadi jika aku berlaku adil dalam pembagiannya, aku khawatir sebagian orang yang tidak mendapatkan bagian darinya akan berkata bahwa dia tidak berlaku adil dalam pembagiannya sehingga ia berbuat dosa. Maka jauhkahlah uang itu dariku!"
الحالة الثالثة أن يعتزلهم فلا يراهم ولا يرونه وهو الواجب إذ لا سلامة إلا فيه فعليه أن يعتقد بغضهم على ظلمهم ولا يحب بقاءهم ولا يثني عليهم ولا يستخبر عن أحوالهم ولا يتقرب إلى المتصلين بهم ولا يتأسف على ما يفوت بسبب مفارقتهم وذلك إذا خطر بباله أمرهم وإن غفل عنهم فهو الأحسن
Keadaan ketiga: Hendaklah ia menjauhi (mengasingkan diri dari) mereka sehingga ia tidak melihat mereka dan mereka pun tidak melihatnya. Ini adalah hal yang wajib, sebab tidak ada keselamatan kecuali padanya. Maka wajib baginya meyakini kebencian terhadap mereka atas kezaliman mereka, tidak menyukai kelestarian kekuasaan mereka, tidak memuji mereka, tidak menanyakan kabar berita mereka, tidak mendekati orang-orang yang berhubungan dengan mereka, dan tidak merasa menyesal atas kenikmatan duniawi yang luput akibat menjauhi mereka. Hal tersebut apabila urusan mereka terlintas dalam benaknya, namun jika ia lalai (sama sekali tidak memikirkan) tentang mereka, maka itu adalah yang paling baik.
وإذا خطر بباله تنعمهم فليذكر ما قاله حاتم الأصم إنما بيني وبين الملوك يوم واحد فأما أمس فلا يجدون لذته وإني وإياهم في غد لعلى وجل وإنما هو اليوم وما عسى أن يكون في اليوم وما قاله أبو الدرداء إذ قال أهل الأموال يأكلون ونأكل ويشربون ونشرب ويلبسون ونلبس ولهم فضول أموال ينظرون إليها وننظر معهم إليها وعليهم حسابها ونحن منها براء
Apabila terlintas dalam benaknya kenikmatan hidup mereka, hendaklah ia mengingat apa yang dikatakan oleh Hatim al-Ashamm: "Sesungguhnya jarak antara diriku dan para raja hanyalah satu hari. Adapun hari kemarin, mereka tidak lagi merasakan kelezatannya; sedangkan besok, aku dan mereka sama-sama berada dalam kecemasan. Maka sesungguhnya yang ada hanyalah hari ini, dan apakah yang mungkin terjadi pada hari ini?" Dan juga apa yang dikatakan oleh Abu ad-Darda' ketika ia berkata: "Para pemilik harta makan dan kami pun makan, mereka minum dan kami pun minum, mereka berpakaian dan kami pun berpakaian. Mereka memiliki kelebihan harta yang mereka pandangi dan kami pun memandangnya bersama mereka, namun hisabnya menjadi tanggungan mereka sedangkan kami bebas darinya."
وكل من أحاط علمه بظلم ظالم ومعصية عاص فينبغي أن يحط ذلك من درجته في قلبه
Dan barang siapa ilmunya melingkupi (mengetahui) kezaliman orang yang zalim dan maksiat orang yang bermaksiat, seyogianya hal itu menurunkan derajat/kedudukan orang tersebut di dalam hatinya.
فهذا واجب عليه لأن من صدر منه ما يكره نقص ذلك من رتبته في القلب لا محالة
Hal ini wajib baginya, karena barang siapa terbit darinya apa yang dibenci, maka hal itu niscaya mengurangi kedudukannya di dalam hati.
والمعصية ينبغي أن تكره فإنه إما أن يغفل عنها أو يرضى بها أو يكره ولا غفلة مع العلم ولا وجه للرضا فلا بد من الكراهة فليكن جناية كل أحد على حق الله كجنايته على حقك
Kemaksiatan itu seyogianya dibenci, sebab seseorang itu bisa jadi melalaikannya, meridainya, atau membencinya. Sedangkan tidak ada kelalaian bersamaan dengan adanya pengetahuan, dan tidak ada alasan untuk meridainya, maka tidak boleh tidak harus ada rasa benci. Jadikanlah pelanggaran setiap orang terhadap hak Allah sebagaimana pelanggarannya terhadap hakmu sendiri.
فإن قلت الكراهة لا تدخل تحت الاختيار فكيف تجب قلنا ليس كذلك فإن المحب يكره بضرورة الطبع ما هو مكروه عند محبوبه ومخالف له فإن من لا يكره معصية الله لا يحب الله وإنما لا يحب الله من لا يعرفه والمعرفة واجبة والمحبة لله واجبة
Jika engkau berkata, "Rasa benci itu tidak berada di bawah pilihan ikhtiar, lalu bagaimana bisa diwajibkan?" Kami katakan: Tidak demikian, sebab seorang pencinta secara keniscayaan watak (bawaan) pasti membenci apa yang dibenci oleh kekasihnya dan apa yang menyelisihi-Nya. Maka barang siapa tidak membenci maksiat kepada Allah, berarti ia tidak mencintai Allah, dan sesungguhnya tidak mencintai Allah melainkan orang yang tidak mengenal-Nya. Padahal ma'rifat (mengenal Allah) itu wajib dan mahabbah (mencintai Allah) itu wajib.
وإذا أحبه كره ما كرهه واحب ما أحبه وسيأتي تحقيق ذلك في كتاب المحبة والرضا
Dan jika ia mencintai-Nya, niscaya ia membenci apa yang dibenci-Nya dan menyukai apa yang disukai-Nya. Penjelasan secara mendalam mengenai hal ini akan hadir dalam Kitab Mahabbah dan Ridha.
فإن قلت فقد كان علماء السلف يدخلون على السلاطين فأقول نعم تعلم الدخول منهم ثم ادخل كما حكي أن هشام بن عبد الملك قدم حاجاً إلى مكة فلما دخلها قال ائتوني برجل من الصحابة فقيل يا أمير المؤمنين قد تفانوا فقال من التابعين فأتي بطاوس اليماني فلما دخل عليه خلع نعليه بحاشية بساطه ولم يسلم عليه بإمرة المؤمنين ولكن قال السلام عليك يا هشام ولم يكنه وجلس بإزائه وقال كيف أنت يا هشام فغضب هشام غضباً شديداً حتى هم بقتله فقيل له أنت في حرم الله وحرم رسوله ولا يمكن ذلك فقال يا طاوس ما الذي حملك على ما صنعت قال وما الذي صنعت فازداد غضباً وغيظاً قال خلعت نعليك بحاشية بساطي ولم تقبل يدي ولم تسلم علي بإمرة المؤمنين ولم تكنني وجلست بإزائي بغير إذني وقلت كيف أنت يا هشام قال أما ما فعلت من خلع نعلي بحاشية بساطك فإني أخلعهما بين يدي رب العزة كل يوم خمس مرات ولا يعاقبني ولا يغضب علي وأما قولك لم تقبل يدي فإني سمعت أمير المؤمنين عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ ﵁ يقول لا يحل لرجل أن يقبل يد أحد إلا امرأته من شهوة أو ولده من رحمة وأما قولك لم تسلم علي بإمرة المؤمنين فليس كل الناس راضين بإمرتك فكرهت أن أكذب وأما قولك لم تكنني فإن الله تعالى سمى أنبياءه وأولياءه فقال يا يحيى يا عيسى وكنى أعداءه فقال ﴿تبت يدا أبي لهب﴾ وأما قولك جلست بإزائي فإني سمعت أمير المؤمنين علياً ﵁ يقول إذا أردت أن تنظر إلى رجل من أهل النار فانظر إلى رجل جالس وحوله قوم قيام
Jika engkau berkata, "Sungguh para ulama Salaf pun pernah masuk menemui para sultan." Maka aku katakan: Ya, pelajarilah tata cara masuk dari mereka, lalu masuklah! Sebagaimana dikisahkan bahwa Hisham bin Abdul Malik datang untuk berhaji ke Makkah. Ketika memasukinya, ia berkata, "Bawakan kepadaku seorang laki-laki dari kalangan Sahabat!" Lalu dikatakan kepadanya, "Wahai Amirul Mukminin, mereka telah wafat semuanya." Ia berkata, "Kalau begitu dari kalangan Tabi'in!" Maka dibawakanlah Thawus al-Yamani kepadanya. Ketika Thawus masuk menemuinya, ia melepas kedua sandalnya di tepi permadani Hisham, tidak mengucapkan salam kepadanya dengan julukan 'Amirul Mukminin', melainkan hanya berkata: "Assalamu 'alaika wahai Hisham," tidak menyebut nama kunyah-nya, lalu duduk di sampingnya seraya berkata, "Bagaimana kabarmu wahai Hisham?" Hisham pun murka dengan kemurkaan yang sangat hingga berniat membunuhnya. Lalu dikatakan kepadanya, "Engkau berada di tanah haram Allah dan tanah haram Rasul-Nya, hal itu tidak memungkinkan." Maka Hisham berkata, "Wahai Thawus, apa yang mendorongmu berbuat demikian?" Thawus menjawab, "Memangnya apa yang telah kuperbuat?" Maka bertambahlah kemurkaan dan kejengkelannya, Hisham berkata, "Engkau melepas kedua sandalmu di tepi permadaniku, tidak mencium tanganku, tidak mengucapkan salam kepadaku sebagai Amirul Mukminin, tidak memanggilku dengan nama kunyah-ku, duduk di sampingku tanpa izin dariku, dan berkata: 'Bagaimana kabarmu wahai Hisham?'" Thawus menjawab, "Adapun perbuatanku melepas kedua sandalku di tepi permadanimu, sesungguhnya aku melepas keduanya di hadapan Rabb Yang Mahaperkasa setiap hari lima kali, dan Dia tidak menghukumku serta tidak murka kepadaku. Adapun ucapanmu bahwa aku tidak mencium tanganmu, sesungguhnya aku mendengar Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib ﵁ berkata: 'Tidak halal bagi seseorang mencium tangan siapa pun kecuali istrinya karena syahwat atau anaknya karena kasih sayang.' Adapun ucapanmu bahwa aku tidak memberi salam kepadamu sebagai Amirul Mukminin, sesungguhnya tidak semua manusia ridha dengan kepemimpinanmu, maka aku tidak suka berdusta. Adapun ucapanmu bahwa aku tidak memanggilmu dengan nama kunyah, sesungguhnya Allah Ta'ala memanggil para nabi dan wali-Nya dengan menyebut nama mereka, Dia berfirman: 'Wahai Yahya, wahai 'Isa', sedangkan Dia menyebut nama kunyah musuh-musuh-Nya, berfirman: *'Binasalah kedua tangan Abu Lahab'*. Dan adapun ucapanmu bahwa aku duduk di sampingmu, sesungguhnya aku mendengar Amirul Mukminin Ali ﵁ berkata: 'Jika engkau ingin melihat seorang laki-laki dari penghuni neraka, maka lihatlah seorang laki-laki yang duduk sementara orang-orang di sekitarnya berdiri.'"
فقال له هشام عظني فقال سمعت من أمير المؤمنين علي ﵁ يقول إن في جهنم حيات كالقلال وعقارب كالبغال تلدغ كل أمير لا يعدل في رعيته
Lalu Hisham berkata kepadanya, "Nasihatilah aku!" Thawus berkata, "Aku mendengar Amirul Mukminin Ali ﵁ berkata: 'Sesungguhnya di dalam neraka Jahanam terdapat ular-ular sebesar tempayan dan kalajengking-kalajengking sebesar bagal yang menyengat setiap pemimpin yang tidak berlaku adil kepada rakyatnya.'"
ثم قام وهرب
Kemudian ia berdiri lalu pergi melarikan diri.
وعن سفيان الثوري ﵁ قال أدخلت على أبي جعفر المنصور بمنى فقال لي ارفع إلينا حاجتك فقلت له اتق الله فقد ملأت الأرض ظلماً وجوراً
Diriwayatkan dari Sufyan ats-Tsauri ﵁, ia berkata: "Aku dihadapkan kepada Abu Ja'far al-Manshur di Mina, lalu ia berkata kepadaku, 'Sampaikanlah kebutuhanmu kepada kami!' Maka aku berkata kepadanya, 'Bertakwalah kepada Allah, sebab engkau telah memenuhi bumi dengan kezaliman dan kesewenang-wenangan!'"
قال فطأطأ رأسه ثم رفعه فقال ارفع إلينا
Sufyan berkata: "Maka al-Manshur menundukkan kepalanya, kemudian mengangkatnya seraya berkata, 'Sampaikanlah kebutuhanmu kepada kami!'"
حاجتك فقلت إنما أنزلت هذه المنزلة بسيوف المهاجرين والأنصار وأبناؤهم يموتون جوعاً فاتق الله وأوصل إليهم حقوقهم فطأطأ رأسه ثم رفعه فقال ارفع إلينا حاجتك فقلت حج عمر بن الخطاب ﵁ فقال لخازنه كم أنفقت قال بضعة عشر درهماً وأرى ههنا أموالاً لا تطيق الجمال حملها وخرج فهكذا كانوا يدخلون على السلاطين إذا ألزموا وكانوا يغررون بأرواحهم للانتقام لله من ظلمهم
"…kebutuhanmu." Aku menjawab, "Sesungguhnya engkau didudukkan di kedudukan ini hanyalah berkat pedang-pedang kaum Muhajirin dan Ansar, sementara anak-anak mereka mati kelaparan. Bertaqwalah kepada Allah dan sampaikan hak-hak mereka!" Penguasa itu menundukkan kepalanya, lalu mengangkatnya kembali dan berkata, "Sampaikanlah kebutuhanmu kepada kami." Aku berkata, "Umar bin al-Khattab radhiyallahu 'anhu pernah berhaji, lalu beliau bertanya kepada bendaharakannya, 'Berapa yang engkau infakkan?' Ia menjawab, 'Belasan dirham.' Sementara di sini aku melihat harta benda yang bahkan tak sanggup dipikul oleh unta-unta." Setelah itu ia pun keluar. Demikianlah cara mereka menemui para penguasa apabila terpaksa, dan mereka siap mempertaruhkan nyawa mereka demi membela agama Allah dari kezaliman para penguasa itu.
ودخل ابن أبي شميلة على عبد الملك بن مروان فقال له تكلم فقال له إن الناس لا ينجون في القيامة من غصصها ومراراتها ومعاينة الردى فيها إلا من أرضى الله بسخط نفسه فبكى عبد الملك وقال لأجعلن هذه الكلمة مثالاً نصب عيني ما عشت
Ibn Abi Syumailah masuk menemui Abdul Malik bin Marwan, lalu Abdul Malik berkata kepadanya, "Bicara-lah!" Maka ia berkata, "Sesungguhnya manusia pada hari kiamat tidak akan selamat dari kesengsaraan, kepahitan, dan penyaksian kebinasaan di dalamnya melainkan orang yang meredhai Allah dengan memurkai dirinya sendiri." Maka Abdul Malik menangis dan berkata, "Sungguh, aku akan menjadikan kalimat ini sebagai pedoman di depan mataku selama aku hidup."
ولمال استعمل عثمان بن عفان ﵁ عبد الله بن عامر أتاه أصحاب رسول الله ﷺ وأبطأ عنه أبو ذر وكان له صديقاً فعاتبه فقال أبو ذر
Ketika Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu mengangkat Abdullah bin Amir sebagai pejabat, para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mendatangi beliau, tetapi Abu Dzar terlambat mendatanginya padahal beliau adalah sahabatnya. Maka Utsman pun menegurnya, lalu Abu Dzar berkata:
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يقول أن الرجل إذا ولى ولايته تباعد الله عنه
"Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Sesungguhnya apabila seseorang memangku suatu kekuasaan, maka Allah akan menjauh darinya.'"
ودخل مالك بن دينار على أمير البصرة فقال أيها الأمير قرأت في بعض الكتب إن الله تعالى يقول ما أحمق من سلطان وما أجهل ممن عصاني ومن اعز ممن اعتز بي أيها الراعي السوء دفعت إليك غنماً سماناً صحاحاً فأكلت اللحم ولبست الصوف وتركها عظاماً تتقعقع فقال له والي البصرة أندري ما الذي يجرئك علينا ويجنبنا عنك قال لا قال قلة الطمع فينا وترك الإمساك لما في أيدينا
Malik bin Dinar masuk menemui Gubernur Bashrah lalu berkata, "Wahai Amir, aku telah membaca dalam sebagian kitab bahwa Allah Ta'ala berfirman: 'Betapa dungunya seorang penguasa dan betapa bodohnya orang yang bermaksiat kepada-Ku, serta betapa mulianya orang yang merasa mulia dengan-Ku! Wahai gembala yang buruk, Aku telah menyerahkan kepadamu domba-domba yang gemuk dan sehat, namun engkau memakan dagingnya, memakai bulunya, dan membiarkannya tinggal tulang-belulang yang bergemerutuk.'" Gubernur Bashrah lalu berkata kepadanya, "Apakah engkau tahu apa yang membuatmu berani terhadap kami dan membuat kami segan padamu?" Malik menjawab, "Tidak." Gubernur berkata, "Minimnya ketamakanmu terhadap apa yang ada pada kami dan tidak adanya kemauanmu untuk menahan apa yang ada di tangan kami."
وكان عمر بن عبد العزيز واقفاً مع سليمان ابن عبد الملك فسمع سليمان صوت الرعد فجزع ووضع صدره على مقدمة لرحل فقال له عمر هذا صوت رحمته فكيف إذا سمعت صوت عذابه ثم نظر سليمان إلى الناس فقال ما أكثر الناس فقال عمر خصماؤك يا أمير المؤمنين فقال له سليمان ابتلاك الله بهم
Umar bin Abdul Aziz pernah berdiri bersama Sulaiman bin Abdul Malik. Lalu Sulaiman mendengar suara petir, maka ia pun ketakutan dan menelungkupkan dadanya pada bagian depan pelana untanya. Umar berkata kepadanya, "Ini adalah suara rahmat-Nya, lalu bagaimana jika engkau mendengar suara azab-Nya?" Kemudian Sulaiman memandang ke arah kerumunan manusia dan berkata, "Betapa banyaknya manusia." Umar menyahut, "Mereka adalah para penuntutmu (di akhirat), wahai Amirul Mukminin!" Maka Sulaiman berkata kepadanya, "Semoga Allah mengujimu dengan mereka."
وحكي أن سليمان بن عبد الملك قدم المدينة وهو يريد مكة فأرسل إلى أبي حازم فدعاه فلما دخل عليه قال له سليمان يا أبا حازم ما لنا نكره الموت فقال لأنكم خربتم آخرتكم وعمرتم دنياكم فكرهتم أن تنتقلوا من العمران إلى الخراب فقال يا أبا حازم كيف القدوم على الله قال يا أمير المؤمنين أما المحسن فكالغائب يقدم على أهله وأما المسيء فكالآبق يقدم على مولاه فبكى سليمان وقال ليت شعري ما لي عند الله قال أبو حازم اعرض نفسك على كتاب الله تعالى حيث قال ﴿إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جحيم﴾ قال فأين رحمة الله قال قريب من المحسنين ثم قال سليمان يا أبا حازم أي عباد الله أكرم قال أهل البر والتقوى قال فأي الأعمال أفضل قال أداء الفرائض مع اجتناب المحارم قال فأي الكلام أسمع قال قول الحق عند من تخاف وترجوا قال فأي المؤمنين أكيس قال رجل عمل بطاعة الله ودعا الناس إليها قال فأي المؤمنين أخسر قال رجل خطا في هوى أخيه وهو ظالم فباع آخرته بدنيا غيره قال سليمان ما تقول فيما نحن فيه قال أو تعفيني قال لا بد فإنها نصيحة تلقيها إلي قال يا أمير المؤمنين إن آباءك قهروا الناس بالسيف وأخذوا هذا الملك عنوة من غير مشورة من المسلمين ولا رضا منهم حتى قتلوا منهم مقتلة عظيمة وقد ارتحلوا فلو شعرت مما قالوا وما قيل لهم فقال له رجل من جلسائه بئسما قلت قال أبو حازم إن الله قد أخذ الميثاق على العلماء ليبيننه للناس ولا يكتمونه
Diceritakan bahwa Sulaiman bin Abdul Malik tiba di Madinah saat hendak menuju Makkah. Ia mengutus utusan kepada Abu Hazim dan memanggilnya. Ketika Abu Hazim masuk menemui beliau, Sulaiman berkata kepadanya, "Wahai Abu Hazim, mengapa kita membenci kematian?" Beliau menjawab, "Karena kalian telah merobohkan akhirat kalian dan memakmurkan dunia kalian, sehingga kalian benci untuk berpindah dari kemakmuran menuju kerobohan." Sulaiman bertanya, "Wahai Abu Hazim, bagaimana keadaan menghadap Allah?" Beliau menjawab, "Wahai Amirul Mukminin, adapun orang yang berbuat baik maka ia bagaikan orang yang lama menghilang lalu pulang kembali kepada keluarganya. Sedangkan orang yang berbuat jahat maka ia bagaikan budak yang buron lalu diseret kembali kepada tuannya." Maka Sulaiman menangis dan berkata, "Duhai, betapa ingin aku tahu bagaimana kedudukanku di sisi Allah?" Abu Hazim berkata, "Tunjukkan dirimu pada Kitab Allah Ta'ala ketika Dia berfirman: 'Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam kenikmatan, dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka Jaheem' [QS. Al-Infitar: 13-14]." Sulaiman bertanya, "Lalu di manakah rahmat Allah?" Beliau menjawab, "Rahmat Allah itu dekat dari orang-orang yang berbuat baik." Kemudian Sulaiman bertanya, "Wahai Abu Hazim, siapakah hamba Allah yang paling mulia?" Beliau menjawab, "Orang-orang yang berbuat kebajikan dan bertakwa." Sulaiman bertanya, "Amalan apakah yang paling utama?" Beliau menjawab, "Menunaikan kewajiban-kewajiban disertai menjauhi hal-hal yang diharamkan." Sulaiman bertanya, "Perkataan apakah yang paling didengar?" Beliau menjawab, "Perkataan yang benar di hadapan orang yang engkau takuti dan engkau harapkan." Sulaiman bertanya, "Siapakah orang mukmin yang paling cerdas?" Beliau menjawab, "Seseorang yang beramal dalam ketaatan kepada Allah dan mengajak manusia kepadanya." Sulaiman bertanya, "Siapakah orang mukmin yang paling rugi?" Beliau menjawab, "Seseorang yang tergelincir mengikuti hawa nafsu saudaranya padahal saudaranya itu zalim, sehingga ia menjual akhiratnya demi dunia orang lain." Sulaiman bertanya, "Apa pendapatmu tentang keadaan kita sekarang ini?" Beliau berkata, "Apakah engkau berkenan memaafkanku (dari menjawabnya)?" Sulaiman berkata, "Harus dijawab, sebab ini adalah nasihat yang engkau sampaikan kepadaku." Beliau berkata, "Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya nenek moyangmu menaklukkan manusia dengan pedang dan mengambil kekuasaan ini secara paksa tanpa musyawarah dari kaum muslimin dan tanpa keridaan mereka, hingga mereka membantai manusia dalam jumlah yang besar. Kini mereka telah berpulang, sekiranya engkau tahu apa yang telah mereka katakan dan apa yang dikatakan kepada mereka!" Maka seorang lelaki dari teman duduknya berkata, "Alangkah buruknya apa yang engkau katakan!" Abu Hazim menjawab, "Sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian dari para ulama agar mereka benar-benar menjelaskannya kepada manusia dan tidak menyembunyikannya."
قال وكيف لنا أن نصلح هذا الفساد قال أن تأخذه من حله فتضعه في حقه فقال سليمان ومن يقدر على ذلك فقال من يطلب الجنة ويخاف من النار
Sulaiman berkata, "Lalu bagaimana cara kita memperbaiki kerusakan ini?" Beliau menjawab, "Yaitu engkau mengambil harta dari jalan yang halal lalu menempatkannya pada haknya yang benar." Sulaiman berkata, "Dan siapakah yang sanggup melakukan itu?" Beliau menjawab, "Orang yang mencari surga dan takut akan neraka."
فقال سليمان ادع لي
Maka Sulaiman berkata, "Berdoalah untukku!"
فقال أبو حازم اللهم إن كان سليمان وليك فيسره لخيري الدنيا والآخرة وإن كان عدوك فخذ بناصيته إلى ما تحب وترضى فقال سليمان أوصني فقال أوصيك وأوجز عظم ربك ونزهه أن يراك حيث نهاك أو يفقدك حيث أمرك
Lalu Abu Hazim berdoa, "Ya Allah, jika Sulaiman ini adalah kekasih-Mu, maka mudahkanlah ia menuju kebaikan dunia dan akhirat; namun jika ia adalah musuh-Mu, maka peganglah ubun-ubunnya menuju apa yang Engkau cintai dan Engkau ridhai." Sulaiman berkata, "Berilah aku wasiat!" Beliau berkata, "Aku berwasiat kepadamu secara singkat: Agungkanlah Rabbmu dan sucikanlah Dia dari melihatmu di tempat yang Dia larang, atau tidak mendapati keberadaanmu di tempat yang Dia perintahkan."
وقال عمر
Dan Umar…
ابن عبد العزيز لأبي حازم عظني فقال اضطجع ثم اجعل الموت عند رأسك ثم انظر إلى ما تحب أن يكون فيك تلك الساعة فخذ به الآن وما تكره أن يكون فيك تلك الساعة فدعه الآن فلعل تلك الساعة قريبة
…bin Abdul Aziz pernah berkata kepada Abu Hazim, "Nasihatilah aku!" Maka beliau berkata, "Berbaringlah, lalu jadikanlah kematian itu berada di sisi kepalamu. Kemudian perhatikanlah apa yang engkau inginkan ada pada dirimu pada saat itu, maka lakukanlah ia sekarang. Dan apa yang engkau benci ada pada dirimu pada saat itu, maka tinggalkanlah ia sekarang, karena boleh jadi saat itu sudah sangat dekat."
ودخل أعرابي على سليمان بن عبد الملك فقال تكلم يا أعرابي فقال يا أمير المؤمنين إني مكلمك بكلام فاحتمله وإن كرهته فإن وراءه ما تحب إن قبلته فقال يا أعرابي إنا لنجود بسعة الاحتمال على من لا نرجو نصحه ولا تأمن غشه فكيف بمن نأمن غشه ونرجو نصحه فقال الأعرابي يا أمير المؤمنين إنه قد تكنفك رجال اساءوا الاختيار لأنفسهم وابتاعوا دنياهم بدينهم ورضاك بسخط ربهم خافوك في الله تعالى ولم يخافوا الله فيك حرب الآخرة سلم الدنيا فلا تأتمنهم على ما ائتمنك الله تعالى عليه فإنهم لم يألوا في الأمانة تضييعاً وفي الأمة خسفاً وعسفاً وأنت مسؤل عما اجترحوا وليسوا بمسؤولين عما اجترحت فلا تصلح دنياهم بفساد آخرتك فإن أعظم الناس غبناً من باع آخرته بدنيا غيره فقال له سليمان يا أعرابي أما إنك قد سللت لسانك وهو أقطع سيفيك قال أجل يا أمير المؤمنين ولكن لك لا عليك
Seorang Arab Badui masuk menemui Sulaiman bin Abdul Malik, lalu Sulaiman berkata, "Bicaralah, wahai orang Badui!" Maka ia berkata, "Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya aku akan menyampaikan perkataan kepadamu, maka bersabarlah menanggungnya meskipun engkau membencinya, karena di balik itu terdapat apa yang engkau sukai jika engkau menerimanya." Sulaiman berkata, "Wahai orang Badui, sungguh kami senantiasa melapangkan kesabaran bagi orang yang tidak kami harapkan nasihatnya dan tidak kami rasa aman dari penipuannya, maka bagaimana dengan orang yang kami rasa aman dari penipuannya dan kami harapkan nasihatnya?" Maka orang Badui itu berkata, "Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya engkau telah dikelilingi oleh orang-orang yang telah berbuat buruk dalam memilih bagi diri mereka sendiri. Mereka membeli dunia mereka dengan agama mereka, dan membeli keridaanmu dengan kemurkaan Rabb mereka. Mereka takut kepadamu dalam urusan Allah Ta'ala, namun mereka tidak takut kepada Allah dalam urusanmu. Mereka memerangi akhirat dan berdamai dengan dunia. Maka janganlah engkau memercayakan kepada mereka apa yang telah Allah amanatkan kepadamu, sebab mereka tidak ragu untuk mensia-siakan amanat serta menindas dan menzalimi umat. Engkau akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang mereka perbuat, sedangkan mereka tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang engkau perbuat. Maka janganlah engkau memperbaiki dunia mereka dengan merusak akhiratmu, karena sesungguhnya orang yang paling rugi adalah orang yang menjual akhiratnya demi dunia orang lain." Maka Sulaiman berkata kepadanya, "Wahai orang Badui, sungguh engkau telah menghunus lidahmu, dan ia adalah pedangmu yang paling tajam." Orang Badui itu menjawab, "Benar, wahai Amirul Mukminin, tetapi lidah ini membelamu, bukan menyerangmu."
وحكي أن أبا بكرة دخل على معاوية فقال اتق الله يا معاوية واعلم أنك في كل يوم يخرج عنك وفي كل ليلة تأتي عليك لا تزداد من الدنيا إلا بعداً ومن الآخرة إلا قرباً وعلى أثرك طالب لا تفوته وقد نصب لك علماً لا تجوزه فما أسرع ما تبلغ العلم وما أوشك ما يلحق بك الطالب وإنا وما نحن فيه زائل وفي الذي نحن إليه صائرون باق إن خيراً فخير وإن شراً فشر
Diceritakan bahwa Abu Bakrah masuk menemui Mu'awiyah lalu berkata, "Bertaqwalah kepada Allah, wahai Mu'awiyah! Ketahuilah bahwa setiap hari yang berlalu darimu dan setiap malam yang mendatangi dirimu, tidaklah menambah jarakmu melainkan semakin jauh dari dunia dan semakin dekat dengan akhirat. Di belakang jejakmu ada penuntut (kematian) yang tidak akan sanggup engkau luputkan, dan telah dipasang bagimu batas tujuan yang tidak akan dapat engkau lewati. Betapa cepatnya engkau akan mencapai batas itu, dan betapa dekatnya penuntut itu menyusulmu. Sesungguhnya kita dan segala apa yang sedang kita alami ini akan sirna, sedangkan apa yang akan kita tuju kelak adalah kekal; jika kebaikan maka balasannya kebaikan, dan jika keburukan maka balasannya keburukan."
فهكذا كان دخول أهل العلم على السلاطين أعني علماء الآخرة فأما علماء الدنيا فيدخلون ليتقربوا إلى قلوبهم فيدلونهم على الرخص ويستنبطون لهم بدقائق الحيل طرق السعة فيما يوافق أغراضهم
Demikianlah dahulu cara para ahli ilmu saat menemui para penguasa—yang aku maksud adalah para ulama akhirat. Adapun para ulama dunia, mereka menemui penguasa guna mendekatkan diri ke hati para penguasa tersebut, lalu memberi petunjuk kepada mereka tentang kemudahan-kemudahan (rukhshah) hukum, serta menggali untuk mereka cara-cara kelapangan melalui rekayasa hukum yang halus (hilah) demi menuruti tujuan-tujuan hawa nafsu para penguasa itu.
وإن تكلموا بمثل ما ذكرناه في معرض الوعظ لم يكن قصدهم الإصلاح بل اكتساب الجاه والقبول عندهم
Dan jikalau mereka berbicara dengan pembicaraan seperti yang telah kami sebutkan di atas dalam bentuk nasihat, tujuan mereka sejatinya bukanlah perbaikan, melainkan untuk meraih kedudukan dan penerimaan di sisi penguasa tersebut.
وفي هذا غروران يغتر بهم الحمقى أحدهما أن يظهر أن قصدي في الدخول عليهم إصلاحهم بالوعظ
Dalam hal ini terdapat dua bentuk tipu daya (ghurur) yang menipu orang-orang bodoh. Salah satunya adalah seseorang menampakkan bahwa tujuannya menemui penguasa adalah untuk memperbaiki mereka melalui nasihat.
وربما يلبسون على انفسهم بذلك وإنما الباعث لهم شهوة خفية للشهرة وتحصيل المعرفة عندهم وعلامة الصدق في طلب الإصلاح انه لو تولى ذلك الوعظ غيره ممن هو من أقرانه في العلم ووقع موقع القبول وظهر به أثر الصلاح فينبغي أن يفرح به ويشكر الله تعالى على كفايته هذا المهم كمن وجب عليه أن يعالج مريضا ضائعا فقام بمعاجلته غيره فإنه يعظم به فرحه
Terkadang mereka mengelabui diri mereka sendiri dengan alasan tersebut, padahal pendorong utama mereka sebenarnya adalah syahwat samar (tersembunyi) untuk meraih ketenaran dan mendapatkan pengakuan di sisi para penguasa. Tanda kejujuran (keikhlasan) dalam menuntut perbaikan adalah: seandainya nasihat tersebut disampaikan oleh orang lain dari kalangan rekannya seilmu, lalu nasihat itu diterima dan membuahkan dampak perbaikan pada penguasa, hendaknya ia merasa bahagia dan bersyukur kepada Allah Ta'ala karena telah mencukupkan tugas penting ini. Hal itu seperti orang yang berkewajiban mengobati seorang pesakit yang telantar, lalu orang lain datang mengobatinya, niscaya kegembiraannya sangat besar atas hal tersebut.
فإن كان يصادف في قلبه ترجيحاً لكلامه على كلام غيره فهو مغرور الثاني أن يزعم أني أقصد الشفاعة لمسلم في دفع ظلامة
Namun apabila ia mendapati di dalam hatinya ada kecenderungan agar perkataannya lebih diutamakan daripada perkataan orang lain, maka ia adalah orang yang tertipu (terpedaya). Bentuk kedua adalah seseorang mengklaim, "Aku bertujuan memberikan pembelaan (syafa'at) bagi seorang muslim untuk menolak suatu kezaliman."
وهذا أيضاً مظنة الغرور ومعياره ما تقدم ذكره
Hal ini juga merupakan tempat rawan terjadinya tipu daya (ghurur), dan tolok ukur (keikhlasannya) adalah sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya.
وإذا ظهر طريق الدخول عليهم فلنرسم في الأحوال العارضة في مخالطة السلاطين ومباشرة أموالهم مسائل
Setelah jelas jalan mendatangi (berinteraksi dengan) mereka, mari kita paparkan beberapa masalah mengenai kondisi-kondisi yang biasa terjadi dalam bergaul dengan para penguasa dan mengelola harta benda mereka.
مسألة إذا بعث إليك السلطان مالاً لتفرقه على الفقراء فإن كان له مالك معين فلا يحل أخذه وإن لم يكن بل كان حكمه انه يحب التصدق به على المساكين كما سبق فلك أن تأخذه وتتولى التفرقة ولا تعصى بأخذه ولكن من العلماء من امتنع عنه فعند هذا ينظر في الأولى فنقول
Masalah: Apabila penguasa mengirimkan sejumlah harta kepadamu untuk engkau bagikan kepada orang-orang fakir, jika harta itu memiliki pemilik tertentu (yang jelas), maka tidak halal mengambilnya. Namun jika tidak demikian, melainkan hukumnya adalah wajib atau dianjurkan disedekahkan kepada orang-orang miskin sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, maka engkau boleh mengambilnya dan mengurus pembagiannya, serta engkau tidak berbuat maksiat dengan mengambilnya. Akan tetapi, sebagian ulama menolak hal tersebut. Dalam kondisi ini, perlu ditinjau mana yang lebih utama, maka kita katakan:
الأولى أن تأخذه إن أمنت ثلاث غوائل
Yang lebih utama adalah engkau mengambilnya jika engkau aman dari tiga bahaya (bencana spiritual).
الغائلة الأولى أن يظن السلطان بسبب أخذك أن ماله طيب ولولا أنه طيب لما كنت تمد يدك إليه ولا تدخله في ضمانك فإن كان كذلك فلا تأخذه فإن ذلك محذور ولا يفي الخير في مباشرتك التفرقة بما يحصل لك من الجراءة على كسب الحرام
Bahaya pertama: Penguasa menyangka bahwa disebabkan engkau mau mengambilnya, hartanya adalah baik dan halal. Sebab jika tidak baik, tentu engkau tidak akan mengulurkan tanganmu kepadanya dan tidak memasukkannya ke dalam tanggung jawabmu. Jika demikian halnya, maka janganlah engkau mengambilnya, karena hal itu terlarang. Kebaikan yang diperoleh dari tindakanmu membagikan harta tersebut tidak sebanding dengan timbulnya keberanian pada dirimu untuk mendekati usaha yang haram.
الغائلة الثانية أن ينظر إليك غيرك من العلماء والجهال فيعتقدون أنه حلال فيقتدون بك في الأخذ ويستدلون به
Bahaya kedua: Orang lain, baik dari kalangan ulama maupun orang awam, melihat tindakanmu lalu meyakini bahwa harta itu halal, sehingga mereka meneladanimu dalam mengambilnya dan menjadikannya dalil…
على جوازه ثم لا يفرقون فهذا أعظم من الأول فإن جماعة يستدلون بأخذ الشافعي ﵁ على جواز الأخذ ويغفلون عن تفرقته وأخذه على نية التفرقة فالمقتدي والمتشبه به ينبغي أن يحترز عن هذا غاية الاحتراز فإنه يكون فعله سبب ضلال خلق كثير
…atas kebolehannya, namun kemudian mereka tidak membagikannya. Hal ini lebih besar bahayanya daripada yang pertama. Sebab, sekelompok orang menjadikan tindakan Imam asy-Syafi'i radhiyallahu 'anhu dalam mengambil harta sebagai dalil atas kebolehan mengambilnya, namun mereka lalai akan tindakan beliau yang membagikannya dan bahwa beliau mengambilnya memang dengan niat untuk membagikannya. Maka orang yang dijadikan teladan dan orang yang diikuti hendaknya sangat berhati-hati dari hal ini, karena perbuatannya bisa menjadi sebab kesesatan banyak orang.
وقد حكى وهب بن منبه إن رجلاً أتي به إلى ملك بمشهد من الناس ليكرهه على أكل لحم الخنزير فلم يأكل فقدم إليه لحم غنم وأكره بالسيف فلم يأكل فقيل له في ذلك فقال إن الناس قد اعتقدوا أني طولبت بأكل لحم الخنزير فإذا خرجت سالما وقد أكلت فلا يعلمون ماذا أكلت فيضلون
Wahb bin Munabbih meriwayatkan bahwa seorang pria dihadapkan kepada seorang raja di hadapan khalayak ramai agar dipaksa memakan daging babi, namun ia menolak memakannya. Lalu disajikan kepadanya daging domba dan ia diancam dengan pedang agar memakannya, namun ia tetap menolak memakannya. Ketika ditanyakan kepadanya tentang alasan sikapnya itu, ia menjawab, 'Orang-orang telah meyakini bahwa aku dituntut untuk memakan daging babi. Jika aku keluar dengan selamat setelah memakan sesuatu, mereka tidak akan tahu apa yang telah aku makan, sehingga mereka bisa tersesat.'
ودخل وهب ابن منبه وطاوس على محمد بن يوسف أخي الحجاج وكان عاملاً وكان في غداة باردة في مجلس بارز فقال لغلامه هلم ذلك الطيلسان وألقه على أبي عبد الرحمن أي طاوس وكان قد قعد على كرسي فألقي عليه فلم يزل يحرك كتفيه حتى ألقى الطيلسان عنه فغضب محمد بن يوسف فقال وهب كنت غنياً عن أن تغضبه لو أخذت الطيلسان وتصدقت به قال نعم لولا أن يقول من بعدي إنه أخذه طاوس ولا يصنع به ما أصنع به إذن لفعلت
Wahb bin Munabbih dan Thawus pernah menemui Muhammad bin Yusuf, saudara al-Hajjaj, yang saat itu menjabat sebagai gubernur. Pertemuan itu terjadi pada pagi hari yang dingin di sebuah majelis yang terbuka. Gubernur itu berkata kepada pelayannya, 'Kemarikan jubah (thailasan) itu dan lemparkan ke atas bahu Abu Abdirrahman'—yaitu Thawus, yang saat itu sedang duduk di atas kursi. Lalu jubah itu dipasangkan kepadanya, namun beliau terus menggerak-gerakkan kedua bahunya hingga jubah itu terjatuh darinya. Muhammad bin Yusuf pun marah. Wahb berkata, 'Engkau sebenarnya tidak perlu membuatnya marah seandainya engkau mengambil jubah itu lalu menyedekahkannya.' Thawus menjawab, 'Ya, seandainya aku tidak khawatir orang-orang setelahku akan berkata bahwa Thawus telah mengambilnya tanpa mereka melakukan apa yang akan aku lakukan dengannya, tentu aku sudah melakukannya.'
الغائلة الثانية أن يتحرك قلبك إلى حبك لتخصيصه إياك وإثاره لك بما أنفذه إليك فإن كان كذلك فلا تقبل ذلك هو السم القاتل والداء الدفين أعني ما يحبب الظلمة إليك فإن من أحببته لا بد أن تحرص عليه وتداهن فيه
Bahaya ketiga: Hatimu tergerak untuk mencintainya karena ia telah mengistimewakanmu dan mengutamakanmu dengan harta yang dikirimkan kepadamu. Jika demikian halnya, maka janganlah engkau menerimanya. Sebab, itulah racun yang membunuh dan penyakit yang tersembunyi, yang aku maksud adalah hal yang membuat orang-orang zalim dicintai olehmu. Karena siapapun yang engkau cintai, tentu engkau akan perhatian kepadanya dan bersikap manis (bermuka dua/berkompromi) kepadanya.
قالت عائشة ﵂ جبلت النفوس على حب من أحسن إليها
Aisyah radhiyallahu 'anha berkata, 'Jiwa-jiwa itu diciptakan dengan tabiat mencintai orang yang berbuat baik kepadanya.'
وقال ﵇ اللهم لا تجعل لفاجر عندي يداً فيحبه قلبي
Dan Beliau (Nabi) shallallahu 'alaihi wa sallam berdoa, 'Ya Allah, janganlah Engkau jadikan seorang pembuat maksiat (fajir) memiliki jasa atau kebaikan padaku sehingga hatiku mencintainya.'
بين ﷺ إن القلب لا يكاد يمتنع من ذلك
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan bahwa hati hampir-hampir tidak dapat menolak hal tersebut.
وروي أن بعض الأمراء أرسل إلى مالك بن دينار بعشرة آلاف درهم فأخرجها كلها فأتاه محمد بن واسع فقال ما صنعت بما أعطاك هذا المخلوق قال سل أصحابي فقالوا أخرجه كله فقال
Diriwayatkan bahwa sebagian penguasa mengirimkan sepuluh ribu dirham kepada Malik bin Dinar, lalu beliau mengeluarkan (menyedekahkan) semuanya. Kemudian Muhammad bin Wasi' mendatangi beliau dan bertanya, 'Apa yang engkau lakukan terhadap apa yang diberikan oleh makhluk ini kepadamu?' Malik menjawab, 'Tanyakanlah kepada sahabat-sahabatku.' Mereka pun menjawab, 'Beliau membagikan semuanya.' Lalu Muhammad bin Wasi' berkata:
أنشدك الله أقلبك أشد حباً له الآن أم قبل أن أرسل إليك لا بل الآن قال إنما كنت أخاف هذا
'Aku bersumpah atas nama Allah kepadamu, apakah hatimu sekarang lebih mencintainya dibandingkan sebelum ia mengirimkan harta kepadamu?' Malik menjawab, 'Tidak… justru sekarang (lebih condong).' Muhammad bin Wasi' berkata, 'Justru hal inilah yang aku takutkan.'
وقد صدق فإنه إذا أحبه أحب بقاءه وكره وعزله ونكبته وموته وأحب اتساع ولايته وكثرة ماله وكل ذلك حب لأسباب الظلم وهو مذموم
Dan sungguh benar apa yang dikatakannya, karena apabila seseorang telah mencintai penguasa tersebut, ia akan menyukai kelangsungan kekuasaannya, membenci pemecatannya, kejatuhannya, dan kematiannya, serta menyukai perluasan wilayah kekuasaannya dan bertambahnya hartanya. Semua itu merupakan kecintaan terhadap sebab-sebab kezaliman, dan hal itu adalah tercela.
قال سلمان وابن مسعود ﵄ من رضي بأمر وإن غاب عنه كان كمن شهده قال تعالى ﴿ولا تركنوا إلى الذين ظلموا﴾ قيل لا ترضوا بأعمالهم فإن كنت في القوة بحيث لا تزداد حبالهم بذلك فلا بأس بالأخذ
Salman dan Ibn Mas'ud radhiyallahu 'anhuma berkata, 'Barangsiapa ridha terhadap suatu perkara, meskipun ia tidak hadir di sana, maka ia seperti orang yang menyaksikannya.' Allah Ta'ala berfirman: "Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim" (QS. Hud: 113). Dikatakan maknanya: janganlah kamu ridha terhadap perbuatan-perbuatan mereka. Namun jika engkau berada dalam kekuatan (keteguhan jiwa) sekiranya ikatan kasih sayangmu dengan mereka tidak bertambah karena hal itu, maka tidak mengapa mengambilnya.
وقد حكي عن بعض عباد البصرة أنه كان يأخذ أموالاً ويفرقها فقيل له ألا تخاف أن تحبهم فقال لو أخذ رجل بيدي وأدخلني الجنة ثم عصى ربه ما أحبه قلبي لأن ما الذي سخره للأخذ بيدي هو الذي أبغضه لأجله شكرا له على تصخيره إياه
Dikisahkan dari sebagian ahli ibadah di Basra bahwa ia biasa mengambil harta dari penguasa lalu membagikannya. Ditanyakan kepadanya, 'Apakah engkau tidak takut mencintai mereka?' Ia menjawab, 'Seandainya seseorang memegang tanganku lalu memasukkanku ke dalam surga, kemudian ia bermaksiat kepada Tuhannya, hatiku tidak akan mencintainya. Karena Dzat yang menundukkannya untuk memegang tanganku Dialah yang membuatku membenci orang itu karena-Nya, sebagai wujud rasa syukur kepada-Nya atas penundukan orang tersebut.'
وبهذا تبين أخذ المال الآن منهم وإن كان ذلك المال بعينه من وجه حلال محذور ومذموم لأنه لا ينفك عن هذه الغوائل
Dengan ini menjadi jelas bahwa mengambil harta dari mereka saat ini—meskipun harta tersebut secara khusus diperoleh dari jalan yang halal—adalah hal yang mengkhawatirkan dan tercela, karena tidak akan terlepas dari bahaya-bahaya (spiritual) ini.
مسألة إن قال قائل إذا جاز أخذ ماله وتفرقته فهل يجوز أن يسرق ماله أو تخفى وديعته وتنكر وتفرق على الناس فنقول ذلك غير جائز لأنه ربما يكون له مالك معين وهو على عزم أن يرده عليه وليس هذا كما لو بعثه إليك فإن العاقل لا يظن به أنه يتصدق بما يعلم مالكه فيدل تسليمه على أنه لا يعرف مالكه فإن كان ممن يشكل عليه مثله فلا يجوز أن يقبل منه المال مالم يعرف ذلك ثم كيف يسرق ويحتمل أن يكون ملكه قد حصل له بشراء في ذمته فإن اليد دلالة على الملك
Masalah: Jika seseorang bertanya, 'Apabila boleh mengambil hartanya dan membagikannya, apakah boleh mencuri hartanya, atau menyembunyikan titipannya, mengingkarinya, lalu membagikannya kepada orang-orang?' Maka kita katakan: Hal itu tidak boleh. Sebab bisa jadi harta itu memiliki pemilik tertentu yang jelas dan penguasa itu berniat mengembalikannya kepadanya. Hal ini tidak sama dengan ketika ia mengirimkannya kepadamu, sebab orang yang berakal tidak akan disangka menyedekahkan sesuatu yang ia ketahui pemiliknya. Penyerahannya membuktikan bahwa ia tidak mengetahui pemiliknya. Namun jika penguasa tersebut termasuk orang yang samar baginya hal semacam itu, maka tidak boleh menerima harta darinya sebelum hal itu diketahui. Lagipula, bagaimana mungkin dicuri padahal ada kemungkinan kepemilikannya diperoleh melalui pembelian atas tanggungannya sendiri? Sebab penguasaan fisik (al-yad) merupakan petunjuk atas kepemilikan.
فهذا لا سبيل إليه بل لو وجد لقطة وظهر أن صاحبها جندي واحتمل أن تكون له بشراء في الذمة أو غيره وجب الرد عليه
Maka hal ini sama sekali tidak ada jalan untuk membolehkannya. Bahkan, jika seseorang menemukan barang temuan (luqathah) dan tampak bahwa pemiliknya adalah seorang prajurit penguasa, serta ada kemungkinan barang itu miliknya melalui pembelian atas tanggungannya atau jalan lain, maka wajib mengembalikannya kepadanya.
فإذاً لا يجوز سرقة مالهم لا منهم ولا ممن أودع عنده
Dengan demikian, tidak boleh mencuri harta mereka, baik langsung dari mereka maupun dari orang yang dititipi harta tersebut.
ولا يجوز إنكار وديعتهم ويجب الحد على سارق ما لهم إلا إذا ادعى السارق أنه ليس ملكاً لهم فعند ذلك يسقط الحد بالدعوى
Dan tidak boleh mengingkari barang titipan (wadi'ah) milik mereka, serta wajib dijatuhi hukuman hadd bagi pencuri harta mereka, kecuali jika pencuri itu mengklaim bahwa harta tersebut bukan milik mereka, maka ketika itu hukuman hadd gugur akibat adanya klaim (keraguan) tersebut.
مسألة المعاملة معهم حرام لأن اكثر ما لهم حرام فما يؤخذ عوضاً فهو حرام فإن أدى الثمن من موضع يعلم حله فيبقى النظر فيما سلم إليهم فإن علم أنهم يعصون الله به كبيع الديباج منهم وهو يعلم أنهم يلبسونه فذلك حرام كبيع العنب من الخمار وإنما الخلاف فى الصحة وإن أمكن ذلك وأمكن أن يلبسها نساءه فهو شبهة مكروهه هذا فيما يعصى في عينه من الأموال
Masalah: Bermuamalah dengan mereka adalah haram karena mayoritas harta mereka adalah haram, sehingga apa yang diambil sebagai imbalan juga menjadi haram. Jika seseorang membayar harganya dari sumber yang diketahui kehalalannya, maka yang perlu dicermati adalah barang yang diserahkan kepada mereka: jika diketahui bahwa mereka akan bermaksiat kepada Allah dengan barang tersebut—seperti menjual kain sutra kepada mereka padahal diketahui bahwa kaum lelakinya akan memakainya—maka hal itu haram, sebagaimana menjual anggur kepada pembuat khamr. Perbedaan pendapat di kalangan fuqaha hanya terletak pada keabsahan akadnya. Namun, jika ada kemungkinan barang tersebut dipakai oleh istri-istri mereka, maka hal itu menjadi syubhat yang dimakruhkan. Ini berlaku untuk harta yang barangnya secara langsung dipergunakan untuk maksiat.
وفي معناه بيع الفرس منهم لا سيما في وقت ركوبهم إلى قتال المسلمين أو جباية أموالهم فإن ذلك إعانة لهم بفرسه وهي محظورة
Termasuk dalam makna tersebut adalah menjual kuda kepada mereka, terutama ketika mereka hendak menungganginya untuk memerangi kaum muslimin atau memungut harta secara dzalim; sebab hal itu merupakan bentuk bantuan kepada mereka dengan kuda tersebut, dan perbuatan itu terlarang (diharamkan).
فأما بيع الدراهم والدنانير منهم وما يجري مجراها مما لا يعصى في عينه بل يتوصل بها فهو مكروه لما فيه من إعانتهم على الظلم لأنهم يستعينون على ظلمهم بالأموال والدواب وسائر الأسباب وهذه الكراهة جارية في الإهداء إليهم وفي العمل لهم من غير أجرة حتى في تعليمهم وتعليم أولادهم الكناية والترسل والحساب وأما تعليم القرآن فلا يكره إلا من حيث أخذ الأجرة فإن ذلك حرام إلا من وجه يعلم حله ولو انتصب وكيلاً لهم يشتري لهم في الأسواق من غير جعل أو أجرة فهو مكروه من حيث الإعانة وإن اشترى لهم ما يعلم أنهم يقصدون به المعصية كالغلام والديباج للعرش واللبس والفرس للركوب إلى الظلم والقتل فذلك حرام
Adapun menjual dirham dan dinar kepada mereka, serta barang sejenis yang dzatnya tidak langsung dipergunakan untuk maksiat melainkan sekadar menjadi sarana, hukumnya makruh karena mengandung unsur membantu mereka dalam kedzaliman; sebab mereka menggunakan harta, hewan tunggangan, dan berbagai sarana lainnya untuk menopang kedzaliman mereka. Hukum makruh ini juga berlaku dalam memberi hadiah kepada mereka dan bekerja untuk mereka tanpa upah, bahkan dalam mengajari mereka serta anak-anak mereka seni kiasan (kinayah), surat-menyurat (tarassul), dan ilmu hitung. Adapun mengajar Al-Qur'an, tidak dimakruhkan kecuali dari segi mengambil upah darinya, karena mengambil upah tersebut haram kecuali dari jalan yang diketahui kehalalannya. Apabila seseorang bertindak sebagai wakil mereka untuk membelikan barang di pasar tanpa imbalan atau upah, hukumnya makruh dari sudut pandang membantu kedzaliman. Namun, jika ia membelikan barang yang ia ketahui bertujuan untuk maksiat—seperti budak laki-laki dan kain sutra untuk singgasana atau pakaian lelaki, serta kuda untuk menunggangi kedzaliman dan pembunuhan—maka hal itu hukumnya haram.
فمهما ظهر قصد المعصية بالمبتاع حصل التحريم ومهما لم يظهر واحتمل بحكم الحال ودلالتها عليه حصلت الكراهة
Kapan pun niat kemaksiatan pada barang yang dibeli itu tampak jelas, maka timbullah hukum haram; dan kapan pun niat tersebut tidak jelas namun ada kemungkinan berdasarkan indikasi keadaan, maka timbullah hukum makruh.
مسألة الأسواق التي بنوها بالمال الحرام تحرم التجارة فيها ولا يجوز سكناها فإن سكنها تاجر واكتسب بطريق شرعي لم يحرم كسبه وكان عاصياً بسكناه وللناس أن يشتروا منهم ولكن لو وجدوا سوقاً أخرى فالأولى الشراء منها فإن ذلك إعانة لسكناهم وتكثير لكراء حوانيتهم وكذلك معاملة السوق التي لا خراج لهم عليها أحب من معاملة سوق لهم عليها خراج وقد بالغ قوم حتى تحرزوا من معاملة الفلاحين وأصحاب الأراضي التي لهم عليها الخراج فإنهم ربما يصرفون ما يأخذون إلى الخراج فيحصل به الإعانة وهذا غلو في الدين وحرج على المسلمين فإن الخراج قد عم الأراضي ولا غنى بالناس عن إرتفاق الأرض ولا معنى للمنع منه ولو جاز هذا لحرم على المالك زراعة الأرض حتى لا يطلب خراجها
Masalah: Pasar-pasar yang dibangun dengan harta haram, haram melakukan perdagangan di dalamnya dan tidak boleh menempatinya. Namun jika seorang pedagang menempatinya lalu mencari nafkah dengan cara yang syar'i, maka mata pencahariannya tidak haram, hanya saja ia bermaksiat dengan menempatinya. Masyarakat boleh membeli dari mereka, tetapi jika mereka menemukan pasar lain, maka yang lebih utama adalah membeli dari pasar lain tersebut; sebab membeli di sana berarti membantu kelangsungan tempat tinggal mereka dan memperbanyak uang sewa toko-toko mereka. Begitu pula bermuamalah di pasar yang tidak dikenakan pajak tanah (kharaj) oleh pemerintah dzalim lebih disukai daripada bermuamalah di pasar yang dikenakan kharaj. Sebagian orang telah bersikap berlebihan hingga menghindari muamalah dengan para petani dan pemilik tanah yang dikenakan kharaj, dengan alasan bahwa mereka mungkin menyetorkan sebagian hasil yang mereka dapatkan untuk membayar kharaj sehingga terjadi perbuatan membantu kedzaliman. Ini adalah bentuk ghuluw (berlebihan) dalam agama dan menyulitkan kaum muslimin; sebab kharaj telah merata di berbagai lahan tanah, sedangkan manusia tidak dapat lepas dari memanfaatkan tanah, sehingga tidak ada alasan untuk melarangnya. Seandainya hal ini dibolehkan (dilarang secara mutlak), niscaya haram pula bagi pemilik tanah untuk menggarap tanahnya agar tidak dituntut membayar kharaj.
وذلك مما يطول ويتداعى إلى حسم باب المعاش
Hal itu akan berkepanjangan dan berujung pada terputusnya pintu penghidupan (perekonomian).
مسألة معاملة قضاتهم وعمالهم وخدمهم حرام كمعاملتهم بل أشد
Masalah: Bermuamalah dengan para hakim, pejabat (pegawai), dan pelayan mereka adalah haram sebagaimana bermuamalah dengan para penguasa dzalim itu sendiri, bahkan lebih keras (hukumnya).
أما القضاة فلأنهم يأخذون من أموالهم الحرام الصريح ويكثرون جمعهم ويغرون الخلق يزنهم فإنهم على زي العلماء ويختلطون بهم ويأخذون من أموالهم والطباع مجبولة على التشبه والاقتداء بذوي الجاه والحشمة
Adapun para hakim, hal itu dikarenakan mereka mengambil harta haram yang murni dari para penguasa dzalim, memperbanyak barisan mereka, dan memperdaya manusia dengan penampilan mereka; sebab mereka mengenakan pakaian ulama, berbaur dengan penguasa, serta mengambil harta dari mereka, sedangkan watak dasar manusia cenderung meniru dan meneladani orang-orang yang memiliki kedudukan dan kewibawaan.
فهم سبب انقياد الخلق إليهم
Maka mereka menjadi penyebab tunduknya masyarakat kepada para penguasa dzalim tersebut.
وأما الخدم والحشم فأكثر أموالهم من الغصب الصريح ولا يقع في أيديهم مال مصلحة وميراث وجزية ولا وجه حلال حتى تضعف الشبهة باختلاط الحلال بمالهم
Adapun para pelayan dan pengawal, mayoritas harta mereka berasal dari hasil rampasan (ghashab) yang nyata, dan tidak ada di tangan mereka harta kemaslahatan publik, warisan, jizyah, ataupun bentuk kehalalan lainnya yang dapat memperlemah syubhat akibat bercampurnya harta halal ke dalam harta mereka.
قال طاوس لا أشهد عندهم وإن تحققت لأني أخاف تعديهم على من شهدت عليه
Thawus berkata: "Aku tidak mau memberikan kesaksian di hadapan mereka meskipun aku meyakini kebenarannya, karena aku takut mereka akan berbuat sewenang-wenang terhadap orang yang aku beri kesaksian atasnya."
وبالجملة إنما فسدت الرعية بفساد الملوك وفساد الملوك بفساد العلماء فلولا القضاة السوء والعلماء السوء لقل فساد الملوك خوفاً من إنكارهم
Kesimpulannya, rusaknya rakyat tidak lain disebabkan oleh rusaknya para penguasa, dan rusaknya para penguasa disebabkan oleh rusaknya para ulama. Seandainya tidak ada hakim-hakim yang jahat dan ulama-ulama yang buruk, niscaya berkuranglah kerusakan para penguasa karena rasa takut terhadap kemungkaran (teguran) dari para ulama.
وَلِذَلِكَ قَالَ ﷺ لَا تزال هذه الأمة تحت يد الله وكنفه ما يمالئ قراؤها أمراءها
Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ bersabda: "Umat ini akan senantiasa berada dalam naungan dan perlindungan Allah selama para pembaca Al-Qur'annya (para ulama) tidak bersekongkol (menjilat) kepada para penguasanya."
وإنما ذكر القراء لأنهم كانوا هم العلماء وإنما كان علمهم بالقرآن ومعانيه المفهومة بالسنة
Disebutkannya istilah *al-qurra'* (para pembaca Al-Qur'an) tidak lain karena pada masa itu merekalah para ulama, dan ilmu mereka bersumber dari Al-Qur'an beserta makna-maknanya yang dipahami melalui As-Sunnah.
وما وراء ذلك من العلوم فهي محدثة بعدهم
Adapun ilmu-ilmu selain itu adalah ilmu-ilmu yang baru diada-adakan setelah masa mereka.
وقد قال سفيان لا تخالط السلطان ولا من يخالطه
Sufyan Ats-Tsauri sungguh telah berkata: "Janganlah engkau berbaur dengan penguasa (dzalim) dan jangan pula berbaur dengan orang yang berbaur dengannya."
وقال صاحب القلم وصاحب الدواة وصاحب القرطاس وصاحب الليطة بعضهم شركاء بعض
Beliau juga berkata: "Penulis, pemilik tempat tinta, pemilik kertas, dan pembuat pena (milik penguasa dzalim), sebagian dari mereka adalah sekutu bagi sebagian yang lain (dalam dosa)."
وقد صدق فإن رسول الله
Dan beliau (Sufyan) telah berkata benar, sebab sungguh Rasulullah…
صلى الله عليه وسلم لعن في الخمر عشرة حتى العاصر والمعتصر
Rasulullah ﷺ melaknat sepuluh golongan terkait khamar, hingga yang memerahnya dan yang meminta diperahkan.
وقال ابن مسعود ﵁ آكل الربا وموكله وشاهداه وكاتبه ملعونون على لسان محمد ﷺ
Ibn Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata, "Pemakan riba, orang yang memberikannya (penyetor), kedua saksinya, dan pencatatnya dilaknat melalui lisan Muhammad ﷺ."
وكذا رواه جابر وعمر عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ
Demikian pula yang diriwayatkan oleh Jabir dan Umar dari Rasulullah ﷺ.
وقال ابن سيرين لا تحلم للسلطان كتاباً حتى تعلم ما فيه وامتنع سفيان ﵀ من مناولة الخليفة في زمانه دواة بين يديه وقال حتى أعلم ما تكتب بها فكل من حواليهم من خدمهم وأتباعهم ظلمة مثلهم يجب بغضهم في الله جميعا
Ibn Sirin berkata, "Janganlah engkau membawakan surat untuk penguasa hingga engkau mengetahui apa isinya." Sufyan (ats-Tsauri) rahmatullah 'alaih juga enggan menyodorkan tempat tinta di hadapannya kepada khalifah pada zamannya, seraya berkata, "Hingga aku mengetahui apa yang akan engkau tulis dengannya." Maka setiap orang di sekeliling mereka dari kalangan pelayan dan pengikut mereka adalah orang-orang zalim seperti mereka, yang wajib dibenci karena Allah secara keseluruhan.
روى عن عثمان بن زائدة أنه سأله رجل من الجند وقال أين الطريق فسكت وأظهر الصمم وخاف أن يكون متوجهاً إلى ظلم فيكون هو بإرشاده إلى الطريق معيناً
Diriwayatkan dari Utsman bin Za'idah bahwa seorang prajurit bertanya kepadanya, "Di mana jalan (menuju tempat ini)?" Lalu ia diam dan berpura-pura tuli, karena ia takut prajurit tersebut sedang menuju kepada suatu kezaliman sehingga petunjuk jalannya justru menjadikannya pembantu dalam kezaliman itu.
وهذه المبالغة لم تنقل عن السلف مع الفساق من التجار والحاكة والحجامين وأهل الحمامات والصاغة والصباغين وأرباب الحرف مع غلبة الكذب والفسق عليهم بل مع الكفار من أهل الذمة وإنما هذا في الظلمة خاصة الآكلين لأموال اليتامى والمساكين والمواظبين على إيذاء المسلمين الذين تعاونوا على طمس رسوم الشريعة وشعائرها
Sikap yang amat ketat (mubalaghah) ini tidak diriwayatkan dari para ulama Salaf terhadap orang-orang fasik dari kalangan pedagang, penenun, tukang bekam, pengelola tempat pemandian, tukang emas, tukang celup pakaian, dan para pemilik mata pencaharian lainnya, meskipun kebohongan dan kefasikan mendominasi mereka; bahkan tidak juga terhadap orang-orang kafir dzimmi. Sikap ini hanyalah khusus terhadap para penguasa zalim, yaitu mereka yang memakan harta anak-anak yatim dan orang-orang miskin, serta yang terus-menerus menyakiti kaum muslimin dan saling bekerja sama untuk menghapuskan jejak-jejak serta syiar-syiar syariat.
وهذا لأن المعصية تنقسم إلى لازمة ومتعدية والفسق لازم لا يتعدى وكذا الكفر وهو جناية على حق الله تعالى وحسابه على الله وأما معصية الولاة بالظلم وهو متعد فإنما يغلظ أمرهم لذلك وبقدر عموم الظلم وعموم التعدي يزدادون عند الله مقتاً فيجب أن يزداد منهم اجتناباً ومن معاملتهم احترازاً فقد قال ﷺ يقال للشرطي دع سوطك وادخل النار
Hal ini disebabkan karena kemaksiatan terbagi menjadi kemaksiatan yang berdampak terbatas (*lazimah*) dan yang berdampak meluas (*muta'addiyah*). Kefasikan itu bersifat *lazim* (terbatas pada diri sendiri), begitu pula kekufuran; keduanya merupakan pelanggaran terhadap hak Allah Ta'ala dan perhitungannya ada di tangan Allah. Adapun kemaksiatan para penguasa berupa kezaliman sifatnya meluas (*muta'addi*), sehingga perkara mereka menjadi sangat berat karena hal itu. Seukur dengan meluasnya kezaliman dan besarnya dampak pelanggaran tersebut, kemurkaan Allah kepada mereka semakin bertambah. Oleh karena itu, wajib untuk makin menjauhi mereka dan semakin berhati-hati dari bertransaksi dengan mereka. Sungguh Rasulullah ﷺ telah bersabda, "Dikatakan kepada petugas kepolisian (zalim), 'Lemparkan cambukmu dan masuklah ke dalam neraka!'"
وقال ﷺ من أشراط الساعة رجال معهم سياط كأذناب البقر
Rasulullah ﷺ juga bersabda, "Di antara tanda-tanda hari kiamat adalah munculnya laki-laki yang membawa cambuk seperti ekor sapi."
فهذا حكمهم ومن عرف بذلك منهم فقد عرف ومن لم يعرف فعلامته القباء وطول الشوارب وسائر الهيئات المشهورة
Maka inilah hukum bagi mereka. Siapa di antara mereka yang sudah dikenal dengan kezalimannya maka ia telah dikenali; dan siapa yang belum dikenal, maka tandanya adalah pakaian jubah khusus penguasa, kumis yang panjang, serta penampilan-penampilan umum lainnya yang masyhur.
فمن رؤى على تلك الهيئة تعين اجتنابه ولا يكون ذلك من سوء الظن لأنه الذي جنى على نفسه إذ تزيا بزيهم ومساواة الزي تدل على مساواة القلب ولا يتجانن إلا مجنون ولا يتشبه بالفساق إلا فاسق نعم الفاسق قد يلتبس بأهل الصلاح فأما الصالح فليس له أن يتشبه بأهل الفساد لان ذلك تكثير لسوادهم وإنما نزل قوله تعالى إن الذين توفاهم الملائكة ظالمي أنفسهم في قوم من المسلمين كانوا يكثرون جماعة المشركين بالمخالطة وقد روي أن الله تعالى أوحى إلى يوشع ابن نون إني مهلك من قومك أربعين ألفاً من خيارهم وستين ألفاً من شرارهم فقال ما بال الأخيار قال إنهم لا يغضبون لغضبي فكانوا يؤاكلونهم ويشاربونهم
Siapa pun yang terlihat dengan penampilan tersebut, maka wajib untuk menjauhinya. Hal itu tidak termasuk prasangka buruk (*su'udzan*), sebab dialah yang berbuat jahat pada dirinya sendiri ketika mengenakan pakaian mereka; karena kesamaan penampilan menunjukkan kesamaan hati. Tidaklah berpura-pura gila kecuali orang yang gila, dan tidaklah menyerupakan diri dengan orang-orang fasik kecuali orang yang fasik. Memang orang fasik terkadang terbaur dengan orang-orang saleh, namun orang yang saleh tidak boleh menyerupakan diri dengan pelaku kerusakan, sebab hal itu akan memperbanyak jumlah mereka. Firman Allah Ta'ala: "Sesungguhnya orang-orang yang dicabut nyawanya oleh malaikat dalam keadaan menzalimi diri sendiri…" (QS. An-Nisa': 97) sesungguhnya turun berkenaan dengan segolongan kaum muslimin yang memperbanyak jumlah kelompok kaum musyrik karena bercampur gaul dengan mereka. Dan telah diriwayatkan bahwa Allah Ta'ala mengwahyukan kepada Yusha' bin Nun, "Sesungguhnya Aku akan membinasakan dari kaummu empat puluh ribu orang terbaik di antara mereka dan enam puluh ribu orang terburuk di antara mereka." Maka beliau bertanya, "Mengapa orang-orang terbaik juga dibinasakan?" Allah berfirman, "Karena mereka tidak murka demi murka-Ku, sehingga mereka tetap makan dan minum bersama orang-orang jahat itu."
وبهذا يتبين أن بعض الظلمة والغضب لله عليهم واجب وروى ابن مسعود عَنِ النَّبِيِّ ﷺ إِنَّ الله لعن علماء بني إسرائيل إذ خالطوا الظالمين في معاشهم
Dengan ini menjadi jelas bahwa membenci sebagian orang zalim dan marah karena Allah terhadap mereka adalah suatu kewajiban. Ibn Mas'ud meriwayatkan dari Nabi ﷺ, "Sesungguhnya Allah melaknat para ulama Bani Israil ketika mereka bergaul rapat dengan orang-orang zalim dalam penghidupan mereka."
مسألة المواضع التي بناها الظلمة كالقناطر والرباطات والمساجد والسقايات ينبغي أن يحتاط فيها وينظر أما القنطرة فيجوز العبور عليها للحاجة والورع الاحتراز ما أمكن وإن وجد عنه معدلاً تأكد الورع
Permasalahan: Tempat-tempat yang dibangun oleh orang-orang zalim seperti jembatan, ribat (pesantren/pondok), masjid, dan tempat minum umum (*siqayah*), hendaknya disikapi dengan berhati-hati dan dicermati. Adapun jembatan, maka boleh melewatinya karena ada hajat, namun sikap *wara'* (kehati-hatian spiritual) menghendaki penghindaran sedapat mungkin. Jika ia menemukan jalan lain, maka tuntutan *wara'* menjadi semakin kuat.
وإنما جوزنا العبور وإن وجد معدلاً لأنه إذا لم يعرف الأعيان مالكاً كان حكمها أن ترصد للخيرات وهذا خير فأما إذا عرف أن الآجر والحجر قد نقل من دار معلومة أو مقبرة أو مسجد معين فهذا لا يحل العبور عليه أصلاً إلا لضرورة يحل بها مثل ذلك من مال الغير ثم يجب عليه الاستحلال من المالك الذي يعرفه
Kami membolehkan melewatinya meskipun ada jalan lain karena jika pemilik asli dari benda-benda tersebut tidak diketahui secara spesifik, maka hukum barang tersebut ditujukan untuk kebaikan-kebaikan, dan jembatan ini adalah bentuk kebaikan. Adapun jika diketahui bahwa batu bata dan batu jalannya dipindahkan dari rumah yang jelas pemiliknya, atau pemakaman, atau masjid tertentu, maka hal ini sama sekali tidak halal untuk dilewati kecuali dalam keadaan darurat yang membolehkan hal serupa terhadap harta orang lain, kemudian ia wajib meminta kerelaan (*istihlal*) dari pemilik yang diketahuinya.
وأما المسجد فإن بني في أرض مغضوبة أو بخشب مغصوب من مسجد آخر أو ملك معين فلا يجوز دخوله أصلاً ولا للجمعة بل لو وقف الإمام فيه فليصل هو خلف الإمام وليقف خارج المسجد فإن الصلاة في الأرض المغصوبة تسقط الفرض وتنعقد في حق الاقتداء فلذلك جوزنا للمقتدي الاقتداء بمن صلى في الأرض المغصوبة وإن عصى صاحبه بالوقوف في الغصب
Adapun masjid, jika dibangun di atas tanah rampasan (*maghshubah*) atau dengan kayu hasil rampasan dari masjid lain atau milik orang tertentu, maka sama sekali tidak boleh memasukinya, bahkan tidak juga untuk shalat Jumat. Bahkan jika imam berdiri di dalam masjid tersebut, hendaklah ia shalat mengikutinya namun berdiri di luar batas masjid. Sebab shalat di atas tanah rampasan tetap menggugurkan kewajiban (*fardhu*) dan sah secara hukum *iqtida'* (mengikuti imam). Oleh karena itulah kami membolehkan makmum mengikuti shalat orang yang shalat di tanah rampasan, meskipun pelakunya berdosa karena berdiri di lokasi hasil rampasan.
وإن كان من مال لا يعرف مالكه فالورع العدول إلى مسجد آخر إن وجد فإن لم يجد غيره فلا يترك الجمعة والجماعة به لأنه يحتمل أن يكون من الملك الذي بناه ولو على بعد وإن لم يكن له مالك معين فهو لمصالح المسلمين
Jika masjid itu dibangun dari harta yang tidak diketahui pemiliknya, maka *wara'* menghendaki berpindah ke masjid lain jika ada. Namun jika tidak menemukan masjid lain, janganlah ia meninggalkan shalat Jumat dan jamaah di masjid tersebut, karena ada kemungkinan masjid itu berasal dari harta sah milik pembangunnya meskipun kemungkinan itu kecil; dan jika harta tersebut tidak memiliki pemilik tertentu, maka ia dialokasikan untuk kemaslahatan umum kaum muslimin.
ومهما كان في المسجد الكبير بناء لسلطان ظالم فلا عذر لمن يصلي فيه مع اتساع المسجد أعني في الورع قيل لأحمد بن حنبل ما حجتك في ترك الخروج إلى الصلاة في جماعة ونحن بالعسكر فقال
Apabila di dalam masjid besar terdapat bangunan milik penguasa yang zalim, maka tidak ada alasan bagi orang yang shalat di bagian bangunan itu padahal area masjid masih luas—maksud saya dalam perspektif *wara'*. Pernah ditanyakan kepada Ahmad bin Hanbal, "Apa alasanmu tidak keluar untuk shalat berjamaah padahal kita berada di kompleks militer (*Al-'Askar*)?" Beliau menjawab:
حجتي أن الحسن وإبراهيم التيمي خافا أن يفتنهما الحجاج وأنا أخاف أن أفتن أيضاً
"Alasanku adalah bahwa al-Hasan dan Ibrahim at-Taimi takut jika al-Hajjaj menimbulkan fitnah pada agama mereka, dan aku pun takut akan terkena fitnah pula."
وأما الخلوق والتجصيص فلا يمنع من الدخول لأنه غير منتفع به في الصلاة وإنما هو زينة والأولى أنه لا ينظر إليه وأما البواري التي فرشوها فإن كان لها مالك معين فيحرم الجلوس عليها وإلا فبعد أن أرصدت لمصلحة عامة جاز افتراشها ولكن الورع العدول عنها فإنها محل شبهة
Adapun pemberian wewangian (*khaluq*) dan pengapuran dinding masjid (oleh penguasa zalim), hal itu tidak melarang untuk masuk karena tidak dimanfaatkan secara langsung dalam shalat melainkan hanya perhiasan, dan yang lebih utama adalah tidak memandangnya. Adapun tikar-tikar (*buwari*) yang mereka hamparkan, jika memiliki pemilik tertentu maka haram duduk di atasnya. Jika tidak, maka setelah dialokasikan untuk kemaslahatan umum, boleh mendudukinya; namun *wara'* menghendaki untuk menghindarinya karena ia adalah tempat syubhat.
وأما السقاية فحكمها ما ذكرناه وليس عن الورع الوضوء والشرب منها والدخول إليها إذا كان يخاف فوات الصلاة فيتوضأ وكذا مصانع طريق مكة
Adapun tempat minum umum (*siqayah*), hukumnya seperti yang telah kami sebutkan. Bukanlah termasuk *wara'* menolak berwudhu, minum dengannya, atau memasukinya apabila ia khawatir luput waktu shalat, maka hendaklah ia berwudhu darinya. Demikian pula halnya penampungan air (*mashani'*) di sepanjang jalan menuju Mekkah.
وأما الرباطات والمدارس فإن كانت رقبة الأرض مغصوبة أو الآجر منقولاً من موضع معين يمكن الرد إلى مستحقه فلا رخصة للدخول فيه وإن التبس المالك فقد أرصد لجهة من الخير والورع اجتنابه ولكن لا يلزم الفسق بدخوله
Adapun ribat (pondok) dan madrasah, jika fisik tanahnya (*raqabah al-ardh*) adalah hasil ghashab (rampasan) atau batu batanya dipindahkan dari tempat tertentu yang memungkinkan untuk dikembalikan kepada pemilik yang berhak, maka tidak ada keringanan (*rukhshah*) untuk memasukinya. Dan jika pemiliknya tidak samar/tidak jelas, maka barang tersebut telah dialokasikan untuk jalan kebaikan, dan sikap *wara'* adalah menjauhinya, tetapi tidak serta merta dihukumi fasik bagi orang yang memasukinya.
وهذه الأبنية إن أرصدت من خدم السلاطين فالأمر فيها أشد إذ ليس لهم صرف الأموال الضائعة إلى المصالح ولأن الحرام أغلب على أموالهم إذ ليس لهم أخذ مال المصالح وإنما يجوز ذلك للولاة وأرباب الأمر
Bangunan-bangunan ini jika didirikan oleh para pembantu sultan, maka perkaranya jauh lebih berat, karena mereka tidak berhak mengalihkan harta yang tak bertuan demi kemaslahatan umum, dan karena harta haram lebih mendominasi kekayaan mereka, sebab mereka tidak berhak mengambil harta kemaslahatan; perbuatan demikian hanya diperbolehkan bagi para penguasa dan pemegang otoritas (ulil amri).
مسألة الأرض المغصوبة إذا جعلت شارعاً لم يجز أن يتخطى فيه البتة وإن لم يكن له مالك معين جاز والورع العدول إن أمكن فإن كان الشارع مباحاً وفوقه ساباط جاز العبور وجاز الجلوس تحت الساباط على وجه لا يحتاج فيه إلى السقف كما يقع في الشارع لشغل فإذا انتفع بالسقف في دفع حر الشمس أو المطر أو غيره فهو حرام لأن السقف لا يراد إلا لذلك وهكذا حكم من يدخل مسجداً أو أرضا مناحة سقف أو حوط بغصب فإنه بمجرد التخطي لا يكون منتفعاً بالحيطان والسقف إلا إذا كان له فائدة في الحيطان والسقف لحر أو برد تستر عن بصر أو غيره فذلك حرام لأنه انتفاع بالحرام إذا لم يحرم الجلوس على الغصب لما فيه من المماسة بل للانتفاع والأرض تراد للاستقرار عليها والسقف للاستظلال به فلا فرق بينهما
Masalah: Tanah hasil ghasab (rampasan) jika dijadikan jalan umum, maka sama sekali tidak boleh melintasinya jika pemiliknya tertentu. Namun jika tidak memiliki pemilik tertentu, hukumnya boleh, dan sikap warak adalah menghindarinya jika memungkinkan. Jika jalan tersebut mubah dan di atasnya terdapat atap penyeberangan (sabat), maka boleh melintasinya dan boleh duduk di bawah atap penyeberangan tersebut sepanjang tidak berniat memanfaatkan atapnya, sebagaimana biasa terjadi di jalan karena suatu keperluan. Namun jika ia memanfaatkan atap tersebut untuk menolak panas matahari, hujan, atau sejenisnya, hukumnya haram, karena atap tidak ditujukan melainkan untuk tujuan itu. Demikian pula hukum orang yang memasuki masjid atau tanah yang diberi atap atau dipagari secara ghasab; sesungguhnya dengan hanya sekadar melangkah, ia belum dianggap memanfaatkan dinding dan atap tersebut, kecuali jika ia mengambil manfaat dari dinding dan atap itu untuk menolak panas, dingin, atau sebagai pelindung dari pandangan orang lain, maka hal itu haram karena merupakan pemanfaatan barang haram. Sebab, tidak diharamkannya duduk di atas tanah ghasab bukan karena persentuhan fisik semata, melainkan karena pemanfaatannya; sedangkan tanah ditujukan untuk berdiam di atasnya dan atap ditujukan untuk bernaung di bawahnya, maka tidak ada perbedaan di antara keduanya.
الباب السابع في مسائل متفرقة يكثر مسيس الحاجة إليها وقد سئل عنها
Bab Ketujuh: Mengenai Masalah-Masalah Terpisah yang Sangat Dibutuhkan dan Telah Ditanyakan Mengenainya.
في الفتاوي
Dalam Fatwa-Fatwa.
مسألة سئل عن خادم الصوفية يخرج إلى السوق ويجمع طعاماً أو نقداً ويشتري به طعاماً فمن الذي يحل له أن يأكل منه وهل يختص بالصوفية أم لا أما الصوفية فلا شبهة في حقهم إذا أكلوه وأما غيرهم فيحل لهم إذا أكلوه برضا الخادم ولكن لا يخلو عن شبهة أما الحل فلأن ما يعطى خادم الصوفية إنما يعطى بسبب الصوفية وله أن يطعم غير العيال إذ يبعد أن يقال لم يخرج عن ملك المعطي ولا يتسلط الخادم على الشراء به التصرف فيه لأن ذلك مصير إلى أن المعاطاة لا تكفي وهو ضعيف ثم لا صائر إليه في الصدقات والهدايا ويبعد أن يقال زال الملك إلى الصوفية الحاضرين الذين هم وقت سؤاله في الخانقاه إذ لا خلاف أن له يطعم منه من يقدم بعدهم ولو ماتوا كلهم أو واحد منهم لا يجب صرف نصيبه إلى وارثه ولا يمكن أن يقال إنه وقع لجهة التصوف ولا يتعين له مستحق لأن إزالة الملك إلى الجهة لا توجب تسليط الآحاد على التصرف فإن الداخلين فيه لا ينحصرون بل يدخل فيه من يولد إلى يوم القيامة وإنما يتصرف فيه الولاة والخادم لا يجوز له أن ينتصب نائباً عن الجهة فلا وجه إلا أن يقال هو ملكه وإنما يطعم الصوفية بوفاء شرط التصوف والمروءة فإن منعهم عنه منعوه عن أن يظهر نفسه في معرض التكفل بهم حتى ينقطع وقفه كما ينقطع عمن مات عياله
Masalah: Beliau ditanya tentang pelayan (khadim) kaum Sufi yang pergi ke pasar lalu mengumpulkan makanan atau uang tunai kemudian menggunakannya untuk membeli makanan, maka siapakah yang halal memakannya dan apakah hal itu khusus bagi kaum Sufi saja atau tidak? Adapun bagi kaum Sufi, tidak ada syubhat sama sekali bagi mereka ketika memakannya. Adapun bagi selain mereka, hukumnya halal jika memakannya atas kerelaan sang khadim, namun tidak lepas dari syubhat. Adapun alasan kehalalannya adalah karena apa yang diberikan kepada khadim kaum Sufi sesungguhnya diberikan karena keberadaan kaum Sufi tersebut, dan ia berhak memberi makan orang selain tanggungannya; sebab sangat tidak beralasan jika dikatakan bahwa harta itu belum keluar dari kepemilikan sang pemberi dan sang khadim tidak berhak membeli serta bertindak (tasharruf) atas harta itu, karena pandangan demikian membawa pada kesimpulan bahwa serah-terima tanpa lafal (mu'athah) tidaklah memadai, padahal ini pendapat yang lemah yang tidak dipakai dalam perkara sedekah dan hadiah. Juga sangat tidak beralasan jika dikatakan bahwa kepemilikan berpindah kepada kaum Sufi yang sedang hadir saat ia meminta di khanaqah (pondok Sufi); sebab tidak ada perselisihan bahwa sang khadim boleh memberi makan orang yang datang setelah mereka, dan seandainya mereka semua atau salah seorang dari mereka meninggal, tidak wajib menyalurkan bagiannya kepada ahli warisnya. Tidak mungkin pula dikatakan bahwa harta tersebut jatuh untuk institusi tasawuf tanpa ditentukan orang yang berhak, karena pengalihan kepemilikan kepada suatu golongan tidak memberikan otoritas kepada individu untuk bertindak atasnya, mengingat orang yang termasuk di dalamnya tidak terbatas bahkan mencakup siapa saja yang lahir hingga hari kiamat, dan yang berwenang bertindak atasnya hanyalah para penguasa, sedangkan sang khadim tidak boleh mengangkat dirinya sebagai wakil atas nama golongan tersebut. Maka tidak ada jalan lain kecuali dikatakan bahwa barang tersebut adalah miliknya, dan ia memberi makan kaum Sufi demi memenuhi syarat tasawuf dan muruah (kehormatan diri). Jika ia tidak memberi mereka, mereka akan melarangnya menampilkan diri sebagai penanggung jawab mereka, sehingga pemberian padanya terputus sebagaimana terputusnya pemberian dari orang yang meninggal keluarganya.
مسألة سئل عن مال أوصى به للصوفية فمن الذي يجوز أن يصرف إليه فقلت التصوف أمر باطن لا يطلع عليه ولا يمكن ضبط الحكم بحقيقته بل بأمور ظاهرة يعول عليها أهل العرف في إطلاق اسم الصوفي والضابط الكلي أن كل من هو بصفة إذا نزل في خانقاه الصوفية لم يكن نزوله فيها واختلاطه بهم منكراً عندهم فهو داخل في غمارهم
Masalah: Beliau ditanya tentang harta yang diwasiatkan untuk kaum Sufi, maka siapakah yang boleh disalurkan harta tersebut kepadanya? Maka saya menjawab: Tasawuf adalah perkara batin yang tidak dapat disingkap dan hukum tidak mungkin didasarkan pada hakikatnya, melainkan pada hal-hal lahiriah yang dijadikan pegangan oleh alur kebiasaan masyarakat ('urf) dalam menyematkan sebutan 'Sufi'. Kaidah umumnya adalah bahwa barang siapa yang memiliki sifat di mana jika ia singgah di khanaqah (pondok) kaum Sufi, singgahnya dan berbaurnya ia bersama mereka tidak dianggap sebagai hal yang ingkar (asing) menurut mereka, maka ia termasuk dalam kelompok mereka.
والتفصيل أن يلاحظ فيه خمس صفات الصلاح والفقر وزي الصوفية وأن لا يكون مشتغلاً بحرفة وأن يكون مخالطاً لهم بطريق المساكنة في الخانقاه
Adapun perinciannya adalah dengan memperhatikan lima sifat pada dirinya: kesalehan, kefakiran, memakai busana khas kaum Sufi, tidak disibukkan oleh suatu mata pencaharian, dan berbaur dengan mereka dengan cara tinggal bersama di khanaqah.
ثم بعض هذه الصفات مما يوجب زوالها زوال الاسم وبعضها ينجبر بالبعض فالفسق يمنع الاستحقاق لأن الصوفي بالجملة عبارة عن رجل من أهل الصلاح بصفة مخصوصة فالذي يظهر فسقه وإن كان على زيهم لا يستحق ما أوصى به للصوفية ولسنا نعتبر فيه الصغائر
Kemudian, sebagian dari sifat-sifat ini jika hilang dapat menyebabkan hilangnya julukan tersebut, sedangkan sebagian yang lain dapat tertutupi oleh sebagian lainnya. Kefasikan membatalkan hak penerimaan; karena Sufi secara umum adalah sebutan bagi seorang dari ahli kesalehan dengan sifat yang khusus. Maka orang yang tampak kefasikannya, meskipun ia mengenakan pakaian khas mereka, tidak berhak menerima apa yang diwasiatkan untuk kaum Sufi, dan kami tidak memperhitungkan dosa-dosa kecil dalam hal ini.
وأما الحرفة والاشتغال بالكسب فإنه يمنع هذا الاستحقاق فالدهقان والعامل والتاجر والصانع في حانوته أو داره والأجير الذي يخدم بأجرة كل هؤلاء لا يستحقون ما أوصى به للصوفية ولا ينجبر هذا بالزي والمخالطة فأما الوراقة والخياطة وما يقرب منهما مما يليق بالصوفية تعاطيها فإذا تعاطاها لا في حانوت ولا على جهة اكتساب وحرفة فذلك لا يمنع الاستحقاق وكان ذلك ينجبر بمساكنته إياهم مع بقية الصفات وأما القدرة على الحرف من غير مباشرة فلا تمنع وأما الوعظ والتدريس فلا ينافى اسم التصوف إذا وجدت بقية الخصال من الزي والمساكنة والفقر إذ لا يتناقض أن يقال صوفي مقرئ وصوفي واعظ وصوفي عالم أو مدرس ويتناقض أن يقال صوفي تاجر وصوفي عامل وأما الفقر فإن زال بغنى مفرط ينسب الرجل إلى الثروة الظاهرة فلا يجوز معه أخذ وصية الصوفية وإن كان له مال ولا يفي دخله بخرجه لم يبطل حقه وكذا إذا كان له مال قاصر عن وجوب الزكاة وإن لم يكن له خرج وهذه أمور لا دليل لها إلا العادات
Adapun profesi dan kesibukan mencari nafkah (kasb), hal itu menghalangi hak penerimaan ini. Maka tuan tanah (dahqan), buruh, pedagang, pengrajin di toko atau rumahnya, serta pekerja yang melayani dengan upah; mereka semua tidak berhak menerima apa yang diwasiatkan untuk kaum Sufi, dan hal ini tidak dapat tertutupi oleh pakaian khas maupun perbauran. Adapun pekerjaan menyalin teks (wiraqah), menjahit, dan yang sejenisnya dari hal-hal yang layak dilakukan oleh kaum Sufi, jika ia melakukannya bukan di toko dan bukan dalam rangka menjadikannya sebagai profesi mata pencaharian, maka hal itu tidak menghalangi hak penerimaan, dan hal tersebut tertutupi oleh kebersamaan tinggalnya bersama mereka beserta sisa sifat-sifat lainnya. Adapun sekadar memiliki kemampuan dalam suatu keterampilan tanpa mempraktikkannya, maka tidak menghalangi. Adapun memberi nasihat (wa'az) dan mengajar (tadris), hal itu tidak menafikan sebutan tasawuf jika sifat-sifat lainnya terpenuhi seperti busana khas, tinggal bersama, dan kefakiran; sebab tidaklah kontradiktif jika dikatakan 'seorang Sufi ahli qiraat', 'seorang Sufi penceramah', dan 'seorang Sufi yang alim atau pengajar', namun sungguh kontradiktif jika dikatakan 'seorang Sufi pedagang' atau 'seorang Sufi buruh'. Adapun kefakiran, jika hilang karena kekayaan melimpah yang membuat orang tersebut dinisbatkan pada kekayaan nyata, maka tidak boleh baginya mengambil wasiat untuk kaum Sufi. Namun jika ia memiliki harta tetapi pemasukannya tidak mencukupi pengeluarannya, maka haknya tidak gugur. Demikian pula jika ia memiliki harta yang belum mencapai nisab zakat meskipun ia tidak memiliki pengeluaran rutin. Hal-hal ini tidak memiliki dalil selain dari kebiasaan-kebiasaan ('adat).
وأما المخالطة لهم ومساكنتهم فلها أثر ولكن من لا يخالطهم وهو في داره أو في مسجد على زيهم ومتخلق بأخلاقهم فهو شريك في سهمهم وكأن ترك المخالطة يجبرها ملازمة الزي فإن لم يكن على زيهم ووجد فيه بقية الصفات
Adapun berbaur dengan mereka dan tinggal bersama mereka, hal itu memiliki pengaruh. Namun barang siapa tidak berbaur dengan mereka tetapi berada di rumahnya atau di masjid dengan mengenakan busana khas mereka dan berakhlak dengan akhlak mereka, maka ia bersekutu dalam bagian mereka; seolah-olah ditinggalkannya perbauran itu dapat tertutupi oleh kelanggengan mengenakan busana khas. Jika ia tidak mengenakan busana khas mereka tetapi terdapat padanya sisa sifat-sifat lainnya,
فلا يستحق إلا إذا كان مساكناً لهم في الرباط فينسحب عليه حكمهم بالتبعية
maka ia tidak berhak menerima kecuali jika ia tinggal bersama mereka di ribath (pondok), sehingga hukum mereka berlaku padanya secara mengikut (taba'iyyah).
فالمخالطة والزي ينوب كل واحد منهما عن الآخر
Maka perbauran dan busana khas, masing-masing dari keduanya dapat menggantikan posisi yang lain.
والفقيه الذي ليس على زيهم هذا حكمه فإن كان خارجاً لم يعد صوفياً وإن كان ساكناً معهم ووجدت بقية الصفات لم يبعد أن ينسحب بالتبعية عليه حكمهم
Adapun ahli fikih (fakih) yang tidak mengenakan busana khas mereka, demikianlah hukumnya: jika ia tinggal di luar maka ia tidak dihitung sebagai seorang Sufi; tetapi jika ia tinggal bersama mereka dan sisa sifat-sifat lainnya terpenuhi, maka tidak mustahil hukum mereka berlaku padanya secara mengikut.
وأما لبس المرقعة من يد شيخ من مشايخهم فلا يشترط ذلك في الاستحقاق وعدمه لا يضره مع وجود الشرائط المذكورة
Adapun mengenakan jubah tambalan (muraqqa'ah) dari tangan seorang guru (syekh) dari guru-guru mereka, hal itu tidak disyaratkan dalam hak penerimaan, dan ketiadaannya tidak memudaratkannya selama syarat-syarat yang disebutkan tadi terpenuhi.
وأما المتأهل المتردد بين الرباط والمسكن فلا يخرج بذلك عن جملتهم
Adapun orang yang telah berkeluarga yang bolak-balik antara ribath (pondok) dan rumahnya, hal itu tidak mengeluarkannya dari golongan mereka.
مسألة ما وقف على رباط الصوفية وسكانه فالأمر فيه أوسع مما أوصى لهم به لأن معنى الوقف الصرف إلى مصالحهم فلغير الصوفي أن يأكل معهم برضاهم على مائدتهم مرة أو مرتين فإن أمر الأطعمة مبناه على التسامح حتى جاز الانفراد بها في الغنائم المشتركة وللقوال أن يأكل معهم في دعوتهم من ذلك الوقف وكان ذلك من مصالح معايشهم وما أوصى به للصوفية لا يجوز أن يصرف إلى قوال الصوفية بخلاف الوقف وكذلك من أحضروه من العمال والتجار والقضاة والفقهاء ممن لهم غرض في استمالة قلوبهم يحل لهم الأكل برضاهم فإن الواقف لا يقف إلا معتقداً فيه ما جرت به عادات الصوفية فينزل على العرف ولكن ليس هذا على الدوام فلا يجوز لمن ليس صوفياً أن يسكن معهم على الدوام ويأكل وإن رضوا به إذ ليس لهم تغيير شرط الواقف بمشاركة غير جنسهم
Masalah: Harta yang diwakafkan untuk ribath (pondok) kaum Sufi dan para penghuninya, perkaranya lebih luas daripada apa yang diwasiatkan untuk mereka; karena makna wakaf adalah pengalihan harta demi kemaslahatan mereka. Maka orang selain Sufi boleh makan bersama mereka atas kerelaan mereka di hidangan mereka sekali atau dua kali, sebab perkara makanan didasarkan pada kelonggaran (tasamuh) hingga boleh mengambilnya sendiri dalam harta rampasan perang (ghanimah) yang dikumpulkan bersama. Penyanyi nasyid/kasidah (qawwal) juga boleh makan bersama mereka dalam jamuan dari wakaf tersebut, dan hal itu termasuk dari kemaslahatan kehidupan mereka. Sedangkan apa yang diwasiatkan khusus untuk kaum Sufi tidak boleh disalurkan kepada qawwal kaum Sufi, berbeda dengan wakaf. Demikian pula orang yang mereka hadirkan dari kalangan pekerja, pedagang, hakim, dan ahli fikih yang mereka miliki tujuan untuk melunakkan hati mereka, halal bagi mereka makan atas kerelaan kaum Sufi tersebut; sebab orang yang berwakaf tidaklah berwakaf melainkan dengan meyakini padanya apa yang telah menjadi kebiasaan kaum Sufi, sehingga dikembalikan pada 'urf (kebiasaan umum). Namun hal ini tidak boleh berlangsung terus-menerus; maka tidak boleh bagi orang yang bukan Sufi untuk tinggal bersama mereka secara terus-menerus dan makan bersama mereka meskipun mereka merelakannya, karena mereka tidak berhak mengubah syarat dari pemberi wakaf dengan menyertakan orang yang bukan dari golongan mereka.
وأما الفقيه إذا كان على زيهم وأخلاقهم فله النزول عليهم وكونه فقيهاً لا ينافي كونه صوفياً والجهل ليس بشرط في التصوف عند من يعرف التصوف ولا يلتفت إلى خرافات بعض الحمقى بقولهم إن العلم حجاب فإن الجهل هو الحجاب
Adapun ahli fikih jika ia mengenakan busana khas dan berakhlak seperti mereka, maka ia boleh tinggal bersama mereka. Keberadaannya sebagai ahli fikih tidak menafikan keberadaannya sebagai seorang Sufi, dan kebodohan bukanlah syarat dalam tasawuf menurut orang yang memahami tasawuf. Tidak perlu dihiraukan khayalan sebagian orang bodoh dengan ucapan mereka bahwa 'ilmu adalah penghalang (hijab)', karena sesungguhnya kebodohan itulah yang menjadi penghalang (hijab).
وقد ذكرنا تأويل هذه الكلمة في كتاب العلم وأن الحجاب هو العلم المذموم دون المحمود وذكرنا المحمود والمذموم وشرحهما
Kami telah menyebutkan takwil dari ungkapan ini dalam Kitab Ilmu, bahwa penghalang (hijab) yang dimaksud adalah ilmu yang tercela, bukan ilmu yang terpuji, dan kami telah menjelaskan serta menguraikan yang terpuji dan yang tercela tersebut.
وأما الفقيه إذا لم يكن على زيهم وأخلاقهم فلهم منعه من التزول عليهم فإن رضوا بنزوله فيحل له الأكل معهم بطريق التبعية فكان عدم الزي تجبره المساكنة ولكن برضا أهل الزي وهذه أمور تشهد لها العادات وفيها أمور متقابلة لا يخفى أطرافها في النفي والإثبات ومتشابه أوساطها فمن احترز في مواضع الاشتباه فقد استبرأ لدينه كما نبهنا عليه في أيواب الشبهات
Adapun ahli fikih apabila ia tidak mengenakan busana khas dan akhlak mereka, maka mereka berhak melarangnya untuk tinggal bersama mereka. Namun jika mereka merelakan tempat tinggalnya, maka halal baginya makan bersama mereka secara mengikut (taba'iyyah); sehingga ketiadaan busana khas dapat terobati oleh kebersamaan tinggal, tetapi dengan kerelaan para pemilik busana khas tersebut. Ini adalah hal-hal yang disaksikan oleh adat kebiasaan, dan di dalamnya terdapat hal-hal yang saling berhadapan di mana batas-batasnya tampak jelas dalam hal penolakan maupun penetapan, sedangkan bagian tengahnya mengandung kesamaran (syubhat). Maka barang siapa yang berhati-hati dalam tempat-tempat yang samar (syubhat), sungguh ia telah memelihara agamanya, sebagaimana telah kami ingatkan dalam bab-bab tentang syubhat.
مسألة سئل عن الفرق بين الرشوة والهدية مع أن كل واحد منهما يصدر عن الرضا ولا يخلو عن غرض وقد حرمت إحداهما دون الأخرى
Masalah: Beliau ditanya tentang perbedaan antara suap (risywah) dan hadiah, padahal masing-masing dari keduanya bersumber dari kerelaan dan tidak lepas dari adanya maksud/tujuan tertentu, namun salah satunya diharamkan sedangkan yang lain tidak.
فقلت باذل المال لا يبذله قط إلا لغرض ولكن الغرض إما آجل كالثواب وإما عاجل والعاجل إما مال وإما فعل وإعانة على مقصود معين وإما تقرب إلى قلب المهدي إليه بطلب محبته إما للمحبة في عينها وإما للتوصل بالمحبة إلى غرض وراءها فالأقسام الحاصلة من هذه خمسة
Maka aku katakan: Orang yang memberikan harta tidak pernah memberikannya melainkan karena suatu tujuan. Namun, tujuan itu bisa bersifat akhirat (ditangguhkan) seperti pahala, atau bersifat duniawi (segera). Tujuan duniawi bisa berupa harta, tindakan dan bantuan untuk mencapai maksud tertentu, atau mendekatkan diri ke hati penerima dengan mencari kasih sayangnya, baik demi kasih sayang itu sendiri maupun untuk menjadikan kasih sayang tersebut sebagai jalan menuju tujuan di baliknya. Maka, bagian-bagian yang dihasilkan dari ini ada lima.
الأول ما غرضه الثواب في الآخرة وذلك إما أن يكون لكون المصروف إليه محتاجاً أو عالماً أو منتسباً بنسب ديني أو صالحاً في نفسه متديناً
Pertama: Yang tujuannya adalah pahala di akhirat. Hal itu bisa terjadi karena penerima harta adalah orang yang membutuhkan (fakir/miskin), seorang alim (berilmu), memiliki garis keturunan agama yang mulia, atau seorang yang saleh lagi taat beragama secara pribadi.
فما علم الآخذ أنه يعطاه لحاجته لا يحل له أخذه إن لم يكن محتاجاً وما علم أنه يعطاه لشرف نسبه لا يحل له أن علم أنه كاذب في دعوى النسب وما يعطى لعلمه فلا يحل له أن يأخذه إلا أن يكون في العلم كما يعتقده المعطي فإن كان خيل إليه كمالاً في العلم حتى بعثه بذلك على التقرب ولم يكن كاملاً لم يحل له وما يعطى لدينه وصلاحه لا يحل له أن يأخذه إن كان فاسقاً في الباطن فسقاً لو علمه المعطي ما أعطاه
Maka, apa yang diketahui oleh penerima bahwa itu diberikan kepadanya karena kebutuhannya, tidak halal baginya untuk mengambilnya jika ia tidak membutuhkan. Apa yang diketahui diberikan kepadanya karena kemuliaan nasabnya, tidak halal baginya jika ia tahu bahwa ia berdusta dalam pengakuan nasab tersebut. Apa yang diberikan karena ilmunya, tidak halal baginya untuk mengambilnya kecuali jika ia dalam keilmuan memang sebagaimana yang diyakini oleh pemberi. Jika terbayang oleh pemberi adanya kesempurnaan ilmu padanya sehingga mendorong pemberi untuk mendekatkan diri, padahal ia tidak sempurna dalam ilmu tersebut, maka tidak halal baginya mengambilnya. Dan apa yang diberikan karena agama dan kesalehannya, tidak halal baginya mengambilnya jika ia seorang yang fasik secara batin, yakni kefasikan yang sekiranya diketahui oleh pemberi, niscaya ia tidak akan memberikannya.
وقلما يكون الصالح بحيث لو انكشف باطنه لبقيت القلوب مائلة إليه وإنما ستر الله الجميل هو الذي يحبب الخلق إلى الخلق
Jarang sekali ada orang saleh yang sekiranya batinnya tersingkap, hati manusia akan tetap cenderung kepadanya. Sesungguhnya hanya penutup (aib) Allah yang indah itulah yang menjadikan makhluk mencintai sesama makhluk.
وكان المتورعون يوكلون في الشراء من لا يعرف أنه وكيلهم حتى لا يتسامحوا في المبيع خيفة من أن يكون ذلك أكلاً بالدين فإن ذلك مخطر والتقي خفي لا كالعلم والنسب والفقر فينبغي أن يجتنب الأخذ بالدين ما أمكن
Orang-orang yang wara' (sangat bertakwa dan bersikap hati-hati) biasa mewakilkan pembelian kepada orang yang tidak diketahui bahwa ia adalah wakil mereka, agar tidak diberi kelonggaran harga dalam transaksi jual beli lantaran khawatir hal itu menjadi bentuk memakan harta dengan menggunakan agama. Sebab, hal itu sangat berbahaya. Lagi pula, ketakwaan itu tersembunyi, tidak seperti ilmu, nasab, dan kefakiran. Maka sepatutnya seseorang menghindari mengambil sesuatu atas nama agama sejauh memungkinkan.
القسم الثاني ما يقصد به في العاجل غرض معين كالفقير يهدي إلى الغني طعما في خلعته فهذه هبة بشرط الثواب لا يخفى حكمها وإنما تحل عند الوفاء بالثواب المطموع فيه وعند وجود شروط العقود
Bagian kedua: Yang dimaksudkan dengannya di dunia ini adalah tujuan tertentu, seperti orang fakir yang memberi hadiah kepada orang kaya karena mengharapkan balasan pakaian darinya. Ini adalah hibah dengan syarat imbalan (hibah bi syarat ath-thawab) yang hukumnya tidak samar. Hukumnya hanya halal apabila imbalan yang diharapkan itu dipenuhi dan terpenuhinya syarat-syarat akad.
الثالث أن يكون المراد إعانة بفعل معين كالمحتاج إلى السلطان يهدي إلى وكيل السلطان وخاصته ومن له مكانة عنده فهذه هدية بشرط ثواب يعرف بقرينة الحال فلينظر في ذلك العمل الذي هو الثواب فإن كان حراماً كالسعي في تنجيز إدرار حرام أو ظلم إنسان أو غيره حرم الأخذ وإن كان واجباً كدفع ظلم متعين على كل من يقدر عليه أو شهادة متعينة فيحرم عليه ما يأخذه وهي الرشوة التي لا يشك في تحريمها وإن كان مباحاً لا واجباً ولا حراماً وكان فيه تعب بحيث لو عرف لجاز الاستئجار عليه فما يأخذه حلال معها وفي الغرض وهو جار مجرى الجعالة كقوله أوصل هذه القصة إلى يد فلان أو يد السلطان ولك دينار وكان بحيث يحتاج إلى تعب وعمل متقوم أو قال اقترح على فلان أن يعينني في غرض كذا أو ينعم علي بكذا وافتقر في تنجيز غرضه إلى كلام طويل فذلك جعل كما يأخذه الوكيل بالخصومة بين يدي القاضي فليس بحرام إذا كان لا يسعى في حرام وان كان مقصود يحصل بكلمة لا تعب فيها ولكن تلك الكلمة من ذي الجاه أو تلك الفعلة من ذي الجاه تفيد كقوله للبواب لا تغلق دونه باب السلطان أو كوضعه قصة بين يدي السلطان فقط فهذا حرام لأنه عوض من الجاه ولم يثبت في الشرع جواز ذلك بل ثبت ما يدل على النهي عنه كما سيأتي في هدايا الملوك وإذا كان لا يجوز العوض عن إسقاط الشفعة والرد بالعيب ودخول الأغصان في هواه الملك وجملة من الأعراض مع كونها مقصودة فكيف يؤخذ عن الجاه ويقرب من هذا أخذ الطبيب العوض على كلمة واحدة ينبه بها على دواء ينفرد بمعرفته كواحد ينفرد بالعلم بنبت يقلع البواسير أو غيره فلا يذكره إلا بعوض فإن عمله بالتلفظ غير متقوم كحبة من سمسم فلا يجوز أخذ العوض عليه ولا على علمه
Ketiga: Yang dimaksudkan adalah bantuan berupa tindakan tertentu, seperti orang yang memiliki hajat kepada penguasa memberi hadiah kepada wakil penguasa, kerabat khususnya, atau orang yang mempunyai kedudukan di sisinya. Ini adalah hadiah dengan syarat imbalan yang diketahui melalui petunjuk keadaan (qarinah al-hal). Maka hendaknya dilihat pada tindakan yang menjadi imbalan tersebut: Jika tindakan itu haram, seperti mengusahakan penataan dana haram secara berlanjut, menzalimi seseorang, atau sejenisnya, maka haram hukumnya mengambil hadiah tersebut. Jika tindakan itu wajib, seperti menolak kezaliman yang secara konkrit menjadi kewajiban setiap orang yang mampu atau memberikan kesaksian yang diwajibkan, maka haram baginya mengambil apa yang diberikan, dan itu adalah risywah (suap) yang tidak diragukan lagi keharamannya. Jika tindakan itu mubah (boleh), tidak wajib dan tidak haram, serta mengandung jerat lelah yang sekiranya diketahui niscaya boleh menyewa tenaga untuknya, maka apa yang diambilnya halal beserta tujuannya tersebut, dan hal itu berlaku seperti ju'alah (imbalan jasa/sayembara), seperti perkataannya: "Sampaikan surat permohonan ini ke tangan si Fulan atau penguasa, dan bagimu satu dinar," padahal hal itu memerlukan jerat lelah dan pekerjaan bernilai; atau ia berkata: "Usulkanlah kepada si Fulan agar membantuku dalam urusan ini atau menganugerahiku ini," dan dalam menuntaskan urusannya memerlukan pembicaraan yang panjang, maka itu adalah upah jasa (ju'al) sebagaimana yang diambil oleh wakil dalam perdebatan hukum di hadapan hakim, sehingga tidak haram jika ia tidak mengusahakan hal yang haram. Namun jika tujuannya dapat tercapai dengan satu kata tanpa jerat lelah, tetapi kata-kata atau tindakan tersebut membawa pengaruh karena berasal dari orang yang memiliki kedudukan (jah), seperti ucapannya kepada penjaga pintu: "Jangan tutup pintu penguasa darinya," atau sekadar meletakkan surat permohonan di hadapan penguasa, maka ini haram, karena merupakan imbalan dari kedudukan. Dan tidak ada dalil syariat yang membolehkan hal itu, justru terdapat dalil yang menunjukkan larangan atasnya sebagaimana akan datang penjelasannya pada pembahasan hadiah para raja. Apabila tidak boleh mengambil ganti (imbalan) atas pembatalan hak syuf'ah, pengembalian barang karena cacat, keberadaan dahan pohon yang menjulur ke ruang udara pekarangan milik orang lain, serta sekumpulan hak-hak non-materi lainnya padahal semua itu diinginkan, maka bagaimana mungkin imbalan boleh diambil atas suatu kedudukan? Dan mendekati hal ini adalah tindakan tabib yang mengambil imbalan atas satu kata untuk menunjukkan obat yang hanya diketahuinya secara khusus, seperti seseorang yang sendirian mengetahui tanaman yang dapat menyembuhkan ambeien atau lainnya lalu ia tidak mau menyebutkannya kecuali dengan imbalan; sebab tindakannya yang sekadar mengucapkan kata-kata itu tidak memiliki nilai ekonomi, bagaikan sebutir biji wijen, maka tidak boleh mengambil imbalan atas ucapan itu maupun atas ilmunya.
إذ ليس ينتقل علمه إلى غيره وإنما يحصل لغيره مثل علمه ويبقى هو عالماً به ودون هذا الحاذق في الصناعة كالصيقلي مثلاً الذي يزيل اعوجاج السيف أو المرآة بدقة واحدة لحسن معرفته بموضع الخلل ولحذقه بإصابته فقد يزيد بدقة واحدة مال كثير في قيمة السيف والمرآة فهذا لا أرى بأساً بأخذ الأجرة عليه لأن مثل هذه الصناعات يتعب الرجل في تعلمها ليكتسب بها ويخفف عن نفسه كثرة العمل
Sebab, ilmunya tidak berpindah kepada orang lain, melainkan orang lain hanya memperoleh yang serupa dengan ilmunya, sementara ia sendiri tetap berilmu dengannya. Berada di bawah tingkatan ini adalah seorang ahli dalam suatu keterampilan, seperti pemoles pedang misalnya, yang meluruskan bengkoknya pedang atau cermin hanya dengan satu pukulan presisi karena keahlian pengetahuannya tentang letak cacat dan ketepatan pukulannya, sehingga dengan satu pukulan saja nilai harga pedang atau cermin itu bisa bertambah secara signifikan. Untuk hal ini, aku tidak memandang ada masalah dalam mengambil upah atasnya, karena keterampilan seperti ini menuntut seseorang bersusah payah untuk mempelajarinya agar ia dapat mencari nafkah dengannya dan meringankan dirinya dari banyaknya beban kerja.
الرابع ما يقصد به المحبة وجلبها من قبل المهدي إليه لا لغرض معين ولكن طلباً للاستئناس وتأكيد للصحبة وتودداً إلى القلوب فذلك مقصود للعقلاء ومندوب إليه في الشرع قال ﷺ تهادوا تحابوا // حديث تهادوا تحابوا أخرجه البيهقي من حديث أبي هريرة وضعفه ابن عدي
Keempat: Hadiah yang dimaksudkan dengannya adalah rasa kasih sayang dan menarik cinta dari pihak penerima, bukan untuk tujuan khusus tertentu, melainkan demi memupuk keakraban, mempererat persahabatan, serta menanamkan rasa cinta ke dalam hati. Hal itu merupakan tujuan orang-orang berakal dan disunnahkan dalam syariat. Rasulullah ﷺ bersabda: "Saling memberilah hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai." // Hadis "Saling memberilah hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai" diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari hadis Abu Hurairah dan didhaifkan oleh Ibn 'Adi.
وعلى الجملة فلا يقصد الإنسان في الغالب أيضاً محبة غيره لعين المحبة بل لفائدة في محبته ولكن إذا لم تتعين تلك الفائدة ولم يتمثل في نفسه غرض معين يبعثه في الحال أو المآل سمي ذلك هدية وحل أخذها
Secara umum, seseorang pada umumnya tidak bermaksud mencintai orang lain semata-mata demi cinta itu sendiri, melainkan karena ada manfaat dalam kecintaan tersebut. Namun, apabila manfaat tersebut tidak ditentukan dan tidak terbayang dalam dirinya suatu tujuan khusus tertentu yang mendorongnya saat ini maupun di masa depan, maka hal itu dinamakan hadiah dan halal mengambilnya.
الخامس أن يطلب التقرب إلى قلبه وتحصيل محبته لا لمحبته ولا للأنس به من حيث إنه أنس فقط بل ليتوصل بجاهه إلى أغراض له ينحصر جنسها وإن لم ينحصر عينها وكان لولا جاهه وحشمته لكان لا يهدي إليه فإن كان جاهه لأجل علم أو نسب فالأمر فيه أخف وأخذه مكروه فإن فيه مشابهة الرشوة ولكنها هدية في ظاهرها فإن كان جاهه بولاية تولاها من قضاء أو عمل أو ولاية صدقة أو جباية مال أو غيره من الأعمال السلطانية حتى ولاية الأوقاف مثلاً وكان لولا تلك الولاية لكان لا يهدي إليه فهذه رشوة عرضت في معرض الهدية إذ القصد
Kelima: Seseorang mencari pendekatan ke hati penerima dan memperoleh cintanya bukan demi cinta atau keakraban semata, melainkan agar melalui kedudukannya (jah) ia dapat mencapai tujuan-tujuannya yang jenisnya terbatas meskipun rinciannya belum tertentu, yang mana sekiranya bukan karena kedudukan dan kewibawaannya, niscaya ia tidak akan memberi hadiah kepadanya. Jika kedudukannya itu disebabkan oleh ilmu atau nasab, maka urusannya lebih ringan dan mengambilnya hukumnya makruh, karena padanya terdapat keserupaan dengan suap (risywah), tetapi secara lahiriah merupakan hadiah. Namun, jika kedudukannya itu karena suatu jabatan yang diembannya, baik jabatan kehakiman (qadha'), pekerjaan pemerintahan, kepengurusan zakat/sedekah, pemungutan harta, atau pekerjaan kekuasaan lainnya bahkan pengurusan wakaf misalnya, yang sekiranya tanpa jabatan tersebut niscaya ia tidak akan memberi hadiah kepadanya, maka ini adalah risywah (suap) yang ditampilkan dalam bentuk hadiah, karena maksudnya…
بها في الحال طلب التقرب واكتساب المحبة ولكن الأمر ينحصر في جنسه إذ ما يمكن التوصل إليه بالآيات لا يخفى وآية أنه لا يبغي المحبة أنه لو ولى في الحال غيره لسلم المال إلى ذلك الغير فهذا مما اتفقوا على أن الكراهة فيه شديدة واختلفوا في كونه حراماً والمعنى فيه متعارضاً فإنه دائر بين الهدية المحصنة وبين الرشوة المبذولة في مقابلة جاه في غرض معين وإذا تعارضت المشابهة القياسية وعضدت الأخبار والآثار أحمدهما تعين الميل إليه وقد دلت الأخبار على تشديد الأمر في ذلك قال ﷺ يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زمان يستحل فيه السحت بالهدية والقتل بالموعظة يقتل البريء لتوعظ به العامة وسئل ابن مسعود ﵁ عن السحت فقال يقضي الرجل الحاجة فتهدى له الهدية ولعله أراد قضاء الحاجة بكلمة لا تعب فيها أو تبرع بها لا على قصد أجرة فلا يجوز أن يأخذ بعده شيئاً في معرض العوض شفع مسروق شفاعة فأهدى إليه المشفوع له جارية فغضب وردها وقال لو علمت ما في قلبك لما تكلمت في حاجتك ولا أتكلم فيما بقي منها وسئل طاوس عن هدايا السلطان فقال سحت وأخذ عمر ﵁ ربح مال القراض الذي أخذه ولداه من بيت المال وقال إنما أعطيتما لمكانكما مني إذ علم أنهما أعطيا لأجل جاه الولاية وأهدت امرأة أبي عبيدة بن الجراح إلى خاتون ملكة الروم خلوقاً فكافأتها بجوهر فأخذه عمر ﵁ فباعه وأعطاها ثمن خلوقها ورد باقيه إلى بيت مال المسلمين وقال جابر وأبو هريرة ﵄ هدايا الملوك غلول ولما رد عمر بن عبد العزيز الهدية قيل له كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يقبل الهدية فقال كان ذلك له هدية وهو لنا رشوة أي كان يتقرب إليه لنبوته لا لولايته ونحن إنما نعطى للولاية وأعظم من ذلك كله ما روى أبو حميد الساعدي أن رسول الله ﷺ بعث والياً على صدقات الأزد فلما جاء إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ أمسك بعض ما معه وقال هذا لكم وهذا لي هدية فقال ﵇ ألا جلست في بيت أبيك وبيت أمك حتى تأتيك هديتك إن كنت صادقاً ثم قال مالي أستعمل الرجل منكم فيقول هذا لكم وهذا لي هدية ألا جلس في بيت أمه ليهدى له والذي نفسي بيده لا يأخذ منكم أحد شيئاً بغير حقه إلا أتى الله يحمله فلا يأتين أحدكم يوم القيامة ببعير له رغاء أو بقرة لها خوار أو شاة تيعر ثم رفع يديه حتى رأيت بياض إبطيه ثم قال اللهم هل بلغت وإذا ثبتت هذه التشديدات فالقاضي والولي ينبغي أن يقدر نفسه في بيت أمه وأبيه فما كان يعطى بعد العزل وهو في بيت أمه يجوز له أن يأخذه في ولايته وما يعلم أنه إنما يعطاه لولايته فحرام أخذه وما أشكل عليه في هدايا أصدقائه أنهم هل كانوا يعطونه لو كان معزولاً فهو شبهة فليجتنبه تم كتاب الحلال والحرام بحمد الله ومنه وحسن توفيقه والله أعلم
… dengannya pada saat itu adalah mencari pendekatan dan meraih kasih sayang, namun hal itu terbatas dalam jenisnya. Sebab, apa yang mungkin dicapai melalui indikasi-indikasi tidaklah samar. Dan indikasi bahwa ia tidak mengharapkan kasih sayang semata adalah sekiranya orang lain yang segera diangkat memegang jabatan tersebut, niscaya ia akan menyerahkan harta itu kepada orang lain tersebut. Maka ini termasuk hal yang disepakati bahwa kemakruhannya sangat keras, dan para ulama berbeda pendapat tentang keharamannya. Makna di dalamnya saling berhadapan, karena berada di antara hadiah murni dan suap yang diberikan sebagai imbalan atas kedudukan dalam tujuan tertentu. Apabila keserupaan qiyas saling bertolak belakang dan riwayat-riwayat serta atsar mendukung salah satunya, maka wajib kecenderungan diarahkan ke sana. Sungguh riwayat-riwayat telah menunjukkan kerasnya perkara ini. Nabi ﷺ bersabda: "Akan datang kepada manusia suatu zaman di mana harta haram (suht) dihalalkan melalui hadiah, dan pembunuhan dihalalkan melalui penasihatan; orang yang tidak bersalah dibunuh agar masyarakat mengambil pelajaran darinya." Ibn Mas'ud ﵁ pernah ditanya tentang suht (harta haram), lalu ia menjawab: "Seseorang menyelesaikan hajat orang lain, lalu dihadiahkan hadiah kepadanya." Maksud beliau mungkin adalah penyelesaian hajat dengan satu kata tanpa jerat lelah, atau diselesaikan secara sukarela bukan atas dasar mengharap upah, sehingga tidak boleh baginya mengambil sesuatu setelahnya dalam bentuk imbalan. Masruq pernah memberikan syafaat (bantuan perantara), lalu orang yang dibantu memberinya hadiah seorang budak wanita, maka ia marah dan mengembalikannya seraya berkata: "Sekiranya aku tahu apa yang ada di dalam hatimu, niscaya aku tidak akan berbicara untuk hajatmu dan aku tidak akan membicarakan sisa urusanmu." Thawus ditanya tentang hadiah dari penguasa, ia menjawab: "Itu adalah suht (harta haram)." Umar ﵁ mengambil keuntungan harta qiradh (bagi hasil) yang diambil oleh kedua putranya dari Baitul Mal, dan beliau berkata: "Sesungguhnya kalian berdua diberi permodalan itu hanyalah karena kedudukan kalian dariku," sebab beliau tahu bahwa keduanya diberi karena kedudukan kepemimpinan. Istri Abu Ubaidah bin al-Jarrah pernah menghadiahkan minyak wangi (khaluq) kepada Khatun (ratu) Romawi, lalu ratu membalasnya dengan permata. Maka Umar ﵁ mengambil permata itu, menjualnya, memberikan harga sebanding minyak wanginya kepada istri Abu Ubaidah, dan mengembalikan sisanya ke Baitul Mal kaum muslimin. Jabir dan Abu Hurairah ﵄ berkata: "Hadiah-hadiah para raja adalah ghulul (penggelapan/pengkhianatan)." Ketika Umar bin Abdul Aziz menolak hadiah, dikatakan kepadanya: "Rasulullah ﷺ dahulu menerima hadiah." Maka beliau menjawab: "Bagi beliau itu adalah hadiah, sedangkan bagi kita itu adalah suap (risywah)." Maksudnya, orang-orang mendekatkan diri kepada beliau karena kenabian beliau, bukan karena kekuasaan beliau, sedangkan kita diberi hanyalah karena kekuasaan. Dan yang lebih besar dari semua itu adalah apa yang diriwayatkan oleh Abu Humaid as-Sa'idi bahwa Rasulullah ﷺ mengutus seorang wali (petugas) untuk mengumpulkan zakat suku Azd. Ketika ia datang kepada Rasulullah ﷺ, ia menahan sebagian dari apa yang ada padanya dan berkata: "Ini untuk kalian, dan ini hadiah untukku." Maka Nabi ﷺ bersabda: "Mengapa engkau tidak duduk saja di rumah ayahmu dan rumah ibumu sampai hadiahmu datang kepadamu jika engkau memang orang yang benar?" Kemudian beliau bersabda: "Mengapa aku mempekerjakan seseorang di antara kalian lalu ia berkata: 'Ini untuk kalian dan ini hadiah untukku'? Mengapa ia tidak duduk saja di rumah ibunya agar diberi hadiah? Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah salah seorang dari kalian mengambil sesuatu tanpa haknya melainkan ia akan menghadap Allah dengan memikulnya. Maka jangan sampai salah seorang dari kalian datang pada hari kiamat membawa unta yang bersuara, atau sapi yang lenguhannya terdengar, atau kambing yang mengebik." Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya hingga aku melihat putihnya ketiak beliau, lalu beliau berdoa: "Ya Allah, bukankah aku telah menyampaikan?" Apabila penegasan keras ini telah tetap, maka seorang qadi (hakim) dan wali (pejabat) hendaknya mengandaikan dirinya berada di rumah ibu dan ayahnya. Hadiah apa yang tetap diberikan kepadanya setelah dicopot dari jabatan ketika ia berada di rumah ibunya, boleh baginya untuk mengambilnya saat ia menjabat. Dan apa yang ia ketahui bahwa itu diberikan kepadanya semata-mata karena jabatannya, maka haram hukumnya mengambilnya. Sedangkan hadiah dari sahabat-sahabatnya yang membingungkan baginya apakah mereka akan tetap memberinya jika ia dicopot dari jabatan, maka itu adalah syubhat, hendaknya ia menjauhinya. Telah selesai Kitab Al-Halal wal Haram dengan memuji Allah, karunia-Nya, dan taufik-Nya yang baik. Wallahu a'lam.