ربع العادات

كتاب آداب السفر

كتاب آداب السفر

كتاب العزلة ويتلوه كتاب آداب السفر والحمد لله وحده

Telah selesai Kitab Uzlah, dan selanjutnya disusul oleh Kitab Adab Bepergian (Safar). Segala puji hanya bagi Allah semata.

كتاب آداب السفر

Kitab Adab Perjalanan (Safar)

وهو الكتاب السابع من ربع العادات من كتب إحياء علوم الدين

Yaitu kitab ketujuh dari Rubu' (seperempat) Adat Kebiasaan dari kitab Ihya' Ulumuddin.

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

الحمد لله الذي فتح بصائر أوليائه بالحكم والعبر واستخلص همهم لمشاهدة عجائب صنعه في الحضر والسفر فأصبحوا راضين بمجاري القدر منزهين قلوبهم عن التلفت إلى متنزهات البصر إلا على سبيل الاعتبار بما يسبح في مسارح النظر ومجاري الفكر فاستوى عندهم البر والبحر والسهل والوعر والبد والحضر

Segala puji bagi Allah yang telah membuka mata hati (bashirah) para kekasih-Nya dengan hikmah dan iktibar, serta memurnikan tekad (himmah) mereka untuk menyaksikan keajaiban ciptaan-Nya baik dalam keadaan bermukim maupun bepergian. Maka jadilah mereka ridha terhadap ketetapan takdir, menyucikan hati mereka dari berpaling pada keindahan pandangan mata kecuali dalam rangka mengambil pelajaran (i'tibar) atas apa yang membentang di padang pandangan dan lintasan pikiran. Dengan demikian, menjadi samalah bagi mereka antara daratan dan lautan, dataran rendah dan jalan terjal, serta kehidupan pedalaman dan perkotaan.

والصلاة على محمد سيد البشر وعلى صحبه المقتفين لآثاره في الأخلاق والسير وسلم كثيراً

Shalawat serta salam yang melimpah semoga tercurah kepada Muhammad, penghulu umat manusia, dan kepada para sahabatnya yang mengikuti jejak langkah beliau dalam akhlak dan perjalanan hidup.

أما بعد فإن السفر وسيلة إلى الخلاص عن مهروب عنه أو الوصول إلى مطلوب ومرغوب فيه

Amma ba'du, sesungguhnya perjalanan (safar) merupakan sarana untuk terbebas dari sesuatu yang dihindari, atau untuk mencapai sesuatu yang dicari dan diinginkan.

والسفر سفران سفر بظاهر البدن عن المستقر والوطن إلى الصحارى والفلوات وسفر بسير القلب عن أسفل السافلين إلى ملكوت السموات

Perjalanan itu ada dua jenis: perjalanan lahiriah badan dari tempat tinggal dan tanah air menuju gurun dan padang sahara, serta perjalanan batiniah melalui pengembaraan hati dari tingkatan paling rendah (asfala safilin) menuju alam malakut langit.

وأشرف السفرين السفر الباطن

Dan yang paling mulia dari kedua jenis perjalanan tersebut adalah perjalanan batin.

فإن الواقف على الحالة التي نشأ عليها عقيب الولادة الجامد على ما تلقفه بالتقليد من الآباء والأجداد لازم درجة القصور وقانع بمرتبة النقص ومستبدل بمتسع فضاء جنة عرضها السماوات والأرض ظلمة السجن وضيق الحبس ولقد صدق القائل

Sebab orang yang berhenti pada keadaan tempat ia tumbuh sesudah dilahirkan, dan kaku (stagnan) pada apa yang ia terima melalui taklid dari nenek moyang, berarti menetapi derajat kekurangan, merasa puas dengan tingkatan kelemahan, dan menukar kelapangan ruang surga yang luasnya seluas langit dan bumi dengan kegelapan penjara dan kesempitan kurungan. Sungguh benar orang yang berkata:

ولم أر في عيوب الناس عيباً … كنقص القادرين على التمام

"Dan tidak pernah kulihat aib pada manusia yang lebih besar… melebihi kekurangan orang-orang yang mampu mencapai kesempurnaan."

إلا أن هذا السفر لما كان مقتحمه في خطب خطير لم يستغن فيه عن دليل وخفير فاقتضى غموض السبيل وفقد الخفير والدليل وقناعة السالكين عن الحظ الجزيل بالنصيب النازل القليل اندرس مسالكه

Hanya saja, karena orang yang mengarungi perjalanan (batin) ini menghadapi perkara yang amat besar dan berbahaya, ia tidak dapat lepas dari bimbingan seorang penunjuk jalan (dalil) dan pelindung (khafir). Namun, lantaran samarnya jalan, langkahnya penunjuk jalan dan pelindung, serta cukup puasnya para penempuh jalan (salik) dengan bagian yang sangat sedikit dibanding keberuntungan yang melimpah, maka jalan-jalannya menjadi samar dan lenyap.

فانقطع فيه الرفاق وخلا عن الطائفين متنزهات الأنفس والملكوت والآفاق

Sehingga terputuslah rombongan pengelana di dalamnya, dan sepi pulalah tempat-tempat tamasya jiwa, alam malakut, serta pelosok cakrawala dari para penjelajah.

وإليه دعا الله سبحانه بقوله ﴿سنريهم آياتنا في الآفاق وفي أنفسهم﴾ وبقوله تعالى ﴿وفي الأرض آيات للموقنين وفي أنفسكم أفلا تبصرون﴾ وعلى القعود عن هذا السفر وقع الإنكار بقوله تعالى ﴿وإنكم لتمرون عليهم مصبحين وبالليل أفلا تعقلون﴾ وبقوله سبحانه ﴿وكأين﴾

Kepada perjalanan inilah Allah Subhanahu wa Ta'ala mengajak melalui firman-Nya: "Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri" (QS. Fussilat: 53), dan firman-Nya Ta'ala: "Dan di bumi terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri; maka apakah kamu tidak memperhatikan?" (QS. Adz-Dzariyat: 20-21). Dan celaan terhadap sikap enggan mengarungi perjalanan ini tertuang dalam firman-Nya Ta'ala: "Dan sesungguhnya kamu benar-benar melewati (bekas-bekas permukiman) mereka pada waktu pagi, dan pada waktu malam; maka apakah kamu tidak mengerti?" (QS. As-Saffat: 137-138), serta firman-Nya Suci:

﴿من آية في السماوات والأرض يمرون عليها وهم عنها معرضون﴾ فمن يسر له هذا السفر لم يزل في سيره متنزها في جنة عرضها السماوات والأرض وهو ساكن بالبدن مستقر في الوطن

"Dan berapa banyak tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka lalui, sedangkan mereka berpaling darinya." (QS. Yusuf: 105). Maka barangsiapa yang dipermudah baginya perjalanan ini, niscaya ia senantiasa dalam perjalanannya bertamasya di surga yang luasnya seluas langit dan bumi, sementara jasadnya tenang dan bermukim di tanah airnya.

وهو السفر الذي لا تضيق فيه المناهل والموارد ولا يضر فيه التزاحم والتوارد بل تزيد بكثرة المسافرين غنائمه وتتضاعف ثمراته وفوائده فغنائمه دائمة غير ممنوعة وثمراته متزايدة غير مقطوعة إلا إذا بدا للمسافر فترة في سفره ووقفة في حركته فإن الله لا يغير ما بقوم حتى يغيروا ما بأنفسهم وإذا زاغوا أزاغ الله قلوبهم وما الله بظلام للعبيد ولكنهم يظلمون أنفسهم ومن لم يؤهل للجولان في هذا الميدان والتطواف في متنزهات هذا البستان ربما سافر بظاهر بدنه في مدة مديدة فراسخ معدودة مغتنما بها تجارة للدنيا أو ذخيرة للآخرة فإن كان مَطْلَبُهُ الْعِلْمَ وَالدِّينَ أَوِ الْكِفَايَةَ لِلِاسْتِعَانَةِ عَلَى الدِّينِ كَانَ مِنْ سَالِكِي سَبِيلِ الْآخِرَةِ وَكَانَ لَهُ فِي سَفَرِهِ شُرُوطٌ وَآدَابٌ إِنْ أَهْمَلَهَا كَانَ مِنْ عُمَّالِ الدُّنْيَا وَأَتْبَاعِ الشَّيْطَانِ وَإِنْ وَاظَبَ عَلَيْهَا لَمْ يَخْلُ سَفَرُهُ عَنْ فَوَائِدَ تلحقه بعمال الآخرة ونحن نذكر آدابه وشروطه في بابين إن شاء الله تعالى

Ia merupakan perjalanan yang tidak pernah sempit mata air dan tempat minumnya, serta tidak mengganggu padanya desak-desakan dan kedatangan bersamaan. Bahkan, dengan semakin banyaknya musafir, semakin bertambah rampasan perangnya (keuntungannya) serta berlipat ganda buah dan manfaatnya. Hasil keuntungannya bersifat abadi tidak terhalang, dan buahnya terus bertambah tidak terputus; kecuali jika muncul pada diri sang musafir rasa lelah (futur) dalam perjalanannya dan penghentian langkah dalam geraknya. Sebab sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan ketika mereka berpaling, Allah memalingkan hati mereka, dan Allah tidaklah menzalimi hamba-hamba-Nya, melainkan merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri. Barangsiapa yang belum layak mengarungi padang ini dan bertamasya di taman ini, terkadang ia melakukan perjalanan dengan lahiriah badannya dalam kurun waktu yang panjang dan beberapa farsakh untuk meraih perdagangan duniawi atau bekal akhirat. Jika tujuannya adalah ilmu dan agama, atau kecukupan (rezeki) demi menopang pelaksanaan agama, maka ia tergolong penempuh jalan akhirat. Ia memiliki syarat dan adab dalam perjalanannya; jika ia mengabaikannya, ia menjadi bagian dari pekerja duniawi dan pengikut setan, namun jika ia mengamalkannya secara konsisten, perjalanannya tidak akan sepi dari manfaat yang menghubungkannya dengan para pekerja akhirat. Kami akan menyebutkan adab dan syarat-syaratnya dalam dua bab, insya Allah Ta'ala.

الباب الأول في الآداب من أول النهوض إلى آخر الرجوع وفي نية السفر

Bab Pertama: Tentang Adab dari Awal Keberangkatan hingga Akhir Kepulangan, serta tentang Niat Perjalanan…

وفائدته وفيه فصلان

…dan Manfaatnya; di Dalamnya Terdapat Dua Pasal.

الباب الثاني فيما لَا بُدَّ لِلْمُسَافِرِ مِنْ تَعَلُّمِهِ مِنْ رُخَصِ السفر وأدلة القبلة والأوقات الباب الأول في الآداب من أول النهوض إلى آخر الرجوع وفي نية السفر وفائدته وفيه فصلان الفصل الأول في فوائد السفر وفضله ونيته

Bab Kedua: Tentang Hal-Hal yang Wajib Dipelajari Musafir Mengenai Keringanan-Keringanan (Rukhsah) Perjalanan, Petunjuk Arah Kiblat, dan Waktu-Waktu Shalat. [Bab Pertama: Tentang Adab dari Awal Keberangkatan hingga Akhir Kepulangan, Niat Perjalanan dan Manfaatnya, Memuat Dua Pasal]. Pasal Pertama: Tentang Manfaat Perjalanan, Keutamaannya, dan Niatnya.

اعلم أن السفر نوع حركة ومخالطة وفيه فوائد وله آفات كما ذكرناه في

Ketahuilah bahwa perjalanan merupakan sejenis pergerakan dan pergaulan (sosialisasi), di dalamnya terdapat berbagai manfaat dan bencana (petaka), sebagaimana telah kami sebutkan dalam…

كتاب الصحبة والعزلة والفوائد الباعثة على السفر لا تخلو من هرب أو طلب

…Kitab Persahabatan dan Menyendiri (Al-Suhbah wa Al-'Uzlah). Adapun manfaat-manfaat yang mendorong untuk melakukan perjalanan tidak lepas dari motif menghindar (harab) atau mencari (talab).

فإن المسافر إما أن يكون له مزعج عن مقامه ولولاه لما كان له مقصد يسافر إليه وإما أن يكون له مقصد ومطلب

Sebab, seorang musafir adakala memiliki pendorong yang mengusiknya dari tempat tinggalnya, yang jika bukan karenanya niscaya ia tidak memiliki tujuan untuk bepergian, dan adakala ia memiliki maksud serta tujuan yang hendak dicapai.

والمهروب عنه إما أمر له نكاية في الأمور الدنيوية

Dan sesuatu yang dihindari itu adakala berupa perkara yang membawa kemudaratan dalam urusan-urusan duniawi,

كالطاعون والوباء إذا ظهر ببلد أو خوف سببه فتنة أو خصومة أو غلاء سعر

seperti penyakit tha'un (pest) dan wabah apabila muncul di suatu negeri, atau ketakutan yang disebabkan oleh fitnah (kekacauan), permusuhan, atau melonjaknya harga-harga kebutuhan.

وهو إما عام كما ذكرناه أو خاص كمن يقصد بأذية في بلدة فيهرب منها

Hal itu adakala bersifat umum sebagaimana yang telah kami sebutkan, atau bersifat khusus seperti orang yang ditargetkan untuk disakiti di suatu negeri lalu ia melarikan diri darinya.

وإما أمر له نكاية في الدين كمن ابتلى في بلده بجاه ومال واتساع أسباب تصده عن التجرد لله فيؤثر الغربة والخمول ويجتنب السعة والجاه أو كمن يدعى إلى بدعة قهرا أو إلى ولاية عمل لا تحل مباشرته فيطلب الفرار منه

Atau adakala berupa perkara yang membawa bahaya bagi agamanya, seperti orang yang diuji di negerinya dengan kedudukan, harta, dan kelapangan sarana yang menghalanginya dari fokus sepenuhnya (tajarrud) kepada Allah, sehingga ia lebih memilih berkelana dan tidak dikenal (khamul) serta menjauhi kelapangan dan kedudukan; atau seperti orang yang dipaksa menyeru kepada bid'ah atau diangkat menduduki jabatan yang tidak halal untuk dijalankan, sehingga ia berusaha melarikan diri darinya.

وأما المطلوب فهو إما دنيوي كالمال والجاه أو ديني والديني إما علم وإما عمل

Adapun sesuatu yang dicari (tujuan perjalanan), adakala bersifat duniawi seperti harta dan kedudukan, atau bersifat keagamaan. Dan tujuan keagamaan itu adakala berupa ilmu, dan adakala berupa amal.

والعلم إما علم من العلوم الدينية وإما علم بأخلاق نفسه وصفاته على سبيل التجربة وأما علم بآيات الأرض وعجائبها كسفر ذي القرنين وطوافه في نواحي الأرض

Ilmu itu adakala berupa ilmu dari ilmu-ilmu agama, adakala ilmu tentang akhlak dan sifat-sifat jiwanya sendiri melalui jalur pengujian diri (pengalaman), atau ilmu tentang tanda-tanda kebesaran Allah di bumi beserta keajaiban-keajaibannya, seperti perjalanan Zulkarnain dan pengembaraannya di berbagai penjuru bumi.

والعمل إما عبادة وإما زيارة

Adapun amal, adakala berupa ibadah, dan adakala berupa ziarah.

والعبادة هو الحج والعمرة والجهاد

Ibadah tersebut mencakup haji, umrah, dan jihad.

والزيارة أيضا من القربات وقد يقصد بها مكان كمكة والمدينة وبيت المقدس

Ziarah juga termasuk bentuk pendekatan diri kepada Allah (qurbah). Terkadang tujuannya adalah suatu tempat, seperti Makkah, Madinah, dan Baitul Maqdis,

والثغور فإن الرباط بها قربة

serta wilayah-wilayah perbatasan (tsughur), karena berjaga-jaga (ribath) di sana merupakan suatu bentuk ibadah ketaatan.

وقد يقصد بها الأولياء والعلماء وهم إما موتى فتزار قبورهم وإما أحياء فيتبرك بمشاهدتهم ويستفاد من النظر إلى أحوالهم قوة الرغبة في الإقتداء بهم

Dan terkadang tujuannya adalah para wali dan ulama, baik yang sudah meninggal dunia sehingga makam mereka diziarahi, maupun yang masih hidup sehingga diambil keberkahan dengan memandang mereka, serta dipetik manfaat dari meneladani keadaan mereka berupa dorongan tekad yang kuat untuk meniru jejak langkah mereka.

فهذه هي أقسام الأسفار ويخرج من هذه القسمة أقسام

Inilah pembagian jenis-jenis perjalanan (safar), dan dari pembagian ini terinci pula beberapa bagian:

الْقِسْمُ الْأَوَّلُ السَّفَرُ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ وَهُوَ إِمَّا وَاجِبٌ وَإِمَّا نَفْلٌ وَذَلِكَ بِحَسَبِ كَوْنِ الْعِلْمِ وَاجِبًا أَوْ نَفْلًا

Bagian Pertama: Perjalanan dalam menuntut ilmu. Perjalanan ini adakala hukumnya wajib dan adakala sunnah (nafl), tergantung pada status ilmu yang dicari tersebut, apakah wajib atau sunnah.

وَذَلِكَ

Dan hal itu,

العلم إما علم بأمور دينه أَوْ بِأَخْلَاقِهِ فِي نَفْسِهِ أَوْ بِآيَاتِ اللَّهِ في أرضه

ilmu itu adakala berupa ilmu tentang urusan-urusan agamanya, atau tentang akhlak di dalam jiwanya, atau tentang tanda-tanda kebesaran Allah di bumi-Nya.

وَقَدْ قَالَ ﷺ مَنْ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ فَهُوَ في سبيل الله حتى يرجع

Rasulullah ﷺ telah bersabda: "Barang siapa keluar dari rumahnya untuk menuntut ilmu, maka ia berada di jalan Allah hingga ia kembali."

وفي خبر آخر من سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله له طريقا إلى الجنة

Dan dalam riwayat lain disebutkan: "Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, niscaya Allah memudahkan baginya jalan menuju surga."

وكان سعيد بن المسيب يسافر الأيام في طلب الحديث الواحد

Dahulu, Sa'id bin al-Musayyib melakukan perjalanan berhari-hari hanya untuk mencari satu hadis.

وَقَالَ الشَّعْبِيُّ لَوْ سَافَرَ رَجُلٌ مِنَ الشَّامِ إِلَى أَقْصَى الْيَمَنِ فِي كَلِمَةٍ تَدُلُّهُ عَلَى هُدًى أَوْ تَرُدُّهُ عَنْ رَدًى مَا كَانَ سفره ضائعا

Al-Sya'bi berkata: "Seandainya seseorang bepergian dari Syam hingga ke ujung Yaman demi satu kalimat yang menunjuknya kepada petunjuk atau memalingkannya dari kebinasaan, niscaya perjalanannya itu tidaklah sia-sia."

وَرَحَلَ جَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ مِنَ الْمَدِينَةِ إلى مصر مع عشرة من الصحابة فساروا شهرا في حديث بلغهم عن عبد الله أنيس الأنصاري يحدث به عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ حتى سمعوه

Jabir bin 'Abdullah melakukan perjalanan dari Madinah menuju Mesir bersama sepuluh orang sahabat. Mereka berjalan selama satu bulan demi sebuah hadis yang sampai kepada mereka dari 'Abdullah bin Unais al-Anshari, yang ia riwayatkan dari Rasulullah ﷺ, hingga mereka mendengarnya langsung darinya.

وكل مذكور في العلم محصل له من زمان الصحابة إلى زماننا هذا لم يحصل العلم إلا بالسفر وسافر لأجله وأما علمه بنفسه وأخلاقه فذلك أيضا مهم فإن طريق الآخرة لا يمكن سلوكها إلا بتحسين الخلق وتهذيبه ومن لا يطلع على أسرار باطنه وخبائث صِفَاتِهِ لَا يَقْدِرُ عَلَى تَطْهِيرِ الْقَلْبِ مِنْهَا

Dan setiap orang terkemuka dalam keilmuan yang berhasil meraihnya, dari zaman para Sahabat hingga zaman kita ini, tidaklah memperoleh ilmu melainkan dengan melakukan perjalanan (safar) dan bepergian demi menuntutnya. Adapun pengetahuannya tentang dirinya dan akhlaknya, hal itu juga sangat penting, karena jalan menuju akhirat tidak mungkin ditempuh melainkan dengan memperbaiki dan mendidik akhlak. Barang siapa tidak mengetahui rahasia batinnya dan keburukan sifat-sifatnya, niscaya ia tidak akan mampu menyucikan hati darinya.

وإنما السفر هو الذي يسفر عن أخلاق الرجال وبه يخرج الله الخبء في السماوات والأرض وإنما سمى السفر سفرا لأنه يسفر عن الأخلاق ولذلك قال عمر ﵁ للذي زكى عنده بعض الشهود هل صحبته في السفر الذي يستدل به على مكارم أخلاقه فقال لا فقال ما أراك تعرفه

Sesungguhnya perjalanan (safar) itulah yang menyingkap akhlak para lelaki, dan melaluinya Allah mengeluarkan apa yang tersembunyi di langit dan di bumi. Serta dinamakan *safar* karena ia menyingkap (*yusfiru*) karakter dan kelakuan. Oleh sebab itu, 'Umar ﵁ berkata kepada seseorang yang memuji seorang saksi di hadapannya, "Apakah engkau pernah menemaninya dalam perjalanan (safar) yang dengannya dapat diketahui keluhuran akhlaknya?" Orang itu menjawab, "Tidak." Maka 'Umar berkata, "Aku kira engkau belum mengenalnya."

وكان بشر يقول يا معشر القراء سيحوا تطيبوا فإن الماء إذا ساح طاب وإذا طال مقامه في موضع تغير

Dahulu Bishr al-Hafi berkata, "Wahai para ahli Al-Qur'an, mengembaralah niscaya kalian menjadi baik. Sebab air itu apabila mengalir ia menjadi murni dan baik, namun apabila terlalu lama menetap di satu tempat, ia akan berubah (membusuk)."

وبالجملة فإن النفس فِي الْوَطَنِ مَعَ مُوَاتَاةِ الْأَسْبَابِ لَا تَظْهَرُ خَبَائِثُ أَخْلَاقِهَا لِاسْتِئْنَاسِهَا بِمَا يُوَافِقُ طَبْعَهَا مِنَ المألوفات المعهودة فإذا حملت وعثاء السفر وصرفت عن مألوفاتها المعتادة وامتحنت بمشاق الغربة انكشفت غوائلها ووقع الوقوف على عيوبها فيمكن الاشتغال بعلاجها

Kesimpulannya, sesungguhnya jiwa itu ketika berada di tanah airnya beserta kemudahan berbagai sarana, keburukan-keburukan akhlaknya tidak tampak karena ia merasa nyaman dengan hal-hal biasa yang sesuai dengan wataknya. Namun apabila ia menanggung kepayahan perjalanan, dipalingkan dari kebiasaan-kebiasaannya yang biasa, dan diuji dengan kesulitan-kesulitan di rantau, niscaya terungkaplah keburukan-keburukan tersembunyinya dan tersingkaplah aib-aibnya, sehingga memungkinkan untuk mengobatinya.

وقد ذكرنا في

Dan sungguh telah kami sebutkan dalam

كتاب العزلة فوائد المخالطة والسفر مخالطة مع زيادة اشتغال واحتمال مشاق

Kitab al-'Uzlah (Kitab Mengasingkan Diri) mengenai faedah-faedah berbaur dengan masyarakat (*mukhalatah*). Sedangkan *safar* adalah bentuk perbauran yang disertai dengan kesibukan ekstra dan penanggungan berbagai kesulitan.

وَأَمَّا آيَاتُ اللَّهِ فِي أَرْضِهِ فَفِي مُشَاهَدَتِهَا فَوَائِدُ لِلْمُسْتَبْصِرِ فَفِيهَا قِطَعٌ مُتَجَاوِرَاتٌ وَفِيهَا الْجِبَالُ وَالْبَرَارِي وَالْبِحَارُ وَأَنْوَاعُ الْحَيَوَانِ وَالنَّبَاتِ وَمَا مِنْ شَيْءٍ مِنْهَا إِلَّا وَهُوَ شَاهِدٌ لِلَّهِ بِالْوَحْدَانِيَّةِ ومسبح له بلسان ذلق لا يدركه إلا من ألقى السمع وهو شهيد

Adapun tanda-tanda kebesaran Allah di bumi-Nya, maka dalam menyaksikannya terdapat faedah-faedah bagi orang yang memiliki mata hati (*mustabshir*). Di dalamnya terdapat bidang-bidang tanah yang berdampingan, gunung-gunung, padang sahara, lautan, serta beraneka ragam hewan dan tumbuhan. Tiada satu pun dari semua itu melainkan bersaksi akan keesaan Allah dan bertasbih kepada-Nya dengan lisan yang fasih, yang tidak dapat ditangkap melainkan oleh orang yang menggunakan pendengarannya, sedang ia menyaksikannya.

وأما الجاحدون والغافلون والمغترون بلامع السراب من زهرة الدنيا فإنهم لا يبصرون ولا يسمعون لأنهم عن السمع معزولون وعن آيات ربهم محجوبون ﴿يعلمون ظاهراً من الحياة الدنيا وهم عن الآخرة هم غافلون﴾ وما أريد بالسمع السمع الظاهر فإن الذينأريدوا به ما كانوا معزولين عنه وإنما أريد به السمع الباطن ولا يدرك بالسمع الظاهر إلا الأصوات

Adapun orang-orang yang mengingkari, lalai, dan terbuai oleh fatamorgana keindahan dunia, maka sesungguhnya mereka tidak melihat dan tidak mendengar, karena mereka dihalangi dari pendengaran dan terhijab dari tanda-tanda kebesaran Tuhan mereka. "Mereka hanya mengetahui yang lahir (tampak) dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai." [QS. Ar-Rum: 7]. Dan yang dimaksud dengan pendengaran di sini bukanlah pendengaran lahiriah, karena orang-orang yang dimaksudkan itu tidak dihalangi darinya. Melainkan yang dimaksud adalah pendengaran batiniah, sebab pendengaran lahiriah tidak dapat menangkap kecuali suara-suara semata,

ويشارك الإنسان فيه سائر الحيوانات

dan dalam hal itu manusia berserikat (sama saja) dengan hewan-hewan lainnya.

فأما السمع الباطن فيدرك به لسان الحال الذي هو نطق وراء نطق المقال يشبه قول القائل حكاية لكلام الوتد والحائط قال الجدار للوتد لم تشقني فقال سل من يدقنى ولم يتركني ورائي الحجر الذي ورائي

Adapun pendengaran batin, dengannya dapat ditangkap lisan kondisi (*lisan al-hal*), yaitu ucapan di balik ucapan kata (*nuthq al-maqal*). Hal ini menyerupai ucapan seseorang saat menceritakan perkataan pasak dan dinding: Dinding berkata kepada pasak, "Mengapa engkau membelahku?" Pasak menjawab, "Tanyakanlah kepada orang yang memukulku dan tidak membiarkanku, serta batu yang ada di belakangku."

وما من ذرة في السماوات والأرض إلا ولها أنواع شاهدات لله تعالى بالوحدانية هي توحيدها وأنواع شاهدات لصانعها بالتقدس هي تسبيحها ولكن لا يفقهون تسبيحها لأنهم لم يسافروا من مضيق سمع الظاهر إلى فضاء سمع الباطن ومن ركاكة لسان المقال

Tiada satu zarah pun di langit dan di bumi melainkan memiliki berbagai bentuk kesaksian bagi Allah Ta'ala akan keesaan-Nya—itulah tauhidnya—dan berbagai kesaksian bagi Penciptanya akan kesucian-Nya—itulah tasbihnya. Akan tetapi mereka tidak memahami tasbihnya, karena mereka belum melakukan perjalanan (safar) dari kesempitan pendengaran lahir menuju keluasan pendengaran batin, dan dari kelemahan lisan kata lahiriah (*lisan al-maqal*)

إلى فصاحة لسان الحال ولو قدر كل عاجز على مثل هذا السير لما كان سليمان ﵇ مختصا بفهم منطق الطير ولما كان موسى ﵇ مختصا بسماع كلام الله تعالى الذي يجب تقديسه عن مشابهة الحروف والأصوات

menuju kefasihan lisan kondisi (*lisan al-hal*). Seandainya setiap orang yang lemah mampu melakukan perjalanan spiritual seperti ini, niscaya Nabi Sulaiman ﵇ tidak dikhususkan dengan pemahaman bahasa burung, dan Nabi Musa ﵇ tidak dikhususkan dengan pendengaran akan firman Allah Ta'ala yang wajib disucikan dari keserupaan dengan huruf dan suara.

ومن يسافر ليستقرئ هذه الشهادات من الأسطر المكتوبة بالخطوط الإلهية على صفحات الجمادات لم يطل سفره بالبدن بل يستقر في موضع ويفرغ قلبه للتمتع بسماع نغمات التسبيحات من آحاد الذرات فماله وللتردد في الفلوات وله غنية في ملكوت السماوات فالشمس والقمر والنجوم بأمره مسخرات

Barang siapa bepergian untuk meneliti kesaksian-kesaksian ini dari baris-baris yang tertulis dengan guratan Ilahi pada lembaran benda-benda mati, niscaya tidak perlu lama perjalanannya secara fisik. Bahkan ia dapat berdiam di satu tempat dan mengosongkan hatinya untuk menikmati pendengaran akan nada-nada tasbih dari tiap-tiap zarah. Maka untuk apa ia bolak-balik di padang sahara, padahal ia telah cukup dalam kerajaan langit (*malakut as-samawat*), di mana matahari, bulan, dan bintang-bintang ditundukkan dengan perintah-Nya.

وهي إلى أبصار ذوى البصائر مسافرات في الشهر والسنة مرات بل هي دائبة في الحركة على توالى الأوقات

Dan benda-benda langit itu bagi pandangan orang-orang yang memiliki mata hati (*dzawil basha'ir*) senantiasa melakukan perjalanan berkali-kali dalam sebulan dan setahun, bahkan senantiasa bergerak secara berkesinambungan di setiap waktu.

فمن الغرائب أن يدأب في الطواف بآحاد المساجد من أمرت الكعبة أن تطوف به ومن الغرائب أن يطوف في أكناف الأرض من يطوف به أقطار السماء

Maka termasuk hal yang mengherankan adalah seseorang yang diperintahkan Ka'bah untuk mengelilinginya, justru sibuk bertawaf mengelilingi masjid-masjid satu per satu. Dan termasuk keanehan pula adalah seseorang yang dikelilingi oleh penjuru langit, justru sibuk mengelilingi pelosok-pelosok bumi.

ثم ما دام المسافر مفتقرا إلى أن يبصر عالم الملك والشهادة بالبصر الظاهر فهو بعد في المنزل الأول من منازل السائرين إلى الله والمسافرين إلى حضرته وكأنه معتكف على باب الوطن لم يفض به المسير إلى متسع الفضاء ولا سبب لطول المقام في هذا المنزل إلا الجبن والقصور

Kemudian, selama musafir itu masih membutuhkan penglihatan lahiriah untuk memandang alam kasatmata (*'alam al-mulk wa asy-syahadah*), maka ia sesungguhnya masih berada di persinggahan (*manzil*) pertama dari persinggahan orang-orang yang berjalan menuju Allah dan musafir menuju hadirat-Nya. Seolah-olah ia masih berdiam diri di pintu tanah airnya, belum sampai pada perjalanannya ke ruang yang luas. Tidak ada sebab bagi lamanya menetap di persinggahan ini melainkan sifat penakut dan keterbatasan kemampuan.

ولذلك قال بعض أرباب القلوب إن الناس ليقولون افتحوا أعينكم حتى تبصروا وأنا أقول غمضوا أعينكم حتى تبصروا وكل واحد من القولين حق إلا أن الأول خبر عن المنزل الأول القريب من الوطن والثاني خبر عما بعده من المنازل البعيدة عن الوطن التي لا يطؤها إلا مخاطر بنفسه والمجاوز إليها ربما يتيه فيها سنين وربما يأخذ التوفيق بيده فيرشده الى سواء السبيل والهالكون في التيه هم الأكثرون من ركاب هذه الطريق ولكن السائحون بنور التوفيق فازوا بالنعيم والملك المقيم وهم الذين سبقت لهم من الله الحسنى واعتبر هذا الملك بملك الدنيا فإنه يقل بالإضافة الى كثرة الخلق طلابه ومهما عظم المطلوب قل المساعد

Oleh karena itu, sebagian ahli kalbu berkata, "Sesungguhnya orang-orang berkata: 'Bukalah mata kalian agar kalian bisa melihat!' Sedangkan aku berkata: 'Pejamkanlah mata kalian agar kalian bisa melihat!'" Masing-masing dari kedua perkataan ini adalah benar, hanya saja yang pertama mengabarkan tentang persinggahan pertama yang dekat dengan tanah air (asal kemanusiaan), sedangkan yang kedua mengabarkan tentang persinggahan-persinggahan setelahnya yang jauh dari tanah air, yang tidak dapat dipijak melainkan oleh orang yang berani mempertaruhkan jiwanya. Orang yang menyeberang ke sana terkadang tersesat di dalamnya bertahun-tahun, namun terkadang taufik memegang tangannya lalu membimbingnya ke jalan yang lurus. Orang-orang yang binasa dalam kebingungan adalah mayoritas dari para penempuh jalan ini, akan tetapi orang-orang yang mengembara dengan cahaya taufik berhasil meraih kenikmatan dan kerajaan yang abadi; merekalah orang-orang yang telah memperoleh kebaikan dari Allah terlebih dahulu. Bandingkanlah kerajaan ini dengan kerajaan dunia, karena sesungguhnya para penuntutnya sangat sedikit jika dibandingkan dengan banyaknya makhluk. Dan betapa pun agungnya sesuatu yang dicari, niscaya makin sedikitlah penolongnya.

ثم الذي يهلك أكثر من الذي يملك

Kemudian, orang yang binasa jauh lebih banyak daripada orang yang berhasil memilikinya.

ولا يتصدى لطلب الملك العاجز الجبان لعظيم الخطر وطول التعب

Dan tidak akan ada orang yang lemah dan penakut yang memberanikan diri untuk menuntut kerajaan tersebut, dikarenakan besarnya bahaya dan panjangnya keletihan.

وإذا كانت النفوس كباراً … تعبت في مرادها الأجسام

Apabila jiwa-jiwa itu agung, maka tubuh-tubuh akan merasa lelah dalam memenuhi keinginannya.

وما أودع الله العز والملك في الدين والدنيا إلا في حيز الخطر

Dan tidaklah Allah menitipkan kemuliaan dan kekuasaan dalam urusan agama maupun dunia, melainkan berada di dalam pusaran risiko.

وقد يسمى الجبان الجبن والقصور باسم الحزم والحذر كما قيل

Kadang kala orang yang penakut menamai sifat penakut dan kelemahannya dengan sebutan keteguhan sikap dan kewaspadaan, sebagaimana dikatakan:

ترى الجبناء أن الجبن حزم … وتلك خديعة الطبع اللئيم

Engkau melihat para penakut menganggap sifat penakut sebagai keteguhan sikap… padahal itu hanyalah tipu daya dari watak yang hina.

فهذا حكم السفر الظاهر إذا أريد به السفر الباطن بمطالعة آيات الله في الأرض

Maka inilah hukum perjalanan lahiriah apabila yang dimaksudkan dengannya adalah perjalanan batiniah untuk menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah di bumi.

فلنرجع الى الغرض الذي كنا نقصده ولنبين القسم الثاني وهو أن يسافر لأجل العبادة إما لحج أو جهاد وقد ذكرنا فضل ذلك وآدابه وأعماله الظاهرة والباطنة في

Maka marilah kita kembali kepada tujuan yang hendak kita maksudkan, dan menjelaskan bagian kedua, yaitu seseorang bepergian untuk tujuan ibadah, baik untuk ibadah haji maupun jihad. Sungguh telah kami sebutkan keutamaan hal tersebut, adab-adabnya, serta amalan-amalan lahiriah dan batiniahnya di dalam…

كتاب أسرار الحج ويدخل في جملته زيارة قبور الأنبياء ﵈

… Kitab Asrar Al-Hajj (Rahasia-Rahasia Haji). Dan termasuk dalam cakupannya adalah menziarahi makam para nabi 'alaihimussalam,

وزيارة قبور الصحابة والتابعين وسائر العلماء والأولياء وكل من يتبرك بمشاهدته في حياته يتبرك بزيارته بعد وفاته

serta menziarahi makam para sahabat, tabi'in, seluruh ulama, dan para wali. Setiap orang yang diambil keberkahannya dengan memandangnya sewaktu hidup, maka diambil keberkahannya pula dengan menziarahinya setelah wafatnya.

ويجوز شد الرحال لهذا الغرض ولا يمنع من هذا قوله ﷺ لا تشد الرجال إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ مَسْجِدِي هَذَا وَالْمَسْجِدِ الحرام والمسجد الأقصى

Diperbolehkan bepergian (shaddur rihal) untuk tujuan ini, dan hal ini tidak dihalangi oleh sabda Nabi ﷺ: "Janganlah bepergian (dengan sengaja untuk ibadah khusus) kecuali ke tiga masjid: masjidku ini, Masjidil Haram, dan Masjidil Aqsha."

لأن ذلك في المساجد فإنها متماثلة بعد هذه المساجد وإلا فلا فرق بين زيارة قبور الأنبياء والأولياء والعلماء في أصل الفضل وإن كان يتفاوت في الدرجات تفاوتاً عظيماً بحسب اختلاف درجاتهم عند الله

Sebab larangan tersebut berlaku pada masjid-masjid, karena masjid-masjid itu setara keutamaannya selain dari ketiga masjid tersebut. Jika bukan mengenai masjid, maka tidak ada perbedaan antara menziarahi makam para nabi, wali, dan ulama pada pokok keutamaannya, meskipun terdapat tingkatan yang amat berbeda sesuai dengan perbedaan derajat mereka di sisi Allah.

وبالجملة زيارة الأحياء أولى من زيارة الأموات

Singkatnya, menziarahi orang-orang saleh yang masih hidup itu lebih utama daripada menziarahi orang-orang yang telah meninggal dunia.

والفائدة من زيارة الأحياء طلب بركة الدعاء وبركة النظر إليهم

Manfaat dari menziarahi orang yang masih hidup adalah memohon keberkahan doa dan keberkahan dengan memandang mereka.

فإن النظر الى وجوه العلماء والصلحاء عبادة

Sebab memandang wajah para ulama dan orang-orang saleh merupakan suatu ibadah.

وفيه أيضاً حركة للرغبة في الإقتداء بهم والتخلق بأخلاقهم وآدابهم هذا سوى ما ينتظر من الفوائد العلمية المستفادة من أنفاسهم وأفعالهم كيف ومجرد زيارة الأخوان في الله فيه فضل كما ذكرناه في

Di dalamnya juga terdapat dorongan untuk meneladani mereka serta berakhlak dengan akhlak dan adab-adab mereka, di samping faedah-faedah keilmuan yang diharapkan dari ucapan dan perbuatan mereka. Lebih-lebih lagi, sekadar mengunjungi saudara-saudara karena Allah saja mengandung keutamaan sebagaimana telah kami sebutkan dalam…

كتاب الصحبة وفي التوراة سر أربعة أميال زر أخاً في الله وأما

… Kitab Adabus Suhbah (Adab Persahabatan). Dan dalam Kitab Taurat disebutkan: "Berjalanlah sejauh empat mil untuk mengunjungi seorang saudara karena Allah." Adapun…

البقاع فلا معنى لزيارتها سوى المساجد الثلاثة وسوى الثغور للرباط بها فالحديث ظاهر في أنه لا تشد الرحال لطلب بركة البقاع إلا الى المساجد الثلاثة

… tempat-tempat (tertentu), maka tidak ada makna untuk sengaja menziarahinya selain ketiga masjid tersebut dan daerah-daerah perbatasan (thughur) untuk bersiap siaga (ribath). Maka hadis tersebut jelas menunjukkan bahwa tidak boleh bepergian jauh untuk mencari keberkahan suatu tempat kecuali ke tiga masjid tersebut.

وقد ذكرنا فضائل الحرمين في

Dan sungguh telah kami sebutkan keutamaan dua Tanah Haram (Makkah dan Madinah) dalam…

كتاب الحج وبيت المقدس أيضا له فضل كبير خرج ابن عمر من

… Kitab Al-Hajj. Demikian pula Baitul Maqdis memiliki keutamaan yang besar. Ibnu 'Umar pernah bepergian keluar dari…

المدينة قاصداً بيت المقدس حتى صلى فيه الصلوات الخمس ثم كرراجعا من الغد الى المدينة

… Madinah dengan tujuan menuju Baitul Maqdis hingga beliau melaksanakan shalat lima waktu di sana, kemudian beliau langsung kembali ke Madinah pada keesokan harinya.

وقد سأل سليمان ﵇ ربه ﷿ أن من قصد هذا المسجد لا يعنيه إلا الصلاة فيه أن لا تصرف نظرك عنه ما دام مقيماً فيه حتى يخرج منه وأن تخرجه من ذنوبه كيوم ولدته أمه فأعطاه الله ذلك

Nabi Sulaiman 'alaihis salam telah memohon kepada Tuhannya 'Azza wa Jalla agar barangsiapa yang bertujuan mendatangi masjid ini, yang tidak ada maksud lain baginya selain shalat di dalamnya, hendaklah Engkau tidak memalingkan pandangan-Mu darinya selama ia berada di dalamnya hingga ia keluar, dan hendaklah Engkau mengeluarkannya dari dosa-dosanya sebagaimana pada hari ia dilahirkan oleh ibunya; maka Allah mengabulkan permohonan tersebut.

الْقِسْمُ الثَّالِثُ أَنْ يَكُونَ السَّفَرُ لِلْهَرَبِ مِنْ سَبَبٍ مُشَوِّشٍ لِلدِّينِ

Bagian ketiga: Perjalanan (safar) yang bertujuan untuk melarikan diri dari sebab yang mengganggu kekhusyukan agama.

وَذَلِكَ أَيْضًا حَسَنٌ فَالْفِرَارُ مِمَّا لَا يُطَاقُ مِنْ سُنَنِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ

Hal demikian itu juga merupakan tindakan yang baik. Sebab, melarikan diri dari perkara yang tidak tertanggungkan termasuk sunnah para nabi dan rasul.

ومما يجب الهرب منه الولاية والجاه وكثرة العلائق والأسباب فإن كل ذلك يشوش فراغ القلب والدين لا يتم إلا بقلب فارغ عن غير الله فإن لم يتم فراغه فلا يتصور أن يشتغل بالدين

Di antara perkara yang wajib dihindari adalah kedudukan (wilayah), kemegahan (jah), serta banyaknya keterikatan duniawi dan kesibukan. Sebab, semua itu mengganggu kelapangan hati, padahal agama tidak akan sempurna kecuali dengan hati yang kosong dari selain Allah. Apabila kelapangan hati tidak terwujud, maka mustahil seseorang dapat disibukkan dengan agama secara sempurna.

ولا يتصور فراغ القلب في الدنيا عن مهمات الدنيا والحاجات الضرورية ولكن يتصور تخفيفها وتثقيلها وقد نجا المخفون وهلك المثقلون

Memang tidak terbayangkan kosongnya hati secara mutlak di dunia ini dari urusan-urusan duniawi yang penting dan kebutuhan-kebutuhan yang mendesak. Namun yang dapat diupayakan adalah mereduksi beban tersebut atau memperberatnya. Dan sungguh, orang-orang yang meringankan beban telah selamat, sedangkan orang-orang yang memberatkan beban telah binasa.

والحمد لله الذي لم يعلق النجاة بالفراغ المطلق عن جميع الأوزار والأعباء بل قبل المخف بفضله وشمله بسعة رحمته

Segala puji bagi Allah yang tidak menggantungkan keselamatan dengan kelapangan mutlak dari seluruh dosa dan beban, melainkan Dia menerima orang yang meringankan beban dengan karunia-Nya dan melingkupinya dengan keluasan rahmat-Nya.

والمخف هو الذي ليست الدنيا أكبر همه وذلك لا يتيسر في الوطن لمن اتسع جاهه وكثرت علائقه فلا يتم مقصوده إلا بالغربة والخمول وقطع العلائق التي لا بد عنها حتى يروض نفسه مدة مديدة

Orang yang meringankan beban adalah orang yang tidak menjadikan dunia sebagai hasrat terbesarnya. Hal itu tidaklah mudah dicapai di tanah air bagi orang yang luas kedudukannya dan banyak keterikatannya. Maka maksudnya tidak akan sempurna melainkan dengan berkelana (gurbah), menjauhi ketenaran (khamul), dan memutuskan keterikatan-keterikatan yang tidak terelakkan, hingga ia mampu melatih jiwanya (riyadhatun nafs) dalam kurun waktu yang lama.

ثم ربما يمده الله بمعونته فينعم عليه بما يقوي به يقينه ويطمئن به قلبه فيستوي عنده الحضر والسفر ويتقارب عنده وجود الأسباب والعلائق وعدمها فلا يصده شيء منها عما هو بصدده من ذكر الله وذلك مما يعز وجوده جداً بل الغالب على القلوب الضعف والقصور عن الاتساع للخلق والخالق وإنما يسعد بهذه القوة الأنبياء والأولياء والوصول اليها بالكسب شديد وإن كان للاجتهاد والكسب فيها مدخل أيضاً

Kemudian boleh jadi Allah akan mengulurkan pertolongan-Nya, lalu mengaruniakan kepadanya apa yang menguatkan keyakinannya dan menenteramkan hatinya, sehingga baginya sama saja antara menetap (hadhar) dan bepergian (safar), serta menjadi setara baginya antara keberadaan keterikatan duniawi dengan ketiadaannya. Maka tidak ada satu pun dari hal itu yang menghalanginya dari apa yang sedang ia tekuni berupa zikir kepada Allah. Perkara semacam ini amatlah langka keberadaannya. Bahkan yang mendominasi hati manusia adalah kelemahan dan ketidakmampuan untuk melapangkan diri bagi makhluk sekaligus Sang Pencipta. Sungguh, yang berbahagia dengan kekuatan ini hanyalah para nabi dan wali; dan pencapaian ke tingkatan ini melalui usaha mandiri (kasb) amatlah berat, kendati kesungguhan (ijtihad) dan usaha manusia tetap memiliki peran di dalamnya.

ومثال تفاوت القوة الباطنة فيه كتفاوت القوّة الظاهرة في الاعضاء فرب رجل قوى ذى مرة سوى شديد الأعصاب محكم البنية يستقل بحمل ما وزنه ألف رطل مثلا فلو أراد الضعيف المريض أن ينال رتبته بممارسة الحمل والتدريج فيه قليلاً قليلاً لم يقدر عليه ولكن الممارسة والجهد يزيد في قوته زيادة ما وإن كان ذلك لا يبلغه درجته فلا ينبغي أن يترك الجهد عند اليأس عن الرتبة العليا فإن ذلك غاية الجهل ونهاية الضلال

Perumpamaan perbedaan kekuatan batin dalam hal ini adalah seperti perbedaan kekuatan lahiriah pada anggota badan. Betapa banyak pria yang kuat, berfisik sempurna, berotot kekar, dan berstruktur tubuh kokoh sanggup mengangkut beban seberat seribu rathal (kati) misalnya. Jika seorang yang lemah dan sakit ingin mencapai tingkatannya dengan berlatih mengangkat beban secara bertahap sedikit demi sedikit, niscaya ia tidak akan sanggup menyamainya. Namun, latihan dan kesungguhan itu tetap akan menambah kekuatannya walau sedikit, meskipun tidak sampai mengantarkannya ke tingkatan orang kuat tersebut. Oleh karena itu, tidak sepantasnya seseorang meninggalkan kesungguhan ketika putus asa untuk mencapai tingkatan tertinggi, karena hal itu merupakan puncak kebodohan dan akhir dari kesesatan.

وَقَدْ كَانَ مِنْ عَادَةِ السَّلَفِ ﵃ مفارقة الوطن خيفة من الفتن

Dan sudah menjadi kebiasaan para ulama Salaf—semoga Allah meredai mereka—untuk meninggalkan tanah air karena takut akan fitnah (gangguan agama).

وقال سفيان الثوري هذا زمان سوء لا يؤمن فيه على الخامل فكيف على المشتهرين هذا زمان رجل ينتقل من بلد الى بلد كلما عرف في موضع تحول الى غيره

Sufyan ats-Tsauri berkata: "Ini adalah zaman yang buruk, yang tidak lagi aman bagi orang yang tidak terkenal (khamil), apalagi bagi orang-orang yang terkenal. Ini adalah zaman di mana seseorang berpindah dari satu negeri ke negeri lain; setiap kali ia dikenal di suatu tempat, ia pun berpindah ke tempat lainnya."

وقال أبو نعيم رأيت سفيان الثوري وقد علق قلته بيده ووضع جرابه على ظهره فقلت إلى أين يا أبا عبد الله قَالَ بَلَغَنِي عَنْ قَرْيَةٍ فِيهَا رُخْصٌ أُرِيدُ أن أقيم بها فقلت لَهُ وَتَفْعَلُ هَذَا قَالَ نَعَمْ إِذَا بَلَغَكَ أَنَّ قَرْيَةً فِيهَا رُخْصٌ فَأَقِمْ بِهَا فَإِنَّهُ أَسْلَمُ لِدِينِكَ وَأَقَلُّ لِهَمِّكَ وَهَذَا هَرَبٌ مِنْ غلاء السعر

Abu Nu'aim berkata: Saya melihat Sufyan ats-Tsauri menggantungkan kendi airnya di tangannya dan meletakkan kantong perbekalannya di punggungnya. Lalu saya bertanya: "Hendak ke mana, wahai Abu Abdillah?" Beliau menjawab: "Telah sampai kabar kepadaku tentang sebuah desa yang harga barang-barangnya murah (ruksh), dan aku ingin tinggal di sana." Saya berkata kepadanya: "Apakah engkau melakukan hal ini?" Beliau menjawab: "Ya, apabila telah sampai kabar kepadamu bahwa ada suatu desa yang harganya murah, maka tinggallah di sana, karena hal itu lebih menyelamatkan agamamu dan lebih mengurangi kecemasanmu." Dan ini adalah bentuk melarikan diri dari tingginya harga (inflasi).

وكان سرى السقطي يقول للصوفية إذا خرج الشتاء فقد خرج أذار وأورقت الأشجار وطاب الإنتشار فانتشروا

Sari as-Saqati pernah berkata kepada kaum sufi: "Apabila musim dingin telah berlalu, bulan Adzar (musim semi) telah tiba, pepohonan telah berdaun, dan pengembaraan terasa menyenangkan, maka bertebaranlah kalian."

وقد كان الخوّاص لا يقيم ببلد أكثر من أربعين يوماً

Dahulu Syaiq al-Khawwash tidak pernah menetap di suatu negeri lebih dari empat puluh hari.

وكان من المتوكلين ويرى الإقامة اعتماداً على الأسباب قادحا في التوكل

Beliau termasuk golongan orang-orang yang bertawakal (al-mutawakkilin) dan memandang bahwa menetap di satu tempat dengan bersandar pada sebab-sebab lahiriah dapat mencederai hakikat tawakal.

وسيأتي أسرار

Dan akan datang pembahasan tentang rahasia-rahasia…

الإعتماد على الأسباب في كتاب التوكل إن شاء الله تعالى

…bersandar pada sebab-sebab dalam Kitab Tawakal, insya Allah Ta'ala.

الْقِسْمُ الرَّابِعُ السَّفَرُ هَرَبًا مِمَّا يَقْدَحُ

Bagian keempat: Perjalanan (safar) yang dilakukan karena melarikan diri dari perkara yang memudaratkan…

فِي الْبَدَنِ كَالطَّاعُونِ أَوْ فِي الْمَالِ كَغَلَاءِ السِّعْرِ أَوْ مَا يَجْرِي مَجْرَاهُ

…badan seperti penyakit tha'un (wabah), atau harta seperti lonjakan harga barang (inflasi), atau perkara-perkara yang sejenis darinya.

وَلَا حَرَجَ فِي ذَلِكَ بَلْ رُبَّمَا يَجِبُ الْفِرَارُ فِي بَعْضِ الْمَوَاضِعِ وَرُبَّمَا يُسْتَحَبُّ فِي بَعْضٍ بِحَسَبِ وُجُوبِ ما يترتب عليه من الفوائد واستحبابه ولكن يستثنى منه الطاعون فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَفِرَّ مِنْهُ لِوُرُودِ النَّهْيِ فيه

Dan tidak ada keberatan (dosa) dalam hal itu. Bahkan terkadang lari darinya hukumnya wajib pada sebagian kondisi, dan terkadang disunnahkan pada kondisi lain, sesuai dengan tingkatan hukum dari manfaat yang dihasilkan darinya. Namun, dikecualikan dari hal tersebut adalah wabah tha'un; maka tidak sepantasnya seseorang berlari darinya karena adanya larangan tegas mengenai hal itu.

قال أسامة بن زيد قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إن هذا الوجع أو السقم رجز عذب به بعض الأمم قبلكم ثم بقي بعد في الأرض منه

Usamah bin Zaid meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya penyakit atau wabah ini adalah siksa (rijz) yang dengannya sebagian umat sebelum kamu diazab, kemudian tersisa sebagian darinya di bumi…"

وقالت عائشة ﵂ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إن فناء أمتي بالطعن والطاعون فقلت هذا الطعن قد عرفناه فما الطاعون قال غدة كعدة البعير تأخذهم في مراقهم المسلم الميت منه شهيد والمقيم عليه المحتسب كالمرابط في سبيل الله والفارّ منه كالفارّ من الزحف

Aisyah radhiyallahu 'anha berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya binasanya umatku disebabkan oleh penikaman (peperangan) dan wabah penyakit (tha'un)." Aku bertanya, "Penikaman ini telah kami ketahui, lalu apakah wabah tha'un itu?" Beliau menjawab, "Kelenjar pembengkakan seperti kelenjar unta yang menyerang bagian perut bawah mereka. Seorang muslim yang meninggal karenanya terhitung sebagai syahid, orang yang menetap di dalamnya dengan mengharap pahala seperti orang yang bersiaga di jalan Allah, sedangkan orang yang lari darinya seperti orang yang lari dari medan pertempuran."

وعن مكحول عن أم أيمن قالت

Dari Makhul, dari Ummu Aiman radhiyallahu 'anha, ia berkata:

أوصى رسول الله ﷺ بعض أصحابه لا تشرك بالله شيئاً وإن عذبت أو حرقت وأطع والديك وإن أمراك أن تخرج من كل شيء هو لك فاخرج منه

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berwasiat kepada sebagian sahabat beliau, "Janganlah engkau menysekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, meskipun engkau disiksa atau dibakar. Dan taatilah kedua orang tuamu, meskipun keduanya memerintahkanmu untuk keluar dari seluruh harta milikmu, maka keluarlah dari harta itu."

ولا تترك الصلاة عمداً فإن من ترك الصلاة عمداً فقد برئت ذمة الله منه وإياك والخمر فإنها مفتاح كل شر وإياك والمعصية فإنها تسخط الله ولا تفرّ من الزحف وإن أصاب الناس موتان وأنت فيهم فاثبت فيهم أنفق من طولك على أهل بيتك ولا ترفع عصاك عنهم أخفهم بالله

"Dan janganlah engkau meninggalkan shalat secara sengaja, karena barang siapa meninggalkan shalat secara sengaja, maka jaminan Allah telah terlepas darinya. Jauhilah khamr, karena khamr adalah kunci dari segala kejahatan. Jauhilah kemaksiatan, karena ia mendatangkan kemurkaan Allah. Janganlah lari dari medan perang, dan jika kematian melanda manusia (wabah ganas) sedangkan engkau berada di tengah mereka, maka bertahanlah di antara mereka. Nafkahilah keluargamu sesuai dengan kelapanganmu, janganlah engkau mengangkat tongkatmu (berlepas dari mendidik) dari mereka, dan tanamkanlah rasa takut kepada Allah pada mereka."

فهذه الأحاديث تدل على أن الفرار من الطاعون منهي عنه وكذلك القدوم عليه

Hadis-hadis ini menunjukkan bahwa lari dari daerah yang terjangkit wabah tha'un adalah dilarang, begitu pula mendatangi daerah yang sedang terjangkit wabah tersebut.

وسيأتي شرح ذلك في

Dan penjelasan mengenai hal ini akan hadir di dalam…

كتاب التوكل فهذه أقسام الأسفار وقد خرج منه أن السفر ينقسم الى

…Kitab Tawakal. Maka inilah pembagian jenis-jenis perjalanan (safar), dan dapat disimpulkan darinya bahwa perjalanan itu terbagi menjadi…

مذموم والى محمود والى مباح

…yang tercela (madzmum), yang terpuji (mahmud), dan yang mubah (boleh).

والمذموم ينقسم الى حرام كإباق العبد وسفر العاق والى مكروه كالخروج من بلد الطاعون

Perjalanan yang tercela terbagi menjadi yang haram, seperti larinya seorang hamba sahaya dan perjalanannya anak yang durhaka; serta yang makruh, seperti keluar (melarikan diri) dari negeri yang tertimpa wabah tha'un.

والمحمود ينقسم الى وَاجِبٌ كَالْحَجِّ وَطَلَبِ الْعِلْمِ الَّذِي هُوَ فَرِيضَةٌ على كل مسلم والى مندوب اليه كزيارة العلماء وزيارة مشاهدهم

Sedangkan perjalanan yang terpuji terbagi menjadi yang wajib, seperti ibadah haji dan menuntut ilmu yang hukumnya fardhu atas setiap muslim; serta yang disunnahkan (mandub), seperti mengunjungi para ulama dan menziarahi tempat-tempat bersejarah atau makam mereka.

ومن هذه الأسباب تتبين النية في السفر فإن معنى النية الانبعاث للسبب الباعث والانتهاض لاجابة الداعية

Dari sebab-sebab inilah menjadi jelas pentingnya niat dalam melakukan perjalanan, karena hakikat niat adalah dorongan jiwa untuk memenuhi sebab pendorong dan bangkit untuk menyambut panggilan pendorong tersebut.

ولتكن نيته الآخرة في جميع أسفاره وذلك ظاهر في الواجب والمندوب ومحال في المكروه والمحظور

Hendaklah niatnya berorientasi kepada akhirat dalam seluruh perjalanannya. Hal ini sangat jelas pada perjalanan yang wajib dan yang disunnahkan, namun mustahil terjadi pada perjalanan yang makruh dan yang diharamkan.

وَأَمَّا الْمُبَاحُ فَمَرْجِعُهُ إِلَى النِّيَّةِ

Adapun perjalanan yang mubah, maka hukumnya kembali kepada niatnya.

فَمَهْمَا كَانَ قَصْدُهُ بِطَلَبِ الْمَالِ مَثَلًا التَّعَفُّفُ عَنِ السُّؤَالِ وَرِعَايَةُ سَتْرِ الْمُرُوءَةِ عَلَى الْأَهْلِ وَالْعِيَالِ وَالتَّصَدُّقُ بِمَا يَفْضُلُ عَنْ مَبْلَغِ الْحَاجَةِ صَارَ هَذَا الْمُبَاحُ بِهَذِهِ النِّيَّةِ مِنْ أَعْمَالِ الْآخِرَةِ

Apabila tujuannya mencari harta, misalnya, adalah untuk menjaga diri dari meminta-minta ('afaf), memelihara kehormatan (muru'ah) diri dan keluarganya, serta bersedekah dengan kelebihan dari batas kebutuhannya, maka perbuatan yang mubah ini dengan niat tersebut berubah menjadi bagian dari amal-amal akhirat.

وَلَوْ خَرَجَ إِلَى الْحَجِّ وَبَاعِثُهُ الرِّيَاءُ وَالسُّمْعَةُ لَخَرَجَ عَنْ كَوْنِهِ مِنْ أَعْمَالِ الْآخِرَةِ لِقَوْلِهِ ﷺ إنما الأعمال بالنيات

Sebaliknya, seandainya ia berangkat melaksanakan ibadah haji tetapi pendorongnya adalah riya' dan sum'ah (mencari popularitas), niscaya amalan itu keluar dari kedudukannya sebagai amal akhirat, berdasarkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, "Sesungguhnya amalan-amalan itu bergantung pada niatnya."

فقوله ﷺ الأعمال بالنيات عام في الواجبات والمندوبات والمباحات دون المحظورات فإن النية لا تؤثر في إخراجها عن كونها من المحظورات وقد قال بعض السلف إن الله تعالى قد وكل بالمسافرين ملائكة ينظرون الى مقاصدهم فيعطي كل واحد على قدر نيته

Maka sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, "Amalan-amalan itu bergantung pada niatnya," berlaku umum untuk perkara-perkara wajib, sunnah, dan mubah, bukan untuk perkara-perkara yang diharamkan (mahzhurat); karena niat baik tidak akan berpengaruh untuk mengubah maksiat keluar dari status keharamannya. Sebagian ulama salaf telah berkata, "Sesungguhnya Allah Ta'ala telah mewakilkan malaikat kepada para musafir untuk memperhatikan tujuan-tujuan mereka, lalu memberikan balasan kepada masing-masing orang sesuai kadar niatnya."

فمن كانت نيته الدنيا أعطي منها ونقص من آخرته أضعافه وفرق عليه همه وكثر بالحرص والرغبة شغله

Barang siapa niatnya adalah dunia, maka ia akan diberi darinya namun pahala akhiratnya dikurangi berlipat ganda, pikirannya dipecah-belah, dan kesibukannya bertambah akibat ketamakan serta hasrat keduniawiannya.

ومن كانت نيته الآخرة أعطي من البصيرة والحكمة والفطنة وفتح له من التذكرة والعبرة بقدر نيته وجمع له همه ودعت له الملائكة واستغفرت له

Dan barang siapa yang niatnya adalah akhirat, maka ia akan diberi basirah (mata hati), hikmah, dan kecerdasan spiritual, serta dibukakan baginya pintu pengingat dan pelajaran ('ibar) sesuai kadar niatnya, dipadukan kebingungan pikirannya menjadi fokus, serta para malaikat pun mendoakan dan memohonkan ampunan baginya.

وأما النظر في أن السفر هو الأفضل أو الإقامة فذلك يضاهي النظر في أن الأفضل هو العزلة أو المخالطة

Adapun pembahasan mengenai mana yang lebih utama antara melakukan perjalanan (safar) atau berdiam di tempat (iqamah), maka hal itu serupa dengan pembahasan mengenai mana yang lebih utama antara mengasingkan diri ('uzlah) atau berbaur dengan masyarakat (mukhalathah).

وقد ذكر منهاجه في

Dan telah disebutkan metodologinya di dalam…

كتاب العزلة فليفهم هذا منه فإن السفر نوع مخالطة مع زيادة تعب ومشقة

Kitab Al-'Uzlah (Pengasingan Diri), hendaklah ini dipahami darinya, karena sesungguhnya perjalanan (safar) merupakan sejenis pembauran (mukhalaṭah) yang disertai dengan bertambahnya rasa lelah dan kesulitan,

تفرق الهم وتشتت القلب في حق الأكثرين

yang memecah belah perhatian (himmah) dan memecah konsentrasi hati bagi mayoritas manusia.

والأفضل في هذا ما هو الأعون على الدين ونهاية ثمرة الدين في الدنيا تحصيل معرفة الله تعالى وتحصيل الأنس بذكر الله تعالى والأنس يحصل بدوام الذكر والمعرفة تحصل بدوام الفكر

Dan yang paling utama dalam hal ini adalah apa yang paling membantu bagi agama. Puncak buah agama di dunia adalah meraih ma'rifatullah (pengenalan kepada Allah Ta'ala) serta meraih rasa nyaman (uns) dengan berdzikir kepada Allah Ta'ala. Rasa nyaman itu diperoleh melalui keiklasan dan kelanggengan dzikir (dawam adz-dzikr), sedangkan ma'rifah diperoleh melalui kelanggengan tafakur (dawam al-fikr).

ومن لم يتعلم طريق الفكر والذكر لم يتمكن منهما

Barangsiapa yang belum mempelajari jalan tafakur dan dzikir, ia tidak akan mampu menguasai keduanya.

والسفر هو المعين على التعلم في الابتداء

Dan perjalanan (safar) itu adalah penolong untuk belajar pada tingkat permulaan (al-ibtida').

والإقامة هي المعينة على العمل بالعلم في الانتهاء وأما السياحة في الأرض على الدوام فمن المشوشات للقلب إلا في حق الأقوياء فإن المسافر وماله لعلى قلق إلا ما وقى الله فلا يزال المسافر مشغول القلب تارة بالخوف على نفسه وماله وتارة بمفارقة ما ألفه واعتاده في إقامته

Sedangkan menetap (al-iqamah) adalah penolong untuk mengamalkan ilmu pada tingkat pencapaian akhir (al-intiha'). Adapun mengembara (siyahah) di bumi secara terus-menerus termasuk hal yang mengacaukan hati, kecuali bagi orang-orang yang kuat (ruhani-Nya). Karena seorang musafir dan hartanya senantiasa berada dalam kegelisahan, kecuali apa yang dilindungi Allah. Maka seorang musafir hatinya senantiasa disibukkan, terkadang oleh rasa takut atas keselamatan diri dan hartanya, dan terkadang oleh perpisahan dengan apa yang telah biasa dan akrab dengannya saat menetap.

وإن لم يكن معه مال يخاف عليه فلا يخلو عن الطمع والاستشراف الى الخلق فتارة يضعف قلبه بسبب الفقر وتارة يقوى باستحكام أسباب الطمع

Jikapun ia tidak membawa harta yang dikhawatirkan, ia tidak akan terlepas dari sifat tamak dan mengharap-harap pemberian dari makhluk. Maka terkadang hatinya menjadi lemah karena kefakiran, dan terkadang menjadi kuat (sifat buruknya) akibat kukuhnya sebab-sebab ketamakan.

ثم الشغل بالحط والترحال مشوش لجميع الأحوال فلا ينبغي أن يسافر المريد إلا في طلب علم أو مشاهدة شيخ يقتدي به في سيرته وتستفاد الرغبة في الخير من مشاهدته فان اشتغل بنفسه واستبصر وانفتح له طريق الفكر أو العمل فالسكون أولى به إلا أن أكثر متصوفة هذه الأعصار لما خلت بواطنهم عن لطائف الأفكار ودقائق الأعمال ولم يحصل لهم أنس بالله تعالى وبذكره في الخلوة وكانوا بطالين غير محترفين ولا مشغولين قد ألفوا البطالة واستثقلوا العمل واستوعروا طريق الكسب واستلانوا جانب السؤال والكدية واستطابوا الرباطات المبنية لهم في البلاد واستسخروا الخدم المنتصبين للقيام بخدمة القوم واستخفوا عقولهم وأديانهم من حيث لم يكن قصدهم من الخدمة إلا الرياء والسمعة وانتشار الصيت واقتناص الأموال بطريق السؤال تعللاً بكثرة الأتباع فلم يكن لهم في الخانقاهات حكم ناقذ ولا تأديب للمريد بن نافع ولا حجر عليهم قاهر فبسوا المرقعات واتخذوا في الخانقاهات متنزهات وربما تلقفوا ألفاظاً مزخرفة من أهل الطامات فينظرون الى أنفسهم وقد تشبهوا بالقوم في خرقتهم وفي سياحتهم وفي لفظهم وعبارتهم وفي آداب ظاهرة من سيرتهم فيظنون بأنفسهم خيراً ويحسبون أنهم يحسنون صنعاً ويعتقدون أن كل سوداء تمرة ويتوهمون أن المشاركة في الظاهر توجب المساهمة في الحقائق وهيهات فما أغزر حماقة من لا يميز بين الشحم والورم فهؤلاء بغضاء الله فإن الله تعالى يبغض الشاب الفارغ

Kemudian, kesibukan berkemas dan berpindah-pindah tempat mengacaukan seluruh kondisi kerohanian (ahwal). Maka tidak sepantasnya seorang murid (pencari hakikat) melakukan perjalanan (safar) kecuali dalam rangka menuntut ilmu atau untuk berjumpa (musyahadah) dengan seorang syekh yang diteladani perjalanan hidupnya serta dapat dipetik semangat kebaikannya dengan memandangnya. Apabila ia telah sibuk membenahi dirinya, memperoleh mata hati (istibsar), dan terbuka baginya jalan tafakur atau amal, maka menetap (sukun) lebih utama baginya. Hanya saja, sebagian besar kaum tasawuf (mutasawwifah) zaman sekarang, ketika batin mereka kosong dari kelembutan pemikiran dan kecermatan amal, serta tidak meraih rasa nyaman (uns) kepada Allah Ta'ala dan dzikir kepada-Nya dalam khalwat, lalu mereka menjadi pengangguran yang tidak berprofesi dan tidak beraktivitas; mereka telah terbiasa dengan pengangguran, menganggap berat pekerjaan, menganggap sukar jalan kasab (mencari nafkah), menganggap mudah sikap meminta-minta dan mengemis, serta menikmati pondok-pondok (ribat) yang dibangun untuk mereka di berbagai penjuru negeri, lalu memanfaatkan para pelayan yang disiapkan untuk melayani kaum tersebut, serta meremehkan akal dan agama mereka—di mana tujuan mereka dari pelayanan tersebut tidak lain hanyalah riya, sum'ah, kepopuleran nama, dan menjaring harta dengan cara meminta-minta berdalih banyaknya pengikut. Maka tidak ada bagi mereka di padepokan-padepokan (khanqah) suatu hukum yang tegas, tidak ada pendidikan yang bermanfaat bagi murid, dan tidak ada pembatasan yang mengikat atas mereka. Lalu mereka mengenakan pakaian tambalan (muraqqa'ah) dan menjadikan padepokan-padepokan itu sebagai tempat rekreasi, bahkan terkadang menangkap ucapan-ucapan yang dihias-hias dari ahli tammāt (perkataan menyimpang yang mengatasnamakan hakikat). Lantas mereka memandang diri mereka telah menyerupai kaum sufi dalam pakaian tambalannya, pengembaraannya, lafaz dan ungkapannya, serta adab-adab lahiriah dari perilakunya. Mereka menduga baik tentang diri mereka dan mengira bahwa mereka sedang berbuat kebaikan, serta berkeyakinan bahwa setiap yang hitam itu adalah kurma, dan membayangkan bahwa keikutsertaan dalam lahiriah mengharuskan persekutuan dalam hakikat. Alangkah jauhnya! Sungguh betapa besarnya kebodohan orang yang tidak dapat membedakan antara lemak dan pembengkakan. Mereka itu adalah orang-orang yang dimurkai Allah, karena sesungguhnya Allah Ta'ala membenci pemuda yang menganggur.

ولم يحملهم على السياحة إلا الشباب والفراغ إلا من سافر لحج أو عمرة في غير رياء ولا سمعة أو سافر لمشاهدة شيخ يقتدي به في علمه وسيرته وقد خلت البلاد عنه الآن

Dan tidak ada yang mendorong mereka untuk melakukan pengembaraan (siyahah) melainkan jiwa muda dan waktu luang, kecuali orang yang bepergian untuk haji atau umrah tanpa riya dan sum'ah, atau bepergian untuk menemui seorang syekh yang diteladani ilmu dan perjalanan hidupnya—padahal negeri-negeri saat ini telah sepi dari syekh seperti itu.

والأمور الدينية كلها قد فسدت وضعفت إلا التصوف فإنه قد انمحق بالكلية وبطل لأن العلوم لم تندرس بعد والعالم وإن كان عالم سوء فإنما فساده في سيرته لا في علمه فيبقى عالماً غير عامل بعلمه والعمل غير العلم

Urusan-urusan agama seluruhnya telah rusak dan melemah, kecuali tasawuf, karena sesungguhnya ia telah musnah secara total dan batil; sebab ilmu-ilmu (lahiriah) belum lenyap seluruhnya, dan seorang alim—meskipun ia ulama yang buruk ('ālim as-sū')—kerusakannya hanya terletak pada perilaku hidupnya, bukan pada ilmunya, sehingga ia tetap menjadi seorang alim yang tidak mengamalkan ilmunya, padahal amal itu berbeda dari ilmu.

وأما التصوف فهو عبارة عن تجرد القلب لله تعالى واستحقار ما سوى الله

Adapun tasawuf, ia adalah ungkapan tentang pemurnian hati (tajarrud al-qalb) semata-mata untuk Allah Ta'ala dan memandang remeh apa pun selain Allah.

وحاصله يرجع الى عمل القلب والجوارح

Dan hakikatnya kembali kepada amal hati dan anggota badan.

ومهما فسد العمل فات الأصل

Apabila amal itu telah rusak, maka luputlah pokok (dasar)-nya.

وفي أسفار هؤلاء نظر للفقهاء من حيث أنه إتعاب للنفس بلا فائدة وقد يقال إن ذلك ممنوع

Dan mengenai perjalanan (safar) orang-orang tersebut, terdapat pandangan kritis dari para ahli fiqih dari sudut pandang bahwa hal itu merupakan tindakan meletihkan diri tanpa manfaat, dan terkadang dikatakan bahwa hal itu dilarang.

ولكن الصواب عندنا أن نحكم بالإباحة فإن حظوظهم التفرج عن كرب البطالة بمشاهدة البلاد المختلفة وهذه الحظوظ وإن كانت خسيسة فنفوس المتحركين لهذه الحظوظ أيضاً خسيسة ولا بأس بإتعاب حيوان خسيس لحظ خسيس يليق به ويعود إليه فهو المتأذي والمتلذذ

Namun yang benar menurut kami adalah kita menghukuminya sebagai kebolehan (mubah), karena bagian keuntungan (haẓẓ) mereka hanyalah menghibur diri dari himpitan kebosanan pengangguran dengan melihat berbagai negeri yang berbeda. Dan bagian-bagian keuntungan ini, meskipun bernilai rendah (khasisah), jiwa orang-orang yang bergerak untuk keuntungan ini pun bernilai rendah. Maka tidak mengapa meletihkan binatang yang rendah untuk keuntungan rendah yang pantas baginya dan kembali kepadanya, sebab dialah yang menyakiti diri dan dialah pula yang menikmati.

والفتوى تقتضي تشتيت العوام في المباحات التي لا نفع فيها ولا ضرر فالسابحون في غير مهم في الدين والدنيا بل لمحض التفرج في البلاد كالبهائم المترددة في الصحارى فلا بأس بسياحتهم ما كفوا عن الناس شرهم ولم يلبسوا على الخلق حالهم وإنما عصيانهم في التلبيس والسؤال على اسم التصوف والأكل من الأوقاف التي وقفت على الصوفية لأن الصوفي عبارة عن رجل صالح عدل في دينه مع صفات أخر

Dan fatwa menuntut untuk membiarkan orang-orang awam terpecah konsentrasinya dalam hal-hal mubah yang tidak membawa manfaat maupun kemudaratan. Maka orang-orang yang berkelana bukan untuk urusan penting dalam agama dan dunia, melainkan semata-mata untuk rekreasi di berbagai negeri, adalah seperti hewan ternak yang berkeliaran di padang sahara. Maka tidak mengapa dengan pengembaraan mereka selama mereka menahan keburukan mereka dari manusia dan tidak menyamarkan keadaan mereka kepada orang banyak. Kemaksiatan mereka hanyalah dalam tindakan penyamaran (talbis), meminta-minta atas nama tasawuf, dan memakan harta wakaf yang diperuntukkan bagi kaum sufi; karena sufi itu adalah ungkapan bagi seorang laki-laki yang saleh lagi adil dalam agamanya beserta sifat-sifat lain

وراء الصلاح ومن أقل صفات أحوال هؤلاء أكلهم أموال السلاطين وأكل الحرام من الكبائر فلا تبقى معه العدالة والصلاح ولو تصور صوفي فاسق لتصور صوفي كافر وفقيه يهودي

di balik kesalehan itu. Dan di antara sifat paling minim dari keadaan mereka adalah memakan harta para penguasa (sultan), padahal memakan yang haram termasuk dosa-dosa besar, sehingga sifat keadilan dan kesalehan tidak lagi tersisa bersamanya. Seandainya dapat dibayangkan adanya seorang 'sufi yang fasik', niscaya dapat dibayangkan pula adanya 'sufi yang kafir' dan 'ahli fiqih yang Yahudi'.

وكما أن الفقيه عبارة عن مسلم مخصوص فالصوفي عبارة عن عدل مخصوص لا يقتصر في دينه على القدر الذي يحصل به العدالة

Sebagaimana bahwa faqih (ahli fiqih) adalah ungkapan bagi seorang muslim yang khusus, maka sufi adalah ungkapan bagi seorang yang adil secara khusus yang tidak membatasi agamanya sebatas kadar yang menghasilkan keadilan semata.

وكذلك من نظر الى ظواهرهم ولم يعرف بواطنهم وأعطاهم من ماله على سبيل التقرب إلى الله تعالى حرم عليهم الأخذ وكان ما أكلوه سحتاً وأعني به إذا كان المعطي بحيث لو عرف بواطن أحوالهم ما أعطاهم فأخذ المال بإظهار التصوف من غير اتصاف بحقيقته كأخذه بإظهار نسب رسول الله ﷺ على سبيل الدعوى ومن زعم أنه علوى وهو كاذب وأعطاه مسلم مالا لحبه أهل البيت ولو علم أنه كاذب لم يعطه شيئاً فأخذه على ذلك حرام وكذلك الصوفي

Demikian pula orang yang memandang lahiriah mereka dan tidak mengetahui batin mereka, lalu memberikan hartanya kepada mereka dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala, maka haram bagi mereka mengambilnya dan apa yang mereka makan itu adalah barang haram (suḥt). Yang aku maksud adalah jika si pemberi itu sekiranya mengetahui batin dari keadaan mereka niscaya ia tidak akan memberi mereka. Maka mengambil harta dengan menampilkan diri sebagai sufi tanpa memiliki hakikatnya adalah seperti mengambil harta dengan menampilkan nasab Rasulullah ﷺ secara pengakuan belaka. Barangsiapa mengaku sebagai keturunan 'Alawi padahal ia berdusta, lalu seorang muslim memberinya harta karena cintanya kepada Ahlul Bait, padahal jika ia tahu bahwa orang itu berdusta niscaya ia tidak akan memberinya apa pun, maka pengambilannya atas hal itu adalah haram; demikian pula halnya dengan sufi.

ولهذا احترز المحتاطون عن الأكل بالدين فإن المبالغ في الاحتياط لدينه لا ينفك في باطنه عن عورات لو انكشفت للراغب في مواساته لفترت رغبته عن المواساة

Oleh karena inilah orang-orang yang berhati-hati (al-muḥtāṭūn) menjaga diri dari memakan rezeki dengan memperalat agama, sebab orang yang sangat berhati-hati terhadap agamanya sekalipun tidak terlepas batinnya dari cacat-cacat ('aurāt) yang seandainya tersingkap bagi orang yang ingin membantunya, niscaya akan kendur kehendaknya untuk membantunya.

فلا جرم كانوا لا يشترون شيئاً بأنفسهم مخافة أن يسامحوا لأجل دينهم فيكونوا قد أكلوا بالدين

Oleh karena itu, mereka tidak pernah membeli sesuatu pun secara langsung oleh diri mereka sendiri karena takut diberi kemudahan atau keringanan harga disebabkan kedudukan agama mereka, sehingga mereka tergolong orang yang makan dari memperjualbelikan agama.

وكانوا يوكلون من يشتري لهم ويشترطون على الوكيل أن لا يظهر أنه لمن يشتري

Mereka menugaskan (mewakilkan kepada) seseorang untuk membelikan kebutuhan mereka dan mensyaratkan kepada wakil tersebut agar tidak memberitahukan bahwa barang itu dibeli untuk diri mereka.

نعم إنما يحل أخذ ما يعطي لأجل الدين إذا كان الأخذ بحيث لو علم المعطي من باطنه ما يعلمه الله تعالى لم يقتض ذلك فتورا في رأيه فيه والعاقل المنصف يعلم من نفسه أن ذلك ممتنع أو عزيز والمغرور الجاهل بنفسه أحرى بأن يكون جاهلا بأمر دينه فإن أقرب الأشياء الى قالبه قلبه فإذا التبس عليه أمر قلبه فكيف ينكشف له غيره ومنعرف هذه الحقيقة لزمه لا محالة أن لا يأكل إلا من كسبه ليأمن من هذه الغائلة أو لا يأكل إلا من مال من يعلم قطعاً أنه لو انكسف له عورات باطنه لم يمنعه ذلك عن مواساته

Benar, sesungguhnya hanya dihalalkan mengambil pemberian yang diberikan karena alasan agama apabila si penerima berada dalam keadaan sekiranya si pemberi mengetahui rahasia batinnya sebagaimana yang diketahui oleh Allah Ta'ala, hal itu tidak akan menyurutkan pandangan baiknya terhadap dirinya. Orang yang berakal dan bersikap adil tentu menyadari dari dirinya sendiri bahwa hal sedemikian itu mustahil atau sangat langka. Adapun orang yang tertipu lagi bodoh terhadap dirinya sendiri tentulah lebih bodoh lagi terhadap urusan agamanya; sebab sesuatu yang paling dekat dengan raga (jasmani)-nya adalah hatinya, maka jika urusan hatinya saja sudah samar baginya, bagaimana mungkin urusan selainnya dapat tersingkap baginya? Barang siapa memahami hakikat ini, niscaya ia wajib makan dari hasil usahanya sendiri agar selamat dari bahaya ini, atau tidak makan melainkan dari harta orang yang ia yakini secara pasti bahwa seandainya keburukan-keburukan batinnya tersingkap baginya, hal itu tetap tidak akan menghalanginya untuk membantunya.

فإن اضطر طالب الحلال ومريد طريق الآخرة الى أخذ مال غيره فليصرح له وليقل إنك إن كنت تعطيني لما تعتقده في من الدين فلست مستحقاً لذلك ولو كشف الله تعالى ستري لم ترني بعين التوقير بل اعتقدت أبي شر الخلق أو من شرارهم فإن أعطاه مع ذلك فليأخذ فإنه ربما يرضى منه هذه الخصلة وهو اعترافه على نفسه بركاكة الدين وعدم استحقاقه لما يأخذه

Jika penuntut yang halal dan pencari jalan akhirat terpaksa mengambil harta orang lain, hendaklah ia berterus terang kepadanya dengan berkata, "Jika engkau memberiku karena keyakinanmu tentang keagamaan yang ada pada diriku, sesungguhnya aku tidak berhak atas hal itu. Seandainya Allah Ta'ala membuka tirai penutupku, engkau tidak akan memandangku dengan pandangan hormat, bahkan engkau akan menganggapku sebagai seburuk-buruk makhluk atau bagian dari orang-orang jahat." Jika setelah itu orang tersebut tetap memberinya, maka hendaklah ia mengambilnya; sebab boleh jadi orang tersebut rida dengannya karena sifat ini, yaitu pengakuannya atas kelemahan agamanya dan ketidaklayakannya menerima apa yang ia ambil.

ولكن ههنا مكيدة للنفس بينة ومخادعة فليتفطن لها وهو أنه قد يقول ذلك مظهراً أنه متشبه بالصالحين في ذمهم نفوسهم واستحقارهم لها ونظرهم اليها بعين المقت والازدراء فتكون صورة الكلام صورة القدح والإزدراء وباطنه وروحه هو عين المدح والإطراء فكم من ذام نفسه وهو لها مادح بعين ذمه فذم النفس في الخلوة مع النفس هو المحمود

Akan tetapi, di sini terdapat tipu daya jiwa (nafsu) dan kecurangan yang nyata, maka hendaklah ia bersiap siaga menghadapinya. Yaitu, bisa jadi ia mengucapkan hal itu sekadar untuk menampakkan bahwa dirinya menyerupai orang-orang saleh dalam mencela diri mereka sendiri, memandang rendah jiwa mereka, serta memandangnya dengan pandangan kebencian dan kehinaan. Sehingga bentuk ucapannya tampak seperti celaan dan perendahan diri, padahal batin dan ruhnya justru merupakan bentuk pujian dan sanjungan terhadap diri sendiri. Berapa banyak orang yang mencela jiwanya padahal ia sedang memujinya melalui celaan tersebut! Maka celaan terhadap diri sendiri dalam kesendirian (khala) bersama jiwa itulah yang dipuji.

وأما الذم في الملأ فهو عين الرياء إلا إذا أورده إيرادا يحصل للمستمع يقيناً بأنه مقترف للذنوب ومعترف بها

Adapun celaan di hadapan khalayak ramai (terang-terangan), maka itu adalah wujud riya yang nyata, kecuali jika ia menyampaikannya sedemikian rupa sehingga memberi keyakinan kepada pendengar bahwa ia benar-benar melakukan dosa-dosa tersebut dan mengakuinya.

وذلك مما يمكن تفهيمه بقرائن الأحوال ويمكن تلبيسه بقرائن الأحوال

Dan hal itu termasuk perkara yang dapat dipahami melalui indikasi-indikasi keadaan (qara'in al-ahwal), serta dapat pula dipalsukan (disamarkan) melalui indikasi-indikasi keadaan tersebut.

والصادق بينه وبين الله تعالى يعلم أن مخادعته لله ﷿ أو مخادعته لنفسه محال فلا يتعذر عليه الاحتراز عن أمثال ذلك

Dan orang yang jujur (sidiq) antara dirinya dan Allah Ta'ala mengetahui bahwa menipu Allah 'Azza wa Jalla atau menipu dirinya sendiri adalah hal yang mustahil, sehingga tidaklah sulit baginya untuk menjaga diri dari hal-hal semacam itu.

فهذا هو القول في أقسام السفر ونية المسافر وفضيلته

Maka inilah pembahasan mengenai pembagian perjalanan (safar), niat musafir, dan keutamaannya.

الفصل الثاني في آدَابُ الْمُسَافِرِ مِنْ أَوَّلِ نُهُوضِهِ إِلَى آخِرِ رجوعه وهي أحد عشر

Pasal Kedua: Tentang Adab-Adab Musafir sejak Awal Keberangkatannya hingga Akhir Kepulangannya, yang Berjumlah Sebelas

آدبا

Adab.

الْأَوَّلُ أَنْ يَبْدَأَ بِرَدِّ الْمَظَالِمِ وَقَضَاءِ الدُّيُونِ وَإِعْدَادِ النَّفَقَةِ لِمَنْ تَلْزَمُهُ نَفَقَتُهُ وَبِرَدِّ الْوَدَائِعِ إِنْ كَانَتْ عِنْدَهُ وَلَا يَأْخُذُ لِزَادِهِ إِلَّا الْحَلَالَ الطَّيِّبَ وَلْيَأْخُذْ قَدْرًا يُوَسِّعُ بِهِ عَلَى رفقائه

Adab yang pertama: Hendaknya ia mengawali dengan mengembalikan barang-barang hasil kezaliman (hak-hak orang lain), melunasi utang-utang, menyediakan nafkah bagi orang yang wajib ia nafkahi, dan mengembalikan barang-barang titipan jika ada padanya. Dan hendaknya ia tidak membawa bekal melainkan dari harta yang halal lagi baik, serta membawa kadar bekal yang mencukupi untuk melapangkan (berbagi dengan) teman-teman perjalanannya.

قال ابن عمر ﵄ مِنْ كَرَمِ الرَّجُلِ طِيبُ زَادِهِ فِي سَفَرِهِ

Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma berkata, "Di antara kemuliaan seseorang adalah kebaikan bekalnya dalam perjalanan (safar)."

وَلَا بُدَّ فِي السَّفَرِ مِنْ طِيبِ الْكَلَامِ وإطعام الطعام وإظهار مكارم الأخلاق في السفر فإنه يخرج خبايا الباطن

Dan di dalam perjalanan harus ada ucapan yang baik, memberi makan, serta menampakkan keluhuran akhlak; sebab perjalanan itu akan menyingkap rahasia-rahasia batin yang tersembunyi.

ومن صلح لصحبة السفر صلح لصحبة الحضر وقد يصلح في الحضر من لا يصلح في السفر

Barang siapa yang layak dijadikan sahabat dalam perjalanan (safar), maka ia pun layak dijadikan sahabat saat bermukim (tidak bepergian). Namun terkadang ada orang yang layak ketika bermukim, tetapi tidak layak saat dalam perjalanan.

ولذلك

Oleh karena itu,

قيل إذا أثنى على الرجل معاملوه في الحضر ورفقاؤه في السفر فلا تشكوا في صلاحه

dikatakan: "Apabila seseorang dipuji oleh orang-orang yang bertransaksi dengannya ketika bermukim dan oleh teman-teman perjalanannya saat safar, maka janganlah kalian meragukan kesalehannya."

وَالسَّفَرُ مِنْ أَسْبَابِ الضَّجَرِ وَمَنْ أَحْسَنَ خُلُقَهُ في الضجر فهو الحسن الخلق وإلا فعند مساعدة الأمور على وفق الغرض قلما يظهر سوء الخلق

Perjalanan (safar) merupakan salah satu penyebab timbulnya rasa kesal dan kejenuhan; barang siapa yang dapat menjaga kebaikan akhlaknya dalam keadaan jenuh, dialah orang yang benar-benar berakhlak mulia. Jika tidak demikian, maka tatkala segala urusan berjalan sesuai keinginan, sangat jarang keburukan akhlak itu akan tampak.

وقد قيل ثلاثة لا يلامون على الضجر الصائم والمريض والمسافر وتمام حسن خلق المسافر الإحسان الى المكاري ومعاونة الرفقة بكل ممكن والرفق بكل منقطع بأن لا يجاوزه إلا بالإعانة بمركوب أو زاد أو توقف لأجله

Dikatakan pula: Ada tiga golongan yang tidak dicela atas rasa kesal (kejenuhan) mereka: orang yang berpuasa, orang yang sakit, dan musafir. Kesempurnaan akhlak mulia seorang musafir adalah berbuat baik kepada penyewa/pengemudi kendaraan, membantu teman perjalanan dengan segala kemampuan, dan bersikap lembut kepada setiap orang yang terputus (tertinggal) perjalanannya dengan tidak melewatinya begitu saja melainkan dengan memberikan bantuan berupa tumpangan, bekal, atau berhenti sejenak demi menunggunya.

وَتَمَامُ ذَلِكَ مَعَ الرُّفَقَاءِ بِمِزَاحٍ وَمُطَايَبَةٍ فِي بعض الأوقات من غير فحش ولا معصية لِيَكُونَ ذَلِكَ شِفَاءً لِضَجَرِ السَّفَرِ وَمَشَاقِّهِ

Kesempurnaan hal itu bersama para sahabat perjalanan dilakukan dengan bersenda gurau dan bersenang-senang pada sebagian waktu, tanpa disertai kata-kata kotor maupun maksiat, agar hal tersebut menjadi penawar bagi kejenuhan perjalanan dan kesukarannya.

الثَّانِي أَنْ يَخْتَارَ رَفِيقًا فَلَا يَخْرُجُ وَحْدَهُ فَالرَّفِيقُ ثُمَّ الطَّرِيقُ

Kedua: Hendaklah ia memilih teman perjalanan sehingga ia tidak bepergian seorang diri, sebab (mencari) teman perjalanan itu harus didahulukan sebelum (menentukan) jalan.

وَلْيَكُنْ رَفِيقُهُ مِمَّنْ يُعِينُهُ عَلَى الدِّينِ فَيُذَكِّرُهُ إِذَا نَسِيَ وَيُعِينُهُ وَيُسَاعِدُهُ إِذَا ذَكَرَ فَإِنَّ الْمَرْءَ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ وَلَا يعرف الرجل إلا برفيقه

Hendaklah teman perjalanannya adalah orang yang membantunya dalam urusan agama; ia mengingatkannya jika lupa, serta membantunya dan mendampinginya jika ia ingat. Sebab, seseorang itu berada di atas agama (kelakuan) sahabat karibnya, dan seseorang tidaklah dapat dikenali melainkan melalui temannya.

وقد نهى ﷺ عن أن يسافر الرجل وحده

Sungguh Rasulullah ﷺ telah melarang seseorang bepergian seorang diri.

وقال الثلاثة نفر

Dan tiga orang tersebut berkata…

وقال أيضاً إِذَا كُنْتُمْ ثَلَاثَةً فِي السَّفَرِ فَأَمِّرُوا أَحَدَكُمْ

Beliau ﷺ juga bersabda, "Apabila kalian bertiga dalam suatu perjalanan, maka angkatlah salah seorang dari kalian sebagai pemimpin."

وكانوا يفعلون ذلك ويقولون هذا أميرنا أمره رسول الله ﷺ

Dahulu para sahabat biasa melakukan hal tersebut dan berkata, "Ini adalah pemimpin kami, Rasulullah ﷺ yang memerintahkan untuk mengangkatnya."

وَلْيُؤَمِّرُوا أَحْسَنَهُمْ أَخْلَاقًا وَأَرْفَقَهُمْ بِالْأَصْحَابِ وَأَسْرَعَهُمْ إِلَى الْإِيثَارِ وَطَلَبِ الْمُوَافَقَةِ

Hendaklah mereka mengangkat sebagai pemimpin orang yang paling baik akhlaknya di antara mereka, yang paling lembut kepada kawan-kawannya, serta yang paling cepat mengutamakan orang lain (itsār) dan mencari keharmonisan.

وَإِنَّمَا يُحْتَاجُ إِلَى الْأَمِيرِ لأن الآراء تختلف في تعيين المنازل والطرق ومصالح السَّفَرِ وَلَا نِظَامَ إِلَّا فِي الْوَحْدَةِ وَلَا فساد إلا في الْكَثْرَةِ

Sesungguhnya pemimpin itu sangat dibutuhkan karena berbedanya pandangan dalam menentukan tempat persinggahan, jalur perjalanan, dan kemaslahatan safar; sedangkan keteraturan tidak akan terwujud kecuali dalam kesatuan kepemimpinan, dan kerusakan terjadi akibat banyaknya kepemimpinan.

وَإِنَّمَا انْتَظَمَ أَمْرُ الْعَالَمِ لِأَنَّ مُدَبِّرَ الكل واحد ﴿لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا﴾ ومهما كان المدبر واحدا انتظم أمر التدبير

Sesungguhnya urusan alam semesta dapat teratur karena Pengatur segalanya adalah Yang Maha Esa. "Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa" (QS. Al-Anbiya': 22). Selama pengaturnya tunggal, niscaya urusan pengaturan akan teratur.

وإذا كثر المدبرون فسدت الأمور في الحضر والسفر إلا أن مواطن الإقامة لا تخلو عن أمير عام كأمير البلد

Dan apabila para pengatur itu banyak, niscaya segala urusan akan rusak, baik dalam keadaan menetap (hadhar) maupun berbepergian (safar). Hanya saja, tempat-tempat kediaman tidak pernah luput dari adanya pemimpin umum, seperti penguasa suatu negeri,

وأمير خاص كرب الدار

dan pemimpin khusus, seperti kepala rumah tangga.

وأما السفر فلا يتعين له أمير إلا بالتأمير

Adapun dalam perjalanan, pemimpinnya tidak dapat ditentukan kecuali melalui pengangkatan (kesepakatan).

فلهذا وجب التأمير ليجتمع شتات الآراء

Oleh karena itu, pengangkatan pemimpin menjadi wajib agar pendapat-pendapat yang bercerai-berai dapat disatukan.

ثم على الأمير أن لا ينظر إلا لمصلحة القوم وأن يجعل نفسه وقاية لهم كما نقل عن عبد الله المروزي أنه صحبه أبو على الرباطي فقال على أن تكون أنت الأمير أو أنا فقال بل أنت فلم يزل يحمل الزاد لنفسه ولأبي علي على ظهره فأمطرت السماء ذات ليلة فقام عبد الله طول الليل على رأس رفيقه وفي يده كسا يمنع عنه المطر فكلما قال له عبد الله لا تفعل يقول ألم تقل إن الإمارة مسلمة لي فلا تتحكم علي ولا ترجع عن قولك حتى قال أبو علي وددت أني مت ولم أقل له أنت الأمير فهكذا ينبغي أن يكون الأمير

Kemudian, kewajiban seorang pemimpin adalah tidak memandang melainkan demi kemaslahatan rombongan dan menjadikan dirinya sebagai pelindung bagi mereka. Sebagaimana diriwayatkan dari 'Abdullah al-Marwazi bahwa Abu 'Ali ar-Ribathi pernah menyertainya dalam perjalanan. Abu 'Ali berkata, "Dengan syarat engkau yang menjadi pemimpin atau aku." 'Abdullah menjawab, "Bahkan engkaulah pemimpinnya." Sejak itu, 'Abdullah senantiasa membawa bekal untuk dirinya dan untuk Abu 'Ali di atas punggungnya sendiri. Pada suatu malam, hujan turun dengan lebat, lalu 'Abdullah berdiri sepanjang malam di dekat kepala temannya sambil memegang kain mantel untuk melindunginya dari hujan. Setiap kali Abu 'Ali berkata kepadanya, "Jangan lakukan itu," 'Abdullah menyahut, "Bukankah engkau telah mengatakan bahwa kepemimpinan diserahkan kepadaku? Maka janganlah engkau mengaturnya atas diriku dan jangan menarik kembali ucapanmu!" Sampai-sampai Abu 'Ali berkata, "Aku sangat berharap sekiranya aku mati saja dan tidak pernah mengatakan kepadanya bahwa engkaulah pemimpinnya." Demikianlah hendaknya sikap seorang pemimpin.

وقد قال ﷺ خير الأصحاب أربعة

Rasulullah ﷺ juga telah bersabda, "Sebaik-baik teman persahabatan (dalam perjalanan) adalah empat orang."

وتخصيص الأربعة من بين سائر الأعداد لا بد أن يكون له فائدة والذي ينقدح فيه أن المسافر لا يخلو عن رجل يحتاج الى حفظه وعن حاجة يحتاج الى التردد فيها ولو كانوا ثلاثة لكان المتردد في الحاجة واحدا فيبقى في السفر بلا رفيق فلا يخلو عن خطر وعن ضيق قلب لفقد أنس الرفيق ولو تردد في الحاجة اثنان لكان الحافظ للرحل واحدا فلا يخلو أيضاً عن الخطر وعن ضيق الصدر

Pengkhususan angka empat di antara angka-angka lainnya pasti memiliki hikmah. Pemahaman yang tampak padanya adalah bahwa musafir tidak terlepas dari perbekalan yang perlu dijaga dan keperluan yang menuntutnya keluar mondar-mandir. Seandainya mereka bertiga, maka orang yang keluar mengurus keperluan hanya satu orang, sehingga ia tinggal di perjalanan tanpa teman, dan hal itu tidak lepas dari bahaya serta kesempitan hati karena kehilangan rasa nyaman bersama teman. Sebaliknya, jika dua orang keluar mengurus keperluan, maka yang menjaga perbekalan hanya satu orang, yang juga tidak lepas dari bahaya dan kesempitan dada.

فإذن ما دون الأربعة لا يفي بالمقصود وما فوق الأربعة يزيد فلا تجمعهم رابطة واحدة فلا ينعقد بينهم الترافق لأن الخامس زيادة بعد الحاجة ومن يستغني عنه لا تنصرف الهمة اليه فلا تتم المرافقة معه

Dengan demikian, jumlah kurang dari empat orang tidak mencukupi tujuan tersebut. Sedangkan jumlah yang melebihi empat orang merupakan kelebihan sehingga mereka tidak dapat disatukan oleh satu ikatan yang erat, dan kebersamaan di antara mereka tidak terjalin secara sempurna. Sebab, orang kelima merupakan tambahan setelah terpenuhinya kebutuhan, dan siapa saja yang tidak dibutuhkan, maka perhatian tidak akan tertuju kepadanya sehingga kebersamaan bersamanya menjadi tidak sempurna.

نعم في كثرة الرفقاء فائدة للأمن من المخاوف

Benar, pada banyaknya teman perjalanan memang terdapat manfaat untuk rasa aman dari hal-hal yang menakutkan,

ولكن الأربعة خير للرفاقة الخاصة لا للرفاقة العامة

akan tetapi jumlah empat orang itu lebih baik untuk kebersamaan yang bersifat khusus (keakraban karib), bukan untuk kebersamaan yang bersifat umum.

وكم من رفيق في الطريق عند كثرة الرفاق لا يكلم ولا يخالط الى آخر الطريق للاستغناء عنه

Betapa banyak teman di jalan ketika rombongan begitu banyak yang tidak disapa dan tidak digauli sampai akhir perjalanan karena tidak dibutuhkannya dirinya.

الثَّالِثُ أَنْ يُودِّعَ رُفَقَاءَ الْحَضَرِ وَالْأَهْلَ وَالْأَصْدِقَاءَ وليدع عند الوداع بدعاء رسول الله ﷺ

Yang ketiga, hendaknya ia berpamitan kepada teman-temannya di tempat tinggalnya, keluarga, serta sahabat-sahabatnya, dan berdoa saat berpamitan dengan doa Rasulullah ﷺ.

قال بعضهم صحبت عبد الله بن عمر ﵄ من مكة الى المدينة حرسها الله فلما أردت أن افارقه شيعني وَقَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يقول قال لقمان إن الله تعالى إذا استودع شيئاً حفظه وإني أستودع الله دينك وأمانتك وخواتيم عملك

Sebagian dari mereka berkata, 'Aku menyertai 'Abdullah bin 'Umar radhiyallahu 'anhuma dari Makkah ke Madinah—semoga Allah menjaganya. Ketika aku hendak berpisah darinya, beliau mengantarkanku dan berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Luqman berkata, 'Sesungguhnya Allah Ta'ala apabila dititipi sesuatu, Dia akan menjaganya.' Dan sungguh, aku menitipkan agama Anda, amanah Anda, serta penutup amal Anda kepada Allah.'

وروى زيد بن أرقم عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ أنه قال إذا أراد أحدكم سفراً فليودع أخوانه فإن الله تعالى جاعل له في دعائهم البركة

Zaid bin Arqam meriwayatkan dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda: 'Apabila salah seorang di antara kalian hendak melakukan perjalanan, hendaknya ia berpamitan kepada saudara-saudaranya, karena sesungguhnya Allah Ta'ala menjadikan keberkahan baginya dalam doa mereka.'

وعن عمرو بن شعيب عن أبيه عن جده أن رسول الله ﷺ كان إذا ودع رجلاً قال زودك الله التقوى وغفر ذنبك ووجهك الى الخير حيث توجهت

Dari 'Amr bin Syu'aib, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Rasulullah ﷺ apabila berpamitan dengan seseorang, beliau mengucapkan: 'Semoga Allah membekalimu dengan ketakwaan, mengampuni dosamu, dan mengarahkanmu kepada kebaikan ke mana pun engkau menghadap.'

فهذا دعاء المقيم للمودع

Inilah doa orang yang menetap (muqim) untuk orang yang hendak pergi berlayar/bepergian.

وقال موسى بن وردان أتيت أبا هريرة ﵁ أودعه لسفر أردته

Musa bin Wardan berkata, 'Aku mendatangi Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu untuk berpamitan kepadanya karena perjalanan yang hendak aku lakukan.'

فقال ألا أعلمك يا ابن أخي شيئاً علمنيه رسول الله ﷺ عند الوداع فقلت بلى قال قل أستودعك الله الذي لا تضيع ودائعه

Lalu beliau berkata, 'Maukah aku ajarkan kepadamu, wahai putra saudaraku, sesuatu yang diajarkan Rasulullah ﷺ kepadaku ketika berpamitan?' Aku menjawab, 'Tentu.' Beliau berkata, 'Ucapkanlah: Aku menitipkanmu kepada Allah, yang tidak akan pernah sia-sia titipan-Nya.'

وعن أنس بن مالك ﵁ أن رجلاً أتى النبي ﷺ فقال إني أريد سفراً فأوصني فقال له في حفظ الله وفي كنفه زَوَّدَكَ اللَّهُ التَّقْوَى وَغَفَرَ ذَنْبَكَ وَوَجَّهَكَ لِلْخَيْرِ حيث كنت أو أينما كنت

Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, bahwa seorang laki-laki mendatangi Nabi ﷺ lalu berkata, 'Sesungguhnya aku hendak berpergian, maka berilah aku wasiat.' Maka beliau bersabda kepadanya, 'Dalam penjagaan Allah dan dalam perlindungan-Nya; semoga Allah membekalimu dengan ketakwaan, mengampuni dosamu, dan mengarahkanmu kepada kebaikan di mana pun engkau berada, atau ke mana pun engkau berada.'

شك فيه الراوي

(Keraguan pada lafaz tersebut berasal dari perawi).

وينبغي إذا استودع الله تعالى ما يخلفه أن يستودع الجمع ولا يخصص

Dan seyogianya apabila seseorang menitipkan kepada Allah Ta'ala apa yang ia tinggalkan, hendaknya ia menitipkan secara keseluruhan (umum) dan tidak mengkhususkannya.

فقد روي أن عمر ﵁ كان يعطي الناس عطاياهم إذ جاءه رجل معه ابن له فقال له عمر ما رأيت أشبه بأحد من هذا بك فقال له الرجل أحدثك عنه يا أمير المؤمنين بأمر إني أردت أن أخرج الى سفر وأمه حامل به فقالت تخرج وتدعني على هذه الحالة فقلت أستودع الله ما في بطنك فخرجت ثم قدمت فإذا هي قد ماتت فجلسنا نتحدّث فإذا نار على قبرها فقلت للقوم ما هذه النار فقالوا هذه النار من قبر فلانة نراها كل ليلة فقلت والله إنها كانت لصوامة قوّامة فأخذت المعول حتى انتهينا الى القبر فحفرنا فإذا سراج وإذا هذا الغلام يدب فقيل لي أن هذه وديعتك ولو كنت استودعت أمه لوجدتها فقال عمر ﵁ لهو أشبه بك من الغراب بالغراب

Diriwayatkan bahwa 'Umar radhiyallahu 'anhu pernah membagikan pemberian (tunjangan) kepada orang-orang, lalu datanglah seorang laki-laki bersama putranya. 'Umar berkata kepadanya, 'Aku belum pernah melihat seseorang yang begitu mirip dengan orang lain melebihi kemiripan anak ini padamu.' Laki-laki itu menjawab, 'Akan kuceritakan kepadamu tentang anak ini, wahai Amirul Mukminin. Dahulu aku hendak pergi melakukan perjalanan, sementara ibunya sedang mengandungnya. Ibunya berkata, 'Engkau pergi dan meninggalkanku dalam keadaan seperti ini?' Maka aku katakan, 'Aku titipkan apa yang ada di dalam kandunganmu kepada Allah.' Aku pun pergi, lalu ketika aku kembali, ternyata ibunya telah meninggal dunia. Saat kami duduk berbincang-bincang, tiba-tiba terlihat api di atas kuburnya. Aku bertanya kepada orang-orang, 'Api apakah ini?' Mereka menjawab, 'Api ini berasal dari kubur si Fulanah, kami melihatnya setiap malam.' Aku berkata, 'Demi Allah, sungguh dia adalah wanita yang rajin berpuasa dan beribadah malam.' Maka aku mengambil cangkul hingga kami tiba di kuburan tersebut lalu menggalinya. Tiba-tiba di sana ada pelita dan anak laki-laki ini sedang merangkak. Dikatakan kepadaku, 'Sesungguhnya ini adalah titipanmu; sekiranya engkau dulu juga menitipkan ibunya, niscaya engkau akan mendapatinya pula.' Maka 'Umar radhiyallahu 'anhu berkata, 'Sungguh ia lebih mirip padamu daripada burung gagak dengan burung gagak lainnya.'

الرابع أن يصلي قبل سفره صلاة الإستخارة كما وصفناها في

Yang keempat, hendaknya ia melaksanakan shalat Istikharah sebelum perjalanannya, sebagaimana yang telah kami jelaskan dalam

كتاب الصلاة ووقت الخروج يصلي لأجل السفر فقد روى أنس بن مالك رضي

Kitab Shalat. Dan pada waktu hendak berangkat, ia melaksanakan shalat khusus untuk perjalanan (shalat safar). Sungguh Anas bin Malik radhiyallahu

الله عنه أن رجلاً أتى النبي ﷺ فقال إني نذرت سفراً وقد كتبت وصيتي فالى أي الثلاثة أدفعها الى ابني أم أخي أم أبي فقال النبي ﷺ ما استخلف عبد في أهله من خليفة أحب إلى الله من أربع ركعات يصليهن في بيته إذا شدّ عليه ثياب سفره يقرأ فيهن بفاتحة الكتاب وقل هو الله أحد ثم يقول اللهم إني أتقرب بهن إليك فاخلفني بهن في أهلي ومالي فهي خليفته في أهله وماله وحرز حول داره حتى يرجع الى أهله

'anhu meriwayatkan bahwa seorang laki-laki mendatangi Nabi ﷺ lalu berkata, 'Sesungguhnya aku telah bernazar untuk melakukan perjalanan, dan aku telah menulis wasiatku. Maka kepada siapakah di antara tiga orang ini aku menyerahkannya: kepada anakku, saudaraku, atau ayahku?' Maka Nabi ﷺ bersabda, 'Tidaklah seorang hamba meninggalkan pengganti (perwakilan) di tengah keluarganya yang lebih dicintai Allah melebihi empat rakaat yang ia kerjakan di rumahnya ketika telah mengencangkan pakaian perjalanannya. Ia membaca di setiap rakaatnya Surat Al-Fatihah dan Qul Huwallāhu Aḥad, kemudian berdoa: 'Ya Allah, sesungguhnya aku mendekatkan diri kepada-Mu dengan shalat ini, maka jadikanlah ia sebagai pengganti penjagaanku pada keluarga dan hartaku.' Maka shalat itu menjadi pengganti penjagaannya pada keluarga dan harta bendanya, serta benteng di sekeliling rumahnya hingga ia kembali kepada keluarganya.'

الخامس إذا حَصَلَ عَلَى بَابِ الدَّارِ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ توكلت على الله ولا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ أَوْ أجهل أو يجهل علي فإذا مشى قال اللهم بك انتشرت وعليك توكلت وبك اعتصمت وإليك توجهت اللهم أنت ثقتي وأنت رجائي فاكفني ما أهمني وما لا أهتم به وما أنت أعلم به مني عز جارك وجل ثناؤك ولا إله غيرك اللهم زودني التقوى واغفر لي ذنبي ووجهني للخير أينما توجهت

Yang kelima, apabila ia telah sampai di pintu rumahnya, hendaknya ia mengucapkan: 'Bismillāh, tawakkaltu 'alallāh, wa lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh. Rabbi a'ūżu bika an aḍilla au uḍalla, au azilla au uzalla, au aẓlima au uẓlama, au ajhala au yujhala 'alayya' (Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah, dan tiada daya serta kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah. Ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari tersesat atau disesatkan, tergelincir atau digelincirkan, menzalimi atau dizalimi, atau berbuat bodoh atau diperlakukannya kebodohan kepadaku). Kemudian apabila ia telah berjalan, hendaknya ia berdoa: 'Ya Allah, dengan pertolongan-Mu aku melangkah, kepada-Mu aku bertawakal, dengan-Mu aku berpegang teguh, dan kepada-Mu aku menghadap. Ya Allah, Engkaulah kepercayaanku dan Engkaulah harapanku, maka cukupkanlah bagiku apa yang menyusahkanku dan apa yang tidak menyusahkanku, serta apa yang Engkau lebih mengetahuinya daripadaku. Sungguh mulia perlindungan-Mu, sungguh agung pujian-Mu, dan tidak ada Tuhan selain Engkau. Ya Allah, bekalilah aku dengan ketakwaan, ampunilah dosaku, dan arahkanlah aku kepada kebaikan ke mana pun aku menghadap.'

وليدع بهذا الدعاء في كل منزل يرحل عنه

Dan hendaknya ia berdoa dengan doa ini di setiap persinggahan yang akan ia tinggalkan.

فإذا ركب الدابة فليقل بسم الله وبالله والله أكبر توكلت على الله ولا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ ما شاءالله كان وما لم يشأ لم يكن سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا له مقرنين وإنا إلى ربنا لمنقلبون

Lalu apabila ia menaiki hewan tunggangannya, hendaknya ia mengucapkan: 'Bismillāhi wa billāhi wallāhu akbar, tawakkaltu 'alallāh, wa lā ḥaula wa lā quwwata illā billāhil-'aliyyil-'aẓīm. Mā syā'allāhu kāna wa mā lam yasya' lam yakun. Subḥānallażī sakhkhara lanā hāżā wa mā kunnā lahū muqrinīn, wa innā ilā rabbinā lamunqolibūn' (Dengan nama Allah, demi Allah, dan Allah Maha Besar. Aku bertawakal kepada Allah, tiada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung. Apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi, dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi. Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami).

فإذا استوت الدابة تحته فليقل ﴿الحمد لله الذي هدانا لهذا وما كنا لنهتدي لولا أن هدانا الله﴾ اللهم أنت الحامل على الظهر وأنت المستعان على الأمور

Kemudian apabila tunggangan tersebut telah tegak di bawahnya, hendaknya ia mengucapkan: 'Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (kenikmatan) ini, dan kami tidak akan mendapat petunjuk sekiranya Allah tidak menunjuki kami.' Ya Allah, Engkaulah yang membawaku di atas punggung hewan ini, dan Engkaulah tempat memohon pertolongan atas segala urusan.

السادس أن يرحل عن المنزل بكرة

Yang keenam, hendaknya ia berangkat dari tempat persinggahan pada pagi-pagi benar.

روى جابر أن النبي ﷺ رحل يوم الخميس وهو يريد تبوك وقال اللهم بارك لأمتي في بكورها

Jabir meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ berangkat pada hari Kamis tatkala hendak menuju Tabuk, dan beliau berdoa: 'Ya Allah, berkahilah umatku pada waktu pagi-pagi benar mereka.'

ويستحب أن يبتدئ بالخروج يوم الخميس فقد روى عبد الله بن كعب بن مالك عن أبيه قال قلما كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يخرج الى سفر إلا يوم الخميس

Disunnahkan untuk memulai keberangkatan pada hari Kamis. Diriwayatkan dari Abdullah bin Ka'b bin Malik, dari ayahnya, ia berkata: "Jarang sekali Rasulullah ﷺ keluar untuk melakukan perjalanan kecuali pada hari Kamis."

وروى أنس أنه ﷺ قال اللهم بارك لأمتي في بكورها يوم السبت وكان ﷺ إذا بعث سرية بعثها أوّل النهار

Diriwayatkan dari Anas bahwa Rasulullah ﷺ berdoa: "Ya Allah, berkahilah umatku di waktu pagi harinya pada hari Sabtu." Dan adalah beliau ﷺ apabila mengirim pasukan khusus (sariyyah), beliau membeberangkatkannya di awal siang (pagi hari).

وروى أبو هريرة ﵁ أنه ﷺ قال اللهم بارك لأمتي في بكورها يوم خميسها

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah ﷺ berdoa: "Ya Allah, berkahilah umatku di waktu pagi harinya pada hari Kamis."

وقال عبد الله بن عباس إذا كان لك الى رجل حاجة فاطلبها منه نهارا ولا تطلبها ليلاً واطلبها بكرة فإني سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يقول اللهم بارك لأمتي في بكورها

Abdullah bin Abbas berkata: "Jika engkau memiliki suatu keperluan kepada seseorang, maka mintalah kepadanya di siang hari dan jangan memintanya di malam hari. Mintalah di waktu pagi, karena aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: 'Ya Allah, berkahilah umatku di waktu pagi harinya.'"

ولا ينبغي أن يسافر بعد طلوع الفجر من يوم الجمعة فيكون عاصياً بترك الجمعة واليوم منسوب اليها فكان أوله من أسباب وجوبها

Dan tidak seyogianya seseorang melakukan perjalanan setelah terbit fajar pada hari Jumat, karena ia akan dianggap bermaksiat sebab meninggalkan shalat Jumat, sedangkan hari tersebut dinisbatkan kepadanya sehingga awal harinya termasuk sebab kewajibannya.

والتشييع للوداع مستحب وهو سنة قال ﷺ لأن أشيع مجاهداً في سبيل الله فأكتنفه على رحله غدوة أو روحه أحب الى من الدنيا وما فيها

Mengantar orang yang bepergian untuk pelepasan (wada') hukumnya mustahab (dianjurkan) dan merupakan sunnah. Rasulullah ﷺ bersabda: "Sungguh, aku mengantar seorang yang berjihad di jalan Allah lalu aku membantunya naik ke atas kendaraan perjalanannya pada pagi atau sore hari, lebih aku cintai daripada dunia beserta isinya."

السابع أن لا ينزل حتى يحمى النهار فهي السنة ويكون أكثر سيره بالليل

Ketujuh: Hendaknya ia tidak berhenti beristirahat hingga siang terasa panas, sebab itulah yang menjadi sunnah, dan hendaknya porsi terbanyak dari perjalanan perjalanannya dilakukan di malam hari.

قال ﷺ عليكم بالدلجة فإن الأرض تطوي بالليل ما لا تطوي بالنهار

Rasulullah ﷺ bersabda: "Hendaklah kalian melakukan perjalanan di waktu malam (duljah), karena bumi dilipat pada malam hari dengan cara yang tidak terjadi pada siang hari."

ومهما أشرف على المنزل فليقل اللهم رب السماوات السبع وما أظللن ورب الأرضين السبع وما أقللن ورب الشياطين وما أضللن ورب الرياح وما ذرين ورب البحار وما جرين أسالك خير هذا المنزل وخير أهله وأعوذ بك من شر هذا المنزل وشر ما فيه اصرف عني شر شرارهم

Setiap kali ia tiba di tempat persinggahan, hendaklah ia membaca: "Ya Allah, Tuhan langit yang tujuh dan apa yang dinaunginya, Tuhan bumi yang tujuh dan apa yang ditopangnya, Tuhan para setan dan apa yang mereka sesatkan, Tuhan angin dan apa yang diterbangkannya, serta Tuhan lautan dan apa yang mengalir di dalamnya; aku memohon kepada-Mu kebaikan persinggahan ini dan kebaikan penghuninya, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan persinggahan ini serta keburukan apa yang ada di dalamnya, palingkanlah dariku kejahatan orang-orang jahat di antara mereka."

فإذا نزل المنزل فليصل فيه ركعتين ثم ليقل اللهم إني أعوذ بكلمات الله التامات التي لا يجاوزهن بر ولا فاجر من شر ما خلق

Apabila ia telah singgah di tempat persinggahan tersebut, hendaklah ia melakukan shalat dua rakaat di sana, kemudian membaca: "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, yang tidak dapat dilampaui oleh orang yang taat maupun orang yang jahat, dari keburukan apa yang telah Dia ciptakan."

فإذا جن عليه الليل فليقل يا أرض ربي وربك الله أعوذ بالله من شرك ومن شر ما فيك وشر ما دب عليك أعوذ بالله

Apabila malam telah gelap menjelang, hendaklah ia berucap: "Wahai bumi, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah. Aku berlindung kepada Allah dari keburukanmu, keburukan apa yang ada di dalammu, dan keburukan apa yang melata di atasmu. Aku berlindung kepada Allah…"

من شر كل أسد وأسود وحية وعقرب ومن شر ساكني البلد ووالد وما ولد ﴿وله ما سكن في الليل والنهار وهو السميع العليم﴾ ومهما علا شرفاً من الأرض في وقت السير فينبغي أن يقول اللهم لك الشرف على كل شرف ولك الحمد على كل حال ومهما هبط سبح ومهما خاف الوحشة في سفره قال سبحان الملك القدوس رب الملائكة والروح جللت السماوات بالعزة والجبروت

"…dari keburukan setiap singa, ular hitam, ular biasa, dan kalajengking, serta dari keburukan penghuni tempat ini, dan dari orang tua beserta anaknya. 'Dan milik-Nya-lah apa yang tersimpan pada malam dan siang hari, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.' (QS. Al-An'am: 13). Setiap kali ia menaiki tempat yang tinggi dari permukaan bumi tatkala berjalan, hendaknya ia mengucapkan: 'Ya Allah, bagi-Mu ketinggian di atas segala ketinggian, dan bagi-Mu segala puji dalam setiap keadaan.' Dan setiap kali ia menurun, hendaknya ia bertasbih. Apabila ia merasa takut akan kesepian atau rasa gentar dalam perjalanannya, hendaknya ia membaca: 'Maha Suci Raja Yang Maha Kudus, Tuhan para malaikat dan Ruh (Jibril), Engkau melingkupi langit dengan keperkasaan dan keagungan.'"

الثامن أن يحتاط بالنهار فلا يمشي منفرداً خارج القافلة لِأَنَّهُ رُبَّمَا يُغْتَالُ أَوْ يَنْقَطِعُ وَيَكُونُ بِاللَّيْلِ متحفظاً عند النوم

Kedelapan: Hendaklah ia berhati-hati pada siang hari sehingga tidak berjalan sendirian terpisah di luar rombongan (kafilah), karena terkadang ia dapat diserang secara mendadak atau tertinggal; dan pada malam hari hendaklah ia bersikap waspada tatkala hendak tidur.

كان ﷺ إذا نام في ابتداء الليل في السفر افترش ذراعيه وإن نام في آخر الليل نصب ذراعيه نصباً وجعل رأسه في كفه

Rasulullah ﷺ apabila tidur pada awal malam dalam perjalanan, beliau membentangkan kedua lengan tangannya. Namun jika beliau tidur pada akhir malam, beliau menegakkan kedua lengan tangannya dan meletakkan kepalanya di atas telapak tangannya.

والغرض من ذلك أن لا يستثقل في النوم فتطلع الشمس وهو نائم لا يدري فيكون ما يفوته من الصلاة أفضل مما يطلبه بسفره

Tujuan dari hal tersebut adalah agar beliau tidak tertidur terlalu lelap sehingga terbit matahari sementara ia masih tidur dalam keadaan tidak sadar, yang menyebabkan apa yang terlewat darinya berupa shalat menjadi lebih berharga daripada apa yang dicarinya dalam perjalanannya.

والمستحب بالليل أن يتناوب الرفقاء في الحراسة فإذا نام واحد حرس آخر

Disunnahkan pada malam hari agar teman-teman seperjalanan bergantian dalam menjaga, sehingga apabila yang satu tidur, yang lain berjaga.

فهذه السنة

Maka inilah sunnahnya.

ومهما قصده عدوّ أو سبع في ليل أو نهار فليقرأ آية الكرسي وشهد الله وسور الإخلاص والمعوّذتين

Setiap kali ia dituju oleh musuh atau binatang buas di malam atau siang hari, hendaklah ia membaca Ayat Kursi, ayat Syahidallahu (QS. Ali 'Imran: 18), Surah Al-Ikhlas, serta Al-Mu'awwidzatain (Surah Al-Falaq dan An-Nas).

وليقل بسم الله ما شاء الله لا قوة إلا بالله حسبي الله توكلت على الله ما شاء الله لا يأتي بالخيرات إلا الله ما شاء الله لا يصرف السوء إلا الله حسبي الله وكفى سمع الله لمن دعا ليس وراء الله منتهى ولا دون الله ملجأ كتب الله لأغلبن أنا ورسلي إن الله قوي عزيز تحصنت بالله العظيم واستعنت بالحي القيوم الذي لا يموت اللهم احرسنا بعينك التي لا تنام واكنفنا بركنك الذي لا يرام اللهم ارحمنا بقدرتك علينا فلا تهلك وانت ثقتنا ورجاؤنا اللهم أعطف علينا قلوب عبادك وإمائك برأفة ورحمة إنك أنت أرحم الراحمين

Dan hendaklah ia membaca: "Dengan nama Allah, atas kehendak Allah, tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Cukuplah Allah bagiku, aku bertawakal kepada Allah. Atas kehendak Allah, tidak ada yang mendatangkan kebaikan kecuali Allah. Atas kehendak Allah, tidak ada yang memalingkan keburukan kecuali Allah. Cukuplah Allah bagiku dan cukuplah Dialah Pelindung. Allah mendengar siapa saja yang berdoa. Tidak ada kesudahan di luar kehendak Allah dan tidak ada tempat berlindung selain Allah. 'Allah telah menetapkan: Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.' Aku membentengi diri dengan Allah Yang Maha Agung dan aku memohon pertolongan kepada Yang Maha Hidup lagi Terus-Menerus Mengurus makhluk-Nya yang tidak pernah mati. Ya Allah, jagalah kami dengan mata-Mu yang tidak pernah tidur, dan lindungilah kami dengan tiang perlindungan-Mu yang tidak dapat ditembus. Ya Allah, rahmatilah kami dengan kekuasaan-Mu atas kami sehingga kami tidak binasa, sedangkan Engkau adalah tumpuan kepercayaan dan harapan kami. Ya Allah, lembutkanlah hati hamba-hamba-Mu yang laki-laki dan perempuan kepada kami dengan kelembutan dan kasih sayang, sesungguhnya Engkau Maha Penyayang di antara para penyayang."

التاسع أَنْ يَرْفُقَ بِالدَّابَّةِ إِنْ كَانَ رَاكِبًا فَلَا يُحَمِّلُهَا مَا لَا تُطِيقُ

Kesembilan: Hendaklah ia bersikap lembut kepada hewan tunggangannya jika ia mengendarai, yaitu dengan tidak membebaninya di luar batas kemampuannya.

وَلَا يَضْرِبُهَا فِي وجهها فإنه منهي عنه ولا ينام عليها فإنه يثقل بالنوم وتتأذى به الدابة كان أهل الورع لا ينامون على الدواب إلا غفوة وقال ﷺ لا تتخذوا ظهور دوابكم كراسي

Dan hendaknya ia tidak memukul wajah hewan tunggangannya, karena hal itu dilarang. Ia juga tidak boleh tidur di atas punggungnya, sebab beban tubuhnya menjadi berat saat tidur dan menyakiti hewan tersebut. Dahulu, orang-orang yang memiliki sifat wara' tidak pernah tidur di atas hewan tunggangan kecuali sekadar kantuk yang sekejap. Rasulullah ﷺ bersabda: "Janganlah kalian menjadikan punggung-punggung hewan tunggangan kalian sebagai kursi."

ويستحب أن ينزل عن الدابة غدوة وعشية يروحها بذلك

Disunnahkan untuk turun dari hewan tunggangan di waktu pagi dan petang hari demi memberi istirahat kepadanya dengan cara tersebut.

فهو سنة وفيه آثار عن السلف

Hal itu merupakan sunnah dan terdapat riwayat-riwayat (atsar) dari para ulama Salaf mengenai hal ini.

وكان بعض السلف يكتري بشرط أن لا ينزل ويوفي الأجرة

Sebagian ulama Salaf pernah menyewa hewan tunggangan dengan syarat tidak akan turun (sepanjang perjalanan) dan menyempurnakan pembayaran biayanya,

ثم كان ينزل ليكون بذلك محسنا إلى الدابة فيوضع في ميزان حسناته لا في ميزان حسنات المكارى

kemudian ia tetap memilih turun agar dengan begitu ia berbuat kebaikan kepada hewan tunggangan tersebut, sehingga pahalanya diletakkan dalam timbangan kebaikannya sendiri, bukan dalam timbangan kebaikan pemilik hewan.

ومن آذى بهيمة بضرب أو حمل ما لا تطيق طولب به يوم القيامة إذ في كل كبد حراء أجر

Barangsiapa menyakiti hewan ternak dengan memukul atau membebaninya di luar kemampuannya, ia akan dituntut atas perbuatannya itu pada hari kiamat, sebab pada setiap limpa yang basah (makhluk hidup) terdapat pahala.

قال أبو الدرداء ﵁ لبعير له عند الموت أيها البعير لا تخاصمني إلى ربك فإني لم أك أحملك فوق طاقتك

Abu ad-Darda' radhiyallahu 'anhu pernah berkata kepada untanya menjelang wafatnya, "Wahai unta, janganlah engkau memperkarakan aku di hadapan Tuhanmu, karena sesungguhnya aku tidak pernah membebanimu di luar kemampuanmu."

وفي النزول ساعة صدقتان إحداهما ترويح الدابة والثانية إدخال السرور على قلب المكاري

Dalam tindakan turun dari hewan tunggangan sesaat terdapat dua jenis sedekah: pertama, memberi istirahat kepada hewan tunggangan, dan kedua, memasukkan rasa bahagia ke dalam hati pemilik hewan.

وفي فائدة أخرى وهي رياضة البدن وتحريك الرجلين

Di samping itu, terdapat manfaat lain yaitu olah fisik tubuh dan menggerakkan kedua kaki,

والحذر من خدر الأعضاء بطول الركوب

serta menjaga diri dari matinya rasa (kesemutan) pada anggota badan akibat terlalu lama menunggangi.

وينبغي أن يقرّر مع المكاري ما يحمله عليها شيئاً شيئاً ويعرضه عليه ويستأجر الدابة بعقد صحيح لئلا يثور بينهما نزاع يؤذي القلب ويحمل على الزيادة في الكلام فما يلفظ العبد من قول إلا لديه رقيب عتيد

Hendaknya ia menyepakati bersama pemilik hewan beban apa saja yang akan diangkut dengannya secara rinci satu per satu dan memperlihatkannya kepadanya, serta menyewa hewan tersebut dengan akad yang sah (sesuai Fiqih) agar tidak timbul perselisihan di antara keduanya yang dapat mengotori hati dan memicu ucapan berlebihan; padahal tidak ada satu ucapan pun yang diucapkan seorang hamba melainkan di sisinya ada malaikat Raqib dan Atid.

فليحترز عن كثرة الكلام واللجاج مع المكارى فلا ينبغي أَنْ يَحْمِلَ فَوْقَ الْمَشْرُوطِ شَيْئًا وَإِنْ خَفَّ

Maka hendaklah ia menjaga diri dari terlalu banyak bicara dan berbantah-bantahan dengan pemilik hewan. Tidak sepatutnya ia membebani hewan tersebut melebihi apa yang telah diperjanjikan sedikit pun, meskipun beban itu ringan.

فإن القليل يجر الكثير ومن حام حول الحمى يوشك أن يقع فيه

Sebab, hal yang sedikit dapat menyeret kepada yang banyak, dan barangsiapa menggembala di sekitar kawasan terlarang, dikhawatirkan ia akan terperosok ke dalamnya.

قَالَ رَجُلٌ لِابْنِ الْمُبَارَكِ وَهُوَ عَلَى دَابَّةٍ احْمِلْ لِي هَذِهِ الرُّقْعَةَ إِلَى فُلَانٍ فَقَالَ حَتَّى أَسْتَأْذِنَ الْمَكَارِي فَإِنِّي لَمْ أُشَارِطْهُ عَلَى هَذِهِ الرُّقْعَةِ

Seseorang pernah berkata kepada Abdullah ibnul Mubarak ketika beliau berada di atas hewan tunggangan, "Bawakanlah surat kecil ini untukku kepada si Fulan!" Beliau menjawab, "Tunggu sampai aku meminta izin terlebih dahulu kepada pemilik hewan, karena aku belum memperjanjikan akad atas surat kecil ini kepadanya."

فَانْظُرْ كَيْفَ لَمْ يَلْتَفِتْ إِلَى قَوْلِ الْفُقَهَاءِ إِنَّ هَذَا مِمَّا يُتَسَامَحُ فِيهِ ولكن

Maka lihatlah bagaimana beliau tidak memandang pendapat para ahli fikih yang menyatakan bahwa hal semacam ini termasuk perkara yang dapat dimaklumi (ditoleransi), akan tetapi…

سلك طريق الورع

beliau lebih memilih menempuh jalan wara' (kehati-hatian spiritual).

العاشر ينبغي أن يستصحب ستة أشياء

Adab kesepuluh, hendaknya ia membawa enam jenis barang perbekalan.

قالت عائشة ﵂ كان رسول الله ﷺ إذا سافر حمل معه خمسة أشياء

Aisyah radhiyallahu 'anha berkata, "Rasulullah ﷺ apabila melakukan perjalanan, beliau selalu membawa lima perkara:

المرآة والمكحلة والمقراض والسواك والمشط

cermin, tempat celak, gunting, siwak, dan sisir."

وفي رواية أخرى عنها ستة أشياء المرآة والقارورة والمقراض والسواك والمكحلة والمشط

Dalam riwayat lain darinya disebutkan enam perkara: cermin, botol minyak, gunting, siwak, tempat celak, dan sisir.

وقالت أم سعد الأنصارية كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لا يفارقه في السفر المرآة والمكحلة

Ummu Sa'ad al-Anshariyyah berkata bahwa Rasulullah ﷺ tidak pernah berpisah saat bepergian (safar) dari cermin dan tempat celak.

وقال صهيب قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عليكم بالإثمد عند مضجعكم فإنه مما يزيد في البصر وينبت الشعر

Suhaib berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Gunakanlah itsmid (batu celak) ketika hendak tidur, karena sesungguhnya ia dapat mempertajam penglihatan dan menumbuhkan bulu mata."

وروي أنه كان يكتحل ثلاثاً ثلاثا وفي رواية أنه اكتحل لليمنى ثلاثا ولليسرى ثنتين

Diriwayatkan bahwa beliau bercelak tiga kali pada masing-masing mata. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau bercelak tiga kali untuk mata kanan dan dua kali untuk mata kiri.

وقد زاد الصوفية الركوة والحبل

Para Sufi menambahkan rikwah (wadah air dari kulit) dan tali.

وقال بعض الصوفية إذا لم يكن مع الفقير ركوة وحبل دل على نقصان دينه

Sebagian kaum Sufi berkata, "Jika seorang faqir (penempuh jalan tasawuf) tidak membawa rikwah dan tali, hal itu menunjukkan kekurangan dalam agamanya."

وإنما زادوا هذا لما رأوه من الإحتياط في طهارة الماء وغسل الثياب فالركوة لحفظ الماء الطاهر والحبل لتجفيف الثوب المغسول ولنزع الماء من الآبار

Mereka menambahkan kedua benda ini tidak lain karena pertimbangan kehati-hatian (ihthiyath) dalam hal kesucian air dan mencuci pakaian. Rikwah berfungsi untuk menyimpan air yang suci, sedangkan tali berfungsi untuk mengeringkan pakaian yang telah dicuci serta untuk menimba air dari sumur.

وكان الْأَوَّلُونَ يَكْتَفُونَ بِالتَّيَمُّمِ وَيُغْنُونَ أَنْفُسَهُمْ عَنْ نَقْلِ الْمَاءِ

Sementara orang-orang terdahulu (generasi Salaf) mencukupkan diri dengan bertayamum dan tidak membebani diri untuk membawa air.

وَلَا يُبَالُونَ بِالْوُضُوءِ مِنَ الْغُدْرَانِ وَمِنَ الْمِيَاهِ كُلِّهَا مَا لَمْ يَتَيَقَّنُوا نَجَاسَتَهَا حَتَّى تَوَضَّأَ عُمَرُ ﵁ مِنْ مَاءٍ في جرة نصرانية

Mereka juga tidak berkeberatan untuk berwudu dari genangan air atau dari air apa pun selama belum meyakini kenajisannya, hingga Umar radhiyallahu 'anhu pun pernah berwudu dari air yang berada di dalam tempat air milik seorang wanita Nasrani.

وكانوا يكتفون بالأرض والجبال عن الحبل فيفرشون الثياب المغسولة عليها

Mereka mencukupkan diri dengan permukaan tanah dan pegunungan sebagai pengganti tali, lalu membentangkan pakaian yang telah dicuci di atasnya.

فهذه بدعة إلا أنها بدعة حسنة وإنما البدعة المذمومة ما تضاد السنن الثابتة وأما ما يعين على الإحتياط في الدين فمستحسن

Maka hal ini merupakan bid'ah (perkara baru), namun termasuk bid'ah hasanah (kebaruan yang baik). Sesungguhnya bid'ah yang tercela adalah apa yang menentang sunnah-sunnah yang telah tetap. Adapun sesuatu yang membantu sikap hati-hati (ihthiyath) dalam menjalankan agama, maka hal itu dianggap baik (mustahsan).

وقد ذكرنا أحكام المبالغة في الطهارات في

Sungguh telah kami sebutkan hukum-hukum mengenai sikap berlebihan (mubalaghah) dalam bersuci di dalam…

كتاب الطهارة وأن المتجرد لأمر الدين لا ينبغي أن يؤثر طريق الرخصة

…Kitab Ath-Thaharah (Kitab Bersuci), bahwasanya orang yang mengabdikan diri sepenuhnya untuk urusan agama tidak sepatutnya lebih memilih jalan kemudahan (rukhshah).

بل يحتاط في الطهارة ما لم يمنعه ذلك عن عمل أفضل منه

Melainkan ia hendaknya bersikap hati-hati dalam bersuci, selama hal itu tidak menghalanginya dari amal yang lebih utama.

وقيل كان الخواص من المتوكلين وكان لا يفارقه أربعة أشياء في السفر والحضر الركوة والحبل والإبرة بخيوطها والمقراض وكان يقول هذه ليست من الدنيا

Dikatakan bahwa Abu Bakar al-Khawwash termasuk jajaran orang yang bertawakal secara sempurna (khawwash), dan beliau tidak pernah berpisah dari empat benda baik dalam perjalanan maupun saat menetap: rikwah, tali, jarum beserta benangnya, dan gunting. Beliau berkata, "Benda-benda ini tidak termasuk bagian dari perkara dunia."

الحادي عشر فِي آدَابِ الرُّجُوعِ مِنَ السَّفَرِ كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا قَفَلَ مِنْ غزو أو حج أو عمرة أو غيره يُكَبِّرُ عَلَى كُلِّ شَرَفٍ مِنَ الْأَرْضِ ثَلَاثَ تَكْبِيرَاتٍ وَيَقُولُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ آيِبُونَ تَائِبُونَ عَابِدُونَ سَاجِدُونَ لِرَبِّنَا حَامِدُونَ صَدَقَ اللَّهُ وَعْدَهُ ونصر عبده وهزم الأحزاب وحده

Kesebelas: Mengenai adab-adab kembali dari perjalanan (safar). Apabila Nabi ﷺ kembali dari peperangan, haji, umrah, atau perjalanan lainnya, beliau bertakbir tiga kali di setiap tempat yang tinggi, lalu mengucapkan: "Tidak ada tuhan selain Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nyalah seluruh kerajaan dan milik-Nyalah segala pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Kami kembali, bertobat, beribadah, bersujud, dan kepada Tuhan kami, kami mengagungkan pujian. Allah telah menepati janji-Nya, memenangkan hamba-Nya, dan menghancurkan pasukan sekutu dengan keesaan-Nya."

وإذا أشرف على مدينته فليقل اللهم اجعل لنا بها قرارا ورزقاً حسناً

Dan apabila ia telah tampak melihat kotanya, hendaknya ia mengucapkan: "Ya Allah, jadikanlah bagi kami di dalamnya tempat tinggal yang ketenteraman dan rezeki yang baik."

ثم ليرسل الى أهله من يبشرهم بقدومه كيلا يقدم عليهم بغتة فيرى ما يكرهه ولا ينبغي له أن يطرقهم ليلا

Kemudian hendaknya ia mengutus seseorang kepada keluarganya untuk memberi kabar gembira atas kedatangannya, agar ia tidak mengejutkan mereka secara tiba-tiba sehingga melihat apa yang tidak disukainya, dan tidak sepatutnya ia mendatangi mereka pada malam hari.

فقد ورد النهي عنه

Sebab telah terdapat larangan syariat mengenai hal tersebut.

وَكَانَ ﷺ إِذَا قَدِمَ دَخَلَ الْمَسْجِدَ أَوَّلًا وَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ دَخَلَ البيت

Rasulullah ﷺ apabila tiba dari perjalanan, beliau terlebih dahulu masuk ke masjid dan melaksanakan shalat dua rakaat, kemudian barulah masuk ke dalam rumah.

وإذا دخل قال توباً توباً لربنا أوبا أوبا لا يغادر علينا حوبا

Ketika masuk ke rumah, beliau mengucapkan: "Tobatan, tobatan, lirabbina auban, auban, la yughadiru 'alaina hauban (Kami memohon tobat yang sungguh-sungguh, kepada Tuhan kami kami kembali, dengan kembalinya jiwa yang tidak menyisakan dosa bagi kami)."

وَيَنْبَغِي أَنْ يَحْمِلَ لِأَهْلِ بَيْتِهِ وَأَقَارِبِهِ تُحْفَةً مِنْ مَطْعُومٍ أَوْ غَيْرِهِ عَلَى قَدْرِ إِمْكَانِهِ فهو سنة

Hendaknya seseorang membawa oleh-oleh (buah tangan) berupa makanan atau lainnya bagi keluarganya dan kerabatnya sesuai dengan kemampuannya, sebab hal itu merupakan sebuah sunnah.

فقد روي أنه إن لم يجد شيئاً فليضع في مخلاته حجرا

Sungguh telah diriwayatkan bahwa jika ia tidak menemukan sesuatu pun (untuk dibawa), hendaknya ia memasukkan sebongkah batu ke dalam kantong perbekalannya.

وكأن هذا مبالغة في الإستحثاث على هذه المكرمة لأن الْأَعْيُنَ تَمْتَدُّ إِلَى الْقَادِمِ مِنَ السَّفَرِ وَالْقُلُوبُ تَفْرَحُ بِهِ فَيَتَأَكَّدُ الِاسْتِحْبَابُ فِي تَأْكِيدِ فَرَحِهِمْ وَإِظْهَارِ الْتِفَاتِ الْقَلْبِ فِي السَّفَرِ إِلَى ذِكْرِهِمْ بما يستصحبه في الطريق لهم فهذه جُمْلَةٌ مِنَ الْآدَابِ الظَّاهِرَةِ

Seolah-olah hal ini merupakan dorongan yang amat sangat (mubalaghah) terhadap kebaikan yang mulia ini. Sebab, pandangan mata orang-orang tertuju kepada orang yang baru kembali dari perjalanan dan hati mereka bersuka cita menyambutnya. Oleh karena itu, sangat dianjurkan (sunnah muakkadah) untuk menegaskan kegembiraan mereka serta menunjukkan keterikatan hati selama di perjalanan untuk senantiasa mengingat mereka melalui apa yang dibawanya di jalan. Inilah sekumpulan adab-adab lahiriah.

وَأَمَّا الْآدَابُ الْبَاطِنَةُ فَفِي الْفَصْلِ الْأَوَّلِ بَيَانُ جُمْلَةٍ مِنْهَا

Adapun adab-adab batiniah, penjelasan mengenai sekumpulannya telah dipaparkan pada pasal pertama.

وَجُمْلَتُهُ أَنْ لَا يُسَافِرَ إِلَّا إِذَا كَانَ زِيَادَةً دينه في السفر

Intinya adalah hendaknya seseorang tidak melakukan perjalanan (safar) kecuali jika perjalanan itu dapat menambah kualitas agamanya.

ومهما وجد قلبه متغيراً الى نقصان فيقف ولينصرف ولا ينبغي أن يجاوز همه منزله بل ينزل حيث ينزل قلبه وَيَنْوِي فِي دُخُولِ كُلِّ بَلْدَةٍ أَنْ يَرَى شيوخها ويجتهد أن يستفيد من كل واحد منهم أدباً أو كلمة لينتفع بها لا ليحكي ذلك ويظهر أنه لقى المشايخ

Kapan pun ia mendapati hatinya berubah menuju kekurangan (kemunduran spiritual), hendaklah ia berhenti dan kembali. Hendaknya keinginan hatinya tidak melampaui persinggahannya, melainkan ia singgah di mana hatinya merasa tenang. Dalam memasuki setiap negeri, hendaknya ia berniat untuk menemui para syekh (guru spiritual)-nya dan bersungguh-sungguh menimba manfaat berupa adab atau tutur kata dari setiap mereka agar dapat dipergunakan, bukan untuk menceritakannya atau memamerkan bahwa ia telah bertemu dengan para syekh.

ولا يقيم ببلدة أكثر من أسبوع أو عشرة أيام إلا أن يأمره الشيخ المقصود بذلك

Ia tidak boleh menetap di suatu kota lebih dari seminggu atau sepuluh hari, kecuali jika syekh yang ditujunya memerintahkannya untuk hal tersebut.

ولا يجالس في مدّة الإقامة إلا الفقراء الصادقين وإن كان قصده زيارة أخ فلا يزيد على ثلاثة أيام فهو حَدُّ الضِّيَافَةِ إِلَّا إِذَا شَقَّ عَلَى أَخِيهِ مفارقته

Selama masa tinggalnya, hendaknya ia tidak duduk bermajelis melainkan bersama para fuqara' yang jujur (orang-orang yang tulus berhajat kepada Allah). Dan jika tujuannya adalah mengunjungi seorang saudara seiman, janganlah ia berdiam lebih dari tiga hari, karena itu adalah batas maksimal penerimaan tamu, kecuali jika perpisahan dengannya terasa berat bagi saudaranya tersebut.

وإذا قصد زيارة شيخ فلا يقيم عنده أكثر من يوم وليلة

Dan apabila ia berniat mengunjungi seorang syekh, hendaklah ia tidak tinggal di sisinya lebih dari sehari semalam.

ولا يشغل نفسه بالعشرة فإن ذلك يقطع بركة سفره

Janganlah ia menyibukkan dirinya dengan pergaulan sosial yang berlebihan, karena hal tersebut dapat memutuskan keberkahan perjalanannya.

وكلما دخل بلداً لا يشتغل بشيء سوى زيارة الشيخ بزيارة منزله فإن كان في بيته فلا يدق عليه بابه ولا يستأذن عليه إلى أن يخرج فإذا خرج تقدم إليه بأدب فسلم عليه ولا يتكلم بين يديه إلا أن يسأله فإن سأله أجاب بقدر السؤال ولا يسأله عن مسألة ما لم يستأذن أولاً

Setiap kali memasuki suatu kota, hendaknya ia tidak disibukkan oleh sesuatu pun selain mendatangi kediaman syekh untuk berziarah. Jika syekh tersebut sedang berada di dalam rumahnya, hendaknya ia tidak mengetuk pintunya dan tidak meminta izin masuk sampai syekh itu keluar sendiri. Apabila beliau keluar, hendaklah ia mendekat dengan penuh adab lalu mengucapkan salam, serta tidak berbicara di hadapannya kecuali jika ditanya. Jika ditanya, ia menjawab seperlunya sesuai pertanyaan, dan tidak mengajukan pertanyaan tentang suatu masalah sebelum meminta izin terlebih dahulu.

وإذا كان في السفر فلا يكثر ذكر أطعمة البلدان وأسخيائها ولا ذكر أصدقائه فيها وليذكر مشايخها وفقراءها

Ketika sedang dalam perjalanan, hendaknya ia tidak banyak menyebut kelezatan makanan dari kota-kota yang dilaluinya maupun kedermawanan penduduknya, serta tidak banyak menyebut kawan-kawannya di sana. Hendaklah ia justru mengenang para syekh dan kaum fuqara'-nya.

ولا يهمل في سفره زيارة قبور الصالحين بل يتفقدها في كل قرية وبلدة

Hendaknya ia tidak mengabaikan ziarah ke makam orang-orang saleh dalam perjalanannya, melainkan ia senantiasa menziarahinya di setiap desa dan kota.

ولا يظهر حاجته إلا بقدر الضرورة ومع من يقدر على إزالتها

Hendaknya ia tidak menampakkan kebutuhannya kecuali sekadar darurat dan hanya kepada orang yang diperkirakan mampu menghilangkannya.

ويلازم في الطريق الذكر وقراءة القرآن بحيث لا يسمع غيره

Hendaknya ia senantiasa membiasakan zikir dan membaca Al-Qur'an selama di perjalanan dengan suara lirih sekiranya tidak terdengar oleh orang lain.

وإذا كلمه إنسان فليترك الذكر وليجبه ما دام يحدثه ثم ليرجع إلى ما كان عليه

Jika seseorang mengajak berbicara dengannya, hendaklah ia menghentikan zikir sejenak dan melayaninya berbicara selama orang itu mengatakannya, kemudian kembali kepada zikirnya semula.

فإن تبرمت نفسه بالسفر أو بالإقامة فليخالفها فالبركة في مخالفة النفس

Apabila nafsunya merasa jemu dengan perjalanan atau dengan menetap, hendaknya ia menyelisihi nafsunya itu, karena keberkahan terletak pada upaya menentang hawa nafsu.

وإذا تيسرت له خدمة قوم صالحين فلا ينبغي له أن يسافر تبرماً بالخدمة فذلك كفران نعمة

Apabila ia diberi kemudahan untuk berkhidmat kepada kaum yang saleh, tidak selayaknya ia bepergian karena merasa jemu dengan khidmat tersebut, sebab hal itu merupakan bentuk kufur nikmat.

ومهما وجد نفسه في نقصان عما كان عليه في الحضر فليعلم أن سفره معلول وليرجع إذ لو كان لحق لظهر أثره

Kapan pun ia mendapati dirinya berada dalam kemunduran keadaan spiritual dibandingkan saat ia mukim, hendaklah ia menyadari bahwa perjalanannya itu cacat (berpenyakit), dan hendaklah ia kembali; sebab sekiranya perjalanan itu dilakukan karena kebenaran (Allah), niscaya tampaklah pengaruh positifnya.

قال رجل لأبي عثمان المغربي خرج فلان مسافراً فقال السفر غربة والغربة ذلة وليس للمؤمن أن يذل نفسه وأشار به إلى أن من ليس له في السفر زيادة دين فقد أذل نفسه وإلا فعز الدين لا ينال إلا بذلة الغربة

Seseorang berkata kepada Abu 'Utsman Al-Maghribi, "Fulan telah berangkat melakukan perjalanan." Abu 'Utsman lalu berkata, "Safar itu adalah keterasingan, dan keterasingan adalah kehinaan, sedangkan seorang mukmin tidak sepatutnya menghinakan dirinya sendiri." Beliau mengisyaratkan dengan ucapan ini bahwa barangsiapa yang perjalanannya tidak menambah kualitas agamanya, maka sungguh ia telah menghinakan dirinya sendiri. Jika tidak demikian, sesungguhnya kemuliaan agama tidaklah diperoleh melainkan melalui perantaraan kehinaan keterasingan dalam perkelanaan.

فليكن سفر المريد من وطن هواه ومراده وطبعه حتى يعز في هذه الغربة ولا يذل فإن من اتبع هواه في سفره ذل لا محالة إما عاجلاً وإما آجلاً

Hendaklah perjalanan (safar) seorang murid bermula dari meninggalkan "negeri" hawa nafsu, keinginan pribadi, dan watak dasarnya, agar ia menjadi mulia dalam pengasingan (keterasingan spiritual) ini dan tidak menjadi hina. Sebab barang siapa yang mengikuti hawa nafsunya dalam perjalanannya, niscaya ia akan terhina secara pasti, baik dalam waktu dekat (di dunia) maupun di masa depan (di akhirat).

الباب الثاني فيما لَا بُدَّ لِلْمُسَافِرِ مِنْ تَعَلُّمِهِ مِنْ رُخَصِ السفر وأدلة القبلة

Bab Kedua: Tentang Hal-Hal yang Wajib Dipelajari oleh Musafir, Yaitu Keringanan-Keringanan (Rukhsah) Perjalanan dan Petunjuk-Petunjuk Arah Kiblat

والأوقات

dan Waktu-Waktu Shalat.

اعْلَمْ أَنَّ الْمُسَافِرَ يَحْتَاجُ فِي أَوَّلِ سَفَرِهِ الى أن يتزوّد لدنياه ولآخرته

Ketahuilah bahwa seorang musafir pada awal perjalanannya perlu menyiapkan bekal untuk dunianya dan akhiratnya.

أما زَادُ الدُّنْيَا فَالطَّعَامُ وَالشَّرَابُ وَمَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ من نفقة

Adapun bekal dunia adalah makanan, minuman, dan nafkah (biaya) yang diperlukannya.

فإن خرج متوكلاً مِنْ غَيْرِ زَادٍ فَلَا بَأْسَ بِهِ إِذَا كَانَ سَفَرُهُ فِي قَافِلَةٍ أَوْ بَيْنَ قُرًى مُتَّصِلَةٍ

Jika ia berangkat dengan bertawakal tanpa membawa bekal, maka hal itu tidak mengapa apabila perjalanannya dilakukan bersama rombongan (kafilah) atau melintasi desa-desa yang saling bersambung.

وَإِنْ رَكِبَ الْبَادِيَةَ وَحْدَهُ أَوْ مَعَ قَوْمٍ لَا طَعَامَ مَعَهُمْ وَلَا شَرَابَ فَإِنْ كَانَ مِمَّنْ يَصْبِرُ عَلَى الْجُوعِ أُسْبُوعًا أَوْ عشراً مثلاً أو يقدر على أن يَكْتَفِي بِالْحَشِيشِ فَلَهُ ذَلِكَ

Namun jika ia mengarungi padang sahara seorang diri atau bersama sekelompok orang yang tidak membawa makanan dan minuman, lalu ia termasuk orang yang sanggup bersabar menahan lapar selama seminggu atau sepuluh hari misalnya, atau mampu mencukupi diri hanya dengan memakan dedaunan/rumput, maka ia diperbolehkan berbuat demikian.

وَإِنْ لَمْ يَكُنْ له قوّة الصبر على الجوع ولا القدرة على الاجتزاء بالحشيش فخروجه منغير زَادٍ مَعْصِيَةٌ فَإِنَّهُ أَلْقَى نَفْسَهُ بِيَدِهِ إِلَى التهلكة ولهذا سر سيأتي في كتاب التوكل

Apabila ia tidak memiliki kekuatan untuk bersabar menahan lapar dan tidak pula mampu mencukupi diri dengan dedaunan, maka kepergiannya tanpa membawa bekal adalah suatu kemaksiatan, karena ia telah menjatuhkan dirinya ke dalam kebinasaan dengan tangannya sendiri. Di balik hal ini terdapat rahasia yang akan dijelaskan kelak dalam Kitab Tawakal.

وَلَيْسَ مَعْنَى التَّوَكُّلِ التَّبَاعُدُ عَنِ الْأَسْبَابِ بِالْكُلِّيَّةِ ولو كان كذلك لبطل التوكل بطلب الدلو والحبل ونزع الماء من البئر ولوجب أَنْ يَصْبِرَ حَتَّى يُسَخِّرَ اللَّهُ لَهُ مَلَكًا أَوْ شَخْصًا آخَرَ حَتَّى يَصُبَّ الْمَاءَ فِي فيه

Makna tawakal bukanlah menjauhi sebab-sebab (ikhtiar) secara keseluruhan. Sekiranya demikian, niscaya tawakal akan batal hanya karena seseorang mencari timba dan tali lalu menimba air dari sumur, dan niscaya ia wajib bersabar hingga Allah menundukkan seorang malaikat atau orang lain untuk menuangkan air langsung ke dalam mulutnya.

فإن كان حفظ الدلو والحبل لا يقدح في التوكل وهو آلة الوصول إلى المشروب فحمل عين المطعوم والمشروب حيث لا ينتظر له وجود أولى بأن لا يقدح فيه

Jika menyimpan timba dan tali tidak mencederai tawakal—padahal keduanya hanyalah sarana untuk memperoleh minuman—maka membawa wujud fisik makanan dan minuman di tempat yang tidak dapat dipastikan keberadaannya tentu lebih utama untuk tidak mencederai tawakal.

وستأتي حقيقة التوكل في موضعها فإنه يلتبس إلا على المحققين من علماء الدين

Hakikat tawakal akan dijelaskan pada tempatnya nanti, sebab masalah ini samar kecuali bagi para ulama agama yang mendalam ilmunya (al-muhaqqiqûn).

وَأَمَّا زَادُ الْآخِرَةِ فَهُوَ الْعِلْمُ الَّذِي يَحْتَاجُ إليه في طهارته وصومه وصلاته وعبادته فلا بد وأن يتزود منه إذ السفر تارة يخفف عنه أموراً فيحتاج الى معرفة القدر الذي يخففه السفر كالقصر والجمع والفطر وتارة يشدد عليه أموراً كان مستغنياً عنها في الحضر كالعلم بالقبلة وأوقات الصلوات فإنه في البلد يكتفي بغيره من محاريب المساجد وأذان المؤذنين وفي السفر قد يحتاج الى أن يتعرّف بنفسه

Adapun bekal akhirat adalah ilmu yang dibutuhkannya dalam bersuci, berpuasa, shalat, dan ibadahnya. Maka ia harus membekali diri dengannya, sebab perjalanan terkadang memberikan keringanan dalam beberapa hal, sehingga ia perlu mengetahui kadar keringanan tersebut, seperti meng-qashar shalat, meng-jamak, dan berbuka puasa. Di sisi lain, perjalanan terkadang menuntut hal-hal yang sebelumnya tidak terlalu ia butuhkan ketika tidak bepergian (mukim), seperti pengetahuan tentang arah kiblat dan waktu-waktu shalat. Sebab ketika berada di pemukimannya, ia cukup mengandalkan mihrab-mihrab masjid dan azan para muazin, sedangkan dalam perjalanan ia terkadang harus mengetahuinya sendiri.

فإذن ما يفتقر الى تعلمه ينقسم الى قسمين القسم الأول العلم برخص السفر

Dengan demikian, hal-hal yang perlu dipelajari terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama: Ilmu tentang keringanan-keringanan (rukhsah) perjalanan.

والسفر يُفِيدُ فِي الطَّهَارَةِ رُخْصَتَيْنِ مَسْحَ الْخُفَّيْنِ وَالتَّيَمُّمَ وَفِي صَلَاةِ الْفَرْضِ رُخْصَتَيْنِ الْقَصْرَ وَالْجَمْعَ وَفِي النفل رخصتين أداؤه على الراحلة وأداؤه مَاشِيًا وَفِي الصَّوْمِ رُخْصَةً وَاحِدَةً وَهِيَ الْفِطَرُ فهذه سبع رخص

Perjalanan memberikan dua keringanan (rukhsah) dalam hal bersuci, yaitu mengusap dua khuff (sepatu kulit) dan tayamum; dua keringanan dalam shalat fardhu, yaitu qashar dan jamak; dua keringanan dalam shalat sunnah (nafilah), yaitu melaksanakannya di atas kendaraan dan menjalankannya sambil berjalan kaki; serta satu keringanan dalam puasa, yaitu berbuka (tidak berpuasa). Maka seluruhnya ada tujuh keringanan.

الرخصة الأولى المسح على الخفين قال صفوان بن عسال أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إذا كنا مسافرين أو سفر أَنْ لَا نَنْزِعَ خِفَافَنَا ثَلَاثَةَ أَيَّامِ وَلَيَالِيهِنَّ

Keringanan pertama: Mengusap kedua khuff (sepatu kulit). Shafwan bin 'Assal berkata: "Rasulullah ﷺ memerintahkan kami apabila kami sedang bepergian (dalam perjalanan) untuk tidak melepas sepatu kulit (khuff) kami selama tiga hari tiga malam."

فَكُلُّ مَنْ لَبِسَ الْخُفَّ عَلَى طَهَارَةٍ مُبِيحَةٍ لِلصَّلَاةِ ثُمَّ أَحْدَثَ فَلَهُ أَنْ يَمْسَحَ عَلَى خُفِّهِ مِنْ وَقْتِ حَدَثِهِ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ وَلَيَالِيهِنَّ إِنْ كَانَ مُسَافِرًا أَوْ يَوْمًا وَلَيْلَةً إِنْ كان مقيماً ولكن بخمسة شروط

Maka setiap orang yang mengenakan khuff dalam keadaan suci yang membolehkan shalat, kemudian ia berhadas, ia boleh mengusap khuff-nya terhitung sejak waktu ia berhadas selama tiga hari tiga malam jika ia seorang musafir, atau sehari semalam jika ia menetap (mukim), tetapi dengan lima syarat.

الأول أن يكون اللبس بعد كمال الطهارة فلو غسل الرجل اليمنى وأدخلها في الخف ثم غسل اليسرى فأدخلها في الخف لم يجز له المسح عند الشافعي ﵀ حتى ينزع اليمنى ويعيد لبسه

Pertama: Pemakaian khuff dilakukan setelah bersuci secara sempurna. Jika seseorang membasuh kaki kanan lalu memasukkannya ke dalam khuff, kemudian membasuh kaki kiri lalu memasukkannya ke dalam khuff, maka tidak boleh baginya mengusap menurut Imam Asy-Syafi'i rahimahullah hingga ia melepas kembali khuff kaki kanan dan mengenakannya ulang.

الثاني أن يكون الخف قوياً يمكن المشي فيه ويجوز المسح على الخف وإن لم يكن منعلاً إذ العادة جارية بالتردد فيه في المنازل لأن فيه قوة على الجملة بخلاف جورب الصوفية فإنه لا يجوز المسح عليه وكذا الجرموق الضعيف

Kedua: Khuff tersebut harus kuat dan memungkinkan untuk dipakai berjalan. Boleh mengusap khuff meskipun tidak diberi sol bawah (beralas keras), karena kebiasaan yang berlaku adalah menggunakannya untuk berlalu-lalang di dalam rumah sebab secara umum ia cukup kuat. Berbeda dengan kaus kaki para sufi (kaus kaki kain biasa), maka tidak boleh mengusap di atasnya, begitu pula jurmuq (sepatu pelapis luar) yang lemah.

الثالث أن لا يكون في موضع فرض الغسل خرق فإن تخرق بحيث انكشف محل الفرض لم يجز المسح عليه

Ketiga: Tidak ada robekan pada bagian yang wajib dibasuh. Jika robek hingga menyingkap bagian yang wajib dibasuh, maka tidak boleh mengusap di atasnya.

وللشافعي قول قديم إنه يجوز ما دام يستمسك على الرجل وهو مذهب مالك ﵁

Namun Imam Asy-Syafi'i memiliki pendapat lama (qaul qadîm) bahwa hal itu tetap boleh selama khuff tersebut masih melekat dan dapat bertahan di kaki, dan ini juga merupakan mazhab Imam Malik radhiyallahu 'anhu.

ولا بأس به لمسيس الحاجة إليه وتعذر الخرز في السفر في كل وقت

Dan hal tersebut tidak apa-apa (diperbolehkan) karena mendesaknya kebutuhan terhadapnya serta sulitnya menjahit khuff di setiap waktu dalam perjalanan.

والمداس المنسوج يجوز المسح عليه مهما كان ساترا لا تبدو بشرة القدم من خلاله وكذا المشقوق الذي يرد على محل الشق بشرج لأن الحاجة تمس الى جميع ذلك فلا يعتبر إلا أن يكون ساتراإلى ما فوق الكعبين كيفما كان

Sepatu tenun (al-madas al-mansyuj) boleh diusap bagian atasnya selama dapat menutupi bagian wajib wudhu sehingga kulit kaki tidak tampak dari sela-selanya. Begitu pula sepatu yang robek tetapi bagian yang robek tersebut disatukan kembali dengan tali/pengikat, karena kebutuhan sangat mendesak terhadap semua itu. Oleh karena itu, kriteria yang diperhitungkan hanyalah keadaannya yang menutupi hingga di atas kedua mata kaki, bagaimanapun bentuknya.

فأما إذا ستر بعض ظهر القدم وستر الباقي باللفافة لم يجز المسح عليه

Adapun jika khuff hanya menutupi sebagian punggung kaki dan sisanya ditutupi dengan balutan kain (lifafah), maka tidak diperbolehkan mengusap di atasnya.

الرابع أن لا ينزع الخف بعد المسح عليه فإن نزع فالأولى له استئناف الوضوء فإن اقتصر على غسل القدمين جاز

Yang keempat: Tidak melepas khuff setelah mengusapnya. Jika ia melepasnya, maka yang lebih utama baginya adalah mengulangi wudhu dari awal. Namun jika ia hanya membasuh kedua kakinya saja, hal itu diperbolehkan.

الخامس أن يمسح على الموضع المحاذي لمحل فرض الغسل لا على الساق وأقله ما يسمى مسحاً على ظهر القدم

Yang kelima: Mengusap pada bagian yang sejajar dengan anggota yang wajib dibasuh, bukan pada betis. Batas minimalnya adalah bagian yang sudah dapat dinamakan mengusap pada punggung kaki…

من الخف

…dari khuff.

وإذا مسح بثلاث أصابع أجزأه والأولى أن يخرج من شبهة الخلاف وأكمله أن يمسح أعلاه وأسفله دفعة واحدة من غير تكرار كذلك فَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ

Apabila ia mengusap dengan tiga jari, maka itu sudah mencukupi. Namun yang lebih utama adalah keluar dari keraguan perbedaan pendapat ulama (khilafiyah). Cara yang paling sempurna adalah mengusap bagian atas dan bawahnya secara bersamaan (sekaligus) tanpa mengulanginya; demikianlah yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ.

ووصفه أن يبل اليدين ويضع رءوس أصابع اليمنى من يده على رءوس أصابع اليمنى من رجله ويمسحه بأن يجر أصابعه الى جهة نفسه ويضع رءوس أصابع يده اليسرى على عقبه من أسفل الخف ويمرها الى رأس القدم

Tata caranya adalah dengan membasahi kedua tangan, lalu meletakkan ujung jari-jari tangan kanannya di atas ujung jari-jari kaki kanannya, kemudian mengusapnya dengan cara menarik jari-jarinya ke arah dirinya sendiri. Sementara itu, ia meletakkan ujung jari-jari tangan kirinya pada tumit di bagian bawah khuff, lalu menjalankannya hingga ke ujung jari kaki.

ومهما مسح مقيماً ثم سافر أو مسافراً ثم أقام غلب حكم الإقامة فليقتصر على يوم وليلة

Apabila ia mengusap saat mukim kemudian bepergian (safar), atau saat bepergian kemudian mukim, maka hukum mukim yang dimenangkan (didahulukan), sehingga ia harus membatasi diri pada batas waktu sehari semalam.

وعدد الأيام الثلاثة محسوب من وقت حدثه بعد المسح على الخف فلو لبس الخف في الحضر ومسح في الحضر ثم خرج وأحدث في السفر وقت الزوال مثلاً مسح ثلاثة أيام ولياليهن من وقت الزوال الى الزوال من اليوم الرابع فإذا زالت الشمس من اليوم الرابع لم يكن له أن يصلي إلا بعد غسل الرجلين فيغسل رجليه ويعيد لبس الخف ويراعي وقت الحدث ويستأنف الحساب من وقت الحدث

Hitungan tiga hari bagi musafir dihitung sejak waktu terjadinya hadas setelah mengusap khuff. Seandainya ia memakai khuff saat mukim dan mengusapnya saat mukim, lalu ia keluar bepergian dan berhadas dalam perjalanan pada waktu tergelincirnya matahari (zawal) misalnya, maka ia mengusap selama tiga hari tiga malam terhitung dari waktu zawal hingga zawal pada hari keempat. Apabila matahari telah tergelincir pada hari keempat, tidak boleh baginya mendirikan shalat kecuali setelah membasuh kedua kakinya. Maka ia membasuh kedua kakinya dan mengenakan khuff kembali, serta memperhatikan waktu terjadinya hadas lalu memulai hitungan baru sejak waktu hadas tersebut.

ولو أحدث بعد لبس الخف في الحضر ثم خرج بعد الحدث فله أن يمسح ثلاثة أيام لأن العادة قد تقتضي اللبس قبل الخروج ثم لا يمكن الاحتراز من الحدث

Seandainya ia berhadas setelah mengenakan khuff saat mukim, kemudian ia keluar bepergian setelah berhadas tersebut, maka ia boleh mengusap selama tiga hari; karena kebiasaan terkadang menuntut seseorang untuk mengenakan khuff sebelum keluar, dan setelah itu tidak memungkinkan baginya untuk menghindarkan diri dari hadas.

فأما إذا مسح في الحضر ثم سافر اقتصر على مدة المقيمين

Adapun jika ia telah mengusap khuff saat mukim kemudian bepergian, maka ia harus membatasi diri pada batas waktu orang yang mukim (sehari semalam).

ويستحب لكل من يريد لبس الخف في حضر أو سفر أن ينكس الخف وينفض ما فيه حذراً من حية أو عقرب أو شوكة

Disunnahkan bagi siapa saja yang hendak mengenakan khuff, baik dalam keadaan mukim maupun bepergian, untuk membalikkan khuff (menghadap ke bawah) dan mengibaskannya guna mengeluarkan apa yang ada di dalamnya, sebagai bentuk kewaspadaan terhadap ular, kalajengking, atau duri.

فقد روي عن أبي أمامة أنه قال دعا رسول الله ﷺ بخفيه فلبس أحدهما فجاء غراب فاحتمل الآخر ثم رمى به فخرجت منه حية فقال ﷺ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بالله واليوم الآخر فلا يلبس خفيه حتى ينفضهما

Diriwayatkan dari Abu Umamah bahwasanya ia berkata: Rasulullah ﷺ meminta kedua khuff-nya, lalu beliau mengenakan salah satunya. Tiba-tiba datang seekor burung gagak menyambar khuff yang satunya lagi lalu menjatuhkannya, hingga keluarlah seekor ular dari dalamnya. Maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia mengenakan kedua khuff-nya hingga ia mengibaskannya terlebih dahulu."

الرخصة الثانية التيمم بالتراب بدلا عن الماء عند العذر إنما يتعذر الماء بأن يكون بعيدا عن المنزل بعدا لَوْ مَشَى إِلَيْهِ لَمْ يَلْحَقْهُ غَوْثُ الْقَافِلَةِ إن صاح أو استغاث وهو البعد الذي لا يعتاده أهل المنزل في تردادهم لقضاء الحاجة التردد إليه

Keringanan (rukhshah) kedua: Tayammum dengan debu tanah sebagai pengganti air ketika ada udzur. Air dianggap sulit didapat apabila berada jauh dari tempat persinggahan, dengan jarak sekiranya jika ia berjalan ke sana, panggilan atau permintaan tolongnya tidak akan terdengar oleh kafilah; yaitu jarak jauh yang tidak biasa dilalui oleh penghuni persinggahan saat bolak-balik untuk membuang hajat.

وكذا إن نزل على الماء عدوّ أو سبع فيجوز التيمم وإن كان الماء قريباً

Demikian pula jika di tempat keberadaan air terdapat musuh atau binatang buas, maka diperbolehkan bertayammum meskipun air tersebut berada di dekatnya.

وكذا إن احتاج إليه لعطشه في يومه أو بعد يومه لفقد الماء بين يديه فله التيمم وكذا إن احتاج إليه لعطش أحد رفقائه فلا يجوز له الوضوء ويلزمه بذله إما بثمن أو بغير ثمن ولو كان يحتاج إليه لطبخ مرقة أو لحم أو لبل فتيت يجمعه به لم يجز له التيمم بل عليه أن يجتزي بالفتيت اليابس ويترك تناول المرقة

Begitu pula jika ia membutuhkan air tersebut untuk menghilangkan dahaganya pada hari itu atau setelah hari itu karena ketiadaan air di depannya, maka ia boleh bertayammum. Demikian pula jika ia membutuhkannya untuk menghilangkan dahaga salah seorang rekannya, maka tidak boleh baginya berwudhu dan ia wajib menyerahkan air tersebut kepadanya, baik dengan ganti harga maupun tanpa ganti rugi. Namun seandainya ia membutuhkan air untuk memasak kuah, daging, atau membasahi roti kering agar terkumpul, maka tidak diperbolehkan baginya bertayammum, melainkan ia wajib mencukupkan diri dengan roti kering dan meninggalkan konsumsi kuah tersebut.

ومهما وهب له الماء وجب قبوله وإن وهب له ثمنه لم يجب قبوله لما فيه من المنة

Apabila air dihibahkan (diberikan) kepadanya, maka wajib baginya untuk menerima. Namun jika yang dihibahkan adalah uang untuk membeli air, maka tidak wajib baginya untuk menerima karena hal itu mengandung beban budi (minnah).

وإن بيع بثمن المثل لزمه الشراء وإن بيع بغبن لم يلزمه

Jika air dijual dengan harga standar (tsaman al-misl), ia wajib membelinya. Namun jika dijual dengan harga yang terlampau tinggi di luar batas kewajaran (ghabn), maka ia tidak wajib membelinya.

فإذا لم يكن معه ماء وأراد أن يتيمم فأول ما يلزمه طلب الماء مهما جوّز الوصول إليه بالطلب وذلك بالتردد حوالي المنزل وتفتيش الرحل وطلب البقايا من الأواني والمطاهر

Maka apabila ia tidak memiliki air dan hendak bertayammum, hal pertama yang wajib dilakukannya adalah mencari air selama ia memperkirakan kemungkinan memperolehnya dengan pencarian; yaitu dengan berkeliling di sekitar tempat persinggahan, memeriksa barang bawaan, serta mencari sisa-sisa air di dalam wadah-wadah dan tempat bersuci.

فإن نسي الماء في رحله أو نسي بئراً بالقرب منه لزمه إعادة الصلاة لتقصيره في الطلب

Jika ia lupa air yang berada di dalam perbekalannya atau lupa adanya sumur di dekatnya, maka ia wajib mengulangi salatnya karena kelalaiannya dalam mencari.

وإن علم أنه سيجد الماء في آخر الوقت فالأولى أن يصلي بالتيمم في أول الوقت فإن العمر لا يوثق به

Jika ia mengetahui bahwa ia akan menemukan air di akhir waktu, maka yang lebih utama adalah ia melakukan salat dengan bertayamum di awal waktu, sebab umur seseorang tidak ada yang dapat menjaminnya.

وأول الوقت رضوان الله

Dan awal waktu itu adalah keridaan Allah.

تيمم ابن عمر ﵄ فقيل له أتتيمم وجدران المدينة تنظر إليك فقال أو أبقى الى أن أدخلها ومهما وجد الماء بعد الشروع في الصلاة لم تبطل صلاته ولم يلزمه الوضوء

Ibnu Umar r.a. pernah bertayamum, lalu dikatakan kepadanya, "Apakah engkau bertayamum padahal dinding-dinding kota Madinah terlihat olehmu?" Maka beliau menjawab, "Apakah ada jaminan aku masih hidup sampai aku memasukinya?" Dan kapan pun seseorang menemukan air setelah ia mulai masuk ke dalam salat, salatnya tidak batal dan ia tidak wajib berwudu.

وإذا وجده قبل الشروع في الصلاة لزمه الوضوء

Namun jika ia menemukan air sebelum memulai salat, maka wajib baginya untuk berwudu.

ومهما طلب فلم يجد فليقصد صعيداً طيباً عليه تراب يثور منه غبار وليضرب عليه كفيه بعد ضم أصابعهما

Dan apabila ia telah mencari namun tidak menemukan air, hendaklah ia menuju ke tanah yang suci (sa'id thayyib) yang berdebu, lalu menepukkan kedua telapak tangannya ke tanah tersebut setelah merapatkan jari-jarinya.

ضربة فيمسح بها وجهه ويضرب ضربة أخرى بعد نزع الخاتم ويفرج الأصابع ويمسح بها يديه الى مرفقيه فإن لم يستوعب بضربة واحدة جميع يديه ضرب ضربة أخرى وكيفية التلطف فيه ما ذكرناه في

Sekali tepukan, lalu mengusapkannya ke wajahnya, kemudian menepuk sekali lagi setelah melepas cincin dan merenggangkan jari-jemarinya, lalu mengusapkannya pada kedua tangannya hingga kedua sikunya. Jika satu tepukan belum merata ke seluruh tangannya, hendaklah ia menepukkan tangan sekali lagi. Adapun tata cara secara rinci dalam hal ini telah kami sebutkan dalam

كتاب الطهارة فلا نعيده ثم اذا صلى به فريضة واحدة فله ان يتنفل

Kitab Thaharah, maka kami tidak mengulangnya. Kemudian, jika ia telah melaksanakan satu salat fardu dengannya (tayamum tersebut), maka ia diperbolehkan melakukan salat sunnah

ما شاء بذلك التيمم

sesuka hatinya dengan tayamum tersebut.

وان اراد الجمع بين فريضتين فعليه أن يعيد التيمم للصلاة الثانية فلا يصلى فريضتين الا بتيممين

Dan jika ia hendak menjamak antara dua salat fardu, maka ia wajib mengulangi tayamum untuk salat yang kedua, sehingga tidak boleh melaksanakan dua salat fardu melainkan dengan dua kali tayamum.

ولا ينبغي ان يتيمم لصلاة قبل دخول وقتها فإن فعل وجب عليه اعادة التيمم

Dan tidak sepatutnya bertayamum untuk suatu salat sebelum masuk waktunya; jika ia melakukannya, maka ia wajib mengulangi tayamumnya.

ولينو عند مسح الوجه استباحة الصلاة

Dan hendaklah ia berniat memohon kebolehan melaksanakan salat (istibahatash-shalah) saat mengusap wajah.

ولو وجد من الماء ما يكفيه لبعض طهارته فيستعمله ثم ليتيمم بعده تيمما تاما

Dan jikalau ia menemukan air yang hanya cukup untuk sebagian bersucinya, hendaklah ia menggunakannya, kemudian bertayamum setelahnya dengan tayamum yang sempurna.

الرخصة الثالثة في الصلاة المفروضة القصر وله أَنْ يَقْتَصِرَ فِي كُلِّ وَاحِدَةٍ مِنَ الظُّهْرِ والعصر والعشاء على ركعتين ولكن بشروط ثلاثة

Keringanan (rukhsah) yang ketiga dalam salat fardu adalah qasar (meringkas salat). Seseorang diperbolehkan meringkas masing-masing dari salat Zuhur, Asar, dan Isya menjadi dua rakaat, namun dengan tiga syarat.

الأول أن يؤديها في أوقاتها فلو صارت قضاء فالأظهر لزوم الاتمام

Pertama, hendaknya ia menunaikannya pada waktunya. Apabila menjadi salat qada, maka pendapat yang lebih jelas (al-azhar) adalah wajib menyempurnakannya (itmam/empat rakaat).

الثاني أى ينوي القصر فلو نوى الإتمام لزمه الإتمام ولو شك في أنه نوى القصر أو الإتمام لزمه الإتمام

Kedua, hendaknya ia berniat qasar. Jika ia berniat itmam (menyempurnakan empat rakaat), maka ia wajib menyempurnakannya. Begitu pula jika ia ragu apakah ia berniat qasar atau itmam, ia wajib menyempurnakannya.

الثالث أي لا يقتدي بمقيم ولا بمسافر متم فإن فعل لزمه الإتمام بل إن شك في ان إمامه مقيم أو مسافر لزمه الإتمام وان تيقن بعده أنه مسافر لان شعار المسافر لا تخفى فليكن متحققا عند النية وان شك في أن إمامه هل نوى القصر أم لا بعد أن عرف أنه مسافر لم يضره ذلك لان النيات لا يطلع عليها

Ketiga, hendaknya ia tidak bermakmum kepada orang mukim maupun musafir yang menyempurnakan salatnya (itmam). Jika ia melakukannya, maka wajib baginya menyempurnakan salatnya. Bahkan, jika ia ragu apakah imamnya seorang mukim atau musafir, ia wajib menyempurnakannya, meskipun setelah itu ia yakin bahwa imamnya adalah musafir; karena ciri-ciri musafir itu tidak tersembunyi, maka hendaklah ia memastikannya saat berniat. Namun, jika ia ragu apakah imamnya berniat qasar atau tidak—setelah ia mengetahui bahwa imamnya adalah seorang musafir—maka hal itu tidak membahayakannya (tetap sah qasarnya), karena niat tidak dapat diketahui oleh orang lain.

وهذا كله إذا كان في سفر طويل مباح

Seluruh ketentuan ini berlaku apabila seseorang berada dalam perjalanan jauh yang mubah (diperbolehkan).

وحد السفر من جهة البداية والنهاية فيه إشكال فلا بد من معرفته

Adapun batasan perjalanan (safar) dari segi permulaan dan akhirnya memiliki kerumitan (isykal), sehingga harus diketahui.

والسفر هو الانتقال من موضع الإقامة مع ربط القصد بمقصد معلوم فالهائم وراكب التعاسيف ليس له الترخص وهو الذي لا يقصد موضعا معينا ولا يصير مسافرا ما لم يفارق عمران البلد ولا يشترط أن يجاوز خراب البلدة وبساتينها التى يخرج أهل البلدة إليها للتنزه

Safar (perjalanan) adalah berpindah dari tempat bermukim dengan menyengaja menuju suatu tujuan yang jelas. Maka orang yang bertualang tanpa arah (al-ha'im) atau orang yang menempuh jalan secara asal-asalan tanpa tujuan pasti (rakibut-ta'asif) tidak berhak mendapatkan rukhsah; yaitu orang yang tidak bertujuan ke tempat tertentu. Seseorang tidak dianggap sebagai musafir selama belum melewati permukiman kota, namun tidak disyaratkan harus melewati bangunan-bangunan kota yang telah hancur maupun kebun-kebunnya yang biasa dikunjungi penduduk kota untuk berrekreasi.

وأما القرية فالمسافر منها ينبغي أن يجاوز البساتين المحوطة دون التى ليست بمحوطة

Adapun desa, maka orang yang bepergian (musafir) darinya hendaknya melewati kebun-kebun yang dipagari, bukan kebun-kebun yang tidak dipagari.

ولو رجع المسافر إلى البلد لأخذ شىء نسيه لم يترخص إن كان ذلك وطنه ما لم يجاوز العمران وإن لم يكن ذلك هو الوطن فله الترخص إذ صار مسافرا بالانزعاج والخروج منه

Jika seorang musafir kembali ke negeri (asalnya) untuk mengambil sesuatu yang terlupakan, ia tidak boleh mengambil rukhshah (keringanan) jika tempat itu adalah tanah airnya (watan), selama ia belum melewati kawasan pemukiman. Namun, jika tempat itu bukan tanah airnya, maka ia boleh mengambil rukhshah, karena ia telah menjadi musafir dengan berpindah dan keluar darinya.

وأما نهاية السفر فبأحد أمور ثلاثة

Adapun berakhirnya perjalanan (safar) adalah dengan salah satu dari tiga hal.

الاول الوصول إلى العمران من البلد الذي عزم على الإقامة به

Pertama, tibanya di kawasan pemukiman dari negeri yang ia berniat untuk bermukim di sana.

الثاني العزم على الإقامة ثلاثة أيام فصاعدا إما في بلد أو في صحراء

Kedua, berniat untuk bermukim selama tiga hari atau lebih, baik di suatu negeri maupun di padang pasir.

الثالث صورة الاقامة وأن لم يعزم كما إذا أقام على موضع واحد ثلاثة أيام سوى يوم الدخول لم يكن له الترخص بعده وإن لم يعزم على الإقامة وكان له شغل وهو يتوقع كل يوم إنجازه ولكنه يتعوق عليه ويتاخر فله أن يترخص وإن طالت المدة على أقيس القولين لأنه منزعج بلقبه ومسافر عن الوطن بصورته ولا مبالاة بصورة الثبوت على موضع واحد مع انزعاج القلب ولا فرق بين أن يكون هذا الشغل قتالا أو غيره ولا بين أن تطول المدة أو تقصر ولا بين أن يتأخر الخروج لمطر لا يعلم بقاؤه ثلاثة أيام أو لغيره إذ ترخص رسول الله ﷺ فقصر فى بعض الغزوات ثمانية عشر يوما على موضع واحد

Ketiga, bentuk fisik dari ikamah (menetap) meskipun ia tidak berniat, seperti jika ia menetap di satu tempat selama tiga hari selain hari kedatangan, maka ia tidak boleh mengambil rukhshah setelah itu. Namun, jika ia tidak berniat untuk bermukim dan memiliki suatu urusan yang setiap hari ia harapkan dapat diselesaikan tetapi terhambat dan tertunda, maka ia boleh mengambil rukhshah meskipun jangka waktunya lama, menurut pendapat yang lebih qiyas (kuat). Hal ini karena hatinya senantiasa tidak tenang (berpindah) dan secara zahir ia bepergian dari tanah airnya; menetap secara fisik di satu tempat tidaklah dihiraukan selama hatinya tidak menetap. Tidak ada perbedaan apakah urusan ini berupa peperangan atau lainnya, apakah durasinya lama atau singkat, atau apakah penundaan keberangkatan itu karena hujan yang tidak diketahui apakah akan berlangsung selama tiga hari atau karena sebab lain. Sebab Rasulullah ﷺ pernah mengambil rukhshah dengan mengqashar shalat pada sebagian peperangan selama delapan belas hari di satu tempat.

وظاهر الأمر أنه لو تمادى القتال لتمادى ترخصه إذ لا معنى للتقدير بثمانية عشر يوما

Makna yang tampak dari hal tersebut adalah sekiranya peperangan itu terus berlanjut, tentu rukhshah yang beliau ambil juga akan terus berlangsung, sebab tidak ada alasan membatasinya dengan delapan belas hari.

والظاهر أن قصره كان لكونه مسافرا لا لكونه غازيا مقاتلا هذا معنى القصر

Yang tampak jelas adalah bahwa pengqasharan shalat beliau adalah karena status beliau sebagai musafir, bukan karena status beliau sebagai prajurit perang yang bertempur. Inilah makna qashar.

وأما معنى التطويل فهو أن يكون مرحلتين كل مرحلة ثمانية فراسخ وكل فرسخ ثلاثة أميال وكل ميل

Adapun makna perjalanan jauh (thawil) adalah jaraknya mencapai dua marhalah, yang mana setiap marhalah adalah delapan farsakh, setiap farsakh adalah tiga mil, dan setiap mil…

أربعة آلاف خطوة وكل خطوة ثلاثة أقدام

…adalah empat ribu langkah, dan setiap langkah adalah tiga telapak kaki.

ومعنى المباح أن لا يكون عاقا لوالديه هاربا منهما ولا هاربا من مالكه ولا تكون المرأة هاربة من زوجها ولا أن يكون من عليه الدين هاربا من المستحق مع اليسار ولا يكون متوجها في قطع طريق إو قتل إنسان أو طلب إدرار حرام من سلطان ظالم أو سعى بالفساد بين المسلمين

Dan makna perjalanan yang mubah (diperbolehkan) adalah perjalanan itu bukan karena durhaka kepada kedua orang tua dan melarikan diri dari keduanya, bukan melarikan diri dari tuannya, seorang istri tidak melarikan diri dari suaminya, seorang yang memiliki utang tidak melarikan diri dari pemberi utang padahal ia mampu melunasinya, serta tidak bertolak untuk melakukan perampokan, membunuh seseorang, mencari imbalan haram dari penguasa yang zalim, atau berusaha membuat kerusakan di antara kaum muslimin.

وبالجملة فلا يسافر الإنسان إلا فى غرض والغرض هو المحرك

Kesimpulannya, seseorang tidak bepergian melainkan untuk suatu tujuan, dan tujuan itulah yang menjadi pendorongnya.

فإن كان تحصيل ذلك الغرض حراما ولولا ذلك الغرض لكان لا ينبعث لسفره فسفره معصية ولا يجوز فيه الترخص

Jika pencapaian tujuan tersebut hukumnya haram, dan jika bukan karena tujuan itu ia tidak akan terdorong untuk melakukan perjalannya, maka perjalanannya itu adalah kemaksiatan dan ia tidak boleh mengambil rukhshah di dalamnya.

واما الفسق في السفر بشرب الخمر وغيره فلا يمنع الرخصة

Adapun kefasikan yang terjadi dalam perjalanan, seperti meminum khamr dan selainnya, tidak membatalkan rukhshah.

بل كل سفر ينهى الشرع عنه فلا يعين عليه بالرخصة ولو كان له باعثان أحدهما مباح والاخر محظور وكان بحيث لو لم يكن الباعث له المحظور لكان المباح مستقلا بتحريكه ولكان لا محالة يسافر لأجله فله الترخص

Bahkan, setiap perjalanan yang dilarang oleh syariat tidak boleh dibantu dengan rukhshah. Sekiranya ia memiliki dua dorongan, salah satunya mubah dan yang lainnya dilarang, yang mana seandainya tidak ada dorongan yang dilarang tersebut, pendorong yang mubah itu saja sudah cukup mandiri untuk menggerakkannya dan ia akan tetap bepergian karenanya, maka ia boleh mengambil rukhshah.

والمتصوفة الطوافون في البلاد من غير غرض صحيح سوى التفرج لمشاهدة البقاع المختلفة في ترخصهم خلاف والمختار أن لهم الترخص

Adapun kaum sufi yang menjelajahi berbagai negeri tanpa tujuan yang jelas selain sekadar bertamasya untuk melihat berbagai tempat yang berbeda, terdapat perbedaan pendapat mengenai kebolehan mereka mengambil rukhshah; dan pendapat yang terpilih adalah bahwa mereka boleh mengambil rukhshah.

الرخصة الرابعة الْجَمْعُ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ فِي وَقْتَيْهِمَا وَبَيْنَ المغرب والعشاء في وقتيهما فذلك أيضا جائز فِي كُلِّ سَفَرٍ طَوِيلٍ مُبَاحٌ وَفِي جَوَازِهِ في السفر القصير قولان

Rukhshah keempat: Menjamak antara Dhuhur dan Ashar pada salah satu dari waktu keduanya, serta antara Maghrib dan Isya pada salah satu dari waktu keduanya. Hal demikian juga boleh dilakukan dalam setiap perjalanan jauh yang mubah. Mengenai kebolehannya dalam perjalanan pendek, terdapat dua pendapat.

ثُمَّ إِنْ قَدَّمَ الْعَصْرَ إِلَى الظُّهْرِ فَلْيَنْوِ الْجَمْعَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ فِي وَقْتَيْهِمَا قَبْلَ الْفَرَاغِ مِنَ الظُّهْرِ وَلْيُؤَذِّنْ لِلظُّهْرِ وَلْيُقِمْ وَعِنْدَ الفراغ يقيم للعصر ويجدد التيمم أولا ان كان فرضه التيمم ولا يفرق بينهما بأكثر من تيمم واقامة فان قدم العصر لم يجز وان نوى الجمع عند التحرم بصلاة العصر جاز عند المزنى وله وجه فى القياس إذ لا مستند لا لايجاب تقديم النية بل الشرع جوز الجمع وهذا جمع وإنما الرخصة فى العصر فتكفى النية فيها وأما الظهر فجار على القانون

Kemudian, jika ia memajukan Ashar ke waktu Dhuhur (Jamak Taqdim), maka hendaknya ia berniat menjamak antara Dhuhur dan Ashar pada waktu keduanya sebelum selesai dari shalat Dhuhur. Hendaknya ia mengumandangkan adzan untuk Dhuhur lalu berikamah. Ketika selesai (dari Dhuhur), ia berikamah untuk Ashar dan memperbarui tayamum terlebih dahulu jika kewajibannya adalah tayamum, serta tidak memisahkan antara kedua shalat itu lebih dari sekadar tayamum dan ikamah. Jika ia mendahulukan shalat Ashar, maka tidak sah. Namun, jika ia berniat jamak ketika takbiratul ihram shalat Ashar, hal itu boleh menurut Imam al-Muzani dan memiliki landasan secara qiyas, sebab tidak ada dalil yang mewajibkan mendahulukan niat; melainkan syariat membolehkan penggabungan dan ini adalah penggabungan. Lagipula rukhshah itu terletak pada shalat Ashar, maka cukuplah niat padanya, sedangkan shalat Dhuhur tetap berjalan sesuai aturan asal.

ثم إذا فرغ من الصلاتين فينبغي أن يجمع بين سنن الصلاتين أما العصر فلا سنة بعدها ولكن السنة التى بعد الظهر يصليها بعد الفراغ من العصر إما راكبا أو مقيما لأنه لو صلى راتبة الظهر قبل العصر لانقطعت الموالاة وهي واجبة على وجه ولو أراد أن يقيم الأربع المسنونة قبل الظهر والأربع المسنونة قبل العصر فليجمع بينهن قبل الفريضتين فيصلى سنة الظهر أولا ثم سنة العصر ثم فريضة الظهر ثم فريضة العصر ثم سنة الظهر الركعتان اللتان هما بعد الفرض ولا ينبغي أن يهمل النوافل فى السفر فما يفوته من أبوابها أكثر مما يناله من الربح لا سيما وقد خفف الشرع عليه وجوز له أداءها عَلَى الرَّاحِلَةِ كَيْ لَا يَتَعَوَّقَ عَنِ الرُّفْقَةِ بسببها

Kemudian apabila ia telah selesai dari kedua shalat fardhu tersebut, hendaknya ia menggabungkan sunnah-sunnah dari kedua shalat itu. Adapun Ashar, tidak ada shalat sunnah setelahnya, tetapi sunnah ba'diyyah Dhuhur dikerjakannya setelah selesai dari shalat Ashar, baik dalam keadaan berkendara maupun berada di tempat. Sebab jika ia melaksanakan shalat sunnah rawatib Dhuhur sebelum shalat Ashar, niscaya akan terputus muwalah (kesinambungan), padahal muwalah itu wajib menurut satu pendapat. Jika ia ingin menegakkan empat rakaat sunnah sebelum Dhuhur dan empat rakaat sunnah sebelum Ashar, hendaknya ia mengumpulkan semuanya sebelum dua shalat fardhu tersebut: ia shalat sunnah Dhuhur terlebih dahulu, kemudian sunnah Ashar, lalu fardhu Dhuhur, lalu fardhu Ashar, kemudian dua rakaat sunnah Dhuhur yang berada setelah fardhu. Tidak seyogianya seseorang mengabaikan shalat-shalat sunnah dalam perjalanan, karena keutamaan yang luput darinya jauh lebih banyak daripada keuntungan yang ia peroleh, terlebih syariat telah memberikan keringanan baginya dan membolehkannya melaksanakannya di atas kendaraan agar ia tidak tertinggal dari rombongan karenanya.

وَإِنْ أَخَّرَ الظُّهْرَ إِلَى الْعَصْرِ فَيَجْرِي عَلَى هذا الترتيب ولا يبالي بوقوع راتبة الظهر بعد العصر فى الوقت المكروه لأن ما له سبب لا يكره فى هذا الوقت وكذلك يفعل في المغرب والعشاء والوتر

Dan jika ia mengakhirkan Dhuhur ke waktu Ashar (Jamak Takhir), maka ia melaksanakannya sesuai urutan ini, dan tidak perlu dihiraukan jatuhnya shalat rawatib Dhuhur setelah Ashar pada waktu yang dimakruhkan, karena shalat yang memiliki sebab tidak dimakruhkan pada waktu tersebut. Demikian pula yang dilakukan pada shalat Maghrib, Isya, dan Witir.

وإذا قدم أو أخر فبعد الفراغ من الفرض يشتغل بجميع الرواتب ويختم الجميع بالوتر

Dan apabila ia mendahulukan (jamak taqdim) atau mengakhiri (jamak ta'khir), maka setelah selesai dari shalat fardu, ia mengerjakan seluruh shalat sunnah rawatib dan mengakhiri semuanya dengan shalat Witir.

وإن خطر له ذكر الظهر قبل خروج وقته فليعزم على أدائه مع العصر جميعا فهو نية الجمع لأنه إنما يخلو عن هذه النية إما بنية الترك أو بنية التأخير عن وقت العصر وذلك حرام والعزم عليه حرام

Dan jika terlintas dalam ingatannya tentang shalat Dzuhur sebelum waktunya habis, hendaklah ia berazam (berniat kuat) untuk mengerjakannya bersama shalat Ashar secara bersamaan, dan itulah niat jamak. Sebab, ia tidak akan terlepas dari niat ini kecuali dengan niat meninggalkan shalat atau niat mengakhirkannya hingga keluar dari waktu Ashar, dan hal itu hukumnya haram serta berniat untuknya pun haram.

وإن لم يتذكر الظهر حتى خرج وقته إما لنوم أو لشغل فله أن يؤدى الظهر مع العصر ولا يكون عاصيا لأن السفر كما يشغل عن فعل الصلاة فقد يشغل عن ذكرها

Dan jika ia tidak mengingat shalat Dzuhur hingga waktunya keluar (habis), baik karena tidur maupun karena kesibukan, maka ia boleh menunaikan shalat Dzuhur tersebut bersama shalat Ashar dan tidak dianggap bermaksiat (berdosa). Sebab perjalanan (safar), sebagaimana ia menyibukkan seseorang dari mengerjakan shalat, terkadang juga menyibukkannya dari mengingat shalat tersebut.

ويحتمل أن يقال إن الظهر إنما تقع أداء إذا عزم على فعلها قبل خروج وقتها ولكن الأظهر أن وقت الظهر والعصر صار مشتركا فى السفر بين الصلاتين ولذلك يجب على الحائض قضاء الظهر إذا طهرت قبل الغروب

Dan ada kemungkinan untuk dikatakan bahwa shalat Dzuhur itu terhitung sebagai adā' (tunai) hanyalah jika ia telah berazam untuk mengerjakannya sebelum keluar waktunya. Akan tetapi pendapat yang lebih azhar (jelas/kuat) adalah bahwa waktu Dzuhur dan Ashar dalam perjalanan telah menjadi waktu bersama (musytarak) di antara kedua shalat tersebut. Oleh karena itu, wajib bagi wanita yang haid untuk mengada shalat Dzuhur apabila ia telah suci sebelum matahari terbenam.

ولذلك ينقدح أن لا تشترط الموالاة ولا الترتيب بين الظهر والعصر عند تأخير الظهر أما إذا قدم العصر على الظهر لم يجز لأن ما بعد الفراغ من الظهر هو الذى جعل وقتا للعصر إذ يبعد أن يشتغل بالعصر من هو عازم على ترك الظهر أو على تأخيره

Oleh sebab itu, tampak jelas (terlintas pendapat) bahwa tidak disyaratkan muwālāh (nenerus) dan tidak pula tertib antara shalat Dzuhur dan Ashar ketika mengakhirkan shalat Dzuhur (jamak ta'khir). Adapun jika ia mendahulukan shalat Ashar atas shalat Dzuhur, maka hal itu tidak diperbolehkan; sebab waktu setelah selesainya shalat Dzuhur itulah yang dijadikan sebagai waktu bagi shalat Ashar, mengingat sangat jauh kemungkinannya seseorang sibuk mengerjakan shalat Ashar sementara ia berniat meninggalkan shalat Dzuhur atau mengakhirkan pelaksanaannya.

وعذر المطر مجوز للجمع كعذر السفر

Dan uzur hujan membolehkan pelaksanaan shalat jamak sebagaimana uzur perjalanan (safar).

وترك الجمعة أيضا من رخص السفر وهي متعلقة أيضا بفرائض الصلوات

Dan meninggalkan shalat Jumat juga termasuk dari rukhsah (keringanan) dalam perjalanan, dan ini juga berkaitan dengan shalat-shalat fardu.

ولو نوى

Dan seandainya ia berniat

الإقامة بعد أن صلى العصر فأدرك وقت العصر في الحضر فعليه أداء العصر وما مضى إنما كان مجزئا بشرط أن يبقى العذر إلى خروج وقت العصر

untuk bermukim setelah ia melaksanakan shalat Ashar (secara jamak taqdim), lalu ia mendapati waktu Ashar masih ada dalam kondisi mukim (hadhar), maka ia wajib menunaikan (mengulang) shalat Ashar tersebut. Adapun shalat yang lalu itu hanya dianggap memadai (mujzi') dengan syarat uzurnya tetap ada hingga berlalunya waktu Ashar.

الرخصة الخامسة التنفل راكبا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُصَلِّي عَلَى رَاحِلَتِهِ أَيْنَمَا تَوَجَّهَتْ بِهِ دَابَّتُهُ

Rukhsah (keringanan) kelima: Mengerjakan shalat sunnah dalam keadaan berkendara. Rasulullah ﷺ pernah melaksanakan shalat di atas hewan tunggangannya ke mana pun hewan tunggangannya itu menghadap.

وأوتر رسول الله ﷺ على الرَّاحِلَةِ

Dan Rasulullah ﷺ juga pernah mengerjakan shalat Witir di atas hewan tunggangan.

وَلَيْسَ عَلَى الْمُتَنَفِّلِ الرَّاكِبِ فِي الرُّكُوعِ والسجود إلا الايماء

Dan tidak ada kewajiban bagi orang yang melaksanakan shalat sunnah dalam keadaan berkendara saat rukuk dan sujud kecuali hanya dengan isyarat.

وينبغي أن يجعل سجوده أخفض من ركوعه ولا يلزمه الانحناء إلى حد يتعرض به لخطر بسبب الدابة

Dan seyogianya ia menjadikan isyarat sujudnya lebih rendah daripada rukuknya, serta tidak diwajibkan baginya membungkuk hingga batas yang membuatnya terancam bahaya akibat gerakan hewan tunggangan.

فإن كان في مرقد فليتم الركوع والسجود فإنه قادر عليه

Namun apabila ia berada di dalam tandu (sekedup), maka hendaklah ia menyempurnakan rukuk dan sujudnya, karena ia mampu melakukan hal tersebut.

وَأَمَّا اسْتِقْبَالُ الْقِبْلَةِ فَلَا يَجِبُ لَا فِي ابْتِدَاءِ الصَّلَاةِ وَلَا فِي دَوَامِهَا وَلَكِنْ صَوْبُ الطريق يدل عَنِ الْقِبْلَةِ

Adapun menghadap kiblat, maka hukumnya tidak wajib, baik pada permulaan shalat maupun dalam keberlangsungannya, tetapi arah jalan itu menggantikan kedudukan kiblat.

فَلْيَكُنْ فِي جَمِيعِ صَلَاتِهِ إِمَّا مُسْتَقْبِلًا لِلْقِبْلَةِ أَوْ مُتَوَجِّهًا فِي صَوْبِ الطَّرِيقِ لتكون له جهة يثبت فيها فلو حرف دابته عن الطريق قصدا بطلت صلاته إلا إذا حرفها إلى القبلة

Oleh karena itu, hendaknya dalam seluruh shalatnya ia berada dalam keadaan menghadap kiblat atau menghadap ke arah jalan, agar ia memiliki satu arah yang tetap baginya. Maka apabila ia memalingkan hewan tunggangannya dari arah jalan secara sengaja, batal shalatnya, kecuali jika ia memalingkannya ke arah kiblat.

ولو حرفها ناسيا وقصر الزمان لم تبطل صلاته وإن طال ففيه خلاف وإن جمحت به الدابة فانحرفت لم تبطل صلاته لأن ذلك مما يكثر وقوعه وليس عليه سجود سهو إذ الجماح غير منسوب إليه بخلاف ما لو حرف ناسيا فإنه يسجد للسهو بالايماء

Dan seandainya ia memalingkannya karena lupa sedangkan durasinya singkat, shalatnya tidak batal; namun jika durasinya lama, maka dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat para ulama. Dan jika hewan tunggangan itu membangkang (liar) lalu memalingkan arah, shalatnya tidak batal karena hal itu kerap kali terjadi, dan ia tidak wajib melakukan sujud sahwi sebab liarnya hewan tersebut bukan bersumber dari perbuatannya, berbeda halnya jika ia memalingkannya karena lupa, maka ia melakukan sujud sahwi dengan isyarat.

الرخصة السادسة التنفل للماشى جائز في السفر ويومئ بالركوع والسجود ولا يقعد للتشهد لأن ذلك يبطل فائدة الرخصة وَحُكْمُهُ حُكْمُ الرَّاكِبِ لَكِنْ يَنْبَغِي أَنْ يَتَحَرَّمَ بالصلاة مستقبلا للقبلة لأن الانحراف في لحظة لا عسر عليه فيه بخلاف الراكب فان في تحريف الدابة وإن كان العنان بيده نوع عسر وربما تكثر الصلاة فيطول عليه ذلك

Rukhsah (keringanan) keenam: Mengerjakan shalat sunnah bagi pejalan kaki adalah boleh dilakukan dalam perjalanan (safar). Ia memberi isyarat untuk rukuk dan sujud, serta tidak perlu duduk untuk tasyahhud, sebab hal itu akan membatalkan faedah rukhsah tersebut. Hukumnya sama dengan hukum orang yang berkendara, tetapi seyogianya ia melakukan takbiratul ihram dengan menghadap kiblat, karena memalingkan badan sejenak tidaklah menyulitkan baginya, berbeda dengan orang yang berkendara; sebab memalingkan hewan tunggangan—meskipun tali kendali ada di tangannya—memiliki kadar kesulitan tertentu, dan terkadang shalat dilakukan berulang kali sehingga hal itu menjadi berat baginya.

ولا ينبغي أن يمشى في نجاسة رطبة عمدا فإن فعل بطلت صلاته بخلاف ما لو وطئت دابة الراكب نجاسة

Dan tidak seyogianya ia sengaja berjalan di atas najis yang basah. Apabila ia melakukannya, batal shalatnya; berbeda halnya apabila hewan tunggangan orang yang berkendara menapak di atas najis.

وليس عليه أن يشوش المشي على نفسه بالاحتراز من النجاسات التي لا تخلو الطريق عنها غالبا

Dan tidak ada kewajiban baginya untuk mengacaukan langkah jalannya sendiri dengan memaksakan diri menjaga diri dari najis-najis yang pada umumnya tidak luput ada di jalanan.

وَكُلُّ هَارِبٍ مِنْ عَدُوٍّ أَوْ سَيْلٍ أَوْ سَبُعٍ فَلَهُ أَنْ يُصَلِّيَ الْفَرِيضَةَ رَاكِبًا أَوْ ماشيا كما ذكرناه في التنفل

Dan setiap orang yang melarikan diri dari musuh, banjir bandang, atau binatang buas, maka ia diperbolehkan melaksanakan salat fardhu dalam keadaan berkendara atau berjalan kaki, sebagaimana yang telah kami sebutkan dalam hal salat sunnah.

الرخصة السابعة الفطر وهو في الصوم

Rukhsah (keringanan) ketujuh adalah berbuka puasa (al-fithr), yaitu berkenaan dengan puasa.

فللمسافر أن يفطر إلا إذا أصبح مقيما ثم سافر فعليه إتمام ذلك اليوم

Maka seorang musafir diperbolehkan untuk tidak berpuasa (berbuka), kecuali apabila pada pagi hari ia dalam keadaan mukim lalu kemudian berangkat melakukan perjalanan, maka ia wajib menyempurnakan puasa pada hari itu.

وإن أصبح مسافرا صائما ثم أقام فعليه الإتمام

Dan apabila pada pagi hari ia dalam keadaan berpuasa sebagai musafir lalu kemudian menetap (mukim), maka ia wajib menyempurnakan puasanya.

وإن أقام مفطر فليس عليه الإمساك بقية النهار

Dan apabila ia berniat mukim dalam keadaan tidak berpuasa, maka ia tidak diwajibkan menahan diri dari makan dan minum (imsaak) di sisa hari tersebut.

وإن أصبح مسافرا على عزم الصوم لم يلزمه بل له أن يفطر إذا أراد والصوم أفضل من الفطر

Dan jika pada pagi hari ia dalam keadaan perjalanan dengan azam (tekad) untuk berpuasa, ia tidak diwajibkan meneruskannya, melainkan boleh baginya untuk berbuka jika menghendaki. Namun, berpuasa adalah lebih utama daripada tidak berpuasa.

والقصر أفضل من الإتمام للخروج عن شبهة الخلاف ولأنه ليس فى عهدة القضاء بخلاف المفطر فإنه في عهدة القضاء وربما يتعذر عليه ذلك بعائق فيبقى في ذمته إلا إذا كان الصوم يضر به فالإفطار أفضل

Sedangkan meng-qashar salat itu lebih utama daripada menyempurnakannya (itmam) demi keluar dari syubhat perselisihan ulama, serta karena ia tidak berada dalam kewajiban meng-qadha'. Berbeda halnya dengan orang yang tidak berpuasa, ia berada dalam tanggungan untuk meng-qadha' dan terkadang sulit baginya karena adanya suatu penghalang sehingga tetap menjadi hutang kewajiban dalam tanggungannya (dzimmah); kecuali jika puasa itu menimbulkan mudarat baginya, maka berbuka puasa adalah lebih utama.

فهذه سبع رخص تتعلق ثلاث منها بالسفر الطويل وهى القصر والفطر والمسح ثلاثة أيام

Maka inilah tujuh rukhsah (keringanan); tiga di antaranya berkaitan khusus dengan perjalanan jauh (safar thawil), yaitu meng-qashar salat, berbuka puasa, dan mengusap khuff (sepatu) selama tiga hari.

وتتعلق اثنتان منها بالسفر طويلا كان أو قصيرا وهما سقوط الجمعة وسقوط القضاء عند أداء الصلاة بالتيمم

Dan dua di antaranya berkaitan dengan perjalanan secara umum, baik perjalanan jauh maupun dekat, yaitu gugurnya kewajiban salat Jumat dan gugurnya kewajiban meng-qadha' ketika menunaikan salat dengan bertayamum.

وأما صلاة النافلة ماشيا وراكبا ففيه خلاف والأصح جوازه في القصير

Adapun salat sunnah (nafilah) sambil berjalan kaki atau berkendara, maka terdapat perbedaan pendapat padanya, dan pendapat yang lebih sahih (al-ashahh) adalah kebolehannya dalam perjalanan dekat.

والجمع بين الصلاتين فيه خلاف والأظهر اختصاصه بالطويل

Sedangkan menjamak dua salat, di dalamnya juga terdapat perbedaan pendapat, dan pendapat yang lebih jelas (al-azhar) adalah kebolehannya khusus untuk perjalanan jauh.

وأما صلاة الفرض راكبا وماشيا للخوف فلا تتعلق بالسفر وكذا أكل الميتة وكذا أداء الصلاة في الحال بالتيمم عند فقد الماء بل يشترك فيها الحضر والسفر مهما وجدت أسبابها

Adapun salat fardhu sambil berkendara atau berjalan kaki karena rasa takut (khauf), maka hal itu tidak khusus berkaitan dengan perjalanan. Begitu pula memakan bangkai dan menunaikan salat seketika dengan tayamum ketika tidak ada air; bahkan keadaan mukim (hadhar) dan perjalanan (safar) berserikat di dalamnya kapan pun sebab-sebabnya terpenuhi.

فإن قلت

Jika Anda bertanya:

فالعلم بهذه الرخص هل يجب على المسافر تعلمه قبل السفر أم يستحب له ذلك فاعلم أنه إن كان عازماً على ترك المسح والقصر والجمع والفطر وترك التنفل راكباً وماشياً لم يلزمه علم شروط الترخص في ذلك لآن الترخص ليس بواجب عليه

"Apakah mempelajari ilmu tentang rukhsah-rukhsah ini wajib bagi seorang musafir sebelum melakukan perjalanan, ataukah hal itu hukumnya sunnah baginya?" Maka ketahuilah, jika ia bertekad untuk tidak mengusap khuff, tidak meng-qashar, tidak menjamak, tidak berbuka puasa, serta tidak mengerjakan salat sunnah dalam keadaan berkendara atau berjalan kaki, maka ia tidak diwajibkan mempelajari syarat-syarat mengambil keringanan (al-turakhkhus) tersebut, karena mengambil rukhsah bukanlah suatu kewajiban baginya.

وأما علم رخصة التيمم فيلزمه لآن فقد الماء ليس إليه إلا أن يسافر على شاطىء نهر

Adapun mempelajari ilmu tentang rukhsah tayamum, maka hal itu wajib baginya, karena ketiadaan air bukanlah wewenang dirinya untuk menentukan; kecuali jika ia melakukan perjalanan di tepi sungai…

يوثق ببقاء مائه أو يكون معه في الطريق عالم يقدر على استفتائه عند الحاجة فله أن يؤخر إلى وقت الحاجة

…yang diyakini keberadaan airnya terus ada, atau di sepanjang perjalanan terdapat seorang alim (ulama) bersamanya yang dapat ia mintai fatwa ketika dibutuhkan, maka ia boleh menunda pembelajaran tersebut hingga tiba waktu dibutuhkannya.

إما إذا كان يظن عدم الماء ولم يكن معه فيلزمه التعلم لا محالة

Adapun jika ia menduga akan tidak adanya air dan tidak ada ulama bersamanya, maka ia wajib mempelajarinya tanpa keraguan lagi.

فإن قلت التيمم يحتاج إليه لصلاة لم يدخل بعد وقتها فكيف يجب علم الطهارة لصلاة بعد لم تجب وربما لا تجب فأقول من بينه وبين الكعبة مسافة لا تقطع إلا في سنة فيلزمه قبل أشهر الحج إبتداء السفر

Jika Anda bertanya: "Tayamum itu dibutuhkan untuk salat yang waktunya belum masuk, maka bagaimana bisa diwajibkan mempelajari ilmu bersuci untuk salat yang belum wajib dan terkadang belum tentu menjadi wajib?" Maka aku katakan: Orang yang antara dirinya dan Ka'bah terdapat jarak yang tidak dapat ditempuh kecuali dalam waktu satu tahun, maka wajib baginya memulai perjalanan sebelum bulan-bulan haji tiba.

ويلزمه تعلم المناسك لا محالة إذا كان يظن أنه لا يجد في الطريق من يتعلم منه لأن الأصل الحياة واستمرارها

Dan ia wajib mempelajari tata cara manasik haji tanpa ragu lagi jika ia menduga tidak akan menemukan orang yang dapat mengajarinya di sepanjang jalan, karena hukum asal kehidupan adalah kelangsungan hidupnya.

وما لا يتوصل إلى الواجب إلا به فهو واجب

Dan sesuatu yang sebuah kewajiban tidak dapat sempurna kecuali dengannya, maka perantara tersebut hukumnya menjadi wajib.

وكل ما يتوقع وجوبه توقعا ظاهرا على الظن وله شرط لا يتوصل إليه إلا بتقديم ذلك الشرط على وقت الوجوب فيحب تقديم تعلم الشرط لا محالة كعلم المناسك قبل وقت الحج وقبل مباشرته

Setiap hal yang diperkirakan kewajibannya secara kuat berdasarkan dugaan (zhann), dan kewajiban tersebut memiliki syarat yang tidak dapat dicapai melainkan dengan mendahulukan syarat itu sebelum datangnya waktu kewajiban, maka secara pasti wajib mendahulukan mempelajari syarat tersebut; seperti mempelajari ilmu manasik sebelum datangnya waktu haji dan sebelum pelaksanaannya.

فلا يحل إذن للمسافر أن ينشىء السفر ما لم يتعلم هذا القدر من علم التيمم

Maka tidak halal bagi seorang musafir untuk memulai perjalanannya selama ia belum mempelajari kadar ilmu tayamum ini.

وإن كان عازما على سائر الرخص فعليه أن يتعلم أيضا القدر الذي ذكرناه من علم التيمم وسائر الرخص فإنه إذا لم يعلم القدر الجائز لرخصة السفر لم يمكنه الاقتصار عليه

Jika ia bertekad untuk memanfaatkan seluruh rukhsah (keringanan) lainnya, wajib baginya untuk mempelajari pula kadar yang telah kami sebutkan dari ilmu tayamum dan seluruh rukhsah tersebut. Sebab, jika ia tidak mengetahui batas kadar yang diperbolehkan dalam rukhsah perjalanan, ia tidak akan mampu membatasi diri padanya.

فإن قلت إنه إن لم يتعلم كيفية التنفل راكبا وماشيا ماذا يضره وغايته إن صلى أن تكون صلاته فاسدة وهي غير واجبة فكيف يكون علمها واجباً فأقول من الواجب أن لا يصلى النفل على نعت الفساد فالتنفل مع الحدث والنجاسة وإلى غير القبلة ومن غير إتمام شروط الصلاة وأركانها حرام فعليه أن يتعلم ما يحترز به عن النافلة الفاسدة حذراً عن الوقوع في المحظورات

Jika engkau bertanya: "Jika ia tidak mempelajari cara shalat sunnah dalam keadaan berkendara atau berjalan kaki, apa bahayanya? Paling jauh, jika ia shalat, shalatnya batal/fasad padahal itu shalat sunnah (tidak wajib), maka bagaimana mungkin mempelajari tata caranya menjadi wajib?" Maka aku katakan: Merupakan suatu kewajiban untuk tidak mengerjakan shalat sunnah dalam keadaan yang rusak (fasad). Melakukan shalat sunnah dalam keadaan berhadats, terkena najis, tidak menghadap kiblat, atau tanpa menyempurnakan syarat dan rukun shalat adalah haram. Oleh karena itu, wajib baginya mempelajari hal-hal yang dapat memelihara dirinya dari shalat sunnah yang rusak demi menjaga diri agar tidak jatuh ke dalam hal-hal yang diharamkan.

فهذا بيان علم ما خفف عن المسافر في سفره القسم الثاني ما يتجدد من الوظيفة بسبب السفر

Inilah penjelasan mengenai ilmu tentang keringanan yang diberikan kepada musafir dalam perjalanannya. Bagian kedua: Kewajiban/amalan yang baru timbul akibat perjalanan.

وهو علم القبلة والأوقات وذلك أيضا واجب في الحضر ولكن في الحضر من يكفيه من محراب متفق عليه يغنيه عن طلب القبلة ومؤذن يراعي الوقت فيغنيه عن طلب علم الوقت

Yaitu pengetahuan tentang kiblat dan waktu-waktu shalat. Hal ini juga wajib saat tidak bepergian (hadhar), namun saat tidak bepergian telah ada yang mencukupinya berupa mihrab yang disepakati sehingga ia tidak perlu lagi mencari kiblat, serta muadzin yang menjaga waktu shalat sehingga ia tidak perlu lagi mempelajari ilmu tentang waktu.

والمسافر قد تشتبه عليه القبلة وقد يلتبس عليه الوقت فلا بد له من العلم بأدلة القبلة والمواقيت

Sedangkan bagi musafir, arah kiblat bisa jadi samar baginya dan waktu shalat pun bisa membingungkannya. Oleh karena itu, ia harus memiliki pengetahuan tentang petunjuk-petunjuk arah kiblat dan waktu-waktu shalat.

أما أدلة القبلة فهي ثلاثة أقسام أرضية كالاستدلال بالجبال والقرى والأنهار

Adapun petunjuk-petunjuk arah kiblat terbagi menjadi tiga jenis: Pertama, petunjuk darat, seperti berdalil dengan gunung, desa, dan sungai.

وهوائية كالاستدلال بالرياح شمالها وجنوبها وصباها ودبورها

Kedua, petunjuk udara, seperti berdalil dengan arah angin: utara, selatan, timur, dan barat.

وسماوية وهي النجوم

Ketiga, petunjuk langit, yaitu bintang-bintang.

فأما الأرضية والهوائية فتخلف باختلاف البلاد فرب طريق فيه جبل مرتفع يعلم أنه على يمين المستقبل أو شماله أو ورائه أو قدامه فليعلم ذلك وليفهمه

Adapun petunjuk darat dan udara, keduanya berbeda-beda sesuai dengan perbedaan wilayah. Betapa banyak suatu jalan yang memiliki gunung tinggi yang diketahui berada di sebelah kanan, kiri, belakang, atau depan orang yang menghadap kiblat; hendaklah ia mengetahui dan memahaminya.

وكذلك الرياح قد تدل في بعض البلاد فليفهم ذلك

Demikian pula arah angin dapat menjadi petunjuk di sebagian wilayah, maka hendaklah ia memahaminya.

ولسنا نقدر على استقصاء ذلك إذ لكل بلد وإقليم حكم آخر

Kami tidak mungkin menguraikannya secara terperinci, sebab setiap negeri dan wilayah memiliki hukum (kondisi) yang berbeda.

وأما السماوية فأدلتها تنقسم إلى نهارية وإلى ليلية

Adapun petunjuk langit, maka dalil-dalilnya terbagi menjadi petunjuk siang hari dan petunjuk malam hari.

أما النهارية فالشمس فلا بد أن يراعى قبل الخروج من البلد أن الشمس عند الزوال أين تقع منه أهي بين الحاجبين او على العين اليمنى او اليسرى أو تميل إلى الجبين ميلاأكثر من ذلك فإن الشمس لا تعدو في البلاد الشمالية هذه المواقع

Adapun petunjuk siang hari adalah matahari. Sebelum keluar dari negerinya, ia harus memperhatikan di mana posisi matahari berada ketika gelincir (zawal); apakah berada di antara kedua alisnya, di atas mata kanan, mata kiri, atau cenderung ke pelipis lebih dari itu. Sebab, di negeri-negeri utara, posisi matahari tidak akan melampaui posisi-posisi ini.

فإذا حفظ ذلك فمهما عرف الزوال بدليله الذي سنذكره عرف القبلة به

Jika ia telah mengingat hal tersebut, maka kapan saja ia mengetahui waktu tergelincirnya matahari (zawal) dengan petunjuk yang akan kami sebutkan, ia akan dapat mengetahui arah kiblat melaluinya.

وكذلك يراعي مواقع الشمس منه وقت العصر

Demikian pula ia harus memperhatikan posisi-posisi matahari darinya pada waktu Asar.

فإنه في هذين الوقتين يحتاج إلى القبلة بالضرورة

Sebab pada kedua waktu ini, ia sangat membutuhkan pengetahuan arah kiblat secara pasti.

وهذا أيضا لما كان يختلف بالبلاد فليس يمكن إستقصاؤه

Hal ini juga, karena berbeda-beda menurut wilayah, tidak mungkin diuraikan secara menyeluruh.

وأما القبلة وقت المغرب فإنها تدرك بموضع الغروب

Adapun kiblat pada waktu Maghrib, maka hal itu dapat diketahui melalui tempat terbenamnya matahari.

وذلك بأن يحفظ أن الشمس تغرب عن يمين المستقبل أو هي مائلة إلى وجهه أو قفاه

Yaitu dengan mengingat bahwa matahari terbenam di sebelah kanan orang yang menghadap kiblat, atau agak condong ke arah wajahnya atau belakang kepalanya.

وبالشفق أيضا تعرف القبلة للعشاء الأخيرة

Dengan megah (syafaq) pula dapat diketahui arah kiblat untuk shalat Isya.

وبمشرق الشمس تعرف القبلة لصلاة الصبح

Dan melalui tempat terbitnya matahari dapat diketahui arah kiblat untuk shalat Subuh.

فكأن الشمس تدل على القبلة في الصلوات الخمس ولكن يختلف ذلك بالشتاء والصيف

Seolah-olah matahari menjadi petunjuk arah kiblat pada shalat lima waktu, akan tetapi hal itu berbeda antara musim dingin dan musim panas.

فإن المشارق والمغارب كثيرة وإن كانت محصورة في جهتين فلا بد من تعلم ذلك أيضا

Sebab tempat-tempat terbit dan tempat-tempat terbenamnya matahari itu banyak, meskipun terbatas pada dua arah, sehingga hal itu pun wajib dipelajari.

ولكن قد يصلى المغرب والعشاء بعد غيبوبة الشفق فلا يمكنه أن يستدل على القبلة به

Akan tetapi, terkadang shalat Maghrib dan Isya dikerjakan setelah hilangnya syafaq, sehingga ia tidak dapat menjadikannya sebagai petunjuk arah kiblat.

فعليه أن يراعي موضع القطب

Maka ia harus memperhatikan posisi bintang kutub.

وهو الكوكب الذي يقال له الجدى فإنه كوكب كالثابت لا تظهر حركته عن موضعه وذلك إما أن يكون على قفا المستقبل أو على منكبه الأيمن من ظهره أو منكبه الأيسر في البلاد الشمالية من مكة

Yaitu bintang yang dinamakan al-Jady (bintang kutub), sebuah bintang yang seakan-akan tetap dan tidak tampak bergeser dari posisinya. Bintang tersebut terletak di belakang tengkuk orang yang menghadap kiblat, atau di atas bahu kanannya bagian belakang, atau di atas bahu kirinya di negeri-negeri yang berada di sebelah utara Makkah.

وفي البلاد الجنوبية كاليمن وما والاها فيقع فى مقابلة المستقبل فيتعلم ذلك وما عرفه في بلده فليعول عليه في الطريق كله إلا إذا طال السفر فإن المسافة إذ بعدت اختلف موقع الشمس وموقع القطب وموقع المشارق والمغارب إلا أن ينتهي في أثناء سفره إلى بلاد فينبغي أن يسأل أهل البصيرة

Adapun di negeri-negeri sebelah selatan seperti Yaman dan sekitarnya, bintang itu berada tepat berhadapan dengan orang yang menghadap kiblat. Maka ia harus mempelajari hal tersebut, dan apa yang telah diketahuinya di negerinya hendaknya dijadikan pegangan di sepanjang perjalanan, kecuali jika perjalanannya sangat jauh. Sebab jika jarak semakin jauh, posisi matahari, bintang kutub, serta tempat terbit dan terbenamnya matahari akan berubah, kecuali jika di tengah perjalanannya ia sampai di suatu negeri, maka hendaknya ia bertanya kepada orang-orang yang memiliki mata hati dan keahlian (ahlul bashirah).

أو يراقب هذه الكواكب وهو مستقبل محراب جامع البلد حتى يتضح له ذلك

Atau ia mengamati bintang-bintang ini seraya menghadap ke mihrab masjid jami' di negeri tersebut hingga hal itu menjadi jelas baginya.

فمهما تعلم هذه الأدلة فله أن يعول عليها

Maka bilamana ia telah mempelajari dalil-dalil petunjuk ini, ia berhak menjadikannya sebagai pegangan.

فإن بان له أنه أخطأ من جهة القبلة إلى جهة أخرى من الجهات الأربع فينبغي أن يقضي

Namun jika ternyata jelas baginya bahwa ia telah keliru dari arah kiblat ke arah lain dari empat penjuru angin, maka hendaknya ia mengqadha shalatnya.

وإن انحرف عن حقيقة محاذاة القبلة ولكن لم يخرج عن جهتها لم يلزمه القضاء

Dan jika ia hanya menyimpang dari titik kelurusan hakiki kiblat tetapi belum keluar dari arah kiblat tersebut, maka tidak wajib baginya mengqadha.

وقد أورد الفقهاء خلافا في أن المطلوب جهة الكعبة أو عينها وأشكل معنى ذلك على قوم إذ قالوا إن قلنا إن المطلوب العين فمتى يتصور هذا مع بعد الديار وإن قلنا إن المطلوب الجهة فالواقف في المسجد إن استقبل جهة الكعبة وهو خارج ببدنه عن موازاة الكعبة لا خلاف في أنه لا تصح صلاته

Para fuqaha telah mengemukakan perbedaan pendapat (khilaf) tentang apakah yang dituntut itu arah Ka'bah (jihatul Ka'bah) atau wujud fisiknya ('ainul Ka'bah). Makna hal ini menimbulkan kerumitan bagi sebagian orang ketika mereka berkata: 'Jika kita katakan bahwa yang dituntut adalah wujud fisik ('ain), maka kapankah hal ini dapat dibayangkan mengingat jauhnya negeri-negeri? Dan jika kita katakan bahwa yang dituntut adalah arah (jihah), maka orang yang berdiri di dalam masjid, jika menghadap ke arah Ka'bah tetapi fisiknya keluar dari kesejajaran dengan Ka'bah, tidak ada perbedaan pendapat bahwa shalatnya tidak sah.'

وقد طولوا في تأويل معنى الخلاف في الجهة والعين

Mereka telah menguraikan secara panjang lebar dalam menakwilkan makna perbedaan pendapat antara arah (jihah) dan wujud fisik ('ain).

ولا بد أولا من فهم معنى مقابلة العين ومقابلة الجهة

Maka pertama-tama harus dipahami terlebih dahulu makna berhadapan dengan wujud fisik (muqabalatul 'ain) dan berhadapan dengan arah (muqabalatul jihah).

فمعنى مقابلة العين أن يقف موقفا لو خرج خط مستقيم من بين عينيه إلى جدار الكعبة لا تصل به وحصل من جانبي الخط زاويتان متساويتان وهذه صورته والخط الخارج من موقف المصلى يقدر أنه خارج من بين عينيه فهذه صورة مقابلة العين

Makna berhadapan dengan wujud fisik (muqabalatul 'ain) adalah seseorang berdiri pada suatu posisi yang seandainya ditarik garis lurus dari antara kedua matanya hingga menyambung ke dinding Ka'bah, maka terbentuk dua sudut yang sama besar pada kedua sisi garis tersebut. Inilah gambarnya, dan garis yang keluar dari posisi mushalli diandaikan keluar dari antara kedua matanya; maka inilah gambaran muqabalatul 'ain.

وأما مقابلة الجهة

Adapun berhadapan dengan arah (muqabalatul jihah),

فيجوز فيها أن يتصل طرف الخط الخارجي من بين العينين إلى الكعبة من غير أن يتساوى الزاويتان عن جهتى الخط بل لا يتساوى الزاويتان إلا إذا انتهى الخط إلى نقطة معينة هي واحدة

maka diperbolehkan di dalamnya ujung garis yang keluar dari antara kedua mata menyambung ke Ka'bah tanpa harus kedua sudut pada kedua sisi garis tersebut sama besar, bahkan kedua sudut itu tidak akan sama besar kecuali jika garis tersebut berujung pada satu titik tertentu yang tunggal.

فلو مد هذا الخط على الاستقامة إلى سائر النقط من يمينها أو شمالها كانت إحدى الزاويتان أضيق فيخرج عن مقابلة العين ولكن لا يخرج عن مقابلة الجهة كالخط الذي كتبنا عليه مقابلة الجهة فإنه لو قدر الكعبة على طرف ذلك الخط لكان الواقف مستقبلا لجهة الكعبة لا لعينها

Seandainya garis ini diperpanjang secara lurus ke titik-titik lainnya di sebelah kanan atau kirinya, niscaya salah satu dari kedua sudut tersebut menjadi lebih sempit sehingga keluar dari muqabalatul 'ain, namun tidak keluar dari muqabalatul jihah; sebagaimana garis yang kami beri keterangan 'muqabalatul jihah'. Sebab jika diandaikan Ka'bah berada di ujung garis tersebut, maka orang yang berdiri itu menghadap ke arah Ka'bah, bukan ke wujud fisiknya.

وحد تلك الجهة ما يقع بين خطين يتوهمهما الواقف مستقبلا لجهة خارجين من العينين فيلتقي طرفاهما في داخل الرأس بين العينين على زاوية قائمة فما يقع بين الخطين الخارجين من العينين فهو داخل في الجهة

Batas arah (jihah) tersebut adalah apa yang berada di antara dua garis khayal yang dibayangkan oleh seseorang yang berdiri menghadap ke suatu arah, yang keluar dari kedua matanya, sehingga kedua ujungnya bertemu di dalam kepala di antara kedua mata membentuk sudut siku-siku. Maka apa pun yang berada di antara dua garis yang keluar dari kedua mata tersebut terhitung masuk dalam arah (jihah) itu.

وسعة ما بين الخطين تتزايد بطول الخطين وبالبعد عن الكعبة وهذه صورته

Dan rentang di antara kedua garis tersebut kian melebar seiring dengan makin panjangnya kedua garis dan makin jauhnya jarak dari Ka'bah. Inilah bentuk gambarannya:

عليه السلام

'Alaihis salam.

فإذا فهم معنى العين والجهة فأقول

Apabila perbedaan makna antara wujud fisik ('ain) dan arah (jihah) telah dipahami, maka aku katakan:

الذى يصح عندنا في الفتوى أن المطلوب العين إن كانت الكعبة مما يمكن رؤيتها وإن كان يحتاج إلى الاستدلال عليها لتعذر رؤيتها فيكفي استقبال الجهة

Pendapat yang sahih menurut kami dalam fatwa adalah bahwa yang dituntut untuk dihadap adalah wujud fisik Ka'bah ('ain) jika Ka'bah tersebut memungkinkan untuk dilihat. Namun, jika diperlukan petunjuk (dalil) untuk menghadapnya karena tidak memungkinkan untuk dilihat, maka cukuplah menghadap ke arahnya (jihah).

فأما طلب العين عند المشاهدة فمجمع عليه

Adapun kewajiban menghadap fisik Ka'bah ('ain) ketika melihatnya secara langsung adalah hal yang disepakati oleh para ulama (ijmak).

وأما الاكتفاء بالجهة عند تعذر المعاينة فيدل عليه الكتاب والسنة وفعل الصحابة ﵃ والقياس

Adapun mencukupkan diri dengan menghadap ke arahnya (jihah) ketika tidak memungkinkan untuk melihatnya secara langsung, ditunjukkan oleh Al-Qur'an, As-Sunnah, perbuatan para sahabat radhiyallahu 'anhum, serta kias.

أما الكتاب فقوله تعالى وحيثما كنتم فولوا وجوهكم شطره أي نحوه

Adapun dari Al-Qur'an adalah firman Allah Ta'ala: "Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya" (QS. Al-Baqarah: 144), yaitu ke arahnya (naḥwahu).

ومن قابل جهة الكعبة يقال قد ولى وجهه شطرها

Barang siapa yang menghadap ke arah Ka'bah, maka dikatakan bahwa ia telah memalingkan wajahnya ke arahnya.

وأما السنة فما روي عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ أنه قال لأهل المدينة ما بين المغرب والمشرق قبلة

Adapun dari As-Sunnah adalah riwayat dari Rasulullah ﷺ bahwasanya beliau bersabda kepada penduduk Madinah: "Antara timur dan barat adalah kiblat."

والمغرب يقع على يمين أهل المدينة والمشرق على يسارهم

Arah barat terletak di sebelah kanan penduduk Madinah, sedangkan arah timur terletak di sebelah kiri mereka.

فجعل رسول الله ﷺ جميع ما يقع بينهما قبلة ومساحة الكعبة لا تفي بما بين المشرق والمغرب وإنما يفى بذلك جهتها

Maka Rasulullah ﷺ menjadikan seluruh rentang yang ada di antara keduanya sebagai kiblat. Sementara itu, ukuran fisik Ka'bah tidaklah seluas jarak antara timur dan barat, melainkan yang memenuhi rentang tersebut hanyalah arahnya (jihah).

وروى هذا اللفظ أيضا عن عمر وابنه رضى الله عنهما

Lafal ini juga diriwayatkan dari Umar dan putranya radhiyallahu 'anhuma.

وأما فعل الصحابة ﵃ فما روى أن مسجد قباء كانوا فى صلاة الصبح بالمدينة مستقبلين لبيت المقدس مستدبرين الكعبة لأن المدينة بينهما فقيل لهم الآن قد حولت القبلة إلى الكعبة

Adapun perbuatan para sahabat radhiyallahu 'anhum, adalah sebagaimana diriwayatkan bahwa jamaah di Masjid Quba sedang melaksanakan shalat Subuh di Madinah dengan menghadap ke Baitul Maqdis dan membelakangi Ka'bah—karena Madinah berada di antara keduanya. Lalu dikatakan kepada mereka: "Sesungguhnya kiblat kini telah diubah ke arah Ka'bah."

فاستداروا في أثناء الصلاة من غير طلب دلالة

Maka mereka pun berputar berpindah arah di tengah-tengah shalat tanpa meminta petunjuk (perhitungan rinci).

ولم ينكر عليهم

Dan tindakan mereka tersebut tidak mendapat pengingkaran.

وسمي مسجدهم ذا القبلتين ومقابلة العين من المدينة إلى مكة لا تعرف إلا بأدلة هندسية يطول النظر فيها فكيف أدركوا ذلك على البديهة في أثناء الصلاة وفي ظلمة الليل ويدل أيضا من فعلهم أنهم بنوا المساجد حوالي مكة وفي سائر بلاد الإسلام ولم يحضروا قط مهندسا عند تسوية المحاريب ومقابلة العين لا تدرك إلا بدقيق النظر الهندسي

Bahkan masjid mereka dinamai Masjid Dzulat Qiblatain (Masjid Dua Kiblat). Padahal menghadap persis ke fisik Ka'bah ('ain) dari Madinah ke Mekkah tidak dapat diketahui kecuali dengan dalil-dalil geometri (ilmu ukur) yang membutuhkan perenungan panjang. Lantas bagaimana mungkin mereka dapat mengetahuinya secara seketika di tengah-tengah shalat dan dalam kegelapan malam? Hal yang juga menunjukkan aturan ini dari perbuatan mereka adalah bahwa mereka membangun masjid-masjid di sekitar Mekkah dan di seluruh penjuru negeri Islam tanpa pernah sekalipun menghadirkan ahli geometri saat meluruskan arah mihrab, padahal menghadap tepat ke wujud fisik ('ain) tidak dapat dicapai melainkan dengan kajian geometri yang amat mendalam.

وأما القياس فهو أن الحاجة تمس إلى الاستقبال وبناء المساجد في جميع أقطار الأرض ولا يمكن مقابلة العين إلا بعلوم هندسية لم يرد الشرع بالنظر فيها بل ربما يزجر عن التعمق في علمها فكيف ينبنى أمر الشرع عليها فيجب الاكتفاء بالجهة للضرورة

Adapun dalil kias adalah bahwa kebutuhan sangat mendesak untuk menghadap kiblat dan membangun masjid-masjid di seluruh penjuru bumi, padahal tidaklah mungkin menghadap persis ke fisik Ka'bah ('ain) kecuali dengan ilmu-ilmu geometri yang tidak diperintahkan oleh syariat untuk dipelajari secara mendalam, bahkan terkadang dilarang untuk berlebihan mendalaminya. Maka bagaimana mungkin hukum syariat didasarkan atasnya? Oleh karena itu, wajib mencukupkan diri dengan menghadap ke arahnya (jihah) karena tuntutan darurat.

وأما دليل صحة الصورة التى صورناها وهو حصر جهات العالم في أربع جهات فقوله ﷺ فى آداب قضاء الحاجة لا تستقبلوا بها القبلة ولا تستدبروها ولكن شرقوا أو غربوا

Adapun dalil atas kebenaran gambaran yang telah kami paparkan—yaitu pembatasan arah dunia menjadi empat arah utama—adalah sabda Nabi ﷺ mengenai adab buang hajat: "Janganlah kalian menghadap kiblat dan jangan pula membelakanginya saat buang hajat, tetapi menghadaplah ke timur atau ke barat."

وقال

Dan beliau bersabda:

هذا بالمدينة والمشرق على يسار المستقبل بها والمغرب على يمينه فنهى عن جهتين ورخص فى جهتين

Hal ini berlaku di Madinah, di mana timur berada di sebelah kiri orang yang menghadap ke arahnya (kiblat), dan barat berada di sebelah kanannya. Oleh karena itu, Beliau melarang dua arah dan memberi keringanan pada dua arah lainnya.

ومجموع ذلك أربع جهات

Dan keseluruhan arah tersebut ada empat arah.

ولم يخطر ببال أحد أن جهات العالم يمكن أن تفرض في ست أو سبع أو عشر

Dan tidak pernah terlintas dalam benak siapa pun bahwa arah penjuru dunia dapat diandaikan menjadi enam, tujuh, atau sepuluh.

وكيفما كان فما حكم الباقي بل الجهات تثبت في الاعتقادات بناء على خلقه الإنسان وليس له إلا أربع جهات قدام وخلف ويمين وشمال فكانت الجهات بالإضافة الى الإنسان في ظاهر النظر أربعاً

Bagaimanapun juga, bagaimana hukum selebihnya? Melainkan arah-arah tersebut ditetapkan dalam pemahaman berdasarkan fitrah penciptaan manusia, di mana manusia hanya memiliki empat arah: depan, belakang, kanan, dan kiri. Maka arah-arah itu, jika dikaitkan dengan manusia, secara pandangan lahiriah berjumlah empat.

والشرع لا يبنى إلا على مثل هذه الإعتقادات فظهر أن المطلوب الجهة وذلك يسهل أمر الإجتهاد فيها وتعلم به أداة القبلة

Dan Syariat tidaklah dibangun melainkan di atas pemahaman-pemahaman seperti ini. Maka tampak jelas bahwa yang dituntut adalah arah (jihat), dan hal itu mempermudah urusan ijtihad padanya serta dengannya dapat dipelajari petunjuk arah kiblat.

فأما مقابلة العين فإنها تعرف بمعرفة مقدار عرض مكة عن خط الإستواء ومقدار درجات طولها وهو بعدها عن أول عمارة في المشرق

Adapun menghadap secara presisi ke wujud fisik Kakbah ('ain al-ka'bah), maka hal itu diketahui dengan mengetahui besarnya derajat lintang tempat Mekkah dari garis khatulistiwa dan besarnya derajat bujurnya, yaitu jaraknya dari pemukiman pertama di timur.

ثم يعرف ذلك أيضاً في موقف المصلي ثم يقابل أحدهما بالآخر

Kemudian hal itu juga diketahui pada posisi berdirinya orang yang shalat, lalu membandingkan salah satunya dengan yang lain.

ويحتاج فيه الى آلات وأسباب طويلة والشرع غير مبني عليها قطعاً

Dan hal itu memerlukan peralatan serta sarana-sarana yang rumit, padahal Syariat secara pasti tidak dibangun di atas hal tersebut.

فإذن القدر الذي

Maka dengan demikian, kadar yang…

عليه السلام

…'alaihissalam…

لا بد من تعلمه من أدلة القبلة موقع المشرق والمغرب في الزوال وموقع الشمس وقت العصر

…harus dipelajari dari petunjuk-petunjuk kiblat adalah letak timur dan barat saat tergelincirnya matahari (zawal), serta letak matahari pada waktu Asar.

فبهذا يسقط الوجوب

Maka dengan ini, gugurlah kewajiban tersebut.

فإن قلت فلو خرج المسافر من غير تعلم ذلك هل يعصى فأقول إن كان طريقه على قرى متصلة فيها محاريب أو كان معه في الطريق بصير بأدلة القبلة موثوق بعدالته وبصيرته ويقدر على تقليده فلا يعصى

Jika engkau bertanya: "Apabila seorang musafir berangkat tanpa mempelajari hal tersebut, apakah ia bermaksiat (berdosa)?" Maka aku katakan: Jika perjalanannya melintasi desa-desa yang bersambung dan memiliki mihrab-mihrab, atau di perjalanannya ada seseorang yang paham petunjuk kiblat, terpercaya keadilannya dan keahliannya, serta ia dapat bertaklid padanya, maka ia tidak bermaksiat.

وإن لم يكن معه شيء من ذلك عصى

Namun jika tidak ada satu pun dari hal tersebut padanya, maka ia telah bermaksiat.

لأنه سيتعرض لوجوب الاستقبال ولم يكن قد حصل علمه فصار ذلك كعلم التيمم وغيره

Karena ia akan dihadapkan pada kewajiban menghadap kiblat padahal belum memperoleh ilmunya. Maka hal ini menjadi sama seperti ilmu tentang tayamum dan sejenisnya.

فإن تعلم هذه الأدلة واستبهم عليه الأمر بغيم مظلم

Jika ia telah mempelajari petunjuk-petunjuk ini, namun perkara itu menjadi samar baginya akibat awan gelap,

أو ترك التعلم ولم يجد في الطريق من يقلده فعليه أن يصلي في الوقت على حسب حاله ثم عليه القضاء سواء أصاب أم أخطأ

atau ia meninggalkan belajar dan tidak menemukan seseorang di jalan untuk ia ikuti (taklid), maka ia wajib shalat pada waktunya sesuai dengan kondisinya, kemudian ia wajib mengqadanya, baik ijtihadnya tepat maupun keliru.

والأعمى ليس له إلا التقليد فليقلد من يوثق بدينه وبصيرته إن كان مقلده مجتهداً في القبلة وإن كانت القبلة ظاهرة فله اعتماد قول كل عدل يخبره بذلك في حضر أو سفر وليس للأعمى ولا للجاهل أن يسافر في قافلة ليس فيها من يعرف أدلة القبلة حيث يحتاج الى الإستدلال كما ليس للعامي أن يقيم ببلدة ليس فيها فقيه عالم بتفصيل الشرع بل يلزمه الهجرة الى حيث يجد من يعلمه دينه وكذا إن لم يكن في البلد إلا فقيه فاسق فعليه الهجرة أيضاً إذ لا يجوز له اعتماد فتوى الفاسق بل العدالة شرط لجواز قبول الفتوى كما في الرواية وإن كان معروفاً بالفقه مستور الحال في العدالة والفسق فله القبول مهما لم يجد من له عدالة ظاهرة لأن المسافر في البلاد لا يقدر أن يبحث عن عدالة المفتين

Orang buta tidak memiliki jalan kecuali bertaklid. Maka hendaklah ia bertaklid kepada orang yang dipercaya agamanya dan keahliannya, jika orang yang ditaklidinya itu berijtihad dalam menentukan kiblat. Jika kiblat sudah jelas, maka ia boleh berpegang pada perkataan setiap orang adil yang memberitahunya, baik saat bermukim maupun dalam perjalanan. Dan tidak boleh bagi orang buta maupun orang awam bepergian dalam rombongan kafilah yang tidak ada seorang pun yang mengetahui petunjuk kiblat ketika dibutuhkan penentuan arah (istidlal), sebagaimana tidak boleh bagi orang awam untuk tinggal di suatu negeri yang tidak ada ahli fikih yang mengetahui rincian Syariat; bahkan ia wajib berhijrah ke tempat di mana ia menemukan orang yang mengajarinya tentang agama. Demikian pula jika di negeri tersebut tidak ada kecuali ahli fikih yang fasik, ia juga wajib berhijrah, karena tidak boleh baginya berpegang pada fatwa orang fasik. Sebab, keadilan ('adalah) merupakan syarat bagi kebolehan menerima fatwa sebagaimana dalam periwayatan. Namun jika ahli fikih tersebut terkenal keahlian fikihnya tetapi belum diketahui pasti (mastur al-hal) keadilan atau kefasikannya, maka ia boleh menerima fatwanya selama tidak menemukan orang yang jelas keadilannya, karena seorang musafir di berbagai negeri tidak mampu memeriksa keadilan para pemberi fatwa.

فإن رآه لابساً للحرير أو ما يغلب عليه الإبريسم أو راكباً لفرس عليه مركب ذهب فقد ظهر فسقه وامتنع عليه قبول قوله فليطلب غيره

Namun jika ia melihatnya memakai pakaian sutra atau bahan yang didominasi sutra murni, atau menunggang kuda yang berhiaskan emas, maka telah tampak kefasikannya dan gugurlah kebolehan menerima perkataannya; hendaknya ia mencari orang lain.

وكذلك إذا رآه يأكل على مائدة سلطان أغلب ماله حرام أو يأخذ منه إدراراً أو صلة من غير أن يعلم أن الذي يأخذه من وجه حلال فكل ذلك فسق يقدح في العدالة ويمنع من قبول الفتوى والرواية والشهادة

Demikian pula jika ia melihatnya makan di hidangan penguasa (sultan) yang sebagian besar hartanya haram, atau menerima tunjangan rutin maupun pemberian darinya tanpa mengetahui bahwa apa yang diambilnya itu berasal dari jalan yang halal. Maka semua itu merupakan kefasikan yang merusak keadilan, serta menghalangi diterimanya fatwa, riwayat, dan kesaksiannya.

وأما معرفة أوقات الصلوات الخمس فلا بد منها

Adapun mengetahui waktu-waktu shalat lima waktu, maka hal itu merupakan suatu keharusan.

فوقت الظهر يدخل بالزوال فإن كل شخص لا بد أن يقع له في ابتداء النهار ظل مستطيل في جانب المغرب ثم لا يزال ينقص إلى وقت الزوال ثم يأخذ في الزيادة في جهة المشرق ولا يزال يزيد الى الغروب

Waktu Dzuhur masuk dengan tergelincirnya matahari (zawal). Sebab, setiap benda pada permulaan siang pasti memiliki bayangan memanjang di sebelah barat, kemudian bayangan itu terus berkurang hingga saat tergelincirnya matahari (zawal), lalu mulai bertambah panjang di arah timur dan terus bertambah hingga matahari terbenam.

فليقم المسافر في موضع أو لينصب عوداً مستقيماً وليعلم على رأس الظل ثم لينظر بعد ساعة فإن رآه في النقصان فلم يدخل بعد وقت الظهر

Maka hendaknya seorang musafir berdiri di suatu tempat atau menancapkan kayu secara tegak lurus, lalu memberi tanda pada ujung bayangan tersebut, kemudian melihatnya kembali setelah beberapa saat. Jika ia melihat bayangan itu masih terus berkurang (memendek), maka waktu Dzuhur belum masuk.

وطريقه في معرفة ذلك أن ينظر في البلد وقت آذان المؤذن المعتمد ظل قامته فإن كان مثلا ثلاثة أقدام بقدمه فمهما صار كذلك في السفر وأخذ في الزيادة صلى

Adapun cara untuk mengetahuinya adalah dengan memperhatikan panjang bayangan tubuhnya di negerinya pada saat muazin yang terpercaya mengumandangkan azan. Jika misalnya panjang bayangan itu tiga telapak kaki dengan ukuran kakinya, maka sewaktu di perjalanan, apabila panjang bayangan telah mencapai ukuran tersebut dan mulai bertambah panjang, ia dapat melaksanakan shalat.

فإن زاد عليه ستة أقدام ونصفا بقدمه دخل وقت العصر إذ ظل كل شخص بقدمه ستة أقدام ونصف بالتقريب

Jika bayangan itu bertambah panjang melebihi ukuran tersebut sebanyak enam setengah telapak kaki dengan ukuran kakinya, maka telah masuk waktu Asar. Sebab, bayangan setiap orang dengan ukuran kakinya secara perkiraan adalah enam setengah telapak kaki.

ثم ظل الزوال يزيد كل يوم إن كان سفره من أوّل الصيف

Kemudian, bayangan saat matahari tergelincir (zawal) bertambah panjang setiap harinya jika perjalanannya dimulai pada awal musim panas.

وإن كان من أول الشتاء فينقص كل يوم

Dan jika perjalanannya dimulai pada awal musim dingin, maka bayangan itu berkurang (memendek) setiap harinya.

وأحسن ما يعرف به ظل الزوال الميزان فليستصحبه المسافر

Dan alat terbaik untuk mengetahui bayangan tergelincirnya matahari (zawal) adalah mīzān (jam matahari / alat ukur bayangan), maka hendaknya musafir membawanya.

وليتعلم اختلاف الظل به في كل وقت

Dan hendaklah ia mempelajari perubahan bayangan melalui alat tersebut pada setiap waktu.

وإن عرف موقع الشمس من مستقبل القبلة وقت الزوال وكان في السفر في موضع ظهرت القبلة فيه بدليل آخر فيمكنه أن يعرف الوقت بالشمس بأن تصير بين عينيه مثلاً إن كانت كذلك في البلد

Jika ia mengetahui posisi matahari relatif terhadap orang yang menghadap kiblat pada saat tergelincirnya matahari (zawal), dan ketika dalam perjalanan ia berada di tempat yang kiblatnya telah jelas melalui petunjuk lain, maka ia dapat mengetahui waktu melalui matahari, misalnya dengan memastikan matahari tepat berada di antara kedua matanya jika demikian halnya di negeri asalnya.

وأما وقت المغرب فيدخل بالغروب ولكن قد تحجب الجبال المغرب عنه فينبغي أن ينظر الى جانب المشرق فمهما ظهر سواد في الأفق مرتفع من الأرض قدر رمح فقد دخل وقت المغرب

Adapun waktu Maghrib, maka ia masuk dengan terbenamnya matahari. Namun terkadang gunung-gunung menghalangi pandangan ke arah barat, maka hendaknya ia melihat ke arah timur. Manakala nampak kegelapan di ufuk yang meninggi dari bumi seukuran tombak, maka waktu Maghrib telah masuk.

وأما العشاء فيعرف بغيبوبة الشفق وهو الحمرة فإن كانت محجوبة عنه بجبال فيعرفه بظهور والكواكب الصغار وكثرتها فإن ذلك يكون بعد غيبوبة الحمرة

Adapun waktu Isya, maka ia diketahui dengan hilangnya syafaq (syafak), yaitu mega merah. Jika mega merah terhalang darinya oleh gunung-gunung, maka ia dapat mengetahuinya dengan munculnya bintang-bintang kecil dan banyaknya jumlah bintang tersebut, karena hal itu terjadi setelah hilangnya mega merah.

وأما الصبح فيبدو في الأول مستطيلاً كذنب السرحان فلا يحكم به الى أن ينقضي زمان

Adapun fajar Subuh, pada awalnya ia nampak memanjang ke atas seperti ekor serigala, maka hal itu belum dapat dijadikan patokan hukum masuknya waktu sampai berlalu beberapa saat.

ثم يظهر بياض

Kemudian mulailah nampak cahaya putih,

معترض لا يعسر إدراكه بالعين لظهوره فهذا أول الوقت

yang membentang secara horizontal yang tidak sulit diindera oleh mata karena kejelasannya; maka inilah awal waktu Subuh.

قال ﷺ ليس الصبح هكذا وجمع بين كفيه وإنما الصبح هكذا ووضع أحدى سبابتيه على الأخرى وفتحهما

Rasulullah ﷺ bersabda, "Bukanlah Subuh itu seperti ini," seraya merapatkan kedua telapak tangannya, "melainkan Subuh itu seperti ini," lalu beliau menumpuk salah satu jari telunjuknya di atas telunjuk yang lain kemudian merenggangkan keduanya.

وأشار به الى انه معترض

Beliau mengisyaratkan dengan hal itu bahwa fajar shadiq membentang secara melintang (horizontal).

وقد يستدل عليه بالمنازل وذلك تقريب لا تحقيق فيه بل الإعتماد على مشاهدة انتشار البياض عرضاً لأن قوماً ظنوا أن الصبح يطلع قبل الشمس بأربع منازل وهذا خطأ لأن ذلك هو الفجر الكاذب

Kadang-kadang hal itu disimpulkan melalui manzilah-manzilah bintang, tetapi itu hanyalah perkiraan (taqrīb) dan tidak ada kepastian (taḥqīq) di dalamnya. Sebaliknya, yang menjadi pegangan adalah menyaksikan terbentangnya cahaya putih secara melintang. Sebab, sebagian orang mengira bahwa fajar Subuh terbit sebelum matahari sejauh empat manzilah, dan ini adalah kesalahan karena itu merupakan fajar kazib (fajar dusta).

والذي ذكره المحققون أنه يتقدم على الشمس بمنزلتين وهذا تقريب ولكن لا اعتماد عليه فإن بعض المنازل تطلع معترضة منحرفة فيقصر زمان طلوعها وبعضها منتصبة فيطول زمان طلوعها ويختلف ذلك في البلد اختلافاً يطول ذكره

Adapun apa yang disebutkan oleh para ulama ahli verifikasi (muhaqqiqūn) adalah bahwa fajar mendahului matahari sejauh dua manzilah, dan ini pun sekadar perkiraan yang tidak bisa dijadikan sandaran penuh. Sebab, sebagian manzilah terbit secara melintang lagi miring sehingga masa terbitnya singkat, sedangkan sebagian lagi berdiri tegak sehingga masa terbitnya menjadi panjang. Hal tersebut berbeda-beda di setiap negeri dengan perbedaan yang panjang jika dijelaskan.

نعم تصلح المنازل لأن يعلم بها قرب وقت الصبح وبعده فأما حقيقة أول الصبح فلا يمكن ضبطه بمنزلتين أصلاً

Benar bahwa manzilah-manzilah bintang itu layak dijadikan petunjuk untuk mengetahui dekat atau jauhnya waktu Subuh. Namun untuk mengetahui hakikat awal terbitnya Subuh, sama sekali tidak mungkin dipastikan hanya dengan dua manzilah.

وعلى الجملة فإذا بقيت أربع منازل الى طلوع قرن الشمس بمقدار منزلة يتيقن أنه الصبح الكاذب وإذا بقي قريب من منزلتين يتحقق طلوع الصبح الصادق ويبقى بين الصبحين قدر ثلثي منزلة بالتقريب يشك فيه أنه من وقت الصبح الصادق أو الكاذب وهو مبدأ ظهور البياض وانتشاره قبل اتساع عرضه

Ringkasnya, apabila tersisa empat manzil hingga terbitnya tanduk (sisi) matahari seukuran satu manzil, maka diyakini bahwa itu adalah fajar kadzib (fajar dusta). Apabila tersisa mendekati dua manzil, maka terbuktilah terbitnya fajar shadiq (fajar sejati). Di antara kedua fajar tersebut tersisa kurang lebih dua pertiga manzil yang diragukan apakah itu termasuk waktu fajar shadiq atau fajar kadzib, yaitu awal munculnya cahaya putih dan penyebarannya sebelum melebar secara melintang.

فمن وقت الشك ينبغي أن يترك الصائم السحور ويقدم القائم الوتر عليه ولا يصلي صلاة الصبح حتى تنقضي مدة الشك فإذا تحقق صلى

Maka sejak timbulnya keraguan tersebut, hendaknya orang yang berpuasa meninggalkan makan sahur, dan orang yang mendirikan shalat malam mendahulukan shalat Witir sebelum waktu itu. Ia tidak boleh mendirikan shalat Subuh hingga berlalunya masa keraguan tersebut; apabila telah yakin (masuknya waktu Subuh), barulah ia melaksanakan shalat.

ولو أراد مريد أن يقدّر على التحقيق وقتاً معيناً يشرب فيه متسحرا ويقوم عقبيه ويصلي الصبح متصلاً به لم يقدر على ذلك فليس معرفة ذلك في قوة البشر أصلاً بل لا بد من مهلة للتوقف والشك

Seandainya seseorang ingin menentukan secara pasti waktu tertentu yang spesifik di mana ia dapat minum untuk bersahur lalu segera berdiri dan mendirikan shalat Subuh bersambung dengannya, niscaya ia tidak akan mampu melakukannya. Sebab, mengetahui hal itu secara pasti sama sekali di luar batas kemampuan manusia, melainkan pasti diperlukan tenggang waktu untuk berhati-hati (tawaqquf) dan menghadapi keraguan.

ولا اعتماد إلا على العيان ولا اعتماد في العيان إلا على أن يصير الضوء منشرا في العرض حتى تبدو مبادي الصفرة

Tidak ada pegangan selain pengamatan langsung ('iyaan), dan tidak ada pegangan dalam pengamatan langsung kecuali hingga cahaya tersebut tampak menyebar secara melintang sampai terlihat tanda-tanda awal timbulnya warna kekuningan.

وقد غلط في هذا جمع من الناس كثير يصلون قبل الوقت

Sungguh banyak orang telah keliru dalam masalah ini, di mana mereka melaksanakan shalat sebelum masuk waktunya.

ويدل عليه ما روي ابو عيسى الترمذي في جامعه باسناده عن طلق بن علي أن رسول الله ﷺ قال كلوا واشربوا ولا يهيبنكم الساطع المصعد وكلوا واشربوا حتى يعترض لكم الأحمر

Hal ini ditunjukkan oleh riwayat Abu 'Isa At-Tirmidzi dalam kitab Jami'-nya dengan sanadnya dari Thalaq bin 'Ali, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Makan dan minumlah kalian, dan janganlah cahaya putih yang menjulang ke atas menakutkan (menghentikan) kalian. Makan dan minumlah kalian hingga tampak membentang bagi kalian warna kemerahan."

وهذا صريح في رعاية الحمرة

Hadis ini sangat tegas dalam mempertimbangkan munculnya warna kemerahan.

قال أبو عيسى وفي الباب عن عدي بن حاتم وأبي ذرّ وسمرة بن جندب وهو حديث حسن غريب والعمل على هذا عند أهل العلم

Abu 'Isa (At-Tirmidzi) berkata: "Dalam bab ini ada pula riwayat dari 'Adi bin Hatim, Abu Dzarr, dan Samurah bin Jundub. Ini adalah hadis hasan gharib, dan pengamalan di kalangan para ulama adalah berdasarkan hal ini."

وقال ابن عباس ﵄ كلوا واشربوا ما دام الضوء ساطعاً

Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata: "Makan dan minumlah kalian selama cahaya tersebut masih menjulang tinggi."

قال صاحب الغريبين أي مستطيلا

Penulis kitab Al-Gharibain menjelaskan: "Yaitu menjulang secara memanjang (vertikal)."

فإذاً لا ينبغي أن يعوّل إلا على ظهور الصفرة وكأنها مبادي الحمرة

Oleh karena itu, tidak sepantasnya bersandar kecuali pada munculnya warna kekuningan yang seolah-olah merupakan permulaan dari warna kemerahan.

وإنما يحتاج المسافر الى معرفة الأوقات لأنه قد يبادر بالصلاة قبل الرحيل حتى لا يشق عليه النزول أو قبل النوم حتى يستريح

Seorang musafir hanya membutuhkan pengetahuan tentang waktu-waktu shalat karena ia terkadang bergegas melaksanakan shalat sebelum berangkat agar tidak menyulitkannya untuk singgah nanti, atau sebelum tidur agar ia bisa beristirahat.

فإن وطن نفسه على تأخير الصلاة الى أن يتيقن فتسمح نفسه بفوات فضيلة أول الوقت ويتجشم كلفة النزول وكلفة تأخير النوم الى التيقن استغنى عن تعلم علم الأوقات

Jika ia meniatkan jiwanya untuk menangguhkan shalat hingga yakin (masuk waktunya), lalu jiwanya rela akan luputnya keutamaan awal waktu serta bersedia menanggung kerepotan untuk singgah dan kerepotan menunda tidur hingga memperoleh keyakinan, niscaya ia tidak memerlukan pengetahuan tentang ilmu waktu-waktu shalat.

فإن المشكل أوائل الأوقات لا أوساطها

Sebab yang menimbulkan kerumitan atau samar adalah pada awal-awal waktu, bukan di pertengahannya.